Krisis Kapitalisme Global

Krisis Kapitalisme Global Syamsul Hadi KTT G-8 di Toyako, Hokkaido, Jepang, yang baru saja berakhir terasa istimewa dengan kehadiran para pemimpin negara berkembang, seperti China, India, Meksiko, dan Indonesia. Pernyataan di akhir KTT dapat dilihat sebagai bentuk positioning negara-negara industri maju atas isuisu yang berkembang dalam skala global. Menghadapi kenaikan harga minyak dunia, forum menyerukan dialog antara negara produsen dan konsumen guna menekan harga. Terkait krisis pangan, forum menegaskan, komunitas internasional perlu melakukan respons dan strategi yang terintegrasi guna mengatasi kelangkaan pangan, dengan program bantuan pangan dan peningkatan produktivitas pertanian. Perdebatan paling alot terjadi dalam isu perubahan iklim. Negara-negara G-8, terutama AS, menyatakan tidak bisa mencapai target pengurangan emisi 50 persen tahun 2050 jika negara berkembang yang ekonominya sedang tumbuh pesat tidak melakukan hal yang sama. Krisis finansial Perdebatan alot dalam isu perubahan iklim seolah ‖menutup‖ perhatian atas masalah krusial lain, krisis finansial global yang berawal dari krisis subprime mortgage di AS. Pernyataan bersama G-8 memang menekankan komitmen untuk melakukan stabilisasi pasar finansial, tetapi tidak disinggung masalah melemahnya nilai dollar AS atas mata uang kuat lainnya (Kompas, 10/7). Padahal, ketidakmampuan AS untuk cepat mengatasi krisis subprime mortgage mendorong spekulan mengalihkan investasi ke komoditas pangan dan energi, yang mendorong naiknya harga pangan dan minyak dunia. Keterlibatan militer AS di Irak memperparah krisis energi. Mantan spekulan George Soros menyatakan, krisis global saat ini akan cepat berakhir dengan syarat perekonomian, terutama pasar uang, diatur ketat (Kompas, 4/4). Di mata Soros, akar krisis saat ini adalah kekacauan di sektor finansial yang dimulai sejak 1980 saat Ronald Reagan dan Margareth Thatcher memelopori kampanye neoliberalisme di tingkat global. Lemahnya posisi Pemerintah AS berhadapan dengan berbagai perusahaan hedge funds dan pengelola dana investasi untuk tujuan spekulasi telah diprediksi Susanne Soderberg. Dalam The Politics of the New International Financial Architecture (2004), Soderberg menggambarkan, hubungan Pemerintah AS dengan korporasi finansial yang berpusat di Wall Street adalah seperti hubungan Dr Frankenstein dan monster pintar ciptaannya. Dengan mensponsori penerapan rumus-rumus neoliberal, Pemerintah AS menumbuhkan ‖blok‖ kapitalis finansial yang menggurita di Wall Street, yang kemudian menjeratnya dalam ketidakberdayaan dan posisi serba salah akibat besarnya dominasi perekonomian mereka. Pernyataan menteri keuangan G-8 yang bertemu di Osaka, Juni, juga tak menyinggung perlunya memperketat aturan main sektor finansial global. Pernyataan hanya menyebutkan, Financial innovation has contributed significantly to global growth and development, but in the light of risks to financial stability, it is imperative that transparency and risk awareness be enhanced. Poin tentang sistem finansial ada di bagian terakhir statement bersama dan paling pendek dibandingkan poin-poin pernyataan terkait harga komoditas, perubahan iklim, dan pembangunan Afrika. Pertumbuhan tanpa batas? Dalam konteks perubahan iklim, upaya Jepang membuka jalan bagi penyusunan traktat internasional

baru menggantikan Protokol Kyoto yang habis masa berlakunya tahun 2012 pada KTT ini tidak berhasil. Memang dicapai ‖komitmen umum‖ untuk pengurangan emisi pada tahun 2050, tetapi tidak dicapai kesepakatan tentang bagaimana target itu secara spesifik harus dicapai. Pernyataan G-8 hanya menyatakan, tiap anggota G-8 akan menyusun target masing-masing untuk periode jangka menengah setelah tahun 2012. Menanggapi hal ini, para pemimpin China, India, Brasil, Afrika Selatan, dan Meksiko membuat pernyataan bersama yang menolak kewajiban tiap negara mengurangi emisi 50 persen dengan menekankan kewajiban negara maju memulai langkah-langkah nyata ke arah itu. Para aktivis lingkungan juga mengecam keengganan negara G-8, terutama AS, untuk memberi komitmen nyata dan mengikat terkait pemanasan global. Data Greenpeace International menunjukkan, meski hanya dihuni 13 persen populasi dunia, negara G-8 memproduksi 80 persen emisi di atmosfer dan 40 persen emisi CO>sub<2>res<>res<. Komitmen ‖samar-samar‖ yang diberikan G-8 dinilai tak sebanding dengan dampak perubahan iklim dan global warming yang menimbulkan dampak berantai berupa kekeringan dan bencana alam di dunia. Penurunan emisi karbon akan menurunkan pertumbuhan ekonomi, tetapi amat penting menjaga kelestarian alam dan penghidupan di bumi, yang memperburuk kualitasnya karena industrialisasi dan eksploitasi alam nyaris tanpa batas. Perbedaan pendapat dalam isu pemanasan global menunjukkan dominasi berkelanjutan paradigma pembangunan pertumbuhan ekonomi atas paradigma pembangunan berwawasan lingkungan. Sulitnya menyatukan langkah dalam mengatasi aneka masalah serius dalam krisis global saat ini seakan membenarkan prediksi Karl Marx, ‖krisis berkelanjutan‖ dalam sistem kapitalisme global senantiasa bersumber dari kecenderungan melakukan akumulasi kapital yang tak kenal batas. Syamsul Hadi Pengajar Departemen Hubungan Internasional FISIP-UI

Krisis Kapitalisme Global
Oleh Eric Hiariej

Search :

SEORANG sejarawan ekonomi non-marxis, Karl Polanyi, pernah berteori tentang gagalnya demokrasi di Eropa sepanjang dekade 1930-an. Dalam bukunyaThe Great Transformation, Polanyi berargumen kegagalan tersebut bersumber pada praktik self-regulating market yang sengaja memisahkan aktivitas ekonomi dari masyarakat, sembari menciptakan sistem produksi yang dominan dan menentukan kehidupan sosial sehari-hari. Praktik semacam ini tidak punya preseden historis karena sebelumnya konsep dasar ekonomi sekalipun tidak diperdebatkan secara terpisah dari human action. Baru setelah revolusi industri, gagasan tentang ekonomi yang independen terhadap masyarakat diterima sebagai keniscayaan. Praktik self-regulating market pada dasarnya membawa perubahan radikal dalam hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan manusia dengan barang yang diciptakannya. Alam sebagai tempat manusia hidup, berkembang dan berinteraksi berubah menjadi natural asset yang nilainya tidak lagi ditentukan tradisi, sejarah atau kepentingan bersama, melainkan diukur berdasarkan keseimbangan antara tingkat kelangkaan dan kebutuhan produksi. Dalam hubungan produksi; upah, gaji dan insentif menggantikan reprositas dan jaminan sosial dalam interaksi sosial antarsesama manusia. Sedangkan uang yang menjadi alat pertukaran dalam kerangka reprositas dan jaminan sosial, berkembang menjadi komoditas berharga yang bukan saja bisa diperjualbelikan, tapi juga berangsur-angsur mendominasi manusia yang menciptakannya. Tegasnya, self-regulating market melakukan kapitalisasi terhadap alam, manusia, dan barang, mengubahnya menjadi komoditas yang bisa mendatangkan keuntungan. Ketika menjadi komoditas; alam, manusia, dan barang tercerabut dari akar-akar sosialnya, menjadi sebatas harga sewa, upah, dan bunga. Dengan lain perkataan, praktik self regulating market menciptakan-meminjam Marx-fetisisme kehidupan sosial. Dalam kehidupan sosial yang fetisis masyarakat terbelah dua menjadi kelompok yang lebih beruntung karena mengendalikan kapitalisasi dan komodifikasi, dan kelompok yang merugi yang tidak memiliki akses ke faktor-faktor produksi. Kelompok merugi juga merupakan manusia-manusia yang "terasing" dari "kemanusiaannya" yang dieksploitasi kelompok beruntung atas nama "pertumbuhan ekonomi". Dickens menggambarkan situasi semacam ini sebagai social and moral breakdown, sedangkan Disraeli menyebutnya dengan the fracturing of society into 'two nations'.

Berita Lainnya :

• Bung Hatta Diadili • Kesehatan Reproduksi di • Kawasan Krisis Timur Kapitalisme • Global Perempuan dan Minuman • Botol POJOK • REDAKSI YTH

• TAJUK RENCANA

Sebaliknya. terutama. penumpukan produksi. Fordisme digantikan sistem produksi (yang kemudian disebut) PostFordisme yang lebih menekankan fleksibilitas. sembari membentuk kekuatan bersama melawan kelas menengah-bawah. dan di Jerman dengan tampilnya Bismark. Pada fase pertama. proderegulasi dan menghendaki perdagangan bebas. Fordisme dan kebijakan Keynesian melewati masa emasnya. negara berperan besar menjamin property rights. pengangguran dan menurunnya investasi di negara-negara berkembang. aristokrasi pemilik tanah dan borjuis berkoalisi untuk menguasai pemerintah. Seperti yang diperkirakan. paling tidak untuk negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Utara sampai awal dekade 1970-an. self-regulating market tidak datang dengan sendirinya. upaya merebut kembali kendali ekonomi berhasil melembagakan dirinya dalam Fordisme dan kebijakan ekonomi Keynesian. berubah menjadi inflasi. Di saat bersamaan.Menurut Polanyi. perjuangan demokratisasi di fase kedua memperoleh tantangan dari Fasisme dan Stalinisme. Upaya ini dilakukan. keduanya mengampanyekan bringing the market back in. Tapi. Globalisasi ekonomi itu sendiri tak lain dari self-regulating market dalam penyamaran yang kembali membebaskan dirinya dari kontrol masyarakat. praktik ekonomi ini melahirkan double movement dalam sebuah dialektika historis. Fordisme dan kebijakan Keynesian kemudian berhasil memberikan demokrasi dan kesejahteraan ekonomi. argumentasi Polanyi belum terlalu usang untuk menjelaskan "globalisasi ekonomi" yang melanda dunia sejak dekade 1980-an. di wilayah politik melalui perjuangan menuntut demokrasi yang dilakukan kelompok sosial marginal. dengan bertebarannya gerakan-gerakan anti-globalisasi di berbagai belahan dunia. sistematisasi produksi dan sistem kerja self-employment. Cerita globalisasi ekonomi bermula dari krisis ekonomi di awal 1970-an. Sedangkan di Perancis self-regulating market diikuti dengan second empire dari 1851-1871. Pada fase berikutnya. Karenanya. Menjawab krisis yang sedang menganga. seraya membenahi efek-efek sosial negatif yang ditimbulkan kapitalisasi dan komodifikasi. *** TAMPAKNYA. penerapan pasar bebas di masa-masa itu terjadi bersamaan dengan tampilnya "negara kuat" di beberapa tempat. terjadi upaya membebaskan ekonomi dari kontrol masyarakat yang merusak ikatan-ikatan sosial dan menciptakan konflik kelas. economies of scope. Yang jelas. dan menjaga nilai uang sebagai media pertukaran. setelah berakhirnya PD II. kubu konservatif melalui Thatcher di Inggris dan Reagan di Amerika berhasil menguasai pemerintah. Di Inggris semenjak 1840. melindungi transaksi ekonomi dari perilaku yang melenceng. Globalisasi ekonomi juga menciptakan double movement. Negara juga harus kuat agar mampu menahan gempuran kelas bawah dari kota maupun desa. Situasi tersebut masih diperparah dengan meningkatnya harga bahan bakar minyak dan perlombaan senjata Amerika dan Soviet yang menguras banyak modal. sembari menciptakan fetisisme kehidupan sosial jilid dua. Masih menurut Polanyi. masyarakat berangsur-angsur merebut kembali kendali atas kehidupan ekonomi. Kebijakan Keynesian disingkirkan oleh model ekonomi neo-liberal yang antiintervensi negara. .

Melbourne. Kemudian. dan Genoa. berdemonstrasi menolak WTO. Nasionalisme juga ingin mengembalikan (kejayaan) negara-negara yang diterjang habis-habisan . Panduan ini berisi kebijakan-kebijakan semacam menjamin disiplin fiskal. di antaranya. melalui structural adjustment program. kemajuan teknologi memungkinkan pemilik kapital merelokasi usahanya ke tempat yang paling menguntungkan. privatisasi perusahaan negara. Gerakan ini. Di Seattle. Washington. yakni fundamentalisme. produksi. berbagai kelompok sosial lintas etnik. Globalisasi ekonomi. kekuatan buruh untuk melawan kondisi kerja yang buruk secara kolektif menjadi berkurang. dan negara. dan finansial. sekurangnya terdapat tiga macam gerakan perlawanan. Banten. mendorong nilai tukar yang kompetitif. Chiangmay. dan perlindungan terhadap property rights. self-regulating market melahirkan milyuner semacam Bill Gate di tengah-tengah buruh-buruh pabrik sepatu yang tertindas di Tangerang. liberalisasi perdagangan. dan anti-globalisasi. Jika dikategorikan. IMF dan World Bank mengekspor "Washington Consensus" ke negara-negara berkembang. Seperti yang diduga. Di Meksiko. globalisasi menciptakan New International Divison of Labour berdasarkan perbedaan produk suku-cadang dalam sebuah sistem produksi global. Gerakan fundamentalisme mengedepankan "agama" sebagai solusi terbaik untuk mengembalikan kontrol sosial atas ekonomi. Pertama-tama. liberalisasi finansial. Di sektor perdagangan. mengurangi belanja publik. dan orang-orang Afrika yang sekarat karena kelaparan di Somalia. kelas. nasionalisme. agama. menciptakan individualisasi proses produksi ketika kontribusi buruh terhadap produksi dihitung sendiri-sendiri berdasarkan kontrak individual. melalui pendalaman kapitalisasi dan komodifikasi di sektor perdagangan. deregulasi ekonomi. dan World Bank. Pendek kata. globalisasi ekonomi melahirkan disparitas. Post-Fordisme dan ekonomi neo-liberal dibakukan dalam "Washington Consensus" yang tak lain dari panduan mengembangkan self-regulating market bagi seluruh negara di dunia. Di Eropa. kadar eksploitasi juga meningkat pesat. seraya mengintegrasikan berbagai tingkatan yang berbeda dari setiap aktivitas nilai tambah dalam sebuah jaringan global. tapi juga menentang kekuatan politik (terutama pemerintah Amerika) yang membentengi globalisasi. di antaranya. Akibatnya. Perbedaan sosial semakin menajam dan terpolarisasi ketika yang kaya bertambah kaya. kebebasan perpindahan uang mencari lokasi yang paling menguntungkan menjadikan uang itu sendiri sebagai komoditas yang mendatangkan keuntungan. mempermasalahkan globalisasi karena mudahnya perpindahan manusia melampaui batas teritori membawa kerugian sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat. reformasi pajak. melancarkan investasi asing. Lalu. selfregulating market jilid dua ini menciptakan kesenjangan global. buruh maupun petani berunjuk rasa menolak Uni Eropa. berbagai bentuk perlawanan muncul di mana-mana. Nasionalisme merupakan bentuk perlawanan yang ingin meraih kendali kehidupan ekonomi melalui purifikasi bangsa. Sementara di sektor produksi. Sedangkan di sektor finansial. sedangkan yang miskin bertambah melarat. para petani melalui pemberontakan Chiapas menentang perdagangan bebas ala Nafta. kelompok Neo-Nazi. IMF.Selanjutnya. Gerakan ini bukan saja melawan ideologi dominan (neo-liberalisme) di balik self-regulating market. Globalisasi ekonomi kemudian tanpa bisa dibendung menjelma menjadi ekspansi pasar bebas ke seluruh dunia dan aspek kehidupan. Oleh karena itu. Kebijakan-kebijakan neo-liberal pada awalnya menyebar ke Eropa Barat dan Jepang.

Sementara itu. baru itu saja kekuatan gerakan anti-globalisasi. Belum lagi gerakan ini masih harus berurusan dengan fundamentalisme dan nasionalisme yang memiliki proyeksi dunia masa depan yang berbeda (dan bisa jadi bukan demokrasi). Sementara globalisasi ekonomi mulai sempoyongan karena gagal memenuhi janjinya memberikan kesejahteraan. kemenangan "demokrasi" berada di bawah bayang-bayang ancaman Fasisme dan Stalinisme.oleh self-regulating market. "kemenangan demokrasi" masih harus diperjuangkan. yang tak lain dari Fordisme dan kebijakan Keynesian yang bertumpu pada kompromi kebutuhan kesejahteraan buruh dan kepentingan akumulasi kapital pemilik modal melalui. Sebaliknya. di antaranya. ujung dari krisis ini bisa jadi bukan demokrasi. self-regulating market akan berakhir dengan "demokrasi". Sejauh ini gerakan antiglobalisasi sudah memberikan perlawanan yang berarti. Tampaknya. situasinya menjadi stalemate. Gerakan ini menganggap globalisasi ekonomi merupakan sumber kemiskinan dan kesenjangan sosial dunia kontemporer. Boleh dibilang pertemuan Davos yang melibatkan beberapa NGO yang sangat moderat tidak akan berlangsung jika tidak diawali sebelumnya dengan demonstrasi di Seattle. resistensi terhadap ekspansi pasar bebas tidak cukup kuat untuk memenangkan pertarungan. *** BERDASARKAN cerita Polanyi. Polanyi juga mengingatkan. Yang menarik. Sementara globalisasi ekonomi mulai dipertanyakan dan ditentang. yang terjadi adalah krisis global. Ironinya. Eric Hiariej Staf Fisipol UGM. Praktis. gerakan anti-globalisasi lebih dekat dengan ide-ide demokrasi. sekalipun Post-Fordisme dan kebijakan ekonomi neo-liberal terbukti mengandung krisis-krisis bawaan. menuntut inklusi politik yang lebih luas dan juga partisipasi masyarakat dalam kehidupan ekonomi dan sosial sehari-hari. Lebih gawat lagi. menghendaki kebebasan politik maupun keadilan ekonomi. antiglobalisasi adalah gerakan perlawanan terhadap kapitalisme global. . peneliti pada Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM. jika fundamentalisme atau nasionalisme yang berhasil mendominasi. Gerakan ini memperjuangkan kepentingan kelas tertindas. gerakan-gerakan perlawanan ini belum juga berhasil mengakhiri self-regulating market. "demokrasi" baru bisa menang (di Eropa Barat dan Amerika Utara) setelah beraliansi dengan Stalinisme untuk mengalahkan Fasisme dalam PD II. dibanding dua gerakan lainnya. Namun. Akan tetapi. praktik welfare state. dan peneliti Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta.

Jika pada era Orde Baru kekuasaan sangat bersifat sentralistik. keistimewaan. masyarakat diharapkan memiliki daya tahan dan daya adaptasi yang tinggi agar mampu menjalani kehidupan masa depan dengan sukses. Ketua DPD RI. berpartisipasi aktif. Hal ini terwujud dalam Sistem Desentralisasi yang secara legal dilahirkan lewat UndangUndang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian menyebabkan Perubahan Kedua UUD 1945 seperti tertuang pada Bab VI Pemerintahan Daerah pasal 18. terutama berhubungan antarpelaku pembangunan. Pemberdayaan Masyarakat. pelaksanaan. Di tengah era globalisasi yang serba cepat. Untuk mencapai tujuan pembangunan masyarakat agar lebih berdaya. pemerintah melontarkan komitmen yang berlevel internasional. Community Development. serta penuh dengan kreativitas. pemikiran anak muda | Tags: Appreciative Inquiry. Kepemimpinan Indonesia. pemberdayaan. ―Perubahan aturan main mengenai pemerintahan daerah merupakan afirmasi-konstitusi. reformasi melahirkan sistem pembagian kekuasaan yang mulai terdistribusi antara pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah. Ginandjar Kartasasmita. pengambilan keputusan dalam perencanaan. keadilan. Namun dalam prakteknya otonomi daerah masih menghadapi kendala yang harus segera dicarikan jalan keluarnya atau penanganannya secara sungguh-sungguh. dan pengawasan pembangunan. bahwa daerah menjadi pengambil kebijakan sentral dalam mengatur dan mengurus pemerintahannya sendiri menurut asas otonomi dan tugas pembantuan (medebewind) serta diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. dan 18B. dan peran serta masyarakat serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi. Menurut Prof. Komitmen ini telah . Salah satu kendala yang dipaparkan oleh Ginandjar Kartasasmita adalah kurangnya kreativitas dan partisipasi masyarakat secara lebih kritis dan rasional. 18A. dan kekhususan suatu daerah dalam sistem NKRI.Konsep dan Metode Pemberdayaan Masyarakat Indonesia 17 June 2008 in Psikologi. Saat ini pelaksanaan otonomi daerah telah melahirkan perubahan yang cukup signifikan. Psikologi | Reformasi yang telah bergulir sejak tahun 1998 memberikan dampak yang luas pada perubahan sistem pemerintahan. Perubahan aturan negara seperti di atas menempatkan daerah menjadi aktor sentral dalam pengelolaan republic yaitu dalam prinsip otonomi dengan desentralisasinya. pemerataan.

Dalam deklarasinya negara peserta menerapkan Tujuan Pembangunan Milenium atau Millennium Development Goals (MDGs). provinsi. kelompok atau komunitas harus melakukan berbagai upaya untuk ikut berubah. Peringkat Indonesia dari tahun ketahun selalu menurun dari 110 menjadi peringkat 112 dari 175 negara yang dinilai UNDP (2003). ternyata peringkat Indonesia masih berada di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya. Afrika Selatan. atau mengambil kendali perubahan. Hasil deklarasi tersebut kemudian dituangkan dalam dokumen ”Rencana Pelaksanaan KTT Pembangunan Berkelanjutan”. kompleks. 2007). dan dunia sebagai totalitas. terkecil sekalipun. kabupaten/kota bersama-sama dengan berbagai unsur masyarakat memikul tanggungjawab utama untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan sekaligus memberantas kemiskinan yang terjadi di Indonesia paling lambat tahun 2015. Dengan demikian.ditandatangani dalam KTT Millenium PBB pada tahun 2002 bersama 189 negara lainnya. Dalam laporan tersebut. Dimana pemerintah dan semua perangkatnya dalam semua level. Dalam MDGs tersebut. baik pemerintah pusat. menyesuaikan diri. dengan tujuan pertama adalah mengatasi dan/atau memberantas kemiskinan dan kelaparan (United Nations. tingkat melek huruf dan kualitas pendidikan dasarnya. yang merupakan perubahan disektor ekonomi dan . 2000). terdapat 8 (delapan) tujuan (goal) yang hendak dicapai sampai tahun 2015 oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Di sisi lain interdependensi antara komunitas. Sebagaimana kita alami. menunjukkan bahwa kualitas manusia Indonesia makin memburuk dalam 10 tahun terakhir. walaupun pada tahun 2006 terdapat peningkatan ranking ke 110 (UNDP. yang juga telah ditandatangani oleh pemerintah Indonesia untuk menjadi acuan dalam melaksanakan pembangunan di Indonesia dengan target memberantas kemiskinan pada tahun 2015. Kendati Indonesia ikut serta dalam kesepakatan global melaksanakan MDGs untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dicanangkan PBB sejak 2000. membuat semakin sulit bagi seorang individu untuk menghadapi perubahan sendirian. Dengan demikian individu. era ini merupakan kehidupan yang bercirikan perubahan yang cepat. Komitmen semua negara di dunia untuk memberantas kemiskinan ditegaskan dan dikokohkan kembali dalam ”Deklarasi Johannesburg mengenai Pembangunan Berkelanjutan” yang disepakati oleh para kepala negara atau kepala pemerintahan dari 165 negara yang hadir pada KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg. tingkat harapan hidup. Apalagi melihat kenyataan. dan penuh dengan kejutan. pemerintah Indonesia telah membuat komitmen nasional untuk memberantas kemiskinan dalam rangka pelaksanaan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). penuh resiko. kenaikan harga BBM misalnya. September 2002. HDI atau IPM Indonesia yang diukur dari pendapatan riil per kapita. namun dalam Human Development Report 2007 yang dikeluarkan oleh UNDP.

2000. Pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari sudut pandang Deficit based dan Strength Based. Ludema dkk. Appreciative Inquiry menjadi sangat populer dan dipraktekkan di berbagai wilayah dunia. perubahan kota. dalam Gergen dkk. dan menciptakan perdamaian. 1987. mendukung pembangunan berkelanjutan. Cooperrider dkk. pendekatan ini bisa menghasilkan sesuatu yang baik. Dalam sepuluh tahun terakhir. Appreciative Inquiry merupakan sebuah metode yang mentransformasikan kapasitas sistem manusia untuk perubahan yang positif dengan memfokuskan pada pengalaman positif dan masa depan yang penuh dengan harapan (Cooperrider dan Srivastva. struktur penyelesaian masalahatau menghadirkan pelayanan bagi masyarakat. membangun pemimpin religius. tetapi tidak tertutup kemungkinan terjadinya situasi saling menyalahkan atas masalah yang terjadi. serta penerapan cara pemecahan tersebut. 2002. Sejak tahun 1960. Appreciative Inquiry digunakan untuk memberdayakan komunitas pinggiran.. 2004). seperti untuk mengubah budaya sebuah organisasi. Di sisi lain. 2005). Pengembangan otonomi daerah yang diarahkan pada partisipasi aktif dari masyarakat sangat sesuai dengan konsep yang ditawarkan oleh CD. lahir sebuah konsep pemberdayaan komunitas yang disebut Community Development (selanjutnya disebut CD). dan pengembangan kualitas hidup masyarakat (United States Departement of Agriculture. . menciptakan pembaharuan organisasi.. Kesesuaian antara kebijakan pemerintah dengan konsep pemberdayaan masyarakat seperti CD ini membutuhkan pendekatan yang tepat dalam mengimplementasikannya. Keberhasilannya tergantung pada adanya identifikasi dan diagnosis yang jelas terhadap masalah. CD adalah bekerja bersama masyarakat sehingga mereka dapat mendefinisikan dan menangani masalah. Pendekatan Deficit-based terpusat pada berbagai macam permasalahan yang ada serta cara-cara penyelesaiannya. CD tidak bertujuan untuk mencari dan menetapkan solusi. penyelesaian cara pemecahan yang tepat. pendekatan Strengh Based (Berbasis kekuatan) dengan sebuah produk metode Appreciative Inquiry terpusat pada potensi-potensi atau kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh individu atau organisasi untuk menjadikan hidup lebih baik.energi akan mempengaruhi sector kehidupan yang lain. serta terbuka untuk menyatakan kepentingankepentingannya sendiri dalam proses pengambilan keputusan (StandingConference for Community Development. 2000. Dalam bidang sosial. CD adalah sebuah proses pembangunan jejaring interaksi dalam rangka meningkatkan kapasitas dari sebuah komunitas. Dalam pelaksanaannya. 2001). mengarahkan proses merger dan akusisi dan menyelesaikan konflik. melakukan transformasi komunitas. Fry dkk.

Tahun 2006 Internet http://appreciativeorganization. Sjafri.com/2007/08/08/bedah-kasus-appreciative-inquiry-instrategic-planning/ (Diakses pada 26 Mei 2008.ekonomirakyat. pp.org. Community Development Technical Assistance: Handbook. 2-3) Sairin.Sumber: Buku Cooperrider D. Makalah: Dewan Perwakilan Daerah dan Otonomi Daerah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.org/ M.28) http://www.wordpress. Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia. Ginandjar. Institut Teknologi Bandung (ITB) Dalam Rangka Memperingati Seratus Tahun Kebangkitan Nasional. Strategic Framework for Community Development. Disampaikan pada Seminar Nasional. 17 Mei 2008. Husein Sawit 22 spt 2008 USULAN KEBIJAKAN BERAS DARI BANK DUNIA: RESEP YANG KELIRU ABSTRAK .50) Standing Conference for Community Development (2001). A Positive Revolution in Change: Appreciative Inquiry (Vol.uk United States Depatment of Agriculture (2005).com/doc/732997/laporanlokakaryaAIlowres (Diakses pada 29 Mei 2008. Makalah : Community Development dan Nilai-Nilai yang Mendasari. pukul 11.usda. Dipresentasikan pada Temu Ilmiah Dalam Rangka LUSTRUM IX Fakultas Psikologi Unpad. Bandung. L. & Whitney D.gov http://www. 2002. http://ocdi. http://www.scribd. 1. Theresiah. 2006. pukul 11. Makalah Kartasasmita.sccd. Lubis.

sehingga mereka tidak nyaman bekerja. Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi pembangunan. DPR. tidak kredibel di mata masyarakat luas di Indonesia. serta akan selalu dipersoalkan . perbankan dikuasai oleh perusahaan asing. diperkirakan itu akan sulit diimplementasi di lapangan. Itu bukan lagi menjadi domain peneliti.Kebijakan perberasan Indonesia telah menjadi perhatian buat sejumlah lembaga internasional. Mereka yakin sekali. bukan melihat kemiskinan manusia yang bersifat struktural dan kronis.berperan besar dalam mendikte kepentingan masyarakat banyak. seperti Bank Dunia. dan peneliti dalam merancang kebijakan publik. apabila kurang dukungan publik. Kelemahan itu mencakup pengukuran kemiskinan yang terlalu sempit. termasuk ekonomi Indonesia (Perkin 2004). Bank Dunia terpaksa harus menghilangkan atribut Bank Dunia di kantor di mana proyek mereka ada. Sebaik apapun saran Bank Dunia. ini akibat dari reputasi mereka masa lalu. termasuk kebijakan perberasan. apalagi oleh lembaga asing yang kurang memahami rumah tangga petani dan masyarakat desa secara mendalam. maupun kemiskinan (World Bank 2007). peran masyarakat dalam proses penyusunan kebijakan publikseperti kebijakan beras. Akhir-akhir ini. partai politik. tidak boleh didikte oleh segelintir para ahli.haruslah lebih besar. Perilaku Bank Dunia di Indonesia tampaknya belum berubah. Industri padi/beras adalah salah satu diantaranya. dan bias jangka pendek. Kebijakan beras harus mendapat dukungan luas dari masyarakat sipil. Bukan membuat harga beras murah. terutama yang dikaitkan dengan kemiskinan. ciptakan lapangan kerja. masyarakat Indonesia pasti mencurigainya. Tampaknya. tidak boleh didikte oleh peneliti. Yang benar adalah gerakan sektor riil. kurang dukungan Pemda. baik terbuka maupun tertutup. Namun dalam era demokrasi. Pemda. Lembaga ini telah lama mengeritik dan menintervensi sejumlah kebijakan pembangunan ekonomi. para teknokrat dan birokrat –dibantu oleh tenaga ahli asing. Pendapat Bank Dunia termasuk juga berbagai hasil penelitiannya. tentang cara-cara menyusun kebijakan publik di era demokrasi. pemerintah daerah. melepas cadangan beras nasional ke swasta. Pada era sentralisasi Orba. apabila saran-saran mereka diterapkan pemerintah. Lembaga pemerintah seperti Bulog dianggap tidak becus dalam melaksanakan fungsinya. Di Makasar misalnya. Bank Dunia semakin sering mengeritik pemerintah tentang kenaikan harga beras. mendorong agar swasta diperankan sebagai stabilisator harga dalam negeri. Dalam makalah ini dibahas tentang kelemahan cara pandang Bank Dunia terhadap kebijakan beras di Indonesia. Bank Dunia semakin aktif melobi dan menawarkan resep buat pemerintah. terjerat hutang luar negeri. Kebijakan beras itu adalah domain kebijakan publik. bahwa kemiskinan di negera-negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan pangan. Itu akibat dari peri laku mereka sebagai salah satu lembaga perusak ekonomi. serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor pertanian di mana penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya. Seharusnya yang diberi peran besar adalah masyarakat sipil. agar Indonesia menempuh privatisasi lembaga pangan. Disamping itu. serta terlalu banyaknya sumberdaya alam. hampir setiap hari ada saja demonstrasi ke kantor proyek Bank Dunia. belum belajar dari kekecewaan masyarakat Indonesia atas keambrukan ekonomi. DPR/DRPD. Sebelumnya. Tujuan makalah ini adalah untuk menilai kelemahan cara pandangan yang bias tentang kebijakan beras Bank Dunia. Itu konsep pengentasan kemiskinan yang keliru. apalagi ahli asing. kelakuan Bank Dunia belum banyak berubah di era desentralisasi dan demokrasi. Pendahuluan Sejak akhir 2006. Domain Publik bukan Domain Peneliti Bank Dunia seharusnya memahami benar. dan liberalisasi impor. pasar dapat menyelesaikan instabilitas harga.

Dari total hampir 100 jumlah literatur. mereka menghindari diskusi terbuka dengan masyarakat luas (civil society) atau dengan para pakar Indonesia di luar kubu mereka. Data itulah yang dipakai Bank Dunia untuk mempertahankan argumentasinya. Table 1. seperti di lembaga PBB (CAPSA) di Bogor.33 Ha.5 120 HHTOTAL Kg. mereka surplus pada MPR (musim panen raya) dan MPG (musim panen gadu). Ini keterlaluan. sebagian besar petani padi adalah net konsumen. baik dengan cara mengundang sejumlah ahli Indonesia ke markas mereka di Jakarta. Ini menunjukan juga bagaimana miskinnya Bank Dunia dalam memahami pikiran para ahli Indonesia. Mereka melaporkan bahwa konsumsi per kapita sebesar 107 Kg/kap/tahun (Table 1). tempat kerja dll. khususnya padi di Indonesia. 0. Para petani mengelola usahatani padi untuk MH. Wilayah Petani % RT Miskin Kg.35 Ha. Padahal./ Kapita 120.oleh DPR/DPRD. masing-masing seluas 0. Pandangan ini adalah keliru. tetapi diabaikan tanpa dipakai sebagai bahan rujukan. dan 0. Bank Dunia langsung menyampaikan gagasannya ke tingkat pengambilan keputusan tentang kebijakan beras ke Kantor Menko Perekonomian atau ke sejumlah menteri lain yang sealiran dengan Bank Dunia. Itu buruk buat penduduk miskin. hanya 3-4 literatur yang ditulis oleh orang Indonesia asli. Kebijakan beras yang mereka susun itu (Bank Dunia 2007) melulu mengacu ke literatur asing. Per kapita konsumsi beras oleh petani miskin dan petani tidak miskin di DAS Brantas. Atau mengadakan seminar di luarnya. SUSENAS menaksir tahunan berdasarkan hasil penelitian seminggu./ Kapita 114. Bank Dunia juga rajin menyampaikan gagasan perubahan kebijakan beras pada berbagai forum sejak akhir 2006. dan defisit hanya pada MP (musim paceklik).5 106. Ini adalah jumlah yang dikonsumsi langsung oleh rumah tangga tani. banyak studi tentang padi/beras yang telah dilakukan oleh para ahli bangsa Indonesia.6 ./ kapita Hulu 42. Pola panen padi adalah musiman. Jawa Timur: 1999/2000. ada power point tentang kebijakan beras Bank Dunia disiapkan untuk SBY. Hasilnya adalah defisit produksi (net consumer). Namun. Net Konsumen? Data Susenas vs data Tingkat Usahatani Bank Dunia mengatakan bahwa telah terjadi kenaikan jumlah orang miskin yang cukup serius sejak harga beras naik. Tetapi. hasil studi intensif yang dilakukan oleh Sumaryanto dkk (2002) di DAS Brantas dilaporkan sebaliknya. pesta.5 Petani Miskin % RT Tidak Kg. Data SUSENAS haruslah dianalisa dengan hati-hati dalam kaitannya dengan estimasi produksi musiman dan pengeluaran musiman. belum termasuk konsumsi tidak langsung seperti makan di warung.23 Ha per petani. Namun. seolah-olah terjadi sepanjang tahun. kemudian dikalikan menjadi tahunan. Penulis juga kaget. karena sebagian besar petani adalah net konsumen. Namun mereka mencoba mempengaruhi sejumlah menteri ekonomi yang beraliran neo liberal. Luas ini adalah umum dijumpai pada usahatani pangan. data SUSENAS BPS memperlihatkan sebaliknya. MK1 (musim kemarau pertama) dan MK2.6 57.

1 48. stabilitas ekonomi.2 47. jangan bias ke jangka pendek. Keredupan ini. Harga beras yang berlaku di pasar belum memperhitungkan non-food services yang ia berikan ke publik (Dillon dkk 1999). sehingga luas usahatani merosot (Sumaryanto dkk 2002). insentif non-harga tidak ampuh manakala harga gabah/beras terlalu rendah.3 102. distribusi pendapatan. Peningkatan produktivitas dan efisiensi. terutama di perdesaan.7 107. Kembali ke harga. Oleh karena itu. tidaklah tepat untuk mengasumsikan bahwa semua petani sempit sebagai net konsumen sepanjang tahun.1 107. Mereka tidak menilai peran pangan. Tingkat kemiskinan yang dikaitkan dengan harga beras. merupakan cara pandang sempit. Marketable surplus di musim hujan lebih tinggi dari MK1. menyerap tenaga kerja yang begitu besar. hanya sekedar untuk mencapai kepentingan jangka pendek. Oleh karena itu. bukan saling menggantikan. namun itu bukanlah satu-satunya insentif buat mereka. amat jangka pendek dan ad hoc sifatnya. tidak mampu menutupi ongkos produksi. penyerapan tenaga kerja. sebagai salah satu insentif buat pelaku usaha.0 43. Keputusan konsumsi dan pengeluaran bergantung pada asumsi itu. seperti hortikultura. manakala industri beras/padi redup. banyak petani tidak tanam padi karena kekurangan air. Konsumen seharusnya perlu membayar harga beras lebih tinggi dari tingkat harga pasar.3 Note: RT=Rumah tangga Sumber: Sumaryanto dkk (2002) Rataan produksi padi sekitar 462 Kg/kapita/tahun. 1) Marketable surplus adalah produksi dikurangi konsumsi rumah tangga yang sedang dipelajari Terabaikan Peran Non-Food Services Seterusnya. Pada MK2. sekiranya non-food services itu diperhitungkan. tidak dengan sendirinya akan tergantikan oleh komoditas lain. dipaksakan untuk keluar .6 107. itu terkait dengan non-price incentive. khususnya pembangunan perdesaan. kemiskinan jangka panjang dapat dikurangi secara berkelanjutan. Insentif harga dan non-harga akan saling memperkuat. tidak dianalisa secara parsial.5 200 160 480 105. Itu hanya cara hitung menghitung. atau hanya net konsumen di musim paceklik (MK2). khususnya beras yang menghasilkan non-food services. Adalah hampir tidak mungkin.2 105. Yang benar adalah mereka net produsen pada dua musim pertama.Tengah Hilir Total 53.7 109. Seperti yang telah dibahas sebelumnya. Oleh karena itu. maka industri itu harus dianalisa keterkaitannya yang luas.9 103.9 51. Kalau suatu industri yang erat kaitannya ke depan dan kebelakang. namun negatif pada MK2. Kita tidak boleh menghambat suatu industri yang punya keunggulan komperatif. Kita jangan mengorbankan kepentingan jangka panjang.0 56. industri padi/beras harus dilihat dengan hati-hati dan bijaksana. laporan Bank Dunia (2007) itu juga terlalu sempit dalam melihat industri beras yaitu hanya sebagai industri penghasil padi/beras untuk tujuan komersial belaka. bahwa padi/beras adalah industri kunci dalam pembangunan. pengangguran tinggi. merupakan insentif lain yang tidak boleh dibaikan. Terungkap adanya marketablesurplus 1) sekitar 354 Kg/kap/tahun. Oleh karena itu. Itu menyangkut stabilitas politik. asumsi net konsumen untuk petani padi adalah tidak didukung oleh data empiris.2 101.

tetapi tidak menyembuhkan penyakit itu sendiri. dan 2003. karena pemerintah belum menyiapkan infrastruktur yang layak untuk itu. ciptakan lapangan kerja. maka akan menggiring petani sempit untuk menanggung risiko yang tinggi. Mengotak atik harga pangan agar dibuat murah. Insentif harga adalah salah satu yang tidak boleh diabaikan untuk itu. bahwa kemiskinan di negera-negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan pangan. Demikian juga. pada saat harga beras turun murah yaitu terjadi pada periode import surge yang tinggi periode 1998. produktivitas rendah. Pengembangan hortikultura misalnya. tidak sebaliknya. Itu buah dari urbanisasi yang berlebih. akan berisiko tinggi dan instabilitas harga yang besar. Itu mengingatkan pengalaman Mexiko dalam meliberalisasi komoditas jagung sebagai makanan utama mereka. Namun petani Mexiko tidak beralih ke tananam kentang. Penyebab inflasi tidak sama dengan komponen inflasi. Peningkatan pendapatan dari pekerjaan yang mereka tekuni. maka risikonya menjadi besar. yang belum tentu penyebab inflasi itu sendiri. harga beras dianggap sebagai faktor penyebabnya. pada saat harga beras naik. meningkatkan produktivitas kerja. mengabaikan peningkatan pendapatan serta lapangan kerja di perdesaan. seperti kekumuhan. Ia juga mengatakan bahwa adalah keliru kalau memfokuskan pengentasan kemiskinan dari sisi pengeluaran dan harga. Rendahnya pengeluaran keluarga miskin akibat dari ketidakmampuan mereka untuk memperoleh pendapatan yang layak. 23%. Pada saat kita mengabaikan sektor kunci seperti sub-sektor padi/beras. apalagi kemiskinan. Perkotaan akan menerima beban dan akibatnya. karena infrastruktur pemasaran dan distribusi yang masih amat lemah.dari industri itu. kriminalitas dan keresahan sosial yang terus bertambah. Itu tidak akan mampu mengurangi jumlah orang miskin secara berkelanjutan. Penyakit utama adalah lapangan kerja yang terbatas. 2002. Yang benar adalah gerakan sektor riil. Bukan membuat harga pangan atau beras murah sehingga menjadi tidak wajar buat petani. Itu konsep pengentasan kemiskinan yang keliru. padahal industri lain belum kuat terbangun. dan petani jagung dialihkan ke kentang. Namun peran non-beras jauh lebih tinggi mencapai 77%. Sebagian juga bermigrasi ke AS (IATP 2007a dan Albert 2004). mendorong aktivitas padat kerja adalah solusi yang tepat untuk atasi . Harga beras adalah komponen inflasi. Beras memang besar kontribusinya dalam inflasi. ternyata jumlah orang miskin tetap tidak berkurang secara signifikan. itu akan menambah kemiskinan dan akan mendorong bertambahnya urbanisasi. sama saja memberi obat penghilang rasa rasa sakit sementara (pin killer). Perdagangan tentu tidak dapat menyelesaikan semua itu. Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi. telah dibahas dengan baik oleh Sugema (2006). serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor pertanian di mana penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya. terutama dalam penyimpanan. Apabila mereka beralih ke sektor lain dalam kondisi infrastruktur itu belum diperkuat. Industri padi/beras adalah salah satu diantaranya. mereka pindah ke kota. Itu amat tidak realistis. Ia mengatakan bahwa Bank Dunia keliru dalam menyimpulkan hubungan itu. Penanganan kentang berbeda dengan jagung. Ia juga menyebutkan bahwa hasil penelitiannya dan penelitian lain seperti yang dilakukan UNIDO dan UNSFIR. Harga Beras dan Kemiskinan: Keganjilan Analisa Kelemahan lain kaitan harga beras dengan kemiskinan yang dibuat Bank Dunia. Namun. menemukan bahwa angka kemiskinan BPS amat sensitif dari pengaruh inflasi. Pada situasi pengangguran tinggi dan penggangguran tidak kentara di desa amat menonjol. Yang terjadi adalah peningkatan kemiskinan dan pegangguran di perdesaan Mexiko. insentif untuk bekerja di sektor pertanian merosot.

meningkat menjadi 75 ribu ton pada 1999. Impor Beras Indonesia dari Negara Maju dan AS: 1996-2005 (MT) . Pengukuran kemiskinan sebelum krisis terlalu banyak bersandar pada kemiskinan pendapatan berdasarkan indikator konsumsi. bukan kemiskinan pengeluaran. AS berperan penting dalam impor beras ke Indonesia. menghitung kemiskinan manusia di Indonesia sebesar 25%. kalau konsep kemiskinan manusia yang dipakai. Dengan konsep ini Dhanani dan Islam (2000) misalnya. konsep kemiskinan manusia kurang dipakai sebagai acuan dalam penyusunan program pembangunan daerah maupun nasional. Pada 2001 dan 2003. Ekspor beras AS banyak ditujukan ke Amerika Latin. perumahan. kematian bayi. jenis berasnya berbeda. Itu hanya mungkin dipecahkan oleh pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sehingga Indonesia amat terkebelakang di antara negara ASEAN dalam menyediakan dana untuk kesehatan yang terkait dengan harapan hidup. adalah tahun-tahun tertinggi impor beras dari AS yaitu mencapai masing-masing 178 ribu dan 108 ribu ton. Impor Beras dari AS tidak Penting? Bank Dunia (2007) juga mengatakan bahwa ekspor beras AS berpengaruh kecil ke Asia. data memperlihatkan bahwa impor beras Indonesia dari AS cukup tinggi diantara negara maju yang mengekspor beras ke Indonesia. Oleh karena itu. diterbitkan oleh BPS. tentunya juga ke Indonesia. sehingga berkurang pula kemampuannya untuk menyerap pengadaan beras/gabah dalam negeri. Kemiskinan sebagai kehilangan/ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti kesehatan. sehingga harga pasar jenis itu tidak terkait sama sekali (almost completely disconnected) dengan beras lokal. dilaporkan tentang Ekonomi dari Demokrasi: Membiayai Pembangunan Manusia. pendidikan dan pangan. Kalaupun diekspor ke Asia. Capability poverty terkait dengan kemiskinan struktural dan kronis. Pada 2004 misalnya. Juga penting untuk disikapi secara kritis adalah cara pengukuran tingkat kemiskinan itu sendiri. Sen mengatakan bahwa poverty as capability deprivation. maka harga beras atau pangan tidaklah sensitif sebagai penyebab kemiskinan. Ini untuk membuktikan bahwa Indonesia tidak perlu kuatir dengan beras yang penuh subsidi berasal dari AS tidak akan berpengaruh besar ke pasar beras dalam negeri. Laporan tentang kemiskinan manusia telah dilakukan di Indonesia dengan bantuan UNDP sejak beberapa tahun terakhir. Atau itu telah memperbesar stok Bulog. Sayang. Belum banyak memberikan perhatian pada konsep Sen (2000) tentang kemiskinan non-pendapatan. yang disebut Human Development Index. Tabel l 2. Namun. Ini seharusnya menjadi acuan kita. Beras dari AS yang murah harganya. Hampir separoh impor beras ke Indonesia yang datang dari negara maju berasal dari AS. bandingkan dengan kemiskinan pendapatan BPS hanya 11% pada 1996. Setelah Indonesia menerapkan batasan impor beras sejak 2004. pertumbuhan yang pro-poor. terbesar selama 10 tahun terakhir. sehingga menghasilkan jenis beras baru dengan harga yang lebih murah. hanya 9 ribu ton. akses terhadap air minum yang bersih. bukan kemiskinan pendapatan. UNDP telah membuat indek tentang itu.kemiskinan (Sugema 2006). Tingkat kemiskinan itu tidak sensitif terhadap harga maupun inflasi. Bappenas dan UNDP. Dimensi kemiskinan Sen terfokus pada non-income poverty. dipakai oleh para pedagang untuk dicampur (oplos) dengan beras lokal. impor beras dari AS menurun drastis. serta adanya intervensi pemerintah yang terarah ke orang miskin. hanya 2 ribu ton pada 2005 (Tabel 2). Atas dasar inilah kemudian UNDP merancang kemiskinan manusia. Impor beras dari AS meningkat di era liberalisasi dan era tarif. juga dana untuk pendidikan. Pada 1996.

158 25. 2007). karena Indonesia harus membayar harga beras yang jauh lebih mahal dari harga beras di luar program. kapas. Korporasi AS itu merambah dunia.094 11. Kredit lunak dan jangka panjang sesungguhnya juga merugikan pemerintah Indonesia.327 9.266 199822.072 199974.184 Rataan: Jumlah (MT) 47.Tahun 19969. Apabila tidak berhasil meyakinkan Bulog misalnya.393 2003107. Umumnya didatangkan pada musim panen raya.551 132. Ini sering dikeluhkan oleh berbagai penjabat di berbagai depertemen. Mosanto (61 negara). Tyson Foods (80 negara) dan Archer Danniels Midland yang beroperasi di Amerika Latin.081 Total Negara Maju 16.767 20052. seperti Departemen Keuangan.608 200416.011 12. gandum.409 2001177. Itu telah berpengaruh negatif terhadap tingkat harga beras/gabah di dalam negeri.828 460.975 1.889 200213. subsidi terbesar ditujukan ke 5 komoditas utama yaitu beras. Namun.681 96. selanjutnya yang memutuskan kedatangan beras itu adalah AS.942 100 Sumber: Data dasar berasal dari data impor beras bulanan BPS Impor itu dalam bentuk food aid melalui WFP.411 46. Pemerintah tidak berdaya untuk itu. program PL480 dengan kredit lunak dan jangka panjang. . Bappenas. AS melalui Farm Bill 2002 misalnya memberikan subsidi terhadap 20 komoditas petanian. Apabila telah disetujui. petani kapas di Afrika ( Husein Sawit.956 200049. seperti Cargill (beroperasi di 63 negara). mereka akan ke departemen lain. AS mensubsidi sejumlah komoditas pangan.611 52 101.756 385. seperti petani jagung Meksiko. jagung and kedelai (IATP 2007b). itu banyak kaitannya dengan kepentingan korporasi raksasa.352 17.725 46. Inilah yang menyebabkan mengapa sejumlah negara berkembang sulit bersaing dan terpuruk. AS tentu mampu menjual beras dengan harga murah ke Asia.980 12. AS ―memaksa‖ agar Indonesia mau menerima program PL480.522 33.331 Persen (%) 48 54.839 24.352 39. atau ke penjabat tertinggi seperti Presiden atau Wakil Presiden.031 19970 USA Negara Maju Lain 6.384 179.231 7.

Dalam tataran perundingan multilateral misalnya. Working Paper: 00/01.Negara Pasifik. Kita telah terperangkap dengan hutang luar negeri dan SDA milik bangsa ini yang dikapling dan dikuasai bangsa asing. “Socio Economic Analysis of Farm Household in Irrigated Area of Brantas River Basin‖. S dan I. a series of papers on the 2007 US Farm Bill. Mereka datang kemari silih berganti ahlinya. tetapi itu sekedar melaksanakan pesan sponsor. Report for Internal Review Only for Bulog (November 1999) Dhanani. Lembaga Penerbit FE Univ. ―Inflasi. mereka jelas memihak negara kaya dan korporasi internasional (MNCs). Confessions of an Economic Hit Man. Tabor (1999). a series of papers on the 2007 US Farm Bill. ― A Fair Farm Bill for America‖. P. banyak diantara para birokrat kurang memahami politik kurang terpuji di belakang lembaga keuangan internasional. Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP): Minnesota Perkins. Development as Freedom. seperti Bank Dunia dan IMF. dan Beras‖.‖Rice Policy: A Framework for the Next Millennium‖. Penutup Pandangan Bank Dunia harus disikapi secara kritis. Eropa. Kompas. Oxford University Press: New Delhi Sugema. Liberalisasi Pangan: Aksi dan Reaksi dalam Putaran Doha WTO. Sayang para pengambilan keputusan.H.Simatupang dan S. Daftar Bacaan Albert. Itulah yang harus disikapi dangan bijaksana dan hati-hati. M. Indonesia (akan terbit) IATP (2007a). UNDP (2004). Ekonomi dari Demokrasi: Membiayai Pembangunan Manusia Indonesia. Hasil penelitian IATP (2007b) menyebutkan bahwa AS melalui lembaga WTO dan Bank Dunia memaksa negara berkembang untuk menurunkan tariff dan membuka pasar. Yang merasakan akibat dari implementasi saran mereka yang bias itu adalah bangsa kita. Siregar and Wahida M(2002). I (2006). UNDP Husein Sawit. 23 November 2006 Sumaryanto. Kanada. (2000). UNSFIR. Itu yang mereka ingin rebut. M. mereka juga jarang memihak negera berkembang. J (2004). Sawit. permintaan berbagai jenis pangan yang terus meningkat seiring dengan kemajuan ekonomi. A. Penguin Books Ltd: London Sen. petani kita. sehingga memuluskan MNCs milik AS untuk melakukan kegiatan bisnis pangan secara global. Research report as a part of the study . Inequality and Social Protection: lessons from the Indonesian crisis‖. Kita semakin sulit keluar dari kemiskinan dan kepapaan. masyarakat kita. (2007). seperti China. Agriculture and Rural Development. Islam (2000). AS tentu ngiler melihat potensi pasar di sejumlah negara Asia. Bappenas. padahal kita berada di negara yang kaya. HS. UNDP: Jakarta Dillon. H (2004). ―Poverty. M.R. India dan Indonesia. Kemiskinan. Disana banyak penduduk yang memerlukan pangan. ― The US Farm Bill and Cotton Cultivation: Is the WTO undermining Rural Development?‖. Afrika. 11 (2) BPS. Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP): Minnesota IATP (2007b). ―A Fair Farm Bill for the World‖.

214. Ia “marah” ketika permi ntaan pinjaman Rp. 15 juta hanya diberi Rp. 7 juta padahal yang Rp. Rupanya kalau tidak ada kredit ―UMKM‖ yang disalurkan dari dana APBD Pemda kabupaten. Meskipun Pemda Kabupaten Kutai Barat sudah menunjuk Bank BPD Melak menyalurkan dana UMKM kepada usaha-usaha kecil ―ekonomi rakyat‖ sebesar Rp 7. Yang menarik persentase kenaikan dana pihak ke-3 yang disimpan di bank-bank ini sama sekali tidak diikuti kenaikan yang sepadan dalam jumlah kredit yang diberikan kepada pengusaha-pengusaha di Melak.1%. Husein Sawit Mubyarto MENGAPA BANK SULIT MEMBERDAYAKAN EKONOMI RAKYAT? Pendahuluan Memberdayakan ekonomi rakyat di daerah terpencil Kutai Barat ternyata merupakan perjuangan berat bagi siapapun.8% (2003) dan sampai dengan September 2004 adalah 32. LDR (Loan Deposit Ratio) meskipun cenderung naik tetapi hanya sebesar berturut-turut 2.2 milyar (2001) menjadi Rp.5 milyar dari dana APBD.0% pertahun. Ir.8% (2002). 256. tidak ada tanda-tanda perbankan ―bersemangat‖ menyalurkan kredit kepada pengusaha-pengusaha di Melak. 272. di kampungkampung pegunungan. 8 juta sudah dijanjikan pada seorang teman yang sanggup membuatkan sepeda motor khusus agar ia dapat menggunakannya untuk berbelanja ke Melak sebulan sekali.4 milyar (2003). M. dan 13.0 milyar (2002) dan Rp. draft March 2007 Oleh: Dr. 10. Rupanya meminjamkan kredit kepada seorang miskin seperti Yulius Seran belum cukup meyakinkan pejabat bank ―seb agai jalan melancarkan jalan baginya masuk surga‖. yaitu dari Rp. maupun di dataran rendah sepanjang Sungai Mahakam. Bahkan mereka yang percaya perbankan merupakan ― agent of development‖ yang berperan kunci dalam memberdayakan ekonomi rakyat bisa ―kecele‖ menyaksikan kenya taan pahit sulitnya bank bermitra akrab dengan pelaku-pelaku ekonomi rakyat yang miskin. and Water Resource Allocation in Indonesia and Vietnam . lebih-lebih kepada usaha-usaha kecil ekonomi rakyat. Bank adalah Mitra Orang Kaya Sejak 3 tahun terakhir (2001-2003) jumlah dana masyarakat yang disimpan di 2 bank di Melak (BRI dan BPD) meningkat rata-rata 12. . collaboration of IFPRI-CASERD-KimpraswilJasa Tirta. tokh penerima dana -dana DPM (Dinas Pemberdayaan masyarakat) ini masih belum merasakan adanya perhatian dan perlakuan khusus terhadap mereka sebagai pihak-pihak yang berhak menerima perlakuan ―istimewa‖ karena kemiskinannya. Fiscal Policy.Irrigation Investment. tokh Bank BPD tidak tergerak meluluskan sisa kredit yang dimintanya. baik di wilayah Ulu Riam di Mahakam Ulu. World Bank (2007). ―Issues in Indonesian Rice Policy‖. Meskipun belakangan diketahui Yulius Seran seorang yang jujur dan patuh mengangsur kreditnya setiap bulan.2% (2001). Yulius Seran (37 th) adalah seorang penyandang cacat yang setiap hari menunggu dagangan “rupa-rupa” di pinggir jalan dekat Linggang Bigung.

dan sebaliknya orang miskin harus membayar bunga tinggi kepada orang-orang kaya. maka amat sulit menjadikan bank sebagai penggerak kegiatan ekonomi rakyat. Dalam sistem ekonomi Pancasila . Dari sinilah berkembang kepercayaan perlunya penciptaan iklim merangsang agar para pemodal (investor) asing bersedia datang ke Indonesia atau ke daerah-daerah tertentu untuk menanamkan modalnya. bahkan termasuk tambahan hadiah-hadiah menarik seperti mobil dan rumah-rumah mewah. mengapa modal yang terhimpun di bank dari orang-orang kaya setempat malah dikirim keluar daerah. yaitu mereka yang memiliki modal. Inilah faktor penyebab rendahnya nilai LDR (Loan Deposit Ratio) di setiap daerah. Ternyata kunci penyebabnya terletak pada diberlakukannya sistem ekonomi kapitalis yang telah dipilih oleh pemerintah pusat. Bank Indonesia sudah sejak lama mengeluarkan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) yang menjanjikan bunga menarik kepada dunia perbankan untuk menyimpan dana-dana yang dihimpunnya dari daerah-daerah di seluruh Indonesia. Bunga SBI ini pernah mencapai 17. tetapi di pihak lain orang-orang kaya menyimpan uang mereka di bank dalam bentuk deposito dengan menerima bunga ―menarik‖. Dalam sistem ekonomi kapitalis segala upaya dilakukan untuk melindungi kepentingan para pemodal/pemilik uang. yang kepentingannya paling dilindungi. dan sama sekali bukan agent of development. para pemilik modal (kapitalis) merupakan pihak yang paling dipuja dan dihormati. sehingga ketika banyak daerah-daerah miskin/tertinggal berteriak mengharapkan kredit yang murah dan mudah. yang dengan memberikan jaminan rasa aman pada para pemilik modal ini. yang dibiayai oleh sebagian bunga kredit yang dibayar penerima kredit (debitor). Mengapa tidak ada Konsultan Keuangan Mitra Ekonomi Rakyat (KKMER) meskipun jelas ekonomi rakyat inilah yang paling membutuhkan jasa konsultan. kecuali jika kita berani mengubah sistem ekonomi kita dari sistem ekonomi kapitalis menjadi sistem ekonomi Pancasila. bukan justru bank yang sebenarnya tidak memerlukan konsultan keuangan itu. Tetapi mengapa hal ini tidak terjadi? Dari analisis tersebut bisa dibuktikan bahwa alasan pokoknya adalah karena sistem ekonomi kapitalis-liberal/neoliberal sudah dijadikan pegangan pokok pemerintah pusat/ daerah yang diterapkan di manamana di seluruh Indonesia. Jelas kiranya dari analisis ini bahwa perbankan di Indonesia tidak lain daripada lembaga pencari/pengejar untung. Akibatnya bank juga tidak mungkin berperan sebagai lembaga yang mendukung upaya-upaya besar pemberantasan kemiskinan. mengapa Pemda tidak terdorong untuk mengambil langka-langkah demikian dalam GSM (Gerakan Sendawar Makmur) dengan menyalurkan kredit mikro sebanyak mungkin kepada usaha-usaha ekonomi rakyat yang membutuhkannya. Jika ekonomi rakyat dapat diberdayakan melalui kredit lunak sehingga kesejahteraannya meningkat. Proses tolong-menolong antar pemilik modal dan ekonomi rakyat yang membutuhkan modal ini dalam era otonomi daerah seharusnya berkembang dengan baik dan bergairah. dan dalam kaitan penyaluran kredit UMKM ada lembaga KKMB (Konsultan Keuangan Mitra Bank). padahal yang benar bank-bank ini memang merasa lebih aman menggunakan dana-dana yang dihimpun dengan dibelikan SBI. Kesimpulan Kasus ―kecil‖ perilaku perbankan di Kabupaten Kutai Barat dengan kemiskinan 42% tahun 2003-2004 menarik dijadikan contoh betapa besar hambatan yang dihadapi dalam program-program pemberantasan kemiskinan. Bank-bank yang lebih banyak mengirim dana-dana dari daerah-daerah ke kantor pusat selalu mudah menerangkan perilaku keliru ini karena ―kesulitan menemukenali‖ proyek -proyek ekonomi dan bisnis yang bankable yang dapat didanai. Fenomena kontradiktif ini sampai kapan pun tetap tidak akan berubah. Sebenarnya segera dapat dikenali satu kontradiksi.Memang ironis. Di satu pihak usaha-usaha kecil lari ke ―rentenir‖ dengan membayar bunga tinggi. Penetapan tingkat bunga yang menarik selalu dijadikan alasan mudah bagi dunia perbankan untuk tidak menyalurkan dananya sebagai kredit kepada dunia usaha. Maka ada lembaga penjaminan kredit.5% pertahun yang tentu saja menjadi alasan sangat kuat bagi setiap bank untuk mengirimkan dana-dana pihak ke-3 yang dihimpun di bank-bank di daerah-daerah di seluruh Indonesia untuk dikirim ke Jakarta. agar dapat membayar jasa bunga deposito yang menarik kepada deposan. Kalau perangsang dan perlindungan kepada para pemilik modal dalam sistem ekonomi kapitalis ini belum dianggap cukup. Jika suatu daerah berusaha menarik investor. Jika bank-bank kita lebih banyak merupakan perusahaan yang menomorsatukan pendapatan bunga. Jika suatu daerah miskin sebagian warga masyarakatnya sudah berhasil ―menjadi kaya‖ sehingga mampu menyimpan dana-dana yang dikumpulkannya di bank setempat. tokh dana-dana perbankan yang terhimpun di daerah-daerah seperti itu justru dikirim ke kantor pusat bank yang bersangkutan. kiranya masuk akal bagi perbankan untuk memanfaatkan dana-dana tersebut bagi pemberdayaan ekonomi rakyat dan yang pada gilirannya mampu memberantas kemiskinan. Dalam sistem ekonomi kapitalis. dan justru tidak diputarkan atau ditanamkan dalam usaha-usaha setempat. Para pelepas uang dan deposan menikmati pendapatan bunga tinggi.

Oleh: Prof. Pemenuhan kebutuhan pokok penduduk miskin bukan masalah ―hanya‖. 3. Dr. Siapa yang paling bersalah dalam proses perusakan lingkungan ini? Yang jelas tidak adil adalah kalau yang disalahkan hanya orang-orang miskin saja..‖ atau ―penduduk miskin hanya menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup. kiranya pernyataan ini juga tidak adil.. bukan karena orang-orang miskin banyak yang merusak hutan. ― membuang kotoran manusia secara sembarangan yang akan berakibat pada terjangkitnya diare . Jika hutan kita menjadi gundul atau terbakar. disebabkan para pemodal yang haus keuntungan.Oktober 2004] Mubyarto SIAPA LEBIH MERUSAK LINGKUNGAN: ORANG MISKIN ATAU ORANG KAYA? The greatest threat to the equilibrium of the environment comes from the way the economy is organized.. Penduduk miskin tidak memperhatikan lingkungan hidup sekitarnya bukanlah karena mereka tidak peduli. sedangkan orang-orang kaya adalah ―pahlawan pembangunan‖. yang dianggap merusak lingkungan karena mengotori jalan dan mengganggu ketertiban. 2. Adalah sangat keliru ilmu ekonomi justru memuja ―keserakahan‖. tetapi ―mutlak‖ harus dipenuhi untuk hidup... Ekonomi Rakyat dan Reformasi Kebijakan . 4. dan memang ada pembeli terhadap barang/jasa yang ditawarkannya. Jadi dalam hal ini lingkungan yang rusak harus diselamatkan melalui upaya-upaya ―pencegahan‖ munculnya PKL. dan kemudian dijual lagi untuk ekspor. juga tidak mungkin ditimpakan kesalahannya pada PKL karena pekerjaan itulah satu-satunya ―mata pencaharian‖ yang dapat dilakukan dalam kondisi kepepet.. ever increasing growth and accumulation (Ravaioli. dan mereka cenderung mengabaikan pemeliharaan lingkungan sekitar”. Akumulasi keuntungan dan kekayaan yang tidak mengenal batas harus dianggap sebagai penyebab utama kerusakan/pengrusakan hutan. Apabila dikatakan penduduk miskin terbiasa . tidak ada subsidi apapun dar pemerintah. Tetapi kayu-kayu yang diperolehnya ditampung calo-calo untuk dijual. bukan dengan ―menggusurnya‖ setelah berkembang. sehingga lingkungan hidup kita rusak. yang semuanya ―demi keuntungan‖.kebijakan perbankan tidak diarahkan untuk melindungi para pemilik modal secara berlebihan tetapi harus diubah menjadi upaya total pemberdayaan ekonomi rakyat dengan ukuran hasil akhir makin terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Maka untuk menjamin terjadinya pembangunan yang berkelanjutan kita harus menghentikan keserakahan orang-orang kaya. 1995: 4) 1. Agar adil kita harus mengakui bahwa kerusakan lingkungan khususnya hutan. Perkembangan pedagang kaki lima (PKL) yang tumbuh menjamur dimana-mana. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. siapa biang keladinya? Penduduk miskin di hutan-hutan dan sekitar hutan menebang hutan negara untuk memperoleh penghasilan untuk makan. tetapi karena mereka melakukannya dengan terpaksa.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. Mubyarto -. Ia menggunakan modal sendiri dengan resiko usaha ditanggung sendiri. PKL bukan . ―memesan‖ kayu dalam jumlah besar sebagai bahan baku industri yang memang permintaannya sangat besar pula.

koperasi dan usaha-usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat. dan mandiri. tidak diberdayakan. dan moral. dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat. sedangkan Bung Karno 3 tahun sebelumnya (Agustus 1930) dalam pembelaan di Landraad Bandung menulis nasib ekonomi rakyat sebagai berikut: . Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. tangguh. Maka mereka dengan bersemangat menyatakan akan menyusun dan melaksanakan program pemberdayaan ekonomi kerakyatan padahal ekonomi kerakyatan sebagaimana tercantum jelas dalam Propenas (UU No. Sistem ekonomi dapat dikembangkan dan yang jelas dilaksanakan. bebas. 5. pelakunya. Demokrasi Ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan. Dr. yaitu sistem ekonomi kapitalis liberal yang berkembang di Barat. Tentang Ekonomi Rakyat Bung Hatta dalam Daulat Rakyat (1931) menulis artikel berjudul Ekonomi Rakyat dalam Bahaya. tetapi ekonomi kerakyatan. Kesimpulan kita.―masalah‖ tetapi ‖pemecahan‖ masalah kemiskinan. dan bertanggung jawab. karena melihat kemiskinan sebagai fakta tanpa mempelajari sumber-sumber dan sebab-sebab kemiskinan itu. Akan lebih baik dan lebih adil jika para peneliti memberi perhatian lebih besar pada sistem ekonomi yang bersifat ―serakah‖ dalam eksploitasi SDA. yaitu ekonomi rakyat. yang menurut mereka harus diberdayakan juga. dan merajalela sejak jaman penjajahan sampai era globalisasi masa kini. efisien. pendekatan terhadap masalah ―pengurangan kemiskinan dan pengelolaan lingkungan‖ atau sebaliknya terhadap ―pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan strategi penanggulangan kemiskinan‖ selama ini kiranya salah dan tidak adil. jika mereka terpilih. dan karena belum jelas pemahaman mereka mengenai ekonomi rakyat. karena yang diberdayakan adalah orangnya. dan adil. dengan segala maaf saya harus menyatakan sangat prihatin. 25/2000) adalah sistem ekonomi.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. Pada umumnya para Capres/Cawapres belum memahami benar apa itu ekonomi rakyat. sosial. dan yang sangat sering diucapkan bagaimana memberdayakannya. 6 Oktober 2004 Oleh: Prof. Keseimbangan yang harmonis. Mubyarto -. Sistem ekonomi yang tepat bagi Indonesia adalah sistem ekonomi pasar yang populis dan mengacu pada ideologi Pancasila dengan lima cirinya sebagai berikut: (1) Roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi. Mubyarto Pendahuluan Menyimak secara serius pernyataan-pernyataan para Capres/Cawapres di media elektronik tentang programprogram ekonomi yang dijanjikan kepada rakyat untuk dilaksanakan. Semangat nasionalisme ekonomi. antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas. maka sulit diharapkan dapat dirumuskannya program-program kongkrit bagaimana mengembangkannya. Yang lebih sering kita dengar justru bukan konsep tentang ekonomi rakyat. menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (2) (3) (4) (5) Ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial yaitu tidak membiarkan terjadinya dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial.

keberpihakan pemerintah jelas harus berupa pembelian langsung gabah ―dengan dana tak terbatas‖ sampai harga gabah terangkat naik melebihi harga dasar yang telah ditetapkan pemerintah. Jika pemerintah bertekad memberdayakan petani padi atau petani tebu misalnya. maka harus kita teliti secara mendalam mengapa tidak berdaya. yaitu ekonomi rakyat menjadi kerdil.Ekonomi Rakyat oleh sistem monopoli disempitkan. yang artinya tidak lain adalah demokrasi ala Indonesia. Memang sangat disayangkan bahwa penjelasan tentang demokrasi ekonomi ini sekarang sudah tidak ada lagi karena seluruh penjelasan UUD 1945 diputuskan MPR untuk dihilangkan dengan alasan naif. yang terpukul karena harga pasar gabah dibiarkan merosot di bawah harga dasar. maka memang ada kata kerakyatan tetapi harus tidak dijadikan sekedar kata sifat yang berarti merakyat. maka pertanyaan lugas yang dapat diajukan adalah bagaimana (cara) memberdayakan ekonomi rakyat. Kata kerakyatan sebagaimana bunyi sila ke-4 Pancasila harus ditulis lengkap yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi. dan padam. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi. karena sengaja disempitkan. yang sulit kita terima. sama sekali didesak dan dipadamkan (Soekarno. Cara lain yang juga sudah sering kami anjurkan adalah pemberdayaan melalui pemihakan pemerintah. Sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. atau diciptakan pemerintah dan diberikan kepada segelintir perusahaan-perusahaan konglomerat. Cara yang paling mudah memberdayakan ekonomi rakyat adalah menghapuskan sistem monopoli. terdesak. dan (sistem) monopoli ini dipegang langsung oleh pemerintah. yaitu ―di negara-negara lain tidak ada UUD atau konstitusi yang memakai penjelasan‖. Padahal yang dimaksudkan jelas sistem monopoli yang pemegang monopolinya ditunjuk pemerintah yaitu BPPC untuk cengkeh dan Puskud untuk Jeruk Kalbar. yang pernah ―disembunyikan‖ dengan nama sistem tata niaga. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. didesak. Itulah yang pernah kami katakan bahwa ―di Indonesia pernghapusan monopoli tidak memerlukan UU Anti Monopoli seperti di AS tetapi jauh lebih mudah dan lebih sederhana yaitu dengan menerbitkan sebuah SK (Surat Keputusan) dari Presiden atau Menteri Perindustrian dan Perdagangan untuk mencabut monopoli yang sebelumnya memang telah diberikan pemerintah‖. Berpihak kepada petani berarti pemerintah tidak lagi berpihak pada konglomerat seperti dalam kasus jeruk dan cengkeh. dan dipadamkan oleh pemerintah penjajah melalui sistem monopoli. yang berarti petani jeruk dan petani cengkeh memperoleh ―kebebasan‖ untuk menjual kepada siapa saja yang mampu memberikan harga terbaik. Inilah salah satu bentuk korupsi melalui koneksi dan nepotisme yang kemudian disebut dengan nama KKN. Indonesia Menggugat. Untuk menjawab pertanyaan inilah kutipan pernyataan Bung Karno di atas sangat membantu. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan bukan kemakmuran orang-seorang. atau faktor-faktor apa saja yang menyebabkan ketidakberdayaan pelaku-pelaku ekonomi rakyat itu. Dari keuntungan besar yang diperolehnya kemudian konglomerat memberikan ―bagi hasil‖ kepada pemerintah atau lebih buruk lagi kepada ―oknum -oknum pejabat pemerintah‖. Misalnya tataniaga jeruk Kalbar atau tataniaga cengkeh Sulut. tampuk produksi jatuh ke tangan orang-orang yang berkuasa dan rakyat yang banyak ditindasinya. Jika ekonomi rakyat dewasa ini masih ―tidak berdaya‖. Pengertian demokrasi ekonomi atau (sistem) ekonomi yang demokratis termuat lengkap dalam penjelasan pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi: Produksi dikerjakan oleh semua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh ada di tangan orangseorang. kemakmuran bagi semua orang! Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Kalau tidak. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. 1930: 31) Jika kita mengacu pada Pancasila dasar negara atau pada ketentuan pasal 33 UUD 1945. Jadi ekonomi kerakyatan adalah (sistem) ekonomi yang demokratis. . Khusus dalam kasus petani padi. Bagaimana memberdayakan ekonomi rakyat Jika kini telah diyakini bahwa yang harus diberdayakan adalah ekonomi rakyat bukan ekonomi kerakyatan. pemerintah harus berpihak kepada petani.

strategi. Dengan digantinya oleh pemerintah istilah ekonomi rakyat dengan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang sebenarnya sekedar menterjemahkan istilah asing SME ( Small and Medium Enterprises). dan antar calon anggota DPD. bukan pada ekonomi kerakyatan. . dan akan menjadi slogan kosong. kecuali ada ‗janji -janji‘ perubahan kebijakan ataupun program ekonomi yang lebih banyak bersifat parsial dan konvensional dari partai peserta pemilu. Oleh: Prof. Kepala Awan Santosa RELEVANSI PLATFORM EKONOMI PANCASILA MENUJU PENGUATAN PERAN EKONOMI RAKYAT Pemilu 2004 sudah pasti akan diwarnai dengan ‗pertarungan politik‘ antar parpol. caleg. terjepit. dan orang-orang yang baru pula. Saya setuju dengan Khudori (2004) bahwa momen Pemilu 2004 selayaknya bukan saja memungkinkan pergantian orang atau partai melainkan pergantian ideologi atau moral ekonomi yang mengarah pada ciri neoliberal-kapitalistik dewasa ini. Kini dengan paradigma baru yang menomorsatukan pemerataan dan keadilan sesuai asas-asas ekonomi Pancasila. sektor informal sebaiknya justru yang disebut sektor formal. sebuah ideologi ekonomi yang ‗ke-Indonesia-an‘. Dr. yang terakhir ini berarti sistem atau aturan main. Tulisan ini menjawab pragmatisme atau ketidaktahuan banyak orang sehingga mereka bertanya-tanya. yang tidak mencakup 40 juta usaha mikro (93% dari seluruh unit usaha). sekaligus juga antar kandidat calon presiden.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. yang tidak dapat diberdayakan. dan tersingkir. yang merupakan istilah dan konsep yang sudah dipakai Bung Karno dan Bung Hatta sejak zaman pergerakan kemerdekaan.Demikian pemberdayaan dan pemihakan pada ekonomi rakyat sangat mudah pelaksanaannya kalau kita terapkan langsung pada ekonomi rakyat. Ekonomi rakyat adalah ekonominya wong cilik yang telah tergeser. dan program-program utama. partai baru. Penutup Tidak terlalu sulit bagi para Capres/Cawapres untuk mengkampanyekan program-program yang benar-benar dapat memberdayakan ekonomi rakyat asal pengertian ekonomi rakyat dipahami secara benar. strategi. Mubyarto -. maka segala pembahasan tentang upaya pemberdayaan ekonomi rakyat tidak akan mengena pada sasaran. maka pemberdayaan ekonomi rakyat harus dijadikan kebijakan. akan berubahkah nasib ekonomi bangsa kita? Tidak dapat dipastikan. Dan dengan definisi ini kemudian diajukan program pemberdayaan sektor “UKM” dengan secepatnya menjadikan atau ―mentransformasi‖ sektor informal menjadi sektor formal. Jelas usulan program seperti ini tidak masuk akal dan menunjukkan ketidakpahaman Capres/Cawapres yang bersangkutan tentang ekonomi rakyat yang menyangkut hajat hidup 160 juta orang Indonesia yang sebenarnya sudah jauh lebih tua dibanding sektor formal. atau mungkin pula akan muncul penguasa-penguasa baru. Lalu. ketika pemerintah Orde Baru memprioritaskan kebijakan. melainkan kembali ke ideologi atau moral ekonomi Pancasila. Bukan berganti menjadi apa-apa. dan lebih baik mengunakan istilah ekonomi rakyat yang setiap orang yang ―tidak terpelajar‖ pun mengerti persis artinya. Kami anjurkan para Capres/Cawapres tidak memilih menggunakan istilah ―UKM‖ yang salah kaprah. Bahkan ada Capres/Cawapres yang secara sangat keliru menyamakan sektor ekonomi rakyat dengan sektor informal. yang hanya diartikan sebagai pelaku-pelaku ekonomi yang tidak berbadan hukum yang selalu ―melanggar hukum‖ sehingga harus ―ditindak‖. Hasilnya bisa jadi kekuasaan tetap dipegang ‗pemimpin lama‘. dan program-programnya pada tujuan pertumbuhan ekonomi tinggi sekaligus dengan mengabaikan atau menunda pemerataannya.

-). rasanya tidak sulit mengamati ekses dari kecenderungan global tersebut di Indonesia. Relevansi platform Ekonomi Pancasila dalam hal ini dikuatkan akutnya perilaku ekonomi di Indonesia yang sama sekali mengabaikan moral. sosial. 2003). ‗keadilan sosial‘. agama. yaitu ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial. ia juga mengangkat realitas sosio-kultur ekonomi rakyat Indonesia. stabilnya rupiah (Rp 8. 2001). para penyanyi. Pada awalnya founding fathers kita merumuskan ‗politik kemakmuran‘. Lalu. Masih ada juga penggusuran orang miskin. Tidak dapat disangkal. selain berisi cita-cita visioner terwujudnya keadilan sosial. apalagi dikait-kaitkan dengan ‗salah ideologi‘ atau ‗salah teori‘ ekonomi. apakah tidak mengada-ada bicara sistem ekonomi dari ideologi yang pernah ‗tercoreng‘. dan ‗pembangunan karakter‘ ( character building) bangsa yang dilandasi semangat penerapan ajaran moral dan agama. dan kegiatan ekonomi banyak dipengaruhi paham (ideologi). dan memperhatikan kepentingan sosial. menegakkan hukum-hukum Allah (syari‘ah). program. Kondisi itu menegaskan perlunya ‗revolusi moral ekonomi‘ menuju pengejawantahan platform Ekonomi Pancasila. Sampai saat . pengabaian nasib TKI. tidak membiarkan terjadi dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial‖. Platform kedua adalah ―kemerataan sosial. Tanpa peduli moral. perusahaan (iklan). Asalkan tidak malas untuk turun ke desa-desa atau ke pelaku ekonomi rakyat. Inilah platform ekonomi yang lebih awal lahir daripada gagasan Amitai Etzioni tentang ‗ekonomi baru‘ yang berdimensi moral dalam bukunya The Moral Dimension: Toward a Newf Economics. dan utopis? Mereka ini begitu yakin bahwa masalah ekonomi (krisis 97) adalah karena ‗salah urus‘ dan bukannya ‗salah sistem‘. Sumatara. praktik ekonomi rakyat. melainkan memperkuat silaturahmi. KKN yang akut memberi sumbangan besar bagi keterpurukan ekonomi bangsa ini. dan teori-teori kapitalisme-liberal. apa bukti platform Ekonomi Pancasila relevan dengan kondisi sosial-ekonomi kita saat ini? Di tengah pesatnya perkembangan ilmu (ideologi) ekonomi global yang sud ah semakin mengarah pada ‗keyakinan‘ layaknya agama (Nelson. Lalu. Gagasan ini sudah lama tertuang dalam bagian penjelasan Pasal 33 UUD 45 yang sudah diamandemen dalam konsep ‗kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan. Disinilah relevansi platform (istilah penulis) Ekonomi Pancasila. Free Press 1988). Namun. moral.Kita mulai dari platform pertama Ekonomi Pancasila yaitu moral agama. moral kerakyatan. Ekonomi Pancasila.relevankah Ekonomi Pancasila dalam memperkuat peranan ekonomi rakyat dan ekonomi nasional di era global (isme) kontemporer? Mereka skeptis. menurunnya suku bunga (dibawah 10%). moral kemerataan sosial. Itu berarti pembangunan ekonomi harus beriringan dengan pembangunan moral atau karakter bangsa. Semua itu terangkum dalam kajian lima platform Ekonomi Pancasila yang bersifat holistik dan visio-revolusioner (Mubyarto.500. yang mengandung prinsip ―roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi. dan dampak sosial bagi masyarakat. Ekonomi Pancasila merupakan prinsip-prinsip moral (ideologi) ekonomi yang diderivasikan dari etika dan falsafah Pancasila. tidak sekedar pembangunan materiil semata. produser. dan moral keadilan sosial. mengeruk ‗rente‘ dari kegiatan ekonomi (bisnis) mereka. Inilah moral ekonomi rakyat yang tidak sekedar mencari untung. bukan kemakmuran orang -seorang‘. kebijakan. dan stasiun TV. dan ditujukan untuk menjamin keadilan antar sesama makhluk ciptaan Allah. sekaligus ‗rambu-rambu‘ yang bernilai sejarah untuk tidak terjerumus pada paham liberalisme dan kapitalisme. Oleh karena itu. dengan lima platform sebagai manifestasi sila-sila Pancasila yaitu moral agama. dan pulau lainnya. yang bermoral dan tidak sekuler. kecuali saat-saat terakhir menjelang Pemilu 2004 dengan pembentukan KPTPK. dan kapitalistik. dan moral‖. Yang masih panas-panasnya adalah maraknya ‗pornoaksi‘ dangdut erotis lewat media TV yang memang ‗dibiarkan‘ di alam kebebasan (liberalisme) saat ini. Akibatnya. bahkan agama. tidak sulit untuk menemukan praktek ekonomi bermoral ini. Gagasan Ekonomi Pancasila mulai dikembangkan Profesor Mubyarto sejak tahun 1981 dalam suatu polemik tentang sistem ekonomi nasional sampai saat ini. tanah longsor. Profesor Mubyarto merumuskan Ekonomi Pancasila sebagai sistem ekonomi yang bermoral Pancasila. dan praktek ekonomi aktual yang ‗menyimpang‘ karena berwatak liberal. makro-ekonomi sudah stabil dengan indikator rendahnya inflasi (dibawah 5%). Penerapan platform Ekonomi Pancasila secara utuh (multisektoral) dan menyeluruh (nasional) menempatkan Indonesia sebagai negara yang menganut sistem ekonomi khas Indonesia yaitu Sistem Ekonomi Pancasila. etika. individualis. Ada lagi maraknya ‗penjarahan alam‘ berupa penebangan hutan secara liar (llegal logging) yang terlalu lama ‗didiamkan‘ sehingga berakibat banjir. dan ribut-ribut soal ‗pesangon‘ BPPN atau DPRD di berbagai tempat. moral nasionalisme ekonomi. dan tidak nampak wujudnya. bukankah sistem ekonomi kita sudah mapan. tidak realistis. Lihat saja korupsi yang sudah membudaya dan melembaga karena tidak pernah diperhatikan secara serius. krisis di Indonesia juga tidak terlepas dari berkembangnya paham kapitalisme disertai penerapan liberalisme ekonomi yang ‗kebablasan‘. dan kekeringan di sebagian wilayah di Jawa. sebagai ‗media‘ untuk mengenali ( detector) bekerjanya paham dan moral ekonomi yang berciri neo-liberal kapitalistik di Indonesia. Relevansi Ekonomi Pancasila dapat ‗dideteksi‘ dari tiga kontek yang berkaitan yaitu cita -cita ideal pendiri bangsa.

yang menjadi senjata penganut paham liberalisme dan kapitalisme. Itulah kita. 2003). bahwa dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat. 2004). koperasi dan usahausaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat‖. atau 7%. upaya penegakan demokrasi ekonomi nampaknya berhadapan dengan upaya-upaya untuk memperjuangkan pasar bebas. perihal ‗politik -ekonomi berdikari‘ yang bersendikan usaha mandiri (self-help). di dasar piramida yang kuenya kecil diperebutkan puluhan juta orang (Khudori. 2001). tangguh. melainkan juga prinsip yang menjiwai setiap proses pembangunan itu sendiri. Kemandirian bukan saja menjadi cita-cita akhir pembangunan nasional. 2004). Isu-isu yang kemudian dicuatkan diantaranya adalah privatisasi BUMN dan liberalisasi impor. Platform ketiga adalah ―nasionalisme ekonomi. Ada kesan kuat bahwa interaksi yang timpang (sub-ordinatif) dengan lembaga asing seperti IMF dan CGI (terkait dengan jebakan utang) telah ‗mengaburkan‘ pentingnya kemandirian ekonomi bangsa yang ditopang oleh semangat nasionalisme ekonomi. Kita dapat belajar pada ekonomi rakyat kita. Pemilu 2004 setidaknya merupakan manifestasi demokrasi politik. Apa gunanya kampanye cinta produk dalam negeri bila pemihakan terhadap pelaku ekonomi rakyat sebagai produsen lokal masih setengah hati. dan tidak perlu diperjuangkan? Lihat saja. dan paha ayam. maka dengan . khususnya Bung Karno dan Bung Hatta. Prinsip ini dijiwai oleh semangat Pasal 33 UUD 1945 yang kini sudah berganti menjadi UUD 2002 (amandemen keempat). tidak ‗menyusahkan‘ atau ‗membebani‘ ekonomi nasional di saat krisis. tanpa berupaya keras memprioritaskan pemerataannya ataupun berusaha sedikit lebih ‗sederhana‘ di tengah kemiskinan yang menjerat kurang lebih 36 juta rakyat Indonesia. Ini mensyaratkan bahwa pembangunan ekonomi haruslah didasarkan pada kekuatan lokal dan nasional untuk tidak hanya mencapai ‗nilai tambah ekonomi‘ melainkan juga ‗nilai tambah sosial-kultural‘. mengapa kita ragu untuk melakukan ‗proteksi‘ terhadap petani kita di saat Amerika. Platform ini sejalan dengan konsep founding fathers kita. padahal potensi untuk itu sangat besar. dan pilihan kebijakan luar negeri bebas-aktif. 5%. gula. tetapi masih mampu menampilkan gaya hidup mewah. namun banyak pula yang pendapatannya pas-pasan sekedar untuk bertahan hidup. justru investasi (asing) dan privatisasi BUMN yang saat ini begitu dipercaya sebagai ‗dewa‘ pertumbuhan ekonomi dengan melupakan begitu saja sifat pemodal besar untuk mencari tempat yang menguntungkan bagi investasi mereka. dan mandiri‖. Ekonomi rakyatlah yang bersifat mandiri. Zakat yang sudah diformalkan (UU) dan pajak sebagai instrumen pemerataan ternyata belum mampu berbuat banyak. hidup di ‗negara kaya‘ (SDA) yang ‗miskin‘ (terlilit utang). Kita patut prihatin jika aset-aset yang menguasai hajat hidup orang banyak terus ‗diobral‘ ke pemodal besar apalagi pemodal asing (kasus Indosat). Perubahan ini telah menghilangkan seluruh penjelasan UUD 1945 termasuk penjelasan Pasal 33 yang berisikan prinsip-prinsip demokrasi ekonomi dan landasan konstitusional koperasi. Banyak orang yang memiliki kekayaan milyaran (termasuk calon-calon presiden kita. Ekonomi Pancasila berfungsi sebagai platform ekonomi yang memperjuangkan pemerataan dan moral kemanusiaan melalui upaya-upaya ‗redistribusi pendapatan‘. kenapa saat ini nasionalisme ekonomi seakan-akan telah dianggap tidak penting. Jepang. percaya diri (self reliance). Di puncak piramida yang menguasai mayoritas kue nasional dihuni segelintir manusia. Lihatlah pesta-pesta bernilai ratusan juta semalam yang sering diadakan ‗selebriti‘. Dalam pada itu. negara-negara Eropa memberikan perlindungan kepada petanipetani mereka. Masih saja ketimpangan sosial-ekonomi susah untuk diperkecil. terutama di perdesaan. Oleh karena itu pokok perhatian seharusnya diberikan pada upaya pemberdayaan ekonomi rakyat sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Lalu. kita masih saja berbicara pertumbuhan ekonomi mau 4%. yang masih memegang prinsip kebersamaan dan solidaritas sosial-ekonomi dalam kegiatan mereka. termasuk juga acara -acara pejabat yang sering menyentak hati karena dipaksakan untuk tetap ada dan mewah. Tempo. Platform keempat adalah ―demokrasi ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan. eksklusif. dan glamour dari sebagian elit warganya. sehingga ‗daya tahan‘ ekonomi mereka tidak perlu diragukan lagi. Dengan begitu pelarian modal (capital flight) atau relokasi industri adalah wajar bagi mereka. tidak relevan. namun bagaimana dengan manifestasi demokrasi ekonominya? Penghapusan ‗koperasi‘ dari penjelasan UUD 45 dan memasukkan ideologi ‗persaingan‘ dan ‗pasar bebas‘ dalam pasal 33 merupakan runtutan dari kebijakan privatisasi BUMN yang ditentang banyak kalangan. yaitu peningkatan martabat dan kemandirian bangsa (Swasono. petani dan peternsk kecil kita begitu ‗menjerit‘ di saat ada impor beras. Jika dasar dan pengertian demokrasi ekonomi (dalam penjelasan Pasal 33 ) sudah ‗dihapuskan‘. Lagi pula. Oleh karena itu. Sebaliknya. dan memang tidak ada kamus ‗nasionalisme ekonomi‘ atau ‗nasionalisme modal‘ dalam istilah mereka. Beralihnya pemilikan BUMN ke investor swasta melalui privatisasi dikhawatirkan justru memperpuruk kesejahteraan ekonomi rakyat (Baswir. Lebih lanjut.ini masih sulit meyakini realisasi semangat tersebut ka rena setiap upaya ‗memakmurkan ekonomi‘ ternyata yang lebih merasakan dampaknya tetap saja ‗orang besar‘ baik pengusaha ataupun pejabat pemerintahan.

Demikian. 2003). Gagasan para pendiri bangsa kita yang sejalan dengan praktek ekonomi rakyat dan menentang keras praktek ekonomi yang neo-liberal-kapitalistik kiranya menyadarkan kita akan perlunya perombakan sistem ekonomi tersebut. Keadaan ini dimungkinkan karena masih juga terjadi ketimpangan antarwilayah. Platform kelima (terakhir) adalah ―keseimbangan yang harmonis. caleg. Pusat tetap memungut 95 persen. efisien.Asisten Peneliti pada Pusat Studi Ekonomi Pancasil (PUSTEP) UGM. bukannya pembangunan di Indonesia seperti yang dilakukan Orde Baru dengan paham developmentalism yang netral visi dan misi (Swasono. dan berciri ‗ke Indonesia-an‘. Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang dimaksudkan untuk mengoreksi sentralisasi ekonomi dan pemerintahan praktis tidak mengubah sedikitpun perimbangan penerimaan negara di Indonesia. untuk kemudian merombaknya dengan kembali ke Sistem Ekonomi Pancasila. yang memungkinkan seluruh wilayah di Indonesia berkembang sesuai potensi masing-masing. Apakah Pemilu dan Sidang Umum 2004 akan mampu menjawab kebutuhan ini? Yogyakarta. bebas. sehingga lebih menjamin upaya pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Seruan memberantas korupsi atau ‗anti politisi busuk‘ saja belum cukup tanpa disertai reformasi (revolusi?) ideologi dan moral ekonomi liberal-kapitalistik yang menumbuhsuburkan praktek korupsi dan kejahatan ekonomi (economic crime) lain di Indonesia. Langkah yang lazim diambil adalah optimalisasi PAD melalui pemberlakuan Perda-Perda yang justru kadang ‗bertentangan‘ dengan peraturan di atasnya seperti halnya hasil kajian Depdagri menunjukkan ada sekitar 7000 perda yang dinilai tidak layak diterapkan (Sunarsip. Inilah substansi Negara Kesatuan yang tidak membiarkan terjadinya ketimpangan sosial-ekonomi antardaerah melalui pemusatan aktivias ekonomi oleh pemerintah pusat. Bukannya platform ekonomi yang konvensional. momentum Pemilu dan Sidang Umum 2004 merupakan saat yang tepat untuk mengoreksi kekeliruan sistem dan paham ekonomi kita. SE -. 5 Februari 2004 Oleh: Awan Santosa. dan bertanggungjawab. dan adil antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas. Otonomi hanya mengubah sedikit sisi belanja. 2004). namun masih saja mereka merasa kesulitan untuk menggali sumber-sumber penerimaan daerah. dan visio-revolusioner. budaya. Bangsa kita benar-benar membutuhkan platform ekonomi yang utuh. Meskipun otonomi daerah telah mendorong kemandirian dan kreativitas Pemda dalam membangun wilayah mereka. Sebelum otonomi pusat membelanjakan 78 persen. parsial. bernilai historis. Tujuan keadilan sosial juga mencakup keadilan antar wilayah (daerah). Inilah relevansi lima platform Ekonomi Pancasila yang dapat menjadi panduan ( guidance) bagi pergantian sistem dan ideologi ekonomi menjadi ekonomi yang lebih bermoral. dan hukum. komprehensif. . kiranya dapat diperdebatkan dengan platform Ekonomi Pancasila. sedangkan PAD seluruh daerah di Indonesia tetap hanya 5 persen. dan calon pejabat pemerintahan lainnya akan kebutuhan adanya platform ekonomi yang khas Indonesia ini? Seandainya mereka (dan partainya) memiliki platform ekonomi tersendiri.platform Ekonomi Pancasila kita berusaha keras untuk mengembalikan hakekat demokrasi ekonomi atau sistem ekonomi kerakyatan dengan ciri ‗produksi dikerjakan oleh se mua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat‘. dan di pusat pemerintahan. Paradigma yang kemudian dibangun adalah pembangunan Indonesia. kini pusat membelanjakan 70 persen (Khudori. menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia‖. 2004). Oleh karena itu pengalaman pahit sentralisasi politik-ekonomi era Orde Baru dapat kita jadikan pelajaran untuk menyusun strategi pembangunan nasional. dan ‗eksklusif‘ dari bidang bidang lain seperti politik. Pertanyaannya. sadarkah para capres. berkerakyatan. antara pusat dan daerah di Indonesia.

1966-1996) ―tidak diridhoi‖ Allah SWT dan krismon ―diturunkan‖ untuk mengingatkan bangsa Indonesia. 2001. Kenyataan ini mempunyai . Terbukti bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi (7% pertahun selama 3 dekade. tetapi konglomerasi (1987-1994) yang menciptakan ketimpangan ekonomi luar biasa. sungguh-sungguh merupakah ―bom waktu‖ yang kemudian meledak sebagai krismon 1997.S.1 juta orang.788 milyar (tabel 2).Mubyarto MENGEMBANGKAN EKONOMI RAKYAT SEBAGAI LANDASAN EKONOMI PANCASILA I . yang tidak pernah dilihat dan dianalisis oleh para ekonom makro.263 milyar menjadi Rp. hal. ISEAS.825 unit-unit desa di seluruh Indonesia berkembang luar biasa. Kemerdekaan. Pada tahun 1930. betapapun sangat ―mahal‖ harganya. Indonesia‘s Economy and Standard of Living in the 20th Century dalam Grayson Lloyd & Shannon Smith.24.1 (1971) menjadi 6.4 juta gulden (0. 828.54%) dari pendapatan ―nasional‖ Hindia Belanda. harus dicapai karena akan membuka jalan ke arah perbaikan nasib rakyat dan bangsa Indonesia. Ekonomi rakyat Indonesia tidak pernah mengalami krisis serius meskipun sempat kaget. Penduduk Propinsi DIY tahun 2002 adalah 3. Demikian data-data mikro dari lapangan ini.2% per tahun selama 1997 – 2002 dari 457.000 orang Eropa (kebanyakan Belanda) menerima 665 juta gulden (99. Indonesia Today.978 orang. Kini setelah Indonesia merdeka 58 tahun. maka sudah sepantasnya berlaku perkataan (ketentuan Kami). Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri.3 juta (2. Singapore. 197.6 juta gulden (0.8 (1983) dan 9. Di Propinsi DIY jumlah penabung bertambah rata-rata 16. sehingga tidak memerlukan pemulihan. Dalam 26 tahun (1971 -1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan daerah termiskin meningkat dari 5. terutama di perdesaan. Dan dana tabungan meningkat 26.18 menjadi 0.368.-. hal. Sangat ―njomplangnya‖ pembagian pendapatan nasional inilah yang sulit diterima para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia yang bersumpah tahun 1928 di Jakarta. dan Gini Rasio meningkat berturut-turut dari 0.[3] [3] Van der Eng. Keuangan Mikro bukan hal baru bagi Indonesia. idem.2%) menerima 0.7 juta hanya menerima 3. 17 Al Israa‘: 16) II. 51.496 menjadi 950. Sebaiknya kita tidak ikut-ikutan berbicara tentang pemulihan ekonomi (economic recovery) jika yang akan kita pulihkan justru kondisi ekonomi sangat timpang ―pra-krisis‖ yang dikuasai konglomerat dan menjepit ekonomi rakyat. Konglomerat ingin melepaskan diri dari kewajiban membayar utang pada bank-bank pemerintah (BLBI dan obligasi rekap). maka Kami perintahkan kepada orangorang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu.4%).3% per tahun dari Rp.1 juta penduduk pribumi (Indonesia) yang merupakan 97.21 dan 0. menunjukkan betapa keliru kesimpulan telah ―hancur leburnya‖ ekonomi Indonesia. Yang baru adalah kesadaran dan pengakuan tentang peranan besar yang dimainkannya dalam perekonomian rakyat dan perekonomian nasional. penduduk Asia lain yang berjumlah 1.06%) sedangkan 241.4% dari seluruh penduduk yang berjumlah 60. ketimpangan ekonomi tidak separah ketika jaman penjajahan. Kemiskinan Penduduk Pribumi di Jaman Penjajahan Pierre Van der Eng. dua tahun setelah Sumpah Pemuda. lembaga keuangan mikro berkembang pesat. 194. Masyarakat dan pers kita hendaknya waspada dalam hal ini. [2] seorang sejarawan Belanda menulis tentang strata ekonomi penduduk di jaman penjajahan. Krisis Moneter Mengembangkan Keuangan Mikro Sejak terjadinya krisis moneter (krismon) yang berakibat langsung pada ditutupnya 16 bank swasta nasional tanggal 1 Nopember 1997. kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (Q. Kesan masih adanya ―krisis ekonomi‖ sekarang ini sengaja ditiupkan dan dibesar-besarkan oleh eks-konglomerat dan para pembelanya termasuk teknokrat. [2] Pierre Van der Eng. BRI yang merupakan lembaga keuangan mikro terbesar di Indonesia yang memiliki 3.8 (1997). berarti setiap orang memiliki tabungan di BRI sebesar Rp.

Kesediaan pemerintah menerbitkan obligasi rekapitalisasi perbankan sebesar Rp. maka jelas kami menolak fatwa yang cenderung ―ngawur‖ tersebut. telah membantu 24. padahal pada tahun 1999 baru Rp. Benarkah faktor-faktor ini cukup? Mengapa inflasi yang sudah benar-benar terkendali sejak 1999 yang kini (2003) berada sekitar 6%. yang sulit dibayangkan untuk bangkit kembali karena utang-utang yang sangat besar. bank-bank masih belum mengucurkan kredit ke sektor riil.6 kali (560%). 50. Di Yogyakarta. selama 1995-2002 kredit yang disalurkan Perum Pegadaian meningkat dengan 5. bukan dosen UGM). Fakta tentang peranan besar keuangan mikro dalam perekonomian nasional hendaknya menyadarkan pemerintah tentang perlunya mengkaji ulang teori ekonomi perbankan modern. dan pemerintah terperangkap dalam beban utang dalam dan luar negeri yang sangat berat. 5. Ekonomi rakyat di manapun di daerah-daerah benar-benar sudah bangkit. anggotanya meningkat lebih dari 5 kali lipat selama periode krisis (1998-2002). maka dilihat dalam perspektif ekonomi diartikan bahwa krisis ekonomi dewasa ini sudah amat parah. yang memang tidak tercatat dalam statistik. Satu Baitul Maal (BMT Beringharjo) di kota Yogyakarta dalam periode relatif singkat (1995-2002) telah meningkat omset pinjamannya dari Rp. Kini ketika konglomerat sudah rontok.9 juta menjadi Rp. Misalnya.873 penduduk miskin di seluruh Indonesia dengan pinjaman Rp. faktor-faktornya antara lain adalah kurs dollar yang masih 3 kali lebih tinggi dibanding sebelum krisis moneter Juli 1997. 440 juta untuk 917 orang (tabel 5). yang bunganya sangat memberatkan APBN. Bahwa ekonomi nasional dianggap masih dalam kondisi krisis. sehingga tinggal tunggu waktu dibawa masuk jurang. dengan nilai pinjaman meningkat 11 kali lipat (1116%) dari Rp.2 milyar dengan anggota naik dari 393 menjadi 1333 (Tabel 4). 39 milyar. Ekonomi Rakyat sebagai Penyelamat Ekonomi Nasional Jika Ahmad Syafii Ma‘arif dan Franz Magnis -Suseno (2003) berbicara keras tentang kerusakan bangsa Indonesia yang ―hampir sempurna‖. dan jumlah orang yang menggadaikan (nasabah) naik 368% (Tabel 2).04 milyar menjadi Rp. 1. dan pertumbuhan ekonomi yang sudah positif (3-4% pertahun). maka ekonomi Indonesia secara keseluruhan dikatakan sudah dalam keadaan krisis parah. pembangunan ekonomi sudah menjadi ―agama‖. kata mereka. koperasi atau lembaga-lembaga keuangan mikro ―informal‖ di perdesaan. Sebaliknya data-data mikro sektor ekonomi rakyat. Sebabnya tidak lain karena selama 3 dekade Orde Baru. Inilah yang oleh para ekonom makro yang keblinger disebut dengan ekonomi illegal atau hidden economy. dengan peranan yang amat dominan dari (perusahaan-perusahaan) konglomerat. krisis hukum. Memang pakar-pakar ekonomi makro kita pada umumnya masih mampu berargumentasi dan menunjuk belum adanya investasi terutama investasi asing sebagai salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi rendah. III. jelas merupakan kebijakan keliru yang tidak berpihak pada kebijakan pengembangan keuangan mikro dan pemberdayaan ekonomi rakyat. 11. Jika ada pakar ekonomi asing mengatakan ―the only way for Indonesia‟s economic recovery is mass capital inflow from abroad‖. .650 trilyun untuk ―menyelamatkan perbankan modern‖. atau krisis moral. tidak sekedar menggeliat. tidak dianggap sebagai faktor-faktor yang seharusnya tidak lagi menggambarkan kondisi krisis ekonomi? Ekonomi yang krisis adalah ekonomi yang pertumbuhannya terus-menerus negatif dan inflasi merajalela lebih dari 50% per tahun. anggota KOSUDGAMA (Koperasi Serba Usaha Dosen-dosen Gadjah Mada) yang kini beranggota 5332 orang (74% diantaranya anggota luar biasa. Meskipun orang tidak pernah lupa menyebutkan bahwa krisis yang melanda bangsa Indonesia dewasa ini sudah berciri multidimensi. karena pada umumnya pakar-pakar ekonomi kita lebih banyak menggunakan data-data makro sekunder dan tersier di bidang keuangan. Usahausaha ekonomi rakyat yang disebut (secara tidak tepat) sebagai UKM (Usaha Kecil Menengah) berkembang di mana-mana dengan pendanaan mandiri atau melalui dana-dana keuangan mikro seperti pegadaian. yang jika dibiarkan pasti akan mengakibatkan kebangkrutan perekonomian nasional. Benarkah? Diagnosis ekonomi yang bersifat pesimistik masih jauh lebih kuat dibanding diagnosis optimistik. ―Jika pertumbuhan ekonomi hanya ditopang oleh konsumsi maka pertumbuhan ekonomi tidak akan berkelanjutan‖.implikasi besar terhadap teori tentang peranan modal nasional dan upaya-upaya penguatannya dalam pembangunan ekonomi bangsa. tidak pernah masuk dalam perhitungan. Selain itu Koperasi Bina Masyarakat Mandiri yang didirikan 28 ―orang gila‖ tanggal 28 Oktober 1998 di Jakarta.57 milyar (Tabel 3). bukan krisis politik. tokh yang paling sering disebutkan di media massa adalah sebagai krisis ekonomi.

berbeda dengan pandangan pakar-pakar ekonomi arus utama (main stream). menunjuk pada asas ke-4 Pancasila. Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang demokratis. Bahwa sejauh ini pakar-pakar ekonomi arus utama menolak konsep ekonomi kerakyatan. Kerusakan ekonomi bangsa memang hampir sempurna. Yang benar manusia adalah juga homo socius dan homo ethicus. dan kita tidak perlu mati-matian memulihkan kondisi ekonomi pra-krisis yang sangat timpang. Korupsi yang makin merajalela yang ―menyebar‖ dari pusat ke daerah-daerah bersamaan dengan pelaksanaan otonomi daerah bukanlah ―krisis ekonomi‖ tetapi krisis moral. Disinilah kekeliruan fatal pakar-pakar ekonomi makro yang sejak krismon 1997 menyatakan ekonomi Indonesia telah ―mati secara aneh dan tiba -tiba‖ (the strange and sudden death of a tiger )[4]. Pandangan dan pemihakan mereka pada konglomerat yang liberal-kapitalistik memang amat sulit diubah lebih-lebih setelah (istilah mereka) ‖Uni Sovyet pun kapok dengan sosialisme. Ekonomi siapa yang akan dipulihkan? Ekonomi konglomerat jangan dipulihkan. Sudah pasti mereka ―keblinger‖ karena paham sosialisme tidak pernah mati. dan RRC juga sudah menjadi kapitalis”. Yang rusak adalah ekonomi konglomerat yang pada masa-masa jayanya terlalu mengandalkan pada modal asing yang murah. tetapi kemudian pada tahun 1999 menyebutnya telah mati. [5] Adam Smith. dimana ekonomi rakyat mendapat dukungan pemihakan yang sungguh-sungguh dari pemerintah. The Theory of Moral Sentiments. sedangkan ―kerusakan bangsa‖ yang diklasifikasi sebagai ―hampir sempurna‖ oleh Syafii Ma‘arif adalah kerusakan dalam bidang tatakrama atau etika politik. tetapi dalam bidang politik. bukan kerusakan ekonomi Indonesia. hukum. dan moral. Demikian.Dapat disimpulkan bahwa kondisi ―amat gawat‖ yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini tidak terletak dalam bidang ekonomi khususnya ekonomi rakyat. dan ekonomi RRC tumbuh cepat bukan karena meninggalkan paham sosialisme tetapi karena amat berkembangnya ekonomi rakyat. 1759. tetapi setelah terjadi apresiasi dolar 6 kali lipat secara tiba-tiba maka konglomerat-konglomerat tersebut telah benar-benar hancur berkeping-keping. tetapi dituduh sebagai sistem ekonomi ―sosialis-komunis‖ ala Orde Lama 1959-1966. kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Ekonomi Indonesia akan tumbuh cepat seperti ekonomi RRC jika mampu mengalahkan virus korupsi yang tumbuh subur sejak awal gerakan reformasi yang telah benar-benar melenceng. Bibit -bibit sistem ekonomi Pancasila sudah ada dan sudah dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Indonesia terutama pada masyarakat perdesaan dalam bentuk usaha- . yang hendak digusur dari pasal 33 UUD 1945. lalu apa yang terjadi dengan orang-orangnya? Apakah mereka (bangsa Indonesia) juga ikut mati? Inilah tidak realistisnya analisis ekonom yang memberikan konsep-konsep ekonomi abstrak dari manusia-manusia ekonomi (homo ekonomikus) tanpa merasa perlu membumikannya.[5] [4] Hal Hill dalam buku pertama tahun 1993 memuji-muji ekonomi Indonesia sebagai The Southeast Asia‟s emerging giant. tetapi bukan kerusakan ekonomi rakyat. IV. kerusakan ekonomi yang dialami sektor modern/ konglomerat tidak perlu diratapi. Pendirian PUSTEP-UGM ini kemudian diikuti pembentukan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PSEK) di Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa tanggal 16 Agustus 2003 semuanya berkehendak menyumbangkan teori-teori dan ilmu ekonomi (asli) Indonesia yang benar-benar memberi manfaat pada masyarakat/ bangsa Indonesia khususnya wong cilik. Apakah kondisi ekonomi konglomerasi seperti ini akan kita pulihkan? Pasti tidak. Ekonomi Pancasila bukanlah sistem ekonomi baru yang masih harus diciptakan untuk mengganti sistem ekonomi yang kini ―dianut‖ bangsa Indonesia. Jika ekonomi Indonesia telah diibaratkan sebagai harimau ( tiger) yang sudah mati sejak krismon 1997-1998. Indonesia sebaiknya tidak usah berbicara tentang pemulihan ekonomi ( economic recovery). adalah karena mereka secara a priori menganggap ekonomi kerakyatan bukan sistem ekonomi pasar. the strange and sudden death of a tiger. bahkan juga ekonomi kekeluargaan. Revolusi Mewujudkan Ekonomi Pancasila Tanggal 12 Agustus 2002 UGM mendirikan PUSTEP (Pusat Studi Ekonom Pancasila) yang kemudian disambut pembentukan Komisi Ad Hoc Kajian Ekonomi Pancasila pada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. Dr. Sistem ekonomi kerakyatan merupakan sub-sistem dari sistem ekonomi Pancasila yang diragukan dan tegas-tegas ditolak oleh teknokrat ―keblinger‖. suatu bentuk pengorbanan psikologis. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus. Seminar UGM. janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya ialah perjuangan. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi dan Moral. Jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu menjadi satu realiteit. dan Balikpapan. Jihad akbar adalah jenis perjuangan berat melawan diri sendiri. Tindakan besar yang dimaksud adalah suatu tindakan fundamental. perjuangan. dan sistem ekonomi kerakyatan sedang mencari bentuknya yang tepat dan operasional. . [1] Makalah untuk Seminar Ekonomi Masa Depan Indonesia Pasca IMF. Seorang pengemudi ‟speed boat‟ Zamrani (26 th) yang hanya tamat SD 6 tahun menegaskan “Ekonomi Pancasila dalam Aksi” di dalam pelayanan jasa transpor di Sungai Mahakam Kaltim. yang secara moral setara dengan revolusi. 11 Oktober 2003 Oleh: Prof.. berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila (Soekarno. Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. „Speed‟ hanya melayani penumpang Melak-Kota Bangun pulang-pergi (Kutai Barat dan Kutai Kartanegara). tetapi gerakan ekonomi kerakyatan yang dipicu semangat reformasi memberikan iklim segar pada berkembangnya sistem ekonomi Pancasila yang berpihak pada ekonomi rakyat. maka reformasi lebih -lebih yang bersifat tambal-sulam jelas tidak akan memadai. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. ―Kapal‖ Indonesia harus dibalikkan arahnya. PUSTEP UGM bertekad melakukan kajian-kajian kehidupan riil (real life) sehingga dapat membakukan ilmu ekonomi tentang kehidupan riil ( real-life economics) dari masyarakat/bangsa Indonesia. hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang.usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. meskipun keberpihakan pemerintah pada konglomerat belum hilang. KOPMA-UGM. sedangkan taksi Kijang dan lain-lain kendaraan “mini-bus” untuk jurusan Kota BangunTenggarong-Samarinda. Adapun mengapa praktek-praktek kehidupan riil dan kegiatan ekonomi rakyat yang mengacu pada sistem (aturan main) ekonomi Pancasila ini tersendat-sendat. Pembentukan PUSTEP UGM tepat waktu untuk mengisi kevakuman sistem ekonomi nasional. 25-27 September 2003. Mubyarto -. ketika sistem ekonomi kapitalis liberal di Indonesia sedang digugat.[6] [6] Nurcholish Madjid. Kompleksitas krisis multidimensi sekarang dan beratnya beban kesulitan mengatasi dan mengakhirinya membuat tekad membangun masa depan harus diwujudkan dalam tindakan-tindakan besar dan inisiatif tingkat tinggi. Justru inilah suatu bentuk nyata ‖jihad akbar” yang tidak menuntut pengorbanan pertumpahan darah. Nanti kita bersama-sama sebagai bangsa yang bersatu padu. tetapi menuntut pengorbanan melawan egoisme dan subjektivisme. . yaitu di antara 79 „speed‟ dan 60 taksi yang semuanya dimiliki warga Kota Bangun. “Bagi-bagi rezeki” ala ekonomi rakyat di Kota Bangun inilah bukti nyata telah diterapkannya asas-asas ekonomi Pancasila di Kalimantan Timur. alasannya jelas karena politik ekonomi yang dijalankan pemerintah bersifat liberal dan berpihak pada konglomerat. yang begitu silau dengan sistem ekonomi kapitalis liberal dari Barat (Amerika). mengibaratkan bangsa Indonesia sudah mendekati ―jurang kehancuran‖. sekali lagi perjuangan. lain coraknya. suatu perjuangan yang memerlukan keberanian menyatakan apa yang benar walaupun pahit karena bertentangan dengan kepentingan pribadi atau kelompok. 11 Oktober 2003. Ketika terjadi krismon 1997-1998. 1 Juni 1945) Jika Ahmad Syafii Ma‘arif dan Franz Magnis-Suseno di dalam Seminar ―Meluruskan Jalan Reformasi‖. Itulah revolusi bukan sekedar reformasi.. atau bahkan perang.

namun perhatian terhadap . Yogyakarta.720. Seminar Nasional. kelas III: 3 murid. Anak -anak kelas I – III pulang pukul 11:00. Gadjah Mada Press. meskipun gaji Rusnawati terhitung lumayan (Rp 1. 8. Black Swan. sedangkan ke perbatasan dengan Kalteng yang hanya 10 km ditempuh dalam 1 jam perjalanan. 1976. 5.000 per-bulan). The Rebel Within. Grayson & Shannon Smith. Joseph E. Globalization and Its Discontents. Singapore. Kembalikan Moralitas Bangsa. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi dan Moral. 2003. dan revolusi dalam kesadaran seluruh warga masyarakat bagaimana menjamin pendidikan yang bermutu bagi generasi anak cucu . Kalimantan Timur. Penduduk dan Kemiskinan di Pedesaan Jawa. Norton.H. De Soto. Seminar Nasional. 2001.Bacaan 1. Kedua. The Mystery of Capital. 3. Reformasi Sistem Ekonomi. London. Chang. Moral. 12. 2001. Sekolah dimulai pukul 6:00 pagi dan pada pukul 6:30 semua murid ―gosok gigi‖ bersama. Bhratara. kelas II: 3 murid. dan Pendidikan. Aditya Media. ―12 Kali Tepuk Tangan di BPUPKI: Lahirnya Pancasila. Yogyakarta. Franz Magnis-Suseno SJ. Soekarno. yaitu revolusi dalam perhatian pemerintah terhadap kondisi persekolahan di kampung ini. dan sangat jelas yang diperlukan sekarang bukan sekedar reformasi tambal sulam tetapi revolusi. Universitas Gadjah Mada. Bromley. 2003. Mubyarto. Bila kita berbicara tentang reformasi yang jalannya hendak kita ―luruskan‖. 2002. Lloyd. Joseph Stiglitz and The World Bank. maka untuk SD yang ditangani Rusnawati reformasi ―belum pernah terjadi‖. Pertama. kelas IV: 1 murid. Pemda Kabupaten. Kecamatan Bentian Besar. dan kelas VI: 8 murid. Ha-Joon. New York. 4. Tentu kita kagum bagaimana seorang guru mengajar 25 anak didik dengan 6 kelas yang berbeda dengan buku-buku yang sangat terbatas. berjarak 160 km dari Melak (Sendawar. bertahun-tahun berjuang ―sendirian‖. 9. 6. 2. 10. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi. Yogyakarta. SD yang layak dan bermutu harus dipusatkan di kecamatan yang murid-muridnya di‖asramakan‖ dan penyelenggaraannya ditanggung Dinas Pendidikan. 2002. 1999. Perjalanan dari Melak memerlukan 4 jam. 2003. ISEAS. Universitas Gadjah Mada. Penny. ibukota Kutai Barat) dengan perjalanan darat sebagian besar masih jalan tanah buatan perusahaan HPH. sedangkan anak-anak kelas IV – VI pulang pukul 13:00. Stiglitz. 2000. dan kini bertanggungjawab atas pendidikan 25 anak yang terbagi atas 6 kelas yaitu kelas I: 8 murid. Seminar Nasional. Masri Singarimbun & D. Mubyarto PERHATIAN TERHADAP KONDISI PERSEKOLAHAN DI DAERAH TERPENCIL: BUKAN SEKEDAR REFORMASI HARUS REVOLUSI Rusnawati (47 tahun) yang guru SD Kampung Sambung. 2003. Membangun Sistem Ekonomi. Universitas Gadjah Mada. 7. Pidato pertama tentang Pancasila yang diucapkan pada tanggal 1 Juni 1945 oleh Bung Karno ‖. Ahmad Syafii Ma‘arif. tidak mungkin setiap kampung mempertahankan SD sendiri-sendiri dengan jumlah murid sangat sedikit. 11. Anthem Press. Panitia Pusat ―Silaturahmi Kebangsaan 2003‖. BPFE. 2000. Mubyarto dan Daniel W. Mubyarto. Kampung (desa) Sambung. Hernando. Nurcholish Madjid. A Development Alternative for Indonesia. WW. Jakarta. Kabupaten Kutai Barat. kelas V: 2 murid. Indonesia Today. sehingga total 25 murid.

dengan titik berat pembangunan yang berlandaskan pada pembangunan ekonomi rakyat. Sekarang setiap anak membayar BP3 Rp 1. Demikian dari kasus 2 SD di kampung miskin di kabupaten Kutai Barat ini kiranya harus ada revolusi dalam pendidikan dasar. Sengkon (39) dengan gaji Rp 720.000/bulan. Pendapatan per kapita dan pengeluaran per kapita dapat dijadikan sebagai indikator kemajuan pembangunan ekonomi di Nusa Tenggara Timur. 9 Tahun 2001 Tentang Program Pembangunan Daerah Tahun 2001-2004. sangat mendukung gagasan pengasramaan murid-murid SD desa-desa terpencil ini. pemerintah daerah harus mampu mendorong terjadinya revolusi atau perubahan radikal dalam menangani dunia pendidikan termasuk penyediaan anggaran 20% dari APBD seperti yang ―dianjurkan‖ UUD 1945 yang telah diamandemen. tidak sekedar reformasi yang dalam kenyataan hanya dijadikan retorika politik di Jakarta. 4 & 7). Kasus kondisi sekolah dasar yang cukup ―memilukan‖ di kampung Sambung menjadi lebih ―mengerikan‖ lagi di kampung Jontai kecamatan Damai. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM.008 per bulan atau berdasarkan harga yang berlaku pada tahun 2001 adalah sebesar Rp 1. Dr. Masyarakat yang hampir semuanya miskin sulit diharapkan membayar biaya pendidikan anak-anak mereka.Nopember 2003] Vincent Gaspersz dan Esthon Foenay KINERJA PENDAPATAN EKONOMI RAKYAT DAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Strategi pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dilakukan berdasarkan pertumbuhan melalui pemerataan dengan prinsip membangun dari apa yang dimiliki rakyat dan apa yang ada pada rakyat. Pos Kupang 11 September 2001 hlm. terutama desa-desa/kampung-kampung miskin. [1] 8 . dipakai untuk semua murid dengan guru Sengkon sendirian (guru PTT Sarmoto jarang datang). Kepala sekolah SD Dempar. Melihat buku-buku ajar yang dipakai sebagian besar sudah tua. hlm. Jaelani (41 th). Ada anak kelas I anak penginjil setempat (Yunus) yang tiap hari diantar sekolah oleh ibunya setelah ditinggal selalu pulang lagi. dikhawatirkan anak-anak sangat tidak menikmati suasana sekolah dan tidak dapat diharapkan menjadi anak-anak yang cerdas. dan kesehatan rakyat.811. Strategi pembangunan yang menjadi pilihan tersebut memerlukan langkah-langkah operasional yang terukur dan disesuaikan dengan paradigma baru pembangunan (Esthon Foenay.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM.696 per tahun atau Rp . tanpa dinding pembatas. Pada saat kepada penduduk Jontai yang dipilih secara acak diajukan usulan untuk ―mengasramakan‖ anak -anak usia SD mereka ke SD Dempar. itupun ada yang keberatan karena memang tidak mampu.kesejahteraan guru dan penyediaan bahan-bahan ajar harus dengan anggaran yang memadai untuk penyelenggaraan sekolah-sekolah beserta asramanya.000/bulan bertanggungjawab atas pendidikan 41 murid SD. yang merupakan filial SD Dempar. 25 September 2003 Oleh: Prof.000 (baru saja diangkat sebagai PNS) dengan dibantu guru PTT dengan gaji Rp 400. Di daerah-daerah. Kinerja pendapatan per kapita penduduk diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan tahun 1993 dibagi dengan jumlah penduduk tengah tahun. beberapa orang spontan mendukung asal tetap tidak perlu dipungut biaya. 19). Mubyarto -.100 per tahun atau Rp 61. Salah satu tujuan pembangunan ekonomi daerah Nusa Tenggara Timur adalah meningkatkan standar hidup layak yang diukur dengan indikator pendapatan per kapita riil masyarakat (Peraturan Daerah Provinsi NTT No. Pendapatan per kapita dari Provinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan harga konstan 1993 pada tahun 2001 adalah sebesar Rp 732. Gedung SD dari kayu yang bekas rumah penduduk (5 x 15m). pendidikan rakyat.

380 per tahun atau Rp 84. Pengeluaran per kapita dari penduduk perkotaan di NTT adalah sebesar Rp 1.951).493.000 per hari ini terbanyak berada di daerah pedesaan NTT yaitu sebanyak 3. Jika menggunakan nilai kurs $US 1 = Rp 9000an (rata-rata nilai kurs pada tahun 2001).72%). Kinerja pendapatan per kapita lingkup kabupaten/kota tertinggi (PDRB real per kapita—tanpa minyak dan gas) adalah dari Kota Madya Jakarta Pusat (Provinsi DKI Jakarta) yaitu Rp 15. (4) Ende (Rp 812. Sangat sulit membayangkan betapa parahnya tingkat kemiskinan masyarakat di Nusa Tenggara Timur.250 per bulan dan terrendah adalah dari Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Rp 712. Berdasarkan studi ini dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pemerataan kemiskinan di Nusa Tenggara Timur yang ditunjukkan melalui rendahnya tingkat pengeluaran per kapita dari mayoritas penduduk di NTT. diurutkan dari yang terrendah adalah: (1) Sumba Barat (Rp 474.000 per tahun atau Rp 495. masih lebih rendah daripada pendapatan per kapita penduduk negara termiskin di dunia (Sierra Leone) yang sebesar $US 490. Kinerja pendapatan per kapita dari kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 adalah terdapat tujuh kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pendapatan per kapita per tahun lebih rendah daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 732.770 per bulan (NTT dalam Angka Tahun 2001.000 per hari pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku pada saat itu.680).105).061) dan terrendah (pendapatan per kapita terrendah) adalah dari negara Sierra Leone yaitu $US 490.000 per tahun —ranking 294 dari 294 kabupaten di Indonesia) dan Kabupaten Sumba Barat (pendapatan per kapita Rp 501.000 per bulan atau kurang dari Rp 5.240 per tahun atau Rp 93.728.985. BAPPENAS.$US 300. Kelompok penduduk yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150. (3) Timor Tengah Selatan (Rp 550. maka pendapatan per kapita NTT pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku adalah setara dengan $US 200-an. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001 (BPS. Hal ini berarti secara kasar dapat disimpulkan bahwa pendapatan per kapita penduduk NTT yang sebesar $US 200-an—katakanlah berkisar $US 200 .15% penduduk NTT (3.057).318. atau hanya sekitar 12 persen daripada pendapatan per kapita penduduk DKI Jakarta.000 per tahun atau Rp 41. atau hanya sekitar 3. Terdapat dua kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pendapatan per kapita terrendah di Indonesia (ranking 293 dan 294 dari 294 kabupaten yang dipelajari). (4) Timor Tengah Utara (Rp 650. (5) Alor (Rp 706. diurutkan dari yang tertinggi adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 1. Kinerja pengeluaran per kapita penduduk secara rata-rata dapat juga digunakan sebagai variabel proxy (mewakili) dalam mengkaji kinerja tingkat pendapatan ekonomi penduduk dan distribusi pendapatan penduduk.100). Hal ini berarti pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk perkotaan di NTT lebih tinggi sekitar Rp 713.015.72% dari total penduduk pedesaan) hanya memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 5.125.417 per bulan.636).857). Pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku terdapat sekitar 90.149). Sedangkan enam kabupaten di NTT memiliki kinerja pendapatan per kapita lebih tinggi daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 732. sedangkan pengeluaran per kapita dari penduduk pedesaan di NTT adalah sebesar Rp 1.14 persen daripada pendapatan per kapita penduduk Jakarta Pusat.009).000 per tahun—ranking 293 dari 294 kabupaten di Indonesia).000 per hari.104. Pengeluaran per kapita pada tahun 2001 dari penduduk Provinsi Nusa Tenggara Timur atas dasar harga yang berlaku adalah sebesar Rp 1.000 per bulan atau kurang dari Rp 5.000 per tahun atau Rp 59.820. (5) Flores Timur (Rp 778. dan UNDP 2001) diketahui bahwa kinerja pendapatan per kapita tertinggi (PDRB real per kapita —tanpa minyak dan gas) pada lingkup provinsi di Indonesia adalah dari Provinsi DKI Jakarta yaitu Rp 5.22%) daripada pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk pedesaan di NTT.339 orang (65. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001 (BPS.150. BAPPENAS.04%). sedangkan yang berada di daerah perkotaan NTT adalah sebanyak 388.100).591). dan (6) Ngada (Rp 761. terutama di daerah pedesaan NTT di mana mayoritas penduduknya (94. 129).028 (70. (2) Kabupaten Kupang (Rp 852.959 orang (94.262). (2) Manggarai (Rp 521. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Global 2002 (UNDP 2002) terhadap 173 negara di dunia. diketahui bahwa kinerja pendapatan per kapita tertinggi adalah dari negara Luxembourg yaitu sekitar $US 50 ribu ($US 50.615 per bulan.333 per bulan. Kinerja pendapatan per kapita di Nusa Tenggara Timur adalah yang paling rendah (paling buruk) di Indonesia.298 orang) yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150. (6) Sikka (Rp 717.333 per bulan dan terrendah adalah dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (Provinsi Nusa Tenggara Timur) yaitu Rp 497.034 per bulan. dan (7) Ngada (Rp 761. 469).943.000 per tahun atau Rp 1.039).408 per tahun atau Rp 144. dan UNDP 2001) diketahui bahwa rasio Gini (indeks Gini) dari pengeluaran rumahtangga di Provinsi Nusa Tenggara Timur .149). hlm. hlm. yaitu Kabupaten Timor Tengah Selatan (pendapatan per kapita Rp 497.053). (3) Sumba Timur (Rp 840.975 per bulan (NTT dalam Angka Tahun 2001.

250). diurutkan dari yang tertinggi adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 1.575.281. Hal ini berarti bahwa tingkat ketimpangan antara produktivitas tenaga kerja sektoral tertinggi (sektor lembaga keuangan bukan bank —Rp 35. 2002) diketahui bahwa produktivitas tenaga kerja tertinggi berada dalam sektor lembaga keuangan bukan bank yaitu sebesar Rp 35.540). dan (3) Sumba Timur (Rp 1. yaitu: sisi input dan sisi output. (5) Timor Tengah Utara (Rp 487. kimia dan barang dari karet yaitu sebesar Rp 469. yang berarti tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi dari Kota Madya Kupang adalah 7. (2) Sikka (Rp 440. (8) Sikka (Rp 1.148.590) dan produktivitas tenaga kerja sektoral terrendah (sektor industri pupuk.540).030). (3) Timor Tengah Selatan (Rp 472. Hanya terdapat dua kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pengeluaran per kapita lebih tinggi daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 576. adalah: (1) Sumba Barat (Rp 1. (6) Belu (Rp 494.820).580).28.pada tahun 1999 adalah rendah yaitu 0.900).017. kimia dan barang dari karet.590 (atas dasar harga yang berlaku tahun 2001). yang berarti tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi dari sektor lembaga keuangan bukan bank adalah 75 kali lipat (7500%) daripada tingkat produktivitas tenaga kerja terrendah dari sektor industri pupuk. Hal ini berarti bahwa tingkat ketimpangan antara produktivitas tenaga kerja regional tertinggi (Kota Madya Kupang—Rp 7. .650). Kinerja produktivitas tenaga kerja di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 adalah sebesar Rp 1.080). sedangkan produktivitas tenaga kerja terrendah berada dalam Kabupaten Sumba Barat yaitu sebesar Rp 1.717. Berdasarkan kenyataan di atas.960).650).030) dan produktivitas tenaga kerja regional terrendah (Kabupaten Sumba Barat—Rp 1. (7) Ende (Rp 501. diurutkan dari yang terrendah adalah: (1) Sumba Barat (Rp 437. Alor.900). Dari 13 kabupaten/kota yang dipelajari. (10) Sumba Timur (Rp 566.900).597. adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 7. diurutkan berdasarkan produktivitas tenaga kerja terrendah.750 (atas dasar harga konstan 1993).202. (4) Belu (Rp 1.030).406. diurutkan berdasarkan produktivitas tenaga kerja tertinggi.730).962.24 kali atau 724 persen.367.710).140).703.500 persen.534.560).717. (8) Flores Timur (Rp 528.650).187.360). dan Kabupaten Kupang.367. dan (10) Ende (Rp 1. maka pembangunan ekonomi kerakyatan di masa mendatang seyogianya memprioritaskan pada beberapa kabupaten di NTT yang masih menunjukkan kinerja rendah dalam indikator pendapatan ekonomi masyarakat yaitu: Timor Tengah Selatan.24 kali lipat (724%) daripada tingkat produktivitas tenaga kerja terrendah dari Kabupaten Sumba Barat.750) di Nusa Tenggara Timur adalah sekitar 7.017.270). yang menunjukkan telah terjadi pemerataan pengeluaran rumahtangga pada tingkat pengeluaran yang rendah seperti diungkapkan di atas.367.017.652. (9) Alor (Rp 1. Kinerja pengeluaran per kapita dari kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada tahun 1999 atas dasar harga konstan 1993 adalah terdapat sebelas kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pengeluaran per kapita lebih rendah daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 576.717. (3) Timor Tengah Utara (Rp 1.660).970). (7) Flores Timur (Rp 1.180) dan (2) Manggarai (Rp 579. kimia dan barang dari karet —Rp 469. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input dalam memproduksi output (barang dan/atau jasa). Sumba Barat.942. Kinerja produktivitas tenaga kerja dari kabupaten-kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah terdapat 10 kabupaten yang memiliki kinerja produktivitas tenaga kerja regional lebih rendah daripada rata-rata produktivitas tenaga kerja tingkat Provinsi NTT (Rp 1.010).187.280). Timor Tengah Utara. Kinerja Produktivitas Tenaga Kerja di NTT Apabila ukuran keberhasilan produksi hanya memandang dari sisi output. maka produktivitas memandang dari dua sisi sekaligus. (4) Alor (Rp 485. (9) Kabupaten Kupang (Rp 557. diketahui bahwa produktivitas tenaga kerja tertinggi berada dalam Kota Madya Kupang sebesar Rp 7. (2) Manggarai (Rp 1. Kinerja produktivitas tenaga kerja regional di Nusa Tenggara Timur diukur berdasarkan rasio produk domestik regional bruto (PDRB) kabupaten tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 dengan jumlah tenaga kerja yang ada di kabupaten itu pada tahun 2001. sedangkan produktivitas tenaga kerja terrendah berada dalam sektor industri pupuk. Manggarai. (2) Kabupaten Kupang (Rp 1.710) di Nusa Tenggara Timur adalah sekitar 75 kali atau 7.030 (atas dasar harga konstan 1993). Hanya terdapat tiga kabupaten yang memiliki kinerja produktivitas tenaga kerja regional lebih tinggi daripada rata-rata produktivitas tenaga kerja tingkat Provinsi NTT (Rp 1. Belu.380). (5) Ngada (Rp 1.640). (6) Timor Tengah Selatan (Rp 1.750).710 (atas dasar harga yang berlaku tahun 2001).650.523.980). dan (11) Ngada (Rp 566. Dari 34 sektor produksi yang didefinisikan dalam Tabel Input-Output Nusa Tenggara Timur 2001 (BPS NTT.

Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 6 Tahun 2002 tentang Rencana Strategis Pembangunan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2002-2004. M. Hal yang paling memungkinkan adalah mengembangkan sektor-sektor agribisnis yang mampu mengaitkan secara terpadu dan terintegrasi dari agribisnis hulu. BPS NTT. Perspektif Perencanaan dan Paradigma Baru Pembangunan. Badan Pusat Satatistik. Jakarta yang saat ini bermukim di Vancouver. di masa mendatang akan mampu meningkatkan produktivitas tenaga kerja regional. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 9 Tahun 2001 tentang Program Pembangunan Daerah (PROPEDA) Tahun 2001-2004. Kupang. Bappenas. 4 dan 7. Hal ini akan mampu mewujudkan cita-cita jangka panjang berupa mewujudkan masyarakat Nusa Tenggara Timur yang mandiri. Prof. Kupang. Laporan Studi Kerjasama Bappeda NTT dengan Program Pascasarjana Universitas Katolik Widya Mandira. Ir. maju. Vincent Gaspersz adalah Guru Besar Ekonomi Manajerial pada Program Pascasarjana Unika Widya Mandira. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 8 Tahun 2001 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Tahun 2001-2004. 2001. Tabel Input-Output Nusa Tenggara Timur 2001—Klasifikasi 35 Sektor. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. BPS. Kupang. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2000. yang pada akhirnya akan mampu mewujudkan kemandirian masyarakat membiayai kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. melalui mengembangkan sektor agribisnis dari hulu. dan UNDP. . BPS NTT. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. NTT. dan sejahtera. Foenay. Esthon. Perencanaan Sumber Daya Manusia Tingkat Makro di Provinsi Nusa Tenggara Timur.Berdasarkan hasil studi ini direkomendasikan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dari kabupaten-kabupaten di NTT melalui melakukan transformasi struktur produksi atau menurunkan tingkat kontribusi dari sektor-sektor primer terhadap PDRB kabupaten itu. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. sesuai dengan visi dari pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur. 2001. Kupang. Dr. akan memberikan konsekuensi lebih lanjut berupa peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat. dan UNDP. BPS NTT. 2001. Peningkatan produktivitas tenaga kerja melalui perubahan struktur produksi terhadap PDRB. Kupang. Jakarta. 2002. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. sampai hilir. ―on-farm‖. Bappenas. 2001. 2002. dan hilir. Artikel dalam Pos Kupang 11 September 2001. 2002. Dengan demikian telah jelas bahwa strategi perubahan struktur produksi dari sektor-sektor produksi yang memberikan kontribusi terhadap PDRB. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001—Menuju Konsensus Baru: Demokrasi dan pembangunan manusia di Indonesia. Kupang dan Universitas Trisakti. ―on-farm‖. 2002. Kupang. Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2001. Jakarta 2001. Canada. 2001.Si adalah Kepala BAPPEDA Provinsi Nusa Tenggara Timur yang bermukim di Kupang. DAFTAR PUSTAKA BAPPEDA NTT dan Program Pascasarjana UNIKA WIDYA MANDIRA. 2001. Penduduk Nusa Tenggara Timur—Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000. Esthon Foenay. hlm. Kupang. Publikasi Bersama oleh BPS. BPS Jakarta-Indonesia.

and the increased threats now directed at Iran and Venezuela—all signal the rise of a dangerous new era of energy imperialism. the invasion and occupation of Afghanistan (the geopolitical doorway to Western access to Caspian Sea Basin oil and natural gas) following the 9/11 attacks. ―The End of Cheap Oil‖ predicted that world oil production would peak ―probably within 10 years. assuming a high profile behind the scenes in establishment discussions. Politics/ Economics The rise in overt militarism and imperialism at the outset of the twenty-first century can plausibly be attributed largely to attempts by the dominant interests of the world economy to gain control over diminishing world oil supplies. The response of the vested interests to this world oil supply crisis was to construct what Michael Klare in Blood and Oil has called a global ―strategy of maximum extraction. At the same time fears that the world would soon reach peak oil production became increasingly prominent. A key event was the publication in Scientific American in March 1998of ―The End of Cheap Oil‖ by retired oil industry geologists Colin J. (3) concentration of an increasing percentage of all remaining conventional oil resources in the Persian Gulf. importation of foreign oil.‖ The Campbell and Laherrère article and the question of peak oil immediately drew the attention of the International Energy Agency (IEA).Peak Oil and Energy Imperialism John Bellamy Foster Home Subscribe Notes From the Editors ESSAYS ON: » Africa » Europe » Feminism/Women and Politics » Globalization » Labor and Working-Class Issues » Latin America » Media/ Communications » 9/11–War on Terrorism » Social/Political Theory » U. The Geopolitics of Oil In April 1998 the United States for the first time imported the majority of the petroleum it consumed. (2) the disappearance of spare world oil production capacity. with the backing of the other leading capitalist states. and (4) looming fears of peak oil. military activities in the Gulf of Guinea in Africa (where Washington sees itself as in competition with Beijing).1 Beginning in 1998 a series of strategic energy initiatives were launched in national security circles in the United States in response to: (1) the crossing of the 50 percent threshold in U. seek to extend its control over world oil reserves with the object of boosting production. Laherrère. foreign oil dependency.S.S. the rapid expansion of U. the . Seen in this light. The crossing of this threshold pointed to a very rapid growth in U.S. Campbell and Jean H.‖2 This required that the United States as the hegemonic power. the 2003 invasion of Iraq.S.

the introduction of this technology most likely accelerated their depletion. empire raised by groups such as the Project for a New American Century.6 The Energy Information Administration (EIA) of the U. since it suggested that a world oil peak could be reached as early as 2021.‖ Employing the IEA‘s own assumptions on reserves. CEO of the Houston-based energy investmentbanking firm Simmons and Company International and a member of the National Petroleum Council and the Council on Foreign Relations. was not altogether reassuring to the vested interests. Department of Energy conducted a full assessment of the peak oil issue as early as July 2000. however.5 Simmons was a member of the Bush-Cheney Energy Transition Advisory Committee. The IEA claimed that even adopting the pessimists‘ assumptions on the real extent of world oil reserves and the existence of a bellshaped production curve (but without the sharp oil price hike suggested by Campbell). As he recounted it in a February 2008 interview. its own longterm supply model ―would not peak until around 2008–2009. was still far from distant. As Simmons reported to Bush‘s cousin: I said. Bush‘s presidential campaign. moreover. His 2005 book. this is so much worse than what they‘ve warned us about. Twilight in the Desert: The Coming Saudi Oil Shock and the World Economy.‖ he asked. Referring to oil fields ―brought into production since 1970. ―Between now and the election. ―what will this do to the world‘s average depletion rate?‖4 In 2000 Simmons‘s concerns regarding diminishing oil supply led to his becoming an energy advisor for George W.OECD‘s energy organization. but giant. . advising on the growing oil constraints. The peaking of United Kingdom North Sea oil production in 1999 (Norwegian production peaked two years later) added a still greater sense of urgency. would push the peak back around a decade further.S.7 These concerns with regard to world oil supply that began to penetrate the corridors of power in the 1998–2001 period led to a wide-ranging debate within the inner circles in the United States about the nature of the oil extraction problem and the strategic means with which to alleviate it. if this all breaks out and Bush is misinformed.‖ The analysis itself.3 This. In November 2000. This was increasingly integrated with wider issues on the expansion of the U. considering a number of scenarios.S. he had ―pulled aside‖ Bush‘s ―first cousin‖ in early March 2000 to tell him of an earlier conversation he had had with an assistant to Secretary of Energy Bill Richardson.8 In July 1998 the Center for Strategic and International Studies (CSIS) launched its ―Strategic Energy Initiative. As opposed to those who saw the peak occurring ―as early as 2004‖ the EIA concluded that ―world conventional oil production may increase two decades or more before it begins to decline.‖ I said.‖ Simmons noted that ―almost all of these new fields have already reached peak production and are now experiencing rapid rates of decline…fAnd when the stable base of old. in its World Energy Outlook of 1998. but this.S.‖ at the urging of former chairman of the Senate Armed Services Committee Sam Nunn and former secretary of defense (and former secretary of energy) James R. has become one of the most influential works propounding the peak oil notion. this will sink you. Schlesinger. Matthew Simmons. Rather than extending the life of oil fields as previously supposed. oil policy call you and [say ‗shit!‘] about five times in 20 seconds. however. fields also starts to deplete.‖ And that dragged me into helping create the comprehensive energy plan put forth by Bush when he was running. he can mispronounce every head of state in the world. ―When you have someone who is the head of U. published an article in Middle East Insight in 1999 in which he emphasized the ―far faster‖ depletion of major oil fields arising from high-extraction technology. arguing that the Saudi oil production peak was imminent. who had been sent to examine the spare oil production capacity of the OPEC countries.

President Bush warned in May 2001 that dependence on foreign crude oil put U. the stakes were exceedingly high. Department of Energy‘s International Energy Outlook in 2001 projected the need for a doubling of Persian Gulf oil production over 1999 . and oil pessimists such as peak oil proponent Simmons. Morse.10 These reports by national security analysts on strategic energy policy were followed in May 2001 by the White House release of its National Energy Policy. economic sanctions. noting that total U.‖ Investment in the enhancement of Iraqi oil production capacity was essential.S. It stressed that the Persian Gulf would have to expand its energy production ―by almost 80 percent during 2000–2020‖ in the face of rising demand and declining oil production elsewhere in the world in order to meet world energy needs. had ―special responsibilities for preserving worldwide energy supply‖ and ―open access‖ to the world‘s oil.‖ The answer was for the Western powers led by the United States to play a more direct role in the development of world oil resources. Task force members included both oil optimists. ―national energy security‖ in the hands of ―foreign nations. the Baker Institute/Council on Foreign Relations report pointed out that Iraq had emerged as a key ―swing producer‖ of oil.‖ falling to ―negligible‖ amounts.‖ Indeed.9 In 2001 the James Baker III Institute for Public Policy of Rice University and the Council on Foreign Relations cosponsored a study of Strategic Energy Policy Challenges for the 21st Century. some of whom do not share our interests. reliance on foreign oil imports could increase to almost two-thirds of its total gasoline and heating oil consumption by 2020. focusing on the arguments of Campbell and Laherrère and Simmons. ―Iraqi reserves. The Baker Institute/Council on Foreign Relations report emphasized the adequacy of world oil reserves for decades to come but argued that world oil was facing ―tight supply‖ due to ―underinvestment‖ in new production capacity and ―volatile states. Nevertheless. This would be coupled with replacement of the current political economy of oil dominated by national oil companies. It too emphasized the need for U. and in the previous year ―turning its taps on and off when it has felt such action was in its strategic interests to do so. chaired by energy analyst Edward L. The question of a world oil peak in the decade 2000–10 was also examined. which included the ―possibility that Saddam Hussein may remove Iraqi oil from the market for an extended period.‖ In terms of the long-term world oil supply outlook. operating well below capacity. since there was a danger that oil price increases and supply shortages would make ―the United States appear more similar to a poor developing country. The Geopolitics of Energy into the 21st Century. Overall. such as Morse and Daniel Yergin of Cambridge Energy Research Associates. issued under the direction of Vice President Dick Cheney. partly due to oil producing countries devoting oil revenues to social projects rather than to investment in new production capacity. which had arisen with the growth of ―resource nationalism‖ in the third world.S. the U.‖ This presented a growing danger to the world capitalist economy.S. As the ―only superpower‖ the United States.the Strategic Energy Initiative issued a three volume report. its report took the peak oil issue extremely seriously.‖ Excess capacity had been ―wiped out. Underscored throughout the report was the necessity of finding ways to increase oil exports from Iraq and Iran both then under U. The CSIS Strategic Energy Initiative officially rejected the notion that the world oil peak would be reached as early as 2010. petroleum security. with Nunn and Schlesinger as cochairs. it declared.S. the Baker Institute/Council on Foreign Relationsreport emphasized. In this situation. oil production had fallen 39 percent below its 1970 peak and that U.S.‖ the Strategic Energy Policy report emphasized. The problem was what to do about Saddam Hussein.S. with one in which the multinational oil corporations centered in the advanced capitalist economies once again took charge of reserves and investments. ―represent a major asset that can quickly add capacity to world oil markets and inject a more competitive tenor to oil trade.

S. political. strategic control of the Middle East and its oil was viewed as the key to establishing the basis of a ―new American century. and economic dominance of the Gulf.S.S. Rather than try to solve the problem on the demand side by lessening consumption. national security and energy analysts as well as energy corporations and the Bush administration had thus arrived at the conclusion by spring 2001 that. Once the September 2001 attacks occurred. The IEA estimated that Persian Gulf states would have to invest over half a trillion dollars on new equipment and technology for oil production capacity expansion by 2030 in order to meet projected oil production levels. stated in his book The Age of Turbulence in 2007: ―I am saddened that it is politically inconvenient to acknowledge what everyone knows: that the Iraq war is largely about oil. as had all other administrations before it.levels by 2020 in order to meet expected world demand. the Bush administration fashioned a comprehensive strategy for American domination of the Persian Gulf and the procurement of everincreasing quantities of petroleum. all-encompassing White House document. As Michael Klare wrote in his Blood and Oil: In the months before and after 9/11. Saddam Hussein‘s removal and the occupation of Iraq was seen as enhancing the security of Middle East oil.S. followed by the invasion in 2003 of Iraq. This optimistic forecast could not possibly be fulfilled. Greenspan claimed. seemed unlikely to undertake. From the standpoint of the geopolitics of oil. to the military as the ultimate guarantor. U. for example: ―the reaction. the Bush administration turned. But since the sought-after increases could be doomed by instability and conflict in the region. invasion of Iraq. intervention in Iraq and its increased military role in the Middle East was.‖ The U. to and reversal of. presaging a series of oil price shocks. It is unlikely that this strategy was ever formalized in a single. however.11 U. and even Saudi Arabia. Mossadeq‘s nationalization of Anglo-Iranian oil in 1951 [resulting in the CIA‘s overthrow of Iranian Prime Minister Mossadeq and the installation of the Shah in 1953] and the aborted effort by Britain and France to reverse Nasser‘s takeover of the key Suez Canal link for oil flows to Europe in 1956. Rather. presenting the possibility of a big boost in Iraqi oil production. economic official throughout this period. and exerting maximum pressure on Iran.‖ As former Federal Reserve Board Chairman Alan Greenspan. the top U. capacity was extremely tight. military. the strategy also entailed increased military intervention. carrying out regime change in Iraq. and providing a staging ground for increased U. economic. Key figures in the Bush administration such as Donald Rumsfeld and Paul Wolfowitz had been pushing for an invasion of Iraq even before the election. Iraqi crude oil production in 2001 was 31 percent less than in 1979. and military action in the Gulf. without massive investment in an expansion of capacity in the Persian Gulf of a kind that key states. This approach—I call it the strategy of maximum extraction—was aimed primarily at boosting the oil output of the major Gulf producers. needed to be seen against the background of previous Western military interventions aimed at securing the oil of the region. Both nations were viewed as underproducing due to underinvestment and the effects of sanctions. Only a vast increase of oil production in the Persian Gulf as a whole could prevent an enormous gap emerging between oil production and demand over the next two decades. while Iran‘s had fallen by about 37 percent since 1976.S. such as Iraq and Iran. the ―War on Terrorism‖ led to the invasion first of Afghanistan. while substantial oil reserves still existed.S. giving the United States a geopolitical doorway (and pipeline route) to Central Asia and the Caspian Sea Basin. .‖ The U. Behind all of this lay the specter of peak oil production.12 Militarily the issue was one of shoring up Saudi Arabia in the face of growing signs of instability. the administration adopted a series of policies that together formed a blueprint for political.

King Hubbert. as determined primarily by geological and technological factors. It is estimated that it takes an equivalent of two out of three barrels of oil produced to pay for the energy and other costs associated with extracting oil from the tar sands in Alberta.g. petroleum derived from oil sand. Those who argue that peak oil is imminent insist that estimates of proven reserves are commonly exaggerated for political reasons. troops reached Baghdad peak oil was already a specter looming over the globe. prime time television speech.4 to 2. and shale oil. These methods were pioneered in the 1950s by oil geologist M. The conventional notion that . e.‖14 Peak Oil: A Global Turning Point? In the five years that have elapsed since the United States invaded Iraq the world oil supply problem has drastically worsened. bell-shaped curve with extraction steadily rising.‖ And this vast increase in oil production needed to come largely from the Persian Gulf. and that actual retrievable reserves may be considerably less.1 mb/d. It requires one billion cubic feet of natural gas to generate one million barrels of synthetic oil from oil sands. Estimates of the potential for increased Iraqi oil production made prior to the war had suggested that Iraq free of sanctions could potentially increase its crude oil production within a decade from its previous 1979 high of 3.15 Instead. Since oil production for an entire country is simply a product of the aggregation of individual wells. As the price of oil rises some of these sources become more exploitable. having declined from 2. 2007. producing two and a half gallons of toxic liquid waste for every barrel of oil extracted. Bush declared that if the United States were to pull out of Iraq ―extremists could control a key part of the global energy supply.S. Two tons of sand must be mined to get one barrel of oil. These include heavy oil. The extraction of oil from any given oil well typically takes the form of a symmetrical. by 2 percent a year.16 At the time U.4 mb/d on average between 2001 and 2005 and then dropped by 4 percent in 2005–07.17 A key part of the argument on peak oil is the fact that discoveries of oil fields worldwide peaked in the 1960s. Oil sand mining also requires vast quantities of water. Iraq‘s average annual oil production in 2007 had fallen to 13 percent below its 2001 level. Peak oil therefore inevitably signals the end of cheap oil.. until a peak is reached when about half of the accessible oil has been extracted. but also at much greater cost—monetarily and to the environment.5 million barrels a day (mb/d) to 6 or even 10 mb/d. along with the stagnation of world oil production as a whole. who achieved fame for successfully predicting the U.for Greenspan—the leading spokesperson for financial capital in the 1990s and early 2000s—justified by the fact that ―world growth over the next quarter century at rates commensurate with the past quarter century will require between one-fourth and two-fifths more oil than we use today.13 Although the Bush administration criticized Greenspan‘s statement. where two-thirds of the world‘s reserves and hence most of its capacity for increased extraction was located. In a September 13.‖ Peak oil is generally viewed in terms of the peaking of conventional crude oil supplies on which the main estimates of oil reserves are based. the centrality of oil in the occupation of Iraq was not something that it could easily deny. Oil production in the Persian Gulf as a whole increased by 2.S. while the average size of new discoveries has also declined over time. The eventual peak in oil production is therefore sometimes known as ―Hubbert‘s peak. This liquid waste is stored in enormous and rapidly expanding ―tailing ponds.‖ The economic and environmental costs are thus prohibitive. oil peak in 1970. Peak oil is not the same as running out of oil. national oil production can be expected to take the form of a bell-shaped curve as well. Rather it simply means the peaking and subsequent terminal decline of oil production. There are also unconventional sources of oil that can be produced at much greater cost and with a much lower energy returned on energy invested (EROEI) ratio. Today it is present in all establishment discussions of the world oil issue. Geologists have become adept at estimating the point at which a peak in national production will occur.

represented by ―late peakers. such as liquefied natural gas.gov/ipm/supply.4. Chart 1 shows world oil production/supply from 1970 to 2007. One of these is that of ―early peakers‖ (usually seen as peak oil proponents proper). Sources include natural gas liquids and condensates.‖ Conventional or crude oil is readily processed oil ―produced from underground hydrocarbon reservoirs by means of production wells.S.‖ is that the world oil peak will not be reached until 2020 or 2030. resulting in what appears to be a more definite plateau.there are forty years of crude oil production remaining at current rates of output is seen as misleading. biofuels.19 Hence. however. The peak oil crisis is more sharply defined than the more general crisis in energy. In fact.. a leading peak oil proponent. April 2008. An added consideration is whether world oil production will face a classic bell-shaped curve.‖ Unconventional oil is derived from other processes. International Petroleum Monthly. and may have already been reached in 2005–06. rounded peak. demand for oil falls off).S. coal-to-liquid. has now narrowed down to two basic positions. but it is also the preeminent liquid fuel in transportation.‖ refers simply to production of conventional oil. These analysts argue that peak oil will probably be reached by 2010–12.8 mb/d in 2005 to 73.doe. U. In addition. Therefore more than two-thirds of U.html. ―Oil‖ according to the IEA (and the EIA. and whether it is already upon us. oil demand is in the form of gasoline and petrodiesel consumption by cars and trucks. Richard Heinberg. which has adopted an almost identical approach) is defined to include ―all liquid fuels and is accounted at the product level. http://www. The ―world oil supply‖ line. which has often been fierce over the past decade. tables 1.3 mb/d in 2007. the shape of the production curve is modified by the increasing . The chief question now is how soon. oil shales.‖20 The lower line in chart 1. labeled ―crude oil production.. remains level at about 85 mb/d due to a compensating rise in unconventional sources over the same period. ―and/or [other fuel that]. there is a growing consensus that peak oil is or will soon be a reality. before declining. The higher line. It presents the possibility of a drastic economic dislocation and slowdown. as well as by political events such as war and revolutions. for which there is no easy substitute in the quantities needed. Peak oil analysts therefore focus on production levels rather than reserves. Department of Energy. refinery processing gains. This therefore has lent credence to the notion that this is the form the peak will initially take. since it exaggerates the reserves in the ground and downplays the fact that the economy requires that oil demand and production levels increase. world oil supply appears already to have reached a plateau over the last three years at the level of 85 mb/d. Chart 1: World oil production and supply Source: Energy Information Administration.‖ also includes unconventional sources plus net refinery processing gains (losses).4d and 4.eia. oil sands. to be followed quickly by a decline (within what can be viewed as a symmetrical curve)—or whether production will rise to a plateau and then stay there for a while. The ―crude oil production‖ line shows a very slight dip in 2005– 07. and the production of conventional and unconventional oil. Explaining that a plateau is the most likely initial outcome at the world level.18 The peak oil debate. The alternative position. since not only is petroleum the most protean fuel.needs additional processing to produce synthetic crude. An imminent peak in conventional oil thus strikes at the lifeblood of the existing capitalist economy. labeled ―world oil supply. writes: Why the plateau? Oil production is constrained by economic conditions (in an economic downturn. reflecting the fact that crude oil production fell from an average of 73. culminating in a slender.

‖ But the Journal article also took seriously the views of Simmons. as well as new extraction technologies.‖ he suggested. The combined effect of all of these factors is to cushion the peak and lengthen the decline curve. (1999). Romania (1976). Venezuela (1998). Atomic Energy Commission.‖23 Publicly of course the peak oil problem has often been characterized by establishment sources and the media as a ―fringe issue. The Hirsch report concluded that peak oil was a little over two decades away or nearer. ―suggest that world oil peaking will occur in less than 25 years. and Risk Management. Argentina (1998)..‖ Echoing many of the same worries. Colombia (1999). not a peak.‖ The main emphasis of the Hirsch report commissioned by the Department of Energy. partly political-economic. Department of Energy released a major report that it had commissioned entitled Peaking of World Oil Production: Impacts. spiraling costs and increasingly complex oil-field geology. contends that ―world oil production. But they share the belief that a global production ceiling is coming for other reasons: restricted access to oil fields. Crude Oil: The Given the appearance of a world oil production plateau at present. .. Hirsch of Science Applications International Corporation. Ecuador (1999). October 2007.availability of unconventional petroleum sources (including heavy oil. Yemen (2001).‖ Yet over the past decade the question has been pursued systematically with increasing concern within the highest echelons of capitalist society: within both states and corporations. Gabon (1997). ―Even the most optimistic forecasts. Denmark (2004). with oil output remaining relatively constant rather than rising or falling. Germany (1967). Mexico (2004).‖ it stated. This will create a production plateau. some oil executives have raised the specter of an oil supply ceiling of 100 million barrels (conventional and unconventional). Thus Simmons and Texas oil billionaire T. due to declining production in old fields. Exxon. asserting that the peak will not be reached until 2030 and that it will manifest itself at first as an ―undulating plateau. however. Syria (1995). Boone Pickens have both raised the question of whether the peak was reached in 2005.The near adherents [to the peak oil view]—who range from senior Western oil-company executives to current and former officials of the major world exporting countries—don‘t believe that the global oil tank is at the half-empty point.21 The notion that a partly geological-technical. 1971). While the Energy Watch Group in Germany.22 Oil Producing Countries Past Peak (Year of Peak) Austria (1955). Norway (2001). was on the issue of the massive transformations that would be needed in the economy.24 In February 2005 the U. which includes both scientists and members of the German parliament. United States (lower 48. natural gas plant liquids. 1974). with petroleum supply likely falling short of expected demand within a decade or less. they contend.peaked in 2006. Oman (2001). in order to mitigate the harmful effects of the end of cheap oil. Mitigation.. United Kingdom. Indonesia (1977). Australia (2000). United States (Alaska.S. Malaysia (1997). The Wall Street Journal article referred to the estimates of Cambridge Energy Research Associates. India (1995). Hirsch had formerly occupied executive positions in the U.S. In November 2007 the Wall Street Journal reported: a growing number of oil-industry chieftains are endorsing an idea long deemed fringe: The world is approaching a practical limit to the number of barrels of crude oil that can be pumped every day. The enormous problem of converting Supply Outlook. the crisis associated with the world peak in conventional oil production would be reached ―in 2008 to 2012.. Canada (conv. an increased average daily oil production equivalent to ten times current Alaskan production was needed ―just to stay even.‖ Indeed. and ARCO. ―at the furthest out. 1989). and particularly transportation. it is not surprising that some analysts believe that peak oil has already been reached. The project leader was Robert L. plateau is emerging has now become the dominant view in the industry. and with oil supply seemingly stuck at the 85 mb/d level.. who pointed out that. Egypt (1993). 11. and tar sands). Source: Energy Watch Group.

20 percent of U.28 In February 2007 the U. Army released a major report of its own in September 2005 stating: The doubling of oil prices from 2003–2005 is not an anomaly.30 It was alarm about gasoline prices and national energy security (and no doubt the specter of a world oil peak) that induced the Bush administration in 2006 to take a more aggressive stance in promoting cornbased ethanol production as a fuel substitute.S. The same month Goldman Sachs shocked world capital markets by coming out with an assessment that oil prices could rise to as much as $200 a barrel in the next two years. One can only speculate at the outcome from this scenario as world petroleum production declines. Jeroen van der Ver.27 Indeed. federal agencies had not yet begun to address the issue of the national preparedness necessary to face this impending emergency. was preparing to reduce its forecast of world oil production for 2030 from its earlier forecasts of 116 mb/d to no more than 100 mb/d. Nigeria. In its 2005 World Energy Outlook the IEA raised the issue of Simmons‘s claims in Twilight in the Desert that Saudi Arabia‘s super-giant Ghawar oil field. oil in May 2008 reached over $135 a barrel (it averaged $66 in 2006 and $72 in 2007).‖26 Similarly. ―previous energy transitions (wood to coal. The fact that Venezuela contained ―almost 90 percent of the world‘s proven extra-heavy oil reserves‖ made it all the more noteworthy that it constituted a significant ―political risk‖ from Washington‘s standpoint.‖ in the IEA‘s words. The world has never faced a problem like this. Western oil interests were particularly distressed that the first production from Kazakhstan‘s Kashagan oil field (considered the largest oil deposit in the world outside the Middle East) was eight years behind schedule due in part to waters frozen half the year. Brown wrote in his Plan B 3. by 2005 there was little doubt in ruling circles about the likelihood of serious oil shortages and that peak oil was on its way soon or sooner.29 In April 2008. CEO of Royal Dutch Shell.S. corn production was devoted to ethanol to fuel automobiles. By May 2008 the IEA.S. ―could. geopolitics and market economics will cause even more significant price increases and security risks. pronounced that ―we wouldn‘t be surprised if this [easy] oil would peak somewhere in the next ten years. Iraq. Oil production is approaching its peak. cars. the problem will be pervasive and long lasting.) were gradual and evolutionary.25 In October 2005. It argued that almost all studies had shown that a world oil peak would occur sometime before 2040 and that U. oil peaking will be abrupt and revolutionary. but a picture of the future. Government Accountability Office (GAO) released a seventy-five-page report on Crude Oil pointedly subtitled: Uncertainty about Future Oil Supply Makes It Important to Develop a Strategy for Addressing a Peak and Decline in Oil Production. which had initially rejected Simmons‘s assessment. and aircraft in just a quarter-century (at most) was viewed as presenting intractable difficulties.virtually the entire stock of U. trucks. the U. low growth in availability can be expected for the next 5 to 10 years. Without massive mitigation at least a decade before the fact.S. degrading its projection of Saudi oil production in 2025 by 33 percent. As worldwide petroleum production peaks. accounting for almost one-third of world (conventional) reserves: Iran.‖ Due to a combination of factors including production shortfalls and a declining dollar. the largest in the world. The price of grain spiked worldwide partly as a result. Department of Energy.S. For the GAO the threat of a major oil shortfall was worsened by the political risks primarily associated with four countries.S. In 2007. ―be close to reaching its peak if it has not already done so. Hirsch wrote an analysis for Bulletin of the Atlantic Council of the United States on ―The Inevitable Peaking of World Oil Production. and Venezuela. backtracked between 2004 and 2006.‖ Likewise the U. etc.‖ He declared there that. according to analysts for the New York Times. coal to oil.0: ―Suddenly the world is facing a moral and . As environmentalist Lester R.

‖Emphasizing that national oil companies now controlled 77 percent of the world‘s total reserves. Iran. Although the Deutch and Schlesinger report discussed some demand-side measures to reduce U. rather than reinvesting the oil proceeds. Iran. In October 2005 the CSIS issued another report.The market says.S. the Caspian Sea. Iraq. Burke Chair in Strategy at CSIS) and Khalid R.‖ the Baker Institute went so far as to declare. and West Africa were all centers of instability. and thus even sustaining current levels of consumption‖ would be enormously difficult. Oil Dependency. on average.S. Baker III Institute for Public Policy on ―The Changing Role of National Oil Companies in International Energy Markets. especially those close to the major markets in the United States.‖ Rather the immediate problem was ―lagging investment‖ in the Middle East. labor strikes in Venezuela. Saudi Arabia. whereas Western multinational oil companies controlled a mere 10 percent.political issue that has no precedent: Should we use grain to fuel cars or to feed people?. national security circles to the apparent oil production plateau.‖ Major energy suppliers like Russia. The Deutch and Schlesinger report zeroed in on inadequate oil production capacity. Let‘s fuel the cars.3 million barrels per day). Production from existing conventional oil fields throughout the world was ―declining. and others—like Matthew Simmons—have estimated that Saudi production may be moving towards a period of sustained decline. ―the depletion of conventional sources. and South America are no more stable than the Gulf. it contended that this was the key issue in managing the current world oil supply problem. this time on Changing Risks in Global Oil Supply and Demand. ―is tenuous at best. alleged corruption in Russia. and Iraq all present immediate security problems. and growing fears of peak oil was swift. and civil unrest in Uzbekistan and other FSU [Former Soviet Union] states. about 5 percent per year (roughly 4. entitled. Cordesman and Al-Rodhan quoted the IEA‘s prediction in its 2004 World Energy Outlook that global oil production would not ―peak before 2030 if the necessary investments are made. National Security Consequences of U. Thus the report declared that ―the United States should expect and support a strong military posture [in the Persian Gulf in particular] that permits suitably rapid deployment to the region. Still. consumption and oil dependency.S. chaired by former CIA Director John Deutch and Schlesinger. and Venezuela were using oil to pursue domestic and geopolitical goals. if required…Any nation (or subnational group) that contemplates violence on any scale must take into account the possibility of U. now holder of Arleigh A.S. or retaliation. it stressed expanding the role of the U.‖31 The New Energy Imperialism The response in U.. written by Anthony Cordesmam (long-time national security analyst for the U. Moreover. but recent experience has shown that exporting countries in Africa.‖ ―Stability in petroleum exporting regions.‖33 No less significant was an April 2007 ―policy report‖ issued by the James A. Department of Defense. There has been pipeline sabotage in Nigeria. means that the production and transport of oil will become even more dependent on an infrastructure that is already vulnerable..S. the disappearance of surplus oil production capacity. the Caspian Sea. with OPEC no longer having the surplus capacity with which to keep prices under control. intervention. Algeria. Western Europe. military in securing oil supplies. preemption. Iran. and Asia. peak oil issues were not to be entirely discounted. ―Some analysts have questioned the [Saudi] Kingdom‘s ability to meet sudden surges in demand because of its lack of spare production capacity.‖ Cordesman and Al-Rodhan added. Al-Rodhan (a strategic analyst specializing in Gulf issues). Thus Cordesman and Al-Rodhan noted that. ―If the United States were able to wish into existence a world that would favor its terms of trade and superpower status.‖32 Even more central than the CSIS study was a 2006 Council on Foreign Relations report.S. China was trying to ―lock up‖ oil supplies in Africa. . and elsewhere.

The current trend points to the likelihood of Iranian petroleum exports falling to zero by 2014–15. thereby holding back on the lifeblood of the world economy..all NOCs [national oil corporations] would be privatized. Another case of the geostrategic wielding of oil power was Iran. the Strait of Hormuz. preventing the oil exploration of Iraq‘s Western desert. Threats of U. foreign investors would be treated the same as local companies and OPEC would be disbanded. Another key consideration in the geopolitics of tough oil.S. and the Central Asian states.‖ if faced with a U. the Baker Institute underscored. depends on the feudal kingdom remaining in place.36 . The chief example of such state interference in oil production. Any destabilization of the society would likely prompt U. and its ―interference‖ in Iraq. Iran. China.. But it is hard to imagine why major oil producing countries would agree to that.34 The tightening oil situation has prompted the rapid on the ground growth of U. Iran‘s government and its national oil corporation have adopted the monopolistic policy of underinvesting in oil. As James Howard Kunstler has written in The Long Emergency. deliberating slowing its production in expectation of continually rising prices. the Baker Institute report stated. Iran. From the standpoint of Western energy and national security analysts. The sexes are entirely segregated. China. was Venezuela under the leadership of Hugo Chávez. Above all the U. political unrest and war continued. One critical danger that the United States needed to guard against was a ―hostile‖ alliance between major oil producing/consuming states. Ninety percent of private sector jobs go to foreigners. imperial objective should be to ―break up‖ wherever possible ―the monopoly power of oil producers‖ and their use of their oil resources to pursue national goals other than purely commercial ones. which according to the U.In light of this reality. energy imperialism.S.S. The security of Saudi Arabia remains an overriding focus.S.S. arising from the growth of domestic energy demand plus a high rate of oil field depletion and a lack of investment growth in expanded capacity. transparent and—to the extent possible—free of onerous government interference. military intervention. Ecuador. is due to an oil export decline rate of 10–12 percent. and Central Asian oil states by expanding its military bases in Afghanistan and Central Asia. was the continuing political instability in Iraq. Washington‘s plans for a massive expansion of investment and production in Saudi Arabia. beyond the continuing Iraq and Afghan wars. Not only had the Bolivarian Revolution prioritized ―the government‘s national development policy‖ and ―social and cultural investment‖ over ―commercial development strategy. such as Russia. and the Caribbean nations.35 The United States has sought to counter the possibility of an energy alliance between Russia. Meanwhile.‖ it had also used oil as an instrument of ―foreign policy activism. Despite Washington‘s attempts to stabilize that country. allowing free trade and competitive markets to deliver energy that is needed worldwide at prices determined solely by the market. Iran‘s pursuit of nuclear power. Department of Energy needs to double its oil output by 2030. Nicaragua. the United States will have to accept the existence of NOCs as a fact of life but should encourage steps to make their activities more businesslike. military attack. The repressive structure of the society conceals massive popular resentment. emanating from the vastly unequal distribution of the country‘s oil revenues. based on its alleged attempts to acquire nuclear weapons through the aggressive pursuit of nuclear energy. This led to Iran‘s recent inability to meet its OPEC oil export quota. as a 2007 study published in the Proceedings of the National Academy of Sciences has confirmed. ―preemptive‖ military intervention directed at Iran meanwhile have been continuous.‖ This could be seen in its geopolitically motivated agreements with Bolivia. there is rising social tension. notably its Manas air base in Kyrgyzstan on the border of oil-rich Kazakhstan.S. which had threatened that it ―could block the vital oil transitway. ―a desperate superpower might feel it has no choice except to attempt to control the largest remaining oil fields on the planet at any cost‖— particularly if faced by growing rivalry from other states..

During the last few years the U.S. military has dramatically increased its bases and operations in Africa, particularly in the Gulf of Guinea. The United States expects to get 20 percent of its oil imports from Africa by 2010, and 25 percent by 2015. The U.S. military set up a separate Africa Command in 2007 to govern all U.S. military operations in Africa (outside Egypt). Washington sees itself as in direct competition with Beijing over African oil—a competition that it perceives not simply in economic but also military-strategic terms.37 U.S. ruling interests also have increased their threats directed at Venezuela, Ecuador, Bolivia, and other Latin American states, accusing them of ―resource nationalism‖ and presenting them as dangers to U.S. national security. Washington has made one attempt after another to unseat Venezuela‘s democratically elected president Hugo Chávez and to overthrow Venezuela‘s Bolivarian Revolution, with the clear object of regime change. This has included stepping up its massive military intervention in Colombia and backing the Colombian military and its intrusions into neighboring countries. In 2006 the U.S. Southern Command conducted an internal study, declaring that Venezuela, Bolivia, Ecuador, and conceivably even Mexico (which was then facing elections with a possible populist outcome) offered serious dangers to U.S. energy security. ―Pending any favorable changes to the investment climate,‖ it declared, ―the prospects for long-term energy production in Venezuela, Ecuador and Mexico are currently at risk.‖ The military threat was obvious.38 All of this is in accord with the history of capitalism, and the response of declining hegemons to global forces largely outside their control. The new energy imperialism of the United States is already leading to expanding wars, which could become truly global, as Washington attempts to safeguard the existing capitalist economy and to stave off its own hegemonic decline. As Simmons has warned, ―If we don‘t create a solution to the enormous potential gap between our inherent demand for energy and the availability of energy we will have the nastiest and last war we‘ll ever fight. I mean a literal war.‖39 In January 2008 Carlos Pascual, vice president of the Brookings Institution and former director of the Bush administration‘s Office of Reconstruction and Stabilization, released an analysis of ―The Geopolitics of Energy‖ that highlighted U.S. capitalism‘s de facto dependence on oil production in ―Saudi Arabia, Russia, Iran, Iraq, Venezuela, Nigeria, and Kazakhstan‖—all posing major security threats. ―Due to commercial disputes, local instability, or ideology, Russia, Venezuela, Iran, Nigeria and Iraq are not investing in new long-term production capacity.‖ This then was both an economic and a military problem for Washington.40 Especially disturbing in this new phase of energy imperialism is the lack of resistance from populations within central capitalist countries themselves. Thus left-liberal publications in the wealthy nations often play on the prejudices of their readers (who are buffeted by rising gasoline prices), encouraging them to support oil imperialism designed to safeguard Western capitalism. David Litvin, writing on ―Oil, Gas and Imperialism‖ in 2006 for the Guardian in London, claimed that ―the inevitability of modern energy imperialism needs to be recognized.‖ Threats from Russia, OPEC, Venezuela, and Bolivia were highlighted. The United States invaded Iraq, we were told, partly for ―oil security.‖ Clearly sympathizing with that form of energy imperialism that ―involves consumer states launching political or military‖ interventions ―to secure supplies,‖ Litvin concluded: ―Energy imperialism is here to stay, and efforts should [therefore] focus on making it a more benign force.‖41 Likewise Joshua Kurlantzick, a contributing writer for Mother Jones,wrote a piece entitled ―Put a Tyrant in Your Tank‖ for the May–June 2008 issue of that magazine which attributed oil supply problems to national oil companies, and argued—referring to the Baker Institute report on ―The Changing Role of National Oil Companies‖—that oil would be better safeguarded if placed in the hands of multinational oil companies as of old. The latter, readers were told, ―may cozy up to nasty regimes...but they are at least obligated to respond to public criticism.‖ Kurlantzick presented repeated criticisms of Hugo Chávez in Venezuela for his ―resource nationalism,‖ going so far as to compare

Venezuela to Burma and Russia, as ―authoritarian and corrupt,‖ citing a study from the neoconservative, largely U.S. government-funded, Freedom House. The Mother Jones article also gave credence to the 2006 internal study conducted by the Pentagon‘s Southern Command, pinpointing the national security dangers to the United States of resource nationalism in Venezuela, Bolivia, and Ecuador. Other petrostates that were subjected to sharp criticism were Iran, Russia, Kazakhstan, Nigeria, and Libya. Chinese state oil corporations were targeted for their aggressiveness in pursuing oil around the world and for their lack of environmental concerns. U.S. energy imperialism was thus seen as justified even by the putatively progressive Mother Jones—with hope and confidence being placed mainly in big oil and the Pentagon.42 Planetary Conflagration? The supreme irony of the peak oil crisis of course is that the world is rapidly proceeding down the path of climate change from the burning of fossil fuels, threatening within a matter of decades human civilization and life on the planet. Unless carbon dioxide emissions from the consumption of such fuels are drastically reduced, a global catastrophe awaits. For environmentalists peak oil is therefore not a tragedy in itself since the crucial challenge facing humanity at present is weaning the world from excessive dependence on fossil fuels. The breaking of the solar energy budget that hydrocarbons allowed has generated a biospheric rift, which if not rapidly addressed will close off the future.43 Yet, heavy levels of fossil fuel, and particularly petroleum, consumption are built into the structure of the present world capitalist economy. The immediate response of the system to the end of easy oil has been therefore to turn to a new energy imperialism—a strategy of maximum extraction by any means possible: with the object of placating what Rachel Carson once called ―the gods of profit and production.‖44 This, however, presents the threat of multiple global conflagrations: global warming, peak oil, rapidly rising world hunger (resulting in part from growing biofuel production), and nuclear war—all in order to secure a system geared to growing inequality. In the face of the immense perils now facing life on the planet, the world desperately needs to take a new direction; toward communal well-being and global justice: a socialism for the planet. The immense danger now facing the human species, it should be understood, is not due principally to the constraints of the natural environment, whether geological or climatic, but arises from a deranged social system wheeling out of control, and more specifically, U.S. imperialism. This is the challenge of our time. May 25, 2005 Notes 1. Influential mainstream political analyst (and former Nixon White House strategist) Kevin Philips has recently argued that oil in the Middle East and elsewhere has emerged as perhaps the single most important strategic (non-monetary) factor in ―the Global Crisis of American Capitalism,‖ and is closely tied up with the world‘s need to shift to a ―new energy regime.‖ See Phillips, Bad Money: Reckless Finance, Failed Politics, and the Global Crisis of American Capitalism (New York: Viking, 2008), 124–27. Indeed, the struggle to control world oil can be seen as the centerpiece of the new geopolitics of U.S. empire, designed at the same time to combat the decline of U.S. hegemony. See John Bellamy Foster, ―A Warning to Africa: The New U.S. Imperial Grand Strategy,‖ Monthly Review 58, no. 2 (June 2006): 1–12. 2. Michael T. Klare, Blood and Oil (New York: Henry Holt, 2004), 82. 3. Colin J. Campbell and Jean H. Laherrère, ―The End of Cheap Oil,‖ Scientific American (March 1998): 78–83; International Energy Agency, World Energy Outlook, 1998 (Paris: OECD, 1998), 94– 103. 4. Matthew R. Simmons, ―Has Technology Created $10 Oil?,‖ Middle East Insight (May–June 1999), 37, 39.

5. Matthew R. Simmons, ―An Oil Man Reconsiders the Future of Black Gold,‖ Good Magazine, February 11, 2008. The insert in square brackets in the quote is in original. 6. Matthew R. Simmons, Twilight in the Desert: The Coming Saudi Oil Shock and the World Economy (Hoboken, New Jersey: John Wiley and Sons, 2005). 7. John Wood and Gary Long, ―Long Term World Oil Supply (A Resource Base/Production Path Analysis),‖ Energy Information Administration, U.S. Department of Energy, July 28, 2000. 8. See Klare, Blood and Oil, 13–14. 9. Sam Nunn and James R. Schlesinger, cochairs, The Geopolitics of Energy into the 21st Century, 3 volumes (Washington, D.C.: Center for Strategic and International Studies, November 2000), vol. 1, xvi–xxiii; vol. 2, 30–31; vol. 3, 19. 10. Edward L. Morse, chair, Strategic Energy Policy Challenges for the 21st Century, cosponsored by the James A. Baker III Institute for Public Policy of Rice University and the Council on Foreign Relations (Washington, D.C: Council on Foreign Relations Press, April 2001), 3–17, 29, 43–47, 84–85, 98; see also Edward L. Morse, ―A New Political Economy of Oil?,‖ Journal of International Affairs 53, no. 1 (Fall 1999), 1–29. 11. White House, National Energy Policy (Cheney report), May 2001, http://www.whitehouse.gov/energy/National-Energy-Policy.pdf, 1–13, 8–4.; Department of Energy, Energy Information Administration, International Economic Outlook,2001, http://www.eia.doe.gov/oiaf/archive/ieo01/pdf/0484(2001).pdf, 240; International Petroleum Outlook, April 2008, tables 4.1b and 4.1d; Klare, Blood and Oil, 15, 79–81. 12. Klare, Blood and Oil, 82–83. 13. Alan Greenspan, The Age of Turbulence (London: Penguin, 2007), 462–63. 14. James A. Baker Institute for Public Policy, ―The Changing Role of National Oil Companies in International Markets,‖ Baker Institute Policy Report, no. 35 (April 2007), http://www.bakerinstitute.org/publications/BI_PolicyReport_35.pdf, 1, 10–12, 17–19. 15. Fareed Muhamedi and Raad Alkadiri, ―Washington Makes It‘s Case for War,‖ Middle East Report, no. 224 (Autumn 2002), 5; John Bellamy Foster, Naked Imperialism (New York: Monthly Review Press, 2006), 92. 16. U.S. Department of Energy, Energy Information Administration, International Petroleum Monthly, April 2008, tables 4.1b and 4.1d. 17. Richard Heinberg, The Party’s Over (Garbiola Island, B.C: New Society Publishers, 2005), 127– 28; Michael Klare, Rising Powers, Shrinking Planet (New York: Henry Holt, 2008), 41; Greenpeace, ―Stop the Tar Sands/Water Polluton,‖ http://www.greenpeace .org/canada/en/campaigns/tarsands/threats/water-pollution. 18. Energy Watch Group, Crude Oil: The Supply Outlook, October 2007, 33–34. 19. The distinction between ―early‖ and ―late‖ peakers is to be found in Richard Heinberg, The Oil Depletion Protocol (Garbiola Island, B.C: New Society Publishers, 2006), 17–23. For some representative works from the ―early peaker‖ perspective see Kenneth S. Deffeyes, Hubbert’s Peak (Princeton: Princeton University Press, 2001); David Goodstein, Out of Gas (New York: W. W. Norton, 2004); and Heinberg, The Party’s Over. Cambridge Energy Research Associates is the leading independent representative of the ―late peaker‖ view. See http://www.cera.com/aspx/cda/public1/home/home.aspx. 20. International Energy Agency, World Energy Outlook, 1998, 83–84. The increased prominence of unconventional oil has recently led to increasing references to ―liquids‖ as opposed to ―oil‖ as such in Department of Energy reports. See Michael T. Klare, ―Beyond the Age of Petroleum,‖ The Nation, October 25, 2007. 21. Richard Heinberg, Power Down (Gabriola Island, B.C.: New Society Publishers, 2004), 35; James Howard Kunstler, The Long Emergency (New York: Atlantic Monthly Press, 2005), 67–68. In an important paper on the implications of peak oil for global warming, Pushker Kharecha and James

55–59.‖ Wall Street Journal. Shrinking Planet.‖ New York Times. http://bakerinstitute.‖ Monthly Review 60. no. Twilight in the Desert. and ―The Political Economy and Ecology of Agrofuels. Robert L. 2005 (first working draft).‖ Bloomberg. 71. The central scenario.org/publication/11683/. 41. 121–22. Phillips. 2008. Energy Trends and their Implications for U. ―The World Food Crisis. vii. 27. Daniel F. Hirsch. 48–56. Fournier and Eileen T. Mike Nizz.” 23. ―The Changing Role of National Oil Companies in International Oil Markets. October 3.‖ Bulletin of the Atlantic Council of the United States 16.com. Bloomberg. ―The Iranian Petroleum Crisis and the United States National Security. http://www. February 2005. May 21.S. 153. Crude Oil: Uncertainty about Future Oil Supply Makes It Important to Develop a Strategy for Addressing a Peak and Decline in Oil Production.gov/neic/speeches/Caruso061305. 83. Anthony H.S. 35–38. Bad Money. 4. 1. Rising Powers. 2008). November 11. W. 2005). Beyond the Age of Petroleum. ―Goldman‘s Murti Says Oil ‗Likely‘ to Reach a $150–$200 (Update 5). 33. ―Market Faces a Disturbing Oil Forecast. Shrinking Planet.doe. Army Corps of Engineers. Energy Watch Group. 8. 22. 130–31. Schlesinger. Klare. May 22. June 13.pdf. See http://www. system is itself peaking. 2005 (Paris: OECD.‖. ―Implications of ‗Peak Oil‘ for Atmospheric CO2 and Climate. estimated the world oil peak occurring in 2044. 13. figure 3. October 2007. Council on Foreign Relations. a figure too out of line with all other studies to be considered credible.‖ May 6. 510-12. 79. 38.0 (New York: W.com. May 19.Hansen of NASA‘s Goddard Institute for Space Studies and the Columbia University Earth Institute provide a graph (in one scenario) of a plateau in oil-based CO2 emissions. chairs. 2007. 1 (May 2008): 1–15. International Energy Agency. ―Not Enough Oil is Lament of BP. project leader. 3. 170–79. stretching from approximately 2016 to 2036. National Security Consequences of U. Fred Magdoff. 2 (October 2005): 8. ―Changing Role of National Oil Companies. 28. 127.eia. 24.S Army Engineer Research and Development Center. 16–30. 35 (April 2007). 26.‖ 12. ―The Cassandra of Oil Prices.S. ―Royal Dutch Shell CEO on the End of ‗Easy Oil‘. 2005. Roger Stern. Oil Dependence. Lester R. Simmons. 76–84. Kunstler. 23–25. U. 35. September 2005. A different and more official position was issued by the EIA in 2004–2005 in the form of a presentation on ―When Will World Oil Production Peak‖ by EIA administrator Guy Caruso at the 10th Annual Oil and Gas Conference.S. 17–19. The Long Emergency. See Phillips. Baker Institute. United States Government Accountability Office. The Changing Risks in Global Oil Supply and Demand. World Energy Outlook.‖ Baker Institute Policy Report. James A.‖ Proceedings . Exxon on Spending (Update 1). Plan B 3. Crude Oil: The Supply Outlook. Joroen van der Veer (interview). U. Rising Powers. Phillips sees this descrepancy between the analysis at the top and public statements in Washington as due in large part to a desire to keep from the public the view that the U. 36. 20–22. . ―Oil Officials See Limit Looming on Production. 2008. 2007.S. 30.‖ Global Biogeochemistry (2008. 25. no. Department of Energy. Kuala Lumpar.pdf. Army Installations.org/publications/BI_PolicyReport_35. Hirsh. 2008. Westervelt. Cordesman and Khalid R. 34. Pushker A. Robert L. Peaking of World Oil Production: Impacts. 10–12. no.cfr. 13–19. Brown. Klare. 2008. Kharecha and James E. 2006. 31. Al-Rodhan. ―The Inevitable Peaking of World Oil Production. however. John Deutsch and James R. in press). Hansen. Baker III Institute for Public Policy of Rice University. U. 29. Malaysia. Mitigation.‖ The Lede (New York Times blog). and Risk Management. Bad Money. Klare. Norton.‖ in this issue. Center for Strategic and International Studies. February 28. 32.

‖ 40.‖ Pusher and Kharecha. 39. it would facilitate the stabilization of atmospheric carbon at (or below) what scientists increasingly consider to be the maximum safe level of 450 parts per million (associated with a rise in global average temperature of around 2°C above pre-industrial). 38.‖ Monthly Review 58. tidak terkecuali di Indonesia. Sebagai gambaran. 2006. ―Carbon Metabolism: Global Capitalism.of the National Academy of Sciences 104. 1 (January 2. Jawa Tengah. Kuncoro (2000a) juga menyebutkan bahwa usaha kecil dan usaha rumah tangga di Indonesia telah memainkan peran penting dalam menyerap tenaga kerja. ―Oil. Alasan pertama adalah karena kinerja UKM cenderung lebih baik dalam hal menghasilkan tenaga kerja yang produktif. no. Kedua. due principally to the ―peaking‖ of world oil production (mediated by economic and social as well as geological factors). Aloysius Gunadi Brata DISTRIBUSI SPASIAL UKM DI MASA KRISIS EKONOMI PENDAHULUAN Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah.‖ August 13. On the concept of a biospheric rift see Brett Clark and Richard York. Shrinking Planet. 4 (September 2006). June 26.7 persen dan dalam ekspor nonmigas hanya 15 persen. 2007. Council on Foreign Relations. If such a peak were to occur. 210. ―Put a Tyrant in Your Tank. Dapat dikatakan bahwa kesadaran akan pentingnya UKM dapat dikatakan barulah muncul belakangan ini saja. 2006.cfr. dkk. Namun. Simmons. http://www. 37. The Guardian (UK). Bush vs. Foster. Ketiga adalah karena sering diyakini bahwa UKM memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas ketimbang usaha besar. Sulawesi Utara dan Sumatra Utara. 141–57. Gas and Imperialism. Climate Change.html. January 2008. Rising Powers. In their paper on peak oil and global warming. no.org/publication/15342/brookings. But stabilization of atmospheric CO2 at this level would also require that CO2 emissions from coal-fired power plants peak by 2025 and that coal-fired plants without sequestration be phased out completely ―before midcentury. ―A Warning to Africa‖. 1998). Rachel Carson.6 persen dalam penyerapan tenaga kerja (Kompas. no.‖ January 4. Eva Golinger. 2008). Setidaknya terdapat tiga alasan yang mendasari negara berkembang belakangan ini memandang penting keberadaan UKM (Berry.S.‖ Mother Jones 33. 4 (2005): 391–428. UKM sering mencapai peningkatan produktivitasnya melalui investasi dan perubahan teknologi. Temuan Akatiga tersebut seperti dikutip Berry dkk (2001) adalah bahwa usaha kecil di Jawa lebih menderita . and the Biospheric Rift. ―Implications of ‗Peak Oil‘ for Atmospheric CO2 and Climate. 2007): 377–82. See Richard Heinberg‘s excellent chapter on ―Bridging Peak Oil and Climate Change Activism‖ in his Peak Everything (Gabriola Island: New Society Publishers. ―The Geopolitics of Energy. namun UKM memberi kontribusi sekitar 99 persen dalam jumlah badan usaha di Indonesia serta mempunyai andil 99. Kharecha and Hansen present a baseline atmospheric carbon stabailizaton scenario in which oil-based CO2 emissions peak by 2016. Joshua Kurlantzick. Alasan yang ketiga yang dikemukakan Berry dkk di atas sangat relevan dalam konteks Indonesia yang tengah mengalami krisis ekonomi. ―The Return of Resource Nationalism. Chávez (New York: Monthly Review Press. Aspek fleksibilitas tersebut menarik pula dihubungkan dengan hasil studi Akatiga berdasarkan survei di Jawa Barat. kendati sumbangannya dalam output nasional (PDRB) hanya 56. Klare. 43. Carlos Pascual.‖ Financial Times. meningkatkan jumlah unit usaha dan mendukung pendapatan rumah tangga. 3–4. Yogyakarta. Michael Watts.‖ 44. 38–42. 2008). Daniel Litvin. ―The Empire of Oil: Capitalist Dispossession and the New Scramble for Africa. Military Sees Oil Nationalism Spectre. sebagai bagian dari dinamikanya. 2001). 1–17. they argue.‖ Theory & Society 34. dalam kenyataannya selama ini UKM kurang mendapatkan perhatian.‖ Brookings Institution. 88–89. 3 (May–June 2008). ―U. 41. 14/12/2001). 42. ―An Oil Man Reconsiders the Future of Black Gold. no. 146–76. Lost Woods (Boston: Beacon Press.

pengamatan serupa terhadap UKM tampaknya masih belum banyak dilakukan (Kuncoro. begitu pula yang di perkotaan bila dibandingkan dengan yang di pedesaan. Tingkat pengangguran mengalami kenaikan dari 4. terdapat indikasi adanya dimensi spasial dari krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997. UKM boleh dikatakan merupakan salah satu solusi masyarakat untuk tetap bertahan dalam menghadapi krisis yakni dengan melibatkan diri dalam aktivitas usaha kecil terutama yang berkarakteristik informal.akibat krisis daripada luar Jawa. dampak sosial dari krisis ekonomi amat terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan di Jawa. Usaha kecil sendiri pada dasarnya sebagian besar bersifat informal dan karena itu relatif mudah untuk dimasuki oleh pelaku-pelaku usaha yang baru. salah satu pertanyaan yang menarik untuk dimunculkan adalah apakah krisis ekonomi betul-betul membawa pengaruh pada dinamika spasial UKM? Tulisan ini hanya mengamati salah satu aspek saja dari dinamika spasial UKM. yakni distribusi spasialnya. apalagi yang sangat parah. misalnya Azis (1994). 2000b). Dalam konteks UKM. Dengan hal ini maka persoalan pengangguran sedikit banyak dapat tertolong dan implikasinya adalah juga dalam hal pendapatan. selain ekonominya mengalami kontraksi terparah. Demikianlah. Sementara itu. berdasarkan data PDRB.1 persen pada tahun 2000. BERTAHAN DENGAN UKM Krisis ekonomi. belakangan ini banyak diungkapkan bahwa UKM memiliki peran penting bagi masyarakat di tengah krisis ekonomi. krisis ekonomi telah menyebabkan propinsi-propinsi di Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang lebih besar ketimbang daerah-daerah lain di Indonesia (lihat gambar berikut). Dapat dikemukakan bahwa selama ini sejumlah studi sudah dilakukan untuk mengamati distribusi spasial industri manufaktur. Dalam hal ini bukanlah hal yang mengejutkan kalau pengangguran. tentu telah menyulitkan masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari. serta sejumlah propinsi di Indonesia bagian Timur. Dengan kata lain. Kuncoro (2000a). Dengan memupuk UKM diyakini pula akan dapat dicapai pemulihan ekonomi (Kompas. Sementara itu. Pendapat mengenai peran UKM atau sektor informal tersebut ada benarnya setidaknya bila dikaitkan dengan perannya dalam meminimalkan dampak sosial dari krisis ekonomi khususnya persoalan pengangguran dan hilangnya penghasilan masyarakat. Hasil survei yang dilakukan Bank Dunia bekerjasama dengan Ford Foundation dan Badan Pusat Statistik (September-Oktober 1998) menegaskan bahwa ketiga persoalan itu oleh masyarakat ditempatkan sebagai persoalan prioritas atau harus segera mendapatkan penyelesaian (Watterberg dkk.9 persen pada tahun 1996 menjadi 6.1. Hill (1996). Jika demikian halnya maka . khususnya yang berskala besar dan menengah. hanya Papua saja yang pertumbuhan ekonominya masih positif sedangkan propinsi-propinsi lainnya mengalami kontraksi. Hal serupa juga berlaku bagi sektor informal. peran sektor informal menjadi terasa penting dalam periode krisis ekonomi. Lima propinsi di Jawa seluruhnya adalah lima besar propinsi di Indonesia yang mengalami kemorosotan ekonomi terparah. 1999). Dengan kata lain. ketiga hal itu merupakan persoalan sangat pelik yang dihadapi masyarakat pada umumnya. dkk (1999). Dengan kata lain. Krisis ekonomi juga telah membalikkan tren formalisasi ekonomi sebagaimana tampak dari berkurangnya pangsa pekerja sektor formal menjadi 35. Pada tahun 1998. Kondisi ketenagakerjaan pada masa krisis kiranya dapat memberikan gambaran dampak sosial dari krisis ekonomi (Tabel 1). 14/12/2001). Pada tahun tersebut. usaha kecil di propinsi-propinsi di pulau Jawa juga lebih menderita akibat krisis ekonomi. menurut hasil analisis Watterberg. hilangnya penghasilan serta kesulitan memenuhi kebutuhan pokok merupakan persoalan-persoalan sosial yang sangat dirasakan masyarakat sebagai akibat dari krisis ekonomi. 2002). Sementara itu. Bagaimana dengan anjloknya pendapatan masyarakat yang tentu saja mengurangi daya beli masyarakat terhadap produk-produk yang sebelumnya banyak disuplai oleh usaha berskala besar? Bukan tidak mungkin produk-produk UKM justru menjadi substitusi bagi produk-produk usaha besar yang mengalami kebangkrutan atau setidaknya masa-masa sulit akibat krisis ekonomi. Sjöberg dan Sjöholm (2002). Sektor informal sendiri merupakan sektor dimana sebagian besar tenaga kerja Indonesia berada. saat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi terparah. Namun. seluruh propinsi di pulau Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang jauh lebih parah daripada propinsi-propinsi lainnya (lihat juga Akita dan Alisjahbana.

www. 2001). Selain itu. [1] Data UKM tersebut bersumber dari publikasi BPS berjudul Profil Usaha Kecil dan Menengah Tidak Berbadan Hukum Indonesia tahun 1998 dan tahun 2000. Tabel 2 juga menunjukkan bahwa krisis ekonomi mulanya menurunkan pangsa pulau Jawa. hanya DKI Jakarta saja yang cenderung mengalami penurunan andil. namun mulai tahun 1998 pangsa Jawa kembali meningkat sampai menjadi 66 persen pada tahun 2000. ada pendapat bahwa sektor informal tidaklah memberikan perbaikan secara berarti terhadap taraf hidup para pekerjanya. 2002). Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian. [1] Survei tersebut terbatas hanya pada UKM yang tidak berbadan hukum sehingga hasilnya dapat juga merefleksikan sektor informal. yakni menjadi sekitar 68 persen dari seluruh unit usaha UKM yang ada di Indonesia. termasuk yang tidak dibayar (lihat. . Jumlah unit usaha pada tahun 2000 masih tetap lebih sedikit dibandingkan sebelum krisis ekonomi.id Secara umum. maka data yang ada di sini barangkali pula lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. penurunan jumlah tenaga kerja tidaklah setajam penurunan jumlah unit usaha. Dari gambar 1 tampak bahwa jumlah unit usaha UKM cenderung berkurang. Dengan kata lain. Seperti juga industri manufaktur besar dan menengah. kecuali sektor pertanian.Hasil survei tersebut hanya mencakup UKM non-pertanian yang tidak berbadan hukum sehingga secara konseptual hasil survei tersebut juga merefleksikan sektor informal kendati secara terbatas ( ). Data-data tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa UKM memiliki kemampuan untuk menjadi pilar penting bagi perekonomian masyarakat dalam menghadapi terpaan krisis ekonomi. 2000a). yakni meningkat pada tahun 1998 namun kemudian terus menurun sampai menjadi kurang dari 16 persen pada tahun 2000. Hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa UKM sebetulnya juga mempunyai keunggulan dalam menyerap tenaga kerja di masa krisis ekonomi. [2] [2] Dalam konteks industri manufaktur. Namun dalam konteks UKM. 2002). Hal ini tidak lepas dari kemampuan UKM untuk merespon krisis ekonomi secara cepat dan fleksibel dibandingkan kemampuan usaha besar (Berry dkk. UKM pada dasarnya adalah aktivitas ekonomi sementara aktivitas ekonomi sendiri secara umum dapat diindikasikan oleh tenaga kerja maupun nilai tambahnya (Sjöberg dan Sjöholm. Gambar di atas—disusun berdasarkan Hasil Survei Usaha Terintegrasi yang dilakukan BPS —kiranya dapat berguna untuk memberikan gambaran bagaimana peranan UKM bagi masyarakat di masa krisis. untuk tahun 1999 dan 2000 tidak ada data untuk Propinsi Maluku. DISTRIBUSI SPASIAL UKM Pertanyaan awal yang perlu diperjelas di sini adalah apa indikator UKM yang digunakan. distribusi spasial tersebut tentu perlu pula dilihat dari sisi tenaga kerja. UKM justru makin memusat di Jawa. Sedangkan Sumatera justru sebaliknya. distribusi spasial UKM dalam kurun waktu 19962000 juga terpusat di Pulau Jawa. Dari lima propinsi di Jawa.bps. bias itu mungkin tidak terlalu besar mengingat sebagian besar lebih mengandalkan tenaga kerja. yang dimaksud dengan UKM dalam tulisan ini adalah sebagaimana definisi UKM tersebut. maka hasil survei tersebut akan lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. Selanjutnya. Pada tahun 1996. sekitar 66 persen UKM Indonesia berada di Jawa (Tabel 2). Selain dari jumlah unit usaha. Kuncoro. Namun demikian. Selain propinsi-propinsi Jawa. Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian.go. Dalam tulisan ini. Hal yang sama juga terjadi pada jumlah tenaga kerja. Hidup di sektor informal hanyalah hidup secara subsisten (Basri.kecenderungan tersebut sekaligus juga merupakan respon terhadap merosotnya daya beli masyarakat. Hal ini menjadi penting karena Watterberg dkk (1999) juga menyimpulkan bahwa dampak sosial dari krisis ekonomi lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan. 2002). hanya Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan saja yang andilnya dalam jumlah UKM cukup tinggi. Oleh karena itu. Perlu ditambahkan bahwa pada tahun 1997 tidak ada survei. Krisis ekonomi rupanya telah mempertinggi kemampuan masing-masing UKM untuk menyerap tenaga kerja. tenaga kerja yang diserap oleh masing-masing unit usaha secara rata-rata justru mengalami kenaikan. sedangkan Jawa Tengah mengalami peningkatan secara sinambung. Seluruh sektor ekonomi dicakup oleh survei tersebut. hasil survei BPS di atas menunjukkan beberapa kecenderungan menarik. Hanya saja. Sejak terjadi krisis ekonomi. penggunaan tenaga kerja dan nilai tambah secara bersama-sama sebagai indikator aktivitas ekonomi dapat mencegah terjadi kesimpulan yang bias oleh karena perbedaan distribusi spasial dari industri-industri yang berbeda dimana ada yang bersifat padat tenaga kerja dan ada yang padat modal (Sjöberg dan Sjöholm. indikator yang akan digunakan adalah tenaga kerja UKM disertai jumlah unit usahanya sebagai pelengkap. sektor tersebut telah turut berperan dalam mengatasi persoalan pengangguran yang diakibatkan oleh krisis ekonomi.

ada kecenderungan menguatnya konsentrasi spasial UKM di Indonesia. namun sejak memasuki periode deregulasi. . Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser. Terdapat pula indikasi menguatnya konsentrasi spasial UKM tersebut sejak krisis ekonomi melanda Indonesia. Sjöberg dan Sjöholm memukan bahwa tingkat konsentrasi spasial industri manufaktur dalam kurun waktu 1980-1996 tidaklah berkurang. Dicatat pula bahwa peningkatan konsentrasi spasial jauh lebih mencolok di Jawa daripada Sumatera maupun pulau-pulau lainnya di Indonesia. Sebelum krisis.190 (Sjöberg dan Sjöholm.12. Namun pada tahun 1999 konsentrasi spasial unit usaha UKM mengalami peningkatan cukup tinggi dan belum menurun secara berarti pada tahun 2000. Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996. perkembangan penyebaran regional dari UKM dapat dilihat dari konsentrasi spasialnya. Dalam tulisan ini yang diamati barulah soal distribusi spasial UKM dan belum sampai pada determinan dari dinamika spasial UKM itu sendiri. Namun demikian bagaimana penyerapan tenaga kerja oleh UKM dari aspek spasial tampak masih kurang teramati. dalam studinya yang mengukur trend konsentrasi spasial industri di Indonesia 1976-1995. Tahun 1999 dan 2000. Dari analisisnya. Indikasi tersebut kiranya masih perlu dilengkapi dengan upaya mengidentifikasi faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi dinamika spasial UKM sebagaimana dilakukan dalam studi-studi terhadap idustri manufaktur pada umumnya. 2002). Hal ini tidak berubah banyak pada satu tahun setelah terjadi krisis ekonomi. Dalam tulisan ini ukuran konsentrasi spasial yang digunakan adalah indeks Herfindahl yang diterapkan baik terhadap data unit usaha maupun jumlah pekerja UKM. konsentrasi spasial industri memiliki pola menurun. Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser terhadap data tenaga kerja maupun nilai tambah yang dihasilkan industri manufaktur. setelah krisis justru terjadi penurunan tingkat konsentrasi spasial kendati relatif kecil. Kendati demikian. UKM (non pertanian yang tidak berbadan hukum) masih tetap terkonsentrasi di pulau Jawa. indeks Herfindahl pekerja UKM meningkat menjadi lebih dari 0.*** Oleh: Aloysius Gunadi Brata -. 2000a). Sebagai perbandingan. deregulasi perdagangan bersama dengan serangkaian deregulasi yang diterapkan justru memperkuat konsentrasi spasial industri manufaktur. Kuncoro menggunakan Indeks Entropi Theil (Kuncoro. Yogyakarta (UAJY). peningkatan konsentrasi spasial tersebut sebetulnya relatit tidak terlalu besar. Konsentrasi spasial di sini menunjuk kepada terkonsentrasinya UKM pada beberapa daerah saja. Kendati ukuran konsentrasi spasial yang digunakan berbeda. Hasil perhitungan indeks Herfindahl tersebut disajikan dalam Gambar 3.Untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih kuat. kedua studi tersebut di atas memperoleh kesimpulan yang relatif serupa. baik dilihat dari sisi jumlah usaha maupun jumlah pekerjanya. Data yang ada menunjukkan bahwa peran tersebut cukup penting.126. Ditambahkan pula bahwa liberalisasi perdagangan yang dimulai tahun 1983 telah gagal menurunkan tingkat konsentrasi industri manufaktur. dalam kasus Indonesia. tingkat konsentrasi spasial unit usaha UKM adalah 0. Namun jika dilihat dari tenaga kerja.Lembaga Penelitian Universitas Atmajaya. Hal ini memberikan indikasi bahwa sejak terjadi krisis ekonomi. UKM memainkan peran dalam mengatasi persoalan ketenagakerjaan. PENUTUP Sejak terjadi krisis ekonomi 1997. Dari analisis dapat disimpulkan bahwa sampai dengan tahun 2000. Kesimpulan yang diperoleh tidak jauh berbeda dengan temuan Kuncoro. Kuncoro menemukan bahwa sampai sebelum tahun 1988. indeks Herfindahl industri manufaktur Indonesia tahun 1996 adalah 0. Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996. Masih menurut Kuncoro (2002b). Sebagai contoh. konsentrasi spasial tersebut justru mengalami peningkatan.

M. apakah pembangunan akan selalu membawa destabilisasi? Sebuah proses yang mengakibatkan disparitas sosial-ekonomi membesar akibat laju modernisasi dan industrialisasi. 2002a. ―Memupuk UKM. peraih Nobel Ekonomi tahun 1998. Transformasi Ekonomi Indonesia Sejak 1966: Sebuah Studi Kritis dan Komprehensif . Perwira. Suara tersebut antara lain dari Amartya Sen. apakah sebuah ketakterhindaran (inevitability) historis. serta menguntungkan sebagian kecil masyarakat? Timbul pula pertanyaan yang menggelisahkan. Ö dan F. kemakmuran sebuah bangsa dicapai berbasiskan kekuatan rakyat yang berdaya dan menghidupinya. SSE/EFI Working Paper Series in Economic and Finance No 488. maupun keterbelakangan adalah persoalan aksesibilitas. Suryahadi. DAN PEMBANGUNAN Mengingat masa kelam Orde Baru yang se-ring disebut ‖orde pembangunan‖. C. Alisjahbana. ―Wajah Murung Ketenagakerjaan Kita‖. Berkecamuk pertanyaan.. M. Yogyakarta.. Hill. KEBEBASAN.. ketidakberdayaan.‖ Makalah disajikan dalam lokakarya Economic Growth and Institutional Change in Indonesia during the 19th and 20th Centuries. Basri. at all cost.‖ Bulletin of Indonesian Economic Studies 37 (3): 363-384. T dan A. 1994. Watterberg. Menuai Pemulihan Ekonomi‖. S. penyebab dari langgengnya kemiskinan. Amsterdam 25-26 Februari. M. keringat serta air mata. Sandeem. Kuncoro. Jenggawah. L. 2001. 2002. maka akan bisa maksimal pula kontribusinya untuk kesejahteraan bersama. S. adalah se-suatu yang "bersahabat". Pembangunan. Berry. Menurut Sen. 2001. kini terdengar suara lain dan mulai terdengar nyaring. I. Tentu belum kering dari ingatan. ―Regional Income Inequality in Indonesia and the Initial Impact of the Economic Crisis‖.. bila manusia mampu mengoptimalkan potensinya. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 35 No 3. Dengan demikian. W. Kompas. Bulletin of Indonesian Economic Studies 38 (2): 201-222. Nipah. LP-FEUI. jargon pembangunan begitu ‖suci‖ sehingga atas namanya menjadi ‖sahih‖ merampas hak-hak asasi manusia.. 2002b. 1999. Jakarta. Azis. 1996. membuat pedih. Prittchett. Sumarto. ―A Quest for Industrial Districts: An Empirical Study of Manufacturing Industries in Java. Asumsi dari pemikiran Sen. Menurutnya pembangunan bukanlah proses yang dingin dan menakutkan dengan mengorbankan darah. Sjöholm. A. seharusnya merupakan proses yang memfasilitasi manusia mengembangkan hidup sesuai dengan pilihannya (development as a process of expanding the real freedoms that people enjoy). J. 29-50. Timbul pertanyaan mengganjal. 2002. 14 Desember 2001. Kompas. PAU-UGM dan Tiara Wacana. A. Concentration and Dispersal in Indonesia‘s Manufacturing Industry.. berbagai kasus yang mentorpedo rasa keadilan seperti Kedung Ombo. ujar Sen. 25 November. 2003. Kuncoro. Analisis Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia . ―Small and Medium Enterprises Dynamics in Indonesia. Pembangunan. dan berbagai penggusuran yang mengatasnamakan ‖pembangunan‖. Sumarto.PUSTAKA Akita. apakah untuk mencapai kesejahteraan harus selalu ada ‖tumbal‖ (jer basuki mawa bea)? Sayup-sayup. ―Minimum Wage Policy and Its Impact on Employment in the Urban Formal Sector‖. . ―Trade Liberalization and the Geography of Production: Agglomeration.. Ilmu Ekonomi Regional Dan Beberapa Penerapannya di Indonesia. pembangunan selalu mengorbankan kebebasan manusia? Rasanya masih seperti kemarin. Rodriquez. dan H.. Widyanti. A. H. 2002. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 39 No 1. ―A National Snapshot of the Social Impact of Indonesia‘s Crisis‖. Sjöberg. D. E. Setyo Budiantoro MANUSIA. 145-152.

jika pembangunan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang dianut masyarakat. diperlukan aspek emansipatoris. Tentu. Dalam waktu singkat. Akibatnya. Rakyat yang tak dilibatkan dalam proses. Dengan demikian. Berbagai proyek tiba-tiba bertebaran. berlomba-lomba merumuskan berbagai persoalan. Selama Orde Baru. dan dilemahkan. Dari tahun ke tahun. Freedom menurut Soedjatmoko merupakan kebebasan dari rasa tak berdaya. Hal itu. Dengan demikian. manusia hanya menjalankan apa yang terpaksa dapat di-lakukan (bukan apa yang seharusnya bisa dilakukan). dan kedaulatan untuk melakukan berbagai hal (bahkan menjadi leviathan). dengan berakhirnya berbagai proyek dan usailah sudah semuanya. Namun dua tahun kemudian. membuat pertumbuhan ekonomi merosot -13. Namun. secara sadar maupun tak sadar. Pukulan krisis.6%. sikap nrimo. sehingga memungkinkan masyarakat memperkembangkan kemampuan atas dasar kekuatan sendiri (self reliance). justru menunjukkan ‖kedigdayaan‖ rakyat. untuk mengkreasi dan menjustifikasi urgensi adanya berbagai proyek. rasa cemas. Feasibility studies (baca: penelitian pesanan) lalu dikerjakan oleh pa ra ‖intelektual tukang‖ maupun konsultan asing. sebab dalam hitungan makro ekonomi . tentu mempunyai batas waktu. Yaitu aspek pembebasan masyarakat dari struktur-struktur yang menghambat. dalam satu tahun ekonomi Indonesia anjlok -18.7% (1998).dan lain-lainnya). lalu diserahkan pada pemerintah. lembaran buku GBHN dan Pelita yang dicanangkan pemerintah makin tebal. dan lain-lain). Pemerintah yang makin percaya diri. dengan demikian berarti merangsang suatu masyarakat sehingga gerak majunya menjadi otonom. rasa keharusan untuk mempertanyakan apakah tindakan-tindakan mereka diizinkan atau tidak diizinkan oleh yang lebih tinggi ataupun adat kebiasaan (misalnya: patriarki.Diakibatkan keterbatasan akses. lalu merumuskan berbagai program dan proyek untuk dikerjakan. kesempatan sosial (pendidikan. transparansi. masyarakat merasa lega karena tak mengerjakan apa-apa. berbagai proyek yang ada terbengkalai. usaha-usaha besar ambruk. telah ‖melumpuhkan‖ diri sendiri. Meski sebenarnya. rakyat pun tak peduli. sedangkan investasi asing tak mau masuk akibat situasi sosial politik yang belum menentu. ekonomi nasional telah tumbuh 4. Pada dimensi ekonomi. sebab semuanya telah diserahkan pada pemerintah. Dengan demikian. legitimasi. Begitulah. Pembangunan. 2002). terfasilitasilah kemanusiaan yang penuh dan sanggup mengungkapkan diri (humanitas expleta et eloquens). Dalam jangka panjang. akibat distribusi akses sumber daya ekonomi yang tak merata menyebabkan rakyat miskin tak dapat mengembangkan usaha produktifnya. pada masa itu sedang terjadi capital flight sekitar $ 10 miliar per tahun. siapa di balik proyek. akibat rakyat miskin sangat sulit mengakses dan terlibat berbagai kebijakan publik. meski proyek tersebut ‖ditujukan‖ untuk mereka. Masyarakat pun melalui desas-desus akhirnya mengetahui dan mahfum. masyarakat telah ‖menyerahkan‖ kemandirian yang dimiliki. Tragisnya. tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Amartya Sen. Dengan kata lain.8% (Seda.9%. Pada dimensi politik. utang pun digelontorkan. para pakar maupun berbagai organisasi masyarakat. Aksesibilitas yang dimaksud Sen adalah terfasilitasinya kebebasan politik. namun akibat tak ada rasa memiliki. potensi manusia mengembangkan hidup menjadi terhambat dan kontribusinya pada kesejahteraan bersama menjadi lebih kecil. Krisis ekonomi. sehingga pemerintah semakin memiliki kekuatan. serta adanya jaring pengaman sosial. Keberdayaan rakyat (civil society). tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Soedjatmoko (Development and Freedom). yaitu melalui kebebasan sebagai cara dan tujuan (Development as Freedom). pe-nyebab kemiskinan adalah akibat ketiadaan akses yang dapat menunjang pemenuhan kehidupan manusiawi. Dan akhirnya. Fenomena ini tentu membingungkan penganut ekonomi ortodoks. Masyarakat profesi. Temuan lapangan di Indonesia. Tidak ada model pembangunan yang berlaku universal. secara umum kondisi rakyat Indonesia menjadi lemah. maka kebijakan tersebut tak menguntungkan mereka. menyimpulkan. berakar dari dinamik sendiri dan dapat bergerak atas kekuatan sendiri. lalu tertinggal. Untuk memecahkan hal tersebut. tak jauh dari lingkaran kekuasaan. suatu pembangunan tak akan berhasil dan bertahan. Sebagai sebuah proyek. ujar Sen. telah terjadi ‖kesalahan‖ besar yang dibuat bersama -sama. manusia mempunyai keterbatasan (bahkan tak ada) pilihan untuk mengembangkan hidupnya. terlemahkan. Lesson learned yang diperoleh dari Yayasan Pemulihan Keberdayaan Ma-syarakat (konsorsium 27 ja-ringan dan ornop besar yang membantu masyarakat keluar dari krisis). Lalu. kesempatan ekonomi. kesehatan. Tesis yang dikemukakan Sen agar tercapainya kesejahteraan. apakah rakyat benar-benar mengalami kelumpuhan sepenuhnya? Agaknya tidak. rasa ketergantungan. Anehnya. padahal tahun sebelumnya tumbuh +4.

akan bisa terus berkembang. tak ada jalan lain kecuali memakai cara-cara yang demokratis. Ikhwal menetapkan tujuan utama (goal). Demikianlah. Setidaknya. Pendekatan people centered development. akibat adanya ‖dualisme ekonomi‖ sektor kecil ini tak memiliki kemampuan untuk memanfaatkan berbagai institusi modern. menekankan pertumbuhan manusia (aktualisasi potensi manusia). Usaha-usaha besar. keberlanjutan (sustainability). Memfokuskan diri pada kesejahteraan rakyat. Salah satu institusi modern yang sangat sulit diakses oleh UMKM.mereka. diperlukan pula adanya upaya peningkatan kapasitas (capacity building). sektor modern justru makin meminggirkan mereka. Dan akhirnya disadari. Demikian pula. merupakan hal strategis yang tidak netral dan bebas nilai. tern yata justru menunjukkan kekuatannya. rente ekonomi dan fasilitas. maka masyarakat dapat mengembangkan berbagai potensi produktif mereka. Agenda ke Depan Kini kita menghadapi persoalan konkret. dengan segala kekuatan dan kelemahannya. sementara kesenjangan melebar. Sementara usaha besar yang berusaha secara wajar dan kompetitif. sektor usaha besar yang hidup dari kronisme. Untuk mencapai demokrasi. Dengan demikian. Akibatnya. namun bukan tujuan utama. 29 April 2003) . ‖Investasi ekonomi rakyat‖ (underground economy) yang kerap dipandang dengan sebelah mata. Dan perlu disadari. pemerataan. untuk mencapai kehidupan yang manusiawi. kecil. sebab bila tidak akan jatuh. kini secara berangsur telah ditinggalkan. acapkali institusi modern ini justru meningkatkan adanya kesenjangan. Menyadari adanya dua modal tersebut. sehingga dapat kompatibel dengan nilai-nilai dan budaya setempat agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. Meski memobilisasi tabungan dari masyarakat luas. namun tetap berjalan tertatih-tatih karena keterbatasan akses. Usaha-usaha ekonomi rakyat. dengan berbagai keterbukaan dan peluang. yaitu melalui pemberian akses dan peluang yang sama pada kedua sektor usaha tersebut. Dengan cara demikian. Cara sudah seharusnya konsisten dengan tujuan yang ingin dicapai. Produksi juga merupakan bagian penting dalam pendekatan ini. dan pembangunan pun rapuh tak berakar ( bubble economy). dan semangat kemandirian masyarakat sendiri. adalah perbankan. metodologi dan pengorganisasian pencapaian tujuan. Tujuan pembangunan adalah tercapainya kesejahteraan bersama. memang terbukti mampu menyelamatkan ekonomi Indonesia dari krisis. Bahkan seringkali. babakan itu menyadarkan bahwa orientasi production centered development yang menekankan pertumbuhan. maka cara untuk mencapainya pun seharusnya melalui upaya-upaya pencapaian kesejahteraan bersama. perlu dikembangkan berbagai institusi modern yang dimodifikasi sedemikian rupa. pembangunan akan berkembang secara dinamik berdasar kekuatan masyarakat sendiri. namun pelayanan pembiayaan bank lebih dimanfaatkan sektor besar. namun kemudian ambruk. Bila masyarakat telah tumbuh dan berdaya. perlu ada transformasi agar kedua sektor usaha tersebut bisa berkembang (dual track). *** Babakan sejarah yang pahit itu. Kue pembangunan ternyata hanya dikuasai sebagian kecil masyarakat. kecil dan menengah (UMKM). agar bisa memanfaatkan berbagai akses dan peluang yang ada. Oleh sebab itu. (Dimuat di Sinar Harapan. hal ini tak mungkin terjadi. usaha-usaha ekonomi rakyat yang sering disebut usaha mikro. maka pembangunan akan berurat berakar (rooted) pada rakyat. sebab akan mempengaruhi paradigma (mindset) berpikir. ternyata memiliki banyak kelemahan. di mana masyarakat mempunyai kebebasan untuk memilih. Begitulah. sehingga makin kuat dan kokoh menyangga bangsa ini. setidaknya kedua modal itulah yang kini kita miliki. dan menengah (UMKM) ternyata telah menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan krisis. karena mendapat berbagai privilese tumbuh dengan cepat. mau tak mau harus berkompetisi secara sehat. Sedangkan untuk usaha mikro. investasi asing dan haus akan utang luar negeri. tentunya harus melalui jalan dari pembangkitan kekuatan rakyat itu sendiri atau dalam terminologi Korten disebut people centered development. tentu harus dicapai dengan cara yang manusiawi pula.

beliau menjawab: ―Bapak-bapak saja. Inilah ekonomi rakyat yang dipahami oleh semua orang kecuali pakar-pakar ekonomi keblinger.5%. karena ternyata dalam kondisi investasi merosot ekonomi tumbuh 3. Pada tanggal 18 Maret 2002 Redaktur JER bersama Menteri Koperasi & UKM bertemu Presiden Megawati di Istana Negara untuk melaporkan hasil lokakarya ―Ekonomi Kerakyatan‖ tanggal 11 September 2001. yang dalam tulisan yang sama oleh ekonom senior FE-UI (Kompas. Sikap dan jawaban Presiden yang demikian tentu saja mengecewakan kita. Saat itu kami usulkan agar Presiden secara terbuka menunjukkan keberpihakan ini. Pergaulan mereka semakin sempit karena waktu mereka banyak tersita oleh komputer/internet yang mampu memberikan data-data kuantitatif dari seluruh dunia. dan saya akan terlalu sibuk berdebat dengan mereka. karena sepertinya perjuangan kita membela ekonomi rakyat tidak pernah akan berhasil. Presiden kita ternyata tidak bersama kita. Bahwa ekonom-ekonom modern zaman sekarang pura-pura tidak mengerti ekonomi rakyat dan mengatakan itu sebagai ekonomi tersembunyi ( hidden economy) memang mudah dipahami karena pakar-pakar ekonomi ini sudah tercekoki oleh teori-teori ekonomi Neoliberal dari Barat yang hanya ―bergaul‖ dengan fakta-fakta ekonomi modern. ekonomi industri. Investassi tidak berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. 19 Januari) disebut kelompok ekonom populis yang ―tidak realistis‖ dan ―tidak ilmiah‖. Yang licik atau tidak jujur (unfair) dari analisis makro ekonomi ini adalah tidak dengan menyebutkan secara jelas dan eksplisit bahwa ekonomi Indonesia selama 2002 telah tumbuh 3. Dalam kondisi bingung inilah Chatib Basri seorang ekonom muda Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia lalu menunjuk adanya ekonomi tersembunyi ( hidden economy) yang sulit diraba. Presiden menyatakan antara lain bahwa ekonomi rakyat tidak mungkin mengalami krisis berkepanjangan. sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa ekonomi nasional makin terpuruk atau sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan (recovery). Analisis makroekonomi (Neoklasik Ortodok) memang di sini menjadi buntu karena tidak ada yang dapat menerangkan mengapa ekonomi dapat tumbuh tanpa investasi. Sidang tahunan MPR-RI bulan Agustus 2002 merupakan tonggak sejarah bagi ekonomi rakyat ketika MPR memutuskan menarik kembali kesepakatan sebelumnya (ST-2000) untuk menghapus asas kekeluargaan dari . para elit di sekitar saya serta merta akan menentangnya. Bung Hatta. Presiden menyambut baik hasil-hasil seminar yang antara lain menyimpulkan pemihakan Presiden pada Ekonomi Kerakyatan meskipun di muka umum tidak terkesan demikian. Jika saja mereka mau menyebutkan fakta ini memang mereka akan terpaksa mengakui kekeliruan teori ekonomi yang selalu mereka tonjolkan bahwa tanpa investasi tidak mungkin ada pertumbuhan ekonomi. ekonomi tersembunyi ini sangat jelas tidak tersembunyi.5%. karena kalau saya bersikap demikian. dan sulit diterangkan. karena daya tahan yang sangat tinggi. yang ekonom Sumatera saja mengerti apa itu ekonomi rakyat dan pada majalah ―Daulat Rakyat‖ tahun 1931 menulis ―Ekonomi Rakyat Dalam Bahaya‖.Direktur Kajian Ekonomi dan Pembangunan Center for Humanity and Civilization Studies (CHOICES) dan staf Ketua LSM Bina Swadaya. Mubyarto EKONOMI RAKYAT SEPANJANG TAHUN 2002 Tahun 2002 adalah tahun yang benar-benar istimewa bagi ekonomi rakyat. Bagi kelompok ekonom lain yang membela dan memihak ekonomi rakyat. Data penurunan penanaman modal yang sangat besar ini. Sungguh sangat kontradiktif. Para ekonom makro pengritik pemerintah ―dengan bangga‖ menunjukkan data BKPM (Persetujuan investasi pemerintah) yang anjlog 57% untuk modal dalam negeri dan 35% untuk modal asing dibanding tahun 2001. Data-data ini diperkuat lagi oleh ―taksiran‖ pelarian modal ke luar negeri sebesar rata-rata US $ 10 milyar per tahun sejak krismon 1997. sulit dimengerti.Oleh: Setyo Budiantoro -. Hukum atau teori ekonomi ini ternyata sama sekali tidak terbukti sepanjang tahun 2002. globalisasi yang arti harafiahnya adalah perluasan wawasan ternyata telah menyempitkan pendangan para ekonom makro Neoliberal hingga ekonomi rakyat di depan mata dianggap ekonomi tersembunyi. ekonomi pasar uang/modal. maka saya lebih baik tutup mulut‖. Daya tahan yang tinggi inilah yang menyebabkan ekonomi r akyat cepat pulih dari krisis ―laksana baju bolong -bolong yang merajut kembali sendiri‖. Betapa tidak.

sedangkan koperasi adalah wadah organisasi tempat bergiatnya ekonomi rakyat. Tetapi TAP MPR yang sama dan UU No 25 tentang Propenas juga tegas-tegas memerintahkan pelaksanaan sistem ekonomi kerakyatan. air. Pelaku ekonomi tetap saja perorangan sebagai produsen ataupun konsumen. termasuk juga melaksanakan komitmen pada LoI-IMF. Lagipula menyebutkan koperasi sebagai salah satu pelaku ekonomi. dan usaha swasta termasuk usaha perseorangan. maka penghapusan penjelasan seluruh pasal 33 masih tetap berbahaya karena tidak lagi ada ketentuan tentang ―mendahulukan kepentingan masyarakat. untuk mewujudkan kemakmuran. efisiensi. Penyusunan dan pengembangan perekonomian nasional harus senantiasa menjaga dan meningkatkan tata lingkungan hidup. yaitu melalui restrukturisasi perusahaan yang sakit dan penjualan aset-asetnya. liberalisme. sedangkan organisasi koperasi adalah wadah kegiatan yang menjadi alat untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi anggota-anggota koperasi. keadilan. Tetapi sekali lagi tetap merupakan kekeliruan dan kerugian besar bagi bangsa Indonesia dan sistem serta praksis perekonomian. dan efisiensi. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai dan/atau diatur oleh negara berdasarkan asas keadilan dan efisiensi yang diatur dengan undang-undang. Secara lengkap rumusan pasal 33 baru hasil ST-2000 berisi 5 ayat sebagai berikut: 1. mayoritas anggota nampaknya menyadari kekeliruan pendapat yang ingin menggusur asas kekeluargaan. 4. rupanya dianggap memadai dan tidak melanggar asas kerakyatan. dan demokrasi ekonomi. memperhatikan dan menghargai hak ulayat. ST-MPR 2002 memutuskan mempertahankan asas kekeluargaan bahkan mempertahankan keseluruhan (3 Ayat) pasal 33 tanpa amandemen apapun. Di satu pihak BPPN diperintahkan MPR dan UU tentang Propenas untuk ―membereskan‖ segala utang ini dalam 5 tahun. 2. dan sosialisme. Hasilnya cukup melegakan karena asas kekeluargaan tidak jadi digusur dan ketiga ayat pasal 33 dipertahankan utuh tanpa perubahan apapun meskipun ada tambahan ayat 4 dan 5 sebagai ―kompromi‖ yang memasukkan kata ―efisiensi berkeadilan‖. Sri-Edi Swasono. dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Perekonomian disusun dan dikembangkan sebagai usaha bersama seluruh rakyat secara berkelanjutan berdasar atas keadilan. badan usaha milik negara.pasal 33 UUD 1945. bukan kemakmuran orang seorang‖. dan demokrasi ekonomi. Tetapi jika ke 5 ayat baru pasal 33 ini dianggap cukup untuk menghidarkan sistim kapitalisme. Dalam sidang tahunan (ST) MPR-2002 para politisi kita berdebat keras melaksanakan amandemen UUD 1945 yang dikenal dengan amandemen ke-4. Demikian menggusur kata asas kekeluargaan dengan memasukkan kata demokrasi ekonomi. serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai dan atau diatur oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. disamping BUMN dan usaha swasta. karena MPR memutuskan menghapus seluruh penjelasan pasal 33 termasuk di antaranya hilangnya kata bangun perusahaan koperasi dan pengertian lengkap demokrasi ekonomi yang menekankan pada keharusan mendahulukan kepentingan masyarakat. Bumi. Ternyata yang menang adalah cara pemilihan yang kedua yaitu pemilihan presiden langsung meskipun tetap tidak ada jaminan dapat terpilihnya presiden yang benar-benar mampu mempersatukan seluruh bangsa untuk memecahkan masalah-masalah pembangunan bangsa yang makin komplek termasuk ancaman disintegrasi bangsa yang amat nyata. Ini berarti kemenangan para pembela ekonomi rakyat yang sejak Mei 2001 sebenarnya telah ―dinyatakan kalah‖ karena 5 dari 7 pakar ekonomi dalam BP-MPR setuju untuk menghapus asas kekeluargaan untuk digantikan dengan asas keadilan. Koperasi bukan pelaku ekonomi. dan dirgantara. efisiensi. Memang amandemen yang paling penting menyangkut bidang politik yaitu tentang pemilihan presiden apakah melalui MPR yang selama ini berjalan atau melalui pemilihan langsung. dan pemerintah. Mungkin karena perhatian amat besar pada masalah pemilihan presiden atau katena perjuangan yang gigih dari segelintir teman-teman kita di MPR seperti Prof. yang diatur dengan undangundang. 5. sebenarnya merupakan salah kaprah yang sulit dimaafkan. Bulan-bulan setelah selesainya ST MPR 2002 terjadi perdebatan menarik tentang perlakuan yang dianggap tepat pada para konglomerat atau eks-konglomerat yang mbandel tidak mau (bukan tidak mampu) membayar utang yang ratusan trilyun. Hanya orang seorang adalah pelaku ekonomi yang instinknya bekerja keras berusaha mencapai tujuan. 3. BPPN yang merupakan rumah sakit raksasa untuk menyelamatkan sektor perbankan dari kebangkrutan total menghadapi dilema. Pelaku ekonomi adalah koperasi. . kesejahteraan. serta menjamin keseimbangan dan kemajuan seluruh wilayah negara.

Jika pemerintah menganggap menjamurnya pedagang kaki lima sebagai masalah yang memusingkan. Berbagai upaya untuk memihakinya selalu kandas ditengah jalan karena kepentingn-kepentingan yang mapan bercokol (vested interest) selalu berusaha keras pula untuk menyabotnya demi kepentingan mereka. Menjamurnya pedagang kaki lima di mana-mana di kota-kota besar dan kecil. Ekonomi rakyat menjadi pendukung utama perekonomian nasional.5% jelas-jelas merupakan sumbangan ekonomi rakyat yang dapat diandalkan ketahanannya.bukan lagi sistem ekonomi konglomerasi yang terbukti telah menyulut bom waktu berupa krisis moneter 1997. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM (PUSTEP-UGM) . Praktek-praktek BRI ini sebenarnya sudah ditiru/direplikasi di sejumlah negara Asia seperti India tetapi rupanya kurang mendapat perhatian di negeri sendiri. Inilah nasib ekonomi rakyat yang cukup suram dan merisaukan. ketika ekonomi sektor industri modern makin tertutup dan bermasalah. Tentu saja pernyataan ini mendapat reaksi makin keras karena tidak saja kebijakan yang demikian melawan TAP MPR dan UU Propenas tentang sistem ekonomi kerakyatan. Pada forum sama di DPR -RI tanggal 28 Januari Nyoman Muna dan Bambang Ismawan mengusulkan dikembang kannya ―microcredit wholesaler‖ (pemasok modal besar untuk ekonomi rakyat) tetapi yang harus dijaga benar -benar agar tidak dicegat oleh pemangsa (predator) yang akan memangsa kredit-kredit mikro ini untuk mereka sendiri. Pemulihan ekonomi nasional dari krisis yang berkepanjangan justru terletak pada ekonomi rakyat. Mubyarto. tetapi semuanya dengan modal mereka sendiri. Tarif dasar listrik. Presiden dengan tegas dan terus terang menyatakan pilihan kebijakan yang ―tidak populis‖ (tidak memihak rakyat) karena dianggap ―konstruktif‖ dalam jangka panjang. Pelaksanaan sistem ekonomi kerakyatan yang (harus) memihak rakyat berkali-kali terbentur atau berbenturan dengan kepentingan kelompok (vested interest) yang ingin tetap menguasai perekonomian Indonesia seperti masa-masa sebelum krismon. ditinjau dari para pelaku ekonomi rakyat ia merupakan pemecahan masalah ( solution). Ekonomi rakyat bukanlah ekonomi tersembunyi ( hidden economy) tetapi ekonominya wong cilik yang dapat dengan mudah dilihat dan ditemui di mana-mana di sekitar kita. adalah indikator penemuan ekonomi rakyat pada habitatnya yang benar. Pemilihan kebijakan yang tidak populis inilah yang kemudian memperkuat demonstrasi mahasiswa yang selanjutnya menuntut Presiden dan Wakil Presiden mundur karena tidak lagi merasa dipihaki. Dan praktek perbankan BRI dengan unit-unit desanya dapat didukung kegiatan BPR dan Koperasi yang dikembangkan berbagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sudah tumbuh di mana-mana secara mandiri dengan modal tabungan anggota. sehingga Direktur Utama BRI Rudjito menyatakan di DPR ―vested interest lebih tinggi dari interest rate‖ (yang sudah cukup tinggi!). Dilema sangat berat ini menjadi terbuka lebar pada kasus kenaikan serentak harga-harga BBM. Dilema ini berkepanjangan karena pada setiap kasus seperti penjualan BCA atau Indosat selalu muncul masalah masa depan sistem ekonomi Indonesia. Usulan Filipina dalam AIPO-ASEAN (Organisasi antar Parlemen ASEAN) untuk membentuk Bank Penanggulangan Kemiskinan (ASEAN Poverty Alleviation Bank). dikawatirkan makin melembagakan kehidupan predator-predator kredit mikro bagi penduduk/warga miskin yang haus kredit di negara-negara ASEAN. dan telepon awal Januari 2002. apakah tetap patuh pada pelaksanaan amanat pasal 33 UUD yang nasionalistik atau sistem ekonomi Neoliberal yang kini menguasai ekonomi dunia. lebih-lebih dengan pernyataan pembelaan Presiden di Bali tanggal 12 Januari. meskipun hampir tidak pernah dipihaki kebijakan-kebijakan pemerintah. di desadesa maupun di kota-kota. Prof. Dalam kaitan ini Kementerian Koperasi dan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) perlu berhati-hati karena UKM inilah salah satu wadah kelompok yang sangat mudah diselundupi sehingga menjadi pemangsa (predator) barbagai program kredit bagi ekonomi rakyat. Di Indonesia sejarah dan praktek BRI sudah dukup meyakinkan sebagai Bank bagi penduduk miskin terutama di perdesaan. Bahaya ini sungguh jelas terlihat karena definisi kredit UKM adalah nilai kredit antara Rp 50 juta dan Rp 500 juta yang jelas bukan kelompok ekonomi mikro yang miskin. Presiden dan Wakil presiden yang sangat didambakan memihak rakyat tidak lagi dipihak mereka (atau melawan mereka) sehingga tidak ada alasan lagi untuk mendukungnya. tetapi juga secara nyata sangat memberatkan kehidupan ekonomi rakyat. Pertumbuhan ekonomi nasional yang dilaporkan BPS 3. Dr. Guru Besar FE-UGM. Dan jalan keluar atau pemecahan masalah ini sama sekali tidak memperoleh bantuan modal dari pemerintah atau bank-bank pemerintah. Kiranya menjadi jelas bagaimana kehidupan ekonomi rakyat sepanjang tahun 2002 sampai awal 2003 ini. yang mendapat reaksi keras dari rakyat.

yakni upaya memberdayakan (kelompok atau satuan) ekonomi yang mendominasi struktur dunia usaha. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun. Mereka lahir dan berkembang dalam suatu sistem ekonomi yang selama ini lebih menekankan pada peran negara yang dikukuhkan (salah satunya) melalui pengontrolan perusahan swasta dengan rezim insentif yang memihak serta membangun hubungan istimewa dengan pengusaha-pengusaha . Karena dalam dimensi ruang Indonesia semua orang (Indonesia) berhak untuk menyandang predikat ‗rakyat‘. Persoalannya ada begitu banyak obyek yang masuk dalam barisan binatang (tikus. kecuali binatang itu adalah misalnya seekor tikus. yaitu ekonomi rakyat yang mana. sumberdaya manusia. menejemen usaha yang belum bersistem. konglomerat. Pertanyaan yang sama harus dikenakan pada konsep ekonomi rakyat. menguasai teknologi produksi dan menejemen usaha modern. maka kata rakyat dalam konteks ilmu ekonomi selayaknya diterjemahkan sebagai kesatuan besar individu aktor ekonomi dengan jenis kegiatan usaha berskala kecil dalam permodalannya. Kenapa mereka tidak digolongkan juga dalam ekonomi kerakyatan?. khususnya dalam kaitan dengan pembangunan ekonomi. maka semuanya disebut binatang. Walaupun dalam perjalanannya seekor kucing dapat saja menelan 100 ekor tikus atas nama binatang. Kata rakyat merupakan suatu konsep yang abstrak dan tidak dapat di‘tangkap‘ untuk diamati perubahan visual ekonominya. siapa. Sedangkan ekonomi kerakyatan lebih merupakan kata sifat. sarana teknologi produksi yang sederhana. bagaimana kita memperlakukan rakyat dimaksud dan apakah perlakuan terhadapnya selama ini sudah benar.Fredrik Benu EKONOMI KERAKYATAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT: SUATU KAJIAN KONSEPTUAL Ruang Ekonomi Kerakyatan Indonesia Saat mendapat tugas untuk mebahas konsep ekonomi kerakyatan dalam kaitan dengan makalah Prof. kata rakyat terdiri dari satuan individu pada umumnya atau jenis manusia kebanyakan. kita tidak bisa menangkap binatang untuk mengatakan gemuk atau kurus. di mana dan berapa jumlahnya. Ibarat kata ‗binatang‘. saya menc oba untuk menangkap (baca: memahami) makna kata ‗rakyat‘ secara utuh. Atau dengan kata lain. Mubyarto. Dalam ruang Indonesia. ekonomi rakyat adalah satuan (usaha) yang mendominasi ragaan perekonomian rakyat. Dalam konteks ilmu sosial. maka rakyat adalah kumpulan kebanyakan individu dengan ragaan ekonomi yang relatif sama. Buruh tani. dan bentuk kepemilikan usaha secara pribadi. 2001). Kita harus jelas mengatakan rakyat yang mana yang seharusnya kita tempatkan dalam ruang ekonomi kerakyatan Indonesia. Perlu dipahami bahwa dalam ruang ekonomi nasional pun terdapat sejumlah aktor ekonomi (konglomerat) dengan bentuk usaha yang kontras dengan apa yang diragakan oleh sebagian besar pelaku ekonomi rakyat. serta peluang pasar. kucing. Kata rakyat baru bermakna secara visual jika yang diamati adalah individualitas dari rakyat (Asy‘arie. Ilustrasi di atas saya sampaikan untuk membuka ruang diskusi tetang ekonomi kerakyatan dalam perspektif yang terarah dalam kerangka mengagas pikiran Prof. Selanjutnya. ular. dll. Akhirnya saya sampai pada pemahaman bahwa rakyat sendiri bukanlah sesuatu obyek yang bisa ‗ditangkap‘ untuk diamati secara visual. Dainy Tara (2001) membuat perbedaan yang tegas antara ‗ekonomi rakyat‘ dengan ‗ekonomi kerakyatan‘. Karena kelompok usaha dengan karakteristik seperti inilah yang mendominasi struktur dunia usaha di Indonesia.). Golongan yang kedua ini biasanya (walaupun tidak semua) lebih banyak tumbuh karena mampu membangun partner usaha yang baik dengan penguasa sehingga memperoleh berbagai bentuk kemudahan usaha dan insentif serta proteksi bisnis. Atau apakah upaya menggiring rakyat ke dalam ruang ekonomi kerakyatan selama ini sudah berada dalam koridor yang benar. koruptor pun berhak menyandang predikat ‗rakyat‘. Kalau diterjemahkan dalam konteks ilmu ekonomi. Mubyarto tentang ―Ekonomi Kerakyatan dalam Era Globalisasi dan Otonomi Daerah‖. mempunyai akses pasar yang luas. Sama seperti jika seekor kucing digabungkan dengan 100 ekor tikus dalam satu ruang. Karena jumlahnya hanya sedikit sehingga tidak merupakan representasi dari kondisi ekonomi rakyat yang sebenarnya. usaha ekonomi yang diragakan bernilai ekstrim terhadap totalitas ekonomi nasional. Menurutnya. sehingga kita harus jelas mengatakan binatang yang mana yang bentuk visualnya gemuk atau kurus. menguasai usaha dari hulu ke hilir. atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam. Ekonomi Kerakyatan dan Sistem Ekonomi Pasar Ekonomi rakyat tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. Memiliki modal yang besar.

minimal telah dibuktikan melalui suatu review teoritis. yang antara lain berisikan tentang keberpihakan yang sangat kuat terhadap usaha kecil-menengah serta koperasi. Tapi sayangnya sangat sulit untuk diacu untuk mencapai keseimbangan dalam tatanan perekonomian nasional. dan seimbang melalui berbagai regulasi pemerintah sebagai wujud intervensi yang berimbang dan kontekstual. Kegagalan pembangunan ekonomi yang diragakan berdasarkan mekanisme pasar ini antara lain karena kegagalan pasar itu sendiri. saya merasa kurang memiliki justifikasi empirik untuk mempertanyakan kembali sistem ekonomi pasar. 1987). Mau merujuk pada bekerja suatu mekanisme yang baru (apapun namanya). sebenarnya keragu-raguan ini tidak perlu terjadi. keadilan dan keseimbangan yang dibangun melalui mekanisme ―pasar‖nya Adam Smith adalah sesuatu yang harus diakui keberadaannya. Lahirnya sejumlah pengusaha besar (konglomerat) yang bukan merupakan hasil derivasi dari kemampuan menejemen bisnis yang baik menyebabkan fondasi ekonomi nasional yang dibangun berstruktur rapuh terhadap persaingan pasar. Mari kita membedah lebih jauh tentang konsep ekonomi kerakyatan. Bukan sebaliknya membangun suatu format lain di luar ―ekonomi pasar‖ untuk diacu dalam pembangunan ekonomi nasional. Namun demikian tidak harus diartikan bahwa konsep pasar Adam Smith yang relatif bersifat utopis ini harus diabaikan. komitmen politik pemerintah ini perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Hal yang masih kurang jelas dalam TAP MPR dimaksud adalah apakah perspektif pembangunan nasional dengan keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini masih dijalankan melalui mekanisme pasar? Dalam arti apakah intervensi pemerintah dalam bentuk keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini adalah benar-benar merupakan affirmative action untuk memperbaiki distorsi pasar yang selama ini terjadi karena bentuk campur tangan pemerintah dalam pasar yang tidak benar? Ataukah pemerintah mulai ragu dengan bekerjanya mekanisme pasar itu sendiri sehingga berupaya untuk meninggalkannya dan mencoba merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru ?. kita masih ragu-ragu. Pengalaman pembangunan ekonomi Indonesia yang dijalankan berdasarkan mekanisme pasar sering tidak berjalan dengan baik. Padahal ekonomi pasar diperlukan untuk menentukan harga yang tepat ( price right) untuk menentukan posisi tawar-menawar yang imbang. Keputusan politik ini sebenarnya menandai suatu babak baru pembangunan ekonomi nasional dengan perspektif yang baru. karena pengalaman keberhasilan pembangunan ekonomi negara-negara maju saat ini selalu merujuk pada bekerjanya mekanisme pasar. Bagi saya. Mau meninggalkan mekanisme pasar dalam sistem ekonomi nasional. Persepektif yang perlu dianut adalah bahwa keindahan. Sekali lagi. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya struktur ekonomi yang berimbang antar pelaku ekonomi dalam negeri. bukan ekonomi pasar itu sendiri. dihasilkan suatu TAP MPR mengenai Demokrasi Ekonomi. intervensi pemerintah yang tidak benar. dalam prakteknya belum ada satu negarapun yang cukup berpengalaman serta yang paling penting menunjukkan keberhasilan nyata. lalu mencari suatu sistem dan paradigma baru di luar sistem ekonomi pasar untuk dirujuk dalam pembangunan ekonomi nasional. Bahwa kegagalan kebijakan pembangunan ekonomi nasional masa orde baru dengan keberpihakan yang berlebihan terhadap kelompok pengusaha besar perlu diubah. Komitmen pemerintah untuk mengurangi gap penguasaan aset ekonomi antara sebagian besar pelaku ekonomi di tingkat rakyat dan sebagian kecil pengusaha besar (konglomerat). Bukti keragu-raguan ini tercermin dalam TAP MPR hasil sidang istimewa itu sendiri. Saya perlu menggaris bawahi bahwa yang patut mendapat kesalahan terhadap kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama regim orde baru adalah implementasi kebijakan pembangunan ekonomi nasional yang tidak tepat dalam sistem ekonomi pasar. adil. perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. demi mengamankan pencapaian target pertumbuhan (growth) (Gillis et al. tapi perusahaan swasta besar dan BUMN tetap mendapat tempat bahkan mempunyai peran yang sangat strategis. Mereka tidak bisa diandalkan untuk menopang perekonomian nasional dalam sistem ekonomi pasar. Nampaknya kita semua berada pada pilahan yang dilematis.yang besar yang melahirkan praktik-praktik anti persaingan. di mana bangun ekonomi yang mendominasi regaan struktur ekonomi nasional mendapat tempat tersendiri. dan adanya pengaruh eksternal.. jika kita semua jernih melihat dan jujur untuk mengakui bahwa kegagalan-kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama ini terjadi bukan disebabkan oleh karena ketidakmampuan mekanisme pasar mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. yang keberhasilannya masih mendapat tanda tanya besar atau minimal belum dapat dibuktikan melalui suatu kajian teoritis-empiris. Kemudian sejak sidang istimewa (SI) 1998. Bagi saya dunia ―pasar‖ Adam Smith adalah suatu dunia yang indah dan adil untuk dibayangkan. Yang perlu dilakukan adalah upaya untuk mendekati kondisi indah. khusunya sejak masa orde baru. tidak efektifnya pasar tersebut berjalan. . bahkan kita sendiri belum berpengalaman (ibarat membeli kucing dalam karung). Karena konsep ―pasar‖ yang disodorkan oleh Adam Smit sesungguhnya tidak pernah ada dan tidak pernah akan ada. Dalam pemahaman seperti ini. Sudah saatnya dan cukup adil jika pengusaha kecil –menengah dan bangun usaha koperasi mendapat kesempatan secara ekonomi untuk berkembang sekaligus mengejar ketertinggalan yang selama ini mewarnai buruknya tampilan struktur ekonomi nasional. dimana demokrasi ekonomi nasional tidak semata-mata dijalankan dengan keberpihakan habis-habisan pada usaha kecil-menengah dan koperasi.

ternyata dalam prakteknya lebih diarahkan pada keberpihakan yang berlebihan pada pengusaha besar (konglomerat) dalam bentuk insentif maupun regim proteksi yang ekstrim. dan pemerataan yang berkeadilan. untuk melihat keberhasilan pembangunan ekonomi nasional yang dapat dinikmati secara bersama. Justru negara-negara yang masih setengah hati mendorong bekerjanya mekanisme pasar (seperti Indonesia) tidak mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara mantap. meluasnya kesempatan berusaha dan pendapatan. seperti Singapura) mempunyai suatu sistem social security jangka panjang (yang berfungsi secara permanen) untuk membantu kelompok masyarakat yang inferior dalam kompetisi memperoleh akses ekonomi. demi mengkreasi bekerjanya mekanisme pasar dalam program pembangunan ekonomi nasional. adanya persaingan yang sehat. Bagi saya. Kita akan membahas lebih jauh tentang kekurangan konsep ekonomi kerakyatan yang di dengungkan oleh pemerintah pada sub-pokok bahasan di bawah ini. Pengalaman pembangunan ekonomi nasional dengan kebijakan proteksi bagi kelompok industri tertentu (yang diasumsikan sebagai infant industry) dan diharapkan akan menjadi ―lokomotif ― yang akan menarik gerbong ekonomi lainnya. Apalagi dengan merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru. Buktinya negaranegara maju yang selalu merujuk pada bekerjanya mekanisme pasar secara baik. serta lemahnya pengawasan. karena kurang mantapnya perencanaan. Fungsi sosial dapat berjalan dengan baik dalam mekanisme pasar. Kalau begitu logikanya. dsb. ka rena dimanjakan oleh berbagai insentif dan berbagai bentuk proteksi. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang salah atau kurang sempurna dengan konsep ekonomi kerakyatan?. pada akhirnya bermuara pada incapability dan inefficiency dari industri yang bersangkutan (contoh kebijakan pengembangan industri otomotif). maka kurang ada justifikasi logis yang jelas untuk mengabaikan bekerjanya mekanisme pasar dalam mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. Ini sama artinya dengan ―sakit di kaki. Semua ini merupakan ciri-ciri dari Ekonomi Kerakyatan yang kita tuju bersama (Prawirokusumo. Perlu dicatat. Sudah menjadi pengetahuan yang luas bahwa negara-negara maju (termasuk beberapa negara berkembang. rakyat sudah terlalu lama menunggu dengan penuh pengorbanan. Saya juga kurang setuju dengan pendapat bahwa mekanisme pasar tidak dapat menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonomi nasional. sistem jaminan sosial. Pembangunan harus dikembangkan dengan berbasiskan ekonomi domestik (bila perlu pada daerah kabupaten/kota) dengan tingkat kemandirian yang tinggi. Bentuk campur tangan pemerintah (orde baru) yang seharusya diarahkan untuk menjamin bekerjanya mekanisme pasar guna mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. bahwa disamping obyek keberpihakan selama pemerintah orde baru dalam kebijakan ekonomi nasionalnya salah alamat. partisipatif. 2001). sistem perburuhan. menjadi tidak bermakna saat dihadapkan pada kenyataan bahwa bisnis yang bersangkutan masih tetap berada pada level perkembangan ―bayi‖. kepala yang dipenggal‖. namun pelaksanaannya masih jauh dari memuaskan.tetapi lebih disebabkan karena pasar sendiri tidak diberi kesempatan untuk bekerja secara baik. Ekonomi Kerakyatan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perlu digarisbawahi bahwa ekonomi kerakyatan tidak bisa hanya sekedar komitmen politik untuk merubah kecenderungan dalam sistem ekonomi orde baru yang amat membela kaum pengusaha besar khususnya para . jika ada intervensi pemerintah melalui perpajakan. Pada saat yang sama. instrumen distribusi kekayaan dan pendapatan. Sebenarnya sudah banyak program jaminan sosial temporer semacam JPS di Indonesia. 2000). tetapi kurang adanya affirmative action yang jelas oleh pemerintah demi menjamin bekerjanya mekanisme pasar. Akibatnya tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) terhadap obyek keberpihakan (dalam mekanisme pasar) untuk mengambil peran sebagai lokomotif keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara baik pula. kepercayaan diri dan kesetaraan. Yang disebut dengan affirmative action seharusnya lebih dutujukkan pada disadvantage group (sebagian besar rakyat kecil). Ini yang namanya affirmative action yang terarah oleh pemerintah dalam mekanisme pasar (Bandingkan dengan pendapat Anggito Abimanyu. Pendapat seperti ini juga tidak benar secara absolut. Periode waktu yang telah ditetapkan untuk berkembang menjadi suatu bisnis yang besar dalam skala dan skop serta melibatkan sejumlah besar pelaku ekonomi di dalamnya. keterbukaan/demokratis. pemerintah sendiri kurang mempunyai acuan yang jelas tentang kapan seharusnya phasing-out process diintrodusir dalam tahapan intervensi. harganya terlalu mahal bagi rakyat jika kita mencoba-coba dengan sesuatu yang tidak pasti. Sejak awal saya katakan bahwa semua pihak perlu mendukung affirmative action policy pada usaha kecilmenengah dan koperasi yang diambil oleh pemerintah sesuai dengan tuntutan TAP MPR. terjadi banyak penyimpangan dalam implementasi. bukan sebaliknya pada konglomerat. Jadi yang salah selama ini bukan mekanisme pasar.

keunggulan. termasuk rakyat kecil sendiri (Bandingkan dengan pendapat Ignas Kleden. Sebenarnya yang harus ada pada tangan obyek affirmative action adalah kesempatan untuk berkembang dalam suatu mekanisme pasar yang sehat. keterbatasan organisasi dan pengelolaannya (Asy‘arie. Komitmen keberpihakan pemerintah pada UKM dan Koperasi di dalam perspektif ekonomi kerakyatan harus benar-benar diarahkan untuk mengatasi masalah-masalah yang disebut di atas. karena sampai saat ini masih banyak pihak (di luar UKM dan Koperasi) yang memanfaatkan momen keberpihakan pemerintah ini sebagai free-rider. karena asumsi awal yang dianut adalah usaha kecil-menengah dan koperasi yang merupakan ciri ekonomi kerakyatan Indonesia tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. serta peluang pasar. Tidak dapat disangkal bahwa membangun ekonomi kerakyatan membutuhkan adanya komitmen politik ( political will). 2000). dan . 2001). Praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil sangat tidak menguntungkan pihak manapun. Pendekatan seperti ini jelas sangat berbeda dengan apa yang dimaksud dengan affirmative action. sumberdaya manusia. Program pengembangan ekonomi rakyat memerlukan adanya program-program operasional di tingkat bawah. maka saya khawatir cerita keberpihakan yang salah selama masa orde baru kembali akan terulang. Aksi membagi-bagi uang secara tidak sadar menyebabkan usaha kecil-menengah dan koperasi yang selama ini tidak berdaya untuk bersaing dalam suatu mekanisme pasar. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun. bukan cash money/cash material. Selanjutnya. keterbatasan akses pasar. Beberapa kajian empiris menunjukkan bahwa permasalahan umum yang dihadapi oleh UKM dan Koperasi adalah: keterbatasan akses terhadap sumber-sumber permbiayaan dan permodalan. Isu ini perlu mendapat perhatian tersendiri. agar pembahasan tentang ekonomi kerakyatan tidak hanya berhenti pada suatu konsep abstrak (seperti pembahasan tentang konsep ‗binatang‘ di atas). atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam. Justru kelompok ini yang enggan mendorong adanya proses phasing-out untuk mengkerasi mekanisme pasar yang sehat dalam rangka mendorong keberhasilan program ekonomi kerakyatan. Kalau tidak. Oleh karena itu. Tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) dalam ragaan bisnis usaha kecil-menengah dan koperasi yang menjadi target affirmative action policy. untuk mendorong ekonomi kerakyatan berkembang secara sehat. Bahkan sangat mungkin terjadi suatu proses yang bersifat counter-productive. menjadi sangat tergantung pada aksi dimaksud. Modal dasar yang dimiliki inilah yang seharusnya ditumbuhkembangkan dalam suatu mekanisme pasar yang sehat. adalah sesuatu kekeliruan besar dalam perspektif ekonomi kerakyatan yang benar. pemerintah harus mempunyai ancangan yang pasti tentang kapan seharusnya pemerintah mengurangi bentuk campur tangan dalam affirmative action policynya. tetapi menyamakan ekonomi kerakyatan dengan praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil (saya tidak membuat penilaian terhadap sistem JPS). Hal ini perlu ditegaskan. Tapi sebaiknya dikembangkan dalam perspektif ‗regionalisasi‘ di mana di dalamnya terintegrasi kesatuan potensi. keterbatasan penguasaan teknologi dan informasi. Jika pemahaman ini tidak dibangun sejak awal. peluang. yaitu phasing-out process yang harus pula dipersiapkan sejak awal. bukan sekedar jargonjargon politik yang hanya berada pada tataran konsep. Bukan sebaliknya ditiadakan dengan menciptakan ketergantungan model baru pada kebijakan keberpihakan dimaksud.konglomerat. Namun demikian perlu ditegaskan bahwa pengembangan ekonomi kerakyatan pada era otonomisasi saat ini tidak harus ditejemahkan dalam perspektif territorial. Ini adalah suatu model pendekatan struktural (structural approach). Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di NTT Kita telah membahas tentang konsep ekonomi kerakyatan dalam pembangunan ekonomi nasional melalui program-program keberpihakan pemerintah terhadap UKM dan Koperasi. tetapi perlu ditindalanjuti dengan pengembangan program-program operasional yang diarahkan untuk mengatasi persoalan keterbatasan akses kebanyakan rakyat kecil. Masih ada masalah lain yang perlu dibahas dalam hubungan dengan internal condition UKM dan Koperasi. diperlukan adanya kajian ekonomi yang akurat tentang timing dan process di mana pemerintah harus mengurangi bentuk keberpihakannya pada usaha kecil-menengah dan koperasi dalam pembangunan ekonomi rakyat. konsep pengembangan ekonomi kerakyatan harus diterjemahkan dalam bentuk program operasional berbasiskan ekonomi domestik pada tingkat kabupaten dan kota dengan tingkat kemandirian yang tinggi. Perubahan itu hendaknya dilaksanakan dengan benar-benar memberi perhatian utama kepada rakyat kecil lewat program-program operasional yang nyata dan mampu merangsang kegiatan ekonomi produktif di tingkat rakyat sekaligus memupuk jiwa kewirausahaan. maka sekali lagi kita akan mengulangi kegagalan yang sama seperti apa yang terjadi selama masa pemerintahan orde baru. Pada era otonomisasi saat ini. Kita semua masih mengarahkan seluruh energi untuk mendukung program keberpihakan pemerintah pada UKM dan koperasi sesuai dengan tuntutan TAP MPR. Tapi kita lupa bahwa ada tahapan lainnya yang penting dalam program keberpihakan dimaksud.

masih terdapat persoalan mendasar yang ‗mengurung‘ para pengusaha kecilmenengah dan Koperasi (termasuk di dalamnya berbagai bentuk usaha di bidang pertanian) untuk melakukan rasionalisasi dan ekspansi usaha. PT. cara pandang tentang tingkat keuntungan. Kosep. Ekonomi Indonesia Baru. strategei menghadapi resiko. 2000. Gillis. Jakarta. Pokok-Pokok pikiran dalam Menggugat Masa Lalu. Simanjuntak. Persepsi dan Mispersepsi tentang Pemulihan Ekonomi Indonesia. Ekonomi Pasar Sosial Indonesia. jumlah KK miskin di NTT malah mengalami kenaikan yang cukup murad sebesar 55 % selama periode 1998-2002. Gubernur Nusa Tenggara Timur. Ignas. Azwir Dainy. 2001. Yogyakarta. khususnya di NTT. Kompas Media Nusantara.. Oleh karena itu saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa program pemberdayaan ekonomi rakyat. Strategi Membangun Ekonomi Rakyat. PUSTAKA Abimanyu. Tetapi ada semacam jarak antara kesadaran berpikir dan realitas perilaku (Bandingkan dengan pendapat Musa Asy‘arie. tidak dipublikasikan. data yang diperoleh dari Biro Perekonomian Seta NTT menunjukkan bahwa sejak ditetapkannya TAP MPR tentang demokrasi ekonomi yang menekankan adanya keberpihakan yang jelas terhadap UKM dan Koperasi di Indonesia. Kupang Makalah disampaikan pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di Provinsi NTT. Kleden. Prawirokusumo. Pada tingkat regional NTT. cara pengelolaan keuangan.karakter sosial budaya. dan Strategi. Jakarta. Malcolm. Kebijakan. Yogyakarta. 1987. sebaiknya dimulai dengan program rekayasa sosial-budaya (socio-cultural engineering) untuk merubah inner life dan mengkondisikan suatu tatanan masyarakat yang akomodatif terhadap tuntutan pasar untuk maju. Lembaga Studi Filsafat Islam. S. 26 Nopember 2002.1 milyar (Laporan Gubernur NTT. mungkin ada kaitannya dengan sistem nilai budaya yang sudah mengakar pada diri pelaku ekonomi rakyat di NTT secara turun temurun. Soeharto. Djisman. tgl. Anggito. Kompas Media Nusantara. Economics of Development. W. Jumlah realisasi KUT yang telah disalurkan pada petani sejak tahun 1996 sampai tahun 2000 kurang lebih 35. Musa. PT. 6 milyar dengan jumlah tunggakan (pokok+bunga) sebesar kurang lebih 26. Keluar dari Krisis Multi Dimensi. H. Jakarta. Jakarta.W. di Hotel Kristal. Dwight. Atau dengan kata lain tingkat keberhasilan KUT di NTT hanya mencapai kurang dari 26 %. Asy‘arie. kajian dan alternatif solusi menuju pemulihan. Ekonomi Rakyat. Sekedar sebagai pembanding disajikan data realisasi dan tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) selama periode 1996-2000. Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia. Elex Media Komputindo. Tingkat pencapaian tertinggi yang paling banyak diperoleh dari program-program dimaksud adalah hanya terbatas pada tumbuhnya kesadaran berpikir dan hasrat untuk maju.Norton & Companny. Fredrik Benu – Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana. 2 nd Ed. Ini adalah suatu model pendekatan lain yang disebut pendekatan kultural (cultural approach). Persoalan mendasar yang mengurung ini. 2001). . 2000. sikap terhadap mitra dan kompetitor. Roemer Donald R. 2001. Kupang. Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia. dsb. BPFE. 2002). 2001. dalam Menggugat Masa Lalu. 2002. tetapi sebagian besar rakyat kecil masih sulit untuk mengaktualisasikannya dalam ragaan usaha mereka. New York. Sekalipun sudah banyak program pemberdayaan ekonomi yang langsung menyentuh rakyat di tingkat bawah telah dilaksanakan baik oleh pemerintah maupun oleh lembaga-lembaga non-pemerintah (NGOs). Sistem nilai budaya ini yang banyak mendeterminasi perilaku aktor ekonomi rakyat di NTT. Laporan disampaikan pada kunjungan Menteri Pertanian Republik Indonesia di Propinsi Nusa Tenggara Timur. termasuk di dalamnya cara pandang tentang usaha. Tara. Nuansa Madani. Perkins. Selanjutnya. 2000.

Vanili. sebagian besar dalam kondisi serba miskin. Para pelaku ekonomi kecil di sektor informal perkotaan juga memperlihatkan kondisi yang relatif sama. Namun bagi para petani yang mengandalkan tanaman pangan dengan wilayah yang relatif kering. Bagi para petani yang kebetulan memiliki wilayah yang cocok untuk komoditas perkebunan seperti Cengkeh. konsep ekonomi kerakyatan yang digunakan juga tidak bersifat netral. tetapi kondisinya tetap seperti kita saksikan saat ini. tingkat ekonomi mereka memprihatinkan. Di Sabu dan Rote. Pada tataran political will pemerintah. karena berbagai perbedaan pelaku ekonomi mulai diperhitungkan. Pada titik inilah kita harus membedakan secara jelas petani kecil. Para pengamat ekonomi memuji pelaku ekonomi kecil ini sebagai lentur dan tahan terhadap konjungtus dan krisis ekonomi. Demikian juga para nelayan kecil di pesisir pantai Flores. membutuhkan wawasan dan perlakuan baru terutama dari para penentu dan pelaksana kebijakan pada tingkat pemerintahan. Unit usaha industri kecil atau rumah tangga yang paling menonjol di NTT adalah industri tenun ikat. pelaku ekonomi kerakyatan yang serba kekurangan ini ingin ditempatkan sebagai pelaku ekonomi utama. pelaku ekonomi sebagaimana dimaksud pada umumnya terdiri dari petani kecil. betapapun daerah ini dikenal sebagai gudang ternak (sapi). Sejumlah kelompok usaha yang dibina intensif dengan kondisi SDM yang relatif baik menunjukkan perkembangan yang baik. Data ekonomi makro Indonesia bahwa share pelaku ekonomi kecil ini cukup kelihatan. Selain berjualan secara individual di pasar. Kopi. nelayan kecil. petani kecil dan nelayan kecil di perdesaan. tidak menunjukkan status ekonomi yang lebih baik ketimbang para petani yang menanam tanaman pangan. telah melakukan banyak hal untuk memajukan mereka. fondasi perekonomian daerah dan sejumlah julukan yang membanggakan. Tampilan fisik usaha para pelaku ekonomi kecil ini juga memperihatinkan. nelayan kecil dan pengrajin kecil di perdesaan dan para pelaku sektor informal perkotaan. Pemerintah. namun pelaku ekonomi kecil semacam ini pasti buka di NTT. kita mengenal cukup banyak konsep . Menurut hemat saya. PDMDKE dan berbagai skim program/ pendanaan lainnya belum menyentuh mereka atau mungkin sentuhannya sudah hilang sama sekali. kondisi mereka tidak dapat digolongkan mampu secara ekonomis. Semuanya sama. peternak kecil. Ketika konsep rakyat diimbuhkan dengan konsep ekonomi politik yang tidak lagi netral. walaupun mungkin pendapatan nominalnya lebih besar dari para peternak kecil. Di NTT. Alor dan Timor. Mungkin juga tidak setiap hari mereka bisa berjualan di pasar atau pinggir jalan karena pola produksinya yang bersifat musiman. sejumlah kelompok tani yang menanam vanili mendapat penghasilan yang cukup besar lantaran harga komoditas ini cukup tinggi. Secara teoretis. menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan yang serba kecil dan kekurangan di NTT sebagai pemain ekonomi yang utama atau sebagai fondasi ekonomi daerah. Suatu isyarat bahwa suatu kebijakan pengembangan yang berhasil di Jawa dan kota besar lainnya di Indonesia belum tentu berhasil di NTT. kinerja ekonomi mereka terbilang cukup baik. Data makro tentang pendapatan per kapita penduduk di berbagai kabupaten di NTT bisa menjelaskan kondisi ekonomi para pelaku ekonomi kecil tersebut. Sulawesi dan Sumatra yang pada umumnya berusaha di pusat kota. tingkat ekonomi mereka cukup memadai. Para peternak di TTS. Inilah kondisi riil pelaku ekonomi kerakyatan di NTT. Di Apui (Alor). ekonomi dan budayanya. mereka juga menggelar hasil usahanya di pinggir jalan secara darurat. Dalam kajian ini. Tampaknya program-program pengentasan kemiskinan atau pemberdayaan ekonomi seperti IDT. Lingkungan ekonomi makro dan mikronya sangat kontras berbeda. pelaku industri rumah tangga kecil dan pelaku ekonomi sektor informal perkotaan di Jawa dan kota besar lainnya di Indonesia dengan NTT. namun tidak sedikit kelompok dan usaha individu menjadikan industri tenun ikat sebagai pekerjaan sampingan dengan postur usaha yang serba kekurangan. yaitu hanya menunjuk pada pelaku ekonomi kecil (gurem) yang tersebar di sudut-sudut jalan perkotaan maupun di pelosok perdesaan. Kecuali beberapa pelaku ekonomi informal yang berasal dari Jawa. dari pusat sampai daerah. peternak kcil. Jambu Mete. Sumba. Komsep ini tidak mempersoalkan perbedaan orang dalam kepelbagaian sosial. Pujian demikian tidak salah. masih membutuhkan waktu yang relatif lama dan yang lebih penting dari itu.Frits O FanggidaE EKONOMI KERAKYATAN DI NTT: ANTARA REALITAS DAN HARAPAN Realitas Pelaku Ekonomi Kerakyatan di NTT Rakyat adalah suatu konsep politik yang netral. sebagian pelaku ekonomi kecil di pesisir pantai dikabarkan mengalami kemajuan berkat budidaya rumput laut.

Mereka bahu-membahu menjalin kekuatan untuk menguasai dan mendikte harga pasar. Berkembangnya sektor ekonomi sekunder akan menciptakan peluang bagi dinamika dunia usaha. Secara teoretis. Karena itu sektor ini akan menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi pada sektor primer dan sekunder. Petani Vanili di Apui (Alor) yang baru saja menikmati harga vanili yang tinggi. Dalam kondisi semacam ini. Inilah formasi ekonomi makro dan mikro yang sangat kondusif bagi pelaku ekonomi kecil di Jawa dan kota besar lainnya untuk berkembang. Mereka memasuki pasar pembeli ( buyer market) secara individual tanpa dukungan kelembagaan yang memadai. pengembangan pelaku ekonomi kecil membutuhkan perubahan yang cukup berarti pada formasi ekonomi makro dan mikro. Dari kondisi semacam ini dapat dibayangkan bahwa yang diperdagangkan adalah komoditas pertanian tanpa penglahan yang berarti. tetapi belum berhasil mengeluarkan para pelaku ekonomi kecil dari lingkaran yang serba kekurangan. bapak angkat. struktur ekonomi belum terdiversifikasi dengan baik menjadikan hubungan fungsional antar sektor ekonomi belum terjalin baik. perhubungan dan lembaga keuangan) telah terjadi dengan baik. Di NTT. Para peternak di TTS sudah sejak lama takluk dengan para pembeli (pedagang). Menjadi persoalan adalah bagaimana percepatan perubahan struktur ekonomi ini dapat terjadi. Share sektor pertanian sangat menonjol sementara share sektor industri sangat kecil. Jauh bukan hanya dalam arti fisik saja. saay ini mulai merasakan bahwa harga vanili sangat ditentukan oleh pembeli (pedagang skala menengah dan besar). Demikian juga pada tataran ekonomi mikro. Dalam kaitan ini menarik untuk disimak lebih lanjut langkah Pemda Kabupaten Kupang. Perlu ada kebijakan untuk percepatan perubahan struktur ekonomi NTT agar keterkaitan fungsional antar sektor ekonomi dapat tercipta. pengrajin dan pedagang kecil dapat menjadi organisasi ekonomi yang diandalkan untuk meningkatkan posisi tawar mereka di pasar? Sangat sulit untuk mengatakan Ya. perubahan struktur ekonomi akan terjadi bila aliran investasi pada sektor industri pengolahan (sekunder) meningkat. Formasi Ekonomi Makro dan Mikro Salah satu keuntungan pelaku ekonomi kecil dan sektor informal perkotaan di Jawa dan kota besar lainnya adalah struktur ekonominya telah terdiversifikasi dengan baik sehingga hubungan fungsional antar sektor ekonomi (pertanian. Penghasil rumput laut di Rote dan Sabu juga mulai merasakan betapa fluktuasi harga yang terjadi sulit mereka kendalikan. nelayan. bukan melalui pelatihan-pelatihan formal. Kondisi ini sangat kondusif bagi para pelaku ekonomi kecil. Perilaku . peternak. Sektor rkonomi tersier adalah sektor yang melayani. Kita masih membutuhkan wadah ekonomi lain atau sekurangkurangnya cara penanganan pasar sedemikian rupa sehingga aksesibilas pasar dan posisi tawar mereka dapat ditingkatkan. Ciri pasar komoditas semacam ini adalah harga relatif rendah dan inferior terhadap komoditas hasil olahan yang diimpor dari luar. Dua Perusahaan Daerah. Para pembeli memiliki organisasi yang solid. Pada sisi lain share sektor perdagangan dan perhubungan sedikit agak menonjol. Konsep-konsep ini telah diadopsi sedemikian rupa ke dalam berbagai program pemberdayaan ekonomi yang dilaksanakan pemerintah maupun swasta. Organisasi pembeli yang kuat tersebut tidak bisa dilawan oleh para petani secara individual. inti-plasma dan sebagainya. Dengan tingkat pendapatan masyarakat yang relatif tinggi serta kompetisi yang baik antar sektor ekonomi menjadikan outlet bagi produk pelaku ekonomi kecil cukup tersedia dengan insentif harga yang memadai. Sementara itu sebagian nelayan di Pulau Timor secara perlahan-lahan telah bertransformasi menjadi buruh nelayan. Sekiranya langkah ini mampu meningkatkan posisi tawar para pelaku ekonomi kecil dan mampu meningkatkan kinerja ekonomi mereka. Para pelaku ekonomi kecil tidak menikmati nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan. Apakah koperasi sebagai lembaga ekonomi yang dekat dengan para petani.pemberdayaan usaha kecil seperti kemitraan. posisi tawar mereka sangat lemah. tetapi lebih penting adalah aksesibilitas. agar tercapai keseimbangan posisi tawar di pasar. industri. perdagangan. Organisasi harus dilawan dengan organisasi pula. masing-masing bergerak di bidang kelautan dan agribisnis didirikan sebagai outlet bagi para pelaku ekonomi kecil. dinamika dunia usaha yang relatif tinggi menjadi media pembelajaran yang efektif dalam pembentukan perilaku ekonomi yang rasional dan produktif. Sikap kewiraswastaan mereka terbentuk dalam dinamika dunia usaha yang tinggi. Jauh dari Permintaan dan Miskin Kelembagaan Salah satu persoalan yang menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan di perdesaan NTT sulit berkembang adalah bahwa mereka jauh dari permintaan (pasar). Berkembangnya sektor ekonomi sekunder dan tersier menjadi prasyarat bagi pengembangan dunia usaha pada aras ekonomi mikro. maka inilah salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan untuk direplikasi pada daerah lain. Akibatnya.

Untuk itu diperlukan suatu pengkajian mendalam mengenai eksistensi pelaku ekonomi kecil saat ini. Berkaitan dengan representasi pengembangan usaha kecil dalam dokumen perencanaan yang ada. Menurut hemat saya. Misalnya dalam perumusan kebijakan fiskal daerah (APBD). Demikianlah beberapa pokok pikiran tentang pengembangan ekonomi kerakyatan di NTT. Dorong perkembangan dunia usaha melalui percepatan perubahan struktur ekonomi. Bila urusan-urusan ekonomi lainnya diregulasi oleh Pemerintah Daerah. propeda dan Renstra) memberi tempat bagi pengembangan usaha kecil secara terpadu dan berkesinambungan? Bagaimana strateginya menjadikan usaha kecil sebagai sokoguru perekonomian daerah? Sampai sejauh ini kita belum melihat adanya visi yang jelas tentang pelaku ekonomi kecil. sebagian dari pos belanja modal yang dianggarkan dapat diarahkan sebagai kapitalisasi pelaku ekonomi kecil. Propeda dan Rentra) tidak memungkinkan rencana pengembangan pelaku ekonomi kecil sebagai inti dari pengembangan ekonomi rakyat diakomodasi dengan baik. program-program lintas instansi yang akan dilaksanakan. Kepala Daerah harus berani merumuskan visi yang jelas tentang pengembangan pelaku ekonomi kerakyatan.ekonomi atau sikap kewirausahaan merupakan fungsi dari dinamika dunia usaha. Bila pemerintah menginginkan pelaku ekonomi kecil menjadi fondasi perekonomian daerah. maka Kepala Daerah harus berani merumuskan visi bahwa dalam jangka waktu lima atau 10 tahun mendatang. Semoga berguna.Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang . Perda ini sangat penting. Visi semacam ini diperlukan agar ada komitmen dan daya paksa untuk menjabarkan visi tersebut dalam perencanaan yang baik. Jangan dipaksakan dengan berbagai pelatihan kewirausahaan bila formasi ekonomi makroo dan mikro tidak kondusif. karena dalam format APBD yang baru. yang menggunakan program sebagai nomenklatur generik serta format pengusulan untuk mendapatkan pembiayaan dekonsentrasi. pembiayaan dan guide line pengelolaannya. Perlu Regulasi bagi Pelaku Ekonomi Kecil Esensi regulasi adalah untuk menciptakan keteraturan. kepastian hukum dan komitmen yang jelas dalam pengembangan UKM. agar tercipta media pembelajaran yang luas bagi pelaku ekonomi kecil untuk mematangkan perilaku ekonomi atau sikap kewirausahaannya. Rencana Pengembangan Pelaku Ekonomi Kecil dapat dijadikan subsidiary plan dari Propeda atau Renstra yang keabsahannya dilegitimasi juga oleh Perda. Seluruh program yang berkaitan dengan mereka perlu dievaluasi tuntas dan yang paling penting mesti ada wawasan baru tentangnya. kapitalisasi pelaku ekonomi kecil tersebut dapat menjadi pemicu bagi berkembangnya aktivitas usaha pelaku ekonomi kecil. adakah visi kita yang jelas tentang usaha kecil? Cukupkah dokumen perencanaan yang ada (Poldas. Tanpa Perda ini. terutama bagi pelaku UKM untuk menuntut dan mengontrol pemerintah agar bersungguh-sungguh dalam mengembangkan UKM. Gaungnya kedengaran keras di mana-mana. wacana tentang UKM ibarat macan ompong. harus diakui bahwa format perencanaan standar yang ada saat ini (Poldas. pembiayaan terhadap subsidiary plan tersebut dapat diakomodasi. Karena itu perlu terobosan dari sisi perencanaan. strategi yang digunakan. Dari segi pendanaan tidak ada masalah. selain retorika tentang mereka. Sekian. Denganstrategi. Ancangan Perencanaan Berbagai perubahan yang diinginkan terhadap pelaku ekonomi kecil butuh perencanaan yang baik dan perencanaan yang baik muncul dari suatu visi pengembangan usaha kecil yang jelas pula. pedekatan. Subsidiary plan adalah produk perencanaan sejumlah instansi yang berkaitan langsung dengan usaha kecil yang penyusunannya dikoordinasi Bappeda dan melibatkan representasi pelaku ekonomi skala menengah dan besar. PDRB NTT akan didominasi share pelaku ekonomi kecil. tetapi ia tak punya gigi. Pertanyaannya. program aksi dan pengelolaan yang jelas. Frits O FanggidaE – Dosen Fakultas Ekonomi . Subsidiary plan tersebut paling kurang berisikan lima hal pokok yaitu Visi dan Misi. Melalui pendekatan semacam ini diharapkan pelaku ekonomi kerakyatan dapat berkembang menjadi fondasi ekonomi yang kokoh bagi perekonomian daerah. maka perangkat hukum dalam bentuk Perda tentang pelaku ekonomi kecil atau UKM perlu dibuat.

42 -3. tetapi ekonomi rakyat yang masih agraris berdaya tahan tinggi dan justru merasa diuntungkan oleh krisis moneter tahun 1997. rupanya dianggap sebagai perubahan amat fundamental yang terkesan menghapuskan kekuasaan dan fungsi kooordinatif dari pemerintah propinsi atas kabupaten/kota dalam lingkungan propinsi.42 -1.2 57.97 .6 86.8 23. 4.7 Kemandirian Kelembagaan Keseluruhan 64.5 71. Tabel 1: Tingkat Keberhasilan Pokmas IDT Menurut Bidang (%) di 4 Propinsi Propinsi NTT NTB Maluku Ekonomi 79.9 76.75 -6.6 91. tetapi propinsi ini sedang mengeksplorasi berbagai potensi tambang dan kekayaan alam lain yang kelak akan membantu mengubah nasibnya‖.5 % berhasil dalam aspek ekonomi).13 4. Data -data pertumbuhan PDRB per kabupaten/kota yang lebih lengkap selama Repelita VI terlihat pada tabel 2.75 4. Bahkan pemahaman tentang pengertian otonomi daerah sendiri masih cukup rancu.62%).5 75.73%. wakil LSM dan sejumlah dosen Undana menyatakan optimisme terhadap masa depan ekonomi NTT.6 39. survei BPS tahun 1997 menempatkan NTT pada urutan nasional ke-6 (79. Bahwa OTDA penuh diletakkan di kabupaten/kota. Tabel 2: Pertumbuhan PDRB Per Kabupaten/Kota se Propinsi NTT No.24 -2.21 4. 2. 1.10 3.8% (Jawa-Bali) atau –13. 6.8 Irja 31.0 Sumber: RI. Secara keseluruhan ekonomi NTT sudah pulih dari krisis.91 Rata-rata 1994 2000 3. ―Mungkin warga NTT belum se-makmur saudara-saudaranya dari daerah lain.73%. Pidato Pertanggungjawaban Presiden. Namun khusus tentang prospek otonomi kebanyakan pakar masih merasa cemas. Perekonomian Daerah Jika tahun 1996 dan 1997 pertumbuhan ekonomi NTT cukup tinggi (masing-masing 8.54 5.67 2. dan jauh lebih rendah dibanding kontraksi –11. Maka dapat dimengerti seperti halnya wilayah-wilayah lain di luar Jawa.30 32.9 78.Mubyarto MEMBANGUN PEREKONOMIAN RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR Pendahuluan Gubernur Piet Tallo yang alumni Fakultas Hukum pernah menolak julukan miskin bagi daerahnya.04 2000 2.9 Partisipasi 88. pada tahun krisis (1998) mengalami kontraksi –2. yang menonjol di antaranya berupa kerisauan menurunnya wibawa pemerintah daerah propinsi di mata pejabat-pejabat kabupaten/kota. 5. yang seluruh desanya dinyatakan sebagai desa IDT pada tahun 1996.40 -2. Kabupaten/kota Sumba Barat Sumba Timur Kupang Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Belu 1998 -0.7 96.22% dan 5.4% (5 propinsi Jawa). dan di propinsi hanya merupakan otonomi terbatas.54 3. Maret 1998 Dalam pertemuan terbatas di Kupang tanggal 20 Januari 2001.4 63.94 1.83 4. Di antara 4 propinsi ―termiskin‖ ini hasil lengkap survei BPS-1997 dilihat pada tabel 1.7 52. tidak tinggi dibanding kontraksi –4.5 5. Kesan demikian tentu mengganggu pelaksanaan pemerintah daerah. adanya bagian-bagian masyarakat yang ―menikmati krisis‖ dengan kemakmuran yang meningkat.62 3.22 6. 3.63 1999 0.1 32.28 -3.11 4.0 88.57 2.64% untuk wilayah-wilayah luar Jawa. Sebagai salah satu dari 4 propinsi ―termiskin‖ di Indonesia berdasarkan tingkat PDRB perkapitanya. Meskipun tahun 1998 terjadi kontraksi ekonomi minus 2.57 5.

tidak ―dikembalikan‖ sebagai kredit yang dibutuhkan masyarakat setem pat tetapi dikirim ke luar daerah (Jakarta).8 milyar ke Rp 53.7 kali dari nilainya pada tahun 1993/94 (Rp 439 milyar).73 -0.72 3.20 3. Kantor Pusat setiap bank akan harus mengembangkannya. tidak dapat diatur.98 4. Dunia perbankan setempat bersama Pemerintah Daerah harus sungguh-sungguh berkoordinasi untuk mengubah hukum ekonomi kapitalisme liberal menjadi hukum ekonomi kerakyatan.7 milyar ke Rp 129. Kenaikan paling tinggi adalah penghimpunan dana di kabupaten Ende (105%) dan Kabupaten Kupang (79%).3 di Propinsi NTT melampaui wilayah Ngada dan Manggarai. yang paling tinggi adalah kenaikan pada awal krisis ekonomi yaitu dari Rp 899.82 milyar melampaui Ngada/Manggarai yang hanya mencapai Rp 162.71 6. Syaratsyarat formal ini diakui terlalu kaku.51 -2. bahkan ke luar negeri sekalipun. Data dari Bank Indonesia propinsi NTT 1993-2000 menunjukkan kenaikan penghimpunan dana ―luar biasa‖ yaitu 19.68 5. yang oleh BI setempat dalam proyek PHBK (hubungan Bank dan kelompok swadaya) dan KKPA (Kredit Koperasi Pada Anggota) telah diabaikan.9%.69 -0.01 4. sehingga dana perbankan Ende yang hanya Rp 40.2 milyar (20%) lebih rendah dari persentase kredit yang diberikan pada tingkat propinsi (28. meskipun disadari bahwa syarat-syarat ini adalah syarat-syarat kredit komersial formal yaitu 5 C (collateral.05 5. Kredit yang diberikan hanya Rp 37.49 3.6 milyar) dan 6 kali (dari Rp 21. 12.08 trilyun naik 4.43 1.7% pertahun.72 3.91 1.554. Program pemberdayaan ekonomi rakyat akan berkembang melalui program .2 kali (dari Rp 2. rupanya berlanjut sampai sekarang (2000). Kenaikan nilai penghimpunan dana di Ende yang luar biasa ketika krismon.73 4. Dana yang dihim pun perbankan di Ibukota propinsi (Kupang) ―hanya‖ 54.95 4.28%) dan kontraksi terendah adalah di Manggarai yang masih tetap tumbuh positif meskipun kecil sekali (0. 8.20 milyar (1997/98) menjadi Rp 1.18 Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kontraksi ekonomi rata-rata kabupaten/kota se-propinsi cukup merata dengan angka tertinggi di kabupaten Ende (-6. Namun menjadi tanda tanya mengapa kontraksi ekonomi yang tertinggi di kabupaten Ende rupanya tidak terkait dengan data perbankan yang justru meningkat yaitu simpanan dan tabungan berjangka masing-masing naik 19.7 milyar).61 3. Tetapi sering dikatakan bahwa bank-bank tidak memiliki tenaga dan pengalaman untuk menyalurkan kredit kecil atau kredit mikro seperti ini. Alasan yang biasanya diajukan adalah tidak adanya usaha-usaha ―produktif‖ yang memenuhi syarat untuk didanai dengan kredit bank.69%) dan TTU (-6. Analisis perekonomian daerah kembali ke lingkaran awal.72 0.22 -6. Peningkatan dana masyarakat Ende berupa simpanan dan tabungan berjangka (Rp 183.54 0. Dalam otonomi daerah ―lingkaran setan‖ seperti ini perlu diputus. character. Sebenarnya jika Bank Umum di daerah mau bekerja keras.6%). 11.03 0. Oktober 2000).37 0.18 2. Alor Lembata Flores Timur Sikka Ende Ngada Manggarai Kota Kupang NTT -2.31 milyar. 10. dengan meninggalkan kriteria pemberian kredit formal yang kaku.3 milyar. Jumlah dana perbankan yang dihimpun bulan Oktober 2000 seluruh NTT mencapai Rp 2. capacity.18 6.08%). 9.44 5. Yang menarik untuk dicatat adalah ketimpangan ekonomi antardaerah yang relatif ―ringan‖.50 -1.9 milyar tahun 1993/94 (urutan ke-4 dari 7 wilayah) kini menjadi no.08 -8. Pimpinan Bank Indonesia yang hadir dalam diskusi di Kupang tidak melihat adanya kejanggalan ini karena menurutnya dalam ―sistem ekonomi pasar bebas‖ perilaku modal keluar masuk daerah. Dana bank yang harus dibayar bunganya kepada penabung tidak mungkin dibiarkan diam (idle). condition dan capital).69 milyar (1998/99) kenaikan 73%. pihak perbankan harus juga berubah dalam melayani ekonomi rakyat dalam kebutuhan kredit yang mudah dan murah.5% dari dana perban kan di seluruh propinsi NTT (Oktober 2000) hanya sedikit meningkat dibanding pangsa tahun 1993/94 sebesar 48. Bahkan kenaikan pendapatan yang diperoleh dari dan selama krismon tidak dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi rakyat lebih lanjut.83 4. Jika masyarakat kecil (ekonomi rakyat) mulai tertarik menggunakan jasa perbankan yang mudah dalam bentuk simpanan dan tabungan berjangka.72 5. dan yang paling mudah dalam situasi ekonomi sekarang (krismon) adalah dibelikan SBI yang bunganya menarik. 13. 14. Ekonomi daerah yang miskin tetap selalu tertinggal.42 4. Pada bulan Oktober 2000 dana yang dihimpun perbankan Ende mencapai Rp 210.33 2.7. Di daerah harus ada kebijakan khusus yang merangsang investasi. akan ditemukan usaha-usaha kecil ekonomi rakyat yang mau dan mampu membayar tingkat bunga pasar.

Program pendampingan ini akan jauh lebih berhasil lagi. jika Pemda ( dhi PMD) serius memantau pelaksanaannya. Tamu-tamu. Kupang Timur. baik Pemda propinsi maupun Pemda kabupaten/kota. melalui BPD. pimpinan LSM Bina Swadaya Kupang yang mengkoordinasi 12 pendamping menyatakan dapat dikembangkannya program pendampingan ini dengan syarat pendamping yang bersangkutan mendampingi paling sedikit 20 Pokmas secara sungguh-sungguh dan purna-waktu. dan tokoh-tokoh masyarakat setempat. memang benar tercantum dalam pasal-pasal UU No.000 per bulan. Ibu Johanna Maxi. Karena mereka lebih dekat dengan rakyat. Salah satu kunci keberhasilan program IDT di NTT adalah dukungan penuh dan konsisten dari Pemda.000 per bulan ditambah biaya operasional Rp 50. Jelas di sini bahwa rakyat atau warga desa sendirilah. Di desa Oebelo antara 25-35% penerima dana IDT benar-benar telah mentas dari kemiskinan yang melilitnya. dan menilai program-program penanggulangan kemiskinan dan pembangunan perdesaan pada umumnya. Kupang tengah. tetapi warga desa sendirilah yang pada tingkat akhir akan meluncurkan programprogram yang diinginkannya. uang jalan jika berdinas keluar (Rp 7. Sedangkan di desa ke-2 yaitu Babau berhasil sekitar 30%. yang diangkat serta digaji oleh Pokmas yang didampinginya.kredit mikro ala Grameen Bank yang berhasil di Bangladesh dan sudah ―ditiru‖ di banyak negara termasuk di Indonesia. Gaji pendamping yang tinggi ini masih disubsidi kantor Bina Swadaya sampai sekitar 50%. sedangkan yang ke dua otonomi terbatas. Dalam pada itu 2 jenis pendamping lainnya (yang tidak purna-waktu) seperti aparat desa. Ditaksir sekitar 10% dari SHU Pokmas cukup memadai untuk menggaji Pendamping yang bersangkutan. Bahwa Pemda kabupaten/kota kini lebih besar wewenangnya ketimbang propinsi. memang berjalan baik. kabupaten. program IDT masih berjalan baik. lebih-lebih setelah dipadukan ke dalam dana bantuan Desa sejak TA 1996/97. dan desa-desa di NTT cukup baik meskipun masih ditemukan berbagai masalah. apakah pemikiran ke arah perbaikan dan penyempurnaan program IDT termasuk program pendampingan kini merupakan tanggung jawab penuh Pemda kabupaten? Jika ya. meyakinkan masih perlunya pendamping bagi Pokmas-Pokmas IDT. dan dilengkapi sepeda motor. [1] [1] Pendamping Bina Swadaya mendapat gaji (terendah) Rp 275. Seorang SP2W. Dalam kenyataan. Program-program pembangunan yang disusun Pemda kabupaten/kota bersama DPRD memang harus makin banyak yang berasal dari desa/kelurahan.500/hari). Namun yang belum jelas adalah implikasinya dalam penyusunan program-program untuk melaksanakan wewenang tsb.22/1999. Misalnya seorang ketua Pokmas Simson Misa (49 th. antara lain melalui pengembangan program pendampingan dengan dana APBD. karena yang pertama menerima otonomi penuh. BRI dengan kredit Unit Desanya sebenarnya sudah maju jauh sebelum Grameen Bank. Kupang Timur. dan yang dapat menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat. apa tugas dan tanggung jawab Pemda propinsi (atau PMD) dalam hal ini? Yang lebih sulit lagi adalah memikirkan kelanjutan program-program penanggulangan kemiskinan pada tingkat desa. tidak ada alasan program yang bersangkutan tidak sesuai dengan aspirasi rakyat. Program IDT di 2 desa Oebelo. cukup banyak pendamping yang bermutu dan memihak pada penduduk miskin. dengan polos menanyakan ―Apakah setelah Otda masih akan ada tamu seperti Pak Mubyarto yang mengevaluasi program-program penanggulangan kemiskinan seperti IDT dan PPK?‖ Pertanyaan demikian diajukan karena ada pernyataan bahwa dalam Otda ―semua program penanggula ngan kemiskinan harus dibuat sendiri oleh kabupaten‖.000 yang disediakan sebagai BOP (Biaya Operasional Pemantauan) pada desa sulit dilihat hasilnya. sulit diharapkan mencurahkan perhatian pada Pokmas IDT dan anggota-anggotanya. Kegagalan 70% program di desa pertama bukanlah karena ketidaksungguhan anggota tetapi karena musibah menjalarnya penyakit ternak babi pada tahun pertama. atau pakar-pakar dari pusat atau propinsi. Otonomi Daerah dan Otonomi Desa Otonomi Daerah dan prospek pelaksanaannya di Propinsi. Di desa Babau sekitar 30% telah berhasil mengubah program IDT menjadi Koperasi Simpan Pinjam yang segera memperoleh status badan hukum. dan desa Babau. Dana Rp 600. yang hadir pada pertemuan dengan 2 Pokmas IDT di Kalurahan Babau kecamatan Kupang Timur. Pendamping Sarjana yang diangkat dan digaji Pemda masih banyak yang aktif. Program Pemberdayaan ekonomi rakyat Jika di sejumlah propinsi program IDT sudah ―dilupakan‖ atau sudah ―diganti‖ program lain seperti PPK (Program Pengembangan Kecamatan) di kabupaten Kupang. melaksanakan. yang setelah dilaksanakannya OTDA dapat menyusun. OTDA seharusnya tidak difokuskan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tetapi yang lebih penting adalah . dan program -program ini harus lebih baik dibandingkan program-program yang disusun secara nasional seperti IDT oleh Bappenas dan Depdagri. Hendrikson Adoe (30 th). tetap dapat datang untuk mengadakan kajian-kajian. serta penyuluh-penyuluh dari berbagai dinas sektoral. Misalnya dalam program-program penanggulangan kemiskinan ala IDT. dan disusun oleh BPD (Badan Perwakilan Desa) yang di antara tugas dan kewajibannya adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat berdasarkan demokrasi ekonomi (pasal 22 dan 101). tamatan SD) dari desa Babau. tetapi rupanya tetap saja belum mampu mengatasi kebijakan kredit yang lebih berpihak pada sektor industri modern dan usaha-usaha besar di kota-kota.

meningkatkan pemerataan dan keadilan menuju terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesimpulan Menyaksikan ketekunan dan kesungguhan masyarakat dan aparat Pemda propinsi dalam melaksanakan program IDT di propinsi NTT, kita melihat program penanggulangan kemiskinan sudah mencapai tahap gerakan masyarakat sebagaimana dirancang program ini pada awal peluncurannya. Sudah tercapainya tahap gerakan masyarakat (GEMA) antara lain terbukti dari sambutan Pokmas IDT di seluruh propinsi untuk menghimpun kembali dana IDT yang berada di Pokmas-Pokmas untuk dijadikan semacam Bank Desa pada tingkat kecamatan. Meskipun pendirian Bank Desa pada tingkat kecamatan dengan dana IDT yang sudah bergulir di Pokmas ini belum tentu dapat dianggap kemajuan, tetapi akan menjadi indikator tercapainya kemandirian keuangan desa seperti UPK (Unit Pelayanan Keuangan) dalam Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Memang dalam membangun kelembagaan Bank Desa ini profesionalisme dalam pengelolaannya harus prima, dan dilaksanakan dengan koordinasi penuh dengan Bank Indonesia setempat, disamping sikap pemihakan pejabat Pemda yang jelas pada kepentingan ekonomi rakyat. Konsep dasar program IDT adalah makin mendekatkan lembaga perkreditan dan pendanaan pembangunan masyarakat desa pada penduduk desa. Setiap usaha untuk meningkatkan skala ekonomi lembaga ini demi efisiensi harus lebih menguntungkan ekonomi rakyat. Otda yang juga berarti otonomi desa perlu memperoleh perhatian Pemda dan DPRD kabupaten dalam bentuk penyusunan Perda-Perdanya. Sikap dan tradisi demokrasi yang tinggi pada masyarakat NTT harus dimanfaatkan untuk segera membentuk BPD. Jika BPD berhasil menghimpun tokoh-tokoh muda masyarakat desa yang profesional, seperti mantan SP2W, maka ini merupakan salah satu kunci percepatan pemberdayaan ekonomi rakyat desa. Satu kendala yang selalu disinggung dalam diskusi-diskusi kecil adalah kondisi multietnik masyarakat NTT yang kurang mendukung kerukunan warga desa, lebih-lebih dengan membanjirnya pengungsi dari Timor Timur sejak September 1999. Untuk mengubah kondisi multietnik menjadi faktor dinamika masyarakat, pemerintah daerah perlu membentuk badan/lembaga khusus untuk menanganinya. Jika masalah multietnik ini benar-benar dapat digarap secara transparan dan profesional, maka rasa optimisme Gubernur yang disebutkan pada awal tulisan ini pasti makin berkembang. Dan NTT tidak akan lagi diartikan sebagai ―Nasib Tak Tentu‖ tetapi ―Nasib Terpancar Terang‖.

Prof. Dr. Mubyarto, Guru Besar FE-UGM, Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM (PUSTEP-UGM) Mubyarto EKONOMI RAKYAT INDONESIA PASCA KRISMON

Pendahuluan Selama 5 bulan (Juni-Oktober 2000) Pusat Penelitian Kependudukan UGM bekerjasama dengan RAND Corporation Santa Monica mengadakan Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia (SAKERTI) di 13 propinsi dengan mewawancarai 10.000 keluarga atau 43.000 orang. Survei yang telah diadakan untuk ketigakalinya ini mewawancarai keluarga-keluarga yang sama (panel) yang menjadi sampel sejak Sakerti 1 (1993) dan Sakerti 2 (1997). Pada tahun 1998 khusus untuk meneliti dampak krismon yang sedang berlangsung, dilaksanakan Sakerti 2+ dengan mengambil 25% sub-sampel. Penemuan-penemuan Sakerti 2+ yang telah disebarluaskan melalui beberapa tulisan antara lain oleh Elizabeth Frankenberg, James Smith, dan Kathleen Beegle (1999) mengejutkan banyak pihak karena berbeda dengan ―anggapan umum‖. Namun sejumlah peneliti lain seperti kelompok SMERU menemukan hal-hal yang sejalan dengan penemuan Sakerti 3 khususnya dalam dampak krismon yang tidak terlalu parah terhadap kehidupan keluarga/perorangan. Kami sendiri yang mengadakan kunjungan lapang ke berbagai desa selama 1998-1999 juga mencatat pernyataan banyak warga desa bahwa ―krisis ini belum apa-apa dibanding krisis yang lebih berat pada jaman Jepang, awal kemerdekaan, dan krisis ekonomi tahun 1965-66". [1]

[1] Mubyarto, 1999, Reformasi Sistem Ekonomi, Yogyakarta , Aditya Media, hal 129-139.

Demikian keparahan krismon 1997 yang menjadi polemik nasional selanjutnya tenggelam karena pendapat yang lebih condong ke ―dampak yang parah‖ lebih populer agar tidak menghambat peluncuran program program JPS (Jaring Pengaman Sosial) lebih-lebih yang dananya berasal dari bantuan luar negeri. Programprogram JPS adalah program untuk menolong penduduk miskin yang sedang dalam kesusahan sehingga tidaklah dianggap bijaksana menyebarluaskan penemuan kajian-kajian yang menyimpulkan dampak krismon tidak parah. Peneliti-peneliti Indonesia yang jujur melaporkan kenyataan dari lapangan terpaksa mengendalikan diri ―demi kemanusiaan‖. Namun kemudian mereka merasa terpukul membaca komentar penerima hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun 1998 Amartya Sen yang menyindir mereka yang telah membesar-besarkan dampak krisis koneter di Asia Timur. It may wondered why should it be so disastrous to have, say, a 5 or 10 percent fall in gross national product in one year when the country in question has been growing at 5 or 10 percent per year for decades. Indeed, at the aggregate level this is not quintessentially a disastrous situation. (Sen, 1999: 187) Setelah laporan Sakerti 2+ sedikit dilunakkan ―demi kemanusiaan‖, kini Sakerti 3 yang dilaksanakan 3 tahun setelah krisis dan 2 tahun setelah Sakerti 2+, ternyata memperkuat penemuan-penemuan Sakerti 2+. Tanpa diduga, dampak yang ―menyingkirkan‖ berita ―krisis belum apa -apa‖ ini merugikan penduduk miskin dan bertentangan dengan kepentingan melidungi dan memajukan ekonomi rakyat, karena telah dimanfaatkan secara licik oleh kelompok tidak miskin yaitu golongan ekonomi kuat dan sektor industri modern dalam rangka menuntut pemerintah menyelamatkan kebangkrutan mereka dan lebih khusus lagi dalam rangka membenarkan kebijakan penalangan (bail out) utang-utang melalui BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), yang mulai dikucurkan tahun 1998. Adalah kepentingan para penerima BLBI untuk mengesankan bahwa krisis ekonomi masih terus berjalan, dan makin parah, agar pemerintah tetap tidak dapat bersikap keras pada mereka untuk membayar utang-utang besar yang macet sejak awal krismon. Utang-utang besar yang macet menjadi amat berat karena banyak utang dalam bentuk valuta asing yang tidak dijamin sehingga jika ekonomi Indonesia sudah dianggap pulih dari kondisi krisis, mereka para pengutang akan kehilangan alasan untuk tidak membayarnya. Inilah alasan ―tersembunyi‖ untuk terus memojokkan pemerintah yang sayangnya memperoleh dukungan pakar-pakar ekonomi makro yang tidak pernah meninggalkan meja komputernya dan tidak pernah mau menerapkan metode analisis induktif-empirik dengan cara datang ke daerah-daerah meneliti kehidupan ekonomi riil (real-life economics). Mereka membesar-besarkan dampak krisis dengan menyebutkan pengangguran yang mencapai 40 juta orang, pelarian modal asing US $ 10 milyar per tahun dan lain-lain.

Hasil-hasil Sakerti 3

1. Kemiskinan. Di 13 propinsi yang disurvei angka kemiskinan perkotaan menurun selama 1997-2000 dari
13,3% menjadi 11,3%, sedangkan di perdesaan menurun dari 20,1% menjadi 18,7% (tabel 1). Penurunan angka kemiskinan di perdesaan terjadi di Sumsel, Lampung, Sulsel, Kalsel, Bali, Sumut, dan Jatim (rata-rata 8,0%), sedangkan penurunan kemiskinan di perkotaan yang relatif lebih kecil terjadi di Jatim, Jateng, Sulsel, dan Jabar (rata-rata 4,9%). Lebih besarnya penurunan tingkat kemiskinan di perdesaan khususnya di propinsi-propinsi luar Jawa menunjukkan adanya perbaikan dasar tukar ( term of trade) antara harga-harga yang diterima dan yang dibayar produsen. Di propinsi-propinsi Jatim, Jateng, dan Sulsel, angka-angka kemiskinan di perkotaan juga menurun yang berarti penduduk perkotaanpun masih mampu menghasilkan barang-barang yang harga jualnya meningkat lebih cepat ketimbang harga barang-barang yang dibeli rumah tangga. Bahwa ada kenaikan angka kemiskinan di perdesaan di Jabar, Jateng, dan DIY (rata-rata 3,3%) dan bahkan 11,9% di NTB, mungkin menandakan kurangnya komoditi pertanian ―tradisional‖ yang harganya terangsang naik oleh krismon. Pendapatan riil rumah tangga yang ditaksir dengan median pengeluaran riil per kapita selama 1997-2000 mengalami kenaikan cukup signifikan sebagai berikut:

2. Kesempatan Kerja. Berbeda dengan kesan umum telah terjadinya pengangguran besar-besaran sejak
krismon 1997-98, Sakerti 3 melaporkan adanya peningkatan kesempatan kerja pria dari 79% (1997) menjadi 84% (2000) dan untuk wanita dari 45% menjadi 57%. Khusus untuk kerja upahan/bergaji

kenaikannya untuk pria dari 74,5% menjadi 77,0% sedangkan untuk wanita dari 36,7% menjadi 42,2%. Yang cukup signifikan adalah kenaikan persentase kesempatan kerja keluarga tanpa gaji terutama wanita yang naik dari 19,2% menjadi 25,5%, meskipun untuk pria naik lebih kecil yaitu dari 6,1% menjadi 7,9%. Arti kenaikan angka-angka ini jelas bahwa krismon yang pada umumnya menurunkan kegiatan sektor modern/formal, ditanggapi dengan meningkatnya kegiatan ekonomi/ industri sektor tradisional/ informal/ekonomi rakyat, khususnya dengan mempekerjakan lebih banyak wanita atau ibu yang sebelumnya tidak bekerja. Kesimpulan kita jelas bahwa selama 1997-2000 telah terjadi ―pergeseran‖ kesempatan kerja dari sektor ekonomi modern ke sektor ekonomi rakyat, dan tidak benar adanya pengangguran besar-besaran akibat PHK. The economic crisis has resulted in both negative and positive consequences for the Javanese. It has resulted in a rapid rise in prices of basic items which place them beyond the capacity of many poor people and has reduced employment opportunities in the formal sector. On the other hand, it has resulted in the emergence of many new small enterprises which had previously been destroyed by the economic monopolies and import of mass-produced commodities under the New Order. [2]
[2] Jessica Poppele, Sudarno Sumarto, dan Lant Pritchett, 1999, Social Impacts of the Indonesian Crisis; Agus Dwiyanto, 1998, Krisis Ekonomi: Respon Masyarakat dan Kebijakan Pemerintah, Pelajaran dari Tiga Desa di Jawa , PPK-UGM; Lea Jellinek & Bambang Rustanto, ―Survival Strategies of the Javanese During the Economic Crisis‖ (Survey Report), World Bank, Jakarta, 28 Agustus 1999, dikutip dalam Mubyarto (1999), ibid., hal 134.

3. Standar Hidup dan Kesejahteraan. Sakerti 3 menanyakan bagaimana keluarga menilai tingkat
kesejahteraan mereka selama dan sebagai akibat krismon. Hasilnya sungguh mengejutkan karena berbeda dengan anggapan umum telah terjadinya kemerosotan kesejahteraan dan standar hidup akibat krismon, 87% responden menyatakan standar hidup mereka tidak berubah (tetap) atau bahkan membaik, dan yang melaporkan memburuk hanya 13%. Mengenai kualitas hidup, 83,9% responden menyatakan memadai (69,4%) atau lebih dari memadai (14,5%), yang berarti bahwa keluarga yang merasakan kualitas hidup mereka tidak memadai hanya 16,1%. Tentang kualitas hidup yang menyangkut pemenuhan kebutuhan pangan, 90,7% menyatakan memadai atau lebih dari memadai, sedangkan tentang pemeliharaan kesehatan, 85% menyatakan memadai dan 4% menyatakan lebih dari memadai. Dari 3 ukuran kesejahteraan rakyat yang dilaporkan Sakerti 3 kesimpulan kita tidak meragukan lagi bahwa orang Indonesia mempunyai cara-cara khas menanggapi krisis moneter atau krisis ekonomi. Munculnya krismon berupa kenaikan harga-harga umum besar-besaran tidak serta merta menurunkan kualitas atau standar hidup mereka tetapi mereka menemukan berbagai cara untuk menanggapinya. Cara-cara menang-gapi krismon yang khas dan berbeda-beda inilah yang bagi para pakar ekonomi ortodok (konvensional) tak terpikirkan, dan hanya dapat diketahui/ditemukan melalui penelitian-penelitian lapangan yang serius. Sakerti 1, 2, dan 3 memberikan perhatian khusus pada mekanisme bertahan hidup (coping strategies) dan menanggapi krisis seperti itu. Metode Menanggapi Krismon Orang Indonesia yang dikenal kuat menganut asas kekeluargaan dalam segala aspek kehidupannya dapat diamati menerapkan asas atau etika hidup ini di saat terjadi krismon yang datang secara sangat tiba-tiba. Asas hidup kekeluargaan ini yang diperkuat oleh semangat percaya diri dan kepercayaan pada kekuasaan Tuhan berakibat pada sikap bahwa krismon tidak lain daripada ―percobaan‖ dan ―peringatan‖ pada bangsa Indonesia agar menyadari aneka kekeliruan dan penyimpangan yang telah dilakukan. Sakerti 3 seperti halnya Sakerti 1, 2, dan 2+ sebelumnya, menemukan fakta-fakta menarik tentang metode dan sikap menanggapi krismon secara tepat sehingga tidak mengakibatkan kejutan atau gangguan besar pada konsumsi keluarga dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar kesehatan dan pendidikan terutama bagi anakanak. Salah satu cara paling mudah dan paling sering dilakukan keluarga Indonesia saat-saat menghadapi krisis adalah dengan ―mengatur kembali‖ pengeluaran/belanja keluarga dengan cara menunda pengeluaran pengeluaran yang dianggap dapat ditunda misalnya pembelian pakaian, alat-alat rumah tangga dan pengeluaran-pengeluaran upacara, yang ditaksir berkurang dengan sepertiga. [3] Selain itu suatu keluarga dapat memutuskan ―menitipkan‖ sebagian anggota keluarga pada keluarga lain yang lebih mampu, atau secara umum sangat biasa terjadi pinjam-meminjam uang tanpa bunga antarkeluarga ( sebrakan) untuk menutup pengeluaran pokok yang tidak dapat ditunda.
[3] Elizabeth Frankenberg, James P Smith and Duncan Thomas, ―Economic Shocks, Wealth and Welfare‖, makalah belum diterbitkan, Rand, February 2002, h.

tidak dengan menjual rumah atau aset-aset berharga lainnya. Routledge. lebih tinggi ketimbang kenaikan harga-harga umum. Harga emas mengalami kenaikan 4 kali selama krisis.5% meskipun untuk pria jauh lebih kecil yaitu dari 6. juga dilaporkan sangat besar peranannya dalam menghadapi krisis. yang tidak dikenal dan tidak termuat dalam buku-buku teks ilmu ekonomi terbitan Amerika.13 Di pihak lain jika pada saat krismon pengeluaran-pengeluaran meningkat sekali. tetapi ternyata sangat menonjol di Indonesia. Sakerti 2+ menemukan fakta-fakta menarik bahwa hampir setiap keluarga termasuk yang miskin memiliki kekayaan atau aset yang dapat dijual atau digadaikan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran pokok yang tidak dapat dihindarkan. sedangkan yang sangat kecil/gurem inilah yang disebut ekonomi rakyat. Sejak Pemerintah Indonesia mengundang ―dokter ekonomi‖ IMF yang dianggap dokter spesialis bagi penyakit negara-negara berkembang yang terkena krisis keuangan.9%. dengan membayar pajak-pajak yang besar. Namun karena hampir semua sektor masih bersifat dualistik. 2. secara spontan ikut bekerja tanpa gaji. atau terpengaruh secara tidak berarti. Memang sangat tidak tepat dan menyesatkan menyebut sektor ekonomi rakyat sebagai sektor informal.000 orang yang diwawancara menanggapi krismon dengan cara-cara mereka. perilaku berkonsumsi. Krisis moneter yang dimulai dengan depresiasi rupiah dan apresiasi dolar sangat memukul perusahaan-perusahaan yang berutang dolar atau valuta asing lain dan memukul impor karena harga rupiah barang-barang impor melonjak sesuai apresiasi dolar. Sakerti 3 secara meyakinkan melaporkan bertambahnya kerja tanpa gaji untuk wanita dari 19. setiap keluarga dengan cara masing-masing berusaha bekerja lebih keras atau lebih lama ( melembur) agar pendapatan bertambah. Boeke tahun 1910. adalah kemampuan untuk memobilisasi kekayaan/aset apapun yang dimiliki keluarga untuk mempertahankan ( smooth out) tingkat pengeluaran keluarga. 2+. Bagi keluarga-keluarga paling miskinpun disamping ternak yang hampir selalu dimilikinya. dan 3 secara meyakinkan mengungkapkan bagaimana 10. Sakerti mampu mengungkap perilaku ekonomi riil rakyat Indonesia (real life economics) yang melalui analisis mendalam akan menghasilkan ilmu/ teori ekonomi rii. ekonomi Indonesia terkesan menjadi sangat . maka mereka dianggap perusahaanperusahaan formal.1% menjadi 7. karena sektor ini justru sudah lebih tua dan sudah merupakan kegiatan ekonomi ―formal‖ jauh sebelum datangnya para pengusaha/pemodal/kapitalis Belanda ke Indon esia.000 lebih keluarga dan 43. Karena para pemodal/pengusaha Belanda yang datang sesudah 1870 ini pada umumnya berbentuk NV (PT) yang besar dengan kantor-kantor dan kebun-kebun besar. London-New York. [4] [4] Paul Ekins and Manfred Max-Neef (eds). yang berarti meningkatnya pengeluaran karena krisis selalu dapat ditutup dengan cara menambah pendapatan. Sakerti 1. meskipun Indonesia merdeka sudah berusia 57 tahun dan pembangunan ekonom i ―Orde Baru‖ sudah berlangsung 31 tahun (1966 -97) yang mampu meningkatkan pendapatan riil rata-rata bangsa Indonesia 10 kali. Yang kedua disebut Bung Hatta tahun 1931 sebagai sektor (kegiatan) ekonomi rakyat.H. yen. 1992. Tentang pemilikan aset-aset lancar seperti uang tunai atau surat-surat berharga. yang lokasinya dapat tidak tetap atau sering pindah. sebagaimana dikemukakan J. perhiasan dari emas sangat mudah ditemukan. Dampak negatif krismon terhadap ekonomi rakyat dapat dihindari atau disikapi sedemikian rupa hingga tidak dirasakan dampaknya. Ekonomi dualistik adalah ekonomi yang tidak homogen tetapi hampir di semua sektor terpilah menjadi 2 yaitu sektor ekonomi modern/formal dan sektor ekonomi tradisional/informal. Krisis moneter 1997-98 jelas lebih dulu dan lebih mudah memukul telak sektor ekonomi modern/ formal lebihlebih perusahaan yang berutang besar dalam nilai nominal dolar. Terakhir. yang sebagian besar baru beroperasi sesudah UU Agraria ( Agrarische Wet) tahun 1870. Rumah-rumah gadai bertambah ramai dan pasar emas dilaporkan sangat dinamis/aktif saat krisis. atau valuta asing lainnya. tokh dalam kenyataan perekonomian Indonesia masih tetap bersifat dualistik. dengan caracara atau ‖seni‖ khas ekonomi rakyat. Emas ternyata merupakan simpanan andalan bagi banyak keluarga Indonesia untuk berjaga-jaga menghadapi krisis. Ratarata keluarga sejak terjadi krismon menambah waktu kerja 25 jam per minggu. sedangkan per orang pekerja bertambah 10 jam per minggu.2% menjadi 25. karena 25% keluarga perdesaan dan 40% keluarga perkotaan memilikinya dan persentase yang lebih besar bahkan dilaporkan memiliki kekayaan berupa emas terutama dalam bentuk perhiasan yang sangat mudah digadaikan atau diperjual-belikan. Real-life Economics. dan disebut sektor informal. Lebih dari 90% keluarga di perdesaan dan 70% keluarga di perkotaan mempunyai rumah yang tidak beralih pemilikannya selama krisis. atau sekedar strategi bertahan hidup ( survival strategy). Kesimpulan Sebagaimana sudah sering dikemukakan oleh para peneliti ekonomi rakyat. yang dikena l dengan istilah strategi penyikapan (coping strategy) baik dalam produksi. Jika satu keluarga bekerja mandiri maka dalam kondisi krisis anggota keluarga yang sebelumnya tidak bekerja. sektor tradisional/ekonomi rakyat tidak terpengaruh krismon.

kinilah saatnya kita memiliki rasa percaya diri di bidang ekonomi. Sartono Kartodirdjo. Dr. Shafiq and Inayatul Islam. Ind. UNSFIR. Demikian kiranya jelas bahwa tulisan ini berusaha meyakinkan tidak akan terjadi kebangkrutan atau kelumpuhan ekonomi nasional jika Indonesia memutuskan secara sepihak untuk tidak lagi mencari utang-utang baru dari luar atau bahkan dalam negeri.Indonesia Satu.UGM Makalah untuk Seminar "Indonesia Bersatu Menyongsong Era Global". SMERU Final Report. Surabaya. 3. Festival Bhinneka Tunggal Ika. Daftar Pustaka Dhanani. Buktibukti dari Sakerti 3 telah sangat memperkuat berbagai data penelitian lapangan optimistik sebelumnya. tetapi hanya dinikmati sekelompok kecil ekonomi kuat. Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis Ekonomi . October . 29 Oktober 2002. Kanisius. Poverty. Jakarta. Prof. menganggap pertumbuhan ekonomi 4% ―terlalu rendah‖ yang tidak mampu menyerap tenaga kerja lama dan menganggur maupun tambahan tenaga kerja lebih dari 2 juta per tahun. Tak pernah terpikir pada mereka seandainya perekonomian tumbuh hanya 3-4%. 18 1. Bangsa Indonesia harus percaya diri. September 2002 Mubyarto. Aditya Media. Yogyakarta Mubyarto. tegar dan kuat. pemerintah dan bangsa Indonesia dapat memusatkan perhatian pada usaha dan program-program pemberdayaan ekonomi rakyat. Yogyakarta World Bank. July 1999 Mishra. Inequality and Social Protection: Lessons From The Indonesian Crisis. The Micro Data Pictures: Results of a SMERU Social Impact Survey in the Purwakarta-Cirebon Corridors. yang telah tumbuh 3-4% per tahun sejak tahun 2000 sampai tahun 2002 ini. Reformasi Sistem Ekonomi: Dari Kapitalisme menuju Ekonomi Kerakyatan . Perjuangan itu hanya dapat berhasil bila pelbagai unsur rakyat Indonesia bersatu. tetapi lebih banyak disumbang dan dengan demikian juga dinikmati ekonomi rakyat. Multi-dimensi Pembangunan Bangsa. 2. Perjuangan itu tidak memerlukan bantuan dari pihak manapun. hal. 1999. Kanisius. A Development Alternative for Indonesia. [5] [5] Sartono Kartodirdjo. 1999. Hatta) dapat kita jadikan acuan rasa percaya diri itu. Maka ekonomi Indonesia ―harus tumbuh‖ minimal 7% per tahun dan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi para ekonom tidak pernah merasa perlu mempermasalahkan keadilan dalam distribusi pendapatannya. Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia tahun 1925 di Negeri Belanda (dipimpin oleh Moh. April 2000 Hardjono. Multi-dimensi Pembangunan Bangsa. Jika pada saat proklamasi kemerdekaan tahun 1945 bangsa Indonesia memiliki rasa percaya diri amat besar untuk merdeka secara politik. Report No. UNSFIR. Memang teori ekonomi makro-ortodoks yang tidak mau mengakui atau tidak mengerti ekonomi rakyat. Sakerti 3 menemukan kenyataan ekonomi Indonesia. sektor ekonomi rakyat banyak yang sejak krismon 5 tahun lalu tidak saja tidak hancur tetapi malah telah menunjukkan ciri khasnya yaitu tahan banting dan mampu menunjukkan keandalan dan kemandiriannya. Bromley. Mubyarto: Guru Besar FE . 23028. ―Sistemic Transition in Indonesia: The Crucial Next Steps‖. Tanpa ikatan kerjasama dengan IMF. lebih-lebih ekonomi rakyatnya.tergantung pada utang-utang baru dari IMF dan negara-negara ―donor‖ anggota CGI. Gadjah Mada University Press. sebenarnya akan lebih adil dan berkelanjutan ketimbang pertumbuhan 7% seperti sebelum krismon. yang akhirnya menjadi ―bom waktu‖ yang meledak seperti yang terjadi 1997 tanpa dapat diperkirakan sebelumnya. BPFE. ―Indonesia: Constructing A New Strategy for Poverty Reduction‖. 1999. Joan. Pemerintah dipilih dari dan oleh rakyat Indonesia. 2001. Satish C. Yogyakarta Mubyarto and Daniel W. 2002. Yogyakarta.

[1] Australia. Pengaturan dalam jaminan sosial ditinjau dari jenisnya terdiri dari jaminan kesehatan. [1] Disamping itu. namun baru mencakup sebagian kecil pekerja di sektor formal. Desember 2002 Fakta tersebut membuktikan bahwa amanat UUD pasal 27 ayat 2 sebagian besar belum dapat dilaksanakan sehingga langkah-langkah nyata untuk mewujudkannya diperlukan. [2] Krisis ekonomi yang menyebabkan angka pengangguran melonjak dengan tajam telah menimbulkan berbagai masalah sosial ekonomi. atau baru 12% dari jumlah penduduk. dan santunan kematian. Sistem Jaminan Sosial yang akan dibangun ini haruslah sifatnya adil dengan tingkat kepercayaan publikyang tinggi dan transparan dalam penyelenggaraannya. Jaminan sosial merupakan hak asasi setiap warga negara sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat 2. Putusan Sidang Tahunan MPR RI tahun 2001 menugaskan kepada Presiden untukmembentuk Sistem Jaminan . pensiun. Kelembagaan dan Mekanisme Sistem Jaminan Sosial yang berlaku secara nasional. Dari 95 juta angkatan kerja. Pendekatan kedua berupa bantuan sosial (social assistance) baik dalam bentuk pemberian bantuan uang tunai maupun pelayanan dengan sumber pembiayan dari negara danbantuan sosial dan masyarakat lainnya. antara lain dengan menyusun suatu Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Sementara di Thailand dan Malaysia masing-masing mencapai 50% dan 40% dari total penduduk. selama dekade terakhir di Indonesia telah ada beberapa program jaminan sosial dalam bentuk asuransi sosial. jaminan hari tua. Kontribusi/ premi dimaksud selalu harus dikaitkan dengan tingkat pendapatan/ upah yang dibayarkan oleh pemberi kerja. dimana Indonesia ikut menandatanganinya. Pasal 34 ayat 2. Secara keseluruhan adanya jaminan sosial nasional dapat menunjang pembangunan nasional yang berkelanjutan. Yaumil Ch. Perlindungan ini diperlukan utamanya bila terjadi hilangnya atau berkurangnya pendapatan.29. seperti terbaca pada Perubahan UUD 45 tahun 2002. Beberapa negara yang menganut welfare state yang selama ini memberikan jaminan sosial dalam bentuk bantuan sosial mulai menerapkan asuransi sosial. jaminan pemutusan hubungan kerja. yaitu ―Negara mengembangkan Sistem Jaminan Sosial bagi seluruh rakyat…. 2001. Pendekatan pertama adalah pendekatan asuransi sosial atau compulsory social insurance.6 juta jiwa memperoleh jaminan sosial. serta betapa pentingnya peran jaminan sosial dalam pemberian perlindungan utamanya di saat berkurangnya pendapatan maka dianggap perlu menyusun Sistem Jaminan Sosial Nasional melalui penerbitan Undang-undang yang akan mengatur Substansi. Secara universal jaminan sosial dijamin oleh Pasal 22 dan 25 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia oleh PBB (1948). yang dibiayai dari kontribusi/ premi yang dibayarkan oleh setiap tenaga kerja dan atau pemberi kerja. Utamanya karena jaminan melalui bantuan sosial membutuhkan dana yang besar dan tidak mendorong masyarakat merencanakan kesejahteraan bagi dirinya. Perlindungan jaminan sosial mengenal beberapa pendekatan yang saling melengkapi yang direncanakan dalam jangka panjang dapat mencakup seluruh rakyat secara bertahap sesuai dengan perkembangan kemampuan ekonomi masyarakat. Dalam kondisi seperti ini jaminan sosial dapat membantu menanggulangi gejolak sosial. jaminan kecelakaan kerja.‖. Kesadaran tentang pentingnya jaminan perlindungan sosial terus berkembang. telah menerapkan asuransi sosial wajib. Menyadari masih terbatasnya jangkauan jaminan sosial yang ada dan beberapa kekurangan dalam pengaturan dan penyelenggaraannya. Agoes Achir JAMINAN SOSIAL NASIONAL INDONESIA Latar Belakang Jaminan Sosial Nasional adalah program Pemerintah dan Masyarakat yang bertujuan memberi kepastian jumlah perlindungan kesejahteraan sosial agar setiap penduduk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya menuju terwujudnya kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia. Sebenarnya. dana yang terhimpun dalam asuransi sosial dapat merupakan tabungan nasional. baru 24. sejak tahun 1992. [2] Kantor Menko EKUIN bekerjasama dengan LPUI Kajian Kebijakan Jaminan Sosial.

20 tahun 2002 membentuk Tim SJSN. santunan/ manfaat. Saat ini Tim SJSN telah melakukan pembahasan yang cukup mendalam tentang substansi. Namun. dan pemerintah pengumpulan dan pengelola iuran perlu ditunjang oleh keterbukaan. yang mewakili stakeholder dalam hal ini peserta/ pekerja. kelembagaan. serta kemudahan dalam rekruitmen dan pengumpulannya secara rutin. Untuk itu Presiden mengambil inisiatif menyusun Rancangan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional. Kepres ini didahului dengan Keputusan Sekretaris Wakil Presiden No. Karena ada unsur wajib bagi semua pekerja tersebut maka diperlukan adanya Undang-Undang untuk mengaturnya. Program Jaminan Pemutusan Hubungan Kerja (JPHK). baik yang berpendapatan besar maupun kecil sehinggan dapat terwujud asas kegotong-royongan dan redistribusi pendapatan dari yang kaya ke yang miskin. Jaminan Sosial Nasional tersebut perlu diatur agar bersifat wajib untuk seluruh tenaga kerja. Presiden dengan Kepres No. Cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap dimulai dari kelompok masyarakat yang mampu mengiur dan secara bertahap diupayakan menjangkau sampai pada kelompok masyarakat yang rentan dan tidak mampu. Cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap dimulai dari kelompok masyarakat yang mampu mengiur dan secara bertahap diupayakan menjangkau sampai pada kelompok masyarakat yang rentan dan tidak mampu. secara sukarela pekerja dapat mengikuti program lain dengan kontribusi yang lebih besar dan memperoleh manfaat yang lebih banyak pula (asuransi komersil). Perluasan cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi ekonomi negara dan masyarakat. . struktur dan trend demografi serta resiko yang dihadapi. 7 Tahun 2001. Pelayanan santunan dan klaim disesuaikan dengan besarnya iuran dan jenis program yang diikuti. 102 tahun 1952 yang juga diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia. dan Program Santunan Kematian. pembekerja. yaitu Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK). Penyelenggaraan dilakukan non-for-profit. ditetapkan dalam prosentase tertentu terhadap upah dengan mempertimbangkan kemampuan/ pendapatan penduduk.. tetapi hasil yang diperoleh nantinya akan dikembalikan atau dimanfaatkan sebesarbesarnya untuk kepentingan peserta (merupakan going concern asuransi sosial). Karena Jaminan Sosial Nasional tersebut diwujudkan melalui mekanisme asuransi sosial maka manfaat yang akan diperoleh peserta tergantung pada besarnya iuran. Besarnya iuran ditetapkan berdasarkan prosentase tertentu dari pendapatan. Iuran/ premi ditanggung bersama oleh pemberi kerja dan pekerjanya.Sosial Nasional dalam rangka memberikan perlindungan sosial yang lebih menyeluruh dan terpadu. Program Pensiun. Manfaat yang diberikan harus cukup berarti sehingga mendorong kepesertaan yang kebih besar dari waktu ke waktu. Substansi Sistem Jaminan Sosial Nasional yang akan disusun adalah suatu sistem yang berdasarkan pada asas gotong royong melalui pengumpulan iuran dan dikelola melalui mekanisme asuransi sosial. semasa Ibu Presiden sebagai Wakil Presiden. Besarnya iuran/ premi dihitung berdasarkan analisis aktuaria yang disesuaikan dengan programmanfaat yang akan diberikan. dan investasi. baik di sektor formal maupun informal. Manfaat yang diberikan harus cukup berarti sehingga mendorong kepesertaan yang lebih besar dari waktu ke waktu. dimama iuran sebagian atau sepenuhnya dibayarkan oleh pemerintah. Program-Program SJSN Program-program pokok SJSN yang akan dikembangkan disesuaikan dengan konvensi ILO No. mekanisme dan program-program jaminan sosial. dimana iuran sebagian atau sepenuhnya dibayarkan oleh pemerintah. iura. Program Jaminan Hari Tua (JHT). Pengelolaan Jaminan Sosial Nasional menganut prinsip Wali Amanah. Sistem Jaminan Sosial Nasional yang akan dibangun bertumpu pada konsep asuransi sosial. kehati-hatian. Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). akuntabilitas dan efisiensi. Pengertian non-for-profit bukanlah berarti tidak perlu mengembangkan atau menginvestasikan dalam rangka meningkatkan akumulasi dana yang ada. Mekanisme SJSN Mekanisme penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional meliputi pengaturan kepesertaan. Pelaksanaannya diatur oleh suatu Undang-Undang dan diterapkan secara bertahap sesuai dengan perkembangan dan kemampuan ekonomi Nasional serta kemudahan rekruitmen dan pengumpulan iuran secara rutin.

Untuk dapat menjamin efektifitas dan efisiensi penyelenggaraannya. Penutup Tim SJSN beranggotakan wakil dari berbagai instansi pemerintah. Dalam pengelolaannya. menambahkan merubah judul agar lebih terlihat konteksnya dikaitkan dengan ekonomi rakyat. maka hasil investasi tersebut akan dikembalikan dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta. untuk kemudian setelah Undang-undang SJSN rampung dan dilaksanakan maka program-program yang sejalan dapat menyesuaikan dengan Undang-undang SJSN tersebut selama masa transisi yang akan ditetapkan. Namun guna memperoleh perspektif yang sama mengenai diskusi yang akan dilakukan berkaitan dengan judul diatas 1) maka makalah ini bermaksud untuk mendiskusi krisis moneter dalam konteks ekonomi rakyat: bagaimana posisi ekonomi rakyat ketika krisis ekonomi terjadi. Diharapkan masukan-masukan guna memperkaya konsep awal tersebut sebagai bahan penyusunan Naskah Akademik yang kemudian akan dituangkan dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional. dan mengawasi pelaksanaan program-program. memonitor. pengelola dana dan investasi serta pemasyarakatan program Jaminan Sosial Nasional sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. diperlukan adanya dukungan Sistem Informasi Manajemen serta kemampuan Sumber Daya Manusia yang handal. penyampaian persepsi makalah ini atas ekonomi rakyat tanpa bermaksud untuk terlalu menekan pada usaha pendefinisian.Dana iuran/ premi/ kontribusi peserta yang terkumpul perlu dikelola dan diawasi oleh suatu Dewan Wali Amanah (Board of Trustee) dan hanya digunakan untuk kepentingan pesertanya sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. Sebagian dana yang terkumpul perlu diinvestasikan dan dikembangkan seaman mungkin. Dr. dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah kesalahan serupa terulang dimasa depan. 2001). Prof. Tidak tertutup kemungkinan munculnya lembaga penyelenggaraan lain. apakah sebagai sebab atau penerima akibat. dan responsibility). wakil pekerja. 1) Sebenarnya. mengkoordinir. Yaumil Chairiah Agoes Achir. sangat sulit untuk tidak berusaha mendefinisikan yang dimaksud dengan ekonomi rakyat. Deputi Sekretaris Wakil Presiden. Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasionan (BKKBN) Bayu Krisnamurthi KRISIS MONETER INDONESIA DAN EKONOMI RAKYAT PADA setiap diskusi mengenai ekonomi rakyat. wakil pemberi kerja dan pakar di bidangnya. Sayangnya. karena pada dasarnya hampir semua pihak telah sepaham mengenai pengertian apa yang dimaksud dengan ―ekonomi rakyat‖ tanpa harus mendefinisikan (Krisnamurthi. Panitia Seri Seminar ini hanya memberi judul ―Krisis Moneter Indonesia‖. perlu menerapkan ―good corporate governance‖ (transparency. objectivity. Kelembagaan Dalam rangkan menjamin pelaksanaan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional diperlukan suatu lembaga yang mempunyai kewenangan untuk menjabarkan Undang-undang SJSN. Lembaga ini berada langsung di bawah Presiden dibantu Dewan Menteri yang terkait dan beranggotakan wakil pemerintah. Oleh sebab itu tetap perlu dilakukan terlebih dahulu. LSM dan Pakar. Konsep awal SJSN tersebut di atas juga telah menghimpun masukan dari beberapa serikat pekerja dan asosiasi pengusaha. Penulis . Selama Undang-undang SJSN disiapkan maka lembaga-lembaga yang ada dapat melanjutkan kegiatannya. Diharapkan RUU SJSN dapat dirampungkan sebelum bulan Desember 2002. Ketua Tim Sistem Jaminan Sosial SJSN Nasional. usaha pendefisnian tersebut banyak yang berakhir justru dengan perdebatan atas definisinya daripada esensi penguatan atau pemberdayaan ekonomi-rakyatnya sendiri. Padahal perdebatan mengenai definisi ekonomi rakyat sebenarnya tidak terlalu produktif. accountibility. Karena prinsip ―non-for-profit‖.

Mereka bisa berada dalam kegiatan ekonomi tradisional tetapi juga tidak sedikit yang bergerak dalam sistem ekonomi modern. industri. Jika dikaitkan dengan kegiatan perdagangan. berarti kegiatan ekonomi itu berkaitan dengan penguasaan rakyat dan aksesibilitas rakyat terhadap sumberdaya ekonomi. siapa yang memanfaatkan. Jika memang disepakati bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2000 sebesar 4. dapat dinyatakan bahwa ekonomi Indonesia sebenarnya adalah berbasis ekonomi rakyat. sifat usaha. baik sumberdaya alam. dan sebagainya. informasi. petani gurem.Ekonomi rakyat adalah ―kegiatan ekonomi rakyat banyak‖ (Krisnamurthi. nelayan tanpa perahu. mekanisme transaksi. lembaga keuangan mikro. dan bukan perkebunan atau peternak besar atau MNC pertanian. Umumnya mereka berskala mikro dan kecil tetapi juga terdapat beberapa yang berskala menengah. Peran ekonomi rakyat juga teraktualisasi pada masa krisis multidimensi saat ini. rakyat memiliki alternatif untuk memilih dan menentukan sistem pemanfaatan. dan indikator kemantaatan paling utama adalah kepentingan rakyat. keluarga. dan masyarakat. Dalam hal ini. berarti rakyat banyak merupakan ‗beneficiaries utama dari setiap kegiatan produksi dan konsumsi. Hal ini tersebut didasari oleh argumentasi bahwa rumah tangga yang menggantungkan kehidupannya dari kegiatan ekonomi rakyat adalah konsumen terbesar. Mereka sebagian besar hanya beroperasi secara lokal. seperti berapa banyak jumlah yang harus dimanfaatkan. Ekonomi rakyat (banyak) mencakup 99 % dari total jumlah unit usaha (business entity). modal. Dan yang terpenting adalah mereka berbasis pada manusia. maka ekonomi rakyat memiliki dimensi yang luas. petani tanpa tanah. dalam arti kegiatan transaksi dapat dilakukan juga dengan ―non-ekonomi-rakyat‖. dan sejenisnya. pedagang kecil. Dalam ekonomi rakyat. Perspektif lain dari ekonomi rakyat dapat pula dili hat dengan menggunakan perspektif jargon: ―ekonomi dari rakyat.5 % terutama disebabkan oleh tarikan konsumsi. yang umumnya telah memfasilitasi ekonomi rakyat untuk survive dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi masyarakatnya. dan sejenisnya. Mereka adalah kegiatan usaha formal (berijin usaha. Dengan pemahaman diatas pula. Rakyat menerima manfaat. Pendeknya. jenis produk. Mereka bisa melekat pada badan usaha pemerintah atau swasta. Daya produktif . Walaupun demikian. bagaimana menjaga kelestarian bagi proses pemanfaatan berikutnya. Dalam hal ini perlu pula dikemukakan bahwa ekonomi rakyat dapat berkaitan ―dengan siapa saja‖. bahkan bagi produk yang dihasilkan kegiatan ekonomi besar. dan menjadi basis dari 63 % konsumsi domestik. dan melakukan kegiatan produksi bagi sekitar 55 % produk dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. pemilik saham. Hanya saja. 2000). bagaimana proses pemanfaatannya. Berdasarkan pemahaman diatas. tenaga kerja (termasuk tenaga kerjanya sendiri). 2001). seperti koperasi atau CV atau bentuk badan hukum lain) dan juga sangat banyak yang informal atau nono-formal. dan sebagainya. walaupun yang disebut terakhir pada hakekatnya adalah juga ‗rakyat‘ Indonesia. ―Oleh rakyat‖. Ekonomi rakyat tidak eksklusif tetapi inklusif dan terbuka. norma dan kesepakatan (―rule of the game‖) yang khas. sektor informal kota. masyarakat) sumberdaya jaringan (‗network‘). atau entitas lain). ketimpangan distribusi aset produktif (formal) – yang sekitar 65 %-nya dikuasai oleh 1 % pelaku usaha terbesar – menyebabkan kontribusi nilai produksi (GDP) dan ekspor kegiatan ekonomi raktyat relatif lebih kecil. serta tersebar merata diseluruh wilayah Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang bekerja sendiri dan juga mereka yang bekerja menerima upah. sumberdaya ekonomi yang dimaksud adalah segala sumberdaya yang dapat digunakan untuk menjalankan penghidupan. Rakyat memiliki hak atas pengelolaan proses produktif dan konsumtif tersebut. dipahami bahwa yang dimaksud dengan ―ekonomi rakyat (banyak)‖ adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh orang banya k dengan skala kecil-kecil. dan bukan kegiatan ekonomi yang dikuasasi oleh beberapa orang dengan perusahaan dan skala besar. pelakunya melakukan kegiatan produksi dan konsumsi. dari pada hanya sekedar angka-angka uang (modal) atau produk. pengetahuan. konglomerat. oleh rakyat. Rakyat menguasai dan memiliki hak atas sumberdaya untuuk mendukung kegiatan produktif dan konsumtifnya. permodalan. Juga tidak ada pembatasan mengenai besaran. dan jasa maka yang dimaksud adalah industri kecil. Berkaitan dengan sumberdaya (produktif dan konsumtif). tetapi beberapa diantaranya juga memiliki kemampuan dan daya saing internasional yang handal. melakukan lebih dari 65 % kegiatan distribusi. maka yang dimaksud dengan kegiatan ekonomi rakyat adalah kegiatan ekonomi petani atau peternak atau nelayan kecil. ―Untuk rakyat‖. berarti proses produksi dan konsumsi dilakukan dan diputusk an oleh rakyat. menyediakan sekitar 80 % kesempatan kerja. juga sumberdaya sosial (kelompok. eceran kecil. industri rumah tangga. dan sejenisnya. sifat fundamental diatas telah pula menciptakan suatu sistem ekonomi yang terdiri dari pelaku ekonomi. dan sebagainya. Mereka memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan dan tidak hanya tergantung pada pihak lain (apakah itu bank. dan bukan industri besar. 65 % berusaha dibidang pertanian dan kegiatan lain yang terkait. dan untuk rakyat‖ (Krisnamurthi. ―Dari rakyat‖. ketrampilan. baik konsumsi domestik maupun konsumsi asing (ekspor) – terutama karena kegiatan investasi dan pengeluaran pemerintah yang sangat terbatas – maka dapat diduga bahwa peran ekonomi rakyat sangat signifikan. dan sebagainya. Jika dikaitkan dengan kegiatan pertanian. perbankan formal. 60 % diantaranya berada di daerah pedesaan.

termasuk terjaga maraknya berbagai kegiatan ‗masal‘ dari ekonomi riil – seperti mudik Lebaran dan naik haji. dengan mudah berpindah tangan. real estate mewah. posisi rebut-tawar (bargaining position) dalam penguasaan sumberdaya hampir selalu berada pada titik yang terendah. merupakan manfaat yang dirasakan oleh kegiatan-kegiatan ―non-ekonomi-rakyat‖ sebagia bagian dari strategi ―keunggulan komparatif‖ berbasis tenaga kerja murah. Aspek ―untuk rakyat‖ menghadapi situasi yang lebih jauh tertinggal. Kemudahan dan dukungan tersebut kemudian Kelompok ―non-ekonomi-rakyat‖ telah banyak mendapat dukungan dari elite pemerintah. Intinya. Dalam hal ini kelompok ―non-ekonomi-rakyat‖ menjadi rentan terhadap perubahan yang terjadi pada elite penguasa tersebut. karena dipandang lebih sesuai dengan kepentingan-kepentingan tertentu. ―ekonomi rakyat‖ yang tidak mendapat kesempatan untuk itu. Pada saat yang sama sistem pengembangan yang penuh dengan ―dukungan yang distortif‖ telah tersebut telah menjadikan ―non-ekonomirakyat‖ menjadi lebih terkait dengan ekonomi global. baik pasar barang. selama 30 tahun dana yang disedot dari pedesaan 2. peningkatan penjualan kendaraan bermotor roda dua. Kelembagaan koperasi yang diseragamkan menjadi KUD. Indikasi lain dapat pula ditunjukkan oleh peningkatan kegiatan (tabungan dan penyaluran kredit) hampir diseluruh lembaga keuangan mikro. Sebaliknya. Perbandingan ketersediaan sumberdaya ‗publik‘ seperti listrik. tetap hidupnya pasar-pasar tradisional pada saat krisis. tetapi pengembangan kegiatan ekonomi berbasis buruh murah telah berjalan lama sejak penjajahan hingga kini. ―non ekonomi-rakyat‖ meninggalkannya begitu saja sering kali justru dengan tinggalan masalah adanya konflik kepentingan diantara rakyat sendiri. Dukungan yang relatif kecil dari pemerintah-penguasa telah menjadikan pelaku ekonomi rakyat tidak sangat tergantung pada kondisi elite. Kontribusi pertanian dalam bentuk pangan yang murah dan tenaga kerja yang lebih terdidik. Infrastruktur irigasi yang hanya memfasilitasi teknologi lahan sawah. misalnya. . dan telah mengembangkan ketergantungannya pada kelompok tersebut sehingga menjadi kelompok ―elite penguasa-pengusaha‖. atau bahkan yang terjadi secara nasional. semua akibat introduksi teknologi dan kelembagaan serba seragam.kegiatan ekonomi rakyatlah yang mampu mendorong peningkatan konsumsi. Tidak ada infrastruktur irigasi yang dirancang untuk memfasilitasi petani mengembangkan hortikultura atau peternakan. yang pada gilirannya membuat kemampuan pengambilan keputusan menjadi jauh lebih terbatas. hak atas tanah masih menjadi sesuatu yang sangat didambakan. oleh. Kisah konversi lahan pertanian produktif milik rakyat menjadi lapangan golf. Namun demikian perspektif ‗dari. dan sebagainya. Hal inilah yang kemudian menjadi preposisi dasar dalam melihat posisi ekonomi rakyat dalam krisis moneter yang belum lama terjadi dan masih terasa hingga saat ini. telah membatasi kemampuan petani mengembangka usahataninya. juga menggambarkan situasi suram aspek ―dari rakyat‖ tersebut. terdapat ketidak-adilan dalam pengembangan ekonomi. dan kawasan industri bagi MNC merupakan bentuk ketidak-berdayaan penguasaan sumberdaya oleh rakyat. atau hilangnya kelembagaan panen tradisional. Rakyat juga memiliki akses yang sangat terbatas terhadap informasi dan teknologi.5 kali lebih besar dari dana yang disalurkan kembali ke pedesaan. dan telpon yang tidak seimbang antara alokasi untuk bagi kegiatan ekonomi rakyat dan non-ekonomi rakyat. Penguasaan dan akses terhadap sumberdaya oleh rakyat (banyak) masih sangat banyak menghadapi masalah. Sebaliknya saat lahan HPH yang telah digunduli dan tidak lagi produktif. Keterkaitan dengan pasar dunia. Non-ekonomi-rakyat telah mendapat banyak kemudahan dan dukungan. serta sistem keuangan yang ―memaksa‖ rakyat menerima sistem yang mensyaratkan berbagai hal tidak sesuai dengan kondisi naturalnya. Mungkin tidak sekejam tanam paksa. ada baiknya disampaikan dahulu perspektif struktur kelembagaan ekonomi Indonesia pada saat krisis akan terjadi 2) seperti dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini. Sebelum membahas krisis moneternya sendiri. memang mengalami sangat banyak kesulitan untuk berkembang dan memberi kesejahteraan bagi pelakunya. pasar uang. atau hilangnya kelembagaan lumbung desa. Perlindungan hukum atas usaha masih lemah. peningkatan jumlah berbagai produk pertanian. telah menyebabkan kegiatan ―non -ekonomi-pasar‖ menjadi kegiatan dengan ―banyak pengambil keputusan‖ dalam dunia yang tidak berbatas dan masih rentan. Kemampuan sektor informal kota dalam menyediakan lapangan pekerjaan dan sistem distribusi kebutuhan pokok dengan murah dan efisien telah pula menjadi manfaat besar bagi ―non-ekonomi-rakyat‖ dalam mengembangkan sistem kerja yang tidak memihak pada buruhnya. Bahkan sumberdaya yang tadinya dikuasai oleh rakyat. Melalui sistem perbankan yang terpusat. juga merupakan fakta-fakta lain yang menunjukkan kemampuan ―oleh-rakyat‖ menjadi sangat terbatas. Infrastruktur fisik dan kelembagaan yang dibangun cenderung mengarah pada penyeragaman proses pengambilan keputusan yang dirancang tidak oleh rakyat sendiri. air. Kondisi yang ―terbatas‖ terhadap akses ke pasar global juga sekaligus memberi ‗kekebalan‘ kepada ekonomi rakyat untuk tidak mudah terpeng aruh atas kondisi yang terjadi didunia internasional. dan untuk rakyat‖ tersebut diatas juga mengetengahkan gambaran suram dari ekonomi rakyat di Indonesia. Rakyat juga sering dibatasi kemampuannya untuk mengambil keputusan. dan pasar modal.

(2) (3) (4) Dalam format seperti diataslah situasi ekonomi saat krisis moneter melanda Indonesia. dan pada gilirannya menghancurkan sistem perbankan. dan posisi ekonomi rakyat yang menjadi pasar bagi produk dan jasa. Sampai pada tahap ini ekonomi rakyat masih belum merasakan dampak negatif yang terlalu besar dari krisis moneter. Demikian pula dengan ―non-ekonomi-rakyat‖ yang dapat diidentifikasikan sebagai kelompok kapital global. atau Ormerod. yaitu Asia. . 1998). Singkatnya. Gambar diatas secara skematik menunjukkan bahwa ekonomi rakyat dalam perspektif seperti Indonesia juga terdapat dinegara-negara lain. penggunaan (utilization) dari modal tersebut belum berjalan dengan baik. Akibatnya modal. 1998. terutama karena infrastruktur dan institusi perdagangan modern memang dikuasai oleh para pelaku ―non-ekonomi-rakyat‖. Hal ini terutama karena kerangka kelembagaannya tidak berkesesuaian (not-compatible). Hubungan antara ―non-ekonomi rakyat‖ lokal dengan kapitalisme global juga merupakan hubungan yang timpang. barang konsumsi. karena sebagian dari proses relokasi industri baru berjalan pada tahap awal. kapitalisme global tengah berbenah diri untuk menghadapi abad yang baru yang ditandai oleh dua fenomena besar. Bahkan banyak diantaranya yang mendapat ‗rejeki dolar‘ karena harga produk yang dihasilkannya melonjak tinggi sejalan dengan peningkatan nilai dolar. Sebaliknya. maka ―non-ekonomi-rakyat‖ di Indonesia langsung terpukul telak oleh dua hal yang sangat ‗mematikan‘: membengkaknya nilai hutang dolar dalam rupiah dan mahalnya biaya produksi yang selama ini berbasis input impor. tawaran saham dan investasi. Krisis moneter yang diawali oleh krisis nilai tukar tersebut sebenarnya telah lama diperkirakan dan telah diduga meningkat peluangnya saat pergantian abad (lihat Soros. sistem legal-formal yang ―bias-against‖ ekonomi rakyat. yaitu WTO dan mata uang Euro (Soros. Pada tahun 1990-an. Perusahaan-perusahaan tidak dapat lagi menunjukkan kinerja keuangan yang sehat. inflasi meninggi. tidak dapat mengembalikan hutang. atau bahkan Marx (1849) dalam Magnis-Suseno. hanya dalam bentuk dana-dana pinjaman lunak pemerintah yang banyak kembali ke ―negara donor‖ atau bocor ditengah jalan dari pada diterima oleh ekonomi rakyat. penyedian pangan murah. 1999). Hal tersebut terutama juga karena struktur kelembagaan yang diuraikan diatas. penyediaan buruh murah. Giddens. Hubungan ekonomi rakyat Indonesia dengan ekonomi rakyat di negara lain juga berjalan lambat dan tersendat. Hal ini terjadi melalui sistem perbankan. teknologi. Gambar 1 menunjukkan bahwa (1) Arus moneter (uang tunai dan modal) dari kegiatan ekonomi rakyat ke kegiatan ‗non -ekonomi-rakyat‘ memiliki volume yang jauh lebih besar dari pada arus sebaliknya. Lemahnya keterkaitan ekonomi rakyat dengan kapitalisme global yang menjadi sumber dari krisis moneter tersebut. Dan hal ini membuat mereka sedang berada pada situasi yang rentan. Hubungan Selatan-Selatan atau diantara negara-negara Non-Blok secara langsung hampir selalu lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan ‗jasa‘ negara ketiga yang mampu menyediakan layanan infrastruktur perdagangan secara lebih efisien (Isaak. Ketika nilai tukar jatuh. penyediaan lahan/property murah. Sebagai usaha mengantisipasi hal tersebut modal besar dari para kapitalis global tersebut dialirkan ke kegiatan ekonomi yang dianggap paling menjanjikan. baik dalam bentuk modal tunai. seperti yang dirasakan para petani coklat dan para pengrajin yang memiliki konsumen di luar negeri. Tanpa bermaksud membatasi aktivitas ekonomi dalam dimensi ruang yang kaku. 1998. bahkan tenaga kerja. 1994. dan kemampuan menguasai informasi sebagai sarana untuk promosi. mengalir ―door-to-door‖ dengan derasnya. dalam bentuk hutang. maupun aliran input produksi. ekonomi rakyat yang ‗berbeda‘ sistem dan mekanismenya dengan ekonomi berbasis kapital yang dikenal oleh ‗masyarakat barat‘ merupakan basis kegiatan ekonomi negara yang bersangkutan. Dalam lingkup domestikpun hutang modal dan hutang konsumsi juga mengalir kesana kemari dengan sangat cepat dan dalam jumlah yang sangat besar.2) Struktur kelembagaan ekonomi tersebut sebenarnya hingga saat ini masih belum banyak berubah (diubah). De Soto (2000) menjelaskan bahwa dibanyak negara. Aliran moneter dari kapitalme global ke ekonomi rakyat Indonesia relatif kecil. 1995). Kalaupun ada. Namun ketika krisis moneter berlanjut menjadi krisis ekonomi (pertumbuhan ekonomi menurun. telah menjadi ‗blessing in disguised‘ bagi ekonomi rakyat. ekonomi rakyat telah mensubsidi ‗non-ekonomirakyat‘ dan terjadi fenomena ―double squeezed economy‖ melalui penyediaan sumberdaya oleh rakyat dan rakyat dijadikan pasar. walaupun struktur yang demikian itulah krisis ekonomi Indonesia menjadi begitu parah dan sulit diselesaikan. Kondisi tersebut berlangsung akibat dominasi paduan pengusaha-penguasa.

Dalam hal ini. Banyaknya kebijakan yang dilakukan oleh banyak pihak sering kali bersifat kontra produktif. b. Tumpang tindih tidak dapat dihindari. Beberapa koreksi yang perlu dilakukan. dan ‗minta dilayani‘ merupakan permasalahan lain dalam implementasi kebijakan. padahal kedua hal itu justru telah menunjukkan kemampuan menghadapi tekanan eksternal yang berat. dapatlah dikatakan bahwa ekonomi rakyat merupakan korban dari krisis moneter yang terjadi belum lama ini. terutama dalam mengatasi berbagai kelemahan dan keterbatasan yang dihadapi.banyaknya pegawai di PHK. Oleh karenanya. Dengan cepat terjadi perubahan-perubahan yang mendasar. Atau setidaknya yang perlu dikembangkan kebijakan yang ‗not-against‘ atau netral terhadap ekonomi rakyat. atau dilihat dari pemanfaatan cadangan pemerintah yang sangat besar bagi rekapitalisasi bank. Perbankan dan ‗non-ekonomi-rakyat‘ yang notabene menjadi penyebab krisis berusaha ‗diselamatkan‘ dengan menggunakan dana trilyunan rupiah dari sumberdaya negara yang telah sangat terbatas. IMF. Sebaliknya sistem ekonomi rakyat yang nyata-nyata telah mampu bertahan bahkan telah lebih berkembang selama krisis justru tidak diabaikan. dari berbagai instansi yang berbeda dan dengan metode dan ketentuan yang berbeda. Banyak kebijakan yang bersifat ‗mikro‘. serta serangkaian pilihan kebijakan dalam usaha untuk mengatasi krisis yang justru menempatkan ekonomi rakyat sebagai pihak yang dikorbankan. dan sebagainya) maka ekonomi rakyat mengalami tekanan yang semakin berat. karena selama ini kebijakan ekonomi sering kali membawa ciriciri sebagai berikut (Krisnamurthi. saat elite politik berdebat saling mengkritik dan membangun perbedaan pendapat. tingkat bunga yang kompetitif. mengingat lamanya pengaruh lembaga internasional (WB. padahal mereka adalah pemilik-suara (voter) terbanyak yang memilih pada pembuat keputusan. d. pengulangan sering terjadi tetapi pada saat yang bersamaan banyak aspek yang dibutuhkan justru tidak dilayani. Mencari hutang baru dan menerapkan sistem legal-formal-konvensional seperti menjadi hal yang dipaksakan harus ada. Dalam kondisi rawan keamananpun. pembentukan tingkat bunga melalui berbagai instrumen moneter lebih didasarkan pada kepentingan ‗balance of payment‘ dan penyehatan perbankan. dll) patut pula diduga bahwa perancangan pola kebijakan tersebut juga membawa kepentingan internasional tersebut. Sikap tersebut sering kali jauh lebih menentukan efektivitas kebijakan. Mekanisme penghantaran kebijakan (delevery mechanism) yang tidak apresiatif juga merupakan faktor penentu keberhasilan kebijakan. dan kebijakan nilai tukar. merasa lebih tahu. disertai berbagai kebijakan pengaturan (regulative policy) tampaknya masih jauh dari harapan pemberdayaan ekonomi rakyat. sangat tinggi. Dengan demikian. e. yang harus dilakukan terutama adalah untuk merubah pendekatan kebijakan yang tidak memihak kepada ekonomi rakyat. Demikian juga. Demikian pula sikap birokrasi yang ‗memerintah‘. Seorang Camat atau kepala desa atau kelompok masyarakat misalnya. Produk yang diimpor diganti dengan produk lokal atau produk impor yanglebih murah (fenomena motor Cina atau maraknya produk elektronik lokal dan impor yang ―mereknya tidak dikenal sebelumnya‖). padahal yang lebih dibutuhkan oleh ekonomi rakyat adalah kebijakan makro yang kondusif. terutama akibat timbulnya berbagai masalah setelah krisis terjadi (bukan oleh krisis moneter itu sendiri) dan akibat pilihan kebijakan yang diterapkan sebagai usaha mengatasi krisis. berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah dalam rangka otonomi daerah juga telah mengindikasikan pertimbangan yang tidak berorientasi ekonomi rakyat. Dalam hal ini. sering kali harus menerima limpahan pelaksanaan ‗tugas‘ hingga 10 atau 15 program dalam waktu yang bersamaan. c. Kemelut Kredit Usaha Tani (KUT) merupakan contoh kongkrit dari masalah mekanisme penghantaran tersebut. sebaliknya kegiatan ekonomi rakyat seolah ditinggalkan. alokasi kebijakan fiskal yang lebih seimbang sesuai dengan porsi pelaku ekonomi. Otonomi seharusnya juga berarti perubahan Kebijakan pengembangan yang dilakukan lebih banyak bersifat regulatif dan merupakan bentuk intervensi terhadap kegiatan yang telah dilakukan oleh ekonomi rakyat. Kebijakan pengembangan yang dilakukan cenderung bersifat ‗ad -hoc‘ dan parsial. . 2001): a. kegiatan ekonomi rakyat juga menjadi kegiatan yang paling rentan dan menderita. meningginya harga pangan impor. Posisi lembaga keuangan mikro dalam sistem keuangan nasional merupakan salah satu contoh terdepan dalam permasalahan ini. Pertimbangan dalam penetapan kebijakan tersebut seringkali memang tidak atas dasar kepentingan kegiatan ekonomi rakyat. Inovasi dan kreativitas ekonomi rakyat. Namun banyak kasus yang menunjukkan bahwa kebijakan yang dikembangkan lebih banyak membawa norma dan pemahaman dari ―luar‖ dari pada mengakomodasi apa yang sudah teruji berkembang dalam masyarakat. atau penetapan kebijakan perbankan sendiri yang penuh persyarakatan yang tidak sesuai dengan kondisi objektif ekonomi rakyat. Misalnya. padahal bank tidak (dapat) melayani kegiatan ekonomi rakyat. pengurangan subsidi BBM. Tekanan menjadi semakin berat lagi setelah krisis ekonomi juga memicu krisis sosial politik dan keamanan. Pada tahap inipun sebenarnya daya ‗survival‘ ekonomi rakyat sangat tinggi.

html) De Soto. 7. Jika tidak. 1999. Dan di bulan Juli 1998 dalam setahun. minimal jangan buat kebijakan yang merugikan ekonomi rakyat. 4.Perbaikan atas pola kebijakan tersebut diatas harus segera dilakukan. Selama itu mata uang Bath dan Dollar US dikaitkan satu sama lain dengan suatu kurs yang tetap. Di tahun 1998. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Ormerod. Bayu. The Death of Economics. atau juga masih kesulitan untuk membuat kebijakan yang netral terhadap ekonomi rakyat. Hernando.9% di tahun sebelumnya (1997). Yakinlah. London. 1998. Makalah pada Lokakarya Pengelolaan Sumberdaya Pantai dan Laut. diikuti oleh kemerosotan IHSG di pasar modal Jakarta dengan besaran sekitar 90% pula dalam periode yang sama. Bayu. The Third Way. pada awalnya bertahan dengan memperluas ― band” pengendalian/intervensi. ternyata Indonesia paling dalam dan paling lama mengalami depresi ekonomi.Bina Swadaya. Magis-Suseno. Jakarta. De Soto. Ekonomi Rakyat dan Pengelolaan Sumberdaya Pantai dan Laut. Giddens. Soros. Blackwell Publisher.- Dr. Jakarta 21 Februari 2001. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. yang mengikuti sistim mengambang terkendali. Atau jatuh dengan 18. Nopember 2000. Basic Books. Cambridge University Press. namun di medio bulan Agustus 1997 itu terpaksa melepaskan pengendalian/intervensi melalui sistim ―band” tersebut. Hernando. London. 8. peluang untuk keluar dari krisis akan semakin kecil. Jakarta.org) Krisnamurthi. 6. 9 April 2002 PUSTAKA 1. MA. Ir. www. Paul. 2. Institut Pertanian Bogor (IPB) Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat. 2001. bahkan akan terbuka kembali peluang terjadinya krisis berikutnya yang sangat mungkin akan lebih luas dampaknya bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot menjadi –13. The Crisis of Global Capitalism. The Mystery of Capital. 1998. Devaluasi mendadak dari ―Bath‖ ini menimbulkan tekanan terhadap mata-mata uang Negara ASEAN dan menjalarlah tekanan devaluasi di wilayah ini. Franz. Jika memang belum dapat dilakukan kebijakan yang mendukung ekonomi rakyat. 3. CSIS.ekonomi-rakyat. Krisis Moneter Indonesia. Frans Seda KRISIS MONETER INDONESIA KRISIS moneter Indonesia disebabkan oleh dan berawal dari kebijakan Pemerintah Thailand di bulan Juli 1997 untuk mengambangkan mata uang Thailand ―Bath‖ terhadap Dollar US. Pemikiran Karl Marx. Bayu Krisnamurthi: Direktur Pusat Studi Pembangunan. 5. Little Brown Company. Rupiah sudah terdevaluasi dengan 90%. telah pula dipublikasikan dalam Jurnal Ekonomi Rakyat (online. rakyat Indonesia mampu melakukan hal itu. Jakarta. Open Society Endangered.ca/library/forum/desoto. CIDA Forum on Knowledge and Information. 2000. 2000. 2001. Makalah pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat : Strategi Revitalisasi Perekonomian Indonesia. New York.7% dari pertumbuhan sebesar +4. George. Rupiah telah terdevaluasi dengan 30% sejak bulan Juli 1997. Dalam bulan September/Oktober 1997. Dalam perkembangan selanjutnya dan selama ini. Mencari Format Kebijakan Optimal. Anthony. (www.6% dalam . atau jangan buat kebijakan apapun dan biarkan ekonomi rakyat berkembang dengan kemampuannya sendiri. Krisnamurthi. The Missing Ingredient.idrc. Indonesia. The Renewal of Society Democracy. 1994. PT Gramedia Pustaka Utama. Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Why Capitalism Triumphs in the West and Fails Everywhere Else. Rupiah langsung terdevaluasi.

50 milyar di akhir tahun 1996. dengan tingkat inflasi dan bunga yang rendah. yang hampir sama dengan pertumbuhan ekonomi pra krisis (1997. terlebih dunia Perbankan dan Korporasi. sudah lima tahun. 65 milyar – USD. bukan saja menampung reruntuhan-reruntuhan dari ambruknya sektor modern. Proses Swastanisasi/Privatisasi dari pelaku utama Pembangunan berlangsung melalui proses liberalisasi dengan mekanisme Deregulasi diliputi visi dan semangat liberal. Kesuksesan Pembangunan Ekonomi Indonesia demikian memukau para kreditor luar negeri yang menyediakan kredit tanpa batas dan juga tanpa meneliti proyek-proyek yang diberi kredit itu. Didorong oleh optimisme dan keteledoran ini ekonomi didorong bertumbuh diatas kemampuannya sendiri (― bubble economics”). Sektor tradisional yang selama ini dianggap sebagai sektor yang tidak penting/prioritas. manajemen. Sampai sekarang. 15 milyar. dalam hal bisnis serta akhlak dan moral. produktivitas sektor tradisional dan berfungsinya asas kekeluargaan. Dan yang mengesankan adalah peran dari asas kekeluargaan. Dan hal-hal ini langsung mengena pada nasib ekonomi Rakyat kita. Dan kerapuhan ini ternyata adalah sangat mendalam dan meluas. Pendapatan per kapita meningkat menjadi 2x lipat antara 1990 dan 1997.setahun. malahan dianggap sebagai penghambat dari pertumbuhan Ekonomi. restrukturisasi Perbankan dan Korporasi-Korporasi sepertinya tidak mempan selama dan sesudah 5 tahun ini. dan mental orang-orang/para pelakunya. Pembangunan Ekonomi yang selama ini adalah ―State” dan ―Government-led” beralih menjadi ―led by private initiatives and market”. Mengapa? Selama dekade sebelum krisis. sementara Hutang Swasta membumbung dengan cepatnya. Jika di tahun 1996 Hutang Swasta masih berada pada tingkat USD. itu perlu ―pulang kampung‖ untuk melihat dan mengalami bahwa asas kekeluargaan itu betul-betul hidup di kalangan masyarakat dan sungguh-sungguh merupakan asas solidaritas yang berfungsi dalam kehidupan ekonomi rakyat. dan malahan telah mampu pula mengangkat pertumbuhan ekonomi kembali pada permukaan pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan +13. Resistensi. Ekonomi Indonesia bertumbuh sangat pesat. Proses Swastanisasi ini berlangsung tanpa kendali dan penuh KKN. Suatu kerapuhan total dan secara institusional pula! Apa implikasi dari runtuhnya sektor modern dari bangunan ekonomi kita ini? Peningkatan Pengangguran. Kesuksesan ini menimbulkan di satu pihak suatu optimisme yang luar biasa dan di lain pihak keteledoran yang tidak tanggung-tanggung. Keteledoran ini juga terjadi dalam negeri. Pertumbuhan itu ambruk! Sementara itu terjadi pula suatu perombakan yang drastis dalam strategi Pembangunan Ekonomi. namun juga memainkan peran sebagai pengganti dari peranan sektor modern yang ambruk itu.8% di tahun 2000. upaya-upaya rekapitalisasi. sikonnya belum siap dan masih penuh kerapuhan-kerapuhan. dilanjutkan dengan pertumbuhan +4. Maka para pakar/pengamat yang selama ini meragukan berfungsinya asas kekeluargaan seperti yang tercantum dalam Pasal 33 UUD-45. Dimana kegiatan-kegiatan ekonomi dan para pelakunya berlangsung tanpa pengawasan dan tidak dilihat ― cost benefit” secara cermat. Maka runtuhlah bangunan modern dalam tubuh Ekonomi Bangsa. Dalam waktu sangat singkat bertebaran bankbank Swasta di seluruh tanah air dan bertaburan Korporasi-Korporasi Swasta yang memperoleh fasilitas-fasilitas tak terbatas. Perkembangan ini didukung oleh suatu kebijakan moneter yang stabil. Namun akibat-akibat negatif ini dihadapi rakyat banyak dengan suatu Resistensi dan Kreativitas Ekonomi yang militan. dengan APBN yang Berimbang. Mereka yang di-PHK-kan ditampung dalam sektor tradisional dan sektor informal dan merupakan bagian dari Resistensi Ekonomi Rakyat dalam krisis ini.7% dengan tercapainya tingkat +0% di tahun 1999. maka di akhir tahun 1996 sudah meningkat menjadi antara USD. Sektor Finansial dan Korporasi masih tetap terpuruk. Hutang Pemerintah/Resmi/Negara turun dari USD. 75 milyar. merupakan kekuatan ekonomi yang riil yang telah mampu menahan kemerosotan ekonomi yang disebabkan oleh krisis itu. baik bagi modal yang masuk maupun yang keluar. kebijakan Ekspor yang terdiversifikasi (tidak saja tergantung pada Migas). pemulihan pertumbuhan ekonomi belum mencapai tingkat pra-krisis (tahun 1996/97). Peningkatan Kemiskinan dan Hutang Nasional. sehingga tindakan-tindakan penyehatan-penyehatan seperti injeksi modal oleh Pemerintah. Kredit jangka pendek diinvestasikan ke dalam proyek-proyek jangka panjang. dengan kebijakan Neraca Modal yang liberal. . sehingga waktu datang tekanan-tekanan moneter. 80 milyar menjadi USD. Suatu optimisme yang mendorong kebijakan-kebijakan ekonomi dan tingkat laku para pelaku ekonomi dalam dan luar negeri. kreativitas ekonomi rakyat. Maka ketika diserang krisis mata uang. Rapuhnya sektor-sektor modern ini adalah dalam hal organisasi. dengan tingkat perkembangan nilai tukar mata uang yang terkendali rendah. sepertinya lepas kendali.

pemulihan ekonomi selama 2 tahun itu disebabkan oleh peningkatan ekspor (non Migas). Krisis Ekonomi yang kita alami dewasa ini menunjukkan bahwa keserakahan sektor modern akan kredit. Ekonomi Rakyat adalah pula ekonomi ―from hand to mouth”. Bukan proses ―memberdayakan‖. itulah yang telah menjerumuskan Ekonomi bangsa ke dalam keterpurukan yang berkelanjutan ini. yang telah menumbangkan ORDE LAMA (Demokrasi Terpimpin) dan dibentuknya ORDE BARU. Disebabkan oleh Politik Isolasi Nasional dan menumpuknya Defisit APBN dari tahun ke tahun sedari tahun 50an dan selama penggalan pertama tahun 1960-an. Di tahun 1980-an. tidak lalu harus diidealisasikan. namun melalui sistim (peng)antara ―middle down” dan ―middle up”. Proses tersebut ditandai oleh suatu proses Liberalisasi dan mekanismenya adalah Deregulasi/Ekonomi. dan di bawah pengaruh globalisasi. Pemerintah/Negara mengambil peran untuk keluar dari krisis tersebut.+4. Dalam bahasa resmi Ekonomi.9%). Boeke. jika bisa begitu. adalah suatu kenyataan dan merupakan dua kekuatan ekonomi yang perlu diintegrasikan menjadi sokoguru dari bangunan ekonomi Nasional yang modern. fasilitas dan perluasan kegiatan. hasil kegiatan rakyat. sudah tiba waktunya kita beralih ke Ekonomi Rakyat. Jika Pembangunan selama ini adalah ― top down” maka proses ini tidak langsung beralih ke sistim ―bottom up”. Sehingga Pembangunan selama itu disebut ― Government/State led development”. Masalahnya adalah mengapa ekonomi Nasional jatuhnya begitu dalam. Dalam hal ekspor. dan kurang adanya Pengawasan. alias sektor modern dari bangunan ekonomi kita. efisiensi. Apakah hanya karena itu saja? Tentu tidak hanya itu saja. didesak oleh kebutuhan akan modal. Dan cepat kembalinya pemulihan ekonomi selama dua tahun berikutnya dikatakan adalah berkat ekonomi Rakyat. maka di tahun 1965-66 terjadi suatu krisis ekonomi Nasional yang merisaukan. ―Up” dan ―down” diperdayakan oleh si ―middle”. no!”. Dan seperti telah dikatakan. ―Dual economy” nya Prof. Maka terjadilah krisis ekonomi yang berkelanjutan ini. oleh investasi dan konsumsi. Dalam hal ekspor dan konsumsi. Jika hal itu diperlukan maka dilaksanakan . Memang ideal. Namun secara riil. Faktor kepercayaan pada programa ekonomi Pemerintah dalam kerjasama dengan IMF dan hilangnya panik ekonomi turut bermain peran. Masalahnya sekarang adalah. menunjukkan betapa rapuhnya dan paniknya sektor Finansial dan Korporasi. juga oleh produksi dalam negeri. dan teknologi yang lebih meningkat untuk menjaga agar Pembangunan Ekonomi berkelanjutan mantap meningkat. maka Pembangunan dan peningkatan pendapatan Nasional dan per kapita maju pesat. Jatuhnya demikian dalam di tahun 1998. peranan ekonomi Rakyat adalah menonjol. Apa yang dihasilkan. melihat peran ekonomi rakyat selama krisis ini seperti yang telah diuraikan itu. Hal ini terjadi bukan karena ideology (Sosialisme) melainkan karena kondisi pragmatis. tetapi juga dapat cepat pulih dalam 2 tahun berikutnya. energi dan konsentrasi sampai sekarang sektor ini belum dapat berfungsi kembali normal. Melalui pemberdayaan sektor Swasta maka diharapkan/dianggap Ekonomi Rakyat akan pula dapat diberdayakan. dalam setahun. maka terjadi proses Swastanisasi dari Pembangunan. namun pada kemampuan untuk merealisasikan apa yang dianggap ideal itu. adanya KKN. dihabiskan! Tidak ada kelebihan untuk melanjutkan dan mendinamisasikan kegiatan. di Manado resepsi. Dibawah Pimpinan Negara/Pemerintah. melainkan proses ―mem perdayakan‖. cukup berperan ekspor hasil Perkebunan rakyat. Makna dari suatu ideal adalah bukan sekedar pada idealismenya. begitu rapuhnya sehingga dengan segala ― inset” dari modal. sehingga di Manado yang unggul dalam hal cengkeh itu – ―dia orang bilang. Masalahnya adalah mengapa pada waktu itu proses Deregulasi tidak diarahkan langsung kepada Ekonomi Rakyat. malahan melanjutkan perannya sebagai Pelaku Utama Pembangunan sesudah krisis itu. Juga dalam hal konsumsi yang kecuali dipenuhi oleh import. peran ekonomi Rakyat seperti yang telah digambarkan itu memang besar! Tetapi antara ekonomi Rakyat/Ekonomi Tradisional dan Ekonomi Modern tidak perlu diadakan dikhotomi. dan pemberdayaan itu dilakukan melalui ― link and match” dengan sektor Swasta. Ekonomi Rakyat masih perlu diberdayakan. di Jakarta resesi. Tentu tidak semuanya oleh Ekonomi Rakyat. dimana pada waktu itu tidak ada perusahaan Swasta. Jika era Demokrasi Terpimpin sebelumnya adalah era dimana Politik menjadi Panglima (upaya pembentukan dari suatu Sistim Politik Nasional) maka era ORBA dapat dinamakan sebagai era dimana Ekonomi menjadi Panglima (dan upaya-upaya untuk membentuk suatu Sistim Ekonomi Nasional). Ada keraguan di kalangan Pemerintah pada waktu itu terhadap kemampuan Ekonomi Rakyat sebagai penggerak utama dari roda Pembangunan. Kita tahu apa yang telah terjadi. Namun sesuatu yang ideal. Telah dikemukakan bahwa kemampuan Resistensi Ekonomi Rakyat adalah pada tingkat ― subsistence economy”. dan kalau ada berada dalam kondisi sangat lemah. apakah dalam kondisi krisis dewasa ini.

Maka dari itu programa hukum dan kesesuaian harus menunjukkan prioritas bagi Pemerintah. maka dengan sendirinya Kesejahteraan Rakyat tercapai. Mereka perlu diberi pengertian bahwa untuk berusaha secara berkelanjutan diperlukan tertib usaha. Memang ada pendapatan dan simpanan dalam negeri yang lari keluar. ada pula tugas Nasional yang mendesak! Dewasa ini. tetapi sebagian besar masih ―berkeliaran‖ di dalam negeri. maka baik orientasi pada kepentingan dalam ekonomi. Dalam hal Ekonomi Kerakyatan maka jelas orientasinya pada kepentingan ekonomi Rakyat banyak. Hanya seperti telah diuraikan itu. Hanya jangan dikira jika semua rakyat sudah menjadi Subyek Ekonomi. namun tidak selamanya rakyat harus menjadi Subyek Ekonomi. Mereka dianggap sebagai ―underground economics”. mengatasi Hutang. Hal-hal ini perlu diciptakan oleh Institusi itu.000 . Mereka perlu dibimbing. apalagi dengan KKN. Ketiga target ini memang mengena pada kepentingan ekonomi Rakyat! Suatu tantangan bagi ekonomi Rakyat! Menghadapi tugas besar/tugas nasional ini. Sebab itu peran ―lintah darat‖ besar dalam ekonomi Rakyat. Seperti halnya dalam bidang moral dan agama. Mereka sendiri tadinya juga berasal dari usaha ekonomi rakyat. dalam kontekst ini peran ekonomi Rakyat dapat difokuskan. Diperlukan suatu Institusi dan pendekatan secara Institusional. memerlukan perlindungan/kepastian Hukum dan iklim usaha. Aspek orientasi kepada kepentingan rakyat banyak dan aspek rakyat sebagai Subyek dalam Ekonomi Negara. Dalam bahasa ekonominya adalah bahwa kita mengalami kemerosotan dari ―external demand”. Apa tugas Nasional itu? Mengatasi Pengangguran. Diperlukan suatu Institusi yang mengarahkan kepada kepentingan rakyat dan kesejahteraan Nasional. maupun Subyek dalam ekonomi adalah rakyat. Jangan disangka jika setiap anggota masyarakat itu bermoral tinggi dan sungguh-sungguh menghayati agamanya. di‖ upgrade” dan ditingkatkan. Rakyat sebagai Subyek Ekonomi seperti halnya dengan Korporasi-Korporasi besar/maju. Penciptaan dari ―domestic demand” ini mungkin. namun untuk mengungkapkan kenyataan yang dihadapi yang perlu diperbaiki agar tugas Nasional yang diserahkan kepada Ekonomi Rakyat dapat terlaksana dengan baik dan penuh prospek dan perspektif.000. diberi pendidikan.Rp. Untuk menjamin tertib usaha. melebihi pendapatan orang yang sama di sektor formal). Telah dikemukakan betapa . Mereka tidak menjadi efektif (―effective demand”) antara lain karena ketidakpastian hukum dan keamanan. Apa itu? Ekonomi Rakyat mempunyai dua aspek integral. karena pasar dalam negeri yang besar dan luas. 10. Ini berarti pula perlu dikembangkan suatu sistim mobilitas vertikal secara sehat dan mandiri dalam masyarakat dunia usaha! Dewasa ini hal ini diblokir oleh tidak selesai-selesainya proses penyehatan Perbankan dan Korporasi. mengatasi Kemiskinan. Dalam hal Ekonomi Rakyat. usaha/pedagang kecil dan menengah. bahwa kalaupun Rakyat sudah menjadi Subyek Ekonomi. teknologi dan Pasar. Ini semua dikemukakan tidak dengan maksud untuk memojokkan ekonomi Rakyat. penjelasan-penjelasan dan insentip-insentip. perlu diingat. Potensi untuk itu ada di dalam Negeri karena masih cukup pendapatan dalam negeri dan simpanan dalam negeri yang tersembunyi dan terpendam. sebagai usaha yang ―inferior”. Sebab kesejahteraan Nasional bukanlah somasi/jumlah dari kepentingan masing-masing rakyat. (Sementara menurut suatu penelitian. Selama ini kita telah bicara banyak mengenai Ekonomi Rakyat dan Ekonomi Kerakyatan. Namun suatu Generasi Pelaku Ekonomi Nasional yang bersih. tangguh mental dan professional dalam berusaha. Kembali kepada masalah Krisis Moneter dan Pemulihan kembali Ekonomi Nasional. kita mengalami kemerosotan investasi dan eksport termasuk Pariwisata. (Hukum dan keamanan ini juga dituntut oleh para investor asing!). pengganggu ketertiban umum. mereka sehari dapat memperoleh antara Rp. maka tidak dengan sendirinya kesejahteraan Nasional tercapai. maka masyarakat dengan sendirinya bermoral dan beragama. tidak dimanjakan dengan subsidi. Nah. Diharapkan bahwa Institusi yang demikian itu adalah antara lain Pemerintah dan Parlemen. mereka tidak boleh mengganggu ketertiban umum dan harus tunduk pada peraturan (hukum) umum! Pengertian yang diperlukan. proteksi dan fasilitas. bukan penggusuran! Pemberdayaan ekonomi Rakyat dewasa ini diperlukan pula untuk membina kader-kader Pelaku Ekonomi Generasi baru menggantikan Generasi Pelaku Ekonomi yang sudah tumbang ini. Disitulah letak fungsi ekonomi mereka. 20. Dilupakan bahwa mereka memenuhi kebutuhan masyarakat.melalui hutang. para pelaku ekonomi Rakyat perlu di‖upgrade”. Kondisi ini perlu diimbangi dengan menciptakan/mengaktifkan ― domestic demand” yakni ―demand” akan investasi dan konsumsi. terlebih sesudah kejadian 11 September 2001 di Amerika Serikat. memerlukan akses ke modal. Masalah ini perlu ditekankan melihat pengalaman-pengalaman dari usaha-usaha rakyat kecil di kota-kota yang lazim dinamakan Kaki Lima yang dikejar-kejar itu. Disamping tugas besar Nasional yang berjangka itu.

Maka dari itu krisis ini perlu segera diatasi! Dalam hal ini kita berhadapan dengan suatu Dilema Fundamental yang ―persistent” sekali. Frans Seda : Penasehat Ekonomi Pemerintah. Lima (5) tahun krisis ekonomi adalah sudah terlalu panjang dan karena sifatnya multidimensional maka ia dapat menggerogoti secara meluas dan mendalam sendi-sendi kita hidup berbangsa. bagaimana dampak krisis ini terhadap Indonesia. Jika hal ini dikaitkan dengan bahaya-bahaya proses desintegrasi sosial. ―pertumbuhan ekonomi AS saat ini adalah nol. krisis di satu tempat dengan cepat menyebar dan memberi efek tular ke tempat lain. energi. Kebodohan.‖ Ketakutan bahwa krisis ini menjadi krisis permanen. Sementara itu. kita belum saja melihat titik terang. Dengan adanya Konsensus Politik secara Nasional itu. Resep lama. belum selesai yang satu telah datang yang lain. Dengan segala upaya dan energi serta bantuan luar negeri. regional dan nasional maka krisis ekonomi yang berkepanjangan ini dapat membawa Bangsa. Krisis Permanen Krisis ekonomi AS. dan alternatif apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi krisis dan dampaknya tersebut. Rata-rata tingkat pertumbuhan per tahun hanya 2. yang hingga kini tak kunjung menemukan jalan keluar pemecahannya. yang dipicu oleh krisis di sektor properti. Dilemanya adalah di satu pihak ada tuntutan untuk penyelesaian dulu semua kebobrokan-kebobrokan dari masa lalu. seperti dikatakan Alan Grenspan. Dengan bersandar pada data Biro Analisa Ekonomi AS (lihat tabel). hendak dilihat. hendak memotret dampak dari krisis ekonomi Amerika Serikat (AS).3 persen pada dekade 1980an. Akibatnya. Krisis ini datang silih berganti secara bergelombang. mantan Menteri Keuangan Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat.4 persen dibandingkan dengan 4 persen pada dekade 1960an dan 3. ketika Bank Sentral menggelontorkan dana segar sebesar S75B pada Januari 2008. kita maju ke depan (termasuk upaya penyelesaian krisis). Negara dan Masyarakat kita kepada kehancuran total. Dari sini. terlebih sektor Finansial dan Korporasi. Bahkan. Tulisan kali ini. bernegara dan bermasyarakat. tetap saja krisis ekonomi AS tak bisa ditangani. Untuk mengatasi Dilema Fundamental ini diperlukan suatu Konsensus Politik secara Nasional. bahwa krisis ini bisa diatasi dengan campur tangan bank Sentral. dan sambil berjalan ke depan kita secara selektif menyelesaikan kebobrokan-kebobrokan dari masa lalu. Kemiskinan. di lain pihak ada urgensi. untuk menginjeksi sektor perbankan. Setelah diterpa resesi pada 2001. kini menyebar luas. pangan. Berbagai skenario pemulihan yang ada. baru melangkah maju. Krisis Moneter Indonesia Krisis Permanen dan Tantangan Dari Bawah* DUNIA sedang diterpa badai krisis: ekonomi. ekonom Minqi Li menggambarkan beragam skenario yang tidak menggembirakan. pemulihan ekonomi AS berjalan lambat. upah buruh riil dan . Dengan dunia yang kian terintegrasi satu sama lain. dan Hutang Nasional. lingkungan. makin tak terkendali. terbukti tidak mencukupi. yang berfokus pada pilihan politik untuk me-Rekonsiliasikan keperluan penyelesaian secara tuntas masalah-masalah dari masa lalu dengan kepentingan bangsa dan Negara untuk maju ke depan dan yang didukung oleh semua pihak. tetap saja berujung pada ketidakmungkinan krisis ini pulih dalam waktu yang singkat. mantan gubernur Bank Sentral AS. dan bencana alam. politik. Hic et nunc! Drs. barulah kita dapat menyusun suatu Programa Nasional untuk cepat keluar dari krisis dan mulai memulihkan kembali Pertumbuhan Ekonomi Nasional yang mampu memberantas Pengangguran. Sebab disitulah letak kepentingan mendesak dari ekonomi rakyat kita.terpuruknya Ekonomi kita dan betapa rapuhnya sektor modern kita.

maka ekonomi AS akan menuju resesi yang lebih dalam yang diikuti dengan apa yang disebut stagnasi berkelanjutan. sejak medium 2000. kedua. terjadi penghancuran industri (deindustrialization). pendapatan riil keluarga menengah terus jatuh. Itu sebabnya. sejak tahun 2001. Krisis ekonomi yang dipicu oleh krisis di sektor finansial. Dengan gambaran seperti ini. menurut William I. karena level utang rumah tangga telah begitu tinggi dan tingkat tabungan rumah tangga juga rendah. dengan cara menciptakan gelembung aset lain secara besar-besaran. Masalahnya. jelas mustahil untuk melihat bahwa konsumsi akan bertumbuh cepat di tahun-tahun mendatang. dengan sendirinya menghela ekonomi negara lain ke jalur krisis. karena baik pasar saham maupun pasar properti telah overvalued. Selain itu. maka secara teoritik utang luar negeri bersih AS akan menembus angka 120 persen GDP. seiring meningkatnya finansialisasi ekonomi dunia adalah kian mendalamnya penetrasi kekuasaan imperial terhadap negara-negara dengan kondisi ekonomi sedang berkembang (underdeveloped). sangat sulit untuk mengidentifikasi gelembung besar aset lain yang bisa diciptakan. Keadaan ini sebenarnya bisa ditangani oleh Bank Sentral. Soalnya. bersamaan dengannya tingkat suku bunga meningkat. Sebaliknya. Dihadapkan pada kondisi guncangan besar pasar saham dunia. menyebabkan negaranegara yang sebelumnya telah tergantung pada investasi asing kian tergantung padanya (khususnya investasi portofolio) dan keharusan untuk membayar utang kepada kapital internasional. Jika diukur dalam dollar pada 1982. Ini bisa dilihat dari peningkatan sebesar 14 persen layanan utang rumah tangga (interest and principal payment on debt) pada 2007. dengan defisit saat ini yang mencapai 6 persen GDP. pemerintah AS melakukan jalan pintas dengan cara melakukan belanja publik dan meningkatkan defisit fiskal. Robinson adalah untuk menghancurkan otonomi para aktor nasional dan selanjutnya menstrukturkan serta mengintegrasikan mereka ke dalam jaringan transnasional yang lebih luas.2. suatu jumlah yang tertinggi. Penetrasi yang digerakkan melalui kebijakan globalisasi-neoliberal tersebut. atau delapan sen lebih rendah dari upah pada 1972. sangat jelas membuat pertumbuhan ekonomi dunia melambat yang itu berarti. pembagian keuntungan korporasi terhadap GDP meningkat dari 5. pengaruhnya sungguh akan sangat besar bagi stabilitas ekonomi-politik dunia. Tetapi. jika krisis ekonomi yang melanda AS ini berlangsung dalam waktu yang lama.8 persen pada tahun 2006. yang kini mencapai lebih dari 70 persen GDP. Pertama. konsumsi AS adalah yang terbesar di dunia dan menjadi sumber utama permintaan ekonomi dunia. tingkat tabungan rumah tangga jatuh dari rata-rata 10 persen menjadi mendekat nol persen saat ini. Tujuan dari penetrasi ini. pertumbuhan .8 persen pada tahun 2001 menjadi 9. sektor keuangan saat ini merupakan sektor yang paling tersebar dan paling terkait secara global. pilihan yang bisa diambil oleh Bank Sentral adalah melakukan pemotongan secara drastis tingkat suku bunga.jumlah angkatan kerja stagnan. AS mengekspor krisis internalnya ke seluruh dunia. Hasilnya adalah sebuah lingkaran setan. maka Washington bisa terus melakukan defisit fiskal lebih besar. sebagaimana dikemukakan John Bellamy Foster. Dan jika ini terjadi. Jika tingkat tabungan rumah tangga meningkat menuju rata-rata selama ini. Jelas ini sesuatu yang menakutkan. maka yang terjadi ekspansi konsumsi rumah tangga itu dibiayai oleh utang rumah tangga. Yang menarik. Yang paling realistis. maka rata-rata upah buruh sektor swasta pada tahun 2006. Di samping itu. pertumbuhan ekonomi AS dihela oleh ekspansi konsumsi rumah tangga. Jatuhnya tingkat konsumsi di AS. sebesar $8. dan ketiga. hingga mencapai 6 persen atau lebih GDP. Di lain pihak. ―fundamental ekonominya‖ membaik menurut kriteria sektor finansial tapi. maka suku bunga rendah hanya akan kecil sumbangannya dalam merangsang konsumsi rumah tangga. ketika mayoritas pendapatan rumah tangga mengalami stagnasi atau bahkan jatuh. negara-negara berkembang yang mengikuti resep globalisasi-neoliberal.

aspal hitam. karena minyak merupakan energi yang tak terbarui. Setelah itu. Dalam konteks Indonesia. belum lagi krisis ekonomi tertangani. 775. Lebih-lebih dalam konteks seperti Indonesia. tentu saja kesuraman itu kian menjadi-jadi. Resep-resep yang digunakan .000 per hari atau sebesar Rp. pembangunan yang menghasilkan keterbelakangan dan ketertindasan.000 dengan kurs $1 sama dengan Rp. meramalkan. Orientasi Ke dalam? Krisis ekonomi saat ini. Berdasarkan harga saat ini sebesar $120 per barel.5. dan kian mudahnya ekonomi negara tersebut diserang krisis akibat pergerakan cepat keuangan global. harga minyak dunia telah menembus angka $120 per barel. Bahkan. gas-to-liquids. tidak bisa lagi dipertahankan. dari the Association for the Study of Peak Oil and Gas. Tingginya harga minyak ini tentu saja memberikan daya pukul luar biasa pada perekonomian di seluruh dunia. menjadi penanda penting bagi kita bahwa orientasi pembangunan kapitalisneoliberal yang berlangsung secara global saat ini.866. bisa dipastikan yang akan terjadi adalah penyesuaian-penyesuaian rencana anggaran. merupakan bahan masukan penting dalam produksi pupuk. eksplorasi minyak telah mencapai puncaknya pada dekade 1960an dan produksi minyak mentah mungkin telah di batas maksimum dan mulai memperlihatkan trend menurun dalam beberapa waktu mendatang. ditambah dengan dampak kenaikan harga minyak dunia yang gila-gilaan. Campbel juga meramalkan. tentu saja tidak masuk akal bagi pemerintah untuk membiayai belanja-belanja sosial yang bermanfaat bagi kepentingan rakyat. gas alam. mencapai titik jenuhnya pada 2010. Mari kita ambil contoh berikut. Minyak juga. Melambungnya Harga Minyak Dunia Sialnya. yang hingga kini tak kunjung keluar dari krisis. Setelah dihajar oleh krisis ekonomi pada 1997. minyak hasil distilasi. sedang berjuang untuk mempertahankan produksinya agar tidak jatuh. Kita lihat. dan mencapai 2/3 pada 2050. Dalam studi awal dari German Energy Watch Group. pembangunan yang dijalankannya tidaklah membuahkan kemajuan dan kebebasan tapi. Dengan pola seperti ini. Di luar OPEC.236. Tinggal sembilan negara atau wilayah yang memiliki potensi untuk bertumbuh. diperparah dengan dampak menular dari krisis keuangan di AS. maka skenario yang tampak begitu buruk. Berdasarkan data Januari 2008. telah mencapai titik jenuh. ancaman lain telah menghadang yakni. Sebab ekonomi kapitalis ini sangat tergantung pada bahan-bahan material (minyak. bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. Colin Campbel. diperkirakan produksi batubara dunia akan mencapai puncaknya pada 2025. produksi minyak di 25 negara-negara atau wilayah-wilayah penghasil minyak utama. saat ini Pertamina mengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak sebanyak 700 ribu per barel. dan batubara). produksi gas alam dunia akan mencapai puncaknya pada 2045. coal-to-liquids. kini bayang-bayang resesi bahkan depresi ekonomi ada di depan mata. dan biofuel).ekonomi rendah. Studi terbaru dari German Energy Watch Group menyebutkan. dimana salah satu cara paling gampang adalah kembali menaikkan harga minyak dan mencabut subsidi. Minyak sendiri. obat-obatan modern. gambaran-gambaran ini sungguh suram. produksi minyak akan menurun sebanyak 25 persen pada 2020. maka dana yang mesti dikeluarkan Pertamina adalah sebesar $84. diperkirakan menyumbang sepertiga dari total suplai energi dan 90 persennya digunakan di sektor transportasi. produksi dunia untuk seluruh bahan-bahan cairan (termasuk minyak mentah. 9. plastik. Selain itu. Seluruh perusahaan-perusahaan minyak besar dunia kini. dengan menggilanya harga minyak dunia di pasaran. dan benda-benda kimiawi lainnya. Dengan pengeluaran sebesar itu. yang menyumbang 80 persen suplai energi dunia. Laporan terakhir (30/4) menyebutkan. gas alam cair.

mensyaratkan keberadaan rejim yang mendukung penuh perubahan radikal itu. pasar kerja fleksibel.000) di seluruh dunia. mempromosikan kebijakan nasionalisasi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. yang selama ini telah begitu erat terkait dengan kelas kapitalis asing. dan liberalisasi sektor moneter. untuk memotong laju krisis sekarang. lebih merupakan hasil dari stagnasi ekonomi berkepanjangan. harus berani menolak resep-resep kebijakan neoliberal seperti. terbukti gagal dalam menangani krisis. Seperti dicatat Minqi Li. Untuk rencana belanja fiskal tahun 2008. di tempat lain. apakah pertanyaan tersebut mengada-ada atau tidak.‖ Argumentasi Klare ini bukan tanpa bukti empiris. Tetapi. tidak ada bukti yang kuat bahwa kebangkrutan ekonomi suatu negara disebabkan oleh kebijakan nasionalisasi ekonomi. kini Cina merupakan satu-satunya kandidat . Dan sebaliknya. privatisasi. menurut Michael Klare. Ia bukanlah krisis keuangan jangka pendek tapi. sumbangan AS dalam pertumbuhan ekonomi dunia jatuh dari 40 persen pada 1990 menjadi kira-kira 30 persen pada saat ini. Dengan 180 basis militer (dari yang direncanakan 1. Tetapi. Cina yang dianggap sebagai pesaing baru. Khusus untuk supplementary budget buat membayar biaya perang di Irak dan Afghanistan. Dengan tingkat pertumbuhan ekonominya tinggi dan relatif stabil. Pertanyaannya kemudian. bersedia melakukan restrukturisasi ekonomi dan sosial yang radikal? Intervensi Permanen Sebelum kita masuk pada pertanyaan-pertanyaan tersebut. bukan krisis bagian per bagian. kita bisa meraba-raba. Dari segi ekonomi. deregulasi. akibat stagnasi berkepanjangan. kontribusi Cina meningkat sekitar 15 persen dan kelompok BRIC (Brazil. Salah satunya. harus ada strategi yang radikal. apakah kelas kapitalis di Indonesia. kedua. lagi-lagi dalam konteks Indonesia.selama ini. Rusia. ekonomi AS masihlah yang terkuat di dunia. Pemerintahan siapapun. sebuah perubahan arah strategi pembangunan dari yang pro kapitalisme-neoliberal menjadi yang anti kapitalisme-neoliberal. Lebih-lebih di bidang militer. Dari segi anggaran militer. adalah mengandalkan kemampuan domestik dalam menopang bangunan struktur ekonomi nasional. praktis tidak ada kekuatan lain yang sanggup menandingi imperialisme Amerika. demi kepentingan apa AS terus membangun dan memperkuat kekuatan militernya? Ada dua jawaban di sini: pertama. dari segi geopolitik. Angka ini merupakan yang terbesar sejak Perang Dunia II dan besarannya melampaui total belanja militer gabungan seluruh negara lain di dunia. Keadaan ini tentu saja mengkhawatirkan para pengambil keputusan strategis di Washington. bahkan ekonominya belum mampu menandingi kekuatan ekonomi Uni Eropa. Karena itu. Sejak berakhirnya Perang Dingin (yang sesungguhnya hanya dingin di Eropa). saya ingin mengajak anda untuk melihat konstelasi kekuasaan global saat ini. seperti dikemukakan kritikus empire (kekaisaran) terkemuka. Di sini muncul pertanyaan baru. demikian juga kontribusi kawasan Eurozone ikut jatuh dari 20 persen menjadi tinggal 10 persen. departemen pertahanan AS menganggarkan sebesar $750B per tahun. krisis ini adalah krisis kapitalisme keseluruhan. Chalmers Johnson. tak ada kekuatan lain yang bisa menandingi kedigdayaan AS. jumlahnya jauh lebih besar dibanding gabungan anggaran militer Rusia dan Cina. adakah rejim dengan watak seperti itu? Pertanyaan lainnya. Dari sini. India dan Cina) meningkat sebesar 20 persen pada pertumbuhan ekonomi dunia. pembangunan kekuatan militer itu dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi AS. dana yang dianggarkan sebesar lebih dari $1T. pemotongan subsidi. Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. Studi-studi yang ada menunjukkan. pembangunan kekuatan militer raksasa itu dimaksudkan untuk ―menghadang munculnya kekuatan besar lain sebagai pengimbang kekaisaran AS. dimana anggaran ini bukan bagian dari anggaran resmi pertahanan. walaupun kini tengah dilanda krisis parah.

Di sisi lain ancaman intervensi permanen melalui doktrin pre-emptive war dari AS. AS tidak membutuhkan tawar-menawar dengan kekuatan di luarnya. bagi Leo Panitch dan Sam Gindin. Ini hanya merupakan awal. Maka satu-satunya penantang paling potesial terhadap kekaisaran. para kapitalis domestik memainkan perannya sebagai yunior partner dan secara bersama-sama membentuk apa yang disebut oligarchy-finance-capital. Di matanya. Dengan adanya peristiwa itu. penyerbuan ke Irak dan Afghanistan. satu-satunya jalan adalah dilakukannya . jika ingin menghancurkan kekaisaran yang mesti dilakukan adalah mendorong terjadinya perubahan fundamental dalam keseimbangan kekuasaan domestik dalam kekaisaran. tidak mungkin terwujud jika tidak dipimpin dan dikontrol oleh rakyat. muncul perbedaan pendapat di kalangan pengamat kekaisaran. misalnya. Dan itu hanya mungkin. AS disamping terus menjalankan perannya sebagai protektorat bagi negara-negara kapitalis inti. juga sumber kekuasaan. Pembangunan yang berorientasi ke dalam. misalnya. James Petras. Di satu sisi karena mereka telah terintegrasi dalam kelas kapitalis internasional. Tetapi. Benar pula bahwa minyak bukan hanya sumber energi yang utama tapi.yang bisa menggeser posisi AS. mereka malah kian agresif dalam merealisasikan paket-paket kebijakan neoliberal. maka sangat sulit kita mengharapkan munculnya sikap progresif dari kelas kapitalis domestik. Realisasi kebijakan itu menemukan momentumnya dengan terjadinya serangan 11 September 2001. sebagai residivis-residivis privatefinanced-centered yang coba-coba menantang kekaisaran. dari apa yang disebut Aijaz Ahmad. krisis permanen ini membuat mereka tidak memiliki pilihan lain kecuali kian tergantung pada belas-kasih sang senior. Di sini. juga bertujuan untuk mengonsolidasikan kembali apa yang disebut Peter Gowan. Ia mencontohkan perlawanan rakyat di Venezuela dan Irak saat ini. tidak pertama-tama didorong oleh kepentingan menguasai dan mengontrol kandungan minyak di wilayah tersebut. mengatakan perlawanan rakyat tertindas itu tidak bisa diharapkan muncul dari dalam negeri AS. Irak).‖ Itu sebabnya. jika terjadi mobilisasi dari bawah yang merupakan kombinasi kepentingan-kepentingan domestik kelas terpinggirkan. seperti peran yang disandangnya di masa Perang Dingin. Sementara itu. AS menguasai 70 persen cadangan minyak dunia. untuk bisa menantang kekaisaran AS ini. kekuatan sosial lainnya yang tertindas. rakyat AS telah cukup lama menikmati permen ekonomi dan juga kooptasi dan represi dari kekaisaran. Bagi Samir Amin. dimana rakyatlah yang pertama-tama menanggung akibatnya. Hasil dari keadaan ini. Benar bahwa dengan menduduki kawasan Teluk.‖ Dan itu berarti. Satu-satunya penantang serius bagi kekaisaran AS ini. ―bersama kami atau menjadi musuh kami. sebagai ―ideologi intervensi permanen. Dalam konteks geopolitik yang unipolar seperti inilah. kita lihat. Bukannya melindungi kepentingan rakyat. penyerbuan seperti di Irak ini bukanlah sebuah akhir. kelas kapitalis domestik Indonesia. adalah dari rakyat tertindas keseluruhan. di tengah-tengah krisis permanen dan ancaman intervensi permanen saat ini. bagi para analis imperialisme. misalnya melalui perang ekonomi (seperti Kuba) atau juga dalam bentuk keras seperti. Itu sebabnya. Intervensi permanen dari kekaisaran bisa mengambil bentuk yang lunak. Di sini. serbuan itu terutama dimaksudkan sebagai sinyal agar ―jangan coba-coba menantang kami. serta gerakan anti-globalisasi dan anti-perang.‖ Tantangan Dari bawah Dengan bersandar pada analisa di atas. menyebabkan para kapitalis domestik ini tidak berani mengambil jalan berbeda. tak berani mengambil sikap yang berpihak kepada kepentingan rakyat. misalnya. intervensi militer (misalnya. kekuatan lain itu hanya diberikan pilihan. Sebaliknya. kemunculan para pesaing dipandang sebagai ancaman yang harus dinetralisir. datang dari rakyat tertindas di negara-negara pinggiran. sebagai motor penggerak ekonomi kapitalis global.

Social Change.” Verso. Minqi Li. & Neoliberalism’s Demise. di Selatan maupun di Utara. 2004.com/hg/ekbis/2008/01/21/brk. 2004. 11 April 2007. *Artikel ini sebelumnya dimuat dalam buku untuk memperingati 80 tahun Joesoef Isa . 21 Januari 2008 | 20:49 WIB. “U. “Global Capitalism and American Empire. 2004. “China Peak Oil. 58. itulah kunci kemenangan rakyat pekerja terhadap kekaisaran.” Monthly Review. 2003. ————.id. Vol.tempointeraktif. Robin Blackburn. Leo Panitch and Sam Gindin.html William I.‖ Monthly Review Press. 11 April 2008. London.” ―Impor Minyak Pertamina Harus Dievaluasi‖
 Senin. ―Pox Americana exposing the American Empire. “The Financialization of Capitalism. “The New Geopolitics. 59. http://www. 11 April 2008. Michale Klare.” Monthly Review. 2004. 59.aliansi seluruh rakyat pekerja baik.” in John Bellamy Foster and Robert W. No.‖ Monthly Review Press. McChesney. No.*** Kepustakaan: Aijaz Ahmad.” in John Bellamy Foster and Robert W. “Imperialism of Our Time” Socialist Register. Vol. Solidaritas universal. ―Pox Americana exposing the American Empire.” Monthly Review. o. John Bellamy Foster. Robinson. “The Subprime Crisis.S. McChesney. Hegemony Today. Vol.” Socialist Register. and Globalization.20080121-115889. “Transnational Conflicts Central America.“The Financialization of Capital and the Crisis. Peter Gowan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful