Krisis Kapitalisme Global

Krisis Kapitalisme Global Syamsul Hadi KTT G-8 di Toyako, Hokkaido, Jepang, yang baru saja berakhir terasa istimewa dengan kehadiran para pemimpin negara berkembang, seperti China, India, Meksiko, dan Indonesia. Pernyataan di akhir KTT dapat dilihat sebagai bentuk positioning negara-negara industri maju atas isuisu yang berkembang dalam skala global. Menghadapi kenaikan harga minyak dunia, forum menyerukan dialog antara negara produsen dan konsumen guna menekan harga. Terkait krisis pangan, forum menegaskan, komunitas internasional perlu melakukan respons dan strategi yang terintegrasi guna mengatasi kelangkaan pangan, dengan program bantuan pangan dan peningkatan produktivitas pertanian. Perdebatan paling alot terjadi dalam isu perubahan iklim. Negara-negara G-8, terutama AS, menyatakan tidak bisa mencapai target pengurangan emisi 50 persen tahun 2050 jika negara berkembang yang ekonominya sedang tumbuh pesat tidak melakukan hal yang sama. Krisis finansial Perdebatan alot dalam isu perubahan iklim seolah ‖menutup‖ perhatian atas masalah krusial lain, krisis finansial global yang berawal dari krisis subprime mortgage di AS. Pernyataan bersama G-8 memang menekankan komitmen untuk melakukan stabilisasi pasar finansial, tetapi tidak disinggung masalah melemahnya nilai dollar AS atas mata uang kuat lainnya (Kompas, 10/7). Padahal, ketidakmampuan AS untuk cepat mengatasi krisis subprime mortgage mendorong spekulan mengalihkan investasi ke komoditas pangan dan energi, yang mendorong naiknya harga pangan dan minyak dunia. Keterlibatan militer AS di Irak memperparah krisis energi. Mantan spekulan George Soros menyatakan, krisis global saat ini akan cepat berakhir dengan syarat perekonomian, terutama pasar uang, diatur ketat (Kompas, 4/4). Di mata Soros, akar krisis saat ini adalah kekacauan di sektor finansial yang dimulai sejak 1980 saat Ronald Reagan dan Margareth Thatcher memelopori kampanye neoliberalisme di tingkat global. Lemahnya posisi Pemerintah AS berhadapan dengan berbagai perusahaan hedge funds dan pengelola dana investasi untuk tujuan spekulasi telah diprediksi Susanne Soderberg. Dalam The Politics of the New International Financial Architecture (2004), Soderberg menggambarkan, hubungan Pemerintah AS dengan korporasi finansial yang berpusat di Wall Street adalah seperti hubungan Dr Frankenstein dan monster pintar ciptaannya. Dengan mensponsori penerapan rumus-rumus neoliberal, Pemerintah AS menumbuhkan ‖blok‖ kapitalis finansial yang menggurita di Wall Street, yang kemudian menjeratnya dalam ketidakberdayaan dan posisi serba salah akibat besarnya dominasi perekonomian mereka. Pernyataan menteri keuangan G-8 yang bertemu di Osaka, Juni, juga tak menyinggung perlunya memperketat aturan main sektor finansial global. Pernyataan hanya menyebutkan, Financial innovation has contributed significantly to global growth and development, but in the light of risks to financial stability, it is imperative that transparency and risk awareness be enhanced. Poin tentang sistem finansial ada di bagian terakhir statement bersama dan paling pendek dibandingkan poin-poin pernyataan terkait harga komoditas, perubahan iklim, dan pembangunan Afrika. Pertumbuhan tanpa batas? Dalam konteks perubahan iklim, upaya Jepang membuka jalan bagi penyusunan traktat internasional

baru menggantikan Protokol Kyoto yang habis masa berlakunya tahun 2012 pada KTT ini tidak berhasil. Memang dicapai ‖komitmen umum‖ untuk pengurangan emisi pada tahun 2050, tetapi tidak dicapai kesepakatan tentang bagaimana target itu secara spesifik harus dicapai. Pernyataan G-8 hanya menyatakan, tiap anggota G-8 akan menyusun target masing-masing untuk periode jangka menengah setelah tahun 2012. Menanggapi hal ini, para pemimpin China, India, Brasil, Afrika Selatan, dan Meksiko membuat pernyataan bersama yang menolak kewajiban tiap negara mengurangi emisi 50 persen dengan menekankan kewajiban negara maju memulai langkah-langkah nyata ke arah itu. Para aktivis lingkungan juga mengecam keengganan negara G-8, terutama AS, untuk memberi komitmen nyata dan mengikat terkait pemanasan global. Data Greenpeace International menunjukkan, meski hanya dihuni 13 persen populasi dunia, negara G-8 memproduksi 80 persen emisi di atmosfer dan 40 persen emisi CO>sub<2>res<>res<. Komitmen ‖samar-samar‖ yang diberikan G-8 dinilai tak sebanding dengan dampak perubahan iklim dan global warming yang menimbulkan dampak berantai berupa kekeringan dan bencana alam di dunia. Penurunan emisi karbon akan menurunkan pertumbuhan ekonomi, tetapi amat penting menjaga kelestarian alam dan penghidupan di bumi, yang memperburuk kualitasnya karena industrialisasi dan eksploitasi alam nyaris tanpa batas. Perbedaan pendapat dalam isu pemanasan global menunjukkan dominasi berkelanjutan paradigma pembangunan pertumbuhan ekonomi atas paradigma pembangunan berwawasan lingkungan. Sulitnya menyatukan langkah dalam mengatasi aneka masalah serius dalam krisis global saat ini seakan membenarkan prediksi Karl Marx, ‖krisis berkelanjutan‖ dalam sistem kapitalisme global senantiasa bersumber dari kecenderungan melakukan akumulasi kapital yang tak kenal batas. Syamsul Hadi Pengajar Departemen Hubungan Internasional FISIP-UI

Krisis Kapitalisme Global
Oleh Eric Hiariej

Search :

SEORANG sejarawan ekonomi non-marxis, Karl Polanyi, pernah berteori tentang gagalnya demokrasi di Eropa sepanjang dekade 1930-an. Dalam bukunyaThe Great Transformation, Polanyi berargumen kegagalan tersebut bersumber pada praktik self-regulating market yang sengaja memisahkan aktivitas ekonomi dari masyarakat, sembari menciptakan sistem produksi yang dominan dan menentukan kehidupan sosial sehari-hari. Praktik semacam ini tidak punya preseden historis karena sebelumnya konsep dasar ekonomi sekalipun tidak diperdebatkan secara terpisah dari human action. Baru setelah revolusi industri, gagasan tentang ekonomi yang independen terhadap masyarakat diterima sebagai keniscayaan. Praktik self-regulating market pada dasarnya membawa perubahan radikal dalam hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan manusia dengan barang yang diciptakannya. Alam sebagai tempat manusia hidup, berkembang dan berinteraksi berubah menjadi natural asset yang nilainya tidak lagi ditentukan tradisi, sejarah atau kepentingan bersama, melainkan diukur berdasarkan keseimbangan antara tingkat kelangkaan dan kebutuhan produksi. Dalam hubungan produksi; upah, gaji dan insentif menggantikan reprositas dan jaminan sosial dalam interaksi sosial antarsesama manusia. Sedangkan uang yang menjadi alat pertukaran dalam kerangka reprositas dan jaminan sosial, berkembang menjadi komoditas berharga yang bukan saja bisa diperjualbelikan, tapi juga berangsur-angsur mendominasi manusia yang menciptakannya. Tegasnya, self-regulating market melakukan kapitalisasi terhadap alam, manusia, dan barang, mengubahnya menjadi komoditas yang bisa mendatangkan keuntungan. Ketika menjadi komoditas; alam, manusia, dan barang tercerabut dari akar-akar sosialnya, menjadi sebatas harga sewa, upah, dan bunga. Dengan lain perkataan, praktik self regulating market menciptakan-meminjam Marx-fetisisme kehidupan sosial. Dalam kehidupan sosial yang fetisis masyarakat terbelah dua menjadi kelompok yang lebih beruntung karena mengendalikan kapitalisasi dan komodifikasi, dan kelompok yang merugi yang tidak memiliki akses ke faktor-faktor produksi. Kelompok merugi juga merupakan manusia-manusia yang "terasing" dari "kemanusiaannya" yang dieksploitasi kelompok beruntung atas nama "pertumbuhan ekonomi". Dickens menggambarkan situasi semacam ini sebagai social and moral breakdown, sedangkan Disraeli menyebutnya dengan the fracturing of society into 'two nations'.

Berita Lainnya :

• Bung Hatta Diadili • Kesehatan Reproduksi di • Kawasan Krisis Timur Kapitalisme • Global Perempuan dan Minuman • Botol POJOK • REDAKSI YTH

• TAJUK RENCANA

Upaya ini dilakukan. kubu konservatif melalui Thatcher di Inggris dan Reagan di Amerika berhasil menguasai pemerintah. Cerita globalisasi ekonomi bermula dari krisis ekonomi di awal 1970-an. aristokrasi pemilik tanah dan borjuis berkoalisi untuk menguasai pemerintah. sistematisasi produksi dan sistem kerja self-employment. berubah menjadi inflasi. sembari menciptakan fetisisme kehidupan sosial jilid dua. *** TAMPAKNYA. Masih menurut Polanyi. upaya merebut kembali kendali ekonomi berhasil melembagakan dirinya dalam Fordisme dan kebijakan ekonomi Keynesian. self-regulating market tidak datang dengan sendirinya. dan menjaga nilai uang sebagai media pertukaran.Menurut Polanyi. perjuangan demokratisasi di fase kedua memperoleh tantangan dari Fasisme dan Stalinisme. masyarakat berangsur-angsur merebut kembali kendali atas kehidupan ekonomi. paling tidak untuk negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Utara sampai awal dekade 1970-an. penerapan pasar bebas di masa-masa itu terjadi bersamaan dengan tampilnya "negara kuat" di beberapa tempat. Karenanya. Globalisasi ekonomi juga menciptakan double movement. penumpukan produksi. Yang jelas. Seperti yang diperkirakan. setelah berakhirnya PD II. Kebijakan Keynesian disingkirkan oleh model ekonomi neo-liberal yang antiintervensi negara. dengan bertebarannya gerakan-gerakan anti-globalisasi di berbagai belahan dunia. Sebaliknya. melindungi transaksi ekonomi dari perilaku yang melenceng. terjadi upaya membebaskan ekonomi dari kontrol masyarakat yang merusak ikatan-ikatan sosial dan menciptakan konflik kelas. Pada fase berikutnya. Globalisasi ekonomi itu sendiri tak lain dari self-regulating market dalam penyamaran yang kembali membebaskan dirinya dari kontrol masyarakat. Tapi. seraya membenahi efek-efek sosial negatif yang ditimbulkan kapitalisasi dan komodifikasi. Fordisme digantikan sistem produksi (yang kemudian disebut) PostFordisme yang lebih menekankan fleksibilitas. Fordisme dan kebijakan Keynesian melewati masa emasnya. terutama. Di saat bersamaan. economies of scope. . argumentasi Polanyi belum terlalu usang untuk menjelaskan "globalisasi ekonomi" yang melanda dunia sejak dekade 1980-an. Situasi tersebut masih diperparah dengan meningkatnya harga bahan bakar minyak dan perlombaan senjata Amerika dan Soviet yang menguras banyak modal. Fordisme dan kebijakan Keynesian kemudian berhasil memberikan demokrasi dan kesejahteraan ekonomi. Di Inggris semenjak 1840. sembari membentuk kekuatan bersama melawan kelas menengah-bawah. keduanya mengampanyekan bringing the market back in. dan di Jerman dengan tampilnya Bismark. di wilayah politik melalui perjuangan menuntut demokrasi yang dilakukan kelompok sosial marginal. Sedangkan di Perancis self-regulating market diikuti dengan second empire dari 1851-1871. Negara juga harus kuat agar mampu menahan gempuran kelas bawah dari kota maupun desa. pengangguran dan menurunnya investasi di negara-negara berkembang. negara berperan besar menjamin property rights. proderegulasi dan menghendaki perdagangan bebas. Pada fase pertama. Menjawab krisis yang sedang menganga. praktik ekonomi ini melahirkan double movement dalam sebuah dialektika historis.

Panduan ini berisi kebijakan-kebijakan semacam menjamin disiplin fiskal. dan perlindungan terhadap property rights. sedangkan yang miskin bertambah melarat. Melbourne. IMF. Kemudian. Gerakan ini bukan saja melawan ideologi dominan (neo-liberalisme) di balik self-regulating market. berbagai bentuk perlawanan muncul di mana-mana. kebebasan perpindahan uang mencari lokasi yang paling menguntungkan menjadikan uang itu sendiri sebagai komoditas yang mendatangkan keuntungan. Globalisasi ekonomi kemudian tanpa bisa dibendung menjelma menjadi ekspansi pasar bebas ke seluruh dunia dan aspek kehidupan. Banten. mempermasalahkan globalisasi karena mudahnya perpindahan manusia melampaui batas teritori membawa kerugian sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat. Sementara di sektor produksi. Di sektor perdagangan. seraya mengintegrasikan berbagai tingkatan yang berbeda dari setiap aktivitas nilai tambah dalam sebuah jaringan global. mengurangi belanja publik. IMF dan World Bank mengekspor "Washington Consensus" ke negara-negara berkembang. berdemonstrasi menolak WTO. menciptakan individualisasi proses produksi ketika kontribusi buruh terhadap produksi dihitung sendiri-sendiri berdasarkan kontrak individual. Sedangkan di sektor finansial. privatisasi perusahaan negara. liberalisasi finansial. berbagai kelompok sosial lintas etnik. Gerakan fundamentalisme mengedepankan "agama" sebagai solusi terbaik untuk mengembalikan kontrol sosial atas ekonomi. kemajuan teknologi memungkinkan pemilik kapital merelokasi usahanya ke tempat yang paling menguntungkan.Selanjutnya. Pertama-tama. di antaranya. Globalisasi ekonomi. Akibatnya. dan anti-globalisasi. Kebijakan-kebijakan neo-liberal pada awalnya menyebar ke Eropa Barat dan Jepang. dan orang-orang Afrika yang sekarat karena kelaparan di Somalia. Seperti yang diduga. Post-Fordisme dan ekonomi neo-liberal dibakukan dalam "Washington Consensus" yang tak lain dari panduan mengembangkan self-regulating market bagi seluruh negara di dunia. Jika dikategorikan. dan negara. kelompok Neo-Nazi. dan finansial. kadar eksploitasi juga meningkat pesat. nasionalisme. agama. Washington. buruh maupun petani berunjuk rasa menolak Uni Eropa. Nasionalisme merupakan bentuk perlawanan yang ingin meraih kendali kehidupan ekonomi melalui purifikasi bangsa. dan World Bank. produksi. sekurangnya terdapat tiga macam gerakan perlawanan. Di Meksiko. kelas. Perbedaan sosial semakin menajam dan terpolarisasi ketika yang kaya bertambah kaya. kekuatan buruh untuk melawan kondisi kerja yang buruk secara kolektif menjadi berkurang. liberalisasi perdagangan. Di Seattle. melalui pendalaman kapitalisasi dan komodifikasi di sektor perdagangan. globalisasi menciptakan New International Divison of Labour berdasarkan perbedaan produk suku-cadang dalam sebuah sistem produksi global. Chiangmay. deregulasi ekonomi. globalisasi ekonomi melahirkan disparitas. melancarkan investasi asing. para petani melalui pemberontakan Chiapas menentang perdagangan bebas ala Nafta. Gerakan ini. melalui structural adjustment program. yakni fundamentalisme. Lalu. mendorong nilai tukar yang kompetitif. reformasi pajak. Oleh karena itu. di antaranya. selfregulating market jilid dua ini menciptakan kesenjangan global. dan Genoa. Nasionalisme juga ingin mengembalikan (kejayaan) negara-negara yang diterjang habis-habisan . Di Eropa. self-regulating market melahirkan milyuner semacam Bill Gate di tengah-tengah buruh-buruh pabrik sepatu yang tertindas di Tangerang. Pendek kata. tapi juga menentang kekuatan politik (terutama pemerintah Amerika) yang membentengi globalisasi.

Boleh dibilang pertemuan Davos yang melibatkan beberapa NGO yang sangat moderat tidak akan berlangsung jika tidak diawali sebelumnya dengan demonstrasi di Seattle. antiglobalisasi adalah gerakan perlawanan terhadap kapitalisme global. baru itu saja kekuatan gerakan anti-globalisasi. Sebaliknya. yang tak lain dari Fordisme dan kebijakan Keynesian yang bertumpu pada kompromi kebutuhan kesejahteraan buruh dan kepentingan akumulasi kapital pemilik modal melalui. Sejauh ini gerakan antiglobalisasi sudah memberikan perlawanan yang berarti. Eric Hiariej Staf Fisipol UGM. dibanding dua gerakan lainnya. Sementara itu. self-regulating market akan berakhir dengan "demokrasi". resistensi terhadap ekspansi pasar bebas tidak cukup kuat untuk memenangkan pertarungan. ujung dari krisis ini bisa jadi bukan demokrasi. Yang menarik. menuntut inklusi politik yang lebih luas dan juga partisipasi masyarakat dalam kehidupan ekonomi dan sosial sehari-hari. "kemenangan demokrasi" masih harus diperjuangkan. Gerakan ini memperjuangkan kepentingan kelas tertindas. Sementara globalisasi ekonomi mulai dipertanyakan dan ditentang. Akan tetapi. "demokrasi" baru bisa menang (di Eropa Barat dan Amerika Utara) setelah beraliansi dengan Stalinisme untuk mengalahkan Fasisme dalam PD II. Ironinya. yang terjadi adalah krisis global. Praktis. Lebih gawat lagi. Tampaknya. di antaranya. gerakan anti-globalisasi lebih dekat dengan ide-ide demokrasi. situasinya menjadi stalemate. sekalipun Post-Fordisme dan kebijakan ekonomi neo-liberal terbukti mengandung krisis-krisis bawaan. jika fundamentalisme atau nasionalisme yang berhasil mendominasi. Namun. gerakan-gerakan perlawanan ini belum juga berhasil mengakhiri self-regulating market.oleh self-regulating market. Polanyi juga mengingatkan. *** BERDASARKAN cerita Polanyi. . praktik welfare state. peneliti pada Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM. menghendaki kebebasan politik maupun keadilan ekonomi. Sementara globalisasi ekonomi mulai sempoyongan karena gagal memenuhi janjinya memberikan kesejahteraan. Gerakan ini menganggap globalisasi ekonomi merupakan sumber kemiskinan dan kesenjangan sosial dunia kontemporer. kemenangan "demokrasi" berada di bawah bayang-bayang ancaman Fasisme dan Stalinisme. dan peneliti Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta. Belum lagi gerakan ini masih harus berurusan dengan fundamentalisme dan nasionalisme yang memiliki proyeksi dunia masa depan yang berbeda (dan bisa jadi bukan demokrasi).

Saat ini pelaksanaan otonomi daerah telah melahirkan perubahan yang cukup signifikan. pemberdayaan. pelaksanaan. keadilan. masyarakat diharapkan memiliki daya tahan dan daya adaptasi yang tinggi agar mampu menjalani kehidupan masa depan dengan sukses. pengambilan keputusan dalam perencanaan. dan 18B. berpartisipasi aktif. Community Development. terutama berhubungan antarpelaku pembangunan. Di tengah era globalisasi yang serba cepat. pemerataan. dan pengawasan pembangunan. pemikiran anak muda | Tags: Appreciative Inquiry. Komitmen ini telah . Untuk mencapai tujuan pembangunan masyarakat agar lebih berdaya. Ketua DPD RI. Perubahan aturan negara seperti di atas menempatkan daerah menjadi aktor sentral dalam pengelolaan republic yaitu dalam prinsip otonomi dengan desentralisasinya. Menurut Prof.Konsep dan Metode Pemberdayaan Masyarakat Indonesia 17 June 2008 in Psikologi. bahwa daerah menjadi pengambil kebijakan sentral dalam mengatur dan mengurus pemerintahannya sendiri menurut asas otonomi dan tugas pembantuan (medebewind) serta diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. Pemberdayaan Masyarakat. pemerintah melontarkan komitmen yang berlevel internasional. Salah satu kendala yang dipaparkan oleh Ginandjar Kartasasmita adalah kurangnya kreativitas dan partisipasi masyarakat secara lebih kritis dan rasional. Kepemimpinan Indonesia. reformasi melahirkan sistem pembagian kekuasaan yang mulai terdistribusi antara pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah. Namun dalam prakteknya otonomi daerah masih menghadapi kendala yang harus segera dicarikan jalan keluarnya atau penanganannya secara sungguh-sungguh. dan peran serta masyarakat serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi. Hal ini terwujud dalam Sistem Desentralisasi yang secara legal dilahirkan lewat UndangUndang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian menyebabkan Perubahan Kedua UUD 1945 seperti tertuang pada Bab VI Pemerintahan Daerah pasal 18. Ginandjar Kartasasmita. 18A. Psikologi | Reformasi yang telah bergulir sejak tahun 1998 memberikan dampak yang luas pada perubahan sistem pemerintahan. Jika pada era Orde Baru kekuasaan sangat bersifat sentralistik. dan kekhususan suatu daerah dalam sistem NKRI. keistimewaan. serta penuh dengan kreativitas. ―Perubahan aturan main mengenai pemerintahan daerah merupakan afirmasi-konstitusi.

Apalagi melihat kenyataan. kompleks. terdapat 8 (delapan) tujuan (goal) yang hendak dicapai sampai tahun 2015 oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia. menyesuaikan diri.ditandatangani dalam KTT Millenium PBB pada tahun 2002 bersama 189 negara lainnya. menunjukkan bahwa kualitas manusia Indonesia makin memburuk dalam 10 tahun terakhir. Peringkat Indonesia dari tahun ketahun selalu menurun dari 110 menjadi peringkat 112 dari 175 negara yang dinilai UNDP (2003). Komitmen semua negara di dunia untuk memberantas kemiskinan ditegaskan dan dikokohkan kembali dalam ”Deklarasi Johannesburg mengenai Pembangunan Berkelanjutan” yang disepakati oleh para kepala negara atau kepala pemerintahan dari 165 negara yang hadir pada KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg. kenaikan harga BBM misalnya. Dengan demikian individu. 2000). 2007). tingkat melek huruf dan kualitas pendidikan dasarnya. yang juga telah ditandatangani oleh pemerintah Indonesia untuk menjadi acuan dalam melaksanakan pembangunan di Indonesia dengan target memberantas kemiskinan pada tahun 2015. membuat semakin sulit bagi seorang individu untuk menghadapi perubahan sendirian. Dengan demikian. kelompok atau komunitas harus melakukan berbagai upaya untuk ikut berubah. baik pemerintah pusat. Dimana pemerintah dan semua perangkatnya dalam semua level. dan dunia sebagai totalitas. kabupaten/kota bersama-sama dengan berbagai unsur masyarakat memikul tanggungjawab utama untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan sekaligus memberantas kemiskinan yang terjadi di Indonesia paling lambat tahun 2015. Sebagaimana kita alami. yang merupakan perubahan disektor ekonomi dan . walaupun pada tahun 2006 terdapat peningkatan ranking ke 110 (UNDP. provinsi. Dalam laporan tersebut. Afrika Selatan. Di sisi lain interdependensi antara komunitas. tingkat harapan hidup. terkecil sekalipun. Kendati Indonesia ikut serta dalam kesepakatan global melaksanakan MDGs untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dicanangkan PBB sejak 2000. Dalam deklarasinya negara peserta menerapkan Tujuan Pembangunan Milenium atau Millennium Development Goals (MDGs). HDI atau IPM Indonesia yang diukur dari pendapatan riil per kapita. ternyata peringkat Indonesia masih berada di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya. penuh resiko. dengan tujuan pertama adalah mengatasi dan/atau memberantas kemiskinan dan kelaparan (United Nations. namun dalam Human Development Report 2007 yang dikeluarkan oleh UNDP. pemerintah Indonesia telah membuat komitmen nasional untuk memberantas kemiskinan dalam rangka pelaksanaan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). era ini merupakan kehidupan yang bercirikan perubahan yang cepat. dan penuh dengan kejutan. Hasil deklarasi tersebut kemudian dituangkan dalam dokumen ”Rencana Pelaksanaan KTT Pembangunan Berkelanjutan”. atau mengambil kendali perubahan. Dalam MDGs tersebut. September 2002.

2000.. dalam Gergen dkk. perubahan kota. pendekatan ini bisa menghasilkan sesuatu yang baik. 1987. Dalam pelaksanaannya. Di sisi lain. Pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari sudut pandang Deficit based dan Strength Based. struktur penyelesaian masalahatau menghadirkan pelayanan bagi masyarakat. penyelesaian cara pemecahan yang tepat. tetapi tidak tertutup kemungkinan terjadinya situasi saling menyalahkan atas masalah yang terjadi. serta penerapan cara pemecahan tersebut. 2005). Dalam bidang sosial. Ludema dkk.. Pengembangan otonomi daerah yang diarahkan pada partisipasi aktif dari masyarakat sangat sesuai dengan konsep yang ditawarkan oleh CD. Fry dkk. Appreciative Inquiry merupakan sebuah metode yang mentransformasikan kapasitas sistem manusia untuk perubahan yang positif dengan memfokuskan pada pengalaman positif dan masa depan yang penuh dengan harapan (Cooperrider dan Srivastva. dan pengembangan kualitas hidup masyarakat (United States Departement of Agriculture. Appreciative Inquiry digunakan untuk memberdayakan komunitas pinggiran. CD adalah sebuah proses pembangunan jejaring interaksi dalam rangka meningkatkan kapasitas dari sebuah komunitas. Pendekatan Deficit-based terpusat pada berbagai macam permasalahan yang ada serta cara-cara penyelesaiannya. dan menciptakan perdamaian. CD tidak bertujuan untuk mencari dan menetapkan solusi. pendekatan Strengh Based (Berbasis kekuatan) dengan sebuah produk metode Appreciative Inquiry terpusat pada potensi-potensi atau kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh individu atau organisasi untuk menjadikan hidup lebih baik.energi akan mempengaruhi sector kehidupan yang lain. Dalam sepuluh tahun terakhir. Keberhasilannya tergantung pada adanya identifikasi dan diagnosis yang jelas terhadap masalah. Appreciative Inquiry menjadi sangat populer dan dipraktekkan di berbagai wilayah dunia. mendukung pembangunan berkelanjutan. Cooperrider dkk. Sejak tahun 1960. mengarahkan proses merger dan akusisi dan menyelesaikan konflik. 2004). . CD adalah bekerja bersama masyarakat sehingga mereka dapat mendefinisikan dan menangani masalah. melakukan transformasi komunitas. menciptakan pembaharuan organisasi. seperti untuk mengubah budaya sebuah organisasi. lahir sebuah konsep pemberdayaan komunitas yang disebut Community Development (selanjutnya disebut CD). Kesesuaian antara kebijakan pemerintah dengan konsep pemberdayaan masyarakat seperti CD ini membutuhkan pendekatan yang tepat dalam mengimplementasikannya. membangun pemimpin religius. 2002. 2000. serta terbuka untuk menyatakan kepentingankepentingannya sendiri dalam proses pengambilan keputusan (StandingConference for Community Development. 2001).

Strategic Framework for Community Development. 17 Mei 2008. Theresiah.uk United States Depatment of Agriculture (2005). Makalah: Dewan Perwakilan Daerah dan Otonomi Daerah. 2-3) Sairin. http://www. http://ocdi. Ginandjar. 1. 2002.sccd.com/2007/08/08/bedah-kasus-appreciative-inquiry-instrategic-planning/ (Diakses pada 26 Mei 2008. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.com/doc/732997/laporanlokakaryaAIlowres (Diakses pada 29 Mei 2008.scribd. Makalah : Community Development dan Nilai-Nilai yang Mendasari.Sumber: Buku Cooperrider D. pp. pukul 11.50) Standing Conference for Community Development (2001). Makalah Kartasasmita. Institut Teknologi Bandung (ITB) Dalam Rangka Memperingati Seratus Tahun Kebangkitan Nasional. Bandung.org/ M.org. A Positive Revolution in Change: Appreciative Inquiry (Vol.28) http://www. Dipresentasikan pada Temu Ilmiah Dalam Rangka LUSTRUM IX Fakultas Psikologi Unpad.wordpress.ekonomirakyat.gov http://www. Tahun 2006 Internet http://appreciativeorganization. Community Development Technical Assistance: Handbook.usda. L. Sjafri. Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia. Husein Sawit 22 spt 2008 USULAN KEBIJAKAN BERAS DARI BANK DUNIA: RESEP YANG KELIRU ABSTRAK . & Whitney D. Lubis. pukul 11. 2006. Disampaikan pada Seminar Nasional.

ciptakan lapangan kerja. partai politik. tidak boleh didikte oleh segelintir para ahli. Itu konsep pengentasan kemiskinan yang keliru. masyarakat Indonesia pasti mencurigainya. Bukan membuat harga beras murah. Kebijakan beras itu adalah domain kebijakan publik. pasar dapat menyelesaikan instabilitas harga. apalagi oleh lembaga asing yang kurang memahami rumah tangga petani dan masyarakat desa secara mendalam. termasuk ekonomi Indonesia (Perkin 2004). Pendahuluan Sejak akhir 2006. para teknokrat dan birokrat –dibantu oleh tenaga ahli asing. Mereka yakin sekali. diperkirakan itu akan sulit diimplementasi di lapangan. Tujuan makalah ini adalah untuk menilai kelemahan cara pandangan yang bias tentang kebijakan beras Bank Dunia. serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor pertanian di mana penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya. serta terlalu banyaknya sumberdaya alam. termasuk kebijakan perberasan. Industri padi/beras adalah salah satu diantaranya. hampir setiap hari ada saja demonstrasi ke kantor proyek Bank Dunia. Seharusnya yang diberi peran besar adalah masyarakat sipil. Itu akibat dari peri laku mereka sebagai salah satu lembaga perusak ekonomi. melepas cadangan beras nasional ke swasta. Sebelumnya. Pemda. peran masyarakat dalam proses penyusunan kebijakan publikseperti kebijakan beras.haruslah lebih besar. Lembaga ini telah lama mengeritik dan menintervensi sejumlah kebijakan pembangunan ekonomi. Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi pembangunan. Akhir-akhir ini. dan peneliti dalam merancang kebijakan publik. serta akan selalu dipersoalkan . Perilaku Bank Dunia di Indonesia tampaknya belum berubah. dan bias jangka pendek.Kebijakan perberasan Indonesia telah menjadi perhatian buat sejumlah lembaga internasional. Sebaik apapun saran Bank Dunia. terutama yang dikaitkan dengan kemiskinan. sehingga mereka tidak nyaman bekerja. mendorong agar swasta diperankan sebagai stabilisator harga dalam negeri. agar Indonesia menempuh privatisasi lembaga pangan. bukan melihat kemiskinan manusia yang bersifat struktural dan kronis. tidak boleh didikte oleh peneliti. kelakuan Bank Dunia belum banyak berubah di era desentralisasi dan demokrasi. Dalam makalah ini dibahas tentang kelemahan cara pandang Bank Dunia terhadap kebijakan beras di Indonesia. Itu bukan lagi menjadi domain peneliti. Kelemahan itu mencakup pengukuran kemiskinan yang terlalu sempit. Tampaknya. dan liberalisasi impor. belum belajar dari kekecewaan masyarakat Indonesia atas keambrukan ekonomi. ini akibat dari reputasi mereka masa lalu. Bank Dunia semakin aktif melobi dan menawarkan resep buat pemerintah. perbankan dikuasai oleh perusahaan asing. Bank Dunia semakin sering mengeritik pemerintah tentang kenaikan harga beras. Pendapat Bank Dunia termasuk juga berbagai hasil penelitiannya. kurang dukungan Pemda.berperan besar dalam mendikte kepentingan masyarakat banyak. tentang cara-cara menyusun kebijakan publik di era demokrasi. baik terbuka maupun tertutup. Disamping itu. Di Makasar misalnya. maupun kemiskinan (World Bank 2007). bahwa kemiskinan di negera-negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan pangan. terjerat hutang luar negeri. Lembaga pemerintah seperti Bulog dianggap tidak becus dalam melaksanakan fungsinya. Bank Dunia terpaksa harus menghilangkan atribut Bank Dunia di kantor di mana proyek mereka ada. apabila saran-saran mereka diterapkan pemerintah. DPR/DRPD. seperti Bank Dunia. Kebijakan beras harus mendapat dukungan luas dari masyarakat sipil. Yang benar adalah gerakan sektor riil. Domain Publik bukan Domain Peneliti Bank Dunia seharusnya memahami benar. Namun dalam era demokrasi. pemerintah daerah. apalagi ahli asing. Pada era sentralisasi Orba. DPR. apabila kurang dukungan publik. tidak kredibel di mata masyarakat luas di Indonesia.

Hasilnya adalah defisit produksi (net consumer). Para petani mengelola usahatani padi untuk MH.5 120 HHTOTAL Kg. dan defisit hanya pada MP (musim paceklik). Namun. Mereka melaporkan bahwa konsumsi per kapita sebesar 107 Kg/kap/tahun (Table 1). data SUSENAS BPS memperlihatkan sebaliknya.5 Petani Miskin % RT Tidak Kg. masing-masing seluas 0.6 57./ kapita Hulu 42. Dari total hampir 100 jumlah literatur. sebagian besar petani padi adalah net konsumen. Penulis juga kaget. Padahal. Ini adalah jumlah yang dikonsumsi langsung oleh rumah tangga tani. Tetapi. pesta. Ini keterlaluan. SUSENAS menaksir tahunan berdasarkan hasil penelitian seminggu. Namun mereka mencoba mempengaruhi sejumlah menteri ekonomi yang beraliran neo liberal. Namun.5 106. mereka menghindari diskusi terbuka dengan masyarakat luas (civil society) atau dengan para pakar Indonesia di luar kubu mereka. tetapi diabaikan tanpa dipakai sebagai bahan rujukan. Data SUSENAS haruslah dianalisa dengan hati-hati dalam kaitannya dengan estimasi produksi musiman dan pengeluaran musiman. Pandangan ini adalah keliru. Wilayah Petani % RT Miskin Kg. Itu buruk buat penduduk miskin. Bank Dunia langsung menyampaikan gagasannya ke tingkat pengambilan keputusan tentang kebijakan beras ke Kantor Menko Perekonomian atau ke sejumlah menteri lain yang sealiran dengan Bank Dunia. kemudian dikalikan menjadi tahunan. belum termasuk konsumsi tidak langsung seperti makan di warung. Bank Dunia juga rajin menyampaikan gagasan perubahan kebijakan beras pada berbagai forum sejak akhir 2006./ Kapita 114. MK1 (musim kemarau pertama) dan MK2. Kebijakan beras yang mereka susun itu (Bank Dunia 2007) melulu mengacu ke literatur asing. Net Konsumen? Data Susenas vs data Tingkat Usahatani Bank Dunia mengatakan bahwa telah terjadi kenaikan jumlah orang miskin yang cukup serius sejak harga beras naik. karena sebagian besar petani adalah net konsumen. tempat kerja dll. hanya 3-4 literatur yang ditulis oleh orang Indonesia asli./ Kapita 120. 0. Per kapita konsumsi beras oleh petani miskin dan petani tidak miskin di DAS Brantas.6 . hasil studi intensif yang dilakukan oleh Sumaryanto dkk (2002) di DAS Brantas dilaporkan sebaliknya. Luas ini adalah umum dijumpai pada usahatani pangan. baik dengan cara mengundang sejumlah ahli Indonesia ke markas mereka di Jakarta. Data itulah yang dipakai Bank Dunia untuk mempertahankan argumentasinya. banyak studi tentang padi/beras yang telah dilakukan oleh para ahli bangsa Indonesia. Ini menunjukan juga bagaimana miskinnya Bank Dunia dalam memahami pikiran para ahli Indonesia. Pola panen padi adalah musiman. dan 0.23 Ha per petani. khususnya padi di Indonesia. Atau mengadakan seminar di luarnya. seolah-olah terjadi sepanjang tahun.oleh DPR/DPRD. Jawa Timur: 1999/2000. seperti di lembaga PBB (CAPSA) di Bogor.35 Ha. Table 1. mereka surplus pada MPR (musim panen raya) dan MPG (musim panen gadu).33 Ha. ada power point tentang kebijakan beras Bank Dunia disiapkan untuk SBY.

menyerap tenaga kerja yang begitu besar. atau hanya net konsumen di musim paceklik (MK2). khususnya pembangunan perdesaan. hanya sekedar untuk mencapai kepentingan jangka pendek. Insentif harga dan non-harga akan saling memperkuat. Oleh karena itu. tidak dianalisa secara parsial. Keputusan konsumsi dan pengeluaran bergantung pada asumsi itu.3 102.7 107.6 107. stabilitas ekonomi. amat jangka pendek dan ad hoc sifatnya.9 51.2 47. manakala industri beras/padi redup. Konsumen seharusnya perlu membayar harga beras lebih tinggi dari tingkat harga pasar. asumsi net konsumen untuk petani padi adalah tidak didukung oleh data empiris.0 43. sebagai salah satu insentif buat pelaku usaha.7 109. terutama di perdesaan. namun negatif pada MK2.1 48.Tengah Hilir Total 53. kemiskinan jangka panjang dapat dikurangi secara berkelanjutan. tidak mampu menutupi ongkos produksi. Oleh karena itu. sehingga luas usahatani merosot (Sumaryanto dkk 2002). namun itu bukanlah satu-satunya insentif buat mereka. Oleh karena itu.9 103. Kalau suatu industri yang erat kaitannya ke depan dan kebelakang. laporan Bank Dunia (2007) itu juga terlalu sempit dalam melihat industri beras yaitu hanya sebagai industri penghasil padi/beras untuk tujuan komersial belaka. Peningkatan produktivitas dan efisiensi.2 105.3 Note: RT=Rumah tangga Sumber: Sumaryanto dkk (2002) Rataan produksi padi sekitar 462 Kg/kapita/tahun. distribusi pendapatan. bukan saling menggantikan. penyerapan tenaga kerja. Kita jangan mengorbankan kepentingan jangka panjang. khususnya beras yang menghasilkan non-food services. jangan bias ke jangka pendek. Kembali ke harga. tidak dengan sendirinya akan tergantikan oleh komoditas lain. itu terkait dengan non-price incentive. pengangguran tinggi. merupakan insentif lain yang tidak boleh dibaikan. Kita tidak boleh menghambat suatu industri yang punya keunggulan komperatif. 1) Marketable surplus adalah produksi dikurangi konsumsi rumah tangga yang sedang dipelajari Terabaikan Peran Non-Food Services Seterusnya.0 56. sekiranya non-food services itu diperhitungkan. Marketable surplus di musim hujan lebih tinggi dari MK1. Seperti yang telah dibahas sebelumnya. Terungkap adanya marketablesurplus 1) sekitar 354 Kg/kap/tahun. Pada MK2. tidaklah tepat untuk mengasumsikan bahwa semua petani sempit sebagai net konsumen sepanjang tahun. Keredupan ini.5 200 160 480 105. Yang benar adalah mereka net produsen pada dua musim pertama. bahwa padi/beras adalah industri kunci dalam pembangunan. seperti hortikultura. insentif non-harga tidak ampuh manakala harga gabah/beras terlalu rendah. Itu hanya cara hitung menghitung.1 107. Oleh karena itu. Harga beras yang berlaku di pasar belum memperhitungkan non-food services yang ia berikan ke publik (Dillon dkk 1999). industri padi/beras harus dilihat dengan hati-hati dan bijaksana. Mereka tidak menilai peran pangan. dipaksakan untuk keluar . Tingkat kemiskinan yang dikaitkan dengan harga beras. Itu menyangkut stabilitas politik. maka industri itu harus dianalisa keterkaitannya yang luas. merupakan cara pandang sempit. Adalah hampir tidak mungkin.2 101. banyak petani tidak tanam padi karena kekurangan air.

Pada situasi pengangguran tinggi dan penggangguran tidak kentara di desa amat menonjol. serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor pertanian di mana penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya. Yang terjadi adalah peningkatan kemiskinan dan pegangguran di perdesaan Mexiko. mendorong aktivitas padat kerja adalah solusi yang tepat untuk atasi . akan berisiko tinggi dan instabilitas harga yang besar. Penyakit utama adalah lapangan kerja yang terbatas. itu akan menambah kemiskinan dan akan mendorong bertambahnya urbanisasi. tidak sebaliknya. Namun petani Mexiko tidak beralih ke tananam kentang. seperti kekumuhan. Harga Beras dan Kemiskinan: Keganjilan Analisa Kelemahan lain kaitan harga beras dengan kemiskinan yang dibuat Bank Dunia. sama saja memberi obat penghilang rasa rasa sakit sementara (pin killer). kriminalitas dan keresahan sosial yang terus bertambah. Ia juga mengatakan bahwa adalah keliru kalau memfokuskan pengentasan kemiskinan dari sisi pengeluaran dan harga. Pengembangan hortikultura misalnya. mereka pindah ke kota. produktivitas rendah. dan petani jagung dialihkan ke kentang. mengabaikan peningkatan pendapatan serta lapangan kerja di perdesaan. Itu buah dari urbanisasi yang berlebih. Apabila mereka beralih ke sektor lain dalam kondisi infrastruktur itu belum diperkuat. karena pemerintah belum menyiapkan infrastruktur yang layak untuk itu. Ia juga menyebutkan bahwa hasil penelitiannya dan penelitian lain seperti yang dilakukan UNIDO dan UNSFIR. Namun. ciptakan lapangan kerja. Demikian juga. Mengotak atik harga pangan agar dibuat murah. apalagi kemiskinan. Itu mengingatkan pengalaman Mexiko dalam meliberalisasi komoditas jagung sebagai makanan utama mereka. Penanganan kentang berbeda dengan jagung. insentif untuk bekerja di sektor pertanian merosot. Rendahnya pengeluaran keluarga miskin akibat dari ketidakmampuan mereka untuk memperoleh pendapatan yang layak. Peningkatan pendapatan dari pekerjaan yang mereka tekuni. bahwa kemiskinan di negera-negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan pangan. terutama dalam penyimpanan. Itu tidak akan mampu mengurangi jumlah orang miskin secara berkelanjutan. Ia mengatakan bahwa Bank Dunia keliru dalam menyimpulkan hubungan itu. Itu konsep pengentasan kemiskinan yang keliru.dari industri itu. pada saat harga beras turun murah yaitu terjadi pada periode import surge yang tinggi periode 1998. Yang benar adalah gerakan sektor riil. Beras memang besar kontribusinya dalam inflasi. tetapi tidak menyembuhkan penyakit itu sendiri. 23%. Perdagangan tentu tidak dapat menyelesaikan semua itu. ternyata jumlah orang miskin tetap tidak berkurang secara signifikan. maka akan menggiring petani sempit untuk menanggung risiko yang tinggi. padahal industri lain belum kuat terbangun. telah dibahas dengan baik oleh Sugema (2006). Itu amat tidak realistis. menemukan bahwa angka kemiskinan BPS amat sensitif dari pengaruh inflasi. Penyebab inflasi tidak sama dengan komponen inflasi. Pada saat kita mengabaikan sektor kunci seperti sub-sektor padi/beras. karena infrastruktur pemasaran dan distribusi yang masih amat lemah. dan 2003. Insentif harga adalah salah satu yang tidak boleh diabaikan untuk itu. harga beras dianggap sebagai faktor penyebabnya. yang belum tentu penyebab inflasi itu sendiri. Perkotaan akan menerima beban dan akibatnya. Bukan membuat harga pangan atau beras murah sehingga menjadi tidak wajar buat petani. Harga beras adalah komponen inflasi. meningkatkan produktivitas kerja. Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi. 2002. Industri padi/beras adalah salah satu diantaranya. Namun peran non-beras jauh lebih tinggi mencapai 77%. maka risikonya menjadi besar. Sebagian juga bermigrasi ke AS (IATP 2007a dan Albert 2004). pada saat harga beras naik.

jenis berasnya berbeda. UNDP telah membuat indek tentang itu. Pada 2001 dan 2003. Sehingga Indonesia amat terkebelakang di antara negara ASEAN dalam menyediakan dana untuk kesehatan yang terkait dengan harapan hidup. Kemiskinan sebagai kehilangan/ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti kesehatan. perumahan.kemiskinan (Sugema 2006). bukan kemiskinan pengeluaran. Juga penting untuk disikapi secara kritis adalah cara pengukuran tingkat kemiskinan itu sendiri. yang disebut Human Development Index. Sen mengatakan bahwa poverty as capability deprivation. Setelah Indonesia menerapkan batasan impor beras sejak 2004. Itu hanya mungkin dipecahkan oleh pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Bappenas dan UNDP. menghitung kemiskinan manusia di Indonesia sebesar 25%. tentunya juga ke Indonesia. Impor beras dari AS meningkat di era liberalisasi dan era tarif. dilaporkan tentang Ekonomi dari Demokrasi: Membiayai Pembangunan Manusia. kalau konsep kemiskinan manusia yang dipakai. Sayang. Oleh karena itu. adalah tahun-tahun tertinggi impor beras dari AS yaitu mencapai masing-masing 178 ribu dan 108 ribu ton. pertumbuhan yang pro-poor. Tingkat kemiskinan itu tidak sensitif terhadap harga maupun inflasi. Dimensi kemiskinan Sen terfokus pada non-income poverty. sehingga menghasilkan jenis beras baru dengan harga yang lebih murah. hanya 2 ribu ton pada 2005 (Tabel 2). Kalaupun diekspor ke Asia. meningkat menjadi 75 ribu ton pada 1999. Pada 2004 misalnya. data memperlihatkan bahwa impor beras Indonesia dari AS cukup tinggi diantara negara maju yang mengekspor beras ke Indonesia. kematian bayi. Ini seharusnya menjadi acuan kita. terbesar selama 10 tahun terakhir. Namun. Atas dasar inilah kemudian UNDP merancang kemiskinan manusia. sehingga harga pasar jenis itu tidak terkait sama sekali (almost completely disconnected) dengan beras lokal. AS berperan penting dalam impor beras ke Indonesia. diterbitkan oleh BPS. Pengukuran kemiskinan sebelum krisis terlalu banyak bersandar pada kemiskinan pendapatan berdasarkan indikator konsumsi. bukan kemiskinan pendapatan. Capability poverty terkait dengan kemiskinan struktural dan kronis. konsep kemiskinan manusia kurang dipakai sebagai acuan dalam penyusunan program pembangunan daerah maupun nasional. Ekspor beras AS banyak ditujukan ke Amerika Latin. Dengan konsep ini Dhanani dan Islam (2000) misalnya. sehingga berkurang pula kemampuannya untuk menyerap pengadaan beras/gabah dalam negeri. Hampir separoh impor beras ke Indonesia yang datang dari negara maju berasal dari AS. akses terhadap air minum yang bersih. Belum banyak memberikan perhatian pada konsep Sen (2000) tentang kemiskinan non-pendapatan. dipakai oleh para pedagang untuk dicampur (oplos) dengan beras lokal. Beras dari AS yang murah harganya. maka harga beras atau pangan tidaklah sensitif sebagai penyebab kemiskinan. Pada 1996. Tabel l 2. pendidikan dan pangan. Impor Beras dari AS tidak Penting? Bank Dunia (2007) juga mengatakan bahwa ekspor beras AS berpengaruh kecil ke Asia. serta adanya intervensi pemerintah yang terarah ke orang miskin. bandingkan dengan kemiskinan pendapatan BPS hanya 11% pada 1996. juga dana untuk pendidikan. Atau itu telah memperbesar stok Bulog. Impor Beras Indonesia dari Negara Maju dan AS: 1996-2005 (MT) . hanya 9 ribu ton. Laporan tentang kemiskinan manusia telah dilakukan di Indonesia dengan bantuan UNDP sejak beberapa tahun terakhir. Ini untuk membuktikan bahwa Indonesia tidak perlu kuatir dengan beras yang penuh subsidi berasal dari AS tidak akan berpengaruh besar ke pasar beras dalam negeri. impor beras dari AS menurun drastis.

522 33. itu banyak kaitannya dengan kepentingan korporasi raksasa.352 39. mereka akan ke departemen lain.608 200416.611 52 101. Apabila telah disetujui. seperti Departemen Keuangan. seperti petani jagung Meksiko. Namun.975 1. subsidi terbesar ditujukan ke 5 komoditas utama yaitu beras. Korporasi AS itu merambah dunia.352 17. AS melalui Farm Bill 2002 misalnya memberikan subsidi terhadap 20 komoditas petanian.331 Persen (%) 48 54.011 12.681 96.942 100 Sumber: Data dasar berasal dari data impor beras bulanan BPS Impor itu dalam bentuk food aid melalui WFP.327 9.828 460. selanjutnya yang memutuskan kedatangan beras itu adalah AS.889 200213. AS tentu mampu menjual beras dengan harga murah ke Asia. Umumnya didatangkan pada musim panen raya. Bappenas. Apabila tidak berhasil meyakinkan Bulog misalnya. program PL480 dengan kredit lunak dan jangka panjang.551 132. Mosanto (61 negara).Tahun 19969. kapas. Tyson Foods (80 negara) dan Archer Danniels Midland yang beroperasi di Amerika Latin. Itu telah berpengaruh negatif terhadap tingkat harga beras/gabah di dalam negeri.409 2001177. AS ―memaksa‖ agar Indonesia mau menerima program PL480.956 200049. Ini sering dikeluhkan oleh berbagai penjabat di berbagai depertemen.094 11. Inilah yang menyebabkan mengapa sejumlah negara berkembang sulit bersaing dan terpuruk. Kredit lunak dan jangka panjang sesungguhnya juga merugikan pemerintah Indonesia.411 46. jagung and kedelai (IATP 2007b).081 Total Negara Maju 16. . petani kapas di Afrika ( Husein Sawit.980 12.393 2003107.756 385.158 25. karena Indonesia harus membayar harga beras yang jauh lebih mahal dari harga beras di luar program. atau ke penjabat tertinggi seperti Presiden atau Wakil Presiden. 2007).266 199822. AS mensubsidi sejumlah komoditas pangan.384 179.231 7. gandum. Pemerintah tidak berdaya untuk itu.767 20052. seperti Cargill (beroperasi di 63 negara).725 46.072 199974.184 Rataan: Jumlah (MT) 47.031 19970 USA Negara Maju Lain 6.839 24.

Dalam tataran perundingan multilateral misalnya. ― A Fair Farm Bill for America‖. Ekonomi dari Demokrasi: Membiayai Pembangunan Manusia Indonesia. ―Poverty. Hasil penelitian IATP (2007b) menyebutkan bahwa AS melalui lembaga WTO dan Bank Dunia memaksa negara berkembang untuk menurunkan tariff dan membuka pasar. padahal kita berada di negara yang kaya. tetapi itu sekedar melaksanakan pesan sponsor. I (2006). 23 November 2006 Sumaryanto. Kita telah terperangkap dengan hutang luar negeri dan SDA milik bangsa ini yang dikapling dan dikuasai bangsa asing. Itu yang mereka ingin rebut. Liberalisasi Pangan: Aksi dan Reaksi dalam Putaran Doha WTO.Negara Pasifik. masyarakat kita. permintaan berbagai jenis pangan yang terus meningkat seiring dengan kemajuan ekonomi. Penutup Pandangan Bank Dunia harus disikapi secara kritis. 11 (2) BPS. Kita semakin sulit keluar dari kemiskinan dan kepapaan. ― The US Farm Bill and Cotton Cultivation: Is the WTO undermining Rural Development?‖. Bappenas. Indonesia (akan terbit) IATP (2007a). UNDP: Jakarta Dillon. Afrika. UNSFIR. J (2004).H. H (2004). sehingga memuluskan MNCs milik AS untuk melakukan kegiatan bisnis pangan secara global. A. ―A Fair Farm Bill for the World‖. M. mereka juga jarang memihak negera berkembang. S dan I. Report for Internal Review Only for Bulog (November 1999) Dhanani.‖Rice Policy: A Framework for the Next Millennium‖. Working Paper: 00/01. HS. Islam (2000). Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP): Minnesota Perkins. P. Confessions of an Economic Hit Man. seperti Bank Dunia dan IMF. Siregar and Wahida M(2002). Research report as a part of the study . (2000). Sawit. Oxford University Press: New Delhi Sugema. Agriculture and Rural Development. Development as Freedom. Kanada. Yang merasakan akibat dari implementasi saran mereka yang bias itu adalah bangsa kita. Inequality and Social Protection: lessons from the Indonesian crisis‖. a series of papers on the 2007 US Farm Bill. a series of papers on the 2007 US Farm Bill.R. dan Beras‖. UNDP (2004). mereka jelas memihak negara kaya dan korporasi internasional (MNCs). Tabor (1999). (2007). Disana banyak penduduk yang memerlukan pangan. Mereka datang kemari silih berganti ahlinya. Lembaga Penerbit FE Univ. India dan Indonesia. ―Inflasi. Kompas. Penguin Books Ltd: London Sen. Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP): Minnesota IATP (2007b). petani kita. “Socio Economic Analysis of Farm Household in Irrigated Area of Brantas River Basin‖. Daftar Bacaan Albert. M. seperti China. AS tentu ngiler melihat potensi pasar di sejumlah negara Asia. Eropa. Sayang para pengambilan keputusan. Itulah yang harus disikapi dangan bijaksana dan hati-hati. M. banyak diantara para birokrat kurang memahami politik kurang terpuji di belakang lembaga keuangan internasional. UNDP Husein Sawit.Simatupang dan S. Kemiskinan.

Meskipun Pemda Kabupaten Kutai Barat sudah menunjuk Bank BPD Melak menyalurkan dana UMKM kepada usaha-usaha kecil ―ekonomi rakyat‖ sebesar Rp 7. baik di wilayah Ulu Riam di Mahakam Ulu. lebih-lebih kepada usaha-usaha kecil ekonomi rakyat. 8 juta sudah dijanjikan pada seorang teman yang sanggup membuatkan sepeda motor khusus agar ia dapat menggunakannya untuk berbelanja ke Melak sebulan sekali.2 milyar (2001) menjadi Rp. . 256. Ia “marah” ketika permi ntaan pinjaman Rp.4 milyar (2003). tidak ada tanda-tanda perbankan ―bersemangat‖ menyalurkan kredit kepada pengusaha-pengusaha di Melak. Bahkan mereka yang percaya perbankan merupakan ― agent of development‖ yang berperan kunci dalam memberdayakan ekonomi rakyat bisa ―kecele‖ menyaksikan kenya taan pahit sulitnya bank bermitra akrab dengan pelaku-pelaku ekonomi rakyat yang miskin.8% (2003) dan sampai dengan September 2004 adalah 32. draft March 2007 Oleh: Dr. Rupanya meminjamkan kredit kepada seorang miskin seperti Yulius Seran belum cukup meyakinkan pejabat bank ―seb agai jalan melancarkan jalan baginya masuk surga‖. tokh Bank BPD tidak tergerak meluluskan sisa kredit yang dimintanya.2% (2001).0% pertahun. Husein Sawit Mubyarto MENGAPA BANK SULIT MEMBERDAYAKAN EKONOMI RAKYAT? Pendahuluan Memberdayakan ekonomi rakyat di daerah terpencil Kutai Barat ternyata merupakan perjuangan berat bagi siapapun.8% (2002).Irrigation Investment. dan 13. 15 juta hanya diberi Rp. ―Issues in Indonesian Rice Policy‖. Rupanya kalau tidak ada kredit ―UMKM‖ yang disalurkan dari dana APBD Pemda kabupaten. Bank adalah Mitra Orang Kaya Sejak 3 tahun terakhir (2001-2003) jumlah dana masyarakat yang disimpan di 2 bank di Melak (BRI dan BPD) meningkat rata-rata 12. di kampungkampung pegunungan. Meskipun belakangan diketahui Yulius Seran seorang yang jujur dan patuh mengangsur kreditnya setiap bulan. 214.0 milyar (2002) dan Rp. collaboration of IFPRI-CASERD-KimpraswilJasa Tirta. Yang menarik persentase kenaikan dana pihak ke-3 yang disimpan di bank-bank ini sama sekali tidak diikuti kenaikan yang sepadan dalam jumlah kredit yang diberikan kepada pengusaha-pengusaha di Melak. maupun di dataran rendah sepanjang Sungai Mahakam. Ir. yaitu dari Rp. 10. Fiscal Policy. Yulius Seran (37 th) adalah seorang penyandang cacat yang setiap hari menunggu dagangan “rupa-rupa” di pinggir jalan dekat Linggang Bigung. tokh penerima dana -dana DPM (Dinas Pemberdayaan masyarakat) ini masih belum merasakan adanya perhatian dan perlakuan khusus terhadap mereka sebagai pihak-pihak yang berhak menerima perlakuan ―istimewa‖ karena kemiskinannya. 7 juta padahal yang Rp.1%. LDR (Loan Deposit Ratio) meskipun cenderung naik tetapi hanya sebesar berturut-turut 2.5 milyar dari dana APBD. M. and Water Resource Allocation in Indonesia and Vietnam . 272. World Bank (2007).

yaitu mereka yang memiliki modal. Maka ada lembaga penjaminan kredit. Proses tolong-menolong antar pemilik modal dan ekonomi rakyat yang membutuhkan modal ini dalam era otonomi daerah seharusnya berkembang dengan baik dan bergairah. kecuali jika kita berani mengubah sistem ekonomi kita dari sistem ekonomi kapitalis menjadi sistem ekonomi Pancasila. Dalam sistem ekonomi kapitalis. Ternyata kunci penyebabnya terletak pada diberlakukannya sistem ekonomi kapitalis yang telah dipilih oleh pemerintah pusat. dan sama sekali bukan agent of development. Dalam sistem ekonomi Pancasila . dan justru tidak diputarkan atau ditanamkan dalam usaha-usaha setempat. Inilah faktor penyebab rendahnya nilai LDR (Loan Deposit Ratio) di setiap daerah. tetapi di pihak lain orang-orang kaya menyimpan uang mereka di bank dalam bentuk deposito dengan menerima bunga ―menarik‖. Kesimpulan Kasus ―kecil‖ perilaku perbankan di Kabupaten Kutai Barat dengan kemiskinan 42% tahun 2003-2004 menarik dijadikan contoh betapa besar hambatan yang dihadapi dalam program-program pemberantasan kemiskinan. Sebenarnya segera dapat dikenali satu kontradiksi. Para pelepas uang dan deposan menikmati pendapatan bunga tinggi. Mengapa tidak ada Konsultan Keuangan Mitra Ekonomi Rakyat (KKMER) meskipun jelas ekonomi rakyat inilah yang paling membutuhkan jasa konsultan. Jika ekonomi rakyat dapat diberdayakan melalui kredit lunak sehingga kesejahteraannya meningkat. Fenomena kontradiktif ini sampai kapan pun tetap tidak akan berubah. Jelas kiranya dari analisis ini bahwa perbankan di Indonesia tidak lain daripada lembaga pencari/pengejar untung. Tetapi mengapa hal ini tidak terjadi? Dari analisis tersebut bisa dibuktikan bahwa alasan pokoknya adalah karena sistem ekonomi kapitalis-liberal/neoliberal sudah dijadikan pegangan pokok pemerintah pusat/ daerah yang diterapkan di manamana di seluruh Indonesia.5% pertahun yang tentu saja menjadi alasan sangat kuat bagi setiap bank untuk mengirimkan dana-dana pihak ke-3 yang dihimpun di bank-bank di daerah-daerah di seluruh Indonesia untuk dikirim ke Jakarta. bahkan termasuk tambahan hadiah-hadiah menarik seperti mobil dan rumah-rumah mewah. Bunga SBI ini pernah mencapai 17. maka amat sulit menjadikan bank sebagai penggerak kegiatan ekonomi rakyat. Bank-bank yang lebih banyak mengirim dana-dana dari daerah-daerah ke kantor pusat selalu mudah menerangkan perilaku keliru ini karena ―kesulitan menemukenali‖ proyek -proyek ekonomi dan bisnis yang bankable yang dapat didanai. bukan justru bank yang sebenarnya tidak memerlukan konsultan keuangan itu. mengapa modal yang terhimpun di bank dari orang-orang kaya setempat malah dikirim keluar daerah. agar dapat membayar jasa bunga deposito yang menarik kepada deposan. Di satu pihak usaha-usaha kecil lari ke ―rentenir‖ dengan membayar bunga tinggi. yang dibiayai oleh sebagian bunga kredit yang dibayar penerima kredit (debitor). tokh dana-dana perbankan yang terhimpun di daerah-daerah seperti itu justru dikirim ke kantor pusat bank yang bersangkutan. Akibatnya bank juga tidak mungkin berperan sebagai lembaga yang mendukung upaya-upaya besar pemberantasan kemiskinan. Bank Indonesia sudah sejak lama mengeluarkan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) yang menjanjikan bunga menarik kepada dunia perbankan untuk menyimpan dana-dana yang dihimpunnya dari daerah-daerah di seluruh Indonesia. Penetapan tingkat bunga yang menarik selalu dijadikan alasan mudah bagi dunia perbankan untuk tidak menyalurkan dananya sebagai kredit kepada dunia usaha. Dalam sistem ekonomi kapitalis segala upaya dilakukan untuk melindungi kepentingan para pemodal/pemilik uang. Jika suatu daerah miskin sebagian warga masyarakatnya sudah berhasil ―menjadi kaya‖ sehingga mampu menyimpan dana-dana yang dikumpulkannya di bank setempat. para pemilik modal (kapitalis) merupakan pihak yang paling dipuja dan dihormati. Kalau perangsang dan perlindungan kepada para pemilik modal dalam sistem ekonomi kapitalis ini belum dianggap cukup. sehingga ketika banyak daerah-daerah miskin/tertinggal berteriak mengharapkan kredit yang murah dan mudah. dan sebaliknya orang miskin harus membayar bunga tinggi kepada orang-orang kaya. padahal yang benar bank-bank ini memang merasa lebih aman menggunakan dana-dana yang dihimpun dengan dibelikan SBI. Dari sinilah berkembang kepercayaan perlunya penciptaan iklim merangsang agar para pemodal (investor) asing bersedia datang ke Indonesia atau ke daerah-daerah tertentu untuk menanamkan modalnya.Memang ironis. kiranya masuk akal bagi perbankan untuk memanfaatkan dana-dana tersebut bagi pemberdayaan ekonomi rakyat dan yang pada gilirannya mampu memberantas kemiskinan. dan dalam kaitan penyaluran kredit UMKM ada lembaga KKMB (Konsultan Keuangan Mitra Bank). mengapa Pemda tidak terdorong untuk mengambil langka-langkah demikian dalam GSM (Gerakan Sendawar Makmur) dengan menyalurkan kredit mikro sebanyak mungkin kepada usaha-usaha ekonomi rakyat yang membutuhkannya. Jika bank-bank kita lebih banyak merupakan perusahaan yang menomorsatukan pendapatan bunga. Jika suatu daerah berusaha menarik investor. yang dengan memberikan jaminan rasa aman pada para pemilik modal ini. yang kepentingannya paling dilindungi.

. dan memang ada pembeli terhadap barang/jasa yang ditawarkannya.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. Jadi dalam hal ini lingkungan yang rusak harus diselamatkan melalui upaya-upaya ―pencegahan‖ munculnya PKL. Jika hutan kita menjadi gundul atau terbakar. 3. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. Maka untuk menjamin terjadinya pembangunan yang berkelanjutan kita harus menghentikan keserakahan orang-orang kaya. sehingga lingkungan hidup kita rusak.. yang semuanya ―demi keuntungan‖. Ia menggunakan modal sendiri dengan resiko usaha ditanggung sendiri. tidak ada subsidi apapun dar pemerintah. PKL bukan . Siapa yang paling bersalah dalam proses perusakan lingkungan ini? Yang jelas tidak adil adalah kalau yang disalahkan hanya orang-orang miskin saja. Perkembangan pedagang kaki lima (PKL) yang tumbuh menjamur dimana-mana. Dr.kebijakan perbankan tidak diarahkan untuk melindungi para pemilik modal secara berlebihan tetapi harus diubah menjadi upaya total pemberdayaan ekonomi rakyat dengan ukuran hasil akhir makin terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. bukan karena orang-orang miskin banyak yang merusak hutan. Adalah sangat keliru ilmu ekonomi justru memuja ―keserakahan‖. Ekonomi Rakyat dan Reformasi Kebijakan . Mubyarto -. tetapi karena mereka melakukannya dengan terpaksa. Penduduk miskin tidak memperhatikan lingkungan hidup sekitarnya bukanlah karena mereka tidak peduli. Akumulasi keuntungan dan kekayaan yang tidak mengenal batas harus dianggap sebagai penyebab utama kerusakan/pengrusakan hutan. sedangkan orang-orang kaya adalah ―pahlawan pembangunan‖.‖ atau ―penduduk miskin hanya menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup. siapa biang keladinya? Penduduk miskin di hutan-hutan dan sekitar hutan menebang hutan negara untuk memperoleh penghasilan untuk makan. tetapi ―mutlak‖ harus dipenuhi untuk hidup. Tetapi kayu-kayu yang diperolehnya ditampung calo-calo untuk dijual. Apabila dikatakan penduduk miskin terbiasa . kiranya pernyataan ini juga tidak adil.. disebabkan para pemodal yang haus keuntungan. 2.Oktober 2004] Mubyarto SIAPA LEBIH MERUSAK LINGKUNGAN: ORANG MISKIN ATAU ORANG KAYA? The greatest threat to the equilibrium of the environment comes from the way the economy is organized. Oleh: Prof. ― membuang kotoran manusia secara sembarangan yang akan berakibat pada terjangkitnya diare . 1995: 4) 1. juga tidak mungkin ditimpakan kesalahannya pada PKL karena pekerjaan itulah satu-satunya ―mata pencaharian‖ yang dapat dilakukan dalam kondisi kepepet. Pemenuhan kebutuhan pokok penduduk miskin bukan masalah ―hanya‖. dan kemudian dijual lagi untuk ekspor. dan mereka cenderung mengabaikan pemeliharaan lingkungan sekitar”.. ever increasing growth and accumulation (Ravaioli. yang dianggap merusak lingkungan karena mengotori jalan dan mengganggu ketertiban.. Agar adil kita harus mengakui bahwa kerusakan lingkungan khususnya hutan. bukan dengan ―menggusurnya‖ setelah berkembang. ―memesan‖ kayu dalam jumlah besar sebagai bahan baku industri yang memang permintaannya sangat besar pula. 4..

Sistem ekonomi dapat dikembangkan dan yang jelas dilaksanakan. Akan lebih baik dan lebih adil jika para peneliti memberi perhatian lebih besar pada sistem ekonomi yang bersifat ―serakah‖ dalam eksploitasi SDA. bebas. yaitu sistem ekonomi kapitalis liberal yang berkembang di Barat. sosial. 5. karena yang diberdayakan adalah orangnya. menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Maka mereka dengan bersemangat menyatakan akan menyusun dan melaksanakan program pemberdayaan ekonomi kerakyatan padahal ekonomi kerakyatan sebagaimana tercantum jelas dalam Propenas (UU No. Keseimbangan yang harmonis. (2) (3) (4) (5) Ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial yaitu tidak membiarkan terjadinya dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas. Sistem ekonomi yang tepat bagi Indonesia adalah sistem ekonomi pasar yang populis dan mengacu pada ideologi Pancasila dengan lima cirinya sebagai berikut: (1) Roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi. Dr. Mubyarto -. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. pendekatan terhadap masalah ―pengurangan kemiskinan dan pengelolaan lingkungan‖ atau sebaliknya terhadap ―pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan strategi penanggulangan kemiskinan‖ selama ini kiranya salah dan tidak adil. dengan segala maaf saya harus menyatakan sangat prihatin. Mubyarto Pendahuluan Menyimak secara serius pernyataan-pernyataan para Capres/Cawapres di media elektronik tentang programprogram ekonomi yang dijanjikan kepada rakyat untuk dilaksanakan. koperasi dan usaha-usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat. dan mandiri.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. dan yang sangat sering diucapkan bagaimana memberdayakannya. Tentang Ekonomi Rakyat Bung Hatta dalam Daulat Rakyat (1931) menulis artikel berjudul Ekonomi Rakyat dalam Bahaya. dan merajalela sejak jaman penjajahan sampai era globalisasi masa kini. dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat. dan bertanggung jawab. maka sulit diharapkan dapat dirumuskannya program-program kongkrit bagaimana mengembangkannya. Demokrasi Ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan. Pada umumnya para Capres/Cawapres belum memahami benar apa itu ekonomi rakyat. 6 Oktober 2004 Oleh: Prof. tidak diberdayakan. 25/2000) adalah sistem ekonomi. dan moral. Semangat nasionalisme ekonomi. tangguh. dan adil. efisien. sedangkan Bung Karno 3 tahun sebelumnya (Agustus 1930) dalam pembelaan di Landraad Bandung menulis nasib ekonomi rakyat sebagai berikut: . yaitu ekonomi rakyat. Yang lebih sering kita dengar justru bukan konsep tentang ekonomi rakyat. Kesimpulan kita. tetapi ekonomi kerakyatan.―masalah‖ tetapi ‖pemecahan‖ masalah kemiskinan. jika mereka terpilih. dan karena belum jelas pemahaman mereka mengenai ekonomi rakyat. yang menurut mereka harus diberdayakan juga. pelakunya. karena melihat kemiskinan sebagai fakta tanpa mempelajari sumber-sumber dan sebab-sebab kemiskinan itu.

Sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Cara lain yang juga sudah sering kami anjurkan adalah pemberdayaan melalui pemihakan pemerintah. Untuk menjawab pertanyaan inilah kutipan pernyataan Bung Karno di atas sangat membantu. maka harus kita teliti secara mendalam mengapa tidak berdaya. Bagaimana memberdayakan ekonomi rakyat Jika kini telah diyakini bahwa yang harus diberdayakan adalah ekonomi rakyat bukan ekonomi kerakyatan. . Dari keuntungan besar yang diperolehnya kemudian konglomerat memberikan ―bagi hasil‖ kepada pemerintah atau lebih buruk lagi kepada ―oknum -oknum pejabat pemerintah‖. sama sekali didesak dan dipadamkan (Soekarno. yang artinya tidak lain adalah demokrasi ala Indonesia. atau faktor-faktor apa saja yang menyebabkan ketidakberdayaan pelaku-pelaku ekonomi rakyat itu.Ekonomi Rakyat oleh sistem monopoli disempitkan. dan padam. Jadi ekonomi kerakyatan adalah (sistem) ekonomi yang demokratis. Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi. Jika pemerintah bertekad memberdayakan petani padi atau petani tebu misalnya. dan dipadamkan oleh pemerintah penjajah melalui sistem monopoli. kemakmuran bagi semua orang! Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Misalnya tataniaga jeruk Kalbar atau tataniaga cengkeh Sulut. keberpihakan pemerintah jelas harus berupa pembelian langsung gabah ―dengan dana tak terbatas‖ sampai harga gabah terangkat naik melebihi harga dasar yang telah ditetapkan pemerintah. Itulah yang pernah kami katakan bahwa ―di Indonesia pernghapusan monopoli tidak memerlukan UU Anti Monopoli seperti di AS tetapi jauh lebih mudah dan lebih sederhana yaitu dengan menerbitkan sebuah SK (Surat Keputusan) dari Presiden atau Menteri Perindustrian dan Perdagangan untuk mencabut monopoli yang sebelumnya memang telah diberikan pemerintah‖. Pengertian demokrasi ekonomi atau (sistem) ekonomi yang demokratis termuat lengkap dalam penjelasan pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi: Produksi dikerjakan oleh semua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. Padahal yang dimaksudkan jelas sistem monopoli yang pemegang monopolinya ditunjuk pemerintah yaitu BPPC untuk cengkeh dan Puskud untuk Jeruk Kalbar. Kalau tidak. yaitu ekonomi rakyat menjadi kerdil. yang pernah ―disembunyikan‖ dengan nama sistem tata niaga. Inilah salah satu bentuk korupsi melalui koneksi dan nepotisme yang kemudian disebut dengan nama KKN. tampuk produksi jatuh ke tangan orang-orang yang berkuasa dan rakyat yang banyak ditindasinya. Khusus dalam kasus petani padi. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan bukan kemakmuran orang-seorang. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. atau diciptakan pemerintah dan diberikan kepada segelintir perusahaan-perusahaan konglomerat. Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh ada di tangan orangseorang. 1930: 31) Jika kita mengacu pada Pancasila dasar negara atau pada ketentuan pasal 33 UUD 1945. Memang sangat disayangkan bahwa penjelasan tentang demokrasi ekonomi ini sekarang sudah tidak ada lagi karena seluruh penjelasan UUD 1945 diputuskan MPR untuk dihilangkan dengan alasan naif. Cara yang paling mudah memberdayakan ekonomi rakyat adalah menghapuskan sistem monopoli. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. didesak. karena sengaja disempitkan. yaitu ―di negara-negara lain tidak ada UUD atau konstitusi yang memakai penjelasan‖. dan (sistem) monopoli ini dipegang langsung oleh pemerintah. maka pertanyaan lugas yang dapat diajukan adalah bagaimana (cara) memberdayakan ekonomi rakyat. yang terpukul karena harga pasar gabah dibiarkan merosot di bawah harga dasar. Indonesia Menggugat. maka memang ada kata kerakyatan tetapi harus tidak dijadikan sekedar kata sifat yang berarti merakyat. Jika ekonomi rakyat dewasa ini masih ―tidak berdaya‖. Berpihak kepada petani berarti pemerintah tidak lagi berpihak pada konglomerat seperti dalam kasus jeruk dan cengkeh. Kata kerakyatan sebagaimana bunyi sila ke-4 Pancasila harus ditulis lengkap yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. terdesak. pemerintah harus berpihak kepada petani. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi. yang berarti petani jeruk dan petani cengkeh memperoleh ―kebebasan‖ untuk menjual kepada siapa saja yang mampu memberikan harga terbaik. yang sulit kita terima.

Dan dengan definisi ini kemudian diajukan program pemberdayaan sektor “UKM” dengan secepatnya menjadikan atau ―mentransformasi‖ sektor informal menjadi sektor formal. melainkan kembali ke ideologi atau moral ekonomi Pancasila. yang tidak mencakup 40 juta usaha mikro (93% dari seluruh unit usaha). kecuali ada ‗janji -janji‘ perubahan kebijakan ataupun program ekonomi yang lebih banyak bersifat parsial dan konvensional dari partai peserta pemilu. Saya setuju dengan Khudori (2004) bahwa momen Pemilu 2004 selayaknya bukan saja memungkinkan pergantian orang atau partai melainkan pergantian ideologi atau moral ekonomi yang mengarah pada ciri neoliberal-kapitalistik dewasa ini. Kepala Awan Santosa RELEVANSI PLATFORM EKONOMI PANCASILA MENUJU PENGUATAN PERAN EKONOMI RAKYAT Pemilu 2004 sudah pasti akan diwarnai dengan ‗pertarungan politik‘ antar parpol. Mubyarto -. yang terakhir ini berarti sistem atau aturan main. Kami anjurkan para Capres/Cawapres tidak memilih menggunakan istilah ―UKM‖ yang salah kaprah. maka pemberdayaan ekonomi rakyat harus dijadikan kebijakan. partai baru. ketika pemerintah Orde Baru memprioritaskan kebijakan. strategi. dan program-programnya pada tujuan pertumbuhan ekonomi tinggi sekaligus dengan mengabaikan atau menunda pemerataannya.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. Hasilnya bisa jadi kekuasaan tetap dipegang ‗pemimpin lama‘. strategi. dan orang-orang yang baru pula. dan program-program utama. atau mungkin pula akan muncul penguasa-penguasa baru. caleg. terjepit. Oleh: Prof. Bukan berganti menjadi apa-apa. Penutup Tidak terlalu sulit bagi para Capres/Cawapres untuk mengkampanyekan program-program yang benar-benar dapat memberdayakan ekonomi rakyat asal pengertian ekonomi rakyat dipahami secara benar. dan tersingkir. sekaligus juga antar kandidat calon presiden. . yang hanya diartikan sebagai pelaku-pelaku ekonomi yang tidak berbadan hukum yang selalu ―melanggar hukum‖ sehingga harus ―ditindak‖. sebuah ideologi ekonomi yang ‗ke-Indonesia-an‘. Lalu. akan berubahkah nasib ekonomi bangsa kita? Tidak dapat dipastikan. Jelas usulan program seperti ini tidak masuk akal dan menunjukkan ketidakpahaman Capres/Cawapres yang bersangkutan tentang ekonomi rakyat yang menyangkut hajat hidup 160 juta orang Indonesia yang sebenarnya sudah jauh lebih tua dibanding sektor formal. Kini dengan paradigma baru yang menomorsatukan pemerataan dan keadilan sesuai asas-asas ekonomi Pancasila. Ekonomi rakyat adalah ekonominya wong cilik yang telah tergeser. Dengan digantinya oleh pemerintah istilah ekonomi rakyat dengan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang sebenarnya sekedar menterjemahkan istilah asing SME ( Small and Medium Enterprises). yang tidak dapat diberdayakan. Dr. dan antar calon anggota DPD. bukan pada ekonomi kerakyatan. dan akan menjadi slogan kosong. dan lebih baik mengunakan istilah ekonomi rakyat yang setiap orang yang ―tidak terpelajar‖ pun mengerti persis artinya. Tulisan ini menjawab pragmatisme atau ketidaktahuan banyak orang sehingga mereka bertanya-tanya.Demikian pemberdayaan dan pemihakan pada ekonomi rakyat sangat mudah pelaksanaannya kalau kita terapkan langsung pada ekonomi rakyat. yang merupakan istilah dan konsep yang sudah dipakai Bung Karno dan Bung Hatta sejak zaman pergerakan kemerdekaan. maka segala pembahasan tentang upaya pemberdayaan ekonomi rakyat tidak akan mengena pada sasaran. Bahkan ada Capres/Cawapres yang secara sangat keliru menyamakan sektor ekonomi rakyat dengan sektor informal. sektor informal sebaiknya justru yang disebut sektor formal.

kebijakan. tidak realistis. mengeruk ‗rente‘ dari kegiatan ekonomi (bisnis) mereka. rasanya tidak sulit mengamati ekses dari kecenderungan global tersebut di Indonesia. KKN yang akut memberi sumbangan besar bagi keterpurukan ekonomi bangsa ini. Pada awalnya founding fathers kita merumuskan ‗politik kemakmuran‘. tidak sekedar pembangunan materiil semata. melainkan memperkuat silaturahmi. Ekonomi Pancasila merupakan prinsip-prinsip moral (ideologi) ekonomi yang diderivasikan dari etika dan falsafah Pancasila. dan kapitalistik. dan memperhatikan kepentingan sosial. tidak membiarkan terjadi dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial‖. praktik ekonomi rakyat. dan tidak nampak wujudnya. ia juga mengangkat realitas sosio-kultur ekonomi rakyat Indonesia. individualis.500. Lihat saja korupsi yang sudah membudaya dan melembaga karena tidak pernah diperhatikan secara serius. menurunnya suku bunga (dibawah 10%). Sampai saat . selain berisi cita-cita visioner terwujudnya keadilan sosial. dan moral‖. moral kemerataan sosial. Sumatara. Semua itu terangkum dalam kajian lima platform Ekonomi Pancasila yang bersifat holistik dan visio-revolusioner (Mubyarto. tanah longsor. yang bermoral dan tidak sekuler. pengabaian nasib TKI. dan utopis? Mereka ini begitu yakin bahwa masalah ekonomi (krisis 97) adalah karena ‗salah urus‘ dan bukannya ‗salah sistem‘.-). bukankah sistem ekonomi kita sudah mapan. ‗keadilan sosial‘. Kondisi itu menegaskan perlunya ‗revolusi moral ekonomi‘ menuju pengejawantahan platform Ekonomi Pancasila. Free Press 1988). dan kegiatan ekonomi banyak dipengaruhi paham (ideologi). produser. Akibatnya. perusahaan (iklan). Relevansi Ekonomi Pancasila dapat ‗dideteksi‘ dari tiga kontek yang berkaitan yaitu cita -cita ideal pendiri bangsa. sekaligus ‗rambu-rambu‘ yang bernilai sejarah untuk tidak terjerumus pada paham liberalisme dan kapitalisme. 2001). Profesor Mubyarto merumuskan Ekonomi Pancasila sebagai sistem ekonomi yang bermoral Pancasila. krisis di Indonesia juga tidak terlepas dari berkembangnya paham kapitalisme disertai penerapan liberalisme ekonomi yang ‗kebablasan‘. bahkan agama. Inilah moral ekonomi rakyat yang tidak sekedar mencari untung. Penerapan platform Ekonomi Pancasila secara utuh (multisektoral) dan menyeluruh (nasional) menempatkan Indonesia sebagai negara yang menganut sistem ekonomi khas Indonesia yaitu Sistem Ekonomi Pancasila. moral nasionalisme ekonomi. dan ‗pembangunan karakter‘ ( character building) bangsa yang dilandasi semangat penerapan ajaran moral dan agama. agama. Gagasan ini sudah lama tertuang dalam bagian penjelasan Pasal 33 UUD 45 yang sudah diamandemen dalam konsep ‗kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan. Disinilah relevansi platform (istilah penulis) Ekonomi Pancasila. yang mengandung prinsip ―roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi. menegakkan hukum-hukum Allah (syari‘ah). tidak sulit untuk menemukan praktek ekonomi bermoral ini. para penyanyi. Tidak dapat disangkal. dan kekeringan di sebagian wilayah di Jawa. dan pulau lainnya. Tanpa peduli moral. stabilnya rupiah (Rp 8. kecuali saat-saat terakhir menjelang Pemilu 2004 dengan pembentukan KPTPK.Kita mulai dari platform pertama Ekonomi Pancasila yaitu moral agama. moral kerakyatan. 2003). dengan lima platform sebagai manifestasi sila-sila Pancasila yaitu moral agama. dan ditujukan untuk menjamin keadilan antar sesama makhluk ciptaan Allah. Asalkan tidak malas untuk turun ke desa-desa atau ke pelaku ekonomi rakyat. Platform kedua adalah ―kemerataan sosial. Oleh karena itu. dan moral keadilan sosial. Itu berarti pembangunan ekonomi harus beriringan dengan pembangunan moral atau karakter bangsa. Relevansi platform Ekonomi Pancasila dalam hal ini dikuatkan akutnya perilaku ekonomi di Indonesia yang sama sekali mengabaikan moral. Ekonomi Pancasila. apa bukti platform Ekonomi Pancasila relevan dengan kondisi sosial-ekonomi kita saat ini? Di tengah pesatnya perkembangan ilmu (ideologi) ekonomi global yang sud ah semakin mengarah pada ‗keyakinan‘ layaknya agama (Nelson. Gagasan Ekonomi Pancasila mulai dikembangkan Profesor Mubyarto sejak tahun 1981 dalam suatu polemik tentang sistem ekonomi nasional sampai saat ini. dan dampak sosial bagi masyarakat. Ada lagi maraknya ‗penjarahan alam‘ berupa penebangan hutan secara liar (llegal logging) yang terlalu lama ‗didiamkan‘ sehingga berakibat banjir. sosial. Namun.relevankah Ekonomi Pancasila dalam memperkuat peranan ekonomi rakyat dan ekonomi nasional di era global (isme) kontemporer? Mereka skeptis. yaitu ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial. Lalu. moral. dan stasiun TV. program. Inilah platform ekonomi yang lebih awal lahir daripada gagasan Amitai Etzioni tentang ‗ekonomi baru‘ yang berdimensi moral dalam bukunya The Moral Dimension: Toward a Newf Economics. makro-ekonomi sudah stabil dengan indikator rendahnya inflasi (dibawah 5%). Masih ada juga penggusuran orang miskin. dan teori-teori kapitalisme-liberal. bukan kemakmuran orang -seorang‘. dan praktek ekonomi aktual yang ‗menyimpang‘ karena berwatak liberal. dan ribut-ribut soal ‗pesangon‘ BPPN atau DPRD di berbagai tempat. Lalu. sebagai ‗media‘ untuk mengenali ( detector) bekerjanya paham dan moral ekonomi yang berciri neo-liberal kapitalistik di Indonesia. Yang masih panas-panasnya adalah maraknya ‗pornoaksi‘ dangdut erotis lewat media TV yang memang ‗dibiarkan‘ di alam kebebasan (liberalisme) saat ini. etika. apakah tidak mengada-ada bicara sistem ekonomi dari ideologi yang pernah ‗tercoreng‘. apalagi dikait-kaitkan dengan ‗salah ideologi‘ atau ‗salah teori‘ ekonomi.

tangguh. 2004). Masih saja ketimpangan sosial-ekonomi susah untuk diperkecil. 5%. 2003). Kemandirian bukan saja menjadi cita-cita akhir pembangunan nasional. yang menjadi senjata penganut paham liberalisme dan kapitalisme. dan memang tidak ada kamus ‗nasionalisme ekonomi‘ atau ‗nasionalisme modal‘ dalam istilah mereka. Lalu. dan mandiri‖. padahal potensi untuk itu sangat besar. tidak relevan. tidak ‗menyusahkan‘ atau ‗membebani‘ ekonomi nasional di saat krisis. Ekonomi rakyatlah yang bersifat mandiri. eksklusif. Platform keempat adalah ―demokrasi ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan.ini masih sulit meyakini realisasi semangat tersebut ka rena setiap upaya ‗memakmurkan ekonomi‘ ternyata yang lebih merasakan dampaknya tetap saja ‗orang besar‘ baik pengusaha ataupun pejabat pemerintahan. Platform ketiga adalah ―nasionalisme ekonomi. dan paha ayam. Kita patut prihatin jika aset-aset yang menguasai hajat hidup orang banyak terus ‗diobral‘ ke pemodal besar apalagi pemodal asing (kasus Indosat). yang masih memegang prinsip kebersamaan dan solidaritas sosial-ekonomi dalam kegiatan mereka. Oleh karena itu pokok perhatian seharusnya diberikan pada upaya pemberdayaan ekonomi rakyat sebagai tulang punggung ekonomi nasional. maka dengan . Jika dasar dan pengertian demokrasi ekonomi (dalam penjelasan Pasal 33 ) sudah ‗dihapuskan‘. kenapa saat ini nasionalisme ekonomi seakan-akan telah dianggap tidak penting. Oleh karena itu. Ada kesan kuat bahwa interaksi yang timpang (sub-ordinatif) dengan lembaga asing seperti IMF dan CGI (terkait dengan jebakan utang) telah ‗mengaburkan‘ pentingnya kemandirian ekonomi bangsa yang ditopang oleh semangat nasionalisme ekonomi. justru investasi (asing) dan privatisasi BUMN yang saat ini begitu dipercaya sebagai ‗dewa‘ pertumbuhan ekonomi dengan melupakan begitu saja sifat pemodal besar untuk mencari tempat yang menguntungkan bagi investasi mereka. kita masih saja berbicara pertumbuhan ekonomi mau 4%. tetapi masih mampu menampilkan gaya hidup mewah. dan glamour dari sebagian elit warganya. melainkan juga prinsip yang menjiwai setiap proses pembangunan itu sendiri. sehingga ‗daya tahan‘ ekonomi mereka tidak perlu diragukan lagi. koperasi dan usahausaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat‖. Lihatlah pesta-pesta bernilai ratusan juta semalam yang sering diadakan ‗selebriti‘. dan tidak perlu diperjuangkan? Lihat saja. Jepang. hidup di ‗negara kaya‘ (SDA) yang ‗miskin‘ (terlilit utang). Di puncak piramida yang menguasai mayoritas kue nasional dihuni segelintir manusia. gula. mengapa kita ragu untuk melakukan ‗proteksi‘ terhadap petani kita di saat Amerika. Perubahan ini telah menghilangkan seluruh penjelasan UUD 1945 termasuk penjelasan Pasal 33 yang berisikan prinsip-prinsip demokrasi ekonomi dan landasan konstitusional koperasi. bahwa dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat. dan pilihan kebijakan luar negeri bebas-aktif. terutama di perdesaan. tanpa berupaya keras memprioritaskan pemerataannya ataupun berusaha sedikit lebih ‗sederhana‘ di tengah kemiskinan yang menjerat kurang lebih 36 juta rakyat Indonesia. atau 7%. Prinsip ini dijiwai oleh semangat Pasal 33 UUD 1945 yang kini sudah berganti menjadi UUD 2002 (amandemen keempat). Lagi pula. Kita dapat belajar pada ekonomi rakyat kita. Tempo. Lebih lanjut. Sebaliknya. Isu-isu yang kemudian dicuatkan diantaranya adalah privatisasi BUMN dan liberalisasi impor. termasuk juga acara -acara pejabat yang sering menyentak hati karena dipaksakan untuk tetap ada dan mewah. upaya penegakan demokrasi ekonomi nampaknya berhadapan dengan upaya-upaya untuk memperjuangkan pasar bebas. Dengan begitu pelarian modal (capital flight) atau relokasi industri adalah wajar bagi mereka. Itulah kita. namun banyak pula yang pendapatannya pas-pasan sekedar untuk bertahan hidup. yaitu peningkatan martabat dan kemandirian bangsa (Swasono. 2001). Platform ini sejalan dengan konsep founding fathers kita. Ini mensyaratkan bahwa pembangunan ekonomi haruslah didasarkan pada kekuatan lokal dan nasional untuk tidak hanya mencapai ‗nilai tambah ekonomi‘ melainkan juga ‗nilai tambah sosial-kultural‘. Dalam pada itu. petani dan peternsk kecil kita begitu ‗menjerit‘ di saat ada impor beras. Apa gunanya kampanye cinta produk dalam negeri bila pemihakan terhadap pelaku ekonomi rakyat sebagai produsen lokal masih setengah hati. Banyak orang yang memiliki kekayaan milyaran (termasuk calon-calon presiden kita. khususnya Bung Karno dan Bung Hatta. percaya diri (self reliance). 2004). perihal ‗politik -ekonomi berdikari‘ yang bersendikan usaha mandiri (self-help). Zakat yang sudah diformalkan (UU) dan pajak sebagai instrumen pemerataan ternyata belum mampu berbuat banyak. namun bagaimana dengan manifestasi demokrasi ekonominya? Penghapusan ‗koperasi‘ dari penjelasan UUD 45 dan memasukkan ideologi ‗persaingan‘ dan ‗pasar bebas‘ dalam pasal 33 merupakan runtutan dari kebijakan privatisasi BUMN yang ditentang banyak kalangan. Pemilu 2004 setidaknya merupakan manifestasi demokrasi politik. negara-negara Eropa memberikan perlindungan kepada petanipetani mereka. di dasar piramida yang kuenya kecil diperebutkan puluhan juta orang (Khudori. Beralihnya pemilikan BUMN ke investor swasta melalui privatisasi dikhawatirkan justru memperpuruk kesejahteraan ekonomi rakyat (Baswir. Ekonomi Pancasila berfungsi sebagai platform ekonomi yang memperjuangkan pemerataan dan moral kemanusiaan melalui upaya-upaya ‗redistribusi pendapatan‘.

dan hukum. kini pusat membelanjakan 70 persen (Khudori. Pusat tetap memungut 95 persen. Platform kelima (terakhir) adalah ―keseimbangan yang harmonis. bernilai historis. Apakah Pemilu dan Sidang Umum 2004 akan mampu menjawab kebutuhan ini? Yogyakarta. 2004). Demikian. . caleg. yang memungkinkan seluruh wilayah di Indonesia berkembang sesuai potensi masing-masing. Inilah relevansi lima platform Ekonomi Pancasila yang dapat menjadi panduan ( guidance) bagi pergantian sistem dan ideologi ekonomi menjadi ekonomi yang lebih bermoral. Tujuan keadilan sosial juga mencakup keadilan antar wilayah (daerah). budaya. antara pusat dan daerah di Indonesia. Inilah substansi Negara Kesatuan yang tidak membiarkan terjadinya ketimpangan sosial-ekonomi antardaerah melalui pemusatan aktivias ekonomi oleh pemerintah pusat.Asisten Peneliti pada Pusat Studi Ekonomi Pancasil (PUSTEP) UGM. Sebelum otonomi pusat membelanjakan 78 persen. namun masih saja mereka merasa kesulitan untuk menggali sumber-sumber penerimaan daerah. Bangsa kita benar-benar membutuhkan platform ekonomi yang utuh. komprehensif. dan adil antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas. Gagasan para pendiri bangsa kita yang sejalan dengan praktek ekonomi rakyat dan menentang keras praktek ekonomi yang neo-liberal-kapitalistik kiranya menyadarkan kita akan perlunya perombakan sistem ekonomi tersebut. Otonomi hanya mengubah sedikit sisi belanja. berkerakyatan. Seruan memberantas korupsi atau ‗anti politisi busuk‘ saja belum cukup tanpa disertai reformasi (revolusi?) ideologi dan moral ekonomi liberal-kapitalistik yang menumbuhsuburkan praktek korupsi dan kejahatan ekonomi (economic crime) lain di Indonesia. Pertanyaannya. sadarkah para capres. sehingga lebih menjamin upaya pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 2003). kiranya dapat diperdebatkan dengan platform Ekonomi Pancasila. untuk kemudian merombaknya dengan kembali ke Sistem Ekonomi Pancasila. momentum Pemilu dan Sidang Umum 2004 merupakan saat yang tepat untuk mengoreksi kekeliruan sistem dan paham ekonomi kita.platform Ekonomi Pancasila kita berusaha keras untuk mengembalikan hakekat demokrasi ekonomi atau sistem ekonomi kerakyatan dengan ciri ‗produksi dikerjakan oleh se mua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat‘. dan visio-revolusioner. Oleh karena itu pengalaman pahit sentralisasi politik-ekonomi era Orde Baru dapat kita jadikan pelajaran untuk menyusun strategi pembangunan nasional. Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang dimaksudkan untuk mengoreksi sentralisasi ekonomi dan pemerintahan praktis tidak mengubah sedikitpun perimbangan penerimaan negara di Indonesia. SE -. Langkah yang lazim diambil adalah optimalisasi PAD melalui pemberlakuan Perda-Perda yang justru kadang ‗bertentangan‘ dengan peraturan di atasnya seperti halnya hasil kajian Depdagri menunjukkan ada sekitar 7000 perda yang dinilai tidak layak diterapkan (Sunarsip. Paradigma yang kemudian dibangun adalah pembangunan Indonesia. efisien. 2004). dan ‗eksklusif‘ dari bidang bidang lain seperti politik. Keadaan ini dimungkinkan karena masih juga terjadi ketimpangan antarwilayah. menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia‖. Meskipun otonomi daerah telah mendorong kemandirian dan kreativitas Pemda dalam membangun wilayah mereka. dan bertanggungjawab. bebas. dan berciri ‗ke Indonesia-an‘. 5 Februari 2004 Oleh: Awan Santosa. Bukannya platform ekonomi yang konvensional. dan di pusat pemerintahan. parsial. sedangkan PAD seluruh daerah di Indonesia tetap hanya 5 persen. bukannya pembangunan di Indonesia seperti yang dilakukan Orde Baru dengan paham developmentalism yang netral visi dan misi (Swasono. dan calon pejabat pemerintahan lainnya akan kebutuhan adanya platform ekonomi yang khas Indonesia ini? Seandainya mereka (dan partainya) memiliki platform ekonomi tersendiri.

Konglomerat ingin melepaskan diri dari kewajiban membayar utang pada bank-bank pemerintah (BLBI dan obligasi rekap).7 juta hanya menerima 3. Ekonomi rakyat Indonesia tidak pernah mengalami krisis serius meskipun sempat kaget. Terbukti bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi (7% pertahun selama 3 dekade.2% per tahun selama 1997 – 2002 dari 457.978 orang. (Q. dan Gini Rasio meningkat berturut-turut dari 0. [2] Pierre Van der Eng. yang tidak pernah dilihat dan dianalisis oleh para ekonom makro. dua tahun setelah Sumpah Pemuda.4%). Sebaiknya kita tidak ikut-ikutan berbicara tentang pemulihan ekonomi (economic recovery) jika yang akan kita pulihkan justru kondisi ekonomi sangat timpang ―pra-krisis‖ yang dikuasai konglomerat dan menjepit ekonomi rakyat. 197. sehingga tidak memerlukan pemulihan. ISEAS.8 (1997).18 menjadi 0. 2001. Demikian data-data mikro dari lapangan ini. Dalam 26 tahun (1971 -1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan daerah termiskin meningkat dari 5.3% per tahun dari Rp. Krisis Moneter Mengembangkan Keuangan Mikro Sejak terjadinya krisis moneter (krismon) yang berakibat langsung pada ditutupnya 16 bank swasta nasional tanggal 1 Nopember 1997.3 juta (2.-.Mubyarto MENGEMBANGKAN EKONOMI RAKYAT SEBAGAI LANDASAN EKONOMI PANCASILA I . Kenyataan ini mempunyai .8 (1983) dan 9. Kesan masih adanya ―krisis ekonomi‖ sekarang ini sengaja ditiupkan dan dibesar-besarkan oleh eks-konglomerat dan para pembelanya termasuk teknokrat.4 juta gulden (0.1 juta orang. Indonesia‘s Economy and Standard of Living in the 20th Century dalam Grayson Lloyd & Shannon Smith. 1966-1996) ―tidak diridhoi‖ Allah SWT dan krismon ―diturunkan‖ untuk mengingatkan bangsa Indonesia. Singapore.[3] [3] Van der Eng. BRI yang merupakan lembaga keuangan mikro terbesar di Indonesia yang memiliki 3. tetapi konglomerasi (1987-1994) yang menciptakan ketimpangan ekonomi luar biasa. Kini setelah Indonesia merdeka 58 tahun. 17 Al Israa‘: 16) II.1 (1971) menjadi 6. hal. Yang baru adalah kesadaran dan pengakuan tentang peranan besar yang dimainkannya dalam perekonomian rakyat dan perekonomian nasional. maka sudah sepantasnya berlaku perkataan (ketentuan Kami). Dan dana tabungan meningkat 26.000 orang Eropa (kebanyakan Belanda) menerima 665 juta gulden (99. idem.6 juta gulden (0.24. Pada tahun 1930.368. [2] seorang sejarawan Belanda menulis tentang strata ekonomi penduduk di jaman penjajahan. Masyarakat dan pers kita hendaknya waspada dalam hal ini.S. menunjukkan betapa keliru kesimpulan telah ―hancur leburnya‖ ekonomi Indonesia.496 menjadi 950. terutama di perdesaan. Di Propinsi DIY jumlah penabung bertambah rata-rata 16. Sangat ―njomplangnya‖ pembagian pendapatan nasional inilah yang sulit diterima para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia yang bersumpah tahun 1928 di Jakarta.1 juta penduduk pribumi (Indonesia) yang merupakan 97. betapapun sangat ―mahal‖ harganya.788 milyar (tabel 2). Indonesia Today.4% dari seluruh penduduk yang berjumlah 60. sungguh-sungguh merupakah ―bom waktu‖ yang kemudian meledak sebagai krismon 1997. Keuangan Mikro bukan hal baru bagi Indonesia. 51. lembaga keuangan mikro berkembang pesat.825 unit-unit desa di seluruh Indonesia berkembang luar biasa. 828. ketimpangan ekonomi tidak separah ketika jaman penjajahan. Penduduk Propinsi DIY tahun 2002 adalah 3.263 milyar menjadi Rp. penduduk Asia lain yang berjumlah 1. harus dicapai karena akan membuka jalan ke arah perbaikan nasib rakyat dan bangsa Indonesia.54%) dari pendapatan ―nasional‖ Hindia Belanda. Kemiskinan Penduduk Pribumi di Jaman Penjajahan Pierre Van der Eng. Kemerdekaan. berarti setiap orang memiliki tabungan di BRI sebesar Rp. hal. kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. maka Kami perintahkan kepada orangorang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu.2%) menerima 0.06%) sedangkan 241.21 dan 0. Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri. 194.

jelas merupakan kebijakan keliru yang tidak berpihak pada kebijakan pengembangan keuangan mikro dan pemberdayaan ekonomi rakyat. 39 milyar. bukan dosen UGM). dan pertumbuhan ekonomi yang sudah positif (3-4% pertahun). selama 1995-2002 kredit yang disalurkan Perum Pegadaian meningkat dengan 5. telah membantu 24. faktor-faktornya antara lain adalah kurs dollar yang masih 3 kali lebih tinggi dibanding sebelum krisis moneter Juli 1997. Di Yogyakarta. 11. bank-bank masih belum mengucurkan kredit ke sektor riil. krisis hukum. dengan peranan yang amat dominan dari (perusahaan-perusahaan) konglomerat. Ekonomi Rakyat sebagai Penyelamat Ekonomi Nasional Jika Ahmad Syafii Ma‘arif dan Franz Magnis -Suseno (2003) berbicara keras tentang kerusakan bangsa Indonesia yang ―hampir sempurna‖. kata mereka. Inilah yang oleh para ekonom makro yang keblinger disebut dengan ekonomi illegal atau hidden economy.650 trilyun untuk ―menyelamatkan perbankan modern‖. koperasi atau lembaga-lembaga keuangan mikro ―informal‖ di perdesaan. bukan krisis politik. Meskipun orang tidak pernah lupa menyebutkan bahwa krisis yang melanda bangsa Indonesia dewasa ini sudah berciri multidimensi. maka ekonomi Indonesia secara keseluruhan dikatakan sudah dalam keadaan krisis parah. dan jumlah orang yang menggadaikan (nasabah) naik 368% (Tabel 2).57 milyar (Tabel 3). Bahwa ekonomi nasional dianggap masih dalam kondisi krisis. Benarkah? Diagnosis ekonomi yang bersifat pesimistik masih jauh lebih kuat dibanding diagnosis optimistik. Sebabnya tidak lain karena selama 3 dekade Orde Baru. Satu Baitul Maal (BMT Beringharjo) di kota Yogyakarta dalam periode relatif singkat (1995-2002) telah meningkat omset pinjamannya dari Rp. 50. maka dilihat dalam perspektif ekonomi diartikan bahwa krisis ekonomi dewasa ini sudah amat parah. tidak dianggap sebagai faktor-faktor yang seharusnya tidak lagi menggambarkan kondisi krisis ekonomi? Ekonomi yang krisis adalah ekonomi yang pertumbuhannya terus-menerus negatif dan inflasi merajalela lebih dari 50% per tahun.6 kali (560%).implikasi besar terhadap teori tentang peranan modal nasional dan upaya-upaya penguatannya dalam pembangunan ekonomi bangsa. yang memang tidak tercatat dalam statistik. anggota KOSUDGAMA (Koperasi Serba Usaha Dosen-dosen Gadjah Mada) yang kini beranggota 5332 orang (74% diantaranya anggota luar biasa. sehingga tinggal tunggu waktu dibawa masuk jurang. dengan nilai pinjaman meningkat 11 kali lipat (1116%) dari Rp. Misalnya. tokh yang paling sering disebutkan di media massa adalah sebagai krisis ekonomi. Kesediaan pemerintah menerbitkan obligasi rekapitalisasi perbankan sebesar Rp. Selain itu Koperasi Bina Masyarakat Mandiri yang didirikan 28 ―orang gila‖ tanggal 28 Oktober 1998 di Jakarta. 5. tidak pernah masuk dalam perhitungan. pembangunan ekonomi sudah menjadi ―agama‖.9 juta menjadi Rp. padahal pada tahun 1999 baru Rp. Usahausaha ekonomi rakyat yang disebut (secara tidak tepat) sebagai UKM (Usaha Kecil Menengah) berkembang di mana-mana dengan pendanaan mandiri atau melalui dana-dana keuangan mikro seperti pegadaian. yang sulit dibayangkan untuk bangkit kembali karena utang-utang yang sangat besar. Fakta tentang peranan besar keuangan mikro dalam perekonomian nasional hendaknya menyadarkan pemerintah tentang perlunya mengkaji ulang teori ekonomi perbankan modern. Jika ada pakar ekonomi asing mengatakan ―the only way for Indonesia‟s economic recovery is mass capital inflow from abroad‖. tidak sekedar menggeliat. 1. yang bunganya sangat memberatkan APBN. Benarkah faktor-faktor ini cukup? Mengapa inflasi yang sudah benar-benar terkendali sejak 1999 yang kini (2003) berada sekitar 6%. anggotanya meningkat lebih dari 5 kali lipat selama periode krisis (1998-2002).2 milyar dengan anggota naik dari 393 menjadi 1333 (Tabel 4). 440 juta untuk 917 orang (tabel 5).04 milyar menjadi Rp. atau krisis moral.873 penduduk miskin di seluruh Indonesia dengan pinjaman Rp. Sebaliknya data-data mikro sektor ekonomi rakyat. Ekonomi rakyat di manapun di daerah-daerah benar-benar sudah bangkit. maka jelas kami menolak fatwa yang cenderung ―ngawur‖ tersebut. ―Jika pertumbuhan ekonomi hanya ditopang oleh konsumsi maka pertumbuhan ekonomi tidak akan berkelanjutan‖. Kini ketika konglomerat sudah rontok. karena pada umumnya pakar-pakar ekonomi kita lebih banyak menggunakan data-data makro sekunder dan tersier di bidang keuangan. yang jika dibiarkan pasti akan mengakibatkan kebangkrutan perekonomian nasional. dan pemerintah terperangkap dalam beban utang dalam dan luar negeri yang sangat berat. . Memang pakar-pakar ekonomi makro kita pada umumnya masih mampu berargumentasi dan menunjuk belum adanya investasi terutama investasi asing sebagai salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi rendah. III.

Indonesia sebaiknya tidak usah berbicara tentang pemulihan ekonomi ( economic recovery). Ekonomi siapa yang akan dipulihkan? Ekonomi konglomerat jangan dipulihkan. sedangkan ―kerusakan bangsa‖ yang diklasifikasi sebagai ―hampir sempurna‖ oleh Syafii Ma‘arif adalah kerusakan dalam bidang tatakrama atau etika politik. Yang rusak adalah ekonomi konglomerat yang pada masa-masa jayanya terlalu mengandalkan pada modal asing yang murah. the strange and sudden death of a tiger. yang hendak digusur dari pasal 33 UUD 1945. tetapi kemudian pada tahun 1999 menyebutnya telah mati. Demikian. tetapi bukan kerusakan ekonomi rakyat. bahkan juga ekonomi kekeluargaan. IV. adalah karena mereka secara a priori menganggap ekonomi kerakyatan bukan sistem ekonomi pasar.Dapat disimpulkan bahwa kondisi ―amat gawat‖ yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini tidak terletak dalam bidang ekonomi khususnya ekonomi rakyat. dan moral. kerusakan ekonomi yang dialami sektor modern/ konglomerat tidak perlu diratapi. 1759. dan ekonomi RRC tumbuh cepat bukan karena meninggalkan paham sosialisme tetapi karena amat berkembangnya ekonomi rakyat. tetapi setelah terjadi apresiasi dolar 6 kali lipat secara tiba-tiba maka konglomerat-konglomerat tersebut telah benar-benar hancur berkeping-keping. Pandangan dan pemihakan mereka pada konglomerat yang liberal-kapitalistik memang amat sulit diubah lebih-lebih setelah (istilah mereka) ‖Uni Sovyet pun kapok dengan sosialisme. Pendirian PUSTEP-UGM ini kemudian diikuti pembentukan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PSEK) di Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa tanggal 16 Agustus 2003 semuanya berkehendak menyumbangkan teori-teori dan ilmu ekonomi (asli) Indonesia yang benar-benar memberi manfaat pada masyarakat/ bangsa Indonesia khususnya wong cilik. Jika ekonomi Indonesia telah diibaratkan sebagai harimau ( tiger) yang sudah mati sejak krismon 1997-1998. Apakah kondisi ekonomi konglomerasi seperti ini akan kita pulihkan? Pasti tidak. dan RRC juga sudah menjadi kapitalis”. dan kita tidak perlu mati-matian memulihkan kondisi ekonomi pra-krisis yang sangat timpang. Bibit -bibit sistem ekonomi Pancasila sudah ada dan sudah dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Indonesia terutama pada masyarakat perdesaan dalam bentuk usaha- . hukum. tetapi dalam bidang politik. The Theory of Moral Sentiments. [5] Adam Smith. Revolusi Mewujudkan Ekonomi Pancasila Tanggal 12 Agustus 2002 UGM mendirikan PUSTEP (Pusat Studi Ekonom Pancasila) yang kemudian disambut pembentukan Komisi Ad Hoc Kajian Ekonomi Pancasila pada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Ekonomi Pancasila bukanlah sistem ekonomi baru yang masih harus diciptakan untuk mengganti sistem ekonomi yang kini ―dianut‖ bangsa Indonesia. dimana ekonomi rakyat mendapat dukungan pemihakan yang sungguh-sungguh dari pemerintah. menunjuk pada asas ke-4 Pancasila. Ekonomi Indonesia akan tumbuh cepat seperti ekonomi RRC jika mampu mengalahkan virus korupsi yang tumbuh subur sejak awal gerakan reformasi yang telah benar-benar melenceng. lalu apa yang terjadi dengan orang-orangnya? Apakah mereka (bangsa Indonesia) juga ikut mati? Inilah tidak realistisnya analisis ekonom yang memberikan konsep-konsep ekonomi abstrak dari manusia-manusia ekonomi (homo ekonomikus) tanpa merasa perlu membumikannya. Disinilah kekeliruan fatal pakar-pakar ekonomi makro yang sejak krismon 1997 menyatakan ekonomi Indonesia telah ―mati secara aneh dan tiba -tiba‖ (the strange and sudden death of a tiger )[4]. tetapi dituduh sebagai sistem ekonomi ―sosialis-komunis‖ ala Orde Lama 1959-1966.[5] [4] Hal Hill dalam buku pertama tahun 1993 memuji-muji ekonomi Indonesia sebagai The Southeast Asia‟s emerging giant. Korupsi yang makin merajalela yang ―menyebar‖ dari pusat ke daerah-daerah bersamaan dengan pelaksanaan otonomi daerah bukanlah ―krisis ekonomi‖ tetapi krisis moral. berbeda dengan pandangan pakar-pakar ekonomi arus utama (main stream). Bahwa sejauh ini pakar-pakar ekonomi arus utama menolak konsep ekonomi kerakyatan. Yang benar manusia adalah juga homo socius dan homo ethicus. Sudah pasti mereka ―keblinger‖ karena paham sosialisme tidak pernah mati. Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang demokratis. kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Kerusakan ekonomi bangsa memang hampir sempurna. bukan kerusakan ekonomi Indonesia.

dan sistem ekonomi kerakyatan sedang mencari bentuknya yang tepat dan operasional. suatu perjuangan yang memerlukan keberanian menyatakan apa yang benar walaupun pahit karena bertentangan dengan kepentingan pribadi atau kelompok. Sistem ekonomi kerakyatan merupakan sub-sistem dari sistem ekonomi Pancasila yang diragukan dan tegas-tegas ditolak oleh teknokrat ―keblinger‖. suatu bentuk pengorbanan psikologis. Adapun mengapa praktek-praktek kehidupan riil dan kegiatan ekonomi rakyat yang mengacu pada sistem (aturan main) ekonomi Pancasila ini tersendat-sendat. ―Kapal‖ Indonesia harus dibalikkan arahnya. dan Balikpapan. Tindakan besar yang dimaksud adalah suatu tindakan fundamental. [1] Makalah untuk Seminar Ekonomi Masa Depan Indonesia Pasca IMF. tetapi menuntut pengorbanan melawan egoisme dan subjektivisme. 1 Juni 1945) Jika Ahmad Syafii Ma‘arif dan Franz Magnis-Suseno di dalam Seminar ―Meluruskan Jalan Reformasi‖. yang secara moral setara dengan revolusi.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. sedangkan taksi Kijang dan lain-lain kendaraan “mini-bus” untuk jurusan Kota BangunTenggarong-Samarinda. tetapi gerakan ekonomi kerakyatan yang dipicu semangat reformasi memberikan iklim segar pada berkembangnya sistem ekonomi Pancasila yang berpihak pada ekonomi rakyat. atau bahkan perang. Itulah revolusi bukan sekedar reformasi. mengibaratkan bangsa Indonesia sudah mendekati ―jurang kehancuran‖. yaitu di antara 79 „speed‟ dan 60 taksi yang semuanya dimiliki warga Kota Bangun. Mubyarto -. 11 Oktober 2003 Oleh: Prof. Seorang pengemudi ‟speed boat‟ Zamrani (26 th) yang hanya tamat SD 6 tahun menegaskan “Ekonomi Pancasila dalam Aksi” di dalam pelayanan jasa transpor di Sungai Mahakam Kaltim. Jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu menjadi satu realiteit. Kompleksitas krisis multidimensi sekarang dan beratnya beban kesulitan mengatasi dan mengakhirinya membuat tekad membangun masa depan harus diwujudkan dalam tindakan-tindakan besar dan inisiatif tingkat tinggi. Dr. Ketika terjadi krismon 1997-1998.. Justru inilah suatu bentuk nyata ‖jihad akbar” yang tidak menuntut pengorbanan pertumpahan darah. yang begitu silau dengan sistem ekonomi kapitalis liberal dari Barat (Amerika). „Speed‟ hanya melayani penumpang Melak-Kota Bangun pulang-pergi (Kutai Barat dan Kutai Kartanegara).usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang. . Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. . Pembentukan PUSTEP UGM tepat waktu untuk mengisi kevakuman sistem ekonomi nasional. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi dan Moral. ketika sistem ekonomi kapitalis liberal di Indonesia sedang digugat.. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus. berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila (Soekarno. PUSTEP UGM bertekad melakukan kajian-kajian kehidupan riil (real life) sehingga dapat membakukan ilmu ekonomi tentang kehidupan riil ( real-life economics) dari masyarakat/bangsa Indonesia. perjuangan. janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya ialah perjuangan. Nanti kita bersama-sama sebagai bangsa yang bersatu padu. alasannya jelas karena politik ekonomi yang dijalankan pemerintah bersifat liberal dan berpihak pada konglomerat. Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. 11 Oktober 2003. lain coraknya. KOPMA-UGM. meskipun keberpihakan pemerintah pada konglomerat belum hilang. sekali lagi perjuangan. “Bagi-bagi rezeki” ala ekonomi rakyat di Kota Bangun inilah bukti nyata telah diterapkannya asas-asas ekonomi Pancasila di Kalimantan Timur. 25-27 September 2003.[6] [6] Nurcholish Madjid. maka reformasi lebih -lebih yang bersifat tambal-sulam jelas tidak akan memadai. Jihad akbar adalah jenis perjuangan berat melawan diri sendiri. Seminar UGM.

dan kini bertanggungjawab atas pendidikan 25 anak yang terbagi atas 6 kelas yaitu kelas I: 8 murid. Seminar Nasional. Pemda Kabupaten. Bila kita berbicara tentang reformasi yang jalannya hendak kita ―luruskan‖. Nurcholish Madjid. Anthem Press. Gadjah Mada Press. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi. Black Swan. Mubyarto. Panitia Pusat ―Silaturahmi Kebangsaan 2003‖. 2. Moral. 8. Globalization and Its Discontents. meskipun gaji Rusnawati terhitung lumayan (Rp 1. WW. Franz Magnis-Suseno SJ. kelas III: 3 murid. 2003. Tentu kita kagum bagaimana seorang guru mengajar 25 anak didik dengan 6 kelas yang berbeda dengan buku-buku yang sangat terbatas.H. Pertama. A Development Alternative for Indonesia. 2001. ibukota Kutai Barat) dengan perjalanan darat sebagian besar masih jalan tanah buatan perusahaan HPH. London. Anak -anak kelas I – III pulang pukul 11:00.000 per-bulan). 2003. sehingga total 25 murid. Kedua. 5. 2002. Yogyakarta. Masri Singarimbun & D. Sekolah dimulai pukul 6:00 pagi dan pada pukul 6:30 semua murid ―gosok gigi‖ bersama. The Mystery of Capital. Yogyakarta. SD yang layak dan bermutu harus dipusatkan di kecamatan yang murid-muridnya di‖asramakan‖ dan penyelenggaraannya ditanggung Dinas Pendidikan. Penny. maka untuk SD yang ditangani Rusnawati reformasi ―belum pernah terjadi‖. namun perhatian terhadap . dan revolusi dalam kesadaran seluruh warga masyarakat bagaimana menjamin pendidikan yang bermutu bagi generasi anak cucu . Pidato pertama tentang Pancasila yang diucapkan pada tanggal 1 Juni 1945 oleh Bung Karno ‖. ―12 Kali Tepuk Tangan di BPUPKI: Lahirnya Pancasila. Membangun Sistem Ekonomi. Indonesia Today. Penduduk dan Kemiskinan di Pedesaan Jawa. 11. 2000. Aditya Media. Grayson & Shannon Smith. sedangkan ke perbatasan dengan Kalteng yang hanya 10 km ditempuh dalam 1 jam perjalanan. Ahmad Syafii Ma‘arif. Seminar Nasional. Kecamatan Bentian Besar. yaitu revolusi dalam perhatian pemerintah terhadap kondisi persekolahan di kampung ini. Universitas Gadjah Mada. Mubyarto. 1999. 6. 12. dan Pendidikan. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi dan Moral. Seminar Nasional. Joseph E. 2000. Kampung (desa) Sambung. Mubyarto PERHATIAN TERHADAP KONDISI PERSEKOLAHAN DI DAERAH TERPENCIL: BUKAN SEKEDAR REFORMASI HARUS REVOLUSI Rusnawati (47 tahun) yang guru SD Kampung Sambung. Kabupaten Kutai Barat. BPFE. 1976. kelas IV: 1 murid. Ha-Joon. sedangkan anak-anak kelas IV – VI pulang pukul 13:00. Chang. Singapore.Bacaan 1. Lloyd. The Rebel Within. dan sangat jelas yang diperlukan sekarang bukan sekedar reformasi tambal sulam tetapi revolusi. Kalimantan Timur. Bhratara. 10. Kembalikan Moralitas Bangsa. Perjalanan dari Melak memerlukan 4 jam. Norton. 2002. kelas II: 3 murid. Universitas Gadjah Mada. Mubyarto dan Daniel W. dan kelas VI: 8 murid. 3. 2001. New York. Yogyakarta. berjarak 160 km dari Melak (Sendawar. 7. Jakarta. 2003. 4. Hernando. Stiglitz. Joseph Stiglitz and The World Bank. 2003. tidak mungkin setiap kampung mempertahankan SD sendiri-sendiri dengan jumlah murid sangat sedikit. Bromley. bertahun-tahun berjuang ―sendirian‖. De Soto.720. Soekarno. 9. Reformasi Sistem Ekonomi. kelas V: 2 murid. ISEAS. Universitas Gadjah Mada.

Sekarang setiap anak membayar BP3 Rp 1. 25 September 2003 Oleh: Prof. pemerintah daerah harus mampu mendorong terjadinya revolusi atau perubahan radikal dalam menangani dunia pendidikan termasuk penyediaan anggaran 20% dari APBD seperti yang ―dianjurkan‖ UUD 1945 yang telah diamandemen. Dr.000/bulan. Ada anak kelas I anak penginjil setempat (Yunus) yang tiap hari diantar sekolah oleh ibunya setelah ditinggal selalu pulang lagi. 4 & 7).811.008 per bulan atau berdasarkan harga yang berlaku pada tahun 2001 adalah sebesar Rp 1.000/bulan bertanggungjawab atas pendidikan 41 murid SD. Kasus kondisi sekolah dasar yang cukup ―memilukan‖ di kampung Sambung menjadi lebih ―mengerikan‖ lagi di kampung Jontai kecamatan Damai. Kinerja pendapatan per kapita penduduk diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan tahun 1993 dibagi dengan jumlah penduduk tengah tahun. itupun ada yang keberatan karena memang tidak mampu. 19). tidak sekedar reformasi yang dalam kenyataan hanya dijadikan retorika politik di Jakarta. 9 Tahun 2001 Tentang Program Pembangunan Daerah Tahun 2001-2004. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM.000 (baru saja diangkat sebagai PNS) dengan dibantu guru PTT dengan gaji Rp 400. dengan titik berat pembangunan yang berlandaskan pada pembangunan ekonomi rakyat. tanpa dinding pembatas. pendidikan rakyat.696 per tahun atau Rp . Jaelani (41 th).Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. Sengkon (39) dengan gaji Rp 720. Masyarakat yang hampir semuanya miskin sulit diharapkan membayar biaya pendidikan anak-anak mereka. Melihat buku-buku ajar yang dipakai sebagian besar sudah tua. dipakai untuk semua murid dengan guru Sengkon sendirian (guru PTT Sarmoto jarang datang).Nopember 2003] Vincent Gaspersz dan Esthon Foenay KINERJA PENDAPATAN EKONOMI RAKYAT DAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Strategi pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dilakukan berdasarkan pertumbuhan melalui pemerataan dengan prinsip membangun dari apa yang dimiliki rakyat dan apa yang ada pada rakyat. Di daerah-daerah. Mubyarto -. sangat mendukung gagasan pengasramaan murid-murid SD desa-desa terpencil ini. dikhawatirkan anak-anak sangat tidak menikmati suasana sekolah dan tidak dapat diharapkan menjadi anak-anak yang cerdas.100 per tahun atau Rp 61. Pada saat kepada penduduk Jontai yang dipilih secara acak diajukan usulan untuk ―mengasramakan‖ anak -anak usia SD mereka ke SD Dempar. hlm. Pendapatan per kapita dari Provinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan harga konstan 1993 pada tahun 2001 adalah sebesar Rp 732. terutama desa-desa/kampung-kampung miskin. Strategi pembangunan yang menjadi pilihan tersebut memerlukan langkah-langkah operasional yang terukur dan disesuaikan dengan paradigma baru pembangunan (Esthon Foenay. [1] 8 . beberapa orang spontan mendukung asal tetap tidak perlu dipungut biaya. Salah satu tujuan pembangunan ekonomi daerah Nusa Tenggara Timur adalah meningkatkan standar hidup layak yang diukur dengan indikator pendapatan per kapita riil masyarakat (Peraturan Daerah Provinsi NTT No. Pendapatan per kapita dan pengeluaran per kapita dapat dijadikan sebagai indikator kemajuan pembangunan ekonomi di Nusa Tenggara Timur. Kepala sekolah SD Dempar. dan kesehatan rakyat. Gedung SD dari kayu yang bekas rumah penduduk (5 x 15m).kesejahteraan guru dan penyediaan bahan-bahan ajar harus dengan anggaran yang memadai untuk penyelenggaraan sekolah-sekolah beserta asramanya. yang merupakan filial SD Dempar. Demikian dari kasus 2 SD di kampung miskin di kabupaten Kutai Barat ini kiranya harus ada revolusi dalam pendidikan dasar. Pos Kupang 11 September 2001 hlm.

333 per bulan dan terrendah adalah dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (Provinsi Nusa Tenggara Timur) yaitu Rp 497. Kelompok penduduk yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150.015. (2) Kabupaten Kupang (Rp 852. BAPPENAS.04%).000 per tahun —ranking 294 dari 294 kabupaten di Indonesia) dan Kabupaten Sumba Barat (pendapatan per kapita Rp 501.820. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001 (BPS. Pengeluaran per kapita pada tahun 2001 dari penduduk Provinsi Nusa Tenggara Timur atas dasar harga yang berlaku adalah sebesar Rp 1. atau hanya sekitar 3.125.14 persen daripada pendapatan per kapita penduduk Jakarta Pusat. sedangkan yang berada di daerah perkotaan NTT adalah sebanyak 388.380 per tahun atau Rp 84.149). (5) Alor (Rp 706.104.72% dari total penduduk pedesaan) hanya memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 5.22%) daripada pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk pedesaan di NTT.057).857).034 per bulan. yaitu Kabupaten Timor Tengah Selatan (pendapatan per kapita Rp 497.028 (70. sedangkan pengeluaran per kapita dari penduduk pedesaan di NTT adalah sebesar Rp 1.100).250 per bulan dan terrendah adalah dari Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Rp 712.680). Terdapat dua kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pendapatan per kapita terrendah di Indonesia (ranking 293 dan 294 dari 294 kabupaten yang dipelajari). masih lebih rendah daripada pendapatan per kapita penduduk negara termiskin di dunia (Sierra Leone) yang sebesar $US 490. (2) Manggarai (Rp 521. Hal ini berarti pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk perkotaan di NTT lebih tinggi sekitar Rp 713.728. (3) Timor Tengah Selatan (Rp 550. BAPPENAS.000 per tahun—ranking 293 dari 294 kabupaten di Indonesia).000 per hari ini terbanyak berada di daerah pedesaan NTT yaitu sebanyak 3. Jika menggunakan nilai kurs $US 1 = Rp 9000an (rata-rata nilai kurs pada tahun 2001).061) dan terrendah (pendapatan per kapita terrendah) adalah dari negara Sierra Leone yaitu $US 490. dan (6) Ngada (Rp 761.150. (4) Timor Tengah Utara (Rp 650.636). 129).053). atau hanya sekitar 12 persen daripada pendapatan per kapita penduduk DKI Jakarta.000 per bulan atau kurang dari Rp 5.298 orang) yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150.000 per hari. dan UNDP 2001) diketahui bahwa rasio Gini (indeks Gini) dari pengeluaran rumahtangga di Provinsi Nusa Tenggara Timur .$US 300.240 per tahun atau Rp 93.100).591).15% penduduk NTT (3.000 per tahun atau Rp 1. Kinerja pendapatan per kapita di Nusa Tenggara Timur adalah yang paling rendah (paling buruk) di Indonesia.039).339 orang (65.000 per hari pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku pada saat itu.770 per bulan (NTT dalam Angka Tahun 2001.951). Sedangkan enam kabupaten di NTT memiliki kinerja pendapatan per kapita lebih tinggi daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 732. (4) Ende (Rp 812. diurutkan dari yang tertinggi adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 1.615 per bulan. (3) Sumba Timur (Rp 840.318.408 per tahun atau Rp 144.417 per bulan.975 per bulan (NTT dalam Angka Tahun 2001.943.000 per tahun atau Rp 41.000 per bulan atau kurang dari Rp 5.333 per bulan. 469).000 per tahun atau Rp 495. Kinerja pendapatan per kapita lingkup kabupaten/kota tertinggi (PDRB real per kapita—tanpa minyak dan gas) adalah dari Kota Madya Jakarta Pusat (Provinsi DKI Jakarta) yaitu Rp 15. Pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku terdapat sekitar 90. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Global 2002 (UNDP 2002) terhadap 173 negara di dunia.105). (6) Sikka (Rp 717.149). hlm.72%). Pengeluaran per kapita dari penduduk perkotaan di NTT adalah sebesar Rp 1. maka pendapatan per kapita NTT pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku adalah setara dengan $US 200-an.009). terutama di daerah pedesaan NTT di mana mayoritas penduduknya (94. Hal ini berarti secara kasar dapat disimpulkan bahwa pendapatan per kapita penduduk NTT yang sebesar $US 200-an—katakanlah berkisar $US 200 . Kinerja pendapatan per kapita dari kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 adalah terdapat tujuh kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pendapatan per kapita per tahun lebih rendah daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 732.262). Kinerja pengeluaran per kapita penduduk secara rata-rata dapat juga digunakan sebagai variabel proxy (mewakili) dalam mengkaji kinerja tingkat pendapatan ekonomi penduduk dan distribusi pendapatan penduduk. dan UNDP 2001) diketahui bahwa kinerja pendapatan per kapita tertinggi (PDRB real per kapita —tanpa minyak dan gas) pada lingkup provinsi di Indonesia adalah dari Provinsi DKI Jakarta yaitu Rp 5. dan (7) Ngada (Rp 761.959 orang (94. Sangat sulit membayangkan betapa parahnya tingkat kemiskinan masyarakat di Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan studi ini dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pemerataan kemiskinan di Nusa Tenggara Timur yang ditunjukkan melalui rendahnya tingkat pengeluaran per kapita dari mayoritas penduduk di NTT. diketahui bahwa kinerja pendapatan per kapita tertinggi adalah dari negara Luxembourg yaitu sekitar $US 50 ribu ($US 50. hlm. (5) Flores Timur (Rp 778.985.493. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001 (BPS. diurutkan dari yang terrendah adalah: (1) Sumba Barat (Rp 474.000 per tahun atau Rp 59.

597.703.540).281. (6) Belu (Rp 494. sedangkan produktivitas tenaga kerja terrendah berada dalam sektor industri pupuk.650). maka pembangunan ekonomi kerakyatan di masa mendatang seyogianya memprioritaskan pada beberapa kabupaten di NTT yang masih menunjukkan kinerja rendah dalam indikator pendapatan ekonomi masyarakat yaitu: Timor Tengah Selatan. Alor.590 (atas dasar harga yang berlaku tahun 2001). Kinerja Produktivitas Tenaga Kerja di NTT Apabila ukuran keberhasilan produksi hanya memandang dari sisi output. Belu.717. (7) Flores Timur (Rp 1.650).710) di Nusa Tenggara Timur adalah sekitar 75 kali atau 7. kimia dan barang dari karet.650).367. Dari 34 sektor produksi yang didefinisikan dalam Tabel Input-Output Nusa Tenggara Timur 2001 (BPS NTT.962. diurutkan dari yang terrendah adalah: (1) Sumba Barat (Rp 437.750) di Nusa Tenggara Timur adalah sekitar 7. Hal ini berarti bahwa tingkat ketimpangan antara produktivitas tenaga kerja regional tertinggi (Kota Madya Kupang—Rp 7.730).406. Sumba Barat.575.640).010). (10) Sumba Timur (Rp 566.360).650. sedangkan produktivitas tenaga kerja terrendah berada dalam Kabupaten Sumba Barat yaitu sebesar Rp 1. (2) Sikka (Rp 440.900).030 (atas dasar harga konstan 1993). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input dalam memproduksi output (barang dan/atau jasa).202. (8) Flores Timur (Rp 528.540). adalah: (1) Sumba Barat (Rp 1. Kinerja produktivitas tenaga kerja di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 adalah sebesar Rp 1.660).960). (2) Kabupaten Kupang (Rp 1.28.030) dan produktivitas tenaga kerja regional terrendah (Kabupaten Sumba Barat—Rp 1. kimia dan barang dari karet —Rp 469.148. Manggarai. Hanya terdapat dua kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pengeluaran per kapita lebih tinggi daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 576. kimia dan barang dari karet yaitu sebesar Rp 469. Hanya terdapat tiga kabupaten yang memiliki kinerja produktivitas tenaga kerja regional lebih tinggi daripada rata-rata produktivitas tenaga kerja tingkat Provinsi NTT (Rp 1. Timor Tengah Utara. (4) Alor (Rp 485. diurutkan berdasarkan produktivitas tenaga kerja terrendah. (5) Ngada (Rp 1.017.017.710 (atas dasar harga yang berlaku tahun 2001). dan Kabupaten Kupang. (6) Timor Tengah Selatan (Rp 1.367.280).717.140).380).717. yang berarti tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi dari Kota Madya Kupang adalah 7. diketahui bahwa produktivitas tenaga kerja tertinggi berada dalam Kota Madya Kupang sebesar Rp 7. (5) Timor Tengah Utara (Rp 487. dan (10) Ende (Rp 1. (2) Manggarai (Rp 1. Dari 13 kabupaten/kota yang dipelajari. (3) Timor Tengah Selatan (Rp 472.560). Hal ini berarti bahwa tingkat ketimpangan antara produktivitas tenaga kerja sektoral tertinggi (sektor lembaga keuangan bukan bank —Rp 35. .180) dan (2) Manggarai (Rp 579. Kinerja produktivitas tenaga kerja regional di Nusa Tenggara Timur diukur berdasarkan rasio produk domestik regional bruto (PDRB) kabupaten tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 dengan jumlah tenaga kerja yang ada di kabupaten itu pada tahun 2001. Kinerja pengeluaran per kapita dari kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada tahun 1999 atas dasar harga konstan 1993 adalah terdapat sebelas kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pengeluaran per kapita lebih rendah daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 576. yang menunjukkan telah terjadi pemerataan pengeluaran rumahtangga pada tingkat pengeluaran yang rendah seperti diungkapkan di atas.187.710).030).24 kali atau 724 persen. Kinerja produktivitas tenaga kerja dari kabupaten-kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah terdapat 10 kabupaten yang memiliki kinerja produktivitas tenaga kerja regional lebih rendah daripada rata-rata produktivitas tenaga kerja tingkat Provinsi NTT (Rp 1. yaitu: sisi input dan sisi output. (3) Timor Tengah Utara (Rp 1.820).750 (atas dasar harga konstan 1993).652.980). dan (11) Ngada (Rp 566. (7) Ende (Rp 501. 2002) diketahui bahwa produktivitas tenaga kerja tertinggi berada dalam sektor lembaga keuangan bukan bank yaitu sebesar Rp 35. adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 7.750). (9) Alor (Rp 1.367.270).534. yang berarti tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi dari sektor lembaga keuangan bukan bank adalah 75 kali lipat (7500%) daripada tingkat produktivitas tenaga kerja terrendah dari sektor industri pupuk.942.590) dan produktivitas tenaga kerja sektoral terrendah (sektor industri pupuk.030). Berdasarkan kenyataan di atas.580). (4) Belu (Rp 1.900).017.970). diurutkan berdasarkan produktivitas tenaga kerja tertinggi.523. (8) Sikka (Rp 1. maka produktivitas memandang dari dua sisi sekaligus.pada tahun 1999 adalah rendah yaitu 0.187. dan (3) Sumba Timur (Rp 1.24 kali lipat (724%) daripada tingkat produktivitas tenaga kerja terrendah dari Kabupaten Sumba Barat.900). diurutkan dari yang tertinggi adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 1.080).500 persen. (9) Kabupaten Kupang (Rp 557.250).

Perspektif Perencanaan dan Paradigma Baru Pembangunan. dan UNDP. Vincent Gaspersz adalah Guru Besar Ekonomi Manajerial pada Program Pascasarjana Unika Widya Mandira. 2001. 2002. BPS. DAFTAR PUSTAKA BAPPEDA NTT dan Program Pascasarjana UNIKA WIDYA MANDIRA. Esthon Foenay. BPS NTT. Bappenas.Si adalah Kepala BAPPEDA Provinsi Nusa Tenggara Timur yang bermukim di Kupang. Perencanaan Sumber Daya Manusia Tingkat Makro di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 6 Tahun 2002 tentang Rencana Strategis Pembangunan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2002-2004. Badan Pusat Satatistik. Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2001. Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2000. 2002. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kupang. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. 2001. ―on-farm‖. Penduduk Nusa Tenggara Timur—Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000. 2001. Jakarta yang saat ini bermukim di Vancouver. Dr. Laporan Studi Kerjasama Bappeda NTT dengan Program Pascasarjana Universitas Katolik Widya Mandira. Jakarta 2001. 2001. 4 dan 7. 2001. Publikasi Bersama oleh BPS. 2002. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 9 Tahun 2001 tentang Program Pembangunan Daerah (PROPEDA) Tahun 2001-2004. BPS Jakarta-Indonesia. yang pada akhirnya akan mampu mewujudkan kemandirian masyarakat membiayai kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. Jakarta. Bappenas.Berdasarkan hasil studi ini direkomendasikan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dari kabupaten-kabupaten di NTT melalui melakukan transformasi struktur produksi atau menurunkan tingkat kontribusi dari sektor-sektor primer terhadap PDRB kabupaten itu. Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001—Menuju Konsensus Baru: Demokrasi dan pembangunan manusia di Indonesia. hlm. Hal yang paling memungkinkan adalah mengembangkan sektor-sektor agribisnis yang mampu mengaitkan secara terpadu dan terintegrasi dari agribisnis hulu. Canada. di masa mendatang akan mampu meningkatkan produktivitas tenaga kerja regional. BPS NTT. 2001. ―on-farm‖. Kupang dan Universitas Trisakti. Artikel dalam Pos Kupang 11 September 2001. Kupang. Kupang. dan UNDP. maju. Foenay. M. Kupang. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 8 Tahun 2001 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Tahun 2001-2004. Kupang. akan memberikan konsekuensi lebih lanjut berupa peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat. sampai hilir. Prof. BPS NTT. Esthon. Dengan demikian telah jelas bahwa strategi perubahan struktur produksi dari sektor-sektor produksi yang memberikan kontribusi terhadap PDRB. 2002. sesuai dengan visi dari pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur. Hal ini akan mampu mewujudkan cita-cita jangka panjang berupa mewujudkan masyarakat Nusa Tenggara Timur yang mandiri. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. Kupang. dan hilir. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. NTT. Peningkatan produktivitas tenaga kerja melalui perubahan struktur produksi terhadap PDRB. Kupang. . Tabel Input-Output Nusa Tenggara Timur 2001—Klasifikasi 35 Sektor. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ir. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. melalui mengembangkan sektor agribisnis dari hulu. dan sejahtera.

Peak Oil and Energy Imperialism John Bellamy Foster Home Subscribe Notes From the Editors ESSAYS ON: » Africa » Europe » Feminism/Women and Politics » Globalization » Labor and Working-Class Issues » Latin America » Media/ Communications » 9/11–War on Terrorism » Social/Political Theory » U. At the same time fears that the world would soon reach peak oil production became increasingly prominent. Politics/ Economics The rise in overt militarism and imperialism at the outset of the twenty-first century can plausibly be attributed largely to attempts by the dominant interests of the world economy to gain control over diminishing world oil supplies. The response of the vested interests to this world oil supply crisis was to construct what Michael Klare in Blood and Oil has called a global ―strategy of maximum extraction.S. and (4) looming fears of peak oil. military activities in the Gulf of Guinea in Africa (where Washington sees itself as in competition with Beijing). ―The End of Cheap Oil‖ predicted that world oil production would peak ―probably within 10 years. The crossing of this threshold pointed to a very rapid growth in U. the invasion and occupation of Afghanistan (the geopolitical doorway to Western access to Caspian Sea Basin oil and natural gas) following the 9/11 attacks. the . A key event was the publication in Scientific American in March 1998of ―The End of Cheap Oil‖ by retired oil industry geologists Colin J. importation of foreign oil. The Geopolitics of Oil In April 1998 the United States for the first time imported the majority of the petroleum it consumed. Campbell and Jean H. and the increased threats now directed at Iran and Venezuela—all signal the rise of a dangerous new era of energy imperialism. with the backing of the other leading capitalist states. (3) concentration of an increasing percentage of all remaining conventional oil resources in the Persian Gulf. (2) the disappearance of spare world oil production capacity. the rapid expansion of U. Laherrère. the 2003 invasion of Iraq.‖2 This required that the United States as the hegemonic power.S.1 Beginning in 1998 a series of strategic energy initiatives were launched in national security circles in the United States in response to: (1) the crossing of the 50 percent threshold in U.S. assuming a high profile behind the scenes in establishment discussions. foreign oil dependency. seek to extend its control over world oil reserves with the object of boosting production. Seen in this light.‖ The Campbell and Laherrère article and the question of peak oil immediately drew the attention of the International Energy Agency (IEA).S.

His 2005 book. advising on the growing oil constraints. would push the peak back around a decade further. Rather than extending the life of oil fields as previously supposed. fields also starts to deplete. The peaking of United Kingdom North Sea oil production in 1999 (Norwegian production peaked two years later) added a still greater sense of urgency.5 Simmons was a member of the Bush-Cheney Energy Transition Advisory Committee.S. Schlesinger. ―Between now and the election.7 These concerns with regard to world oil supply that began to penetrate the corridors of power in the 1998–2001 period led to a wide-ranging debate within the inner circles in the United States about the nature of the oil extraction problem and the strategic means with which to alleviate it. As Simmons reported to Bush‘s cousin: I said.‖ at the urging of former chairman of the Senate Armed Services Committee Sam Nunn and former secretary of defense (and former secretary of energy) James R. empire raised by groups such as the Project for a New American Century.‖ The analysis itself. he had ―pulled aside‖ Bush‘s ―first cousin‖ in early March 2000 to tell him of an earlier conversation he had had with an assistant to Secretary of Energy Bill Richardson. this will sink you. who had been sent to examine the spare oil production capacity of the OPEC countries. As he recounted it in a February 2008 interview. Referring to oil fields ―brought into production since 1970. has become one of the most influential works propounding the peak oil notion.‖ Simmons noted that ―almost all of these new fields have already reached peak production and are now experiencing rapid rates of decline…fAnd when the stable base of old. Department of Energy conducted a full assessment of the peak oil issue as early as July 2000. In November 2000. Bush‘s presidential campaign.8 In July 1998 the Center for Strategic and International Studies (CSIS) launched its ―Strategic Energy Initiative. CEO of the Houston-based energy investmentbanking firm Simmons and Company International and a member of the National Petroleum Council and the Council on Foreign Relations. this is so much worse than what they‘ve warned us about.3 This. oil policy call you and [say ‗shit!‘] about five times in 20 seconds.‖ Employing the IEA‘s own assumptions on reserves. considering a number of scenarios. was still far from distant. in its World Energy Outlook of 1998. Matthew Simmons. was not altogether reassuring to the vested interests. however. if this all breaks out and Bush is misinformed.‖ And that dragged me into helping create the comprehensive energy plan put forth by Bush when he was running. but giant.OECD‘s energy organization. As opposed to those who saw the peak occurring ―as early as 2004‖ the EIA concluded that ―world conventional oil production may increase two decades or more before it begins to decline.S. moreover. its own longterm supply model ―would not peak until around 2008–2009. This was increasingly integrated with wider issues on the expansion of the U. ―When you have someone who is the head of U. arguing that the Saudi oil production peak was imminent. The IEA claimed that even adopting the pessimists‘ assumptions on the real extent of world oil reserves and the existence of a bellshaped production curve (but without the sharp oil price hike suggested by Campbell).‖ I said. ―what will this do to the world‘s average depletion rate?‖4 In 2000 Simmons‘s concerns regarding diminishing oil supply led to his becoming an energy advisor for George W. the introduction of this technology most likely accelerated their depletion.6 The Energy Information Administration (EIA) of the U. . published an article in Middle East Insight in 1999 in which he emphasized the ―far faster‖ depletion of major oil fields arising from high-extraction technology. but this. he can mispronounce every head of state in the world. however. Twilight in the Desert: The Coming Saudi Oil Shock and the World Economy. since it suggested that a world oil peak could be reached as early as 2021.S.‖ he asked.

President Bush warned in May 2001 that dependence on foreign crude oil put U. which had arisen with the growth of ―resource nationalism‖ in the third world. and in the previous year ―turning its taps on and off when it has felt such action was in its strategic interests to do so. The Baker Institute/Council on Foreign Relations report emphasized the adequacy of world oil reserves for decades to come but argued that world oil was facing ―tight supply‖ due to ―underinvestment‖ in new production capacity and ―volatile states. with Nunn and Schlesinger as cochairs.‖ Investment in the enhancement of Iraqi oil production capacity was essential.‖ Excess capacity had been ―wiped out. reliance on foreign oil imports could increase to almost two-thirds of its total gasoline and heating oil consumption by 2020.S. the Baker Institute/Council on Foreign Relations report pointed out that Iraq had emerged as a key ―swing producer‖ of oil.S. issued under the direction of Vice President Dick Cheney. ―national energy security‖ in the hands of ―foreign nations.‖ the Strategic Energy Policy report emphasized.S.S.the Strategic Energy Initiative issued a three volume report. Morse.S.9 In 2001 the James Baker III Institute for Public Policy of Rice University and the Council on Foreign Relations cosponsored a study of Strategic Energy Policy Challenges for the 21st Century. As the ―only superpower‖ the United States. noting that total U. Underscored throughout the report was the necessity of finding ways to increase oil exports from Iraq and Iran both then under U. and oil pessimists such as peak oil proponent Simmons. ―Iraqi reserves. operating well below capacity. it declared. Department of Energy‘s International Energy Outlook in 2001 projected the need for a doubling of Persian Gulf oil production over 1999 . The question of a world oil peak in the decade 2000–10 was also examined. Task force members included both oil optimists. the Baker Institute/Council on Foreign Relationsreport emphasized. focusing on the arguments of Campbell and Laherrère and Simmons.‖ Indeed. the stakes were exceedingly high. In this situation. such as Morse and Daniel Yergin of Cambridge Energy Research Associates. chaired by energy analyst Edward L.S. The Geopolitics of Energy into the 21st Century. ―represent a major asset that can quickly add capacity to world oil markets and inject a more competitive tenor to oil trade. some of whom do not share our interests. with one in which the multinational oil corporations centered in the advanced capitalist economies once again took charge of reserves and investments. The CSIS Strategic Energy Initiative officially rejected the notion that the world oil peak would be reached as early as 2010. It too emphasized the need for U.‖ In terms of the long-term world oil supply outlook. This would be coupled with replacement of the current political economy of oil dominated by national oil companies. its report took the peak oil issue extremely seriously. Nevertheless. the U. economic sanctions. which included the ―possibility that Saddam Hussein may remove Iraqi oil from the market for an extended period. petroleum security.‖ This presented a growing danger to the world capitalist economy.‖ The answer was for the Western powers led by the United States to play a more direct role in the development of world oil resources. It stressed that the Persian Gulf would have to expand its energy production ―by almost 80 percent during 2000–2020‖ in the face of rising demand and declining oil production elsewhere in the world in order to meet world energy needs. partly due to oil producing countries devoting oil revenues to social projects rather than to investment in new production capacity. had ―special responsibilities for preserving worldwide energy supply‖ and ―open access‖ to the world‘s oil. The problem was what to do about Saddam Hussein. oil production had fallen 39 percent below its 1970 peak and that U.‖ falling to ―negligible‖ amounts. since there was a danger that oil price increases and supply shortages would make ―the United States appear more similar to a poor developing country.10 These reports by national security analysts on strategic energy policy were followed in May 2001 by the White House release of its National Energy Policy. Overall.

It is unlikely that this strategy was ever formalized in a single. economic official throughout this period. and military action in the Gulf. the strategy also entailed increased military intervention. without massive investment in an expansion of capacity in the Persian Gulf of a kind that key states. Saddam Hussein‘s removal and the occupation of Iraq was seen as enhancing the security of Middle East oil.S. to the military as the ultimate guarantor. national security and energy analysts as well as energy corporations and the Bush administration had thus arrived at the conclusion by spring 2001 that. followed by the invasion in 2003 of Iraq. as had all other administrations before it. .‖ The U. strategic control of the Middle East and its oil was viewed as the key to establishing the basis of a ―new American century.levels by 2020 in order to meet expected world demand.‖ As former Federal Reserve Board Chairman Alan Greenspan. and providing a staging ground for increased U. presaging a series of oil price shocks. presenting the possibility of a big boost in Iraqi oil production. giving the United States a geopolitical doorway (and pipeline route) to Central Asia and the Caspian Sea Basin. Only a vast increase of oil production in the Persian Gulf as a whole could prevent an enormous gap emerging between oil production and demand over the next two decades.12 Militarily the issue was one of shoring up Saudi Arabia in the face of growing signs of instability. U. From the standpoint of the geopolitics of oil.S. This approach—I call it the strategy of maximum extraction—was aimed primarily at boosting the oil output of the major Gulf producers. Once the September 2001 attacks occurred.11 U. economic. and exerting maximum pressure on Iran.S. the Bush administration turned. and even Saudi Arabia. the top U. military.S. for example: ―the reaction. to and reversal of. carrying out regime change in Iraq. Mossadeq‘s nationalization of Anglo-Iranian oil in 1951 [resulting in the CIA‘s overthrow of Iranian Prime Minister Mossadeq and the installation of the Shah in 1953] and the aborted effort by Britain and France to reverse Nasser‘s takeover of the key Suez Canal link for oil flows to Europe in 1956. intervention in Iraq and its increased military role in the Middle East was. the administration adopted a series of policies that together formed a blueprint for political. But since the sought-after increases could be doomed by instability and conflict in the region. while Iran‘s had fallen by about 37 percent since 1976. needed to be seen against the background of previous Western military interventions aimed at securing the oil of the region.S. the Bush administration fashioned a comprehensive strategy for American domination of the Persian Gulf and the procurement of everincreasing quantities of petroleum. Key figures in the Bush administration such as Donald Rumsfeld and Paul Wolfowitz had been pushing for an invasion of Iraq even before the election. The IEA estimated that Persian Gulf states would have to invest over half a trillion dollars on new equipment and technology for oil production capacity expansion by 2030 in order to meet projected oil production levels.S. As Michael Klare wrote in his Blood and Oil: In the months before and after 9/11. Rather than try to solve the problem on the demand side by lessening consumption. capacity was extremely tight. however.‖ The U. political. the ―War on Terrorism‖ led to the invasion first of Afghanistan. such as Iraq and Iran. Iraqi crude oil production in 2001 was 31 percent less than in 1979. seemed unlikely to undertake. This optimistic forecast could not possibly be fulfilled. while substantial oil reserves still existed. invasion of Iraq. stated in his book The Age of Turbulence in 2007: ―I am saddened that it is politically inconvenient to acknowledge what everyone knows: that the Iraq war is largely about oil. Both nations were viewed as underproducing due to underinvestment and the effects of sanctions. all-encompassing White House document. Behind all of this lay the specter of peak oil production. Greenspan claimed. Rather. and economic dominance of the Gulf.

The conventional notion that . as determined primarily by geological and technological factors. while the average size of new discoveries has also declined over time. King Hubbert. It is estimated that it takes an equivalent of two out of three barrels of oil produced to pay for the energy and other costs associated with extracting oil from the tar sands in Alberta.‖14 Peak Oil: A Global Turning Point? In the five years that have elapsed since the United States invaded Iraq the world oil supply problem has drastically worsened. troops reached Baghdad peak oil was already a specter looming over the globe.‖ The economic and environmental costs are thus prohibitive. Iraq‘s average annual oil production in 2007 had fallen to 13 percent below its 2001 level. bell-shaped curve with extraction steadily rising. Peak oil is not the same as running out of oil.1 mb/d. These include heavy oil.S. 2007. In a September 13. oil peak in 1970. where two-thirds of the world‘s reserves and hence most of its capacity for increased extraction was located.for Greenspan—the leading spokesperson for financial capital in the 1990s and early 2000s—justified by the fact that ―world growth over the next quarter century at rates commensurate with the past quarter century will require between one-fourth and two-fifths more oil than we use today. petroleum derived from oil sand.13 Although the Bush administration criticized Greenspan‘s statement. and that actual retrievable reserves may be considerably less.4 to 2. Geologists have become adept at estimating the point at which a peak in national production will occur. by 2 percent a year.. but also at much greater cost—monetarily and to the environment. national oil production can be expected to take the form of a bell-shaped curve as well. Rather it simply means the peaking and subsequent terminal decline of oil production. Bush declared that if the United States were to pull out of Iraq ―extremists could control a key part of the global energy supply. prime time television speech.15 Instead. Peak oil therefore inevitably signals the end of cheap oil.5 million barrels a day (mb/d) to 6 or even 10 mb/d. It requires one billion cubic feet of natural gas to generate one million barrels of synthetic oil from oil sands.17 A key part of the argument on peak oil is the fact that discoveries of oil fields worldwide peaked in the 1960s. Those who argue that peak oil is imminent insist that estimates of proven reserves are commonly exaggerated for political reasons. e. who achieved fame for successfully predicting the U. the centrality of oil in the occupation of Iraq was not something that it could easily deny. Estimates of the potential for increased Iraqi oil production made prior to the war had suggested that Iraq free of sanctions could potentially increase its crude oil production within a decade from its previous 1979 high of 3. until a peak is reached when about half of the accessible oil has been extracted.‖ Peak oil is generally viewed in terms of the peaking of conventional crude oil supplies on which the main estimates of oil reserves are based.16 At the time U. The extraction of oil from any given oil well typically takes the form of a symmetrical.g. having declined from 2. and shale oil. These methods were pioneered in the 1950s by oil geologist M. This liquid waste is stored in enormous and rapidly expanding ―tailing ponds. Oil sand mining also requires vast quantities of water. The eventual peak in oil production is therefore sometimes known as ―Hubbert‘s peak. along with the stagnation of world oil production as a whole. Two tons of sand must be mined to get one barrel of oil. Oil production in the Persian Gulf as a whole increased by 2. There are also unconventional sources of oil that can be produced at much greater cost and with a much lower energy returned on energy invested (EROEI) ratio.‖ And this vast increase in oil production needed to come largely from the Persian Gulf. Since oil production for an entire country is simply a product of the aggregation of individual wells.4 mb/d on average between 2001 and 2005 and then dropped by 4 percent in 2005–07. producing two and a half gallons of toxic liquid waste for every barrel of oil extracted. Today it is present in all establishment discussions of the world oil issue.S. As the price of oil rises some of these sources become more exploitable.

In fact. The alternative position.needs additional processing to produce synthetic crude. coal-to-liquid.‖ Unconventional oil is derived from other processes. but it is also the preeminent liquid fuel in transportation. April 2008. represented by ―late peakers.. U. and the production of conventional and unconventional oil. demand for oil falls off). This therefore has lent credence to the notion that this is the form the peak will initially take. It presents the possibility of a drastic economic dislocation and slowdown.there are forty years of crude oil production remaining at current rates of output is seen as misleading.‖20 The lower line in chart 1. labeled ―world oil supply. which has often been fierce over the past decade. Richard Heinberg. remains level at about 85 mb/d due to a compensating rise in unconventional sources over the same period.‖ is that the world oil peak will not be reached until 2020 or 2030. oil sands.19 Hence. since it exaggerates the reserves in the ground and downplays the fact that the economy requires that oil demand and production levels increase. the shape of the production curve is modified by the increasing . The chief question now is how soon. In addition.S. oil shales. International Petroleum Monthly. rounded peak. Chart 1: World oil production and supply Source: Energy Information Administration. Chart 1 shows world oil production/supply from 1970 to 2007.html. The ―world oil supply‖ line. Therefore more than two-thirds of U.‖ also includes unconventional sources plus net refinery processing gains (losses). ―Oil‖ according to the IEA (and the EIA. as well as by political events such as war and revolutions. tables 1.18 The peak oil debate. writes: Why the plateau? Oil production is constrained by economic conditions (in an economic downturn. and may have already been reached in 2005–06. such as liquefied natural gas.4..S. biofuels. since not only is petroleum the most protean fuel. however. has now narrowed down to two basic positions.4d and 4. Peak oil analysts therefore focus on production levels rather than reserves. before declining. reflecting the fact that crude oil production fell from an average of 73. which has adopted an almost identical approach) is defined to include ―all liquid fuels and is accounted at the product level. resulting in what appears to be a more definite plateau.gov/ipm/supply. The peak oil crisis is more sharply defined than the more general crisis in energy. oil demand is in the form of gasoline and petrodiesel consumption by cars and trucks. Explaining that a plateau is the most likely initial outcome at the world level. refinery processing gains. culminating in a slender. An imminent peak in conventional oil thus strikes at the lifeblood of the existing capitalist economy. Sources include natural gas liquids and condensates. for which there is no easy substitute in the quantities needed.8 mb/d in 2005 to 73.doe. An added consideration is whether world oil production will face a classic bell-shaped curve. to be followed quickly by a decline (within what can be viewed as a symmetrical curve)—or whether production will rise to a plateau and then stay there for a while. labeled ―crude oil production. and whether it is already upon us. a leading peak oil proponent. The ―crude oil production‖ line shows a very slight dip in 2005– 07.‖ refers simply to production of conventional oil.eia. The higher line. One of these is that of ―early peakers‖ (usually seen as peak oil proponents proper). ―and/or [other fuel that].3 mb/d in 2007. These analysts argue that peak oil will probably be reached by 2010–12. http://www. world oil supply appears already to have reached a plateau over the last three years at the level of 85 mb/d.‖ Conventional or crude oil is readily processed oil ―produced from underground hydrocarbon reservoirs by means of production wells. there is a growing consensus that peak oil is or will soon be a reality. Department of Energy.

which includes both scientists and members of the German parliament. The enormous problem of converting Supply Outlook. Argentina (1998). partly political-economic. natural gas plant liquids. and ARCO. who pointed out that. plateau is emerging has now become the dominant view in the industry. The project leader was Robert L. asserting that the peak will not be reached until 2030 and that it will manifest itself at first as an ―undulating plateau. This will create a production plateau. Egypt (1993). 11. Malaysia (1997). 1974). India (1995). Boone Pickens have both raised the question of whether the peak was reached in 2005.‖ Yet over the past decade the question has been pursued systematically with increasing concern within the highest echelons of capitalist society: within both states and corporations. The Wall Street Journal article referred to the estimates of Cambridge Energy Research Associates. Thus Simmons and Texas oil billionaire T. and with oil supply seemingly stuck at the 85 mb/d level. with oil output remaining relatively constant rather than rising or falling. Syria (1995). United Kingdom. the crisis associated with the world peak in conventional oil production would be reached ―in 2008 to 2012. Venezuela (1998). ―suggest that world oil peaking will occur in less than 25 years.24 In February 2005 the U. with petroleum supply likely falling short of expected demand within a decade or less. it is not surprising that some analysts believe that peak oil has already been reached. Colombia (1999).S. Gabon (1997). spiraling costs and increasingly complex oil-field geology. an increased average daily oil production equivalent to ten times current Alaskan production was needed ―just to stay even.‖23 Publicly of course the peak oil problem has often been characterized by establishment sources and the media as a ―fringe issue. and tar sands). and particularly transportation.. Oman (2001). ―Even the most optimistic forecasts. Exxon.‖ Echoing many of the same worries. 1971). 1989). Indonesia (1977). Department of Energy released a major report that it had commissioned entitled Peaking of World Oil Production: Impacts.. Mitigation. in order to mitigate the harmful effects of the end of cheap oil. Hirsch of Science Applications International Corporation.‖ But the Journal article also took seriously the views of Simmons.‖ he suggested. Mexico (2004)... Crude Oil: The Given the appearance of a world oil production plateau at present. Ecuador (1999). In November 2007 the Wall Street Journal reported: a growing number of oil-industry chieftains are endorsing an idea long deemed fringe: The world is approaching a practical limit to the number of barrels of crude oil that can be pumped every day. some oil executives have raised the specter of an oil supply ceiling of 100 million barrels (conventional and unconventional). however. and Risk Management.peaked in 2006. Denmark (2004).The near adherents [to the peak oil view]—who range from senior Western oil-company executives to current and former officials of the major world exporting countries—don‘t believe that the global oil tank is at the half-empty point. The Hirsch report concluded that peak oil was a little over two decades away or nearer. The combined effect of all of these factors is to cushion the peak and lengthen the decline curve. Source: Energy Watch Group. Romania (1976). Hirsch had formerly occupied executive positions in the U. United States (lower 48. But they share the belief that a global production ceiling is coming for other reasons: restricted access to oil fields. Canada (conv. October 2007. While the Energy Watch Group in Germany. Atomic Energy Commission. Yemen (2001).availability of unconventional petroleum sources (including heavy oil.‖ Indeed.. not a peak. .‖ it stated. Australia (2000).22 Oil Producing Countries Past Peak (Year of Peak) Austria (1955). as well as new extraction technologies.‖ The main emphasis of the Hirsch report commissioned by the Department of Energy. Germany (1967). they contend. (1999). was on the issue of the massive transformations that would be needed in the economy. ―at the furthest out. United States (Alaska. contends that ―world oil production.21 The notion that a partly geological-technical.S. Norway (2001). due to declining production in old fields.

For the GAO the threat of a major oil shortfall was worsened by the political risks primarily associated with four countries. As environmentalist Lester R.‖ in the IEA‘s words. ―be close to reaching its peak if it has not already done so. and Venezuela. In its 2005 World Energy Outlook the IEA raised the issue of Simmons‘s claims in Twilight in the Desert that Saudi Arabia‘s super-giant Ghawar oil field. federal agencies had not yet begun to address the issue of the national preparedness necessary to face this impending emergency. according to analysts for the New York Times. By May 2008 the IEA.‖26 Similarly. the largest in the world.S. pronounced that ―we wouldn‘t be surprised if this [easy] oil would peak somewhere in the next ten years. geopolitics and market economics will cause even more significant price increases and security risks. backtracked between 2004 and 2006. Government Accountability Office (GAO) released a seventy-five-page report on Crude Oil pointedly subtitled: Uncertainty about Future Oil Supply Makes It Important to Develop a Strategy for Addressing a Peak and Decline in Oil Production. and aircraft in just a quarter-century (at most) was viewed as presenting intractable difficulties. The fact that Venezuela contained ―almost 90 percent of the world‘s proven extra-heavy oil reserves‖ made it all the more noteworthy that it constituted a significant ―political risk‖ from Washington‘s standpoint. by 2005 there was little doubt in ruling circles about the likelihood of serious oil shortages and that peak oil was on its way soon or sooner. Jeroen van der Ver.25 In October 2005.‖ Due to a combination of factors including production shortfalls and a declining dollar. but a picture of the future.S. 20 percent of U.28 In February 2007 the U. Iraq. low growth in availability can be expected for the next 5 to 10 years. One can only speculate at the outcome from this scenario as world petroleum production declines.0: ―Suddenly the world is facing a moral and . ―previous energy transitions (wood to coal. etc.) were gradual and evolutionary. trucks.S. Oil production is approaching its peak. CEO of Royal Dutch Shell.S. ―could. It argued that almost all studies had shown that a world oil peak would occur sometime before 2040 and that U. which had initially rejected Simmons‘s assessment. the problem will be pervasive and long lasting. Brown wrote in his Plan B 3. Western oil interests were particularly distressed that the first production from Kazakhstan‘s Kashagan oil field (considered the largest oil deposit in the world outside the Middle East) was eight years behind schedule due in part to waters frozen half the year.S. oil in May 2008 reached over $135 a barrel (it averaged $66 in 2006 and $72 in 2007). degrading its projection of Saudi oil production in 2025 by 33 percent.29 In April 2008. Army released a major report of its own in September 2005 stating: The doubling of oil prices from 2003–2005 is not an anomaly. accounting for almost one-third of world (conventional) reserves: Iran. oil peaking will be abrupt and revolutionary.30 It was alarm about gasoline prices and national energy security (and no doubt the specter of a world oil peak) that induced the Bush administration in 2006 to take a more aggressive stance in promoting cornbased ethanol production as a fuel substitute. Nigeria.virtually the entire stock of U. As worldwide petroleum production peaks. Hirsch wrote an analysis for Bulletin of the Atlantic Council of the United States on ―The Inevitable Peaking of World Oil Production. coal to oil. the U. corn production was devoted to ethanol to fuel automobiles. In 2007. cars. Department of Energy. was preparing to reduce its forecast of world oil production for 2030 from its earlier forecasts of 116 mb/d to no more than 100 mb/d.27 Indeed. Without massive mitigation at least a decade before the fact. The price of grain spiked worldwide partly as a result.S.‖ He declared there that. The same month Goldman Sachs shocked world capital markets by coming out with an assessment that oil prices could rise to as much as $200 a barrel in the next two years.‖ Likewise the U. The world has never faced a problem like this.

‖32 Even more central than the CSIS study was a 2006 Council on Foreign Relations report. Department of Defense.political issue that has no precedent: Should we use grain to fuel cars or to feed people?. Saudi Arabia. ―Some analysts have questioned the [Saudi] Kingdom‘s ability to meet sudden surges in demand because of its lack of spare production capacity.‖33 No less significant was an April 2007 ―policy report‖ issued by the James A. on average. it stressed expanding the role of the U. and growing fears of peak oil was swift. the Caspian Sea. now holder of Arleigh A. There has been pipeline sabotage in Nigeria. alleged corruption in Russia. China was trying to ―lock up‖ oil supplies in Africa. ―the depletion of conventional sources.S.‖31 The New Energy Imperialism The response in U. rather than reinvesting the oil proceeds. In October 2005 the CSIS issued another report. it contended that this was the key issue in managing the current world oil supply problem. and West Africa were all centers of instability..S. ―is tenuous at best.‖ Cordesman and Al-Rodhan added. the Caspian Sea.S.S. Thus the report declared that ―the United States should expect and support a strong military posture [in the Persian Gulf in particular] that permits suitably rapid deployment to the region. and Asia. Algeria. Still. if required…Any nation (or subnational group) that contemplates violence on any scale must take into account the possibility of U. The Deutch and Schlesinger report zeroed in on inadequate oil production capacity. military in securing oil supplies. but recent experience has shown that exporting countries in Africa.S.‖ Major energy suppliers like Russia. Moreover. whereas Western multinational oil companies controlled a mere 10 percent. Production from existing conventional oil fields throughout the world was ―declining. Burke Chair in Strategy at CSIS) and Khalid R. with OPEC no longer having the surplus capacity with which to keep prices under control. and South America are no more stable than the Gulf. intervention. about 5 percent per year (roughly 4. written by Anthony Cordesmam (long-time national security analyst for the U. Baker III Institute for Public Policy on ―The Changing Role of National Oil Companies in International Energy Markets. chaired by former CIA Director John Deutch and Schlesinger. Although the Deutch and Schlesinger report discussed some demand-side measures to reduce U. Al-Rodhan (a strategic analyst specializing in Gulf issues).3 million barrels per day). the disappearance of surplus oil production capacity. means that the production and transport of oil will become even more dependent on an infrastructure that is already vulnerable.‖Emphasizing that national oil companies now controlled 77 percent of the world‘s total reserves. and thus even sustaining current levels of consumption‖ would be enormously difficult. and others—like Matthew Simmons—have estimated that Saudi production may be moving towards a period of sustained decline. ―If the United States were able to wish into existence a world that would favor its terms of trade and superpower status. Iran. Cordesman and Al-Rodhan quoted the IEA‘s prediction in its 2004 World Energy Outlook that global oil production would not ―peak before 2030 if the necessary investments are made. Iraq. this time on Changing Risks in Global Oil Supply and Demand.‖ the Baker Institute went so far as to declare. Iran. and Iraq all present immediate security problems. and civil unrest in Uzbekistan and other FSU [Former Soviet Union] states.. Western Europe. . peak oil issues were not to be entirely discounted. and Venezuela were using oil to pursue domestic and geopolitical goals. national security circles to the apparent oil production plateau. National Security Consequences of U. consumption and oil dependency. especially those close to the major markets in the United States. preemption. Thus Cordesman and Al-Rodhan noted that. Let‘s fuel the cars. and elsewhere. labor strikes in Venezuela.‖ Rather the immediate problem was ―lagging investment‖ in the Middle East. Iran. Oil Dependency. or retaliation.S.The market says.‖ ―Stability in petroleum exporting regions. entitled.

In light of this reality. transparent and—to the extent possible—free of onerous government interference. military intervention. which according to the U. Iran. The current trend points to the likelihood of Iranian petroleum exports falling to zero by 2014–15. Iran. is due to an oil export decline rate of 10–12 percent. military attack.S.‖ This could be seen in its geopolitically motivated agreements with Bolivia. beyond the continuing Iraq and Afghan wars.‖ it had also used oil as an instrument of ―foreign policy activism.S.. Threats of U. was Venezuela under the leadership of Hugo Chávez. Not only had the Bolivarian Revolution prioritized ―the government‘s national development policy‖ and ―social and cultural investment‖ over ―commercial development strategy. depends on the feudal kingdom remaining in place. notably its Manas air base in Kyrgyzstan on the border of oil-rich Kazakhstan. Iran‘s pursuit of nuclear power. Above all the U. The chief example of such state interference in oil production. imperial objective should be to ―break up‖ wherever possible ―the monopoly power of oil producers‖ and their use of their oil resources to pursue national goals other than purely commercial ones. ―a desperate superpower might feel it has no choice except to attempt to control the largest remaining oil fields on the planet at any cost‖— particularly if faced by growing rivalry from other states. Nicaragua. Another key consideration in the geopolitics of tough oil. arising from the growth of domestic energy demand plus a high rate of oil field depletion and a lack of investment growth in expanded capacity. Another case of the geostrategic wielding of oil power was Iran. and Central Asian oil states by expanding its military bases in Afghanistan and Central Asia. the Baker Institute report stated. preventing the oil exploration of Iraq‘s Western desert. and its ―interference‖ in Iraq.. the Baker Institute underscored.‖ if faced with a U. and the Caribbean nations. The sexes are entirely segregated.S. based on its alleged attempts to acquire nuclear weapons through the aggressive pursuit of nuclear energy. the Strait of Hormuz. such as Russia. energy imperialism. The repressive structure of the society conceals massive popular resentment. But it is hard to imagine why major oil producing countries would agree to that. China.S. foreign investors would be treated the same as local companies and OPEC would be disbanded. The security of Saudi Arabia remains an overriding focus. as a 2007 study published in the Proceedings of the National Academy of Sciences has confirmed. allowing free trade and competitive markets to deliver energy that is needed worldwide at prices determined solely by the market. Ecuador.. ―preemptive‖ military intervention directed at Iran meanwhile have been continuous.all NOCs [national oil corporations] would be privatized. One critical danger that the United States needed to guard against was a ―hostile‖ alliance between major oil producing/consuming states. This led to Iran‘s recent inability to meet its OPEC oil export quota. Meanwhile. political unrest and war continued.S. was the continuing political instability in Iraq. Any destabilization of the society would likely prompt U. From the standpoint of Western energy and national security analysts. Ninety percent of private sector jobs go to foreigners.34 The tightening oil situation has prompted the rapid on the ground growth of U. emanating from the vastly unequal distribution of the country‘s oil revenues. deliberating slowing its production in expectation of continually rising prices. and the Central Asian states. there is rising social tension. which had threatened that it ―could block the vital oil transitway. Washington‘s plans for a massive expansion of investment and production in Saudi Arabia.35 The United States has sought to counter the possibility of an energy alliance between Russia. thereby holding back on the lifeblood of the world economy. Department of Energy needs to double its oil output by 2030. China.S. the United States will have to accept the existence of NOCs as a fact of life but should encourage steps to make their activities more businesslike.36 . Despite Washington‘s attempts to stabilize that country. Iran‘s government and its national oil corporation have adopted the monopolistic policy of underinvesting in oil. As James Howard Kunstler has written in The Long Emergency.

During the last few years the U.S. military has dramatically increased its bases and operations in Africa, particularly in the Gulf of Guinea. The United States expects to get 20 percent of its oil imports from Africa by 2010, and 25 percent by 2015. The U.S. military set up a separate Africa Command in 2007 to govern all U.S. military operations in Africa (outside Egypt). Washington sees itself as in direct competition with Beijing over African oil—a competition that it perceives not simply in economic but also military-strategic terms.37 U.S. ruling interests also have increased their threats directed at Venezuela, Ecuador, Bolivia, and other Latin American states, accusing them of ―resource nationalism‖ and presenting them as dangers to U.S. national security. Washington has made one attempt after another to unseat Venezuela‘s democratically elected president Hugo Chávez and to overthrow Venezuela‘s Bolivarian Revolution, with the clear object of regime change. This has included stepping up its massive military intervention in Colombia and backing the Colombian military and its intrusions into neighboring countries. In 2006 the U.S. Southern Command conducted an internal study, declaring that Venezuela, Bolivia, Ecuador, and conceivably even Mexico (which was then facing elections with a possible populist outcome) offered serious dangers to U.S. energy security. ―Pending any favorable changes to the investment climate,‖ it declared, ―the prospects for long-term energy production in Venezuela, Ecuador and Mexico are currently at risk.‖ The military threat was obvious.38 All of this is in accord with the history of capitalism, and the response of declining hegemons to global forces largely outside their control. The new energy imperialism of the United States is already leading to expanding wars, which could become truly global, as Washington attempts to safeguard the existing capitalist economy and to stave off its own hegemonic decline. As Simmons has warned, ―If we don‘t create a solution to the enormous potential gap between our inherent demand for energy and the availability of energy we will have the nastiest and last war we‘ll ever fight. I mean a literal war.‖39 In January 2008 Carlos Pascual, vice president of the Brookings Institution and former director of the Bush administration‘s Office of Reconstruction and Stabilization, released an analysis of ―The Geopolitics of Energy‖ that highlighted U.S. capitalism‘s de facto dependence on oil production in ―Saudi Arabia, Russia, Iran, Iraq, Venezuela, Nigeria, and Kazakhstan‖—all posing major security threats. ―Due to commercial disputes, local instability, or ideology, Russia, Venezuela, Iran, Nigeria and Iraq are not investing in new long-term production capacity.‖ This then was both an economic and a military problem for Washington.40 Especially disturbing in this new phase of energy imperialism is the lack of resistance from populations within central capitalist countries themselves. Thus left-liberal publications in the wealthy nations often play on the prejudices of their readers (who are buffeted by rising gasoline prices), encouraging them to support oil imperialism designed to safeguard Western capitalism. David Litvin, writing on ―Oil, Gas and Imperialism‖ in 2006 for the Guardian in London, claimed that ―the inevitability of modern energy imperialism needs to be recognized.‖ Threats from Russia, OPEC, Venezuela, and Bolivia were highlighted. The United States invaded Iraq, we were told, partly for ―oil security.‖ Clearly sympathizing with that form of energy imperialism that ―involves consumer states launching political or military‖ interventions ―to secure supplies,‖ Litvin concluded: ―Energy imperialism is here to stay, and efforts should [therefore] focus on making it a more benign force.‖41 Likewise Joshua Kurlantzick, a contributing writer for Mother Jones,wrote a piece entitled ―Put a Tyrant in Your Tank‖ for the May–June 2008 issue of that magazine which attributed oil supply problems to national oil companies, and argued—referring to the Baker Institute report on ―The Changing Role of National Oil Companies‖—that oil would be better safeguarded if placed in the hands of multinational oil companies as of old. The latter, readers were told, ―may cozy up to nasty regimes...but they are at least obligated to respond to public criticism.‖ Kurlantzick presented repeated criticisms of Hugo Chávez in Venezuela for his ―resource nationalism,‖ going so far as to compare

Venezuela to Burma and Russia, as ―authoritarian and corrupt,‖ citing a study from the neoconservative, largely U.S. government-funded, Freedom House. The Mother Jones article also gave credence to the 2006 internal study conducted by the Pentagon‘s Southern Command, pinpointing the national security dangers to the United States of resource nationalism in Venezuela, Bolivia, and Ecuador. Other petrostates that were subjected to sharp criticism were Iran, Russia, Kazakhstan, Nigeria, and Libya. Chinese state oil corporations were targeted for their aggressiveness in pursuing oil around the world and for their lack of environmental concerns. U.S. energy imperialism was thus seen as justified even by the putatively progressive Mother Jones—with hope and confidence being placed mainly in big oil and the Pentagon.42 Planetary Conflagration? The supreme irony of the peak oil crisis of course is that the world is rapidly proceeding down the path of climate change from the burning of fossil fuels, threatening within a matter of decades human civilization and life on the planet. Unless carbon dioxide emissions from the consumption of such fuels are drastically reduced, a global catastrophe awaits. For environmentalists peak oil is therefore not a tragedy in itself since the crucial challenge facing humanity at present is weaning the world from excessive dependence on fossil fuels. The breaking of the solar energy budget that hydrocarbons allowed has generated a biospheric rift, which if not rapidly addressed will close off the future.43 Yet, heavy levels of fossil fuel, and particularly petroleum, consumption are built into the structure of the present world capitalist economy. The immediate response of the system to the end of easy oil has been therefore to turn to a new energy imperialism—a strategy of maximum extraction by any means possible: with the object of placating what Rachel Carson once called ―the gods of profit and production.‖44 This, however, presents the threat of multiple global conflagrations: global warming, peak oil, rapidly rising world hunger (resulting in part from growing biofuel production), and nuclear war—all in order to secure a system geared to growing inequality. In the face of the immense perils now facing life on the planet, the world desperately needs to take a new direction; toward communal well-being and global justice: a socialism for the planet. The immense danger now facing the human species, it should be understood, is not due principally to the constraints of the natural environment, whether geological or climatic, but arises from a deranged social system wheeling out of control, and more specifically, U.S. imperialism. This is the challenge of our time. May 25, 2005 Notes 1. Influential mainstream political analyst (and former Nixon White House strategist) Kevin Philips has recently argued that oil in the Middle East and elsewhere has emerged as perhaps the single most important strategic (non-monetary) factor in ―the Global Crisis of American Capitalism,‖ and is closely tied up with the world‘s need to shift to a ―new energy regime.‖ See Phillips, Bad Money: Reckless Finance, Failed Politics, and the Global Crisis of American Capitalism (New York: Viking, 2008), 124–27. Indeed, the struggle to control world oil can be seen as the centerpiece of the new geopolitics of U.S. empire, designed at the same time to combat the decline of U.S. hegemony. See John Bellamy Foster, ―A Warning to Africa: The New U.S. Imperial Grand Strategy,‖ Monthly Review 58, no. 2 (June 2006): 1–12. 2. Michael T. Klare, Blood and Oil (New York: Henry Holt, 2004), 82. 3. Colin J. Campbell and Jean H. Laherrère, ―The End of Cheap Oil,‖ Scientific American (March 1998): 78–83; International Energy Agency, World Energy Outlook, 1998 (Paris: OECD, 1998), 94– 103. 4. Matthew R. Simmons, ―Has Technology Created $10 Oil?,‖ Middle East Insight (May–June 1999), 37, 39.

5. Matthew R. Simmons, ―An Oil Man Reconsiders the Future of Black Gold,‖ Good Magazine, February 11, 2008. The insert in square brackets in the quote is in original. 6. Matthew R. Simmons, Twilight in the Desert: The Coming Saudi Oil Shock and the World Economy (Hoboken, New Jersey: John Wiley and Sons, 2005). 7. John Wood and Gary Long, ―Long Term World Oil Supply (A Resource Base/Production Path Analysis),‖ Energy Information Administration, U.S. Department of Energy, July 28, 2000. 8. See Klare, Blood and Oil, 13–14. 9. Sam Nunn and James R. Schlesinger, cochairs, The Geopolitics of Energy into the 21st Century, 3 volumes (Washington, D.C.: Center for Strategic and International Studies, November 2000), vol. 1, xvi–xxiii; vol. 2, 30–31; vol. 3, 19. 10. Edward L. Morse, chair, Strategic Energy Policy Challenges for the 21st Century, cosponsored by the James A. Baker III Institute for Public Policy of Rice University and the Council on Foreign Relations (Washington, D.C: Council on Foreign Relations Press, April 2001), 3–17, 29, 43–47, 84–85, 98; see also Edward L. Morse, ―A New Political Economy of Oil?,‖ Journal of International Affairs 53, no. 1 (Fall 1999), 1–29. 11. White House, National Energy Policy (Cheney report), May 2001, http://www.whitehouse.gov/energy/National-Energy-Policy.pdf, 1–13, 8–4.; Department of Energy, Energy Information Administration, International Economic Outlook,2001, http://www.eia.doe.gov/oiaf/archive/ieo01/pdf/0484(2001).pdf, 240; International Petroleum Outlook, April 2008, tables 4.1b and 4.1d; Klare, Blood and Oil, 15, 79–81. 12. Klare, Blood and Oil, 82–83. 13. Alan Greenspan, The Age of Turbulence (London: Penguin, 2007), 462–63. 14. James A. Baker Institute for Public Policy, ―The Changing Role of National Oil Companies in International Markets,‖ Baker Institute Policy Report, no. 35 (April 2007), http://www.bakerinstitute.org/publications/BI_PolicyReport_35.pdf, 1, 10–12, 17–19. 15. Fareed Muhamedi and Raad Alkadiri, ―Washington Makes It‘s Case for War,‖ Middle East Report, no. 224 (Autumn 2002), 5; John Bellamy Foster, Naked Imperialism (New York: Monthly Review Press, 2006), 92. 16. U.S. Department of Energy, Energy Information Administration, International Petroleum Monthly, April 2008, tables 4.1b and 4.1d. 17. Richard Heinberg, The Party’s Over (Garbiola Island, B.C: New Society Publishers, 2005), 127– 28; Michael Klare, Rising Powers, Shrinking Planet (New York: Henry Holt, 2008), 41; Greenpeace, ―Stop the Tar Sands/Water Polluton,‖ http://www.greenpeace .org/canada/en/campaigns/tarsands/threats/water-pollution. 18. Energy Watch Group, Crude Oil: The Supply Outlook, October 2007, 33–34. 19. The distinction between ―early‖ and ―late‖ peakers is to be found in Richard Heinberg, The Oil Depletion Protocol (Garbiola Island, B.C: New Society Publishers, 2006), 17–23. For some representative works from the ―early peaker‖ perspective see Kenneth S. Deffeyes, Hubbert’s Peak (Princeton: Princeton University Press, 2001); David Goodstein, Out of Gas (New York: W. W. Norton, 2004); and Heinberg, The Party’s Over. Cambridge Energy Research Associates is the leading independent representative of the ―late peaker‖ view. See http://www.cera.com/aspx/cda/public1/home/home.aspx. 20. International Energy Agency, World Energy Outlook, 1998, 83–84. The increased prominence of unconventional oil has recently led to increasing references to ―liquids‖ as opposed to ―oil‖ as such in Department of Energy reports. See Michael T. Klare, ―Beyond the Age of Petroleum,‖ The Nation, October 25, 2007. 21. Richard Heinberg, Power Down (Gabriola Island, B.C.: New Society Publishers, 2004), 35; James Howard Kunstler, The Long Emergency (New York: Atlantic Monthly Press, 2005), 67–68. In an important paper on the implications of peak oil for global warming, Pushker Kharecha and James

34. 35–38. 2005).eia. 2005 (Paris: OECD. May 19.‖. 27.com. Bloomberg. February 2005. 76–84. Fournier and Eileen T.pdf. Kunstler. 153. Baker Institute. John Deutsch and James R.S Army Engineer Research and Development Center. Center for Strategic and International Studies. 1 (May 2008): 1–15. 25. Cordesman and Khalid R. Simmons. chairs. 1.‖ in this issue. 13. 71. A different and more official position was issued by the EIA in 2004–2005 in the form of a presentation on ―When Will World Oil Production Peak‖ by EIA administrator Guy Caruso at the 10th Annual Oil and Gas Conference.‖ 12.‖ The Lede (New York Times blog). vii.‖ May 6. Robert L. 24.com. Lester R.pdf. ―Not Enough Oil is Lament of BP.‖ New York Times. Klare. Crude Oil: Uncertainty about Future Oil Supply Makes It Important to Develop a Strategy for Addressing a Peak and Decline in Oil Production. Energy Watch Group.S. October 3. Mitigation. Army Installations. 8. 2005 (first working draft). Council on Foreign Relations. 2008. Phillips. Shrinking Planet. Department of Energy. Peaking of World Oil Production: Impacts. 4. ―Changing Role of National Oil Companies.org/publication/11683/. ―Implications of ‗Peak Oil‘ for Atmospheric CO2 and Climate. Kuala Lumpar. 31. 2005. February 28. September 2005. http://bakerinstitute. U. Army Corps of Engineers. ―The Iranian Petroleum Crisis and the United States National Security. http://www. 2008). 36.‖ Global Biogeochemistry (2008. no. Rising Powers. 35. The central scenario. 38. Hirsh. system is itself peaking. 13–19.0 (New York: W. 28. Energy Trends and their Implications for U. 26. Twilight in the Desert. Pushker A. 41. International Energy Agency. Brown. ―Market Faces a Disturbing Oil Forecast. Daniel F.org/publications/BI_PolicyReport_35. U. Hirsch.‖ Proceedings .‖ Baker Institute Policy Report.cfr. 83. June 13. Westervelt. 510-12. and ―The Political Economy and Ecology of Agrofuels. Rising Powers. James A. ―The Cassandra of Oil Prices. 121–22. ―Goldman‘s Murti Says Oil ‗Likely‘ to Reach a $150–$200 (Update 5).S. figure 3. Malaysia. Kharecha and James E. November 11.” 23. The Changing Risks in Global Oil Supply and Demand. Bad Money.‖ Wall Street Journal.doe. Crude Oil: The Supply Outlook. Anthony H. National Security Consequences of U. Baker III Institute for Public Policy of Rice University. ―The World Food Crisis. project leader.S. 55–59. ―The Inevitable Peaking of World Oil Production. Roger Stern.‖ Bulletin of the Atlantic Council of the United States 16. 127. See http://www. 2 (October 2005): 8. W. 33. however. 3. Schlesinger. 23–25. ―Royal Dutch Shell CEO on the End of ‗Easy Oil‘. 32.S. Norton. May 21. Shrinking Planet.Hansen of NASA‘s Goddard Institute for Space Studies and the Columbia University Earth Institute provide a graph (in one scenario) of a plateau in oil-based CO2 emissions. United States Government Accountability Office. 2008. no. U.S. 2008. 2006. stretching from approximately 2016 to 2036. 2008. Mike Nizz. a figure too out of line with all other studies to be considered credible. Phillips sees this descrepancy between the analysis at the top and public statements in Washington as due in large part to a desire to keep from the public the view that the U. 48–56. and Risk Management. estimated the world oil peak occurring in 2044. 30. 20–22. 130–31. May 22. Plan B 3. Klare. Fred Magdoff. The Long Emergency. Robert L. 2007. in press). 2007. World Energy Outlook. October 2007. . 22. Klare. Exxon on Spending (Update 1). Hansen. See Phillips. 35 (April 2007). Joroen van der Veer (interview). 79. ―Oil Officials See Limit Looming on Production. no. 170–79.‖ Monthly Review 60. 10–12. Bad Money. 17–19. Oil Dependence. 16–30. ―The Changing Role of National Oil Companies in International Oil Markets.gov/neic/speeches/Caruso061305.‖ Bloomberg. 29. Al-Rodhan. Beyond the Age of Petroleum.

html. 43. ―The Geopolitics of Energy. 3–4. Kharecha and Hansen present a baseline atmospheric carbon stabailizaton scenario in which oil-based CO2 emissions peak by 2016. 146–76. 1–17.org/publication/15342/brookings. 39. 2008). it would facilitate the stabilization of atmospheric carbon at (or below) what scientists increasingly consider to be the maximum safe level of 450 parts per million (associated with a rise in global average temperature of around 2°C above pre-industrial). Jawa Tengah. January 2008. Chávez (New York: Monthly Review Press. The Guardian (UK). ―U. Climate Change. Yogyakarta. 210.‖ 44. Rachel Carson. 41. Alasan yang ketiga yang dikemukakan Berry dkk di atas sangat relevan dalam konteks Indonesia yang tengah mengalami krisis ekonomi. ―The Return of Resource Nationalism. Gas and Imperialism.7 persen dan dalam ekspor nonmigas hanya 15 persen. Temuan Akatiga tersebut seperti dikutip Berry dkk (2001) adalah bahwa usaha kecil di Jawa lebih menderita . due principally to the ―peaking‖ of world oil production (mediated by economic and social as well as geological factors). Ketiga adalah karena sering diyakini bahwa UKM memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas ketimbang usaha besar.cfr. 14/12/2001). ―Oil. Lost Woods (Boston: Beacon Press. no. Joshua Kurlantzick. On the concept of a biospheric rift see Brett Clark and Richard York. Michael Watts. Foster. 42. In their paper on peak oil and global warming.‖ Mother Jones 33. 2001). namun UKM memberi kontribusi sekitar 99 persen dalam jumlah badan usaha di Indonesia serta mempunyai andil 99. 88–89. 2007): 377–82. Eva Golinger. Kuncoro (2000a) juga menyebutkan bahwa usaha kecil dan usaha rumah tangga di Indonesia telah memainkan peran penting dalam menyerap tenaga kerja. 37. 141–57. Bush vs. dkk. Dapat dikatakan bahwa kesadaran akan pentingnya UKM dapat dikatakan barulah muncul belakangan ini saja. But stabilization of atmospheric CO2 at this level would also require that CO2 emissions from coal-fired power plants peak by 2025 and that coal-fired plants without sequestration be phased out completely ―before midcentury. kendati sumbangannya dalam output nasional (PDRB) hanya 56. no. ―The Empire of Oil: Capitalist Dispossession and the New Scramble for Africa. UKM sering mencapai peningkatan produktivitasnya melalui investasi dan perubahan teknologi. http://www.‖ Monthly Review 58. Shrinking Planet. ―Put a Tyrant in Your Tank.‖ January 4.6 persen dalam penyerapan tenaga kerja (Kompas. ―An Oil Man Reconsiders the Future of Black Gold. See Richard Heinberg‘s excellent chapter on ―Bridging Peak Oil and Climate Change Activism‖ in his Peak Everything (Gabriola Island: New Society Publishers.‖ Pusher and Kharecha. Council on Foreign Relations. June 26.‖ Financial Times. 1 (January 2. Rising Powers. no. Sebagai gambaran. 3 (May–June 2008). If such a peak were to occur. Carlos Pascual. 38. ―A Warning to Africa‖.‖ Brookings Institution. 2006.‖ Theory & Society 34. and the Biospheric Rift. ―Carbon Metabolism: Global Capitalism. 2007. Aspek fleksibilitas tersebut menarik pula dihubungkan dengan hasil studi Akatiga berdasarkan survei di Jawa Barat.‖ 40.S. 1998). Sulawesi Utara dan Sumatra Utara. 4 (2005): 391–428.of the National Academy of Sciences 104. sebagai bagian dari dinamikanya. ―Implications of ‗Peak Oil‘ for Atmospheric CO2 and Climate. Alasan pertama adalah karena kinerja UKM cenderung lebih baik dalam hal menghasilkan tenaga kerja yang produktif. Namun. meningkatkan jumlah unit usaha dan mendukung pendapatan rumah tangga. 2006. Setidaknya terdapat tiga alasan yang mendasari negara berkembang belakangan ini memandang penting keberadaan UKM (Berry. Aloysius Gunadi Brata DISTRIBUSI SPASIAL UKM DI MASA KRISIS EKONOMI PENDAHULUAN Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah. Kedua. Klare. 38–42. dalam kenyataannya selama ini UKM kurang mendapatkan perhatian. Simmons. 2008). Daniel Litvin. no. they argue. tidak terkecuali di Indonesia. 4 (September 2006).‖ August 13. Military Sees Oil Nationalism Spectre.

krisis ekonomi telah menyebabkan propinsi-propinsi di Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang lebih besar ketimbang daerah-daerah lain di Indonesia (lihat gambar berikut). Dengan kata lain. begitu pula yang di perkotaan bila dibandingkan dengan yang di pedesaan. selain ekonominya mengalami kontraksi terparah.1.akibat krisis daripada luar Jawa. pengamatan serupa terhadap UKM tampaknya masih belum banyak dilakukan (Kuncoro. Sektor informal sendiri merupakan sektor dimana sebagian besar tenaga kerja Indonesia berada. Dalam konteks UKM.1 persen pada tahun 2000. Lima propinsi di Jawa seluruhnya adalah lima besar propinsi di Indonesia yang mengalami kemorosotan ekonomi terparah. Dengan kata lain. peran sektor informal menjadi terasa penting dalam periode krisis ekonomi. Pada tahun 1998. Kuncoro (2000a). Dalam hal ini bukanlah hal yang mengejutkan kalau pengangguran. Bagaimana dengan anjloknya pendapatan masyarakat yang tentu saja mengurangi daya beli masyarakat terhadap produk-produk yang sebelumnya banyak disuplai oleh usaha berskala besar? Bukan tidak mungkin produk-produk UKM justru menjadi substitusi bagi produk-produk usaha besar yang mengalami kebangkrutan atau setidaknya masa-masa sulit akibat krisis ekonomi. UKM boleh dikatakan merupakan salah satu solusi masyarakat untuk tetap bertahan dalam menghadapi krisis yakni dengan melibatkan diri dalam aktivitas usaha kecil terutama yang berkarakteristik informal. Sjöberg dan Sjöholm (2002). Dengan hal ini maka persoalan pengangguran sedikit banyak dapat tertolong dan implikasinya adalah juga dalam hal pendapatan. Namun. Pada tahun tersebut. yakni distribusi spasialnya. Hill (1996). apalagi yang sangat parah. ketiga hal itu merupakan persoalan sangat pelik yang dihadapi masyarakat pada umumnya. hilangnya penghasilan serta kesulitan memenuhi kebutuhan pokok merupakan persoalan-persoalan sosial yang sangat dirasakan masyarakat sebagai akibat dari krisis ekonomi. Sementara itu. Krisis ekonomi juga telah membalikkan tren formalisasi ekonomi sebagaimana tampak dari berkurangnya pangsa pekerja sektor formal menjadi 35. Dengan memupuk UKM diyakini pula akan dapat dicapai pemulihan ekonomi (Kompas. khususnya yang berskala besar dan menengah. dampak sosial dari krisis ekonomi amat terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan di Jawa. Usaha kecil sendiri pada dasarnya sebagian besar bersifat informal dan karena itu relatif mudah untuk dimasuki oleh pelaku-pelaku usaha yang baru. 14/12/2001). tentu telah menyulitkan masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari.9 persen pada tahun 1996 menjadi 6. Kondisi ketenagakerjaan pada masa krisis kiranya dapat memberikan gambaran dampak sosial dari krisis ekonomi (Tabel 1). Demikianlah. belakangan ini banyak diungkapkan bahwa UKM memiliki peran penting bagi masyarakat di tengah krisis ekonomi. Sementara itu. 2002). serta sejumlah propinsi di Indonesia bagian Timur. berdasarkan data PDRB. BERTAHAN DENGAN UKM Krisis ekonomi. 2000b). usaha kecil di propinsi-propinsi di pulau Jawa juga lebih menderita akibat krisis ekonomi. hanya Papua saja yang pertumbuhan ekonominya masih positif sedangkan propinsi-propinsi lainnya mengalami kontraksi. Jika demikian halnya maka . menurut hasil analisis Watterberg. salah satu pertanyaan yang menarik untuk dimunculkan adalah apakah krisis ekonomi betul-betul membawa pengaruh pada dinamika spasial UKM? Tulisan ini hanya mengamati salah satu aspek saja dari dinamika spasial UKM. Sementara itu. terdapat indikasi adanya dimensi spasial dari krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997. saat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi terparah. Hal serupa juga berlaku bagi sektor informal. Dapat dikemukakan bahwa selama ini sejumlah studi sudah dilakukan untuk mengamati distribusi spasial industri manufaktur. Pendapat mengenai peran UKM atau sektor informal tersebut ada benarnya setidaknya bila dikaitkan dengan perannya dalam meminimalkan dampak sosial dari krisis ekonomi khususnya persoalan pengangguran dan hilangnya penghasilan masyarakat. misalnya Azis (1994). Hasil survei yang dilakukan Bank Dunia bekerjasama dengan Ford Foundation dan Badan Pusat Statistik (September-Oktober 1998) menegaskan bahwa ketiga persoalan itu oleh masyarakat ditempatkan sebagai persoalan prioritas atau harus segera mendapatkan penyelesaian (Watterberg dkk. 1999). Dengan kata lain. dkk (1999). seluruh propinsi di pulau Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang jauh lebih parah daripada propinsi-propinsi lainnya (lihat juga Akita dan Alisjahbana. Tingkat pengangguran mengalami kenaikan dari 4.

sedangkan Jawa Tengah mengalami peningkatan secara sinambung. hanya DKI Jakarta saja yang cenderung mengalami penurunan andil. . Jumlah unit usaha pada tahun 2000 masih tetap lebih sedikit dibandingkan sebelum krisis ekonomi. Hanya saja. kecuali sektor pertanian. UKM justru makin memusat di Jawa. [1] Survei tersebut terbatas hanya pada UKM yang tidak berbadan hukum sehingga hasilnya dapat juga merefleksikan sektor informal. sekitar 66 persen UKM Indonesia berada di Jawa (Tabel 2). Sedangkan Sumatera justru sebaliknya. hanya Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan saja yang andilnya dalam jumlah UKM cukup tinggi. 2002).id Secara umum. Dengan kata lain. Hal yang sama juga terjadi pada jumlah tenaga kerja.kecenderungan tersebut sekaligus juga merupakan respon terhadap merosotnya daya beli masyarakat. 2001). DISTRIBUSI SPASIAL UKM Pertanyaan awal yang perlu diperjelas di sini adalah apa indikator UKM yang digunakan. 2002). Oleh karena itu. tenaga kerja yang diserap oleh masing-masing unit usaha secara rata-rata justru mengalami kenaikan. termasuk yang tidak dibayar (lihat. Hal ini menjadi penting karena Watterberg dkk (1999) juga menyimpulkan bahwa dampak sosial dari krisis ekonomi lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan. penurunan jumlah tenaga kerja tidaklah setajam penurunan jumlah unit usaha. Selanjutnya. Dari lima propinsi di Jawa. Tabel 2 juga menunjukkan bahwa krisis ekonomi mulanya menurunkan pangsa pulau Jawa. Seperti juga industri manufaktur besar dan menengah. hasil survei BPS di atas menunjukkan beberapa kecenderungan menarik.Hasil survei tersebut hanya mencakup UKM non-pertanian yang tidak berbadan hukum sehingga secara konseptual hasil survei tersebut juga merefleksikan sektor informal kendati secara terbatas ( ). Kuncoro. www. Selain dari jumlah unit usaha.go. Sejak terjadi krisis ekonomi. Pada tahun 1996. 2002). Selain itu. penggunaan tenaga kerja dan nilai tambah secara bersama-sama sebagai indikator aktivitas ekonomi dapat mencegah terjadi kesimpulan yang bias oleh karena perbedaan distribusi spasial dari industri-industri yang berbeda dimana ada yang bersifat padat tenaga kerja dan ada yang padat modal (Sjöberg dan Sjöholm. [2] [2] Dalam konteks industri manufaktur. Hidup di sektor informal hanyalah hidup secara subsisten (Basri. Namun demikian. sektor tersebut telah turut berperan dalam mengatasi persoalan pengangguran yang diakibatkan oleh krisis ekonomi. distribusi spasial UKM dalam kurun waktu 19962000 juga terpusat di Pulau Jawa. ada pendapat bahwa sektor informal tidaklah memberikan perbaikan secara berarti terhadap taraf hidup para pekerjanya. maka data yang ada di sini barangkali pula lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. bias itu mungkin tidak terlalu besar mengingat sebagian besar lebih mengandalkan tenaga kerja. Hal ini tidak lepas dari kemampuan UKM untuk merespon krisis ekonomi secara cepat dan fleksibel dibandingkan kemampuan usaha besar (Berry dkk. yakni meningkat pada tahun 1998 namun kemudian terus menurun sampai menjadi kurang dari 16 persen pada tahun 2000. Namun dalam konteks UKM. maka hasil survei tersebut akan lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. Data-data tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa UKM memiliki kemampuan untuk menjadi pilar penting bagi perekonomian masyarakat dalam menghadapi terpaan krisis ekonomi. namun mulai tahun 1998 pangsa Jawa kembali meningkat sampai menjadi 66 persen pada tahun 2000. Selain propinsi-propinsi Jawa. Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian. yakni menjadi sekitar 68 persen dari seluruh unit usaha UKM yang ada di Indonesia. 2000a). Hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa UKM sebetulnya juga mempunyai keunggulan dalam menyerap tenaga kerja di masa krisis ekonomi. Gambar di atas—disusun berdasarkan Hasil Survei Usaha Terintegrasi yang dilakukan BPS —kiranya dapat berguna untuk memberikan gambaran bagaimana peranan UKM bagi masyarakat di masa krisis. Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian. Dari gambar 1 tampak bahwa jumlah unit usaha UKM cenderung berkurang. Seluruh sektor ekonomi dicakup oleh survei tersebut. [1] Data UKM tersebut bersumber dari publikasi BPS berjudul Profil Usaha Kecil dan Menengah Tidak Berbadan Hukum Indonesia tahun 1998 dan tahun 2000. UKM pada dasarnya adalah aktivitas ekonomi sementara aktivitas ekonomi sendiri secara umum dapat diindikasikan oleh tenaga kerja maupun nilai tambahnya (Sjöberg dan Sjöholm. distribusi spasial tersebut tentu perlu pula dilihat dari sisi tenaga kerja. Dalam tulisan ini. untuk tahun 1999 dan 2000 tidak ada data untuk Propinsi Maluku. yang dimaksud dengan UKM dalam tulisan ini adalah sebagaimana definisi UKM tersebut.bps. indikator yang akan digunakan adalah tenaga kerja UKM disertai jumlah unit usahanya sebagai pelengkap. Perlu ditambahkan bahwa pada tahun 1997 tidak ada survei. Krisis ekonomi rupanya telah mempertinggi kemampuan masing-masing UKM untuk menyerap tenaga kerja.

126. Masih menurut Kuncoro (2002b). Namun pada tahun 1999 konsentrasi spasial unit usaha UKM mengalami peningkatan cukup tinggi dan belum menurun secara berarti pada tahun 2000. tingkat konsentrasi spasial unit usaha UKM adalah 0. setelah krisis justru terjadi penurunan tingkat konsentrasi spasial kendati relatif kecil. Hal ini memberikan indikasi bahwa sejak terjadi krisis ekonomi. Konsentrasi spasial di sini menunjuk kepada terkonsentrasinya UKM pada beberapa daerah saja. Yogyakarta (UAJY). ada kecenderungan menguatnya konsentrasi spasial UKM di Indonesia.*** Oleh: Aloysius Gunadi Brata -.Lembaga Penelitian Universitas Atmajaya. kedua studi tersebut di atas memperoleh kesimpulan yang relatif serupa. Indikasi tersebut kiranya masih perlu dilengkapi dengan upaya mengidentifikasi faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi dinamika spasial UKM sebagaimana dilakukan dalam studi-studi terhadap idustri manufaktur pada umumnya. Kendati ukuran konsentrasi spasial yang digunakan berbeda. baik dilihat dari sisi jumlah usaha maupun jumlah pekerjanya. dalam studinya yang mengukur trend konsentrasi spasial industri di Indonesia 1976-1995. Dari analisis dapat disimpulkan bahwa sampai dengan tahun 2000. Sebelum krisis. Hal ini tidak berubah banyak pada satu tahun setelah terjadi krisis ekonomi. Namun jika dilihat dari tenaga kerja. Sebagai perbandingan. konsentrasi spasial industri memiliki pola menurun. perkembangan penyebaran regional dari UKM dapat dilihat dari konsentrasi spasialnya. Dicatat pula bahwa peningkatan konsentrasi spasial jauh lebih mencolok di Jawa daripada Sumatera maupun pulau-pulau lainnya di Indonesia. . PENUTUP Sejak terjadi krisis ekonomi 1997. Kuncoro menggunakan Indeks Entropi Theil (Kuncoro. Ditambahkan pula bahwa liberalisasi perdagangan yang dimulai tahun 1983 telah gagal menurunkan tingkat konsentrasi industri manufaktur. Namun demikian bagaimana penyerapan tenaga kerja oleh UKM dari aspek spasial tampak masih kurang teramati. peningkatan konsentrasi spasial tersebut sebetulnya relatit tidak terlalu besar. Tahun 1999 dan 2000. deregulasi perdagangan bersama dengan serangkaian deregulasi yang diterapkan justru memperkuat konsentrasi spasial industri manufaktur.190 (Sjöberg dan Sjöholm. Dalam tulisan ini ukuran konsentrasi spasial yang digunakan adalah indeks Herfindahl yang diterapkan baik terhadap data unit usaha maupun jumlah pekerja UKM. Sebagai contoh. dalam kasus Indonesia. Dari analisisnya. Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser. Terdapat pula indikasi menguatnya konsentrasi spasial UKM tersebut sejak krisis ekonomi melanda Indonesia.12. Data yang ada menunjukkan bahwa peran tersebut cukup penting. Dalam tulisan ini yang diamati barulah soal distribusi spasial UKM dan belum sampai pada determinan dari dinamika spasial UKM itu sendiri. indeks Herfindahl pekerja UKM meningkat menjadi lebih dari 0. 2000a). Hasil perhitungan indeks Herfindahl tersebut disajikan dalam Gambar 3. konsentrasi spasial tersebut justru mengalami peningkatan. Sjöberg dan Sjöholm memukan bahwa tingkat konsentrasi spasial industri manufaktur dalam kurun waktu 1980-1996 tidaklah berkurang. Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996. UKM memainkan peran dalam mengatasi persoalan ketenagakerjaan. UKM (non pertanian yang tidak berbadan hukum) masih tetap terkonsentrasi di pulau Jawa. indeks Herfindahl industri manufaktur Indonesia tahun 1996 adalah 0.Untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih kuat. Kendati demikian. Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser terhadap data tenaga kerja maupun nilai tambah yang dihasilkan industri manufaktur. Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996. Kesimpulan yang diperoleh tidak jauh berbeda dengan temuan Kuncoro. Kuncoro menemukan bahwa sampai sebelum tahun 1988. 2002). namun sejak memasuki periode deregulasi.

maupun keterbelakangan adalah persoalan aksesibilitas. berbagai kasus yang mentorpedo rasa keadilan seperti Kedung Ombo. Jenggawah. LP-FEUI. 2001. Menuai Pemulihan Ekonomi‖. Kuncoro.. Kuncoro. S. membuat pedih. Watterberg.. Bulletin of Indonesian Economic Studies 38 (2): 201-222. Suara tersebut antara lain dari Amartya Sen.. adalah se-suatu yang "bersahabat". Amsterdam 25-26 Februari. dan berbagai penggusuran yang mengatasnamakan ‖pembangunan‖. Basri. I. Asumsi dari pemikiran Sen. serta menguntungkan sebagian kecil masyarakat? Timbul pula pertanyaan yang menggelisahkan. KEBEBASAN. 25 November. T dan A. 1996. ―A Quest for Industrial Districts: An Empirical Study of Manufacturing Industries in Java. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 35 No 3. Berkecamuk pertanyaan. A. at all cost.PUSTAKA Akita.. Sjöberg. Prittchett. 2003. Menurutnya pembangunan bukanlah proses yang dingin dan menakutkan dengan mengorbankan darah. jargon pembangunan begitu ‖suci‖ sehingga atas namanya menjadi ‖sahih‖ merampas hak-hak asasi manusia. 1999. apakah untuk mencapai kesejahteraan harus selalu ada ‖tumbal‖ (jer basuki mawa bea)? Sayup-sayup. H. 145-152. ―Small and Medium Enterprises Dynamics in Indonesia. ―A National Snapshot of the Social Impact of Indonesia‘s Crisis‖. M. Nipah. Perwira. E. Analisis Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia . Rodriquez. . Sumarto. W. SSE/EFI Working Paper Series in Economic and Finance No 488. 2002. ―Wajah Murung Ketenagakerjaan Kita‖.. peraih Nobel Ekonomi tahun 1998. 2002. 2002b. bila manusia mampu mengoptimalkan potensinya. ―Minimum Wage Policy and Its Impact on Employment in the Urban Formal Sector‖. Jakarta. 14 Desember 2001. Suryahadi. penyebab dari langgengnya kemiskinan. 29-50. 2002. Menurut Sen. M. Concentration and Dispersal in Indonesia‘s Manufacturing Industry.. A.‖ Bulletin of Indonesian Economic Studies 37 (3): 363-384. apakah pembangunan akan selalu membawa destabilisasi? Sebuah proses yang mengakibatkan disparitas sosial-ekonomi membesar akibat laju modernisasi dan industrialisasi. Timbul pertanyaan mengganjal. kemakmuran sebuah bangsa dicapai berbasiskan kekuatan rakyat yang berdaya dan menghidupinya. maka akan bisa maksimal pula kontribusinya untuk kesejahteraan bersama. Pembangunan. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 39 No 1. ―Trade Liberalization and the Geography of Production: Agglomeration. apakah sebuah ketakterhindaran (inevitability) historis. Berry. Widyanti. Hill. C. M. Alisjahbana. seharusnya merupakan proses yang memfasilitasi manusia mengembangkan hidup sesuai dengan pilihannya (development as a process of expanding the real freedoms that people enjoy). dan H. J. Transformasi Ekonomi Indonesia Sejak 1966: Sebuah Studi Kritis dan Komprehensif . Pembangunan. Dengan demikian. DAN PEMBANGUNAN Mengingat masa kelam Orde Baru yang se-ring disebut ‖orde pembangunan‖. L. Ö dan F.. PAU-UGM dan Tiara Wacana. A. Kompas. Sumarto. Yogyakarta. Sjöholm. 2002a. Tentu belum kering dari ingatan. Kompas. 2001. Sandeem. Setyo Budiantoro MANUSIA. Ilmu Ekonomi Regional Dan Beberapa Penerapannya di Indonesia.. ―Memupuk UKM. D. S.‖ Makalah disajikan dalam lokakarya Economic Growth and Institutional Change in Indonesia during the 19th and 20th Centuries. kini terdengar suara lain dan mulai terdengar nyaring. pembangunan selalu mengorbankan kebebasan manusia? Rasanya masih seperti kemarin. ketidakberdayaan. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. ujar Sen. Azis. keringat serta air mata. 1994. ―Regional Income Inequality in Indonesia and the Initial Impact of the Economic Crisis‖.

tak jauh dari lingkaran kekuasaan. Tentu. Tesis yang dikemukakan Sen agar tercapainya kesejahteraan. Dan akhirnya. rasa ketergantungan. berakar dari dinamik sendiri dan dapat bergerak atas kekuatan sendiri.Diakibatkan keterbatasan akses. utang pun digelontorkan. Masyarakat pun melalui desas-desus akhirnya mengetahui dan mahfum. tentu mempunyai batas waktu. rasa keharusan untuk mempertanyakan apakah tindakan-tindakan mereka diizinkan atau tidak diizinkan oleh yang lebih tinggi ataupun adat kebiasaan (misalnya: patriarki. pe-nyebab kemiskinan adalah akibat ketiadaan akses yang dapat menunjang pemenuhan kehidupan manusiawi. sebab dalam hitungan makro ekonomi . berlomba-lomba merumuskan berbagai persoalan. Pukulan krisis. secara umum kondisi rakyat Indonesia menjadi lemah. lembaran buku GBHN dan Pelita yang dicanangkan pemerintah makin tebal. apakah rakyat benar-benar mengalami kelumpuhan sepenuhnya? Agaknya tidak. Tidak ada model pembangunan yang berlaku universal. membuat pertumbuhan ekonomi merosot -13. terlemahkan. Dengan demikian. sebab semuanya telah diserahkan pada pemerintah. yaitu melalui kebebasan sebagai cara dan tujuan (Development as Freedom). tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Amartya Sen. sehingga memungkinkan masyarakat memperkembangkan kemampuan atas dasar kekuatan sendiri (self reliance). jika pembangunan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang dianut masyarakat. Begitulah. diperlukan aspek emansipatoris. dan kedaulatan untuk melakukan berbagai hal (bahkan menjadi leviathan). manusia hanya menjalankan apa yang terpaksa dapat di-lakukan (bukan apa yang seharusnya bisa dilakukan). dan dilemahkan. untuk mengkreasi dan menjustifikasi urgensi adanya berbagai proyek. Dari tahun ke tahun. Lalu. namun akibat tak ada rasa memiliki. meski proyek tersebut ‖ditujukan‖ untuk mereka. menyimpulkan. akibat rakyat miskin sangat sulit mengakses dan terlibat berbagai kebijakan publik. 2002). Namun dua tahun kemudian. dengan demikian berarti merangsang suatu masyarakat sehingga gerak majunya menjadi otonom.7% (1998). Fenomena ini tentu membingungkan penganut ekonomi ortodoks. para pakar maupun berbagai organisasi masyarakat. masyarakat merasa lega karena tak mengerjakan apa-apa. Akibatnya. sedangkan investasi asing tak mau masuk akibat situasi sosial politik yang belum menentu. Dalam jangka panjang. tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Soedjatmoko (Development and Freedom). padahal tahun sebelumnya tumbuh +4. Pada dimensi politik. Pembangunan. akibat distribusi akses sumber daya ekonomi yang tak merata menyebabkan rakyat miskin tak dapat mengembangkan usaha produktifnya. Krisis ekonomi. siapa di balik proyek. manusia mempunyai keterbatasan (bahkan tak ada) pilihan untuk mengembangkan hidupnya. telah ‖melumpuhkan‖ diri sendiri. potensi manusia mengembangkan hidup menjadi terhambat dan kontribusinya pada kesejahteraan bersama menjadi lebih kecil. legitimasi.dan lain-lainnya). telah terjadi ‖kesalahan‖ besar yang dibuat bersama -sama.6%.8% (Seda. lalu tertinggal. rasa cemas. suatu pembangunan tak akan berhasil dan bertahan. Masyarakat profesi. lalu diserahkan pada pemerintah. serta adanya jaring pengaman sosial. Lesson learned yang diperoleh dari Yayasan Pemulihan Keberdayaan Ma-syarakat (konsorsium 27 ja-ringan dan ornop besar yang membantu masyarakat keluar dari krisis). berbagai proyek yang ada terbengkalai. Pemerintah yang makin percaya diri. terfasilitasilah kemanusiaan yang penuh dan sanggup mengungkapkan diri (humanitas expleta et eloquens). Temuan lapangan di Indonesia. dalam satu tahun ekonomi Indonesia anjlok -18. ekonomi nasional telah tumbuh 4. Berbagai proyek tiba-tiba bertebaran. justru menunjukkan ‖kedigdayaan‖ rakyat. Anehnya. usaha-usaha besar ambruk. Freedom menurut Soedjatmoko merupakan kebebasan dari rasa tak berdaya. Feasibility studies (baca: penelitian pesanan) lalu dikerjakan oleh pa ra ‖intelektual tukang‖ maupun konsultan asing. Selama Orde Baru. sikap nrimo. Keberdayaan rakyat (civil society). Dengan demikian. Dengan demikian. Aksesibilitas yang dimaksud Sen adalah terfasilitasinya kebebasan politik. Meski sebenarnya. Pada dimensi ekonomi. Namun. sehingga pemerintah semakin memiliki kekuatan. ujar Sen. dan lain-lain). secara sadar maupun tak sadar. Untuk memecahkan hal tersebut. Dengan kata lain. rakyat pun tak peduli. Hal itu. kesempatan ekonomi. maka kebijakan tersebut tak menguntungkan mereka. pada masa itu sedang terjadi capital flight sekitar $ 10 miliar per tahun. Rakyat yang tak dilibatkan dalam proses. lalu merumuskan berbagai program dan proyek untuk dikerjakan. transparansi. dengan berakhirnya berbagai proyek dan usailah sudah semuanya. kesehatan. masyarakat telah ‖menyerahkan‖ kemandirian yang dimiliki. Sebagai sebuah proyek. Dalam waktu singkat. Tragisnya. Yaitu aspek pembebasan masyarakat dari struktur-struktur yang menghambat.9%. kesempatan sosial (pendidikan.

keberlanjutan (sustainability). sebab akan mempengaruhi paradigma (mindset) berpikir. perlu dikembangkan berbagai institusi modern yang dimodifikasi sedemikian rupa. dan menengah (UMKM) ternyata telah menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan krisis. Begitulah. yaitu melalui pemberian akses dan peluang yang sama pada kedua sektor usaha tersebut. pemerataan. sektor usaha besar yang hidup dari kronisme. karena mendapat berbagai privilese tumbuh dengan cepat. Tujuan pembangunan adalah tercapainya kesejahteraan bersama. akan bisa terus berkembang. Sementara usaha besar yang berusaha secara wajar dan kompetitif. usaha-usaha ekonomi rakyat yang sering disebut usaha mikro. Meski memobilisasi tabungan dari masyarakat luas. mau tak mau harus berkompetisi secara sehat. setidaknya kedua modal itulah yang kini kita miliki. dan pembangunan pun rapuh tak berakar ( bubble economy). Dengan cara demikian. Demikianlah. investasi asing dan haus akan utang luar negeri. tak ada jalan lain kecuali memakai cara-cara yang demokratis. Bila masyarakat telah tumbuh dan berdaya. Bahkan seringkali. Dengan demikian. dan semangat kemandirian masyarakat sendiri. sementara kesenjangan melebar. Demikian pula. namun kemudian ambruk. ‖Investasi ekonomi rakyat‖ (underground economy) yang kerap dipandang dengan sebelah mata. Produksi juga merupakan bagian penting dalam pendekatan ini. namun bukan tujuan utama. babakan itu menyadarkan bahwa orientasi production centered development yang menekankan pertumbuhan. Untuk mencapai demokrasi. untuk mencapai kehidupan yang manusiawi. 29 April 2003) . Menyadari adanya dua modal tersebut. acapkali institusi modern ini justru meningkatkan adanya kesenjangan. Akibatnya. Usaha-usaha besar. Dan perlu disadari. Ikhwal menetapkan tujuan utama (goal). kecil dan menengah (UMKM). kecil. sebab bila tidak akan jatuh. sektor modern justru makin meminggirkan mereka. dengan segala kekuatan dan kelemahannya. diperlukan pula adanya upaya peningkatan kapasitas (capacity building). kini secara berangsur telah ditinggalkan. *** Babakan sejarah yang pahit itu. agar bisa memanfaatkan berbagai akses dan peluang yang ada. ternyata memiliki banyak kelemahan. merupakan hal strategis yang tidak netral dan bebas nilai. Pendekatan people centered development. Usaha-usaha ekonomi rakyat. Cara sudah seharusnya konsisten dengan tujuan yang ingin dicapai. namun tetap berjalan tertatih-tatih karena keterbatasan akses. tern yata justru menunjukkan kekuatannya. metodologi dan pengorganisasian pencapaian tujuan. sehingga makin kuat dan kokoh menyangga bangsa ini. maka pembangunan akan berurat berakar (rooted) pada rakyat. memang terbukti mampu menyelamatkan ekonomi Indonesia dari krisis. maka cara untuk mencapainya pun seharusnya melalui upaya-upaya pencapaian kesejahteraan bersama. adalah perbankan. tentu harus dicapai dengan cara yang manusiawi pula. Memfokuskan diri pada kesejahteraan rakyat. dengan berbagai keterbukaan dan peluang.mereka. maka masyarakat dapat mengembangkan berbagai potensi produktif mereka. sehingga dapat kompatibel dengan nilai-nilai dan budaya setempat agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. Sedangkan untuk usaha mikro. hal ini tak mungkin terjadi. Salah satu institusi modern yang sangat sulit diakses oleh UMKM. akibat adanya ‖dualisme ekonomi‖ sektor kecil ini tak memiliki kemampuan untuk memanfaatkan berbagai institusi modern. Agenda ke Depan Kini kita menghadapi persoalan konkret. (Dimuat di Sinar Harapan. pembangunan akan berkembang secara dinamik berdasar kekuatan masyarakat sendiri. rente ekonomi dan fasilitas. Oleh sebab itu. menekankan pertumbuhan manusia (aktualisasi potensi manusia). perlu ada transformasi agar kedua sektor usaha tersebut bisa berkembang (dual track). di mana masyarakat mempunyai kebebasan untuk memilih. namun pelayanan pembiayaan bank lebih dimanfaatkan sektor besar. Setidaknya. Kue pembangunan ternyata hanya dikuasai sebagian kecil masyarakat. tentunya harus melalui jalan dari pembangkitan kekuatan rakyat itu sendiri atau dalam terminologi Korten disebut people centered development. Dan akhirnya disadari.

Data penurunan penanaman modal yang sangat besar ini. karena sepertinya perjuangan kita membela ekonomi rakyat tidak pernah akan berhasil. yang dalam tulisan yang sama oleh ekonom senior FE-UI (Kompas. Sidang tahunan MPR-RI bulan Agustus 2002 merupakan tonggak sejarah bagi ekonomi rakyat ketika MPR memutuskan menarik kembali kesepakatan sebelumnya (ST-2000) untuk menghapus asas kekeluargaan dari . sulit dimengerti. Bahwa ekonom-ekonom modern zaman sekarang pura-pura tidak mengerti ekonomi rakyat dan mengatakan itu sebagai ekonomi tersembunyi ( hidden economy) memang mudah dipahami karena pakar-pakar ekonomi ini sudah tercekoki oleh teori-teori ekonomi Neoliberal dari Barat yang hanya ―bergaul‖ dengan fakta-fakta ekonomi modern. Pergaulan mereka semakin sempit karena waktu mereka banyak tersita oleh komputer/internet yang mampu memberikan data-data kuantitatif dari seluruh dunia. maka saya lebih baik tutup mulut‖. Presiden menyambut baik hasil-hasil seminar yang antara lain menyimpulkan pemihakan Presiden pada Ekonomi Kerakyatan meskipun di muka umum tidak terkesan demikian. yang ekonom Sumatera saja mengerti apa itu ekonomi rakyat dan pada majalah ―Daulat Rakyat‖ tahun 1931 menulis ―Ekonomi Rakyat Dalam Bahaya‖. dan sulit diterangkan. karena daya tahan yang sangat tinggi. Sungguh sangat kontradiktif.Oleh: Setyo Budiantoro -.Direktur Kajian Ekonomi dan Pembangunan Center for Humanity and Civilization Studies (CHOICES) dan staf Ketua LSM Bina Swadaya. Para ekonom makro pengritik pemerintah ―dengan bangga‖ menunjukkan data BKPM (Persetujuan investasi pemerintah) yang anjlog 57% untuk modal dalam negeri dan 35% untuk modal asing dibanding tahun 2001. sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa ekonomi nasional makin terpuruk atau sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan (recovery). Bung Hatta. Jika saja mereka mau menyebutkan fakta ini memang mereka akan terpaksa mengakui kekeliruan teori ekonomi yang selalu mereka tonjolkan bahwa tanpa investasi tidak mungkin ada pertumbuhan ekonomi. Bagi kelompok ekonom lain yang membela dan memihak ekonomi rakyat. dan saya akan terlalu sibuk berdebat dengan mereka. Daya tahan yang tinggi inilah yang menyebabkan ekonomi r akyat cepat pulih dari krisis ―laksana baju bolong -bolong yang merajut kembali sendiri‖. Pada tanggal 18 Maret 2002 Redaktur JER bersama Menteri Koperasi & UKM bertemu Presiden Megawati di Istana Negara untuk melaporkan hasil lokakarya ―Ekonomi Kerakyatan‖ tanggal 11 September 2001. Sikap dan jawaban Presiden yang demikian tentu saja mengecewakan kita. karena kalau saya bersikap demikian. ekonomi industri. Yang licik atau tidak jujur (unfair) dari analisis makro ekonomi ini adalah tidak dengan menyebutkan secara jelas dan eksplisit bahwa ekonomi Indonesia selama 2002 telah tumbuh 3.5%. Data-data ini diperkuat lagi oleh ―taksiran‖ pelarian modal ke luar negeri sebesar rata-rata US $ 10 milyar per tahun sejak krismon 1997. 19 Januari) disebut kelompok ekonom populis yang ―tidak realistis‖ dan ―tidak ilmiah‖. Mubyarto EKONOMI RAKYAT SEPANJANG TAHUN 2002 Tahun 2002 adalah tahun yang benar-benar istimewa bagi ekonomi rakyat. Presiden menyatakan antara lain bahwa ekonomi rakyat tidak mungkin mengalami krisis berkepanjangan. Inilah ekonomi rakyat yang dipahami oleh semua orang kecuali pakar-pakar ekonomi keblinger. Analisis makroekonomi (Neoklasik Ortodok) memang di sini menjadi buntu karena tidak ada yang dapat menerangkan mengapa ekonomi dapat tumbuh tanpa investasi. globalisasi yang arti harafiahnya adalah perluasan wawasan ternyata telah menyempitkan pendangan para ekonom makro Neoliberal hingga ekonomi rakyat di depan mata dianggap ekonomi tersembunyi. karena ternyata dalam kondisi investasi merosot ekonomi tumbuh 3. ekonomi pasar uang/modal. Dalam kondisi bingung inilah Chatib Basri seorang ekonom muda Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia lalu menunjuk adanya ekonomi tersembunyi ( hidden economy) yang sulit diraba. Presiden kita ternyata tidak bersama kita. ekonomi tersembunyi ini sangat jelas tidak tersembunyi. Investassi tidak berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Betapa tidak.5%. para elit di sekitar saya serta merta akan menentangnya. Saat itu kami usulkan agar Presiden secara terbuka menunjukkan keberpihakan ini. beliau menjawab: ―Bapak-bapak saja. Hukum atau teori ekonomi ini ternyata sama sekali tidak terbukti sepanjang tahun 2002.

5. keadilan. maka penghapusan penjelasan seluruh pasal 33 masih tetap berbahaya karena tidak lagi ada ketentuan tentang ―mendahulukan kepentingan masyarakat. Perekonomian disusun dan dikembangkan sebagai usaha bersama seluruh rakyat secara berkelanjutan berdasar atas keadilan. Tetapi TAP MPR yang sama dan UU No 25 tentang Propenas juga tegas-tegas memerintahkan pelaksanaan sistem ekonomi kerakyatan. Koperasi bukan pelaku ekonomi. Dalam sidang tahunan (ST) MPR-2002 para politisi kita berdebat keras melaksanakan amandemen UUD 1945 yang dikenal dengan amandemen ke-4. rupanya dianggap memadai dan tidak melanggar asas kerakyatan. disamping BUMN dan usaha swasta. kesejahteraan. Bulan-bulan setelah selesainya ST MPR 2002 terjadi perdebatan menarik tentang perlakuan yang dianggap tepat pada para konglomerat atau eks-konglomerat yang mbandel tidak mau (bukan tidak mampu) membayar utang yang ratusan trilyun. efisiensi. termasuk juga melaksanakan komitmen pada LoI-IMF. Bumi. untuk mewujudkan kemakmuran. sedangkan koperasi adalah wadah organisasi tempat bergiatnya ekonomi rakyat. liberalisme. 3. serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai dan atau diatur oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Tetapi sekali lagi tetap merupakan kekeliruan dan kerugian besar bagi bangsa Indonesia dan sistem serta praksis perekonomian. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai dan/atau diatur oleh negara berdasarkan asas keadilan dan efisiensi yang diatur dengan undang-undang. air. dan dirgantara. yang diatur dengan undangundang. Pelaku ekonomi tetap saja perorangan sebagai produsen ataupun konsumen. Tetapi jika ke 5 ayat baru pasal 33 ini dianggap cukup untuk menghidarkan sistim kapitalisme. Hanya orang seorang adalah pelaku ekonomi yang instinknya bekerja keras berusaha mencapai tujuan.pasal 33 UUD 1945. mayoritas anggota nampaknya menyadari kekeliruan pendapat yang ingin menggusur asas kekeluargaan. Ini berarti kemenangan para pembela ekonomi rakyat yang sejak Mei 2001 sebenarnya telah ―dinyatakan kalah‖ karena 5 dari 7 pakar ekonomi dalam BP-MPR setuju untuk menghapus asas kekeluargaan untuk digantikan dengan asas keadilan. dan demokrasi ekonomi. 4. dan pemerintah. BPPN yang merupakan rumah sakit raksasa untuk menyelamatkan sektor perbankan dari kebangkrutan total menghadapi dilema. dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pelaku ekonomi adalah koperasi. yaitu melalui restrukturisasi perusahaan yang sakit dan penjualan aset-asetnya. Hasilnya cukup melegakan karena asas kekeluargaan tidak jadi digusur dan ketiga ayat pasal 33 dipertahankan utuh tanpa perubahan apapun meskipun ada tambahan ayat 4 dan 5 sebagai ―kompromi‖ yang memasukkan kata ―efisiensi berkeadilan‖. Demikian menggusur kata asas kekeluargaan dengan memasukkan kata demokrasi ekonomi. dan usaha swasta termasuk usaha perseorangan. Ternyata yang menang adalah cara pemilihan yang kedua yaitu pemilihan presiden langsung meskipun tetap tidak ada jaminan dapat terpilihnya presiden yang benar-benar mampu mempersatukan seluruh bangsa untuk memecahkan masalah-masalah pembangunan bangsa yang makin komplek termasuk ancaman disintegrasi bangsa yang amat nyata. memperhatikan dan menghargai hak ulayat. Secara lengkap rumusan pasal 33 baru hasil ST-2000 berisi 5 ayat sebagai berikut: 1. bukan kemakmuran orang seorang‖. karena MPR memutuskan menghapus seluruh penjelasan pasal 33 termasuk di antaranya hilangnya kata bangun perusahaan koperasi dan pengertian lengkap demokrasi ekonomi yang menekankan pada keharusan mendahulukan kepentingan masyarakat. dan sosialisme. dan efisiensi. serta menjamin keseimbangan dan kemajuan seluruh wilayah negara. Mungkin karena perhatian amat besar pada masalah pemilihan presiden atau katena perjuangan yang gigih dari segelintir teman-teman kita di MPR seperti Prof. badan usaha milik negara. sedangkan organisasi koperasi adalah wadah kegiatan yang menjadi alat untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi anggota-anggota koperasi. ST-MPR 2002 memutuskan mempertahankan asas kekeluargaan bahkan mempertahankan keseluruhan (3 Ayat) pasal 33 tanpa amandemen apapun. dan demokrasi ekonomi. . 2. Memang amandemen yang paling penting menyangkut bidang politik yaitu tentang pemilihan presiden apakah melalui MPR yang selama ini berjalan atau melalui pemilihan langsung. Sri-Edi Swasono. efisiensi. Lagipula menyebutkan koperasi sebagai salah satu pelaku ekonomi. sebenarnya merupakan salah kaprah yang sulit dimaafkan. Di satu pihak BPPN diperintahkan MPR dan UU tentang Propenas untuk ―membereskan‖ segala utang ini dalam 5 tahun. Penyusunan dan pengembangan perekonomian nasional harus senantiasa menjaga dan meningkatkan tata lingkungan hidup.

Pemilihan kebijakan yang tidak populis inilah yang kemudian memperkuat demonstrasi mahasiswa yang selanjutnya menuntut Presiden dan Wakil Presiden mundur karena tidak lagi merasa dipihaki. Presiden dan Wakil presiden yang sangat didambakan memihak rakyat tidak lagi dipihak mereka (atau melawan mereka) sehingga tidak ada alasan lagi untuk mendukungnya. Dan praktek perbankan BRI dengan unit-unit desanya dapat didukung kegiatan BPR dan Koperasi yang dikembangkan berbagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sudah tumbuh di mana-mana secara mandiri dengan modal tabungan anggota. Dr. Praktek-praktek BRI ini sebenarnya sudah ditiru/direplikasi di sejumlah negara Asia seperti India tetapi rupanya kurang mendapat perhatian di negeri sendiri. tetapi juga secara nyata sangat memberatkan kehidupan ekonomi rakyat. lebih-lebih dengan pernyataan pembelaan Presiden di Bali tanggal 12 Januari. adalah indikator penemuan ekonomi rakyat pada habitatnya yang benar. Pertumbuhan ekonomi nasional yang dilaporkan BPS 3. yang mendapat reaksi keras dari rakyat. tetapi semuanya dengan modal mereka sendiri.bukan lagi sistem ekonomi konglomerasi yang terbukti telah menyulut bom waktu berupa krisis moneter 1997. Kiranya menjadi jelas bagaimana kehidupan ekonomi rakyat sepanjang tahun 2002 sampai awal 2003 ini.5% jelas-jelas merupakan sumbangan ekonomi rakyat yang dapat diandalkan ketahanannya. Dilema ini berkepanjangan karena pada setiap kasus seperti penjualan BCA atau Indosat selalu muncul masalah masa depan sistem ekonomi Indonesia. Pelaksanaan sistem ekonomi kerakyatan yang (harus) memihak rakyat berkali-kali terbentur atau berbenturan dengan kepentingan kelompok (vested interest) yang ingin tetap menguasai perekonomian Indonesia seperti masa-masa sebelum krismon. Bahaya ini sungguh jelas terlihat karena definisi kredit UKM adalah nilai kredit antara Rp 50 juta dan Rp 500 juta yang jelas bukan kelompok ekonomi mikro yang miskin. Usulan Filipina dalam AIPO-ASEAN (Organisasi antar Parlemen ASEAN) untuk membentuk Bank Penanggulangan Kemiskinan (ASEAN Poverty Alleviation Bank). Guru Besar FE-UGM. Ekonomi rakyat menjadi pendukung utama perekonomian nasional. Di Indonesia sejarah dan praktek BRI sudah dukup meyakinkan sebagai Bank bagi penduduk miskin terutama di perdesaan. Pemulihan ekonomi nasional dari krisis yang berkepanjangan justru terletak pada ekonomi rakyat. Pada forum sama di DPR -RI tanggal 28 Januari Nyoman Muna dan Bambang Ismawan mengusulkan dikembang kannya ―microcredit wholesaler‖ (pemasok modal besar untuk ekonomi rakyat) tetapi yang harus dijaga benar -benar agar tidak dicegat oleh pemangsa (predator) yang akan memangsa kredit-kredit mikro ini untuk mereka sendiri. dan telepon awal Januari 2002. Menjamurnya pedagang kaki lima di mana-mana di kota-kota besar dan kecil. Tarif dasar listrik. Ekonomi rakyat bukanlah ekonomi tersembunyi ( hidden economy) tetapi ekonominya wong cilik yang dapat dengan mudah dilihat dan ditemui di mana-mana di sekitar kita. ketika ekonomi sektor industri modern makin tertutup dan bermasalah. Tentu saja pernyataan ini mendapat reaksi makin keras karena tidak saja kebijakan yang demikian melawan TAP MPR dan UU Propenas tentang sistem ekonomi kerakyatan. meskipun hampir tidak pernah dipihaki kebijakan-kebijakan pemerintah. Prof. Inilah nasib ekonomi rakyat yang cukup suram dan merisaukan. ditinjau dari para pelaku ekonomi rakyat ia merupakan pemecahan masalah ( solution). Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM (PUSTEP-UGM) . Mubyarto. Dalam kaitan ini Kementerian Koperasi dan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) perlu berhati-hati karena UKM inilah salah satu wadah kelompok yang sangat mudah diselundupi sehingga menjadi pemangsa (predator) barbagai program kredit bagi ekonomi rakyat. Jika pemerintah menganggap menjamurnya pedagang kaki lima sebagai masalah yang memusingkan. di desadesa maupun di kota-kota. apakah tetap patuh pada pelaksanaan amanat pasal 33 UUD yang nasionalistik atau sistem ekonomi Neoliberal yang kini menguasai ekonomi dunia. sehingga Direktur Utama BRI Rudjito menyatakan di DPR ―vested interest lebih tinggi dari interest rate‖ (yang sudah cukup tinggi!). Presiden dengan tegas dan terus terang menyatakan pilihan kebijakan yang ―tidak populis‖ (tidak memihak rakyat) karena dianggap ―konstruktif‖ dalam jangka panjang. Dilema sangat berat ini menjadi terbuka lebar pada kasus kenaikan serentak harga-harga BBM. Dan jalan keluar atau pemecahan masalah ini sama sekali tidak memperoleh bantuan modal dari pemerintah atau bank-bank pemerintah. Berbagai upaya untuk memihakinya selalu kandas ditengah jalan karena kepentingn-kepentingan yang mapan bercokol (vested interest) selalu berusaha keras pula untuk menyabotnya demi kepentingan mereka. dikawatirkan makin melembagakan kehidupan predator-predator kredit mikro bagi penduduk/warga miskin yang haus kredit di negara-negara ASEAN.

Fredrik Benu EKONOMI KERAKYATAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT: SUATU KAJIAN KONSEPTUAL Ruang Ekonomi Kerakyatan Indonesia Saat mendapat tugas untuk mebahas konsep ekonomi kerakyatan dalam kaitan dengan makalah Prof. Kalau diterjemahkan dalam konteks ilmu ekonomi. Mereka lahir dan berkembang dalam suatu sistem ekonomi yang selama ini lebih menekankan pada peran negara yang dikukuhkan (salah satunya) melalui pengontrolan perusahan swasta dengan rezim insentif yang memihak serta membangun hubungan istimewa dengan pengusaha-pengusaha . Golongan yang kedua ini biasanya (walaupun tidak semua) lebih banyak tumbuh karena mampu membangun partner usaha yang baik dengan penguasa sehingga memperoleh berbagai bentuk kemudahan usaha dan insentif serta proteksi bisnis. maka rakyat adalah kumpulan kebanyakan individu dengan ragaan ekonomi yang relatif sama. Pertanyaan yang sama harus dikenakan pada konsep ekonomi rakyat. Kenapa mereka tidak digolongkan juga dalam ekonomi kerakyatan?. dan bentuk kepemilikan usaha secara pribadi. Ilustrasi di atas saya sampaikan untuk membuka ruang diskusi tetang ekonomi kerakyatan dalam perspektif yang terarah dalam kerangka mengagas pikiran Prof. menguasai teknologi produksi dan menejemen usaha modern. serta peluang pasar. yaitu ekonomi rakyat yang mana. kucing. maka semuanya disebut binatang. sumberdaya manusia. Buruh tani. Mubyarto tentang ―Ekonomi Kerakyatan dalam Era Globalisasi dan Otonomi Daerah‖. menguasai usaha dari hulu ke hilir. Sama seperti jika seekor kucing digabungkan dengan 100 ekor tikus dalam satu ruang. di mana dan berapa jumlahnya. kita tidak bisa menangkap binatang untuk mengatakan gemuk atau kurus. Perlu dipahami bahwa dalam ruang ekonomi nasional pun terdapat sejumlah aktor ekonomi (konglomerat) dengan bentuk usaha yang kontras dengan apa yang diragakan oleh sebagian besar pelaku ekonomi rakyat. sehingga kita harus jelas mengatakan binatang yang mana yang bentuk visualnya gemuk atau kurus. Karena kelompok usaha dengan karakteristik seperti inilah yang mendominasi struktur dunia usaha di Indonesia. Persoalannya ada begitu banyak obyek yang masuk dalam barisan binatang (tikus. bagaimana kita memperlakukan rakyat dimaksud dan apakah perlakuan terhadapnya selama ini sudah benar. yakni upaya memberdayakan (kelompok atau satuan) ekonomi yang mendominasi struktur dunia usaha. Ekonomi Kerakyatan dan Sistem Ekonomi Pasar Ekonomi rakyat tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. sarana teknologi produksi yang sederhana. ekonomi rakyat adalah satuan (usaha) yang mendominasi ragaan perekonomian rakyat. Sedangkan ekonomi kerakyatan lebih merupakan kata sifat. maka kata rakyat dalam konteks ilmu ekonomi selayaknya diterjemahkan sebagai kesatuan besar individu aktor ekonomi dengan jenis kegiatan usaha berskala kecil dalam permodalannya. Walaupun dalam perjalanannya seekor kucing dapat saja menelan 100 ekor tikus atas nama binatang. Ibarat kata ‗binatang‘. Selanjutnya. Memiliki modal yang besar. saya menc oba untuk menangkap (baca: memahami) makna kata ‗rakyat‘ secara utuh. Mubyarto. Dalam ruang Indonesia. khususnya dalam kaitan dengan pembangunan ekonomi. Kita harus jelas mengatakan rakyat yang mana yang seharusnya kita tempatkan dalam ruang ekonomi kerakyatan Indonesia. kecuali binatang itu adalah misalnya seekor tikus. Atau apakah upaya menggiring rakyat ke dalam ruang ekonomi kerakyatan selama ini sudah berada dalam koridor yang benar. Dalam konteks ilmu sosial. Akhirnya saya sampai pada pemahaman bahwa rakyat sendiri bukanlah sesuatu obyek yang bisa ‗ditangkap‘ untuk diamati secara visual. kata rakyat terdiri dari satuan individu pada umumnya atau jenis manusia kebanyakan.). ular. usaha ekonomi yang diragakan bernilai ekstrim terhadap totalitas ekonomi nasional. Kata rakyat merupakan suatu konsep yang abstrak dan tidak dapat di‘tangkap‘ untuk diamati perubahan visual ekonominya. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun. Atau dengan kata lain. mempunyai akses pasar yang luas. siapa. koruptor pun berhak menyandang predikat ‗rakyat‘. Menurutnya. Karena jumlahnya hanya sedikit sehingga tidak merupakan representasi dari kondisi ekonomi rakyat yang sebenarnya. Kata rakyat baru bermakna secara visual jika yang diamati adalah individualitas dari rakyat (Asy‘arie. atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam. konglomerat. dll. Dainy Tara (2001) membuat perbedaan yang tegas antara ‗ekonomi rakyat‘ dengan ‗ekonomi kerakyatan‘. 2001). menejemen usaha yang belum bersistem. Karena dalam dimensi ruang Indonesia semua orang (Indonesia) berhak untuk menyandang predikat ‗rakyat‘.

karena pengalaman keberhasilan pembangunan ekonomi negara-negara maju saat ini selalu merujuk pada bekerjanya mekanisme pasar. jika kita semua jernih melihat dan jujur untuk mengakui bahwa kegagalan-kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama ini terjadi bukan disebabkan oleh karena ketidakmampuan mekanisme pasar mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. di mana bangun ekonomi yang mendominasi regaan struktur ekonomi nasional mendapat tempat tersendiri. sebenarnya keragu-raguan ini tidak perlu terjadi. tidak efektifnya pasar tersebut berjalan. Padahal ekonomi pasar diperlukan untuk menentukan harga yang tepat ( price right) untuk menentukan posisi tawar-menawar yang imbang. Sudah saatnya dan cukup adil jika pengusaha kecil –menengah dan bangun usaha koperasi mendapat kesempatan secara ekonomi untuk berkembang sekaligus mengejar ketertinggalan yang selama ini mewarnai buruknya tampilan struktur ekonomi nasional. khusunya sejak masa orde baru. Mari kita membedah lebih jauh tentang konsep ekonomi kerakyatan. Keputusan politik ini sebenarnya menandai suatu babak baru pembangunan ekonomi nasional dengan perspektif yang baru.yang besar yang melahirkan praktik-praktik anti persaingan. Bahwa kegagalan kebijakan pembangunan ekonomi nasional masa orde baru dengan keberpihakan yang berlebihan terhadap kelompok pengusaha besar perlu diubah. dan adanya pengaruh eksternal. dalam prakteknya belum ada satu negarapun yang cukup berpengalaman serta yang paling penting menunjukkan keberhasilan nyata. Bukti keragu-raguan ini tercermin dalam TAP MPR hasil sidang istimewa itu sendiri. Lahirnya sejumlah pengusaha besar (konglomerat) yang bukan merupakan hasil derivasi dari kemampuan menejemen bisnis yang baik menyebabkan fondasi ekonomi nasional yang dibangun berstruktur rapuh terhadap persaingan pasar. Mereka tidak bisa diandalkan untuk menopang perekonomian nasional dalam sistem ekonomi pasar. Mau merujuk pada bekerja suatu mekanisme yang baru (apapun namanya). Dalam pemahaman seperti ini. perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Kegagalan pembangunan ekonomi yang diragakan berdasarkan mekanisme pasar ini antara lain karena kegagalan pasar itu sendiri. komitmen politik pemerintah ini perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Mau meninggalkan mekanisme pasar dalam sistem ekonomi nasional. Sekali lagi. Persepektif yang perlu dianut adalah bahwa keindahan. yang keberhasilannya masih mendapat tanda tanya besar atau minimal belum dapat dibuktikan melalui suatu kajian teoritis-empiris. bukan ekonomi pasar itu sendiri. Yang perlu dilakukan adalah upaya untuk mendekati kondisi indah. Saya perlu menggaris bawahi bahwa yang patut mendapat kesalahan terhadap kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama regim orde baru adalah implementasi kebijakan pembangunan ekonomi nasional yang tidak tepat dalam sistem ekonomi pasar. lalu mencari suatu sistem dan paradigma baru di luar sistem ekonomi pasar untuk dirujuk dalam pembangunan ekonomi nasional. Bagi saya dunia ―pasar‖ Adam Smith adalah suatu dunia yang indah dan adil untuk dibayangkan. yang antara lain berisikan tentang keberpihakan yang sangat kuat terhadap usaha kecil-menengah serta koperasi. dan seimbang melalui berbagai regulasi pemerintah sebagai wujud intervensi yang berimbang dan kontekstual.. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya struktur ekonomi yang berimbang antar pelaku ekonomi dalam negeri. minimal telah dibuktikan melalui suatu review teoritis. bahkan kita sendiri belum berpengalaman (ibarat membeli kucing dalam karung). dimana demokrasi ekonomi nasional tidak semata-mata dijalankan dengan keberpihakan habis-habisan pada usaha kecil-menengah dan koperasi. Komitmen pemerintah untuk mengurangi gap penguasaan aset ekonomi antara sebagian besar pelaku ekonomi di tingkat rakyat dan sebagian kecil pengusaha besar (konglomerat). Pengalaman pembangunan ekonomi Indonesia yang dijalankan berdasarkan mekanisme pasar sering tidak berjalan dengan baik. dihasilkan suatu TAP MPR mengenai Demokrasi Ekonomi. Namun demikian tidak harus diartikan bahwa konsep pasar Adam Smith yang relatif bersifat utopis ini harus diabaikan. Kemudian sejak sidang istimewa (SI) 1998. demi mengamankan pencapaian target pertumbuhan (growth) (Gillis et al. saya merasa kurang memiliki justifikasi empirik untuk mempertanyakan kembali sistem ekonomi pasar. . Karena konsep ―pasar‖ yang disodorkan oleh Adam Smit sesungguhnya tidak pernah ada dan tidak pernah akan ada. 1987). Bagi saya. Hal yang masih kurang jelas dalam TAP MPR dimaksud adalah apakah perspektif pembangunan nasional dengan keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini masih dijalankan melalui mekanisme pasar? Dalam arti apakah intervensi pemerintah dalam bentuk keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini adalah benar-benar merupakan affirmative action untuk memperbaiki distorsi pasar yang selama ini terjadi karena bentuk campur tangan pemerintah dalam pasar yang tidak benar? Ataukah pemerintah mulai ragu dengan bekerjanya mekanisme pasar itu sendiri sehingga berupaya untuk meninggalkannya dan mencoba merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru ?. adil. keadilan dan keseimbangan yang dibangun melalui mekanisme ―pasar‖nya Adam Smith adalah sesuatu yang harus diakui keberadaannya. Bukan sebaliknya membangun suatu format lain di luar ―ekonomi pasar‖ untuk diacu dalam pembangunan ekonomi nasional. tapi perusahaan swasta besar dan BUMN tetap mendapat tempat bahkan mempunyai peran yang sangat strategis. kita masih ragu-ragu. Tapi sayangnya sangat sulit untuk diacu untuk mencapai keseimbangan dalam tatanan perekonomian nasional. Nampaknya kita semua berada pada pilahan yang dilematis. intervensi pemerintah yang tidak benar.

Semua ini merupakan ciri-ciri dari Ekonomi Kerakyatan yang kita tuju bersama (Prawirokusumo. maka kurang ada justifikasi logis yang jelas untuk mengabaikan bekerjanya mekanisme pasar dalam mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. tetapi kurang adanya affirmative action yang jelas oleh pemerintah demi menjamin bekerjanya mekanisme pasar. pada akhirnya bermuara pada incapability dan inefficiency dari industri yang bersangkutan (contoh kebijakan pengembangan industri otomotif). harganya terlalu mahal bagi rakyat jika kita mencoba-coba dengan sesuatu yang tidak pasti. Sejak awal saya katakan bahwa semua pihak perlu mendukung affirmative action policy pada usaha kecilmenengah dan koperasi yang diambil oleh pemerintah sesuai dengan tuntutan TAP MPR. Buktinya negaranegara maju yang selalu merujuk pada bekerjanya mekanisme pasar secara baik. Ekonomi Kerakyatan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perlu digarisbawahi bahwa ekonomi kerakyatan tidak bisa hanya sekedar komitmen politik untuk merubah kecenderungan dalam sistem ekonomi orde baru yang amat membela kaum pengusaha besar khususnya para . Justru negara-negara yang masih setengah hati mendorong bekerjanya mekanisme pasar (seperti Indonesia) tidak mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara mantap. dan pemerataan yang berkeadilan. namun pelaksanaannya masih jauh dari memuaskan. sistem perburuhan. 2000). Perlu dicatat. mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara baik pula. Saya juga kurang setuju dengan pendapat bahwa mekanisme pasar tidak dapat menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonomi nasional. ternyata dalam prakteknya lebih diarahkan pada keberpihakan yang berlebihan pada pengusaha besar (konglomerat) dalam bentuk insentif maupun regim proteksi yang ekstrim. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang salah atau kurang sempurna dengan konsep ekonomi kerakyatan?. jika ada intervensi pemerintah melalui perpajakan. serta lemahnya pengawasan. bukan sebaliknya pada konglomerat. Pengalaman pembangunan ekonomi nasional dengan kebijakan proteksi bagi kelompok industri tertentu (yang diasumsikan sebagai infant industry) dan diharapkan akan menjadi ―lokomotif ― yang akan menarik gerbong ekonomi lainnya. meluasnya kesempatan berusaha dan pendapatan. sistem jaminan sosial. dsb. instrumen distribusi kekayaan dan pendapatan. Apalagi dengan merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru. ka rena dimanjakan oleh berbagai insentif dan berbagai bentuk proteksi. partisipatif. Fungsi sosial dapat berjalan dengan baik dalam mekanisme pasar. terjadi banyak penyimpangan dalam implementasi. pemerintah sendiri kurang mempunyai acuan yang jelas tentang kapan seharusnya phasing-out process diintrodusir dalam tahapan intervensi. Pembangunan harus dikembangkan dengan berbasiskan ekonomi domestik (bila perlu pada daerah kabupaten/kota) dengan tingkat kemandirian yang tinggi. Pada saat yang sama. keterbukaan/demokratis. 2001). bahwa disamping obyek keberpihakan selama pemerintah orde baru dalam kebijakan ekonomi nasionalnya salah alamat. Sebenarnya sudah banyak program jaminan sosial temporer semacam JPS di Indonesia. rakyat sudah terlalu lama menunggu dengan penuh pengorbanan. Periode waktu yang telah ditetapkan untuk berkembang menjadi suatu bisnis yang besar dalam skala dan skop serta melibatkan sejumlah besar pelaku ekonomi di dalamnya. Pendapat seperti ini juga tidak benar secara absolut. karena kurang mantapnya perencanaan. adanya persaingan yang sehat. untuk melihat keberhasilan pembangunan ekonomi nasional yang dapat dinikmati secara bersama. Yang disebut dengan affirmative action seharusnya lebih dutujukkan pada disadvantage group (sebagian besar rakyat kecil). Jadi yang salah selama ini bukan mekanisme pasar. seperti Singapura) mempunyai suatu sistem social security jangka panjang (yang berfungsi secara permanen) untuk membantu kelompok masyarakat yang inferior dalam kompetisi memperoleh akses ekonomi. Kita akan membahas lebih jauh tentang kekurangan konsep ekonomi kerakyatan yang di dengungkan oleh pemerintah pada sub-pokok bahasan di bawah ini. Bagi saya. Akibatnya tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) terhadap obyek keberpihakan (dalam mekanisme pasar) untuk mengambil peran sebagai lokomotif keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. Ini sama artinya dengan ―sakit di kaki. Bentuk campur tangan pemerintah (orde baru) yang seharusya diarahkan untuk menjamin bekerjanya mekanisme pasar guna mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. kepercayaan diri dan kesetaraan. Sudah menjadi pengetahuan yang luas bahwa negara-negara maju (termasuk beberapa negara berkembang. kepala yang dipenggal‖. menjadi tidak bermakna saat dihadapkan pada kenyataan bahwa bisnis yang bersangkutan masih tetap berada pada level perkembangan ―bayi‖. Ini yang namanya affirmative action yang terarah oleh pemerintah dalam mekanisme pasar (Bandingkan dengan pendapat Anggito Abimanyu. Kalau begitu logikanya.tetapi lebih disebabkan karena pasar sendiri tidak diberi kesempatan untuk bekerja secara baik. demi mengkreasi bekerjanya mekanisme pasar dalam program pembangunan ekonomi nasional.

menjadi sangat tergantung pada aksi dimaksud. Namun demikian perlu ditegaskan bahwa pengembangan ekonomi kerakyatan pada era otonomisasi saat ini tidak harus ditejemahkan dalam perspektif territorial. Masih ada masalah lain yang perlu dibahas dalam hubungan dengan internal condition UKM dan Koperasi. Pendekatan seperti ini jelas sangat berbeda dengan apa yang dimaksud dengan affirmative action. Isu ini perlu mendapat perhatian tersendiri. dan . konsep pengembangan ekonomi kerakyatan harus diterjemahkan dalam bentuk program operasional berbasiskan ekonomi domestik pada tingkat kabupaten dan kota dengan tingkat kemandirian yang tinggi. Praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil sangat tidak menguntungkan pihak manapun. Sebenarnya yang harus ada pada tangan obyek affirmative action adalah kesempatan untuk berkembang dalam suatu mekanisme pasar yang sehat. keterbatasan penguasaan teknologi dan informasi. bukan sekedar jargonjargon politik yang hanya berada pada tataran konsep. Tapi sebaiknya dikembangkan dalam perspektif ‗regionalisasi‘ di mana di dalamnya terintegrasi kesatuan potensi. Aksi membagi-bagi uang secara tidak sadar menyebabkan usaha kecil-menengah dan koperasi yang selama ini tidak berdaya untuk bersaing dalam suatu mekanisme pasar. Beberapa kajian empiris menunjukkan bahwa permasalahan umum yang dihadapi oleh UKM dan Koperasi adalah: keterbatasan akses terhadap sumber-sumber permbiayaan dan permodalan. Kita semua masih mengarahkan seluruh energi untuk mendukung program keberpihakan pemerintah pada UKM dan koperasi sesuai dengan tuntutan TAP MPR. Kalau tidak. diperlukan adanya kajian ekonomi yang akurat tentang timing dan process di mana pemerintah harus mengurangi bentuk keberpihakannya pada usaha kecil-menengah dan koperasi dalam pembangunan ekonomi rakyat. Hal ini perlu ditegaskan. sumberdaya manusia. termasuk rakyat kecil sendiri (Bandingkan dengan pendapat Ignas Kleden. pemerintah harus mempunyai ancangan yang pasti tentang kapan seharusnya pemerintah mengurangi bentuk campur tangan dalam affirmative action policynya. Ini adalah suatu model pendekatan struktural (structural approach). Komitmen keberpihakan pemerintah pada UKM dan Koperasi di dalam perspektif ekonomi kerakyatan harus benar-benar diarahkan untuk mengatasi masalah-masalah yang disebut di atas. 2000). keterbatasan akses pasar.konglomerat. Oleh karena itu. Modal dasar yang dimiliki inilah yang seharusnya ditumbuhkembangkan dalam suatu mekanisme pasar yang sehat. karena sampai saat ini masih banyak pihak (di luar UKM dan Koperasi) yang memanfaatkan momen keberpihakan pemerintah ini sebagai free-rider. keunggulan. maka saya khawatir cerita keberpihakan yang salah selama masa orde baru kembali akan terulang. Pada era otonomisasi saat ini. untuk mendorong ekonomi kerakyatan berkembang secara sehat. karena asumsi awal yang dianut adalah usaha kecil-menengah dan koperasi yang merupakan ciri ekonomi kerakyatan Indonesia tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. Bahkan sangat mungkin terjadi suatu proses yang bersifat counter-productive. serta peluang pasar. Justru kelompok ini yang enggan mendorong adanya proses phasing-out untuk mengkerasi mekanisme pasar yang sehat dalam rangka mendorong keberhasilan program ekonomi kerakyatan. Selanjutnya. atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam. Jika pemahaman ini tidak dibangun sejak awal. bukan cash money/cash material. Tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) dalam ragaan bisnis usaha kecil-menengah dan koperasi yang menjadi target affirmative action policy. maka sekali lagi kita akan mengulangi kegagalan yang sama seperti apa yang terjadi selama masa pemerintahan orde baru. peluang. Perubahan itu hendaknya dilaksanakan dengan benar-benar memberi perhatian utama kepada rakyat kecil lewat program-program operasional yang nyata dan mampu merangsang kegiatan ekonomi produktif di tingkat rakyat sekaligus memupuk jiwa kewirausahaan. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di NTT Kita telah membahas tentang konsep ekonomi kerakyatan dalam pembangunan ekonomi nasional melalui program-program keberpihakan pemerintah terhadap UKM dan Koperasi. Bukan sebaliknya ditiadakan dengan menciptakan ketergantungan model baru pada kebijakan keberpihakan dimaksud. tetapi menyamakan ekonomi kerakyatan dengan praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil (saya tidak membuat penilaian terhadap sistem JPS). tetapi perlu ditindalanjuti dengan pengembangan program-program operasional yang diarahkan untuk mengatasi persoalan keterbatasan akses kebanyakan rakyat kecil. agar pembahasan tentang ekonomi kerakyatan tidak hanya berhenti pada suatu konsep abstrak (seperti pembahasan tentang konsep ‗binatang‘ di atas). 2001). yaitu phasing-out process yang harus pula dipersiapkan sejak awal. Tidak dapat disangkal bahwa membangun ekonomi kerakyatan membutuhkan adanya komitmen politik ( political will). keterbatasan organisasi dan pengelolaannya (Asy‘arie. Program pengembangan ekonomi rakyat memerlukan adanya program-program operasional di tingkat bawah. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun. adalah sesuatu kekeliruan besar dalam perspektif ekonomi kerakyatan yang benar. Tapi kita lupa bahwa ada tahapan lainnya yang penting dalam program keberpihakan dimaksud.

Sekedar sebagai pembanding disajikan data realisasi dan tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) selama periode 1996-2000. Kompas Media Nusantara. Jakarta. Elex Media Komputindo. Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia. 2000. Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia.W. Sistem nilai budaya ini yang banyak mendeterminasi perilaku aktor ekonomi rakyat di NTT. sikap terhadap mitra dan kompetitor. sebaiknya dimulai dengan program rekayasa sosial-budaya (socio-cultural engineering) untuk merubah inner life dan mengkondisikan suatu tatanan masyarakat yang akomodatif terhadap tuntutan pasar untuk maju. Lembaga Studi Filsafat Islam. tidak dipublikasikan. cara pandang tentang tingkat keuntungan. PUSTAKA Abimanyu. 2002. Simanjuntak. Yogyakarta. Tingkat pencapaian tertinggi yang paling banyak diperoleh dari program-program dimaksud adalah hanya terbatas pada tumbuhnya kesadaran berpikir dan hasrat untuk maju. W. Ini adalah suatu model pendekatan lain yang disebut pendekatan kultural (cultural approach). Gillis. Perkins.1 milyar (Laporan Gubernur NTT. Ekonomi Indonesia Baru. Roemer Donald R. Anggito. 1987. 2001. Laporan disampaikan pada kunjungan Menteri Pertanian Republik Indonesia di Propinsi Nusa Tenggara Timur. tetapi sebagian besar rakyat kecil masih sulit untuk mengaktualisasikannya dalam ragaan usaha mereka. Soeharto. Oleh karena itu saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa program pemberdayaan ekonomi rakyat. Jakarta. 2000. Azwir Dainy. Pada tingkat regional NTT. Kosep. Musa. S. strategei menghadapi resiko. Fredrik Benu – Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana. Atau dengan kata lain tingkat keberhasilan KUT di NTT hanya mencapai kurang dari 26 %. PT. Pokok-Pokok pikiran dalam Menggugat Masa Lalu. Jakarta. jumlah KK miskin di NTT malah mengalami kenaikan yang cukup murad sebesar 55 % selama periode 1998-2002. 2001. Yogyakarta. termasuk di dalamnya cara pandang tentang usaha. Jumlah realisasi KUT yang telah disalurkan pada petani sejak tahun 1996 sampai tahun 2000 kurang lebih 35. Kebijakan. Strategi Membangun Ekonomi Rakyat. Gubernur Nusa Tenggara Timur. Sekalipun sudah banyak program pemberdayaan ekonomi yang langsung menyentuh rakyat di tingkat bawah telah dilaksanakan baik oleh pemerintah maupun oleh lembaga-lembaga non-pemerintah (NGOs). 2001. dsb. data yang diperoleh dari Biro Perekonomian Seta NTT menunjukkan bahwa sejak ditetapkannya TAP MPR tentang demokrasi ekonomi yang menekankan adanya keberpihakan yang jelas terhadap UKM dan Koperasi di Indonesia. tgl. Ekonomi Pasar Sosial Indonesia. Malcolm. Ignas.Norton & Companny. mungkin ada kaitannya dengan sistem nilai budaya yang sudah mengakar pada diri pelaku ekonomi rakyat di NTT secara turun temurun. 2000. Tara. dalam Menggugat Masa Lalu. PT. H. masih terdapat persoalan mendasar yang ‗mengurung‘ para pengusaha kecilmenengah dan Koperasi (termasuk di dalamnya berbagai bentuk usaha di bidang pertanian) untuk melakukan rasionalisasi dan ekspansi usaha. 2 nd Ed. 2001). Keluar dari Krisis Multi Dimensi. Kompas Media Nusantara. Kleden. . 2002). kajian dan alternatif solusi menuju pemulihan. Dwight. Jakarta. Asy‘arie. Persoalan mendasar yang mengurung ini. cara pengelolaan keuangan. New York. di Hotel Kristal.karakter sosial budaya. Kupang Makalah disampaikan pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di Provinsi NTT. khususnya di NTT. Economics of Development. Kupang. Persepsi dan Mispersepsi tentang Pemulihan Ekonomi Indonesia. Selanjutnya. BPFE. Djisman.. 6 milyar dengan jumlah tunggakan (pokok+bunga) sebesar kurang lebih 26. Ekonomi Rakyat. Tetapi ada semacam jarak antara kesadaran berpikir dan realitas perilaku (Bandingkan dengan pendapat Musa Asy‘arie. Prawirokusumo. 26 Nopember 2002. Nuansa Madani. dan Strategi.

namun tidak sedikit kelompok dan usaha individu menjadikan industri tenun ikat sebagai pekerjaan sampingan dengan postur usaha yang serba kekurangan. Lingkungan ekonomi makro dan mikronya sangat kontras berbeda. Inilah kondisi riil pelaku ekonomi kerakyatan di NTT. Jambu Mete. Unit usaha industri kecil atau rumah tangga yang paling menonjol di NTT adalah industri tenun ikat. sebagian pelaku ekonomi kecil di pesisir pantai dikabarkan mengalami kemajuan berkat budidaya rumput laut. Para pengamat ekonomi memuji pelaku ekonomi kecil ini sebagai lentur dan tahan terhadap konjungtus dan krisis ekonomi. Vanili. Di NTT. Alor dan Timor. telah melakukan banyak hal untuk memajukan mereka. mereka juga menggelar hasil usahanya di pinggir jalan secara darurat. namun pelaku ekonomi kecil semacam ini pasti buka di NTT. ekonomi dan budayanya. yaitu hanya menunjuk pada pelaku ekonomi kecil (gurem) yang tersebar di sudut-sudut jalan perkotaan maupun di pelosok perdesaan. Sumba. menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan yang serba kecil dan kekurangan di NTT sebagai pemain ekonomi yang utama atau sebagai fondasi ekonomi daerah. Sejumlah kelompok usaha yang dibina intensif dengan kondisi SDM yang relatif baik menunjukkan perkembangan yang baik. Kecuali beberapa pelaku ekonomi informal yang berasal dari Jawa. peternak kcil. PDMDKE dan berbagai skim program/ pendanaan lainnya belum menyentuh mereka atau mungkin sentuhannya sudah hilang sama sekali. nelayan kecil dan pengrajin kecil di perdesaan dan para pelaku sektor informal perkotaan. Selain berjualan secara individual di pasar. Dalam kajian ini. Data ekonomi makro Indonesia bahwa share pelaku ekonomi kecil ini cukup kelihatan. tingkat ekonomi mereka memprihatinkan. membutuhkan wawasan dan perlakuan baru terutama dari para penentu dan pelaksana kebijakan pada tingkat pemerintahan. masih membutuhkan waktu yang relatif lama dan yang lebih penting dari itu. sejumlah kelompok tani yang menanam vanili mendapat penghasilan yang cukup besar lantaran harga komoditas ini cukup tinggi. Sulawesi dan Sumatra yang pada umumnya berusaha di pusat kota. kinerja ekonomi mereka terbilang cukup baik. Secara teoretis. Di Apui (Alor). Di Sabu dan Rote. kita mengenal cukup banyak konsep . Demikian juga para nelayan kecil di pesisir pantai Flores. pelaku ekonomi kerakyatan yang serba kekurangan ini ingin ditempatkan sebagai pelaku ekonomi utama. nelayan kecil. Ketika konsep rakyat diimbuhkan dengan konsep ekonomi politik yang tidak lagi netral. tidak menunjukkan status ekonomi yang lebih baik ketimbang para petani yang menanam tanaman pangan. Pada tataran political will pemerintah. Suatu isyarat bahwa suatu kebijakan pengembangan yang berhasil di Jawa dan kota besar lainnya di Indonesia belum tentu berhasil di NTT. Tampilan fisik usaha para pelaku ekonomi kecil ini juga memperihatinkan. walaupun mungkin pendapatan nominalnya lebih besar dari para peternak kecil. Komsep ini tidak mempersoalkan perbedaan orang dalam kepelbagaian sosial. tetapi kondisinya tetap seperti kita saksikan saat ini. Semuanya sama. Pujian demikian tidak salah. karena berbagai perbedaan pelaku ekonomi mulai diperhitungkan. peternak kecil. Menurut hemat saya. Para peternak di TTS. Bagi para petani yang kebetulan memiliki wilayah yang cocok untuk komoditas perkebunan seperti Cengkeh. Tampaknya program-program pengentasan kemiskinan atau pemberdayaan ekonomi seperti IDT. Pemerintah. Namun bagi para petani yang mengandalkan tanaman pangan dengan wilayah yang relatif kering.Frits O FanggidaE EKONOMI KERAKYATAN DI NTT: ANTARA REALITAS DAN HARAPAN Realitas Pelaku Ekonomi Kerakyatan di NTT Rakyat adalah suatu konsep politik yang netral. Kopi. pelaku industri rumah tangga kecil dan pelaku ekonomi sektor informal perkotaan di Jawa dan kota besar lainnya di Indonesia dengan NTT. Para pelaku ekonomi kecil di sektor informal perkotaan juga memperlihatkan kondisi yang relatif sama. Pada titik inilah kita harus membedakan secara jelas petani kecil. konsep ekonomi kerakyatan yang digunakan juga tidak bersifat netral. pelaku ekonomi sebagaimana dimaksud pada umumnya terdiri dari petani kecil. Data makro tentang pendapatan per kapita penduduk di berbagai kabupaten di NTT bisa menjelaskan kondisi ekonomi para pelaku ekonomi kecil tersebut. petani kecil dan nelayan kecil di perdesaan. sebagian besar dalam kondisi serba miskin. betapapun daerah ini dikenal sebagai gudang ternak (sapi). Mungkin juga tidak setiap hari mereka bisa berjualan di pasar atau pinggir jalan karena pola produksinya yang bersifat musiman. tingkat ekonomi mereka cukup memadai. kondisi mereka tidak dapat digolongkan mampu secara ekonomis. fondasi perekonomian daerah dan sejumlah julukan yang membanggakan. dari pusat sampai daerah.

Sektor rkonomi tersier adalah sektor yang melayani. struktur ekonomi belum terdiversifikasi dengan baik menjadikan hubungan fungsional antar sektor ekonomi belum terjalin baik. dinamika dunia usaha yang relatif tinggi menjadi media pembelajaran yang efektif dalam pembentukan perilaku ekonomi yang rasional dan produktif. Sikap kewiraswastaan mereka terbentuk dalam dinamika dunia usaha yang tinggi.pemberdayaan usaha kecil seperti kemitraan. Para pelaku ekonomi kecil tidak menikmati nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan. Dalam kondisi semacam ini. Penghasil rumput laut di Rote dan Sabu juga mulai merasakan betapa fluktuasi harga yang terjadi sulit mereka kendalikan. Dari kondisi semacam ini dapat dibayangkan bahwa yang diperdagangkan adalah komoditas pertanian tanpa penglahan yang berarti. saay ini mulai merasakan bahwa harga vanili sangat ditentukan oleh pembeli (pedagang skala menengah dan besar). Karena itu sektor ini akan menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi pada sektor primer dan sekunder. Jauh dari Permintaan dan Miskin Kelembagaan Salah satu persoalan yang menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan di perdesaan NTT sulit berkembang adalah bahwa mereka jauh dari permintaan (pasar). Secara teoretis. Berkembangnya sektor ekonomi sekunder akan menciptakan peluang bagi dinamika dunia usaha. posisi tawar mereka sangat lemah. Ciri pasar komoditas semacam ini adalah harga relatif rendah dan inferior terhadap komoditas hasil olahan yang diimpor dari luar. Sekiranya langkah ini mampu meningkatkan posisi tawar para pelaku ekonomi kecil dan mampu meningkatkan kinerja ekonomi mereka. Berkembangnya sektor ekonomi sekunder dan tersier menjadi prasyarat bagi pengembangan dunia usaha pada aras ekonomi mikro. Formasi Ekonomi Makro dan Mikro Salah satu keuntungan pelaku ekonomi kecil dan sektor informal perkotaan di Jawa dan kota besar lainnya adalah struktur ekonominya telah terdiversifikasi dengan baik sehingga hubungan fungsional antar sektor ekonomi (pertanian. Kondisi ini sangat kondusif bagi para pelaku ekonomi kecil. Organisasi harus dilawan dengan organisasi pula. Mereka memasuki pasar pembeli ( buyer market) secara individual tanpa dukungan kelembagaan yang memadai. tetapi belum berhasil mengeluarkan para pelaku ekonomi kecil dari lingkaran yang serba kekurangan. Jauh bukan hanya dalam arti fisik saja. Para peternak di TTS sudah sejak lama takluk dengan para pembeli (pedagang). Dalam kaitan ini menarik untuk disimak lebih lanjut langkah Pemda Kabupaten Kupang. Sementara itu sebagian nelayan di Pulau Timor secara perlahan-lahan telah bertransformasi menjadi buruh nelayan. Petani Vanili di Apui (Alor) yang baru saja menikmati harga vanili yang tinggi. Akibatnya. inti-plasma dan sebagainya. Inilah formasi ekonomi makro dan mikro yang sangat kondusif bagi pelaku ekonomi kecil di Jawa dan kota besar lainnya untuk berkembang. Perilaku . Para pembeli memiliki organisasi yang solid. pengrajin dan pedagang kecil dapat menjadi organisasi ekonomi yang diandalkan untuk meningkatkan posisi tawar mereka di pasar? Sangat sulit untuk mengatakan Ya. Perlu ada kebijakan untuk percepatan perubahan struktur ekonomi NTT agar keterkaitan fungsional antar sektor ekonomi dapat tercipta. agar tercapai keseimbangan posisi tawar di pasar. industri. pengembangan pelaku ekonomi kecil membutuhkan perubahan yang cukup berarti pada formasi ekonomi makro dan mikro. peternak. Menjadi persoalan adalah bagaimana percepatan perubahan struktur ekonomi ini dapat terjadi. nelayan. perdagangan. bapak angkat. Demikian juga pada tataran ekonomi mikro. Apakah koperasi sebagai lembaga ekonomi yang dekat dengan para petani. perubahan struktur ekonomi akan terjadi bila aliran investasi pada sektor industri pengolahan (sekunder) meningkat. Organisasi pembeli yang kuat tersebut tidak bisa dilawan oleh para petani secara individual. maka inilah salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan untuk direplikasi pada daerah lain. perhubungan dan lembaga keuangan) telah terjadi dengan baik. Dengan tingkat pendapatan masyarakat yang relatif tinggi serta kompetisi yang baik antar sektor ekonomi menjadikan outlet bagi produk pelaku ekonomi kecil cukup tersedia dengan insentif harga yang memadai. tetapi lebih penting adalah aksesibilitas. masing-masing bergerak di bidang kelautan dan agribisnis didirikan sebagai outlet bagi para pelaku ekonomi kecil. Dua Perusahaan Daerah. Pada sisi lain share sektor perdagangan dan perhubungan sedikit agak menonjol. bukan melalui pelatihan-pelatihan formal. Konsep-konsep ini telah diadopsi sedemikian rupa ke dalam berbagai program pemberdayaan ekonomi yang dilaksanakan pemerintah maupun swasta. Share sektor pertanian sangat menonjol sementara share sektor industri sangat kecil. Kita masih membutuhkan wadah ekonomi lain atau sekurangkurangnya cara penanganan pasar sedemikian rupa sehingga aksesibilas pasar dan posisi tawar mereka dapat ditingkatkan. Di NTT. Mereka bahu-membahu menjalin kekuatan untuk menguasai dan mendikte harga pasar.

Seluruh program yang berkaitan dengan mereka perlu dievaluasi tuntas dan yang paling penting mesti ada wawasan baru tentangnya. yang menggunakan program sebagai nomenklatur generik serta format pengusulan untuk mendapatkan pembiayaan dekonsentrasi.Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang . Rencana Pengembangan Pelaku Ekonomi Kecil dapat dijadikan subsidiary plan dari Propeda atau Renstra yang keabsahannya dilegitimasi juga oleh Perda. Untuk itu diperlukan suatu pengkajian mendalam mengenai eksistensi pelaku ekonomi kecil saat ini. maka perangkat hukum dalam bentuk Perda tentang pelaku ekonomi kecil atau UKM perlu dibuat. program-program lintas instansi yang akan dilaksanakan. Dorong perkembangan dunia usaha melalui percepatan perubahan struktur ekonomi. Jangan dipaksakan dengan berbagai pelatihan kewirausahaan bila formasi ekonomi makroo dan mikro tidak kondusif. tetapi ia tak punya gigi. Propeda dan Rentra) tidak memungkinkan rencana pengembangan pelaku ekonomi kecil sebagai inti dari pengembangan ekonomi rakyat diakomodasi dengan baik. pembiayaan terhadap subsidiary plan tersebut dapat diakomodasi. Kepala Daerah harus berani merumuskan visi yang jelas tentang pengembangan pelaku ekonomi kerakyatan. Visi semacam ini diperlukan agar ada komitmen dan daya paksa untuk menjabarkan visi tersebut dalam perencanaan yang baik. PDRB NTT akan didominasi share pelaku ekonomi kecil. terutama bagi pelaku UKM untuk menuntut dan mengontrol pemerintah agar bersungguh-sungguh dalam mengembangkan UKM. Perda ini sangat penting. karena dalam format APBD yang baru.ekonomi atau sikap kewirausahaan merupakan fungsi dari dinamika dunia usaha. maka Kepala Daerah harus berani merumuskan visi bahwa dalam jangka waktu lima atau 10 tahun mendatang. Bila pemerintah menginginkan pelaku ekonomi kecil menjadi fondasi perekonomian daerah. pedekatan. agar tercipta media pembelajaran yang luas bagi pelaku ekonomi kecil untuk mematangkan perilaku ekonomi atau sikap kewirausahaannya. selain retorika tentang mereka. Menurut hemat saya. program aksi dan pengelolaan yang jelas. strategi yang digunakan. propeda dan Renstra) memberi tempat bagi pengembangan usaha kecil secara terpadu dan berkesinambungan? Bagaimana strateginya menjadikan usaha kecil sebagai sokoguru perekonomian daerah? Sampai sejauh ini kita belum melihat adanya visi yang jelas tentang pelaku ekonomi kecil. Karena itu perlu terobosan dari sisi perencanaan. kepastian hukum dan komitmen yang jelas dalam pengembangan UKM. pembiayaan dan guide line pengelolaannya. Ancangan Perencanaan Berbagai perubahan yang diinginkan terhadap pelaku ekonomi kecil butuh perencanaan yang baik dan perencanaan yang baik muncul dari suatu visi pengembangan usaha kecil yang jelas pula. kapitalisasi pelaku ekonomi kecil tersebut dapat menjadi pemicu bagi berkembangnya aktivitas usaha pelaku ekonomi kecil. Perlu Regulasi bagi Pelaku Ekonomi Kecil Esensi regulasi adalah untuk menciptakan keteraturan. harus diakui bahwa format perencanaan standar yang ada saat ini (Poldas. Denganstrategi. Subsidiary plan adalah produk perencanaan sejumlah instansi yang berkaitan langsung dengan usaha kecil yang penyusunannya dikoordinasi Bappeda dan melibatkan representasi pelaku ekonomi skala menengah dan besar. Gaungnya kedengaran keras di mana-mana. Pertanyaannya. Dari segi pendanaan tidak ada masalah. Berkaitan dengan representasi pengembangan usaha kecil dalam dokumen perencanaan yang ada. wacana tentang UKM ibarat macan ompong. Tanpa Perda ini. sebagian dari pos belanja modal yang dianggarkan dapat diarahkan sebagai kapitalisasi pelaku ekonomi kecil. Subsidiary plan tersebut paling kurang berisikan lima hal pokok yaitu Visi dan Misi. Bila urusan-urusan ekonomi lainnya diregulasi oleh Pemerintah Daerah. Frits O FanggidaE – Dosen Fakultas Ekonomi . Misalnya dalam perumusan kebijakan fiskal daerah (APBD). adakah visi kita yang jelas tentang usaha kecil? Cukupkah dokumen perencanaan yang ada (Poldas. Melalui pendekatan semacam ini diharapkan pelaku ekonomi kerakyatan dapat berkembang menjadi fondasi ekonomi yang kokoh bagi perekonomian daerah. Semoga berguna. Demikianlah beberapa pokok pikiran tentang pengembangan ekonomi kerakyatan di NTT. Sekian.

tidak tinggi dibanding kontraksi –4.7 96.11 4.21 4. Maret 1998 Dalam pertemuan terbatas di Kupang tanggal 20 Januari 2001.42 -3. tetapi propinsi ini sedang mengeksplorasi berbagai potensi tambang dan kekayaan alam lain yang kelak akan membantu mengubah nasibnya‖. Bahwa OTDA penuh diletakkan di kabupaten/kota.57 2. Data -data pertumbuhan PDRB per kabupaten/kota yang lebih lengkap selama Repelita VI terlihat pada tabel 2. rupanya dianggap sebagai perubahan amat fundamental yang terkesan menghapuskan kekuasaan dan fungsi kooordinatif dari pemerintah propinsi atas kabupaten/kota dalam lingkungan propinsi.6 86.4% (5 propinsi Jawa).4 63. 4.10 3. Bahkan pemahaman tentang pengertian otonomi daerah sendiri masih cukup rancu. tetapi ekonomi rakyat yang masih agraris berdaya tahan tinggi dan justru merasa diuntungkan oleh krisis moneter tahun 1997. dan di propinsi hanya merupakan otonomi terbatas.83 4. Di antara 4 propinsi ―termiskin‖ ini hasil lengkap survei BPS-1997 dilihat pada tabel 1. dan jauh lebih rendah dibanding kontraksi –11. 5. wakil LSM dan sejumlah dosen Undana menyatakan optimisme terhadap masa depan ekonomi NTT.0 Sumber: RI.9 Partisipasi 88. Sebagai salah satu dari 4 propinsi ―termiskin‖ di Indonesia berdasarkan tingkat PDRB perkapitanya.9 76.67 2.73%.42 -1.22 6. Namun khusus tentang prospek otonomi kebanyakan pakar masih merasa cemas.0 88.5 % berhasil dalam aspek ekonomi). Secara keseluruhan ekonomi NTT sudah pulih dari krisis. Kabupaten/kota Sumba Barat Sumba Timur Kupang Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Belu 1998 -0.75 4.5 75.2 57.30 32. Tabel 2: Pertumbuhan PDRB Per Kabupaten/Kota se Propinsi NTT No.94 1. yang menonjol di antaranya berupa kerisauan menurunnya wibawa pemerintah daerah propinsi di mata pejabat-pejabat kabupaten/kota.91 Rata-rata 1994 2000 3. yang seluruh desanya dinyatakan sebagai desa IDT pada tahun 1996. pada tahun krisis (1998) mengalami kontraksi –2.5 71.62 3.6 91. 2.73%. Kesan demikian tentu mengganggu pelaksanaan pemerintah daerah. Perekonomian Daerah Jika tahun 1996 dan 1997 pertumbuhan ekonomi NTT cukup tinggi (masing-masing 8. survei BPS tahun 1997 menempatkan NTT pada urutan nasional ke-6 (79.64% untuk wilayah-wilayah luar Jawa.5 5.7 Kemandirian Kelembagaan Keseluruhan 64.54 5.04 2000 2. ―Mungkin warga NTT belum se-makmur saudara-saudaranya dari daerah lain.8% (Jawa-Bali) atau –13. Meskipun tahun 1998 terjadi kontraksi ekonomi minus 2.6 39. Tabel 1: Tingkat Keberhasilan Pokmas IDT Menurut Bidang (%) di 4 Propinsi Propinsi NTT NTB Maluku Ekonomi 79.Mubyarto MEMBANGUN PEREKONOMIAN RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR Pendahuluan Gubernur Piet Tallo yang alumni Fakultas Hukum pernah menolak julukan miskin bagi daerahnya.97 . Pidato Pertanggungjawaban Presiden.22% dan 5. Maka dapat dimengerti seperti halnya wilayah-wilayah lain di luar Jawa.62%).63 1999 0.28 -3. 1. 3.8 23.75 -6.1 32.7 52.54 3.40 -2. adanya bagian-bagian masyarakat yang ―menikmati krisis‖ dengan kemakmuran yang meningkat.13 4.57 5.8 Irja 31.24 -2.9 78. 6.

7 milyar ke Rp 129. Dalam otonomi daerah ―lingkaran setan‖ seperti ini perlu diputus.72 3.18 Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kontraksi ekonomi rata-rata kabupaten/kota se-propinsi cukup merata dengan angka tertinggi di kabupaten Ende (-6. 14.95 4.69 milyar (1998/99) kenaikan 73%.37 0. Sebenarnya jika Bank Umum di daerah mau bekerja keras. Syaratsyarat formal ini diakui terlalu kaku.7 milyar). Tetapi sering dikatakan bahwa bank-bank tidak memiliki tenaga dan pengalaman untuk menyalurkan kredit kecil atau kredit mikro seperti ini. capacity.42 4. 12. Pimpinan Bank Indonesia yang hadir dalam diskusi di Kupang tidak melihat adanya kejanggalan ini karena menurutnya dalam ―sistem ekonomi pasar bebas‖ perilaku modal keluar masuk daerah.3 milyar. meskipun disadari bahwa syarat-syarat ini adalah syarat-syarat kredit komersial formal yaitu 5 C (collateral.82 milyar melampaui Ngada/Manggarai yang hanya mencapai Rp 162.72 0.49 3.28%) dan kontraksi terendah adalah di Manggarai yang masih tetap tumbuh positif meskipun kecil sekali (0. dan yang paling mudah dalam situasi ekonomi sekarang (krismon) adalah dibelikan SBI yang bunganya menarik. Alasan yang biasanya diajukan adalah tidak adanya usaha-usaha ―produktif‖ yang memenuhi syarat untuk didanai dengan kredit bank.44 5. yang oleh BI setempat dalam proyek PHBK (hubungan Bank dan kelompok swadaya) dan KKPA (Kredit Koperasi Pada Anggota) telah diabaikan.5% dari dana perban kan di seluruh propinsi NTT (Oktober 2000) hanya sedikit meningkat dibanding pangsa tahun 1993/94 sebesar 48. rupanya berlanjut sampai sekarang (2000).83 4.73 4. Di daerah harus ada kebijakan khusus yang merangsang investasi.71 6. tidak ―dikembalikan‖ sebagai kredit yang dibutuhkan masyarakat setem pat tetapi dikirim ke luar daerah (Jakarta).7 kali dari nilainya pada tahun 1993/94 (Rp 439 milyar). Kantor Pusat setiap bank akan harus mengembangkannya. dengan meninggalkan kriteria pemberian kredit formal yang kaku.54 0.50 -1. bahkan ke luar negeri sekalipun. Data dari Bank Indonesia propinsi NTT 1993-2000 menunjukkan kenaikan penghimpunan dana ―luar biasa‖ yaitu 19.6 milyar) dan 6 kali (dari Rp 21.73 -0.20 3.69 -0. pihak perbankan harus juga berubah dalam melayani ekonomi rakyat dalam kebutuhan kredit yang mudah dan murah. Bahkan kenaikan pendapatan yang diperoleh dari dan selama krismon tidak dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi rakyat lebih lanjut.2 milyar (20%) lebih rendah dari persentase kredit yang diberikan pada tingkat propinsi (28. Peningkatan dana masyarakat Ende berupa simpanan dan tabungan berjangka (Rp 183. tidak dapat diatur.91 1. 13. Kenaikan paling tinggi adalah penghimpunan dana di kabupaten Ende (105%) dan Kabupaten Kupang (79%). Kredit yang diberikan hanya Rp 37. Jumlah dana perbankan yang dihimpun bulan Oktober 2000 seluruh NTT mencapai Rp 2.7.18 6.68 5. Kenaikan nilai penghimpunan dana di Ende yang luar biasa ketika krismon. Oktober 2000). 11.43 1. Program pemberdayaan ekonomi rakyat akan berkembang melalui program .72 5.554.05 5. Ekonomi daerah yang miskin tetap selalu tertinggal.18 2.61 3. akan ditemukan usaha-usaha kecil ekonomi rakyat yang mau dan mampu membayar tingkat bunga pasar. Alor Lembata Flores Timur Sikka Ende Ngada Manggarai Kota Kupang NTT -2.08 -8. 9. sehingga dana perbankan Ende yang hanya Rp 40.7% pertahun.69%) dan TTU (-6.72 3.8 milyar ke Rp 53.2 kali (dari Rp 2.20 milyar (1997/98) menjadi Rp 1. Analisis perekonomian daerah kembali ke lingkaran awal. Dana bank yang harus dibayar bunganya kepada penabung tidak mungkin dibiarkan diam (idle).08%).08 trilyun naik 4. condition dan capital). Yang menarik untuk dicatat adalah ketimpangan ekonomi antardaerah yang relatif ―ringan‖.6%). Dana yang dihim pun perbankan di Ibukota propinsi (Kupang) ―hanya‖ 54.98 4.9%. yang paling tinggi adalah kenaikan pada awal krisis ekonomi yaitu dari Rp 899. Dunia perbankan setempat bersama Pemerintah Daerah harus sungguh-sungguh berkoordinasi untuk mengubah hukum ekonomi kapitalisme liberal menjadi hukum ekonomi kerakyatan.51 -2.31 milyar.01 4.9 milyar tahun 1993/94 (urutan ke-4 dari 7 wilayah) kini menjadi no.33 2.03 0. Pada bulan Oktober 2000 dana yang dihimpun perbankan Ende mencapai Rp 210. 10.22 -6.3 di Propinsi NTT melampaui wilayah Ngada dan Manggarai. character. Jika masyarakat kecil (ekonomi rakyat) mulai tertarik menggunakan jasa perbankan yang mudah dalam bentuk simpanan dan tabungan berjangka. Namun menjadi tanda tanya mengapa kontraksi ekonomi yang tertinggi di kabupaten Ende rupanya tidak terkait dengan data perbankan yang justru meningkat yaitu simpanan dan tabungan berjangka masing-masing naik 19. 8.

000 per bulan ditambah biaya operasional Rp 50.500/hari). Salah satu kunci keberhasilan program IDT di NTT adalah dukungan penuh dan konsisten dari Pemda. Sedangkan di desa ke-2 yaitu Babau berhasil sekitar 30%. dan desa-desa di NTT cukup baik meskipun masih ditemukan berbagai masalah. apakah pemikiran ke arah perbaikan dan penyempurnaan program IDT termasuk program pendampingan kini merupakan tanggung jawab penuh Pemda kabupaten? Jika ya. [1] [1] Pendamping Bina Swadaya mendapat gaji (terendah) Rp 275. tetapi rupanya tetap saja belum mampu mengatasi kebijakan kredit yang lebih berpihak pada sektor industri modern dan usaha-usaha besar di kota-kota. dan dilengkapi sepeda motor. Program Pemberdayaan ekonomi rakyat Jika di sejumlah propinsi program IDT sudah ―dilupakan‖ atau sudah ―diganti‖ program lain seperti PPK (Program Pengembangan Kecamatan) di kabupaten Kupang. BRI dengan kredit Unit Desanya sebenarnya sudah maju jauh sebelum Grameen Bank. meyakinkan masih perlunya pendamping bagi Pokmas-Pokmas IDT. program IDT masih berjalan baik. Karena mereka lebih dekat dengan rakyat. Kegagalan 70% program di desa pertama bukanlah karena ketidaksungguhan anggota tetapi karena musibah menjalarnya penyakit ternak babi pada tahun pertama. Namun yang belum jelas adalah implikasinya dalam penyusunan program-program untuk melaksanakan wewenang tsb. yang hadir pada pertemuan dengan 2 Pokmas IDT di Kalurahan Babau kecamatan Kupang Timur. uang jalan jika berdinas keluar (Rp 7. memang berjalan baik. Otonomi Daerah dan Otonomi Desa Otonomi Daerah dan prospek pelaksanaannya di Propinsi. tetapi warga desa sendirilah yang pada tingkat akhir akan meluncurkan programprogram yang diinginkannya. Kupang Timur. Ibu Johanna Maxi. Kupang Timur. Program IDT di 2 desa Oebelo. sedangkan yang ke dua otonomi terbatas.22/1999. dan yang dapat menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di desa Babau sekitar 30% telah berhasil mengubah program IDT menjadi Koperasi Simpan Pinjam yang segera memperoleh status badan hukum. Dalam kenyataan. tetap dapat datang untuk mengadakan kajian-kajian. Misalnya dalam program-program penanggulangan kemiskinan ala IDT. Pendamping Sarjana yang diangkat dan digaji Pemda masih banyak yang aktif. Dana Rp 600. yang setelah dilaksanakannya OTDA dapat menyusun. Dalam pada itu 2 jenis pendamping lainnya (yang tidak purna-waktu) seperti aparat desa.kredit mikro ala Grameen Bank yang berhasil di Bangladesh dan sudah ―ditiru‖ di banyak negara termasuk di Indonesia. atau pakar-pakar dari pusat atau propinsi. memang benar tercantum dalam pasal-pasal UU No. lebih-lebih setelah dipadukan ke dalam dana bantuan Desa sejak TA 1996/97. Kupang tengah. apa tugas dan tanggung jawab Pemda propinsi (atau PMD) dalam hal ini? Yang lebih sulit lagi adalah memikirkan kelanjutan program-program penanggulangan kemiskinan pada tingkat desa. Program pendampingan ini akan jauh lebih berhasil lagi. pimpinan LSM Bina Swadaya Kupang yang mengkoordinasi 12 pendamping menyatakan dapat dikembangkannya program pendampingan ini dengan syarat pendamping yang bersangkutan mendampingi paling sedikit 20 Pokmas secara sungguh-sungguh dan purna-waktu. OTDA seharusnya tidak difokuskan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tetapi yang lebih penting adalah . jika Pemda ( dhi PMD) serius memantau pelaksanaannya. Jelas di sini bahwa rakyat atau warga desa sendirilah. Bahwa Pemda kabupaten/kota kini lebih besar wewenangnya ketimbang propinsi. dan program -program ini harus lebih baik dibandingkan program-program yang disusun secara nasional seperti IDT oleh Bappenas dan Depdagri. baik Pemda propinsi maupun Pemda kabupaten/kota. Di desa Oebelo antara 25-35% penerima dana IDT benar-benar telah mentas dari kemiskinan yang melilitnya. tidak ada alasan program yang bersangkutan tidak sesuai dengan aspirasi rakyat. yang diangkat serta digaji oleh Pokmas yang didampinginya. Misalnya seorang ketua Pokmas Simson Misa (49 th. sulit diharapkan mencurahkan perhatian pada Pokmas IDT dan anggota-anggotanya. dan menilai program-program penanggulangan kemiskinan dan pembangunan perdesaan pada umumnya. dengan polos menanyakan ―Apakah setelah Otda masih akan ada tamu seperti Pak Mubyarto yang mengevaluasi program-program penanggulangan kemiskinan seperti IDT dan PPK?‖ Pertanyaan demikian diajukan karena ada pernyataan bahwa dalam Otda ―semua program penanggula ngan kemiskinan harus dibuat sendiri oleh kabupaten‖. Gaji pendamping yang tinggi ini masih disubsidi kantor Bina Swadaya sampai sekitar 50%. melalui BPD. Program-program pembangunan yang disusun Pemda kabupaten/kota bersama DPRD memang harus makin banyak yang berasal dari desa/kelurahan.000 per bulan. dan disusun oleh BPD (Badan Perwakilan Desa) yang di antara tugas dan kewajibannya adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat berdasarkan demokrasi ekonomi (pasal 22 dan 101). dan desa Babau.000 yang disediakan sebagai BOP (Biaya Operasional Pemantauan) pada desa sulit dilihat hasilnya. kabupaten. Seorang SP2W. Hendrikson Adoe (30 th). antara lain melalui pengembangan program pendampingan dengan dana APBD. serta penyuluh-penyuluh dari berbagai dinas sektoral. melaksanakan. tamatan SD) dari desa Babau. dan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Ditaksir sekitar 10% dari SHU Pokmas cukup memadai untuk menggaji Pendamping yang bersangkutan. karena yang pertama menerima otonomi penuh. cukup banyak pendamping yang bermutu dan memihak pada penduduk miskin. Tamu-tamu.

meningkatkan pemerataan dan keadilan menuju terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesimpulan Menyaksikan ketekunan dan kesungguhan masyarakat dan aparat Pemda propinsi dalam melaksanakan program IDT di propinsi NTT, kita melihat program penanggulangan kemiskinan sudah mencapai tahap gerakan masyarakat sebagaimana dirancang program ini pada awal peluncurannya. Sudah tercapainya tahap gerakan masyarakat (GEMA) antara lain terbukti dari sambutan Pokmas IDT di seluruh propinsi untuk menghimpun kembali dana IDT yang berada di Pokmas-Pokmas untuk dijadikan semacam Bank Desa pada tingkat kecamatan. Meskipun pendirian Bank Desa pada tingkat kecamatan dengan dana IDT yang sudah bergulir di Pokmas ini belum tentu dapat dianggap kemajuan, tetapi akan menjadi indikator tercapainya kemandirian keuangan desa seperti UPK (Unit Pelayanan Keuangan) dalam Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Memang dalam membangun kelembagaan Bank Desa ini profesionalisme dalam pengelolaannya harus prima, dan dilaksanakan dengan koordinasi penuh dengan Bank Indonesia setempat, disamping sikap pemihakan pejabat Pemda yang jelas pada kepentingan ekonomi rakyat. Konsep dasar program IDT adalah makin mendekatkan lembaga perkreditan dan pendanaan pembangunan masyarakat desa pada penduduk desa. Setiap usaha untuk meningkatkan skala ekonomi lembaga ini demi efisiensi harus lebih menguntungkan ekonomi rakyat. Otda yang juga berarti otonomi desa perlu memperoleh perhatian Pemda dan DPRD kabupaten dalam bentuk penyusunan Perda-Perdanya. Sikap dan tradisi demokrasi yang tinggi pada masyarakat NTT harus dimanfaatkan untuk segera membentuk BPD. Jika BPD berhasil menghimpun tokoh-tokoh muda masyarakat desa yang profesional, seperti mantan SP2W, maka ini merupakan salah satu kunci percepatan pemberdayaan ekonomi rakyat desa. Satu kendala yang selalu disinggung dalam diskusi-diskusi kecil adalah kondisi multietnik masyarakat NTT yang kurang mendukung kerukunan warga desa, lebih-lebih dengan membanjirnya pengungsi dari Timor Timur sejak September 1999. Untuk mengubah kondisi multietnik menjadi faktor dinamika masyarakat, pemerintah daerah perlu membentuk badan/lembaga khusus untuk menanganinya. Jika masalah multietnik ini benar-benar dapat digarap secara transparan dan profesional, maka rasa optimisme Gubernur yang disebutkan pada awal tulisan ini pasti makin berkembang. Dan NTT tidak akan lagi diartikan sebagai ―Nasib Tak Tentu‖ tetapi ―Nasib Terpancar Terang‖.

Prof. Dr. Mubyarto, Guru Besar FE-UGM, Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM (PUSTEP-UGM) Mubyarto EKONOMI RAKYAT INDONESIA PASCA KRISMON

Pendahuluan Selama 5 bulan (Juni-Oktober 2000) Pusat Penelitian Kependudukan UGM bekerjasama dengan RAND Corporation Santa Monica mengadakan Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia (SAKERTI) di 13 propinsi dengan mewawancarai 10.000 keluarga atau 43.000 orang. Survei yang telah diadakan untuk ketigakalinya ini mewawancarai keluarga-keluarga yang sama (panel) yang menjadi sampel sejak Sakerti 1 (1993) dan Sakerti 2 (1997). Pada tahun 1998 khusus untuk meneliti dampak krismon yang sedang berlangsung, dilaksanakan Sakerti 2+ dengan mengambil 25% sub-sampel. Penemuan-penemuan Sakerti 2+ yang telah disebarluaskan melalui beberapa tulisan antara lain oleh Elizabeth Frankenberg, James Smith, dan Kathleen Beegle (1999) mengejutkan banyak pihak karena berbeda dengan ―anggapan umum‖. Namun sejumlah peneliti lain seperti kelompok SMERU menemukan hal-hal yang sejalan dengan penemuan Sakerti 3 khususnya dalam dampak krismon yang tidak terlalu parah terhadap kehidupan keluarga/perorangan. Kami sendiri yang mengadakan kunjungan lapang ke berbagai desa selama 1998-1999 juga mencatat pernyataan banyak warga desa bahwa ―krisis ini belum apa-apa dibanding krisis yang lebih berat pada jaman Jepang, awal kemerdekaan, dan krisis ekonomi tahun 1965-66". [1]

[1] Mubyarto, 1999, Reformasi Sistem Ekonomi, Yogyakarta , Aditya Media, hal 129-139.

Demikian keparahan krismon 1997 yang menjadi polemik nasional selanjutnya tenggelam karena pendapat yang lebih condong ke ―dampak yang parah‖ lebih populer agar tidak menghambat peluncuran program program JPS (Jaring Pengaman Sosial) lebih-lebih yang dananya berasal dari bantuan luar negeri. Programprogram JPS adalah program untuk menolong penduduk miskin yang sedang dalam kesusahan sehingga tidaklah dianggap bijaksana menyebarluaskan penemuan kajian-kajian yang menyimpulkan dampak krismon tidak parah. Peneliti-peneliti Indonesia yang jujur melaporkan kenyataan dari lapangan terpaksa mengendalikan diri ―demi kemanusiaan‖. Namun kemudian mereka merasa terpukul membaca komentar penerima hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun 1998 Amartya Sen yang menyindir mereka yang telah membesar-besarkan dampak krisis koneter di Asia Timur. It may wondered why should it be so disastrous to have, say, a 5 or 10 percent fall in gross national product in one year when the country in question has been growing at 5 or 10 percent per year for decades. Indeed, at the aggregate level this is not quintessentially a disastrous situation. (Sen, 1999: 187) Setelah laporan Sakerti 2+ sedikit dilunakkan ―demi kemanusiaan‖, kini Sakerti 3 yang dilaksanakan 3 tahun setelah krisis dan 2 tahun setelah Sakerti 2+, ternyata memperkuat penemuan-penemuan Sakerti 2+. Tanpa diduga, dampak yang ―menyingkirkan‖ berita ―krisis belum apa -apa‖ ini merugikan penduduk miskin dan bertentangan dengan kepentingan melidungi dan memajukan ekonomi rakyat, karena telah dimanfaatkan secara licik oleh kelompok tidak miskin yaitu golongan ekonomi kuat dan sektor industri modern dalam rangka menuntut pemerintah menyelamatkan kebangkrutan mereka dan lebih khusus lagi dalam rangka membenarkan kebijakan penalangan (bail out) utang-utang melalui BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), yang mulai dikucurkan tahun 1998. Adalah kepentingan para penerima BLBI untuk mengesankan bahwa krisis ekonomi masih terus berjalan, dan makin parah, agar pemerintah tetap tidak dapat bersikap keras pada mereka untuk membayar utang-utang besar yang macet sejak awal krismon. Utang-utang besar yang macet menjadi amat berat karena banyak utang dalam bentuk valuta asing yang tidak dijamin sehingga jika ekonomi Indonesia sudah dianggap pulih dari kondisi krisis, mereka para pengutang akan kehilangan alasan untuk tidak membayarnya. Inilah alasan ―tersembunyi‖ untuk terus memojokkan pemerintah yang sayangnya memperoleh dukungan pakar-pakar ekonomi makro yang tidak pernah meninggalkan meja komputernya dan tidak pernah mau menerapkan metode analisis induktif-empirik dengan cara datang ke daerah-daerah meneliti kehidupan ekonomi riil (real-life economics). Mereka membesar-besarkan dampak krisis dengan menyebutkan pengangguran yang mencapai 40 juta orang, pelarian modal asing US $ 10 milyar per tahun dan lain-lain.

Hasil-hasil Sakerti 3

1. Kemiskinan. Di 13 propinsi yang disurvei angka kemiskinan perkotaan menurun selama 1997-2000 dari
13,3% menjadi 11,3%, sedangkan di perdesaan menurun dari 20,1% menjadi 18,7% (tabel 1). Penurunan angka kemiskinan di perdesaan terjadi di Sumsel, Lampung, Sulsel, Kalsel, Bali, Sumut, dan Jatim (rata-rata 8,0%), sedangkan penurunan kemiskinan di perkotaan yang relatif lebih kecil terjadi di Jatim, Jateng, Sulsel, dan Jabar (rata-rata 4,9%). Lebih besarnya penurunan tingkat kemiskinan di perdesaan khususnya di propinsi-propinsi luar Jawa menunjukkan adanya perbaikan dasar tukar ( term of trade) antara harga-harga yang diterima dan yang dibayar produsen. Di propinsi-propinsi Jatim, Jateng, dan Sulsel, angka-angka kemiskinan di perkotaan juga menurun yang berarti penduduk perkotaanpun masih mampu menghasilkan barang-barang yang harga jualnya meningkat lebih cepat ketimbang harga barang-barang yang dibeli rumah tangga. Bahwa ada kenaikan angka kemiskinan di perdesaan di Jabar, Jateng, dan DIY (rata-rata 3,3%) dan bahkan 11,9% di NTB, mungkin menandakan kurangnya komoditi pertanian ―tradisional‖ yang harganya terangsang naik oleh krismon. Pendapatan riil rumah tangga yang ditaksir dengan median pengeluaran riil per kapita selama 1997-2000 mengalami kenaikan cukup signifikan sebagai berikut:

2. Kesempatan Kerja. Berbeda dengan kesan umum telah terjadinya pengangguran besar-besaran sejak
krismon 1997-98, Sakerti 3 melaporkan adanya peningkatan kesempatan kerja pria dari 79% (1997) menjadi 84% (2000) dan untuk wanita dari 45% menjadi 57%. Khusus untuk kerja upahan/bergaji

kenaikannya untuk pria dari 74,5% menjadi 77,0% sedangkan untuk wanita dari 36,7% menjadi 42,2%. Yang cukup signifikan adalah kenaikan persentase kesempatan kerja keluarga tanpa gaji terutama wanita yang naik dari 19,2% menjadi 25,5%, meskipun untuk pria naik lebih kecil yaitu dari 6,1% menjadi 7,9%. Arti kenaikan angka-angka ini jelas bahwa krismon yang pada umumnya menurunkan kegiatan sektor modern/formal, ditanggapi dengan meningkatnya kegiatan ekonomi/ industri sektor tradisional/ informal/ekonomi rakyat, khususnya dengan mempekerjakan lebih banyak wanita atau ibu yang sebelumnya tidak bekerja. Kesimpulan kita jelas bahwa selama 1997-2000 telah terjadi ―pergeseran‖ kesempatan kerja dari sektor ekonomi modern ke sektor ekonomi rakyat, dan tidak benar adanya pengangguran besar-besaran akibat PHK. The economic crisis has resulted in both negative and positive consequences for the Javanese. It has resulted in a rapid rise in prices of basic items which place them beyond the capacity of many poor people and has reduced employment opportunities in the formal sector. On the other hand, it has resulted in the emergence of many new small enterprises which had previously been destroyed by the economic monopolies and import of mass-produced commodities under the New Order. [2]
[2] Jessica Poppele, Sudarno Sumarto, dan Lant Pritchett, 1999, Social Impacts of the Indonesian Crisis; Agus Dwiyanto, 1998, Krisis Ekonomi: Respon Masyarakat dan Kebijakan Pemerintah, Pelajaran dari Tiga Desa di Jawa , PPK-UGM; Lea Jellinek & Bambang Rustanto, ―Survival Strategies of the Javanese During the Economic Crisis‖ (Survey Report), World Bank, Jakarta, 28 Agustus 1999, dikutip dalam Mubyarto (1999), ibid., hal 134.

3. Standar Hidup dan Kesejahteraan. Sakerti 3 menanyakan bagaimana keluarga menilai tingkat
kesejahteraan mereka selama dan sebagai akibat krismon. Hasilnya sungguh mengejutkan karena berbeda dengan anggapan umum telah terjadinya kemerosotan kesejahteraan dan standar hidup akibat krismon, 87% responden menyatakan standar hidup mereka tidak berubah (tetap) atau bahkan membaik, dan yang melaporkan memburuk hanya 13%. Mengenai kualitas hidup, 83,9% responden menyatakan memadai (69,4%) atau lebih dari memadai (14,5%), yang berarti bahwa keluarga yang merasakan kualitas hidup mereka tidak memadai hanya 16,1%. Tentang kualitas hidup yang menyangkut pemenuhan kebutuhan pangan, 90,7% menyatakan memadai atau lebih dari memadai, sedangkan tentang pemeliharaan kesehatan, 85% menyatakan memadai dan 4% menyatakan lebih dari memadai. Dari 3 ukuran kesejahteraan rakyat yang dilaporkan Sakerti 3 kesimpulan kita tidak meragukan lagi bahwa orang Indonesia mempunyai cara-cara khas menanggapi krisis moneter atau krisis ekonomi. Munculnya krismon berupa kenaikan harga-harga umum besar-besaran tidak serta merta menurunkan kualitas atau standar hidup mereka tetapi mereka menemukan berbagai cara untuk menanggapinya. Cara-cara menang-gapi krismon yang khas dan berbeda-beda inilah yang bagi para pakar ekonomi ortodok (konvensional) tak terpikirkan, dan hanya dapat diketahui/ditemukan melalui penelitian-penelitian lapangan yang serius. Sakerti 1, 2, dan 3 memberikan perhatian khusus pada mekanisme bertahan hidup (coping strategies) dan menanggapi krisis seperti itu. Metode Menanggapi Krismon Orang Indonesia yang dikenal kuat menganut asas kekeluargaan dalam segala aspek kehidupannya dapat diamati menerapkan asas atau etika hidup ini di saat terjadi krismon yang datang secara sangat tiba-tiba. Asas hidup kekeluargaan ini yang diperkuat oleh semangat percaya diri dan kepercayaan pada kekuasaan Tuhan berakibat pada sikap bahwa krismon tidak lain daripada ―percobaan‖ dan ―peringatan‖ pada bangsa Indonesia agar menyadari aneka kekeliruan dan penyimpangan yang telah dilakukan. Sakerti 3 seperti halnya Sakerti 1, 2, dan 2+ sebelumnya, menemukan fakta-fakta menarik tentang metode dan sikap menanggapi krismon secara tepat sehingga tidak mengakibatkan kejutan atau gangguan besar pada konsumsi keluarga dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar kesehatan dan pendidikan terutama bagi anakanak. Salah satu cara paling mudah dan paling sering dilakukan keluarga Indonesia saat-saat menghadapi krisis adalah dengan ―mengatur kembali‖ pengeluaran/belanja keluarga dengan cara menunda pengeluaran pengeluaran yang dianggap dapat ditunda misalnya pembelian pakaian, alat-alat rumah tangga dan pengeluaran-pengeluaran upacara, yang ditaksir berkurang dengan sepertiga. [3] Selain itu suatu keluarga dapat memutuskan ―menitipkan‖ sebagian anggota keluarga pada keluarga lain yang lebih mampu, atau secara umum sangat biasa terjadi pinjam-meminjam uang tanpa bunga antarkeluarga ( sebrakan) untuk menutup pengeluaran pokok yang tidak dapat ditunda.
[3] Elizabeth Frankenberg, James P Smith and Duncan Thomas, ―Economic Shocks, Wealth and Welfare‖, makalah belum diterbitkan, Rand, February 2002, h.

yang sebagian besar baru beroperasi sesudah UU Agraria ( Agrarische Wet) tahun 1870. Krisis moneter yang dimulai dengan depresiasi rupiah dan apresiasi dolar sangat memukul perusahaan-perusahaan yang berutang dolar atau valuta asing lain dan memukul impor karena harga rupiah barang-barang impor melonjak sesuai apresiasi dolar. Rumah-rumah gadai bertambah ramai dan pasar emas dilaporkan sangat dinamis/aktif saat krisis.2% menjadi 25. Yang kedua disebut Bung Hatta tahun 1931 sebagai sektor (kegiatan) ekonomi rakyat. yang berarti meningkatnya pengeluaran karena krisis selalu dapat ditutup dengan cara menambah pendapatan. tidak dengan menjual rumah atau aset-aset berharga lainnya. perhiasan dari emas sangat mudah ditemukan. 1992. tetapi ternyata sangat menonjol di Indonesia. dan 3 secara meyakinkan mengungkapkan bagaimana 10. Sakerti 1. yang tidak dikenal dan tidak termuat dalam buku-buku teks ilmu ekonomi terbitan Amerika. yen. Ratarata keluarga sejak terjadi krismon menambah waktu kerja 25 jam per minggu.9%. 2. setiap keluarga dengan cara masing-masing berusaha bekerja lebih keras atau lebih lama ( melembur) agar pendapatan bertambah. ekonomi Indonesia terkesan menjadi sangat . atau terpengaruh secara tidak berarti. perilaku berkonsumsi. Ekonomi dualistik adalah ekonomi yang tidak homogen tetapi hampir di semua sektor terpilah menjadi 2 yaitu sektor ekonomi modern/formal dan sektor ekonomi tradisional/informal.13 Di pihak lain jika pada saat krismon pengeluaran-pengeluaran meningkat sekali. atau valuta asing lainnya. London-New York. Dampak negatif krismon terhadap ekonomi rakyat dapat dihindari atau disikapi sedemikian rupa hingga tidak dirasakan dampaknya. 2+.5% meskipun untuk pria jauh lebih kecil yaitu dari 6. Real-life Economics. Memang sangat tidak tepat dan menyesatkan menyebut sektor ekonomi rakyat sebagai sektor informal. sedangkan per orang pekerja bertambah 10 jam per minggu. karena 25% keluarga perdesaan dan 40% keluarga perkotaan memilikinya dan persentase yang lebih besar bahkan dilaporkan memiliki kekayaan berupa emas terutama dalam bentuk perhiasan yang sangat mudah digadaikan atau diperjual-belikan. secara spontan ikut bekerja tanpa gaji. Emas ternyata merupakan simpanan andalan bagi banyak keluarga Indonesia untuk berjaga-jaga menghadapi krisis. Jika satu keluarga bekerja mandiri maka dalam kondisi krisis anggota keluarga yang sebelumnya tidak bekerja.H. sedangkan yang sangat kecil/gurem inilah yang disebut ekonomi rakyat. maka mereka dianggap perusahaanperusahaan formal. adalah kemampuan untuk memobilisasi kekayaan/aset apapun yang dimiliki keluarga untuk mempertahankan ( smooth out) tingkat pengeluaran keluarga. Sakerti 3 secara meyakinkan melaporkan bertambahnya kerja tanpa gaji untuk wanita dari 19. yang lokasinya dapat tidak tetap atau sering pindah. yang dikena l dengan istilah strategi penyikapan (coping strategy) baik dalam produksi. Terakhir. Sejak Pemerintah Indonesia mengundang ―dokter ekonomi‖ IMF yang dianggap dokter spesialis bagi penyakit negara-negara berkembang yang terkena krisis keuangan. Bagi keluarga-keluarga paling miskinpun disamping ternak yang hampir selalu dimilikinya.000 orang yang diwawancara menanggapi krismon dengan cara-cara mereka. dengan caracara atau ‖seni‖ khas ekonomi rakyat.000 lebih keluarga dan 43. Krisis moneter 1997-98 jelas lebih dulu dan lebih mudah memukul telak sektor ekonomi modern/ formal lebihlebih perusahaan yang berutang besar dalam nilai nominal dolar. Namun karena hampir semua sektor masih bersifat dualistik. Lebih dari 90% keluarga di perdesaan dan 70% keluarga di perkotaan mempunyai rumah yang tidak beralih pemilikannya selama krisis. Tentang pemilikan aset-aset lancar seperti uang tunai atau surat-surat berharga. juga dilaporkan sangat besar peranannya dalam menghadapi krisis. Harga emas mengalami kenaikan 4 kali selama krisis. dan disebut sektor informal. lebih tinggi ketimbang kenaikan harga-harga umum. Boeke tahun 1910. karena sektor ini justru sudah lebih tua dan sudah merupakan kegiatan ekonomi ―formal‖ jauh sebelum datangnya para pengusaha/pemodal/kapitalis Belanda ke Indon esia. Sakerti mampu mengungkap perilaku ekonomi riil rakyat Indonesia (real life economics) yang melalui analisis mendalam akan menghasilkan ilmu/ teori ekonomi rii. Karena para pemodal/pengusaha Belanda yang datang sesudah 1870 ini pada umumnya berbentuk NV (PT) yang besar dengan kantor-kantor dan kebun-kebun besar. sektor tradisional/ekonomi rakyat tidak terpengaruh krismon. Kesimpulan Sebagaimana sudah sering dikemukakan oleh para peneliti ekonomi rakyat. tokh dalam kenyataan perekonomian Indonesia masih tetap bersifat dualistik. [4] [4] Paul Ekins and Manfred Max-Neef (eds). dengan membayar pajak-pajak yang besar. atau sekedar strategi bertahan hidup ( survival strategy). Routledge. Sakerti 2+ menemukan fakta-fakta menarik bahwa hampir setiap keluarga termasuk yang miskin memiliki kekayaan atau aset yang dapat dijual atau digadaikan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran pokok yang tidak dapat dihindarkan. meskipun Indonesia merdeka sudah berusia 57 tahun dan pembangunan ekonom i ―Orde Baru‖ sudah berlangsung 31 tahun (1966 -97) yang mampu meningkatkan pendapatan riil rata-rata bangsa Indonesia 10 kali.1% menjadi 7. sebagaimana dikemukakan J.

July 1999 Mishra.Indonesia Satu. ―Sistemic Transition in Indonesia: The Crucial Next Steps‖. Shafiq and Inayatul Islam. Tanpa ikatan kerjasama dengan IMF. Surabaya. 1999. tetapi hanya dinikmati sekelompok kecil ekonomi kuat. 1999. Festival Bhinneka Tunggal Ika. October . Daftar Pustaka Dhanani. SMERU Final Report. Reformasi Sistem Ekonomi: Dari Kapitalisme menuju Ekonomi Kerakyatan . Perjuangan itu hanya dapat berhasil bila pelbagai unsur rakyat Indonesia bersatu. Jika pada saat proklamasi kemerdekaan tahun 1945 bangsa Indonesia memiliki rasa percaya diri amat besar untuk merdeka secara politik. Dr. Jakarta. Report No. Ind. 2. kinilah saatnya kita memiliki rasa percaya diri di bidang ekonomi. 29 Oktober 2002.UGM Makalah untuk Seminar "Indonesia Bersatu Menyongsong Era Global". Sartono Kartodirdjo. hal. Pemerintah dipilih dari dan oleh rakyat Indonesia. Hatta) dapat kita jadikan acuan rasa percaya diri itu. Inequality and Social Protection: Lessons From The Indonesian Crisis. Multi-dimensi Pembangunan Bangsa. Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis Ekonomi . sebenarnya akan lebih adil dan berkelanjutan ketimbang pertumbuhan 7% seperti sebelum krismon. 18 1. yang telah tumbuh 3-4% per tahun sejak tahun 2000 sampai tahun 2002 ini. Yogyakarta Mubyarto and Daniel W. Satish C. ―Indonesia: Constructing A New Strategy for Poverty Reduction‖. Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia tahun 1925 di Negeri Belanda (dipimpin oleh Moh. April 2000 Hardjono. Perjuangan itu tidak memerlukan bantuan dari pihak manapun. Mubyarto: Guru Besar FE . Yogyakarta Mubyarto. pemerintah dan bangsa Indonesia dapat memusatkan perhatian pada usaha dan program-program pemberdayaan ekonomi rakyat. 2002.tergantung pada utang-utang baru dari IMF dan negara-negara ―donor‖ anggota CGI. Yogyakarta. The Micro Data Pictures: Results of a SMERU Social Impact Survey in the Purwakarta-Cirebon Corridors. Kanisius. September 2002 Mubyarto. Memang teori ekonomi makro-ortodoks yang tidak mau mengakui atau tidak mengerti ekonomi rakyat. menganggap pertumbuhan ekonomi 4% ―terlalu rendah‖ yang tidak mampu menyerap tenaga kerja lama dan menganggur maupun tambahan tenaga kerja lebih dari 2 juta per tahun. Poverty. yang akhirnya menjadi ―bom waktu‖ yang meledak seperti yang terjadi 1997 tanpa dapat diperkirakan sebelumnya. Yogyakarta World Bank. Prof. Gadjah Mada University Press. Demikian kiranya jelas bahwa tulisan ini berusaha meyakinkan tidak akan terjadi kebangkrutan atau kelumpuhan ekonomi nasional jika Indonesia memutuskan secara sepihak untuk tidak lagi mencari utang-utang baru dari luar atau bahkan dalam negeri. Multi-dimensi Pembangunan Bangsa. Kanisius. Bromley. Bangsa Indonesia harus percaya diri. Aditya Media. BPFE. sektor ekonomi rakyat banyak yang sejak krismon 5 tahun lalu tidak saja tidak hancur tetapi malah telah menunjukkan ciri khasnya yaitu tahan banting dan mampu menunjukkan keandalan dan kemandiriannya. [5] [5] Sartono Kartodirdjo. Buktibukti dari Sakerti 3 telah sangat memperkuat berbagai data penelitian lapangan optimistik sebelumnya. tetapi lebih banyak disumbang dan dengan demikian juga dinikmati ekonomi rakyat. Maka ekonomi Indonesia ―harus tumbuh‖ minimal 7% per tahun dan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi para ekonom tidak pernah merasa perlu mempermasalahkan keadilan dalam distribusi pendapatannya. 3. Joan. tegar dan kuat. UNSFIR. Tak pernah terpikir pada mereka seandainya perekonomian tumbuh hanya 3-4%. A Development Alternative for Indonesia. lebih-lebih ekonomi rakyatnya. 23028. 1999. Sakerti 3 menemukan kenyataan ekonomi Indonesia. UNSFIR. 2001.

atau baru 12% dari jumlah penduduk. [1] Disamping itu. Agoes Achir JAMINAN SOSIAL NASIONAL INDONESIA Latar Belakang Jaminan Sosial Nasional adalah program Pemerintah dan Masyarakat yang bertujuan memberi kepastian jumlah perlindungan kesejahteraan sosial agar setiap penduduk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya menuju terwujudnya kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia. yang dibiayai dari kontribusi/ premi yang dibayarkan oleh setiap tenaga kerja dan atau pemberi kerja. Yaumil Ch. Dari 95 juta angkatan kerja. Pendekatan kedua berupa bantuan sosial (social assistance) baik dalam bentuk pemberian bantuan uang tunai maupun pelayanan dengan sumber pembiayan dari negara danbantuan sosial dan masyarakat lainnya. jaminan pemutusan hubungan kerja. 2001. Secara keseluruhan adanya jaminan sosial nasional dapat menunjang pembangunan nasional yang berkelanjutan. Desember 2002 Fakta tersebut membuktikan bahwa amanat UUD pasal 27 ayat 2 sebagian besar belum dapat dilaksanakan sehingga langkah-langkah nyata untuk mewujudkannya diperlukan. Putusan Sidang Tahunan MPR RI tahun 2001 menugaskan kepada Presiden untukmembentuk Sistem Jaminan . [1] Australia. jaminan hari tua. [2] Krisis ekonomi yang menyebabkan angka pengangguran melonjak dengan tajam telah menimbulkan berbagai masalah sosial ekonomi. dana yang terhimpun dalam asuransi sosial dapat merupakan tabungan nasional. namun baru mencakup sebagian kecil pekerja di sektor formal. selama dekade terakhir di Indonesia telah ada beberapa program jaminan sosial dalam bentuk asuransi sosial. pensiun. Pendekatan pertama adalah pendekatan asuransi sosial atau compulsory social insurance. Perlindungan jaminan sosial mengenal beberapa pendekatan yang saling melengkapi yang direncanakan dalam jangka panjang dapat mencakup seluruh rakyat secara bertahap sesuai dengan perkembangan kemampuan ekonomi masyarakat. sejak tahun 1992. Jaminan sosial merupakan hak asasi setiap warga negara sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat 2. Kelembagaan dan Mekanisme Sistem Jaminan Sosial yang berlaku secara nasional. antara lain dengan menyusun suatu Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Dalam kondisi seperti ini jaminan sosial dapat membantu menanggulangi gejolak sosial. jaminan kecelakaan kerja. serta betapa pentingnya peran jaminan sosial dalam pemberian perlindungan utamanya di saat berkurangnya pendapatan maka dianggap perlu menyusun Sistem Jaminan Sosial Nasional melalui penerbitan Undang-undang yang akan mengatur Substansi. baru 24. Kontribusi/ premi dimaksud selalu harus dikaitkan dengan tingkat pendapatan/ upah yang dibayarkan oleh pemberi kerja.6 juta jiwa memperoleh jaminan sosial. Beberapa negara yang menganut welfare state yang selama ini memberikan jaminan sosial dalam bentuk bantuan sosial mulai menerapkan asuransi sosial. Kesadaran tentang pentingnya jaminan perlindungan sosial terus berkembang.‖. Sementara di Thailand dan Malaysia masing-masing mencapai 50% dan 40% dari total penduduk. Sistem Jaminan Sosial yang akan dibangun ini haruslah sifatnya adil dengan tingkat kepercayaan publikyang tinggi dan transparan dalam penyelenggaraannya. Secara universal jaminan sosial dijamin oleh Pasal 22 dan 25 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia oleh PBB (1948). seperti terbaca pada Perubahan UUD 45 tahun 2002. [2] Kantor Menko EKUIN bekerjasama dengan LPUI Kajian Kebijakan Jaminan Sosial. telah menerapkan asuransi sosial wajib. Menyadari masih terbatasnya jangkauan jaminan sosial yang ada dan beberapa kekurangan dalam pengaturan dan penyelenggaraannya. Perlindungan ini diperlukan utamanya bila terjadi hilangnya atau berkurangnya pendapatan. Pengaturan dalam jaminan sosial ditinjau dari jenisnya terdiri dari jaminan kesehatan.29. dimana Indonesia ikut menandatanganinya. Pasal 34 ayat 2. yaitu ―Negara mengembangkan Sistem Jaminan Sosial bagi seluruh rakyat…. Sebenarnya. dan santunan kematian. Utamanya karena jaminan melalui bantuan sosial membutuhkan dana yang besar dan tidak mendorong masyarakat merencanakan kesejahteraan bagi dirinya.

dimana iuran sebagian atau sepenuhnya dibayarkan oleh pemerintah. Presiden dengan Kepres No. iura. Pengelolaan Jaminan Sosial Nasional menganut prinsip Wali Amanah. Kepres ini didahului dengan Keputusan Sekretaris Wakil Presiden No. Sistem Jaminan Sosial Nasional yang akan dibangun bertumpu pada konsep asuransi sosial.. . 7 Tahun 2001. Untuk itu Presiden mengambil inisiatif menyusun Rancangan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional. Substansi Sistem Jaminan Sosial Nasional yang akan disusun adalah suatu sistem yang berdasarkan pada asas gotong royong melalui pengumpulan iuran dan dikelola melalui mekanisme asuransi sosial. Program-Program SJSN Program-program pokok SJSN yang akan dikembangkan disesuaikan dengan konvensi ILO No. yang mewakili stakeholder dalam hal ini peserta/ pekerja. 102 tahun 1952 yang juga diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia. mekanisme dan program-program jaminan sosial. Besarnya iuran/ premi dihitung berdasarkan analisis aktuaria yang disesuaikan dengan programmanfaat yang akan diberikan. Perluasan cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi ekonomi negara dan masyarakat. Pelayanan santunan dan klaim disesuaikan dengan besarnya iuran dan jenis program yang diikuti. Program Jaminan Pemutusan Hubungan Kerja (JPHK). dan Program Santunan Kematian. akuntabilitas dan efisiensi. Program Pensiun. serta kemudahan dalam rekruitmen dan pengumpulannya secara rutin. 20 tahun 2002 membentuk Tim SJSN. dan pemerintah pengumpulan dan pengelola iuran perlu ditunjang oleh keterbukaan. Manfaat yang diberikan harus cukup berarti sehingga mendorong kepesertaan yang lebih besar dari waktu ke waktu. Besarnya iuran ditetapkan berdasarkan prosentase tertentu dari pendapatan. Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Saat ini Tim SJSN telah melakukan pembahasan yang cukup mendalam tentang substansi. Pelaksanaannya diatur oleh suatu Undang-Undang dan diterapkan secara bertahap sesuai dengan perkembangan dan kemampuan ekonomi Nasional serta kemudahan rekruitmen dan pengumpulan iuran secara rutin. pembekerja. Manfaat yang diberikan harus cukup berarti sehingga mendorong kepesertaan yang kebih besar dari waktu ke waktu. dan investasi. Namun. Iuran/ premi ditanggung bersama oleh pemberi kerja dan pekerjanya. baik di sektor formal maupun informal. dimama iuran sebagian atau sepenuhnya dibayarkan oleh pemerintah. baik yang berpendapatan besar maupun kecil sehinggan dapat terwujud asas kegotong-royongan dan redistribusi pendapatan dari yang kaya ke yang miskin. semasa Ibu Presiden sebagai Wakil Presiden. Mekanisme SJSN Mekanisme penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional meliputi pengaturan kepesertaan. kehati-hatian. kelembagaan. Karena Jaminan Sosial Nasional tersebut diwujudkan melalui mekanisme asuransi sosial maka manfaat yang akan diperoleh peserta tergantung pada besarnya iuran. santunan/ manfaat. Penyelenggaraan dilakukan non-for-profit. tetapi hasil yang diperoleh nantinya akan dikembalikan atau dimanfaatkan sebesarbesarnya untuk kepentingan peserta (merupakan going concern asuransi sosial).Sosial Nasional dalam rangka memberikan perlindungan sosial yang lebih menyeluruh dan terpadu. secara sukarela pekerja dapat mengikuti program lain dengan kontribusi yang lebih besar dan memperoleh manfaat yang lebih banyak pula (asuransi komersil). Pengertian non-for-profit bukanlah berarti tidak perlu mengembangkan atau menginvestasikan dalam rangka meningkatkan akumulasi dana yang ada. Karena ada unsur wajib bagi semua pekerja tersebut maka diperlukan adanya Undang-Undang untuk mengaturnya. Jaminan Sosial Nasional tersebut perlu diatur agar bersifat wajib untuk seluruh tenaga kerja. Program Jaminan Hari Tua (JHT). struktur dan trend demografi serta resiko yang dihadapi. ditetapkan dalam prosentase tertentu terhadap upah dengan mempertimbangkan kemampuan/ pendapatan penduduk. yaitu Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK). Cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap dimulai dari kelompok masyarakat yang mampu mengiur dan secara bertahap diupayakan menjangkau sampai pada kelompok masyarakat yang rentan dan tidak mampu. Cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap dimulai dari kelompok masyarakat yang mampu mengiur dan secara bertahap diupayakan menjangkau sampai pada kelompok masyarakat yang rentan dan tidak mampu.

perlu menerapkan ―good corporate governance‖ (transparency. wakil pekerja.Dana iuran/ premi/ kontribusi peserta yang terkumpul perlu dikelola dan diawasi oleh suatu Dewan Wali Amanah (Board of Trustee) dan hanya digunakan untuk kepentingan pesertanya sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. untuk kemudian setelah Undang-undang SJSN rampung dan dilaksanakan maka program-program yang sejalan dapat menyesuaikan dengan Undang-undang SJSN tersebut selama masa transisi yang akan ditetapkan. objectivity. usaha pendefisnian tersebut banyak yang berakhir justru dengan perdebatan atas definisinya daripada esensi penguatan atau pemberdayaan ekonomi-rakyatnya sendiri. Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasionan (BKKBN) Bayu Krisnamurthi KRISIS MONETER INDONESIA DAN EKONOMI RAKYAT PADA setiap diskusi mengenai ekonomi rakyat. Panitia Seri Seminar ini hanya memberi judul ―Krisis Moneter Indonesia‖. 1) Sebenarnya. Diharapkan RUU SJSN dapat dirampungkan sebelum bulan Desember 2002. dan responsibility). menambahkan merubah judul agar lebih terlihat konteksnya dikaitkan dengan ekonomi rakyat. Oleh sebab itu tetap perlu dilakukan terlebih dahulu. Kelembagaan Dalam rangkan menjamin pelaksanaan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional diperlukan suatu lembaga yang mempunyai kewenangan untuk menjabarkan Undang-undang SJSN. Konsep awal SJSN tersebut di atas juga telah menghimpun masukan dari beberapa serikat pekerja dan asosiasi pengusaha. mengkoordinir. wakil pemberi kerja dan pakar di bidangnya. pengelola dana dan investasi serta pemasyarakatan program Jaminan Sosial Nasional sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. memonitor. Selama Undang-undang SJSN disiapkan maka lembaga-lembaga yang ada dapat melanjutkan kegiatannya. Penutup Tim SJSN beranggotakan wakil dari berbagai instansi pemerintah. Penulis . Tidak tertutup kemungkinan munculnya lembaga penyelenggaraan lain. Karena prinsip ―non-for-profit‖. Yaumil Chairiah Agoes Achir. Dr. LSM dan Pakar. karena pada dasarnya hampir semua pihak telah sepaham mengenai pengertian apa yang dimaksud dengan ―ekonomi rakyat‖ tanpa harus mendefinisikan (Krisnamurthi. Ketua Tim Sistem Jaminan Sosial SJSN Nasional. Untuk dapat menjamin efektifitas dan efisiensi penyelenggaraannya. Namun guna memperoleh perspektif yang sama mengenai diskusi yang akan dilakukan berkaitan dengan judul diatas 1) maka makalah ini bermaksud untuk mendiskusi krisis moneter dalam konteks ekonomi rakyat: bagaimana posisi ekonomi rakyat ketika krisis ekonomi terjadi. apakah sebagai sebab atau penerima akibat. Sayangnya. Dalam pengelolaannya. Prof. Sebagian dana yang terkumpul perlu diinvestasikan dan dikembangkan seaman mungkin. Diharapkan masukan-masukan guna memperkaya konsep awal tersebut sebagai bahan penyusunan Naskah Akademik yang kemudian akan dituangkan dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional. accountibility. 2001). dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah kesalahan serupa terulang dimasa depan. Padahal perdebatan mengenai definisi ekonomi rakyat sebenarnya tidak terlalu produktif. Deputi Sekretaris Wakil Presiden. Lembaga ini berada langsung di bawah Presiden dibantu Dewan Menteri yang terkait dan beranggotakan wakil pemerintah. penyampaian persepsi makalah ini atas ekonomi rakyat tanpa bermaksud untuk terlalu menekan pada usaha pendefinisian. diperlukan adanya dukungan Sistem Informasi Manajemen serta kemampuan Sumber Daya Manusia yang handal. sangat sulit untuk tidak berusaha mendefinisikan yang dimaksud dengan ekonomi rakyat. maka hasil investasi tersebut akan dikembalikan dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta. dan mengawasi pelaksanaan program-program.

dapat dinyatakan bahwa ekonomi Indonesia sebenarnya adalah berbasis ekonomi rakyat. oleh rakyat. Mereka memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan dan tidak hanya tergantung pada pihak lain (apakah itu bank. Hanya saja. Pendeknya. Juga tidak ada pembatasan mengenai besaran. dan menjadi basis dari 63 % konsumsi domestik. yang umumnya telah memfasilitasi ekonomi rakyat untuk survive dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi masyarakatnya. industri. Ekonomi rakyat tidak eksklusif tetapi inklusif dan terbuka. Dalam ekonomi rakyat.Ekonomi rakyat adalah ―kegiatan ekonomi rakyat banyak‖ (Krisnamurthi. Mereka adalah kegiatan usaha formal (berijin usaha. dan sejenisnya. pemilik saham. sektor informal kota. Mereka adalah orang-orang yang bekerja sendiri dan juga mereka yang bekerja menerima upah. baik sumberdaya alam. mekanisme transaksi. bagaimana menjaga kelestarian bagi proses pemanfaatan berikutnya. petani gurem. serta tersebar merata diseluruh wilayah Indonesia. 60 % diantaranya berada di daerah pedesaan. sifat fundamental diatas telah pula menciptakan suatu sistem ekonomi yang terdiri dari pelaku ekonomi. Daya produktif . Umumnya mereka berskala mikro dan kecil tetapi juga terdapat beberapa yang berskala menengah. eceran kecil. sifat usaha. Dan yang terpenting adalah mereka berbasis pada manusia. norma dan kesepakatan (―rule of the game‖) yang khas. ketrampilan. Mereka sebagian besar hanya beroperasi secara lokal. tenaga kerja (termasuk tenaga kerjanya sendiri). Berkaitan dengan sumberdaya (produktif dan konsumtif). jenis produk. ―Oleh rakyat‖. tetapi beberapa diantaranya juga memiliki kemampuan dan daya saing internasional yang handal. ―Dari rakyat‖. lembaga keuangan mikro. dan masyarakat. dan bukan perkebunan atau peternak besar atau MNC pertanian. keluarga. dan bukan kegiatan ekonomi yang dikuasasi oleh beberapa orang dengan perusahaan dan skala besar. berarti kegiatan ekonomi itu berkaitan dengan penguasaan rakyat dan aksesibilitas rakyat terhadap sumberdaya ekonomi. seperti berapa banyak jumlah yang harus dimanfaatkan. seperti koperasi atau CV atau bentuk badan hukum lain) dan juga sangat banyak yang informal atau nono-formal. 65 % berusaha dibidang pertanian dan kegiatan lain yang terkait. bahkan bagi produk yang dihasilkan kegiatan ekonomi besar. Rakyat memiliki hak atas pengelolaan proses produktif dan konsumtif tersebut.5 % terutama disebabkan oleh tarikan konsumsi. Walaupun demikian. dan sebagainya. ketimpangan distribusi aset produktif (formal) – yang sekitar 65 %-nya dikuasai oleh 1 % pelaku usaha terbesar – menyebabkan kontribusi nilai produksi (GDP) dan ekspor kegiatan ekonomi raktyat relatif lebih kecil. baik konsumsi domestik maupun konsumsi asing (ekspor) – terutama karena kegiatan investasi dan pengeluaran pemerintah yang sangat terbatas – maka dapat diduga bahwa peran ekonomi rakyat sangat signifikan. Dalam hal ini perlu pula dikemukakan bahwa ekonomi rakyat dapat berkaitan ―dengan siapa saja‖. informasi. atau entitas lain). masyarakat) sumberdaya jaringan (‗network‘). Jika memang disepakati bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2000 sebesar 4. maka ekonomi rakyat memiliki dimensi yang luas. menyediakan sekitar 80 % kesempatan kerja. Hal ini tersebut didasari oleh argumentasi bahwa rumah tangga yang menggantungkan kehidupannya dari kegiatan ekonomi rakyat adalah konsumen terbesar. rakyat memiliki alternatif untuk memilih dan menentukan sistem pemanfaatan. dan sejenisnya. dari pada hanya sekedar angka-angka uang (modal) atau produk. industri rumah tangga. Mereka bisa berada dalam kegiatan ekonomi tradisional tetapi juga tidak sedikit yang bergerak dalam sistem ekonomi modern. Perspektif lain dari ekonomi rakyat dapat pula dili hat dengan menggunakan perspektif jargon: ―ekonomi dari rakyat. petani tanpa tanah. ―Untuk rakyat‖. dan bukan industri besar. Dengan pemahaman diatas pula. melakukan lebih dari 65 % kegiatan distribusi. dan sebagainya. dipahami bahwa yang dimaksud dengan ―ekonomi rakyat (banyak)‖ adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh orang banya k dengan skala kecil-kecil. juga sumberdaya sosial (kelompok. Ekonomi rakyat (banyak) mencakup 99 % dari total jumlah unit usaha (business entity). dan sejenisnya. modal. 2001). perbankan formal. dan jasa maka yang dimaksud adalah industri kecil. berarti proses produksi dan konsumsi dilakukan dan diputusk an oleh rakyat. dan sebagainya. permodalan. Jika dikaitkan dengan kegiatan perdagangan. pengetahuan. sumberdaya ekonomi yang dimaksud adalah segala sumberdaya yang dapat digunakan untuk menjalankan penghidupan. Peran ekonomi rakyat juga teraktualisasi pada masa krisis multidimensi saat ini. berarti rakyat banyak merupakan ‗beneficiaries utama dari setiap kegiatan produksi dan konsumsi. Jika dikaitkan dengan kegiatan pertanian. Dalam hal ini. walaupun yang disebut terakhir pada hakekatnya adalah juga ‗rakyat‘ Indonesia. Rakyat menerima manfaat. dan sebagainya. dan melakukan kegiatan produksi bagi sekitar 55 % produk dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. bagaimana proses pemanfaatannya. pelakunya melakukan kegiatan produksi dan konsumsi. dan indikator kemantaatan paling utama adalah kepentingan rakyat. Berdasarkan pemahaman diatas. nelayan tanpa perahu. Mereka bisa melekat pada badan usaha pemerintah atau swasta. dalam arti kegiatan transaksi dapat dilakukan juga dengan ―non-ekonomi-rakyat‖. Rakyat menguasai dan memiliki hak atas sumberdaya untuuk mendukung kegiatan produktif dan konsumtifnya. 2000). konglomerat. maka yang dimaksud dengan kegiatan ekonomi rakyat adalah kegiatan ekonomi petani atau peternak atau nelayan kecil. siapa yang memanfaatkan. dan untuk rakyat‖ (Krisnamurthi. pedagang kecil.

dan pasar modal. termasuk terjaga maraknya berbagai kegiatan ‗masal‘ dari ekonomi riil – seperti mudik Lebaran dan naik haji. Kemampuan sektor informal kota dalam menyediakan lapangan pekerjaan dan sistem distribusi kebutuhan pokok dengan murah dan efisien telah pula menjadi manfaat besar bagi ―non-ekonomi-rakyat‖ dalam mengembangkan sistem kerja yang tidak memihak pada buruhnya. pasar uang.5 kali lebih besar dari dana yang disalurkan kembali ke pedesaan. Kelembagaan koperasi yang diseragamkan menjadi KUD. terdapat ketidak-adilan dalam pengembangan ekonomi. karena dipandang lebih sesuai dengan kepentingan-kepentingan tertentu. ada baiknya disampaikan dahulu perspektif struktur kelembagaan ekonomi Indonesia pada saat krisis akan terjadi 2) seperti dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini. peningkatan penjualan kendaraan bermotor roda dua. Infrastruktur irigasi yang hanya memfasilitasi teknologi lahan sawah. semua akibat introduksi teknologi dan kelembagaan serba seragam. dan telpon yang tidak seimbang antara alokasi untuk bagi kegiatan ekonomi rakyat dan non-ekonomi rakyat. ―ekonomi rakyat‖ yang tidak mendapat kesempatan untuk itu. memang mengalami sangat banyak kesulitan untuk berkembang dan memberi kesejahteraan bagi pelakunya. baik pasar barang. . dan kawasan industri bagi MNC merupakan bentuk ketidak-berdayaan penguasaan sumberdaya oleh rakyat. Rakyat juga memiliki akses yang sangat terbatas terhadap informasi dan teknologi. Kemudahan dan dukungan tersebut kemudian Kelompok ―non-ekonomi-rakyat‖ telah banyak mendapat dukungan dari elite pemerintah. Bahkan sumberdaya yang tadinya dikuasai oleh rakyat.kegiatan ekonomi rakyatlah yang mampu mendorong peningkatan konsumsi. Dukungan yang relatif kecil dari pemerintah-penguasa telah menjadikan pelaku ekonomi rakyat tidak sangat tergantung pada kondisi elite. Kondisi yang ―terbatas‖ terhadap akses ke pasar global juga sekaligus memberi ‗kekebalan‘ kepada ekonomi rakyat untuk tidak mudah terpeng aruh atas kondisi yang terjadi didunia internasional. Melalui sistem perbankan yang terpusat. atau bahkan yang terjadi secara nasional. Namun demikian perspektif ‗dari. Penguasaan dan akses terhadap sumberdaya oleh rakyat (banyak) masih sangat banyak menghadapi masalah. real estate mewah. juga merupakan fakta-fakta lain yang menunjukkan kemampuan ―oleh-rakyat‖ menjadi sangat terbatas. oleh. hak atas tanah masih menjadi sesuatu yang sangat didambakan. Perbandingan ketersediaan sumberdaya ‗publik‘ seperti listrik. Infrastruktur fisik dan kelembagaan yang dibangun cenderung mengarah pada penyeragaman proses pengambilan keputusan yang dirancang tidak oleh rakyat sendiri. Non-ekonomi-rakyat telah mendapat banyak kemudahan dan dukungan. Sebelum membahas krisis moneternya sendiri. Kontribusi pertanian dalam bentuk pangan yang murah dan tenaga kerja yang lebih terdidik. merupakan manfaat yang dirasakan oleh kegiatan-kegiatan ―non-ekonomi-rakyat‖ sebagia bagian dari strategi ―keunggulan komparatif‖ berbasis tenaga kerja murah. tetapi pengembangan kegiatan ekonomi berbasis buruh murah telah berjalan lama sejak penjajahan hingga kini. serta sistem keuangan yang ―memaksa‖ rakyat menerima sistem yang mensyaratkan berbagai hal tidak sesuai dengan kondisi naturalnya. ―non ekonomi-rakyat‖ meninggalkannya begitu saja sering kali justru dengan tinggalan masalah adanya konflik kepentingan diantara rakyat sendiri. misalnya. atau hilangnya kelembagaan panen tradisional. selama 30 tahun dana yang disedot dari pedesaan 2. tetap hidupnya pasar-pasar tradisional pada saat krisis. telah menyebabkan kegiatan ―non -ekonomi-pasar‖ menjadi kegiatan dengan ―banyak pengambil keputusan‖ dalam dunia yang tidak berbatas dan masih rentan. Dalam hal ini kelompok ―non-ekonomi-rakyat‖ menjadi rentan terhadap perubahan yang terjadi pada elite penguasa tersebut. peningkatan jumlah berbagai produk pertanian. Hal inilah yang kemudian menjadi preposisi dasar dalam melihat posisi ekonomi rakyat dalam krisis moneter yang belum lama terjadi dan masih terasa hingga saat ini. telah membatasi kemampuan petani mengembangka usahataninya. Intinya. Rakyat juga sering dibatasi kemampuannya untuk mengambil keputusan. Aspek ―untuk rakyat‖ menghadapi situasi yang lebih jauh tertinggal. dan sebagainya. juga menggambarkan situasi suram aspek ―dari rakyat‖ tersebut. Kisah konversi lahan pertanian produktif milik rakyat menjadi lapangan golf. Pada saat yang sama sistem pengembangan yang penuh dengan ―dukungan yang distortif‖ telah tersebut telah menjadikan ―non-ekonomirakyat‖ menjadi lebih terkait dengan ekonomi global. Mungkin tidak sekejam tanam paksa. Keterkaitan dengan pasar dunia. dan telah mengembangkan ketergantungannya pada kelompok tersebut sehingga menjadi kelompok ―elite penguasa-pengusaha‖. posisi rebut-tawar (bargaining position) dalam penguasaan sumberdaya hampir selalu berada pada titik yang terendah. dan untuk rakyat‖ tersebut diatas juga mengetengahkan gambaran suram dari ekonomi rakyat di Indonesia. Indikasi lain dapat pula ditunjukkan oleh peningkatan kegiatan (tabungan dan penyaluran kredit) hampir diseluruh lembaga keuangan mikro. dengan mudah berpindah tangan. Sebaliknya saat lahan HPH yang telah digunduli dan tidak lagi produktif. Tidak ada infrastruktur irigasi yang dirancang untuk memfasilitasi petani mengembangkan hortikultura atau peternakan. atau hilangnya kelembagaan lumbung desa. Sebaliknya. air. yang pada gilirannya membuat kemampuan pengambilan keputusan menjadi jauh lebih terbatas. Perlindungan hukum atas usaha masih lemah.

1998. Tanpa bermaksud membatasi aktivitas ekonomi dalam dimensi ruang yang kaku. Hal ini terjadi melalui sistem perbankan. Lemahnya keterkaitan ekonomi rakyat dengan kapitalisme global yang menjadi sumber dari krisis moneter tersebut. 1998. Singkatnya. mengalir ―door-to-door‖ dengan derasnya. bahkan tenaga kerja. 1999). Hal ini terutama karena kerangka kelembagaannya tidak berkesesuaian (not-compatible). Dalam lingkup domestikpun hutang modal dan hutang konsumsi juga mengalir kesana kemari dengan sangat cepat dan dalam jumlah yang sangat besar. penyediaan buruh murah. yaitu Asia. Bahkan banyak diantaranya yang mendapat ‗rejeki dolar‘ karena harga produk yang dihasilkannya melonjak tinggi sejalan dengan peningkatan nilai dolar. dan pada gilirannya menghancurkan sistem perbankan. Hubungan ekonomi rakyat Indonesia dengan ekonomi rakyat di negara lain juga berjalan lambat dan tersendat. . baik dalam bentuk modal tunai. Aliran moneter dari kapitalme global ke ekonomi rakyat Indonesia relatif kecil. karena sebagian dari proses relokasi industri baru berjalan pada tahap awal. ekonomi rakyat telah mensubsidi ‗non-ekonomirakyat‘ dan terjadi fenomena ―double squeezed economy‖ melalui penyediaan sumberdaya oleh rakyat dan rakyat dijadikan pasar. dalam bentuk hutang. barang konsumsi. tidak dapat mengembalikan hutang. ekonomi rakyat yang ‗berbeda‘ sistem dan mekanismenya dengan ekonomi berbasis kapital yang dikenal oleh ‗masyarakat barat‘ merupakan basis kegiatan ekonomi negara yang bersangkutan. yaitu WTO dan mata uang Euro (Soros. Sampai pada tahap ini ekonomi rakyat masih belum merasakan dampak negatif yang terlalu besar dari krisis moneter. Krisis moneter yang diawali oleh krisis nilai tukar tersebut sebenarnya telah lama diperkirakan dan telah diduga meningkat peluangnya saat pergantian abad (lihat Soros. walaupun struktur yang demikian itulah krisis ekonomi Indonesia menjadi begitu parah dan sulit diselesaikan. inflasi meninggi. Namun ketika krisis moneter berlanjut menjadi krisis ekonomi (pertumbuhan ekonomi menurun. Ketika nilai tukar jatuh. Hubungan antara ―non-ekonomi rakyat‖ lokal dengan kapitalisme global juga merupakan hubungan yang timpang. Kalaupun ada. penggunaan (utilization) dari modal tersebut belum berjalan dengan baik. (2) (3) (4) Dalam format seperti diataslah situasi ekonomi saat krisis moneter melanda Indonesia. penyediaan lahan/property murah. maupun aliran input produksi. atau Ormerod. tawaran saham dan investasi. Demikian pula dengan ―non-ekonomi-rakyat‖ yang dapat diidentifikasikan sebagai kelompok kapital global. Pada tahun 1990-an. dan kemampuan menguasai informasi sebagai sarana untuk promosi. Dan hal ini membuat mereka sedang berada pada situasi yang rentan. 1994. telah menjadi ‗blessing in disguised‘ bagi ekonomi rakyat. sistem legal-formal yang ―bias-against‖ ekonomi rakyat. hanya dalam bentuk dana-dana pinjaman lunak pemerintah yang banyak kembali ke ―negara donor‖ atau bocor ditengah jalan dari pada diterima oleh ekonomi rakyat. maka ―non-ekonomi-rakyat‖ di Indonesia langsung terpukul telak oleh dua hal yang sangat ‗mematikan‘: membengkaknya nilai hutang dolar dalam rupiah dan mahalnya biaya produksi yang selama ini berbasis input impor. 1998). atau bahkan Marx (1849) dalam Magnis-Suseno. teknologi. Gambar diatas secara skematik menunjukkan bahwa ekonomi rakyat dalam perspektif seperti Indonesia juga terdapat dinegara-negara lain. Perusahaan-perusahaan tidak dapat lagi menunjukkan kinerja keuangan yang sehat. Hal tersebut terutama juga karena struktur kelembagaan yang diuraikan diatas. kapitalisme global tengah berbenah diri untuk menghadapi abad yang baru yang ditandai oleh dua fenomena besar. Sebaliknya. terutama karena infrastruktur dan institusi perdagangan modern memang dikuasai oleh para pelaku ―non-ekonomi-rakyat‖. seperti yang dirasakan para petani coklat dan para pengrajin yang memiliki konsumen di luar negeri. Giddens. 1995). Gambar 1 menunjukkan bahwa (1) Arus moneter (uang tunai dan modal) dari kegiatan ekonomi rakyat ke kegiatan ‗non -ekonomi-rakyat‘ memiliki volume yang jauh lebih besar dari pada arus sebaliknya.2) Struktur kelembagaan ekonomi tersebut sebenarnya hingga saat ini masih belum banyak berubah (diubah). Akibatnya modal. penyedian pangan murah. De Soto (2000) menjelaskan bahwa dibanyak negara. Sebagai usaha mengantisipasi hal tersebut modal besar dari para kapitalis global tersebut dialirkan ke kegiatan ekonomi yang dianggap paling menjanjikan. dan posisi ekonomi rakyat yang menjadi pasar bagi produk dan jasa. Hubungan Selatan-Selatan atau diantara negara-negara Non-Blok secara langsung hampir selalu lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan ‗jasa‘ negara ketiga yang mampu menyediakan layanan infrastruktur perdagangan secara lebih efisien (Isaak. Kondisi tersebut berlangsung akibat dominasi paduan pengusaha-penguasa.

Sikap tersebut sering kali jauh lebih menentukan efektivitas kebijakan. e. atau penetapan kebijakan perbankan sendiri yang penuh persyarakatan yang tidak sesuai dengan kondisi objektif ekonomi rakyat. padahal mereka adalah pemilik-suara (voter) terbanyak yang memilih pada pembuat keputusan. tingkat bunga yang kompetitif. Dalam hal ini. padahal yang lebih dibutuhkan oleh ekonomi rakyat adalah kebijakan makro yang kondusif. sering kali harus menerima limpahan pelaksanaan ‗tugas‘ hingga 10 atau 15 program dalam waktu yang bersamaan. IMF. dapatlah dikatakan bahwa ekonomi rakyat merupakan korban dari krisis moneter yang terjadi belum lama ini. Demikian pula sikap birokrasi yang ‗memerintah‘. Misalnya. Namun banyak kasus yang menunjukkan bahwa kebijakan yang dikembangkan lebih banyak membawa norma dan pemahaman dari ―luar‖ dari pada mengakomodasi apa yang sudah teruji berkembang dalam masyarakat. Tumpang tindih tidak dapat dihindari. Beberapa koreksi yang perlu dilakukan. dari berbagai instansi yang berbeda dan dengan metode dan ketentuan yang berbeda. atau dilihat dari pemanfaatan cadangan pemerintah yang sangat besar bagi rekapitalisasi bank. Tekanan menjadi semakin berat lagi setelah krisis ekonomi juga memicu krisis sosial politik dan keamanan. Banyaknya kebijakan yang dilakukan oleh banyak pihak sering kali bersifat kontra produktif. disertai berbagai kebijakan pengaturan (regulative policy) tampaknya masih jauh dari harapan pemberdayaan ekonomi rakyat. Dengan demikian. yang harus dilakukan terutama adalah untuk merubah pendekatan kebijakan yang tidak memihak kepada ekonomi rakyat. dll) patut pula diduga bahwa perancangan pola kebijakan tersebut juga membawa kepentingan internasional tersebut. karena selama ini kebijakan ekonomi sering kali membawa ciriciri sebagai berikut (Krisnamurthi. Oleh karenanya. terutama dalam mengatasi berbagai kelemahan dan keterbatasan yang dihadapi. padahal kedua hal itu justru telah menunjukkan kemampuan menghadapi tekanan eksternal yang berat. Banyak kebijakan yang bersifat ‗mikro‘. Otonomi seharusnya juga berarti perubahan Kebijakan pengembangan yang dilakukan lebih banyak bersifat regulatif dan merupakan bentuk intervensi terhadap kegiatan yang telah dilakukan oleh ekonomi rakyat. Sebaliknya sistem ekonomi rakyat yang nyata-nyata telah mampu bertahan bahkan telah lebih berkembang selama krisis justru tidak diabaikan. Pada tahap inipun sebenarnya daya ‗survival‘ ekonomi rakyat sangat tinggi. Produk yang diimpor diganti dengan produk lokal atau produk impor yanglebih murah (fenomena motor Cina atau maraknya produk elektronik lokal dan impor yang ―mereknya tidak dikenal sebelumnya‖). serta serangkaian pilihan kebijakan dalam usaha untuk mengatasi krisis yang justru menempatkan ekonomi rakyat sebagai pihak yang dikorbankan. terutama akibat timbulnya berbagai masalah setelah krisis terjadi (bukan oleh krisis moneter itu sendiri) dan akibat pilihan kebijakan yang diterapkan sebagai usaha mengatasi krisis. dan kebijakan nilai tukar. alokasi kebijakan fiskal yang lebih seimbang sesuai dengan porsi pelaku ekonomi. Dalam hal ini. saat elite politik berdebat saling mengkritik dan membangun perbedaan pendapat. Pertimbangan dalam penetapan kebijakan tersebut seringkali memang tidak atas dasar kepentingan kegiatan ekonomi rakyat. kegiatan ekonomi rakyat juga menjadi kegiatan yang paling rentan dan menderita. dan sebagainya) maka ekonomi rakyat mengalami tekanan yang semakin berat. d. padahal bank tidak (dapat) melayani kegiatan ekonomi rakyat. b. pengulangan sering terjadi tetapi pada saat yang bersamaan banyak aspek yang dibutuhkan justru tidak dilayani. Mencari hutang baru dan menerapkan sistem legal-formal-konvensional seperti menjadi hal yang dipaksakan harus ada. mengingat lamanya pengaruh lembaga internasional (WB. . dan ‗minta dilayani‘ merupakan permasalahan lain dalam implementasi kebijakan. Atau setidaknya yang perlu dikembangkan kebijakan yang ‗not-against‘ atau netral terhadap ekonomi rakyat. Seorang Camat atau kepala desa atau kelompok masyarakat misalnya. Kebijakan pengembangan yang dilakukan cenderung bersifat ‗ad -hoc‘ dan parsial. Dengan cepat terjadi perubahan-perubahan yang mendasar. pembentukan tingkat bunga melalui berbagai instrumen moneter lebih didasarkan pada kepentingan ‗balance of payment‘ dan penyehatan perbankan. sangat tinggi. merasa lebih tahu. Kemelut Kredit Usaha Tani (KUT) merupakan contoh kongkrit dari masalah mekanisme penghantaran tersebut. sebaliknya kegiatan ekonomi rakyat seolah ditinggalkan.banyaknya pegawai di PHK. Inovasi dan kreativitas ekonomi rakyat. pengurangan subsidi BBM. Mekanisme penghantaran kebijakan (delevery mechanism) yang tidak apresiatif juga merupakan faktor penentu keberhasilan kebijakan. 2001): a. Posisi lembaga keuangan mikro dalam sistem keuangan nasional merupakan salah satu contoh terdepan dalam permasalahan ini. Demikian juga. Dalam kondisi rawan keamananpun. c. Perbankan dan ‗non-ekonomi-rakyat‘ yang notabene menjadi penyebab krisis berusaha ‗diselamatkan‘ dengan menggunakan dana trilyunan rupiah dari sumberdaya negara yang telah sangat terbatas. meningginya harga pangan impor. berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah dalam rangka otonomi daerah juga telah mengindikasikan pertimbangan yang tidak berorientasi ekonomi rakyat.

New York. Giddens.9% di tahun sebelumnya (1997). The Death of Economics. (www. CIDA Forum on Knowledge and Information. Dalam bulan September/Oktober 1997. The Mystery of Capital.6% dalam . PT Gramedia Pustaka Utama. pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot menjadi –13. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Frans Seda KRISIS MONETER INDONESIA KRISIS moneter Indonesia disebabkan oleh dan berawal dari kebijakan Pemerintah Thailand di bulan Juli 1997 untuk mengambangkan mata uang Thailand ―Bath‖ terhadap Dollar US. Devaluasi mendadak dari ―Bath‖ ini menimbulkan tekanan terhadap mata-mata uang Negara ASEAN dan menjalarlah tekanan devaluasi di wilayah ini.ekonomi-rakyat. 2000.- Dr. diikuti oleh kemerosotan IHSG di pasar modal Jakarta dengan besaran sekitar 90% pula dalam periode yang sama. CSIS. 1998. Nopember 2000. The Renewal of Society Democracy. 1994. Indonesia. MA. The Crisis of Global Capitalism.org) Krisnamurthi. Cambridge University Press. 8. Dan di bulan Juli 1998 dalam setahun. Little Brown Company. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. Hernando. rakyat Indonesia mampu melakukan hal itu. Blackwell Publisher. atau juga masih kesulitan untuk membuat kebijakan yang netral terhadap ekonomi rakyat. Yakinlah. 2001. Soros. www. Paul. pada awalnya bertahan dengan memperluas ― band” pengendalian/intervensi. telah pula dipublikasikan dalam Jurnal Ekonomi Rakyat (online. Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. George. Di tahun 1998. Jakarta.idrc. 1998. Why Capitalism Triumphs in the West and Fails Everywhere Else. ternyata Indonesia paling dalam dan paling lama mengalami depresi ekonomi. Ir. yang mengikuti sistim mengambang terkendali. Bayu. Franz. Ekonomi Rakyat dan Pengelolaan Sumberdaya Pantai dan Laut. Jakarta 21 Februari 2001. Pemikiran Karl Marx. The Missing Ingredient. Bayu. Rupiah sudah terdevaluasi dengan 90%. Makalah pada Lokakarya Pengelolaan Sumberdaya Pantai dan Laut. Selama itu mata uang Bath dan Dollar US dikaitkan satu sama lain dengan suatu kurs yang tetap. namun di medio bulan Agustus 1997 itu terpaksa melepaskan pengendalian/intervensi melalui sistim ―band” tersebut.Perbaikan atas pola kebijakan tersebut diatas harus segera dilakukan. Jakarta. 5. 6. London. minimal jangan buat kebijakan yang merugikan ekonomi rakyat. Ormerod. Jika tidak. Institut Pertanian Bogor (IPB) Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat. 9 April 2002 PUSTAKA 1.html) De Soto. 2. Dalam perkembangan selanjutnya dan selama ini. 2001. The Third Way. London. Magis-Suseno.ca/library/forum/desoto. 3. Bayu Krisnamurthi: Direktur Pusat Studi Pembangunan. Hernando. 2000. 1999. Jakarta. 7. bahkan akan terbuka kembali peluang terjadinya krisis berikutnya yang sangat mungkin akan lebih luas dampaknya bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Rupiah langsung terdevaluasi. Anthony. Krisnamurthi. Atau jatuh dengan 18. Krisis Moneter Indonesia.7% dari pertumbuhan sebesar +4. atau jangan buat kebijakan apapun dan biarkan ekonomi rakyat berkembang dengan kemampuannya sendiri. Jika memang belum dapat dilakukan kebijakan yang mendukung ekonomi rakyat. De Soto. Open Society Endangered. Rupiah telah terdevaluasi dengan 30% sejak bulan Juli 1997. 4. peluang untuk keluar dari krisis akan semakin kecil. Mencari Format Kebijakan Optimal.Bina Swadaya. Makalah pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat : Strategi Revitalisasi Perekonomian Indonesia. Basic Books.

8% di tahun 2000. manajemen. 65 milyar – USD. bukan saja menampung reruntuhan-reruntuhan dari ambruknya sektor modern. baik bagi modal yang masuk maupun yang keluar. dengan tingkat perkembangan nilai tukar mata uang yang terkendali rendah. sementara Hutang Swasta membumbung dengan cepatnya. dan mental orang-orang/para pelakunya. . kebijakan Ekspor yang terdiversifikasi (tidak saja tergantung pada Migas). Kesuksesan ini menimbulkan di satu pihak suatu optimisme yang luar biasa dan di lain pihak keteledoran yang tidak tanggung-tanggung. sudah lima tahun. Pendapatan per kapita meningkat menjadi 2x lipat antara 1990 dan 1997. Ekonomi Indonesia bertumbuh sangat pesat. sehingga waktu datang tekanan-tekanan moneter. Pembangunan Ekonomi yang selama ini adalah ―State” dan ―Government-led” beralih menjadi ―led by private initiatives and market”. Resistensi. Jika di tahun 1996 Hutang Swasta masih berada pada tingkat USD. terlebih dunia Perbankan dan Korporasi. Rapuhnya sektor-sektor modern ini adalah dalam hal organisasi. Sektor tradisional yang selama ini dianggap sebagai sektor yang tidak penting/prioritas. Proses Swastanisasi/Privatisasi dari pelaku utama Pembangunan berlangsung melalui proses liberalisasi dengan mekanisme Deregulasi diliputi visi dan semangat liberal. dilanjutkan dengan pertumbuhan +4. maka di akhir tahun 1996 sudah meningkat menjadi antara USD. namun juga memainkan peran sebagai pengganti dari peranan sektor modern yang ambruk itu. Kesuksesan Pembangunan Ekonomi Indonesia demikian memukau para kreditor luar negeri yang menyediakan kredit tanpa batas dan juga tanpa meneliti proyek-proyek yang diberi kredit itu. Mereka yang di-PHK-kan ditampung dalam sektor tradisional dan sektor informal dan merupakan bagian dari Resistensi Ekonomi Rakyat dalam krisis ini.setahun. 80 milyar menjadi USD. Dimana kegiatan-kegiatan ekonomi dan para pelakunya berlangsung tanpa pengawasan dan tidak dilihat ― cost benefit” secara cermat. Dan kerapuhan ini ternyata adalah sangat mendalam dan meluas. Suatu kerapuhan total dan secara institusional pula! Apa implikasi dari runtuhnya sektor modern dari bangunan ekonomi kita ini? Peningkatan Pengangguran. merupakan kekuatan ekonomi yang riil yang telah mampu menahan kemerosotan ekonomi yang disebabkan oleh krisis itu. dengan kebijakan Neraca Modal yang liberal. 75 milyar. Mengapa? Selama dekade sebelum krisis. Pertumbuhan itu ambruk! Sementara itu terjadi pula suatu perombakan yang drastis dalam strategi Pembangunan Ekonomi. Didorong oleh optimisme dan keteledoran ini ekonomi didorong bertumbuh diatas kemampuannya sendiri (― bubble economics”). Suatu optimisme yang mendorong kebijakan-kebijakan ekonomi dan tingkat laku para pelaku ekonomi dalam dan luar negeri. Peningkatan Kemiskinan dan Hutang Nasional. dan malahan telah mampu pula mengangkat pertumbuhan ekonomi kembali pada permukaan pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan +13. 15 milyar. Sektor Finansial dan Korporasi masih tetap terpuruk. restrukturisasi Perbankan dan Korporasi-Korporasi sepertinya tidak mempan selama dan sesudah 5 tahun ini. Maka para pakar/pengamat yang selama ini meragukan berfungsinya asas kekeluargaan seperti yang tercantum dalam Pasal 33 UUD-45. itu perlu ―pulang kampung‖ untuk melihat dan mengalami bahwa asas kekeluargaan itu betul-betul hidup di kalangan masyarakat dan sungguh-sungguh merupakan asas solidaritas yang berfungsi dalam kehidupan ekonomi rakyat. Keteledoran ini juga terjadi dalam negeri.7% dengan tercapainya tingkat +0% di tahun 1999. Maka runtuhlah bangunan modern dalam tubuh Ekonomi Bangsa. Maka ketika diserang krisis mata uang. Proses Swastanisasi ini berlangsung tanpa kendali dan penuh KKN. dengan APBN yang Berimbang. Perkembangan ini didukung oleh suatu kebijakan moneter yang stabil. malahan dianggap sebagai penghambat dari pertumbuhan Ekonomi. upaya-upaya rekapitalisasi. Sampai sekarang. sikonnya belum siap dan masih penuh kerapuhan-kerapuhan. sehingga tindakan-tindakan penyehatan-penyehatan seperti injeksi modal oleh Pemerintah. produktivitas sektor tradisional dan berfungsinya asas kekeluargaan. Dan yang mengesankan adalah peran dari asas kekeluargaan. Dan hal-hal ini langsung mengena pada nasib ekonomi Rakyat kita. sepertinya lepas kendali. yang hampir sama dengan pertumbuhan ekonomi pra krisis (1997. Namun akibat-akibat negatif ini dihadapi rakyat banyak dengan suatu Resistensi dan Kreativitas Ekonomi yang militan. Hutang Pemerintah/Resmi/Negara turun dari USD. dengan tingkat inflasi dan bunga yang rendah. dalam hal bisnis serta akhlak dan moral. Kredit jangka pendek diinvestasikan ke dalam proyek-proyek jangka panjang. 50 milyar di akhir tahun 1996. kreativitas ekonomi rakyat. Dalam waktu sangat singkat bertebaran bankbank Swasta di seluruh tanah air dan bertaburan Korporasi-Korporasi Swasta yang memperoleh fasilitas-fasilitas tak terbatas. pemulihan pertumbuhan ekonomi belum mencapai tingkat pra-krisis (tahun 1996/97).

Dan seperti telah dikatakan. Melalui pemberdayaan sektor Swasta maka diharapkan/dianggap Ekonomi Rakyat akan pula dapat diberdayakan. Maka terjadilah krisis ekonomi yang berkelanjutan ini. dimana pada waktu itu tidak ada perusahaan Swasta. ―Up” dan ―down” diperdayakan oleh si ―middle”. Dalam bahasa resmi Ekonomi. dan di bawah pengaruh globalisasi. begitu rapuhnya sehingga dengan segala ― inset” dari modal. menunjukkan betapa rapuhnya dan paniknya sektor Finansial dan Korporasi. alias sektor modern dari bangunan ekonomi kita. Dibawah Pimpinan Negara/Pemerintah. adanya KKN. itulah yang telah menjerumuskan Ekonomi bangsa ke dalam keterpurukan yang berkelanjutan ini. Apa yang dihasilkan. fasilitas dan perluasan kegiatan. Faktor kepercayaan pada programa ekonomi Pemerintah dalam kerjasama dengan IMF dan hilangnya panik ekonomi turut bermain peran. apakah dalam kondisi krisis dewasa ini. didesak oleh kebutuhan akan modal. Boeke. Pemerintah/Negara mengambil peran untuk keluar dari krisis tersebut. Proses tersebut ditandai oleh suatu proses Liberalisasi dan mekanismenya adalah Deregulasi/Ekonomi. Juga dalam hal konsumsi yang kecuali dipenuhi oleh import. sudah tiba waktunya kita beralih ke Ekonomi Rakyat. Tentu tidak semuanya oleh Ekonomi Rakyat. yang telah menumbangkan ORDE LAMA (Demokrasi Terpimpin) dan dibentuknya ORDE BARU. melainkan proses ―mem perdayakan‖. Di tahun 1980-an. Jatuhnya demikian dalam di tahun 1998. Bukan proses ―memberdayakan‖. Ekonomi Rakyat masih perlu diberdayakan. Ada keraguan di kalangan Pemerintah pada waktu itu terhadap kemampuan Ekonomi Rakyat sebagai penggerak utama dari roda Pembangunan. Namun secara riil. adalah suatu kenyataan dan merupakan dua kekuatan ekonomi yang perlu diintegrasikan menjadi sokoguru dari bangunan ekonomi Nasional yang modern. cukup berperan ekspor hasil Perkebunan rakyat. Dan cepat kembalinya pemulihan ekonomi selama dua tahun berikutnya dikatakan adalah berkat ekonomi Rakyat. Makna dari suatu ideal adalah bukan sekedar pada idealismenya. di Jakarta resesi. tetapi juga dapat cepat pulih dalam 2 tahun berikutnya. dan pemberdayaan itu dilakukan melalui ― link and match” dengan sektor Swasta. malahan melanjutkan perannya sebagai Pelaku Utama Pembangunan sesudah krisis itu. ―Dual economy” nya Prof. oleh investasi dan konsumsi.+4. Namun sesuatu yang ideal. di Manado resepsi. maka di tahun 1965-66 terjadi suatu krisis ekonomi Nasional yang merisaukan. dan kalau ada berada dalam kondisi sangat lemah. maka terjadi proses Swastanisasi dari Pembangunan. tidak lalu harus diidealisasikan. maka Pembangunan dan peningkatan pendapatan Nasional dan per kapita maju pesat. dan kurang adanya Pengawasan. peranan ekonomi Rakyat adalah menonjol. Jika hal itu diperlukan maka dilaksanakan . dalam setahun. namun pada kemampuan untuk merealisasikan apa yang dianggap ideal itu. Memang ideal. no!”. Masalahnya adalah mengapa pada waktu itu proses Deregulasi tidak diarahkan langsung kepada Ekonomi Rakyat. melihat peran ekonomi rakyat selama krisis ini seperti yang telah diuraikan itu. Jika era Demokrasi Terpimpin sebelumnya adalah era dimana Politik menjadi Panglima (upaya pembentukan dari suatu Sistim Politik Nasional) maka era ORBA dapat dinamakan sebagai era dimana Ekonomi menjadi Panglima (dan upaya-upaya untuk membentuk suatu Sistim Ekonomi Nasional). dan teknologi yang lebih meningkat untuk menjaga agar Pembangunan Ekonomi berkelanjutan mantap meningkat. Masalahnya sekarang adalah. Apakah hanya karena itu saja? Tentu tidak hanya itu saja. Dalam hal ekspor dan konsumsi. Hal ini terjadi bukan karena ideology (Sosialisme) melainkan karena kondisi pragmatis. Telah dikemukakan bahwa kemampuan Resistensi Ekonomi Rakyat adalah pada tingkat ― subsistence economy”. namun melalui sistim (peng)antara ―middle down” dan ―middle up”. jika bisa begitu. energi dan konsentrasi sampai sekarang sektor ini belum dapat berfungsi kembali normal. Kita tahu apa yang telah terjadi. pemulihan ekonomi selama 2 tahun itu disebabkan oleh peningkatan ekspor (non Migas). Ekonomi Rakyat adalah pula ekonomi ―from hand to mouth”.9%). juga oleh produksi dalam negeri. Dalam hal ekspor. hasil kegiatan rakyat. Sehingga Pembangunan selama itu disebut ― Government/State led development”. Jika Pembangunan selama ini adalah ― top down” maka proses ini tidak langsung beralih ke sistim ―bottom up”. dihabiskan! Tidak ada kelebihan untuk melanjutkan dan mendinamisasikan kegiatan. Krisis Ekonomi yang kita alami dewasa ini menunjukkan bahwa keserakahan sektor modern akan kredit. Masalahnya adalah mengapa ekonomi Nasional jatuhnya begitu dalam. sehingga di Manado yang unggul dalam hal cengkeh itu – ―dia orang bilang. efisiensi. Disebabkan oleh Politik Isolasi Nasional dan menumpuknya Defisit APBN dari tahun ke tahun sedari tahun 50an dan selama penggalan pertama tahun 1960-an. peran ekonomi Rakyat seperti yang telah digambarkan itu memang besar! Tetapi antara ekonomi Rakyat/Ekonomi Tradisional dan Ekonomi Modern tidak perlu diadakan dikhotomi.

proteksi dan fasilitas. Mereka dianggap sebagai ―underground economics”. tangguh mental dan professional dalam berusaha. kita mengalami kemerosotan investasi dan eksport termasuk Pariwisata. Ketiga target ini memang mengena pada kepentingan ekonomi Rakyat! Suatu tantangan bagi ekonomi Rakyat! Menghadapi tugas besar/tugas nasional ini. Dilupakan bahwa mereka memenuhi kebutuhan masyarakat. maka dengan sendirinya Kesejahteraan Rakyat tercapai. namun tidak selamanya rakyat harus menjadi Subyek Ekonomi. Rakyat sebagai Subyek Ekonomi seperti halnya dengan Korporasi-Korporasi besar/maju. di‖ upgrade” dan ditingkatkan. sebagai usaha yang ―inferior”. pengganggu ketertiban umum. Memang ada pendapatan dan simpanan dalam negeri yang lari keluar. Jangan disangka jika setiap anggota masyarakat itu bermoral tinggi dan sungguh-sungguh menghayati agamanya.000 . Mereka perlu dibimbing. maupun Subyek dalam ekonomi adalah rakyat. mengatasi Kemiskinan. bahwa kalaupun Rakyat sudah menjadi Subyek Ekonomi.000. Hanya seperti telah diuraikan itu. terlebih sesudah kejadian 11 September 2001 di Amerika Serikat. memerlukan akses ke modal. Untuk menjamin tertib usaha. Seperti halnya dalam bidang moral dan agama. Ini semua dikemukakan tidak dengan maksud untuk memojokkan ekonomi Rakyat. Disamping tugas besar Nasional yang berjangka itu. 10. Kembali kepada masalah Krisis Moneter dan Pemulihan kembali Ekonomi Nasional. Kondisi ini perlu diimbangi dengan menciptakan/mengaktifkan ― domestic demand” yakni ―demand” akan investasi dan konsumsi. Dalam hal Ekonomi Kerakyatan maka jelas orientasinya pada kepentingan ekonomi Rakyat banyak. Apa itu? Ekonomi Rakyat mempunyai dua aspek integral. usaha/pedagang kecil dan menengah. (Sementara menurut suatu penelitian. Potensi untuk itu ada di dalam Negeri karena masih cukup pendapatan dalam negeri dan simpanan dalam negeri yang tersembunyi dan terpendam. perlu diingat. Sebab kesejahteraan Nasional bukanlah somasi/jumlah dari kepentingan masing-masing rakyat. Dalam hal Ekonomi Rakyat. mereka sehari dapat memperoleh antara Rp. namun untuk mengungkapkan kenyataan yang dihadapi yang perlu diperbaiki agar tugas Nasional yang diserahkan kepada Ekonomi Rakyat dapat terlaksana dengan baik dan penuh prospek dan perspektif. penjelasan-penjelasan dan insentip-insentip. Mereka sendiri tadinya juga berasal dari usaha ekonomi rakyat. para pelaku ekonomi Rakyat perlu di‖upgrade”. 20. maka baik orientasi pada kepentingan dalam ekonomi. tetapi sebagian besar masih ―berkeliaran‖ di dalam negeri. Selama ini kita telah bicara banyak mengenai Ekonomi Rakyat dan Ekonomi Kerakyatan. Telah dikemukakan betapa . memerlukan perlindungan/kepastian Hukum dan iklim usaha. Diperlukan suatu Institusi dan pendekatan secara Institusional. Namun suatu Generasi Pelaku Ekonomi Nasional yang bersih. mengatasi Hutang. maka tidak dengan sendirinya kesejahteraan Nasional tercapai. Sebab itu peran ―lintah darat‖ besar dalam ekonomi Rakyat. Apa tugas Nasional itu? Mengatasi Pengangguran. Hal-hal ini perlu diciptakan oleh Institusi itu. karena pasar dalam negeri yang besar dan luas. bukan penggusuran! Pemberdayaan ekonomi Rakyat dewasa ini diperlukan pula untuk membina kader-kader Pelaku Ekonomi Generasi baru menggantikan Generasi Pelaku Ekonomi yang sudah tumbang ini. Aspek orientasi kepada kepentingan rakyat banyak dan aspek rakyat sebagai Subyek dalam Ekonomi Negara. Hanya jangan dikira jika semua rakyat sudah menjadi Subyek Ekonomi. diberi pendidikan. ada pula tugas Nasional yang mendesak! Dewasa ini. teknologi dan Pasar. Diperlukan suatu Institusi yang mengarahkan kepada kepentingan rakyat dan kesejahteraan Nasional. Dalam bahasa ekonominya adalah bahwa kita mengalami kemerosotan dari ―external demand”. Diharapkan bahwa Institusi yang demikian itu adalah antara lain Pemerintah dan Parlemen. (Hukum dan keamanan ini juga dituntut oleh para investor asing!). Masalah ini perlu ditekankan melihat pengalaman-pengalaman dari usaha-usaha rakyat kecil di kota-kota yang lazim dinamakan Kaki Lima yang dikejar-kejar itu. Nah. melebihi pendapatan orang yang sama di sektor formal).Rp. Disitulah letak fungsi ekonomi mereka. Mereka tidak menjadi efektif (―effective demand”) antara lain karena ketidakpastian hukum dan keamanan. mereka tidak boleh mengganggu ketertiban umum dan harus tunduk pada peraturan (hukum) umum! Pengertian yang diperlukan. maka masyarakat dengan sendirinya bermoral dan beragama. Ini berarti pula perlu dikembangkan suatu sistim mobilitas vertikal secara sehat dan mandiri dalam masyarakat dunia usaha! Dewasa ini hal ini diblokir oleh tidak selesai-selesainya proses penyehatan Perbankan dan Korporasi. Mereka perlu diberi pengertian bahwa untuk berusaha secara berkelanjutan diperlukan tertib usaha. Penciptaan dari ―domestic demand” ini mungkin. Maka dari itu programa hukum dan kesesuaian harus menunjukkan prioritas bagi Pemerintah.melalui hutang. dalam kontekst ini peran ekonomi Rakyat dapat difokuskan. tidak dimanjakan dengan subsidi. apalagi dengan KKN.

Krisis Permanen Krisis ekonomi AS. Hic et nunc! Drs. Dengan adanya Konsensus Politik secara Nasional itu. baru melangkah maju. ―pertumbuhan ekonomi AS saat ini adalah nol. yang dipicu oleh krisis di sektor properti.4 persen dibandingkan dengan 4 persen pada dekade 1960an dan 3. belum selesai yang satu telah datang yang lain. makin tak terkendali. bagaimana dampak krisis ini terhadap Indonesia. terlebih sektor Finansial dan Korporasi. terbukti tidak mencukupi. pangan. kini menyebar luas. kita belum saja melihat titik terang. kita maju ke depan (termasuk upaya penyelesaian krisis). bernegara dan bermasyarakat. tetap saja berujung pada ketidakmungkinan krisis ini pulih dalam waktu yang singkat. Kebodohan. seperti dikatakan Alan Grenspan. Kemiskinan. Sementara itu. Dilemanya adalah di satu pihak ada tuntutan untuk penyelesaian dulu semua kebobrokan-kebobrokan dari masa lalu. mantan gubernur Bank Sentral AS.‖ Ketakutan bahwa krisis ini menjadi krisis permanen.3 persen pada dekade 1980an. politik. barulah kita dapat menyusun suatu Programa Nasional untuk cepat keluar dari krisis dan mulai memulihkan kembali Pertumbuhan Ekonomi Nasional yang mampu memberantas Pengangguran. mantan Menteri Keuangan Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat. Bahkan. Frans Seda : Penasehat Ekonomi Pemerintah. lingkungan. Jika hal ini dikaitkan dengan bahaya-bahaya proses desintegrasi sosial. dan Hutang Nasional. dan alternatif apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi krisis dan dampaknya tersebut. Akibatnya. energi. Dengan segala upaya dan energi serta bantuan luar negeri. Dengan dunia yang kian terintegrasi satu sama lain. Berbagai skenario pemulihan yang ada. hendak memotret dampak dari krisis ekonomi Amerika Serikat (AS).terpuruknya Ekonomi kita dan betapa rapuhnya sektor modern kita. di lain pihak ada urgensi. Dengan bersandar pada data Biro Analisa Ekonomi AS (lihat tabel). krisis di satu tempat dengan cepat menyebar dan memberi efek tular ke tempat lain. pemulihan ekonomi AS berjalan lambat. ekonom Minqi Li menggambarkan beragam skenario yang tidak menggembirakan. Lima (5) tahun krisis ekonomi adalah sudah terlalu panjang dan karena sifatnya multidimensional maka ia dapat menggerogoti secara meluas dan mendalam sendi-sendi kita hidup berbangsa. Resep lama. dan sambil berjalan ke depan kita secara selektif menyelesaikan kebobrokan-kebobrokan dari masa lalu. Setelah diterpa resesi pada 2001. Krisis ini datang silih berganti secara bergelombang. Tulisan kali ini. ketika Bank Sentral menggelontorkan dana segar sebesar S75B pada Januari 2008. Dari sini. Sebab disitulah letak kepentingan mendesak dari ekonomi rakyat kita. tetap saja krisis ekonomi AS tak bisa ditangani. bahwa krisis ini bisa diatasi dengan campur tangan bank Sentral. Negara dan Masyarakat kita kepada kehancuran total. yang berfokus pada pilihan politik untuk me-Rekonsiliasikan keperluan penyelesaian secara tuntas masalah-masalah dari masa lalu dengan kepentingan bangsa dan Negara untuk maju ke depan dan yang didukung oleh semua pihak. Krisis Moneter Indonesia Krisis Permanen dan Tantangan Dari Bawah* DUNIA sedang diterpa badai krisis: ekonomi. upah buruh riil dan . regional dan nasional maka krisis ekonomi yang berkepanjangan ini dapat membawa Bangsa. yang hingga kini tak kunjung menemukan jalan keluar pemecahannya. dan bencana alam. Maka dari itu krisis ini perlu segera diatasi! Dalam hal ini kita berhadapan dengan suatu Dilema Fundamental yang ―persistent” sekali. untuk menginjeksi sektor perbankan. Rata-rata tingkat pertumbuhan per tahun hanya 2. hendak dilihat. Untuk mengatasi Dilema Fundamental ini diperlukan suatu Konsensus Politik secara Nasional.

pilihan yang bisa diambil oleh Bank Sentral adalah melakukan pemotongan secara drastis tingkat suku bunga. dengan cara menciptakan gelembung aset lain secara besar-besaran. Itu sebabnya. karena baik pasar saham maupun pasar properti telah overvalued. AS mengekspor krisis internalnya ke seluruh dunia. kedua. pertumbuhan . Selain itu. Sebaliknya. dengan sendirinya menghela ekonomi negara lain ke jalur krisis. Dihadapkan pada kondisi guncangan besar pasar saham dunia. dengan defisit saat ini yang mencapai 6 persen GDP. atau delapan sen lebih rendah dari upah pada 1972.8 persen pada tahun 2001 menjadi 9. Jelas ini sesuatu yang menakutkan. ―fundamental ekonominya‖ membaik menurut kriteria sektor finansial tapi.2. bersamaan dengannya tingkat suku bunga meningkat. maka secara teoritik utang luar negeri bersih AS akan menembus angka 120 persen GDP. sektor keuangan saat ini merupakan sektor yang paling tersebar dan paling terkait secara global. maka Washington bisa terus melakukan defisit fiskal lebih besar. sejak tahun 2001. Keadaan ini sebenarnya bisa ditangani oleh Bank Sentral.jumlah angkatan kerja stagnan. yang kini mencapai lebih dari 70 persen GDP. pendapatan riil keluarga menengah terus jatuh. pengaruhnya sungguh akan sangat besar bagi stabilitas ekonomi-politik dunia. negara-negara berkembang yang mengikuti resep globalisasi-neoliberal. suatu jumlah yang tertinggi. Yang menarik. ketika mayoritas pendapatan rumah tangga mengalami stagnasi atau bahkan jatuh. maka ekonomi AS akan menuju resesi yang lebih dalam yang diikuti dengan apa yang disebut stagnasi berkelanjutan. Dengan gambaran seperti ini. Dan jika ini terjadi. dan ketiga. terjadi penghancuran industri (deindustrialization). karena level utang rumah tangga telah begitu tinggi dan tingkat tabungan rumah tangga juga rendah. pertumbuhan ekonomi AS dihela oleh ekspansi konsumsi rumah tangga. Soalnya. sejak medium 2000. Penetrasi yang digerakkan melalui kebijakan globalisasi-neoliberal tersebut. sebesar $8. sangat sulit untuk mengidentifikasi gelembung besar aset lain yang bisa diciptakan. maka yang terjadi ekspansi konsumsi rumah tangga itu dibiayai oleh utang rumah tangga. Yang paling realistis. Tujuan dari penetrasi ini. pembagian keuntungan korporasi terhadap GDP meningkat dari 5. menyebabkan negaranegara yang sebelumnya telah tergantung pada investasi asing kian tergantung padanya (khususnya investasi portofolio) dan keharusan untuk membayar utang kepada kapital internasional. jika krisis ekonomi yang melanda AS ini berlangsung dalam waktu yang lama. menurut William I. Di lain pihak. sangat jelas membuat pertumbuhan ekonomi dunia melambat yang itu berarti. Masalahnya. Pertama. Ini bisa dilihat dari peningkatan sebesar 14 persen layanan utang rumah tangga (interest and principal payment on debt) pada 2007. sebagaimana dikemukakan John Bellamy Foster. Jika diukur dalam dollar pada 1982. Tetapi. Jatuhnya tingkat konsumsi di AS. Jika tingkat tabungan rumah tangga meningkat menuju rata-rata selama ini. tingkat tabungan rumah tangga jatuh dari rata-rata 10 persen menjadi mendekat nol persen saat ini. pemerintah AS melakukan jalan pintas dengan cara melakukan belanja publik dan meningkatkan defisit fiskal. hingga mencapai 6 persen atau lebih GDP. Hasilnya adalah sebuah lingkaran setan. maka rata-rata upah buruh sektor swasta pada tahun 2006. Krisis ekonomi yang dipicu oleh krisis di sektor finansial. konsumsi AS adalah yang terbesar di dunia dan menjadi sumber utama permintaan ekonomi dunia. maka suku bunga rendah hanya akan kecil sumbangannya dalam merangsang konsumsi rumah tangga. jelas mustahil untuk melihat bahwa konsumsi akan bertumbuh cepat di tahun-tahun mendatang. seiring meningkatnya finansialisasi ekonomi dunia adalah kian mendalamnya penetrasi kekuasaan imperial terhadap negara-negara dengan kondisi ekonomi sedang berkembang (underdeveloped).8 persen pada tahun 2006. Robinson adalah untuk menghancurkan otonomi para aktor nasional dan selanjutnya menstrukturkan serta mengintegrasikan mereka ke dalam jaringan transnasional yang lebih luas. Di samping itu.

Minyak sendiri. Orientasi Ke dalam? Krisis ekonomi saat ini.5. Colin Campbel. Minyak juga. meramalkan. 9. sedang berjuang untuk mempertahankan produksinya agar tidak jatuh. Resep-resep yang digunakan . minyak hasil distilasi. gambaran-gambaran ini sungguh suram. dimana salah satu cara paling gampang adalah kembali menaikkan harga minyak dan mencabut subsidi. dengan menggilanya harga minyak dunia di pasaran. obat-obatan modern. pembangunan yang dijalankannya tidaklah membuahkan kemajuan dan kebebasan tapi. dan biofuel). tidak bisa lagi dipertahankan. dan benda-benda kimiawi lainnya. Dalam studi awal dari German Energy Watch Group. dari the Association for the Study of Peak Oil and Gas. Bahkan. Dengan pola seperti ini. Melambungnya Harga Minyak Dunia Sialnya.ekonomi rendah. produksi gas alam dunia akan mencapai puncaknya pada 2045. pembangunan yang menghasilkan keterbelakangan dan ketertindasan. Selain itu. diperkirakan produksi batubara dunia akan mencapai puncaknya pada 2025. tentu saja tidak masuk akal bagi pemerintah untuk membiayai belanja-belanja sosial yang bermanfaat bagi kepentingan rakyat. produksi minyak akan menurun sebanyak 25 persen pada 2020. Studi terbaru dari German Energy Watch Group menyebutkan. tentu saja kesuraman itu kian menjadi-jadi. yang hingga kini tak kunjung keluar dari krisis. bisa dipastikan yang akan terjadi adalah penyesuaian-penyesuaian rencana anggaran. aspal hitam. gas alam. kini bayang-bayang resesi bahkan depresi ekonomi ada di depan mata. gas-to-liquids. maka skenario yang tampak begitu buruk. mencapai titik jenuhnya pada 2010. Setelah dihajar oleh krisis ekonomi pada 1997. diperkirakan menyumbang sepertiga dari total suplai energi dan 90 persennya digunakan di sektor transportasi. produksi dunia untuk seluruh bahan-bahan cairan (termasuk minyak mentah. Sebab ekonomi kapitalis ini sangat tergantung pada bahan-bahan material (minyak. gas alam cair. produksi minyak di 25 negara-negara atau wilayah-wilayah penghasil minyak utama. dan kian mudahnya ekonomi negara tersebut diserang krisis akibat pergerakan cepat keuangan global. Campbel juga meramalkan. Setelah itu. Berdasarkan data Januari 2008. harga minyak dunia telah menembus angka $120 per barel. Di luar OPEC. saat ini Pertamina mengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak sebanyak 700 ribu per barel. maka dana yang mesti dikeluarkan Pertamina adalah sebesar $84. Tingginya harga minyak ini tentu saja memberikan daya pukul luar biasa pada perekonomian di seluruh dunia. merupakan bahan masukan penting dalam produksi pupuk. telah mencapai titik jenuh.000 dengan kurs $1 sama dengan Rp. karena minyak merupakan energi yang tak terbarui. Tinggal sembilan negara atau wilayah yang memiliki potensi untuk bertumbuh.000 per hari atau sebesar Rp. Dengan pengeluaran sebesar itu. dan mencapai 2/3 pada 2050. plastik. bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia.236. belum lagi krisis ekonomi tertangani. menjadi penanda penting bagi kita bahwa orientasi pembangunan kapitalisneoliberal yang berlangsung secara global saat ini. yang menyumbang 80 persen suplai energi dunia. Kita lihat. Laporan terakhir (30/4) menyebutkan.866. 775. ancaman lain telah menghadang yakni. diperparah dengan dampak menular dari krisis keuangan di AS. eksplorasi minyak telah mencapai puncaknya pada dekade 1960an dan produksi minyak mentah mungkin telah di batas maksimum dan mulai memperlihatkan trend menurun dalam beberapa waktu mendatang. Dalam konteks Indonesia. Seluruh perusahaan-perusahaan minyak besar dunia kini. dan batubara). Mari kita ambil contoh berikut. Lebih-lebih dalam konteks seperti Indonesia. coal-to-liquids. Berdasarkan harga saat ini sebesar $120 per barel. ditambah dengan dampak kenaikan harga minyak dunia yang gila-gilaan.

Chalmers Johnson. harus ada strategi yang radikal. dan liberalisasi sektor moneter. kedua. Studi-studi yang ada menunjukkan. Tetapi. menurut Michael Klare. Karena itu. seperti dikemukakan kritikus empire (kekaisaran) terkemuka. saya ingin mengajak anda untuk melihat konstelasi kekuasaan global saat ini. lagi-lagi dalam konteks Indonesia. Salah satunya. pembangunan kekuatan militer itu dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi AS. Lebih-lebih di bidang militer. Pertanyaannya kemudian. Cina yang dianggap sebagai pesaing baru. terbukti gagal dalam menangani krisis.selama ini. kita bisa meraba-raba. pemotongan subsidi. Sejak berakhirnya Perang Dingin (yang sesungguhnya hanya dingin di Eropa). Untuk rencana belanja fiskal tahun 2008. bersedia melakukan restrukturisasi ekonomi dan sosial yang radikal? Intervensi Permanen Sebelum kita masuk pada pertanyaan-pertanyaan tersebut. pasar kerja fleksibel. ekonomi AS masihlah yang terkuat di dunia. untuk memotong laju krisis sekarang. walaupun kini tengah dilanda krisis parah. Angka ini merupakan yang terbesar sejak Perang Dunia II dan besarannya melampaui total belanja militer gabungan seluruh negara lain di dunia. departemen pertahanan AS menganggarkan sebesar $750B per tahun. Dari segi anggaran militer. bukan krisis bagian per bagian. sebuah perubahan arah strategi pembangunan dari yang pro kapitalisme-neoliberal menjadi yang anti kapitalisme-neoliberal. Dari segi ekonomi. Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. Khusus untuk supplementary budget buat membayar biaya perang di Irak dan Afghanistan. mensyaratkan keberadaan rejim yang mendukung penuh perubahan radikal itu. harus berani menolak resep-resep kebijakan neoliberal seperti. krisis ini adalah krisis kapitalisme keseluruhan. sumbangan AS dalam pertumbuhan ekonomi dunia jatuh dari 40 persen pada 1990 menjadi kira-kira 30 persen pada saat ini. dana yang dianggarkan sebesar lebih dari $1T. Dan sebaliknya. deregulasi. demi kepentingan apa AS terus membangun dan memperkuat kekuatan militernya? Ada dua jawaban di sini: pertama. Seperti dicatat Minqi Li. apakah pertanyaan tersebut mengada-ada atau tidak. privatisasi. kini Cina merupakan satu-satunya kandidat . tidak ada bukti yang kuat bahwa kebangkrutan ekonomi suatu negara disebabkan oleh kebijakan nasionalisasi ekonomi. yang selama ini telah begitu erat terkait dengan kelas kapitalis asing. pembangunan kekuatan militer raksasa itu dimaksudkan untuk ―menghadang munculnya kekuatan besar lain sebagai pengimbang kekaisaran AS.000) di seluruh dunia. demikian juga kontribusi kawasan Eurozone ikut jatuh dari 20 persen menjadi tinggal 10 persen. adalah mengandalkan kemampuan domestik dalam menopang bangunan struktur ekonomi nasional. jumlahnya jauh lebih besar dibanding gabungan anggaran militer Rusia dan Cina. Pemerintahan siapapun. Tetapi. kontribusi Cina meningkat sekitar 15 persen dan kelompok BRIC (Brazil. apakah kelas kapitalis di Indonesia. Di sini muncul pertanyaan baru. tak ada kekuatan lain yang bisa menandingi kedigdayaan AS. Dengan 180 basis militer (dari yang direncanakan 1. di tempat lain. dimana anggaran ini bukan bagian dari anggaran resmi pertahanan. mempromosikan kebijakan nasionalisasi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. praktis tidak ada kekuatan lain yang sanggup menandingi imperialisme Amerika. Dengan tingkat pertumbuhan ekonominya tinggi dan relatif stabil.‖ Argumentasi Klare ini bukan tanpa bukti empiris. adakah rejim dengan watak seperti itu? Pertanyaan lainnya. Rusia. akibat stagnasi berkepanjangan. lebih merupakan hasil dari stagnasi ekonomi berkepanjangan. Keadaan ini tentu saja mengkhawatirkan para pengambil keputusan strategis di Washington. Ia bukanlah krisis keuangan jangka pendek tapi. dari segi geopolitik. Dari sini. bahkan ekonominya belum mampu menandingi kekuatan ekonomi Uni Eropa. India dan Cina) meningkat sebesar 20 persen pada pertumbuhan ekonomi dunia.

tak berani mengambil sikap yang berpihak kepada kepentingan rakyat. jika ingin menghancurkan kekaisaran yang mesti dilakukan adalah mendorong terjadinya perubahan fundamental dalam keseimbangan kekuasaan domestik dalam kekaisaran. datang dari rakyat tertindas di negara-negara pinggiran. Di sini. satu-satunya jalan adalah dilakukannya . maka sangat sulit kita mengharapkan munculnya sikap progresif dari kelas kapitalis domestik. Di sisi lain ancaman intervensi permanen melalui doktrin pre-emptive war dari AS. sebagai residivis-residivis privatefinanced-centered yang coba-coba menantang kekaisaran. misalnya melalui perang ekonomi (seperti Kuba) atau juga dalam bentuk keras seperti. Sementara itu. para kapitalis domestik memainkan perannya sebagai yunior partner dan secara bersama-sama membentuk apa yang disebut oligarchy-finance-capital. Dalam konteks geopolitik yang unipolar seperti inilah. kekuatan lain itu hanya diberikan pilihan. Intervensi permanen dari kekaisaran bisa mengambil bentuk yang lunak. ―bersama kami atau menjadi musuh kami. Itu sebabnya. misalnya. misalnya. Maka satu-satunya penantang paling potesial terhadap kekaisaran. AS tidak membutuhkan tawar-menawar dengan kekuatan di luarnya.‖ Tantangan Dari bawah Dengan bersandar pada analisa di atas. AS menguasai 70 persen cadangan minyak dunia. serta gerakan anti-globalisasi dan anti-perang. seperti peran yang disandangnya di masa Perang Dingin. Dengan adanya peristiwa itu. Pembangunan yang berorientasi ke dalam. Sebaliknya. mengatakan perlawanan rakyat tertindas itu tidak bisa diharapkan muncul dari dalam negeri AS. serbuan itu terutama dimaksudkan sebagai sinyal agar ―jangan coba-coba menantang kami. penyerbuan seperti di Irak ini bukanlah sebuah akhir. sebagai ―ideologi intervensi permanen. Ini hanya merupakan awal. sebagai motor penggerak ekonomi kapitalis global. di tengah-tengah krisis permanen dan ancaman intervensi permanen saat ini. Di satu sisi karena mereka telah terintegrasi dalam kelas kapitalis internasional. Irak). penyerbuan ke Irak dan Afghanistan. kekuatan sosial lainnya yang tertindas. dari apa yang disebut Aijaz Ahmad. bagi Leo Panitch dan Sam Gindin. Hasil dari keadaan ini. AS disamping terus menjalankan perannya sebagai protektorat bagi negara-negara kapitalis inti. kelas kapitalis domestik Indonesia.yang bisa menggeser posisi AS. Dan itu hanya mungkin. Benar bahwa dengan menduduki kawasan Teluk. bagi para analis imperialisme. misalnya. adalah dari rakyat tertindas keseluruhan. menyebabkan para kapitalis domestik ini tidak berani mengambil jalan berbeda. muncul perbedaan pendapat di kalangan pengamat kekaisaran. jika terjadi mobilisasi dari bawah yang merupakan kombinasi kepentingan-kepentingan domestik kelas terpinggirkan. tidak pertama-tama didorong oleh kepentingan menguasai dan mengontrol kandungan minyak di wilayah tersebut. krisis permanen ini membuat mereka tidak memiliki pilihan lain kecuali kian tergantung pada belas-kasih sang senior. Ia mencontohkan perlawanan rakyat di Venezuela dan Irak saat ini. juga sumber kekuasaan. mereka malah kian agresif dalam merealisasikan paket-paket kebijakan neoliberal. intervensi militer (misalnya. Di sini. Satu-satunya penantang serius bagi kekaisaran AS ini. kemunculan para pesaing dipandang sebagai ancaman yang harus dinetralisir. Tetapi. dimana rakyatlah yang pertama-tama menanggung akibatnya. Bukannya melindungi kepentingan rakyat. Di matanya. juga bertujuan untuk mengonsolidasikan kembali apa yang disebut Peter Gowan. untuk bisa menantang kekaisaran AS ini. rakyat AS telah cukup lama menikmati permen ekonomi dan juga kooptasi dan represi dari kekaisaran.‖ Dan itu berarti. Benar pula bahwa minyak bukan hanya sumber energi yang utama tapi. Bagi Samir Amin. kita lihat. tidak mungkin terwujud jika tidak dipimpin dan dikontrol oleh rakyat. James Petras.‖ Itu sebabnya. Realisasi kebijakan itu menemukan momentumnya dengan terjadinya serangan 11 September 2001.

2004. John Bellamy Foster. Vol.” Socialist Register. London. Michale Klare. & Neoliberalism’s Demise. McChesney.com/hg/ekbis/2008/01/21/brk. 11 April 2008. 59.S. di Selatan maupun di Utara.” Monthly Review. 21 Januari 2008 | 20:49 WIB.tempointeraktif. 11 April 2007. McChesney. “U. http://www. Social Change. 59. 2004.id.” ―Impor Minyak Pertamina Harus Dievaluasi‖
 Senin. Hegemony Today. 2004. “China Peak Oil. Peter Gowan. “The Subprime Crisis. “Global Capitalism and American Empire.” in John Bellamy Foster and Robert W. ————.“The Financialization of Capital and the Crisis. No. 58.aliansi seluruh rakyat pekerja baik.” Verso.html William I. ―Pox Americana exposing the American Empire. “The Financialization of Capitalism. No. Vol.‖ Monthly Review Press. 2003. Robinson. “Transnational Conflicts Central America.20080121-115889. Vol.‖ Monthly Review Press. “The New Geopolitics.” Monthly Review. o. Leo Panitch and Sam Gindin. “Imperialism of Our Time” Socialist Register. itulah kunci kemenangan rakyat pekerja terhadap kekaisaran.” Monthly Review. 2004. and Globalization. *Artikel ini sebelumnya dimuat dalam buku untuk memperingati 80 tahun Joesoef Isa . ―Pox Americana exposing the American Empire. Solidaritas universal.” in John Bellamy Foster and Robert W. Minqi Li.*** Kepustakaan: Aijaz Ahmad. 11 April 2008. Robin Blackburn.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful