Krisis Kapitalisme Global

Krisis Kapitalisme Global Syamsul Hadi KTT G-8 di Toyako, Hokkaido, Jepang, yang baru saja berakhir terasa istimewa dengan kehadiran para pemimpin negara berkembang, seperti China, India, Meksiko, dan Indonesia. Pernyataan di akhir KTT dapat dilihat sebagai bentuk positioning negara-negara industri maju atas isuisu yang berkembang dalam skala global. Menghadapi kenaikan harga minyak dunia, forum menyerukan dialog antara negara produsen dan konsumen guna menekan harga. Terkait krisis pangan, forum menegaskan, komunitas internasional perlu melakukan respons dan strategi yang terintegrasi guna mengatasi kelangkaan pangan, dengan program bantuan pangan dan peningkatan produktivitas pertanian. Perdebatan paling alot terjadi dalam isu perubahan iklim. Negara-negara G-8, terutama AS, menyatakan tidak bisa mencapai target pengurangan emisi 50 persen tahun 2050 jika negara berkembang yang ekonominya sedang tumbuh pesat tidak melakukan hal yang sama. Krisis finansial Perdebatan alot dalam isu perubahan iklim seolah ‖menutup‖ perhatian atas masalah krusial lain, krisis finansial global yang berawal dari krisis subprime mortgage di AS. Pernyataan bersama G-8 memang menekankan komitmen untuk melakukan stabilisasi pasar finansial, tetapi tidak disinggung masalah melemahnya nilai dollar AS atas mata uang kuat lainnya (Kompas, 10/7). Padahal, ketidakmampuan AS untuk cepat mengatasi krisis subprime mortgage mendorong spekulan mengalihkan investasi ke komoditas pangan dan energi, yang mendorong naiknya harga pangan dan minyak dunia. Keterlibatan militer AS di Irak memperparah krisis energi. Mantan spekulan George Soros menyatakan, krisis global saat ini akan cepat berakhir dengan syarat perekonomian, terutama pasar uang, diatur ketat (Kompas, 4/4). Di mata Soros, akar krisis saat ini adalah kekacauan di sektor finansial yang dimulai sejak 1980 saat Ronald Reagan dan Margareth Thatcher memelopori kampanye neoliberalisme di tingkat global. Lemahnya posisi Pemerintah AS berhadapan dengan berbagai perusahaan hedge funds dan pengelola dana investasi untuk tujuan spekulasi telah diprediksi Susanne Soderberg. Dalam The Politics of the New International Financial Architecture (2004), Soderberg menggambarkan, hubungan Pemerintah AS dengan korporasi finansial yang berpusat di Wall Street adalah seperti hubungan Dr Frankenstein dan monster pintar ciptaannya. Dengan mensponsori penerapan rumus-rumus neoliberal, Pemerintah AS menumbuhkan ‖blok‖ kapitalis finansial yang menggurita di Wall Street, yang kemudian menjeratnya dalam ketidakberdayaan dan posisi serba salah akibat besarnya dominasi perekonomian mereka. Pernyataan menteri keuangan G-8 yang bertemu di Osaka, Juni, juga tak menyinggung perlunya memperketat aturan main sektor finansial global. Pernyataan hanya menyebutkan, Financial innovation has contributed significantly to global growth and development, but in the light of risks to financial stability, it is imperative that transparency and risk awareness be enhanced. Poin tentang sistem finansial ada di bagian terakhir statement bersama dan paling pendek dibandingkan poin-poin pernyataan terkait harga komoditas, perubahan iklim, dan pembangunan Afrika. Pertumbuhan tanpa batas? Dalam konteks perubahan iklim, upaya Jepang membuka jalan bagi penyusunan traktat internasional

baru menggantikan Protokol Kyoto yang habis masa berlakunya tahun 2012 pada KTT ini tidak berhasil. Memang dicapai ‖komitmen umum‖ untuk pengurangan emisi pada tahun 2050, tetapi tidak dicapai kesepakatan tentang bagaimana target itu secara spesifik harus dicapai. Pernyataan G-8 hanya menyatakan, tiap anggota G-8 akan menyusun target masing-masing untuk periode jangka menengah setelah tahun 2012. Menanggapi hal ini, para pemimpin China, India, Brasil, Afrika Selatan, dan Meksiko membuat pernyataan bersama yang menolak kewajiban tiap negara mengurangi emisi 50 persen dengan menekankan kewajiban negara maju memulai langkah-langkah nyata ke arah itu. Para aktivis lingkungan juga mengecam keengganan negara G-8, terutama AS, untuk memberi komitmen nyata dan mengikat terkait pemanasan global. Data Greenpeace International menunjukkan, meski hanya dihuni 13 persen populasi dunia, negara G-8 memproduksi 80 persen emisi di atmosfer dan 40 persen emisi CO>sub<2>res<>res<. Komitmen ‖samar-samar‖ yang diberikan G-8 dinilai tak sebanding dengan dampak perubahan iklim dan global warming yang menimbulkan dampak berantai berupa kekeringan dan bencana alam di dunia. Penurunan emisi karbon akan menurunkan pertumbuhan ekonomi, tetapi amat penting menjaga kelestarian alam dan penghidupan di bumi, yang memperburuk kualitasnya karena industrialisasi dan eksploitasi alam nyaris tanpa batas. Perbedaan pendapat dalam isu pemanasan global menunjukkan dominasi berkelanjutan paradigma pembangunan pertumbuhan ekonomi atas paradigma pembangunan berwawasan lingkungan. Sulitnya menyatukan langkah dalam mengatasi aneka masalah serius dalam krisis global saat ini seakan membenarkan prediksi Karl Marx, ‖krisis berkelanjutan‖ dalam sistem kapitalisme global senantiasa bersumber dari kecenderungan melakukan akumulasi kapital yang tak kenal batas. Syamsul Hadi Pengajar Departemen Hubungan Internasional FISIP-UI

Krisis Kapitalisme Global
Oleh Eric Hiariej

Search :

SEORANG sejarawan ekonomi non-marxis, Karl Polanyi, pernah berteori tentang gagalnya demokrasi di Eropa sepanjang dekade 1930-an. Dalam bukunyaThe Great Transformation, Polanyi berargumen kegagalan tersebut bersumber pada praktik self-regulating market yang sengaja memisahkan aktivitas ekonomi dari masyarakat, sembari menciptakan sistem produksi yang dominan dan menentukan kehidupan sosial sehari-hari. Praktik semacam ini tidak punya preseden historis karena sebelumnya konsep dasar ekonomi sekalipun tidak diperdebatkan secara terpisah dari human action. Baru setelah revolusi industri, gagasan tentang ekonomi yang independen terhadap masyarakat diterima sebagai keniscayaan. Praktik self-regulating market pada dasarnya membawa perubahan radikal dalam hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan manusia dengan barang yang diciptakannya. Alam sebagai tempat manusia hidup, berkembang dan berinteraksi berubah menjadi natural asset yang nilainya tidak lagi ditentukan tradisi, sejarah atau kepentingan bersama, melainkan diukur berdasarkan keseimbangan antara tingkat kelangkaan dan kebutuhan produksi. Dalam hubungan produksi; upah, gaji dan insentif menggantikan reprositas dan jaminan sosial dalam interaksi sosial antarsesama manusia. Sedangkan uang yang menjadi alat pertukaran dalam kerangka reprositas dan jaminan sosial, berkembang menjadi komoditas berharga yang bukan saja bisa diperjualbelikan, tapi juga berangsur-angsur mendominasi manusia yang menciptakannya. Tegasnya, self-regulating market melakukan kapitalisasi terhadap alam, manusia, dan barang, mengubahnya menjadi komoditas yang bisa mendatangkan keuntungan. Ketika menjadi komoditas; alam, manusia, dan barang tercerabut dari akar-akar sosialnya, menjadi sebatas harga sewa, upah, dan bunga. Dengan lain perkataan, praktik self regulating market menciptakan-meminjam Marx-fetisisme kehidupan sosial. Dalam kehidupan sosial yang fetisis masyarakat terbelah dua menjadi kelompok yang lebih beruntung karena mengendalikan kapitalisasi dan komodifikasi, dan kelompok yang merugi yang tidak memiliki akses ke faktor-faktor produksi. Kelompok merugi juga merupakan manusia-manusia yang "terasing" dari "kemanusiaannya" yang dieksploitasi kelompok beruntung atas nama "pertumbuhan ekonomi". Dickens menggambarkan situasi semacam ini sebagai social and moral breakdown, sedangkan Disraeli menyebutnya dengan the fracturing of society into 'two nations'.

Berita Lainnya :

• Bung Hatta Diadili • Kesehatan Reproduksi di • Kawasan Krisis Timur Kapitalisme • Global Perempuan dan Minuman • Botol POJOK • REDAKSI YTH

• TAJUK RENCANA

Globalisasi ekonomi itu sendiri tak lain dari self-regulating market dalam penyamaran yang kembali membebaskan dirinya dari kontrol masyarakat. Sebaliknya. pengangguran dan menurunnya investasi di negara-negara berkembang. melindungi transaksi ekonomi dari perilaku yang melenceng. negara berperan besar menjamin property rights. economies of scope. paling tidak untuk negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Utara sampai awal dekade 1970-an. aristokrasi pemilik tanah dan borjuis berkoalisi untuk menguasai pemerintah. Seperti yang diperkirakan. dengan bertebarannya gerakan-gerakan anti-globalisasi di berbagai belahan dunia. terjadi upaya membebaskan ekonomi dari kontrol masyarakat yang merusak ikatan-ikatan sosial dan menciptakan konflik kelas. berubah menjadi inflasi. upaya merebut kembali kendali ekonomi berhasil melembagakan dirinya dalam Fordisme dan kebijakan ekonomi Keynesian. Pada fase pertama.Menurut Polanyi. Menjawab krisis yang sedang menganga. Globalisasi ekonomi juga menciptakan double movement. Fordisme dan kebijakan Keynesian kemudian berhasil memberikan demokrasi dan kesejahteraan ekonomi. Fordisme dan kebijakan Keynesian melewati masa emasnya. Negara juga harus kuat agar mampu menahan gempuran kelas bawah dari kota maupun desa. keduanya mengampanyekan bringing the market back in. self-regulating market tidak datang dengan sendirinya. sistematisasi produksi dan sistem kerja self-employment. Upaya ini dilakukan. Kebijakan Keynesian disingkirkan oleh model ekonomi neo-liberal yang antiintervensi negara. Sedangkan di Perancis self-regulating market diikuti dengan second empire dari 1851-1871. Cerita globalisasi ekonomi bermula dari krisis ekonomi di awal 1970-an. praktik ekonomi ini melahirkan double movement dalam sebuah dialektika historis. Di saat bersamaan. di wilayah politik melalui perjuangan menuntut demokrasi yang dilakukan kelompok sosial marginal. sembari menciptakan fetisisme kehidupan sosial jilid dua. Yang jelas. penumpukan produksi. penerapan pasar bebas di masa-masa itu terjadi bersamaan dengan tampilnya "negara kuat" di beberapa tempat. Karenanya. Di Inggris semenjak 1840. setelah berakhirnya PD II. Pada fase berikutnya. *** TAMPAKNYA. . terutama. argumentasi Polanyi belum terlalu usang untuk menjelaskan "globalisasi ekonomi" yang melanda dunia sejak dekade 1980-an. masyarakat berangsur-angsur merebut kembali kendali atas kehidupan ekonomi. dan menjaga nilai uang sebagai media pertukaran. seraya membenahi efek-efek sosial negatif yang ditimbulkan kapitalisasi dan komodifikasi. sembari membentuk kekuatan bersama melawan kelas menengah-bawah. Fordisme digantikan sistem produksi (yang kemudian disebut) PostFordisme yang lebih menekankan fleksibilitas. perjuangan demokratisasi di fase kedua memperoleh tantangan dari Fasisme dan Stalinisme. Tapi. dan di Jerman dengan tampilnya Bismark. Masih menurut Polanyi. kubu konservatif melalui Thatcher di Inggris dan Reagan di Amerika berhasil menguasai pemerintah. proderegulasi dan menghendaki perdagangan bebas. Situasi tersebut masih diperparah dengan meningkatnya harga bahan bakar minyak dan perlombaan senjata Amerika dan Soviet yang menguras banyak modal.

mengurangi belanja publik.Selanjutnya. selfregulating market jilid dua ini menciptakan kesenjangan global. Lalu. Sedangkan di sektor finansial. dan perlindungan terhadap property rights. kadar eksploitasi juga meningkat pesat. Chiangmay. seraya mengintegrasikan berbagai tingkatan yang berbeda dari setiap aktivitas nilai tambah dalam sebuah jaringan global. Gerakan ini. Perbedaan sosial semakin menajam dan terpolarisasi ketika yang kaya bertambah kaya. Sementara di sektor produksi. Gerakan ini bukan saja melawan ideologi dominan (neo-liberalisme) di balik self-regulating market. globalisasi ekonomi melahirkan disparitas. kelas. Melbourne. Kemudian. Seperti yang diduga. Panduan ini berisi kebijakan-kebijakan semacam menjamin disiplin fiskal. Di sektor perdagangan. Banten. dan anti-globalisasi. dan negara. Pendek kata. IMF dan World Bank mengekspor "Washington Consensus" ke negara-negara berkembang. deregulasi ekonomi. Di Eropa. sekurangnya terdapat tiga macam gerakan perlawanan. tapi juga menentang kekuatan politik (terutama pemerintah Amerika) yang membentengi globalisasi. Oleh karena itu. berdemonstrasi menolak WTO. kelompok Neo-Nazi. sedangkan yang miskin bertambah melarat. melancarkan investasi asing. para petani melalui pemberontakan Chiapas menentang perdagangan bebas ala Nafta. kebebasan perpindahan uang mencari lokasi yang paling menguntungkan menjadikan uang itu sendiri sebagai komoditas yang mendatangkan keuntungan. kemajuan teknologi memungkinkan pemilik kapital merelokasi usahanya ke tempat yang paling menguntungkan. di antaranya. kekuatan buruh untuk melawan kondisi kerja yang buruk secara kolektif menjadi berkurang. self-regulating market melahirkan milyuner semacam Bill Gate di tengah-tengah buruh-buruh pabrik sepatu yang tertindas di Tangerang. reformasi pajak. agama. dan World Bank. dan finansial. dan orang-orang Afrika yang sekarat karena kelaparan di Somalia. nasionalisme. Pertama-tama. Washington. mempermasalahkan globalisasi karena mudahnya perpindahan manusia melampaui batas teritori membawa kerugian sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat. Kebijakan-kebijakan neo-liberal pada awalnya menyebar ke Eropa Barat dan Jepang. Di Seattle. buruh maupun petani berunjuk rasa menolak Uni Eropa. liberalisasi finansial. Di Meksiko. produksi. globalisasi menciptakan New International Divison of Labour berdasarkan perbedaan produk suku-cadang dalam sebuah sistem produksi global. Post-Fordisme dan ekonomi neo-liberal dibakukan dalam "Washington Consensus" yang tak lain dari panduan mengembangkan self-regulating market bagi seluruh negara di dunia. Globalisasi ekonomi kemudian tanpa bisa dibendung menjelma menjadi ekspansi pasar bebas ke seluruh dunia dan aspek kehidupan. Gerakan fundamentalisme mengedepankan "agama" sebagai solusi terbaik untuk mengembalikan kontrol sosial atas ekonomi. melalui pendalaman kapitalisasi dan komodifikasi di sektor perdagangan. menciptakan individualisasi proses produksi ketika kontribusi buruh terhadap produksi dihitung sendiri-sendiri berdasarkan kontrak individual. di antaranya. berbagai kelompok sosial lintas etnik. dan Genoa. Nasionalisme merupakan bentuk perlawanan yang ingin meraih kendali kehidupan ekonomi melalui purifikasi bangsa. Jika dikategorikan. liberalisasi perdagangan. mendorong nilai tukar yang kompetitif. privatisasi perusahaan negara. Akibatnya. berbagai bentuk perlawanan muncul di mana-mana. Globalisasi ekonomi. melalui structural adjustment program. Nasionalisme juga ingin mengembalikan (kejayaan) negara-negara yang diterjang habis-habisan . yakni fundamentalisme. IMF.

dan peneliti Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta. Sementara itu. *** BERDASARKAN cerita Polanyi. . Belum lagi gerakan ini masih harus berurusan dengan fundamentalisme dan nasionalisme yang memiliki proyeksi dunia masa depan yang berbeda (dan bisa jadi bukan demokrasi). dibanding dua gerakan lainnya. gerakan-gerakan perlawanan ini belum juga berhasil mengakhiri self-regulating market. antiglobalisasi adalah gerakan perlawanan terhadap kapitalisme global. baru itu saja kekuatan gerakan anti-globalisasi. kemenangan "demokrasi" berada di bawah bayang-bayang ancaman Fasisme dan Stalinisme. jika fundamentalisme atau nasionalisme yang berhasil mendominasi. peneliti pada Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM. Tampaknya. Namun. praktik welfare state. yang tak lain dari Fordisme dan kebijakan Keynesian yang bertumpu pada kompromi kebutuhan kesejahteraan buruh dan kepentingan akumulasi kapital pemilik modal melalui. Sementara globalisasi ekonomi mulai dipertanyakan dan ditentang. sekalipun Post-Fordisme dan kebijakan ekonomi neo-liberal terbukti mengandung krisis-krisis bawaan. Sementara globalisasi ekonomi mulai sempoyongan karena gagal memenuhi janjinya memberikan kesejahteraan. self-regulating market akan berakhir dengan "demokrasi". ujung dari krisis ini bisa jadi bukan demokrasi. Akan tetapi. "demokrasi" baru bisa menang (di Eropa Barat dan Amerika Utara) setelah beraliansi dengan Stalinisme untuk mengalahkan Fasisme dalam PD II. Sejauh ini gerakan antiglobalisasi sudah memberikan perlawanan yang berarti. gerakan anti-globalisasi lebih dekat dengan ide-ide demokrasi. menuntut inklusi politik yang lebih luas dan juga partisipasi masyarakat dalam kehidupan ekonomi dan sosial sehari-hari. menghendaki kebebasan politik maupun keadilan ekonomi. resistensi terhadap ekspansi pasar bebas tidak cukup kuat untuk memenangkan pertarungan. Lebih gawat lagi. yang terjadi adalah krisis global. Gerakan ini menganggap globalisasi ekonomi merupakan sumber kemiskinan dan kesenjangan sosial dunia kontemporer. di antaranya. Praktis. "kemenangan demokrasi" masih harus diperjuangkan.oleh self-regulating market. Eric Hiariej Staf Fisipol UGM. Gerakan ini memperjuangkan kepentingan kelas tertindas. Yang menarik. Polanyi juga mengingatkan. Ironinya. situasinya menjadi stalemate. Boleh dibilang pertemuan Davos yang melibatkan beberapa NGO yang sangat moderat tidak akan berlangsung jika tidak diawali sebelumnya dengan demonstrasi di Seattle. Sebaliknya.

dan 18B. Ketua DPD RI. Menurut Prof. 18A. dan peran serta masyarakat serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi. Salah satu kendala yang dipaparkan oleh Ginandjar Kartasasmita adalah kurangnya kreativitas dan partisipasi masyarakat secara lebih kritis dan rasional. masyarakat diharapkan memiliki daya tahan dan daya adaptasi yang tinggi agar mampu menjalani kehidupan masa depan dengan sukses. Komitmen ini telah .Konsep dan Metode Pemberdayaan Masyarakat Indonesia 17 June 2008 in Psikologi. terutama berhubungan antarpelaku pembangunan. bahwa daerah menjadi pengambil kebijakan sentral dalam mengatur dan mengurus pemerintahannya sendiri menurut asas otonomi dan tugas pembantuan (medebewind) serta diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. keadilan. Psikologi | Reformasi yang telah bergulir sejak tahun 1998 memberikan dampak yang luas pada perubahan sistem pemerintahan. Ginandjar Kartasasmita. Namun dalam prakteknya otonomi daerah masih menghadapi kendala yang harus segera dicarikan jalan keluarnya atau penanganannya secara sungguh-sungguh. berpartisipasi aktif. Untuk mencapai tujuan pembangunan masyarakat agar lebih berdaya. dan kekhususan suatu daerah dalam sistem NKRI. pemerataan. Hal ini terwujud dalam Sistem Desentralisasi yang secara legal dilahirkan lewat UndangUndang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian menyebabkan Perubahan Kedua UUD 1945 seperti tertuang pada Bab VI Pemerintahan Daerah pasal 18. keistimewaan. Jika pada era Orde Baru kekuasaan sangat bersifat sentralistik. pemerintah melontarkan komitmen yang berlevel internasional. Community Development. pemberdayaan. dan pengawasan pembangunan. Perubahan aturan negara seperti di atas menempatkan daerah menjadi aktor sentral dalam pengelolaan republic yaitu dalam prinsip otonomi dengan desentralisasinya. reformasi melahirkan sistem pembagian kekuasaan yang mulai terdistribusi antara pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah. Kepemimpinan Indonesia. Saat ini pelaksanaan otonomi daerah telah melahirkan perubahan yang cukup signifikan. serta penuh dengan kreativitas. ―Perubahan aturan main mengenai pemerintahan daerah merupakan afirmasi-konstitusi. pelaksanaan. Pemberdayaan Masyarakat. pengambilan keputusan dalam perencanaan. Di tengah era globalisasi yang serba cepat. pemikiran anak muda | Tags: Appreciative Inquiry.

Peringkat Indonesia dari tahun ketahun selalu menurun dari 110 menjadi peringkat 112 dari 175 negara yang dinilai UNDP (2003). Komitmen semua negara di dunia untuk memberantas kemiskinan ditegaskan dan dikokohkan kembali dalam ”Deklarasi Johannesburg mengenai Pembangunan Berkelanjutan” yang disepakati oleh para kepala negara atau kepala pemerintahan dari 165 negara yang hadir pada KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg. Dengan demikian. Sebagaimana kita alami. kelompok atau komunitas harus melakukan berbagai upaya untuk ikut berubah. namun dalam Human Development Report 2007 yang dikeluarkan oleh UNDP. 2007). Apalagi melihat kenyataan. kenaikan harga BBM misalnya. Dengan demikian individu. penuh resiko. Hasil deklarasi tersebut kemudian dituangkan dalam dokumen ”Rencana Pelaksanaan KTT Pembangunan Berkelanjutan”. Dalam deklarasinya negara peserta menerapkan Tujuan Pembangunan Milenium atau Millennium Development Goals (MDGs). Dimana pemerintah dan semua perangkatnya dalam semua level. dengan tujuan pertama adalah mengatasi dan/atau memberantas kemiskinan dan kelaparan (United Nations. yang merupakan perubahan disektor ekonomi dan . pemerintah Indonesia telah membuat komitmen nasional untuk memberantas kemiskinan dalam rangka pelaksanaan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Dalam laporan tersebut. Di sisi lain interdependensi antara komunitas. tingkat melek huruf dan kualitas pendidikan dasarnya. era ini merupakan kehidupan yang bercirikan perubahan yang cepat. 2000). membuat semakin sulit bagi seorang individu untuk menghadapi perubahan sendirian. September 2002. terdapat 8 (delapan) tujuan (goal) yang hendak dicapai sampai tahun 2015 oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia. HDI atau IPM Indonesia yang diukur dari pendapatan riil per kapita. ternyata peringkat Indonesia masih berada di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya. Kendati Indonesia ikut serta dalam kesepakatan global melaksanakan MDGs untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dicanangkan PBB sejak 2000.ditandatangani dalam KTT Millenium PBB pada tahun 2002 bersama 189 negara lainnya. dan dunia sebagai totalitas. dan penuh dengan kejutan. kompleks. terkecil sekalipun. provinsi. yang juga telah ditandatangani oleh pemerintah Indonesia untuk menjadi acuan dalam melaksanakan pembangunan di Indonesia dengan target memberantas kemiskinan pada tahun 2015. atau mengambil kendali perubahan. baik pemerintah pusat. menunjukkan bahwa kualitas manusia Indonesia makin memburuk dalam 10 tahun terakhir. menyesuaikan diri. Dalam MDGs tersebut. walaupun pada tahun 2006 terdapat peningkatan ranking ke 110 (UNDP. Afrika Selatan. kabupaten/kota bersama-sama dengan berbagai unsur masyarakat memikul tanggungjawab utama untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan sekaligus memberantas kemiskinan yang terjadi di Indonesia paling lambat tahun 2015. tingkat harapan hidup.

struktur penyelesaian masalahatau menghadirkan pelayanan bagi masyarakat. lahir sebuah konsep pemberdayaan komunitas yang disebut Community Development (selanjutnya disebut CD). serta terbuka untuk menyatakan kepentingankepentingannya sendiri dalam proses pengambilan keputusan (StandingConference for Community Development.energi akan mempengaruhi sector kehidupan yang lain. Pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari sudut pandang Deficit based dan Strength Based. 2000. 2000. Ludema dkk.. 2005). Pendekatan Deficit-based terpusat pada berbagai macam permasalahan yang ada serta cara-cara penyelesaiannya. membangun pemimpin religius. 2002. Appreciative Inquiry menjadi sangat populer dan dipraktekkan di berbagai wilayah dunia. mengarahkan proses merger dan akusisi dan menyelesaikan konflik. serta penerapan cara pemecahan tersebut. tetapi tidak tertutup kemungkinan terjadinya situasi saling menyalahkan atas masalah yang terjadi. Appreciative Inquiry digunakan untuk memberdayakan komunitas pinggiran. Sejak tahun 1960. . CD adalah bekerja bersama masyarakat sehingga mereka dapat mendefinisikan dan menangani masalah. menciptakan pembaharuan organisasi. Fry dkk. Di sisi lain. dalam Gergen dkk. seperti untuk mengubah budaya sebuah organisasi. Dalam sepuluh tahun terakhir. 1987. mendukung pembangunan berkelanjutan.. pendekatan Strengh Based (Berbasis kekuatan) dengan sebuah produk metode Appreciative Inquiry terpusat pada potensi-potensi atau kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh individu atau organisasi untuk menjadikan hidup lebih baik. Kesesuaian antara kebijakan pemerintah dengan konsep pemberdayaan masyarakat seperti CD ini membutuhkan pendekatan yang tepat dalam mengimplementasikannya. 2004). Pengembangan otonomi daerah yang diarahkan pada partisipasi aktif dari masyarakat sangat sesuai dengan konsep yang ditawarkan oleh CD. dan pengembangan kualitas hidup masyarakat (United States Departement of Agriculture. Appreciative Inquiry merupakan sebuah metode yang mentransformasikan kapasitas sistem manusia untuk perubahan yang positif dengan memfokuskan pada pengalaman positif dan masa depan yang penuh dengan harapan (Cooperrider dan Srivastva. 2001). Dalam pelaksanaannya. CD adalah sebuah proses pembangunan jejaring interaksi dalam rangka meningkatkan kapasitas dari sebuah komunitas. Keberhasilannya tergantung pada adanya identifikasi dan diagnosis yang jelas terhadap masalah. penyelesaian cara pemecahan yang tepat. melakukan transformasi komunitas. dan menciptakan perdamaian. Cooperrider dkk. Dalam bidang sosial. pendekatan ini bisa menghasilkan sesuatu yang baik. CD tidak bertujuan untuk mencari dan menetapkan solusi. perubahan kota.

pp. http://ocdi.ekonomirakyat.Sumber: Buku Cooperrider D. L. A Positive Revolution in Change: Appreciative Inquiry (Vol. 2-3) Sairin.com/doc/732997/laporanlokakaryaAIlowres (Diakses pada 29 Mei 2008.gov http://www.wordpress. Community Development Technical Assistance: Handbook. Sjafri. Husein Sawit 22 spt 2008 USULAN KEBIJAKAN BERAS DARI BANK DUNIA: RESEP YANG KELIRU ABSTRAK .usda. pukul 11. Lubis.scribd. Makalah : Community Development dan Nilai-Nilai yang Mendasari. 2002. pukul 11. Ginandjar. Dipresentasikan pada Temu Ilmiah Dalam Rangka LUSTRUM IX Fakultas Psikologi Unpad. 2006.sccd. 17 Mei 2008. Makalah: Dewan Perwakilan Daerah dan Otonomi Daerah. Disampaikan pada Seminar Nasional.uk United States Depatment of Agriculture (2005). Institut Teknologi Bandung (ITB) Dalam Rangka Memperingati Seratus Tahun Kebangkitan Nasional. http://www. 1. Makalah Kartasasmita. Bandung. Theresiah. Strategic Framework for Community Development.org.28) http://www.50) Standing Conference for Community Development (2001). Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia. & Whitney D. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.org/ M.com/2007/08/08/bedah-kasus-appreciative-inquiry-instrategic-planning/ (Diakses pada 26 Mei 2008. Tahun 2006 Internet http://appreciativeorganization.

DPR/DRPD. masyarakat Indonesia pasti mencurigainya. Sebelumnya. bahwa kemiskinan di negera-negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan pangan. belum belajar dari kekecewaan masyarakat Indonesia atas keambrukan ekonomi. agar Indonesia menempuh privatisasi lembaga pangan. Di Makasar misalnya. Tampaknya. mendorong agar swasta diperankan sebagai stabilisator harga dalam negeri. Itu konsep pengentasan kemiskinan yang keliru. kurang dukungan Pemda. tidak boleh didikte oleh segelintir para ahli. melepas cadangan beras nasional ke swasta. Lembaga ini telah lama mengeritik dan menintervensi sejumlah kebijakan pembangunan ekonomi. ciptakan lapangan kerja. Seharusnya yang diberi peran besar adalah masyarakat sipil. pasar dapat menyelesaikan instabilitas harga. dan peneliti dalam merancang kebijakan publik. bukan melihat kemiskinan manusia yang bersifat struktural dan kronis. serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor pertanian di mana penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya. peran masyarakat dalam proses penyusunan kebijakan publikseperti kebijakan beras. Pendahuluan Sejak akhir 2006. terutama yang dikaitkan dengan kemiskinan. dan liberalisasi impor. serta akan selalu dipersoalkan . Pemda. hampir setiap hari ada saja demonstrasi ke kantor proyek Bank Dunia. Bank Dunia semakin aktif melobi dan menawarkan resep buat pemerintah. Disamping itu. Pendapat Bank Dunia termasuk juga berbagai hasil penelitiannya. serta terlalu banyaknya sumberdaya alam. sehingga mereka tidak nyaman bekerja. apabila saran-saran mereka diterapkan pemerintah. Lembaga pemerintah seperti Bulog dianggap tidak becus dalam melaksanakan fungsinya. ini akibat dari reputasi mereka masa lalu. Namun dalam era demokrasi. Itu akibat dari peri laku mereka sebagai salah satu lembaga perusak ekonomi. partai politik. tidak boleh didikte oleh peneliti. Kebijakan beras harus mendapat dukungan luas dari masyarakat sipil.haruslah lebih besar. termasuk ekonomi Indonesia (Perkin 2004). perbankan dikuasai oleh perusahaan asing. Tujuan makalah ini adalah untuk menilai kelemahan cara pandangan yang bias tentang kebijakan beras Bank Dunia. Industri padi/beras adalah salah satu diantaranya. pemerintah daerah. Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi pembangunan. baik terbuka maupun tertutup. tidak kredibel di mata masyarakat luas di Indonesia. Sebaik apapun saran Bank Dunia. maupun kemiskinan (World Bank 2007). apalagi ahli asing. diperkirakan itu akan sulit diimplementasi di lapangan. para teknokrat dan birokrat –dibantu oleh tenaga ahli asing. Perilaku Bank Dunia di Indonesia tampaknya belum berubah. kelakuan Bank Dunia belum banyak berubah di era desentralisasi dan demokrasi. seperti Bank Dunia. apalagi oleh lembaga asing yang kurang memahami rumah tangga petani dan masyarakat desa secara mendalam. Dalam makalah ini dibahas tentang kelemahan cara pandang Bank Dunia terhadap kebijakan beras di Indonesia. termasuk kebijakan perberasan. Pada era sentralisasi Orba. Akhir-akhir ini. Kelemahan itu mencakup pengukuran kemiskinan yang terlalu sempit. Itu bukan lagi menjadi domain peneliti. Bank Dunia semakin sering mengeritik pemerintah tentang kenaikan harga beras. apabila kurang dukungan publik.Kebijakan perberasan Indonesia telah menjadi perhatian buat sejumlah lembaga internasional. Yang benar adalah gerakan sektor riil. terjerat hutang luar negeri. DPR. dan bias jangka pendek. Mereka yakin sekali. Domain Publik bukan Domain Peneliti Bank Dunia seharusnya memahami benar.berperan besar dalam mendikte kepentingan masyarakat banyak. tentang cara-cara menyusun kebijakan publik di era demokrasi. Bank Dunia terpaksa harus menghilangkan atribut Bank Dunia di kantor di mana proyek mereka ada. Kebijakan beras itu adalah domain kebijakan publik. Bukan membuat harga beras murah.

Hasilnya adalah defisit produksi (net consumer). Pola panen padi adalah musiman. Data itulah yang dipakai Bank Dunia untuk mempertahankan argumentasinya. banyak studi tentang padi/beras yang telah dilakukan oleh para ahli bangsa Indonesia. karena sebagian besar petani adalah net konsumen. Data SUSENAS haruslah dianalisa dengan hati-hati dalam kaitannya dengan estimasi produksi musiman dan pengeluaran musiman. Padahal. pesta. mereka surplus pada MPR (musim panen raya) dan MPG (musim panen gadu). Penulis juga kaget./ Kapita 120. baik dengan cara mengundang sejumlah ahli Indonesia ke markas mereka di Jakarta.oleh DPR/DPRD. Namun mereka mencoba mempengaruhi sejumlah menteri ekonomi yang beraliran neo liberal. seolah-olah terjadi sepanjang tahun.35 Ha. Mereka melaporkan bahwa konsumsi per kapita sebesar 107 Kg/kap/tahun (Table 1). Dari total hampir 100 jumlah literatur. Pandangan ini adalah keliru. Namun. SUSENAS menaksir tahunan berdasarkan hasil penelitian seminggu. Atau mengadakan seminar di luarnya.6 57. MK1 (musim kemarau pertama) dan MK2. hanya 3-4 literatur yang ditulis oleh orang Indonesia asli. belum termasuk konsumsi tidak langsung seperti makan di warung. Itu buruk buat penduduk miskin. Net Konsumen? Data Susenas vs data Tingkat Usahatani Bank Dunia mengatakan bahwa telah terjadi kenaikan jumlah orang miskin yang cukup serius sejak harga beras naik.33 Ha. Tetapi. Kebijakan beras yang mereka susun itu (Bank Dunia 2007) melulu mengacu ke literatur asing. Table 1. dan 0. Luas ini adalah umum dijumpai pada usahatani pangan./ Kapita 114. Jawa Timur: 1999/2000.23 Ha per petani. seperti di lembaga PBB (CAPSA) di Bogor.6 . Para petani mengelola usahatani padi untuk MH. Bank Dunia langsung menyampaikan gagasannya ke tingkat pengambilan keputusan tentang kebijakan beras ke Kantor Menko Perekonomian atau ke sejumlah menteri lain yang sealiran dengan Bank Dunia. tetapi diabaikan tanpa dipakai sebagai bahan rujukan./ kapita Hulu 42. Ini adalah jumlah yang dikonsumsi langsung oleh rumah tangga tani. data SUSENAS BPS memperlihatkan sebaliknya. tempat kerja dll. dan defisit hanya pada MP (musim paceklik). Bank Dunia juga rajin menyampaikan gagasan perubahan kebijakan beras pada berbagai forum sejak akhir 2006. ada power point tentang kebijakan beras Bank Dunia disiapkan untuk SBY. Ini keterlaluan. Namun. mereka menghindari diskusi terbuka dengan masyarakat luas (civil society) atau dengan para pakar Indonesia di luar kubu mereka.5 120 HHTOTAL Kg. kemudian dikalikan menjadi tahunan. sebagian besar petani padi adalah net konsumen. masing-masing seluas 0. Per kapita konsumsi beras oleh petani miskin dan petani tidak miskin di DAS Brantas.5 106. 0. Ini menunjukan juga bagaimana miskinnya Bank Dunia dalam memahami pikiran para ahli Indonesia. hasil studi intensif yang dilakukan oleh Sumaryanto dkk (2002) di DAS Brantas dilaporkan sebaliknya. Wilayah Petani % RT Miskin Kg.5 Petani Miskin % RT Tidak Kg. khususnya padi di Indonesia.

asumsi net konsumen untuk petani padi adalah tidak didukung oleh data empiris. insentif non-harga tidak ampuh manakala harga gabah/beras terlalu rendah. tidak dengan sendirinya akan tergantikan oleh komoditas lain.1 48. jangan bias ke jangka pendek. Yang benar adalah mereka net produsen pada dua musim pertama. industri padi/beras harus dilihat dengan hati-hati dan bijaksana. tidak mampu menutupi ongkos produksi. stabilitas ekonomi. Oleh karena itu. Itu hanya cara hitung menghitung.2 105. kemiskinan jangka panjang dapat dikurangi secara berkelanjutan. Marketable surplus di musim hujan lebih tinggi dari MK1.1 107. menyerap tenaga kerja yang begitu besar. 1) Marketable surplus adalah produksi dikurangi konsumsi rumah tangga yang sedang dipelajari Terabaikan Peran Non-Food Services Seterusnya. Keputusan konsumsi dan pengeluaran bergantung pada asumsi itu. amat jangka pendek dan ad hoc sifatnya.9 51. maka industri itu harus dianalisa keterkaitannya yang luas. Tingkat kemiskinan yang dikaitkan dengan harga beras. Seperti yang telah dibahas sebelumnya. sehingga luas usahatani merosot (Sumaryanto dkk 2002). Oleh karena itu. merupakan insentif lain yang tidak boleh dibaikan.6 107.2 101. Kalau suatu industri yang erat kaitannya ke depan dan kebelakang.7 107. khususnya pembangunan perdesaan. khususnya beras yang menghasilkan non-food services. banyak petani tidak tanam padi karena kekurangan air. Konsumen seharusnya perlu membayar harga beras lebih tinggi dari tingkat harga pasar. Kembali ke harga. merupakan cara pandang sempit. namun itu bukanlah satu-satunya insentif buat mereka. Harga beras yang berlaku di pasar belum memperhitungkan non-food services yang ia berikan ke publik (Dillon dkk 1999). Kita jangan mengorbankan kepentingan jangka panjang. Mereka tidak menilai peran pangan. Pada MK2. seperti hortikultura. sekiranya non-food services itu diperhitungkan.0 56. Itu menyangkut stabilitas politik. namun negatif pada MK2. Kita tidak boleh menghambat suatu industri yang punya keunggulan komperatif. Terungkap adanya marketablesurplus 1) sekitar 354 Kg/kap/tahun.9 103. hanya sekedar untuk mencapai kepentingan jangka pendek. terutama di perdesaan. dipaksakan untuk keluar .3 Note: RT=Rumah tangga Sumber: Sumaryanto dkk (2002) Rataan produksi padi sekitar 462 Kg/kapita/tahun. Insentif harga dan non-harga akan saling memperkuat. laporan Bank Dunia (2007) itu juga terlalu sempit dalam melihat industri beras yaitu hanya sebagai industri penghasil padi/beras untuk tujuan komersial belaka. manakala industri beras/padi redup. pengangguran tinggi. Oleh karena itu. Adalah hampir tidak mungkin.Tengah Hilir Total 53. tidak dianalisa secara parsial. bukan saling menggantikan.0 43. sebagai salah satu insentif buat pelaku usaha. Peningkatan produktivitas dan efisiensi. distribusi pendapatan.5 200 160 480 105. Keredupan ini.3 102. atau hanya net konsumen di musim paceklik (MK2). tidaklah tepat untuk mengasumsikan bahwa semua petani sempit sebagai net konsumen sepanjang tahun. Oleh karena itu.7 109. itu terkait dengan non-price incentive.2 47. bahwa padi/beras adalah industri kunci dalam pembangunan. penyerapan tenaga kerja.

Ia juga menyebutkan bahwa hasil penelitiannya dan penelitian lain seperti yang dilakukan UNIDO dan UNSFIR. apalagi kemiskinan. serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor pertanian di mana penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya. Itu amat tidak realistis. kriminalitas dan keresahan sosial yang terus bertambah. padahal industri lain belum kuat terbangun. Itu tidak akan mampu mengurangi jumlah orang miskin secara berkelanjutan. insentif untuk bekerja di sektor pertanian merosot. Itu buah dari urbanisasi yang berlebih. Harga beras adalah komponen inflasi. Itu konsep pengentasan kemiskinan yang keliru. Ia juga mengatakan bahwa adalah keliru kalau memfokuskan pengentasan kemiskinan dari sisi pengeluaran dan harga. Harga Beras dan Kemiskinan: Keganjilan Analisa Kelemahan lain kaitan harga beras dengan kemiskinan yang dibuat Bank Dunia. Peningkatan pendapatan dari pekerjaan yang mereka tekuni. mengabaikan peningkatan pendapatan serta lapangan kerja di perdesaan. meningkatkan produktivitas kerja. Pada situasi pengangguran tinggi dan penggangguran tidak kentara di desa amat menonjol. maka risikonya menjadi besar. tetapi tidak menyembuhkan penyakit itu sendiri. menemukan bahwa angka kemiskinan BPS amat sensitif dari pengaruh inflasi. Penyakit utama adalah lapangan kerja yang terbatas. Yang benar adalah gerakan sektor riil. Yang terjadi adalah peningkatan kemiskinan dan pegangguran di perdesaan Mexiko. karena infrastruktur pemasaran dan distribusi yang masih amat lemah. dan petani jagung dialihkan ke kentang. yang belum tentu penyebab inflasi itu sendiri. mereka pindah ke kota. 23%. Perdagangan tentu tidak dapat menyelesaikan semua itu. pada saat harga beras turun murah yaitu terjadi pada periode import surge yang tinggi periode 1998. Itu mengingatkan pengalaman Mexiko dalam meliberalisasi komoditas jagung sebagai makanan utama mereka. Beras memang besar kontribusinya dalam inflasi. mendorong aktivitas padat kerja adalah solusi yang tepat untuk atasi . Insentif harga adalah salah satu yang tidak boleh diabaikan untuk itu. Sebagian juga bermigrasi ke AS (IATP 2007a dan Albert 2004). akan berisiko tinggi dan instabilitas harga yang besar. Namun. Apabila mereka beralih ke sektor lain dalam kondisi infrastruktur itu belum diperkuat. Demikian juga. Pada saat kita mengabaikan sektor kunci seperti sub-sektor padi/beras. ciptakan lapangan kerja. ternyata jumlah orang miskin tetap tidak berkurang secara signifikan. produktivitas rendah. Penanganan kentang berbeda dengan jagung. 2002. Namun petani Mexiko tidak beralih ke tananam kentang. karena pemerintah belum menyiapkan infrastruktur yang layak untuk itu. seperti kekumuhan. sama saja memberi obat penghilang rasa rasa sakit sementara (pin killer). Pengembangan hortikultura misalnya. Namun peran non-beras jauh lebih tinggi mencapai 77%. itu akan menambah kemiskinan dan akan mendorong bertambahnya urbanisasi. tidak sebaliknya. bahwa kemiskinan di negera-negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan pangan.dari industri itu. Penyebab inflasi tidak sama dengan komponen inflasi. telah dibahas dengan baik oleh Sugema (2006). Mengotak atik harga pangan agar dibuat murah. Bukan membuat harga pangan atau beras murah sehingga menjadi tidak wajar buat petani. Ia mengatakan bahwa Bank Dunia keliru dalam menyimpulkan hubungan itu. Perkotaan akan menerima beban dan akibatnya. terutama dalam penyimpanan. Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi. pada saat harga beras naik. Rendahnya pengeluaran keluarga miskin akibat dari ketidakmampuan mereka untuk memperoleh pendapatan yang layak. maka akan menggiring petani sempit untuk menanggung risiko yang tinggi. harga beras dianggap sebagai faktor penyebabnya. Industri padi/beras adalah salah satu diantaranya. dan 2003.

jenis berasnya berbeda. impor beras dari AS menurun drastis. Hampir separoh impor beras ke Indonesia yang datang dari negara maju berasal dari AS. Atas dasar inilah kemudian UNDP merancang kemiskinan manusia. kematian bayi. dipakai oleh para pedagang untuk dicampur (oplos) dengan beras lokal. sehingga berkurang pula kemampuannya untuk menyerap pengadaan beras/gabah dalam negeri. Capability poverty terkait dengan kemiskinan struktural dan kronis. sehingga harga pasar jenis itu tidak terkait sama sekali (almost completely disconnected) dengan beras lokal. Pada 2001 dan 2003. data memperlihatkan bahwa impor beras Indonesia dari AS cukup tinggi diantara negara maju yang mengekspor beras ke Indonesia. hanya 9 ribu ton. Bappenas dan UNDP. maka harga beras atau pangan tidaklah sensitif sebagai penyebab kemiskinan. Atau itu telah memperbesar stok Bulog. pendidikan dan pangan. tentunya juga ke Indonesia. Tingkat kemiskinan itu tidak sensitif terhadap harga maupun inflasi. kalau konsep kemiskinan manusia yang dipakai. menghitung kemiskinan manusia di Indonesia sebesar 25%.kemiskinan (Sugema 2006). bukan kemiskinan pengeluaran. Pada 1996. juga dana untuk pendidikan. Sen mengatakan bahwa poverty as capability deprivation. Dengan konsep ini Dhanani dan Islam (2000) misalnya. Sayang. hanya 2 ribu ton pada 2005 (Tabel 2). Laporan tentang kemiskinan manusia telah dilakukan di Indonesia dengan bantuan UNDP sejak beberapa tahun terakhir. Ini untuk membuktikan bahwa Indonesia tidak perlu kuatir dengan beras yang penuh subsidi berasal dari AS tidak akan berpengaruh besar ke pasar beras dalam negeri. Belum banyak memberikan perhatian pada konsep Sen (2000) tentang kemiskinan non-pendapatan. Oleh karena itu. bandingkan dengan kemiskinan pendapatan BPS hanya 11% pada 1996. Juga penting untuk disikapi secara kritis adalah cara pengukuran tingkat kemiskinan itu sendiri. Pengukuran kemiskinan sebelum krisis terlalu banyak bersandar pada kemiskinan pendapatan berdasarkan indikator konsumsi. Ini seharusnya menjadi acuan kita. konsep kemiskinan manusia kurang dipakai sebagai acuan dalam penyusunan program pembangunan daerah maupun nasional. terbesar selama 10 tahun terakhir. serta adanya intervensi pemerintah yang terarah ke orang miskin. bukan kemiskinan pendapatan. UNDP telah membuat indek tentang itu. Ekspor beras AS banyak ditujukan ke Amerika Latin. Setelah Indonesia menerapkan batasan impor beras sejak 2004. dilaporkan tentang Ekonomi dari Demokrasi: Membiayai Pembangunan Manusia. Impor Beras dari AS tidak Penting? Bank Dunia (2007) juga mengatakan bahwa ekspor beras AS berpengaruh kecil ke Asia. Dimensi kemiskinan Sen terfokus pada non-income poverty. Sehingga Indonesia amat terkebelakang di antara negara ASEAN dalam menyediakan dana untuk kesehatan yang terkait dengan harapan hidup. Namun. Pada 2004 misalnya. adalah tahun-tahun tertinggi impor beras dari AS yaitu mencapai masing-masing 178 ribu dan 108 ribu ton. yang disebut Human Development Index. Kalaupun diekspor ke Asia. Impor Beras Indonesia dari Negara Maju dan AS: 1996-2005 (MT) . diterbitkan oleh BPS. AS berperan penting dalam impor beras ke Indonesia. Kemiskinan sebagai kehilangan/ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti kesehatan. Impor beras dari AS meningkat di era liberalisasi dan era tarif. Beras dari AS yang murah harganya. pertumbuhan yang pro-poor. sehingga menghasilkan jenis beras baru dengan harga yang lebih murah. Itu hanya mungkin dipecahkan oleh pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Tabel l 2. perumahan. akses terhadap air minum yang bersih. meningkat menjadi 75 ribu ton pada 1999.

Pemerintah tidak berdaya untuk itu. seperti Departemen Keuangan.Tahun 19969.889 200213. mereka akan ke departemen lain.031 19970 USA Negara Maju Lain 6. Mosanto (61 negara).384 179. Apabila tidak berhasil meyakinkan Bulog misalnya.411 46. Tyson Foods (80 negara) dan Archer Danniels Midland yang beroperasi di Amerika Latin.756 385.011 12. Kredit lunak dan jangka panjang sesungguhnya juga merugikan pemerintah Indonesia.956 200049.158 25.975 1. seperti petani jagung Meksiko. selanjutnya yang memutuskan kedatangan beras itu adalah AS.725 46. Bappenas. Namun. Apabila telah disetujui.352 17. Korporasi AS itu merambah dunia.522 33.081 Total Negara Maju 16.327 9.331 Persen (%) 48 54. Itu telah berpengaruh negatif terhadap tingkat harga beras/gabah di dalam negeri. AS tentu mampu menjual beras dengan harga murah ke Asia.839 24.608 200416.409 2001177. 2007).266 199822.980 12. atau ke penjabat tertinggi seperti Presiden atau Wakil Presiden. subsidi terbesar ditujukan ke 5 komoditas utama yaitu beras.942 100 Sumber: Data dasar berasal dari data impor beras bulanan BPS Impor itu dalam bentuk food aid melalui WFP.767 20052. karena Indonesia harus membayar harga beras yang jauh lebih mahal dari harga beras di luar program.828 460.231 7. AS ―memaksa‖ agar Indonesia mau menerima program PL480.072 199974.094 11. jagung and kedelai (IATP 2007b). Umumnya didatangkan pada musim panen raya. seperti Cargill (beroperasi di 63 negara). Inilah yang menyebabkan mengapa sejumlah negara berkembang sulit bersaing dan terpuruk. petani kapas di Afrika ( Husein Sawit. program PL480 dengan kredit lunak dan jangka panjang.352 39.393 2003107. AS melalui Farm Bill 2002 misalnya memberikan subsidi terhadap 20 komoditas petanian. Ini sering dikeluhkan oleh berbagai penjabat di berbagai depertemen.184 Rataan: Jumlah (MT) 47. kapas. AS mensubsidi sejumlah komoditas pangan.681 96. itu banyak kaitannya dengan kepentingan korporasi raksasa. . gandum.611 52 101.551 132.

Kemiskinan. Siregar and Wahida M(2002). Report for Internal Review Only for Bulog (November 1999) Dhanani. Islam (2000). I (2006). UNSFIR. “Socio Economic Analysis of Farm Household in Irrigated Area of Brantas River Basin‖.H. Afrika. a series of papers on the 2007 US Farm Bill. Liberalisasi Pangan: Aksi dan Reaksi dalam Putaran Doha WTO. Bappenas. Tabor (1999). Agriculture and Rural Development. permintaan berbagai jenis pangan yang terus meningkat seiring dengan kemajuan ekonomi. S dan I. Development as Freedom. petani kita. 23 November 2006 Sumaryanto. dan Beras‖. Kita semakin sulit keluar dari kemiskinan dan kepapaan. Dalam tataran perundingan multilateral misalnya. sehingga memuluskan MNCs milik AS untuk melakukan kegiatan bisnis pangan secara global. Research report as a part of the study . Sayang para pengambilan keputusan. M. padahal kita berada di negara yang kaya. H (2004). Eropa. ―A Fair Farm Bill for the World‖. tetapi itu sekedar melaksanakan pesan sponsor. Itulah yang harus disikapi dangan bijaksana dan hati-hati. ― A Fair Farm Bill for America‖.R. Kanada. Itu yang mereka ingin rebut. Penutup Pandangan Bank Dunia harus disikapi secara kritis. Oxford University Press: New Delhi Sugema. Kompas. P. India dan Indonesia. Penguin Books Ltd: London Sen. Yang merasakan akibat dari implementasi saran mereka yang bias itu adalah bangsa kita. J (2004). Ekonomi dari Demokrasi: Membiayai Pembangunan Manusia Indonesia. mereka jelas memihak negara kaya dan korporasi internasional (MNCs). Sawit.Negara Pasifik. Confessions of an Economic Hit Man. Hasil penelitian IATP (2007b) menyebutkan bahwa AS melalui lembaga WTO dan Bank Dunia memaksa negara berkembang untuk menurunkan tariff dan membuka pasar. Disana banyak penduduk yang memerlukan pangan. banyak diantara para birokrat kurang memahami politik kurang terpuji di belakang lembaga keuangan internasional. Lembaga Penerbit FE Univ. (2000).‖Rice Policy: A Framework for the Next Millennium‖. Working Paper: 00/01. UNDP (2004). ―Inflasi. M. Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP): Minnesota Perkins. HS. Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP): Minnesota IATP (2007b). M. Daftar Bacaan Albert. A. masyarakat kita. Mereka datang kemari silih berganti ahlinya. 11 (2) BPS. Indonesia (akan terbit) IATP (2007a). (2007).Simatupang dan S. Kita telah terperangkap dengan hutang luar negeri dan SDA milik bangsa ini yang dikapling dan dikuasai bangsa asing. seperti Bank Dunia dan IMF. AS tentu ngiler melihat potensi pasar di sejumlah negara Asia. UNDP Husein Sawit. seperti China. ―Poverty. ― The US Farm Bill and Cotton Cultivation: Is the WTO undermining Rural Development?‖. a series of papers on the 2007 US Farm Bill. Inequality and Social Protection: lessons from the Indonesian crisis‖. mereka juga jarang memihak negera berkembang. UNDP: Jakarta Dillon.

Fiscal Policy. 272. 256.5 milyar dari dana APBD.2 milyar (2001) menjadi Rp. tokh penerima dana -dana DPM (Dinas Pemberdayaan masyarakat) ini masih belum merasakan adanya perhatian dan perlakuan khusus terhadap mereka sebagai pihak-pihak yang berhak menerima perlakuan ―istimewa‖ karena kemiskinannya. draft March 2007 Oleh: Dr.1%. Bahkan mereka yang percaya perbankan merupakan ― agent of development‖ yang berperan kunci dalam memberdayakan ekonomi rakyat bisa ―kecele‖ menyaksikan kenya taan pahit sulitnya bank bermitra akrab dengan pelaku-pelaku ekonomi rakyat yang miskin. Bank adalah Mitra Orang Kaya Sejak 3 tahun terakhir (2001-2003) jumlah dana masyarakat yang disimpan di 2 bank di Melak (BRI dan BPD) meningkat rata-rata 12.2% (2001). Yulius Seran (37 th) adalah seorang penyandang cacat yang setiap hari menunggu dagangan “rupa-rupa” di pinggir jalan dekat Linggang Bigung. tidak ada tanda-tanda perbankan ―bersemangat‖ menyalurkan kredit kepada pengusaha-pengusaha di Melak. . M. Rupanya kalau tidak ada kredit ―UMKM‖ yang disalurkan dari dana APBD Pemda kabupaten.8% (2003) dan sampai dengan September 2004 adalah 32.8% (2002). maupun di dataran rendah sepanjang Sungai Mahakam. lebih-lebih kepada usaha-usaha kecil ekonomi rakyat. Yang menarik persentase kenaikan dana pihak ke-3 yang disimpan di bank-bank ini sama sekali tidak diikuti kenaikan yang sepadan dalam jumlah kredit yang diberikan kepada pengusaha-pengusaha di Melak.4 milyar (2003). ―Issues in Indonesian Rice Policy‖. 214. Meskipun belakangan diketahui Yulius Seran seorang yang jujur dan patuh mengangsur kreditnya setiap bulan. 7 juta padahal yang Rp. 8 juta sudah dijanjikan pada seorang teman yang sanggup membuatkan sepeda motor khusus agar ia dapat menggunakannya untuk berbelanja ke Melak sebulan sekali. World Bank (2007).0 milyar (2002) dan Rp. 10. LDR (Loan Deposit Ratio) meskipun cenderung naik tetapi hanya sebesar berturut-turut 2. 15 juta hanya diberi Rp.Irrigation Investment. baik di wilayah Ulu Riam di Mahakam Ulu. and Water Resource Allocation in Indonesia and Vietnam . Rupanya meminjamkan kredit kepada seorang miskin seperti Yulius Seran belum cukup meyakinkan pejabat bank ―seb agai jalan melancarkan jalan baginya masuk surga‖. Meskipun Pemda Kabupaten Kutai Barat sudah menunjuk Bank BPD Melak menyalurkan dana UMKM kepada usaha-usaha kecil ―ekonomi rakyat‖ sebesar Rp 7. tokh Bank BPD tidak tergerak meluluskan sisa kredit yang dimintanya. dan 13.0% pertahun. di kampungkampung pegunungan. Ia “marah” ketika permi ntaan pinjaman Rp. yaitu dari Rp. Husein Sawit Mubyarto MENGAPA BANK SULIT MEMBERDAYAKAN EKONOMI RAKYAT? Pendahuluan Memberdayakan ekonomi rakyat di daerah terpencil Kutai Barat ternyata merupakan perjuangan berat bagi siapapun. Ir. collaboration of IFPRI-CASERD-KimpraswilJasa Tirta.

Dalam sistem ekonomi kapitalis segala upaya dilakukan untuk melindungi kepentingan para pemodal/pemilik uang.Memang ironis. Dari sinilah berkembang kepercayaan perlunya penciptaan iklim merangsang agar para pemodal (investor) asing bersedia datang ke Indonesia atau ke daerah-daerah tertentu untuk menanamkan modalnya. Jika suatu daerah miskin sebagian warga masyarakatnya sudah berhasil ―menjadi kaya‖ sehingga mampu menyimpan dana-dana yang dikumpulkannya di bank setempat. kiranya masuk akal bagi perbankan untuk memanfaatkan dana-dana tersebut bagi pemberdayaan ekonomi rakyat dan yang pada gilirannya mampu memberantas kemiskinan. kecuali jika kita berani mengubah sistem ekonomi kita dari sistem ekonomi kapitalis menjadi sistem ekonomi Pancasila. bukan justru bank yang sebenarnya tidak memerlukan konsultan keuangan itu. sehingga ketika banyak daerah-daerah miskin/tertinggal berteriak mengharapkan kredit yang murah dan mudah. Dalam sistem ekonomi Pancasila . Fenomena kontradiktif ini sampai kapan pun tetap tidak akan berubah. maka amat sulit menjadikan bank sebagai penggerak kegiatan ekonomi rakyat. dan justru tidak diputarkan atau ditanamkan dalam usaha-usaha setempat. dan sama sekali bukan agent of development. dan dalam kaitan penyaluran kredit UMKM ada lembaga KKMB (Konsultan Keuangan Mitra Bank). Maka ada lembaga penjaminan kredit. Jika bank-bank kita lebih banyak merupakan perusahaan yang menomorsatukan pendapatan bunga. dan sebaliknya orang miskin harus membayar bunga tinggi kepada orang-orang kaya. Bank-bank yang lebih banyak mengirim dana-dana dari daerah-daerah ke kantor pusat selalu mudah menerangkan perilaku keliru ini karena ―kesulitan menemukenali‖ proyek -proyek ekonomi dan bisnis yang bankable yang dapat didanai. Di satu pihak usaha-usaha kecil lari ke ―rentenir‖ dengan membayar bunga tinggi. yang dengan memberikan jaminan rasa aman pada para pemilik modal ini. Mengapa tidak ada Konsultan Keuangan Mitra Ekonomi Rakyat (KKMER) meskipun jelas ekonomi rakyat inilah yang paling membutuhkan jasa konsultan. Bunga SBI ini pernah mencapai 17. mengapa modal yang terhimpun di bank dari orang-orang kaya setempat malah dikirim keluar daerah. Jika suatu daerah berusaha menarik investor.5% pertahun yang tentu saja menjadi alasan sangat kuat bagi setiap bank untuk mengirimkan dana-dana pihak ke-3 yang dihimpun di bank-bank di daerah-daerah di seluruh Indonesia untuk dikirim ke Jakarta. yang dibiayai oleh sebagian bunga kredit yang dibayar penerima kredit (debitor). Proses tolong-menolong antar pemilik modal dan ekonomi rakyat yang membutuhkan modal ini dalam era otonomi daerah seharusnya berkembang dengan baik dan bergairah. Para pelepas uang dan deposan menikmati pendapatan bunga tinggi. bahkan termasuk tambahan hadiah-hadiah menarik seperti mobil dan rumah-rumah mewah. para pemilik modal (kapitalis) merupakan pihak yang paling dipuja dan dihormati. Kesimpulan Kasus ―kecil‖ perilaku perbankan di Kabupaten Kutai Barat dengan kemiskinan 42% tahun 2003-2004 menarik dijadikan contoh betapa besar hambatan yang dihadapi dalam program-program pemberantasan kemiskinan. Sebenarnya segera dapat dikenali satu kontradiksi. Jika ekonomi rakyat dapat diberdayakan melalui kredit lunak sehingga kesejahteraannya meningkat. yaitu mereka yang memiliki modal. yang kepentingannya paling dilindungi. Akibatnya bank juga tidak mungkin berperan sebagai lembaga yang mendukung upaya-upaya besar pemberantasan kemiskinan. padahal yang benar bank-bank ini memang merasa lebih aman menggunakan dana-dana yang dihimpun dengan dibelikan SBI. Tetapi mengapa hal ini tidak terjadi? Dari analisis tersebut bisa dibuktikan bahwa alasan pokoknya adalah karena sistem ekonomi kapitalis-liberal/neoliberal sudah dijadikan pegangan pokok pemerintah pusat/ daerah yang diterapkan di manamana di seluruh Indonesia. Penetapan tingkat bunga yang menarik selalu dijadikan alasan mudah bagi dunia perbankan untuk tidak menyalurkan dananya sebagai kredit kepada dunia usaha. Inilah faktor penyebab rendahnya nilai LDR (Loan Deposit Ratio) di setiap daerah. Jelas kiranya dari analisis ini bahwa perbankan di Indonesia tidak lain daripada lembaga pencari/pengejar untung. tokh dana-dana perbankan yang terhimpun di daerah-daerah seperti itu justru dikirim ke kantor pusat bank yang bersangkutan. Dalam sistem ekonomi kapitalis. Kalau perangsang dan perlindungan kepada para pemilik modal dalam sistem ekonomi kapitalis ini belum dianggap cukup. agar dapat membayar jasa bunga deposito yang menarik kepada deposan. Ternyata kunci penyebabnya terletak pada diberlakukannya sistem ekonomi kapitalis yang telah dipilih oleh pemerintah pusat. tetapi di pihak lain orang-orang kaya menyimpan uang mereka di bank dalam bentuk deposito dengan menerima bunga ―menarik‖. mengapa Pemda tidak terdorong untuk mengambil langka-langkah demikian dalam GSM (Gerakan Sendawar Makmur) dengan menyalurkan kredit mikro sebanyak mungkin kepada usaha-usaha ekonomi rakyat yang membutuhkannya. Bank Indonesia sudah sejak lama mengeluarkan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) yang menjanjikan bunga menarik kepada dunia perbankan untuk menyimpan dana-dana yang dihimpunnya dari daerah-daerah di seluruh Indonesia.

sehingga lingkungan hidup kita rusak..‖ atau ―penduduk miskin hanya menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup. Akumulasi keuntungan dan kekayaan yang tidak mengenal batas harus dianggap sebagai penyebab utama kerusakan/pengrusakan hutan. Agar adil kita harus mengakui bahwa kerusakan lingkungan khususnya hutan. ―memesan‖ kayu dalam jumlah besar sebagai bahan baku industri yang memang permintaannya sangat besar pula. dan mereka cenderung mengabaikan pemeliharaan lingkungan sekitar”.. tetapi ―mutlak‖ harus dipenuhi untuk hidup.. Ekonomi Rakyat dan Reformasi Kebijakan . Pemenuhan kebutuhan pokok penduduk miskin bukan masalah ―hanya‖. ― membuang kotoran manusia secara sembarangan yang akan berakibat pada terjangkitnya diare . Dr. ever increasing growth and accumulation (Ravaioli. tidak ada subsidi apapun dar pemerintah. sedangkan orang-orang kaya adalah ―pahlawan pembangunan‖. yang dianggap merusak lingkungan karena mengotori jalan dan mengganggu ketertiban. Penduduk miskin tidak memperhatikan lingkungan hidup sekitarnya bukanlah karena mereka tidak peduli. Jika hutan kita menjadi gundul atau terbakar. disebabkan para pemodal yang haus keuntungan. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. kiranya pernyataan ini juga tidak adil. bukan karena orang-orang miskin banyak yang merusak hutan. Tetapi kayu-kayu yang diperolehnya ditampung calo-calo untuk dijual. 1995: 4) 1. 2. 4. bukan dengan ―menggusurnya‖ setelah berkembang.. dan memang ada pembeli terhadap barang/jasa yang ditawarkannya. dan kemudian dijual lagi untuk ekspor. 3.kebijakan perbankan tidak diarahkan untuk melindungi para pemilik modal secara berlebihan tetapi harus diubah menjadi upaya total pemberdayaan ekonomi rakyat dengan ukuran hasil akhir makin terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. yang semuanya ―demi keuntungan‖. Jadi dalam hal ini lingkungan yang rusak harus diselamatkan melalui upaya-upaya ―pencegahan‖ munculnya PKL. juga tidak mungkin ditimpakan kesalahannya pada PKL karena pekerjaan itulah satu-satunya ―mata pencaharian‖ yang dapat dilakukan dalam kondisi kepepet.. Mubyarto -. Oleh: Prof. Siapa yang paling bersalah dalam proses perusakan lingkungan ini? Yang jelas tidak adil adalah kalau yang disalahkan hanya orang-orang miskin saja.Oktober 2004] Mubyarto SIAPA LEBIH MERUSAK LINGKUNGAN: ORANG MISKIN ATAU ORANG KAYA? The greatest threat to the equilibrium of the environment comes from the way the economy is organized. Perkembangan pedagang kaki lima (PKL) yang tumbuh menjamur dimana-mana. siapa biang keladinya? Penduduk miskin di hutan-hutan dan sekitar hutan menebang hutan negara untuk memperoleh penghasilan untuk makan.. PKL bukan . Apabila dikatakan penduduk miskin terbiasa . Ia menggunakan modal sendiri dengan resiko usaha ditanggung sendiri. Adalah sangat keliru ilmu ekonomi justru memuja ―keserakahan‖. tetapi karena mereka melakukannya dengan terpaksa. Maka untuk menjamin terjadinya pembangunan yang berkelanjutan kita harus menghentikan keserakahan orang-orang kaya.

Mubyarto -. karena yang diberdayakan adalah orangnya. efisien. 25/2000) adalah sistem ekonomi. dan bertanggung jawab. Sistem ekonomi yang tepat bagi Indonesia adalah sistem ekonomi pasar yang populis dan mengacu pada ideologi Pancasila dengan lima cirinya sebagai berikut: (1) Roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi. (2) (3) (4) (5) Ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial yaitu tidak membiarkan terjadinya dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. Keseimbangan yang harmonis.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. yaitu sistem ekonomi kapitalis liberal yang berkembang di Barat. sedangkan Bung Karno 3 tahun sebelumnya (Agustus 1930) dalam pembelaan di Landraad Bandung menulis nasib ekonomi rakyat sebagai berikut: . Sistem ekonomi dapat dikembangkan dan yang jelas dilaksanakan. tangguh. karena melihat kemiskinan sebagai fakta tanpa mempelajari sumber-sumber dan sebab-sebab kemiskinan itu. sosial. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. dan moral. dan karena belum jelas pemahaman mereka mengenai ekonomi rakyat. Pada umumnya para Capres/Cawapres belum memahami benar apa itu ekonomi rakyat. maka sulit diharapkan dapat dirumuskannya program-program kongkrit bagaimana mengembangkannya. pendekatan terhadap masalah ―pengurangan kemiskinan dan pengelolaan lingkungan‖ atau sebaliknya terhadap ―pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan strategi penanggulangan kemiskinan‖ selama ini kiranya salah dan tidak adil. yang menurut mereka harus diberdayakan juga. dan yang sangat sering diucapkan bagaimana memberdayakannya. tidak diberdayakan. Kesimpulan kita. jika mereka terpilih. Mubyarto Pendahuluan Menyimak secara serius pernyataan-pernyataan para Capres/Cawapres di media elektronik tentang programprogram ekonomi yang dijanjikan kepada rakyat untuk dilaksanakan. dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat. Akan lebih baik dan lebih adil jika para peneliti memberi perhatian lebih besar pada sistem ekonomi yang bersifat ―serakah‖ dalam eksploitasi SDA. dan mandiri. Semangat nasionalisme ekonomi. Dr. Maka mereka dengan bersemangat menyatakan akan menyusun dan melaksanakan program pemberdayaan ekonomi kerakyatan padahal ekonomi kerakyatan sebagaimana tercantum jelas dalam Propenas (UU No. Yang lebih sering kita dengar justru bukan konsep tentang ekonomi rakyat. koperasi dan usaha-usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat. menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. yaitu ekonomi rakyat. pelakunya. tetapi ekonomi kerakyatan. Demokrasi Ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan. bebas. antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas. 5.―masalah‖ tetapi ‖pemecahan‖ masalah kemiskinan. 6 Oktober 2004 Oleh: Prof. dan merajalela sejak jaman penjajahan sampai era globalisasi masa kini. Tentang Ekonomi Rakyat Bung Hatta dalam Daulat Rakyat (1931) menulis artikel berjudul Ekonomi Rakyat dalam Bahaya. dan adil. dengan segala maaf saya harus menyatakan sangat prihatin.

yang artinya tidak lain adalah demokrasi ala Indonesia. Cara lain yang juga sudah sering kami anjurkan adalah pemberdayaan melalui pemihakan pemerintah. yaitu ―di negara-negara lain tidak ada UUD atau konstitusi yang memakai penjelasan‖. Untuk menjawab pertanyaan inilah kutipan pernyataan Bung Karno di atas sangat membantu. Padahal yang dimaksudkan jelas sistem monopoli yang pemegang monopolinya ditunjuk pemerintah yaitu BPPC untuk cengkeh dan Puskud untuk Jeruk Kalbar. yang pernah ―disembunyikan‖ dengan nama sistem tata niaga. karena sengaja disempitkan. pemerintah harus berpihak kepada petani. yang sulit kita terima. Kalau tidak. Itulah yang pernah kami katakan bahwa ―di Indonesia pernghapusan monopoli tidak memerlukan UU Anti Monopoli seperti di AS tetapi jauh lebih mudah dan lebih sederhana yaitu dengan menerbitkan sebuah SK (Surat Keputusan) dari Presiden atau Menteri Perindustrian dan Perdagangan untuk mencabut monopoli yang sebelumnya memang telah diberikan pemerintah‖. Indonesia Menggugat. sama sekali didesak dan dipadamkan (Soekarno. atau faktor-faktor apa saja yang menyebabkan ketidakberdayaan pelaku-pelaku ekonomi rakyat itu. dan padam. yaitu ekonomi rakyat menjadi kerdil. terdesak. Jika ekonomi rakyat dewasa ini masih ―tidak berdaya‖. atau diciptakan pemerintah dan diberikan kepada segelintir perusahaan-perusahaan konglomerat. Jika pemerintah bertekad memberdayakan petani padi atau petani tebu misalnya. 1930: 31) Jika kita mengacu pada Pancasila dasar negara atau pada ketentuan pasal 33 UUD 1945. Berpihak kepada petani berarti pemerintah tidak lagi berpihak pada konglomerat seperti dalam kasus jeruk dan cengkeh. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi. yang berarti petani jeruk dan petani cengkeh memperoleh ―kebebasan‖ untuk menjual kepada siapa saja yang mampu memberikan harga terbaik. keberpihakan pemerintah jelas harus berupa pembelian langsung gabah ―dengan dana tak terbatas‖ sampai harga gabah terangkat naik melebihi harga dasar yang telah ditetapkan pemerintah. didesak. Misalnya tataniaga jeruk Kalbar atau tataniaga cengkeh Sulut. . Memang sangat disayangkan bahwa penjelasan tentang demokrasi ekonomi ini sekarang sudah tidak ada lagi karena seluruh penjelasan UUD 1945 diputuskan MPR untuk dihilangkan dengan alasan naif. Sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. yang terpukul karena harga pasar gabah dibiarkan merosot di bawah harga dasar. dan dipadamkan oleh pemerintah penjajah melalui sistem monopoli. kemakmuran bagi semua orang! Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Inilah salah satu bentuk korupsi melalui koneksi dan nepotisme yang kemudian disebut dengan nama KKN.Ekonomi Rakyat oleh sistem monopoli disempitkan. Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh ada di tangan orangseorang. maka memang ada kata kerakyatan tetapi harus tidak dijadikan sekedar kata sifat yang berarti merakyat. maka harus kita teliti secara mendalam mengapa tidak berdaya. maka pertanyaan lugas yang dapat diajukan adalah bagaimana (cara) memberdayakan ekonomi rakyat. Kata kerakyatan sebagaimana bunyi sila ke-4 Pancasila harus ditulis lengkap yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Bagaimana memberdayakan ekonomi rakyat Jika kini telah diyakini bahwa yang harus diberdayakan adalah ekonomi rakyat bukan ekonomi kerakyatan. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan bukan kemakmuran orang-seorang. Khusus dalam kasus petani padi. Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi. tampuk produksi jatuh ke tangan orang-orang yang berkuasa dan rakyat yang banyak ditindasinya. Jadi ekonomi kerakyatan adalah (sistem) ekonomi yang demokratis. Dari keuntungan besar yang diperolehnya kemudian konglomerat memberikan ―bagi hasil‖ kepada pemerintah atau lebih buruk lagi kepada ―oknum -oknum pejabat pemerintah‖. Cara yang paling mudah memberdayakan ekonomi rakyat adalah menghapuskan sistem monopoli. dan (sistem) monopoli ini dipegang langsung oleh pemerintah. Pengertian demokrasi ekonomi atau (sistem) ekonomi yang demokratis termuat lengkap dalam penjelasan pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi: Produksi dikerjakan oleh semua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

sektor informal sebaiknya justru yang disebut sektor formal. kecuali ada ‗janji -janji‘ perubahan kebijakan ataupun program ekonomi yang lebih banyak bersifat parsial dan konvensional dari partai peserta pemilu. melainkan kembali ke ideologi atau moral ekonomi Pancasila. Oleh: Prof. Dr. Hasilnya bisa jadi kekuasaan tetap dipegang ‗pemimpin lama‘. Mubyarto -. dan orang-orang yang baru pula. bukan pada ekonomi kerakyatan. Saya setuju dengan Khudori (2004) bahwa momen Pemilu 2004 selayaknya bukan saja memungkinkan pergantian orang atau partai melainkan pergantian ideologi atau moral ekonomi yang mengarah pada ciri neoliberal-kapitalistik dewasa ini. yang terakhir ini berarti sistem atau aturan main. dan lebih baik mengunakan istilah ekonomi rakyat yang setiap orang yang ―tidak terpelajar‖ pun mengerti persis artinya. dan akan menjadi slogan kosong. yang tidak dapat diberdayakan. Ekonomi rakyat adalah ekonominya wong cilik yang telah tergeser. dan program-program utama.Demikian pemberdayaan dan pemihakan pada ekonomi rakyat sangat mudah pelaksanaannya kalau kita terapkan langsung pada ekonomi rakyat. sebuah ideologi ekonomi yang ‗ke-Indonesia-an‘. dan antar calon anggota DPD. Dan dengan definisi ini kemudian diajukan program pemberdayaan sektor “UKM” dengan secepatnya menjadikan atau ―mentransformasi‖ sektor informal menjadi sektor formal. partai baru. atau mungkin pula akan muncul penguasa-penguasa baru. ketika pemerintah Orde Baru memprioritaskan kebijakan. yang hanya diartikan sebagai pelaku-pelaku ekonomi yang tidak berbadan hukum yang selalu ―melanggar hukum‖ sehingga harus ―ditindak‖. Kami anjurkan para Capres/Cawapres tidak memilih menggunakan istilah ―UKM‖ yang salah kaprah. terjepit. Dengan digantinya oleh pemerintah istilah ekonomi rakyat dengan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang sebenarnya sekedar menterjemahkan istilah asing SME ( Small and Medium Enterprises). caleg. Tulisan ini menjawab pragmatisme atau ketidaktahuan banyak orang sehingga mereka bertanya-tanya. yang merupakan istilah dan konsep yang sudah dipakai Bung Karno dan Bung Hatta sejak zaman pergerakan kemerdekaan. Kini dengan paradigma baru yang menomorsatukan pemerataan dan keadilan sesuai asas-asas ekonomi Pancasila. maka segala pembahasan tentang upaya pemberdayaan ekonomi rakyat tidak akan mengena pada sasaran. yang tidak mencakup 40 juta usaha mikro (93% dari seluruh unit usaha). Bukan berganti menjadi apa-apa. Kepala Awan Santosa RELEVANSI PLATFORM EKONOMI PANCASILA MENUJU PENGUATAN PERAN EKONOMI RAKYAT Pemilu 2004 sudah pasti akan diwarnai dengan ‗pertarungan politik‘ antar parpol. maka pemberdayaan ekonomi rakyat harus dijadikan kebijakan. akan berubahkah nasib ekonomi bangsa kita? Tidak dapat dipastikan. dan tersingkir. Bahkan ada Capres/Cawapres yang secara sangat keliru menyamakan sektor ekonomi rakyat dengan sektor informal. Lalu. Jelas usulan program seperti ini tidak masuk akal dan menunjukkan ketidakpahaman Capres/Cawapres yang bersangkutan tentang ekonomi rakyat yang menyangkut hajat hidup 160 juta orang Indonesia yang sebenarnya sudah jauh lebih tua dibanding sektor formal. Penutup Tidak terlalu sulit bagi para Capres/Cawapres untuk mengkampanyekan program-program yang benar-benar dapat memberdayakan ekonomi rakyat asal pengertian ekonomi rakyat dipahami secara benar. . strategi. dan program-programnya pada tujuan pertumbuhan ekonomi tinggi sekaligus dengan mengabaikan atau menunda pemerataannya.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. strategi. sekaligus juga antar kandidat calon presiden.

moral. kecuali saat-saat terakhir menjelang Pemilu 2004 dengan pembentukan KPTPK. 2003). dengan lima platform sebagai manifestasi sila-sila Pancasila yaitu moral agama. apa bukti platform Ekonomi Pancasila relevan dengan kondisi sosial-ekonomi kita saat ini? Di tengah pesatnya perkembangan ilmu (ideologi) ekonomi global yang sud ah semakin mengarah pada ‗keyakinan‘ layaknya agama (Nelson. Lihat saja korupsi yang sudah membudaya dan melembaga karena tidak pernah diperhatikan secara serius. para penyanyi. dan dampak sosial bagi masyarakat. Akibatnya. dan ditujukan untuk menjamin keadilan antar sesama makhluk ciptaan Allah. sebagai ‗media‘ untuk mengenali ( detector) bekerjanya paham dan moral ekonomi yang berciri neo-liberal kapitalistik di Indonesia. Sampai saat . Relevansi platform Ekonomi Pancasila dalam hal ini dikuatkan akutnya perilaku ekonomi di Indonesia yang sama sekali mengabaikan moral.Kita mulai dari platform pertama Ekonomi Pancasila yaitu moral agama. dan stasiun TV. Free Press 1988). perusahaan (iklan). pengabaian nasib TKI. menegakkan hukum-hukum Allah (syari‘ah).relevankah Ekonomi Pancasila dalam memperkuat peranan ekonomi rakyat dan ekonomi nasional di era global (isme) kontemporer? Mereka skeptis. Asalkan tidak malas untuk turun ke desa-desa atau ke pelaku ekonomi rakyat. rasanya tidak sulit mengamati ekses dari kecenderungan global tersebut di Indonesia. Platform kedua adalah ―kemerataan sosial. praktik ekonomi rakyat. tidak sekedar pembangunan materiil semata. moral kemerataan sosial. makro-ekonomi sudah stabil dengan indikator rendahnya inflasi (dibawah 5%). dan kegiatan ekonomi banyak dipengaruhi paham (ideologi). Lalu. Disinilah relevansi platform (istilah penulis) Ekonomi Pancasila. dan pulau lainnya. krisis di Indonesia juga tidak terlepas dari berkembangnya paham kapitalisme disertai penerapan liberalisme ekonomi yang ‗kebablasan‘. Gagasan Ekonomi Pancasila mulai dikembangkan Profesor Mubyarto sejak tahun 1981 dalam suatu polemik tentang sistem ekonomi nasional sampai saat ini. Inilah platform ekonomi yang lebih awal lahir daripada gagasan Amitai Etzioni tentang ‗ekonomi baru‘ yang berdimensi moral dalam bukunya The Moral Dimension: Toward a Newf Economics. 2001). apalagi dikait-kaitkan dengan ‗salah ideologi‘ atau ‗salah teori‘ ekonomi. tidak membiarkan terjadi dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial‖. dan memperhatikan kepentingan sosial. Semua itu terangkum dalam kajian lima platform Ekonomi Pancasila yang bersifat holistik dan visio-revolusioner (Mubyarto. moral nasionalisme ekonomi. individualis. dan kapitalistik. Inilah moral ekonomi rakyat yang tidak sekedar mencari untung. Profesor Mubyarto merumuskan Ekonomi Pancasila sebagai sistem ekonomi yang bermoral Pancasila. dan utopis? Mereka ini begitu yakin bahwa masalah ekonomi (krisis 97) adalah karena ‗salah urus‘ dan bukannya ‗salah sistem‘. Ada lagi maraknya ‗penjarahan alam‘ berupa penebangan hutan secara liar (llegal logging) yang terlalu lama ‗didiamkan‘ sehingga berakibat banjir. mengeruk ‗rente‘ dari kegiatan ekonomi (bisnis) mereka. dan kekeringan di sebagian wilayah di Jawa.-). sekaligus ‗rambu-rambu‘ yang bernilai sejarah untuk tidak terjerumus pada paham liberalisme dan kapitalisme. bukankah sistem ekonomi kita sudah mapan. yang bermoral dan tidak sekuler. tidak realistis. Penerapan platform Ekonomi Pancasila secara utuh (multisektoral) dan menyeluruh (nasional) menempatkan Indonesia sebagai negara yang menganut sistem ekonomi khas Indonesia yaitu Sistem Ekonomi Pancasila. Kondisi itu menegaskan perlunya ‗revolusi moral ekonomi‘ menuju pengejawantahan platform Ekonomi Pancasila. ia juga mengangkat realitas sosio-kultur ekonomi rakyat Indonesia. dan ribut-ribut soal ‗pesangon‘ BPPN atau DPRD di berbagai tempat. Relevansi Ekonomi Pancasila dapat ‗dideteksi‘ dari tiga kontek yang berkaitan yaitu cita -cita ideal pendiri bangsa. Itu berarti pembangunan ekonomi harus beriringan dengan pembangunan moral atau karakter bangsa. program. menurunnya suku bunga (dibawah 10%). produser. Lalu. tidak sulit untuk menemukan praktek ekonomi bermoral ini. dan moral keadilan sosial. etika. KKN yang akut memberi sumbangan besar bagi keterpurukan ekonomi bangsa ini. agama. Tanpa peduli moral. bahkan agama. dan moral‖. Ekonomi Pancasila. yang mengandung prinsip ―roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi. bukan kemakmuran orang -seorang‘. Oleh karena itu. Namun. selain berisi cita-cita visioner terwujudnya keadilan sosial. Tidak dapat disangkal. dan teori-teori kapitalisme-liberal. Pada awalnya founding fathers kita merumuskan ‗politik kemakmuran‘. stabilnya rupiah (Rp 8. Ekonomi Pancasila merupakan prinsip-prinsip moral (ideologi) ekonomi yang diderivasikan dari etika dan falsafah Pancasila. kebijakan. melainkan memperkuat silaturahmi. Masih ada juga penggusuran orang miskin. apakah tidak mengada-ada bicara sistem ekonomi dari ideologi yang pernah ‗tercoreng‘. ‗keadilan sosial‘. dan ‗pembangunan karakter‘ ( character building) bangsa yang dilandasi semangat penerapan ajaran moral dan agama. Yang masih panas-panasnya adalah maraknya ‗pornoaksi‘ dangdut erotis lewat media TV yang memang ‗dibiarkan‘ di alam kebebasan (liberalisme) saat ini. sosial. dan tidak nampak wujudnya.500. tanah longsor. moral kerakyatan. dan praktek ekonomi aktual yang ‗menyimpang‘ karena berwatak liberal. yaitu ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial. Gagasan ini sudah lama tertuang dalam bagian penjelasan Pasal 33 UUD 45 yang sudah diamandemen dalam konsep ‗kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan. Sumatara.

upaya penegakan demokrasi ekonomi nampaknya berhadapan dengan upaya-upaya untuk memperjuangkan pasar bebas. hidup di ‗negara kaya‘ (SDA) yang ‗miskin‘ (terlilit utang). dan tidak perlu diperjuangkan? Lihat saja. 2004). Platform ketiga adalah ―nasionalisme ekonomi. Dengan begitu pelarian modal (capital flight) atau relokasi industri adalah wajar bagi mereka. namun banyak pula yang pendapatannya pas-pasan sekedar untuk bertahan hidup. termasuk juga acara -acara pejabat yang sering menyentak hati karena dipaksakan untuk tetap ada dan mewah. negara-negara Eropa memberikan perlindungan kepada petanipetani mereka. percaya diri (self reliance). koperasi dan usahausaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat‖. di dasar piramida yang kuenya kecil diperebutkan puluhan juta orang (Khudori. Ini mensyaratkan bahwa pembangunan ekonomi haruslah didasarkan pada kekuatan lokal dan nasional untuk tidak hanya mencapai ‗nilai tambah ekonomi‘ melainkan juga ‗nilai tambah sosial-kultural‘. Oleh karena itu. Ekonomi Pancasila berfungsi sebagai platform ekonomi yang memperjuangkan pemerataan dan moral kemanusiaan melalui upaya-upaya ‗redistribusi pendapatan‘. kenapa saat ini nasionalisme ekonomi seakan-akan telah dianggap tidak penting. Platform ini sejalan dengan konsep founding fathers kita. petani dan peternsk kecil kita begitu ‗menjerit‘ di saat ada impor beras. Lihatlah pesta-pesta bernilai ratusan juta semalam yang sering diadakan ‗selebriti‘. Jepang. bahwa dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat. Prinsip ini dijiwai oleh semangat Pasal 33 UUD 1945 yang kini sudah berganti menjadi UUD 2002 (amandemen keempat). tetapi masih mampu menampilkan gaya hidup mewah. Platform keempat adalah ―demokrasi ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan. justru investasi (asing) dan privatisasi BUMN yang saat ini begitu dipercaya sebagai ‗dewa‘ pertumbuhan ekonomi dengan melupakan begitu saja sifat pemodal besar untuk mencari tempat yang menguntungkan bagi investasi mereka. kita masih saja berbicara pertumbuhan ekonomi mau 4%. melainkan juga prinsip yang menjiwai setiap proses pembangunan itu sendiri. khususnya Bung Karno dan Bung Hatta. Zakat yang sudah diformalkan (UU) dan pajak sebagai instrumen pemerataan ternyata belum mampu berbuat banyak. Lalu. Lebih lanjut. Di puncak piramida yang menguasai mayoritas kue nasional dihuni segelintir manusia. Beralihnya pemilikan BUMN ke investor swasta melalui privatisasi dikhawatirkan justru memperpuruk kesejahteraan ekonomi rakyat (Baswir. dan glamour dari sebagian elit warganya. maka dengan . tidak relevan. Jika dasar dan pengertian demokrasi ekonomi (dalam penjelasan Pasal 33 ) sudah ‗dihapuskan‘. Banyak orang yang memiliki kekayaan milyaran (termasuk calon-calon presiden kita. padahal potensi untuk itu sangat besar. tidak ‗menyusahkan‘ atau ‗membebani‘ ekonomi nasional di saat krisis. Itulah kita. yang menjadi senjata penganut paham liberalisme dan kapitalisme. Lagi pula. atau 7%. gula. 2001). Ada kesan kuat bahwa interaksi yang timpang (sub-ordinatif) dengan lembaga asing seperti IMF dan CGI (terkait dengan jebakan utang) telah ‗mengaburkan‘ pentingnya kemandirian ekonomi bangsa yang ditopang oleh semangat nasionalisme ekonomi. dan memang tidak ada kamus ‗nasionalisme ekonomi‘ atau ‗nasionalisme modal‘ dalam istilah mereka. sehingga ‗daya tahan‘ ekonomi mereka tidak perlu diragukan lagi. 2004). Kita dapat belajar pada ekonomi rakyat kita. tanpa berupaya keras memprioritaskan pemerataannya ataupun berusaha sedikit lebih ‗sederhana‘ di tengah kemiskinan yang menjerat kurang lebih 36 juta rakyat Indonesia. Kemandirian bukan saja menjadi cita-cita akhir pembangunan nasional. perihal ‗politik -ekonomi berdikari‘ yang bersendikan usaha mandiri (self-help). yang masih memegang prinsip kebersamaan dan solidaritas sosial-ekonomi dalam kegiatan mereka. Sebaliknya. dan mandiri‖. Tempo. Ekonomi rakyatlah yang bersifat mandiri. 2003). namun bagaimana dengan manifestasi demokrasi ekonominya? Penghapusan ‗koperasi‘ dari penjelasan UUD 45 dan memasukkan ideologi ‗persaingan‘ dan ‗pasar bebas‘ dalam pasal 33 merupakan runtutan dari kebijakan privatisasi BUMN yang ditentang banyak kalangan. Isu-isu yang kemudian dicuatkan diantaranya adalah privatisasi BUMN dan liberalisasi impor. Kita patut prihatin jika aset-aset yang menguasai hajat hidup orang banyak terus ‗diobral‘ ke pemodal besar apalagi pemodal asing (kasus Indosat). 5%. dan pilihan kebijakan luar negeri bebas-aktif. Oleh karena itu pokok perhatian seharusnya diberikan pada upaya pemberdayaan ekonomi rakyat sebagai tulang punggung ekonomi nasional. mengapa kita ragu untuk melakukan ‗proteksi‘ terhadap petani kita di saat Amerika.ini masih sulit meyakini realisasi semangat tersebut ka rena setiap upaya ‗memakmurkan ekonomi‘ ternyata yang lebih merasakan dampaknya tetap saja ‗orang besar‘ baik pengusaha ataupun pejabat pemerintahan. Dalam pada itu. Apa gunanya kampanye cinta produk dalam negeri bila pemihakan terhadap pelaku ekonomi rakyat sebagai produsen lokal masih setengah hati. tangguh. Masih saja ketimpangan sosial-ekonomi susah untuk diperkecil. Perubahan ini telah menghilangkan seluruh penjelasan UUD 1945 termasuk penjelasan Pasal 33 yang berisikan prinsip-prinsip demokrasi ekonomi dan landasan konstitusional koperasi. terutama di perdesaan. yaitu peningkatan martabat dan kemandirian bangsa (Swasono. Pemilu 2004 setidaknya merupakan manifestasi demokrasi politik. dan paha ayam. eksklusif.

Paradigma yang kemudian dibangun adalah pembangunan Indonesia. Keadaan ini dimungkinkan karena masih juga terjadi ketimpangan antarwilayah. Pertanyaannya. dan di pusat pemerintahan. dan berciri ‗ke Indonesia-an‘. namun masih saja mereka merasa kesulitan untuk menggali sumber-sumber penerimaan daerah. kini pusat membelanjakan 70 persen (Khudori. sehingga lebih menjamin upaya pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Otonomi hanya mengubah sedikit sisi belanja. bernilai historis. kiranya dapat diperdebatkan dengan platform Ekonomi Pancasila. Bukannya platform ekonomi yang konvensional. Oleh karena itu pengalaman pahit sentralisasi politik-ekonomi era Orde Baru dapat kita jadikan pelajaran untuk menyusun strategi pembangunan nasional. Langkah yang lazim diambil adalah optimalisasi PAD melalui pemberlakuan Perda-Perda yang justru kadang ‗bertentangan‘ dengan peraturan di atasnya seperti halnya hasil kajian Depdagri menunjukkan ada sekitar 7000 perda yang dinilai tidak layak diterapkan (Sunarsip. Apakah Pemilu dan Sidang Umum 2004 akan mampu menjawab kebutuhan ini? Yogyakarta. Meskipun otonomi daerah telah mendorong kemandirian dan kreativitas Pemda dalam membangun wilayah mereka. dan visio-revolusioner. Demikian.platform Ekonomi Pancasila kita berusaha keras untuk mengembalikan hakekat demokrasi ekonomi atau sistem ekonomi kerakyatan dengan ciri ‗produksi dikerjakan oleh se mua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat‘. budaya. bebas. berkerakyatan. Platform kelima (terakhir) adalah ―keseimbangan yang harmonis. untuk kemudian merombaknya dengan kembali ke Sistem Ekonomi Pancasila. dan bertanggungjawab. parsial. dan ‗eksklusif‘ dari bidang bidang lain seperti politik. Tujuan keadilan sosial juga mencakup keadilan antar wilayah (daerah). 2004). dan adil antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas. komprehensif. sadarkah para capres. Gagasan para pendiri bangsa kita yang sejalan dengan praktek ekonomi rakyat dan menentang keras praktek ekonomi yang neo-liberal-kapitalistik kiranya menyadarkan kita akan perlunya perombakan sistem ekonomi tersebut. Inilah relevansi lima platform Ekonomi Pancasila yang dapat menjadi panduan ( guidance) bagi pergantian sistem dan ideologi ekonomi menjadi ekonomi yang lebih bermoral. momentum Pemilu dan Sidang Umum 2004 merupakan saat yang tepat untuk mengoreksi kekeliruan sistem dan paham ekonomi kita. dan hukum. 2004). antara pusat dan daerah di Indonesia. Pusat tetap memungut 95 persen. menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia‖.Asisten Peneliti pada Pusat Studi Ekonomi Pancasil (PUSTEP) UGM. . caleg. efisien. Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang dimaksudkan untuk mengoreksi sentralisasi ekonomi dan pemerintahan praktis tidak mengubah sedikitpun perimbangan penerimaan negara di Indonesia. SE -. 2003). Inilah substansi Negara Kesatuan yang tidak membiarkan terjadinya ketimpangan sosial-ekonomi antardaerah melalui pemusatan aktivias ekonomi oleh pemerintah pusat. dan calon pejabat pemerintahan lainnya akan kebutuhan adanya platform ekonomi yang khas Indonesia ini? Seandainya mereka (dan partainya) memiliki platform ekonomi tersendiri. 5 Februari 2004 Oleh: Awan Santosa. bukannya pembangunan di Indonesia seperti yang dilakukan Orde Baru dengan paham developmentalism yang netral visi dan misi (Swasono. sedangkan PAD seluruh daerah di Indonesia tetap hanya 5 persen. Bangsa kita benar-benar membutuhkan platform ekonomi yang utuh. Seruan memberantas korupsi atau ‗anti politisi busuk‘ saja belum cukup tanpa disertai reformasi (revolusi?) ideologi dan moral ekonomi liberal-kapitalistik yang menumbuhsuburkan praktek korupsi dan kejahatan ekonomi (economic crime) lain di Indonesia. yang memungkinkan seluruh wilayah di Indonesia berkembang sesuai potensi masing-masing. Sebelum otonomi pusat membelanjakan 78 persen.

24. Indonesia‘s Economy and Standard of Living in the 20th Century dalam Grayson Lloyd & Shannon Smith.263 milyar menjadi Rp. Demikian data-data mikro dari lapangan ini. Yang baru adalah kesadaran dan pengakuan tentang peranan besar yang dimainkannya dalam perekonomian rakyat dan perekonomian nasional.8 (1997). Kini setelah Indonesia merdeka 58 tahun. sehingga tidak memerlukan pemulihan.06%) sedangkan 241.4%).Mubyarto MENGEMBANGKAN EKONOMI RAKYAT SEBAGAI LANDASAN EKONOMI PANCASILA I . Ekonomi rakyat Indonesia tidak pernah mengalami krisis serius meskipun sempat kaget.368. Kenyataan ini mempunyai . ISEAS. 1966-1996) ―tidak diridhoi‖ Allah SWT dan krismon ―diturunkan‖ untuk mengingatkan bangsa Indonesia.6 juta gulden (0.21 dan 0.4% dari seluruh penduduk yang berjumlah 60. 197.000 orang Eropa (kebanyakan Belanda) menerima 665 juta gulden (99. 17 Al Israa‘: 16) II.3 juta (2. menunjukkan betapa keliru kesimpulan telah ―hancur leburnya‖ ekonomi Indonesia.7 juta hanya menerima 3. Sangat ―njomplangnya‖ pembagian pendapatan nasional inilah yang sulit diterima para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia yang bersumpah tahun 1928 di Jakarta. Keuangan Mikro bukan hal baru bagi Indonesia. Di Propinsi DIY jumlah penabung bertambah rata-rata 16. 51. kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. ketimpangan ekonomi tidak separah ketika jaman penjajahan. Masyarakat dan pers kita hendaknya waspada dalam hal ini.2% per tahun selama 1997 – 2002 dari 457.8 (1983) dan 9. [2] seorang sejarawan Belanda menulis tentang strata ekonomi penduduk di jaman penjajahan. yang tidak pernah dilihat dan dianalisis oleh para ekonom makro. BRI yang merupakan lembaga keuangan mikro terbesar di Indonesia yang memiliki 3. terutama di perdesaan. berarti setiap orang memiliki tabungan di BRI sebesar Rp.-. Terbukti bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi (7% pertahun selama 3 dekade.825 unit-unit desa di seluruh Indonesia berkembang luar biasa. Kemerdekaan. sungguh-sungguh merupakah ―bom waktu‖ yang kemudian meledak sebagai krismon 1997. 194. tetapi konglomerasi (1987-1994) yang menciptakan ketimpangan ekonomi luar biasa. penduduk Asia lain yang berjumlah 1.788 milyar (tabel 2). harus dicapai karena akan membuka jalan ke arah perbaikan nasib rakyat dan bangsa Indonesia. Penduduk Propinsi DIY tahun 2002 adalah 3. maka sudah sepantasnya berlaku perkataan (ketentuan Kami). Konglomerat ingin melepaskan diri dari kewajiban membayar utang pada bank-bank pemerintah (BLBI dan obligasi rekap). Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri. Krisis Moneter Mengembangkan Keuangan Mikro Sejak terjadinya krisis moneter (krismon) yang berakibat langsung pada ditutupnya 16 bank swasta nasional tanggal 1 Nopember 1997. [2] Pierre Van der Eng. dan Gini Rasio meningkat berturut-turut dari 0. Kesan masih adanya ―krisis ekonomi‖ sekarang ini sengaja ditiupkan dan dibesar-besarkan oleh eks-konglomerat dan para pembelanya termasuk teknokrat.[3] [3] Van der Eng. dua tahun setelah Sumpah Pemuda.496 menjadi 950.18 menjadi 0. maka Kami perintahkan kepada orangorang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu.54%) dari pendapatan ―nasional‖ Hindia Belanda. 828. Dalam 26 tahun (1971 -1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan daerah termiskin meningkat dari 5. Singapore. hal. (Q. idem.1 juta penduduk pribumi (Indonesia) yang merupakan 97. betapapun sangat ―mahal‖ harganya.3% per tahun dari Rp.978 orang. Dan dana tabungan meningkat 26. Indonesia Today. Sebaiknya kita tidak ikut-ikutan berbicara tentang pemulihan ekonomi (economic recovery) jika yang akan kita pulihkan justru kondisi ekonomi sangat timpang ―pra-krisis‖ yang dikuasai konglomerat dan menjepit ekonomi rakyat. 2001.4 juta gulden (0.1 juta orang.2%) menerima 0. lembaga keuangan mikro berkembang pesat.S. Pada tahun 1930. Kemiskinan Penduduk Pribumi di Jaman Penjajahan Pierre Van der Eng.1 (1971) menjadi 6. hal.

maka jelas kami menolak fatwa yang cenderung ―ngawur‖ tersebut. yang jika dibiarkan pasti akan mengakibatkan kebangkrutan perekonomian nasional. Satu Baitul Maal (BMT Beringharjo) di kota Yogyakarta dalam periode relatif singkat (1995-2002) telah meningkat omset pinjamannya dari Rp.9 juta menjadi Rp. 440 juta untuk 917 orang (tabel 5). Fakta tentang peranan besar keuangan mikro dalam perekonomian nasional hendaknya menyadarkan pemerintah tentang perlunya mengkaji ulang teori ekonomi perbankan modern.57 milyar (Tabel 3). krisis hukum. padahal pada tahun 1999 baru Rp. bukan dosen UGM).2 milyar dengan anggota naik dari 393 menjadi 1333 (Tabel 4). Memang pakar-pakar ekonomi makro kita pada umumnya masih mampu berargumentasi dan menunjuk belum adanya investasi terutama investasi asing sebagai salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi rendah. selama 1995-2002 kredit yang disalurkan Perum Pegadaian meningkat dengan 5. dengan peranan yang amat dominan dari (perusahaan-perusahaan) konglomerat. . 1. koperasi atau lembaga-lembaga keuangan mikro ―informal‖ di perdesaan. Ekonomi Rakyat sebagai Penyelamat Ekonomi Nasional Jika Ahmad Syafii Ma‘arif dan Franz Magnis -Suseno (2003) berbicara keras tentang kerusakan bangsa Indonesia yang ―hampir sempurna‖. Selain itu Koperasi Bina Masyarakat Mandiri yang didirikan 28 ―orang gila‖ tanggal 28 Oktober 1998 di Jakarta. yang memang tidak tercatat dalam statistik. atau krisis moral. sehingga tinggal tunggu waktu dibawa masuk jurang. yang sulit dibayangkan untuk bangkit kembali karena utang-utang yang sangat besar. tokh yang paling sering disebutkan di media massa adalah sebagai krisis ekonomi. Misalnya. Inilah yang oleh para ekonom makro yang keblinger disebut dengan ekonomi illegal atau hidden economy. ―Jika pertumbuhan ekonomi hanya ditopang oleh konsumsi maka pertumbuhan ekonomi tidak akan berkelanjutan‖. karena pada umumnya pakar-pakar ekonomi kita lebih banyak menggunakan data-data makro sekunder dan tersier di bidang keuangan.650 trilyun untuk ―menyelamatkan perbankan modern‖. jelas merupakan kebijakan keliru yang tidak berpihak pada kebijakan pengembangan keuangan mikro dan pemberdayaan ekonomi rakyat. tidak dianggap sebagai faktor-faktor yang seharusnya tidak lagi menggambarkan kondisi krisis ekonomi? Ekonomi yang krisis adalah ekonomi yang pertumbuhannya terus-menerus negatif dan inflasi merajalela lebih dari 50% per tahun.873 penduduk miskin di seluruh Indonesia dengan pinjaman Rp. Sebabnya tidak lain karena selama 3 dekade Orde Baru. Ekonomi rakyat di manapun di daerah-daerah benar-benar sudah bangkit. Di Yogyakarta. telah membantu 24. anggotanya meningkat lebih dari 5 kali lipat selama periode krisis (1998-2002). bukan krisis politik. kata mereka. anggota KOSUDGAMA (Koperasi Serba Usaha Dosen-dosen Gadjah Mada) yang kini beranggota 5332 orang (74% diantaranya anggota luar biasa. Kesediaan pemerintah menerbitkan obligasi rekapitalisasi perbankan sebesar Rp. Jika ada pakar ekonomi asing mengatakan ―the only way for Indonesia‟s economic recovery is mass capital inflow from abroad‖. 11. Benarkah faktor-faktor ini cukup? Mengapa inflasi yang sudah benar-benar terkendali sejak 1999 yang kini (2003) berada sekitar 6%. 5. yang bunganya sangat memberatkan APBN. dan pertumbuhan ekonomi yang sudah positif (3-4% pertahun). Benarkah? Diagnosis ekonomi yang bersifat pesimistik masih jauh lebih kuat dibanding diagnosis optimistik. Meskipun orang tidak pernah lupa menyebutkan bahwa krisis yang melanda bangsa Indonesia dewasa ini sudah berciri multidimensi.04 milyar menjadi Rp. maka dilihat dalam perspektif ekonomi diartikan bahwa krisis ekonomi dewasa ini sudah amat parah. faktor-faktornya antara lain adalah kurs dollar yang masih 3 kali lebih tinggi dibanding sebelum krisis moneter Juli 1997. 50. Kini ketika konglomerat sudah rontok. Usahausaha ekonomi rakyat yang disebut (secara tidak tepat) sebagai UKM (Usaha Kecil Menengah) berkembang di mana-mana dengan pendanaan mandiri atau melalui dana-dana keuangan mikro seperti pegadaian. dan jumlah orang yang menggadaikan (nasabah) naik 368% (Tabel 2). bank-bank masih belum mengucurkan kredit ke sektor riil. Sebaliknya data-data mikro sektor ekonomi rakyat. Bahwa ekonomi nasional dianggap masih dalam kondisi krisis. tidak sekedar menggeliat. dan pemerintah terperangkap dalam beban utang dalam dan luar negeri yang sangat berat. 39 milyar. pembangunan ekonomi sudah menjadi ―agama‖. tidak pernah masuk dalam perhitungan. III.6 kali (560%). dengan nilai pinjaman meningkat 11 kali lipat (1116%) dari Rp.implikasi besar terhadap teori tentang peranan modal nasional dan upaya-upaya penguatannya dalam pembangunan ekonomi bangsa. maka ekonomi Indonesia secara keseluruhan dikatakan sudah dalam keadaan krisis parah.

Kerusakan ekonomi bangsa memang hampir sempurna. sedangkan ―kerusakan bangsa‖ yang diklasifikasi sebagai ―hampir sempurna‖ oleh Syafii Ma‘arif adalah kerusakan dalam bidang tatakrama atau etika politik. Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang demokratis. Indonesia sebaiknya tidak usah berbicara tentang pemulihan ekonomi ( economic recovery). tetapi setelah terjadi apresiasi dolar 6 kali lipat secara tiba-tiba maka konglomerat-konglomerat tersebut telah benar-benar hancur berkeping-keping.Dapat disimpulkan bahwa kondisi ―amat gawat‖ yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini tidak terletak dalam bidang ekonomi khususnya ekonomi rakyat. dimana ekonomi rakyat mendapat dukungan pemihakan yang sungguh-sungguh dari pemerintah. Sudah pasti mereka ―keblinger‖ karena paham sosialisme tidak pernah mati. menunjuk pada asas ke-4 Pancasila. dan RRC juga sudah menjadi kapitalis”. dan ekonomi RRC tumbuh cepat bukan karena meninggalkan paham sosialisme tetapi karena amat berkembangnya ekonomi rakyat. tetapi dituduh sebagai sistem ekonomi ―sosialis-komunis‖ ala Orde Lama 1959-1966. bukan kerusakan ekonomi Indonesia. Bahwa sejauh ini pakar-pakar ekonomi arus utama menolak konsep ekonomi kerakyatan. dan kita tidak perlu mati-matian memulihkan kondisi ekonomi pra-krisis yang sangat timpang. IV. Disinilah kekeliruan fatal pakar-pakar ekonomi makro yang sejak krismon 1997 menyatakan ekonomi Indonesia telah ―mati secara aneh dan tiba -tiba‖ (the strange and sudden death of a tiger )[4]. kerusakan ekonomi yang dialami sektor modern/ konglomerat tidak perlu diratapi. Korupsi yang makin merajalela yang ―menyebar‖ dari pusat ke daerah-daerah bersamaan dengan pelaksanaan otonomi daerah bukanlah ―krisis ekonomi‖ tetapi krisis moral. dan moral. Ekonomi siapa yang akan dipulihkan? Ekonomi konglomerat jangan dipulihkan. tetapi dalam bidang politik. Apakah kondisi ekonomi konglomerasi seperti ini akan kita pulihkan? Pasti tidak. hukum. Yang rusak adalah ekonomi konglomerat yang pada masa-masa jayanya terlalu mengandalkan pada modal asing yang murah. yang hendak digusur dari pasal 33 UUD 1945. Jika ekonomi Indonesia telah diibaratkan sebagai harimau ( tiger) yang sudah mati sejak krismon 1997-1998. Pendirian PUSTEP-UGM ini kemudian diikuti pembentukan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PSEK) di Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa tanggal 16 Agustus 2003 semuanya berkehendak menyumbangkan teori-teori dan ilmu ekonomi (asli) Indonesia yang benar-benar memberi manfaat pada masyarakat/ bangsa Indonesia khususnya wong cilik. tetapi kemudian pada tahun 1999 menyebutnya telah mati. Ekonomi Pancasila bukanlah sistem ekonomi baru yang masih harus diciptakan untuk mengganti sistem ekonomi yang kini ―dianut‖ bangsa Indonesia. bahkan juga ekonomi kekeluargaan. adalah karena mereka secara a priori menganggap ekonomi kerakyatan bukan sistem ekonomi pasar.[5] [4] Hal Hill dalam buku pertama tahun 1993 memuji-muji ekonomi Indonesia sebagai The Southeast Asia‟s emerging giant. Demikian. Pandangan dan pemihakan mereka pada konglomerat yang liberal-kapitalistik memang amat sulit diubah lebih-lebih setelah (istilah mereka) ‖Uni Sovyet pun kapok dengan sosialisme. berbeda dengan pandangan pakar-pakar ekonomi arus utama (main stream). [5] Adam Smith. Bibit -bibit sistem ekonomi Pancasila sudah ada dan sudah dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Indonesia terutama pada masyarakat perdesaan dalam bentuk usaha- . Revolusi Mewujudkan Ekonomi Pancasila Tanggal 12 Agustus 2002 UGM mendirikan PUSTEP (Pusat Studi Ekonom Pancasila) yang kemudian disambut pembentukan Komisi Ad Hoc Kajian Ekonomi Pancasila pada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Yang benar manusia adalah juga homo socius dan homo ethicus. Ekonomi Indonesia akan tumbuh cepat seperti ekonomi RRC jika mampu mengalahkan virus korupsi yang tumbuh subur sejak awal gerakan reformasi yang telah benar-benar melenceng. The Theory of Moral Sentiments. the strange and sudden death of a tiger. lalu apa yang terjadi dengan orang-orangnya? Apakah mereka (bangsa Indonesia) juga ikut mati? Inilah tidak realistisnya analisis ekonom yang memberikan konsep-konsep ekonomi abstrak dari manusia-manusia ekonomi (homo ekonomikus) tanpa merasa perlu membumikannya. kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. tetapi bukan kerusakan ekonomi rakyat. 1759.

suatu perjuangan yang memerlukan keberanian menyatakan apa yang benar walaupun pahit karena bertentangan dengan kepentingan pribadi atau kelompok. tetapi menuntut pengorbanan melawan egoisme dan subjektivisme. Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. KOPMA-UGM. Justru inilah suatu bentuk nyata ‖jihad akbar” yang tidak menuntut pengorbanan pertumpahan darah. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. Seminar UGM. 1 Juni 1945) Jika Ahmad Syafii Ma‘arif dan Franz Magnis-Suseno di dalam Seminar ―Meluruskan Jalan Reformasi‖.[6] [6] Nurcholish Madjid. Kompleksitas krisis multidimensi sekarang dan beratnya beban kesulitan mengatasi dan mengakhirinya membuat tekad membangun masa depan harus diwujudkan dalam tindakan-tindakan besar dan inisiatif tingkat tinggi. janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya ialah perjuangan. maka reformasi lebih -lebih yang bersifat tambal-sulam jelas tidak akan memadai. tetapi gerakan ekonomi kerakyatan yang dipicu semangat reformasi memberikan iklim segar pada berkembangnya sistem ekonomi Pancasila yang berpihak pada ekonomi rakyat. 11 Oktober 2003. 11 Oktober 2003 Oleh: Prof. Ketika terjadi krismon 1997-1998. suatu bentuk pengorbanan psikologis. yang secara moral setara dengan revolusi. atau bahkan perang. “Bagi-bagi rezeki” ala ekonomi rakyat di Kota Bangun inilah bukti nyata telah diterapkannya asas-asas ekonomi Pancasila di Kalimantan Timur. Itulah revolusi bukan sekedar reformasi. ―Kapal‖ Indonesia harus dibalikkan arahnya. Pembentukan PUSTEP UGM tepat waktu untuk mengisi kevakuman sistem ekonomi nasional. sekali lagi perjuangan. Nanti kita bersama-sama sebagai bangsa yang bersatu padu. 25-27 September 2003. Adapun mengapa praktek-praktek kehidupan riil dan kegiatan ekonomi rakyat yang mengacu pada sistem (aturan main) ekonomi Pancasila ini tersendat-sendat. .. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus. „Speed‟ hanya melayani penumpang Melak-Kota Bangun pulang-pergi (Kutai Barat dan Kutai Kartanegara). .usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. sedangkan taksi Kijang dan lain-lain kendaraan “mini-bus” untuk jurusan Kota BangunTenggarong-Samarinda.. Jihad akbar adalah jenis perjuangan berat melawan diri sendiri. alasannya jelas karena politik ekonomi yang dijalankan pemerintah bersifat liberal dan berpihak pada konglomerat. yaitu di antara 79 „speed‟ dan 60 taksi yang semuanya dimiliki warga Kota Bangun. PUSTEP UGM bertekad melakukan kajian-kajian kehidupan riil (real life) sehingga dapat membakukan ilmu ekonomi tentang kehidupan riil ( real-life economics) dari masyarakat/bangsa Indonesia. hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang. lain coraknya. Sistem ekonomi kerakyatan merupakan sub-sistem dari sistem ekonomi Pancasila yang diragukan dan tegas-tegas ditolak oleh teknokrat ―keblinger‖. mengibaratkan bangsa Indonesia sudah mendekati ―jurang kehancuran‖. meskipun keberpihakan pemerintah pada konglomerat belum hilang. dan Balikpapan. yang begitu silau dengan sistem ekonomi kapitalis liberal dari Barat (Amerika). Seorang pengemudi ‟speed boat‟ Zamrani (26 th) yang hanya tamat SD 6 tahun menegaskan “Ekonomi Pancasila dalam Aksi” di dalam pelayanan jasa transpor di Sungai Mahakam Kaltim. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi dan Moral. Mubyarto -. berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila (Soekarno. Dr. Jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu menjadi satu realiteit. ketika sistem ekonomi kapitalis liberal di Indonesia sedang digugat. Tindakan besar yang dimaksud adalah suatu tindakan fundamental. [1] Makalah untuk Seminar Ekonomi Masa Depan Indonesia Pasca IMF. perjuangan.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. dan sistem ekonomi kerakyatan sedang mencari bentuknya yang tepat dan operasional.

2. Mubyarto PERHATIAN TERHADAP KONDISI PERSEKOLAHAN DI DAERAH TERPENCIL: BUKAN SEKEDAR REFORMASI HARUS REVOLUSI Rusnawati (47 tahun) yang guru SD Kampung Sambung. Kalimantan Timur.720. kelas III: 3 murid. 11. meskipun gaji Rusnawati terhitung lumayan (Rp 1. 2003. Pidato pertama tentang Pancasila yang diucapkan pada tanggal 1 Juni 1945 oleh Bung Karno ‖. Ahmad Syafii Ma‘arif. London. 2002. dan sangat jelas yang diperlukan sekarang bukan sekedar reformasi tambal sulam tetapi revolusi. ibukota Kutai Barat) dengan perjalanan darat sebagian besar masih jalan tanah buatan perusahaan HPH. dan kini bertanggungjawab atas pendidikan 25 anak yang terbagi atas 6 kelas yaitu kelas I: 8 murid.000 per-bulan). 5. A Development Alternative for Indonesia. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi dan Moral. 2000. Yogyakarta. Panitia Pusat ―Silaturahmi Kebangsaan 2003‖. 2001. 4. De Soto. Tentu kita kagum bagaimana seorang guru mengajar 25 anak didik dengan 6 kelas yang berbeda dengan buku-buku yang sangat terbatas. Universitas Gadjah Mada. Seminar Nasional. yaitu revolusi dalam perhatian pemerintah terhadap kondisi persekolahan di kampung ini. Aditya Media. Joseph Stiglitz and The World Bank. Seminar Nasional. Norton. 12. 8. 2002. Franz Magnis-Suseno SJ. Kabupaten Kutai Barat. dan kelas VI: 8 murid. namun perhatian terhadap . New York. 1999. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi. Universitas Gadjah Mada. Mubyarto. Bromley. maka untuk SD yang ditangani Rusnawati reformasi ―belum pernah terjadi‖. Indonesia Today. Kampung (desa) Sambung. Jakarta. SD yang layak dan bermutu harus dipusatkan di kecamatan yang murid-muridnya di‖asramakan‖ dan penyelenggaraannya ditanggung Dinas Pendidikan. kelas II: 3 murid. 7. Mubyarto. Hernando. dan revolusi dalam kesadaran seluruh warga masyarakat bagaimana menjamin pendidikan yang bermutu bagi generasi anak cucu . dan Pendidikan. Membangun Sistem Ekonomi. Singapore. Bhratara. Pertama. Reformasi Sistem Ekonomi.Bacaan 1. sehingga total 25 murid. BPFE.H. 2003. Mubyarto dan Daniel W. berjarak 160 km dari Melak (Sendawar. 9. WW. Lloyd. Yogyakarta. sedangkan ke perbatasan dengan Kalteng yang hanya 10 km ditempuh dalam 1 jam perjalanan. Kedua. ―12 Kali Tepuk Tangan di BPUPKI: Lahirnya Pancasila. 2003. 10. Kecamatan Bentian Besar. kelas IV: 1 murid. Nurcholish Madjid. Pemda Kabupaten. Sekolah dimulai pukul 6:00 pagi dan pada pukul 6:30 semua murid ―gosok gigi‖ bersama. Universitas Gadjah Mada. 2000. sedangkan anak-anak kelas IV – VI pulang pukul 13:00. Penny. Yogyakarta. 3. 1976. Perjalanan dari Melak memerlukan 4 jam. Globalization and Its Discontents. Anthem Press. kelas V: 2 murid. 6. Moral. Soekarno. ISEAS. The Mystery of Capital. 2001. The Rebel Within. 2003. Grayson & Shannon Smith. Gadjah Mada Press. Penduduk dan Kemiskinan di Pedesaan Jawa. bertahun-tahun berjuang ―sendirian‖. Seminar Nasional. Stiglitz. Bila kita berbicara tentang reformasi yang jalannya hendak kita ―luruskan‖. Black Swan. Ha-Joon. tidak mungkin setiap kampung mempertahankan SD sendiri-sendiri dengan jumlah murid sangat sedikit. Chang. Anak -anak kelas I – III pulang pukul 11:00. Kembalikan Moralitas Bangsa. Masri Singarimbun & D. Joseph E.

pemerintah daerah harus mampu mendorong terjadinya revolusi atau perubahan radikal dalam menangani dunia pendidikan termasuk penyediaan anggaran 20% dari APBD seperti yang ―dianjurkan‖ UUD 1945 yang telah diamandemen. [1] 8 .696 per tahun atau Rp . 9 Tahun 2001 Tentang Program Pembangunan Daerah Tahun 2001-2004. Demikian dari kasus 2 SD di kampung miskin di kabupaten Kutai Barat ini kiranya harus ada revolusi dalam pendidikan dasar. 25 September 2003 Oleh: Prof. dikhawatirkan anak-anak sangat tidak menikmati suasana sekolah dan tidak dapat diharapkan menjadi anak-anak yang cerdas. pendidikan rakyat. Pendapatan per kapita dari Provinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan harga konstan 1993 pada tahun 2001 adalah sebesar Rp 732. 19). Pos Kupang 11 September 2001 hlm.100 per tahun atau Rp 61.008 per bulan atau berdasarkan harga yang berlaku pada tahun 2001 adalah sebesar Rp 1. beberapa orang spontan mendukung asal tetap tidak perlu dipungut biaya. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. Strategi pembangunan yang menjadi pilihan tersebut memerlukan langkah-langkah operasional yang terukur dan disesuaikan dengan paradigma baru pembangunan (Esthon Foenay.Nopember 2003] Vincent Gaspersz dan Esthon Foenay KINERJA PENDAPATAN EKONOMI RAKYAT DAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Strategi pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dilakukan berdasarkan pertumbuhan melalui pemerataan dengan prinsip membangun dari apa yang dimiliki rakyat dan apa yang ada pada rakyat. tidak sekedar reformasi yang dalam kenyataan hanya dijadikan retorika politik di Jakarta. Gedung SD dari kayu yang bekas rumah penduduk (5 x 15m). Mubyarto -.000 (baru saja diangkat sebagai PNS) dengan dibantu guru PTT dengan gaji Rp 400.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. Ada anak kelas I anak penginjil setempat (Yunus) yang tiap hari diantar sekolah oleh ibunya setelah ditinggal selalu pulang lagi.811. Masyarakat yang hampir semuanya miskin sulit diharapkan membayar biaya pendidikan anak-anak mereka. Sengkon (39) dengan gaji Rp 720. tanpa dinding pembatas.kesejahteraan guru dan penyediaan bahan-bahan ajar harus dengan anggaran yang memadai untuk penyelenggaraan sekolah-sekolah beserta asramanya. yang merupakan filial SD Dempar. sangat mendukung gagasan pengasramaan murid-murid SD desa-desa terpencil ini. dengan titik berat pembangunan yang berlandaskan pada pembangunan ekonomi rakyat. Kepala sekolah SD Dempar. terutama desa-desa/kampung-kampung miskin. Melihat buku-buku ajar yang dipakai sebagian besar sudah tua. hlm.000/bulan bertanggungjawab atas pendidikan 41 murid SD. Jaelani (41 th). Dr. dan kesehatan rakyat. Kinerja pendapatan per kapita penduduk diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan tahun 1993 dibagi dengan jumlah penduduk tengah tahun. Salah satu tujuan pembangunan ekonomi daerah Nusa Tenggara Timur adalah meningkatkan standar hidup layak yang diukur dengan indikator pendapatan per kapita riil masyarakat (Peraturan Daerah Provinsi NTT No. Kasus kondisi sekolah dasar yang cukup ―memilukan‖ di kampung Sambung menjadi lebih ―mengerikan‖ lagi di kampung Jontai kecamatan Damai. dipakai untuk semua murid dengan guru Sengkon sendirian (guru PTT Sarmoto jarang datang).000/bulan. Di daerah-daerah. Pada saat kepada penduduk Jontai yang dipilih secara acak diajukan usulan untuk ―mengasramakan‖ anak -anak usia SD mereka ke SD Dempar. Pendapatan per kapita dan pengeluaran per kapita dapat dijadikan sebagai indikator kemajuan pembangunan ekonomi di Nusa Tenggara Timur. 4 & 7). itupun ada yang keberatan karena memang tidak mampu. Sekarang setiap anak membayar BP3 Rp 1.

000 per tahun atau Rp 41.000 per tahun—ranking 293 dari 294 kabupaten di Indonesia). BAPPENAS.240 per tahun atau Rp 93.417 per bulan.380 per tahun atau Rp 84. Terdapat dua kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pendapatan per kapita terrendah di Indonesia (ranking 293 dan 294 dari 294 kabupaten yang dipelajari).057). hlm.72% dari total penduduk pedesaan) hanya memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 5.125.72%). Sangat sulit membayangkan betapa parahnya tingkat kemiskinan masyarakat di Nusa Tenggara Timur.333 per bulan. atau hanya sekitar 3.$US 300. Kinerja pendapatan per kapita dari kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 adalah terdapat tujuh kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pendapatan per kapita per tahun lebih rendah daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 732. Berdasarkan studi ini dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pemerataan kemiskinan di Nusa Tenggara Timur yang ditunjukkan melalui rendahnya tingkat pengeluaran per kapita dari mayoritas penduduk di NTT. (2) Manggarai (Rp 521. 129).000 per tahun atau Rp 495.100). (3) Timor Tengah Selatan (Rp 550.14 persen daripada pendapatan per kapita penduduk Jakarta Pusat.728.636). (5) Flores Timur (Rp 778.262). Kinerja pengeluaran per kapita penduduk secara rata-rata dapat juga digunakan sebagai variabel proxy (mewakili) dalam mengkaji kinerja tingkat pendapatan ekonomi penduduk dan distribusi pendapatan penduduk.000 per tahun atau Rp 59. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001 (BPS.985.339 orang (65. (2) Kabupaten Kupang (Rp 852.000 per tahun —ranking 294 dari 294 kabupaten di Indonesia) dan Kabupaten Sumba Barat (pendapatan per kapita Rp 501. (6) Sikka (Rp 717.298 orang) yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150. Pengeluaran per kapita pada tahun 2001 dari penduduk Provinsi Nusa Tenggara Timur atas dasar harga yang berlaku adalah sebesar Rp 1. masih lebih rendah daripada pendapatan per kapita penduduk negara termiskin di dunia (Sierra Leone) yang sebesar $US 490. dan UNDP 2001) diketahui bahwa kinerja pendapatan per kapita tertinggi (PDRB real per kapita —tanpa minyak dan gas) pada lingkup provinsi di Indonesia adalah dari Provinsi DKI Jakarta yaitu Rp 5.975 per bulan (NTT dalam Angka Tahun 2001.408 per tahun atau Rp 144. diurutkan dari yang terrendah adalah: (1) Sumba Barat (Rp 474. atau hanya sekitar 12 persen daripada pendapatan per kapita penduduk DKI Jakarta.053).770 per bulan (NTT dalam Angka Tahun 2001. yaitu Kabupaten Timor Tengah Selatan (pendapatan per kapita Rp 497.009). sedangkan yang berada di daerah perkotaan NTT adalah sebanyak 388. Jika menggunakan nilai kurs $US 1 = Rp 9000an (rata-rata nilai kurs pada tahun 2001). diurutkan dari yang tertinggi adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 1.820.105).000 per hari. (4) Timor Tengah Utara (Rp 650.000 per hari ini terbanyak berada di daerah pedesaan NTT yaitu sebanyak 3. Kelompok penduduk yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150.100). BAPPENAS.104. dan UNDP 2001) diketahui bahwa rasio Gini (indeks Gini) dari pengeluaran rumahtangga di Provinsi Nusa Tenggara Timur . Hal ini berarti secara kasar dapat disimpulkan bahwa pendapatan per kapita penduduk NTT yang sebesar $US 200-an—katakanlah berkisar $US 200 . (5) Alor (Rp 706. 469). Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001 (BPS. hlm.318.22%) daripada pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk pedesaan di NTT. dan (6) Ngada (Rp 761.959 orang (94.015.943. maka pendapatan per kapita NTT pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku adalah setara dengan $US 200-an.951).615 per bulan. Pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku terdapat sekitar 90.591).000 per bulan atau kurang dari Rp 5.039). Kinerja pendapatan per kapita di Nusa Tenggara Timur adalah yang paling rendah (paling buruk) di Indonesia.000 per tahun atau Rp 1. Sedangkan enam kabupaten di NTT memiliki kinerja pendapatan per kapita lebih tinggi daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 732.493. terutama di daerah pedesaan NTT di mana mayoritas penduduknya (94.000 per hari pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku pada saat itu.15% penduduk NTT (3. (4) Ende (Rp 812.061) dan terrendah (pendapatan per kapita terrendah) adalah dari negara Sierra Leone yaitu $US 490.034 per bulan.333 per bulan dan terrendah adalah dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (Provinsi Nusa Tenggara Timur) yaitu Rp 497. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Global 2002 (UNDP 2002) terhadap 173 negara di dunia. Pengeluaran per kapita dari penduduk perkotaan di NTT adalah sebesar Rp 1. diketahui bahwa kinerja pendapatan per kapita tertinggi adalah dari negara Luxembourg yaitu sekitar $US 50 ribu ($US 50. Hal ini berarti pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk perkotaan di NTT lebih tinggi sekitar Rp 713. dan (7) Ngada (Rp 761. sedangkan pengeluaran per kapita dari penduduk pedesaan di NTT adalah sebesar Rp 1.149).250 per bulan dan terrendah adalah dari Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Rp 712.028 (70.150. (3) Sumba Timur (Rp 840.149). Kinerja pendapatan per kapita lingkup kabupaten/kota tertinggi (PDRB real per kapita—tanpa minyak dan gas) adalah dari Kota Madya Jakarta Pusat (Provinsi DKI Jakarta) yaitu Rp 15.000 per bulan atau kurang dari Rp 5.04%).857).680).

(8) Flores Timur (Rp 528.367.030 (atas dasar harga konstan 1993). diurutkan dari yang tertinggi adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 1. maka pembangunan ekonomi kerakyatan di masa mendatang seyogianya memprioritaskan pada beberapa kabupaten di NTT yang masih menunjukkan kinerja rendah dalam indikator pendapatan ekonomi masyarakat yaitu: Timor Tengah Selatan. .717. diurutkan dari yang terrendah adalah: (1) Sumba Barat (Rp 437. sedangkan produktivitas tenaga kerja terrendah berada dalam Kabupaten Sumba Barat yaitu sebesar Rp 1. (3) Timor Tengah Utara (Rp 1.270).710).717.970). (2) Sikka (Rp 440. sedangkan produktivitas tenaga kerja terrendah berada dalam sektor industri pupuk.900). (5) Ngada (Rp 1.660).900). diurutkan berdasarkan produktivitas tenaga kerja tertinggi.500 persen. (7) Flores Timur (Rp 1.017.650. dan (3) Sumba Timur (Rp 1. Kinerja produktivitas tenaga kerja regional di Nusa Tenggara Timur diukur berdasarkan rasio produk domestik regional bruto (PDRB) kabupaten tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 dengan jumlah tenaga kerja yang ada di kabupaten itu pada tahun 2001.017. Alor. yang menunjukkan telah terjadi pemerataan pengeluaran rumahtangga pada tingkat pengeluaran yang rendah seperti diungkapkan di atas. kimia dan barang dari karet —Rp 469. kimia dan barang dari karet yaitu sebesar Rp 469.597. (6) Timor Tengah Selatan (Rp 1.640). adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 7.750). (9) Alor (Rp 1. (6) Belu (Rp 494.730).650).24 kali lipat (724%) daripada tingkat produktivitas tenaga kerja terrendah dari Kabupaten Sumba Barat. (4) Belu (Rp 1. Hal ini berarti bahwa tingkat ketimpangan antara produktivitas tenaga kerja regional tertinggi (Kota Madya Kupang—Rp 7.406.187.703. (2) Kabupaten Kupang (Rp 1.017.980).820).534. (8) Sikka (Rp 1.560). (4) Alor (Rp 485.580).360).28.280). (3) Timor Tengah Selatan (Rp 472. (7) Ende (Rp 501. adalah: (1) Sumba Barat (Rp 1.710) di Nusa Tenggara Timur adalah sekitar 75 kali atau 7. yaitu: sisi input dan sisi output. yang berarti tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi dari Kota Madya Kupang adalah 7.962. dan Kabupaten Kupang.380).590 (atas dasar harga yang berlaku tahun 2001).367.750) di Nusa Tenggara Timur adalah sekitar 7. yang berarti tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi dari sektor lembaga keuangan bukan bank adalah 75 kali lipat (7500%) daripada tingkat produktivitas tenaga kerja terrendah dari sektor industri pupuk. Sumba Barat.030).960). Timor Tengah Utara. Berdasarkan kenyataan di atas.650).140). (5) Timor Tengah Utara (Rp 487. kimia dan barang dari karet.250).540).652. dan (10) Ende (Rp 1.202.942. diketahui bahwa produktivitas tenaga kerja tertinggi berada dalam Kota Madya Kupang sebesar Rp 7. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input dalam memproduksi output (barang dan/atau jasa).080). Belu. (10) Sumba Timur (Rp 566. Kinerja pengeluaran per kapita dari kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada tahun 1999 atas dasar harga konstan 1993 adalah terdapat sebelas kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pengeluaran per kapita lebih rendah daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 576. dan (11) Ngada (Rp 566.pada tahun 1999 adalah rendah yaitu 0.590) dan produktivitas tenaga kerja sektoral terrendah (sektor industri pupuk. Kinerja produktivitas tenaga kerja dari kabupaten-kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah terdapat 10 kabupaten yang memiliki kinerja produktivitas tenaga kerja regional lebih rendah daripada rata-rata produktivitas tenaga kerja tingkat Provinsi NTT (Rp 1. Hanya terdapat tiga kabupaten yang memiliki kinerja produktivitas tenaga kerja regional lebih tinggi daripada rata-rata produktivitas tenaga kerja tingkat Provinsi NTT (Rp 1. Dari 34 sektor produksi yang didefinisikan dalam Tabel Input-Output Nusa Tenggara Timur 2001 (BPS NTT.540). Manggarai.24 kali atau 724 persen.187.180) dan (2) Manggarai (Rp 579.148. 2002) diketahui bahwa produktivitas tenaga kerja tertinggi berada dalam sektor lembaga keuangan bukan bank yaitu sebesar Rp 35. Hanya terdapat dua kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pengeluaran per kapita lebih tinggi daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 576.750 (atas dasar harga konstan 1993).281. maka produktivitas memandang dari dua sisi sekaligus. (9) Kabupaten Kupang (Rp 557. diurutkan berdasarkan produktivitas tenaga kerja terrendah.717.030) dan produktivitas tenaga kerja regional terrendah (Kabupaten Sumba Barat—Rp 1. Kinerja Produktivitas Tenaga Kerja di NTT Apabila ukuran keberhasilan produksi hanya memandang dari sisi output. (2) Manggarai (Rp 1.010). Dari 13 kabupaten/kota yang dipelajari. Kinerja produktivitas tenaga kerja di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 adalah sebesar Rp 1.710 (atas dasar harga yang berlaku tahun 2001).575.367.650).523. Hal ini berarti bahwa tingkat ketimpangan antara produktivitas tenaga kerja sektoral tertinggi (sektor lembaga keuangan bukan bank —Rp 35.900).030).

Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001—Menuju Konsensus Baru: Demokrasi dan pembangunan manusia di Indonesia. Dr. ―on-farm‖. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. 2002. Perspektif Perencanaan dan Paradigma Baru Pembangunan. Perencanaan Sumber Daya Manusia Tingkat Makro di Provinsi Nusa Tenggara Timur. 2001. Tabel Input-Output Nusa Tenggara Timur 2001—Klasifikasi 35 Sektor. Ir. dan sejahtera. 2001. 2002. Kupang. hlm. Esthon. . 2001. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kupang. Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2000. Dengan demikian telah jelas bahwa strategi perubahan struktur produksi dari sektor-sektor produksi yang memberikan kontribusi terhadap PDRB. melalui mengembangkan sektor agribisnis dari hulu. Kupang dan Universitas Trisakti. NTT. Jakarta 2001. M. 2001. Peningkatan produktivitas tenaga kerja melalui perubahan struktur produksi terhadap PDRB. 2002. sampai hilir. Publikasi Bersama oleh BPS. dan hilir. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 9 Tahun 2001 tentang Program Pembangunan Daerah (PROPEDA) Tahun 2001-2004. 4 dan 7. ―on-farm‖. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 6 Tahun 2002 tentang Rencana Strategis Pembangunan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2002-2004. Jakarta yang saat ini bermukim di Vancouver. 2002. dan UNDP. Kupang. Kupang. Kupang. Badan Pusat Satatistik. akan memberikan konsekuensi lebih lanjut berupa peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat. Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2001. Canada. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. sesuai dengan visi dari pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur. Artikel dalam Pos Kupang 11 September 2001. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. Laporan Studi Kerjasama Bappeda NTT dengan Program Pascasarjana Universitas Katolik Widya Mandira.Berdasarkan hasil studi ini direkomendasikan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dari kabupaten-kabupaten di NTT melalui melakukan transformasi struktur produksi atau menurunkan tingkat kontribusi dari sektor-sektor primer terhadap PDRB kabupaten itu. Bappenas. yang pada akhirnya akan mampu mewujudkan kemandirian masyarakat membiayai kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. Hal ini akan mampu mewujudkan cita-cita jangka panjang berupa mewujudkan masyarakat Nusa Tenggara Timur yang mandiri. BPS. BPS NTT. Hal yang paling memungkinkan adalah mengembangkan sektor-sektor agribisnis yang mampu mengaitkan secara terpadu dan terintegrasi dari agribisnis hulu.Si adalah Kepala BAPPEDA Provinsi Nusa Tenggara Timur yang bermukim di Kupang. DAFTAR PUSTAKA BAPPEDA NTT dan Program Pascasarjana UNIKA WIDYA MANDIRA. dan UNDP. BPS Jakarta-Indonesia. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Prof. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 8 Tahun 2001 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Tahun 2001-2004. maju. BPS NTT. Vincent Gaspersz adalah Guru Besar Ekonomi Manajerial pada Program Pascasarjana Unika Widya Mandira. Esthon Foenay. di masa mendatang akan mampu meningkatkan produktivitas tenaga kerja regional. Bappenas. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. Foenay. Kupang. 2001. BPS NTT. 2001. Jakarta. Kupang. Penduduk Nusa Tenggara Timur—Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000.

S. importation of foreign oil. The Geopolitics of Oil In April 1998 the United States for the first time imported the majority of the petroleum it consumed. A key event was the publication in Scientific American in March 1998of ―The End of Cheap Oil‖ by retired oil industry geologists Colin J. foreign oil dependency.‖ The Campbell and Laherrère article and the question of peak oil immediately drew the attention of the International Energy Agency (IEA). The crossing of this threshold pointed to a very rapid growth in U. the rapid expansion of U. the 2003 invasion of Iraq. (3) concentration of an increasing percentage of all remaining conventional oil resources in the Persian Gulf. and the increased threats now directed at Iran and Venezuela—all signal the rise of a dangerous new era of energy imperialism. Laherrère. seek to extend its control over world oil reserves with the object of boosting production. the . the invasion and occupation of Afghanistan (the geopolitical doorway to Western access to Caspian Sea Basin oil and natural gas) following the 9/11 attacks. assuming a high profile behind the scenes in establishment discussions. (2) the disappearance of spare world oil production capacity.‖2 This required that the United States as the hegemonic power. Politics/ Economics The rise in overt militarism and imperialism at the outset of the twenty-first century can plausibly be attributed largely to attempts by the dominant interests of the world economy to gain control over diminishing world oil supplies.Peak Oil and Energy Imperialism John Bellamy Foster Home Subscribe Notes From the Editors ESSAYS ON: » Africa » Europe » Feminism/Women and Politics » Globalization » Labor and Working-Class Issues » Latin America » Media/ Communications » 9/11–War on Terrorism » Social/Political Theory » U. Seen in this light.S.S. with the backing of the other leading capitalist states. Campbell and Jean H. military activities in the Gulf of Guinea in Africa (where Washington sees itself as in competition with Beijing). and (4) looming fears of peak oil. ―The End of Cheap Oil‖ predicted that world oil production would peak ―probably within 10 years. The response of the vested interests to this world oil supply crisis was to construct what Michael Klare in Blood and Oil has called a global ―strategy of maximum extraction. At the same time fears that the world would soon reach peak oil production became increasingly prominent.S.1 Beginning in 1998 a series of strategic energy initiatives were launched in national security circles in the United States in response to: (1) the crossing of the 50 percent threshold in U.

would push the peak back around a decade further. In November 2000. since it suggested that a world oil peak could be reached as early as 2021. As he recounted it in a February 2008 interview. was not altogether reassuring to the vested interests. CEO of the Houston-based energy investmentbanking firm Simmons and Company International and a member of the National Petroleum Council and the Council on Foreign Relations.7 These concerns with regard to world oil supply that began to penetrate the corridors of power in the 1998–2001 period led to a wide-ranging debate within the inner circles in the United States about the nature of the oil extraction problem and the strategic means with which to alleviate it.8 In July 1998 the Center for Strategic and International Studies (CSIS) launched its ―Strategic Energy Initiative. however. Bush‘s presidential campaign. was still far from distant.‖ The analysis itself. Referring to oil fields ―brought into production since 1970. Matthew Simmons. Twilight in the Desert: The Coming Saudi Oil Shock and the World Economy. its own longterm supply model ―would not peak until around 2008–2009. ―Between now and the election. His 2005 book. As opposed to those who saw the peak occurring ―as early as 2004‖ the EIA concluded that ―world conventional oil production may increase two decades or more before it begins to decline. advising on the growing oil constraints.‖ Simmons noted that ―almost all of these new fields have already reached peak production and are now experiencing rapid rates of decline…fAnd when the stable base of old. he had ―pulled aside‖ Bush‘s ―first cousin‖ in early March 2000 to tell him of an earlier conversation he had had with an assistant to Secretary of Energy Bill Richardson.‖ I said. empire raised by groups such as the Project for a New American Century. Department of Energy conducted a full assessment of the peak oil issue as early as July 2000. This was increasingly integrated with wider issues on the expansion of the U.S.6 The Energy Information Administration (EIA) of the U. he can mispronounce every head of state in the world.S. moreover. in its World Energy Outlook of 1998. however. but this. . The peaking of United Kingdom North Sea oil production in 1999 (Norwegian production peaked two years later) added a still greater sense of urgency.5 Simmons was a member of the Bush-Cheney Energy Transition Advisory Committee. oil policy call you and [say ‗shit!‘] about five times in 20 seconds. has become one of the most influential works propounding the peak oil notion.‖ he asked. considering a number of scenarios. Rather than extending the life of oil fields as previously supposed. The IEA claimed that even adopting the pessimists‘ assumptions on the real extent of world oil reserves and the existence of a bellshaped production curve (but without the sharp oil price hike suggested by Campbell). Schlesinger. if this all breaks out and Bush is misinformed. who had been sent to examine the spare oil production capacity of the OPEC countries.OECD‘s energy organization. this is so much worse than what they‘ve warned us about. but giant.‖ And that dragged me into helping create the comprehensive energy plan put forth by Bush when he was running.S. As Simmons reported to Bush‘s cousin: I said. ―what will this do to the world‘s average depletion rate?‖4 In 2000 Simmons‘s concerns regarding diminishing oil supply led to his becoming an energy advisor for George W. fields also starts to deplete. this will sink you.3 This. arguing that the Saudi oil production peak was imminent. the introduction of this technology most likely accelerated their depletion.‖ Employing the IEA‘s own assumptions on reserves. published an article in Middle East Insight in 1999 in which he emphasized the ―far faster‖ depletion of major oil fields arising from high-extraction technology. ―When you have someone who is the head of U.‖ at the urging of former chairman of the Senate Armed Services Committee Sam Nunn and former secretary of defense (and former secretary of energy) James R.

President Bush warned in May 2001 that dependence on foreign crude oil put U.9 In 2001 the James Baker III Institute for Public Policy of Rice University and the Council on Foreign Relations cosponsored a study of Strategic Energy Policy Challenges for the 21st Century.S.S. its report took the peak oil issue extremely seriously. which included the ―possibility that Saddam Hussein may remove Iraqi oil from the market for an extended period.‖ Investment in the enhancement of Iraqi oil production capacity was essential. issued under the direction of Vice President Dick Cheney. It stressed that the Persian Gulf would have to expand its energy production ―by almost 80 percent during 2000–2020‖ in the face of rising demand and declining oil production elsewhere in the world in order to meet world energy needs. since there was a danger that oil price increases and supply shortages would make ―the United States appear more similar to a poor developing country. chaired by energy analyst Edward L. Department of Energy‘s International Energy Outlook in 2001 projected the need for a doubling of Persian Gulf oil production over 1999 . ―represent a major asset that can quickly add capacity to world oil markets and inject a more competitive tenor to oil trade. This would be coupled with replacement of the current political economy of oil dominated by national oil companies. petroleum security.S. Underscored throughout the report was the necessity of finding ways to increase oil exports from Iraq and Iran both then under U. the Baker Institute/Council on Foreign Relationsreport emphasized. Morse.‖ The answer was for the Western powers led by the United States to play a more direct role in the development of world oil resources.S. Overall. the U. reliance on foreign oil imports could increase to almost two-thirds of its total gasoline and heating oil consumption by 2020. The problem was what to do about Saddam Hussein. focusing on the arguments of Campbell and Laherrère and Simmons.‖ falling to ―negligible‖ amounts. ―Iraqi reserves. operating well below capacity. had ―special responsibilities for preserving worldwide energy supply‖ and ―open access‖ to the world‘s oil. Task force members included both oil optimists. and in the previous year ―turning its taps on and off when it has felt such action was in its strategic interests to do so.S. such as Morse and Daniel Yergin of Cambridge Energy Research Associates. ―national energy security‖ in the hands of ―foreign nations. oil production had fallen 39 percent below its 1970 peak and that U.the Strategic Energy Initiative issued a three volume report.‖ This presented a growing danger to the world capitalist economy. with one in which the multinational oil corporations centered in the advanced capitalist economies once again took charge of reserves and investments. which had arisen with the growth of ―resource nationalism‖ in the third world.‖ Excess capacity had been ―wiped out. In this situation. The CSIS Strategic Energy Initiative officially rejected the notion that the world oil peak would be reached as early as 2010.‖ the Strategic Energy Policy report emphasized. it declared.S. As the ―only superpower‖ the United States. the Baker Institute/Council on Foreign Relations report pointed out that Iraq had emerged as a key ―swing producer‖ of oil.‖ In terms of the long-term world oil supply outlook. some of whom do not share our interests. the stakes were exceedingly high. partly due to oil producing countries devoting oil revenues to social projects rather than to investment in new production capacity.10 These reports by national security analysts on strategic energy policy were followed in May 2001 by the White House release of its National Energy Policy.‖ Indeed. and oil pessimists such as peak oil proponent Simmons. economic sanctions. The question of a world oil peak in the decade 2000–10 was also examined. with Nunn and Schlesinger as cochairs. It too emphasized the need for U. Nevertheless. The Baker Institute/Council on Foreign Relations report emphasized the adequacy of world oil reserves for decades to come but argued that world oil was facing ―tight supply‖ due to ―underinvestment‖ in new production capacity and ―volatile states. noting that total U. The Geopolitics of Energy into the 21st Century.

Greenspan claimed.S. needed to be seen against the background of previous Western military interventions aimed at securing the oil of the region. But since the sought-after increases could be doomed by instability and conflict in the region. This optimistic forecast could not possibly be fulfilled.levels by 2020 in order to meet expected world demand. It is unlikely that this strategy was ever formalized in a single. Mossadeq‘s nationalization of Anglo-Iranian oil in 1951 [resulting in the CIA‘s overthrow of Iranian Prime Minister Mossadeq and the installation of the Shah in 1953] and the aborted effort by Britain and France to reverse Nasser‘s takeover of the key Suez Canal link for oil flows to Europe in 1956.‖ The U.11 U. . national security and energy analysts as well as energy corporations and the Bush administration had thus arrived at the conclusion by spring 2001 that.S. stated in his book The Age of Turbulence in 2007: ―I am saddened that it is politically inconvenient to acknowledge what everyone knows: that the Iraq war is largely about oil. to and reversal of. and economic dominance of the Gulf. political. economic official throughout this period. the strategy also entailed increased military intervention. presenting the possibility of a big boost in Iraqi oil production. the top U. intervention in Iraq and its increased military role in the Middle East was. As Michael Klare wrote in his Blood and Oil: In the months before and after 9/11. and providing a staging ground for increased U. Once the September 2001 attacks occurred.S. This approach—I call it the strategy of maximum extraction—was aimed primarily at boosting the oil output of the major Gulf producers. presaging a series of oil price shocks.12 Militarily the issue was one of shoring up Saudi Arabia in the face of growing signs of instability. strategic control of the Middle East and its oil was viewed as the key to establishing the basis of a ―new American century. capacity was extremely tight. as had all other administrations before it. Key figures in the Bush administration such as Donald Rumsfeld and Paul Wolfowitz had been pushing for an invasion of Iraq even before the election. military.‖ As former Federal Reserve Board Chairman Alan Greenspan. Both nations were viewed as underproducing due to underinvestment and the effects of sanctions. without massive investment in an expansion of capacity in the Persian Gulf of a kind that key states. carrying out regime change in Iraq. economic. seemed unlikely to undertake. however. such as Iraq and Iran. for example: ―the reaction.S. and military action in the Gulf. followed by the invasion in 2003 of Iraq. the Bush administration turned. Rather. From the standpoint of the geopolitics of oil. the Bush administration fashioned a comprehensive strategy for American domination of the Persian Gulf and the procurement of everincreasing quantities of petroleum. giving the United States a geopolitical doorway (and pipeline route) to Central Asia and the Caspian Sea Basin. Only a vast increase of oil production in the Persian Gulf as a whole could prevent an enormous gap emerging between oil production and demand over the next two decades. while substantial oil reserves still existed.S. Rather than try to solve the problem on the demand side by lessening consumption. to the military as the ultimate guarantor. the ―War on Terrorism‖ led to the invasion first of Afghanistan. Iraqi crude oil production in 2001 was 31 percent less than in 1979. the administration adopted a series of policies that together formed a blueprint for political. and even Saudi Arabia. while Iran‘s had fallen by about 37 percent since 1976. U. invasion of Iraq.‖ The U.S. and exerting maximum pressure on Iran. all-encompassing White House document. Behind all of this lay the specter of peak oil production. Saddam Hussein‘s removal and the occupation of Iraq was seen as enhancing the security of Middle East oil. The IEA estimated that Persian Gulf states would have to invest over half a trillion dollars on new equipment and technology for oil production capacity expansion by 2030 in order to meet projected oil production levels.

having declined from 2. Peak oil is not the same as running out of oil. These methods were pioneered in the 1950s by oil geologist M.13 Although the Bush administration criticized Greenspan‘s statement. The conventional notion that . In a September 13. These include heavy oil. who achieved fame for successfully predicting the U. e.‖ Peak oil is generally viewed in terms of the peaking of conventional crude oil supplies on which the main estimates of oil reserves are based.. while the average size of new discoveries has also declined over time. national oil production can be expected to take the form of a bell-shaped curve as well. until a peak is reached when about half of the accessible oil has been extracted. 2007. King Hubbert. As the price of oil rises some of these sources become more exploitable. petroleum derived from oil sand. Peak oil therefore inevitably signals the end of cheap oil.1 mb/d. Since oil production for an entire country is simply a product of the aggregation of individual wells.5 million barrels a day (mb/d) to 6 or even 10 mb/d. troops reached Baghdad peak oil was already a specter looming over the globe. Iraq‘s average annual oil production in 2007 had fallen to 13 percent below its 2001 level.‖ And this vast increase in oil production needed to come largely from the Persian Gulf.S. Rather it simply means the peaking and subsequent terminal decline of oil production. and shale oil. prime time television speech. The extraction of oil from any given oil well typically takes the form of a symmetrical.S. Those who argue that peak oil is imminent insist that estimates of proven reserves are commonly exaggerated for political reasons. along with the stagnation of world oil production as a whole. as determined primarily by geological and technological factors. Oil sand mining also requires vast quantities of water. Estimates of the potential for increased Iraqi oil production made prior to the war had suggested that Iraq free of sanctions could potentially increase its crude oil production within a decade from its previous 1979 high of 3. by 2 percent a year. where two-thirds of the world‘s reserves and hence most of its capacity for increased extraction was located. producing two and a half gallons of toxic liquid waste for every barrel of oil extracted.g. the centrality of oil in the occupation of Iraq was not something that it could easily deny. It is estimated that it takes an equivalent of two out of three barrels of oil produced to pay for the energy and other costs associated with extracting oil from the tar sands in Alberta. but also at much greater cost—monetarily and to the environment.‖ The economic and environmental costs are thus prohibitive.‖14 Peak Oil: A Global Turning Point? In the five years that have elapsed since the United States invaded Iraq the world oil supply problem has drastically worsened. bell-shaped curve with extraction steadily rising. Today it is present in all establishment discussions of the world oil issue. The eventual peak in oil production is therefore sometimes known as ―Hubbert‘s peak.17 A key part of the argument on peak oil is the fact that discoveries of oil fields worldwide peaked in the 1960s.4 mb/d on average between 2001 and 2005 and then dropped by 4 percent in 2005–07. Bush declared that if the United States were to pull out of Iraq ―extremists could control a key part of the global energy supply. Oil production in the Persian Gulf as a whole increased by 2.16 At the time U. Two tons of sand must be mined to get one barrel of oil. This liquid waste is stored in enormous and rapidly expanding ―tailing ponds.4 to 2. oil peak in 1970. and that actual retrievable reserves may be considerably less.15 Instead. There are also unconventional sources of oil that can be produced at much greater cost and with a much lower energy returned on energy invested (EROEI) ratio.for Greenspan—the leading spokesperson for financial capital in the 1990s and early 2000s—justified by the fact that ―world growth over the next quarter century at rates commensurate with the past quarter century will require between one-fourth and two-fifths more oil than we use today. It requires one billion cubic feet of natural gas to generate one million barrels of synthetic oil from oil sands. Geologists have become adept at estimating the point at which a peak in national production will occur.

as well as by political events such as war and revolutions. It presents the possibility of a drastic economic dislocation and slowdown. which has adopted an almost identical approach) is defined to include ―all liquid fuels and is accounted at the product level. the shape of the production curve is modified by the increasing ..‖ is that the world oil peak will not be reached until 2020 or 2030. In fact. represented by ―late peakers. In addition.needs additional processing to produce synthetic crude. biofuels. Therefore more than two-thirds of U. The chief question now is how soon. has now narrowed down to two basic positions. coal-to-liquid.‖20 The lower line in chart 1. and may have already been reached in 2005–06. Sources include natural gas liquids and condensates. ―Oil‖ according to the IEA (and the EIA. These analysts argue that peak oil will probably be reached by 2010–12. culminating in a slender.. The peak oil crisis is more sharply defined than the more general crisis in energy. This therefore has lent credence to the notion that this is the form the peak will initially take. http://www.18 The peak oil debate. remains level at about 85 mb/d due to a compensating rise in unconventional sources over the same period. demand for oil falls off). tables 1.eia.19 Hence. oil shales.‖ refers simply to production of conventional oil. such as liquefied natural gas. labeled ―crude oil production. The ―crude oil production‖ line shows a very slight dip in 2005– 07. reflecting the fact that crude oil production fell from an average of 73.8 mb/d in 2005 to 73. writes: Why the plateau? Oil production is constrained by economic conditions (in an economic downturn. U. The alternative position.S. resulting in what appears to be a more definite plateau. before declining. The ―world oil supply‖ line.‖ Unconventional oil is derived from other processes. oil sands. Chart 1 shows world oil production/supply from 1970 to 2007.gov/ipm/supply.‖ also includes unconventional sources plus net refinery processing gains (losses). International Petroleum Monthly. world oil supply appears already to have reached a plateau over the last three years at the level of 85 mb/d.3 mb/d in 2007. The higher line. An imminent peak in conventional oil thus strikes at the lifeblood of the existing capitalist economy.‖ Conventional or crude oil is readily processed oil ―produced from underground hydrocarbon reservoirs by means of production wells. Peak oil analysts therefore focus on production levels rather than reserves. An added consideration is whether world oil production will face a classic bell-shaped curve.there are forty years of crude oil production remaining at current rates of output is seen as misleading.4d and 4. Richard Heinberg.4. however. oil demand is in the form of gasoline and petrodiesel consumption by cars and trucks. rounded peak. refinery processing gains. there is a growing consensus that peak oil is or will soon be a reality. and whether it is already upon us. labeled ―world oil supply. ―and/or [other fuel that]. since not only is petroleum the most protean fuel.doe.html. Department of Energy. but it is also the preeminent liquid fuel in transportation. Chart 1: World oil production and supply Source: Energy Information Administration.S. for which there is no easy substitute in the quantities needed. since it exaggerates the reserves in the ground and downplays the fact that the economy requires that oil demand and production levels increase. to be followed quickly by a decline (within what can be viewed as a symmetrical curve)—or whether production will rise to a plateau and then stay there for a while. a leading peak oil proponent. Explaining that a plateau is the most likely initial outcome at the world level. One of these is that of ―early peakers‖ (usually seen as peak oil proponents proper). and the production of conventional and unconventional oil. which has often been fierce over the past decade. April 2008.

Malaysia (1997). India (1995).availability of unconventional petroleum sources (including heavy oil.. which includes both scientists and members of the German parliament. ―suggest that world oil peaking will occur in less than 25 years. Crude Oil: The Given the appearance of a world oil production plateau at present. and tar sands).. and with oil supply seemingly stuck at the 85 mb/d level. plateau is emerging has now become the dominant view in the industry. While the Energy Watch Group in Germany. Thus Simmons and Texas oil billionaire T. spiraling costs and increasingly complex oil-field geology. asserting that the peak will not be reached until 2030 and that it will manifest itself at first as an ―undulating plateau. due to declining production in old fields.S.‖ Yet over the past decade the question has been pursued systematically with increasing concern within the highest echelons of capitalist society: within both states and corporations.‖ Echoing many of the same worries. in order to mitigate the harmful effects of the end of cheap oil. they contend. October 2007. Germany (1967). Argentina (1998). Syria (1995). contends that ―world oil production. some oil executives have raised the specter of an oil supply ceiling of 100 million barrels (conventional and unconventional).‖ Indeed. Venezuela (1998).. Atomic Energy Commission. partly political-economic. This will create a production plateau. 11. ―Even the most optimistic forecasts. 1974). was on the issue of the massive transformations that would be needed in the economy. Yemen (2001). Department of Energy released a major report that it had commissioned entitled Peaking of World Oil Production: Impacts.. Boone Pickens have both raised the question of whether the peak was reached in 2005. not a peak. The project leader was Robert L. 1989). Egypt (1993). Colombia (1999). natural gas plant liquids. United States (Alaska.24 In February 2005 the U.peaked in 2006.21 The notion that a partly geological-technical.‖23 Publicly of course the peak oil problem has often been characterized by establishment sources and the media as a ―fringe issue. and Risk Management. Mitigation. United Kingdom. Hirsch had formerly occupied executive positions in the U. and particularly transportation.S. Australia (2000). Exxon. who pointed out that. ―at the furthest out. Canada (conv. Indonesia (1977). .The near adherents [to the peak oil view]—who range from senior Western oil-company executives to current and former officials of the major world exporting countries—don‘t believe that the global oil tank is at the half-empty point. as well as new extraction technologies. it is not surprising that some analysts believe that peak oil has already been reached.‖ The main emphasis of the Hirsch report commissioned by the Department of Energy. Hirsch of Science Applications International Corporation. Ecuador (1999). Source: Energy Watch Group. The Wall Street Journal article referred to the estimates of Cambridge Energy Research Associates. 1971). (1999). But they share the belief that a global production ceiling is coming for other reasons: restricted access to oil fields. In November 2007 the Wall Street Journal reported: a growing number of oil-industry chieftains are endorsing an idea long deemed fringe: The world is approaching a practical limit to the number of barrels of crude oil that can be pumped every day. with petroleum supply likely falling short of expected demand within a decade or less.‖ it stated. however. Oman (2001). The enormous problem of converting Supply Outlook.22 Oil Producing Countries Past Peak (Year of Peak) Austria (1955). Romania (1976).‖ But the Journal article also took seriously the views of Simmons. and ARCO. United States (lower 48.. with oil output remaining relatively constant rather than rising or falling. an increased average daily oil production equivalent to ten times current Alaskan production was needed ―just to stay even. the crisis associated with the world peak in conventional oil production would be reached ―in 2008 to 2012. Norway (2001). The combined effect of all of these factors is to cushion the peak and lengthen the decline curve. Mexico (2004). The Hirsch report concluded that peak oil was a little over two decades away or nearer.‖ he suggested. Denmark (2004). Gabon (1997).

CEO of Royal Dutch Shell.28 In February 2007 the U. The same month Goldman Sachs shocked world capital markets by coming out with an assessment that oil prices could rise to as much as $200 a barrel in the next two years. corn production was devoted to ethanol to fuel automobiles. Western oil interests were particularly distressed that the first production from Kazakhstan‘s Kashagan oil field (considered the largest oil deposit in the world outside the Middle East) was eight years behind schedule due in part to waters frozen half the year. One can only speculate at the outcome from this scenario as world petroleum production declines. As environmentalist Lester R.29 In April 2008. which had initially rejected Simmons‘s assessment.S. degrading its projection of Saudi oil production in 2025 by 33 percent.S. backtracked between 2004 and 2006. Government Accountability Office (GAO) released a seventy-five-page report on Crude Oil pointedly subtitled: Uncertainty about Future Oil Supply Makes It Important to Develop a Strategy for Addressing a Peak and Decline in Oil Production. geopolitics and market economics will cause even more significant price increases and security risks.S. Army released a major report of its own in September 2005 stating: The doubling of oil prices from 2003–2005 is not an anomaly.0: ―Suddenly the world is facing a moral and .‖ in the IEA‘s words. Hirsch wrote an analysis for Bulletin of the Atlantic Council of the United States on ―The Inevitable Peaking of World Oil Production. according to analysts for the New York Times. 20 percent of U. For the GAO the threat of a major oil shortfall was worsened by the political risks primarily associated with four countries. the largest in the world. the problem will be pervasive and long lasting.25 In October 2005. It argued that almost all studies had shown that a world oil peak would occur sometime before 2040 and that U. Without massive mitigation at least a decade before the fact. The world has never faced a problem like this. ―previous energy transitions (wood to coal. the U. but a picture of the future. cars.27 Indeed.‖ He declared there that. trucks. The fact that Venezuela contained ―almost 90 percent of the world‘s proven extra-heavy oil reserves‖ made it all the more noteworthy that it constituted a significant ―political risk‖ from Washington‘s standpoint. pronounced that ―we wouldn‘t be surprised if this [easy] oil would peak somewhere in the next ten years. accounting for almost one-third of world (conventional) reserves: Iran. The price of grain spiked worldwide partly as a result. coal to oil. In 2007. was preparing to reduce its forecast of world oil production for 2030 from its earlier forecasts of 116 mb/d to no more than 100 mb/d. by 2005 there was little doubt in ruling circles about the likelihood of serious oil shortages and that peak oil was on its way soon or sooner. low growth in availability can be expected for the next 5 to 10 years. By May 2008 the IEA. federal agencies had not yet begun to address the issue of the national preparedness necessary to face this impending emergency. and aircraft in just a quarter-century (at most) was viewed as presenting intractable difficulties. oil peaking will be abrupt and revolutionary. As worldwide petroleum production peaks. Oil production is approaching its peak. Nigeria. Brown wrote in his Plan B 3.‖26 Similarly. oil in May 2008 reached over $135 a barrel (it averaged $66 in 2006 and $72 in 2007).‖ Due to a combination of factors including production shortfalls and a declining dollar. In its 2005 World Energy Outlook the IEA raised the issue of Simmons‘s claims in Twilight in the Desert that Saudi Arabia‘s super-giant Ghawar oil field.S. etc. Department of Energy.S.30 It was alarm about gasoline prices and national energy security (and no doubt the specter of a world oil peak) that induced the Bush administration in 2006 to take a more aggressive stance in promoting cornbased ethanol production as a fuel substitute. ―could. Iraq. and Venezuela. Jeroen van der Ver.S.‖ Likewise the U. ―be close to reaching its peak if it has not already done so.) were gradual and evolutionary.virtually the entire stock of U.

written by Anthony Cordesmam (long-time national security analyst for the U. Iran. on average. Al-Rodhan (a strategic analyst specializing in Gulf issues). intervention. There has been pipeline sabotage in Nigeria. and thus even sustaining current levels of consumption‖ would be enormously difficult. rather than reinvesting the oil proceeds.. ―the depletion of conventional sources.‖ the Baker Institute went so far as to declare. Thus Cordesman and Al-Rodhan noted that. Iran. this time on Changing Risks in Global Oil Supply and Demand.‖31 The New Energy Imperialism The response in U. consumption and oil dependency. or retaliation.‖33 No less significant was an April 2007 ―policy report‖ issued by the James A.‖Emphasizing that national oil companies now controlled 77 percent of the world‘s total reserves. if required…Any nation (or subnational group) that contemplates violence on any scale must take into account the possibility of U. peak oil issues were not to be entirely discounted.S.. Oil Dependency.3 million barrels per day). Moreover. chaired by former CIA Director John Deutch and Schlesinger. and Venezuela were using oil to pursue domestic and geopolitical goals. military in securing oil supplies. Although the Deutch and Schlesinger report discussed some demand-side measures to reduce U. preemption. alleged corruption in Russia. and growing fears of peak oil was swift. Still. Let‘s fuel the cars. and elsewhere.The market says. and others—like Matthew Simmons—have estimated that Saudi production may be moving towards a period of sustained decline. Iraq. labor strikes in Venezuela. Production from existing conventional oil fields throughout the world was ―declining.‖ Rather the immediate problem was ―lagging investment‖ in the Middle East. Western Europe.S. national security circles to the apparent oil production plateau. Algeria. about 5 percent per year (roughly 4. and South America are no more stable than the Gulf.political issue that has no precedent: Should we use grain to fuel cars or to feed people?. Department of Defense. and Asia. Saudi Arabia. the Caspian Sea. the disappearance of surplus oil production capacity. ―is tenuous at best. now holder of Arleigh A.S.‖ Major energy suppliers like Russia. whereas Western multinational oil companies controlled a mere 10 percent. ―If the United States were able to wish into existence a world that would favor its terms of trade and superpower status. especially those close to the major markets in the United States.S. and Iraq all present immediate security problems. Thus the report declared that ―the United States should expect and support a strong military posture [in the Persian Gulf in particular] that permits suitably rapid deployment to the region. Cordesman and Al-Rodhan quoted the IEA‘s prediction in its 2004 World Energy Outlook that global oil production would not ―peak before 2030 if the necessary investments are made. means that the production and transport of oil will become even more dependent on an infrastructure that is already vulnerable. Baker III Institute for Public Policy on ―The Changing Role of National Oil Companies in International Energy Markets.‖32 Even more central than the CSIS study was a 2006 Council on Foreign Relations report. it stressed expanding the role of the U. it contended that this was the key issue in managing the current world oil supply problem. the Caspian Sea. . with OPEC no longer having the surplus capacity with which to keep prices under control. China was trying to ―lock up‖ oil supplies in Africa.S. In October 2005 the CSIS issued another report. National Security Consequences of U.‖ Cordesman and Al-Rodhan added.‖ ―Stability in petroleum exporting regions. ―Some analysts have questioned the [Saudi] Kingdom‘s ability to meet sudden surges in demand because of its lack of spare production capacity. and civil unrest in Uzbekistan and other FSU [Former Soviet Union] states. entitled. but recent experience has shown that exporting countries in Africa. The Deutch and Schlesinger report zeroed in on inadequate oil production capacity. and West Africa were all centers of instability. Burke Chair in Strategy at CSIS) and Khalid R. Iran.S.

34 The tightening oil situation has prompted the rapid on the ground growth of U. Department of Energy needs to double its oil output by 2030. political unrest and war continued. preventing the oil exploration of Iraq‘s Western desert. China. the Baker Institute report stated. Another key consideration in the geopolitics of tough oil. and the Caribbean nations. deliberating slowing its production in expectation of continually rising prices. One critical danger that the United States needed to guard against was a ―hostile‖ alliance between major oil producing/consuming states. energy imperialism. which had threatened that it ―could block the vital oil transitway. ―preemptive‖ military intervention directed at Iran meanwhile have been continuous. Threats of U. military intervention.. and its ―interference‖ in Iraq. such as Russia. was the continuing political instability in Iraq.. thereby holding back on the lifeblood of the world economy. From the standpoint of Western energy and national security analysts. was Venezuela under the leadership of Hugo Chávez. The security of Saudi Arabia remains an overriding focus. Above all the U. based on its alleged attempts to acquire nuclear weapons through the aggressive pursuit of nuclear energy.S.‖ it had also used oil as an instrument of ―foreign policy activism. Not only had the Bolivarian Revolution prioritized ―the government‘s national development policy‖ and ―social and cultural investment‖ over ―commercial development strategy. notably its Manas air base in Kyrgyzstan on the border of oil-rich Kazakhstan. military attack.In light of this reality.S. ―a desperate superpower might feel it has no choice except to attempt to control the largest remaining oil fields on the planet at any cost‖— particularly if faced by growing rivalry from other states. Iran‘s government and its national oil corporation have adopted the monopolistic policy of underinvesting in oil. The sexes are entirely segregated.35 The United States has sought to counter the possibility of an energy alliance between Russia. Any destabilization of the society would likely prompt U. which according to the U. The current trend points to the likelihood of Iranian petroleum exports falling to zero by 2014–15. Washington‘s plans for a massive expansion of investment and production in Saudi Arabia.‖ This could be seen in its geopolitically motivated agreements with Bolivia. The repressive structure of the society conceals massive popular resentment. Ninety percent of private sector jobs go to foreigners. emanating from the vastly unequal distribution of the country‘s oil revenues. beyond the continuing Iraq and Afghan wars.S. the Strait of Hormuz. imperial objective should be to ―break up‖ wherever possible ―the monopoly power of oil producers‖ and their use of their oil resources to pursue national goals other than purely commercial ones. the United States will have to accept the existence of NOCs as a fact of life but should encourage steps to make their activities more businesslike. allowing free trade and competitive markets to deliver energy that is needed worldwide at prices determined solely by the market. Iran. But it is hard to imagine why major oil producing countries would agree to that. China. transparent and—to the extent possible—free of onerous government interference. Iran.. As James Howard Kunstler has written in The Long Emergency. The chief example of such state interference in oil production. is due to an oil export decline rate of 10–12 percent.‖ if faced with a U. Another case of the geostrategic wielding of oil power was Iran. and the Central Asian states.S. arising from the growth of domestic energy demand plus a high rate of oil field depletion and a lack of investment growth in expanded capacity. Nicaragua. as a 2007 study published in the Proceedings of the National Academy of Sciences has confirmed. This led to Iran‘s recent inability to meet its OPEC oil export quota. foreign investors would be treated the same as local companies and OPEC would be disbanded.S. there is rising social tension. Despite Washington‘s attempts to stabilize that country.S. and Central Asian oil states by expanding its military bases in Afghanistan and Central Asia. Iran‘s pursuit of nuclear power.all NOCs [national oil corporations] would be privatized. Ecuador. Meanwhile. the Baker Institute underscored. depends on the feudal kingdom remaining in place.36 .

During the last few years the U.S. military has dramatically increased its bases and operations in Africa, particularly in the Gulf of Guinea. The United States expects to get 20 percent of its oil imports from Africa by 2010, and 25 percent by 2015. The U.S. military set up a separate Africa Command in 2007 to govern all U.S. military operations in Africa (outside Egypt). Washington sees itself as in direct competition with Beijing over African oil—a competition that it perceives not simply in economic but also military-strategic terms.37 U.S. ruling interests also have increased their threats directed at Venezuela, Ecuador, Bolivia, and other Latin American states, accusing them of ―resource nationalism‖ and presenting them as dangers to U.S. national security. Washington has made one attempt after another to unseat Venezuela‘s democratically elected president Hugo Chávez and to overthrow Venezuela‘s Bolivarian Revolution, with the clear object of regime change. This has included stepping up its massive military intervention in Colombia and backing the Colombian military and its intrusions into neighboring countries. In 2006 the U.S. Southern Command conducted an internal study, declaring that Venezuela, Bolivia, Ecuador, and conceivably even Mexico (which was then facing elections with a possible populist outcome) offered serious dangers to U.S. energy security. ―Pending any favorable changes to the investment climate,‖ it declared, ―the prospects for long-term energy production in Venezuela, Ecuador and Mexico are currently at risk.‖ The military threat was obvious.38 All of this is in accord with the history of capitalism, and the response of declining hegemons to global forces largely outside their control. The new energy imperialism of the United States is already leading to expanding wars, which could become truly global, as Washington attempts to safeguard the existing capitalist economy and to stave off its own hegemonic decline. As Simmons has warned, ―If we don‘t create a solution to the enormous potential gap between our inherent demand for energy and the availability of energy we will have the nastiest and last war we‘ll ever fight. I mean a literal war.‖39 In January 2008 Carlos Pascual, vice president of the Brookings Institution and former director of the Bush administration‘s Office of Reconstruction and Stabilization, released an analysis of ―The Geopolitics of Energy‖ that highlighted U.S. capitalism‘s de facto dependence on oil production in ―Saudi Arabia, Russia, Iran, Iraq, Venezuela, Nigeria, and Kazakhstan‖—all posing major security threats. ―Due to commercial disputes, local instability, or ideology, Russia, Venezuela, Iran, Nigeria and Iraq are not investing in new long-term production capacity.‖ This then was both an economic and a military problem for Washington.40 Especially disturbing in this new phase of energy imperialism is the lack of resistance from populations within central capitalist countries themselves. Thus left-liberal publications in the wealthy nations often play on the prejudices of their readers (who are buffeted by rising gasoline prices), encouraging them to support oil imperialism designed to safeguard Western capitalism. David Litvin, writing on ―Oil, Gas and Imperialism‖ in 2006 for the Guardian in London, claimed that ―the inevitability of modern energy imperialism needs to be recognized.‖ Threats from Russia, OPEC, Venezuela, and Bolivia were highlighted. The United States invaded Iraq, we were told, partly for ―oil security.‖ Clearly sympathizing with that form of energy imperialism that ―involves consumer states launching political or military‖ interventions ―to secure supplies,‖ Litvin concluded: ―Energy imperialism is here to stay, and efforts should [therefore] focus on making it a more benign force.‖41 Likewise Joshua Kurlantzick, a contributing writer for Mother Jones,wrote a piece entitled ―Put a Tyrant in Your Tank‖ for the May–June 2008 issue of that magazine which attributed oil supply problems to national oil companies, and argued—referring to the Baker Institute report on ―The Changing Role of National Oil Companies‖—that oil would be better safeguarded if placed in the hands of multinational oil companies as of old. The latter, readers were told, ―may cozy up to nasty regimes...but they are at least obligated to respond to public criticism.‖ Kurlantzick presented repeated criticisms of Hugo Chávez in Venezuela for his ―resource nationalism,‖ going so far as to compare

Venezuela to Burma and Russia, as ―authoritarian and corrupt,‖ citing a study from the neoconservative, largely U.S. government-funded, Freedom House. The Mother Jones article also gave credence to the 2006 internal study conducted by the Pentagon‘s Southern Command, pinpointing the national security dangers to the United States of resource nationalism in Venezuela, Bolivia, and Ecuador. Other petrostates that were subjected to sharp criticism were Iran, Russia, Kazakhstan, Nigeria, and Libya. Chinese state oil corporations were targeted for their aggressiveness in pursuing oil around the world and for their lack of environmental concerns. U.S. energy imperialism was thus seen as justified even by the putatively progressive Mother Jones—with hope and confidence being placed mainly in big oil and the Pentagon.42 Planetary Conflagration? The supreme irony of the peak oil crisis of course is that the world is rapidly proceeding down the path of climate change from the burning of fossil fuels, threatening within a matter of decades human civilization and life on the planet. Unless carbon dioxide emissions from the consumption of such fuels are drastically reduced, a global catastrophe awaits. For environmentalists peak oil is therefore not a tragedy in itself since the crucial challenge facing humanity at present is weaning the world from excessive dependence on fossil fuels. The breaking of the solar energy budget that hydrocarbons allowed has generated a biospheric rift, which if not rapidly addressed will close off the future.43 Yet, heavy levels of fossil fuel, and particularly petroleum, consumption are built into the structure of the present world capitalist economy. The immediate response of the system to the end of easy oil has been therefore to turn to a new energy imperialism—a strategy of maximum extraction by any means possible: with the object of placating what Rachel Carson once called ―the gods of profit and production.‖44 This, however, presents the threat of multiple global conflagrations: global warming, peak oil, rapidly rising world hunger (resulting in part from growing biofuel production), and nuclear war—all in order to secure a system geared to growing inequality. In the face of the immense perils now facing life on the planet, the world desperately needs to take a new direction; toward communal well-being and global justice: a socialism for the planet. The immense danger now facing the human species, it should be understood, is not due principally to the constraints of the natural environment, whether geological or climatic, but arises from a deranged social system wheeling out of control, and more specifically, U.S. imperialism. This is the challenge of our time. May 25, 2005 Notes 1. Influential mainstream political analyst (and former Nixon White House strategist) Kevin Philips has recently argued that oil in the Middle East and elsewhere has emerged as perhaps the single most important strategic (non-monetary) factor in ―the Global Crisis of American Capitalism,‖ and is closely tied up with the world‘s need to shift to a ―new energy regime.‖ See Phillips, Bad Money: Reckless Finance, Failed Politics, and the Global Crisis of American Capitalism (New York: Viking, 2008), 124–27. Indeed, the struggle to control world oil can be seen as the centerpiece of the new geopolitics of U.S. empire, designed at the same time to combat the decline of U.S. hegemony. See John Bellamy Foster, ―A Warning to Africa: The New U.S. Imperial Grand Strategy,‖ Monthly Review 58, no. 2 (June 2006): 1–12. 2. Michael T. Klare, Blood and Oil (New York: Henry Holt, 2004), 82. 3. Colin J. Campbell and Jean H. Laherrère, ―The End of Cheap Oil,‖ Scientific American (March 1998): 78–83; International Energy Agency, World Energy Outlook, 1998 (Paris: OECD, 1998), 94– 103. 4. Matthew R. Simmons, ―Has Technology Created $10 Oil?,‖ Middle East Insight (May–June 1999), 37, 39.

5. Matthew R. Simmons, ―An Oil Man Reconsiders the Future of Black Gold,‖ Good Magazine, February 11, 2008. The insert in square brackets in the quote is in original. 6. Matthew R. Simmons, Twilight in the Desert: The Coming Saudi Oil Shock and the World Economy (Hoboken, New Jersey: John Wiley and Sons, 2005). 7. John Wood and Gary Long, ―Long Term World Oil Supply (A Resource Base/Production Path Analysis),‖ Energy Information Administration, U.S. Department of Energy, July 28, 2000. 8. See Klare, Blood and Oil, 13–14. 9. Sam Nunn and James R. Schlesinger, cochairs, The Geopolitics of Energy into the 21st Century, 3 volumes (Washington, D.C.: Center for Strategic and International Studies, November 2000), vol. 1, xvi–xxiii; vol. 2, 30–31; vol. 3, 19. 10. Edward L. Morse, chair, Strategic Energy Policy Challenges for the 21st Century, cosponsored by the James A. Baker III Institute for Public Policy of Rice University and the Council on Foreign Relations (Washington, D.C: Council on Foreign Relations Press, April 2001), 3–17, 29, 43–47, 84–85, 98; see also Edward L. Morse, ―A New Political Economy of Oil?,‖ Journal of International Affairs 53, no. 1 (Fall 1999), 1–29. 11. White House, National Energy Policy (Cheney report), May 2001, http://www.whitehouse.gov/energy/National-Energy-Policy.pdf, 1–13, 8–4.; Department of Energy, Energy Information Administration, International Economic Outlook,2001, http://www.eia.doe.gov/oiaf/archive/ieo01/pdf/0484(2001).pdf, 240; International Petroleum Outlook, April 2008, tables 4.1b and 4.1d; Klare, Blood and Oil, 15, 79–81. 12. Klare, Blood and Oil, 82–83. 13. Alan Greenspan, The Age of Turbulence (London: Penguin, 2007), 462–63. 14. James A. Baker Institute for Public Policy, ―The Changing Role of National Oil Companies in International Markets,‖ Baker Institute Policy Report, no. 35 (April 2007), http://www.bakerinstitute.org/publications/BI_PolicyReport_35.pdf, 1, 10–12, 17–19. 15. Fareed Muhamedi and Raad Alkadiri, ―Washington Makes It‘s Case for War,‖ Middle East Report, no. 224 (Autumn 2002), 5; John Bellamy Foster, Naked Imperialism (New York: Monthly Review Press, 2006), 92. 16. U.S. Department of Energy, Energy Information Administration, International Petroleum Monthly, April 2008, tables 4.1b and 4.1d. 17. Richard Heinberg, The Party’s Over (Garbiola Island, B.C: New Society Publishers, 2005), 127– 28; Michael Klare, Rising Powers, Shrinking Planet (New York: Henry Holt, 2008), 41; Greenpeace, ―Stop the Tar Sands/Water Polluton,‖ http://www.greenpeace .org/canada/en/campaigns/tarsands/threats/water-pollution. 18. Energy Watch Group, Crude Oil: The Supply Outlook, October 2007, 33–34. 19. The distinction between ―early‖ and ―late‖ peakers is to be found in Richard Heinberg, The Oil Depletion Protocol (Garbiola Island, B.C: New Society Publishers, 2006), 17–23. For some representative works from the ―early peaker‖ perspective see Kenneth S. Deffeyes, Hubbert’s Peak (Princeton: Princeton University Press, 2001); David Goodstein, Out of Gas (New York: W. W. Norton, 2004); and Heinberg, The Party’s Over. Cambridge Energy Research Associates is the leading independent representative of the ―late peaker‖ view. See http://www.cera.com/aspx/cda/public1/home/home.aspx. 20. International Energy Agency, World Energy Outlook, 1998, 83–84. The increased prominence of unconventional oil has recently led to increasing references to ―liquids‖ as opposed to ―oil‖ as such in Department of Energy reports. See Michael T. Klare, ―Beyond the Age of Petroleum,‖ The Nation, October 25, 2007. 21. Richard Heinberg, Power Down (Gabriola Island, B.C.: New Society Publishers, 2004), 35; James Howard Kunstler, The Long Emergency (New York: Atlantic Monthly Press, 2005), 67–68. In an important paper on the implications of peak oil for global warming, Pushker Kharecha and James

2006. 17–19. Peaking of World Oil Production: Impacts. October 2007.‖ Global Biogeochemistry (2008. Oil Dependence. Plan B 3.‖ in this issue. and ―The Political Economy and Ecology of Agrofuels. Daniel F. 510-12. February 28. World Energy Outlook. The central scenario. 24. Lester R. 22. The Changing Risks in Global Oil Supply and Demand.S. Center for Strategic and International Studies. U. United States Government Accountability Office. Joroen van der Veer (interview).‖ Wall Street Journal.S. 55–59. Shrinking Planet. however. 76–84. 2005 (first working draft). Anthony H. May 22. Shrinking Planet. ―The Changing Role of National Oil Companies in International Oil Markets. Baker III Institute for Public Policy of Rice University. and Risk Management. 33. 2005 (Paris: OECD. Bad Money. International Energy Agency. 31.‖. Beyond the Age of Petroleum. a figure too out of line with all other studies to be considered credible. ―The World Food Crisis. 2008. Energy Watch Group. Al-Rodhan. Robert L. Robert L. October 3. 3. 13–19.Hansen of NASA‘s Goddard Institute for Space Studies and the Columbia University Earth Institute provide a graph (in one scenario) of a plateau in oil-based CO2 emissions. 28. Rising Powers. Klare. Brown. ―Implications of ‗Peak Oil‘ for Atmospheric CO2 and Climate.‖ New York Times. 2007. Council on Foreign Relations. Army Installations. Fournier and Eileen T.doe. 20–22. 29. 121–22. vii.S Army Engineer Research and Development Center. A different and more official position was issued by the EIA in 2004–2005 in the form of a presentation on ―When Will World Oil Production Peak‖ by EIA administrator Guy Caruso at the 10th Annual Oil and Gas Conference.‖ Proceedings .‖ The Lede (New York Times blog). 26. stretching from approximately 2016 to 2036. The Long Emergency. Malaysia. 71. 2008. Norton. September 2005.‖ Bulletin of the Atlantic Council of the United States 16. no. http://www. National Security Consequences of U. 38. system is itself peaking.pdf. 1. 10–12. Hirsch. 130–31. 35 (April 2007). Bloomberg. ―The Iranian Petroleum Crisis and the United States National Security. 27. ―The Cassandra of Oil Prices. Fred Magdoff. 79. no. Kunstler. http://bakerinstitute. Roger Stern. 83. Mike Nizz. 35.S. Energy Trends and their Implications for U. 2 (October 2005): 8. Simmons. ―Not Enough Oil is Lament of BP. June 13. ―The Inevitable Peaking of World Oil Production. Hirsh. 32. U. figure 3. May 21. Crude Oil: Uncertainty about Future Oil Supply Makes It Important to Develop a Strategy for Addressing a Peak and Decline in Oil Production. Phillips. Baker Institute. 8.‖ Monthly Review 60. ―Market Faces a Disturbing Oil Forecast. 36. 2005).org/publication/11683/. Schlesinger.org/publications/BI_PolicyReport_35. See Phillips. May 19. 34. Cordesman and Khalid R. Kuala Lumpar. Phillips sees this descrepancy between the analysis at the top and public statements in Washington as due in large part to a desire to keep from the public the view that the U.pdf. Kharecha and James E. Klare.com. Hansen. 2007. 4. 2008). 13. February 2005. Department of Energy.com. Bad Money. ―Oil Officials See Limit Looming on Production. ―Goldman‘s Murti Says Oil ‗Likely‘ to Reach a $150–$200 (Update 5). U. 41. 35–38. 2008.cfr. Twilight in the Desert. See http://www. 2008. 23–25.‖ May 6. ―Changing Role of National Oil Companies. Crude Oil: The Supply Outlook. James A. November 11. Klare.0 (New York: W.gov/neic/speeches/Caruso061305. chairs.” 23. 153. 2005.S. Westervelt. Exxon on Spending (Update 1). 127. project leader. 30. in press). no. 1 (May 2008): 1–15. 16–30. John Deutsch and James R. Mitigation. 25.eia. Rising Powers. Pushker A. ―Royal Dutch Shell CEO on the End of ‗Easy Oil‘. . Army Corps of Engineers.‖ Bloomberg.S. W. 170–79. estimated the world oil peak occurring in 2044.‖ Baker Institute Policy Report.‖ 12. 48–56.

2006. Sulawesi Utara dan Sumatra Utara. 2007. Klare.‖ Theory & Society 34. Climate Change. 38–42. January 2008. Kharecha and Hansen present a baseline atmospheric carbon stabailizaton scenario in which oil-based CO2 emissions peak by 2016.‖ Financial Times. 1–17. namun UKM memberi kontribusi sekitar 99 persen dalam jumlah badan usaha di Indonesia serta mempunyai andil 99. 146–76. 210. The Guardian (UK). due principally to the ―peaking‖ of world oil production (mediated by economic and social as well as geological factors). Daniel Litvin. no. Namun. 4 (2005): 391–428. no. 1998). dalam kenyataannya selama ini UKM kurang mendapatkan perhatian. Michael Watts. Sebagai gambaran. meningkatkan jumlah unit usaha dan mendukung pendapatan rumah tangga. 42. Lost Woods (Boston: Beacon Press.‖ Monthly Review 58. and the Biospheric Rift.7 persen dan dalam ekspor nonmigas hanya 15 persen.‖ 40. they argue. 14/12/2001). Gas and Imperialism. ―Oil.‖ Pusher and Kharecha. Bush vs. 2008). ―Implications of ‗Peak Oil‘ for Atmospheric CO2 and Climate. Foster. no.org/publication/15342/brookings.‖ August 13.of the National Academy of Sciences 104. no. Yogyakarta.S. Simmons. 3 (May–June 2008). Joshua Kurlantzick.html. it would facilitate the stabilization of atmospheric carbon at (or below) what scientists increasingly consider to be the maximum safe level of 450 parts per million (associated with a rise in global average temperature of around 2°C above pre-industrial). 4 (September 2006). http://www. See Richard Heinberg‘s excellent chapter on ―Bridging Peak Oil and Climate Change Activism‖ in his Peak Everything (Gabriola Island: New Society Publishers. Setidaknya terdapat tiga alasan yang mendasari negara berkembang belakangan ini memandang penting keberadaan UKM (Berry. Kedua. sebagai bagian dari dinamikanya. Military Sees Oil Nationalism Spectre. 1 (January 2. 43. ―Carbon Metabolism: Global Capitalism. Dapat dikatakan bahwa kesadaran akan pentingnya UKM dapat dikatakan barulah muncul belakangan ini saja. 2001). Aspek fleksibilitas tersebut menarik pula dihubungkan dengan hasil studi Akatiga berdasarkan survei di Jawa Barat. ―U.‖ January 4. Aloysius Gunadi Brata DISTRIBUSI SPASIAL UKM DI MASA KRISIS EKONOMI PENDAHULUAN Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah. 88–89. If such a peak were to occur. tidak terkecuali di Indonesia. 37.‖ 44. 3–4. 2008). Chávez (New York: Monthly Review Press. 38. Alasan yang ketiga yang dikemukakan Berry dkk di atas sangat relevan dalam konteks Indonesia yang tengah mengalami krisis ekonomi. ―The Return of Resource Nationalism. Alasan pertama adalah karena kinerja UKM cenderung lebih baik dalam hal menghasilkan tenaga kerja yang produktif.‖ Brookings Institution. 2007): 377–82. June 26. Jawa Tengah. ―Put a Tyrant in Your Tank. kendati sumbangannya dalam output nasional (PDRB) hanya 56. UKM sering mencapai peningkatan produktivitasnya melalui investasi dan perubahan teknologi.6 persen dalam penyerapan tenaga kerja (Kompas. 39. ―An Oil Man Reconsiders the Future of Black Gold.‖ Mother Jones 33. ―A Warning to Africa‖. Kuncoro (2000a) juga menyebutkan bahwa usaha kecil dan usaha rumah tangga di Indonesia telah memainkan peran penting dalam menyerap tenaga kerja. 2006. Temuan Akatiga tersebut seperti dikutip Berry dkk (2001) adalah bahwa usaha kecil di Jawa lebih menderita . Carlos Pascual. dkk. 141–57.cfr. Eva Golinger. Rachel Carson. ―The Empire of Oil: Capitalist Dispossession and the New Scramble for Africa. Shrinking Planet. Rising Powers. ―The Geopolitics of Energy. In their paper on peak oil and global warming. Ketiga adalah karena sering diyakini bahwa UKM memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas ketimbang usaha besar. But stabilization of atmospheric CO2 at this level would also require that CO2 emissions from coal-fired power plants peak by 2025 and that coal-fired plants without sequestration be phased out completely ―before midcentury. Council on Foreign Relations. On the concept of a biospheric rift see Brett Clark and Richard York. 41.

selain ekonominya mengalami kontraksi terparah. Namun. salah satu pertanyaan yang menarik untuk dimunculkan adalah apakah krisis ekonomi betul-betul membawa pengaruh pada dinamika spasial UKM? Tulisan ini hanya mengamati salah satu aspek saja dari dinamika spasial UKM.1 persen pada tahun 2000. Pendapat mengenai peran UKM atau sektor informal tersebut ada benarnya setidaknya bila dikaitkan dengan perannya dalam meminimalkan dampak sosial dari krisis ekonomi khususnya persoalan pengangguran dan hilangnya penghasilan masyarakat. Kuncoro (2000a). 2002). misalnya Azis (1994). menurut hasil analisis Watterberg. Hal serupa juga berlaku bagi sektor informal. Pada tahun 1998. 2000b). Krisis ekonomi juga telah membalikkan tren formalisasi ekonomi sebagaimana tampak dari berkurangnya pangsa pekerja sektor formal menjadi 35. Sementara itu. peran sektor informal menjadi terasa penting dalam periode krisis ekonomi. Tingkat pengangguran mengalami kenaikan dari 4. Dengan kata lain. Dengan kata lain. 14/12/2001). serta sejumlah propinsi di Indonesia bagian Timur. Dengan hal ini maka persoalan pengangguran sedikit banyak dapat tertolong dan implikasinya adalah juga dalam hal pendapatan. krisis ekonomi telah menyebabkan propinsi-propinsi di Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang lebih besar ketimbang daerah-daerah lain di Indonesia (lihat gambar berikut). dkk (1999). Dengan kata lain. Bagaimana dengan anjloknya pendapatan masyarakat yang tentu saja mengurangi daya beli masyarakat terhadap produk-produk yang sebelumnya banyak disuplai oleh usaha berskala besar? Bukan tidak mungkin produk-produk UKM justru menjadi substitusi bagi produk-produk usaha besar yang mengalami kebangkrutan atau setidaknya masa-masa sulit akibat krisis ekonomi. Dalam konteks UKM. pengamatan serupa terhadap UKM tampaknya masih belum banyak dilakukan (Kuncoro. terdapat indikasi adanya dimensi spasial dari krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997. BERTAHAN DENGAN UKM Krisis ekonomi. Lima propinsi di Jawa seluruhnya adalah lima besar propinsi di Indonesia yang mengalami kemorosotan ekonomi terparah. usaha kecil di propinsi-propinsi di pulau Jawa juga lebih menderita akibat krisis ekonomi.9 persen pada tahun 1996 menjadi 6. belakangan ini banyak diungkapkan bahwa UKM memiliki peran penting bagi masyarakat di tengah krisis ekonomi. tentu telah menyulitkan masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari. hanya Papua saja yang pertumbuhan ekonominya masih positif sedangkan propinsi-propinsi lainnya mengalami kontraksi. begitu pula yang di perkotaan bila dibandingkan dengan yang di pedesaan. Sektor informal sendiri merupakan sektor dimana sebagian besar tenaga kerja Indonesia berada. yakni distribusi spasialnya. Sjöberg dan Sjöholm (2002). berdasarkan data PDRB. Dalam hal ini bukanlah hal yang mengejutkan kalau pengangguran. Kondisi ketenagakerjaan pada masa krisis kiranya dapat memberikan gambaran dampak sosial dari krisis ekonomi (Tabel 1). Hasil survei yang dilakukan Bank Dunia bekerjasama dengan Ford Foundation dan Badan Pusat Statistik (September-Oktober 1998) menegaskan bahwa ketiga persoalan itu oleh masyarakat ditempatkan sebagai persoalan prioritas atau harus segera mendapatkan penyelesaian (Watterberg dkk. ketiga hal itu merupakan persoalan sangat pelik yang dihadapi masyarakat pada umumnya. Pada tahun tersebut. khususnya yang berskala besar dan menengah. UKM boleh dikatakan merupakan salah satu solusi masyarakat untuk tetap bertahan dalam menghadapi krisis yakni dengan melibatkan diri dalam aktivitas usaha kecil terutama yang berkarakteristik informal. Usaha kecil sendiri pada dasarnya sebagian besar bersifat informal dan karena itu relatif mudah untuk dimasuki oleh pelaku-pelaku usaha yang baru. saat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi terparah. Hill (1996). Sementara itu. Jika demikian halnya maka . hilangnya penghasilan serta kesulitan memenuhi kebutuhan pokok merupakan persoalan-persoalan sosial yang sangat dirasakan masyarakat sebagai akibat dari krisis ekonomi. apalagi yang sangat parah.akibat krisis daripada luar Jawa. Sementara itu.1. dampak sosial dari krisis ekonomi amat terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan di Jawa. seluruh propinsi di pulau Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang jauh lebih parah daripada propinsi-propinsi lainnya (lihat juga Akita dan Alisjahbana. Dengan memupuk UKM diyakini pula akan dapat dicapai pemulihan ekonomi (Kompas. Demikianlah. 1999). Dapat dikemukakan bahwa selama ini sejumlah studi sudah dilakukan untuk mengamati distribusi spasial industri manufaktur.

Hal yang sama juga terjadi pada jumlah tenaga kerja.go. UKM pada dasarnya adalah aktivitas ekonomi sementara aktivitas ekonomi sendiri secara umum dapat diindikasikan oleh tenaga kerja maupun nilai tambahnya (Sjöberg dan Sjöholm. kecuali sektor pertanian. Selain propinsi-propinsi Jawa.Hasil survei tersebut hanya mencakup UKM non-pertanian yang tidak berbadan hukum sehingga secara konseptual hasil survei tersebut juga merefleksikan sektor informal kendati secara terbatas ( ). [2] [2] Dalam konteks industri manufaktur. Dari gambar 1 tampak bahwa jumlah unit usaha UKM cenderung berkurang. Perlu ditambahkan bahwa pada tahun 1997 tidak ada survei. Data-data tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa UKM memiliki kemampuan untuk menjadi pilar penting bagi perekonomian masyarakat dalam menghadapi terpaan krisis ekonomi. Dalam tulisan ini. UKM justru makin memusat di Jawa. Sejak terjadi krisis ekonomi. Kuncoro. namun mulai tahun 1998 pangsa Jawa kembali meningkat sampai menjadi 66 persen pada tahun 2000. Hidup di sektor informal hanyalah hidup secara subsisten (Basri. Krisis ekonomi rupanya telah mempertinggi kemampuan masing-masing UKM untuk menyerap tenaga kerja. sektor tersebut telah turut berperan dalam mengatasi persoalan pengangguran yang diakibatkan oleh krisis ekonomi. ada pendapat bahwa sektor informal tidaklah memberikan perbaikan secara berarti terhadap taraf hidup para pekerjanya. hasil survei BPS di atas menunjukkan beberapa kecenderungan menarik. . 2001). sekitar 66 persen UKM Indonesia berada di Jawa (Tabel 2). 2002). 2002).bps. Tabel 2 juga menunjukkan bahwa krisis ekonomi mulanya menurunkan pangsa pulau Jawa. Hal ini menjadi penting karena Watterberg dkk (1999) juga menyimpulkan bahwa dampak sosial dari krisis ekonomi lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan. hanya Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan saja yang andilnya dalam jumlah UKM cukup tinggi. yang dimaksud dengan UKM dalam tulisan ini adalah sebagaimana definisi UKM tersebut. Dari lima propinsi di Jawa. distribusi spasial UKM dalam kurun waktu 19962000 juga terpusat di Pulau Jawa. Hal ini tidak lepas dari kemampuan UKM untuk merespon krisis ekonomi secara cepat dan fleksibel dibandingkan kemampuan usaha besar (Berry dkk. DISTRIBUSI SPASIAL UKM Pertanyaan awal yang perlu diperjelas di sini adalah apa indikator UKM yang digunakan. untuk tahun 1999 dan 2000 tidak ada data untuk Propinsi Maluku. Dengan kata lain. Jumlah unit usaha pada tahun 2000 masih tetap lebih sedikit dibandingkan sebelum krisis ekonomi. Hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa UKM sebetulnya juga mempunyai keunggulan dalam menyerap tenaga kerja di masa krisis ekonomi. yakni menjadi sekitar 68 persen dari seluruh unit usaha UKM yang ada di Indonesia. Hanya saja. Gambar di atas—disusun berdasarkan Hasil Survei Usaha Terintegrasi yang dilakukan BPS —kiranya dapat berguna untuk memberikan gambaran bagaimana peranan UKM bagi masyarakat di masa krisis. tenaga kerja yang diserap oleh masing-masing unit usaha secara rata-rata justru mengalami kenaikan. 2000a). Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian. Seluruh sektor ekonomi dicakup oleh survei tersebut. www. sedangkan Jawa Tengah mengalami peningkatan secara sinambung. termasuk yang tidak dibayar (lihat. hanya DKI Jakarta saja yang cenderung mengalami penurunan andil.kecenderungan tersebut sekaligus juga merupakan respon terhadap merosotnya daya beli masyarakat. Oleh karena itu. [1] Data UKM tersebut bersumber dari publikasi BPS berjudul Profil Usaha Kecil dan Menengah Tidak Berbadan Hukum Indonesia tahun 1998 dan tahun 2000. yakni meningkat pada tahun 1998 namun kemudian terus menurun sampai menjadi kurang dari 16 persen pada tahun 2000. penurunan jumlah tenaga kerja tidaklah setajam penurunan jumlah unit usaha. [1] Survei tersebut terbatas hanya pada UKM yang tidak berbadan hukum sehingga hasilnya dapat juga merefleksikan sektor informal. Namun demikian. maka data yang ada di sini barangkali pula lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. Selanjutnya.id Secara umum. distribusi spasial tersebut tentu perlu pula dilihat dari sisi tenaga kerja. Selain itu. Selain dari jumlah unit usaha. indikator yang akan digunakan adalah tenaga kerja UKM disertai jumlah unit usahanya sebagai pelengkap. bias itu mungkin tidak terlalu besar mengingat sebagian besar lebih mengandalkan tenaga kerja. penggunaan tenaga kerja dan nilai tambah secara bersama-sama sebagai indikator aktivitas ekonomi dapat mencegah terjadi kesimpulan yang bias oleh karena perbedaan distribusi spasial dari industri-industri yang berbeda dimana ada yang bersifat padat tenaga kerja dan ada yang padat modal (Sjöberg dan Sjöholm. Pada tahun 1996. Namun dalam konteks UKM. Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian. Sedangkan Sumatera justru sebaliknya. Seperti juga industri manufaktur besar dan menengah. 2002). maka hasil survei tersebut akan lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan.

peningkatan konsentrasi spasial tersebut sebetulnya relatit tidak terlalu besar.Untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih kuat. perkembangan penyebaran regional dari UKM dapat dilihat dari konsentrasi spasialnya. baik dilihat dari sisi jumlah usaha maupun jumlah pekerjanya. ada kecenderungan menguatnya konsentrasi spasial UKM di Indonesia. Dari analisisnya. Hal ini tidak berubah banyak pada satu tahun setelah terjadi krisis ekonomi. Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996. tingkat konsentrasi spasial unit usaha UKM adalah 0. Tahun 1999 dan 2000. Namun pada tahun 1999 konsentrasi spasial unit usaha UKM mengalami peningkatan cukup tinggi dan belum menurun secara berarti pada tahun 2000. namun sejak memasuki periode deregulasi. kedua studi tersebut di atas memperoleh kesimpulan yang relatif serupa. Kuncoro menggunakan Indeks Entropi Theil (Kuncoro. Kendati demikian. Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser.126. PENUTUP Sejak terjadi krisis ekonomi 1997. indeks Herfindahl industri manufaktur Indonesia tahun 1996 adalah 0. 2000a). Indikasi tersebut kiranya masih perlu dilengkapi dengan upaya mengidentifikasi faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi dinamika spasial UKM sebagaimana dilakukan dalam studi-studi terhadap idustri manufaktur pada umumnya. Ditambahkan pula bahwa liberalisasi perdagangan yang dimulai tahun 1983 telah gagal menurunkan tingkat konsentrasi industri manufaktur.*** Oleh: Aloysius Gunadi Brata -. UKM memainkan peran dalam mengatasi persoalan ketenagakerjaan. Sebelum krisis. deregulasi perdagangan bersama dengan serangkaian deregulasi yang diterapkan justru memperkuat konsentrasi spasial industri manufaktur. Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996. Dari analisis dapat disimpulkan bahwa sampai dengan tahun 2000.12. Yogyakarta (UAJY). Konsentrasi spasial di sini menunjuk kepada terkonsentrasinya UKM pada beberapa daerah saja. Kesimpulan yang diperoleh tidak jauh berbeda dengan temuan Kuncoro. Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser terhadap data tenaga kerja maupun nilai tambah yang dihasilkan industri manufaktur. Namun demikian bagaimana penyerapan tenaga kerja oleh UKM dari aspek spasial tampak masih kurang teramati.190 (Sjöberg dan Sjöholm. setelah krisis justru terjadi penurunan tingkat konsentrasi spasial kendati relatif kecil. Sebagai perbandingan. Data yang ada menunjukkan bahwa peran tersebut cukup penting. Hal ini memberikan indikasi bahwa sejak terjadi krisis ekonomi. Namun jika dilihat dari tenaga kerja. UKM (non pertanian yang tidak berbadan hukum) masih tetap terkonsentrasi di pulau Jawa. Dicatat pula bahwa peningkatan konsentrasi spasial jauh lebih mencolok di Jawa daripada Sumatera maupun pulau-pulau lainnya di Indonesia. dalam kasus Indonesia. Dalam tulisan ini ukuran konsentrasi spasial yang digunakan adalah indeks Herfindahl yang diterapkan baik terhadap data unit usaha maupun jumlah pekerja UKM. Sebagai contoh. indeks Herfindahl pekerja UKM meningkat menjadi lebih dari 0. Kuncoro menemukan bahwa sampai sebelum tahun 1988. dalam studinya yang mengukur trend konsentrasi spasial industri di Indonesia 1976-1995. . 2002). Dalam tulisan ini yang diamati barulah soal distribusi spasial UKM dan belum sampai pada determinan dari dinamika spasial UKM itu sendiri. Sjöberg dan Sjöholm memukan bahwa tingkat konsentrasi spasial industri manufaktur dalam kurun waktu 1980-1996 tidaklah berkurang. Terdapat pula indikasi menguatnya konsentrasi spasial UKM tersebut sejak krisis ekonomi melanda Indonesia. Masih menurut Kuncoro (2002b).Lembaga Penelitian Universitas Atmajaya. konsentrasi spasial industri memiliki pola menurun. Hasil perhitungan indeks Herfindahl tersebut disajikan dalam Gambar 3. Kendati ukuran konsentrasi spasial yang digunakan berbeda. konsentrasi spasial tersebut justru mengalami peningkatan.

Basri. 29-50. S. 1996. 2002.‖ Makalah disajikan dalam lokakarya Economic Growth and Institutional Change in Indonesia during the 19th and 20th Centuries. DAN PEMBANGUNAN Mengingat masa kelam Orde Baru yang se-ring disebut ‖orde pembangunan‖. Timbul pertanyaan mengganjal. Yogyakarta. apakah pembangunan akan selalu membawa destabilisasi? Sebuah proses yang mengakibatkan disparitas sosial-ekonomi membesar akibat laju modernisasi dan industrialisasi. J. ―Memupuk UKM. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 35 No 3. apakah sebuah ketakterhindaran (inevitability) historis. PAU-UGM dan Tiara Wacana. serta menguntungkan sebagian kecil masyarakat? Timbul pula pertanyaan yang menggelisahkan. ―Trade Liberalization and the Geography of Production: Agglomeration. keringat serta air mata. kemakmuran sebuah bangsa dicapai berbasiskan kekuatan rakyat yang berdaya dan menghidupinya. ―Wajah Murung Ketenagakerjaan Kita‖. Pembangunan. Menurut Sen. Sjöholm. Setyo Budiantoro MANUSIA. Prittchett. peraih Nobel Ekonomi tahun 1998. 2002b. 2001. 2002a. Menuai Pemulihan Ekonomi‖. Alisjahbana. W. 145-152. 1994. ―Small and Medium Enterprises Dynamics in Indonesia.. Hill. berbagai kasus yang mentorpedo rasa keadilan seperti Kedung Ombo. 2003. Transformasi Ekonomi Indonesia Sejak 1966: Sebuah Studi Kritis dan Komprehensif . Sumarto. maka akan bisa maksimal pula kontribusinya untuk kesejahteraan bersama. Pembangunan. ujar Sen. Kuncoro. S. Sandeem. at all cost. Kuncoro. 1999. M. ketidakberdayaan. Amsterdam 25-26 Februari. Tentu belum kering dari ingatan.. Jakarta. adalah se-suatu yang "bersahabat". SSE/EFI Working Paper Series in Economic and Finance No 488. LP-FEUI. Kompas.. kini terdengar suara lain dan mulai terdengar nyaring. Berkecamuk pertanyaan. seharusnya merupakan proses yang memfasilitasi manusia mengembangkan hidup sesuai dengan pilihannya (development as a process of expanding the real freedoms that people enjoy). L. maupun keterbelakangan adalah persoalan aksesibilitas. KEBEBASAN.. 14 Desember 2001. C. . Berry. Asumsi dari pemikiran Sen. ―A National Snapshot of the Social Impact of Indonesia‘s Crisis‖.. 2001. bila manusia mampu mengoptimalkan potensinya. ―A Quest for Industrial Districts: An Empirical Study of Manufacturing Industries in Java. M. Jenggawah. Rodriquez. dan berbagai penggusuran yang mengatasnamakan ‖pembangunan‖. Menurutnya pembangunan bukanlah proses yang dingin dan menakutkan dengan mengorbankan darah. Azis. Nipah. Suara tersebut antara lain dari Amartya Sen.‖ Bulletin of Indonesian Economic Studies 37 (3): 363-384. Kompas. A. Perwira. D. dan H. I. ―Regional Income Inequality in Indonesia and the Initial Impact of the Economic Crisis‖. A. M. ―Minimum Wage Policy and Its Impact on Employment in the Urban Formal Sector‖. E. Sumarto. Suryahadi. penyebab dari langgengnya kemiskinan. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 39 No 1. Widyanti.PUSTAKA Akita. apakah untuk mencapai kesejahteraan harus selalu ada ‖tumbal‖ (jer basuki mawa bea)? Sayup-sayup. jargon pembangunan begitu ‖suci‖ sehingga atas namanya menjadi ‖sahih‖ merampas hak-hak asasi manusia. Analisis Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia . 25 November. Ilmu Ekonomi Regional Dan Beberapa Penerapannya di Indonesia. pembangunan selalu mengorbankan kebebasan manusia? Rasanya masih seperti kemarin. Ö dan F. T dan A. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.. Sjöberg. Concentration and Dispersal in Indonesia‘s Manufacturing Industry. H. Bulletin of Indonesian Economic Studies 38 (2): 201-222. A.. 2002. Watterberg.. membuat pedih. Dengan demikian. 2002.

utang pun digelontorkan. namun akibat tak ada rasa memiliki. sebab dalam hitungan makro ekonomi . Anehnya. apakah rakyat benar-benar mengalami kelumpuhan sepenuhnya? Agaknya tidak. Krisis ekonomi. padahal tahun sebelumnya tumbuh +4. Lesson learned yang diperoleh dari Yayasan Pemulihan Keberdayaan Ma-syarakat (konsorsium 27 ja-ringan dan ornop besar yang membantu masyarakat keluar dari krisis). dengan berakhirnya berbagai proyek dan usailah sudah semuanya. dalam satu tahun ekonomi Indonesia anjlok -18. yaitu melalui kebebasan sebagai cara dan tujuan (Development as Freedom). dan dilemahkan. secara sadar maupun tak sadar. membuat pertumbuhan ekonomi merosot -13.Diakibatkan keterbatasan akses. rakyat pun tak peduli. secara umum kondisi rakyat Indonesia menjadi lemah. berakar dari dinamik sendiri dan dapat bergerak atas kekuatan sendiri. kesempatan sosial (pendidikan. usaha-usaha besar ambruk.6%. Tesis yang dikemukakan Sen agar tercapainya kesejahteraan. sikap nrimo. lalu merumuskan berbagai program dan proyek untuk dikerjakan. manusia hanya menjalankan apa yang terpaksa dapat di-lakukan (bukan apa yang seharusnya bisa dilakukan). maka kebijakan tersebut tak menguntungkan mereka. Freedom menurut Soedjatmoko merupakan kebebasan dari rasa tak berdaya.8% (Seda. diperlukan aspek emansipatoris. transparansi. Pada dimensi politik. dengan demikian berarti merangsang suatu masyarakat sehingga gerak majunya menjadi otonom. Dengan demikian. tak jauh dari lingkaran kekuasaan. masyarakat merasa lega karena tak mengerjakan apa-apa. 2002). Namun dua tahun kemudian. telah ‖melumpuhkan‖ diri sendiri. lembaran buku GBHN dan Pelita yang dicanangkan pemerintah makin tebal. Aksesibilitas yang dimaksud Sen adalah terfasilitasinya kebebasan politik. pe-nyebab kemiskinan adalah akibat ketiadaan akses yang dapat menunjang pemenuhan kehidupan manusiawi. lalu diserahkan pada pemerintah. Meski sebenarnya. berlomba-lomba merumuskan berbagai persoalan. potensi manusia mengembangkan hidup menjadi terhambat dan kontribusinya pada kesejahteraan bersama menjadi lebih kecil. Tragisnya. para pakar maupun berbagai organisasi masyarakat. Masyarakat pun melalui desas-desus akhirnya mengetahui dan mahfum. Dengan demikian. lalu tertinggal. Tentu. Dengan demikian. Temuan lapangan di Indonesia. Berbagai proyek tiba-tiba bertebaran. siapa di balik proyek. ujar Sen. Pemerintah yang makin percaya diri. manusia mempunyai keterbatasan (bahkan tak ada) pilihan untuk mengembangkan hidupnya. Lalu. Namun.9%. Untuk memecahkan hal tersebut. Akibatnya. rasa cemas. serta adanya jaring pengaman sosial. legitimasi. Dari tahun ke tahun. sebab semuanya telah diserahkan pada pemerintah. tentu mempunyai batas waktu. Selama Orde Baru. pada masa itu sedang terjadi capital flight sekitar $ 10 miliar per tahun. Rakyat yang tak dilibatkan dalam proses. tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Amartya Sen. rasa keharusan untuk mempertanyakan apakah tindakan-tindakan mereka diizinkan atau tidak diizinkan oleh yang lebih tinggi ataupun adat kebiasaan (misalnya: patriarki. Pembangunan. kesempatan ekonomi. meski proyek tersebut ‖ditujukan‖ untuk mereka. justru menunjukkan ‖kedigdayaan‖ rakyat. Dengan kata lain. Tidak ada model pembangunan yang berlaku universal. sedangkan investasi asing tak mau masuk akibat situasi sosial politik yang belum menentu. Keberdayaan rakyat (civil society). Masyarakat profesi. akibat distribusi akses sumber daya ekonomi yang tak merata menyebabkan rakyat miskin tak dapat mengembangkan usaha produktifnya.dan lain-lainnya).7% (1998). ekonomi nasional telah tumbuh 4. Feasibility studies (baca: penelitian pesanan) lalu dikerjakan oleh pa ra ‖intelektual tukang‖ maupun konsultan asing. sehingga pemerintah semakin memiliki kekuatan. terfasilitasilah kemanusiaan yang penuh dan sanggup mengungkapkan diri (humanitas expleta et eloquens). Dalam jangka panjang. Fenomena ini tentu membingungkan penganut ekonomi ortodoks. Sebagai sebuah proyek. Dan akhirnya. Pukulan krisis. dan kedaulatan untuk melakukan berbagai hal (bahkan menjadi leviathan). Yaitu aspek pembebasan masyarakat dari struktur-struktur yang menghambat. Dalam waktu singkat. kesehatan. berbagai proyek yang ada terbengkalai. terlemahkan. menyimpulkan. telah terjadi ‖kesalahan‖ besar yang dibuat bersama -sama. sehingga memungkinkan masyarakat memperkembangkan kemampuan atas dasar kekuatan sendiri (self reliance). jika pembangunan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang dianut masyarakat. suatu pembangunan tak akan berhasil dan bertahan. Begitulah. dan lain-lain). untuk mengkreasi dan menjustifikasi urgensi adanya berbagai proyek. tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Soedjatmoko (Development and Freedom). Hal itu. Pada dimensi ekonomi. masyarakat telah ‖menyerahkan‖ kemandirian yang dimiliki. rasa ketergantungan. akibat rakyat miskin sangat sulit mengakses dan terlibat berbagai kebijakan publik.

karena mendapat berbagai privilese tumbuh dengan cepat. kecil dan menengah (UMKM). sementara kesenjangan melebar. untuk mencapai kehidupan yang manusiawi. dan semangat kemandirian masyarakat sendiri. perlu ada transformasi agar kedua sektor usaha tersebut bisa berkembang (dual track). namun pelayanan pembiayaan bank lebih dimanfaatkan sektor besar. sehingga dapat kompatibel dengan nilai-nilai dan budaya setempat agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. Dengan cara demikian. pemerataan. babakan itu menyadarkan bahwa orientasi production centered development yang menekankan pertumbuhan. usaha-usaha ekonomi rakyat yang sering disebut usaha mikro. Salah satu institusi modern yang sangat sulit diakses oleh UMKM. diperlukan pula adanya upaya peningkatan kapasitas (capacity building). Bila masyarakat telah tumbuh dan berdaya. Bahkan seringkali. namun kemudian ambruk. adalah perbankan. Dan akhirnya disadari. merupakan hal strategis yang tidak netral dan bebas nilai. investasi asing dan haus akan utang luar negeri. maka cara untuk mencapainya pun seharusnya melalui upaya-upaya pencapaian kesejahteraan bersama. tak ada jalan lain kecuali memakai cara-cara yang demokratis. Demikianlah. Dan perlu disadari. Tujuan pembangunan adalah tercapainya kesejahteraan bersama. sebab akan mempengaruhi paradigma (mindset) berpikir. menekankan pertumbuhan manusia (aktualisasi potensi manusia). tern yata justru menunjukkan kekuatannya. acapkali institusi modern ini justru meningkatkan adanya kesenjangan. keberlanjutan (sustainability). Demikian pula. ternyata memiliki banyak kelemahan. akibat adanya ‖dualisme ekonomi‖ sektor kecil ini tak memiliki kemampuan untuk memanfaatkan berbagai institusi modern. sebab bila tidak akan jatuh. agar bisa memanfaatkan berbagai akses dan peluang yang ada. sektor usaha besar yang hidup dari kronisme. 29 April 2003) . perlu dikembangkan berbagai institusi modern yang dimodifikasi sedemikian rupa. Agenda ke Depan Kini kita menghadapi persoalan konkret. Oleh sebab itu. Cara sudah seharusnya konsisten dengan tujuan yang ingin dicapai. Produksi juga merupakan bagian penting dalam pendekatan ini. dengan berbagai keterbukaan dan peluang. di mana masyarakat mempunyai kebebasan untuk memilih. (Dimuat di Sinar Harapan. Untuk mencapai demokrasi. namun bukan tujuan utama. Meski memobilisasi tabungan dari masyarakat luas. *** Babakan sejarah yang pahit itu. hal ini tak mungkin terjadi. akan bisa terus berkembang. dan pembangunan pun rapuh tak berakar ( bubble economy). setidaknya kedua modal itulah yang kini kita miliki. tentunya harus melalui jalan dari pembangkitan kekuatan rakyat itu sendiri atau dalam terminologi Korten disebut people centered development. Pendekatan people centered development. Menyadari adanya dua modal tersebut. Sementara usaha besar yang berusaha secara wajar dan kompetitif. Usaha-usaha ekonomi rakyat. rente ekonomi dan fasilitas. sehingga makin kuat dan kokoh menyangga bangsa ini. mau tak mau harus berkompetisi secara sehat. Dengan demikian. Sedangkan untuk usaha mikro. memang terbukti mampu menyelamatkan ekonomi Indonesia dari krisis. maka pembangunan akan berurat berakar (rooted) pada rakyat. ‖Investasi ekonomi rakyat‖ (underground economy) yang kerap dipandang dengan sebelah mata. sektor modern justru makin meminggirkan mereka. namun tetap berjalan tertatih-tatih karena keterbatasan akses. kini secara berangsur telah ditinggalkan. dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Akibatnya. kecil. pembangunan akan berkembang secara dinamik berdasar kekuatan masyarakat sendiri. Usaha-usaha besar. yaitu melalui pemberian akses dan peluang yang sama pada kedua sektor usaha tersebut. Ikhwal menetapkan tujuan utama (goal). metodologi dan pengorganisasian pencapaian tujuan. Memfokuskan diri pada kesejahteraan rakyat. Begitulah. tentu harus dicapai dengan cara yang manusiawi pula.mereka. maka masyarakat dapat mengembangkan berbagai potensi produktif mereka. dan menengah (UMKM) ternyata telah menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan krisis. Kue pembangunan ternyata hanya dikuasai sebagian kecil masyarakat. Setidaknya.

Investassi tidak berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Saat itu kami usulkan agar Presiden secara terbuka menunjukkan keberpihakan ini.Oleh: Setyo Budiantoro -. Data-data ini diperkuat lagi oleh ―taksiran‖ pelarian modal ke luar negeri sebesar rata-rata US $ 10 milyar per tahun sejak krismon 1997. globalisasi yang arti harafiahnya adalah perluasan wawasan ternyata telah menyempitkan pendangan para ekonom makro Neoliberal hingga ekonomi rakyat di depan mata dianggap ekonomi tersembunyi. Yang licik atau tidak jujur (unfair) dari analisis makro ekonomi ini adalah tidak dengan menyebutkan secara jelas dan eksplisit bahwa ekonomi Indonesia selama 2002 telah tumbuh 3. ekonomi industri. yang dalam tulisan yang sama oleh ekonom senior FE-UI (Kompas. Sidang tahunan MPR-RI bulan Agustus 2002 merupakan tonggak sejarah bagi ekonomi rakyat ketika MPR memutuskan menarik kembali kesepakatan sebelumnya (ST-2000) untuk menghapus asas kekeluargaan dari . Mubyarto EKONOMI RAKYAT SEPANJANG TAHUN 2002 Tahun 2002 adalah tahun yang benar-benar istimewa bagi ekonomi rakyat.Direktur Kajian Ekonomi dan Pembangunan Center for Humanity and Civilization Studies (CHOICES) dan staf Ketua LSM Bina Swadaya. Daya tahan yang tinggi inilah yang menyebabkan ekonomi r akyat cepat pulih dari krisis ―laksana baju bolong -bolong yang merajut kembali sendiri‖. Inilah ekonomi rakyat yang dipahami oleh semua orang kecuali pakar-pakar ekonomi keblinger. Presiden menyatakan antara lain bahwa ekonomi rakyat tidak mungkin mengalami krisis berkepanjangan. Betapa tidak.5%. Pergaulan mereka semakin sempit karena waktu mereka banyak tersita oleh komputer/internet yang mampu memberikan data-data kuantitatif dari seluruh dunia. 19 Januari) disebut kelompok ekonom populis yang ―tidak realistis‖ dan ―tidak ilmiah‖. karena ternyata dalam kondisi investasi merosot ekonomi tumbuh 3.5%. Analisis makroekonomi (Neoklasik Ortodok) memang di sini menjadi buntu karena tidak ada yang dapat menerangkan mengapa ekonomi dapat tumbuh tanpa investasi. beliau menjawab: ―Bapak-bapak saja. dan sulit diterangkan. Bung Hatta. karena kalau saya bersikap demikian. Para ekonom makro pengritik pemerintah ―dengan bangga‖ menunjukkan data BKPM (Persetujuan investasi pemerintah) yang anjlog 57% untuk modal dalam negeri dan 35% untuk modal asing dibanding tahun 2001. Hukum atau teori ekonomi ini ternyata sama sekali tidak terbukti sepanjang tahun 2002. Sungguh sangat kontradiktif. karena daya tahan yang sangat tinggi. Sikap dan jawaban Presiden yang demikian tentu saja mengecewakan kita. Presiden menyambut baik hasil-hasil seminar yang antara lain menyimpulkan pemihakan Presiden pada Ekonomi Kerakyatan meskipun di muka umum tidak terkesan demikian. Presiden kita ternyata tidak bersama kita. maka saya lebih baik tutup mulut‖. Jika saja mereka mau menyebutkan fakta ini memang mereka akan terpaksa mengakui kekeliruan teori ekonomi yang selalu mereka tonjolkan bahwa tanpa investasi tidak mungkin ada pertumbuhan ekonomi. dan saya akan terlalu sibuk berdebat dengan mereka. yang ekonom Sumatera saja mengerti apa itu ekonomi rakyat dan pada majalah ―Daulat Rakyat‖ tahun 1931 menulis ―Ekonomi Rakyat Dalam Bahaya‖. Bahwa ekonom-ekonom modern zaman sekarang pura-pura tidak mengerti ekonomi rakyat dan mengatakan itu sebagai ekonomi tersembunyi ( hidden economy) memang mudah dipahami karena pakar-pakar ekonomi ini sudah tercekoki oleh teori-teori ekonomi Neoliberal dari Barat yang hanya ―bergaul‖ dengan fakta-fakta ekonomi modern. ekonomi tersembunyi ini sangat jelas tidak tersembunyi. Dalam kondisi bingung inilah Chatib Basri seorang ekonom muda Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia lalu menunjuk adanya ekonomi tersembunyi ( hidden economy) yang sulit diraba. sulit dimengerti. Pada tanggal 18 Maret 2002 Redaktur JER bersama Menteri Koperasi & UKM bertemu Presiden Megawati di Istana Negara untuk melaporkan hasil lokakarya ―Ekonomi Kerakyatan‖ tanggal 11 September 2001. ekonomi pasar uang/modal. para elit di sekitar saya serta merta akan menentangnya. karena sepertinya perjuangan kita membela ekonomi rakyat tidak pernah akan berhasil. sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa ekonomi nasional makin terpuruk atau sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan (recovery). Data penurunan penanaman modal yang sangat besar ini. Bagi kelompok ekonom lain yang membela dan memihak ekonomi rakyat.

Koperasi bukan pelaku ekonomi. liberalisme. Hasilnya cukup melegakan karena asas kekeluargaan tidak jadi digusur dan ketiga ayat pasal 33 dipertahankan utuh tanpa perubahan apapun meskipun ada tambahan ayat 4 dan 5 sebagai ―kompromi‖ yang memasukkan kata ―efisiensi berkeadilan‖. Tetapi sekali lagi tetap merupakan kekeliruan dan kerugian besar bagi bangsa Indonesia dan sistem serta praksis perekonomian. untuk mewujudkan kemakmuran. kesejahteraan. Bumi. dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam sidang tahunan (ST) MPR-2002 para politisi kita berdebat keras melaksanakan amandemen UUD 1945 yang dikenal dengan amandemen ke-4. sedangkan koperasi adalah wadah organisasi tempat bergiatnya ekonomi rakyat. memperhatikan dan menghargai hak ulayat. Hanya orang seorang adalah pelaku ekonomi yang instinknya bekerja keras berusaha mencapai tujuan. Lagipula menyebutkan koperasi sebagai salah satu pelaku ekonomi. dan dirgantara. . Pelaku ekonomi tetap saja perorangan sebagai produsen ataupun konsumen. Secara lengkap rumusan pasal 33 baru hasil ST-2000 berisi 5 ayat sebagai berikut: 1. Pelaku ekonomi adalah koperasi. Di satu pihak BPPN diperintahkan MPR dan UU tentang Propenas untuk ―membereskan‖ segala utang ini dalam 5 tahun. 3. dan demokrasi ekonomi. rupanya dianggap memadai dan tidak melanggar asas kerakyatan. ST-MPR 2002 memutuskan mempertahankan asas kekeluargaan bahkan mempertahankan keseluruhan (3 Ayat) pasal 33 tanpa amandemen apapun. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai dan/atau diatur oleh negara berdasarkan asas keadilan dan efisiensi yang diatur dengan undang-undang. Tetapi jika ke 5 ayat baru pasal 33 ini dianggap cukup untuk menghidarkan sistim kapitalisme. dan sosialisme. yang diatur dengan undangundang. Bulan-bulan setelah selesainya ST MPR 2002 terjadi perdebatan menarik tentang perlakuan yang dianggap tepat pada para konglomerat atau eks-konglomerat yang mbandel tidak mau (bukan tidak mampu) membayar utang yang ratusan trilyun. dan pemerintah. Sri-Edi Swasono. Penyusunan dan pengembangan perekonomian nasional harus senantiasa menjaga dan meningkatkan tata lingkungan hidup. sedangkan organisasi koperasi adalah wadah kegiatan yang menjadi alat untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi anggota-anggota koperasi. efisiensi. dan demokrasi ekonomi. disamping BUMN dan usaha swasta. dan efisiensi.pasal 33 UUD 1945. Ini berarti kemenangan para pembela ekonomi rakyat yang sejak Mei 2001 sebenarnya telah ―dinyatakan kalah‖ karena 5 dari 7 pakar ekonomi dalam BP-MPR setuju untuk menghapus asas kekeluargaan untuk digantikan dengan asas keadilan. 4. karena MPR memutuskan menghapus seluruh penjelasan pasal 33 termasuk di antaranya hilangnya kata bangun perusahaan koperasi dan pengertian lengkap demokrasi ekonomi yang menekankan pada keharusan mendahulukan kepentingan masyarakat. Perekonomian disusun dan dikembangkan sebagai usaha bersama seluruh rakyat secara berkelanjutan berdasar atas keadilan. badan usaha milik negara. sebenarnya merupakan salah kaprah yang sulit dimaafkan. bukan kemakmuran orang seorang‖. mayoritas anggota nampaknya menyadari kekeliruan pendapat yang ingin menggusur asas kekeluargaan. maka penghapusan penjelasan seluruh pasal 33 masih tetap berbahaya karena tidak lagi ada ketentuan tentang ―mendahulukan kepentingan masyarakat. 5. Ternyata yang menang adalah cara pemilihan yang kedua yaitu pemilihan presiden langsung meskipun tetap tidak ada jaminan dapat terpilihnya presiden yang benar-benar mampu mempersatukan seluruh bangsa untuk memecahkan masalah-masalah pembangunan bangsa yang makin komplek termasuk ancaman disintegrasi bangsa yang amat nyata. termasuk juga melaksanakan komitmen pada LoI-IMF. yaitu melalui restrukturisasi perusahaan yang sakit dan penjualan aset-asetnya. dan usaha swasta termasuk usaha perseorangan. BPPN yang merupakan rumah sakit raksasa untuk menyelamatkan sektor perbankan dari kebangkrutan total menghadapi dilema. efisiensi. Tetapi TAP MPR yang sama dan UU No 25 tentang Propenas juga tegas-tegas memerintahkan pelaksanaan sistem ekonomi kerakyatan. serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai dan atau diatur oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. 2. serta menjamin keseimbangan dan kemajuan seluruh wilayah negara. Memang amandemen yang paling penting menyangkut bidang politik yaitu tentang pemilihan presiden apakah melalui MPR yang selama ini berjalan atau melalui pemilihan langsung. Mungkin karena perhatian amat besar pada masalah pemilihan presiden atau katena perjuangan yang gigih dari segelintir teman-teman kita di MPR seperti Prof. keadilan. Demikian menggusur kata asas kekeluargaan dengan memasukkan kata demokrasi ekonomi. air.

dan telepon awal Januari 2002. Dr. Tentu saja pernyataan ini mendapat reaksi makin keras karena tidak saja kebijakan yang demikian melawan TAP MPR dan UU Propenas tentang sistem ekonomi kerakyatan. Dan jalan keluar atau pemecahan masalah ini sama sekali tidak memperoleh bantuan modal dari pemerintah atau bank-bank pemerintah. Usulan Filipina dalam AIPO-ASEAN (Organisasi antar Parlemen ASEAN) untuk membentuk Bank Penanggulangan Kemiskinan (ASEAN Poverty Alleviation Bank). Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM (PUSTEP-UGM) . Pada forum sama di DPR -RI tanggal 28 Januari Nyoman Muna dan Bambang Ismawan mengusulkan dikembang kannya ―microcredit wholesaler‖ (pemasok modal besar untuk ekonomi rakyat) tetapi yang harus dijaga benar -benar agar tidak dicegat oleh pemangsa (predator) yang akan memangsa kredit-kredit mikro ini untuk mereka sendiri. lebih-lebih dengan pernyataan pembelaan Presiden di Bali tanggal 12 Januari. Pemilihan kebijakan yang tidak populis inilah yang kemudian memperkuat demonstrasi mahasiswa yang selanjutnya menuntut Presiden dan Wakil Presiden mundur karena tidak lagi merasa dipihaki. Presiden dan Wakil presiden yang sangat didambakan memihak rakyat tidak lagi dipihak mereka (atau melawan mereka) sehingga tidak ada alasan lagi untuk mendukungnya. Pertumbuhan ekonomi nasional yang dilaporkan BPS 3.bukan lagi sistem ekonomi konglomerasi yang terbukti telah menyulut bom waktu berupa krisis moneter 1997. apakah tetap patuh pada pelaksanaan amanat pasal 33 UUD yang nasionalistik atau sistem ekonomi Neoliberal yang kini menguasai ekonomi dunia. Guru Besar FE-UGM.5% jelas-jelas merupakan sumbangan ekonomi rakyat yang dapat diandalkan ketahanannya. meskipun hampir tidak pernah dipihaki kebijakan-kebijakan pemerintah. Inilah nasib ekonomi rakyat yang cukup suram dan merisaukan. adalah indikator penemuan ekonomi rakyat pada habitatnya yang benar. dikawatirkan makin melembagakan kehidupan predator-predator kredit mikro bagi penduduk/warga miskin yang haus kredit di negara-negara ASEAN. Di Indonesia sejarah dan praktek BRI sudah dukup meyakinkan sebagai Bank bagi penduduk miskin terutama di perdesaan. Dalam kaitan ini Kementerian Koperasi dan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) perlu berhati-hati karena UKM inilah salah satu wadah kelompok yang sangat mudah diselundupi sehingga menjadi pemangsa (predator) barbagai program kredit bagi ekonomi rakyat. Dilema sangat berat ini menjadi terbuka lebar pada kasus kenaikan serentak harga-harga BBM. di desadesa maupun di kota-kota. Pemulihan ekonomi nasional dari krisis yang berkepanjangan justru terletak pada ekonomi rakyat. ditinjau dari para pelaku ekonomi rakyat ia merupakan pemecahan masalah ( solution). Bahaya ini sungguh jelas terlihat karena definisi kredit UKM adalah nilai kredit antara Rp 50 juta dan Rp 500 juta yang jelas bukan kelompok ekonomi mikro yang miskin. Ekonomi rakyat bukanlah ekonomi tersembunyi ( hidden economy) tetapi ekonominya wong cilik yang dapat dengan mudah dilihat dan ditemui di mana-mana di sekitar kita. Kiranya menjadi jelas bagaimana kehidupan ekonomi rakyat sepanjang tahun 2002 sampai awal 2003 ini. yang mendapat reaksi keras dari rakyat. tetapi semuanya dengan modal mereka sendiri. Dan praktek perbankan BRI dengan unit-unit desanya dapat didukung kegiatan BPR dan Koperasi yang dikembangkan berbagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sudah tumbuh di mana-mana secara mandiri dengan modal tabungan anggota. Pelaksanaan sistem ekonomi kerakyatan yang (harus) memihak rakyat berkali-kali terbentur atau berbenturan dengan kepentingan kelompok (vested interest) yang ingin tetap menguasai perekonomian Indonesia seperti masa-masa sebelum krismon. tetapi juga secara nyata sangat memberatkan kehidupan ekonomi rakyat. Prof. sehingga Direktur Utama BRI Rudjito menyatakan di DPR ―vested interest lebih tinggi dari interest rate‖ (yang sudah cukup tinggi!). Jika pemerintah menganggap menjamurnya pedagang kaki lima sebagai masalah yang memusingkan. Tarif dasar listrik. Menjamurnya pedagang kaki lima di mana-mana di kota-kota besar dan kecil. Presiden dengan tegas dan terus terang menyatakan pilihan kebijakan yang ―tidak populis‖ (tidak memihak rakyat) karena dianggap ―konstruktif‖ dalam jangka panjang. Dilema ini berkepanjangan karena pada setiap kasus seperti penjualan BCA atau Indosat selalu muncul masalah masa depan sistem ekonomi Indonesia. Berbagai upaya untuk memihakinya selalu kandas ditengah jalan karena kepentingn-kepentingan yang mapan bercokol (vested interest) selalu berusaha keras pula untuk menyabotnya demi kepentingan mereka. Ekonomi rakyat menjadi pendukung utama perekonomian nasional. ketika ekonomi sektor industri modern makin tertutup dan bermasalah. Mubyarto. Praktek-praktek BRI ini sebenarnya sudah ditiru/direplikasi di sejumlah negara Asia seperti India tetapi rupanya kurang mendapat perhatian di negeri sendiri.

Dalam ruang Indonesia. Selanjutnya. Kata rakyat merupakan suatu konsep yang abstrak dan tidak dapat di‘tangkap‘ untuk diamati perubahan visual ekonominya. koruptor pun berhak menyandang predikat ‗rakyat‘. di mana dan berapa jumlahnya. Karena dalam dimensi ruang Indonesia semua orang (Indonesia) berhak untuk menyandang predikat ‗rakyat‘. serta peluang pasar. Sama seperti jika seekor kucing digabungkan dengan 100 ekor tikus dalam satu ruang. Atau apakah upaya menggiring rakyat ke dalam ruang ekonomi kerakyatan selama ini sudah berada dalam koridor yang benar. sarana teknologi produksi yang sederhana. kucing. mempunyai akses pasar yang luas. Ekonomi Kerakyatan dan Sistem Ekonomi Pasar Ekonomi rakyat tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. dan bentuk kepemilikan usaha secara pribadi. Ibarat kata ‗binatang‘. konglomerat. Sedangkan ekonomi kerakyatan lebih merupakan kata sifat. yaitu ekonomi rakyat yang mana. Mubyarto.Fredrik Benu EKONOMI KERAKYATAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT: SUATU KAJIAN KONSEPTUAL Ruang Ekonomi Kerakyatan Indonesia Saat mendapat tugas untuk mebahas konsep ekonomi kerakyatan dalam kaitan dengan makalah Prof. Kalau diterjemahkan dalam konteks ilmu ekonomi. usaha ekonomi yang diragakan bernilai ekstrim terhadap totalitas ekonomi nasional. Kita harus jelas mengatakan rakyat yang mana yang seharusnya kita tempatkan dalam ruang ekonomi kerakyatan Indonesia. Persoalannya ada begitu banyak obyek yang masuk dalam barisan binatang (tikus. ekonomi rakyat adalah satuan (usaha) yang mendominasi ragaan perekonomian rakyat. saya menc oba untuk menangkap (baca: memahami) makna kata ‗rakyat‘ secara utuh. Kata rakyat baru bermakna secara visual jika yang diamati adalah individualitas dari rakyat (Asy‘arie. Walaupun dalam perjalanannya seekor kucing dapat saja menelan 100 ekor tikus atas nama binatang. menguasai usaha dari hulu ke hilir. yakni upaya memberdayakan (kelompok atau satuan) ekonomi yang mendominasi struktur dunia usaha. sumberdaya manusia. Menurutnya. Pertanyaan yang sama harus dikenakan pada konsep ekonomi rakyat. Dainy Tara (2001) membuat perbedaan yang tegas antara ‗ekonomi rakyat‘ dengan ‗ekonomi kerakyatan‘. Memiliki modal yang besar. siapa. ular. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun. maka rakyat adalah kumpulan kebanyakan individu dengan ragaan ekonomi yang relatif sama. maka kata rakyat dalam konteks ilmu ekonomi selayaknya diterjemahkan sebagai kesatuan besar individu aktor ekonomi dengan jenis kegiatan usaha berskala kecil dalam permodalannya. bagaimana kita memperlakukan rakyat dimaksud dan apakah perlakuan terhadapnya selama ini sudah benar. sehingga kita harus jelas mengatakan binatang yang mana yang bentuk visualnya gemuk atau kurus. khususnya dalam kaitan dengan pembangunan ekonomi. kecuali binatang itu adalah misalnya seekor tikus. Dalam konteks ilmu sosial. Atau dengan kata lain. menejemen usaha yang belum bersistem. Mubyarto tentang ―Ekonomi Kerakyatan dalam Era Globalisasi dan Otonomi Daerah‖. menguasai teknologi produksi dan menejemen usaha modern. Karena kelompok usaha dengan karakteristik seperti inilah yang mendominasi struktur dunia usaha di Indonesia. atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam. kata rakyat terdiri dari satuan individu pada umumnya atau jenis manusia kebanyakan. maka semuanya disebut binatang. Ilustrasi di atas saya sampaikan untuk membuka ruang diskusi tetang ekonomi kerakyatan dalam perspektif yang terarah dalam kerangka mengagas pikiran Prof. Kenapa mereka tidak digolongkan juga dalam ekonomi kerakyatan?. 2001). Akhirnya saya sampai pada pemahaman bahwa rakyat sendiri bukanlah sesuatu obyek yang bisa ‗ditangkap‘ untuk diamati secara visual. Mereka lahir dan berkembang dalam suatu sistem ekonomi yang selama ini lebih menekankan pada peran negara yang dikukuhkan (salah satunya) melalui pengontrolan perusahan swasta dengan rezim insentif yang memihak serta membangun hubungan istimewa dengan pengusaha-pengusaha . Perlu dipahami bahwa dalam ruang ekonomi nasional pun terdapat sejumlah aktor ekonomi (konglomerat) dengan bentuk usaha yang kontras dengan apa yang diragakan oleh sebagian besar pelaku ekonomi rakyat. Buruh tani. dll.). kita tidak bisa menangkap binatang untuk mengatakan gemuk atau kurus. Karena jumlahnya hanya sedikit sehingga tidak merupakan representasi dari kondisi ekonomi rakyat yang sebenarnya. Golongan yang kedua ini biasanya (walaupun tidak semua) lebih banyak tumbuh karena mampu membangun partner usaha yang baik dengan penguasa sehingga memperoleh berbagai bentuk kemudahan usaha dan insentif serta proteksi bisnis.

. adil. Keputusan politik ini sebenarnya menandai suatu babak baru pembangunan ekonomi nasional dengan perspektif yang baru. Pengalaman pembangunan ekonomi Indonesia yang dijalankan berdasarkan mekanisme pasar sering tidak berjalan dengan baik. Saya perlu menggaris bawahi bahwa yang patut mendapat kesalahan terhadap kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama regim orde baru adalah implementasi kebijakan pembangunan ekonomi nasional yang tidak tepat dalam sistem ekonomi pasar. bukan ekonomi pasar itu sendiri. Bukan sebaliknya membangun suatu format lain di luar ―ekonomi pasar‖ untuk diacu dalam pembangunan ekonomi nasional. lalu mencari suatu sistem dan paradigma baru di luar sistem ekonomi pasar untuk dirujuk dalam pembangunan ekonomi nasional. tidak efektifnya pasar tersebut berjalan. Persepektif yang perlu dianut adalah bahwa keindahan. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya struktur ekonomi yang berimbang antar pelaku ekonomi dalam negeri. Lahirnya sejumlah pengusaha besar (konglomerat) yang bukan merupakan hasil derivasi dari kemampuan menejemen bisnis yang baik menyebabkan fondasi ekonomi nasional yang dibangun berstruktur rapuh terhadap persaingan pasar. sebenarnya keragu-raguan ini tidak perlu terjadi. Padahal ekonomi pasar diperlukan untuk menentukan harga yang tepat ( price right) untuk menentukan posisi tawar-menawar yang imbang. Namun demikian tidak harus diartikan bahwa konsep pasar Adam Smith yang relatif bersifat utopis ini harus diabaikan. yang antara lain berisikan tentang keberpihakan yang sangat kuat terhadap usaha kecil-menengah serta koperasi. Komitmen pemerintah untuk mengurangi gap penguasaan aset ekonomi antara sebagian besar pelaku ekonomi di tingkat rakyat dan sebagian kecil pengusaha besar (konglomerat). Yang perlu dilakukan adalah upaya untuk mendekati kondisi indah. 1987). khusunya sejak masa orde baru. komitmen politik pemerintah ini perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Kegagalan pembangunan ekonomi yang diragakan berdasarkan mekanisme pasar ini antara lain karena kegagalan pasar itu sendiri. Bagi saya dunia ―pasar‖ Adam Smith adalah suatu dunia yang indah dan adil untuk dibayangkan. perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. dihasilkan suatu TAP MPR mengenai Demokrasi Ekonomi. minimal telah dibuktikan melalui suatu review teoritis. dimana demokrasi ekonomi nasional tidak semata-mata dijalankan dengan keberpihakan habis-habisan pada usaha kecil-menengah dan koperasi. keadilan dan keseimbangan yang dibangun melalui mekanisme ―pasar‖nya Adam Smith adalah sesuatu yang harus diakui keberadaannya. tapi perusahaan swasta besar dan BUMN tetap mendapat tempat bahkan mempunyai peran yang sangat strategis. Bagi saya. karena pengalaman keberhasilan pembangunan ekonomi negara-negara maju saat ini selalu merujuk pada bekerjanya mekanisme pasar. Mari kita membedah lebih jauh tentang konsep ekonomi kerakyatan. saya merasa kurang memiliki justifikasi empirik untuk mempertanyakan kembali sistem ekonomi pasar. Sudah saatnya dan cukup adil jika pengusaha kecil –menengah dan bangun usaha koperasi mendapat kesempatan secara ekonomi untuk berkembang sekaligus mengejar ketertinggalan yang selama ini mewarnai buruknya tampilan struktur ekonomi nasional. Karena konsep ―pasar‖ yang disodorkan oleh Adam Smit sesungguhnya tidak pernah ada dan tidak pernah akan ada. jika kita semua jernih melihat dan jujur untuk mengakui bahwa kegagalan-kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama ini terjadi bukan disebabkan oleh karena ketidakmampuan mekanisme pasar mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. Nampaknya kita semua berada pada pilahan yang dilematis. di mana bangun ekonomi yang mendominasi regaan struktur ekonomi nasional mendapat tempat tersendiri. dan seimbang melalui berbagai regulasi pemerintah sebagai wujud intervensi yang berimbang dan kontekstual. intervensi pemerintah yang tidak benar. Dalam pemahaman seperti ini. Bukti keragu-raguan ini tercermin dalam TAP MPR hasil sidang istimewa itu sendiri. dalam prakteknya belum ada satu negarapun yang cukup berpengalaman serta yang paling penting menunjukkan keberhasilan nyata. Hal yang masih kurang jelas dalam TAP MPR dimaksud adalah apakah perspektif pembangunan nasional dengan keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini masih dijalankan melalui mekanisme pasar? Dalam arti apakah intervensi pemerintah dalam bentuk keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini adalah benar-benar merupakan affirmative action untuk memperbaiki distorsi pasar yang selama ini terjadi karena bentuk campur tangan pemerintah dalam pasar yang tidak benar? Ataukah pemerintah mulai ragu dengan bekerjanya mekanisme pasar itu sendiri sehingga berupaya untuk meninggalkannya dan mencoba merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru ?. kita masih ragu-ragu. Kemudian sejak sidang istimewa (SI) 1998. Mau meninggalkan mekanisme pasar dalam sistem ekonomi nasional. Mereka tidak bisa diandalkan untuk menopang perekonomian nasional dalam sistem ekonomi pasar. Tapi sayangnya sangat sulit untuk diacu untuk mencapai keseimbangan dalam tatanan perekonomian nasional.. demi mengamankan pencapaian target pertumbuhan (growth) (Gillis et al. Bahwa kegagalan kebijakan pembangunan ekonomi nasional masa orde baru dengan keberpihakan yang berlebihan terhadap kelompok pengusaha besar perlu diubah. yang keberhasilannya masih mendapat tanda tanya besar atau minimal belum dapat dibuktikan melalui suatu kajian teoritis-empiris. bahkan kita sendiri belum berpengalaman (ibarat membeli kucing dalam karung). Sekali lagi. dan adanya pengaruh eksternal. Mau merujuk pada bekerja suatu mekanisme yang baru (apapun namanya).yang besar yang melahirkan praktik-praktik anti persaingan.

kepala yang dipenggal‖. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang salah atau kurang sempurna dengan konsep ekonomi kerakyatan?. maka kurang ada justifikasi logis yang jelas untuk mengabaikan bekerjanya mekanisme pasar dalam mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. Sudah menjadi pengetahuan yang luas bahwa negara-negara maju (termasuk beberapa negara berkembang. bukan sebaliknya pada konglomerat. Jadi yang salah selama ini bukan mekanisme pasar. pada akhirnya bermuara pada incapability dan inefficiency dari industri yang bersangkutan (contoh kebijakan pengembangan industri otomotif). Ini yang namanya affirmative action yang terarah oleh pemerintah dalam mekanisme pasar (Bandingkan dengan pendapat Anggito Abimanyu. Sejak awal saya katakan bahwa semua pihak perlu mendukung affirmative action policy pada usaha kecilmenengah dan koperasi yang diambil oleh pemerintah sesuai dengan tuntutan TAP MPR. seperti Singapura) mempunyai suatu sistem social security jangka panjang (yang berfungsi secara permanen) untuk membantu kelompok masyarakat yang inferior dalam kompetisi memperoleh akses ekonomi. Justru negara-negara yang masih setengah hati mendorong bekerjanya mekanisme pasar (seperti Indonesia) tidak mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara mantap. dan pemerataan yang berkeadilan. Pembangunan harus dikembangkan dengan berbasiskan ekonomi domestik (bila perlu pada daerah kabupaten/kota) dengan tingkat kemandirian yang tinggi. bahwa disamping obyek keberpihakan selama pemerintah orde baru dalam kebijakan ekonomi nasionalnya salah alamat. Bentuk campur tangan pemerintah (orde baru) yang seharusya diarahkan untuk menjamin bekerjanya mekanisme pasar guna mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. meluasnya kesempatan berusaha dan pendapatan. Bagi saya. 2000). instrumen distribusi kekayaan dan pendapatan. Pengalaman pembangunan ekonomi nasional dengan kebijakan proteksi bagi kelompok industri tertentu (yang diasumsikan sebagai infant industry) dan diharapkan akan menjadi ―lokomotif ― yang akan menarik gerbong ekonomi lainnya. Kalau begitu logikanya. sistem perburuhan. Semua ini merupakan ciri-ciri dari Ekonomi Kerakyatan yang kita tuju bersama (Prawirokusumo. sistem jaminan sosial. Sebenarnya sudah banyak program jaminan sosial temporer semacam JPS di Indonesia. Saya juga kurang setuju dengan pendapat bahwa mekanisme pasar tidak dapat menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonomi nasional. Apalagi dengan merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru.tetapi lebih disebabkan karena pasar sendiri tidak diberi kesempatan untuk bekerja secara baik. Fungsi sosial dapat berjalan dengan baik dalam mekanisme pasar. untuk melihat keberhasilan pembangunan ekonomi nasional yang dapat dinikmati secara bersama. tetapi kurang adanya affirmative action yang jelas oleh pemerintah demi menjamin bekerjanya mekanisme pasar. Ekonomi Kerakyatan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perlu digarisbawahi bahwa ekonomi kerakyatan tidak bisa hanya sekedar komitmen politik untuk merubah kecenderungan dalam sistem ekonomi orde baru yang amat membela kaum pengusaha besar khususnya para . Perlu dicatat. demi mengkreasi bekerjanya mekanisme pasar dalam program pembangunan ekonomi nasional. namun pelaksanaannya masih jauh dari memuaskan. partisipatif. Ini sama artinya dengan ―sakit di kaki. dsb. terjadi banyak penyimpangan dalam implementasi. Akibatnya tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) terhadap obyek keberpihakan (dalam mekanisme pasar) untuk mengambil peran sebagai lokomotif keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. rakyat sudah terlalu lama menunggu dengan penuh pengorbanan. keterbukaan/demokratis. 2001). pemerintah sendiri kurang mempunyai acuan yang jelas tentang kapan seharusnya phasing-out process diintrodusir dalam tahapan intervensi. karena kurang mantapnya perencanaan. menjadi tidak bermakna saat dihadapkan pada kenyataan bahwa bisnis yang bersangkutan masih tetap berada pada level perkembangan ―bayi‖. jika ada intervensi pemerintah melalui perpajakan. kepercayaan diri dan kesetaraan. Periode waktu yang telah ditetapkan untuk berkembang menjadi suatu bisnis yang besar dalam skala dan skop serta melibatkan sejumlah besar pelaku ekonomi di dalamnya. harganya terlalu mahal bagi rakyat jika kita mencoba-coba dengan sesuatu yang tidak pasti. serta lemahnya pengawasan. mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara baik pula. Kita akan membahas lebih jauh tentang kekurangan konsep ekonomi kerakyatan yang di dengungkan oleh pemerintah pada sub-pokok bahasan di bawah ini. Buktinya negaranegara maju yang selalu merujuk pada bekerjanya mekanisme pasar secara baik. ternyata dalam prakteknya lebih diarahkan pada keberpihakan yang berlebihan pada pengusaha besar (konglomerat) dalam bentuk insentif maupun regim proteksi yang ekstrim. Pendapat seperti ini juga tidak benar secara absolut. Pada saat yang sama. adanya persaingan yang sehat. ka rena dimanjakan oleh berbagai insentif dan berbagai bentuk proteksi. Yang disebut dengan affirmative action seharusnya lebih dutujukkan pada disadvantage group (sebagian besar rakyat kecil).

Program pengembangan ekonomi rakyat memerlukan adanya program-program operasional di tingkat bawah. Tidak dapat disangkal bahwa membangun ekonomi kerakyatan membutuhkan adanya komitmen politik ( political will). Modal dasar yang dimiliki inilah yang seharusnya ditumbuhkembangkan dalam suatu mekanisme pasar yang sehat. menjadi sangat tergantung pada aksi dimaksud. adalah sesuatu kekeliruan besar dalam perspektif ekonomi kerakyatan yang benar. serta peluang pasar. diperlukan adanya kajian ekonomi yang akurat tentang timing dan process di mana pemerintah harus mengurangi bentuk keberpihakannya pada usaha kecil-menengah dan koperasi dalam pembangunan ekonomi rakyat. keunggulan. bukan sekedar jargonjargon politik yang hanya berada pada tataran konsep. bukan cash money/cash material. peluang. Bukan sebaliknya ditiadakan dengan menciptakan ketergantungan model baru pada kebijakan keberpihakan dimaksud. Kita semua masih mengarahkan seluruh energi untuk mendukung program keberpihakan pemerintah pada UKM dan koperasi sesuai dengan tuntutan TAP MPR.konglomerat. agar pembahasan tentang ekonomi kerakyatan tidak hanya berhenti pada suatu konsep abstrak (seperti pembahasan tentang konsep ‗binatang‘ di atas). Aksi membagi-bagi uang secara tidak sadar menyebabkan usaha kecil-menengah dan koperasi yang selama ini tidak berdaya untuk bersaing dalam suatu mekanisme pasar. Justru kelompok ini yang enggan mendorong adanya proses phasing-out untuk mengkerasi mekanisme pasar yang sehat dalam rangka mendorong keberhasilan program ekonomi kerakyatan. karena sampai saat ini masih banyak pihak (di luar UKM dan Koperasi) yang memanfaatkan momen keberpihakan pemerintah ini sebagai free-rider. dan . Ini adalah suatu model pendekatan struktural (structural approach). Isu ini perlu mendapat perhatian tersendiri. tetapi menyamakan ekonomi kerakyatan dengan praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil (saya tidak membuat penilaian terhadap sistem JPS). keterbatasan organisasi dan pengelolaannya (Asy‘arie. maka sekali lagi kita akan mengulangi kegagalan yang sama seperti apa yang terjadi selama masa pemerintahan orde baru. Tapi kita lupa bahwa ada tahapan lainnya yang penting dalam program keberpihakan dimaksud. Bahkan sangat mungkin terjadi suatu proses yang bersifat counter-productive. Tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) dalam ragaan bisnis usaha kecil-menengah dan koperasi yang menjadi target affirmative action policy. sumberdaya manusia. Tapi sebaiknya dikembangkan dalam perspektif ‗regionalisasi‘ di mana di dalamnya terintegrasi kesatuan potensi. Beberapa kajian empiris menunjukkan bahwa permasalahan umum yang dihadapi oleh UKM dan Koperasi adalah: keterbatasan akses terhadap sumber-sumber permbiayaan dan permodalan. Pendekatan seperti ini jelas sangat berbeda dengan apa yang dimaksud dengan affirmative action. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di NTT Kita telah membahas tentang konsep ekonomi kerakyatan dalam pembangunan ekonomi nasional melalui program-program keberpihakan pemerintah terhadap UKM dan Koperasi. untuk mendorong ekonomi kerakyatan berkembang secara sehat. Selanjutnya. Praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil sangat tidak menguntungkan pihak manapun. Hal ini perlu ditegaskan. Perubahan itu hendaknya dilaksanakan dengan benar-benar memberi perhatian utama kepada rakyat kecil lewat program-program operasional yang nyata dan mampu merangsang kegiatan ekonomi produktif di tingkat rakyat sekaligus memupuk jiwa kewirausahaan. Oleh karena itu. Namun demikian perlu ditegaskan bahwa pengembangan ekonomi kerakyatan pada era otonomisasi saat ini tidak harus ditejemahkan dalam perspektif territorial. Masih ada masalah lain yang perlu dibahas dalam hubungan dengan internal condition UKM dan Koperasi. Jika pemahaman ini tidak dibangun sejak awal. konsep pengembangan ekonomi kerakyatan harus diterjemahkan dalam bentuk program operasional berbasiskan ekonomi domestik pada tingkat kabupaten dan kota dengan tingkat kemandirian yang tinggi. 2001). tetapi perlu ditindalanjuti dengan pengembangan program-program operasional yang diarahkan untuk mengatasi persoalan keterbatasan akses kebanyakan rakyat kecil. keterbatasan penguasaan teknologi dan informasi. Sebenarnya yang harus ada pada tangan obyek affirmative action adalah kesempatan untuk berkembang dalam suatu mekanisme pasar yang sehat. maka saya khawatir cerita keberpihakan yang salah selama masa orde baru kembali akan terulang. pemerintah harus mempunyai ancangan yang pasti tentang kapan seharusnya pemerintah mengurangi bentuk campur tangan dalam affirmative action policynya. Komitmen keberpihakan pemerintah pada UKM dan Koperasi di dalam perspektif ekonomi kerakyatan harus benar-benar diarahkan untuk mengatasi masalah-masalah yang disebut di atas. atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam. termasuk rakyat kecil sendiri (Bandingkan dengan pendapat Ignas Kleden. keterbatasan akses pasar. yaitu phasing-out process yang harus pula dipersiapkan sejak awal. 2000). karena asumsi awal yang dianut adalah usaha kecil-menengah dan koperasi yang merupakan ciri ekonomi kerakyatan Indonesia tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. Kalau tidak. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun. Pada era otonomisasi saat ini.

termasuk di dalamnya cara pandang tentang usaha. PUSTAKA Abimanyu. dalam Menggugat Masa Lalu. Pokok-Pokok pikiran dalam Menggugat Masa Lalu. Jakarta.. Djisman. Azwir Dainy. . Tetapi ada semacam jarak antara kesadaran berpikir dan realitas perilaku (Bandingkan dengan pendapat Musa Asy‘arie. Jakarta. 6 milyar dengan jumlah tunggakan (pokok+bunga) sebesar kurang lebih 26. Kosep. Tingkat pencapaian tertinggi yang paling banyak diperoleh dari program-program dimaksud adalah hanya terbatas pada tumbuhnya kesadaran berpikir dan hasrat untuk maju. Ignas. Ini adalah suatu model pendekatan lain yang disebut pendekatan kultural (cultural approach). S. 2002. Fredrik Benu – Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana. Anggito. BPFE. masih terdapat persoalan mendasar yang ‗mengurung‘ para pengusaha kecilmenengah dan Koperasi (termasuk di dalamnya berbagai bentuk usaha di bidang pertanian) untuk melakukan rasionalisasi dan ekspansi usaha. Dwight. Kompas Media Nusantara. Jumlah realisasi KUT yang telah disalurkan pada petani sejak tahun 1996 sampai tahun 2000 kurang lebih 35. H. Yogyakarta. dan Strategi. 2000. kajian dan alternatif solusi menuju pemulihan. 2 nd Ed. PT. Roemer Donald R. Kleden. 2000. 2001). PT. Ekonomi Rakyat. 2002). Sistem nilai budaya ini yang banyak mendeterminasi perilaku aktor ekonomi rakyat di NTT. 1987. Economics of Development. Perkins. Persoalan mendasar yang mengurung ini. Pada tingkat regional NTT. Sekedar sebagai pembanding disajikan data realisasi dan tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) selama periode 1996-2000. Asy‘arie. Selanjutnya. Malcolm. Musa. Elex Media Komputindo. Tara.Norton & Companny. 26 Nopember 2002. Gubernur Nusa Tenggara Timur. Yogyakarta. Keluar dari Krisis Multi Dimensi. di Hotel Kristal. khususnya di NTT. Ekonomi Pasar Sosial Indonesia. Atau dengan kata lain tingkat keberhasilan KUT di NTT hanya mencapai kurang dari 26 %. Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia. Kompas Media Nusantara. W.1 milyar (Laporan Gubernur NTT. Soeharto. Kupang Makalah disampaikan pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di Provinsi NTT. New York. Lembaga Studi Filsafat Islam. 2001. data yang diperoleh dari Biro Perekonomian Seta NTT menunjukkan bahwa sejak ditetapkannya TAP MPR tentang demokrasi ekonomi yang menekankan adanya keberpihakan yang jelas terhadap UKM dan Koperasi di Indonesia. Persepsi dan Mispersepsi tentang Pemulihan Ekonomi Indonesia. Jakarta. cara pengelolaan keuangan. Nuansa Madani. Kupang.karakter sosial budaya. Kebijakan. Laporan disampaikan pada kunjungan Menteri Pertanian Republik Indonesia di Propinsi Nusa Tenggara Timur. 2001. Ekonomi Indonesia Baru. Strategi Membangun Ekonomi Rakyat. 2000. sikap terhadap mitra dan kompetitor. strategei menghadapi resiko. Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia. jumlah KK miskin di NTT malah mengalami kenaikan yang cukup murad sebesar 55 % selama periode 1998-2002. Gillis.W. tidak dipublikasikan. sebaiknya dimulai dengan program rekayasa sosial-budaya (socio-cultural engineering) untuk merubah inner life dan mengkondisikan suatu tatanan masyarakat yang akomodatif terhadap tuntutan pasar untuk maju. Simanjuntak. Sekalipun sudah banyak program pemberdayaan ekonomi yang langsung menyentuh rakyat di tingkat bawah telah dilaksanakan baik oleh pemerintah maupun oleh lembaga-lembaga non-pemerintah (NGOs). tetapi sebagian besar rakyat kecil masih sulit untuk mengaktualisasikannya dalam ragaan usaha mereka. Prawirokusumo. tgl. 2001. dsb. cara pandang tentang tingkat keuntungan. Jakarta. Oleh karena itu saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa program pemberdayaan ekonomi rakyat. mungkin ada kaitannya dengan sistem nilai budaya yang sudah mengakar pada diri pelaku ekonomi rakyat di NTT secara turun temurun.

Sulawesi dan Sumatra yang pada umumnya berusaha di pusat kota. Mungkin juga tidak setiap hari mereka bisa berjualan di pasar atau pinggir jalan karena pola produksinya yang bersifat musiman. Tampilan fisik usaha para pelaku ekonomi kecil ini juga memperihatinkan. karena berbagai perbedaan pelaku ekonomi mulai diperhitungkan. Menurut hemat saya. kondisi mereka tidak dapat digolongkan mampu secara ekonomis. Selain berjualan secara individual di pasar. Ketika konsep rakyat diimbuhkan dengan konsep ekonomi politik yang tidak lagi netral. Jambu Mete. PDMDKE dan berbagai skim program/ pendanaan lainnya belum menyentuh mereka atau mungkin sentuhannya sudah hilang sama sekali. tingkat ekonomi mereka memprihatinkan. sejumlah kelompok tani yang menanam vanili mendapat penghasilan yang cukup besar lantaran harga komoditas ini cukup tinggi. Data ekonomi makro Indonesia bahwa share pelaku ekonomi kecil ini cukup kelihatan. Pada tataran political will pemerintah. pelaku ekonomi sebagaimana dimaksud pada umumnya terdiri dari petani kecil. tetapi kondisinya tetap seperti kita saksikan saat ini. sebagian besar dalam kondisi serba miskin. dari pusat sampai daerah. sebagian pelaku ekonomi kecil di pesisir pantai dikabarkan mengalami kemajuan berkat budidaya rumput laut. masih membutuhkan waktu yang relatif lama dan yang lebih penting dari itu. peternak kcil. Di Sabu dan Rote. Di NTT. Kecuali beberapa pelaku ekonomi informal yang berasal dari Jawa. Bagi para petani yang kebetulan memiliki wilayah yang cocok untuk komoditas perkebunan seperti Cengkeh.Frits O FanggidaE EKONOMI KERAKYATAN DI NTT: ANTARA REALITAS DAN HARAPAN Realitas Pelaku Ekonomi Kerakyatan di NTT Rakyat adalah suatu konsep politik yang netral. Unit usaha industri kecil atau rumah tangga yang paling menonjol di NTT adalah industri tenun ikat. Dalam kajian ini. telah melakukan banyak hal untuk memajukan mereka. yaitu hanya menunjuk pada pelaku ekonomi kecil (gurem) yang tersebar di sudut-sudut jalan perkotaan maupun di pelosok perdesaan. Di Apui (Alor). Pujian demikian tidak salah. Para pelaku ekonomi kecil di sektor informal perkotaan juga memperlihatkan kondisi yang relatif sama. Sumba. Sejumlah kelompok usaha yang dibina intensif dengan kondisi SDM yang relatif baik menunjukkan perkembangan yang baik. tidak menunjukkan status ekonomi yang lebih baik ketimbang para petani yang menanam tanaman pangan. Pemerintah. Vanili. Namun bagi para petani yang mengandalkan tanaman pangan dengan wilayah yang relatif kering. Lingkungan ekonomi makro dan mikronya sangat kontras berbeda. nelayan kecil dan pengrajin kecil di perdesaan dan para pelaku sektor informal perkotaan. mereka juga menggelar hasil usahanya di pinggir jalan secara darurat. ekonomi dan budayanya. Demikian juga para nelayan kecil di pesisir pantai Flores. namun pelaku ekonomi kecil semacam ini pasti buka di NTT. Pada titik inilah kita harus membedakan secara jelas petani kecil. pelaku ekonomi kerakyatan yang serba kekurangan ini ingin ditempatkan sebagai pelaku ekonomi utama. Secara teoretis. menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan yang serba kecil dan kekurangan di NTT sebagai pemain ekonomi yang utama atau sebagai fondasi ekonomi daerah. betapapun daerah ini dikenal sebagai gudang ternak (sapi). Tampaknya program-program pengentasan kemiskinan atau pemberdayaan ekonomi seperti IDT. Komsep ini tidak mempersoalkan perbedaan orang dalam kepelbagaian sosial. Para pengamat ekonomi memuji pelaku ekonomi kecil ini sebagai lentur dan tahan terhadap konjungtus dan krisis ekonomi. Para peternak di TTS. peternak kecil. kita mengenal cukup banyak konsep . Alor dan Timor. fondasi perekonomian daerah dan sejumlah julukan yang membanggakan. kinerja ekonomi mereka terbilang cukup baik. Kopi. walaupun mungkin pendapatan nominalnya lebih besar dari para peternak kecil. Inilah kondisi riil pelaku ekonomi kerakyatan di NTT. membutuhkan wawasan dan perlakuan baru terutama dari para penentu dan pelaksana kebijakan pada tingkat pemerintahan. namun tidak sedikit kelompok dan usaha individu menjadikan industri tenun ikat sebagai pekerjaan sampingan dengan postur usaha yang serba kekurangan. Semuanya sama. Suatu isyarat bahwa suatu kebijakan pengembangan yang berhasil di Jawa dan kota besar lainnya di Indonesia belum tentu berhasil di NTT. konsep ekonomi kerakyatan yang digunakan juga tidak bersifat netral. tingkat ekonomi mereka cukup memadai. petani kecil dan nelayan kecil di perdesaan. nelayan kecil. Data makro tentang pendapatan per kapita penduduk di berbagai kabupaten di NTT bisa menjelaskan kondisi ekonomi para pelaku ekonomi kecil tersebut. pelaku industri rumah tangga kecil dan pelaku ekonomi sektor informal perkotaan di Jawa dan kota besar lainnya di Indonesia dengan NTT.

posisi tawar mereka sangat lemah. bapak angkat. inti-plasma dan sebagainya. Organisasi harus dilawan dengan organisasi pula. Perilaku .pemberdayaan usaha kecil seperti kemitraan. Sekiranya langkah ini mampu meningkatkan posisi tawar para pelaku ekonomi kecil dan mampu meningkatkan kinerja ekonomi mereka. perdagangan. Kondisi ini sangat kondusif bagi para pelaku ekonomi kecil. Sementara itu sebagian nelayan di Pulau Timor secara perlahan-lahan telah bertransformasi menjadi buruh nelayan. Menjadi persoalan adalah bagaimana percepatan perubahan struktur ekonomi ini dapat terjadi. Akibatnya. Sikap kewiraswastaan mereka terbentuk dalam dinamika dunia usaha yang tinggi. nelayan. Dalam kondisi semacam ini. peternak. Pada sisi lain share sektor perdagangan dan perhubungan sedikit agak menonjol. tetapi belum berhasil mengeluarkan para pelaku ekonomi kecil dari lingkaran yang serba kekurangan. Secara teoretis. dinamika dunia usaha yang relatif tinggi menjadi media pembelajaran yang efektif dalam pembentukan perilaku ekonomi yang rasional dan produktif. Dari kondisi semacam ini dapat dibayangkan bahwa yang diperdagangkan adalah komoditas pertanian tanpa penglahan yang berarti. Di NTT. Apakah koperasi sebagai lembaga ekonomi yang dekat dengan para petani. Ciri pasar komoditas semacam ini adalah harga relatif rendah dan inferior terhadap komoditas hasil olahan yang diimpor dari luar. struktur ekonomi belum terdiversifikasi dengan baik menjadikan hubungan fungsional antar sektor ekonomi belum terjalin baik. industri. pengrajin dan pedagang kecil dapat menjadi organisasi ekonomi yang diandalkan untuk meningkatkan posisi tawar mereka di pasar? Sangat sulit untuk mengatakan Ya. Mereka bahu-membahu menjalin kekuatan untuk menguasai dan mendikte harga pasar. Share sektor pertanian sangat menonjol sementara share sektor industri sangat kecil. Para pembeli memiliki organisasi yang solid. pengembangan pelaku ekonomi kecil membutuhkan perubahan yang cukup berarti pada formasi ekonomi makro dan mikro. Mereka memasuki pasar pembeli ( buyer market) secara individual tanpa dukungan kelembagaan yang memadai. Kita masih membutuhkan wadah ekonomi lain atau sekurangkurangnya cara penanganan pasar sedemikian rupa sehingga aksesibilas pasar dan posisi tawar mereka dapat ditingkatkan. Dua Perusahaan Daerah. Berkembangnya sektor ekonomi sekunder dan tersier menjadi prasyarat bagi pengembangan dunia usaha pada aras ekonomi mikro. bukan melalui pelatihan-pelatihan formal. Karena itu sektor ini akan menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi pada sektor primer dan sekunder. agar tercapai keseimbangan posisi tawar di pasar. Dengan tingkat pendapatan masyarakat yang relatif tinggi serta kompetisi yang baik antar sektor ekonomi menjadikan outlet bagi produk pelaku ekonomi kecil cukup tersedia dengan insentif harga yang memadai. maka inilah salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan untuk direplikasi pada daerah lain. Perlu ada kebijakan untuk percepatan perubahan struktur ekonomi NTT agar keterkaitan fungsional antar sektor ekonomi dapat tercipta. Penghasil rumput laut di Rote dan Sabu juga mulai merasakan betapa fluktuasi harga yang terjadi sulit mereka kendalikan. Para pelaku ekonomi kecil tidak menikmati nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan. Organisasi pembeli yang kuat tersebut tidak bisa dilawan oleh para petani secara individual. saay ini mulai merasakan bahwa harga vanili sangat ditentukan oleh pembeli (pedagang skala menengah dan besar). perubahan struktur ekonomi akan terjadi bila aliran investasi pada sektor industri pengolahan (sekunder) meningkat. Demikian juga pada tataran ekonomi mikro. perhubungan dan lembaga keuangan) telah terjadi dengan baik. Inilah formasi ekonomi makro dan mikro yang sangat kondusif bagi pelaku ekonomi kecil di Jawa dan kota besar lainnya untuk berkembang. Jauh bukan hanya dalam arti fisik saja. Dalam kaitan ini menarik untuk disimak lebih lanjut langkah Pemda Kabupaten Kupang. Berkembangnya sektor ekonomi sekunder akan menciptakan peluang bagi dinamika dunia usaha. tetapi lebih penting adalah aksesibilitas. Formasi Ekonomi Makro dan Mikro Salah satu keuntungan pelaku ekonomi kecil dan sektor informal perkotaan di Jawa dan kota besar lainnya adalah struktur ekonominya telah terdiversifikasi dengan baik sehingga hubungan fungsional antar sektor ekonomi (pertanian. Para peternak di TTS sudah sejak lama takluk dengan para pembeli (pedagang). Konsep-konsep ini telah diadopsi sedemikian rupa ke dalam berbagai program pemberdayaan ekonomi yang dilaksanakan pemerintah maupun swasta. masing-masing bergerak di bidang kelautan dan agribisnis didirikan sebagai outlet bagi para pelaku ekonomi kecil. Jauh dari Permintaan dan Miskin Kelembagaan Salah satu persoalan yang menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan di perdesaan NTT sulit berkembang adalah bahwa mereka jauh dari permintaan (pasar). Sektor rkonomi tersier adalah sektor yang melayani. Petani Vanili di Apui (Alor) yang baru saja menikmati harga vanili yang tinggi.

maka perangkat hukum dalam bentuk Perda tentang pelaku ekonomi kecil atau UKM perlu dibuat. pembiayaan terhadap subsidiary plan tersebut dapat diakomodasi. Jangan dipaksakan dengan berbagai pelatihan kewirausahaan bila formasi ekonomi makroo dan mikro tidak kondusif. yang menggunakan program sebagai nomenklatur generik serta format pengusulan untuk mendapatkan pembiayaan dekonsentrasi. tetapi ia tak punya gigi. sebagian dari pos belanja modal yang dianggarkan dapat diarahkan sebagai kapitalisasi pelaku ekonomi kecil. strategi yang digunakan. Pertanyaannya. kapitalisasi pelaku ekonomi kecil tersebut dapat menjadi pemicu bagi berkembangnya aktivitas usaha pelaku ekonomi kecil. program aksi dan pengelolaan yang jelas. Untuk itu diperlukan suatu pengkajian mendalam mengenai eksistensi pelaku ekonomi kecil saat ini. Seluruh program yang berkaitan dengan mereka perlu dievaluasi tuntas dan yang paling penting mesti ada wawasan baru tentangnya. Misalnya dalam perumusan kebijakan fiskal daerah (APBD).ekonomi atau sikap kewirausahaan merupakan fungsi dari dinamika dunia usaha. Dorong perkembangan dunia usaha melalui percepatan perubahan struktur ekonomi. agar tercipta media pembelajaran yang luas bagi pelaku ekonomi kecil untuk mematangkan perilaku ekonomi atau sikap kewirausahaannya. Subsidiary plan adalah produk perencanaan sejumlah instansi yang berkaitan langsung dengan usaha kecil yang penyusunannya dikoordinasi Bappeda dan melibatkan representasi pelaku ekonomi skala menengah dan besar. propeda dan Renstra) memberi tempat bagi pengembangan usaha kecil secara terpadu dan berkesinambungan? Bagaimana strateginya menjadikan usaha kecil sebagai sokoguru perekonomian daerah? Sampai sejauh ini kita belum melihat adanya visi yang jelas tentang pelaku ekonomi kecil. PDRB NTT akan didominasi share pelaku ekonomi kecil. terutama bagi pelaku UKM untuk menuntut dan mengontrol pemerintah agar bersungguh-sungguh dalam mengembangkan UKM. Berkaitan dengan representasi pengembangan usaha kecil dalam dokumen perencanaan yang ada. Propeda dan Rentra) tidak memungkinkan rencana pengembangan pelaku ekonomi kecil sebagai inti dari pengembangan ekonomi rakyat diakomodasi dengan baik. Demikianlah beberapa pokok pikiran tentang pengembangan ekonomi kerakyatan di NTT. wacana tentang UKM ibarat macan ompong. Ancangan Perencanaan Berbagai perubahan yang diinginkan terhadap pelaku ekonomi kecil butuh perencanaan yang baik dan perencanaan yang baik muncul dari suatu visi pengembangan usaha kecil yang jelas pula. kepastian hukum dan komitmen yang jelas dalam pengembangan UKM. maka Kepala Daerah harus berani merumuskan visi bahwa dalam jangka waktu lima atau 10 tahun mendatang. Rencana Pengembangan Pelaku Ekonomi Kecil dapat dijadikan subsidiary plan dari Propeda atau Renstra yang keabsahannya dilegitimasi juga oleh Perda. adakah visi kita yang jelas tentang usaha kecil? Cukupkah dokumen perencanaan yang ada (Poldas. pembiayaan dan guide line pengelolaannya. Perlu Regulasi bagi Pelaku Ekonomi Kecil Esensi regulasi adalah untuk menciptakan keteraturan. selain retorika tentang mereka. Visi semacam ini diperlukan agar ada komitmen dan daya paksa untuk menjabarkan visi tersebut dalam perencanaan yang baik. Subsidiary plan tersebut paling kurang berisikan lima hal pokok yaitu Visi dan Misi. harus diakui bahwa format perencanaan standar yang ada saat ini (Poldas. Frits O FanggidaE – Dosen Fakultas Ekonomi . karena dalam format APBD yang baru. Dari segi pendanaan tidak ada masalah. Semoga berguna. Gaungnya kedengaran keras di mana-mana. Karena itu perlu terobosan dari sisi perencanaan. Sekian. program-program lintas instansi yang akan dilaksanakan. Bila urusan-urusan ekonomi lainnya diregulasi oleh Pemerintah Daerah. Denganstrategi. Tanpa Perda ini. pedekatan. Bila pemerintah menginginkan pelaku ekonomi kecil menjadi fondasi perekonomian daerah.Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang . Kepala Daerah harus berani merumuskan visi yang jelas tentang pengembangan pelaku ekonomi kerakyatan. Melalui pendekatan semacam ini diharapkan pelaku ekonomi kerakyatan dapat berkembang menjadi fondasi ekonomi yang kokoh bagi perekonomian daerah. Menurut hemat saya. Perda ini sangat penting.

63 1999 0. Data -data pertumbuhan PDRB per kabupaten/kota yang lebih lengkap selama Repelita VI terlihat pada tabel 2.73%. Kesan demikian tentu mengganggu pelaksanaan pemerintah daerah.54 3. dan jauh lebih rendah dibanding kontraksi –11.40 -2.6 86.94 1.91 Rata-rata 1994 2000 3.7 Kemandirian Kelembagaan Keseluruhan 64.54 5.83 4. 4.9 Partisipasi 88. pada tahun krisis (1998) mengalami kontraksi –2.8 Irja 31.1 32.67 2.6 91.22 6. yang seluruh desanya dinyatakan sebagai desa IDT pada tahun 1996.5 5.9 76. tidak tinggi dibanding kontraksi –4. tetapi ekonomi rakyat yang masih agraris berdaya tahan tinggi dan justru merasa diuntungkan oleh krisis moneter tahun 1997. Perekonomian Daerah Jika tahun 1996 dan 1997 pertumbuhan ekonomi NTT cukup tinggi (masing-masing 8. Secara keseluruhan ekonomi NTT sudah pulih dari krisis.04 2000 2. 3. Bahkan pemahaman tentang pengertian otonomi daerah sendiri masih cukup rancu.30 32. Maka dapat dimengerti seperti halnya wilayah-wilayah lain di luar Jawa. Kabupaten/kota Sumba Barat Sumba Timur Kupang Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Belu 1998 -0. 6.10 3.8% (Jawa-Bali) atau –13.4 63. 5.57 2.75 4.5 71. Di antara 4 propinsi ―termiskin‖ ini hasil lengkap survei BPS-1997 dilihat pada tabel 1.62%). adanya bagian-bagian masyarakat yang ―menikmati krisis‖ dengan kemakmuran yang meningkat.0 88.5 % berhasil dalam aspek ekonomi).22% dan 5.62 3. Bahwa OTDA penuh diletakkan di kabupaten/kota. Sebagai salah satu dari 4 propinsi ―termiskin‖ di Indonesia berdasarkan tingkat PDRB perkapitanya. yang menonjol di antaranya berupa kerisauan menurunnya wibawa pemerintah daerah propinsi di mata pejabat-pejabat kabupaten/kota.73%.28 -3.21 4.Mubyarto MEMBANGUN PEREKONOMIAN RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR Pendahuluan Gubernur Piet Tallo yang alumni Fakultas Hukum pernah menolak julukan miskin bagi daerahnya. wakil LSM dan sejumlah dosen Undana menyatakan optimisme terhadap masa depan ekonomi NTT.13 4. ―Mungkin warga NTT belum se-makmur saudara-saudaranya dari daerah lain. Maret 1998 Dalam pertemuan terbatas di Kupang tanggal 20 Januari 2001.75 -6.42 -3. survei BPS tahun 1997 menempatkan NTT pada urutan nasional ke-6 (79.2 57.24 -2.0 Sumber: RI.42 -1. Pidato Pertanggungjawaban Presiden. 1.5 75.64% untuk wilayah-wilayah luar Jawa.97 . Meskipun tahun 1998 terjadi kontraksi ekonomi minus 2.11 4.7 96. Namun khusus tentang prospek otonomi kebanyakan pakar masih merasa cemas. rupanya dianggap sebagai perubahan amat fundamental yang terkesan menghapuskan kekuasaan dan fungsi kooordinatif dari pemerintah propinsi atas kabupaten/kota dalam lingkungan propinsi.7 52. Tabel 1: Tingkat Keberhasilan Pokmas IDT Menurut Bidang (%) di 4 Propinsi Propinsi NTT NTB Maluku Ekonomi 79. 2. tetapi propinsi ini sedang mengeksplorasi berbagai potensi tambang dan kekayaan alam lain yang kelak akan membantu mengubah nasibnya‖.4% (5 propinsi Jawa).57 5. Tabel 2: Pertumbuhan PDRB Per Kabupaten/Kota se Propinsi NTT No.9 78.8 23. dan di propinsi hanya merupakan otonomi terbatas.6 39.

08 -8.72 3. Sebenarnya jika Bank Umum di daerah mau bekerja keras.20 milyar (1997/98) menjadi Rp 1. akan ditemukan usaha-usaha kecil ekonomi rakyat yang mau dan mampu membayar tingkat bunga pasar. Data dari Bank Indonesia propinsi NTT 1993-2000 menunjukkan kenaikan penghimpunan dana ―luar biasa‖ yaitu 19.8 milyar ke Rp 53.7 kali dari nilainya pada tahun 1993/94 (Rp 439 milyar).3 milyar. 10.3 di Propinsi NTT melampaui wilayah Ngada dan Manggarai.43 1.73 4.18 2. 8.69 milyar (1998/99) kenaikan 73%. Analisis perekonomian daerah kembali ke lingkaran awal. tidak ―dikembalikan‖ sebagai kredit yang dibutuhkan masyarakat setem pat tetapi dikirim ke luar daerah (Jakarta). Jika masyarakat kecil (ekonomi rakyat) mulai tertarik menggunakan jasa perbankan yang mudah dalam bentuk simpanan dan tabungan berjangka.2 milyar (20%) lebih rendah dari persentase kredit yang diberikan pada tingkat propinsi (28.72 3.37 0.82 milyar melampaui Ngada/Manggarai yang hanya mencapai Rp 162.9 milyar tahun 1993/94 (urutan ke-4 dari 7 wilayah) kini menjadi no.42 4. Jumlah dana perbankan yang dihimpun bulan Oktober 2000 seluruh NTT mencapai Rp 2. Namun menjadi tanda tanya mengapa kontraksi ekonomi yang tertinggi di kabupaten Ende rupanya tidak terkait dengan data perbankan yang justru meningkat yaitu simpanan dan tabungan berjangka masing-masing naik 19.28%) dan kontraksi terendah adalah di Manggarai yang masih tetap tumbuh positif meskipun kecil sekali (0. character. Alor Lembata Flores Timur Sikka Ende Ngada Manggarai Kota Kupang NTT -2.2 kali (dari Rp 2.50 -1. Kantor Pusat setiap bank akan harus mengembangkannya. tidak dapat diatur.33 2. dengan meninggalkan kriteria pemberian kredit formal yang kaku. Program pemberdayaan ekonomi rakyat akan berkembang melalui program .08%).08 trilyun naik 4.22 -6. Tetapi sering dikatakan bahwa bank-bank tidak memiliki tenaga dan pengalaman untuk menyalurkan kredit kecil atau kredit mikro seperti ini. 11. dan yang paling mudah dalam situasi ekonomi sekarang (krismon) adalah dibelikan SBI yang bunganya menarik. Pimpinan Bank Indonesia yang hadir dalam diskusi di Kupang tidak melihat adanya kejanggalan ini karena menurutnya dalam ―sistem ekonomi pasar bebas‖ perilaku modal keluar masuk daerah.03 0. pihak perbankan harus juga berubah dalam melayani ekonomi rakyat dalam kebutuhan kredit yang mudah dan murah.69 -0.91 1. Peningkatan dana masyarakat Ende berupa simpanan dan tabungan berjangka (Rp 183. Yang menarik untuk dicatat adalah ketimpangan ekonomi antardaerah yang relatif ―ringan‖.20 3.6%).31 milyar. yang oleh BI setempat dalam proyek PHBK (hubungan Bank dan kelompok swadaya) dan KKPA (Kredit Koperasi Pada Anggota) telah diabaikan. sehingga dana perbankan Ende yang hanya Rp 40. Alasan yang biasanya diajukan adalah tidak adanya usaha-usaha ―produktif‖ yang memenuhi syarat untuk didanai dengan kredit bank.5% dari dana perban kan di seluruh propinsi NTT (Oktober 2000) hanya sedikit meningkat dibanding pangsa tahun 1993/94 sebesar 48. Kredit yang diberikan hanya Rp 37.7 milyar ke Rp 129. Dana yang dihim pun perbankan di Ibukota propinsi (Kupang) ―hanya‖ 54.9%. Kenaikan nilai penghimpunan dana di Ende yang luar biasa ketika krismon.18 Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kontraksi ekonomi rata-rata kabupaten/kota se-propinsi cukup merata dengan angka tertinggi di kabupaten Ende (-6.61 3.71 6.05 5.18 6. Di daerah harus ada kebijakan khusus yang merangsang investasi. Ekonomi daerah yang miskin tetap selalu tertinggal.44 5.7.83 4. Dana bank yang harus dibayar bunganya kepada penabung tidak mungkin dibiarkan diam (idle). condition dan capital). Pada bulan Oktober 2000 dana yang dihimpun perbankan Ende mencapai Rp 210. Dunia perbankan setempat bersama Pemerintah Daerah harus sungguh-sungguh berkoordinasi untuk mengubah hukum ekonomi kapitalisme liberal menjadi hukum ekonomi kerakyatan.01 4. 14.68 5. Dalam otonomi daerah ―lingkaran setan‖ seperti ini perlu diputus.98 4.49 3.7 milyar).72 5. meskipun disadari bahwa syarat-syarat ini adalah syarat-syarat kredit komersial formal yaitu 5 C (collateral. yang paling tinggi adalah kenaikan pada awal krisis ekonomi yaitu dari Rp 899. Syaratsyarat formal ini diakui terlalu kaku.95 4. 13.69%) dan TTU (-6.7% pertahun.554. 9. capacity.54 0. bahkan ke luar negeri sekalipun. Oktober 2000).73 -0.6 milyar) dan 6 kali (dari Rp 21. 12. rupanya berlanjut sampai sekarang (2000).72 0.51 -2. Bahkan kenaikan pendapatan yang diperoleh dari dan selama krismon tidak dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi rakyat lebih lanjut. Kenaikan paling tinggi adalah penghimpunan dana di kabupaten Ende (105%) dan Kabupaten Kupang (79%).

melalui BPD. Ibu Johanna Maxi. tamatan SD) dari desa Babau. dengan polos menanyakan ―Apakah setelah Otda masih akan ada tamu seperti Pak Mubyarto yang mengevaluasi program-program penanggulangan kemiskinan seperti IDT dan PPK?‖ Pertanyaan demikian diajukan karena ada pernyataan bahwa dalam Otda ―semua program penanggula ngan kemiskinan harus dibuat sendiri oleh kabupaten‖.000 per bulan ditambah biaya operasional Rp 50. tetapi warga desa sendirilah yang pada tingkat akhir akan meluncurkan programprogram yang diinginkannya. Di desa Babau sekitar 30% telah berhasil mengubah program IDT menjadi Koperasi Simpan Pinjam yang segera memperoleh status badan hukum. serta penyuluh-penyuluh dari berbagai dinas sektoral. Bahwa Pemda kabupaten/kota kini lebih besar wewenangnya ketimbang propinsi. kabupaten. tetap dapat datang untuk mengadakan kajian-kajian. Program IDT di 2 desa Oebelo. yang diangkat serta digaji oleh Pokmas yang didampinginya. memang benar tercantum dalam pasal-pasal UU No. cukup banyak pendamping yang bermutu dan memihak pada penduduk miskin.500/hari). Karena mereka lebih dekat dengan rakyat.kredit mikro ala Grameen Bank yang berhasil di Bangladesh dan sudah ―ditiru‖ di banyak negara termasuk di Indonesia. Kupang Timur. dan dilengkapi sepeda motor. pimpinan LSM Bina Swadaya Kupang yang mengkoordinasi 12 pendamping menyatakan dapat dikembangkannya program pendampingan ini dengan syarat pendamping yang bersangkutan mendampingi paling sedikit 20 Pokmas secara sungguh-sungguh dan purna-waktu. Kegagalan 70% program di desa pertama bukanlah karena ketidaksungguhan anggota tetapi karena musibah menjalarnya penyakit ternak babi pada tahun pertama. Ditaksir sekitar 10% dari SHU Pokmas cukup memadai untuk menggaji Pendamping yang bersangkutan. Hendrikson Adoe (30 th). Kupang tengah. Jelas di sini bahwa rakyat atau warga desa sendirilah. Gaji pendamping yang tinggi ini masih disubsidi kantor Bina Swadaya sampai sekitar 50%. Di desa Oebelo antara 25-35% penerima dana IDT benar-benar telah mentas dari kemiskinan yang melilitnya. uang jalan jika berdinas keluar (Rp 7. OTDA seharusnya tidak difokuskan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tetapi yang lebih penting adalah . dan desa-desa di NTT cukup baik meskipun masih ditemukan berbagai masalah. dan disusun oleh BPD (Badan Perwakilan Desa) yang di antara tugas dan kewajibannya adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat berdasarkan demokrasi ekonomi (pasal 22 dan 101). antara lain melalui pengembangan program pendampingan dengan dana APBD. Misalnya seorang ketua Pokmas Simson Misa (49 th. apa tugas dan tanggung jawab Pemda propinsi (atau PMD) dalam hal ini? Yang lebih sulit lagi adalah memikirkan kelanjutan program-program penanggulangan kemiskinan pada tingkat desa. Seorang SP2W. memang berjalan baik. baik Pemda propinsi maupun Pemda kabupaten/kota. Dana Rp 600. Tamu-tamu. Program pendampingan ini akan jauh lebih berhasil lagi. program IDT masih berjalan baik. melaksanakan. Dalam kenyataan. Namun yang belum jelas adalah implikasinya dalam penyusunan program-program untuk melaksanakan wewenang tsb. [1] [1] Pendamping Bina Swadaya mendapat gaji (terendah) Rp 275.22/1999. yang hadir pada pertemuan dengan 2 Pokmas IDT di Kalurahan Babau kecamatan Kupang Timur. Sedangkan di desa ke-2 yaitu Babau berhasil sekitar 30%. apakah pemikiran ke arah perbaikan dan penyempurnaan program IDT termasuk program pendampingan kini merupakan tanggung jawab penuh Pemda kabupaten? Jika ya. Otonomi Daerah dan Otonomi Desa Otonomi Daerah dan prospek pelaksanaannya di Propinsi. Dalam pada itu 2 jenis pendamping lainnya (yang tidak purna-waktu) seperti aparat desa.000 per bulan. BRI dengan kredit Unit Desanya sebenarnya sudah maju jauh sebelum Grameen Bank. jika Pemda ( dhi PMD) serius memantau pelaksanaannya. lebih-lebih setelah dipadukan ke dalam dana bantuan Desa sejak TA 1996/97. Kupang Timur. atau pakar-pakar dari pusat atau propinsi. Program-program pembangunan yang disusun Pemda kabupaten/kota bersama DPRD memang harus makin banyak yang berasal dari desa/kelurahan. Pendamping Sarjana yang diangkat dan digaji Pemda masih banyak yang aktif. tidak ada alasan program yang bersangkutan tidak sesuai dengan aspirasi rakyat. dan tokoh-tokoh masyarakat setempat. tetapi rupanya tetap saja belum mampu mengatasi kebijakan kredit yang lebih berpihak pada sektor industri modern dan usaha-usaha besar di kota-kota. dan program -program ini harus lebih baik dibandingkan program-program yang disusun secara nasional seperti IDT oleh Bappenas dan Depdagri. dan desa Babau. Salah satu kunci keberhasilan program IDT di NTT adalah dukungan penuh dan konsisten dari Pemda. Misalnya dalam program-program penanggulangan kemiskinan ala IDT. karena yang pertama menerima otonomi penuh. sedangkan yang ke dua otonomi terbatas. meyakinkan masih perlunya pendamping bagi Pokmas-Pokmas IDT. dan menilai program-program penanggulangan kemiskinan dan pembangunan perdesaan pada umumnya. Program Pemberdayaan ekonomi rakyat Jika di sejumlah propinsi program IDT sudah ―dilupakan‖ atau sudah ―diganti‖ program lain seperti PPK (Program Pengembangan Kecamatan) di kabupaten Kupang.000 yang disediakan sebagai BOP (Biaya Operasional Pemantauan) pada desa sulit dilihat hasilnya. yang setelah dilaksanakannya OTDA dapat menyusun. dan yang dapat menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat. sulit diharapkan mencurahkan perhatian pada Pokmas IDT dan anggota-anggotanya.

meningkatkan pemerataan dan keadilan menuju terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesimpulan Menyaksikan ketekunan dan kesungguhan masyarakat dan aparat Pemda propinsi dalam melaksanakan program IDT di propinsi NTT, kita melihat program penanggulangan kemiskinan sudah mencapai tahap gerakan masyarakat sebagaimana dirancang program ini pada awal peluncurannya. Sudah tercapainya tahap gerakan masyarakat (GEMA) antara lain terbukti dari sambutan Pokmas IDT di seluruh propinsi untuk menghimpun kembali dana IDT yang berada di Pokmas-Pokmas untuk dijadikan semacam Bank Desa pada tingkat kecamatan. Meskipun pendirian Bank Desa pada tingkat kecamatan dengan dana IDT yang sudah bergulir di Pokmas ini belum tentu dapat dianggap kemajuan, tetapi akan menjadi indikator tercapainya kemandirian keuangan desa seperti UPK (Unit Pelayanan Keuangan) dalam Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Memang dalam membangun kelembagaan Bank Desa ini profesionalisme dalam pengelolaannya harus prima, dan dilaksanakan dengan koordinasi penuh dengan Bank Indonesia setempat, disamping sikap pemihakan pejabat Pemda yang jelas pada kepentingan ekonomi rakyat. Konsep dasar program IDT adalah makin mendekatkan lembaga perkreditan dan pendanaan pembangunan masyarakat desa pada penduduk desa. Setiap usaha untuk meningkatkan skala ekonomi lembaga ini demi efisiensi harus lebih menguntungkan ekonomi rakyat. Otda yang juga berarti otonomi desa perlu memperoleh perhatian Pemda dan DPRD kabupaten dalam bentuk penyusunan Perda-Perdanya. Sikap dan tradisi demokrasi yang tinggi pada masyarakat NTT harus dimanfaatkan untuk segera membentuk BPD. Jika BPD berhasil menghimpun tokoh-tokoh muda masyarakat desa yang profesional, seperti mantan SP2W, maka ini merupakan salah satu kunci percepatan pemberdayaan ekonomi rakyat desa. Satu kendala yang selalu disinggung dalam diskusi-diskusi kecil adalah kondisi multietnik masyarakat NTT yang kurang mendukung kerukunan warga desa, lebih-lebih dengan membanjirnya pengungsi dari Timor Timur sejak September 1999. Untuk mengubah kondisi multietnik menjadi faktor dinamika masyarakat, pemerintah daerah perlu membentuk badan/lembaga khusus untuk menanganinya. Jika masalah multietnik ini benar-benar dapat digarap secara transparan dan profesional, maka rasa optimisme Gubernur yang disebutkan pada awal tulisan ini pasti makin berkembang. Dan NTT tidak akan lagi diartikan sebagai ―Nasib Tak Tentu‖ tetapi ―Nasib Terpancar Terang‖.

Prof. Dr. Mubyarto, Guru Besar FE-UGM, Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM (PUSTEP-UGM) Mubyarto EKONOMI RAKYAT INDONESIA PASCA KRISMON

Pendahuluan Selama 5 bulan (Juni-Oktober 2000) Pusat Penelitian Kependudukan UGM bekerjasama dengan RAND Corporation Santa Monica mengadakan Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia (SAKERTI) di 13 propinsi dengan mewawancarai 10.000 keluarga atau 43.000 orang. Survei yang telah diadakan untuk ketigakalinya ini mewawancarai keluarga-keluarga yang sama (panel) yang menjadi sampel sejak Sakerti 1 (1993) dan Sakerti 2 (1997). Pada tahun 1998 khusus untuk meneliti dampak krismon yang sedang berlangsung, dilaksanakan Sakerti 2+ dengan mengambil 25% sub-sampel. Penemuan-penemuan Sakerti 2+ yang telah disebarluaskan melalui beberapa tulisan antara lain oleh Elizabeth Frankenberg, James Smith, dan Kathleen Beegle (1999) mengejutkan banyak pihak karena berbeda dengan ―anggapan umum‖. Namun sejumlah peneliti lain seperti kelompok SMERU menemukan hal-hal yang sejalan dengan penemuan Sakerti 3 khususnya dalam dampak krismon yang tidak terlalu parah terhadap kehidupan keluarga/perorangan. Kami sendiri yang mengadakan kunjungan lapang ke berbagai desa selama 1998-1999 juga mencatat pernyataan banyak warga desa bahwa ―krisis ini belum apa-apa dibanding krisis yang lebih berat pada jaman Jepang, awal kemerdekaan, dan krisis ekonomi tahun 1965-66". [1]

[1] Mubyarto, 1999, Reformasi Sistem Ekonomi, Yogyakarta , Aditya Media, hal 129-139.

Demikian keparahan krismon 1997 yang menjadi polemik nasional selanjutnya tenggelam karena pendapat yang lebih condong ke ―dampak yang parah‖ lebih populer agar tidak menghambat peluncuran program program JPS (Jaring Pengaman Sosial) lebih-lebih yang dananya berasal dari bantuan luar negeri. Programprogram JPS adalah program untuk menolong penduduk miskin yang sedang dalam kesusahan sehingga tidaklah dianggap bijaksana menyebarluaskan penemuan kajian-kajian yang menyimpulkan dampak krismon tidak parah. Peneliti-peneliti Indonesia yang jujur melaporkan kenyataan dari lapangan terpaksa mengendalikan diri ―demi kemanusiaan‖. Namun kemudian mereka merasa terpukul membaca komentar penerima hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun 1998 Amartya Sen yang menyindir mereka yang telah membesar-besarkan dampak krisis koneter di Asia Timur. It may wondered why should it be so disastrous to have, say, a 5 or 10 percent fall in gross national product in one year when the country in question has been growing at 5 or 10 percent per year for decades. Indeed, at the aggregate level this is not quintessentially a disastrous situation. (Sen, 1999: 187) Setelah laporan Sakerti 2+ sedikit dilunakkan ―demi kemanusiaan‖, kini Sakerti 3 yang dilaksanakan 3 tahun setelah krisis dan 2 tahun setelah Sakerti 2+, ternyata memperkuat penemuan-penemuan Sakerti 2+. Tanpa diduga, dampak yang ―menyingkirkan‖ berita ―krisis belum apa -apa‖ ini merugikan penduduk miskin dan bertentangan dengan kepentingan melidungi dan memajukan ekonomi rakyat, karena telah dimanfaatkan secara licik oleh kelompok tidak miskin yaitu golongan ekonomi kuat dan sektor industri modern dalam rangka menuntut pemerintah menyelamatkan kebangkrutan mereka dan lebih khusus lagi dalam rangka membenarkan kebijakan penalangan (bail out) utang-utang melalui BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), yang mulai dikucurkan tahun 1998. Adalah kepentingan para penerima BLBI untuk mengesankan bahwa krisis ekonomi masih terus berjalan, dan makin parah, agar pemerintah tetap tidak dapat bersikap keras pada mereka untuk membayar utang-utang besar yang macet sejak awal krismon. Utang-utang besar yang macet menjadi amat berat karena banyak utang dalam bentuk valuta asing yang tidak dijamin sehingga jika ekonomi Indonesia sudah dianggap pulih dari kondisi krisis, mereka para pengutang akan kehilangan alasan untuk tidak membayarnya. Inilah alasan ―tersembunyi‖ untuk terus memojokkan pemerintah yang sayangnya memperoleh dukungan pakar-pakar ekonomi makro yang tidak pernah meninggalkan meja komputernya dan tidak pernah mau menerapkan metode analisis induktif-empirik dengan cara datang ke daerah-daerah meneliti kehidupan ekonomi riil (real-life economics). Mereka membesar-besarkan dampak krisis dengan menyebutkan pengangguran yang mencapai 40 juta orang, pelarian modal asing US $ 10 milyar per tahun dan lain-lain.

Hasil-hasil Sakerti 3

1. Kemiskinan. Di 13 propinsi yang disurvei angka kemiskinan perkotaan menurun selama 1997-2000 dari
13,3% menjadi 11,3%, sedangkan di perdesaan menurun dari 20,1% menjadi 18,7% (tabel 1). Penurunan angka kemiskinan di perdesaan terjadi di Sumsel, Lampung, Sulsel, Kalsel, Bali, Sumut, dan Jatim (rata-rata 8,0%), sedangkan penurunan kemiskinan di perkotaan yang relatif lebih kecil terjadi di Jatim, Jateng, Sulsel, dan Jabar (rata-rata 4,9%). Lebih besarnya penurunan tingkat kemiskinan di perdesaan khususnya di propinsi-propinsi luar Jawa menunjukkan adanya perbaikan dasar tukar ( term of trade) antara harga-harga yang diterima dan yang dibayar produsen. Di propinsi-propinsi Jatim, Jateng, dan Sulsel, angka-angka kemiskinan di perkotaan juga menurun yang berarti penduduk perkotaanpun masih mampu menghasilkan barang-barang yang harga jualnya meningkat lebih cepat ketimbang harga barang-barang yang dibeli rumah tangga. Bahwa ada kenaikan angka kemiskinan di perdesaan di Jabar, Jateng, dan DIY (rata-rata 3,3%) dan bahkan 11,9% di NTB, mungkin menandakan kurangnya komoditi pertanian ―tradisional‖ yang harganya terangsang naik oleh krismon. Pendapatan riil rumah tangga yang ditaksir dengan median pengeluaran riil per kapita selama 1997-2000 mengalami kenaikan cukup signifikan sebagai berikut:

2. Kesempatan Kerja. Berbeda dengan kesan umum telah terjadinya pengangguran besar-besaran sejak
krismon 1997-98, Sakerti 3 melaporkan adanya peningkatan kesempatan kerja pria dari 79% (1997) menjadi 84% (2000) dan untuk wanita dari 45% menjadi 57%. Khusus untuk kerja upahan/bergaji

kenaikannya untuk pria dari 74,5% menjadi 77,0% sedangkan untuk wanita dari 36,7% menjadi 42,2%. Yang cukup signifikan adalah kenaikan persentase kesempatan kerja keluarga tanpa gaji terutama wanita yang naik dari 19,2% menjadi 25,5%, meskipun untuk pria naik lebih kecil yaitu dari 6,1% menjadi 7,9%. Arti kenaikan angka-angka ini jelas bahwa krismon yang pada umumnya menurunkan kegiatan sektor modern/formal, ditanggapi dengan meningkatnya kegiatan ekonomi/ industri sektor tradisional/ informal/ekonomi rakyat, khususnya dengan mempekerjakan lebih banyak wanita atau ibu yang sebelumnya tidak bekerja. Kesimpulan kita jelas bahwa selama 1997-2000 telah terjadi ―pergeseran‖ kesempatan kerja dari sektor ekonomi modern ke sektor ekonomi rakyat, dan tidak benar adanya pengangguran besar-besaran akibat PHK. The economic crisis has resulted in both negative and positive consequences for the Javanese. It has resulted in a rapid rise in prices of basic items which place them beyond the capacity of many poor people and has reduced employment opportunities in the formal sector. On the other hand, it has resulted in the emergence of many new small enterprises which had previously been destroyed by the economic monopolies and import of mass-produced commodities under the New Order. [2]
[2] Jessica Poppele, Sudarno Sumarto, dan Lant Pritchett, 1999, Social Impacts of the Indonesian Crisis; Agus Dwiyanto, 1998, Krisis Ekonomi: Respon Masyarakat dan Kebijakan Pemerintah, Pelajaran dari Tiga Desa di Jawa , PPK-UGM; Lea Jellinek & Bambang Rustanto, ―Survival Strategies of the Javanese During the Economic Crisis‖ (Survey Report), World Bank, Jakarta, 28 Agustus 1999, dikutip dalam Mubyarto (1999), ibid., hal 134.

3. Standar Hidup dan Kesejahteraan. Sakerti 3 menanyakan bagaimana keluarga menilai tingkat
kesejahteraan mereka selama dan sebagai akibat krismon. Hasilnya sungguh mengejutkan karena berbeda dengan anggapan umum telah terjadinya kemerosotan kesejahteraan dan standar hidup akibat krismon, 87% responden menyatakan standar hidup mereka tidak berubah (tetap) atau bahkan membaik, dan yang melaporkan memburuk hanya 13%. Mengenai kualitas hidup, 83,9% responden menyatakan memadai (69,4%) atau lebih dari memadai (14,5%), yang berarti bahwa keluarga yang merasakan kualitas hidup mereka tidak memadai hanya 16,1%. Tentang kualitas hidup yang menyangkut pemenuhan kebutuhan pangan, 90,7% menyatakan memadai atau lebih dari memadai, sedangkan tentang pemeliharaan kesehatan, 85% menyatakan memadai dan 4% menyatakan lebih dari memadai. Dari 3 ukuran kesejahteraan rakyat yang dilaporkan Sakerti 3 kesimpulan kita tidak meragukan lagi bahwa orang Indonesia mempunyai cara-cara khas menanggapi krisis moneter atau krisis ekonomi. Munculnya krismon berupa kenaikan harga-harga umum besar-besaran tidak serta merta menurunkan kualitas atau standar hidup mereka tetapi mereka menemukan berbagai cara untuk menanggapinya. Cara-cara menang-gapi krismon yang khas dan berbeda-beda inilah yang bagi para pakar ekonomi ortodok (konvensional) tak terpikirkan, dan hanya dapat diketahui/ditemukan melalui penelitian-penelitian lapangan yang serius. Sakerti 1, 2, dan 3 memberikan perhatian khusus pada mekanisme bertahan hidup (coping strategies) dan menanggapi krisis seperti itu. Metode Menanggapi Krismon Orang Indonesia yang dikenal kuat menganut asas kekeluargaan dalam segala aspek kehidupannya dapat diamati menerapkan asas atau etika hidup ini di saat terjadi krismon yang datang secara sangat tiba-tiba. Asas hidup kekeluargaan ini yang diperkuat oleh semangat percaya diri dan kepercayaan pada kekuasaan Tuhan berakibat pada sikap bahwa krismon tidak lain daripada ―percobaan‖ dan ―peringatan‖ pada bangsa Indonesia agar menyadari aneka kekeliruan dan penyimpangan yang telah dilakukan. Sakerti 3 seperti halnya Sakerti 1, 2, dan 2+ sebelumnya, menemukan fakta-fakta menarik tentang metode dan sikap menanggapi krismon secara tepat sehingga tidak mengakibatkan kejutan atau gangguan besar pada konsumsi keluarga dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar kesehatan dan pendidikan terutama bagi anakanak. Salah satu cara paling mudah dan paling sering dilakukan keluarga Indonesia saat-saat menghadapi krisis adalah dengan ―mengatur kembali‖ pengeluaran/belanja keluarga dengan cara menunda pengeluaran pengeluaran yang dianggap dapat ditunda misalnya pembelian pakaian, alat-alat rumah tangga dan pengeluaran-pengeluaran upacara, yang ditaksir berkurang dengan sepertiga. [3] Selain itu suatu keluarga dapat memutuskan ―menitipkan‖ sebagian anggota keluarga pada keluarga lain yang lebih mampu, atau secara umum sangat biasa terjadi pinjam-meminjam uang tanpa bunga antarkeluarga ( sebrakan) untuk menutup pengeluaran pokok yang tidak dapat ditunda.
[3] Elizabeth Frankenberg, James P Smith and Duncan Thomas, ―Economic Shocks, Wealth and Welfare‖, makalah belum diterbitkan, Rand, February 2002, h.

Boeke tahun 1910. Kesimpulan Sebagaimana sudah sering dikemukakan oleh para peneliti ekonomi rakyat. karena sektor ini justru sudah lebih tua dan sudah merupakan kegiatan ekonomi ―formal‖ jauh sebelum datangnya para pengusaha/pemodal/kapitalis Belanda ke Indon esia. maka mereka dianggap perusahaanperusahaan formal. dan disebut sektor informal. sedangkan per orang pekerja bertambah 10 jam per minggu. Dampak negatif krismon terhadap ekonomi rakyat dapat dihindari atau disikapi sedemikian rupa hingga tidak dirasakan dampaknya. Sakerti 3 secara meyakinkan melaporkan bertambahnya kerja tanpa gaji untuk wanita dari 19.13 Di pihak lain jika pada saat krismon pengeluaran-pengeluaran meningkat sekali. meskipun Indonesia merdeka sudah berusia 57 tahun dan pembangunan ekonom i ―Orde Baru‖ sudah berlangsung 31 tahun (1966 -97) yang mampu meningkatkan pendapatan riil rata-rata bangsa Indonesia 10 kali.9%. Namun karena hampir semua sektor masih bersifat dualistik. tetapi ternyata sangat menonjol di Indonesia. dengan caracara atau ‖seni‖ khas ekonomi rakyat. Jika satu keluarga bekerja mandiri maka dalam kondisi krisis anggota keluarga yang sebelumnya tidak bekerja.5% meskipun untuk pria jauh lebih kecil yaitu dari 6. atau terpengaruh secara tidak berarti. Karena para pemodal/pengusaha Belanda yang datang sesudah 1870 ini pada umumnya berbentuk NV (PT) yang besar dengan kantor-kantor dan kebun-kebun besar. yang berarti meningkatnya pengeluaran karena krisis selalu dapat ditutup dengan cara menambah pendapatan. setiap keluarga dengan cara masing-masing berusaha bekerja lebih keras atau lebih lama ( melembur) agar pendapatan bertambah. 1992. Bagi keluarga-keluarga paling miskinpun disamping ternak yang hampir selalu dimilikinya. perilaku berkonsumsi. Rumah-rumah gadai bertambah ramai dan pasar emas dilaporkan sangat dinamis/aktif saat krisis. yen. Sejak Pemerintah Indonesia mengundang ―dokter ekonomi‖ IMF yang dianggap dokter spesialis bagi penyakit negara-negara berkembang yang terkena krisis keuangan. Sakerti mampu mengungkap perilaku ekonomi riil rakyat Indonesia (real life economics) yang melalui analisis mendalam akan menghasilkan ilmu/ teori ekonomi rii. Harga emas mengalami kenaikan 4 kali selama krisis. atau valuta asing lainnya. juga dilaporkan sangat besar peranannya dalam menghadapi krisis. dengan membayar pajak-pajak yang besar. Krisis moneter 1997-98 jelas lebih dulu dan lebih mudah memukul telak sektor ekonomi modern/ formal lebihlebih perusahaan yang berutang besar dalam nilai nominal dolar. secara spontan ikut bekerja tanpa gaji.2% menjadi 25. dan 3 secara meyakinkan mengungkapkan bagaimana 10. atau sekedar strategi bertahan hidup ( survival strategy).000 lebih keluarga dan 43. adalah kemampuan untuk memobilisasi kekayaan/aset apapun yang dimiliki keluarga untuk mempertahankan ( smooth out) tingkat pengeluaran keluarga.1% menjadi 7. 2+. Krisis moneter yang dimulai dengan depresiasi rupiah dan apresiasi dolar sangat memukul perusahaan-perusahaan yang berutang dolar atau valuta asing lain dan memukul impor karena harga rupiah barang-barang impor melonjak sesuai apresiasi dolar. [4] [4] Paul Ekins and Manfred Max-Neef (eds). Sakerti 2+ menemukan fakta-fakta menarik bahwa hampir setiap keluarga termasuk yang miskin memiliki kekayaan atau aset yang dapat dijual atau digadaikan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran pokok yang tidak dapat dihindarkan. sedangkan yang sangat kecil/gurem inilah yang disebut ekonomi rakyat. yang lokasinya dapat tidak tetap atau sering pindah. yang dikena l dengan istilah strategi penyikapan (coping strategy) baik dalam produksi. yang tidak dikenal dan tidak termuat dalam buku-buku teks ilmu ekonomi terbitan Amerika.000 orang yang diwawancara menanggapi krismon dengan cara-cara mereka. karena 25% keluarga perdesaan dan 40% keluarga perkotaan memilikinya dan persentase yang lebih besar bahkan dilaporkan memiliki kekayaan berupa emas terutama dalam bentuk perhiasan yang sangat mudah digadaikan atau diperjual-belikan. Yang kedua disebut Bung Hatta tahun 1931 sebagai sektor (kegiatan) ekonomi rakyat. Routledge. Memang sangat tidak tepat dan menyesatkan menyebut sektor ekonomi rakyat sebagai sektor informal. 2. sebagaimana dikemukakan J. Ratarata keluarga sejak terjadi krismon menambah waktu kerja 25 jam per minggu. Terakhir. Lebih dari 90% keluarga di perdesaan dan 70% keluarga di perkotaan mempunyai rumah yang tidak beralih pemilikannya selama krisis. ekonomi Indonesia terkesan menjadi sangat . tidak dengan menjual rumah atau aset-aset berharga lainnya. Tentang pemilikan aset-aset lancar seperti uang tunai atau surat-surat berharga.H. yang sebagian besar baru beroperasi sesudah UU Agraria ( Agrarische Wet) tahun 1870. lebih tinggi ketimbang kenaikan harga-harga umum. sektor tradisional/ekonomi rakyat tidak terpengaruh krismon. Real-life Economics. tokh dalam kenyataan perekonomian Indonesia masih tetap bersifat dualistik. Ekonomi dualistik adalah ekonomi yang tidak homogen tetapi hampir di semua sektor terpilah menjadi 2 yaitu sektor ekonomi modern/formal dan sektor ekonomi tradisional/informal. London-New York. perhiasan dari emas sangat mudah ditemukan. Sakerti 1. Emas ternyata merupakan simpanan andalan bagi banyak keluarga Indonesia untuk berjaga-jaga menghadapi krisis.

1999.Indonesia Satu. Joan. Surabaya. Dr. ―Sistemic Transition in Indonesia: The Crucial Next Steps‖. Festival Bhinneka Tunggal Ika. pemerintah dan bangsa Indonesia dapat memusatkan perhatian pada usaha dan program-program pemberdayaan ekonomi rakyat. Sartono Kartodirdjo. 23028. Pemerintah dipilih dari dan oleh rakyat Indonesia. hal. 2. tetapi hanya dinikmati sekelompok kecil ekonomi kuat. The Micro Data Pictures: Results of a SMERU Social Impact Survey in the Purwakarta-Cirebon Corridors. Gadjah Mada University Press.tergantung pada utang-utang baru dari IMF dan negara-negara ―donor‖ anggota CGI. Yogyakarta Mubyarto and Daniel W. Tak pernah terpikir pada mereka seandainya perekonomian tumbuh hanya 3-4%.UGM Makalah untuk Seminar "Indonesia Bersatu Menyongsong Era Global". Satish C. Multi-dimensi Pembangunan Bangsa. Demikian kiranya jelas bahwa tulisan ini berusaha meyakinkan tidak akan terjadi kebangkrutan atau kelumpuhan ekonomi nasional jika Indonesia memutuskan secara sepihak untuk tidak lagi mencari utang-utang baru dari luar atau bahkan dalam negeri. tetapi lebih banyak disumbang dan dengan demikian juga dinikmati ekonomi rakyat. April 2000 Hardjono. tegar dan kuat. 2001. 1999. A Development Alternative for Indonesia. Bangsa Indonesia harus percaya diri. yang telah tumbuh 3-4% per tahun sejak tahun 2000 sampai tahun 2002 ini. Mubyarto: Guru Besar FE . Prof. Inequality and Social Protection: Lessons From The Indonesian Crisis. Yogyakarta World Bank. Tanpa ikatan kerjasama dengan IMF. Maka ekonomi Indonesia ―harus tumbuh‖ minimal 7% per tahun dan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi para ekonom tidak pernah merasa perlu mempermasalahkan keadilan dalam distribusi pendapatannya. yang akhirnya menjadi ―bom waktu‖ yang meledak seperti yang terjadi 1997 tanpa dapat diperkirakan sebelumnya. October . kinilah saatnya kita memiliki rasa percaya diri di bidang ekonomi. 1999. lebih-lebih ekonomi rakyatnya. Daftar Pustaka Dhanani. Bromley. Sakerti 3 menemukan kenyataan ekonomi Indonesia. Hatta) dapat kita jadikan acuan rasa percaya diri itu. 18 1. Kanisius. Buktibukti dari Sakerti 3 telah sangat memperkuat berbagai data penelitian lapangan optimistik sebelumnya. 3. Report No. BPFE. September 2002 Mubyarto. Perjuangan itu hanya dapat berhasil bila pelbagai unsur rakyat Indonesia bersatu. Jakarta. Yogyakarta Mubyarto. 29 Oktober 2002. Perjuangan itu tidak memerlukan bantuan dari pihak manapun. ―Indonesia: Constructing A New Strategy for Poverty Reduction‖. Kanisius. 2002. UNSFIR. Reformasi Sistem Ekonomi: Dari Kapitalisme menuju Ekonomi Kerakyatan . menganggap pertumbuhan ekonomi 4% ―terlalu rendah‖ yang tidak mampu menyerap tenaga kerja lama dan menganggur maupun tambahan tenaga kerja lebih dari 2 juta per tahun. Aditya Media. Poverty. UNSFIR. SMERU Final Report. Yogyakarta. Shafiq and Inayatul Islam. sebenarnya akan lebih adil dan berkelanjutan ketimbang pertumbuhan 7% seperti sebelum krismon. Multi-dimensi Pembangunan Bangsa. Ind. [5] [5] Sartono Kartodirdjo. Memang teori ekonomi makro-ortodoks yang tidak mau mengakui atau tidak mengerti ekonomi rakyat. July 1999 Mishra. Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis Ekonomi . Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia tahun 1925 di Negeri Belanda (dipimpin oleh Moh. sektor ekonomi rakyat banyak yang sejak krismon 5 tahun lalu tidak saja tidak hancur tetapi malah telah menunjukkan ciri khasnya yaitu tahan banting dan mampu menunjukkan keandalan dan kemandiriannya. Jika pada saat proklamasi kemerdekaan tahun 1945 bangsa Indonesia memiliki rasa percaya diri amat besar untuk merdeka secara politik.

2001. [2] Kantor Menko EKUIN bekerjasama dengan LPUI Kajian Kebijakan Jaminan Sosial. Pengaturan dalam jaminan sosial ditinjau dari jenisnya terdiri dari jaminan kesehatan. jaminan hari tua. Desember 2002 Fakta tersebut membuktikan bahwa amanat UUD pasal 27 ayat 2 sebagian besar belum dapat dilaksanakan sehingga langkah-langkah nyata untuk mewujudkannya diperlukan. jaminan kecelakaan kerja.29. serta betapa pentingnya peran jaminan sosial dalam pemberian perlindungan utamanya di saat berkurangnya pendapatan maka dianggap perlu menyusun Sistem Jaminan Sosial Nasional melalui penerbitan Undang-undang yang akan mengatur Substansi. Sementara di Thailand dan Malaysia masing-masing mencapai 50% dan 40% dari total penduduk. Sebenarnya. Beberapa negara yang menganut welfare state yang selama ini memberikan jaminan sosial dalam bentuk bantuan sosial mulai menerapkan asuransi sosial. Pendekatan kedua berupa bantuan sosial (social assistance) baik dalam bentuk pemberian bantuan uang tunai maupun pelayanan dengan sumber pembiayan dari negara danbantuan sosial dan masyarakat lainnya. dana yang terhimpun dalam asuransi sosial dapat merupakan tabungan nasional. Kelembagaan dan Mekanisme Sistem Jaminan Sosial yang berlaku secara nasional. yaitu ―Negara mengembangkan Sistem Jaminan Sosial bagi seluruh rakyat…. Pendekatan pertama adalah pendekatan asuransi sosial atau compulsory social insurance. Jaminan sosial merupakan hak asasi setiap warga negara sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat 2. Kesadaran tentang pentingnya jaminan perlindungan sosial terus berkembang. telah menerapkan asuransi sosial wajib. Dalam kondisi seperti ini jaminan sosial dapat membantu menanggulangi gejolak sosial. Sistem Jaminan Sosial yang akan dibangun ini haruslah sifatnya adil dengan tingkat kepercayaan publikyang tinggi dan transparan dalam penyelenggaraannya. selama dekade terakhir di Indonesia telah ada beberapa program jaminan sosial dalam bentuk asuransi sosial. atau baru 12% dari jumlah penduduk. Putusan Sidang Tahunan MPR RI tahun 2001 menugaskan kepada Presiden untukmembentuk Sistem Jaminan . [1] Disamping itu. Dari 95 juta angkatan kerja. jaminan pemutusan hubungan kerja. antara lain dengan menyusun suatu Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). seperti terbaca pada Perubahan UUD 45 tahun 2002. Secara universal jaminan sosial dijamin oleh Pasal 22 dan 25 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia oleh PBB (1948). pensiun.‖. [2] Krisis ekonomi yang menyebabkan angka pengangguran melonjak dengan tajam telah menimbulkan berbagai masalah sosial ekonomi. sejak tahun 1992. Pasal 34 ayat 2. Perlindungan jaminan sosial mengenal beberapa pendekatan yang saling melengkapi yang direncanakan dalam jangka panjang dapat mencakup seluruh rakyat secara bertahap sesuai dengan perkembangan kemampuan ekonomi masyarakat. [1] Australia. Perlindungan ini diperlukan utamanya bila terjadi hilangnya atau berkurangnya pendapatan.6 juta jiwa memperoleh jaminan sosial. Utamanya karena jaminan melalui bantuan sosial membutuhkan dana yang besar dan tidak mendorong masyarakat merencanakan kesejahteraan bagi dirinya. dimana Indonesia ikut menandatanganinya. namun baru mencakup sebagian kecil pekerja di sektor formal. Agoes Achir JAMINAN SOSIAL NASIONAL INDONESIA Latar Belakang Jaminan Sosial Nasional adalah program Pemerintah dan Masyarakat yang bertujuan memberi kepastian jumlah perlindungan kesejahteraan sosial agar setiap penduduk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya menuju terwujudnya kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia. yang dibiayai dari kontribusi/ premi yang dibayarkan oleh setiap tenaga kerja dan atau pemberi kerja. Yaumil Ch. dan santunan kematian. Secara keseluruhan adanya jaminan sosial nasional dapat menunjang pembangunan nasional yang berkelanjutan. Kontribusi/ premi dimaksud selalu harus dikaitkan dengan tingkat pendapatan/ upah yang dibayarkan oleh pemberi kerja. Menyadari masih terbatasnya jangkauan jaminan sosial yang ada dan beberapa kekurangan dalam pengaturan dan penyelenggaraannya. baru 24.

Namun. akuntabilitas dan efisiensi. dan pemerintah pengumpulan dan pengelola iuran perlu ditunjang oleh keterbukaan. Kepres ini didahului dengan Keputusan Sekretaris Wakil Presiden No. Besarnya iuran ditetapkan berdasarkan prosentase tertentu dari pendapatan. Mekanisme SJSN Mekanisme penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional meliputi pengaturan kepesertaan. ditetapkan dalam prosentase tertentu terhadap upah dengan mempertimbangkan kemampuan/ pendapatan penduduk. dimama iuran sebagian atau sepenuhnya dibayarkan oleh pemerintah. baik yang berpendapatan besar maupun kecil sehinggan dapat terwujud asas kegotong-royongan dan redistribusi pendapatan dari yang kaya ke yang miskin. Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap dimulai dari kelompok masyarakat yang mampu mengiur dan secara bertahap diupayakan menjangkau sampai pada kelompok masyarakat yang rentan dan tidak mampu. baik di sektor formal maupun informal. Pengertian non-for-profit bukanlah berarti tidak perlu mengembangkan atau menginvestasikan dalam rangka meningkatkan akumulasi dana yang ada. Pengelolaan Jaminan Sosial Nasional menganut prinsip Wali Amanah. Substansi Sistem Jaminan Sosial Nasional yang akan disusun adalah suatu sistem yang berdasarkan pada asas gotong royong melalui pengumpulan iuran dan dikelola melalui mekanisme asuransi sosial. tetapi hasil yang diperoleh nantinya akan dikembalikan atau dimanfaatkan sebesarbesarnya untuk kepentingan peserta (merupakan going concern asuransi sosial). 102 tahun 1952 yang juga diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia. 7 Tahun 2001. yang mewakili stakeholder dalam hal ini peserta/ pekerja. Saat ini Tim SJSN telah melakukan pembahasan yang cukup mendalam tentang substansi. kehati-hatian. Sistem Jaminan Sosial Nasional yang akan dibangun bertumpu pada konsep asuransi sosial. kelembagaan. mekanisme dan program-program jaminan sosial. struktur dan trend demografi serta resiko yang dihadapi. Program Jaminan Hari Tua (JHT). Penyelenggaraan dilakukan non-for-profit. santunan/ manfaat. semasa Ibu Presiden sebagai Wakil Presiden. iura. Pelaksanaannya diatur oleh suatu Undang-Undang dan diterapkan secara bertahap sesuai dengan perkembangan dan kemampuan ekonomi Nasional serta kemudahan rekruitmen dan pengumpulan iuran secara rutin. Perluasan cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi ekonomi negara dan masyarakat. dan investasi. Iuran/ premi ditanggung bersama oleh pemberi kerja dan pekerjanya.Sosial Nasional dalam rangka memberikan perlindungan sosial yang lebih menyeluruh dan terpadu. serta kemudahan dalam rekruitmen dan pengumpulannya secara rutin. yaitu Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK). secara sukarela pekerja dapat mengikuti program lain dengan kontribusi yang lebih besar dan memperoleh manfaat yang lebih banyak pula (asuransi komersil).. Program Pensiun. Besarnya iuran/ premi dihitung berdasarkan analisis aktuaria yang disesuaikan dengan programmanfaat yang akan diberikan. Program-Program SJSN Program-program pokok SJSN yang akan dikembangkan disesuaikan dengan konvensi ILO No. Karena ada unsur wajib bagi semua pekerja tersebut maka diperlukan adanya Undang-Undang untuk mengaturnya. Untuk itu Presiden mengambil inisiatif menyusun Rancangan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional. 20 tahun 2002 membentuk Tim SJSN. Presiden dengan Kepres No. Cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap dimulai dari kelompok masyarakat yang mampu mengiur dan secara bertahap diupayakan menjangkau sampai pada kelompok masyarakat yang rentan dan tidak mampu. Karena Jaminan Sosial Nasional tersebut diwujudkan melalui mekanisme asuransi sosial maka manfaat yang akan diperoleh peserta tergantung pada besarnya iuran. Manfaat yang diberikan harus cukup berarti sehingga mendorong kepesertaan yang kebih besar dari waktu ke waktu. Manfaat yang diberikan harus cukup berarti sehingga mendorong kepesertaan yang lebih besar dari waktu ke waktu. Pelayanan santunan dan klaim disesuaikan dengan besarnya iuran dan jenis program yang diikuti. Program Jaminan Pemutusan Hubungan Kerja (JPHK). Jaminan Sosial Nasional tersebut perlu diatur agar bersifat wajib untuk seluruh tenaga kerja. pembekerja. dan Program Santunan Kematian. dimana iuran sebagian atau sepenuhnya dibayarkan oleh pemerintah. .

1) Sebenarnya. Panitia Seri Seminar ini hanya memberi judul ―Krisis Moneter Indonesia‖. dan mengawasi pelaksanaan program-program. Dalam pengelolaannya. Ketua Tim Sistem Jaminan Sosial SJSN Nasional. memonitor. apakah sebagai sebab atau penerima akibat. penyampaian persepsi makalah ini atas ekonomi rakyat tanpa bermaksud untuk terlalu menekan pada usaha pendefinisian. objectivity. wakil pekerja. Sebagian dana yang terkumpul perlu diinvestasikan dan dikembangkan seaman mungkin. Karena prinsip ―non-for-profit‖. sangat sulit untuk tidak berusaha mendefinisikan yang dimaksud dengan ekonomi rakyat. 2001).Dana iuran/ premi/ kontribusi peserta yang terkumpul perlu dikelola dan diawasi oleh suatu Dewan Wali Amanah (Board of Trustee) dan hanya digunakan untuk kepentingan pesertanya sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. perlu menerapkan ―good corporate governance‖ (transparency. mengkoordinir. untuk kemudian setelah Undang-undang SJSN rampung dan dilaksanakan maka program-program yang sejalan dapat menyesuaikan dengan Undang-undang SJSN tersebut selama masa transisi yang akan ditetapkan. Oleh sebab itu tetap perlu dilakukan terlebih dahulu. Konsep awal SJSN tersebut di atas juga telah menghimpun masukan dari beberapa serikat pekerja dan asosiasi pengusaha. diperlukan adanya dukungan Sistem Informasi Manajemen serta kemampuan Sumber Daya Manusia yang handal. accountibility. usaha pendefisnian tersebut banyak yang berakhir justru dengan perdebatan atas definisinya daripada esensi penguatan atau pemberdayaan ekonomi-rakyatnya sendiri. Penulis . maka hasil investasi tersebut akan dikembalikan dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta. Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasionan (BKKBN) Bayu Krisnamurthi KRISIS MONETER INDONESIA DAN EKONOMI RAKYAT PADA setiap diskusi mengenai ekonomi rakyat. Yaumil Chairiah Agoes Achir. karena pada dasarnya hampir semua pihak telah sepaham mengenai pengertian apa yang dimaksud dengan ―ekonomi rakyat‖ tanpa harus mendefinisikan (Krisnamurthi. pengelola dana dan investasi serta pemasyarakatan program Jaminan Sosial Nasional sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Namun guna memperoleh perspektif yang sama mengenai diskusi yang akan dilakukan berkaitan dengan judul diatas 1) maka makalah ini bermaksud untuk mendiskusi krisis moneter dalam konteks ekonomi rakyat: bagaimana posisi ekonomi rakyat ketika krisis ekonomi terjadi. menambahkan merubah judul agar lebih terlihat konteksnya dikaitkan dengan ekonomi rakyat. LSM dan Pakar. Sayangnya. Untuk dapat menjamin efektifitas dan efisiensi penyelenggaraannya. Padahal perdebatan mengenai definisi ekonomi rakyat sebenarnya tidak terlalu produktif. Diharapkan masukan-masukan guna memperkaya konsep awal tersebut sebagai bahan penyusunan Naskah Akademik yang kemudian akan dituangkan dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Lembaga ini berada langsung di bawah Presiden dibantu Dewan Menteri yang terkait dan beranggotakan wakil pemerintah. Diharapkan RUU SJSN dapat dirampungkan sebelum bulan Desember 2002. dan responsibility). Penutup Tim SJSN beranggotakan wakil dari berbagai instansi pemerintah. wakil pemberi kerja dan pakar di bidangnya. Dr. Kelembagaan Dalam rangkan menjamin pelaksanaan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional diperlukan suatu lembaga yang mempunyai kewenangan untuk menjabarkan Undang-undang SJSN. Tidak tertutup kemungkinan munculnya lembaga penyelenggaraan lain. Deputi Sekretaris Wakil Presiden. Prof. dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah kesalahan serupa terulang dimasa depan. Selama Undang-undang SJSN disiapkan maka lembaga-lembaga yang ada dapat melanjutkan kegiatannya.

dan melakukan kegiatan produksi bagi sekitar 55 % produk dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. dan bukan perkebunan atau peternak besar atau MNC pertanian. dan jasa maka yang dimaksud adalah industri kecil. dapat dinyatakan bahwa ekonomi Indonesia sebenarnya adalah berbasis ekonomi rakyat. Perspektif lain dari ekonomi rakyat dapat pula dili hat dengan menggunakan perspektif jargon: ―ekonomi dari rakyat. bagaimana proses pemanfaatannya. perbankan formal. seperti berapa banyak jumlah yang harus dimanfaatkan. dipahami bahwa yang dimaksud dengan ―ekonomi rakyat (banyak)‖ adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh orang banya k dengan skala kecil-kecil. Mereka bisa melekat pada badan usaha pemerintah atau swasta. jenis produk. Dalam ekonomi rakyat. industri rumah tangga. berarti proses produksi dan konsumsi dilakukan dan diputusk an oleh rakyat. sifat usaha. permodalan. Pendeknya. dan bukan industri besar. eceran kecil. pedagang kecil. nelayan tanpa perahu. Jika dikaitkan dengan kegiatan perdagangan. dan indikator kemantaatan paling utama adalah kepentingan rakyat. industri. 65 % berusaha dibidang pertanian dan kegiatan lain yang terkait. dan sebagainya. Dalam hal ini. sektor informal kota. tetapi beberapa diantaranya juga memiliki kemampuan dan daya saing internasional yang handal. Hal ini tersebut didasari oleh argumentasi bahwa rumah tangga yang menggantungkan kehidupannya dari kegiatan ekonomi rakyat adalah konsumen terbesar. Jika dikaitkan dengan kegiatan pertanian. dan sejenisnya. informasi. rakyat memiliki alternatif untuk memilih dan menentukan sistem pemanfaatan. dari pada hanya sekedar angka-angka uang (modal) atau produk. petani tanpa tanah. lembaga keuangan mikro. konglomerat. Rakyat memiliki hak atas pengelolaan proses produktif dan konsumtif tersebut. maka ekonomi rakyat memiliki dimensi yang luas. ketimpangan distribusi aset produktif (formal) – yang sekitar 65 %-nya dikuasai oleh 1 % pelaku usaha terbesar – menyebabkan kontribusi nilai produksi (GDP) dan ekspor kegiatan ekonomi raktyat relatif lebih kecil. dan sejenisnya. modal. Berdasarkan pemahaman diatas. Mereka sebagian besar hanya beroperasi secara lokal. melakukan lebih dari 65 % kegiatan distribusi. 2000). pengetahuan. seperti koperasi atau CV atau bentuk badan hukum lain) dan juga sangat banyak yang informal atau nono-formal. berarti kegiatan ekonomi itu berkaitan dengan penguasaan rakyat dan aksesibilitas rakyat terhadap sumberdaya ekonomi. pemilik saham. pelakunya melakukan kegiatan produksi dan konsumsi. Dan yang terpenting adalah mereka berbasis pada manusia. ―Untuk rakyat‖. Jika memang disepakati bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2000 sebesar 4. norma dan kesepakatan (―rule of the game‖) yang khas. juga sumberdaya sosial (kelompok. sumberdaya ekonomi yang dimaksud adalah segala sumberdaya yang dapat digunakan untuk menjalankan penghidupan. Umumnya mereka berskala mikro dan kecil tetapi juga terdapat beberapa yang berskala menengah. Daya produktif . Rakyat menguasai dan memiliki hak atas sumberdaya untuuk mendukung kegiatan produktif dan konsumtifnya. Hanya saja. 60 % diantaranya berada di daerah pedesaan. yang umumnya telah memfasilitasi ekonomi rakyat untuk survive dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi masyarakatnya. bahkan bagi produk yang dihasilkan kegiatan ekonomi besar. Ekonomi rakyat (banyak) mencakup 99 % dari total jumlah unit usaha (business entity). dan sebagainya. dan sebagainya. dan masyarakat. Rakyat menerima manfaat. bagaimana menjaga kelestarian bagi proses pemanfaatan berikutnya. Ekonomi rakyat tidak eksklusif tetapi inklusif dan terbuka. Mereka bisa berada dalam kegiatan ekonomi tradisional tetapi juga tidak sedikit yang bergerak dalam sistem ekonomi modern. dalam arti kegiatan transaksi dapat dilakukan juga dengan ―non-ekonomi-rakyat‖. ―Oleh rakyat‖. dan untuk rakyat‖ (Krisnamurthi. maka yang dimaksud dengan kegiatan ekonomi rakyat adalah kegiatan ekonomi petani atau peternak atau nelayan kecil. dan menjadi basis dari 63 % konsumsi domestik. Mereka memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan dan tidak hanya tergantung pada pihak lain (apakah itu bank. tenaga kerja (termasuk tenaga kerjanya sendiri). Berkaitan dengan sumberdaya (produktif dan konsumtif). dan bukan kegiatan ekonomi yang dikuasasi oleh beberapa orang dengan perusahaan dan skala besar. mekanisme transaksi. Dengan pemahaman diatas pula. Mereka adalah orang-orang yang bekerja sendiri dan juga mereka yang bekerja menerima upah. atau entitas lain). serta tersebar merata diseluruh wilayah Indonesia. sifat fundamental diatas telah pula menciptakan suatu sistem ekonomi yang terdiri dari pelaku ekonomi.Ekonomi rakyat adalah ―kegiatan ekonomi rakyat banyak‖ (Krisnamurthi.5 % terutama disebabkan oleh tarikan konsumsi. baik sumberdaya alam. petani gurem. siapa yang memanfaatkan. dan sejenisnya. 2001). berarti rakyat banyak merupakan ‗beneficiaries utama dari setiap kegiatan produksi dan konsumsi. Peran ekonomi rakyat juga teraktualisasi pada masa krisis multidimensi saat ini. menyediakan sekitar 80 % kesempatan kerja. keluarga. walaupun yang disebut terakhir pada hakekatnya adalah juga ‗rakyat‘ Indonesia. Juga tidak ada pembatasan mengenai besaran. ketrampilan. baik konsumsi domestik maupun konsumsi asing (ekspor) – terutama karena kegiatan investasi dan pengeluaran pemerintah yang sangat terbatas – maka dapat diduga bahwa peran ekonomi rakyat sangat signifikan. oleh rakyat. dan sebagainya. Walaupun demikian. masyarakat) sumberdaya jaringan (‗network‘). ―Dari rakyat‖. Mereka adalah kegiatan usaha formal (berijin usaha. Dalam hal ini perlu pula dikemukakan bahwa ekonomi rakyat dapat berkaitan ―dengan siapa saja‖.

dan telpon yang tidak seimbang antara alokasi untuk bagi kegiatan ekonomi rakyat dan non-ekonomi rakyat.5 kali lebih besar dari dana yang disalurkan kembali ke pedesaan. dengan mudah berpindah tangan. Mungkin tidak sekejam tanam paksa. Pada saat yang sama sistem pengembangan yang penuh dengan ―dukungan yang distortif‖ telah tersebut telah menjadikan ―non-ekonomirakyat‖ menjadi lebih terkait dengan ekonomi global. tetap hidupnya pasar-pasar tradisional pada saat krisis. merupakan manfaat yang dirasakan oleh kegiatan-kegiatan ―non-ekonomi-rakyat‖ sebagia bagian dari strategi ―keunggulan komparatif‖ berbasis tenaga kerja murah. Kontribusi pertanian dalam bentuk pangan yang murah dan tenaga kerja yang lebih terdidik. posisi rebut-tawar (bargaining position) dalam penguasaan sumberdaya hampir selalu berada pada titik yang terendah. atau bahkan yang terjadi secara nasional. ―non ekonomi-rakyat‖ meninggalkannya begitu saja sering kali justru dengan tinggalan masalah adanya konflik kepentingan diantara rakyat sendiri. Hal inilah yang kemudian menjadi preposisi dasar dalam melihat posisi ekonomi rakyat dalam krisis moneter yang belum lama terjadi dan masih terasa hingga saat ini. telah membatasi kemampuan petani mengembangka usahataninya. Melalui sistem perbankan yang terpusat. telah menyebabkan kegiatan ―non -ekonomi-pasar‖ menjadi kegiatan dengan ―banyak pengambil keputusan‖ dalam dunia yang tidak berbatas dan masih rentan.kegiatan ekonomi rakyatlah yang mampu mendorong peningkatan konsumsi. atau hilangnya kelembagaan panen tradisional. karena dipandang lebih sesuai dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Infrastruktur fisik dan kelembagaan yang dibangun cenderung mengarah pada penyeragaman proses pengambilan keputusan yang dirancang tidak oleh rakyat sendiri. Tidak ada infrastruktur irigasi yang dirancang untuk memfasilitasi petani mengembangkan hortikultura atau peternakan. dan telah mengembangkan ketergantungannya pada kelompok tersebut sehingga menjadi kelompok ―elite penguasa-pengusaha‖. pasar uang. juga menggambarkan situasi suram aspek ―dari rakyat‖ tersebut. dan sebagainya. dan pasar modal. Rakyat juga sering dibatasi kemampuannya untuk mengambil keputusan. Kemudahan dan dukungan tersebut kemudian Kelompok ―non-ekonomi-rakyat‖ telah banyak mendapat dukungan dari elite pemerintah. Dukungan yang relatif kecil dari pemerintah-penguasa telah menjadikan pelaku ekonomi rakyat tidak sangat tergantung pada kondisi elite. dan kawasan industri bagi MNC merupakan bentuk ketidak-berdayaan penguasaan sumberdaya oleh rakyat. atau hilangnya kelembagaan lumbung desa. Sebaliknya. Aspek ―untuk rakyat‖ menghadapi situasi yang lebih jauh tertinggal. selama 30 tahun dana yang disedot dari pedesaan 2. semua akibat introduksi teknologi dan kelembagaan serba seragam. baik pasar barang. termasuk terjaga maraknya berbagai kegiatan ‗masal‘ dari ekonomi riil – seperti mudik Lebaran dan naik haji. ada baiknya disampaikan dahulu perspektif struktur kelembagaan ekonomi Indonesia pada saat krisis akan terjadi 2) seperti dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini. tetapi pengembangan kegiatan ekonomi berbasis buruh murah telah berjalan lama sejak penjajahan hingga kini. Penguasaan dan akses terhadap sumberdaya oleh rakyat (banyak) masih sangat banyak menghadapi masalah. juga merupakan fakta-fakta lain yang menunjukkan kemampuan ―oleh-rakyat‖ menjadi sangat terbatas. Kemampuan sektor informal kota dalam menyediakan lapangan pekerjaan dan sistem distribusi kebutuhan pokok dengan murah dan efisien telah pula menjadi manfaat besar bagi ―non-ekonomi-rakyat‖ dalam mengembangkan sistem kerja yang tidak memihak pada buruhnya. ―ekonomi rakyat‖ yang tidak mendapat kesempatan untuk itu. real estate mewah. Namun demikian perspektif ‗dari. air. terdapat ketidak-adilan dalam pengembangan ekonomi. Non-ekonomi-rakyat telah mendapat banyak kemudahan dan dukungan. Sebaliknya saat lahan HPH yang telah digunduli dan tidak lagi produktif. Dalam hal ini kelompok ―non-ekonomi-rakyat‖ menjadi rentan terhadap perubahan yang terjadi pada elite penguasa tersebut. Intinya. . Keterkaitan dengan pasar dunia. dan untuk rakyat‖ tersebut diatas juga mengetengahkan gambaran suram dari ekonomi rakyat di Indonesia. peningkatan jumlah berbagai produk pertanian. oleh. Infrastruktur irigasi yang hanya memfasilitasi teknologi lahan sawah. hak atas tanah masih menjadi sesuatu yang sangat didambakan. peningkatan penjualan kendaraan bermotor roda dua. misalnya. memang mengalami sangat banyak kesulitan untuk berkembang dan memberi kesejahteraan bagi pelakunya. Kisah konversi lahan pertanian produktif milik rakyat menjadi lapangan golf. Bahkan sumberdaya yang tadinya dikuasai oleh rakyat. Sebelum membahas krisis moneternya sendiri. Rakyat juga memiliki akses yang sangat terbatas terhadap informasi dan teknologi. Perlindungan hukum atas usaha masih lemah. yang pada gilirannya membuat kemampuan pengambilan keputusan menjadi jauh lebih terbatas. Kelembagaan koperasi yang diseragamkan menjadi KUD. Indikasi lain dapat pula ditunjukkan oleh peningkatan kegiatan (tabungan dan penyaluran kredit) hampir diseluruh lembaga keuangan mikro. Kondisi yang ―terbatas‖ terhadap akses ke pasar global juga sekaligus memberi ‗kekebalan‘ kepada ekonomi rakyat untuk tidak mudah terpeng aruh atas kondisi yang terjadi didunia internasional. serta sistem keuangan yang ―memaksa‖ rakyat menerima sistem yang mensyaratkan berbagai hal tidak sesuai dengan kondisi naturalnya. Perbandingan ketersediaan sumberdaya ‗publik‘ seperti listrik.

dan pada gilirannya menghancurkan sistem perbankan. ekonomi rakyat yang ‗berbeda‘ sistem dan mekanismenya dengan ekonomi berbasis kapital yang dikenal oleh ‗masyarakat barat‘ merupakan basis kegiatan ekonomi negara yang bersangkutan. Giddens. tidak dapat mengembalikan hutang. Perusahaan-perusahaan tidak dapat lagi menunjukkan kinerja keuangan yang sehat. 1998. barang konsumsi. maupun aliran input produksi. (2) (3) (4) Dalam format seperti diataslah situasi ekonomi saat krisis moneter melanda Indonesia. 1999). maka ―non-ekonomi-rakyat‖ di Indonesia langsung terpukul telak oleh dua hal yang sangat ‗mematikan‘: membengkaknya nilai hutang dolar dalam rupiah dan mahalnya biaya produksi yang selama ini berbasis input impor. Singkatnya. walaupun struktur yang demikian itulah krisis ekonomi Indonesia menjadi begitu parah dan sulit diselesaikan. kapitalisme global tengah berbenah diri untuk menghadapi abad yang baru yang ditandai oleh dua fenomena besar. Hubungan ekonomi rakyat Indonesia dengan ekonomi rakyat di negara lain juga berjalan lambat dan tersendat. yaitu Asia. Demikian pula dengan ―non-ekonomi-rakyat‖ yang dapat diidentifikasikan sebagai kelompok kapital global. telah menjadi ‗blessing in disguised‘ bagi ekonomi rakyat. Gambar diatas secara skematik menunjukkan bahwa ekonomi rakyat dalam perspektif seperti Indonesia juga terdapat dinegara-negara lain. Aliran moneter dari kapitalme global ke ekonomi rakyat Indonesia relatif kecil. Hubungan antara ―non-ekonomi rakyat‖ lokal dengan kapitalisme global juga merupakan hubungan yang timpang. penyediaan buruh murah.2) Struktur kelembagaan ekonomi tersebut sebenarnya hingga saat ini masih belum banyak berubah (diubah). dan kemampuan menguasai informasi sebagai sarana untuk promosi. terutama karena infrastruktur dan institusi perdagangan modern memang dikuasai oleh para pelaku ―non-ekonomi-rakyat‖. Hal tersebut terutama juga karena struktur kelembagaan yang diuraikan diatas. De Soto (2000) menjelaskan bahwa dibanyak negara. Kalaupun ada. atau Ormerod. atau bahkan Marx (1849) dalam Magnis-Suseno. Dalam lingkup domestikpun hutang modal dan hutang konsumsi juga mengalir kesana kemari dengan sangat cepat dan dalam jumlah yang sangat besar. teknologi. Dan hal ini membuat mereka sedang berada pada situasi yang rentan. hanya dalam bentuk dana-dana pinjaman lunak pemerintah yang banyak kembali ke ―negara donor‖ atau bocor ditengah jalan dari pada diterima oleh ekonomi rakyat. Sebaliknya. penyedian pangan murah. Ketika nilai tukar jatuh. mengalir ―door-to-door‖ dengan derasnya. Kondisi tersebut berlangsung akibat dominasi paduan pengusaha-penguasa. tawaran saham dan investasi. inflasi meninggi. Bahkan banyak diantaranya yang mendapat ‗rejeki dolar‘ karena harga produk yang dihasilkannya melonjak tinggi sejalan dengan peningkatan nilai dolar. Hubungan Selatan-Selatan atau diantara negara-negara Non-Blok secara langsung hampir selalu lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan ‗jasa‘ negara ketiga yang mampu menyediakan layanan infrastruktur perdagangan secara lebih efisien (Isaak. dan posisi ekonomi rakyat yang menjadi pasar bagi produk dan jasa. Akibatnya modal. Lemahnya keterkaitan ekonomi rakyat dengan kapitalisme global yang menjadi sumber dari krisis moneter tersebut. Sebagai usaha mengantisipasi hal tersebut modal besar dari para kapitalis global tersebut dialirkan ke kegiatan ekonomi yang dianggap paling menjanjikan. Namun ketika krisis moneter berlanjut menjadi krisis ekonomi (pertumbuhan ekonomi menurun. baik dalam bentuk modal tunai. Pada tahun 1990-an. Krisis moneter yang diawali oleh krisis nilai tukar tersebut sebenarnya telah lama diperkirakan dan telah diduga meningkat peluangnya saat pergantian abad (lihat Soros. ekonomi rakyat telah mensubsidi ‗non-ekonomirakyat‘ dan terjadi fenomena ―double squeezed economy‖ melalui penyediaan sumberdaya oleh rakyat dan rakyat dijadikan pasar. 1998). dalam bentuk hutang. Tanpa bermaksud membatasi aktivitas ekonomi dalam dimensi ruang yang kaku. Hal ini terutama karena kerangka kelembagaannya tidak berkesesuaian (not-compatible). penggunaan (utilization) dari modal tersebut belum berjalan dengan baik. bahkan tenaga kerja. Gambar 1 menunjukkan bahwa (1) Arus moneter (uang tunai dan modal) dari kegiatan ekonomi rakyat ke kegiatan ‗non -ekonomi-rakyat‘ memiliki volume yang jauh lebih besar dari pada arus sebaliknya. sistem legal-formal yang ―bias-against‖ ekonomi rakyat. Hal ini terjadi melalui sistem perbankan. . karena sebagian dari proses relokasi industri baru berjalan pada tahap awal. penyediaan lahan/property murah. 1998. seperti yang dirasakan para petani coklat dan para pengrajin yang memiliki konsumen di luar negeri. 1994. 1995). yaitu WTO dan mata uang Euro (Soros. Sampai pada tahap ini ekonomi rakyat masih belum merasakan dampak negatif yang terlalu besar dari krisis moneter.

Dalam kondisi rawan keamananpun. sering kali harus menerima limpahan pelaksanaan ‗tugas‘ hingga 10 atau 15 program dalam waktu yang bersamaan. tingkat bunga yang kompetitif. meningginya harga pangan impor. Kebijakan pengembangan yang dilakukan cenderung bersifat ‗ad -hoc‘ dan parsial. padahal bank tidak (dapat) melayani kegiatan ekonomi rakyat. Dalam hal ini. pengulangan sering terjadi tetapi pada saat yang bersamaan banyak aspek yang dibutuhkan justru tidak dilayani. Pada tahap inipun sebenarnya daya ‗survival‘ ekonomi rakyat sangat tinggi. disertai berbagai kebijakan pengaturan (regulative policy) tampaknya masih jauh dari harapan pemberdayaan ekonomi rakyat. mengingat lamanya pengaruh lembaga internasional (WB.banyaknya pegawai di PHK. 2001): a. kegiatan ekonomi rakyat juga menjadi kegiatan yang paling rentan dan menderita. Tekanan menjadi semakin berat lagi setelah krisis ekonomi juga memicu krisis sosial politik dan keamanan. Kemelut Kredit Usaha Tani (KUT) merupakan contoh kongkrit dari masalah mekanisme penghantaran tersebut. Mencari hutang baru dan menerapkan sistem legal-formal-konvensional seperti menjadi hal yang dipaksakan harus ada. berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah dalam rangka otonomi daerah juga telah mengindikasikan pertimbangan yang tidak berorientasi ekonomi rakyat. serta serangkaian pilihan kebijakan dalam usaha untuk mengatasi krisis yang justru menempatkan ekonomi rakyat sebagai pihak yang dikorbankan. Produk yang diimpor diganti dengan produk lokal atau produk impor yanglebih murah (fenomena motor Cina atau maraknya produk elektronik lokal dan impor yang ―mereknya tidak dikenal sebelumnya‖). Demikian juga. Namun banyak kasus yang menunjukkan bahwa kebijakan yang dikembangkan lebih banyak membawa norma dan pemahaman dari ―luar‖ dari pada mengakomodasi apa yang sudah teruji berkembang dalam masyarakat. e. saat elite politik berdebat saling mengkritik dan membangun perbedaan pendapat. padahal kedua hal itu justru telah menunjukkan kemampuan menghadapi tekanan eksternal yang berat. Misalnya. Banyaknya kebijakan yang dilakukan oleh banyak pihak sering kali bersifat kontra produktif. dan sebagainya) maka ekonomi rakyat mengalami tekanan yang semakin berat. karena selama ini kebijakan ekonomi sering kali membawa ciriciri sebagai berikut (Krisnamurthi. pembentukan tingkat bunga melalui berbagai instrumen moneter lebih didasarkan pada kepentingan ‗balance of payment‘ dan penyehatan perbankan. Seorang Camat atau kepala desa atau kelompok masyarakat misalnya. pengurangan subsidi BBM. dari berbagai instansi yang berbeda dan dengan metode dan ketentuan yang berbeda. Oleh karenanya. sangat tinggi. atau dilihat dari pemanfaatan cadangan pemerintah yang sangat besar bagi rekapitalisasi bank. padahal yang lebih dibutuhkan oleh ekonomi rakyat adalah kebijakan makro yang kondusif. Tumpang tindih tidak dapat dihindari. Banyak kebijakan yang bersifat ‗mikro‘. Beberapa koreksi yang perlu dilakukan. Sikap tersebut sering kali jauh lebih menentukan efektivitas kebijakan. terutama akibat timbulnya berbagai masalah setelah krisis terjadi (bukan oleh krisis moneter itu sendiri) dan akibat pilihan kebijakan yang diterapkan sebagai usaha mengatasi krisis. Sebaliknya sistem ekonomi rakyat yang nyata-nyata telah mampu bertahan bahkan telah lebih berkembang selama krisis justru tidak diabaikan. merasa lebih tahu. Dengan demikian. Demikian pula sikap birokrasi yang ‗memerintah‘. Atau setidaknya yang perlu dikembangkan kebijakan yang ‗not-against‘ atau netral terhadap ekonomi rakyat. Perbankan dan ‗non-ekonomi-rakyat‘ yang notabene menjadi penyebab krisis berusaha ‗diselamatkan‘ dengan menggunakan dana trilyunan rupiah dari sumberdaya negara yang telah sangat terbatas. dll) patut pula diduga bahwa perancangan pola kebijakan tersebut juga membawa kepentingan internasional tersebut. b. sebaliknya kegiatan ekonomi rakyat seolah ditinggalkan. Otonomi seharusnya juga berarti perubahan Kebijakan pengembangan yang dilakukan lebih banyak bersifat regulatif dan merupakan bentuk intervensi terhadap kegiatan yang telah dilakukan oleh ekonomi rakyat. Posisi lembaga keuangan mikro dalam sistem keuangan nasional merupakan salah satu contoh terdepan dalam permasalahan ini. yang harus dilakukan terutama adalah untuk merubah pendekatan kebijakan yang tidak memihak kepada ekonomi rakyat. terutama dalam mengatasi berbagai kelemahan dan keterbatasan yang dihadapi. Dalam hal ini. dan ‗minta dilayani‘ merupakan permasalahan lain dalam implementasi kebijakan. atau penetapan kebijakan perbankan sendiri yang penuh persyarakatan yang tidak sesuai dengan kondisi objektif ekonomi rakyat. Dengan cepat terjadi perubahan-perubahan yang mendasar. dapatlah dikatakan bahwa ekonomi rakyat merupakan korban dari krisis moneter yang terjadi belum lama ini. . padahal mereka adalah pemilik-suara (voter) terbanyak yang memilih pada pembuat keputusan. d. Inovasi dan kreativitas ekonomi rakyat. dan kebijakan nilai tukar. Pertimbangan dalam penetapan kebijakan tersebut seringkali memang tidak atas dasar kepentingan kegiatan ekonomi rakyat. IMF. Mekanisme penghantaran kebijakan (delevery mechanism) yang tidak apresiatif juga merupakan faktor penentu keberhasilan kebijakan. c. alokasi kebijakan fiskal yang lebih seimbang sesuai dengan porsi pelaku ekonomi.

Ir. 2001. London.9% di tahun sebelumnya (1997). Why Capitalism Triumphs in the West and Fails Everywhere Else. Krisis Moneter Indonesia. Giddens.7% dari pertumbuhan sebesar +4. Yakinlah. (www. 2. 8. The Missing Ingredient. 3. The Third Way. PT Gramedia Pustaka Utama. Dalam perkembangan selanjutnya dan selama ini. 1998. De Soto. Bayu. MA. New York. Basic Books. Institut Pertanian Bogor (IPB) Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat. Selama itu mata uang Bath dan Dollar US dikaitkan satu sama lain dengan suatu kurs yang tetap. Rupiah sudah terdevaluasi dengan 90%. London. Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Dan di bulan Juli 1998 dalam setahun. 2001. Krisnamurthi. 9 April 2002 PUSTAKA 1. Frans Seda KRISIS MONETER INDONESIA KRISIS moneter Indonesia disebabkan oleh dan berawal dari kebijakan Pemerintah Thailand di bulan Juli 1997 untuk mengambangkan mata uang Thailand ―Bath‖ terhadap Dollar US. 4. telah pula dipublikasikan dalam Jurnal Ekonomi Rakyat (online. The Renewal of Society Democracy. Blackwell Publisher. Nopember 2000. 1999.- Dr. atau jangan buat kebijakan apapun dan biarkan ekonomi rakyat berkembang dengan kemampuannya sendiri. Open Society Endangered. ternyata Indonesia paling dalam dan paling lama mengalami depresi ekonomi. Anthony. bahkan akan terbuka kembali peluang terjadinya krisis berikutnya yang sangat mungkin akan lebih luas dampaknya bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. The Mystery of Capital.html) De Soto. Pemikiran Karl Marx. 2000. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. Jika tidak. minimal jangan buat kebijakan yang merugikan ekonomi rakyat.ca/library/forum/desoto.ekonomi-rakyat. CIDA Forum on Knowledge and Information. Jakarta. Jakarta 21 Februari 2001. 5. Devaluasi mendadak dari ―Bath‖ ini menimbulkan tekanan terhadap mata-mata uang Negara ASEAN dan menjalarlah tekanan devaluasi di wilayah ini. Rupiah telah terdevaluasi dengan 30% sejak bulan Juli 1997. Hernando. Makalah pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat : Strategi Revitalisasi Perekonomian Indonesia. Cambridge University Press. Makalah pada Lokakarya Pengelolaan Sumberdaya Pantai dan Laut. CSIS. pada awalnya bertahan dengan memperluas ― band” pengendalian/intervensi. namun di medio bulan Agustus 1997 itu terpaksa melepaskan pengendalian/intervensi melalui sistim ―band” tersebut.idrc. peluang untuk keluar dari krisis akan semakin kecil. Jika memang belum dapat dilakukan kebijakan yang mendukung ekonomi rakyat. Indonesia. Bayu. diikuti oleh kemerosotan IHSG di pasar modal Jakarta dengan besaran sekitar 90% pula dalam periode yang sama. Paul.Perbaikan atas pola kebijakan tersebut diatas harus segera dilakukan.Bina Swadaya. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Ekonomi Rakyat dan Pengelolaan Sumberdaya Pantai dan Laut. The Death of Economics. The Crisis of Global Capitalism. Jakarta. Dalam bulan September/Oktober 1997. Little Brown Company. 1994. www. Mencari Format Kebijakan Optimal. Atau jatuh dengan 18. 6. 7. atau juga masih kesulitan untuk membuat kebijakan yang netral terhadap ekonomi rakyat.6% dalam . Rupiah langsung terdevaluasi.org) Krisnamurthi. Jakarta. Magis-Suseno. Ormerod. Hernando. Soros. yang mengikuti sistim mengambang terkendali. 1998. Bayu Krisnamurthi: Direktur Pusat Studi Pembangunan. George. Franz. rakyat Indonesia mampu melakukan hal itu. 2000. Di tahun 1998. pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot menjadi –13.

dalam hal bisnis serta akhlak dan moral. manajemen. Pertumbuhan itu ambruk! Sementara itu terjadi pula suatu perombakan yang drastis dalam strategi Pembangunan Ekonomi. maka di akhir tahun 1996 sudah meningkat menjadi antara USD. baik bagi modal yang masuk maupun yang keluar. Dan hal-hal ini langsung mengena pada nasib ekonomi Rakyat kita. Jika di tahun 1996 Hutang Swasta masih berada pada tingkat USD. Hutang Pemerintah/Resmi/Negara turun dari USD. dengan tingkat perkembangan nilai tukar mata uang yang terkendali rendah. merupakan kekuatan ekonomi yang riil yang telah mampu menahan kemerosotan ekonomi yang disebabkan oleh krisis itu. dengan APBN yang Berimbang. . Resistensi. Maka runtuhlah bangunan modern dalam tubuh Ekonomi Bangsa. Dimana kegiatan-kegiatan ekonomi dan para pelakunya berlangsung tanpa pengawasan dan tidak dilihat ― cost benefit” secara cermat. Proses Swastanisasi ini berlangsung tanpa kendali dan penuh KKN. namun juga memainkan peran sebagai pengganti dari peranan sektor modern yang ambruk itu. Maka ketika diserang krisis mata uang. dan malahan telah mampu pula mengangkat pertumbuhan ekonomi kembali pada permukaan pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan +13. terlebih dunia Perbankan dan Korporasi. bukan saja menampung reruntuhan-reruntuhan dari ambruknya sektor modern. upaya-upaya rekapitalisasi. Dan yang mengesankan adalah peran dari asas kekeluargaan. dengan kebijakan Neraca Modal yang liberal. Mereka yang di-PHK-kan ditampung dalam sektor tradisional dan sektor informal dan merupakan bagian dari Resistensi Ekonomi Rakyat dalam krisis ini. Dan kerapuhan ini ternyata adalah sangat mendalam dan meluas. itu perlu ―pulang kampung‖ untuk melihat dan mengalami bahwa asas kekeluargaan itu betul-betul hidup di kalangan masyarakat dan sungguh-sungguh merupakan asas solidaritas yang berfungsi dalam kehidupan ekonomi rakyat. Mengapa? Selama dekade sebelum krisis. yang hampir sama dengan pertumbuhan ekonomi pra krisis (1997. Keteledoran ini juga terjadi dalam negeri. restrukturisasi Perbankan dan Korporasi-Korporasi sepertinya tidak mempan selama dan sesudah 5 tahun ini. Pembangunan Ekonomi yang selama ini adalah ―State” dan ―Government-led” beralih menjadi ―led by private initiatives and market”. Sektor Finansial dan Korporasi masih tetap terpuruk. malahan dianggap sebagai penghambat dari pertumbuhan Ekonomi. Namun akibat-akibat negatif ini dihadapi rakyat banyak dengan suatu Resistensi dan Kreativitas Ekonomi yang militan. Kredit jangka pendek diinvestasikan ke dalam proyek-proyek jangka panjang. Rapuhnya sektor-sektor modern ini adalah dalam hal organisasi. 15 milyar. kreativitas ekonomi rakyat. sehingga waktu datang tekanan-tekanan moneter. produktivitas sektor tradisional dan berfungsinya asas kekeluargaan. sudah lima tahun. Proses Swastanisasi/Privatisasi dari pelaku utama Pembangunan berlangsung melalui proses liberalisasi dengan mekanisme Deregulasi diliputi visi dan semangat liberal. Ekonomi Indonesia bertumbuh sangat pesat. Dalam waktu sangat singkat bertebaran bankbank Swasta di seluruh tanah air dan bertaburan Korporasi-Korporasi Swasta yang memperoleh fasilitas-fasilitas tak terbatas. sepertinya lepas kendali. Suatu kerapuhan total dan secara institusional pula! Apa implikasi dari runtuhnya sektor modern dari bangunan ekonomi kita ini? Peningkatan Pengangguran. Kesuksesan Pembangunan Ekonomi Indonesia demikian memukau para kreditor luar negeri yang menyediakan kredit tanpa batas dan juga tanpa meneliti proyek-proyek yang diberi kredit itu. Pendapatan per kapita meningkat menjadi 2x lipat antara 1990 dan 1997.7% dengan tercapainya tingkat +0% di tahun 1999. 65 milyar – USD. sikonnya belum siap dan masih penuh kerapuhan-kerapuhan. Kesuksesan ini menimbulkan di satu pihak suatu optimisme yang luar biasa dan di lain pihak keteledoran yang tidak tanggung-tanggung. 75 milyar. sementara Hutang Swasta membumbung dengan cepatnya. 80 milyar menjadi USD. kebijakan Ekspor yang terdiversifikasi (tidak saja tergantung pada Migas). pemulihan pertumbuhan ekonomi belum mencapai tingkat pra-krisis (tahun 1996/97).setahun. Perkembangan ini didukung oleh suatu kebijakan moneter yang stabil. Peningkatan Kemiskinan dan Hutang Nasional. Sampai sekarang. dilanjutkan dengan pertumbuhan +4. Suatu optimisme yang mendorong kebijakan-kebijakan ekonomi dan tingkat laku para pelaku ekonomi dalam dan luar negeri. dengan tingkat inflasi dan bunga yang rendah.8% di tahun 2000. Didorong oleh optimisme dan keteledoran ini ekonomi didorong bertumbuh diatas kemampuannya sendiri (― bubble economics”). dan mental orang-orang/para pelakunya. 50 milyar di akhir tahun 1996. Maka para pakar/pengamat yang selama ini meragukan berfungsinya asas kekeluargaan seperti yang tercantum dalam Pasal 33 UUD-45. sehingga tindakan-tindakan penyehatan-penyehatan seperti injeksi modal oleh Pemerintah. Sektor tradisional yang selama ini dianggap sebagai sektor yang tidak penting/prioritas.

dan kalau ada berada dalam kondisi sangat lemah.+4. Ekonomi Rakyat masih perlu diberdayakan. Faktor kepercayaan pada programa ekonomi Pemerintah dalam kerjasama dengan IMF dan hilangnya panik ekonomi turut bermain peran. Tentu tidak semuanya oleh Ekonomi Rakyat. Jika Pembangunan selama ini adalah ― top down” maka proses ini tidak langsung beralih ke sistim ―bottom up”. efisiensi. ―Dual economy” nya Prof.9%). melainkan proses ―mem perdayakan‖. begitu rapuhnya sehingga dengan segala ― inset” dari modal. sehingga di Manado yang unggul dalam hal cengkeh itu – ―dia orang bilang. namun melalui sistim (peng)antara ―middle down” dan ―middle up”. adalah suatu kenyataan dan merupakan dua kekuatan ekonomi yang perlu diintegrasikan menjadi sokoguru dari bangunan ekonomi Nasional yang modern. dihabiskan! Tidak ada kelebihan untuk melanjutkan dan mendinamisasikan kegiatan. Pemerintah/Negara mengambil peran untuk keluar dari krisis tersebut. di Jakarta resesi. tidak lalu harus diidealisasikan. adanya KKN. cukup berperan ekspor hasil Perkebunan rakyat. Boeke. Dalam bahasa resmi Ekonomi. Ada keraguan di kalangan Pemerintah pada waktu itu terhadap kemampuan Ekonomi Rakyat sebagai penggerak utama dari roda Pembangunan. Jatuhnya demikian dalam di tahun 1998. Telah dikemukakan bahwa kemampuan Resistensi Ekonomi Rakyat adalah pada tingkat ― subsistence economy”. energi dan konsentrasi sampai sekarang sektor ini belum dapat berfungsi kembali normal. ―Up” dan ―down” diperdayakan oleh si ―middle”. Namun sesuatu yang ideal. dan kurang adanya Pengawasan. dimana pada waktu itu tidak ada perusahaan Swasta. di Manado resepsi. menunjukkan betapa rapuhnya dan paniknya sektor Finansial dan Korporasi. alias sektor modern dari bangunan ekonomi kita. yang telah menumbangkan ORDE LAMA (Demokrasi Terpimpin) dan dibentuknya ORDE BARU. jika bisa begitu. Disebabkan oleh Politik Isolasi Nasional dan menumpuknya Defisit APBN dari tahun ke tahun sedari tahun 50an dan selama penggalan pertama tahun 1960-an. Masalahnya adalah mengapa pada waktu itu proses Deregulasi tidak diarahkan langsung kepada Ekonomi Rakyat. Masalahnya sekarang adalah. hasil kegiatan rakyat. dalam setahun. peranan ekonomi Rakyat adalah menonjol. Di tahun 1980-an. Dibawah Pimpinan Negara/Pemerintah. Dan seperti telah dikatakan. dan pemberdayaan itu dilakukan melalui ― link and match” dengan sektor Swasta. maka Pembangunan dan peningkatan pendapatan Nasional dan per kapita maju pesat. didesak oleh kebutuhan akan modal. Dalam hal ekspor dan konsumsi. apakah dalam kondisi krisis dewasa ini. juga oleh produksi dalam negeri. Hal ini terjadi bukan karena ideology (Sosialisme) melainkan karena kondisi pragmatis. maka terjadi proses Swastanisasi dari Pembangunan. Bukan proses ―memberdayakan‖. Krisis Ekonomi yang kita alami dewasa ini menunjukkan bahwa keserakahan sektor modern akan kredit. dan teknologi yang lebih meningkat untuk menjaga agar Pembangunan Ekonomi berkelanjutan mantap meningkat. Melalui pemberdayaan sektor Swasta maka diharapkan/dianggap Ekonomi Rakyat akan pula dapat diberdayakan. peran ekonomi Rakyat seperti yang telah digambarkan itu memang besar! Tetapi antara ekonomi Rakyat/Ekonomi Tradisional dan Ekonomi Modern tidak perlu diadakan dikhotomi. pemulihan ekonomi selama 2 tahun itu disebabkan oleh peningkatan ekspor (non Migas). Masalahnya adalah mengapa ekonomi Nasional jatuhnya begitu dalam. Proses tersebut ditandai oleh suatu proses Liberalisasi dan mekanismenya adalah Deregulasi/Ekonomi. Juga dalam hal konsumsi yang kecuali dipenuhi oleh import. Kita tahu apa yang telah terjadi. Jika era Demokrasi Terpimpin sebelumnya adalah era dimana Politik menjadi Panglima (upaya pembentukan dari suatu Sistim Politik Nasional) maka era ORBA dapat dinamakan sebagai era dimana Ekonomi menjadi Panglima (dan upaya-upaya untuk membentuk suatu Sistim Ekonomi Nasional). Maka terjadilah krisis ekonomi yang berkelanjutan ini. malahan melanjutkan perannya sebagai Pelaku Utama Pembangunan sesudah krisis itu. melihat peran ekonomi rakyat selama krisis ini seperti yang telah diuraikan itu. Jika hal itu diperlukan maka dilaksanakan . Dalam hal ekspor. itulah yang telah menjerumuskan Ekonomi bangsa ke dalam keterpurukan yang berkelanjutan ini. sudah tiba waktunya kita beralih ke Ekonomi Rakyat. Ekonomi Rakyat adalah pula ekonomi ―from hand to mouth”. fasilitas dan perluasan kegiatan. Apakah hanya karena itu saja? Tentu tidak hanya itu saja. dan di bawah pengaruh globalisasi. Sehingga Pembangunan selama itu disebut ― Government/State led development”. maka di tahun 1965-66 terjadi suatu krisis ekonomi Nasional yang merisaukan. Makna dari suatu ideal adalah bukan sekedar pada idealismenya. Apa yang dihasilkan. no!”. Memang ideal. Dan cepat kembalinya pemulihan ekonomi selama dua tahun berikutnya dikatakan adalah berkat ekonomi Rakyat. namun pada kemampuan untuk merealisasikan apa yang dianggap ideal itu. oleh investasi dan konsumsi. tetapi juga dapat cepat pulih dalam 2 tahun berikutnya. Namun secara riil.

Hal-hal ini perlu diciptakan oleh Institusi itu. mengatasi Kemiskinan. di‖ upgrade” dan ditingkatkan. Mereka tidak menjadi efektif (―effective demand”) antara lain karena ketidakpastian hukum dan keamanan. diberi pendidikan. bahwa kalaupun Rakyat sudah menjadi Subyek Ekonomi. Dalam bahasa ekonominya adalah bahwa kita mengalami kemerosotan dari ―external demand”. penjelasan-penjelasan dan insentip-insentip. maupun Subyek dalam ekonomi adalah rakyat. Ketiga target ini memang mengena pada kepentingan ekonomi Rakyat! Suatu tantangan bagi ekonomi Rakyat! Menghadapi tugas besar/tugas nasional ini. usaha/pedagang kecil dan menengah.melalui hutang. Namun suatu Generasi Pelaku Ekonomi Nasional yang bersih. memerlukan perlindungan/kepastian Hukum dan iklim usaha. Mereka sendiri tadinya juga berasal dari usaha ekonomi rakyat. Selama ini kita telah bicara banyak mengenai Ekonomi Rakyat dan Ekonomi Kerakyatan. bukan penggusuran! Pemberdayaan ekonomi Rakyat dewasa ini diperlukan pula untuk membina kader-kader Pelaku Ekonomi Generasi baru menggantikan Generasi Pelaku Ekonomi yang sudah tumbang ini. Telah dikemukakan betapa . pengganggu ketertiban umum. namun untuk mengungkapkan kenyataan yang dihadapi yang perlu diperbaiki agar tugas Nasional yang diserahkan kepada Ekonomi Rakyat dapat terlaksana dengan baik dan penuh prospek dan perspektif. proteksi dan fasilitas. karena pasar dalam negeri yang besar dan luas. melebihi pendapatan orang yang sama di sektor formal). tetapi sebagian besar masih ―berkeliaran‖ di dalam negeri. (Hukum dan keamanan ini juga dituntut oleh para investor asing!). Hanya jangan dikira jika semua rakyat sudah menjadi Subyek Ekonomi. Sebab kesejahteraan Nasional bukanlah somasi/jumlah dari kepentingan masing-masing rakyat. mengatasi Hutang. Kembali kepada masalah Krisis Moneter dan Pemulihan kembali Ekonomi Nasional. Untuk menjamin tertib usaha. Apa tugas Nasional itu? Mengatasi Pengangguran. Diharapkan bahwa Institusi yang demikian itu adalah antara lain Pemerintah dan Parlemen. dalam kontekst ini peran ekonomi Rakyat dapat difokuskan. Potensi untuk itu ada di dalam Negeri karena masih cukup pendapatan dalam negeri dan simpanan dalam negeri yang tersembunyi dan terpendam. tangguh mental dan professional dalam berusaha. Dalam hal Ekonomi Kerakyatan maka jelas orientasinya pada kepentingan ekonomi Rakyat banyak. namun tidak selamanya rakyat harus menjadi Subyek Ekonomi. Mereka perlu diberi pengertian bahwa untuk berusaha secara berkelanjutan diperlukan tertib usaha. Nah. maka masyarakat dengan sendirinya bermoral dan beragama. apalagi dengan KKN. Disamping tugas besar Nasional yang berjangka itu. Hanya seperti telah diuraikan itu. Seperti halnya dalam bidang moral dan agama. Kondisi ini perlu diimbangi dengan menciptakan/mengaktifkan ― domestic demand” yakni ―demand” akan investasi dan konsumsi. (Sementara menurut suatu penelitian. Dilupakan bahwa mereka memenuhi kebutuhan masyarakat. Ini berarti pula perlu dikembangkan suatu sistim mobilitas vertikal secara sehat dan mandiri dalam masyarakat dunia usaha! Dewasa ini hal ini diblokir oleh tidak selesai-selesainya proses penyehatan Perbankan dan Korporasi. memerlukan akses ke modal. Aspek orientasi kepada kepentingan rakyat banyak dan aspek rakyat sebagai Subyek dalam Ekonomi Negara. Memang ada pendapatan dan simpanan dalam negeri yang lari keluar. 10. teknologi dan Pasar. 20. kita mengalami kemerosotan investasi dan eksport termasuk Pariwisata.Rp.000 . Ini semua dikemukakan tidak dengan maksud untuk memojokkan ekonomi Rakyat. maka tidak dengan sendirinya kesejahteraan Nasional tercapai. Disitulah letak fungsi ekonomi mereka. Mereka dianggap sebagai ―underground economics”. Masalah ini perlu ditekankan melihat pengalaman-pengalaman dari usaha-usaha rakyat kecil di kota-kota yang lazim dinamakan Kaki Lima yang dikejar-kejar itu. Penciptaan dari ―domestic demand” ini mungkin. Jangan disangka jika setiap anggota masyarakat itu bermoral tinggi dan sungguh-sungguh menghayati agamanya. maka dengan sendirinya Kesejahteraan Rakyat tercapai. Dalam hal Ekonomi Rakyat. Maka dari itu programa hukum dan kesesuaian harus menunjukkan prioritas bagi Pemerintah. Sebab itu peran ―lintah darat‖ besar dalam ekonomi Rakyat. mereka sehari dapat memperoleh antara Rp. Rakyat sebagai Subyek Ekonomi seperti halnya dengan Korporasi-Korporasi besar/maju. mereka tidak boleh mengganggu ketertiban umum dan harus tunduk pada peraturan (hukum) umum! Pengertian yang diperlukan. terlebih sesudah kejadian 11 September 2001 di Amerika Serikat. tidak dimanjakan dengan subsidi. Diperlukan suatu Institusi dan pendekatan secara Institusional. para pelaku ekonomi Rakyat perlu di‖upgrade”. Diperlukan suatu Institusi yang mengarahkan kepada kepentingan rakyat dan kesejahteraan Nasional. maka baik orientasi pada kepentingan dalam ekonomi. ada pula tugas Nasional yang mendesak! Dewasa ini. perlu diingat.000. sebagai usaha yang ―inferior”. Apa itu? Ekonomi Rakyat mempunyai dua aspek integral. Mereka perlu dibimbing.

belum selesai yang satu telah datang yang lain. yang berfokus pada pilihan politik untuk me-Rekonsiliasikan keperluan penyelesaian secara tuntas masalah-masalah dari masa lalu dengan kepentingan bangsa dan Negara untuk maju ke depan dan yang didukung oleh semua pihak. upah buruh riil dan . dan sambil berjalan ke depan kita secara selektif menyelesaikan kebobrokan-kebobrokan dari masa lalu. Kebodohan. krisis di satu tempat dengan cepat menyebar dan memberi efek tular ke tempat lain. kini menyebar luas. bernegara dan bermasyarakat. Dengan adanya Konsensus Politik secara Nasional itu. Dengan bersandar pada data Biro Analisa Ekonomi AS (lihat tabel). terlebih sektor Finansial dan Korporasi. dan alternatif apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi krisis dan dampaknya tersebut. Tulisan kali ini. Jika hal ini dikaitkan dengan bahaya-bahaya proses desintegrasi sosial. Dengan dunia yang kian terintegrasi satu sama lain. hendak dilihat. ketika Bank Sentral menggelontorkan dana segar sebesar S75B pada Januari 2008. Sebab disitulah letak kepentingan mendesak dari ekonomi rakyat kita. bagaimana dampak krisis ini terhadap Indonesia. Sementara itu. Lima (5) tahun krisis ekonomi adalah sudah terlalu panjang dan karena sifatnya multidimensional maka ia dapat menggerogoti secara meluas dan mendalam sendi-sendi kita hidup berbangsa. di lain pihak ada urgensi. tetap saja krisis ekonomi AS tak bisa ditangani. energi.3 persen pada dekade 1980an. Resep lama. politik. seperti dikatakan Alan Grenspan. kita belum saja melihat titik terang. Krisis ini datang silih berganti secara bergelombang. Untuk mengatasi Dilema Fundamental ini diperlukan suatu Konsensus Politik secara Nasional. terbukti tidak mencukupi.terpuruknya Ekonomi kita dan betapa rapuhnya sektor modern kita. lingkungan. yang hingga kini tak kunjung menemukan jalan keluar pemecahannya. mantan gubernur Bank Sentral AS. Berbagai skenario pemulihan yang ada. ekonom Minqi Li menggambarkan beragam skenario yang tidak menggembirakan. Negara dan Masyarakat kita kepada kehancuran total. baru melangkah maju. hendak memotret dampak dari krisis ekonomi Amerika Serikat (AS). yang dipicu oleh krisis di sektor properti. Dari sini. Setelah diterpa resesi pada 2001. Akibatnya. Rata-rata tingkat pertumbuhan per tahun hanya 2. kita maju ke depan (termasuk upaya penyelesaian krisis). ―pertumbuhan ekonomi AS saat ini adalah nol. barulah kita dapat menyusun suatu Programa Nasional untuk cepat keluar dari krisis dan mulai memulihkan kembali Pertumbuhan Ekonomi Nasional yang mampu memberantas Pengangguran. mantan Menteri Keuangan Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat. pemulihan ekonomi AS berjalan lambat. Krisis Permanen Krisis ekonomi AS. regional dan nasional maka krisis ekonomi yang berkepanjangan ini dapat membawa Bangsa.4 persen dibandingkan dengan 4 persen pada dekade 1960an dan 3. Dengan segala upaya dan energi serta bantuan luar negeri. Kemiskinan. Krisis Moneter Indonesia Krisis Permanen dan Tantangan Dari Bawah* DUNIA sedang diterpa badai krisis: ekonomi. Dilemanya adalah di satu pihak ada tuntutan untuk penyelesaian dulu semua kebobrokan-kebobrokan dari masa lalu. untuk menginjeksi sektor perbankan. Bahkan. Hic et nunc! Drs. pangan. dan Hutang Nasional. bahwa krisis ini bisa diatasi dengan campur tangan bank Sentral.‖ Ketakutan bahwa krisis ini menjadi krisis permanen. tetap saja berujung pada ketidakmungkinan krisis ini pulih dalam waktu yang singkat. makin tak terkendali. Frans Seda : Penasehat Ekonomi Pemerintah. Maka dari itu krisis ini perlu segera diatasi! Dalam hal ini kita berhadapan dengan suatu Dilema Fundamental yang ―persistent” sekali. dan bencana alam.

Masalahnya. Hasilnya adalah sebuah lingkaran setan. maka ekonomi AS akan menuju resesi yang lebih dalam yang diikuti dengan apa yang disebut stagnasi berkelanjutan. Penetrasi yang digerakkan melalui kebijakan globalisasi-neoliberal tersebut. Dan jika ini terjadi. Jika diukur dalam dollar pada 1982. sejak tahun 2001. ―fundamental ekonominya‖ membaik menurut kriteria sektor finansial tapi. kedua. sejak medium 2000. pendapatan riil keluarga menengah terus jatuh. Soalnya. maka secara teoritik utang luar negeri bersih AS akan menembus angka 120 persen GDP. bersamaan dengannya tingkat suku bunga meningkat. jika krisis ekonomi yang melanda AS ini berlangsung dalam waktu yang lama. maka Washington bisa terus melakukan defisit fiskal lebih besar. Selain itu. karena level utang rumah tangga telah begitu tinggi dan tingkat tabungan rumah tangga juga rendah. pertumbuhan . Dihadapkan pada kondisi guncangan besar pasar saham dunia. dengan sendirinya menghela ekonomi negara lain ke jalur krisis. Yang menarik. sangat jelas membuat pertumbuhan ekonomi dunia melambat yang itu berarti. Sebaliknya. pembagian keuntungan korporasi terhadap GDP meningkat dari 5. Krisis ekonomi yang dipicu oleh krisis di sektor finansial. jelas mustahil untuk melihat bahwa konsumsi akan bertumbuh cepat di tahun-tahun mendatang. maka rata-rata upah buruh sektor swasta pada tahun 2006. Jika tingkat tabungan rumah tangga meningkat menuju rata-rata selama ini. terjadi penghancuran industri (deindustrialization). Itu sebabnya. Dengan gambaran seperti ini.2. Tujuan dari penetrasi ini. Ini bisa dilihat dari peningkatan sebesar 14 persen layanan utang rumah tangga (interest and principal payment on debt) pada 2007. menyebabkan negaranegara yang sebelumnya telah tergantung pada investasi asing kian tergantung padanya (khususnya investasi portofolio) dan keharusan untuk membayar utang kepada kapital internasional. AS mengekspor krisis internalnya ke seluruh dunia. sektor keuangan saat ini merupakan sektor yang paling tersebar dan paling terkait secara global. Jatuhnya tingkat konsumsi di AS. ketika mayoritas pendapatan rumah tangga mengalami stagnasi atau bahkan jatuh. Keadaan ini sebenarnya bisa ditangani oleh Bank Sentral. Yang paling realistis. Tetapi. hingga mencapai 6 persen atau lebih GDP. dengan cara menciptakan gelembung aset lain secara besar-besaran. sebesar $8. pilihan yang bisa diambil oleh Bank Sentral adalah melakukan pemotongan secara drastis tingkat suku bunga. negara-negara berkembang yang mengikuti resep globalisasi-neoliberal. dengan defisit saat ini yang mencapai 6 persen GDP. Pertama. sangat sulit untuk mengidentifikasi gelembung besar aset lain yang bisa diciptakan. Di samping itu. tingkat tabungan rumah tangga jatuh dari rata-rata 10 persen menjadi mendekat nol persen saat ini. pertumbuhan ekonomi AS dihela oleh ekspansi konsumsi rumah tangga. pemerintah AS melakukan jalan pintas dengan cara melakukan belanja publik dan meningkatkan defisit fiskal. Jelas ini sesuatu yang menakutkan. maka suku bunga rendah hanya akan kecil sumbangannya dalam merangsang konsumsi rumah tangga.8 persen pada tahun 2001 menjadi 9. konsumsi AS adalah yang terbesar di dunia dan menjadi sumber utama permintaan ekonomi dunia. seiring meningkatnya finansialisasi ekonomi dunia adalah kian mendalamnya penetrasi kekuasaan imperial terhadap negara-negara dengan kondisi ekonomi sedang berkembang (underdeveloped). pengaruhnya sungguh akan sangat besar bagi stabilitas ekonomi-politik dunia. sebagaimana dikemukakan John Bellamy Foster. yang kini mencapai lebih dari 70 persen GDP. suatu jumlah yang tertinggi. maka yang terjadi ekspansi konsumsi rumah tangga itu dibiayai oleh utang rumah tangga. karena baik pasar saham maupun pasar properti telah overvalued. menurut William I.jumlah angkatan kerja stagnan. Robinson adalah untuk menghancurkan otonomi para aktor nasional dan selanjutnya menstrukturkan serta mengintegrasikan mereka ke dalam jaringan transnasional yang lebih luas. atau delapan sen lebih rendah dari upah pada 1972. dan ketiga.8 persen pada tahun 2006. Di lain pihak.

dan benda-benda kimiawi lainnya. bisa dipastikan yang akan terjadi adalah penyesuaian-penyesuaian rencana anggaran. Seluruh perusahaan-perusahaan minyak besar dunia kini. Dengan pengeluaran sebesar itu. maka dana yang mesti dikeluarkan Pertamina adalah sebesar $84. Dengan pola seperti ini. diperparah dengan dampak menular dari krisis keuangan di AS. meramalkan. Tinggal sembilan negara atau wilayah yang memiliki potensi untuk bertumbuh. tentu saja tidak masuk akal bagi pemerintah untuk membiayai belanja-belanja sosial yang bermanfaat bagi kepentingan rakyat. Di luar OPEC. dan batubara). Selain itu. produksi gas alam dunia akan mencapai puncaknya pada 2045.ekonomi rendah.866. Colin Campbel. dan biofuel). 9. dari the Association for the Study of Peak Oil and Gas. maka skenario yang tampak begitu buruk. menjadi penanda penting bagi kita bahwa orientasi pembangunan kapitalisneoliberal yang berlangsung secara global saat ini. produksi dunia untuk seluruh bahan-bahan cairan (termasuk minyak mentah. ancaman lain telah menghadang yakni. gas-to-liquids. plastik. Melambungnya Harga Minyak Dunia Sialnya. harga minyak dunia telah menembus angka $120 per barel. Sebab ekonomi kapitalis ini sangat tergantung pada bahan-bahan material (minyak. kini bayang-bayang resesi bahkan depresi ekonomi ada di depan mata. Tingginya harga minyak ini tentu saja memberikan daya pukul luar biasa pada perekonomian di seluruh dunia. eksplorasi minyak telah mencapai puncaknya pada dekade 1960an dan produksi minyak mentah mungkin telah di batas maksimum dan mulai memperlihatkan trend menurun dalam beberapa waktu mendatang. belum lagi krisis ekonomi tertangani. yang menyumbang 80 persen suplai energi dunia. merupakan bahan masukan penting dalam produksi pupuk. yang hingga kini tak kunjung keluar dari krisis. gambaran-gambaran ini sungguh suram. bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. obat-obatan modern. tentu saja kesuraman itu kian menjadi-jadi. coal-to-liquids. Bahkan. Dalam studi awal dari German Energy Watch Group. Berdasarkan harga saat ini sebesar $120 per barel. aspal hitam. diperkirakan produksi batubara dunia akan mencapai puncaknya pada 2025. tidak bisa lagi dipertahankan. saat ini Pertamina mengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak sebanyak 700 ribu per barel. mencapai titik jenuhnya pada 2010. telah mencapai titik jenuh. pembangunan yang menghasilkan keterbelakangan dan ketertindasan. dan mencapai 2/3 pada 2050. Lebih-lebih dalam konteks seperti Indonesia. Berdasarkan data Januari 2008. karena minyak merupakan energi yang tak terbarui. dan kian mudahnya ekonomi negara tersebut diserang krisis akibat pergerakan cepat keuangan global. Kita lihat. Orientasi Ke dalam? Krisis ekonomi saat ini. sedang berjuang untuk mempertahankan produksinya agar tidak jatuh. minyak hasil distilasi. produksi minyak di 25 negara-negara atau wilayah-wilayah penghasil minyak utama.5. Laporan terakhir (30/4) menyebutkan. 775. Studi terbaru dari German Energy Watch Group menyebutkan. ditambah dengan dampak kenaikan harga minyak dunia yang gila-gilaan. Resep-resep yang digunakan . Minyak juga. Setelah itu.236. Setelah dihajar oleh krisis ekonomi pada 1997. gas alam.000 dengan kurs $1 sama dengan Rp. dengan menggilanya harga minyak dunia di pasaran. Minyak sendiri. Mari kita ambil contoh berikut.000 per hari atau sebesar Rp. Campbel juga meramalkan. produksi minyak akan menurun sebanyak 25 persen pada 2020. diperkirakan menyumbang sepertiga dari total suplai energi dan 90 persennya digunakan di sektor transportasi. dimana salah satu cara paling gampang adalah kembali menaikkan harga minyak dan mencabut subsidi. gas alam cair. pembangunan yang dijalankannya tidaklah membuahkan kemajuan dan kebebasan tapi. Dalam konteks Indonesia.

dan liberalisasi sektor moneter. Karena itu. dari segi geopolitik. harus ada strategi yang radikal. pembangunan kekuatan militer raksasa itu dimaksudkan untuk ―menghadang munculnya kekuatan besar lain sebagai pengimbang kekaisaran AS. departemen pertahanan AS menganggarkan sebesar $750B per tahun. apakah kelas kapitalis di Indonesia. praktis tidak ada kekuatan lain yang sanggup menandingi imperialisme Amerika. akibat stagnasi berkepanjangan. Dari segi anggaran militer. Untuk rencana belanja fiskal tahun 2008. pembangunan kekuatan militer itu dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi AS. sumbangan AS dalam pertumbuhan ekonomi dunia jatuh dari 40 persen pada 1990 menjadi kira-kira 30 persen pada saat ini. Chalmers Johnson. untuk memotong laju krisis sekarang.‖ Argumentasi Klare ini bukan tanpa bukti empiris. kini Cina merupakan satu-satunya kandidat . Dengan tingkat pertumbuhan ekonominya tinggi dan relatif stabil. Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. terbukti gagal dalam menangani krisis. di tempat lain. deregulasi. dimana anggaran ini bukan bagian dari anggaran resmi pertahanan. Pemerintahan siapapun. Rusia. harus berani menolak resep-resep kebijakan neoliberal seperti. yang selama ini telah begitu erat terkait dengan kelas kapitalis asing. Seperti dicatat Minqi Li. lebih merupakan hasil dari stagnasi ekonomi berkepanjangan. Tetapi. tidak ada bukti yang kuat bahwa kebangkrutan ekonomi suatu negara disebabkan oleh kebijakan nasionalisasi ekonomi. Angka ini merupakan yang terbesar sejak Perang Dunia II dan besarannya melampaui total belanja militer gabungan seluruh negara lain di dunia. ekonomi AS masihlah yang terkuat di dunia. lagi-lagi dalam konteks Indonesia. walaupun kini tengah dilanda krisis parah. Lebih-lebih di bidang militer. demikian juga kontribusi kawasan Eurozone ikut jatuh dari 20 persen menjadi tinggal 10 persen. Dari segi ekonomi. Ia bukanlah krisis keuangan jangka pendek tapi. mempromosikan kebijakan nasionalisasi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. krisis ini adalah krisis kapitalisme keseluruhan. seperti dikemukakan kritikus empire (kekaisaran) terkemuka. Sejak berakhirnya Perang Dingin (yang sesungguhnya hanya dingin di Eropa). Di sini muncul pertanyaan baru. Studi-studi yang ada menunjukkan. Pertanyaannya kemudian. privatisasi. tak ada kekuatan lain yang bisa menandingi kedigdayaan AS. demi kepentingan apa AS terus membangun dan memperkuat kekuatan militernya? Ada dua jawaban di sini: pertama.000) di seluruh dunia. bukan krisis bagian per bagian. pemotongan subsidi.selama ini. Keadaan ini tentu saja mengkhawatirkan para pengambil keputusan strategis di Washington. bahkan ekonominya belum mampu menandingi kekuatan ekonomi Uni Eropa. saya ingin mengajak anda untuk melihat konstelasi kekuasaan global saat ini. adakah rejim dengan watak seperti itu? Pertanyaan lainnya. bersedia melakukan restrukturisasi ekonomi dan sosial yang radikal? Intervensi Permanen Sebelum kita masuk pada pertanyaan-pertanyaan tersebut. menurut Michael Klare. Dan sebaliknya. Dengan 180 basis militer (dari yang direncanakan 1. dana yang dianggarkan sebesar lebih dari $1T. kedua. apakah pertanyaan tersebut mengada-ada atau tidak. Dari sini. Cina yang dianggap sebagai pesaing baru. mensyaratkan keberadaan rejim yang mendukung penuh perubahan radikal itu. adalah mengandalkan kemampuan domestik dalam menopang bangunan struktur ekonomi nasional. kontribusi Cina meningkat sekitar 15 persen dan kelompok BRIC (Brazil. jumlahnya jauh lebih besar dibanding gabungan anggaran militer Rusia dan Cina. kita bisa meraba-raba. Tetapi. India dan Cina) meningkat sebesar 20 persen pada pertumbuhan ekonomi dunia. Khusus untuk supplementary budget buat membayar biaya perang di Irak dan Afghanistan. pasar kerja fleksibel. sebuah perubahan arah strategi pembangunan dari yang pro kapitalisme-neoliberal menjadi yang anti kapitalisme-neoliberal. Salah satunya.

Benar pula bahwa minyak bukan hanya sumber energi yang utama tapi. tidak mungkin terwujud jika tidak dipimpin dan dikontrol oleh rakyat. Dalam konteks geopolitik yang unipolar seperti inilah. sebagai residivis-residivis privatefinanced-centered yang coba-coba menantang kekaisaran. datang dari rakyat tertindas di negara-negara pinggiran. muncul perbedaan pendapat di kalangan pengamat kekaisaran. menyebabkan para kapitalis domestik ini tidak berani mengambil jalan berbeda. Sebaliknya. misalnya. para kapitalis domestik memainkan perannya sebagai yunior partner dan secara bersama-sama membentuk apa yang disebut oligarchy-finance-capital. Tetapi. Satu-satunya penantang serius bagi kekaisaran AS ini. dimana rakyatlah yang pertama-tama menanggung akibatnya. tidak pertama-tama didorong oleh kepentingan menguasai dan mengontrol kandungan minyak di wilayah tersebut. mereka malah kian agresif dalam merealisasikan paket-paket kebijakan neoliberal.yang bisa menggeser posisi AS. Di sini. Ia mencontohkan perlawanan rakyat di Venezuela dan Irak saat ini. serta gerakan anti-globalisasi dan anti-perang. kekuatan sosial lainnya yang tertindas. Irak). bagi para analis imperialisme. Dan itu hanya mungkin. kita lihat. tak berani mengambil sikap yang berpihak kepada kepentingan rakyat. kelas kapitalis domestik Indonesia. penyerbuan ke Irak dan Afghanistan.‖ Itu sebabnya. misalnya melalui perang ekonomi (seperti Kuba) atau juga dalam bentuk keras seperti. juga sumber kekuasaan. juga bertujuan untuk mengonsolidasikan kembali apa yang disebut Peter Gowan. ―bersama kami atau menjadi musuh kami. kemunculan para pesaing dipandang sebagai ancaman yang harus dinetralisir. rakyat AS telah cukup lama menikmati permen ekonomi dan juga kooptasi dan represi dari kekaisaran. Hasil dari keadaan ini. krisis permanen ini membuat mereka tidak memiliki pilihan lain kecuali kian tergantung pada belas-kasih sang senior. AS disamping terus menjalankan perannya sebagai protektorat bagi negara-negara kapitalis inti. AS menguasai 70 persen cadangan minyak dunia. Di satu sisi karena mereka telah terintegrasi dalam kelas kapitalis internasional. adalah dari rakyat tertindas keseluruhan. maka sangat sulit kita mengharapkan munculnya sikap progresif dari kelas kapitalis domestik. bagi Leo Panitch dan Sam Gindin. sebagai ―ideologi intervensi permanen.‖ Tantangan Dari bawah Dengan bersandar pada analisa di atas. Realisasi kebijakan itu menemukan momentumnya dengan terjadinya serangan 11 September 2001. Dengan adanya peristiwa itu. Di sisi lain ancaman intervensi permanen melalui doktrin pre-emptive war dari AS. Benar bahwa dengan menduduki kawasan Teluk. jika terjadi mobilisasi dari bawah yang merupakan kombinasi kepentingan-kepentingan domestik kelas terpinggirkan. Pembangunan yang berorientasi ke dalam. sebagai motor penggerak ekonomi kapitalis global. Maka satu-satunya penantang paling potesial terhadap kekaisaran. Sementara itu. misalnya.‖ Dan itu berarti. AS tidak membutuhkan tawar-menawar dengan kekuatan di luarnya. Bukannya melindungi kepentingan rakyat. Intervensi permanen dari kekaisaran bisa mengambil bentuk yang lunak. Ini hanya merupakan awal. serbuan itu terutama dimaksudkan sebagai sinyal agar ―jangan coba-coba menantang kami. dari apa yang disebut Aijaz Ahmad. seperti peran yang disandangnya di masa Perang Dingin. Itu sebabnya. intervensi militer (misalnya. di tengah-tengah krisis permanen dan ancaman intervensi permanen saat ini. satu-satunya jalan adalah dilakukannya . kekuatan lain itu hanya diberikan pilihan. James Petras. misalnya. jika ingin menghancurkan kekaisaran yang mesti dilakukan adalah mendorong terjadinya perubahan fundamental dalam keseimbangan kekuasaan domestik dalam kekaisaran. untuk bisa menantang kekaisaran AS ini. penyerbuan seperti di Irak ini bukanlah sebuah akhir. Di matanya. Di sini. mengatakan perlawanan rakyat tertindas itu tidak bisa diharapkan muncul dari dalam negeri AS. Bagi Samir Amin.

” Monthly Review. John Bellamy Foster. Vol. ————. “The New Geopolitics.” Verso. Vol. Robinson. Solidaritas universal.” ―Impor Minyak Pertamina Harus Dievaluasi‖
 Senin. 2004.“The Financialization of Capital and the Crisis.‖ Monthly Review Press. “The Subprime Crisis.” in John Bellamy Foster and Robert W. di Selatan maupun di Utara. Peter Gowan.” Monthly Review. “U. 59.html William I. Social Change. & Neoliberalism’s Demise. Michale Klare. 11 April 2008. 21 Januari 2008 | 20:49 WIB.id. Vol. 58. 2004.” Monthly Review. “Global Capitalism and American Empire. ―Pox Americana exposing the American Empire. Hegemony Today. and Globalization.” in John Bellamy Foster and Robert W. http://www. 11 April 2008.20080121-115889. “China Peak Oil. 59.‖ Monthly Review Press.aliansi seluruh rakyat pekerja baik. Robin Blackburn. “Transnational Conflicts Central America.tempointeraktif. “Imperialism of Our Time” Socialist Register. No. Minqi Li. “The Financialization of Capitalism. London. No.*** Kepustakaan: Aijaz Ahmad. 11 April 2007. McChesney. Leo Panitch and Sam Gindin.” Socialist Register.S. *Artikel ini sebelumnya dimuat dalam buku untuk memperingati 80 tahun Joesoef Isa .com/hg/ekbis/2008/01/21/brk. 2003. o. 2004. McChesney. ―Pox Americana exposing the American Empire. 2004. itulah kunci kemenangan rakyat pekerja terhadap kekaisaran.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful