Krisis Kapitalisme Global

Krisis Kapitalisme Global Syamsul Hadi KTT G-8 di Toyako, Hokkaido, Jepang, yang baru saja berakhir terasa istimewa dengan kehadiran para pemimpin negara berkembang, seperti China, India, Meksiko, dan Indonesia. Pernyataan di akhir KTT dapat dilihat sebagai bentuk positioning negara-negara industri maju atas isuisu yang berkembang dalam skala global. Menghadapi kenaikan harga minyak dunia, forum menyerukan dialog antara negara produsen dan konsumen guna menekan harga. Terkait krisis pangan, forum menegaskan, komunitas internasional perlu melakukan respons dan strategi yang terintegrasi guna mengatasi kelangkaan pangan, dengan program bantuan pangan dan peningkatan produktivitas pertanian. Perdebatan paling alot terjadi dalam isu perubahan iklim. Negara-negara G-8, terutama AS, menyatakan tidak bisa mencapai target pengurangan emisi 50 persen tahun 2050 jika negara berkembang yang ekonominya sedang tumbuh pesat tidak melakukan hal yang sama. Krisis finansial Perdebatan alot dalam isu perubahan iklim seolah ‖menutup‖ perhatian atas masalah krusial lain, krisis finansial global yang berawal dari krisis subprime mortgage di AS. Pernyataan bersama G-8 memang menekankan komitmen untuk melakukan stabilisasi pasar finansial, tetapi tidak disinggung masalah melemahnya nilai dollar AS atas mata uang kuat lainnya (Kompas, 10/7). Padahal, ketidakmampuan AS untuk cepat mengatasi krisis subprime mortgage mendorong spekulan mengalihkan investasi ke komoditas pangan dan energi, yang mendorong naiknya harga pangan dan minyak dunia. Keterlibatan militer AS di Irak memperparah krisis energi. Mantan spekulan George Soros menyatakan, krisis global saat ini akan cepat berakhir dengan syarat perekonomian, terutama pasar uang, diatur ketat (Kompas, 4/4). Di mata Soros, akar krisis saat ini adalah kekacauan di sektor finansial yang dimulai sejak 1980 saat Ronald Reagan dan Margareth Thatcher memelopori kampanye neoliberalisme di tingkat global. Lemahnya posisi Pemerintah AS berhadapan dengan berbagai perusahaan hedge funds dan pengelola dana investasi untuk tujuan spekulasi telah diprediksi Susanne Soderberg. Dalam The Politics of the New International Financial Architecture (2004), Soderberg menggambarkan, hubungan Pemerintah AS dengan korporasi finansial yang berpusat di Wall Street adalah seperti hubungan Dr Frankenstein dan monster pintar ciptaannya. Dengan mensponsori penerapan rumus-rumus neoliberal, Pemerintah AS menumbuhkan ‖blok‖ kapitalis finansial yang menggurita di Wall Street, yang kemudian menjeratnya dalam ketidakberdayaan dan posisi serba salah akibat besarnya dominasi perekonomian mereka. Pernyataan menteri keuangan G-8 yang bertemu di Osaka, Juni, juga tak menyinggung perlunya memperketat aturan main sektor finansial global. Pernyataan hanya menyebutkan, Financial innovation has contributed significantly to global growth and development, but in the light of risks to financial stability, it is imperative that transparency and risk awareness be enhanced. Poin tentang sistem finansial ada di bagian terakhir statement bersama dan paling pendek dibandingkan poin-poin pernyataan terkait harga komoditas, perubahan iklim, dan pembangunan Afrika. Pertumbuhan tanpa batas? Dalam konteks perubahan iklim, upaya Jepang membuka jalan bagi penyusunan traktat internasional

baru menggantikan Protokol Kyoto yang habis masa berlakunya tahun 2012 pada KTT ini tidak berhasil. Memang dicapai ‖komitmen umum‖ untuk pengurangan emisi pada tahun 2050, tetapi tidak dicapai kesepakatan tentang bagaimana target itu secara spesifik harus dicapai. Pernyataan G-8 hanya menyatakan, tiap anggota G-8 akan menyusun target masing-masing untuk periode jangka menengah setelah tahun 2012. Menanggapi hal ini, para pemimpin China, India, Brasil, Afrika Selatan, dan Meksiko membuat pernyataan bersama yang menolak kewajiban tiap negara mengurangi emisi 50 persen dengan menekankan kewajiban negara maju memulai langkah-langkah nyata ke arah itu. Para aktivis lingkungan juga mengecam keengganan negara G-8, terutama AS, untuk memberi komitmen nyata dan mengikat terkait pemanasan global. Data Greenpeace International menunjukkan, meski hanya dihuni 13 persen populasi dunia, negara G-8 memproduksi 80 persen emisi di atmosfer dan 40 persen emisi CO>sub<2>res<>res<. Komitmen ‖samar-samar‖ yang diberikan G-8 dinilai tak sebanding dengan dampak perubahan iklim dan global warming yang menimbulkan dampak berantai berupa kekeringan dan bencana alam di dunia. Penurunan emisi karbon akan menurunkan pertumbuhan ekonomi, tetapi amat penting menjaga kelestarian alam dan penghidupan di bumi, yang memperburuk kualitasnya karena industrialisasi dan eksploitasi alam nyaris tanpa batas. Perbedaan pendapat dalam isu pemanasan global menunjukkan dominasi berkelanjutan paradigma pembangunan pertumbuhan ekonomi atas paradigma pembangunan berwawasan lingkungan. Sulitnya menyatukan langkah dalam mengatasi aneka masalah serius dalam krisis global saat ini seakan membenarkan prediksi Karl Marx, ‖krisis berkelanjutan‖ dalam sistem kapitalisme global senantiasa bersumber dari kecenderungan melakukan akumulasi kapital yang tak kenal batas. Syamsul Hadi Pengajar Departemen Hubungan Internasional FISIP-UI

Krisis Kapitalisme Global
Oleh Eric Hiariej

Search :

SEORANG sejarawan ekonomi non-marxis, Karl Polanyi, pernah berteori tentang gagalnya demokrasi di Eropa sepanjang dekade 1930-an. Dalam bukunyaThe Great Transformation, Polanyi berargumen kegagalan tersebut bersumber pada praktik self-regulating market yang sengaja memisahkan aktivitas ekonomi dari masyarakat, sembari menciptakan sistem produksi yang dominan dan menentukan kehidupan sosial sehari-hari. Praktik semacam ini tidak punya preseden historis karena sebelumnya konsep dasar ekonomi sekalipun tidak diperdebatkan secara terpisah dari human action. Baru setelah revolusi industri, gagasan tentang ekonomi yang independen terhadap masyarakat diterima sebagai keniscayaan. Praktik self-regulating market pada dasarnya membawa perubahan radikal dalam hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan manusia dengan barang yang diciptakannya. Alam sebagai tempat manusia hidup, berkembang dan berinteraksi berubah menjadi natural asset yang nilainya tidak lagi ditentukan tradisi, sejarah atau kepentingan bersama, melainkan diukur berdasarkan keseimbangan antara tingkat kelangkaan dan kebutuhan produksi. Dalam hubungan produksi; upah, gaji dan insentif menggantikan reprositas dan jaminan sosial dalam interaksi sosial antarsesama manusia. Sedangkan uang yang menjadi alat pertukaran dalam kerangka reprositas dan jaminan sosial, berkembang menjadi komoditas berharga yang bukan saja bisa diperjualbelikan, tapi juga berangsur-angsur mendominasi manusia yang menciptakannya. Tegasnya, self-regulating market melakukan kapitalisasi terhadap alam, manusia, dan barang, mengubahnya menjadi komoditas yang bisa mendatangkan keuntungan. Ketika menjadi komoditas; alam, manusia, dan barang tercerabut dari akar-akar sosialnya, menjadi sebatas harga sewa, upah, dan bunga. Dengan lain perkataan, praktik self regulating market menciptakan-meminjam Marx-fetisisme kehidupan sosial. Dalam kehidupan sosial yang fetisis masyarakat terbelah dua menjadi kelompok yang lebih beruntung karena mengendalikan kapitalisasi dan komodifikasi, dan kelompok yang merugi yang tidak memiliki akses ke faktor-faktor produksi. Kelompok merugi juga merupakan manusia-manusia yang "terasing" dari "kemanusiaannya" yang dieksploitasi kelompok beruntung atas nama "pertumbuhan ekonomi". Dickens menggambarkan situasi semacam ini sebagai social and moral breakdown, sedangkan Disraeli menyebutnya dengan the fracturing of society into 'two nations'.

Berita Lainnya :

• Bung Hatta Diadili • Kesehatan Reproduksi di • Kawasan Krisis Timur Kapitalisme • Global Perempuan dan Minuman • Botol POJOK • REDAKSI YTH

• TAJUK RENCANA

dan di Jerman dengan tampilnya Bismark. Tapi. aristokrasi pemilik tanah dan borjuis berkoalisi untuk menguasai pemerintah. pengangguran dan menurunnya investasi di negara-negara berkembang. upaya merebut kembali kendali ekonomi berhasil melembagakan dirinya dalam Fordisme dan kebijakan ekonomi Keynesian. Masih menurut Polanyi. Karenanya. self-regulating market tidak datang dengan sendirinya. terjadi upaya membebaskan ekonomi dari kontrol masyarakat yang merusak ikatan-ikatan sosial dan menciptakan konflik kelas. sembari membentuk kekuatan bersama melawan kelas menengah-bawah. praktik ekonomi ini melahirkan double movement dalam sebuah dialektika historis. Cerita globalisasi ekonomi bermula dari krisis ekonomi di awal 1970-an. dengan bertebarannya gerakan-gerakan anti-globalisasi di berbagai belahan dunia. Di saat bersamaan. keduanya mengampanyekan bringing the market back in. Pada fase berikutnya. Globalisasi ekonomi juga menciptakan double movement. Sedangkan di Perancis self-regulating market diikuti dengan second empire dari 1851-1871. terutama. Upaya ini dilakukan. economies of scope. seraya membenahi efek-efek sosial negatif yang ditimbulkan kapitalisasi dan komodifikasi. Menjawab krisis yang sedang menganga. Globalisasi ekonomi itu sendiri tak lain dari self-regulating market dalam penyamaran yang kembali membebaskan dirinya dari kontrol masyarakat. Fordisme dan kebijakan Keynesian kemudian berhasil memberikan demokrasi dan kesejahteraan ekonomi. masyarakat berangsur-angsur merebut kembali kendali atas kehidupan ekonomi. Fordisme dan kebijakan Keynesian melewati masa emasnya. di wilayah politik melalui perjuangan menuntut demokrasi yang dilakukan kelompok sosial marginal. kubu konservatif melalui Thatcher di Inggris dan Reagan di Amerika berhasil menguasai pemerintah. . melindungi transaksi ekonomi dari perilaku yang melenceng. Pada fase pertama. proderegulasi dan menghendaki perdagangan bebas. dan menjaga nilai uang sebagai media pertukaran. setelah berakhirnya PD II. *** TAMPAKNYA. penumpukan produksi. Situasi tersebut masih diperparah dengan meningkatnya harga bahan bakar minyak dan perlombaan senjata Amerika dan Soviet yang menguras banyak modal.Menurut Polanyi. sistematisasi produksi dan sistem kerja self-employment. Kebijakan Keynesian disingkirkan oleh model ekonomi neo-liberal yang antiintervensi negara. paling tidak untuk negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Utara sampai awal dekade 1970-an. Di Inggris semenjak 1840. penerapan pasar bebas di masa-masa itu terjadi bersamaan dengan tampilnya "negara kuat" di beberapa tempat. berubah menjadi inflasi. sembari menciptakan fetisisme kehidupan sosial jilid dua. Yang jelas. negara berperan besar menjamin property rights. Sebaliknya. Fordisme digantikan sistem produksi (yang kemudian disebut) PostFordisme yang lebih menekankan fleksibilitas. argumentasi Polanyi belum terlalu usang untuk menjelaskan "globalisasi ekonomi" yang melanda dunia sejak dekade 1980-an. perjuangan demokratisasi di fase kedua memperoleh tantangan dari Fasisme dan Stalinisme. Seperti yang diperkirakan. Negara juga harus kuat agar mampu menahan gempuran kelas bawah dari kota maupun desa.

IMF dan World Bank mengekspor "Washington Consensus" ke negara-negara berkembang. dan anti-globalisasi. kemajuan teknologi memungkinkan pemilik kapital merelokasi usahanya ke tempat yang paling menguntungkan. mempermasalahkan globalisasi karena mudahnya perpindahan manusia melampaui batas teritori membawa kerugian sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat. Nasionalisme juga ingin mengembalikan (kejayaan) negara-negara yang diterjang habis-habisan . melancarkan investasi asing. selfregulating market jilid dua ini menciptakan kesenjangan global. privatisasi perusahaan negara. buruh maupun petani berunjuk rasa menolak Uni Eropa. menciptakan individualisasi proses produksi ketika kontribusi buruh terhadap produksi dihitung sendiri-sendiri berdasarkan kontrak individual. Di Seattle. melalui pendalaman kapitalisasi dan komodifikasi di sektor perdagangan. Lalu. dan orang-orang Afrika yang sekarat karena kelaparan di Somalia. liberalisasi perdagangan. di antaranya. Pertama-tama. dan World Bank. Kemudian. Washington. Akibatnya. produksi. Sedangkan di sektor finansial. Gerakan ini bukan saja melawan ideologi dominan (neo-liberalisme) di balik self-regulating market. dan negara. Perbedaan sosial semakin menajam dan terpolarisasi ketika yang kaya bertambah kaya. kelompok Neo-Nazi. di antaranya. kekuatan buruh untuk melawan kondisi kerja yang buruk secara kolektif menjadi berkurang. dan finansial. berbagai kelompok sosial lintas etnik. Globalisasi ekonomi kemudian tanpa bisa dibendung menjelma menjadi ekspansi pasar bebas ke seluruh dunia dan aspek kehidupan. agama. nasionalisme. mendorong nilai tukar yang kompetitif. Jika dikategorikan. dan perlindungan terhadap property rights. Di Eropa. berbagai bentuk perlawanan muncul di mana-mana. Gerakan fundamentalisme mengedepankan "agama" sebagai solusi terbaik untuk mengembalikan kontrol sosial atas ekonomi. Melbourne. liberalisasi finansial. Oleh karena itu. tapi juga menentang kekuatan politik (terutama pemerintah Amerika) yang membentengi globalisasi. Sementara di sektor produksi. Di Meksiko. mengurangi belanja publik. self-regulating market melahirkan milyuner semacam Bill Gate di tengah-tengah buruh-buruh pabrik sepatu yang tertindas di Tangerang. seraya mengintegrasikan berbagai tingkatan yang berbeda dari setiap aktivitas nilai tambah dalam sebuah jaringan global. melalui structural adjustment program. sekurangnya terdapat tiga macam gerakan perlawanan. IMF. globalisasi ekonomi melahirkan disparitas. Nasionalisme merupakan bentuk perlawanan yang ingin meraih kendali kehidupan ekonomi melalui purifikasi bangsa. Panduan ini berisi kebijakan-kebijakan semacam menjamin disiplin fiskal. kadar eksploitasi juga meningkat pesat. Post-Fordisme dan ekonomi neo-liberal dibakukan dalam "Washington Consensus" yang tak lain dari panduan mengembangkan self-regulating market bagi seluruh negara di dunia. Di sektor perdagangan. kelas. Globalisasi ekonomi. kebebasan perpindahan uang mencari lokasi yang paling menguntungkan menjadikan uang itu sendiri sebagai komoditas yang mendatangkan keuntungan. para petani melalui pemberontakan Chiapas menentang perdagangan bebas ala Nafta.Selanjutnya. Kebijakan-kebijakan neo-liberal pada awalnya menyebar ke Eropa Barat dan Jepang. Seperti yang diduga. sedangkan yang miskin bertambah melarat. Pendek kata. Banten. Gerakan ini. berdemonstrasi menolak WTO. yakni fundamentalisme. reformasi pajak. globalisasi menciptakan New International Divison of Labour berdasarkan perbedaan produk suku-cadang dalam sebuah sistem produksi global. deregulasi ekonomi. dan Genoa. Chiangmay.

Namun. dan peneliti Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta. antiglobalisasi adalah gerakan perlawanan terhadap kapitalisme global. di antaranya. Sementara globalisasi ekonomi mulai sempoyongan karena gagal memenuhi janjinya memberikan kesejahteraan. menuntut inklusi politik yang lebih luas dan juga partisipasi masyarakat dalam kehidupan ekonomi dan sosial sehari-hari. Yang menarik. menghendaki kebebasan politik maupun keadilan ekonomi. Gerakan ini memperjuangkan kepentingan kelas tertindas. Gerakan ini menganggap globalisasi ekonomi merupakan sumber kemiskinan dan kesenjangan sosial dunia kontemporer. Eric Hiariej Staf Fisipol UGM. Sebaliknya. ujung dari krisis ini bisa jadi bukan demokrasi. Boleh dibilang pertemuan Davos yang melibatkan beberapa NGO yang sangat moderat tidak akan berlangsung jika tidak diawali sebelumnya dengan demonstrasi di Seattle. baru itu saja kekuatan gerakan anti-globalisasi.oleh self-regulating market. Sementara itu. Praktis. kemenangan "demokrasi" berada di bawah bayang-bayang ancaman Fasisme dan Stalinisme. Sementara globalisasi ekonomi mulai dipertanyakan dan ditentang. . Sejauh ini gerakan antiglobalisasi sudah memberikan perlawanan yang berarti. Polanyi juga mengingatkan. gerakan anti-globalisasi lebih dekat dengan ide-ide demokrasi. dibanding dua gerakan lainnya. yang terjadi adalah krisis global. situasinya menjadi stalemate. peneliti pada Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM. sekalipun Post-Fordisme dan kebijakan ekonomi neo-liberal terbukti mengandung krisis-krisis bawaan. praktik welfare state. yang tak lain dari Fordisme dan kebijakan Keynesian yang bertumpu pada kompromi kebutuhan kesejahteraan buruh dan kepentingan akumulasi kapital pemilik modal melalui. jika fundamentalisme atau nasionalisme yang berhasil mendominasi. "kemenangan demokrasi" masih harus diperjuangkan. Tampaknya. resistensi terhadap ekspansi pasar bebas tidak cukup kuat untuk memenangkan pertarungan. gerakan-gerakan perlawanan ini belum juga berhasil mengakhiri self-regulating market. Belum lagi gerakan ini masih harus berurusan dengan fundamentalisme dan nasionalisme yang memiliki proyeksi dunia masa depan yang berbeda (dan bisa jadi bukan demokrasi). *** BERDASARKAN cerita Polanyi. Lebih gawat lagi. Akan tetapi. "demokrasi" baru bisa menang (di Eropa Barat dan Amerika Utara) setelah beraliansi dengan Stalinisme untuk mengalahkan Fasisme dalam PD II. self-regulating market akan berakhir dengan "demokrasi". Ironinya.

Kepemimpinan Indonesia. Hal ini terwujud dalam Sistem Desentralisasi yang secara legal dilahirkan lewat UndangUndang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian menyebabkan Perubahan Kedua UUD 1945 seperti tertuang pada Bab VI Pemerintahan Daerah pasal 18. berpartisipasi aktif. Community Development. dan kekhususan suatu daerah dalam sistem NKRI. pemberdayaan. terutama berhubungan antarpelaku pembangunan. Ketua DPD RI. Komitmen ini telah . ―Perubahan aturan main mengenai pemerintahan daerah merupakan afirmasi-konstitusi. Saat ini pelaksanaan otonomi daerah telah melahirkan perubahan yang cukup signifikan. dan 18B. Namun dalam prakteknya otonomi daerah masih menghadapi kendala yang harus segera dicarikan jalan keluarnya atau penanganannya secara sungguh-sungguh. bahwa daerah menjadi pengambil kebijakan sentral dalam mengatur dan mengurus pemerintahannya sendiri menurut asas otonomi dan tugas pembantuan (medebewind) serta diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. pemerintah melontarkan komitmen yang berlevel internasional. reformasi melahirkan sistem pembagian kekuasaan yang mulai terdistribusi antara pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah. pemerataan. masyarakat diharapkan memiliki daya tahan dan daya adaptasi yang tinggi agar mampu menjalani kehidupan masa depan dengan sukses. Untuk mencapai tujuan pembangunan masyarakat agar lebih berdaya. Di tengah era globalisasi yang serba cepat. serta penuh dengan kreativitas. pelaksanaan.Konsep dan Metode Pemberdayaan Masyarakat Indonesia 17 June 2008 in Psikologi. 18A. pemikiran anak muda | Tags: Appreciative Inquiry. keadilan. Ginandjar Kartasasmita. dan pengawasan pembangunan. Jika pada era Orde Baru kekuasaan sangat bersifat sentralistik. Salah satu kendala yang dipaparkan oleh Ginandjar Kartasasmita adalah kurangnya kreativitas dan partisipasi masyarakat secara lebih kritis dan rasional. Pemberdayaan Masyarakat. dan peran serta masyarakat serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi. keistimewaan. pengambilan keputusan dalam perencanaan. Psikologi | Reformasi yang telah bergulir sejak tahun 1998 memberikan dampak yang luas pada perubahan sistem pemerintahan. Perubahan aturan negara seperti di atas menempatkan daerah menjadi aktor sentral dalam pengelolaan republic yaitu dalam prinsip otonomi dengan desentralisasinya. Menurut Prof.

Dengan demikian individu. Dengan demikian. walaupun pada tahun 2006 terdapat peningkatan ranking ke 110 (UNDP. ternyata peringkat Indonesia masih berada di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya. provinsi. atau mengambil kendali perubahan. kabupaten/kota bersama-sama dengan berbagai unsur masyarakat memikul tanggungjawab utama untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan sekaligus memberantas kemiskinan yang terjadi di Indonesia paling lambat tahun 2015. membuat semakin sulit bagi seorang individu untuk menghadapi perubahan sendirian. Sebagaimana kita alami. menyesuaikan diri. namun dalam Human Development Report 2007 yang dikeluarkan oleh UNDP. Peringkat Indonesia dari tahun ketahun selalu menurun dari 110 menjadi peringkat 112 dari 175 negara yang dinilai UNDP (2003). baik pemerintah pusat. Kendati Indonesia ikut serta dalam kesepakatan global melaksanakan MDGs untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dicanangkan PBB sejak 2000. pemerintah Indonesia telah membuat komitmen nasional untuk memberantas kemiskinan dalam rangka pelaksanaan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). 2000). yang merupakan perubahan disektor ekonomi dan . 2007). Hasil deklarasi tersebut kemudian dituangkan dalam dokumen ”Rencana Pelaksanaan KTT Pembangunan Berkelanjutan”. kompleks. Afrika Selatan. Dalam MDGs tersebut. Dalam laporan tersebut. HDI atau IPM Indonesia yang diukur dari pendapatan riil per kapita. Dimana pemerintah dan semua perangkatnya dalam semua level. penuh resiko. kelompok atau komunitas harus melakukan berbagai upaya untuk ikut berubah. September 2002. Komitmen semua negara di dunia untuk memberantas kemiskinan ditegaskan dan dikokohkan kembali dalam ”Deklarasi Johannesburg mengenai Pembangunan Berkelanjutan” yang disepakati oleh para kepala negara atau kepala pemerintahan dari 165 negara yang hadir pada KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg. terdapat 8 (delapan) tujuan (goal) yang hendak dicapai sampai tahun 2015 oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia. terkecil sekalipun. tingkat melek huruf dan kualitas pendidikan dasarnya. yang juga telah ditandatangani oleh pemerintah Indonesia untuk menjadi acuan dalam melaksanakan pembangunan di Indonesia dengan target memberantas kemiskinan pada tahun 2015. Apalagi melihat kenyataan.ditandatangani dalam KTT Millenium PBB pada tahun 2002 bersama 189 negara lainnya. era ini merupakan kehidupan yang bercirikan perubahan yang cepat. dengan tujuan pertama adalah mengatasi dan/atau memberantas kemiskinan dan kelaparan (United Nations. dan dunia sebagai totalitas. menunjukkan bahwa kualitas manusia Indonesia makin memburuk dalam 10 tahun terakhir. tingkat harapan hidup. dan penuh dengan kejutan. Dalam deklarasinya negara peserta menerapkan Tujuan Pembangunan Milenium atau Millennium Development Goals (MDGs). Di sisi lain interdependensi antara komunitas. kenaikan harga BBM misalnya.

2002. Di sisi lain. Pendekatan Deficit-based terpusat pada berbagai macam permasalahan yang ada serta cara-cara penyelesaiannya. penyelesaian cara pemecahan yang tepat. Sejak tahun 1960. Kesesuaian antara kebijakan pemerintah dengan konsep pemberdayaan masyarakat seperti CD ini membutuhkan pendekatan yang tepat dalam mengimplementasikannya. 2004). mengarahkan proses merger dan akusisi dan menyelesaikan konflik. CD adalah bekerja bersama masyarakat sehingga mereka dapat mendefinisikan dan menangani masalah. 2001). Dalam bidang sosial.. 2000. serta terbuka untuk menyatakan kepentingankepentingannya sendiri dalam proses pengambilan keputusan (StandingConference for Community Development. dan pengembangan kualitas hidup masyarakat (United States Departement of Agriculture. Ludema dkk. 2005). menciptakan pembaharuan organisasi. Appreciative Inquiry digunakan untuk memberdayakan komunitas pinggiran. Dalam pelaksanaannya. Pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari sudut pandang Deficit based dan Strength Based. Appreciative Inquiry merupakan sebuah metode yang mentransformasikan kapasitas sistem manusia untuk perubahan yang positif dengan memfokuskan pada pengalaman positif dan masa depan yang penuh dengan harapan (Cooperrider dan Srivastva. CD tidak bertujuan untuk mencari dan menetapkan solusi. dalam Gergen dkk. dan menciptakan perdamaian.. lahir sebuah konsep pemberdayaan komunitas yang disebut Community Development (selanjutnya disebut CD). pendekatan ini bisa menghasilkan sesuatu yang baik. CD adalah sebuah proses pembangunan jejaring interaksi dalam rangka meningkatkan kapasitas dari sebuah komunitas.energi akan mempengaruhi sector kehidupan yang lain. membangun pemimpin religius. melakukan transformasi komunitas. Fry dkk. seperti untuk mengubah budaya sebuah organisasi. tetapi tidak tertutup kemungkinan terjadinya situasi saling menyalahkan atas masalah yang terjadi. Cooperrider dkk. mendukung pembangunan berkelanjutan. perubahan kota. pendekatan Strengh Based (Berbasis kekuatan) dengan sebuah produk metode Appreciative Inquiry terpusat pada potensi-potensi atau kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh individu atau organisasi untuk menjadikan hidup lebih baik. struktur penyelesaian masalahatau menghadirkan pelayanan bagi masyarakat. Appreciative Inquiry menjadi sangat populer dan dipraktekkan di berbagai wilayah dunia. Dalam sepuluh tahun terakhir. serta penerapan cara pemecahan tersebut. . Keberhasilannya tergantung pada adanya identifikasi dan diagnosis yang jelas terhadap masalah. 1987. 2000. Pengembangan otonomi daerah yang diarahkan pada partisipasi aktif dari masyarakat sangat sesuai dengan konsep yang ditawarkan oleh CD.

org. 2002. Disampaikan pada Seminar Nasional. Ginandjar. pukul 11. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2006.28) http://www.com/doc/732997/laporanlokakaryaAIlowres (Diakses pada 29 Mei 2008.org/ M. http://ocdi. pukul 11. http://www.Sumber: Buku Cooperrider D. Husein Sawit 22 spt 2008 USULAN KEBIJAKAN BERAS DARI BANK DUNIA: RESEP YANG KELIRU ABSTRAK .50) Standing Conference for Community Development (2001).gov http://www. Tahun 2006 Internet http://appreciativeorganization. Bandung.sccd.com/2007/08/08/bedah-kasus-appreciative-inquiry-instrategic-planning/ (Diakses pada 26 Mei 2008. Makalah: Dewan Perwakilan Daerah dan Otonomi Daerah. Institut Teknologi Bandung (ITB) Dalam Rangka Memperingati Seratus Tahun Kebangkitan Nasional. Theresiah. 1. Dipresentasikan pada Temu Ilmiah Dalam Rangka LUSTRUM IX Fakultas Psikologi Unpad. Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia. Community Development Technical Assistance: Handbook.scribd. & Whitney D. Lubis.wordpress.usda. 2-3) Sairin. Makalah Kartasasmita.ekonomirakyat. A Positive Revolution in Change: Appreciative Inquiry (Vol.uk United States Depatment of Agriculture (2005). Strategic Framework for Community Development. Sjafri. 17 Mei 2008. Makalah : Community Development dan Nilai-Nilai yang Mendasari. L. pp.

Domain Publik bukan Domain Peneliti Bank Dunia seharusnya memahami benar. serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor pertanian di mana penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya. apalagi oleh lembaga asing yang kurang memahami rumah tangga petani dan masyarakat desa secara mendalam. melepas cadangan beras nasional ke swasta. mendorong agar swasta diperankan sebagai stabilisator harga dalam negeri. Namun dalam era demokrasi. partai politik. Bank Dunia semakin aktif melobi dan menawarkan resep buat pemerintah.haruslah lebih besar. ciptakan lapangan kerja. Mereka yakin sekali. perbankan dikuasai oleh perusahaan asing. hampir setiap hari ada saja demonstrasi ke kantor proyek Bank Dunia. diperkirakan itu akan sulit diimplementasi di lapangan. belum belajar dari kekecewaan masyarakat Indonesia atas keambrukan ekonomi. tidak boleh didikte oleh segelintir para ahli. Disamping itu. kelakuan Bank Dunia belum banyak berubah di era desentralisasi dan demokrasi. Itu konsep pengentasan kemiskinan yang keliru. Yang benar adalah gerakan sektor riil. DPR. pemerintah daerah. tidak boleh didikte oleh peneliti. Pada era sentralisasi Orba. Itu akibat dari peri laku mereka sebagai salah satu lembaga perusak ekonomi. dan peneliti dalam merancang kebijakan publik. Pemda. para teknokrat dan birokrat –dibantu oleh tenaga ahli asing. pasar dapat menyelesaikan instabilitas harga. Kelemahan itu mencakup pengukuran kemiskinan yang terlalu sempit. terjerat hutang luar negeri. Seharusnya yang diberi peran besar adalah masyarakat sipil. Tampaknya. Lembaga pemerintah seperti Bulog dianggap tidak becus dalam melaksanakan fungsinya. termasuk kebijakan perberasan. Bukan membuat harga beras murah. Bank Dunia terpaksa harus menghilangkan atribut Bank Dunia di kantor di mana proyek mereka ada. apabila saran-saran mereka diterapkan pemerintah. Perilaku Bank Dunia di Indonesia tampaknya belum berubah. apabila kurang dukungan publik. Sebaik apapun saran Bank Dunia. masyarakat Indonesia pasti mencurigainya. dan liberalisasi impor. Itu bukan lagi menjadi domain peneliti. sehingga mereka tidak nyaman bekerja. Pendapat Bank Dunia termasuk juga berbagai hasil penelitiannya. dan bias jangka pendek. Akhir-akhir ini. bukan melihat kemiskinan manusia yang bersifat struktural dan kronis. Bank Dunia semakin sering mengeritik pemerintah tentang kenaikan harga beras. bahwa kemiskinan di negera-negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan pangan. terutama yang dikaitkan dengan kemiskinan. tidak kredibel di mata masyarakat luas di Indonesia. kurang dukungan Pemda. DPR/DRPD. termasuk ekonomi Indonesia (Perkin 2004). agar Indonesia menempuh privatisasi lembaga pangan. Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi pembangunan. Kebijakan beras itu adalah domain kebijakan publik. Lembaga ini telah lama mengeritik dan menintervensi sejumlah kebijakan pembangunan ekonomi.berperan besar dalam mendikte kepentingan masyarakat banyak. Di Makasar misalnya. Dalam makalah ini dibahas tentang kelemahan cara pandang Bank Dunia terhadap kebijakan beras di Indonesia. ini akibat dari reputasi mereka masa lalu. maupun kemiskinan (World Bank 2007). baik terbuka maupun tertutup. peran masyarakat dalam proses penyusunan kebijakan publikseperti kebijakan beras. seperti Bank Dunia. Kebijakan beras harus mendapat dukungan luas dari masyarakat sipil. Pendahuluan Sejak akhir 2006.Kebijakan perberasan Indonesia telah menjadi perhatian buat sejumlah lembaga internasional. Sebelumnya. serta akan selalu dipersoalkan . apalagi ahli asing. serta terlalu banyaknya sumberdaya alam. tentang cara-cara menyusun kebijakan publik di era demokrasi. Tujuan makalah ini adalah untuk menilai kelemahan cara pandangan yang bias tentang kebijakan beras Bank Dunia. Industri padi/beras adalah salah satu diantaranya.

Bank Dunia langsung menyampaikan gagasannya ke tingkat pengambilan keputusan tentang kebijakan beras ke Kantor Menko Perekonomian atau ke sejumlah menteri lain yang sealiran dengan Bank Dunia.33 Ha. Wilayah Petani % RT Miskin Kg. data SUSENAS BPS memperlihatkan sebaliknya. hasil studi intensif yang dilakukan oleh Sumaryanto dkk (2002) di DAS Brantas dilaporkan sebaliknya. banyak studi tentang padi/beras yang telah dilakukan oleh para ahli bangsa Indonesia. Ini keterlaluan. Kebijakan beras yang mereka susun itu (Bank Dunia 2007) melulu mengacu ke literatur asing. Tetapi. masing-masing seluas 0./ kapita Hulu 42.oleh DPR/DPRD. tetapi diabaikan tanpa dipakai sebagai bahan rujukan. MK1 (musim kemarau pertama) dan MK2. Para petani mengelola usahatani padi untuk MH. ada power point tentang kebijakan beras Bank Dunia disiapkan untuk SBY.5 120 HHTOTAL Kg. Data itulah yang dipakai Bank Dunia untuk mempertahankan argumentasinya./ Kapita 120. Data SUSENAS haruslah dianalisa dengan hati-hati dalam kaitannya dengan estimasi produksi musiman dan pengeluaran musiman. Pola panen padi adalah musiman.23 Ha per petani.6 . Namun. kemudian dikalikan menjadi tahunan. Namun mereka mencoba mempengaruhi sejumlah menteri ekonomi yang beraliran neo liberal. Dari total hampir 100 jumlah literatur. Ini adalah jumlah yang dikonsumsi langsung oleh rumah tangga tani. khususnya padi di Indonesia. dan defisit hanya pada MP (musim paceklik). seolah-olah terjadi sepanjang tahun. mereka surplus pada MPR (musim panen raya) dan MPG (musim panen gadu). Ini menunjukan juga bagaimana miskinnya Bank Dunia dalam memahami pikiran para ahli Indonesia. sebagian besar petani padi adalah net konsumen. Table 1. baik dengan cara mengundang sejumlah ahli Indonesia ke markas mereka di Jakarta. belum termasuk konsumsi tidak langsung seperti makan di warung.35 Ha. Mereka melaporkan bahwa konsumsi per kapita sebesar 107 Kg/kap/tahun (Table 1). mereka menghindari diskusi terbuka dengan masyarakat luas (civil society) atau dengan para pakar Indonesia di luar kubu mereka.6 57. Pandangan ini adalah keliru. Namun./ Kapita 114. pesta. Hasilnya adalah defisit produksi (net consumer). Jawa Timur: 1999/2000. tempat kerja dll. SUSENAS menaksir tahunan berdasarkan hasil penelitian seminggu.5 Petani Miskin % RT Tidak Kg. dan 0. 0. Luas ini adalah umum dijumpai pada usahatani pangan. Net Konsumen? Data Susenas vs data Tingkat Usahatani Bank Dunia mengatakan bahwa telah terjadi kenaikan jumlah orang miskin yang cukup serius sejak harga beras naik. Padahal.5 106. hanya 3-4 literatur yang ditulis oleh orang Indonesia asli. karena sebagian besar petani adalah net konsumen. Bank Dunia juga rajin menyampaikan gagasan perubahan kebijakan beras pada berbagai forum sejak akhir 2006. seperti di lembaga PBB (CAPSA) di Bogor. Atau mengadakan seminar di luarnya. Penulis juga kaget. Itu buruk buat penduduk miskin. Per kapita konsumsi beras oleh petani miskin dan petani tidak miskin di DAS Brantas.

Mereka tidak menilai peran pangan. kemiskinan jangka panjang dapat dikurangi secara berkelanjutan.2 47.7 109. stabilitas ekonomi. Keredupan ini.5 200 160 480 105. Kita tidak boleh menghambat suatu industri yang punya keunggulan komperatif. pengangguran tinggi.2 101. menyerap tenaga kerja yang begitu besar. Kembali ke harga. Konsumen seharusnya perlu membayar harga beras lebih tinggi dari tingkat harga pasar. tidak mampu menutupi ongkos produksi.0 56. dipaksakan untuk keluar . tidak dianalisa secara parsial. Pada MK2. tidaklah tepat untuk mengasumsikan bahwa semua petani sempit sebagai net konsumen sepanjang tahun. Marketable surplus di musim hujan lebih tinggi dari MK1. penyerapan tenaga kerja. Tingkat kemiskinan yang dikaitkan dengan harga beras. Harga beras yang berlaku di pasar belum memperhitungkan non-food services yang ia berikan ke publik (Dillon dkk 1999).2 105.0 43. Insentif harga dan non-harga akan saling memperkuat. merupakan insentif lain yang tidak boleh dibaikan. jangan bias ke jangka pendek. khususnya beras yang menghasilkan non-food services. Itu menyangkut stabilitas politik.9 103.1 48. Terungkap adanya marketablesurplus 1) sekitar 354 Kg/kap/tahun. namun itu bukanlah satu-satunya insentif buat mereka. terutama di perdesaan. sekiranya non-food services itu diperhitungkan. namun negatif pada MK2. manakala industri beras/padi redup. sehingga luas usahatani merosot (Sumaryanto dkk 2002). Kalau suatu industri yang erat kaitannya ke depan dan kebelakang. Adalah hampir tidak mungkin.1 107. khususnya pembangunan perdesaan. Oleh karena itu. merupakan cara pandang sempit.9 51.3 Note: RT=Rumah tangga Sumber: Sumaryanto dkk (2002) Rataan produksi padi sekitar 462 Kg/kapita/tahun. Peningkatan produktivitas dan efisiensi. itu terkait dengan non-price incentive. maka industri itu harus dianalisa keterkaitannya yang luas.7 107.3 102. Itu hanya cara hitung menghitung. Keputusan konsumsi dan pengeluaran bergantung pada asumsi itu. bukan saling menggantikan. atau hanya net konsumen di musim paceklik (MK2). bahwa padi/beras adalah industri kunci dalam pembangunan. distribusi pendapatan.6 107. Kita jangan mengorbankan kepentingan jangka panjang. hanya sekedar untuk mencapai kepentingan jangka pendek. sebagai salah satu insentif buat pelaku usaha. asumsi net konsumen untuk petani padi adalah tidak didukung oleh data empiris. insentif non-harga tidak ampuh manakala harga gabah/beras terlalu rendah. Oleh karena itu. seperti hortikultura. 1) Marketable surplus adalah produksi dikurangi konsumsi rumah tangga yang sedang dipelajari Terabaikan Peran Non-Food Services Seterusnya. Yang benar adalah mereka net produsen pada dua musim pertama. laporan Bank Dunia (2007) itu juga terlalu sempit dalam melihat industri beras yaitu hanya sebagai industri penghasil padi/beras untuk tujuan komersial belaka. Oleh karena itu. Oleh karena itu. banyak petani tidak tanam padi karena kekurangan air. industri padi/beras harus dilihat dengan hati-hati dan bijaksana. Seperti yang telah dibahas sebelumnya.Tengah Hilir Total 53. tidak dengan sendirinya akan tergantikan oleh komoditas lain. amat jangka pendek dan ad hoc sifatnya.

Pada situasi pengangguran tinggi dan penggangguran tidak kentara di desa amat menonjol. terutama dalam penyimpanan. dan 2003. Ia juga menyebutkan bahwa hasil penelitiannya dan penelitian lain seperti yang dilakukan UNIDO dan UNSFIR. harga beras dianggap sebagai faktor penyebabnya. Apabila mereka beralih ke sektor lain dalam kondisi infrastruktur itu belum diperkuat. Mengotak atik harga pangan agar dibuat murah. Itu buah dari urbanisasi yang berlebih. Insentif harga adalah salah satu yang tidak boleh diabaikan untuk itu. pada saat harga beras turun murah yaitu terjadi pada periode import surge yang tinggi periode 1998. akan berisiko tinggi dan instabilitas harga yang besar. maka risikonya menjadi besar. Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi. Bukan membuat harga pangan atau beras murah sehingga menjadi tidak wajar buat petani. tidak sebaliknya. Perkotaan akan menerima beban dan akibatnya. Penanganan kentang berbeda dengan jagung. ciptakan lapangan kerja. produktivitas rendah. Itu tidak akan mampu mengurangi jumlah orang miskin secara berkelanjutan. Rendahnya pengeluaran keluarga miskin akibat dari ketidakmampuan mereka untuk memperoleh pendapatan yang layak. Itu amat tidak realistis. Industri padi/beras adalah salah satu diantaranya. Peningkatan pendapatan dari pekerjaan yang mereka tekuni. Harga Beras dan Kemiskinan: Keganjilan Analisa Kelemahan lain kaitan harga beras dengan kemiskinan yang dibuat Bank Dunia. sama saja memberi obat penghilang rasa rasa sakit sementara (pin killer). Beras memang besar kontribusinya dalam inflasi. kriminalitas dan keresahan sosial yang terus bertambah. Ia juga mengatakan bahwa adalah keliru kalau memfokuskan pengentasan kemiskinan dari sisi pengeluaran dan harga. Pengembangan hortikultura misalnya. telah dibahas dengan baik oleh Sugema (2006). apalagi kemiskinan. mendorong aktivitas padat kerja adalah solusi yang tepat untuk atasi . Sebagian juga bermigrasi ke AS (IATP 2007a dan Albert 2004). Penyakit utama adalah lapangan kerja yang terbatas. Itu konsep pengentasan kemiskinan yang keliru. karena pemerintah belum menyiapkan infrastruktur yang layak untuk itu. maka akan menggiring petani sempit untuk menanggung risiko yang tinggi. Pada saat kita mengabaikan sektor kunci seperti sub-sektor padi/beras. Penyebab inflasi tidak sama dengan komponen inflasi. meningkatkan produktivitas kerja. Yang terjadi adalah peningkatan kemiskinan dan pegangguran di perdesaan Mexiko. serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor pertanian di mana penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya. Namun petani Mexiko tidak beralih ke tananam kentang. Perdagangan tentu tidak dapat menyelesaikan semua itu. itu akan menambah kemiskinan dan akan mendorong bertambahnya urbanisasi. Namun. Yang benar adalah gerakan sektor riil. mereka pindah ke kota. insentif untuk bekerja di sektor pertanian merosot. pada saat harga beras naik. dan petani jagung dialihkan ke kentang. yang belum tentu penyebab inflasi itu sendiri. padahal industri lain belum kuat terbangun. 23%.dari industri itu. Namun peran non-beras jauh lebih tinggi mencapai 77%. karena infrastruktur pemasaran dan distribusi yang masih amat lemah. menemukan bahwa angka kemiskinan BPS amat sensitif dari pengaruh inflasi. Harga beras adalah komponen inflasi. mengabaikan peningkatan pendapatan serta lapangan kerja di perdesaan. bahwa kemiskinan di negera-negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan pangan. seperti kekumuhan. Itu mengingatkan pengalaman Mexiko dalam meliberalisasi komoditas jagung sebagai makanan utama mereka. tetapi tidak menyembuhkan penyakit itu sendiri. 2002. ternyata jumlah orang miskin tetap tidak berkurang secara signifikan. Ia mengatakan bahwa Bank Dunia keliru dalam menyimpulkan hubungan itu. Demikian juga.

sehingga harga pasar jenis itu tidak terkait sama sekali (almost completely disconnected) dengan beras lokal.kemiskinan (Sugema 2006). sehingga berkurang pula kemampuannya untuk menyerap pengadaan beras/gabah dalam negeri. UNDP telah membuat indek tentang itu. yang disebut Human Development Index. Bappenas dan UNDP. bukan kemiskinan pengeluaran. Ini seharusnya menjadi acuan kita. Capability poverty terkait dengan kemiskinan struktural dan kronis. bandingkan dengan kemiskinan pendapatan BPS hanya 11% pada 1996. Tingkat kemiskinan itu tidak sensitif terhadap harga maupun inflasi. serta adanya intervensi pemerintah yang terarah ke orang miskin. maka harga beras atau pangan tidaklah sensitif sebagai penyebab kemiskinan. Belum banyak memberikan perhatian pada konsep Sen (2000) tentang kemiskinan non-pendapatan. pendidikan dan pangan. Atau itu telah memperbesar stok Bulog. Pengukuran kemiskinan sebelum krisis terlalu banyak bersandar pada kemiskinan pendapatan berdasarkan indikator konsumsi. tentunya juga ke Indonesia. Itu hanya mungkin dipecahkan oleh pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. juga dana untuk pendidikan. AS berperan penting dalam impor beras ke Indonesia. Sen mengatakan bahwa poverty as capability deprivation. hanya 9 ribu ton. Dengan konsep ini Dhanani dan Islam (2000) misalnya. Kemiskinan sebagai kehilangan/ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti kesehatan. pertumbuhan yang pro-poor. Beras dari AS yang murah harganya. adalah tahun-tahun tertinggi impor beras dari AS yaitu mencapai masing-masing 178 ribu dan 108 ribu ton. Sayang. hanya 2 ribu ton pada 2005 (Tabel 2). bukan kemiskinan pendapatan. perumahan. Atas dasar inilah kemudian UNDP merancang kemiskinan manusia. diterbitkan oleh BPS. Hampir separoh impor beras ke Indonesia yang datang dari negara maju berasal dari AS. meningkat menjadi 75 ribu ton pada 1999. sehingga menghasilkan jenis beras baru dengan harga yang lebih murah. Tabel l 2. akses terhadap air minum yang bersih. Ini untuk membuktikan bahwa Indonesia tidak perlu kuatir dengan beras yang penuh subsidi berasal dari AS tidak akan berpengaruh besar ke pasar beras dalam negeri. kalau konsep kemiskinan manusia yang dipakai. Impor Beras Indonesia dari Negara Maju dan AS: 1996-2005 (MT) . Pada 2001 dan 2003. Laporan tentang kemiskinan manusia telah dilakukan di Indonesia dengan bantuan UNDP sejak beberapa tahun terakhir. Sehingga Indonesia amat terkebelakang di antara negara ASEAN dalam menyediakan dana untuk kesehatan yang terkait dengan harapan hidup. Kalaupun diekspor ke Asia. Juga penting untuk disikapi secara kritis adalah cara pengukuran tingkat kemiskinan itu sendiri. Impor beras dari AS meningkat di era liberalisasi dan era tarif. dilaporkan tentang Ekonomi dari Demokrasi: Membiayai Pembangunan Manusia. Ekspor beras AS banyak ditujukan ke Amerika Latin. Impor Beras dari AS tidak Penting? Bank Dunia (2007) juga mengatakan bahwa ekspor beras AS berpengaruh kecil ke Asia. konsep kemiskinan manusia kurang dipakai sebagai acuan dalam penyusunan program pembangunan daerah maupun nasional. Pada 2004 misalnya. Pada 1996. Namun. kematian bayi. Oleh karena itu. jenis berasnya berbeda. terbesar selama 10 tahun terakhir. impor beras dari AS menurun drastis. Dimensi kemiskinan Sen terfokus pada non-income poverty. dipakai oleh para pedagang untuk dicampur (oplos) dengan beras lokal. menghitung kemiskinan manusia di Indonesia sebesar 25%. data memperlihatkan bahwa impor beras Indonesia dari AS cukup tinggi diantara negara maju yang mengekspor beras ke Indonesia. Setelah Indonesia menerapkan batasan impor beras sejak 2004.

AS ―memaksa‖ agar Indonesia mau menerima program PL480. itu banyak kaitannya dengan kepentingan korporasi raksasa.522 33. Bappenas.551 132. seperti Departemen Keuangan.725 46. AS melalui Farm Bill 2002 misalnya memberikan subsidi terhadap 20 komoditas petanian. kapas.158 25.956 200049. Mosanto (61 negara). gandum.681 96. Apabila tidak berhasil meyakinkan Bulog misalnya.756 385.327 9. seperti petani jagung Meksiko.Tahun 19969. Inilah yang menyebabkan mengapa sejumlah negara berkembang sulit bersaing dan terpuruk.184 Rataan: Jumlah (MT) 47. Itu telah berpengaruh negatif terhadap tingkat harga beras/gabah di dalam negeri. Namun. selanjutnya yang memutuskan kedatangan beras itu adalah AS.352 17.942 100 Sumber: Data dasar berasal dari data impor beras bulanan BPS Impor itu dalam bentuk food aid melalui WFP.231 7.384 179.011 12. karena Indonesia harus membayar harga beras yang jauh lebih mahal dari harga beras di luar program. program PL480 dengan kredit lunak dan jangka panjang. Pemerintah tidak berdaya untuk itu. mereka akan ke departemen lain.072 199974.352 39. seperti Cargill (beroperasi di 63 negara).331 Persen (%) 48 54. Kredit lunak dan jangka panjang sesungguhnya juga merugikan pemerintah Indonesia. 2007).608 200416.031 19970 USA Negara Maju Lain 6.094 11.393 2003107.081 Total Negara Maju 16. subsidi terbesar ditujukan ke 5 komoditas utama yaitu beras.767 20052. Ini sering dikeluhkan oleh berbagai penjabat di berbagai depertemen.266 199822.411 46. AS tentu mampu menjual beras dengan harga murah ke Asia. AS mensubsidi sejumlah komoditas pangan. Apabila telah disetujui. .409 2001177.889 200213. jagung and kedelai (IATP 2007b). Tyson Foods (80 negara) dan Archer Danniels Midland yang beroperasi di Amerika Latin. Umumnya didatangkan pada musim panen raya.611 52 101.828 460. atau ke penjabat tertinggi seperti Presiden atau Wakil Presiden.839 24.980 12.975 1. petani kapas di Afrika ( Husein Sawit. Korporasi AS itu merambah dunia.

Itu yang mereka ingin rebut.Simatupang dan S. padahal kita berada di negara yang kaya. Siregar and Wahida M(2002). seperti China. Oxford University Press: New Delhi Sugema. Penutup Pandangan Bank Dunia harus disikapi secara kritis. ―A Fair Farm Bill for the World‖. Liberalisasi Pangan: Aksi dan Reaksi dalam Putaran Doha WTO. Disana banyak penduduk yang memerlukan pangan. “Socio Economic Analysis of Farm Household in Irrigated Area of Brantas River Basin‖.R. Indonesia (akan terbit) IATP (2007a). Afrika. HS. tetapi itu sekedar melaksanakan pesan sponsor. Sawit. sehingga memuluskan MNCs milik AS untuk melakukan kegiatan bisnis pangan secara global. ― The US Farm Bill and Cotton Cultivation: Is the WTO undermining Rural Development?‖. J (2004). Islam (2000). S dan I.H. 11 (2) BPS. Inequality and Social Protection: lessons from the Indonesian crisis‖. Kompas. mereka jelas memihak negara kaya dan korporasi internasional (MNCs). a series of papers on the 2007 US Farm Bill. Kemiskinan. Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP): Minnesota Perkins. a series of papers on the 2007 US Farm Bill. Eropa. Ekonomi dari Demokrasi: Membiayai Pembangunan Manusia Indonesia.‖Rice Policy: A Framework for the Next Millennium‖. I (2006). (2007). Tabor (1999). ―Inflasi. Sayang para pengambilan keputusan. P. Hasil penelitian IATP (2007b) menyebutkan bahwa AS melalui lembaga WTO dan Bank Dunia memaksa negara berkembang untuk menurunkan tariff dan membuka pasar. Kita semakin sulit keluar dari kemiskinan dan kepapaan. dan Beras‖. Confessions of an Economic Hit Man. A. Development as Freedom. Agriculture and Rural Development. seperti Bank Dunia dan IMF. Penguin Books Ltd: London Sen. AS tentu ngiler melihat potensi pasar di sejumlah negara Asia.Negara Pasifik. Report for Internal Review Only for Bulog (November 1999) Dhanani. Research report as a part of the study . UNDP Husein Sawit. H (2004). Itulah yang harus disikapi dangan bijaksana dan hati-hati. ―Poverty. Mereka datang kemari silih berganti ahlinya. 23 November 2006 Sumaryanto. ― A Fair Farm Bill for America‖. Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP): Minnesota IATP (2007b). Bappenas. permintaan berbagai jenis pangan yang terus meningkat seiring dengan kemajuan ekonomi. masyarakat kita. (2000). Yang merasakan akibat dari implementasi saran mereka yang bias itu adalah bangsa kita. Working Paper: 00/01. M. India dan Indonesia. UNDP (2004). M. UNDP: Jakarta Dillon. banyak diantara para birokrat kurang memahami politik kurang terpuji di belakang lembaga keuangan internasional. Dalam tataran perundingan multilateral misalnya. M. Kita telah terperangkap dengan hutang luar negeri dan SDA milik bangsa ini yang dikapling dan dikuasai bangsa asing. Kanada. Daftar Bacaan Albert. mereka juga jarang memihak negera berkembang. petani kita. Lembaga Penerbit FE Univ. UNSFIR.

5 milyar dari dana APBD. Bank adalah Mitra Orang Kaya Sejak 3 tahun terakhir (2001-2003) jumlah dana masyarakat yang disimpan di 2 bank di Melak (BRI dan BPD) meningkat rata-rata 12.0% pertahun. 15 juta hanya diberi Rp. lebih-lebih kepada usaha-usaha kecil ekonomi rakyat. collaboration of IFPRI-CASERD-KimpraswilJasa Tirta. Bahkan mereka yang percaya perbankan merupakan ― agent of development‖ yang berperan kunci dalam memberdayakan ekonomi rakyat bisa ―kecele‖ menyaksikan kenya taan pahit sulitnya bank bermitra akrab dengan pelaku-pelaku ekonomi rakyat yang miskin.1%. yaitu dari Rp. LDR (Loan Deposit Ratio) meskipun cenderung naik tetapi hanya sebesar berturut-turut 2. 272. Husein Sawit Mubyarto MENGAPA BANK SULIT MEMBERDAYAKAN EKONOMI RAKYAT? Pendahuluan Memberdayakan ekonomi rakyat di daerah terpencil Kutai Barat ternyata merupakan perjuangan berat bagi siapapun.Irrigation Investment. draft March 2007 Oleh: Dr. dan 13.8% (2003) dan sampai dengan September 2004 adalah 32. Yulius Seran (37 th) adalah seorang penyandang cacat yang setiap hari menunggu dagangan “rupa-rupa” di pinggir jalan dekat Linggang Bigung. tidak ada tanda-tanda perbankan ―bersemangat‖ menyalurkan kredit kepada pengusaha-pengusaha di Melak. baik di wilayah Ulu Riam di Mahakam Ulu. 10. and Water Resource Allocation in Indonesia and Vietnam . 7 juta padahal yang Rp. . 8 juta sudah dijanjikan pada seorang teman yang sanggup membuatkan sepeda motor khusus agar ia dapat menggunakannya untuk berbelanja ke Melak sebulan sekali. M.2% (2001). Rupanya meminjamkan kredit kepada seorang miskin seperti Yulius Seran belum cukup meyakinkan pejabat bank ―seb agai jalan melancarkan jalan baginya masuk surga‖.2 milyar (2001) menjadi Rp. Fiscal Policy. 214. Ir. di kampungkampung pegunungan. tokh penerima dana -dana DPM (Dinas Pemberdayaan masyarakat) ini masih belum merasakan adanya perhatian dan perlakuan khusus terhadap mereka sebagai pihak-pihak yang berhak menerima perlakuan ―istimewa‖ karena kemiskinannya.4 milyar (2003). Meskipun Pemda Kabupaten Kutai Barat sudah menunjuk Bank BPD Melak menyalurkan dana UMKM kepada usaha-usaha kecil ―ekonomi rakyat‖ sebesar Rp 7. Ia “marah” ketika permi ntaan pinjaman Rp. 256. tokh Bank BPD tidak tergerak meluluskan sisa kredit yang dimintanya. Meskipun belakangan diketahui Yulius Seran seorang yang jujur dan patuh mengangsur kreditnya setiap bulan. ―Issues in Indonesian Rice Policy‖. Yang menarik persentase kenaikan dana pihak ke-3 yang disimpan di bank-bank ini sama sekali tidak diikuti kenaikan yang sepadan dalam jumlah kredit yang diberikan kepada pengusaha-pengusaha di Melak. Rupanya kalau tidak ada kredit ―UMKM‖ yang disalurkan dari dana APBD Pemda kabupaten. World Bank (2007). maupun di dataran rendah sepanjang Sungai Mahakam.8% (2002).0 milyar (2002) dan Rp.

yaitu mereka yang memiliki modal. Jelas kiranya dari analisis ini bahwa perbankan di Indonesia tidak lain daripada lembaga pencari/pengejar untung. Mengapa tidak ada Konsultan Keuangan Mitra Ekonomi Rakyat (KKMER) meskipun jelas ekonomi rakyat inilah yang paling membutuhkan jasa konsultan. tokh dana-dana perbankan yang terhimpun di daerah-daerah seperti itu justru dikirim ke kantor pusat bank yang bersangkutan. Bank Indonesia sudah sejak lama mengeluarkan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) yang menjanjikan bunga menarik kepada dunia perbankan untuk menyimpan dana-dana yang dihimpunnya dari daerah-daerah di seluruh Indonesia. Dalam sistem ekonomi kapitalis segala upaya dilakukan untuk melindungi kepentingan para pemodal/pemilik uang. Bunga SBI ini pernah mencapai 17. Dalam sistem ekonomi Pancasila . Kesimpulan Kasus ―kecil‖ perilaku perbankan di Kabupaten Kutai Barat dengan kemiskinan 42% tahun 2003-2004 menarik dijadikan contoh betapa besar hambatan yang dihadapi dalam program-program pemberantasan kemiskinan. Ternyata kunci penyebabnya terletak pada diberlakukannya sistem ekonomi kapitalis yang telah dipilih oleh pemerintah pusat. padahal yang benar bank-bank ini memang merasa lebih aman menggunakan dana-dana yang dihimpun dengan dibelikan SBI. yang dengan memberikan jaminan rasa aman pada para pemilik modal ini. Akibatnya bank juga tidak mungkin berperan sebagai lembaga yang mendukung upaya-upaya besar pemberantasan kemiskinan. Proses tolong-menolong antar pemilik modal dan ekonomi rakyat yang membutuhkan modal ini dalam era otonomi daerah seharusnya berkembang dengan baik dan bergairah. dan sama sekali bukan agent of development. Maka ada lembaga penjaminan kredit. Jika bank-bank kita lebih banyak merupakan perusahaan yang menomorsatukan pendapatan bunga. dan sebaliknya orang miskin harus membayar bunga tinggi kepada orang-orang kaya. para pemilik modal (kapitalis) merupakan pihak yang paling dipuja dan dihormati. Penetapan tingkat bunga yang menarik selalu dijadikan alasan mudah bagi dunia perbankan untuk tidak menyalurkan dananya sebagai kredit kepada dunia usaha. Sebenarnya segera dapat dikenali satu kontradiksi. Di satu pihak usaha-usaha kecil lari ke ―rentenir‖ dengan membayar bunga tinggi. kecuali jika kita berani mengubah sistem ekonomi kita dari sistem ekonomi kapitalis menjadi sistem ekonomi Pancasila. Jika suatu daerah berusaha menarik investor. Jika suatu daerah miskin sebagian warga masyarakatnya sudah berhasil ―menjadi kaya‖ sehingga mampu menyimpan dana-dana yang dikumpulkannya di bank setempat. bukan justru bank yang sebenarnya tidak memerlukan konsultan keuangan itu. yang dibiayai oleh sebagian bunga kredit yang dibayar penerima kredit (debitor). Fenomena kontradiktif ini sampai kapan pun tetap tidak akan berubah. Dalam sistem ekonomi kapitalis. tetapi di pihak lain orang-orang kaya menyimpan uang mereka di bank dalam bentuk deposito dengan menerima bunga ―menarik‖. Jika ekonomi rakyat dapat diberdayakan melalui kredit lunak sehingga kesejahteraannya meningkat. yang kepentingannya paling dilindungi.Memang ironis. sehingga ketika banyak daerah-daerah miskin/tertinggal berteriak mengharapkan kredit yang murah dan mudah. Inilah faktor penyebab rendahnya nilai LDR (Loan Deposit Ratio) di setiap daerah. dan dalam kaitan penyaluran kredit UMKM ada lembaga KKMB (Konsultan Keuangan Mitra Bank). Tetapi mengapa hal ini tidak terjadi? Dari analisis tersebut bisa dibuktikan bahwa alasan pokoknya adalah karena sistem ekonomi kapitalis-liberal/neoliberal sudah dijadikan pegangan pokok pemerintah pusat/ daerah yang diterapkan di manamana di seluruh Indonesia. Dari sinilah berkembang kepercayaan perlunya penciptaan iklim merangsang agar para pemodal (investor) asing bersedia datang ke Indonesia atau ke daerah-daerah tertentu untuk menanamkan modalnya. dan justru tidak diputarkan atau ditanamkan dalam usaha-usaha setempat.5% pertahun yang tentu saja menjadi alasan sangat kuat bagi setiap bank untuk mengirimkan dana-dana pihak ke-3 yang dihimpun di bank-bank di daerah-daerah di seluruh Indonesia untuk dikirim ke Jakarta. mengapa Pemda tidak terdorong untuk mengambil langka-langkah demikian dalam GSM (Gerakan Sendawar Makmur) dengan menyalurkan kredit mikro sebanyak mungkin kepada usaha-usaha ekonomi rakyat yang membutuhkannya. Bank-bank yang lebih banyak mengirim dana-dana dari daerah-daerah ke kantor pusat selalu mudah menerangkan perilaku keliru ini karena ―kesulitan menemukenali‖ proyek -proyek ekonomi dan bisnis yang bankable yang dapat didanai. agar dapat membayar jasa bunga deposito yang menarik kepada deposan. bahkan termasuk tambahan hadiah-hadiah menarik seperti mobil dan rumah-rumah mewah. Kalau perangsang dan perlindungan kepada para pemilik modal dalam sistem ekonomi kapitalis ini belum dianggap cukup. kiranya masuk akal bagi perbankan untuk memanfaatkan dana-dana tersebut bagi pemberdayaan ekonomi rakyat dan yang pada gilirannya mampu memberantas kemiskinan. maka amat sulit menjadikan bank sebagai penggerak kegiatan ekonomi rakyat. mengapa modal yang terhimpun di bank dari orang-orang kaya setempat malah dikirim keluar daerah. Para pelepas uang dan deposan menikmati pendapatan bunga tinggi.

. dan memang ada pembeli terhadap barang/jasa yang ditawarkannya. 2.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. yang semuanya ―demi keuntungan‖. Maka untuk menjamin terjadinya pembangunan yang berkelanjutan kita harus menghentikan keserakahan orang-orang kaya. tidak ada subsidi apapun dar pemerintah. 4. Penduduk miskin tidak memperhatikan lingkungan hidup sekitarnya bukanlah karena mereka tidak peduli.kebijakan perbankan tidak diarahkan untuk melindungi para pemilik modal secara berlebihan tetapi harus diubah menjadi upaya total pemberdayaan ekonomi rakyat dengan ukuran hasil akhir makin terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.. Jadi dalam hal ini lingkungan yang rusak harus diselamatkan melalui upaya-upaya ―pencegahan‖ munculnya PKL..Oktober 2004] Mubyarto SIAPA LEBIH MERUSAK LINGKUNGAN: ORANG MISKIN ATAU ORANG KAYA? The greatest threat to the equilibrium of the environment comes from the way the economy is organized. kiranya pernyataan ini juga tidak adil. sedangkan orang-orang kaya adalah ―pahlawan pembangunan‖. tetapi ―mutlak‖ harus dipenuhi untuk hidup. dan kemudian dijual lagi untuk ekspor. 3. dan mereka cenderung mengabaikan pemeliharaan lingkungan sekitar”. 1995: 4) 1. yang dianggap merusak lingkungan karena mengotori jalan dan mengganggu ketertiban. sehingga lingkungan hidup kita rusak. Siapa yang paling bersalah dalam proses perusakan lingkungan ini? Yang jelas tidak adil adalah kalau yang disalahkan hanya orang-orang miskin saja.‖ atau ―penduduk miskin hanya menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup. Oleh: Prof. Akumulasi keuntungan dan kekayaan yang tidak mengenal batas harus dianggap sebagai penyebab utama kerusakan/pengrusakan hutan. Adalah sangat keliru ilmu ekonomi justru memuja ―keserakahan‖. ― membuang kotoran manusia secara sembarangan yang akan berakibat pada terjangkitnya diare . Apabila dikatakan penduduk miskin terbiasa . Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. Perkembangan pedagang kaki lima (PKL) yang tumbuh menjamur dimana-mana. tetapi karena mereka melakukannya dengan terpaksa. bukan karena orang-orang miskin banyak yang merusak hutan. Ia menggunakan modal sendiri dengan resiko usaha ditanggung sendiri. Pemenuhan kebutuhan pokok penduduk miskin bukan masalah ―hanya‖.. Tetapi kayu-kayu yang diperolehnya ditampung calo-calo untuk dijual. Ekonomi Rakyat dan Reformasi Kebijakan .. bukan dengan ―menggusurnya‖ setelah berkembang. Mubyarto -. siapa biang keladinya? Penduduk miskin di hutan-hutan dan sekitar hutan menebang hutan negara untuk memperoleh penghasilan untuk makan. Jika hutan kita menjadi gundul atau terbakar. PKL bukan . juga tidak mungkin ditimpakan kesalahannya pada PKL karena pekerjaan itulah satu-satunya ―mata pencaharian‖ yang dapat dilakukan dalam kondisi kepepet. disebabkan para pemodal yang haus keuntungan. Dr.. ever increasing growth and accumulation (Ravaioli. Agar adil kita harus mengakui bahwa kerusakan lingkungan khususnya hutan. ―memesan‖ kayu dalam jumlah besar sebagai bahan baku industri yang memang permintaannya sangat besar pula.

25/2000) adalah sistem ekonomi. dan karena belum jelas pemahaman mereka mengenai ekonomi rakyat. dengan segala maaf saya harus menyatakan sangat prihatin. tidak diberdayakan. menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tentang Ekonomi Rakyat Bung Hatta dalam Daulat Rakyat (1931) menulis artikel berjudul Ekonomi Rakyat dalam Bahaya.―masalah‖ tetapi ‖pemecahan‖ masalah kemiskinan.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. Sistem ekonomi dapat dikembangkan dan yang jelas dilaksanakan. 5. Sistem ekonomi yang tepat bagi Indonesia adalah sistem ekonomi pasar yang populis dan mengacu pada ideologi Pancasila dengan lima cirinya sebagai berikut: (1) Roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi. Akan lebih baik dan lebih adil jika para peneliti memberi perhatian lebih besar pada sistem ekonomi yang bersifat ―serakah‖ dalam eksploitasi SDA. yang menurut mereka harus diberdayakan juga. Mubyarto -. jika mereka terpilih. Mubyarto Pendahuluan Menyimak secara serius pernyataan-pernyataan para Capres/Cawapres di media elektronik tentang programprogram ekonomi yang dijanjikan kepada rakyat untuk dilaksanakan. koperasi dan usaha-usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat. Dr. dan yang sangat sering diucapkan bagaimana memberdayakannya. pendekatan terhadap masalah ―pengurangan kemiskinan dan pengelolaan lingkungan‖ atau sebaliknya terhadap ―pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan strategi penanggulangan kemiskinan‖ selama ini kiranya salah dan tidak adil. bebas. dan moral. yaitu sistem ekonomi kapitalis liberal yang berkembang di Barat. antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas. Kesimpulan kita. tetapi ekonomi kerakyatan. Keseimbangan yang harmonis. sedangkan Bung Karno 3 tahun sebelumnya (Agustus 1930) dalam pembelaan di Landraad Bandung menulis nasib ekonomi rakyat sebagai berikut: . Pada umumnya para Capres/Cawapres belum memahami benar apa itu ekonomi rakyat. maka sulit diharapkan dapat dirumuskannya program-program kongkrit bagaimana mengembangkannya. (2) (3) (4) (5) Ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial yaitu tidak membiarkan terjadinya dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. Yang lebih sering kita dengar justru bukan konsep tentang ekonomi rakyat. karena melihat kemiskinan sebagai fakta tanpa mempelajari sumber-sumber dan sebab-sebab kemiskinan itu. Semangat nasionalisme ekonomi. yaitu ekonomi rakyat. sosial. karena yang diberdayakan adalah orangnya. dan merajalela sejak jaman penjajahan sampai era globalisasi masa kini. dan mandiri. Maka mereka dengan bersemangat menyatakan akan menyusun dan melaksanakan program pemberdayaan ekonomi kerakyatan padahal ekonomi kerakyatan sebagaimana tercantum jelas dalam Propenas (UU No. efisien. 6 Oktober 2004 Oleh: Prof. pelakunya. Demokrasi Ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan. dan bertanggung jawab. dan adil. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat. tangguh.

karena sengaja disempitkan. Bagaimana memberdayakan ekonomi rakyat Jika kini telah diyakini bahwa yang harus diberdayakan adalah ekonomi rakyat bukan ekonomi kerakyatan. Padahal yang dimaksudkan jelas sistem monopoli yang pemegang monopolinya ditunjuk pemerintah yaitu BPPC untuk cengkeh dan Puskud untuk Jeruk Kalbar. Itulah yang pernah kami katakan bahwa ―di Indonesia pernghapusan monopoli tidak memerlukan UU Anti Monopoli seperti di AS tetapi jauh lebih mudah dan lebih sederhana yaitu dengan menerbitkan sebuah SK (Surat Keputusan) dari Presiden atau Menteri Perindustrian dan Perdagangan untuk mencabut monopoli yang sebelumnya memang telah diberikan pemerintah‖. Khusus dalam kasus petani padi. dan (sistem) monopoli ini dipegang langsung oleh pemerintah.Ekonomi Rakyat oleh sistem monopoli disempitkan. Pengertian demokrasi ekonomi atau (sistem) ekonomi yang demokratis termuat lengkap dalam penjelasan pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi: Produksi dikerjakan oleh semua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. yang sulit kita terima. Jika ekonomi rakyat dewasa ini masih ―tidak berdaya‖. yang terpukul karena harga pasar gabah dibiarkan merosot di bawah harga dasar. Jadi ekonomi kerakyatan adalah (sistem) ekonomi yang demokratis. dan dipadamkan oleh pemerintah penjajah melalui sistem monopoli. atau faktor-faktor apa saja yang menyebabkan ketidakberdayaan pelaku-pelaku ekonomi rakyat itu. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi. atau diciptakan pemerintah dan diberikan kepada segelintir perusahaan-perusahaan konglomerat. sama sekali didesak dan dipadamkan (Soekarno. Untuk menjawab pertanyaan inilah kutipan pernyataan Bung Karno di atas sangat membantu. terdesak. Inilah salah satu bentuk korupsi melalui koneksi dan nepotisme yang kemudian disebut dengan nama KKN. Misalnya tataniaga jeruk Kalbar atau tataniaga cengkeh Sulut. yang artinya tidak lain adalah demokrasi ala Indonesia. Sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan bukan kemakmuran orang-seorang. Dari keuntungan besar yang diperolehnya kemudian konglomerat memberikan ―bagi hasil‖ kepada pemerintah atau lebih buruk lagi kepada ―oknum -oknum pejabat pemerintah‖. Cara lain yang juga sudah sering kami anjurkan adalah pemberdayaan melalui pemihakan pemerintah. 1930: 31) Jika kita mengacu pada Pancasila dasar negara atau pada ketentuan pasal 33 UUD 1945. kemakmuran bagi semua orang! Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. yang berarti petani jeruk dan petani cengkeh memperoleh ―kebebasan‖ untuk menjual kepada siapa saja yang mampu memberikan harga terbaik. keberpihakan pemerintah jelas harus berupa pembelian langsung gabah ―dengan dana tak terbatas‖ sampai harga gabah terangkat naik melebihi harga dasar yang telah ditetapkan pemerintah. Cara yang paling mudah memberdayakan ekonomi rakyat adalah menghapuskan sistem monopoli. dan padam. Kata kerakyatan sebagaimana bunyi sila ke-4 Pancasila harus ditulis lengkap yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. . Indonesia Menggugat. Jika pemerintah bertekad memberdayakan petani padi atau petani tebu misalnya. Memang sangat disayangkan bahwa penjelasan tentang demokrasi ekonomi ini sekarang sudah tidak ada lagi karena seluruh penjelasan UUD 1945 diputuskan MPR untuk dihilangkan dengan alasan naif. yaitu ekonomi rakyat menjadi kerdil. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. maka memang ada kata kerakyatan tetapi harus tidak dijadikan sekedar kata sifat yang berarti merakyat. Berpihak kepada petani berarti pemerintah tidak lagi berpihak pada konglomerat seperti dalam kasus jeruk dan cengkeh. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. maka pertanyaan lugas yang dapat diajukan adalah bagaimana (cara) memberdayakan ekonomi rakyat. pemerintah harus berpihak kepada petani. yang pernah ―disembunyikan‖ dengan nama sistem tata niaga. didesak. tampuk produksi jatuh ke tangan orang-orang yang berkuasa dan rakyat yang banyak ditindasinya. Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh ada di tangan orangseorang. maka harus kita teliti secara mendalam mengapa tidak berdaya. Kalau tidak. Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi. yaitu ―di negara-negara lain tidak ada UUD atau konstitusi yang memakai penjelasan‖.

. dan orang-orang yang baru pula. Mubyarto -. ketika pemerintah Orde Baru memprioritaskan kebijakan. Tulisan ini menjawab pragmatisme atau ketidaktahuan banyak orang sehingga mereka bertanya-tanya. Jelas usulan program seperti ini tidak masuk akal dan menunjukkan ketidakpahaman Capres/Cawapres yang bersangkutan tentang ekonomi rakyat yang menyangkut hajat hidup 160 juta orang Indonesia yang sebenarnya sudah jauh lebih tua dibanding sektor formal. Bukan berganti menjadi apa-apa. Hasilnya bisa jadi kekuasaan tetap dipegang ‗pemimpin lama‘. akan berubahkah nasib ekonomi bangsa kita? Tidak dapat dipastikan. yang hanya diartikan sebagai pelaku-pelaku ekonomi yang tidak berbadan hukum yang selalu ―melanggar hukum‖ sehingga harus ―ditindak‖. atau mungkin pula akan muncul penguasa-penguasa baru. maka pemberdayaan ekonomi rakyat harus dijadikan kebijakan. yang terakhir ini berarti sistem atau aturan main. terjepit.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. Kini dengan paradigma baru yang menomorsatukan pemerataan dan keadilan sesuai asas-asas ekonomi Pancasila. strategi. dan program-program utama. Kami anjurkan para Capres/Cawapres tidak memilih menggunakan istilah ―UKM‖ yang salah kaprah. dan program-programnya pada tujuan pertumbuhan ekonomi tinggi sekaligus dengan mengabaikan atau menunda pemerataannya. strategi. dan antar calon anggota DPD. Penutup Tidak terlalu sulit bagi para Capres/Cawapres untuk mengkampanyekan program-program yang benar-benar dapat memberdayakan ekonomi rakyat asal pengertian ekonomi rakyat dipahami secara benar. Oleh: Prof. dan akan menjadi slogan kosong. Dengan digantinya oleh pemerintah istilah ekonomi rakyat dengan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang sebenarnya sekedar menterjemahkan istilah asing SME ( Small and Medium Enterprises). melainkan kembali ke ideologi atau moral ekonomi Pancasila. caleg. Dan dengan definisi ini kemudian diajukan program pemberdayaan sektor “UKM” dengan secepatnya menjadikan atau ―mentransformasi‖ sektor informal menjadi sektor formal. sebuah ideologi ekonomi yang ‗ke-Indonesia-an‘. dan tersingkir. yang tidak mencakup 40 juta usaha mikro (93% dari seluruh unit usaha). Kepala Awan Santosa RELEVANSI PLATFORM EKONOMI PANCASILA MENUJU PENGUATAN PERAN EKONOMI RAKYAT Pemilu 2004 sudah pasti akan diwarnai dengan ‗pertarungan politik‘ antar parpol. Lalu. partai baru. Dr. Bahkan ada Capres/Cawapres yang secara sangat keliru menyamakan sektor ekonomi rakyat dengan sektor informal. Saya setuju dengan Khudori (2004) bahwa momen Pemilu 2004 selayaknya bukan saja memungkinkan pergantian orang atau partai melainkan pergantian ideologi atau moral ekonomi yang mengarah pada ciri neoliberal-kapitalistik dewasa ini. sektor informal sebaiknya justru yang disebut sektor formal.Demikian pemberdayaan dan pemihakan pada ekonomi rakyat sangat mudah pelaksanaannya kalau kita terapkan langsung pada ekonomi rakyat. yang tidak dapat diberdayakan. Ekonomi rakyat adalah ekonominya wong cilik yang telah tergeser. bukan pada ekonomi kerakyatan. dan lebih baik mengunakan istilah ekonomi rakyat yang setiap orang yang ―tidak terpelajar‖ pun mengerti persis artinya. maka segala pembahasan tentang upaya pemberdayaan ekonomi rakyat tidak akan mengena pada sasaran. yang merupakan istilah dan konsep yang sudah dipakai Bung Karno dan Bung Hatta sejak zaman pergerakan kemerdekaan. sekaligus juga antar kandidat calon presiden. kecuali ada ‗janji -janji‘ perubahan kebijakan ataupun program ekonomi yang lebih banyak bersifat parsial dan konvensional dari partai peserta pemilu.

tidak realistis. moral kerakyatan. kebijakan. dan utopis? Mereka ini begitu yakin bahwa masalah ekonomi (krisis 97) adalah karena ‗salah urus‘ dan bukannya ‗salah sistem‘.-). Platform kedua adalah ―kemerataan sosial. rasanya tidak sulit mengamati ekses dari kecenderungan global tersebut di Indonesia. Lalu. Relevansi platform Ekonomi Pancasila dalam hal ini dikuatkan akutnya perilaku ekonomi di Indonesia yang sama sekali mengabaikan moral. Akibatnya. Gagasan ini sudah lama tertuang dalam bagian penjelasan Pasal 33 UUD 45 yang sudah diamandemen dalam konsep ‗kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan. dan moral‖. sosial. Masih ada juga penggusuran orang miskin. makro-ekonomi sudah stabil dengan indikator rendahnya inflasi (dibawah 5%). Asalkan tidak malas untuk turun ke desa-desa atau ke pelaku ekonomi rakyat. pengabaian nasib TKI. selain berisi cita-cita visioner terwujudnya keadilan sosial. ia juga mengangkat realitas sosio-kultur ekonomi rakyat Indonesia. KKN yang akut memberi sumbangan besar bagi keterpurukan ekonomi bangsa ini. stabilnya rupiah (Rp 8. Sumatara. menegakkan hukum-hukum Allah (syari‘ah). sekaligus ‗rambu-rambu‘ yang bernilai sejarah untuk tidak terjerumus pada paham liberalisme dan kapitalisme. Ekonomi Pancasila. dan kekeringan di sebagian wilayah di Jawa. Lalu. para penyanyi. Gagasan Ekonomi Pancasila mulai dikembangkan Profesor Mubyarto sejak tahun 1981 dalam suatu polemik tentang sistem ekonomi nasional sampai saat ini. krisis di Indonesia juga tidak terlepas dari berkembangnya paham kapitalisme disertai penerapan liberalisme ekonomi yang ‗kebablasan‘. dan ribut-ribut soal ‗pesangon‘ BPPN atau DPRD di berbagai tempat. tidak membiarkan terjadi dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial‖. menurunnya suku bunga (dibawah 10%). Profesor Mubyarto merumuskan Ekonomi Pancasila sebagai sistem ekonomi yang bermoral Pancasila. bahkan agama. ‗keadilan sosial‘. apalagi dikait-kaitkan dengan ‗salah ideologi‘ atau ‗salah teori‘ ekonomi. tanah longsor. dan ‗pembangunan karakter‘ ( character building) bangsa yang dilandasi semangat penerapan ajaran moral dan agama. mengeruk ‗rente‘ dari kegiatan ekonomi (bisnis) mereka. program. Pada awalnya founding fathers kita merumuskan ‗politik kemakmuran‘. produser. Disinilah relevansi platform (istilah penulis) Ekonomi Pancasila. moral kemerataan sosial. dan memperhatikan kepentingan sosial. dan moral keadilan sosial. dengan lima platform sebagai manifestasi sila-sila Pancasila yaitu moral agama. bukankah sistem ekonomi kita sudah mapan. dan dampak sosial bagi masyarakat. apakah tidak mengada-ada bicara sistem ekonomi dari ideologi yang pernah ‗tercoreng‘. dan kapitalistik. sebagai ‗media‘ untuk mengenali ( detector) bekerjanya paham dan moral ekonomi yang berciri neo-liberal kapitalistik di Indonesia. Tidak dapat disangkal. etika. moral. Relevansi Ekonomi Pancasila dapat ‗dideteksi‘ dari tiga kontek yang berkaitan yaitu cita -cita ideal pendiri bangsa. Inilah moral ekonomi rakyat yang tidak sekedar mencari untung. Oleh karena itu. perusahaan (iklan). Namun. dan tidak nampak wujudnya. Itu berarti pembangunan ekonomi harus beriringan dengan pembangunan moral atau karakter bangsa. Ekonomi Pancasila merupakan prinsip-prinsip moral (ideologi) ekonomi yang diderivasikan dari etika dan falsafah Pancasila. individualis. dan pulau lainnya. Sampai saat . Semua itu terangkum dalam kajian lima platform Ekonomi Pancasila yang bersifat holistik dan visio-revolusioner (Mubyarto. yang bermoral dan tidak sekuler. dan kegiatan ekonomi banyak dipengaruhi paham (ideologi). Penerapan platform Ekonomi Pancasila secara utuh (multisektoral) dan menyeluruh (nasional) menempatkan Indonesia sebagai negara yang menganut sistem ekonomi khas Indonesia yaitu Sistem Ekonomi Pancasila. 2003). tidak sekedar pembangunan materiil semata. melainkan memperkuat silaturahmi. bukan kemakmuran orang -seorang‘. moral nasionalisme ekonomi. dan stasiun TV. yaitu ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial. Ada lagi maraknya ‗penjarahan alam‘ berupa penebangan hutan secara liar (llegal logging) yang terlalu lama ‗didiamkan‘ sehingga berakibat banjir. dan teori-teori kapitalisme-liberal.Kita mulai dari platform pertama Ekonomi Pancasila yaitu moral agama. Kondisi itu menegaskan perlunya ‗revolusi moral ekonomi‘ menuju pengejawantahan platform Ekonomi Pancasila. 2001). Free Press 1988). Tanpa peduli moral.relevankah Ekonomi Pancasila dalam memperkuat peranan ekonomi rakyat dan ekonomi nasional di era global (isme) kontemporer? Mereka skeptis. Inilah platform ekonomi yang lebih awal lahir daripada gagasan Amitai Etzioni tentang ‗ekonomi baru‘ yang berdimensi moral dalam bukunya The Moral Dimension: Toward a Newf Economics.500. yang mengandung prinsip ―roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi. Lihat saja korupsi yang sudah membudaya dan melembaga karena tidak pernah diperhatikan secara serius. kecuali saat-saat terakhir menjelang Pemilu 2004 dengan pembentukan KPTPK. tidak sulit untuk menemukan praktek ekonomi bermoral ini. apa bukti platform Ekonomi Pancasila relevan dengan kondisi sosial-ekonomi kita saat ini? Di tengah pesatnya perkembangan ilmu (ideologi) ekonomi global yang sud ah semakin mengarah pada ‗keyakinan‘ layaknya agama (Nelson. agama. praktik ekonomi rakyat. Yang masih panas-panasnya adalah maraknya ‗pornoaksi‘ dangdut erotis lewat media TV yang memang ‗dibiarkan‘ di alam kebebasan (liberalisme) saat ini. dan ditujukan untuk menjamin keadilan antar sesama makhluk ciptaan Allah. dan praktek ekonomi aktual yang ‗menyimpang‘ karena berwatak liberal.

Ekonomi Pancasila berfungsi sebagai platform ekonomi yang memperjuangkan pemerataan dan moral kemanusiaan melalui upaya-upaya ‗redistribusi pendapatan‘. kita masih saja berbicara pertumbuhan ekonomi mau 4%. yang masih memegang prinsip kebersamaan dan solidaritas sosial-ekonomi dalam kegiatan mereka. Ini mensyaratkan bahwa pembangunan ekonomi haruslah didasarkan pada kekuatan lokal dan nasional untuk tidak hanya mencapai ‗nilai tambah ekonomi‘ melainkan juga ‗nilai tambah sosial-kultural‘. Prinsip ini dijiwai oleh semangat Pasal 33 UUD 1945 yang kini sudah berganti menjadi UUD 2002 (amandemen keempat). di dasar piramida yang kuenya kecil diperebutkan puluhan juta orang (Khudori. Tempo. Lihatlah pesta-pesta bernilai ratusan juta semalam yang sering diadakan ‗selebriti‘. dan mandiri‖. tangguh. 2004). namun banyak pula yang pendapatannya pas-pasan sekedar untuk bertahan hidup. percaya diri (self reliance). 2003). dan glamour dari sebagian elit warganya. Perubahan ini telah menghilangkan seluruh penjelasan UUD 1945 termasuk penjelasan Pasal 33 yang berisikan prinsip-prinsip demokrasi ekonomi dan landasan konstitusional koperasi. mengapa kita ragu untuk melakukan ‗proteksi‘ terhadap petani kita di saat Amerika. Kita patut prihatin jika aset-aset yang menguasai hajat hidup orang banyak terus ‗diobral‘ ke pemodal besar apalagi pemodal asing (kasus Indosat). 2004). bahwa dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat. 2001). termasuk juga acara -acara pejabat yang sering menyentak hati karena dipaksakan untuk tetap ada dan mewah. Dengan begitu pelarian modal (capital flight) atau relokasi industri adalah wajar bagi mereka. petani dan peternsk kecil kita begitu ‗menjerit‘ di saat ada impor beras. tidak relevan. Itulah kita. 5%. Banyak orang yang memiliki kekayaan milyaran (termasuk calon-calon presiden kita. Platform ketiga adalah ―nasionalisme ekonomi. Isu-isu yang kemudian dicuatkan diantaranya adalah privatisasi BUMN dan liberalisasi impor. Sebaliknya. Lebih lanjut. dan pilihan kebijakan luar negeri bebas-aktif. maka dengan . kenapa saat ini nasionalisme ekonomi seakan-akan telah dianggap tidak penting. Beralihnya pemilikan BUMN ke investor swasta melalui privatisasi dikhawatirkan justru memperpuruk kesejahteraan ekonomi rakyat (Baswir. dan paha ayam. sehingga ‗daya tahan‘ ekonomi mereka tidak perlu diragukan lagi. Oleh karena itu pokok perhatian seharusnya diberikan pada upaya pemberdayaan ekonomi rakyat sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Masih saja ketimpangan sosial-ekonomi susah untuk diperkecil. justru investasi (asing) dan privatisasi BUMN yang saat ini begitu dipercaya sebagai ‗dewa‘ pertumbuhan ekonomi dengan melupakan begitu saja sifat pemodal besar untuk mencari tempat yang menguntungkan bagi investasi mereka. koperasi dan usahausaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat‖. tidak ‗menyusahkan‘ atau ‗membebani‘ ekonomi nasional di saat krisis. Platform keempat adalah ―demokrasi ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan. Kita dapat belajar pada ekonomi rakyat kita. yang menjadi senjata penganut paham liberalisme dan kapitalisme. perihal ‗politik -ekonomi berdikari‘ yang bersendikan usaha mandiri (self-help). tanpa berupaya keras memprioritaskan pemerataannya ataupun berusaha sedikit lebih ‗sederhana‘ di tengah kemiskinan yang menjerat kurang lebih 36 juta rakyat Indonesia. Lalu. tetapi masih mampu menampilkan gaya hidup mewah. Oleh karena itu. Ada kesan kuat bahwa interaksi yang timpang (sub-ordinatif) dengan lembaga asing seperti IMF dan CGI (terkait dengan jebakan utang) telah ‗mengaburkan‘ pentingnya kemandirian ekonomi bangsa yang ditopang oleh semangat nasionalisme ekonomi. yaitu peningkatan martabat dan kemandirian bangsa (Swasono. Apa gunanya kampanye cinta produk dalam negeri bila pemihakan terhadap pelaku ekonomi rakyat sebagai produsen lokal masih setengah hati. Di puncak piramida yang menguasai mayoritas kue nasional dihuni segelintir manusia. dan tidak perlu diperjuangkan? Lihat saja. terutama di perdesaan. Jepang. hidup di ‗negara kaya‘ (SDA) yang ‗miskin‘ (terlilit utang). upaya penegakan demokrasi ekonomi nampaknya berhadapan dengan upaya-upaya untuk memperjuangkan pasar bebas. Dalam pada itu. negara-negara Eropa memberikan perlindungan kepada petanipetani mereka. melainkan juga prinsip yang menjiwai setiap proses pembangunan itu sendiri. padahal potensi untuk itu sangat besar. Kemandirian bukan saja menjadi cita-cita akhir pembangunan nasional. atau 7%. Platform ini sejalan dengan konsep founding fathers kita.ini masih sulit meyakini realisasi semangat tersebut ka rena setiap upaya ‗memakmurkan ekonomi‘ ternyata yang lebih merasakan dampaknya tetap saja ‗orang besar‘ baik pengusaha ataupun pejabat pemerintahan. Pemilu 2004 setidaknya merupakan manifestasi demokrasi politik. gula. namun bagaimana dengan manifestasi demokrasi ekonominya? Penghapusan ‗koperasi‘ dari penjelasan UUD 45 dan memasukkan ideologi ‗persaingan‘ dan ‗pasar bebas‘ dalam pasal 33 merupakan runtutan dari kebijakan privatisasi BUMN yang ditentang banyak kalangan. eksklusif. Zakat yang sudah diformalkan (UU) dan pajak sebagai instrumen pemerataan ternyata belum mampu berbuat banyak. Lagi pula. Ekonomi rakyatlah yang bersifat mandiri. dan memang tidak ada kamus ‗nasionalisme ekonomi‘ atau ‗nasionalisme modal‘ dalam istilah mereka. khususnya Bung Karno dan Bung Hatta. Jika dasar dan pengertian demokrasi ekonomi (dalam penjelasan Pasal 33 ) sudah ‗dihapuskan‘.

dan bertanggungjawab. namun masih saja mereka merasa kesulitan untuk menggali sumber-sumber penerimaan daerah. Otonomi hanya mengubah sedikit sisi belanja.platform Ekonomi Pancasila kita berusaha keras untuk mengembalikan hakekat demokrasi ekonomi atau sistem ekonomi kerakyatan dengan ciri ‗produksi dikerjakan oleh se mua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat‘. Gagasan para pendiri bangsa kita yang sejalan dengan praktek ekonomi rakyat dan menentang keras praktek ekonomi yang neo-liberal-kapitalistik kiranya menyadarkan kita akan perlunya perombakan sistem ekonomi tersebut. sedangkan PAD seluruh daerah di Indonesia tetap hanya 5 persen. . dan calon pejabat pemerintahan lainnya akan kebutuhan adanya platform ekonomi yang khas Indonesia ini? Seandainya mereka (dan partainya) memiliki platform ekonomi tersendiri. dan berciri ‗ke Indonesia-an‘. Sebelum otonomi pusat membelanjakan 78 persen. kini pusat membelanjakan 70 persen (Khudori. budaya. Oleh karena itu pengalaman pahit sentralisasi politik-ekonomi era Orde Baru dapat kita jadikan pelajaran untuk menyusun strategi pembangunan nasional. komprehensif. Bukannya platform ekonomi yang konvensional. Demikian. Inilah relevansi lima platform Ekonomi Pancasila yang dapat menjadi panduan ( guidance) bagi pergantian sistem dan ideologi ekonomi menjadi ekonomi yang lebih bermoral. Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang dimaksudkan untuk mengoreksi sentralisasi ekonomi dan pemerintahan praktis tidak mengubah sedikitpun perimbangan penerimaan negara di Indonesia. untuk kemudian merombaknya dengan kembali ke Sistem Ekonomi Pancasila. parsial. Keadaan ini dimungkinkan karena masih juga terjadi ketimpangan antarwilayah. caleg. dan adil antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas. 2003). 2004). yang memungkinkan seluruh wilayah di Indonesia berkembang sesuai potensi masing-masing. kiranya dapat diperdebatkan dengan platform Ekonomi Pancasila. 2004). Apakah Pemilu dan Sidang Umum 2004 akan mampu menjawab kebutuhan ini? Yogyakarta. antara pusat dan daerah di Indonesia. dan ‗eksklusif‘ dari bidang bidang lain seperti politik. Platform kelima (terakhir) adalah ―keseimbangan yang harmonis. Pertanyaannya. Pusat tetap memungut 95 persen. dan visio-revolusioner. Paradigma yang kemudian dibangun adalah pembangunan Indonesia. momentum Pemilu dan Sidang Umum 2004 merupakan saat yang tepat untuk mengoreksi kekeliruan sistem dan paham ekonomi kita. bernilai historis. efisien. Seruan memberantas korupsi atau ‗anti politisi busuk‘ saja belum cukup tanpa disertai reformasi (revolusi?) ideologi dan moral ekonomi liberal-kapitalistik yang menumbuhsuburkan praktek korupsi dan kejahatan ekonomi (economic crime) lain di Indonesia. berkerakyatan. Langkah yang lazim diambil adalah optimalisasi PAD melalui pemberlakuan Perda-Perda yang justru kadang ‗bertentangan‘ dengan peraturan di atasnya seperti halnya hasil kajian Depdagri menunjukkan ada sekitar 7000 perda yang dinilai tidak layak diterapkan (Sunarsip. dan hukum. Meskipun otonomi daerah telah mendorong kemandirian dan kreativitas Pemda dalam membangun wilayah mereka. SE -. sadarkah para capres. Tujuan keadilan sosial juga mencakup keadilan antar wilayah (daerah). sehingga lebih menjamin upaya pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Inilah substansi Negara Kesatuan yang tidak membiarkan terjadinya ketimpangan sosial-ekonomi antardaerah melalui pemusatan aktivias ekonomi oleh pemerintah pusat. bebas. Bangsa kita benar-benar membutuhkan platform ekonomi yang utuh. dan di pusat pemerintahan.Asisten Peneliti pada Pusat Studi Ekonomi Pancasil (PUSTEP) UGM. bukannya pembangunan di Indonesia seperti yang dilakukan Orde Baru dengan paham developmentalism yang netral visi dan misi (Swasono. 5 Februari 2004 Oleh: Awan Santosa. menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia‖.

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri. hal. ISEAS. Pada tahun 1930. hal. 828.7 juta hanya menerima 3. 194. yang tidak pernah dilihat dan dianalisis oleh para ekonom makro. Demikian data-data mikro dari lapangan ini. Penduduk Propinsi DIY tahun 2002 adalah 3. Dalam 26 tahun (1971 -1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan daerah termiskin meningkat dari 5.1 juta orang. Ekonomi rakyat Indonesia tidak pernah mengalami krisis serius meskipun sempat kaget.000 orang Eropa (kebanyakan Belanda) menerima 665 juta gulden (99. maka sudah sepantasnya berlaku perkataan (ketentuan Kami). 2001.24.4%). Krisis Moneter Mengembangkan Keuangan Mikro Sejak terjadinya krisis moneter (krismon) yang berakibat langsung pada ditutupnya 16 bank swasta nasional tanggal 1 Nopember 1997.978 orang. 1966-1996) ―tidak diridhoi‖ Allah SWT dan krismon ―diturunkan‖ untuk mengingatkan bangsa Indonesia.4 juta gulden (0.825 unit-unit desa di seluruh Indonesia berkembang luar biasa.[3] [3] Van der Eng. 197. BRI yang merupakan lembaga keuangan mikro terbesar di Indonesia yang memiliki 3. (Q.2%) menerima 0. Kemerdekaan.54%) dari pendapatan ―nasional‖ Hindia Belanda. terutama di perdesaan.263 milyar menjadi Rp.Mubyarto MENGEMBANGKAN EKONOMI RAKYAT SEBAGAI LANDASAN EKONOMI PANCASILA I . betapapun sangat ―mahal‖ harganya. kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. 17 Al Israa‘: 16) II. menunjukkan betapa keliru kesimpulan telah ―hancur leburnya‖ ekonomi Indonesia. Dan dana tabungan meningkat 26. dan Gini Rasio meningkat berturut-turut dari 0.2% per tahun selama 1997 – 2002 dari 457. Sangat ―njomplangnya‖ pembagian pendapatan nasional inilah yang sulit diterima para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia yang bersumpah tahun 1928 di Jakarta. Kemiskinan Penduduk Pribumi di Jaman Penjajahan Pierre Van der Eng. Terbukti bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi (7% pertahun selama 3 dekade. sungguh-sungguh merupakah ―bom waktu‖ yang kemudian meledak sebagai krismon 1997.-. Kini setelah Indonesia merdeka 58 tahun. Di Propinsi DIY jumlah penabung bertambah rata-rata 16. sehingga tidak memerlukan pemulihan. tetapi konglomerasi (1987-1994) yang menciptakan ketimpangan ekonomi luar biasa. Konglomerat ingin melepaskan diri dari kewajiban membayar utang pada bank-bank pemerintah (BLBI dan obligasi rekap). [2] seorang sejarawan Belanda menulis tentang strata ekonomi penduduk di jaman penjajahan. Masyarakat dan pers kita hendaknya waspada dalam hal ini. Kenyataan ini mempunyai . Kesan masih adanya ―krisis ekonomi‖ sekarang ini sengaja ditiupkan dan dibesar-besarkan oleh eks-konglomerat dan para pembelanya termasuk teknokrat.6 juta gulden (0.368. idem.788 milyar (tabel 2). Sebaiknya kita tidak ikut-ikutan berbicara tentang pemulihan ekonomi (economic recovery) jika yang akan kita pulihkan justru kondisi ekonomi sangat timpang ―pra-krisis‖ yang dikuasai konglomerat dan menjepit ekonomi rakyat.S. dua tahun setelah Sumpah Pemuda. Keuangan Mikro bukan hal baru bagi Indonesia. ketimpangan ekonomi tidak separah ketika jaman penjajahan.3% per tahun dari Rp.8 (1983) dan 9.1 juta penduduk pribumi (Indonesia) yang merupakan 97. [2] Pierre Van der Eng. Yang baru adalah kesadaran dan pengakuan tentang peranan besar yang dimainkannya dalam perekonomian rakyat dan perekonomian nasional. maka Kami perintahkan kepada orangorang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Singapore. Indonesia Today. penduduk Asia lain yang berjumlah 1.496 menjadi 950. lembaga keuangan mikro berkembang pesat. 51. berarti setiap orang memiliki tabungan di BRI sebesar Rp. harus dicapai karena akan membuka jalan ke arah perbaikan nasib rakyat dan bangsa Indonesia.8 (1997).21 dan 0.3 juta (2.4% dari seluruh penduduk yang berjumlah 60.1 (1971) menjadi 6.06%) sedangkan 241. Indonesia‘s Economy and Standard of Living in the 20th Century dalam Grayson Lloyd & Shannon Smith.18 menjadi 0.

873 penduduk miskin di seluruh Indonesia dengan pinjaman Rp. faktor-faktornya antara lain adalah kurs dollar yang masih 3 kali lebih tinggi dibanding sebelum krisis moneter Juli 1997. Inilah yang oleh para ekonom makro yang keblinger disebut dengan ekonomi illegal atau hidden economy. jelas merupakan kebijakan keliru yang tidak berpihak pada kebijakan pengembangan keuangan mikro dan pemberdayaan ekonomi rakyat. yang sulit dibayangkan untuk bangkit kembali karena utang-utang yang sangat besar. 50. Benarkah faktor-faktor ini cukup? Mengapa inflasi yang sudah benar-benar terkendali sejak 1999 yang kini (2003) berada sekitar 6%. 11. tidak dianggap sebagai faktor-faktor yang seharusnya tidak lagi menggambarkan kondisi krisis ekonomi? Ekonomi yang krisis adalah ekonomi yang pertumbuhannya terus-menerus negatif dan inflasi merajalela lebih dari 50% per tahun. Sebabnya tidak lain karena selama 3 dekade Orde Baru. Benarkah? Diagnosis ekonomi yang bersifat pesimistik masih jauh lebih kuat dibanding diagnosis optimistik. Satu Baitul Maal (BMT Beringharjo) di kota Yogyakarta dalam periode relatif singkat (1995-2002) telah meningkat omset pinjamannya dari Rp. atau krisis moral. pembangunan ekonomi sudah menjadi ―agama‖. bank-bank masih belum mengucurkan kredit ke sektor riil. Bahwa ekonomi nasional dianggap masih dalam kondisi krisis. 440 juta untuk 917 orang (tabel 5). dan jumlah orang yang menggadaikan (nasabah) naik 368% (Tabel 2). tidak sekedar menggeliat. .6 kali (560%). Usahausaha ekonomi rakyat yang disebut (secara tidak tepat) sebagai UKM (Usaha Kecil Menengah) berkembang di mana-mana dengan pendanaan mandiri atau melalui dana-dana keuangan mikro seperti pegadaian. dengan peranan yang amat dominan dari (perusahaan-perusahaan) konglomerat.implikasi besar terhadap teori tentang peranan modal nasional dan upaya-upaya penguatannya dalam pembangunan ekonomi bangsa. anggota KOSUDGAMA (Koperasi Serba Usaha Dosen-dosen Gadjah Mada) yang kini beranggota 5332 orang (74% diantaranya anggota luar biasa. Misalnya. 5.2 milyar dengan anggota naik dari 393 menjadi 1333 (Tabel 4). selama 1995-2002 kredit yang disalurkan Perum Pegadaian meningkat dengan 5. Ekonomi Rakyat sebagai Penyelamat Ekonomi Nasional Jika Ahmad Syafii Ma‘arif dan Franz Magnis -Suseno (2003) berbicara keras tentang kerusakan bangsa Indonesia yang ―hampir sempurna‖. kata mereka. Meskipun orang tidak pernah lupa menyebutkan bahwa krisis yang melanda bangsa Indonesia dewasa ini sudah berciri multidimensi. koperasi atau lembaga-lembaga keuangan mikro ―informal‖ di perdesaan. Kini ketika konglomerat sudah rontok. tidak pernah masuk dalam perhitungan. yang jika dibiarkan pasti akan mengakibatkan kebangkrutan perekonomian nasional. Memang pakar-pakar ekonomi makro kita pada umumnya masih mampu berargumentasi dan menunjuk belum adanya investasi terutama investasi asing sebagai salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi rendah. dan pertumbuhan ekonomi yang sudah positif (3-4% pertahun).57 milyar (Tabel 3). karena pada umumnya pakar-pakar ekonomi kita lebih banyak menggunakan data-data makro sekunder dan tersier di bidang keuangan. 39 milyar. telah membantu 24. yang memang tidak tercatat dalam statistik. yang bunganya sangat memberatkan APBN. Ekonomi rakyat di manapun di daerah-daerah benar-benar sudah bangkit. Di Yogyakarta. anggotanya meningkat lebih dari 5 kali lipat selama periode krisis (1998-2002). ―Jika pertumbuhan ekonomi hanya ditopang oleh konsumsi maka pertumbuhan ekonomi tidak akan berkelanjutan‖. Selain itu Koperasi Bina Masyarakat Mandiri yang didirikan 28 ―orang gila‖ tanggal 28 Oktober 1998 di Jakarta. Kesediaan pemerintah menerbitkan obligasi rekapitalisasi perbankan sebesar Rp. Jika ada pakar ekonomi asing mengatakan ―the only way for Indonesia‟s economic recovery is mass capital inflow from abroad‖. dengan nilai pinjaman meningkat 11 kali lipat (1116%) dari Rp. Sebaliknya data-data mikro sektor ekonomi rakyat. Fakta tentang peranan besar keuangan mikro dalam perekonomian nasional hendaknya menyadarkan pemerintah tentang perlunya mengkaji ulang teori ekonomi perbankan modern. padahal pada tahun 1999 baru Rp. 1.04 milyar menjadi Rp. maka dilihat dalam perspektif ekonomi diartikan bahwa krisis ekonomi dewasa ini sudah amat parah.9 juta menjadi Rp.650 trilyun untuk ―menyelamatkan perbankan modern‖. krisis hukum. maka ekonomi Indonesia secara keseluruhan dikatakan sudah dalam keadaan krisis parah. III. bukan krisis politik. tokh yang paling sering disebutkan di media massa adalah sebagai krisis ekonomi. dan pemerintah terperangkap dalam beban utang dalam dan luar negeri yang sangat berat. sehingga tinggal tunggu waktu dibawa masuk jurang. bukan dosen UGM). maka jelas kami menolak fatwa yang cenderung ―ngawur‖ tersebut.

bahkan juga ekonomi kekeluargaan. Pendirian PUSTEP-UGM ini kemudian diikuti pembentukan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PSEK) di Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa tanggal 16 Agustus 2003 semuanya berkehendak menyumbangkan teori-teori dan ilmu ekonomi (asli) Indonesia yang benar-benar memberi manfaat pada masyarakat/ bangsa Indonesia khususnya wong cilik. Sudah pasti mereka ―keblinger‖ karena paham sosialisme tidak pernah mati. Revolusi Mewujudkan Ekonomi Pancasila Tanggal 12 Agustus 2002 UGM mendirikan PUSTEP (Pusat Studi Ekonom Pancasila) yang kemudian disambut pembentukan Komisi Ad Hoc Kajian Ekonomi Pancasila pada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Yang rusak adalah ekonomi konglomerat yang pada masa-masa jayanya terlalu mengandalkan pada modal asing yang murah. kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. dan ekonomi RRC tumbuh cepat bukan karena meninggalkan paham sosialisme tetapi karena amat berkembangnya ekonomi rakyat. tetapi setelah terjadi apresiasi dolar 6 kali lipat secara tiba-tiba maka konglomerat-konglomerat tersebut telah benar-benar hancur berkeping-keping. bukan kerusakan ekonomi Indonesia. sedangkan ―kerusakan bangsa‖ yang diklasifikasi sebagai ―hampir sempurna‖ oleh Syafii Ma‘arif adalah kerusakan dalam bidang tatakrama atau etika politik. 1759. dan moral. tetapi dalam bidang politik. Ekonomi siapa yang akan dipulihkan? Ekonomi konglomerat jangan dipulihkan. the strange and sudden death of a tiger. Jika ekonomi Indonesia telah diibaratkan sebagai harimau ( tiger) yang sudah mati sejak krismon 1997-1998. dan kita tidak perlu mati-matian memulihkan kondisi ekonomi pra-krisis yang sangat timpang. Yang benar manusia adalah juga homo socius dan homo ethicus. IV. Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang demokratis. Pandangan dan pemihakan mereka pada konglomerat yang liberal-kapitalistik memang amat sulit diubah lebih-lebih setelah (istilah mereka) ‖Uni Sovyet pun kapok dengan sosialisme. yang hendak digusur dari pasal 33 UUD 1945.Dapat disimpulkan bahwa kondisi ―amat gawat‖ yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini tidak terletak dalam bidang ekonomi khususnya ekonomi rakyat. [5] Adam Smith. Ekonomi Pancasila bukanlah sistem ekonomi baru yang masih harus diciptakan untuk mengganti sistem ekonomi yang kini ―dianut‖ bangsa Indonesia. dimana ekonomi rakyat mendapat dukungan pemihakan yang sungguh-sungguh dari pemerintah.[5] [4] Hal Hill dalam buku pertama tahun 1993 memuji-muji ekonomi Indonesia sebagai The Southeast Asia‟s emerging giant. Disinilah kekeliruan fatal pakar-pakar ekonomi makro yang sejak krismon 1997 menyatakan ekonomi Indonesia telah ―mati secara aneh dan tiba -tiba‖ (the strange and sudden death of a tiger )[4]. tetapi dituduh sebagai sistem ekonomi ―sosialis-komunis‖ ala Orde Lama 1959-1966. dan RRC juga sudah menjadi kapitalis”. Korupsi yang makin merajalela yang ―menyebar‖ dari pusat ke daerah-daerah bersamaan dengan pelaksanaan otonomi daerah bukanlah ―krisis ekonomi‖ tetapi krisis moral. adalah karena mereka secara a priori menganggap ekonomi kerakyatan bukan sistem ekonomi pasar. The Theory of Moral Sentiments. Bahwa sejauh ini pakar-pakar ekonomi arus utama menolak konsep ekonomi kerakyatan. berbeda dengan pandangan pakar-pakar ekonomi arus utama (main stream). Bibit -bibit sistem ekonomi Pancasila sudah ada dan sudah dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Indonesia terutama pada masyarakat perdesaan dalam bentuk usaha- . hukum. Indonesia sebaiknya tidak usah berbicara tentang pemulihan ekonomi ( economic recovery). Ekonomi Indonesia akan tumbuh cepat seperti ekonomi RRC jika mampu mengalahkan virus korupsi yang tumbuh subur sejak awal gerakan reformasi yang telah benar-benar melenceng. Apakah kondisi ekonomi konglomerasi seperti ini akan kita pulihkan? Pasti tidak. Kerusakan ekonomi bangsa memang hampir sempurna. tetapi bukan kerusakan ekonomi rakyat. kerusakan ekonomi yang dialami sektor modern/ konglomerat tidak perlu diratapi. Demikian. lalu apa yang terjadi dengan orang-orangnya? Apakah mereka (bangsa Indonesia) juga ikut mati? Inilah tidak realistisnya analisis ekonom yang memberikan konsep-konsep ekonomi abstrak dari manusia-manusia ekonomi (homo ekonomikus) tanpa merasa perlu membumikannya. tetapi kemudian pada tahun 1999 menyebutnya telah mati. menunjuk pada asas ke-4 Pancasila.

[1] Makalah untuk Seminar Ekonomi Masa Depan Indonesia Pasca IMF. maka reformasi lebih -lebih yang bersifat tambal-sulam jelas tidak akan memadai. Tindakan besar yang dimaksud adalah suatu tindakan fundamental. hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang. meskipun keberpihakan pemerintah pada konglomerat belum hilang. Jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu menjadi satu realiteit. Seorang pengemudi ‟speed boat‟ Zamrani (26 th) yang hanya tamat SD 6 tahun menegaskan “Ekonomi Pancasila dalam Aksi” di dalam pelayanan jasa transpor di Sungai Mahakam Kaltim. dan sistem ekonomi kerakyatan sedang mencari bentuknya yang tepat dan operasional. Ketika terjadi krismon 1997-1998. perjuangan. sedangkan taksi Kijang dan lain-lain kendaraan “mini-bus” untuk jurusan Kota BangunTenggarong-Samarinda. dan Balikpapan. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. Jihad akbar adalah jenis perjuangan berat melawan diri sendiri. Kompleksitas krisis multidimensi sekarang dan beratnya beban kesulitan mengatasi dan mengakhirinya membuat tekad membangun masa depan harus diwujudkan dalam tindakan-tindakan besar dan inisiatif tingkat tinggi. Justru inilah suatu bentuk nyata ‖jihad akbar” yang tidak menuntut pengorbanan pertumpahan darah. tetapi gerakan ekonomi kerakyatan yang dipicu semangat reformasi memberikan iklim segar pada berkembangnya sistem ekonomi Pancasila yang berpihak pada ekonomi rakyat. atau bahkan perang. ―Kapal‖ Indonesia harus dibalikkan arahnya. Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. Adapun mengapa praktek-praktek kehidupan riil dan kegiatan ekonomi rakyat yang mengacu pada sistem (aturan main) ekonomi Pancasila ini tersendat-sendat. berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila (Soekarno. “Bagi-bagi rezeki” ala ekonomi rakyat di Kota Bangun inilah bukti nyata telah diterapkannya asas-asas ekonomi Pancasila di Kalimantan Timur.usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. yang begitu silau dengan sistem ekonomi kapitalis liberal dari Barat (Amerika). suatu perjuangan yang memerlukan keberanian menyatakan apa yang benar walaupun pahit karena bertentangan dengan kepentingan pribadi atau kelompok. Sistem ekonomi kerakyatan merupakan sub-sistem dari sistem ekonomi Pancasila yang diragukan dan tegas-tegas ditolak oleh teknokrat ―keblinger‖. lain coraknya. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus. ketika sistem ekonomi kapitalis liberal di Indonesia sedang digugat. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi dan Moral. 25-27 September 2003. Pembentukan PUSTEP UGM tepat waktu untuk mengisi kevakuman sistem ekonomi nasional. suatu bentuk pengorbanan psikologis. KOPMA-UGM. . tetapi menuntut pengorbanan melawan egoisme dan subjektivisme.. Dr. 11 Oktober 2003. Itulah revolusi bukan sekedar reformasi.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. „Speed‟ hanya melayani penumpang Melak-Kota Bangun pulang-pergi (Kutai Barat dan Kutai Kartanegara).. .[6] [6] Nurcholish Madjid. Mubyarto -. PUSTEP UGM bertekad melakukan kajian-kajian kehidupan riil (real life) sehingga dapat membakukan ilmu ekonomi tentang kehidupan riil ( real-life economics) dari masyarakat/bangsa Indonesia. 11 Oktober 2003 Oleh: Prof. alasannya jelas karena politik ekonomi yang dijalankan pemerintah bersifat liberal dan berpihak pada konglomerat. 1 Juni 1945) Jika Ahmad Syafii Ma‘arif dan Franz Magnis-Suseno di dalam Seminar ―Meluruskan Jalan Reformasi‖. janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya ialah perjuangan. yaitu di antara 79 „speed‟ dan 60 taksi yang semuanya dimiliki warga Kota Bangun. yang secara moral setara dengan revolusi. Seminar UGM. mengibaratkan bangsa Indonesia sudah mendekati ―jurang kehancuran‖. Nanti kita bersama-sama sebagai bangsa yang bersatu padu. sekali lagi perjuangan.

A Development Alternative for Indonesia. Masri Singarimbun & D. 1999. Yogyakarta. 2003. Aditya Media. Pemda Kabupaten.720. Universitas Gadjah Mada. 9. Bila kita berbicara tentang reformasi yang jalannya hendak kita ―luruskan‖. Kembalikan Moralitas Bangsa. Perjalanan dari Melak memerlukan 4 jam. Moral. Mubyarto. Reformasi Sistem Ekonomi. 10. sedangkan ke perbatasan dengan Kalteng yang hanya 10 km ditempuh dalam 1 jam perjalanan. Mubyarto. Jakarta. Grayson & Shannon Smith. sehingga total 25 murid. 2003. Anthem Press. Ha-Joon. Membangun Sistem Ekonomi. ibukota Kutai Barat) dengan perjalanan darat sebagian besar masih jalan tanah buatan perusahaan HPH. 1976. Nurcholish Madjid. 5. 2003. 8. Seminar Nasional. tidak mungkin setiap kampung mempertahankan SD sendiri-sendiri dengan jumlah murid sangat sedikit. 2000. Seminar Nasional. 7. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi dan Moral.000 per-bulan). Universitas Gadjah Mada. namun perhatian terhadap . dan revolusi dalam kesadaran seluruh warga masyarakat bagaimana menjamin pendidikan yang bermutu bagi generasi anak cucu . Singapore. London. Soekarno. Norton. dan kini bertanggungjawab atas pendidikan 25 anak yang terbagi atas 6 kelas yaitu kelas I: 8 murid. SD yang layak dan bermutu harus dipusatkan di kecamatan yang murid-muridnya di‖asramakan‖ dan penyelenggaraannya ditanggung Dinas Pendidikan. kelas III: 3 murid. 2000. Chang. 12. Anak -anak kelas I – III pulang pukul 11:00. dan sangat jelas yang diperlukan sekarang bukan sekedar reformasi tambal sulam tetapi revolusi.Bacaan 1. Yogyakarta. Mubyarto PERHATIAN TERHADAP KONDISI PERSEKOLAHAN DI DAERAH TERPENCIL: BUKAN SEKEDAR REFORMASI HARUS REVOLUSI Rusnawati (47 tahun) yang guru SD Kampung Sambung. Tentu kita kagum bagaimana seorang guru mengajar 25 anak didik dengan 6 kelas yang berbeda dengan buku-buku yang sangat terbatas. Black Swan. ―12 Kali Tepuk Tangan di BPUPKI: Lahirnya Pancasila. sedangkan anak-anak kelas IV – VI pulang pukul 13:00. Penduduk dan Kemiskinan di Pedesaan Jawa. 2003. 2001. bertahun-tahun berjuang ―sendirian‖. Pidato pertama tentang Pancasila yang diucapkan pada tanggal 1 Juni 1945 oleh Bung Karno ‖. 11. Indonesia Today. meskipun gaji Rusnawati terhitung lumayan (Rp 1. berjarak 160 km dari Melak (Sendawar. 2. WW. Kecamatan Bentian Besar. ISEAS. New York. Yogyakarta. Franz Magnis-Suseno SJ. 3. 2002. kelas IV: 1 murid. dan Pendidikan. 2002. Sekolah dimulai pukul 6:00 pagi dan pada pukul 6:30 semua murid ―gosok gigi‖ bersama. Kalimantan Timur. The Rebel Within. The Mystery of Capital. Joseph E. yaitu revolusi dalam perhatian pemerintah terhadap kondisi persekolahan di kampung ini. Hernando. Ahmad Syafii Ma‘arif. 6. kelas II: 3 murid. Gadjah Mada Press. Panitia Pusat ―Silaturahmi Kebangsaan 2003‖. Universitas Gadjah Mada. Mubyarto dan Daniel W. Kedua. BPFE. Lloyd. Kabupaten Kutai Barat. 4. Globalization and Its Discontents. Bhratara.H. 2001. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi. maka untuk SD yang ditangani Rusnawati reformasi ―belum pernah terjadi‖. De Soto. Joseph Stiglitz and The World Bank. Kampung (desa) Sambung. Stiglitz. dan kelas VI: 8 murid. kelas V: 2 murid. Penny. Pertama. Bromley. Seminar Nasional.

100 per tahun atau Rp 61. tidak sekedar reformasi yang dalam kenyataan hanya dijadikan retorika politik di Jakarta. Melihat buku-buku ajar yang dipakai sebagian besar sudah tua.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. dikhawatirkan anak-anak sangat tidak menikmati suasana sekolah dan tidak dapat diharapkan menjadi anak-anak yang cerdas. Sengkon (39) dengan gaji Rp 720. Sekarang setiap anak membayar BP3 Rp 1. Gedung SD dari kayu yang bekas rumah penduduk (5 x 15m).811.696 per tahun atau Rp . 25 September 2003 Oleh: Prof. Pos Kupang 11 September 2001 hlm. Di daerah-daerah. Kepala sekolah SD Dempar. pemerintah daerah harus mampu mendorong terjadinya revolusi atau perubahan radikal dalam menangani dunia pendidikan termasuk penyediaan anggaran 20% dari APBD seperti yang ―dianjurkan‖ UUD 1945 yang telah diamandemen. Mubyarto -. Pendapatan per kapita dari Provinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan harga konstan 1993 pada tahun 2001 adalah sebesar Rp 732. hlm. Dr. dengan titik berat pembangunan yang berlandaskan pada pembangunan ekonomi rakyat. pendidikan rakyat. Ada anak kelas I anak penginjil setempat (Yunus) yang tiap hari diantar sekolah oleh ibunya setelah ditinggal selalu pulang lagi. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM.000/bulan bertanggungjawab atas pendidikan 41 murid SD. Salah satu tujuan pembangunan ekonomi daerah Nusa Tenggara Timur adalah meningkatkan standar hidup layak yang diukur dengan indikator pendapatan per kapita riil masyarakat (Peraturan Daerah Provinsi NTT No. Jaelani (41 th). Kinerja pendapatan per kapita penduduk diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan tahun 1993 dibagi dengan jumlah penduduk tengah tahun.000 (baru saja diangkat sebagai PNS) dengan dibantu guru PTT dengan gaji Rp 400. tanpa dinding pembatas. Pendapatan per kapita dan pengeluaran per kapita dapat dijadikan sebagai indikator kemajuan pembangunan ekonomi di Nusa Tenggara Timur.Nopember 2003] Vincent Gaspersz dan Esthon Foenay KINERJA PENDAPATAN EKONOMI RAKYAT DAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Strategi pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dilakukan berdasarkan pertumbuhan melalui pemerataan dengan prinsip membangun dari apa yang dimiliki rakyat dan apa yang ada pada rakyat. 9 Tahun 2001 Tentang Program Pembangunan Daerah Tahun 2001-2004. 19).008 per bulan atau berdasarkan harga yang berlaku pada tahun 2001 adalah sebesar Rp 1. Pada saat kepada penduduk Jontai yang dipilih secara acak diajukan usulan untuk ―mengasramakan‖ anak -anak usia SD mereka ke SD Dempar. beberapa orang spontan mendukung asal tetap tidak perlu dipungut biaya. dipakai untuk semua murid dengan guru Sengkon sendirian (guru PTT Sarmoto jarang datang). Kasus kondisi sekolah dasar yang cukup ―memilukan‖ di kampung Sambung menjadi lebih ―mengerikan‖ lagi di kampung Jontai kecamatan Damai. yang merupakan filial SD Dempar.kesejahteraan guru dan penyediaan bahan-bahan ajar harus dengan anggaran yang memadai untuk penyelenggaraan sekolah-sekolah beserta asramanya. [1] 8 . 4 & 7). terutama desa-desa/kampung-kampung miskin. dan kesehatan rakyat. Masyarakat yang hampir semuanya miskin sulit diharapkan membayar biaya pendidikan anak-anak mereka. itupun ada yang keberatan karena memang tidak mampu. Demikian dari kasus 2 SD di kampung miskin di kabupaten Kutai Barat ini kiranya harus ada revolusi dalam pendidikan dasar. Strategi pembangunan yang menjadi pilihan tersebut memerlukan langkah-langkah operasional yang terukur dan disesuaikan dengan paradigma baru pembangunan (Esthon Foenay.000/bulan. sangat mendukung gagasan pengasramaan murid-murid SD desa-desa terpencil ini.

hlm. sedangkan yang berada di daerah perkotaan NTT adalah sebanyak 388.72% dari total penduduk pedesaan) hanya memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 5.000 per tahun—ranking 293 dari 294 kabupaten di Indonesia).262).72%).943.22%) daripada pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk pedesaan di NTT.028 (70. (4) Timor Tengah Utara (Rp 650.493. Berdasarkan studi ini dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pemerataan kemiskinan di Nusa Tenggara Timur yang ditunjukkan melalui rendahnya tingkat pengeluaran per kapita dari mayoritas penduduk di NTT.105). dan (6) Ngada (Rp 761. masih lebih rendah daripada pendapatan per kapita penduduk negara termiskin di dunia (Sierra Leone) yang sebesar $US 490.149).009).820.770 per bulan (NTT dalam Angka Tahun 2001.408 per tahun atau Rp 144.061) dan terrendah (pendapatan per kapita terrendah) adalah dari negara Sierra Leone yaitu $US 490.100). yaitu Kabupaten Timor Tengah Selatan (pendapatan per kapita Rp 497. terutama di daerah pedesaan NTT di mana mayoritas penduduknya (94.857).053).034 per bulan.959 orang (94.150. maka pendapatan per kapita NTT pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku adalah setara dengan $US 200-an. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Global 2002 (UNDP 2002) terhadap 173 negara di dunia.380 per tahun atau Rp 84. 469). atau hanya sekitar 3. Hal ini berarti secara kasar dapat disimpulkan bahwa pendapatan per kapita penduduk NTT yang sebesar $US 200-an—katakanlah berkisar $US 200 .985.975 per bulan (NTT dalam Angka Tahun 2001.100).000 per hari pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku pada saat itu. Kinerja pengeluaran per kapita penduduk secara rata-rata dapat juga digunakan sebagai variabel proxy (mewakili) dalam mengkaji kinerja tingkat pendapatan ekonomi penduduk dan distribusi pendapatan penduduk.000 per tahun atau Rp 1.149). hlm.339 orang (65. Pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku terdapat sekitar 90.15% penduduk NTT (3. Kinerja pendapatan per kapita lingkup kabupaten/kota tertinggi (PDRB real per kapita—tanpa minyak dan gas) adalah dari Kota Madya Jakarta Pusat (Provinsi DKI Jakarta) yaitu Rp 15. Pengeluaran per kapita pada tahun 2001 dari penduduk Provinsi Nusa Tenggara Timur atas dasar harga yang berlaku adalah sebesar Rp 1. Kinerja pendapatan per kapita di Nusa Tenggara Timur adalah yang paling rendah (paling buruk) di Indonesia.000 per hari. Jika menggunakan nilai kurs $US 1 = Rp 9000an (rata-rata nilai kurs pada tahun 2001). Terdapat dua kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pendapatan per kapita terrendah di Indonesia (ranking 293 dan 294 dari 294 kabupaten yang dipelajari).728. dan UNDP 2001) diketahui bahwa rasio Gini (indeks Gini) dari pengeluaran rumahtangga di Provinsi Nusa Tenggara Timur .417 per bulan. (3) Sumba Timur (Rp 840. Sangat sulit membayangkan betapa parahnya tingkat kemiskinan masyarakat di Nusa Tenggara Timur. BAPPENAS.250 per bulan dan terrendah adalah dari Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Rp 712. BAPPENAS. dan UNDP 2001) diketahui bahwa kinerja pendapatan per kapita tertinggi (PDRB real per kapita —tanpa minyak dan gas) pada lingkup provinsi di Indonesia adalah dari Provinsi DKI Jakarta yaitu Rp 5. Sedangkan enam kabupaten di NTT memiliki kinerja pendapatan per kapita lebih tinggi daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 732.636). (6) Sikka (Rp 717. (3) Timor Tengah Selatan (Rp 550. Hal ini berarti pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk perkotaan di NTT lebih tinggi sekitar Rp 713.615 per bulan.000 per tahun atau Rp 495. atau hanya sekitar 12 persen daripada pendapatan per kapita penduduk DKI Jakarta. dan (7) Ngada (Rp 761.000 per hari ini terbanyak berada di daerah pedesaan NTT yaitu sebanyak 3.000 per tahun atau Rp 41.039). sedangkan pengeluaran per kapita dari penduduk pedesaan di NTT adalah sebesar Rp 1. (2) Kabupaten Kupang (Rp 852.000 per bulan atau kurang dari Rp 5. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001 (BPS.125.104.591). (4) Ende (Rp 812.$US 300.298 orang) yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150.015.240 per tahun atau Rp 93. (2) Manggarai (Rp 521. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001 (BPS.680).333 per bulan. diurutkan dari yang terrendah adalah: (1) Sumba Barat (Rp 474.000 per tahun atau Rp 59. Kelompok penduduk yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150.000 per tahun —ranking 294 dari 294 kabupaten di Indonesia) dan Kabupaten Sumba Barat (pendapatan per kapita Rp 501. diurutkan dari yang tertinggi adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 1.318.333 per bulan dan terrendah adalah dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (Provinsi Nusa Tenggara Timur) yaitu Rp 497. (5) Alor (Rp 706. Pengeluaran per kapita dari penduduk perkotaan di NTT adalah sebesar Rp 1. 129).057). (5) Flores Timur (Rp 778. diketahui bahwa kinerja pendapatan per kapita tertinggi adalah dari negara Luxembourg yaitu sekitar $US 50 ribu ($US 50. Kinerja pendapatan per kapita dari kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 adalah terdapat tujuh kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pendapatan per kapita per tahun lebih rendah daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 732.14 persen daripada pendapatan per kapita penduduk Jakarta Pusat.951).04%).000 per bulan atau kurang dari Rp 5.

(5) Ngada (Rp 1.017.750) di Nusa Tenggara Timur adalah sekitar 7. diurutkan dari yang tertinggi adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 1. (9) Alor (Rp 1. yaitu: sisi input dan sisi output.pada tahun 1999 adalah rendah yaitu 0.962. yang berarti tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi dari sektor lembaga keuangan bukan bank adalah 75 kali lipat (7500%) daripada tingkat produktivitas tenaga kerja terrendah dari sektor industri pupuk. dan Kabupaten Kupang. Hal ini berarti bahwa tingkat ketimpangan antara produktivitas tenaga kerja sektoral tertinggi (sektor lembaga keuangan bukan bank —Rp 35.640).710). Kinerja produktivitas tenaga kerja regional di Nusa Tenggara Timur diukur berdasarkan rasio produk domestik regional bruto (PDRB) kabupaten tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 dengan jumlah tenaga kerja yang ada di kabupaten itu pada tahun 2001.660).080). Hal ini berarti bahwa tingkat ketimpangan antara produktivitas tenaga kerja regional tertinggi (Kota Madya Kupang—Rp 7.980). (10) Sumba Timur (Rp 566.970). (8) Flores Timur (Rp 528. (5) Timor Tengah Utara (Rp 487. (4) Belu (Rp 1. adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 7.010). Berdasarkan kenyataan di atas. (9) Kabupaten Kupang (Rp 557. Kinerja pengeluaran per kapita dari kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada tahun 1999 atas dasar harga konstan 1993 adalah terdapat sebelas kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pengeluaran per kapita lebih rendah daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 576.250). Dari 34 sektor produksi yang didefinisikan dalam Tabel Input-Output Nusa Tenggara Timur 2001 (BPS NTT.540).580). sedangkan produktivitas tenaga kerja terrendah berada dalam sektor industri pupuk.270).202.750).652.367.500 persen.650.717.650). maka pembangunan ekonomi kerakyatan di masa mendatang seyogianya memprioritaskan pada beberapa kabupaten di NTT yang masih menunjukkan kinerja rendah dalam indikator pendapatan ekonomi masyarakat yaitu: Timor Tengah Selatan. (3) Timor Tengah Utara (Rp 1.280).017.650). Hanya terdapat tiga kabupaten yang memiliki kinerja produktivitas tenaga kerja regional lebih tinggi daripada rata-rata produktivitas tenaga kerja tingkat Provinsi NTT (Rp 1. (4) Alor (Rp 485. sedangkan produktivitas tenaga kerja terrendah berada dalam Kabupaten Sumba Barat yaitu sebesar Rp 1.380).24 kali atau 724 persen.710 (atas dasar harga yang berlaku tahun 2001).820).140).030).030) dan produktivitas tenaga kerja regional terrendah (Kabupaten Sumba Barat—Rp 1. kimia dan barang dari karet. . (8) Sikka (Rp 1. dan (10) Ende (Rp 1. Kinerja produktivitas tenaga kerja di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 adalah sebesar Rp 1. kimia dan barang dari karet yaitu sebesar Rp 469.017. (2) Manggarai (Rp 1. Alor.717. (2) Sikka (Rp 440. Dari 13 kabupaten/kota yang dipelajari. (6) Timor Tengah Selatan (Rp 1.717.590) dan produktivitas tenaga kerja sektoral terrendah (sektor industri pupuk. yang berarti tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi dari Kota Madya Kupang adalah 7.360).24 kali lipat (724%) daripada tingkat produktivitas tenaga kerja terrendah dari Kabupaten Sumba Barat.281. maka produktivitas memandang dari dua sisi sekaligus. Kinerja Produktivitas Tenaga Kerja di NTT Apabila ukuran keberhasilan produksi hanya memandang dari sisi output.900).148. diurutkan berdasarkan produktivitas tenaga kerja terrendah. (7) Ende (Rp 501.900).534.590 (atas dasar harga yang berlaku tahun 2001).942. dan (11) Ngada (Rp 566.703. yang menunjukkan telah terjadi pemerataan pengeluaran rumahtangga pada tingkat pengeluaran yang rendah seperti diungkapkan di atas. Manggarai. Sumba Barat.597.030).750 (atas dasar harga konstan 1993). diketahui bahwa produktivitas tenaga kerja tertinggi berada dalam Kota Madya Kupang sebesar Rp 7.406.187.28.367. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input dalam memproduksi output (barang dan/atau jasa).030 (atas dasar harga konstan 1993). Belu.187. (7) Flores Timur (Rp 1. (2) Kabupaten Kupang (Rp 1.540). diurutkan berdasarkan produktivitas tenaga kerja tertinggi.960).180) dan (2) Manggarai (Rp 579. (3) Timor Tengah Selatan (Rp 472. Timor Tengah Utara. diurutkan dari yang terrendah adalah: (1) Sumba Barat (Rp 437. (6) Belu (Rp 494.650).730).367.575. Kinerja produktivitas tenaga kerja dari kabupaten-kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah terdapat 10 kabupaten yang memiliki kinerja produktivitas tenaga kerja regional lebih rendah daripada rata-rata produktivitas tenaga kerja tingkat Provinsi NTT (Rp 1. kimia dan barang dari karet —Rp 469.900). adalah: (1) Sumba Barat (Rp 1.560).523.710) di Nusa Tenggara Timur adalah sekitar 75 kali atau 7. 2002) diketahui bahwa produktivitas tenaga kerja tertinggi berada dalam sektor lembaga keuangan bukan bank yaitu sebesar Rp 35. Hanya terdapat dua kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pengeluaran per kapita lebih tinggi daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 576. dan (3) Sumba Timur (Rp 1.

―on-farm‖. ―on-farm‖. BPS. Hal yang paling memungkinkan adalah mengembangkan sektor-sektor agribisnis yang mampu mengaitkan secara terpadu dan terintegrasi dari agribisnis hulu. dan sejahtera. 2002. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kupang dan Universitas Trisakti. sesuai dengan visi dari pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur. Bappenas. Ir. Prof. di masa mendatang akan mampu meningkatkan produktivitas tenaga kerja regional. Perspektif Perencanaan dan Paradigma Baru Pembangunan. Penduduk Nusa Tenggara Timur—Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. dan UNDP. Peningkatan produktivitas tenaga kerja melalui perubahan struktur produksi terhadap PDRB. . Artikel dalam Pos Kupang 11 September 2001. Jakarta. Kupang. dan UNDP. akan memberikan konsekuensi lebih lanjut berupa peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat. Kupang. Jakarta yang saat ini bermukim di Vancouver. Dr. BPS Jakarta-Indonesia. Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2001. maju. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. hlm. BPS NTT. Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2000. 2002. Bappenas. 2001. melalui mengembangkan sektor agribisnis dari hulu. Canada. Kupang. 4 dan 7. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 8 Tahun 2001 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Tahun 2001-2004. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 9 Tahun 2001 tentang Program Pembangunan Daerah (PROPEDA) Tahun 2001-2004. Badan Pusat Satatistik. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Esthon Foenay. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. Kupang. 2001. BPS NTT. Kupang. Tabel Input-Output Nusa Tenggara Timur 2001—Klasifikasi 35 Sektor. 2001. dan hilir. Perencanaan Sumber Daya Manusia Tingkat Makro di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jakarta 2001.Si adalah Kepala BAPPEDA Provinsi Nusa Tenggara Timur yang bermukim di Kupang. Esthon. Vincent Gaspersz adalah Guru Besar Ekonomi Manajerial pada Program Pascasarjana Unika Widya Mandira. 2002. Publikasi Bersama oleh BPS. Hal ini akan mampu mewujudkan cita-cita jangka panjang berupa mewujudkan masyarakat Nusa Tenggara Timur yang mandiri. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 6 Tahun 2002 tentang Rencana Strategis Pembangunan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2002-2004. 2002. Kupang. Dengan demikian telah jelas bahwa strategi perubahan struktur produksi dari sektor-sektor produksi yang memberikan kontribusi terhadap PDRB. sampai hilir. NTT. Foenay. M. yang pada akhirnya akan mampu mewujudkan kemandirian masyarakat membiayai kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. Kupang. 2001. 2001. 2001. Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001—Menuju Konsensus Baru: Demokrasi dan pembangunan manusia di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA BAPPEDA NTT dan Program Pascasarjana UNIKA WIDYA MANDIRA.Berdasarkan hasil studi ini direkomendasikan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dari kabupaten-kabupaten di NTT melalui melakukan transformasi struktur produksi atau menurunkan tingkat kontribusi dari sektor-sektor primer terhadap PDRB kabupaten itu. Laporan Studi Kerjasama Bappeda NTT dengan Program Pascasarjana Universitas Katolik Widya Mandira. BPS NTT.

and the increased threats now directed at Iran and Venezuela—all signal the rise of a dangerous new era of energy imperialism. foreign oil dependency. the invasion and occupation of Afghanistan (the geopolitical doorway to Western access to Caspian Sea Basin oil and natural gas) following the 9/11 attacks. The Geopolitics of Oil In April 1998 the United States for the first time imported the majority of the petroleum it consumed. (2) the disappearance of spare world oil production capacity. At the same time fears that the world would soon reach peak oil production became increasingly prominent.S.S. Laherrère.S.‖ The Campbell and Laherrère article and the question of peak oil immediately drew the attention of the International Energy Agency (IEA). The crossing of this threshold pointed to a very rapid growth in U. the 2003 invasion of Iraq. Politics/ Economics The rise in overt militarism and imperialism at the outset of the twenty-first century can plausibly be attributed largely to attempts by the dominant interests of the world economy to gain control over diminishing world oil supplies. Campbell and Jean H. and (4) looming fears of peak oil.‖2 This required that the United States as the hegemonic power. A key event was the publication in Scientific American in March 1998of ―The End of Cheap Oil‖ by retired oil industry geologists Colin J. importation of foreign oil.S. ―The End of Cheap Oil‖ predicted that world oil production would peak ―probably within 10 years. with the backing of the other leading capitalist states. seek to extend its control over world oil reserves with the object of boosting production. Seen in this light. the .Peak Oil and Energy Imperialism John Bellamy Foster Home Subscribe Notes From the Editors ESSAYS ON: » Africa » Europe » Feminism/Women and Politics » Globalization » Labor and Working-Class Issues » Latin America » Media/ Communications » 9/11–War on Terrorism » Social/Political Theory » U. the rapid expansion of U. military activities in the Gulf of Guinea in Africa (where Washington sees itself as in competition with Beijing). assuming a high profile behind the scenes in establishment discussions.1 Beginning in 1998 a series of strategic energy initiatives were launched in national security circles in the United States in response to: (1) the crossing of the 50 percent threshold in U. The response of the vested interests to this world oil supply crisis was to construct what Michael Klare in Blood and Oil has called a global ―strategy of maximum extraction. (3) concentration of an increasing percentage of all remaining conventional oil resources in the Persian Gulf.

‖ he asked. in its World Energy Outlook of 1998. In November 2000. but giant. Matthew Simmons. The peaking of United Kingdom North Sea oil production in 1999 (Norwegian production peaked two years later) added a still greater sense of urgency. ―what will this do to the world‘s average depletion rate?‖4 In 2000 Simmons‘s concerns regarding diminishing oil supply led to his becoming an energy advisor for George W. CEO of the Houston-based energy investmentbanking firm Simmons and Company International and a member of the National Petroleum Council and the Council on Foreign Relations.‖ I said.‖ The analysis itself.6 The Energy Information Administration (EIA) of the U. would push the peak back around a decade further. His 2005 book.S. As Simmons reported to Bush‘s cousin: I said. considering a number of scenarios. the introduction of this technology most likely accelerated their depletion. if this all breaks out and Bush is misinformed. Twilight in the Desert: The Coming Saudi Oil Shock and the World Economy. oil policy call you and [say ‗shit!‘] about five times in 20 seconds. who had been sent to examine the spare oil production capacity of the OPEC countries.‖ at the urging of former chairman of the Senate Armed Services Committee Sam Nunn and former secretary of defense (and former secretary of energy) James R. arguing that the Saudi oil production peak was imminent. As opposed to those who saw the peak occurring ―as early as 2004‖ the EIA concluded that ―world conventional oil production may increase two decades or more before it begins to decline.OECD‘s energy organization. Referring to oil fields ―brought into production since 1970.3 This. but this. The IEA claimed that even adopting the pessimists‘ assumptions on the real extent of world oil reserves and the existence of a bellshaped production curve (but without the sharp oil price hike suggested by Campbell). Rather than extending the life of oil fields as previously supposed.S.8 In July 1998 the Center for Strategic and International Studies (CSIS) launched its ―Strategic Energy Initiative.S. This was increasingly integrated with wider issues on the expansion of the U. ―Between now and the election. Bush‘s presidential campaign. ―When you have someone who is the head of U.‖ Simmons noted that ―almost all of these new fields have already reached peak production and are now experiencing rapid rates of decline…fAnd when the stable base of old.‖ Employing the IEA‘s own assumptions on reserves. its own longterm supply model ―would not peak until around 2008–2009. Department of Energy conducted a full assessment of the peak oil issue as early as July 2000. was still far from distant. however. this will sink you. published an article in Middle East Insight in 1999 in which he emphasized the ―far faster‖ depletion of major oil fields arising from high-extraction technology. was not altogether reassuring to the vested interests. Schlesinger. . advising on the growing oil constraints. As he recounted it in a February 2008 interview. has become one of the most influential works propounding the peak oil notion.7 These concerns with regard to world oil supply that began to penetrate the corridors of power in the 1998–2001 period led to a wide-ranging debate within the inner circles in the United States about the nature of the oil extraction problem and the strategic means with which to alleviate it. however. moreover. this is so much worse than what they‘ve warned us about. he can mispronounce every head of state in the world. fields also starts to deplete. since it suggested that a world oil peak could be reached as early as 2021. empire raised by groups such as the Project for a New American Century. he had ―pulled aside‖ Bush‘s ―first cousin‖ in early March 2000 to tell him of an earlier conversation he had had with an assistant to Secretary of Energy Bill Richardson.‖ And that dragged me into helping create the comprehensive energy plan put forth by Bush when he was running.5 Simmons was a member of the Bush-Cheney Energy Transition Advisory Committee.

S. ―Iraqi reserves. had ―special responsibilities for preserving worldwide energy supply‖ and ―open access‖ to the world‘s oil.10 These reports by national security analysts on strategic energy policy were followed in May 2001 by the White House release of its National Energy Policy. operating well below capacity.‖ Indeed. The question of a world oil peak in the decade 2000–10 was also examined.‖ The answer was for the Western powers led by the United States to play a more direct role in the development of world oil resources.S. petroleum security. In this situation. partly due to oil producing countries devoting oil revenues to social projects rather than to investment in new production capacity. As the ―only superpower‖ the United States.S. with one in which the multinational oil corporations centered in the advanced capitalist economies once again took charge of reserves and investments. The Baker Institute/Council on Foreign Relations report emphasized the adequacy of world oil reserves for decades to come but argued that world oil was facing ―tight supply‖ due to ―underinvestment‖ in new production capacity and ―volatile states. It stressed that the Persian Gulf would have to expand its energy production ―by almost 80 percent during 2000–2020‖ in the face of rising demand and declining oil production elsewhere in the world in order to meet world energy needs. with Nunn and Schlesinger as cochairs. Overall. issued under the direction of Vice President Dick Cheney. the Baker Institute/Council on Foreign Relationsreport emphasized.S. It too emphasized the need for U. Underscored throughout the report was the necessity of finding ways to increase oil exports from Iraq and Iran both then under U. such as Morse and Daniel Yergin of Cambridge Energy Research Associates. The CSIS Strategic Energy Initiative officially rejected the notion that the world oil peak would be reached as early as 2010. ―national energy security‖ in the hands of ―foreign nations. since there was a danger that oil price increases and supply shortages would make ―the United States appear more similar to a poor developing country. reliance on foreign oil imports could increase to almost two-thirds of its total gasoline and heating oil consumption by 2020. Morse. The Geopolitics of Energy into the 21st Century. the U. ―represent a major asset that can quickly add capacity to world oil markets and inject a more competitive tenor to oil trade. which included the ―possibility that Saddam Hussein may remove Iraqi oil from the market for an extended period. Nevertheless.9 In 2001 the James Baker III Institute for Public Policy of Rice University and the Council on Foreign Relations cosponsored a study of Strategic Energy Policy Challenges for the 21st Century.‖ Excess capacity had been ―wiped out. it declared. and oil pessimists such as peak oil proponent Simmons.the Strategic Energy Initiative issued a three volume report. President Bush warned in May 2001 that dependence on foreign crude oil put U. This would be coupled with replacement of the current political economy of oil dominated by national oil companies.‖ the Strategic Energy Policy report emphasized. noting that total U. its report took the peak oil issue extremely seriously. and in the previous year ―turning its taps on and off when it has felt such action was in its strategic interests to do so. The problem was what to do about Saddam Hussein. the Baker Institute/Council on Foreign Relations report pointed out that Iraq had emerged as a key ―swing producer‖ of oil.S. chaired by energy analyst Edward L.‖ This presented a growing danger to the world capitalist economy. oil production had fallen 39 percent below its 1970 peak and that U. the stakes were exceedingly high. which had arisen with the growth of ―resource nationalism‖ in the third world.‖ In terms of the long-term world oil supply outlook. Task force members included both oil optimists. some of whom do not share our interests.S. economic sanctions.‖ Investment in the enhancement of Iraqi oil production capacity was essential. Department of Energy‘s International Energy Outlook in 2001 projected the need for a doubling of Persian Gulf oil production over 1999 . focusing on the arguments of Campbell and Laherrère and Simmons.‖ falling to ―negligible‖ amounts.

Saddam Hussein‘s removal and the occupation of Iraq was seen as enhancing the security of Middle East oil.‖ As former Federal Reserve Board Chairman Alan Greenspan. military. needed to be seen against the background of previous Western military interventions aimed at securing the oil of the region. Key figures in the Bush administration such as Donald Rumsfeld and Paul Wolfowitz had been pushing for an invasion of Iraq even before the election. carrying out regime change in Iraq. the Bush administration turned.S. seemed unlikely to undertake. and military action in the Gulf. Only a vast increase of oil production in the Persian Gulf as a whole could prevent an enormous gap emerging between oil production and demand over the next two decades. intervention in Iraq and its increased military role in the Middle East was.S. capacity was extremely tight. Iraqi crude oil production in 2001 was 31 percent less than in 1979. Mossadeq‘s nationalization of Anglo-Iranian oil in 1951 [resulting in the CIA‘s overthrow of Iranian Prime Minister Mossadeq and the installation of the Shah in 1953] and the aborted effort by Britain and France to reverse Nasser‘s takeover of the key Suez Canal link for oil flows to Europe in 1956. Both nations were viewed as underproducing due to underinvestment and the effects of sanctions. the strategy also entailed increased military intervention. But since the sought-after increases could be doomed by instability and conflict in the region. As Michael Klare wrote in his Blood and Oil: In the months before and after 9/11. It is unlikely that this strategy was ever formalized in a single. The IEA estimated that Persian Gulf states would have to invest over half a trillion dollars on new equipment and technology for oil production capacity expansion by 2030 in order to meet projected oil production levels. . strategic control of the Middle East and its oil was viewed as the key to establishing the basis of a ―new American century. Greenspan claimed. the administration adopted a series of policies that together formed a blueprint for political.‖ The U. the ―War on Terrorism‖ led to the invasion first of Afghanistan. and exerting maximum pressure on Iran.S. national security and energy analysts as well as energy corporations and the Bush administration had thus arrived at the conclusion by spring 2001 that.11 U. and economic dominance of the Gulf. presaging a series of oil price shocks. the Bush administration fashioned a comprehensive strategy for American domination of the Persian Gulf and the procurement of everincreasing quantities of petroleum. U.‖ The U.S. Once the September 2001 attacks occurred. to the military as the ultimate guarantor. economic. This optimistic forecast could not possibly be fulfilled.S. giving the United States a geopolitical doorway (and pipeline route) to Central Asia and the Caspian Sea Basin. while Iran‘s had fallen by about 37 percent since 1976. Behind all of this lay the specter of peak oil production. without massive investment in an expansion of capacity in the Persian Gulf of a kind that key states. to and reversal of. however. all-encompassing White House document. political. From the standpoint of the geopolitics of oil. the top U. as had all other administrations before it. followed by the invasion in 2003 of Iraq. economic official throughout this period. and providing a staging ground for increased U. stated in his book The Age of Turbulence in 2007: ―I am saddened that it is politically inconvenient to acknowledge what everyone knows: that the Iraq war is largely about oil. Rather. such as Iraq and Iran. and even Saudi Arabia. This approach—I call it the strategy of maximum extraction—was aimed primarily at boosting the oil output of the major Gulf producers. for example: ―the reaction. Rather than try to solve the problem on the demand side by lessening consumption.levels by 2020 in order to meet expected world demand. while substantial oil reserves still existed. presenting the possibility of a big boost in Iraqi oil production.S.12 Militarily the issue was one of shoring up Saudi Arabia in the face of growing signs of instability. invasion of Iraq.

‖ The economic and environmental costs are thus prohibitive. Oil production in the Persian Gulf as a whole increased by 2. Peak oil is not the same as running out of oil.17 A key part of the argument on peak oil is the fact that discoveries of oil fields worldwide peaked in the 1960s. oil peak in 1970.‖ And this vast increase in oil production needed to come largely from the Persian Gulf. having declined from 2. Today it is present in all establishment discussions of the world oil issue. These methods were pioneered in the 1950s by oil geologist M. who achieved fame for successfully predicting the U. The extraction of oil from any given oil well typically takes the form of a symmetrical. In a September 13.15 Instead. These include heavy oil.16 At the time U. e. The conventional notion that . where two-thirds of the world‘s reserves and hence most of its capacity for increased extraction was located. Iraq‘s average annual oil production in 2007 had fallen to 13 percent below its 2001 level. It requires one billion cubic feet of natural gas to generate one million barrels of synthetic oil from oil sands. Two tons of sand must be mined to get one barrel of oil. but also at much greater cost—monetarily and to the environment.‖ Peak oil is generally viewed in terms of the peaking of conventional crude oil supplies on which the main estimates of oil reserves are based.g.1 mb/d. Since oil production for an entire country is simply a product of the aggregation of individual wells. The eventual peak in oil production is therefore sometimes known as ―Hubbert‘s peak. along with the stagnation of world oil production as a whole. This liquid waste is stored in enormous and rapidly expanding ―tailing ponds. while the average size of new discoveries has also declined over time.‖14 Peak Oil: A Global Turning Point? In the five years that have elapsed since the United States invaded Iraq the world oil supply problem has drastically worsened.for Greenspan—the leading spokesperson for financial capital in the 1990s and early 2000s—justified by the fact that ―world growth over the next quarter century at rates commensurate with the past quarter century will require between one-fourth and two-fifths more oil than we use today.4 to 2. Geologists have become adept at estimating the point at which a peak in national production will occur. until a peak is reached when about half of the accessible oil has been extracted. As the price of oil rises some of these sources become more exploitable. troops reached Baghdad peak oil was already a specter looming over the globe. bell-shaped curve with extraction steadily rising. producing two and a half gallons of toxic liquid waste for every barrel of oil extracted. and shale oil.5 million barrels a day (mb/d) to 6 or even 10 mb/d. Estimates of the potential for increased Iraqi oil production made prior to the war had suggested that Iraq free of sanctions could potentially increase its crude oil production within a decade from its previous 1979 high of 3.4 mb/d on average between 2001 and 2005 and then dropped by 4 percent in 2005–07. prime time television speech. Rather it simply means the peaking and subsequent terminal decline of oil production. There are also unconventional sources of oil that can be produced at much greater cost and with a much lower energy returned on energy invested (EROEI) ratio. 2007. Oil sand mining also requires vast quantities of water.S. King Hubbert. Peak oil therefore inevitably signals the end of cheap oil. Bush declared that if the United States were to pull out of Iraq ―extremists could control a key part of the global energy supply. Those who argue that peak oil is imminent insist that estimates of proven reserves are commonly exaggerated for political reasons. as determined primarily by geological and technological factors.S.13 Although the Bush administration criticized Greenspan‘s statement. It is estimated that it takes an equivalent of two out of three barrels of oil produced to pay for the energy and other costs associated with extracting oil from the tar sands in Alberta. by 2 percent a year.. and that actual retrievable reserves may be considerably less. petroleum derived from oil sand. national oil production can be expected to take the form of a bell-shaped curve as well. the centrality of oil in the occupation of Iraq was not something that it could easily deny.

In fact. One of these is that of ―early peakers‖ (usually seen as peak oil proponents proper). Chart 1: World oil production and supply Source: Energy Information Administration.S. since not only is petroleum the most protean fuel. An added consideration is whether world oil production will face a classic bell-shaped curve. http://www. culminating in a slender. before declining. Explaining that a plateau is the most likely initial outcome at the world level.4.. ―Oil‖ according to the IEA (and the EIA.eia. These analysts argue that peak oil will probably be reached by 2010–12.needs additional processing to produce synthetic crude.S. has now narrowed down to two basic positions. The ―world oil supply‖ line. world oil supply appears already to have reached a plateau over the last three years at the level of 85 mb/d. Department of Energy.‖ Unconventional oil is derived from other processes. The ―crude oil production‖ line shows a very slight dip in 2005– 07. resulting in what appears to be a more definite plateau. An imminent peak in conventional oil thus strikes at the lifeblood of the existing capitalist economy. This therefore has lent credence to the notion that this is the form the peak will initially take. The alternative position. however. labeled ―world oil supply. writes: Why the plateau? Oil production is constrained by economic conditions (in an economic downturn.8 mb/d in 2005 to 73. the shape of the production curve is modified by the increasing .there are forty years of crude oil production remaining at current rates of output is seen as misleading.‖20 The lower line in chart 1. labeled ―crude oil production. April 2008. Peak oil analysts therefore focus on production levels rather than reserves. as well as by political events such as war and revolutions. tables 1. It presents the possibility of a drastic economic dislocation and slowdown.‖ also includes unconventional sources plus net refinery processing gains (losses). In addition.4d and 4. a leading peak oil proponent. reflecting the fact that crude oil production fell from an average of 73. for which there is no easy substitute in the quantities needed.doe. ―and/or [other fuel that]. International Petroleum Monthly.‖ Conventional or crude oil is readily processed oil ―produced from underground hydrocarbon reservoirs by means of production wells. coal-to-liquid. oil demand is in the form of gasoline and petrodiesel consumption by cars and trucks.‖ is that the world oil peak will not be reached until 2020 or 2030. refinery processing gains. and may have already been reached in 2005–06. Therefore more than two-thirds of U.18 The peak oil debate.3 mb/d in 2007.gov/ipm/supply.‖ refers simply to production of conventional oil. rounded peak. oil sands. and the production of conventional and unconventional oil. Chart 1 shows world oil production/supply from 1970 to 2007. which has adopted an almost identical approach) is defined to include ―all liquid fuels and is accounted at the product level. oil shales.19 Hence.html. The chief question now is how soon. but it is also the preeminent liquid fuel in transportation. The higher line. The peak oil crisis is more sharply defined than the more general crisis in energy.. represented by ―late peakers. since it exaggerates the reserves in the ground and downplays the fact that the economy requires that oil demand and production levels increase. biofuels. which has often been fierce over the past decade. demand for oil falls off). U. Sources include natural gas liquids and condensates. there is a growing consensus that peak oil is or will soon be a reality. remains level at about 85 mb/d due to a compensating rise in unconventional sources over the same period. such as liquefied natural gas. Richard Heinberg. and whether it is already upon us. to be followed quickly by a decline (within what can be viewed as a symmetrical curve)—or whether production will rise to a plateau and then stay there for a while.

due to declining production in old fields.‖ But the Journal article also took seriously the views of Simmons. This will create a production plateau. The combined effect of all of these factors is to cushion the peak and lengthen the decline curve. partly political-economic. But they share the belief that a global production ceiling is coming for other reasons: restricted access to oil fields.‖23 Publicly of course the peak oil problem has often been characterized by establishment sources and the media as a ―fringe issue. Atomic Energy Commission. Ecuador (1999). and particularly transportation. United States (lower 48. Argentina (1998). and ARCO. an increased average daily oil production equivalent to ten times current Alaskan production was needed ―just to stay even. as well as new extraction technologies.‖ Indeed. was on the issue of the massive transformations that would be needed in the economy. Mitigation. Hirsch of Science Applications International Corporation. India (1995). however. plateau is emerging has now become the dominant view in the industry. Denmark (2004). . Source: Energy Watch Group. October 2007. some oil executives have raised the specter of an oil supply ceiling of 100 million barrels (conventional and unconventional). Mexico (2004). The Wall Street Journal article referred to the estimates of Cambridge Energy Research Associates. In November 2007 the Wall Street Journal reported: a growing number of oil-industry chieftains are endorsing an idea long deemed fringe: The world is approaching a practical limit to the number of barrels of crude oil that can be pumped every day. natural gas plant liquids. which includes both scientists and members of the German parliament. 1974). (1999). asserting that the peak will not be reached until 2030 and that it will manifest itself at first as an ―undulating plateau. Australia (2000). While the Energy Watch Group in Germany.. The Hirsch report concluded that peak oil was a little over two decades away or nearer. Germany (1967). spiraling costs and increasingly complex oil-field geology. Exxon. Venezuela (1998).24 In February 2005 the U. Hirsch had formerly occupied executive positions in the U. ―at the furthest out. Department of Energy released a major report that it had commissioned entitled Peaking of World Oil Production: Impacts.‖ Echoing many of the same worries.S..21 The notion that a partly geological-technical. 1989). with oil output remaining relatively constant rather than rising or falling. The enormous problem of converting Supply Outlook. Syria (1995).peaked in 2006. Oman (2001). in order to mitigate the harmful effects of the end of cheap oil. ―suggest that world oil peaking will occur in less than 25 years. Yemen (2001).availability of unconventional petroleum sources (including heavy oil.‖ he suggested. and tar sands). the crisis associated with the world peak in conventional oil production would be reached ―in 2008 to 2012. Crude Oil: The Given the appearance of a world oil production plateau at present. not a peak. Boone Pickens have both raised the question of whether the peak was reached in 2005. Norway (2001).22 Oil Producing Countries Past Peak (Year of Peak) Austria (1955). Romania (1976).‖ The main emphasis of the Hirsch report commissioned by the Department of Energy. with petroleum supply likely falling short of expected demand within a decade or less. The project leader was Robert L.S. Thus Simmons and Texas oil billionaire T. Gabon (1997). who pointed out that. Egypt (1993). it is not surprising that some analysts believe that peak oil has already been reached.The near adherents [to the peak oil view]—who range from senior Western oil-company executives to current and former officials of the major world exporting countries—don‘t believe that the global oil tank is at the half-empty point. United States (Alaska. and Risk Management. 11.. contends that ―world oil production. 1971). United Kingdom.. Malaysia (1997). Colombia (1999).‖ it stated. ―Even the most optimistic forecasts. they contend. Canada (conv..‖ Yet over the past decade the question has been pursued systematically with increasing concern within the highest echelons of capitalist society: within both states and corporations. Indonesia (1977). and with oil supply seemingly stuck at the 85 mb/d level.

The fact that Venezuela contained ―almost 90 percent of the world‘s proven extra-heavy oil reserves‖ made it all the more noteworthy that it constituted a significant ―political risk‖ from Washington‘s standpoint. Nigeria. In 2007.) were gradual and evolutionary. etc.0: ―Suddenly the world is facing a moral and . coal to oil.25 In October 2005. Iraq. By May 2008 the IEA. trucks. was preparing to reduce its forecast of world oil production for 2030 from its earlier forecasts of 116 mb/d to no more than 100 mb/d. In its 2005 World Energy Outlook the IEA raised the issue of Simmons‘s claims in Twilight in the Desert that Saudi Arabia‘s super-giant Ghawar oil field. The world has never faced a problem like this. accounting for almost one-third of world (conventional) reserves: Iran.S. backtracked between 2004 and 2006.28 In February 2007 the U. according to analysts for the New York Times. Brown wrote in his Plan B 3. The price of grain spiked worldwide partly as a result.S. It argued that almost all studies had shown that a world oil peak would occur sometime before 2040 and that U. ―be close to reaching its peak if it has not already done so. low growth in availability can be expected for the next 5 to 10 years. As environmentalist Lester R. pronounced that ―we wouldn‘t be surprised if this [easy] oil would peak somewhere in the next ten years. geopolitics and market economics will cause even more significant price increases and security risks.29 In April 2008.‖ in the IEA‘s words. For the GAO the threat of a major oil shortfall was worsened by the political risks primarily associated with four countries. Department of Energy. the largest in the world. Oil production is approaching its peak.‖ Due to a combination of factors including production shortfalls and a declining dollar. the U.virtually the entire stock of U.‖ He declared there that.30 It was alarm about gasoline prices and national energy security (and no doubt the specter of a world oil peak) that induced the Bush administration in 2006 to take a more aggressive stance in promoting cornbased ethanol production as a fuel substitute. CEO of Royal Dutch Shell. degrading its projection of Saudi oil production in 2025 by 33 percent.‖26 Similarly. by 2005 there was little doubt in ruling circles about the likelihood of serious oil shortages and that peak oil was on its way soon or sooner. cars. One can only speculate at the outcome from this scenario as world petroleum production declines.S. oil in May 2008 reached over $135 a barrel (it averaged $66 in 2006 and $72 in 2007).‖ Likewise the U.27 Indeed. 20 percent of U. Hirsch wrote an analysis for Bulletin of the Atlantic Council of the United States on ―The Inevitable Peaking of World Oil Production. the problem will be pervasive and long lasting. The same month Goldman Sachs shocked world capital markets by coming out with an assessment that oil prices could rise to as much as $200 a barrel in the next two years. and Venezuela. Western oil interests were particularly distressed that the first production from Kazakhstan‘s Kashagan oil field (considered the largest oil deposit in the world outside the Middle East) was eight years behind schedule due in part to waters frozen half the year. ―previous energy transitions (wood to coal.S. Jeroen van der Ver. Army released a major report of its own in September 2005 stating: The doubling of oil prices from 2003–2005 is not an anomaly.S. Government Accountability Office (GAO) released a seventy-five-page report on Crude Oil pointedly subtitled: Uncertainty about Future Oil Supply Makes It Important to Develop a Strategy for Addressing a Peak and Decline in Oil Production. Without massive mitigation at least a decade before the fact. but a picture of the future. federal agencies had not yet begun to address the issue of the national preparedness necessary to face this impending emergency. ―could. As worldwide petroleum production peaks. corn production was devoted to ethanol to fuel automobiles.S. which had initially rejected Simmons‘s assessment. and aircraft in just a quarter-century (at most) was viewed as presenting intractable difficulties. oil peaking will be abrupt and revolutionary.

‖31 The New Energy Imperialism The response in U.. and Iraq all present immediate security problems. Al-Rodhan (a strategic analyst specializing in Gulf issues). and elsewhere. or retaliation.. rather than reinvesting the oil proceeds. Saudi Arabia. entitled. if required…Any nation (or subnational group) that contemplates violence on any scale must take into account the possibility of U.political issue that has no precedent: Should we use grain to fuel cars or to feed people?.The market says. Western Europe. on average. the Caspian Sea. and growing fears of peak oil was swift.S.S. The Deutch and Schlesinger report zeroed in on inadequate oil production capacity.S. Burke Chair in Strategy at CSIS) and Khalid R. and South America are no more stable than the Gulf. written by Anthony Cordesmam (long-time national security analyst for the U. labor strikes in Venezuela.‖32 Even more central than the CSIS study was a 2006 Council on Foreign Relations report. means that the production and transport of oil will become even more dependent on an infrastructure that is already vulnerable. In October 2005 the CSIS issued another report. and Venezuela were using oil to pursue domestic and geopolitical goals.S. and Asia. ―the depletion of conventional sources. Moreover. Iran. preemption. There has been pipeline sabotage in Nigeria. peak oil issues were not to be entirely discounted.‖ ―Stability in petroleum exporting regions. Let‘s fuel the cars. Cordesman and Al-Rodhan quoted the IEA‘s prediction in its 2004 World Energy Outlook that global oil production would not ―peak before 2030 if the necessary investments are made. it contended that this was the key issue in managing the current world oil supply problem. alleged corruption in Russia.‖ Cordesman and Al-Rodhan added.3 million barrels per day). Thus the report declared that ―the United States should expect and support a strong military posture [in the Persian Gulf in particular] that permits suitably rapid deployment to the region. Still.‖ the Baker Institute went so far as to declare.‖ Rather the immediate problem was ―lagging investment‖ in the Middle East. ―If the United States were able to wish into existence a world that would favor its terms of trade and superpower status. military in securing oil supplies. whereas Western multinational oil companies controlled a mere 10 percent. Iran. about 5 percent per year (roughly 4. and thus even sustaining current levels of consumption‖ would be enormously difficult. this time on Changing Risks in Global Oil Supply and Demand. Iran. Department of Defense. and others—like Matthew Simmons—have estimated that Saudi production may be moving towards a period of sustained decline. chaired by former CIA Director John Deutch and Schlesinger.‖Emphasizing that national oil companies now controlled 77 percent of the world‘s total reserves. consumption and oil dependency. and West Africa were all centers of instability.‖33 No less significant was an April 2007 ―policy report‖ issued by the James A. National Security Consequences of U. Thus Cordesman and Al-Rodhan noted that. Baker III Institute for Public Policy on ―The Changing Role of National Oil Companies in International Energy Markets.‖ Major energy suppliers like Russia. ―is tenuous at best. and civil unrest in Uzbekistan and other FSU [Former Soviet Union] states. Although the Deutch and Schlesinger report discussed some demand-side measures to reduce U. national security circles to the apparent oil production plateau. Production from existing conventional oil fields throughout the world was ―declining. Algeria. intervention. but recent experience has shown that exporting countries in Africa. it stressed expanding the role of the U. China was trying to ―lock up‖ oil supplies in Africa. the Caspian Sea. the disappearance of surplus oil production capacity. with OPEC no longer having the surplus capacity with which to keep prices under control. especially those close to the major markets in the United States.S. Iraq. . ―Some analysts have questioned the [Saudi] Kingdom‘s ability to meet sudden surges in demand because of its lack of spare production capacity. now holder of Arleigh A. Oil Dependency.S.

36 . Another case of the geostrategic wielding of oil power was Iran. there is rising social tension. is due to an oil export decline rate of 10–12 percent. From the standpoint of Western energy and national security analysts. China. emanating from the vastly unequal distribution of the country‘s oil revenues. Another key consideration in the geopolitics of tough oil. Iran‘s pursuit of nuclear power..‖ it had also used oil as an instrument of ―foreign policy activism.35 The United States has sought to counter the possibility of an energy alliance between Russia.‖ This could be seen in its geopolitically motivated agreements with Bolivia. China. ―a desperate superpower might feel it has no choice except to attempt to control the largest remaining oil fields on the planet at any cost‖— particularly if faced by growing rivalry from other states. the Baker Institute report stated. thereby holding back on the lifeblood of the world economy. foreign investors would be treated the same as local companies and OPEC would be disbanded. The current trend points to the likelihood of Iranian petroleum exports falling to zero by 2014–15. But it is hard to imagine why major oil producing countries would agree to that. ―preemptive‖ military intervention directed at Iran meanwhile have been continuous.S. as a 2007 study published in the Proceedings of the National Academy of Sciences has confirmed. Nicaragua.34 The tightening oil situation has prompted the rapid on the ground growth of U.S. The repressive structure of the society conceals massive popular resentment..S. military intervention. Above all the U. the United States will have to accept the existence of NOCs as a fact of life but should encourage steps to make their activities more businesslike. and Central Asian oil states by expanding its military bases in Afghanistan and Central Asia.S. As James Howard Kunstler has written in The Long Emergency. This led to Iran‘s recent inability to meet its OPEC oil export quota. The sexes are entirely segregated. which according to the U. energy imperialism. Department of Energy needs to double its oil output by 2030. such as Russia. the Baker Institute underscored. military attack. and the Caribbean nations.S. The chief example of such state interference in oil production. which had threatened that it ―could block the vital oil transitway. The security of Saudi Arabia remains an overriding focus. transparent and—to the extent possible—free of onerous government interference. preventing the oil exploration of Iraq‘s Western desert. the Strait of Hormuz. imperial objective should be to ―break up‖ wherever possible ―the monopoly power of oil producers‖ and their use of their oil resources to pursue national goals other than purely commercial ones. political unrest and war continued. beyond the continuing Iraq and Afghan wars. Iran. was Venezuela under the leadership of Hugo Chávez. Iran‘s government and its national oil corporation have adopted the monopolistic policy of underinvesting in oil.In light of this reality. Despite Washington‘s attempts to stabilize that country. Ecuador. Ninety percent of private sector jobs go to foreigners. depends on the feudal kingdom remaining in place. One critical danger that the United States needed to guard against was a ―hostile‖ alliance between major oil producing/consuming states. Any destabilization of the society would likely prompt U. based on its alleged attempts to acquire nuclear weapons through the aggressive pursuit of nuclear energy. deliberating slowing its production in expectation of continually rising prices. was the continuing political instability in Iraq. Threats of U. and the Central Asian states.S. Not only had the Bolivarian Revolution prioritized ―the government‘s national development policy‖ and ―social and cultural investment‖ over ―commercial development strategy..all NOCs [national oil corporations] would be privatized.‖ if faced with a U. Washington‘s plans for a massive expansion of investment and production in Saudi Arabia. Meanwhile. notably its Manas air base in Kyrgyzstan on the border of oil-rich Kazakhstan. arising from the growth of domestic energy demand plus a high rate of oil field depletion and a lack of investment growth in expanded capacity. and its ―interference‖ in Iraq. allowing free trade and competitive markets to deliver energy that is needed worldwide at prices determined solely by the market. Iran.

During the last few years the U.S. military has dramatically increased its bases and operations in Africa, particularly in the Gulf of Guinea. The United States expects to get 20 percent of its oil imports from Africa by 2010, and 25 percent by 2015. The U.S. military set up a separate Africa Command in 2007 to govern all U.S. military operations in Africa (outside Egypt). Washington sees itself as in direct competition with Beijing over African oil—a competition that it perceives not simply in economic but also military-strategic terms.37 U.S. ruling interests also have increased their threats directed at Venezuela, Ecuador, Bolivia, and other Latin American states, accusing them of ―resource nationalism‖ and presenting them as dangers to U.S. national security. Washington has made one attempt after another to unseat Venezuela‘s democratically elected president Hugo Chávez and to overthrow Venezuela‘s Bolivarian Revolution, with the clear object of regime change. This has included stepping up its massive military intervention in Colombia and backing the Colombian military and its intrusions into neighboring countries. In 2006 the U.S. Southern Command conducted an internal study, declaring that Venezuela, Bolivia, Ecuador, and conceivably even Mexico (which was then facing elections with a possible populist outcome) offered serious dangers to U.S. energy security. ―Pending any favorable changes to the investment climate,‖ it declared, ―the prospects for long-term energy production in Venezuela, Ecuador and Mexico are currently at risk.‖ The military threat was obvious.38 All of this is in accord with the history of capitalism, and the response of declining hegemons to global forces largely outside their control. The new energy imperialism of the United States is already leading to expanding wars, which could become truly global, as Washington attempts to safeguard the existing capitalist economy and to stave off its own hegemonic decline. As Simmons has warned, ―If we don‘t create a solution to the enormous potential gap between our inherent demand for energy and the availability of energy we will have the nastiest and last war we‘ll ever fight. I mean a literal war.‖39 In January 2008 Carlos Pascual, vice president of the Brookings Institution and former director of the Bush administration‘s Office of Reconstruction and Stabilization, released an analysis of ―The Geopolitics of Energy‖ that highlighted U.S. capitalism‘s de facto dependence on oil production in ―Saudi Arabia, Russia, Iran, Iraq, Venezuela, Nigeria, and Kazakhstan‖—all posing major security threats. ―Due to commercial disputes, local instability, or ideology, Russia, Venezuela, Iran, Nigeria and Iraq are not investing in new long-term production capacity.‖ This then was both an economic and a military problem for Washington.40 Especially disturbing in this new phase of energy imperialism is the lack of resistance from populations within central capitalist countries themselves. Thus left-liberal publications in the wealthy nations often play on the prejudices of their readers (who are buffeted by rising gasoline prices), encouraging them to support oil imperialism designed to safeguard Western capitalism. David Litvin, writing on ―Oil, Gas and Imperialism‖ in 2006 for the Guardian in London, claimed that ―the inevitability of modern energy imperialism needs to be recognized.‖ Threats from Russia, OPEC, Venezuela, and Bolivia were highlighted. The United States invaded Iraq, we were told, partly for ―oil security.‖ Clearly sympathizing with that form of energy imperialism that ―involves consumer states launching political or military‖ interventions ―to secure supplies,‖ Litvin concluded: ―Energy imperialism is here to stay, and efforts should [therefore] focus on making it a more benign force.‖41 Likewise Joshua Kurlantzick, a contributing writer for Mother Jones,wrote a piece entitled ―Put a Tyrant in Your Tank‖ for the May–June 2008 issue of that magazine which attributed oil supply problems to national oil companies, and argued—referring to the Baker Institute report on ―The Changing Role of National Oil Companies‖—that oil would be better safeguarded if placed in the hands of multinational oil companies as of old. The latter, readers were told, ―may cozy up to nasty regimes...but they are at least obligated to respond to public criticism.‖ Kurlantzick presented repeated criticisms of Hugo Chávez in Venezuela for his ―resource nationalism,‖ going so far as to compare

Venezuela to Burma and Russia, as ―authoritarian and corrupt,‖ citing a study from the neoconservative, largely U.S. government-funded, Freedom House. The Mother Jones article also gave credence to the 2006 internal study conducted by the Pentagon‘s Southern Command, pinpointing the national security dangers to the United States of resource nationalism in Venezuela, Bolivia, and Ecuador. Other petrostates that were subjected to sharp criticism were Iran, Russia, Kazakhstan, Nigeria, and Libya. Chinese state oil corporations were targeted for their aggressiveness in pursuing oil around the world and for their lack of environmental concerns. U.S. energy imperialism was thus seen as justified even by the putatively progressive Mother Jones—with hope and confidence being placed mainly in big oil and the Pentagon.42 Planetary Conflagration? The supreme irony of the peak oil crisis of course is that the world is rapidly proceeding down the path of climate change from the burning of fossil fuels, threatening within a matter of decades human civilization and life on the planet. Unless carbon dioxide emissions from the consumption of such fuels are drastically reduced, a global catastrophe awaits. For environmentalists peak oil is therefore not a tragedy in itself since the crucial challenge facing humanity at present is weaning the world from excessive dependence on fossil fuels. The breaking of the solar energy budget that hydrocarbons allowed has generated a biospheric rift, which if not rapidly addressed will close off the future.43 Yet, heavy levels of fossil fuel, and particularly petroleum, consumption are built into the structure of the present world capitalist economy. The immediate response of the system to the end of easy oil has been therefore to turn to a new energy imperialism—a strategy of maximum extraction by any means possible: with the object of placating what Rachel Carson once called ―the gods of profit and production.‖44 This, however, presents the threat of multiple global conflagrations: global warming, peak oil, rapidly rising world hunger (resulting in part from growing biofuel production), and nuclear war—all in order to secure a system geared to growing inequality. In the face of the immense perils now facing life on the planet, the world desperately needs to take a new direction; toward communal well-being and global justice: a socialism for the planet. The immense danger now facing the human species, it should be understood, is not due principally to the constraints of the natural environment, whether geological or climatic, but arises from a deranged social system wheeling out of control, and more specifically, U.S. imperialism. This is the challenge of our time. May 25, 2005 Notes 1. Influential mainstream political analyst (and former Nixon White House strategist) Kevin Philips has recently argued that oil in the Middle East and elsewhere has emerged as perhaps the single most important strategic (non-monetary) factor in ―the Global Crisis of American Capitalism,‖ and is closely tied up with the world‘s need to shift to a ―new energy regime.‖ See Phillips, Bad Money: Reckless Finance, Failed Politics, and the Global Crisis of American Capitalism (New York: Viking, 2008), 124–27. Indeed, the struggle to control world oil can be seen as the centerpiece of the new geopolitics of U.S. empire, designed at the same time to combat the decline of U.S. hegemony. See John Bellamy Foster, ―A Warning to Africa: The New U.S. Imperial Grand Strategy,‖ Monthly Review 58, no. 2 (June 2006): 1–12. 2. Michael T. Klare, Blood and Oil (New York: Henry Holt, 2004), 82. 3. Colin J. Campbell and Jean H. Laherrère, ―The End of Cheap Oil,‖ Scientific American (March 1998): 78–83; International Energy Agency, World Energy Outlook, 1998 (Paris: OECD, 1998), 94– 103. 4. Matthew R. Simmons, ―Has Technology Created $10 Oil?,‖ Middle East Insight (May–June 1999), 37, 39.

5. Matthew R. Simmons, ―An Oil Man Reconsiders the Future of Black Gold,‖ Good Magazine, February 11, 2008. The insert in square brackets in the quote is in original. 6. Matthew R. Simmons, Twilight in the Desert: The Coming Saudi Oil Shock and the World Economy (Hoboken, New Jersey: John Wiley and Sons, 2005). 7. John Wood and Gary Long, ―Long Term World Oil Supply (A Resource Base/Production Path Analysis),‖ Energy Information Administration, U.S. Department of Energy, July 28, 2000. 8. See Klare, Blood and Oil, 13–14. 9. Sam Nunn and James R. Schlesinger, cochairs, The Geopolitics of Energy into the 21st Century, 3 volumes (Washington, D.C.: Center for Strategic and International Studies, November 2000), vol. 1, xvi–xxiii; vol. 2, 30–31; vol. 3, 19. 10. Edward L. Morse, chair, Strategic Energy Policy Challenges for the 21st Century, cosponsored by the James A. Baker III Institute for Public Policy of Rice University and the Council on Foreign Relations (Washington, D.C: Council on Foreign Relations Press, April 2001), 3–17, 29, 43–47, 84–85, 98; see also Edward L. Morse, ―A New Political Economy of Oil?,‖ Journal of International Affairs 53, no. 1 (Fall 1999), 1–29. 11. White House, National Energy Policy (Cheney report), May 2001, http://www.whitehouse.gov/energy/National-Energy-Policy.pdf, 1–13, 8–4.; Department of Energy, Energy Information Administration, International Economic Outlook,2001, http://www.eia.doe.gov/oiaf/archive/ieo01/pdf/0484(2001).pdf, 240; International Petroleum Outlook, April 2008, tables 4.1b and 4.1d; Klare, Blood and Oil, 15, 79–81. 12. Klare, Blood and Oil, 82–83. 13. Alan Greenspan, The Age of Turbulence (London: Penguin, 2007), 462–63. 14. James A. Baker Institute for Public Policy, ―The Changing Role of National Oil Companies in International Markets,‖ Baker Institute Policy Report, no. 35 (April 2007), http://www.bakerinstitute.org/publications/BI_PolicyReport_35.pdf, 1, 10–12, 17–19. 15. Fareed Muhamedi and Raad Alkadiri, ―Washington Makes It‘s Case for War,‖ Middle East Report, no. 224 (Autumn 2002), 5; John Bellamy Foster, Naked Imperialism (New York: Monthly Review Press, 2006), 92. 16. U.S. Department of Energy, Energy Information Administration, International Petroleum Monthly, April 2008, tables 4.1b and 4.1d. 17. Richard Heinberg, The Party’s Over (Garbiola Island, B.C: New Society Publishers, 2005), 127– 28; Michael Klare, Rising Powers, Shrinking Planet (New York: Henry Holt, 2008), 41; Greenpeace, ―Stop the Tar Sands/Water Polluton,‖ http://www.greenpeace .org/canada/en/campaigns/tarsands/threats/water-pollution. 18. Energy Watch Group, Crude Oil: The Supply Outlook, October 2007, 33–34. 19. The distinction between ―early‖ and ―late‖ peakers is to be found in Richard Heinberg, The Oil Depletion Protocol (Garbiola Island, B.C: New Society Publishers, 2006), 17–23. For some representative works from the ―early peaker‖ perspective see Kenneth S. Deffeyes, Hubbert’s Peak (Princeton: Princeton University Press, 2001); David Goodstein, Out of Gas (New York: W. W. Norton, 2004); and Heinberg, The Party’s Over. Cambridge Energy Research Associates is the leading independent representative of the ―late peaker‖ view. See http://www.cera.com/aspx/cda/public1/home/home.aspx. 20. International Energy Agency, World Energy Outlook, 1998, 83–84. The increased prominence of unconventional oil has recently led to increasing references to ―liquids‖ as opposed to ―oil‖ as such in Department of Energy reports. See Michael T. Klare, ―Beyond the Age of Petroleum,‖ The Nation, October 25, 2007. 21. Richard Heinberg, Power Down (Gabriola Island, B.C.: New Society Publishers, 2004), 35; James Howard Kunstler, The Long Emergency (New York: Atlantic Monthly Press, 2005), 67–68. In an important paper on the implications of peak oil for global warming, Pushker Kharecha and James

org/publications/BI_PolicyReport_35.Hansen of NASA‘s Goddard Institute for Space Studies and the Columbia University Earth Institute provide a graph (in one scenario) of a plateau in oil-based CO2 emissions. Hirsh. Robert L. 55–59. 33. U. 170–79. ―The Iranian Petroleum Crisis and the United States National Security. Energy Trends and their Implications for U.S. Brown.S.0 (New York: W. 41.‖. Al-Rodhan. 2007. 510-12. ―Changing Role of National Oil Companies. June 13. 2007. 35 (April 2007). no. 26. 79. National Security Consequences of U.S Army Engineer Research and Development Center. 13. 71. http://www. September 2005. Exxon on Spending (Update 1).org/publication/11683/. vii. October 2007.‖ Proceedings . 2008). 3. 17–19. no. and ―The Political Economy and Ecology of Agrofuels. Shrinking Planet. Center for Strategic and International Studies. 76–84. 36. 35–38. project leader. Westervelt. 8. in press). Crude Oil: The Supply Outlook. Baker III Institute for Public Policy of Rice University. ―Implications of ‗Peak Oil‘ for Atmospheric CO2 and Climate. James A. stretching from approximately 2016 to 2036. 28. Bad Money.‖ Bloomberg.com.‖ The Lede (New York Times blog). 2008. Daniel F.‖ Wall Street Journal. Kunstler.‖ Monthly Review 60. Joroen van der Veer (interview). 13–19. 48–56. Bad Money. 1 (May 2008): 1–15. ―The Inevitable Peaking of World Oil Production. 22. John Deutsch and James R. figure 3.‖ Global Biogeochemistry (2008. 32. October 3. 2005). Kharecha and James E. Hirsch. Council on Foreign Relations. Lester R. 2008. http://bakerinstitute. 153.‖ New York Times. . 25. Energy Watch Group. Phillips. ―Market Faces a Disturbing Oil Forecast. 4.pdf. no. 38. Army Corps of Engineers. The Long Emergency. Fred Magdoff. Malaysia. 20–22. W. 83. 127. 2005 (Paris: OECD. 121–22. February 2005. 24.pdf. estimated the world oil peak occurring in 2044.com. ―Goldman‘s Murti Says Oil ‗Likely‘ to Reach a $150–$200 (Update 5). 23–25. ―Royal Dutch Shell CEO on the End of ‗Easy Oil‘. Pushker A. Phillips sees this descrepancy between the analysis at the top and public statements in Washington as due in large part to a desire to keep from the public the view that the U.cfr. Beyond the Age of Petroleum. 1. however. The Changing Risks in Global Oil Supply and Demand. Plan B 3. Fournier and Eileen T. A different and more official position was issued by the EIA in 2004–2005 in the form of a presentation on ―When Will World Oil Production Peak‖ by EIA administrator Guy Caruso at the 10th Annual Oil and Gas Conference.gov/neic/speeches/Caruso061305.‖ Baker Institute Policy Report. United States Government Accountability Office.‖ Bulletin of the Atlantic Council of the United States 16. 2005 (first working draft). 29. 34. Baker Institute. 2008. 27. Bloomberg. Kuala Lumpar. Norton. Cordesman and Khalid R. 16–30.‖ in this issue.‖ May 6. Crude Oil: Uncertainty about Future Oil Supply Makes It Important to Develop a Strategy for Addressing a Peak and Decline in Oil Production. 130–31. Mitigation. 10–12. Army Installations.” 23. Oil Dependence.‖ 12. Simmons. Klare.eia. May 19. May 21. May 22. See Phillips.S. 31. November 11. 2 (October 2005): 8. Hansen. U. Roger Stern. ―Oil Officials See Limit Looming on Production. World Energy Outlook. chairs. ―The Cassandra of Oil Prices. Anthony H.S. Department of Energy. a figure too out of line with all other studies to be considered credible. 30. Schlesinger. Rising Powers.S. International Energy Agency. system is itself peaking. Robert L. Mike Nizz. Klare. 2005. See http://www. 2008. 35. ―The Changing Role of National Oil Companies in International Oil Markets.doe. ―The World Food Crisis. U. Klare. Peaking of World Oil Production: Impacts. Twilight in the Desert. and Risk Management. Shrinking Planet. 2006. Rising Powers. February 28. ―Not Enough Oil is Lament of BP. The central scenario.

Dapat dikatakan bahwa kesadaran akan pentingnya UKM dapat dikatakan barulah muncul belakangan ini saja. ―The Geopolitics of Energy. Chávez (New York: Monthly Review Press. ―Carbon Metabolism: Global Capitalism. January 2008.‖ Financial Times. sebagai bagian dari dinamikanya. 2007. tidak terkecuali di Indonesia. 38–42. 38. 2001). June 26. namun UKM memberi kontribusi sekitar 99 persen dalam jumlah badan usaha di Indonesia serta mempunyai andil 99. If such a peak were to occur.html. Rising Powers. dkk. Namun. 1–17. Foster. Aspek fleksibilitas tersebut menarik pula dihubungkan dengan hasil studi Akatiga berdasarkan survei di Jawa Barat. 210. 141–57.‖ Mother Jones 33.‖ Monthly Review 58. Kharecha and Hansen present a baseline atmospheric carbon stabailizaton scenario in which oil-based CO2 emissions peak by 2016. 1 (January 2. Carlos Pascual. Gas and Imperialism. ―Put a Tyrant in Your Tank. Setidaknya terdapat tiga alasan yang mendasari negara berkembang belakangan ini memandang penting keberadaan UKM (Berry. Kuncoro (2000a) juga menyebutkan bahwa usaha kecil dan usaha rumah tangga di Indonesia telah memainkan peran penting dalam menyerap tenaga kerja. ―An Oil Man Reconsiders the Future of Black Gold. 43. 2008). Military Sees Oil Nationalism Spectre. ―A Warning to Africa‖. UKM sering mencapai peningkatan produktivitasnya melalui investasi dan perubahan teknologi. dalam kenyataannya selama ini UKM kurang mendapatkan perhatian.7 persen dan dalam ekspor nonmigas hanya 15 persen. Temuan Akatiga tersebut seperti dikutip Berry dkk (2001) adalah bahwa usaha kecil di Jawa lebih menderita . 37. meningkatkan jumlah unit usaha dan mendukung pendapatan rumah tangga. Klare. no.org/publication/15342/brookings. 3–4. Kedua. 14/12/2001). Lost Woods (Boston: Beacon Press. 3 (May–June 2008). 2007): 377–82. Jawa Tengah.S.‖ Brookings Institution. 2006.‖ January 4. See Richard Heinberg‘s excellent chapter on ―Bridging Peak Oil and Climate Change Activism‖ in his Peak Everything (Gabriola Island: New Society Publishers.‖ August 13.‖ 40. ―The Empire of Oil: Capitalist Dispossession and the New Scramble for Africa. Rachel Carson. no. 42. Michael Watts. The Guardian (UK).‖ Theory & Society 34. Shrinking Planet. Sebagai gambaran. Council on Foreign Relations. 88–89. due principally to the ―peaking‖ of world oil production (mediated by economic and social as well as geological factors). http://www. Simmons. kendati sumbangannya dalam output nasional (PDRB) hanya 56. 146–76. 39. ―Implications of ‗Peak Oil‘ for Atmospheric CO2 and Climate. ―Oil. 41. 4 (2005): 391–428. Bush vs. Aloysius Gunadi Brata DISTRIBUSI SPASIAL UKM DI MASA KRISIS EKONOMI PENDAHULUAN Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah. Sulawesi Utara dan Sumatra Utara. it would facilitate the stabilization of atmospheric carbon at (or below) what scientists increasingly consider to be the maximum safe level of 450 parts per million (associated with a rise in global average temperature of around 2°C above pre-industrial). no. In their paper on peak oil and global warming. Alasan pertama adalah karena kinerja UKM cenderung lebih baik dalam hal menghasilkan tenaga kerja yang produktif. But stabilization of atmospheric CO2 at this level would also require that CO2 emissions from coal-fired power plants peak by 2025 and that coal-fired plants without sequestration be phased out completely ―before midcentury. Eva Golinger. Yogyakarta. Climate Change.‖ 44. ―The Return of Resource Nationalism. Ketiga adalah karena sering diyakini bahwa UKM memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas ketimbang usaha besar. Daniel Litvin.‖ Pusher and Kharecha. On the concept of a biospheric rift see Brett Clark and Richard York. 2008). Joshua Kurlantzick.6 persen dalam penyerapan tenaga kerja (Kompas. Alasan yang ketiga yang dikemukakan Berry dkk di atas sangat relevan dalam konteks Indonesia yang tengah mengalami krisis ekonomi. 2006.cfr. they argue.of the National Academy of Sciences 104. 4 (September 2006). ―U. and the Biospheric Rift. no. 1998).

Jika demikian halnya maka . krisis ekonomi telah menyebabkan propinsi-propinsi di Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang lebih besar ketimbang daerah-daerah lain di Indonesia (lihat gambar berikut). Sementara itu. Hasil survei yang dilakukan Bank Dunia bekerjasama dengan Ford Foundation dan Badan Pusat Statistik (September-Oktober 1998) menegaskan bahwa ketiga persoalan itu oleh masyarakat ditempatkan sebagai persoalan prioritas atau harus segera mendapatkan penyelesaian (Watterberg dkk. Usaha kecil sendiri pada dasarnya sebagian besar bersifat informal dan karena itu relatif mudah untuk dimasuki oleh pelaku-pelaku usaha yang baru. berdasarkan data PDRB. menurut hasil analisis Watterberg. begitu pula yang di perkotaan bila dibandingkan dengan yang di pedesaan. Dengan kata lain. Sjöberg dan Sjöholm (2002). Dalam konteks UKM. Hill (1996). saat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi terparah. hilangnya penghasilan serta kesulitan memenuhi kebutuhan pokok merupakan persoalan-persoalan sosial yang sangat dirasakan masyarakat sebagai akibat dari krisis ekonomi. 1999). Dengan memupuk UKM diyakini pula akan dapat dicapai pemulihan ekonomi (Kompas. salah satu pertanyaan yang menarik untuk dimunculkan adalah apakah krisis ekonomi betul-betul membawa pengaruh pada dinamika spasial UKM? Tulisan ini hanya mengamati salah satu aspek saja dari dinamika spasial UKM. Dalam hal ini bukanlah hal yang mengejutkan kalau pengangguran. terdapat indikasi adanya dimensi spasial dari krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997. belakangan ini banyak diungkapkan bahwa UKM memiliki peran penting bagi masyarakat di tengah krisis ekonomi. Hal serupa juga berlaku bagi sektor informal. Bagaimana dengan anjloknya pendapatan masyarakat yang tentu saja mengurangi daya beli masyarakat terhadap produk-produk yang sebelumnya banyak disuplai oleh usaha berskala besar? Bukan tidak mungkin produk-produk UKM justru menjadi substitusi bagi produk-produk usaha besar yang mengalami kebangkrutan atau setidaknya masa-masa sulit akibat krisis ekonomi. Dengan kata lain. ketiga hal itu merupakan persoalan sangat pelik yang dihadapi masyarakat pada umumnya. yakni distribusi spasialnya. tentu telah menyulitkan masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari. 14/12/2001). Dengan kata lain. Demikianlah. Dapat dikemukakan bahwa selama ini sejumlah studi sudah dilakukan untuk mengamati distribusi spasial industri manufaktur. Pada tahun tersebut. usaha kecil di propinsi-propinsi di pulau Jawa juga lebih menderita akibat krisis ekonomi. Sektor informal sendiri merupakan sektor dimana sebagian besar tenaga kerja Indonesia berada. 2000b). apalagi yang sangat parah. Pendapat mengenai peran UKM atau sektor informal tersebut ada benarnya setidaknya bila dikaitkan dengan perannya dalam meminimalkan dampak sosial dari krisis ekonomi khususnya persoalan pengangguran dan hilangnya penghasilan masyarakat. 2002). selain ekonominya mengalami kontraksi terparah. Sementara itu. Kuncoro (2000a). Lima propinsi di Jawa seluruhnya adalah lima besar propinsi di Indonesia yang mengalami kemorosotan ekonomi terparah. Tingkat pengangguran mengalami kenaikan dari 4. pengamatan serupa terhadap UKM tampaknya masih belum banyak dilakukan (Kuncoro. peran sektor informal menjadi terasa penting dalam periode krisis ekonomi. misalnya Azis (1994). Kondisi ketenagakerjaan pada masa krisis kiranya dapat memberikan gambaran dampak sosial dari krisis ekonomi (Tabel 1). seluruh propinsi di pulau Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang jauh lebih parah daripada propinsi-propinsi lainnya (lihat juga Akita dan Alisjahbana. Namun.9 persen pada tahun 1996 menjadi 6. BERTAHAN DENGAN UKM Krisis ekonomi.1. UKM boleh dikatakan merupakan salah satu solusi masyarakat untuk tetap bertahan dalam menghadapi krisis yakni dengan melibatkan diri dalam aktivitas usaha kecil terutama yang berkarakteristik informal. khususnya yang berskala besar dan menengah.1 persen pada tahun 2000. Dengan hal ini maka persoalan pengangguran sedikit banyak dapat tertolong dan implikasinya adalah juga dalam hal pendapatan. dampak sosial dari krisis ekonomi amat terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan di Jawa. Sementara itu. Krisis ekonomi juga telah membalikkan tren formalisasi ekonomi sebagaimana tampak dari berkurangnya pangsa pekerja sektor formal menjadi 35.akibat krisis daripada luar Jawa. Pada tahun 1998. dkk (1999). serta sejumlah propinsi di Indonesia bagian Timur. hanya Papua saja yang pertumbuhan ekonominya masih positif sedangkan propinsi-propinsi lainnya mengalami kontraksi.

Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian. penggunaan tenaga kerja dan nilai tambah secara bersama-sama sebagai indikator aktivitas ekonomi dapat mencegah terjadi kesimpulan yang bias oleh karena perbedaan distribusi spasial dari industri-industri yang berbeda dimana ada yang bersifat padat tenaga kerja dan ada yang padat modal (Sjöberg dan Sjöholm. Selain dari jumlah unit usaha. Hanya saja. hasil survei BPS di atas menunjukkan beberapa kecenderungan menarik. Hal ini tidak lepas dari kemampuan UKM untuk merespon krisis ekonomi secara cepat dan fleksibel dibandingkan kemampuan usaha besar (Berry dkk. yang dimaksud dengan UKM dalam tulisan ini adalah sebagaimana definisi UKM tersebut.id Secara umum. Jumlah unit usaha pada tahun 2000 masih tetap lebih sedikit dibandingkan sebelum krisis ekonomi. [2] [2] Dalam konteks industri manufaktur. 2001).go. yakni meningkat pada tahun 1998 namun kemudian terus menurun sampai menjadi kurang dari 16 persen pada tahun 2000. [1] Data UKM tersebut bersumber dari publikasi BPS berjudul Profil Usaha Kecil dan Menengah Tidak Berbadan Hukum Indonesia tahun 1998 dan tahun 2000. . sedangkan Jawa Tengah mengalami peningkatan secara sinambung. ada pendapat bahwa sektor informal tidaklah memberikan perbaikan secara berarti terhadap taraf hidup para pekerjanya. Oleh karena itu. 2002). DISTRIBUSI SPASIAL UKM Pertanyaan awal yang perlu diperjelas di sini adalah apa indikator UKM yang digunakan. Namun demikian.kecenderungan tersebut sekaligus juga merupakan respon terhadap merosotnya daya beli masyarakat. kecuali sektor pertanian. 2000a). tenaga kerja yang diserap oleh masing-masing unit usaha secara rata-rata justru mengalami kenaikan. Dari lima propinsi di Jawa. penurunan jumlah tenaga kerja tidaklah setajam penurunan jumlah unit usaha. Hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa UKM sebetulnya juga mempunyai keunggulan dalam menyerap tenaga kerja di masa krisis ekonomi. Sedangkan Sumatera justru sebaliknya. Sejak terjadi krisis ekonomi. Seluruh sektor ekonomi dicakup oleh survei tersebut. Kuncoro.Hasil survei tersebut hanya mencakup UKM non-pertanian yang tidak berbadan hukum sehingga secara konseptual hasil survei tersebut juga merefleksikan sektor informal kendati secara terbatas ( ). Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian. maka data yang ada di sini barangkali pula lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. sektor tersebut telah turut berperan dalam mengatasi persoalan pengangguran yang diakibatkan oleh krisis ekonomi. Krisis ekonomi rupanya telah mempertinggi kemampuan masing-masing UKM untuk menyerap tenaga kerja. Selanjutnya. bias itu mungkin tidak terlalu besar mengingat sebagian besar lebih mengandalkan tenaga kerja. Selain propinsi-propinsi Jawa. Tabel 2 juga menunjukkan bahwa krisis ekonomi mulanya menurunkan pangsa pulau Jawa. distribusi spasial UKM dalam kurun waktu 19962000 juga terpusat di Pulau Jawa. Data-data tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa UKM memiliki kemampuan untuk menjadi pilar penting bagi perekonomian masyarakat dalam menghadapi terpaan krisis ekonomi. 2002). [1] Survei tersebut terbatas hanya pada UKM yang tidak berbadan hukum sehingga hasilnya dapat juga merefleksikan sektor informal. Hidup di sektor informal hanyalah hidup secara subsisten (Basri. hanya Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan saja yang andilnya dalam jumlah UKM cukup tinggi. Pada tahun 1996. UKM justru makin memusat di Jawa. yakni menjadi sekitar 68 persen dari seluruh unit usaha UKM yang ada di Indonesia. Dengan kata lain. Hal ini menjadi penting karena Watterberg dkk (1999) juga menyimpulkan bahwa dampak sosial dari krisis ekonomi lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan. Perlu ditambahkan bahwa pada tahun 1997 tidak ada survei. distribusi spasial tersebut tentu perlu pula dilihat dari sisi tenaga kerja. untuk tahun 1999 dan 2000 tidak ada data untuk Propinsi Maluku. UKM pada dasarnya adalah aktivitas ekonomi sementara aktivitas ekonomi sendiri secara umum dapat diindikasikan oleh tenaga kerja maupun nilai tambahnya (Sjöberg dan Sjöholm. www.bps. 2002). Namun dalam konteks UKM. termasuk yang tidak dibayar (lihat. Gambar di atas—disusun berdasarkan Hasil Survei Usaha Terintegrasi yang dilakukan BPS —kiranya dapat berguna untuk memberikan gambaran bagaimana peranan UKM bagi masyarakat di masa krisis. Dari gambar 1 tampak bahwa jumlah unit usaha UKM cenderung berkurang. maka hasil survei tersebut akan lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. namun mulai tahun 1998 pangsa Jawa kembali meningkat sampai menjadi 66 persen pada tahun 2000. Selain itu. sekitar 66 persen UKM Indonesia berada di Jawa (Tabel 2). Dalam tulisan ini. indikator yang akan digunakan adalah tenaga kerja UKM disertai jumlah unit usahanya sebagai pelengkap. Hal yang sama juga terjadi pada jumlah tenaga kerja. Seperti juga industri manufaktur besar dan menengah. hanya DKI Jakarta saja yang cenderung mengalami penurunan andil.

Kendati ukuran konsentrasi spasial yang digunakan berbeda. dalam kasus Indonesia. dalam studinya yang mengukur trend konsentrasi spasial industri di Indonesia 1976-1995. Masih menurut Kuncoro (2002b). 2002). Hal ini memberikan indikasi bahwa sejak terjadi krisis ekonomi. . ada kecenderungan menguatnya konsentrasi spasial UKM di Indonesia. Tahun 1999 dan 2000. Namun pada tahun 1999 konsentrasi spasial unit usaha UKM mengalami peningkatan cukup tinggi dan belum menurun secara berarti pada tahun 2000. Sebagai contoh. Dalam tulisan ini ukuran konsentrasi spasial yang digunakan adalah indeks Herfindahl yang diterapkan baik terhadap data unit usaha maupun jumlah pekerja UKM. UKM memainkan peran dalam mengatasi persoalan ketenagakerjaan. tingkat konsentrasi spasial unit usaha UKM adalah 0. Kendati demikian.12. 2000a). Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser. PENUTUP Sejak terjadi krisis ekonomi 1997. Ditambahkan pula bahwa liberalisasi perdagangan yang dimulai tahun 1983 telah gagal menurunkan tingkat konsentrasi industri manufaktur. peningkatan konsentrasi spasial tersebut sebetulnya relatit tidak terlalu besar. Sebelum krisis. perkembangan penyebaran regional dari UKM dapat dilihat dari konsentrasi spasialnya. Terdapat pula indikasi menguatnya konsentrasi spasial UKM tersebut sejak krisis ekonomi melanda Indonesia. Data yang ada menunjukkan bahwa peran tersebut cukup penting. kedua studi tersebut di atas memperoleh kesimpulan yang relatif serupa.190 (Sjöberg dan Sjöholm. baik dilihat dari sisi jumlah usaha maupun jumlah pekerjanya. Dicatat pula bahwa peningkatan konsentrasi spasial jauh lebih mencolok di Jawa daripada Sumatera maupun pulau-pulau lainnya di Indonesia. setelah krisis justru terjadi penurunan tingkat konsentrasi spasial kendati relatif kecil. Kuncoro menggunakan Indeks Entropi Theil (Kuncoro. Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996. Dalam tulisan ini yang diamati barulah soal distribusi spasial UKM dan belum sampai pada determinan dari dinamika spasial UKM itu sendiri. deregulasi perdagangan bersama dengan serangkaian deregulasi yang diterapkan justru memperkuat konsentrasi spasial industri manufaktur. indeks Herfindahl industri manufaktur Indonesia tahun 1996 adalah 0.Untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih kuat. Konsentrasi spasial di sini menunjuk kepada terkonsentrasinya UKM pada beberapa daerah saja. Dari analisisnya. Yogyakarta (UAJY). namun sejak memasuki periode deregulasi.126. UKM (non pertanian yang tidak berbadan hukum) masih tetap terkonsentrasi di pulau Jawa. Indikasi tersebut kiranya masih perlu dilengkapi dengan upaya mengidentifikasi faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi dinamika spasial UKM sebagaimana dilakukan dalam studi-studi terhadap idustri manufaktur pada umumnya. Namun demikian bagaimana penyerapan tenaga kerja oleh UKM dari aspek spasial tampak masih kurang teramati. Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996. Kesimpulan yang diperoleh tidak jauh berbeda dengan temuan Kuncoro. indeks Herfindahl pekerja UKM meningkat menjadi lebih dari 0.*** Oleh: Aloysius Gunadi Brata -. Hal ini tidak berubah banyak pada satu tahun setelah terjadi krisis ekonomi. Sjöberg dan Sjöholm memukan bahwa tingkat konsentrasi spasial industri manufaktur dalam kurun waktu 1980-1996 tidaklah berkurang. konsentrasi spasial tersebut justru mengalami peningkatan. Namun jika dilihat dari tenaga kerja. Hasil perhitungan indeks Herfindahl tersebut disajikan dalam Gambar 3. Dari analisis dapat disimpulkan bahwa sampai dengan tahun 2000. Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser terhadap data tenaga kerja maupun nilai tambah yang dihasilkan industri manufaktur. Kuncoro menemukan bahwa sampai sebelum tahun 1988. konsentrasi spasial industri memiliki pola menurun.Lembaga Penelitian Universitas Atmajaya. Sebagai perbandingan.

Rodriquez. Tentu belum kering dari ingatan. Hill. A. D. 2002. 2002a. kini terdengar suara lain dan mulai terdengar nyaring. 2002.PUSTAKA Akita. Kompas. maka akan bisa maksimal pula kontribusinya untuk kesejahteraan bersama. Ilmu Ekonomi Regional Dan Beberapa Penerapannya di Indonesia. Alisjahbana. Berry. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. Ö dan F. M. . Berkecamuk pertanyaan.. maupun keterbelakangan adalah persoalan aksesibilitas. kemakmuran sebuah bangsa dicapai berbasiskan kekuatan rakyat yang berdaya dan menghidupinya. ―Wajah Murung Ketenagakerjaan Kita‖. Analisis Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia . W. S. ―Minimum Wage Policy and Its Impact on Employment in the Urban Formal Sector‖. I. pembangunan selalu mengorbankan kebebasan manusia? Rasanya masih seperti kemarin. Menuai Pemulihan Ekonomi‖.. keringat serta air mata. bila manusia mampu mengoptimalkan potensinya. Sumarto. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 39 No 1. SSE/EFI Working Paper Series in Economic and Finance No 488. PAU-UGM dan Tiara Wacana.. Suara tersebut antara lain dari Amartya Sen. A. 2001. Basri. M. Transformasi Ekonomi Indonesia Sejak 1966: Sebuah Studi Kritis dan Komprehensif . Jakarta. Timbul pertanyaan mengganjal. at all cost. 14 Desember 2001. S. berbagai kasus yang mentorpedo rasa keadilan seperti Kedung Ombo. apakah sebuah ketakterhindaran (inevitability) historis... Bulletin of Indonesian Economic Studies 38 (2): 201-222.‖ Makalah disajikan dalam lokakarya Economic Growth and Institutional Change in Indonesia during the 19th and 20th Centuries. T dan A. seharusnya merupakan proses yang memfasilitasi manusia mengembangkan hidup sesuai dengan pilihannya (development as a process of expanding the real freedoms that people enjoy). Prittchett. jargon pembangunan begitu ‖suci‖ sehingga atas namanya menjadi ‖sahih‖ merampas hak-hak asasi manusia. serta menguntungkan sebagian kecil masyarakat? Timbul pula pertanyaan yang menggelisahkan. Yogyakarta. dan H. M. 1994. Menurutnya pembangunan bukanlah proses yang dingin dan menakutkan dengan mengorbankan darah. Dengan demikian. L. adalah se-suatu yang "bersahabat". Pembangunan. ujar Sen. E. Azis. 2001. Amsterdam 25-26 Februari. Menurut Sen. Watterberg.. ―A National Snapshot of the Social Impact of Indonesia‘s Crisis‖.‖ Bulletin of Indonesian Economic Studies 37 (3): 363-384. ―Memupuk UKM. ketidakberdayaan. 1996. Kompas. Sjöberg.. DAN PEMBANGUNAN Mengingat masa kelam Orde Baru yang se-ring disebut ‖orde pembangunan‖. 29-50. ―Small and Medium Enterprises Dynamics in Indonesia. 25 November. Kuncoro. LP-FEUI. Pembangunan. KEBEBASAN. Widyanti. A. peraih Nobel Ekonomi tahun 1998. H. Nipah. Kuncoro. Concentration and Dispersal in Indonesia‘s Manufacturing Industry. Asumsi dari pemikiran Sen. C. 1999. Setyo Budiantoro MANUSIA. J. Sjöholm. Sandeem. ―A Quest for Industrial Districts: An Empirical Study of Manufacturing Industries in Java. ―Regional Income Inequality in Indonesia and the Initial Impact of the Economic Crisis‖. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 35 No 3. penyebab dari langgengnya kemiskinan. apakah untuk mencapai kesejahteraan harus selalu ada ‖tumbal‖ (jer basuki mawa bea)? Sayup-sayup. 145-152.. ―Trade Liberalization and the Geography of Production: Agglomeration. Jenggawah. 2003. apakah pembangunan akan selalu membawa destabilisasi? Sebuah proses yang mengakibatkan disparitas sosial-ekonomi membesar akibat laju modernisasi dan industrialisasi. 2002. 2002b. Sumarto. Perwira. Suryahadi. dan berbagai penggusuran yang mengatasnamakan ‖pembangunan‖. membuat pedih.

Tentu. untuk mengkreasi dan menjustifikasi urgensi adanya berbagai proyek. yaitu melalui kebebasan sebagai cara dan tujuan (Development as Freedom). usaha-usaha besar ambruk. Pukulan krisis. Masyarakat profesi. diperlukan aspek emansipatoris. masyarakat merasa lega karena tak mengerjakan apa-apa. Dengan kata lain. Untuk memecahkan hal tersebut. Tragisnya. lalu tertinggal. justru menunjukkan ‖kedigdayaan‖ rakyat. manusia mempunyai keterbatasan (bahkan tak ada) pilihan untuk mengembangkan hidupnya. kesempatan sosial (pendidikan. tak jauh dari lingkaran kekuasaan. Namun. kesehatan. pe-nyebab kemiskinan adalah akibat ketiadaan akses yang dapat menunjang pemenuhan kehidupan manusiawi. para pakar maupun berbagai organisasi masyarakat. Akibatnya. siapa di balik proyek. membuat pertumbuhan ekonomi merosot -13. Masyarakat pun melalui desas-desus akhirnya mengetahui dan mahfum. Fenomena ini tentu membingungkan penganut ekonomi ortodoks. 2002). Dengan demikian. dan lain-lain). ekonomi nasional telah tumbuh 4. Pada dimensi politik. Selama Orde Baru. Dalam waktu singkat. Lesson learned yang diperoleh dari Yayasan Pemulihan Keberdayaan Ma-syarakat (konsorsium 27 ja-ringan dan ornop besar yang membantu masyarakat keluar dari krisis). suatu pembangunan tak akan berhasil dan bertahan. utang pun digelontorkan. transparansi. telah ‖melumpuhkan‖ diri sendiri. terlemahkan. Keberdayaan rakyat (civil society). dan kedaulatan untuk melakukan berbagai hal (bahkan menjadi leviathan). Anehnya. maka kebijakan tersebut tak menguntungkan mereka. Dalam jangka panjang. dan dilemahkan. Meski sebenarnya. jika pembangunan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang dianut masyarakat. akibat rakyat miskin sangat sulit mengakses dan terlibat berbagai kebijakan publik. legitimasi. berbagai proyek yang ada terbengkalai. sehingga memungkinkan masyarakat memperkembangkan kemampuan atas dasar kekuatan sendiri (self reliance). tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Soedjatmoko (Development and Freedom). Aksesibilitas yang dimaksud Sen adalah terfasilitasinya kebebasan politik. rasa ketergantungan. Dan akhirnya. lalu merumuskan berbagai program dan proyek untuk dikerjakan. manusia hanya menjalankan apa yang terpaksa dapat di-lakukan (bukan apa yang seharusnya bisa dilakukan). rakyat pun tak peduli. Pemerintah yang makin percaya diri. Pada dimensi ekonomi. sebab semuanya telah diserahkan pada pemerintah. Tidak ada model pembangunan yang berlaku universal. Freedom menurut Soedjatmoko merupakan kebebasan dari rasa tak berdaya. Tesis yang dikemukakan Sen agar tercapainya kesejahteraan. masyarakat telah ‖menyerahkan‖ kemandirian yang dimiliki. tentu mempunyai batas waktu. Namun dua tahun kemudian. Pembangunan.6%. tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Amartya Sen. padahal tahun sebelumnya tumbuh +4. telah terjadi ‖kesalahan‖ besar yang dibuat bersama -sama. dengan berakhirnya berbagai proyek dan usailah sudah semuanya.9%. ujar Sen. Yaitu aspek pembebasan masyarakat dari struktur-struktur yang menghambat. berlomba-lomba merumuskan berbagai persoalan. Lalu. apakah rakyat benar-benar mengalami kelumpuhan sepenuhnya? Agaknya tidak. secara sadar maupun tak sadar.7% (1998). Sebagai sebuah proyek. potensi manusia mengembangkan hidup menjadi terhambat dan kontribusinya pada kesejahteraan bersama menjadi lebih kecil. menyimpulkan. pada masa itu sedang terjadi capital flight sekitar $ 10 miliar per tahun. Dari tahun ke tahun. rasa keharusan untuk mempertanyakan apakah tindakan-tindakan mereka diizinkan atau tidak diizinkan oleh yang lebih tinggi ataupun adat kebiasaan (misalnya: patriarki. lalu diserahkan pada pemerintah. berakar dari dinamik sendiri dan dapat bergerak atas kekuatan sendiri. dalam satu tahun ekonomi Indonesia anjlok -18. serta adanya jaring pengaman sosial. Berbagai proyek tiba-tiba bertebaran. sedangkan investasi asing tak mau masuk akibat situasi sosial politik yang belum menentu.8% (Seda. meski proyek tersebut ‖ditujukan‖ untuk mereka. sebab dalam hitungan makro ekonomi . Begitulah. Krisis ekonomi. Feasibility studies (baca: penelitian pesanan) lalu dikerjakan oleh pa ra ‖intelektual tukang‖ maupun konsultan asing. sehingga pemerintah semakin memiliki kekuatan. Rakyat yang tak dilibatkan dalam proses. lembaran buku GBHN dan Pelita yang dicanangkan pemerintah makin tebal.dan lain-lainnya). akibat distribusi akses sumber daya ekonomi yang tak merata menyebabkan rakyat miskin tak dapat mengembangkan usaha produktifnya. rasa cemas.Diakibatkan keterbatasan akses. Dengan demikian. Dengan demikian. Temuan lapangan di Indonesia. sikap nrimo. Hal itu. secara umum kondisi rakyat Indonesia menjadi lemah. namun akibat tak ada rasa memiliki. kesempatan ekonomi. terfasilitasilah kemanusiaan yang penuh dan sanggup mengungkapkan diri (humanitas expleta et eloquens). dengan demikian berarti merangsang suatu masyarakat sehingga gerak majunya menjadi otonom.

babakan itu menyadarkan bahwa orientasi production centered development yang menekankan pertumbuhan. akibat adanya ‖dualisme ekonomi‖ sektor kecil ini tak memiliki kemampuan untuk memanfaatkan berbagai institusi modern. untuk mencapai kehidupan yang manusiawi. kini secara berangsur telah ditinggalkan. Tujuan pembangunan adalah tercapainya kesejahteraan bersama. sebab akan mempengaruhi paradigma (mindset) berpikir. maka masyarakat dapat mengembangkan berbagai potensi produktif mereka. Begitulah. Bahkan seringkali. perlu dikembangkan berbagai institusi modern yang dimodifikasi sedemikian rupa. Pendekatan people centered development. dan pembangunan pun rapuh tak berakar ( bubble economy). adalah perbankan. usaha-usaha ekonomi rakyat yang sering disebut usaha mikro. dengan berbagai keterbukaan dan peluang. akan bisa terus berkembang. rente ekonomi dan fasilitas. Setidaknya. Dan akhirnya disadari. Cara sudah seharusnya konsisten dengan tujuan yang ingin dicapai. namun pelayanan pembiayaan bank lebih dimanfaatkan sektor besar.mereka. Meski memobilisasi tabungan dari masyarakat luas. investasi asing dan haus akan utang luar negeri. *** Babakan sejarah yang pahit itu. sehingga makin kuat dan kokoh menyangga bangsa ini. namun tetap berjalan tertatih-tatih karena keterbatasan akses. (Dimuat di Sinar Harapan. acapkali institusi modern ini justru meningkatkan adanya kesenjangan. namun bukan tujuan utama. Akibatnya. keberlanjutan (sustainability). Dengan cara demikian. memang terbukti mampu menyelamatkan ekonomi Indonesia dari krisis. tentunya harus melalui jalan dari pembangkitan kekuatan rakyat itu sendiri atau dalam terminologi Korten disebut people centered development. diperlukan pula adanya upaya peningkatan kapasitas (capacity building). sektor modern justru makin meminggirkan mereka. Dengan demikian. tern yata justru menunjukkan kekuatannya. Menyadari adanya dua modal tersebut. ternyata memiliki banyak kelemahan. Kue pembangunan ternyata hanya dikuasai sebagian kecil masyarakat. Usaha-usaha ekonomi rakyat. Bila masyarakat telah tumbuh dan berdaya. mau tak mau harus berkompetisi secara sehat. Memfokuskan diri pada kesejahteraan rakyat. Oleh sebab itu. kecil. sehingga dapat kompatibel dengan nilai-nilai dan budaya setempat agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. perlu ada transformasi agar kedua sektor usaha tersebut bisa berkembang (dual track). pembangunan akan berkembang secara dinamik berdasar kekuatan masyarakat sendiri. Demikianlah. dengan segala kekuatan dan kelemahannya. di mana masyarakat mempunyai kebebasan untuk memilih. Dan perlu disadari. tak ada jalan lain kecuali memakai cara-cara yang demokratis. agar bisa memanfaatkan berbagai akses dan peluang yang ada. merupakan hal strategis yang tidak netral dan bebas nilai. pemerataan. maka cara untuk mencapainya pun seharusnya melalui upaya-upaya pencapaian kesejahteraan bersama. Sedangkan untuk usaha mikro. sementara kesenjangan melebar. dan semangat kemandirian masyarakat sendiri. yaitu melalui pemberian akses dan peluang yang sama pada kedua sektor usaha tersebut. metodologi dan pengorganisasian pencapaian tujuan. 29 April 2003) . hal ini tak mungkin terjadi. tentu harus dicapai dengan cara yang manusiawi pula. Produksi juga merupakan bagian penting dalam pendekatan ini. menekankan pertumbuhan manusia (aktualisasi potensi manusia). Ikhwal menetapkan tujuan utama (goal). dan menengah (UMKM) ternyata telah menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan krisis. namun kemudian ambruk. sebab bila tidak akan jatuh. Salah satu institusi modern yang sangat sulit diakses oleh UMKM. karena mendapat berbagai privilese tumbuh dengan cepat. ‖Investasi ekonomi rakyat‖ (underground economy) yang kerap dipandang dengan sebelah mata. Sementara usaha besar yang berusaha secara wajar dan kompetitif. Demikian pula. kecil dan menengah (UMKM). Usaha-usaha besar. sektor usaha besar yang hidup dari kronisme. Untuk mencapai demokrasi. maka pembangunan akan berurat berakar (rooted) pada rakyat. setidaknya kedua modal itulah yang kini kita miliki. Agenda ke Depan Kini kita menghadapi persoalan konkret.

19 Januari) disebut kelompok ekonom populis yang ―tidak realistis‖ dan ―tidak ilmiah‖. Sidang tahunan MPR-RI bulan Agustus 2002 merupakan tonggak sejarah bagi ekonomi rakyat ketika MPR memutuskan menarik kembali kesepakatan sebelumnya (ST-2000) untuk menghapus asas kekeluargaan dari . Daya tahan yang tinggi inilah yang menyebabkan ekonomi r akyat cepat pulih dari krisis ―laksana baju bolong -bolong yang merajut kembali sendiri‖. karena sepertinya perjuangan kita membela ekonomi rakyat tidak pernah akan berhasil. Dalam kondisi bingung inilah Chatib Basri seorang ekonom muda Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia lalu menunjuk adanya ekonomi tersembunyi ( hidden economy) yang sulit diraba. Presiden kita ternyata tidak bersama kita.Direktur Kajian Ekonomi dan Pembangunan Center for Humanity and Civilization Studies (CHOICES) dan staf Ketua LSM Bina Swadaya. ekonomi tersembunyi ini sangat jelas tidak tersembunyi. Sikap dan jawaban Presiden yang demikian tentu saja mengecewakan kita. Bahwa ekonom-ekonom modern zaman sekarang pura-pura tidak mengerti ekonomi rakyat dan mengatakan itu sebagai ekonomi tersembunyi ( hidden economy) memang mudah dipahami karena pakar-pakar ekonomi ini sudah tercekoki oleh teori-teori ekonomi Neoliberal dari Barat yang hanya ―bergaul‖ dengan fakta-fakta ekonomi modern.5%. Hukum atau teori ekonomi ini ternyata sama sekali tidak terbukti sepanjang tahun 2002.Oleh: Setyo Budiantoro -. Analisis makroekonomi (Neoklasik Ortodok) memang di sini menjadi buntu karena tidak ada yang dapat menerangkan mengapa ekonomi dapat tumbuh tanpa investasi. Presiden menyambut baik hasil-hasil seminar yang antara lain menyimpulkan pemihakan Presiden pada Ekonomi Kerakyatan meskipun di muka umum tidak terkesan demikian. Sungguh sangat kontradiktif. Inilah ekonomi rakyat yang dipahami oleh semua orang kecuali pakar-pakar ekonomi keblinger.5%. Mubyarto EKONOMI RAKYAT SEPANJANG TAHUN 2002 Tahun 2002 adalah tahun yang benar-benar istimewa bagi ekonomi rakyat. Investassi tidak berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. sulit dimengerti. Saat itu kami usulkan agar Presiden secara terbuka menunjukkan keberpihakan ini. maka saya lebih baik tutup mulut‖. ekonomi industri. dan saya akan terlalu sibuk berdebat dengan mereka. Data penurunan penanaman modal yang sangat besar ini. karena daya tahan yang sangat tinggi. globalisasi yang arti harafiahnya adalah perluasan wawasan ternyata telah menyempitkan pendangan para ekonom makro Neoliberal hingga ekonomi rakyat di depan mata dianggap ekonomi tersembunyi. Pada tanggal 18 Maret 2002 Redaktur JER bersama Menteri Koperasi & UKM bertemu Presiden Megawati di Istana Negara untuk melaporkan hasil lokakarya ―Ekonomi Kerakyatan‖ tanggal 11 September 2001. Presiden menyatakan antara lain bahwa ekonomi rakyat tidak mungkin mengalami krisis berkepanjangan. karena ternyata dalam kondisi investasi merosot ekonomi tumbuh 3. Data-data ini diperkuat lagi oleh ―taksiran‖ pelarian modal ke luar negeri sebesar rata-rata US $ 10 milyar per tahun sejak krismon 1997. Pergaulan mereka semakin sempit karena waktu mereka banyak tersita oleh komputer/internet yang mampu memberikan data-data kuantitatif dari seluruh dunia. karena kalau saya bersikap demikian. Bagi kelompok ekonom lain yang membela dan memihak ekonomi rakyat. ekonomi pasar uang/modal. yang dalam tulisan yang sama oleh ekonom senior FE-UI (Kompas. sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa ekonomi nasional makin terpuruk atau sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan (recovery). Jika saja mereka mau menyebutkan fakta ini memang mereka akan terpaksa mengakui kekeliruan teori ekonomi yang selalu mereka tonjolkan bahwa tanpa investasi tidak mungkin ada pertumbuhan ekonomi. yang ekonom Sumatera saja mengerti apa itu ekonomi rakyat dan pada majalah ―Daulat Rakyat‖ tahun 1931 menulis ―Ekonomi Rakyat Dalam Bahaya‖. Betapa tidak. para elit di sekitar saya serta merta akan menentangnya. Yang licik atau tidak jujur (unfair) dari analisis makro ekonomi ini adalah tidak dengan menyebutkan secara jelas dan eksplisit bahwa ekonomi Indonesia selama 2002 telah tumbuh 3. beliau menjawab: ―Bapak-bapak saja. Bung Hatta. dan sulit diterangkan. Para ekonom makro pengritik pemerintah ―dengan bangga‖ menunjukkan data BKPM (Persetujuan investasi pemerintah) yang anjlog 57% untuk modal dalam negeri dan 35% untuk modal asing dibanding tahun 2001.

Demikian menggusur kata asas kekeluargaan dengan memasukkan kata demokrasi ekonomi. dan usaha swasta termasuk usaha perseorangan. yaitu melalui restrukturisasi perusahaan yang sakit dan penjualan aset-asetnya. untuk mewujudkan kemakmuran. Tetapi TAP MPR yang sama dan UU No 25 tentang Propenas juga tegas-tegas memerintahkan pelaksanaan sistem ekonomi kerakyatan. Pelaku ekonomi adalah koperasi. efisiensi. Sri-Edi Swasono. Hasilnya cukup melegakan karena asas kekeluargaan tidak jadi digusur dan ketiga ayat pasal 33 dipertahankan utuh tanpa perubahan apapun meskipun ada tambahan ayat 4 dan 5 sebagai ―kompromi‖ yang memasukkan kata ―efisiensi berkeadilan‖. Lagipula menyebutkan koperasi sebagai salah satu pelaku ekonomi. dan demokrasi ekonomi. Hanya orang seorang adalah pelaku ekonomi yang instinknya bekerja keras berusaha mencapai tujuan. BPPN yang merupakan rumah sakit raksasa untuk menyelamatkan sektor perbankan dari kebangkrutan total menghadapi dilema. disamping BUMN dan usaha swasta. sebenarnya merupakan salah kaprah yang sulit dimaafkan. Secara lengkap rumusan pasal 33 baru hasil ST-2000 berisi 5 ayat sebagai berikut: 1. rupanya dianggap memadai dan tidak melanggar asas kerakyatan.pasal 33 UUD 1945. mayoritas anggota nampaknya menyadari kekeliruan pendapat yang ingin menggusur asas kekeluargaan. termasuk juga melaksanakan komitmen pada LoI-IMF. serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai dan atau diatur oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dalam sidang tahunan (ST) MPR-2002 para politisi kita berdebat keras melaksanakan amandemen UUD 1945 yang dikenal dengan amandemen ke-4. yang diatur dengan undangundang. air. Mungkin karena perhatian amat besar pada masalah pemilihan presiden atau katena perjuangan yang gigih dari segelintir teman-teman kita di MPR seperti Prof. dan demokrasi ekonomi. Tetapi sekali lagi tetap merupakan kekeliruan dan kerugian besar bagi bangsa Indonesia dan sistem serta praksis perekonomian. 2. liberalisme. dan pemerintah. Ternyata yang menang adalah cara pemilihan yang kedua yaitu pemilihan presiden langsung meskipun tetap tidak ada jaminan dapat terpilihnya presiden yang benar-benar mampu mempersatukan seluruh bangsa untuk memecahkan masalah-masalah pembangunan bangsa yang makin komplek termasuk ancaman disintegrasi bangsa yang amat nyata. bukan kemakmuran orang seorang‖. Pelaku ekonomi tetap saja perorangan sebagai produsen ataupun konsumen. Perekonomian disusun dan dikembangkan sebagai usaha bersama seluruh rakyat secara berkelanjutan berdasar atas keadilan. 4. maka penghapusan penjelasan seluruh pasal 33 masih tetap berbahaya karena tidak lagi ada ketentuan tentang ―mendahulukan kepentingan masyarakat. 3. Tetapi jika ke 5 ayat baru pasal 33 ini dianggap cukup untuk menghidarkan sistim kapitalisme. dan sosialisme. keadilan. dan efisiensi. kesejahteraan. Bumi. Di satu pihak BPPN diperintahkan MPR dan UU tentang Propenas untuk ―membereskan‖ segala utang ini dalam 5 tahun. Penyusunan dan pengembangan perekonomian nasional harus senantiasa menjaga dan meningkatkan tata lingkungan hidup. Ini berarti kemenangan para pembela ekonomi rakyat yang sejak Mei 2001 sebenarnya telah ―dinyatakan kalah‖ karena 5 dari 7 pakar ekonomi dalam BP-MPR setuju untuk menghapus asas kekeluargaan untuk digantikan dengan asas keadilan. karena MPR memutuskan menghapus seluruh penjelasan pasal 33 termasuk di antaranya hilangnya kata bangun perusahaan koperasi dan pengertian lengkap demokrasi ekonomi yang menekankan pada keharusan mendahulukan kepentingan masyarakat. ST-MPR 2002 memutuskan mempertahankan asas kekeluargaan bahkan mempertahankan keseluruhan (3 Ayat) pasal 33 tanpa amandemen apapun. efisiensi. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai dan/atau diatur oleh negara berdasarkan asas keadilan dan efisiensi yang diatur dengan undang-undang. sedangkan koperasi adalah wadah organisasi tempat bergiatnya ekonomi rakyat. dan dirgantara. serta menjamin keseimbangan dan kemajuan seluruh wilayah negara. 5. dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Koperasi bukan pelaku ekonomi. sedangkan organisasi koperasi adalah wadah kegiatan yang menjadi alat untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi anggota-anggota koperasi. Memang amandemen yang paling penting menyangkut bidang politik yaitu tentang pemilihan presiden apakah melalui MPR yang selama ini berjalan atau melalui pemilihan langsung. . memperhatikan dan menghargai hak ulayat. Bulan-bulan setelah selesainya ST MPR 2002 terjadi perdebatan menarik tentang perlakuan yang dianggap tepat pada para konglomerat atau eks-konglomerat yang mbandel tidak mau (bukan tidak mampu) membayar utang yang ratusan trilyun. badan usaha milik negara.

yang mendapat reaksi keras dari rakyat. di desadesa maupun di kota-kota. apakah tetap patuh pada pelaksanaan amanat pasal 33 UUD yang nasionalistik atau sistem ekonomi Neoliberal yang kini menguasai ekonomi dunia. Mubyarto. Ekonomi rakyat bukanlah ekonomi tersembunyi ( hidden economy) tetapi ekonominya wong cilik yang dapat dengan mudah dilihat dan ditemui di mana-mana di sekitar kita. Dan praktek perbankan BRI dengan unit-unit desanya dapat didukung kegiatan BPR dan Koperasi yang dikembangkan berbagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sudah tumbuh di mana-mana secara mandiri dengan modal tabungan anggota. Ekonomi rakyat menjadi pendukung utama perekonomian nasional. Menjamurnya pedagang kaki lima di mana-mana di kota-kota besar dan kecil. Dalam kaitan ini Kementerian Koperasi dan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) perlu berhati-hati karena UKM inilah salah satu wadah kelompok yang sangat mudah diselundupi sehingga menjadi pemangsa (predator) barbagai program kredit bagi ekonomi rakyat. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM (PUSTEP-UGM) . Di Indonesia sejarah dan praktek BRI sudah dukup meyakinkan sebagai Bank bagi penduduk miskin terutama di perdesaan. Dilema sangat berat ini menjadi terbuka lebar pada kasus kenaikan serentak harga-harga BBM.5% jelas-jelas merupakan sumbangan ekonomi rakyat yang dapat diandalkan ketahanannya. Tarif dasar listrik. Presiden dengan tegas dan terus terang menyatakan pilihan kebijakan yang ―tidak populis‖ (tidak memihak rakyat) karena dianggap ―konstruktif‖ dalam jangka panjang. lebih-lebih dengan pernyataan pembelaan Presiden di Bali tanggal 12 Januari. tetapi juga secara nyata sangat memberatkan kehidupan ekonomi rakyat. Dan jalan keluar atau pemecahan masalah ini sama sekali tidak memperoleh bantuan modal dari pemerintah atau bank-bank pemerintah. Pemilihan kebijakan yang tidak populis inilah yang kemudian memperkuat demonstrasi mahasiswa yang selanjutnya menuntut Presiden dan Wakil Presiden mundur karena tidak lagi merasa dipihaki. tetapi semuanya dengan modal mereka sendiri. Dilema ini berkepanjangan karena pada setiap kasus seperti penjualan BCA atau Indosat selalu muncul masalah masa depan sistem ekonomi Indonesia. Kiranya menjadi jelas bagaimana kehidupan ekonomi rakyat sepanjang tahun 2002 sampai awal 2003 ini. Pertumbuhan ekonomi nasional yang dilaporkan BPS 3. Jika pemerintah menganggap menjamurnya pedagang kaki lima sebagai masalah yang memusingkan. Guru Besar FE-UGM. Berbagai upaya untuk memihakinya selalu kandas ditengah jalan karena kepentingn-kepentingan yang mapan bercokol (vested interest) selalu berusaha keras pula untuk menyabotnya demi kepentingan mereka. dan telepon awal Januari 2002. sehingga Direktur Utama BRI Rudjito menyatakan di DPR ―vested interest lebih tinggi dari interest rate‖ (yang sudah cukup tinggi!). Pelaksanaan sistem ekonomi kerakyatan yang (harus) memihak rakyat berkali-kali terbentur atau berbenturan dengan kepentingan kelompok (vested interest) yang ingin tetap menguasai perekonomian Indonesia seperti masa-masa sebelum krismon. Usulan Filipina dalam AIPO-ASEAN (Organisasi antar Parlemen ASEAN) untuk membentuk Bank Penanggulangan Kemiskinan (ASEAN Poverty Alleviation Bank). Bahaya ini sungguh jelas terlihat karena definisi kredit UKM adalah nilai kredit antara Rp 50 juta dan Rp 500 juta yang jelas bukan kelompok ekonomi mikro yang miskin. Dr. dikawatirkan makin melembagakan kehidupan predator-predator kredit mikro bagi penduduk/warga miskin yang haus kredit di negara-negara ASEAN. Praktek-praktek BRI ini sebenarnya sudah ditiru/direplikasi di sejumlah negara Asia seperti India tetapi rupanya kurang mendapat perhatian di negeri sendiri. Prof. ketika ekonomi sektor industri modern makin tertutup dan bermasalah. Pemulihan ekonomi nasional dari krisis yang berkepanjangan justru terletak pada ekonomi rakyat. adalah indikator penemuan ekonomi rakyat pada habitatnya yang benar. ditinjau dari para pelaku ekonomi rakyat ia merupakan pemecahan masalah ( solution).bukan lagi sistem ekonomi konglomerasi yang terbukti telah menyulut bom waktu berupa krisis moneter 1997. Presiden dan Wakil presiden yang sangat didambakan memihak rakyat tidak lagi dipihak mereka (atau melawan mereka) sehingga tidak ada alasan lagi untuk mendukungnya. meskipun hampir tidak pernah dipihaki kebijakan-kebijakan pemerintah. Pada forum sama di DPR -RI tanggal 28 Januari Nyoman Muna dan Bambang Ismawan mengusulkan dikembang kannya ―microcredit wholesaler‖ (pemasok modal besar untuk ekonomi rakyat) tetapi yang harus dijaga benar -benar agar tidak dicegat oleh pemangsa (predator) yang akan memangsa kredit-kredit mikro ini untuk mereka sendiri. Inilah nasib ekonomi rakyat yang cukup suram dan merisaukan. Tentu saja pernyataan ini mendapat reaksi makin keras karena tidak saja kebijakan yang demikian melawan TAP MPR dan UU Propenas tentang sistem ekonomi kerakyatan.

Ibarat kata ‗binatang‘. dll. Walaupun dalam perjalanannya seekor kucing dapat saja menelan 100 ekor tikus atas nama binatang. Menurutnya. serta peluang pasar. Dalam ruang Indonesia. khususnya dalam kaitan dengan pembangunan ekonomi. Kata rakyat merupakan suatu konsep yang abstrak dan tidak dapat di‘tangkap‘ untuk diamati perubahan visual ekonominya. konglomerat. Karena dalam dimensi ruang Indonesia semua orang (Indonesia) berhak untuk menyandang predikat ‗rakyat‘. dan bentuk kepemilikan usaha secara pribadi. Ilustrasi di atas saya sampaikan untuk membuka ruang diskusi tetang ekonomi kerakyatan dalam perspektif yang terarah dalam kerangka mengagas pikiran Prof. Atau apakah upaya menggiring rakyat ke dalam ruang ekonomi kerakyatan selama ini sudah berada dalam koridor yang benar. Sama seperti jika seekor kucing digabungkan dengan 100 ekor tikus dalam satu ruang. ekonomi rakyat adalah satuan (usaha) yang mendominasi ragaan perekonomian rakyat. Kenapa mereka tidak digolongkan juga dalam ekonomi kerakyatan?. maka kata rakyat dalam konteks ilmu ekonomi selayaknya diterjemahkan sebagai kesatuan besar individu aktor ekonomi dengan jenis kegiatan usaha berskala kecil dalam permodalannya. Mubyarto tentang ―Ekonomi Kerakyatan dalam Era Globalisasi dan Otonomi Daerah‖. Pertanyaan yang sama harus dikenakan pada konsep ekonomi rakyat. 2001). Persoalannya ada begitu banyak obyek yang masuk dalam barisan binatang (tikus. menguasai teknologi produksi dan menejemen usaha modern. di mana dan berapa jumlahnya. Dainy Tara (2001) membuat perbedaan yang tegas antara ‗ekonomi rakyat‘ dengan ‗ekonomi kerakyatan‘. Mubyarto. Kata rakyat baru bermakna secara visual jika yang diamati adalah individualitas dari rakyat (Asy‘arie. bagaimana kita memperlakukan rakyat dimaksud dan apakah perlakuan terhadapnya selama ini sudah benar. sarana teknologi produksi yang sederhana. yaitu ekonomi rakyat yang mana. saya menc oba untuk menangkap (baca: memahami) makna kata ‗rakyat‘ secara utuh. sumberdaya manusia. siapa.Fredrik Benu EKONOMI KERAKYATAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT: SUATU KAJIAN KONSEPTUAL Ruang Ekonomi Kerakyatan Indonesia Saat mendapat tugas untuk mebahas konsep ekonomi kerakyatan dalam kaitan dengan makalah Prof. Perlu dipahami bahwa dalam ruang ekonomi nasional pun terdapat sejumlah aktor ekonomi (konglomerat) dengan bentuk usaha yang kontras dengan apa yang diragakan oleh sebagian besar pelaku ekonomi rakyat. kucing. Mereka lahir dan berkembang dalam suatu sistem ekonomi yang selama ini lebih menekankan pada peran negara yang dikukuhkan (salah satunya) melalui pengontrolan perusahan swasta dengan rezim insentif yang memihak serta membangun hubungan istimewa dengan pengusaha-pengusaha . Buruh tani. Sedangkan ekonomi kerakyatan lebih merupakan kata sifat. kita tidak bisa menangkap binatang untuk mengatakan gemuk atau kurus. kecuali binatang itu adalah misalnya seekor tikus. menguasai usaha dari hulu ke hilir. sehingga kita harus jelas mengatakan binatang yang mana yang bentuk visualnya gemuk atau kurus. menejemen usaha yang belum bersistem. maka semuanya disebut binatang. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun. Dalam konteks ilmu sosial. Kalau diterjemahkan dalam konteks ilmu ekonomi. yakni upaya memberdayakan (kelompok atau satuan) ekonomi yang mendominasi struktur dunia usaha.). maka rakyat adalah kumpulan kebanyakan individu dengan ragaan ekonomi yang relatif sama. kata rakyat terdiri dari satuan individu pada umumnya atau jenis manusia kebanyakan. Golongan yang kedua ini biasanya (walaupun tidak semua) lebih banyak tumbuh karena mampu membangun partner usaha yang baik dengan penguasa sehingga memperoleh berbagai bentuk kemudahan usaha dan insentif serta proteksi bisnis. usaha ekonomi yang diragakan bernilai ekstrim terhadap totalitas ekonomi nasional. Karena jumlahnya hanya sedikit sehingga tidak merupakan representasi dari kondisi ekonomi rakyat yang sebenarnya. Memiliki modal yang besar. Karena kelompok usaha dengan karakteristik seperti inilah yang mendominasi struktur dunia usaha di Indonesia. koruptor pun berhak menyandang predikat ‗rakyat‘. Atau dengan kata lain. atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam. Ekonomi Kerakyatan dan Sistem Ekonomi Pasar Ekonomi rakyat tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. Kita harus jelas mengatakan rakyat yang mana yang seharusnya kita tempatkan dalam ruang ekonomi kerakyatan Indonesia. mempunyai akses pasar yang luas. Selanjutnya. Akhirnya saya sampai pada pemahaman bahwa rakyat sendiri bukanlah sesuatu obyek yang bisa ‗ditangkap‘ untuk diamati secara visual. ular.

Bagi saya dunia ―pasar‖ Adam Smith adalah suatu dunia yang indah dan adil untuk dibayangkan. di mana bangun ekonomi yang mendominasi regaan struktur ekonomi nasional mendapat tempat tersendiri. lalu mencari suatu sistem dan paradigma baru di luar sistem ekonomi pasar untuk dirujuk dalam pembangunan ekonomi nasional. Yang perlu dilakukan adalah upaya untuk mendekati kondisi indah. Sekali lagi. Bukan sebaliknya membangun suatu format lain di luar ―ekonomi pasar‖ untuk diacu dalam pembangunan ekonomi nasional. Bagi saya. Kegagalan pembangunan ekonomi yang diragakan berdasarkan mekanisme pasar ini antara lain karena kegagalan pasar itu sendiri. Namun demikian tidak harus diartikan bahwa konsep pasar Adam Smith yang relatif bersifat utopis ini harus diabaikan. Padahal ekonomi pasar diperlukan untuk menentukan harga yang tepat ( price right) untuk menentukan posisi tawar-menawar yang imbang. Komitmen pemerintah untuk mengurangi gap penguasaan aset ekonomi antara sebagian besar pelaku ekonomi di tingkat rakyat dan sebagian kecil pengusaha besar (konglomerat). keadilan dan keseimbangan yang dibangun melalui mekanisme ―pasar‖nya Adam Smith adalah sesuatu yang harus diakui keberadaannya. yang keberhasilannya masih mendapat tanda tanya besar atau minimal belum dapat dibuktikan melalui suatu kajian teoritis-empiris. tidak efektifnya pasar tersebut berjalan. . Nampaknya kita semua berada pada pilahan yang dilematis. dan seimbang melalui berbagai regulasi pemerintah sebagai wujud intervensi yang berimbang dan kontekstual. dalam prakteknya belum ada satu negarapun yang cukup berpengalaman serta yang paling penting menunjukkan keberhasilan nyata. yang antara lain berisikan tentang keberpihakan yang sangat kuat terhadap usaha kecil-menengah serta koperasi. Kemudian sejak sidang istimewa (SI) 1998. Persepektif yang perlu dianut adalah bahwa keindahan. kita masih ragu-ragu. minimal telah dibuktikan melalui suatu review teoritis. dan adanya pengaruh eksternal. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya struktur ekonomi yang berimbang antar pelaku ekonomi dalam negeri.. bahkan kita sendiri belum berpengalaman (ibarat membeli kucing dalam karung). 1987). Tapi sayangnya sangat sulit untuk diacu untuk mencapai keseimbangan dalam tatanan perekonomian nasional. sebenarnya keragu-raguan ini tidak perlu terjadi. Sudah saatnya dan cukup adil jika pengusaha kecil –menengah dan bangun usaha koperasi mendapat kesempatan secara ekonomi untuk berkembang sekaligus mengejar ketertinggalan yang selama ini mewarnai buruknya tampilan struktur ekonomi nasional. Keputusan politik ini sebenarnya menandai suatu babak baru pembangunan ekonomi nasional dengan perspektif yang baru. Pengalaman pembangunan ekonomi Indonesia yang dijalankan berdasarkan mekanisme pasar sering tidak berjalan dengan baik. adil. saya merasa kurang memiliki justifikasi empirik untuk mempertanyakan kembali sistem ekonomi pasar. demi mengamankan pencapaian target pertumbuhan (growth) (Gillis et al. komitmen politik pemerintah ini perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Mereka tidak bisa diandalkan untuk menopang perekonomian nasional dalam sistem ekonomi pasar. Dalam pemahaman seperti ini. khusunya sejak masa orde baru.yang besar yang melahirkan praktik-praktik anti persaingan. perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Mari kita membedah lebih jauh tentang konsep ekonomi kerakyatan. Hal yang masih kurang jelas dalam TAP MPR dimaksud adalah apakah perspektif pembangunan nasional dengan keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini masih dijalankan melalui mekanisme pasar? Dalam arti apakah intervensi pemerintah dalam bentuk keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini adalah benar-benar merupakan affirmative action untuk memperbaiki distorsi pasar yang selama ini terjadi karena bentuk campur tangan pemerintah dalam pasar yang tidak benar? Ataukah pemerintah mulai ragu dengan bekerjanya mekanisme pasar itu sendiri sehingga berupaya untuk meninggalkannya dan mencoba merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru ?. dimana demokrasi ekonomi nasional tidak semata-mata dijalankan dengan keberpihakan habis-habisan pada usaha kecil-menengah dan koperasi. Bukti keragu-raguan ini tercermin dalam TAP MPR hasil sidang istimewa itu sendiri. jika kita semua jernih melihat dan jujur untuk mengakui bahwa kegagalan-kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama ini terjadi bukan disebabkan oleh karena ketidakmampuan mekanisme pasar mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. Bahwa kegagalan kebijakan pembangunan ekonomi nasional masa orde baru dengan keberpihakan yang berlebihan terhadap kelompok pengusaha besar perlu diubah. Lahirnya sejumlah pengusaha besar (konglomerat) yang bukan merupakan hasil derivasi dari kemampuan menejemen bisnis yang baik menyebabkan fondasi ekonomi nasional yang dibangun berstruktur rapuh terhadap persaingan pasar. tapi perusahaan swasta besar dan BUMN tetap mendapat tempat bahkan mempunyai peran yang sangat strategis. Karena konsep ―pasar‖ yang disodorkan oleh Adam Smit sesungguhnya tidak pernah ada dan tidak pernah akan ada. karena pengalaman keberhasilan pembangunan ekonomi negara-negara maju saat ini selalu merujuk pada bekerjanya mekanisme pasar. bukan ekonomi pasar itu sendiri. Mau meninggalkan mekanisme pasar dalam sistem ekonomi nasional. Saya perlu menggaris bawahi bahwa yang patut mendapat kesalahan terhadap kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama regim orde baru adalah implementasi kebijakan pembangunan ekonomi nasional yang tidak tepat dalam sistem ekonomi pasar. dihasilkan suatu TAP MPR mengenai Demokrasi Ekonomi. Mau merujuk pada bekerja suatu mekanisme yang baru (apapun namanya). intervensi pemerintah yang tidak benar.

untuk melihat keberhasilan pembangunan ekonomi nasional yang dapat dinikmati secara bersama. partisipatif. Sejak awal saya katakan bahwa semua pihak perlu mendukung affirmative action policy pada usaha kecilmenengah dan koperasi yang diambil oleh pemerintah sesuai dengan tuntutan TAP MPR. Ekonomi Kerakyatan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perlu digarisbawahi bahwa ekonomi kerakyatan tidak bisa hanya sekedar komitmen politik untuk merubah kecenderungan dalam sistem ekonomi orde baru yang amat membela kaum pengusaha besar khususnya para . Fungsi sosial dapat berjalan dengan baik dalam mekanisme pasar. ka rena dimanjakan oleh berbagai insentif dan berbagai bentuk proteksi. bukan sebaliknya pada konglomerat. Ini sama artinya dengan ―sakit di kaki. Pada saat yang sama. Kita akan membahas lebih jauh tentang kekurangan konsep ekonomi kerakyatan yang di dengungkan oleh pemerintah pada sub-pokok bahasan di bawah ini. keterbukaan/demokratis. Pendapat seperti ini juga tidak benar secara absolut. Periode waktu yang telah ditetapkan untuk berkembang menjadi suatu bisnis yang besar dalam skala dan skop serta melibatkan sejumlah besar pelaku ekonomi di dalamnya. Kalau begitu logikanya. kepercayaan diri dan kesetaraan. 2001). Jadi yang salah selama ini bukan mekanisme pasar. terjadi banyak penyimpangan dalam implementasi. Bentuk campur tangan pemerintah (orde baru) yang seharusya diarahkan untuk menjamin bekerjanya mekanisme pasar guna mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. Akibatnya tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) terhadap obyek keberpihakan (dalam mekanisme pasar) untuk mengambil peran sebagai lokomotif keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. Pengalaman pembangunan ekonomi nasional dengan kebijakan proteksi bagi kelompok industri tertentu (yang diasumsikan sebagai infant industry) dan diharapkan akan menjadi ―lokomotif ― yang akan menarik gerbong ekonomi lainnya. Saya juga kurang setuju dengan pendapat bahwa mekanisme pasar tidak dapat menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonomi nasional. instrumen distribusi kekayaan dan pendapatan. pemerintah sendiri kurang mempunyai acuan yang jelas tentang kapan seharusnya phasing-out process diintrodusir dalam tahapan intervensi. Ini yang namanya affirmative action yang terarah oleh pemerintah dalam mekanisme pasar (Bandingkan dengan pendapat Anggito Abimanyu. Buktinya negaranegara maju yang selalu merujuk pada bekerjanya mekanisme pasar secara baik. kepala yang dipenggal‖. karena kurang mantapnya perencanaan. sistem jaminan sosial. mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara baik pula. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang salah atau kurang sempurna dengan konsep ekonomi kerakyatan?. tetapi kurang adanya affirmative action yang jelas oleh pemerintah demi menjamin bekerjanya mekanisme pasar. pada akhirnya bermuara pada incapability dan inefficiency dari industri yang bersangkutan (contoh kebijakan pengembangan industri otomotif). rakyat sudah terlalu lama menunggu dengan penuh pengorbanan. jika ada intervensi pemerintah melalui perpajakan. seperti Singapura) mempunyai suatu sistem social security jangka panjang (yang berfungsi secara permanen) untuk membantu kelompok masyarakat yang inferior dalam kompetisi memperoleh akses ekonomi. harganya terlalu mahal bagi rakyat jika kita mencoba-coba dengan sesuatu yang tidak pasti. 2000). Justru negara-negara yang masih setengah hati mendorong bekerjanya mekanisme pasar (seperti Indonesia) tidak mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara mantap. sistem perburuhan. maka kurang ada justifikasi logis yang jelas untuk mengabaikan bekerjanya mekanisme pasar dalam mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional.tetapi lebih disebabkan karena pasar sendiri tidak diberi kesempatan untuk bekerja secara baik. serta lemahnya pengawasan. Perlu dicatat. dan pemerataan yang berkeadilan. meluasnya kesempatan berusaha dan pendapatan. menjadi tidak bermakna saat dihadapkan pada kenyataan bahwa bisnis yang bersangkutan masih tetap berada pada level perkembangan ―bayi‖. Pembangunan harus dikembangkan dengan berbasiskan ekonomi domestik (bila perlu pada daerah kabupaten/kota) dengan tingkat kemandirian yang tinggi. Semua ini merupakan ciri-ciri dari Ekonomi Kerakyatan yang kita tuju bersama (Prawirokusumo. bahwa disamping obyek keberpihakan selama pemerintah orde baru dalam kebijakan ekonomi nasionalnya salah alamat. ternyata dalam prakteknya lebih diarahkan pada keberpihakan yang berlebihan pada pengusaha besar (konglomerat) dalam bentuk insentif maupun regim proteksi yang ekstrim. namun pelaksanaannya masih jauh dari memuaskan. Bagi saya. Yang disebut dengan affirmative action seharusnya lebih dutujukkan pada disadvantage group (sebagian besar rakyat kecil). adanya persaingan yang sehat. Sebenarnya sudah banyak program jaminan sosial temporer semacam JPS di Indonesia. dsb. demi mengkreasi bekerjanya mekanisme pasar dalam program pembangunan ekonomi nasional. Apalagi dengan merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru. Sudah menjadi pengetahuan yang luas bahwa negara-negara maju (termasuk beberapa negara berkembang.

Namun demikian perlu ditegaskan bahwa pengembangan ekonomi kerakyatan pada era otonomisasi saat ini tidak harus ditejemahkan dalam perspektif territorial. Oleh karena itu. keterbatasan penguasaan teknologi dan informasi. Justru kelompok ini yang enggan mendorong adanya proses phasing-out untuk mengkerasi mekanisme pasar yang sehat dalam rangka mendorong keberhasilan program ekonomi kerakyatan. keterbatasan akses pasar. Tapi kita lupa bahwa ada tahapan lainnya yang penting dalam program keberpihakan dimaksud. Tapi sebaiknya dikembangkan dalam perspektif ‗regionalisasi‘ di mana di dalamnya terintegrasi kesatuan potensi. keterbatasan organisasi dan pengelolaannya (Asy‘arie. Ini adalah suatu model pendekatan struktural (structural approach). Jika pemahaman ini tidak dibangun sejak awal. Pada era otonomisasi saat ini. karena asumsi awal yang dianut adalah usaha kecil-menengah dan koperasi yang merupakan ciri ekonomi kerakyatan Indonesia tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. Praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil sangat tidak menguntungkan pihak manapun. maka saya khawatir cerita keberpihakan yang salah selama masa orde baru kembali akan terulang. atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam. dan . Sebenarnya yang harus ada pada tangan obyek affirmative action adalah kesempatan untuk berkembang dalam suatu mekanisme pasar yang sehat. Hal ini perlu ditegaskan. Selanjutnya. untuk mendorong ekonomi kerakyatan berkembang secara sehat. tetapi menyamakan ekonomi kerakyatan dengan praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil (saya tidak membuat penilaian terhadap sistem JPS). Pendekatan seperti ini jelas sangat berbeda dengan apa yang dimaksud dengan affirmative action. tetapi perlu ditindalanjuti dengan pengembangan program-program operasional yang diarahkan untuk mengatasi persoalan keterbatasan akses kebanyakan rakyat kecil. menjadi sangat tergantung pada aksi dimaksud. Komitmen keberpihakan pemerintah pada UKM dan Koperasi di dalam perspektif ekonomi kerakyatan harus benar-benar diarahkan untuk mengatasi masalah-masalah yang disebut di atas. konsep pengembangan ekonomi kerakyatan harus diterjemahkan dalam bentuk program operasional berbasiskan ekonomi domestik pada tingkat kabupaten dan kota dengan tingkat kemandirian yang tinggi. pemerintah harus mempunyai ancangan yang pasti tentang kapan seharusnya pemerintah mengurangi bentuk campur tangan dalam affirmative action policynya. termasuk rakyat kecil sendiri (Bandingkan dengan pendapat Ignas Kleden. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun. Kita semua masih mengarahkan seluruh energi untuk mendukung program keberpihakan pemerintah pada UKM dan koperasi sesuai dengan tuntutan TAP MPR. Bahkan sangat mungkin terjadi suatu proses yang bersifat counter-productive. bukan sekedar jargonjargon politik yang hanya berada pada tataran konsep. sumberdaya manusia. serta peluang pasar. Beberapa kajian empiris menunjukkan bahwa permasalahan umum yang dihadapi oleh UKM dan Koperasi adalah: keterbatasan akses terhadap sumber-sumber permbiayaan dan permodalan. Modal dasar yang dimiliki inilah yang seharusnya ditumbuhkembangkan dalam suatu mekanisme pasar yang sehat. bukan cash money/cash material. Masih ada masalah lain yang perlu dibahas dalam hubungan dengan internal condition UKM dan Koperasi. peluang. Perubahan itu hendaknya dilaksanakan dengan benar-benar memberi perhatian utama kepada rakyat kecil lewat program-program operasional yang nyata dan mampu merangsang kegiatan ekonomi produktif di tingkat rakyat sekaligus memupuk jiwa kewirausahaan. agar pembahasan tentang ekonomi kerakyatan tidak hanya berhenti pada suatu konsep abstrak (seperti pembahasan tentang konsep ‗binatang‘ di atas). 2000). Program pengembangan ekonomi rakyat memerlukan adanya program-program operasional di tingkat bawah. adalah sesuatu kekeliruan besar dalam perspektif ekonomi kerakyatan yang benar.konglomerat. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di NTT Kita telah membahas tentang konsep ekonomi kerakyatan dalam pembangunan ekonomi nasional melalui program-program keberpihakan pemerintah terhadap UKM dan Koperasi. Tidak dapat disangkal bahwa membangun ekonomi kerakyatan membutuhkan adanya komitmen politik ( political will). maka sekali lagi kita akan mengulangi kegagalan yang sama seperti apa yang terjadi selama masa pemerintahan orde baru. Aksi membagi-bagi uang secara tidak sadar menyebabkan usaha kecil-menengah dan koperasi yang selama ini tidak berdaya untuk bersaing dalam suatu mekanisme pasar. 2001). diperlukan adanya kajian ekonomi yang akurat tentang timing dan process di mana pemerintah harus mengurangi bentuk keberpihakannya pada usaha kecil-menengah dan koperasi dalam pembangunan ekonomi rakyat. yaitu phasing-out process yang harus pula dipersiapkan sejak awal. Isu ini perlu mendapat perhatian tersendiri. Kalau tidak. keunggulan. Bukan sebaliknya ditiadakan dengan menciptakan ketergantungan model baru pada kebijakan keberpihakan dimaksud. Tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) dalam ragaan bisnis usaha kecil-menengah dan koperasi yang menjadi target affirmative action policy. karena sampai saat ini masih banyak pihak (di luar UKM dan Koperasi) yang memanfaatkan momen keberpihakan pemerintah ini sebagai free-rider.

2000. Fredrik Benu – Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana.. Jakarta. tidak dipublikasikan. Simanjuntak. Strategi Membangun Ekonomi Rakyat. Jakarta. New York. Selanjutnya. 2 nd Ed. 2001. 2000. 6 milyar dengan jumlah tunggakan (pokok+bunga) sebesar kurang lebih 26. Kompas Media Nusantara. Ekonomi Indonesia Baru. PUSTAKA Abimanyu. Lembaga Studi Filsafat Islam. Djisman. di Hotel Kristal. PT. Keluar dari Krisis Multi Dimensi. Kosep. 26 Nopember 2002. PT. Sistem nilai budaya ini yang banyak mendeterminasi perilaku aktor ekonomi rakyat di NTT. Economics of Development. data yang diperoleh dari Biro Perekonomian Seta NTT menunjukkan bahwa sejak ditetapkannya TAP MPR tentang demokrasi ekonomi yang menekankan adanya keberpihakan yang jelas terhadap UKM dan Koperasi di Indonesia. Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia. . sikap terhadap mitra dan kompetitor. Kupang Makalah disampaikan pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di Provinsi NTT. Prawirokusumo. Ekonomi Pasar Sosial Indonesia. Tingkat pencapaian tertinggi yang paling banyak diperoleh dari program-program dimaksud adalah hanya terbatas pada tumbuhnya kesadaran berpikir dan hasrat untuk maju. Tetapi ada semacam jarak antara kesadaran berpikir dan realitas perilaku (Bandingkan dengan pendapat Musa Asy‘arie. Pokok-Pokok pikiran dalam Menggugat Masa Lalu. 2001. Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia. dsb. Kompas Media Nusantara. 2001. Pada tingkat regional NTT. Roemer Donald R. Perkins. 2001). Yogyakarta. Kleden. Persepsi dan Mispersepsi tentang Pemulihan Ekonomi Indonesia. khususnya di NTT. Anggito. dan Strategi. Jakarta. Oleh karena itu saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa program pemberdayaan ekonomi rakyat. Tara. Malcolm. W. 1987. Asy‘arie. Azwir Dainy. Gubernur Nusa Tenggara Timur. 2002). tetapi sebagian besar rakyat kecil masih sulit untuk mengaktualisasikannya dalam ragaan usaha mereka. 2000. Sekedar sebagai pembanding disajikan data realisasi dan tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) selama periode 1996-2000. Sekalipun sudah banyak program pemberdayaan ekonomi yang langsung menyentuh rakyat di tingkat bawah telah dilaksanakan baik oleh pemerintah maupun oleh lembaga-lembaga non-pemerintah (NGOs). Elex Media Komputindo. Yogyakarta. Dwight. dalam Menggugat Masa Lalu. Kebijakan. sebaiknya dimulai dengan program rekayasa sosial-budaya (socio-cultural engineering) untuk merubah inner life dan mengkondisikan suatu tatanan masyarakat yang akomodatif terhadap tuntutan pasar untuk maju. Musa. H.karakter sosial budaya. BPFE. cara pengelolaan keuangan. Jakarta. Ignas. Nuansa Madani. Kupang. termasuk di dalamnya cara pandang tentang usaha. S. Atau dengan kata lain tingkat keberhasilan KUT di NTT hanya mencapai kurang dari 26 %.1 milyar (Laporan Gubernur NTT. Ekonomi Rakyat. Jumlah realisasi KUT yang telah disalurkan pada petani sejak tahun 1996 sampai tahun 2000 kurang lebih 35. Ini adalah suatu model pendekatan lain yang disebut pendekatan kultural (cultural approach). tgl. Laporan disampaikan pada kunjungan Menteri Pertanian Republik Indonesia di Propinsi Nusa Tenggara Timur.W. 2002.Norton & Companny. kajian dan alternatif solusi menuju pemulihan. cara pandang tentang tingkat keuntungan. Gillis. masih terdapat persoalan mendasar yang ‗mengurung‘ para pengusaha kecilmenengah dan Koperasi (termasuk di dalamnya berbagai bentuk usaha di bidang pertanian) untuk melakukan rasionalisasi dan ekspansi usaha. strategei menghadapi resiko. Persoalan mendasar yang mengurung ini. Soeharto. jumlah KK miskin di NTT malah mengalami kenaikan yang cukup murad sebesar 55 % selama periode 1998-2002. mungkin ada kaitannya dengan sistem nilai budaya yang sudah mengakar pada diri pelaku ekonomi rakyat di NTT secara turun temurun.

Jambu Mete. Data makro tentang pendapatan per kapita penduduk di berbagai kabupaten di NTT bisa menjelaskan kondisi ekonomi para pelaku ekonomi kecil tersebut. Pada titik inilah kita harus membedakan secara jelas petani kecil. Para pelaku ekonomi kecil di sektor informal perkotaan juga memperlihatkan kondisi yang relatif sama. Sulawesi dan Sumatra yang pada umumnya berusaha di pusat kota. pelaku industri rumah tangga kecil dan pelaku ekonomi sektor informal perkotaan di Jawa dan kota besar lainnya di Indonesia dengan NTT. peternak kecil. kita mengenal cukup banyak konsep . Komsep ini tidak mempersoalkan perbedaan orang dalam kepelbagaian sosial. Kecuali beberapa pelaku ekonomi informal yang berasal dari Jawa. tingkat ekonomi mereka cukup memadai. betapapun daerah ini dikenal sebagai gudang ternak (sapi). Unit usaha industri kecil atau rumah tangga yang paling menonjol di NTT adalah industri tenun ikat. sejumlah kelompok tani yang menanam vanili mendapat penghasilan yang cukup besar lantaran harga komoditas ini cukup tinggi. Semuanya sama. Pemerintah. fondasi perekonomian daerah dan sejumlah julukan yang membanggakan. ekonomi dan budayanya. Suatu isyarat bahwa suatu kebijakan pengembangan yang berhasil di Jawa dan kota besar lainnya di Indonesia belum tentu berhasil di NTT. Di Sabu dan Rote. Menurut hemat saya. Tampilan fisik usaha para pelaku ekonomi kecil ini juga memperihatinkan. Alor dan Timor. Kopi. tingkat ekonomi mereka memprihatinkan. namun pelaku ekonomi kecil semacam ini pasti buka di NTT. Pujian demikian tidak salah.Frits O FanggidaE EKONOMI KERAKYATAN DI NTT: ANTARA REALITAS DAN HARAPAN Realitas Pelaku Ekonomi Kerakyatan di NTT Rakyat adalah suatu konsep politik yang netral. Sejumlah kelompok usaha yang dibina intensif dengan kondisi SDM yang relatif baik menunjukkan perkembangan yang baik. walaupun mungkin pendapatan nominalnya lebih besar dari para peternak kecil. sebagian pelaku ekonomi kecil di pesisir pantai dikabarkan mengalami kemajuan berkat budidaya rumput laut. konsep ekonomi kerakyatan yang digunakan juga tidak bersifat netral. Di NTT. dari pusat sampai daerah. mereka juga menggelar hasil usahanya di pinggir jalan secara darurat. tidak menunjukkan status ekonomi yang lebih baik ketimbang para petani yang menanam tanaman pangan. Mungkin juga tidak setiap hari mereka bisa berjualan di pasar atau pinggir jalan karena pola produksinya yang bersifat musiman. nelayan kecil. Para pengamat ekonomi memuji pelaku ekonomi kecil ini sebagai lentur dan tahan terhadap konjungtus dan krisis ekonomi. Dalam kajian ini. Vanili. Di Apui (Alor). pelaku ekonomi sebagaimana dimaksud pada umumnya terdiri dari petani kecil. Demikian juga para nelayan kecil di pesisir pantai Flores. pelaku ekonomi kerakyatan yang serba kekurangan ini ingin ditempatkan sebagai pelaku ekonomi utama. namun tidak sedikit kelompok dan usaha individu menjadikan industri tenun ikat sebagai pekerjaan sampingan dengan postur usaha yang serba kekurangan. Pada tataran political will pemerintah. kinerja ekonomi mereka terbilang cukup baik. Bagi para petani yang kebetulan memiliki wilayah yang cocok untuk komoditas perkebunan seperti Cengkeh. masih membutuhkan waktu yang relatif lama dan yang lebih penting dari itu. yaitu hanya menunjuk pada pelaku ekonomi kecil (gurem) yang tersebar di sudut-sudut jalan perkotaan maupun di pelosok perdesaan. sebagian besar dalam kondisi serba miskin. tetapi kondisinya tetap seperti kita saksikan saat ini. Para peternak di TTS. karena berbagai perbedaan pelaku ekonomi mulai diperhitungkan. Namun bagi para petani yang mengandalkan tanaman pangan dengan wilayah yang relatif kering. Inilah kondisi riil pelaku ekonomi kerakyatan di NTT. petani kecil dan nelayan kecil di perdesaan. peternak kcil. membutuhkan wawasan dan perlakuan baru terutama dari para penentu dan pelaksana kebijakan pada tingkat pemerintahan. nelayan kecil dan pengrajin kecil di perdesaan dan para pelaku sektor informal perkotaan. Selain berjualan secara individual di pasar. telah melakukan banyak hal untuk memajukan mereka. menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan yang serba kecil dan kekurangan di NTT sebagai pemain ekonomi yang utama atau sebagai fondasi ekonomi daerah. PDMDKE dan berbagai skim program/ pendanaan lainnya belum menyentuh mereka atau mungkin sentuhannya sudah hilang sama sekali. Ketika konsep rakyat diimbuhkan dengan konsep ekonomi politik yang tidak lagi netral. Sumba. Lingkungan ekonomi makro dan mikronya sangat kontras berbeda. kondisi mereka tidak dapat digolongkan mampu secara ekonomis. Secara teoretis. Tampaknya program-program pengentasan kemiskinan atau pemberdayaan ekonomi seperti IDT. Data ekonomi makro Indonesia bahwa share pelaku ekonomi kecil ini cukup kelihatan.

Share sektor pertanian sangat menonjol sementara share sektor industri sangat kecil. peternak. masing-masing bergerak di bidang kelautan dan agribisnis didirikan sebagai outlet bagi para pelaku ekonomi kecil.pemberdayaan usaha kecil seperti kemitraan. Petani Vanili di Apui (Alor) yang baru saja menikmati harga vanili yang tinggi. Jauh bukan hanya dalam arti fisik saja. Berkembangnya sektor ekonomi sekunder dan tersier menjadi prasyarat bagi pengembangan dunia usaha pada aras ekonomi mikro. Karena itu sektor ini akan menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi pada sektor primer dan sekunder. Para pembeli memiliki organisasi yang solid. Sementara itu sebagian nelayan di Pulau Timor secara perlahan-lahan telah bertransformasi menjadi buruh nelayan. bapak angkat. Inilah formasi ekonomi makro dan mikro yang sangat kondusif bagi pelaku ekonomi kecil di Jawa dan kota besar lainnya untuk berkembang. agar tercapai keseimbangan posisi tawar di pasar. Apakah koperasi sebagai lembaga ekonomi yang dekat dengan para petani. Dalam kaitan ini menarik untuk disimak lebih lanjut langkah Pemda Kabupaten Kupang. Mereka memasuki pasar pembeli ( buyer market) secara individual tanpa dukungan kelembagaan yang memadai. posisi tawar mereka sangat lemah. Menjadi persoalan adalah bagaimana percepatan perubahan struktur ekonomi ini dapat terjadi. maka inilah salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan untuk direplikasi pada daerah lain. Mereka bahu-membahu menjalin kekuatan untuk menguasai dan mendikte harga pasar. Dari kondisi semacam ini dapat dibayangkan bahwa yang diperdagangkan adalah komoditas pertanian tanpa penglahan yang berarti. Akibatnya. Ciri pasar komoditas semacam ini adalah harga relatif rendah dan inferior terhadap komoditas hasil olahan yang diimpor dari luar. perubahan struktur ekonomi akan terjadi bila aliran investasi pada sektor industri pengolahan (sekunder) meningkat. Dengan tingkat pendapatan masyarakat yang relatif tinggi serta kompetisi yang baik antar sektor ekonomi menjadikan outlet bagi produk pelaku ekonomi kecil cukup tersedia dengan insentif harga yang memadai. Pada sisi lain share sektor perdagangan dan perhubungan sedikit agak menonjol. Sekiranya langkah ini mampu meningkatkan posisi tawar para pelaku ekonomi kecil dan mampu meningkatkan kinerja ekonomi mereka. Para pelaku ekonomi kecil tidak menikmati nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan. Demikian juga pada tataran ekonomi mikro. tetapi lebih penting adalah aksesibilitas. Jauh dari Permintaan dan Miskin Kelembagaan Salah satu persoalan yang menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan di perdesaan NTT sulit berkembang adalah bahwa mereka jauh dari permintaan (pasar). nelayan. Kita masih membutuhkan wadah ekonomi lain atau sekurangkurangnya cara penanganan pasar sedemikian rupa sehingga aksesibilas pasar dan posisi tawar mereka dapat ditingkatkan. Secara teoretis. Berkembangnya sektor ekonomi sekunder akan menciptakan peluang bagi dinamika dunia usaha. Organisasi pembeli yang kuat tersebut tidak bisa dilawan oleh para petani secara individual. saay ini mulai merasakan bahwa harga vanili sangat ditentukan oleh pembeli (pedagang skala menengah dan besar). pengrajin dan pedagang kecil dapat menjadi organisasi ekonomi yang diandalkan untuk meningkatkan posisi tawar mereka di pasar? Sangat sulit untuk mengatakan Ya. Organisasi harus dilawan dengan organisasi pula. Sektor rkonomi tersier adalah sektor yang melayani. Sikap kewiraswastaan mereka terbentuk dalam dinamika dunia usaha yang tinggi. Penghasil rumput laut di Rote dan Sabu juga mulai merasakan betapa fluktuasi harga yang terjadi sulit mereka kendalikan. tetapi belum berhasil mengeluarkan para pelaku ekonomi kecil dari lingkaran yang serba kekurangan. Di NTT. Formasi Ekonomi Makro dan Mikro Salah satu keuntungan pelaku ekonomi kecil dan sektor informal perkotaan di Jawa dan kota besar lainnya adalah struktur ekonominya telah terdiversifikasi dengan baik sehingga hubungan fungsional antar sektor ekonomi (pertanian. inti-plasma dan sebagainya. perhubungan dan lembaga keuangan) telah terjadi dengan baik. Perilaku . struktur ekonomi belum terdiversifikasi dengan baik menjadikan hubungan fungsional antar sektor ekonomi belum terjalin baik. Dua Perusahaan Daerah. perdagangan. Perlu ada kebijakan untuk percepatan perubahan struktur ekonomi NTT agar keterkaitan fungsional antar sektor ekonomi dapat tercipta. Dalam kondisi semacam ini. bukan melalui pelatihan-pelatihan formal. Konsep-konsep ini telah diadopsi sedemikian rupa ke dalam berbagai program pemberdayaan ekonomi yang dilaksanakan pemerintah maupun swasta. industri. Para peternak di TTS sudah sejak lama takluk dengan para pembeli (pedagang). pengembangan pelaku ekonomi kecil membutuhkan perubahan yang cukup berarti pada formasi ekonomi makro dan mikro. dinamika dunia usaha yang relatif tinggi menjadi media pembelajaran yang efektif dalam pembentukan perilaku ekonomi yang rasional dan produktif. Kondisi ini sangat kondusif bagi para pelaku ekonomi kecil.

wacana tentang UKM ibarat macan ompong. Rencana Pengembangan Pelaku Ekonomi Kecil dapat dijadikan subsidiary plan dari Propeda atau Renstra yang keabsahannya dilegitimasi juga oleh Perda. Kepala Daerah harus berani merumuskan visi yang jelas tentang pengembangan pelaku ekonomi kerakyatan. Menurut hemat saya. Ancangan Perencanaan Berbagai perubahan yang diinginkan terhadap pelaku ekonomi kecil butuh perencanaan yang baik dan perencanaan yang baik muncul dari suatu visi pengembangan usaha kecil yang jelas pula. Misalnya dalam perumusan kebijakan fiskal daerah (APBD).ekonomi atau sikap kewirausahaan merupakan fungsi dari dinamika dunia usaha. program-program lintas instansi yang akan dilaksanakan. Tanpa Perda ini. maka perangkat hukum dalam bentuk Perda tentang pelaku ekonomi kecil atau UKM perlu dibuat. Demikianlah beberapa pokok pikiran tentang pengembangan ekonomi kerakyatan di NTT. tetapi ia tak punya gigi. Denganstrategi. Frits O FanggidaE – Dosen Fakultas Ekonomi . agar tercipta media pembelajaran yang luas bagi pelaku ekonomi kecil untuk mematangkan perilaku ekonomi atau sikap kewirausahaannya. Bila pemerintah menginginkan pelaku ekonomi kecil menjadi fondasi perekonomian daerah. Untuk itu diperlukan suatu pengkajian mendalam mengenai eksistensi pelaku ekonomi kecil saat ini. PDRB NTT akan didominasi share pelaku ekonomi kecil. Visi semacam ini diperlukan agar ada komitmen dan daya paksa untuk menjabarkan visi tersebut dalam perencanaan yang baik. Subsidiary plan adalah produk perencanaan sejumlah instansi yang berkaitan langsung dengan usaha kecil yang penyusunannya dikoordinasi Bappeda dan melibatkan representasi pelaku ekonomi skala menengah dan besar. karena dalam format APBD yang baru. adakah visi kita yang jelas tentang usaha kecil? Cukupkah dokumen perencanaan yang ada (Poldas. Semoga berguna. kepastian hukum dan komitmen yang jelas dalam pengembangan UKM. Gaungnya kedengaran keras di mana-mana. terutama bagi pelaku UKM untuk menuntut dan mengontrol pemerintah agar bersungguh-sungguh dalam mengembangkan UKM. selain retorika tentang mereka.Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang . Melalui pendekatan semacam ini diharapkan pelaku ekonomi kerakyatan dapat berkembang menjadi fondasi ekonomi yang kokoh bagi perekonomian daerah. Berkaitan dengan representasi pengembangan usaha kecil dalam dokumen perencanaan yang ada. Dari segi pendanaan tidak ada masalah. Sekian. Dorong perkembangan dunia usaha melalui percepatan perubahan struktur ekonomi. program aksi dan pengelolaan yang jelas. strategi yang digunakan. Perda ini sangat penting. Propeda dan Rentra) tidak memungkinkan rencana pengembangan pelaku ekonomi kecil sebagai inti dari pengembangan ekonomi rakyat diakomodasi dengan baik. Pertanyaannya. Jangan dipaksakan dengan berbagai pelatihan kewirausahaan bila formasi ekonomi makroo dan mikro tidak kondusif. kapitalisasi pelaku ekonomi kecil tersebut dapat menjadi pemicu bagi berkembangnya aktivitas usaha pelaku ekonomi kecil. Bila urusan-urusan ekonomi lainnya diregulasi oleh Pemerintah Daerah. Karena itu perlu terobosan dari sisi perencanaan. Subsidiary plan tersebut paling kurang berisikan lima hal pokok yaitu Visi dan Misi. pembiayaan dan guide line pengelolaannya. yang menggunakan program sebagai nomenklatur generik serta format pengusulan untuk mendapatkan pembiayaan dekonsentrasi. sebagian dari pos belanja modal yang dianggarkan dapat diarahkan sebagai kapitalisasi pelaku ekonomi kecil. maka Kepala Daerah harus berani merumuskan visi bahwa dalam jangka waktu lima atau 10 tahun mendatang. pedekatan. Seluruh program yang berkaitan dengan mereka perlu dievaluasi tuntas dan yang paling penting mesti ada wawasan baru tentangnya. pembiayaan terhadap subsidiary plan tersebut dapat diakomodasi. propeda dan Renstra) memberi tempat bagi pengembangan usaha kecil secara terpadu dan berkesinambungan? Bagaimana strateginya menjadikan usaha kecil sebagai sokoguru perekonomian daerah? Sampai sejauh ini kita belum melihat adanya visi yang jelas tentang pelaku ekonomi kecil. harus diakui bahwa format perencanaan standar yang ada saat ini (Poldas. Perlu Regulasi bagi Pelaku Ekonomi Kecil Esensi regulasi adalah untuk menciptakan keteraturan.

tetapi propinsi ini sedang mengeksplorasi berbagai potensi tambang dan kekayaan alam lain yang kelak akan membantu mengubah nasibnya‖. tetapi ekonomi rakyat yang masih agraris berdaya tahan tinggi dan justru merasa diuntungkan oleh krisis moneter tahun 1997.22 6.54 3. Meskipun tahun 1998 terjadi kontraksi ekonomi minus 2.0 88.54 5.75 4. Data -data pertumbuhan PDRB per kabupaten/kota yang lebih lengkap selama Repelita VI terlihat pada tabel 2.42 -1.67 2.5 71. Kabupaten/kota Sumba Barat Sumba Timur Kupang Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Belu 1998 -0.9 Partisipasi 88.6 39. pada tahun krisis (1998) mengalami kontraksi –2.5 5. Perekonomian Daerah Jika tahun 1996 dan 1997 pertumbuhan ekonomi NTT cukup tinggi (masing-masing 8.2 57. Tabel 1: Tingkat Keberhasilan Pokmas IDT Menurut Bidang (%) di 4 Propinsi Propinsi NTT NTB Maluku Ekonomi 79. wakil LSM dan sejumlah dosen Undana menyatakan optimisme terhadap masa depan ekonomi NTT.9 76.6 86. Bahkan pemahaman tentang pengertian otonomi daerah sendiri masih cukup rancu. Bahwa OTDA penuh diletakkan di kabupaten/kota. Namun khusus tentang prospek otonomi kebanyakan pakar masih merasa cemas.75 -6. Di antara 4 propinsi ―termiskin‖ ini hasil lengkap survei BPS-1997 dilihat pada tabel 1. yang seluruh desanya dinyatakan sebagai desa IDT pada tahun 1996. rupanya dianggap sebagai perubahan amat fundamental yang terkesan menghapuskan kekuasaan dan fungsi kooordinatif dari pemerintah propinsi atas kabupaten/kota dalam lingkungan propinsi. 5.30 32. tidak tinggi dibanding kontraksi –4.97 .8 Irja 31.6 91.0 Sumber: RI.83 4.64% untuk wilayah-wilayah luar Jawa.73%.5 75. Secara keseluruhan ekonomi NTT sudah pulih dari krisis.62%).4% (5 propinsi Jawa).73%.24 -2.13 4. 4.21 4.8% (Jawa-Bali) atau –13. Maka dapat dimengerti seperti halnya wilayah-wilayah lain di luar Jawa. 1. Maret 1998 Dalam pertemuan terbatas di Kupang tanggal 20 Januari 2001.57 2. survei BPS tahun 1997 menempatkan NTT pada urutan nasional ke-6 (79. adanya bagian-bagian masyarakat yang ―menikmati krisis‖ dengan kemakmuran yang meningkat. Sebagai salah satu dari 4 propinsi ―termiskin‖ di Indonesia berdasarkan tingkat PDRB perkapitanya. 2.42 -3.57 5. dan di propinsi hanya merupakan otonomi terbatas.1 32. 3.7 52.22% dan 5. ―Mungkin warga NTT belum se-makmur saudara-saudaranya dari daerah lain.7 96.63 1999 0. dan jauh lebih rendah dibanding kontraksi –11.5 % berhasil dalam aspek ekonomi).94 1.10 3. Tabel 2: Pertumbuhan PDRB Per Kabupaten/Kota se Propinsi NTT No.4 63.04 2000 2.Mubyarto MEMBANGUN PEREKONOMIAN RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR Pendahuluan Gubernur Piet Tallo yang alumni Fakultas Hukum pernah menolak julukan miskin bagi daerahnya. yang menonjol di antaranya berupa kerisauan menurunnya wibawa pemerintah daerah propinsi di mata pejabat-pejabat kabupaten/kota.91 Rata-rata 1994 2000 3. 6.28 -3.62 3.11 4.7 Kemandirian Kelembagaan Keseluruhan 64.8 23. Kesan demikian tentu mengganggu pelaksanaan pemerintah daerah.40 -2.9 78. Pidato Pertanggungjawaban Presiden.

dan yang paling mudah dalam situasi ekonomi sekarang (krismon) adalah dibelikan SBI yang bunganya menarik.72 3.20 milyar (1997/98) menjadi Rp 1. Bahkan kenaikan pendapatan yang diperoleh dari dan selama krismon tidak dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi rakyat lebih lanjut.73 -0.33 2. Namun menjadi tanda tanya mengapa kontraksi ekonomi yang tertinggi di kabupaten Ende rupanya tidak terkait dengan data perbankan yang justru meningkat yaitu simpanan dan tabungan berjangka masing-masing naik 19.18 Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kontraksi ekonomi rata-rata kabupaten/kota se-propinsi cukup merata dengan angka tertinggi di kabupaten Ende (-6. pihak perbankan harus juga berubah dalam melayani ekonomi rakyat dalam kebutuhan kredit yang mudah dan murah. Peningkatan dana masyarakat Ende berupa simpanan dan tabungan berjangka (Rp 183.91 1.2 milyar (20%) lebih rendah dari persentase kredit yang diberikan pada tingkat propinsi (28.72 5. Dana yang dihim pun perbankan di Ibukota propinsi (Kupang) ―hanya‖ 54.72 0. 12.69%) dan TTU (-6.54 0. Kantor Pusat setiap bank akan harus mengembangkannya.73 4. 10. Pada bulan Oktober 2000 dana yang dihimpun perbankan Ende mencapai Rp 210.18 2.3 di Propinsi NTT melampaui wilayah Ngada dan Manggarai. Sebenarnya jika Bank Umum di daerah mau bekerja keras. meskipun disadari bahwa syarat-syarat ini adalah syarat-syarat kredit komersial formal yaitu 5 C (collateral. Jika masyarakat kecil (ekonomi rakyat) mulai tertarik menggunakan jasa perbankan yang mudah dalam bentuk simpanan dan tabungan berjangka. capacity. sehingga dana perbankan Ende yang hanya Rp 40. 11. Syaratsyarat formal ini diakui terlalu kaku.7 milyar). Di daerah harus ada kebijakan khusus yang merangsang investasi. 14. 8.68 5.7% pertahun.20 3. Pimpinan Bank Indonesia yang hadir dalam diskusi di Kupang tidak melihat adanya kejanggalan ini karena menurutnya dalam ―sistem ekonomi pasar bebas‖ perilaku modal keluar masuk daerah. Kenaikan paling tinggi adalah penghimpunan dana di kabupaten Ende (105%) dan Kabupaten Kupang (79%). Kenaikan nilai penghimpunan dana di Ende yang luar biasa ketika krismon.22 -6.7 kali dari nilainya pada tahun 1993/94 (Rp 439 milyar).44 5. character. Analisis perekonomian daerah kembali ke lingkaran awal.69 milyar (1998/99) kenaikan 73%.8 milyar ke Rp 53.6 milyar) dan 6 kali (dari Rp 21.98 4. condition dan capital).43 1. Dana bank yang harus dibayar bunganya kepada penabung tidak mungkin dibiarkan diam (idle).2 kali (dari Rp 2.51 -2. Alasan yang biasanya diajukan adalah tidak adanya usaha-usaha ―produktif‖ yang memenuhi syarat untuk didanai dengan kredit bank. Ekonomi daerah yang miskin tetap selalu tertinggal.31 milyar.37 0. 9. Jumlah dana perbankan yang dihimpun bulan Oktober 2000 seluruh NTT mencapai Rp 2. yang paling tinggi adalah kenaikan pada awal krisis ekonomi yaitu dari Rp 899. Oktober 2000).82 milyar melampaui Ngada/Manggarai yang hanya mencapai Rp 162. dengan meninggalkan kriteria pemberian kredit formal yang kaku.5% dari dana perban kan di seluruh propinsi NTT (Oktober 2000) hanya sedikit meningkat dibanding pangsa tahun 1993/94 sebesar 48.7 milyar ke Rp 129.42 4.7. Kredit yang diberikan hanya Rp 37. Yang menarik untuk dicatat adalah ketimpangan ekonomi antardaerah yang relatif ―ringan‖.50 -1. bahkan ke luar negeri sekalipun.61 3. tidak ―dikembalikan‖ sebagai kredit yang dibutuhkan masyarakat setem pat tetapi dikirim ke luar daerah (Jakarta). Data dari Bank Indonesia propinsi NTT 1993-2000 menunjukkan kenaikan penghimpunan dana ―luar biasa‖ yaitu 19.08%).05 5. akan ditemukan usaha-usaha kecil ekonomi rakyat yang mau dan mampu membayar tingkat bunga pasar. Tetapi sering dikatakan bahwa bank-bank tidak memiliki tenaga dan pengalaman untuk menyalurkan kredit kecil atau kredit mikro seperti ini. yang oleh BI setempat dalam proyek PHBK (hubungan Bank dan kelompok swadaya) dan KKPA (Kredit Koperasi Pada Anggota) telah diabaikan.554. Dalam otonomi daerah ―lingkaran setan‖ seperti ini perlu diputus. 13.08 trilyun naik 4.6%).83 4. Program pemberdayaan ekonomi rakyat akan berkembang melalui program .01 4.9%.71 6.95 4.03 0.9 milyar tahun 1993/94 (urutan ke-4 dari 7 wilayah) kini menjadi no.08 -8. Dunia perbankan setempat bersama Pemerintah Daerah harus sungguh-sungguh berkoordinasi untuk mengubah hukum ekonomi kapitalisme liberal menjadi hukum ekonomi kerakyatan.49 3. rupanya berlanjut sampai sekarang (2000).69 -0.28%) dan kontraksi terendah adalah di Manggarai yang masih tetap tumbuh positif meskipun kecil sekali (0.72 3. tidak dapat diatur. Alor Lembata Flores Timur Sikka Ende Ngada Manggarai Kota Kupang NTT -2.18 6.3 milyar.

baik Pemda propinsi maupun Pemda kabupaten/kota.22/1999. dan menilai program-program penanggulangan kemiskinan dan pembangunan perdesaan pada umumnya. Kupang Timur.kredit mikro ala Grameen Bank yang berhasil di Bangladesh dan sudah ―ditiru‖ di banyak negara termasuk di Indonesia. [1] [1] Pendamping Bina Swadaya mendapat gaji (terendah) Rp 275. memang benar tercantum dalam pasal-pasal UU No. apa tugas dan tanggung jawab Pemda propinsi (atau PMD) dalam hal ini? Yang lebih sulit lagi adalah memikirkan kelanjutan program-program penanggulangan kemiskinan pada tingkat desa. Salah satu kunci keberhasilan program IDT di NTT adalah dukungan penuh dan konsisten dari Pemda. Seorang SP2W. Gaji pendamping yang tinggi ini masih disubsidi kantor Bina Swadaya sampai sekitar 50%. dan desa-desa di NTT cukup baik meskipun masih ditemukan berbagai masalah. Otonomi Daerah dan Otonomi Desa Otonomi Daerah dan prospek pelaksanaannya di Propinsi. tetap dapat datang untuk mengadakan kajian-kajian. Sedangkan di desa ke-2 yaitu Babau berhasil sekitar 30%. jika Pemda ( dhi PMD) serius memantau pelaksanaannya. sulit diharapkan mencurahkan perhatian pada Pokmas IDT dan anggota-anggotanya. kabupaten. tamatan SD) dari desa Babau. yang hadir pada pertemuan dengan 2 Pokmas IDT di Kalurahan Babau kecamatan Kupang Timur. Pendamping Sarjana yang diangkat dan digaji Pemda masih banyak yang aktif. tetapi warga desa sendirilah yang pada tingkat akhir akan meluncurkan programprogram yang diinginkannya. serta penyuluh-penyuluh dari berbagai dinas sektoral. program IDT masih berjalan baik. sedangkan yang ke dua otonomi terbatas. Program-program pembangunan yang disusun Pemda kabupaten/kota bersama DPRD memang harus makin banyak yang berasal dari desa/kelurahan. Namun yang belum jelas adalah implikasinya dalam penyusunan program-program untuk melaksanakan wewenang tsb. Tamu-tamu. Kupang Timur. Jelas di sini bahwa rakyat atau warga desa sendirilah. yang setelah dilaksanakannya OTDA dapat menyusun. yang diangkat serta digaji oleh Pokmas yang didampinginya. Dana Rp 600. Di desa Oebelo antara 25-35% penerima dana IDT benar-benar telah mentas dari kemiskinan yang melilitnya. atau pakar-pakar dari pusat atau propinsi. Hendrikson Adoe (30 th). tetapi rupanya tetap saja belum mampu mengatasi kebijakan kredit yang lebih berpihak pada sektor industri modern dan usaha-usaha besar di kota-kota. Dalam pada itu 2 jenis pendamping lainnya (yang tidak purna-waktu) seperti aparat desa. antara lain melalui pengembangan program pendampingan dengan dana APBD. dan program -program ini harus lebih baik dibandingkan program-program yang disusun secara nasional seperti IDT oleh Bappenas dan Depdagri. karena yang pertama menerima otonomi penuh. Misalnya seorang ketua Pokmas Simson Misa (49 th. dan yang dapat menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat. melaksanakan. Program Pemberdayaan ekonomi rakyat Jika di sejumlah propinsi program IDT sudah ―dilupakan‖ atau sudah ―diganti‖ program lain seperti PPK (Program Pengembangan Kecamatan) di kabupaten Kupang. Program pendampingan ini akan jauh lebih berhasil lagi. dan tokoh-tokoh masyarakat setempat. melalui BPD. Karena mereka lebih dekat dengan rakyat. Ditaksir sekitar 10% dari SHU Pokmas cukup memadai untuk menggaji Pendamping yang bersangkutan.500/hari). cukup banyak pendamping yang bermutu dan memihak pada penduduk miskin. Ibu Johanna Maxi. dan desa Babau. pimpinan LSM Bina Swadaya Kupang yang mengkoordinasi 12 pendamping menyatakan dapat dikembangkannya program pendampingan ini dengan syarat pendamping yang bersangkutan mendampingi paling sedikit 20 Pokmas secara sungguh-sungguh dan purna-waktu.000 per bulan. OTDA seharusnya tidak difokuskan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tetapi yang lebih penting adalah . Program IDT di 2 desa Oebelo. Kupang tengah. Di desa Babau sekitar 30% telah berhasil mengubah program IDT menjadi Koperasi Simpan Pinjam yang segera memperoleh status badan hukum.000 yang disediakan sebagai BOP (Biaya Operasional Pemantauan) pada desa sulit dilihat hasilnya. BRI dengan kredit Unit Desanya sebenarnya sudah maju jauh sebelum Grameen Bank. lebih-lebih setelah dipadukan ke dalam dana bantuan Desa sejak TA 1996/97. apakah pemikiran ke arah perbaikan dan penyempurnaan program IDT termasuk program pendampingan kini merupakan tanggung jawab penuh Pemda kabupaten? Jika ya. meyakinkan masih perlunya pendamping bagi Pokmas-Pokmas IDT. Kegagalan 70% program di desa pertama bukanlah karena ketidaksungguhan anggota tetapi karena musibah menjalarnya penyakit ternak babi pada tahun pertama. Misalnya dalam program-program penanggulangan kemiskinan ala IDT. Bahwa Pemda kabupaten/kota kini lebih besar wewenangnya ketimbang propinsi.000 per bulan ditambah biaya operasional Rp 50. dan disusun oleh BPD (Badan Perwakilan Desa) yang di antara tugas dan kewajibannya adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat berdasarkan demokrasi ekonomi (pasal 22 dan 101). uang jalan jika berdinas keluar (Rp 7. Dalam kenyataan. memang berjalan baik. dengan polos menanyakan ―Apakah setelah Otda masih akan ada tamu seperti Pak Mubyarto yang mengevaluasi program-program penanggulangan kemiskinan seperti IDT dan PPK?‖ Pertanyaan demikian diajukan karena ada pernyataan bahwa dalam Otda ―semua program penanggula ngan kemiskinan harus dibuat sendiri oleh kabupaten‖. tidak ada alasan program yang bersangkutan tidak sesuai dengan aspirasi rakyat. dan dilengkapi sepeda motor.

meningkatkan pemerataan dan keadilan menuju terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesimpulan Menyaksikan ketekunan dan kesungguhan masyarakat dan aparat Pemda propinsi dalam melaksanakan program IDT di propinsi NTT, kita melihat program penanggulangan kemiskinan sudah mencapai tahap gerakan masyarakat sebagaimana dirancang program ini pada awal peluncurannya. Sudah tercapainya tahap gerakan masyarakat (GEMA) antara lain terbukti dari sambutan Pokmas IDT di seluruh propinsi untuk menghimpun kembali dana IDT yang berada di Pokmas-Pokmas untuk dijadikan semacam Bank Desa pada tingkat kecamatan. Meskipun pendirian Bank Desa pada tingkat kecamatan dengan dana IDT yang sudah bergulir di Pokmas ini belum tentu dapat dianggap kemajuan, tetapi akan menjadi indikator tercapainya kemandirian keuangan desa seperti UPK (Unit Pelayanan Keuangan) dalam Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Memang dalam membangun kelembagaan Bank Desa ini profesionalisme dalam pengelolaannya harus prima, dan dilaksanakan dengan koordinasi penuh dengan Bank Indonesia setempat, disamping sikap pemihakan pejabat Pemda yang jelas pada kepentingan ekonomi rakyat. Konsep dasar program IDT adalah makin mendekatkan lembaga perkreditan dan pendanaan pembangunan masyarakat desa pada penduduk desa. Setiap usaha untuk meningkatkan skala ekonomi lembaga ini demi efisiensi harus lebih menguntungkan ekonomi rakyat. Otda yang juga berarti otonomi desa perlu memperoleh perhatian Pemda dan DPRD kabupaten dalam bentuk penyusunan Perda-Perdanya. Sikap dan tradisi demokrasi yang tinggi pada masyarakat NTT harus dimanfaatkan untuk segera membentuk BPD. Jika BPD berhasil menghimpun tokoh-tokoh muda masyarakat desa yang profesional, seperti mantan SP2W, maka ini merupakan salah satu kunci percepatan pemberdayaan ekonomi rakyat desa. Satu kendala yang selalu disinggung dalam diskusi-diskusi kecil adalah kondisi multietnik masyarakat NTT yang kurang mendukung kerukunan warga desa, lebih-lebih dengan membanjirnya pengungsi dari Timor Timur sejak September 1999. Untuk mengubah kondisi multietnik menjadi faktor dinamika masyarakat, pemerintah daerah perlu membentuk badan/lembaga khusus untuk menanganinya. Jika masalah multietnik ini benar-benar dapat digarap secara transparan dan profesional, maka rasa optimisme Gubernur yang disebutkan pada awal tulisan ini pasti makin berkembang. Dan NTT tidak akan lagi diartikan sebagai ―Nasib Tak Tentu‖ tetapi ―Nasib Terpancar Terang‖.

Prof. Dr. Mubyarto, Guru Besar FE-UGM, Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM (PUSTEP-UGM) Mubyarto EKONOMI RAKYAT INDONESIA PASCA KRISMON

Pendahuluan Selama 5 bulan (Juni-Oktober 2000) Pusat Penelitian Kependudukan UGM bekerjasama dengan RAND Corporation Santa Monica mengadakan Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia (SAKERTI) di 13 propinsi dengan mewawancarai 10.000 keluarga atau 43.000 orang. Survei yang telah diadakan untuk ketigakalinya ini mewawancarai keluarga-keluarga yang sama (panel) yang menjadi sampel sejak Sakerti 1 (1993) dan Sakerti 2 (1997). Pada tahun 1998 khusus untuk meneliti dampak krismon yang sedang berlangsung, dilaksanakan Sakerti 2+ dengan mengambil 25% sub-sampel. Penemuan-penemuan Sakerti 2+ yang telah disebarluaskan melalui beberapa tulisan antara lain oleh Elizabeth Frankenberg, James Smith, dan Kathleen Beegle (1999) mengejutkan banyak pihak karena berbeda dengan ―anggapan umum‖. Namun sejumlah peneliti lain seperti kelompok SMERU menemukan hal-hal yang sejalan dengan penemuan Sakerti 3 khususnya dalam dampak krismon yang tidak terlalu parah terhadap kehidupan keluarga/perorangan. Kami sendiri yang mengadakan kunjungan lapang ke berbagai desa selama 1998-1999 juga mencatat pernyataan banyak warga desa bahwa ―krisis ini belum apa-apa dibanding krisis yang lebih berat pada jaman Jepang, awal kemerdekaan, dan krisis ekonomi tahun 1965-66". [1]

[1] Mubyarto, 1999, Reformasi Sistem Ekonomi, Yogyakarta , Aditya Media, hal 129-139.

Demikian keparahan krismon 1997 yang menjadi polemik nasional selanjutnya tenggelam karena pendapat yang lebih condong ke ―dampak yang parah‖ lebih populer agar tidak menghambat peluncuran program program JPS (Jaring Pengaman Sosial) lebih-lebih yang dananya berasal dari bantuan luar negeri. Programprogram JPS adalah program untuk menolong penduduk miskin yang sedang dalam kesusahan sehingga tidaklah dianggap bijaksana menyebarluaskan penemuan kajian-kajian yang menyimpulkan dampak krismon tidak parah. Peneliti-peneliti Indonesia yang jujur melaporkan kenyataan dari lapangan terpaksa mengendalikan diri ―demi kemanusiaan‖. Namun kemudian mereka merasa terpukul membaca komentar penerima hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun 1998 Amartya Sen yang menyindir mereka yang telah membesar-besarkan dampak krisis koneter di Asia Timur. It may wondered why should it be so disastrous to have, say, a 5 or 10 percent fall in gross national product in one year when the country in question has been growing at 5 or 10 percent per year for decades. Indeed, at the aggregate level this is not quintessentially a disastrous situation. (Sen, 1999: 187) Setelah laporan Sakerti 2+ sedikit dilunakkan ―demi kemanusiaan‖, kini Sakerti 3 yang dilaksanakan 3 tahun setelah krisis dan 2 tahun setelah Sakerti 2+, ternyata memperkuat penemuan-penemuan Sakerti 2+. Tanpa diduga, dampak yang ―menyingkirkan‖ berita ―krisis belum apa -apa‖ ini merugikan penduduk miskin dan bertentangan dengan kepentingan melidungi dan memajukan ekonomi rakyat, karena telah dimanfaatkan secara licik oleh kelompok tidak miskin yaitu golongan ekonomi kuat dan sektor industri modern dalam rangka menuntut pemerintah menyelamatkan kebangkrutan mereka dan lebih khusus lagi dalam rangka membenarkan kebijakan penalangan (bail out) utang-utang melalui BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), yang mulai dikucurkan tahun 1998. Adalah kepentingan para penerima BLBI untuk mengesankan bahwa krisis ekonomi masih terus berjalan, dan makin parah, agar pemerintah tetap tidak dapat bersikap keras pada mereka untuk membayar utang-utang besar yang macet sejak awal krismon. Utang-utang besar yang macet menjadi amat berat karena banyak utang dalam bentuk valuta asing yang tidak dijamin sehingga jika ekonomi Indonesia sudah dianggap pulih dari kondisi krisis, mereka para pengutang akan kehilangan alasan untuk tidak membayarnya. Inilah alasan ―tersembunyi‖ untuk terus memojokkan pemerintah yang sayangnya memperoleh dukungan pakar-pakar ekonomi makro yang tidak pernah meninggalkan meja komputernya dan tidak pernah mau menerapkan metode analisis induktif-empirik dengan cara datang ke daerah-daerah meneliti kehidupan ekonomi riil (real-life economics). Mereka membesar-besarkan dampak krisis dengan menyebutkan pengangguran yang mencapai 40 juta orang, pelarian modal asing US $ 10 milyar per tahun dan lain-lain.

Hasil-hasil Sakerti 3

1. Kemiskinan. Di 13 propinsi yang disurvei angka kemiskinan perkotaan menurun selama 1997-2000 dari
13,3% menjadi 11,3%, sedangkan di perdesaan menurun dari 20,1% menjadi 18,7% (tabel 1). Penurunan angka kemiskinan di perdesaan terjadi di Sumsel, Lampung, Sulsel, Kalsel, Bali, Sumut, dan Jatim (rata-rata 8,0%), sedangkan penurunan kemiskinan di perkotaan yang relatif lebih kecil terjadi di Jatim, Jateng, Sulsel, dan Jabar (rata-rata 4,9%). Lebih besarnya penurunan tingkat kemiskinan di perdesaan khususnya di propinsi-propinsi luar Jawa menunjukkan adanya perbaikan dasar tukar ( term of trade) antara harga-harga yang diterima dan yang dibayar produsen. Di propinsi-propinsi Jatim, Jateng, dan Sulsel, angka-angka kemiskinan di perkotaan juga menurun yang berarti penduduk perkotaanpun masih mampu menghasilkan barang-barang yang harga jualnya meningkat lebih cepat ketimbang harga barang-barang yang dibeli rumah tangga. Bahwa ada kenaikan angka kemiskinan di perdesaan di Jabar, Jateng, dan DIY (rata-rata 3,3%) dan bahkan 11,9% di NTB, mungkin menandakan kurangnya komoditi pertanian ―tradisional‖ yang harganya terangsang naik oleh krismon. Pendapatan riil rumah tangga yang ditaksir dengan median pengeluaran riil per kapita selama 1997-2000 mengalami kenaikan cukup signifikan sebagai berikut:

2. Kesempatan Kerja. Berbeda dengan kesan umum telah terjadinya pengangguran besar-besaran sejak
krismon 1997-98, Sakerti 3 melaporkan adanya peningkatan kesempatan kerja pria dari 79% (1997) menjadi 84% (2000) dan untuk wanita dari 45% menjadi 57%. Khusus untuk kerja upahan/bergaji

kenaikannya untuk pria dari 74,5% menjadi 77,0% sedangkan untuk wanita dari 36,7% menjadi 42,2%. Yang cukup signifikan adalah kenaikan persentase kesempatan kerja keluarga tanpa gaji terutama wanita yang naik dari 19,2% menjadi 25,5%, meskipun untuk pria naik lebih kecil yaitu dari 6,1% menjadi 7,9%. Arti kenaikan angka-angka ini jelas bahwa krismon yang pada umumnya menurunkan kegiatan sektor modern/formal, ditanggapi dengan meningkatnya kegiatan ekonomi/ industri sektor tradisional/ informal/ekonomi rakyat, khususnya dengan mempekerjakan lebih banyak wanita atau ibu yang sebelumnya tidak bekerja. Kesimpulan kita jelas bahwa selama 1997-2000 telah terjadi ―pergeseran‖ kesempatan kerja dari sektor ekonomi modern ke sektor ekonomi rakyat, dan tidak benar adanya pengangguran besar-besaran akibat PHK. The economic crisis has resulted in both negative and positive consequences for the Javanese. It has resulted in a rapid rise in prices of basic items which place them beyond the capacity of many poor people and has reduced employment opportunities in the formal sector. On the other hand, it has resulted in the emergence of many new small enterprises which had previously been destroyed by the economic monopolies and import of mass-produced commodities under the New Order. [2]
[2] Jessica Poppele, Sudarno Sumarto, dan Lant Pritchett, 1999, Social Impacts of the Indonesian Crisis; Agus Dwiyanto, 1998, Krisis Ekonomi: Respon Masyarakat dan Kebijakan Pemerintah, Pelajaran dari Tiga Desa di Jawa , PPK-UGM; Lea Jellinek & Bambang Rustanto, ―Survival Strategies of the Javanese During the Economic Crisis‖ (Survey Report), World Bank, Jakarta, 28 Agustus 1999, dikutip dalam Mubyarto (1999), ibid., hal 134.

3. Standar Hidup dan Kesejahteraan. Sakerti 3 menanyakan bagaimana keluarga menilai tingkat
kesejahteraan mereka selama dan sebagai akibat krismon. Hasilnya sungguh mengejutkan karena berbeda dengan anggapan umum telah terjadinya kemerosotan kesejahteraan dan standar hidup akibat krismon, 87% responden menyatakan standar hidup mereka tidak berubah (tetap) atau bahkan membaik, dan yang melaporkan memburuk hanya 13%. Mengenai kualitas hidup, 83,9% responden menyatakan memadai (69,4%) atau lebih dari memadai (14,5%), yang berarti bahwa keluarga yang merasakan kualitas hidup mereka tidak memadai hanya 16,1%. Tentang kualitas hidup yang menyangkut pemenuhan kebutuhan pangan, 90,7% menyatakan memadai atau lebih dari memadai, sedangkan tentang pemeliharaan kesehatan, 85% menyatakan memadai dan 4% menyatakan lebih dari memadai. Dari 3 ukuran kesejahteraan rakyat yang dilaporkan Sakerti 3 kesimpulan kita tidak meragukan lagi bahwa orang Indonesia mempunyai cara-cara khas menanggapi krisis moneter atau krisis ekonomi. Munculnya krismon berupa kenaikan harga-harga umum besar-besaran tidak serta merta menurunkan kualitas atau standar hidup mereka tetapi mereka menemukan berbagai cara untuk menanggapinya. Cara-cara menang-gapi krismon yang khas dan berbeda-beda inilah yang bagi para pakar ekonomi ortodok (konvensional) tak terpikirkan, dan hanya dapat diketahui/ditemukan melalui penelitian-penelitian lapangan yang serius. Sakerti 1, 2, dan 3 memberikan perhatian khusus pada mekanisme bertahan hidup (coping strategies) dan menanggapi krisis seperti itu. Metode Menanggapi Krismon Orang Indonesia yang dikenal kuat menganut asas kekeluargaan dalam segala aspek kehidupannya dapat diamati menerapkan asas atau etika hidup ini di saat terjadi krismon yang datang secara sangat tiba-tiba. Asas hidup kekeluargaan ini yang diperkuat oleh semangat percaya diri dan kepercayaan pada kekuasaan Tuhan berakibat pada sikap bahwa krismon tidak lain daripada ―percobaan‖ dan ―peringatan‖ pada bangsa Indonesia agar menyadari aneka kekeliruan dan penyimpangan yang telah dilakukan. Sakerti 3 seperti halnya Sakerti 1, 2, dan 2+ sebelumnya, menemukan fakta-fakta menarik tentang metode dan sikap menanggapi krismon secara tepat sehingga tidak mengakibatkan kejutan atau gangguan besar pada konsumsi keluarga dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar kesehatan dan pendidikan terutama bagi anakanak. Salah satu cara paling mudah dan paling sering dilakukan keluarga Indonesia saat-saat menghadapi krisis adalah dengan ―mengatur kembali‖ pengeluaran/belanja keluarga dengan cara menunda pengeluaran pengeluaran yang dianggap dapat ditunda misalnya pembelian pakaian, alat-alat rumah tangga dan pengeluaran-pengeluaran upacara, yang ditaksir berkurang dengan sepertiga. [3] Selain itu suatu keluarga dapat memutuskan ―menitipkan‖ sebagian anggota keluarga pada keluarga lain yang lebih mampu, atau secara umum sangat biasa terjadi pinjam-meminjam uang tanpa bunga antarkeluarga ( sebrakan) untuk menutup pengeluaran pokok yang tidak dapat ditunda.
[3] Elizabeth Frankenberg, James P Smith and Duncan Thomas, ―Economic Shocks, Wealth and Welfare‖, makalah belum diterbitkan, Rand, February 2002, h.

ekonomi Indonesia terkesan menjadi sangat .13 Di pihak lain jika pada saat krismon pengeluaran-pengeluaran meningkat sekali. secara spontan ikut bekerja tanpa gaji. sektor tradisional/ekonomi rakyat tidak terpengaruh krismon. Bagi keluarga-keluarga paling miskinpun disamping ternak yang hampir selalu dimilikinya. perhiasan dari emas sangat mudah ditemukan. karena sektor ini justru sudah lebih tua dan sudah merupakan kegiatan ekonomi ―formal‖ jauh sebelum datangnya para pengusaha/pemodal/kapitalis Belanda ke Indon esia.H. juga dilaporkan sangat besar peranannya dalam menghadapi krisis. Routledge. yang berarti meningkatnya pengeluaran karena krisis selalu dapat ditutup dengan cara menambah pendapatan. yang dikena l dengan istilah strategi penyikapan (coping strategy) baik dalam produksi. Karena para pemodal/pengusaha Belanda yang datang sesudah 1870 ini pada umumnya berbentuk NV (PT) yang besar dengan kantor-kantor dan kebun-kebun besar. Sakerti 1.9%.000 orang yang diwawancara menanggapi krismon dengan cara-cara mereka.2% menjadi 25.5% meskipun untuk pria jauh lebih kecil yaitu dari 6. tetapi ternyata sangat menonjol di Indonesia.1% menjadi 7. Sakerti 2+ menemukan fakta-fakta menarik bahwa hampir setiap keluarga termasuk yang miskin memiliki kekayaan atau aset yang dapat dijual atau digadaikan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran pokok yang tidak dapat dihindarkan. Jika satu keluarga bekerja mandiri maka dalam kondisi krisis anggota keluarga yang sebelumnya tidak bekerja. 2. adalah kemampuan untuk memobilisasi kekayaan/aset apapun yang dimiliki keluarga untuk mempertahankan ( smooth out) tingkat pengeluaran keluarga. London-New York. Sakerti 3 secara meyakinkan melaporkan bertambahnya kerja tanpa gaji untuk wanita dari 19. atau terpengaruh secara tidak berarti. Sakerti mampu mengungkap perilaku ekonomi riil rakyat Indonesia (real life economics) yang melalui analisis mendalam akan menghasilkan ilmu/ teori ekonomi rii. atau sekedar strategi bertahan hidup ( survival strategy). 1992. karena 25% keluarga perdesaan dan 40% keluarga perkotaan memilikinya dan persentase yang lebih besar bahkan dilaporkan memiliki kekayaan berupa emas terutama dalam bentuk perhiasan yang sangat mudah digadaikan atau diperjual-belikan. lebih tinggi ketimbang kenaikan harga-harga umum. dan 3 secara meyakinkan mengungkapkan bagaimana 10. dengan caracara atau ‖seni‖ khas ekonomi rakyat. Yang kedua disebut Bung Hatta tahun 1931 sebagai sektor (kegiatan) ekonomi rakyat.000 lebih keluarga dan 43. perilaku berkonsumsi. Namun karena hampir semua sektor masih bersifat dualistik. dan disebut sektor informal. yang tidak dikenal dan tidak termuat dalam buku-buku teks ilmu ekonomi terbitan Amerika. Rumah-rumah gadai bertambah ramai dan pasar emas dilaporkan sangat dinamis/aktif saat krisis. Ratarata keluarga sejak terjadi krismon menambah waktu kerja 25 jam per minggu. Terakhir. sebagaimana dikemukakan J. setiap keluarga dengan cara masing-masing berusaha bekerja lebih keras atau lebih lama ( melembur) agar pendapatan bertambah. sedangkan per orang pekerja bertambah 10 jam per minggu. yang lokasinya dapat tidak tetap atau sering pindah. Tentang pemilikan aset-aset lancar seperti uang tunai atau surat-surat berharga. Dampak negatif krismon terhadap ekonomi rakyat dapat dihindari atau disikapi sedemikian rupa hingga tidak dirasakan dampaknya. Ekonomi dualistik adalah ekonomi yang tidak homogen tetapi hampir di semua sektor terpilah menjadi 2 yaitu sektor ekonomi modern/formal dan sektor ekonomi tradisional/informal. Krisis moneter 1997-98 jelas lebih dulu dan lebih mudah memukul telak sektor ekonomi modern/ formal lebihlebih perusahaan yang berutang besar dalam nilai nominal dolar. Harga emas mengalami kenaikan 4 kali selama krisis. Boeke tahun 1910. maka mereka dianggap perusahaanperusahaan formal. tokh dalam kenyataan perekonomian Indonesia masih tetap bersifat dualistik. Emas ternyata merupakan simpanan andalan bagi banyak keluarga Indonesia untuk berjaga-jaga menghadapi krisis. yen. [4] [4] Paul Ekins and Manfred Max-Neef (eds). Sejak Pemerintah Indonesia mengundang ―dokter ekonomi‖ IMF yang dianggap dokter spesialis bagi penyakit negara-negara berkembang yang terkena krisis keuangan. dengan membayar pajak-pajak yang besar. Krisis moneter yang dimulai dengan depresiasi rupiah dan apresiasi dolar sangat memukul perusahaan-perusahaan yang berutang dolar atau valuta asing lain dan memukul impor karena harga rupiah barang-barang impor melonjak sesuai apresiasi dolar. sedangkan yang sangat kecil/gurem inilah yang disebut ekonomi rakyat. Lebih dari 90% keluarga di perdesaan dan 70% keluarga di perkotaan mempunyai rumah yang tidak beralih pemilikannya selama krisis. tidak dengan menjual rumah atau aset-aset berharga lainnya. yang sebagian besar baru beroperasi sesudah UU Agraria ( Agrarische Wet) tahun 1870. meskipun Indonesia merdeka sudah berusia 57 tahun dan pembangunan ekonom i ―Orde Baru‖ sudah berlangsung 31 tahun (1966 -97) yang mampu meningkatkan pendapatan riil rata-rata bangsa Indonesia 10 kali. Real-life Economics. Memang sangat tidak tepat dan menyesatkan menyebut sektor ekonomi rakyat sebagai sektor informal. atau valuta asing lainnya. 2+. Kesimpulan Sebagaimana sudah sering dikemukakan oleh para peneliti ekonomi rakyat.

1999. 2. Dr. Buktibukti dari Sakerti 3 telah sangat memperkuat berbagai data penelitian lapangan optimistik sebelumnya. tegar dan kuat. kinilah saatnya kita memiliki rasa percaya diri di bidang ekonomi. April 2000 Hardjono. SMERU Final Report. Hatta) dapat kita jadikan acuan rasa percaya diri itu. Sakerti 3 menemukan kenyataan ekonomi Indonesia. 3. Joan. ―Sistemic Transition in Indonesia: The Crucial Next Steps‖.UGM Makalah untuk Seminar "Indonesia Bersatu Menyongsong Era Global". Kanisius. Memang teori ekonomi makro-ortodoks yang tidak mau mengakui atau tidak mengerti ekonomi rakyat. 29 Oktober 2002. Ind. sebenarnya akan lebih adil dan berkelanjutan ketimbang pertumbuhan 7% seperti sebelum krismon. Maka ekonomi Indonesia ―harus tumbuh‖ minimal 7% per tahun dan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi para ekonom tidak pernah merasa perlu mempermasalahkan keadilan dalam distribusi pendapatannya. Kanisius. 1999. menganggap pertumbuhan ekonomi 4% ―terlalu rendah‖ yang tidak mampu menyerap tenaga kerja lama dan menganggur maupun tambahan tenaga kerja lebih dari 2 juta per tahun. Report No.tergantung pada utang-utang baru dari IMF dan negara-negara ―donor‖ anggota CGI. 2002. hal. yang telah tumbuh 3-4% per tahun sejak tahun 2000 sampai tahun 2002 ini. 2001. Aditya Media. UNSFIR. pemerintah dan bangsa Indonesia dapat memusatkan perhatian pada usaha dan program-program pemberdayaan ekonomi rakyat. UNSFIR. Jakarta. Satish C. Perjuangan itu hanya dapat berhasil bila pelbagai unsur rakyat Indonesia bersatu. Perjuangan itu tidak memerlukan bantuan dari pihak manapun. Reformasi Sistem Ekonomi: Dari Kapitalisme menuju Ekonomi Kerakyatan . Yogyakarta World Bank. Multi-dimensi Pembangunan Bangsa. Yogyakarta Mubyarto.Indonesia Satu. Yogyakarta Mubyarto and Daniel W. Bromley. Pemerintah dipilih dari dan oleh rakyat Indonesia. Festival Bhinneka Tunggal Ika. BPFE. Prof. lebih-lebih ekonomi rakyatnya. Poverty. yang akhirnya menjadi ―bom waktu‖ yang meledak seperti yang terjadi 1997 tanpa dapat diperkirakan sebelumnya. Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia tahun 1925 di Negeri Belanda (dipimpin oleh Moh. Daftar Pustaka Dhanani. Multi-dimensi Pembangunan Bangsa. A Development Alternative for Indonesia. Demikian kiranya jelas bahwa tulisan ini berusaha meyakinkan tidak akan terjadi kebangkrutan atau kelumpuhan ekonomi nasional jika Indonesia memutuskan secara sepihak untuk tidak lagi mencari utang-utang baru dari luar atau bahkan dalam negeri. Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis Ekonomi . The Micro Data Pictures: Results of a SMERU Social Impact Survey in the Purwakarta-Cirebon Corridors. 18 1. Surabaya. Tanpa ikatan kerjasama dengan IMF. Tak pernah terpikir pada mereka seandainya perekonomian tumbuh hanya 3-4%. sektor ekonomi rakyat banyak yang sejak krismon 5 tahun lalu tidak saja tidak hancur tetapi malah telah menunjukkan ciri khasnya yaitu tahan banting dan mampu menunjukkan keandalan dan kemandiriannya. Sartono Kartodirdjo. [5] [5] Sartono Kartodirdjo. Shafiq and Inayatul Islam. Yogyakarta. 23028. Bangsa Indonesia harus percaya diri. October . Jika pada saat proklamasi kemerdekaan tahun 1945 bangsa Indonesia memiliki rasa percaya diri amat besar untuk merdeka secara politik. Gadjah Mada University Press. Mubyarto: Guru Besar FE . 1999. September 2002 Mubyarto. ―Indonesia: Constructing A New Strategy for Poverty Reduction‖. tetapi lebih banyak disumbang dan dengan demikian juga dinikmati ekonomi rakyat. Inequality and Social Protection: Lessons From The Indonesian Crisis. tetapi hanya dinikmati sekelompok kecil ekonomi kuat. July 1999 Mishra.

dana yang terhimpun dalam asuransi sosial dapat merupakan tabungan nasional. baru 24. 2001. jaminan kecelakaan kerja. Pendekatan pertama adalah pendekatan asuransi sosial atau compulsory social insurance. sejak tahun 1992. atau baru 12% dari jumlah penduduk. pensiun. Pengaturan dalam jaminan sosial ditinjau dari jenisnya terdiri dari jaminan kesehatan. Pasal 34 ayat 2. Dari 95 juta angkatan kerja. Sementara di Thailand dan Malaysia masing-masing mencapai 50% dan 40% dari total penduduk. [1] Australia. Sistem Jaminan Sosial yang akan dibangun ini haruslah sifatnya adil dengan tingkat kepercayaan publikyang tinggi dan transparan dalam penyelenggaraannya.29. Desember 2002 Fakta tersebut membuktikan bahwa amanat UUD pasal 27 ayat 2 sebagian besar belum dapat dilaksanakan sehingga langkah-langkah nyata untuk mewujudkannya diperlukan. Menyadari masih terbatasnya jangkauan jaminan sosial yang ada dan beberapa kekurangan dalam pengaturan dan penyelenggaraannya.6 juta jiwa memperoleh jaminan sosial. dimana Indonesia ikut menandatanganinya. [2] Kantor Menko EKUIN bekerjasama dengan LPUI Kajian Kebijakan Jaminan Sosial. Beberapa negara yang menganut welfare state yang selama ini memberikan jaminan sosial dalam bentuk bantuan sosial mulai menerapkan asuransi sosial. [2] Krisis ekonomi yang menyebabkan angka pengangguran melonjak dengan tajam telah menimbulkan berbagai masalah sosial ekonomi. Agoes Achir JAMINAN SOSIAL NASIONAL INDONESIA Latar Belakang Jaminan Sosial Nasional adalah program Pemerintah dan Masyarakat yang bertujuan memberi kepastian jumlah perlindungan kesejahteraan sosial agar setiap penduduk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya menuju terwujudnya kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia. Perlindungan jaminan sosial mengenal beberapa pendekatan yang saling melengkapi yang direncanakan dalam jangka panjang dapat mencakup seluruh rakyat secara bertahap sesuai dengan perkembangan kemampuan ekonomi masyarakat. serta betapa pentingnya peran jaminan sosial dalam pemberian perlindungan utamanya di saat berkurangnya pendapatan maka dianggap perlu menyusun Sistem Jaminan Sosial Nasional melalui penerbitan Undang-undang yang akan mengatur Substansi. antara lain dengan menyusun suatu Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Kesadaran tentang pentingnya jaminan perlindungan sosial terus berkembang. Kelembagaan dan Mekanisme Sistem Jaminan Sosial yang berlaku secara nasional. Pendekatan kedua berupa bantuan sosial (social assistance) baik dalam bentuk pemberian bantuan uang tunai maupun pelayanan dengan sumber pembiayan dari negara danbantuan sosial dan masyarakat lainnya. jaminan hari tua. [1] Disamping itu. yang dibiayai dari kontribusi/ premi yang dibayarkan oleh setiap tenaga kerja dan atau pemberi kerja. namun baru mencakup sebagian kecil pekerja di sektor formal. selama dekade terakhir di Indonesia telah ada beberapa program jaminan sosial dalam bentuk asuransi sosial. Jaminan sosial merupakan hak asasi setiap warga negara sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat 2. Perlindungan ini diperlukan utamanya bila terjadi hilangnya atau berkurangnya pendapatan. Kontribusi/ premi dimaksud selalu harus dikaitkan dengan tingkat pendapatan/ upah yang dibayarkan oleh pemberi kerja. dan santunan kematian. Dalam kondisi seperti ini jaminan sosial dapat membantu menanggulangi gejolak sosial. seperti terbaca pada Perubahan UUD 45 tahun 2002. jaminan pemutusan hubungan kerja. Yaumil Ch. Secara keseluruhan adanya jaminan sosial nasional dapat menunjang pembangunan nasional yang berkelanjutan. Utamanya karena jaminan melalui bantuan sosial membutuhkan dana yang besar dan tidak mendorong masyarakat merencanakan kesejahteraan bagi dirinya. Putusan Sidang Tahunan MPR RI tahun 2001 menugaskan kepada Presiden untukmembentuk Sistem Jaminan .‖. telah menerapkan asuransi sosial wajib. Sebenarnya. yaitu ―Negara mengembangkan Sistem Jaminan Sosial bagi seluruh rakyat…. Secara universal jaminan sosial dijamin oleh Pasal 22 dan 25 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia oleh PBB (1948).

Kepres ini didahului dengan Keputusan Sekretaris Wakil Presiden No. ditetapkan dalam prosentase tertentu terhadap upah dengan mempertimbangkan kemampuan/ pendapatan penduduk. Program-Program SJSN Program-program pokok SJSN yang akan dikembangkan disesuaikan dengan konvensi ILO No. 102 tahun 1952 yang juga diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia. Manfaat yang diberikan harus cukup berarti sehingga mendorong kepesertaan yang kebih besar dari waktu ke waktu. Pengertian non-for-profit bukanlah berarti tidak perlu mengembangkan atau menginvestasikan dalam rangka meningkatkan akumulasi dana yang ada. akuntabilitas dan efisiensi. Cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap dimulai dari kelompok masyarakat yang mampu mengiur dan secara bertahap diupayakan menjangkau sampai pada kelompok masyarakat yang rentan dan tidak mampu. . Saat ini Tim SJSN telah melakukan pembahasan yang cukup mendalam tentang substansi. pembekerja. dan Program Santunan Kematian. Pelaksanaannya diatur oleh suatu Undang-Undang dan diterapkan secara bertahap sesuai dengan perkembangan dan kemampuan ekonomi Nasional serta kemudahan rekruitmen dan pengumpulan iuran secara rutin. Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). yang mewakili stakeholder dalam hal ini peserta/ pekerja. santunan/ manfaat. Program Jaminan Hari Tua (JHT). Namun. Pengelolaan Jaminan Sosial Nasional menganut prinsip Wali Amanah.. dimama iuran sebagian atau sepenuhnya dibayarkan oleh pemerintah. mekanisme dan program-program jaminan sosial. Cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap dimulai dari kelompok masyarakat yang mampu mengiur dan secara bertahap diupayakan menjangkau sampai pada kelompok masyarakat yang rentan dan tidak mampu. Jaminan Sosial Nasional tersebut perlu diatur agar bersifat wajib untuk seluruh tenaga kerja. Penyelenggaraan dilakukan non-for-profit. baik di sektor formal maupun informal. iura. Karena Jaminan Sosial Nasional tersebut diwujudkan melalui mekanisme asuransi sosial maka manfaat yang akan diperoleh peserta tergantung pada besarnya iuran. Iuran/ premi ditanggung bersama oleh pemberi kerja dan pekerjanya. baik yang berpendapatan besar maupun kecil sehinggan dapat terwujud asas kegotong-royongan dan redistribusi pendapatan dari yang kaya ke yang miskin. struktur dan trend demografi serta resiko yang dihadapi. kelembagaan. dimana iuran sebagian atau sepenuhnya dibayarkan oleh pemerintah. Untuk itu Presiden mengambil inisiatif menyusun Rancangan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional. Sistem Jaminan Sosial Nasional yang akan dibangun bertumpu pada konsep asuransi sosial. Karena ada unsur wajib bagi semua pekerja tersebut maka diperlukan adanya Undang-Undang untuk mengaturnya.Sosial Nasional dalam rangka memberikan perlindungan sosial yang lebih menyeluruh dan terpadu. dan pemerintah pengumpulan dan pengelola iuran perlu ditunjang oleh keterbukaan. Mekanisme SJSN Mekanisme penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional meliputi pengaturan kepesertaan. Program Pensiun. Pelayanan santunan dan klaim disesuaikan dengan besarnya iuran dan jenis program yang diikuti. 20 tahun 2002 membentuk Tim SJSN. Besarnya iuran ditetapkan berdasarkan prosentase tertentu dari pendapatan. Presiden dengan Kepres No. Perluasan cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi ekonomi negara dan masyarakat. semasa Ibu Presiden sebagai Wakil Presiden. Substansi Sistem Jaminan Sosial Nasional yang akan disusun adalah suatu sistem yang berdasarkan pada asas gotong royong melalui pengumpulan iuran dan dikelola melalui mekanisme asuransi sosial. serta kemudahan dalam rekruitmen dan pengumpulannya secara rutin. Besarnya iuran/ premi dihitung berdasarkan analisis aktuaria yang disesuaikan dengan programmanfaat yang akan diberikan. dan investasi. Manfaat yang diberikan harus cukup berarti sehingga mendorong kepesertaan yang lebih besar dari waktu ke waktu. tetapi hasil yang diperoleh nantinya akan dikembalikan atau dimanfaatkan sebesarbesarnya untuk kepentingan peserta (merupakan going concern asuransi sosial). Program Jaminan Pemutusan Hubungan Kerja (JPHK). kehati-hatian. 7 Tahun 2001. secara sukarela pekerja dapat mengikuti program lain dengan kontribusi yang lebih besar dan memperoleh manfaat yang lebih banyak pula (asuransi komersil). yaitu Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK).

dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah kesalahan serupa terulang dimasa depan. Dalam pengelolaannya. maka hasil investasi tersebut akan dikembalikan dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta. Diharapkan masukan-masukan guna memperkaya konsep awal tersebut sebagai bahan penyusunan Naskah Akademik yang kemudian akan dituangkan dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Untuk dapat menjamin efektifitas dan efisiensi penyelenggaraannya. Oleh sebab itu tetap perlu dilakukan terlebih dahulu. Dr. objectivity. LSM dan Pakar. penyampaian persepsi makalah ini atas ekonomi rakyat tanpa bermaksud untuk terlalu menekan pada usaha pendefinisian. Diharapkan RUU SJSN dapat dirampungkan sebelum bulan Desember 2002. Lembaga ini berada langsung di bawah Presiden dibantu Dewan Menteri yang terkait dan beranggotakan wakil pemerintah.Dana iuran/ premi/ kontribusi peserta yang terkumpul perlu dikelola dan diawasi oleh suatu Dewan Wali Amanah (Board of Trustee) dan hanya digunakan untuk kepentingan pesertanya sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. untuk kemudian setelah Undang-undang SJSN rampung dan dilaksanakan maka program-program yang sejalan dapat menyesuaikan dengan Undang-undang SJSN tersebut selama masa transisi yang akan ditetapkan. menambahkan merubah judul agar lebih terlihat konteksnya dikaitkan dengan ekonomi rakyat. Padahal perdebatan mengenai definisi ekonomi rakyat sebenarnya tidak terlalu produktif. Karena prinsip ―non-for-profit‖. sangat sulit untuk tidak berusaha mendefinisikan yang dimaksud dengan ekonomi rakyat. Namun guna memperoleh perspektif yang sama mengenai diskusi yang akan dilakukan berkaitan dengan judul diatas 1) maka makalah ini bermaksud untuk mendiskusi krisis moneter dalam konteks ekonomi rakyat: bagaimana posisi ekonomi rakyat ketika krisis ekonomi terjadi. usaha pendefisnian tersebut banyak yang berakhir justru dengan perdebatan atas definisinya daripada esensi penguatan atau pemberdayaan ekonomi-rakyatnya sendiri. wakil pemberi kerja dan pakar di bidangnya. mengkoordinir. perlu menerapkan ―good corporate governance‖ (transparency. Kelembagaan Dalam rangkan menjamin pelaksanaan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional diperlukan suatu lembaga yang mempunyai kewenangan untuk menjabarkan Undang-undang SJSN. Panitia Seri Seminar ini hanya memberi judul ―Krisis Moneter Indonesia‖. Yaumil Chairiah Agoes Achir. Sebagian dana yang terkumpul perlu diinvestasikan dan dikembangkan seaman mungkin. memonitor. dan mengawasi pelaksanaan program-program. karena pada dasarnya hampir semua pihak telah sepaham mengenai pengertian apa yang dimaksud dengan ―ekonomi rakyat‖ tanpa harus mendefinisikan (Krisnamurthi. Konsep awal SJSN tersebut di atas juga telah menghimpun masukan dari beberapa serikat pekerja dan asosiasi pengusaha. Penutup Tim SJSN beranggotakan wakil dari berbagai instansi pemerintah. pengelola dana dan investasi serta pemasyarakatan program Jaminan Sosial Nasional sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. accountibility. wakil pekerja. Deputi Sekretaris Wakil Presiden. Tidak tertutup kemungkinan munculnya lembaga penyelenggaraan lain. Prof. diperlukan adanya dukungan Sistem Informasi Manajemen serta kemampuan Sumber Daya Manusia yang handal. dan responsibility). Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasionan (BKKBN) Bayu Krisnamurthi KRISIS MONETER INDONESIA DAN EKONOMI RAKYAT PADA setiap diskusi mengenai ekonomi rakyat. apakah sebagai sebab atau penerima akibat. Ketua Tim Sistem Jaminan Sosial SJSN Nasional. Penulis . 1) Sebenarnya. Sayangnya. Selama Undang-undang SJSN disiapkan maka lembaga-lembaga yang ada dapat melanjutkan kegiatannya. 2001).

―Oleh rakyat‖. Jika dikaitkan dengan kegiatan pertanian. keluarga. 60 % diantaranya berada di daerah pedesaan. pemilik saham. seperti berapa banyak jumlah yang harus dimanfaatkan. dan masyarakat. pelakunya melakukan kegiatan produksi dan konsumsi. informasi. dan sejenisnya. juga sumberdaya sosial (kelompok. ―Dari rakyat‖. dan jasa maka yang dimaksud adalah industri kecil. Ekonomi rakyat tidak eksklusif tetapi inklusif dan terbuka. dan untuk rakyat‖ (Krisnamurthi. dan sebagainya. baik konsumsi domestik maupun konsumsi asing (ekspor) – terutama karena kegiatan investasi dan pengeluaran pemerintah yang sangat terbatas – maka dapat diduga bahwa peran ekonomi rakyat sangat signifikan. sumberdaya ekonomi yang dimaksud adalah segala sumberdaya yang dapat digunakan untuk menjalankan penghidupan. Hanya saja. bahkan bagi produk yang dihasilkan kegiatan ekonomi besar. 65 % berusaha dibidang pertanian dan kegiatan lain yang terkait. Dalam ekonomi rakyat. dan indikator kemantaatan paling utama adalah kepentingan rakyat. modal. rakyat memiliki alternatif untuk memilih dan menentukan sistem pemanfaatan. 2001). eceran kecil. dan bukan kegiatan ekonomi yang dikuasasi oleh beberapa orang dengan perusahaan dan skala besar. bagaimana proses pemanfaatannya. 2000). tenaga kerja (termasuk tenaga kerjanya sendiri). Hal ini tersebut didasari oleh argumentasi bahwa rumah tangga yang menggantungkan kehidupannya dari kegiatan ekonomi rakyat adalah konsumen terbesar. perbankan formal. ―Untuk rakyat‖. dapat dinyatakan bahwa ekonomi Indonesia sebenarnya adalah berbasis ekonomi rakyat. dan menjadi basis dari 63 % konsumsi domestik. walaupun yang disebut terakhir pada hakekatnya adalah juga ‗rakyat‘ Indonesia. dan melakukan kegiatan produksi bagi sekitar 55 % produk dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. oleh rakyat. yang umumnya telah memfasilitasi ekonomi rakyat untuk survive dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi masyarakatnya. Pendeknya. masyarakat) sumberdaya jaringan (‗network‘). norma dan kesepakatan (―rule of the game‖) yang khas. dan bukan industri besar. petani gurem. siapa yang memanfaatkan. Berdasarkan pemahaman diatas. Rakyat menerima manfaat. mekanisme transaksi. Rakyat menguasai dan memiliki hak atas sumberdaya untuuk mendukung kegiatan produktif dan konsumtifnya. Dan yang terpenting adalah mereka berbasis pada manusia. Jika memang disepakati bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2000 sebesar 4. Berkaitan dengan sumberdaya (produktif dan konsumtif). atau entitas lain). ketrampilan. sifat usaha. Mereka adalah orang-orang yang bekerja sendiri dan juga mereka yang bekerja menerima upah. Ekonomi rakyat (banyak) mencakup 99 % dari total jumlah unit usaha (business entity).5 % terutama disebabkan oleh tarikan konsumsi. melakukan lebih dari 65 % kegiatan distribusi. dan sebagainya. menyediakan sekitar 80 % kesempatan kerja. Mereka bisa berada dalam kegiatan ekonomi tradisional tetapi juga tidak sedikit yang bergerak dalam sistem ekonomi modern. pedagang kecil. petani tanpa tanah. jenis produk. lembaga keuangan mikro. Rakyat memiliki hak atas pengelolaan proses produktif dan konsumtif tersebut. nelayan tanpa perahu. dan sebagainya. Peran ekonomi rakyat juga teraktualisasi pada masa krisis multidimensi saat ini. sektor informal kota. permodalan. dan sejenisnya. Dalam hal ini. ketimpangan distribusi aset produktif (formal) – yang sekitar 65 %-nya dikuasai oleh 1 % pelaku usaha terbesar – menyebabkan kontribusi nilai produksi (GDP) dan ekspor kegiatan ekonomi raktyat relatif lebih kecil. Umumnya mereka berskala mikro dan kecil tetapi juga terdapat beberapa yang berskala menengah. maka yang dimaksud dengan kegiatan ekonomi rakyat adalah kegiatan ekonomi petani atau peternak atau nelayan kecil. dan bukan perkebunan atau peternak besar atau MNC pertanian. sifat fundamental diatas telah pula menciptakan suatu sistem ekonomi yang terdiri dari pelaku ekonomi. seperti koperasi atau CV atau bentuk badan hukum lain) dan juga sangat banyak yang informal atau nono-formal. berarti rakyat banyak merupakan ‗beneficiaries utama dari setiap kegiatan produksi dan konsumsi. Juga tidak ada pembatasan mengenai besaran. Mereka adalah kegiatan usaha formal (berijin usaha. berarti kegiatan ekonomi itu berkaitan dengan penguasaan rakyat dan aksesibilitas rakyat terhadap sumberdaya ekonomi. industri rumah tangga. maka ekonomi rakyat memiliki dimensi yang luas. pengetahuan. konglomerat. dipahami bahwa yang dimaksud dengan ―ekonomi rakyat (banyak)‖ adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh orang banya k dengan skala kecil-kecil. Jika dikaitkan dengan kegiatan perdagangan. dalam arti kegiatan transaksi dapat dilakukan juga dengan ―non-ekonomi-rakyat‖. serta tersebar merata diseluruh wilayah Indonesia.Ekonomi rakyat adalah ―kegiatan ekonomi rakyat banyak‖ (Krisnamurthi. Dalam hal ini perlu pula dikemukakan bahwa ekonomi rakyat dapat berkaitan ―dengan siapa saja‖. Walaupun demikian. Mereka sebagian besar hanya beroperasi secara lokal. Daya produktif . Mereka memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan dan tidak hanya tergantung pada pihak lain (apakah itu bank. Dengan pemahaman diatas pula. dari pada hanya sekedar angka-angka uang (modal) atau produk. dan sejenisnya. berarti proses produksi dan konsumsi dilakukan dan diputusk an oleh rakyat. Perspektif lain dari ekonomi rakyat dapat pula dili hat dengan menggunakan perspektif jargon: ―ekonomi dari rakyat. Mereka bisa melekat pada badan usaha pemerintah atau swasta. industri. dan sebagainya. baik sumberdaya alam. tetapi beberapa diantaranya juga memiliki kemampuan dan daya saing internasional yang handal. bagaimana menjaga kelestarian bagi proses pemanfaatan berikutnya.

Non-ekonomi-rakyat telah mendapat banyak kemudahan dan dukungan. Dalam hal ini kelompok ―non-ekonomi-rakyat‖ menjadi rentan terhadap perubahan yang terjadi pada elite penguasa tersebut. misalnya. Kemudahan dan dukungan tersebut kemudian Kelompok ―non-ekonomi-rakyat‖ telah banyak mendapat dukungan dari elite pemerintah. Tidak ada infrastruktur irigasi yang dirancang untuk memfasilitasi petani mengembangkan hortikultura atau peternakan. serta sistem keuangan yang ―memaksa‖ rakyat menerima sistem yang mensyaratkan berbagai hal tidak sesuai dengan kondisi naturalnya. termasuk terjaga maraknya berbagai kegiatan ‗masal‘ dari ekonomi riil – seperti mudik Lebaran dan naik haji. Keterkaitan dengan pasar dunia. merupakan manfaat yang dirasakan oleh kegiatan-kegiatan ―non-ekonomi-rakyat‖ sebagia bagian dari strategi ―keunggulan komparatif‖ berbasis tenaga kerja murah. air. atau hilangnya kelembagaan panen tradisional. tetapi pengembangan kegiatan ekonomi berbasis buruh murah telah berjalan lama sejak penjajahan hingga kini. Infrastruktur irigasi yang hanya memfasilitasi teknologi lahan sawah. terdapat ketidak-adilan dalam pengembangan ekonomi. Namun demikian perspektif ‗dari. Aspek ―untuk rakyat‖ menghadapi situasi yang lebih jauh tertinggal. dan kawasan industri bagi MNC merupakan bentuk ketidak-berdayaan penguasaan sumberdaya oleh rakyat. dan untuk rakyat‖ tersebut diatas juga mengetengahkan gambaran suram dari ekonomi rakyat di Indonesia. Infrastruktur fisik dan kelembagaan yang dibangun cenderung mengarah pada penyeragaman proses pengambilan keputusan yang dirancang tidak oleh rakyat sendiri. Rakyat juga memiliki akses yang sangat terbatas terhadap informasi dan teknologi. pasar uang. dan telpon yang tidak seimbang antara alokasi untuk bagi kegiatan ekonomi rakyat dan non-ekonomi rakyat. ―non ekonomi-rakyat‖ meninggalkannya begitu saja sering kali justru dengan tinggalan masalah adanya konflik kepentingan diantara rakyat sendiri. real estate mewah. selama 30 tahun dana yang disedot dari pedesaan 2. peningkatan jumlah berbagai produk pertanian. telah membatasi kemampuan petani mengembangka usahataninya. dan sebagainya. Indikasi lain dapat pula ditunjukkan oleh peningkatan kegiatan (tabungan dan penyaluran kredit) hampir diseluruh lembaga keuangan mikro.kegiatan ekonomi rakyatlah yang mampu mendorong peningkatan konsumsi.5 kali lebih besar dari dana yang disalurkan kembali ke pedesaan. memang mengalami sangat banyak kesulitan untuk berkembang dan memberi kesejahteraan bagi pelakunya. Sebaliknya. Pada saat yang sama sistem pengembangan yang penuh dengan ―dukungan yang distortif‖ telah tersebut telah menjadikan ―non-ekonomirakyat‖ menjadi lebih terkait dengan ekonomi global. dan telah mengembangkan ketergantungannya pada kelompok tersebut sehingga menjadi kelompok ―elite penguasa-pengusaha‖. telah menyebabkan kegiatan ―non -ekonomi-pasar‖ menjadi kegiatan dengan ―banyak pengambil keputusan‖ dalam dunia yang tidak berbatas dan masih rentan. Penguasaan dan akses terhadap sumberdaya oleh rakyat (banyak) masih sangat banyak menghadapi masalah. Melalui sistem perbankan yang terpusat. Sebaliknya saat lahan HPH yang telah digunduli dan tidak lagi produktif. posisi rebut-tawar (bargaining position) dalam penguasaan sumberdaya hampir selalu berada pada titik yang terendah. oleh. atau hilangnya kelembagaan lumbung desa. Dukungan yang relatif kecil dari pemerintah-penguasa telah menjadikan pelaku ekonomi rakyat tidak sangat tergantung pada kondisi elite. Perlindungan hukum atas usaha masih lemah. semua akibat introduksi teknologi dan kelembagaan serba seragam. Kontribusi pertanian dalam bentuk pangan yang murah dan tenaga kerja yang lebih terdidik. Bahkan sumberdaya yang tadinya dikuasai oleh rakyat. Intinya. Mungkin tidak sekejam tanam paksa. Kisah konversi lahan pertanian produktif milik rakyat menjadi lapangan golf. baik pasar barang. karena dipandang lebih sesuai dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Kelembagaan koperasi yang diseragamkan menjadi KUD. Hal inilah yang kemudian menjadi preposisi dasar dalam melihat posisi ekonomi rakyat dalam krisis moneter yang belum lama terjadi dan masih terasa hingga saat ini. Perbandingan ketersediaan sumberdaya ‗publik‘ seperti listrik. hak atas tanah masih menjadi sesuatu yang sangat didambakan. juga merupakan fakta-fakta lain yang menunjukkan kemampuan ―oleh-rakyat‖ menjadi sangat terbatas. ―ekonomi rakyat‖ yang tidak mendapat kesempatan untuk itu. dengan mudah berpindah tangan. . juga menggambarkan situasi suram aspek ―dari rakyat‖ tersebut. peningkatan penjualan kendaraan bermotor roda dua. Kemampuan sektor informal kota dalam menyediakan lapangan pekerjaan dan sistem distribusi kebutuhan pokok dengan murah dan efisien telah pula menjadi manfaat besar bagi ―non-ekonomi-rakyat‖ dalam mengembangkan sistem kerja yang tidak memihak pada buruhnya. tetap hidupnya pasar-pasar tradisional pada saat krisis. ada baiknya disampaikan dahulu perspektif struktur kelembagaan ekonomi Indonesia pada saat krisis akan terjadi 2) seperti dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini. Rakyat juga sering dibatasi kemampuannya untuk mengambil keputusan. Kondisi yang ―terbatas‖ terhadap akses ke pasar global juga sekaligus memberi ‗kekebalan‘ kepada ekonomi rakyat untuk tidak mudah terpeng aruh atas kondisi yang terjadi didunia internasional. Sebelum membahas krisis moneternya sendiri. yang pada gilirannya membuat kemampuan pengambilan keputusan menjadi jauh lebih terbatas. dan pasar modal. atau bahkan yang terjadi secara nasional.

Namun ketika krisis moneter berlanjut menjadi krisis ekonomi (pertumbuhan ekonomi menurun. maupun aliran input produksi. Ketika nilai tukar jatuh. walaupun struktur yang demikian itulah krisis ekonomi Indonesia menjadi begitu parah dan sulit diselesaikan. De Soto (2000) menjelaskan bahwa dibanyak negara. penyedian pangan murah. penggunaan (utilization) dari modal tersebut belum berjalan dengan baik. tawaran saham dan investasi. Hubungan ekonomi rakyat Indonesia dengan ekonomi rakyat di negara lain juga berjalan lambat dan tersendat. teknologi. Bahkan banyak diantaranya yang mendapat ‗rejeki dolar‘ karena harga produk yang dihasilkannya melonjak tinggi sejalan dengan peningkatan nilai dolar. terutama karena infrastruktur dan institusi perdagangan modern memang dikuasai oleh para pelaku ―non-ekonomi-rakyat‖. atau Ormerod. Giddens. Singkatnya. penyediaan lahan/property murah. 1998). yaitu Asia. hanya dalam bentuk dana-dana pinjaman lunak pemerintah yang banyak kembali ke ―negara donor‖ atau bocor ditengah jalan dari pada diterima oleh ekonomi rakyat. Aliran moneter dari kapitalme global ke ekonomi rakyat Indonesia relatif kecil. Gambar diatas secara skematik menunjukkan bahwa ekonomi rakyat dalam perspektif seperti Indonesia juga terdapat dinegara-negara lain. inflasi meninggi. Dan hal ini membuat mereka sedang berada pada situasi yang rentan. barang konsumsi. yaitu WTO dan mata uang Euro (Soros. Krisis moneter yang diawali oleh krisis nilai tukar tersebut sebenarnya telah lama diperkirakan dan telah diduga meningkat peluangnya saat pergantian abad (lihat Soros. Pada tahun 1990-an. seperti yang dirasakan para petani coklat dan para pengrajin yang memiliki konsumen di luar negeri. dan pada gilirannya menghancurkan sistem perbankan. Sebagai usaha mengantisipasi hal tersebut modal besar dari para kapitalis global tersebut dialirkan ke kegiatan ekonomi yang dianggap paling menjanjikan. Perusahaan-perusahaan tidak dapat lagi menunjukkan kinerja keuangan yang sehat. atau bahkan Marx (1849) dalam Magnis-Suseno.2) Struktur kelembagaan ekonomi tersebut sebenarnya hingga saat ini masih belum banyak berubah (diubah). 1998. maka ―non-ekonomi-rakyat‖ di Indonesia langsung terpukul telak oleh dua hal yang sangat ‗mematikan‘: membengkaknya nilai hutang dolar dalam rupiah dan mahalnya biaya produksi yang selama ini berbasis input impor. Sampai pada tahap ini ekonomi rakyat masih belum merasakan dampak negatif yang terlalu besar dari krisis moneter. tidak dapat mengembalikan hutang. Tanpa bermaksud membatasi aktivitas ekonomi dalam dimensi ruang yang kaku. Dalam lingkup domestikpun hutang modal dan hutang konsumsi juga mengalir kesana kemari dengan sangat cepat dan dalam jumlah yang sangat besar. 1999). dan posisi ekonomi rakyat yang menjadi pasar bagi produk dan jasa. sistem legal-formal yang ―bias-against‖ ekonomi rakyat. . ekonomi rakyat yang ‗berbeda‘ sistem dan mekanismenya dengan ekonomi berbasis kapital yang dikenal oleh ‗masyarakat barat‘ merupakan basis kegiatan ekonomi negara yang bersangkutan. Kalaupun ada. 1995). telah menjadi ‗blessing in disguised‘ bagi ekonomi rakyat. ekonomi rakyat telah mensubsidi ‗non-ekonomirakyat‘ dan terjadi fenomena ―double squeezed economy‖ melalui penyediaan sumberdaya oleh rakyat dan rakyat dijadikan pasar. dalam bentuk hutang. Hubungan Selatan-Selatan atau diantara negara-negara Non-Blok secara langsung hampir selalu lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan ‗jasa‘ negara ketiga yang mampu menyediakan layanan infrastruktur perdagangan secara lebih efisien (Isaak. Gambar 1 menunjukkan bahwa (1) Arus moneter (uang tunai dan modal) dari kegiatan ekonomi rakyat ke kegiatan ‗non -ekonomi-rakyat‘ memiliki volume yang jauh lebih besar dari pada arus sebaliknya. dan kemampuan menguasai informasi sebagai sarana untuk promosi. Demikian pula dengan ―non-ekonomi-rakyat‖ yang dapat diidentifikasikan sebagai kelompok kapital global. baik dalam bentuk modal tunai. (2) (3) (4) Dalam format seperti diataslah situasi ekonomi saat krisis moneter melanda Indonesia. mengalir ―door-to-door‖ dengan derasnya. karena sebagian dari proses relokasi industri baru berjalan pada tahap awal. 1994. Lemahnya keterkaitan ekonomi rakyat dengan kapitalisme global yang menjadi sumber dari krisis moneter tersebut. 1998. Akibatnya modal. Hubungan antara ―non-ekonomi rakyat‖ lokal dengan kapitalisme global juga merupakan hubungan yang timpang. penyediaan buruh murah. bahkan tenaga kerja. Sebaliknya. Hal ini terutama karena kerangka kelembagaannya tidak berkesesuaian (not-compatible). Hal tersebut terutama juga karena struktur kelembagaan yang diuraikan diatas. Hal ini terjadi melalui sistem perbankan. Kondisi tersebut berlangsung akibat dominasi paduan pengusaha-penguasa. kapitalisme global tengah berbenah diri untuk menghadapi abad yang baru yang ditandai oleh dua fenomena besar.

Pertimbangan dalam penetapan kebijakan tersebut seringkali memang tidak atas dasar kepentingan kegiatan ekonomi rakyat. Banyak kebijakan yang bersifat ‗mikro‘. Perbankan dan ‗non-ekonomi-rakyat‘ yang notabene menjadi penyebab krisis berusaha ‗diselamatkan‘ dengan menggunakan dana trilyunan rupiah dari sumberdaya negara yang telah sangat terbatas. terutama akibat timbulnya berbagai masalah setelah krisis terjadi (bukan oleh krisis moneter itu sendiri) dan akibat pilihan kebijakan yang diterapkan sebagai usaha mengatasi krisis. dll) patut pula diduga bahwa perancangan pola kebijakan tersebut juga membawa kepentingan internasional tersebut. Beberapa koreksi yang perlu dilakukan. dan sebagainya) maka ekonomi rakyat mengalami tekanan yang semakin berat. atau dilihat dari pemanfaatan cadangan pemerintah yang sangat besar bagi rekapitalisasi bank. merasa lebih tahu. Dalam hal ini. Sebaliknya sistem ekonomi rakyat yang nyata-nyata telah mampu bertahan bahkan telah lebih berkembang selama krisis justru tidak diabaikan. Mekanisme penghantaran kebijakan (delevery mechanism) yang tidak apresiatif juga merupakan faktor penentu keberhasilan kebijakan. Pada tahap inipun sebenarnya daya ‗survival‘ ekonomi rakyat sangat tinggi. padahal mereka adalah pemilik-suara (voter) terbanyak yang memilih pada pembuat keputusan. Inovasi dan kreativitas ekonomi rakyat. IMF. atau penetapan kebijakan perbankan sendiri yang penuh persyarakatan yang tidak sesuai dengan kondisi objektif ekonomi rakyat. mengingat lamanya pengaruh lembaga internasional (WB.banyaknya pegawai di PHK. padahal yang lebih dibutuhkan oleh ekonomi rakyat adalah kebijakan makro yang kondusif. Atau setidaknya yang perlu dikembangkan kebijakan yang ‗not-against‘ atau netral terhadap ekonomi rakyat. Dengan cepat terjadi perubahan-perubahan yang mendasar. kegiatan ekonomi rakyat juga menjadi kegiatan yang paling rentan dan menderita. Dalam hal ini. Kebijakan pengembangan yang dilakukan cenderung bersifat ‗ad -hoc‘ dan parsial. Mencari hutang baru dan menerapkan sistem legal-formal-konvensional seperti menjadi hal yang dipaksakan harus ada. padahal bank tidak (dapat) melayani kegiatan ekonomi rakyat. Posisi lembaga keuangan mikro dalam sistem keuangan nasional merupakan salah satu contoh terdepan dalam permasalahan ini. yang harus dilakukan terutama adalah untuk merubah pendekatan kebijakan yang tidak memihak kepada ekonomi rakyat. sangat tinggi. tingkat bunga yang kompetitif. pembentukan tingkat bunga melalui berbagai instrumen moneter lebih didasarkan pada kepentingan ‗balance of payment‘ dan penyehatan perbankan. 2001): a. pengurangan subsidi BBM. dari berbagai instansi yang berbeda dan dengan metode dan ketentuan yang berbeda. disertai berbagai kebijakan pengaturan (regulative policy) tampaknya masih jauh dari harapan pemberdayaan ekonomi rakyat. Kemelut Kredit Usaha Tani (KUT) merupakan contoh kongkrit dari masalah mekanisme penghantaran tersebut. Sikap tersebut sering kali jauh lebih menentukan efektivitas kebijakan. sering kali harus menerima limpahan pelaksanaan ‗tugas‘ hingga 10 atau 15 program dalam waktu yang bersamaan. dapatlah dikatakan bahwa ekonomi rakyat merupakan korban dari krisis moneter yang terjadi belum lama ini. Dalam kondisi rawan keamananpun. Seorang Camat atau kepala desa atau kelompok masyarakat misalnya. Oleh karenanya. saat elite politik berdebat saling mengkritik dan membangun perbedaan pendapat. Tumpang tindih tidak dapat dihindari. d. Tekanan menjadi semakin berat lagi setelah krisis ekonomi juga memicu krisis sosial politik dan keamanan. Dengan demikian. dan kebijakan nilai tukar. b. berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah dalam rangka otonomi daerah juga telah mengindikasikan pertimbangan yang tidak berorientasi ekonomi rakyat. meningginya harga pangan impor. Namun banyak kasus yang menunjukkan bahwa kebijakan yang dikembangkan lebih banyak membawa norma dan pemahaman dari ―luar‖ dari pada mengakomodasi apa yang sudah teruji berkembang dalam masyarakat. serta serangkaian pilihan kebijakan dalam usaha untuk mengatasi krisis yang justru menempatkan ekonomi rakyat sebagai pihak yang dikorbankan. terutama dalam mengatasi berbagai kelemahan dan keterbatasan yang dihadapi. Otonomi seharusnya juga berarti perubahan Kebijakan pengembangan yang dilakukan lebih banyak bersifat regulatif dan merupakan bentuk intervensi terhadap kegiatan yang telah dilakukan oleh ekonomi rakyat. Banyaknya kebijakan yang dilakukan oleh banyak pihak sering kali bersifat kontra produktif. . dan ‗minta dilayani‘ merupakan permasalahan lain dalam implementasi kebijakan. alokasi kebijakan fiskal yang lebih seimbang sesuai dengan porsi pelaku ekonomi. Misalnya. Produk yang diimpor diganti dengan produk lokal atau produk impor yanglebih murah (fenomena motor Cina atau maraknya produk elektronik lokal dan impor yang ―mereknya tidak dikenal sebelumnya‖). Demikian juga. pengulangan sering terjadi tetapi pada saat yang bersamaan banyak aspek yang dibutuhkan justru tidak dilayani. karena selama ini kebijakan ekonomi sering kali membawa ciriciri sebagai berikut (Krisnamurthi. Demikian pula sikap birokrasi yang ‗memerintah‘. sebaliknya kegiatan ekonomi rakyat seolah ditinggalkan. padahal kedua hal itu justru telah menunjukkan kemampuan menghadapi tekanan eksternal yang berat. e. c.

PT Gramedia Pustaka Utama. Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. 1994. Dalam perkembangan selanjutnya dan selama ini. Krisis Moneter Indonesia. Institut Pertanian Bogor (IPB) Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat. Bayu Krisnamurthi: Direktur Pusat Studi Pembangunan. atau jangan buat kebijakan apapun dan biarkan ekonomi rakyat berkembang dengan kemampuannya sendiri.ca/library/forum/desoto. Makalah pada Lokakarya Pengelolaan Sumberdaya Pantai dan Laut. Why Capitalism Triumphs in the West and Fails Everywhere Else. Frans Seda KRISIS MONETER INDONESIA KRISIS moneter Indonesia disebabkan oleh dan berawal dari kebijakan Pemerintah Thailand di bulan Juli 1997 untuk mengambangkan mata uang Thailand ―Bath‖ terhadap Dollar US. Hernando. Devaluasi mendadak dari ―Bath‖ ini menimbulkan tekanan terhadap mata-mata uang Negara ASEAN dan menjalarlah tekanan devaluasi di wilayah ini. bahkan akan terbuka kembali peluang terjadinya krisis berikutnya yang sangat mungkin akan lebih luas dampaknya bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Cambridge University Press. 1998. MA. 8. CSIS.ekonomi-rakyat. Krisnamurthi. pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot menjadi –13.idrc. Ir. 7.Perbaikan atas pola kebijakan tersebut diatas harus segera dilakukan.- Dr.7% dari pertumbuhan sebesar +4. Pemikiran Karl Marx. CIDA Forum on Knowledge and Information. 6. Open Society Endangered.Bina Swadaya. diikuti oleh kemerosotan IHSG di pasar modal Jakarta dengan besaran sekitar 90% pula dalam periode yang sama. Rupiah telah terdevaluasi dengan 30% sejak bulan Juli 1997. Atau jatuh dengan 18. Bayu. Jika tidak. Jakarta. (www. Anthony. Rupiah langsung terdevaluasi. Yakinlah. Magis-Suseno.org) Krisnamurthi. ternyata Indonesia paling dalam dan paling lama mengalami depresi ekonomi.9% di tahun sebelumnya (1997). Paul. 2001. Soros. Bayu. 1999. The Death of Economics. Dan di bulan Juli 1998 dalam setahun. Di tahun 1998. Franz. Little Brown Company. 3. Mencari Format Kebijakan Optimal.6% dalam . The Crisis of Global Capitalism.html) De Soto. peluang untuk keluar dari krisis akan semakin kecil. atau juga masih kesulitan untuk membuat kebijakan yang netral terhadap ekonomi rakyat. Selama itu mata uang Bath dan Dollar US dikaitkan satu sama lain dengan suatu kurs yang tetap. De Soto. London. namun di medio bulan Agustus 1997 itu terpaksa melepaskan pengendalian/intervensi melalui sistim ―band” tersebut. Ekonomi Rakyat dan Pengelolaan Sumberdaya Pantai dan Laut. telah pula dipublikasikan dalam Jurnal Ekonomi Rakyat (online. Giddens. 2000. rakyat Indonesia mampu melakukan hal itu. The Renewal of Society Democracy. Dalam bulan September/Oktober 1997. The Missing Ingredient. The Third Way. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Indonesia. 1998. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. Makalah pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat : Strategi Revitalisasi Perekonomian Indonesia. Jakarta 21 Februari 2001. Ormerod. yang mengikuti sistim mengambang terkendali. Jakarta. Rupiah sudah terdevaluasi dengan 90%. 2001. 5. London. George. 4. Jika memang belum dapat dilakukan kebijakan yang mendukung ekonomi rakyat. www. Basic Books. pada awalnya bertahan dengan memperluas ― band” pengendalian/intervensi. 2. Jakarta. The Mystery of Capital. Nopember 2000. 9 April 2002 PUSTAKA 1. 2000. New York. Hernando. Blackwell Publisher. minimal jangan buat kebijakan yang merugikan ekonomi rakyat.

terlebih dunia Perbankan dan Korporasi. Proses Swastanisasi/Privatisasi dari pelaku utama Pembangunan berlangsung melalui proses liberalisasi dengan mekanisme Deregulasi diliputi visi dan semangat liberal. Sektor Finansial dan Korporasi masih tetap terpuruk. dengan tingkat inflasi dan bunga yang rendah. merupakan kekuatan ekonomi yang riil yang telah mampu menahan kemerosotan ekonomi yang disebabkan oleh krisis itu. Sampai sekarang. Kesuksesan Pembangunan Ekonomi Indonesia demikian memukau para kreditor luar negeri yang menyediakan kredit tanpa batas dan juga tanpa meneliti proyek-proyek yang diberi kredit itu. Dimana kegiatan-kegiatan ekonomi dan para pelakunya berlangsung tanpa pengawasan dan tidak dilihat ― cost benefit” secara cermat. produktivitas sektor tradisional dan berfungsinya asas kekeluargaan. Dan kerapuhan ini ternyata adalah sangat mendalam dan meluas. 15 milyar. manajemen. sudah lima tahun. sikonnya belum siap dan masih penuh kerapuhan-kerapuhan. sepertinya lepas kendali. dalam hal bisnis serta akhlak dan moral.7% dengan tercapainya tingkat +0% di tahun 1999. Kesuksesan ini menimbulkan di satu pihak suatu optimisme yang luar biasa dan di lain pihak keteledoran yang tidak tanggung-tanggung. upaya-upaya rekapitalisasi. dilanjutkan dengan pertumbuhan +4. maka di akhir tahun 1996 sudah meningkat menjadi antara USD. Hutang Pemerintah/Resmi/Negara turun dari USD. 80 milyar menjadi USD. Maka ketika diserang krisis mata uang. Pendapatan per kapita meningkat menjadi 2x lipat antara 1990 dan 1997. Proses Swastanisasi ini berlangsung tanpa kendali dan penuh KKN. pemulihan pertumbuhan ekonomi belum mencapai tingkat pra-krisis (tahun 1996/97). Suatu optimisme yang mendorong kebijakan-kebijakan ekonomi dan tingkat laku para pelaku ekonomi dalam dan luar negeri. Namun akibat-akibat negatif ini dihadapi rakyat banyak dengan suatu Resistensi dan Kreativitas Ekonomi yang militan. Keteledoran ini juga terjadi dalam negeri. baik bagi modal yang masuk maupun yang keluar. Peningkatan Kemiskinan dan Hutang Nasional. sementara Hutang Swasta membumbung dengan cepatnya. Dalam waktu sangat singkat bertebaran bankbank Swasta di seluruh tanah air dan bertaburan Korporasi-Korporasi Swasta yang memperoleh fasilitas-fasilitas tak terbatas. kreativitas ekonomi rakyat. sehingga waktu datang tekanan-tekanan moneter. malahan dianggap sebagai penghambat dari pertumbuhan Ekonomi. Sektor tradisional yang selama ini dianggap sebagai sektor yang tidak penting/prioritas. 75 milyar. namun juga memainkan peran sebagai pengganti dari peranan sektor modern yang ambruk itu. Dan hal-hal ini langsung mengena pada nasib ekonomi Rakyat kita. dengan kebijakan Neraca Modal yang liberal. Rapuhnya sektor-sektor modern ini adalah dalam hal organisasi. Mengapa? Selama dekade sebelum krisis. sehingga tindakan-tindakan penyehatan-penyehatan seperti injeksi modal oleh Pemerintah.8% di tahun 2000. Dan yang mengesankan adalah peran dari asas kekeluargaan. itu perlu ―pulang kampung‖ untuk melihat dan mengalami bahwa asas kekeluargaan itu betul-betul hidup di kalangan masyarakat dan sungguh-sungguh merupakan asas solidaritas yang berfungsi dalam kehidupan ekonomi rakyat. Ekonomi Indonesia bertumbuh sangat pesat. dengan APBN yang Berimbang. Mereka yang di-PHK-kan ditampung dalam sektor tradisional dan sektor informal dan merupakan bagian dari Resistensi Ekonomi Rakyat dalam krisis ini. Kredit jangka pendek diinvestasikan ke dalam proyek-proyek jangka panjang. Pembangunan Ekonomi yang selama ini adalah ―State” dan ―Government-led” beralih menjadi ―led by private initiatives and market”. dan mental orang-orang/para pelakunya. . Didorong oleh optimisme dan keteledoran ini ekonomi didorong bertumbuh diatas kemampuannya sendiri (― bubble economics”). Maka para pakar/pengamat yang selama ini meragukan berfungsinya asas kekeluargaan seperti yang tercantum dalam Pasal 33 UUD-45. Perkembangan ini didukung oleh suatu kebijakan moneter yang stabil. dan malahan telah mampu pula mengangkat pertumbuhan ekonomi kembali pada permukaan pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan +13. 65 milyar – USD. Suatu kerapuhan total dan secara institusional pula! Apa implikasi dari runtuhnya sektor modern dari bangunan ekonomi kita ini? Peningkatan Pengangguran. yang hampir sama dengan pertumbuhan ekonomi pra krisis (1997.setahun. restrukturisasi Perbankan dan Korporasi-Korporasi sepertinya tidak mempan selama dan sesudah 5 tahun ini. bukan saja menampung reruntuhan-reruntuhan dari ambruknya sektor modern. Pertumbuhan itu ambruk! Sementara itu terjadi pula suatu perombakan yang drastis dalam strategi Pembangunan Ekonomi. dengan tingkat perkembangan nilai tukar mata uang yang terkendali rendah. Jika di tahun 1996 Hutang Swasta masih berada pada tingkat USD. 50 milyar di akhir tahun 1996. Maka runtuhlah bangunan modern dalam tubuh Ekonomi Bangsa. kebijakan Ekspor yang terdiversifikasi (tidak saja tergantung pada Migas). Resistensi.

Boeke. dan pemberdayaan itu dilakukan melalui ― link and match” dengan sektor Swasta. malahan melanjutkan perannya sebagai Pelaku Utama Pembangunan sesudah krisis itu. oleh investasi dan konsumsi. alias sektor modern dari bangunan ekonomi kita. begitu rapuhnya sehingga dengan segala ― inset” dari modal. tidak lalu harus diidealisasikan. apakah dalam kondisi krisis dewasa ini. Juga dalam hal konsumsi yang kecuali dipenuhi oleh import. didesak oleh kebutuhan akan modal. adalah suatu kenyataan dan merupakan dua kekuatan ekonomi yang perlu diintegrasikan menjadi sokoguru dari bangunan ekonomi Nasional yang modern. Hal ini terjadi bukan karena ideology (Sosialisme) melainkan karena kondisi pragmatis. ―Dual economy” nya Prof. Memang ideal. dan teknologi yang lebih meningkat untuk menjaga agar Pembangunan Ekonomi berkelanjutan mantap meningkat. Makna dari suatu ideal adalah bukan sekedar pada idealismenya. juga oleh produksi dalam negeri. Disebabkan oleh Politik Isolasi Nasional dan menumpuknya Defisit APBN dari tahun ke tahun sedari tahun 50an dan selama penggalan pertama tahun 1960-an. dalam setahun. pemulihan ekonomi selama 2 tahun itu disebabkan oleh peningkatan ekspor (non Migas). Kita tahu apa yang telah terjadi. Dalam hal ekspor dan konsumsi. Namun sesuatu yang ideal. Masalahnya adalah mengapa ekonomi Nasional jatuhnya begitu dalam. dihabiskan! Tidak ada kelebihan untuk melanjutkan dan mendinamisasikan kegiatan. Dan cepat kembalinya pemulihan ekonomi selama dua tahun berikutnya dikatakan adalah berkat ekonomi Rakyat. Melalui pemberdayaan sektor Swasta maka diharapkan/dianggap Ekonomi Rakyat akan pula dapat diberdayakan. Dibawah Pimpinan Negara/Pemerintah. maka terjadi proses Swastanisasi dari Pembangunan. namun pada kemampuan untuk merealisasikan apa yang dianggap ideal itu. Di tahun 1980-an. Maka terjadilah krisis ekonomi yang berkelanjutan ini. maka di tahun 1965-66 terjadi suatu krisis ekonomi Nasional yang merisaukan. Namun secara riil. adanya KKN. Masalahnya sekarang adalah. dimana pada waktu itu tidak ada perusahaan Swasta. di Manado resepsi. Faktor kepercayaan pada programa ekonomi Pemerintah dalam kerjasama dengan IMF dan hilangnya panik ekonomi turut bermain peran. Pemerintah/Negara mengambil peran untuk keluar dari krisis tersebut. dan kurang adanya Pengawasan.+4.9%). melihat peran ekonomi rakyat selama krisis ini seperti yang telah diuraikan itu. Jika era Demokrasi Terpimpin sebelumnya adalah era dimana Politik menjadi Panglima (upaya pembentukan dari suatu Sistim Politik Nasional) maka era ORBA dapat dinamakan sebagai era dimana Ekonomi menjadi Panglima (dan upaya-upaya untuk membentuk suatu Sistim Ekonomi Nasional). Tentu tidak semuanya oleh Ekonomi Rakyat. namun melalui sistim (peng)antara ―middle down” dan ―middle up”. Krisis Ekonomi yang kita alami dewasa ini menunjukkan bahwa keserakahan sektor modern akan kredit. Jika Pembangunan selama ini adalah ― top down” maka proses ini tidak langsung beralih ke sistim ―bottom up”. dan di bawah pengaruh globalisasi. efisiensi. yang telah menumbangkan ORDE LAMA (Demokrasi Terpimpin) dan dibentuknya ORDE BARU. dan kalau ada berada dalam kondisi sangat lemah. Ada keraguan di kalangan Pemerintah pada waktu itu terhadap kemampuan Ekonomi Rakyat sebagai penggerak utama dari roda Pembangunan. itulah yang telah menjerumuskan Ekonomi bangsa ke dalam keterpurukan yang berkelanjutan ini. Bukan proses ―memberdayakan‖. no!”. sudah tiba waktunya kita beralih ke Ekonomi Rakyat. Apa yang dihasilkan. Apakah hanya karena itu saja? Tentu tidak hanya itu saja. energi dan konsentrasi sampai sekarang sektor ini belum dapat berfungsi kembali normal. jika bisa begitu. peranan ekonomi Rakyat adalah menonjol. peran ekonomi Rakyat seperti yang telah digambarkan itu memang besar! Tetapi antara ekonomi Rakyat/Ekonomi Tradisional dan Ekonomi Modern tidak perlu diadakan dikhotomi. Proses tersebut ditandai oleh suatu proses Liberalisasi dan mekanismenya adalah Deregulasi/Ekonomi. maka Pembangunan dan peningkatan pendapatan Nasional dan per kapita maju pesat. Dalam bahasa resmi Ekonomi. menunjukkan betapa rapuhnya dan paniknya sektor Finansial dan Korporasi. di Jakarta resesi. Masalahnya adalah mengapa pada waktu itu proses Deregulasi tidak diarahkan langsung kepada Ekonomi Rakyat. Ekonomi Rakyat adalah pula ekonomi ―from hand to mouth”. hasil kegiatan rakyat. Jika hal itu diperlukan maka dilaksanakan . Dan seperti telah dikatakan. cukup berperan ekspor hasil Perkebunan rakyat. Telah dikemukakan bahwa kemampuan Resistensi Ekonomi Rakyat adalah pada tingkat ― subsistence economy”. Sehingga Pembangunan selama itu disebut ― Government/State led development”. melainkan proses ―mem perdayakan‖. ―Up” dan ―down” diperdayakan oleh si ―middle”. Jatuhnya demikian dalam di tahun 1998. sehingga di Manado yang unggul dalam hal cengkeh itu – ―dia orang bilang. fasilitas dan perluasan kegiatan. Dalam hal ekspor. tetapi juga dapat cepat pulih dalam 2 tahun berikutnya. Ekonomi Rakyat masih perlu diberdayakan.

Disitulah letak fungsi ekonomi mereka. perlu diingat. namun tidak selamanya rakyat harus menjadi Subyek Ekonomi. Disamping tugas besar Nasional yang berjangka itu. maka tidak dengan sendirinya kesejahteraan Nasional tercapai. Kembali kepada masalah Krisis Moneter dan Pemulihan kembali Ekonomi Nasional. Hanya jangan dikira jika semua rakyat sudah menjadi Subyek Ekonomi. tidak dimanjakan dengan subsidi. Hal-hal ini perlu diciptakan oleh Institusi itu. proteksi dan fasilitas. memerlukan perlindungan/kepastian Hukum dan iklim usaha.000 . mereka tidak boleh mengganggu ketertiban umum dan harus tunduk pada peraturan (hukum) umum! Pengertian yang diperlukan. maka baik orientasi pada kepentingan dalam ekonomi. dalam kontekst ini peran ekonomi Rakyat dapat difokuskan. Mereka perlu dibimbing. (Sementara menurut suatu penelitian. Mereka sendiri tadinya juga berasal dari usaha ekonomi rakyat. tangguh mental dan professional dalam berusaha. para pelaku ekonomi Rakyat perlu di‖upgrade”. maka dengan sendirinya Kesejahteraan Rakyat tercapai. Diperlukan suatu Institusi yang mengarahkan kepada kepentingan rakyat dan kesejahteraan Nasional. Masalah ini perlu ditekankan melihat pengalaman-pengalaman dari usaha-usaha rakyat kecil di kota-kota yang lazim dinamakan Kaki Lima yang dikejar-kejar itu. diberi pendidikan. Sebab itu peran ―lintah darat‖ besar dalam ekonomi Rakyat. pengganggu ketertiban umum. teknologi dan Pasar.000. Aspek orientasi kepada kepentingan rakyat banyak dan aspek rakyat sebagai Subyek dalam Ekonomi Negara. 20. Ketiga target ini memang mengena pada kepentingan ekonomi Rakyat! Suatu tantangan bagi ekonomi Rakyat! Menghadapi tugas besar/tugas nasional ini. mengatasi Hutang. tetapi sebagian besar masih ―berkeliaran‖ di dalam negeri. Mereka tidak menjadi efektif (―effective demand”) antara lain karena ketidakpastian hukum dan keamanan. Dalam bahasa ekonominya adalah bahwa kita mengalami kemerosotan dari ―external demand”. bukan penggusuran! Pemberdayaan ekonomi Rakyat dewasa ini diperlukan pula untuk membina kader-kader Pelaku Ekonomi Generasi baru menggantikan Generasi Pelaku Ekonomi yang sudah tumbang ini. Sebab kesejahteraan Nasional bukanlah somasi/jumlah dari kepentingan masing-masing rakyat. Selama ini kita telah bicara banyak mengenai Ekonomi Rakyat dan Ekonomi Kerakyatan. 10. Penciptaan dari ―domestic demand” ini mungkin. Ini semua dikemukakan tidak dengan maksud untuk memojokkan ekonomi Rakyat. Diharapkan bahwa Institusi yang demikian itu adalah antara lain Pemerintah dan Parlemen.melalui hutang. karena pasar dalam negeri yang besar dan luas. usaha/pedagang kecil dan menengah. di‖ upgrade” dan ditingkatkan. (Hukum dan keamanan ini juga dituntut oleh para investor asing!). namun untuk mengungkapkan kenyataan yang dihadapi yang perlu diperbaiki agar tugas Nasional yang diserahkan kepada Ekonomi Rakyat dapat terlaksana dengan baik dan penuh prospek dan perspektif. Nah. Diperlukan suatu Institusi dan pendekatan secara Institusional. maupun Subyek dalam ekonomi adalah rakyat.Rp. Dilupakan bahwa mereka memenuhi kebutuhan masyarakat. Memang ada pendapatan dan simpanan dalam negeri yang lari keluar. apalagi dengan KKN. bahwa kalaupun Rakyat sudah menjadi Subyek Ekonomi. Hanya seperti telah diuraikan itu. Namun suatu Generasi Pelaku Ekonomi Nasional yang bersih. Dalam hal Ekonomi Rakyat. memerlukan akses ke modal. Ini berarti pula perlu dikembangkan suatu sistim mobilitas vertikal secara sehat dan mandiri dalam masyarakat dunia usaha! Dewasa ini hal ini diblokir oleh tidak selesai-selesainya proses penyehatan Perbankan dan Korporasi. Apa tugas Nasional itu? Mengatasi Pengangguran. kita mengalami kemerosotan investasi dan eksport termasuk Pariwisata. Mereka perlu diberi pengertian bahwa untuk berusaha secara berkelanjutan diperlukan tertib usaha. sebagai usaha yang ―inferior”. Kondisi ini perlu diimbangi dengan menciptakan/mengaktifkan ― domestic demand” yakni ―demand” akan investasi dan konsumsi. Maka dari itu programa hukum dan kesesuaian harus menunjukkan prioritas bagi Pemerintah. Mereka dianggap sebagai ―underground economics”. ada pula tugas Nasional yang mendesak! Dewasa ini. Jangan disangka jika setiap anggota masyarakat itu bermoral tinggi dan sungguh-sungguh menghayati agamanya. penjelasan-penjelasan dan insentip-insentip. Rakyat sebagai Subyek Ekonomi seperti halnya dengan Korporasi-Korporasi besar/maju. terlebih sesudah kejadian 11 September 2001 di Amerika Serikat. Dalam hal Ekonomi Kerakyatan maka jelas orientasinya pada kepentingan ekonomi Rakyat banyak. Untuk menjamin tertib usaha. maka masyarakat dengan sendirinya bermoral dan beragama. Seperti halnya dalam bidang moral dan agama. Potensi untuk itu ada di dalam Negeri karena masih cukup pendapatan dalam negeri dan simpanan dalam negeri yang tersembunyi dan terpendam. Apa itu? Ekonomi Rakyat mempunyai dua aspek integral. melebihi pendapatan orang yang sama di sektor formal). mereka sehari dapat memperoleh antara Rp. Telah dikemukakan betapa . mengatasi Kemiskinan.

Kemiskinan. Dari sini. seperti dikatakan Alan Grenspan. yang dipicu oleh krisis di sektor properti. tetap saja berujung pada ketidakmungkinan krisis ini pulih dalam waktu yang singkat. Dengan dunia yang kian terintegrasi satu sama lain. Krisis Permanen Krisis ekonomi AS. Kebodohan.‖ Ketakutan bahwa krisis ini menjadi krisis permanen. hendak dilihat. Dengan adanya Konsensus Politik secara Nasional itu. Maka dari itu krisis ini perlu segera diatasi! Dalam hal ini kita berhadapan dengan suatu Dilema Fundamental yang ―persistent” sekali. ―pertumbuhan ekonomi AS saat ini adalah nol. barulah kita dapat menyusun suatu Programa Nasional untuk cepat keluar dari krisis dan mulai memulihkan kembali Pertumbuhan Ekonomi Nasional yang mampu memberantas Pengangguran. yang berfokus pada pilihan politik untuk me-Rekonsiliasikan keperluan penyelesaian secara tuntas masalah-masalah dari masa lalu dengan kepentingan bangsa dan Negara untuk maju ke depan dan yang didukung oleh semua pihak. Berbagai skenario pemulihan yang ada. Rata-rata tingkat pertumbuhan per tahun hanya 2. Resep lama. krisis di satu tempat dengan cepat menyebar dan memberi efek tular ke tempat lain. regional dan nasional maka krisis ekonomi yang berkepanjangan ini dapat membawa Bangsa. Sebab disitulah letak kepentingan mendesak dari ekonomi rakyat kita. bagaimana dampak krisis ini terhadap Indonesia. Untuk mengatasi Dilema Fundamental ini diperlukan suatu Konsensus Politik secara Nasional. bahwa krisis ini bisa diatasi dengan campur tangan bank Sentral. kini menyebar luas. pemulihan ekonomi AS berjalan lambat. Frans Seda : Penasehat Ekonomi Pemerintah. Tulisan kali ini. terbukti tidak mencukupi. Jika hal ini dikaitkan dengan bahaya-bahaya proses desintegrasi sosial. Krisis ini datang silih berganti secara bergelombang. Dengan segala upaya dan energi serta bantuan luar negeri. untuk menginjeksi sektor perbankan. di lain pihak ada urgensi. upah buruh riil dan . Hic et nunc! Drs.4 persen dibandingkan dengan 4 persen pada dekade 1960an dan 3. belum selesai yang satu telah datang yang lain. kita maju ke depan (termasuk upaya penyelesaian krisis). tetap saja krisis ekonomi AS tak bisa ditangani. terlebih sektor Finansial dan Korporasi. Bahkan. Dilemanya adalah di satu pihak ada tuntutan untuk penyelesaian dulu semua kebobrokan-kebobrokan dari masa lalu. yang hingga kini tak kunjung menemukan jalan keluar pemecahannya. makin tak terkendali. baru melangkah maju. lingkungan. politik. energi. kita belum saja melihat titik terang. Dengan bersandar pada data Biro Analisa Ekonomi AS (lihat tabel).terpuruknya Ekonomi kita dan betapa rapuhnya sektor modern kita. pangan. dan Hutang Nasional. Negara dan Masyarakat kita kepada kehancuran total. Lima (5) tahun krisis ekonomi adalah sudah terlalu panjang dan karena sifatnya multidimensional maka ia dapat menggerogoti secara meluas dan mendalam sendi-sendi kita hidup berbangsa. dan bencana alam. ketika Bank Sentral menggelontorkan dana segar sebesar S75B pada Januari 2008. mantan Menteri Keuangan Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat. hendak memotret dampak dari krisis ekonomi Amerika Serikat (AS). Krisis Moneter Indonesia Krisis Permanen dan Tantangan Dari Bawah* DUNIA sedang diterpa badai krisis: ekonomi. mantan gubernur Bank Sentral AS. Akibatnya. Sementara itu.3 persen pada dekade 1980an. dan alternatif apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi krisis dan dampaknya tersebut. bernegara dan bermasyarakat. ekonom Minqi Li menggambarkan beragam skenario yang tidak menggembirakan. dan sambil berjalan ke depan kita secara selektif menyelesaikan kebobrokan-kebobrokan dari masa lalu. Setelah diterpa resesi pada 2001.

8 persen pada tahun 2006. jika krisis ekonomi yang melanda AS ini berlangsung dalam waktu yang lama. menurut William I. suatu jumlah yang tertinggi. Keadaan ini sebenarnya bisa ditangani oleh Bank Sentral. pengaruhnya sungguh akan sangat besar bagi stabilitas ekonomi-politik dunia. menyebabkan negaranegara yang sebelumnya telah tergantung pada investasi asing kian tergantung padanya (khususnya investasi portofolio) dan keharusan untuk membayar utang kepada kapital internasional. Masalahnya. Krisis ekonomi yang dipicu oleh krisis di sektor finansial. ketika mayoritas pendapatan rumah tangga mengalami stagnasi atau bahkan jatuh. Dengan gambaran seperti ini. atau delapan sen lebih rendah dari upah pada 1972. negara-negara berkembang yang mengikuti resep globalisasi-neoliberal. AS mengekspor krisis internalnya ke seluruh dunia. pertumbuhan ekonomi AS dihela oleh ekspansi konsumsi rumah tangga. maka ekonomi AS akan menuju resesi yang lebih dalam yang diikuti dengan apa yang disebut stagnasi berkelanjutan. kedua. pemerintah AS melakukan jalan pintas dengan cara melakukan belanja publik dan meningkatkan defisit fiskal. maka Washington bisa terus melakukan defisit fiskal lebih besar. Pertama. Hasilnya adalah sebuah lingkaran setan. Soalnya. pilihan yang bisa diambil oleh Bank Sentral adalah melakukan pemotongan secara drastis tingkat suku bunga. karena level utang rumah tangga telah begitu tinggi dan tingkat tabungan rumah tangga juga rendah. ―fundamental ekonominya‖ membaik menurut kriteria sektor finansial tapi. Jelas ini sesuatu yang menakutkan. dengan cara menciptakan gelembung aset lain secara besar-besaran. terjadi penghancuran industri (deindustrialization). sebesar $8. maka yang terjadi ekspansi konsumsi rumah tangga itu dibiayai oleh utang rumah tangga. Selain itu. sebagaimana dikemukakan John Bellamy Foster. bersamaan dengannya tingkat suku bunga meningkat. jelas mustahil untuk melihat bahwa konsumsi akan bertumbuh cepat di tahun-tahun mendatang. sektor keuangan saat ini merupakan sektor yang paling tersebar dan paling terkait secara global. sangat sulit untuk mengidentifikasi gelembung besar aset lain yang bisa diciptakan. dengan sendirinya menghela ekonomi negara lain ke jalur krisis.jumlah angkatan kerja stagnan. karena baik pasar saham maupun pasar properti telah overvalued. Jatuhnya tingkat konsumsi di AS. pendapatan riil keluarga menengah terus jatuh.2. Sebaliknya. Yang paling realistis. Di lain pihak. Di samping itu. hingga mencapai 6 persen atau lebih GDP. seiring meningkatnya finansialisasi ekonomi dunia adalah kian mendalamnya penetrasi kekuasaan imperial terhadap negara-negara dengan kondisi ekonomi sedang berkembang (underdeveloped). Dihadapkan pada kondisi guncangan besar pasar saham dunia. Ini bisa dilihat dari peningkatan sebesar 14 persen layanan utang rumah tangga (interest and principal payment on debt) pada 2007. pertumbuhan . maka suku bunga rendah hanya akan kecil sumbangannya dalam merangsang konsumsi rumah tangga. sejak medium 2000. konsumsi AS adalah yang terbesar di dunia dan menjadi sumber utama permintaan ekonomi dunia. pembagian keuntungan korporasi terhadap GDP meningkat dari 5.8 persen pada tahun 2001 menjadi 9. Jika tingkat tabungan rumah tangga meningkat menuju rata-rata selama ini. maka secara teoritik utang luar negeri bersih AS akan menembus angka 120 persen GDP. Tetapi. Robinson adalah untuk menghancurkan otonomi para aktor nasional dan selanjutnya menstrukturkan serta mengintegrasikan mereka ke dalam jaringan transnasional yang lebih luas. dengan defisit saat ini yang mencapai 6 persen GDP. sangat jelas membuat pertumbuhan ekonomi dunia melambat yang itu berarti. Yang menarik. Tujuan dari penetrasi ini. Jika diukur dalam dollar pada 1982. dan ketiga. Penetrasi yang digerakkan melalui kebijakan globalisasi-neoliberal tersebut. tingkat tabungan rumah tangga jatuh dari rata-rata 10 persen menjadi mendekat nol persen saat ini. Itu sebabnya. sejak tahun 2001. Dan jika ini terjadi. yang kini mencapai lebih dari 70 persen GDP. maka rata-rata upah buruh sektor swasta pada tahun 2006.

Di luar OPEC. Melambungnya Harga Minyak Dunia Sialnya. tentu saja kesuraman itu kian menjadi-jadi.236. kini bayang-bayang resesi bahkan depresi ekonomi ada di depan mata.000 per hari atau sebesar Rp. diperkirakan menyumbang sepertiga dari total suplai energi dan 90 persennya digunakan di sektor transportasi. meramalkan. Sebab ekonomi kapitalis ini sangat tergantung pada bahan-bahan material (minyak. aspal hitam. Setelah dihajar oleh krisis ekonomi pada 1997. Minyak juga.000 dengan kurs $1 sama dengan Rp. Tingginya harga minyak ini tentu saja memberikan daya pukul luar biasa pada perekonomian di seluruh dunia. Mari kita ambil contoh berikut. Dengan pengeluaran sebesar itu. dimana salah satu cara paling gampang adalah kembali menaikkan harga minyak dan mencabut subsidi. yang hingga kini tak kunjung keluar dari krisis. 9. Tinggal sembilan negara atau wilayah yang memiliki potensi untuk bertumbuh. plastik. belum lagi krisis ekonomi tertangani. Kita lihat. mencapai titik jenuhnya pada 2010. produksi gas alam dunia akan mencapai puncaknya pada 2045. gas alam. dari the Association for the Study of Peak Oil and Gas. pembangunan yang menghasilkan keterbelakangan dan ketertindasan. harga minyak dunia telah menembus angka $120 per barel. produksi minyak akan menurun sebanyak 25 persen pada 2020. Seluruh perusahaan-perusahaan minyak besar dunia kini. Colin Campbel. Studi terbaru dari German Energy Watch Group menyebutkan. Berdasarkan harga saat ini sebesar $120 per barel. Orientasi Ke dalam? Krisis ekonomi saat ini. telah mencapai titik jenuh.ekonomi rendah. ancaman lain telah menghadang yakni.866. produksi dunia untuk seluruh bahan-bahan cairan (termasuk minyak mentah. Laporan terakhir (30/4) menyebutkan. gas alam cair. 775. pembangunan yang dijalankannya tidaklah membuahkan kemajuan dan kebebasan tapi. Minyak sendiri. bisa dipastikan yang akan terjadi adalah penyesuaian-penyesuaian rencana anggaran. sedang berjuang untuk mempertahankan produksinya agar tidak jatuh. minyak hasil distilasi. dan mencapai 2/3 pada 2050. eksplorasi minyak telah mencapai puncaknya pada dekade 1960an dan produksi minyak mentah mungkin telah di batas maksimum dan mulai memperlihatkan trend menurun dalam beberapa waktu mendatang. Setelah itu. diperparah dengan dampak menular dari krisis keuangan di AS. Dengan pola seperti ini. produksi minyak di 25 negara-negara atau wilayah-wilayah penghasil minyak utama. Dalam konteks Indonesia. yang menyumbang 80 persen suplai energi dunia.5. bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. ditambah dengan dampak kenaikan harga minyak dunia yang gila-gilaan. obat-obatan modern. Berdasarkan data Januari 2008. dengan menggilanya harga minyak dunia di pasaran. Selain itu. Dalam studi awal dari German Energy Watch Group. Resep-resep yang digunakan . tidak bisa lagi dipertahankan. Campbel juga meramalkan. diperkirakan produksi batubara dunia akan mencapai puncaknya pada 2025. dan kian mudahnya ekonomi negara tersebut diserang krisis akibat pergerakan cepat keuangan global. dan biofuel). Lebih-lebih dalam konteks seperti Indonesia. karena minyak merupakan energi yang tak terbarui. dan batubara). Bahkan. coal-to-liquids. dan benda-benda kimiawi lainnya. saat ini Pertamina mengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak sebanyak 700 ribu per barel. gas-to-liquids. tentu saja tidak masuk akal bagi pemerintah untuk membiayai belanja-belanja sosial yang bermanfaat bagi kepentingan rakyat. maka skenario yang tampak begitu buruk. maka dana yang mesti dikeluarkan Pertamina adalah sebesar $84. menjadi penanda penting bagi kita bahwa orientasi pembangunan kapitalisneoliberal yang berlangsung secara global saat ini. merupakan bahan masukan penting dalam produksi pupuk. gambaran-gambaran ini sungguh suram.

sebuah perubahan arah strategi pembangunan dari yang pro kapitalisme-neoliberal menjadi yang anti kapitalisme-neoliberal.selama ini. Angka ini merupakan yang terbesar sejak Perang Dunia II dan besarannya melampaui total belanja militer gabungan seluruh negara lain di dunia. akibat stagnasi berkepanjangan. pemotongan subsidi. pasar kerja fleksibel. harus ada strategi yang radikal. Khusus untuk supplementary budget buat membayar biaya perang di Irak dan Afghanistan. dan liberalisasi sektor moneter. seperti dikemukakan kritikus empire (kekaisaran) terkemuka. walaupun kini tengah dilanda krisis parah. Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. bukan krisis bagian per bagian. Ia bukanlah krisis keuangan jangka pendek tapi. Sejak berakhirnya Perang Dingin (yang sesungguhnya hanya dingin di Eropa). Chalmers Johnson. kita bisa meraba-raba. Rusia. India dan Cina) meningkat sebesar 20 persen pada pertumbuhan ekonomi dunia. Tetapi. jumlahnya jauh lebih besar dibanding gabungan anggaran militer Rusia dan Cina. kedua. adalah mengandalkan kemampuan domestik dalam menopang bangunan struktur ekonomi nasional. deregulasi.000) di seluruh dunia. tidak ada bukti yang kuat bahwa kebangkrutan ekonomi suatu negara disebabkan oleh kebijakan nasionalisasi ekonomi. saya ingin mengajak anda untuk melihat konstelasi kekuasaan global saat ini. Cina yang dianggap sebagai pesaing baru. mensyaratkan keberadaan rejim yang mendukung penuh perubahan radikal itu. kini Cina merupakan satu-satunya kandidat . departemen pertahanan AS menganggarkan sebesar $750B per tahun. terbukti gagal dalam menangani krisis.‖ Argumentasi Klare ini bukan tanpa bukti empiris. pembangunan kekuatan militer itu dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi AS. pembangunan kekuatan militer raksasa itu dimaksudkan untuk ―menghadang munculnya kekuatan besar lain sebagai pengimbang kekaisaran AS. menurut Michael Klare. Untuk rencana belanja fiskal tahun 2008. demi kepentingan apa AS terus membangun dan memperkuat kekuatan militernya? Ada dua jawaban di sini: pertama. Salah satunya. Karena itu. adakah rejim dengan watak seperti itu? Pertanyaan lainnya. Dan sebaliknya. dari segi geopolitik. Dengan 180 basis militer (dari yang direncanakan 1. yang selama ini telah begitu erat terkait dengan kelas kapitalis asing. Seperti dicatat Minqi Li. Dengan tingkat pertumbuhan ekonominya tinggi dan relatif stabil. untuk memotong laju krisis sekarang. Lebih-lebih di bidang militer. krisis ini adalah krisis kapitalisme keseluruhan. Di sini muncul pertanyaan baru. Dari segi anggaran militer. lebih merupakan hasil dari stagnasi ekonomi berkepanjangan. Dari sini. kontribusi Cina meningkat sekitar 15 persen dan kelompok BRIC (Brazil. apakah pertanyaan tersebut mengada-ada atau tidak. privatisasi. mempromosikan kebijakan nasionalisasi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. harus berani menolak resep-resep kebijakan neoliberal seperti. tak ada kekuatan lain yang bisa menandingi kedigdayaan AS. Dari segi ekonomi. di tempat lain. bahkan ekonominya belum mampu menandingi kekuatan ekonomi Uni Eropa. dana yang dianggarkan sebesar lebih dari $1T. bersedia melakukan restrukturisasi ekonomi dan sosial yang radikal? Intervensi Permanen Sebelum kita masuk pada pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pertanyaannya kemudian. demikian juga kontribusi kawasan Eurozone ikut jatuh dari 20 persen menjadi tinggal 10 persen. dimana anggaran ini bukan bagian dari anggaran resmi pertahanan. Pemerintahan siapapun. praktis tidak ada kekuatan lain yang sanggup menandingi imperialisme Amerika. Studi-studi yang ada menunjukkan. apakah kelas kapitalis di Indonesia. Tetapi. ekonomi AS masihlah yang terkuat di dunia. sumbangan AS dalam pertumbuhan ekonomi dunia jatuh dari 40 persen pada 1990 menjadi kira-kira 30 persen pada saat ini. lagi-lagi dalam konteks Indonesia. Keadaan ini tentu saja mengkhawatirkan para pengambil keputusan strategis di Washington.

juga bertujuan untuk mengonsolidasikan kembali apa yang disebut Peter Gowan. sebagai ―ideologi intervensi permanen. Benar pula bahwa minyak bukan hanya sumber energi yang utama tapi. Intervensi permanen dari kekaisaran bisa mengambil bentuk yang lunak. Irak). mereka malah kian agresif dalam merealisasikan paket-paket kebijakan neoliberal. Bagi Samir Amin. Ini hanya merupakan awal. bagi para analis imperialisme. Tetapi. penyerbuan seperti di Irak ini bukanlah sebuah akhir. di tengah-tengah krisis permanen dan ancaman intervensi permanen saat ini. maka sangat sulit kita mengharapkan munculnya sikap progresif dari kelas kapitalis domestik. Di satu sisi karena mereka telah terintegrasi dalam kelas kapitalis internasional. mengatakan perlawanan rakyat tertindas itu tidak bisa diharapkan muncul dari dalam negeri AS. Ia mencontohkan perlawanan rakyat di Venezuela dan Irak saat ini. Itu sebabnya. tidak pertama-tama didorong oleh kepentingan menguasai dan mengontrol kandungan minyak di wilayah tersebut. penyerbuan ke Irak dan Afghanistan. krisis permanen ini membuat mereka tidak memiliki pilihan lain kecuali kian tergantung pada belas-kasih sang senior. Benar bahwa dengan menduduki kawasan Teluk. Realisasi kebijakan itu menemukan momentumnya dengan terjadinya serangan 11 September 2001. Dengan adanya peristiwa itu. juga sumber kekuasaan. tak berani mengambil sikap yang berpihak kepada kepentingan rakyat. seperti peran yang disandangnya di masa Perang Dingin. untuk bisa menantang kekaisaran AS ini. dari apa yang disebut Aijaz Ahmad. kemunculan para pesaing dipandang sebagai ancaman yang harus dinetralisir. AS disamping terus menjalankan perannya sebagai protektorat bagi negara-negara kapitalis inti. Hasil dari keadaan ini.yang bisa menggeser posisi AS. Bukannya melindungi kepentingan rakyat. bagi Leo Panitch dan Sam Gindin. menyebabkan para kapitalis domestik ini tidak berani mengambil jalan berbeda.‖ Tantangan Dari bawah Dengan bersandar pada analisa di atas. James Petras. serta gerakan anti-globalisasi dan anti-perang. Di sisi lain ancaman intervensi permanen melalui doktrin pre-emptive war dari AS. ―bersama kami atau menjadi musuh kami. intervensi militer (misalnya. muncul perbedaan pendapat di kalangan pengamat kekaisaran. Di matanya. Sementara itu. sebagai residivis-residivis privatefinanced-centered yang coba-coba menantang kekaisaran. kekuatan lain itu hanya diberikan pilihan. adalah dari rakyat tertindas keseluruhan. misalnya. para kapitalis domestik memainkan perannya sebagai yunior partner dan secara bersama-sama membentuk apa yang disebut oligarchy-finance-capital. Di sini.‖ Dan itu berarti. misalnya. Di sini. Pembangunan yang berorientasi ke dalam. datang dari rakyat tertindas di negara-negara pinggiran. rakyat AS telah cukup lama menikmati permen ekonomi dan juga kooptasi dan represi dari kekaisaran. AS menguasai 70 persen cadangan minyak dunia. AS tidak membutuhkan tawar-menawar dengan kekuatan di luarnya. misalnya melalui perang ekonomi (seperti Kuba) atau juga dalam bentuk keras seperti. dimana rakyatlah yang pertama-tama menanggung akibatnya.‖ Itu sebabnya. sebagai motor penggerak ekonomi kapitalis global. Maka satu-satunya penantang paling potesial terhadap kekaisaran. jika terjadi mobilisasi dari bawah yang merupakan kombinasi kepentingan-kepentingan domestik kelas terpinggirkan. tidak mungkin terwujud jika tidak dipimpin dan dikontrol oleh rakyat. Sebaliknya. serbuan itu terutama dimaksudkan sebagai sinyal agar ―jangan coba-coba menantang kami. kekuatan sosial lainnya yang tertindas. kelas kapitalis domestik Indonesia. Satu-satunya penantang serius bagi kekaisaran AS ini. misalnya. satu-satunya jalan adalah dilakukannya . jika ingin menghancurkan kekaisaran yang mesti dilakukan adalah mendorong terjadinya perubahan fundamental dalam keseimbangan kekuasaan domestik dalam kekaisaran. Dalam konteks geopolitik yang unipolar seperti inilah. kita lihat. Dan itu hanya mungkin.

2004. 11 April 2008.“The Financialization of Capital and the Crisis. McChesney. Hegemony Today. di Selatan maupun di Utara.20080121-115889. ―Pox Americana exposing the American Empire.” Monthly Review.” in John Bellamy Foster and Robert W. “China Peak Oil. “Imperialism of Our Time” Socialist Register. No.S. “The Subprime Crisis. No. Robin Blackburn. ―Pox Americana exposing the American Empire.” ―Impor Minyak Pertamina Harus Dievaluasi‖
 Senin. Robinson. John Bellamy Foster.com/hg/ekbis/2008/01/21/brk.” Socialist Register.” in John Bellamy Foster and Robert W.” Monthly Review.‖ Monthly Review Press. “Global Capitalism and American Empire.*** Kepustakaan: Aijaz Ahmad. o.” Verso. “Transnational Conflicts Central America. London. 2004. *Artikel ini sebelumnya dimuat dalam buku untuk memperingati 80 tahun Joesoef Isa .html William I. Social Change. Solidaritas universal. Vol. 11 April 2008. McChesney. Minqi Li. Michale Klare.aliansi seluruh rakyat pekerja baik. and Globalization. “U. 2004. Leo Panitch and Sam Gindin. 21 Januari 2008 | 20:49 WIB. Vol. 58. & Neoliberalism’s Demise.‖ Monthly Review Press. “The New Geopolitics. http://www. 11 April 2007. “The Financialization of Capitalism. 2004. 59. itulah kunci kemenangan rakyat pekerja terhadap kekaisaran.id.” Monthly Review. Peter Gowan.tempointeraktif. ————. 2003. Vol. 59.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful