Krisis Kapitalisme Global

Krisis Kapitalisme Global Syamsul Hadi KTT G-8 di Toyako, Hokkaido, Jepang, yang baru saja berakhir terasa istimewa dengan kehadiran para pemimpin negara berkembang, seperti China, India, Meksiko, dan Indonesia. Pernyataan di akhir KTT dapat dilihat sebagai bentuk positioning negara-negara industri maju atas isuisu yang berkembang dalam skala global. Menghadapi kenaikan harga minyak dunia, forum menyerukan dialog antara negara produsen dan konsumen guna menekan harga. Terkait krisis pangan, forum menegaskan, komunitas internasional perlu melakukan respons dan strategi yang terintegrasi guna mengatasi kelangkaan pangan, dengan program bantuan pangan dan peningkatan produktivitas pertanian. Perdebatan paling alot terjadi dalam isu perubahan iklim. Negara-negara G-8, terutama AS, menyatakan tidak bisa mencapai target pengurangan emisi 50 persen tahun 2050 jika negara berkembang yang ekonominya sedang tumbuh pesat tidak melakukan hal yang sama. Krisis finansial Perdebatan alot dalam isu perubahan iklim seolah ‖menutup‖ perhatian atas masalah krusial lain, krisis finansial global yang berawal dari krisis subprime mortgage di AS. Pernyataan bersama G-8 memang menekankan komitmen untuk melakukan stabilisasi pasar finansial, tetapi tidak disinggung masalah melemahnya nilai dollar AS atas mata uang kuat lainnya (Kompas, 10/7). Padahal, ketidakmampuan AS untuk cepat mengatasi krisis subprime mortgage mendorong spekulan mengalihkan investasi ke komoditas pangan dan energi, yang mendorong naiknya harga pangan dan minyak dunia. Keterlibatan militer AS di Irak memperparah krisis energi. Mantan spekulan George Soros menyatakan, krisis global saat ini akan cepat berakhir dengan syarat perekonomian, terutama pasar uang, diatur ketat (Kompas, 4/4). Di mata Soros, akar krisis saat ini adalah kekacauan di sektor finansial yang dimulai sejak 1980 saat Ronald Reagan dan Margareth Thatcher memelopori kampanye neoliberalisme di tingkat global. Lemahnya posisi Pemerintah AS berhadapan dengan berbagai perusahaan hedge funds dan pengelola dana investasi untuk tujuan spekulasi telah diprediksi Susanne Soderberg. Dalam The Politics of the New International Financial Architecture (2004), Soderberg menggambarkan, hubungan Pemerintah AS dengan korporasi finansial yang berpusat di Wall Street adalah seperti hubungan Dr Frankenstein dan monster pintar ciptaannya. Dengan mensponsori penerapan rumus-rumus neoliberal, Pemerintah AS menumbuhkan ‖blok‖ kapitalis finansial yang menggurita di Wall Street, yang kemudian menjeratnya dalam ketidakberdayaan dan posisi serba salah akibat besarnya dominasi perekonomian mereka. Pernyataan menteri keuangan G-8 yang bertemu di Osaka, Juni, juga tak menyinggung perlunya memperketat aturan main sektor finansial global. Pernyataan hanya menyebutkan, Financial innovation has contributed significantly to global growth and development, but in the light of risks to financial stability, it is imperative that transparency and risk awareness be enhanced. Poin tentang sistem finansial ada di bagian terakhir statement bersama dan paling pendek dibandingkan poin-poin pernyataan terkait harga komoditas, perubahan iklim, dan pembangunan Afrika. Pertumbuhan tanpa batas? Dalam konteks perubahan iklim, upaya Jepang membuka jalan bagi penyusunan traktat internasional

baru menggantikan Protokol Kyoto yang habis masa berlakunya tahun 2012 pada KTT ini tidak berhasil. Memang dicapai ‖komitmen umum‖ untuk pengurangan emisi pada tahun 2050, tetapi tidak dicapai kesepakatan tentang bagaimana target itu secara spesifik harus dicapai. Pernyataan G-8 hanya menyatakan, tiap anggota G-8 akan menyusun target masing-masing untuk periode jangka menengah setelah tahun 2012. Menanggapi hal ini, para pemimpin China, India, Brasil, Afrika Selatan, dan Meksiko membuat pernyataan bersama yang menolak kewajiban tiap negara mengurangi emisi 50 persen dengan menekankan kewajiban negara maju memulai langkah-langkah nyata ke arah itu. Para aktivis lingkungan juga mengecam keengganan negara G-8, terutama AS, untuk memberi komitmen nyata dan mengikat terkait pemanasan global. Data Greenpeace International menunjukkan, meski hanya dihuni 13 persen populasi dunia, negara G-8 memproduksi 80 persen emisi di atmosfer dan 40 persen emisi CO>sub<2>res<>res<. Komitmen ‖samar-samar‖ yang diberikan G-8 dinilai tak sebanding dengan dampak perubahan iklim dan global warming yang menimbulkan dampak berantai berupa kekeringan dan bencana alam di dunia. Penurunan emisi karbon akan menurunkan pertumbuhan ekonomi, tetapi amat penting menjaga kelestarian alam dan penghidupan di bumi, yang memperburuk kualitasnya karena industrialisasi dan eksploitasi alam nyaris tanpa batas. Perbedaan pendapat dalam isu pemanasan global menunjukkan dominasi berkelanjutan paradigma pembangunan pertumbuhan ekonomi atas paradigma pembangunan berwawasan lingkungan. Sulitnya menyatukan langkah dalam mengatasi aneka masalah serius dalam krisis global saat ini seakan membenarkan prediksi Karl Marx, ‖krisis berkelanjutan‖ dalam sistem kapitalisme global senantiasa bersumber dari kecenderungan melakukan akumulasi kapital yang tak kenal batas. Syamsul Hadi Pengajar Departemen Hubungan Internasional FISIP-UI

Krisis Kapitalisme Global
Oleh Eric Hiariej

Search :

SEORANG sejarawan ekonomi non-marxis, Karl Polanyi, pernah berteori tentang gagalnya demokrasi di Eropa sepanjang dekade 1930-an. Dalam bukunyaThe Great Transformation, Polanyi berargumen kegagalan tersebut bersumber pada praktik self-regulating market yang sengaja memisahkan aktivitas ekonomi dari masyarakat, sembari menciptakan sistem produksi yang dominan dan menentukan kehidupan sosial sehari-hari. Praktik semacam ini tidak punya preseden historis karena sebelumnya konsep dasar ekonomi sekalipun tidak diperdebatkan secara terpisah dari human action. Baru setelah revolusi industri, gagasan tentang ekonomi yang independen terhadap masyarakat diterima sebagai keniscayaan. Praktik self-regulating market pada dasarnya membawa perubahan radikal dalam hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan manusia dengan barang yang diciptakannya. Alam sebagai tempat manusia hidup, berkembang dan berinteraksi berubah menjadi natural asset yang nilainya tidak lagi ditentukan tradisi, sejarah atau kepentingan bersama, melainkan diukur berdasarkan keseimbangan antara tingkat kelangkaan dan kebutuhan produksi. Dalam hubungan produksi; upah, gaji dan insentif menggantikan reprositas dan jaminan sosial dalam interaksi sosial antarsesama manusia. Sedangkan uang yang menjadi alat pertukaran dalam kerangka reprositas dan jaminan sosial, berkembang menjadi komoditas berharga yang bukan saja bisa diperjualbelikan, tapi juga berangsur-angsur mendominasi manusia yang menciptakannya. Tegasnya, self-regulating market melakukan kapitalisasi terhadap alam, manusia, dan barang, mengubahnya menjadi komoditas yang bisa mendatangkan keuntungan. Ketika menjadi komoditas; alam, manusia, dan barang tercerabut dari akar-akar sosialnya, menjadi sebatas harga sewa, upah, dan bunga. Dengan lain perkataan, praktik self regulating market menciptakan-meminjam Marx-fetisisme kehidupan sosial. Dalam kehidupan sosial yang fetisis masyarakat terbelah dua menjadi kelompok yang lebih beruntung karena mengendalikan kapitalisasi dan komodifikasi, dan kelompok yang merugi yang tidak memiliki akses ke faktor-faktor produksi. Kelompok merugi juga merupakan manusia-manusia yang "terasing" dari "kemanusiaannya" yang dieksploitasi kelompok beruntung atas nama "pertumbuhan ekonomi". Dickens menggambarkan situasi semacam ini sebagai social and moral breakdown, sedangkan Disraeli menyebutnya dengan the fracturing of society into 'two nations'.

Berita Lainnya :

• Bung Hatta Diadili • Kesehatan Reproduksi di • Kawasan Krisis Timur Kapitalisme • Global Perempuan dan Minuman • Botol POJOK • REDAKSI YTH

• TAJUK RENCANA

dan di Jerman dengan tampilnya Bismark. *** TAMPAKNYA. economies of scope. melindungi transaksi ekonomi dari perilaku yang melenceng. setelah berakhirnya PD II. di wilayah politik melalui perjuangan menuntut demokrasi yang dilakukan kelompok sosial marginal. terutama. seraya membenahi efek-efek sosial negatif yang ditimbulkan kapitalisasi dan komodifikasi. Kebijakan Keynesian disingkirkan oleh model ekonomi neo-liberal yang antiintervensi negara. Seperti yang diperkirakan. dan menjaga nilai uang sebagai media pertukaran. pengangguran dan menurunnya investasi di negara-negara berkembang. kubu konservatif melalui Thatcher di Inggris dan Reagan di Amerika berhasil menguasai pemerintah. Tapi. Yang jelas. praktik ekonomi ini melahirkan double movement dalam sebuah dialektika historis. proderegulasi dan menghendaki perdagangan bebas. Karenanya. Pada fase berikutnya. upaya merebut kembali kendali ekonomi berhasil melembagakan dirinya dalam Fordisme dan kebijakan ekonomi Keynesian. sembari membentuk kekuatan bersama melawan kelas menengah-bawah. penerapan pasar bebas di masa-masa itu terjadi bersamaan dengan tampilnya "negara kuat" di beberapa tempat. Globalisasi ekonomi juga menciptakan double movement. Pada fase pertama. Masih menurut Polanyi. dengan bertebarannya gerakan-gerakan anti-globalisasi di berbagai belahan dunia. Sebaliknya. Fordisme dan kebijakan Keynesian kemudian berhasil memberikan demokrasi dan kesejahteraan ekonomi. Fordisme digantikan sistem produksi (yang kemudian disebut) PostFordisme yang lebih menekankan fleksibilitas. Upaya ini dilakukan.Menurut Polanyi. Cerita globalisasi ekonomi bermula dari krisis ekonomi di awal 1970-an. negara berperan besar menjamin property rights. . paling tidak untuk negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Utara sampai awal dekade 1970-an. Negara juga harus kuat agar mampu menahan gempuran kelas bawah dari kota maupun desa. Di saat bersamaan. berubah menjadi inflasi. perjuangan demokratisasi di fase kedua memperoleh tantangan dari Fasisme dan Stalinisme. masyarakat berangsur-angsur merebut kembali kendali atas kehidupan ekonomi. terjadi upaya membebaskan ekonomi dari kontrol masyarakat yang merusak ikatan-ikatan sosial dan menciptakan konflik kelas. self-regulating market tidak datang dengan sendirinya. Menjawab krisis yang sedang menganga. penumpukan produksi. Situasi tersebut masih diperparah dengan meningkatnya harga bahan bakar minyak dan perlombaan senjata Amerika dan Soviet yang menguras banyak modal. keduanya mengampanyekan bringing the market back in. sembari menciptakan fetisisme kehidupan sosial jilid dua. Di Inggris semenjak 1840. argumentasi Polanyi belum terlalu usang untuk menjelaskan "globalisasi ekonomi" yang melanda dunia sejak dekade 1980-an. aristokrasi pemilik tanah dan borjuis berkoalisi untuk menguasai pemerintah. Fordisme dan kebijakan Keynesian melewati masa emasnya. Globalisasi ekonomi itu sendiri tak lain dari self-regulating market dalam penyamaran yang kembali membebaskan dirinya dari kontrol masyarakat. Sedangkan di Perancis self-regulating market diikuti dengan second empire dari 1851-1871. sistematisasi produksi dan sistem kerja self-employment.

mempermasalahkan globalisasi karena mudahnya perpindahan manusia melampaui batas teritori membawa kerugian sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat. Gerakan fundamentalisme mengedepankan "agama" sebagai solusi terbaik untuk mengembalikan kontrol sosial atas ekonomi. Seperti yang diduga. self-regulating market melahirkan milyuner semacam Bill Gate di tengah-tengah buruh-buruh pabrik sepatu yang tertindas di Tangerang. agama. dan World Bank. globalisasi ekonomi melahirkan disparitas. Oleh karena itu. dan Genoa. privatisasi perusahaan negara. Lalu. deregulasi ekonomi. melalui structural adjustment program. Washington. menciptakan individualisasi proses produksi ketika kontribusi buruh terhadap produksi dihitung sendiri-sendiri berdasarkan kontrak individual. sekurangnya terdapat tiga macam gerakan perlawanan. Akibatnya. Banten. tapi juga menentang kekuatan politik (terutama pemerintah Amerika) yang membentengi globalisasi. Melbourne. dan anti-globalisasi. liberalisasi perdagangan. selfregulating market jilid dua ini menciptakan kesenjangan global. yakni fundamentalisme. melancarkan investasi asing. Kebijakan-kebijakan neo-liberal pada awalnya menyebar ke Eropa Barat dan Jepang. Globalisasi ekonomi. Gerakan ini. mengurangi belanja publik. buruh maupun petani berunjuk rasa menolak Uni Eropa. produksi. IMF dan World Bank mengekspor "Washington Consensus" ke negara-negara berkembang. di antaranya. para petani melalui pemberontakan Chiapas menentang perdagangan bebas ala Nafta. Panduan ini berisi kebijakan-kebijakan semacam menjamin disiplin fiskal. berbagai bentuk perlawanan muncul di mana-mana. Perbedaan sosial semakin menajam dan terpolarisasi ketika yang kaya bertambah kaya. IMF. Kemudian. Globalisasi ekonomi kemudian tanpa bisa dibendung menjelma menjadi ekspansi pasar bebas ke seluruh dunia dan aspek kehidupan. dan negara.Selanjutnya. Di Meksiko. Nasionalisme merupakan bentuk perlawanan yang ingin meraih kendali kehidupan ekonomi melalui purifikasi bangsa. Di Eropa. kadar eksploitasi juga meningkat pesat. kelas. kemajuan teknologi memungkinkan pemilik kapital merelokasi usahanya ke tempat yang paling menguntungkan. kekuatan buruh untuk melawan kondisi kerja yang buruk secara kolektif menjadi berkurang. reformasi pajak. dan perlindungan terhadap property rights. Gerakan ini bukan saja melawan ideologi dominan (neo-liberalisme) di balik self-regulating market. liberalisasi finansial. Di Seattle. mendorong nilai tukar yang kompetitif. Nasionalisme juga ingin mengembalikan (kejayaan) negara-negara yang diterjang habis-habisan . melalui pendalaman kapitalisasi dan komodifikasi di sektor perdagangan. Pertama-tama. kelompok Neo-Nazi. seraya mengintegrasikan berbagai tingkatan yang berbeda dari setiap aktivitas nilai tambah dalam sebuah jaringan global. dan finansial. berdemonstrasi menolak WTO. Jika dikategorikan. Post-Fordisme dan ekonomi neo-liberal dibakukan dalam "Washington Consensus" yang tak lain dari panduan mengembangkan self-regulating market bagi seluruh negara di dunia. nasionalisme. di antaranya. sedangkan yang miskin bertambah melarat. Pendek kata. globalisasi menciptakan New International Divison of Labour berdasarkan perbedaan produk suku-cadang dalam sebuah sistem produksi global. berbagai kelompok sosial lintas etnik. Sedangkan di sektor finansial. kebebasan perpindahan uang mencari lokasi yang paling menguntungkan menjadikan uang itu sendiri sebagai komoditas yang mendatangkan keuntungan. Sementara di sektor produksi. Di sektor perdagangan. dan orang-orang Afrika yang sekarat karena kelaparan di Somalia. Chiangmay.

dibanding dua gerakan lainnya. Namun. jika fundamentalisme atau nasionalisme yang berhasil mendominasi. resistensi terhadap ekspansi pasar bebas tidak cukup kuat untuk memenangkan pertarungan. . Tampaknya. ujung dari krisis ini bisa jadi bukan demokrasi. yang tak lain dari Fordisme dan kebijakan Keynesian yang bertumpu pada kompromi kebutuhan kesejahteraan buruh dan kepentingan akumulasi kapital pemilik modal melalui. Belum lagi gerakan ini masih harus berurusan dengan fundamentalisme dan nasionalisme yang memiliki proyeksi dunia masa depan yang berbeda (dan bisa jadi bukan demokrasi).oleh self-regulating market. peneliti pada Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM. Polanyi juga mengingatkan. Lebih gawat lagi. Boleh dibilang pertemuan Davos yang melibatkan beberapa NGO yang sangat moderat tidak akan berlangsung jika tidak diawali sebelumnya dengan demonstrasi di Seattle. Sementara itu. yang terjadi adalah krisis global. Eric Hiariej Staf Fisipol UGM. menghendaki kebebasan politik maupun keadilan ekonomi. "demokrasi" baru bisa menang (di Eropa Barat dan Amerika Utara) setelah beraliansi dengan Stalinisme untuk mengalahkan Fasisme dalam PD II. gerakan anti-globalisasi lebih dekat dengan ide-ide demokrasi. Yang menarik. Gerakan ini menganggap globalisasi ekonomi merupakan sumber kemiskinan dan kesenjangan sosial dunia kontemporer. situasinya menjadi stalemate. praktik welfare state. baru itu saja kekuatan gerakan anti-globalisasi. dan peneliti Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta. gerakan-gerakan perlawanan ini belum juga berhasil mengakhiri self-regulating market. Gerakan ini memperjuangkan kepentingan kelas tertindas. "kemenangan demokrasi" masih harus diperjuangkan. di antaranya. Sementara globalisasi ekonomi mulai sempoyongan karena gagal memenuhi janjinya memberikan kesejahteraan. antiglobalisasi adalah gerakan perlawanan terhadap kapitalisme global. self-regulating market akan berakhir dengan "demokrasi". Sebaliknya. Sejauh ini gerakan antiglobalisasi sudah memberikan perlawanan yang berarti. menuntut inklusi politik yang lebih luas dan juga partisipasi masyarakat dalam kehidupan ekonomi dan sosial sehari-hari. Ironinya. sekalipun Post-Fordisme dan kebijakan ekonomi neo-liberal terbukti mengandung krisis-krisis bawaan. Sementara globalisasi ekonomi mulai dipertanyakan dan ditentang. Praktis. kemenangan "demokrasi" berada di bawah bayang-bayang ancaman Fasisme dan Stalinisme. Akan tetapi. *** BERDASARKAN cerita Polanyi.

pelaksanaan. reformasi melahirkan sistem pembagian kekuasaan yang mulai terdistribusi antara pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah. masyarakat diharapkan memiliki daya tahan dan daya adaptasi yang tinggi agar mampu menjalani kehidupan masa depan dengan sukses. Pemberdayaan Masyarakat.Konsep dan Metode Pemberdayaan Masyarakat Indonesia 17 June 2008 in Psikologi. pemerataan. pengambilan keputusan dalam perencanaan. Saat ini pelaksanaan otonomi daerah telah melahirkan perubahan yang cukup signifikan. bahwa daerah menjadi pengambil kebijakan sentral dalam mengatur dan mengurus pemerintahannya sendiri menurut asas otonomi dan tugas pembantuan (medebewind) serta diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. keadilan. Menurut Prof. serta penuh dengan kreativitas. berpartisipasi aktif. Salah satu kendala yang dipaparkan oleh Ginandjar Kartasasmita adalah kurangnya kreativitas dan partisipasi masyarakat secara lebih kritis dan rasional. Untuk mencapai tujuan pembangunan masyarakat agar lebih berdaya. dan peran serta masyarakat serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi. Namun dalam prakteknya otonomi daerah masih menghadapi kendala yang harus segera dicarikan jalan keluarnya atau penanganannya secara sungguh-sungguh. Kepemimpinan Indonesia. Psikologi | Reformasi yang telah bergulir sejak tahun 1998 memberikan dampak yang luas pada perubahan sistem pemerintahan. Di tengah era globalisasi yang serba cepat. dan kekhususan suatu daerah dalam sistem NKRI. terutama berhubungan antarpelaku pembangunan. Komitmen ini telah . Ginandjar Kartasasmita. Jika pada era Orde Baru kekuasaan sangat bersifat sentralistik. dan 18B. dan pengawasan pembangunan. pemikiran anak muda | Tags: Appreciative Inquiry. pemberdayaan. Hal ini terwujud dalam Sistem Desentralisasi yang secara legal dilahirkan lewat UndangUndang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian menyebabkan Perubahan Kedua UUD 1945 seperti tertuang pada Bab VI Pemerintahan Daerah pasal 18. Community Development. keistimewaan. Ketua DPD RI. ―Perubahan aturan main mengenai pemerintahan daerah merupakan afirmasi-konstitusi. 18A. Perubahan aturan negara seperti di atas menempatkan daerah menjadi aktor sentral dalam pengelolaan republic yaitu dalam prinsip otonomi dengan desentralisasinya. pemerintah melontarkan komitmen yang berlevel internasional.

Afrika Selatan.ditandatangani dalam KTT Millenium PBB pada tahun 2002 bersama 189 negara lainnya. kenaikan harga BBM misalnya. Dengan demikian individu. dan penuh dengan kejutan. Apalagi melihat kenyataan. HDI atau IPM Indonesia yang diukur dari pendapatan riil per kapita. dengan tujuan pertama adalah mengatasi dan/atau memberantas kemiskinan dan kelaparan (United Nations. walaupun pada tahun 2006 terdapat peningkatan ranking ke 110 (UNDP. Dalam deklarasinya negara peserta menerapkan Tujuan Pembangunan Milenium atau Millennium Development Goals (MDGs). terdapat 8 (delapan) tujuan (goal) yang hendak dicapai sampai tahun 2015 oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia. atau mengambil kendali perubahan. yang merupakan perubahan disektor ekonomi dan . dan dunia sebagai totalitas. membuat semakin sulit bagi seorang individu untuk menghadapi perubahan sendirian. Dengan demikian. namun dalam Human Development Report 2007 yang dikeluarkan oleh UNDP. ternyata peringkat Indonesia masih berada di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya. Kendati Indonesia ikut serta dalam kesepakatan global melaksanakan MDGs untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dicanangkan PBB sejak 2000. tingkat melek huruf dan kualitas pendidikan dasarnya. yang juga telah ditandatangani oleh pemerintah Indonesia untuk menjadi acuan dalam melaksanakan pembangunan di Indonesia dengan target memberantas kemiskinan pada tahun 2015. 2000). tingkat harapan hidup. menyesuaikan diri. Dimana pemerintah dan semua perangkatnya dalam semua level. Hasil deklarasi tersebut kemudian dituangkan dalam dokumen ”Rencana Pelaksanaan KTT Pembangunan Berkelanjutan”. 2007). September 2002. baik pemerintah pusat. menunjukkan bahwa kualitas manusia Indonesia makin memburuk dalam 10 tahun terakhir. kelompok atau komunitas harus melakukan berbagai upaya untuk ikut berubah. terkecil sekalipun. era ini merupakan kehidupan yang bercirikan perubahan yang cepat. Dalam laporan tersebut. Peringkat Indonesia dari tahun ketahun selalu menurun dari 110 menjadi peringkat 112 dari 175 negara yang dinilai UNDP (2003). Sebagaimana kita alami. kabupaten/kota bersama-sama dengan berbagai unsur masyarakat memikul tanggungjawab utama untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan sekaligus memberantas kemiskinan yang terjadi di Indonesia paling lambat tahun 2015. penuh resiko. Komitmen semua negara di dunia untuk memberantas kemiskinan ditegaskan dan dikokohkan kembali dalam ”Deklarasi Johannesburg mengenai Pembangunan Berkelanjutan” yang disepakati oleh para kepala negara atau kepala pemerintahan dari 165 negara yang hadir pada KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg. kompleks. Di sisi lain interdependensi antara komunitas. Dalam MDGs tersebut. pemerintah Indonesia telah membuat komitmen nasional untuk memberantas kemiskinan dalam rangka pelaksanaan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). provinsi.

CD adalah bekerja bersama masyarakat sehingga mereka dapat mendefinisikan dan menangani masalah. CD tidak bertujuan untuk mencari dan menetapkan solusi. 2005).energi akan mempengaruhi sector kehidupan yang lain. 2000.. seperti untuk mengubah budaya sebuah organisasi. mengarahkan proses merger dan akusisi dan menyelesaikan konflik. tetapi tidak tertutup kemungkinan terjadinya situasi saling menyalahkan atas masalah yang terjadi. 2001). serta penerapan cara pemecahan tersebut. Pengembangan otonomi daerah yang diarahkan pada partisipasi aktif dari masyarakat sangat sesuai dengan konsep yang ditawarkan oleh CD. Appreciative Inquiry digunakan untuk memberdayakan komunitas pinggiran. . mendukung pembangunan berkelanjutan. penyelesaian cara pemecahan yang tepat. perubahan kota. dan pengembangan kualitas hidup masyarakat (United States Departement of Agriculture. pendekatan Strengh Based (Berbasis kekuatan) dengan sebuah produk metode Appreciative Inquiry terpusat pada potensi-potensi atau kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh individu atau organisasi untuk menjadikan hidup lebih baik. Pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari sudut pandang Deficit based dan Strength Based.. Appreciative Inquiry menjadi sangat populer dan dipraktekkan di berbagai wilayah dunia. menciptakan pembaharuan organisasi. melakukan transformasi komunitas. dan menciptakan perdamaian. serta terbuka untuk menyatakan kepentingankepentingannya sendiri dalam proses pengambilan keputusan (StandingConference for Community Development. membangun pemimpin religius. Di sisi lain. Pendekatan Deficit-based terpusat pada berbagai macam permasalahan yang ada serta cara-cara penyelesaiannya. CD adalah sebuah proses pembangunan jejaring interaksi dalam rangka meningkatkan kapasitas dari sebuah komunitas. 2004). 2000. Dalam sepuluh tahun terakhir. Dalam bidang sosial. Fry dkk. 2002. pendekatan ini bisa menghasilkan sesuatu yang baik. Appreciative Inquiry merupakan sebuah metode yang mentransformasikan kapasitas sistem manusia untuk perubahan yang positif dengan memfokuskan pada pengalaman positif dan masa depan yang penuh dengan harapan (Cooperrider dan Srivastva. Cooperrider dkk. 1987. Kesesuaian antara kebijakan pemerintah dengan konsep pemberdayaan masyarakat seperti CD ini membutuhkan pendekatan yang tepat dalam mengimplementasikannya. struktur penyelesaian masalahatau menghadirkan pelayanan bagi masyarakat. dalam Gergen dkk. Dalam pelaksanaannya. Keberhasilannya tergantung pada adanya identifikasi dan diagnosis yang jelas terhadap masalah. lahir sebuah konsep pemberdayaan komunitas yang disebut Community Development (selanjutnya disebut CD). Sejak tahun 1960. Ludema dkk.

Makalah : Community Development dan Nilai-Nilai yang Mendasari. pukul 11. 2002. Sjafri. pukul 11. Strategic Framework for Community Development. http://ocdi. 2006. Bandung. http://www.ekonomirakyat. Community Development Technical Assistance: Handbook. Makalah: Dewan Perwakilan Daerah dan Otonomi Daerah. Disampaikan pada Seminar Nasional. Dipresentasikan pada Temu Ilmiah Dalam Rangka LUSTRUM IX Fakultas Psikologi Unpad. & Whitney D. Ginandjar.com/doc/732997/laporanlokakaryaAIlowres (Diakses pada 29 Mei 2008.scribd.28) http://www.org/ M. 1. Theresiah.wordpress. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. L.Sumber: Buku Cooperrider D. pp. Tahun 2006 Internet http://appreciativeorganization.gov http://www.org.50) Standing Conference for Community Development (2001).uk United States Depatment of Agriculture (2005).sccd. 2-3) Sairin. 17 Mei 2008. Institut Teknologi Bandung (ITB) Dalam Rangka Memperingati Seratus Tahun Kebangkitan Nasional. Makalah Kartasasmita.usda. Lubis.com/2007/08/08/bedah-kasus-appreciative-inquiry-instrategic-planning/ (Diakses pada 26 Mei 2008. Husein Sawit 22 spt 2008 USULAN KEBIJAKAN BERAS DARI BANK DUNIA: RESEP YANG KELIRU ABSTRAK . Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia. A Positive Revolution in Change: Appreciative Inquiry (Vol.

belum belajar dari kekecewaan masyarakat Indonesia atas keambrukan ekonomi. pemerintah daerah. bahwa kemiskinan di negera-negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan pangan. Disamping itu. bukan melihat kemiskinan manusia yang bersifat struktural dan kronis. Itu akibat dari peri laku mereka sebagai salah satu lembaga perusak ekonomi. apalagi oleh lembaga asing yang kurang memahami rumah tangga petani dan masyarakat desa secara mendalam. dan peneliti dalam merancang kebijakan publik. serta akan selalu dipersoalkan . terutama yang dikaitkan dengan kemiskinan. Yang benar adalah gerakan sektor riil. tidak boleh didikte oleh peneliti. Lembaga ini telah lama mengeritik dan menintervensi sejumlah kebijakan pembangunan ekonomi. agar Indonesia menempuh privatisasi lembaga pangan. Sebelumnya. serta terlalu banyaknya sumberdaya alam. peran masyarakat dalam proses penyusunan kebijakan publikseperti kebijakan beras. Kebijakan beras itu adalah domain kebijakan publik. sehingga mereka tidak nyaman bekerja. kurang dukungan Pemda. tentang cara-cara menyusun kebijakan publik di era demokrasi. tidak kredibel di mata masyarakat luas di Indonesia. Dalam makalah ini dibahas tentang kelemahan cara pandang Bank Dunia terhadap kebijakan beras di Indonesia. Bank Dunia semakin sering mengeritik pemerintah tentang kenaikan harga beras. pasar dapat menyelesaikan instabilitas harga. seperti Bank Dunia. DPR. dan liberalisasi impor. ini akibat dari reputasi mereka masa lalu. baik terbuka maupun tertutup. Industri padi/beras adalah salah satu diantaranya. Kebijakan beras harus mendapat dukungan luas dari masyarakat sipil. apabila saran-saran mereka diterapkan pemerintah. kelakuan Bank Dunia belum banyak berubah di era desentralisasi dan demokrasi. Mereka yakin sekali. apalagi ahli asing. termasuk ekonomi Indonesia (Perkin 2004). Pada era sentralisasi Orba. tidak boleh didikte oleh segelintir para ahli. DPR/DRPD.Kebijakan perberasan Indonesia telah menjadi perhatian buat sejumlah lembaga internasional. Domain Publik bukan Domain Peneliti Bank Dunia seharusnya memahami benar. Seharusnya yang diberi peran besar adalah masyarakat sipil. Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi pembangunan. ciptakan lapangan kerja. Bank Dunia terpaksa harus menghilangkan atribut Bank Dunia di kantor di mana proyek mereka ada. Sebaik apapun saran Bank Dunia.haruslah lebih besar. serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor pertanian di mana penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya. Bank Dunia semakin aktif melobi dan menawarkan resep buat pemerintah. dan bias jangka pendek. Pendahuluan Sejak akhir 2006. mendorong agar swasta diperankan sebagai stabilisator harga dalam negeri. hampir setiap hari ada saja demonstrasi ke kantor proyek Bank Dunia. Akhir-akhir ini. perbankan dikuasai oleh perusahaan asing. partai politik. masyarakat Indonesia pasti mencurigainya. diperkirakan itu akan sulit diimplementasi di lapangan. termasuk kebijakan perberasan. para teknokrat dan birokrat –dibantu oleh tenaga ahli asing. Pendapat Bank Dunia termasuk juga berbagai hasil penelitiannya. Kelemahan itu mencakup pengukuran kemiskinan yang terlalu sempit. maupun kemiskinan (World Bank 2007). Tujuan makalah ini adalah untuk menilai kelemahan cara pandangan yang bias tentang kebijakan beras Bank Dunia. Namun dalam era demokrasi. Lembaga pemerintah seperti Bulog dianggap tidak becus dalam melaksanakan fungsinya. Bukan membuat harga beras murah. Itu bukan lagi menjadi domain peneliti. Perilaku Bank Dunia di Indonesia tampaknya belum berubah. Tampaknya. melepas cadangan beras nasional ke swasta. terjerat hutang luar negeri.berperan besar dalam mendikte kepentingan masyarakat banyak. Di Makasar misalnya. Pemda. Itu konsep pengentasan kemiskinan yang keliru. apabila kurang dukungan publik.

Data SUSENAS haruslah dianalisa dengan hati-hati dalam kaitannya dengan estimasi produksi musiman dan pengeluaran musiman.33 Ha. sebagian besar petani padi adalah net konsumen. Namun. Namun mereka mencoba mempengaruhi sejumlah menteri ekonomi yang beraliran neo liberal.35 Ha. banyak studi tentang padi/beras yang telah dilakukan oleh para ahli bangsa Indonesia. SUSENAS menaksir tahunan berdasarkan hasil penelitian seminggu. dan 0. data SUSENAS BPS memperlihatkan sebaliknya. hasil studi intensif yang dilakukan oleh Sumaryanto dkk (2002) di DAS Brantas dilaporkan sebaliknya.6 57. Pandangan ini adalah keliru. Per kapita konsumsi beras oleh petani miskin dan petani tidak miskin di DAS Brantas.5 Petani Miskin % RT Tidak Kg. mereka menghindari diskusi terbuka dengan masyarakat luas (civil society) atau dengan para pakar Indonesia di luar kubu mereka. Bank Dunia juga rajin menyampaikan gagasan perubahan kebijakan beras pada berbagai forum sejak akhir 2006. kemudian dikalikan menjadi tahunan. ada power point tentang kebijakan beras Bank Dunia disiapkan untuk SBY. Ini keterlaluan./ kapita Hulu 42. hanya 3-4 literatur yang ditulis oleh orang Indonesia asli. MK1 (musim kemarau pertama) dan MK2. Table 1. Mereka melaporkan bahwa konsumsi per kapita sebesar 107 Kg/kap/tahun (Table 1). Net Konsumen? Data Susenas vs data Tingkat Usahatani Bank Dunia mengatakan bahwa telah terjadi kenaikan jumlah orang miskin yang cukup serius sejak harga beras naik. Wilayah Petani % RT Miskin Kg. tetapi diabaikan tanpa dipakai sebagai bahan rujukan. Para petani mengelola usahatani padi untuk MH. Bank Dunia langsung menyampaikan gagasannya ke tingkat pengambilan keputusan tentang kebijakan beras ke Kantor Menko Perekonomian atau ke sejumlah menteri lain yang sealiran dengan Bank Dunia. baik dengan cara mengundang sejumlah ahli Indonesia ke markas mereka di Jakarta.oleh DPR/DPRD. belum termasuk konsumsi tidak langsung seperti makan di warung. Namun. seolah-olah terjadi sepanjang tahun. Ini menunjukan juga bagaimana miskinnya Bank Dunia dalam memahami pikiran para ahli Indonesia. Penulis juga kaget. pesta. seperti di lembaga PBB (CAPSA) di Bogor. khususnya padi di Indonesia.23 Ha per petani.6 . Atau mengadakan seminar di luarnya. Padahal. Luas ini adalah umum dijumpai pada usahatani pangan. Dari total hampir 100 jumlah literatur. dan defisit hanya pada MP (musim paceklik). Data itulah yang dipakai Bank Dunia untuk mempertahankan argumentasinya. Hasilnya adalah defisit produksi (net consumer). karena sebagian besar petani adalah net konsumen. Pola panen padi adalah musiman. Kebijakan beras yang mereka susun itu (Bank Dunia 2007) melulu mengacu ke literatur asing./ Kapita 114. tempat kerja dll./ Kapita 120. Itu buruk buat penduduk miskin. masing-masing seluas 0.5 120 HHTOTAL Kg.5 106. 0. mereka surplus pada MPR (musim panen raya) dan MPG (musim panen gadu). Tetapi. Ini adalah jumlah yang dikonsumsi langsung oleh rumah tangga tani. Jawa Timur: 1999/2000.

atau hanya net konsumen di musim paceklik (MK2). Mereka tidak menilai peran pangan.2 105.9 103. namun negatif pada MK2. distribusi pendapatan. Kita jangan mengorbankan kepentingan jangka panjang. Kalau suatu industri yang erat kaitannya ke depan dan kebelakang.0 43. industri padi/beras harus dilihat dengan hati-hati dan bijaksana. Pada MK2.3 Note: RT=Rumah tangga Sumber: Sumaryanto dkk (2002) Rataan produksi padi sekitar 462 Kg/kapita/tahun. Oleh karena itu.6 107. 1) Marketable surplus adalah produksi dikurangi konsumsi rumah tangga yang sedang dipelajari Terabaikan Peran Non-Food Services Seterusnya. Harga beras yang berlaku di pasar belum memperhitungkan non-food services yang ia berikan ke publik (Dillon dkk 1999). maka industri itu harus dianalisa keterkaitannya yang luas. bahwa padi/beras adalah industri kunci dalam pembangunan. tidak dianalisa secara parsial. tidak mampu menutupi ongkos produksi.1 48. Oleh karena itu. pengangguran tinggi. Peningkatan produktivitas dan efisiensi. banyak petani tidak tanam padi karena kekurangan air. khususnya pembangunan perdesaan. dipaksakan untuk keluar . Insentif harga dan non-harga akan saling memperkuat. jangan bias ke jangka pendek. laporan Bank Dunia (2007) itu juga terlalu sempit dalam melihat industri beras yaitu hanya sebagai industri penghasil padi/beras untuk tujuan komersial belaka. khususnya beras yang menghasilkan non-food services.1 107. Seperti yang telah dibahas sebelumnya. Itu hanya cara hitung menghitung. merupakan cara pandang sempit. sebagai salah satu insentif buat pelaku usaha.7 107. Kembali ke harga. namun itu bukanlah satu-satunya insentif buat mereka.Tengah Hilir Total 53. Oleh karena itu.9 51. amat jangka pendek dan ad hoc sifatnya. Marketable surplus di musim hujan lebih tinggi dari MK1. bukan saling menggantikan. kemiskinan jangka panjang dapat dikurangi secara berkelanjutan. stabilitas ekonomi. Tingkat kemiskinan yang dikaitkan dengan harga beras.2 101. sehingga luas usahatani merosot (Sumaryanto dkk 2002). asumsi net konsumen untuk petani padi adalah tidak didukung oleh data empiris. Keredupan ini. Kita tidak boleh menghambat suatu industri yang punya keunggulan komperatif. insentif non-harga tidak ampuh manakala harga gabah/beras terlalu rendah. tidak dengan sendirinya akan tergantikan oleh komoditas lain. sekiranya non-food services itu diperhitungkan. manakala industri beras/padi redup.2 47. tidaklah tepat untuk mengasumsikan bahwa semua petani sempit sebagai net konsumen sepanjang tahun.7 109. Yang benar adalah mereka net produsen pada dua musim pertama. itu terkait dengan non-price incentive. seperti hortikultura. Itu menyangkut stabilitas politik. Oleh karena itu. Terungkap adanya marketablesurplus 1) sekitar 354 Kg/kap/tahun. penyerapan tenaga kerja. menyerap tenaga kerja yang begitu besar. Adalah hampir tidak mungkin. hanya sekedar untuk mencapai kepentingan jangka pendek. merupakan insentif lain yang tidak boleh dibaikan. terutama di perdesaan. Keputusan konsumsi dan pengeluaran bergantung pada asumsi itu. Konsumen seharusnya perlu membayar harga beras lebih tinggi dari tingkat harga pasar.3 102.0 56.5 200 160 480 105.

Ia juga mengatakan bahwa adalah keliru kalau memfokuskan pengentasan kemiskinan dari sisi pengeluaran dan harga. 23%. karena infrastruktur pemasaran dan distribusi yang masih amat lemah. Perdagangan tentu tidak dapat menyelesaikan semua itu. Yang terjadi adalah peningkatan kemiskinan dan pegangguran di perdesaan Mexiko. Itu mengingatkan pengalaman Mexiko dalam meliberalisasi komoditas jagung sebagai makanan utama mereka. ternyata jumlah orang miskin tetap tidak berkurang secara signifikan. tetapi tidak menyembuhkan penyakit itu sendiri. yang belum tentu penyebab inflasi itu sendiri. apalagi kemiskinan. Sebagian juga bermigrasi ke AS (IATP 2007a dan Albert 2004). dan 2003. karena pemerintah belum menyiapkan infrastruktur yang layak untuk itu. telah dibahas dengan baik oleh Sugema (2006). Perkotaan akan menerima beban dan akibatnya. akan berisiko tinggi dan instabilitas harga yang besar. maka risikonya menjadi besar. pada saat harga beras naik. Harga beras adalah komponen inflasi. Penyebab inflasi tidak sama dengan komponen inflasi. Namun. Insentif harga adalah salah satu yang tidak boleh diabaikan untuk itu. sama saja memberi obat penghilang rasa rasa sakit sementara (pin killer). Namun petani Mexiko tidak beralih ke tananam kentang. bahwa kemiskinan di negera-negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan pangan. Ia mengatakan bahwa Bank Dunia keliru dalam menyimpulkan hubungan itu. Pada situasi pengangguran tinggi dan penggangguran tidak kentara di desa amat menonjol. Penanganan kentang berbeda dengan jagung. Demikian juga. Penyakit utama adalah lapangan kerja yang terbatas. Itu konsep pengentasan kemiskinan yang keliru. tidak sebaliknya. Peningkatan pendapatan dari pekerjaan yang mereka tekuni. ciptakan lapangan kerja. kriminalitas dan keresahan sosial yang terus bertambah. maka akan menggiring petani sempit untuk menanggung risiko yang tinggi. mengabaikan peningkatan pendapatan serta lapangan kerja di perdesaan. terutama dalam penyimpanan. Ia juga menyebutkan bahwa hasil penelitiannya dan penelitian lain seperti yang dilakukan UNIDO dan UNSFIR. Namun peran non-beras jauh lebih tinggi mencapai 77%. seperti kekumuhan. Itu amat tidak realistis. Apabila mereka beralih ke sektor lain dalam kondisi infrastruktur itu belum diperkuat. Beras memang besar kontribusinya dalam inflasi. meningkatkan produktivitas kerja. mendorong aktivitas padat kerja adalah solusi yang tepat untuk atasi . pada saat harga beras turun murah yaitu terjadi pada periode import surge yang tinggi periode 1998. Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi. Industri padi/beras adalah salah satu diantaranya. mereka pindah ke kota. padahal industri lain belum kuat terbangun. insentif untuk bekerja di sektor pertanian merosot. Yang benar adalah gerakan sektor riil. Bukan membuat harga pangan atau beras murah sehingga menjadi tidak wajar buat petani. 2002. itu akan menambah kemiskinan dan akan mendorong bertambahnya urbanisasi. Itu buah dari urbanisasi yang berlebih. Harga Beras dan Kemiskinan: Keganjilan Analisa Kelemahan lain kaitan harga beras dengan kemiskinan yang dibuat Bank Dunia. Pengembangan hortikultura misalnya. Rendahnya pengeluaran keluarga miskin akibat dari ketidakmampuan mereka untuk memperoleh pendapatan yang layak. Mengotak atik harga pangan agar dibuat murah. menemukan bahwa angka kemiskinan BPS amat sensitif dari pengaruh inflasi. dan petani jagung dialihkan ke kentang. harga beras dianggap sebagai faktor penyebabnya. produktivitas rendah.dari industri itu. Pada saat kita mengabaikan sektor kunci seperti sub-sektor padi/beras. Itu tidak akan mampu mengurangi jumlah orang miskin secara berkelanjutan. serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor pertanian di mana penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya.

Pada 1996. Dimensi kemiskinan Sen terfokus pada non-income poverty. Ini seharusnya menjadi acuan kita. juga dana untuk pendidikan. pendidikan dan pangan. bukan kemiskinan pendapatan. hanya 2 ribu ton pada 2005 (Tabel 2). Ini untuk membuktikan bahwa Indonesia tidak perlu kuatir dengan beras yang penuh subsidi berasal dari AS tidak akan berpengaruh besar ke pasar beras dalam negeri. Tingkat kemiskinan itu tidak sensitif terhadap harga maupun inflasi. pertumbuhan yang pro-poor. Hampir separoh impor beras ke Indonesia yang datang dari negara maju berasal dari AS. Capability poverty terkait dengan kemiskinan struktural dan kronis. tentunya juga ke Indonesia. yang disebut Human Development Index. Setelah Indonesia menerapkan batasan impor beras sejak 2004. Beras dari AS yang murah harganya. Atau itu telah memperbesar stok Bulog. Impor Beras dari AS tidak Penting? Bank Dunia (2007) juga mengatakan bahwa ekspor beras AS berpengaruh kecil ke Asia. kematian bayi. maka harga beras atau pangan tidaklah sensitif sebagai penyebab kemiskinan. sehingga harga pasar jenis itu tidak terkait sama sekali (almost completely disconnected) dengan beras lokal. Impor Beras Indonesia dari Negara Maju dan AS: 1996-2005 (MT) . diterbitkan oleh BPS. sehingga menghasilkan jenis beras baru dengan harga yang lebih murah. serta adanya intervensi pemerintah yang terarah ke orang miskin. Impor beras dari AS meningkat di era liberalisasi dan era tarif. sehingga berkurang pula kemampuannya untuk menyerap pengadaan beras/gabah dalam negeri. bukan kemiskinan pengeluaran. kalau konsep kemiskinan manusia yang dipakai. Tabel l 2. Dengan konsep ini Dhanani dan Islam (2000) misalnya. perumahan. AS berperan penting dalam impor beras ke Indonesia. Pada 2004 misalnya. Belum banyak memberikan perhatian pada konsep Sen (2000) tentang kemiskinan non-pendapatan. Pada 2001 dan 2003. Juga penting untuk disikapi secara kritis adalah cara pengukuran tingkat kemiskinan itu sendiri. Kalaupun diekspor ke Asia. meningkat menjadi 75 ribu ton pada 1999. Atas dasar inilah kemudian UNDP merancang kemiskinan manusia. jenis berasnya berbeda. konsep kemiskinan manusia kurang dipakai sebagai acuan dalam penyusunan program pembangunan daerah maupun nasional. Laporan tentang kemiskinan manusia telah dilakukan di Indonesia dengan bantuan UNDP sejak beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu. akses terhadap air minum yang bersih. Pengukuran kemiskinan sebelum krisis terlalu banyak bersandar pada kemiskinan pendapatan berdasarkan indikator konsumsi. Ekspor beras AS banyak ditujukan ke Amerika Latin. Bappenas dan UNDP. Sayang. impor beras dari AS menurun drastis. dipakai oleh para pedagang untuk dicampur (oplos) dengan beras lokal. Sen mengatakan bahwa poverty as capability deprivation.kemiskinan (Sugema 2006). adalah tahun-tahun tertinggi impor beras dari AS yaitu mencapai masing-masing 178 ribu dan 108 ribu ton. Itu hanya mungkin dipecahkan oleh pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. bandingkan dengan kemiskinan pendapatan BPS hanya 11% pada 1996. terbesar selama 10 tahun terakhir. menghitung kemiskinan manusia di Indonesia sebesar 25%. Sehingga Indonesia amat terkebelakang di antara negara ASEAN dalam menyediakan dana untuk kesehatan yang terkait dengan harapan hidup. data memperlihatkan bahwa impor beras Indonesia dari AS cukup tinggi diantara negara maju yang mengekspor beras ke Indonesia. Namun. dilaporkan tentang Ekonomi dari Demokrasi: Membiayai Pembangunan Manusia. Kemiskinan sebagai kehilangan/ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti kesehatan. UNDP telah membuat indek tentang itu. hanya 9 ribu ton.

756 385.081 Total Negara Maju 16. seperti petani jagung Meksiko.839 24. .231 7. Umumnya didatangkan pada musim panen raya. Tyson Foods (80 negara) dan Archer Danniels Midland yang beroperasi di Amerika Latin.384 179.184 Rataan: Jumlah (MT) 47. mereka akan ke departemen lain.975 1. Apabila tidak berhasil meyakinkan Bulog misalnya. Ini sering dikeluhkan oleh berbagai penjabat di berbagai depertemen.956 200049. Pemerintah tidak berdaya untuk itu.072 199974. karena Indonesia harus membayar harga beras yang jauh lebih mahal dari harga beras di luar program. Korporasi AS itu merambah dunia.011 12. Apabila telah disetujui. AS melalui Farm Bill 2002 misalnya memberikan subsidi terhadap 20 komoditas petanian.611 52 101.608 200416. seperti Cargill (beroperasi di 63 negara). subsidi terbesar ditujukan ke 5 komoditas utama yaitu beras. Inilah yang menyebabkan mengapa sejumlah negara berkembang sulit bersaing dan terpuruk. Kredit lunak dan jangka panjang sesungguhnya juga merugikan pemerintah Indonesia. seperti Departemen Keuangan. itu banyak kaitannya dengan kepentingan korporasi raksasa.828 460.942 100 Sumber: Data dasar berasal dari data impor beras bulanan BPS Impor itu dalam bentuk food aid melalui WFP.Tahun 19969. atau ke penjabat tertinggi seperti Presiden atau Wakil Presiden. Mosanto (61 negara).767 20052.409 2001177.352 17.094 11.681 96.031 19970 USA Negara Maju Lain 6.889 200213. jagung and kedelai (IATP 2007b).158 25.522 33. 2007). program PL480 dengan kredit lunak dan jangka panjang. AS ―memaksa‖ agar Indonesia mau menerima program PL480.980 12. AS tentu mampu menjual beras dengan harga murah ke Asia. Bappenas. Namun.725 46.551 132. kapas. petani kapas di Afrika ( Husein Sawit. Itu telah berpengaruh negatif terhadap tingkat harga beras/gabah di dalam negeri.352 39.393 2003107. selanjutnya yang memutuskan kedatangan beras itu adalah AS. gandum.411 46.331 Persen (%) 48 54.327 9.266 199822. AS mensubsidi sejumlah komoditas pangan.

Research report as a part of the study . Report for Internal Review Only for Bulog (November 1999) Dhanani. Indonesia (akan terbit) IATP (2007a). banyak diantara para birokrat kurang memahami politik kurang terpuji di belakang lembaga keuangan internasional. Itulah yang harus disikapi dangan bijaksana dan hati-hati. Liberalisasi Pangan: Aksi dan Reaksi dalam Putaran Doha WTO.Simatupang dan S. a series of papers on the 2007 US Farm Bill. Daftar Bacaan Albert. petani kita. AS tentu ngiler melihat potensi pasar di sejumlah negara Asia. Disana banyak penduduk yang memerlukan pangan. India dan Indonesia. Sayang para pengambilan keputusan. a series of papers on the 2007 US Farm Bill. Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP): Minnesota Perkins. ―Poverty. (2000).‖Rice Policy: A Framework for the Next Millennium‖. Tabor (1999). UNDP Husein Sawit. Inequality and Social Protection: lessons from the Indonesian crisis‖. Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP): Minnesota IATP (2007b). Kompas. UNDP (2004). Hasil penelitian IATP (2007b) menyebutkan bahwa AS melalui lembaga WTO dan Bank Dunia memaksa negara berkembang untuk menurunkan tariff dan membuka pasar. I (2006). Kanada. permintaan berbagai jenis pangan yang terus meningkat seiring dengan kemajuan ekonomi. ― The US Farm Bill and Cotton Cultivation: Is the WTO undermining Rural Development?‖. Kita telah terperangkap dengan hutang luar negeri dan SDA milik bangsa ini yang dikapling dan dikuasai bangsa asing. ― A Fair Farm Bill for America‖. mereka jelas memihak negara kaya dan korporasi internasional (MNCs). P. Bappenas.Negara Pasifik. Afrika. Kita semakin sulit keluar dari kemiskinan dan kepapaan. masyarakat kita. Kemiskinan. Development as Freedom. J (2004). sehingga memuluskan MNCs milik AS untuk melakukan kegiatan bisnis pangan secara global. ―Inflasi. mereka juga jarang memihak negera berkembang.H. “Socio Economic Analysis of Farm Household in Irrigated Area of Brantas River Basin‖. 11 (2) BPS. HS. Ekonomi dari Demokrasi: Membiayai Pembangunan Manusia Indonesia. tetapi itu sekedar melaksanakan pesan sponsor. Confessions of an Economic Hit Man. H (2004). Lembaga Penerbit FE Univ. Working Paper: 00/01. seperti China. M. Dalam tataran perundingan multilateral misalnya. Penutup Pandangan Bank Dunia harus disikapi secara kritis. UNSFIR. Itu yang mereka ingin rebut. Eropa. M. UNDP: Jakarta Dillon. A. Oxford University Press: New Delhi Sugema. 23 November 2006 Sumaryanto. S dan I. padahal kita berada di negara yang kaya. Siregar and Wahida M(2002). dan Beras‖. Islam (2000). M. (2007). Yang merasakan akibat dari implementasi saran mereka yang bias itu adalah bangsa kita. Agriculture and Rural Development. seperti Bank Dunia dan IMF. Penguin Books Ltd: London Sen. Mereka datang kemari silih berganti ahlinya. Sawit. ―A Fair Farm Bill for the World‖.R.

tokh Bank BPD tidak tergerak meluluskan sisa kredit yang dimintanya.8% (2002). tidak ada tanda-tanda perbankan ―bersemangat‖ menyalurkan kredit kepada pengusaha-pengusaha di Melak. and Water Resource Allocation in Indonesia and Vietnam . 256. tokh penerima dana -dana DPM (Dinas Pemberdayaan masyarakat) ini masih belum merasakan adanya perhatian dan perlakuan khusus terhadap mereka sebagai pihak-pihak yang berhak menerima perlakuan ―istimewa‖ karena kemiskinannya. LDR (Loan Deposit Ratio) meskipun cenderung naik tetapi hanya sebesar berturut-turut 2. di kampungkampung pegunungan. baik di wilayah Ulu Riam di Mahakam Ulu. Yang menarik persentase kenaikan dana pihak ke-3 yang disimpan di bank-bank ini sama sekali tidak diikuti kenaikan yang sepadan dalam jumlah kredit yang diberikan kepada pengusaha-pengusaha di Melak. Meskipun Pemda Kabupaten Kutai Barat sudah menunjuk Bank BPD Melak menyalurkan dana UMKM kepada usaha-usaha kecil ―ekonomi rakyat‖ sebesar Rp 7.Irrigation Investment.8% (2003) dan sampai dengan September 2004 adalah 32. Ir. Bank adalah Mitra Orang Kaya Sejak 3 tahun terakhir (2001-2003) jumlah dana masyarakat yang disimpan di 2 bank di Melak (BRI dan BPD) meningkat rata-rata 12. dan 13.5 milyar dari dana APBD. 10.0% pertahun. Ia “marah” ketika permi ntaan pinjaman Rp. . Yulius Seran (37 th) adalah seorang penyandang cacat yang setiap hari menunggu dagangan “rupa-rupa” di pinggir jalan dekat Linggang Bigung. maupun di dataran rendah sepanjang Sungai Mahakam. Rupanya kalau tidak ada kredit ―UMKM‖ yang disalurkan dari dana APBD Pemda kabupaten.2 milyar (2001) menjadi Rp. yaitu dari Rp.0 milyar (2002) dan Rp.1%. 7 juta padahal yang Rp. ―Issues in Indonesian Rice Policy‖. 214. collaboration of IFPRI-CASERD-KimpraswilJasa Tirta. World Bank (2007). lebih-lebih kepada usaha-usaha kecil ekonomi rakyat. 15 juta hanya diberi Rp.2% (2001). M. Husein Sawit Mubyarto MENGAPA BANK SULIT MEMBERDAYAKAN EKONOMI RAKYAT? Pendahuluan Memberdayakan ekonomi rakyat di daerah terpencil Kutai Barat ternyata merupakan perjuangan berat bagi siapapun. Rupanya meminjamkan kredit kepada seorang miskin seperti Yulius Seran belum cukup meyakinkan pejabat bank ―seb agai jalan melancarkan jalan baginya masuk surga‖. 272.4 milyar (2003). Bahkan mereka yang percaya perbankan merupakan ― agent of development‖ yang berperan kunci dalam memberdayakan ekonomi rakyat bisa ―kecele‖ menyaksikan kenya taan pahit sulitnya bank bermitra akrab dengan pelaku-pelaku ekonomi rakyat yang miskin. Fiscal Policy. Meskipun belakangan diketahui Yulius Seran seorang yang jujur dan patuh mengangsur kreditnya setiap bulan. draft March 2007 Oleh: Dr. 8 juta sudah dijanjikan pada seorang teman yang sanggup membuatkan sepeda motor khusus agar ia dapat menggunakannya untuk berbelanja ke Melak sebulan sekali.

Di satu pihak usaha-usaha kecil lari ke ―rentenir‖ dengan membayar bunga tinggi. agar dapat membayar jasa bunga deposito yang menarik kepada deposan. Kalau perangsang dan perlindungan kepada para pemilik modal dalam sistem ekonomi kapitalis ini belum dianggap cukup. Jika bank-bank kita lebih banyak merupakan perusahaan yang menomorsatukan pendapatan bunga. Mengapa tidak ada Konsultan Keuangan Mitra Ekonomi Rakyat (KKMER) meskipun jelas ekonomi rakyat inilah yang paling membutuhkan jasa konsultan. mengapa modal yang terhimpun di bank dari orang-orang kaya setempat malah dikirim keluar daerah. Para pelepas uang dan deposan menikmati pendapatan bunga tinggi. Dalam sistem ekonomi kapitalis segala upaya dilakukan untuk melindungi kepentingan para pemodal/pemilik uang. Jika suatu daerah berusaha menarik investor. Dalam sistem ekonomi kapitalis. kecuali jika kita berani mengubah sistem ekonomi kita dari sistem ekonomi kapitalis menjadi sistem ekonomi Pancasila.5% pertahun yang tentu saja menjadi alasan sangat kuat bagi setiap bank untuk mengirimkan dana-dana pihak ke-3 yang dihimpun di bank-bank di daerah-daerah di seluruh Indonesia untuk dikirim ke Jakarta. Dalam sistem ekonomi Pancasila . padahal yang benar bank-bank ini memang merasa lebih aman menggunakan dana-dana yang dihimpun dengan dibelikan SBI. Bank Indonesia sudah sejak lama mengeluarkan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) yang menjanjikan bunga menarik kepada dunia perbankan untuk menyimpan dana-dana yang dihimpunnya dari daerah-daerah di seluruh Indonesia. dan sebaliknya orang miskin harus membayar bunga tinggi kepada orang-orang kaya. yaitu mereka yang memiliki modal. Sebenarnya segera dapat dikenali satu kontradiksi. dan dalam kaitan penyaluran kredit UMKM ada lembaga KKMB (Konsultan Keuangan Mitra Bank). Akibatnya bank juga tidak mungkin berperan sebagai lembaga yang mendukung upaya-upaya besar pemberantasan kemiskinan. Proses tolong-menolong antar pemilik modal dan ekonomi rakyat yang membutuhkan modal ini dalam era otonomi daerah seharusnya berkembang dengan baik dan bergairah. kiranya masuk akal bagi perbankan untuk memanfaatkan dana-dana tersebut bagi pemberdayaan ekonomi rakyat dan yang pada gilirannya mampu memberantas kemiskinan. Kesimpulan Kasus ―kecil‖ perilaku perbankan di Kabupaten Kutai Barat dengan kemiskinan 42% tahun 2003-2004 menarik dijadikan contoh betapa besar hambatan yang dihadapi dalam program-program pemberantasan kemiskinan. Inilah faktor penyebab rendahnya nilai LDR (Loan Deposit Ratio) di setiap daerah.Memang ironis. Ternyata kunci penyebabnya terletak pada diberlakukannya sistem ekonomi kapitalis yang telah dipilih oleh pemerintah pusat. Dari sinilah berkembang kepercayaan perlunya penciptaan iklim merangsang agar para pemodal (investor) asing bersedia datang ke Indonesia atau ke daerah-daerah tertentu untuk menanamkan modalnya. Jika ekonomi rakyat dapat diberdayakan melalui kredit lunak sehingga kesejahteraannya meningkat. tokh dana-dana perbankan yang terhimpun di daerah-daerah seperti itu justru dikirim ke kantor pusat bank yang bersangkutan. maka amat sulit menjadikan bank sebagai penggerak kegiatan ekonomi rakyat. bukan justru bank yang sebenarnya tidak memerlukan konsultan keuangan itu. tetapi di pihak lain orang-orang kaya menyimpan uang mereka di bank dalam bentuk deposito dengan menerima bunga ―menarik‖. bahkan termasuk tambahan hadiah-hadiah menarik seperti mobil dan rumah-rumah mewah. sehingga ketika banyak daerah-daerah miskin/tertinggal berteriak mengharapkan kredit yang murah dan mudah. mengapa Pemda tidak terdorong untuk mengambil langka-langkah demikian dalam GSM (Gerakan Sendawar Makmur) dengan menyalurkan kredit mikro sebanyak mungkin kepada usaha-usaha ekonomi rakyat yang membutuhkannya. Bunga SBI ini pernah mencapai 17. dan sama sekali bukan agent of development. Fenomena kontradiktif ini sampai kapan pun tetap tidak akan berubah. Jika suatu daerah miskin sebagian warga masyarakatnya sudah berhasil ―menjadi kaya‖ sehingga mampu menyimpan dana-dana yang dikumpulkannya di bank setempat. yang kepentingannya paling dilindungi. dan justru tidak diputarkan atau ditanamkan dalam usaha-usaha setempat. Jelas kiranya dari analisis ini bahwa perbankan di Indonesia tidak lain daripada lembaga pencari/pengejar untung. Bank-bank yang lebih banyak mengirim dana-dana dari daerah-daerah ke kantor pusat selalu mudah menerangkan perilaku keliru ini karena ―kesulitan menemukenali‖ proyek -proyek ekonomi dan bisnis yang bankable yang dapat didanai. Tetapi mengapa hal ini tidak terjadi? Dari analisis tersebut bisa dibuktikan bahwa alasan pokoknya adalah karena sistem ekonomi kapitalis-liberal/neoliberal sudah dijadikan pegangan pokok pemerintah pusat/ daerah yang diterapkan di manamana di seluruh Indonesia. yang dengan memberikan jaminan rasa aman pada para pemilik modal ini. yang dibiayai oleh sebagian bunga kredit yang dibayar penerima kredit (debitor). Penetapan tingkat bunga yang menarik selalu dijadikan alasan mudah bagi dunia perbankan untuk tidak menyalurkan dananya sebagai kredit kepada dunia usaha. para pemilik modal (kapitalis) merupakan pihak yang paling dipuja dan dihormati. Maka ada lembaga penjaminan kredit.

dan memang ada pembeli terhadap barang/jasa yang ditawarkannya. Mubyarto -. ― membuang kotoran manusia secara sembarangan yang akan berakibat pada terjangkitnya diare . siapa biang keladinya? Penduduk miskin di hutan-hutan dan sekitar hutan menebang hutan negara untuk memperoleh penghasilan untuk makan. Perkembangan pedagang kaki lima (PKL) yang tumbuh menjamur dimana-mana. Jika hutan kita menjadi gundul atau terbakar. PKL bukan . dan kemudian dijual lagi untuk ekspor. Apabila dikatakan penduduk miskin terbiasa . tetapi karena mereka melakukannya dengan terpaksa. 1995: 4) 1.. Maka untuk menjamin terjadinya pembangunan yang berkelanjutan kita harus menghentikan keserakahan orang-orang kaya. 2. Agar adil kita harus mengakui bahwa kerusakan lingkungan khususnya hutan. yang semuanya ―demi keuntungan‖. sehingga lingkungan hidup kita rusak. yang dianggap merusak lingkungan karena mengotori jalan dan mengganggu ketertiban. Pemenuhan kebutuhan pokok penduduk miskin bukan masalah ―hanya‖. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM.. bukan karena orang-orang miskin banyak yang merusak hutan.. Akumulasi keuntungan dan kekayaan yang tidak mengenal batas harus dianggap sebagai penyebab utama kerusakan/pengrusakan hutan.‖ atau ―penduduk miskin hanya menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup..Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. 4. sedangkan orang-orang kaya adalah ―pahlawan pembangunan‖. Siapa yang paling bersalah dalam proses perusakan lingkungan ini? Yang jelas tidak adil adalah kalau yang disalahkan hanya orang-orang miskin saja. bukan dengan ―menggusurnya‖ setelah berkembang. dan mereka cenderung mengabaikan pemeliharaan lingkungan sekitar”.. tidak ada subsidi apapun dar pemerintah. 3.Oktober 2004] Mubyarto SIAPA LEBIH MERUSAK LINGKUNGAN: ORANG MISKIN ATAU ORANG KAYA? The greatest threat to the equilibrium of the environment comes from the way the economy is organized. juga tidak mungkin ditimpakan kesalahannya pada PKL karena pekerjaan itulah satu-satunya ―mata pencaharian‖ yang dapat dilakukan dalam kondisi kepepet. ever increasing growth and accumulation (Ravaioli. Penduduk miskin tidak memperhatikan lingkungan hidup sekitarnya bukanlah karena mereka tidak peduli. kiranya pernyataan ini juga tidak adil. Adalah sangat keliru ilmu ekonomi justru memuja ―keserakahan‖.. disebabkan para pemodal yang haus keuntungan. Ekonomi Rakyat dan Reformasi Kebijakan .kebijakan perbankan tidak diarahkan untuk melindungi para pemilik modal secara berlebihan tetapi harus diubah menjadi upaya total pemberdayaan ekonomi rakyat dengan ukuran hasil akhir makin terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. ―memesan‖ kayu dalam jumlah besar sebagai bahan baku industri yang memang permintaannya sangat besar pula. Dr. Oleh: Prof. Ia menggunakan modal sendiri dengan resiko usaha ditanggung sendiri. tetapi ―mutlak‖ harus dipenuhi untuk hidup. Tetapi kayu-kayu yang diperolehnya ditampung calo-calo untuk dijual. Jadi dalam hal ini lingkungan yang rusak harus diselamatkan melalui upaya-upaya ―pencegahan‖ munculnya PKL.

Keseimbangan yang harmonis. 5. Pada umumnya para Capres/Cawapres belum memahami benar apa itu ekonomi rakyat. maka sulit diharapkan dapat dirumuskannya program-program kongkrit bagaimana mengembangkannya. Yang lebih sering kita dengar justru bukan konsep tentang ekonomi rakyat. yaitu ekonomi rakyat. (2) (3) (4) (5) Ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial yaitu tidak membiarkan terjadinya dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. dan merajalela sejak jaman penjajahan sampai era globalisasi masa kini. tangguh. tetapi ekonomi kerakyatan. Semangat nasionalisme ekonomi. Maka mereka dengan bersemangat menyatakan akan menyusun dan melaksanakan program pemberdayaan ekonomi kerakyatan padahal ekonomi kerakyatan sebagaimana tercantum jelas dalam Propenas (UU No. dan karena belum jelas pemahaman mereka mengenai ekonomi rakyat. Kesimpulan kita. dan bertanggung jawab. yang menurut mereka harus diberdayakan juga. pendekatan terhadap masalah ―pengurangan kemiskinan dan pengelolaan lingkungan‖ atau sebaliknya terhadap ―pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan strategi penanggulangan kemiskinan‖ selama ini kiranya salah dan tidak adil. pelakunya. dan yang sangat sering diucapkan bagaimana memberdayakannya. Dr. Mubyarto Pendahuluan Menyimak secara serius pernyataan-pernyataan para Capres/Cawapres di media elektronik tentang programprogram ekonomi yang dijanjikan kepada rakyat untuk dilaksanakan. Sistem ekonomi yang tepat bagi Indonesia adalah sistem ekonomi pasar yang populis dan mengacu pada ideologi Pancasila dengan lima cirinya sebagai berikut: (1) Roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas. jika mereka terpilih. karena melihat kemiskinan sebagai fakta tanpa mempelajari sumber-sumber dan sebab-sebab kemiskinan itu.―masalah‖ tetapi ‖pemecahan‖ masalah kemiskinan. yaitu sistem ekonomi kapitalis liberal yang berkembang di Barat. bebas. Demokrasi Ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan. Mubyarto -. dan moral. tidak diberdayakan. sedangkan Bung Karno 3 tahun sebelumnya (Agustus 1930) dalam pembelaan di Landraad Bandung menulis nasib ekonomi rakyat sebagai berikut: . efisien. dengan segala maaf saya harus menyatakan sangat prihatin. 25/2000) adalah sistem ekonomi. dan mandiri. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. Sistem ekonomi dapat dikembangkan dan yang jelas dilaksanakan. dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat. sosial. koperasi dan usaha-usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat. Tentang Ekonomi Rakyat Bung Hatta dalam Daulat Rakyat (1931) menulis artikel berjudul Ekonomi Rakyat dalam Bahaya. karena yang diberdayakan adalah orangnya. dan adil. 6 Oktober 2004 Oleh: Prof. Akan lebih baik dan lebih adil jika para peneliti memberi perhatian lebih besar pada sistem ekonomi yang bersifat ―serakah‖ dalam eksploitasi SDA. menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jadi ekonomi kerakyatan adalah (sistem) ekonomi yang demokratis. Berpihak kepada petani berarti pemerintah tidak lagi berpihak pada konglomerat seperti dalam kasus jeruk dan cengkeh. atau faktor-faktor apa saja yang menyebabkan ketidakberdayaan pelaku-pelaku ekonomi rakyat itu. Itulah yang pernah kami katakan bahwa ―di Indonesia pernghapusan monopoli tidak memerlukan UU Anti Monopoli seperti di AS tetapi jauh lebih mudah dan lebih sederhana yaitu dengan menerbitkan sebuah SK (Surat Keputusan) dari Presiden atau Menteri Perindustrian dan Perdagangan untuk mencabut monopoli yang sebelumnya memang telah diberikan pemerintah‖. Bagaimana memberdayakan ekonomi rakyat Jika kini telah diyakini bahwa yang harus diberdayakan adalah ekonomi rakyat bukan ekonomi kerakyatan. didesak. Inilah salah satu bentuk korupsi melalui koneksi dan nepotisme yang kemudian disebut dengan nama KKN. terdesak. Memang sangat disayangkan bahwa penjelasan tentang demokrasi ekonomi ini sekarang sudah tidak ada lagi karena seluruh penjelasan UUD 1945 diputuskan MPR untuk dihilangkan dengan alasan naif. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. yang berarti petani jeruk dan petani cengkeh memperoleh ―kebebasan‖ untuk menjual kepada siapa saja yang mampu memberikan harga terbaik. maka memang ada kata kerakyatan tetapi harus tidak dijadikan sekedar kata sifat yang berarti merakyat. . Cara yang paling mudah memberdayakan ekonomi rakyat adalah menghapuskan sistem monopoli. Kalau tidak. yang terpukul karena harga pasar gabah dibiarkan merosot di bawah harga dasar. Khusus dalam kasus petani padi. Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi. maka harus kita teliti secara mendalam mengapa tidak berdaya. tampuk produksi jatuh ke tangan orang-orang yang berkuasa dan rakyat yang banyak ditindasinya. yang pernah ―disembunyikan‖ dengan nama sistem tata niaga. Indonesia Menggugat. Padahal yang dimaksudkan jelas sistem monopoli yang pemegang monopolinya ditunjuk pemerintah yaitu BPPC untuk cengkeh dan Puskud untuk Jeruk Kalbar. Dari keuntungan besar yang diperolehnya kemudian konglomerat memberikan ―bagi hasil‖ kepada pemerintah atau lebih buruk lagi kepada ―oknum -oknum pejabat pemerintah‖. kemakmuran bagi semua orang! Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. pemerintah harus berpihak kepada petani. Untuk menjawab pertanyaan inilah kutipan pernyataan Bung Karno di atas sangat membantu. Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh ada di tangan orangseorang. sama sekali didesak dan dipadamkan (Soekarno. atau diciptakan pemerintah dan diberikan kepada segelintir perusahaan-perusahaan konglomerat. karena sengaja disempitkan. yaitu ekonomi rakyat menjadi kerdil. yang artinya tidak lain adalah demokrasi ala Indonesia. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan bukan kemakmuran orang-seorang. dan padam. Pengertian demokrasi ekonomi atau (sistem) ekonomi yang demokratis termuat lengkap dalam penjelasan pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi: Produksi dikerjakan oleh semua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. Sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Jika pemerintah bertekad memberdayakan petani padi atau petani tebu misalnya. Kata kerakyatan sebagaimana bunyi sila ke-4 Pancasila harus ditulis lengkap yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. maka pertanyaan lugas yang dapat diajukan adalah bagaimana (cara) memberdayakan ekonomi rakyat. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi. dan (sistem) monopoli ini dipegang langsung oleh pemerintah. Misalnya tataniaga jeruk Kalbar atau tataniaga cengkeh Sulut. dan dipadamkan oleh pemerintah penjajah melalui sistem monopoli. Cara lain yang juga sudah sering kami anjurkan adalah pemberdayaan melalui pemihakan pemerintah. yaitu ―di negara-negara lain tidak ada UUD atau konstitusi yang memakai penjelasan‖. yang sulit kita terima. 1930: 31) Jika kita mengacu pada Pancasila dasar negara atau pada ketentuan pasal 33 UUD 1945.Ekonomi Rakyat oleh sistem monopoli disempitkan. keberpihakan pemerintah jelas harus berupa pembelian langsung gabah ―dengan dana tak terbatas‖ sampai harga gabah terangkat naik melebihi harga dasar yang telah ditetapkan pemerintah. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Jika ekonomi rakyat dewasa ini masih ―tidak berdaya‖.

Kepala Awan Santosa RELEVANSI PLATFORM EKONOMI PANCASILA MENUJU PENGUATAN PERAN EKONOMI RAKYAT Pemilu 2004 sudah pasti akan diwarnai dengan ‗pertarungan politik‘ antar parpol. dan program-program utama. Tulisan ini menjawab pragmatisme atau ketidaktahuan banyak orang sehingga mereka bertanya-tanya. yang tidak dapat diberdayakan. Dan dengan definisi ini kemudian diajukan program pemberdayaan sektor “UKM” dengan secepatnya menjadikan atau ―mentransformasi‖ sektor informal menjadi sektor formal. Bahkan ada Capres/Cawapres yang secara sangat keliru menyamakan sektor ekonomi rakyat dengan sektor informal. akan berubahkah nasib ekonomi bangsa kita? Tidak dapat dipastikan. strategi. dan antar calon anggota DPD. sebuah ideologi ekonomi yang ‗ke-Indonesia-an‘.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. Hasilnya bisa jadi kekuasaan tetap dipegang ‗pemimpin lama‘. partai baru. yang tidak mencakup 40 juta usaha mikro (93% dari seluruh unit usaha). caleg. Bukan berganti menjadi apa-apa. dan program-programnya pada tujuan pertumbuhan ekonomi tinggi sekaligus dengan mengabaikan atau menunda pemerataannya. . yang merupakan istilah dan konsep yang sudah dipakai Bung Karno dan Bung Hatta sejak zaman pergerakan kemerdekaan. terjepit. dan tersingkir. dan akan menjadi slogan kosong. sekaligus juga antar kandidat calon presiden. Kini dengan paradigma baru yang menomorsatukan pemerataan dan keadilan sesuai asas-asas ekonomi Pancasila. yang hanya diartikan sebagai pelaku-pelaku ekonomi yang tidak berbadan hukum yang selalu ―melanggar hukum‖ sehingga harus ―ditindak‖. Lalu. Dengan digantinya oleh pemerintah istilah ekonomi rakyat dengan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang sebenarnya sekedar menterjemahkan istilah asing SME ( Small and Medium Enterprises). Saya setuju dengan Khudori (2004) bahwa momen Pemilu 2004 selayaknya bukan saja memungkinkan pergantian orang atau partai melainkan pergantian ideologi atau moral ekonomi yang mengarah pada ciri neoliberal-kapitalistik dewasa ini. Mubyarto -.Demikian pemberdayaan dan pemihakan pada ekonomi rakyat sangat mudah pelaksanaannya kalau kita terapkan langsung pada ekonomi rakyat. Kami anjurkan para Capres/Cawapres tidak memilih menggunakan istilah ―UKM‖ yang salah kaprah. dan orang-orang yang baru pula. strategi. sektor informal sebaiknya justru yang disebut sektor formal. Dr. Penutup Tidak terlalu sulit bagi para Capres/Cawapres untuk mengkampanyekan program-program yang benar-benar dapat memberdayakan ekonomi rakyat asal pengertian ekonomi rakyat dipahami secara benar. Ekonomi rakyat adalah ekonominya wong cilik yang telah tergeser. maka pemberdayaan ekonomi rakyat harus dijadikan kebijakan. kecuali ada ‗janji -janji‘ perubahan kebijakan ataupun program ekonomi yang lebih banyak bersifat parsial dan konvensional dari partai peserta pemilu. yang terakhir ini berarti sistem atau aturan main. ketika pemerintah Orde Baru memprioritaskan kebijakan. maka segala pembahasan tentang upaya pemberdayaan ekonomi rakyat tidak akan mengena pada sasaran. melainkan kembali ke ideologi atau moral ekonomi Pancasila. Oleh: Prof. dan lebih baik mengunakan istilah ekonomi rakyat yang setiap orang yang ―tidak terpelajar‖ pun mengerti persis artinya. bukan pada ekonomi kerakyatan. atau mungkin pula akan muncul penguasa-penguasa baru. Jelas usulan program seperti ini tidak masuk akal dan menunjukkan ketidakpahaman Capres/Cawapres yang bersangkutan tentang ekonomi rakyat yang menyangkut hajat hidup 160 juta orang Indonesia yang sebenarnya sudah jauh lebih tua dibanding sektor formal.

dengan lima platform sebagai manifestasi sila-sila Pancasila yaitu moral agama. dan stasiun TV. perusahaan (iklan). dan pulau lainnya. tidak sulit untuk menemukan praktek ekonomi bermoral ini. moral kerakyatan. Inilah moral ekonomi rakyat yang tidak sekedar mencari untung. Lalu. dan ‗pembangunan karakter‘ ( character building) bangsa yang dilandasi semangat penerapan ajaran moral dan agama. Gagasan Ekonomi Pancasila mulai dikembangkan Profesor Mubyarto sejak tahun 1981 dalam suatu polemik tentang sistem ekonomi nasional sampai saat ini. dan dampak sosial bagi masyarakat. tanah longsor. sosial. program. yaitu ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial. agama. bukan kemakmuran orang -seorang‘. moral nasionalisme ekonomi. sebagai ‗media‘ untuk mengenali ( detector) bekerjanya paham dan moral ekonomi yang berciri neo-liberal kapitalistik di Indonesia. Ada lagi maraknya ‗penjarahan alam‘ berupa penebangan hutan secara liar (llegal logging) yang terlalu lama ‗didiamkan‘ sehingga berakibat banjir. tidak realistis.500. Tidak dapat disangkal. dan utopis? Mereka ini begitu yakin bahwa masalah ekonomi (krisis 97) adalah karena ‗salah urus‘ dan bukannya ‗salah sistem‘. tidak sekedar pembangunan materiil semata. Relevansi Ekonomi Pancasila dapat ‗dideteksi‘ dari tiga kontek yang berkaitan yaitu cita -cita ideal pendiri bangsa. 2001). Lihat saja korupsi yang sudah membudaya dan melembaga karena tidak pernah diperhatikan secara serius. moral. selain berisi cita-cita visioner terwujudnya keadilan sosial. dan teori-teori kapitalisme-liberal. Masih ada juga penggusuran orang miskin.Kita mulai dari platform pertama Ekonomi Pancasila yaitu moral agama. ia juga mengangkat realitas sosio-kultur ekonomi rakyat Indonesia. Ekonomi Pancasila merupakan prinsip-prinsip moral (ideologi) ekonomi yang diderivasikan dari etika dan falsafah Pancasila. dan kegiatan ekonomi banyak dipengaruhi paham (ideologi). kecuali saat-saat terakhir menjelang Pemilu 2004 dengan pembentukan KPTPK. Lalu. dan kekeringan di sebagian wilayah di Jawa. dan praktek ekonomi aktual yang ‗menyimpang‘ karena berwatak liberal. bahkan agama. apakah tidak mengada-ada bicara sistem ekonomi dari ideologi yang pernah ‗tercoreng‘. Asalkan tidak malas untuk turun ke desa-desa atau ke pelaku ekonomi rakyat. produser. menurunnya suku bunga (dibawah 10%). yang bermoral dan tidak sekuler. Free Press 1988). kebijakan. KKN yang akut memberi sumbangan besar bagi keterpurukan ekonomi bangsa ini. Platform kedua adalah ―kemerataan sosial. Itu berarti pembangunan ekonomi harus beriringan dengan pembangunan moral atau karakter bangsa.relevankah Ekonomi Pancasila dalam memperkuat peranan ekonomi rakyat dan ekonomi nasional di era global (isme) kontemporer? Mereka skeptis. dan tidak nampak wujudnya. dan moral keadilan sosial. Kondisi itu menegaskan perlunya ‗revolusi moral ekonomi‘ menuju pengejawantahan platform Ekonomi Pancasila. Inilah platform ekonomi yang lebih awal lahir daripada gagasan Amitai Etzioni tentang ‗ekonomi baru‘ yang berdimensi moral dalam bukunya The Moral Dimension: Toward a Newf Economics. Relevansi platform Ekonomi Pancasila dalam hal ini dikuatkan akutnya perilaku ekonomi di Indonesia yang sama sekali mengabaikan moral. Profesor Mubyarto merumuskan Ekonomi Pancasila sebagai sistem ekonomi yang bermoral Pancasila. rasanya tidak sulit mengamati ekses dari kecenderungan global tersebut di Indonesia. Sampai saat . dan ditujukan untuk menjamin keadilan antar sesama makhluk ciptaan Allah. krisis di Indonesia juga tidak terlepas dari berkembangnya paham kapitalisme disertai penerapan liberalisme ekonomi yang ‗kebablasan‘. mengeruk ‗rente‘ dari kegiatan ekonomi (bisnis) mereka. dan ribut-ribut soal ‗pesangon‘ BPPN atau DPRD di berbagai tempat. melainkan memperkuat silaturahmi. Yang masih panas-panasnya adalah maraknya ‗pornoaksi‘ dangdut erotis lewat media TV yang memang ‗dibiarkan‘ di alam kebebasan (liberalisme) saat ini. Disinilah relevansi platform (istilah penulis) Ekonomi Pancasila. sekaligus ‗rambu-rambu‘ yang bernilai sejarah untuk tidak terjerumus pada paham liberalisme dan kapitalisme. Gagasan ini sudah lama tertuang dalam bagian penjelasan Pasal 33 UUD 45 yang sudah diamandemen dalam konsep ‗kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan. Akibatnya. Oleh karena itu. apa bukti platform Ekonomi Pancasila relevan dengan kondisi sosial-ekonomi kita saat ini? Di tengah pesatnya perkembangan ilmu (ideologi) ekonomi global yang sud ah semakin mengarah pada ‗keyakinan‘ layaknya agama (Nelson. 2003). etika. tidak membiarkan terjadi dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial‖. para penyanyi. apalagi dikait-kaitkan dengan ‗salah ideologi‘ atau ‗salah teori‘ ekonomi. stabilnya rupiah (Rp 8. individualis. Tanpa peduli moral. bukankah sistem ekonomi kita sudah mapan. Penerapan platform Ekonomi Pancasila secara utuh (multisektoral) dan menyeluruh (nasional) menempatkan Indonesia sebagai negara yang menganut sistem ekonomi khas Indonesia yaitu Sistem Ekonomi Pancasila. praktik ekonomi rakyat. Semua itu terangkum dalam kajian lima platform Ekonomi Pancasila yang bersifat holistik dan visio-revolusioner (Mubyarto. ‗keadilan sosial‘.-). Sumatara. makro-ekonomi sudah stabil dengan indikator rendahnya inflasi (dibawah 5%). Namun. dan moral‖. dan kapitalistik. dan memperhatikan kepentingan sosial. pengabaian nasib TKI. Ekonomi Pancasila. yang mengandung prinsip ―roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi. menegakkan hukum-hukum Allah (syari‘ah). Pada awalnya founding fathers kita merumuskan ‗politik kemakmuran‘. moral kemerataan sosial.

justru investasi (asing) dan privatisasi BUMN yang saat ini begitu dipercaya sebagai ‗dewa‘ pertumbuhan ekonomi dengan melupakan begitu saja sifat pemodal besar untuk mencari tempat yang menguntungkan bagi investasi mereka. dan pilihan kebijakan luar negeri bebas-aktif. Lebih lanjut. melainkan juga prinsip yang menjiwai setiap proses pembangunan itu sendiri. Dengan begitu pelarian modal (capital flight) atau relokasi industri adalah wajar bagi mereka. dan mandiri‖. Lalu. khususnya Bung Karno dan Bung Hatta. Tempo. Jepang. Ekonomi Pancasila berfungsi sebagai platform ekonomi yang memperjuangkan pemerataan dan moral kemanusiaan melalui upaya-upaya ‗redistribusi pendapatan‘. tangguh. Ekonomi rakyatlah yang bersifat mandiri. Lihatlah pesta-pesta bernilai ratusan juta semalam yang sering diadakan ‗selebriti‘. mengapa kita ragu untuk melakukan ‗proteksi‘ terhadap petani kita di saat Amerika. percaya diri (self reliance). kenapa saat ini nasionalisme ekonomi seakan-akan telah dianggap tidak penting. yang menjadi senjata penganut paham liberalisme dan kapitalisme. Isu-isu yang kemudian dicuatkan diantaranya adalah privatisasi BUMN dan liberalisasi impor. padahal potensi untuk itu sangat besar. Oleh karena itu pokok perhatian seharusnya diberikan pada upaya pemberdayaan ekonomi rakyat sebagai tulang punggung ekonomi nasional. termasuk juga acara -acara pejabat yang sering menyentak hati karena dipaksakan untuk tetap ada dan mewah. perihal ‗politik -ekonomi berdikari‘ yang bersendikan usaha mandiri (self-help). 2004). Platform keempat adalah ―demokrasi ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan. tidak ‗menyusahkan‘ atau ‗membebani‘ ekonomi nasional di saat krisis. Kita patut prihatin jika aset-aset yang menguasai hajat hidup orang banyak terus ‗diobral‘ ke pemodal besar apalagi pemodal asing (kasus Indosat). dan memang tidak ada kamus ‗nasionalisme ekonomi‘ atau ‗nasionalisme modal‘ dalam istilah mereka. yang masih memegang prinsip kebersamaan dan solidaritas sosial-ekonomi dalam kegiatan mereka. dan glamour dari sebagian elit warganya. bahwa dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat. 5%. Kemandirian bukan saja menjadi cita-cita akhir pembangunan nasional. gula. Ini mensyaratkan bahwa pembangunan ekonomi haruslah didasarkan pada kekuatan lokal dan nasional untuk tidak hanya mencapai ‗nilai tambah ekonomi‘ melainkan juga ‗nilai tambah sosial-kultural‘. yaitu peningkatan martabat dan kemandirian bangsa (Swasono. dan paha ayam.ini masih sulit meyakini realisasi semangat tersebut ka rena setiap upaya ‗memakmurkan ekonomi‘ ternyata yang lebih merasakan dampaknya tetap saja ‗orang besar‘ baik pengusaha ataupun pejabat pemerintahan. petani dan peternsk kecil kita begitu ‗menjerit‘ di saat ada impor beras. koperasi dan usahausaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat‖. hidup di ‗negara kaya‘ (SDA) yang ‗miskin‘ (terlilit utang). atau 7%. Masih saja ketimpangan sosial-ekonomi susah untuk diperkecil. Pemilu 2004 setidaknya merupakan manifestasi demokrasi politik. tidak relevan. Sebaliknya. 2003). Zakat yang sudah diformalkan (UU) dan pajak sebagai instrumen pemerataan ternyata belum mampu berbuat banyak. Banyak orang yang memiliki kekayaan milyaran (termasuk calon-calon presiden kita. tetapi masih mampu menampilkan gaya hidup mewah. upaya penegakan demokrasi ekonomi nampaknya berhadapan dengan upaya-upaya untuk memperjuangkan pasar bebas. 2004). namun bagaimana dengan manifestasi demokrasi ekonominya? Penghapusan ‗koperasi‘ dari penjelasan UUD 45 dan memasukkan ideologi ‗persaingan‘ dan ‗pasar bebas‘ dalam pasal 33 merupakan runtutan dari kebijakan privatisasi BUMN yang ditentang banyak kalangan. Oleh karena itu. sehingga ‗daya tahan‘ ekonomi mereka tidak perlu diragukan lagi. Dalam pada itu. Di puncak piramida yang menguasai mayoritas kue nasional dihuni segelintir manusia. Beralihnya pemilikan BUMN ke investor swasta melalui privatisasi dikhawatirkan justru memperpuruk kesejahteraan ekonomi rakyat (Baswir. kita masih saja berbicara pertumbuhan ekonomi mau 4%. Apa gunanya kampanye cinta produk dalam negeri bila pemihakan terhadap pelaku ekonomi rakyat sebagai produsen lokal masih setengah hati. Jika dasar dan pengertian demokrasi ekonomi (dalam penjelasan Pasal 33 ) sudah ‗dihapuskan‘. tanpa berupaya keras memprioritaskan pemerataannya ataupun berusaha sedikit lebih ‗sederhana‘ di tengah kemiskinan yang menjerat kurang lebih 36 juta rakyat Indonesia. Ada kesan kuat bahwa interaksi yang timpang (sub-ordinatif) dengan lembaga asing seperti IMF dan CGI (terkait dengan jebakan utang) telah ‗mengaburkan‘ pentingnya kemandirian ekonomi bangsa yang ditopang oleh semangat nasionalisme ekonomi. Platform ini sejalan dengan konsep founding fathers kita. Perubahan ini telah menghilangkan seluruh penjelasan UUD 1945 termasuk penjelasan Pasal 33 yang berisikan prinsip-prinsip demokrasi ekonomi dan landasan konstitusional koperasi. 2001). negara-negara Eropa memberikan perlindungan kepada petanipetani mereka. Kita dapat belajar pada ekonomi rakyat kita. terutama di perdesaan. eksklusif. Prinsip ini dijiwai oleh semangat Pasal 33 UUD 1945 yang kini sudah berganti menjadi UUD 2002 (amandemen keempat). maka dengan . di dasar piramida yang kuenya kecil diperebutkan puluhan juta orang (Khudori. Lagi pula. namun banyak pula yang pendapatannya pas-pasan sekedar untuk bertahan hidup. Itulah kita. Platform ketiga adalah ―nasionalisme ekonomi. dan tidak perlu diperjuangkan? Lihat saja.

2004). Platform kelima (terakhir) adalah ―keseimbangan yang harmonis. namun masih saja mereka merasa kesulitan untuk menggali sumber-sumber penerimaan daerah. menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia‖.platform Ekonomi Pancasila kita berusaha keras untuk mengembalikan hakekat demokrasi ekonomi atau sistem ekonomi kerakyatan dengan ciri ‗produksi dikerjakan oleh se mua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat‘. bukannya pembangunan di Indonesia seperti yang dilakukan Orde Baru dengan paham developmentalism yang netral visi dan misi (Swasono. budaya. komprehensif. dan ‗eksklusif‘ dari bidang bidang lain seperti politik. Pusat tetap memungut 95 persen. Langkah yang lazim diambil adalah optimalisasi PAD melalui pemberlakuan Perda-Perda yang justru kadang ‗bertentangan‘ dengan peraturan di atasnya seperti halnya hasil kajian Depdagri menunjukkan ada sekitar 7000 perda yang dinilai tidak layak diterapkan (Sunarsip. untuk kemudian merombaknya dengan kembali ke Sistem Ekonomi Pancasila.Asisten Peneliti pada Pusat Studi Ekonomi Pancasil (PUSTEP) UGM. sadarkah para capres. dan visio-revolusioner. 2004). Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang dimaksudkan untuk mengoreksi sentralisasi ekonomi dan pemerintahan praktis tidak mengubah sedikitpun perimbangan penerimaan negara di Indonesia. Inilah relevansi lima platform Ekonomi Pancasila yang dapat menjadi panduan ( guidance) bagi pergantian sistem dan ideologi ekonomi menjadi ekonomi yang lebih bermoral. Paradigma yang kemudian dibangun adalah pembangunan Indonesia. dan calon pejabat pemerintahan lainnya akan kebutuhan adanya platform ekonomi yang khas Indonesia ini? Seandainya mereka (dan partainya) memiliki platform ekonomi tersendiri. efisien. 2003). sehingga lebih menjamin upaya pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. bernilai historis. Seruan memberantas korupsi atau ‗anti politisi busuk‘ saja belum cukup tanpa disertai reformasi (revolusi?) ideologi dan moral ekonomi liberal-kapitalistik yang menumbuhsuburkan praktek korupsi dan kejahatan ekonomi (economic crime) lain di Indonesia. antara pusat dan daerah di Indonesia. Sebelum otonomi pusat membelanjakan 78 persen. 5 Februari 2004 Oleh: Awan Santosa. Bukannya platform ekonomi yang konvensional. yang memungkinkan seluruh wilayah di Indonesia berkembang sesuai potensi masing-masing. Otonomi hanya mengubah sedikit sisi belanja. Inilah substansi Negara Kesatuan yang tidak membiarkan terjadinya ketimpangan sosial-ekonomi antardaerah melalui pemusatan aktivias ekonomi oleh pemerintah pusat. sedangkan PAD seluruh daerah di Indonesia tetap hanya 5 persen. Pertanyaannya. caleg. dan adil antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas. Meskipun otonomi daerah telah mendorong kemandirian dan kreativitas Pemda dalam membangun wilayah mereka. SE -. berkerakyatan. Gagasan para pendiri bangsa kita yang sejalan dengan praktek ekonomi rakyat dan menentang keras praktek ekonomi yang neo-liberal-kapitalistik kiranya menyadarkan kita akan perlunya perombakan sistem ekonomi tersebut. kini pusat membelanjakan 70 persen (Khudori. parsial. Apakah Pemilu dan Sidang Umum 2004 akan mampu menjawab kebutuhan ini? Yogyakarta. Tujuan keadilan sosial juga mencakup keadilan antar wilayah (daerah). dan di pusat pemerintahan. dan berciri ‗ke Indonesia-an‘. Oleh karena itu pengalaman pahit sentralisasi politik-ekonomi era Orde Baru dapat kita jadikan pelajaran untuk menyusun strategi pembangunan nasional. momentum Pemilu dan Sidang Umum 2004 merupakan saat yang tepat untuk mengoreksi kekeliruan sistem dan paham ekonomi kita. kiranya dapat diperdebatkan dengan platform Ekonomi Pancasila. Bangsa kita benar-benar membutuhkan platform ekonomi yang utuh. . dan hukum. dan bertanggungjawab. Keadaan ini dimungkinkan karena masih juga terjadi ketimpangan antarwilayah. bebas. Demikian.

1966-1996) ―tidak diridhoi‖ Allah SWT dan krismon ―diturunkan‖ untuk mengingatkan bangsa Indonesia.3 juta (2. Kini setelah Indonesia merdeka 58 tahun. Yang baru adalah kesadaran dan pengakuan tentang peranan besar yang dimainkannya dalam perekonomian rakyat dan perekonomian nasional.S.000 orang Eropa (kebanyakan Belanda) menerima 665 juta gulden (99.[3] [3] Van der Eng.7 juta hanya menerima 3. ketimpangan ekonomi tidak separah ketika jaman penjajahan.54%) dari pendapatan ―nasional‖ Hindia Belanda. Krisis Moneter Mengembangkan Keuangan Mikro Sejak terjadinya krisis moneter (krismon) yang berakibat langsung pada ditutupnya 16 bank swasta nasional tanggal 1 Nopember 1997. kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. dua tahun setelah Sumpah Pemuda. terutama di perdesaan. maka sudah sepantasnya berlaku perkataan (ketentuan Kami). berarti setiap orang memiliki tabungan di BRI sebesar Rp.2% per tahun selama 1997 – 2002 dari 457.978 orang. tetapi konglomerasi (1987-1994) yang menciptakan ketimpangan ekonomi luar biasa. hal. ISEAS. BRI yang merupakan lembaga keuangan mikro terbesar di Indonesia yang memiliki 3. Masyarakat dan pers kita hendaknya waspada dalam hal ini.8 (1983) dan 9. Demikian data-data mikro dari lapangan ini.788 milyar (tabel 2). Sebaiknya kita tidak ikut-ikutan berbicara tentang pemulihan ekonomi (economic recovery) jika yang akan kita pulihkan justru kondisi ekonomi sangat timpang ―pra-krisis‖ yang dikuasai konglomerat dan menjepit ekonomi rakyat. Singapore. 197.6 juta gulden (0. Dalam 26 tahun (1971 -1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan daerah termiskin meningkat dari 5.24.368. idem. dan Gini Rasio meningkat berturut-turut dari 0. Ekonomi rakyat Indonesia tidak pernah mengalami krisis serius meskipun sempat kaget. Indonesia Today. 17 Al Israa‘: 16) II. Indonesia‘s Economy and Standard of Living in the 20th Century dalam Grayson Lloyd & Shannon Smith.3% per tahun dari Rp. Kesan masih adanya ―krisis ekonomi‖ sekarang ini sengaja ditiupkan dan dibesar-besarkan oleh eks-konglomerat dan para pembelanya termasuk teknokrat.06%) sedangkan 241. Dan dana tabungan meningkat 26. Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri.4 juta gulden (0. Kemiskinan Penduduk Pribumi di Jaman Penjajahan Pierre Van der Eng.4% dari seluruh penduduk yang berjumlah 60.1 (1971) menjadi 6. Kemerdekaan. Di Propinsi DIY jumlah penabung bertambah rata-rata 16. 2001.18 menjadi 0. menunjukkan betapa keliru kesimpulan telah ―hancur leburnya‖ ekonomi Indonesia. [2] Pierre Van der Eng.4%). Kenyataan ini mempunyai . Sangat ―njomplangnya‖ pembagian pendapatan nasional inilah yang sulit diterima para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia yang bersumpah tahun 1928 di Jakarta. yang tidak pernah dilihat dan dianalisis oleh para ekonom makro. Penduduk Propinsi DIY tahun 2002 adalah 3. 51. Terbukti bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi (7% pertahun selama 3 dekade.1 juta penduduk pribumi (Indonesia) yang merupakan 97. maka Kami perintahkan kepada orangorang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. [2] seorang sejarawan Belanda menulis tentang strata ekonomi penduduk di jaman penjajahan. hal. harus dicapai karena akan membuka jalan ke arah perbaikan nasib rakyat dan bangsa Indonesia.263 milyar menjadi Rp. (Q.2%) menerima 0. 194. sehingga tidak memerlukan pemulihan. Keuangan Mikro bukan hal baru bagi Indonesia.825 unit-unit desa di seluruh Indonesia berkembang luar biasa. betapapun sangat ―mahal‖ harganya. penduduk Asia lain yang berjumlah 1.21 dan 0.496 menjadi 950. Pada tahun 1930. 828. sungguh-sungguh merupakah ―bom waktu‖ yang kemudian meledak sebagai krismon 1997. Konglomerat ingin melepaskan diri dari kewajiban membayar utang pada bank-bank pemerintah (BLBI dan obligasi rekap).8 (1997).Mubyarto MENGEMBANGKAN EKONOMI RAKYAT SEBAGAI LANDASAN EKONOMI PANCASILA I .1 juta orang.-. lembaga keuangan mikro berkembang pesat.

tidak dianggap sebagai faktor-faktor yang seharusnya tidak lagi menggambarkan kondisi krisis ekonomi? Ekonomi yang krisis adalah ekonomi yang pertumbuhannya terus-menerus negatif dan inflasi merajalela lebih dari 50% per tahun. Sebaliknya data-data mikro sektor ekonomi rakyat. Meskipun orang tidak pernah lupa menyebutkan bahwa krisis yang melanda bangsa Indonesia dewasa ini sudah berciri multidimensi. pembangunan ekonomi sudah menjadi ―agama‖. koperasi atau lembaga-lembaga keuangan mikro ―informal‖ di perdesaan. tokh yang paling sering disebutkan di media massa adalah sebagai krisis ekonomi. telah membantu 24. bukan dosen UGM). karena pada umumnya pakar-pakar ekonomi kita lebih banyak menggunakan data-data makro sekunder dan tersier di bidang keuangan. III. Ekonomi rakyat di manapun di daerah-daerah benar-benar sudah bangkit. kata mereka. tidak sekedar menggeliat. jelas merupakan kebijakan keliru yang tidak berpihak pada kebijakan pengembangan keuangan mikro dan pemberdayaan ekonomi rakyat. Kini ketika konglomerat sudah rontok. anggota KOSUDGAMA (Koperasi Serba Usaha Dosen-dosen Gadjah Mada) yang kini beranggota 5332 orang (74% diantaranya anggota luar biasa. Benarkah? Diagnosis ekonomi yang bersifat pesimistik masih jauh lebih kuat dibanding diagnosis optimistik. Inilah yang oleh para ekonom makro yang keblinger disebut dengan ekonomi illegal atau hidden economy. 39 milyar. yang sulit dibayangkan untuk bangkit kembali karena utang-utang yang sangat besar. Memang pakar-pakar ekonomi makro kita pada umumnya masih mampu berargumentasi dan menunjuk belum adanya investasi terutama investasi asing sebagai salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi rendah. Selain itu Koperasi Bina Masyarakat Mandiri yang didirikan 28 ―orang gila‖ tanggal 28 Oktober 1998 di Jakarta.6 kali (560%).873 penduduk miskin di seluruh Indonesia dengan pinjaman Rp.implikasi besar terhadap teori tentang peranan modal nasional dan upaya-upaya penguatannya dalam pembangunan ekonomi bangsa. dan pertumbuhan ekonomi yang sudah positif (3-4% pertahun). dengan peranan yang amat dominan dari (perusahaan-perusahaan) konglomerat. yang jika dibiarkan pasti akan mengakibatkan kebangkrutan perekonomian nasional.2 milyar dengan anggota naik dari 393 menjadi 1333 (Tabel 4).57 milyar (Tabel 3). dengan nilai pinjaman meningkat 11 kali lipat (1116%) dari Rp. 11. 440 juta untuk 917 orang (tabel 5). Benarkah faktor-faktor ini cukup? Mengapa inflasi yang sudah benar-benar terkendali sejak 1999 yang kini (2003) berada sekitar 6%. 5. Di Yogyakarta. Bahwa ekonomi nasional dianggap masih dalam kondisi krisis. Kesediaan pemerintah menerbitkan obligasi rekapitalisasi perbankan sebesar Rp. Misalnya. anggotanya meningkat lebih dari 5 kali lipat selama periode krisis (1998-2002). Satu Baitul Maal (BMT Beringharjo) di kota Yogyakarta dalam periode relatif singkat (1995-2002) telah meningkat omset pinjamannya dari Rp.04 milyar menjadi Rp. krisis hukum. yang memang tidak tercatat dalam statistik. sehingga tinggal tunggu waktu dibawa masuk jurang. dan pemerintah terperangkap dalam beban utang dalam dan luar negeri yang sangat berat. Jika ada pakar ekonomi asing mengatakan ―the only way for Indonesia‟s economic recovery is mass capital inflow from abroad‖. Fakta tentang peranan besar keuangan mikro dalam perekonomian nasional hendaknya menyadarkan pemerintah tentang perlunya mengkaji ulang teori ekonomi perbankan modern. selama 1995-2002 kredit yang disalurkan Perum Pegadaian meningkat dengan 5. padahal pada tahun 1999 baru Rp. bank-bank masih belum mengucurkan kredit ke sektor riil. faktor-faktornya antara lain adalah kurs dollar yang masih 3 kali lebih tinggi dibanding sebelum krisis moneter Juli 1997. 1. maka jelas kami menolak fatwa yang cenderung ―ngawur‖ tersebut. . 50. yang bunganya sangat memberatkan APBN. Sebabnya tidak lain karena selama 3 dekade Orde Baru. maka dilihat dalam perspektif ekonomi diartikan bahwa krisis ekonomi dewasa ini sudah amat parah. Usahausaha ekonomi rakyat yang disebut (secara tidak tepat) sebagai UKM (Usaha Kecil Menengah) berkembang di mana-mana dengan pendanaan mandiri atau melalui dana-dana keuangan mikro seperti pegadaian. Ekonomi Rakyat sebagai Penyelamat Ekonomi Nasional Jika Ahmad Syafii Ma‘arif dan Franz Magnis -Suseno (2003) berbicara keras tentang kerusakan bangsa Indonesia yang ―hampir sempurna‖. ―Jika pertumbuhan ekonomi hanya ditopang oleh konsumsi maka pertumbuhan ekonomi tidak akan berkelanjutan‖. tidak pernah masuk dalam perhitungan.650 trilyun untuk ―menyelamatkan perbankan modern‖.9 juta menjadi Rp. bukan krisis politik. dan jumlah orang yang menggadaikan (nasabah) naik 368% (Tabel 2). atau krisis moral. maka ekonomi Indonesia secara keseluruhan dikatakan sudah dalam keadaan krisis parah.

Apakah kondisi ekonomi konglomerasi seperti ini akan kita pulihkan? Pasti tidak. tetapi dituduh sebagai sistem ekonomi ―sosialis-komunis‖ ala Orde Lama 1959-1966. Indonesia sebaiknya tidak usah berbicara tentang pemulihan ekonomi ( economic recovery). Revolusi Mewujudkan Ekonomi Pancasila Tanggal 12 Agustus 2002 UGM mendirikan PUSTEP (Pusat Studi Ekonom Pancasila) yang kemudian disambut pembentukan Komisi Ad Hoc Kajian Ekonomi Pancasila pada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. kerusakan ekonomi yang dialami sektor modern/ konglomerat tidak perlu diratapi. Ekonomi Indonesia akan tumbuh cepat seperti ekonomi RRC jika mampu mengalahkan virus korupsi yang tumbuh subur sejak awal gerakan reformasi yang telah benar-benar melenceng. Bibit -bibit sistem ekonomi Pancasila sudah ada dan sudah dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Indonesia terutama pada masyarakat perdesaan dalam bentuk usaha- . Ekonomi Pancasila bukanlah sistem ekonomi baru yang masih harus diciptakan untuk mengganti sistem ekonomi yang kini ―dianut‖ bangsa Indonesia. Ekonomi siapa yang akan dipulihkan? Ekonomi konglomerat jangan dipulihkan. Disinilah kekeliruan fatal pakar-pakar ekonomi makro yang sejak krismon 1997 menyatakan ekonomi Indonesia telah ―mati secara aneh dan tiba -tiba‖ (the strange and sudden death of a tiger )[4]. berbeda dengan pandangan pakar-pakar ekonomi arus utama (main stream). tetapi kemudian pada tahun 1999 menyebutnya telah mati. bahkan juga ekonomi kekeluargaan. tetapi dalam bidang politik. IV. Bahwa sejauh ini pakar-pakar ekonomi arus utama menolak konsep ekonomi kerakyatan. dan ekonomi RRC tumbuh cepat bukan karena meninggalkan paham sosialisme tetapi karena amat berkembangnya ekonomi rakyat. Pandangan dan pemihakan mereka pada konglomerat yang liberal-kapitalistik memang amat sulit diubah lebih-lebih setelah (istilah mereka) ‖Uni Sovyet pun kapok dengan sosialisme. hukum. dan RRC juga sudah menjadi kapitalis”. The Theory of Moral Sentiments. adalah karena mereka secara a priori menganggap ekonomi kerakyatan bukan sistem ekonomi pasar. kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. lalu apa yang terjadi dengan orang-orangnya? Apakah mereka (bangsa Indonesia) juga ikut mati? Inilah tidak realistisnya analisis ekonom yang memberikan konsep-konsep ekonomi abstrak dari manusia-manusia ekonomi (homo ekonomikus) tanpa merasa perlu membumikannya.Dapat disimpulkan bahwa kondisi ―amat gawat‖ yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini tidak terletak dalam bidang ekonomi khususnya ekonomi rakyat. Korupsi yang makin merajalela yang ―menyebar‖ dari pusat ke daerah-daerah bersamaan dengan pelaksanaan otonomi daerah bukanlah ―krisis ekonomi‖ tetapi krisis moral. tetapi bukan kerusakan ekonomi rakyat. the strange and sudden death of a tiger. Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang demokratis. 1759. bukan kerusakan ekonomi Indonesia. menunjuk pada asas ke-4 Pancasila. sedangkan ―kerusakan bangsa‖ yang diklasifikasi sebagai ―hampir sempurna‖ oleh Syafii Ma‘arif adalah kerusakan dalam bidang tatakrama atau etika politik. yang hendak digusur dari pasal 33 UUD 1945. Demikian. [5] Adam Smith. Yang rusak adalah ekonomi konglomerat yang pada masa-masa jayanya terlalu mengandalkan pada modal asing yang murah.[5] [4] Hal Hill dalam buku pertama tahun 1993 memuji-muji ekonomi Indonesia sebagai The Southeast Asia‟s emerging giant. dan moral. dan kita tidak perlu mati-matian memulihkan kondisi ekonomi pra-krisis yang sangat timpang. dimana ekonomi rakyat mendapat dukungan pemihakan yang sungguh-sungguh dari pemerintah. Kerusakan ekonomi bangsa memang hampir sempurna. Yang benar manusia adalah juga homo socius dan homo ethicus. tetapi setelah terjadi apresiasi dolar 6 kali lipat secara tiba-tiba maka konglomerat-konglomerat tersebut telah benar-benar hancur berkeping-keping. Pendirian PUSTEP-UGM ini kemudian diikuti pembentukan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PSEK) di Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa tanggal 16 Agustus 2003 semuanya berkehendak menyumbangkan teori-teori dan ilmu ekonomi (asli) Indonesia yang benar-benar memberi manfaat pada masyarakat/ bangsa Indonesia khususnya wong cilik. Sudah pasti mereka ―keblinger‖ karena paham sosialisme tidak pernah mati. Jika ekonomi Indonesia telah diibaratkan sebagai harimau ( tiger) yang sudah mati sejak krismon 1997-1998.

11 Oktober 2003. 1 Juni 1945) Jika Ahmad Syafii Ma‘arif dan Franz Magnis-Suseno di dalam Seminar ―Meluruskan Jalan Reformasi‖. Justru inilah suatu bentuk nyata ‖jihad akbar” yang tidak menuntut pengorbanan pertumpahan darah.[6] [6] Nurcholish Madjid. yang begitu silau dengan sistem ekonomi kapitalis liberal dari Barat (Amerika). Jihad akbar adalah jenis perjuangan berat melawan diri sendiri. mengibaratkan bangsa Indonesia sudah mendekati ―jurang kehancuran‖. Itulah revolusi bukan sekedar reformasi. hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang.. alasannya jelas karena politik ekonomi yang dijalankan pemerintah bersifat liberal dan berpihak pada konglomerat. Adapun mengapa praktek-praktek kehidupan riil dan kegiatan ekonomi rakyat yang mengacu pada sistem (aturan main) ekonomi Pancasila ini tersendat-sendat. yaitu di antara 79 „speed‟ dan 60 taksi yang semuanya dimiliki warga Kota Bangun.usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Tindakan besar yang dimaksud adalah suatu tindakan fundamental.. Jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu menjadi satu realiteit. 11 Oktober 2003 Oleh: Prof. dan Balikpapan. Mubyarto -. atau bahkan perang. perjuangan. tetapi menuntut pengorbanan melawan egoisme dan subjektivisme. „Speed‟ hanya melayani penumpang Melak-Kota Bangun pulang-pergi (Kutai Barat dan Kutai Kartanegara). Kompleksitas krisis multidimensi sekarang dan beratnya beban kesulitan mengatasi dan mengakhirinya membuat tekad membangun masa depan harus diwujudkan dalam tindakan-tindakan besar dan inisiatif tingkat tinggi. meskipun keberpihakan pemerintah pada konglomerat belum hilang. . suatu perjuangan yang memerlukan keberanian menyatakan apa yang benar walaupun pahit karena bertentangan dengan kepentingan pribadi atau kelompok. Seorang pengemudi ‟speed boat‟ Zamrani (26 th) yang hanya tamat SD 6 tahun menegaskan “Ekonomi Pancasila dalam Aksi” di dalam pelayanan jasa transpor di Sungai Mahakam Kaltim. lain coraknya. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. ―Kapal‖ Indonesia harus dibalikkan arahnya. Seminar UGM. PUSTEP UGM bertekad melakukan kajian-kajian kehidupan riil (real life) sehingga dapat membakukan ilmu ekonomi tentang kehidupan riil ( real-life economics) dari masyarakat/bangsa Indonesia. . sedangkan taksi Kijang dan lain-lain kendaraan “mini-bus” untuk jurusan Kota BangunTenggarong-Samarinda. maka reformasi lebih -lebih yang bersifat tambal-sulam jelas tidak akan memadai. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus. KOPMA-UGM. Sistem ekonomi kerakyatan merupakan sub-sistem dari sistem ekonomi Pancasila yang diragukan dan tegas-tegas ditolak oleh teknokrat ―keblinger‖. Nanti kita bersama-sama sebagai bangsa yang bersatu padu. suatu bentuk pengorbanan psikologis. 25-27 September 2003. dan sistem ekonomi kerakyatan sedang mencari bentuknya yang tepat dan operasional. “Bagi-bagi rezeki” ala ekonomi rakyat di Kota Bangun inilah bukti nyata telah diterapkannya asas-asas ekonomi Pancasila di Kalimantan Timur. tetapi gerakan ekonomi kerakyatan yang dipicu semangat reformasi memberikan iklim segar pada berkembangnya sistem ekonomi Pancasila yang berpihak pada ekonomi rakyat. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi dan Moral. Pembentukan PUSTEP UGM tepat waktu untuk mengisi kevakuman sistem ekonomi nasional. ketika sistem ekonomi kapitalis liberal di Indonesia sedang digugat. yang secara moral setara dengan revolusi. sekali lagi perjuangan. [1] Makalah untuk Seminar Ekonomi Masa Depan Indonesia Pasca IMF. berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila (Soekarno. janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya ialah perjuangan. Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. Ketika terjadi krismon 1997-1998. Dr.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM.

Ha-Joon. dan Pendidikan. maka untuk SD yang ditangani Rusnawati reformasi ―belum pernah terjadi‖. Kampung (desa) Sambung. 9. 2. 11. 2003. BPFE. Seminar Nasional.000 per-bulan). Mubyarto dan Daniel W. Grayson & Shannon Smith. kelas II: 3 murid. 1999. yaitu revolusi dalam perhatian pemerintah terhadap kondisi persekolahan di kampung ini. London. Gadjah Mada Press. ISEAS. kelas IV: 1 murid. Franz Magnis-Suseno SJ. Yogyakarta. New York. Indonesia Today. Kecamatan Bentian Besar. Anthem Press. dan kini bertanggungjawab atas pendidikan 25 anak yang terbagi atas 6 kelas yaitu kelas I: 8 murid. Chang. 6. Yogyakarta. Singapore. dan kelas VI: 8 murid. Masri Singarimbun & D. Stiglitz. Reformasi Sistem Ekonomi. sedangkan ke perbatasan dengan Kalteng yang hanya 10 km ditempuh dalam 1 jam perjalanan. Pidato pertama tentang Pancasila yang diucapkan pada tanggal 1 Juni 1945 oleh Bung Karno ‖. Mubyarto PERHATIAN TERHADAP KONDISI PERSEKOLAHAN DI DAERAH TERPENCIL: BUKAN SEKEDAR REFORMASI HARUS REVOLUSI Rusnawati (47 tahun) yang guru SD Kampung Sambung. Mubyarto.H. Joseph Stiglitz and The World Bank. kelas III: 3 murid. Joseph E.720. sedangkan anak-anak kelas IV – VI pulang pukul 13:00. WW. A Development Alternative for Indonesia. Ahmad Syafii Ma‘arif. Kabupaten Kutai Barat. 8. ibukota Kutai Barat) dengan perjalanan darat sebagian besar masih jalan tanah buatan perusahaan HPH. Tentu kita kagum bagaimana seorang guru mengajar 25 anak didik dengan 6 kelas yang berbeda dengan buku-buku yang sangat terbatas. Membangun Sistem Ekonomi. Anak -anak kelas I – III pulang pukul 11:00. Mubyarto. Globalization and Its Discontents. 12. Hernando. 5. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi dan Moral. ―12 Kali Tepuk Tangan di BPUPKI: Lahirnya Pancasila. kelas V: 2 murid. The Rebel Within. 1976. Pemda Kabupaten. Soekarno. dan sangat jelas yang diperlukan sekarang bukan sekedar reformasi tambal sulam tetapi revolusi. 2001. sehingga total 25 murid. Nurcholish Madjid. De Soto. The Mystery of Capital. 4. Penduduk dan Kemiskinan di Pedesaan Jawa. Universitas Gadjah Mada. 2003. 7. Sekolah dimulai pukul 6:00 pagi dan pada pukul 6:30 semua murid ―gosok gigi‖ bersama. Bila kita berbicara tentang reformasi yang jalannya hendak kita ―luruskan‖. 2001. Universitas Gadjah Mada. tidak mungkin setiap kampung mempertahankan SD sendiri-sendiri dengan jumlah murid sangat sedikit. 2003. Seminar Nasional. Moral. Lloyd. Black Swan. bertahun-tahun berjuang ―sendirian‖. namun perhatian terhadap . Universitas Gadjah Mada. Jakarta. 2003. dan revolusi dalam kesadaran seluruh warga masyarakat bagaimana menjamin pendidikan yang bermutu bagi generasi anak cucu . Perjalanan dari Melak memerlukan 4 jam. Aditya Media.Bacaan 1. meskipun gaji Rusnawati terhitung lumayan (Rp 1. 2000. Panitia Pusat ―Silaturahmi Kebangsaan 2003‖. 2002. berjarak 160 km dari Melak (Sendawar. Kembalikan Moralitas Bangsa. Seminar Nasional. Bhratara. Bromley. 2000. SD yang layak dan bermutu harus dipusatkan di kecamatan yang murid-muridnya di‖asramakan‖ dan penyelenggaraannya ditanggung Dinas Pendidikan. Kedua. Pertama. Penny. 10. Norton. Yogyakarta. 3. Kalimantan Timur. 2002. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi.

696 per tahun atau Rp . itupun ada yang keberatan karena memang tidak mampu. Demikian dari kasus 2 SD di kampung miskin di kabupaten Kutai Barat ini kiranya harus ada revolusi dalam pendidikan dasar.Nopember 2003] Vincent Gaspersz dan Esthon Foenay KINERJA PENDAPATAN EKONOMI RAKYAT DAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Strategi pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dilakukan berdasarkan pertumbuhan melalui pemerataan dengan prinsip membangun dari apa yang dimiliki rakyat dan apa yang ada pada rakyat. Kinerja pendapatan per kapita penduduk diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan tahun 1993 dibagi dengan jumlah penduduk tengah tahun. Melihat buku-buku ajar yang dipakai sebagian besar sudah tua. hlm. Pendapatan per kapita dan pengeluaran per kapita dapat dijadikan sebagai indikator kemajuan pembangunan ekonomi di Nusa Tenggara Timur.000/bulan. dikhawatirkan anak-anak sangat tidak menikmati suasana sekolah dan tidak dapat diharapkan menjadi anak-anak yang cerdas. Strategi pembangunan yang menjadi pilihan tersebut memerlukan langkah-langkah operasional yang terukur dan disesuaikan dengan paradigma baru pembangunan (Esthon Foenay. dan kesehatan rakyat.kesejahteraan guru dan penyediaan bahan-bahan ajar harus dengan anggaran yang memadai untuk penyelenggaraan sekolah-sekolah beserta asramanya. 4 & 7).000 (baru saja diangkat sebagai PNS) dengan dibantu guru PTT dengan gaji Rp 400. beberapa orang spontan mendukung asal tetap tidak perlu dipungut biaya. Dr. Gedung SD dari kayu yang bekas rumah penduduk (5 x 15m). Masyarakat yang hampir semuanya miskin sulit diharapkan membayar biaya pendidikan anak-anak mereka. Mubyarto -. Kasus kondisi sekolah dasar yang cukup ―memilukan‖ di kampung Sambung menjadi lebih ―mengerikan‖ lagi di kampung Jontai kecamatan Damai. Ada anak kelas I anak penginjil setempat (Yunus) yang tiap hari diantar sekolah oleh ibunya setelah ditinggal selalu pulang lagi. Pos Kupang 11 September 2001 hlm. Di daerah-daerah.000/bulan bertanggungjawab atas pendidikan 41 murid SD.100 per tahun atau Rp 61. tidak sekedar reformasi yang dalam kenyataan hanya dijadikan retorika politik di Jakarta. sangat mendukung gagasan pengasramaan murid-murid SD desa-desa terpencil ini.008 per bulan atau berdasarkan harga yang berlaku pada tahun 2001 adalah sebesar Rp 1. 25 September 2003 Oleh: Prof. 9 Tahun 2001 Tentang Program Pembangunan Daerah Tahun 2001-2004. Sengkon (39) dengan gaji Rp 720. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. Sekarang setiap anak membayar BP3 Rp 1. Kepala sekolah SD Dempar. yang merupakan filial SD Dempar. dipakai untuk semua murid dengan guru Sengkon sendirian (guru PTT Sarmoto jarang datang). terutama desa-desa/kampung-kampung miskin. Jaelani (41 th). pemerintah daerah harus mampu mendorong terjadinya revolusi atau perubahan radikal dalam menangani dunia pendidikan termasuk penyediaan anggaran 20% dari APBD seperti yang ―dianjurkan‖ UUD 1945 yang telah diamandemen. Salah satu tujuan pembangunan ekonomi daerah Nusa Tenggara Timur adalah meningkatkan standar hidup layak yang diukur dengan indikator pendapatan per kapita riil masyarakat (Peraturan Daerah Provinsi NTT No. [1] 8 .811.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. 19). pendidikan rakyat. tanpa dinding pembatas. Pada saat kepada penduduk Jontai yang dipilih secara acak diajukan usulan untuk ―mengasramakan‖ anak -anak usia SD mereka ke SD Dempar. Pendapatan per kapita dari Provinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan harga konstan 1993 pada tahun 2001 adalah sebesar Rp 732. dengan titik berat pembangunan yang berlandaskan pada pembangunan ekonomi rakyat.

028 (70. Hal ini berarti secara kasar dapat disimpulkan bahwa pendapatan per kapita penduduk NTT yang sebesar $US 200-an—katakanlah berkisar $US 200 . Kinerja pendapatan per kapita lingkup kabupaten/kota tertinggi (PDRB real per kapita—tanpa minyak dan gas) adalah dari Kota Madya Jakarta Pusat (Provinsi DKI Jakarta) yaitu Rp 15. BAPPENAS.104. Sedangkan enam kabupaten di NTT memiliki kinerja pendapatan per kapita lebih tinggi daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 732.408 per tahun atau Rp 144.959 orang (94.000 per tahun—ranking 293 dari 294 kabupaten di Indonesia).000 per tahun atau Rp 59.105).636). Pengeluaran per kapita pada tahun 2001 dari penduduk Provinsi Nusa Tenggara Timur atas dasar harga yang berlaku adalah sebesar Rp 1.72%). diurutkan dari yang tertinggi adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 1.298 orang) yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150. diurutkan dari yang terrendah adalah: (1) Sumba Barat (Rp 474. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Global 2002 (UNDP 2002) terhadap 173 negara di dunia.591).034 per bulan. Kelompok penduduk yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150. (2) Manggarai (Rp 521.493.000 per hari.000 per tahun —ranking 294 dari 294 kabupaten di Indonesia) dan Kabupaten Sumba Barat (pendapatan per kapita Rp 501. (4) Timor Tengah Utara (Rp 650. (3) Sumba Timur (Rp 840. (3) Timor Tengah Selatan (Rp 550. dan UNDP 2001) diketahui bahwa kinerja pendapatan per kapita tertinggi (PDRB real per kapita —tanpa minyak dan gas) pada lingkup provinsi di Indonesia adalah dari Provinsi DKI Jakarta yaitu Rp 5.125.$US 300. Berdasarkan studi ini dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pemerataan kemiskinan di Nusa Tenggara Timur yang ditunjukkan melalui rendahnya tingkat pengeluaran per kapita dari mayoritas penduduk di NTT.250 per bulan dan terrendah adalah dari Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Rp 712.053).318.333 per bulan dan terrendah adalah dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (Provinsi Nusa Tenggara Timur) yaitu Rp 497. Terdapat dua kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pendapatan per kapita terrendah di Indonesia (ranking 293 dan 294 dari 294 kabupaten yang dipelajari). (6) Sikka (Rp 717. (5) Flores Timur (Rp 778. dan UNDP 2001) diketahui bahwa rasio Gini (indeks Gini) dari pengeluaran rumahtangga di Provinsi Nusa Tenggara Timur .380 per tahun atau Rp 84.000 per hari ini terbanyak berada di daerah pedesaan NTT yaitu sebanyak 3.000 per tahun atau Rp 41.72% dari total penduduk pedesaan) hanya memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 5. yaitu Kabupaten Timor Tengah Selatan (pendapatan per kapita Rp 497.857). Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001 (BPS. Kinerja pendapatan per kapita di Nusa Tenggara Timur adalah yang paling rendah (paling buruk) di Indonesia.150. masih lebih rendah daripada pendapatan per kapita penduduk negara termiskin di dunia (Sierra Leone) yang sebesar $US 490.14 persen daripada pendapatan per kapita penduduk Jakarta Pusat.339 orang (65.009). hlm. hlm. Hal ini berarti pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk perkotaan di NTT lebih tinggi sekitar Rp 713. 469).333 per bulan.820.100). BAPPENAS.149).000 per bulan atau kurang dari Rp 5. (2) Kabupaten Kupang (Rp 852.039).04%).22%) daripada pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk pedesaan di NTT. Pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku terdapat sekitar 90. terutama di daerah pedesaan NTT di mana mayoritas penduduknya (94. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001 (BPS.061) dan terrendah (pendapatan per kapita terrendah) adalah dari negara Sierra Leone yaitu $US 490. dan (7) Ngada (Rp 761. dan (6) Ngada (Rp 761.262). diketahui bahwa kinerja pendapatan per kapita tertinggi adalah dari negara Luxembourg yaitu sekitar $US 50 ribu ($US 50.417 per bulan. Kinerja pengeluaran per kapita penduduk secara rata-rata dapat juga digunakan sebagai variabel proxy (mewakili) dalam mengkaji kinerja tingkat pendapatan ekonomi penduduk dan distribusi pendapatan penduduk. sedangkan yang berada di daerah perkotaan NTT adalah sebanyak 388.15% penduduk NTT (3. sedangkan pengeluaran per kapita dari penduduk pedesaan di NTT adalah sebesar Rp 1.680).943. Jika menggunakan nilai kurs $US 1 = Rp 9000an (rata-rata nilai kurs pada tahun 2001). Sangat sulit membayangkan betapa parahnya tingkat kemiskinan masyarakat di Nusa Tenggara Timur. maka pendapatan per kapita NTT pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku adalah setara dengan $US 200-an.000 per tahun atau Rp 1.057). Kinerja pendapatan per kapita dari kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 adalah terdapat tujuh kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pendapatan per kapita per tahun lebih rendah daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 732.015.951).000 per tahun atau Rp 495.985. Pengeluaran per kapita dari penduduk perkotaan di NTT adalah sebesar Rp 1.240 per tahun atau Rp 93. (4) Ende (Rp 812. (5) Alor (Rp 706.728.975 per bulan (NTT dalam Angka Tahun 2001. 129).615 per bulan. atau hanya sekitar 3.770 per bulan (NTT dalam Angka Tahun 2001. atau hanya sekitar 12 persen daripada pendapatan per kapita penduduk DKI Jakarta.100).149).000 per hari pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku pada saat itu.000 per bulan atau kurang dari Rp 5.

sedangkan produktivitas tenaga kerja terrendah berada dalam Kabupaten Sumba Barat yaitu sebesar Rp 1.650). Berdasarkan kenyataan di atas. (2) Manggarai (Rp 1.710) di Nusa Tenggara Timur adalah sekitar 75 kali atau 7.980).406. kimia dan barang dari karet. 2002) diketahui bahwa produktivitas tenaga kerja tertinggi berada dalam sektor lembaga keuangan bukan bank yaitu sebesar Rp 35.960). (4) Belu (Rp 1. Kinerja produktivitas tenaga kerja di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 adalah sebesar Rp 1.650.030) dan produktivitas tenaga kerja regional terrendah (Kabupaten Sumba Barat—Rp 1.590 (atas dasar harga yang berlaku tahun 2001). (2) Kabupaten Kupang (Rp 1.250).202. dan (3) Sumba Timur (Rp 1. diurutkan dari yang tertinggi adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 1.660).590) dan produktivitas tenaga kerja sektoral terrendah (sektor industri pupuk. kimia dan barang dari karet yaitu sebesar Rp 469.017. (10) Sumba Timur (Rp 566.030). yang berarti tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi dari Kota Madya Kupang adalah 7. (5) Timor Tengah Utara (Rp 487.080).640).540).730).750). diurutkan dari yang terrendah adalah: (1) Sumba Barat (Rp 437.575. Manggarai. .750) di Nusa Tenggara Timur adalah sekitar 7.010). Alor.367. Dari 34 sektor produksi yang didefinisikan dalam Tabel Input-Output Nusa Tenggara Timur 2001 (BPS NTT. Dari 13 kabupaten/kota yang dipelajari. diketahui bahwa produktivitas tenaga kerja tertinggi berada dalam Kota Madya Kupang sebesar Rp 7. maka produktivitas memandang dari dua sisi sekaligus.28.pada tahun 1999 adalah rendah yaitu 0.962.717.597. diurutkan berdasarkan produktivitas tenaga kerja terrendah. adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 7. yang menunjukkan telah terjadi pemerataan pengeluaran rumahtangga pada tingkat pengeluaran yang rendah seperti diungkapkan di atas. Hal ini berarti bahwa tingkat ketimpangan antara produktivitas tenaga kerja sektoral tertinggi (sektor lembaga keuangan bukan bank —Rp 35. (5) Ngada (Rp 1.280).017.140).710 (atas dasar harga yang berlaku tahun 2001). Hanya terdapat dua kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pengeluaran per kapita lebih tinggi daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 576.900). Sumba Barat. (3) Timor Tengah Selatan (Rp 472. (9) Kabupaten Kupang (Rp 557. (7) Flores Timur (Rp 1.017. (8) Flores Timur (Rp 528.367.650).24 kali atau 724 persen. Timor Tengah Utara.380).148.717. Kinerja Produktivitas Tenaga Kerja di NTT Apabila ukuran keberhasilan produksi hanya memandang dari sisi output. (4) Alor (Rp 485. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input dalam memproduksi output (barang dan/atau jasa). maka pembangunan ekonomi kerakyatan di masa mendatang seyogianya memprioritaskan pada beberapa kabupaten di NTT yang masih menunjukkan kinerja rendah dalam indikator pendapatan ekonomi masyarakat yaitu: Timor Tengah Selatan. (8) Sikka (Rp 1.900).970).710).820).030).187.270).360). Kinerja produktivitas tenaga kerja dari kabupaten-kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah terdapat 10 kabupaten yang memiliki kinerja produktivitas tenaga kerja regional lebih rendah daripada rata-rata produktivitas tenaga kerja tingkat Provinsi NTT (Rp 1.540).652.560).703.534. dan Kabupaten Kupang. (7) Ende (Rp 501.580).281.367. (6) Timor Tengah Selatan (Rp 1. (6) Belu (Rp 494.650).24 kali lipat (724%) daripada tingkat produktivitas tenaga kerja terrendah dari Kabupaten Sumba Barat. sedangkan produktivitas tenaga kerja terrendah berada dalam sektor industri pupuk. Hanya terdapat tiga kabupaten yang memiliki kinerja produktivitas tenaga kerja regional lebih tinggi daripada rata-rata produktivitas tenaga kerja tingkat Provinsi NTT (Rp 1. (9) Alor (Rp 1. diurutkan berdasarkan produktivitas tenaga kerja tertinggi. Hal ini berarti bahwa tingkat ketimpangan antara produktivitas tenaga kerja regional tertinggi (Kota Madya Kupang—Rp 7.942.523. dan (11) Ngada (Rp 566.717. dan (10) Ende (Rp 1. Kinerja produktivitas tenaga kerja regional di Nusa Tenggara Timur diukur berdasarkan rasio produk domestik regional bruto (PDRB) kabupaten tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 dengan jumlah tenaga kerja yang ada di kabupaten itu pada tahun 2001.500 persen.187.750 (atas dasar harga konstan 1993). (2) Sikka (Rp 440.900).030 (atas dasar harga konstan 1993).180) dan (2) Manggarai (Rp 579. yang berarti tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi dari sektor lembaga keuangan bukan bank adalah 75 kali lipat (7500%) daripada tingkat produktivitas tenaga kerja terrendah dari sektor industri pupuk. kimia dan barang dari karet —Rp 469. (3) Timor Tengah Utara (Rp 1. yaitu: sisi input dan sisi output. Kinerja pengeluaran per kapita dari kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada tahun 1999 atas dasar harga konstan 1993 adalah terdapat sebelas kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pengeluaran per kapita lebih rendah daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 576. adalah: (1) Sumba Barat (Rp 1. Belu.

Kupang. Jakarta. Ir. Vincent Gaspersz adalah Guru Besar Ekonomi Manajerial pada Program Pascasarjana Unika Widya Mandira. 2001. Badan Pusat Satatistik. yang pada akhirnya akan mampu mewujudkan kemandirian masyarakat membiayai kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. Kupang. dan UNDP. Kupang. 2001. 2001. Dr. 4 dan 7. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. Kupang dan Universitas Trisakti. Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2000. 2001. Prof. Dengan demikian telah jelas bahwa strategi perubahan struktur produksi dari sektor-sektor produksi yang memberikan kontribusi terhadap PDRB. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2001. Jakarta 2001. Penduduk Nusa Tenggara Timur—Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000. sesuai dengan visi dari pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur. ―on-farm‖. 2002. Peningkatan produktivitas tenaga kerja melalui perubahan struktur produksi terhadap PDRB. 2002. 2001. sampai hilir. di masa mendatang akan mampu meningkatkan produktivitas tenaga kerja regional. maju.Berdasarkan hasil studi ini direkomendasikan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dari kabupaten-kabupaten di NTT melalui melakukan transformasi struktur produksi atau menurunkan tingkat kontribusi dari sektor-sektor primer terhadap PDRB kabupaten itu. Bappenas. M. Artikel dalam Pos Kupang 11 September 2001. Hal ini akan mampu mewujudkan cita-cita jangka panjang berupa mewujudkan masyarakat Nusa Tenggara Timur yang mandiri. Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001—Menuju Konsensus Baru: Demokrasi dan pembangunan manusia di Indonesia. dan sejahtera. dan UNDP. BPS. BPS NTT. 2002. Foenay. Kupang. Esthon Foenay. Laporan Studi Kerjasama Bappeda NTT dengan Program Pascasarjana Universitas Katolik Widya Mandira. Kupang. Kupang. 2002. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Publikasi Bersama oleh BPS. 2001. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 9 Tahun 2001 tentang Program Pembangunan Daerah (PROPEDA) Tahun 2001-2004. Perspektif Perencanaan dan Paradigma Baru Pembangunan. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 8 Tahun 2001 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Tahun 2001-2004. hlm. NTT. Canada. Jakarta yang saat ini bermukim di Vancouver. ―on-farm‖. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. BPS NTT. DAFTAR PUSTAKA BAPPEDA NTT dan Program Pascasarjana UNIKA WIDYA MANDIRA.Si adalah Kepala BAPPEDA Provinsi Nusa Tenggara Timur yang bermukim di Kupang. . akan memberikan konsekuensi lebih lanjut berupa peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 6 Tahun 2002 tentang Rencana Strategis Pembangunan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2002-2004. Esthon. Hal yang paling memungkinkan adalah mengembangkan sektor-sektor agribisnis yang mampu mengaitkan secara terpadu dan terintegrasi dari agribisnis hulu. dan hilir. BPS Jakarta-Indonesia. Kupang. Perencanaan Sumber Daya Manusia Tingkat Makro di Provinsi Nusa Tenggara Timur. BPS NTT. melalui mengembangkan sektor agribisnis dari hulu. Bappenas. Tabel Input-Output Nusa Tenggara Timur 2001—Klasifikasi 35 Sektor.

S. ―The End of Cheap Oil‖ predicted that world oil production would peak ―probably within 10 years.Peak Oil and Energy Imperialism John Bellamy Foster Home Subscribe Notes From the Editors ESSAYS ON: » Africa » Europe » Feminism/Women and Politics » Globalization » Labor and Working-Class Issues » Latin America » Media/ Communications » 9/11–War on Terrorism » Social/Political Theory » U. military activities in the Gulf of Guinea in Africa (where Washington sees itself as in competition with Beijing). the 2003 invasion of Iraq. At the same time fears that the world would soon reach peak oil production became increasingly prominent.1 Beginning in 1998 a series of strategic energy initiatives were launched in national security circles in the United States in response to: (1) the crossing of the 50 percent threshold in U. the invasion and occupation of Afghanistan (the geopolitical doorway to Western access to Caspian Sea Basin oil and natural gas) following the 9/11 attacks.S. assuming a high profile behind the scenes in establishment discussions. Laherrère. Politics/ Economics The rise in overt militarism and imperialism at the outset of the twenty-first century can plausibly be attributed largely to attempts by the dominant interests of the world economy to gain control over diminishing world oil supplies. (2) the disappearance of spare world oil production capacity.‖2 This required that the United States as the hegemonic power. and (4) looming fears of peak oil. seek to extend its control over world oil reserves with the object of boosting production. The crossing of this threshold pointed to a very rapid growth in U. (3) concentration of an increasing percentage of all remaining conventional oil resources in the Persian Gulf. The response of the vested interests to this world oil supply crisis was to construct what Michael Klare in Blood and Oil has called a global ―strategy of maximum extraction.S. Campbell and Jean H.S. the . Seen in this light. and the increased threats now directed at Iran and Venezuela—all signal the rise of a dangerous new era of energy imperialism. importation of foreign oil. foreign oil dependency. with the backing of the other leading capitalist states. The Geopolitics of Oil In April 1998 the United States for the first time imported the majority of the petroleum it consumed.‖ The Campbell and Laherrère article and the question of peak oil immediately drew the attention of the International Energy Agency (IEA). A key event was the publication in Scientific American in March 1998of ―The End of Cheap Oil‖ by retired oil industry geologists Colin J. the rapid expansion of U.

however.5 Simmons was a member of the Bush-Cheney Energy Transition Advisory Committee.8 In July 1998 the Center for Strategic and International Studies (CSIS) launched its ―Strategic Energy Initiative. arguing that the Saudi oil production peak was imminent. CEO of the Houston-based energy investmentbanking firm Simmons and Company International and a member of the National Petroleum Council and the Council on Foreign Relations. Schlesinger. Rather than extending the life of oil fields as previously supposed.‖ he asked. in its World Energy Outlook of 1998. but giant. published an article in Middle East Insight in 1999 in which he emphasized the ―far faster‖ depletion of major oil fields arising from high-extraction technology. who had been sent to examine the spare oil production capacity of the OPEC countries. This was increasingly integrated with wider issues on the expansion of the U. the introduction of this technology most likely accelerated their depletion.‖ The analysis itself. considering a number of scenarios. but this. As Simmons reported to Bush‘s cousin: I said. In November 2000. fields also starts to deplete. ―When you have someone who is the head of U.S. he can mispronounce every head of state in the world. oil policy call you and [say ‗shit!‘] about five times in 20 seconds. As he recounted it in a February 2008 interview. was not altogether reassuring to the vested interests. Twilight in the Desert: The Coming Saudi Oil Shock and the World Economy.S. ―what will this do to the world‘s average depletion rate?‖4 In 2000 Simmons‘s concerns regarding diminishing oil supply led to his becoming an energy advisor for George W. The peaking of United Kingdom North Sea oil production in 1999 (Norwegian production peaked two years later) added a still greater sense of urgency. since it suggested that a world oil peak could be reached as early as 2021.‖ I said.‖ Employing the IEA‘s own assumptions on reserves. he had ―pulled aside‖ Bush‘s ―first cousin‖ in early March 2000 to tell him of an earlier conversation he had had with an assistant to Secretary of Energy Bill Richardson. . this is so much worse than what they‘ve warned us about. this will sink you.‖ Simmons noted that ―almost all of these new fields have already reached peak production and are now experiencing rapid rates of decline…fAnd when the stable base of old. however. His 2005 book. Bush‘s presidential campaign. As opposed to those who saw the peak occurring ―as early as 2004‖ the EIA concluded that ―world conventional oil production may increase two decades or more before it begins to decline.‖ at the urging of former chairman of the Senate Armed Services Committee Sam Nunn and former secretary of defense (and former secretary of energy) James R. has become one of the most influential works propounding the peak oil notion.6 The Energy Information Administration (EIA) of the U.OECD‘s energy organization.‖ And that dragged me into helping create the comprehensive energy plan put forth by Bush when he was running. would push the peak back around a decade further.7 These concerns with regard to world oil supply that began to penetrate the corridors of power in the 1998–2001 period led to a wide-ranging debate within the inner circles in the United States about the nature of the oil extraction problem and the strategic means with which to alleviate it.S. Referring to oil fields ―brought into production since 1970. moreover.3 This. if this all breaks out and Bush is misinformed. advising on the growing oil constraints. its own longterm supply model ―would not peak until around 2008–2009. was still far from distant. The IEA claimed that even adopting the pessimists‘ assumptions on the real extent of world oil reserves and the existence of a bellshaped production curve (but without the sharp oil price hike suggested by Campbell). Matthew Simmons. ―Between now and the election. Department of Energy conducted a full assessment of the peak oil issue as early as July 2000. empire raised by groups such as the Project for a New American Century.

the Strategic Energy Initiative issued a three volume report. with one in which the multinational oil corporations centered in the advanced capitalist economies once again took charge of reserves and investments. its report took the peak oil issue extremely seriously.‖ In terms of the long-term world oil supply outlook. economic sanctions. the stakes were exceedingly high. The Geopolitics of Energy into the 21st Century. issued under the direction of Vice President Dick Cheney. since there was a danger that oil price increases and supply shortages would make ―the United States appear more similar to a poor developing country. petroleum security. the U.S. President Bush warned in May 2001 that dependence on foreign crude oil put U. It stressed that the Persian Gulf would have to expand its energy production ―by almost 80 percent during 2000–2020‖ in the face of rising demand and declining oil production elsewhere in the world in order to meet world energy needs. it declared. partly due to oil producing countries devoting oil revenues to social projects rather than to investment in new production capacity. chaired by energy analyst Edward L.S.‖ This presented a growing danger to the world capitalist economy. ―national energy security‖ in the hands of ―foreign nations.10 These reports by national security analysts on strategic energy policy were followed in May 2001 by the White House release of its National Energy Policy. and oil pessimists such as peak oil proponent Simmons.‖ Excess capacity had been ―wiped out. ―Iraqi reserves.9 In 2001 the James Baker III Institute for Public Policy of Rice University and the Council on Foreign Relations cosponsored a study of Strategic Energy Policy Challenges for the 21st Century.‖ The answer was for the Western powers led by the United States to play a more direct role in the development of world oil resources. reliance on foreign oil imports could increase to almost two-thirds of its total gasoline and heating oil consumption by 2020. focusing on the arguments of Campbell and Laherrère and Simmons.‖ the Strategic Energy Policy report emphasized.S. In this situation. It too emphasized the need for U. ―represent a major asset that can quickly add capacity to world oil markets and inject a more competitive tenor to oil trade. The Baker Institute/Council on Foreign Relations report emphasized the adequacy of world oil reserves for decades to come but argued that world oil was facing ―tight supply‖ due to ―underinvestment‖ in new production capacity and ―volatile states. which had arisen with the growth of ―resource nationalism‖ in the third world. and in the previous year ―turning its taps on and off when it has felt such action was in its strategic interests to do so. This would be coupled with replacement of the current political economy of oil dominated by national oil companies. such as Morse and Daniel Yergin of Cambridge Energy Research Associates. The problem was what to do about Saddam Hussein. Overall. Department of Energy‘s International Energy Outlook in 2001 projected the need for a doubling of Persian Gulf oil production over 1999 . which included the ―possibility that Saddam Hussein may remove Iraqi oil from the market for an extended period. the Baker Institute/Council on Foreign Relationsreport emphasized.‖ Investment in the enhancement of Iraqi oil production capacity was essential. Underscored throughout the report was the necessity of finding ways to increase oil exports from Iraq and Iran both then under U. The question of a world oil peak in the decade 2000–10 was also examined.S. Task force members included both oil optimists. had ―special responsibilities for preserving worldwide energy supply‖ and ―open access‖ to the world‘s oil. operating well below capacity.S. with Nunn and Schlesinger as cochairs. oil production had fallen 39 percent below its 1970 peak and that U. The CSIS Strategic Energy Initiative officially rejected the notion that the world oil peak would be reached as early as 2010.‖ falling to ―negligible‖ amounts. Morse. the Baker Institute/Council on Foreign Relations report pointed out that Iraq had emerged as a key ―swing producer‖ of oil. As the ―only superpower‖ the United States.S.‖ Indeed. Nevertheless. noting that total U. some of whom do not share our interests.

while Iran‘s had fallen by about 37 percent since 1976. economic. carrying out regime change in Iraq. Rather.12 Militarily the issue was one of shoring up Saudi Arabia in the face of growing signs of instability. followed by the invasion in 2003 of Iraq. Iraqi crude oil production in 2001 was 31 percent less than in 1979. national security and energy analysts as well as energy corporations and the Bush administration had thus arrived at the conclusion by spring 2001 that. intervention in Iraq and its increased military role in the Middle East was. to and reversal of. This approach—I call it the strategy of maximum extraction—was aimed primarily at boosting the oil output of the major Gulf producers. giving the United States a geopolitical doorway (and pipeline route) to Central Asia and the Caspian Sea Basin. the Bush administration turned. It is unlikely that this strategy was ever formalized in a single. capacity was extremely tight. But since the sought-after increases could be doomed by instability and conflict in the region. As Michael Klare wrote in his Blood and Oil: In the months before and after 9/11. Key figures in the Bush administration such as Donald Rumsfeld and Paul Wolfowitz had been pushing for an invasion of Iraq even before the election.S. all-encompassing White House document. without massive investment in an expansion of capacity in the Persian Gulf of a kind that key states. military.11 U. From the standpoint of the geopolitics of oil. stated in his book The Age of Turbulence in 2007: ―I am saddened that it is politically inconvenient to acknowledge what everyone knows: that the Iraq war is largely about oil. to the military as the ultimate guarantor. such as Iraq and Iran. Rather than try to solve the problem on the demand side by lessening consumption. U.‖ As former Federal Reserve Board Chairman Alan Greenspan. political.‖ The U. strategic control of the Middle East and its oil was viewed as the key to establishing the basis of a ―new American century. invasion of Iraq. and even Saudi Arabia.‖ The U. the Bush administration fashioned a comprehensive strategy for American domination of the Persian Gulf and the procurement of everincreasing quantities of petroleum. presenting the possibility of a big boost in Iraqi oil production. presaging a series of oil price shocks. and military action in the Gulf. Only a vast increase of oil production in the Persian Gulf as a whole could prevent an enormous gap emerging between oil production and demand over the next two decades. and exerting maximum pressure on Iran. economic official throughout this period. Mossadeq‘s nationalization of Anglo-Iranian oil in 1951 [resulting in the CIA‘s overthrow of Iranian Prime Minister Mossadeq and the installation of the Shah in 1953] and the aborted effort by Britain and France to reverse Nasser‘s takeover of the key Suez Canal link for oil flows to Europe in 1956.S. for example: ―the reaction. Saddam Hussein‘s removal and the occupation of Iraq was seen as enhancing the security of Middle East oil. Greenspan claimed. the top U. the ―War on Terrorism‖ led to the invasion first of Afghanistan. . seemed unlikely to undertake. needed to be seen against the background of previous Western military interventions aimed at securing the oil of the region.S. as had all other administrations before it. Both nations were viewed as underproducing due to underinvestment and the effects of sanctions.levels by 2020 in order to meet expected world demand. the strategy also entailed increased military intervention.S. Once the September 2001 attacks occurred. and economic dominance of the Gulf.S. The IEA estimated that Persian Gulf states would have to invest over half a trillion dollars on new equipment and technology for oil production capacity expansion by 2030 in order to meet projected oil production levels. however. This optimistic forecast could not possibly be fulfilled. while substantial oil reserves still existed. and providing a staging ground for increased U. the administration adopted a series of policies that together formed a blueprint for political.S. Behind all of this lay the specter of peak oil production.

Two tons of sand must be mined to get one barrel of oil. along with the stagnation of world oil production as a whole. as determined primarily by geological and technological factors.‖14 Peak Oil: A Global Turning Point? In the five years that have elapsed since the United States invaded Iraq the world oil supply problem has drastically worsened.S. Oil production in the Persian Gulf as a whole increased by 2.17 A key part of the argument on peak oil is the fact that discoveries of oil fields worldwide peaked in the 1960s. where two-thirds of the world‘s reserves and hence most of its capacity for increased extraction was located. Since oil production for an entire country is simply a product of the aggregation of individual wells. As the price of oil rises some of these sources become more exploitable.15 Instead. King Hubbert.‖ Peak oil is generally viewed in terms of the peaking of conventional crude oil supplies on which the main estimates of oil reserves are based. producing two and a half gallons of toxic liquid waste for every barrel of oil extracted. national oil production can be expected to take the form of a bell-shaped curve as well. the centrality of oil in the occupation of Iraq was not something that it could easily deny. and shale oil. Iraq‘s average annual oil production in 2007 had fallen to 13 percent below its 2001 level. Geologists have become adept at estimating the point at which a peak in national production will occur. and that actual retrievable reserves may be considerably less. Oil sand mining also requires vast quantities of water. In a September 13.‖ And this vast increase in oil production needed to come largely from the Persian Gulf. e. while the average size of new discoveries has also declined over time.13 Although the Bush administration criticized Greenspan‘s statement. who achieved fame for successfully predicting the U. The eventual peak in oil production is therefore sometimes known as ―Hubbert‘s peak. Today it is present in all establishment discussions of the world oil issue. petroleum derived from oil sand.for Greenspan—the leading spokesperson for financial capital in the 1990s and early 2000s—justified by the fact that ―world growth over the next quarter century at rates commensurate with the past quarter century will require between one-fourth and two-fifths more oil than we use today.‖ The economic and environmental costs are thus prohibitive. The conventional notion that . Peak oil is not the same as running out of oil.1 mb/d. Rather it simply means the peaking and subsequent terminal decline of oil production. but also at much greater cost—monetarily and to the environment.g. Those who argue that peak oil is imminent insist that estimates of proven reserves are commonly exaggerated for political reasons.4 mb/d on average between 2001 and 2005 and then dropped by 4 percent in 2005–07.16 At the time U. prime time television speech.S. The extraction of oil from any given oil well typically takes the form of a symmetrical. having declined from 2. These include heavy oil. 2007.5 million barrels a day (mb/d) to 6 or even 10 mb/d. troops reached Baghdad peak oil was already a specter looming over the globe. until a peak is reached when about half of the accessible oil has been extracted.. These methods were pioneered in the 1950s by oil geologist M. oil peak in 1970.4 to 2. It requires one billion cubic feet of natural gas to generate one million barrels of synthetic oil from oil sands. Bush declared that if the United States were to pull out of Iraq ―extremists could control a key part of the global energy supply. by 2 percent a year. This liquid waste is stored in enormous and rapidly expanding ―tailing ponds. There are also unconventional sources of oil that can be produced at much greater cost and with a much lower energy returned on energy invested (EROEI) ratio. Peak oil therefore inevitably signals the end of cheap oil. It is estimated that it takes an equivalent of two out of three barrels of oil produced to pay for the energy and other costs associated with extracting oil from the tar sands in Alberta. Estimates of the potential for increased Iraqi oil production made prior to the war had suggested that Iraq free of sanctions could potentially increase its crude oil production within a decade from its previous 1979 high of 3. bell-shaped curve with extraction steadily rising.

. An added consideration is whether world oil production will face a classic bell-shaped curve. before declining. and whether it is already upon us. since it exaggerates the reserves in the ground and downplays the fact that the economy requires that oil demand and production levels increase. http://www. An imminent peak in conventional oil thus strikes at the lifeblood of the existing capitalist economy. remains level at about 85 mb/d due to a compensating rise in unconventional sources over the same period. The chief question now is how soon. In addition. The alternative position. tables 1. has now narrowed down to two basic positions.19 Hence. such as liquefied natural gas. to be followed quickly by a decline (within what can be viewed as a symmetrical curve)—or whether production will rise to a plateau and then stay there for a while. and may have already been reached in 2005–06. Richard Heinberg. refinery processing gains. resulting in what appears to be a more definite plateau. ―Oil‖ according to the IEA (and the EIA.S. Department of Energy. the shape of the production curve is modified by the increasing . Chart 1: World oil production and supply Source: Energy Information Administration. biofuels. represented by ―late peakers. there is a growing consensus that peak oil is or will soon be a reality. a leading peak oil proponent. U.doe. The higher line.8 mb/d in 2005 to 73. Peak oil analysts therefore focus on production levels rather than reserves.‖ also includes unconventional sources plus net refinery processing gains (losses).‖ Conventional or crude oil is readily processed oil ―produced from underground hydrocarbon reservoirs by means of production wells.eia. however.S. Explaining that a plateau is the most likely initial outcome at the world level. The peak oil crisis is more sharply defined than the more general crisis in energy. This therefore has lent credence to the notion that this is the form the peak will initially take. Therefore more than two-thirds of U. oil demand is in the form of gasoline and petrodiesel consumption by cars and trucks. coal-to-liquid. for which there is no easy substitute in the quantities needed. One of these is that of ―early peakers‖ (usually seen as peak oil proponents proper). April 2008.html.3 mb/d in 2007. These analysts argue that peak oil will probably be reached by 2010–12. since not only is petroleum the most protean fuel. rounded peak. ―and/or [other fuel that]. but it is also the preeminent liquid fuel in transportation. Chart 1 shows world oil production/supply from 1970 to 2007.‖ is that the world oil peak will not be reached until 2020 or 2030. labeled ―crude oil production. culminating in a slender. world oil supply appears already to have reached a plateau over the last three years at the level of 85 mb/d.18 The peak oil debate.gov/ipm/supply. and the production of conventional and unconventional oil.4.there are forty years of crude oil production remaining at current rates of output is seen as misleading. demand for oil falls off). as well as by political events such as war and revolutions.‖ refers simply to production of conventional oil.‖ Unconventional oil is derived from other processes.‖20 The lower line in chart 1. oil sands.needs additional processing to produce synthetic crude. It presents the possibility of a drastic economic dislocation and slowdown.4d and 4. reflecting the fact that crude oil production fell from an average of 73. In fact. which has adopted an almost identical approach) is defined to include ―all liquid fuels and is accounted at the product level. oil shales. labeled ―world oil supply. writes: Why the plateau? Oil production is constrained by economic conditions (in an economic downturn. which has often been fierce over the past decade. The ―crude oil production‖ line shows a very slight dip in 2005– 07.. International Petroleum Monthly. Sources include natural gas liquids and condensates. The ―world oil supply‖ line.

and Risk Management. The Wall Street Journal article referred to the estimates of Cambridge Energy Research Associates. Atomic Energy Commission.‖ Indeed. India (1995). Canada (conv. natural gas plant liquids. The Hirsch report concluded that peak oil was a little over two decades away or nearer. which includes both scientists and members of the German parliament. Exxon. October 2007. and tar sands). Egypt (1993). Gabon (1997). 1974). plateau is emerging has now become the dominant view in the industry. 11. Source: Energy Watch Group. Mexico (2004). Oman (2001).. . Malaysia (1997). United Kingdom. Crude Oil: The Given the appearance of a world oil production plateau at present. partly political-economic.‖ The main emphasis of the Hirsch report commissioned by the Department of Energy. Romania (1976). 1989).. Yemen (2001). Thus Simmons and Texas oil billionaire T. Germany (1967).‖23 Publicly of course the peak oil problem has often been characterized by establishment sources and the media as a ―fringe issue. Mitigation. they contend.24 In February 2005 the U. The project leader was Robert L. ―suggest that world oil peaking will occur in less than 25 years. and ARCO. it is not surprising that some analysts believe that peak oil has already been reached.22 Oil Producing Countries Past Peak (Year of Peak) Austria (1955). Denmark (2004). Venezuela (1998). was on the issue of the massive transformations that would be needed in the economy. Norway (2001). Colombia (1999).S. the crisis associated with the world peak in conventional oil production would be reached ―in 2008 to 2012. as well as new extraction technologies.21 The notion that a partly geological-technical. Hirsch had formerly occupied executive positions in the U. with petroleum supply likely falling short of expected demand within a decade or less.. Australia (2000). due to declining production in old fields.S. The combined effect of all of these factors is to cushion the peak and lengthen the decline curve. Boone Pickens have both raised the question of whether the peak was reached in 2005. United States (lower 48.. United States (Alaska.‖ Echoing many of the same worries. Ecuador (1999). The enormous problem of converting Supply Outlook.availability of unconventional petroleum sources (including heavy oil.‖ he suggested. Argentina (1998). Indonesia (1977). however. 1971). spiraling costs and increasingly complex oil-field geology. While the Energy Watch Group in Germany. (1999).‖ Yet over the past decade the question has been pursued systematically with increasing concern within the highest echelons of capitalist society: within both states and corporations. some oil executives have raised the specter of an oil supply ceiling of 100 million barrels (conventional and unconventional). In November 2007 the Wall Street Journal reported: a growing number of oil-industry chieftains are endorsing an idea long deemed fringe: The world is approaching a practical limit to the number of barrels of crude oil that can be pumped every day.‖ But the Journal article also took seriously the views of Simmons. Syria (1995).The near adherents [to the peak oil view]—who range from senior Western oil-company executives to current and former officials of the major world exporting countries—don‘t believe that the global oil tank is at the half-empty point. in order to mitigate the harmful effects of the end of cheap oil. This will create a production plateau. and particularly transportation.. contends that ―world oil production. who pointed out that. not a peak.peaked in 2006. and with oil supply seemingly stuck at the 85 mb/d level. Hirsch of Science Applications International Corporation.‖ it stated. Department of Energy released a major report that it had commissioned entitled Peaking of World Oil Production: Impacts. an increased average daily oil production equivalent to ten times current Alaskan production was needed ―just to stay even. asserting that the peak will not be reached until 2030 and that it will manifest itself at first as an ―undulating plateau. But they share the belief that a global production ceiling is coming for other reasons: restricted access to oil fields. ―at the furthest out. ―Even the most optimistic forecasts. with oil output remaining relatively constant rather than rising or falling.

and aircraft in just a quarter-century (at most) was viewed as presenting intractable difficulties. For the GAO the threat of a major oil shortfall was worsened by the political risks primarily associated with four countries. coal to oil. Department of Energy. backtracked between 2004 and 2006. oil peaking will be abrupt and revolutionary. which had initially rejected Simmons‘s assessment.27 Indeed. Without massive mitigation at least a decade before the fact.‖ Likewise the U.‖26 Similarly.S. degrading its projection of Saudi oil production in 2025 by 33 percent.S. ―previous energy transitions (wood to coal.S.S. Brown wrote in his Plan B 3. As environmentalist Lester R. As worldwide petroleum production peaks. 20 percent of U. the U. In its 2005 World Energy Outlook the IEA raised the issue of Simmons‘s claims in Twilight in the Desert that Saudi Arabia‘s super-giant Ghawar oil field.‖ in the IEA‘s words. accounting for almost one-third of world (conventional) reserves: Iran. Western oil interests were particularly distressed that the first production from Kazakhstan‘s Kashagan oil field (considered the largest oil deposit in the world outside the Middle East) was eight years behind schedule due in part to waters frozen half the year. by 2005 there was little doubt in ruling circles about the likelihood of serious oil shortages and that peak oil was on its way soon or sooner.29 In April 2008. low growth in availability can be expected for the next 5 to 10 years. Army released a major report of its own in September 2005 stating: The doubling of oil prices from 2003–2005 is not an anomaly. The fact that Venezuela contained ―almost 90 percent of the world‘s proven extra-heavy oil reserves‖ made it all the more noteworthy that it constituted a significant ―political risk‖ from Washington‘s standpoint.‖ He declared there that. Nigeria. By May 2008 the IEA. CEO of Royal Dutch Shell. ―could. and Venezuela. Oil production is approaching its peak. geopolitics and market economics will cause even more significant price increases and security risks. The same month Goldman Sachs shocked world capital markets by coming out with an assessment that oil prices could rise to as much as $200 a barrel in the next two years.28 In February 2007 the U. Government Accountability Office (GAO) released a seventy-five-page report on Crude Oil pointedly subtitled: Uncertainty about Future Oil Supply Makes It Important to Develop a Strategy for Addressing a Peak and Decline in Oil Production. oil in May 2008 reached over $135 a barrel (it averaged $66 in 2006 and $72 in 2007). trucks. according to analysts for the New York Times.0: ―Suddenly the world is facing a moral and . ―be close to reaching its peak if it has not already done so. It argued that almost all studies had shown that a world oil peak would occur sometime before 2040 and that U. Jeroen van der Ver. The price of grain spiked worldwide partly as a result.‖ Due to a combination of factors including production shortfalls and a declining dollar.30 It was alarm about gasoline prices and national energy security (and no doubt the specter of a world oil peak) that induced the Bush administration in 2006 to take a more aggressive stance in promoting cornbased ethanol production as a fuel substitute.S. The world has never faced a problem like this.25 In October 2005. corn production was devoted to ethanol to fuel automobiles. In 2007. but a picture of the future.) were gradual and evolutionary. cars.virtually the entire stock of U. etc. was preparing to reduce its forecast of world oil production for 2030 from its earlier forecasts of 116 mb/d to no more than 100 mb/d.S. the problem will be pervasive and long lasting. Hirsch wrote an analysis for Bulletin of the Atlantic Council of the United States on ―The Inevitable Peaking of World Oil Production. federal agencies had not yet begun to address the issue of the national preparedness necessary to face this impending emergency. pronounced that ―we wouldn‘t be surprised if this [easy] oil would peak somewhere in the next ten years. the largest in the world. One can only speculate at the outcome from this scenario as world petroleum production declines. Iraq.

The market says. and Iraq all present immediate security problems. the Caspian Sea. means that the production and transport of oil will become even more dependent on an infrastructure that is already vulnerable. it stressed expanding the role of the U..‖31 The New Energy Imperialism The response in U.‖ Major energy suppliers like Russia. China was trying to ―lock up‖ oil supplies in Africa. now holder of Arleigh A. Algeria. national security circles to the apparent oil production plateau. and civil unrest in Uzbekistan and other FSU [Former Soviet Union] states. There has been pipeline sabotage in Nigeria. alleged corruption in Russia. Department of Defense.‖Emphasizing that national oil companies now controlled 77 percent of the world‘s total reserves. Although the Deutch and Schlesinger report discussed some demand-side measures to reduce U.3 million barrels per day). and Asia. and others—like Matthew Simmons—have estimated that Saudi production may be moving towards a period of sustained decline. preemption. this time on Changing Risks in Global Oil Supply and Demand. and Venezuela were using oil to pursue domestic and geopolitical goals. on average. Baker III Institute for Public Policy on ―The Changing Role of National Oil Companies in International Energy Markets.S. Iran. rather than reinvesting the oil proceeds. the Caspian Sea. Saudi Arabia.S. ―If the United States were able to wish into existence a world that would favor its terms of trade and superpower status. Moreover. but recent experience has shown that exporting countries in Africa. In October 2005 the CSIS issued another report. .political issue that has no precedent: Should we use grain to fuel cars or to feed people?. Iraq. Production from existing conventional oil fields throughout the world was ―declining. with OPEC no longer having the surplus capacity with which to keep prices under control.‖ Cordesman and Al-Rodhan added. whereas Western multinational oil companies controlled a mere 10 percent. entitled. peak oil issues were not to be entirely discounted. and West Africa were all centers of instability. Still. labor strikes in Venezuela. Al-Rodhan (a strategic analyst specializing in Gulf issues). Cordesman and Al-Rodhan quoted the IEA‘s prediction in its 2004 World Energy Outlook that global oil production would not ―peak before 2030 if the necessary investments are made.S. ―Some analysts have questioned the [Saudi] Kingdom‘s ability to meet sudden surges in demand because of its lack of spare production capacity.‖32 Even more central than the CSIS study was a 2006 Council on Foreign Relations report. Thus Cordesman and Al-Rodhan noted that.‖ the Baker Institute went so far as to declare. and thus even sustaining current levels of consumption‖ would be enormously difficult. if required…Any nation (or subnational group) that contemplates violence on any scale must take into account the possibility of U. Oil Dependency.‖ Rather the immediate problem was ―lagging investment‖ in the Middle East. Let‘s fuel the cars.‖33 No less significant was an April 2007 ―policy report‖ issued by the James A.S.‖ ―Stability in petroleum exporting regions. chaired by former CIA Director John Deutch and Schlesinger. Burke Chair in Strategy at CSIS) and Khalid R. especially those close to the major markets in the United States. Thus the report declared that ―the United States should expect and support a strong military posture [in the Persian Gulf in particular] that permits suitably rapid deployment to the region.. or retaliation. consumption and oil dependency.S. Western Europe. the disappearance of surplus oil production capacity. Iran. written by Anthony Cordesmam (long-time national security analyst for the U. it contended that this was the key issue in managing the current world oil supply problem. and elsewhere. about 5 percent per year (roughly 4. intervention. military in securing oil supplies. The Deutch and Schlesinger report zeroed in on inadequate oil production capacity. ―is tenuous at best. Iran.S. ―the depletion of conventional sources. National Security Consequences of U. and growing fears of peak oil was swift. and South America are no more stable than the Gulf.

the Baker Institute underscored. the Strait of Hormuz. arising from the growth of domestic energy demand plus a high rate of oil field depletion and a lack of investment growth in expanded capacity. This led to Iran‘s recent inability to meet its OPEC oil export quota. But it is hard to imagine why major oil producing countries would agree to that. The current trend points to the likelihood of Iranian petroleum exports falling to zero by 2014–15. as a 2007 study published in the Proceedings of the National Academy of Sciences has confirmed. Another key consideration in the geopolitics of tough oil.35 The United States has sought to counter the possibility of an energy alliance between Russia. such as Russia.S. energy imperialism. imperial objective should be to ―break up‖ wherever possible ―the monopoly power of oil producers‖ and their use of their oil resources to pursue national goals other than purely commercial ones. Ecuador. One critical danger that the United States needed to guard against was a ―hostile‖ alliance between major oil producing/consuming states. ―a desperate superpower might feel it has no choice except to attempt to control the largest remaining oil fields on the planet at any cost‖— particularly if faced by growing rivalry from other states. the Baker Institute report stated.‖ if faced with a U.36 . Not only had the Bolivarian Revolution prioritized ―the government‘s national development policy‖ and ―social and cultural investment‖ over ―commercial development strategy. The security of Saudi Arabia remains an overriding focus. based on its alleged attempts to acquire nuclear weapons through the aggressive pursuit of nuclear energy. Iran‘s government and its national oil corporation have adopted the monopolistic policy of underinvesting in oil.S.. The chief example of such state interference in oil production. which according to the U. beyond the continuing Iraq and Afghan wars. Despite Washington‘s attempts to stabilize that country.S.S. deliberating slowing its production in expectation of continually rising prices..34 The tightening oil situation has prompted the rapid on the ground growth of U. Iran. ―preemptive‖ military intervention directed at Iran meanwhile have been continuous. Threats of U. foreign investors would be treated the same as local companies and OPEC would be disbanded. and Central Asian oil states by expanding its military bases in Afghanistan and Central Asia. is due to an oil export decline rate of 10–12 percent. was Venezuela under the leadership of Hugo Chávez. Iran. allowing free trade and competitive markets to deliver energy that is needed worldwide at prices determined solely by the market.‖ it had also used oil as an instrument of ―foreign policy activism. was the continuing political instability in Iraq. transparent and—to the extent possible—free of onerous government interference.S.S. Above all the U. Washington‘s plans for a massive expansion of investment and production in Saudi Arabia. From the standpoint of Western energy and national security analysts. As James Howard Kunstler has written in The Long Emergency. Ninety percent of private sector jobs go to foreigners.‖ This could be seen in its geopolitically motivated agreements with Bolivia. Any destabilization of the society would likely prompt U. The sexes are entirely segregated. Iran‘s pursuit of nuclear power. the United States will have to accept the existence of NOCs as a fact of life but should encourage steps to make their activities more businesslike. there is rising social tension. Meanwhile. and its ―interference‖ in Iraq. military intervention. Department of Energy needs to double its oil output by 2030.all NOCs [national oil corporations] would be privatized. military attack. depends on the feudal kingdom remaining in place. China.. and the Caribbean nations. The repressive structure of the society conceals massive popular resentment. China. thereby holding back on the lifeblood of the world economy. notably its Manas air base in Kyrgyzstan on the border of oil-rich Kazakhstan.In light of this reality. Another case of the geostrategic wielding of oil power was Iran. which had threatened that it ―could block the vital oil transitway. political unrest and war continued. and the Central Asian states. Nicaragua. preventing the oil exploration of Iraq‘s Western desert. emanating from the vastly unequal distribution of the country‘s oil revenues.

During the last few years the U.S. military has dramatically increased its bases and operations in Africa, particularly in the Gulf of Guinea. The United States expects to get 20 percent of its oil imports from Africa by 2010, and 25 percent by 2015. The U.S. military set up a separate Africa Command in 2007 to govern all U.S. military operations in Africa (outside Egypt). Washington sees itself as in direct competition with Beijing over African oil—a competition that it perceives not simply in economic but also military-strategic terms.37 U.S. ruling interests also have increased their threats directed at Venezuela, Ecuador, Bolivia, and other Latin American states, accusing them of ―resource nationalism‖ and presenting them as dangers to U.S. national security. Washington has made one attempt after another to unseat Venezuela‘s democratically elected president Hugo Chávez and to overthrow Venezuela‘s Bolivarian Revolution, with the clear object of regime change. This has included stepping up its massive military intervention in Colombia and backing the Colombian military and its intrusions into neighboring countries. In 2006 the U.S. Southern Command conducted an internal study, declaring that Venezuela, Bolivia, Ecuador, and conceivably even Mexico (which was then facing elections with a possible populist outcome) offered serious dangers to U.S. energy security. ―Pending any favorable changes to the investment climate,‖ it declared, ―the prospects for long-term energy production in Venezuela, Ecuador and Mexico are currently at risk.‖ The military threat was obvious.38 All of this is in accord with the history of capitalism, and the response of declining hegemons to global forces largely outside their control. The new energy imperialism of the United States is already leading to expanding wars, which could become truly global, as Washington attempts to safeguard the existing capitalist economy and to stave off its own hegemonic decline. As Simmons has warned, ―If we don‘t create a solution to the enormous potential gap between our inherent demand for energy and the availability of energy we will have the nastiest and last war we‘ll ever fight. I mean a literal war.‖39 In January 2008 Carlos Pascual, vice president of the Brookings Institution and former director of the Bush administration‘s Office of Reconstruction and Stabilization, released an analysis of ―The Geopolitics of Energy‖ that highlighted U.S. capitalism‘s de facto dependence on oil production in ―Saudi Arabia, Russia, Iran, Iraq, Venezuela, Nigeria, and Kazakhstan‖—all posing major security threats. ―Due to commercial disputes, local instability, or ideology, Russia, Venezuela, Iran, Nigeria and Iraq are not investing in new long-term production capacity.‖ This then was both an economic and a military problem for Washington.40 Especially disturbing in this new phase of energy imperialism is the lack of resistance from populations within central capitalist countries themselves. Thus left-liberal publications in the wealthy nations often play on the prejudices of their readers (who are buffeted by rising gasoline prices), encouraging them to support oil imperialism designed to safeguard Western capitalism. David Litvin, writing on ―Oil, Gas and Imperialism‖ in 2006 for the Guardian in London, claimed that ―the inevitability of modern energy imperialism needs to be recognized.‖ Threats from Russia, OPEC, Venezuela, and Bolivia were highlighted. The United States invaded Iraq, we were told, partly for ―oil security.‖ Clearly sympathizing with that form of energy imperialism that ―involves consumer states launching political or military‖ interventions ―to secure supplies,‖ Litvin concluded: ―Energy imperialism is here to stay, and efforts should [therefore] focus on making it a more benign force.‖41 Likewise Joshua Kurlantzick, a contributing writer for Mother Jones,wrote a piece entitled ―Put a Tyrant in Your Tank‖ for the May–June 2008 issue of that magazine which attributed oil supply problems to national oil companies, and argued—referring to the Baker Institute report on ―The Changing Role of National Oil Companies‖—that oil would be better safeguarded if placed in the hands of multinational oil companies as of old. The latter, readers were told, ―may cozy up to nasty regimes...but they are at least obligated to respond to public criticism.‖ Kurlantzick presented repeated criticisms of Hugo Chávez in Venezuela for his ―resource nationalism,‖ going so far as to compare

Venezuela to Burma and Russia, as ―authoritarian and corrupt,‖ citing a study from the neoconservative, largely U.S. government-funded, Freedom House. The Mother Jones article also gave credence to the 2006 internal study conducted by the Pentagon‘s Southern Command, pinpointing the national security dangers to the United States of resource nationalism in Venezuela, Bolivia, and Ecuador. Other petrostates that were subjected to sharp criticism were Iran, Russia, Kazakhstan, Nigeria, and Libya. Chinese state oil corporations were targeted for their aggressiveness in pursuing oil around the world and for their lack of environmental concerns. U.S. energy imperialism was thus seen as justified even by the putatively progressive Mother Jones—with hope and confidence being placed mainly in big oil and the Pentagon.42 Planetary Conflagration? The supreme irony of the peak oil crisis of course is that the world is rapidly proceeding down the path of climate change from the burning of fossil fuels, threatening within a matter of decades human civilization and life on the planet. Unless carbon dioxide emissions from the consumption of such fuels are drastically reduced, a global catastrophe awaits. For environmentalists peak oil is therefore not a tragedy in itself since the crucial challenge facing humanity at present is weaning the world from excessive dependence on fossil fuels. The breaking of the solar energy budget that hydrocarbons allowed has generated a biospheric rift, which if not rapidly addressed will close off the future.43 Yet, heavy levels of fossil fuel, and particularly petroleum, consumption are built into the structure of the present world capitalist economy. The immediate response of the system to the end of easy oil has been therefore to turn to a new energy imperialism—a strategy of maximum extraction by any means possible: with the object of placating what Rachel Carson once called ―the gods of profit and production.‖44 This, however, presents the threat of multiple global conflagrations: global warming, peak oil, rapidly rising world hunger (resulting in part from growing biofuel production), and nuclear war—all in order to secure a system geared to growing inequality. In the face of the immense perils now facing life on the planet, the world desperately needs to take a new direction; toward communal well-being and global justice: a socialism for the planet. The immense danger now facing the human species, it should be understood, is not due principally to the constraints of the natural environment, whether geological or climatic, but arises from a deranged social system wheeling out of control, and more specifically, U.S. imperialism. This is the challenge of our time. May 25, 2005 Notes 1. Influential mainstream political analyst (and former Nixon White House strategist) Kevin Philips has recently argued that oil in the Middle East and elsewhere has emerged as perhaps the single most important strategic (non-monetary) factor in ―the Global Crisis of American Capitalism,‖ and is closely tied up with the world‘s need to shift to a ―new energy regime.‖ See Phillips, Bad Money: Reckless Finance, Failed Politics, and the Global Crisis of American Capitalism (New York: Viking, 2008), 124–27. Indeed, the struggle to control world oil can be seen as the centerpiece of the new geopolitics of U.S. empire, designed at the same time to combat the decline of U.S. hegemony. See John Bellamy Foster, ―A Warning to Africa: The New U.S. Imperial Grand Strategy,‖ Monthly Review 58, no. 2 (June 2006): 1–12. 2. Michael T. Klare, Blood and Oil (New York: Henry Holt, 2004), 82. 3. Colin J. Campbell and Jean H. Laherrère, ―The End of Cheap Oil,‖ Scientific American (March 1998): 78–83; International Energy Agency, World Energy Outlook, 1998 (Paris: OECD, 1998), 94– 103. 4. Matthew R. Simmons, ―Has Technology Created $10 Oil?,‖ Middle East Insight (May–June 1999), 37, 39.

5. Matthew R. Simmons, ―An Oil Man Reconsiders the Future of Black Gold,‖ Good Magazine, February 11, 2008. The insert in square brackets in the quote is in original. 6. Matthew R. Simmons, Twilight in the Desert: The Coming Saudi Oil Shock and the World Economy (Hoboken, New Jersey: John Wiley and Sons, 2005). 7. John Wood and Gary Long, ―Long Term World Oil Supply (A Resource Base/Production Path Analysis),‖ Energy Information Administration, U.S. Department of Energy, July 28, 2000. 8. See Klare, Blood and Oil, 13–14. 9. Sam Nunn and James R. Schlesinger, cochairs, The Geopolitics of Energy into the 21st Century, 3 volumes (Washington, D.C.: Center for Strategic and International Studies, November 2000), vol. 1, xvi–xxiii; vol. 2, 30–31; vol. 3, 19. 10. Edward L. Morse, chair, Strategic Energy Policy Challenges for the 21st Century, cosponsored by the James A. Baker III Institute for Public Policy of Rice University and the Council on Foreign Relations (Washington, D.C: Council on Foreign Relations Press, April 2001), 3–17, 29, 43–47, 84–85, 98; see also Edward L. Morse, ―A New Political Economy of Oil?,‖ Journal of International Affairs 53, no. 1 (Fall 1999), 1–29. 11. White House, National Energy Policy (Cheney report), May 2001, http://www.whitehouse.gov/energy/National-Energy-Policy.pdf, 1–13, 8–4.; Department of Energy, Energy Information Administration, International Economic Outlook,2001, http://www.eia.doe.gov/oiaf/archive/ieo01/pdf/0484(2001).pdf, 240; International Petroleum Outlook, April 2008, tables 4.1b and 4.1d; Klare, Blood and Oil, 15, 79–81. 12. Klare, Blood and Oil, 82–83. 13. Alan Greenspan, The Age of Turbulence (London: Penguin, 2007), 462–63. 14. James A. Baker Institute for Public Policy, ―The Changing Role of National Oil Companies in International Markets,‖ Baker Institute Policy Report, no. 35 (April 2007), http://www.bakerinstitute.org/publications/BI_PolicyReport_35.pdf, 1, 10–12, 17–19. 15. Fareed Muhamedi and Raad Alkadiri, ―Washington Makes It‘s Case for War,‖ Middle East Report, no. 224 (Autumn 2002), 5; John Bellamy Foster, Naked Imperialism (New York: Monthly Review Press, 2006), 92. 16. U.S. Department of Energy, Energy Information Administration, International Petroleum Monthly, April 2008, tables 4.1b and 4.1d. 17. Richard Heinberg, The Party’s Over (Garbiola Island, B.C: New Society Publishers, 2005), 127– 28; Michael Klare, Rising Powers, Shrinking Planet (New York: Henry Holt, 2008), 41; Greenpeace, ―Stop the Tar Sands/Water Polluton,‖ http://www.greenpeace .org/canada/en/campaigns/tarsands/threats/water-pollution. 18. Energy Watch Group, Crude Oil: The Supply Outlook, October 2007, 33–34. 19. The distinction between ―early‖ and ―late‖ peakers is to be found in Richard Heinberg, The Oil Depletion Protocol (Garbiola Island, B.C: New Society Publishers, 2006), 17–23. For some representative works from the ―early peaker‖ perspective see Kenneth S. Deffeyes, Hubbert’s Peak (Princeton: Princeton University Press, 2001); David Goodstein, Out of Gas (New York: W. W. Norton, 2004); and Heinberg, The Party’s Over. Cambridge Energy Research Associates is the leading independent representative of the ―late peaker‖ view. See http://www.cera.com/aspx/cda/public1/home/home.aspx. 20. International Energy Agency, World Energy Outlook, 1998, 83–84. The increased prominence of unconventional oil has recently led to increasing references to ―liquids‖ as opposed to ―oil‖ as such in Department of Energy reports. See Michael T. Klare, ―Beyond the Age of Petroleum,‖ The Nation, October 25, 2007. 21. Richard Heinberg, Power Down (Gabriola Island, B.C.: New Society Publishers, 2004), 35; James Howard Kunstler, The Long Emergency (New York: Atlantic Monthly Press, 2005), 67–68. In an important paper on the implications of peak oil for global warming, Pushker Kharecha and James

cfr. Klare. 2005 (first working draft). Army Corps of Engineers. Fournier and Eileen T. October 3. U. figure 3. a figure too out of line with all other studies to be considered credible. Mitigation. 2008). June 13. ―The World Food Crisis. Hirsh. The central scenario. estimated the world oil peak occurring in 2044. 33. Exxon on Spending (Update 1). 26. Council on Foreign Relations.S Army Engineer Research and Development Center.‖ May 6. 170–79. Simmons. vii.S. ―Oil Officials See Limit Looming on Production. May 21. Fred Magdoff. Bloomberg. 2005). 79. ―The Iranian Petroleum Crisis and the United States National Security.‖ Wall Street Journal.pdf. system is itself peaking. 38. Bad Money. Brown. Department of Energy. Robert L. James A. chairs. Kharecha and James E. Plan B 3. 31.‖ Baker Institute Policy Report.gov/neic/speeches/Caruso061305. Klare. Robert L. Hansen. The Changing Risks in Global Oil Supply and Demand. Shrinking Planet. International Energy Agency. 121–22. 2005. John Deutsch and James R. 2005 (Paris: OECD. .” 23. Baker Institute. 83.‖ The Lede (New York Times blog). Crude Oil: Uncertainty about Future Oil Supply Makes It Important to Develop a Strategy for Addressing a Peak and Decline in Oil Production. 17–19. National Security Consequences of U. U. Schlesinger. Army Installations.‖. 76–84. 1 (May 2008): 1–15. 153. ―Implications of ‗Peak Oil‘ for Atmospheric CO2 and Climate.‖ Monthly Review 60.‖ Bloomberg. November 11. A different and more official position was issued by the EIA in 2004–2005 in the form of a presentation on ―When Will World Oil Production Peak‖ by EIA administrator Guy Caruso at the 10th Annual Oil and Gas Conference. Daniel F. Kuala Lumpar. W. Westervelt.‖ New York Times. project leader. 8. Klare. ―The Cassandra of Oil Prices. Hirsch. stretching from approximately 2016 to 2036. 55–59. 35 (April 2007). 2008. 2007. ―Goldman‘s Murti Says Oil ‗Likely‘ to Reach a $150–$200 (Update 5). 2008. Anthony H. See http://www. 23–25. 1. Al-Rodhan.‖ Global Biogeochemistry (2008. 29.S. February 2005. Oil Dependence. United States Government Accountability Office. 27.org/publication/11683/. Lester R. 25. 20–22. The Long Emergency. Joroen van der Veer (interview). 13–19. 3.‖ in this issue. http://www. and ―The Political Economy and Ecology of Agrofuels. Phillips sees this descrepancy between the analysis at the top and public statements in Washington as due in large part to a desire to keep from the public the view that the U. ―Royal Dutch Shell CEO on the End of ‗Easy Oil‘. 34. 4. See Phillips. Roger Stern. Shrinking Planet.com. ―Not Enough Oil is Lament of BP. Cordesman and Khalid R. 28. Rising Powers. no.‖ 12. Rising Powers. ―Market Faces a Disturbing Oil Forecast. no. ―Changing Role of National Oil Companies. 2007. October 2007. Beyond the Age of Petroleum. 32.doe. Mike Nizz. Crude Oil: The Supply Outlook. Baker III Institute for Public Policy of Rice University. http://bakerinstitute. September 2005. Kunstler.‖ Proceedings . May 19. Malaysia. Norton. 35–38. 127. Phillips.eia.‖ Bulletin of the Atlantic Council of the United States 16. no. Energy Trends and their Implications for U. 13. February 28.com.0 (New York: W.pdf. 2008. 2008. ―The Inevitable Peaking of World Oil Production. 41. 510-12. World Energy Outlook.S. 30.S. 2 (October 2005): 8. Energy Watch Group. Twilight in the Desert. however.S.Hansen of NASA‘s Goddard Institute for Space Studies and the Columbia University Earth Institute provide a graph (in one scenario) of a plateau in oil-based CO2 emissions. 35. ―The Changing Role of National Oil Companies in International Oil Markets. and Risk Management. Bad Money. 48–56. 10–12. 130–31. U. 36. Peaking of World Oil Production: Impacts. Pushker A. May 22. in press). 16–30. 24. 2006. Center for Strategic and International Studies. 22. 71.org/publications/BI_PolicyReport_35.

In their paper on peak oil and global warming. Carlos Pascual. 1–17. 2006.6 persen dalam penyerapan tenaga kerja (Kompas. meningkatkan jumlah unit usaha dan mendukung pendapatan rumah tangga.cfr. 1998). Klare. namun UKM memberi kontribusi sekitar 99 persen dalam jumlah badan usaha di Indonesia serta mempunyai andil 99. Dapat dikatakan bahwa kesadaran akan pentingnya UKM dapat dikatakan barulah muncul belakangan ini saja. ―Implications of ‗Peak Oil‘ for Atmospheric CO2 and Climate. it would facilitate the stabilization of atmospheric carbon at (or below) what scientists increasingly consider to be the maximum safe level of 450 parts per million (associated with a rise in global average temperature of around 2°C above pre-industrial).7 persen dan dalam ekspor nonmigas hanya 15 persen. Ketiga adalah karena sering diyakini bahwa UKM memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas ketimbang usaha besar. and the Biospheric Rift. Jawa Tengah. Chávez (New York: Monthly Review Press. Aloysius Gunadi Brata DISTRIBUSI SPASIAL UKM DI MASA KRISIS EKONOMI PENDAHULUAN Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah.S. no. On the concept of a biospheric rift see Brett Clark and Richard York. Yogyakarta. 38–42. 2008). Temuan Akatiga tersebut seperti dikutip Berry dkk (2001) adalah bahwa usaha kecil di Jawa lebih menderita . no.‖ Financial Times. 88–89. 210. Aspek fleksibilitas tersebut menarik pula dihubungkan dengan hasil studi Akatiga berdasarkan survei di Jawa Barat. kendati sumbangannya dalam output nasional (PDRB) hanya 56. 14/12/2001). ―Put a Tyrant in Your Tank. Sulawesi Utara dan Sumatra Utara.‖ 44. ―U. January 2008. they argue. 43. 1 (January 2. June 26. 4 (2005): 391–428. no. 3 (May–June 2008). ―The Return of Resource Nationalism. 3–4. tidak terkecuali di Indonesia. Simmons.‖ January 4. ―A Warning to Africa‖. Alasan yang ketiga yang dikemukakan Berry dkk di atas sangat relevan dalam konteks Indonesia yang tengah mengalami krisis ekonomi. Setidaknya terdapat tiga alasan yang mendasari negara berkembang belakangan ini memandang penting keberadaan UKM (Berry. Military Sees Oil Nationalism Spectre. 141–57. Shrinking Planet.of the National Academy of Sciences 104. ―Carbon Metabolism: Global Capitalism. The Guardian (UK).‖ Pusher and Kharecha. 41. Rising Powers. Namun. sebagai bagian dari dinamikanya. If such a peak were to occur. Alasan pertama adalah karena kinerja UKM cenderung lebih baik dalam hal menghasilkan tenaga kerja yang produktif. ―Oil. Michael Watts. 38. 37. Council on Foreign Relations. 2008). Lost Woods (Boston: Beacon Press. 2007.‖ Mother Jones 33.‖ Theory & Society 34. UKM sering mencapai peningkatan produktivitasnya melalui investasi dan perubahan teknologi. Rachel Carson. due principally to the ―peaking‖ of world oil production (mediated by economic and social as well as geological factors). http://www.‖ August 13. 2001). Kharecha and Hansen present a baseline atmospheric carbon stabailizaton scenario in which oil-based CO2 emissions peak by 2016. Joshua Kurlantzick. 146–76. no. Daniel Litvin.html. 42. ―The Geopolitics of Energy. Kuncoro (2000a) juga menyebutkan bahwa usaha kecil dan usaha rumah tangga di Indonesia telah memainkan peran penting dalam menyerap tenaga kerja.‖ Monthly Review 58. dkk.org/publication/15342/brookings. Climate Change. 39. dalam kenyataannya selama ini UKM kurang mendapatkan perhatian. Kedua. 4 (September 2006). ―An Oil Man Reconsiders the Future of Black Gold. See Richard Heinberg‘s excellent chapter on ―Bridging Peak Oil and Climate Change Activism‖ in his Peak Everything (Gabriola Island: New Society Publishers. Foster. Sebagai gambaran. Bush vs. 2007): 377–82.‖ 40. ―The Empire of Oil: Capitalist Dispossession and the New Scramble for Africa. But stabilization of atmospheric CO2 at this level would also require that CO2 emissions from coal-fired power plants peak by 2025 and that coal-fired plants without sequestration be phased out completely ―before midcentury. 2006.‖ Brookings Institution. Eva Golinger. Gas and Imperialism.

misalnya Azis (1994). selain ekonominya mengalami kontraksi terparah. UKM boleh dikatakan merupakan salah satu solusi masyarakat untuk tetap bertahan dalam menghadapi krisis yakni dengan melibatkan diri dalam aktivitas usaha kecil terutama yang berkarakteristik informal. Usaha kecil sendiri pada dasarnya sebagian besar bersifat informal dan karena itu relatif mudah untuk dimasuki oleh pelaku-pelaku usaha yang baru.akibat krisis daripada luar Jawa. 2002). Sementara itu. Sementara itu. Jika demikian halnya maka . Demikianlah. Sjöberg dan Sjöholm (2002). Krisis ekonomi juga telah membalikkan tren formalisasi ekonomi sebagaimana tampak dari berkurangnya pangsa pekerja sektor formal menjadi 35. Sektor informal sendiri merupakan sektor dimana sebagian besar tenaga kerja Indonesia berada. krisis ekonomi telah menyebabkan propinsi-propinsi di Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang lebih besar ketimbang daerah-daerah lain di Indonesia (lihat gambar berikut).9 persen pada tahun 1996 menjadi 6. Tingkat pengangguran mengalami kenaikan dari 4. terdapat indikasi adanya dimensi spasial dari krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997. 1999). peran sektor informal menjadi terasa penting dalam periode krisis ekonomi. Dapat dikemukakan bahwa selama ini sejumlah studi sudah dilakukan untuk mengamati distribusi spasial industri manufaktur. Hill (1996). pengamatan serupa terhadap UKM tampaknya masih belum banyak dilakukan (Kuncoro. Kondisi ketenagakerjaan pada masa krisis kiranya dapat memberikan gambaran dampak sosial dari krisis ekonomi (Tabel 1). ketiga hal itu merupakan persoalan sangat pelik yang dihadapi masyarakat pada umumnya. apalagi yang sangat parah. dampak sosial dari krisis ekonomi amat terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan di Jawa. Sementara itu. 14/12/2001). Dengan memupuk UKM diyakini pula akan dapat dicapai pemulihan ekonomi (Kompas. berdasarkan data PDRB. Lima propinsi di Jawa seluruhnya adalah lima besar propinsi di Indonesia yang mengalami kemorosotan ekonomi terparah. Dengan kata lain. Pada tahun tersebut. 2000b). Dalam hal ini bukanlah hal yang mengejutkan kalau pengangguran. hilangnya penghasilan serta kesulitan memenuhi kebutuhan pokok merupakan persoalan-persoalan sosial yang sangat dirasakan masyarakat sebagai akibat dari krisis ekonomi. hanya Papua saja yang pertumbuhan ekonominya masih positif sedangkan propinsi-propinsi lainnya mengalami kontraksi. BERTAHAN DENGAN UKM Krisis ekonomi. usaha kecil di propinsi-propinsi di pulau Jawa juga lebih menderita akibat krisis ekonomi. serta sejumlah propinsi di Indonesia bagian Timur. dkk (1999).1. salah satu pertanyaan yang menarik untuk dimunculkan adalah apakah krisis ekonomi betul-betul membawa pengaruh pada dinamika spasial UKM? Tulisan ini hanya mengamati salah satu aspek saja dari dinamika spasial UKM.1 persen pada tahun 2000. Dengan kata lain. Kuncoro (2000a). Hal serupa juga berlaku bagi sektor informal. khususnya yang berskala besar dan menengah. Namun. Dalam konteks UKM. tentu telah menyulitkan masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari. Pendapat mengenai peran UKM atau sektor informal tersebut ada benarnya setidaknya bila dikaitkan dengan perannya dalam meminimalkan dampak sosial dari krisis ekonomi khususnya persoalan pengangguran dan hilangnya penghasilan masyarakat. Dengan hal ini maka persoalan pengangguran sedikit banyak dapat tertolong dan implikasinya adalah juga dalam hal pendapatan. Hasil survei yang dilakukan Bank Dunia bekerjasama dengan Ford Foundation dan Badan Pusat Statistik (September-Oktober 1998) menegaskan bahwa ketiga persoalan itu oleh masyarakat ditempatkan sebagai persoalan prioritas atau harus segera mendapatkan penyelesaian (Watterberg dkk. yakni distribusi spasialnya. Dengan kata lain. saat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi terparah. Bagaimana dengan anjloknya pendapatan masyarakat yang tentu saja mengurangi daya beli masyarakat terhadap produk-produk yang sebelumnya banyak disuplai oleh usaha berskala besar? Bukan tidak mungkin produk-produk UKM justru menjadi substitusi bagi produk-produk usaha besar yang mengalami kebangkrutan atau setidaknya masa-masa sulit akibat krisis ekonomi. seluruh propinsi di pulau Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang jauh lebih parah daripada propinsi-propinsi lainnya (lihat juga Akita dan Alisjahbana. menurut hasil analisis Watterberg. Pada tahun 1998. begitu pula yang di perkotaan bila dibandingkan dengan yang di pedesaan. belakangan ini banyak diungkapkan bahwa UKM memiliki peran penting bagi masyarakat di tengah krisis ekonomi.

sekitar 66 persen UKM Indonesia berada di Jawa (Tabel 2). Selanjutnya. Hal ini tidak lepas dari kemampuan UKM untuk merespon krisis ekonomi secara cepat dan fleksibel dibandingkan kemampuan usaha besar (Berry dkk. Hal yang sama juga terjadi pada jumlah tenaga kerja. ada pendapat bahwa sektor informal tidaklah memberikan perbaikan secara berarti terhadap taraf hidup para pekerjanya. Sejak terjadi krisis ekonomi. UKM pada dasarnya adalah aktivitas ekonomi sementara aktivitas ekonomi sendiri secara umum dapat diindikasikan oleh tenaga kerja maupun nilai tambahnya (Sjöberg dan Sjöholm. penurunan jumlah tenaga kerja tidaklah setajam penurunan jumlah unit usaha. tenaga kerja yang diserap oleh masing-masing unit usaha secara rata-rata justru mengalami kenaikan. Hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa UKM sebetulnya juga mempunyai keunggulan dalam menyerap tenaga kerja di masa krisis ekonomi. Krisis ekonomi rupanya telah mempertinggi kemampuan masing-masing UKM untuk menyerap tenaga kerja. sedangkan Jawa Tengah mengalami peningkatan secara sinambung. [1] Survei tersebut terbatas hanya pada UKM yang tidak berbadan hukum sehingga hasilnya dapat juga merefleksikan sektor informal. Selain dari jumlah unit usaha. 2000a). www.kecenderungan tersebut sekaligus juga merupakan respon terhadap merosotnya daya beli masyarakat. distribusi spasial UKM dalam kurun waktu 19962000 juga terpusat di Pulau Jawa. Selain itu. Perlu ditambahkan bahwa pada tahun 1997 tidak ada survei. untuk tahun 1999 dan 2000 tidak ada data untuk Propinsi Maluku. Dengan kata lain. DISTRIBUSI SPASIAL UKM Pertanyaan awal yang perlu diperjelas di sini adalah apa indikator UKM yang digunakan. Hidup di sektor informal hanyalah hidup secara subsisten (Basri. hasil survei BPS di atas menunjukkan beberapa kecenderungan menarik. Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian. 2002). Hal ini menjadi penting karena Watterberg dkk (1999) juga menyimpulkan bahwa dampak sosial dari krisis ekonomi lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan. Data-data tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa UKM memiliki kemampuan untuk menjadi pilar penting bagi perekonomian masyarakat dalam menghadapi terpaan krisis ekonomi. distribusi spasial tersebut tentu perlu pula dilihat dari sisi tenaga kerja. maka data yang ada di sini barangkali pula lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. Sedangkan Sumatera justru sebaliknya. . indikator yang akan digunakan adalah tenaga kerja UKM disertai jumlah unit usahanya sebagai pelengkap. penggunaan tenaga kerja dan nilai tambah secara bersama-sama sebagai indikator aktivitas ekonomi dapat mencegah terjadi kesimpulan yang bias oleh karena perbedaan distribusi spasial dari industri-industri yang berbeda dimana ada yang bersifat padat tenaga kerja dan ada yang padat modal (Sjöberg dan Sjöholm.Hasil survei tersebut hanya mencakup UKM non-pertanian yang tidak berbadan hukum sehingga secara konseptual hasil survei tersebut juga merefleksikan sektor informal kendati secara terbatas ( ). Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian. Gambar di atas—disusun berdasarkan Hasil Survei Usaha Terintegrasi yang dilakukan BPS —kiranya dapat berguna untuk memberikan gambaran bagaimana peranan UKM bagi masyarakat di masa krisis. Pada tahun 1996. Tabel 2 juga menunjukkan bahwa krisis ekonomi mulanya menurunkan pangsa pulau Jawa. hanya Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan saja yang andilnya dalam jumlah UKM cukup tinggi. Oleh karena itu. maka hasil survei tersebut akan lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. sektor tersebut telah turut berperan dalam mengatasi persoalan pengangguran yang diakibatkan oleh krisis ekonomi. namun mulai tahun 1998 pangsa Jawa kembali meningkat sampai menjadi 66 persen pada tahun 2000. Kuncoro. Dari lima propinsi di Jawa. yakni menjadi sekitar 68 persen dari seluruh unit usaha UKM yang ada di Indonesia.bps. 2002). Dari gambar 1 tampak bahwa jumlah unit usaha UKM cenderung berkurang. 2002). kecuali sektor pertanian. UKM justru makin memusat di Jawa. Hanya saja. Namun demikian. Seperti juga industri manufaktur besar dan menengah.id Secara umum. termasuk yang tidak dibayar (lihat. Seluruh sektor ekonomi dicakup oleh survei tersebut. [2] [2] Dalam konteks industri manufaktur. bias itu mungkin tidak terlalu besar mengingat sebagian besar lebih mengandalkan tenaga kerja. 2001). yakni meningkat pada tahun 1998 namun kemudian terus menurun sampai menjadi kurang dari 16 persen pada tahun 2000. hanya DKI Jakarta saja yang cenderung mengalami penurunan andil. Jumlah unit usaha pada tahun 2000 masih tetap lebih sedikit dibandingkan sebelum krisis ekonomi. Namun dalam konteks UKM. Selain propinsi-propinsi Jawa.go. yang dimaksud dengan UKM dalam tulisan ini adalah sebagaimana definisi UKM tersebut. [1] Data UKM tersebut bersumber dari publikasi BPS berjudul Profil Usaha Kecil dan Menengah Tidak Berbadan Hukum Indonesia tahun 1998 dan tahun 2000. Dalam tulisan ini.

Namun jika dilihat dari tenaga kerja.190 (Sjöberg dan Sjöholm. perkembangan penyebaran regional dari UKM dapat dilihat dari konsentrasi spasialnya. Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996. Sebelum krisis. Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser. dalam studinya yang mengukur trend konsentrasi spasial industri di Indonesia 1976-1995. Kendati demikian. Terdapat pula indikasi menguatnya konsentrasi spasial UKM tersebut sejak krisis ekonomi melanda Indonesia. Kendati ukuran konsentrasi spasial yang digunakan berbeda. baik dilihat dari sisi jumlah usaha maupun jumlah pekerjanya. tingkat konsentrasi spasial unit usaha UKM adalah 0. Tahun 1999 dan 2000. Masih menurut Kuncoro (2002b). Indikasi tersebut kiranya masih perlu dilengkapi dengan upaya mengidentifikasi faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi dinamika spasial UKM sebagaimana dilakukan dalam studi-studi terhadap idustri manufaktur pada umumnya.12. ada kecenderungan menguatnya konsentrasi spasial UKM di Indonesia.Untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih kuat. Hasil perhitungan indeks Herfindahl tersebut disajikan dalam Gambar 3. UKM memainkan peran dalam mengatasi persoalan ketenagakerjaan. kedua studi tersebut di atas memperoleh kesimpulan yang relatif serupa. Kuncoro menemukan bahwa sampai sebelum tahun 1988. 2002). Sebagai perbandingan. Namun pada tahun 1999 konsentrasi spasial unit usaha UKM mengalami peningkatan cukup tinggi dan belum menurun secara berarti pada tahun 2000. Konsentrasi spasial di sini menunjuk kepada terkonsentrasinya UKM pada beberapa daerah saja. Ditambahkan pula bahwa liberalisasi perdagangan yang dimulai tahun 1983 telah gagal menurunkan tingkat konsentrasi industri manufaktur. namun sejak memasuki periode deregulasi. setelah krisis justru terjadi penurunan tingkat konsentrasi spasial kendati relatif kecil. Kuncoro menggunakan Indeks Entropi Theil (Kuncoro.126. Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996. Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser terhadap data tenaga kerja maupun nilai tambah yang dihasilkan industri manufaktur. Sjöberg dan Sjöholm memukan bahwa tingkat konsentrasi spasial industri manufaktur dalam kurun waktu 1980-1996 tidaklah berkurang. peningkatan konsentrasi spasial tersebut sebetulnya relatit tidak terlalu besar. Sebagai contoh. Dalam tulisan ini yang diamati barulah soal distribusi spasial UKM dan belum sampai pada determinan dari dinamika spasial UKM itu sendiri. Namun demikian bagaimana penyerapan tenaga kerja oleh UKM dari aspek spasial tampak masih kurang teramati. Dari analisisnya. deregulasi perdagangan bersama dengan serangkaian deregulasi yang diterapkan justru memperkuat konsentrasi spasial industri manufaktur.*** Oleh: Aloysius Gunadi Brata -. indeks Herfindahl pekerja UKM meningkat menjadi lebih dari 0. Dari analisis dapat disimpulkan bahwa sampai dengan tahun 2000. Hal ini memberikan indikasi bahwa sejak terjadi krisis ekonomi. Dalam tulisan ini ukuran konsentrasi spasial yang digunakan adalah indeks Herfindahl yang diterapkan baik terhadap data unit usaha maupun jumlah pekerja UKM. indeks Herfindahl industri manufaktur Indonesia tahun 1996 adalah 0. 2000a). konsentrasi spasial tersebut justru mengalami peningkatan. UKM (non pertanian yang tidak berbadan hukum) masih tetap terkonsentrasi di pulau Jawa. Kesimpulan yang diperoleh tidak jauh berbeda dengan temuan Kuncoro. Hal ini tidak berubah banyak pada satu tahun setelah terjadi krisis ekonomi. konsentrasi spasial industri memiliki pola menurun. dalam kasus Indonesia. Data yang ada menunjukkan bahwa peran tersebut cukup penting. PENUTUP Sejak terjadi krisis ekonomi 1997.Lembaga Penelitian Universitas Atmajaya. Dicatat pula bahwa peningkatan konsentrasi spasial jauh lebih mencolok di Jawa daripada Sumatera maupun pulau-pulau lainnya di Indonesia. Yogyakarta (UAJY). .

Pembangunan. Suara tersebut antara lain dari Amartya Sen. A. I.. A. Ö dan F. adalah se-suatu yang "bersahabat". Nipah. . M. Timbul pertanyaan mengganjal. Jenggawah. W. Transformasi Ekonomi Indonesia Sejak 1966: Sebuah Studi Kritis dan Komprehensif . S. seharusnya merupakan proses yang memfasilitasi manusia mengembangkan hidup sesuai dengan pilihannya (development as a process of expanding the real freedoms that people enjoy). membuat pedih. Tentu belum kering dari ingatan. DAN PEMBANGUNAN Mengingat masa kelam Orde Baru yang se-ring disebut ‖orde pembangunan‖. Prittchett. D. 2002. 14 Desember 2001. ―Minimum Wage Policy and Its Impact on Employment in the Urban Formal Sector‖. Dengan demikian. 2002. berbagai kasus yang mentorpedo rasa keadilan seperti Kedung Ombo.. 29-50. 1994. apakah sebuah ketakterhindaran (inevitability) historis.. 145-152. Bulletin of Indonesian Economic Studies 38 (2): 201-222. Ilmu Ekonomi Regional Dan Beberapa Penerapannya di Indonesia. 1996. Alisjahbana. Watterberg. pembangunan selalu mengorbankan kebebasan manusia? Rasanya masih seperti kemarin. Yogyakarta. 2001. 2002. dan berbagai penggusuran yang mengatasnamakan ‖pembangunan‖. ujar Sen. J. KEBEBASAN. Sjöberg. Amsterdam 25-26 Februari. Kompas. Concentration and Dispersal in Indonesia‘s Manufacturing Industry. kini terdengar suara lain dan mulai terdengar nyaring. ―Regional Income Inequality in Indonesia and the Initial Impact of the Economic Crisis‖. LP-FEUI. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 39 No 1. penyebab dari langgengnya kemiskinan. A. E. L. 2002a. apakah untuk mencapai kesejahteraan harus selalu ada ‖tumbal‖ (jer basuki mawa bea)? Sayup-sayup. ―Small and Medium Enterprises Dynamics in Indonesia. M. S. keringat serta air mata.. 25 November. Kuncoro. Setyo Budiantoro MANUSIA. Asumsi dari pemikiran Sen. ―Trade Liberalization and the Geography of Production: Agglomeration. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 35 No 3. 2001. serta menguntungkan sebagian kecil masyarakat? Timbul pula pertanyaan yang menggelisahkan. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. dan H. kemakmuran sebuah bangsa dicapai berbasiskan kekuatan rakyat yang berdaya dan menghidupinya. ketidakberdayaan.PUSTAKA Akita. Menurut Sen. 2003.. Kompas. Jakarta. Sandeem. Berkecamuk pertanyaan. Menuai Pemulihan Ekonomi‖.‖ Makalah disajikan dalam lokakarya Economic Growth and Institutional Change in Indonesia during the 19th and 20th Centuries. PAU-UGM dan Tiara Wacana. Menurutnya pembangunan bukanlah proses yang dingin dan menakutkan dengan mengorbankan darah. Sjöholm. M. Azis. at all cost. Pembangunan. Suryahadi.. maka akan bisa maksimal pula kontribusinya untuk kesejahteraan bersama. Rodriquez. Sumarto. bila manusia mampu mengoptimalkan potensinya. H. Basri. C. Analisis Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia ... ―A Quest for Industrial Districts: An Empirical Study of Manufacturing Industries in Java. Kuncoro. Hill. ―A National Snapshot of the Social Impact of Indonesia‘s Crisis‖. ―Wajah Murung Ketenagakerjaan Kita‖. 1999. maupun keterbelakangan adalah persoalan aksesibilitas. T dan A. jargon pembangunan begitu ‖suci‖ sehingga atas namanya menjadi ‖sahih‖ merampas hak-hak asasi manusia. 2002b. apakah pembangunan akan selalu membawa destabilisasi? Sebuah proses yang mengakibatkan disparitas sosial-ekonomi membesar akibat laju modernisasi dan industrialisasi. Perwira. Widyanti. peraih Nobel Ekonomi tahun 1998. SSE/EFI Working Paper Series in Economic and Finance No 488. Sumarto. Berry.‖ Bulletin of Indonesian Economic Studies 37 (3): 363-384. ―Memupuk UKM.

rasa cemas. Dan akhirnya. pada masa itu sedang terjadi capital flight sekitar $ 10 miliar per tahun. namun akibat tak ada rasa memiliki. diperlukan aspek emansipatoris. dan kedaulatan untuk melakukan berbagai hal (bahkan menjadi leviathan). Dengan demikian. Anehnya. sehingga pemerintah semakin memiliki kekuatan. manusia hanya menjalankan apa yang terpaksa dapat di-lakukan (bukan apa yang seharusnya bisa dilakukan). kesehatan. telah ‖melumpuhkan‖ diri sendiri. Tesis yang dikemukakan Sen agar tercapainya kesejahteraan. Masyarakat profesi. lalu diserahkan pada pemerintah. telah terjadi ‖kesalahan‖ besar yang dibuat bersama -sama. Tentu. Dari tahun ke tahun. Begitulah. Selama Orde Baru. masyarakat telah ‖menyerahkan‖ kemandirian yang dimiliki. lembaran buku GBHN dan Pelita yang dicanangkan pemerintah makin tebal. padahal tahun sebelumnya tumbuh +4. Lalu. ekonomi nasional telah tumbuh 4. tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Soedjatmoko (Development and Freedom). Hal itu. dalam satu tahun ekonomi Indonesia anjlok -18. Aksesibilitas yang dimaksud Sen adalah terfasilitasinya kebebasan politik. transparansi. terlemahkan. pe-nyebab kemiskinan adalah akibat ketiadaan akses yang dapat menunjang pemenuhan kehidupan manusiawi. Masyarakat pun melalui desas-desus akhirnya mengetahui dan mahfum. dan lain-lain). Feasibility studies (baca: penelitian pesanan) lalu dikerjakan oleh pa ra ‖intelektual tukang‖ maupun konsultan asing. suatu pembangunan tak akan berhasil dan bertahan. Dalam waktu singkat. justru menunjukkan ‖kedigdayaan‖ rakyat. Lesson learned yang diperoleh dari Yayasan Pemulihan Keberdayaan Ma-syarakat (konsorsium 27 ja-ringan dan ornop besar yang membantu masyarakat keluar dari krisis).dan lain-lainnya). usaha-usaha besar ambruk. para pakar maupun berbagai organisasi masyarakat. Pembangunan. kesempatan ekonomi.6%. Freedom menurut Soedjatmoko merupakan kebebasan dari rasa tak berdaya. Pukulan krisis. legitimasi. kesempatan sosial (pendidikan.Diakibatkan keterbatasan akses. berakar dari dinamik sendiri dan dapat bergerak atas kekuatan sendiri. Tidak ada model pembangunan yang berlaku universal. tentu mempunyai batas waktu. serta adanya jaring pengaman sosial. secara sadar maupun tak sadar. Yaitu aspek pembebasan masyarakat dari struktur-struktur yang menghambat. sebab semuanya telah diserahkan pada pemerintah. sedangkan investasi asing tak mau masuk akibat situasi sosial politik yang belum menentu. Keberdayaan rakyat (civil society). menyimpulkan. Krisis ekonomi. Pemerintah yang makin percaya diri. secara umum kondisi rakyat Indonesia menjadi lemah. Namun. sehingga memungkinkan masyarakat memperkembangkan kemampuan atas dasar kekuatan sendiri (self reliance). akibat rakyat miskin sangat sulit mengakses dan terlibat berbagai kebijakan publik. Dalam jangka panjang. sikap nrimo. dengan berakhirnya berbagai proyek dan usailah sudah semuanya. dan dilemahkan. Dengan demikian. Rakyat yang tak dilibatkan dalam proses. berlomba-lomba merumuskan berbagai persoalan. berbagai proyek yang ada terbengkalai. tak jauh dari lingkaran kekuasaan. rasa keharusan untuk mempertanyakan apakah tindakan-tindakan mereka diizinkan atau tidak diizinkan oleh yang lebih tinggi ataupun adat kebiasaan (misalnya: patriarki. Sebagai sebuah proyek.8% (Seda. rasa ketergantungan. dengan demikian berarti merangsang suatu masyarakat sehingga gerak majunya menjadi otonom. Fenomena ini tentu membingungkan penganut ekonomi ortodoks. jika pembangunan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang dianut masyarakat. Pada dimensi politik. terfasilitasilah kemanusiaan yang penuh dan sanggup mengungkapkan diri (humanitas expleta et eloquens). Berbagai proyek tiba-tiba bertebaran. manusia mempunyai keterbatasan (bahkan tak ada) pilihan untuk mengembangkan hidupnya. Dengan demikian.7% (1998). Tragisnya. potensi manusia mengembangkan hidup menjadi terhambat dan kontribusinya pada kesejahteraan bersama menjadi lebih kecil. sebab dalam hitungan makro ekonomi . maka kebijakan tersebut tak menguntungkan mereka. Dengan kata lain. apakah rakyat benar-benar mengalami kelumpuhan sepenuhnya? Agaknya tidak. masyarakat merasa lega karena tak mengerjakan apa-apa. Untuk memecahkan hal tersebut. lalu tertinggal. Meski sebenarnya. Akibatnya. 2002). tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Amartya Sen.9%. Temuan lapangan di Indonesia. siapa di balik proyek. lalu merumuskan berbagai program dan proyek untuk dikerjakan. untuk mengkreasi dan menjustifikasi urgensi adanya berbagai proyek. Namun dua tahun kemudian. yaitu melalui kebebasan sebagai cara dan tujuan (Development as Freedom). Pada dimensi ekonomi. utang pun digelontorkan. rakyat pun tak peduli. meski proyek tersebut ‖ditujukan‖ untuk mereka. ujar Sen. akibat distribusi akses sumber daya ekonomi yang tak merata menyebabkan rakyat miskin tak dapat mengembangkan usaha produktifnya. membuat pertumbuhan ekonomi merosot -13.

menekankan pertumbuhan manusia (aktualisasi potensi manusia). ‖Investasi ekonomi rakyat‖ (underground economy) yang kerap dipandang dengan sebelah mata. Setidaknya. sektor modern justru makin meminggirkan mereka. maka pembangunan akan berurat berakar (rooted) pada rakyat. metodologi dan pengorganisasian pencapaian tujuan. rente ekonomi dan fasilitas. Tujuan pembangunan adalah tercapainya kesejahteraan bersama. Memfokuskan diri pada kesejahteraan rakyat. Bila masyarakat telah tumbuh dan berdaya. pemerataan. Ikhwal menetapkan tujuan utama (goal). tak ada jalan lain kecuali memakai cara-cara yang demokratis. maka masyarakat dapat mengembangkan berbagai potensi produktif mereka. agar bisa memanfaatkan berbagai akses dan peluang yang ada. sebab akan mempengaruhi paradigma (mindset) berpikir. Usaha-usaha besar. Bahkan seringkali. dan pembangunan pun rapuh tak berakar ( bubble economy). dan semangat kemandirian masyarakat sendiri. namun kemudian ambruk. Demikian pula. setidaknya kedua modal itulah yang kini kita miliki. Usaha-usaha ekonomi rakyat. dengan segala kekuatan dan kelemahannya. 29 April 2003) . kecil. adalah perbankan. (Dimuat di Sinar Harapan. Dengan demikian. namun tetap berjalan tertatih-tatih karena keterbatasan akses. sebab bila tidak akan jatuh. Dan perlu disadari. namun pelayanan pembiayaan bank lebih dimanfaatkan sektor besar. sehingga makin kuat dan kokoh menyangga bangsa ini. Akibatnya. Menyadari adanya dua modal tersebut. Produksi juga merupakan bagian penting dalam pendekatan ini. tentu harus dicapai dengan cara yang manusiawi pula. dan menengah (UMKM) ternyata telah menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan krisis. akan bisa terus berkembang. Demikianlah. Begitulah. usaha-usaha ekonomi rakyat yang sering disebut usaha mikro. memang terbukti mampu menyelamatkan ekonomi Indonesia dari krisis. untuk mencapai kehidupan yang manusiawi. mau tak mau harus berkompetisi secara sehat. kini secara berangsur telah ditinggalkan. keberlanjutan (sustainability). Pendekatan people centered development. ternyata memiliki banyak kelemahan. Dan akhirnya disadari.mereka. Untuk mencapai demokrasi. yaitu melalui pemberian akses dan peluang yang sama pada kedua sektor usaha tersebut. Oleh sebab itu. sementara kesenjangan melebar. di mana masyarakat mempunyai kebebasan untuk memilih. Sementara usaha besar yang berusaha secara wajar dan kompetitif. acapkali institusi modern ini justru meningkatkan adanya kesenjangan. Agenda ke Depan Kini kita menghadapi persoalan konkret. tentunya harus melalui jalan dari pembangkitan kekuatan rakyat itu sendiri atau dalam terminologi Korten disebut people centered development. merupakan hal strategis yang tidak netral dan bebas nilai. tern yata justru menunjukkan kekuatannya. investasi asing dan haus akan utang luar negeri. dengan berbagai keterbukaan dan peluang. akibat adanya ‖dualisme ekonomi‖ sektor kecil ini tak memiliki kemampuan untuk memanfaatkan berbagai institusi modern. perlu ada transformasi agar kedua sektor usaha tersebut bisa berkembang (dual track). hal ini tak mungkin terjadi. Dengan cara demikian. Cara sudah seharusnya konsisten dengan tujuan yang ingin dicapai. sehingga dapat kompatibel dengan nilai-nilai dan budaya setempat agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. diperlukan pula adanya upaya peningkatan kapasitas (capacity building). perlu dikembangkan berbagai institusi modern yang dimodifikasi sedemikian rupa. *** Babakan sejarah yang pahit itu. Sedangkan untuk usaha mikro. karena mendapat berbagai privilese tumbuh dengan cepat. Salah satu institusi modern yang sangat sulit diakses oleh UMKM. pembangunan akan berkembang secara dinamik berdasar kekuatan masyarakat sendiri. maka cara untuk mencapainya pun seharusnya melalui upaya-upaya pencapaian kesejahteraan bersama. kecil dan menengah (UMKM). namun bukan tujuan utama. Meski memobilisasi tabungan dari masyarakat luas. Kue pembangunan ternyata hanya dikuasai sebagian kecil masyarakat. babakan itu menyadarkan bahwa orientasi production centered development yang menekankan pertumbuhan. sektor usaha besar yang hidup dari kronisme.

para elit di sekitar saya serta merta akan menentangnya. Data-data ini diperkuat lagi oleh ―taksiran‖ pelarian modal ke luar negeri sebesar rata-rata US $ 10 milyar per tahun sejak krismon 1997. sulit dimengerti. Inilah ekonomi rakyat yang dipahami oleh semua orang kecuali pakar-pakar ekonomi keblinger. karena kalau saya bersikap demikian. ekonomi pasar uang/modal. Para ekonom makro pengritik pemerintah ―dengan bangga‖ menunjukkan data BKPM (Persetujuan investasi pemerintah) yang anjlog 57% untuk modal dalam negeri dan 35% untuk modal asing dibanding tahun 2001. Betapa tidak. Sidang tahunan MPR-RI bulan Agustus 2002 merupakan tonggak sejarah bagi ekonomi rakyat ketika MPR memutuskan menarik kembali kesepakatan sebelumnya (ST-2000) untuk menghapus asas kekeluargaan dari . yang dalam tulisan yang sama oleh ekonom senior FE-UI (Kompas. Sikap dan jawaban Presiden yang demikian tentu saja mengecewakan kita. Bahwa ekonom-ekonom modern zaman sekarang pura-pura tidak mengerti ekonomi rakyat dan mengatakan itu sebagai ekonomi tersembunyi ( hidden economy) memang mudah dipahami karena pakar-pakar ekonomi ini sudah tercekoki oleh teori-teori ekonomi Neoliberal dari Barat yang hanya ―bergaul‖ dengan fakta-fakta ekonomi modern. karena ternyata dalam kondisi investasi merosot ekonomi tumbuh 3. Analisis makroekonomi (Neoklasik Ortodok) memang di sini menjadi buntu karena tidak ada yang dapat menerangkan mengapa ekonomi dapat tumbuh tanpa investasi. dan saya akan terlalu sibuk berdebat dengan mereka. Sungguh sangat kontradiktif. Jika saja mereka mau menyebutkan fakta ini memang mereka akan terpaksa mengakui kekeliruan teori ekonomi yang selalu mereka tonjolkan bahwa tanpa investasi tidak mungkin ada pertumbuhan ekonomi. Bagi kelompok ekonom lain yang membela dan memihak ekonomi rakyat. Dalam kondisi bingung inilah Chatib Basri seorang ekonom muda Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia lalu menunjuk adanya ekonomi tersembunyi ( hidden economy) yang sulit diraba. Yang licik atau tidak jujur (unfair) dari analisis makro ekonomi ini adalah tidak dengan menyebutkan secara jelas dan eksplisit bahwa ekonomi Indonesia selama 2002 telah tumbuh 3. Investassi tidak berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. karena daya tahan yang sangat tinggi. Pada tanggal 18 Maret 2002 Redaktur JER bersama Menteri Koperasi & UKM bertemu Presiden Megawati di Istana Negara untuk melaporkan hasil lokakarya ―Ekonomi Kerakyatan‖ tanggal 11 September 2001. sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa ekonomi nasional makin terpuruk atau sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan (recovery). Hukum atau teori ekonomi ini ternyata sama sekali tidak terbukti sepanjang tahun 2002. yang ekonom Sumatera saja mengerti apa itu ekonomi rakyat dan pada majalah ―Daulat Rakyat‖ tahun 1931 menulis ―Ekonomi Rakyat Dalam Bahaya‖. Presiden kita ternyata tidak bersama kita. Bung Hatta.Oleh: Setyo Budiantoro -.5%.5%. Saat itu kami usulkan agar Presiden secara terbuka menunjukkan keberpihakan ini. Data penurunan penanaman modal yang sangat besar ini.Direktur Kajian Ekonomi dan Pembangunan Center for Humanity and Civilization Studies (CHOICES) dan staf Ketua LSM Bina Swadaya. Mubyarto EKONOMI RAKYAT SEPANJANG TAHUN 2002 Tahun 2002 adalah tahun yang benar-benar istimewa bagi ekonomi rakyat. ekonomi tersembunyi ini sangat jelas tidak tersembunyi. Daya tahan yang tinggi inilah yang menyebabkan ekonomi r akyat cepat pulih dari krisis ―laksana baju bolong -bolong yang merajut kembali sendiri‖. Pergaulan mereka semakin sempit karena waktu mereka banyak tersita oleh komputer/internet yang mampu memberikan data-data kuantitatif dari seluruh dunia. maka saya lebih baik tutup mulut‖. 19 Januari) disebut kelompok ekonom populis yang ―tidak realistis‖ dan ―tidak ilmiah‖. dan sulit diterangkan. Presiden menyatakan antara lain bahwa ekonomi rakyat tidak mungkin mengalami krisis berkepanjangan. globalisasi yang arti harafiahnya adalah perluasan wawasan ternyata telah menyempitkan pendangan para ekonom makro Neoliberal hingga ekonomi rakyat di depan mata dianggap ekonomi tersembunyi. ekonomi industri. karena sepertinya perjuangan kita membela ekonomi rakyat tidak pernah akan berhasil. beliau menjawab: ―Bapak-bapak saja. Presiden menyambut baik hasil-hasil seminar yang antara lain menyimpulkan pemihakan Presiden pada Ekonomi Kerakyatan meskipun di muka umum tidak terkesan demikian.

dan dirgantara. 5. kesejahteraan. . sebenarnya merupakan salah kaprah yang sulit dimaafkan. sedangkan koperasi adalah wadah organisasi tempat bergiatnya ekonomi rakyat. yang diatur dengan undangundang. Pelaku ekonomi tetap saja perorangan sebagai produsen ataupun konsumen. Penyusunan dan pengembangan perekonomian nasional harus senantiasa menjaga dan meningkatkan tata lingkungan hidup. memperhatikan dan menghargai hak ulayat. untuk mewujudkan kemakmuran. disamping BUMN dan usaha swasta. bukan kemakmuran orang seorang‖. maka penghapusan penjelasan seluruh pasal 33 masih tetap berbahaya karena tidak lagi ada ketentuan tentang ―mendahulukan kepentingan masyarakat. dan efisiensi. dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pelaku ekonomi adalah koperasi. efisiensi. Tetapi TAP MPR yang sama dan UU No 25 tentang Propenas juga tegas-tegas memerintahkan pelaksanaan sistem ekonomi kerakyatan. Mungkin karena perhatian amat besar pada masalah pemilihan presiden atau katena perjuangan yang gigih dari segelintir teman-teman kita di MPR seperti Prof. Tetapi jika ke 5 ayat baru pasal 33 ini dianggap cukup untuk menghidarkan sistim kapitalisme. dan sosialisme. Memang amandemen yang paling penting menyangkut bidang politik yaitu tentang pemilihan presiden apakah melalui MPR yang selama ini berjalan atau melalui pemilihan langsung. BPPN yang merupakan rumah sakit raksasa untuk menyelamatkan sektor perbankan dari kebangkrutan total menghadapi dilema. serta menjamin keseimbangan dan kemajuan seluruh wilayah negara. Bumi. Bulan-bulan setelah selesainya ST MPR 2002 terjadi perdebatan menarik tentang perlakuan yang dianggap tepat pada para konglomerat atau eks-konglomerat yang mbandel tidak mau (bukan tidak mampu) membayar utang yang ratusan trilyun.pasal 33 UUD 1945. ST-MPR 2002 memutuskan mempertahankan asas kekeluargaan bahkan mempertahankan keseluruhan (3 Ayat) pasal 33 tanpa amandemen apapun. efisiensi. Ternyata yang menang adalah cara pemilihan yang kedua yaitu pemilihan presiden langsung meskipun tetap tidak ada jaminan dapat terpilihnya presiden yang benar-benar mampu mempersatukan seluruh bangsa untuk memecahkan masalah-masalah pembangunan bangsa yang makin komplek termasuk ancaman disintegrasi bangsa yang amat nyata. sedangkan organisasi koperasi adalah wadah kegiatan yang menjadi alat untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi anggota-anggota koperasi. 4. Demikian menggusur kata asas kekeluargaan dengan memasukkan kata demokrasi ekonomi. dan demokrasi ekonomi. termasuk juga melaksanakan komitmen pada LoI-IMF. serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai dan atau diatur oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai dan/atau diatur oleh negara berdasarkan asas keadilan dan efisiensi yang diatur dengan undang-undang. mayoritas anggota nampaknya menyadari kekeliruan pendapat yang ingin menggusur asas kekeluargaan. keadilan. Tetapi sekali lagi tetap merupakan kekeliruan dan kerugian besar bagi bangsa Indonesia dan sistem serta praksis perekonomian. rupanya dianggap memadai dan tidak melanggar asas kerakyatan. Ini berarti kemenangan para pembela ekonomi rakyat yang sejak Mei 2001 sebenarnya telah ―dinyatakan kalah‖ karena 5 dari 7 pakar ekonomi dalam BP-MPR setuju untuk menghapus asas kekeluargaan untuk digantikan dengan asas keadilan. air. dan pemerintah. Hanya orang seorang adalah pelaku ekonomi yang instinknya bekerja keras berusaha mencapai tujuan. 2. Sri-Edi Swasono. karena MPR memutuskan menghapus seluruh penjelasan pasal 33 termasuk di antaranya hilangnya kata bangun perusahaan koperasi dan pengertian lengkap demokrasi ekonomi yang menekankan pada keharusan mendahulukan kepentingan masyarakat. Perekonomian disusun dan dikembangkan sebagai usaha bersama seluruh rakyat secara berkelanjutan berdasar atas keadilan. 3. Lagipula menyebutkan koperasi sebagai salah satu pelaku ekonomi. badan usaha milik negara. Dalam sidang tahunan (ST) MPR-2002 para politisi kita berdebat keras melaksanakan amandemen UUD 1945 yang dikenal dengan amandemen ke-4. yaitu melalui restrukturisasi perusahaan yang sakit dan penjualan aset-asetnya. Secara lengkap rumusan pasal 33 baru hasil ST-2000 berisi 5 ayat sebagai berikut: 1. Hasilnya cukup melegakan karena asas kekeluargaan tidak jadi digusur dan ketiga ayat pasal 33 dipertahankan utuh tanpa perubahan apapun meskipun ada tambahan ayat 4 dan 5 sebagai ―kompromi‖ yang memasukkan kata ―efisiensi berkeadilan‖. dan demokrasi ekonomi. liberalisme. dan usaha swasta termasuk usaha perseorangan. Di satu pihak BPPN diperintahkan MPR dan UU tentang Propenas untuk ―membereskan‖ segala utang ini dalam 5 tahun. Koperasi bukan pelaku ekonomi.

Guru Besar FE-UGM. meskipun hampir tidak pernah dipihaki kebijakan-kebijakan pemerintah. dan telepon awal Januari 2002. Pada forum sama di DPR -RI tanggal 28 Januari Nyoman Muna dan Bambang Ismawan mengusulkan dikembang kannya ―microcredit wholesaler‖ (pemasok modal besar untuk ekonomi rakyat) tetapi yang harus dijaga benar -benar agar tidak dicegat oleh pemangsa (predator) yang akan memangsa kredit-kredit mikro ini untuk mereka sendiri. Tentu saja pernyataan ini mendapat reaksi makin keras karena tidak saja kebijakan yang demikian melawan TAP MPR dan UU Propenas tentang sistem ekonomi kerakyatan. Pelaksanaan sistem ekonomi kerakyatan yang (harus) memihak rakyat berkali-kali terbentur atau berbenturan dengan kepentingan kelompok (vested interest) yang ingin tetap menguasai perekonomian Indonesia seperti masa-masa sebelum krismon. sehingga Direktur Utama BRI Rudjito menyatakan di DPR ―vested interest lebih tinggi dari interest rate‖ (yang sudah cukup tinggi!). Kiranya menjadi jelas bagaimana kehidupan ekonomi rakyat sepanjang tahun 2002 sampai awal 2003 ini. Dalam kaitan ini Kementerian Koperasi dan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) perlu berhati-hati karena UKM inilah salah satu wadah kelompok yang sangat mudah diselundupi sehingga menjadi pemangsa (predator) barbagai program kredit bagi ekonomi rakyat. dikawatirkan makin melembagakan kehidupan predator-predator kredit mikro bagi penduduk/warga miskin yang haus kredit di negara-negara ASEAN. Mubyarto. tetapi semuanya dengan modal mereka sendiri. lebih-lebih dengan pernyataan pembelaan Presiden di Bali tanggal 12 Januari. Bahaya ini sungguh jelas terlihat karena definisi kredit UKM adalah nilai kredit antara Rp 50 juta dan Rp 500 juta yang jelas bukan kelompok ekonomi mikro yang miskin. Ekonomi rakyat bukanlah ekonomi tersembunyi ( hidden economy) tetapi ekonominya wong cilik yang dapat dengan mudah dilihat dan ditemui di mana-mana di sekitar kita.5% jelas-jelas merupakan sumbangan ekonomi rakyat yang dapat diandalkan ketahanannya. Berbagai upaya untuk memihakinya selalu kandas ditengah jalan karena kepentingn-kepentingan yang mapan bercokol (vested interest) selalu berusaha keras pula untuk menyabotnya demi kepentingan mereka. Praktek-praktek BRI ini sebenarnya sudah ditiru/direplikasi di sejumlah negara Asia seperti India tetapi rupanya kurang mendapat perhatian di negeri sendiri. yang mendapat reaksi keras dari rakyat. Pertumbuhan ekonomi nasional yang dilaporkan BPS 3. adalah indikator penemuan ekonomi rakyat pada habitatnya yang benar. Presiden dengan tegas dan terus terang menyatakan pilihan kebijakan yang ―tidak populis‖ (tidak memihak rakyat) karena dianggap ―konstruktif‖ dalam jangka panjang. ditinjau dari para pelaku ekonomi rakyat ia merupakan pemecahan masalah ( solution). apakah tetap patuh pada pelaksanaan amanat pasal 33 UUD yang nasionalistik atau sistem ekonomi Neoliberal yang kini menguasai ekonomi dunia. Menjamurnya pedagang kaki lima di mana-mana di kota-kota besar dan kecil.bukan lagi sistem ekonomi konglomerasi yang terbukti telah menyulut bom waktu berupa krisis moneter 1997. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM (PUSTEP-UGM) . Dan jalan keluar atau pemecahan masalah ini sama sekali tidak memperoleh bantuan modal dari pemerintah atau bank-bank pemerintah. Inilah nasib ekonomi rakyat yang cukup suram dan merisaukan. Prof. Pemulihan ekonomi nasional dari krisis yang berkepanjangan justru terletak pada ekonomi rakyat. Jika pemerintah menganggap menjamurnya pedagang kaki lima sebagai masalah yang memusingkan. Tarif dasar listrik. tetapi juga secara nyata sangat memberatkan kehidupan ekonomi rakyat. Di Indonesia sejarah dan praktek BRI sudah dukup meyakinkan sebagai Bank bagi penduduk miskin terutama di perdesaan. Dr. Dilema sangat berat ini menjadi terbuka lebar pada kasus kenaikan serentak harga-harga BBM. Pemilihan kebijakan yang tidak populis inilah yang kemudian memperkuat demonstrasi mahasiswa yang selanjutnya menuntut Presiden dan Wakil Presiden mundur karena tidak lagi merasa dipihaki. Ekonomi rakyat menjadi pendukung utama perekonomian nasional. Dilema ini berkepanjangan karena pada setiap kasus seperti penjualan BCA atau Indosat selalu muncul masalah masa depan sistem ekonomi Indonesia. di desadesa maupun di kota-kota. Usulan Filipina dalam AIPO-ASEAN (Organisasi antar Parlemen ASEAN) untuk membentuk Bank Penanggulangan Kemiskinan (ASEAN Poverty Alleviation Bank). Presiden dan Wakil presiden yang sangat didambakan memihak rakyat tidak lagi dipihak mereka (atau melawan mereka) sehingga tidak ada alasan lagi untuk mendukungnya. Dan praktek perbankan BRI dengan unit-unit desanya dapat didukung kegiatan BPR dan Koperasi yang dikembangkan berbagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sudah tumbuh di mana-mana secara mandiri dengan modal tabungan anggota. ketika ekonomi sektor industri modern makin tertutup dan bermasalah.

maka semuanya disebut binatang. yaitu ekonomi rakyat yang mana. di mana dan berapa jumlahnya. Menurutnya. Karena jumlahnya hanya sedikit sehingga tidak merupakan representasi dari kondisi ekonomi rakyat yang sebenarnya. menejemen usaha yang belum bersistem. Ibarat kata ‗binatang‘. kata rakyat terdiri dari satuan individu pada umumnya atau jenis manusia kebanyakan. Atau apakah upaya menggiring rakyat ke dalam ruang ekonomi kerakyatan selama ini sudah berada dalam koridor yang benar. Walaupun dalam perjalanannya seekor kucing dapat saja menelan 100 ekor tikus atas nama binatang. ekonomi rakyat adalah satuan (usaha) yang mendominasi ragaan perekonomian rakyat. mempunyai akses pasar yang luas. Ilustrasi di atas saya sampaikan untuk membuka ruang diskusi tetang ekonomi kerakyatan dalam perspektif yang terarah dalam kerangka mengagas pikiran Prof. Sama seperti jika seekor kucing digabungkan dengan 100 ekor tikus dalam satu ruang. menguasai usaha dari hulu ke hilir. Kata rakyat baru bermakna secara visual jika yang diamati adalah individualitas dari rakyat (Asy‘arie. Dainy Tara (2001) membuat perbedaan yang tegas antara ‗ekonomi rakyat‘ dengan ‗ekonomi kerakyatan‘.). Atau dengan kata lain. maka rakyat adalah kumpulan kebanyakan individu dengan ragaan ekonomi yang relatif sama. Memiliki modal yang besar. yakni upaya memberdayakan (kelompok atau satuan) ekonomi yang mendominasi struktur dunia usaha. siapa. Mubyarto. Karena dalam dimensi ruang Indonesia semua orang (Indonesia) berhak untuk menyandang predikat ‗rakyat‘. koruptor pun berhak menyandang predikat ‗rakyat‘. Kenapa mereka tidak digolongkan juga dalam ekonomi kerakyatan?. Kalau diterjemahkan dalam konteks ilmu ekonomi. konglomerat. saya menc oba untuk menangkap (baca: memahami) makna kata ‗rakyat‘ secara utuh. dan bentuk kepemilikan usaha secara pribadi. kucing. Pertanyaan yang sama harus dikenakan pada konsep ekonomi rakyat. serta peluang pasar. sumberdaya manusia. khususnya dalam kaitan dengan pembangunan ekonomi. sehingga kita harus jelas mengatakan binatang yang mana yang bentuk visualnya gemuk atau kurus. Dalam ruang Indonesia. Mereka lahir dan berkembang dalam suatu sistem ekonomi yang selama ini lebih menekankan pada peran negara yang dikukuhkan (salah satunya) melalui pengontrolan perusahan swasta dengan rezim insentif yang memihak serta membangun hubungan istimewa dengan pengusaha-pengusaha . menguasai teknologi produksi dan menejemen usaha modern. Selanjutnya. Ekonomi Kerakyatan dan Sistem Ekonomi Pasar Ekonomi rakyat tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. Kata rakyat merupakan suatu konsep yang abstrak dan tidak dapat di‘tangkap‘ untuk diamati perubahan visual ekonominya. Perlu dipahami bahwa dalam ruang ekonomi nasional pun terdapat sejumlah aktor ekonomi (konglomerat) dengan bentuk usaha yang kontras dengan apa yang diragakan oleh sebagian besar pelaku ekonomi rakyat. Dalam konteks ilmu sosial. Sedangkan ekonomi kerakyatan lebih merupakan kata sifat. kita tidak bisa menangkap binatang untuk mengatakan gemuk atau kurus. dll. 2001).Fredrik Benu EKONOMI KERAKYATAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT: SUATU KAJIAN KONSEPTUAL Ruang Ekonomi Kerakyatan Indonesia Saat mendapat tugas untuk mebahas konsep ekonomi kerakyatan dalam kaitan dengan makalah Prof. Akhirnya saya sampai pada pemahaman bahwa rakyat sendiri bukanlah sesuatu obyek yang bisa ‗ditangkap‘ untuk diamati secara visual. usaha ekonomi yang diragakan bernilai ekstrim terhadap totalitas ekonomi nasional. Golongan yang kedua ini biasanya (walaupun tidak semua) lebih banyak tumbuh karena mampu membangun partner usaha yang baik dengan penguasa sehingga memperoleh berbagai bentuk kemudahan usaha dan insentif serta proteksi bisnis. Buruh tani. Kita harus jelas mengatakan rakyat yang mana yang seharusnya kita tempatkan dalam ruang ekonomi kerakyatan Indonesia. ular. Mubyarto tentang ―Ekonomi Kerakyatan dalam Era Globalisasi dan Otonomi Daerah‖. kecuali binatang itu adalah misalnya seekor tikus. atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam. Karena kelompok usaha dengan karakteristik seperti inilah yang mendominasi struktur dunia usaha di Indonesia. bagaimana kita memperlakukan rakyat dimaksud dan apakah perlakuan terhadapnya selama ini sudah benar. Persoalannya ada begitu banyak obyek yang masuk dalam barisan binatang (tikus. sarana teknologi produksi yang sederhana. maka kata rakyat dalam konteks ilmu ekonomi selayaknya diterjemahkan sebagai kesatuan besar individu aktor ekonomi dengan jenis kegiatan usaha berskala kecil dalam permodalannya. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun.

yang antara lain berisikan tentang keberpihakan yang sangat kuat terhadap usaha kecil-menengah serta koperasi. dalam prakteknya belum ada satu negarapun yang cukup berpengalaman serta yang paling penting menunjukkan keberhasilan nyata. Keputusan politik ini sebenarnya menandai suatu babak baru pembangunan ekonomi nasional dengan perspektif yang baru. Mari kita membedah lebih jauh tentang konsep ekonomi kerakyatan. Hal yang masih kurang jelas dalam TAP MPR dimaksud adalah apakah perspektif pembangunan nasional dengan keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini masih dijalankan melalui mekanisme pasar? Dalam arti apakah intervensi pemerintah dalam bentuk keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini adalah benar-benar merupakan affirmative action untuk memperbaiki distorsi pasar yang selama ini terjadi karena bentuk campur tangan pemerintah dalam pasar yang tidak benar? Ataukah pemerintah mulai ragu dengan bekerjanya mekanisme pasar itu sendiri sehingga berupaya untuk meninggalkannya dan mencoba merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru ?. lalu mencari suatu sistem dan paradigma baru di luar sistem ekonomi pasar untuk dirujuk dalam pembangunan ekonomi nasional. Komitmen pemerintah untuk mengurangi gap penguasaan aset ekonomi antara sebagian besar pelaku ekonomi di tingkat rakyat dan sebagian kecil pengusaha besar (konglomerat). keadilan dan keseimbangan yang dibangun melalui mekanisme ―pasar‖nya Adam Smith adalah sesuatu yang harus diakui keberadaannya. Kegagalan pembangunan ekonomi yang diragakan berdasarkan mekanisme pasar ini antara lain karena kegagalan pasar itu sendiri. jika kita semua jernih melihat dan jujur untuk mengakui bahwa kegagalan-kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama ini terjadi bukan disebabkan oleh karena ketidakmampuan mekanisme pasar mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. Mau meninggalkan mekanisme pasar dalam sistem ekonomi nasional. Bahwa kegagalan kebijakan pembangunan ekonomi nasional masa orde baru dengan keberpihakan yang berlebihan terhadap kelompok pengusaha besar perlu diubah. di mana bangun ekonomi yang mendominasi regaan struktur ekonomi nasional mendapat tempat tersendiri. khusunya sejak masa orde baru. sebenarnya keragu-raguan ini tidak perlu terjadi. tidak efektifnya pasar tersebut berjalan. adil. demi mengamankan pencapaian target pertumbuhan (growth) (Gillis et al. Bukti keragu-raguan ini tercermin dalam TAP MPR hasil sidang istimewa itu sendiri. komitmen politik pemerintah ini perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. bukan ekonomi pasar itu sendiri. Sekali lagi. karena pengalaman keberhasilan pembangunan ekonomi negara-negara maju saat ini selalu merujuk pada bekerjanya mekanisme pasar. saya merasa kurang memiliki justifikasi empirik untuk mempertanyakan kembali sistem ekonomi pasar. Kemudian sejak sidang istimewa (SI) 1998. Pengalaman pembangunan ekonomi Indonesia yang dijalankan berdasarkan mekanisme pasar sering tidak berjalan dengan baik. .yang besar yang melahirkan praktik-praktik anti persaingan. bahkan kita sendiri belum berpengalaman (ibarat membeli kucing dalam karung). Namun demikian tidak harus diartikan bahwa konsep pasar Adam Smith yang relatif bersifat utopis ini harus diabaikan. tapi perusahaan swasta besar dan BUMN tetap mendapat tempat bahkan mempunyai peran yang sangat strategis. Yang perlu dilakukan adalah upaya untuk mendekati kondisi indah. intervensi pemerintah yang tidak benar. 1987). dihasilkan suatu TAP MPR mengenai Demokrasi Ekonomi. Karena konsep ―pasar‖ yang disodorkan oleh Adam Smit sesungguhnya tidak pernah ada dan tidak pernah akan ada. Dalam pemahaman seperti ini. Tapi sayangnya sangat sulit untuk diacu untuk mencapai keseimbangan dalam tatanan perekonomian nasional. Bagi saya. Padahal ekonomi pasar diperlukan untuk menentukan harga yang tepat ( price right) untuk menentukan posisi tawar-menawar yang imbang. perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Bagi saya dunia ―pasar‖ Adam Smith adalah suatu dunia yang indah dan adil untuk dibayangkan. Mereka tidak bisa diandalkan untuk menopang perekonomian nasional dalam sistem ekonomi pasar. kita masih ragu-ragu. Nampaknya kita semua berada pada pilahan yang dilematis. Persepektif yang perlu dianut adalah bahwa keindahan. dan adanya pengaruh eksternal. Mau merujuk pada bekerja suatu mekanisme yang baru (apapun namanya). Lahirnya sejumlah pengusaha besar (konglomerat) yang bukan merupakan hasil derivasi dari kemampuan menejemen bisnis yang baik menyebabkan fondasi ekonomi nasional yang dibangun berstruktur rapuh terhadap persaingan pasar.. minimal telah dibuktikan melalui suatu review teoritis. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya struktur ekonomi yang berimbang antar pelaku ekonomi dalam negeri. Bukan sebaliknya membangun suatu format lain di luar ―ekonomi pasar‖ untuk diacu dalam pembangunan ekonomi nasional. Saya perlu menggaris bawahi bahwa yang patut mendapat kesalahan terhadap kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama regim orde baru adalah implementasi kebijakan pembangunan ekonomi nasional yang tidak tepat dalam sistem ekonomi pasar. dimana demokrasi ekonomi nasional tidak semata-mata dijalankan dengan keberpihakan habis-habisan pada usaha kecil-menengah dan koperasi. dan seimbang melalui berbagai regulasi pemerintah sebagai wujud intervensi yang berimbang dan kontekstual. yang keberhasilannya masih mendapat tanda tanya besar atau minimal belum dapat dibuktikan melalui suatu kajian teoritis-empiris. Sudah saatnya dan cukup adil jika pengusaha kecil –menengah dan bangun usaha koperasi mendapat kesempatan secara ekonomi untuk berkembang sekaligus mengejar ketertinggalan yang selama ini mewarnai buruknya tampilan struktur ekonomi nasional.

dsb. maka kurang ada justifikasi logis yang jelas untuk mengabaikan bekerjanya mekanisme pasar dalam mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. terjadi banyak penyimpangan dalam implementasi. pada akhirnya bermuara pada incapability dan inefficiency dari industri yang bersangkutan (contoh kebijakan pengembangan industri otomotif). Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang salah atau kurang sempurna dengan konsep ekonomi kerakyatan?. Yang disebut dengan affirmative action seharusnya lebih dutujukkan pada disadvantage group (sebagian besar rakyat kecil). demi mengkreasi bekerjanya mekanisme pasar dalam program pembangunan ekonomi nasional. mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara baik pula. serta lemahnya pengawasan. karena kurang mantapnya perencanaan. 2000). Justru negara-negara yang masih setengah hati mendorong bekerjanya mekanisme pasar (seperti Indonesia) tidak mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara mantap. kepala yang dipenggal‖. meluasnya kesempatan berusaha dan pendapatan.tetapi lebih disebabkan karena pasar sendiri tidak diberi kesempatan untuk bekerja secara baik. Akibatnya tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) terhadap obyek keberpihakan (dalam mekanisme pasar) untuk mengambil peran sebagai lokomotif keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. Semua ini merupakan ciri-ciri dari Ekonomi Kerakyatan yang kita tuju bersama (Prawirokusumo. namun pelaksanaannya masih jauh dari memuaskan. Perlu dicatat. Pengalaman pembangunan ekonomi nasional dengan kebijakan proteksi bagi kelompok industri tertentu (yang diasumsikan sebagai infant industry) dan diharapkan akan menjadi ―lokomotif ― yang akan menarik gerbong ekonomi lainnya. Kita akan membahas lebih jauh tentang kekurangan konsep ekonomi kerakyatan yang di dengungkan oleh pemerintah pada sub-pokok bahasan di bawah ini. partisipatif. Ini sama artinya dengan ―sakit di kaki. Bentuk campur tangan pemerintah (orde baru) yang seharusya diarahkan untuk menjamin bekerjanya mekanisme pasar guna mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. rakyat sudah terlalu lama menunggu dengan penuh pengorbanan. Kalau begitu logikanya. Pada saat yang sama. sistem perburuhan. Pembangunan harus dikembangkan dengan berbasiskan ekonomi domestik (bila perlu pada daerah kabupaten/kota) dengan tingkat kemandirian yang tinggi. sistem jaminan sosial. Buktinya negaranegara maju yang selalu merujuk pada bekerjanya mekanisme pasar secara baik. Apalagi dengan merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru. Sejak awal saya katakan bahwa semua pihak perlu mendukung affirmative action policy pada usaha kecilmenengah dan koperasi yang diambil oleh pemerintah sesuai dengan tuntutan TAP MPR. 2001). Jadi yang salah selama ini bukan mekanisme pasar. kepercayaan diri dan kesetaraan. adanya persaingan yang sehat. seperti Singapura) mempunyai suatu sistem social security jangka panjang (yang berfungsi secara permanen) untuk membantu kelompok masyarakat yang inferior dalam kompetisi memperoleh akses ekonomi. keterbukaan/demokratis. Ekonomi Kerakyatan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perlu digarisbawahi bahwa ekonomi kerakyatan tidak bisa hanya sekedar komitmen politik untuk merubah kecenderungan dalam sistem ekonomi orde baru yang amat membela kaum pengusaha besar khususnya para . Pendapat seperti ini juga tidak benar secara absolut. bukan sebaliknya pada konglomerat. harganya terlalu mahal bagi rakyat jika kita mencoba-coba dengan sesuatu yang tidak pasti. Sudah menjadi pengetahuan yang luas bahwa negara-negara maju (termasuk beberapa negara berkembang. Sebenarnya sudah banyak program jaminan sosial temporer semacam JPS di Indonesia. untuk melihat keberhasilan pembangunan ekonomi nasional yang dapat dinikmati secara bersama. menjadi tidak bermakna saat dihadapkan pada kenyataan bahwa bisnis yang bersangkutan masih tetap berada pada level perkembangan ―bayi‖. ternyata dalam prakteknya lebih diarahkan pada keberpihakan yang berlebihan pada pengusaha besar (konglomerat) dalam bentuk insentif maupun regim proteksi yang ekstrim. ka rena dimanjakan oleh berbagai insentif dan berbagai bentuk proteksi. tetapi kurang adanya affirmative action yang jelas oleh pemerintah demi menjamin bekerjanya mekanisme pasar. pemerintah sendiri kurang mempunyai acuan yang jelas tentang kapan seharusnya phasing-out process diintrodusir dalam tahapan intervensi. Ini yang namanya affirmative action yang terarah oleh pemerintah dalam mekanisme pasar (Bandingkan dengan pendapat Anggito Abimanyu. bahwa disamping obyek keberpihakan selama pemerintah orde baru dalam kebijakan ekonomi nasionalnya salah alamat. Saya juga kurang setuju dengan pendapat bahwa mekanisme pasar tidak dapat menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonomi nasional. Fungsi sosial dapat berjalan dengan baik dalam mekanisme pasar. instrumen distribusi kekayaan dan pendapatan. dan pemerataan yang berkeadilan. Periode waktu yang telah ditetapkan untuk berkembang menjadi suatu bisnis yang besar dalam skala dan skop serta melibatkan sejumlah besar pelaku ekonomi di dalamnya. Bagi saya. jika ada intervensi pemerintah melalui perpajakan.

dan . Tidak dapat disangkal bahwa membangun ekonomi kerakyatan membutuhkan adanya komitmen politik ( political will). Praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil sangat tidak menguntungkan pihak manapun. 2001). Ini adalah suatu model pendekatan struktural (structural approach). atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam. Sebenarnya yang harus ada pada tangan obyek affirmative action adalah kesempatan untuk berkembang dalam suatu mekanisme pasar yang sehat. bukan sekedar jargonjargon politik yang hanya berada pada tataran konsep. diperlukan adanya kajian ekonomi yang akurat tentang timing dan process di mana pemerintah harus mengurangi bentuk keberpihakannya pada usaha kecil-menengah dan koperasi dalam pembangunan ekonomi rakyat. 2000). Beberapa kajian empiris menunjukkan bahwa permasalahan umum yang dihadapi oleh UKM dan Koperasi adalah: keterbatasan akses terhadap sumber-sumber permbiayaan dan permodalan. keterbatasan penguasaan teknologi dan informasi. keunggulan. Pada era otonomisasi saat ini. tetapi perlu ditindalanjuti dengan pengembangan program-program operasional yang diarahkan untuk mengatasi persoalan keterbatasan akses kebanyakan rakyat kecil. Kita semua masih mengarahkan seluruh energi untuk mendukung program keberpihakan pemerintah pada UKM dan koperasi sesuai dengan tuntutan TAP MPR. konsep pengembangan ekonomi kerakyatan harus diterjemahkan dalam bentuk program operasional berbasiskan ekonomi domestik pada tingkat kabupaten dan kota dengan tingkat kemandirian yang tinggi. untuk mendorong ekonomi kerakyatan berkembang secara sehat. sumberdaya manusia. Tapi kita lupa bahwa ada tahapan lainnya yang penting dalam program keberpihakan dimaksud. Komitmen keberpihakan pemerintah pada UKM dan Koperasi di dalam perspektif ekonomi kerakyatan harus benar-benar diarahkan untuk mengatasi masalah-masalah yang disebut di atas. Tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) dalam ragaan bisnis usaha kecil-menengah dan koperasi yang menjadi target affirmative action policy. Selanjutnya. pemerintah harus mempunyai ancangan yang pasti tentang kapan seharusnya pemerintah mengurangi bentuk campur tangan dalam affirmative action policynya. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun. termasuk rakyat kecil sendiri (Bandingkan dengan pendapat Ignas Kleden. Kalau tidak. keterbatasan akses pasar. Bukan sebaliknya ditiadakan dengan menciptakan ketergantungan model baru pada kebijakan keberpihakan dimaksud. maka sekali lagi kita akan mengulangi kegagalan yang sama seperti apa yang terjadi selama masa pemerintahan orde baru. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di NTT Kita telah membahas tentang konsep ekonomi kerakyatan dalam pembangunan ekonomi nasional melalui program-program keberpihakan pemerintah terhadap UKM dan Koperasi. bukan cash money/cash material. Hal ini perlu ditegaskan. Jika pemahaman ini tidak dibangun sejak awal. Isu ini perlu mendapat perhatian tersendiri. Perubahan itu hendaknya dilaksanakan dengan benar-benar memberi perhatian utama kepada rakyat kecil lewat program-program operasional yang nyata dan mampu merangsang kegiatan ekonomi produktif di tingkat rakyat sekaligus memupuk jiwa kewirausahaan. Oleh karena itu. Bahkan sangat mungkin terjadi suatu proses yang bersifat counter-productive. Namun demikian perlu ditegaskan bahwa pengembangan ekonomi kerakyatan pada era otonomisasi saat ini tidak harus ditejemahkan dalam perspektif territorial. maka saya khawatir cerita keberpihakan yang salah selama masa orde baru kembali akan terulang. Justru kelompok ini yang enggan mendorong adanya proses phasing-out untuk mengkerasi mekanisme pasar yang sehat dalam rangka mendorong keberhasilan program ekonomi kerakyatan. Masih ada masalah lain yang perlu dibahas dalam hubungan dengan internal condition UKM dan Koperasi. Pendekatan seperti ini jelas sangat berbeda dengan apa yang dimaksud dengan affirmative action. agar pembahasan tentang ekonomi kerakyatan tidak hanya berhenti pada suatu konsep abstrak (seperti pembahasan tentang konsep ‗binatang‘ di atas). karena sampai saat ini masih banyak pihak (di luar UKM dan Koperasi) yang memanfaatkan momen keberpihakan pemerintah ini sebagai free-rider. Tapi sebaiknya dikembangkan dalam perspektif ‗regionalisasi‘ di mana di dalamnya terintegrasi kesatuan potensi. karena asumsi awal yang dianut adalah usaha kecil-menengah dan koperasi yang merupakan ciri ekonomi kerakyatan Indonesia tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. tetapi menyamakan ekonomi kerakyatan dengan praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil (saya tidak membuat penilaian terhadap sistem JPS). Modal dasar yang dimiliki inilah yang seharusnya ditumbuhkembangkan dalam suatu mekanisme pasar yang sehat. keterbatasan organisasi dan pengelolaannya (Asy‘arie. serta peluang pasar. Program pengembangan ekonomi rakyat memerlukan adanya program-program operasional di tingkat bawah. adalah sesuatu kekeliruan besar dalam perspektif ekonomi kerakyatan yang benar. menjadi sangat tergantung pada aksi dimaksud. Aksi membagi-bagi uang secara tidak sadar menyebabkan usaha kecil-menengah dan koperasi yang selama ini tidak berdaya untuk bersaing dalam suatu mekanisme pasar. yaitu phasing-out process yang harus pula dipersiapkan sejak awal. peluang.konglomerat.

Ekonomi Indonesia Baru. Yogyakarta. tgl.Norton & Companny. Oleh karena itu saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa program pemberdayaan ekonomi rakyat. Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia. PUSTAKA Abimanyu. Laporan disampaikan pada kunjungan Menteri Pertanian Republik Indonesia di Propinsi Nusa Tenggara Timur. 2000. . cara pengelolaan keuangan. PT. Kompas Media Nusantara. Jakarta. Fredrik Benu – Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana. Kebijakan. Yogyakarta. Elex Media Komputindo. Kupang. Ekonomi Pasar Sosial Indonesia.. Sekedar sebagai pembanding disajikan data realisasi dan tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) selama periode 1996-2000. Djisman. Nuansa Madani. khususnya di NTT. 6 milyar dengan jumlah tunggakan (pokok+bunga) sebesar kurang lebih 26. Azwir Dainy. 2000. dan Strategi. 2002. Persepsi dan Mispersepsi tentang Pemulihan Ekonomi Indonesia. jumlah KK miskin di NTT malah mengalami kenaikan yang cukup murad sebesar 55 % selama periode 1998-2002. S. Gillis. Atau dengan kata lain tingkat keberhasilan KUT di NTT hanya mencapai kurang dari 26 %.1 milyar (Laporan Gubernur NTT. Pokok-Pokok pikiran dalam Menggugat Masa Lalu. termasuk di dalamnya cara pandang tentang usaha. 1987. Jumlah realisasi KUT yang telah disalurkan pada petani sejak tahun 1996 sampai tahun 2000 kurang lebih 35. 2001). tidak dipublikasikan.karakter sosial budaya. sikap terhadap mitra dan kompetitor. Simanjuntak. Kosep. 2001. 26 Nopember 2002. Jakarta. 2001. Tetapi ada semacam jarak antara kesadaran berpikir dan realitas perilaku (Bandingkan dengan pendapat Musa Asy‘arie. cara pandang tentang tingkat keuntungan. Sistem nilai budaya ini yang banyak mendeterminasi perilaku aktor ekonomi rakyat di NTT. 2 nd Ed. Ignas. Kompas Media Nusantara. Persoalan mendasar yang mengurung ini. 2001. Kupang Makalah disampaikan pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di Provinsi NTT. mungkin ada kaitannya dengan sistem nilai budaya yang sudah mengakar pada diri pelaku ekonomi rakyat di NTT secara turun temurun. Perkins. H. Anggito. Ekonomi Rakyat. di Hotel Kristal. Soeharto. 2000. Prawirokusumo. Tara. Asy‘arie. 2002). Tingkat pencapaian tertinggi yang paling banyak diperoleh dari program-program dimaksud adalah hanya terbatas pada tumbuhnya kesadaran berpikir dan hasrat untuk maju. kajian dan alternatif solusi menuju pemulihan. strategei menghadapi resiko. dsb. Malcolm. Pada tingkat regional NTT. Lembaga Studi Filsafat Islam. data yang diperoleh dari Biro Perekonomian Seta NTT menunjukkan bahwa sejak ditetapkannya TAP MPR tentang demokrasi ekonomi yang menekankan adanya keberpihakan yang jelas terhadap UKM dan Koperasi di Indonesia. W. BPFE. tetapi sebagian besar rakyat kecil masih sulit untuk mengaktualisasikannya dalam ragaan usaha mereka. New York. Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia. Economics of Development. sebaiknya dimulai dengan program rekayasa sosial-budaya (socio-cultural engineering) untuk merubah inner life dan mengkondisikan suatu tatanan masyarakat yang akomodatif terhadap tuntutan pasar untuk maju. Selanjutnya. Sekalipun sudah banyak program pemberdayaan ekonomi yang langsung menyentuh rakyat di tingkat bawah telah dilaksanakan baik oleh pemerintah maupun oleh lembaga-lembaga non-pemerintah (NGOs). Dwight. Ini adalah suatu model pendekatan lain yang disebut pendekatan kultural (cultural approach). Gubernur Nusa Tenggara Timur. Jakarta. Strategi Membangun Ekonomi Rakyat. dalam Menggugat Masa Lalu. PT. Musa.W. masih terdapat persoalan mendasar yang ‗mengurung‘ para pengusaha kecilmenengah dan Koperasi (termasuk di dalamnya berbagai bentuk usaha di bidang pertanian) untuk melakukan rasionalisasi dan ekspansi usaha. Keluar dari Krisis Multi Dimensi. Roemer Donald R. Jakarta. Kleden.

pelaku ekonomi sebagaimana dimaksud pada umumnya terdiri dari petani kecil. menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan yang serba kecil dan kekurangan di NTT sebagai pemain ekonomi yang utama atau sebagai fondasi ekonomi daerah. Data makro tentang pendapatan per kapita penduduk di berbagai kabupaten di NTT bisa menjelaskan kondisi ekonomi para pelaku ekonomi kecil tersebut. karena berbagai perbedaan pelaku ekonomi mulai diperhitungkan. Bagi para petani yang kebetulan memiliki wilayah yang cocok untuk komoditas perkebunan seperti Cengkeh. Demikian juga para nelayan kecil di pesisir pantai Flores. Tampilan fisik usaha para pelaku ekonomi kecil ini juga memperihatinkan. Dalam kajian ini. pelaku ekonomi kerakyatan yang serba kekurangan ini ingin ditempatkan sebagai pelaku ekonomi utama. Unit usaha industri kecil atau rumah tangga yang paling menonjol di NTT adalah industri tenun ikat. Sejumlah kelompok usaha yang dibina intensif dengan kondisi SDM yang relatif baik menunjukkan perkembangan yang baik. Di Apui (Alor). Menurut hemat saya. tingkat ekonomi mereka cukup memadai. Mungkin juga tidak setiap hari mereka bisa berjualan di pasar atau pinggir jalan karena pola produksinya yang bersifat musiman. Kecuali beberapa pelaku ekonomi informal yang berasal dari Jawa. ekonomi dan budayanya. kondisi mereka tidak dapat digolongkan mampu secara ekonomis. Pujian demikian tidak salah. Selain berjualan secara individual di pasar. Para peternak di TTS.Frits O FanggidaE EKONOMI KERAKYATAN DI NTT: ANTARA REALITAS DAN HARAPAN Realitas Pelaku Ekonomi Kerakyatan di NTT Rakyat adalah suatu konsep politik yang netral. Para pengamat ekonomi memuji pelaku ekonomi kecil ini sebagai lentur dan tahan terhadap konjungtus dan krisis ekonomi. petani kecil dan nelayan kecil di perdesaan. PDMDKE dan berbagai skim program/ pendanaan lainnya belum menyentuh mereka atau mungkin sentuhannya sudah hilang sama sekali. masih membutuhkan waktu yang relatif lama dan yang lebih penting dari itu. Ketika konsep rakyat diimbuhkan dengan konsep ekonomi politik yang tidak lagi netral. sebagian besar dalam kondisi serba miskin. kinerja ekonomi mereka terbilang cukup baik. namun pelaku ekonomi kecil semacam ini pasti buka di NTT. Sulawesi dan Sumatra yang pada umumnya berusaha di pusat kota. Tampaknya program-program pengentasan kemiskinan atau pemberdayaan ekonomi seperti IDT. membutuhkan wawasan dan perlakuan baru terutama dari para penentu dan pelaksana kebijakan pada tingkat pemerintahan. pelaku industri rumah tangga kecil dan pelaku ekonomi sektor informal perkotaan di Jawa dan kota besar lainnya di Indonesia dengan NTT. Namun bagi para petani yang mengandalkan tanaman pangan dengan wilayah yang relatif kering. Secara teoretis. Suatu isyarat bahwa suatu kebijakan pengembangan yang berhasil di Jawa dan kota besar lainnya di Indonesia belum tentu berhasil di NTT. yaitu hanya menunjuk pada pelaku ekonomi kecil (gurem) yang tersebar di sudut-sudut jalan perkotaan maupun di pelosok perdesaan. walaupun mungkin pendapatan nominalnya lebih besar dari para peternak kecil. mereka juga menggelar hasil usahanya di pinggir jalan secara darurat. nelayan kecil. Di NTT. peternak kecil. fondasi perekonomian daerah dan sejumlah julukan yang membanggakan. sejumlah kelompok tani yang menanam vanili mendapat penghasilan yang cukup besar lantaran harga komoditas ini cukup tinggi. namun tidak sedikit kelompok dan usaha individu menjadikan industri tenun ikat sebagai pekerjaan sampingan dengan postur usaha yang serba kekurangan. peternak kcil. tetapi kondisinya tetap seperti kita saksikan saat ini. Para pelaku ekonomi kecil di sektor informal perkotaan juga memperlihatkan kondisi yang relatif sama. Pada tataran political will pemerintah. tingkat ekonomi mereka memprihatinkan. telah melakukan banyak hal untuk memajukan mereka. kita mengenal cukup banyak konsep . Inilah kondisi riil pelaku ekonomi kerakyatan di NTT. Pemerintah. Kopi. dari pusat sampai daerah. Semuanya sama. Lingkungan ekonomi makro dan mikronya sangat kontras berbeda. Alor dan Timor. Jambu Mete. Vanili. Pada titik inilah kita harus membedakan secara jelas petani kecil. sebagian pelaku ekonomi kecil di pesisir pantai dikabarkan mengalami kemajuan berkat budidaya rumput laut. Data ekonomi makro Indonesia bahwa share pelaku ekonomi kecil ini cukup kelihatan. nelayan kecil dan pengrajin kecil di perdesaan dan para pelaku sektor informal perkotaan. tidak menunjukkan status ekonomi yang lebih baik ketimbang para petani yang menanam tanaman pangan. betapapun daerah ini dikenal sebagai gudang ternak (sapi). Komsep ini tidak mempersoalkan perbedaan orang dalam kepelbagaian sosial. Di Sabu dan Rote. konsep ekonomi kerakyatan yang digunakan juga tidak bersifat netral. Sumba.

Penghasil rumput laut di Rote dan Sabu juga mulai merasakan betapa fluktuasi harga yang terjadi sulit mereka kendalikan. Berkembangnya sektor ekonomi sekunder dan tersier menjadi prasyarat bagi pengembangan dunia usaha pada aras ekonomi mikro. Secara teoretis. Pada sisi lain share sektor perdagangan dan perhubungan sedikit agak menonjol. Perilaku . tetapi belum berhasil mengeluarkan para pelaku ekonomi kecil dari lingkaran yang serba kekurangan. tetapi lebih penting adalah aksesibilitas. perubahan struktur ekonomi akan terjadi bila aliran investasi pada sektor industri pengolahan (sekunder) meningkat. masing-masing bergerak di bidang kelautan dan agribisnis didirikan sebagai outlet bagi para pelaku ekonomi kecil. Akibatnya. Dua Perusahaan Daerah. Sikap kewiraswastaan mereka terbentuk dalam dinamika dunia usaha yang tinggi. Mereka bahu-membahu menjalin kekuatan untuk menguasai dan mendikte harga pasar. Petani Vanili di Apui (Alor) yang baru saja menikmati harga vanili yang tinggi. posisi tawar mereka sangat lemah. Para pelaku ekonomi kecil tidak menikmati nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan. Share sektor pertanian sangat menonjol sementara share sektor industri sangat kecil. Formasi Ekonomi Makro dan Mikro Salah satu keuntungan pelaku ekonomi kecil dan sektor informal perkotaan di Jawa dan kota besar lainnya adalah struktur ekonominya telah terdiversifikasi dengan baik sehingga hubungan fungsional antar sektor ekonomi (pertanian. Dalam kaitan ini menarik untuk disimak lebih lanjut langkah Pemda Kabupaten Kupang. Perlu ada kebijakan untuk percepatan perubahan struktur ekonomi NTT agar keterkaitan fungsional antar sektor ekonomi dapat tercipta. Kita masih membutuhkan wadah ekonomi lain atau sekurangkurangnya cara penanganan pasar sedemikian rupa sehingga aksesibilas pasar dan posisi tawar mereka dapat ditingkatkan. inti-plasma dan sebagainya. industri. maka inilah salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan untuk direplikasi pada daerah lain. Organisasi harus dilawan dengan organisasi pula. bapak angkat. Demikian juga pada tataran ekonomi mikro. Konsep-konsep ini telah diadopsi sedemikian rupa ke dalam berbagai program pemberdayaan ekonomi yang dilaksanakan pemerintah maupun swasta. Jauh bukan hanya dalam arti fisik saja. Mereka memasuki pasar pembeli ( buyer market) secara individual tanpa dukungan kelembagaan yang memadai. saay ini mulai merasakan bahwa harga vanili sangat ditentukan oleh pembeli (pedagang skala menengah dan besar). Organisasi pembeli yang kuat tersebut tidak bisa dilawan oleh para petani secara individual. Sektor rkonomi tersier adalah sektor yang melayani. Menjadi persoalan adalah bagaimana percepatan perubahan struktur ekonomi ini dapat terjadi. Dari kondisi semacam ini dapat dibayangkan bahwa yang diperdagangkan adalah komoditas pertanian tanpa penglahan yang berarti. peternak. Para peternak di TTS sudah sejak lama takluk dengan para pembeli (pedagang). agar tercapai keseimbangan posisi tawar di pasar. Dengan tingkat pendapatan masyarakat yang relatif tinggi serta kompetisi yang baik antar sektor ekonomi menjadikan outlet bagi produk pelaku ekonomi kecil cukup tersedia dengan insentif harga yang memadai. Kondisi ini sangat kondusif bagi para pelaku ekonomi kecil. nelayan. Sementara itu sebagian nelayan di Pulau Timor secara perlahan-lahan telah bertransformasi menjadi buruh nelayan. Karena itu sektor ini akan menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi pada sektor primer dan sekunder. Di NTT. bukan melalui pelatihan-pelatihan formal. Para pembeli memiliki organisasi yang solid. struktur ekonomi belum terdiversifikasi dengan baik menjadikan hubungan fungsional antar sektor ekonomi belum terjalin baik. Ciri pasar komoditas semacam ini adalah harga relatif rendah dan inferior terhadap komoditas hasil olahan yang diimpor dari luar. Dalam kondisi semacam ini. Jauh dari Permintaan dan Miskin Kelembagaan Salah satu persoalan yang menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan di perdesaan NTT sulit berkembang adalah bahwa mereka jauh dari permintaan (pasar). dinamika dunia usaha yang relatif tinggi menjadi media pembelajaran yang efektif dalam pembentukan perilaku ekonomi yang rasional dan produktif. pengembangan pelaku ekonomi kecil membutuhkan perubahan yang cukup berarti pada formasi ekonomi makro dan mikro. perhubungan dan lembaga keuangan) telah terjadi dengan baik. pengrajin dan pedagang kecil dapat menjadi organisasi ekonomi yang diandalkan untuk meningkatkan posisi tawar mereka di pasar? Sangat sulit untuk mengatakan Ya. perdagangan.pemberdayaan usaha kecil seperti kemitraan. Apakah koperasi sebagai lembaga ekonomi yang dekat dengan para petani. Berkembangnya sektor ekonomi sekunder akan menciptakan peluang bagi dinamika dunia usaha. Sekiranya langkah ini mampu meningkatkan posisi tawar para pelaku ekonomi kecil dan mampu meningkatkan kinerja ekonomi mereka. Inilah formasi ekonomi makro dan mikro yang sangat kondusif bagi pelaku ekonomi kecil di Jawa dan kota besar lainnya untuk berkembang.

Visi semacam ini diperlukan agar ada komitmen dan daya paksa untuk menjabarkan visi tersebut dalam perencanaan yang baik.ekonomi atau sikap kewirausahaan merupakan fungsi dari dinamika dunia usaha. program aksi dan pengelolaan yang jelas. maka Kepala Daerah harus berani merumuskan visi bahwa dalam jangka waktu lima atau 10 tahun mendatang. kapitalisasi pelaku ekonomi kecil tersebut dapat menjadi pemicu bagi berkembangnya aktivitas usaha pelaku ekonomi kecil.Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang . Semoga berguna. Frits O FanggidaE – Dosen Fakultas Ekonomi . Berkaitan dengan representasi pengembangan usaha kecil dalam dokumen perencanaan yang ada. wacana tentang UKM ibarat macan ompong. Bila urusan-urusan ekonomi lainnya diregulasi oleh Pemerintah Daerah. Denganstrategi. tetapi ia tak punya gigi. program-program lintas instansi yang akan dilaksanakan. agar tercipta media pembelajaran yang luas bagi pelaku ekonomi kecil untuk mematangkan perilaku ekonomi atau sikap kewirausahaannya. maka perangkat hukum dalam bentuk Perda tentang pelaku ekonomi kecil atau UKM perlu dibuat. harus diakui bahwa format perencanaan standar yang ada saat ini (Poldas. Dorong perkembangan dunia usaha melalui percepatan perubahan struktur ekonomi. Pertanyaannya. kepastian hukum dan komitmen yang jelas dalam pengembangan UKM. Bila pemerintah menginginkan pelaku ekonomi kecil menjadi fondasi perekonomian daerah. pembiayaan terhadap subsidiary plan tersebut dapat diakomodasi. strategi yang digunakan. sebagian dari pos belanja modal yang dianggarkan dapat diarahkan sebagai kapitalisasi pelaku ekonomi kecil. Sekian. propeda dan Renstra) memberi tempat bagi pengembangan usaha kecil secara terpadu dan berkesinambungan? Bagaimana strateginya menjadikan usaha kecil sebagai sokoguru perekonomian daerah? Sampai sejauh ini kita belum melihat adanya visi yang jelas tentang pelaku ekonomi kecil. Subsidiary plan tersebut paling kurang berisikan lima hal pokok yaitu Visi dan Misi. terutama bagi pelaku UKM untuk menuntut dan mengontrol pemerintah agar bersungguh-sungguh dalam mengembangkan UKM. Melalui pendekatan semacam ini diharapkan pelaku ekonomi kerakyatan dapat berkembang menjadi fondasi ekonomi yang kokoh bagi perekonomian daerah. Subsidiary plan adalah produk perencanaan sejumlah instansi yang berkaitan langsung dengan usaha kecil yang penyusunannya dikoordinasi Bappeda dan melibatkan representasi pelaku ekonomi skala menengah dan besar. yang menggunakan program sebagai nomenklatur generik serta format pengusulan untuk mendapatkan pembiayaan dekonsentrasi. Menurut hemat saya. Jangan dipaksakan dengan berbagai pelatihan kewirausahaan bila formasi ekonomi makroo dan mikro tidak kondusif. Misalnya dalam perumusan kebijakan fiskal daerah (APBD). Propeda dan Rentra) tidak memungkinkan rencana pengembangan pelaku ekonomi kecil sebagai inti dari pengembangan ekonomi rakyat diakomodasi dengan baik. PDRB NTT akan didominasi share pelaku ekonomi kecil. karena dalam format APBD yang baru. Demikianlah beberapa pokok pikiran tentang pengembangan ekonomi kerakyatan di NTT. Kepala Daerah harus berani merumuskan visi yang jelas tentang pengembangan pelaku ekonomi kerakyatan. Ancangan Perencanaan Berbagai perubahan yang diinginkan terhadap pelaku ekonomi kecil butuh perencanaan yang baik dan perencanaan yang baik muncul dari suatu visi pengembangan usaha kecil yang jelas pula. Seluruh program yang berkaitan dengan mereka perlu dievaluasi tuntas dan yang paling penting mesti ada wawasan baru tentangnya. Perda ini sangat penting. pembiayaan dan guide line pengelolaannya. Gaungnya kedengaran keras di mana-mana. Perlu Regulasi bagi Pelaku Ekonomi Kecil Esensi regulasi adalah untuk menciptakan keteraturan. Untuk itu diperlukan suatu pengkajian mendalam mengenai eksistensi pelaku ekonomi kecil saat ini. pedekatan. Rencana Pengembangan Pelaku Ekonomi Kecil dapat dijadikan subsidiary plan dari Propeda atau Renstra yang keabsahannya dilegitimasi juga oleh Perda. Dari segi pendanaan tidak ada masalah. Karena itu perlu terobosan dari sisi perencanaan. adakah visi kita yang jelas tentang usaha kecil? Cukupkah dokumen perencanaan yang ada (Poldas. Tanpa Perda ini. selain retorika tentang mereka.

5 71.42 -3.62 3.0 Sumber: RI. Kesan demikian tentu mengganggu pelaksanaan pemerintah daerah.9 76. ―Mungkin warga NTT belum se-makmur saudara-saudaranya dari daerah lain.22% dan 5. survei BPS tahun 1997 menempatkan NTT pada urutan nasional ke-6 (79. Sebagai salah satu dari 4 propinsi ―termiskin‖ di Indonesia berdasarkan tingkat PDRB perkapitanya. Di antara 4 propinsi ―termiskin‖ ini hasil lengkap survei BPS-1997 dilihat pada tabel 1.28 -3.73%.21 4. 3.57 2.63 1999 0.7 Kemandirian Kelembagaan Keseluruhan 64.83 4.73%.8 23.91 Rata-rata 1994 2000 3. Namun khusus tentang prospek otonomi kebanyakan pakar masih merasa cemas. Secara keseluruhan ekonomi NTT sudah pulih dari krisis. tetapi propinsi ini sedang mengeksplorasi berbagai potensi tambang dan kekayaan alam lain yang kelak akan membantu mengubah nasibnya‖.6 39.64% untuk wilayah-wilayah luar Jawa. Maret 1998 Dalam pertemuan terbatas di Kupang tanggal 20 Januari 2001.40 -2.6 86. yang seluruh desanya dinyatakan sebagai desa IDT pada tahun 1996.8 Irja 31.62%). Kabupaten/kota Sumba Barat Sumba Timur Kupang Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Belu 1998 -0. Tabel 1: Tingkat Keberhasilan Pokmas IDT Menurut Bidang (%) di 4 Propinsi Propinsi NTT NTB Maluku Ekonomi 79. wakil LSM dan sejumlah dosen Undana menyatakan optimisme terhadap masa depan ekonomi NTT. Maka dapat dimengerti seperti halnya wilayah-wilayah lain di luar Jawa. 6.42 -1.5 % berhasil dalam aspek ekonomi).57 5. Perekonomian Daerah Jika tahun 1996 dan 1997 pertumbuhan ekonomi NTT cukup tinggi (masing-masing 8.Mubyarto MEMBANGUN PEREKONOMIAN RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR Pendahuluan Gubernur Piet Tallo yang alumni Fakultas Hukum pernah menolak julukan miskin bagi daerahnya.75 -6.0 88. rupanya dianggap sebagai perubahan amat fundamental yang terkesan menghapuskan kekuasaan dan fungsi kooordinatif dari pemerintah propinsi atas kabupaten/kota dalam lingkungan propinsi.54 5. Bahwa OTDA penuh diletakkan di kabupaten/kota.54 3. Pidato Pertanggungjawaban Presiden.30 32. Data -data pertumbuhan PDRB per kabupaten/kota yang lebih lengkap selama Repelita VI terlihat pada tabel 2.6 91. 1.75 4.13 4.1 32.7 96.11 4.8% (Jawa-Bali) atau –13. adanya bagian-bagian masyarakat yang ―menikmati krisis‖ dengan kemakmuran yang meningkat.97 .5 75.94 1.04 2000 2.5 5.7 52. 5. Tabel 2: Pertumbuhan PDRB Per Kabupaten/Kota se Propinsi NTT No.67 2.22 6. yang menonjol di antaranya berupa kerisauan menurunnya wibawa pemerintah daerah propinsi di mata pejabat-pejabat kabupaten/kota.9 Partisipasi 88. tidak tinggi dibanding kontraksi –4. tetapi ekonomi rakyat yang masih agraris berdaya tahan tinggi dan justru merasa diuntungkan oleh krisis moneter tahun 1997. dan jauh lebih rendah dibanding kontraksi –11.9 78. 2.10 3.2 57.4 63. Meskipun tahun 1998 terjadi kontraksi ekonomi minus 2. Bahkan pemahaman tentang pengertian otonomi daerah sendiri masih cukup rancu.4% (5 propinsi Jawa).24 -2. dan di propinsi hanya merupakan otonomi terbatas. pada tahun krisis (1998) mengalami kontraksi –2. 4.

Alor Lembata Flores Timur Sikka Ende Ngada Manggarai Kota Kupang NTT -2.69%) dan TTU (-6. Kenaikan nilai penghimpunan dana di Ende yang luar biasa ketika krismon. yang paling tinggi adalah kenaikan pada awal krisis ekonomi yaitu dari Rp 899.68 5.50 -1. tidak ―dikembalikan‖ sebagai kredit yang dibutuhkan masyarakat setem pat tetapi dikirim ke luar daerah (Jakarta). Kredit yang diberikan hanya Rp 37. Namun menjadi tanda tanya mengapa kontraksi ekonomi yang tertinggi di kabupaten Ende rupanya tidak terkait dengan data perbankan yang justru meningkat yaitu simpanan dan tabungan berjangka masing-masing naik 19. pihak perbankan harus juga berubah dalam melayani ekonomi rakyat dalam kebutuhan kredit yang mudah dan murah.69 milyar (1998/99) kenaikan 73%. Bahkan kenaikan pendapatan yang diperoleh dari dan selama krismon tidak dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi rakyat lebih lanjut. 13. Tetapi sering dikatakan bahwa bank-bank tidak memiliki tenaga dan pengalaman untuk menyalurkan kredit kecil atau kredit mikro seperti ini.18 Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kontraksi ekonomi rata-rata kabupaten/kota se-propinsi cukup merata dengan angka tertinggi di kabupaten Ende (-6. Yang menarik untuk dicatat adalah ketimpangan ekonomi antardaerah yang relatif ―ringan‖.7 milyar).49 3. Di daerah harus ada kebijakan khusus yang merangsang investasi.72 5.01 4.08%). 12.08 trilyun naik 4.08 -8.2 milyar (20%) lebih rendah dari persentase kredit yang diberikan pada tingkat propinsi (28. Dunia perbankan setempat bersama Pemerintah Daerah harus sungguh-sungguh berkoordinasi untuk mengubah hukum ekonomi kapitalisme liberal menjadi hukum ekonomi kerakyatan.44 5. Sebenarnya jika Bank Umum di daerah mau bekerja keras. 8.18 2.03 0. Program pemberdayaan ekonomi rakyat akan berkembang melalui program .72 3. capacity.28%) dan kontraksi terendah adalah di Manggarai yang masih tetap tumbuh positif meskipun kecil sekali (0.9%.95 4.31 milyar.8 milyar ke Rp 53.73 -0.37 0.54 0.2 kali (dari Rp 2.6%). akan ditemukan usaha-usaha kecil ekonomi rakyat yang mau dan mampu membayar tingkat bunga pasar.69 -0.7 kali dari nilainya pada tahun 1993/94 (Rp 439 milyar).98 4.7% pertahun. yang oleh BI setempat dalam proyek PHBK (hubungan Bank dan kelompok swadaya) dan KKPA (Kredit Koperasi Pada Anggota) telah diabaikan. Pada bulan Oktober 2000 dana yang dihimpun perbankan Ende mencapai Rp 210. 11. Dana bank yang harus dibayar bunganya kepada penabung tidak mungkin dibiarkan diam (idle). dan yang paling mudah dalam situasi ekonomi sekarang (krismon) adalah dibelikan SBI yang bunganya menarik.73 4. Peningkatan dana masyarakat Ende berupa simpanan dan tabungan berjangka (Rp 183. 10. Syaratsyarat formal ini diakui terlalu kaku.18 6. Jika masyarakat kecil (ekonomi rakyat) mulai tertarik menggunakan jasa perbankan yang mudah dalam bentuk simpanan dan tabungan berjangka. Alasan yang biasanya diajukan adalah tidak adanya usaha-usaha ―produktif‖ yang memenuhi syarat untuk didanai dengan kredit bank. Ekonomi daerah yang miskin tetap selalu tertinggal. condition dan capital).7. Data dari Bank Indonesia propinsi NTT 1993-2000 menunjukkan kenaikan penghimpunan dana ―luar biasa‖ yaitu 19.91 1. Kantor Pusat setiap bank akan harus mengembangkannya. Analisis perekonomian daerah kembali ke lingkaran awal. dengan meninggalkan kriteria pemberian kredit formal yang kaku. rupanya berlanjut sampai sekarang (2000). Pimpinan Bank Indonesia yang hadir dalam diskusi di Kupang tidak melihat adanya kejanggalan ini karena menurutnya dalam ―sistem ekonomi pasar bebas‖ perilaku modal keluar masuk daerah.82 milyar melampaui Ngada/Manggarai yang hanya mencapai Rp 162. bahkan ke luar negeri sekalipun.05 5. Jumlah dana perbankan yang dihimpun bulan Oktober 2000 seluruh NTT mencapai Rp 2.72 0.51 -2. Dalam otonomi daerah ―lingkaran setan‖ seperti ini perlu diputus.20 3.43 1.42 4. meskipun disadari bahwa syarat-syarat ini adalah syarat-syarat kredit komersial formal yaitu 5 C (collateral.33 2.7 milyar ke Rp 129. Dana yang dihim pun perbankan di Ibukota propinsi (Kupang) ―hanya‖ 54.3 di Propinsi NTT melampaui wilayah Ngada dan Manggarai.6 milyar) dan 6 kali (dari Rp 21.83 4.3 milyar. 14.71 6.554. character. Oktober 2000).22 -6.5% dari dana perban kan di seluruh propinsi NTT (Oktober 2000) hanya sedikit meningkat dibanding pangsa tahun 1993/94 sebesar 48.72 3. Kenaikan paling tinggi adalah penghimpunan dana di kabupaten Ende (105%) dan Kabupaten Kupang (79%). sehingga dana perbankan Ende yang hanya Rp 40.9 milyar tahun 1993/94 (urutan ke-4 dari 7 wilayah) kini menjadi no. tidak dapat diatur. 9.20 milyar (1997/98) menjadi Rp 1.61 3.

tamatan SD) dari desa Babau. lebih-lebih setelah dipadukan ke dalam dana bantuan Desa sejak TA 1996/97. OTDA seharusnya tidak difokuskan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tetapi yang lebih penting adalah . Misalnya seorang ketua Pokmas Simson Misa (49 th. dan menilai program-program penanggulangan kemiskinan dan pembangunan perdesaan pada umumnya. serta penyuluh-penyuluh dari berbagai dinas sektoral. dan program -program ini harus lebih baik dibandingkan program-program yang disusun secara nasional seperti IDT oleh Bappenas dan Depdagri. Seorang SP2W. yang hadir pada pertemuan dengan 2 Pokmas IDT di Kalurahan Babau kecamatan Kupang Timur. memang berjalan baik. uang jalan jika berdinas keluar (Rp 7.000 yang disediakan sebagai BOP (Biaya Operasional Pemantauan) pada desa sulit dilihat hasilnya. dan disusun oleh BPD (Badan Perwakilan Desa) yang di antara tugas dan kewajibannya adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat berdasarkan demokrasi ekonomi (pasal 22 dan 101).kredit mikro ala Grameen Bank yang berhasil di Bangladesh dan sudah ―ditiru‖ di banyak negara termasuk di Indonesia. program IDT masih berjalan baik. antara lain melalui pengembangan program pendampingan dengan dana APBD. tetap dapat datang untuk mengadakan kajian-kajian. yang diangkat serta digaji oleh Pokmas yang didampinginya. meyakinkan masih perlunya pendamping bagi Pokmas-Pokmas IDT. Sedangkan di desa ke-2 yaitu Babau berhasil sekitar 30%. Kupang tengah. atau pakar-pakar dari pusat atau propinsi. Hendrikson Adoe (30 th). Program Pemberdayaan ekonomi rakyat Jika di sejumlah propinsi program IDT sudah ―dilupakan‖ atau sudah ―diganti‖ program lain seperti PPK (Program Pengembangan Kecamatan) di kabupaten Kupang. Dalam pada itu 2 jenis pendamping lainnya (yang tidak purna-waktu) seperti aparat desa. Program pendampingan ini akan jauh lebih berhasil lagi. pimpinan LSM Bina Swadaya Kupang yang mengkoordinasi 12 pendamping menyatakan dapat dikembangkannya program pendampingan ini dengan syarat pendamping yang bersangkutan mendampingi paling sedikit 20 Pokmas secara sungguh-sungguh dan purna-waktu. Otonomi Daerah dan Otonomi Desa Otonomi Daerah dan prospek pelaksanaannya di Propinsi. Jelas di sini bahwa rakyat atau warga desa sendirilah. Gaji pendamping yang tinggi ini masih disubsidi kantor Bina Swadaya sampai sekitar 50%. sulit diharapkan mencurahkan perhatian pada Pokmas IDT dan anggota-anggotanya. tetapi warga desa sendirilah yang pada tingkat akhir akan meluncurkan programprogram yang diinginkannya. kabupaten. dan yang dapat menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat. jika Pemda ( dhi PMD) serius memantau pelaksanaannya. tetapi rupanya tetap saja belum mampu mengatasi kebijakan kredit yang lebih berpihak pada sektor industri modern dan usaha-usaha besar di kota-kota. melalui BPD. melaksanakan. Bahwa Pemda kabupaten/kota kini lebih besar wewenangnya ketimbang propinsi. Pendamping Sarjana yang diangkat dan digaji Pemda masih banyak yang aktif. apa tugas dan tanggung jawab Pemda propinsi (atau PMD) dalam hal ini? Yang lebih sulit lagi adalah memikirkan kelanjutan program-program penanggulangan kemiskinan pada tingkat desa. Tamu-tamu. memang benar tercantum dalam pasal-pasal UU No. Program-program pembangunan yang disusun Pemda kabupaten/kota bersama DPRD memang harus makin banyak yang berasal dari desa/kelurahan. Di desa Babau sekitar 30% telah berhasil mengubah program IDT menjadi Koperasi Simpan Pinjam yang segera memperoleh status badan hukum. Salah satu kunci keberhasilan program IDT di NTT adalah dukungan penuh dan konsisten dari Pemda. dan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Ditaksir sekitar 10% dari SHU Pokmas cukup memadai untuk menggaji Pendamping yang bersangkutan. Kegagalan 70% program di desa pertama bukanlah karena ketidaksungguhan anggota tetapi karena musibah menjalarnya penyakit ternak babi pada tahun pertama. apakah pemikiran ke arah perbaikan dan penyempurnaan program IDT termasuk program pendampingan kini merupakan tanggung jawab penuh Pemda kabupaten? Jika ya. baik Pemda propinsi maupun Pemda kabupaten/kota. Kupang Timur.500/hari). yang setelah dilaksanakannya OTDA dapat menyusun. Kupang Timur.000 per bulan ditambah biaya operasional Rp 50. Di desa Oebelo antara 25-35% penerima dana IDT benar-benar telah mentas dari kemiskinan yang melilitnya. Namun yang belum jelas adalah implikasinya dalam penyusunan program-program untuk melaksanakan wewenang tsb. Ibu Johanna Maxi. [1] [1] Pendamping Bina Swadaya mendapat gaji (terendah) Rp 275. tidak ada alasan program yang bersangkutan tidak sesuai dengan aspirasi rakyat. dengan polos menanyakan ―Apakah setelah Otda masih akan ada tamu seperti Pak Mubyarto yang mengevaluasi program-program penanggulangan kemiskinan seperti IDT dan PPK?‖ Pertanyaan demikian diajukan karena ada pernyataan bahwa dalam Otda ―semua program penanggula ngan kemiskinan harus dibuat sendiri oleh kabupaten‖. karena yang pertama menerima otonomi penuh. Dana Rp 600. Karena mereka lebih dekat dengan rakyat.000 per bulan. sedangkan yang ke dua otonomi terbatas.22/1999. cukup banyak pendamping yang bermutu dan memihak pada penduduk miskin. Misalnya dalam program-program penanggulangan kemiskinan ala IDT. dan desa Babau. dan dilengkapi sepeda motor. BRI dengan kredit Unit Desanya sebenarnya sudah maju jauh sebelum Grameen Bank. Program IDT di 2 desa Oebelo. Dalam kenyataan. dan desa-desa di NTT cukup baik meskipun masih ditemukan berbagai masalah.

meningkatkan pemerataan dan keadilan menuju terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesimpulan Menyaksikan ketekunan dan kesungguhan masyarakat dan aparat Pemda propinsi dalam melaksanakan program IDT di propinsi NTT, kita melihat program penanggulangan kemiskinan sudah mencapai tahap gerakan masyarakat sebagaimana dirancang program ini pada awal peluncurannya. Sudah tercapainya tahap gerakan masyarakat (GEMA) antara lain terbukti dari sambutan Pokmas IDT di seluruh propinsi untuk menghimpun kembali dana IDT yang berada di Pokmas-Pokmas untuk dijadikan semacam Bank Desa pada tingkat kecamatan. Meskipun pendirian Bank Desa pada tingkat kecamatan dengan dana IDT yang sudah bergulir di Pokmas ini belum tentu dapat dianggap kemajuan, tetapi akan menjadi indikator tercapainya kemandirian keuangan desa seperti UPK (Unit Pelayanan Keuangan) dalam Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Memang dalam membangun kelembagaan Bank Desa ini profesionalisme dalam pengelolaannya harus prima, dan dilaksanakan dengan koordinasi penuh dengan Bank Indonesia setempat, disamping sikap pemihakan pejabat Pemda yang jelas pada kepentingan ekonomi rakyat. Konsep dasar program IDT adalah makin mendekatkan lembaga perkreditan dan pendanaan pembangunan masyarakat desa pada penduduk desa. Setiap usaha untuk meningkatkan skala ekonomi lembaga ini demi efisiensi harus lebih menguntungkan ekonomi rakyat. Otda yang juga berarti otonomi desa perlu memperoleh perhatian Pemda dan DPRD kabupaten dalam bentuk penyusunan Perda-Perdanya. Sikap dan tradisi demokrasi yang tinggi pada masyarakat NTT harus dimanfaatkan untuk segera membentuk BPD. Jika BPD berhasil menghimpun tokoh-tokoh muda masyarakat desa yang profesional, seperti mantan SP2W, maka ini merupakan salah satu kunci percepatan pemberdayaan ekonomi rakyat desa. Satu kendala yang selalu disinggung dalam diskusi-diskusi kecil adalah kondisi multietnik masyarakat NTT yang kurang mendukung kerukunan warga desa, lebih-lebih dengan membanjirnya pengungsi dari Timor Timur sejak September 1999. Untuk mengubah kondisi multietnik menjadi faktor dinamika masyarakat, pemerintah daerah perlu membentuk badan/lembaga khusus untuk menanganinya. Jika masalah multietnik ini benar-benar dapat digarap secara transparan dan profesional, maka rasa optimisme Gubernur yang disebutkan pada awal tulisan ini pasti makin berkembang. Dan NTT tidak akan lagi diartikan sebagai ―Nasib Tak Tentu‖ tetapi ―Nasib Terpancar Terang‖.

Prof. Dr. Mubyarto, Guru Besar FE-UGM, Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM (PUSTEP-UGM) Mubyarto EKONOMI RAKYAT INDONESIA PASCA KRISMON

Pendahuluan Selama 5 bulan (Juni-Oktober 2000) Pusat Penelitian Kependudukan UGM bekerjasama dengan RAND Corporation Santa Monica mengadakan Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia (SAKERTI) di 13 propinsi dengan mewawancarai 10.000 keluarga atau 43.000 orang. Survei yang telah diadakan untuk ketigakalinya ini mewawancarai keluarga-keluarga yang sama (panel) yang menjadi sampel sejak Sakerti 1 (1993) dan Sakerti 2 (1997). Pada tahun 1998 khusus untuk meneliti dampak krismon yang sedang berlangsung, dilaksanakan Sakerti 2+ dengan mengambil 25% sub-sampel. Penemuan-penemuan Sakerti 2+ yang telah disebarluaskan melalui beberapa tulisan antara lain oleh Elizabeth Frankenberg, James Smith, dan Kathleen Beegle (1999) mengejutkan banyak pihak karena berbeda dengan ―anggapan umum‖. Namun sejumlah peneliti lain seperti kelompok SMERU menemukan hal-hal yang sejalan dengan penemuan Sakerti 3 khususnya dalam dampak krismon yang tidak terlalu parah terhadap kehidupan keluarga/perorangan. Kami sendiri yang mengadakan kunjungan lapang ke berbagai desa selama 1998-1999 juga mencatat pernyataan banyak warga desa bahwa ―krisis ini belum apa-apa dibanding krisis yang lebih berat pada jaman Jepang, awal kemerdekaan, dan krisis ekonomi tahun 1965-66". [1]

[1] Mubyarto, 1999, Reformasi Sistem Ekonomi, Yogyakarta , Aditya Media, hal 129-139.

Demikian keparahan krismon 1997 yang menjadi polemik nasional selanjutnya tenggelam karena pendapat yang lebih condong ke ―dampak yang parah‖ lebih populer agar tidak menghambat peluncuran program program JPS (Jaring Pengaman Sosial) lebih-lebih yang dananya berasal dari bantuan luar negeri. Programprogram JPS adalah program untuk menolong penduduk miskin yang sedang dalam kesusahan sehingga tidaklah dianggap bijaksana menyebarluaskan penemuan kajian-kajian yang menyimpulkan dampak krismon tidak parah. Peneliti-peneliti Indonesia yang jujur melaporkan kenyataan dari lapangan terpaksa mengendalikan diri ―demi kemanusiaan‖. Namun kemudian mereka merasa terpukul membaca komentar penerima hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun 1998 Amartya Sen yang menyindir mereka yang telah membesar-besarkan dampak krisis koneter di Asia Timur. It may wondered why should it be so disastrous to have, say, a 5 or 10 percent fall in gross national product in one year when the country in question has been growing at 5 or 10 percent per year for decades. Indeed, at the aggregate level this is not quintessentially a disastrous situation. (Sen, 1999: 187) Setelah laporan Sakerti 2+ sedikit dilunakkan ―demi kemanusiaan‖, kini Sakerti 3 yang dilaksanakan 3 tahun setelah krisis dan 2 tahun setelah Sakerti 2+, ternyata memperkuat penemuan-penemuan Sakerti 2+. Tanpa diduga, dampak yang ―menyingkirkan‖ berita ―krisis belum apa -apa‖ ini merugikan penduduk miskin dan bertentangan dengan kepentingan melidungi dan memajukan ekonomi rakyat, karena telah dimanfaatkan secara licik oleh kelompok tidak miskin yaitu golongan ekonomi kuat dan sektor industri modern dalam rangka menuntut pemerintah menyelamatkan kebangkrutan mereka dan lebih khusus lagi dalam rangka membenarkan kebijakan penalangan (bail out) utang-utang melalui BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), yang mulai dikucurkan tahun 1998. Adalah kepentingan para penerima BLBI untuk mengesankan bahwa krisis ekonomi masih terus berjalan, dan makin parah, agar pemerintah tetap tidak dapat bersikap keras pada mereka untuk membayar utang-utang besar yang macet sejak awal krismon. Utang-utang besar yang macet menjadi amat berat karena banyak utang dalam bentuk valuta asing yang tidak dijamin sehingga jika ekonomi Indonesia sudah dianggap pulih dari kondisi krisis, mereka para pengutang akan kehilangan alasan untuk tidak membayarnya. Inilah alasan ―tersembunyi‖ untuk terus memojokkan pemerintah yang sayangnya memperoleh dukungan pakar-pakar ekonomi makro yang tidak pernah meninggalkan meja komputernya dan tidak pernah mau menerapkan metode analisis induktif-empirik dengan cara datang ke daerah-daerah meneliti kehidupan ekonomi riil (real-life economics). Mereka membesar-besarkan dampak krisis dengan menyebutkan pengangguran yang mencapai 40 juta orang, pelarian modal asing US $ 10 milyar per tahun dan lain-lain.

Hasil-hasil Sakerti 3

1. Kemiskinan. Di 13 propinsi yang disurvei angka kemiskinan perkotaan menurun selama 1997-2000 dari
13,3% menjadi 11,3%, sedangkan di perdesaan menurun dari 20,1% menjadi 18,7% (tabel 1). Penurunan angka kemiskinan di perdesaan terjadi di Sumsel, Lampung, Sulsel, Kalsel, Bali, Sumut, dan Jatim (rata-rata 8,0%), sedangkan penurunan kemiskinan di perkotaan yang relatif lebih kecil terjadi di Jatim, Jateng, Sulsel, dan Jabar (rata-rata 4,9%). Lebih besarnya penurunan tingkat kemiskinan di perdesaan khususnya di propinsi-propinsi luar Jawa menunjukkan adanya perbaikan dasar tukar ( term of trade) antara harga-harga yang diterima dan yang dibayar produsen. Di propinsi-propinsi Jatim, Jateng, dan Sulsel, angka-angka kemiskinan di perkotaan juga menurun yang berarti penduduk perkotaanpun masih mampu menghasilkan barang-barang yang harga jualnya meningkat lebih cepat ketimbang harga barang-barang yang dibeli rumah tangga. Bahwa ada kenaikan angka kemiskinan di perdesaan di Jabar, Jateng, dan DIY (rata-rata 3,3%) dan bahkan 11,9% di NTB, mungkin menandakan kurangnya komoditi pertanian ―tradisional‖ yang harganya terangsang naik oleh krismon. Pendapatan riil rumah tangga yang ditaksir dengan median pengeluaran riil per kapita selama 1997-2000 mengalami kenaikan cukup signifikan sebagai berikut:

2. Kesempatan Kerja. Berbeda dengan kesan umum telah terjadinya pengangguran besar-besaran sejak
krismon 1997-98, Sakerti 3 melaporkan adanya peningkatan kesempatan kerja pria dari 79% (1997) menjadi 84% (2000) dan untuk wanita dari 45% menjadi 57%. Khusus untuk kerja upahan/bergaji

kenaikannya untuk pria dari 74,5% menjadi 77,0% sedangkan untuk wanita dari 36,7% menjadi 42,2%. Yang cukup signifikan adalah kenaikan persentase kesempatan kerja keluarga tanpa gaji terutama wanita yang naik dari 19,2% menjadi 25,5%, meskipun untuk pria naik lebih kecil yaitu dari 6,1% menjadi 7,9%. Arti kenaikan angka-angka ini jelas bahwa krismon yang pada umumnya menurunkan kegiatan sektor modern/formal, ditanggapi dengan meningkatnya kegiatan ekonomi/ industri sektor tradisional/ informal/ekonomi rakyat, khususnya dengan mempekerjakan lebih banyak wanita atau ibu yang sebelumnya tidak bekerja. Kesimpulan kita jelas bahwa selama 1997-2000 telah terjadi ―pergeseran‖ kesempatan kerja dari sektor ekonomi modern ke sektor ekonomi rakyat, dan tidak benar adanya pengangguran besar-besaran akibat PHK. The economic crisis has resulted in both negative and positive consequences for the Javanese. It has resulted in a rapid rise in prices of basic items which place them beyond the capacity of many poor people and has reduced employment opportunities in the formal sector. On the other hand, it has resulted in the emergence of many new small enterprises which had previously been destroyed by the economic monopolies and import of mass-produced commodities under the New Order. [2]
[2] Jessica Poppele, Sudarno Sumarto, dan Lant Pritchett, 1999, Social Impacts of the Indonesian Crisis; Agus Dwiyanto, 1998, Krisis Ekonomi: Respon Masyarakat dan Kebijakan Pemerintah, Pelajaran dari Tiga Desa di Jawa , PPK-UGM; Lea Jellinek & Bambang Rustanto, ―Survival Strategies of the Javanese During the Economic Crisis‖ (Survey Report), World Bank, Jakarta, 28 Agustus 1999, dikutip dalam Mubyarto (1999), ibid., hal 134.

3. Standar Hidup dan Kesejahteraan. Sakerti 3 menanyakan bagaimana keluarga menilai tingkat
kesejahteraan mereka selama dan sebagai akibat krismon. Hasilnya sungguh mengejutkan karena berbeda dengan anggapan umum telah terjadinya kemerosotan kesejahteraan dan standar hidup akibat krismon, 87% responden menyatakan standar hidup mereka tidak berubah (tetap) atau bahkan membaik, dan yang melaporkan memburuk hanya 13%. Mengenai kualitas hidup, 83,9% responden menyatakan memadai (69,4%) atau lebih dari memadai (14,5%), yang berarti bahwa keluarga yang merasakan kualitas hidup mereka tidak memadai hanya 16,1%. Tentang kualitas hidup yang menyangkut pemenuhan kebutuhan pangan, 90,7% menyatakan memadai atau lebih dari memadai, sedangkan tentang pemeliharaan kesehatan, 85% menyatakan memadai dan 4% menyatakan lebih dari memadai. Dari 3 ukuran kesejahteraan rakyat yang dilaporkan Sakerti 3 kesimpulan kita tidak meragukan lagi bahwa orang Indonesia mempunyai cara-cara khas menanggapi krisis moneter atau krisis ekonomi. Munculnya krismon berupa kenaikan harga-harga umum besar-besaran tidak serta merta menurunkan kualitas atau standar hidup mereka tetapi mereka menemukan berbagai cara untuk menanggapinya. Cara-cara menang-gapi krismon yang khas dan berbeda-beda inilah yang bagi para pakar ekonomi ortodok (konvensional) tak terpikirkan, dan hanya dapat diketahui/ditemukan melalui penelitian-penelitian lapangan yang serius. Sakerti 1, 2, dan 3 memberikan perhatian khusus pada mekanisme bertahan hidup (coping strategies) dan menanggapi krisis seperti itu. Metode Menanggapi Krismon Orang Indonesia yang dikenal kuat menganut asas kekeluargaan dalam segala aspek kehidupannya dapat diamati menerapkan asas atau etika hidup ini di saat terjadi krismon yang datang secara sangat tiba-tiba. Asas hidup kekeluargaan ini yang diperkuat oleh semangat percaya diri dan kepercayaan pada kekuasaan Tuhan berakibat pada sikap bahwa krismon tidak lain daripada ―percobaan‖ dan ―peringatan‖ pada bangsa Indonesia agar menyadari aneka kekeliruan dan penyimpangan yang telah dilakukan. Sakerti 3 seperti halnya Sakerti 1, 2, dan 2+ sebelumnya, menemukan fakta-fakta menarik tentang metode dan sikap menanggapi krismon secara tepat sehingga tidak mengakibatkan kejutan atau gangguan besar pada konsumsi keluarga dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar kesehatan dan pendidikan terutama bagi anakanak. Salah satu cara paling mudah dan paling sering dilakukan keluarga Indonesia saat-saat menghadapi krisis adalah dengan ―mengatur kembali‖ pengeluaran/belanja keluarga dengan cara menunda pengeluaran pengeluaran yang dianggap dapat ditunda misalnya pembelian pakaian, alat-alat rumah tangga dan pengeluaran-pengeluaran upacara, yang ditaksir berkurang dengan sepertiga. [3] Selain itu suatu keluarga dapat memutuskan ―menitipkan‖ sebagian anggota keluarga pada keluarga lain yang lebih mampu, atau secara umum sangat biasa terjadi pinjam-meminjam uang tanpa bunga antarkeluarga ( sebrakan) untuk menutup pengeluaran pokok yang tidak dapat ditunda.
[3] Elizabeth Frankenberg, James P Smith and Duncan Thomas, ―Economic Shocks, Wealth and Welfare‖, makalah belum diterbitkan, Rand, February 2002, h.

sedangkan per orang pekerja bertambah 10 jam per minggu. dan disebut sektor informal. Routledge. Sakerti 3 secara meyakinkan melaporkan bertambahnya kerja tanpa gaji untuk wanita dari 19. Jika satu keluarga bekerja mandiri maka dalam kondisi krisis anggota keluarga yang sebelumnya tidak bekerja.2% menjadi 25. [4] [4] Paul Ekins and Manfred Max-Neef (eds). 1992. lebih tinggi ketimbang kenaikan harga-harga umum. 2. secara spontan ikut bekerja tanpa gaji. juga dilaporkan sangat besar peranannya dalam menghadapi krisis. tetapi ternyata sangat menonjol di Indonesia. yang berarti meningkatnya pengeluaran karena krisis selalu dapat ditutup dengan cara menambah pendapatan. Terakhir. yang lokasinya dapat tidak tetap atau sering pindah. Karena para pemodal/pengusaha Belanda yang datang sesudah 1870 ini pada umumnya berbentuk NV (PT) yang besar dengan kantor-kantor dan kebun-kebun besar. tidak dengan menjual rumah atau aset-aset berharga lainnya. London-New York. Boeke tahun 1910. meskipun Indonesia merdeka sudah berusia 57 tahun dan pembangunan ekonom i ―Orde Baru‖ sudah berlangsung 31 tahun (1966 -97) yang mampu meningkatkan pendapatan riil rata-rata bangsa Indonesia 10 kali.000 lebih keluarga dan 43. karena 25% keluarga perdesaan dan 40% keluarga perkotaan memilikinya dan persentase yang lebih besar bahkan dilaporkan memiliki kekayaan berupa emas terutama dalam bentuk perhiasan yang sangat mudah digadaikan atau diperjual-belikan. setiap keluarga dengan cara masing-masing berusaha bekerja lebih keras atau lebih lama ( melembur) agar pendapatan bertambah. Dampak negatif krismon terhadap ekonomi rakyat dapat dihindari atau disikapi sedemikian rupa hingga tidak dirasakan dampaknya. perilaku berkonsumsi. karena sektor ini justru sudah lebih tua dan sudah merupakan kegiatan ekonomi ―formal‖ jauh sebelum datangnya para pengusaha/pemodal/kapitalis Belanda ke Indon esia. 2+. sektor tradisional/ekonomi rakyat tidak terpengaruh krismon. dengan membayar pajak-pajak yang besar. Emas ternyata merupakan simpanan andalan bagi banyak keluarga Indonesia untuk berjaga-jaga menghadapi krisis. Sakerti 1. atau valuta asing lainnya. atau terpengaruh secara tidak berarti. Ekonomi dualistik adalah ekonomi yang tidak homogen tetapi hampir di semua sektor terpilah menjadi 2 yaitu sektor ekonomi modern/formal dan sektor ekonomi tradisional/informal. Sakerti mampu mengungkap perilaku ekonomi riil rakyat Indonesia (real life economics) yang melalui analisis mendalam akan menghasilkan ilmu/ teori ekonomi rii. maka mereka dianggap perusahaanperusahaan formal.1% menjadi 7.5% meskipun untuk pria jauh lebih kecil yaitu dari 6. ekonomi Indonesia terkesan menjadi sangat . yang tidak dikenal dan tidak termuat dalam buku-buku teks ilmu ekonomi terbitan Amerika.9%. Memang sangat tidak tepat dan menyesatkan menyebut sektor ekonomi rakyat sebagai sektor informal. Real-life Economics. perhiasan dari emas sangat mudah ditemukan. Bagi keluarga-keluarga paling miskinpun disamping ternak yang hampir selalu dimilikinya. Tentang pemilikan aset-aset lancar seperti uang tunai atau surat-surat berharga. adalah kemampuan untuk memobilisasi kekayaan/aset apapun yang dimiliki keluarga untuk mempertahankan ( smooth out) tingkat pengeluaran keluarga.13 Di pihak lain jika pada saat krismon pengeluaran-pengeluaran meningkat sekali. Krisis moneter yang dimulai dengan depresiasi rupiah dan apresiasi dolar sangat memukul perusahaan-perusahaan yang berutang dolar atau valuta asing lain dan memukul impor karena harga rupiah barang-barang impor melonjak sesuai apresiasi dolar. sedangkan yang sangat kecil/gurem inilah yang disebut ekonomi rakyat. atau sekedar strategi bertahan hidup ( survival strategy). Harga emas mengalami kenaikan 4 kali selama krisis. Rumah-rumah gadai bertambah ramai dan pasar emas dilaporkan sangat dinamis/aktif saat krisis. Lebih dari 90% keluarga di perdesaan dan 70% keluarga di perkotaan mempunyai rumah yang tidak beralih pemilikannya selama krisis. dan 3 secara meyakinkan mengungkapkan bagaimana 10. Sakerti 2+ menemukan fakta-fakta menarik bahwa hampir setiap keluarga termasuk yang miskin memiliki kekayaan atau aset yang dapat dijual atau digadaikan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran pokok yang tidak dapat dihindarkan.H.000 orang yang diwawancara menanggapi krismon dengan cara-cara mereka. tokh dalam kenyataan perekonomian Indonesia masih tetap bersifat dualistik. sebagaimana dikemukakan J. Krisis moneter 1997-98 jelas lebih dulu dan lebih mudah memukul telak sektor ekonomi modern/ formal lebihlebih perusahaan yang berutang besar dalam nilai nominal dolar. Namun karena hampir semua sektor masih bersifat dualistik. Kesimpulan Sebagaimana sudah sering dikemukakan oleh para peneliti ekonomi rakyat. Yang kedua disebut Bung Hatta tahun 1931 sebagai sektor (kegiatan) ekonomi rakyat. Ratarata keluarga sejak terjadi krismon menambah waktu kerja 25 jam per minggu. Sejak Pemerintah Indonesia mengundang ―dokter ekonomi‖ IMF yang dianggap dokter spesialis bagi penyakit negara-negara berkembang yang terkena krisis keuangan. yang dikena l dengan istilah strategi penyikapan (coping strategy) baik dalam produksi. yang sebagian besar baru beroperasi sesudah UU Agraria ( Agrarische Wet) tahun 1870. yen. dengan caracara atau ‖seni‖ khas ekonomi rakyat.

[5] [5] Sartono Kartodirdjo. Yogyakarta Mubyarto and Daniel W. 29 Oktober 2002.tergantung pada utang-utang baru dari IMF dan negara-negara ―donor‖ anggota CGI. BPFE. sebenarnya akan lebih adil dan berkelanjutan ketimbang pertumbuhan 7% seperti sebelum krismon. Demikian kiranya jelas bahwa tulisan ini berusaha meyakinkan tidak akan terjadi kebangkrutan atau kelumpuhan ekonomi nasional jika Indonesia memutuskan secara sepihak untuk tidak lagi mencari utang-utang baru dari luar atau bahkan dalam negeri. 2001. 23028. sektor ekonomi rakyat banyak yang sejak krismon 5 tahun lalu tidak saja tidak hancur tetapi malah telah menunjukkan ciri khasnya yaitu tahan banting dan mampu menunjukkan keandalan dan kemandiriannya. Hatta) dapat kita jadikan acuan rasa percaya diri itu. kinilah saatnya kita memiliki rasa percaya diri di bidang ekonomi. April 2000 Hardjono. Jakarta. 1999. Kanisius. Ind.UGM Makalah untuk Seminar "Indonesia Bersatu Menyongsong Era Global". 1999. Satish C. hal. Pemerintah dipilih dari dan oleh rakyat Indonesia. Buktibukti dari Sakerti 3 telah sangat memperkuat berbagai data penelitian lapangan optimistik sebelumnya. UNSFIR. Joan. 2002. Shafiq and Inayatul Islam. yang telah tumbuh 3-4% per tahun sejak tahun 2000 sampai tahun 2002 ini. lebih-lebih ekonomi rakyatnya. Surabaya. Tanpa ikatan kerjasama dengan IMF. Poverty. Kanisius. ―Sistemic Transition in Indonesia: The Crucial Next Steps‖. Multi-dimensi Pembangunan Bangsa. July 1999 Mishra. Sartono Kartodirdjo. yang akhirnya menjadi ―bom waktu‖ yang meledak seperti yang terjadi 1997 tanpa dapat diperkirakan sebelumnya. October . tetapi lebih banyak disumbang dan dengan demikian juga dinikmati ekonomi rakyat. Dr. 18 1. Reformasi Sistem Ekonomi: Dari Kapitalisme menuju Ekonomi Kerakyatan . Bangsa Indonesia harus percaya diri. ―Indonesia: Constructing A New Strategy for Poverty Reduction‖. UNSFIR. 2. Sakerti 3 menemukan kenyataan ekonomi Indonesia. 3. Gadjah Mada University Press. Festival Bhinneka Tunggal Ika. Perjuangan itu hanya dapat berhasil bila pelbagai unsur rakyat Indonesia bersatu. SMERU Final Report. Yogyakarta. Jika pada saat proklamasi kemerdekaan tahun 1945 bangsa Indonesia memiliki rasa percaya diri amat besar untuk merdeka secara politik. Memang teori ekonomi makro-ortodoks yang tidak mau mengakui atau tidak mengerti ekonomi rakyat. pemerintah dan bangsa Indonesia dapat memusatkan perhatian pada usaha dan program-program pemberdayaan ekonomi rakyat. Maka ekonomi Indonesia ―harus tumbuh‖ minimal 7% per tahun dan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi para ekonom tidak pernah merasa perlu mempermasalahkan keadilan dalam distribusi pendapatannya. Aditya Media. Report No.Indonesia Satu. tegar dan kuat. Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis Ekonomi . Yogyakarta World Bank. Yogyakarta Mubyarto. The Micro Data Pictures: Results of a SMERU Social Impact Survey in the Purwakarta-Cirebon Corridors. A Development Alternative for Indonesia. Mubyarto: Guru Besar FE . Tak pernah terpikir pada mereka seandainya perekonomian tumbuh hanya 3-4%. menganggap pertumbuhan ekonomi 4% ―terlalu rendah‖ yang tidak mampu menyerap tenaga kerja lama dan menganggur maupun tambahan tenaga kerja lebih dari 2 juta per tahun. 1999. Daftar Pustaka Dhanani. Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia tahun 1925 di Negeri Belanda (dipimpin oleh Moh. Multi-dimensi Pembangunan Bangsa. Bromley. Perjuangan itu tidak memerlukan bantuan dari pihak manapun. Prof. September 2002 Mubyarto. tetapi hanya dinikmati sekelompok kecil ekonomi kuat. Inequality and Social Protection: Lessons From The Indonesian Crisis.

Putusan Sidang Tahunan MPR RI tahun 2001 menugaskan kepada Presiden untukmembentuk Sistem Jaminan . Sistem Jaminan Sosial yang akan dibangun ini haruslah sifatnya adil dengan tingkat kepercayaan publikyang tinggi dan transparan dalam penyelenggaraannya. [1] Australia. dan santunan kematian. [1] Disamping itu. pensiun. namun baru mencakup sebagian kecil pekerja di sektor formal. Beberapa negara yang menganut welfare state yang selama ini memberikan jaminan sosial dalam bentuk bantuan sosial mulai menerapkan asuransi sosial. Perlindungan jaminan sosial mengenal beberapa pendekatan yang saling melengkapi yang direncanakan dalam jangka panjang dapat mencakup seluruh rakyat secara bertahap sesuai dengan perkembangan kemampuan ekonomi masyarakat. baru 24. Secara universal jaminan sosial dijamin oleh Pasal 22 dan 25 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia oleh PBB (1948). Agoes Achir JAMINAN SOSIAL NASIONAL INDONESIA Latar Belakang Jaminan Sosial Nasional adalah program Pemerintah dan Masyarakat yang bertujuan memberi kepastian jumlah perlindungan kesejahteraan sosial agar setiap penduduk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya menuju terwujudnya kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pendekatan pertama adalah pendekatan asuransi sosial atau compulsory social insurance. Dalam kondisi seperti ini jaminan sosial dapat membantu menanggulangi gejolak sosial. [2] Kantor Menko EKUIN bekerjasama dengan LPUI Kajian Kebijakan Jaminan Sosial. Pendekatan kedua berupa bantuan sosial (social assistance) baik dalam bentuk pemberian bantuan uang tunai maupun pelayanan dengan sumber pembiayan dari negara danbantuan sosial dan masyarakat lainnya. 2001. telah menerapkan asuransi sosial wajib. yaitu ―Negara mengembangkan Sistem Jaminan Sosial bagi seluruh rakyat…. atau baru 12% dari jumlah penduduk. Yaumil Ch. Sebenarnya. dimana Indonesia ikut menandatanganinya. Desember 2002 Fakta tersebut membuktikan bahwa amanat UUD pasal 27 ayat 2 sebagian besar belum dapat dilaksanakan sehingga langkah-langkah nyata untuk mewujudkannya diperlukan. Perlindungan ini diperlukan utamanya bila terjadi hilangnya atau berkurangnya pendapatan. Pengaturan dalam jaminan sosial ditinjau dari jenisnya terdiri dari jaminan kesehatan. seperti terbaca pada Perubahan UUD 45 tahun 2002.29. serta betapa pentingnya peran jaminan sosial dalam pemberian perlindungan utamanya di saat berkurangnya pendapatan maka dianggap perlu menyusun Sistem Jaminan Sosial Nasional melalui penerbitan Undang-undang yang akan mengatur Substansi. Kontribusi/ premi dimaksud selalu harus dikaitkan dengan tingkat pendapatan/ upah yang dibayarkan oleh pemberi kerja. antara lain dengan menyusun suatu Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Secara keseluruhan adanya jaminan sosial nasional dapat menunjang pembangunan nasional yang berkelanjutan. sejak tahun 1992. jaminan pemutusan hubungan kerja. Jaminan sosial merupakan hak asasi setiap warga negara sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat 2. dana yang terhimpun dalam asuransi sosial dapat merupakan tabungan nasional.‖. Kesadaran tentang pentingnya jaminan perlindungan sosial terus berkembang. Sementara di Thailand dan Malaysia masing-masing mencapai 50% dan 40% dari total penduduk. Dari 95 juta angkatan kerja. Kelembagaan dan Mekanisme Sistem Jaminan Sosial yang berlaku secara nasional. Menyadari masih terbatasnya jangkauan jaminan sosial yang ada dan beberapa kekurangan dalam pengaturan dan penyelenggaraannya. [2] Krisis ekonomi yang menyebabkan angka pengangguran melonjak dengan tajam telah menimbulkan berbagai masalah sosial ekonomi.6 juta jiwa memperoleh jaminan sosial. jaminan hari tua. selama dekade terakhir di Indonesia telah ada beberapa program jaminan sosial dalam bentuk asuransi sosial. jaminan kecelakaan kerja. Pasal 34 ayat 2. yang dibiayai dari kontribusi/ premi yang dibayarkan oleh setiap tenaga kerja dan atau pemberi kerja. Utamanya karena jaminan melalui bantuan sosial membutuhkan dana yang besar dan tidak mendorong masyarakat merencanakan kesejahteraan bagi dirinya.

yang mewakili stakeholder dalam hal ini peserta/ pekerja. 7 Tahun 2001. pembekerja. dan pemerintah pengumpulan dan pengelola iuran perlu ditunjang oleh keterbukaan. iura. dan Program Santunan Kematian. santunan/ manfaat. Program Pensiun. kehati-hatian. Manfaat yang diberikan harus cukup berarti sehingga mendorong kepesertaan yang kebih besar dari waktu ke waktu.Sosial Nasional dalam rangka memberikan perlindungan sosial yang lebih menyeluruh dan terpadu. Cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap dimulai dari kelompok masyarakat yang mampu mengiur dan secara bertahap diupayakan menjangkau sampai pada kelompok masyarakat yang rentan dan tidak mampu. Presiden dengan Kepres No. Mekanisme SJSN Mekanisme penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional meliputi pengaturan kepesertaan. tetapi hasil yang diperoleh nantinya akan dikembalikan atau dimanfaatkan sebesarbesarnya untuk kepentingan peserta (merupakan going concern asuransi sosial). Program Jaminan Hari Tua (JHT). Pelaksanaannya diatur oleh suatu Undang-Undang dan diterapkan secara bertahap sesuai dengan perkembangan dan kemampuan ekonomi Nasional serta kemudahan rekruitmen dan pengumpulan iuran secara rutin. Cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap dimulai dari kelompok masyarakat yang mampu mengiur dan secara bertahap diupayakan menjangkau sampai pada kelompok masyarakat yang rentan dan tidak mampu. Program Jaminan Pemutusan Hubungan Kerja (JPHK). baik di sektor formal maupun informal. struktur dan trend demografi serta resiko yang dihadapi. Iuran/ premi ditanggung bersama oleh pemberi kerja dan pekerjanya. dimama iuran sebagian atau sepenuhnya dibayarkan oleh pemerintah. akuntabilitas dan efisiensi. kelembagaan. Karena Jaminan Sosial Nasional tersebut diwujudkan melalui mekanisme asuransi sosial maka manfaat yang akan diperoleh peserta tergantung pada besarnya iuran. yaitu Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK). serta kemudahan dalam rekruitmen dan pengumpulannya secara rutin. semasa Ibu Presiden sebagai Wakil Presiden. . ditetapkan dalam prosentase tertentu terhadap upah dengan mempertimbangkan kemampuan/ pendapatan penduduk. Jaminan Sosial Nasional tersebut perlu diatur agar bersifat wajib untuk seluruh tenaga kerja. Besarnya iuran ditetapkan berdasarkan prosentase tertentu dari pendapatan. Manfaat yang diberikan harus cukup berarti sehingga mendorong kepesertaan yang lebih besar dari waktu ke waktu. baik yang berpendapatan besar maupun kecil sehinggan dapat terwujud asas kegotong-royongan dan redistribusi pendapatan dari yang kaya ke yang miskin. Sistem Jaminan Sosial Nasional yang akan dibangun bertumpu pada konsep asuransi sosial. mekanisme dan program-program jaminan sosial.. Untuk itu Presiden mengambil inisiatif menyusun Rancangan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional. dan investasi. Penyelenggaraan dilakukan non-for-profit. Namun. dimana iuran sebagian atau sepenuhnya dibayarkan oleh pemerintah. Saat ini Tim SJSN telah melakukan pembahasan yang cukup mendalam tentang substansi. Program-Program SJSN Program-program pokok SJSN yang akan dikembangkan disesuaikan dengan konvensi ILO No. secara sukarela pekerja dapat mengikuti program lain dengan kontribusi yang lebih besar dan memperoleh manfaat yang lebih banyak pula (asuransi komersil). Besarnya iuran/ premi dihitung berdasarkan analisis aktuaria yang disesuaikan dengan programmanfaat yang akan diberikan. Pengelolaan Jaminan Sosial Nasional menganut prinsip Wali Amanah. Pengertian non-for-profit bukanlah berarti tidak perlu mengembangkan atau menginvestasikan dalam rangka meningkatkan akumulasi dana yang ada. Substansi Sistem Jaminan Sosial Nasional yang akan disusun adalah suatu sistem yang berdasarkan pada asas gotong royong melalui pengumpulan iuran dan dikelola melalui mekanisme asuransi sosial. 102 tahun 1952 yang juga diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia. Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Pelayanan santunan dan klaim disesuaikan dengan besarnya iuran dan jenis program yang diikuti. Perluasan cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi ekonomi negara dan masyarakat. 20 tahun 2002 membentuk Tim SJSN. Kepres ini didahului dengan Keputusan Sekretaris Wakil Presiden No. Karena ada unsur wajib bagi semua pekerja tersebut maka diperlukan adanya Undang-Undang untuk mengaturnya.

Penutup Tim SJSN beranggotakan wakil dari berbagai instansi pemerintah. Dr. memonitor. karena pada dasarnya hampir semua pihak telah sepaham mengenai pengertian apa yang dimaksud dengan ―ekonomi rakyat‖ tanpa harus mendefinisikan (Krisnamurthi. Penulis . 1) Sebenarnya. dan responsibility). Lembaga ini berada langsung di bawah Presiden dibantu Dewan Menteri yang terkait dan beranggotakan wakil pemerintah. penyampaian persepsi makalah ini atas ekonomi rakyat tanpa bermaksud untuk terlalu menekan pada usaha pendefinisian. LSM dan Pakar. Karena prinsip ―non-for-profit‖.Dana iuran/ premi/ kontribusi peserta yang terkumpul perlu dikelola dan diawasi oleh suatu Dewan Wali Amanah (Board of Trustee) dan hanya digunakan untuk kepentingan pesertanya sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. menambahkan merubah judul agar lebih terlihat konteksnya dikaitkan dengan ekonomi rakyat. 2001). Diharapkan RUU SJSN dapat dirampungkan sebelum bulan Desember 2002. sangat sulit untuk tidak berusaha mendefinisikan yang dimaksud dengan ekonomi rakyat. Tidak tertutup kemungkinan munculnya lembaga penyelenggaraan lain. Ketua Tim Sistem Jaminan Sosial SJSN Nasional. Namun guna memperoleh perspektif yang sama mengenai diskusi yang akan dilakukan berkaitan dengan judul diatas 1) maka makalah ini bermaksud untuk mendiskusi krisis moneter dalam konteks ekonomi rakyat: bagaimana posisi ekonomi rakyat ketika krisis ekonomi terjadi. mengkoordinir. Yaumil Chairiah Agoes Achir. Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasionan (BKKBN) Bayu Krisnamurthi KRISIS MONETER INDONESIA DAN EKONOMI RAKYAT PADA setiap diskusi mengenai ekonomi rakyat. perlu menerapkan ―good corporate governance‖ (transparency. Oleh sebab itu tetap perlu dilakukan terlebih dahulu. Padahal perdebatan mengenai definisi ekonomi rakyat sebenarnya tidak terlalu produktif. Kelembagaan Dalam rangkan menjamin pelaksanaan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional diperlukan suatu lembaga yang mempunyai kewenangan untuk menjabarkan Undang-undang SJSN. Konsep awal SJSN tersebut di atas juga telah menghimpun masukan dari beberapa serikat pekerja dan asosiasi pengusaha. dan mengawasi pelaksanaan program-program. untuk kemudian setelah Undang-undang SJSN rampung dan dilaksanakan maka program-program yang sejalan dapat menyesuaikan dengan Undang-undang SJSN tersebut selama masa transisi yang akan ditetapkan. apakah sebagai sebab atau penerima akibat. Deputi Sekretaris Wakil Presiden. maka hasil investasi tersebut akan dikembalikan dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta. Prof. Sebagian dana yang terkumpul perlu diinvestasikan dan dikembangkan seaman mungkin. Panitia Seri Seminar ini hanya memberi judul ―Krisis Moneter Indonesia‖. objectivity. Untuk dapat menjamin efektifitas dan efisiensi penyelenggaraannya. accountibility. dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah kesalahan serupa terulang dimasa depan. wakil pemberi kerja dan pakar di bidangnya. Diharapkan masukan-masukan guna memperkaya konsep awal tersebut sebagai bahan penyusunan Naskah Akademik yang kemudian akan dituangkan dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional. usaha pendefisnian tersebut banyak yang berakhir justru dengan perdebatan atas definisinya daripada esensi penguatan atau pemberdayaan ekonomi-rakyatnya sendiri. Selama Undang-undang SJSN disiapkan maka lembaga-lembaga yang ada dapat melanjutkan kegiatannya. diperlukan adanya dukungan Sistem Informasi Manajemen serta kemampuan Sumber Daya Manusia yang handal. pengelola dana dan investasi serta pemasyarakatan program Jaminan Sosial Nasional sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Sayangnya. Dalam pengelolaannya. wakil pekerja.

Dengan pemahaman diatas pula. berarti proses produksi dan konsumsi dilakukan dan diputusk an oleh rakyat. yang umumnya telah memfasilitasi ekonomi rakyat untuk survive dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi masyarakatnya. Berdasarkan pemahaman diatas. pengetahuan. walaupun yang disebut terakhir pada hakekatnya adalah juga ‗rakyat‘ Indonesia. oleh rakyat.Ekonomi rakyat adalah ―kegiatan ekonomi rakyat banyak‖ (Krisnamurthi. seperti berapa banyak jumlah yang harus dimanfaatkan. Berkaitan dengan sumberdaya (produktif dan konsumtif). rakyat memiliki alternatif untuk memilih dan menentukan sistem pemanfaatan. maka yang dimaksud dengan kegiatan ekonomi rakyat adalah kegiatan ekonomi petani atau peternak atau nelayan kecil. atau entitas lain). Pendeknya. seperti koperasi atau CV atau bentuk badan hukum lain) dan juga sangat banyak yang informal atau nono-formal. industri. ketimpangan distribusi aset produktif (formal) – yang sekitar 65 %-nya dikuasai oleh 1 % pelaku usaha terbesar – menyebabkan kontribusi nilai produksi (GDP) dan ekspor kegiatan ekonomi raktyat relatif lebih kecil. bagaimana menjaga kelestarian bagi proses pemanfaatan berikutnya. bagaimana proses pemanfaatannya. dan masyarakat. baik sumberdaya alam. dapat dinyatakan bahwa ekonomi Indonesia sebenarnya adalah berbasis ekonomi rakyat. Ekonomi rakyat tidak eksklusif tetapi inklusif dan terbuka. dan bukan kegiatan ekonomi yang dikuasasi oleh beberapa orang dengan perusahaan dan skala besar. berarti kegiatan ekonomi itu berkaitan dengan penguasaan rakyat dan aksesibilitas rakyat terhadap sumberdaya ekonomi. masyarakat) sumberdaya jaringan (‗network‘). dan indikator kemantaatan paling utama adalah kepentingan rakyat. konglomerat. Mereka bisa melekat pada badan usaha pemerintah atau swasta. dan bukan industri besar. siapa yang memanfaatkan. Walaupun demikian. Mereka memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan dan tidak hanya tergantung pada pihak lain (apakah itu bank. menyediakan sekitar 80 % kesempatan kerja. Jika dikaitkan dengan kegiatan pertanian. Dalam hal ini perlu pula dikemukakan bahwa ekonomi rakyat dapat berkaitan ―dengan siapa saja‖. Peran ekonomi rakyat juga teraktualisasi pada masa krisis multidimensi saat ini. dan sebagainya. eceran kecil. ―Dari rakyat‖. 2000). pelakunya melakukan kegiatan produksi dan konsumsi. serta tersebar merata diseluruh wilayah Indonesia. Perspektif lain dari ekonomi rakyat dapat pula dili hat dengan menggunakan perspektif jargon: ―ekonomi dari rakyat. Dalam ekonomi rakyat. petani tanpa tanah. ―Oleh rakyat‖. Mereka bisa berada dalam kegiatan ekonomi tradisional tetapi juga tidak sedikit yang bergerak dalam sistem ekonomi modern. 2001). dan bukan perkebunan atau peternak besar atau MNC pertanian. Hanya saja. tetapi beberapa diantaranya juga memiliki kemampuan dan daya saing internasional yang handal. dan jasa maka yang dimaksud adalah industri kecil. Rakyat menguasai dan memiliki hak atas sumberdaya untuuk mendukung kegiatan produktif dan konsumtifnya. dipahami bahwa yang dimaksud dengan ―ekonomi rakyat (banyak)‖ adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh orang banya k dengan skala kecil-kecil. Jika memang disepakati bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2000 sebesar 4. pemilik saham. Dalam hal ini. 60 % diantaranya berada di daerah pedesaan. perbankan formal. Umumnya mereka berskala mikro dan kecil tetapi juga terdapat beberapa yang berskala menengah. dan sebagainya. keluarga. sektor informal kota. juga sumberdaya sosial (kelompok. Dan yang terpenting adalah mereka berbasis pada manusia. pedagang kecil. Ekonomi rakyat (banyak) mencakup 99 % dari total jumlah unit usaha (business entity). maka ekonomi rakyat memiliki dimensi yang luas. dalam arti kegiatan transaksi dapat dilakukan juga dengan ―non-ekonomi-rakyat‖.5 % terutama disebabkan oleh tarikan konsumsi. Juga tidak ada pembatasan mengenai besaran. baik konsumsi domestik maupun konsumsi asing (ekspor) – terutama karena kegiatan investasi dan pengeluaran pemerintah yang sangat terbatas – maka dapat diduga bahwa peran ekonomi rakyat sangat signifikan. dan sejenisnya. Mereka adalah orang-orang yang bekerja sendiri dan juga mereka yang bekerja menerima upah. Mereka sebagian besar hanya beroperasi secara lokal. ―Untuk rakyat‖. sumberdaya ekonomi yang dimaksud adalah segala sumberdaya yang dapat digunakan untuk menjalankan penghidupan. dan sejenisnya. Daya produktif . bahkan bagi produk yang dihasilkan kegiatan ekonomi besar. sifat fundamental diatas telah pula menciptakan suatu sistem ekonomi yang terdiri dari pelaku ekonomi. norma dan kesepakatan (―rule of the game‖) yang khas. petani gurem. 65 % berusaha dibidang pertanian dan kegiatan lain yang terkait. dari pada hanya sekedar angka-angka uang (modal) atau produk. Mereka adalah kegiatan usaha formal (berijin usaha. dan melakukan kegiatan produksi bagi sekitar 55 % produk dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. mekanisme transaksi. Hal ini tersebut didasari oleh argumentasi bahwa rumah tangga yang menggantungkan kehidupannya dari kegiatan ekonomi rakyat adalah konsumen terbesar. nelayan tanpa perahu. lembaga keuangan mikro. Jika dikaitkan dengan kegiatan perdagangan. Rakyat memiliki hak atas pengelolaan proses produktif dan konsumtif tersebut. dan sebagainya. industri rumah tangga. dan menjadi basis dari 63 % konsumsi domestik. tenaga kerja (termasuk tenaga kerjanya sendiri). modal. berarti rakyat banyak merupakan ‗beneficiaries utama dari setiap kegiatan produksi dan konsumsi. dan sejenisnya. permodalan. dan untuk rakyat‖ (Krisnamurthi. dan sebagainya. sifat usaha. Rakyat menerima manfaat. ketrampilan. informasi. jenis produk. melakukan lebih dari 65 % kegiatan distribusi.

selama 30 tahun dana yang disedot dari pedesaan 2. Rakyat juga memiliki akses yang sangat terbatas terhadap informasi dan teknologi. atau hilangnya kelembagaan panen tradisional. Kontribusi pertanian dalam bentuk pangan yang murah dan tenaga kerja yang lebih terdidik. Penguasaan dan akses terhadap sumberdaya oleh rakyat (banyak) masih sangat banyak menghadapi masalah. Dukungan yang relatif kecil dari pemerintah-penguasa telah menjadikan pelaku ekonomi rakyat tidak sangat tergantung pada kondisi elite. juga menggambarkan situasi suram aspek ―dari rakyat‖ tersebut. telah membatasi kemampuan petani mengembangka usahataninya. tetapi pengembangan kegiatan ekonomi berbasis buruh murah telah berjalan lama sejak penjajahan hingga kini. peningkatan penjualan kendaraan bermotor roda dua. Sebaliknya saat lahan HPH yang telah digunduli dan tidak lagi produktif. real estate mewah. hak atas tanah masih menjadi sesuatu yang sangat didambakan. serta sistem keuangan yang ―memaksa‖ rakyat menerima sistem yang mensyaratkan berbagai hal tidak sesuai dengan kondisi naturalnya. oleh. karena dipandang lebih sesuai dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Dalam hal ini kelompok ―non-ekonomi-rakyat‖ menjadi rentan terhadap perubahan yang terjadi pada elite penguasa tersebut. Rakyat juga sering dibatasi kemampuannya untuk mengambil keputusan. peningkatan jumlah berbagai produk pertanian. pasar uang. yang pada gilirannya membuat kemampuan pengambilan keputusan menjadi jauh lebih terbatas. Kelembagaan koperasi yang diseragamkan menjadi KUD. Mungkin tidak sekejam tanam paksa. Kondisi yang ―terbatas‖ terhadap akses ke pasar global juga sekaligus memberi ‗kekebalan‘ kepada ekonomi rakyat untuk tidak mudah terpeng aruh atas kondisi yang terjadi didunia internasional. juga merupakan fakta-fakta lain yang menunjukkan kemampuan ―oleh-rakyat‖ menjadi sangat terbatas. Pada saat yang sama sistem pengembangan yang penuh dengan ―dukungan yang distortif‖ telah tersebut telah menjadikan ―non-ekonomirakyat‖ menjadi lebih terkait dengan ekonomi global. Kemudahan dan dukungan tersebut kemudian Kelompok ―non-ekonomi-rakyat‖ telah banyak mendapat dukungan dari elite pemerintah. Non-ekonomi-rakyat telah mendapat banyak kemudahan dan dukungan. tetap hidupnya pasar-pasar tradisional pada saat krisis. Keterkaitan dengan pasar dunia. Infrastruktur irigasi yang hanya memfasilitasi teknologi lahan sawah. dan pasar modal. Indikasi lain dapat pula ditunjukkan oleh peningkatan kegiatan (tabungan dan penyaluran kredit) hampir diseluruh lembaga keuangan mikro. Sebaliknya. telah menyebabkan kegiatan ―non -ekonomi-pasar‖ menjadi kegiatan dengan ―banyak pengambil keputusan‖ dalam dunia yang tidak berbatas dan masih rentan. semua akibat introduksi teknologi dan kelembagaan serba seragam. Hal inilah yang kemudian menjadi preposisi dasar dalam melihat posisi ekonomi rakyat dalam krisis moneter yang belum lama terjadi dan masih terasa hingga saat ini. Kisah konversi lahan pertanian produktif milik rakyat menjadi lapangan golf. dengan mudah berpindah tangan. dan telpon yang tidak seimbang antara alokasi untuk bagi kegiatan ekonomi rakyat dan non-ekonomi rakyat. ada baiknya disampaikan dahulu perspektif struktur kelembagaan ekonomi Indonesia pada saat krisis akan terjadi 2) seperti dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini. Sebelum membahas krisis moneternya sendiri. ―ekonomi rakyat‖ yang tidak mendapat kesempatan untuk itu. dan sebagainya. Perlindungan hukum atas usaha masih lemah. . merupakan manfaat yang dirasakan oleh kegiatan-kegiatan ―non-ekonomi-rakyat‖ sebagia bagian dari strategi ―keunggulan komparatif‖ berbasis tenaga kerja murah. baik pasar barang.5 kali lebih besar dari dana yang disalurkan kembali ke pedesaan. air. dan kawasan industri bagi MNC merupakan bentuk ketidak-berdayaan penguasaan sumberdaya oleh rakyat. atau bahkan yang terjadi secara nasional. terdapat ketidak-adilan dalam pengembangan ekonomi. Kemampuan sektor informal kota dalam menyediakan lapangan pekerjaan dan sistem distribusi kebutuhan pokok dengan murah dan efisien telah pula menjadi manfaat besar bagi ―non-ekonomi-rakyat‖ dalam mengembangkan sistem kerja yang tidak memihak pada buruhnya. ―non ekonomi-rakyat‖ meninggalkannya begitu saja sering kali justru dengan tinggalan masalah adanya konflik kepentingan diantara rakyat sendiri. posisi rebut-tawar (bargaining position) dalam penguasaan sumberdaya hampir selalu berada pada titik yang terendah.kegiatan ekonomi rakyatlah yang mampu mendorong peningkatan konsumsi. Tidak ada infrastruktur irigasi yang dirancang untuk memfasilitasi petani mengembangkan hortikultura atau peternakan. Bahkan sumberdaya yang tadinya dikuasai oleh rakyat. Infrastruktur fisik dan kelembagaan yang dibangun cenderung mengarah pada penyeragaman proses pengambilan keputusan yang dirancang tidak oleh rakyat sendiri. memang mengalami sangat banyak kesulitan untuk berkembang dan memberi kesejahteraan bagi pelakunya. Melalui sistem perbankan yang terpusat. atau hilangnya kelembagaan lumbung desa. termasuk terjaga maraknya berbagai kegiatan ‗masal‘ dari ekonomi riil – seperti mudik Lebaran dan naik haji. Intinya. misalnya. dan telah mengembangkan ketergantungannya pada kelompok tersebut sehingga menjadi kelompok ―elite penguasa-pengusaha‖. Namun demikian perspektif ‗dari. Perbandingan ketersediaan sumberdaya ‗publik‘ seperti listrik. Aspek ―untuk rakyat‖ menghadapi situasi yang lebih jauh tertinggal. dan untuk rakyat‖ tersebut diatas juga mengetengahkan gambaran suram dari ekonomi rakyat di Indonesia.

Perusahaan-perusahaan tidak dapat lagi menunjukkan kinerja keuangan yang sehat. Aliran moneter dari kapitalme global ke ekonomi rakyat Indonesia relatif kecil. Sampai pada tahap ini ekonomi rakyat masih belum merasakan dampak negatif yang terlalu besar dari krisis moneter. Ketika nilai tukar jatuh. 1998. karena sebagian dari proses relokasi industri baru berjalan pada tahap awal. Hubungan Selatan-Selatan atau diantara negara-negara Non-Blok secara langsung hampir selalu lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan ‗jasa‘ negara ketiga yang mampu menyediakan layanan infrastruktur perdagangan secara lebih efisien (Isaak. Dalam lingkup domestikpun hutang modal dan hutang konsumsi juga mengalir kesana kemari dengan sangat cepat dan dalam jumlah yang sangat besar. sistem legal-formal yang ―bias-against‖ ekonomi rakyat.2) Struktur kelembagaan ekonomi tersebut sebenarnya hingga saat ini masih belum banyak berubah (diubah). Hal ini terutama karena kerangka kelembagaannya tidak berkesesuaian (not-compatible). . 1995). baik dalam bentuk modal tunai. seperti yang dirasakan para petani coklat dan para pengrajin yang memiliki konsumen di luar negeri. 1994. hanya dalam bentuk dana-dana pinjaman lunak pemerintah yang banyak kembali ke ―negara donor‖ atau bocor ditengah jalan dari pada diterima oleh ekonomi rakyat. dan pada gilirannya menghancurkan sistem perbankan. walaupun struktur yang demikian itulah krisis ekonomi Indonesia menjadi begitu parah dan sulit diselesaikan. 1998). Lemahnya keterkaitan ekonomi rakyat dengan kapitalisme global yang menjadi sumber dari krisis moneter tersebut. Namun ketika krisis moneter berlanjut menjadi krisis ekonomi (pertumbuhan ekonomi menurun. atau Ormerod. Bahkan banyak diantaranya yang mendapat ‗rejeki dolar‘ karena harga produk yang dihasilkannya melonjak tinggi sejalan dengan peningkatan nilai dolar. maupun aliran input produksi. tawaran saham dan investasi. penyediaan buruh murah. Pada tahun 1990-an. kapitalisme global tengah berbenah diri untuk menghadapi abad yang baru yang ditandai oleh dua fenomena besar. Gambar diatas secara skematik menunjukkan bahwa ekonomi rakyat dalam perspektif seperti Indonesia juga terdapat dinegara-negara lain. penggunaan (utilization) dari modal tersebut belum berjalan dengan baik. dan posisi ekonomi rakyat yang menjadi pasar bagi produk dan jasa. De Soto (2000) menjelaskan bahwa dibanyak negara. bahkan tenaga kerja. 1999). dan kemampuan menguasai informasi sebagai sarana untuk promosi. Sebaliknya. Dan hal ini membuat mereka sedang berada pada situasi yang rentan. Tanpa bermaksud membatasi aktivitas ekonomi dalam dimensi ruang yang kaku. Kalaupun ada. penyedian pangan murah. atau bahkan Marx (1849) dalam Magnis-Suseno. penyediaan lahan/property murah. Sebagai usaha mengantisipasi hal tersebut modal besar dari para kapitalis global tersebut dialirkan ke kegiatan ekonomi yang dianggap paling menjanjikan. Hubungan ekonomi rakyat Indonesia dengan ekonomi rakyat di negara lain juga berjalan lambat dan tersendat. mengalir ―door-to-door‖ dengan derasnya. Hal tersebut terutama juga karena struktur kelembagaan yang diuraikan diatas. (2) (3) (4) Dalam format seperti diataslah situasi ekonomi saat krisis moneter melanda Indonesia. dalam bentuk hutang. barang konsumsi. yaitu WTO dan mata uang Euro (Soros. terutama karena infrastruktur dan institusi perdagangan modern memang dikuasai oleh para pelaku ―non-ekonomi-rakyat‖. Demikian pula dengan ―non-ekonomi-rakyat‖ yang dapat diidentifikasikan sebagai kelompok kapital global. telah menjadi ‗blessing in disguised‘ bagi ekonomi rakyat. Akibatnya modal. yaitu Asia. ekonomi rakyat telah mensubsidi ‗non-ekonomirakyat‘ dan terjadi fenomena ―double squeezed economy‖ melalui penyediaan sumberdaya oleh rakyat dan rakyat dijadikan pasar. Singkatnya. inflasi meninggi. Giddens. tidak dapat mengembalikan hutang. Krisis moneter yang diawali oleh krisis nilai tukar tersebut sebenarnya telah lama diperkirakan dan telah diduga meningkat peluangnya saat pergantian abad (lihat Soros. teknologi. Hal ini terjadi melalui sistem perbankan. 1998. Kondisi tersebut berlangsung akibat dominasi paduan pengusaha-penguasa. Gambar 1 menunjukkan bahwa (1) Arus moneter (uang tunai dan modal) dari kegiatan ekonomi rakyat ke kegiatan ‗non -ekonomi-rakyat‘ memiliki volume yang jauh lebih besar dari pada arus sebaliknya. Hubungan antara ―non-ekonomi rakyat‖ lokal dengan kapitalisme global juga merupakan hubungan yang timpang. ekonomi rakyat yang ‗berbeda‘ sistem dan mekanismenya dengan ekonomi berbasis kapital yang dikenal oleh ‗masyarakat barat‘ merupakan basis kegiatan ekonomi negara yang bersangkutan. maka ―non-ekonomi-rakyat‖ di Indonesia langsung terpukul telak oleh dua hal yang sangat ‗mematikan‘: membengkaknya nilai hutang dolar dalam rupiah dan mahalnya biaya produksi yang selama ini berbasis input impor.

Inovasi dan kreativitas ekonomi rakyat. Mencari hutang baru dan menerapkan sistem legal-formal-konvensional seperti menjadi hal yang dipaksakan harus ada. padahal bank tidak (dapat) melayani kegiatan ekonomi rakyat. IMF. dll) patut pula diduga bahwa perancangan pola kebijakan tersebut juga membawa kepentingan internasional tersebut. Kebijakan pengembangan yang dilakukan cenderung bersifat ‗ad -hoc‘ dan parsial. Otonomi seharusnya juga berarti perubahan Kebijakan pengembangan yang dilakukan lebih banyak bersifat regulatif dan merupakan bentuk intervensi terhadap kegiatan yang telah dilakukan oleh ekonomi rakyat. terutama akibat timbulnya berbagai masalah setelah krisis terjadi (bukan oleh krisis moneter itu sendiri) dan akibat pilihan kebijakan yang diterapkan sebagai usaha mengatasi krisis. merasa lebih tahu. Seorang Camat atau kepala desa atau kelompok masyarakat misalnya. atau dilihat dari pemanfaatan cadangan pemerintah yang sangat besar bagi rekapitalisasi bank. dari berbagai instansi yang berbeda dan dengan metode dan ketentuan yang berbeda. Posisi lembaga keuangan mikro dalam sistem keuangan nasional merupakan salah satu contoh terdepan dalam permasalahan ini. atau penetapan kebijakan perbankan sendiri yang penuh persyarakatan yang tidak sesuai dengan kondisi objektif ekonomi rakyat. tingkat bunga yang kompetitif. mengingat lamanya pengaruh lembaga internasional (WB. disertai berbagai kebijakan pengaturan (regulative policy) tampaknya masih jauh dari harapan pemberdayaan ekonomi rakyat. Tekanan menjadi semakin berat lagi setelah krisis ekonomi juga memicu krisis sosial politik dan keamanan. Atau setidaknya yang perlu dikembangkan kebijakan yang ‗not-against‘ atau netral terhadap ekonomi rakyat.banyaknya pegawai di PHK. d. dan ‗minta dilayani‘ merupakan permasalahan lain dalam implementasi kebijakan. dan sebagainya) maka ekonomi rakyat mengalami tekanan yang semakin berat. Banyaknya kebijakan yang dilakukan oleh banyak pihak sering kali bersifat kontra produktif. 2001): a. Pada tahap inipun sebenarnya daya ‗survival‘ ekonomi rakyat sangat tinggi. Oleh karenanya. Dalam kondisi rawan keamananpun. c. sebaliknya kegiatan ekonomi rakyat seolah ditinggalkan. Demikian pula sikap birokrasi yang ‗memerintah‘. sangat tinggi. saat elite politik berdebat saling mengkritik dan membangun perbedaan pendapat. . Sebaliknya sistem ekonomi rakyat yang nyata-nyata telah mampu bertahan bahkan telah lebih berkembang selama krisis justru tidak diabaikan. pengurangan subsidi BBM. berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah dalam rangka otonomi daerah juga telah mengindikasikan pertimbangan yang tidak berorientasi ekonomi rakyat. Misalnya. yang harus dilakukan terutama adalah untuk merubah pendekatan kebijakan yang tidak memihak kepada ekonomi rakyat. terutama dalam mengatasi berbagai kelemahan dan keterbatasan yang dihadapi. karena selama ini kebijakan ekonomi sering kali membawa ciriciri sebagai berikut (Krisnamurthi. dan kebijakan nilai tukar. dapatlah dikatakan bahwa ekonomi rakyat merupakan korban dari krisis moneter yang terjadi belum lama ini. serta serangkaian pilihan kebijakan dalam usaha untuk mengatasi krisis yang justru menempatkan ekonomi rakyat sebagai pihak yang dikorbankan. Dalam hal ini. Pertimbangan dalam penetapan kebijakan tersebut seringkali memang tidak atas dasar kepentingan kegiatan ekonomi rakyat. pengulangan sering terjadi tetapi pada saat yang bersamaan banyak aspek yang dibutuhkan justru tidak dilayani. Dalam hal ini. e. Banyak kebijakan yang bersifat ‗mikro‘. Mekanisme penghantaran kebijakan (delevery mechanism) yang tidak apresiatif juga merupakan faktor penentu keberhasilan kebijakan. Produk yang diimpor diganti dengan produk lokal atau produk impor yanglebih murah (fenomena motor Cina atau maraknya produk elektronik lokal dan impor yang ―mereknya tidak dikenal sebelumnya‖). padahal mereka adalah pemilik-suara (voter) terbanyak yang memilih pada pembuat keputusan. Namun banyak kasus yang menunjukkan bahwa kebijakan yang dikembangkan lebih banyak membawa norma dan pemahaman dari ―luar‖ dari pada mengakomodasi apa yang sudah teruji berkembang dalam masyarakat. b. pembentukan tingkat bunga melalui berbagai instrumen moneter lebih didasarkan pada kepentingan ‗balance of payment‘ dan penyehatan perbankan. Perbankan dan ‗non-ekonomi-rakyat‘ yang notabene menjadi penyebab krisis berusaha ‗diselamatkan‘ dengan menggunakan dana trilyunan rupiah dari sumberdaya negara yang telah sangat terbatas. Demikian juga. Beberapa koreksi yang perlu dilakukan. Tumpang tindih tidak dapat dihindari. Sikap tersebut sering kali jauh lebih menentukan efektivitas kebijakan. Kemelut Kredit Usaha Tani (KUT) merupakan contoh kongkrit dari masalah mekanisme penghantaran tersebut. Dengan cepat terjadi perubahan-perubahan yang mendasar. meningginya harga pangan impor. padahal yang lebih dibutuhkan oleh ekonomi rakyat adalah kebijakan makro yang kondusif. alokasi kebijakan fiskal yang lebih seimbang sesuai dengan porsi pelaku ekonomi. sering kali harus menerima limpahan pelaksanaan ‗tugas‘ hingga 10 atau 15 program dalam waktu yang bersamaan. Dengan demikian. padahal kedua hal itu justru telah menunjukkan kemampuan menghadapi tekanan eksternal yang berat. kegiatan ekonomi rakyat juga menjadi kegiatan yang paling rentan dan menderita.

Ir. 1998. Anthony. ternyata Indonesia paling dalam dan paling lama mengalami depresi ekonomi. (www. Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Open Society Endangered. Krisnamurthi. Bayu. 6. The Mystery of Capital. Pemikiran Karl Marx. Krisis Moneter Indonesia. Basic Books. minimal jangan buat kebijakan yang merugikan ekonomi rakyat.ca/library/forum/desoto. Jakarta. telah pula dipublikasikan dalam Jurnal Ekonomi Rakyat (online. The Third Way. CIDA Forum on Knowledge and Information. Soros.org) Krisnamurthi. Jakarta 21 Februari 2001. rakyat Indonesia mampu melakukan hal itu. 2000. Rupiah telah terdevaluasi dengan 30% sejak bulan Juli 1997. 7. Yakinlah.Perbaikan atas pola kebijakan tersebut diatas harus segera dilakukan. Jika tidak. The Death of Economics. Nopember 2000. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. 9 April 2002 PUSTAKA 1. Dalam bulan September/Oktober 1997. 3. 1999. London. 2001. Makalah pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat : Strategi Revitalisasi Perekonomian Indonesia. Cambridge University Press. diikuti oleh kemerosotan IHSG di pasar modal Jakarta dengan besaran sekitar 90% pula dalam periode yang sama. Ekonomi Rakyat dan Pengelolaan Sumberdaya Pantai dan Laut.- Dr. 5. 2. Makalah pada Lokakarya Pengelolaan Sumberdaya Pantai dan Laut. www. Paul. Dan di bulan Juli 1998 dalam setahun. Atau jatuh dengan 18. Hernando. pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot menjadi –13. 8. MA. Blackwell Publisher.ekonomi-rakyat. The Crisis of Global Capitalism. namun di medio bulan Agustus 1997 itu terpaksa melepaskan pengendalian/intervensi melalui sistim ―band” tersebut. London. bahkan akan terbuka kembali peluang terjadinya krisis berikutnya yang sangat mungkin akan lebih luas dampaknya bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. De Soto.7% dari pertumbuhan sebesar +4. Selama itu mata uang Bath dan Dollar US dikaitkan satu sama lain dengan suatu kurs yang tetap. Institut Pertanian Bogor (IPB) Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat. yang mengikuti sistim mengambang terkendali. The Renewal of Society Democracy. Jika memang belum dapat dilakukan kebijakan yang mendukung ekonomi rakyat. Rupiah sudah terdevaluasi dengan 90%.6% dalam .Bina Swadaya. Ormerod. George. Devaluasi mendadak dari ―Bath‖ ini menimbulkan tekanan terhadap mata-mata uang Negara ASEAN dan menjalarlah tekanan devaluasi di wilayah ini. Hernando. 1998. pada awalnya bertahan dengan memperluas ― band” pengendalian/intervensi. Mencari Format Kebijakan Optimal. Dalam perkembangan selanjutnya dan selama ini. Why Capitalism Triumphs in the West and Fails Everywhere Else. 4. The Missing Ingredient. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Giddens. Franz. atau jangan buat kebijakan apapun dan biarkan ekonomi rakyat berkembang dengan kemampuannya sendiri. Bayu. Magis-Suseno.html) De Soto. Frans Seda KRISIS MONETER INDONESIA KRISIS moneter Indonesia disebabkan oleh dan berawal dari kebijakan Pemerintah Thailand di bulan Juli 1997 untuk mengambangkan mata uang Thailand ―Bath‖ terhadap Dollar US. New York. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. 2000. Rupiah langsung terdevaluasi. Bayu Krisnamurthi: Direktur Pusat Studi Pembangunan.9% di tahun sebelumnya (1997). CSIS. Indonesia. peluang untuk keluar dari krisis akan semakin kecil. 2001. 1994. Di tahun 1998. Little Brown Company. Jakarta.idrc. atau juga masih kesulitan untuk membuat kebijakan yang netral terhadap ekonomi rakyat.

Maka ketika diserang krisis mata uang. Peningkatan Kemiskinan dan Hutang Nasional. upaya-upaya rekapitalisasi. dan mental orang-orang/para pelakunya. 65 milyar – USD. Dalam waktu sangat singkat bertebaran bankbank Swasta di seluruh tanah air dan bertaburan Korporasi-Korporasi Swasta yang memperoleh fasilitas-fasilitas tak terbatas. Rapuhnya sektor-sektor modern ini adalah dalam hal organisasi. Proses Swastanisasi ini berlangsung tanpa kendali dan penuh KKN. restrukturisasi Perbankan dan Korporasi-Korporasi sepertinya tidak mempan selama dan sesudah 5 tahun ini. Pembangunan Ekonomi yang selama ini adalah ―State” dan ―Government-led” beralih menjadi ―led by private initiatives and market”. Mereka yang di-PHK-kan ditampung dalam sektor tradisional dan sektor informal dan merupakan bagian dari Resistensi Ekonomi Rakyat dalam krisis ini. Dan kerapuhan ini ternyata adalah sangat mendalam dan meluas. dengan kebijakan Neraca Modal yang liberal. Sektor tradisional yang selama ini dianggap sebagai sektor yang tidak penting/prioritas. dalam hal bisnis serta akhlak dan moral. dan malahan telah mampu pula mengangkat pertumbuhan ekonomi kembali pada permukaan pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan +13. dilanjutkan dengan pertumbuhan +4. Suatu optimisme yang mendorong kebijakan-kebijakan ekonomi dan tingkat laku para pelaku ekonomi dalam dan luar negeri. sikonnya belum siap dan masih penuh kerapuhan-kerapuhan. sementara Hutang Swasta membumbung dengan cepatnya. malahan dianggap sebagai penghambat dari pertumbuhan Ekonomi.8% di tahun 2000. Kesuksesan ini menimbulkan di satu pihak suatu optimisme yang luar biasa dan di lain pihak keteledoran yang tidak tanggung-tanggung.7% dengan tercapainya tingkat +0% di tahun 1999. dengan APBN yang Berimbang. . Keteledoran ini juga terjadi dalam negeri. maka di akhir tahun 1996 sudah meningkat menjadi antara USD. Sampai sekarang. kreativitas ekonomi rakyat. Hutang Pemerintah/Resmi/Negara turun dari USD. Ekonomi Indonesia bertumbuh sangat pesat. Maka para pakar/pengamat yang selama ini meragukan berfungsinya asas kekeluargaan seperti yang tercantum dalam Pasal 33 UUD-45. terlebih dunia Perbankan dan Korporasi. Dan yang mengesankan adalah peran dari asas kekeluargaan. produktivitas sektor tradisional dan berfungsinya asas kekeluargaan. sehingga waktu datang tekanan-tekanan moneter. merupakan kekuatan ekonomi yang riil yang telah mampu menahan kemerosotan ekonomi yang disebabkan oleh krisis itu. kebijakan Ekspor yang terdiversifikasi (tidak saja tergantung pada Migas). Pendapatan per kapita meningkat menjadi 2x lipat antara 1990 dan 1997. Didorong oleh optimisme dan keteledoran ini ekonomi didorong bertumbuh diatas kemampuannya sendiri (― bubble economics”). yang hampir sama dengan pertumbuhan ekonomi pra krisis (1997. Kredit jangka pendek diinvestasikan ke dalam proyek-proyek jangka panjang. sepertinya lepas kendali.setahun. itu perlu ―pulang kampung‖ untuk melihat dan mengalami bahwa asas kekeluargaan itu betul-betul hidup di kalangan masyarakat dan sungguh-sungguh merupakan asas solidaritas yang berfungsi dalam kehidupan ekonomi rakyat. Namun akibat-akibat negatif ini dihadapi rakyat banyak dengan suatu Resistensi dan Kreativitas Ekonomi yang militan. dengan tingkat perkembangan nilai tukar mata uang yang terkendali rendah. Sektor Finansial dan Korporasi masih tetap terpuruk. Proses Swastanisasi/Privatisasi dari pelaku utama Pembangunan berlangsung melalui proses liberalisasi dengan mekanisme Deregulasi diliputi visi dan semangat liberal. bukan saja menampung reruntuhan-reruntuhan dari ambruknya sektor modern. Kesuksesan Pembangunan Ekonomi Indonesia demikian memukau para kreditor luar negeri yang menyediakan kredit tanpa batas dan juga tanpa meneliti proyek-proyek yang diberi kredit itu. sehingga tindakan-tindakan penyehatan-penyehatan seperti injeksi modal oleh Pemerintah. 80 milyar menjadi USD. pemulihan pertumbuhan ekonomi belum mencapai tingkat pra-krisis (tahun 1996/97). Jika di tahun 1996 Hutang Swasta masih berada pada tingkat USD. Perkembangan ini didukung oleh suatu kebijakan moneter yang stabil. 50 milyar di akhir tahun 1996. Mengapa? Selama dekade sebelum krisis. Suatu kerapuhan total dan secara institusional pula! Apa implikasi dari runtuhnya sektor modern dari bangunan ekonomi kita ini? Peningkatan Pengangguran. Dan hal-hal ini langsung mengena pada nasib ekonomi Rakyat kita. manajemen. Maka runtuhlah bangunan modern dalam tubuh Ekonomi Bangsa. namun juga memainkan peran sebagai pengganti dari peranan sektor modern yang ambruk itu. 75 milyar. Pertumbuhan itu ambruk! Sementara itu terjadi pula suatu perombakan yang drastis dalam strategi Pembangunan Ekonomi. baik bagi modal yang masuk maupun yang keluar. sudah lima tahun. 15 milyar. Resistensi. Dimana kegiatan-kegiatan ekonomi dan para pelakunya berlangsung tanpa pengawasan dan tidak dilihat ― cost benefit” secara cermat. dengan tingkat inflasi dan bunga yang rendah.

Pemerintah/Negara mengambil peran untuk keluar dari krisis tersebut. namun pada kemampuan untuk merealisasikan apa yang dianggap ideal itu. adalah suatu kenyataan dan merupakan dua kekuatan ekonomi yang perlu diintegrasikan menjadi sokoguru dari bangunan ekonomi Nasional yang modern. Dibawah Pimpinan Negara/Pemerintah. Makna dari suatu ideal adalah bukan sekedar pada idealismenya. Disebabkan oleh Politik Isolasi Nasional dan menumpuknya Defisit APBN dari tahun ke tahun sedari tahun 50an dan selama penggalan pertama tahun 1960-an. Dalam hal ekspor. Jika era Demokrasi Terpimpin sebelumnya adalah era dimana Politik menjadi Panglima (upaya pembentukan dari suatu Sistim Politik Nasional) maka era ORBA dapat dinamakan sebagai era dimana Ekonomi menjadi Panglima (dan upaya-upaya untuk membentuk suatu Sistim Ekonomi Nasional). dan teknologi yang lebih meningkat untuk menjaga agar Pembangunan Ekonomi berkelanjutan mantap meningkat. peranan ekonomi Rakyat adalah menonjol. Jika Pembangunan selama ini adalah ― top down” maka proses ini tidak langsung beralih ke sistim ―bottom up”. Dan cepat kembalinya pemulihan ekonomi selama dua tahun berikutnya dikatakan adalah berkat ekonomi Rakyat. cukup berperan ekspor hasil Perkebunan rakyat. dan di bawah pengaruh globalisasi. Masalahnya adalah mengapa ekonomi Nasional jatuhnya begitu dalam. Apa yang dihasilkan. Jika hal itu diperlukan maka dilaksanakan . Namun sesuatu yang ideal. Memang ideal. Apakah hanya karena itu saja? Tentu tidak hanya itu saja. Dalam hal ekspor dan konsumsi. itulah yang telah menjerumuskan Ekonomi bangsa ke dalam keterpurukan yang berkelanjutan ini. fasilitas dan perluasan kegiatan. Dan seperti telah dikatakan. di Jakarta resesi. Ekonomi Rakyat adalah pula ekonomi ―from hand to mouth”. tidak lalu harus diidealisasikan. pemulihan ekonomi selama 2 tahun itu disebabkan oleh peningkatan ekspor (non Migas). hasil kegiatan rakyat. efisiensi. Jatuhnya demikian dalam di tahun 1998. di Manado resepsi. Proses tersebut ditandai oleh suatu proses Liberalisasi dan mekanismenya adalah Deregulasi/Ekonomi. melainkan proses ―mem perdayakan‖. maka Pembangunan dan peningkatan pendapatan Nasional dan per kapita maju pesat. Hal ini terjadi bukan karena ideology (Sosialisme) melainkan karena kondisi pragmatis. Ada keraguan di kalangan Pemerintah pada waktu itu terhadap kemampuan Ekonomi Rakyat sebagai penggerak utama dari roda Pembangunan. Sehingga Pembangunan selama itu disebut ― Government/State led development”. dan kalau ada berada dalam kondisi sangat lemah. Boeke. Masalahnya sekarang adalah. jika bisa begitu. sehingga di Manado yang unggul dalam hal cengkeh itu – ―dia orang bilang. Bukan proses ―memberdayakan‖. Di tahun 1980-an. Melalui pemberdayaan sektor Swasta maka diharapkan/dianggap Ekonomi Rakyat akan pula dapat diberdayakan. Juga dalam hal konsumsi yang kecuali dipenuhi oleh import. adanya KKN. dalam setahun. Krisis Ekonomi yang kita alami dewasa ini menunjukkan bahwa keserakahan sektor modern akan kredit. oleh investasi dan konsumsi. juga oleh produksi dalam negeri. Faktor kepercayaan pada programa ekonomi Pemerintah dalam kerjasama dengan IMF dan hilangnya panik ekonomi turut bermain peran. Masalahnya adalah mengapa pada waktu itu proses Deregulasi tidak diarahkan langsung kepada Ekonomi Rakyat. Telah dikemukakan bahwa kemampuan Resistensi Ekonomi Rakyat adalah pada tingkat ― subsistence economy”. sudah tiba waktunya kita beralih ke Ekonomi Rakyat. didesak oleh kebutuhan akan modal. Tentu tidak semuanya oleh Ekonomi Rakyat. Ekonomi Rakyat masih perlu diberdayakan. ―Up” dan ―down” diperdayakan oleh si ―middle”. menunjukkan betapa rapuhnya dan paniknya sektor Finansial dan Korporasi. Maka terjadilah krisis ekonomi yang berkelanjutan ini. maka terjadi proses Swastanisasi dari Pembangunan. no!”. Namun secara riil. dihabiskan! Tidak ada kelebihan untuk melanjutkan dan mendinamisasikan kegiatan. begitu rapuhnya sehingga dengan segala ― inset” dari modal. peran ekonomi Rakyat seperti yang telah digambarkan itu memang besar! Tetapi antara ekonomi Rakyat/Ekonomi Tradisional dan Ekonomi Modern tidak perlu diadakan dikhotomi. dan kurang adanya Pengawasan. energi dan konsentrasi sampai sekarang sektor ini belum dapat berfungsi kembali normal. namun melalui sistim (peng)antara ―middle down” dan ―middle up”.+4. dan pemberdayaan itu dilakukan melalui ― link and match” dengan sektor Swasta. alias sektor modern dari bangunan ekonomi kita. apakah dalam kondisi krisis dewasa ini. dimana pada waktu itu tidak ada perusahaan Swasta. malahan melanjutkan perannya sebagai Pelaku Utama Pembangunan sesudah krisis itu. melihat peran ekonomi rakyat selama krisis ini seperti yang telah diuraikan itu. maka di tahun 1965-66 terjadi suatu krisis ekonomi Nasional yang merisaukan. ―Dual economy” nya Prof.9%). yang telah menumbangkan ORDE LAMA (Demokrasi Terpimpin) dan dibentuknya ORDE BARU. Kita tahu apa yang telah terjadi. Dalam bahasa resmi Ekonomi. tetapi juga dapat cepat pulih dalam 2 tahun berikutnya.

Telah dikemukakan betapa . memerlukan perlindungan/kepastian Hukum dan iklim usaha.Rp. proteksi dan fasilitas. Diharapkan bahwa Institusi yang demikian itu adalah antara lain Pemerintah dan Parlemen. Disamping tugas besar Nasional yang berjangka itu.000 . Dalam hal Ekonomi Rakyat. para pelaku ekonomi Rakyat perlu di‖upgrade”. Sebab kesejahteraan Nasional bukanlah somasi/jumlah dari kepentingan masing-masing rakyat. usaha/pedagang kecil dan menengah. Kembali kepada masalah Krisis Moneter dan Pemulihan kembali Ekonomi Nasional. Dalam bahasa ekonominya adalah bahwa kita mengalami kemerosotan dari ―external demand”. mereka sehari dapat memperoleh antara Rp. tetapi sebagian besar masih ―berkeliaran‖ di dalam negeri. perlu diingat. diberi pendidikan. maka masyarakat dengan sendirinya bermoral dan beragama. Penciptaan dari ―domestic demand” ini mungkin. apalagi dengan KKN. mereka tidak boleh mengganggu ketertiban umum dan harus tunduk pada peraturan (hukum) umum! Pengertian yang diperlukan. Maka dari itu programa hukum dan kesesuaian harus menunjukkan prioritas bagi Pemerintah. tangguh mental dan professional dalam berusaha. Aspek orientasi kepada kepentingan rakyat banyak dan aspek rakyat sebagai Subyek dalam Ekonomi Negara. maka baik orientasi pada kepentingan dalam ekonomi. Rakyat sebagai Subyek Ekonomi seperti halnya dengan Korporasi-Korporasi besar/maju. Mereka sendiri tadinya juga berasal dari usaha ekonomi rakyat. mengatasi Kemiskinan. Apa tugas Nasional itu? Mengatasi Pengangguran. Diperlukan suatu Institusi dan pendekatan secara Institusional. namun tidak selamanya rakyat harus menjadi Subyek Ekonomi. namun untuk mengungkapkan kenyataan yang dihadapi yang perlu diperbaiki agar tugas Nasional yang diserahkan kepada Ekonomi Rakyat dapat terlaksana dengan baik dan penuh prospek dan perspektif. maka tidak dengan sendirinya kesejahteraan Nasional tercapai. Mereka dianggap sebagai ―underground economics”. Sebab itu peran ―lintah darat‖ besar dalam ekonomi Rakyat. sebagai usaha yang ―inferior”. pengganggu ketertiban umum. 10. Mereka perlu dibimbing. melebihi pendapatan orang yang sama di sektor formal). (Sementara menurut suatu penelitian. bahwa kalaupun Rakyat sudah menjadi Subyek Ekonomi. karena pasar dalam negeri yang besar dan luas. (Hukum dan keamanan ini juga dituntut oleh para investor asing!). Nah. maka dengan sendirinya Kesejahteraan Rakyat tercapai. Ini berarti pula perlu dikembangkan suatu sistim mobilitas vertikal secara sehat dan mandiri dalam masyarakat dunia usaha! Dewasa ini hal ini diblokir oleh tidak selesai-selesainya proses penyehatan Perbankan dan Korporasi.melalui hutang. Hanya seperti telah diuraikan itu. kita mengalami kemerosotan investasi dan eksport termasuk Pariwisata. mengatasi Hutang. memerlukan akses ke modal. terlebih sesudah kejadian 11 September 2001 di Amerika Serikat. Untuk menjamin tertib usaha. Masalah ini perlu ditekankan melihat pengalaman-pengalaman dari usaha-usaha rakyat kecil di kota-kota yang lazim dinamakan Kaki Lima yang dikejar-kejar itu. di‖ upgrade” dan ditingkatkan. Dilupakan bahwa mereka memenuhi kebutuhan masyarakat. Mereka tidak menjadi efektif (―effective demand”) antara lain karena ketidakpastian hukum dan keamanan. dalam kontekst ini peran ekonomi Rakyat dapat difokuskan. penjelasan-penjelasan dan insentip-insentip. Disitulah letak fungsi ekonomi mereka. Diperlukan suatu Institusi yang mengarahkan kepada kepentingan rakyat dan kesejahteraan Nasional. Seperti halnya dalam bidang moral dan agama. Namun suatu Generasi Pelaku Ekonomi Nasional yang bersih. bukan penggusuran! Pemberdayaan ekonomi Rakyat dewasa ini diperlukan pula untuk membina kader-kader Pelaku Ekonomi Generasi baru menggantikan Generasi Pelaku Ekonomi yang sudah tumbang ini. Hal-hal ini perlu diciptakan oleh Institusi itu. Dalam hal Ekonomi Kerakyatan maka jelas orientasinya pada kepentingan ekonomi Rakyat banyak. Selama ini kita telah bicara banyak mengenai Ekonomi Rakyat dan Ekonomi Kerakyatan. tidak dimanjakan dengan subsidi. ada pula tugas Nasional yang mendesak! Dewasa ini. teknologi dan Pasar. Ketiga target ini memang mengena pada kepentingan ekonomi Rakyat! Suatu tantangan bagi ekonomi Rakyat! Menghadapi tugas besar/tugas nasional ini. maupun Subyek dalam ekonomi adalah rakyat. Jangan disangka jika setiap anggota masyarakat itu bermoral tinggi dan sungguh-sungguh menghayati agamanya. Memang ada pendapatan dan simpanan dalam negeri yang lari keluar. Mereka perlu diberi pengertian bahwa untuk berusaha secara berkelanjutan diperlukan tertib usaha.000. Hanya jangan dikira jika semua rakyat sudah menjadi Subyek Ekonomi. Ini semua dikemukakan tidak dengan maksud untuk memojokkan ekonomi Rakyat. Apa itu? Ekonomi Rakyat mempunyai dua aspek integral. 20. Potensi untuk itu ada di dalam Negeri karena masih cukup pendapatan dalam negeri dan simpanan dalam negeri yang tersembunyi dan terpendam. Kondisi ini perlu diimbangi dengan menciptakan/mengaktifkan ― domestic demand” yakni ―demand” akan investasi dan konsumsi.

bahwa krisis ini bisa diatasi dengan campur tangan bank Sentral. Dengan adanya Konsensus Politik secara Nasional itu. yang dipicu oleh krisis di sektor properti. Kemiskinan. Jika hal ini dikaitkan dengan bahaya-bahaya proses desintegrasi sosial. yang berfokus pada pilihan politik untuk me-Rekonsiliasikan keperluan penyelesaian secara tuntas masalah-masalah dari masa lalu dengan kepentingan bangsa dan Negara untuk maju ke depan dan yang didukung oleh semua pihak. mantan gubernur Bank Sentral AS. Bahkan. Dengan bersandar pada data Biro Analisa Ekonomi AS (lihat tabel). makin tak terkendali.terpuruknya Ekonomi kita dan betapa rapuhnya sektor modern kita. pemulihan ekonomi AS berjalan lambat. krisis di satu tempat dengan cepat menyebar dan memberi efek tular ke tempat lain. Dengan dunia yang kian terintegrasi satu sama lain. yang hingga kini tak kunjung menemukan jalan keluar pemecahannya. Frans Seda : Penasehat Ekonomi Pemerintah. dan bencana alam. Dilemanya adalah di satu pihak ada tuntutan untuk penyelesaian dulu semua kebobrokan-kebobrokan dari masa lalu. dan Hutang Nasional. Sebab disitulah letak kepentingan mendesak dari ekonomi rakyat kita. ―pertumbuhan ekonomi AS saat ini adalah nol. hendak memotret dampak dari krisis ekonomi Amerika Serikat (AS). kini menyebar luas. regional dan nasional maka krisis ekonomi yang berkepanjangan ini dapat membawa Bangsa. dan alternatif apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi krisis dan dampaknya tersebut. bagaimana dampak krisis ini terhadap Indonesia. bernegara dan bermasyarakat. Dari sini. mantan Menteri Keuangan Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat. Dengan segala upaya dan energi serta bantuan luar negeri. terbukti tidak mencukupi. Untuk mengatasi Dilema Fundamental ini diperlukan suatu Konsensus Politik secara Nasional.‖ Ketakutan bahwa krisis ini menjadi krisis permanen. terlebih sektor Finansial dan Korporasi. Krisis Moneter Indonesia Krisis Permanen dan Tantangan Dari Bawah* DUNIA sedang diterpa badai krisis: ekonomi. Tulisan kali ini. Negara dan Masyarakat kita kepada kehancuran total. belum selesai yang satu telah datang yang lain. ekonom Minqi Li menggambarkan beragam skenario yang tidak menggembirakan. di lain pihak ada urgensi. barulah kita dapat menyusun suatu Programa Nasional untuk cepat keluar dari krisis dan mulai memulihkan kembali Pertumbuhan Ekonomi Nasional yang mampu memberantas Pengangguran.4 persen dibandingkan dengan 4 persen pada dekade 1960an dan 3. tetap saja krisis ekonomi AS tak bisa ditangani. kita maju ke depan (termasuk upaya penyelesaian krisis). Krisis Permanen Krisis ekonomi AS. lingkungan. dan sambil berjalan ke depan kita secara selektif menyelesaikan kebobrokan-kebobrokan dari masa lalu. Berbagai skenario pemulihan yang ada. upah buruh riil dan . Setelah diterpa resesi pada 2001. Rata-rata tingkat pertumbuhan per tahun hanya 2. Akibatnya. Sementara itu. Kebodohan. Maka dari itu krisis ini perlu segera diatasi! Dalam hal ini kita berhadapan dengan suatu Dilema Fundamental yang ―persistent” sekali. Lima (5) tahun krisis ekonomi adalah sudah terlalu panjang dan karena sifatnya multidimensional maka ia dapat menggerogoti secara meluas dan mendalam sendi-sendi kita hidup berbangsa. ketika Bank Sentral menggelontorkan dana segar sebesar S75B pada Januari 2008. energi. politik. untuk menginjeksi sektor perbankan. Hic et nunc! Drs. seperti dikatakan Alan Grenspan. Resep lama. baru melangkah maju.3 persen pada dekade 1980an. Krisis ini datang silih berganti secara bergelombang. kita belum saja melihat titik terang. tetap saja berujung pada ketidakmungkinan krisis ini pulih dalam waktu yang singkat. pangan. hendak dilihat.

Jika diukur dalam dollar pada 1982. dengan sendirinya menghela ekonomi negara lain ke jalur krisis. menurut William I. Robinson adalah untuk menghancurkan otonomi para aktor nasional dan selanjutnya menstrukturkan serta mengintegrasikan mereka ke dalam jaringan transnasional yang lebih luas.8 persen pada tahun 2001 menjadi 9. Itu sebabnya. bersamaan dengannya tingkat suku bunga meningkat. Tetapi. Jatuhnya tingkat konsumsi di AS. pilihan yang bisa diambil oleh Bank Sentral adalah melakukan pemotongan secara drastis tingkat suku bunga.8 persen pada tahun 2006. seiring meningkatnya finansialisasi ekonomi dunia adalah kian mendalamnya penetrasi kekuasaan imperial terhadap negara-negara dengan kondisi ekonomi sedang berkembang (underdeveloped). sejak tahun 2001. Hasilnya adalah sebuah lingkaran setan.jumlah angkatan kerja stagnan. suatu jumlah yang tertinggi. Yang paling realistis. dan ketiga. Soalnya. maka rata-rata upah buruh sektor swasta pada tahun 2006. karena level utang rumah tangga telah begitu tinggi dan tingkat tabungan rumah tangga juga rendah. Keadaan ini sebenarnya bisa ditangani oleh Bank Sentral. Di samping itu. dengan defisit saat ini yang mencapai 6 persen GDP. pertumbuhan ekonomi AS dihela oleh ekspansi konsumsi rumah tangga. pendapatan riil keluarga menengah terus jatuh. pengaruhnya sungguh akan sangat besar bagi stabilitas ekonomi-politik dunia. Sebaliknya. Krisis ekonomi yang dipicu oleh krisis di sektor finansial. pertumbuhan . jelas mustahil untuk melihat bahwa konsumsi akan bertumbuh cepat di tahun-tahun mendatang. AS mengekspor krisis internalnya ke seluruh dunia. pembagian keuntungan korporasi terhadap GDP meningkat dari 5. sangat sulit untuk mengidentifikasi gelembung besar aset lain yang bisa diciptakan. sejak medium 2000. menyebabkan negaranegara yang sebelumnya telah tergantung pada investasi asing kian tergantung padanya (khususnya investasi portofolio) dan keharusan untuk membayar utang kepada kapital internasional. Masalahnya. sebagaimana dikemukakan John Bellamy Foster. sebesar $8. Tujuan dari penetrasi ini. maka ekonomi AS akan menuju resesi yang lebih dalam yang diikuti dengan apa yang disebut stagnasi berkelanjutan. Pertama. maka yang terjadi ekspansi konsumsi rumah tangga itu dibiayai oleh utang rumah tangga. atau delapan sen lebih rendah dari upah pada 1972. sektor keuangan saat ini merupakan sektor yang paling tersebar dan paling terkait secara global. negara-negara berkembang yang mengikuti resep globalisasi-neoliberal. konsumsi AS adalah yang terbesar di dunia dan menjadi sumber utama permintaan ekonomi dunia. Jelas ini sesuatu yang menakutkan. pemerintah AS melakukan jalan pintas dengan cara melakukan belanja publik dan meningkatkan defisit fiskal. Dihadapkan pada kondisi guncangan besar pasar saham dunia. maka Washington bisa terus melakukan defisit fiskal lebih besar. yang kini mencapai lebih dari 70 persen GDP. karena baik pasar saham maupun pasar properti telah overvalued. dengan cara menciptakan gelembung aset lain secara besar-besaran. maka suku bunga rendah hanya akan kecil sumbangannya dalam merangsang konsumsi rumah tangga. tingkat tabungan rumah tangga jatuh dari rata-rata 10 persen menjadi mendekat nol persen saat ini. Di lain pihak. Selain itu. Ini bisa dilihat dari peningkatan sebesar 14 persen layanan utang rumah tangga (interest and principal payment on debt) pada 2007. Dan jika ini terjadi. Jika tingkat tabungan rumah tangga meningkat menuju rata-rata selama ini. terjadi penghancuran industri (deindustrialization). maka secara teoritik utang luar negeri bersih AS akan menembus angka 120 persen GDP. hingga mencapai 6 persen atau lebih GDP. Yang menarik. Penetrasi yang digerakkan melalui kebijakan globalisasi-neoliberal tersebut.2. Dengan gambaran seperti ini. ―fundamental ekonominya‖ membaik menurut kriteria sektor finansial tapi. ketika mayoritas pendapatan rumah tangga mengalami stagnasi atau bahkan jatuh. sangat jelas membuat pertumbuhan ekonomi dunia melambat yang itu berarti. kedua. jika krisis ekonomi yang melanda AS ini berlangsung dalam waktu yang lama.

produksi minyak akan menurun sebanyak 25 persen pada 2020. telah mencapai titik jenuh. Berdasarkan harga saat ini sebesar $120 per barel. karena minyak merupakan energi yang tak terbarui. Dengan pola seperti ini. obat-obatan modern. gas alam cair. belum lagi krisis ekonomi tertangani. dan kian mudahnya ekonomi negara tersebut diserang krisis akibat pergerakan cepat keuangan global. gas alam. kini bayang-bayang resesi bahkan depresi ekonomi ada di depan mata. Kita lihat. Minyak juga. produksi minyak di 25 negara-negara atau wilayah-wilayah penghasil minyak utama. menjadi penanda penting bagi kita bahwa orientasi pembangunan kapitalisneoliberal yang berlangsung secara global saat ini. maka skenario yang tampak begitu buruk. Selain itu. Setelah itu. gambaran-gambaran ini sungguh suram. Dalam studi awal dari German Energy Watch Group. Orientasi Ke dalam? Krisis ekonomi saat ini.000 dengan kurs $1 sama dengan Rp. bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. Berdasarkan data Januari 2008. saat ini Pertamina mengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak sebanyak 700 ribu per barel. produksi dunia untuk seluruh bahan-bahan cairan (termasuk minyak mentah. Setelah dihajar oleh krisis ekonomi pada 1997. diperkirakan produksi batubara dunia akan mencapai puncaknya pada 2025. dan mencapai 2/3 pada 2050. Lebih-lebih dalam konteks seperti Indonesia. harga minyak dunia telah menembus angka $120 per barel. pembangunan yang menghasilkan keterbelakangan dan ketertindasan. aspal hitam. 775. mencapai titik jenuhnya pada 2010. diperkirakan menyumbang sepertiga dari total suplai energi dan 90 persennya digunakan di sektor transportasi. sedang berjuang untuk mempertahankan produksinya agar tidak jatuh. tentu saja tidak masuk akal bagi pemerintah untuk membiayai belanja-belanja sosial yang bermanfaat bagi kepentingan rakyat. Colin Campbel. meramalkan. yang hingga kini tak kunjung keluar dari krisis. Seluruh perusahaan-perusahaan minyak besar dunia kini. diperparah dengan dampak menular dari krisis keuangan di AS. Bahkan. Minyak sendiri.236. produksi gas alam dunia akan mencapai puncaknya pada 2045. dengan menggilanya harga minyak dunia di pasaran. Dalam konteks Indonesia. Melambungnya Harga Minyak Dunia Sialnya. merupakan bahan masukan penting dalam produksi pupuk. tentu saja kesuraman itu kian menjadi-jadi. Resep-resep yang digunakan .866. Laporan terakhir (30/4) menyebutkan. coal-to-liquids. dan benda-benda kimiawi lainnya. Sebab ekonomi kapitalis ini sangat tergantung pada bahan-bahan material (minyak. bisa dipastikan yang akan terjadi adalah penyesuaian-penyesuaian rencana anggaran. dan batubara). dimana salah satu cara paling gampang adalah kembali menaikkan harga minyak dan mencabut subsidi. minyak hasil distilasi. Mari kita ambil contoh berikut. ancaman lain telah menghadang yakni. 9. gas-to-liquids. eksplorasi minyak telah mencapai puncaknya pada dekade 1960an dan produksi minyak mentah mungkin telah di batas maksimum dan mulai memperlihatkan trend menurun dalam beberapa waktu mendatang. yang menyumbang 80 persen suplai energi dunia. Tingginya harga minyak ini tentu saja memberikan daya pukul luar biasa pada perekonomian di seluruh dunia. Tinggal sembilan negara atau wilayah yang memiliki potensi untuk bertumbuh. tidak bisa lagi dipertahankan. maka dana yang mesti dikeluarkan Pertamina adalah sebesar $84. dan biofuel).5. Studi terbaru dari German Energy Watch Group menyebutkan. dari the Association for the Study of Peak Oil and Gas. Dengan pengeluaran sebesar itu.ekonomi rendah. Di luar OPEC. Campbel juga meramalkan. pembangunan yang dijalankannya tidaklah membuahkan kemajuan dan kebebasan tapi.000 per hari atau sebesar Rp. plastik. ditambah dengan dampak kenaikan harga minyak dunia yang gila-gilaan.

Untuk rencana belanja fiskal tahun 2008. kontribusi Cina meningkat sekitar 15 persen dan kelompok BRIC (Brazil. deregulasi. Keadaan ini tentu saja mengkhawatirkan para pengambil keputusan strategis di Washington. akibat stagnasi berkepanjangan. bersedia melakukan restrukturisasi ekonomi dan sosial yang radikal? Intervensi Permanen Sebelum kita masuk pada pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pertanyaannya kemudian. adakah rejim dengan watak seperti itu? Pertanyaan lainnya. Di sini muncul pertanyaan baru. apakah pertanyaan tersebut mengada-ada atau tidak. tak ada kekuatan lain yang bisa menandingi kedigdayaan AS.selama ini. praktis tidak ada kekuatan lain yang sanggup menandingi imperialisme Amerika. privatisasi. Ia bukanlah krisis keuangan jangka pendek tapi. pemotongan subsidi. dari segi geopolitik. demi kepentingan apa AS terus membangun dan memperkuat kekuatan militernya? Ada dua jawaban di sini: pertama. dan liberalisasi sektor moneter. saya ingin mengajak anda untuk melihat konstelasi kekuasaan global saat ini. Cina yang dianggap sebagai pesaing baru. Angka ini merupakan yang terbesar sejak Perang Dunia II dan besarannya melampaui total belanja militer gabungan seluruh negara lain di dunia. pembangunan kekuatan militer itu dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi AS. Tetapi. dana yang dianggarkan sebesar lebih dari $1T. Khusus untuk supplementary budget buat membayar biaya perang di Irak dan Afghanistan. adalah mengandalkan kemampuan domestik dalam menopang bangunan struktur ekonomi nasional. Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. kini Cina merupakan satu-satunya kandidat . ekonomi AS masihlah yang terkuat di dunia. sumbangan AS dalam pertumbuhan ekonomi dunia jatuh dari 40 persen pada 1990 menjadi kira-kira 30 persen pada saat ini.‖ Argumentasi Klare ini bukan tanpa bukti empiris. Dari sini. di tempat lain. tidak ada bukti yang kuat bahwa kebangkrutan ekonomi suatu negara disebabkan oleh kebijakan nasionalisasi ekonomi. terbukti gagal dalam menangani krisis. walaupun kini tengah dilanda krisis parah. krisis ini adalah krisis kapitalisme keseluruhan. lagi-lagi dalam konteks Indonesia. seperti dikemukakan kritikus empire (kekaisaran) terkemuka. menurut Michael Klare. Dan sebaliknya. mensyaratkan keberadaan rejim yang mendukung penuh perubahan radikal itu. Dari segi anggaran militer. dimana anggaran ini bukan bagian dari anggaran resmi pertahanan. lebih merupakan hasil dari stagnasi ekonomi berkepanjangan. Dari segi ekonomi. bukan krisis bagian per bagian. demikian juga kontribusi kawasan Eurozone ikut jatuh dari 20 persen menjadi tinggal 10 persen. Rusia. India dan Cina) meningkat sebesar 20 persen pada pertumbuhan ekonomi dunia. pembangunan kekuatan militer raksasa itu dimaksudkan untuk ―menghadang munculnya kekuatan besar lain sebagai pengimbang kekaisaran AS. mempromosikan kebijakan nasionalisasi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. bahkan ekonominya belum mampu menandingi kekuatan ekonomi Uni Eropa. Pemerintahan siapapun. sebuah perubahan arah strategi pembangunan dari yang pro kapitalisme-neoliberal menjadi yang anti kapitalisme-neoliberal. Karena itu. kita bisa meraba-raba.000) di seluruh dunia. apakah kelas kapitalis di Indonesia. Sejak berakhirnya Perang Dingin (yang sesungguhnya hanya dingin di Eropa). Studi-studi yang ada menunjukkan. Tetapi. Dengan tingkat pertumbuhan ekonominya tinggi dan relatif stabil. harus berani menolak resep-resep kebijakan neoliberal seperti. kedua. departemen pertahanan AS menganggarkan sebesar $750B per tahun. Chalmers Johnson. jumlahnya jauh lebih besar dibanding gabungan anggaran militer Rusia dan Cina. Dengan 180 basis militer (dari yang direncanakan 1. Lebih-lebih di bidang militer. Salah satunya. untuk memotong laju krisis sekarang. pasar kerja fleksibel. Seperti dicatat Minqi Li. yang selama ini telah begitu erat terkait dengan kelas kapitalis asing. harus ada strategi yang radikal.

maka sangat sulit kita mengharapkan munculnya sikap progresif dari kelas kapitalis domestik.yang bisa menggeser posisi AS. sebagai ―ideologi intervensi permanen. ―bersama kami atau menjadi musuh kami. James Petras. bagi Leo Panitch dan Sam Gindin. di tengah-tengah krisis permanen dan ancaman intervensi permanen saat ini. Intervensi permanen dari kekaisaran bisa mengambil bentuk yang lunak. Di matanya. Dalam konteks geopolitik yang unipolar seperti inilah. kita lihat. AS disamping terus menjalankan perannya sebagai protektorat bagi negara-negara kapitalis inti. jika terjadi mobilisasi dari bawah yang merupakan kombinasi kepentingan-kepentingan domestik kelas terpinggirkan. Satu-satunya penantang serius bagi kekaisaran AS ini. tidak mungkin terwujud jika tidak dipimpin dan dikontrol oleh rakyat. Hasil dari keadaan ini. Di sini. Sementara itu. AS menguasai 70 persen cadangan minyak dunia. datang dari rakyat tertindas di negara-negara pinggiran. rakyat AS telah cukup lama menikmati permen ekonomi dan juga kooptasi dan represi dari kekaisaran. krisis permanen ini membuat mereka tidak memiliki pilihan lain kecuali kian tergantung pada belas-kasih sang senior. Di sini. kelas kapitalis domestik Indonesia. jika ingin menghancurkan kekaisaran yang mesti dilakukan adalah mendorong terjadinya perubahan fundamental dalam keseimbangan kekuasaan domestik dalam kekaisaran. Bagi Samir Amin. Di sisi lain ancaman intervensi permanen melalui doktrin pre-emptive war dari AS. Benar bahwa dengan menduduki kawasan Teluk. kekuatan lain itu hanya diberikan pilihan. misalnya. mengatakan perlawanan rakyat tertindas itu tidak bisa diharapkan muncul dari dalam negeri AS. adalah dari rakyat tertindas keseluruhan. serta gerakan anti-globalisasi dan anti-perang. intervensi militer (misalnya.‖ Dan itu berarti. Realisasi kebijakan itu menemukan momentumnya dengan terjadinya serangan 11 September 2001. misalnya. penyerbuan ke Irak dan Afghanistan. tidak pertama-tama didorong oleh kepentingan menguasai dan mengontrol kandungan minyak di wilayah tersebut. Maka satu-satunya penantang paling potesial terhadap kekaisaran. serbuan itu terutama dimaksudkan sebagai sinyal agar ―jangan coba-coba menantang kami. satu-satunya jalan adalah dilakukannya . penyerbuan seperti di Irak ini bukanlah sebuah akhir. mereka malah kian agresif dalam merealisasikan paket-paket kebijakan neoliberal. dari apa yang disebut Aijaz Ahmad. Di satu sisi karena mereka telah terintegrasi dalam kelas kapitalis internasional. sebagai residivis-residivis privatefinanced-centered yang coba-coba menantang kekaisaran. dimana rakyatlah yang pertama-tama menanggung akibatnya. Tetapi. para kapitalis domestik memainkan perannya sebagai yunior partner dan secara bersama-sama membentuk apa yang disebut oligarchy-finance-capital.‖ Itu sebabnya. Dengan adanya peristiwa itu. seperti peran yang disandangnya di masa Perang Dingin. sebagai motor penggerak ekonomi kapitalis global. juga sumber kekuasaan. menyebabkan para kapitalis domestik ini tidak berani mengambil jalan berbeda. tak berani mengambil sikap yang berpihak kepada kepentingan rakyat. Ia mencontohkan perlawanan rakyat di Venezuela dan Irak saat ini. juga bertujuan untuk mengonsolidasikan kembali apa yang disebut Peter Gowan. Irak). misalnya. untuk bisa menantang kekaisaran AS ini. Benar pula bahwa minyak bukan hanya sumber energi yang utama tapi. Sebaliknya. Ini hanya merupakan awal. bagi para analis imperialisme. AS tidak membutuhkan tawar-menawar dengan kekuatan di luarnya. kemunculan para pesaing dipandang sebagai ancaman yang harus dinetralisir.‖ Tantangan Dari bawah Dengan bersandar pada analisa di atas. Dan itu hanya mungkin. Pembangunan yang berorientasi ke dalam. kekuatan sosial lainnya yang tertindas. muncul perbedaan pendapat di kalangan pengamat kekaisaran. Bukannya melindungi kepentingan rakyat. Itu sebabnya. misalnya melalui perang ekonomi (seperti Kuba) atau juga dalam bentuk keras seperti.

‖ Monthly Review Press. “China Peak Oil.” ―Impor Minyak Pertamina Harus Dievaluasi‖
 Senin.20080121-115889. “Imperialism of Our Time” Socialist Register. “Global Capitalism and American Empire. http://www. 59. Robin Blackburn. Vol. “The Subprime Crisis. ―Pox Americana exposing the American Empire. Robinson. McChesney. Social Change. “U. London.com/hg/ekbis/2008/01/21/brk.S. ―Pox Americana exposing the American Empire. 11 April 2008. ————. No.tempointeraktif. and Globalization. Hegemony Today. 21 Januari 2008 | 20:49 WIB. & Neoliberalism’s Demise. McChesney. 2004.aliansi seluruh rakyat pekerja baik.id. Minqi Li. 58. No.” Monthly Review.” Verso. o.” in John Bellamy Foster and Robert W.” in John Bellamy Foster and Robert W. John Bellamy Foster. Leo Panitch and Sam Gindin. 59. itulah kunci kemenangan rakyat pekerja terhadap kekaisaran. “The Financialization of Capitalism. 2003. 11 April 2007. 2004. Vol. Solidaritas universal.html William I.*** Kepustakaan: Aijaz Ahmad. 2004.” Monthly Review.“The Financialization of Capital and the Crisis. Michale Klare. “Transnational Conflicts Central America. Peter Gowan. di Selatan maupun di Utara. 11 April 2008.” Socialist Register.” Monthly Review.‖ Monthly Review Press. 2004. *Artikel ini sebelumnya dimuat dalam buku untuk memperingati 80 tahun Joesoef Isa . Vol. “The New Geopolitics.