P. 1
ekonomi rakyat

ekonomi rakyat

|Views: 213|Likes:
Dipublikasikan oleh akhu_79
gasgasan tentang ekonomi rakyat sangat perlu diapresiasi. gagasan ini terutama difokuskan pada pembangunan yang berpusat pada rakyat. jadi rakyat akan menjadi kekuatan penentu ekonomi suatu bangsa
gasgasan tentang ekonomi rakyat sangat perlu diapresiasi. gagasan ini terutama difokuskan pada pembangunan yang berpusat pada rakyat. jadi rakyat akan menjadi kekuatan penentu ekonomi suatu bangsa

More info:

Categories:Types, Research
Published by: akhu_79 on Apr 07, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/19/2015

pdf

text

original

Krisis Kapitalisme Global

Krisis Kapitalisme Global Syamsul Hadi KTT G-8 di Toyako, Hokkaido, Jepang, yang baru saja berakhir terasa istimewa dengan kehadiran para pemimpin negara berkembang, seperti China, India, Meksiko, dan Indonesia. Pernyataan di akhir KTT dapat dilihat sebagai bentuk positioning negara-negara industri maju atas isuisu yang berkembang dalam skala global. Menghadapi kenaikan harga minyak dunia, forum menyerukan dialog antara negara produsen dan konsumen guna menekan harga. Terkait krisis pangan, forum menegaskan, komunitas internasional perlu melakukan respons dan strategi yang terintegrasi guna mengatasi kelangkaan pangan, dengan program bantuan pangan dan peningkatan produktivitas pertanian. Perdebatan paling alot terjadi dalam isu perubahan iklim. Negara-negara G-8, terutama AS, menyatakan tidak bisa mencapai target pengurangan emisi 50 persen tahun 2050 jika negara berkembang yang ekonominya sedang tumbuh pesat tidak melakukan hal yang sama. Krisis finansial Perdebatan alot dalam isu perubahan iklim seolah ‖menutup‖ perhatian atas masalah krusial lain, krisis finansial global yang berawal dari krisis subprime mortgage di AS. Pernyataan bersama G-8 memang menekankan komitmen untuk melakukan stabilisasi pasar finansial, tetapi tidak disinggung masalah melemahnya nilai dollar AS atas mata uang kuat lainnya (Kompas, 10/7). Padahal, ketidakmampuan AS untuk cepat mengatasi krisis subprime mortgage mendorong spekulan mengalihkan investasi ke komoditas pangan dan energi, yang mendorong naiknya harga pangan dan minyak dunia. Keterlibatan militer AS di Irak memperparah krisis energi. Mantan spekulan George Soros menyatakan, krisis global saat ini akan cepat berakhir dengan syarat perekonomian, terutama pasar uang, diatur ketat (Kompas, 4/4). Di mata Soros, akar krisis saat ini adalah kekacauan di sektor finansial yang dimulai sejak 1980 saat Ronald Reagan dan Margareth Thatcher memelopori kampanye neoliberalisme di tingkat global. Lemahnya posisi Pemerintah AS berhadapan dengan berbagai perusahaan hedge funds dan pengelola dana investasi untuk tujuan spekulasi telah diprediksi Susanne Soderberg. Dalam The Politics of the New International Financial Architecture (2004), Soderberg menggambarkan, hubungan Pemerintah AS dengan korporasi finansial yang berpusat di Wall Street adalah seperti hubungan Dr Frankenstein dan monster pintar ciptaannya. Dengan mensponsori penerapan rumus-rumus neoliberal, Pemerintah AS menumbuhkan ‖blok‖ kapitalis finansial yang menggurita di Wall Street, yang kemudian menjeratnya dalam ketidakberdayaan dan posisi serba salah akibat besarnya dominasi perekonomian mereka. Pernyataan menteri keuangan G-8 yang bertemu di Osaka, Juni, juga tak menyinggung perlunya memperketat aturan main sektor finansial global. Pernyataan hanya menyebutkan, Financial innovation has contributed significantly to global growth and development, but in the light of risks to financial stability, it is imperative that transparency and risk awareness be enhanced. Poin tentang sistem finansial ada di bagian terakhir statement bersama dan paling pendek dibandingkan poin-poin pernyataan terkait harga komoditas, perubahan iklim, dan pembangunan Afrika. Pertumbuhan tanpa batas? Dalam konteks perubahan iklim, upaya Jepang membuka jalan bagi penyusunan traktat internasional

baru menggantikan Protokol Kyoto yang habis masa berlakunya tahun 2012 pada KTT ini tidak berhasil. Memang dicapai ‖komitmen umum‖ untuk pengurangan emisi pada tahun 2050, tetapi tidak dicapai kesepakatan tentang bagaimana target itu secara spesifik harus dicapai. Pernyataan G-8 hanya menyatakan, tiap anggota G-8 akan menyusun target masing-masing untuk periode jangka menengah setelah tahun 2012. Menanggapi hal ini, para pemimpin China, India, Brasil, Afrika Selatan, dan Meksiko membuat pernyataan bersama yang menolak kewajiban tiap negara mengurangi emisi 50 persen dengan menekankan kewajiban negara maju memulai langkah-langkah nyata ke arah itu. Para aktivis lingkungan juga mengecam keengganan negara G-8, terutama AS, untuk memberi komitmen nyata dan mengikat terkait pemanasan global. Data Greenpeace International menunjukkan, meski hanya dihuni 13 persen populasi dunia, negara G-8 memproduksi 80 persen emisi di atmosfer dan 40 persen emisi CO>sub<2>res<>res<. Komitmen ‖samar-samar‖ yang diberikan G-8 dinilai tak sebanding dengan dampak perubahan iklim dan global warming yang menimbulkan dampak berantai berupa kekeringan dan bencana alam di dunia. Penurunan emisi karbon akan menurunkan pertumbuhan ekonomi, tetapi amat penting menjaga kelestarian alam dan penghidupan di bumi, yang memperburuk kualitasnya karena industrialisasi dan eksploitasi alam nyaris tanpa batas. Perbedaan pendapat dalam isu pemanasan global menunjukkan dominasi berkelanjutan paradigma pembangunan pertumbuhan ekonomi atas paradigma pembangunan berwawasan lingkungan. Sulitnya menyatukan langkah dalam mengatasi aneka masalah serius dalam krisis global saat ini seakan membenarkan prediksi Karl Marx, ‖krisis berkelanjutan‖ dalam sistem kapitalisme global senantiasa bersumber dari kecenderungan melakukan akumulasi kapital yang tak kenal batas. Syamsul Hadi Pengajar Departemen Hubungan Internasional FISIP-UI

Krisis Kapitalisme Global
Oleh Eric Hiariej

Search :

SEORANG sejarawan ekonomi non-marxis, Karl Polanyi, pernah berteori tentang gagalnya demokrasi di Eropa sepanjang dekade 1930-an. Dalam bukunyaThe Great Transformation, Polanyi berargumen kegagalan tersebut bersumber pada praktik self-regulating market yang sengaja memisahkan aktivitas ekonomi dari masyarakat, sembari menciptakan sistem produksi yang dominan dan menentukan kehidupan sosial sehari-hari. Praktik semacam ini tidak punya preseden historis karena sebelumnya konsep dasar ekonomi sekalipun tidak diperdebatkan secara terpisah dari human action. Baru setelah revolusi industri, gagasan tentang ekonomi yang independen terhadap masyarakat diterima sebagai keniscayaan. Praktik self-regulating market pada dasarnya membawa perubahan radikal dalam hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan manusia dengan barang yang diciptakannya. Alam sebagai tempat manusia hidup, berkembang dan berinteraksi berubah menjadi natural asset yang nilainya tidak lagi ditentukan tradisi, sejarah atau kepentingan bersama, melainkan diukur berdasarkan keseimbangan antara tingkat kelangkaan dan kebutuhan produksi. Dalam hubungan produksi; upah, gaji dan insentif menggantikan reprositas dan jaminan sosial dalam interaksi sosial antarsesama manusia. Sedangkan uang yang menjadi alat pertukaran dalam kerangka reprositas dan jaminan sosial, berkembang menjadi komoditas berharga yang bukan saja bisa diperjualbelikan, tapi juga berangsur-angsur mendominasi manusia yang menciptakannya. Tegasnya, self-regulating market melakukan kapitalisasi terhadap alam, manusia, dan barang, mengubahnya menjadi komoditas yang bisa mendatangkan keuntungan. Ketika menjadi komoditas; alam, manusia, dan barang tercerabut dari akar-akar sosialnya, menjadi sebatas harga sewa, upah, dan bunga. Dengan lain perkataan, praktik self regulating market menciptakan-meminjam Marx-fetisisme kehidupan sosial. Dalam kehidupan sosial yang fetisis masyarakat terbelah dua menjadi kelompok yang lebih beruntung karena mengendalikan kapitalisasi dan komodifikasi, dan kelompok yang merugi yang tidak memiliki akses ke faktor-faktor produksi. Kelompok merugi juga merupakan manusia-manusia yang "terasing" dari "kemanusiaannya" yang dieksploitasi kelompok beruntung atas nama "pertumbuhan ekonomi". Dickens menggambarkan situasi semacam ini sebagai social and moral breakdown, sedangkan Disraeli menyebutnya dengan the fracturing of society into 'two nations'.

Berita Lainnya :

• Bung Hatta Diadili • Kesehatan Reproduksi di • Kawasan Krisis Timur Kapitalisme • Global Perempuan dan Minuman • Botol POJOK • REDAKSI YTH

• TAJUK RENCANA

dan menjaga nilai uang sebagai media pertukaran. paling tidak untuk negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Utara sampai awal dekade 1970-an. Pada fase pertama. sembari menciptakan fetisisme kehidupan sosial jilid dua. terjadi upaya membebaskan ekonomi dari kontrol masyarakat yang merusak ikatan-ikatan sosial dan menciptakan konflik kelas. Karenanya. Di saat bersamaan. berubah menjadi inflasi.Menurut Polanyi. Sedangkan di Perancis self-regulating market diikuti dengan second empire dari 1851-1871. Globalisasi ekonomi juga menciptakan double movement. Globalisasi ekonomi itu sendiri tak lain dari self-regulating market dalam penyamaran yang kembali membebaskan dirinya dari kontrol masyarakat. Menjawab krisis yang sedang menganga. terutama. economies of scope. sembari membentuk kekuatan bersama melawan kelas menengah-bawah. Fordisme digantikan sistem produksi (yang kemudian disebut) PostFordisme yang lebih menekankan fleksibilitas. upaya merebut kembali kendali ekonomi berhasil melembagakan dirinya dalam Fordisme dan kebijakan ekonomi Keynesian. seraya membenahi efek-efek sosial negatif yang ditimbulkan kapitalisasi dan komodifikasi. setelah berakhirnya PD II. praktik ekonomi ini melahirkan double movement dalam sebuah dialektika historis. penerapan pasar bebas di masa-masa itu terjadi bersamaan dengan tampilnya "negara kuat" di beberapa tempat. melindungi transaksi ekonomi dari perilaku yang melenceng. aristokrasi pemilik tanah dan borjuis berkoalisi untuk menguasai pemerintah. pengangguran dan menurunnya investasi di negara-negara berkembang. Yang jelas. kubu konservatif melalui Thatcher di Inggris dan Reagan di Amerika berhasil menguasai pemerintah. dan di Jerman dengan tampilnya Bismark. self-regulating market tidak datang dengan sendirinya. proderegulasi dan menghendaki perdagangan bebas. Fordisme dan kebijakan Keynesian melewati masa emasnya. dengan bertebarannya gerakan-gerakan anti-globalisasi di berbagai belahan dunia. penumpukan produksi. Fordisme dan kebijakan Keynesian kemudian berhasil memberikan demokrasi dan kesejahteraan ekonomi. Pada fase berikutnya. negara berperan besar menjamin property rights. perjuangan demokratisasi di fase kedua memperoleh tantangan dari Fasisme dan Stalinisme. Tapi. Sebaliknya. masyarakat berangsur-angsur merebut kembali kendali atas kehidupan ekonomi. Upaya ini dilakukan. Seperti yang diperkirakan. Di Inggris semenjak 1840. argumentasi Polanyi belum terlalu usang untuk menjelaskan "globalisasi ekonomi" yang melanda dunia sejak dekade 1980-an. Cerita globalisasi ekonomi bermula dari krisis ekonomi di awal 1970-an. di wilayah politik melalui perjuangan menuntut demokrasi yang dilakukan kelompok sosial marginal. Masih menurut Polanyi. Kebijakan Keynesian disingkirkan oleh model ekonomi neo-liberal yang antiintervensi negara. Negara juga harus kuat agar mampu menahan gempuran kelas bawah dari kota maupun desa. sistematisasi produksi dan sistem kerja self-employment. *** TAMPAKNYA. . keduanya mengampanyekan bringing the market back in. Situasi tersebut masih diperparah dengan meningkatnya harga bahan bakar minyak dan perlombaan senjata Amerika dan Soviet yang menguras banyak modal.

di antaranya. mendorong nilai tukar yang kompetitif. nasionalisme. liberalisasi finansial. melalui pendalaman kapitalisasi dan komodifikasi di sektor perdagangan. mempermasalahkan globalisasi karena mudahnya perpindahan manusia melampaui batas teritori membawa kerugian sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat. sedangkan yang miskin bertambah melarat. IMF dan World Bank mengekspor "Washington Consensus" ke negara-negara berkembang. kebebasan perpindahan uang mencari lokasi yang paling menguntungkan menjadikan uang itu sendiri sebagai komoditas yang mendatangkan keuntungan. globalisasi menciptakan New International Divison of Labour berdasarkan perbedaan produk suku-cadang dalam sebuah sistem produksi global. Washington. dan anti-globalisasi. Kebijakan-kebijakan neo-liberal pada awalnya menyebar ke Eropa Barat dan Jepang. Panduan ini berisi kebijakan-kebijakan semacam menjamin disiplin fiskal. Lalu. Di Eropa. menciptakan individualisasi proses produksi ketika kontribusi buruh terhadap produksi dihitung sendiri-sendiri berdasarkan kontrak individual. deregulasi ekonomi. di antaranya. tapi juga menentang kekuatan politik (terutama pemerintah Amerika) yang membentengi globalisasi. Sementara di sektor produksi. Seperti yang diduga. yakni fundamentalisme. liberalisasi perdagangan. dan negara. Kemudian. privatisasi perusahaan negara. dan orang-orang Afrika yang sekarat karena kelaparan di Somalia. kemajuan teknologi memungkinkan pemilik kapital merelokasi usahanya ke tempat yang paling menguntungkan. seraya mengintegrasikan berbagai tingkatan yang berbeda dari setiap aktivitas nilai tambah dalam sebuah jaringan global. kelas. dan finansial. Gerakan fundamentalisme mengedepankan "agama" sebagai solusi terbaik untuk mengembalikan kontrol sosial atas ekonomi. Perbedaan sosial semakin menajam dan terpolarisasi ketika yang kaya bertambah kaya. sekurangnya terdapat tiga macam gerakan perlawanan. Jika dikategorikan. Pendek kata. Post-Fordisme dan ekonomi neo-liberal dibakukan dalam "Washington Consensus" yang tak lain dari panduan mengembangkan self-regulating market bagi seluruh negara di dunia. agama. Gerakan ini. Pertama-tama. Gerakan ini bukan saja melawan ideologi dominan (neo-liberalisme) di balik self-regulating market. produksi. buruh maupun petani berunjuk rasa menolak Uni Eropa. Di sektor perdagangan. kelompok Neo-Nazi. dan World Bank. dan Genoa. berbagai bentuk perlawanan muncul di mana-mana. mengurangi belanja publik. Di Seattle. reformasi pajak. Sedangkan di sektor finansial. Banten.Selanjutnya. kekuatan buruh untuk melawan kondisi kerja yang buruk secara kolektif menjadi berkurang. globalisasi ekonomi melahirkan disparitas. Di Meksiko. dan perlindungan terhadap property rights. Nasionalisme juga ingin mengembalikan (kejayaan) negara-negara yang diterjang habis-habisan . melancarkan investasi asing. Chiangmay. Globalisasi ekonomi kemudian tanpa bisa dibendung menjelma menjadi ekspansi pasar bebas ke seluruh dunia dan aspek kehidupan. berbagai kelompok sosial lintas etnik. Globalisasi ekonomi. Melbourne. selfregulating market jilid dua ini menciptakan kesenjangan global. berdemonstrasi menolak WTO. self-regulating market melahirkan milyuner semacam Bill Gate di tengah-tengah buruh-buruh pabrik sepatu yang tertindas di Tangerang. Oleh karena itu. kadar eksploitasi juga meningkat pesat. Nasionalisme merupakan bentuk perlawanan yang ingin meraih kendali kehidupan ekonomi melalui purifikasi bangsa. Akibatnya. melalui structural adjustment program. para petani melalui pemberontakan Chiapas menentang perdagangan bebas ala Nafta. IMF.

yang tak lain dari Fordisme dan kebijakan Keynesian yang bertumpu pada kompromi kebutuhan kesejahteraan buruh dan kepentingan akumulasi kapital pemilik modal melalui. Sebaliknya. self-regulating market akan berakhir dengan "demokrasi". Polanyi juga mengingatkan. gerakan-gerakan perlawanan ini belum juga berhasil mengakhiri self-regulating market. ujung dari krisis ini bisa jadi bukan demokrasi. di antaranya. Akan tetapi. antiglobalisasi adalah gerakan perlawanan terhadap kapitalisme global. gerakan anti-globalisasi lebih dekat dengan ide-ide demokrasi. Sejauh ini gerakan antiglobalisasi sudah memberikan perlawanan yang berarti. peneliti pada Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM. dibanding dua gerakan lainnya. Yang menarik. kemenangan "demokrasi" berada di bawah bayang-bayang ancaman Fasisme dan Stalinisme. Eric Hiariej Staf Fisipol UGM. Ironinya. Lebih gawat lagi. Tampaknya. Sementara globalisasi ekonomi mulai dipertanyakan dan ditentang. "kemenangan demokrasi" masih harus diperjuangkan. *** BERDASARKAN cerita Polanyi. situasinya menjadi stalemate. Praktis. . Gerakan ini menganggap globalisasi ekonomi merupakan sumber kemiskinan dan kesenjangan sosial dunia kontemporer. Namun. "demokrasi" baru bisa menang (di Eropa Barat dan Amerika Utara) setelah beraliansi dengan Stalinisme untuk mengalahkan Fasisme dalam PD II. Belum lagi gerakan ini masih harus berurusan dengan fundamentalisme dan nasionalisme yang memiliki proyeksi dunia masa depan yang berbeda (dan bisa jadi bukan demokrasi). baru itu saja kekuatan gerakan anti-globalisasi. menuntut inklusi politik yang lebih luas dan juga partisipasi masyarakat dalam kehidupan ekonomi dan sosial sehari-hari. yang terjadi adalah krisis global. resistensi terhadap ekspansi pasar bebas tidak cukup kuat untuk memenangkan pertarungan. menghendaki kebebasan politik maupun keadilan ekonomi. Sementara itu. Gerakan ini memperjuangkan kepentingan kelas tertindas. sekalipun Post-Fordisme dan kebijakan ekonomi neo-liberal terbukti mengandung krisis-krisis bawaan. praktik welfare state. Sementara globalisasi ekonomi mulai sempoyongan karena gagal memenuhi janjinya memberikan kesejahteraan. jika fundamentalisme atau nasionalisme yang berhasil mendominasi. dan peneliti Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta. Boleh dibilang pertemuan Davos yang melibatkan beberapa NGO yang sangat moderat tidak akan berlangsung jika tidak diawali sebelumnya dengan demonstrasi di Seattle.oleh self-regulating market.

Saat ini pelaksanaan otonomi daerah telah melahirkan perubahan yang cukup signifikan. Di tengah era globalisasi yang serba cepat. Komitmen ini telah . masyarakat diharapkan memiliki daya tahan dan daya adaptasi yang tinggi agar mampu menjalani kehidupan masa depan dengan sukses. keistimewaan. 18A. Menurut Prof. pelaksanaan. Hal ini terwujud dalam Sistem Desentralisasi yang secara legal dilahirkan lewat UndangUndang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian menyebabkan Perubahan Kedua UUD 1945 seperti tertuang pada Bab VI Pemerintahan Daerah pasal 18. dan peran serta masyarakat serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi. Perubahan aturan negara seperti di atas menempatkan daerah menjadi aktor sentral dalam pengelolaan republic yaitu dalam prinsip otonomi dengan desentralisasinya. Ketua DPD RI. bahwa daerah menjadi pengambil kebijakan sentral dalam mengatur dan mengurus pemerintahannya sendiri menurut asas otonomi dan tugas pembantuan (medebewind) serta diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. Kepemimpinan Indonesia. serta penuh dengan kreativitas. Jika pada era Orde Baru kekuasaan sangat bersifat sentralistik. terutama berhubungan antarpelaku pembangunan. pemberdayaan. reformasi melahirkan sistem pembagian kekuasaan yang mulai terdistribusi antara pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah. Ginandjar Kartasasmita. pengambilan keputusan dalam perencanaan. dan kekhususan suatu daerah dalam sistem NKRI. Psikologi | Reformasi yang telah bergulir sejak tahun 1998 memberikan dampak yang luas pada perubahan sistem pemerintahan. Namun dalam prakteknya otonomi daerah masih menghadapi kendala yang harus segera dicarikan jalan keluarnya atau penanganannya secara sungguh-sungguh. dan pengawasan pembangunan. dan 18B. Community Development. pemerataan. Salah satu kendala yang dipaparkan oleh Ginandjar Kartasasmita adalah kurangnya kreativitas dan partisipasi masyarakat secara lebih kritis dan rasional. ―Perubahan aturan main mengenai pemerintahan daerah merupakan afirmasi-konstitusi. Pemberdayaan Masyarakat. berpartisipasi aktif. pemerintah melontarkan komitmen yang berlevel internasional. pemikiran anak muda | Tags: Appreciative Inquiry. keadilan.Konsep dan Metode Pemberdayaan Masyarakat Indonesia 17 June 2008 in Psikologi. Untuk mencapai tujuan pembangunan masyarakat agar lebih berdaya.

2007). dengan tujuan pertama adalah mengatasi dan/atau memberantas kemiskinan dan kelaparan (United Nations. Hasil deklarasi tersebut kemudian dituangkan dalam dokumen ”Rencana Pelaksanaan KTT Pembangunan Berkelanjutan”.ditandatangani dalam KTT Millenium PBB pada tahun 2002 bersama 189 negara lainnya. Dalam laporan tersebut. membuat semakin sulit bagi seorang individu untuk menghadapi perubahan sendirian. terkecil sekalipun. September 2002. Dengan demikian individu. provinsi. Dalam deklarasinya negara peserta menerapkan Tujuan Pembangunan Milenium atau Millennium Development Goals (MDGs). Dengan demikian. Apalagi melihat kenyataan. Afrika Selatan. era ini merupakan kehidupan yang bercirikan perubahan yang cepat. tingkat harapan hidup. penuh resiko. HDI atau IPM Indonesia yang diukur dari pendapatan riil per kapita. tingkat melek huruf dan kualitas pendidikan dasarnya. Dimana pemerintah dan semua perangkatnya dalam semua level. 2000). atau mengambil kendali perubahan. yang merupakan perubahan disektor ekonomi dan . terdapat 8 (delapan) tujuan (goal) yang hendak dicapai sampai tahun 2015 oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Sebagaimana kita alami. kelompok atau komunitas harus melakukan berbagai upaya untuk ikut berubah. Dalam MDGs tersebut. menyesuaikan diri. Di sisi lain interdependensi antara komunitas. menunjukkan bahwa kualitas manusia Indonesia makin memburuk dalam 10 tahun terakhir. namun dalam Human Development Report 2007 yang dikeluarkan oleh UNDP. yang juga telah ditandatangani oleh pemerintah Indonesia untuk menjadi acuan dalam melaksanakan pembangunan di Indonesia dengan target memberantas kemiskinan pada tahun 2015. baik pemerintah pusat. walaupun pada tahun 2006 terdapat peningkatan ranking ke 110 (UNDP. kompleks. dan dunia sebagai totalitas. ternyata peringkat Indonesia masih berada di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya. kabupaten/kota bersama-sama dengan berbagai unsur masyarakat memikul tanggungjawab utama untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan sekaligus memberantas kemiskinan yang terjadi di Indonesia paling lambat tahun 2015. kenaikan harga BBM misalnya. Peringkat Indonesia dari tahun ketahun selalu menurun dari 110 menjadi peringkat 112 dari 175 negara yang dinilai UNDP (2003). pemerintah Indonesia telah membuat komitmen nasional untuk memberantas kemiskinan dalam rangka pelaksanaan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). dan penuh dengan kejutan. Komitmen semua negara di dunia untuk memberantas kemiskinan ditegaskan dan dikokohkan kembali dalam ”Deklarasi Johannesburg mengenai Pembangunan Berkelanjutan” yang disepakati oleh para kepala negara atau kepala pemerintahan dari 165 negara yang hadir pada KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg. Kendati Indonesia ikut serta dalam kesepakatan global melaksanakan MDGs untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dicanangkan PBB sejak 2000.

CD adalah bekerja bersama masyarakat sehingga mereka dapat mendefinisikan dan menangani masalah. 2004). CD adalah sebuah proses pembangunan jejaring interaksi dalam rangka meningkatkan kapasitas dari sebuah komunitas. Kesesuaian antara kebijakan pemerintah dengan konsep pemberdayaan masyarakat seperti CD ini membutuhkan pendekatan yang tepat dalam mengimplementasikannya. 2001). dan menciptakan perdamaian. Dalam sepuluh tahun terakhir. Dalam bidang sosial. CD tidak bertujuan untuk mencari dan menetapkan solusi. menciptakan pembaharuan organisasi. melakukan transformasi komunitas. struktur penyelesaian masalahatau menghadirkan pelayanan bagi masyarakat. Sejak tahun 1960. tetapi tidak tertutup kemungkinan terjadinya situasi saling menyalahkan atas masalah yang terjadi. Appreciative Inquiry digunakan untuk memberdayakan komunitas pinggiran.. membangun pemimpin religius. Fry dkk. lahir sebuah konsep pemberdayaan komunitas yang disebut Community Development (selanjutnya disebut CD). serta terbuka untuk menyatakan kepentingankepentingannya sendiri dalam proses pengambilan keputusan (StandingConference for Community Development.energi akan mempengaruhi sector kehidupan yang lain. Di sisi lain. mendukung pembangunan berkelanjutan. Ludema dkk. Pengembangan otonomi daerah yang diarahkan pada partisipasi aktif dari masyarakat sangat sesuai dengan konsep yang ditawarkan oleh CD. pendekatan Strengh Based (Berbasis kekuatan) dengan sebuah produk metode Appreciative Inquiry terpusat pada potensi-potensi atau kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh individu atau organisasi untuk menjadikan hidup lebih baik. penyelesaian cara pemecahan yang tepat. perubahan kota.. Keberhasilannya tergantung pada adanya identifikasi dan diagnosis yang jelas terhadap masalah. 2000. mengarahkan proses merger dan akusisi dan menyelesaikan konflik. Cooperrider dkk. dalam Gergen dkk. Pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari sudut pandang Deficit based dan Strength Based. 2005). pendekatan ini bisa menghasilkan sesuatu yang baik. . seperti untuk mengubah budaya sebuah organisasi. 1987. 2000. Pendekatan Deficit-based terpusat pada berbagai macam permasalahan yang ada serta cara-cara penyelesaiannya. Appreciative Inquiry menjadi sangat populer dan dipraktekkan di berbagai wilayah dunia. Appreciative Inquiry merupakan sebuah metode yang mentransformasikan kapasitas sistem manusia untuk perubahan yang positif dengan memfokuskan pada pengalaman positif dan masa depan yang penuh dengan harapan (Cooperrider dan Srivastva. Dalam pelaksanaannya. serta penerapan cara pemecahan tersebut. dan pengembangan kualitas hidup masyarakat (United States Departement of Agriculture. 2002.

usda. http://www.ekonomirakyat.com/2007/08/08/bedah-kasus-appreciative-inquiry-instrategic-planning/ (Diakses pada 26 Mei 2008. Disampaikan pada Seminar Nasional.wordpress. Husein Sawit 22 spt 2008 USULAN KEBIJAKAN BERAS DARI BANK DUNIA: RESEP YANG KELIRU ABSTRAK . Ginandjar. pukul 11. Lubis. Tahun 2006 Internet http://appreciativeorganization. 2006. Makalah: Dewan Perwakilan Daerah dan Otonomi Daerah.com/doc/732997/laporanlokakaryaAIlowres (Diakses pada 29 Mei 2008. Strategic Framework for Community Development. 2002.sccd. Bandung. 2-3) Sairin. & Whitney D.org/ M. Sjafri. Dipresentasikan pada Temu Ilmiah Dalam Rangka LUSTRUM IX Fakultas Psikologi Unpad.28) http://www. Theresiah. http://ocdi. A Positive Revolution in Change: Appreciative Inquiry (Vol. Community Development Technical Assistance: Handbook.uk United States Depatment of Agriculture (2005).gov http://www.Sumber: Buku Cooperrider D. 1.scribd. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Makalah Kartasasmita.50) Standing Conference for Community Development (2001). pukul 11. pp. Makalah : Community Development dan Nilai-Nilai yang Mendasari.org. Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia. Institut Teknologi Bandung (ITB) Dalam Rangka Memperingati Seratus Tahun Kebangkitan Nasional. L. 17 Mei 2008.

apalagi ahli asing. termasuk ekonomi Indonesia (Perkin 2004). apabila kurang dukungan publik. pasar dapat menyelesaikan instabilitas harga. perbankan dikuasai oleh perusahaan asing. Akhir-akhir ini. Bank Dunia semakin sering mengeritik pemerintah tentang kenaikan harga beras. diperkirakan itu akan sulit diimplementasi di lapangan. tentang cara-cara menyusun kebijakan publik di era demokrasi.berperan besar dalam mendikte kepentingan masyarakat banyak. Lembaga pemerintah seperti Bulog dianggap tidak becus dalam melaksanakan fungsinya. para teknokrat dan birokrat –dibantu oleh tenaga ahli asing. peran masyarakat dalam proses penyusunan kebijakan publikseperti kebijakan beras. serta akan selalu dipersoalkan . ciptakan lapangan kerja. Pendapat Bank Dunia termasuk juga berbagai hasil penelitiannya. Disamping itu. Industri padi/beras adalah salah satu diantaranya. serta terlalu banyaknya sumberdaya alam. tidak kredibel di mata masyarakat luas di Indonesia. Tampaknya. Tujuan makalah ini adalah untuk menilai kelemahan cara pandangan yang bias tentang kebijakan beras Bank Dunia. apalagi oleh lembaga asing yang kurang memahami rumah tangga petani dan masyarakat desa secara mendalam. kurang dukungan Pemda. Itu konsep pengentasan kemiskinan yang keliru.haruslah lebih besar. DPR. Di Makasar misalnya. melepas cadangan beras nasional ke swasta. Bank Dunia semakin aktif melobi dan menawarkan resep buat pemerintah. ini akibat dari reputasi mereka masa lalu. Seharusnya yang diberi peran besar adalah masyarakat sipil. mendorong agar swasta diperankan sebagai stabilisator harga dalam negeri. Lembaga ini telah lama mengeritik dan menintervensi sejumlah kebijakan pembangunan ekonomi. seperti Bank Dunia. agar Indonesia menempuh privatisasi lembaga pangan. Itu bukan lagi menjadi domain peneliti. dan peneliti dalam merancang kebijakan publik. Pada era sentralisasi Orba. DPR/DRPD. apabila saran-saran mereka diterapkan pemerintah. Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi pembangunan. partai politik. sehingga mereka tidak nyaman bekerja. Sebaik apapun saran Bank Dunia. Kebijakan beras itu adalah domain kebijakan publik. dan liberalisasi impor. Pemda. Namun dalam era demokrasi. serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor pertanian di mana penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya. Yang benar adalah gerakan sektor riil. Sebelumnya. Bukan membuat harga beras murah. Mereka yakin sekali. baik terbuka maupun tertutup. bahwa kemiskinan di negera-negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan pangan. Itu akibat dari peri laku mereka sebagai salah satu lembaga perusak ekonomi. Dalam makalah ini dibahas tentang kelemahan cara pandang Bank Dunia terhadap kebijakan beras di Indonesia. bukan melihat kemiskinan manusia yang bersifat struktural dan kronis.Kebijakan perberasan Indonesia telah menjadi perhatian buat sejumlah lembaga internasional. tidak boleh didikte oleh segelintir para ahli. Bank Dunia terpaksa harus menghilangkan atribut Bank Dunia di kantor di mana proyek mereka ada. terutama yang dikaitkan dengan kemiskinan. maupun kemiskinan (World Bank 2007). tidak boleh didikte oleh peneliti. pemerintah daerah. belum belajar dari kekecewaan masyarakat Indonesia atas keambrukan ekonomi. masyarakat Indonesia pasti mencurigainya. terjerat hutang luar negeri. Kelemahan itu mencakup pengukuran kemiskinan yang terlalu sempit. Domain Publik bukan Domain Peneliti Bank Dunia seharusnya memahami benar. Pendahuluan Sejak akhir 2006. Perilaku Bank Dunia di Indonesia tampaknya belum berubah. Kebijakan beras harus mendapat dukungan luas dari masyarakat sipil. kelakuan Bank Dunia belum banyak berubah di era desentralisasi dan demokrasi. hampir setiap hari ada saja demonstrasi ke kantor proyek Bank Dunia. termasuk kebijakan perberasan. dan bias jangka pendek.

6 . Data SUSENAS haruslah dianalisa dengan hati-hati dalam kaitannya dengan estimasi produksi musiman dan pengeluaran musiman.35 Ha. tempat kerja dll. belum termasuk konsumsi tidak langsung seperti makan di warung. Net Konsumen? Data Susenas vs data Tingkat Usahatani Bank Dunia mengatakan bahwa telah terjadi kenaikan jumlah orang miskin yang cukup serius sejak harga beras naik. dan defisit hanya pada MP (musim paceklik). Ini menunjukan juga bagaimana miskinnya Bank Dunia dalam memahami pikiran para ahli Indonesia./ Kapita 120. mereka menghindari diskusi terbuka dengan masyarakat luas (civil society) atau dengan para pakar Indonesia di luar kubu mereka.33 Ha. Data itulah yang dipakai Bank Dunia untuk mempertahankan argumentasinya. Tetapi. Kebijakan beras yang mereka susun itu (Bank Dunia 2007) melulu mengacu ke literatur asing. Itu buruk buat penduduk miskin./ Kapita 114.oleh DPR/DPRD. Namun.5 106. Pola panen padi adalah musiman. Namun. karena sebagian besar petani adalah net konsumen. MK1 (musim kemarau pertama) dan MK2. masing-masing seluas 0.6 57. Per kapita konsumsi beras oleh petani miskin dan petani tidak miskin di DAS Brantas. Hasilnya adalah defisit produksi (net consumer). Ini keterlaluan. Bank Dunia langsung menyampaikan gagasannya ke tingkat pengambilan keputusan tentang kebijakan beras ke Kantor Menko Perekonomian atau ke sejumlah menteri lain yang sealiran dengan Bank Dunia./ kapita Hulu 42. Table 1. Penulis juga kaget. tetapi diabaikan tanpa dipakai sebagai bahan rujukan. seperti di lembaga PBB (CAPSA) di Bogor. khususnya padi di Indonesia. Luas ini adalah umum dijumpai pada usahatani pangan. sebagian besar petani padi adalah net konsumen.5 Petani Miskin % RT Tidak Kg. Mereka melaporkan bahwa konsumsi per kapita sebesar 107 Kg/kap/tahun (Table 1). Bank Dunia juga rajin menyampaikan gagasan perubahan kebijakan beras pada berbagai forum sejak akhir 2006. Para petani mengelola usahatani padi untuk MH. Ini adalah jumlah yang dikonsumsi langsung oleh rumah tangga tani. hasil studi intensif yang dilakukan oleh Sumaryanto dkk (2002) di DAS Brantas dilaporkan sebaliknya. baik dengan cara mengundang sejumlah ahli Indonesia ke markas mereka di Jakarta. Jawa Timur: 1999/2000. ada power point tentang kebijakan beras Bank Dunia disiapkan untuk SBY. seolah-olah terjadi sepanjang tahun.5 120 HHTOTAL Kg. mereka surplus pada MPR (musim panen raya) dan MPG (musim panen gadu). Padahal. SUSENAS menaksir tahunan berdasarkan hasil penelitian seminggu. banyak studi tentang padi/beras yang telah dilakukan oleh para ahli bangsa Indonesia. 0. kemudian dikalikan menjadi tahunan. Wilayah Petani % RT Miskin Kg. pesta. Namun mereka mencoba mempengaruhi sejumlah menteri ekonomi yang beraliran neo liberal. data SUSENAS BPS memperlihatkan sebaliknya. dan 0.23 Ha per petani. Dari total hampir 100 jumlah literatur. hanya 3-4 literatur yang ditulis oleh orang Indonesia asli. Pandangan ini adalah keliru. Atau mengadakan seminar di luarnya.

Peningkatan produktivitas dan efisiensi.0 56.5 200 160 480 105. khususnya beras yang menghasilkan non-food services. manakala industri beras/padi redup. Keredupan ini. distribusi pendapatan. tidak mampu menutupi ongkos produksi. Mereka tidak menilai peran pangan. namun negatif pada MK2.1 48. khususnya pembangunan perdesaan. Itu menyangkut stabilitas politik.2 101.3 Note: RT=Rumah tangga Sumber: Sumaryanto dkk (2002) Rataan produksi padi sekitar 462 Kg/kapita/tahun. maka industri itu harus dianalisa keterkaitannya yang luas. dipaksakan untuk keluar . insentif non-harga tidak ampuh manakala harga gabah/beras terlalu rendah. merupakan cara pandang sempit. sebagai salah satu insentif buat pelaku usaha.1 107. hanya sekedar untuk mencapai kepentingan jangka pendek. asumsi net konsumen untuk petani padi adalah tidak didukung oleh data empiris. 1) Marketable surplus adalah produksi dikurangi konsumsi rumah tangga yang sedang dipelajari Terabaikan Peran Non-Food Services Seterusnya. tidak dianalisa secara parsial. tidak dengan sendirinya akan tergantikan oleh komoditas lain. Kita jangan mengorbankan kepentingan jangka panjang. Adalah hampir tidak mungkin. seperti hortikultura.3 102.9 103.2 105. Konsumen seharusnya perlu membayar harga beras lebih tinggi dari tingkat harga pasar. jangan bias ke jangka pendek.Tengah Hilir Total 53. penyerapan tenaga kerja. bukan saling menggantikan. menyerap tenaga kerja yang begitu besar.6 107. Kalau suatu industri yang erat kaitannya ke depan dan kebelakang. bahwa padi/beras adalah industri kunci dalam pembangunan. atau hanya net konsumen di musim paceklik (MK2). sehingga luas usahatani merosot (Sumaryanto dkk 2002). Itu hanya cara hitung menghitung. terutama di perdesaan. laporan Bank Dunia (2007) itu juga terlalu sempit dalam melihat industri beras yaitu hanya sebagai industri penghasil padi/beras untuk tujuan komersial belaka. Kembali ke harga. industri padi/beras harus dilihat dengan hati-hati dan bijaksana.7 107. Insentif harga dan non-harga akan saling memperkuat. Oleh karena itu. sekiranya non-food services itu diperhitungkan. Yang benar adalah mereka net produsen pada dua musim pertama. Tingkat kemiskinan yang dikaitkan dengan harga beras. kemiskinan jangka panjang dapat dikurangi secara berkelanjutan. Kita tidak boleh menghambat suatu industri yang punya keunggulan komperatif. tidaklah tepat untuk mengasumsikan bahwa semua petani sempit sebagai net konsumen sepanjang tahun. Oleh karena itu. stabilitas ekonomi. Harga beras yang berlaku di pasar belum memperhitungkan non-food services yang ia berikan ke publik (Dillon dkk 1999). Seperti yang telah dibahas sebelumnya.2 47.0 43. Marketable surplus di musim hujan lebih tinggi dari MK1. Terungkap adanya marketablesurplus 1) sekitar 354 Kg/kap/tahun.7 109. itu terkait dengan non-price incentive. pengangguran tinggi. Oleh karena itu. namun itu bukanlah satu-satunya insentif buat mereka. Oleh karena itu. Keputusan konsumsi dan pengeluaran bergantung pada asumsi itu. Pada MK2. amat jangka pendek dan ad hoc sifatnya.9 51. banyak petani tidak tanam padi karena kekurangan air. merupakan insentif lain yang tidak boleh dibaikan.

Pada situasi pengangguran tinggi dan penggangguran tidak kentara di desa amat menonjol. Itu mengingatkan pengalaman Mexiko dalam meliberalisasi komoditas jagung sebagai makanan utama mereka. ciptakan lapangan kerja. Apabila mereka beralih ke sektor lain dalam kondisi infrastruktur itu belum diperkuat. maka risikonya menjadi besar. Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi. insentif untuk bekerja di sektor pertanian merosot. Namun. Yang benar adalah gerakan sektor riil. Perdagangan tentu tidak dapat menyelesaikan semua itu. dan 2003. Insentif harga adalah salah satu yang tidak boleh diabaikan untuk itu. Yang terjadi adalah peningkatan kemiskinan dan pegangguran di perdesaan Mexiko. 23%. Namun petani Mexiko tidak beralih ke tananam kentang. karena pemerintah belum menyiapkan infrastruktur yang layak untuk itu. Harga beras adalah komponen inflasi. pada saat harga beras turun murah yaitu terjadi pada periode import surge yang tinggi periode 1998. Namun peran non-beras jauh lebih tinggi mencapai 77%. menemukan bahwa angka kemiskinan BPS amat sensitif dari pengaruh inflasi. maka akan menggiring petani sempit untuk menanggung risiko yang tinggi. Peningkatan pendapatan dari pekerjaan yang mereka tekuni. karena infrastruktur pemasaran dan distribusi yang masih amat lemah. Pada saat kita mengabaikan sektor kunci seperti sub-sektor padi/beras. Ia juga mengatakan bahwa adalah keliru kalau memfokuskan pengentasan kemiskinan dari sisi pengeluaran dan harga. Itu konsep pengentasan kemiskinan yang keliru. Ia mengatakan bahwa Bank Dunia keliru dalam menyimpulkan hubungan itu. Mengotak atik harga pangan agar dibuat murah. Penyakit utama adalah lapangan kerja yang terbatas. kriminalitas dan keresahan sosial yang terus bertambah. Pengembangan hortikultura misalnya. Ia juga menyebutkan bahwa hasil penelitiannya dan penelitian lain seperti yang dilakukan UNIDO dan UNSFIR. pada saat harga beras naik.dari industri itu. produktivitas rendah. padahal industri lain belum kuat terbangun. Perkotaan akan menerima beban dan akibatnya. apalagi kemiskinan. sama saja memberi obat penghilang rasa rasa sakit sementara (pin killer). Beras memang besar kontribusinya dalam inflasi. Harga Beras dan Kemiskinan: Keganjilan Analisa Kelemahan lain kaitan harga beras dengan kemiskinan yang dibuat Bank Dunia. Itu amat tidak realistis. seperti kekumuhan. 2002. Itu buah dari urbanisasi yang berlebih. itu akan menambah kemiskinan dan akan mendorong bertambahnya urbanisasi. tetapi tidak menyembuhkan penyakit itu sendiri. mengabaikan peningkatan pendapatan serta lapangan kerja di perdesaan. yang belum tentu penyebab inflasi itu sendiri. harga beras dianggap sebagai faktor penyebabnya. Penanganan kentang berbeda dengan jagung. dan petani jagung dialihkan ke kentang. mereka pindah ke kota. serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor pertanian di mana penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya. Demikian juga. Rendahnya pengeluaran keluarga miskin akibat dari ketidakmampuan mereka untuk memperoleh pendapatan yang layak. terutama dalam penyimpanan. telah dibahas dengan baik oleh Sugema (2006). Penyebab inflasi tidak sama dengan komponen inflasi. tidak sebaliknya. Bukan membuat harga pangan atau beras murah sehingga menjadi tidak wajar buat petani. mendorong aktivitas padat kerja adalah solusi yang tepat untuk atasi . meningkatkan produktivitas kerja. Industri padi/beras adalah salah satu diantaranya. Sebagian juga bermigrasi ke AS (IATP 2007a dan Albert 2004). Itu tidak akan mampu mengurangi jumlah orang miskin secara berkelanjutan. ternyata jumlah orang miskin tetap tidak berkurang secara signifikan. akan berisiko tinggi dan instabilitas harga yang besar. bahwa kemiskinan di negera-negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan pangan.

Impor beras dari AS meningkat di era liberalisasi dan era tarif. menghitung kemiskinan manusia di Indonesia sebesar 25%. bukan kemiskinan pendapatan. Atas dasar inilah kemudian UNDP merancang kemiskinan manusia. data memperlihatkan bahwa impor beras Indonesia dari AS cukup tinggi diantara negara maju yang mengekspor beras ke Indonesia. hanya 2 ribu ton pada 2005 (Tabel 2). Sayang. Itu hanya mungkin dipecahkan oleh pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kalaupun diekspor ke Asia. Belum banyak memberikan perhatian pada konsep Sen (2000) tentang kemiskinan non-pendapatan. Hampir separoh impor beras ke Indonesia yang datang dari negara maju berasal dari AS. Sehingga Indonesia amat terkebelakang di antara negara ASEAN dalam menyediakan dana untuk kesehatan yang terkait dengan harapan hidup. konsep kemiskinan manusia kurang dipakai sebagai acuan dalam penyusunan program pembangunan daerah maupun nasional. akses terhadap air minum yang bersih. kalau konsep kemiskinan manusia yang dipakai. Namun. perumahan. jenis berasnya berbeda. AS berperan penting dalam impor beras ke Indonesia. Impor Beras Indonesia dari Negara Maju dan AS: 1996-2005 (MT) . yang disebut Human Development Index. impor beras dari AS menurun drastis. Tabel l 2. terbesar selama 10 tahun terakhir. Juga penting untuk disikapi secara kritis adalah cara pengukuran tingkat kemiskinan itu sendiri. diterbitkan oleh BPS. sehingga berkurang pula kemampuannya untuk menyerap pengadaan beras/gabah dalam negeri. bandingkan dengan kemiskinan pendapatan BPS hanya 11% pada 1996. sehingga menghasilkan jenis beras baru dengan harga yang lebih murah. Atau itu telah memperbesar stok Bulog. juga dana untuk pendidikan. Setelah Indonesia menerapkan batasan impor beras sejak 2004. Pada 1996. Impor Beras dari AS tidak Penting? Bank Dunia (2007) juga mengatakan bahwa ekspor beras AS berpengaruh kecil ke Asia. serta adanya intervensi pemerintah yang terarah ke orang miskin. sehingga harga pasar jenis itu tidak terkait sama sekali (almost completely disconnected) dengan beras lokal. maka harga beras atau pangan tidaklah sensitif sebagai penyebab kemiskinan. adalah tahun-tahun tertinggi impor beras dari AS yaitu mencapai masing-masing 178 ribu dan 108 ribu ton. tentunya juga ke Indonesia. Pengukuran kemiskinan sebelum krisis terlalu banyak bersandar pada kemiskinan pendapatan berdasarkan indikator konsumsi. UNDP telah membuat indek tentang itu. pertumbuhan yang pro-poor. Ekspor beras AS banyak ditujukan ke Amerika Latin. Bappenas dan UNDP. Capability poverty terkait dengan kemiskinan struktural dan kronis. Tingkat kemiskinan itu tidak sensitif terhadap harga maupun inflasi. Beras dari AS yang murah harganya. meningkat menjadi 75 ribu ton pada 1999. hanya 9 ribu ton. Kemiskinan sebagai kehilangan/ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti kesehatan. pendidikan dan pangan. Laporan tentang kemiskinan manusia telah dilakukan di Indonesia dengan bantuan UNDP sejak beberapa tahun terakhir. Pada 2001 dan 2003. Oleh karena itu. Sen mengatakan bahwa poverty as capability deprivation. Ini untuk membuktikan bahwa Indonesia tidak perlu kuatir dengan beras yang penuh subsidi berasal dari AS tidak akan berpengaruh besar ke pasar beras dalam negeri. Dengan konsep ini Dhanani dan Islam (2000) misalnya. bukan kemiskinan pengeluaran. Dimensi kemiskinan Sen terfokus pada non-income poverty. dipakai oleh para pedagang untuk dicampur (oplos) dengan beras lokal.kemiskinan (Sugema 2006). kematian bayi. Ini seharusnya menjadi acuan kita. dilaporkan tentang Ekonomi dari Demokrasi: Membiayai Pembangunan Manusia. Pada 2004 misalnya.

Korporasi AS itu merambah dunia.409 2001177. seperti Cargill (beroperasi di 63 negara).184 Rataan: Jumlah (MT) 47. jagung and kedelai (IATP 2007b). AS ―memaksa‖ agar Indonesia mau menerima program PL480. seperti petani jagung Meksiko. kapas. 2007). Itu telah berpengaruh negatif terhadap tingkat harga beras/gabah di dalam negeri.081 Total Negara Maju 16. Pemerintah tidak berdaya untuk itu. Bappenas.384 179.072 199974.756 385. Kredit lunak dan jangka panjang sesungguhnya juga merugikan pemerintah Indonesia.551 132. Ini sering dikeluhkan oleh berbagai penjabat di berbagai depertemen.393 2003107.956 200049.031 19970 USA Negara Maju Lain 6. Apabila telah disetujui.681 96.975 1.094 11. . itu banyak kaitannya dengan kepentingan korporasi raksasa.Tahun 19969.011 12. AS melalui Farm Bill 2002 misalnya memberikan subsidi terhadap 20 komoditas petanian.828 460.352 39. karena Indonesia harus membayar harga beras yang jauh lebih mahal dari harga beras di luar program.231 7. Apabila tidak berhasil meyakinkan Bulog misalnya. Namun.266 199822. Inilah yang menyebabkan mengapa sejumlah negara berkembang sulit bersaing dan terpuruk.411 46.522 33.942 100 Sumber: Data dasar berasal dari data impor beras bulanan BPS Impor itu dalam bentuk food aid melalui WFP.889 200213. AS mensubsidi sejumlah komoditas pangan.352 17.327 9.611 52 101. program PL480 dengan kredit lunak dan jangka panjang. gandum. AS tentu mampu menjual beras dengan harga murah ke Asia.331 Persen (%) 48 54.980 12. selanjutnya yang memutuskan kedatangan beras itu adalah AS. seperti Departemen Keuangan. Tyson Foods (80 negara) dan Archer Danniels Midland yang beroperasi di Amerika Latin.158 25. petani kapas di Afrika ( Husein Sawit.839 24. subsidi terbesar ditujukan ke 5 komoditas utama yaitu beras. atau ke penjabat tertinggi seperti Presiden atau Wakil Presiden. mereka akan ke departemen lain. Mosanto (61 negara).608 200416.725 46. Umumnya didatangkan pada musim panen raya.767 20052.

Kita telah terperangkap dengan hutang luar negeri dan SDA milik bangsa ini yang dikapling dan dikuasai bangsa asing. Disana banyak penduduk yang memerlukan pangan. Report for Internal Review Only for Bulog (November 1999) Dhanani. 11 (2) BPS. ― A Fair Farm Bill for America‖. Mereka datang kemari silih berganti ahlinya. Kemiskinan. “Socio Economic Analysis of Farm Household in Irrigated Area of Brantas River Basin‖. Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP): Minnesota IATP (2007b). Hasil penelitian IATP (2007b) menyebutkan bahwa AS melalui lembaga WTO dan Bank Dunia memaksa negara berkembang untuk menurunkan tariff dan membuka pasar. A. Lembaga Penerbit FE Univ. a series of papers on the 2007 US Farm Bill. Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP): Minnesota Perkins. masyarakat kita. permintaan berbagai jenis pangan yang terus meningkat seiring dengan kemajuan ekonomi. Islam (2000). Working Paper: 00/01. Tabor (1999). dan Beras‖. 23 November 2006 Sumaryanto. I (2006). M. P. a series of papers on the 2007 US Farm Bill. UNDP (2004).R. Itu yang mereka ingin rebut. Bappenas.Negara Pasifik. M. Agriculture and Rural Development. (2007). Yang merasakan akibat dari implementasi saran mereka yang bias itu adalah bangsa kita.H. AS tentu ngiler melihat potensi pasar di sejumlah negara Asia.Simatupang dan S. HS. Sayang para pengambilan keputusan. Daftar Bacaan Albert. Eropa. Confessions of an Economic Hit Man. Penutup Pandangan Bank Dunia harus disikapi secara kritis. Penguin Books Ltd: London Sen. ―Poverty. padahal kita berada di negara yang kaya. mereka juga jarang memihak negera berkembang. S dan I. M. Indonesia (akan terbit) IATP (2007a). petani kita. Research report as a part of the study . Ekonomi dari Demokrasi: Membiayai Pembangunan Manusia Indonesia.‖Rice Policy: A Framework for the Next Millennium‖. Oxford University Press: New Delhi Sugema. (2000). Afrika. Kanada. UNSFIR. Inequality and Social Protection: lessons from the Indonesian crisis‖. Itulah yang harus disikapi dangan bijaksana dan hati-hati. Liberalisasi Pangan: Aksi dan Reaksi dalam Putaran Doha WTO. ―A Fair Farm Bill for the World‖. sehingga memuluskan MNCs milik AS untuk melakukan kegiatan bisnis pangan secara global. banyak diantara para birokrat kurang memahami politik kurang terpuji di belakang lembaga keuangan internasional. H (2004). Kompas. UNDP Husein Sawit. mereka jelas memihak negara kaya dan korporasi internasional (MNCs). J (2004). UNDP: Jakarta Dillon. Siregar and Wahida M(2002). Kita semakin sulit keluar dari kemiskinan dan kepapaan. Sawit. tetapi itu sekedar melaksanakan pesan sponsor. ― The US Farm Bill and Cotton Cultivation: Is the WTO undermining Rural Development?‖. ―Inflasi. seperti Bank Dunia dan IMF. India dan Indonesia. Development as Freedom. seperti China. Dalam tataran perundingan multilateral misalnya.

2 milyar (2001) menjadi Rp. collaboration of IFPRI-CASERD-KimpraswilJasa Tirta. 15 juta hanya diberi Rp. Bahkan mereka yang percaya perbankan merupakan ― agent of development‖ yang berperan kunci dalam memberdayakan ekonomi rakyat bisa ―kecele‖ menyaksikan kenya taan pahit sulitnya bank bermitra akrab dengan pelaku-pelaku ekonomi rakyat yang miskin.1%. 256. ―Issues in Indonesian Rice Policy‖. 272. 8 juta sudah dijanjikan pada seorang teman yang sanggup membuatkan sepeda motor khusus agar ia dapat menggunakannya untuk berbelanja ke Melak sebulan sekali.8% (2003) dan sampai dengan September 2004 adalah 32. Rupanya meminjamkan kredit kepada seorang miskin seperti Yulius Seran belum cukup meyakinkan pejabat bank ―seb agai jalan melancarkan jalan baginya masuk surga‖. maupun di dataran rendah sepanjang Sungai Mahakam.8% (2002). dan 13. Husein Sawit Mubyarto MENGAPA BANK SULIT MEMBERDAYAKAN EKONOMI RAKYAT? Pendahuluan Memberdayakan ekonomi rakyat di daerah terpencil Kutai Barat ternyata merupakan perjuangan berat bagi siapapun. Meskipun Pemda Kabupaten Kutai Barat sudah menunjuk Bank BPD Melak menyalurkan dana UMKM kepada usaha-usaha kecil ―ekonomi rakyat‖ sebesar Rp 7. Bank adalah Mitra Orang Kaya Sejak 3 tahun terakhir (2001-2003) jumlah dana masyarakat yang disimpan di 2 bank di Melak (BRI dan BPD) meningkat rata-rata 12. lebih-lebih kepada usaha-usaha kecil ekonomi rakyat. Ir. World Bank (2007).0 milyar (2002) dan Rp. tidak ada tanda-tanda perbankan ―bersemangat‖ menyalurkan kredit kepada pengusaha-pengusaha di Melak. yaitu dari Rp. M. tokh penerima dana -dana DPM (Dinas Pemberdayaan masyarakat) ini masih belum merasakan adanya perhatian dan perlakuan khusus terhadap mereka sebagai pihak-pihak yang berhak menerima perlakuan ―istimewa‖ karena kemiskinannya.2% (2001). Yang menarik persentase kenaikan dana pihak ke-3 yang disimpan di bank-bank ini sama sekali tidak diikuti kenaikan yang sepadan dalam jumlah kredit yang diberikan kepada pengusaha-pengusaha di Melak. Meskipun belakangan diketahui Yulius Seran seorang yang jujur dan patuh mengangsur kreditnya setiap bulan.Irrigation Investment.0% pertahun. draft March 2007 Oleh: Dr. .4 milyar (2003). 7 juta padahal yang Rp. Ia “marah” ketika permi ntaan pinjaman Rp. di kampungkampung pegunungan.5 milyar dari dana APBD. 10. Rupanya kalau tidak ada kredit ―UMKM‖ yang disalurkan dari dana APBD Pemda kabupaten. tokh Bank BPD tidak tergerak meluluskan sisa kredit yang dimintanya. 214. Yulius Seran (37 th) adalah seorang penyandang cacat yang setiap hari menunggu dagangan “rupa-rupa” di pinggir jalan dekat Linggang Bigung. and Water Resource Allocation in Indonesia and Vietnam . Fiscal Policy. LDR (Loan Deposit Ratio) meskipun cenderung naik tetapi hanya sebesar berturut-turut 2. baik di wilayah Ulu Riam di Mahakam Ulu.

tokh dana-dana perbankan yang terhimpun di daerah-daerah seperti itu justru dikirim ke kantor pusat bank yang bersangkutan. Mengapa tidak ada Konsultan Keuangan Mitra Ekonomi Rakyat (KKMER) meskipun jelas ekonomi rakyat inilah yang paling membutuhkan jasa konsultan. Proses tolong-menolong antar pemilik modal dan ekonomi rakyat yang membutuhkan modal ini dalam era otonomi daerah seharusnya berkembang dengan baik dan bergairah. Bunga SBI ini pernah mencapai 17. bahkan termasuk tambahan hadiah-hadiah menarik seperti mobil dan rumah-rumah mewah. Penetapan tingkat bunga yang menarik selalu dijadikan alasan mudah bagi dunia perbankan untuk tidak menyalurkan dananya sebagai kredit kepada dunia usaha. Akibatnya bank juga tidak mungkin berperan sebagai lembaga yang mendukung upaya-upaya besar pemberantasan kemiskinan. maka amat sulit menjadikan bank sebagai penggerak kegiatan ekonomi rakyat. dan dalam kaitan penyaluran kredit UMKM ada lembaga KKMB (Konsultan Keuangan Mitra Bank). yang dibiayai oleh sebagian bunga kredit yang dibayar penerima kredit (debitor). yaitu mereka yang memiliki modal. dan sebaliknya orang miskin harus membayar bunga tinggi kepada orang-orang kaya. Kalau perangsang dan perlindungan kepada para pemilik modal dalam sistem ekonomi kapitalis ini belum dianggap cukup. tetapi di pihak lain orang-orang kaya menyimpan uang mereka di bank dalam bentuk deposito dengan menerima bunga ―menarik‖. Jika bank-bank kita lebih banyak merupakan perusahaan yang menomorsatukan pendapatan bunga. Dalam sistem ekonomi Pancasila . kecuali jika kita berani mengubah sistem ekonomi kita dari sistem ekonomi kapitalis menjadi sistem ekonomi Pancasila. yang kepentingannya paling dilindungi. Fenomena kontradiktif ini sampai kapan pun tetap tidak akan berubah. Dalam sistem ekonomi kapitalis. Tetapi mengapa hal ini tidak terjadi? Dari analisis tersebut bisa dibuktikan bahwa alasan pokoknya adalah karena sistem ekonomi kapitalis-liberal/neoliberal sudah dijadikan pegangan pokok pemerintah pusat/ daerah yang diterapkan di manamana di seluruh Indonesia. Bank-bank yang lebih banyak mengirim dana-dana dari daerah-daerah ke kantor pusat selalu mudah menerangkan perilaku keliru ini karena ―kesulitan menemukenali‖ proyek -proyek ekonomi dan bisnis yang bankable yang dapat didanai. Bank Indonesia sudah sejak lama mengeluarkan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) yang menjanjikan bunga menarik kepada dunia perbankan untuk menyimpan dana-dana yang dihimpunnya dari daerah-daerah di seluruh Indonesia. Para pelepas uang dan deposan menikmati pendapatan bunga tinggi. yang dengan memberikan jaminan rasa aman pada para pemilik modal ini. bukan justru bank yang sebenarnya tidak memerlukan konsultan keuangan itu. padahal yang benar bank-bank ini memang merasa lebih aman menggunakan dana-dana yang dihimpun dengan dibelikan SBI. Dalam sistem ekonomi kapitalis segala upaya dilakukan untuk melindungi kepentingan para pemodal/pemilik uang.Memang ironis. dan justru tidak diputarkan atau ditanamkan dalam usaha-usaha setempat. Jelas kiranya dari analisis ini bahwa perbankan di Indonesia tidak lain daripada lembaga pencari/pengejar untung. Jika suatu daerah miskin sebagian warga masyarakatnya sudah berhasil ―menjadi kaya‖ sehingga mampu menyimpan dana-dana yang dikumpulkannya di bank setempat. agar dapat membayar jasa bunga deposito yang menarik kepada deposan. Dari sinilah berkembang kepercayaan perlunya penciptaan iklim merangsang agar para pemodal (investor) asing bersedia datang ke Indonesia atau ke daerah-daerah tertentu untuk menanamkan modalnya. mengapa modal yang terhimpun di bank dari orang-orang kaya setempat malah dikirim keluar daerah. Maka ada lembaga penjaminan kredit. Sebenarnya segera dapat dikenali satu kontradiksi. Kesimpulan Kasus ―kecil‖ perilaku perbankan di Kabupaten Kutai Barat dengan kemiskinan 42% tahun 2003-2004 menarik dijadikan contoh betapa besar hambatan yang dihadapi dalam program-program pemberantasan kemiskinan. Jika ekonomi rakyat dapat diberdayakan melalui kredit lunak sehingga kesejahteraannya meningkat. Inilah faktor penyebab rendahnya nilai LDR (Loan Deposit Ratio) di setiap daerah. sehingga ketika banyak daerah-daerah miskin/tertinggal berteriak mengharapkan kredit yang murah dan mudah.5% pertahun yang tentu saja menjadi alasan sangat kuat bagi setiap bank untuk mengirimkan dana-dana pihak ke-3 yang dihimpun di bank-bank di daerah-daerah di seluruh Indonesia untuk dikirim ke Jakarta. kiranya masuk akal bagi perbankan untuk memanfaatkan dana-dana tersebut bagi pemberdayaan ekonomi rakyat dan yang pada gilirannya mampu memberantas kemiskinan. dan sama sekali bukan agent of development. mengapa Pemda tidak terdorong untuk mengambil langka-langkah demikian dalam GSM (Gerakan Sendawar Makmur) dengan menyalurkan kredit mikro sebanyak mungkin kepada usaha-usaha ekonomi rakyat yang membutuhkannya. Jika suatu daerah berusaha menarik investor. para pemilik modal (kapitalis) merupakan pihak yang paling dipuja dan dihormati. Di satu pihak usaha-usaha kecil lari ke ―rentenir‖ dengan membayar bunga tinggi. Ternyata kunci penyebabnya terletak pada diberlakukannya sistem ekonomi kapitalis yang telah dipilih oleh pemerintah pusat.

. 2.Oktober 2004] Mubyarto SIAPA LEBIH MERUSAK LINGKUNGAN: ORANG MISKIN ATAU ORANG KAYA? The greatest threat to the equilibrium of the environment comes from the way the economy is organized.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. PKL bukan . dan kemudian dijual lagi untuk ekspor. dan memang ada pembeli terhadap barang/jasa yang ditawarkannya. kiranya pernyataan ini juga tidak adil. dan mereka cenderung mengabaikan pemeliharaan lingkungan sekitar”. tetapi karena mereka melakukannya dengan terpaksa. yang semuanya ―demi keuntungan‖. Oleh: Prof.. Pemenuhan kebutuhan pokok penduduk miskin bukan masalah ―hanya‖.‖ atau ―penduduk miskin hanya menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup.. Maka untuk menjamin terjadinya pembangunan yang berkelanjutan kita harus menghentikan keserakahan orang-orang kaya. Tetapi kayu-kayu yang diperolehnya ditampung calo-calo untuk dijual. Akumulasi keuntungan dan kekayaan yang tidak mengenal batas harus dianggap sebagai penyebab utama kerusakan/pengrusakan hutan. Adalah sangat keliru ilmu ekonomi justru memuja ―keserakahan‖. Jika hutan kita menjadi gundul atau terbakar. tidak ada subsidi apapun dar pemerintah.. 3. sehingga lingkungan hidup kita rusak. yang dianggap merusak lingkungan karena mengotori jalan dan mengganggu ketertiban. Mubyarto -. Agar adil kita harus mengakui bahwa kerusakan lingkungan khususnya hutan.kebijakan perbankan tidak diarahkan untuk melindungi para pemilik modal secara berlebihan tetapi harus diubah menjadi upaya total pemberdayaan ekonomi rakyat dengan ukuran hasil akhir makin terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Jadi dalam hal ini lingkungan yang rusak harus diselamatkan melalui upaya-upaya ―pencegahan‖ munculnya PKL. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. 4. Ia menggunakan modal sendiri dengan resiko usaha ditanggung sendiri. siapa biang keladinya? Penduduk miskin di hutan-hutan dan sekitar hutan menebang hutan negara untuk memperoleh penghasilan untuk makan. Ekonomi Rakyat dan Reformasi Kebijakan . Dr.. Apabila dikatakan penduduk miskin terbiasa . ever increasing growth and accumulation (Ravaioli. tetapi ―mutlak‖ harus dipenuhi untuk hidup. Perkembangan pedagang kaki lima (PKL) yang tumbuh menjamur dimana-mana. Siapa yang paling bersalah dalam proses perusakan lingkungan ini? Yang jelas tidak adil adalah kalau yang disalahkan hanya orang-orang miskin saja. bukan dengan ―menggusurnya‖ setelah berkembang. ― membuang kotoran manusia secara sembarangan yang akan berakibat pada terjangkitnya diare . disebabkan para pemodal yang haus keuntungan. Penduduk miskin tidak memperhatikan lingkungan hidup sekitarnya bukanlah karena mereka tidak peduli. ―memesan‖ kayu dalam jumlah besar sebagai bahan baku industri yang memang permintaannya sangat besar pula. 1995: 4) 1. juga tidak mungkin ditimpakan kesalahannya pada PKL karena pekerjaan itulah satu-satunya ―mata pencaharian‖ yang dapat dilakukan dalam kondisi kepepet.. bukan karena orang-orang miskin banyak yang merusak hutan. sedangkan orang-orang kaya adalah ―pahlawan pembangunan‖.

pendekatan terhadap masalah ―pengurangan kemiskinan dan pengelolaan lingkungan‖ atau sebaliknya terhadap ―pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan strategi penanggulangan kemiskinan‖ selama ini kiranya salah dan tidak adil. 6 Oktober 2004 Oleh: Prof. Demokrasi Ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan. 25/2000) adalah sistem ekonomi. Pada umumnya para Capres/Cawapres belum memahami benar apa itu ekonomi rakyat.―masalah‖ tetapi ‖pemecahan‖ masalah kemiskinan. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. dan mandiri. yang menurut mereka harus diberdayakan juga. Semangat nasionalisme ekonomi. menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sistem ekonomi yang tepat bagi Indonesia adalah sistem ekonomi pasar yang populis dan mengacu pada ideologi Pancasila dengan lima cirinya sebagai berikut: (1) Roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi. dan yang sangat sering diucapkan bagaimana memberdayakannya. Akan lebih baik dan lebih adil jika para peneliti memberi perhatian lebih besar pada sistem ekonomi yang bersifat ―serakah‖ dalam eksploitasi SDA. tetapi ekonomi kerakyatan. yaitu sistem ekonomi kapitalis liberal yang berkembang di Barat. tangguh. Dr. dan karena belum jelas pemahaman mereka mengenai ekonomi rakyat. sedangkan Bung Karno 3 tahun sebelumnya (Agustus 1930) dalam pembelaan di Landraad Bandung menulis nasib ekonomi rakyat sebagai berikut: . Mubyarto -. Kesimpulan kita. (2) (3) (4) (5) Ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial yaitu tidak membiarkan terjadinya dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat. antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas. 5. efisien. dan moral. maka sulit diharapkan dapat dirumuskannya program-program kongkrit bagaimana mengembangkannya. jika mereka terpilih. sosial. yaitu ekonomi rakyat.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. Keseimbangan yang harmonis. bebas. Mubyarto Pendahuluan Menyimak secara serius pernyataan-pernyataan para Capres/Cawapres di media elektronik tentang programprogram ekonomi yang dijanjikan kepada rakyat untuk dilaksanakan. Sistem ekonomi dapat dikembangkan dan yang jelas dilaksanakan. Yang lebih sering kita dengar justru bukan konsep tentang ekonomi rakyat. dan merajalela sejak jaman penjajahan sampai era globalisasi masa kini. tidak diberdayakan. koperasi dan usaha-usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat. karena melihat kemiskinan sebagai fakta tanpa mempelajari sumber-sumber dan sebab-sebab kemiskinan itu. Tentang Ekonomi Rakyat Bung Hatta dalam Daulat Rakyat (1931) menulis artikel berjudul Ekonomi Rakyat dalam Bahaya. Maka mereka dengan bersemangat menyatakan akan menyusun dan melaksanakan program pemberdayaan ekonomi kerakyatan padahal ekonomi kerakyatan sebagaimana tercantum jelas dalam Propenas (UU No. pelakunya. dengan segala maaf saya harus menyatakan sangat prihatin. dan bertanggung jawab. karena yang diberdayakan adalah orangnya. dan adil.

Kata kerakyatan sebagaimana bunyi sila ke-4 Pancasila harus ditulis lengkap yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. dan padam. Sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. yang terpukul karena harga pasar gabah dibiarkan merosot di bawah harga dasar. tampuk produksi jatuh ke tangan orang-orang yang berkuasa dan rakyat yang banyak ditindasinya. Jika ekonomi rakyat dewasa ini masih ―tidak berdaya‖. yang berarti petani jeruk dan petani cengkeh memperoleh ―kebebasan‖ untuk menjual kepada siapa saja yang mampu memberikan harga terbaik. Itulah yang pernah kami katakan bahwa ―di Indonesia pernghapusan monopoli tidak memerlukan UU Anti Monopoli seperti di AS tetapi jauh lebih mudah dan lebih sederhana yaitu dengan menerbitkan sebuah SK (Surat Keputusan) dari Presiden atau Menteri Perindustrian dan Perdagangan untuk mencabut monopoli yang sebelumnya memang telah diberikan pemerintah‖. Pengertian demokrasi ekonomi atau (sistem) ekonomi yang demokratis termuat lengkap dalam penjelasan pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi: Produksi dikerjakan oleh semua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. Dari keuntungan besar yang diperolehnya kemudian konglomerat memberikan ―bagi hasil‖ kepada pemerintah atau lebih buruk lagi kepada ―oknum -oknum pejabat pemerintah‖. dan (sistem) monopoli ini dipegang langsung oleh pemerintah. Jadi ekonomi kerakyatan adalah (sistem) ekonomi yang demokratis. Indonesia Menggugat. sama sekali didesak dan dipadamkan (Soekarno. maka harus kita teliti secara mendalam mengapa tidak berdaya.Ekonomi Rakyat oleh sistem monopoli disempitkan. yang sulit kita terima. yang artinya tidak lain adalah demokrasi ala Indonesia. yaitu ―di negara-negara lain tidak ada UUD atau konstitusi yang memakai penjelasan‖. Jika pemerintah bertekad memberdayakan petani padi atau petani tebu misalnya. dan dipadamkan oleh pemerintah penjajah melalui sistem monopoli. Cara lain yang juga sudah sering kami anjurkan adalah pemberdayaan melalui pemihakan pemerintah. keberpihakan pemerintah jelas harus berupa pembelian langsung gabah ―dengan dana tak terbatas‖ sampai harga gabah terangkat naik melebihi harga dasar yang telah ditetapkan pemerintah. yaitu ekonomi rakyat menjadi kerdil. kemakmuran bagi semua orang! Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Berpihak kepada petani berarti pemerintah tidak lagi berpihak pada konglomerat seperti dalam kasus jeruk dan cengkeh. Cara yang paling mudah memberdayakan ekonomi rakyat adalah menghapuskan sistem monopoli. Untuk menjawab pertanyaan inilah kutipan pernyataan Bung Karno di atas sangat membantu. Khusus dalam kasus petani padi. didesak. yang pernah ―disembunyikan‖ dengan nama sistem tata niaga. maka pertanyaan lugas yang dapat diajukan adalah bagaimana (cara) memberdayakan ekonomi rakyat. Misalnya tataniaga jeruk Kalbar atau tataniaga cengkeh Sulut. . Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan bukan kemakmuran orang-seorang. maka memang ada kata kerakyatan tetapi harus tidak dijadikan sekedar kata sifat yang berarti merakyat. terdesak. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. 1930: 31) Jika kita mengacu pada Pancasila dasar negara atau pada ketentuan pasal 33 UUD 1945. Inilah salah satu bentuk korupsi melalui koneksi dan nepotisme yang kemudian disebut dengan nama KKN. pemerintah harus berpihak kepada petani. Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh ada di tangan orangseorang. atau faktor-faktor apa saja yang menyebabkan ketidakberdayaan pelaku-pelaku ekonomi rakyat itu. atau diciptakan pemerintah dan diberikan kepada segelintir perusahaan-perusahaan konglomerat. Kalau tidak. karena sengaja disempitkan. Memang sangat disayangkan bahwa penjelasan tentang demokrasi ekonomi ini sekarang sudah tidak ada lagi karena seluruh penjelasan UUD 1945 diputuskan MPR untuk dihilangkan dengan alasan naif. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi. Bagaimana memberdayakan ekonomi rakyat Jika kini telah diyakini bahwa yang harus diberdayakan adalah ekonomi rakyat bukan ekonomi kerakyatan. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi. Padahal yang dimaksudkan jelas sistem monopoli yang pemegang monopolinya ditunjuk pemerintah yaitu BPPC untuk cengkeh dan Puskud untuk Jeruk Kalbar.

dan program-programnya pada tujuan pertumbuhan ekonomi tinggi sekaligus dengan mengabaikan atau menunda pemerataannya. partai baru. strategi. Kepala Awan Santosa RELEVANSI PLATFORM EKONOMI PANCASILA MENUJU PENGUATAN PERAN EKONOMI RAKYAT Pemilu 2004 sudah pasti akan diwarnai dengan ‗pertarungan politik‘ antar parpol. Kini dengan paradigma baru yang menomorsatukan pemerataan dan keadilan sesuai asas-asas ekonomi Pancasila. strategi. Dan dengan definisi ini kemudian diajukan program pemberdayaan sektor “UKM” dengan secepatnya menjadikan atau ―mentransformasi‖ sektor informal menjadi sektor formal. Bahkan ada Capres/Cawapres yang secara sangat keliru menyamakan sektor ekonomi rakyat dengan sektor informal.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. Mubyarto -. yang terakhir ini berarti sistem atau aturan main. yang hanya diartikan sebagai pelaku-pelaku ekonomi yang tidak berbadan hukum yang selalu ―melanggar hukum‖ sehingga harus ―ditindak‖.Demikian pemberdayaan dan pemihakan pada ekonomi rakyat sangat mudah pelaksanaannya kalau kita terapkan langsung pada ekonomi rakyat. dan akan menjadi slogan kosong. Dr. atau mungkin pula akan muncul penguasa-penguasa baru. Bukan berganti menjadi apa-apa. melainkan kembali ke ideologi atau moral ekonomi Pancasila. dan lebih baik mengunakan istilah ekonomi rakyat yang setiap orang yang ―tidak terpelajar‖ pun mengerti persis artinya. terjepit. Lalu. sebuah ideologi ekonomi yang ‗ke-Indonesia-an‘. Kami anjurkan para Capres/Cawapres tidak memilih menggunakan istilah ―UKM‖ yang salah kaprah. dan program-program utama. Dengan digantinya oleh pemerintah istilah ekonomi rakyat dengan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang sebenarnya sekedar menterjemahkan istilah asing SME ( Small and Medium Enterprises). caleg. dan orang-orang yang baru pula. Tulisan ini menjawab pragmatisme atau ketidaktahuan banyak orang sehingga mereka bertanya-tanya. maka pemberdayaan ekonomi rakyat harus dijadikan kebijakan. . Hasilnya bisa jadi kekuasaan tetap dipegang ‗pemimpin lama‘. maka segala pembahasan tentang upaya pemberdayaan ekonomi rakyat tidak akan mengena pada sasaran. Oleh: Prof. akan berubahkah nasib ekonomi bangsa kita? Tidak dapat dipastikan. kecuali ada ‗janji -janji‘ perubahan kebijakan ataupun program ekonomi yang lebih banyak bersifat parsial dan konvensional dari partai peserta pemilu. yang merupakan istilah dan konsep yang sudah dipakai Bung Karno dan Bung Hatta sejak zaman pergerakan kemerdekaan. sekaligus juga antar kandidat calon presiden. Saya setuju dengan Khudori (2004) bahwa momen Pemilu 2004 selayaknya bukan saja memungkinkan pergantian orang atau partai melainkan pergantian ideologi atau moral ekonomi yang mengarah pada ciri neoliberal-kapitalistik dewasa ini. Jelas usulan program seperti ini tidak masuk akal dan menunjukkan ketidakpahaman Capres/Cawapres yang bersangkutan tentang ekonomi rakyat yang menyangkut hajat hidup 160 juta orang Indonesia yang sebenarnya sudah jauh lebih tua dibanding sektor formal. dan tersingkir. ketika pemerintah Orde Baru memprioritaskan kebijakan. yang tidak dapat diberdayakan. Ekonomi rakyat adalah ekonominya wong cilik yang telah tergeser. sektor informal sebaiknya justru yang disebut sektor formal. yang tidak mencakup 40 juta usaha mikro (93% dari seluruh unit usaha). bukan pada ekonomi kerakyatan. Penutup Tidak terlalu sulit bagi para Capres/Cawapres untuk mengkampanyekan program-program yang benar-benar dapat memberdayakan ekonomi rakyat asal pengertian ekonomi rakyat dipahami secara benar. dan antar calon anggota DPD.

menegakkan hukum-hukum Allah (syari‘ah). sekaligus ‗rambu-rambu‘ yang bernilai sejarah untuk tidak terjerumus pada paham liberalisme dan kapitalisme. dan ‗pembangunan karakter‘ ( character building) bangsa yang dilandasi semangat penerapan ajaran moral dan agama. Gagasan Ekonomi Pancasila mulai dikembangkan Profesor Mubyarto sejak tahun 1981 dalam suatu polemik tentang sistem ekonomi nasional sampai saat ini. tidak sulit untuk menemukan praktek ekonomi bermoral ini. bukan kemakmuran orang -seorang‘. Yang masih panas-panasnya adalah maraknya ‗pornoaksi‘ dangdut erotis lewat media TV yang memang ‗dibiarkan‘ di alam kebebasan (liberalisme) saat ini. Gagasan ini sudah lama tertuang dalam bagian penjelasan Pasal 33 UUD 45 yang sudah diamandemen dalam konsep ‗kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan. Semua itu terangkum dalam kajian lima platform Ekonomi Pancasila yang bersifat holistik dan visio-revolusioner (Mubyarto. para penyanyi. Masih ada juga penggusuran orang miskin. Oleh karena itu. Relevansi Ekonomi Pancasila dapat ‗dideteksi‘ dari tiga kontek yang berkaitan yaitu cita -cita ideal pendiri bangsa. dan kekeringan di sebagian wilayah di Jawa. mengeruk ‗rente‘ dari kegiatan ekonomi (bisnis) mereka. Profesor Mubyarto merumuskan Ekonomi Pancasila sebagai sistem ekonomi yang bermoral Pancasila. dan teori-teori kapitalisme-liberal. Akibatnya. Ada lagi maraknya ‗penjarahan alam‘ berupa penebangan hutan secara liar (llegal logging) yang terlalu lama ‗didiamkan‘ sehingga berakibat banjir. krisis di Indonesia juga tidak terlepas dari berkembangnya paham kapitalisme disertai penerapan liberalisme ekonomi yang ‗kebablasan‘. tanah longsor. tidak sekedar pembangunan materiil semata. Pada awalnya founding fathers kita merumuskan ‗politik kemakmuran‘. Kondisi itu menegaskan perlunya ‗revolusi moral ekonomi‘ menuju pengejawantahan platform Ekonomi Pancasila. apakah tidak mengada-ada bicara sistem ekonomi dari ideologi yang pernah ‗tercoreng‘. Sampai saat . rasanya tidak sulit mengamati ekses dari kecenderungan global tersebut di Indonesia. Tidak dapat disangkal. ‗keadilan sosial‘. perusahaan (iklan). Itu berarti pembangunan ekonomi harus beriringan dengan pembangunan moral atau karakter bangsa. sosial. moral kerakyatan.relevankah Ekonomi Pancasila dalam memperkuat peranan ekonomi rakyat dan ekonomi nasional di era global (isme) kontemporer? Mereka skeptis. Ekonomi Pancasila. individualis. selain berisi cita-cita visioner terwujudnya keadilan sosial. praktik ekonomi rakyat. dan kegiatan ekonomi banyak dipengaruhi paham (ideologi). Namun.-). moral. dan tidak nampak wujudnya. tidak membiarkan terjadi dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial‖. menurunnya suku bunga (dibawah 10%). ia juga mengangkat realitas sosio-kultur ekonomi rakyat Indonesia. dan ribut-ribut soal ‗pesangon‘ BPPN atau DPRD di berbagai tempat. yaitu ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial. dan praktek ekonomi aktual yang ‗menyimpang‘ karena berwatak liberal. Platform kedua adalah ―kemerataan sosial. kecuali saat-saat terakhir menjelang Pemilu 2004 dengan pembentukan KPTPK. Free Press 1988). Ekonomi Pancasila merupakan prinsip-prinsip moral (ideologi) ekonomi yang diderivasikan dari etika dan falsafah Pancasila. dan utopis? Mereka ini begitu yakin bahwa masalah ekonomi (krisis 97) adalah karena ‗salah urus‘ dan bukannya ‗salah sistem‘. dan stasiun TV. dan dampak sosial bagi masyarakat. Sumatara. bukankah sistem ekonomi kita sudah mapan. apalagi dikait-kaitkan dengan ‗salah ideologi‘ atau ‗salah teori‘ ekonomi. Relevansi platform Ekonomi Pancasila dalam hal ini dikuatkan akutnya perilaku ekonomi di Indonesia yang sama sekali mengabaikan moral. apa bukti platform Ekonomi Pancasila relevan dengan kondisi sosial-ekonomi kita saat ini? Di tengah pesatnya perkembangan ilmu (ideologi) ekonomi global yang sud ah semakin mengarah pada ‗keyakinan‘ layaknya agama (Nelson. Lalu. etika. dan moral keadilan sosial. yang mengandung prinsip ―roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi.500. Inilah moral ekonomi rakyat yang tidak sekedar mencari untung. moral kemerataan sosial. stabilnya rupiah (Rp 8. dan ditujukan untuk menjamin keadilan antar sesama makhluk ciptaan Allah. Disinilah relevansi platform (istilah penulis) Ekonomi Pancasila. Asalkan tidak malas untuk turun ke desa-desa atau ke pelaku ekonomi rakyat. 2001). Penerapan platform Ekonomi Pancasila secara utuh (multisektoral) dan menyeluruh (nasional) menempatkan Indonesia sebagai negara yang menganut sistem ekonomi khas Indonesia yaitu Sistem Ekonomi Pancasila. yang bermoral dan tidak sekuler. kebijakan. KKN yang akut memberi sumbangan besar bagi keterpurukan ekonomi bangsa ini. moral nasionalisme ekonomi. dan pulau lainnya. Inilah platform ekonomi yang lebih awal lahir daripada gagasan Amitai Etzioni tentang ‗ekonomi baru‘ yang berdimensi moral dalam bukunya The Moral Dimension: Toward a Newf Economics. dengan lima platform sebagai manifestasi sila-sila Pancasila yaitu moral agama. Lihat saja korupsi yang sudah membudaya dan melembaga karena tidak pernah diperhatikan secara serius. pengabaian nasib TKI. 2003). bahkan agama. program.Kita mulai dari platform pertama Ekonomi Pancasila yaitu moral agama. agama. produser. melainkan memperkuat silaturahmi. Lalu. makro-ekonomi sudah stabil dengan indikator rendahnya inflasi (dibawah 5%). dan memperhatikan kepentingan sosial. dan moral‖. Tanpa peduli moral. sebagai ‗media‘ untuk mengenali ( detector) bekerjanya paham dan moral ekonomi yang berciri neo-liberal kapitalistik di Indonesia. dan kapitalistik. tidak realistis.

dan memang tidak ada kamus ‗nasionalisme ekonomi‘ atau ‗nasionalisme modal‘ dalam istilah mereka. Isu-isu yang kemudian dicuatkan diantaranya adalah privatisasi BUMN dan liberalisasi impor. Ekonomi Pancasila berfungsi sebagai platform ekonomi yang memperjuangkan pemerataan dan moral kemanusiaan melalui upaya-upaya ‗redistribusi pendapatan‘. Lihatlah pesta-pesta bernilai ratusan juta semalam yang sering diadakan ‗selebriti‘. perihal ‗politik -ekonomi berdikari‘ yang bersendikan usaha mandiri (self-help). Kita dapat belajar pada ekonomi rakyat kita. justru investasi (asing) dan privatisasi BUMN yang saat ini begitu dipercaya sebagai ‗dewa‘ pertumbuhan ekonomi dengan melupakan begitu saja sifat pemodal besar untuk mencari tempat yang menguntungkan bagi investasi mereka. hidup di ‗negara kaya‘ (SDA) yang ‗miskin‘ (terlilit utang). 2003). dan glamour dari sebagian elit warganya. yang menjadi senjata penganut paham liberalisme dan kapitalisme. termasuk juga acara -acara pejabat yang sering menyentak hati karena dipaksakan untuk tetap ada dan mewah. Banyak orang yang memiliki kekayaan milyaran (termasuk calon-calon presiden kita. kenapa saat ini nasionalisme ekonomi seakan-akan telah dianggap tidak penting. Tempo. Platform ini sejalan dengan konsep founding fathers kita. bahwa dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat. Itulah kita. dan pilihan kebijakan luar negeri bebas-aktif. namun bagaimana dengan manifestasi demokrasi ekonominya? Penghapusan ‗koperasi‘ dari penjelasan UUD 45 dan memasukkan ideologi ‗persaingan‘ dan ‗pasar bebas‘ dalam pasal 33 merupakan runtutan dari kebijakan privatisasi BUMN yang ditentang banyak kalangan. mengapa kita ragu untuk melakukan ‗proteksi‘ terhadap petani kita di saat Amerika. Dengan begitu pelarian modal (capital flight) atau relokasi industri adalah wajar bagi mereka. 2004). gula.ini masih sulit meyakini realisasi semangat tersebut ka rena setiap upaya ‗memakmurkan ekonomi‘ ternyata yang lebih merasakan dampaknya tetap saja ‗orang besar‘ baik pengusaha ataupun pejabat pemerintahan. 2001). Platform keempat adalah ―demokrasi ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan. terutama di perdesaan. Lebih lanjut. Lalu. Kemandirian bukan saja menjadi cita-cita akhir pembangunan nasional. Zakat yang sudah diformalkan (UU) dan pajak sebagai instrumen pemerataan ternyata belum mampu berbuat banyak. dan paha ayam. petani dan peternsk kecil kita begitu ‗menjerit‘ di saat ada impor beras. atau 7%. negara-negara Eropa memberikan perlindungan kepada petanipetani mereka. Oleh karena itu. Ini mensyaratkan bahwa pembangunan ekonomi haruslah didasarkan pada kekuatan lokal dan nasional untuk tidak hanya mencapai ‗nilai tambah ekonomi‘ melainkan juga ‗nilai tambah sosial-kultural‘. di dasar piramida yang kuenya kecil diperebutkan puluhan juta orang (Khudori. tidak relevan. yang masih memegang prinsip kebersamaan dan solidaritas sosial-ekonomi dalam kegiatan mereka. Platform ketiga adalah ―nasionalisme ekonomi. dan tidak perlu diperjuangkan? Lihat saja. Pemilu 2004 setidaknya merupakan manifestasi demokrasi politik. khususnya Bung Karno dan Bung Hatta. Ada kesan kuat bahwa interaksi yang timpang (sub-ordinatif) dengan lembaga asing seperti IMF dan CGI (terkait dengan jebakan utang) telah ‗mengaburkan‘ pentingnya kemandirian ekonomi bangsa yang ditopang oleh semangat nasionalisme ekonomi. maka dengan . tangguh. Dalam pada itu. namun banyak pula yang pendapatannya pas-pasan sekedar untuk bertahan hidup. Jika dasar dan pengertian demokrasi ekonomi (dalam penjelasan Pasal 33 ) sudah ‗dihapuskan‘. Lagi pula. Di puncak piramida yang menguasai mayoritas kue nasional dihuni segelintir manusia. Perubahan ini telah menghilangkan seluruh penjelasan UUD 1945 termasuk penjelasan Pasal 33 yang berisikan prinsip-prinsip demokrasi ekonomi dan landasan konstitusional koperasi. 5%. Jepang. koperasi dan usahausaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat‖. Ekonomi rakyatlah yang bersifat mandiri. padahal potensi untuk itu sangat besar. sehingga ‗daya tahan‘ ekonomi mereka tidak perlu diragukan lagi. tidak ‗menyusahkan‘ atau ‗membebani‘ ekonomi nasional di saat krisis. Apa gunanya kampanye cinta produk dalam negeri bila pemihakan terhadap pelaku ekonomi rakyat sebagai produsen lokal masih setengah hati. melainkan juga prinsip yang menjiwai setiap proses pembangunan itu sendiri. 2004). upaya penegakan demokrasi ekonomi nampaknya berhadapan dengan upaya-upaya untuk memperjuangkan pasar bebas. yaitu peningkatan martabat dan kemandirian bangsa (Swasono. kita masih saja berbicara pertumbuhan ekonomi mau 4%. Beralihnya pemilikan BUMN ke investor swasta melalui privatisasi dikhawatirkan justru memperpuruk kesejahteraan ekonomi rakyat (Baswir. eksklusif. tanpa berupaya keras memprioritaskan pemerataannya ataupun berusaha sedikit lebih ‗sederhana‘ di tengah kemiskinan yang menjerat kurang lebih 36 juta rakyat Indonesia. Kita patut prihatin jika aset-aset yang menguasai hajat hidup orang banyak terus ‗diobral‘ ke pemodal besar apalagi pemodal asing (kasus Indosat). tetapi masih mampu menampilkan gaya hidup mewah. Prinsip ini dijiwai oleh semangat Pasal 33 UUD 1945 yang kini sudah berganti menjadi UUD 2002 (amandemen keempat). percaya diri (self reliance). Sebaliknya. dan mandiri‖. Masih saja ketimpangan sosial-ekonomi susah untuk diperkecil. Oleh karena itu pokok perhatian seharusnya diberikan pada upaya pemberdayaan ekonomi rakyat sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

caleg.platform Ekonomi Pancasila kita berusaha keras untuk mengembalikan hakekat demokrasi ekonomi atau sistem ekonomi kerakyatan dengan ciri ‗produksi dikerjakan oleh se mua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat‘. Langkah yang lazim diambil adalah optimalisasi PAD melalui pemberlakuan Perda-Perda yang justru kadang ‗bertentangan‘ dengan peraturan di atasnya seperti halnya hasil kajian Depdagri menunjukkan ada sekitar 7000 perda yang dinilai tidak layak diterapkan (Sunarsip. Platform kelima (terakhir) adalah ―keseimbangan yang harmonis. Pertanyaannya. Meskipun otonomi daerah telah mendorong kemandirian dan kreativitas Pemda dalam membangun wilayah mereka. dan di pusat pemerintahan. Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang dimaksudkan untuk mengoreksi sentralisasi ekonomi dan pemerintahan praktis tidak mengubah sedikitpun perimbangan penerimaan negara di Indonesia. namun masih saja mereka merasa kesulitan untuk menggali sumber-sumber penerimaan daerah. Bangsa kita benar-benar membutuhkan platform ekonomi yang utuh. SE -. Pusat tetap memungut 95 persen. Otonomi hanya mengubah sedikit sisi belanja. Sebelum otonomi pusat membelanjakan 78 persen. berkerakyatan. bebas. Seruan memberantas korupsi atau ‗anti politisi busuk‘ saja belum cukup tanpa disertai reformasi (revolusi?) ideologi dan moral ekonomi liberal-kapitalistik yang menumbuhsuburkan praktek korupsi dan kejahatan ekonomi (economic crime) lain di Indonesia. budaya. kiranya dapat diperdebatkan dengan platform Ekonomi Pancasila. dan adil antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas. dan calon pejabat pemerintahan lainnya akan kebutuhan adanya platform ekonomi yang khas Indonesia ini? Seandainya mereka (dan partainya) memiliki platform ekonomi tersendiri. momentum Pemilu dan Sidang Umum 2004 merupakan saat yang tepat untuk mengoreksi kekeliruan sistem dan paham ekonomi kita. 2004). Bukannya platform ekonomi yang konvensional. Inilah substansi Negara Kesatuan yang tidak membiarkan terjadinya ketimpangan sosial-ekonomi antardaerah melalui pemusatan aktivias ekonomi oleh pemerintah pusat.Asisten Peneliti pada Pusat Studi Ekonomi Pancasil (PUSTEP) UGM. dan berciri ‗ke Indonesia-an‘. Apakah Pemilu dan Sidang Umum 2004 akan mampu menjawab kebutuhan ini? Yogyakarta. komprehensif. antara pusat dan daerah di Indonesia. bukannya pembangunan di Indonesia seperti yang dilakukan Orde Baru dengan paham developmentalism yang netral visi dan misi (Swasono. menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia‖. dan visio-revolusioner. dan bertanggungjawab. kini pusat membelanjakan 70 persen (Khudori. yang memungkinkan seluruh wilayah di Indonesia berkembang sesuai potensi masing-masing. parsial. sadarkah para capres. Tujuan keadilan sosial juga mencakup keadilan antar wilayah (daerah). Keadaan ini dimungkinkan karena masih juga terjadi ketimpangan antarwilayah. sedangkan PAD seluruh daerah di Indonesia tetap hanya 5 persen. Inilah relevansi lima platform Ekonomi Pancasila yang dapat menjadi panduan ( guidance) bagi pergantian sistem dan ideologi ekonomi menjadi ekonomi yang lebih bermoral. 2004). Demikian. Gagasan para pendiri bangsa kita yang sejalan dengan praktek ekonomi rakyat dan menentang keras praktek ekonomi yang neo-liberal-kapitalistik kiranya menyadarkan kita akan perlunya perombakan sistem ekonomi tersebut. sehingga lebih menjamin upaya pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. dan hukum. Oleh karena itu pengalaman pahit sentralisasi politik-ekonomi era Orde Baru dapat kita jadikan pelajaran untuk menyusun strategi pembangunan nasional. efisien. dan ‗eksklusif‘ dari bidang bidang lain seperti politik. . Paradigma yang kemudian dibangun adalah pembangunan Indonesia. 2003). untuk kemudian merombaknya dengan kembali ke Sistem Ekonomi Pancasila. bernilai historis. 5 Februari 2004 Oleh: Awan Santosa.

yang tidak pernah dilihat dan dianalisis oleh para ekonom makro. 2001. terutama di perdesaan.4% dari seluruh penduduk yang berjumlah 60. (Q. hal.1 (1971) menjadi 6. 1966-1996) ―tidak diridhoi‖ Allah SWT dan krismon ―diturunkan‖ untuk mengingatkan bangsa Indonesia.3% per tahun dari Rp. [2] Pierre Van der Eng. Ekonomi rakyat Indonesia tidak pernah mengalami krisis serius meskipun sempat kaget. Konglomerat ingin melepaskan diri dari kewajiban membayar utang pada bank-bank pemerintah (BLBI dan obligasi rekap). Demikian data-data mikro dari lapangan ini. hal. Kini setelah Indonesia merdeka 58 tahun. Singapore. maka Kami perintahkan kepada orangorang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Masyarakat dan pers kita hendaknya waspada dalam hal ini.06%) sedangkan 241.978 orang. 17 Al Israa‘: 16) II.-. dan Gini Rasio meningkat berturut-turut dari 0.825 unit-unit desa di seluruh Indonesia berkembang luar biasa.4 juta gulden (0.2%) menerima 0.8 (1997).Mubyarto MENGEMBANGKAN EKONOMI RAKYAT SEBAGAI LANDASAN EKONOMI PANCASILA I .54%) dari pendapatan ―nasional‖ Hindia Belanda. idem. Dalam 26 tahun (1971 -1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan daerah termiskin meningkat dari 5. ISEAS. Kemerdekaan.21 dan 0.6 juta gulden (0. Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri. Penduduk Propinsi DIY tahun 2002 adalah 3.368. Keuangan Mikro bukan hal baru bagi Indonesia. lembaga keuangan mikro berkembang pesat.8 (1983) dan 9.4%). penduduk Asia lain yang berjumlah 1.24.2% per tahun selama 1997 – 2002 dari 457. Indonesia Today.18 menjadi 0. Indonesia‘s Economy and Standard of Living in the 20th Century dalam Grayson Lloyd & Shannon Smith. betapapun sangat ―mahal‖ harganya. Terbukti bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi (7% pertahun selama 3 dekade. 194. Dan dana tabungan meningkat 26.1 juta penduduk pribumi (Indonesia) yang merupakan 97. tetapi konglomerasi (1987-1994) yang menciptakan ketimpangan ekonomi luar biasa. kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. [2] seorang sejarawan Belanda menulis tentang strata ekonomi penduduk di jaman penjajahan. sehingga tidak memerlukan pemulihan. Kenyataan ini mempunyai .000 orang Eropa (kebanyakan Belanda) menerima 665 juta gulden (99. harus dicapai karena akan membuka jalan ke arah perbaikan nasib rakyat dan bangsa Indonesia. Di Propinsi DIY jumlah penabung bertambah rata-rata 16. 51. berarti setiap orang memiliki tabungan di BRI sebesar Rp. maka sudah sepantasnya berlaku perkataan (ketentuan Kami). Pada tahun 1930. Sangat ―njomplangnya‖ pembagian pendapatan nasional inilah yang sulit diterima para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia yang bersumpah tahun 1928 di Jakarta.1 juta orang.3 juta (2.7 juta hanya menerima 3. 197. ketimpangan ekonomi tidak separah ketika jaman penjajahan. BRI yang merupakan lembaga keuangan mikro terbesar di Indonesia yang memiliki 3.[3] [3] Van der Eng.496 menjadi 950.788 milyar (tabel 2). menunjukkan betapa keliru kesimpulan telah ―hancur leburnya‖ ekonomi Indonesia. Kemiskinan Penduduk Pribumi di Jaman Penjajahan Pierre Van der Eng. Yang baru adalah kesadaran dan pengakuan tentang peranan besar yang dimainkannya dalam perekonomian rakyat dan perekonomian nasional. Krisis Moneter Mengembangkan Keuangan Mikro Sejak terjadinya krisis moneter (krismon) yang berakibat langsung pada ditutupnya 16 bank swasta nasional tanggal 1 Nopember 1997.S. sungguh-sungguh merupakah ―bom waktu‖ yang kemudian meledak sebagai krismon 1997. Kesan masih adanya ―krisis ekonomi‖ sekarang ini sengaja ditiupkan dan dibesar-besarkan oleh eks-konglomerat dan para pembelanya termasuk teknokrat.263 milyar menjadi Rp. dua tahun setelah Sumpah Pemuda. 828. Sebaiknya kita tidak ikut-ikutan berbicara tentang pemulihan ekonomi (economic recovery) jika yang akan kita pulihkan justru kondisi ekonomi sangat timpang ―pra-krisis‖ yang dikuasai konglomerat dan menjepit ekonomi rakyat.

. III. tidak dianggap sebagai faktor-faktor yang seharusnya tidak lagi menggambarkan kondisi krisis ekonomi? Ekonomi yang krisis adalah ekonomi yang pertumbuhannya terus-menerus negatif dan inflasi merajalela lebih dari 50% per tahun. Inilah yang oleh para ekonom makro yang keblinger disebut dengan ekonomi illegal atau hidden economy. pembangunan ekonomi sudah menjadi ―agama‖. yang bunganya sangat memberatkan APBN. Ekonomi rakyat di manapun di daerah-daerah benar-benar sudah bangkit. tokh yang paling sering disebutkan di media massa adalah sebagai krisis ekonomi. tidak pernah masuk dalam perhitungan. bukan dosen UGM). Kesediaan pemerintah menerbitkan obligasi rekapitalisasi perbankan sebesar Rp. dengan peranan yang amat dominan dari (perusahaan-perusahaan) konglomerat. atau krisis moral. tidak sekedar menggeliat.implikasi besar terhadap teori tentang peranan modal nasional dan upaya-upaya penguatannya dalam pembangunan ekonomi bangsa.6 kali (560%). Benarkah faktor-faktor ini cukup? Mengapa inflasi yang sudah benar-benar terkendali sejak 1999 yang kini (2003) berada sekitar 6%. Misalnya. bukan krisis politik. anggota KOSUDGAMA (Koperasi Serba Usaha Dosen-dosen Gadjah Mada) yang kini beranggota 5332 orang (74% diantaranya anggota luar biasa. dan jumlah orang yang menggadaikan (nasabah) naik 368% (Tabel 2). 5.04 milyar menjadi Rp. bank-bank masih belum mengucurkan kredit ke sektor riil. 39 milyar. 50. kata mereka. sehingga tinggal tunggu waktu dibawa masuk jurang. Fakta tentang peranan besar keuangan mikro dalam perekonomian nasional hendaknya menyadarkan pemerintah tentang perlunya mengkaji ulang teori ekonomi perbankan modern. telah membantu 24. Di Yogyakarta. dan pertumbuhan ekonomi yang sudah positif (3-4% pertahun). Ekonomi Rakyat sebagai Penyelamat Ekonomi Nasional Jika Ahmad Syafii Ma‘arif dan Franz Magnis -Suseno (2003) berbicara keras tentang kerusakan bangsa Indonesia yang ―hampir sempurna‖. 440 juta untuk 917 orang (tabel 5). maka jelas kami menolak fatwa yang cenderung ―ngawur‖ tersebut. Sebaliknya data-data mikro sektor ekonomi rakyat. Jika ada pakar ekonomi asing mengatakan ―the only way for Indonesia‟s economic recovery is mass capital inflow from abroad‖. Kini ketika konglomerat sudah rontok. padahal pada tahun 1999 baru Rp. 1. karena pada umumnya pakar-pakar ekonomi kita lebih banyak menggunakan data-data makro sekunder dan tersier di bidang keuangan. yang jika dibiarkan pasti akan mengakibatkan kebangkrutan perekonomian nasional. Memang pakar-pakar ekonomi makro kita pada umumnya masih mampu berargumentasi dan menunjuk belum adanya investasi terutama investasi asing sebagai salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi rendah. Sebabnya tidak lain karena selama 3 dekade Orde Baru.57 milyar (Tabel 3). krisis hukum. Usahausaha ekonomi rakyat yang disebut (secara tidak tepat) sebagai UKM (Usaha Kecil Menengah) berkembang di mana-mana dengan pendanaan mandiri atau melalui dana-dana keuangan mikro seperti pegadaian.9 juta menjadi Rp. 11. maka ekonomi Indonesia secara keseluruhan dikatakan sudah dalam keadaan krisis parah.2 milyar dengan anggota naik dari 393 menjadi 1333 (Tabel 4). jelas merupakan kebijakan keliru yang tidak berpihak pada kebijakan pengembangan keuangan mikro dan pemberdayaan ekonomi rakyat. dengan nilai pinjaman meningkat 11 kali lipat (1116%) dari Rp. koperasi atau lembaga-lembaga keuangan mikro ―informal‖ di perdesaan. maka dilihat dalam perspektif ekonomi diartikan bahwa krisis ekonomi dewasa ini sudah amat parah. yang sulit dibayangkan untuk bangkit kembali karena utang-utang yang sangat besar. anggotanya meningkat lebih dari 5 kali lipat selama periode krisis (1998-2002). faktor-faktornya antara lain adalah kurs dollar yang masih 3 kali lebih tinggi dibanding sebelum krisis moneter Juli 1997. ―Jika pertumbuhan ekonomi hanya ditopang oleh konsumsi maka pertumbuhan ekonomi tidak akan berkelanjutan‖. selama 1995-2002 kredit yang disalurkan Perum Pegadaian meningkat dengan 5. Benarkah? Diagnosis ekonomi yang bersifat pesimistik masih jauh lebih kuat dibanding diagnosis optimistik. dan pemerintah terperangkap dalam beban utang dalam dan luar negeri yang sangat berat.873 penduduk miskin di seluruh Indonesia dengan pinjaman Rp.650 trilyun untuk ―menyelamatkan perbankan modern‖. Selain itu Koperasi Bina Masyarakat Mandiri yang didirikan 28 ―orang gila‖ tanggal 28 Oktober 1998 di Jakarta. yang memang tidak tercatat dalam statistik. Bahwa ekonomi nasional dianggap masih dalam kondisi krisis. Meskipun orang tidak pernah lupa menyebutkan bahwa krisis yang melanda bangsa Indonesia dewasa ini sudah berciri multidimensi. Satu Baitul Maal (BMT Beringharjo) di kota Yogyakarta dalam periode relatif singkat (1995-2002) telah meningkat omset pinjamannya dari Rp.

kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Bahwa sejauh ini pakar-pakar ekonomi arus utama menolak konsep ekonomi kerakyatan. dan ekonomi RRC tumbuh cepat bukan karena meninggalkan paham sosialisme tetapi karena amat berkembangnya ekonomi rakyat. hukum. IV. adalah karena mereka secara a priori menganggap ekonomi kerakyatan bukan sistem ekonomi pasar. Yang benar manusia adalah juga homo socius dan homo ethicus. Pandangan dan pemihakan mereka pada konglomerat yang liberal-kapitalistik memang amat sulit diubah lebih-lebih setelah (istilah mereka) ‖Uni Sovyet pun kapok dengan sosialisme. Korupsi yang makin merajalela yang ―menyebar‖ dari pusat ke daerah-daerah bersamaan dengan pelaksanaan otonomi daerah bukanlah ―krisis ekonomi‖ tetapi krisis moral. Ekonomi siapa yang akan dipulihkan? Ekonomi konglomerat jangan dipulihkan. bahkan juga ekonomi kekeluargaan. Apakah kondisi ekonomi konglomerasi seperti ini akan kita pulihkan? Pasti tidak. Bibit -bibit sistem ekonomi Pancasila sudah ada dan sudah dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Indonesia terutama pada masyarakat perdesaan dalam bentuk usaha- . kerusakan ekonomi yang dialami sektor modern/ konglomerat tidak perlu diratapi. menunjuk pada asas ke-4 Pancasila. tetapi dituduh sebagai sistem ekonomi ―sosialis-komunis‖ ala Orde Lama 1959-1966. dan kita tidak perlu mati-matian memulihkan kondisi ekonomi pra-krisis yang sangat timpang. berbeda dengan pandangan pakar-pakar ekonomi arus utama (main stream). 1759. tetapi dalam bidang politik. lalu apa yang terjadi dengan orang-orangnya? Apakah mereka (bangsa Indonesia) juga ikut mati? Inilah tidak realistisnya analisis ekonom yang memberikan konsep-konsep ekonomi abstrak dari manusia-manusia ekonomi (homo ekonomikus) tanpa merasa perlu membumikannya. Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang demokratis. tetapi setelah terjadi apresiasi dolar 6 kali lipat secara tiba-tiba maka konglomerat-konglomerat tersebut telah benar-benar hancur berkeping-keping. Disinilah kekeliruan fatal pakar-pakar ekonomi makro yang sejak krismon 1997 menyatakan ekonomi Indonesia telah ―mati secara aneh dan tiba -tiba‖ (the strange and sudden death of a tiger )[4]. Yang rusak adalah ekonomi konglomerat yang pada masa-masa jayanya terlalu mengandalkan pada modal asing yang murah. Indonesia sebaiknya tidak usah berbicara tentang pemulihan ekonomi ( economic recovery). tetapi kemudian pada tahun 1999 menyebutnya telah mati. Pendirian PUSTEP-UGM ini kemudian diikuti pembentukan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PSEK) di Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa tanggal 16 Agustus 2003 semuanya berkehendak menyumbangkan teori-teori dan ilmu ekonomi (asli) Indonesia yang benar-benar memberi manfaat pada masyarakat/ bangsa Indonesia khususnya wong cilik. yang hendak digusur dari pasal 33 UUD 1945. the strange and sudden death of a tiger. Sudah pasti mereka ―keblinger‖ karena paham sosialisme tidak pernah mati. Demikian. bukan kerusakan ekonomi Indonesia. sedangkan ―kerusakan bangsa‖ yang diklasifikasi sebagai ―hampir sempurna‖ oleh Syafii Ma‘arif adalah kerusakan dalam bidang tatakrama atau etika politik.[5] [4] Hal Hill dalam buku pertama tahun 1993 memuji-muji ekonomi Indonesia sebagai The Southeast Asia‟s emerging giant.Dapat disimpulkan bahwa kondisi ―amat gawat‖ yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini tidak terletak dalam bidang ekonomi khususnya ekonomi rakyat. tetapi bukan kerusakan ekonomi rakyat. Jika ekonomi Indonesia telah diibaratkan sebagai harimau ( tiger) yang sudah mati sejak krismon 1997-1998. dimana ekonomi rakyat mendapat dukungan pemihakan yang sungguh-sungguh dari pemerintah. The Theory of Moral Sentiments. Kerusakan ekonomi bangsa memang hampir sempurna. [5] Adam Smith. dan moral. Ekonomi Pancasila bukanlah sistem ekonomi baru yang masih harus diciptakan untuk mengganti sistem ekonomi yang kini ―dianut‖ bangsa Indonesia. Revolusi Mewujudkan Ekonomi Pancasila Tanggal 12 Agustus 2002 UGM mendirikan PUSTEP (Pusat Studi Ekonom Pancasila) yang kemudian disambut pembentukan Komisi Ad Hoc Kajian Ekonomi Pancasila pada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. dan RRC juga sudah menjadi kapitalis”. Ekonomi Indonesia akan tumbuh cepat seperti ekonomi RRC jika mampu mengalahkan virus korupsi yang tumbuh subur sejak awal gerakan reformasi yang telah benar-benar melenceng.

Itulah revolusi bukan sekedar reformasi. lain coraknya. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. Pembentukan PUSTEP UGM tepat waktu untuk mengisi kevakuman sistem ekonomi nasional. mengibaratkan bangsa Indonesia sudah mendekati ―jurang kehancuran‖. meskipun keberpihakan pemerintah pada konglomerat belum hilang. Sistem ekonomi kerakyatan merupakan sub-sistem dari sistem ekonomi Pancasila yang diragukan dan tegas-tegas ditolak oleh teknokrat ―keblinger‖. Jihad akbar adalah jenis perjuangan berat melawan diri sendiri. janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya ialah perjuangan. dan sistem ekonomi kerakyatan sedang mencari bentuknya yang tepat dan operasional. ―Kapal‖ Indonesia harus dibalikkan arahnya. Adapun mengapa praktek-praktek kehidupan riil dan kegiatan ekonomi rakyat yang mengacu pada sistem (aturan main) ekonomi Pancasila ini tersendat-sendat. Seminar UGM. maka reformasi lebih -lebih yang bersifat tambal-sulam jelas tidak akan memadai. tetapi gerakan ekonomi kerakyatan yang dipicu semangat reformasi memberikan iklim segar pada berkembangnya sistem ekonomi Pancasila yang berpihak pada ekonomi rakyat. Justru inilah suatu bentuk nyata ‖jihad akbar” yang tidak menuntut pengorbanan pertumpahan darah. yang secara moral setara dengan revolusi. tetapi menuntut pengorbanan melawan egoisme dan subjektivisme. alasannya jelas karena politik ekonomi yang dijalankan pemerintah bersifat liberal dan berpihak pada konglomerat. Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. 11 Oktober 2003 Oleh: Prof. Mubyarto -. yaitu di antara 79 „speed‟ dan 60 taksi yang semuanya dimiliki warga Kota Bangun. Nanti kita bersama-sama sebagai bangsa yang bersatu padu. Dr. atau bahkan perang.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi dan Moral.usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.. Ketika terjadi krismon 1997-1998. perjuangan. yang begitu silau dengan sistem ekonomi kapitalis liberal dari Barat (Amerika). Tindakan besar yang dimaksud adalah suatu tindakan fundamental. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus. KOPMA-UGM. . „Speed‟ hanya melayani penumpang Melak-Kota Bangun pulang-pergi (Kutai Barat dan Kutai Kartanegara). ketika sistem ekonomi kapitalis liberal di Indonesia sedang digugat.. berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila (Soekarno. Kompleksitas krisis multidimensi sekarang dan beratnya beban kesulitan mengatasi dan mengakhirinya membuat tekad membangun masa depan harus diwujudkan dalam tindakan-tindakan besar dan inisiatif tingkat tinggi. 25-27 September 2003. 1 Juni 1945) Jika Ahmad Syafii Ma‘arif dan Franz Magnis-Suseno di dalam Seminar ―Meluruskan Jalan Reformasi‖. Jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu menjadi satu realiteit. suatu bentuk pengorbanan psikologis. sedangkan taksi Kijang dan lain-lain kendaraan “mini-bus” untuk jurusan Kota BangunTenggarong-Samarinda. sekali lagi perjuangan.[6] [6] Nurcholish Madjid. hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang. PUSTEP UGM bertekad melakukan kajian-kajian kehidupan riil (real life) sehingga dapat membakukan ilmu ekonomi tentang kehidupan riil ( real-life economics) dari masyarakat/bangsa Indonesia. [1] Makalah untuk Seminar Ekonomi Masa Depan Indonesia Pasca IMF. “Bagi-bagi rezeki” ala ekonomi rakyat di Kota Bangun inilah bukti nyata telah diterapkannya asas-asas ekonomi Pancasila di Kalimantan Timur. suatu perjuangan yang memerlukan keberanian menyatakan apa yang benar walaupun pahit karena bertentangan dengan kepentingan pribadi atau kelompok. Seorang pengemudi ‟speed boat‟ Zamrani (26 th) yang hanya tamat SD 6 tahun menegaskan “Ekonomi Pancasila dalam Aksi” di dalam pelayanan jasa transpor di Sungai Mahakam Kaltim. dan Balikpapan. 11 Oktober 2003. .

720. London. 4. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi dan Moral. berjarak 160 km dari Melak (Sendawar. Seminar Nasional. Mubyarto. Panitia Pusat ―Silaturahmi Kebangsaan 2003‖. Universitas Gadjah Mada. Grayson & Shannon Smith. Pemda Kabupaten. sedangkan anak-anak kelas IV – VI pulang pukul 13:00. sedangkan ke perbatasan dengan Kalteng yang hanya 10 km ditempuh dalam 1 jam perjalanan.000 per-bulan). Membangun Sistem Ekonomi.H. 11. kelas III: 3 murid. Aditya Media. namun perhatian terhadap . dan Pendidikan.Bacaan 1. 2001. Yogyakarta. 8. 2002. Perjalanan dari Melak memerlukan 4 jam. 10. Pidato pertama tentang Pancasila yang diucapkan pada tanggal 1 Juni 1945 oleh Bung Karno ‖. 5. dan kini bertanggungjawab atas pendidikan 25 anak yang terbagi atas 6 kelas yaitu kelas I: 8 murid. Bhratara. 2. Pertama. kelas IV: 1 murid. Singapore. Soekarno. 3. Seminar Nasional. dan kelas VI: 8 murid. Kembalikan Moralitas Bangsa. 9. Hernando. meskipun gaji Rusnawati terhitung lumayan (Rp 1. De Soto. A Development Alternative for Indonesia. Indonesia Today. 2000. Mubyarto. Kabupaten Kutai Barat. Tentu kita kagum bagaimana seorang guru mengajar 25 anak didik dengan 6 kelas yang berbeda dengan buku-buku yang sangat terbatas. yaitu revolusi dalam perhatian pemerintah terhadap kondisi persekolahan di kampung ini. Stiglitz. Anthem Press. 2003. Gadjah Mada Press. Penduduk dan Kemiskinan di Pedesaan Jawa. 2003. bertahun-tahun berjuang ―sendirian‖. Universitas Gadjah Mada. Kedua. Masri Singarimbun & D. Seminar Nasional. Moral. Universitas Gadjah Mada. Nurcholish Madjid. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi. Reformasi Sistem Ekonomi. Anak -anak kelas I – III pulang pukul 11:00. Ahmad Syafii Ma‘arif. kelas II: 3 murid. Lloyd. Norton. Kecamatan Bentian Besar. ISEAS. WW. dan sangat jelas yang diperlukan sekarang bukan sekedar reformasi tambal sulam tetapi revolusi. Sekolah dimulai pukul 6:00 pagi dan pada pukul 6:30 semua murid ―gosok gigi‖ bersama. ibukota Kutai Barat) dengan perjalanan darat sebagian besar masih jalan tanah buatan perusahaan HPH. Penny. Franz Magnis-Suseno SJ. 2001. 2003. Ha-Joon. Jakarta. Kalimantan Timur. Black Swan. Yogyakarta. BPFE. Yogyakarta. Joseph Stiglitz and The World Bank. Globalization and Its Discontents. 12. 2002. maka untuk SD yang ditangani Rusnawati reformasi ―belum pernah terjadi‖. dan revolusi dalam kesadaran seluruh warga masyarakat bagaimana menjamin pendidikan yang bermutu bagi generasi anak cucu . Bromley. The Mystery of Capital. Bila kita berbicara tentang reformasi yang jalannya hendak kita ―luruskan‖. 1976. kelas V: 2 murid. The Rebel Within. Mubyarto PERHATIAN TERHADAP KONDISI PERSEKOLAHAN DI DAERAH TERPENCIL: BUKAN SEKEDAR REFORMASI HARUS REVOLUSI Rusnawati (47 tahun) yang guru SD Kampung Sambung. Mubyarto dan Daniel W. Chang. sehingga total 25 murid. 2000. 2003. New York. 6. ―12 Kali Tepuk Tangan di BPUPKI: Lahirnya Pancasila. Joseph E. 1999. Kampung (desa) Sambung. SD yang layak dan bermutu harus dipusatkan di kecamatan yang murid-muridnya di‖asramakan‖ dan penyelenggaraannya ditanggung Dinas Pendidikan. tidak mungkin setiap kampung mempertahankan SD sendiri-sendiri dengan jumlah murid sangat sedikit. 7.

Nopember 2003] Vincent Gaspersz dan Esthon Foenay KINERJA PENDAPATAN EKONOMI RAKYAT DAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Strategi pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dilakukan berdasarkan pertumbuhan melalui pemerataan dengan prinsip membangun dari apa yang dimiliki rakyat dan apa yang ada pada rakyat. Di daerah-daerah. yang merupakan filial SD Dempar. terutama desa-desa/kampung-kampung miskin. sangat mendukung gagasan pengasramaan murid-murid SD desa-desa terpencil ini. Kasus kondisi sekolah dasar yang cukup ―memilukan‖ di kampung Sambung menjadi lebih ―mengerikan‖ lagi di kampung Jontai kecamatan Damai. Jaelani (41 th). Gedung SD dari kayu yang bekas rumah penduduk (5 x 15m).008 per bulan atau berdasarkan harga yang berlaku pada tahun 2001 adalah sebesar Rp 1. Melihat buku-buku ajar yang dipakai sebagian besar sudah tua. hlm.000 (baru saja diangkat sebagai PNS) dengan dibantu guru PTT dengan gaji Rp 400.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. pemerintah daerah harus mampu mendorong terjadinya revolusi atau perubahan radikal dalam menangani dunia pendidikan termasuk penyediaan anggaran 20% dari APBD seperti yang ―dianjurkan‖ UUD 1945 yang telah diamandemen. Kepala sekolah SD Dempar.100 per tahun atau Rp 61. tanpa dinding pembatas. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM.000/bulan bertanggungjawab atas pendidikan 41 murid SD. dipakai untuk semua murid dengan guru Sengkon sendirian (guru PTT Sarmoto jarang datang). 4 & 7). 19). pendidikan rakyat.kesejahteraan guru dan penyediaan bahan-bahan ajar harus dengan anggaran yang memadai untuk penyelenggaraan sekolah-sekolah beserta asramanya. Demikian dari kasus 2 SD di kampung miskin di kabupaten Kutai Barat ini kiranya harus ada revolusi dalam pendidikan dasar. [1] 8 . Pos Kupang 11 September 2001 hlm. tidak sekedar reformasi yang dalam kenyataan hanya dijadikan retorika politik di Jakarta. dikhawatirkan anak-anak sangat tidak menikmati suasana sekolah dan tidak dapat diharapkan menjadi anak-anak yang cerdas. 25 September 2003 Oleh: Prof.000/bulan. itupun ada yang keberatan karena memang tidak mampu. Ada anak kelas I anak penginjil setempat (Yunus) yang tiap hari diantar sekolah oleh ibunya setelah ditinggal selalu pulang lagi. Masyarakat yang hampir semuanya miskin sulit diharapkan membayar biaya pendidikan anak-anak mereka.811. Strategi pembangunan yang menjadi pilihan tersebut memerlukan langkah-langkah operasional yang terukur dan disesuaikan dengan paradigma baru pembangunan (Esthon Foenay. Pendapatan per kapita dari Provinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan harga konstan 1993 pada tahun 2001 adalah sebesar Rp 732. Pendapatan per kapita dan pengeluaran per kapita dapat dijadikan sebagai indikator kemajuan pembangunan ekonomi di Nusa Tenggara Timur. beberapa orang spontan mendukung asal tetap tidak perlu dipungut biaya. Sengkon (39) dengan gaji Rp 720. Kinerja pendapatan per kapita penduduk diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan tahun 1993 dibagi dengan jumlah penduduk tengah tahun. Pada saat kepada penduduk Jontai yang dipilih secara acak diajukan usulan untuk ―mengasramakan‖ anak -anak usia SD mereka ke SD Dempar. 9 Tahun 2001 Tentang Program Pembangunan Daerah Tahun 2001-2004. Salah satu tujuan pembangunan ekonomi daerah Nusa Tenggara Timur adalah meningkatkan standar hidup layak yang diukur dengan indikator pendapatan per kapita riil masyarakat (Peraturan Daerah Provinsi NTT No. Sekarang setiap anak membayar BP3 Rp 1. Mubyarto -. dengan titik berat pembangunan yang berlandaskan pada pembangunan ekonomi rakyat. Dr.696 per tahun atau Rp . dan kesehatan rakyat.

terutama di daerah pedesaan NTT di mana mayoritas penduduknya (94.04%).72% dari total penduduk pedesaan) hanya memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 5.057).053). diketahui bahwa kinerja pendapatan per kapita tertinggi adalah dari negara Luxembourg yaitu sekitar $US 50 ribu ($US 50. (2) Kabupaten Kupang (Rp 852.034 per bulan.009).72%).105).061) dan terrendah (pendapatan per kapita terrendah) adalah dari negara Sierra Leone yaitu $US 490.015.15% penduduk NTT (3. Berdasarkan studi ini dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pemerataan kemiskinan di Nusa Tenggara Timur yang ditunjukkan melalui rendahnya tingkat pengeluaran per kapita dari mayoritas penduduk di NTT.636). Sedangkan enam kabupaten di NTT memiliki kinerja pendapatan per kapita lebih tinggi daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 732.728.250 per bulan dan terrendah adalah dari Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Rp 712.318. (5) Flores Timur (Rp 778. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001 (BPS.000 per tahun atau Rp 1. diurutkan dari yang tertinggi adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 1.000 per bulan atau kurang dari Rp 5. (6) Sikka (Rp 717.985. yaitu Kabupaten Timor Tengah Selatan (pendapatan per kapita Rp 497. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Global 2002 (UNDP 2002) terhadap 173 negara di dunia. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001 (BPS.$US 300.028 (70.000 per hari ini terbanyak berada di daerah pedesaan NTT yaitu sebanyak 3. (4) Ende (Rp 812.000 per tahun—ranking 293 dari 294 kabupaten di Indonesia). Kinerja pengeluaran per kapita penduduk secara rata-rata dapat juga digunakan sebagai variabel proxy (mewakili) dalam mengkaji kinerja tingkat pendapatan ekonomi penduduk dan distribusi pendapatan penduduk.943.104.262).000 per tahun —ranking 294 dari 294 kabupaten di Indonesia) dan Kabupaten Sumba Barat (pendapatan per kapita Rp 501. 129). (3) Timor Tengah Selatan (Rp 550. (4) Timor Tengah Utara (Rp 650. (3) Sumba Timur (Rp 840. hlm. dan UNDP 2001) diketahui bahwa rasio Gini (indeks Gini) dari pengeluaran rumahtangga di Provinsi Nusa Tenggara Timur .857). (2) Manggarai (Rp 521. dan (6) Ngada (Rp 761.333 per bulan. Jika menggunakan nilai kurs $US 1 = Rp 9000an (rata-rata nilai kurs pada tahun 2001). Kinerja pendapatan per kapita dari kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 adalah terdapat tujuh kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pendapatan per kapita per tahun lebih rendah daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 732.770 per bulan (NTT dalam Angka Tahun 2001. maka pendapatan per kapita NTT pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku adalah setara dengan $US 200-an. BAPPENAS.240 per tahun atau Rp 93. atau hanya sekitar 3.100).417 per bulan.380 per tahun atau Rp 84.149).615 per bulan.820.408 per tahun atau Rp 144. BAPPENAS.959 orang (94.149). Kinerja pendapatan per kapita lingkup kabupaten/kota tertinggi (PDRB real per kapita—tanpa minyak dan gas) adalah dari Kota Madya Jakarta Pusat (Provinsi DKI Jakarta) yaitu Rp 15.333 per bulan dan terrendah adalah dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (Provinsi Nusa Tenggara Timur) yaitu Rp 497.150.000 per tahun atau Rp 41. hlm. Terdapat dua kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pendapatan per kapita terrendah di Indonesia (ranking 293 dan 294 dari 294 kabupaten yang dipelajari).000 per hari pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku pada saat itu. dan (7) Ngada (Rp 761.000 per hari.591). (5) Alor (Rp 706.000 per bulan atau kurang dari Rp 5. atau hanya sekitar 12 persen daripada pendapatan per kapita penduduk DKI Jakarta. Hal ini berarti pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk perkotaan di NTT lebih tinggi sekitar Rp 713. diurutkan dari yang terrendah adalah: (1) Sumba Barat (Rp 474. Pengeluaran per kapita pada tahun 2001 dari penduduk Provinsi Nusa Tenggara Timur atas dasar harga yang berlaku adalah sebesar Rp 1.298 orang) yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150. masih lebih rendah daripada pendapatan per kapita penduduk negara termiskin di dunia (Sierra Leone) yang sebesar $US 490.100).680). dan UNDP 2001) diketahui bahwa kinerja pendapatan per kapita tertinggi (PDRB real per kapita —tanpa minyak dan gas) pada lingkup provinsi di Indonesia adalah dari Provinsi DKI Jakarta yaitu Rp 5.951).493. sedangkan pengeluaran per kapita dari penduduk pedesaan di NTT adalah sebesar Rp 1.14 persen daripada pendapatan per kapita penduduk Jakarta Pusat. Pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku terdapat sekitar 90.22%) daripada pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk pedesaan di NTT. Kinerja pendapatan per kapita di Nusa Tenggara Timur adalah yang paling rendah (paling buruk) di Indonesia.339 orang (65.125.975 per bulan (NTT dalam Angka Tahun 2001. Hal ini berarti secara kasar dapat disimpulkan bahwa pendapatan per kapita penduduk NTT yang sebesar $US 200-an—katakanlah berkisar $US 200 .000 per tahun atau Rp 495. Kelompok penduduk yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150. sedangkan yang berada di daerah perkotaan NTT adalah sebanyak 388. Pengeluaran per kapita dari penduduk perkotaan di NTT adalah sebesar Rp 1.000 per tahun atau Rp 59. 469).039). Sangat sulit membayangkan betapa parahnya tingkat kemiskinan masyarakat di Nusa Tenggara Timur.

(9) Alor (Rp 1. Kinerja produktivitas tenaga kerja dari kabupaten-kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah terdapat 10 kabupaten yang memiliki kinerja produktivitas tenaga kerja regional lebih rendah daripada rata-rata produktivitas tenaga kerja tingkat Provinsi NTT (Rp 1.24 kali atau 724 persen.942. (2) Kabupaten Kupang (Rp 1. (7) Ende (Rp 501. kimia dan barang dari karet.575. Dari 34 sektor produksi yang didefinisikan dalam Tabel Input-Output Nusa Tenggara Timur 2001 (BPS NTT. Hal ini berarti bahwa tingkat ketimpangan antara produktivitas tenaga kerja sektoral tertinggi (sektor lembaga keuangan bukan bank —Rp 35.017.717.980).187.540). Kinerja pengeluaran per kapita dari kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada tahun 1999 atas dasar harga konstan 1993 adalah terdapat sebelas kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pengeluaran per kapita lebih rendah daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 576.367. diurutkan berdasarkan produktivitas tenaga kerja terrendah.406. Kinerja produktivitas tenaga kerja regional di Nusa Tenggara Timur diukur berdasarkan rasio produk domestik regional bruto (PDRB) kabupaten tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 dengan jumlah tenaga kerja yang ada di kabupaten itu pada tahun 2001.540).202.717. . adalah: (1) Sumba Barat (Rp 1.28.pada tahun 1999 adalah rendah yaitu 0.148. Hal ini berarti bahwa tingkat ketimpangan antara produktivitas tenaga kerja regional tertinggi (Kota Madya Kupang—Rp 7. 2002) diketahui bahwa produktivitas tenaga kerja tertinggi berada dalam sektor lembaga keuangan bukan bank yaitu sebesar Rp 35.140). yaitu: sisi input dan sisi output.270). (3) Timor Tengah Selatan (Rp 472.652.650.080). Timor Tengah Utara. sedangkan produktivitas tenaga kerja terrendah berada dalam Kabupaten Sumba Barat yaitu sebesar Rp 1.717.280). Kinerja produktivitas tenaga kerja di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 adalah sebesar Rp 1. (8) Flores Timur (Rp 528.650). (7) Flores Timur (Rp 1.187.017.703. Alor. Kinerja Produktivitas Tenaga Kerja di NTT Apabila ukuran keberhasilan produksi hanya memandang dari sisi output.750) di Nusa Tenggara Timur adalah sekitar 7. Manggarai. kimia dan barang dari karet —Rp 469.250). diurutkan berdasarkan produktivitas tenaga kerja tertinggi. dan (10) Ende (Rp 1. Dari 13 kabupaten/kota yang dipelajari. Berdasarkan kenyataan di atas.960). maka produktivitas memandang dari dua sisi sekaligus. dan Kabupaten Kupang.030 (atas dasar harga konstan 1993).580).500 persen.750). (4) Belu (Rp 1.380). (5) Timor Tengah Utara (Rp 487. (2) Sikka (Rp 440.650).820). kimia dan barang dari karet yaitu sebesar Rp 469.900).017. Sumba Barat. diurutkan dari yang terrendah adalah: (1) Sumba Barat (Rp 437.010). dan (11) Ngada (Rp 566. (9) Kabupaten Kupang (Rp 557. sedangkan produktivitas tenaga kerja terrendah berada dalam sektor industri pupuk. (8) Sikka (Rp 1.180) dan (2) Manggarai (Rp 579.534.970). (6) Timor Tengah Selatan (Rp 1.030).660). (6) Belu (Rp 494.590 (atas dasar harga yang berlaku tahun 2001).640).24 kali lipat (724%) daripada tingkat produktivitas tenaga kerja terrendah dari Kabupaten Sumba Barat. Belu. diurutkan dari yang tertinggi adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 1. maka pembangunan ekonomi kerakyatan di masa mendatang seyogianya memprioritaskan pada beberapa kabupaten di NTT yang masih menunjukkan kinerja rendah dalam indikator pendapatan ekonomi masyarakat yaitu: Timor Tengah Selatan.367. (10) Sumba Timur (Rp 566. (2) Manggarai (Rp 1. yang berarti tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi dari sektor lembaga keuangan bukan bank adalah 75 kali lipat (7500%) daripada tingkat produktivitas tenaga kerja terrendah dari sektor industri pupuk.900).900). adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 7.590) dan produktivitas tenaga kerja sektoral terrendah (sektor industri pupuk. Hanya terdapat dua kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pengeluaran per kapita lebih tinggi daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 576. dan (3) Sumba Timur (Rp 1. diketahui bahwa produktivitas tenaga kerja tertinggi berada dalam Kota Madya Kupang sebesar Rp 7.750 (atas dasar harga konstan 1993). (4) Alor (Rp 485.730).367.030) dan produktivitas tenaga kerja regional terrendah (Kabupaten Sumba Barat—Rp 1.281.710 (atas dasar harga yang berlaku tahun 2001). (3) Timor Tengah Utara (Rp 1.650).523. (5) Ngada (Rp 1.560). Hanya terdapat tiga kabupaten yang memiliki kinerja produktivitas tenaga kerja regional lebih tinggi daripada rata-rata produktivitas tenaga kerja tingkat Provinsi NTT (Rp 1.360).597. yang berarti tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi dari Kota Madya Kupang adalah 7.710). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input dalam memproduksi output (barang dan/atau jasa).962.030).710) di Nusa Tenggara Timur adalah sekitar 75 kali atau 7. yang menunjukkan telah terjadi pemerataan pengeluaran rumahtangga pada tingkat pengeluaran yang rendah seperti diungkapkan di atas.

―on-farm‖. di masa mendatang akan mampu meningkatkan produktivitas tenaga kerja regional. Kupang. Peningkatan produktivitas tenaga kerja melalui perubahan struktur produksi terhadap PDRB. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 6 Tahun 2002 tentang Rencana Strategis Pembangunan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2002-2004. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 8 Tahun 2001 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Tahun 2001-2004. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. Prof. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kupang. hlm. BPS NTT. Tabel Input-Output Nusa Tenggara Timur 2001—Klasifikasi 35 Sektor. 2001. 2001. NTT. Jakarta. melalui mengembangkan sektor agribisnis dari hulu. dan UNDP. Esthon. BPS Jakarta-Indonesia. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penduduk Nusa Tenggara Timur—Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000. Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001—Menuju Konsensus Baru: Demokrasi dan pembangunan manusia di Indonesia. yang pada akhirnya akan mampu mewujudkan kemandirian masyarakat membiayai kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 9 Tahun 2001 tentang Program Pembangunan Daerah (PROPEDA) Tahun 2001-2004. Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2000. BPS. Vincent Gaspersz adalah Guru Besar Ekonomi Manajerial pada Program Pascasarjana Unika Widya Mandira. 2001. Jakarta 2001. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT.Si adalah Kepala BAPPEDA Provinsi Nusa Tenggara Timur yang bermukim di Kupang. . Kupang dan Universitas Trisakti. Perspektif Perencanaan dan Paradigma Baru Pembangunan. Badan Pusat Satatistik. Canada. 2002.Berdasarkan hasil studi ini direkomendasikan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dari kabupaten-kabupaten di NTT melalui melakukan transformasi struktur produksi atau menurunkan tingkat kontribusi dari sektor-sektor primer terhadap PDRB kabupaten itu. sampai hilir. Bappenas. Kupang. Dr. Artikel dalam Pos Kupang 11 September 2001. 2002. 2002. 2001. Kupang. Perencanaan Sumber Daya Manusia Tingkat Makro di Provinsi Nusa Tenggara Timur. sesuai dengan visi dari pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2001. Foenay. Jakarta yang saat ini bermukim di Vancouver. dan hilir. Laporan Studi Kerjasama Bappeda NTT dengan Program Pascasarjana Universitas Katolik Widya Mandira. Esthon Foenay. M. 2002. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. maju. ―on-farm‖. DAFTAR PUSTAKA BAPPEDA NTT dan Program Pascasarjana UNIKA WIDYA MANDIRA. Kupang. dan sejahtera. dan UNDP. 2001. Dengan demikian telah jelas bahwa strategi perubahan struktur produksi dari sektor-sektor produksi yang memberikan kontribusi terhadap PDRB. Ir. Hal ini akan mampu mewujudkan cita-cita jangka panjang berupa mewujudkan masyarakat Nusa Tenggara Timur yang mandiri. 4 dan 7. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. akan memberikan konsekuensi lebih lanjut berupa peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat. Hal yang paling memungkinkan adalah mengembangkan sektor-sektor agribisnis yang mampu mengaitkan secara terpadu dan terintegrasi dari agribisnis hulu. 2001. Bappenas. Publikasi Bersama oleh BPS. BPS NTT. Kupang. Kupang. BPS NTT.

seek to extend its control over world oil reserves with the object of boosting production. the rapid expansion of U. the 2003 invasion of Iraq. Campbell and Jean H. The Geopolitics of Oil In April 1998 the United States for the first time imported the majority of the petroleum it consumed. and the increased threats now directed at Iran and Venezuela—all signal the rise of a dangerous new era of energy imperialism.S. A key event was the publication in Scientific American in March 1998of ―The End of Cheap Oil‖ by retired oil industry geologists Colin J.S.S. importation of foreign oil. the invasion and occupation of Afghanistan (the geopolitical doorway to Western access to Caspian Sea Basin oil and natural gas) following the 9/11 attacks. military activities in the Gulf of Guinea in Africa (where Washington sees itself as in competition with Beijing). with the backing of the other leading capitalist states.‖2 This required that the United States as the hegemonic power.‖ The Campbell and Laherrère article and the question of peak oil immediately drew the attention of the International Energy Agency (IEA). At the same time fears that the world would soon reach peak oil production became increasingly prominent. Seen in this light. foreign oil dependency. and (4) looming fears of peak oil. The response of the vested interests to this world oil supply crisis was to construct what Michael Klare in Blood and Oil has called a global ―strategy of maximum extraction. (3) concentration of an increasing percentage of all remaining conventional oil resources in the Persian Gulf.1 Beginning in 1998 a series of strategic energy initiatives were launched in national security circles in the United States in response to: (1) the crossing of the 50 percent threshold in U. Laherrère. assuming a high profile behind the scenes in establishment discussions. Politics/ Economics The rise in overt militarism and imperialism at the outset of the twenty-first century can plausibly be attributed largely to attempts by the dominant interests of the world economy to gain control over diminishing world oil supplies. The crossing of this threshold pointed to a very rapid growth in U. the .S. (2) the disappearance of spare world oil production capacity. ―The End of Cheap Oil‖ predicted that world oil production would peak ―probably within 10 years.Peak Oil and Energy Imperialism John Bellamy Foster Home Subscribe Notes From the Editors ESSAYS ON: » Africa » Europe » Feminism/Women and Politics » Globalization » Labor and Working-Class Issues » Latin America » Media/ Communications » 9/11–War on Terrorism » Social/Political Theory » U.

―Between now and the election.OECD‘s energy organization.8 In July 1998 the Center for Strategic and International Studies (CSIS) launched its ―Strategic Energy Initiative. In November 2000.3 This. As opposed to those who saw the peak occurring ―as early as 2004‖ the EIA concluded that ―world conventional oil production may increase two decades or more before it begins to decline. Twilight in the Desert: The Coming Saudi Oil Shock and the World Economy.‖ he asked. who had been sent to examine the spare oil production capacity of the OPEC countries. This was increasingly integrated with wider issues on the expansion of the U. he can mispronounce every head of state in the world. considering a number of scenarios.‖ And that dragged me into helping create the comprehensive energy plan put forth by Bush when he was running. Department of Energy conducted a full assessment of the peak oil issue as early as July 2000. this will sink you. Schlesinger. .‖ The analysis itself. As he recounted it in a February 2008 interview. The peaking of United Kingdom North Sea oil production in 1999 (Norwegian production peaked two years later) added a still greater sense of urgency.5 Simmons was a member of the Bush-Cheney Energy Transition Advisory Committee. advising on the growing oil constraints.7 These concerns with regard to world oil supply that began to penetrate the corridors of power in the 1998–2001 period led to a wide-ranging debate within the inner circles in the United States about the nature of the oil extraction problem and the strategic means with which to alleviate it. arguing that the Saudi oil production peak was imminent. oil policy call you and [say ‗shit!‘] about five times in 20 seconds.‖ at the urging of former chairman of the Senate Armed Services Committee Sam Nunn and former secretary of defense (and former secretary of energy) James R. since it suggested that a world oil peak could be reached as early as 2021. ―what will this do to the world‘s average depletion rate?‖4 In 2000 Simmons‘s concerns regarding diminishing oil supply led to his becoming an energy advisor for George W. Rather than extending the life of oil fields as previously supposed. has become one of the most influential works propounding the peak oil notion. empire raised by groups such as the Project for a New American Century. was still far from distant. if this all breaks out and Bush is misinformed. was not altogether reassuring to the vested interests.S. Matthew Simmons. but giant. CEO of the Houston-based energy investmentbanking firm Simmons and Company International and a member of the National Petroleum Council and the Council on Foreign Relations.6 The Energy Information Administration (EIA) of the U. however. Bush‘s presidential campaign. ―When you have someone who is the head of U. however. the introduction of this technology most likely accelerated their depletion. The IEA claimed that even adopting the pessimists‘ assumptions on the real extent of world oil reserves and the existence of a bellshaped production curve (but without the sharp oil price hike suggested by Campbell). Referring to oil fields ―brought into production since 1970. its own longterm supply model ―would not peak until around 2008–2009.‖ Simmons noted that ―almost all of these new fields have already reached peak production and are now experiencing rapid rates of decline…fAnd when the stable base of old.S. this is so much worse than what they‘ve warned us about. His 2005 book. moreover. As Simmons reported to Bush‘s cousin: I said. would push the peak back around a decade further. in its World Energy Outlook of 1998. fields also starts to deplete.S. but this. he had ―pulled aside‖ Bush‘s ―first cousin‖ in early March 2000 to tell him of an earlier conversation he had had with an assistant to Secretary of Energy Bill Richardson.‖ Employing the IEA‘s own assumptions on reserves.‖ I said. published an article in Middle East Insight in 1999 in which he emphasized the ―far faster‖ depletion of major oil fields arising from high-extraction technology.

The Geopolitics of Energy into the 21st Century. This would be coupled with replacement of the current political economy of oil dominated by national oil companies.S. operating well below capacity. with Nunn and Schlesinger as cochairs. As the ―only superpower‖ the United States. oil production had fallen 39 percent below its 1970 peak and that U.S. Nevertheless. reliance on foreign oil imports could increase to almost two-thirds of its total gasoline and heating oil consumption by 2020. In this situation. focusing on the arguments of Campbell and Laherrère and Simmons. economic sanctions. Department of Energy‘s International Energy Outlook in 2001 projected the need for a doubling of Persian Gulf oil production over 1999 . The question of a world oil peak in the decade 2000–10 was also examined. and oil pessimists such as peak oil proponent Simmons. The CSIS Strategic Energy Initiative officially rejected the notion that the world oil peak would be reached as early as 2010. the Baker Institute/Council on Foreign Relationsreport emphasized.‖ Investment in the enhancement of Iraqi oil production capacity was essential. such as Morse and Daniel Yergin of Cambridge Energy Research Associates. petroleum security. issued under the direction of Vice President Dick Cheney.the Strategic Energy Initiative issued a three volume report. It too emphasized the need for U.‖ The answer was for the Western powers led by the United States to play a more direct role in the development of world oil resources. the U. its report took the peak oil issue extremely seriously. had ―special responsibilities for preserving worldwide energy supply‖ and ―open access‖ to the world‘s oil. ―Iraqi reserves. Overall. the stakes were exceedingly high. noting that total U.S. ―represent a major asset that can quickly add capacity to world oil markets and inject a more competitive tenor to oil trade. with one in which the multinational oil corporations centered in the advanced capitalist economies once again took charge of reserves and investments. Underscored throughout the report was the necessity of finding ways to increase oil exports from Iraq and Iran both then under U. The Baker Institute/Council on Foreign Relations report emphasized the adequacy of world oil reserves for decades to come but argued that world oil was facing ―tight supply‖ due to ―underinvestment‖ in new production capacity and ―volatile states. chaired by energy analyst Edward L.‖ In terms of the long-term world oil supply outlook. which had arisen with the growth of ―resource nationalism‖ in the third world.S. and in the previous year ―turning its taps on and off when it has felt such action was in its strategic interests to do so. President Bush warned in May 2001 that dependence on foreign crude oil put U. It stressed that the Persian Gulf would have to expand its energy production ―by almost 80 percent during 2000–2020‖ in the face of rising demand and declining oil production elsewhere in the world in order to meet world energy needs. The problem was what to do about Saddam Hussein. partly due to oil producing countries devoting oil revenues to social projects rather than to investment in new production capacity.10 These reports by national security analysts on strategic energy policy were followed in May 2001 by the White House release of its National Energy Policy. since there was a danger that oil price increases and supply shortages would make ―the United States appear more similar to a poor developing country.‖ This presented a growing danger to the world capitalist economy.9 In 2001 the James Baker III Institute for Public Policy of Rice University and the Council on Foreign Relations cosponsored a study of Strategic Energy Policy Challenges for the 21st Century. Morse. the Baker Institute/Council on Foreign Relations report pointed out that Iraq had emerged as a key ―swing producer‖ of oil. some of whom do not share our interests.S.S.‖ Indeed. Task force members included both oil optimists. it declared.‖ the Strategic Energy Policy report emphasized.‖ Excess capacity had been ―wiped out.‖ falling to ―negligible‖ amounts. which included the ―possibility that Saddam Hussein may remove Iraqi oil from the market for an extended period. ―national energy security‖ in the hands of ―foreign nations.

followed by the invasion in 2003 of Iraq. political. the strategy also entailed increased military intervention. stated in his book The Age of Turbulence in 2007: ―I am saddened that it is politically inconvenient to acknowledge what everyone knows: that the Iraq war is largely about oil.levels by 2020 in order to meet expected world demand. It is unlikely that this strategy was ever formalized in a single.S. the ―War on Terrorism‖ led to the invasion first of Afghanistan. the administration adopted a series of policies that together formed a blueprint for political. strategic control of the Middle East and its oil was viewed as the key to establishing the basis of a ―new American century. Both nations were viewed as underproducing due to underinvestment and the effects of sanctions. Saddam Hussein‘s removal and the occupation of Iraq was seen as enhancing the security of Middle East oil. to and reversal of.‖ The U. As Michael Klare wrote in his Blood and Oil: In the months before and after 9/11. Once the September 2001 attacks occurred. to the military as the ultimate guarantor. invasion of Iraq. Greenspan claimed.S. and economic dominance of the Gulf. however. But since the sought-after increases could be doomed by instability and conflict in the region. giving the United States a geopolitical doorway (and pipeline route) to Central Asia and the Caspian Sea Basin. as had all other administrations before it. all-encompassing White House document. . Rather. and military action in the Gulf.12 Militarily the issue was one of shoring up Saudi Arabia in the face of growing signs of instability. and providing a staging ground for increased U. presenting the possibility of a big boost in Iraqi oil production. for example: ―the reaction. This optimistic forecast could not possibly be fulfilled. seemed unlikely to undertake. national security and energy analysts as well as energy corporations and the Bush administration had thus arrived at the conclusion by spring 2001 that. U. while Iran‘s had fallen by about 37 percent since 1976. the top U. Key figures in the Bush administration such as Donald Rumsfeld and Paul Wolfowitz had been pushing for an invasion of Iraq even before the election. such as Iraq and Iran. Iraqi crude oil production in 2001 was 31 percent less than in 1979.S. From the standpoint of the geopolitics of oil.S. and even Saudi Arabia. intervention in Iraq and its increased military role in the Middle East was. without massive investment in an expansion of capacity in the Persian Gulf of a kind that key states. the Bush administration fashioned a comprehensive strategy for American domination of the Persian Gulf and the procurement of everincreasing quantities of petroleum. and exerting maximum pressure on Iran. military. capacity was extremely tight. Behind all of this lay the specter of peak oil production. carrying out regime change in Iraq.‖ As former Federal Reserve Board Chairman Alan Greenspan. This approach—I call it the strategy of maximum extraction—was aimed primarily at boosting the oil output of the major Gulf producers. while substantial oil reserves still existed.S.11 U. Rather than try to solve the problem on the demand side by lessening consumption. Only a vast increase of oil production in the Persian Gulf as a whole could prevent an enormous gap emerging between oil production and demand over the next two decades.S.‖ The U. The IEA estimated that Persian Gulf states would have to invest over half a trillion dollars on new equipment and technology for oil production capacity expansion by 2030 in order to meet projected oil production levels. needed to be seen against the background of previous Western military interventions aimed at securing the oil of the region. economic official throughout this period. economic. the Bush administration turned. Mossadeq‘s nationalization of Anglo-Iranian oil in 1951 [resulting in the CIA‘s overthrow of Iranian Prime Minister Mossadeq and the installation of the Shah in 1953] and the aborted effort by Britain and France to reverse Nasser‘s takeover of the key Suez Canal link for oil flows to Europe in 1956. presaging a series of oil price shocks.

petroleum derived from oil sand. by 2 percent a year.g.S. Two tons of sand must be mined to get one barrel of oil.13 Although the Bush administration criticized Greenspan‘s statement. Since oil production for an entire country is simply a product of the aggregation of individual wells. and that actual retrievable reserves may be considerably less. Oil sand mining also requires vast quantities of water.‖ And this vast increase in oil production needed to come largely from the Persian Gulf. where two-thirds of the world‘s reserves and hence most of its capacity for increased extraction was located. oil peak in 1970. national oil production can be expected to take the form of a bell-shaped curve as well. Peak oil is not the same as running out of oil.‖ The economic and environmental costs are thus prohibitive.16 At the time U. but also at much greater cost—monetarily and to the environment. who achieved fame for successfully predicting the U. In a September 13.S. having declined from 2. These methods were pioneered in the 1950s by oil geologist M.. along with the stagnation of world oil production as a whole.17 A key part of the argument on peak oil is the fact that discoveries of oil fields worldwide peaked in the 1960s. Peak oil therefore inevitably signals the end of cheap oil. It requires one billion cubic feet of natural gas to generate one million barrels of synthetic oil from oil sands. Bush declared that if the United States were to pull out of Iraq ―extremists could control a key part of the global energy supply. until a peak is reached when about half of the accessible oil has been extracted. Those who argue that peak oil is imminent insist that estimates of proven reserves are commonly exaggerated for political reasons. 2007. As the price of oil rises some of these sources become more exploitable. Rather it simply means the peaking and subsequent terminal decline of oil production. as determined primarily by geological and technological factors. the centrality of oil in the occupation of Iraq was not something that it could easily deny. This liquid waste is stored in enormous and rapidly expanding ―tailing ponds. while the average size of new discoveries has also declined over time.for Greenspan—the leading spokesperson for financial capital in the 1990s and early 2000s—justified by the fact that ―world growth over the next quarter century at rates commensurate with the past quarter century will require between one-fourth and two-fifths more oil than we use today.1 mb/d. and shale oil. producing two and a half gallons of toxic liquid waste for every barrel of oil extracted. Estimates of the potential for increased Iraqi oil production made prior to the war had suggested that Iraq free of sanctions could potentially increase its crude oil production within a decade from its previous 1979 high of 3. Oil production in the Persian Gulf as a whole increased by 2. Today it is present in all establishment discussions of the world oil issue. The eventual peak in oil production is therefore sometimes known as ―Hubbert‘s peak.‖14 Peak Oil: A Global Turning Point? In the five years that have elapsed since the United States invaded Iraq the world oil supply problem has drastically worsened. There are also unconventional sources of oil that can be produced at much greater cost and with a much lower energy returned on energy invested (EROEI) ratio.‖ Peak oil is generally viewed in terms of the peaking of conventional crude oil supplies on which the main estimates of oil reserves are based.4 mb/d on average between 2001 and 2005 and then dropped by 4 percent in 2005–07. bell-shaped curve with extraction steadily rising. The conventional notion that . prime time television speech. Iraq‘s average annual oil production in 2007 had fallen to 13 percent below its 2001 level.4 to 2. The extraction of oil from any given oil well typically takes the form of a symmetrical.15 Instead. Geologists have become adept at estimating the point at which a peak in national production will occur. It is estimated that it takes an equivalent of two out of three barrels of oil produced to pay for the energy and other costs associated with extracting oil from the tar sands in Alberta.5 million barrels a day (mb/d) to 6 or even 10 mb/d. troops reached Baghdad peak oil was already a specter looming over the globe. e. King Hubbert. These include heavy oil.

The ―crude oil production‖ line shows a very slight dip in 2005– 07.‖ Unconventional oil is derived from other processes. Chart 1: World oil production and supply Source: Energy Information Administration. oil sands. International Petroleum Monthly. April 2008. and the production of conventional and unconventional oil. These analysts argue that peak oil will probably be reached by 2010–12. U. there is a growing consensus that peak oil is or will soon be a reality.. represented by ―late peakers. The ―world oil supply‖ line. oil shales.‖20 The lower line in chart 1. Therefore more than two-thirds of U. labeled ―world oil supply. This therefore has lent credence to the notion that this is the form the peak will initially take. ―and/or [other fuel that]. which has adopted an almost identical approach) is defined to include ―all liquid fuels and is accounted at the product level. and may have already been reached in 2005–06. The peak oil crisis is more sharply defined than the more general crisis in energy. http://www.S. before declining.4. refinery processing gains. the shape of the production curve is modified by the increasing . It presents the possibility of a drastic economic dislocation and slowdown. oil demand is in the form of gasoline and petrodiesel consumption by cars and trucks. biofuels. since it exaggerates the reserves in the ground and downplays the fact that the economy requires that oil demand and production levels increase. writes: Why the plateau? Oil production is constrained by economic conditions (in an economic downturn. ―Oil‖ according to the IEA (and the EIA. and whether it is already upon us. In addition. resulting in what appears to be a more definite plateau.doe. as well as by political events such as war and revolutions. Department of Energy.4d and 4. One of these is that of ―early peakers‖ (usually seen as peak oil proponents proper).19 Hence. Explaining that a plateau is the most likely initial outcome at the world level. The chief question now is how soon. labeled ―crude oil production. has now narrowed down to two basic positions.‖ is that the world oil peak will not be reached until 2020 or 2030. An imminent peak in conventional oil thus strikes at the lifeblood of the existing capitalist economy. such as liquefied natural gas.‖ also includes unconventional sources plus net refinery processing gains (losses). Sources include natural gas liquids and condensates.S. Peak oil analysts therefore focus on production levels rather than reserves. Richard Heinberg. reflecting the fact that crude oil production fell from an average of 73. remains level at about 85 mb/d due to a compensating rise in unconventional sources over the same period. since not only is petroleum the most protean fuel. for which there is no easy substitute in the quantities needed. which has often been fierce over the past decade. Chart 1 shows world oil production/supply from 1970 to 2007. world oil supply appears already to have reached a plateau over the last three years at the level of 85 mb/d. In fact.. to be followed quickly by a decline (within what can be viewed as a symmetrical curve)—or whether production will rise to a plateau and then stay there for a while.18 The peak oil debate.needs additional processing to produce synthetic crude. tables 1. The higher line. An added consideration is whether world oil production will face a classic bell-shaped curve. a leading peak oil proponent.‖ refers simply to production of conventional oil.html. coal-to-liquid. rounded peak.there are forty years of crude oil production remaining at current rates of output is seen as misleading.3 mb/d in 2007.‖ Conventional or crude oil is readily processed oil ―produced from underground hydrocarbon reservoirs by means of production wells. however.gov/ipm/supply. but it is also the preeminent liquid fuel in transportation.8 mb/d in 2005 to 73. culminating in a slender. demand for oil falls off).eia. The alternative position.

natural gas plant liquids. The combined effect of all of these factors is to cushion the peak and lengthen the decline curve. The Hirsch report concluded that peak oil was a little over two decades away or nearer..22 Oil Producing Countries Past Peak (Year of Peak) Austria (1955). however. an increased average daily oil production equivalent to ten times current Alaskan production was needed ―just to stay even. The enormous problem of converting Supply Outlook. plateau is emerging has now become the dominant view in the industry. Hirsch had formerly occupied executive positions in the U. Crude Oil: The Given the appearance of a world oil production plateau at present. they contend.The near adherents [to the peak oil view]—who range from senior Western oil-company executives to current and former officials of the major world exporting countries—don‘t believe that the global oil tank is at the half-empty point. Thus Simmons and Texas oil billionaire T. asserting that the peak will not be reached until 2030 and that it will manifest itself at first as an ―undulating plateau. Boone Pickens have both raised the question of whether the peak was reached in 2005. Yemen (2001). ―suggest that world oil peaking will occur in less than 25 years.S. Malaysia (1997). Hirsch of Science Applications International Corporation.‖ it stated. Australia (2000). Denmark (2004).‖ The main emphasis of the Hirsch report commissioned by the Department of Energy. and ARCO. in order to mitigate the harmful effects of the end of cheap oil.. Syria (1995). Venezuela (1998).peaked in 2006. some oil executives have raised the specter of an oil supply ceiling of 100 million barrels (conventional and unconventional).‖ Echoing many of the same worries. The project leader was Robert L.. as well as new extraction technologies. October 2007. contends that ―world oil production. the crisis associated with the world peak in conventional oil production would be reached ―in 2008 to 2012.24 In February 2005 the U. This will create a production plateau. Indonesia (1977). which includes both scientists and members of the German parliament. and Risk Management. due to declining production in old fields. Mexico (2004). Gabon (1997). Romania (1976). Atomic Energy Commission.21 The notion that a partly geological-technical. was on the issue of the massive transformations that would be needed in the economy.availability of unconventional petroleum sources (including heavy oil. Source: Energy Watch Group. Norway (2001). But they share the belief that a global production ceiling is coming for other reasons: restricted access to oil fields. 1989). ―at the furthest out. United Kingdom. 1974).‖ Yet over the past decade the question has been pursued systematically with increasing concern within the highest echelons of capitalist society: within both states and corporations. and particularly transportation. Oman (2001). with petroleum supply likely falling short of expected demand within a decade or less. Germany (1967). In November 2007 the Wall Street Journal reported: a growing number of oil-industry chieftains are endorsing an idea long deemed fringe: The world is approaching a practical limit to the number of barrels of crude oil that can be pumped every day. While the Energy Watch Group in Germany.S. ―Even the most optimistic forecasts. 11. Colombia (1999). with oil output remaining relatively constant rather than rising or falling. and tar sands).. partly political-economic. United States (Alaska. and with oil supply seemingly stuck at the 85 mb/d level. (1999).‖23 Publicly of course the peak oil problem has often been characterized by establishment sources and the media as a ―fringe issue.‖ Indeed. not a peak. Mitigation. who pointed out that. Canada (conv. India (1995). Egypt (1993).‖ But the Journal article also took seriously the views of Simmons. Ecuador (1999).‖ he suggested.. 1971). Department of Energy released a major report that it had commissioned entitled Peaking of World Oil Production: Impacts. Exxon. spiraling costs and increasingly complex oil-field geology. United States (lower 48. it is not surprising that some analysts believe that peak oil has already been reached. . The Wall Street Journal article referred to the estimates of Cambridge Energy Research Associates. Argentina (1998).

low growth in availability can be expected for the next 5 to 10 years. pronounced that ―we wouldn‘t be surprised if this [easy] oil would peak somewhere in the next ten years. corn production was devoted to ethanol to fuel automobiles. Iraq. As environmentalist Lester R. 20 percent of U. the U.) were gradual and evolutionary. which had initially rejected Simmons‘s assessment. Western oil interests were particularly distressed that the first production from Kazakhstan‘s Kashagan oil field (considered the largest oil deposit in the world outside the Middle East) was eight years behind schedule due in part to waters frozen half the year.S. coal to oil. ―be close to reaching its peak if it has not already done so.27 Indeed. Without massive mitigation at least a decade before the fact.‖ Likewise the U.‖ in the IEA‘s words. As worldwide petroleum production peaks.29 In April 2008. ―could.virtually the entire stock of U. One can only speculate at the outcome from this scenario as world petroleum production declines. The price of grain spiked worldwide partly as a result. In its 2005 World Energy Outlook the IEA raised the issue of Simmons‘s claims in Twilight in the Desert that Saudi Arabia‘s super-giant Ghawar oil field. backtracked between 2004 and 2006. geopolitics and market economics will cause even more significant price increases and security risks.S. was preparing to reduce its forecast of world oil production for 2030 from its earlier forecasts of 116 mb/d to no more than 100 mb/d. The fact that Venezuela contained ―almost 90 percent of the world‘s proven extra-heavy oil reserves‖ made it all the more noteworthy that it constituted a significant ―political risk‖ from Washington‘s standpoint. Nigeria. Oil production is approaching its peak. by 2005 there was little doubt in ruling circles about the likelihood of serious oil shortages and that peak oil was on its way soon or sooner. In 2007. etc.30 It was alarm about gasoline prices and national energy security (and no doubt the specter of a world oil peak) that induced the Bush administration in 2006 to take a more aggressive stance in promoting cornbased ethanol production as a fuel substitute.‖ He declared there that.S.S. oil peaking will be abrupt and revolutionary.25 In October 2005.‖ Due to a combination of factors including production shortfalls and a declining dollar. It argued that almost all studies had shown that a world oil peak would occur sometime before 2040 and that U. Army released a major report of its own in September 2005 stating: The doubling of oil prices from 2003–2005 is not an anomaly.0: ―Suddenly the world is facing a moral and . Brown wrote in his Plan B 3. accounting for almost one-third of world (conventional) reserves: Iran. The world has never faced a problem like this. oil in May 2008 reached over $135 a barrel (it averaged $66 in 2006 and $72 in 2007). ―previous energy transitions (wood to coal. but a picture of the future. and aircraft in just a quarter-century (at most) was viewed as presenting intractable difficulties. and Venezuela.S. the problem will be pervasive and long lasting. federal agencies had not yet begun to address the issue of the national preparedness necessary to face this impending emergency. The same month Goldman Sachs shocked world capital markets by coming out with an assessment that oil prices could rise to as much as $200 a barrel in the next two years. Department of Energy. For the GAO the threat of a major oil shortfall was worsened by the political risks primarily associated with four countries.S. trucks. Jeroen van der Ver. CEO of Royal Dutch Shell. cars. degrading its projection of Saudi oil production in 2025 by 33 percent. Government Accountability Office (GAO) released a seventy-five-page report on Crude Oil pointedly subtitled: Uncertainty about Future Oil Supply Makes It Important to Develop a Strategy for Addressing a Peak and Decline in Oil Production. the largest in the world. according to analysts for the New York Times.28 In February 2007 the U.‖26 Similarly. By May 2008 the IEA. Hirsch wrote an analysis for Bulletin of the Atlantic Council of the United States on ―The Inevitable Peaking of World Oil Production.

and thus even sustaining current levels of consumption‖ would be enormously difficult. Western Europe. preemption. Iran. on average.3 million barrels per day). National Security Consequences of U. Saudi Arabia. written by Anthony Cordesmam (long-time national security analyst for the U. Still. .The market says. the Caspian Sea. and elsewhere. it contended that this was the key issue in managing the current world oil supply problem.S. chaired by former CIA Director John Deutch and Schlesinger.. military in securing oil supplies.. China was trying to ―lock up‖ oil supplies in Africa. Moreover. but recent experience has shown that exporting countries in Africa. Thus the report declared that ―the United States should expect and support a strong military posture [in the Persian Gulf in particular] that permits suitably rapid deployment to the region. and others—like Matthew Simmons—have estimated that Saudi production may be moving towards a period of sustained decline. if required…Any nation (or subnational group) that contemplates violence on any scale must take into account the possibility of U. Iraq. means that the production and transport of oil will become even more dependent on an infrastructure that is already vulnerable. Production from existing conventional oil fields throughout the world was ―declining. ―is tenuous at best. or retaliation. especially those close to the major markets in the United States. peak oil issues were not to be entirely discounted. and South America are no more stable than the Gulf. consumption and oil dependency. it stressed expanding the role of the U. Algeria.‖ ―Stability in petroleum exporting regions. whereas Western multinational oil companies controlled a mere 10 percent.S.S. Although the Deutch and Schlesinger report discussed some demand-side measures to reduce U. and Iraq all present immediate security problems. ―If the United States were able to wish into existence a world that would favor its terms of trade and superpower status. Iran. labor strikes in Venezuela.‖ Cordesman and Al-Rodhan added. alleged corruption in Russia. Department of Defense.‖ Rather the immediate problem was ―lagging investment‖ in the Middle East. and West Africa were all centers of instability. ―the depletion of conventional sources. national security circles to the apparent oil production plateau. Iran. There has been pipeline sabotage in Nigeria.‖ Major energy suppliers like Russia. entitled. Al-Rodhan (a strategic analyst specializing in Gulf issues).S. rather than reinvesting the oil proceeds. with OPEC no longer having the surplus capacity with which to keep prices under control. the Caspian Sea. In October 2005 the CSIS issued another report. The Deutch and Schlesinger report zeroed in on inadequate oil production capacity. Oil Dependency. Let‘s fuel the cars. Thus Cordesman and Al-Rodhan noted that. Cordesman and Al-Rodhan quoted the IEA‘s prediction in its 2004 World Energy Outlook that global oil production would not ―peak before 2030 if the necessary investments are made. and growing fears of peak oil was swift.political issue that has no precedent: Should we use grain to fuel cars or to feed people?. Baker III Institute for Public Policy on ―The Changing Role of National Oil Companies in International Energy Markets. ―Some analysts have questioned the [Saudi] Kingdom‘s ability to meet sudden surges in demand because of its lack of spare production capacity.‖ the Baker Institute went so far as to declare. now holder of Arleigh A. the disappearance of surplus oil production capacity.S. Burke Chair in Strategy at CSIS) and Khalid R.‖32 Even more central than the CSIS study was a 2006 Council on Foreign Relations report. about 5 percent per year (roughly 4. and Asia.‖Emphasizing that national oil companies now controlled 77 percent of the world‘s total reserves.‖31 The New Energy Imperialism The response in U. and Venezuela were using oil to pursue domestic and geopolitical goals. intervention.‖33 No less significant was an April 2007 ―policy report‖ issued by the James A. this time on Changing Risks in Global Oil Supply and Demand. and civil unrest in Uzbekistan and other FSU [Former Soviet Union] states.S.

Ecuador.. Meanwhile. is due to an oil export decline rate of 10–12 percent.all NOCs [national oil corporations] would be privatized. which had threatened that it ―could block the vital oil transitway.S. deliberating slowing its production in expectation of continually rising prices. Iran‘s government and its national oil corporation have adopted the monopolistic policy of underinvesting in oil. Any destabilization of the society would likely prompt U. depends on the feudal kingdom remaining in place. thereby holding back on the lifeblood of the world economy. military intervention.S. was Venezuela under the leadership of Hugo Chávez. as a 2007 study published in the Proceedings of the National Academy of Sciences has confirmed. One critical danger that the United States needed to guard against was a ―hostile‖ alliance between major oil producing/consuming states. Ninety percent of private sector jobs go to foreigners. arising from the growth of domestic energy demand plus a high rate of oil field depletion and a lack of investment growth in expanded capacity. Threats of U.S. The chief example of such state interference in oil production. was the continuing political instability in Iraq. the Strait of Hormuz. Department of Energy needs to double its oil output by 2030. political unrest and war continued. such as Russia. the Baker Institute underscored.. notably its Manas air base in Kyrgyzstan on the border of oil-rich Kazakhstan. Iran. Iran. The security of Saudi Arabia remains an overriding focus. But it is hard to imagine why major oil producing countries would agree to that. As James Howard Kunstler has written in The Long Emergency. imperial objective should be to ―break up‖ wherever possible ―the monopoly power of oil producers‖ and their use of their oil resources to pursue national goals other than purely commercial ones. Nicaragua. which according to the U. Washington‘s plans for a massive expansion of investment and production in Saudi Arabia. China. emanating from the vastly unequal distribution of the country‘s oil revenues. Above all the U. This led to Iran‘s recent inability to meet its OPEC oil export quota. Despite Washington‘s attempts to stabilize that country. transparent and—to the extent possible—free of onerous government interference. beyond the continuing Iraq and Afghan wars. and Central Asian oil states by expanding its military bases in Afghanistan and Central Asia.‖ This could be seen in its geopolitically motivated agreements with Bolivia.S. the United States will have to accept the existence of NOCs as a fact of life but should encourage steps to make their activities more businesslike. and the Caribbean nations. The repressive structure of the society conceals massive popular resentment. preventing the oil exploration of Iraq‘s Western desert. Another case of the geostrategic wielding of oil power was Iran. The sexes are entirely segregated. The current trend points to the likelihood of Iranian petroleum exports falling to zero by 2014–15.S. ―a desperate superpower might feel it has no choice except to attempt to control the largest remaining oil fields on the planet at any cost‖— particularly if faced by growing rivalry from other states.‖ it had also used oil as an instrument of ―foreign policy activism. From the standpoint of Western energy and national security analysts.. ―preemptive‖ military intervention directed at Iran meanwhile have been continuous. foreign investors would be treated the same as local companies and OPEC would be disbanded.35 The United States has sought to counter the possibility of an energy alliance between Russia. China. energy imperialism. and its ―interference‖ in Iraq.34 The tightening oil situation has prompted the rapid on the ground growth of U. there is rising social tension.In light of this reality. allowing free trade and competitive markets to deliver energy that is needed worldwide at prices determined solely by the market. based on its alleged attempts to acquire nuclear weapons through the aggressive pursuit of nuclear energy. the Baker Institute report stated. Not only had the Bolivarian Revolution prioritized ―the government‘s national development policy‖ and ―social and cultural investment‖ over ―commercial development strategy. military attack.S. Another key consideration in the geopolitics of tough oil.‖ if faced with a U. Iran‘s pursuit of nuclear power. and the Central Asian states.36 .

During the last few years the U.S. military has dramatically increased its bases and operations in Africa, particularly in the Gulf of Guinea. The United States expects to get 20 percent of its oil imports from Africa by 2010, and 25 percent by 2015. The U.S. military set up a separate Africa Command in 2007 to govern all U.S. military operations in Africa (outside Egypt). Washington sees itself as in direct competition with Beijing over African oil—a competition that it perceives not simply in economic but also military-strategic terms.37 U.S. ruling interests also have increased their threats directed at Venezuela, Ecuador, Bolivia, and other Latin American states, accusing them of ―resource nationalism‖ and presenting them as dangers to U.S. national security. Washington has made one attempt after another to unseat Venezuela‘s democratically elected president Hugo Chávez and to overthrow Venezuela‘s Bolivarian Revolution, with the clear object of regime change. This has included stepping up its massive military intervention in Colombia and backing the Colombian military and its intrusions into neighboring countries. In 2006 the U.S. Southern Command conducted an internal study, declaring that Venezuela, Bolivia, Ecuador, and conceivably even Mexico (which was then facing elections with a possible populist outcome) offered serious dangers to U.S. energy security. ―Pending any favorable changes to the investment climate,‖ it declared, ―the prospects for long-term energy production in Venezuela, Ecuador and Mexico are currently at risk.‖ The military threat was obvious.38 All of this is in accord with the history of capitalism, and the response of declining hegemons to global forces largely outside their control. The new energy imperialism of the United States is already leading to expanding wars, which could become truly global, as Washington attempts to safeguard the existing capitalist economy and to stave off its own hegemonic decline. As Simmons has warned, ―If we don‘t create a solution to the enormous potential gap between our inherent demand for energy and the availability of energy we will have the nastiest and last war we‘ll ever fight. I mean a literal war.‖39 In January 2008 Carlos Pascual, vice president of the Brookings Institution and former director of the Bush administration‘s Office of Reconstruction and Stabilization, released an analysis of ―The Geopolitics of Energy‖ that highlighted U.S. capitalism‘s de facto dependence on oil production in ―Saudi Arabia, Russia, Iran, Iraq, Venezuela, Nigeria, and Kazakhstan‖—all posing major security threats. ―Due to commercial disputes, local instability, or ideology, Russia, Venezuela, Iran, Nigeria and Iraq are not investing in new long-term production capacity.‖ This then was both an economic and a military problem for Washington.40 Especially disturbing in this new phase of energy imperialism is the lack of resistance from populations within central capitalist countries themselves. Thus left-liberal publications in the wealthy nations often play on the prejudices of their readers (who are buffeted by rising gasoline prices), encouraging them to support oil imperialism designed to safeguard Western capitalism. David Litvin, writing on ―Oil, Gas and Imperialism‖ in 2006 for the Guardian in London, claimed that ―the inevitability of modern energy imperialism needs to be recognized.‖ Threats from Russia, OPEC, Venezuela, and Bolivia were highlighted. The United States invaded Iraq, we were told, partly for ―oil security.‖ Clearly sympathizing with that form of energy imperialism that ―involves consumer states launching political or military‖ interventions ―to secure supplies,‖ Litvin concluded: ―Energy imperialism is here to stay, and efforts should [therefore] focus on making it a more benign force.‖41 Likewise Joshua Kurlantzick, a contributing writer for Mother Jones,wrote a piece entitled ―Put a Tyrant in Your Tank‖ for the May–June 2008 issue of that magazine which attributed oil supply problems to national oil companies, and argued—referring to the Baker Institute report on ―The Changing Role of National Oil Companies‖—that oil would be better safeguarded if placed in the hands of multinational oil companies as of old. The latter, readers were told, ―may cozy up to nasty regimes...but they are at least obligated to respond to public criticism.‖ Kurlantzick presented repeated criticisms of Hugo Chávez in Venezuela for his ―resource nationalism,‖ going so far as to compare

Venezuela to Burma and Russia, as ―authoritarian and corrupt,‖ citing a study from the neoconservative, largely U.S. government-funded, Freedom House. The Mother Jones article also gave credence to the 2006 internal study conducted by the Pentagon‘s Southern Command, pinpointing the national security dangers to the United States of resource nationalism in Venezuela, Bolivia, and Ecuador. Other petrostates that were subjected to sharp criticism were Iran, Russia, Kazakhstan, Nigeria, and Libya. Chinese state oil corporations were targeted for their aggressiveness in pursuing oil around the world and for their lack of environmental concerns. U.S. energy imperialism was thus seen as justified even by the putatively progressive Mother Jones—with hope and confidence being placed mainly in big oil and the Pentagon.42 Planetary Conflagration? The supreme irony of the peak oil crisis of course is that the world is rapidly proceeding down the path of climate change from the burning of fossil fuels, threatening within a matter of decades human civilization and life on the planet. Unless carbon dioxide emissions from the consumption of such fuels are drastically reduced, a global catastrophe awaits. For environmentalists peak oil is therefore not a tragedy in itself since the crucial challenge facing humanity at present is weaning the world from excessive dependence on fossil fuels. The breaking of the solar energy budget that hydrocarbons allowed has generated a biospheric rift, which if not rapidly addressed will close off the future.43 Yet, heavy levels of fossil fuel, and particularly petroleum, consumption are built into the structure of the present world capitalist economy. The immediate response of the system to the end of easy oil has been therefore to turn to a new energy imperialism—a strategy of maximum extraction by any means possible: with the object of placating what Rachel Carson once called ―the gods of profit and production.‖44 This, however, presents the threat of multiple global conflagrations: global warming, peak oil, rapidly rising world hunger (resulting in part from growing biofuel production), and nuclear war—all in order to secure a system geared to growing inequality. In the face of the immense perils now facing life on the planet, the world desperately needs to take a new direction; toward communal well-being and global justice: a socialism for the planet. The immense danger now facing the human species, it should be understood, is not due principally to the constraints of the natural environment, whether geological or climatic, but arises from a deranged social system wheeling out of control, and more specifically, U.S. imperialism. This is the challenge of our time. May 25, 2005 Notes 1. Influential mainstream political analyst (and former Nixon White House strategist) Kevin Philips has recently argued that oil in the Middle East and elsewhere has emerged as perhaps the single most important strategic (non-monetary) factor in ―the Global Crisis of American Capitalism,‖ and is closely tied up with the world‘s need to shift to a ―new energy regime.‖ See Phillips, Bad Money: Reckless Finance, Failed Politics, and the Global Crisis of American Capitalism (New York: Viking, 2008), 124–27. Indeed, the struggle to control world oil can be seen as the centerpiece of the new geopolitics of U.S. empire, designed at the same time to combat the decline of U.S. hegemony. See John Bellamy Foster, ―A Warning to Africa: The New U.S. Imperial Grand Strategy,‖ Monthly Review 58, no. 2 (June 2006): 1–12. 2. Michael T. Klare, Blood and Oil (New York: Henry Holt, 2004), 82. 3. Colin J. Campbell and Jean H. Laherrère, ―The End of Cheap Oil,‖ Scientific American (March 1998): 78–83; International Energy Agency, World Energy Outlook, 1998 (Paris: OECD, 1998), 94– 103. 4. Matthew R. Simmons, ―Has Technology Created $10 Oil?,‖ Middle East Insight (May–June 1999), 37, 39.

5. Matthew R. Simmons, ―An Oil Man Reconsiders the Future of Black Gold,‖ Good Magazine, February 11, 2008. The insert in square brackets in the quote is in original. 6. Matthew R. Simmons, Twilight in the Desert: The Coming Saudi Oil Shock and the World Economy (Hoboken, New Jersey: John Wiley and Sons, 2005). 7. John Wood and Gary Long, ―Long Term World Oil Supply (A Resource Base/Production Path Analysis),‖ Energy Information Administration, U.S. Department of Energy, July 28, 2000. 8. See Klare, Blood and Oil, 13–14. 9. Sam Nunn and James R. Schlesinger, cochairs, The Geopolitics of Energy into the 21st Century, 3 volumes (Washington, D.C.: Center for Strategic and International Studies, November 2000), vol. 1, xvi–xxiii; vol. 2, 30–31; vol. 3, 19. 10. Edward L. Morse, chair, Strategic Energy Policy Challenges for the 21st Century, cosponsored by the James A. Baker III Institute for Public Policy of Rice University and the Council on Foreign Relations (Washington, D.C: Council on Foreign Relations Press, April 2001), 3–17, 29, 43–47, 84–85, 98; see also Edward L. Morse, ―A New Political Economy of Oil?,‖ Journal of International Affairs 53, no. 1 (Fall 1999), 1–29. 11. White House, National Energy Policy (Cheney report), May 2001, http://www.whitehouse.gov/energy/National-Energy-Policy.pdf, 1–13, 8–4.; Department of Energy, Energy Information Administration, International Economic Outlook,2001, http://www.eia.doe.gov/oiaf/archive/ieo01/pdf/0484(2001).pdf, 240; International Petroleum Outlook, April 2008, tables 4.1b and 4.1d; Klare, Blood and Oil, 15, 79–81. 12. Klare, Blood and Oil, 82–83. 13. Alan Greenspan, The Age of Turbulence (London: Penguin, 2007), 462–63. 14. James A. Baker Institute for Public Policy, ―The Changing Role of National Oil Companies in International Markets,‖ Baker Institute Policy Report, no. 35 (April 2007), http://www.bakerinstitute.org/publications/BI_PolicyReport_35.pdf, 1, 10–12, 17–19. 15. Fareed Muhamedi and Raad Alkadiri, ―Washington Makes It‘s Case for War,‖ Middle East Report, no. 224 (Autumn 2002), 5; John Bellamy Foster, Naked Imperialism (New York: Monthly Review Press, 2006), 92. 16. U.S. Department of Energy, Energy Information Administration, International Petroleum Monthly, April 2008, tables 4.1b and 4.1d. 17. Richard Heinberg, The Party’s Over (Garbiola Island, B.C: New Society Publishers, 2005), 127– 28; Michael Klare, Rising Powers, Shrinking Planet (New York: Henry Holt, 2008), 41; Greenpeace, ―Stop the Tar Sands/Water Polluton,‖ http://www.greenpeace .org/canada/en/campaigns/tarsands/threats/water-pollution. 18. Energy Watch Group, Crude Oil: The Supply Outlook, October 2007, 33–34. 19. The distinction between ―early‖ and ―late‖ peakers is to be found in Richard Heinberg, The Oil Depletion Protocol (Garbiola Island, B.C: New Society Publishers, 2006), 17–23. For some representative works from the ―early peaker‖ perspective see Kenneth S. Deffeyes, Hubbert’s Peak (Princeton: Princeton University Press, 2001); David Goodstein, Out of Gas (New York: W. W. Norton, 2004); and Heinberg, The Party’s Over. Cambridge Energy Research Associates is the leading independent representative of the ―late peaker‖ view. See http://www.cera.com/aspx/cda/public1/home/home.aspx. 20. International Energy Agency, World Energy Outlook, 1998, 83–84. The increased prominence of unconventional oil has recently led to increasing references to ―liquids‖ as opposed to ―oil‖ as such in Department of Energy reports. See Michael T. Klare, ―Beyond the Age of Petroleum,‖ The Nation, October 25, 2007. 21. Richard Heinberg, Power Down (Gabriola Island, B.C.: New Society Publishers, 2004), 35; James Howard Kunstler, The Long Emergency (New York: Atlantic Monthly Press, 2005), 67–68. In an important paper on the implications of peak oil for global warming, Pushker Kharecha and James

‖ Global Biogeochemistry (2008. 35. 2005 (first working draft). U.eia. Army Corps of Engineers.‖ New York Times. no. 2008. and Risk Management. 34. International Energy Agency.” 23. Bad Money.com. 121–22. Simmons. 2005 (Paris: OECD. 23–25. 32. Anthony H. Phillips.‖ 12. 2008. 55–59. May 22. Shrinking Planet.‖. ―Goldman‘s Murti Says Oil ‗Likely‘ to Reach a $150–$200 (Update 5). 2008. 16–30. Crude Oil: The Supply Outlook. James A. February 2005. Norton. ―The Iranian Petroleum Crisis and the United States National Security. Kharecha and James E.‖ Baker Institute Policy Report. February 28. Kunstler. Baker III Institute for Public Policy of Rice University. The Changing Risks in Global Oil Supply and Demand. Klare.0 (New York: W. 127. 30. Robert L. Kuala Lumpar. system is itself peaking.‖ May 6. May 19.‖ in this issue. May 21. stretching from approximately 2016 to 2036. 170–79. vii. 36. 83. Bad Money. a figure too out of line with all other studies to be considered credible. Hansen. 2 (October 2005): 8. ―The Inevitable Peaking of World Oil Production. Energy Watch Group. 26. Army Installations. Al-Rodhan. Westervelt. United States Government Accountability Office. Twilight in the Desert. U. project leader. 71. Klare. 13–19.S Army Engineer Research and Development Center.cfr.‖ Wall Street Journal. Mitigation. ―Changing Role of National Oil Companies. 1. 8. Rising Powers.‖ Bloomberg. however. Robert L. November 11. 27. September 2005. October 2007. Phillips sees this descrepancy between the analysis at the top and public statements in Washington as due in large part to a desire to keep from the public the view that the U. 1 (May 2008): 1–15. 33. 41. Hirsch. 2008). 130–31. Crude Oil: Uncertainty about Future Oil Supply Makes It Important to Develop a Strategy for Addressing a Peak and Decline in Oil Production. 2008. Joroen van der Veer (interview).com. in press).S.gov/neic/speeches/Caruso061305. 28. Plan B 3. no. Daniel F. June 13. Schlesinger. no. Brown. Roger Stern. ―The Changing Role of National Oil Companies in International Oil Markets.‖ Proceedings . 29.org/publications/BI_PolicyReport_35. Oil Dependence. See Phillips. 48–56. Malaysia. 35 (April 2007). 2007. 20–22. Beyond the Age of Petroleum. The central scenario. Fournier and Eileen T. 2005. The Long Emergency. 510-12. 2005). 76–84.org/publication/11683/.S. A different and more official position was issued by the EIA in 2004–2005 in the form of a presentation on ―When Will World Oil Production Peak‖ by EIA administrator Guy Caruso at the 10th Annual Oil and Gas Conference. ―Royal Dutch Shell CEO on the End of ‗Easy Oil‘. 3. 10–12. 38. ―Not Enough Oil is Lament of BP. Rising Powers. . ―The Cassandra of Oil Prices. 4. October 3. Shrinking Planet. Center for Strategic and International Studies. chairs. World Energy Outlook. 35–38.doe. Hirsh. National Security Consequences of U. Council on Foreign Relations. See http://www. Peaking of World Oil Production: Impacts.‖ The Lede (New York Times blog).S.‖ Bulletin of the Atlantic Council of the United States 16. Bloomberg. ―Oil Officials See Limit Looming on Production. Klare. 2006. http://www. Baker Institute.‖ Monthly Review 60.pdf. Fred Magdoff. 79. W. figure 3. John Deutsch and James R. Lester R. ―The World Food Crisis. 153. ―Market Faces a Disturbing Oil Forecast. 24. 2007. estimated the world oil peak occurring in 2044.S. Pushker A. Exxon on Spending (Update 1). 25.pdf. U. and ―The Political Economy and Ecology of Agrofuels. http://bakerinstitute. 22. Energy Trends and their Implications for U. 31. ―Implications of ‗Peak Oil‘ for Atmospheric CO2 and Climate. Department of Energy. Mike Nizz.S. Cordesman and Khalid R. 13.Hansen of NASA‘s Goddard Institute for Space Studies and the Columbia University Earth Institute provide a graph (in one scenario) of a plateau in oil-based CO2 emissions. 17–19.

38. In their paper on peak oil and global warming. 4 (2005): 391–428. The Guardian (UK). Military Sees Oil Nationalism Spectre. 4 (September 2006). Simmons. due principally to the ―peaking‖ of world oil production (mediated by economic and social as well as geological factors).‖ 40. 2007): 377–82. 39. ―Oil. Joshua Kurlantzick. sebagai bagian dari dinamikanya. Climate Change. Setidaknya terdapat tiga alasan yang mendasari negara berkembang belakangan ini memandang penting keberadaan UKM (Berry. ―Implications of ‗Peak Oil‘ for Atmospheric CO2 and Climate. Michael Watts. June 26. no. Council on Foreign Relations. ―Carbon Metabolism: Global Capitalism. 3 (May–June 2008). Chávez (New York: Monthly Review Press. meningkatkan jumlah unit usaha dan mendukung pendapatan rumah tangga.‖ Pusher and Kharecha. ―A Warning to Africa‖. 141–57. 41. 38–42. no. Kuncoro (2000a) juga menyebutkan bahwa usaha kecil dan usaha rumah tangga di Indonesia telah memainkan peran penting dalam menyerap tenaga kerja. Gas and Imperialism.‖ Brookings Institution. 88–89. On the concept of a biospheric rift see Brett Clark and Richard York.‖ 44. tidak terkecuali di Indonesia. 2006. January 2008.7 persen dan dalam ekspor nonmigas hanya 15 persen.6 persen dalam penyerapan tenaga kerja (Kompas. 146–76.‖ August 13. 210. dkk.cfr. they argue. Namun. Temuan Akatiga tersebut seperti dikutip Berry dkk (2001) adalah bahwa usaha kecil di Jawa lebih menderita . no. Aspek fleksibilitas tersebut menarik pula dihubungkan dengan hasil studi Akatiga berdasarkan survei di Jawa Barat. dalam kenyataannya selama ini UKM kurang mendapatkan perhatian. 2008). ―U. Lost Woods (Boston: Beacon Press. Ketiga adalah karena sering diyakini bahwa UKM memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas ketimbang usaha besar. 2007. 42. UKM sering mencapai peningkatan produktivitasnya melalui investasi dan perubahan teknologi.html. 43. Rachel Carson.‖ Monthly Review 58.of the National Academy of Sciences 104. Dapat dikatakan bahwa kesadaran akan pentingnya UKM dapat dikatakan barulah muncul belakangan ini saja.‖ Theory & Society 34. ―An Oil Man Reconsiders the Future of Black Gold. Kharecha and Hansen present a baseline atmospheric carbon stabailizaton scenario in which oil-based CO2 emissions peak by 2016. See Richard Heinberg‘s excellent chapter on ―Bridging Peak Oil and Climate Change Activism‖ in his Peak Everything (Gabriola Island: New Society Publishers.‖ January 4. ―The Return of Resource Nationalism. Sebagai gambaran. Jawa Tengah. http://www. Bush vs. Foster.‖ Mother Jones 33.S. 2006. ―The Geopolitics of Energy. 2001). Carlos Pascual. Sulawesi Utara dan Sumatra Utara. 1 (January 2. Shrinking Planet. kendati sumbangannya dalam output nasional (PDRB) hanya 56.‖ Financial Times. If such a peak were to occur. Alasan pertama adalah karena kinerja UKM cenderung lebih baik dalam hal menghasilkan tenaga kerja yang produktif. 3–4.org/publication/15342/brookings. 1–17. 1998). Alasan yang ketiga yang dikemukakan Berry dkk di atas sangat relevan dalam konteks Indonesia yang tengah mengalami krisis ekonomi. namun UKM memberi kontribusi sekitar 99 persen dalam jumlah badan usaha di Indonesia serta mempunyai andil 99. 14/12/2001). Kedua. 37. Daniel Litvin. no. Klare. Yogyakarta. Aloysius Gunadi Brata DISTRIBUSI SPASIAL UKM DI MASA KRISIS EKONOMI PENDAHULUAN Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah. Eva Golinger. But stabilization of atmospheric CO2 at this level would also require that CO2 emissions from coal-fired power plants peak by 2025 and that coal-fired plants without sequestration be phased out completely ―before midcentury. it would facilitate the stabilization of atmospheric carbon at (or below) what scientists increasingly consider to be the maximum safe level of 450 parts per million (associated with a rise in global average temperature of around 2°C above pre-industrial). 2008). Rising Powers. ―The Empire of Oil: Capitalist Dispossession and the New Scramble for Africa. and the Biospheric Rift. ―Put a Tyrant in Your Tank.

belakangan ini banyak diungkapkan bahwa UKM memiliki peran penting bagi masyarakat di tengah krisis ekonomi. Dengan memupuk UKM diyakini pula akan dapat dicapai pemulihan ekonomi (Kompas. seluruh propinsi di pulau Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang jauh lebih parah daripada propinsi-propinsi lainnya (lihat juga Akita dan Alisjahbana. Kuncoro (2000a). Dapat dikemukakan bahwa selama ini sejumlah studi sudah dilakukan untuk mengamati distribusi spasial industri manufaktur. serta sejumlah propinsi di Indonesia bagian Timur.1 persen pada tahun 2000. ketiga hal itu merupakan persoalan sangat pelik yang dihadapi masyarakat pada umumnya. terdapat indikasi adanya dimensi spasial dari krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997. Dengan kata lain. Pada tahun 1998. Dengan kata lain. Krisis ekonomi juga telah membalikkan tren formalisasi ekonomi sebagaimana tampak dari berkurangnya pangsa pekerja sektor formal menjadi 35.akibat krisis daripada luar Jawa. Bagaimana dengan anjloknya pendapatan masyarakat yang tentu saja mengurangi daya beli masyarakat terhadap produk-produk yang sebelumnya banyak disuplai oleh usaha berskala besar? Bukan tidak mungkin produk-produk UKM justru menjadi substitusi bagi produk-produk usaha besar yang mengalami kebangkrutan atau setidaknya masa-masa sulit akibat krisis ekonomi. khususnya yang berskala besar dan menengah. saat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi terparah. Namun. Dalam konteks UKM. peran sektor informal menjadi terasa penting dalam periode krisis ekonomi. usaha kecil di propinsi-propinsi di pulau Jawa juga lebih menderita akibat krisis ekonomi. Dengan hal ini maka persoalan pengangguran sedikit banyak dapat tertolong dan implikasinya adalah juga dalam hal pendapatan. menurut hasil analisis Watterberg. tentu telah menyulitkan masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari. Kondisi ketenagakerjaan pada masa krisis kiranya dapat memberikan gambaran dampak sosial dari krisis ekonomi (Tabel 1). begitu pula yang di perkotaan bila dibandingkan dengan yang di pedesaan. hilangnya penghasilan serta kesulitan memenuhi kebutuhan pokok merupakan persoalan-persoalan sosial yang sangat dirasakan masyarakat sebagai akibat dari krisis ekonomi.1. UKM boleh dikatakan merupakan salah satu solusi masyarakat untuk tetap bertahan dalam menghadapi krisis yakni dengan melibatkan diri dalam aktivitas usaha kecil terutama yang berkarakteristik informal. Sjöberg dan Sjöholm (2002). Sementara itu. BERTAHAN DENGAN UKM Krisis ekonomi. Hill (1996). yakni distribusi spasialnya. Demikianlah. Dengan kata lain. Sementara itu. Sektor informal sendiri merupakan sektor dimana sebagian besar tenaga kerja Indonesia berada. 1999). 2000b). 2002). 14/12/2001). Sementara itu. misalnya Azis (1994). Pendapat mengenai peran UKM atau sektor informal tersebut ada benarnya setidaknya bila dikaitkan dengan perannya dalam meminimalkan dampak sosial dari krisis ekonomi khususnya persoalan pengangguran dan hilangnya penghasilan masyarakat. salah satu pertanyaan yang menarik untuk dimunculkan adalah apakah krisis ekonomi betul-betul membawa pengaruh pada dinamika spasial UKM? Tulisan ini hanya mengamati salah satu aspek saja dari dinamika spasial UKM. hanya Papua saja yang pertumbuhan ekonominya masih positif sedangkan propinsi-propinsi lainnya mengalami kontraksi. selain ekonominya mengalami kontraksi terparah. Hal serupa juga berlaku bagi sektor informal. Pada tahun tersebut. dampak sosial dari krisis ekonomi amat terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan di Jawa. pengamatan serupa terhadap UKM tampaknya masih belum banyak dilakukan (Kuncoro. Jika demikian halnya maka . Tingkat pengangguran mengalami kenaikan dari 4.9 persen pada tahun 1996 menjadi 6. dkk (1999). Hasil survei yang dilakukan Bank Dunia bekerjasama dengan Ford Foundation dan Badan Pusat Statistik (September-Oktober 1998) menegaskan bahwa ketiga persoalan itu oleh masyarakat ditempatkan sebagai persoalan prioritas atau harus segera mendapatkan penyelesaian (Watterberg dkk. Usaha kecil sendiri pada dasarnya sebagian besar bersifat informal dan karena itu relatif mudah untuk dimasuki oleh pelaku-pelaku usaha yang baru. berdasarkan data PDRB. Lima propinsi di Jawa seluruhnya adalah lima besar propinsi di Indonesia yang mengalami kemorosotan ekonomi terparah. krisis ekonomi telah menyebabkan propinsi-propinsi di Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang lebih besar ketimbang daerah-daerah lain di Indonesia (lihat gambar berikut). apalagi yang sangat parah. Dalam hal ini bukanlah hal yang mengejutkan kalau pengangguran.

Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian. Hal ini menjadi penting karena Watterberg dkk (1999) juga menyimpulkan bahwa dampak sosial dari krisis ekonomi lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan. Dengan kata lain.id Secara umum. Oleh karena itu. Hal yang sama juga terjadi pada jumlah tenaga kerja. 2002). 2001). yakni meningkat pada tahun 1998 namun kemudian terus menurun sampai menjadi kurang dari 16 persen pada tahun 2000. distribusi spasial tersebut tentu perlu pula dilihat dari sisi tenaga kerja. bias itu mungkin tidak terlalu besar mengingat sebagian besar lebih mengandalkan tenaga kerja. distribusi spasial UKM dalam kurun waktu 19962000 juga terpusat di Pulau Jawa. Krisis ekonomi rupanya telah mempertinggi kemampuan masing-masing UKM untuk menyerap tenaga kerja. Data-data tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa UKM memiliki kemampuan untuk menjadi pilar penting bagi perekonomian masyarakat dalam menghadapi terpaan krisis ekonomi. Selain dari jumlah unit usaha. Perlu ditambahkan bahwa pada tahun 1997 tidak ada survei. Sejak terjadi krisis ekonomi.kecenderungan tersebut sekaligus juga merupakan respon terhadap merosotnya daya beli masyarakat. Seluruh sektor ekonomi dicakup oleh survei tersebut. yang dimaksud dengan UKM dalam tulisan ini adalah sebagaimana definisi UKM tersebut. ada pendapat bahwa sektor informal tidaklah memberikan perbaikan secara berarti terhadap taraf hidup para pekerjanya. 2000a). sedangkan Jawa Tengah mengalami peningkatan secara sinambung. [1] Data UKM tersebut bersumber dari publikasi BPS berjudul Profil Usaha Kecil dan Menengah Tidak Berbadan Hukum Indonesia tahun 1998 dan tahun 2000. termasuk yang tidak dibayar (lihat. Dari lima propinsi di Jawa. Pada tahun 1996. hasil survei BPS di atas menunjukkan beberapa kecenderungan menarik. Namun dalam konteks UKM. namun mulai tahun 1998 pangsa Jawa kembali meningkat sampai menjadi 66 persen pada tahun 2000. yakni menjadi sekitar 68 persen dari seluruh unit usaha UKM yang ada di Indonesia. untuk tahun 1999 dan 2000 tidak ada data untuk Propinsi Maluku. Hal ini tidak lepas dari kemampuan UKM untuk merespon krisis ekonomi secara cepat dan fleksibel dibandingkan kemampuan usaha besar (Berry dkk. Dalam tulisan ini. DISTRIBUSI SPASIAL UKM Pertanyaan awal yang perlu diperjelas di sini adalah apa indikator UKM yang digunakan. Hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa UKM sebetulnya juga mempunyai keunggulan dalam menyerap tenaga kerja di masa krisis ekonomi. Gambar di atas—disusun berdasarkan Hasil Survei Usaha Terintegrasi yang dilakukan BPS —kiranya dapat berguna untuk memberikan gambaran bagaimana peranan UKM bagi masyarakat di masa krisis. maka data yang ada di sini barangkali pula lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. Hanya saja. Selain propinsi-propinsi Jawa. [1] Survei tersebut terbatas hanya pada UKM yang tidak berbadan hukum sehingga hasilnya dapat juga merefleksikan sektor informal. Hidup di sektor informal hanyalah hidup secara subsisten (Basri. Seperti juga industri manufaktur besar dan menengah. 2002). Dari gambar 1 tampak bahwa jumlah unit usaha UKM cenderung berkurang. sekitar 66 persen UKM Indonesia berada di Jawa (Tabel 2). penggunaan tenaga kerja dan nilai tambah secara bersama-sama sebagai indikator aktivitas ekonomi dapat mencegah terjadi kesimpulan yang bias oleh karena perbedaan distribusi spasial dari industri-industri yang berbeda dimana ada yang bersifat padat tenaga kerja dan ada yang padat modal (Sjöberg dan Sjöholm. Jumlah unit usaha pada tahun 2000 masih tetap lebih sedikit dibandingkan sebelum krisis ekonomi. Namun demikian. kecuali sektor pertanian. UKM pada dasarnya adalah aktivitas ekonomi sementara aktivitas ekonomi sendiri secara umum dapat diindikasikan oleh tenaga kerja maupun nilai tambahnya (Sjöberg dan Sjöholm. . hanya Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan saja yang andilnya dalam jumlah UKM cukup tinggi.Hasil survei tersebut hanya mencakup UKM non-pertanian yang tidak berbadan hukum sehingga secara konseptual hasil survei tersebut juga merefleksikan sektor informal kendati secara terbatas ( ). Sedangkan Sumatera justru sebaliknya. Selanjutnya. Kuncoro. Selain itu. sektor tersebut telah turut berperan dalam mengatasi persoalan pengangguran yang diakibatkan oleh krisis ekonomi. Tabel 2 juga menunjukkan bahwa krisis ekonomi mulanya menurunkan pangsa pulau Jawa. hanya DKI Jakarta saja yang cenderung mengalami penurunan andil. penurunan jumlah tenaga kerja tidaklah setajam penurunan jumlah unit usaha. indikator yang akan digunakan adalah tenaga kerja UKM disertai jumlah unit usahanya sebagai pelengkap. [2] [2] Dalam konteks industri manufaktur. www. Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian. maka hasil survei tersebut akan lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan.bps.go. tenaga kerja yang diserap oleh masing-masing unit usaha secara rata-rata justru mengalami kenaikan. 2002). UKM justru makin memusat di Jawa.

Data yang ada menunjukkan bahwa peran tersebut cukup penting. Kesimpulan yang diperoleh tidak jauh berbeda dengan temuan Kuncoro. Namun jika dilihat dari tenaga kerja. Namun pada tahun 1999 konsentrasi spasial unit usaha UKM mengalami peningkatan cukup tinggi dan belum menurun secara berarti pada tahun 2000. dalam studinya yang mengukur trend konsentrasi spasial industri di Indonesia 1976-1995.Untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih kuat. Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser. Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser terhadap data tenaga kerja maupun nilai tambah yang dihasilkan industri manufaktur. Kuncoro menemukan bahwa sampai sebelum tahun 1988. indeks Herfindahl industri manufaktur Indonesia tahun 1996 adalah 0. 2000a). Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996. indeks Herfindahl pekerja UKM meningkat menjadi lebih dari 0. Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996. Sjöberg dan Sjöholm memukan bahwa tingkat konsentrasi spasial industri manufaktur dalam kurun waktu 1980-1996 tidaklah berkurang. Dalam tulisan ini yang diamati barulah soal distribusi spasial UKM dan belum sampai pada determinan dari dinamika spasial UKM itu sendiri. PENUTUP Sejak terjadi krisis ekonomi 1997.*** Oleh: Aloysius Gunadi Brata -. Dari analisis dapat disimpulkan bahwa sampai dengan tahun 2000. dalam kasus Indonesia.12. Dalam tulisan ini ukuran konsentrasi spasial yang digunakan adalah indeks Herfindahl yang diterapkan baik terhadap data unit usaha maupun jumlah pekerja UKM.Lembaga Penelitian Universitas Atmajaya. Terdapat pula indikasi menguatnya konsentrasi spasial UKM tersebut sejak krisis ekonomi melanda Indonesia. baik dilihat dari sisi jumlah usaha maupun jumlah pekerjanya.126. kedua studi tersebut di atas memperoleh kesimpulan yang relatif serupa. . Kendati ukuran konsentrasi spasial yang digunakan berbeda. Masih menurut Kuncoro (2002b). Hal ini tidak berubah banyak pada satu tahun setelah terjadi krisis ekonomi. Sebelum krisis. setelah krisis justru terjadi penurunan tingkat konsentrasi spasial kendati relatif kecil. Ditambahkan pula bahwa liberalisasi perdagangan yang dimulai tahun 1983 telah gagal menurunkan tingkat konsentrasi industri manufaktur. peningkatan konsentrasi spasial tersebut sebetulnya relatit tidak terlalu besar. konsentrasi spasial industri memiliki pola menurun. Tahun 1999 dan 2000. Sebagai perbandingan. Namun demikian bagaimana penyerapan tenaga kerja oleh UKM dari aspek spasial tampak masih kurang teramati. perkembangan penyebaran regional dari UKM dapat dilihat dari konsentrasi spasialnya. tingkat konsentrasi spasial unit usaha UKM adalah 0. Hal ini memberikan indikasi bahwa sejak terjadi krisis ekonomi. Dicatat pula bahwa peningkatan konsentrasi spasial jauh lebih mencolok di Jawa daripada Sumatera maupun pulau-pulau lainnya di Indonesia. namun sejak memasuki periode deregulasi. konsentrasi spasial tersebut justru mengalami peningkatan. Hasil perhitungan indeks Herfindahl tersebut disajikan dalam Gambar 3. deregulasi perdagangan bersama dengan serangkaian deregulasi yang diterapkan justru memperkuat konsentrasi spasial industri manufaktur. Indikasi tersebut kiranya masih perlu dilengkapi dengan upaya mengidentifikasi faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi dinamika spasial UKM sebagaimana dilakukan dalam studi-studi terhadap idustri manufaktur pada umumnya. UKM memainkan peran dalam mengatasi persoalan ketenagakerjaan. ada kecenderungan menguatnya konsentrasi spasial UKM di Indonesia. 2002). Konsentrasi spasial di sini menunjuk kepada terkonsentrasinya UKM pada beberapa daerah saja. Kuncoro menggunakan Indeks Entropi Theil (Kuncoro. Yogyakarta (UAJY). UKM (non pertanian yang tidak berbadan hukum) masih tetap terkonsentrasi di pulau Jawa.190 (Sjöberg dan Sjöholm. Sebagai contoh. Dari analisisnya. Kendati demikian.

―Minimum Wage Policy and Its Impact on Employment in the Urban Formal Sector‖. M. A.‖ Makalah disajikan dalam lokakarya Economic Growth and Institutional Change in Indonesia during the 19th and 20th Centuries. 1999. ―Small and Medium Enterprises Dynamics in Indonesia. Sjöholm... 2003. Berkecamuk pertanyaan. Prittchett. Analisis Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia . dan H. M. 2001.. peraih Nobel Ekonomi tahun 1998. Yogyakarta. Kompas. Sumarto. ujar Sen. Kuncoro. Sandeem. 1994. 2002a. L. Perwira. ―Memupuk UKM. 145-152. Widyanti. E. Menurutnya pembangunan bukanlah proses yang dingin dan menakutkan dengan mengorbankan darah. Berry. maupun keterbelakangan adalah persoalan aksesibilitas. Jenggawah. 2002. Tentu belum kering dari ingatan. Suryahadi. S. adalah se-suatu yang "bersahabat". 1996. Setyo Budiantoro MANUSIA. Basri. LP-FEUI.. 2001. Timbul pertanyaan mengganjal. kemakmuran sebuah bangsa dicapai berbasiskan kekuatan rakyat yang berdaya dan menghidupinya. . membuat pedih. Concentration and Dispersal in Indonesia‘s Manufacturing Industry. DAN PEMBANGUNAN Mengingat masa kelam Orde Baru yang se-ring disebut ‖orde pembangunan‖. Ö dan F.. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. pembangunan selalu mengorbankan kebebasan manusia? Rasanya masih seperti kemarin. Alisjahbana. Azis. PAU-UGM dan Tiara Wacana. Asumsi dari pemikiran Sen. kini terdengar suara lain dan mulai terdengar nyaring.. SSE/EFI Working Paper Series in Economic and Finance No 488. Kuncoro.. berbagai kasus yang mentorpedo rasa keadilan seperti Kedung Ombo. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 39 No 1. 25 November.. Ilmu Ekonomi Regional Dan Beberapa Penerapannya di Indonesia.‖ Bulletin of Indonesian Economic Studies 37 (3): 363-384. 2002b. Menurut Sen. at all cost. keringat serta air mata. Suara tersebut antara lain dari Amartya Sen. Hill. A. ―Trade Liberalization and the Geography of Production: Agglomeration. Nipah. maka akan bisa maksimal pula kontribusinya untuk kesejahteraan bersama. 2002. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 35 No 3. Dengan demikian. 29-50. ―Wajah Murung Ketenagakerjaan Kita‖. S. apakah untuk mencapai kesejahteraan harus selalu ada ‖tumbal‖ (jer basuki mawa bea)? Sayup-sayup. Sjöberg. Menuai Pemulihan Ekonomi‖. Bulletin of Indonesian Economic Studies 38 (2): 201-222. seharusnya merupakan proses yang memfasilitasi manusia mengembangkan hidup sesuai dengan pilihannya (development as a process of expanding the real freedoms that people enjoy). Sumarto. 2002. D. Pembangunan. bila manusia mampu mengoptimalkan potensinya. T dan A. ―A Quest for Industrial Districts: An Empirical Study of Manufacturing Industries in Java. Jakarta. A. M. Rodriquez. serta menguntungkan sebagian kecil masyarakat? Timbul pula pertanyaan yang menggelisahkan. Amsterdam 25-26 Februari. 14 Desember 2001. Watterberg. Pembangunan. dan berbagai penggusuran yang mengatasnamakan ‖pembangunan‖. I. Kompas. KEBEBASAN. jargon pembangunan begitu ‖suci‖ sehingga atas namanya menjadi ‖sahih‖ merampas hak-hak asasi manusia. ketidakberdayaan. ―Regional Income Inequality in Indonesia and the Initial Impact of the Economic Crisis‖. C. H. apakah sebuah ketakterhindaran (inevitability) historis.PUSTAKA Akita. Transformasi Ekonomi Indonesia Sejak 1966: Sebuah Studi Kritis dan Komprehensif . apakah pembangunan akan selalu membawa destabilisasi? Sebuah proses yang mengakibatkan disparitas sosial-ekonomi membesar akibat laju modernisasi dan industrialisasi. W. penyebab dari langgengnya kemiskinan. J. ―A National Snapshot of the Social Impact of Indonesia‘s Crisis‖.

Lalu. Yaitu aspek pembebasan masyarakat dari struktur-struktur yang menghambat. kesempatan sosial (pendidikan. sehingga pemerintah semakin memiliki kekuatan. Untuk memecahkan hal tersebut. diperlukan aspek emansipatoris. Pukulan krisis. Meski sebenarnya. pe-nyebab kemiskinan adalah akibat ketiadaan akses yang dapat menunjang pemenuhan kehidupan manusiawi. akibat rakyat miskin sangat sulit mengakses dan terlibat berbagai kebijakan publik. Krisis ekonomi. Rakyat yang tak dilibatkan dalam proses. potensi manusia mengembangkan hidup menjadi terhambat dan kontribusinya pada kesejahteraan bersama menjadi lebih kecil. ekonomi nasional telah tumbuh 4. suatu pembangunan tak akan berhasil dan bertahan. Tentu. berakar dari dinamik sendiri dan dapat bergerak atas kekuatan sendiri. membuat pertumbuhan ekonomi merosot -13. namun akibat tak ada rasa memiliki. serta adanya jaring pengaman sosial. Tesis yang dikemukakan Sen agar tercapainya kesejahteraan. Dalam jangka panjang. manusia mempunyai keterbatasan (bahkan tak ada) pilihan untuk mengembangkan hidupnya. Selama Orde Baru. rasa keharusan untuk mempertanyakan apakah tindakan-tindakan mereka diizinkan atau tidak diizinkan oleh yang lebih tinggi ataupun adat kebiasaan (misalnya: patriarki. Dengan demikian. lalu tertinggal. Freedom menurut Soedjatmoko merupakan kebebasan dari rasa tak berdaya. untuk mengkreasi dan menjustifikasi urgensi adanya berbagai proyek. rakyat pun tak peduli. lalu diserahkan pada pemerintah. Pembangunan. Dan akhirnya. Tragisnya. dan kedaulatan untuk melakukan berbagai hal (bahkan menjadi leviathan).Diakibatkan keterbatasan akses. Fenomena ini tentu membingungkan penganut ekonomi ortodoks. manusia hanya menjalankan apa yang terpaksa dapat di-lakukan (bukan apa yang seharusnya bisa dilakukan). Aksesibilitas yang dimaksud Sen adalah terfasilitasinya kebebasan politik. 2002). meski proyek tersebut ‖ditujukan‖ untuk mereka. Dalam waktu singkat.dan lain-lainnya).6%. menyimpulkan. Dari tahun ke tahun. kesempatan ekonomi. Pada dimensi ekonomi. dalam satu tahun ekonomi Indonesia anjlok -18. lembaran buku GBHN dan Pelita yang dicanangkan pemerintah makin tebal. justru menunjukkan ‖kedigdayaan‖ rakyat. siapa di balik proyek. Dengan kata lain. Tidak ada model pembangunan yang berlaku universal. Dengan demikian. transparansi. para pakar maupun berbagai organisasi masyarakat. Namun dua tahun kemudian. jika pembangunan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang dianut masyarakat. ujar Sen. Keberdayaan rakyat (civil society). Anehnya. rasa ketergantungan. Begitulah. Berbagai proyek tiba-tiba bertebaran. masyarakat telah ‖menyerahkan‖ kemandirian yang dimiliki. telah ‖melumpuhkan‖ diri sendiri. berbagai proyek yang ada terbengkalai. telah terjadi ‖kesalahan‖ besar yang dibuat bersama -sama. dan dilemahkan. tentu mempunyai batas waktu. dengan berakhirnya berbagai proyek dan usailah sudah semuanya. pada masa itu sedang terjadi capital flight sekitar $ 10 miliar per tahun. sikap nrimo. tak jauh dari lingkaran kekuasaan. Lesson learned yang diperoleh dari Yayasan Pemulihan Keberdayaan Ma-syarakat (konsorsium 27 ja-ringan dan ornop besar yang membantu masyarakat keluar dari krisis). Feasibility studies (baca: penelitian pesanan) lalu dikerjakan oleh pa ra ‖intelektual tukang‖ maupun konsultan asing. maka kebijakan tersebut tak menguntungkan mereka. apakah rakyat benar-benar mengalami kelumpuhan sepenuhnya? Agaknya tidak. usaha-usaha besar ambruk. secara sadar maupun tak sadar. terfasilitasilah kemanusiaan yang penuh dan sanggup mengungkapkan diri (humanitas expleta et eloquens). dengan demikian berarti merangsang suatu masyarakat sehingga gerak majunya menjadi otonom. sebab dalam hitungan makro ekonomi . Pada dimensi politik. tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Amartya Sen. Pemerintah yang makin percaya diri. sedangkan investasi asing tak mau masuk akibat situasi sosial politik yang belum menentu. lalu merumuskan berbagai program dan proyek untuk dikerjakan. berlomba-lomba merumuskan berbagai persoalan. kesehatan. Masyarakat pun melalui desas-desus akhirnya mengetahui dan mahfum. tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Soedjatmoko (Development and Freedom). padahal tahun sebelumnya tumbuh +4. Dengan demikian. Namun.7% (1998). secara umum kondisi rakyat Indonesia menjadi lemah. rasa cemas. yaitu melalui kebebasan sebagai cara dan tujuan (Development as Freedom). dan lain-lain). utang pun digelontorkan. akibat distribusi akses sumber daya ekonomi yang tak merata menyebabkan rakyat miskin tak dapat mengembangkan usaha produktifnya. sehingga memungkinkan masyarakat memperkembangkan kemampuan atas dasar kekuatan sendiri (self reliance). terlemahkan.9%. masyarakat merasa lega karena tak mengerjakan apa-apa. Akibatnya. Hal itu. legitimasi. sebab semuanya telah diserahkan pada pemerintah. Temuan lapangan di Indonesia. Sebagai sebuah proyek.8% (Seda. Masyarakat profesi.

tern yata justru menunjukkan kekuatannya. Dengan demikian. Memfokuskan diri pada kesejahteraan rakyat. memang terbukti mampu menyelamatkan ekonomi Indonesia dari krisis. adalah perbankan. sektor modern justru makin meminggirkan mereka. kecil. dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Demikian pula. merupakan hal strategis yang tidak netral dan bebas nilai. dengan berbagai keterbukaan dan peluang. *** Babakan sejarah yang pahit itu. sehingga makin kuat dan kokoh menyangga bangsa ini. Menyadari adanya dua modal tersebut. sebab akan mempengaruhi paradigma (mindset) berpikir. Dengan cara demikian. Kue pembangunan ternyata hanya dikuasai sebagian kecil masyarakat. di mana masyarakat mempunyai kebebasan untuk memilih. Oleh sebab itu. sektor usaha besar yang hidup dari kronisme. Meski memobilisasi tabungan dari masyarakat luas. Produksi juga merupakan bagian penting dalam pendekatan ini. Bahkan seringkali. sehingga dapat kompatibel dengan nilai-nilai dan budaya setempat agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. namun bukan tujuan utama. Begitulah. Ikhwal menetapkan tujuan utama (goal). rente ekonomi dan fasilitas. keberlanjutan (sustainability). Tujuan pembangunan adalah tercapainya kesejahteraan bersama. Dan akhirnya disadari. pembangunan akan berkembang secara dinamik berdasar kekuatan masyarakat sendiri. babakan itu menyadarkan bahwa orientasi production centered development yang menekankan pertumbuhan. untuk mencapai kehidupan yang manusiawi. Dan perlu disadari. maka masyarakat dapat mengembangkan berbagai potensi produktif mereka. karena mendapat berbagai privilese tumbuh dengan cepat. mau tak mau harus berkompetisi secara sehat. kecil dan menengah (UMKM). maka pembangunan akan berurat berakar (rooted) pada rakyat. Usaha-usaha ekonomi rakyat. metodologi dan pengorganisasian pencapaian tujuan. menekankan pertumbuhan manusia (aktualisasi potensi manusia). perlu ada transformasi agar kedua sektor usaha tersebut bisa berkembang (dual track). perlu dikembangkan berbagai institusi modern yang dimodifikasi sedemikian rupa. Demikianlah. usaha-usaha ekonomi rakyat yang sering disebut usaha mikro. namun pelayanan pembiayaan bank lebih dimanfaatkan sektor besar. sementara kesenjangan melebar. investasi asing dan haus akan utang luar negeri. (Dimuat di Sinar Harapan. pemerataan. Cara sudah seharusnya konsisten dengan tujuan yang ingin dicapai. dan menengah (UMKM) ternyata telah menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan krisis. Agenda ke Depan Kini kita menghadapi persoalan konkret. Salah satu institusi modern yang sangat sulit diakses oleh UMKM. Sementara usaha besar yang berusaha secara wajar dan kompetitif. agar bisa memanfaatkan berbagai akses dan peluang yang ada. ‖Investasi ekonomi rakyat‖ (underground economy) yang kerap dipandang dengan sebelah mata. namun kemudian ambruk. yaitu melalui pemberian akses dan peluang yang sama pada kedua sektor usaha tersebut. Setidaknya. tentunya harus melalui jalan dari pembangkitan kekuatan rakyat itu sendiri atau dalam terminologi Korten disebut people centered development. 29 April 2003) . Sedangkan untuk usaha mikro. sebab bila tidak akan jatuh. Akibatnya.mereka. setidaknya kedua modal itulah yang kini kita miliki. ternyata memiliki banyak kelemahan. tentu harus dicapai dengan cara yang manusiawi pula. dan pembangunan pun rapuh tak berakar ( bubble economy). Untuk mencapai demokrasi. diperlukan pula adanya upaya peningkatan kapasitas (capacity building). kini secara berangsur telah ditinggalkan. akan bisa terus berkembang. acapkali institusi modern ini justru meningkatkan adanya kesenjangan. hal ini tak mungkin terjadi. namun tetap berjalan tertatih-tatih karena keterbatasan akses. dan semangat kemandirian masyarakat sendiri. akibat adanya ‖dualisme ekonomi‖ sektor kecil ini tak memiliki kemampuan untuk memanfaatkan berbagai institusi modern. Usaha-usaha besar. Bila masyarakat telah tumbuh dan berdaya. tak ada jalan lain kecuali memakai cara-cara yang demokratis. maka cara untuk mencapainya pun seharusnya melalui upaya-upaya pencapaian kesejahteraan bersama. Pendekatan people centered development.

Direktur Kajian Ekonomi dan Pembangunan Center for Humanity and Civilization Studies (CHOICES) dan staf Ketua LSM Bina Swadaya.5%. Presiden menyatakan antara lain bahwa ekonomi rakyat tidak mungkin mengalami krisis berkepanjangan. dan sulit diterangkan. Pergaulan mereka semakin sempit karena waktu mereka banyak tersita oleh komputer/internet yang mampu memberikan data-data kuantitatif dari seluruh dunia. Mubyarto EKONOMI RAKYAT SEPANJANG TAHUN 2002 Tahun 2002 adalah tahun yang benar-benar istimewa bagi ekonomi rakyat. karena sepertinya perjuangan kita membela ekonomi rakyat tidak pernah akan berhasil. Hukum atau teori ekonomi ini ternyata sama sekali tidak terbukti sepanjang tahun 2002. Analisis makroekonomi (Neoklasik Ortodok) memang di sini menjadi buntu karena tidak ada yang dapat menerangkan mengapa ekonomi dapat tumbuh tanpa investasi. beliau menjawab: ―Bapak-bapak saja. ekonomi industri. yang dalam tulisan yang sama oleh ekonom senior FE-UI (Kompas. Presiden menyambut baik hasil-hasil seminar yang antara lain menyimpulkan pemihakan Presiden pada Ekonomi Kerakyatan meskipun di muka umum tidak terkesan demikian. karena daya tahan yang sangat tinggi. dan saya akan terlalu sibuk berdebat dengan mereka. Saat itu kami usulkan agar Presiden secara terbuka menunjukkan keberpihakan ini. maka saya lebih baik tutup mulut‖. Bagi kelompok ekonom lain yang membela dan memihak ekonomi rakyat. ekonomi tersembunyi ini sangat jelas tidak tersembunyi. Dalam kondisi bingung inilah Chatib Basri seorang ekonom muda Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia lalu menunjuk adanya ekonomi tersembunyi ( hidden economy) yang sulit diraba. Investassi tidak berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Data penurunan penanaman modal yang sangat besar ini. sulit dimengerti. Yang licik atau tidak jujur (unfair) dari analisis makro ekonomi ini adalah tidak dengan menyebutkan secara jelas dan eksplisit bahwa ekonomi Indonesia selama 2002 telah tumbuh 3.Oleh: Setyo Budiantoro -. Bahwa ekonom-ekonom modern zaman sekarang pura-pura tidak mengerti ekonomi rakyat dan mengatakan itu sebagai ekonomi tersembunyi ( hidden economy) memang mudah dipahami karena pakar-pakar ekonomi ini sudah tercekoki oleh teori-teori ekonomi Neoliberal dari Barat yang hanya ―bergaul‖ dengan fakta-fakta ekonomi modern. ekonomi pasar uang/modal. Presiden kita ternyata tidak bersama kita. Inilah ekonomi rakyat yang dipahami oleh semua orang kecuali pakar-pakar ekonomi keblinger. karena ternyata dalam kondisi investasi merosot ekonomi tumbuh 3.5%. Betapa tidak. Pada tanggal 18 Maret 2002 Redaktur JER bersama Menteri Koperasi & UKM bertemu Presiden Megawati di Istana Negara untuk melaporkan hasil lokakarya ―Ekonomi Kerakyatan‖ tanggal 11 September 2001. globalisasi yang arti harafiahnya adalah perluasan wawasan ternyata telah menyempitkan pendangan para ekonom makro Neoliberal hingga ekonomi rakyat di depan mata dianggap ekonomi tersembunyi. Data-data ini diperkuat lagi oleh ―taksiran‖ pelarian modal ke luar negeri sebesar rata-rata US $ 10 milyar per tahun sejak krismon 1997. Daya tahan yang tinggi inilah yang menyebabkan ekonomi r akyat cepat pulih dari krisis ―laksana baju bolong -bolong yang merajut kembali sendiri‖. Para ekonom makro pengritik pemerintah ―dengan bangga‖ menunjukkan data BKPM (Persetujuan investasi pemerintah) yang anjlog 57% untuk modal dalam negeri dan 35% untuk modal asing dibanding tahun 2001. 19 Januari) disebut kelompok ekonom populis yang ―tidak realistis‖ dan ―tidak ilmiah‖. para elit di sekitar saya serta merta akan menentangnya. Sikap dan jawaban Presiden yang demikian tentu saja mengecewakan kita. yang ekonom Sumatera saja mengerti apa itu ekonomi rakyat dan pada majalah ―Daulat Rakyat‖ tahun 1931 menulis ―Ekonomi Rakyat Dalam Bahaya‖. Jika saja mereka mau menyebutkan fakta ini memang mereka akan terpaksa mengakui kekeliruan teori ekonomi yang selalu mereka tonjolkan bahwa tanpa investasi tidak mungkin ada pertumbuhan ekonomi. Sidang tahunan MPR-RI bulan Agustus 2002 merupakan tonggak sejarah bagi ekonomi rakyat ketika MPR memutuskan menarik kembali kesepakatan sebelumnya (ST-2000) untuk menghapus asas kekeluargaan dari . sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa ekonomi nasional makin terpuruk atau sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan (recovery). Sungguh sangat kontradiktif. karena kalau saya bersikap demikian. Bung Hatta.

Tetapi TAP MPR yang sama dan UU No 25 tentang Propenas juga tegas-tegas memerintahkan pelaksanaan sistem ekonomi kerakyatan. kesejahteraan. mayoritas anggota nampaknya menyadari kekeliruan pendapat yang ingin menggusur asas kekeluargaan. disamping BUMN dan usaha swasta. sedangkan organisasi koperasi adalah wadah kegiatan yang menjadi alat untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi anggota-anggota koperasi. 2. karena MPR memutuskan menghapus seluruh penjelasan pasal 33 termasuk di antaranya hilangnya kata bangun perusahaan koperasi dan pengertian lengkap demokrasi ekonomi yang menekankan pada keharusan mendahulukan kepentingan masyarakat. keadilan. sedangkan koperasi adalah wadah organisasi tempat bergiatnya ekonomi rakyat. Tetapi jika ke 5 ayat baru pasal 33 ini dianggap cukup untuk menghidarkan sistim kapitalisme. Koperasi bukan pelaku ekonomi. Secara lengkap rumusan pasal 33 baru hasil ST-2000 berisi 5 ayat sebagai berikut: 1. Hanya orang seorang adalah pelaku ekonomi yang instinknya bekerja keras berusaha mencapai tujuan. efisiensi. bukan kemakmuran orang seorang‖. dan demokrasi ekonomi. Mungkin karena perhatian amat besar pada masalah pemilihan presiden atau katena perjuangan yang gigih dari segelintir teman-teman kita di MPR seperti Prof. air. Dalam sidang tahunan (ST) MPR-2002 para politisi kita berdebat keras melaksanakan amandemen UUD 1945 yang dikenal dengan amandemen ke-4. Perekonomian disusun dan dikembangkan sebagai usaha bersama seluruh rakyat secara berkelanjutan berdasar atas keadilan. Demikian menggusur kata asas kekeluargaan dengan memasukkan kata demokrasi ekonomi. badan usaha milik negara. memperhatikan dan menghargai hak ulayat. 5. Sri-Edi Swasono. untuk mewujudkan kemakmuran. Hasilnya cukup melegakan karena asas kekeluargaan tidak jadi digusur dan ketiga ayat pasal 33 dipertahankan utuh tanpa perubahan apapun meskipun ada tambahan ayat 4 dan 5 sebagai ―kompromi‖ yang memasukkan kata ―efisiensi berkeadilan‖. yang diatur dengan undangundang. Bumi. liberalisme. serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai dan atau diatur oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. termasuk juga melaksanakan komitmen pada LoI-IMF. BPPN yang merupakan rumah sakit raksasa untuk menyelamatkan sektor perbankan dari kebangkrutan total menghadapi dilema. efisiensi. Pelaku ekonomi tetap saja perorangan sebagai produsen ataupun konsumen. ST-MPR 2002 memutuskan mempertahankan asas kekeluargaan bahkan mempertahankan keseluruhan (3 Ayat) pasal 33 tanpa amandemen apapun. 3. Di satu pihak BPPN diperintahkan MPR dan UU tentang Propenas untuk ―membereskan‖ segala utang ini dalam 5 tahun. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai dan/atau diatur oleh negara berdasarkan asas keadilan dan efisiensi yang diatur dengan undang-undang. rupanya dianggap memadai dan tidak melanggar asas kerakyatan.pasal 33 UUD 1945. dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. sebenarnya merupakan salah kaprah yang sulit dimaafkan. Bulan-bulan setelah selesainya ST MPR 2002 terjadi perdebatan menarik tentang perlakuan yang dianggap tepat pada para konglomerat atau eks-konglomerat yang mbandel tidak mau (bukan tidak mampu) membayar utang yang ratusan trilyun. Ternyata yang menang adalah cara pemilihan yang kedua yaitu pemilihan presiden langsung meskipun tetap tidak ada jaminan dapat terpilihnya presiden yang benar-benar mampu mempersatukan seluruh bangsa untuk memecahkan masalah-masalah pembangunan bangsa yang makin komplek termasuk ancaman disintegrasi bangsa yang amat nyata. dan sosialisme. dan efisiensi. Memang amandemen yang paling penting menyangkut bidang politik yaitu tentang pemilihan presiden apakah melalui MPR yang selama ini berjalan atau melalui pemilihan langsung. Tetapi sekali lagi tetap merupakan kekeliruan dan kerugian besar bagi bangsa Indonesia dan sistem serta praksis perekonomian. maka penghapusan penjelasan seluruh pasal 33 masih tetap berbahaya karena tidak lagi ada ketentuan tentang ―mendahulukan kepentingan masyarakat. Ini berarti kemenangan para pembela ekonomi rakyat yang sejak Mei 2001 sebenarnya telah ―dinyatakan kalah‖ karena 5 dari 7 pakar ekonomi dalam BP-MPR setuju untuk menghapus asas kekeluargaan untuk digantikan dengan asas keadilan. dan pemerintah. yaitu melalui restrukturisasi perusahaan yang sakit dan penjualan aset-asetnya. Penyusunan dan pengembangan perekonomian nasional harus senantiasa menjaga dan meningkatkan tata lingkungan hidup. Pelaku ekonomi adalah koperasi. dan usaha swasta termasuk usaha perseorangan. dan demokrasi ekonomi. dan dirgantara. . Lagipula menyebutkan koperasi sebagai salah satu pelaku ekonomi. serta menjamin keseimbangan dan kemajuan seluruh wilayah negara. 4.

Kiranya menjadi jelas bagaimana kehidupan ekonomi rakyat sepanjang tahun 2002 sampai awal 2003 ini. tetapi semuanya dengan modal mereka sendiri. ketika ekonomi sektor industri modern makin tertutup dan bermasalah. Presiden dan Wakil presiden yang sangat didambakan memihak rakyat tidak lagi dipihak mereka (atau melawan mereka) sehingga tidak ada alasan lagi untuk mendukungnya. Di Indonesia sejarah dan praktek BRI sudah dukup meyakinkan sebagai Bank bagi penduduk miskin terutama di perdesaan. tetapi juga secara nyata sangat memberatkan kehidupan ekonomi rakyat. Mubyarto. dan telepon awal Januari 2002. sehingga Direktur Utama BRI Rudjito menyatakan di DPR ―vested interest lebih tinggi dari interest rate‖ (yang sudah cukup tinggi!). Tarif dasar listrik. ditinjau dari para pelaku ekonomi rakyat ia merupakan pemecahan masalah ( solution). Pertumbuhan ekonomi nasional yang dilaporkan BPS 3. Dan praktek perbankan BRI dengan unit-unit desanya dapat didukung kegiatan BPR dan Koperasi yang dikembangkan berbagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sudah tumbuh di mana-mana secara mandiri dengan modal tabungan anggota. dikawatirkan makin melembagakan kehidupan predator-predator kredit mikro bagi penduduk/warga miskin yang haus kredit di negara-negara ASEAN. Praktek-praktek BRI ini sebenarnya sudah ditiru/direplikasi di sejumlah negara Asia seperti India tetapi rupanya kurang mendapat perhatian di negeri sendiri. adalah indikator penemuan ekonomi rakyat pada habitatnya yang benar. Pemilihan kebijakan yang tidak populis inilah yang kemudian memperkuat demonstrasi mahasiswa yang selanjutnya menuntut Presiden dan Wakil Presiden mundur karena tidak lagi merasa dipihaki.5% jelas-jelas merupakan sumbangan ekonomi rakyat yang dapat diandalkan ketahanannya. Berbagai upaya untuk memihakinya selalu kandas ditengah jalan karena kepentingn-kepentingan yang mapan bercokol (vested interest) selalu berusaha keras pula untuk menyabotnya demi kepentingan mereka. yang mendapat reaksi keras dari rakyat. Presiden dengan tegas dan terus terang menyatakan pilihan kebijakan yang ―tidak populis‖ (tidak memihak rakyat) karena dianggap ―konstruktif‖ dalam jangka panjang. Inilah nasib ekonomi rakyat yang cukup suram dan merisaukan. Guru Besar FE-UGM. di desadesa maupun di kota-kota. lebih-lebih dengan pernyataan pembelaan Presiden di Bali tanggal 12 Januari. Pemulihan ekonomi nasional dari krisis yang berkepanjangan justru terletak pada ekonomi rakyat. Usulan Filipina dalam AIPO-ASEAN (Organisasi antar Parlemen ASEAN) untuk membentuk Bank Penanggulangan Kemiskinan (ASEAN Poverty Alleviation Bank). apakah tetap patuh pada pelaksanaan amanat pasal 33 UUD yang nasionalistik atau sistem ekonomi Neoliberal yang kini menguasai ekonomi dunia. Pada forum sama di DPR -RI tanggal 28 Januari Nyoman Muna dan Bambang Ismawan mengusulkan dikembang kannya ―microcredit wholesaler‖ (pemasok modal besar untuk ekonomi rakyat) tetapi yang harus dijaga benar -benar agar tidak dicegat oleh pemangsa (predator) yang akan memangsa kredit-kredit mikro ini untuk mereka sendiri. Dr. Tentu saja pernyataan ini mendapat reaksi makin keras karena tidak saja kebijakan yang demikian melawan TAP MPR dan UU Propenas tentang sistem ekonomi kerakyatan. Prof. Dan jalan keluar atau pemecahan masalah ini sama sekali tidak memperoleh bantuan modal dari pemerintah atau bank-bank pemerintah. Dilema ini berkepanjangan karena pada setiap kasus seperti penjualan BCA atau Indosat selalu muncul masalah masa depan sistem ekonomi Indonesia.bukan lagi sistem ekonomi konglomerasi yang terbukti telah menyulut bom waktu berupa krisis moneter 1997. Dalam kaitan ini Kementerian Koperasi dan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) perlu berhati-hati karena UKM inilah salah satu wadah kelompok yang sangat mudah diselundupi sehingga menjadi pemangsa (predator) barbagai program kredit bagi ekonomi rakyat. Jika pemerintah menganggap menjamurnya pedagang kaki lima sebagai masalah yang memusingkan. meskipun hampir tidak pernah dipihaki kebijakan-kebijakan pemerintah. Ekonomi rakyat bukanlah ekonomi tersembunyi ( hidden economy) tetapi ekonominya wong cilik yang dapat dengan mudah dilihat dan ditemui di mana-mana di sekitar kita. Pelaksanaan sistem ekonomi kerakyatan yang (harus) memihak rakyat berkali-kali terbentur atau berbenturan dengan kepentingan kelompok (vested interest) yang ingin tetap menguasai perekonomian Indonesia seperti masa-masa sebelum krismon. Ekonomi rakyat menjadi pendukung utama perekonomian nasional. Dilema sangat berat ini menjadi terbuka lebar pada kasus kenaikan serentak harga-harga BBM. Bahaya ini sungguh jelas terlihat karena definisi kredit UKM adalah nilai kredit antara Rp 50 juta dan Rp 500 juta yang jelas bukan kelompok ekonomi mikro yang miskin. Menjamurnya pedagang kaki lima di mana-mana di kota-kota besar dan kecil. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM (PUSTEP-UGM) .

maka semuanya disebut binatang. 2001).Fredrik Benu EKONOMI KERAKYATAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT: SUATU KAJIAN KONSEPTUAL Ruang Ekonomi Kerakyatan Indonesia Saat mendapat tugas untuk mebahas konsep ekonomi kerakyatan dalam kaitan dengan makalah Prof. Akhirnya saya sampai pada pemahaman bahwa rakyat sendiri bukanlah sesuatu obyek yang bisa ‗ditangkap‘ untuk diamati secara visual. Atau apakah upaya menggiring rakyat ke dalam ruang ekonomi kerakyatan selama ini sudah berada dalam koridor yang benar. Mubyarto tentang ―Ekonomi Kerakyatan dalam Era Globalisasi dan Otonomi Daerah‖. kecuali binatang itu adalah misalnya seekor tikus. Menurutnya. Ibarat kata ‗binatang‘. Kata rakyat baru bermakna secara visual jika yang diamati adalah individualitas dari rakyat (Asy‘arie. Buruh tani. Dalam ruang Indonesia. maka kata rakyat dalam konteks ilmu ekonomi selayaknya diterjemahkan sebagai kesatuan besar individu aktor ekonomi dengan jenis kegiatan usaha berskala kecil dalam permodalannya. Memiliki modal yang besar. mempunyai akses pasar yang luas. sumberdaya manusia. khususnya dalam kaitan dengan pembangunan ekonomi. Sama seperti jika seekor kucing digabungkan dengan 100 ekor tikus dalam satu ruang. yakni upaya memberdayakan (kelompok atau satuan) ekonomi yang mendominasi struktur dunia usaha. Walaupun dalam perjalanannya seekor kucing dapat saja menelan 100 ekor tikus atas nama binatang. ular. ekonomi rakyat adalah satuan (usaha) yang mendominasi ragaan perekonomian rakyat. menejemen usaha yang belum bersistem. atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam. Karena dalam dimensi ruang Indonesia semua orang (Indonesia) berhak untuk menyandang predikat ‗rakyat‘. usaha ekonomi yang diragakan bernilai ekstrim terhadap totalitas ekonomi nasional. konglomerat. di mana dan berapa jumlahnya. Perlu dipahami bahwa dalam ruang ekonomi nasional pun terdapat sejumlah aktor ekonomi (konglomerat) dengan bentuk usaha yang kontras dengan apa yang diragakan oleh sebagian besar pelaku ekonomi rakyat. Dalam konteks ilmu sosial. Ilustrasi di atas saya sampaikan untuk membuka ruang diskusi tetang ekonomi kerakyatan dalam perspektif yang terarah dalam kerangka mengagas pikiran Prof. sehingga kita harus jelas mengatakan binatang yang mana yang bentuk visualnya gemuk atau kurus. Karena jumlahnya hanya sedikit sehingga tidak merupakan representasi dari kondisi ekonomi rakyat yang sebenarnya. Mereka lahir dan berkembang dalam suatu sistem ekonomi yang selama ini lebih menekankan pada peran negara yang dikukuhkan (salah satunya) melalui pengontrolan perusahan swasta dengan rezim insentif yang memihak serta membangun hubungan istimewa dengan pengusaha-pengusaha . kita tidak bisa menangkap binatang untuk mengatakan gemuk atau kurus. yaitu ekonomi rakyat yang mana. sarana teknologi produksi yang sederhana. koruptor pun berhak menyandang predikat ‗rakyat‘. Kenapa mereka tidak digolongkan juga dalam ekonomi kerakyatan?. maka rakyat adalah kumpulan kebanyakan individu dengan ragaan ekonomi yang relatif sama. kata rakyat terdiri dari satuan individu pada umumnya atau jenis manusia kebanyakan. Atau dengan kata lain. Persoalannya ada begitu banyak obyek yang masuk dalam barisan binatang (tikus. Sedangkan ekonomi kerakyatan lebih merupakan kata sifat. Karena kelompok usaha dengan karakteristik seperti inilah yang mendominasi struktur dunia usaha di Indonesia. Ekonomi Kerakyatan dan Sistem Ekonomi Pasar Ekonomi rakyat tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. Kalau diterjemahkan dalam konteks ilmu ekonomi. Kata rakyat merupakan suatu konsep yang abstrak dan tidak dapat di‘tangkap‘ untuk diamati perubahan visual ekonominya. Pertanyaan yang sama harus dikenakan pada konsep ekonomi rakyat. saya menc oba untuk menangkap (baca: memahami) makna kata ‗rakyat‘ secara utuh. dan bentuk kepemilikan usaha secara pribadi. menguasai usaha dari hulu ke hilir. Dainy Tara (2001) membuat perbedaan yang tegas antara ‗ekonomi rakyat‘ dengan ‗ekonomi kerakyatan‘. bagaimana kita memperlakukan rakyat dimaksud dan apakah perlakuan terhadapnya selama ini sudah benar. siapa. dll. Selanjutnya.). Kita harus jelas mengatakan rakyat yang mana yang seharusnya kita tempatkan dalam ruang ekonomi kerakyatan Indonesia. kucing. Golongan yang kedua ini biasanya (walaupun tidak semua) lebih banyak tumbuh karena mampu membangun partner usaha yang baik dengan penguasa sehingga memperoleh berbagai bentuk kemudahan usaha dan insentif serta proteksi bisnis. Mubyarto. serta peluang pasar. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun. menguasai teknologi produksi dan menejemen usaha modern.

Padahal ekonomi pasar diperlukan untuk menentukan harga yang tepat ( price right) untuk menentukan posisi tawar-menawar yang imbang. Mau merujuk pada bekerja suatu mekanisme yang baru (apapun namanya). komitmen politik pemerintah ini perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Bukti keragu-raguan ini tercermin dalam TAP MPR hasil sidang istimewa itu sendiri. Bagi saya dunia ―pasar‖ Adam Smith adalah suatu dunia yang indah dan adil untuk dibayangkan. adil. Nampaknya kita semua berada pada pilahan yang dilematis. dalam prakteknya belum ada satu negarapun yang cukup berpengalaman serta yang paling penting menunjukkan keberhasilan nyata. saya merasa kurang memiliki justifikasi empirik untuk mempertanyakan kembali sistem ekonomi pasar. Kemudian sejak sidang istimewa (SI) 1998. tidak efektifnya pasar tersebut berjalan. Mereka tidak bisa diandalkan untuk menopang perekonomian nasional dalam sistem ekonomi pasar. Sudah saatnya dan cukup adil jika pengusaha kecil –menengah dan bangun usaha koperasi mendapat kesempatan secara ekonomi untuk berkembang sekaligus mengejar ketertinggalan yang selama ini mewarnai buruknya tampilan struktur ekonomi nasional. Persepektif yang perlu dianut adalah bahwa keindahan. intervensi pemerintah yang tidak benar. yang antara lain berisikan tentang keberpihakan yang sangat kuat terhadap usaha kecil-menengah serta koperasi. dan seimbang melalui berbagai regulasi pemerintah sebagai wujud intervensi yang berimbang dan kontekstual. sebenarnya keragu-raguan ini tidak perlu terjadi. lalu mencari suatu sistem dan paradigma baru di luar sistem ekonomi pasar untuk dirujuk dalam pembangunan ekonomi nasional. Bagi saya. demi mengamankan pencapaian target pertumbuhan (growth) (Gillis et al. jika kita semua jernih melihat dan jujur untuk mengakui bahwa kegagalan-kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama ini terjadi bukan disebabkan oleh karena ketidakmampuan mekanisme pasar mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. karena pengalaman keberhasilan pembangunan ekonomi negara-negara maju saat ini selalu merujuk pada bekerjanya mekanisme pasar. Keputusan politik ini sebenarnya menandai suatu babak baru pembangunan ekonomi nasional dengan perspektif yang baru. Sekali lagi. 1987). yang keberhasilannya masih mendapat tanda tanya besar atau minimal belum dapat dibuktikan melalui suatu kajian teoritis-empiris. bahkan kita sendiri belum berpengalaman (ibarat membeli kucing dalam karung). Mau meninggalkan mekanisme pasar dalam sistem ekonomi nasional. dihasilkan suatu TAP MPR mengenai Demokrasi Ekonomi. Bahwa kegagalan kebijakan pembangunan ekonomi nasional masa orde baru dengan keberpihakan yang berlebihan terhadap kelompok pengusaha besar perlu diubah. dimana demokrasi ekonomi nasional tidak semata-mata dijalankan dengan keberpihakan habis-habisan pada usaha kecil-menengah dan koperasi. Dalam pemahaman seperti ini. dan adanya pengaruh eksternal. Komitmen pemerintah untuk mengurangi gap penguasaan aset ekonomi antara sebagian besar pelaku ekonomi di tingkat rakyat dan sebagian kecil pengusaha besar (konglomerat). Lahirnya sejumlah pengusaha besar (konglomerat) yang bukan merupakan hasil derivasi dari kemampuan menejemen bisnis yang baik menyebabkan fondasi ekonomi nasional yang dibangun berstruktur rapuh terhadap persaingan pasar. tapi perusahaan swasta besar dan BUMN tetap mendapat tempat bahkan mempunyai peran yang sangat strategis. Pengalaman pembangunan ekonomi Indonesia yang dijalankan berdasarkan mekanisme pasar sering tidak berjalan dengan baik. keadilan dan keseimbangan yang dibangun melalui mekanisme ―pasar‖nya Adam Smith adalah sesuatu yang harus diakui keberadaannya.yang besar yang melahirkan praktik-praktik anti persaingan. bukan ekonomi pasar itu sendiri. minimal telah dibuktikan melalui suatu review teoritis. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya struktur ekonomi yang berimbang antar pelaku ekonomi dalam negeri. Yang perlu dilakukan adalah upaya untuk mendekati kondisi indah. Mari kita membedah lebih jauh tentang konsep ekonomi kerakyatan. kita masih ragu-ragu. khusunya sejak masa orde baru. Hal yang masih kurang jelas dalam TAP MPR dimaksud adalah apakah perspektif pembangunan nasional dengan keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini masih dijalankan melalui mekanisme pasar? Dalam arti apakah intervensi pemerintah dalam bentuk keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini adalah benar-benar merupakan affirmative action untuk memperbaiki distorsi pasar yang selama ini terjadi karena bentuk campur tangan pemerintah dalam pasar yang tidak benar? Ataukah pemerintah mulai ragu dengan bekerjanya mekanisme pasar itu sendiri sehingga berupaya untuk meninggalkannya dan mencoba merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru ?. Karena konsep ―pasar‖ yang disodorkan oleh Adam Smit sesungguhnya tidak pernah ada dan tidak pernah akan ada. Saya perlu menggaris bawahi bahwa yang patut mendapat kesalahan terhadap kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama regim orde baru adalah implementasi kebijakan pembangunan ekonomi nasional yang tidak tepat dalam sistem ekonomi pasar. Bukan sebaliknya membangun suatu format lain di luar ―ekonomi pasar‖ untuk diacu dalam pembangunan ekonomi nasional. Kegagalan pembangunan ekonomi yang diragakan berdasarkan mekanisme pasar ini antara lain karena kegagalan pasar itu sendiri. di mana bangun ekonomi yang mendominasi regaan struktur ekonomi nasional mendapat tempat tersendiri. perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. . Tapi sayangnya sangat sulit untuk diacu untuk mencapai keseimbangan dalam tatanan perekonomian nasional. Namun demikian tidak harus diartikan bahwa konsep pasar Adam Smith yang relatif bersifat utopis ini harus diabaikan..

tetapi kurang adanya affirmative action yang jelas oleh pemerintah demi menjamin bekerjanya mekanisme pasar. pemerintah sendiri kurang mempunyai acuan yang jelas tentang kapan seharusnya phasing-out process diintrodusir dalam tahapan intervensi. demi mengkreasi bekerjanya mekanisme pasar dalam program pembangunan ekonomi nasional. Perlu dicatat. Semua ini merupakan ciri-ciri dari Ekonomi Kerakyatan yang kita tuju bersama (Prawirokusumo. Saya juga kurang setuju dengan pendapat bahwa mekanisme pasar tidak dapat menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonomi nasional. Kalau begitu logikanya. maka kurang ada justifikasi logis yang jelas untuk mengabaikan bekerjanya mekanisme pasar dalam mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara baik pula. jika ada intervensi pemerintah melalui perpajakan. karena kurang mantapnya perencanaan. Ini sama artinya dengan ―sakit di kaki. Sebenarnya sudah banyak program jaminan sosial temporer semacam JPS di Indonesia. untuk melihat keberhasilan pembangunan ekonomi nasional yang dapat dinikmati secara bersama. Pendapat seperti ini juga tidak benar secara absolut. Buktinya negaranegara maju yang selalu merujuk pada bekerjanya mekanisme pasar secara baik. kepercayaan diri dan kesetaraan. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang salah atau kurang sempurna dengan konsep ekonomi kerakyatan?. Ekonomi Kerakyatan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perlu digarisbawahi bahwa ekonomi kerakyatan tidak bisa hanya sekedar komitmen politik untuk merubah kecenderungan dalam sistem ekonomi orde baru yang amat membela kaum pengusaha besar khususnya para . namun pelaksanaannya masih jauh dari memuaskan. meluasnya kesempatan berusaha dan pendapatan. Ini yang namanya affirmative action yang terarah oleh pemerintah dalam mekanisme pasar (Bandingkan dengan pendapat Anggito Abimanyu. 2000). Akibatnya tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) terhadap obyek keberpihakan (dalam mekanisme pasar) untuk mengambil peran sebagai lokomotif keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. Pengalaman pembangunan ekonomi nasional dengan kebijakan proteksi bagi kelompok industri tertentu (yang diasumsikan sebagai infant industry) dan diharapkan akan menjadi ―lokomotif ― yang akan menarik gerbong ekonomi lainnya. partisipatif. pada akhirnya bermuara pada incapability dan inefficiency dari industri yang bersangkutan (contoh kebijakan pengembangan industri otomotif). Pada saat yang sama. sistem perburuhan. Sejak awal saya katakan bahwa semua pihak perlu mendukung affirmative action policy pada usaha kecilmenengah dan koperasi yang diambil oleh pemerintah sesuai dengan tuntutan TAP MPR. Bentuk campur tangan pemerintah (orde baru) yang seharusya diarahkan untuk menjamin bekerjanya mekanisme pasar guna mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. keterbukaan/demokratis. Jadi yang salah selama ini bukan mekanisme pasar. Kita akan membahas lebih jauh tentang kekurangan konsep ekonomi kerakyatan yang di dengungkan oleh pemerintah pada sub-pokok bahasan di bawah ini. menjadi tidak bermakna saat dihadapkan pada kenyataan bahwa bisnis yang bersangkutan masih tetap berada pada level perkembangan ―bayi‖. harganya terlalu mahal bagi rakyat jika kita mencoba-coba dengan sesuatu yang tidak pasti. ternyata dalam prakteknya lebih diarahkan pada keberpihakan yang berlebihan pada pengusaha besar (konglomerat) dalam bentuk insentif maupun regim proteksi yang ekstrim. instrumen distribusi kekayaan dan pendapatan. serta lemahnya pengawasan. Periode waktu yang telah ditetapkan untuk berkembang menjadi suatu bisnis yang besar dalam skala dan skop serta melibatkan sejumlah besar pelaku ekonomi di dalamnya. Apalagi dengan merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru. Bagi saya. kepala yang dipenggal‖. rakyat sudah terlalu lama menunggu dengan penuh pengorbanan. Pembangunan harus dikembangkan dengan berbasiskan ekonomi domestik (bila perlu pada daerah kabupaten/kota) dengan tingkat kemandirian yang tinggi. terjadi banyak penyimpangan dalam implementasi. ka rena dimanjakan oleh berbagai insentif dan berbagai bentuk proteksi. dsb. Justru negara-negara yang masih setengah hati mendorong bekerjanya mekanisme pasar (seperti Indonesia) tidak mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara mantap. Sudah menjadi pengetahuan yang luas bahwa negara-negara maju (termasuk beberapa negara berkembang. seperti Singapura) mempunyai suatu sistem social security jangka panjang (yang berfungsi secara permanen) untuk membantu kelompok masyarakat yang inferior dalam kompetisi memperoleh akses ekonomi. sistem jaminan sosial. Fungsi sosial dapat berjalan dengan baik dalam mekanisme pasar. Yang disebut dengan affirmative action seharusnya lebih dutujukkan pada disadvantage group (sebagian besar rakyat kecil).tetapi lebih disebabkan karena pasar sendiri tidak diberi kesempatan untuk bekerja secara baik. bukan sebaliknya pada konglomerat. adanya persaingan yang sehat. dan pemerataan yang berkeadilan. 2001). bahwa disamping obyek keberpihakan selama pemerintah orde baru dalam kebijakan ekonomi nasionalnya salah alamat.

Pada era otonomisasi saat ini. Tapi kita lupa bahwa ada tahapan lainnya yang penting dalam program keberpihakan dimaksud. keunggulan. Bahkan sangat mungkin terjadi suatu proses yang bersifat counter-productive. menjadi sangat tergantung pada aksi dimaksud. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di NTT Kita telah membahas tentang konsep ekonomi kerakyatan dalam pembangunan ekonomi nasional melalui program-program keberpihakan pemerintah terhadap UKM dan Koperasi. tetapi menyamakan ekonomi kerakyatan dengan praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil (saya tidak membuat penilaian terhadap sistem JPS). sumberdaya manusia. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun. atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam. Hal ini perlu ditegaskan. maka sekali lagi kita akan mengulangi kegagalan yang sama seperti apa yang terjadi selama masa pemerintahan orde baru. Ini adalah suatu model pendekatan struktural (structural approach). keterbatasan akses pasar. 2001). keterbatasan penguasaan teknologi dan informasi. peluang. pemerintah harus mempunyai ancangan yang pasti tentang kapan seharusnya pemerintah mengurangi bentuk campur tangan dalam affirmative action policynya. Isu ini perlu mendapat perhatian tersendiri. Sebenarnya yang harus ada pada tangan obyek affirmative action adalah kesempatan untuk berkembang dalam suatu mekanisme pasar yang sehat. karena asumsi awal yang dianut adalah usaha kecil-menengah dan koperasi yang merupakan ciri ekonomi kerakyatan Indonesia tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. termasuk rakyat kecil sendiri (Bandingkan dengan pendapat Ignas Kleden. Program pengembangan ekonomi rakyat memerlukan adanya program-program operasional di tingkat bawah.konglomerat. Beberapa kajian empiris menunjukkan bahwa permasalahan umum yang dihadapi oleh UKM dan Koperasi adalah: keterbatasan akses terhadap sumber-sumber permbiayaan dan permodalan. Praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil sangat tidak menguntungkan pihak manapun. bukan cash money/cash material. Jika pemahaman ini tidak dibangun sejak awal. yaitu phasing-out process yang harus pula dipersiapkan sejak awal. Namun demikian perlu ditegaskan bahwa pengembangan ekonomi kerakyatan pada era otonomisasi saat ini tidak harus ditejemahkan dalam perspektif territorial. karena sampai saat ini masih banyak pihak (di luar UKM dan Koperasi) yang memanfaatkan momen keberpihakan pemerintah ini sebagai free-rider. serta peluang pasar. maka saya khawatir cerita keberpihakan yang salah selama masa orde baru kembali akan terulang. adalah sesuatu kekeliruan besar dalam perspektif ekonomi kerakyatan yang benar. Oleh karena itu. Modal dasar yang dimiliki inilah yang seharusnya ditumbuhkembangkan dalam suatu mekanisme pasar yang sehat. Kita semua masih mengarahkan seluruh energi untuk mendukung program keberpihakan pemerintah pada UKM dan koperasi sesuai dengan tuntutan TAP MPR. Tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) dalam ragaan bisnis usaha kecil-menengah dan koperasi yang menjadi target affirmative action policy. bukan sekedar jargonjargon politik yang hanya berada pada tataran konsep. Justru kelompok ini yang enggan mendorong adanya proses phasing-out untuk mengkerasi mekanisme pasar yang sehat dalam rangka mendorong keberhasilan program ekonomi kerakyatan. dan . Komitmen keberpihakan pemerintah pada UKM dan Koperasi di dalam perspektif ekonomi kerakyatan harus benar-benar diarahkan untuk mengatasi masalah-masalah yang disebut di atas. Pendekatan seperti ini jelas sangat berbeda dengan apa yang dimaksud dengan affirmative action. untuk mendorong ekonomi kerakyatan berkembang secara sehat. Tapi sebaiknya dikembangkan dalam perspektif ‗regionalisasi‘ di mana di dalamnya terintegrasi kesatuan potensi. tetapi perlu ditindalanjuti dengan pengembangan program-program operasional yang diarahkan untuk mengatasi persoalan keterbatasan akses kebanyakan rakyat kecil. Perubahan itu hendaknya dilaksanakan dengan benar-benar memberi perhatian utama kepada rakyat kecil lewat program-program operasional yang nyata dan mampu merangsang kegiatan ekonomi produktif di tingkat rakyat sekaligus memupuk jiwa kewirausahaan. Bukan sebaliknya ditiadakan dengan menciptakan ketergantungan model baru pada kebijakan keberpihakan dimaksud. 2000). Kalau tidak. Selanjutnya. diperlukan adanya kajian ekonomi yang akurat tentang timing dan process di mana pemerintah harus mengurangi bentuk keberpihakannya pada usaha kecil-menengah dan koperasi dalam pembangunan ekonomi rakyat. Tidak dapat disangkal bahwa membangun ekonomi kerakyatan membutuhkan adanya komitmen politik ( political will). Masih ada masalah lain yang perlu dibahas dalam hubungan dengan internal condition UKM dan Koperasi. konsep pengembangan ekonomi kerakyatan harus diterjemahkan dalam bentuk program operasional berbasiskan ekonomi domestik pada tingkat kabupaten dan kota dengan tingkat kemandirian yang tinggi. keterbatasan organisasi dan pengelolaannya (Asy‘arie. agar pembahasan tentang ekonomi kerakyatan tidak hanya berhenti pada suatu konsep abstrak (seperti pembahasan tentang konsep ‗binatang‘ di atas). Aksi membagi-bagi uang secara tidak sadar menyebabkan usaha kecil-menengah dan koperasi yang selama ini tidak berdaya untuk bersaing dalam suatu mekanisme pasar.

Kupang Makalah disampaikan pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di Provinsi NTT. Azwir Dainy. Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia. Sekedar sebagai pembanding disajikan data realisasi dan tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) selama periode 1996-2000. 2002). 26 Nopember 2002. Soeharto. Tara.Norton & Companny. Tingkat pencapaian tertinggi yang paling banyak diperoleh dari program-program dimaksud adalah hanya terbatas pada tumbuhnya kesadaran berpikir dan hasrat untuk maju. 1987. Asy‘arie. W. cara pandang tentang tingkat keuntungan. Ini adalah suatu model pendekatan lain yang disebut pendekatan kultural (cultural approach). Ignas. Kebijakan. sikap terhadap mitra dan kompetitor.1 milyar (Laporan Gubernur NTT. Selanjutnya. Perkins. Lembaga Studi Filsafat Islam. mungkin ada kaitannya dengan sistem nilai budaya yang sudah mengakar pada diri pelaku ekonomi rakyat di NTT secara turun temurun. Fredrik Benu – Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana. 2002. tetapi sebagian besar rakyat kecil masih sulit untuk mengaktualisasikannya dalam ragaan usaha mereka. H. Ekonomi Indonesia Baru. Jumlah realisasi KUT yang telah disalurkan pada petani sejak tahun 1996 sampai tahun 2000 kurang lebih 35.. Oleh karena itu saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa program pemberdayaan ekonomi rakyat. dalam Menggugat Masa Lalu. Gubernur Nusa Tenggara Timur. 2 nd Ed. Jakarta. cara pengelolaan keuangan. 2001. Musa. S. 2000. Anggito. tgl. Sistem nilai budaya ini yang banyak mendeterminasi perilaku aktor ekonomi rakyat di NTT. Simanjuntak. termasuk di dalamnya cara pandang tentang usaha. Pada tingkat regional NTT. kajian dan alternatif solusi menuju pemulihan. masih terdapat persoalan mendasar yang ‗mengurung‘ para pengusaha kecilmenengah dan Koperasi (termasuk di dalamnya berbagai bentuk usaha di bidang pertanian) untuk melakukan rasionalisasi dan ekspansi usaha. 2001. 2001). sebaiknya dimulai dengan program rekayasa sosial-budaya (socio-cultural engineering) untuk merubah inner life dan mengkondisikan suatu tatanan masyarakat yang akomodatif terhadap tuntutan pasar untuk maju. Djisman. 6 milyar dengan jumlah tunggakan (pokok+bunga) sebesar kurang lebih 26. Kosep. Kupang. Keluar dari Krisis Multi Dimensi. Malcolm. Persepsi dan Mispersepsi tentang Pemulihan Ekonomi Indonesia. Persoalan mendasar yang mengurung ini. dan Strategi. Atau dengan kata lain tingkat keberhasilan KUT di NTT hanya mencapai kurang dari 26 %. dsb. Nuansa Madani. Pokok-Pokok pikiran dalam Menggugat Masa Lalu. Yogyakarta. jumlah KK miskin di NTT malah mengalami kenaikan yang cukup murad sebesar 55 % selama periode 1998-2002. Sekalipun sudah banyak program pemberdayaan ekonomi yang langsung menyentuh rakyat di tingkat bawah telah dilaksanakan baik oleh pemerintah maupun oleh lembaga-lembaga non-pemerintah (NGOs). tidak dipublikasikan. New York. 2000. data yang diperoleh dari Biro Perekonomian Seta NTT menunjukkan bahwa sejak ditetapkannya TAP MPR tentang demokrasi ekonomi yang menekankan adanya keberpihakan yang jelas terhadap UKM dan Koperasi di Indonesia. Dwight. BPFE. Yogyakarta. Kompas Media Nusantara. Elex Media Komputindo. Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia. Jakarta. . Tetapi ada semacam jarak antara kesadaran berpikir dan realitas perilaku (Bandingkan dengan pendapat Musa Asy‘arie. Roemer Donald R. khususnya di NTT. Economics of Development.W. Kompas Media Nusantara. Ekonomi Pasar Sosial Indonesia. Jakarta. Strategi Membangun Ekonomi Rakyat. 2001. Laporan disampaikan pada kunjungan Menteri Pertanian Republik Indonesia di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Prawirokusumo. Ekonomi Rakyat. Jakarta. PUSTAKA Abimanyu. PT. PT. di Hotel Kristal. strategei menghadapi resiko. Gillis.karakter sosial budaya. Kleden. 2000.

Dalam kajian ini. Pada tataran political will pemerintah. Di Sabu dan Rote. tetapi kondisinya tetap seperti kita saksikan saat ini. Tampilan fisik usaha para pelaku ekonomi kecil ini juga memperihatinkan. namun tidak sedikit kelompok dan usaha individu menjadikan industri tenun ikat sebagai pekerjaan sampingan dengan postur usaha yang serba kekurangan. Vanili. peternak kecil. Sulawesi dan Sumatra yang pada umumnya berusaha di pusat kota. Menurut hemat saya. mereka juga menggelar hasil usahanya di pinggir jalan secara darurat. Pada titik inilah kita harus membedakan secara jelas petani kecil. Tampaknya program-program pengentasan kemiskinan atau pemberdayaan ekonomi seperti IDT. Para pelaku ekonomi kecil di sektor informal perkotaan juga memperlihatkan kondisi yang relatif sama. namun pelaku ekonomi kecil semacam ini pasti buka di NTT. nelayan kecil dan pengrajin kecil di perdesaan dan para pelaku sektor informal perkotaan. walaupun mungkin pendapatan nominalnya lebih besar dari para peternak kecil. kinerja ekonomi mereka terbilang cukup baik. ekonomi dan budayanya. Lingkungan ekonomi makro dan mikronya sangat kontras berbeda. fondasi perekonomian daerah dan sejumlah julukan yang membanggakan. Ketika konsep rakyat diimbuhkan dengan konsep ekonomi politik yang tidak lagi netral. Komsep ini tidak mempersoalkan perbedaan orang dalam kepelbagaian sosial. petani kecil dan nelayan kecil di perdesaan. Namun bagi para petani yang mengandalkan tanaman pangan dengan wilayah yang relatif kering. betapapun daerah ini dikenal sebagai gudang ternak (sapi). masih membutuhkan waktu yang relatif lama dan yang lebih penting dari itu. Inilah kondisi riil pelaku ekonomi kerakyatan di NTT. Sejumlah kelompok usaha yang dibina intensif dengan kondisi SDM yang relatif baik menunjukkan perkembangan yang baik. Pujian demikian tidak salah. peternak kcil. dari pusat sampai daerah. membutuhkan wawasan dan perlakuan baru terutama dari para penentu dan pelaksana kebijakan pada tingkat pemerintahan. telah melakukan banyak hal untuk memajukan mereka. sebagian pelaku ekonomi kecil di pesisir pantai dikabarkan mengalami kemajuan berkat budidaya rumput laut. Kecuali beberapa pelaku ekonomi informal yang berasal dari Jawa. Mungkin juga tidak setiap hari mereka bisa berjualan di pasar atau pinggir jalan karena pola produksinya yang bersifat musiman. Alor dan Timor.Frits O FanggidaE EKONOMI KERAKYATAN DI NTT: ANTARA REALITAS DAN HARAPAN Realitas Pelaku Ekonomi Kerakyatan di NTT Rakyat adalah suatu konsep politik yang netral. karena berbagai perbedaan pelaku ekonomi mulai diperhitungkan. Selain berjualan secara individual di pasar. PDMDKE dan berbagai skim program/ pendanaan lainnya belum menyentuh mereka atau mungkin sentuhannya sudah hilang sama sekali. kondisi mereka tidak dapat digolongkan mampu secara ekonomis. sebagian besar dalam kondisi serba miskin. Unit usaha industri kecil atau rumah tangga yang paling menonjol di NTT adalah industri tenun ikat. Para peternak di TTS. sejumlah kelompok tani yang menanam vanili mendapat penghasilan yang cukup besar lantaran harga komoditas ini cukup tinggi. tingkat ekonomi mereka cukup memadai. Kopi. Secara teoretis. Di NTT. pelaku ekonomi kerakyatan yang serba kekurangan ini ingin ditempatkan sebagai pelaku ekonomi utama. Di Apui (Alor). Para pengamat ekonomi memuji pelaku ekonomi kecil ini sebagai lentur dan tahan terhadap konjungtus dan krisis ekonomi. Pemerintah. Jambu Mete. Sumba. Semuanya sama. konsep ekonomi kerakyatan yang digunakan juga tidak bersifat netral. Suatu isyarat bahwa suatu kebijakan pengembangan yang berhasil di Jawa dan kota besar lainnya di Indonesia belum tentu berhasil di NTT. Bagi para petani yang kebetulan memiliki wilayah yang cocok untuk komoditas perkebunan seperti Cengkeh. Data ekonomi makro Indonesia bahwa share pelaku ekonomi kecil ini cukup kelihatan. tingkat ekonomi mereka memprihatinkan. yaitu hanya menunjuk pada pelaku ekonomi kecil (gurem) yang tersebar di sudut-sudut jalan perkotaan maupun di pelosok perdesaan. Demikian juga para nelayan kecil di pesisir pantai Flores. pelaku ekonomi sebagaimana dimaksud pada umumnya terdiri dari petani kecil. menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan yang serba kecil dan kekurangan di NTT sebagai pemain ekonomi yang utama atau sebagai fondasi ekonomi daerah. Data makro tentang pendapatan per kapita penduduk di berbagai kabupaten di NTT bisa menjelaskan kondisi ekonomi para pelaku ekonomi kecil tersebut. kita mengenal cukup banyak konsep . nelayan kecil. tidak menunjukkan status ekonomi yang lebih baik ketimbang para petani yang menanam tanaman pangan. pelaku industri rumah tangga kecil dan pelaku ekonomi sektor informal perkotaan di Jawa dan kota besar lainnya di Indonesia dengan NTT.

Berkembangnya sektor ekonomi sekunder dan tersier menjadi prasyarat bagi pengembangan dunia usaha pada aras ekonomi mikro. Mereka bahu-membahu menjalin kekuatan untuk menguasai dan mendikte harga pasar. Sementara itu sebagian nelayan di Pulau Timor secara perlahan-lahan telah bertransformasi menjadi buruh nelayan. Karena itu sektor ini akan menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi pada sektor primer dan sekunder. bukan melalui pelatihan-pelatihan formal. Jauh bukan hanya dalam arti fisik saja. Dalam kaitan ini menarik untuk disimak lebih lanjut langkah Pemda Kabupaten Kupang. Menjadi persoalan adalah bagaimana percepatan perubahan struktur ekonomi ini dapat terjadi. pengrajin dan pedagang kecil dapat menjadi organisasi ekonomi yang diandalkan untuk meningkatkan posisi tawar mereka di pasar? Sangat sulit untuk mengatakan Ya. Apakah koperasi sebagai lembaga ekonomi yang dekat dengan para petani. Sikap kewiraswastaan mereka terbentuk dalam dinamika dunia usaha yang tinggi. Para peternak di TTS sudah sejak lama takluk dengan para pembeli (pedagang). Kondisi ini sangat kondusif bagi para pelaku ekonomi kecil. Demikian juga pada tataran ekonomi mikro. Organisasi harus dilawan dengan organisasi pula. nelayan. Sektor rkonomi tersier adalah sektor yang melayani. pengembangan pelaku ekonomi kecil membutuhkan perubahan yang cukup berarti pada formasi ekonomi makro dan mikro. Dari kondisi semacam ini dapat dibayangkan bahwa yang diperdagangkan adalah komoditas pertanian tanpa penglahan yang berarti. Dengan tingkat pendapatan masyarakat yang relatif tinggi serta kompetisi yang baik antar sektor ekonomi menjadikan outlet bagi produk pelaku ekonomi kecil cukup tersedia dengan insentif harga yang memadai. tetapi belum berhasil mengeluarkan para pelaku ekonomi kecil dari lingkaran yang serba kekurangan. Inilah formasi ekonomi makro dan mikro yang sangat kondusif bagi pelaku ekonomi kecil di Jawa dan kota besar lainnya untuk berkembang. Kita masih membutuhkan wadah ekonomi lain atau sekurangkurangnya cara penanganan pasar sedemikian rupa sehingga aksesibilas pasar dan posisi tawar mereka dapat ditingkatkan. dinamika dunia usaha yang relatif tinggi menjadi media pembelajaran yang efektif dalam pembentukan perilaku ekonomi yang rasional dan produktif. Secara teoretis.pemberdayaan usaha kecil seperti kemitraan. saay ini mulai merasakan bahwa harga vanili sangat ditentukan oleh pembeli (pedagang skala menengah dan besar). struktur ekonomi belum terdiversifikasi dengan baik menjadikan hubungan fungsional antar sektor ekonomi belum terjalin baik. Formasi Ekonomi Makro dan Mikro Salah satu keuntungan pelaku ekonomi kecil dan sektor informal perkotaan di Jawa dan kota besar lainnya adalah struktur ekonominya telah terdiversifikasi dengan baik sehingga hubungan fungsional antar sektor ekonomi (pertanian. perhubungan dan lembaga keuangan) telah terjadi dengan baik. Pada sisi lain share sektor perdagangan dan perhubungan sedikit agak menonjol. perdagangan. maka inilah salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan untuk direplikasi pada daerah lain. Petani Vanili di Apui (Alor) yang baru saja menikmati harga vanili yang tinggi. inti-plasma dan sebagainya. industri. Para pelaku ekonomi kecil tidak menikmati nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan. Jauh dari Permintaan dan Miskin Kelembagaan Salah satu persoalan yang menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan di perdesaan NTT sulit berkembang adalah bahwa mereka jauh dari permintaan (pasar). Di NTT. Share sektor pertanian sangat menonjol sementara share sektor industri sangat kecil. posisi tawar mereka sangat lemah. Dalam kondisi semacam ini. Akibatnya. Berkembangnya sektor ekonomi sekunder akan menciptakan peluang bagi dinamika dunia usaha. Mereka memasuki pasar pembeli ( buyer market) secara individual tanpa dukungan kelembagaan yang memadai. Perlu ada kebijakan untuk percepatan perubahan struktur ekonomi NTT agar keterkaitan fungsional antar sektor ekonomi dapat tercipta. Perilaku . Ciri pasar komoditas semacam ini adalah harga relatif rendah dan inferior terhadap komoditas hasil olahan yang diimpor dari luar. Konsep-konsep ini telah diadopsi sedemikian rupa ke dalam berbagai program pemberdayaan ekonomi yang dilaksanakan pemerintah maupun swasta. perubahan struktur ekonomi akan terjadi bila aliran investasi pada sektor industri pengolahan (sekunder) meningkat. bapak angkat. peternak. Organisasi pembeli yang kuat tersebut tidak bisa dilawan oleh para petani secara individual. Para pembeli memiliki organisasi yang solid. masing-masing bergerak di bidang kelautan dan agribisnis didirikan sebagai outlet bagi para pelaku ekonomi kecil. Dua Perusahaan Daerah. Sekiranya langkah ini mampu meningkatkan posisi tawar para pelaku ekonomi kecil dan mampu meningkatkan kinerja ekonomi mereka. tetapi lebih penting adalah aksesibilitas. Penghasil rumput laut di Rote dan Sabu juga mulai merasakan betapa fluktuasi harga yang terjadi sulit mereka kendalikan. agar tercapai keseimbangan posisi tawar di pasar.

Subsidiary plan adalah produk perencanaan sejumlah instansi yang berkaitan langsung dengan usaha kecil yang penyusunannya dikoordinasi Bappeda dan melibatkan representasi pelaku ekonomi skala menengah dan besar. Melalui pendekatan semacam ini diharapkan pelaku ekonomi kerakyatan dapat berkembang menjadi fondasi ekonomi yang kokoh bagi perekonomian daerah.ekonomi atau sikap kewirausahaan merupakan fungsi dari dinamika dunia usaha. Perlu Regulasi bagi Pelaku Ekonomi Kecil Esensi regulasi adalah untuk menciptakan keteraturan. Subsidiary plan tersebut paling kurang berisikan lima hal pokok yaitu Visi dan Misi. Visi semacam ini diperlukan agar ada komitmen dan daya paksa untuk menjabarkan visi tersebut dalam perencanaan yang baik. agar tercipta media pembelajaran yang luas bagi pelaku ekonomi kecil untuk mematangkan perilaku ekonomi atau sikap kewirausahaannya. Sekian. Dari segi pendanaan tidak ada masalah. tetapi ia tak punya gigi. Bila urusan-urusan ekonomi lainnya diregulasi oleh Pemerintah Daerah. PDRB NTT akan didominasi share pelaku ekonomi kecil. kapitalisasi pelaku ekonomi kecil tersebut dapat menjadi pemicu bagi berkembangnya aktivitas usaha pelaku ekonomi kecil. Dorong perkembangan dunia usaha melalui percepatan perubahan struktur ekonomi. pembiayaan dan guide line pengelolaannya. adakah visi kita yang jelas tentang usaha kecil? Cukupkah dokumen perencanaan yang ada (Poldas. terutama bagi pelaku UKM untuk menuntut dan mengontrol pemerintah agar bersungguh-sungguh dalam mengembangkan UKM. Tanpa Perda ini. Untuk itu diperlukan suatu pengkajian mendalam mengenai eksistensi pelaku ekonomi kecil saat ini. Demikianlah beberapa pokok pikiran tentang pengembangan ekonomi kerakyatan di NTT. Pertanyaannya. program aksi dan pengelolaan yang jelas. Propeda dan Rentra) tidak memungkinkan rencana pengembangan pelaku ekonomi kecil sebagai inti dari pengembangan ekonomi rakyat diakomodasi dengan baik. Jangan dipaksakan dengan berbagai pelatihan kewirausahaan bila formasi ekonomi makroo dan mikro tidak kondusif. maka Kepala Daerah harus berani merumuskan visi bahwa dalam jangka waktu lima atau 10 tahun mendatang. maka perangkat hukum dalam bentuk Perda tentang pelaku ekonomi kecil atau UKM perlu dibuat. Bila pemerintah menginginkan pelaku ekonomi kecil menjadi fondasi perekonomian daerah. karena dalam format APBD yang baru. Denganstrategi. Karena itu perlu terobosan dari sisi perencanaan. Menurut hemat saya. Seluruh program yang berkaitan dengan mereka perlu dievaluasi tuntas dan yang paling penting mesti ada wawasan baru tentangnya. selain retorika tentang mereka. Gaungnya kedengaran keras di mana-mana. Rencana Pengembangan Pelaku Ekonomi Kecil dapat dijadikan subsidiary plan dari Propeda atau Renstra yang keabsahannya dilegitimasi juga oleh Perda. Kepala Daerah harus berani merumuskan visi yang jelas tentang pengembangan pelaku ekonomi kerakyatan. sebagian dari pos belanja modal yang dianggarkan dapat diarahkan sebagai kapitalisasi pelaku ekonomi kecil.Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang . pembiayaan terhadap subsidiary plan tersebut dapat diakomodasi. Perda ini sangat penting. Ancangan Perencanaan Berbagai perubahan yang diinginkan terhadap pelaku ekonomi kecil butuh perencanaan yang baik dan perencanaan yang baik muncul dari suatu visi pengembangan usaha kecil yang jelas pula. Berkaitan dengan representasi pengembangan usaha kecil dalam dokumen perencanaan yang ada. harus diakui bahwa format perencanaan standar yang ada saat ini (Poldas. Misalnya dalam perumusan kebijakan fiskal daerah (APBD). Semoga berguna. pedekatan. kepastian hukum dan komitmen yang jelas dalam pengembangan UKM. propeda dan Renstra) memberi tempat bagi pengembangan usaha kecil secara terpadu dan berkesinambungan? Bagaimana strateginya menjadikan usaha kecil sebagai sokoguru perekonomian daerah? Sampai sejauh ini kita belum melihat adanya visi yang jelas tentang pelaku ekonomi kecil. program-program lintas instansi yang akan dilaksanakan. yang menggunakan program sebagai nomenklatur generik serta format pengusulan untuk mendapatkan pembiayaan dekonsentrasi. strategi yang digunakan. Frits O FanggidaE – Dosen Fakultas Ekonomi . wacana tentang UKM ibarat macan ompong.

Data -data pertumbuhan PDRB per kabupaten/kota yang lebih lengkap selama Repelita VI terlihat pada tabel 2.94 1.0 88.62 3.5 % berhasil dalam aspek ekonomi). Perekonomian Daerah Jika tahun 1996 dan 1997 pertumbuhan ekonomi NTT cukup tinggi (masing-masing 8.13 4. 1.7 96.4 63. Kesan demikian tentu mengganggu pelaksanaan pemerintah daerah. Meskipun tahun 1998 terjadi kontraksi ekonomi minus 2. Di antara 4 propinsi ―termiskin‖ ini hasil lengkap survei BPS-1997 dilihat pada tabel 1.73%.62%).6 91. 5. dan jauh lebih rendah dibanding kontraksi –11.83 4.Mubyarto MEMBANGUN PEREKONOMIAN RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR Pendahuluan Gubernur Piet Tallo yang alumni Fakultas Hukum pernah menolak julukan miskin bagi daerahnya.8 Irja 31. 4. Secara keseluruhan ekonomi NTT sudah pulih dari krisis. rupanya dianggap sebagai perubahan amat fundamental yang terkesan menghapuskan kekuasaan dan fungsi kooordinatif dari pemerintah propinsi atas kabupaten/kota dalam lingkungan propinsi. ―Mungkin warga NTT belum se-makmur saudara-saudaranya dari daerah lain.11 4.63 1999 0.64% untuk wilayah-wilayah luar Jawa.42 -3. Sebagai salah satu dari 4 propinsi ―termiskin‖ di Indonesia berdasarkan tingkat PDRB perkapitanya.9 Partisipasi 88.22 6. Pidato Pertanggungjawaban Presiden.10 3.5 75. Tabel 1: Tingkat Keberhasilan Pokmas IDT Menurut Bidang (%) di 4 Propinsi Propinsi NTT NTB Maluku Ekonomi 79. adanya bagian-bagian masyarakat yang ―menikmati krisis‖ dengan kemakmuran yang meningkat.75 -6.75 4.28 -3.6 86. Bahwa OTDA penuh diletakkan di kabupaten/kota. yang seluruh desanya dinyatakan sebagai desa IDT pada tahun 1996. Namun khusus tentang prospek otonomi kebanyakan pakar masih merasa cemas.21 4.67 2. 2. Maka dapat dimengerti seperti halnya wilayah-wilayah lain di luar Jawa. pada tahun krisis (1998) mengalami kontraksi –2.9 78. 3. yang menonjol di antaranya berupa kerisauan menurunnya wibawa pemerintah daerah propinsi di mata pejabat-pejabat kabupaten/kota. Bahkan pemahaman tentang pengertian otonomi daerah sendiri masih cukup rancu.6 39.73%.9 76.8 23.0 Sumber: RI. dan di propinsi hanya merupakan otonomi terbatas.97 .40 -2. tetapi propinsi ini sedang mengeksplorasi berbagai potensi tambang dan kekayaan alam lain yang kelak akan membantu mengubah nasibnya‖.8% (Jawa-Bali) atau –13. wakil LSM dan sejumlah dosen Undana menyatakan optimisme terhadap masa depan ekonomi NTT.04 2000 2.7 52.57 2.24 -2.5 71. tetapi ekonomi rakyat yang masih agraris berdaya tahan tinggi dan justru merasa diuntungkan oleh krisis moneter tahun 1997. Maret 1998 Dalam pertemuan terbatas di Kupang tanggal 20 Januari 2001.4% (5 propinsi Jawa). Tabel 2: Pertumbuhan PDRB Per Kabupaten/Kota se Propinsi NTT No.54 3.2 57. survei BPS tahun 1997 menempatkan NTT pada urutan nasional ke-6 (79. Kabupaten/kota Sumba Barat Sumba Timur Kupang Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Belu 1998 -0.91 Rata-rata 1994 2000 3.30 32.7 Kemandirian Kelembagaan Keseluruhan 64. 6.42 -1.22% dan 5.1 32.57 5. tidak tinggi dibanding kontraksi –4.5 5.54 5.

7 milyar ke Rp 129.54 0.51 -2.3 di Propinsi NTT melampaui wilayah Ngada dan Manggarai. Namun menjadi tanda tanya mengapa kontraksi ekonomi yang tertinggi di kabupaten Ende rupanya tidak terkait dengan data perbankan yang justru meningkat yaitu simpanan dan tabungan berjangka masing-masing naik 19. Dunia perbankan setempat bersama Pemerintah Daerah harus sungguh-sungguh berkoordinasi untuk mengubah hukum ekonomi kapitalisme liberal menjadi hukum ekonomi kerakyatan.44 5.68 5. Dana yang dihim pun perbankan di Ibukota propinsi (Kupang) ―hanya‖ 54.72 5. 13.5% dari dana perban kan di seluruh propinsi NTT (Oktober 2000) hanya sedikit meningkat dibanding pangsa tahun 1993/94 sebesar 48.73 4.73 -0.20 3. tidak ―dikembalikan‖ sebagai kredit yang dibutuhkan masyarakat setem pat tetapi dikirim ke luar daerah (Jakarta). Data dari Bank Indonesia propinsi NTT 1993-2000 menunjukkan kenaikan penghimpunan dana ―luar biasa‖ yaitu 19. Kredit yang diberikan hanya Rp 37. Pimpinan Bank Indonesia yang hadir dalam diskusi di Kupang tidak melihat adanya kejanggalan ini karena menurutnya dalam ―sistem ekonomi pasar bebas‖ perilaku modal keluar masuk daerah. Analisis perekonomian daerah kembali ke lingkaran awal. sehingga dana perbankan Ende yang hanya Rp 40. Jika masyarakat kecil (ekonomi rakyat) mulai tertarik menggunakan jasa perbankan yang mudah dalam bentuk simpanan dan tabungan berjangka. bahkan ke luar negeri sekalipun.42 4. Pada bulan Oktober 2000 dana yang dihimpun perbankan Ende mencapai Rp 210. 8.72 3. Oktober 2000).49 3.72 0.7.83 4.9 milyar tahun 1993/94 (urutan ke-4 dari 7 wilayah) kini menjadi no.28%) dan kontraksi terendah adalah di Manggarai yang masih tetap tumbuh positif meskipun kecil sekali (0.31 milyar.69%) dan TTU (-6.08%). dengan meninggalkan kriteria pemberian kredit formal yang kaku.98 4.554. yang oleh BI setempat dalam proyek PHBK (hubungan Bank dan kelompok swadaya) dan KKPA (Kredit Koperasi Pada Anggota) telah diabaikan. Alor Lembata Flores Timur Sikka Ende Ngada Manggarai Kota Kupang NTT -2.7 kali dari nilainya pada tahun 1993/94 (Rp 439 milyar). Yang menarik untuk dicatat adalah ketimpangan ekonomi antardaerah yang relatif ―ringan‖.7 milyar). Ekonomi daerah yang miskin tetap selalu tertinggal.18 6.03 0. Dana bank yang harus dibayar bunganya kepada penabung tidak mungkin dibiarkan diam (idle). 10. Dalam otonomi daerah ―lingkaran setan‖ seperti ini perlu diputus.08 -8. Jumlah dana perbankan yang dihimpun bulan Oktober 2000 seluruh NTT mencapai Rp 2.2 milyar (20%) lebih rendah dari persentase kredit yang diberikan pada tingkat propinsi (28. Syaratsyarat formal ini diakui terlalu kaku.43 1. pihak perbankan harus juga berubah dalam melayani ekonomi rakyat dalam kebutuhan kredit yang mudah dan murah. meskipun disadari bahwa syarat-syarat ini adalah syarat-syarat kredit komersial formal yaitu 5 C (collateral.3 milyar.01 4. capacity.33 2.05 5. 14.95 4. Peningkatan dana masyarakat Ende berupa simpanan dan tabungan berjangka (Rp 183.69 -0. akan ditemukan usaha-usaha kecil ekonomi rakyat yang mau dan mampu membayar tingkat bunga pasar. condition dan capital). character. 11.8 milyar ke Rp 53. Bahkan kenaikan pendapatan yang diperoleh dari dan selama krismon tidak dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi rakyat lebih lanjut.91 1. dan yang paling mudah dalam situasi ekonomi sekarang (krismon) adalah dibelikan SBI yang bunganya menarik.6 milyar) dan 6 kali (dari Rp 21.82 milyar melampaui Ngada/Manggarai yang hanya mencapai Rp 162.20 milyar (1997/98) menjadi Rp 1.2 kali (dari Rp 2. Sebenarnya jika Bank Umum di daerah mau bekerja keras. Kenaikan paling tinggi adalah penghimpunan dana di kabupaten Ende (105%) dan Kabupaten Kupang (79%).69 milyar (1998/99) kenaikan 73%.61 3. rupanya berlanjut sampai sekarang (2000). Tetapi sering dikatakan bahwa bank-bank tidak memiliki tenaga dan pengalaman untuk menyalurkan kredit kecil atau kredit mikro seperti ini.08 trilyun naik 4.18 Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kontraksi ekonomi rata-rata kabupaten/kota se-propinsi cukup merata dengan angka tertinggi di kabupaten Ende (-6. Di daerah harus ada kebijakan khusus yang merangsang investasi. 9.37 0. Alasan yang biasanya diajukan adalah tidak adanya usaha-usaha ―produktif‖ yang memenuhi syarat untuk didanai dengan kredit bank.7% pertahun.18 2.71 6.50 -1. yang paling tinggi adalah kenaikan pada awal krisis ekonomi yaitu dari Rp 899. Program pemberdayaan ekonomi rakyat akan berkembang melalui program . Kantor Pusat setiap bank akan harus mengembangkannya.72 3. Kenaikan nilai penghimpunan dana di Ende yang luar biasa ketika krismon.9%. 12. tidak dapat diatur.22 -6.6%).

Salah satu kunci keberhasilan program IDT di NTT adalah dukungan penuh dan konsisten dari Pemda. Program IDT di 2 desa Oebelo. Namun yang belum jelas adalah implikasinya dalam penyusunan program-program untuk melaksanakan wewenang tsb. Misalnya dalam program-program penanggulangan kemiskinan ala IDT. Dana Rp 600.500/hari).22/1999. Ibu Johanna Maxi. Pendamping Sarjana yang diangkat dan digaji Pemda masih banyak yang aktif.kredit mikro ala Grameen Bank yang berhasil di Bangladesh dan sudah ―ditiru‖ di banyak negara termasuk di Indonesia. serta penyuluh-penyuluh dari berbagai dinas sektoral. apakah pemikiran ke arah perbaikan dan penyempurnaan program IDT termasuk program pendampingan kini merupakan tanggung jawab penuh Pemda kabupaten? Jika ya. Kupang Timur. Bahwa Pemda kabupaten/kota kini lebih besar wewenangnya ketimbang propinsi. Dalam pada itu 2 jenis pendamping lainnya (yang tidak purna-waktu) seperti aparat desa. pimpinan LSM Bina Swadaya Kupang yang mengkoordinasi 12 pendamping menyatakan dapat dikembangkannya program pendampingan ini dengan syarat pendamping yang bersangkutan mendampingi paling sedikit 20 Pokmas secara sungguh-sungguh dan purna-waktu. dan disusun oleh BPD (Badan Perwakilan Desa) yang di antara tugas dan kewajibannya adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat berdasarkan demokrasi ekonomi (pasal 22 dan 101). sulit diharapkan mencurahkan perhatian pada Pokmas IDT dan anggota-anggotanya. antara lain melalui pengembangan program pendampingan dengan dana APBD. Ditaksir sekitar 10% dari SHU Pokmas cukup memadai untuk menggaji Pendamping yang bersangkutan. uang jalan jika berdinas keluar (Rp 7. Program pendampingan ini akan jauh lebih berhasil lagi. yang diangkat serta digaji oleh Pokmas yang didampinginya. jika Pemda ( dhi PMD) serius memantau pelaksanaannya. Kupang tengah. Misalnya seorang ketua Pokmas Simson Misa (49 th. yang setelah dilaksanakannya OTDA dapat menyusun. melaksanakan. baik Pemda propinsi maupun Pemda kabupaten/kota. Karena mereka lebih dekat dengan rakyat. Di desa Babau sekitar 30% telah berhasil mengubah program IDT menjadi Koperasi Simpan Pinjam yang segera memperoleh status badan hukum. tetapi rupanya tetap saja belum mampu mengatasi kebijakan kredit yang lebih berpihak pada sektor industri modern dan usaha-usaha besar di kota-kota. apa tugas dan tanggung jawab Pemda propinsi (atau PMD) dalam hal ini? Yang lebih sulit lagi adalah memikirkan kelanjutan program-program penanggulangan kemiskinan pada tingkat desa. sedangkan yang ke dua otonomi terbatas. karena yang pertama menerima otonomi penuh. meyakinkan masih perlunya pendamping bagi Pokmas-Pokmas IDT. OTDA seharusnya tidak difokuskan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tetapi yang lebih penting adalah . Program Pemberdayaan ekonomi rakyat Jika di sejumlah propinsi program IDT sudah ―dilupakan‖ atau sudah ―diganti‖ program lain seperti PPK (Program Pengembangan Kecamatan) di kabupaten Kupang. kabupaten. dan desa-desa di NTT cukup baik meskipun masih ditemukan berbagai masalah.000 per bulan. cukup banyak pendamping yang bermutu dan memihak pada penduduk miskin. melalui BPD. dan yang dapat menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat.000 yang disediakan sebagai BOP (Biaya Operasional Pemantauan) pada desa sulit dilihat hasilnya. Kegagalan 70% program di desa pertama bukanlah karena ketidaksungguhan anggota tetapi karena musibah menjalarnya penyakit ternak babi pada tahun pertama. Gaji pendamping yang tinggi ini masih disubsidi kantor Bina Swadaya sampai sekitar 50%. Jelas di sini bahwa rakyat atau warga desa sendirilah. Kupang Timur. dan menilai program-program penanggulangan kemiskinan dan pembangunan perdesaan pada umumnya. tetap dapat datang untuk mengadakan kajian-kajian. Tamu-tamu. atau pakar-pakar dari pusat atau propinsi. Dalam kenyataan. program IDT masih berjalan baik. dan desa Babau. dengan polos menanyakan ―Apakah setelah Otda masih akan ada tamu seperti Pak Mubyarto yang mengevaluasi program-program penanggulangan kemiskinan seperti IDT dan PPK?‖ Pertanyaan demikian diajukan karena ada pernyataan bahwa dalam Otda ―semua program penanggula ngan kemiskinan harus dibuat sendiri oleh kabupaten‖. Hendrikson Adoe (30 th). dan program -program ini harus lebih baik dibandingkan program-program yang disusun secara nasional seperti IDT oleh Bappenas dan Depdagri. Program-program pembangunan yang disusun Pemda kabupaten/kota bersama DPRD memang harus makin banyak yang berasal dari desa/kelurahan. yang hadir pada pertemuan dengan 2 Pokmas IDT di Kalurahan Babau kecamatan Kupang Timur. Di desa Oebelo antara 25-35% penerima dana IDT benar-benar telah mentas dari kemiskinan yang melilitnya. memang benar tercantum dalam pasal-pasal UU No. Sedangkan di desa ke-2 yaitu Babau berhasil sekitar 30%. memang berjalan baik. tamatan SD) dari desa Babau. dan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Seorang SP2W. BRI dengan kredit Unit Desanya sebenarnya sudah maju jauh sebelum Grameen Bank. Otonomi Daerah dan Otonomi Desa Otonomi Daerah dan prospek pelaksanaannya di Propinsi. tetapi warga desa sendirilah yang pada tingkat akhir akan meluncurkan programprogram yang diinginkannya. lebih-lebih setelah dipadukan ke dalam dana bantuan Desa sejak TA 1996/97.000 per bulan ditambah biaya operasional Rp 50. dan dilengkapi sepeda motor. [1] [1] Pendamping Bina Swadaya mendapat gaji (terendah) Rp 275. tidak ada alasan program yang bersangkutan tidak sesuai dengan aspirasi rakyat.

meningkatkan pemerataan dan keadilan menuju terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesimpulan Menyaksikan ketekunan dan kesungguhan masyarakat dan aparat Pemda propinsi dalam melaksanakan program IDT di propinsi NTT, kita melihat program penanggulangan kemiskinan sudah mencapai tahap gerakan masyarakat sebagaimana dirancang program ini pada awal peluncurannya. Sudah tercapainya tahap gerakan masyarakat (GEMA) antara lain terbukti dari sambutan Pokmas IDT di seluruh propinsi untuk menghimpun kembali dana IDT yang berada di Pokmas-Pokmas untuk dijadikan semacam Bank Desa pada tingkat kecamatan. Meskipun pendirian Bank Desa pada tingkat kecamatan dengan dana IDT yang sudah bergulir di Pokmas ini belum tentu dapat dianggap kemajuan, tetapi akan menjadi indikator tercapainya kemandirian keuangan desa seperti UPK (Unit Pelayanan Keuangan) dalam Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Memang dalam membangun kelembagaan Bank Desa ini profesionalisme dalam pengelolaannya harus prima, dan dilaksanakan dengan koordinasi penuh dengan Bank Indonesia setempat, disamping sikap pemihakan pejabat Pemda yang jelas pada kepentingan ekonomi rakyat. Konsep dasar program IDT adalah makin mendekatkan lembaga perkreditan dan pendanaan pembangunan masyarakat desa pada penduduk desa. Setiap usaha untuk meningkatkan skala ekonomi lembaga ini demi efisiensi harus lebih menguntungkan ekonomi rakyat. Otda yang juga berarti otonomi desa perlu memperoleh perhatian Pemda dan DPRD kabupaten dalam bentuk penyusunan Perda-Perdanya. Sikap dan tradisi demokrasi yang tinggi pada masyarakat NTT harus dimanfaatkan untuk segera membentuk BPD. Jika BPD berhasil menghimpun tokoh-tokoh muda masyarakat desa yang profesional, seperti mantan SP2W, maka ini merupakan salah satu kunci percepatan pemberdayaan ekonomi rakyat desa. Satu kendala yang selalu disinggung dalam diskusi-diskusi kecil adalah kondisi multietnik masyarakat NTT yang kurang mendukung kerukunan warga desa, lebih-lebih dengan membanjirnya pengungsi dari Timor Timur sejak September 1999. Untuk mengubah kondisi multietnik menjadi faktor dinamika masyarakat, pemerintah daerah perlu membentuk badan/lembaga khusus untuk menanganinya. Jika masalah multietnik ini benar-benar dapat digarap secara transparan dan profesional, maka rasa optimisme Gubernur yang disebutkan pada awal tulisan ini pasti makin berkembang. Dan NTT tidak akan lagi diartikan sebagai ―Nasib Tak Tentu‖ tetapi ―Nasib Terpancar Terang‖.

Prof. Dr. Mubyarto, Guru Besar FE-UGM, Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM (PUSTEP-UGM) Mubyarto EKONOMI RAKYAT INDONESIA PASCA KRISMON

Pendahuluan Selama 5 bulan (Juni-Oktober 2000) Pusat Penelitian Kependudukan UGM bekerjasama dengan RAND Corporation Santa Monica mengadakan Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia (SAKERTI) di 13 propinsi dengan mewawancarai 10.000 keluarga atau 43.000 orang. Survei yang telah diadakan untuk ketigakalinya ini mewawancarai keluarga-keluarga yang sama (panel) yang menjadi sampel sejak Sakerti 1 (1993) dan Sakerti 2 (1997). Pada tahun 1998 khusus untuk meneliti dampak krismon yang sedang berlangsung, dilaksanakan Sakerti 2+ dengan mengambil 25% sub-sampel. Penemuan-penemuan Sakerti 2+ yang telah disebarluaskan melalui beberapa tulisan antara lain oleh Elizabeth Frankenberg, James Smith, dan Kathleen Beegle (1999) mengejutkan banyak pihak karena berbeda dengan ―anggapan umum‖. Namun sejumlah peneliti lain seperti kelompok SMERU menemukan hal-hal yang sejalan dengan penemuan Sakerti 3 khususnya dalam dampak krismon yang tidak terlalu parah terhadap kehidupan keluarga/perorangan. Kami sendiri yang mengadakan kunjungan lapang ke berbagai desa selama 1998-1999 juga mencatat pernyataan banyak warga desa bahwa ―krisis ini belum apa-apa dibanding krisis yang lebih berat pada jaman Jepang, awal kemerdekaan, dan krisis ekonomi tahun 1965-66". [1]

[1] Mubyarto, 1999, Reformasi Sistem Ekonomi, Yogyakarta , Aditya Media, hal 129-139.

Demikian keparahan krismon 1997 yang menjadi polemik nasional selanjutnya tenggelam karena pendapat yang lebih condong ke ―dampak yang parah‖ lebih populer agar tidak menghambat peluncuran program program JPS (Jaring Pengaman Sosial) lebih-lebih yang dananya berasal dari bantuan luar negeri. Programprogram JPS adalah program untuk menolong penduduk miskin yang sedang dalam kesusahan sehingga tidaklah dianggap bijaksana menyebarluaskan penemuan kajian-kajian yang menyimpulkan dampak krismon tidak parah. Peneliti-peneliti Indonesia yang jujur melaporkan kenyataan dari lapangan terpaksa mengendalikan diri ―demi kemanusiaan‖. Namun kemudian mereka merasa terpukul membaca komentar penerima hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun 1998 Amartya Sen yang menyindir mereka yang telah membesar-besarkan dampak krisis koneter di Asia Timur. It may wondered why should it be so disastrous to have, say, a 5 or 10 percent fall in gross national product in one year when the country in question has been growing at 5 or 10 percent per year for decades. Indeed, at the aggregate level this is not quintessentially a disastrous situation. (Sen, 1999: 187) Setelah laporan Sakerti 2+ sedikit dilunakkan ―demi kemanusiaan‖, kini Sakerti 3 yang dilaksanakan 3 tahun setelah krisis dan 2 tahun setelah Sakerti 2+, ternyata memperkuat penemuan-penemuan Sakerti 2+. Tanpa diduga, dampak yang ―menyingkirkan‖ berita ―krisis belum apa -apa‖ ini merugikan penduduk miskin dan bertentangan dengan kepentingan melidungi dan memajukan ekonomi rakyat, karena telah dimanfaatkan secara licik oleh kelompok tidak miskin yaitu golongan ekonomi kuat dan sektor industri modern dalam rangka menuntut pemerintah menyelamatkan kebangkrutan mereka dan lebih khusus lagi dalam rangka membenarkan kebijakan penalangan (bail out) utang-utang melalui BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), yang mulai dikucurkan tahun 1998. Adalah kepentingan para penerima BLBI untuk mengesankan bahwa krisis ekonomi masih terus berjalan, dan makin parah, agar pemerintah tetap tidak dapat bersikap keras pada mereka untuk membayar utang-utang besar yang macet sejak awal krismon. Utang-utang besar yang macet menjadi amat berat karena banyak utang dalam bentuk valuta asing yang tidak dijamin sehingga jika ekonomi Indonesia sudah dianggap pulih dari kondisi krisis, mereka para pengutang akan kehilangan alasan untuk tidak membayarnya. Inilah alasan ―tersembunyi‖ untuk terus memojokkan pemerintah yang sayangnya memperoleh dukungan pakar-pakar ekonomi makro yang tidak pernah meninggalkan meja komputernya dan tidak pernah mau menerapkan metode analisis induktif-empirik dengan cara datang ke daerah-daerah meneliti kehidupan ekonomi riil (real-life economics). Mereka membesar-besarkan dampak krisis dengan menyebutkan pengangguran yang mencapai 40 juta orang, pelarian modal asing US $ 10 milyar per tahun dan lain-lain.

Hasil-hasil Sakerti 3

1. Kemiskinan. Di 13 propinsi yang disurvei angka kemiskinan perkotaan menurun selama 1997-2000 dari
13,3% menjadi 11,3%, sedangkan di perdesaan menurun dari 20,1% menjadi 18,7% (tabel 1). Penurunan angka kemiskinan di perdesaan terjadi di Sumsel, Lampung, Sulsel, Kalsel, Bali, Sumut, dan Jatim (rata-rata 8,0%), sedangkan penurunan kemiskinan di perkotaan yang relatif lebih kecil terjadi di Jatim, Jateng, Sulsel, dan Jabar (rata-rata 4,9%). Lebih besarnya penurunan tingkat kemiskinan di perdesaan khususnya di propinsi-propinsi luar Jawa menunjukkan adanya perbaikan dasar tukar ( term of trade) antara harga-harga yang diterima dan yang dibayar produsen. Di propinsi-propinsi Jatim, Jateng, dan Sulsel, angka-angka kemiskinan di perkotaan juga menurun yang berarti penduduk perkotaanpun masih mampu menghasilkan barang-barang yang harga jualnya meningkat lebih cepat ketimbang harga barang-barang yang dibeli rumah tangga. Bahwa ada kenaikan angka kemiskinan di perdesaan di Jabar, Jateng, dan DIY (rata-rata 3,3%) dan bahkan 11,9% di NTB, mungkin menandakan kurangnya komoditi pertanian ―tradisional‖ yang harganya terangsang naik oleh krismon. Pendapatan riil rumah tangga yang ditaksir dengan median pengeluaran riil per kapita selama 1997-2000 mengalami kenaikan cukup signifikan sebagai berikut:

2. Kesempatan Kerja. Berbeda dengan kesan umum telah terjadinya pengangguran besar-besaran sejak
krismon 1997-98, Sakerti 3 melaporkan adanya peningkatan kesempatan kerja pria dari 79% (1997) menjadi 84% (2000) dan untuk wanita dari 45% menjadi 57%. Khusus untuk kerja upahan/bergaji

kenaikannya untuk pria dari 74,5% menjadi 77,0% sedangkan untuk wanita dari 36,7% menjadi 42,2%. Yang cukup signifikan adalah kenaikan persentase kesempatan kerja keluarga tanpa gaji terutama wanita yang naik dari 19,2% menjadi 25,5%, meskipun untuk pria naik lebih kecil yaitu dari 6,1% menjadi 7,9%. Arti kenaikan angka-angka ini jelas bahwa krismon yang pada umumnya menurunkan kegiatan sektor modern/formal, ditanggapi dengan meningkatnya kegiatan ekonomi/ industri sektor tradisional/ informal/ekonomi rakyat, khususnya dengan mempekerjakan lebih banyak wanita atau ibu yang sebelumnya tidak bekerja. Kesimpulan kita jelas bahwa selama 1997-2000 telah terjadi ―pergeseran‖ kesempatan kerja dari sektor ekonomi modern ke sektor ekonomi rakyat, dan tidak benar adanya pengangguran besar-besaran akibat PHK. The economic crisis has resulted in both negative and positive consequences for the Javanese. It has resulted in a rapid rise in prices of basic items which place them beyond the capacity of many poor people and has reduced employment opportunities in the formal sector. On the other hand, it has resulted in the emergence of many new small enterprises which had previously been destroyed by the economic monopolies and import of mass-produced commodities under the New Order. [2]
[2] Jessica Poppele, Sudarno Sumarto, dan Lant Pritchett, 1999, Social Impacts of the Indonesian Crisis; Agus Dwiyanto, 1998, Krisis Ekonomi: Respon Masyarakat dan Kebijakan Pemerintah, Pelajaran dari Tiga Desa di Jawa , PPK-UGM; Lea Jellinek & Bambang Rustanto, ―Survival Strategies of the Javanese During the Economic Crisis‖ (Survey Report), World Bank, Jakarta, 28 Agustus 1999, dikutip dalam Mubyarto (1999), ibid., hal 134.

3. Standar Hidup dan Kesejahteraan. Sakerti 3 menanyakan bagaimana keluarga menilai tingkat
kesejahteraan mereka selama dan sebagai akibat krismon. Hasilnya sungguh mengejutkan karena berbeda dengan anggapan umum telah terjadinya kemerosotan kesejahteraan dan standar hidup akibat krismon, 87% responden menyatakan standar hidup mereka tidak berubah (tetap) atau bahkan membaik, dan yang melaporkan memburuk hanya 13%. Mengenai kualitas hidup, 83,9% responden menyatakan memadai (69,4%) atau lebih dari memadai (14,5%), yang berarti bahwa keluarga yang merasakan kualitas hidup mereka tidak memadai hanya 16,1%. Tentang kualitas hidup yang menyangkut pemenuhan kebutuhan pangan, 90,7% menyatakan memadai atau lebih dari memadai, sedangkan tentang pemeliharaan kesehatan, 85% menyatakan memadai dan 4% menyatakan lebih dari memadai. Dari 3 ukuran kesejahteraan rakyat yang dilaporkan Sakerti 3 kesimpulan kita tidak meragukan lagi bahwa orang Indonesia mempunyai cara-cara khas menanggapi krisis moneter atau krisis ekonomi. Munculnya krismon berupa kenaikan harga-harga umum besar-besaran tidak serta merta menurunkan kualitas atau standar hidup mereka tetapi mereka menemukan berbagai cara untuk menanggapinya. Cara-cara menang-gapi krismon yang khas dan berbeda-beda inilah yang bagi para pakar ekonomi ortodok (konvensional) tak terpikirkan, dan hanya dapat diketahui/ditemukan melalui penelitian-penelitian lapangan yang serius. Sakerti 1, 2, dan 3 memberikan perhatian khusus pada mekanisme bertahan hidup (coping strategies) dan menanggapi krisis seperti itu. Metode Menanggapi Krismon Orang Indonesia yang dikenal kuat menganut asas kekeluargaan dalam segala aspek kehidupannya dapat diamati menerapkan asas atau etika hidup ini di saat terjadi krismon yang datang secara sangat tiba-tiba. Asas hidup kekeluargaan ini yang diperkuat oleh semangat percaya diri dan kepercayaan pada kekuasaan Tuhan berakibat pada sikap bahwa krismon tidak lain daripada ―percobaan‖ dan ―peringatan‖ pada bangsa Indonesia agar menyadari aneka kekeliruan dan penyimpangan yang telah dilakukan. Sakerti 3 seperti halnya Sakerti 1, 2, dan 2+ sebelumnya, menemukan fakta-fakta menarik tentang metode dan sikap menanggapi krismon secara tepat sehingga tidak mengakibatkan kejutan atau gangguan besar pada konsumsi keluarga dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar kesehatan dan pendidikan terutama bagi anakanak. Salah satu cara paling mudah dan paling sering dilakukan keluarga Indonesia saat-saat menghadapi krisis adalah dengan ―mengatur kembali‖ pengeluaran/belanja keluarga dengan cara menunda pengeluaran pengeluaran yang dianggap dapat ditunda misalnya pembelian pakaian, alat-alat rumah tangga dan pengeluaran-pengeluaran upacara, yang ditaksir berkurang dengan sepertiga. [3] Selain itu suatu keluarga dapat memutuskan ―menitipkan‖ sebagian anggota keluarga pada keluarga lain yang lebih mampu, atau secara umum sangat biasa terjadi pinjam-meminjam uang tanpa bunga antarkeluarga ( sebrakan) untuk menutup pengeluaran pokok yang tidak dapat ditunda.
[3] Elizabeth Frankenberg, James P Smith and Duncan Thomas, ―Economic Shocks, Wealth and Welfare‖, makalah belum diterbitkan, Rand, February 2002, h.

dan disebut sektor informal.2% menjadi 25. perilaku berkonsumsi. Memang sangat tidak tepat dan menyesatkan menyebut sektor ekonomi rakyat sebagai sektor informal. Sakerti 2+ menemukan fakta-fakta menarik bahwa hampir setiap keluarga termasuk yang miskin memiliki kekayaan atau aset yang dapat dijual atau digadaikan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran pokok yang tidak dapat dihindarkan. Sakerti mampu mengungkap perilaku ekonomi riil rakyat Indonesia (real life economics) yang melalui analisis mendalam akan menghasilkan ilmu/ teori ekonomi rii. Karena para pemodal/pengusaha Belanda yang datang sesudah 1870 ini pada umumnya berbentuk NV (PT) yang besar dengan kantor-kantor dan kebun-kebun besar. tokh dalam kenyataan perekonomian Indonesia masih tetap bersifat dualistik. Tentang pemilikan aset-aset lancar seperti uang tunai atau surat-surat berharga. lebih tinggi ketimbang kenaikan harga-harga umum. setiap keluarga dengan cara masing-masing berusaha bekerja lebih keras atau lebih lama ( melembur) agar pendapatan bertambah. karena 25% keluarga perdesaan dan 40% keluarga perkotaan memilikinya dan persentase yang lebih besar bahkan dilaporkan memiliki kekayaan berupa emas terutama dalam bentuk perhiasan yang sangat mudah digadaikan atau diperjual-belikan. atau sekedar strategi bertahan hidup ( survival strategy).1% menjadi 7. 2+.000 orang yang diwawancara menanggapi krismon dengan cara-cara mereka. Krisis moneter 1997-98 jelas lebih dulu dan lebih mudah memukul telak sektor ekonomi modern/ formal lebihlebih perusahaan yang berutang besar dalam nilai nominal dolar. atau terpengaruh secara tidak berarti. sebagaimana dikemukakan J. Namun karena hampir semua sektor masih bersifat dualistik. sedangkan per orang pekerja bertambah 10 jam per minggu. Kesimpulan Sebagaimana sudah sering dikemukakan oleh para peneliti ekonomi rakyat. yang tidak dikenal dan tidak termuat dalam buku-buku teks ilmu ekonomi terbitan Amerika. [4] [4] Paul Ekins and Manfred Max-Neef (eds). Lebih dari 90% keluarga di perdesaan dan 70% keluarga di perkotaan mempunyai rumah yang tidak beralih pemilikannya selama krisis. secara spontan ikut bekerja tanpa gaji. Dampak negatif krismon terhadap ekonomi rakyat dapat dihindari atau disikapi sedemikian rupa hingga tidak dirasakan dampaknya. Jika satu keluarga bekerja mandiri maka dalam kondisi krisis anggota keluarga yang sebelumnya tidak bekerja. sedangkan yang sangat kecil/gurem inilah yang disebut ekonomi rakyat. yen. yang sebagian besar baru beroperasi sesudah UU Agraria ( Agrarische Wet) tahun 1870. Ekonomi dualistik adalah ekonomi yang tidak homogen tetapi hampir di semua sektor terpilah menjadi 2 yaitu sektor ekonomi modern/formal dan sektor ekonomi tradisional/informal.000 lebih keluarga dan 43. sektor tradisional/ekonomi rakyat tidak terpengaruh krismon. karena sektor ini justru sudah lebih tua dan sudah merupakan kegiatan ekonomi ―formal‖ jauh sebelum datangnya para pengusaha/pemodal/kapitalis Belanda ke Indon esia. 2. juga dilaporkan sangat besar peranannya dalam menghadapi krisis. Routledge. Harga emas mengalami kenaikan 4 kali selama krisis. tidak dengan menjual rumah atau aset-aset berharga lainnya. tetapi ternyata sangat menonjol di Indonesia. dengan caracara atau ‖seni‖ khas ekonomi rakyat. London-New York. Sakerti 3 secara meyakinkan melaporkan bertambahnya kerja tanpa gaji untuk wanita dari 19. yang lokasinya dapat tidak tetap atau sering pindah. Real-life Economics. adalah kemampuan untuk memobilisasi kekayaan/aset apapun yang dimiliki keluarga untuk mempertahankan ( smooth out) tingkat pengeluaran keluarga. maka mereka dianggap perusahaanperusahaan formal. yang dikena l dengan istilah strategi penyikapan (coping strategy) baik dalam produksi.H. Emas ternyata merupakan simpanan andalan bagi banyak keluarga Indonesia untuk berjaga-jaga menghadapi krisis. Boeke tahun 1910. perhiasan dari emas sangat mudah ditemukan. Bagi keluarga-keluarga paling miskinpun disamping ternak yang hampir selalu dimilikinya. Yang kedua disebut Bung Hatta tahun 1931 sebagai sektor (kegiatan) ekonomi rakyat.5% meskipun untuk pria jauh lebih kecil yaitu dari 6. dan 3 secara meyakinkan mengungkapkan bagaimana 10. Ratarata keluarga sejak terjadi krismon menambah waktu kerja 25 jam per minggu. atau valuta asing lainnya. Rumah-rumah gadai bertambah ramai dan pasar emas dilaporkan sangat dinamis/aktif saat krisis.9%. Krisis moneter yang dimulai dengan depresiasi rupiah dan apresiasi dolar sangat memukul perusahaan-perusahaan yang berutang dolar atau valuta asing lain dan memukul impor karena harga rupiah barang-barang impor melonjak sesuai apresiasi dolar. dengan membayar pajak-pajak yang besar. Sakerti 1. meskipun Indonesia merdeka sudah berusia 57 tahun dan pembangunan ekonom i ―Orde Baru‖ sudah berlangsung 31 tahun (1966 -97) yang mampu meningkatkan pendapatan riil rata-rata bangsa Indonesia 10 kali. Terakhir. 1992. yang berarti meningkatnya pengeluaran karena krisis selalu dapat ditutup dengan cara menambah pendapatan. ekonomi Indonesia terkesan menjadi sangat .13 Di pihak lain jika pada saat krismon pengeluaran-pengeluaran meningkat sekali. Sejak Pemerintah Indonesia mengundang ―dokter ekonomi‖ IMF yang dianggap dokter spesialis bagi penyakit negara-negara berkembang yang terkena krisis keuangan.

Aditya Media. Bangsa Indonesia harus percaya diri. September 2002 Mubyarto. Yogyakarta. Bromley. Demikian kiranya jelas bahwa tulisan ini berusaha meyakinkan tidak akan terjadi kebangkrutan atau kelumpuhan ekonomi nasional jika Indonesia memutuskan secara sepihak untuk tidak lagi mencari utang-utang baru dari luar atau bahkan dalam negeri. Daftar Pustaka Dhanani. UNSFIR. Poverty. Festival Bhinneka Tunggal Ika. 3. Kanisius. UNSFIR. [5] [5] Sartono Kartodirdjo. Tanpa ikatan kerjasama dengan IMF. Jika pada saat proklamasi kemerdekaan tahun 1945 bangsa Indonesia memiliki rasa percaya diri amat besar untuk merdeka secara politik. hal. October . Perjuangan itu tidak memerlukan bantuan dari pihak manapun. Hatta) dapat kita jadikan acuan rasa percaya diri itu. Satish C. Yogyakarta World Bank. The Micro Data Pictures: Results of a SMERU Social Impact Survey in the Purwakarta-Cirebon Corridors. Gadjah Mada University Press. Ind. Yogyakarta Mubyarto and Daniel W. Sakerti 3 menemukan kenyataan ekonomi Indonesia. Perjuangan itu hanya dapat berhasil bila pelbagai unsur rakyat Indonesia bersatu. Memang teori ekonomi makro-ortodoks yang tidak mau mengakui atau tidak mengerti ekonomi rakyat. BPFE. 29 Oktober 2002. Inequality and Social Protection: Lessons From The Indonesian Crisis. Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia tahun 1925 di Negeri Belanda (dipimpin oleh Moh. Yogyakarta Mubyarto. Sartono Kartodirdjo. SMERU Final Report. 2001. Reformasi Sistem Ekonomi: Dari Kapitalisme menuju Ekonomi Kerakyatan . Pemerintah dipilih dari dan oleh rakyat Indonesia.Indonesia Satu. Multi-dimensi Pembangunan Bangsa. 1999. Shafiq and Inayatul Islam. 2002. 1999. Maka ekonomi Indonesia ―harus tumbuh‖ minimal 7% per tahun dan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi para ekonom tidak pernah merasa perlu mempermasalahkan keadilan dalam distribusi pendapatannya. 2. ―Indonesia: Constructing A New Strategy for Poverty Reduction‖.tergantung pada utang-utang baru dari IMF dan negara-negara ―donor‖ anggota CGI. 1999. Report No. Dr. July 1999 Mishra. A Development Alternative for Indonesia. kinilah saatnya kita memiliki rasa percaya diri di bidang ekonomi. yang telah tumbuh 3-4% per tahun sejak tahun 2000 sampai tahun 2002 ini. April 2000 Hardjono. lebih-lebih ekonomi rakyatnya. Joan. Kanisius. Mubyarto: Guru Besar FE . menganggap pertumbuhan ekonomi 4% ―terlalu rendah‖ yang tidak mampu menyerap tenaga kerja lama dan menganggur maupun tambahan tenaga kerja lebih dari 2 juta per tahun. Jakarta. sebenarnya akan lebih adil dan berkelanjutan ketimbang pertumbuhan 7% seperti sebelum krismon. pemerintah dan bangsa Indonesia dapat memusatkan perhatian pada usaha dan program-program pemberdayaan ekonomi rakyat. ―Sistemic Transition in Indonesia: The Crucial Next Steps‖. Buktibukti dari Sakerti 3 telah sangat memperkuat berbagai data penelitian lapangan optimistik sebelumnya. 23028. Surabaya. tetapi hanya dinikmati sekelompok kecil ekonomi kuat. tetapi lebih banyak disumbang dan dengan demikian juga dinikmati ekonomi rakyat. 18 1. Multi-dimensi Pembangunan Bangsa. Prof. sektor ekonomi rakyat banyak yang sejak krismon 5 tahun lalu tidak saja tidak hancur tetapi malah telah menunjukkan ciri khasnya yaitu tahan banting dan mampu menunjukkan keandalan dan kemandiriannya. Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis Ekonomi .UGM Makalah untuk Seminar "Indonesia Bersatu Menyongsong Era Global". tegar dan kuat. Tak pernah terpikir pada mereka seandainya perekonomian tumbuh hanya 3-4%. yang akhirnya menjadi ―bom waktu‖ yang meledak seperti yang terjadi 1997 tanpa dapat diperkirakan sebelumnya.

29. seperti terbaca pada Perubahan UUD 45 tahun 2002. Secara universal jaminan sosial dijamin oleh Pasal 22 dan 25 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia oleh PBB (1948). jaminan kecelakaan kerja. [1] Australia. Dalam kondisi seperti ini jaminan sosial dapat membantu menanggulangi gejolak sosial.6 juta jiwa memperoleh jaminan sosial. Utamanya karena jaminan melalui bantuan sosial membutuhkan dana yang besar dan tidak mendorong masyarakat merencanakan kesejahteraan bagi dirinya. Kelembagaan dan Mekanisme Sistem Jaminan Sosial yang berlaku secara nasional.‖. namun baru mencakup sebagian kecil pekerja di sektor formal. [1] Disamping itu. serta betapa pentingnya peran jaminan sosial dalam pemberian perlindungan utamanya di saat berkurangnya pendapatan maka dianggap perlu menyusun Sistem Jaminan Sosial Nasional melalui penerbitan Undang-undang yang akan mengatur Substansi. Sebenarnya. antara lain dengan menyusun suatu Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Menyadari masih terbatasnya jangkauan jaminan sosial yang ada dan beberapa kekurangan dalam pengaturan dan penyelenggaraannya. dimana Indonesia ikut menandatanganinya. Desember 2002 Fakta tersebut membuktikan bahwa amanat UUD pasal 27 ayat 2 sebagian besar belum dapat dilaksanakan sehingga langkah-langkah nyata untuk mewujudkannya diperlukan. Sistem Jaminan Sosial yang akan dibangun ini haruslah sifatnya adil dengan tingkat kepercayaan publikyang tinggi dan transparan dalam penyelenggaraannya. Putusan Sidang Tahunan MPR RI tahun 2001 menugaskan kepada Presiden untukmembentuk Sistem Jaminan . Perlindungan ini diperlukan utamanya bila terjadi hilangnya atau berkurangnya pendapatan. Sementara di Thailand dan Malaysia masing-masing mencapai 50% dan 40% dari total penduduk. selama dekade terakhir di Indonesia telah ada beberapa program jaminan sosial dalam bentuk asuransi sosial. jaminan hari tua. baru 24. Dari 95 juta angkatan kerja. Pendekatan kedua berupa bantuan sosial (social assistance) baik dalam bentuk pemberian bantuan uang tunai maupun pelayanan dengan sumber pembiayan dari negara danbantuan sosial dan masyarakat lainnya. atau baru 12% dari jumlah penduduk. dana yang terhimpun dalam asuransi sosial dapat merupakan tabungan nasional. [2] Kantor Menko EKUIN bekerjasama dengan LPUI Kajian Kebijakan Jaminan Sosial. pensiun. Kesadaran tentang pentingnya jaminan perlindungan sosial terus berkembang. Jaminan sosial merupakan hak asasi setiap warga negara sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat 2. Perlindungan jaminan sosial mengenal beberapa pendekatan yang saling melengkapi yang direncanakan dalam jangka panjang dapat mencakup seluruh rakyat secara bertahap sesuai dengan perkembangan kemampuan ekonomi masyarakat. Secara keseluruhan adanya jaminan sosial nasional dapat menunjang pembangunan nasional yang berkelanjutan. jaminan pemutusan hubungan kerja. yaitu ―Negara mengembangkan Sistem Jaminan Sosial bagi seluruh rakyat…. Beberapa negara yang menganut welfare state yang selama ini memberikan jaminan sosial dalam bentuk bantuan sosial mulai menerapkan asuransi sosial. yang dibiayai dari kontribusi/ premi yang dibayarkan oleh setiap tenaga kerja dan atau pemberi kerja. Agoes Achir JAMINAN SOSIAL NASIONAL INDONESIA Latar Belakang Jaminan Sosial Nasional adalah program Pemerintah dan Masyarakat yang bertujuan memberi kepastian jumlah perlindungan kesejahteraan sosial agar setiap penduduk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya menuju terwujudnya kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pengaturan dalam jaminan sosial ditinjau dari jenisnya terdiri dari jaminan kesehatan. Pendekatan pertama adalah pendekatan asuransi sosial atau compulsory social insurance. sejak tahun 1992. telah menerapkan asuransi sosial wajib. Yaumil Ch. Kontribusi/ premi dimaksud selalu harus dikaitkan dengan tingkat pendapatan/ upah yang dibayarkan oleh pemberi kerja. 2001. dan santunan kematian. [2] Krisis ekonomi yang menyebabkan angka pengangguran melonjak dengan tajam telah menimbulkan berbagai masalah sosial ekonomi. Pasal 34 ayat 2.

yang mewakili stakeholder dalam hal ini peserta/ pekerja. Program-Program SJSN Program-program pokok SJSN yang akan dikembangkan disesuaikan dengan konvensi ILO No. Perluasan cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi ekonomi negara dan masyarakat. Program Pensiun. Program Jaminan Pemutusan Hubungan Kerja (JPHK). Pengelolaan Jaminan Sosial Nasional menganut prinsip Wali Amanah. Pengertian non-for-profit bukanlah berarti tidak perlu mengembangkan atau menginvestasikan dalam rangka meningkatkan akumulasi dana yang ada. secara sukarela pekerja dapat mengikuti program lain dengan kontribusi yang lebih besar dan memperoleh manfaat yang lebih banyak pula (asuransi komersil). 102 tahun 1952 yang juga diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia. Sistem Jaminan Sosial Nasional yang akan dibangun bertumpu pada konsep asuransi sosial. 7 Tahun 2001. Iuran/ premi ditanggung bersama oleh pemberi kerja dan pekerjanya. Manfaat yang diberikan harus cukup berarti sehingga mendorong kepesertaan yang lebih besar dari waktu ke waktu. Besarnya iuran ditetapkan berdasarkan prosentase tertentu dari pendapatan. iura. Cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap dimulai dari kelompok masyarakat yang mampu mengiur dan secara bertahap diupayakan menjangkau sampai pada kelompok masyarakat yang rentan dan tidak mampu. Pelayanan santunan dan klaim disesuaikan dengan besarnya iuran dan jenis program yang diikuti. 20 tahun 2002 membentuk Tim SJSN. Karena ada unsur wajib bagi semua pekerja tersebut maka diperlukan adanya Undang-Undang untuk mengaturnya. dimama iuran sebagian atau sepenuhnya dibayarkan oleh pemerintah. mekanisme dan program-program jaminan sosial. baik yang berpendapatan besar maupun kecil sehinggan dapat terwujud asas kegotong-royongan dan redistribusi pendapatan dari yang kaya ke yang miskin. pembekerja.Sosial Nasional dalam rangka memberikan perlindungan sosial yang lebih menyeluruh dan terpadu. kelembagaan. dan pemerintah pengumpulan dan pengelola iuran perlu ditunjang oleh keterbukaan. serta kemudahan dalam rekruitmen dan pengumpulannya secara rutin. kehati-hatian. ditetapkan dalam prosentase tertentu terhadap upah dengan mempertimbangkan kemampuan/ pendapatan penduduk. dan investasi. Untuk itu Presiden mengambil inisiatif menyusun Rancangan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional. Karena Jaminan Sosial Nasional tersebut diwujudkan melalui mekanisme asuransi sosial maka manfaat yang akan diperoleh peserta tergantung pada besarnya iuran. Saat ini Tim SJSN telah melakukan pembahasan yang cukup mendalam tentang substansi. tetapi hasil yang diperoleh nantinya akan dikembalikan atau dimanfaatkan sebesarbesarnya untuk kepentingan peserta (merupakan going concern asuransi sosial). Jaminan Sosial Nasional tersebut perlu diatur agar bersifat wajib untuk seluruh tenaga kerja. yaitu Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK). semasa Ibu Presiden sebagai Wakil Presiden. akuntabilitas dan efisiensi. Pelaksanaannya diatur oleh suatu Undang-Undang dan diterapkan secara bertahap sesuai dengan perkembangan dan kemampuan ekonomi Nasional serta kemudahan rekruitmen dan pengumpulan iuran secara rutin. struktur dan trend demografi serta resiko yang dihadapi. Besarnya iuran/ premi dihitung berdasarkan analisis aktuaria yang disesuaikan dengan programmanfaat yang akan diberikan. Namun. dan Program Santunan Kematian. Presiden dengan Kepres No. baik di sektor formal maupun informal. . dimana iuran sebagian atau sepenuhnya dibayarkan oleh pemerintah. Manfaat yang diberikan harus cukup berarti sehingga mendorong kepesertaan yang kebih besar dari waktu ke waktu. Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Mekanisme SJSN Mekanisme penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional meliputi pengaturan kepesertaan. Penyelenggaraan dilakukan non-for-profit. Kepres ini didahului dengan Keputusan Sekretaris Wakil Presiden No. Program Jaminan Hari Tua (JHT). santunan/ manfaat. Cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap dimulai dari kelompok masyarakat yang mampu mengiur dan secara bertahap diupayakan menjangkau sampai pada kelompok masyarakat yang rentan dan tidak mampu. Substansi Sistem Jaminan Sosial Nasional yang akan disusun adalah suatu sistem yang berdasarkan pada asas gotong royong melalui pengumpulan iuran dan dikelola melalui mekanisme asuransi sosial..

Panitia Seri Seminar ini hanya memberi judul ―Krisis Moneter Indonesia‖. pengelola dana dan investasi serta pemasyarakatan program Jaminan Sosial Nasional sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Ketua Tim Sistem Jaminan Sosial SJSN Nasional. Selama Undang-undang SJSN disiapkan maka lembaga-lembaga yang ada dapat melanjutkan kegiatannya. Penutup Tim SJSN beranggotakan wakil dari berbagai instansi pemerintah. dan responsibility). Tidak tertutup kemungkinan munculnya lembaga penyelenggaraan lain. Padahal perdebatan mengenai definisi ekonomi rakyat sebenarnya tidak terlalu produktif. LSM dan Pakar. Konsep awal SJSN tersebut di atas juga telah menghimpun masukan dari beberapa serikat pekerja dan asosiasi pengusaha. Sayangnya. untuk kemudian setelah Undang-undang SJSN rampung dan dilaksanakan maka program-program yang sejalan dapat menyesuaikan dengan Undang-undang SJSN tersebut selama masa transisi yang akan ditetapkan. diperlukan adanya dukungan Sistem Informasi Manajemen serta kemampuan Sumber Daya Manusia yang handal. Prof. perlu menerapkan ―good corporate governance‖ (transparency. apakah sebagai sebab atau penerima akibat. karena pada dasarnya hampir semua pihak telah sepaham mengenai pengertian apa yang dimaksud dengan ―ekonomi rakyat‖ tanpa harus mendefinisikan (Krisnamurthi. Sebagian dana yang terkumpul perlu diinvestasikan dan dikembangkan seaman mungkin. Diharapkan masukan-masukan guna memperkaya konsep awal tersebut sebagai bahan penyusunan Naskah Akademik yang kemudian akan dituangkan dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Penulis . Deputi Sekretaris Wakil Presiden. Lembaga ini berada langsung di bawah Presiden dibantu Dewan Menteri yang terkait dan beranggotakan wakil pemerintah. Kelembagaan Dalam rangkan menjamin pelaksanaan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional diperlukan suatu lembaga yang mempunyai kewenangan untuk menjabarkan Undang-undang SJSN. Dalam pengelolaannya. mengkoordinir. wakil pekerja.Dana iuran/ premi/ kontribusi peserta yang terkumpul perlu dikelola dan diawasi oleh suatu Dewan Wali Amanah (Board of Trustee) dan hanya digunakan untuk kepentingan pesertanya sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasionan (BKKBN) Bayu Krisnamurthi KRISIS MONETER INDONESIA DAN EKONOMI RAKYAT PADA setiap diskusi mengenai ekonomi rakyat. Diharapkan RUU SJSN dapat dirampungkan sebelum bulan Desember 2002. memonitor. accountibility. wakil pemberi kerja dan pakar di bidangnya. dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah kesalahan serupa terulang dimasa depan. usaha pendefisnian tersebut banyak yang berakhir justru dengan perdebatan atas definisinya daripada esensi penguatan atau pemberdayaan ekonomi-rakyatnya sendiri. 2001). menambahkan merubah judul agar lebih terlihat konteksnya dikaitkan dengan ekonomi rakyat. Oleh sebab itu tetap perlu dilakukan terlebih dahulu. maka hasil investasi tersebut akan dikembalikan dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta. 1) Sebenarnya. objectivity. dan mengawasi pelaksanaan program-program. sangat sulit untuk tidak berusaha mendefinisikan yang dimaksud dengan ekonomi rakyat. penyampaian persepsi makalah ini atas ekonomi rakyat tanpa bermaksud untuk terlalu menekan pada usaha pendefinisian. Namun guna memperoleh perspektif yang sama mengenai diskusi yang akan dilakukan berkaitan dengan judul diatas 1) maka makalah ini bermaksud untuk mendiskusi krisis moneter dalam konteks ekonomi rakyat: bagaimana posisi ekonomi rakyat ketika krisis ekonomi terjadi. Karena prinsip ―non-for-profit‖. Dr. Untuk dapat menjamin efektifitas dan efisiensi penyelenggaraannya. Yaumil Chairiah Agoes Achir.

dan bukan kegiatan ekonomi yang dikuasasi oleh beberapa orang dengan perusahaan dan skala besar. dan bukan perkebunan atau peternak besar atau MNC pertanian. Jika dikaitkan dengan kegiatan perdagangan. Berdasarkan pemahaman diatas. permodalan. Hanya saja. 65 % berusaha dibidang pertanian dan kegiatan lain yang terkait. masyarakat) sumberdaya jaringan (‗network‘). tetapi beberapa diantaranya juga memiliki kemampuan dan daya saing internasional yang handal. pedagang kecil. Umumnya mereka berskala mikro dan kecil tetapi juga terdapat beberapa yang berskala menengah. Mereka bisa melekat pada badan usaha pemerintah atau swasta. modal. mekanisme transaksi. baik sumberdaya alam. dan sebagainya. bagaimana menjaga kelestarian bagi proses pemanfaatan berikutnya. pengetahuan. Rakyat menerima manfaat. Jika memang disepakati bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2000 sebesar 4. sektor informal kota. nelayan tanpa perahu. dari pada hanya sekedar angka-angka uang (modal) atau produk. lembaga keuangan mikro. berarti proses produksi dan konsumsi dilakukan dan diputusk an oleh rakyat. sumberdaya ekonomi yang dimaksud adalah segala sumberdaya yang dapat digunakan untuk menjalankan penghidupan. dan sejenisnya. ―Dari rakyat‖. dan menjadi basis dari 63 % konsumsi domestik.5 % terutama disebabkan oleh tarikan konsumsi. perbankan formal. Rakyat menguasai dan memiliki hak atas sumberdaya untuuk mendukung kegiatan produktif dan konsumtifnya. dan melakukan kegiatan produksi bagi sekitar 55 % produk dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. tenaga kerja (termasuk tenaga kerjanya sendiri). dan sebagainya. dan sejenisnya. Juga tidak ada pembatasan mengenai besaran. ketrampilan. Perspektif lain dari ekonomi rakyat dapat pula dili hat dengan menggunakan perspektif jargon: ―ekonomi dari rakyat. oleh rakyat. Walaupun demikian. ―Oleh rakyat‖. pelakunya melakukan kegiatan produksi dan konsumsi. Daya produktif . berarti kegiatan ekonomi itu berkaitan dengan penguasaan rakyat dan aksesibilitas rakyat terhadap sumberdaya ekonomi. sifat usaha. berarti rakyat banyak merupakan ‗beneficiaries utama dari setiap kegiatan produksi dan konsumsi. juga sumberdaya sosial (kelompok. seperti berapa banyak jumlah yang harus dimanfaatkan. dan jasa maka yang dimaksud adalah industri kecil. seperti koperasi atau CV atau bentuk badan hukum lain) dan juga sangat banyak yang informal atau nono-formal. dapat dinyatakan bahwa ekonomi Indonesia sebenarnya adalah berbasis ekonomi rakyat. Dengan pemahaman diatas pula. pemilik saham. 60 % diantaranya berada di daerah pedesaan. Ekonomi rakyat tidak eksklusif tetapi inklusif dan terbuka. atau entitas lain). baik konsumsi domestik maupun konsumsi asing (ekspor) – terutama karena kegiatan investasi dan pengeluaran pemerintah yang sangat terbatas – maka dapat diduga bahwa peran ekonomi rakyat sangat signifikan. Dan yang terpenting adalah mereka berbasis pada manusia. dan masyarakat. Jika dikaitkan dengan kegiatan pertanian. Peran ekonomi rakyat juga teraktualisasi pada masa krisis multidimensi saat ini. Mereka bisa berada dalam kegiatan ekonomi tradisional tetapi juga tidak sedikit yang bergerak dalam sistem ekonomi modern. Rakyat memiliki hak atas pengelolaan proses produktif dan konsumtif tersebut. Pendeknya. 2000). dan bukan industri besar. maka ekonomi rakyat memiliki dimensi yang luas. siapa yang memanfaatkan. serta tersebar merata diseluruh wilayah Indonesia. dan sebagainya. jenis produk. bagaimana proses pemanfaatannya. Ekonomi rakyat (banyak) mencakup 99 % dari total jumlah unit usaha (business entity). industri rumah tangga. industri. sifat fundamental diatas telah pula menciptakan suatu sistem ekonomi yang terdiri dari pelaku ekonomi. Mereka memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan dan tidak hanya tergantung pada pihak lain (apakah itu bank. melakukan lebih dari 65 % kegiatan distribusi.Ekonomi rakyat adalah ―kegiatan ekonomi rakyat banyak‖ (Krisnamurthi. eceran kecil. menyediakan sekitar 80 % kesempatan kerja. informasi. Dalam hal ini. walaupun yang disebut terakhir pada hakekatnya adalah juga ‗rakyat‘ Indonesia. dalam arti kegiatan transaksi dapat dilakukan juga dengan ―non-ekonomi-rakyat‖. bahkan bagi produk yang dihasilkan kegiatan ekonomi besar. yang umumnya telah memfasilitasi ekonomi rakyat untuk survive dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi masyarakatnya. Dalam ekonomi rakyat. ketimpangan distribusi aset produktif (formal) – yang sekitar 65 %-nya dikuasai oleh 1 % pelaku usaha terbesar – menyebabkan kontribusi nilai produksi (GDP) dan ekspor kegiatan ekonomi raktyat relatif lebih kecil. dan sejenisnya. Mereka adalah kegiatan usaha formal (berijin usaha. Mereka adalah orang-orang yang bekerja sendiri dan juga mereka yang bekerja menerima upah. ―Untuk rakyat‖. keluarga. petani tanpa tanah. dipahami bahwa yang dimaksud dengan ―ekonomi rakyat (banyak)‖ adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh orang banya k dengan skala kecil-kecil. Dalam hal ini perlu pula dikemukakan bahwa ekonomi rakyat dapat berkaitan ―dengan siapa saja‖. petani gurem. maka yang dimaksud dengan kegiatan ekonomi rakyat adalah kegiatan ekonomi petani atau peternak atau nelayan kecil. Mereka sebagian besar hanya beroperasi secara lokal. dan sebagainya. dan untuk rakyat‖ (Krisnamurthi. dan indikator kemantaatan paling utama adalah kepentingan rakyat. norma dan kesepakatan (―rule of the game‖) yang khas. rakyat memiliki alternatif untuk memilih dan menentukan sistem pemanfaatan. Berkaitan dengan sumberdaya (produktif dan konsumtif). konglomerat. Hal ini tersebut didasari oleh argumentasi bahwa rumah tangga yang menggantungkan kehidupannya dari kegiatan ekonomi rakyat adalah konsumen terbesar. 2001).

Kisah konversi lahan pertanian produktif milik rakyat menjadi lapangan golf. dan telpon yang tidak seimbang antara alokasi untuk bagi kegiatan ekonomi rakyat dan non-ekonomi rakyat. Kontribusi pertanian dalam bentuk pangan yang murah dan tenaga kerja yang lebih terdidik. Kemampuan sektor informal kota dalam menyediakan lapangan pekerjaan dan sistem distribusi kebutuhan pokok dengan murah dan efisien telah pula menjadi manfaat besar bagi ―non-ekonomi-rakyat‖ dalam mengembangkan sistem kerja yang tidak memihak pada buruhnya. hak atas tanah masih menjadi sesuatu yang sangat didambakan.5 kali lebih besar dari dana yang disalurkan kembali ke pedesaan. Kemudahan dan dukungan tersebut kemudian Kelompok ―non-ekonomi-rakyat‖ telah banyak mendapat dukungan dari elite pemerintah. selama 30 tahun dana yang disedot dari pedesaan 2. Indikasi lain dapat pula ditunjukkan oleh peningkatan kegiatan (tabungan dan penyaluran kredit) hampir diseluruh lembaga keuangan mikro. peningkatan jumlah berbagai produk pertanian. Infrastruktur fisik dan kelembagaan yang dibangun cenderung mengarah pada penyeragaman proses pengambilan keputusan yang dirancang tidak oleh rakyat sendiri. Hal inilah yang kemudian menjadi preposisi dasar dalam melihat posisi ekonomi rakyat dalam krisis moneter yang belum lama terjadi dan masih terasa hingga saat ini. . Keterkaitan dengan pasar dunia. tetap hidupnya pasar-pasar tradisional pada saat krisis. dengan mudah berpindah tangan. Bahkan sumberdaya yang tadinya dikuasai oleh rakyat. semua akibat introduksi teknologi dan kelembagaan serba seragam. Tidak ada infrastruktur irigasi yang dirancang untuk memfasilitasi petani mengembangkan hortikultura atau peternakan. dan kawasan industri bagi MNC merupakan bentuk ketidak-berdayaan penguasaan sumberdaya oleh rakyat. telah membatasi kemampuan petani mengembangka usahataninya. pasar uang. Melalui sistem perbankan yang terpusat. tetapi pengembangan kegiatan ekonomi berbasis buruh murah telah berjalan lama sejak penjajahan hingga kini. misalnya. Rakyat juga sering dibatasi kemampuannya untuk mengambil keputusan. yang pada gilirannya membuat kemampuan pengambilan keputusan menjadi jauh lebih terbatas. dan sebagainya. Kondisi yang ―terbatas‖ terhadap akses ke pasar global juga sekaligus memberi ‗kekebalan‘ kepada ekonomi rakyat untuk tidak mudah terpeng aruh atas kondisi yang terjadi didunia internasional. oleh. juga menggambarkan situasi suram aspek ―dari rakyat‖ tersebut. Dukungan yang relatif kecil dari pemerintah-penguasa telah menjadikan pelaku ekonomi rakyat tidak sangat tergantung pada kondisi elite. posisi rebut-tawar (bargaining position) dalam penguasaan sumberdaya hampir selalu berada pada titik yang terendah. Rakyat juga memiliki akses yang sangat terbatas terhadap informasi dan teknologi. Pada saat yang sama sistem pengembangan yang penuh dengan ―dukungan yang distortif‖ telah tersebut telah menjadikan ―non-ekonomirakyat‖ menjadi lebih terkait dengan ekonomi global. Infrastruktur irigasi yang hanya memfasilitasi teknologi lahan sawah. Penguasaan dan akses terhadap sumberdaya oleh rakyat (banyak) masih sangat banyak menghadapi masalah. dan untuk rakyat‖ tersebut diatas juga mengetengahkan gambaran suram dari ekonomi rakyat di Indonesia. Dalam hal ini kelompok ―non-ekonomi-rakyat‖ menjadi rentan terhadap perubahan yang terjadi pada elite penguasa tersebut. Mungkin tidak sekejam tanam paksa. ―non ekonomi-rakyat‖ meninggalkannya begitu saja sering kali justru dengan tinggalan masalah adanya konflik kepentingan diantara rakyat sendiri. Intinya. serta sistem keuangan yang ―memaksa‖ rakyat menerima sistem yang mensyaratkan berbagai hal tidak sesuai dengan kondisi naturalnya. memang mengalami sangat banyak kesulitan untuk berkembang dan memberi kesejahteraan bagi pelakunya.kegiatan ekonomi rakyatlah yang mampu mendorong peningkatan konsumsi. dan telah mengembangkan ketergantungannya pada kelompok tersebut sehingga menjadi kelompok ―elite penguasa-pengusaha‖. atau hilangnya kelembagaan lumbung desa. atau hilangnya kelembagaan panen tradisional. karena dipandang lebih sesuai dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Non-ekonomi-rakyat telah mendapat banyak kemudahan dan dukungan. Sebelum membahas krisis moneternya sendiri. ada baiknya disampaikan dahulu perspektif struktur kelembagaan ekonomi Indonesia pada saat krisis akan terjadi 2) seperti dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini. atau bahkan yang terjadi secara nasional. Perbandingan ketersediaan sumberdaya ‗publik‘ seperti listrik. termasuk terjaga maraknya berbagai kegiatan ‗masal‘ dari ekonomi riil – seperti mudik Lebaran dan naik haji. merupakan manfaat yang dirasakan oleh kegiatan-kegiatan ―non-ekonomi-rakyat‖ sebagia bagian dari strategi ―keunggulan komparatif‖ berbasis tenaga kerja murah. Sebaliknya. dan pasar modal. juga merupakan fakta-fakta lain yang menunjukkan kemampuan ―oleh-rakyat‖ menjadi sangat terbatas. Perlindungan hukum atas usaha masih lemah. Sebaliknya saat lahan HPH yang telah digunduli dan tidak lagi produktif. terdapat ketidak-adilan dalam pengembangan ekonomi. Aspek ―untuk rakyat‖ menghadapi situasi yang lebih jauh tertinggal. peningkatan penjualan kendaraan bermotor roda dua. Namun demikian perspektif ‗dari. Kelembagaan koperasi yang diseragamkan menjadi KUD. telah menyebabkan kegiatan ―non -ekonomi-pasar‖ menjadi kegiatan dengan ―banyak pengambil keputusan‖ dalam dunia yang tidak berbatas dan masih rentan. real estate mewah. air. ―ekonomi rakyat‖ yang tidak mendapat kesempatan untuk itu. baik pasar barang.

yaitu Asia. Dalam lingkup domestikpun hutang modal dan hutang konsumsi juga mengalir kesana kemari dengan sangat cepat dan dalam jumlah yang sangat besar. Krisis moneter yang diawali oleh krisis nilai tukar tersebut sebenarnya telah lama diperkirakan dan telah diduga meningkat peluangnya saat pergantian abad (lihat Soros. Hal ini terjadi melalui sistem perbankan. Namun ketika krisis moneter berlanjut menjadi krisis ekonomi (pertumbuhan ekonomi menurun. maupun aliran input produksi. Hal ini terutama karena kerangka kelembagaannya tidak berkesesuaian (not-compatible). Sebagai usaha mengantisipasi hal tersebut modal besar dari para kapitalis global tersebut dialirkan ke kegiatan ekonomi yang dianggap paling menjanjikan. 1994. barang konsumsi. penyedian pangan murah. Lemahnya keterkaitan ekonomi rakyat dengan kapitalisme global yang menjadi sumber dari krisis moneter tersebut. 1998). atau Ormerod. Bahkan banyak diantaranya yang mendapat ‗rejeki dolar‘ karena harga produk yang dihasilkannya melonjak tinggi sejalan dengan peningkatan nilai dolar. terutama karena infrastruktur dan institusi perdagangan modern memang dikuasai oleh para pelaku ―non-ekonomi-rakyat‖. dan kemampuan menguasai informasi sebagai sarana untuk promosi. . walaupun struktur yang demikian itulah krisis ekonomi Indonesia menjadi begitu parah dan sulit diselesaikan. Sampai pada tahap ini ekonomi rakyat masih belum merasakan dampak negatif yang terlalu besar dari krisis moneter. (2) (3) (4) Dalam format seperti diataslah situasi ekonomi saat krisis moneter melanda Indonesia. Perusahaan-perusahaan tidak dapat lagi menunjukkan kinerja keuangan yang sehat. Singkatnya. Aliran moneter dari kapitalme global ke ekonomi rakyat Indonesia relatif kecil. Kalaupun ada. Hubungan antara ―non-ekonomi rakyat‖ lokal dengan kapitalisme global juga merupakan hubungan yang timpang. penyediaan buruh murah. Ketika nilai tukar jatuh. 1995). tawaran saham dan investasi. Dan hal ini membuat mereka sedang berada pada situasi yang rentan. Hubungan Selatan-Selatan atau diantara negara-negara Non-Blok secara langsung hampir selalu lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan ‗jasa‘ negara ketiga yang mampu menyediakan layanan infrastruktur perdagangan secara lebih efisien (Isaak. mengalir ―door-to-door‖ dengan derasnya. seperti yang dirasakan para petani coklat dan para pengrajin yang memiliki konsumen di luar negeri. Akibatnya modal. bahkan tenaga kerja. hanya dalam bentuk dana-dana pinjaman lunak pemerintah yang banyak kembali ke ―negara donor‖ atau bocor ditengah jalan dari pada diterima oleh ekonomi rakyat. Kondisi tersebut berlangsung akibat dominasi paduan pengusaha-penguasa. dan pada gilirannya menghancurkan sistem perbankan. atau bahkan Marx (1849) dalam Magnis-Suseno. telah menjadi ‗blessing in disguised‘ bagi ekonomi rakyat. Gambar diatas secara skematik menunjukkan bahwa ekonomi rakyat dalam perspektif seperti Indonesia juga terdapat dinegara-negara lain. karena sebagian dari proses relokasi industri baru berjalan pada tahap awal. yaitu WTO dan mata uang Euro (Soros. De Soto (2000) menjelaskan bahwa dibanyak negara. maka ―non-ekonomi-rakyat‖ di Indonesia langsung terpukul telak oleh dua hal yang sangat ‗mematikan‘: membengkaknya nilai hutang dolar dalam rupiah dan mahalnya biaya produksi yang selama ini berbasis input impor.2) Struktur kelembagaan ekonomi tersebut sebenarnya hingga saat ini masih belum banyak berubah (diubah). Hubungan ekonomi rakyat Indonesia dengan ekonomi rakyat di negara lain juga berjalan lambat dan tersendat. Tanpa bermaksud membatasi aktivitas ekonomi dalam dimensi ruang yang kaku. baik dalam bentuk modal tunai. dalam bentuk hutang. 1998. dan posisi ekonomi rakyat yang menjadi pasar bagi produk dan jasa. Demikian pula dengan ―non-ekonomi-rakyat‖ yang dapat diidentifikasikan sebagai kelompok kapital global. teknologi. kapitalisme global tengah berbenah diri untuk menghadapi abad yang baru yang ditandai oleh dua fenomena besar. inflasi meninggi. sistem legal-formal yang ―bias-against‖ ekonomi rakyat. penggunaan (utilization) dari modal tersebut belum berjalan dengan baik. ekonomi rakyat telah mensubsidi ‗non-ekonomirakyat‘ dan terjadi fenomena ―double squeezed economy‖ melalui penyediaan sumberdaya oleh rakyat dan rakyat dijadikan pasar. ekonomi rakyat yang ‗berbeda‘ sistem dan mekanismenya dengan ekonomi berbasis kapital yang dikenal oleh ‗masyarakat barat‘ merupakan basis kegiatan ekonomi negara yang bersangkutan. Gambar 1 menunjukkan bahwa (1) Arus moneter (uang tunai dan modal) dari kegiatan ekonomi rakyat ke kegiatan ‗non -ekonomi-rakyat‘ memiliki volume yang jauh lebih besar dari pada arus sebaliknya. tidak dapat mengembalikan hutang. 1998. 1999). penyediaan lahan/property murah. Sebaliknya. Hal tersebut terutama juga karena struktur kelembagaan yang diuraikan diatas. Pada tahun 1990-an. Giddens.

atau penetapan kebijakan perbankan sendiri yang penuh persyarakatan yang tidak sesuai dengan kondisi objektif ekonomi rakyat. Tumpang tindih tidak dapat dihindari. 2001): a. b. Posisi lembaga keuangan mikro dalam sistem keuangan nasional merupakan salah satu contoh terdepan dalam permasalahan ini. padahal bank tidak (dapat) melayani kegiatan ekonomi rakyat. Dengan demikian. merasa lebih tahu. c. Pada tahap inipun sebenarnya daya ‗survival‘ ekonomi rakyat sangat tinggi. mengingat lamanya pengaruh lembaga internasional (WB. dan sebagainya) maka ekonomi rakyat mengalami tekanan yang semakin berat. saat elite politik berdebat saling mengkritik dan membangun perbedaan pendapat. d. Dalam hal ini. Oleh karenanya. sangat tinggi. Mencari hutang baru dan menerapkan sistem legal-formal-konvensional seperti menjadi hal yang dipaksakan harus ada. Mekanisme penghantaran kebijakan (delevery mechanism) yang tidak apresiatif juga merupakan faktor penentu keberhasilan kebijakan. . berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah dalam rangka otonomi daerah juga telah mengindikasikan pertimbangan yang tidak berorientasi ekonomi rakyat. atau dilihat dari pemanfaatan cadangan pemerintah yang sangat besar bagi rekapitalisasi bank. Pertimbangan dalam penetapan kebijakan tersebut seringkali memang tidak atas dasar kepentingan kegiatan ekonomi rakyat. dan kebijakan nilai tukar. Banyaknya kebijakan yang dilakukan oleh banyak pihak sering kali bersifat kontra produktif. Demikian pula sikap birokrasi yang ‗memerintah‘. IMF. Inovasi dan kreativitas ekonomi rakyat. serta serangkaian pilihan kebijakan dalam usaha untuk mengatasi krisis yang justru menempatkan ekonomi rakyat sebagai pihak yang dikorbankan. dapatlah dikatakan bahwa ekonomi rakyat merupakan korban dari krisis moneter yang terjadi belum lama ini. Dengan cepat terjadi perubahan-perubahan yang mendasar. disertai berbagai kebijakan pengaturan (regulative policy) tampaknya masih jauh dari harapan pemberdayaan ekonomi rakyat. dll) patut pula diduga bahwa perancangan pola kebijakan tersebut juga membawa kepentingan internasional tersebut. sebaliknya kegiatan ekonomi rakyat seolah ditinggalkan. Seorang Camat atau kepala desa atau kelompok masyarakat misalnya. pembentukan tingkat bunga melalui berbagai instrumen moneter lebih didasarkan pada kepentingan ‗balance of payment‘ dan penyehatan perbankan. Demikian juga. padahal mereka adalah pemilik-suara (voter) terbanyak yang memilih pada pembuat keputusan. Tekanan menjadi semakin berat lagi setelah krisis ekonomi juga memicu krisis sosial politik dan keamanan. sering kali harus menerima limpahan pelaksanaan ‗tugas‘ hingga 10 atau 15 program dalam waktu yang bersamaan. meningginya harga pangan impor. Beberapa koreksi yang perlu dilakukan. dari berbagai instansi yang berbeda dan dengan metode dan ketentuan yang berbeda. kegiatan ekonomi rakyat juga menjadi kegiatan yang paling rentan dan menderita. Otonomi seharusnya juga berarti perubahan Kebijakan pengembangan yang dilakukan lebih banyak bersifat regulatif dan merupakan bentuk intervensi terhadap kegiatan yang telah dilakukan oleh ekonomi rakyat. Misalnya. Atau setidaknya yang perlu dikembangkan kebijakan yang ‗not-against‘ atau netral terhadap ekonomi rakyat. terutama akibat timbulnya berbagai masalah setelah krisis terjadi (bukan oleh krisis moneter itu sendiri) dan akibat pilihan kebijakan yang diterapkan sebagai usaha mengatasi krisis. padahal yang lebih dibutuhkan oleh ekonomi rakyat adalah kebijakan makro yang kondusif. Dalam hal ini. e. yang harus dilakukan terutama adalah untuk merubah pendekatan kebijakan yang tidak memihak kepada ekonomi rakyat. Kemelut Kredit Usaha Tani (KUT) merupakan contoh kongkrit dari masalah mekanisme penghantaran tersebut. Sebaliknya sistem ekonomi rakyat yang nyata-nyata telah mampu bertahan bahkan telah lebih berkembang selama krisis justru tidak diabaikan. Sikap tersebut sering kali jauh lebih menentukan efektivitas kebijakan. Dalam kondisi rawan keamananpun. pengulangan sering terjadi tetapi pada saat yang bersamaan banyak aspek yang dibutuhkan justru tidak dilayani. terutama dalam mengatasi berbagai kelemahan dan keterbatasan yang dihadapi. pengurangan subsidi BBM. Perbankan dan ‗non-ekonomi-rakyat‘ yang notabene menjadi penyebab krisis berusaha ‗diselamatkan‘ dengan menggunakan dana trilyunan rupiah dari sumberdaya negara yang telah sangat terbatas. Produk yang diimpor diganti dengan produk lokal atau produk impor yanglebih murah (fenomena motor Cina atau maraknya produk elektronik lokal dan impor yang ―mereknya tidak dikenal sebelumnya‖). dan ‗minta dilayani‘ merupakan permasalahan lain dalam implementasi kebijakan. Kebijakan pengembangan yang dilakukan cenderung bersifat ‗ad -hoc‘ dan parsial. tingkat bunga yang kompetitif. alokasi kebijakan fiskal yang lebih seimbang sesuai dengan porsi pelaku ekonomi. Namun banyak kasus yang menunjukkan bahwa kebijakan yang dikembangkan lebih banyak membawa norma dan pemahaman dari ―luar‖ dari pada mengakomodasi apa yang sudah teruji berkembang dalam masyarakat. Banyak kebijakan yang bersifat ‗mikro‘. karena selama ini kebijakan ekonomi sering kali membawa ciriciri sebagai berikut (Krisnamurthi. padahal kedua hal itu justru telah menunjukkan kemampuan menghadapi tekanan eksternal yang berat.banyaknya pegawai di PHK.

2001. Why Capitalism Triumphs in the West and Fails Everywhere Else.6% dalam . 8. Blackwell Publisher. London. Ekonomi Rakyat dan Pengelolaan Sumberdaya Pantai dan Laut. Bayu Krisnamurthi: Direktur Pusat Studi Pembangunan. Jakarta 21 Februari 2001. ternyata Indonesia paling dalam dan paling lama mengalami depresi ekonomi. Selama itu mata uang Bath dan Dollar US dikaitkan satu sama lain dengan suatu kurs yang tetap. telah pula dipublikasikan dalam Jurnal Ekonomi Rakyat (online. yang mengikuti sistim mengambang terkendali. New York. Franz. minimal jangan buat kebijakan yang merugikan ekonomi rakyat. Dalam bulan September/Oktober 1997. The Missing Ingredient.7% dari pertumbuhan sebesar +4. (www. Mencari Format Kebijakan Optimal. 5. CSIS. Cambridge University Press. Pemikiran Karl Marx. Nopember 2000. Indonesia. Open Society Endangered. London. De Soto. Krisnamurthi. 3. Paul. namun di medio bulan Agustus 1997 itu terpaksa melepaskan pengendalian/intervensi melalui sistim ―band” tersebut. 1998. Basic Books. Jika memang belum dapat dilakukan kebijakan yang mendukung ekonomi rakyat. 6. Jakarta. atau jangan buat kebijakan apapun dan biarkan ekonomi rakyat berkembang dengan kemampuannya sendiri. Bayu. Di tahun 1998. Hernando. Frans Seda KRISIS MONETER INDONESIA KRISIS moneter Indonesia disebabkan oleh dan berawal dari kebijakan Pemerintah Thailand di bulan Juli 1997 untuk mengambangkan mata uang Thailand ―Bath‖ terhadap Dollar US.html) De Soto. Jakarta. Makalah pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat : Strategi Revitalisasi Perekonomian Indonesia. 2001. Anthony. The Third Way. 1994.- Dr. 2000. pada awalnya bertahan dengan memperluas ― band” pengendalian/intervensi. Little Brown Company. Rupiah sudah terdevaluasi dengan 90%.Perbaikan atas pola kebijakan tersebut diatas harus segera dilakukan. diikuti oleh kemerosotan IHSG di pasar modal Jakarta dengan besaran sekitar 90% pula dalam periode yang sama. rakyat Indonesia mampu melakukan hal itu. Makalah pada Lokakarya Pengelolaan Sumberdaya Pantai dan Laut. 7. 4. Atau jatuh dengan 18. Ormerod. The Mystery of Capital.9% di tahun sebelumnya (1997). PT Gramedia Pustaka Utama.ca/library/forum/desoto. Soros. The Renewal of Society Democracy. CIDA Forum on Knowledge and Information. Jika tidak. pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot menjadi –13.ekonomi-rakyat. peluang untuk keluar dari krisis akan semakin kecil. Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. bahkan akan terbuka kembali peluang terjadinya krisis berikutnya yang sangat mungkin akan lebih luas dampaknya bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Jakarta. Bayu. 9 April 2002 PUSTAKA 1. MA.Bina Swadaya. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Hernando. The Death of Economics.org) Krisnamurthi. 1999. The Crisis of Global Capitalism. George. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat.idrc. Yakinlah. Magis-Suseno. Dan di bulan Juli 1998 dalam setahun. Devaluasi mendadak dari ―Bath‖ ini menimbulkan tekanan terhadap mata-mata uang Negara ASEAN dan menjalarlah tekanan devaluasi di wilayah ini. www. Krisis Moneter Indonesia. 2000. Giddens. 2. Institut Pertanian Bogor (IPB) Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat. 1998. Dalam perkembangan selanjutnya dan selama ini. Ir. Rupiah langsung terdevaluasi. atau juga masih kesulitan untuk membuat kebijakan yang netral terhadap ekonomi rakyat. Rupiah telah terdevaluasi dengan 30% sejak bulan Juli 1997.

50 milyar di akhir tahun 1996. baik bagi modal yang masuk maupun yang keluar. kreativitas ekonomi rakyat. Jika di tahun 1996 Hutang Swasta masih berada pada tingkat USD. Maka para pakar/pengamat yang selama ini meragukan berfungsinya asas kekeluargaan seperti yang tercantum dalam Pasal 33 UUD-45. sepertinya lepas kendali. dengan tingkat perkembangan nilai tukar mata uang yang terkendali rendah. dan mental orang-orang/para pelakunya. malahan dianggap sebagai penghambat dari pertumbuhan Ekonomi. maka di akhir tahun 1996 sudah meningkat menjadi antara USD. sementara Hutang Swasta membumbung dengan cepatnya.setahun. 15 milyar. Namun akibat-akibat negatif ini dihadapi rakyat banyak dengan suatu Resistensi dan Kreativitas Ekonomi yang militan. sikonnya belum siap dan masih penuh kerapuhan-kerapuhan. dengan APBN yang Berimbang. Pembangunan Ekonomi yang selama ini adalah ―State” dan ―Government-led” beralih menjadi ―led by private initiatives and market”. Keteledoran ini juga terjadi dalam negeri. merupakan kekuatan ekonomi yang riil yang telah mampu menahan kemerosotan ekonomi yang disebabkan oleh krisis itu. Dimana kegiatan-kegiatan ekonomi dan para pelakunya berlangsung tanpa pengawasan dan tidak dilihat ― cost benefit” secara cermat. dan malahan telah mampu pula mengangkat pertumbuhan ekonomi kembali pada permukaan pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan +13. Dalam waktu sangat singkat bertebaran bankbank Swasta di seluruh tanah air dan bertaburan Korporasi-Korporasi Swasta yang memperoleh fasilitas-fasilitas tak terbatas. Perkembangan ini didukung oleh suatu kebijakan moneter yang stabil. dengan kebijakan Neraca Modal yang liberal. restrukturisasi Perbankan dan Korporasi-Korporasi sepertinya tidak mempan selama dan sesudah 5 tahun ini. Maka runtuhlah bangunan modern dalam tubuh Ekonomi Bangsa. produktivitas sektor tradisional dan berfungsinya asas kekeluargaan. Dan kerapuhan ini ternyata adalah sangat mendalam dan meluas. terlebih dunia Perbankan dan Korporasi. sehingga waktu datang tekanan-tekanan moneter. bukan saja menampung reruntuhan-reruntuhan dari ambruknya sektor modern. Rapuhnya sektor-sektor modern ini adalah dalam hal organisasi. dilanjutkan dengan pertumbuhan +4. 65 milyar – USD. kebijakan Ekspor yang terdiversifikasi (tidak saja tergantung pada Migas). sudah lima tahun. upaya-upaya rekapitalisasi. Maka ketika diserang krisis mata uang. Proses Swastanisasi/Privatisasi dari pelaku utama Pembangunan berlangsung melalui proses liberalisasi dengan mekanisme Deregulasi diliputi visi dan semangat liberal. Dan hal-hal ini langsung mengena pada nasib ekonomi Rakyat kita. manajemen. Sampai sekarang. Ekonomi Indonesia bertumbuh sangat pesat. Dan yang mengesankan adalah peran dari asas kekeluargaan. Sektor tradisional yang selama ini dianggap sebagai sektor yang tidak penting/prioritas. Hutang Pemerintah/Resmi/Negara turun dari USD. Mengapa? Selama dekade sebelum krisis. Pertumbuhan itu ambruk! Sementara itu terjadi pula suatu perombakan yang drastis dalam strategi Pembangunan Ekonomi.7% dengan tercapainya tingkat +0% di tahun 1999. dengan tingkat inflasi dan bunga yang rendah. Proses Swastanisasi ini berlangsung tanpa kendali dan penuh KKN. Suatu optimisme yang mendorong kebijakan-kebijakan ekonomi dan tingkat laku para pelaku ekonomi dalam dan luar negeri. Kredit jangka pendek diinvestasikan ke dalam proyek-proyek jangka panjang. namun juga memainkan peran sebagai pengganti dari peranan sektor modern yang ambruk itu. Suatu kerapuhan total dan secara institusional pula! Apa implikasi dari runtuhnya sektor modern dari bangunan ekonomi kita ini? Peningkatan Pengangguran. Peningkatan Kemiskinan dan Hutang Nasional. 75 milyar. Mereka yang di-PHK-kan ditampung dalam sektor tradisional dan sektor informal dan merupakan bagian dari Resistensi Ekonomi Rakyat dalam krisis ini. Resistensi.8% di tahun 2000. Pendapatan per kapita meningkat menjadi 2x lipat antara 1990 dan 1997. 80 milyar menjadi USD. yang hampir sama dengan pertumbuhan ekonomi pra krisis (1997. Kesuksesan ini menimbulkan di satu pihak suatu optimisme yang luar biasa dan di lain pihak keteledoran yang tidak tanggung-tanggung. itu perlu ―pulang kampung‖ untuk melihat dan mengalami bahwa asas kekeluargaan itu betul-betul hidup di kalangan masyarakat dan sungguh-sungguh merupakan asas solidaritas yang berfungsi dalam kehidupan ekonomi rakyat. Sektor Finansial dan Korporasi masih tetap terpuruk. dalam hal bisnis serta akhlak dan moral. pemulihan pertumbuhan ekonomi belum mencapai tingkat pra-krisis (tahun 1996/97). sehingga tindakan-tindakan penyehatan-penyehatan seperti injeksi modal oleh Pemerintah. Didorong oleh optimisme dan keteledoran ini ekonomi didorong bertumbuh diatas kemampuannya sendiri (― bubble economics”). Kesuksesan Pembangunan Ekonomi Indonesia demikian memukau para kreditor luar negeri yang menyediakan kredit tanpa batas dan juga tanpa meneliti proyek-proyek yang diberi kredit itu. .

Jatuhnya demikian dalam di tahun 1998. Proses tersebut ditandai oleh suatu proses Liberalisasi dan mekanismenya adalah Deregulasi/Ekonomi. apakah dalam kondisi krisis dewasa ini. Ada keraguan di kalangan Pemerintah pada waktu itu terhadap kemampuan Ekonomi Rakyat sebagai penggerak utama dari roda Pembangunan. Tentu tidak semuanya oleh Ekonomi Rakyat. Pemerintah/Negara mengambil peran untuk keluar dari krisis tersebut. Krisis Ekonomi yang kita alami dewasa ini menunjukkan bahwa keserakahan sektor modern akan kredit. dan pemberdayaan itu dilakukan melalui ― link and match” dengan sektor Swasta. ―Up” dan ―down” diperdayakan oleh si ―middle”. Melalui pemberdayaan sektor Swasta maka diharapkan/dianggap Ekonomi Rakyat akan pula dapat diberdayakan. Hal ini terjadi bukan karena ideology (Sosialisme) melainkan karena kondisi pragmatis. Namun sesuatu yang ideal. Di tahun 1980-an. yang telah menumbangkan ORDE LAMA (Demokrasi Terpimpin) dan dibentuknya ORDE BARU. begitu rapuhnya sehingga dengan segala ― inset” dari modal. dihabiskan! Tidak ada kelebihan untuk melanjutkan dan mendinamisasikan kegiatan. dimana pada waktu itu tidak ada perusahaan Swasta. Ekonomi Rakyat masih perlu diberdayakan. tetapi juga dapat cepat pulih dalam 2 tahun berikutnya. juga oleh produksi dalam negeri. menunjukkan betapa rapuhnya dan paniknya sektor Finansial dan Korporasi. Faktor kepercayaan pada programa ekonomi Pemerintah dalam kerjasama dengan IMF dan hilangnya panik ekonomi turut bermain peran. Kita tahu apa yang telah terjadi. tidak lalu harus diidealisasikan. Jika Pembangunan selama ini adalah ― top down” maka proses ini tidak langsung beralih ke sistim ―bottom up”. Memang ideal. di Jakarta resesi. peran ekonomi Rakyat seperti yang telah digambarkan itu memang besar! Tetapi antara ekonomi Rakyat/Ekonomi Tradisional dan Ekonomi Modern tidak perlu diadakan dikhotomi. Sehingga Pembangunan selama itu disebut ― Government/State led development”. Dan cepat kembalinya pemulihan ekonomi selama dua tahun berikutnya dikatakan adalah berkat ekonomi Rakyat. maka terjadi proses Swastanisasi dari Pembangunan. jika bisa begitu. ―Dual economy” nya Prof. namun pada kemampuan untuk merealisasikan apa yang dianggap ideal itu. Dibawah Pimpinan Negara/Pemerintah. melainkan proses ―mem perdayakan‖. Apakah hanya karena itu saja? Tentu tidak hanya itu saja. Masalahnya adalah mengapa pada waktu itu proses Deregulasi tidak diarahkan langsung kepada Ekonomi Rakyat. Dalam bahasa resmi Ekonomi. melihat peran ekonomi rakyat selama krisis ini seperti yang telah diuraikan itu. sehingga di Manado yang unggul dalam hal cengkeh itu – ―dia orang bilang. Apa yang dihasilkan. Boeke. cukup berperan ekspor hasil Perkebunan rakyat. Telah dikemukakan bahwa kemampuan Resistensi Ekonomi Rakyat adalah pada tingkat ― subsistence economy”. oleh investasi dan konsumsi. Masalahnya adalah mengapa ekonomi Nasional jatuhnya begitu dalam. Masalahnya sekarang adalah. energi dan konsentrasi sampai sekarang sektor ini belum dapat berfungsi kembali normal. fasilitas dan perluasan kegiatan. malahan melanjutkan perannya sebagai Pelaku Utama Pembangunan sesudah krisis itu. alias sektor modern dari bangunan ekonomi kita. namun melalui sistim (peng)antara ―middle down” dan ―middle up”. di Manado resepsi. adalah suatu kenyataan dan merupakan dua kekuatan ekonomi yang perlu diintegrasikan menjadi sokoguru dari bangunan ekonomi Nasional yang modern. peranan ekonomi Rakyat adalah menonjol. itulah yang telah menjerumuskan Ekonomi bangsa ke dalam keterpurukan yang berkelanjutan ini. Juga dalam hal konsumsi yang kecuali dipenuhi oleh import. Bukan proses ―memberdayakan‖. dan kalau ada berada dalam kondisi sangat lemah. Makna dari suatu ideal adalah bukan sekedar pada idealismenya. efisiensi. maka di tahun 1965-66 terjadi suatu krisis ekonomi Nasional yang merisaukan. Dalam hal ekspor. pemulihan ekonomi selama 2 tahun itu disebabkan oleh peningkatan ekspor (non Migas). hasil kegiatan rakyat. Jika hal itu diperlukan maka dilaksanakan . Ekonomi Rakyat adalah pula ekonomi ―from hand to mouth”.+4. Dan seperti telah dikatakan. didesak oleh kebutuhan akan modal. Disebabkan oleh Politik Isolasi Nasional dan menumpuknya Defisit APBN dari tahun ke tahun sedari tahun 50an dan selama penggalan pertama tahun 1960-an. Namun secara riil. dan teknologi yang lebih meningkat untuk menjaga agar Pembangunan Ekonomi berkelanjutan mantap meningkat. dan kurang adanya Pengawasan. dalam setahun. Dalam hal ekspor dan konsumsi. no!”. maka Pembangunan dan peningkatan pendapatan Nasional dan per kapita maju pesat. Jika era Demokrasi Terpimpin sebelumnya adalah era dimana Politik menjadi Panglima (upaya pembentukan dari suatu Sistim Politik Nasional) maka era ORBA dapat dinamakan sebagai era dimana Ekonomi menjadi Panglima (dan upaya-upaya untuk membentuk suatu Sistim Ekonomi Nasional).9%). dan di bawah pengaruh globalisasi. Maka terjadilah krisis ekonomi yang berkelanjutan ini. sudah tiba waktunya kita beralih ke Ekonomi Rakyat. adanya KKN.

(Hukum dan keamanan ini juga dituntut oleh para investor asing!). Penciptaan dari ―domestic demand” ini mungkin. Sebab kesejahteraan Nasional bukanlah somasi/jumlah dari kepentingan masing-masing rakyat. namun untuk mengungkapkan kenyataan yang dihadapi yang perlu diperbaiki agar tugas Nasional yang diserahkan kepada Ekonomi Rakyat dapat terlaksana dengan baik dan penuh prospek dan perspektif. Jangan disangka jika setiap anggota masyarakat itu bermoral tinggi dan sungguh-sungguh menghayati agamanya. proteksi dan fasilitas. Selama ini kita telah bicara banyak mengenai Ekonomi Rakyat dan Ekonomi Kerakyatan. mengatasi Kemiskinan. mereka tidak boleh mengganggu ketertiban umum dan harus tunduk pada peraturan (hukum) umum! Pengertian yang diperlukan. 20. Potensi untuk itu ada di dalam Negeri karena masih cukup pendapatan dalam negeri dan simpanan dalam negeri yang tersembunyi dan terpendam. sebagai usaha yang ―inferior”. pengganggu ketertiban umum. Hanya jangan dikira jika semua rakyat sudah menjadi Subyek Ekonomi. Kondisi ini perlu diimbangi dengan menciptakan/mengaktifkan ― domestic demand” yakni ―demand” akan investasi dan konsumsi. Mereka tidak menjadi efektif (―effective demand”) antara lain karena ketidakpastian hukum dan keamanan. perlu diingat. Hanya seperti telah diuraikan itu. tangguh mental dan professional dalam berusaha. Ini berarti pula perlu dikembangkan suatu sistim mobilitas vertikal secara sehat dan mandiri dalam masyarakat dunia usaha! Dewasa ini hal ini diblokir oleh tidak selesai-selesainya proses penyehatan Perbankan dan Korporasi. teknologi dan Pasar. Mereka perlu diberi pengertian bahwa untuk berusaha secara berkelanjutan diperlukan tertib usaha. di‖ upgrade” dan ditingkatkan. Seperti halnya dalam bidang moral dan agama. maka masyarakat dengan sendirinya bermoral dan beragama. maka dengan sendirinya Kesejahteraan Rakyat tercapai. Nah.000. Maka dari itu programa hukum dan kesesuaian harus menunjukkan prioritas bagi Pemerintah. Untuk menjamin tertib usaha. Memang ada pendapatan dan simpanan dalam negeri yang lari keluar. tidak dimanjakan dengan subsidi. (Sementara menurut suatu penelitian. Sebab itu peran ―lintah darat‖ besar dalam ekonomi Rakyat.melalui hutang. Mereka perlu dibimbing. Ketiga target ini memang mengena pada kepentingan ekonomi Rakyat! Suatu tantangan bagi ekonomi Rakyat! Menghadapi tugas besar/tugas nasional ini. Diperlukan suatu Institusi yang mengarahkan kepada kepentingan rakyat dan kesejahteraan Nasional.000 . Aspek orientasi kepada kepentingan rakyat banyak dan aspek rakyat sebagai Subyek dalam Ekonomi Negara. Hal-hal ini perlu diciptakan oleh Institusi itu. maupun Subyek dalam ekonomi adalah rakyat. 10. para pelaku ekonomi Rakyat perlu di‖upgrade”. penjelasan-penjelasan dan insentip-insentip. Disitulah letak fungsi ekonomi mereka. Disamping tugas besar Nasional yang berjangka itu. Dalam hal Ekonomi Rakyat. Apa itu? Ekonomi Rakyat mempunyai dua aspek integral. diberi pendidikan. Masalah ini perlu ditekankan melihat pengalaman-pengalaman dari usaha-usaha rakyat kecil di kota-kota yang lazim dinamakan Kaki Lima yang dikejar-kejar itu. Namun suatu Generasi Pelaku Ekonomi Nasional yang bersih. Apa tugas Nasional itu? Mengatasi Pengangguran. Rakyat sebagai Subyek Ekonomi seperti halnya dengan Korporasi-Korporasi besar/maju. memerlukan perlindungan/kepastian Hukum dan iklim usaha. maka baik orientasi pada kepentingan dalam ekonomi. mengatasi Hutang. bahwa kalaupun Rakyat sudah menjadi Subyek Ekonomi. Diperlukan suatu Institusi dan pendekatan secara Institusional. tetapi sebagian besar masih ―berkeliaran‖ di dalam negeri. Dalam bahasa ekonominya adalah bahwa kita mengalami kemerosotan dari ―external demand”. Telah dikemukakan betapa . maka tidak dengan sendirinya kesejahteraan Nasional tercapai. melebihi pendapatan orang yang sama di sektor formal). usaha/pedagang kecil dan menengah. Mereka sendiri tadinya juga berasal dari usaha ekonomi rakyat. kita mengalami kemerosotan investasi dan eksport termasuk Pariwisata. ada pula tugas Nasional yang mendesak! Dewasa ini. Mereka dianggap sebagai ―underground economics”. bukan penggusuran! Pemberdayaan ekonomi Rakyat dewasa ini diperlukan pula untuk membina kader-kader Pelaku Ekonomi Generasi baru menggantikan Generasi Pelaku Ekonomi yang sudah tumbang ini. karena pasar dalam negeri yang besar dan luas. Ini semua dikemukakan tidak dengan maksud untuk memojokkan ekonomi Rakyat. Diharapkan bahwa Institusi yang demikian itu adalah antara lain Pemerintah dan Parlemen. apalagi dengan KKN. mereka sehari dapat memperoleh antara Rp. Dalam hal Ekonomi Kerakyatan maka jelas orientasinya pada kepentingan ekonomi Rakyat banyak. Dilupakan bahwa mereka memenuhi kebutuhan masyarakat. Kembali kepada masalah Krisis Moneter dan Pemulihan kembali Ekonomi Nasional. namun tidak selamanya rakyat harus menjadi Subyek Ekonomi.Rp. memerlukan akses ke modal. dalam kontekst ini peran ekonomi Rakyat dapat difokuskan. terlebih sesudah kejadian 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Negara dan Masyarakat kita kepada kehancuran total.4 persen dibandingkan dengan 4 persen pada dekade 1960an dan 3. Rata-rata tingkat pertumbuhan per tahun hanya 2. makin tak terkendali. barulah kita dapat menyusun suatu Programa Nasional untuk cepat keluar dari krisis dan mulai memulihkan kembali Pertumbuhan Ekonomi Nasional yang mampu memberantas Pengangguran. Krisis Moneter Indonesia Krisis Permanen dan Tantangan Dari Bawah* DUNIA sedang diterpa badai krisis: ekonomi. Dengan segala upaya dan energi serta bantuan luar negeri. Krisis Permanen Krisis ekonomi AS. Akibatnya. yang dipicu oleh krisis di sektor properti. Untuk mengatasi Dilema Fundamental ini diperlukan suatu Konsensus Politik secara Nasional. tetap saja berujung pada ketidakmungkinan krisis ini pulih dalam waktu yang singkat. Kemiskinan. Frans Seda : Penasehat Ekonomi Pemerintah. Dengan dunia yang kian terintegrasi satu sama lain. baru melangkah maju. yang berfokus pada pilihan politik untuk me-Rekonsiliasikan keperluan penyelesaian secara tuntas masalah-masalah dari masa lalu dengan kepentingan bangsa dan Negara untuk maju ke depan dan yang didukung oleh semua pihak. Bahkan. bahwa krisis ini bisa diatasi dengan campur tangan bank Sentral. Jika hal ini dikaitkan dengan bahaya-bahaya proses desintegrasi sosial. hendak memotret dampak dari krisis ekonomi Amerika Serikat (AS). Krisis ini datang silih berganti secara bergelombang. upah buruh riil dan .3 persen pada dekade 1980an. tetap saja krisis ekonomi AS tak bisa ditangani. Sebab disitulah letak kepentingan mendesak dari ekonomi rakyat kita. krisis di satu tempat dengan cepat menyebar dan memberi efek tular ke tempat lain. Dilemanya adalah di satu pihak ada tuntutan untuk penyelesaian dulu semua kebobrokan-kebobrokan dari masa lalu. seperti dikatakan Alan Grenspan. untuk menginjeksi sektor perbankan. bagaimana dampak krisis ini terhadap Indonesia.‖ Ketakutan bahwa krisis ini menjadi krisis permanen. pangan. hendak dilihat. Tulisan kali ini. bernegara dan bermasyarakat. energi. mantan gubernur Bank Sentral AS. ekonom Minqi Li menggambarkan beragam skenario yang tidak menggembirakan. Dengan bersandar pada data Biro Analisa Ekonomi AS (lihat tabel). di lain pihak ada urgensi. kini menyebar luas. belum selesai yang satu telah datang yang lain. ketika Bank Sentral menggelontorkan dana segar sebesar S75B pada Januari 2008. dan bencana alam. dan Hutang Nasional. Kebodohan. Lima (5) tahun krisis ekonomi adalah sudah terlalu panjang dan karena sifatnya multidimensional maka ia dapat menggerogoti secara meluas dan mendalam sendi-sendi kita hidup berbangsa. Hic et nunc! Drs. kita maju ke depan (termasuk upaya penyelesaian krisis). terlebih sektor Finansial dan Korporasi. Dari sini. Sementara itu. Resep lama. terbukti tidak mencukupi. dan sambil berjalan ke depan kita secara selektif menyelesaikan kebobrokan-kebobrokan dari masa lalu. yang hingga kini tak kunjung menemukan jalan keluar pemecahannya. lingkungan. Dengan adanya Konsensus Politik secara Nasional itu. Maka dari itu krisis ini perlu segera diatasi! Dalam hal ini kita berhadapan dengan suatu Dilema Fundamental yang ―persistent” sekali. Setelah diterpa resesi pada 2001. kita belum saja melihat titik terang. dan alternatif apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi krisis dan dampaknya tersebut. Berbagai skenario pemulihan yang ada. mantan Menteri Keuangan Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat. ―pertumbuhan ekonomi AS saat ini adalah nol. regional dan nasional maka krisis ekonomi yang berkepanjangan ini dapat membawa Bangsa. pemulihan ekonomi AS berjalan lambat.terpuruknya Ekonomi kita dan betapa rapuhnya sektor modern kita. politik.

karena level utang rumah tangga telah begitu tinggi dan tingkat tabungan rumah tangga juga rendah. Selain itu. Jika tingkat tabungan rumah tangga meningkat menuju rata-rata selama ini. Pertama. maka ekonomi AS akan menuju resesi yang lebih dalam yang diikuti dengan apa yang disebut stagnasi berkelanjutan. dengan sendirinya menghela ekonomi negara lain ke jalur krisis. pertumbuhan . maka rata-rata upah buruh sektor swasta pada tahun 2006. Tujuan dari penetrasi ini. negara-negara berkembang yang mengikuti resep globalisasi-neoliberal. pemerintah AS melakukan jalan pintas dengan cara melakukan belanja publik dan meningkatkan defisit fiskal. yang kini mencapai lebih dari 70 persen GDP. Jatuhnya tingkat konsumsi di AS. sebagaimana dikemukakan John Bellamy Foster. hingga mencapai 6 persen atau lebih GDP. jika krisis ekonomi yang melanda AS ini berlangsung dalam waktu yang lama. menurut William I. pilihan yang bisa diambil oleh Bank Sentral adalah melakukan pemotongan secara drastis tingkat suku bunga.jumlah angkatan kerja stagnan. Ini bisa dilihat dari peningkatan sebesar 14 persen layanan utang rumah tangga (interest and principal payment on debt) pada 2007. pendapatan riil keluarga menengah terus jatuh. maka suku bunga rendah hanya akan kecil sumbangannya dalam merangsang konsumsi rumah tangga. AS mengekspor krisis internalnya ke seluruh dunia. maka secara teoritik utang luar negeri bersih AS akan menembus angka 120 persen GDP. pembagian keuntungan korporasi terhadap GDP meningkat dari 5. dengan defisit saat ini yang mencapai 6 persen GDP. sangat jelas membuat pertumbuhan ekonomi dunia melambat yang itu berarti.2. Krisis ekonomi yang dipicu oleh krisis di sektor finansial.8 persen pada tahun 2006. Dengan gambaran seperti ini. sejak tahun 2001. maka Washington bisa terus melakukan defisit fiskal lebih besar. sektor keuangan saat ini merupakan sektor yang paling tersebar dan paling terkait secara global. pertumbuhan ekonomi AS dihela oleh ekspansi konsumsi rumah tangga. konsumsi AS adalah yang terbesar di dunia dan menjadi sumber utama permintaan ekonomi dunia. Di samping itu. Di lain pihak. Dihadapkan pada kondisi guncangan besar pasar saham dunia. Yang paling realistis. Soalnya. suatu jumlah yang tertinggi. Jelas ini sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya. Dan jika ini terjadi. menyebabkan negaranegara yang sebelumnya telah tergantung pada investasi asing kian tergantung padanya (khususnya investasi portofolio) dan keharusan untuk membayar utang kepada kapital internasional. bersamaan dengannya tingkat suku bunga meningkat. dengan cara menciptakan gelembung aset lain secara besar-besaran. jelas mustahil untuk melihat bahwa konsumsi akan bertumbuh cepat di tahun-tahun mendatang. seiring meningkatnya finansialisasi ekonomi dunia adalah kian mendalamnya penetrasi kekuasaan imperial terhadap negara-negara dengan kondisi ekonomi sedang berkembang (underdeveloped). Keadaan ini sebenarnya bisa ditangani oleh Bank Sentral. Masalahnya. sejak medium 2000. Tetapi. sebesar $8. karena baik pasar saham maupun pasar properti telah overvalued. ketika mayoritas pendapatan rumah tangga mengalami stagnasi atau bahkan jatuh. Yang menarik.8 persen pada tahun 2001 menjadi 9. atau delapan sen lebih rendah dari upah pada 1972. tingkat tabungan rumah tangga jatuh dari rata-rata 10 persen menjadi mendekat nol persen saat ini. pengaruhnya sungguh akan sangat besar bagi stabilitas ekonomi-politik dunia. terjadi penghancuran industri (deindustrialization). Hasilnya adalah sebuah lingkaran setan. Jika diukur dalam dollar pada 1982. dan ketiga. ―fundamental ekonominya‖ membaik menurut kriteria sektor finansial tapi. Itu sebabnya. maka yang terjadi ekspansi konsumsi rumah tangga itu dibiayai oleh utang rumah tangga. sangat sulit untuk mengidentifikasi gelembung besar aset lain yang bisa diciptakan. kedua. Penetrasi yang digerakkan melalui kebijakan globalisasi-neoliberal tersebut. Robinson adalah untuk menghancurkan otonomi para aktor nasional dan selanjutnya menstrukturkan serta mengintegrasikan mereka ke dalam jaringan transnasional yang lebih luas.

Sebab ekonomi kapitalis ini sangat tergantung pada bahan-bahan material (minyak. Minyak sendiri. Tinggal sembilan negara atau wilayah yang memiliki potensi untuk bertumbuh. mencapai titik jenuhnya pada 2010. Kita lihat. pembangunan yang dijalankannya tidaklah membuahkan kemajuan dan kebebasan tapi. saat ini Pertamina mengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak sebanyak 700 ribu per barel. harga minyak dunia telah menembus angka $120 per barel. Setelah dihajar oleh krisis ekonomi pada 1997.236. dan mencapai 2/3 pada 2050. diperkirakan produksi batubara dunia akan mencapai puncaknya pada 2025. yang hingga kini tak kunjung keluar dari krisis. Di luar OPEC. aspal hitam. produksi minyak di 25 negara-negara atau wilayah-wilayah penghasil minyak utama. produksi minyak akan menurun sebanyak 25 persen pada 2020. dengan menggilanya harga minyak dunia di pasaran.000 per hari atau sebesar Rp. plastik. Colin Campbel. gambaran-gambaran ini sungguh suram. Tingginya harga minyak ini tentu saja memberikan daya pukul luar biasa pada perekonomian di seluruh dunia. Bahkan. maka dana yang mesti dikeluarkan Pertamina adalah sebesar $84. bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. sedang berjuang untuk mempertahankan produksinya agar tidak jatuh. diperparah dengan dampak menular dari krisis keuangan di AS. Orientasi Ke dalam? Krisis ekonomi saat ini. produksi gas alam dunia akan mencapai puncaknya pada 2045. dari the Association for the Study of Peak Oil and Gas. Melambungnya Harga Minyak Dunia Sialnya. Setelah itu. dan batubara).000 dengan kurs $1 sama dengan Rp. coal-to-liquids. ditambah dengan dampak kenaikan harga minyak dunia yang gila-gilaan. Minyak juga. produksi dunia untuk seluruh bahan-bahan cairan (termasuk minyak mentah. 9. karena minyak merupakan energi yang tak terbarui. Lebih-lebih dalam konteks seperti Indonesia. minyak hasil distilasi.ekonomi rendah. menjadi penanda penting bagi kita bahwa orientasi pembangunan kapitalisneoliberal yang berlangsung secara global saat ini. tentu saja kesuraman itu kian menjadi-jadi. Seluruh perusahaan-perusahaan minyak besar dunia kini. dan benda-benda kimiawi lainnya. pembangunan yang menghasilkan keterbelakangan dan ketertindasan. Campbel juga meramalkan. Dalam studi awal dari German Energy Watch Group. gas-to-liquids. Laporan terakhir (30/4) menyebutkan. Berdasarkan harga saat ini sebesar $120 per barel. Dalam konteks Indonesia. tentu saja tidak masuk akal bagi pemerintah untuk membiayai belanja-belanja sosial yang bermanfaat bagi kepentingan rakyat. Dengan pola seperti ini. Resep-resep yang digunakan . dimana salah satu cara paling gampang adalah kembali menaikkan harga minyak dan mencabut subsidi. Mari kita ambil contoh berikut. Berdasarkan data Januari 2008. merupakan bahan masukan penting dalam produksi pupuk. bisa dipastikan yang akan terjadi adalah penyesuaian-penyesuaian rencana anggaran. Selain itu.5. yang menyumbang 80 persen suplai energi dunia. meramalkan. gas alam. kini bayang-bayang resesi bahkan depresi ekonomi ada di depan mata. Dengan pengeluaran sebesar itu. ancaman lain telah menghadang yakni. 775.866. telah mencapai titik jenuh. dan biofuel). Studi terbaru dari German Energy Watch Group menyebutkan. maka skenario yang tampak begitu buruk. gas alam cair. eksplorasi minyak telah mencapai puncaknya pada dekade 1960an dan produksi minyak mentah mungkin telah di batas maksimum dan mulai memperlihatkan trend menurun dalam beberapa waktu mendatang. tidak bisa lagi dipertahankan. obat-obatan modern. belum lagi krisis ekonomi tertangani. diperkirakan menyumbang sepertiga dari total suplai energi dan 90 persennya digunakan di sektor transportasi. dan kian mudahnya ekonomi negara tersebut diserang krisis akibat pergerakan cepat keuangan global.

Dari segi anggaran militer. Rusia. adakah rejim dengan watak seperti itu? Pertanyaan lainnya. apakah kelas kapitalis di Indonesia. harus berani menolak resep-resep kebijakan neoliberal seperti. tak ada kekuatan lain yang bisa menandingi kedigdayaan AS.000) di seluruh dunia. kontribusi Cina meningkat sekitar 15 persen dan kelompok BRIC (Brazil. demi kepentingan apa AS terus membangun dan memperkuat kekuatan militernya? Ada dua jawaban di sini: pertama. bahkan ekonominya belum mampu menandingi kekuatan ekonomi Uni Eropa. departemen pertahanan AS menganggarkan sebesar $750B per tahun. India dan Cina) meningkat sebesar 20 persen pada pertumbuhan ekonomi dunia. Ia bukanlah krisis keuangan jangka pendek tapi. Dari sini. di tempat lain. bersedia melakukan restrukturisasi ekonomi dan sosial yang radikal? Intervensi Permanen Sebelum kita masuk pada pertanyaan-pertanyaan tersebut. sumbangan AS dalam pertumbuhan ekonomi dunia jatuh dari 40 persen pada 1990 menjadi kira-kira 30 persen pada saat ini. lebih merupakan hasil dari stagnasi ekonomi berkepanjangan. kita bisa meraba-raba. pasar kerja fleksibel. Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. Keadaan ini tentu saja mengkhawatirkan para pengambil keputusan strategis di Washington. Dari segi ekonomi. Untuk rencana belanja fiskal tahun 2008. seperti dikemukakan kritikus empire (kekaisaran) terkemuka. lagi-lagi dalam konteks Indonesia. demikian juga kontribusi kawasan Eurozone ikut jatuh dari 20 persen menjadi tinggal 10 persen. bukan krisis bagian per bagian. mempromosikan kebijakan nasionalisasi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Pertanyaannya kemudian. sebuah perubahan arah strategi pembangunan dari yang pro kapitalisme-neoliberal menjadi yang anti kapitalisme-neoliberal. Chalmers Johnson. untuk memotong laju krisis sekarang. adalah mengandalkan kemampuan domestik dalam menopang bangunan struktur ekonomi nasional. Khusus untuk supplementary budget buat membayar biaya perang di Irak dan Afghanistan. Karena itu. terbukti gagal dalam menangani krisis. Angka ini merupakan yang terbesar sejak Perang Dunia II dan besarannya melampaui total belanja militer gabungan seluruh negara lain di dunia. deregulasi. Dengan tingkat pertumbuhan ekonominya tinggi dan relatif stabil. privatisasi. pembangunan kekuatan militer itu dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi AS. jumlahnya jauh lebih besar dibanding gabungan anggaran militer Rusia dan Cina. dana yang dianggarkan sebesar lebih dari $1T. menurut Michael Klare. Tetapi. mensyaratkan keberadaan rejim yang mendukung penuh perubahan radikal itu. walaupun kini tengah dilanda krisis parah. Dan sebaliknya. Studi-studi yang ada menunjukkan. harus ada strategi yang radikal. Lebih-lebih di bidang militer. tidak ada bukti yang kuat bahwa kebangkrutan ekonomi suatu negara disebabkan oleh kebijakan nasionalisasi ekonomi. kini Cina merupakan satu-satunya kandidat . ekonomi AS masihlah yang terkuat di dunia. kedua. krisis ini adalah krisis kapitalisme keseluruhan. yang selama ini telah begitu erat terkait dengan kelas kapitalis asing. Tetapi. Dengan 180 basis militer (dari yang direncanakan 1.selama ini. akibat stagnasi berkepanjangan. dan liberalisasi sektor moneter. saya ingin mengajak anda untuk melihat konstelasi kekuasaan global saat ini.‖ Argumentasi Klare ini bukan tanpa bukti empiris. pemotongan subsidi. Cina yang dianggap sebagai pesaing baru. Pemerintahan siapapun. Seperti dicatat Minqi Li. Sejak berakhirnya Perang Dingin (yang sesungguhnya hanya dingin di Eropa). apakah pertanyaan tersebut mengada-ada atau tidak. Salah satunya. dimana anggaran ini bukan bagian dari anggaran resmi pertahanan. Di sini muncul pertanyaan baru. praktis tidak ada kekuatan lain yang sanggup menandingi imperialisme Amerika. dari segi geopolitik. pembangunan kekuatan militer raksasa itu dimaksudkan untuk ―menghadang munculnya kekuatan besar lain sebagai pengimbang kekaisaran AS.

bagi para analis imperialisme. juga sumber kekuasaan. Sebaliknya. rakyat AS telah cukup lama menikmati permen ekonomi dan juga kooptasi dan represi dari kekaisaran. Dengan adanya peristiwa itu. Dan itu hanya mungkin. AS tidak membutuhkan tawar-menawar dengan kekuatan di luarnya. bagi Leo Panitch dan Sam Gindin. Di matanya. mengatakan perlawanan rakyat tertindas itu tidak bisa diharapkan muncul dari dalam negeri AS. AS disamping terus menjalankan perannya sebagai protektorat bagi negara-negara kapitalis inti. sebagai motor penggerak ekonomi kapitalis global. kemunculan para pesaing dipandang sebagai ancaman yang harus dinetralisir. satu-satunya jalan adalah dilakukannya . Intervensi permanen dari kekaisaran bisa mengambil bentuk yang lunak. serbuan itu terutama dimaksudkan sebagai sinyal agar ―jangan coba-coba menantang kami. juga bertujuan untuk mengonsolidasikan kembali apa yang disebut Peter Gowan. Tetapi. Irak). ―bersama kami atau menjadi musuh kami. misalnya melalui perang ekonomi (seperti Kuba) atau juga dalam bentuk keras seperti.‖ Dan itu berarti. di tengah-tengah krisis permanen dan ancaman intervensi permanen saat ini. tidak pertama-tama didorong oleh kepentingan menguasai dan mengontrol kandungan minyak di wilayah tersebut. datang dari rakyat tertindas di negara-negara pinggiran. menyebabkan para kapitalis domestik ini tidak berani mengambil jalan berbeda. misalnya. Di sini. jika terjadi mobilisasi dari bawah yang merupakan kombinasi kepentingan-kepentingan domestik kelas terpinggirkan. Pembangunan yang berorientasi ke dalam. dimana rakyatlah yang pertama-tama menanggung akibatnya. Satu-satunya penantang serius bagi kekaisaran AS ini. Di sisi lain ancaman intervensi permanen melalui doktrin pre-emptive war dari AS. Ini hanya merupakan awal. adalah dari rakyat tertindas keseluruhan. tidak mungkin terwujud jika tidak dipimpin dan dikontrol oleh rakyat. Ia mencontohkan perlawanan rakyat di Venezuela dan Irak saat ini. Maka satu-satunya penantang paling potesial terhadap kekaisaran. muncul perbedaan pendapat di kalangan pengamat kekaisaran.‖ Tantangan Dari bawah Dengan bersandar pada analisa di atas. seperti peran yang disandangnya di masa Perang Dingin. misalnya. Bagi Samir Amin. maka sangat sulit kita mengharapkan munculnya sikap progresif dari kelas kapitalis domestik. jika ingin menghancurkan kekaisaran yang mesti dilakukan adalah mendorong terjadinya perubahan fundamental dalam keseimbangan kekuasaan domestik dalam kekaisaran. Sementara itu. Hasil dari keadaan ini. Di sini.‖ Itu sebabnya. penyerbuan ke Irak dan Afghanistan. dari apa yang disebut Aijaz Ahmad. Di satu sisi karena mereka telah terintegrasi dalam kelas kapitalis internasional. Dalam konteks geopolitik yang unipolar seperti inilah. para kapitalis domestik memainkan perannya sebagai yunior partner dan secara bersama-sama membentuk apa yang disebut oligarchy-finance-capital. kelas kapitalis domestik Indonesia. Benar pula bahwa minyak bukan hanya sumber energi yang utama tapi. Itu sebabnya. AS menguasai 70 persen cadangan minyak dunia. James Petras. kekuatan lain itu hanya diberikan pilihan. tak berani mengambil sikap yang berpihak kepada kepentingan rakyat.yang bisa menggeser posisi AS. Bukannya melindungi kepentingan rakyat. serta gerakan anti-globalisasi dan anti-perang. penyerbuan seperti di Irak ini bukanlah sebuah akhir. krisis permanen ini membuat mereka tidak memiliki pilihan lain kecuali kian tergantung pada belas-kasih sang senior. sebagai residivis-residivis privatefinanced-centered yang coba-coba menantang kekaisaran. untuk bisa menantang kekaisaran AS ini. misalnya. mereka malah kian agresif dalam merealisasikan paket-paket kebijakan neoliberal. Benar bahwa dengan menduduki kawasan Teluk. sebagai ―ideologi intervensi permanen. kita lihat. Realisasi kebijakan itu menemukan momentumnya dengan terjadinya serangan 11 September 2001. kekuatan sosial lainnya yang tertindas. intervensi militer (misalnya.

” Monthly Review. “The New Geopolitics.*** Kepustakaan: Aijaz Ahmad. Social Change.20080121-115889. 59. Robinson. 59. 2004. ―Pox Americana exposing the American Empire. “Imperialism of Our Time” Socialist Register.html William I.‖ Monthly Review Press. ————.” Monthly Review. http://www. No. Vol. McChesney. “Transnational Conflicts Central America.” in John Bellamy Foster and Robert W. McChesney.“The Financialization of Capital and the Crisis. & Neoliberalism’s Demise. ―Pox Americana exposing the American Empire. 2004.S. 2004. 11 April 2007. “China Peak Oil. “The Subprime Crisis. “The Financialization of Capitalism. Minqi Li. Michale Klare. Peter Gowan. o. Solidaritas universal. di Selatan maupun di Utara.‖ Monthly Review Press. “U. itulah kunci kemenangan rakyat pekerja terhadap kekaisaran. John Bellamy Foster. 2003.aliansi seluruh rakyat pekerja baik.” Socialist Register. Robin Blackburn. 11 April 2008. “Global Capitalism and American Empire. 11 April 2008.” Verso. Vol.id. 21 Januari 2008 | 20:49 WIB. and Globalization. 58.” in John Bellamy Foster and Robert W. London. *Artikel ini sebelumnya dimuat dalam buku untuk memperingati 80 tahun Joesoef Isa .” ―Impor Minyak Pertamina Harus Dievaluasi‖
 Senin. Leo Panitch and Sam Gindin. Vol.com/hg/ekbis/2008/01/21/brk.tempointeraktif.” Monthly Review. 2004. No. Hegemony Today.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->