Krisis Kapitalisme Global

Krisis Kapitalisme Global Syamsul Hadi KTT G-8 di Toyako, Hokkaido, Jepang, yang baru saja berakhir terasa istimewa dengan kehadiran para pemimpin negara berkembang, seperti China, India, Meksiko, dan Indonesia. Pernyataan di akhir KTT dapat dilihat sebagai bentuk positioning negara-negara industri maju atas isuisu yang berkembang dalam skala global. Menghadapi kenaikan harga minyak dunia, forum menyerukan dialog antara negara produsen dan konsumen guna menekan harga. Terkait krisis pangan, forum menegaskan, komunitas internasional perlu melakukan respons dan strategi yang terintegrasi guna mengatasi kelangkaan pangan, dengan program bantuan pangan dan peningkatan produktivitas pertanian. Perdebatan paling alot terjadi dalam isu perubahan iklim. Negara-negara G-8, terutama AS, menyatakan tidak bisa mencapai target pengurangan emisi 50 persen tahun 2050 jika negara berkembang yang ekonominya sedang tumbuh pesat tidak melakukan hal yang sama. Krisis finansial Perdebatan alot dalam isu perubahan iklim seolah ‖menutup‖ perhatian atas masalah krusial lain, krisis finansial global yang berawal dari krisis subprime mortgage di AS. Pernyataan bersama G-8 memang menekankan komitmen untuk melakukan stabilisasi pasar finansial, tetapi tidak disinggung masalah melemahnya nilai dollar AS atas mata uang kuat lainnya (Kompas, 10/7). Padahal, ketidakmampuan AS untuk cepat mengatasi krisis subprime mortgage mendorong spekulan mengalihkan investasi ke komoditas pangan dan energi, yang mendorong naiknya harga pangan dan minyak dunia. Keterlibatan militer AS di Irak memperparah krisis energi. Mantan spekulan George Soros menyatakan, krisis global saat ini akan cepat berakhir dengan syarat perekonomian, terutama pasar uang, diatur ketat (Kompas, 4/4). Di mata Soros, akar krisis saat ini adalah kekacauan di sektor finansial yang dimulai sejak 1980 saat Ronald Reagan dan Margareth Thatcher memelopori kampanye neoliberalisme di tingkat global. Lemahnya posisi Pemerintah AS berhadapan dengan berbagai perusahaan hedge funds dan pengelola dana investasi untuk tujuan spekulasi telah diprediksi Susanne Soderberg. Dalam The Politics of the New International Financial Architecture (2004), Soderberg menggambarkan, hubungan Pemerintah AS dengan korporasi finansial yang berpusat di Wall Street adalah seperti hubungan Dr Frankenstein dan monster pintar ciptaannya. Dengan mensponsori penerapan rumus-rumus neoliberal, Pemerintah AS menumbuhkan ‖blok‖ kapitalis finansial yang menggurita di Wall Street, yang kemudian menjeratnya dalam ketidakberdayaan dan posisi serba salah akibat besarnya dominasi perekonomian mereka. Pernyataan menteri keuangan G-8 yang bertemu di Osaka, Juni, juga tak menyinggung perlunya memperketat aturan main sektor finansial global. Pernyataan hanya menyebutkan, Financial innovation has contributed significantly to global growth and development, but in the light of risks to financial stability, it is imperative that transparency and risk awareness be enhanced. Poin tentang sistem finansial ada di bagian terakhir statement bersama dan paling pendek dibandingkan poin-poin pernyataan terkait harga komoditas, perubahan iklim, dan pembangunan Afrika. Pertumbuhan tanpa batas? Dalam konteks perubahan iklim, upaya Jepang membuka jalan bagi penyusunan traktat internasional

baru menggantikan Protokol Kyoto yang habis masa berlakunya tahun 2012 pada KTT ini tidak berhasil. Memang dicapai ‖komitmen umum‖ untuk pengurangan emisi pada tahun 2050, tetapi tidak dicapai kesepakatan tentang bagaimana target itu secara spesifik harus dicapai. Pernyataan G-8 hanya menyatakan, tiap anggota G-8 akan menyusun target masing-masing untuk periode jangka menengah setelah tahun 2012. Menanggapi hal ini, para pemimpin China, India, Brasil, Afrika Selatan, dan Meksiko membuat pernyataan bersama yang menolak kewajiban tiap negara mengurangi emisi 50 persen dengan menekankan kewajiban negara maju memulai langkah-langkah nyata ke arah itu. Para aktivis lingkungan juga mengecam keengganan negara G-8, terutama AS, untuk memberi komitmen nyata dan mengikat terkait pemanasan global. Data Greenpeace International menunjukkan, meski hanya dihuni 13 persen populasi dunia, negara G-8 memproduksi 80 persen emisi di atmosfer dan 40 persen emisi CO>sub<2>res<>res<. Komitmen ‖samar-samar‖ yang diberikan G-8 dinilai tak sebanding dengan dampak perubahan iklim dan global warming yang menimbulkan dampak berantai berupa kekeringan dan bencana alam di dunia. Penurunan emisi karbon akan menurunkan pertumbuhan ekonomi, tetapi amat penting menjaga kelestarian alam dan penghidupan di bumi, yang memperburuk kualitasnya karena industrialisasi dan eksploitasi alam nyaris tanpa batas. Perbedaan pendapat dalam isu pemanasan global menunjukkan dominasi berkelanjutan paradigma pembangunan pertumbuhan ekonomi atas paradigma pembangunan berwawasan lingkungan. Sulitnya menyatukan langkah dalam mengatasi aneka masalah serius dalam krisis global saat ini seakan membenarkan prediksi Karl Marx, ‖krisis berkelanjutan‖ dalam sistem kapitalisme global senantiasa bersumber dari kecenderungan melakukan akumulasi kapital yang tak kenal batas. Syamsul Hadi Pengajar Departemen Hubungan Internasional FISIP-UI

Krisis Kapitalisme Global
Oleh Eric Hiariej

Search :

SEORANG sejarawan ekonomi non-marxis, Karl Polanyi, pernah berteori tentang gagalnya demokrasi di Eropa sepanjang dekade 1930-an. Dalam bukunyaThe Great Transformation, Polanyi berargumen kegagalan tersebut bersumber pada praktik self-regulating market yang sengaja memisahkan aktivitas ekonomi dari masyarakat, sembari menciptakan sistem produksi yang dominan dan menentukan kehidupan sosial sehari-hari. Praktik semacam ini tidak punya preseden historis karena sebelumnya konsep dasar ekonomi sekalipun tidak diperdebatkan secara terpisah dari human action. Baru setelah revolusi industri, gagasan tentang ekonomi yang independen terhadap masyarakat diterima sebagai keniscayaan. Praktik self-regulating market pada dasarnya membawa perubahan radikal dalam hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan manusia dengan barang yang diciptakannya. Alam sebagai tempat manusia hidup, berkembang dan berinteraksi berubah menjadi natural asset yang nilainya tidak lagi ditentukan tradisi, sejarah atau kepentingan bersama, melainkan diukur berdasarkan keseimbangan antara tingkat kelangkaan dan kebutuhan produksi. Dalam hubungan produksi; upah, gaji dan insentif menggantikan reprositas dan jaminan sosial dalam interaksi sosial antarsesama manusia. Sedangkan uang yang menjadi alat pertukaran dalam kerangka reprositas dan jaminan sosial, berkembang menjadi komoditas berharga yang bukan saja bisa diperjualbelikan, tapi juga berangsur-angsur mendominasi manusia yang menciptakannya. Tegasnya, self-regulating market melakukan kapitalisasi terhadap alam, manusia, dan barang, mengubahnya menjadi komoditas yang bisa mendatangkan keuntungan. Ketika menjadi komoditas; alam, manusia, dan barang tercerabut dari akar-akar sosialnya, menjadi sebatas harga sewa, upah, dan bunga. Dengan lain perkataan, praktik self regulating market menciptakan-meminjam Marx-fetisisme kehidupan sosial. Dalam kehidupan sosial yang fetisis masyarakat terbelah dua menjadi kelompok yang lebih beruntung karena mengendalikan kapitalisasi dan komodifikasi, dan kelompok yang merugi yang tidak memiliki akses ke faktor-faktor produksi. Kelompok merugi juga merupakan manusia-manusia yang "terasing" dari "kemanusiaannya" yang dieksploitasi kelompok beruntung atas nama "pertumbuhan ekonomi". Dickens menggambarkan situasi semacam ini sebagai social and moral breakdown, sedangkan Disraeli menyebutnya dengan the fracturing of society into 'two nations'.

Berita Lainnya :

• Bung Hatta Diadili • Kesehatan Reproduksi di • Kawasan Krisis Timur Kapitalisme • Global Perempuan dan Minuman • Botol POJOK • REDAKSI YTH

• TAJUK RENCANA

perjuangan demokratisasi di fase kedua memperoleh tantangan dari Fasisme dan Stalinisme. sistematisasi produksi dan sistem kerja self-employment. praktik ekonomi ini melahirkan double movement dalam sebuah dialektika historis. Pada fase berikutnya. aristokrasi pemilik tanah dan borjuis berkoalisi untuk menguasai pemerintah. . Fordisme dan kebijakan Keynesian melewati masa emasnya. sembari menciptakan fetisisme kehidupan sosial jilid dua. Di Inggris semenjak 1840. melindungi transaksi ekonomi dari perilaku yang melenceng. Globalisasi ekonomi itu sendiri tak lain dari self-regulating market dalam penyamaran yang kembali membebaskan dirinya dari kontrol masyarakat. pengangguran dan menurunnya investasi di negara-negara berkembang. negara berperan besar menjamin property rights. economies of scope. dengan bertebarannya gerakan-gerakan anti-globalisasi di berbagai belahan dunia. penerapan pasar bebas di masa-masa itu terjadi bersamaan dengan tampilnya "negara kuat" di beberapa tempat. Fordisme digantikan sistem produksi (yang kemudian disebut) PostFordisme yang lebih menekankan fleksibilitas. Cerita globalisasi ekonomi bermula dari krisis ekonomi di awal 1970-an. Masih menurut Polanyi. dan di Jerman dengan tampilnya Bismark. terjadi upaya membebaskan ekonomi dari kontrol masyarakat yang merusak ikatan-ikatan sosial dan menciptakan konflik kelas. sembari membentuk kekuatan bersama melawan kelas menengah-bawah. Menjawab krisis yang sedang menganga. Karenanya. masyarakat berangsur-angsur merebut kembali kendali atas kehidupan ekonomi. keduanya mengampanyekan bringing the market back in. setelah berakhirnya PD II. *** TAMPAKNYA. Sedangkan di Perancis self-regulating market diikuti dengan second empire dari 1851-1871. Negara juga harus kuat agar mampu menahan gempuran kelas bawah dari kota maupun desa. Di saat bersamaan. Fordisme dan kebijakan Keynesian kemudian berhasil memberikan demokrasi dan kesejahteraan ekonomi. upaya merebut kembali kendali ekonomi berhasil melembagakan dirinya dalam Fordisme dan kebijakan ekonomi Keynesian. penumpukan produksi. seraya membenahi efek-efek sosial negatif yang ditimbulkan kapitalisasi dan komodifikasi. paling tidak untuk negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Utara sampai awal dekade 1970-an. argumentasi Polanyi belum terlalu usang untuk menjelaskan "globalisasi ekonomi" yang melanda dunia sejak dekade 1980-an. Seperti yang diperkirakan. proderegulasi dan menghendaki perdagangan bebas. Yang jelas. kubu konservatif melalui Thatcher di Inggris dan Reagan di Amerika berhasil menguasai pemerintah. Tapi. Situasi tersebut masih diperparah dengan meningkatnya harga bahan bakar minyak dan perlombaan senjata Amerika dan Soviet yang menguras banyak modal. Sebaliknya. terutama. Globalisasi ekonomi juga menciptakan double movement. di wilayah politik melalui perjuangan menuntut demokrasi yang dilakukan kelompok sosial marginal. dan menjaga nilai uang sebagai media pertukaran. berubah menjadi inflasi. Pada fase pertama. Upaya ini dilakukan.Menurut Polanyi. self-regulating market tidak datang dengan sendirinya. Kebijakan Keynesian disingkirkan oleh model ekonomi neo-liberal yang antiintervensi negara.

Chiangmay. mempermasalahkan globalisasi karena mudahnya perpindahan manusia melampaui batas teritori membawa kerugian sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat. buruh maupun petani berunjuk rasa menolak Uni Eropa. selfregulating market jilid dua ini menciptakan kesenjangan global. sedangkan yang miskin bertambah melarat. Kemudian.Selanjutnya. menciptakan individualisasi proses produksi ketika kontribusi buruh terhadap produksi dihitung sendiri-sendiri berdasarkan kontrak individual. sekurangnya terdapat tiga macam gerakan perlawanan. melancarkan investasi asing. mengurangi belanja publik. kekuatan buruh untuk melawan kondisi kerja yang buruk secara kolektif menjadi berkurang. Seperti yang diduga. berdemonstrasi menolak WTO. para petani melalui pemberontakan Chiapas menentang perdagangan bebas ala Nafta. produksi. Post-Fordisme dan ekonomi neo-liberal dibakukan dalam "Washington Consensus" yang tak lain dari panduan mengembangkan self-regulating market bagi seluruh negara di dunia. kelas. Pendek kata. globalisasi menciptakan New International Divison of Labour berdasarkan perbedaan produk suku-cadang dalam sebuah sistem produksi global. dan perlindungan terhadap property rights. Globalisasi ekonomi. Di Eropa. dan negara. Banten. nasionalisme. berbagai bentuk perlawanan muncul di mana-mana. di antaranya. dan World Bank. IMF. Gerakan fundamentalisme mengedepankan "agama" sebagai solusi terbaik untuk mengembalikan kontrol sosial atas ekonomi. kebebasan perpindahan uang mencari lokasi yang paling menguntungkan menjadikan uang itu sendiri sebagai komoditas yang mendatangkan keuntungan. IMF dan World Bank mengekspor "Washington Consensus" ke negara-negara berkembang. liberalisasi finansial. Panduan ini berisi kebijakan-kebijakan semacam menjamin disiplin fiskal. tapi juga menentang kekuatan politik (terutama pemerintah Amerika) yang membentengi globalisasi. melalui structural adjustment program. Oleh karena itu. berbagai kelompok sosial lintas etnik. Lalu. Nasionalisme juga ingin mengembalikan (kejayaan) negara-negara yang diterjang habis-habisan . Perbedaan sosial semakin menajam dan terpolarisasi ketika yang kaya bertambah kaya. agama. dan orang-orang Afrika yang sekarat karena kelaparan di Somalia. Di Meksiko. Akibatnya. mendorong nilai tukar yang kompetitif. dan finansial. deregulasi ekonomi. Jika dikategorikan. melalui pendalaman kapitalisasi dan komodifikasi di sektor perdagangan. Kebijakan-kebijakan neo-liberal pada awalnya menyebar ke Eropa Barat dan Jepang. kelompok Neo-Nazi. globalisasi ekonomi melahirkan disparitas. dan anti-globalisasi. di antaranya. Pertama-tama. self-regulating market melahirkan milyuner semacam Bill Gate di tengah-tengah buruh-buruh pabrik sepatu yang tertindas di Tangerang. seraya mengintegrasikan berbagai tingkatan yang berbeda dari setiap aktivitas nilai tambah dalam sebuah jaringan global. yakni fundamentalisme. liberalisasi perdagangan. kemajuan teknologi memungkinkan pemilik kapital merelokasi usahanya ke tempat yang paling menguntungkan. Gerakan ini bukan saja melawan ideologi dominan (neo-liberalisme) di balik self-regulating market. Melbourne. reformasi pajak. kadar eksploitasi juga meningkat pesat. Sementara di sektor produksi. Nasionalisme merupakan bentuk perlawanan yang ingin meraih kendali kehidupan ekonomi melalui purifikasi bangsa. Di sektor perdagangan. Globalisasi ekonomi kemudian tanpa bisa dibendung menjelma menjadi ekspansi pasar bebas ke seluruh dunia dan aspek kehidupan. Sedangkan di sektor finansial. Washington. Gerakan ini. dan Genoa. Di Seattle. privatisasi perusahaan negara.

Gerakan ini menganggap globalisasi ekonomi merupakan sumber kemiskinan dan kesenjangan sosial dunia kontemporer. yang tak lain dari Fordisme dan kebijakan Keynesian yang bertumpu pada kompromi kebutuhan kesejahteraan buruh dan kepentingan akumulasi kapital pemilik modal melalui. Sementara globalisasi ekonomi mulai dipertanyakan dan ditentang. praktik welfare state. Akan tetapi. resistensi terhadap ekspansi pasar bebas tidak cukup kuat untuk memenangkan pertarungan. dan peneliti Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta. Sementara itu. Eric Hiariej Staf Fisipol UGM.oleh self-regulating market. menuntut inklusi politik yang lebih luas dan juga partisipasi masyarakat dalam kehidupan ekonomi dan sosial sehari-hari. gerakan anti-globalisasi lebih dekat dengan ide-ide demokrasi. situasinya menjadi stalemate. Sebaliknya. kemenangan "demokrasi" berada di bawah bayang-bayang ancaman Fasisme dan Stalinisme. Boleh dibilang pertemuan Davos yang melibatkan beberapa NGO yang sangat moderat tidak akan berlangsung jika tidak diawali sebelumnya dengan demonstrasi di Seattle. Belum lagi gerakan ini masih harus berurusan dengan fundamentalisme dan nasionalisme yang memiliki proyeksi dunia masa depan yang berbeda (dan bisa jadi bukan demokrasi). peneliti pada Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM. menghendaki kebebasan politik maupun keadilan ekonomi. *** BERDASARKAN cerita Polanyi. sekalipun Post-Fordisme dan kebijakan ekonomi neo-liberal terbukti mengandung krisis-krisis bawaan. Sejauh ini gerakan antiglobalisasi sudah memberikan perlawanan yang berarti. Polanyi juga mengingatkan. antiglobalisasi adalah gerakan perlawanan terhadap kapitalisme global. Praktis. Sementara globalisasi ekonomi mulai sempoyongan karena gagal memenuhi janjinya memberikan kesejahteraan. ujung dari krisis ini bisa jadi bukan demokrasi. di antaranya. "kemenangan demokrasi" masih harus diperjuangkan. Yang menarik. . baru itu saja kekuatan gerakan anti-globalisasi. gerakan-gerakan perlawanan ini belum juga berhasil mengakhiri self-regulating market. Ironinya. "demokrasi" baru bisa menang (di Eropa Barat dan Amerika Utara) setelah beraliansi dengan Stalinisme untuk mengalahkan Fasisme dalam PD II. Namun. self-regulating market akan berakhir dengan "demokrasi". jika fundamentalisme atau nasionalisme yang berhasil mendominasi. Gerakan ini memperjuangkan kepentingan kelas tertindas. Lebih gawat lagi. yang terjadi adalah krisis global. dibanding dua gerakan lainnya. Tampaknya.

pengambilan keputusan dalam perencanaan.Konsep dan Metode Pemberdayaan Masyarakat Indonesia 17 June 2008 in Psikologi. dan pengawasan pembangunan. Pemberdayaan Masyarakat. dan peran serta masyarakat serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi. reformasi melahirkan sistem pembagian kekuasaan yang mulai terdistribusi antara pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah. serta penuh dengan kreativitas. Perubahan aturan negara seperti di atas menempatkan daerah menjadi aktor sentral dalam pengelolaan republic yaitu dalam prinsip otonomi dengan desentralisasinya. pemberdayaan. dan 18B. 18A. bahwa daerah menjadi pengambil kebijakan sentral dalam mengatur dan mengurus pemerintahannya sendiri menurut asas otonomi dan tugas pembantuan (medebewind) serta diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. berpartisipasi aktif. pelaksanaan. pemerataan. Kepemimpinan Indonesia. Ginandjar Kartasasmita. pemerintah melontarkan komitmen yang berlevel internasional. terutama berhubungan antarpelaku pembangunan. Namun dalam prakteknya otonomi daerah masih menghadapi kendala yang harus segera dicarikan jalan keluarnya atau penanganannya secara sungguh-sungguh. masyarakat diharapkan memiliki daya tahan dan daya adaptasi yang tinggi agar mampu menjalani kehidupan masa depan dengan sukses. ―Perubahan aturan main mengenai pemerintahan daerah merupakan afirmasi-konstitusi. Psikologi | Reformasi yang telah bergulir sejak tahun 1998 memberikan dampak yang luas pada perubahan sistem pemerintahan. keistimewaan. Di tengah era globalisasi yang serba cepat. Community Development. Jika pada era Orde Baru kekuasaan sangat bersifat sentralistik. dan kekhususan suatu daerah dalam sistem NKRI. pemikiran anak muda | Tags: Appreciative Inquiry. keadilan. Komitmen ini telah . Hal ini terwujud dalam Sistem Desentralisasi yang secara legal dilahirkan lewat UndangUndang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian menyebabkan Perubahan Kedua UUD 1945 seperti tertuang pada Bab VI Pemerintahan Daerah pasal 18. Untuk mencapai tujuan pembangunan masyarakat agar lebih berdaya. Menurut Prof. Ketua DPD RI. Salah satu kendala yang dipaparkan oleh Ginandjar Kartasasmita adalah kurangnya kreativitas dan partisipasi masyarakat secara lebih kritis dan rasional. Saat ini pelaksanaan otonomi daerah telah melahirkan perubahan yang cukup signifikan.

atau mengambil kendali perubahan. penuh resiko. membuat semakin sulit bagi seorang individu untuk menghadapi perubahan sendirian. September 2002. Dalam MDGs tersebut. namun dalam Human Development Report 2007 yang dikeluarkan oleh UNDP. baik pemerintah pusat. 2007). kompleks. 2000). Peringkat Indonesia dari tahun ketahun selalu menurun dari 110 menjadi peringkat 112 dari 175 negara yang dinilai UNDP (2003). Di sisi lain interdependensi antara komunitas. Dalam laporan tersebut. Dimana pemerintah dan semua perangkatnya dalam semua level. Hasil deklarasi tersebut kemudian dituangkan dalam dokumen ”Rencana Pelaksanaan KTT Pembangunan Berkelanjutan”. tingkat melek huruf dan kualitas pendidikan dasarnya. era ini merupakan kehidupan yang bercirikan perubahan yang cepat. provinsi. yang merupakan perubahan disektor ekonomi dan . kelompok atau komunitas harus melakukan berbagai upaya untuk ikut berubah. HDI atau IPM Indonesia yang diukur dari pendapatan riil per kapita. dan dunia sebagai totalitas. ternyata peringkat Indonesia masih berada di bawah negara-negara Asia Tenggara lainnya. dan penuh dengan kejutan. kenaikan harga BBM misalnya. Afrika Selatan. pemerintah Indonesia telah membuat komitmen nasional untuk memberantas kemiskinan dalam rangka pelaksanaan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Komitmen semua negara di dunia untuk memberantas kemiskinan ditegaskan dan dikokohkan kembali dalam ”Deklarasi Johannesburg mengenai Pembangunan Berkelanjutan” yang disepakati oleh para kepala negara atau kepala pemerintahan dari 165 negara yang hadir pada KTT Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg. Apalagi melihat kenyataan. Dengan demikian. dengan tujuan pertama adalah mengatasi dan/atau memberantas kemiskinan dan kelaparan (United Nations. terdapat 8 (delapan) tujuan (goal) yang hendak dicapai sampai tahun 2015 oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Kendati Indonesia ikut serta dalam kesepakatan global melaksanakan MDGs untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dicanangkan PBB sejak 2000. menyesuaikan diri. tingkat harapan hidup. kabupaten/kota bersama-sama dengan berbagai unsur masyarakat memikul tanggungjawab utama untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan sekaligus memberantas kemiskinan yang terjadi di Indonesia paling lambat tahun 2015. walaupun pada tahun 2006 terdapat peningkatan ranking ke 110 (UNDP. Dengan demikian individu. Sebagaimana kita alami. yang juga telah ditandatangani oleh pemerintah Indonesia untuk menjadi acuan dalam melaksanakan pembangunan di Indonesia dengan target memberantas kemiskinan pada tahun 2015. Dalam deklarasinya negara peserta menerapkan Tujuan Pembangunan Milenium atau Millennium Development Goals (MDGs). terkecil sekalipun.ditandatangani dalam KTT Millenium PBB pada tahun 2002 bersama 189 negara lainnya. menunjukkan bahwa kualitas manusia Indonesia makin memburuk dalam 10 tahun terakhir.

dan menciptakan perdamaian. Dalam sepuluh tahun terakhir. Appreciative Inquiry digunakan untuk memberdayakan komunitas pinggiran. Pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari sudut pandang Deficit based dan Strength Based. Ludema dkk. Dalam bidang sosial. mendukung pembangunan berkelanjutan. perubahan kota. lahir sebuah konsep pemberdayaan komunitas yang disebut Community Development (selanjutnya disebut CD). Pengembangan otonomi daerah yang diarahkan pada partisipasi aktif dari masyarakat sangat sesuai dengan konsep yang ditawarkan oleh CD. Keberhasilannya tergantung pada adanya identifikasi dan diagnosis yang jelas terhadap masalah. seperti untuk mengubah budaya sebuah organisasi. mengarahkan proses merger dan akusisi dan menyelesaikan konflik. serta penerapan cara pemecahan tersebut. CD adalah sebuah proses pembangunan jejaring interaksi dalam rangka meningkatkan kapasitas dari sebuah komunitas. Appreciative Inquiry menjadi sangat populer dan dipraktekkan di berbagai wilayah dunia. Pendekatan Deficit-based terpusat pada berbagai macam permasalahan yang ada serta cara-cara penyelesaiannya. . Appreciative Inquiry merupakan sebuah metode yang mentransformasikan kapasitas sistem manusia untuk perubahan yang positif dengan memfokuskan pada pengalaman positif dan masa depan yang penuh dengan harapan (Cooperrider dan Srivastva. Dalam pelaksanaannya. Kesesuaian antara kebijakan pemerintah dengan konsep pemberdayaan masyarakat seperti CD ini membutuhkan pendekatan yang tepat dalam mengimplementasikannya. 2004). penyelesaian cara pemecahan yang tepat. Cooperrider dkk. menciptakan pembaharuan organisasi. tetapi tidak tertutup kemungkinan terjadinya situasi saling menyalahkan atas masalah yang terjadi. CD tidak bertujuan untuk mencari dan menetapkan solusi. Di sisi lain.. CD adalah bekerja bersama masyarakat sehingga mereka dapat mendefinisikan dan menangani masalah. 2001). 2005). 2002. serta terbuka untuk menyatakan kepentingankepentingannya sendiri dalam proses pengambilan keputusan (StandingConference for Community Development. Fry dkk. struktur penyelesaian masalahatau menghadirkan pelayanan bagi masyarakat. 1987.. pendekatan ini bisa menghasilkan sesuatu yang baik. membangun pemimpin religius. dan pengembangan kualitas hidup masyarakat (United States Departement of Agriculture. 2000. pendekatan Strengh Based (Berbasis kekuatan) dengan sebuah produk metode Appreciative Inquiry terpusat pada potensi-potensi atau kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh individu atau organisasi untuk menjadikan hidup lebih baik.energi akan mempengaruhi sector kehidupan yang lain. 2000. Sejak tahun 1960. dalam Gergen dkk. melakukan transformasi komunitas.

org. Bandung. Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia. Theresiah. L. 2006.org/ M. Makalah Kartasasmita. Makalah : Community Development dan Nilai-Nilai yang Mendasari. 1. Dipresentasikan pada Temu Ilmiah Dalam Rangka LUSTRUM IX Fakultas Psikologi Unpad. pukul 11. Husein Sawit 22 spt 2008 USULAN KEBIJAKAN BERAS DARI BANK DUNIA: RESEP YANG KELIRU ABSTRAK .28) http://www. Community Development Technical Assistance: Handbook. pukul 11.com/doc/732997/laporanlokakaryaAIlowres (Diakses pada 29 Mei 2008. Institut Teknologi Bandung (ITB) Dalam Rangka Memperingati Seratus Tahun Kebangkitan Nasional.wordpress. http://www. http://ocdi.sccd.scribd. Tahun 2006 Internet http://appreciativeorganization. A Positive Revolution in Change: Appreciative Inquiry (Vol.com/2007/08/08/bedah-kasus-appreciative-inquiry-instrategic-planning/ (Diakses pada 26 Mei 2008. Lubis. Makalah: Dewan Perwakilan Daerah dan Otonomi Daerah. 2-3) Sairin. Strategic Framework for Community Development. & Whitney D.usda.uk United States Depatment of Agriculture (2005).gov http://www. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Ginandjar. 17 Mei 2008.Sumber: Buku Cooperrider D. 2002. Disampaikan pada Seminar Nasional.ekonomirakyat. Sjafri. pp.50) Standing Conference for Community Development (2001).

ciptakan lapangan kerja. Kebijakan beras itu adalah domain kebijakan publik. Bank Dunia semakin aktif melobi dan menawarkan resep buat pemerintah. Tujuan makalah ini adalah untuk menilai kelemahan cara pandangan yang bias tentang kebijakan beras Bank Dunia. Di Makasar misalnya. serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor pertanian di mana penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya. serta akan selalu dipersoalkan . Itu akibat dari peri laku mereka sebagai salah satu lembaga perusak ekonomi. dan peneliti dalam merancang kebijakan publik. terjerat hutang luar negeri. DPR. sehingga mereka tidak nyaman bekerja. Perilaku Bank Dunia di Indonesia tampaknya belum berubah. Pendahuluan Sejak akhir 2006. maupun kemiskinan (World Bank 2007). Pemda. kelakuan Bank Dunia belum banyak berubah di era desentralisasi dan demokrasi. Kelemahan itu mencakup pengukuran kemiskinan yang terlalu sempit.Kebijakan perberasan Indonesia telah menjadi perhatian buat sejumlah lembaga internasional. Yang benar adalah gerakan sektor riil. DPR/DRPD. Bank Dunia terpaksa harus menghilangkan atribut Bank Dunia di kantor di mana proyek mereka ada. Bank Dunia semakin sering mengeritik pemerintah tentang kenaikan harga beras. ini akibat dari reputasi mereka masa lalu. Kebijakan beras harus mendapat dukungan luas dari masyarakat sipil. mendorong agar swasta diperankan sebagai stabilisator harga dalam negeri. peran masyarakat dalam proses penyusunan kebijakan publikseperti kebijakan beras. apalagi oleh lembaga asing yang kurang memahami rumah tangga petani dan masyarakat desa secara mendalam. diperkirakan itu akan sulit diimplementasi di lapangan. masyarakat Indonesia pasti mencurigainya. Bukan membuat harga beras murah. bukan melihat kemiskinan manusia yang bersifat struktural dan kronis. dan bias jangka pendek. agar Indonesia menempuh privatisasi lembaga pangan. Sebaik apapun saran Bank Dunia. seperti Bank Dunia. dan liberalisasi impor. apalagi ahli asing. tidak boleh didikte oleh peneliti. apabila saran-saran mereka diterapkan pemerintah. Dalam makalah ini dibahas tentang kelemahan cara pandang Bank Dunia terhadap kebijakan beras di Indonesia.berperan besar dalam mendikte kepentingan masyarakat banyak. Domain Publik bukan Domain Peneliti Bank Dunia seharusnya memahami benar. tidak boleh didikte oleh segelintir para ahli. terutama yang dikaitkan dengan kemiskinan. bahwa kemiskinan di negera-negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan pangan. serta terlalu banyaknya sumberdaya alam. pemerintah daerah. Seharusnya yang diberi peran besar adalah masyarakat sipil. Mereka yakin sekali. kurang dukungan Pemda. Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi pembangunan. Itu konsep pengentasan kemiskinan yang keliru. termasuk kebijakan perberasan. tidak kredibel di mata masyarakat luas di Indonesia. Industri padi/beras adalah salah satu diantaranya. para teknokrat dan birokrat –dibantu oleh tenaga ahli asing. belum belajar dari kekecewaan masyarakat Indonesia atas keambrukan ekonomi. Lembaga ini telah lama mengeritik dan menintervensi sejumlah kebijakan pembangunan ekonomi. Lembaga pemerintah seperti Bulog dianggap tidak becus dalam melaksanakan fungsinya. Itu bukan lagi menjadi domain peneliti. melepas cadangan beras nasional ke swasta. baik terbuka maupun tertutup. tentang cara-cara menyusun kebijakan publik di era demokrasi. pasar dapat menyelesaikan instabilitas harga. perbankan dikuasai oleh perusahaan asing. Disamping itu. apabila kurang dukungan publik. Pada era sentralisasi Orba. partai politik. Sebelumnya. Namun dalam era demokrasi. termasuk ekonomi Indonesia (Perkin 2004).haruslah lebih besar. Tampaknya. Akhir-akhir ini. hampir setiap hari ada saja demonstrasi ke kantor proyek Bank Dunia. Pendapat Bank Dunia termasuk juga berbagai hasil penelitiannya.

0. MK1 (musim kemarau pertama) dan MK2. Table 1. Data itulah yang dipakai Bank Dunia untuk mempertahankan argumentasinya. SUSENAS menaksir tahunan berdasarkan hasil penelitian seminggu. Namun mereka mencoba mempengaruhi sejumlah menteri ekonomi yang beraliran neo liberal. Padahal. Namun. mereka surplus pada MPR (musim panen raya) dan MPG (musim panen gadu). Bank Dunia langsung menyampaikan gagasannya ke tingkat pengambilan keputusan tentang kebijakan beras ke Kantor Menko Perekonomian atau ke sejumlah menteri lain yang sealiran dengan Bank Dunia. hasil studi intensif yang dilakukan oleh Sumaryanto dkk (2002) di DAS Brantas dilaporkan sebaliknya. dan defisit hanya pada MP (musim paceklik). Mereka melaporkan bahwa konsumsi per kapita sebesar 107 Kg/kap/tahun (Table 1). baik dengan cara mengundang sejumlah ahli Indonesia ke markas mereka di Jakarta. hanya 3-4 literatur yang ditulis oleh orang Indonesia asli. Tetapi./ Kapita 114. Hasilnya adalah defisit produksi (net consumer).33 Ha. Kebijakan beras yang mereka susun itu (Bank Dunia 2007) melulu mengacu ke literatur asing./ kapita Hulu 42. Pandangan ini adalah keliru. Net Konsumen? Data Susenas vs data Tingkat Usahatani Bank Dunia mengatakan bahwa telah terjadi kenaikan jumlah orang miskin yang cukup serius sejak harga beras naik. Luas ini adalah umum dijumpai pada usahatani pangan. seperti di lembaga PBB (CAPSA) di Bogor. Itu buruk buat penduduk miskin. Wilayah Petani % RT Miskin Kg. sebagian besar petani padi adalah net konsumen. Per kapita konsumsi beras oleh petani miskin dan petani tidak miskin di DAS Brantas. Penulis juga kaget. Ini keterlaluan. karena sebagian besar petani adalah net konsumen. Dari total hampir 100 jumlah literatur. Ini menunjukan juga bagaimana miskinnya Bank Dunia dalam memahami pikiran para ahli Indonesia. Jawa Timur: 1999/2000. belum termasuk konsumsi tidak langsung seperti makan di warung.23 Ha per petani.5 106. Bank Dunia juga rajin menyampaikan gagasan perubahan kebijakan beras pada berbagai forum sejak akhir 2006. khususnya padi di Indonesia. Pola panen padi adalah musiman. Atau mengadakan seminar di luarnya. pesta. tempat kerja dll. masing-masing seluas 0. data SUSENAS BPS memperlihatkan sebaliknya. Ini adalah jumlah yang dikonsumsi langsung oleh rumah tangga tani. ada power point tentang kebijakan beras Bank Dunia disiapkan untuk SBY. mereka menghindari diskusi terbuka dengan masyarakat luas (civil society) atau dengan para pakar Indonesia di luar kubu mereka. kemudian dikalikan menjadi tahunan. Para petani mengelola usahatani padi untuk MH. tetapi diabaikan tanpa dipakai sebagai bahan rujukan. banyak studi tentang padi/beras yang telah dilakukan oleh para ahli bangsa Indonesia.5 Petani Miskin % RT Tidak Kg.5 120 HHTOTAL Kg. Data SUSENAS haruslah dianalisa dengan hati-hati dalam kaitannya dengan estimasi produksi musiman dan pengeluaran musiman.6 .6 57. Namun.oleh DPR/DPRD. seolah-olah terjadi sepanjang tahun.35 Ha./ Kapita 120. dan 0.

2 105. Oleh karena itu. laporan Bank Dunia (2007) itu juga terlalu sempit dalam melihat industri beras yaitu hanya sebagai industri penghasil padi/beras untuk tujuan komersial belaka. bahwa padi/beras adalah industri kunci dalam pembangunan. Oleh karena itu.9 51.1 48. khususnya pembangunan perdesaan. insentif non-harga tidak ampuh manakala harga gabah/beras terlalu rendah. atau hanya net konsumen di musim paceklik (MK2). Yang benar adalah mereka net produsen pada dua musim pertama.Tengah Hilir Total 53. bukan saling menggantikan. Pada MK2. Oleh karena itu. Harga beras yang berlaku di pasar belum memperhitungkan non-food services yang ia berikan ke publik (Dillon dkk 1999). Adalah hampir tidak mungkin.3 Note: RT=Rumah tangga Sumber: Sumaryanto dkk (2002) Rataan produksi padi sekitar 462 Kg/kapita/tahun. Mereka tidak menilai peran pangan. amat jangka pendek dan ad hoc sifatnya. itu terkait dengan non-price incentive. Kembali ke harga. stabilitas ekonomi.2 101. sebagai salah satu insentif buat pelaku usaha.3 102. terutama di perdesaan. Kita tidak boleh menghambat suatu industri yang punya keunggulan komperatif.7 109. Tingkat kemiskinan yang dikaitkan dengan harga beras. menyerap tenaga kerja yang begitu besar. Keputusan konsumsi dan pengeluaran bergantung pada asumsi itu. namun itu bukanlah satu-satunya insentif buat mereka. 1) Marketable surplus adalah produksi dikurangi konsumsi rumah tangga yang sedang dipelajari Terabaikan Peran Non-Food Services Seterusnya. Marketable surplus di musim hujan lebih tinggi dari MK1. sehingga luas usahatani merosot (Sumaryanto dkk 2002). penyerapan tenaga kerja. jangan bias ke jangka pendek.5 200 160 480 105. banyak petani tidak tanam padi karena kekurangan air.9 103.0 56.2 47. Keredupan ini. manakala industri beras/padi redup. tidak dianalisa secara parsial. merupakan cara pandang sempit.0 43. distribusi pendapatan. sekiranya non-food services itu diperhitungkan. Peningkatan produktivitas dan efisiensi. tidak mampu menutupi ongkos produksi. Itu hanya cara hitung menghitung. Oleh karena itu. asumsi net konsumen untuk petani padi adalah tidak didukung oleh data empiris.1 107. Itu menyangkut stabilitas politik. merupakan insentif lain yang tidak boleh dibaikan.7 107. hanya sekedar untuk mencapai kepentingan jangka pendek. tidaklah tepat untuk mengasumsikan bahwa semua petani sempit sebagai net konsumen sepanjang tahun. khususnya beras yang menghasilkan non-food services. maka industri itu harus dianalisa keterkaitannya yang luas. pengangguran tinggi. Kalau suatu industri yang erat kaitannya ke depan dan kebelakang. seperti hortikultura. Insentif harga dan non-harga akan saling memperkuat. tidak dengan sendirinya akan tergantikan oleh komoditas lain.6 107. Terungkap adanya marketablesurplus 1) sekitar 354 Kg/kap/tahun. Seperti yang telah dibahas sebelumnya. dipaksakan untuk keluar . Kita jangan mengorbankan kepentingan jangka panjang. namun negatif pada MK2. Konsumen seharusnya perlu membayar harga beras lebih tinggi dari tingkat harga pasar. industri padi/beras harus dilihat dengan hati-hati dan bijaksana. kemiskinan jangka panjang dapat dikurangi secara berkelanjutan.

terutama dalam penyimpanan. akan berisiko tinggi dan instabilitas harga yang besar. tidak sebaliknya. Sebagian juga bermigrasi ke AS (IATP 2007a dan Albert 2004). Insentif harga adalah salah satu yang tidak boleh diabaikan untuk itu. Itu buah dari urbanisasi yang berlebih. 23%. Rendahnya pengeluaran keluarga miskin akibat dari ketidakmampuan mereka untuk memperoleh pendapatan yang layak. Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi. sama saja memberi obat penghilang rasa rasa sakit sementara (pin killer). karena pemerintah belum menyiapkan infrastruktur yang layak untuk itu. apalagi kemiskinan. Ia juga mengatakan bahwa adalah keliru kalau memfokuskan pengentasan kemiskinan dari sisi pengeluaran dan harga. telah dibahas dengan baik oleh Sugema (2006). Penyakit utama adalah lapangan kerja yang terbatas. Ia juga menyebutkan bahwa hasil penelitiannya dan penelitian lain seperti yang dilakukan UNIDO dan UNSFIR. insentif untuk bekerja di sektor pertanian merosot. Ia mengatakan bahwa Bank Dunia keliru dalam menyimpulkan hubungan itu. Namun. mereka pindah ke kota. Perkotaan akan menerima beban dan akibatnya. Harga beras adalah komponen inflasi. ternyata jumlah orang miskin tetap tidak berkurang secara signifikan. itu akan menambah kemiskinan dan akan mendorong bertambahnya urbanisasi. Itu mengingatkan pengalaman Mexiko dalam meliberalisasi komoditas jagung sebagai makanan utama mereka. Apabila mereka beralih ke sektor lain dalam kondisi infrastruktur itu belum diperkuat. produktivitas rendah. menemukan bahwa angka kemiskinan BPS amat sensitif dari pengaruh inflasi. pada saat harga beras naik. bahwa kemiskinan di negera-negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan pangan. Peningkatan pendapatan dari pekerjaan yang mereka tekuni. Bukan membuat harga pangan atau beras murah sehingga menjadi tidak wajar buat petani. dan petani jagung dialihkan ke kentang. maka risikonya menjadi besar. Itu amat tidak realistis. harga beras dianggap sebagai faktor penyebabnya. Pengembangan hortikultura misalnya. karena infrastruktur pemasaran dan distribusi yang masih amat lemah. padahal industri lain belum kuat terbangun. Harga Beras dan Kemiskinan: Keganjilan Analisa Kelemahan lain kaitan harga beras dengan kemiskinan yang dibuat Bank Dunia. kriminalitas dan keresahan sosial yang terus bertambah. Pada situasi pengangguran tinggi dan penggangguran tidak kentara di desa amat menonjol. Penyebab inflasi tidak sama dengan komponen inflasi. Perdagangan tentu tidak dapat menyelesaikan semua itu. Demikian juga. Industri padi/beras adalah salah satu diantaranya. Namun peran non-beras jauh lebih tinggi mencapai 77%. maka akan menggiring petani sempit untuk menanggung risiko yang tinggi. dan 2003. tetapi tidak menyembuhkan penyakit itu sendiri. Yang benar adalah gerakan sektor riil. mendorong aktivitas padat kerja adalah solusi yang tepat untuk atasi . ciptakan lapangan kerja. Mengotak atik harga pangan agar dibuat murah. Beras memang besar kontribusinya dalam inflasi. Yang terjadi adalah peningkatan kemiskinan dan pegangguran di perdesaan Mexiko. serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor pertanian di mana penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya. Penanganan kentang berbeda dengan jagung. 2002. Namun petani Mexiko tidak beralih ke tananam kentang. meningkatkan produktivitas kerja. Itu konsep pengentasan kemiskinan yang keliru. Pada saat kita mengabaikan sektor kunci seperti sub-sektor padi/beras. Itu tidak akan mampu mengurangi jumlah orang miskin secara berkelanjutan.dari industri itu. seperti kekumuhan. pada saat harga beras turun murah yaitu terjadi pada periode import surge yang tinggi periode 1998. mengabaikan peningkatan pendapatan serta lapangan kerja di perdesaan. yang belum tentu penyebab inflasi itu sendiri.

Bappenas dan UNDP. hanya 9 ribu ton. diterbitkan oleh BPS. perumahan. kematian bayi. sehingga menghasilkan jenis beras baru dengan harga yang lebih murah. adalah tahun-tahun tertinggi impor beras dari AS yaitu mencapai masing-masing 178 ribu dan 108 ribu ton. Itu hanya mungkin dipecahkan oleh pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Belum banyak memberikan perhatian pada konsep Sen (2000) tentang kemiskinan non-pendapatan. UNDP telah membuat indek tentang itu. Pada 2001 dan 2003. Impor Beras Indonesia dari Negara Maju dan AS: 1996-2005 (MT) . impor beras dari AS menurun drastis. Impor beras dari AS meningkat di era liberalisasi dan era tarif. bandingkan dengan kemiskinan pendapatan BPS hanya 11% pada 1996. hanya 2 ribu ton pada 2005 (Tabel 2). Beras dari AS yang murah harganya. Setelah Indonesia menerapkan batasan impor beras sejak 2004. Atau itu telah memperbesar stok Bulog. Namun. Dimensi kemiskinan Sen terfokus pada non-income poverty. sehingga berkurang pula kemampuannya untuk menyerap pengadaan beras/gabah dalam negeri. jenis berasnya berbeda. maka harga beras atau pangan tidaklah sensitif sebagai penyebab kemiskinan. Pada 2004 misalnya. Oleh karena itu. Pengukuran kemiskinan sebelum krisis terlalu banyak bersandar pada kemiskinan pendapatan berdasarkan indikator konsumsi. kalau konsep kemiskinan manusia yang dipakai. pendidikan dan pangan. Dengan konsep ini Dhanani dan Islam (2000) misalnya. pertumbuhan yang pro-poor. serta adanya intervensi pemerintah yang terarah ke orang miskin. Sayang. Juga penting untuk disikapi secara kritis adalah cara pengukuran tingkat kemiskinan itu sendiri. meningkat menjadi 75 ribu ton pada 1999. Kalaupun diekspor ke Asia. terbesar selama 10 tahun terakhir. Atas dasar inilah kemudian UNDP merancang kemiskinan manusia. konsep kemiskinan manusia kurang dipakai sebagai acuan dalam penyusunan program pembangunan daerah maupun nasional. menghitung kemiskinan manusia di Indonesia sebesar 25%. tentunya juga ke Indonesia. akses terhadap air minum yang bersih. Laporan tentang kemiskinan manusia telah dilakukan di Indonesia dengan bantuan UNDP sejak beberapa tahun terakhir. dipakai oleh para pedagang untuk dicampur (oplos) dengan beras lokal. Tingkat kemiskinan itu tidak sensitif terhadap harga maupun inflasi. Ini untuk membuktikan bahwa Indonesia tidak perlu kuatir dengan beras yang penuh subsidi berasal dari AS tidak akan berpengaruh besar ke pasar beras dalam negeri. Hampir separoh impor beras ke Indonesia yang datang dari negara maju berasal dari AS. Sen mengatakan bahwa poverty as capability deprivation. bukan kemiskinan pengeluaran. Ekspor beras AS banyak ditujukan ke Amerika Latin. Capability poverty terkait dengan kemiskinan struktural dan kronis. bukan kemiskinan pendapatan. dilaporkan tentang Ekonomi dari Demokrasi: Membiayai Pembangunan Manusia. Ini seharusnya menjadi acuan kita. AS berperan penting dalam impor beras ke Indonesia. Kemiskinan sebagai kehilangan/ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti kesehatan. juga dana untuk pendidikan. yang disebut Human Development Index.kemiskinan (Sugema 2006). Sehingga Indonesia amat terkebelakang di antara negara ASEAN dalam menyediakan dana untuk kesehatan yang terkait dengan harapan hidup. Impor Beras dari AS tidak Penting? Bank Dunia (2007) juga mengatakan bahwa ekspor beras AS berpengaruh kecil ke Asia. Pada 1996. data memperlihatkan bahwa impor beras Indonesia dari AS cukup tinggi diantara negara maju yang mengekspor beras ke Indonesia. Tabel l 2. sehingga harga pasar jenis itu tidak terkait sama sekali (almost completely disconnected) dengan beras lokal.

2007). Bappenas. subsidi terbesar ditujukan ke 5 komoditas utama yaitu beras.889 200213. Itu telah berpengaruh negatif terhadap tingkat harga beras/gabah di dalam negeri. selanjutnya yang memutuskan kedatangan beras itu adalah AS. Tyson Foods (80 negara) dan Archer Danniels Midland yang beroperasi di Amerika Latin.975 1. AS ―memaksa‖ agar Indonesia mau menerima program PL480.551 132. AS mensubsidi sejumlah komoditas pangan.011 12. petani kapas di Afrika ( Husein Sawit.522 33.184 Rataan: Jumlah (MT) 47. Namun.611 52 101. seperti petani jagung Meksiko. seperti Departemen Keuangan. kapas.266 199822.411 46.956 200049.980 12. itu banyak kaitannya dengan kepentingan korporasi raksasa. . Korporasi AS itu merambah dunia.767 20052.094 11.608 200416. Kredit lunak dan jangka panjang sesungguhnya juga merugikan pemerintah Indonesia.081 Total Negara Maju 16. atau ke penjabat tertinggi seperti Presiden atau Wakil Presiden.839 24. Pemerintah tidak berdaya untuk itu.158 25.942 100 Sumber: Data dasar berasal dari data impor beras bulanan BPS Impor itu dalam bentuk food aid melalui WFP. Inilah yang menyebabkan mengapa sejumlah negara berkembang sulit bersaing dan terpuruk. program PL480 dengan kredit lunak dan jangka panjang.031 19970 USA Negara Maju Lain 6.725 46. Umumnya didatangkan pada musim panen raya. Mosanto (61 negara).384 179.409 2001177. Ini sering dikeluhkan oleh berbagai penjabat di berbagai depertemen.327 9. mereka akan ke departemen lain.352 17. jagung and kedelai (IATP 2007b). karena Indonesia harus membayar harga beras yang jauh lebih mahal dari harga beras di luar program. Apabila tidak berhasil meyakinkan Bulog misalnya. Apabila telah disetujui.072 199974. seperti Cargill (beroperasi di 63 negara). gandum.331 Persen (%) 48 54. AS melalui Farm Bill 2002 misalnya memberikan subsidi terhadap 20 komoditas petanian. AS tentu mampu menjual beras dengan harga murah ke Asia.Tahun 19969.393 2003107.828 460.231 7.352 39.681 96.756 385.

Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP): Minnesota Perkins. dan Beras‖. Islam (2000). 23 November 2006 Sumaryanto. Kanada. ―Poverty. A. Mereka datang kemari silih berganti ahlinya. a series of papers on the 2007 US Farm Bill. Disana banyak penduduk yang memerlukan pangan.‖Rice Policy: A Framework for the Next Millennium‖. Itu yang mereka ingin rebut. Indonesia (akan terbit) IATP (2007a). petani kita. Kita semakin sulit keluar dari kemiskinan dan kepapaan. ―A Fair Farm Bill for the World‖. I (2006). M. (2007). Ekonomi dari Demokrasi: Membiayai Pembangunan Manusia Indonesia. H (2004). J (2004). ― A Fair Farm Bill for America‖. Liberalisasi Pangan: Aksi dan Reaksi dalam Putaran Doha WTO. (2000). “Socio Economic Analysis of Farm Household in Irrigated Area of Brantas River Basin‖. 11 (2) BPS. M. S dan I. AS tentu ngiler melihat potensi pasar di sejumlah negara Asia. Siregar and Wahida M(2002). India dan Indonesia.R. mereka juga jarang memihak negera berkembang. permintaan berbagai jenis pangan yang terus meningkat seiring dengan kemajuan ekonomi. Confessions of an Economic Hit Man. sehingga memuluskan MNCs milik AS untuk melakukan kegiatan bisnis pangan secara global. Tabor (1999). Hasil penelitian IATP (2007b) menyebutkan bahwa AS melalui lembaga WTO dan Bank Dunia memaksa negara berkembang untuk menurunkan tariff dan membuka pasar.H. UNDP: Jakarta Dillon. Eropa. a series of papers on the 2007 US Farm Bill. M. Working Paper: 00/01. UNSFIR. mereka jelas memihak negara kaya dan korporasi internasional (MNCs). UNDP Husein Sawit. Research report as a part of the study . Afrika. Oxford University Press: New Delhi Sugema. Sawit. P. padahal kita berada di negara yang kaya. tetapi itu sekedar melaksanakan pesan sponsor.Negara Pasifik. Daftar Bacaan Albert. seperti Bank Dunia dan IMF. UNDP (2004). Dalam tataran perundingan multilateral misalnya. Development as Freedom. Sayang para pengambilan keputusan. Penguin Books Ltd: London Sen. Report for Internal Review Only for Bulog (November 1999) Dhanani. Kita telah terperangkap dengan hutang luar negeri dan SDA milik bangsa ini yang dikapling dan dikuasai bangsa asing. Inequality and Social Protection: lessons from the Indonesian crisis‖. Penutup Pandangan Bank Dunia harus disikapi secara kritis. Agriculture and Rural Development. Itulah yang harus disikapi dangan bijaksana dan hati-hati. Kompas. HS. ― The US Farm Bill and Cotton Cultivation: Is the WTO undermining Rural Development?‖. Kemiskinan.Simatupang dan S. Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP): Minnesota IATP (2007b). masyarakat kita. ―Inflasi. seperti China. Bappenas. banyak diantara para birokrat kurang memahami politik kurang terpuji di belakang lembaga keuangan internasional. Yang merasakan akibat dari implementasi saran mereka yang bias itu adalah bangsa kita. Lembaga Penerbit FE Univ.

Ir. Meskipun Pemda Kabupaten Kutai Barat sudah menunjuk Bank BPD Melak menyalurkan dana UMKM kepada usaha-usaha kecil ―ekonomi rakyat‖ sebesar Rp 7. Bahkan mereka yang percaya perbankan merupakan ― agent of development‖ yang berperan kunci dalam memberdayakan ekonomi rakyat bisa ―kecele‖ menyaksikan kenya taan pahit sulitnya bank bermitra akrab dengan pelaku-pelaku ekonomi rakyat yang miskin. tidak ada tanda-tanda perbankan ―bersemangat‖ menyalurkan kredit kepada pengusaha-pengusaha di Melak.2% (2001). ―Issues in Indonesian Rice Policy‖. dan 13. maupun di dataran rendah sepanjang Sungai Mahakam. Bank adalah Mitra Orang Kaya Sejak 3 tahun terakhir (2001-2003) jumlah dana masyarakat yang disimpan di 2 bank di Melak (BRI dan BPD) meningkat rata-rata 12.8% (2003) dan sampai dengan September 2004 adalah 32.8% (2002). 256. yaitu dari Rp. Yang menarik persentase kenaikan dana pihak ke-3 yang disimpan di bank-bank ini sama sekali tidak diikuti kenaikan yang sepadan dalam jumlah kredit yang diberikan kepada pengusaha-pengusaha di Melak. Yulius Seran (37 th) adalah seorang penyandang cacat yang setiap hari menunggu dagangan “rupa-rupa” di pinggir jalan dekat Linggang Bigung. 8 juta sudah dijanjikan pada seorang teman yang sanggup membuatkan sepeda motor khusus agar ia dapat menggunakannya untuk berbelanja ke Melak sebulan sekali. 10. Ia “marah” ketika permi ntaan pinjaman Rp. World Bank (2007). draft March 2007 Oleh: Dr. . tokh penerima dana -dana DPM (Dinas Pemberdayaan masyarakat) ini masih belum merasakan adanya perhatian dan perlakuan khusus terhadap mereka sebagai pihak-pihak yang berhak menerima perlakuan ―istimewa‖ karena kemiskinannya.1%. Rupanya meminjamkan kredit kepada seorang miskin seperti Yulius Seran belum cukup meyakinkan pejabat bank ―seb agai jalan melancarkan jalan baginya masuk surga‖. and Water Resource Allocation in Indonesia and Vietnam . 7 juta padahal yang Rp. 15 juta hanya diberi Rp.4 milyar (2003). 272. lebih-lebih kepada usaha-usaha kecil ekonomi rakyat. di kampungkampung pegunungan.0% pertahun. Fiscal Policy. collaboration of IFPRI-CASERD-KimpraswilJasa Tirta. Husein Sawit Mubyarto MENGAPA BANK SULIT MEMBERDAYAKAN EKONOMI RAKYAT? Pendahuluan Memberdayakan ekonomi rakyat di daerah terpencil Kutai Barat ternyata merupakan perjuangan berat bagi siapapun.Irrigation Investment. M.5 milyar dari dana APBD.2 milyar (2001) menjadi Rp.0 milyar (2002) dan Rp. Meskipun belakangan diketahui Yulius Seran seorang yang jujur dan patuh mengangsur kreditnya setiap bulan. Rupanya kalau tidak ada kredit ―UMKM‖ yang disalurkan dari dana APBD Pemda kabupaten. LDR (Loan Deposit Ratio) meskipun cenderung naik tetapi hanya sebesar berturut-turut 2. tokh Bank BPD tidak tergerak meluluskan sisa kredit yang dimintanya. baik di wilayah Ulu Riam di Mahakam Ulu. 214.

padahal yang benar bank-bank ini memang merasa lebih aman menggunakan dana-dana yang dihimpun dengan dibelikan SBI. Dari sinilah berkembang kepercayaan perlunya penciptaan iklim merangsang agar para pemodal (investor) asing bersedia datang ke Indonesia atau ke daerah-daerah tertentu untuk menanamkan modalnya. dan sebaliknya orang miskin harus membayar bunga tinggi kepada orang-orang kaya. Kalau perangsang dan perlindungan kepada para pemilik modal dalam sistem ekonomi kapitalis ini belum dianggap cukup. tokh dana-dana perbankan yang terhimpun di daerah-daerah seperti itu justru dikirim ke kantor pusat bank yang bersangkutan.5% pertahun yang tentu saja menjadi alasan sangat kuat bagi setiap bank untuk mengirimkan dana-dana pihak ke-3 yang dihimpun di bank-bank di daerah-daerah di seluruh Indonesia untuk dikirim ke Jakarta. yang kepentingannya paling dilindungi. yaitu mereka yang memiliki modal. tetapi di pihak lain orang-orang kaya menyimpan uang mereka di bank dalam bentuk deposito dengan menerima bunga ―menarik‖. Jika suatu daerah miskin sebagian warga masyarakatnya sudah berhasil ―menjadi kaya‖ sehingga mampu menyimpan dana-dana yang dikumpulkannya di bank setempat. dan justru tidak diputarkan atau ditanamkan dalam usaha-usaha setempat. Maka ada lembaga penjaminan kredit. Di satu pihak usaha-usaha kecil lari ke ―rentenir‖ dengan membayar bunga tinggi. Sebenarnya segera dapat dikenali satu kontradiksi. Jika suatu daerah berusaha menarik investor. mengapa modal yang terhimpun di bank dari orang-orang kaya setempat malah dikirim keluar daerah. yang dengan memberikan jaminan rasa aman pada para pemilik modal ini. Bunga SBI ini pernah mencapai 17. Jika ekonomi rakyat dapat diberdayakan melalui kredit lunak sehingga kesejahteraannya meningkat. maka amat sulit menjadikan bank sebagai penggerak kegiatan ekonomi rakyat. Dalam sistem ekonomi Pancasila . Ternyata kunci penyebabnya terletak pada diberlakukannya sistem ekonomi kapitalis yang telah dipilih oleh pemerintah pusat. Dalam sistem ekonomi kapitalis. Bank Indonesia sudah sejak lama mengeluarkan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) yang menjanjikan bunga menarik kepada dunia perbankan untuk menyimpan dana-dana yang dihimpunnya dari daerah-daerah di seluruh Indonesia. Inilah faktor penyebab rendahnya nilai LDR (Loan Deposit Ratio) di setiap daerah. Jika bank-bank kita lebih banyak merupakan perusahaan yang menomorsatukan pendapatan bunga. Para pelepas uang dan deposan menikmati pendapatan bunga tinggi. mengapa Pemda tidak terdorong untuk mengambil langka-langkah demikian dalam GSM (Gerakan Sendawar Makmur) dengan menyalurkan kredit mikro sebanyak mungkin kepada usaha-usaha ekonomi rakyat yang membutuhkannya. kiranya masuk akal bagi perbankan untuk memanfaatkan dana-dana tersebut bagi pemberdayaan ekonomi rakyat dan yang pada gilirannya mampu memberantas kemiskinan. agar dapat membayar jasa bunga deposito yang menarik kepada deposan. kecuali jika kita berani mengubah sistem ekonomi kita dari sistem ekonomi kapitalis menjadi sistem ekonomi Pancasila. sehingga ketika banyak daerah-daerah miskin/tertinggal berteriak mengharapkan kredit yang murah dan mudah. Tetapi mengapa hal ini tidak terjadi? Dari analisis tersebut bisa dibuktikan bahwa alasan pokoknya adalah karena sistem ekonomi kapitalis-liberal/neoliberal sudah dijadikan pegangan pokok pemerintah pusat/ daerah yang diterapkan di manamana di seluruh Indonesia. para pemilik modal (kapitalis) merupakan pihak yang paling dipuja dan dihormati. Akibatnya bank juga tidak mungkin berperan sebagai lembaga yang mendukung upaya-upaya besar pemberantasan kemiskinan. yang dibiayai oleh sebagian bunga kredit yang dibayar penerima kredit (debitor). bukan justru bank yang sebenarnya tidak memerlukan konsultan keuangan itu. Bank-bank yang lebih banyak mengirim dana-dana dari daerah-daerah ke kantor pusat selalu mudah menerangkan perilaku keliru ini karena ―kesulitan menemukenali‖ proyek -proyek ekonomi dan bisnis yang bankable yang dapat didanai. dan dalam kaitan penyaluran kredit UMKM ada lembaga KKMB (Konsultan Keuangan Mitra Bank). Dalam sistem ekonomi kapitalis segala upaya dilakukan untuk melindungi kepentingan para pemodal/pemilik uang. Penetapan tingkat bunga yang menarik selalu dijadikan alasan mudah bagi dunia perbankan untuk tidak menyalurkan dananya sebagai kredit kepada dunia usaha.Memang ironis. Jelas kiranya dari analisis ini bahwa perbankan di Indonesia tidak lain daripada lembaga pencari/pengejar untung. bahkan termasuk tambahan hadiah-hadiah menarik seperti mobil dan rumah-rumah mewah. Fenomena kontradiktif ini sampai kapan pun tetap tidak akan berubah. dan sama sekali bukan agent of development. Mengapa tidak ada Konsultan Keuangan Mitra Ekonomi Rakyat (KKMER) meskipun jelas ekonomi rakyat inilah yang paling membutuhkan jasa konsultan. Proses tolong-menolong antar pemilik modal dan ekonomi rakyat yang membutuhkan modal ini dalam era otonomi daerah seharusnya berkembang dengan baik dan bergairah. Kesimpulan Kasus ―kecil‖ perilaku perbankan di Kabupaten Kutai Barat dengan kemiskinan 42% tahun 2003-2004 menarik dijadikan contoh betapa besar hambatan yang dihadapi dalam program-program pemberantasan kemiskinan.

2.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. sedangkan orang-orang kaya adalah ―pahlawan pembangunan‖. bukan karena orang-orang miskin banyak yang merusak hutan. Adalah sangat keliru ilmu ekonomi justru memuja ―keserakahan‖. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. Maka untuk menjamin terjadinya pembangunan yang berkelanjutan kita harus menghentikan keserakahan orang-orang kaya.‖ atau ―penduduk miskin hanya menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup. yang semuanya ―demi keuntungan‖. kiranya pernyataan ini juga tidak adil.Oktober 2004] Mubyarto SIAPA LEBIH MERUSAK LINGKUNGAN: ORANG MISKIN ATAU ORANG KAYA? The greatest threat to the equilibrium of the environment comes from the way the economy is organized. Penduduk miskin tidak memperhatikan lingkungan hidup sekitarnya bukanlah karena mereka tidak peduli. Tetapi kayu-kayu yang diperolehnya ditampung calo-calo untuk dijual. Siapa yang paling bersalah dalam proses perusakan lingkungan ini? Yang jelas tidak adil adalah kalau yang disalahkan hanya orang-orang miskin saja. Jika hutan kita menjadi gundul atau terbakar. bukan dengan ―menggusurnya‖ setelah berkembang. Ekonomi Rakyat dan Reformasi Kebijakan . Apabila dikatakan penduduk miskin terbiasa .. dan kemudian dijual lagi untuk ekspor. disebabkan para pemodal yang haus keuntungan. Agar adil kita harus mengakui bahwa kerusakan lingkungan khususnya hutan. sehingga lingkungan hidup kita rusak. siapa biang keladinya? Penduduk miskin di hutan-hutan dan sekitar hutan menebang hutan negara untuk memperoleh penghasilan untuk makan. ever increasing growth and accumulation (Ravaioli. 4. Mubyarto -.. Dr.. tidak ada subsidi apapun dar pemerintah. dan memang ada pembeli terhadap barang/jasa yang ditawarkannya. ― membuang kotoran manusia secara sembarangan yang akan berakibat pada terjangkitnya diare . tetapi ―mutlak‖ harus dipenuhi untuk hidup. 1995: 4) 1.kebijakan perbankan tidak diarahkan untuk melindungi para pemilik modal secara berlebihan tetapi harus diubah menjadi upaya total pemberdayaan ekonomi rakyat dengan ukuran hasil akhir makin terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Jadi dalam hal ini lingkungan yang rusak harus diselamatkan melalui upaya-upaya ―pencegahan‖ munculnya PKL. 3. PKL bukan . yang dianggap merusak lingkungan karena mengotori jalan dan mengganggu ketertiban.. tetapi karena mereka melakukannya dengan terpaksa.. ―memesan‖ kayu dalam jumlah besar sebagai bahan baku industri yang memang permintaannya sangat besar pula. Oleh: Prof. Pemenuhan kebutuhan pokok penduduk miskin bukan masalah ―hanya‖. Ia menggunakan modal sendiri dengan resiko usaha ditanggung sendiri. Akumulasi keuntungan dan kekayaan yang tidak mengenal batas harus dianggap sebagai penyebab utama kerusakan/pengrusakan hutan. juga tidak mungkin ditimpakan kesalahannya pada PKL karena pekerjaan itulah satu-satunya ―mata pencaharian‖ yang dapat dilakukan dalam kondisi kepepet.. Perkembangan pedagang kaki lima (PKL) yang tumbuh menjamur dimana-mana. dan mereka cenderung mengabaikan pemeliharaan lingkungan sekitar”.

yaitu sistem ekonomi kapitalis liberal yang berkembang di Barat. efisien. tidak diberdayakan. dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat. Kesimpulan kita. dan mandiri. Sistem ekonomi yang tepat bagi Indonesia adalah sistem ekonomi pasar yang populis dan mengacu pada ideologi Pancasila dengan lima cirinya sebagai berikut: (1) Roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi. koperasi dan usaha-usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat. tangguh. Maka mereka dengan bersemangat menyatakan akan menyusun dan melaksanakan program pemberdayaan ekonomi kerakyatan padahal ekonomi kerakyatan sebagaimana tercantum jelas dalam Propenas (UU No. Mubyarto Pendahuluan Menyimak secara serius pernyataan-pernyataan para Capres/Cawapres di media elektronik tentang programprogram ekonomi yang dijanjikan kepada rakyat untuk dilaksanakan. karena melihat kemiskinan sebagai fakta tanpa mempelajari sumber-sumber dan sebab-sebab kemiskinan itu. maka sulit diharapkan dapat dirumuskannya program-program kongkrit bagaimana mengembangkannya. 25/2000) adalah sistem ekonomi. yang menurut mereka harus diberdayakan juga. antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas.―masalah‖ tetapi ‖pemecahan‖ masalah kemiskinan. 5.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. karena yang diberdayakan adalah orangnya. dan adil. (2) (3) (4) (5) Ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial yaitu tidak membiarkan terjadinya dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial. dan karena belum jelas pemahaman mereka mengenai ekonomi rakyat. Akan lebih baik dan lebih adil jika para peneliti memberi perhatian lebih besar pada sistem ekonomi yang bersifat ―serakah‖ dalam eksploitasi SDA. pelakunya. 6 Oktober 2004 Oleh: Prof. bebas. Semangat nasionalisme ekonomi. Pada umumnya para Capres/Cawapres belum memahami benar apa itu ekonomi rakyat. dan merajalela sejak jaman penjajahan sampai era globalisasi masa kini. sosial. Dr. dan yang sangat sering diucapkan bagaimana memberdayakannya. Keseimbangan yang harmonis. Yang lebih sering kita dengar justru bukan konsep tentang ekonomi rakyat. Mubyarto -. pendekatan terhadap masalah ―pengurangan kemiskinan dan pengelolaan lingkungan‖ atau sebaliknya terhadap ―pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan strategi penanggulangan kemiskinan‖ selama ini kiranya salah dan tidak adil. jika mereka terpilih. Demokrasi Ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan. tetapi ekonomi kerakyatan. sedangkan Bung Karno 3 tahun sebelumnya (Agustus 1930) dalam pembelaan di Landraad Bandung menulis nasib ekonomi rakyat sebagai berikut: . dan moral. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. dan bertanggung jawab. Sistem ekonomi dapat dikembangkan dan yang jelas dilaksanakan. yaitu ekonomi rakyat. dengan segala maaf saya harus menyatakan sangat prihatin. Tentang Ekonomi Rakyat Bung Hatta dalam Daulat Rakyat (1931) menulis artikel berjudul Ekonomi Rakyat dalam Bahaya. menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

yaitu ekonomi rakyat menjadi kerdil. Untuk menjawab pertanyaan inilah kutipan pernyataan Bung Karno di atas sangat membantu. Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi. Berpihak kepada petani berarti pemerintah tidak lagi berpihak pada konglomerat seperti dalam kasus jeruk dan cengkeh. Cara yang paling mudah memberdayakan ekonomi rakyat adalah menghapuskan sistem monopoli. Jika ekonomi rakyat dewasa ini masih ―tidak berdaya‖.Ekonomi Rakyat oleh sistem monopoli disempitkan. Itulah yang pernah kami katakan bahwa ―di Indonesia pernghapusan monopoli tidak memerlukan UU Anti Monopoli seperti di AS tetapi jauh lebih mudah dan lebih sederhana yaitu dengan menerbitkan sebuah SK (Surat Keputusan) dari Presiden atau Menteri Perindustrian dan Perdagangan untuk mencabut monopoli yang sebelumnya memang telah diberikan pemerintah‖. Sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Memang sangat disayangkan bahwa penjelasan tentang demokrasi ekonomi ini sekarang sudah tidak ada lagi karena seluruh penjelasan UUD 1945 diputuskan MPR untuk dihilangkan dengan alasan naif. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Pengertian demokrasi ekonomi atau (sistem) ekonomi yang demokratis termuat lengkap dalam penjelasan pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi: Produksi dikerjakan oleh semua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. pemerintah harus berpihak kepada petani. Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh ada di tangan orangseorang. dan padam. yaitu ―di negara-negara lain tidak ada UUD atau konstitusi yang memakai penjelasan‖. atau diciptakan pemerintah dan diberikan kepada segelintir perusahaan-perusahaan konglomerat. yang artinya tidak lain adalah demokrasi ala Indonesia. Khusus dalam kasus petani padi. Misalnya tataniaga jeruk Kalbar atau tataniaga cengkeh Sulut. Indonesia Menggugat. Jika pemerintah bertekad memberdayakan petani padi atau petani tebu misalnya. Bagaimana memberdayakan ekonomi rakyat Jika kini telah diyakini bahwa yang harus diberdayakan adalah ekonomi rakyat bukan ekonomi kerakyatan. . Kalau tidak. maka harus kita teliti secara mendalam mengapa tidak berdaya. Jadi ekonomi kerakyatan adalah (sistem) ekonomi yang demokratis. maka memang ada kata kerakyatan tetapi harus tidak dijadikan sekedar kata sifat yang berarti merakyat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan bukan kemakmuran orang-seorang. karena sengaja disempitkan. dan (sistem) monopoli ini dipegang langsung oleh pemerintah. kemakmuran bagi semua orang! Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Cara lain yang juga sudah sering kami anjurkan adalah pemberdayaan melalui pemihakan pemerintah. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Inilah salah satu bentuk korupsi melalui koneksi dan nepotisme yang kemudian disebut dengan nama KKN. yang sulit kita terima. atau faktor-faktor apa saja yang menyebabkan ketidakberdayaan pelaku-pelaku ekonomi rakyat itu. keberpihakan pemerintah jelas harus berupa pembelian langsung gabah ―dengan dana tak terbatas‖ sampai harga gabah terangkat naik melebihi harga dasar yang telah ditetapkan pemerintah. Dari keuntungan besar yang diperolehnya kemudian konglomerat memberikan ―bagi hasil‖ kepada pemerintah atau lebih buruk lagi kepada ―oknum -oknum pejabat pemerintah‖. yang berarti petani jeruk dan petani cengkeh memperoleh ―kebebasan‖ untuk menjual kepada siapa saja yang mampu memberikan harga terbaik. maka pertanyaan lugas yang dapat diajukan adalah bagaimana (cara) memberdayakan ekonomi rakyat. sama sekali didesak dan dipadamkan (Soekarno. Padahal yang dimaksudkan jelas sistem monopoli yang pemegang monopolinya ditunjuk pemerintah yaitu BPPC untuk cengkeh dan Puskud untuk Jeruk Kalbar. terdesak. yang pernah ―disembunyikan‖ dengan nama sistem tata niaga. didesak. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi. Kata kerakyatan sebagaimana bunyi sila ke-4 Pancasila harus ditulis lengkap yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. tampuk produksi jatuh ke tangan orang-orang yang berkuasa dan rakyat yang banyak ditindasinya. yang terpukul karena harga pasar gabah dibiarkan merosot di bawah harga dasar. 1930: 31) Jika kita mengacu pada Pancasila dasar negara atau pada ketentuan pasal 33 UUD 1945. dan dipadamkan oleh pemerintah penjajah melalui sistem monopoli.

Oleh: Prof. dan program-program utama. dan tersingkir. dan orang-orang yang baru pula. Hasilnya bisa jadi kekuasaan tetap dipegang ‗pemimpin lama‘. yang merupakan istilah dan konsep yang sudah dipakai Bung Karno dan Bung Hatta sejak zaman pergerakan kemerdekaan. Kepala Awan Santosa RELEVANSI PLATFORM EKONOMI PANCASILA MENUJU PENGUATAN PERAN EKONOMI RAKYAT Pemilu 2004 sudah pasti akan diwarnai dengan ‗pertarungan politik‘ antar parpol. dan program-programnya pada tujuan pertumbuhan ekonomi tinggi sekaligus dengan mengabaikan atau menunda pemerataannya.Demikian pemberdayaan dan pemihakan pada ekonomi rakyat sangat mudah pelaksanaannya kalau kita terapkan langsung pada ekonomi rakyat. Dr. Kini dengan paradigma baru yang menomorsatukan pemerataan dan keadilan sesuai asas-asas ekonomi Pancasila. sebuah ideologi ekonomi yang ‗ke-Indonesia-an‘. yang terakhir ini berarti sistem atau aturan main. Penutup Tidak terlalu sulit bagi para Capres/Cawapres untuk mengkampanyekan program-program yang benar-benar dapat memberdayakan ekonomi rakyat asal pengertian ekonomi rakyat dipahami secara benar. Kami anjurkan para Capres/Cawapres tidak memilih menggunakan istilah ―UKM‖ yang salah kaprah.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. Saya setuju dengan Khudori (2004) bahwa momen Pemilu 2004 selayaknya bukan saja memungkinkan pergantian orang atau partai melainkan pergantian ideologi atau moral ekonomi yang mengarah pada ciri neoliberal-kapitalistik dewasa ini. terjepit. dan antar calon anggota DPD. Bahkan ada Capres/Cawapres yang secara sangat keliru menyamakan sektor ekonomi rakyat dengan sektor informal. bukan pada ekonomi kerakyatan. Mubyarto -. caleg. Bukan berganti menjadi apa-apa. atau mungkin pula akan muncul penguasa-penguasa baru. Jelas usulan program seperti ini tidak masuk akal dan menunjukkan ketidakpahaman Capres/Cawapres yang bersangkutan tentang ekonomi rakyat yang menyangkut hajat hidup 160 juta orang Indonesia yang sebenarnya sudah jauh lebih tua dibanding sektor formal. dan lebih baik mengunakan istilah ekonomi rakyat yang setiap orang yang ―tidak terpelajar‖ pun mengerti persis artinya. strategi. Dengan digantinya oleh pemerintah istilah ekonomi rakyat dengan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) yang sebenarnya sekedar menterjemahkan istilah asing SME ( Small and Medium Enterprises). Ekonomi rakyat adalah ekonominya wong cilik yang telah tergeser. yang hanya diartikan sebagai pelaku-pelaku ekonomi yang tidak berbadan hukum yang selalu ―melanggar hukum‖ sehingga harus ―ditindak‖. sekaligus juga antar kandidat calon presiden. Lalu. ketika pemerintah Orde Baru memprioritaskan kebijakan. maka segala pembahasan tentang upaya pemberdayaan ekonomi rakyat tidak akan mengena pada sasaran. yang tidak dapat diberdayakan. Tulisan ini menjawab pragmatisme atau ketidaktahuan banyak orang sehingga mereka bertanya-tanya. . partai baru. maka pemberdayaan ekonomi rakyat harus dijadikan kebijakan. yang tidak mencakup 40 juta usaha mikro (93% dari seluruh unit usaha). strategi. melainkan kembali ke ideologi atau moral ekonomi Pancasila. Dan dengan definisi ini kemudian diajukan program pemberdayaan sektor “UKM” dengan secepatnya menjadikan atau ―mentransformasi‖ sektor informal menjadi sektor formal. kecuali ada ‗janji -janji‘ perubahan kebijakan ataupun program ekonomi yang lebih banyak bersifat parsial dan konvensional dari partai peserta pemilu. dan akan menjadi slogan kosong. sektor informal sebaiknya justru yang disebut sektor formal. akan berubahkah nasib ekonomi bangsa kita? Tidak dapat dipastikan.

apalagi dikait-kaitkan dengan ‗salah ideologi‘ atau ‗salah teori‘ ekonomi. dan utopis? Mereka ini begitu yakin bahwa masalah ekonomi (krisis 97) adalah karena ‗salah urus‘ dan bukannya ‗salah sistem‘. dan ditujukan untuk menjamin keadilan antar sesama makhluk ciptaan Allah. Masih ada juga penggusuran orang miskin. para penyanyi. Tanpa peduli moral. moral nasionalisme ekonomi. dan teori-teori kapitalisme-liberal.relevankah Ekonomi Pancasila dalam memperkuat peranan ekonomi rakyat dan ekonomi nasional di era global (isme) kontemporer? Mereka skeptis. Relevansi platform Ekonomi Pancasila dalam hal ini dikuatkan akutnya perilaku ekonomi di Indonesia yang sama sekali mengabaikan moral. Ekonomi Pancasila merupakan prinsip-prinsip moral (ideologi) ekonomi yang diderivasikan dari etika dan falsafah Pancasila. dan kekeringan di sebagian wilayah di Jawa.-). bukan kemakmuran orang -seorang‘. Akibatnya. tidak realistis. tanah longsor. tidak membiarkan terjadi dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial‖. sebagai ‗media‘ untuk mengenali ( detector) bekerjanya paham dan moral ekonomi yang berciri neo-liberal kapitalistik di Indonesia. produser. kecuali saat-saat terakhir menjelang Pemilu 2004 dengan pembentukan KPTPK. Pada awalnya founding fathers kita merumuskan ‗politik kemakmuran‘. etika. Gagasan ini sudah lama tertuang dalam bagian penjelasan Pasal 33 UUD 45 yang sudah diamandemen dalam konsep ‗kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan. dan moral keadilan sosial. Sumatara. dengan lima platform sebagai manifestasi sila-sila Pancasila yaitu moral agama. selain berisi cita-cita visioner terwujudnya keadilan sosial. Ekonomi Pancasila. Lalu. Itu berarti pembangunan ekonomi harus beriringan dengan pembangunan moral atau karakter bangsa. dan tidak nampak wujudnya. dan stasiun TV. Lihat saja korupsi yang sudah membudaya dan melembaga karena tidak pernah diperhatikan secara serius. Tidak dapat disangkal. krisis di Indonesia juga tidak terlepas dari berkembangnya paham kapitalisme disertai penerapan liberalisme ekonomi yang ‗kebablasan‘. sosial. Disinilah relevansi platform (istilah penulis) Ekonomi Pancasila. Oleh karena itu. dan pulau lainnya. Inilah moral ekonomi rakyat yang tidak sekedar mencari untung. bukankah sistem ekonomi kita sudah mapan. 2003). Lalu. dan dampak sosial bagi masyarakat. moral kerakyatan. Namun. sekaligus ‗rambu-rambu‘ yang bernilai sejarah untuk tidak terjerumus pada paham liberalisme dan kapitalisme. rasanya tidak sulit mengamati ekses dari kecenderungan global tersebut di Indonesia. Yang masih panas-panasnya adalah maraknya ‗pornoaksi‘ dangdut erotis lewat media TV yang memang ‗dibiarkan‘ di alam kebebasan (liberalisme) saat ini. bahkan agama. Relevansi Ekonomi Pancasila dapat ‗dideteksi‘ dari tiga kontek yang berkaitan yaitu cita -cita ideal pendiri bangsa. tidak sekedar pembangunan materiil semata. perusahaan (iklan). yang bermoral dan tidak sekuler. pengabaian nasib TKI. Sampai saat . dan praktek ekonomi aktual yang ‗menyimpang‘ karena berwatak liberal. Profesor Mubyarto merumuskan Ekonomi Pancasila sebagai sistem ekonomi yang bermoral Pancasila. Penerapan platform Ekonomi Pancasila secara utuh (multisektoral) dan menyeluruh (nasional) menempatkan Indonesia sebagai negara yang menganut sistem ekonomi khas Indonesia yaitu Sistem Ekonomi Pancasila.500. mengeruk ‗rente‘ dari kegiatan ekonomi (bisnis) mereka. program. moral kemerataan sosial. apakah tidak mengada-ada bicara sistem ekonomi dari ideologi yang pernah ‗tercoreng‘. dan moral‖. melainkan memperkuat silaturahmi. KKN yang akut memberi sumbangan besar bagi keterpurukan ekonomi bangsa ini. dan kegiatan ekonomi banyak dipengaruhi paham (ideologi). dan ribut-ribut soal ‗pesangon‘ BPPN atau DPRD di berbagai tempat.Kita mulai dari platform pertama Ekonomi Pancasila yaitu moral agama. menurunnya suku bunga (dibawah 10%). yaitu ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial. apa bukti platform Ekonomi Pancasila relevan dengan kondisi sosial-ekonomi kita saat ini? Di tengah pesatnya perkembangan ilmu (ideologi) ekonomi global yang sud ah semakin mengarah pada ‗keyakinan‘ layaknya agama (Nelson. ia juga mengangkat realitas sosio-kultur ekonomi rakyat Indonesia. Semua itu terangkum dalam kajian lima platform Ekonomi Pancasila yang bersifat holistik dan visio-revolusioner (Mubyarto. kebijakan. dan memperhatikan kepentingan sosial. individualis. Gagasan Ekonomi Pancasila mulai dikembangkan Profesor Mubyarto sejak tahun 1981 dalam suatu polemik tentang sistem ekonomi nasional sampai saat ini. yang mengandung prinsip ―roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi. Inilah platform ekonomi yang lebih awal lahir daripada gagasan Amitai Etzioni tentang ‗ekonomi baru‘ yang berdimensi moral dalam bukunya The Moral Dimension: Toward a Newf Economics. Platform kedua adalah ―kemerataan sosial. tidak sulit untuk menemukan praktek ekonomi bermoral ini. makro-ekonomi sudah stabil dengan indikator rendahnya inflasi (dibawah 5%). agama. Kondisi itu menegaskan perlunya ‗revolusi moral ekonomi‘ menuju pengejawantahan platform Ekonomi Pancasila. Ada lagi maraknya ‗penjarahan alam‘ berupa penebangan hutan secara liar (llegal logging) yang terlalu lama ‗didiamkan‘ sehingga berakibat banjir. stabilnya rupiah (Rp 8. ‗keadilan sosial‘. praktik ekonomi rakyat. Free Press 1988). 2001). dan ‗pembangunan karakter‘ ( character building) bangsa yang dilandasi semangat penerapan ajaran moral dan agama. menegakkan hukum-hukum Allah (syari‘ah). moral. Asalkan tidak malas untuk turun ke desa-desa atau ke pelaku ekonomi rakyat. dan kapitalistik.

justru investasi (asing) dan privatisasi BUMN yang saat ini begitu dipercaya sebagai ‗dewa‘ pertumbuhan ekonomi dengan melupakan begitu saja sifat pemodal besar untuk mencari tempat yang menguntungkan bagi investasi mereka. kita masih saja berbicara pertumbuhan ekonomi mau 4%. Banyak orang yang memiliki kekayaan milyaran (termasuk calon-calon presiden kita. Oleh karena itu pokok perhatian seharusnya diberikan pada upaya pemberdayaan ekonomi rakyat sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Lagi pula. eksklusif. dan memang tidak ada kamus ‗nasionalisme ekonomi‘ atau ‗nasionalisme modal‘ dalam istilah mereka. dan paha ayam. 2004). Prinsip ini dijiwai oleh semangat Pasal 33 UUD 1945 yang kini sudah berganti menjadi UUD 2002 (amandemen keempat). atau 7%. upaya penegakan demokrasi ekonomi nampaknya berhadapan dengan upaya-upaya untuk memperjuangkan pasar bebas. tidak ‗menyusahkan‘ atau ‗membebani‘ ekonomi nasional di saat krisis. Di puncak piramida yang menguasai mayoritas kue nasional dihuni segelintir manusia. Ada kesan kuat bahwa interaksi yang timpang (sub-ordinatif) dengan lembaga asing seperti IMF dan CGI (terkait dengan jebakan utang) telah ‗mengaburkan‘ pentingnya kemandirian ekonomi bangsa yang ditopang oleh semangat nasionalisme ekonomi. dan tidak perlu diperjuangkan? Lihat saja. Isu-isu yang kemudian dicuatkan diantaranya adalah privatisasi BUMN dan liberalisasi impor. Kemandirian bukan saja menjadi cita-cita akhir pembangunan nasional. namun bagaimana dengan manifestasi demokrasi ekonominya? Penghapusan ‗koperasi‘ dari penjelasan UUD 45 dan memasukkan ideologi ‗persaingan‘ dan ‗pasar bebas‘ dalam pasal 33 merupakan runtutan dari kebijakan privatisasi BUMN yang ditentang banyak kalangan. Ekonomi rakyatlah yang bersifat mandiri. koperasi dan usahausaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat‖. maka dengan . yaitu peningkatan martabat dan kemandirian bangsa (Swasono. Lihatlah pesta-pesta bernilai ratusan juta semalam yang sering diadakan ‗selebriti‘. Dalam pada itu. bahwa dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat. padahal potensi untuk itu sangat besar. 2001). perihal ‗politik -ekonomi berdikari‘ yang bersendikan usaha mandiri (self-help). Oleh karena itu. tangguh. sehingga ‗daya tahan‘ ekonomi mereka tidak perlu diragukan lagi. khususnya Bung Karno dan Bung Hatta. dan glamour dari sebagian elit warganya. terutama di perdesaan. percaya diri (self reliance). Beralihnya pemilikan BUMN ke investor swasta melalui privatisasi dikhawatirkan justru memperpuruk kesejahteraan ekonomi rakyat (Baswir. negara-negara Eropa memberikan perlindungan kepada petanipetani mereka. Ini mensyaratkan bahwa pembangunan ekonomi haruslah didasarkan pada kekuatan lokal dan nasional untuk tidak hanya mencapai ‗nilai tambah ekonomi‘ melainkan juga ‗nilai tambah sosial-kultural‘. Masih saja ketimpangan sosial-ekonomi susah untuk diperkecil. Dengan begitu pelarian modal (capital flight) atau relokasi industri adalah wajar bagi mereka. petani dan peternsk kecil kita begitu ‗menjerit‘ di saat ada impor beras. dan mandiri‖. namun banyak pula yang pendapatannya pas-pasan sekedar untuk bertahan hidup. hidup di ‗negara kaya‘ (SDA) yang ‗miskin‘ (terlilit utang). Platform ketiga adalah ―nasionalisme ekonomi. melainkan juga prinsip yang menjiwai setiap proses pembangunan itu sendiri. tidak relevan. Zakat yang sudah diformalkan (UU) dan pajak sebagai instrumen pemerataan ternyata belum mampu berbuat banyak. mengapa kita ragu untuk melakukan ‗proteksi‘ terhadap petani kita di saat Amerika. yang masih memegang prinsip kebersamaan dan solidaritas sosial-ekonomi dalam kegiatan mereka. Ekonomi Pancasila berfungsi sebagai platform ekonomi yang memperjuangkan pemerataan dan moral kemanusiaan melalui upaya-upaya ‗redistribusi pendapatan‘. Jepang. Kita patut prihatin jika aset-aset yang menguasai hajat hidup orang banyak terus ‗diobral‘ ke pemodal besar apalagi pemodal asing (kasus Indosat). Lebih lanjut. Kita dapat belajar pada ekonomi rakyat kita. Lalu. Platform keempat adalah ―demokrasi ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan. Tempo. Itulah kita. tetapi masih mampu menampilkan gaya hidup mewah. Platform ini sejalan dengan konsep founding fathers kita. yang menjadi senjata penganut paham liberalisme dan kapitalisme. 5%. kenapa saat ini nasionalisme ekonomi seakan-akan telah dianggap tidak penting. Pemilu 2004 setidaknya merupakan manifestasi demokrasi politik. 2003). Sebaliknya. Jika dasar dan pengertian demokrasi ekonomi (dalam penjelasan Pasal 33 ) sudah ‗dihapuskan‘. termasuk juga acara -acara pejabat yang sering menyentak hati karena dipaksakan untuk tetap ada dan mewah. gula.ini masih sulit meyakini realisasi semangat tersebut ka rena setiap upaya ‗memakmurkan ekonomi‘ ternyata yang lebih merasakan dampaknya tetap saja ‗orang besar‘ baik pengusaha ataupun pejabat pemerintahan. Perubahan ini telah menghilangkan seluruh penjelasan UUD 1945 termasuk penjelasan Pasal 33 yang berisikan prinsip-prinsip demokrasi ekonomi dan landasan konstitusional koperasi. di dasar piramida yang kuenya kecil diperebutkan puluhan juta orang (Khudori. Apa gunanya kampanye cinta produk dalam negeri bila pemihakan terhadap pelaku ekonomi rakyat sebagai produsen lokal masih setengah hati. tanpa berupaya keras memprioritaskan pemerataannya ataupun berusaha sedikit lebih ‗sederhana‘ di tengah kemiskinan yang menjerat kurang lebih 36 juta rakyat Indonesia. dan pilihan kebijakan luar negeri bebas-aktif. 2004).

Platform kelima (terakhir) adalah ―keseimbangan yang harmonis. Bangsa kita benar-benar membutuhkan platform ekonomi yang utuh. Sebelum otonomi pusat membelanjakan 78 persen. bukannya pembangunan di Indonesia seperti yang dilakukan Orde Baru dengan paham developmentalism yang netral visi dan misi (Swasono. dan visio-revolusioner. sehingga lebih menjamin upaya pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. dan di pusat pemerintahan. efisien.platform Ekonomi Pancasila kita berusaha keras untuk mengembalikan hakekat demokrasi ekonomi atau sistem ekonomi kerakyatan dengan ciri ‗produksi dikerjakan oleh se mua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat‘. 5 Februari 2004 Oleh: Awan Santosa. dan bertanggungjawab. Gagasan para pendiri bangsa kita yang sejalan dengan praktek ekonomi rakyat dan menentang keras praktek ekonomi yang neo-liberal-kapitalistik kiranya menyadarkan kita akan perlunya perombakan sistem ekonomi tersebut. Pusat tetap memungut 95 persen. 2004). Langkah yang lazim diambil adalah optimalisasi PAD melalui pemberlakuan Perda-Perda yang justru kadang ‗bertentangan‘ dengan peraturan di atasnya seperti halnya hasil kajian Depdagri menunjukkan ada sekitar 7000 perda yang dinilai tidak layak diterapkan (Sunarsip. Inilah relevansi lima platform Ekonomi Pancasila yang dapat menjadi panduan ( guidance) bagi pergantian sistem dan ideologi ekonomi menjadi ekonomi yang lebih bermoral. caleg. Meskipun otonomi daerah telah mendorong kemandirian dan kreativitas Pemda dalam membangun wilayah mereka. komprehensif. Bukannya platform ekonomi yang konvensional. antara pusat dan daerah di Indonesia. Paradigma yang kemudian dibangun adalah pembangunan Indonesia. budaya. Otonomi hanya mengubah sedikit sisi belanja. dan berciri ‗ke Indonesia-an‘. 2003). Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang dimaksudkan untuk mengoreksi sentralisasi ekonomi dan pemerintahan praktis tidak mengubah sedikitpun perimbangan penerimaan negara di Indonesia. dan calon pejabat pemerintahan lainnya akan kebutuhan adanya platform ekonomi yang khas Indonesia ini? Seandainya mereka (dan partainya) memiliki platform ekonomi tersendiri. bernilai historis. Demikian. Seruan memberantas korupsi atau ‗anti politisi busuk‘ saja belum cukup tanpa disertai reformasi (revolusi?) ideologi dan moral ekonomi liberal-kapitalistik yang menumbuhsuburkan praktek korupsi dan kejahatan ekonomi (economic crime) lain di Indonesia. Keadaan ini dimungkinkan karena masih juga terjadi ketimpangan antarwilayah. Tujuan keadilan sosial juga mencakup keadilan antar wilayah (daerah). namun masih saja mereka merasa kesulitan untuk menggali sumber-sumber penerimaan daerah. sadarkah para capres. untuk kemudian merombaknya dengan kembali ke Sistem Ekonomi Pancasila. Oleh karena itu pengalaman pahit sentralisasi politik-ekonomi era Orde Baru dapat kita jadikan pelajaran untuk menyusun strategi pembangunan nasional. berkerakyatan. parsial. dan ‗eksklusif‘ dari bidang bidang lain seperti politik. 2004). Pertanyaannya. SE -.Asisten Peneliti pada Pusat Studi Ekonomi Pancasil (PUSTEP) UGM. yang memungkinkan seluruh wilayah di Indonesia berkembang sesuai potensi masing-masing. Apakah Pemilu dan Sidang Umum 2004 akan mampu menjawab kebutuhan ini? Yogyakarta. bebas. Inilah substansi Negara Kesatuan yang tidak membiarkan terjadinya ketimpangan sosial-ekonomi antardaerah melalui pemusatan aktivias ekonomi oleh pemerintah pusat. menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia‖. dan adil antara perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas. momentum Pemilu dan Sidang Umum 2004 merupakan saat yang tepat untuk mengoreksi kekeliruan sistem dan paham ekonomi kita. dan hukum. sedangkan PAD seluruh daerah di Indonesia tetap hanya 5 persen. kini pusat membelanjakan 70 persen (Khudori. kiranya dapat diperdebatkan dengan platform Ekonomi Pancasila. .

Yang baru adalah kesadaran dan pengakuan tentang peranan besar yang dimainkannya dalam perekonomian rakyat dan perekonomian nasional. Dan dana tabungan meningkat 26. sehingga tidak memerlukan pemulihan. [2] Pierre Van der Eng. terutama di perdesaan. Kesan masih adanya ―krisis ekonomi‖ sekarang ini sengaja ditiupkan dan dibesar-besarkan oleh eks-konglomerat dan para pembelanya termasuk teknokrat.4% dari seluruh penduduk yang berjumlah 60. Sangat ―njomplangnya‖ pembagian pendapatan nasional inilah yang sulit diterima para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia yang bersumpah tahun 1928 di Jakarta.S.Mubyarto MENGEMBANGKAN EKONOMI RAKYAT SEBAGAI LANDASAN EKONOMI PANCASILA I . Ekonomi rakyat Indonesia tidak pernah mengalami krisis serius meskipun sempat kaget.1 (1971) menjadi 6. maka sudah sepantasnya berlaku perkataan (ketentuan Kami). 2001. Keuangan Mikro bukan hal baru bagi Indonesia. 51. idem. penduduk Asia lain yang berjumlah 1. Krisis Moneter Mengembangkan Keuangan Mikro Sejak terjadinya krisis moneter (krismon) yang berakibat langsung pada ditutupnya 16 bank swasta nasional tanggal 1 Nopember 1997. lembaga keuangan mikro berkembang pesat. dua tahun setelah Sumpah Pemuda.54%) dari pendapatan ―nasional‖ Hindia Belanda.7 juta hanya menerima 3. ISEAS.4%).978 orang.825 unit-unit desa di seluruh Indonesia berkembang luar biasa. menunjukkan betapa keliru kesimpulan telah ―hancur leburnya‖ ekonomi Indonesia.[3] [3] Van der Eng. berarti setiap orang memiliki tabungan di BRI sebesar Rp. ketimpangan ekonomi tidak separah ketika jaman penjajahan. Demikian data-data mikro dari lapangan ini. Terbukti bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi (7% pertahun selama 3 dekade. Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri. (Q.4 juta gulden (0. Kini setelah Indonesia merdeka 58 tahun.368.263 milyar menjadi Rp. Indonesia‘s Economy and Standard of Living in the 20th Century dalam Grayson Lloyd & Shannon Smith. tetapi konglomerasi (1987-1994) yang menciptakan ketimpangan ekonomi luar biasa.1 juta orang. Kemiskinan Penduduk Pribumi di Jaman Penjajahan Pierre Van der Eng. Konglomerat ingin melepaskan diri dari kewajiban membayar utang pada bank-bank pemerintah (BLBI dan obligasi rekap). kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.18 menjadi 0. 1966-1996) ―tidak diridhoi‖ Allah SWT dan krismon ―diturunkan‖ untuk mengingatkan bangsa Indonesia.2% per tahun selama 1997 – 2002 dari 457.24.788 milyar (tabel 2).496 menjadi 950. Masyarakat dan pers kita hendaknya waspada dalam hal ini. BRI yang merupakan lembaga keuangan mikro terbesar di Indonesia yang memiliki 3. betapapun sangat ―mahal‖ harganya.-. Pada tahun 1930. [2] seorang sejarawan Belanda menulis tentang strata ekonomi penduduk di jaman penjajahan.3 juta (2. 17 Al Israa‘: 16) II.8 (1997). yang tidak pernah dilihat dan dianalisis oleh para ekonom makro. Kemerdekaan. hal.21 dan 0.8 (1983) dan 9. dan Gini Rasio meningkat berturut-turut dari 0. Sebaiknya kita tidak ikut-ikutan berbicara tentang pemulihan ekonomi (economic recovery) jika yang akan kita pulihkan justru kondisi ekonomi sangat timpang ―pra-krisis‖ yang dikuasai konglomerat dan menjepit ekonomi rakyat.6 juta gulden (0.3% per tahun dari Rp.2%) menerima 0. Indonesia Today.06%) sedangkan 241. Di Propinsi DIY jumlah penabung bertambah rata-rata 16. Penduduk Propinsi DIY tahun 2002 adalah 3. 197.000 orang Eropa (kebanyakan Belanda) menerima 665 juta gulden (99. 194. Kenyataan ini mempunyai . maka Kami perintahkan kepada orangorang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. 828.1 juta penduduk pribumi (Indonesia) yang merupakan 97. harus dicapai karena akan membuka jalan ke arah perbaikan nasib rakyat dan bangsa Indonesia. Singapore. sungguh-sungguh merupakah ―bom waktu‖ yang kemudian meledak sebagai krismon 1997. hal. Dalam 26 tahun (1971 -1997) rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan daerah termiskin meningkat dari 5.

padahal pada tahun 1999 baru Rp. Sebabnya tidak lain karena selama 3 dekade Orde Baru. 1. Ekonomi rakyat di manapun di daerah-daerah benar-benar sudah bangkit. pembangunan ekonomi sudah menjadi ―agama‖. yang sulit dibayangkan untuk bangkit kembali karena utang-utang yang sangat besar. Kini ketika konglomerat sudah rontok. bank-bank masih belum mengucurkan kredit ke sektor riil. telah membantu 24.9 juta menjadi Rp. 440 juta untuk 917 orang (tabel 5). 11. Usahausaha ekonomi rakyat yang disebut (secara tidak tepat) sebagai UKM (Usaha Kecil Menengah) berkembang di mana-mana dengan pendanaan mandiri atau melalui dana-dana keuangan mikro seperti pegadaian. Sebaliknya data-data mikro sektor ekonomi rakyat. bukan krisis politik. 50. maka jelas kami menolak fatwa yang cenderung ―ngawur‖ tersebut.57 milyar (Tabel 3).873 penduduk miskin di seluruh Indonesia dengan pinjaman Rp.04 milyar menjadi Rp. jelas merupakan kebijakan keliru yang tidak berpihak pada kebijakan pengembangan keuangan mikro dan pemberdayaan ekonomi rakyat.6 kali (560%). Satu Baitul Maal (BMT Beringharjo) di kota Yogyakarta dalam periode relatif singkat (1995-2002) telah meningkat omset pinjamannya dari Rp. maka dilihat dalam perspektif ekonomi diartikan bahwa krisis ekonomi dewasa ini sudah amat parah. yang memang tidak tercatat dalam statistik. sehingga tinggal tunggu waktu dibawa masuk jurang. Benarkah faktor-faktor ini cukup? Mengapa inflasi yang sudah benar-benar terkendali sejak 1999 yang kini (2003) berada sekitar 6%. Bahwa ekonomi nasional dianggap masih dalam kondisi krisis. Memang pakar-pakar ekonomi makro kita pada umumnya masih mampu berargumentasi dan menunjuk belum adanya investasi terutama investasi asing sebagai salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi rendah. yang bunganya sangat memberatkan APBN. Fakta tentang peranan besar keuangan mikro dalam perekonomian nasional hendaknya menyadarkan pemerintah tentang perlunya mengkaji ulang teori ekonomi perbankan modern. Kesediaan pemerintah menerbitkan obligasi rekapitalisasi perbankan sebesar Rp. tokh yang paling sering disebutkan di media massa adalah sebagai krisis ekonomi.2 milyar dengan anggota naik dari 393 menjadi 1333 (Tabel 4). III. selama 1995-2002 kredit yang disalurkan Perum Pegadaian meningkat dengan 5. dan pemerintah terperangkap dalam beban utang dalam dan luar negeri yang sangat berat. faktor-faktornya antara lain adalah kurs dollar yang masih 3 kali lebih tinggi dibanding sebelum krisis moneter Juli 1997. Inilah yang oleh para ekonom makro yang keblinger disebut dengan ekonomi illegal atau hidden economy. 39 milyar. Ekonomi Rakyat sebagai Penyelamat Ekonomi Nasional Jika Ahmad Syafii Ma‘arif dan Franz Magnis -Suseno (2003) berbicara keras tentang kerusakan bangsa Indonesia yang ―hampir sempurna‖. Meskipun orang tidak pernah lupa menyebutkan bahwa krisis yang melanda bangsa Indonesia dewasa ini sudah berciri multidimensi. Selain itu Koperasi Bina Masyarakat Mandiri yang didirikan 28 ―orang gila‖ tanggal 28 Oktober 1998 di Jakarta. dan jumlah orang yang menggadaikan (nasabah) naik 368% (Tabel 2). ―Jika pertumbuhan ekonomi hanya ditopang oleh konsumsi maka pertumbuhan ekonomi tidak akan berkelanjutan‖. dan pertumbuhan ekonomi yang sudah positif (3-4% pertahun). Benarkah? Diagnosis ekonomi yang bersifat pesimistik masih jauh lebih kuat dibanding diagnosis optimistik. dengan peranan yang amat dominan dari (perusahaan-perusahaan) konglomerat. anggotanya meningkat lebih dari 5 kali lipat selama periode krisis (1998-2002). karena pada umumnya pakar-pakar ekonomi kita lebih banyak menggunakan data-data makro sekunder dan tersier di bidang keuangan. atau krisis moral. tidak pernah masuk dalam perhitungan. yang jika dibiarkan pasti akan mengakibatkan kebangkrutan perekonomian nasional. anggota KOSUDGAMA (Koperasi Serba Usaha Dosen-dosen Gadjah Mada) yang kini beranggota 5332 orang (74% diantaranya anggota luar biasa. tidak sekedar menggeliat. kata mereka. bukan dosen UGM). tidak dianggap sebagai faktor-faktor yang seharusnya tidak lagi menggambarkan kondisi krisis ekonomi? Ekonomi yang krisis adalah ekonomi yang pertumbuhannya terus-menerus negatif dan inflasi merajalela lebih dari 50% per tahun.650 trilyun untuk ―menyelamatkan perbankan modern‖. . dengan nilai pinjaman meningkat 11 kali lipat (1116%) dari Rp.implikasi besar terhadap teori tentang peranan modal nasional dan upaya-upaya penguatannya dalam pembangunan ekonomi bangsa. koperasi atau lembaga-lembaga keuangan mikro ―informal‖ di perdesaan. 5. Jika ada pakar ekonomi asing mengatakan ―the only way for Indonesia‟s economic recovery is mass capital inflow from abroad‖. maka ekonomi Indonesia secara keseluruhan dikatakan sudah dalam keadaan krisis parah. Di Yogyakarta. Misalnya. krisis hukum.

kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. dan kita tidak perlu mati-matian memulihkan kondisi ekonomi pra-krisis yang sangat timpang. Jika ekonomi Indonesia telah diibaratkan sebagai harimau ( tiger) yang sudah mati sejak krismon 1997-1998. The Theory of Moral Sentiments. Ekonomi Indonesia akan tumbuh cepat seperti ekonomi RRC jika mampu mengalahkan virus korupsi yang tumbuh subur sejak awal gerakan reformasi yang telah benar-benar melenceng. menunjuk pada asas ke-4 Pancasila. dimana ekonomi rakyat mendapat dukungan pemihakan yang sungguh-sungguh dari pemerintah. [5] Adam Smith.[5] [4] Hal Hill dalam buku pertama tahun 1993 memuji-muji ekonomi Indonesia sebagai The Southeast Asia‟s emerging giant. bahkan juga ekonomi kekeluargaan. hukum. Pendirian PUSTEP-UGM ini kemudian diikuti pembentukan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PSEK) di Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa tanggal 16 Agustus 2003 semuanya berkehendak menyumbangkan teori-teori dan ilmu ekonomi (asli) Indonesia yang benar-benar memberi manfaat pada masyarakat/ bangsa Indonesia khususnya wong cilik. tetapi setelah terjadi apresiasi dolar 6 kali lipat secara tiba-tiba maka konglomerat-konglomerat tersebut telah benar-benar hancur berkeping-keping. lalu apa yang terjadi dengan orang-orangnya? Apakah mereka (bangsa Indonesia) juga ikut mati? Inilah tidak realistisnya analisis ekonom yang memberikan konsep-konsep ekonomi abstrak dari manusia-manusia ekonomi (homo ekonomikus) tanpa merasa perlu membumikannya. Disinilah kekeliruan fatal pakar-pakar ekonomi makro yang sejak krismon 1997 menyatakan ekonomi Indonesia telah ―mati secara aneh dan tiba -tiba‖ (the strange and sudden death of a tiger )[4]. Bibit -bibit sistem ekonomi Pancasila sudah ada dan sudah dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Indonesia terutama pada masyarakat perdesaan dalam bentuk usaha- . bukan kerusakan ekonomi Indonesia. adalah karena mereka secara a priori menganggap ekonomi kerakyatan bukan sistem ekonomi pasar. tetapi dalam bidang politik.Dapat disimpulkan bahwa kondisi ―amat gawat‖ yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini tidak terletak dalam bidang ekonomi khususnya ekonomi rakyat. Sudah pasti mereka ―keblinger‖ karena paham sosialisme tidak pernah mati. IV. Demikian. Ekonomi Pancasila bukanlah sistem ekonomi baru yang masih harus diciptakan untuk mengganti sistem ekonomi yang kini ―dianut‖ bangsa Indonesia. Korupsi yang makin merajalela yang ―menyebar‖ dari pusat ke daerah-daerah bersamaan dengan pelaksanaan otonomi daerah bukanlah ―krisis ekonomi‖ tetapi krisis moral. Kerusakan ekonomi bangsa memang hampir sempurna. berbeda dengan pandangan pakar-pakar ekonomi arus utama (main stream). sedangkan ―kerusakan bangsa‖ yang diklasifikasi sebagai ―hampir sempurna‖ oleh Syafii Ma‘arif adalah kerusakan dalam bidang tatakrama atau etika politik. dan RRC juga sudah menjadi kapitalis”. Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang demokratis. Indonesia sebaiknya tidak usah berbicara tentang pemulihan ekonomi ( economic recovery). Yang benar manusia adalah juga homo socius dan homo ethicus. tetapi dituduh sebagai sistem ekonomi ―sosialis-komunis‖ ala Orde Lama 1959-1966. Yang rusak adalah ekonomi konglomerat yang pada masa-masa jayanya terlalu mengandalkan pada modal asing yang murah. dan moral. kerusakan ekonomi yang dialami sektor modern/ konglomerat tidak perlu diratapi. Ekonomi siapa yang akan dipulihkan? Ekonomi konglomerat jangan dipulihkan. Bahwa sejauh ini pakar-pakar ekonomi arus utama menolak konsep ekonomi kerakyatan. tetapi kemudian pada tahun 1999 menyebutnya telah mati. the strange and sudden death of a tiger. 1759. tetapi bukan kerusakan ekonomi rakyat. dan ekonomi RRC tumbuh cepat bukan karena meninggalkan paham sosialisme tetapi karena amat berkembangnya ekonomi rakyat. yang hendak digusur dari pasal 33 UUD 1945. Revolusi Mewujudkan Ekonomi Pancasila Tanggal 12 Agustus 2002 UGM mendirikan PUSTEP (Pusat Studi Ekonom Pancasila) yang kemudian disambut pembentukan Komisi Ad Hoc Kajian Ekonomi Pancasila pada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Pandangan dan pemihakan mereka pada konglomerat yang liberal-kapitalistik memang amat sulit diubah lebih-lebih setelah (istilah mereka) ‖Uni Sovyet pun kapok dengan sosialisme. Apakah kondisi ekonomi konglomerasi seperti ini akan kita pulihkan? Pasti tidak.

. tetapi menuntut pengorbanan melawan egoisme dan subjektivisme. 11 Oktober 2003. yaitu di antara 79 „speed‟ dan 60 taksi yang semuanya dimiliki warga Kota Bangun. “Bagi-bagi rezeki” ala ekonomi rakyat di Kota Bangun inilah bukti nyata telah diterapkannya asas-asas ekonomi Pancasila di Kalimantan Timur. perjuangan. berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila (Soekarno. ketika sistem ekonomi kapitalis liberal di Indonesia sedang digugat. 1 Juni 1945) Jika Ahmad Syafii Ma‘arif dan Franz Magnis-Suseno di dalam Seminar ―Meluruskan Jalan Reformasi‖. 25-27 September 2003. meskipun keberpihakan pemerintah pada konglomerat belum hilang. . mengibaratkan bangsa Indonesia sudah mendekati ―jurang kehancuran‖. yang begitu silau dengan sistem ekonomi kapitalis liberal dari Barat (Amerika). Itulah revolusi bukan sekedar reformasi. Justru inilah suatu bentuk nyata ‖jihad akbar” yang tidak menuntut pengorbanan pertumpahan darah. alasannya jelas karena politik ekonomi yang dijalankan pemerintah bersifat liberal dan berpihak pada konglomerat. PUSTEP UGM bertekad melakukan kajian-kajian kehidupan riil (real life) sehingga dapat membakukan ilmu ekonomi tentang kehidupan riil ( real-life economics) dari masyarakat/bangsa Indonesia. Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. maka reformasi lebih -lebih yang bersifat tambal-sulam jelas tidak akan memadai. Seminar UGM. atau bahkan perang. hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus. lain coraknya.usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. sekali lagi perjuangan.Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM. Seorang pengemudi ‟speed boat‟ Zamrani (26 th) yang hanya tamat SD 6 tahun menegaskan “Ekonomi Pancasila dalam Aksi” di dalam pelayanan jasa transpor di Sungai Mahakam Kaltim. 11 Oktober 2003 Oleh: Prof. janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya ialah perjuangan. tetapi gerakan ekonomi kerakyatan yang dipicu semangat reformasi memberikan iklim segar pada berkembangnya sistem ekonomi Pancasila yang berpihak pada ekonomi rakyat. dan Balikpapan. Nanti kita bersama-sama sebagai bangsa yang bersatu padu. Sistem ekonomi kerakyatan merupakan sub-sistem dari sistem ekonomi Pancasila yang diragukan dan tegas-tegas ditolak oleh teknokrat ―keblinger‖. Tindakan besar yang dimaksud adalah suatu tindakan fundamental. Kompleksitas krisis multidimensi sekarang dan beratnya beban kesulitan mengatasi dan mengakhirinya membuat tekad membangun masa depan harus diwujudkan dalam tindakan-tindakan besar dan inisiatif tingkat tinggi. Pembentukan PUSTEP UGM tepat waktu untuk mengisi kevakuman sistem ekonomi nasional. „Speed‟ hanya melayani penumpang Melak-Kota Bangun pulang-pergi (Kutai Barat dan Kutai Kartanegara). Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi dan Moral. Jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu menjadi satu realiteit. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM.[6] [6] Nurcholish Madjid.. Jihad akbar adalah jenis perjuangan berat melawan diri sendiri. suatu bentuk pengorbanan psikologis. KOPMA-UGM. Ketika terjadi krismon 1997-1998. ―Kapal‖ Indonesia harus dibalikkan arahnya. dan sistem ekonomi kerakyatan sedang mencari bentuknya yang tepat dan operasional. . [1] Makalah untuk Seminar Ekonomi Masa Depan Indonesia Pasca IMF. sedangkan taksi Kijang dan lain-lain kendaraan “mini-bus” untuk jurusan Kota BangunTenggarong-Samarinda. yang secara moral setara dengan revolusi. suatu perjuangan yang memerlukan keberanian menyatakan apa yang benar walaupun pahit karena bertentangan dengan kepentingan pribadi atau kelompok. Mubyarto -. Adapun mengapa praktek-praktek kehidupan riil dan kegiatan ekonomi rakyat yang mengacu pada sistem (aturan main) ekonomi Pancasila ini tersendat-sendat. Dr.

Bacaan 1. A Development Alternative for Indonesia. sedangkan anak-anak kelas IV – VI pulang pukul 13:00. 2002. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi. 2. Soekarno. Sekolah dimulai pukul 6:00 pagi dan pada pukul 6:30 semua murid ―gosok gigi‖ bersama. kelas IV: 1 murid. Franz Magnis-Suseno SJ. Yogyakarta. 2002. Seminar Nasional. berjarak 160 km dari Melak (Sendawar. Seminar Nasional. 5. Kampung (desa) Sambung. 2001. dan Pendidikan. 2000. Anthem Press. Singapore. sehingga total 25 murid. 10. Reformasi Sistem Ekonomi. Pidato pertama tentang Pancasila yang diucapkan pada tanggal 1 Juni 1945 oleh Bung Karno ‖. Mubyarto. Bhratara. bertahun-tahun berjuang ―sendirian‖. Kembalikan Moralitas Bangsa.000 per-bulan). Mubyarto dan Daniel W. BPFE.H. Joseph E. Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi dan Moral. Grayson & Shannon Smith.720. dan kelas VI: 8 murid. Stiglitz. De Soto. Seminar Nasional. ISEAS. kelas II: 3 murid. 2000. Chang. Aditya Media. namun perhatian terhadap . 9. 6. 12. 1999. meskipun gaji Rusnawati terhitung lumayan (Rp 1. sedangkan ke perbatasan dengan Kalteng yang hanya 10 km ditempuh dalam 1 jam perjalanan. Norton. Ahmad Syafii Ma‘arif. tidak mungkin setiap kampung mempertahankan SD sendiri-sendiri dengan jumlah murid sangat sedikit. Ha-Joon. Globalization and Its Discontents. Indonesia Today. Penduduk dan Kemiskinan di Pedesaan Jawa. maka untuk SD yang ditangani Rusnawati reformasi ―belum pernah terjadi‖. 3. yaitu revolusi dalam perhatian pemerintah terhadap kondisi persekolahan di kampung ini. The Rebel Within. ibukota Kutai Barat) dengan perjalanan darat sebagian besar masih jalan tanah buatan perusahaan HPH. WW. Moral. Panitia Pusat ―Silaturahmi Kebangsaan 2003‖. Perjalanan dari Melak memerlukan 4 jam. Pertama. Hernando. 2001. Joseph Stiglitz and The World Bank. 1976. Universitas Gadjah Mada. Universitas Gadjah Mada. 4. dan revolusi dalam kesadaran seluruh warga masyarakat bagaimana menjamin pendidikan yang bermutu bagi generasi anak cucu . Kecamatan Bentian Besar. kelas III: 3 murid. ―12 Kali Tepuk Tangan di BPUPKI: Lahirnya Pancasila. Bromley. 8. Anak -anak kelas I – III pulang pukul 11:00. 2003. Mubyarto. kelas V: 2 murid. Masri Singarimbun & D. 2003. Membangun Sistem Ekonomi. 7. Yogyakarta. Black Swan. Gadjah Mada Press. Penny. SD yang layak dan bermutu harus dipusatkan di kecamatan yang murid-muridnya di‖asramakan‖ dan penyelenggaraannya ditanggung Dinas Pendidikan. Lloyd. Kedua. 2003. Nurcholish Madjid. Yogyakarta. Tentu kita kagum bagaimana seorang guru mengajar 25 anak didik dengan 6 kelas yang berbeda dengan buku-buku yang sangat terbatas. Mubyarto PERHATIAN TERHADAP KONDISI PERSEKOLAHAN DI DAERAH TERPENCIL: BUKAN SEKEDAR REFORMASI HARUS REVOLUSI Rusnawati (47 tahun) yang guru SD Kampung Sambung. Jakarta. dan sangat jelas yang diperlukan sekarang bukan sekedar reformasi tambal sulam tetapi revolusi. London. Kabupaten Kutai Barat. Pemda Kabupaten. Bila kita berbicara tentang reformasi yang jalannya hendak kita ―luruskan‖. New York. 11. 2003. dan kini bertanggungjawab atas pendidikan 25 anak yang terbagi atas 6 kelas yaitu kelas I: 8 murid. Universitas Gadjah Mada. The Mystery of Capital. Kalimantan Timur.

Sengkon (39) dengan gaji Rp 720.000/bulan. tidak sekedar reformasi yang dalam kenyataan hanya dijadikan retorika politik di Jakarta. Ada anak kelas I anak penginjil setempat (Yunus) yang tiap hari diantar sekolah oleh ibunya setelah ditinggal selalu pulang lagi.008 per bulan atau berdasarkan harga yang berlaku pada tahun 2001 adalah sebesar Rp 1. Pendapatan per kapita dan pengeluaran per kapita dapat dijadikan sebagai indikator kemajuan pembangunan ekonomi di Nusa Tenggara Timur. Melihat buku-buku ajar yang dipakai sebagian besar sudah tua. hlm. Dr. Salah satu tujuan pembangunan ekonomi daerah Nusa Tenggara Timur adalah meningkatkan standar hidup layak yang diukur dengan indikator pendapatan per kapita riil masyarakat (Peraturan Daerah Provinsi NTT No. pendidikan rakyat. Strategi pembangunan yang menjadi pilihan tersebut memerlukan langkah-langkah operasional yang terukur dan disesuaikan dengan paradigma baru pembangunan (Esthon Foenay. Kasus kondisi sekolah dasar yang cukup ―memilukan‖ di kampung Sambung menjadi lebih ―mengerikan‖ lagi di kampung Jontai kecamatan Damai. [1] 8 .000 (baru saja diangkat sebagai PNS) dengan dibantu guru PTT dengan gaji Rp 400. 25 September 2003 Oleh: Prof. Sekarang setiap anak membayar BP3 Rp 1. tanpa dinding pembatas. terutama desa-desa/kampung-kampung miskin.696 per tahun atau Rp .Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM.Nopember 2003] Vincent Gaspersz dan Esthon Foenay KINERJA PENDAPATAN EKONOMI RAKYAT DAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Strategi pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dilakukan berdasarkan pertumbuhan melalui pemerataan dengan prinsip membangun dari apa yang dimiliki rakyat dan apa yang ada pada rakyat.kesejahteraan guru dan penyediaan bahan-bahan ajar harus dengan anggaran yang memadai untuk penyelenggaraan sekolah-sekolah beserta asramanya. dengan titik berat pembangunan yang berlandaskan pada pembangunan ekonomi rakyat.100 per tahun atau Rp 61. Pendapatan per kapita dari Provinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan harga konstan 1993 pada tahun 2001 adalah sebesar Rp 732. Mubyarto -. dan kesehatan rakyat. Gedung SD dari kayu yang bekas rumah penduduk (5 x 15m). pemerintah daerah harus mampu mendorong terjadinya revolusi atau perubahan radikal dalam menangani dunia pendidikan termasuk penyediaan anggaran 20% dari APBD seperti yang ―dianjurkan‖ UUD 1945 yang telah diamandemen. Pada saat kepada penduduk Jontai yang dipilih secara acak diajukan usulan untuk ―mengasramakan‖ anak -anak usia SD mereka ke SD Dempar. Demikian dari kasus 2 SD di kampung miskin di kabupaten Kutai Barat ini kiranya harus ada revolusi dalam pendidikan dasar. Di daerah-daerah. 9 Tahun 2001 Tentang Program Pembangunan Daerah Tahun 2001-2004.000/bulan bertanggungjawab atas pendidikan 41 murid SD. Jaelani (41 th). Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. yang merupakan filial SD Dempar. 19). Masyarakat yang hampir semuanya miskin sulit diharapkan membayar biaya pendidikan anak-anak mereka. Pos Kupang 11 September 2001 hlm. dipakai untuk semua murid dengan guru Sengkon sendirian (guru PTT Sarmoto jarang datang).811. Kinerja pendapatan per kapita penduduk diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan tahun 1993 dibagi dengan jumlah penduduk tengah tahun. dikhawatirkan anak-anak sangat tidak menikmati suasana sekolah dan tidak dapat diharapkan menjadi anak-anak yang cerdas. itupun ada yang keberatan karena memang tidak mampu. 4 & 7). Kepala sekolah SD Dempar. sangat mendukung gagasan pengasramaan murid-murid SD desa-desa terpencil ini. beberapa orang spontan mendukung asal tetap tidak perlu dipungut biaya.

15% penduduk NTT (3.149).959 orang (94. dan UNDP 2001) diketahui bahwa kinerja pendapatan per kapita tertinggi (PDRB real per kapita —tanpa minyak dan gas) pada lingkup provinsi di Indonesia adalah dari Provinsi DKI Jakarta yaitu Rp 5.333 per bulan dan terrendah adalah dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (Provinsi Nusa Tenggara Timur) yaitu Rp 497.636). Terdapat dua kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pendapatan per kapita terrendah di Indonesia (ranking 293 dan 294 dari 294 kabupaten yang dipelajari). Berdasarkan studi ini dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pemerataan kemiskinan di Nusa Tenggara Timur yang ditunjukkan melalui rendahnya tingkat pengeluaran per kapita dari mayoritas penduduk di NTT.615 per bulan. (3) Timor Tengah Selatan (Rp 550.000 per hari pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku pada saat itu.493. hlm.333 per bulan.728.000 per tahun atau Rp 41.000 per tahun —ranking 294 dari 294 kabupaten di Indonesia) dan Kabupaten Sumba Barat (pendapatan per kapita Rp 501. Pengeluaran per kapita dari penduduk perkotaan di NTT adalah sebesar Rp 1.770 per bulan (NTT dalam Angka Tahun 2001.240 per tahun atau Rp 93.000 per bulan atau kurang dari Rp 5.417 per bulan. sedangkan pengeluaran per kapita dari penduduk pedesaan di NTT adalah sebesar Rp 1.057).028 (70.034 per bulan. (4) Ende (Rp 812. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001 (BPS.857).039).100). (6) Sikka (Rp 717. Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Global 2002 (UNDP 2002) terhadap 173 negara di dunia. Kinerja pengeluaran per kapita penduduk secara rata-rata dapat juga digunakan sebagai variabel proxy (mewakili) dalam mengkaji kinerja tingkat pendapatan ekonomi penduduk dan distribusi pendapatan penduduk. yaitu Kabupaten Timor Tengah Selatan (pendapatan per kapita Rp 497.000 per tahun—ranking 293 dari 294 kabupaten di Indonesia). Kinerja pendapatan per kapita di Nusa Tenggara Timur adalah yang paling rendah (paling buruk) di Indonesia.149).975 per bulan (NTT dalam Angka Tahun 2001.053). Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001 (BPS. (3) Sumba Timur (Rp 840. Hal ini berarti pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk perkotaan di NTT lebih tinggi sekitar Rp 713.$US 300. diketahui bahwa kinerja pendapatan per kapita tertinggi adalah dari negara Luxembourg yaitu sekitar $US 50 ribu ($US 50. Kinerja pendapatan per kapita dari kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 adalah terdapat tujuh kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pendapatan per kapita per tahun lebih rendah daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 732.820.105).339 orang (65. Kinerja pendapatan per kapita lingkup kabupaten/kota tertinggi (PDRB real per kapita—tanpa minyak dan gas) adalah dari Kota Madya Jakarta Pusat (Provinsi DKI Jakarta) yaitu Rp 15. dan (6) Ngada (Rp 761. 129).04%). atau hanya sekitar 12 persen daripada pendapatan per kapita penduduk DKI Jakarta.298 orang) yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150.009). Sangat sulit membayangkan betapa parahnya tingkat kemiskinan masyarakat di Nusa Tenggara Timur. terutama di daerah pedesaan NTT di mana mayoritas penduduknya (94. dan (7) Ngada (Rp 761. BAPPENAS. Jika menggunakan nilai kurs $US 1 = Rp 9000an (rata-rata nilai kurs pada tahun 2001).408 per tahun atau Rp 144.125. Hal ini berarti secara kasar dapat disimpulkan bahwa pendapatan per kapita penduduk NTT yang sebesar $US 200-an—katakanlah berkisar $US 200 .591).061) dan terrendah (pendapatan per kapita terrendah) adalah dari negara Sierra Leone yaitu $US 490.000 per hari ini terbanyak berada di daerah pedesaan NTT yaitu sebanyak 3.72% dari total penduduk pedesaan) hanya memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 5.000 per tahun atau Rp 495.943. (5) Flores Timur (Rp 778.015. masih lebih rendah daripada pendapatan per kapita penduduk negara termiskin di dunia (Sierra Leone) yang sebesar $US 490.14 persen daripada pendapatan per kapita penduduk Jakarta Pusat. BAPPENAS. 469).951). dan UNDP 2001) diketahui bahwa rasio Gini (indeks Gini) dari pengeluaran rumahtangga di Provinsi Nusa Tenggara Timur .262). Sedangkan enam kabupaten di NTT memiliki kinerja pendapatan per kapita lebih tinggi daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 732.000 per hari.72%).318.000 per tahun atau Rp 1. Pengeluaran per kapita pada tahun 2001 dari penduduk Provinsi Nusa Tenggara Timur atas dasar harga yang berlaku adalah sebesar Rp 1. diurutkan dari yang tertinggi adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 1. diurutkan dari yang terrendah adalah: (1) Sumba Barat (Rp 474. hlm.380 per tahun atau Rp 84.104. (2) Kabupaten Kupang (Rp 852. (5) Alor (Rp 706. (4) Timor Tengah Utara (Rp 650.000 per tahun atau Rp 59.22%) daripada pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk pedesaan di NTT.250 per bulan dan terrendah adalah dari Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Rp 712. Kelompok penduduk yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150.680). (2) Manggarai (Rp 521. Pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku terdapat sekitar 90. sedangkan yang berada di daerah perkotaan NTT adalah sebanyak 388.000 per bulan atau kurang dari Rp 5. atau hanya sekitar 3.100). maka pendapatan per kapita NTT pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku adalah setara dengan $US 200-an.985.150.

(6) Timor Tengah Selatan (Rp 1. (2) Kabupaten Kupang (Rp 1. (2) Sikka (Rp 440.580).717. yaitu: sisi input dan sisi output.pada tahun 1999 adalah rendah yaitu 0. (4) Belu (Rp 1. Berdasarkan kenyataan di atas. dan (11) Ngada (Rp 566.250).730). (6) Belu (Rp 494. (2) Manggarai (Rp 1.010).281. Kinerja produktivitas tenaga kerja dari kabupaten-kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah terdapat 10 kabupaten yang memiliki kinerja produktivitas tenaga kerja regional lebih rendah daripada rata-rata produktivitas tenaga kerja tingkat Provinsi NTT (Rp 1.597.710 (atas dasar harga yang berlaku tahun 2001).900).367.187.960).187.650).28. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input dalam memproduksi output (barang dan/atau jasa).717. maka pembangunan ekonomi kerakyatan di masa mendatang seyogianya memprioritaskan pada beberapa kabupaten di NTT yang masih menunjukkan kinerja rendah dalam indikator pendapatan ekonomi masyarakat yaitu: Timor Tengah Selatan. Hanya terdapat tiga kabupaten yang memiliki kinerja produktivitas tenaga kerja regional lebih tinggi daripada rata-rata produktivitas tenaga kerja tingkat Provinsi NTT (Rp 1.540). (10) Sumba Timur (Rp 566.900). adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 7.030 (atas dasar harga konstan 1993). kimia dan barang dari karet.660). adalah: (1) Sumba Barat (Rp 1.962.180) dan (2) Manggarai (Rp 579. Kinerja pengeluaran per kapita dari kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara Timur pada tahun 1999 atas dasar harga konstan 1993 adalah terdapat sebelas kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pengeluaran per kapita lebih rendah daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 576. diurutkan berdasarkan produktivitas tenaga kerja terrendah.500 persen. (8) Sikka (Rp 1. Belu. Kinerja Produktivitas Tenaga Kerja di NTT Apabila ukuran keberhasilan produksi hanya memandang dari sisi output.820). diurutkan dari yang terrendah adalah: (1) Sumba Barat (Rp 437.148.017.367. diketahui bahwa produktivitas tenaga kerja tertinggi berada dalam Kota Madya Kupang sebesar Rp 7. Hal ini berarti bahwa tingkat ketimpangan antara produktivitas tenaga kerja regional tertinggi (Kota Madya Kupang—Rp 7.560).650.030) dan produktivitas tenaga kerja regional terrendah (Kabupaten Sumba Barat—Rp 1.942.980).703. Kinerja produktivitas tenaga kerja di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 adalah sebesar Rp 1. Hanya terdapat dua kabupaten di NTT yang memiliki kinerja pengeluaran per kapita lebih tinggi daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 576. (8) Flores Timur (Rp 528.710). maka produktivitas memandang dari dua sisi sekaligus. Alor.750). (7) Ende (Rp 501. sedangkan produktivitas tenaga kerja terrendah berada dalam Kabupaten Sumba Barat yaitu sebesar Rp 1. Dari 13 kabupaten/kota yang dipelajari. (4) Alor (Rp 485.652.523.534. kimia dan barang dari karet —Rp 469. (5) Ngada (Rp 1. kimia dan barang dari karet yaitu sebesar Rp 469.24 kali atau 724 persen.640). 2002) diketahui bahwa produktivitas tenaga kerja tertinggi berada dalam sektor lembaga keuangan bukan bank yaitu sebesar Rp 35. Timor Tengah Utara.280). (3) Timor Tengah Selatan (Rp 472.650).750) di Nusa Tenggara Timur adalah sekitar 7.270). Hal ini berarti bahwa tingkat ketimpangan antara produktivitas tenaga kerja sektoral tertinggi (sektor lembaga keuangan bukan bank —Rp 35.017.900).360). (7) Flores Timur (Rp 1. dan (10) Ende (Rp 1. sedangkan produktivitas tenaga kerja terrendah berada dalam sektor industri pupuk. (5) Timor Tengah Utara (Rp 487.406.650). Sumba Barat.030). Kinerja produktivitas tenaga kerja regional di Nusa Tenggara Timur diukur berdasarkan rasio produk domestik regional bruto (PDRB) kabupaten tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 dengan jumlah tenaga kerja yang ada di kabupaten itu pada tahun 2001.590) dan produktivitas tenaga kerja sektoral terrendah (sektor industri pupuk.970).710) di Nusa Tenggara Timur adalah sekitar 75 kali atau 7. diurutkan berdasarkan produktivitas tenaga kerja tertinggi.750 (atas dasar harga konstan 1993).030). (9) Kabupaten Kupang (Rp 557. Manggarai.202. (9) Alor (Rp 1.380).590 (atas dasar harga yang berlaku tahun 2001). dan (3) Sumba Timur (Rp 1. (3) Timor Tengah Utara (Rp 1. .24 kali lipat (724%) daripada tingkat produktivitas tenaga kerja terrendah dari Kabupaten Sumba Barat.540).140). yang berarti tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi dari Kota Madya Kupang adalah 7. yang menunjukkan telah terjadi pemerataan pengeluaran rumahtangga pada tingkat pengeluaran yang rendah seperti diungkapkan di atas.717.367.017. diurutkan dari yang tertinggi adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 1.575. dan Kabupaten Kupang. Dari 34 sektor produksi yang didefinisikan dalam Tabel Input-Output Nusa Tenggara Timur 2001 (BPS NTT.080). yang berarti tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi dari sektor lembaga keuangan bukan bank adalah 75 kali lipat (7500%) daripada tingkat produktivitas tenaga kerja terrendah dari sektor industri pupuk.

Kupang. Kupang. Vincent Gaspersz adalah Guru Besar Ekonomi Manajerial pada Program Pascasarjana Unika Widya Mandira. akan memberikan konsekuensi lebih lanjut berupa peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat. BPS NTT. Hal yang paling memungkinkan adalah mengembangkan sektor-sektor agribisnis yang mampu mengaitkan secara terpadu dan terintegrasi dari agribisnis hulu. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jakarta 2001. DAFTAR PUSTAKA BAPPEDA NTT dan Program Pascasarjana UNIKA WIDYA MANDIRA. dan hilir. Dengan demikian telah jelas bahwa strategi perubahan struktur produksi dari sektor-sektor produksi yang memberikan kontribusi terhadap PDRB. ―on-farm‖. Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2000. di masa mendatang akan mampu meningkatkan produktivitas tenaga kerja regional. Badan Pusat Satatistik. ―on-farm‖. Penduduk Nusa Tenggara Timur—Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000. Publikasi Bersama oleh BPS. 2001. 2001. Foenay.Si adalah Kepala BAPPEDA Provinsi Nusa Tenggara Timur yang bermukim di Kupang. Esthon.Berdasarkan hasil studi ini direkomendasikan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dari kabupaten-kabupaten di NTT melalui melakukan transformasi struktur produksi atau menurunkan tingkat kontribusi dari sektor-sektor primer terhadap PDRB kabupaten itu. Artikel dalam Pos Kupang 11 September 2001. Kupang. Tabel Input-Output Nusa Tenggara Timur 2001—Klasifikasi 35 Sektor. melalui mengembangkan sektor agribisnis dari hulu. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. 2001. Peningkatan produktivitas tenaga kerja melalui perubahan struktur produksi terhadap PDRB. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. Jakarta yang saat ini bermukim di Vancouver. M. Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001—Menuju Konsensus Baru: Demokrasi dan pembangunan manusia di Indonesia. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 6 Tahun 2002 tentang Rencana Strategis Pembangunan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2002-2004. 2002. 2002. Canada. sampai hilir. Jakarta. Laporan Studi Kerjasama Bappeda NTT dengan Program Pascasarjana Universitas Katolik Widya Mandira. dan UNDP. 2001. . Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 8 Tahun 2001 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Tahun 2001-2004. BPS NTT. Bappenas. maju. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. NTT. Kupang. Esthon Foenay. dan sejahtera. Kupang. sesuai dengan visi dari pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur. BPS Jakarta-Indonesia. Ir. hlm. dan UNDP. 2001. 2001. BPS. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor : 9 Tahun 2001 tentang Program Pembangunan Daerah (PROPEDA) Tahun 2001-2004. Kupang dan Universitas Trisakti. 4 dan 7. BPS NTT. Dr. yang pada akhirnya akan mampu mewujudkan kemandirian masyarakat membiayai kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. Badan Pusat Statistik Provinsi NTT. Bappenas. Perspektif Perencanaan dan Paradigma Baru Pembangunan. Hal ini akan mampu mewujudkan cita-cita jangka panjang berupa mewujudkan masyarakat Nusa Tenggara Timur yang mandiri. Prof. Kupang. Kupang. Perencanaan Sumber Daya Manusia Tingkat Makro di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2001. 2002. 2002.

and the increased threats now directed at Iran and Venezuela—all signal the rise of a dangerous new era of energy imperialism. and (4) looming fears of peak oil. military activities in the Gulf of Guinea in Africa (where Washington sees itself as in competition with Beijing). with the backing of the other leading capitalist states. Laherrère. (2) the disappearance of spare world oil production capacity. ―The End of Cheap Oil‖ predicted that world oil production would peak ―probably within 10 years.1 Beginning in 1998 a series of strategic energy initiatives were launched in national security circles in the United States in response to: (1) the crossing of the 50 percent threshold in U. assuming a high profile behind the scenes in establishment discussions. seek to extend its control over world oil reserves with the object of boosting production.‖2 This required that the United States as the hegemonic power. the invasion and occupation of Afghanistan (the geopolitical doorway to Western access to Caspian Sea Basin oil and natural gas) following the 9/11 attacks. The crossing of this threshold pointed to a very rapid growth in U.S. foreign oil dependency. Campbell and Jean H.S. the . (3) concentration of an increasing percentage of all remaining conventional oil resources in the Persian Gulf.Peak Oil and Energy Imperialism John Bellamy Foster Home Subscribe Notes From the Editors ESSAYS ON: » Africa » Europe » Feminism/Women and Politics » Globalization » Labor and Working-Class Issues » Latin America » Media/ Communications » 9/11–War on Terrorism » Social/Political Theory » U.‖ The Campbell and Laherrère article and the question of peak oil immediately drew the attention of the International Energy Agency (IEA). At the same time fears that the world would soon reach peak oil production became increasingly prominent. Seen in this light. The Geopolitics of Oil In April 1998 the United States for the first time imported the majority of the petroleum it consumed. importation of foreign oil. A key event was the publication in Scientific American in March 1998of ―The End of Cheap Oil‖ by retired oil industry geologists Colin J. The response of the vested interests to this world oil supply crisis was to construct what Michael Klare in Blood and Oil has called a global ―strategy of maximum extraction. the 2003 invasion of Iraq. Politics/ Economics The rise in overt militarism and imperialism at the outset of the twenty-first century can plausibly be attributed largely to attempts by the dominant interests of the world economy to gain control over diminishing world oil supplies.S. the rapid expansion of U.S.

Schlesinger.‖ And that dragged me into helping create the comprehensive energy plan put forth by Bush when he was running. Department of Energy conducted a full assessment of the peak oil issue as early as July 2000. His 2005 book. ―When you have someone who is the head of U. As Simmons reported to Bush‘s cousin: I said. was not altogether reassuring to the vested interests.‖ Simmons noted that ―almost all of these new fields have already reached peak production and are now experiencing rapid rates of decline…fAnd when the stable base of old. arguing that the Saudi oil production peak was imminent. As opposed to those who saw the peak occurring ―as early as 2004‖ the EIA concluded that ―world conventional oil production may increase two decades or more before it begins to decline. he can mispronounce every head of state in the world. This was increasingly integrated with wider issues on the expansion of the U. CEO of the Houston-based energy investmentbanking firm Simmons and Company International and a member of the National Petroleum Council and the Council on Foreign Relations.‖ he asked. however.7 These concerns with regard to world oil supply that began to penetrate the corridors of power in the 1998–2001 period led to a wide-ranging debate within the inner circles in the United States about the nature of the oil extraction problem and the strategic means with which to alleviate it. this is so much worse than what they‘ve warned us about. but this. this will sink you. but giant. Referring to oil fields ―brought into production since 1970. Matthew Simmons.3 This. . the introduction of this technology most likely accelerated their depletion.S.‖ Employing the IEA‘s own assumptions on reserves.‖ I said. Twilight in the Desert: The Coming Saudi Oil Shock and the World Economy. In November 2000. published an article in Middle East Insight in 1999 in which he emphasized the ―far faster‖ depletion of major oil fields arising from high-extraction technology. fields also starts to deplete. oil policy call you and [say ‗shit!‘] about five times in 20 seconds. however. who had been sent to examine the spare oil production capacity of the OPEC countries.8 In July 1998 the Center for Strategic and International Studies (CSIS) launched its ―Strategic Energy Initiative. was still far from distant. has become one of the most influential works propounding the peak oil notion. since it suggested that a world oil peak could be reached as early as 2021.OECD‘s energy organization. considering a number of scenarios.5 Simmons was a member of the Bush-Cheney Energy Transition Advisory Committee. he had ―pulled aside‖ Bush‘s ―first cousin‖ in early March 2000 to tell him of an earlier conversation he had had with an assistant to Secretary of Energy Bill Richardson. if this all breaks out and Bush is misinformed. its own longterm supply model ―would not peak until around 2008–2009.S. ―what will this do to the world‘s average depletion rate?‖4 In 2000 Simmons‘s concerns regarding diminishing oil supply led to his becoming an energy advisor for George W. advising on the growing oil constraints. moreover. Bush‘s presidential campaign. The IEA claimed that even adopting the pessimists‘ assumptions on the real extent of world oil reserves and the existence of a bellshaped production curve (but without the sharp oil price hike suggested by Campbell).‖ The analysis itself. would push the peak back around a decade further. As he recounted it in a February 2008 interview.‖ at the urging of former chairman of the Senate Armed Services Committee Sam Nunn and former secretary of defense (and former secretary of energy) James R. Rather than extending the life of oil fields as previously supposed. The peaking of United Kingdom North Sea oil production in 1999 (Norwegian production peaked two years later) added a still greater sense of urgency. in its World Energy Outlook of 1998.S. empire raised by groups such as the Project for a New American Century.6 The Energy Information Administration (EIA) of the U. ―Between now and the election.

‖ falling to ―negligible‖ amounts. Overall.‖ the Strategic Energy Policy report emphasized.S.‖ Indeed.‖ Excess capacity had been ―wiped out. Nevertheless. Task force members included both oil optimists. with one in which the multinational oil corporations centered in the advanced capitalist economies once again took charge of reserves and investments. and in the previous year ―turning its taps on and off when it has felt such action was in its strategic interests to do so.S. In this situation. reliance on foreign oil imports could increase to almost two-thirds of its total gasoline and heating oil consumption by 2020. It stressed that the Persian Gulf would have to expand its energy production ―by almost 80 percent during 2000–2020‖ in the face of rising demand and declining oil production elsewhere in the world in order to meet world energy needs.S. ―Iraqi reserves. ―represent a major asset that can quickly add capacity to world oil markets and inject a more competitive tenor to oil trade. petroleum security.S.the Strategic Energy Initiative issued a three volume report. The CSIS Strategic Energy Initiative officially rejected the notion that the world oil peak would be reached as early as 2010.‖ In terms of the long-term world oil supply outlook. The Baker Institute/Council on Foreign Relations report emphasized the adequacy of world oil reserves for decades to come but argued that world oil was facing ―tight supply‖ due to ―underinvestment‖ in new production capacity and ―volatile states. The problem was what to do about Saddam Hussein. issued under the direction of Vice President Dick Cheney. had ―special responsibilities for preserving worldwide energy supply‖ and ―open access‖ to the world‘s oil. The Geopolitics of Energy into the 21st Century. partly due to oil producing countries devoting oil revenues to social projects rather than to investment in new production capacity. some of whom do not share our interests. since there was a danger that oil price increases and supply shortages would make ―the United States appear more similar to a poor developing country. noting that total U. such as Morse and Daniel Yergin of Cambridge Energy Research Associates.10 These reports by national security analysts on strategic energy policy were followed in May 2001 by the White House release of its National Energy Policy. which included the ―possibility that Saddam Hussein may remove Iraqi oil from the market for an extended period. Department of Energy‘s International Energy Outlook in 2001 projected the need for a doubling of Persian Gulf oil production over 1999 .‖ Investment in the enhancement of Iraqi oil production capacity was essential. The question of a world oil peak in the decade 2000–10 was also examined. oil production had fallen 39 percent below its 1970 peak and that U. the Baker Institute/Council on Foreign Relationsreport emphasized.S. operating well below capacity. the Baker Institute/Council on Foreign Relations report pointed out that Iraq had emerged as a key ―swing producer‖ of oil. focusing on the arguments of Campbell and Laherrère and Simmons. the stakes were exceedingly high. it declared.‖ This presented a growing danger to the world capitalist economy.S. This would be coupled with replacement of the current political economy of oil dominated by national oil companies. ―national energy security‖ in the hands of ―foreign nations. with Nunn and Schlesinger as cochairs. It too emphasized the need for U. which had arisen with the growth of ―resource nationalism‖ in the third world. the U. economic sanctions. Morse. chaired by energy analyst Edward L. and oil pessimists such as peak oil proponent Simmons.9 In 2001 the James Baker III Institute for Public Policy of Rice University and the Council on Foreign Relations cosponsored a study of Strategic Energy Policy Challenges for the 21st Century.‖ The answer was for the Western powers led by the United States to play a more direct role in the development of world oil resources. its report took the peak oil issue extremely seriously. President Bush warned in May 2001 that dependence on foreign crude oil put U. Underscored throughout the report was the necessity of finding ways to increase oil exports from Iraq and Iran both then under U. As the ―only superpower‖ the United States.

and economic dominance of the Gulf.12 Militarily the issue was one of shoring up Saudi Arabia in the face of growing signs of instability. This optimistic forecast could not possibly be fulfilled. But since the sought-after increases could be doomed by instability and conflict in the region.S. invasion of Iraq. political. the administration adopted a series of policies that together formed a blueprint for political. giving the United States a geopolitical doorway (and pipeline route) to Central Asia and the Caspian Sea Basin. Rather than try to solve the problem on the demand side by lessening consumption. economic official throughout this period. without massive investment in an expansion of capacity in the Persian Gulf of a kind that key states. It is unlikely that this strategy was ever formalized in a single. for example: ―the reaction. The IEA estimated that Persian Gulf states would have to invest over half a trillion dollars on new equipment and technology for oil production capacity expansion by 2030 in order to meet projected oil production levels. capacity was extremely tight. the Bush administration fashioned a comprehensive strategy for American domination of the Persian Gulf and the procurement of everincreasing quantities of petroleum. Both nations were viewed as underproducing due to underinvestment and the effects of sanctions. From the standpoint of the geopolitics of oil. presenting the possibility of a big boost in Iraqi oil production. national security and energy analysts as well as energy corporations and the Bush administration had thus arrived at the conclusion by spring 2001 that. and providing a staging ground for increased U. military. strategic control of the Middle East and its oil was viewed as the key to establishing the basis of a ―new American century.‖ The U. while substantial oil reserves still existed. Only a vast increase of oil production in the Persian Gulf as a whole could prevent an enormous gap emerging between oil production and demand over the next two decades. while Iran‘s had fallen by about 37 percent since 1976. the top U. as had all other administrations before it. and even Saudi Arabia. Once the September 2001 attacks occurred. to the military as the ultimate guarantor. Greenspan claimed.11 U. intervention in Iraq and its increased military role in the Middle East was.S. seemed unlikely to undertake. Rather. the Bush administration turned.‖ As former Federal Reserve Board Chairman Alan Greenspan. As Michael Klare wrote in his Blood and Oil: In the months before and after 9/11. presaging a series of oil price shocks. carrying out regime change in Iraq. Behind all of this lay the specter of peak oil production. economic. the strategy also entailed increased military intervention. U. needed to be seen against the background of previous Western military interventions aimed at securing the oil of the region. Saddam Hussein‘s removal and the occupation of Iraq was seen as enhancing the security of Middle East oil. followed by the invasion in 2003 of Iraq. Iraqi crude oil production in 2001 was 31 percent less than in 1979.S. and exerting maximum pressure on Iran. all-encompassing White House document. Mossadeq‘s nationalization of Anglo-Iranian oil in 1951 [resulting in the CIA‘s overthrow of Iranian Prime Minister Mossadeq and the installation of the Shah in 1953] and the aborted effort by Britain and France to reverse Nasser‘s takeover of the key Suez Canal link for oil flows to Europe in 1956. This approach—I call it the strategy of maximum extraction—was aimed primarily at boosting the oil output of the major Gulf producers. and military action in the Gulf. the ―War on Terrorism‖ led to the invasion first of Afghanistan. stated in his book The Age of Turbulence in 2007: ―I am saddened that it is politically inconvenient to acknowledge what everyone knows: that the Iraq war is largely about oil. such as Iraq and Iran.levels by 2020 in order to meet expected world demand.S.S. . however.S. to and reversal of.‖ The U. Key figures in the Bush administration such as Donald Rumsfeld and Paul Wolfowitz had been pushing for an invasion of Iraq even before the election.

along with the stagnation of world oil production as a whole.‖ The economic and environmental costs are thus prohibitive. but also at much greater cost—monetarily and to the environment. the centrality of oil in the occupation of Iraq was not something that it could easily deny. e. As the price of oil rises some of these sources become more exploitable. Oil production in the Persian Gulf as a whole increased by 2. In a September 13.‖14 Peak Oil: A Global Turning Point? In the five years that have elapsed since the United States invaded Iraq the world oil supply problem has drastically worsened. producing two and a half gallons of toxic liquid waste for every barrel of oil extracted.for Greenspan—the leading spokesperson for financial capital in the 1990s and early 2000s—justified by the fact that ―world growth over the next quarter century at rates commensurate with the past quarter century will require between one-fourth and two-fifths more oil than we use today. prime time television speech. national oil production can be expected to take the form of a bell-shaped curve as well..‖ Peak oil is generally viewed in terms of the peaking of conventional crude oil supplies on which the main estimates of oil reserves are based. Bush declared that if the United States were to pull out of Iraq ―extremists could control a key part of the global energy supply. petroleum derived from oil sand.g.13 Although the Bush administration criticized Greenspan‘s statement. The conventional notion that . Today it is present in all establishment discussions of the world oil issue. oil peak in 1970. 2007.5 million barrels a day (mb/d) to 6 or even 10 mb/d. Since oil production for an entire country is simply a product of the aggregation of individual wells.S. Those who argue that peak oil is imminent insist that estimates of proven reserves are commonly exaggerated for political reasons.1 mb/d. Estimates of the potential for increased Iraqi oil production made prior to the war had suggested that Iraq free of sanctions could potentially increase its crude oil production within a decade from its previous 1979 high of 3. It requires one billion cubic feet of natural gas to generate one million barrels of synthetic oil from oil sands. These methods were pioneered in the 1950s by oil geologist M.S.16 At the time U. Geologists have become adept at estimating the point at which a peak in national production will occur. and that actual retrievable reserves may be considerably less. while the average size of new discoveries has also declined over time. bell-shaped curve with extraction steadily rising. having declined from 2. who achieved fame for successfully predicting the U. by 2 percent a year. These include heavy oil. troops reached Baghdad peak oil was already a specter looming over the globe.15 Instead. and shale oil. Rather it simply means the peaking and subsequent terminal decline of oil production. There are also unconventional sources of oil that can be produced at much greater cost and with a much lower energy returned on energy invested (EROEI) ratio.4 to 2. as determined primarily by geological and technological factors. King Hubbert.17 A key part of the argument on peak oil is the fact that discoveries of oil fields worldwide peaked in the 1960s. It is estimated that it takes an equivalent of two out of three barrels of oil produced to pay for the energy and other costs associated with extracting oil from the tar sands in Alberta. The extraction of oil from any given oil well typically takes the form of a symmetrical. where two-thirds of the world‘s reserves and hence most of its capacity for increased extraction was located. until a peak is reached when about half of the accessible oil has been extracted.‖ And this vast increase in oil production needed to come largely from the Persian Gulf.4 mb/d on average between 2001 and 2005 and then dropped by 4 percent in 2005–07. Peak oil therefore inevitably signals the end of cheap oil. Iraq‘s average annual oil production in 2007 had fallen to 13 percent below its 2001 level. Oil sand mining also requires vast quantities of water. The eventual peak in oil production is therefore sometimes known as ―Hubbert‘s peak. This liquid waste is stored in enormous and rapidly expanding ―tailing ponds. Two tons of sand must be mined to get one barrel of oil. Peak oil is not the same as running out of oil.

This therefore has lent credence to the notion that this is the form the peak will initially take. ―and/or [other fuel that]. oil sands. coal-to-liquid.‖20 The lower line in chart 1.. An added consideration is whether world oil production will face a classic bell-shaped curve. there is a growing consensus that peak oil is or will soon be a reality. U. culminating in a slender. and may have already been reached in 2005–06. Chart 1 shows world oil production/supply from 1970 to 2007. before declining. to be followed quickly by a decline (within what can be viewed as a symmetrical curve)—or whether production will rise to a plateau and then stay there for a while.there are forty years of crude oil production remaining at current rates of output is seen as misleading. as well as by political events such as war and revolutions.eia. biofuels. resulting in what appears to be a more definite plateau. a leading peak oil proponent. which has adopted an almost identical approach) is defined to include ―all liquid fuels and is accounted at the product level.. Chart 1: World oil production and supply Source: Energy Information Administration. The chief question now is how soon.‖ Conventional or crude oil is readily processed oil ―produced from underground hydrocarbon reservoirs by means of production wells. labeled ―crude oil production.S. ―Oil‖ according to the IEA (and the EIA. In addition.‖ Unconventional oil is derived from other processes. oil shales. One of these is that of ―early peakers‖ (usually seen as peak oil proponents proper). but it is also the preeminent liquid fuel in transportation. An imminent peak in conventional oil thus strikes at the lifeblood of the existing capitalist economy. however. and whether it is already upon us. Explaining that a plateau is the most likely initial outcome at the world level. represented by ―late peakers. and the production of conventional and unconventional oil.‖ refers simply to production of conventional oil. such as liquefied natural gas. It presents the possibility of a drastic economic dislocation and slowdown. The ―world oil supply‖ line. In fact. demand for oil falls off). Sources include natural gas liquids and condensates. oil demand is in the form of gasoline and petrodiesel consumption by cars and trucks. remains level at about 85 mb/d due to a compensating rise in unconventional sources over the same period.3 mb/d in 2007.‖ is that the world oil peak will not be reached until 2020 or 2030. reflecting the fact that crude oil production fell from an average of 73. Department of Energy. The higher line. The peak oil crisis is more sharply defined than the more general crisis in energy. since not only is petroleum the most protean fuel. International Petroleum Monthly.19 Hence.S.needs additional processing to produce synthetic crude. http://www. since it exaggerates the reserves in the ground and downplays the fact that the economy requires that oil demand and production levels increase. These analysts argue that peak oil will probably be reached by 2010–12. April 2008. tables 1.4. world oil supply appears already to have reached a plateau over the last three years at the level of 85 mb/d. Richard Heinberg.18 The peak oil debate. writes: Why the plateau? Oil production is constrained by economic conditions (in an economic downturn.4d and 4.‖ also includes unconventional sources plus net refinery processing gains (losses). rounded peak.8 mb/d in 2005 to 73. Therefore more than two-thirds of U. the shape of the production curve is modified by the increasing . The ―crude oil production‖ line shows a very slight dip in 2005– 07.html.doe. The alternative position.gov/ipm/supply. Peak oil analysts therefore focus on production levels rather than reserves. refinery processing gains. for which there is no easy substitute in the quantities needed. has now narrowed down to two basic positions. which has often been fierce over the past decade. labeled ―world oil supply.

Norway (2001).availability of unconventional petroleum sources (including heavy oil.‖ Indeed. Atomic Energy Commission. Colombia (1999). spiraling costs and increasingly complex oil-field geology. the crisis associated with the world peak in conventional oil production would be reached ―in 2008 to 2012. United States (lower 48. Denmark (2004). But they share the belief that a global production ceiling is coming for other reasons: restricted access to oil fields.‖ Echoing many of the same worries. not a peak. The Hirsch report concluded that peak oil was a little over two decades away or nearer. they contend. Oman (2001). The project leader was Robert L.24 In February 2005 the U. ―at the furthest out. In November 2007 the Wall Street Journal reported: a growing number of oil-industry chieftains are endorsing an idea long deemed fringe: The world is approaching a practical limit to the number of barrels of crude oil that can be pumped every day. and tar sands).. and with oil supply seemingly stuck at the 85 mb/d level.21 The notion that a partly geological-technical. 11. Department of Energy released a major report that it had commissioned entitled Peaking of World Oil Production: Impacts. This will create a production plateau. Gabon (1997). Indonesia (1977). The combined effect of all of these factors is to cushion the peak and lengthen the decline curve. The enormous problem of converting Supply Outlook.. who pointed out that. 1974). Ecuador (1999). Thus Simmons and Texas oil billionaire T. which includes both scientists and members of the German parliament. in order to mitigate the harmful effects of the end of cheap oil. Australia (2000). Romania (1976).22 Oil Producing Countries Past Peak (Year of Peak) Austria (1955). and Risk Management. . asserting that the peak will not be reached until 2030 and that it will manifest itself at first as an ―undulating plateau. was on the issue of the massive transformations that would be needed in the economy. Syria (1995). partly political-economic. Crude Oil: The Given the appearance of a world oil production plateau at present. contends that ―world oil production.‖ it stated. Hirsch of Science Applications International Corporation. Argentina (1998). an increased average daily oil production equivalent to ten times current Alaskan production was needed ―just to stay even. 1989). it is not surprising that some analysts believe that peak oil has already been reached. Germany (1967). and ARCO. Venezuela (1998).S. natural gas plant liquids. Yemen (2001). ―suggest that world oil peaking will occur in less than 25 years. Mitigation. Mexico (2004).S..‖ But the Journal article also took seriously the views of Simmons. October 2007.. Source: Energy Watch Group. however. Egypt (1993). Hirsch had formerly occupied executive positions in the U. Malaysia (1997). While the Energy Watch Group in Germany. Boone Pickens have both raised the question of whether the peak was reached in 2005. United States (Alaska.‖23 Publicly of course the peak oil problem has often been characterized by establishment sources and the media as a ―fringe issue. India (1995). The Wall Street Journal article referred to the estimates of Cambridge Energy Research Associates.‖ Yet over the past decade the question has been pursued systematically with increasing concern within the highest echelons of capitalist society: within both states and corporations. some oil executives have raised the specter of an oil supply ceiling of 100 million barrels (conventional and unconventional). Canada (conv. due to declining production in old fields.. United Kingdom. and particularly transportation. as well as new extraction technologies.‖ The main emphasis of the Hirsch report commissioned by the Department of Energy. with petroleum supply likely falling short of expected demand within a decade or less. ―Even the most optimistic forecasts.peaked in 2006. Exxon. (1999). plateau is emerging has now become the dominant view in the industry. 1971).‖ he suggested. with oil output remaining relatively constant rather than rising or falling.The near adherents [to the peak oil view]—who range from senior Western oil-company executives to current and former officials of the major world exporting countries—don‘t believe that the global oil tank is at the half-empty point.

S. Western oil interests were particularly distressed that the first production from Kazakhstan‘s Kashagan oil field (considered the largest oil deposit in the world outside the Middle East) was eight years behind schedule due in part to waters frozen half the year. The same month Goldman Sachs shocked world capital markets by coming out with an assessment that oil prices could rise to as much as $200 a barrel in the next two years. For the GAO the threat of a major oil shortfall was worsened by the political risks primarily associated with four countries. the largest in the world. and Venezuela.28 In February 2007 the U. Brown wrote in his Plan B 3.‖ Due to a combination of factors including production shortfalls and a declining dollar.‖ He declared there that. which had initially rejected Simmons‘s assessment. Without massive mitigation at least a decade before the fact. The fact that Venezuela contained ―almost 90 percent of the world‘s proven extra-heavy oil reserves‖ made it all the more noteworthy that it constituted a significant ―political risk‖ from Washington‘s standpoint. the U.S. federal agencies had not yet begun to address the issue of the national preparedness necessary to face this impending emergency.0: ―Suddenly the world is facing a moral and . By May 2008 the IEA.29 In April 2008. Oil production is approaching its peak. One can only speculate at the outcome from this scenario as world petroleum production declines. backtracked between 2004 and 2006. ―previous energy transitions (wood to coal. by 2005 there was little doubt in ruling circles about the likelihood of serious oil shortages and that peak oil was on its way soon or sooner. low growth in availability can be expected for the next 5 to 10 years. 20 percent of U.‖ Likewise the U. was preparing to reduce its forecast of world oil production for 2030 from its earlier forecasts of 116 mb/d to no more than 100 mb/d. oil peaking will be abrupt and revolutionary. Nigeria. Iraq. Jeroen van der Ver. Hirsch wrote an analysis for Bulletin of the Atlantic Council of the United States on ―The Inevitable Peaking of World Oil Production. coal to oil. cars. etc.‖ in the IEA‘s words. Government Accountability Office (GAO) released a seventy-five-page report on Crude Oil pointedly subtitled: Uncertainty about Future Oil Supply Makes It Important to Develop a Strategy for Addressing a Peak and Decline in Oil Production. geopolitics and market economics will cause even more significant price increases and security risks.‖26 Similarly. The world has never faced a problem like this. oil in May 2008 reached over $135 a barrel (it averaged $66 in 2006 and $72 in 2007). and aircraft in just a quarter-century (at most) was viewed as presenting intractable difficulties.S. CEO of Royal Dutch Shell. pronounced that ―we wouldn‘t be surprised if this [easy] oil would peak somewhere in the next ten years. according to analysts for the New York Times.27 Indeed. trucks.virtually the entire stock of U. accounting for almost one-third of world (conventional) reserves: Iran.S. the problem will be pervasive and long lasting. It argued that almost all studies had shown that a world oil peak would occur sometime before 2040 and that U. As worldwide petroleum production peaks.S.S.30 It was alarm about gasoline prices and national energy security (and no doubt the specter of a world oil peak) that induced the Bush administration in 2006 to take a more aggressive stance in promoting cornbased ethanol production as a fuel substitute. Department of Energy. In its 2005 World Energy Outlook the IEA raised the issue of Simmons‘s claims in Twilight in the Desert that Saudi Arabia‘s super-giant Ghawar oil field. but a picture of the future. ―be close to reaching its peak if it has not already done so. In 2007.) were gradual and evolutionary. corn production was devoted to ethanol to fuel automobiles. As environmentalist Lester R.25 In October 2005. The price of grain spiked worldwide partly as a result. Army released a major report of its own in September 2005 stating: The doubling of oil prices from 2003–2005 is not an anomaly. ―could. degrading its projection of Saudi oil production in 2025 by 33 percent.

S. rather than reinvesting the oil proceeds. Burke Chair in Strategy at CSIS) and Khalid R. written by Anthony Cordesmam (long-time national security analyst for the U.‖ ―Stability in petroleum exporting regions. Thus Cordesman and Al-Rodhan noted that.S. In October 2005 the CSIS issued another report. and thus even sustaining current levels of consumption‖ would be enormously difficult. and South America are no more stable than the Gulf. ―Some analysts have questioned the [Saudi] Kingdom‘s ability to meet sudden surges in demand because of its lack of spare production capacity. peak oil issues were not to be entirely discounted. Still. ―the depletion of conventional sources.‖32 Even more central than the CSIS study was a 2006 Council on Foreign Relations report. The Deutch and Schlesinger report zeroed in on inadequate oil production capacity. Saudi Arabia. Baker III Institute for Public Policy on ―The Changing Role of National Oil Companies in International Energy Markets. if required…Any nation (or subnational group) that contemplates violence on any scale must take into account the possibility of U. National Security Consequences of U. Although the Deutch and Schlesinger report discussed some demand-side measures to reduce U. alleged corruption in Russia. Iran.political issue that has no precedent: Should we use grain to fuel cars or to feed people?. Oil Dependency. China was trying to ―lock up‖ oil supplies in Africa. Let‘s fuel the cars. Iran. on average. . Thus the report declared that ―the United States should expect and support a strong military posture [in the Persian Gulf in particular] that permits suitably rapid deployment to the region. Cordesman and Al-Rodhan quoted the IEA‘s prediction in its 2004 World Energy Outlook that global oil production would not ―peak before 2030 if the necessary investments are made. the disappearance of surplus oil production capacity.S. Moreover. but recent experience has shown that exporting countries in Africa. and others—like Matthew Simmons—have estimated that Saudi production may be moving towards a period of sustained decline. and West Africa were all centers of instability. Iraq.‖ Cordesman and Al-Rodhan added. Production from existing conventional oil fields throughout the world was ―declining. consumption and oil dependency.‖31 The New Energy Imperialism The response in U. national security circles to the apparent oil production plateau. whereas Western multinational oil companies controlled a mere 10 percent. with OPEC no longer having the surplus capacity with which to keep prices under control. the Caspian Sea. Department of Defense.S.3 million barrels per day). and growing fears of peak oil was swift. now holder of Arleigh A. or retaliation. especially those close to the major markets in the United States.S. ―is tenuous at best. entitled.‖ Rather the immediate problem was ―lagging investment‖ in the Middle East..‖ the Baker Institute went so far as to declare.‖Emphasizing that national oil companies now controlled 77 percent of the world‘s total reserves. labor strikes in Venezuela. preemption. chaired by former CIA Director John Deutch and Schlesinger.. Algeria. and elsewhere. and Venezuela were using oil to pursue domestic and geopolitical goals. and Iraq all present immediate security problems. and Asia.S.‖33 No less significant was an April 2007 ―policy report‖ issued by the James A. There has been pipeline sabotage in Nigeria. military in securing oil supplies. the Caspian Sea. this time on Changing Risks in Global Oil Supply and Demand. about 5 percent per year (roughly 4. ―If the United States were able to wish into existence a world that would favor its terms of trade and superpower status. and civil unrest in Uzbekistan and other FSU [Former Soviet Union] states. it contended that this was the key issue in managing the current world oil supply problem.The market says. means that the production and transport of oil will become even more dependent on an infrastructure that is already vulnerable. Western Europe. Iran.‖ Major energy suppliers like Russia. intervention. Al-Rodhan (a strategic analyst specializing in Gulf issues). it stressed expanding the role of the U.

and the Caribbean nations. is due to an oil export decline rate of 10–12 percent. Iran‘s pursuit of nuclear power. Ecuador. Meanwhile.34 The tightening oil situation has prompted the rapid on the ground growth of U. The security of Saudi Arabia remains an overriding focus..S. ―preemptive‖ military intervention directed at Iran meanwhile have been continuous. energy imperialism. based on its alleged attempts to acquire nuclear weapons through the aggressive pursuit of nuclear energy. Another case of the geostrategic wielding of oil power was Iran. deliberating slowing its production in expectation of continually rising prices. as a 2007 study published in the Proceedings of the National Academy of Sciences has confirmed. Department of Energy needs to double its oil output by 2030. One critical danger that the United States needed to guard against was a ―hostile‖ alliance between major oil producing/consuming states. beyond the continuing Iraq and Afghan wars. which had threatened that it ―could block the vital oil transitway.‖ it had also used oil as an instrument of ―foreign policy activism. military intervention.35 The United States has sought to counter the possibility of an energy alliance between Russia. The repressive structure of the society conceals massive popular resentment. This led to Iran‘s recent inability to meet its OPEC oil export quota. was the continuing political instability in Iraq. military attack. imperial objective should be to ―break up‖ wherever possible ―the monopoly power of oil producers‖ and their use of their oil resources to pursue national goals other than purely commercial ones. which according to the U. the United States will have to accept the existence of NOCs as a fact of life but should encourage steps to make their activities more businesslike. foreign investors would be treated the same as local companies and OPEC would be disbanded. Washington‘s plans for a massive expansion of investment and production in Saudi Arabia. depends on the feudal kingdom remaining in place. Above all the U. and the Central Asian states. was Venezuela under the leadership of Hugo Chávez.S. allowing free trade and competitive markets to deliver energy that is needed worldwide at prices determined solely by the market.36 . notably its Manas air base in Kyrgyzstan on the border of oil-rich Kazakhstan. and Central Asian oil states by expanding its military bases in Afghanistan and Central Asia. emanating from the vastly unequal distribution of the country‘s oil revenues.In light of this reality. thereby holding back on the lifeblood of the world economy. Ninety percent of private sector jobs go to foreigners.S. Not only had the Bolivarian Revolution prioritized ―the government‘s national development policy‖ and ―social and cultural investment‖ over ―commercial development strategy. The chief example of such state interference in oil production. China. such as Russia. The current trend points to the likelihood of Iranian petroleum exports falling to zero by 2014–15.S. the Baker Institute underscored. Iran. ―a desperate superpower might feel it has no choice except to attempt to control the largest remaining oil fields on the planet at any cost‖— particularly if faced by growing rivalry from other states. Any destabilization of the society would likely prompt U. and its ―interference‖ in Iraq. arising from the growth of domestic energy demand plus a high rate of oil field depletion and a lack of investment growth in expanded capacity.S. Nicaragua.S. the Baker Institute report stated. Iran‘s government and its national oil corporation have adopted the monopolistic policy of underinvesting in oil..all NOCs [national oil corporations] would be privatized.. transparent and—to the extent possible—free of onerous government interference. the Strait of Hormuz. From the standpoint of Western energy and national security analysts.‖ if faced with a U. Another key consideration in the geopolitics of tough oil. Iran. preventing the oil exploration of Iraq‘s Western desert. Despite Washington‘s attempts to stabilize that country. The sexes are entirely segregated.‖ This could be seen in its geopolitically motivated agreements with Bolivia. China. As James Howard Kunstler has written in The Long Emergency. there is rising social tension. Threats of U. political unrest and war continued. But it is hard to imagine why major oil producing countries would agree to that.

During the last few years the U.S. military has dramatically increased its bases and operations in Africa, particularly in the Gulf of Guinea. The United States expects to get 20 percent of its oil imports from Africa by 2010, and 25 percent by 2015. The U.S. military set up a separate Africa Command in 2007 to govern all U.S. military operations in Africa (outside Egypt). Washington sees itself as in direct competition with Beijing over African oil—a competition that it perceives not simply in economic but also military-strategic terms.37 U.S. ruling interests also have increased their threats directed at Venezuela, Ecuador, Bolivia, and other Latin American states, accusing them of ―resource nationalism‖ and presenting them as dangers to U.S. national security. Washington has made one attempt after another to unseat Venezuela‘s democratically elected president Hugo Chávez and to overthrow Venezuela‘s Bolivarian Revolution, with the clear object of regime change. This has included stepping up its massive military intervention in Colombia and backing the Colombian military and its intrusions into neighboring countries. In 2006 the U.S. Southern Command conducted an internal study, declaring that Venezuela, Bolivia, Ecuador, and conceivably even Mexico (which was then facing elections with a possible populist outcome) offered serious dangers to U.S. energy security. ―Pending any favorable changes to the investment climate,‖ it declared, ―the prospects for long-term energy production in Venezuela, Ecuador and Mexico are currently at risk.‖ The military threat was obvious.38 All of this is in accord with the history of capitalism, and the response of declining hegemons to global forces largely outside their control. The new energy imperialism of the United States is already leading to expanding wars, which could become truly global, as Washington attempts to safeguard the existing capitalist economy and to stave off its own hegemonic decline. As Simmons has warned, ―If we don‘t create a solution to the enormous potential gap between our inherent demand for energy and the availability of energy we will have the nastiest and last war we‘ll ever fight. I mean a literal war.‖39 In January 2008 Carlos Pascual, vice president of the Brookings Institution and former director of the Bush administration‘s Office of Reconstruction and Stabilization, released an analysis of ―The Geopolitics of Energy‖ that highlighted U.S. capitalism‘s de facto dependence on oil production in ―Saudi Arabia, Russia, Iran, Iraq, Venezuela, Nigeria, and Kazakhstan‖—all posing major security threats. ―Due to commercial disputes, local instability, or ideology, Russia, Venezuela, Iran, Nigeria and Iraq are not investing in new long-term production capacity.‖ This then was both an economic and a military problem for Washington.40 Especially disturbing in this new phase of energy imperialism is the lack of resistance from populations within central capitalist countries themselves. Thus left-liberal publications in the wealthy nations often play on the prejudices of their readers (who are buffeted by rising gasoline prices), encouraging them to support oil imperialism designed to safeguard Western capitalism. David Litvin, writing on ―Oil, Gas and Imperialism‖ in 2006 for the Guardian in London, claimed that ―the inevitability of modern energy imperialism needs to be recognized.‖ Threats from Russia, OPEC, Venezuela, and Bolivia were highlighted. The United States invaded Iraq, we were told, partly for ―oil security.‖ Clearly sympathizing with that form of energy imperialism that ―involves consumer states launching political or military‖ interventions ―to secure supplies,‖ Litvin concluded: ―Energy imperialism is here to stay, and efforts should [therefore] focus on making it a more benign force.‖41 Likewise Joshua Kurlantzick, a contributing writer for Mother Jones,wrote a piece entitled ―Put a Tyrant in Your Tank‖ for the May–June 2008 issue of that magazine which attributed oil supply problems to national oil companies, and argued—referring to the Baker Institute report on ―The Changing Role of National Oil Companies‖—that oil would be better safeguarded if placed in the hands of multinational oil companies as of old. The latter, readers were told, ―may cozy up to nasty regimes...but they are at least obligated to respond to public criticism.‖ Kurlantzick presented repeated criticisms of Hugo Chávez in Venezuela for his ―resource nationalism,‖ going so far as to compare

Venezuela to Burma and Russia, as ―authoritarian and corrupt,‖ citing a study from the neoconservative, largely U.S. government-funded, Freedom House. The Mother Jones article also gave credence to the 2006 internal study conducted by the Pentagon‘s Southern Command, pinpointing the national security dangers to the United States of resource nationalism in Venezuela, Bolivia, and Ecuador. Other petrostates that were subjected to sharp criticism were Iran, Russia, Kazakhstan, Nigeria, and Libya. Chinese state oil corporations were targeted for their aggressiveness in pursuing oil around the world and for their lack of environmental concerns. U.S. energy imperialism was thus seen as justified even by the putatively progressive Mother Jones—with hope and confidence being placed mainly in big oil and the Pentagon.42 Planetary Conflagration? The supreme irony of the peak oil crisis of course is that the world is rapidly proceeding down the path of climate change from the burning of fossil fuels, threatening within a matter of decades human civilization and life on the planet. Unless carbon dioxide emissions from the consumption of such fuels are drastically reduced, a global catastrophe awaits. For environmentalists peak oil is therefore not a tragedy in itself since the crucial challenge facing humanity at present is weaning the world from excessive dependence on fossil fuels. The breaking of the solar energy budget that hydrocarbons allowed has generated a biospheric rift, which if not rapidly addressed will close off the future.43 Yet, heavy levels of fossil fuel, and particularly petroleum, consumption are built into the structure of the present world capitalist economy. The immediate response of the system to the end of easy oil has been therefore to turn to a new energy imperialism—a strategy of maximum extraction by any means possible: with the object of placating what Rachel Carson once called ―the gods of profit and production.‖44 This, however, presents the threat of multiple global conflagrations: global warming, peak oil, rapidly rising world hunger (resulting in part from growing biofuel production), and nuclear war—all in order to secure a system geared to growing inequality. In the face of the immense perils now facing life on the planet, the world desperately needs to take a new direction; toward communal well-being and global justice: a socialism for the planet. The immense danger now facing the human species, it should be understood, is not due principally to the constraints of the natural environment, whether geological or climatic, but arises from a deranged social system wheeling out of control, and more specifically, U.S. imperialism. This is the challenge of our time. May 25, 2005 Notes 1. Influential mainstream political analyst (and former Nixon White House strategist) Kevin Philips has recently argued that oil in the Middle East and elsewhere has emerged as perhaps the single most important strategic (non-monetary) factor in ―the Global Crisis of American Capitalism,‖ and is closely tied up with the world‘s need to shift to a ―new energy regime.‖ See Phillips, Bad Money: Reckless Finance, Failed Politics, and the Global Crisis of American Capitalism (New York: Viking, 2008), 124–27. Indeed, the struggle to control world oil can be seen as the centerpiece of the new geopolitics of U.S. empire, designed at the same time to combat the decline of U.S. hegemony. See John Bellamy Foster, ―A Warning to Africa: The New U.S. Imperial Grand Strategy,‖ Monthly Review 58, no. 2 (June 2006): 1–12. 2. Michael T. Klare, Blood and Oil (New York: Henry Holt, 2004), 82. 3. Colin J. Campbell and Jean H. Laherrère, ―The End of Cheap Oil,‖ Scientific American (March 1998): 78–83; International Energy Agency, World Energy Outlook, 1998 (Paris: OECD, 1998), 94– 103. 4. Matthew R. Simmons, ―Has Technology Created $10 Oil?,‖ Middle East Insight (May–June 1999), 37, 39.

5. Matthew R. Simmons, ―An Oil Man Reconsiders the Future of Black Gold,‖ Good Magazine, February 11, 2008. The insert in square brackets in the quote is in original. 6. Matthew R. Simmons, Twilight in the Desert: The Coming Saudi Oil Shock and the World Economy (Hoboken, New Jersey: John Wiley and Sons, 2005). 7. John Wood and Gary Long, ―Long Term World Oil Supply (A Resource Base/Production Path Analysis),‖ Energy Information Administration, U.S. Department of Energy, July 28, 2000. 8. See Klare, Blood and Oil, 13–14. 9. Sam Nunn and James R. Schlesinger, cochairs, The Geopolitics of Energy into the 21st Century, 3 volumes (Washington, D.C.: Center for Strategic and International Studies, November 2000), vol. 1, xvi–xxiii; vol. 2, 30–31; vol. 3, 19. 10. Edward L. Morse, chair, Strategic Energy Policy Challenges for the 21st Century, cosponsored by the James A. Baker III Institute for Public Policy of Rice University and the Council on Foreign Relations (Washington, D.C: Council on Foreign Relations Press, April 2001), 3–17, 29, 43–47, 84–85, 98; see also Edward L. Morse, ―A New Political Economy of Oil?,‖ Journal of International Affairs 53, no. 1 (Fall 1999), 1–29. 11. White House, National Energy Policy (Cheney report), May 2001, http://www.whitehouse.gov/energy/National-Energy-Policy.pdf, 1–13, 8–4.; Department of Energy, Energy Information Administration, International Economic Outlook,2001, http://www.eia.doe.gov/oiaf/archive/ieo01/pdf/0484(2001).pdf, 240; International Petroleum Outlook, April 2008, tables 4.1b and 4.1d; Klare, Blood and Oil, 15, 79–81. 12. Klare, Blood and Oil, 82–83. 13. Alan Greenspan, The Age of Turbulence (London: Penguin, 2007), 462–63. 14. James A. Baker Institute for Public Policy, ―The Changing Role of National Oil Companies in International Markets,‖ Baker Institute Policy Report, no. 35 (April 2007), http://www.bakerinstitute.org/publications/BI_PolicyReport_35.pdf, 1, 10–12, 17–19. 15. Fareed Muhamedi and Raad Alkadiri, ―Washington Makes It‘s Case for War,‖ Middle East Report, no. 224 (Autumn 2002), 5; John Bellamy Foster, Naked Imperialism (New York: Monthly Review Press, 2006), 92. 16. U.S. Department of Energy, Energy Information Administration, International Petroleum Monthly, April 2008, tables 4.1b and 4.1d. 17. Richard Heinberg, The Party’s Over (Garbiola Island, B.C: New Society Publishers, 2005), 127– 28; Michael Klare, Rising Powers, Shrinking Planet (New York: Henry Holt, 2008), 41; Greenpeace, ―Stop the Tar Sands/Water Polluton,‖ http://www.greenpeace .org/canada/en/campaigns/tarsands/threats/water-pollution. 18. Energy Watch Group, Crude Oil: The Supply Outlook, October 2007, 33–34. 19. The distinction between ―early‖ and ―late‖ peakers is to be found in Richard Heinberg, The Oil Depletion Protocol (Garbiola Island, B.C: New Society Publishers, 2006), 17–23. For some representative works from the ―early peaker‖ perspective see Kenneth S. Deffeyes, Hubbert’s Peak (Princeton: Princeton University Press, 2001); David Goodstein, Out of Gas (New York: W. W. Norton, 2004); and Heinberg, The Party’s Over. Cambridge Energy Research Associates is the leading independent representative of the ―late peaker‖ view. See http://www.cera.com/aspx/cda/public1/home/home.aspx. 20. International Energy Agency, World Energy Outlook, 1998, 83–84. The increased prominence of unconventional oil has recently led to increasing references to ―liquids‖ as opposed to ―oil‖ as such in Department of Energy reports. See Michael T. Klare, ―Beyond the Age of Petroleum,‖ The Nation, October 25, 2007. 21. Richard Heinberg, Power Down (Gabriola Island, B.C.: New Society Publishers, 2004), 35; James Howard Kunstler, The Long Emergency (New York: Atlantic Monthly Press, 2005), 67–68. In an important paper on the implications of peak oil for global warming, Pushker Kharecha and James

Energy Trends and their Implications for U. 10–12.eia.‖ May 6.S. estimated the world oil peak occurring in 2044. in press). Rising Powers. Klare. Center for Strategic and International Studies. Robert L. Baker Institute. 35–38. Beyond the Age of Petroleum. Shrinking Planet. Army Corps of Engineers. ―The Iranian Petroleum Crisis and the United States National Security.cfr. 1. 35 (April 2007). Shrinking Planet. Army Installations. 28. May 19.‖ 12. 2005.S.com. 13–19. chairs. Pushker A. ―Implications of ‗Peak Oil‘ for Atmospheric CO2 and Climate. Brown. 71. Schlesinger. stretching from approximately 2016 to 2036. http://bakerinstitute. 17–19. May 21. 20–22. 26.com. Fred Magdoff. ―Market Faces a Disturbing Oil Forecast. 8. ―The Changing Role of National Oil Companies in International Oil Markets. 130–31. Malaysia. Mitigation. September 2005. Daniel F.‖ New York Times. 76–84. 2006. National Security Consequences of U. ―The Inevitable Peaking of World Oil Production.‖ Bloomberg. no.S.” 23. 127. A different and more official position was issued by the EIA in 2004–2005 in the form of a presentation on ―When Will World Oil Production Peak‖ by EIA administrator Guy Caruso at the 10th Annual Oil and Gas Conference. 2008. Council on Foreign Relations. however. June 13. Phillips sees this descrepancy between the analysis at the top and public statements in Washington as due in large part to a desire to keep from the public the view that the U.‖ Bulletin of the Atlantic Council of the United States 16.pdf. and ―The Political Economy and Ecology of Agrofuels. Kunstler. 79. Mike Nizz. project leader. Baker III Institute for Public Policy of Rice University. Bloomberg. U. 30. Energy Watch Group. The Long Emergency. 36. 2005). 55–59. 35. Al-Rodhan. February 28.‖ Monthly Review 60. 16–30.‖ Wall Street Journal. Joroen van der Veer (interview). Simmons. and Risk Management. no. 83. ―The Cassandra of Oil Prices. Hirsh.Hansen of NASA‘s Goddard Institute for Space Studies and the Columbia University Earth Institute provide a graph (in one scenario) of a plateau in oil-based CO2 emissions. 25.gov/neic/speeches/Caruso061305. Bad Money. 121–22. vii. The Changing Risks in Global Oil Supply and Demand.‖ The Lede (New York Times blog). 22. ―Not Enough Oil is Lament of BP. 48–56. U. 24. U. figure 3. October 3. ―Oil Officials See Limit Looming on Production.org/publications/BI_PolicyReport_35. 2005 (Paris: OECD. October 2007. Twilight in the Desert. Department of Energy. . 33. 1 (May 2008): 1–15.S. World Energy Outlook. Cordesman and Khalid R. International Energy Agency.org/publication/11683/. 153. W. ―The World Food Crisis. May 22. Roger Stern.‖ Baker Institute Policy Report. Westervelt. 2008. 2007. Norton. Lester R. 2008. Peaking of World Oil Production: Impacts. no. 2008. 2008). United States Government Accountability Office.‖ Proceedings . 4. Oil Dependence. 27. Fournier and Eileen T.S. Exxon on Spending (Update 1). See Phillips. 2005 (first working draft). February 2005.‖ in this issue. Crude Oil: The Supply Outlook. 2 (October 2005): 8. Crude Oil: Uncertainty about Future Oil Supply Makes It Important to Develop a Strategy for Addressing a Peak and Decline in Oil Production.0 (New York: W. Anthony H. Hansen. 32. November 11. ―Goldman‘s Murti Says Oil ‗Likely‘ to Reach a $150–$200 (Update 5). ―Changing Role of National Oil Companies. Phillips. 2007. 3. 23–25.‖ Global Biogeochemistry (2008. 170–79.‖. Klare. a figure too out of line with all other studies to be considered credible.pdf. ―Royal Dutch Shell CEO on the End of ‗Easy Oil‘. The central scenario. 29. Kuala Lumpar. 41. See http://www. Bad Money. Klare. Kharecha and James E. Hirsch. 13. 510-12. 38. John Deutsch and James R. http://www. 34.doe. James A. Rising Powers. Robert L. 31.S Army Engineer Research and Development Center. Plan B 3. system is itself peaking.

Carlos Pascual.‖ Mother Jones 33.‖ Pusher and Kharecha. Lost Woods (Boston: Beacon Press.cfr. Bush vs.of the National Academy of Sciences 104. Yogyakarta. UKM sering mencapai peningkatan produktivitasnya melalui investasi dan perubahan teknologi. 1 (January 2. tidak terkecuali di Indonesia. Temuan Akatiga tersebut seperti dikutip Berry dkk (2001) adalah bahwa usaha kecil di Jawa lebih menderita . Kedua. Gas and Imperialism. Alasan pertama adalah karena kinerja UKM cenderung lebih baik dalam hal menghasilkan tenaga kerja yang produktif.org/publication/15342/brookings. it would facilitate the stabilization of atmospheric carbon at (or below) what scientists increasingly consider to be the maximum safe level of 450 parts per million (associated with a rise in global average temperature of around 2°C above pre-industrial).‖ Monthly Review 58. 37. 141–57. Shrinking Planet. Rachel Carson. Climate Change. kendati sumbangannya dalam output nasional (PDRB) hanya 56. 4 (September 2006).‖ Brookings Institution. ―The Return of Resource Nationalism. Joshua Kurlantzick. Kharecha and Hansen present a baseline atmospheric carbon stabailizaton scenario in which oil-based CO2 emissions peak by 2016.7 persen dan dalam ekspor nonmigas hanya 15 persen. 2007): 377–82. Dapat dikatakan bahwa kesadaran akan pentingnya UKM dapat dikatakan barulah muncul belakangan ini saja.S.‖ August 13. ―The Geopolitics of Energy. no. no. 38. Daniel Litvin. Simmons. Sulawesi Utara dan Sumatra Utara.‖ Theory & Society 34. 2008). 3 (May–June 2008). Michael Watts.‖ Financial Times. 2001). ―A Warning to Africa‖. 41. On the concept of a biospheric rift see Brett Clark and Richard York. 4 (2005): 391–428. 1–17. http://www. ―An Oil Man Reconsiders the Future of Black Gold. 146–76. 210. Ketiga adalah karena sering diyakini bahwa UKM memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas ketimbang usaha besar. Kuncoro (2000a) juga menyebutkan bahwa usaha kecil dan usaha rumah tangga di Indonesia telah memainkan peran penting dalam menyerap tenaga kerja. ―Oil. dkk. due principally to the ―peaking‖ of world oil production (mediated by economic and social as well as geological factors). Klare. Eva Golinger. If such a peak were to occur. January 2008. 43. no.html. Council on Foreign Relations. Alasan yang ketiga yang dikemukakan Berry dkk di atas sangat relevan dalam konteks Indonesia yang tengah mengalami krisis ekonomi. ―The Empire of Oil: Capitalist Dispossession and the New Scramble for Africa. namun UKM memberi kontribusi sekitar 99 persen dalam jumlah badan usaha di Indonesia serta mempunyai andil 99. ―U. 88–89. But stabilization of atmospheric CO2 at this level would also require that CO2 emissions from coal-fired power plants peak by 2025 and that coal-fired plants without sequestration be phased out completely ―before midcentury.6 persen dalam penyerapan tenaga kerja (Kompas. The Guardian (UK). meningkatkan jumlah unit usaha dan mendukung pendapatan rumah tangga. See Richard Heinberg‘s excellent chapter on ―Bridging Peak Oil and Climate Change Activism‖ in his Peak Everything (Gabriola Island: New Society Publishers. 3–4. sebagai bagian dari dinamikanya.‖ 40. Aspek fleksibilitas tersebut menarik pula dihubungkan dengan hasil studi Akatiga berdasarkan survei di Jawa Barat. 2006. Sebagai gambaran.‖ January 4. dalam kenyataannya selama ini UKM kurang mendapatkan perhatian. and the Biospheric Rift. 42.‖ 44. they argue. Aloysius Gunadi Brata DISTRIBUSI SPASIAL UKM DI MASA KRISIS EKONOMI PENDAHULUAN Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah. 2008). Setidaknya terdapat tiga alasan yang mendasari negara berkembang belakangan ini memandang penting keberadaan UKM (Berry. In their paper on peak oil and global warming. ―Carbon Metabolism: Global Capitalism. ―Put a Tyrant in Your Tank. June 26. Chávez (New York: Monthly Review Press. 38–42. 39. ―Implications of ‗Peak Oil‘ for Atmospheric CO2 and Climate. Namun. 2007. Foster. 2006. 1998). no. 14/12/2001). Rising Powers. Jawa Tengah. Military Sees Oil Nationalism Spectre.

14/12/2001). misalnya Azis (1994). Sementara itu. Dapat dikemukakan bahwa selama ini sejumlah studi sudah dilakukan untuk mengamati distribusi spasial industri manufaktur. Pada tahun 1998. dkk (1999). 2000b). Sjöberg dan Sjöholm (2002). Demikianlah. hanya Papua saja yang pertumbuhan ekonominya masih positif sedangkan propinsi-propinsi lainnya mengalami kontraksi. Sektor informal sendiri merupakan sektor dimana sebagian besar tenaga kerja Indonesia berada. dampak sosial dari krisis ekonomi amat terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan di Jawa. yakni distribusi spasialnya. Sementara itu. Lima propinsi di Jawa seluruhnya adalah lima besar propinsi di Indonesia yang mengalami kemorosotan ekonomi terparah. Dengan kata lain.akibat krisis daripada luar Jawa. pengamatan serupa terhadap UKM tampaknya masih belum banyak dilakukan (Kuncoro. Usaha kecil sendiri pada dasarnya sebagian besar bersifat informal dan karena itu relatif mudah untuk dimasuki oleh pelaku-pelaku usaha yang baru. tentu telah menyulitkan masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari. berdasarkan data PDRB. usaha kecil di propinsi-propinsi di pulau Jawa juga lebih menderita akibat krisis ekonomi. terdapat indikasi adanya dimensi spasial dari krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997. 2002). Dengan hal ini maka persoalan pengangguran sedikit banyak dapat tertolong dan implikasinya adalah juga dalam hal pendapatan. Hal serupa juga berlaku bagi sektor informal. Dengan memupuk UKM diyakini pula akan dapat dicapai pemulihan ekonomi (Kompas. selain ekonominya mengalami kontraksi terparah.1 persen pada tahun 2000. Krisis ekonomi juga telah membalikkan tren formalisasi ekonomi sebagaimana tampak dari berkurangnya pangsa pekerja sektor formal menjadi 35. seluruh propinsi di pulau Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang jauh lebih parah daripada propinsi-propinsi lainnya (lihat juga Akita dan Alisjahbana. Pada tahun tersebut. BERTAHAN DENGAN UKM Krisis ekonomi. begitu pula yang di perkotaan bila dibandingkan dengan yang di pedesaan. ketiga hal itu merupakan persoalan sangat pelik yang dihadapi masyarakat pada umumnya. Hill (1996). Dalam konteks UKM. Namun. Dalam hal ini bukanlah hal yang mengejutkan kalau pengangguran. Dengan kata lain. Pendapat mengenai peran UKM atau sektor informal tersebut ada benarnya setidaknya bila dikaitkan dengan perannya dalam meminimalkan dampak sosial dari krisis ekonomi khususnya persoalan pengangguran dan hilangnya penghasilan masyarakat. apalagi yang sangat parah. hilangnya penghasilan serta kesulitan memenuhi kebutuhan pokok merupakan persoalan-persoalan sosial yang sangat dirasakan masyarakat sebagai akibat dari krisis ekonomi. serta sejumlah propinsi di Indonesia bagian Timur. Jika demikian halnya maka . Sementara itu. menurut hasil analisis Watterberg. Tingkat pengangguran mengalami kenaikan dari 4. Kuncoro (2000a). peran sektor informal menjadi terasa penting dalam periode krisis ekonomi. Bagaimana dengan anjloknya pendapatan masyarakat yang tentu saja mengurangi daya beli masyarakat terhadap produk-produk yang sebelumnya banyak disuplai oleh usaha berskala besar? Bukan tidak mungkin produk-produk UKM justru menjadi substitusi bagi produk-produk usaha besar yang mengalami kebangkrutan atau setidaknya masa-masa sulit akibat krisis ekonomi. Hasil survei yang dilakukan Bank Dunia bekerjasama dengan Ford Foundation dan Badan Pusat Statistik (September-Oktober 1998) menegaskan bahwa ketiga persoalan itu oleh masyarakat ditempatkan sebagai persoalan prioritas atau harus segera mendapatkan penyelesaian (Watterberg dkk.1. salah satu pertanyaan yang menarik untuk dimunculkan adalah apakah krisis ekonomi betul-betul membawa pengaruh pada dinamika spasial UKM? Tulisan ini hanya mengamati salah satu aspek saja dari dinamika spasial UKM. khususnya yang berskala besar dan menengah. Dengan kata lain.9 persen pada tahun 1996 menjadi 6. krisis ekonomi telah menyebabkan propinsi-propinsi di Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang lebih besar ketimbang daerah-daerah lain di Indonesia (lihat gambar berikut). 1999). saat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi terparah. belakangan ini banyak diungkapkan bahwa UKM memiliki peran penting bagi masyarakat di tengah krisis ekonomi. Kondisi ketenagakerjaan pada masa krisis kiranya dapat memberikan gambaran dampak sosial dari krisis ekonomi (Tabel 1). UKM boleh dikatakan merupakan salah satu solusi masyarakat untuk tetap bertahan dalam menghadapi krisis yakni dengan melibatkan diri dalam aktivitas usaha kecil terutama yang berkarakteristik informal.

Oleh karena itu. tenaga kerja yang diserap oleh masing-masing unit usaha secara rata-rata justru mengalami kenaikan. Sejak terjadi krisis ekonomi.bps. sekitar 66 persen UKM Indonesia berada di Jawa (Tabel 2). Jumlah unit usaha pada tahun 2000 masih tetap lebih sedikit dibandingkan sebelum krisis ekonomi. termasuk yang tidak dibayar (lihat. yang dimaksud dengan UKM dalam tulisan ini adalah sebagaimana definisi UKM tersebut. 2000a). Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian. Sedangkan Sumatera justru sebaliknya. 2002). Hal yang sama juga terjadi pada jumlah tenaga kerja. yakni menjadi sekitar 68 persen dari seluruh unit usaha UKM yang ada di Indonesia.Hasil survei tersebut hanya mencakup UKM non-pertanian yang tidak berbadan hukum sehingga secara konseptual hasil survei tersebut juga merefleksikan sektor informal kendati secara terbatas ( ). Tabel 2 juga menunjukkan bahwa krisis ekonomi mulanya menurunkan pangsa pulau Jawa. distribusi spasial tersebut tentu perlu pula dilihat dari sisi tenaga kerja. www. Dari lima propinsi di Jawa. Gambar di atas—disusun berdasarkan Hasil Survei Usaha Terintegrasi yang dilakukan BPS —kiranya dapat berguna untuk memberikan gambaran bagaimana peranan UKM bagi masyarakat di masa krisis. Hal ini menjadi penting karena Watterberg dkk (1999) juga menyimpulkan bahwa dampak sosial dari krisis ekonomi lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan. Data-data tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa UKM memiliki kemampuan untuk menjadi pilar penting bagi perekonomian masyarakat dalam menghadapi terpaan krisis ekonomi.id Secara umum. distribusi spasial UKM dalam kurun waktu 19962000 juga terpusat di Pulau Jawa. yakni meningkat pada tahun 1998 namun kemudian terus menurun sampai menjadi kurang dari 16 persen pada tahun 2000. penggunaan tenaga kerja dan nilai tambah secara bersama-sama sebagai indikator aktivitas ekonomi dapat mencegah terjadi kesimpulan yang bias oleh karena perbedaan distribusi spasial dari industri-industri yang berbeda dimana ada yang bersifat padat tenaga kerja dan ada yang padat modal (Sjöberg dan Sjöholm. Kuncoro. Dengan kata lain. DISTRIBUSI SPASIAL UKM Pertanyaan awal yang perlu diperjelas di sini adalah apa indikator UKM yang digunakan. maka hasil survei tersebut akan lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. Selanjutnya. Selain dari jumlah unit usaha. 2002). [1] Survei tersebut terbatas hanya pada UKM yang tidak berbadan hukum sehingga hasilnya dapat juga merefleksikan sektor informal. namun mulai tahun 1998 pangsa Jawa kembali meningkat sampai menjadi 66 persen pada tahun 2000. 2001). ada pendapat bahwa sektor informal tidaklah memberikan perbaikan secara berarti terhadap taraf hidup para pekerjanya. [1] Data UKM tersebut bersumber dari publikasi BPS berjudul Profil Usaha Kecil dan Menengah Tidak Berbadan Hukum Indonesia tahun 1998 dan tahun 2000. bias itu mungkin tidak terlalu besar mengingat sebagian besar lebih mengandalkan tenaga kerja. 2002). hasil survei BPS di atas menunjukkan beberapa kecenderungan menarik. kecuali sektor pertanian. Pada tahun 1996. UKM pada dasarnya adalah aktivitas ekonomi sementara aktivitas ekonomi sendiri secara umum dapat diindikasikan oleh tenaga kerja maupun nilai tambahnya (Sjöberg dan Sjöholm.go. hanya Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan saja yang andilnya dalam jumlah UKM cukup tinggi. UKM justru makin memusat di Jawa. Hidup di sektor informal hanyalah hidup secara subsisten (Basri. Krisis ekonomi rupanya telah mempertinggi kemampuan masing-masing UKM untuk menyerap tenaga kerja. Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian. Selain itu. [2] [2] Dalam konteks industri manufaktur. hanya DKI Jakarta saja yang cenderung mengalami penurunan andil. Namun demikian. Perlu ditambahkan bahwa pada tahun 1997 tidak ada survei. Seluruh sektor ekonomi dicakup oleh survei tersebut. indikator yang akan digunakan adalah tenaga kerja UKM disertai jumlah unit usahanya sebagai pelengkap. Hanya saja. sedangkan Jawa Tengah mengalami peningkatan secara sinambung. Hal ini tidak lepas dari kemampuan UKM untuk merespon krisis ekonomi secara cepat dan fleksibel dibandingkan kemampuan usaha besar (Berry dkk. Selain propinsi-propinsi Jawa. penurunan jumlah tenaga kerja tidaklah setajam penurunan jumlah unit usaha. Dari gambar 1 tampak bahwa jumlah unit usaha UKM cenderung berkurang. maka data yang ada di sini barangkali pula lebih mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. Dalam tulisan ini. sektor tersebut telah turut berperan dalam mengatasi persoalan pengangguran yang diakibatkan oleh krisis ekonomi. . Hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa UKM sebetulnya juga mempunyai keunggulan dalam menyerap tenaga kerja di masa krisis ekonomi. Namun dalam konteks UKM.kecenderungan tersebut sekaligus juga merupakan respon terhadap merosotnya daya beli masyarakat. untuk tahun 1999 dan 2000 tidak ada data untuk Propinsi Maluku. Seperti juga industri manufaktur besar dan menengah.

Dicatat pula bahwa peningkatan konsentrasi spasial jauh lebih mencolok di Jawa daripada Sumatera maupun pulau-pulau lainnya di Indonesia. Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996. Sebagai contoh. tingkat konsentrasi spasial unit usaha UKM adalah 0. Hasil perhitungan indeks Herfindahl tersebut disajikan dalam Gambar 3. Yogyakarta (UAJY). setelah krisis justru terjadi penurunan tingkat konsentrasi spasial kendati relatif kecil. Sjöberg dan Sjöholm memukan bahwa tingkat konsentrasi spasial industri manufaktur dalam kurun waktu 1980-1996 tidaklah berkurang. ada kecenderungan menguatnya konsentrasi spasial UKM di Indonesia. konsentrasi spasial industri memiliki pola menurun. Dalam tulisan ini ukuran konsentrasi spasial yang digunakan adalah indeks Herfindahl yang diterapkan baik terhadap data unit usaha maupun jumlah pekerja UKM. Terdapat pula indikasi menguatnya konsentrasi spasial UKM tersebut sejak krisis ekonomi melanda Indonesia.*** Oleh: Aloysius Gunadi Brata -. Kuncoro menemukan bahwa sampai sebelum tahun 1988. Kendati demikian. Dari analisisnya.190 (Sjöberg dan Sjöholm. Namun pada tahun 1999 konsentrasi spasial unit usaha UKM mengalami peningkatan cukup tinggi dan belum menurun secara berarti pada tahun 2000. PENUTUP Sejak terjadi krisis ekonomi 1997. Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser. Ditambahkan pula bahwa liberalisasi perdagangan yang dimulai tahun 1983 telah gagal menurunkan tingkat konsentrasi industri manufaktur. Data yang ada menunjukkan bahwa peran tersebut cukup penting. deregulasi perdagangan bersama dengan serangkaian deregulasi yang diterapkan justru memperkuat konsentrasi spasial industri manufaktur. Kuncoro menggunakan Indeks Entropi Theil (Kuncoro.Lembaga Penelitian Universitas Atmajaya. Hal ini tidak berubah banyak pada satu tahun setelah terjadi krisis ekonomi.12. kedua studi tersebut di atas memperoleh kesimpulan yang relatif serupa. Hal ini memberikan indikasi bahwa sejak terjadi krisis ekonomi. indeks Herfindahl industri manufaktur Indonesia tahun 1996 adalah 0. Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser terhadap data tenaga kerja maupun nilai tambah yang dihasilkan industri manufaktur. Kesimpulan yang diperoleh tidak jauh berbeda dengan temuan Kuncoro. baik dilihat dari sisi jumlah usaha maupun jumlah pekerjanya. . Namun demikian bagaimana penyerapan tenaga kerja oleh UKM dari aspek spasial tampak masih kurang teramati. perkembangan penyebaran regional dari UKM dapat dilihat dari konsentrasi spasialnya. konsentrasi spasial tersebut justru mengalami peningkatan. Tahun 1999 dan 2000. namun sejak memasuki periode deregulasi.126. UKM (non pertanian yang tidak berbadan hukum) masih tetap terkonsentrasi di pulau Jawa. dalam studinya yang mengukur trend konsentrasi spasial industri di Indonesia 1976-1995. UKM memainkan peran dalam mengatasi persoalan ketenagakerjaan.Untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih kuat. Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996. Sebagai perbandingan. 2002). Konsentrasi spasial di sini menunjuk kepada terkonsentrasinya UKM pada beberapa daerah saja. indeks Herfindahl pekerja UKM meningkat menjadi lebih dari 0. Masih menurut Kuncoro (2002b). Dari analisis dapat disimpulkan bahwa sampai dengan tahun 2000. Dalam tulisan ini yang diamati barulah soal distribusi spasial UKM dan belum sampai pada determinan dari dinamika spasial UKM itu sendiri. Indikasi tersebut kiranya masih perlu dilengkapi dengan upaya mengidentifikasi faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi dinamika spasial UKM sebagaimana dilakukan dalam studi-studi terhadap idustri manufaktur pada umumnya. Sebelum krisis. dalam kasus Indonesia. Namun jika dilihat dari tenaga kerja. peningkatan konsentrasi spasial tersebut sebetulnya relatit tidak terlalu besar. 2000a). Kendati ukuran konsentrasi spasial yang digunakan berbeda.

A. Amsterdam 25-26 Februari. 2001. 1999. kemakmuran sebuah bangsa dicapai berbasiskan kekuatan rakyat yang berdaya dan menghidupinya. apakah pembangunan akan selalu membawa destabilisasi? Sebuah proses yang mengakibatkan disparitas sosial-ekonomi membesar akibat laju modernisasi dan industrialisasi. 2003.. 1994. ujar Sen. 2002. Berkecamuk pertanyaan. PAU-UGM dan Tiara Wacana. penyebab dari langgengnya kemiskinan.. ―Small and Medium Enterprises Dynamics in Indonesia.. Kompas.. ketidakberdayaan. L. Watterberg. berbagai kasus yang mentorpedo rasa keadilan seperti Kedung Ombo. Prittchett. Nipah. 29-50.PUSTAKA Akita. S. Suryahadi. Timbul pertanyaan mengganjal. Concentration and Dispersal in Indonesia‘s Manufacturing Industry. kini terdengar suara lain dan mulai terdengar nyaring. J. peraih Nobel Ekonomi tahun 1998. Alisjahbana. Dengan demikian. Widyanti. Jenggawah. Sjöberg. 2002b. Berry. M. Jakarta. DAN PEMBANGUNAN Mengingat masa kelam Orde Baru yang se-ring disebut ‖orde pembangunan‖. M. Pembangunan. Sjöholm. 14 Desember 2001. bila manusia mampu mengoptimalkan potensinya. Tentu belum kering dari ingatan. ―A Quest for Industrial Districts: An Empirical Study of Manufacturing Industries in Java. A. Kuncoro.‖ Makalah disajikan dalam lokakarya Economic Growth and Institutional Change in Indonesia during the 19th and 20th Centuries. 2002. dan H. apakah untuk mencapai kesejahteraan harus selalu ada ‖tumbal‖ (jer basuki mawa bea)? Sayup-sayup. Bulletin of Indonesian Economic Studies 38 (2): 201-222. Ilmu Ekonomi Regional Dan Beberapa Penerapannya di Indonesia. SSE/EFI Working Paper Series in Economic and Finance No 488. dan berbagai penggusuran yang mengatasnamakan ‖pembangunan‖. apakah sebuah ketakterhindaran (inevitability) historis. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. LP-FEUI. Rodriquez. ―A National Snapshot of the Social Impact of Indonesia‘s Crisis‖. seharusnya merupakan proses yang memfasilitasi manusia mengembangkan hidup sesuai dengan pilihannya (development as a process of expanding the real freedoms that people enjoy). adalah se-suatu yang "bersahabat". S. Menurut Sen.. Ö dan F. Yogyakarta. maka akan bisa maksimal pula kontribusinya untuk kesejahteraan bersama. ―Regional Income Inequality in Indonesia and the Initial Impact of the Economic Crisis‖. D. serta menguntungkan sebagian kecil masyarakat? Timbul pula pertanyaan yang menggelisahkan. . Asumsi dari pemikiran Sen. at all cost. Basri.. keringat serta air mata. 145-152. 2002a. membuat pedih. Kuncoro. ―Minimum Wage Policy and Its Impact on Employment in the Urban Formal Sector‖. KEBEBASAN. Hill. Transformasi Ekonomi Indonesia Sejak 1966: Sebuah Studi Kritis dan Komprehensif .. Analisis Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia . pembangunan selalu mengorbankan kebebasan manusia? Rasanya masih seperti kemarin.. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 35 No 3. 25 November.‖ Bulletin of Indonesian Economic Studies 37 (3): 363-384. Menuai Pemulihan Ekonomi‖. Suara tersebut antara lain dari Amartya Sen. E. W. 1996. ―Trade Liberalization and the Geography of Production: Agglomeration. H. A. maupun keterbelakangan adalah persoalan aksesibilitas. Pembangunan. Sumarto. Sandeem. 2001. Azis. Perwira. Menurutnya pembangunan bukanlah proses yang dingin dan menakutkan dengan mengorbankan darah. 2002. C. ―Memupuk UKM. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 39 No 1. M. jargon pembangunan begitu ‖suci‖ sehingga atas namanya menjadi ‖sahih‖ merampas hak-hak asasi manusia. Setyo Budiantoro MANUSIA. Kompas. I. T dan A. ―Wajah Murung Ketenagakerjaan Kita‖. Sumarto.

Tentu. utang pun digelontorkan. telah ‖melumpuhkan‖ diri sendiri. untuk mengkreasi dan menjustifikasi urgensi adanya berbagai proyek. terlemahkan. siapa di balik proyek. Selama Orde Baru. sehingga memungkinkan masyarakat memperkembangkan kemampuan atas dasar kekuatan sendiri (self reliance). dalam satu tahun ekonomi Indonesia anjlok -18. Rakyat yang tak dilibatkan dalam proses. dan dilemahkan. berakar dari dinamik sendiri dan dapat bergerak atas kekuatan sendiri. Sebagai sebuah proyek. potensi manusia mengembangkan hidup menjadi terhambat dan kontribusinya pada kesejahteraan bersama menjadi lebih kecil. Berbagai proyek tiba-tiba bertebaran.6%. sehingga pemerintah semakin memiliki kekuatan. Dengan demikian. para pakar maupun berbagai organisasi masyarakat. Pada dimensi politik. terfasilitasilah kemanusiaan yang penuh dan sanggup mengungkapkan diri (humanitas expleta et eloquens). yaitu melalui kebebasan sebagai cara dan tujuan (Development as Freedom). berlomba-lomba merumuskan berbagai persoalan. Freedom menurut Soedjatmoko merupakan kebebasan dari rasa tak berdaya. secara umum kondisi rakyat Indonesia menjadi lemah. tentu mempunyai batas waktu. Pemerintah yang makin percaya diri. kesempatan sosial (pendidikan. sikap nrimo.7% (1998). Pukulan krisis. Dengan kata lain. sedangkan investasi asing tak mau masuk akibat situasi sosial politik yang belum menentu. Anehnya. maka kebijakan tersebut tak menguntungkan mereka. Yaitu aspek pembebasan masyarakat dari struktur-struktur yang menghambat. Masyarakat pun melalui desas-desus akhirnya mengetahui dan mahfum. rasa ketergantungan. Akibatnya. rakyat pun tak peduli. kesempatan ekonomi. lembaran buku GBHN dan Pelita yang dicanangkan pemerintah makin tebal. lalu merumuskan berbagai program dan proyek untuk dikerjakan. namun akibat tak ada rasa memiliki. Untuk memecahkan hal tersebut. justru menunjukkan ‖kedigdayaan‖ rakyat. berbagai proyek yang ada terbengkalai. padahal tahun sebelumnya tumbuh +4. sebab semuanya telah diserahkan pada pemerintah. telah terjadi ‖kesalahan‖ besar yang dibuat bersama -sama.dan lain-lainnya). manusia mempunyai keterbatasan (bahkan tak ada) pilihan untuk mengembangkan hidupnya. rasa cemas. Dalam jangka panjang. secara sadar maupun tak sadar. Dengan demikian. transparansi. Dengan demikian. Fenomena ini tentu membingungkan penganut ekonomi ortodoks. tak jauh dari lingkaran kekuasaan. Lalu. Begitulah.Diakibatkan keterbatasan akses. apakah rakyat benar-benar mengalami kelumpuhan sepenuhnya? Agaknya tidak. Dalam waktu singkat. lalu diserahkan pada pemerintah. membuat pertumbuhan ekonomi merosot -13. ujar Sen. Aksesibilitas yang dimaksud Sen adalah terfasilitasinya kebebasan politik. pada masa itu sedang terjadi capital flight sekitar $ 10 miliar per tahun.8% (Seda. Meski sebenarnya. Pada dimensi ekonomi. Krisis ekonomi. masyarakat telah ‖menyerahkan‖ kemandirian yang dimiliki. diperlukan aspek emansipatoris. pe-nyebab kemiskinan adalah akibat ketiadaan akses yang dapat menunjang pemenuhan kehidupan manusiawi. serta adanya jaring pengaman sosial. akibat rakyat miskin sangat sulit mengakses dan terlibat berbagai kebijakan publik. rasa keharusan untuk mempertanyakan apakah tindakan-tindakan mereka diizinkan atau tidak diizinkan oleh yang lebih tinggi ataupun adat kebiasaan (misalnya: patriarki. kesehatan. Dan akhirnya.9%. suatu pembangunan tak akan berhasil dan bertahan. Tesis yang dikemukakan Sen agar tercapainya kesejahteraan. manusia hanya menjalankan apa yang terpaksa dapat di-lakukan (bukan apa yang seharusnya bisa dilakukan). ekonomi nasional telah tumbuh 4. Tidak ada model pembangunan yang berlaku universal. Feasibility studies (baca: penelitian pesanan) lalu dikerjakan oleh pa ra ‖intelektual tukang‖ maupun konsultan asing. Lesson learned yang diperoleh dari Yayasan Pemulihan Keberdayaan Ma-syarakat (konsorsium 27 ja-ringan dan ornop besar yang membantu masyarakat keluar dari krisis). Dari tahun ke tahun. dengan berakhirnya berbagai proyek dan usailah sudah semuanya. meski proyek tersebut ‖ditujukan‖ untuk mereka. Pembangunan. Hal itu. Temuan lapangan di Indonesia. Namun dua tahun kemudian. Namun. Keberdayaan rakyat (civil society). Tragisnya. dengan demikian berarti merangsang suatu masyarakat sehingga gerak majunya menjadi otonom. Masyarakat profesi. sebab dalam hitungan makro ekonomi . usaha-usaha besar ambruk. masyarakat merasa lega karena tak mengerjakan apa-apa. jika pembangunan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang dianut masyarakat. menyimpulkan. akibat distribusi akses sumber daya ekonomi yang tak merata menyebabkan rakyat miskin tak dapat mengembangkan usaha produktifnya. tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Amartya Sen. tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Soedjatmoko (Development and Freedom). lalu tertinggal. dan kedaulatan untuk melakukan berbagai hal (bahkan menjadi leviathan). 2002). legitimasi. dan lain-lain).

setidaknya kedua modal itulah yang kini kita miliki. maka masyarakat dapat mengembangkan berbagai potensi produktif mereka. *** Babakan sejarah yang pahit itu. Pendekatan people centered development. Salah satu institusi modern yang sangat sulit diakses oleh UMKM. Dan akhirnya disadari. agar bisa memanfaatkan berbagai akses dan peluang yang ada. adalah perbankan. investasi asing dan haus akan utang luar negeri. merupakan hal strategis yang tidak netral dan bebas nilai. sehingga makin kuat dan kokoh menyangga bangsa ini. memang terbukti mampu menyelamatkan ekonomi Indonesia dari krisis. tentunya harus melalui jalan dari pembangkitan kekuatan rakyat itu sendiri atau dalam terminologi Korten disebut people centered development. Dengan cara demikian. metodologi dan pengorganisasian pencapaian tujuan. sementara kesenjangan melebar. namun bukan tujuan utama. Usaha-usaha besar. maka pembangunan akan berurat berakar (rooted) pada rakyat. babakan itu menyadarkan bahwa orientasi production centered development yang menekankan pertumbuhan. dengan segala kekuatan dan kelemahannya. sehingga dapat kompatibel dengan nilai-nilai dan budaya setempat agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. Memfokuskan diri pada kesejahteraan rakyat.mereka. karena mendapat berbagai privilese tumbuh dengan cepat. Demikian pula. namun tetap berjalan tertatih-tatih karena keterbatasan akses. Cara sudah seharusnya konsisten dengan tujuan yang ingin dicapai. 29 April 2003) . hal ini tak mungkin terjadi. kecil. tak ada jalan lain kecuali memakai cara-cara yang demokratis. Dan perlu disadari. tentu harus dicapai dengan cara yang manusiawi pula. dan pembangunan pun rapuh tak berakar ( bubble economy). acapkali institusi modern ini justru meningkatkan adanya kesenjangan. Setidaknya. kecil dan menengah (UMKM). tern yata justru menunjukkan kekuatannya. ternyata memiliki banyak kelemahan. Agenda ke Depan Kini kita menghadapi persoalan konkret. pembangunan akan berkembang secara dinamik berdasar kekuatan masyarakat sendiri. pemerataan. Kue pembangunan ternyata hanya dikuasai sebagian kecil masyarakat. Bila masyarakat telah tumbuh dan berdaya. Menyadari adanya dua modal tersebut. dengan berbagai keterbukaan dan peluang. untuk mencapai kehidupan yang manusiawi. Untuk mencapai demokrasi. Begitulah. kini secara berangsur telah ditinggalkan. (Dimuat di Sinar Harapan. di mana masyarakat mempunyai kebebasan untuk memilih. perlu ada transformasi agar kedua sektor usaha tersebut bisa berkembang (dual track). menekankan pertumbuhan manusia (aktualisasi potensi manusia). Oleh sebab itu. diperlukan pula adanya upaya peningkatan kapasitas (capacity building). namun pelayanan pembiayaan bank lebih dimanfaatkan sektor besar. usaha-usaha ekonomi rakyat yang sering disebut usaha mikro. Demikianlah. Akibatnya. Meski memobilisasi tabungan dari masyarakat luas. Tujuan pembangunan adalah tercapainya kesejahteraan bersama. sektor modern justru makin meminggirkan mereka. keberlanjutan (sustainability). akibat adanya ‖dualisme ekonomi‖ sektor kecil ini tak memiliki kemampuan untuk memanfaatkan berbagai institusi modern. Usaha-usaha ekonomi rakyat. Sedangkan untuk usaha mikro. Produksi juga merupakan bagian penting dalam pendekatan ini. dan semangat kemandirian masyarakat sendiri. akan bisa terus berkembang. dan menengah (UMKM) ternyata telah menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan krisis. rente ekonomi dan fasilitas. sebab akan mempengaruhi paradigma (mindset) berpikir. Dengan demikian. mau tak mau harus berkompetisi secara sehat. namun kemudian ambruk. perlu dikembangkan berbagai institusi modern yang dimodifikasi sedemikian rupa. Sementara usaha besar yang berusaha secara wajar dan kompetitif. sebab bila tidak akan jatuh. maka cara untuk mencapainya pun seharusnya melalui upaya-upaya pencapaian kesejahteraan bersama. ‖Investasi ekonomi rakyat‖ (underground economy) yang kerap dipandang dengan sebelah mata. Bahkan seringkali. Ikhwal menetapkan tujuan utama (goal). yaitu melalui pemberian akses dan peluang yang sama pada kedua sektor usaha tersebut. sektor usaha besar yang hidup dari kronisme.

Daya tahan yang tinggi inilah yang menyebabkan ekonomi r akyat cepat pulih dari krisis ―laksana baju bolong -bolong yang merajut kembali sendiri‖. yang dalam tulisan yang sama oleh ekonom senior FE-UI (Kompas. globalisasi yang arti harafiahnya adalah perluasan wawasan ternyata telah menyempitkan pendangan para ekonom makro Neoliberal hingga ekonomi rakyat di depan mata dianggap ekonomi tersembunyi. Presiden menyatakan antara lain bahwa ekonomi rakyat tidak mungkin mengalami krisis berkepanjangan. maka saya lebih baik tutup mulut‖. Yang licik atau tidak jujur (unfair) dari analisis makro ekonomi ini adalah tidak dengan menyebutkan secara jelas dan eksplisit bahwa ekonomi Indonesia selama 2002 telah tumbuh 3. Para ekonom makro pengritik pemerintah ―dengan bangga‖ menunjukkan data BKPM (Persetujuan investasi pemerintah) yang anjlog 57% untuk modal dalam negeri dan 35% untuk modal asing dibanding tahun 2001. Pergaulan mereka semakin sempit karena waktu mereka banyak tersita oleh komputer/internet yang mampu memberikan data-data kuantitatif dari seluruh dunia. Pada tanggal 18 Maret 2002 Redaktur JER bersama Menteri Koperasi & UKM bertemu Presiden Megawati di Istana Negara untuk melaporkan hasil lokakarya ―Ekonomi Kerakyatan‖ tanggal 11 September 2001.Direktur Kajian Ekonomi dan Pembangunan Center for Humanity and Civilization Studies (CHOICES) dan staf Ketua LSM Bina Swadaya. Sidang tahunan MPR-RI bulan Agustus 2002 merupakan tonggak sejarah bagi ekonomi rakyat ketika MPR memutuskan menarik kembali kesepakatan sebelumnya (ST-2000) untuk menghapus asas kekeluargaan dari . sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa ekonomi nasional makin terpuruk atau sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan (recovery). ekonomi industri. Presiden menyambut baik hasil-hasil seminar yang antara lain menyimpulkan pemihakan Presiden pada Ekonomi Kerakyatan meskipun di muka umum tidak terkesan demikian. para elit di sekitar saya serta merta akan menentangnya. dan saya akan terlalu sibuk berdebat dengan mereka. karena ternyata dalam kondisi investasi merosot ekonomi tumbuh 3. beliau menjawab: ―Bapak-bapak saja. Investassi tidak berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. karena daya tahan yang sangat tinggi.Oleh: Setyo Budiantoro -. Bung Hatta. Sikap dan jawaban Presiden yang demikian tentu saja mengecewakan kita. Analisis makroekonomi (Neoklasik Ortodok) memang di sini menjadi buntu karena tidak ada yang dapat menerangkan mengapa ekonomi dapat tumbuh tanpa investasi. Jika saja mereka mau menyebutkan fakta ini memang mereka akan terpaksa mengakui kekeliruan teori ekonomi yang selalu mereka tonjolkan bahwa tanpa investasi tidak mungkin ada pertumbuhan ekonomi. Betapa tidak. yang ekonom Sumatera saja mengerti apa itu ekonomi rakyat dan pada majalah ―Daulat Rakyat‖ tahun 1931 menulis ―Ekonomi Rakyat Dalam Bahaya‖. Hukum atau teori ekonomi ini ternyata sama sekali tidak terbukti sepanjang tahun 2002. Inilah ekonomi rakyat yang dipahami oleh semua orang kecuali pakar-pakar ekonomi keblinger. ekonomi tersembunyi ini sangat jelas tidak tersembunyi. Bahwa ekonom-ekonom modern zaman sekarang pura-pura tidak mengerti ekonomi rakyat dan mengatakan itu sebagai ekonomi tersembunyi ( hidden economy) memang mudah dipahami karena pakar-pakar ekonomi ini sudah tercekoki oleh teori-teori ekonomi Neoliberal dari Barat yang hanya ―bergaul‖ dengan fakta-fakta ekonomi modern. Data-data ini diperkuat lagi oleh ―taksiran‖ pelarian modal ke luar negeri sebesar rata-rata US $ 10 milyar per tahun sejak krismon 1997. ekonomi pasar uang/modal. dan sulit diterangkan. Saat itu kami usulkan agar Presiden secara terbuka menunjukkan keberpihakan ini. Bagi kelompok ekonom lain yang membela dan memihak ekonomi rakyat.5%. Data penurunan penanaman modal yang sangat besar ini.5%. karena sepertinya perjuangan kita membela ekonomi rakyat tidak pernah akan berhasil. Sungguh sangat kontradiktif. Dalam kondisi bingung inilah Chatib Basri seorang ekonom muda Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia lalu menunjuk adanya ekonomi tersembunyi ( hidden economy) yang sulit diraba. karena kalau saya bersikap demikian. 19 Januari) disebut kelompok ekonom populis yang ―tidak realistis‖ dan ―tidak ilmiah‖. sulit dimengerti. Presiden kita ternyata tidak bersama kita. Mubyarto EKONOMI RAKYAT SEPANJANG TAHUN 2002 Tahun 2002 adalah tahun yang benar-benar istimewa bagi ekonomi rakyat.

pasal 33 UUD 1945. Ini berarti kemenangan para pembela ekonomi rakyat yang sejak Mei 2001 sebenarnya telah ―dinyatakan kalah‖ karena 5 dari 7 pakar ekonomi dalam BP-MPR setuju untuk menghapus asas kekeluargaan untuk digantikan dengan asas keadilan. Di satu pihak BPPN diperintahkan MPR dan UU tentang Propenas untuk ―membereskan‖ segala utang ini dalam 5 tahun. Memang amandemen yang paling penting menyangkut bidang politik yaitu tentang pemilihan presiden apakah melalui MPR yang selama ini berjalan atau melalui pemilihan langsung. Lagipula menyebutkan koperasi sebagai salah satu pelaku ekonomi. disamping BUMN dan usaha swasta. serta menjamin keseimbangan dan kemajuan seluruh wilayah negara. sedangkan koperasi adalah wadah organisasi tempat bergiatnya ekonomi rakyat. rupanya dianggap memadai dan tidak melanggar asas kerakyatan. Penyusunan dan pengembangan perekonomian nasional harus senantiasa menjaga dan meningkatkan tata lingkungan hidup. yang diatur dengan undangundang. dan pemerintah. efisiensi. maka penghapusan penjelasan seluruh pasal 33 masih tetap berbahaya karena tidak lagi ada ketentuan tentang ―mendahulukan kepentingan masyarakat. karena MPR memutuskan menghapus seluruh penjelasan pasal 33 termasuk di antaranya hilangnya kata bangun perusahaan koperasi dan pengertian lengkap demokrasi ekonomi yang menekankan pada keharusan mendahulukan kepentingan masyarakat. untuk mewujudkan kemakmuran. 4. 5. . 3. Pelaku ekonomi tetap saja perorangan sebagai produsen ataupun konsumen. dan demokrasi ekonomi. Mungkin karena perhatian amat besar pada masalah pemilihan presiden atau katena perjuangan yang gigih dari segelintir teman-teman kita di MPR seperti Prof. dan usaha swasta termasuk usaha perseorangan. Pelaku ekonomi adalah koperasi. air. sedangkan organisasi koperasi adalah wadah kegiatan yang menjadi alat untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi anggota-anggota koperasi. liberalisme. dan efisiensi. dan dirgantara. Tetapi sekali lagi tetap merupakan kekeliruan dan kerugian besar bagi bangsa Indonesia dan sistem serta praksis perekonomian. BPPN yang merupakan rumah sakit raksasa untuk menyelamatkan sektor perbankan dari kebangkrutan total menghadapi dilema. kesejahteraan. Koperasi bukan pelaku ekonomi. Bumi. Tetapi jika ke 5 ayat baru pasal 33 ini dianggap cukup untuk menghidarkan sistim kapitalisme. bukan kemakmuran orang seorang‖. Perekonomian disusun dan dikembangkan sebagai usaha bersama seluruh rakyat secara berkelanjutan berdasar atas keadilan. Tetapi TAP MPR yang sama dan UU No 25 tentang Propenas juga tegas-tegas memerintahkan pelaksanaan sistem ekonomi kerakyatan. sebenarnya merupakan salah kaprah yang sulit dimaafkan. mayoritas anggota nampaknya menyadari kekeliruan pendapat yang ingin menggusur asas kekeluargaan. Dalam sidang tahunan (ST) MPR-2002 para politisi kita berdebat keras melaksanakan amandemen UUD 1945 yang dikenal dengan amandemen ke-4. ST-MPR 2002 memutuskan mempertahankan asas kekeluargaan bahkan mempertahankan keseluruhan (3 Ayat) pasal 33 tanpa amandemen apapun. Bulan-bulan setelah selesainya ST MPR 2002 terjadi perdebatan menarik tentang perlakuan yang dianggap tepat pada para konglomerat atau eks-konglomerat yang mbandel tidak mau (bukan tidak mampu) membayar utang yang ratusan trilyun. Hasilnya cukup melegakan karena asas kekeluargaan tidak jadi digusur dan ketiga ayat pasal 33 dipertahankan utuh tanpa perubahan apapun meskipun ada tambahan ayat 4 dan 5 sebagai ―kompromi‖ yang memasukkan kata ―efisiensi berkeadilan‖. 2. memperhatikan dan menghargai hak ulayat. serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai dan atau diatur oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. efisiensi. keadilan. Secara lengkap rumusan pasal 33 baru hasil ST-2000 berisi 5 ayat sebagai berikut: 1. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai dan/atau diatur oleh negara berdasarkan asas keadilan dan efisiensi yang diatur dengan undang-undang. Sri-Edi Swasono. Hanya orang seorang adalah pelaku ekonomi yang instinknya bekerja keras berusaha mencapai tujuan. yaitu melalui restrukturisasi perusahaan yang sakit dan penjualan aset-asetnya. dan sosialisme. Demikian menggusur kata asas kekeluargaan dengan memasukkan kata demokrasi ekonomi. dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ternyata yang menang adalah cara pemilihan yang kedua yaitu pemilihan presiden langsung meskipun tetap tidak ada jaminan dapat terpilihnya presiden yang benar-benar mampu mempersatukan seluruh bangsa untuk memecahkan masalah-masalah pembangunan bangsa yang makin komplek termasuk ancaman disintegrasi bangsa yang amat nyata. termasuk juga melaksanakan komitmen pada LoI-IMF. badan usaha milik negara. dan demokrasi ekonomi.

Presiden dengan tegas dan terus terang menyatakan pilihan kebijakan yang ―tidak populis‖ (tidak memihak rakyat) karena dianggap ―konstruktif‖ dalam jangka panjang. Dan jalan keluar atau pemecahan masalah ini sama sekali tidak memperoleh bantuan modal dari pemerintah atau bank-bank pemerintah. Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM (PUSTEP-UGM) . Inilah nasib ekonomi rakyat yang cukup suram dan merisaukan. adalah indikator penemuan ekonomi rakyat pada habitatnya yang benar. lebih-lebih dengan pernyataan pembelaan Presiden di Bali tanggal 12 Januari. yang mendapat reaksi keras dari rakyat. Mubyarto. Tentu saja pernyataan ini mendapat reaksi makin keras karena tidak saja kebijakan yang demikian melawan TAP MPR dan UU Propenas tentang sistem ekonomi kerakyatan. Dilema sangat berat ini menjadi terbuka lebar pada kasus kenaikan serentak harga-harga BBM. di desadesa maupun di kota-kota. Tarif dasar listrik. tetapi juga secara nyata sangat memberatkan kehidupan ekonomi rakyat. Kiranya menjadi jelas bagaimana kehidupan ekonomi rakyat sepanjang tahun 2002 sampai awal 2003 ini. Menjamurnya pedagang kaki lima di mana-mana di kota-kota besar dan kecil. Praktek-praktek BRI ini sebenarnya sudah ditiru/direplikasi di sejumlah negara Asia seperti India tetapi rupanya kurang mendapat perhatian di negeri sendiri. Pelaksanaan sistem ekonomi kerakyatan yang (harus) memihak rakyat berkali-kali terbentur atau berbenturan dengan kepentingan kelompok (vested interest) yang ingin tetap menguasai perekonomian Indonesia seperti masa-masa sebelum krismon. Di Indonesia sejarah dan praktek BRI sudah dukup meyakinkan sebagai Bank bagi penduduk miskin terutama di perdesaan. Berbagai upaya untuk memihakinya selalu kandas ditengah jalan karena kepentingn-kepentingan yang mapan bercokol (vested interest) selalu berusaha keras pula untuk menyabotnya demi kepentingan mereka. Ekonomi rakyat menjadi pendukung utama perekonomian nasional. tetapi semuanya dengan modal mereka sendiri. apakah tetap patuh pada pelaksanaan amanat pasal 33 UUD yang nasionalistik atau sistem ekonomi Neoliberal yang kini menguasai ekonomi dunia. Pemilihan kebijakan yang tidak populis inilah yang kemudian memperkuat demonstrasi mahasiswa yang selanjutnya menuntut Presiden dan Wakil Presiden mundur karena tidak lagi merasa dipihaki. Pertumbuhan ekonomi nasional yang dilaporkan BPS 3. ditinjau dari para pelaku ekonomi rakyat ia merupakan pemecahan masalah ( solution). Usulan Filipina dalam AIPO-ASEAN (Organisasi antar Parlemen ASEAN) untuk membentuk Bank Penanggulangan Kemiskinan (ASEAN Poverty Alleviation Bank). dan telepon awal Januari 2002. Guru Besar FE-UGM. ketika ekonomi sektor industri modern makin tertutup dan bermasalah. Ekonomi rakyat bukanlah ekonomi tersembunyi ( hidden economy) tetapi ekonominya wong cilik yang dapat dengan mudah dilihat dan ditemui di mana-mana di sekitar kita. Dan praktek perbankan BRI dengan unit-unit desanya dapat didukung kegiatan BPR dan Koperasi yang dikembangkan berbagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sudah tumbuh di mana-mana secara mandiri dengan modal tabungan anggota.5% jelas-jelas merupakan sumbangan ekonomi rakyat yang dapat diandalkan ketahanannya. Pemulihan ekonomi nasional dari krisis yang berkepanjangan justru terletak pada ekonomi rakyat. Pada forum sama di DPR -RI tanggal 28 Januari Nyoman Muna dan Bambang Ismawan mengusulkan dikembang kannya ―microcredit wholesaler‖ (pemasok modal besar untuk ekonomi rakyat) tetapi yang harus dijaga benar -benar agar tidak dicegat oleh pemangsa (predator) yang akan memangsa kredit-kredit mikro ini untuk mereka sendiri. Dilema ini berkepanjangan karena pada setiap kasus seperti penjualan BCA atau Indosat selalu muncul masalah masa depan sistem ekonomi Indonesia. meskipun hampir tidak pernah dipihaki kebijakan-kebijakan pemerintah. dikawatirkan makin melembagakan kehidupan predator-predator kredit mikro bagi penduduk/warga miskin yang haus kredit di negara-negara ASEAN. Prof. Dalam kaitan ini Kementerian Koperasi dan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) perlu berhati-hati karena UKM inilah salah satu wadah kelompok yang sangat mudah diselundupi sehingga menjadi pemangsa (predator) barbagai program kredit bagi ekonomi rakyat. Presiden dan Wakil presiden yang sangat didambakan memihak rakyat tidak lagi dipihak mereka (atau melawan mereka) sehingga tidak ada alasan lagi untuk mendukungnya. sehingga Direktur Utama BRI Rudjito menyatakan di DPR ―vested interest lebih tinggi dari interest rate‖ (yang sudah cukup tinggi!). Jika pemerintah menganggap menjamurnya pedagang kaki lima sebagai masalah yang memusingkan. Bahaya ini sungguh jelas terlihat karena definisi kredit UKM adalah nilai kredit antara Rp 50 juta dan Rp 500 juta yang jelas bukan kelompok ekonomi mikro yang miskin.bukan lagi sistem ekonomi konglomerasi yang terbukti telah menyulut bom waktu berupa krisis moneter 1997. Dr.

kucing.Fredrik Benu EKONOMI KERAKYATAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT: SUATU KAJIAN KONSEPTUAL Ruang Ekonomi Kerakyatan Indonesia Saat mendapat tugas untuk mebahas konsep ekonomi kerakyatan dalam kaitan dengan makalah Prof. menguasai teknologi produksi dan menejemen usaha modern.). dan bentuk kepemilikan usaha secara pribadi. kita tidak bisa menangkap binatang untuk mengatakan gemuk atau kurus. menejemen usaha yang belum bersistem. mempunyai akses pasar yang luas. koruptor pun berhak menyandang predikat ‗rakyat‘. Buruh tani. menguasai usaha dari hulu ke hilir. serta peluang pasar. kecuali binatang itu adalah misalnya seekor tikus. Karena dalam dimensi ruang Indonesia semua orang (Indonesia) berhak untuk menyandang predikat ‗rakyat‘. maka rakyat adalah kumpulan kebanyakan individu dengan ragaan ekonomi yang relatif sama. usaha ekonomi yang diragakan bernilai ekstrim terhadap totalitas ekonomi nasional. dll. Sedangkan ekonomi kerakyatan lebih merupakan kata sifat. konglomerat. Mereka lahir dan berkembang dalam suatu sistem ekonomi yang selama ini lebih menekankan pada peran negara yang dikukuhkan (salah satunya) melalui pengontrolan perusahan swasta dengan rezim insentif yang memihak serta membangun hubungan istimewa dengan pengusaha-pengusaha . Dalam ruang Indonesia. Kata rakyat baru bermakna secara visual jika yang diamati adalah individualitas dari rakyat (Asy‘arie. yakni upaya memberdayakan (kelompok atau satuan) ekonomi yang mendominasi struktur dunia usaha. Atau apakah upaya menggiring rakyat ke dalam ruang ekonomi kerakyatan selama ini sudah berada dalam koridor yang benar. ular. sumberdaya manusia. maka semuanya disebut binatang. Memiliki modal yang besar. atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam. sehingga kita harus jelas mengatakan binatang yang mana yang bentuk visualnya gemuk atau kurus. Mubyarto. siapa. saya menc oba untuk menangkap (baca: memahami) makna kata ‗rakyat‘ secara utuh. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun. Kata rakyat merupakan suatu konsep yang abstrak dan tidak dapat di‘tangkap‘ untuk diamati perubahan visual ekonominya. Golongan yang kedua ini biasanya (walaupun tidak semua) lebih banyak tumbuh karena mampu membangun partner usaha yang baik dengan penguasa sehingga memperoleh berbagai bentuk kemudahan usaha dan insentif serta proteksi bisnis. Atau dengan kata lain. sarana teknologi produksi yang sederhana. kata rakyat terdiri dari satuan individu pada umumnya atau jenis manusia kebanyakan. Pertanyaan yang sama harus dikenakan pada konsep ekonomi rakyat. Ilustrasi di atas saya sampaikan untuk membuka ruang diskusi tetang ekonomi kerakyatan dalam perspektif yang terarah dalam kerangka mengagas pikiran Prof. Kita harus jelas mengatakan rakyat yang mana yang seharusnya kita tempatkan dalam ruang ekonomi kerakyatan Indonesia. Dainy Tara (2001) membuat perbedaan yang tegas antara ‗ekonomi rakyat‘ dengan ‗ekonomi kerakyatan‘. Mubyarto tentang ―Ekonomi Kerakyatan dalam Era Globalisasi dan Otonomi Daerah‖. ekonomi rakyat adalah satuan (usaha) yang mendominasi ragaan perekonomian rakyat. Perlu dipahami bahwa dalam ruang ekonomi nasional pun terdapat sejumlah aktor ekonomi (konglomerat) dengan bentuk usaha yang kontras dengan apa yang diragakan oleh sebagian besar pelaku ekonomi rakyat. Ekonomi Kerakyatan dan Sistem Ekonomi Pasar Ekonomi rakyat tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. khususnya dalam kaitan dengan pembangunan ekonomi. Kenapa mereka tidak digolongkan juga dalam ekonomi kerakyatan?. Ibarat kata ‗binatang‘. Karena jumlahnya hanya sedikit sehingga tidak merupakan representasi dari kondisi ekonomi rakyat yang sebenarnya. Kalau diterjemahkan dalam konteks ilmu ekonomi. Karena kelompok usaha dengan karakteristik seperti inilah yang mendominasi struktur dunia usaha di Indonesia. Akhirnya saya sampai pada pemahaman bahwa rakyat sendiri bukanlah sesuatu obyek yang bisa ‗ditangkap‘ untuk diamati secara visual. Dalam konteks ilmu sosial. Walaupun dalam perjalanannya seekor kucing dapat saja menelan 100 ekor tikus atas nama binatang. Selanjutnya. Sama seperti jika seekor kucing digabungkan dengan 100 ekor tikus dalam satu ruang. yaitu ekonomi rakyat yang mana. 2001). maka kata rakyat dalam konteks ilmu ekonomi selayaknya diterjemahkan sebagai kesatuan besar individu aktor ekonomi dengan jenis kegiatan usaha berskala kecil dalam permodalannya. bagaimana kita memperlakukan rakyat dimaksud dan apakah perlakuan terhadapnya selama ini sudah benar. Persoalannya ada begitu banyak obyek yang masuk dalam barisan binatang (tikus. Menurutnya. di mana dan berapa jumlahnya.

Lahirnya sejumlah pengusaha besar (konglomerat) yang bukan merupakan hasil derivasi dari kemampuan menejemen bisnis yang baik menyebabkan fondasi ekonomi nasional yang dibangun berstruktur rapuh terhadap persaingan pasar. yang keberhasilannya masih mendapat tanda tanya besar atau minimal belum dapat dibuktikan melalui suatu kajian teoritis-empiris. lalu mencari suatu sistem dan paradigma baru di luar sistem ekonomi pasar untuk dirujuk dalam pembangunan ekonomi nasional. Hal yang masih kurang jelas dalam TAP MPR dimaksud adalah apakah perspektif pembangunan nasional dengan keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini masih dijalankan melalui mekanisme pasar? Dalam arti apakah intervensi pemerintah dalam bentuk keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini adalah benar-benar merupakan affirmative action untuk memperbaiki distorsi pasar yang selama ini terjadi karena bentuk campur tangan pemerintah dalam pasar yang tidak benar? Ataukah pemerintah mulai ragu dengan bekerjanya mekanisme pasar itu sendiri sehingga berupaya untuk meninggalkannya dan mencoba merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru ?. Karena konsep ―pasar‖ yang disodorkan oleh Adam Smit sesungguhnya tidak pernah ada dan tidak pernah akan ada. Bukti keragu-raguan ini tercermin dalam TAP MPR hasil sidang istimewa itu sendiri. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya struktur ekonomi yang berimbang antar pelaku ekonomi dalam negeri. bahkan kita sendiri belum berpengalaman (ibarat membeli kucing dalam karung). jika kita semua jernih melihat dan jujur untuk mengakui bahwa kegagalan-kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama ini terjadi bukan disebabkan oleh karena ketidakmampuan mekanisme pasar mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. Mari kita membedah lebih jauh tentang konsep ekonomi kerakyatan. di mana bangun ekonomi yang mendominasi regaan struktur ekonomi nasional mendapat tempat tersendiri. Kemudian sejak sidang istimewa (SI) 1998. dan adanya pengaruh eksternal. adil. sebenarnya keragu-raguan ini tidak perlu terjadi. komitmen politik pemerintah ini perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. khusunya sejak masa orde baru. dihasilkan suatu TAP MPR mengenai Demokrasi Ekonomi. Bagi saya. Persepektif yang perlu dianut adalah bahwa keindahan. Nampaknya kita semua berada pada pilahan yang dilematis. kita masih ragu-ragu. dalam prakteknya belum ada satu negarapun yang cukup berpengalaman serta yang paling penting menunjukkan keberhasilan nyata. Namun demikian tidak harus diartikan bahwa konsep pasar Adam Smith yang relatif bersifat utopis ini harus diabaikan.. Tapi sayangnya sangat sulit untuk diacu untuk mencapai keseimbangan dalam tatanan perekonomian nasional. Bagi saya dunia ―pasar‖ Adam Smith adalah suatu dunia yang indah dan adil untuk dibayangkan. Sudah saatnya dan cukup adil jika pengusaha kecil –menengah dan bangun usaha koperasi mendapat kesempatan secara ekonomi untuk berkembang sekaligus mengejar ketertinggalan yang selama ini mewarnai buruknya tampilan struktur ekonomi nasional. Bukan sebaliknya membangun suatu format lain di luar ―ekonomi pasar‖ untuk diacu dalam pembangunan ekonomi nasional. Pengalaman pembangunan ekonomi Indonesia yang dijalankan berdasarkan mekanisme pasar sering tidak berjalan dengan baik. 1987). tidak efektifnya pasar tersebut berjalan. Sekali lagi. dimana demokrasi ekonomi nasional tidak semata-mata dijalankan dengan keberpihakan habis-habisan pada usaha kecil-menengah dan koperasi. perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Yang perlu dilakukan adalah upaya untuk mendekati kondisi indah. Mau meninggalkan mekanisme pasar dalam sistem ekonomi nasional. demi mengamankan pencapaian target pertumbuhan (growth) (Gillis et al. Dalam pemahaman seperti ini. Bahwa kegagalan kebijakan pembangunan ekonomi nasional masa orde baru dengan keberpihakan yang berlebihan terhadap kelompok pengusaha besar perlu diubah. keadilan dan keseimbangan yang dibangun melalui mekanisme ―pasar‖nya Adam Smith adalah sesuatu yang harus diakui keberadaannya. Padahal ekonomi pasar diperlukan untuk menentukan harga yang tepat ( price right) untuk menentukan posisi tawar-menawar yang imbang. saya merasa kurang memiliki justifikasi empirik untuk mempertanyakan kembali sistem ekonomi pasar. bukan ekonomi pasar itu sendiri. karena pengalaman keberhasilan pembangunan ekonomi negara-negara maju saat ini selalu merujuk pada bekerjanya mekanisme pasar. Mereka tidak bisa diandalkan untuk menopang perekonomian nasional dalam sistem ekonomi pasar. minimal telah dibuktikan melalui suatu review teoritis. tapi perusahaan swasta besar dan BUMN tetap mendapat tempat bahkan mempunyai peran yang sangat strategis. yang antara lain berisikan tentang keberpihakan yang sangat kuat terhadap usaha kecil-menengah serta koperasi. Saya perlu menggaris bawahi bahwa yang patut mendapat kesalahan terhadap kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama regim orde baru adalah implementasi kebijakan pembangunan ekonomi nasional yang tidak tepat dalam sistem ekonomi pasar. Keputusan politik ini sebenarnya menandai suatu babak baru pembangunan ekonomi nasional dengan perspektif yang baru. Komitmen pemerintah untuk mengurangi gap penguasaan aset ekonomi antara sebagian besar pelaku ekonomi di tingkat rakyat dan sebagian kecil pengusaha besar (konglomerat). Mau merujuk pada bekerja suatu mekanisme yang baru (apapun namanya). dan seimbang melalui berbagai regulasi pemerintah sebagai wujud intervensi yang berimbang dan kontekstual. Kegagalan pembangunan ekonomi yang diragakan berdasarkan mekanisme pasar ini antara lain karena kegagalan pasar itu sendiri. intervensi pemerintah yang tidak benar.yang besar yang melahirkan praktik-praktik anti persaingan. .

seperti Singapura) mempunyai suatu sistem social security jangka panjang (yang berfungsi secara permanen) untuk membantu kelompok masyarakat yang inferior dalam kompetisi memperoleh akses ekonomi. Apalagi dengan merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru. Kita akan membahas lebih jauh tentang kekurangan konsep ekonomi kerakyatan yang di dengungkan oleh pemerintah pada sub-pokok bahasan di bawah ini. Akibatnya tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) terhadap obyek keberpihakan (dalam mekanisme pasar) untuk mengambil peran sebagai lokomotif keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. pemerintah sendiri kurang mempunyai acuan yang jelas tentang kapan seharusnya phasing-out process diintrodusir dalam tahapan intervensi. instrumen distribusi kekayaan dan pendapatan. Ekonomi Kerakyatan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Perlu digarisbawahi bahwa ekonomi kerakyatan tidak bisa hanya sekedar komitmen politik untuk merubah kecenderungan dalam sistem ekonomi orde baru yang amat membela kaum pengusaha besar khususnya para . Fungsi sosial dapat berjalan dengan baik dalam mekanisme pasar. Semua ini merupakan ciri-ciri dari Ekonomi Kerakyatan yang kita tuju bersama (Prawirokusumo. Sejak awal saya katakan bahwa semua pihak perlu mendukung affirmative action policy pada usaha kecilmenengah dan koperasi yang diambil oleh pemerintah sesuai dengan tuntutan TAP MPR. dsb. rakyat sudah terlalu lama menunggu dengan penuh pengorbanan. meluasnya kesempatan berusaha dan pendapatan. Saya juga kurang setuju dengan pendapat bahwa mekanisme pasar tidak dapat menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonomi nasional. sistem jaminan sosial. Perlu dicatat. pada akhirnya bermuara pada incapability dan inefficiency dari industri yang bersangkutan (contoh kebijakan pengembangan industri otomotif). demi mengkreasi bekerjanya mekanisme pasar dalam program pembangunan ekonomi nasional. Bentuk campur tangan pemerintah (orde baru) yang seharusya diarahkan untuk menjamin bekerjanya mekanisme pasar guna mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. serta lemahnya pengawasan. Sudah menjadi pengetahuan yang luas bahwa negara-negara maju (termasuk beberapa negara berkembang. Bagi saya. harganya terlalu mahal bagi rakyat jika kita mencoba-coba dengan sesuatu yang tidak pasti. Ini yang namanya affirmative action yang terarah oleh pemerintah dalam mekanisme pasar (Bandingkan dengan pendapat Anggito Abimanyu. Ini sama artinya dengan ―sakit di kaki. jika ada intervensi pemerintah melalui perpajakan. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang salah atau kurang sempurna dengan konsep ekonomi kerakyatan?. sistem perburuhan. Periode waktu yang telah ditetapkan untuk berkembang menjadi suatu bisnis yang besar dalam skala dan skop serta melibatkan sejumlah besar pelaku ekonomi di dalamnya. Pendapat seperti ini juga tidak benar secara absolut. 2000). Justru negara-negara yang masih setengah hati mendorong bekerjanya mekanisme pasar (seperti Indonesia) tidak mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara mantap. Jadi yang salah selama ini bukan mekanisme pasar. adanya persaingan yang sehat. menjadi tidak bermakna saat dihadapkan pada kenyataan bahwa bisnis yang bersangkutan masih tetap berada pada level perkembangan ―bayi‖. terjadi banyak penyimpangan dalam implementasi. untuk melihat keberhasilan pembangunan ekonomi nasional yang dapat dinikmati secara bersama. namun pelaksanaannya masih jauh dari memuaskan. Pembangunan harus dikembangkan dengan berbasiskan ekonomi domestik (bila perlu pada daerah kabupaten/kota) dengan tingkat kemandirian yang tinggi. tetapi kurang adanya affirmative action yang jelas oleh pemerintah demi menjamin bekerjanya mekanisme pasar. keterbukaan/demokratis. Pengalaman pembangunan ekonomi nasional dengan kebijakan proteksi bagi kelompok industri tertentu (yang diasumsikan sebagai infant industry) dan diharapkan akan menjadi ―lokomotif ― yang akan menarik gerbong ekonomi lainnya. maka kurang ada justifikasi logis yang jelas untuk mengabaikan bekerjanya mekanisme pasar dalam mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. Kalau begitu logikanya. partisipatif. ka rena dimanjakan oleh berbagai insentif dan berbagai bentuk proteksi. 2001). Pada saat yang sama. Buktinya negaranegara maju yang selalu merujuk pada bekerjanya mekanisme pasar secara baik. ternyata dalam prakteknya lebih diarahkan pada keberpihakan yang berlebihan pada pengusaha besar (konglomerat) dalam bentuk insentif maupun regim proteksi yang ekstrim. dan pemerataan yang berkeadilan. kepercayaan diri dan kesetaraan. mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara baik pula.tetapi lebih disebabkan karena pasar sendiri tidak diberi kesempatan untuk bekerja secara baik. kepala yang dipenggal‖. Sebenarnya sudah banyak program jaminan sosial temporer semacam JPS di Indonesia. bahwa disamping obyek keberpihakan selama pemerintah orde baru dalam kebijakan ekonomi nasionalnya salah alamat. bukan sebaliknya pada konglomerat. karena kurang mantapnya perencanaan. Yang disebut dengan affirmative action seharusnya lebih dutujukkan pada disadvantage group (sebagian besar rakyat kecil).

Kita semua masih mengarahkan seluruh energi untuk mendukung program keberpihakan pemerintah pada UKM dan koperasi sesuai dengan tuntutan TAP MPR. Komitmen keberpihakan pemerintah pada UKM dan Koperasi di dalam perspektif ekonomi kerakyatan harus benar-benar diarahkan untuk mengatasi masalah-masalah yang disebut di atas. Hal ini perlu ditegaskan. keterbatasan penguasaan teknologi dan informasi. Jika pemahaman ini tidak dibangun sejak awal. Oleh karena itu. dan . keterbatasan akses pasar. Bukan sebaliknya ditiadakan dengan menciptakan ketergantungan model baru pada kebijakan keberpihakan dimaksud. Tapi sebaiknya dikembangkan dalam perspektif ‗regionalisasi‘ di mana di dalamnya terintegrasi kesatuan potensi. maka saya khawatir cerita keberpihakan yang salah selama masa orde baru kembali akan terulang. Tapi kita lupa bahwa ada tahapan lainnya yang penting dalam program keberpihakan dimaksud. yaitu phasing-out process yang harus pula dipersiapkan sejak awal. keunggulan. atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam. Perubahan itu hendaknya dilaksanakan dengan benar-benar memberi perhatian utama kepada rakyat kecil lewat program-program operasional yang nyata dan mampu merangsang kegiatan ekonomi produktif di tingkat rakyat sekaligus memupuk jiwa kewirausahaan. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di NTT Kita telah membahas tentang konsep ekonomi kerakyatan dalam pembangunan ekonomi nasional melalui program-program keberpihakan pemerintah terhadap UKM dan Koperasi. Pada era otonomisasi saat ini. Sebenarnya yang harus ada pada tangan obyek affirmative action adalah kesempatan untuk berkembang dalam suatu mekanisme pasar yang sehat. peluang. untuk mendorong ekonomi kerakyatan berkembang secara sehat. Kalau tidak. agar pembahasan tentang ekonomi kerakyatan tidak hanya berhenti pada suatu konsep abstrak (seperti pembahasan tentang konsep ‗binatang‘ di atas). 2000). pemerintah harus mempunyai ancangan yang pasti tentang kapan seharusnya pemerintah mengurangi bentuk campur tangan dalam affirmative action policynya. 2001). Ini adalah suatu model pendekatan struktural (structural approach). diperlukan adanya kajian ekonomi yang akurat tentang timing dan process di mana pemerintah harus mengurangi bentuk keberpihakannya pada usaha kecil-menengah dan koperasi dalam pembangunan ekonomi rakyat. tetapi menyamakan ekonomi kerakyatan dengan praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil (saya tidak membuat penilaian terhadap sistem JPS). Bahkan sangat mungkin terjadi suatu proses yang bersifat counter-productive. Program pengembangan ekonomi rakyat memerlukan adanya program-program operasional di tingkat bawah. menjadi sangat tergantung pada aksi dimaksud. termasuk rakyat kecil sendiri (Bandingkan dengan pendapat Ignas Kleden. serta peluang pasar. Tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) dalam ragaan bisnis usaha kecil-menengah dan koperasi yang menjadi target affirmative action policy. Isu ini perlu mendapat perhatian tersendiri. Namun demikian perlu ditegaskan bahwa pengembangan ekonomi kerakyatan pada era otonomisasi saat ini tidak harus ditejemahkan dalam perspektif territorial. Justru kelompok ini yang enggan mendorong adanya proses phasing-out untuk mengkerasi mekanisme pasar yang sehat dalam rangka mendorong keberhasilan program ekonomi kerakyatan. Tidak dapat disangkal bahwa membangun ekonomi kerakyatan membutuhkan adanya komitmen politik ( political will). Beberapa kajian empiris menunjukkan bahwa permasalahan umum yang dihadapi oleh UKM dan Koperasi adalah: keterbatasan akses terhadap sumber-sumber permbiayaan dan permodalan.konglomerat. Praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil sangat tidak menguntungkan pihak manapun. adalah sesuatu kekeliruan besar dalam perspektif ekonomi kerakyatan yang benar. tetapi perlu ditindalanjuti dengan pengembangan program-program operasional yang diarahkan untuk mengatasi persoalan keterbatasan akses kebanyakan rakyat kecil. Aksi membagi-bagi uang secara tidak sadar menyebabkan usaha kecil-menengah dan koperasi yang selama ini tidak berdaya untuk bersaing dalam suatu mekanisme pasar. maka sekali lagi kita akan mengulangi kegagalan yang sama seperti apa yang terjadi selama masa pemerintahan orde baru. konsep pengembangan ekonomi kerakyatan harus diterjemahkan dalam bentuk program operasional berbasiskan ekonomi domestik pada tingkat kabupaten dan kota dengan tingkat kemandirian yang tinggi. karena asumsi awal yang dianut adalah usaha kecil-menengah dan koperasi yang merupakan ciri ekonomi kerakyatan Indonesia tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. karena sampai saat ini masih banyak pihak (di luar UKM dan Koperasi) yang memanfaatkan momen keberpihakan pemerintah ini sebagai free-rider. keterbatasan organisasi dan pengelolaannya (Asy‘arie. Pendekatan seperti ini jelas sangat berbeda dengan apa yang dimaksud dengan affirmative action. Modal dasar yang dimiliki inilah yang seharusnya ditumbuhkembangkan dalam suatu mekanisme pasar yang sehat. bukan sekedar jargonjargon politik yang hanya berada pada tataran konsep. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun. bukan cash money/cash material. sumberdaya manusia. Selanjutnya. Masih ada masalah lain yang perlu dibahas dalam hubungan dengan internal condition UKM dan Koperasi.

2 nd Ed. Elex Media Komputindo. Kupang Makalah disampaikan pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di Provinsi NTT. 6 milyar dengan jumlah tunggakan (pokok+bunga) sebesar kurang lebih 26. termasuk di dalamnya cara pandang tentang usaha. sebaiknya dimulai dengan program rekayasa sosial-budaya (socio-cultural engineering) untuk merubah inner life dan mengkondisikan suatu tatanan masyarakat yang akomodatif terhadap tuntutan pasar untuk maju. Sekalipun sudah banyak program pemberdayaan ekonomi yang langsung menyentuh rakyat di tingkat bawah telah dilaksanakan baik oleh pemerintah maupun oleh lembaga-lembaga non-pemerintah (NGOs). Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia. 2001. Jakarta. strategei menghadapi resiko. sikap terhadap mitra dan kompetitor. Sekedar sebagai pembanding disajikan data realisasi dan tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) selama periode 1996-2000. dan Strategi. dsb. Lembaga Studi Filsafat Islam. cara pengelolaan keuangan. cara pandang tentang tingkat keuntungan. 2001. mungkin ada kaitannya dengan sistem nilai budaya yang sudah mengakar pada diri pelaku ekonomi rakyat di NTT secara turun temurun. Kleden. Kompas Media Nusantara. Jakarta. Asy‘arie. Tara. Ekonomi Indonesia Baru. data yang diperoleh dari Biro Perekonomian Seta NTT menunjukkan bahwa sejak ditetapkannya TAP MPR tentang demokrasi ekonomi yang menekankan adanya keberpihakan yang jelas terhadap UKM dan Koperasi di Indonesia. tetapi sebagian besar rakyat kecil masih sulit untuk mengaktualisasikannya dalam ragaan usaha mereka. Kupang. H. Atau dengan kata lain tingkat keberhasilan KUT di NTT hanya mencapai kurang dari 26 %. Malcolm. Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia. Jumlah realisasi KUT yang telah disalurkan pada petani sejak tahun 1996 sampai tahun 2000 kurang lebih 35. New York. kajian dan alternatif solusi menuju pemulihan. Soeharto. Ekonomi Pasar Sosial Indonesia. Yogyakarta. Persepsi dan Mispersepsi tentang Pemulihan Ekonomi Indonesia. Ignas. di Hotel Kristal. 2001). dalam Menggugat Masa Lalu. S. tgl. 2002). Ini adalah suatu model pendekatan lain yang disebut pendekatan kultural (cultural approach). jumlah KK miskin di NTT malah mengalami kenaikan yang cukup murad sebesar 55 % selama periode 1998-2002. Anggito. Jakarta. . Djisman. PUSTAKA Abimanyu. 26 Nopember 2002. Oleh karena itu saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa program pemberdayaan ekonomi rakyat. BPFE. tidak dipublikasikan. Dwight. PT. Pada tingkat regional NTT. Simanjuntak.karakter sosial budaya.. W. Kosep. khususnya di NTT. Musa. Sistem nilai budaya ini yang banyak mendeterminasi perilaku aktor ekonomi rakyat di NTT.W. 2001. Perkins. Selanjutnya. PT. 2000. Jakarta. Gillis. Kompas Media Nusantara. 2000. Fredrik Benu – Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana.Norton & Companny. 1987. Ekonomi Rakyat. 2000. Tingkat pencapaian tertinggi yang paling banyak diperoleh dari program-program dimaksud adalah hanya terbatas pada tumbuhnya kesadaran berpikir dan hasrat untuk maju. Kebijakan. Roemer Donald R. Yogyakarta. Prawirokusumo. Strategi Membangun Ekonomi Rakyat. Economics of Development. Laporan disampaikan pada kunjungan Menteri Pertanian Republik Indonesia di Propinsi Nusa Tenggara Timur. 2002. Persoalan mendasar yang mengurung ini.1 milyar (Laporan Gubernur NTT. Pokok-Pokok pikiran dalam Menggugat Masa Lalu. Nuansa Madani. Tetapi ada semacam jarak antara kesadaran berpikir dan realitas perilaku (Bandingkan dengan pendapat Musa Asy‘arie. Azwir Dainy. Keluar dari Krisis Multi Dimensi. masih terdapat persoalan mendasar yang ‗mengurung‘ para pengusaha kecilmenengah dan Koperasi (termasuk di dalamnya berbagai bentuk usaha di bidang pertanian) untuk melakukan rasionalisasi dan ekspansi usaha. Gubernur Nusa Tenggara Timur.

Alor dan Timor. Sumba.Frits O FanggidaE EKONOMI KERAKYATAN DI NTT: ANTARA REALITAS DAN HARAPAN Realitas Pelaku Ekonomi Kerakyatan di NTT Rakyat adalah suatu konsep politik yang netral. Sejumlah kelompok usaha yang dibina intensif dengan kondisi SDM yang relatif baik menunjukkan perkembangan yang baik. Di Apui (Alor). Kecuali beberapa pelaku ekonomi informal yang berasal dari Jawa. Komsep ini tidak mempersoalkan perbedaan orang dalam kepelbagaian sosial. Pujian demikian tidak salah. Menurut hemat saya. peternak kcil. namun tidak sedikit kelompok dan usaha individu menjadikan industri tenun ikat sebagai pekerjaan sampingan dengan postur usaha yang serba kekurangan. mereka juga menggelar hasil usahanya di pinggir jalan secara darurat. Pada titik inilah kita harus membedakan secara jelas petani kecil. pelaku industri rumah tangga kecil dan pelaku ekonomi sektor informal perkotaan di Jawa dan kota besar lainnya di Indonesia dengan NTT. Mungkin juga tidak setiap hari mereka bisa berjualan di pasar atau pinggir jalan karena pola produksinya yang bersifat musiman. tetapi kondisinya tetap seperti kita saksikan saat ini. Data ekonomi makro Indonesia bahwa share pelaku ekonomi kecil ini cukup kelihatan. peternak kecil. Vanili. Para pengamat ekonomi memuji pelaku ekonomi kecil ini sebagai lentur dan tahan terhadap konjungtus dan krisis ekonomi. Selain berjualan secara individual di pasar. Jambu Mete. Tampaknya program-program pengentasan kemiskinan atau pemberdayaan ekonomi seperti IDT. Lingkungan ekonomi makro dan mikronya sangat kontras berbeda. tidak menunjukkan status ekonomi yang lebih baik ketimbang para petani yang menanam tanaman pangan. betapapun daerah ini dikenal sebagai gudang ternak (sapi). Suatu isyarat bahwa suatu kebijakan pengembangan yang berhasil di Jawa dan kota besar lainnya di Indonesia belum tentu berhasil di NTT. Unit usaha industri kecil atau rumah tangga yang paling menonjol di NTT adalah industri tenun ikat. telah melakukan banyak hal untuk memajukan mereka. Sulawesi dan Sumatra yang pada umumnya berusaha di pusat kota. walaupun mungkin pendapatan nominalnya lebih besar dari para peternak kecil. ekonomi dan budayanya. Ketika konsep rakyat diimbuhkan dengan konsep ekonomi politik yang tidak lagi netral. Tampilan fisik usaha para pelaku ekonomi kecil ini juga memperihatinkan. fondasi perekonomian daerah dan sejumlah julukan yang membanggakan. dari pusat sampai daerah. Kopi. tingkat ekonomi mereka memprihatinkan. kondisi mereka tidak dapat digolongkan mampu secara ekonomis. Pemerintah. menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan yang serba kecil dan kekurangan di NTT sebagai pemain ekonomi yang utama atau sebagai fondasi ekonomi daerah. pelaku ekonomi sebagaimana dimaksud pada umumnya terdiri dari petani kecil. sebagian pelaku ekonomi kecil di pesisir pantai dikabarkan mengalami kemajuan berkat budidaya rumput laut. yaitu hanya menunjuk pada pelaku ekonomi kecil (gurem) yang tersebar di sudut-sudut jalan perkotaan maupun di pelosok perdesaan. Para peternak di TTS. kinerja ekonomi mereka terbilang cukup baik. Di NTT. Demikian juga para nelayan kecil di pesisir pantai Flores. konsep ekonomi kerakyatan yang digunakan juga tidak bersifat netral. Data makro tentang pendapatan per kapita penduduk di berbagai kabupaten di NTT bisa menjelaskan kondisi ekonomi para pelaku ekonomi kecil tersebut. nelayan kecil. Di Sabu dan Rote. karena berbagai perbedaan pelaku ekonomi mulai diperhitungkan. Semuanya sama. masih membutuhkan waktu yang relatif lama dan yang lebih penting dari itu. pelaku ekonomi kerakyatan yang serba kekurangan ini ingin ditempatkan sebagai pelaku ekonomi utama. tingkat ekonomi mereka cukup memadai. PDMDKE dan berbagai skim program/ pendanaan lainnya belum menyentuh mereka atau mungkin sentuhannya sudah hilang sama sekali. Inilah kondisi riil pelaku ekonomi kerakyatan di NTT. petani kecil dan nelayan kecil di perdesaan. kita mengenal cukup banyak konsep . Pada tataran political will pemerintah. nelayan kecil dan pengrajin kecil di perdesaan dan para pelaku sektor informal perkotaan. sebagian besar dalam kondisi serba miskin. Namun bagi para petani yang mengandalkan tanaman pangan dengan wilayah yang relatif kering. sejumlah kelompok tani yang menanam vanili mendapat penghasilan yang cukup besar lantaran harga komoditas ini cukup tinggi. Dalam kajian ini. membutuhkan wawasan dan perlakuan baru terutama dari para penentu dan pelaksana kebijakan pada tingkat pemerintahan. Para pelaku ekonomi kecil di sektor informal perkotaan juga memperlihatkan kondisi yang relatif sama. namun pelaku ekonomi kecil semacam ini pasti buka di NTT. Bagi para petani yang kebetulan memiliki wilayah yang cocok untuk komoditas perkebunan seperti Cengkeh. Secara teoretis.

Kita masih membutuhkan wadah ekonomi lain atau sekurangkurangnya cara penanganan pasar sedemikian rupa sehingga aksesibilas pasar dan posisi tawar mereka dapat ditingkatkan. Penghasil rumput laut di Rote dan Sabu juga mulai merasakan betapa fluktuasi harga yang terjadi sulit mereka kendalikan. industri.pemberdayaan usaha kecil seperti kemitraan. Demikian juga pada tataran ekonomi mikro. Dengan tingkat pendapatan masyarakat yang relatif tinggi serta kompetisi yang baik antar sektor ekonomi menjadikan outlet bagi produk pelaku ekonomi kecil cukup tersedia dengan insentif harga yang memadai. bapak angkat. Di NTT. perdagangan. maka inilah salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan untuk direplikasi pada daerah lain. perhubungan dan lembaga keuangan) telah terjadi dengan baik. Sementara itu sebagian nelayan di Pulau Timor secara perlahan-lahan telah bertransformasi menjadi buruh nelayan. dinamika dunia usaha yang relatif tinggi menjadi media pembelajaran yang efektif dalam pembentukan perilaku ekonomi yang rasional dan produktif. tetapi belum berhasil mengeluarkan para pelaku ekonomi kecil dari lingkaran yang serba kekurangan. Dua Perusahaan Daerah. struktur ekonomi belum terdiversifikasi dengan baik menjadikan hubungan fungsional antar sektor ekonomi belum terjalin baik. inti-plasma dan sebagainya. Apakah koperasi sebagai lembaga ekonomi yang dekat dengan para petani. Sekiranya langkah ini mampu meningkatkan posisi tawar para pelaku ekonomi kecil dan mampu meningkatkan kinerja ekonomi mereka. Ciri pasar komoditas semacam ini adalah harga relatif rendah dan inferior terhadap komoditas hasil olahan yang diimpor dari luar. pengrajin dan pedagang kecil dapat menjadi organisasi ekonomi yang diandalkan untuk meningkatkan posisi tawar mereka di pasar? Sangat sulit untuk mengatakan Ya. Share sektor pertanian sangat menonjol sementara share sektor industri sangat kecil. Mereka memasuki pasar pembeli ( buyer market) secara individual tanpa dukungan kelembagaan yang memadai. Sektor rkonomi tersier adalah sektor yang melayani. Jauh bukan hanya dalam arti fisik saja. Organisasi harus dilawan dengan organisasi pula. bukan melalui pelatihan-pelatihan formal. nelayan. agar tercapai keseimbangan posisi tawar di pasar. Mereka bahu-membahu menjalin kekuatan untuk menguasai dan mendikte harga pasar. Formasi Ekonomi Makro dan Mikro Salah satu keuntungan pelaku ekonomi kecil dan sektor informal perkotaan di Jawa dan kota besar lainnya adalah struktur ekonominya telah terdiversifikasi dengan baik sehingga hubungan fungsional antar sektor ekonomi (pertanian. Perlu ada kebijakan untuk percepatan perubahan struktur ekonomi NTT agar keterkaitan fungsional antar sektor ekonomi dapat tercipta. posisi tawar mereka sangat lemah. Karena itu sektor ini akan menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi pada sektor primer dan sekunder. peternak. Dari kondisi semacam ini dapat dibayangkan bahwa yang diperdagangkan adalah komoditas pertanian tanpa penglahan yang berarti. Konsep-konsep ini telah diadopsi sedemikian rupa ke dalam berbagai program pemberdayaan ekonomi yang dilaksanakan pemerintah maupun swasta. masing-masing bergerak di bidang kelautan dan agribisnis didirikan sebagai outlet bagi para pelaku ekonomi kecil. tetapi lebih penting adalah aksesibilitas. Petani Vanili di Apui (Alor) yang baru saja menikmati harga vanili yang tinggi. Perilaku . Berkembangnya sektor ekonomi sekunder akan menciptakan peluang bagi dinamika dunia usaha. Berkembangnya sektor ekonomi sekunder dan tersier menjadi prasyarat bagi pengembangan dunia usaha pada aras ekonomi mikro. pengembangan pelaku ekonomi kecil membutuhkan perubahan yang cukup berarti pada formasi ekonomi makro dan mikro. Para pembeli memiliki organisasi yang solid. Organisasi pembeli yang kuat tersebut tidak bisa dilawan oleh para petani secara individual. Para peternak di TTS sudah sejak lama takluk dengan para pembeli (pedagang). Inilah formasi ekonomi makro dan mikro yang sangat kondusif bagi pelaku ekonomi kecil di Jawa dan kota besar lainnya untuk berkembang. Dalam kaitan ini menarik untuk disimak lebih lanjut langkah Pemda Kabupaten Kupang. Akibatnya. Jauh dari Permintaan dan Miskin Kelembagaan Salah satu persoalan yang menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan di perdesaan NTT sulit berkembang adalah bahwa mereka jauh dari permintaan (pasar). Dalam kondisi semacam ini. Pada sisi lain share sektor perdagangan dan perhubungan sedikit agak menonjol. Menjadi persoalan adalah bagaimana percepatan perubahan struktur ekonomi ini dapat terjadi. Sikap kewiraswastaan mereka terbentuk dalam dinamika dunia usaha yang tinggi. Kondisi ini sangat kondusif bagi para pelaku ekonomi kecil. Para pelaku ekonomi kecil tidak menikmati nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan. saay ini mulai merasakan bahwa harga vanili sangat ditentukan oleh pembeli (pedagang skala menengah dan besar). Secara teoretis. perubahan struktur ekonomi akan terjadi bila aliran investasi pada sektor industri pengolahan (sekunder) meningkat.

Berkaitan dengan representasi pengembangan usaha kecil dalam dokumen perencanaan yang ada. Seluruh program yang berkaitan dengan mereka perlu dievaluasi tuntas dan yang paling penting mesti ada wawasan baru tentangnya. Bila pemerintah menginginkan pelaku ekonomi kecil menjadi fondasi perekonomian daerah. kapitalisasi pelaku ekonomi kecil tersebut dapat menjadi pemicu bagi berkembangnya aktivitas usaha pelaku ekonomi kecil.Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang . Karena itu perlu terobosan dari sisi perencanaan. Menurut hemat saya. pembiayaan dan guide line pengelolaannya. Rencana Pengembangan Pelaku Ekonomi Kecil dapat dijadikan subsidiary plan dari Propeda atau Renstra yang keabsahannya dilegitimasi juga oleh Perda. Dari segi pendanaan tidak ada masalah. Subsidiary plan adalah produk perencanaan sejumlah instansi yang berkaitan langsung dengan usaha kecil yang penyusunannya dikoordinasi Bappeda dan melibatkan representasi pelaku ekonomi skala menengah dan besar. Untuk itu diperlukan suatu pengkajian mendalam mengenai eksistensi pelaku ekonomi kecil saat ini. Gaungnya kedengaran keras di mana-mana. pedekatan. Bila urusan-urusan ekonomi lainnya diregulasi oleh Pemerintah Daerah. Propeda dan Rentra) tidak memungkinkan rencana pengembangan pelaku ekonomi kecil sebagai inti dari pengembangan ekonomi rakyat diakomodasi dengan baik. Perlu Regulasi bagi Pelaku Ekonomi Kecil Esensi regulasi adalah untuk menciptakan keteraturan. Misalnya dalam perumusan kebijakan fiskal daerah (APBD). yang menggunakan program sebagai nomenklatur generik serta format pengusulan untuk mendapatkan pembiayaan dekonsentrasi. kepastian hukum dan komitmen yang jelas dalam pengembangan UKM. program aksi dan pengelolaan yang jelas. Visi semacam ini diperlukan agar ada komitmen dan daya paksa untuk menjabarkan visi tersebut dalam perencanaan yang baik. Subsidiary plan tersebut paling kurang berisikan lima hal pokok yaitu Visi dan Misi. program-program lintas instansi yang akan dilaksanakan. sebagian dari pos belanja modal yang dianggarkan dapat diarahkan sebagai kapitalisasi pelaku ekonomi kecil. Ancangan Perencanaan Berbagai perubahan yang diinginkan terhadap pelaku ekonomi kecil butuh perencanaan yang baik dan perencanaan yang baik muncul dari suatu visi pengembangan usaha kecil yang jelas pula. tetapi ia tak punya gigi. maka perangkat hukum dalam bentuk Perda tentang pelaku ekonomi kecil atau UKM perlu dibuat. Dorong perkembangan dunia usaha melalui percepatan perubahan struktur ekonomi. maka Kepala Daerah harus berani merumuskan visi bahwa dalam jangka waktu lima atau 10 tahun mendatang. wacana tentang UKM ibarat macan ompong. Denganstrategi. Frits O FanggidaE – Dosen Fakultas Ekonomi . Kepala Daerah harus berani merumuskan visi yang jelas tentang pengembangan pelaku ekonomi kerakyatan. Jangan dipaksakan dengan berbagai pelatihan kewirausahaan bila formasi ekonomi makroo dan mikro tidak kondusif. Perda ini sangat penting. karena dalam format APBD yang baru. Melalui pendekatan semacam ini diharapkan pelaku ekonomi kerakyatan dapat berkembang menjadi fondasi ekonomi yang kokoh bagi perekonomian daerah. Demikianlah beberapa pokok pikiran tentang pengembangan ekonomi kerakyatan di NTT. agar tercipta media pembelajaran yang luas bagi pelaku ekonomi kecil untuk mematangkan perilaku ekonomi atau sikap kewirausahaannya. pembiayaan terhadap subsidiary plan tersebut dapat diakomodasi. strategi yang digunakan. terutama bagi pelaku UKM untuk menuntut dan mengontrol pemerintah agar bersungguh-sungguh dalam mengembangkan UKM. propeda dan Renstra) memberi tempat bagi pengembangan usaha kecil secara terpadu dan berkesinambungan? Bagaimana strateginya menjadikan usaha kecil sebagai sokoguru perekonomian daerah? Sampai sejauh ini kita belum melihat adanya visi yang jelas tentang pelaku ekonomi kecil. Pertanyaannya. selain retorika tentang mereka. adakah visi kita yang jelas tentang usaha kecil? Cukupkah dokumen perencanaan yang ada (Poldas. harus diakui bahwa format perencanaan standar yang ada saat ini (Poldas. PDRB NTT akan didominasi share pelaku ekonomi kecil. Sekian.ekonomi atau sikap kewirausahaan merupakan fungsi dari dinamika dunia usaha. Semoga berguna. Tanpa Perda ini.

62%).54 5.2 57.6 91.40 -2.64% untuk wilayah-wilayah luar Jawa. 5.8 Irja 31.22% dan 5. 1. Maka dapat dimengerti seperti halnya wilayah-wilayah lain di luar Jawa.4 63. 3.5 % berhasil dalam aspek ekonomi).30 32.7 96.54 3.22 6.42 -1.04 2000 2. Maret 1998 Dalam pertemuan terbatas di Kupang tanggal 20 Januari 2001. Bahkan pemahaman tentang pengertian otonomi daerah sendiri masih cukup rancu.75 -6.97 .73%. Kesan demikian tentu mengganggu pelaksanaan pemerintah daerah. tidak tinggi dibanding kontraksi –4.0 Sumber: RI.Mubyarto MEMBANGUN PEREKONOMIAN RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR Pendahuluan Gubernur Piet Tallo yang alumni Fakultas Hukum pernah menolak julukan miskin bagi daerahnya. survei BPS tahun 1997 menempatkan NTT pada urutan nasional ke-6 (79. wakil LSM dan sejumlah dosen Undana menyatakan optimisme terhadap masa depan ekonomi NTT.13 4. adanya bagian-bagian masyarakat yang ―menikmati krisis‖ dengan kemakmuran yang meningkat.6 86. Meskipun tahun 1998 terjadi kontraksi ekonomi minus 2. Secara keseluruhan ekonomi NTT sudah pulih dari krisis. rupanya dianggap sebagai perubahan amat fundamental yang terkesan menghapuskan kekuasaan dan fungsi kooordinatif dari pemerintah propinsi atas kabupaten/kota dalam lingkungan propinsi.67 2.75 4. Tabel 2: Pertumbuhan PDRB Per Kabupaten/Kota se Propinsi NTT No.9 Partisipasi 88. Bahwa OTDA penuh diletakkan di kabupaten/kota. Pidato Pertanggungjawaban Presiden.10 3.9 76.73%.6 39.57 2.21 4. Perekonomian Daerah Jika tahun 1996 dan 1997 pertumbuhan ekonomi NTT cukup tinggi (masing-masing 8.11 4.1 32. yang menonjol di antaranya berupa kerisauan menurunnya wibawa pemerintah daerah propinsi di mata pejabat-pejabat kabupaten/kota. 2. tetapi ekonomi rakyat yang masih agraris berdaya tahan tinggi dan justru merasa diuntungkan oleh krisis moneter tahun 1997. dan jauh lebih rendah dibanding kontraksi –11.42 -3.57 5. Kabupaten/kota Sumba Barat Sumba Timur Kupang Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Belu 1998 -0. dan di propinsi hanya merupakan otonomi terbatas.5 5.94 1. Data -data pertumbuhan PDRB per kabupaten/kota yang lebih lengkap selama Repelita VI terlihat pada tabel 2. Tabel 1: Tingkat Keberhasilan Pokmas IDT Menurut Bidang (%) di 4 Propinsi Propinsi NTT NTB Maluku Ekonomi 79. Di antara 4 propinsi ―termiskin‖ ini hasil lengkap survei BPS-1997 dilihat pada tabel 1. pada tahun krisis (1998) mengalami kontraksi –2.91 Rata-rata 1994 2000 3. Sebagai salah satu dari 4 propinsi ―termiskin‖ di Indonesia berdasarkan tingkat PDRB perkapitanya.0 88.8% (Jawa-Bali) atau –13.9 78. tetapi propinsi ini sedang mengeksplorasi berbagai potensi tambang dan kekayaan alam lain yang kelak akan membantu mengubah nasibnya‖. yang seluruh desanya dinyatakan sebagai desa IDT pada tahun 1996. Namun khusus tentang prospek otonomi kebanyakan pakar masih merasa cemas.63 1999 0.5 71.83 4.24 -2.28 -3. ―Mungkin warga NTT belum se-makmur saudara-saudaranya dari daerah lain.62 3.8 23.5 75.4% (5 propinsi Jawa). 6. 4.7 52.7 Kemandirian Kelembagaan Keseluruhan 64.

yang oleh BI setempat dalam proyek PHBK (hubungan Bank dan kelompok swadaya) dan KKPA (Kredit Koperasi Pada Anggota) telah diabaikan.22 -6. 10. sehingga dana perbankan Ende yang hanya Rp 40. meskipun disadari bahwa syarat-syarat ini adalah syarat-syarat kredit komersial formal yaitu 5 C (collateral. Tetapi sering dikatakan bahwa bank-bank tidak memiliki tenaga dan pengalaman untuk menyalurkan kredit kecil atau kredit mikro seperti ini.44 5.28%) dan kontraksi terendah adalah di Manggarai yang masih tetap tumbuh positif meskipun kecil sekali (0.3 di Propinsi NTT melampaui wilayah Ngada dan Manggarai.37 0. Ekonomi daerah yang miskin tetap selalu tertinggal.91 1. dan yang paling mudah dalam situasi ekonomi sekarang (krismon) adalah dibelikan SBI yang bunganya menarik. Dana yang dihim pun perbankan di Ibukota propinsi (Kupang) ―hanya‖ 54. 12. yang paling tinggi adalah kenaikan pada awal krisis ekonomi yaitu dari Rp 899.08%). 9.2 milyar (20%) lebih rendah dari persentase kredit yang diberikan pada tingkat propinsi (28.7 milyar).9 milyar tahun 1993/94 (urutan ke-4 dari 7 wilayah) kini menjadi no.08 -8.03 0. Analisis perekonomian daerah kembali ke lingkaran awal.51 -2.50 -1. tidak dapat diatur. Kredit yang diberikan hanya Rp 37. Sebenarnya jika Bank Umum di daerah mau bekerja keras. condition dan capital).72 3. pihak perbankan harus juga berubah dalam melayani ekonomi rakyat dalam kebutuhan kredit yang mudah dan murah. Jumlah dana perbankan yang dihimpun bulan Oktober 2000 seluruh NTT mencapai Rp 2.72 3. Oktober 2000).61 3. Alasan yang biasanya diajukan adalah tidak adanya usaha-usaha ―produktif‖ yang memenuhi syarat untuk didanai dengan kredit bank. Dalam otonomi daerah ―lingkaran setan‖ seperti ini perlu diputus.554.69 milyar (1998/99) kenaikan 73%. Syaratsyarat formal ini diakui terlalu kaku. Kenaikan paling tinggi adalah penghimpunan dana di kabupaten Ende (105%) dan Kabupaten Kupang (79%). capacity.6%).73 4. Peningkatan dana masyarakat Ende berupa simpanan dan tabungan berjangka (Rp 183.73 -0. dengan meninggalkan kriteria pemberian kredit formal yang kaku. Alor Lembata Flores Timur Sikka Ende Ngada Manggarai Kota Kupang NTT -2. Dana bank yang harus dibayar bunganya kepada penabung tidak mungkin dibiarkan diam (idle). rupanya berlanjut sampai sekarang (2000).9%.6 milyar) dan 6 kali (dari Rp 21. Kantor Pusat setiap bank akan harus mengembangkannya.18 6.2 kali (dari Rp 2.42 4.72 5.49 3. Data dari Bank Indonesia propinsi NTT 1993-2000 menunjukkan kenaikan penghimpunan dana ―luar biasa‖ yaitu 19. 14.43 1. bahkan ke luar negeri sekalipun. Di daerah harus ada kebijakan khusus yang merangsang investasi.68 5. Yang menarik untuk dicatat adalah ketimpangan ekonomi antardaerah yang relatif ―ringan‖.33 2. Jika masyarakat kecil (ekonomi rakyat) mulai tertarik menggunakan jasa perbankan yang mudah dalam bentuk simpanan dan tabungan berjangka. Pada bulan Oktober 2000 dana yang dihimpun perbankan Ende mencapai Rp 210.7 kali dari nilainya pada tahun 1993/94 (Rp 439 milyar).7. Pimpinan Bank Indonesia yang hadir dalam diskusi di Kupang tidak melihat adanya kejanggalan ini karena menurutnya dalam ―sistem ekonomi pasar bebas‖ perilaku modal keluar masuk daerah.20 milyar (1997/98) menjadi Rp 1. Kenaikan nilai penghimpunan dana di Ende yang luar biasa ketika krismon.08 trilyun naik 4.71 6. Dunia perbankan setempat bersama Pemerintah Daerah harus sungguh-sungguh berkoordinasi untuk mengubah hukum ekonomi kapitalisme liberal menjadi hukum ekonomi kerakyatan.72 0.69%) dan TTU (-6. akan ditemukan usaha-usaha kecil ekonomi rakyat yang mau dan mampu membayar tingkat bunga pasar.83 4.7 milyar ke Rp 129. 11.18 Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kontraksi ekonomi rata-rata kabupaten/kota se-propinsi cukup merata dengan angka tertinggi di kabupaten Ende (-6.8 milyar ke Rp 53.95 4.05 5.31 milyar.82 milyar melampaui Ngada/Manggarai yang hanya mencapai Rp 162. tidak ―dikembalikan‖ sebagai kredit yang dibutuhkan masyarakat setem pat tetapi dikirim ke luar daerah (Jakarta). 13. character. 8.54 0.5% dari dana perban kan di seluruh propinsi NTT (Oktober 2000) hanya sedikit meningkat dibanding pangsa tahun 1993/94 sebesar 48. Namun menjadi tanda tanya mengapa kontraksi ekonomi yang tertinggi di kabupaten Ende rupanya tidak terkait dengan data perbankan yang justru meningkat yaitu simpanan dan tabungan berjangka masing-masing naik 19.98 4.69 -0.20 3.3 milyar. Program pemberdayaan ekonomi rakyat akan berkembang melalui program .7% pertahun.01 4.18 2. Bahkan kenaikan pendapatan yang diperoleh dari dan selama krismon tidak dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi rakyat lebih lanjut.

kabupaten.500/hari).000 per bulan. jika Pemda ( dhi PMD) serius memantau pelaksanaannya. BRI dengan kredit Unit Desanya sebenarnya sudah maju jauh sebelum Grameen Bank. OTDA seharusnya tidak difokuskan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tetapi yang lebih penting adalah . Kupang tengah. meyakinkan masih perlunya pendamping bagi Pokmas-Pokmas IDT. uang jalan jika berdinas keluar (Rp 7. tetapi rupanya tetap saja belum mampu mengatasi kebijakan kredit yang lebih berpihak pada sektor industri modern dan usaha-usaha besar di kota-kota. Gaji pendamping yang tinggi ini masih disubsidi kantor Bina Swadaya sampai sekitar 50%. dan yang dapat menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat. Seorang SP2W. tetapi warga desa sendirilah yang pada tingkat akhir akan meluncurkan programprogram yang diinginkannya. Program Pemberdayaan ekonomi rakyat Jika di sejumlah propinsi program IDT sudah ―dilupakan‖ atau sudah ―diganti‖ program lain seperti PPK (Program Pengembangan Kecamatan) di kabupaten Kupang. program IDT masih berjalan baik.kredit mikro ala Grameen Bank yang berhasil di Bangladesh dan sudah ―ditiru‖ di banyak negara termasuk di Indonesia. melaksanakan. Kupang Timur. Dana Rp 600. Kegagalan 70% program di desa pertama bukanlah karena ketidaksungguhan anggota tetapi karena musibah menjalarnya penyakit ternak babi pada tahun pertama. Bahwa Pemda kabupaten/kota kini lebih besar wewenangnya ketimbang propinsi. baik Pemda propinsi maupun Pemda kabupaten/kota. karena yang pertama menerima otonomi penuh. melalui BPD. yang diangkat serta digaji oleh Pokmas yang didampinginya. Kupang Timur. sulit diharapkan mencurahkan perhatian pada Pokmas IDT dan anggota-anggotanya. Otonomi Daerah dan Otonomi Desa Otonomi Daerah dan prospek pelaksanaannya di Propinsi. dan tokoh-tokoh masyarakat setempat.000 per bulan ditambah biaya operasional Rp 50. apakah pemikiran ke arah perbaikan dan penyempurnaan program IDT termasuk program pendampingan kini merupakan tanggung jawab penuh Pemda kabupaten? Jika ya. [1] [1] Pendamping Bina Swadaya mendapat gaji (terendah) Rp 275. antara lain melalui pengembangan program pendampingan dengan dana APBD. Misalnya dalam program-program penanggulangan kemiskinan ala IDT. dan program -program ini harus lebih baik dibandingkan program-program yang disusun secara nasional seperti IDT oleh Bappenas dan Depdagri. apa tugas dan tanggung jawab Pemda propinsi (atau PMD) dalam hal ini? Yang lebih sulit lagi adalah memikirkan kelanjutan program-program penanggulangan kemiskinan pada tingkat desa. Di desa Babau sekitar 30% telah berhasil mengubah program IDT menjadi Koperasi Simpan Pinjam yang segera memperoleh status badan hukum.22/1999. memang benar tercantum dalam pasal-pasal UU No. Pendamping Sarjana yang diangkat dan digaji Pemda masih banyak yang aktif. Di desa Oebelo antara 25-35% penerima dana IDT benar-benar telah mentas dari kemiskinan yang melilitnya. dan dilengkapi sepeda motor. tetap dapat datang untuk mengadakan kajian-kajian. Dalam pada itu 2 jenis pendamping lainnya (yang tidak purna-waktu) seperti aparat desa. dengan polos menanyakan ―Apakah setelah Otda masih akan ada tamu seperti Pak Mubyarto yang mengevaluasi program-program penanggulangan kemiskinan seperti IDT dan PPK?‖ Pertanyaan demikian diajukan karena ada pernyataan bahwa dalam Otda ―semua program penanggula ngan kemiskinan harus dibuat sendiri oleh kabupaten‖. Ibu Johanna Maxi. tamatan SD) dari desa Babau. pimpinan LSM Bina Swadaya Kupang yang mengkoordinasi 12 pendamping menyatakan dapat dikembangkannya program pendampingan ini dengan syarat pendamping yang bersangkutan mendampingi paling sedikit 20 Pokmas secara sungguh-sungguh dan purna-waktu. dan desa-desa di NTT cukup baik meskipun masih ditemukan berbagai masalah. atau pakar-pakar dari pusat atau propinsi. Tamu-tamu. Ditaksir sekitar 10% dari SHU Pokmas cukup memadai untuk menggaji Pendamping yang bersangkutan. yang setelah dilaksanakannya OTDA dapat menyusun. Namun yang belum jelas adalah implikasinya dalam penyusunan program-program untuk melaksanakan wewenang tsb. Hendrikson Adoe (30 th). memang berjalan baik. Program IDT di 2 desa Oebelo. dan disusun oleh BPD (Badan Perwakilan Desa) yang di antara tugas dan kewajibannya adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat berdasarkan demokrasi ekonomi (pasal 22 dan 101). Sedangkan di desa ke-2 yaitu Babau berhasil sekitar 30%. Misalnya seorang ketua Pokmas Simson Misa (49 th. serta penyuluh-penyuluh dari berbagai dinas sektoral. tidak ada alasan program yang bersangkutan tidak sesuai dengan aspirasi rakyat. Program-program pembangunan yang disusun Pemda kabupaten/kota bersama DPRD memang harus makin banyak yang berasal dari desa/kelurahan. dan menilai program-program penanggulangan kemiskinan dan pembangunan perdesaan pada umumnya. Jelas di sini bahwa rakyat atau warga desa sendirilah. sedangkan yang ke dua otonomi terbatas.000 yang disediakan sebagai BOP (Biaya Operasional Pemantauan) pada desa sulit dilihat hasilnya. cukup banyak pendamping yang bermutu dan memihak pada penduduk miskin. Karena mereka lebih dekat dengan rakyat. dan desa Babau. Salah satu kunci keberhasilan program IDT di NTT adalah dukungan penuh dan konsisten dari Pemda. Program pendampingan ini akan jauh lebih berhasil lagi. lebih-lebih setelah dipadukan ke dalam dana bantuan Desa sejak TA 1996/97. yang hadir pada pertemuan dengan 2 Pokmas IDT di Kalurahan Babau kecamatan Kupang Timur. Dalam kenyataan.

meningkatkan pemerataan dan keadilan menuju terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesimpulan Menyaksikan ketekunan dan kesungguhan masyarakat dan aparat Pemda propinsi dalam melaksanakan program IDT di propinsi NTT, kita melihat program penanggulangan kemiskinan sudah mencapai tahap gerakan masyarakat sebagaimana dirancang program ini pada awal peluncurannya. Sudah tercapainya tahap gerakan masyarakat (GEMA) antara lain terbukti dari sambutan Pokmas IDT di seluruh propinsi untuk menghimpun kembali dana IDT yang berada di Pokmas-Pokmas untuk dijadikan semacam Bank Desa pada tingkat kecamatan. Meskipun pendirian Bank Desa pada tingkat kecamatan dengan dana IDT yang sudah bergulir di Pokmas ini belum tentu dapat dianggap kemajuan, tetapi akan menjadi indikator tercapainya kemandirian keuangan desa seperti UPK (Unit Pelayanan Keuangan) dalam Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Memang dalam membangun kelembagaan Bank Desa ini profesionalisme dalam pengelolaannya harus prima, dan dilaksanakan dengan koordinasi penuh dengan Bank Indonesia setempat, disamping sikap pemihakan pejabat Pemda yang jelas pada kepentingan ekonomi rakyat. Konsep dasar program IDT adalah makin mendekatkan lembaga perkreditan dan pendanaan pembangunan masyarakat desa pada penduduk desa. Setiap usaha untuk meningkatkan skala ekonomi lembaga ini demi efisiensi harus lebih menguntungkan ekonomi rakyat. Otda yang juga berarti otonomi desa perlu memperoleh perhatian Pemda dan DPRD kabupaten dalam bentuk penyusunan Perda-Perdanya. Sikap dan tradisi demokrasi yang tinggi pada masyarakat NTT harus dimanfaatkan untuk segera membentuk BPD. Jika BPD berhasil menghimpun tokoh-tokoh muda masyarakat desa yang profesional, seperti mantan SP2W, maka ini merupakan salah satu kunci percepatan pemberdayaan ekonomi rakyat desa. Satu kendala yang selalu disinggung dalam diskusi-diskusi kecil adalah kondisi multietnik masyarakat NTT yang kurang mendukung kerukunan warga desa, lebih-lebih dengan membanjirnya pengungsi dari Timor Timur sejak September 1999. Untuk mengubah kondisi multietnik menjadi faktor dinamika masyarakat, pemerintah daerah perlu membentuk badan/lembaga khusus untuk menanganinya. Jika masalah multietnik ini benar-benar dapat digarap secara transparan dan profesional, maka rasa optimisme Gubernur yang disebutkan pada awal tulisan ini pasti makin berkembang. Dan NTT tidak akan lagi diartikan sebagai ―Nasib Tak Tentu‖ tetapi ―Nasib Terpancar Terang‖.

Prof. Dr. Mubyarto, Guru Besar FE-UGM, Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM (PUSTEP-UGM) Mubyarto EKONOMI RAKYAT INDONESIA PASCA KRISMON

Pendahuluan Selama 5 bulan (Juni-Oktober 2000) Pusat Penelitian Kependudukan UGM bekerjasama dengan RAND Corporation Santa Monica mengadakan Survei Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia (SAKERTI) di 13 propinsi dengan mewawancarai 10.000 keluarga atau 43.000 orang. Survei yang telah diadakan untuk ketigakalinya ini mewawancarai keluarga-keluarga yang sama (panel) yang menjadi sampel sejak Sakerti 1 (1993) dan Sakerti 2 (1997). Pada tahun 1998 khusus untuk meneliti dampak krismon yang sedang berlangsung, dilaksanakan Sakerti 2+ dengan mengambil 25% sub-sampel. Penemuan-penemuan Sakerti 2+ yang telah disebarluaskan melalui beberapa tulisan antara lain oleh Elizabeth Frankenberg, James Smith, dan Kathleen Beegle (1999) mengejutkan banyak pihak karena berbeda dengan ―anggapan umum‖. Namun sejumlah peneliti lain seperti kelompok SMERU menemukan hal-hal yang sejalan dengan penemuan Sakerti 3 khususnya dalam dampak krismon yang tidak terlalu parah terhadap kehidupan keluarga/perorangan. Kami sendiri yang mengadakan kunjungan lapang ke berbagai desa selama 1998-1999 juga mencatat pernyataan banyak warga desa bahwa ―krisis ini belum apa-apa dibanding krisis yang lebih berat pada jaman Jepang, awal kemerdekaan, dan krisis ekonomi tahun 1965-66". [1]

[1] Mubyarto, 1999, Reformasi Sistem Ekonomi, Yogyakarta , Aditya Media, hal 129-139.

Demikian keparahan krismon 1997 yang menjadi polemik nasional selanjutnya tenggelam karena pendapat yang lebih condong ke ―dampak yang parah‖ lebih populer agar tidak menghambat peluncuran program program JPS (Jaring Pengaman Sosial) lebih-lebih yang dananya berasal dari bantuan luar negeri. Programprogram JPS adalah program untuk menolong penduduk miskin yang sedang dalam kesusahan sehingga tidaklah dianggap bijaksana menyebarluaskan penemuan kajian-kajian yang menyimpulkan dampak krismon tidak parah. Peneliti-peneliti Indonesia yang jujur melaporkan kenyataan dari lapangan terpaksa mengendalikan diri ―demi kemanusiaan‖. Namun kemudian mereka merasa terpukul membaca komentar penerima hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun 1998 Amartya Sen yang menyindir mereka yang telah membesar-besarkan dampak krisis koneter di Asia Timur. It may wondered why should it be so disastrous to have, say, a 5 or 10 percent fall in gross national product in one year when the country in question has been growing at 5 or 10 percent per year for decades. Indeed, at the aggregate level this is not quintessentially a disastrous situation. (Sen, 1999: 187) Setelah laporan Sakerti 2+ sedikit dilunakkan ―demi kemanusiaan‖, kini Sakerti 3 yang dilaksanakan 3 tahun setelah krisis dan 2 tahun setelah Sakerti 2+, ternyata memperkuat penemuan-penemuan Sakerti 2+. Tanpa diduga, dampak yang ―menyingkirkan‖ berita ―krisis belum apa -apa‖ ini merugikan penduduk miskin dan bertentangan dengan kepentingan melidungi dan memajukan ekonomi rakyat, karena telah dimanfaatkan secara licik oleh kelompok tidak miskin yaitu golongan ekonomi kuat dan sektor industri modern dalam rangka menuntut pemerintah menyelamatkan kebangkrutan mereka dan lebih khusus lagi dalam rangka membenarkan kebijakan penalangan (bail out) utang-utang melalui BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), yang mulai dikucurkan tahun 1998. Adalah kepentingan para penerima BLBI untuk mengesankan bahwa krisis ekonomi masih terus berjalan, dan makin parah, agar pemerintah tetap tidak dapat bersikap keras pada mereka untuk membayar utang-utang besar yang macet sejak awal krismon. Utang-utang besar yang macet menjadi amat berat karena banyak utang dalam bentuk valuta asing yang tidak dijamin sehingga jika ekonomi Indonesia sudah dianggap pulih dari kondisi krisis, mereka para pengutang akan kehilangan alasan untuk tidak membayarnya. Inilah alasan ―tersembunyi‖ untuk terus memojokkan pemerintah yang sayangnya memperoleh dukungan pakar-pakar ekonomi makro yang tidak pernah meninggalkan meja komputernya dan tidak pernah mau menerapkan metode analisis induktif-empirik dengan cara datang ke daerah-daerah meneliti kehidupan ekonomi riil (real-life economics). Mereka membesar-besarkan dampak krisis dengan menyebutkan pengangguran yang mencapai 40 juta orang, pelarian modal asing US $ 10 milyar per tahun dan lain-lain.

Hasil-hasil Sakerti 3

1. Kemiskinan. Di 13 propinsi yang disurvei angka kemiskinan perkotaan menurun selama 1997-2000 dari
13,3% menjadi 11,3%, sedangkan di perdesaan menurun dari 20,1% menjadi 18,7% (tabel 1). Penurunan angka kemiskinan di perdesaan terjadi di Sumsel, Lampung, Sulsel, Kalsel, Bali, Sumut, dan Jatim (rata-rata 8,0%), sedangkan penurunan kemiskinan di perkotaan yang relatif lebih kecil terjadi di Jatim, Jateng, Sulsel, dan Jabar (rata-rata 4,9%). Lebih besarnya penurunan tingkat kemiskinan di perdesaan khususnya di propinsi-propinsi luar Jawa menunjukkan adanya perbaikan dasar tukar ( term of trade) antara harga-harga yang diterima dan yang dibayar produsen. Di propinsi-propinsi Jatim, Jateng, dan Sulsel, angka-angka kemiskinan di perkotaan juga menurun yang berarti penduduk perkotaanpun masih mampu menghasilkan barang-barang yang harga jualnya meningkat lebih cepat ketimbang harga barang-barang yang dibeli rumah tangga. Bahwa ada kenaikan angka kemiskinan di perdesaan di Jabar, Jateng, dan DIY (rata-rata 3,3%) dan bahkan 11,9% di NTB, mungkin menandakan kurangnya komoditi pertanian ―tradisional‖ yang harganya terangsang naik oleh krismon. Pendapatan riil rumah tangga yang ditaksir dengan median pengeluaran riil per kapita selama 1997-2000 mengalami kenaikan cukup signifikan sebagai berikut:

2. Kesempatan Kerja. Berbeda dengan kesan umum telah terjadinya pengangguran besar-besaran sejak
krismon 1997-98, Sakerti 3 melaporkan adanya peningkatan kesempatan kerja pria dari 79% (1997) menjadi 84% (2000) dan untuk wanita dari 45% menjadi 57%. Khusus untuk kerja upahan/bergaji

kenaikannya untuk pria dari 74,5% menjadi 77,0% sedangkan untuk wanita dari 36,7% menjadi 42,2%. Yang cukup signifikan adalah kenaikan persentase kesempatan kerja keluarga tanpa gaji terutama wanita yang naik dari 19,2% menjadi 25,5%, meskipun untuk pria naik lebih kecil yaitu dari 6,1% menjadi 7,9%. Arti kenaikan angka-angka ini jelas bahwa krismon yang pada umumnya menurunkan kegiatan sektor modern/formal, ditanggapi dengan meningkatnya kegiatan ekonomi/ industri sektor tradisional/ informal/ekonomi rakyat, khususnya dengan mempekerjakan lebih banyak wanita atau ibu yang sebelumnya tidak bekerja. Kesimpulan kita jelas bahwa selama 1997-2000 telah terjadi ―pergeseran‖ kesempatan kerja dari sektor ekonomi modern ke sektor ekonomi rakyat, dan tidak benar adanya pengangguran besar-besaran akibat PHK. The economic crisis has resulted in both negative and positive consequences for the Javanese. It has resulted in a rapid rise in prices of basic items which place them beyond the capacity of many poor people and has reduced employment opportunities in the formal sector. On the other hand, it has resulted in the emergence of many new small enterprises which had previously been destroyed by the economic monopolies and import of mass-produced commodities under the New Order. [2]
[2] Jessica Poppele, Sudarno Sumarto, dan Lant Pritchett, 1999, Social Impacts of the Indonesian Crisis; Agus Dwiyanto, 1998, Krisis Ekonomi: Respon Masyarakat dan Kebijakan Pemerintah, Pelajaran dari Tiga Desa di Jawa , PPK-UGM; Lea Jellinek & Bambang Rustanto, ―Survival Strategies of the Javanese During the Economic Crisis‖ (Survey Report), World Bank, Jakarta, 28 Agustus 1999, dikutip dalam Mubyarto (1999), ibid., hal 134.

3. Standar Hidup dan Kesejahteraan. Sakerti 3 menanyakan bagaimana keluarga menilai tingkat
kesejahteraan mereka selama dan sebagai akibat krismon. Hasilnya sungguh mengejutkan karena berbeda dengan anggapan umum telah terjadinya kemerosotan kesejahteraan dan standar hidup akibat krismon, 87% responden menyatakan standar hidup mereka tidak berubah (tetap) atau bahkan membaik, dan yang melaporkan memburuk hanya 13%. Mengenai kualitas hidup, 83,9% responden menyatakan memadai (69,4%) atau lebih dari memadai (14,5%), yang berarti bahwa keluarga yang merasakan kualitas hidup mereka tidak memadai hanya 16,1%. Tentang kualitas hidup yang menyangkut pemenuhan kebutuhan pangan, 90,7% menyatakan memadai atau lebih dari memadai, sedangkan tentang pemeliharaan kesehatan, 85% menyatakan memadai dan 4% menyatakan lebih dari memadai. Dari 3 ukuran kesejahteraan rakyat yang dilaporkan Sakerti 3 kesimpulan kita tidak meragukan lagi bahwa orang Indonesia mempunyai cara-cara khas menanggapi krisis moneter atau krisis ekonomi. Munculnya krismon berupa kenaikan harga-harga umum besar-besaran tidak serta merta menurunkan kualitas atau standar hidup mereka tetapi mereka menemukan berbagai cara untuk menanggapinya. Cara-cara menang-gapi krismon yang khas dan berbeda-beda inilah yang bagi para pakar ekonomi ortodok (konvensional) tak terpikirkan, dan hanya dapat diketahui/ditemukan melalui penelitian-penelitian lapangan yang serius. Sakerti 1, 2, dan 3 memberikan perhatian khusus pada mekanisme bertahan hidup (coping strategies) dan menanggapi krisis seperti itu. Metode Menanggapi Krismon Orang Indonesia yang dikenal kuat menganut asas kekeluargaan dalam segala aspek kehidupannya dapat diamati menerapkan asas atau etika hidup ini di saat terjadi krismon yang datang secara sangat tiba-tiba. Asas hidup kekeluargaan ini yang diperkuat oleh semangat percaya diri dan kepercayaan pada kekuasaan Tuhan berakibat pada sikap bahwa krismon tidak lain daripada ―percobaan‖ dan ―peringatan‖ pada bangsa Indonesia agar menyadari aneka kekeliruan dan penyimpangan yang telah dilakukan. Sakerti 3 seperti halnya Sakerti 1, 2, dan 2+ sebelumnya, menemukan fakta-fakta menarik tentang metode dan sikap menanggapi krismon secara tepat sehingga tidak mengakibatkan kejutan atau gangguan besar pada konsumsi keluarga dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar kesehatan dan pendidikan terutama bagi anakanak. Salah satu cara paling mudah dan paling sering dilakukan keluarga Indonesia saat-saat menghadapi krisis adalah dengan ―mengatur kembali‖ pengeluaran/belanja keluarga dengan cara menunda pengeluaran pengeluaran yang dianggap dapat ditunda misalnya pembelian pakaian, alat-alat rumah tangga dan pengeluaran-pengeluaran upacara, yang ditaksir berkurang dengan sepertiga. [3] Selain itu suatu keluarga dapat memutuskan ―menitipkan‖ sebagian anggota keluarga pada keluarga lain yang lebih mampu, atau secara umum sangat biasa terjadi pinjam-meminjam uang tanpa bunga antarkeluarga ( sebrakan) untuk menutup pengeluaran pokok yang tidak dapat ditunda.
[3] Elizabeth Frankenberg, James P Smith and Duncan Thomas, ―Economic Shocks, Wealth and Welfare‖, makalah belum diterbitkan, Rand, February 2002, h.

Terakhir.9%. Memang sangat tidak tepat dan menyesatkan menyebut sektor ekonomi rakyat sebagai sektor informal.2% menjadi 25.1% menjadi 7. 2+. Rumah-rumah gadai bertambah ramai dan pasar emas dilaporkan sangat dinamis/aktif saat krisis. tidak dengan menjual rumah atau aset-aset berharga lainnya. dan disebut sektor informal. Karena para pemodal/pengusaha Belanda yang datang sesudah 1870 ini pada umumnya berbentuk NV (PT) yang besar dengan kantor-kantor dan kebun-kebun besar. tetapi ternyata sangat menonjol di Indonesia. Routledge. sedangkan per orang pekerja bertambah 10 jam per minggu. Yang kedua disebut Bung Hatta tahun 1931 sebagai sektor (kegiatan) ekonomi rakyat. Sakerti 3 secara meyakinkan melaporkan bertambahnya kerja tanpa gaji untuk wanita dari 19. Harga emas mengalami kenaikan 4 kali selama krisis. Real-life Economics. maka mereka dianggap perusahaanperusahaan formal. sektor tradisional/ekonomi rakyat tidak terpengaruh krismon. Bagi keluarga-keluarga paling miskinpun disamping ternak yang hampir selalu dimilikinya. Kesimpulan Sebagaimana sudah sering dikemukakan oleh para peneliti ekonomi rakyat. Sakerti 2+ menemukan fakta-fakta menarik bahwa hampir setiap keluarga termasuk yang miskin memiliki kekayaan atau aset yang dapat dijual atau digadaikan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran pokok yang tidak dapat dihindarkan. yang lokasinya dapat tidak tetap atau sering pindah. Tentang pemilikan aset-aset lancar seperti uang tunai atau surat-surat berharga. yang dikena l dengan istilah strategi penyikapan (coping strategy) baik dalam produksi. atau valuta asing lainnya. ekonomi Indonesia terkesan menjadi sangat . Ratarata keluarga sejak terjadi krismon menambah waktu kerja 25 jam per minggu. yang tidak dikenal dan tidak termuat dalam buku-buku teks ilmu ekonomi terbitan Amerika. karena 25% keluarga perdesaan dan 40% keluarga perkotaan memilikinya dan persentase yang lebih besar bahkan dilaporkan memiliki kekayaan berupa emas terutama dalam bentuk perhiasan yang sangat mudah digadaikan atau diperjual-belikan.5% meskipun untuk pria jauh lebih kecil yaitu dari 6.000 orang yang diwawancara menanggapi krismon dengan cara-cara mereka. lebih tinggi ketimbang kenaikan harga-harga umum. secara spontan ikut bekerja tanpa gaji. meskipun Indonesia merdeka sudah berusia 57 tahun dan pembangunan ekonom i ―Orde Baru‖ sudah berlangsung 31 tahun (1966 -97) yang mampu meningkatkan pendapatan riil rata-rata bangsa Indonesia 10 kali. Jika satu keluarga bekerja mandiri maka dalam kondisi krisis anggota keluarga yang sebelumnya tidak bekerja. dan 3 secara meyakinkan mengungkapkan bagaimana 10. dengan membayar pajak-pajak yang besar.000 lebih keluarga dan 43. yang berarti meningkatnya pengeluaran karena krisis selalu dapat ditutup dengan cara menambah pendapatan. yen. adalah kemampuan untuk memobilisasi kekayaan/aset apapun yang dimiliki keluarga untuk mempertahankan ( smooth out) tingkat pengeluaran keluarga. 1992.H. 2. juga dilaporkan sangat besar peranannya dalam menghadapi krisis. setiap keluarga dengan cara masing-masing berusaha bekerja lebih keras atau lebih lama ( melembur) agar pendapatan bertambah. Ekonomi dualistik adalah ekonomi yang tidak homogen tetapi hampir di semua sektor terpilah menjadi 2 yaitu sektor ekonomi modern/formal dan sektor ekonomi tradisional/informal. Dampak negatif krismon terhadap ekonomi rakyat dapat dihindari atau disikapi sedemikian rupa hingga tidak dirasakan dampaknya.13 Di pihak lain jika pada saat krismon pengeluaran-pengeluaran meningkat sekali. Boeke tahun 1910. [4] [4] Paul Ekins and Manfred Max-Neef (eds). Sejak Pemerintah Indonesia mengundang ―dokter ekonomi‖ IMF yang dianggap dokter spesialis bagi penyakit negara-negara berkembang yang terkena krisis keuangan. Krisis moneter 1997-98 jelas lebih dulu dan lebih mudah memukul telak sektor ekonomi modern/ formal lebihlebih perusahaan yang berutang besar dalam nilai nominal dolar. Krisis moneter yang dimulai dengan depresiasi rupiah dan apresiasi dolar sangat memukul perusahaan-perusahaan yang berutang dolar atau valuta asing lain dan memukul impor karena harga rupiah barang-barang impor melonjak sesuai apresiasi dolar. sedangkan yang sangat kecil/gurem inilah yang disebut ekonomi rakyat. London-New York. karena sektor ini justru sudah lebih tua dan sudah merupakan kegiatan ekonomi ―formal‖ jauh sebelum datangnya para pengusaha/pemodal/kapitalis Belanda ke Indon esia. dengan caracara atau ‖seni‖ khas ekonomi rakyat. yang sebagian besar baru beroperasi sesudah UU Agraria ( Agrarische Wet) tahun 1870. perilaku berkonsumsi. Lebih dari 90% keluarga di perdesaan dan 70% keluarga di perkotaan mempunyai rumah yang tidak beralih pemilikannya selama krisis. Emas ternyata merupakan simpanan andalan bagi banyak keluarga Indonesia untuk berjaga-jaga menghadapi krisis. atau terpengaruh secara tidak berarti. Namun karena hampir semua sektor masih bersifat dualistik. atau sekedar strategi bertahan hidup ( survival strategy). Sakerti mampu mengungkap perilaku ekonomi riil rakyat Indonesia (real life economics) yang melalui analisis mendalam akan menghasilkan ilmu/ teori ekonomi rii. Sakerti 1. perhiasan dari emas sangat mudah ditemukan. tokh dalam kenyataan perekonomian Indonesia masih tetap bersifat dualistik. sebagaimana dikemukakan J.

29 Oktober 2002. Yogyakarta Mubyarto and Daniel W.UGM Makalah untuk Seminar "Indonesia Bersatu Menyongsong Era Global". sektor ekonomi rakyat banyak yang sejak krismon 5 tahun lalu tidak saja tidak hancur tetapi malah telah menunjukkan ciri khasnya yaitu tahan banting dan mampu menunjukkan keandalan dan kemandiriannya. September 2002 Mubyarto. Jakarta. 23028.tergantung pada utang-utang baru dari IMF dan negara-negara ―donor‖ anggota CGI. Jika pada saat proklamasi kemerdekaan tahun 1945 bangsa Indonesia memiliki rasa percaya diri amat besar untuk merdeka secara politik. April 2000 Hardjono. Perjuangan itu hanya dapat berhasil bila pelbagai unsur rakyat Indonesia bersatu. Kanisius. Maka ekonomi Indonesia ―harus tumbuh‖ minimal 7% per tahun dan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi para ekonom tidak pernah merasa perlu mempermasalahkan keadilan dalam distribusi pendapatannya. tegar dan kuat. Daftar Pustaka Dhanani. October . 2002. Joan. Multi-dimensi Pembangunan Bangsa. Mubyarto: Guru Besar FE . Sartono Kartodirdjo. BPFE. kinilah saatnya kita memiliki rasa percaya diri di bidang ekonomi. A Development Alternative for Indonesia. SMERU Final Report. menganggap pertumbuhan ekonomi 4% ―terlalu rendah‖ yang tidak mampu menyerap tenaga kerja lama dan menganggur maupun tambahan tenaga kerja lebih dari 2 juta per tahun. Bangsa Indonesia harus percaya diri. 1999. ―Indonesia: Constructing A New Strategy for Poverty Reduction‖. Yogyakarta. 2001. 1999. Sakerti 3 menemukan kenyataan ekonomi Indonesia. Shafiq and Inayatul Islam. lebih-lebih ekonomi rakyatnya. Tak pernah terpikir pada mereka seandainya perekonomian tumbuh hanya 3-4%. Aditya Media. Gadjah Mada University Press. UNSFIR. Satish C. Kanisius. Surabaya. 3. Inequality and Social Protection: Lessons From The Indonesian Crisis. Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis Ekonomi . July 1999 Mishra. Dr. Pemerintah dipilih dari dan oleh rakyat Indonesia.Indonesia Satu. ―Sistemic Transition in Indonesia: The Crucial Next Steps‖. Demikian kiranya jelas bahwa tulisan ini berusaha meyakinkan tidak akan terjadi kebangkrutan atau kelumpuhan ekonomi nasional jika Indonesia memutuskan secara sepihak untuk tidak lagi mencari utang-utang baru dari luar atau bahkan dalam negeri. Hatta) dapat kita jadikan acuan rasa percaya diri itu. [5] [5] Sartono Kartodirdjo. hal. sebenarnya akan lebih adil dan berkelanjutan ketimbang pertumbuhan 7% seperti sebelum krismon. Tanpa ikatan kerjasama dengan IMF. 18 1. pemerintah dan bangsa Indonesia dapat memusatkan perhatian pada usaha dan program-program pemberdayaan ekonomi rakyat. Yogyakarta Mubyarto. 1999. Reformasi Sistem Ekonomi: Dari Kapitalisme menuju Ekonomi Kerakyatan . UNSFIR. Memang teori ekonomi makro-ortodoks yang tidak mau mengakui atau tidak mengerti ekonomi rakyat. Prof. The Micro Data Pictures: Results of a SMERU Social Impact Survey in the Purwakarta-Cirebon Corridors. Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia tahun 1925 di Negeri Belanda (dipimpin oleh Moh. yang telah tumbuh 3-4% per tahun sejak tahun 2000 sampai tahun 2002 ini. Report No. Ind. Perjuangan itu tidak memerlukan bantuan dari pihak manapun. Buktibukti dari Sakerti 3 telah sangat memperkuat berbagai data penelitian lapangan optimistik sebelumnya. yang akhirnya menjadi ―bom waktu‖ yang meledak seperti yang terjadi 1997 tanpa dapat diperkirakan sebelumnya. Poverty. 2. Bromley. tetapi hanya dinikmati sekelompok kecil ekonomi kuat. Multi-dimensi Pembangunan Bangsa. tetapi lebih banyak disumbang dan dengan demikian juga dinikmati ekonomi rakyat. Festival Bhinneka Tunggal Ika. Yogyakarta World Bank.

baru 24. namun baru mencakup sebagian kecil pekerja di sektor formal.29. jaminan pemutusan hubungan kerja. sejak tahun 1992. dana yang terhimpun dalam asuransi sosial dapat merupakan tabungan nasional. yang dibiayai dari kontribusi/ premi yang dibayarkan oleh setiap tenaga kerja dan atau pemberi kerja. serta betapa pentingnya peran jaminan sosial dalam pemberian perlindungan utamanya di saat berkurangnya pendapatan maka dianggap perlu menyusun Sistem Jaminan Sosial Nasional melalui penerbitan Undang-undang yang akan mengatur Substansi. [2] Krisis ekonomi yang menyebabkan angka pengangguran melonjak dengan tajam telah menimbulkan berbagai masalah sosial ekonomi. Putusan Sidang Tahunan MPR RI tahun 2001 menugaskan kepada Presiden untukmembentuk Sistem Jaminan . Pasal 34 ayat 2. Dari 95 juta angkatan kerja.‖. Sementara di Thailand dan Malaysia masing-masing mencapai 50% dan 40% dari total penduduk.6 juta jiwa memperoleh jaminan sosial. Beberapa negara yang menganut welfare state yang selama ini memberikan jaminan sosial dalam bentuk bantuan sosial mulai menerapkan asuransi sosial. antara lain dengan menyusun suatu Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). pensiun. Kelembagaan dan Mekanisme Sistem Jaminan Sosial yang berlaku secara nasional. Dalam kondisi seperti ini jaminan sosial dapat membantu menanggulangi gejolak sosial. Jaminan sosial merupakan hak asasi setiap warga negara sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat 2. [1] Disamping itu. Sistem Jaminan Sosial yang akan dibangun ini haruslah sifatnya adil dengan tingkat kepercayaan publikyang tinggi dan transparan dalam penyelenggaraannya. jaminan hari tua. Sebenarnya. Secara keseluruhan adanya jaminan sosial nasional dapat menunjang pembangunan nasional yang berkelanjutan. seperti terbaca pada Perubahan UUD 45 tahun 2002. [1] Australia. 2001. Perlindungan ini diperlukan utamanya bila terjadi hilangnya atau berkurangnya pendapatan. dimana Indonesia ikut menandatanganinya. Utamanya karena jaminan melalui bantuan sosial membutuhkan dana yang besar dan tidak mendorong masyarakat merencanakan kesejahteraan bagi dirinya. Kesadaran tentang pentingnya jaminan perlindungan sosial terus berkembang. Pengaturan dalam jaminan sosial ditinjau dari jenisnya terdiri dari jaminan kesehatan. selama dekade terakhir di Indonesia telah ada beberapa program jaminan sosial dalam bentuk asuransi sosial. [2] Kantor Menko EKUIN bekerjasama dengan LPUI Kajian Kebijakan Jaminan Sosial. Yaumil Ch. telah menerapkan asuransi sosial wajib. jaminan kecelakaan kerja. Menyadari masih terbatasnya jangkauan jaminan sosial yang ada dan beberapa kekurangan dalam pengaturan dan penyelenggaraannya. Pendekatan kedua berupa bantuan sosial (social assistance) baik dalam bentuk pemberian bantuan uang tunai maupun pelayanan dengan sumber pembiayan dari negara danbantuan sosial dan masyarakat lainnya. Agoes Achir JAMINAN SOSIAL NASIONAL INDONESIA Latar Belakang Jaminan Sosial Nasional adalah program Pemerintah dan Masyarakat yang bertujuan memberi kepastian jumlah perlindungan kesejahteraan sosial agar setiap penduduk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya menuju terwujudnya kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia. yaitu ―Negara mengembangkan Sistem Jaminan Sosial bagi seluruh rakyat…. Pendekatan pertama adalah pendekatan asuransi sosial atau compulsory social insurance. Secara universal jaminan sosial dijamin oleh Pasal 22 dan 25 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia oleh PBB (1948). Perlindungan jaminan sosial mengenal beberapa pendekatan yang saling melengkapi yang direncanakan dalam jangka panjang dapat mencakup seluruh rakyat secara bertahap sesuai dengan perkembangan kemampuan ekonomi masyarakat. Kontribusi/ premi dimaksud selalu harus dikaitkan dengan tingkat pendapatan/ upah yang dibayarkan oleh pemberi kerja. atau baru 12% dari jumlah penduduk. dan santunan kematian. Desember 2002 Fakta tersebut membuktikan bahwa amanat UUD pasal 27 ayat 2 sebagian besar belum dapat dilaksanakan sehingga langkah-langkah nyata untuk mewujudkannya diperlukan.

Namun. Cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap dimulai dari kelompok masyarakat yang mampu mengiur dan secara bertahap diupayakan menjangkau sampai pada kelompok masyarakat yang rentan dan tidak mampu. Program-Program SJSN Program-program pokok SJSN yang akan dikembangkan disesuaikan dengan konvensi ILO No. Pengertian non-for-profit bukanlah berarti tidak perlu mengembangkan atau menginvestasikan dalam rangka meningkatkan akumulasi dana yang ada. Besarnya iuran ditetapkan berdasarkan prosentase tertentu dari pendapatan. Cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap dimulai dari kelompok masyarakat yang mampu mengiur dan secara bertahap diupayakan menjangkau sampai pada kelompok masyarakat yang rentan dan tidak mampu. dan pemerintah pengumpulan dan pengelola iuran perlu ditunjang oleh keterbukaan. Program Jaminan Pemutusan Hubungan Kerja (JPHK). Untuk itu Presiden mengambil inisiatif menyusun Rancangan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional. santunan/ manfaat. semasa Ibu Presiden sebagai Wakil Presiden. Presiden dengan Kepres No. Mekanisme SJSN Mekanisme penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional meliputi pengaturan kepesertaan. Iuran/ premi ditanggung bersama oleh pemberi kerja dan pekerjanya. tetapi hasil yang diperoleh nantinya akan dikembalikan atau dimanfaatkan sebesarbesarnya untuk kepentingan peserta (merupakan going concern asuransi sosial). dan investasi. Saat ini Tim SJSN telah melakukan pembahasan yang cukup mendalam tentang substansi. yang mewakili stakeholder dalam hal ini peserta/ pekerja. dan Program Santunan Kematian. dimana iuran sebagian atau sepenuhnya dibayarkan oleh pemerintah. pembekerja. akuntabilitas dan efisiensi. Sistem Jaminan Sosial Nasional yang akan dibangun bertumpu pada konsep asuransi sosial. ditetapkan dalam prosentase tertentu terhadap upah dengan mempertimbangkan kemampuan/ pendapatan penduduk. kehati-hatian. secara sukarela pekerja dapat mengikuti program lain dengan kontribusi yang lebih besar dan memperoleh manfaat yang lebih banyak pula (asuransi komersil). struktur dan trend demografi serta resiko yang dihadapi. Jaminan Sosial Nasional tersebut perlu diatur agar bersifat wajib untuk seluruh tenaga kerja. Pelaksanaannya diatur oleh suatu Undang-Undang dan diterapkan secara bertahap sesuai dengan perkembangan dan kemampuan ekonomi Nasional serta kemudahan rekruitmen dan pengumpulan iuran secara rutin. Karena ada unsur wajib bagi semua pekerja tersebut maka diperlukan adanya Undang-Undang untuk mengaturnya. Program Jaminan Hari Tua (JHT). Karena Jaminan Sosial Nasional tersebut diwujudkan melalui mekanisme asuransi sosial maka manfaat yang akan diperoleh peserta tergantung pada besarnya iuran.. 7 Tahun 2001. serta kemudahan dalam rekruitmen dan pengumpulannya secara rutin. baik di sektor formal maupun informal. yaitu Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK). Perluasan cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi ekonomi negara dan masyarakat. Penyelenggaraan dilakukan non-for-profit. Pelayanan santunan dan klaim disesuaikan dengan besarnya iuran dan jenis program yang diikuti. Substansi Sistem Jaminan Sosial Nasional yang akan disusun adalah suatu sistem yang berdasarkan pada asas gotong royong melalui pengumpulan iuran dan dikelola melalui mekanisme asuransi sosial. Program Pensiun. Manfaat yang diberikan harus cukup berarti sehingga mendorong kepesertaan yang lebih besar dari waktu ke waktu. 20 tahun 2002 membentuk Tim SJSN. Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). dimama iuran sebagian atau sepenuhnya dibayarkan oleh pemerintah. iura. Pengelolaan Jaminan Sosial Nasional menganut prinsip Wali Amanah. Kepres ini didahului dengan Keputusan Sekretaris Wakil Presiden No. Besarnya iuran/ premi dihitung berdasarkan analisis aktuaria yang disesuaikan dengan programmanfaat yang akan diberikan. kelembagaan. . baik yang berpendapatan besar maupun kecil sehinggan dapat terwujud asas kegotong-royongan dan redistribusi pendapatan dari yang kaya ke yang miskin. mekanisme dan program-program jaminan sosial. 102 tahun 1952 yang juga diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia.Sosial Nasional dalam rangka memberikan perlindungan sosial yang lebih menyeluruh dan terpadu. Manfaat yang diberikan harus cukup berarti sehingga mendorong kepesertaan yang kebih besar dari waktu ke waktu.

sangat sulit untuk tidak berusaha mendefinisikan yang dimaksud dengan ekonomi rakyat. Panitia Seri Seminar ini hanya memberi judul ―Krisis Moneter Indonesia‖. Lembaga ini berada langsung di bawah Presiden dibantu Dewan Menteri yang terkait dan beranggotakan wakil pemerintah. untuk kemudian setelah Undang-undang SJSN rampung dan dilaksanakan maka program-program yang sejalan dapat menyesuaikan dengan Undang-undang SJSN tersebut selama masa transisi yang akan ditetapkan. perlu menerapkan ―good corporate governance‖ (transparency. Karena prinsip ―non-for-profit‖. objectivity. dan mengawasi pelaksanaan program-program. Penutup Tim SJSN beranggotakan wakil dari berbagai instansi pemerintah. Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasionan (BKKBN) Bayu Krisnamurthi KRISIS MONETER INDONESIA DAN EKONOMI RAKYAT PADA setiap diskusi mengenai ekonomi rakyat. Untuk dapat menjamin efektifitas dan efisiensi penyelenggaraannya.Dana iuran/ premi/ kontribusi peserta yang terkumpul perlu dikelola dan diawasi oleh suatu Dewan Wali Amanah (Board of Trustee) dan hanya digunakan untuk kepentingan pesertanya sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. Dalam pengelolaannya. maka hasil investasi tersebut akan dikembalikan dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta. dan responsibility). penyampaian persepsi makalah ini atas ekonomi rakyat tanpa bermaksud untuk terlalu menekan pada usaha pendefinisian. Sebagian dana yang terkumpul perlu diinvestasikan dan dikembangkan seaman mungkin. Prof. Namun guna memperoleh perspektif yang sama mengenai diskusi yang akan dilakukan berkaitan dengan judul diatas 1) maka makalah ini bermaksud untuk mendiskusi krisis moneter dalam konteks ekonomi rakyat: bagaimana posisi ekonomi rakyat ketika krisis ekonomi terjadi. memonitor. Ketua Tim Sistem Jaminan Sosial SJSN Nasional. Selama Undang-undang SJSN disiapkan maka lembaga-lembaga yang ada dapat melanjutkan kegiatannya. 1) Sebenarnya. LSM dan Pakar. Konsep awal SJSN tersebut di atas juga telah menghimpun masukan dari beberapa serikat pekerja dan asosiasi pengusaha. Yaumil Chairiah Agoes Achir. 2001). Sayangnya. Diharapkan RUU SJSN dapat dirampungkan sebelum bulan Desember 2002. Dr. dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah kesalahan serupa terulang dimasa depan. usaha pendefisnian tersebut banyak yang berakhir justru dengan perdebatan atas definisinya daripada esensi penguatan atau pemberdayaan ekonomi-rakyatnya sendiri. apakah sebagai sebab atau penerima akibat. Diharapkan masukan-masukan guna memperkaya konsep awal tersebut sebagai bahan penyusunan Naskah Akademik yang kemudian akan dituangkan dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional. diperlukan adanya dukungan Sistem Informasi Manajemen serta kemampuan Sumber Daya Manusia yang handal. karena pada dasarnya hampir semua pihak telah sepaham mengenai pengertian apa yang dimaksud dengan ―ekonomi rakyat‖ tanpa harus mendefinisikan (Krisnamurthi. mengkoordinir. Oleh sebab itu tetap perlu dilakukan terlebih dahulu. wakil pemberi kerja dan pakar di bidangnya. Tidak tertutup kemungkinan munculnya lembaga penyelenggaraan lain. pengelola dana dan investasi serta pemasyarakatan program Jaminan Sosial Nasional sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. accountibility. Padahal perdebatan mengenai definisi ekonomi rakyat sebenarnya tidak terlalu produktif. menambahkan merubah judul agar lebih terlihat konteksnya dikaitkan dengan ekonomi rakyat. Deputi Sekretaris Wakil Presiden. Kelembagaan Dalam rangkan menjamin pelaksanaan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional diperlukan suatu lembaga yang mempunyai kewenangan untuk menjabarkan Undang-undang SJSN. Penulis . wakil pekerja.

65 % berusaha dibidang pertanian dan kegiatan lain yang terkait. Mereka adalah kegiatan usaha formal (berijin usaha. Berkaitan dengan sumberdaya (produktif dan konsumtif). keluarga. Mereka bisa berada dalam kegiatan ekonomi tradisional tetapi juga tidak sedikit yang bergerak dalam sistem ekonomi modern. Juga tidak ada pembatasan mengenai besaran. ―Oleh rakyat‖. ketrampilan. berarti proses produksi dan konsumsi dilakukan dan diputusk an oleh rakyat. Dan yang terpenting adalah mereka berbasis pada manusia. masyarakat) sumberdaya jaringan (‗network‘). nelayan tanpa perahu. industri. dari pada hanya sekedar angka-angka uang (modal) atau produk. Mereka adalah orang-orang yang bekerja sendiri dan juga mereka yang bekerja menerima upah. baik konsumsi domestik maupun konsumsi asing (ekspor) – terutama karena kegiatan investasi dan pengeluaran pemerintah yang sangat terbatas – maka dapat diduga bahwa peran ekonomi rakyat sangat signifikan. bagaimana menjaga kelestarian bagi proses pemanfaatan berikutnya. dan indikator kemantaatan paling utama adalah kepentingan rakyat. dan sebagainya. dan bukan perkebunan atau peternak besar atau MNC pertanian. Hanya saja. Rakyat menguasai dan memiliki hak atas sumberdaya untuuk mendukung kegiatan produktif dan konsumtifnya. Jika dikaitkan dengan kegiatan pertanian. informasi. tetapi beberapa diantaranya juga memiliki kemampuan dan daya saing internasional yang handal. konglomerat. Dengan pemahaman diatas pula. rakyat memiliki alternatif untuk memilih dan menentukan sistem pemanfaatan. Jika memang disepakati bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2000 sebesar 4. melakukan lebih dari 65 % kegiatan distribusi. ―Untuk rakyat‖. norma dan kesepakatan (―rule of the game‖) yang khas. dan menjadi basis dari 63 % konsumsi domestik. dan masyarakat. seperti berapa banyak jumlah yang harus dimanfaatkan. mekanisme transaksi. eceran kecil. Peran ekonomi rakyat juga teraktualisasi pada masa krisis multidimensi saat ini. Rakyat menerima manfaat. walaupun yang disebut terakhir pada hakekatnya adalah juga ‗rakyat‘ Indonesia. dan jasa maka yang dimaksud adalah industri kecil. pemilik saham. dan sejenisnya. Ekonomi rakyat tidak eksklusif tetapi inklusif dan terbuka. Daya produktif . dan sebagainya. dan bukan kegiatan ekonomi yang dikuasasi oleh beberapa orang dengan perusahaan dan skala besar. dan sejenisnya. dipahami bahwa yang dimaksud dengan ―ekonomi rakyat (banyak)‖ adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh orang banya k dengan skala kecil-kecil. sifat fundamental diatas telah pula menciptakan suatu sistem ekonomi yang terdiri dari pelaku ekonomi. Mereka bisa melekat pada badan usaha pemerintah atau swasta. petani tanpa tanah. sumberdaya ekonomi yang dimaksud adalah segala sumberdaya yang dapat digunakan untuk menjalankan penghidupan. yang umumnya telah memfasilitasi ekonomi rakyat untuk survive dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi masyarakatnya. seperti koperasi atau CV atau bentuk badan hukum lain) dan juga sangat banyak yang informal atau nono-formal. dan sebagainya. Jika dikaitkan dengan kegiatan perdagangan. petani gurem. industri rumah tangga. modal. bahkan bagi produk yang dihasilkan kegiatan ekonomi besar. Mereka sebagian besar hanya beroperasi secara lokal. baik sumberdaya alam. pedagang kecil. sifat usaha. Ekonomi rakyat (banyak) mencakup 99 % dari total jumlah unit usaha (business entity). Umumnya mereka berskala mikro dan kecil tetapi juga terdapat beberapa yang berskala menengah. perbankan formal. dapat dinyatakan bahwa ekonomi Indonesia sebenarnya adalah berbasis ekonomi rakyat.5 % terutama disebabkan oleh tarikan konsumsi. siapa yang memanfaatkan. 2001). dan bukan industri besar. permodalan. 2000). Walaupun demikian. Dalam hal ini. menyediakan sekitar 80 % kesempatan kerja. Dalam ekonomi rakyat. Dalam hal ini perlu pula dikemukakan bahwa ekonomi rakyat dapat berkaitan ―dengan siapa saja‖. serta tersebar merata diseluruh wilayah Indonesia.Ekonomi rakyat adalah ―kegiatan ekonomi rakyat banyak‖ (Krisnamurthi. dan sejenisnya. ketimpangan distribusi aset produktif (formal) – yang sekitar 65 %-nya dikuasai oleh 1 % pelaku usaha terbesar – menyebabkan kontribusi nilai produksi (GDP) dan ekspor kegiatan ekonomi raktyat relatif lebih kecil. ―Dari rakyat‖. tenaga kerja (termasuk tenaga kerjanya sendiri). lembaga keuangan mikro. juga sumberdaya sosial (kelompok. Pendeknya. dalam arti kegiatan transaksi dapat dilakukan juga dengan ―non-ekonomi-rakyat‖. jenis produk. oleh rakyat. 60 % diantaranya berada di daerah pedesaan. Hal ini tersebut didasari oleh argumentasi bahwa rumah tangga yang menggantungkan kehidupannya dari kegiatan ekonomi rakyat adalah konsumen terbesar. Mereka memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan dan tidak hanya tergantung pada pihak lain (apakah itu bank. sektor informal kota. maka ekonomi rakyat memiliki dimensi yang luas. pengetahuan. dan sebagainya. maka yang dimaksud dengan kegiatan ekonomi rakyat adalah kegiatan ekonomi petani atau peternak atau nelayan kecil. pelakunya melakukan kegiatan produksi dan konsumsi. Berdasarkan pemahaman diatas. Rakyat memiliki hak atas pengelolaan proses produktif dan konsumtif tersebut. berarti kegiatan ekonomi itu berkaitan dengan penguasaan rakyat dan aksesibilitas rakyat terhadap sumberdaya ekonomi. atau entitas lain). bagaimana proses pemanfaatannya. dan untuk rakyat‖ (Krisnamurthi. dan melakukan kegiatan produksi bagi sekitar 55 % produk dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Perspektif lain dari ekonomi rakyat dapat pula dili hat dengan menggunakan perspektif jargon: ―ekonomi dari rakyat. berarti rakyat banyak merupakan ‗beneficiaries utama dari setiap kegiatan produksi dan konsumsi.

terdapat ketidak-adilan dalam pengembangan ekonomi. juga menggambarkan situasi suram aspek ―dari rakyat‖ tersebut. Aspek ―untuk rakyat‖ menghadapi situasi yang lebih jauh tertinggal. Sebaliknya saat lahan HPH yang telah digunduli dan tidak lagi produktif. merupakan manfaat yang dirasakan oleh kegiatan-kegiatan ―non-ekonomi-rakyat‖ sebagia bagian dari strategi ―keunggulan komparatif‖ berbasis tenaga kerja murah. baik pasar barang. Kontribusi pertanian dalam bentuk pangan yang murah dan tenaga kerja yang lebih terdidik. tetapi pengembangan kegiatan ekonomi berbasis buruh murah telah berjalan lama sejak penjajahan hingga kini. Kemampuan sektor informal kota dalam menyediakan lapangan pekerjaan dan sistem distribusi kebutuhan pokok dengan murah dan efisien telah pula menjadi manfaat besar bagi ―non-ekonomi-rakyat‖ dalam mengembangkan sistem kerja yang tidak memihak pada buruhnya. Indikasi lain dapat pula ditunjukkan oleh peningkatan kegiatan (tabungan dan penyaluran kredit) hampir diseluruh lembaga keuangan mikro. hak atas tanah masih menjadi sesuatu yang sangat didambakan. Rakyat juga memiliki akses yang sangat terbatas terhadap informasi dan teknologi. Dalam hal ini kelompok ―non-ekonomi-rakyat‖ menjadi rentan terhadap perubahan yang terjadi pada elite penguasa tersebut. Non-ekonomi-rakyat telah mendapat banyak kemudahan dan dukungan. peningkatan penjualan kendaraan bermotor roda dua. tetap hidupnya pasar-pasar tradisional pada saat krisis. Kisah konversi lahan pertanian produktif milik rakyat menjadi lapangan golf. Kondisi yang ―terbatas‖ terhadap akses ke pasar global juga sekaligus memberi ‗kekebalan‘ kepada ekonomi rakyat untuk tidak mudah terpeng aruh atas kondisi yang terjadi didunia internasional. posisi rebut-tawar (bargaining position) dalam penguasaan sumberdaya hampir selalu berada pada titik yang terendah. semua akibat introduksi teknologi dan kelembagaan serba seragam. Melalui sistem perbankan yang terpusat. Pada saat yang sama sistem pengembangan yang penuh dengan ―dukungan yang distortif‖ telah tersebut telah menjadikan ―non-ekonomirakyat‖ menjadi lebih terkait dengan ekonomi global. Perlindungan hukum atas usaha masih lemah. juga merupakan fakta-fakta lain yang menunjukkan kemampuan ―oleh-rakyat‖ menjadi sangat terbatas. Dukungan yang relatif kecil dari pemerintah-penguasa telah menjadikan pelaku ekonomi rakyat tidak sangat tergantung pada kondisi elite. dan kawasan industri bagi MNC merupakan bentuk ketidak-berdayaan penguasaan sumberdaya oleh rakyat. Sebelum membahas krisis moneternya sendiri. atau hilangnya kelembagaan panen tradisional. Infrastruktur irigasi yang hanya memfasilitasi teknologi lahan sawah. atau bahkan yang terjadi secara nasional. Perbandingan ketersediaan sumberdaya ‗publik‘ seperti listrik. Infrastruktur fisik dan kelembagaan yang dibangun cenderung mengarah pada penyeragaman proses pengambilan keputusan yang dirancang tidak oleh rakyat sendiri. misalnya. Namun demikian perspektif ‗dari. yang pada gilirannya membuat kemampuan pengambilan keputusan menjadi jauh lebih terbatas. karena dipandang lebih sesuai dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Hal inilah yang kemudian menjadi preposisi dasar dalam melihat posisi ekonomi rakyat dalam krisis moneter yang belum lama terjadi dan masih terasa hingga saat ini. Mungkin tidak sekejam tanam paksa. dan pasar modal. Rakyat juga sering dibatasi kemampuannya untuk mengambil keputusan. . atau hilangnya kelembagaan lumbung desa. serta sistem keuangan yang ―memaksa‖ rakyat menerima sistem yang mensyaratkan berbagai hal tidak sesuai dengan kondisi naturalnya. air. Sebaliknya. Kelembagaan koperasi yang diseragamkan menjadi KUD.5 kali lebih besar dari dana yang disalurkan kembali ke pedesaan. selama 30 tahun dana yang disedot dari pedesaan 2. telah membatasi kemampuan petani mengembangka usahataninya. memang mengalami sangat banyak kesulitan untuk berkembang dan memberi kesejahteraan bagi pelakunya. dan telah mengembangkan ketergantungannya pada kelompok tersebut sehingga menjadi kelompok ―elite penguasa-pengusaha‖. Penguasaan dan akses terhadap sumberdaya oleh rakyat (banyak) masih sangat banyak menghadapi masalah. Tidak ada infrastruktur irigasi yang dirancang untuk memfasilitasi petani mengembangkan hortikultura atau peternakan. ―non ekonomi-rakyat‖ meninggalkannya begitu saja sering kali justru dengan tinggalan masalah adanya konflik kepentingan diantara rakyat sendiri. dengan mudah berpindah tangan. peningkatan jumlah berbagai produk pertanian. ―ekonomi rakyat‖ yang tidak mendapat kesempatan untuk itu. telah menyebabkan kegiatan ―non -ekonomi-pasar‖ menjadi kegiatan dengan ―banyak pengambil keputusan‖ dalam dunia yang tidak berbatas dan masih rentan. Keterkaitan dengan pasar dunia. ada baiknya disampaikan dahulu perspektif struktur kelembagaan ekonomi Indonesia pada saat krisis akan terjadi 2) seperti dapat dilihat pada Gambar 1 berikut ini. dan untuk rakyat‖ tersebut diatas juga mengetengahkan gambaran suram dari ekonomi rakyat di Indonesia. pasar uang. dan sebagainya.kegiatan ekonomi rakyatlah yang mampu mendorong peningkatan konsumsi. Kemudahan dan dukungan tersebut kemudian Kelompok ―non-ekonomi-rakyat‖ telah banyak mendapat dukungan dari elite pemerintah. real estate mewah. termasuk terjaga maraknya berbagai kegiatan ‗masal‘ dari ekonomi riil – seperti mudik Lebaran dan naik haji. dan telpon yang tidak seimbang antara alokasi untuk bagi kegiatan ekonomi rakyat dan non-ekonomi rakyat. Intinya. Bahkan sumberdaya yang tadinya dikuasai oleh rakyat. oleh.

seperti yang dirasakan para petani coklat dan para pengrajin yang memiliki konsumen di luar negeri. sistem legal-formal yang ―bias-against‖ ekonomi rakyat. baik dalam bentuk modal tunai. tidak dapat mengembalikan hutang. Hal ini terutama karena kerangka kelembagaannya tidak berkesesuaian (not-compatible). Perusahaan-perusahaan tidak dapat lagi menunjukkan kinerja keuangan yang sehat. Sebagai usaha mengantisipasi hal tersebut modal besar dari para kapitalis global tersebut dialirkan ke kegiatan ekonomi yang dianggap paling menjanjikan. Gambar 1 menunjukkan bahwa (1) Arus moneter (uang tunai dan modal) dari kegiatan ekonomi rakyat ke kegiatan ‗non -ekonomi-rakyat‘ memiliki volume yang jauh lebih besar dari pada arus sebaliknya. Kalaupun ada. Gambar diatas secara skematik menunjukkan bahwa ekonomi rakyat dalam perspektif seperti Indonesia juga terdapat dinegara-negara lain. Demikian pula dengan ―non-ekonomi-rakyat‖ yang dapat diidentifikasikan sebagai kelompok kapital global. bahkan tenaga kerja. terutama karena infrastruktur dan institusi perdagangan modern memang dikuasai oleh para pelaku ―non-ekonomi-rakyat‖. . yaitu Asia. walaupun struktur yang demikian itulah krisis ekonomi Indonesia menjadi begitu parah dan sulit diselesaikan. telah menjadi ‗blessing in disguised‘ bagi ekonomi rakyat. 1995). Singkatnya. maupun aliran input produksi. Hubungan ekonomi rakyat Indonesia dengan ekonomi rakyat di negara lain juga berjalan lambat dan tersendat. atau bahkan Marx (1849) dalam Magnis-Suseno. yaitu WTO dan mata uang Euro (Soros. Akibatnya modal. Sampai pada tahap ini ekonomi rakyat masih belum merasakan dampak negatif yang terlalu besar dari krisis moneter. karena sebagian dari proses relokasi industri baru berjalan pada tahap awal. penyediaan lahan/property murah. Namun ketika krisis moneter berlanjut menjadi krisis ekonomi (pertumbuhan ekonomi menurun. hanya dalam bentuk dana-dana pinjaman lunak pemerintah yang banyak kembali ke ―negara donor‖ atau bocor ditengah jalan dari pada diterima oleh ekonomi rakyat. Hubungan Selatan-Selatan atau diantara negara-negara Non-Blok secara langsung hampir selalu lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan ‗jasa‘ negara ketiga yang mampu menyediakan layanan infrastruktur perdagangan secara lebih efisien (Isaak. atau Ormerod. inflasi meninggi. ekonomi rakyat telah mensubsidi ‗non-ekonomirakyat‘ dan terjadi fenomena ―double squeezed economy‖ melalui penyediaan sumberdaya oleh rakyat dan rakyat dijadikan pasar. dan pada gilirannya menghancurkan sistem perbankan.2) Struktur kelembagaan ekonomi tersebut sebenarnya hingga saat ini masih belum banyak berubah (diubah). dan kemampuan menguasai informasi sebagai sarana untuk promosi. Dan hal ini membuat mereka sedang berada pada situasi yang rentan. ekonomi rakyat yang ‗berbeda‘ sistem dan mekanismenya dengan ekonomi berbasis kapital yang dikenal oleh ‗masyarakat barat‘ merupakan basis kegiatan ekonomi negara yang bersangkutan. Hal tersebut terutama juga karena struktur kelembagaan yang diuraikan diatas. 1994. (2) (3) (4) Dalam format seperti diataslah situasi ekonomi saat krisis moneter melanda Indonesia. 1998. barang konsumsi. Aliran moneter dari kapitalme global ke ekonomi rakyat Indonesia relatif kecil. 1998. Tanpa bermaksud membatasi aktivitas ekonomi dalam dimensi ruang yang kaku. 1998). Hubungan antara ―non-ekonomi rakyat‖ lokal dengan kapitalisme global juga merupakan hubungan yang timpang. maka ―non-ekonomi-rakyat‖ di Indonesia langsung terpukul telak oleh dua hal yang sangat ‗mematikan‘: membengkaknya nilai hutang dolar dalam rupiah dan mahalnya biaya produksi yang selama ini berbasis input impor. Krisis moneter yang diawali oleh krisis nilai tukar tersebut sebenarnya telah lama diperkirakan dan telah diduga meningkat peluangnya saat pergantian abad (lihat Soros. Dalam lingkup domestikpun hutang modal dan hutang konsumsi juga mengalir kesana kemari dengan sangat cepat dan dalam jumlah yang sangat besar. penyediaan buruh murah. Sebaliknya. penyedian pangan murah. teknologi. Kondisi tersebut berlangsung akibat dominasi paduan pengusaha-penguasa. Pada tahun 1990-an. 1999). Lemahnya keterkaitan ekonomi rakyat dengan kapitalisme global yang menjadi sumber dari krisis moneter tersebut. Ketika nilai tukar jatuh. tawaran saham dan investasi. Giddens. Bahkan banyak diantaranya yang mendapat ‗rejeki dolar‘ karena harga produk yang dihasilkannya melonjak tinggi sejalan dengan peningkatan nilai dolar. mengalir ―door-to-door‖ dengan derasnya. penggunaan (utilization) dari modal tersebut belum berjalan dengan baik. dan posisi ekonomi rakyat yang menjadi pasar bagi produk dan jasa. kapitalisme global tengah berbenah diri untuk menghadapi abad yang baru yang ditandai oleh dua fenomena besar. dalam bentuk hutang. De Soto (2000) menjelaskan bahwa dibanyak negara. Hal ini terjadi melalui sistem perbankan.

padahal kedua hal itu justru telah menunjukkan kemampuan menghadapi tekanan eksternal yang berat. Demikian pula sikap birokrasi yang ‗memerintah‘. Perbankan dan ‗non-ekonomi-rakyat‘ yang notabene menjadi penyebab krisis berusaha ‗diselamatkan‘ dengan menggunakan dana trilyunan rupiah dari sumberdaya negara yang telah sangat terbatas. sering kali harus menerima limpahan pelaksanaan ‗tugas‘ hingga 10 atau 15 program dalam waktu yang bersamaan. Posisi lembaga keuangan mikro dalam sistem keuangan nasional merupakan salah satu contoh terdepan dalam permasalahan ini. padahal mereka adalah pemilik-suara (voter) terbanyak yang memilih pada pembuat keputusan. yang harus dilakukan terutama adalah untuk merubah pendekatan kebijakan yang tidak memihak kepada ekonomi rakyat. serta serangkaian pilihan kebijakan dalam usaha untuk mengatasi krisis yang justru menempatkan ekonomi rakyat sebagai pihak yang dikorbankan. d. dan sebagainya) maka ekonomi rakyat mengalami tekanan yang semakin berat. Pada tahap inipun sebenarnya daya ‗survival‘ ekonomi rakyat sangat tinggi. meningginya harga pangan impor. IMF. disertai berbagai kebijakan pengaturan (regulative policy) tampaknya masih jauh dari harapan pemberdayaan ekonomi rakyat. Tumpang tindih tidak dapat dihindari. Dalam hal ini. saat elite politik berdebat saling mengkritik dan membangun perbedaan pendapat. b. Kemelut Kredit Usaha Tani (KUT) merupakan contoh kongkrit dari masalah mekanisme penghantaran tersebut. Beberapa koreksi yang perlu dilakukan. Oleh karenanya. Banyak kebijakan yang bersifat ‗mikro‘. Sikap tersebut sering kali jauh lebih menentukan efektivitas kebijakan.banyaknya pegawai di PHK. Dalam kondisi rawan keamananpun. Demikian juga. Mencari hutang baru dan menerapkan sistem legal-formal-konvensional seperti menjadi hal yang dipaksakan harus ada. padahal yang lebih dibutuhkan oleh ekonomi rakyat adalah kebijakan makro yang kondusif. dan ‗minta dilayani‘ merupakan permasalahan lain dalam implementasi kebijakan. Mekanisme penghantaran kebijakan (delevery mechanism) yang tidak apresiatif juga merupakan faktor penentu keberhasilan kebijakan. Kebijakan pengembangan yang dilakukan cenderung bersifat ‗ad -hoc‘ dan parsial. sebaliknya kegiatan ekonomi rakyat seolah ditinggalkan. Produk yang diimpor diganti dengan produk lokal atau produk impor yanglebih murah (fenomena motor Cina atau maraknya produk elektronik lokal dan impor yang ―mereknya tidak dikenal sebelumnya‖). mengingat lamanya pengaruh lembaga internasional (WB. Namun banyak kasus yang menunjukkan bahwa kebijakan yang dikembangkan lebih banyak membawa norma dan pemahaman dari ―luar‖ dari pada mengakomodasi apa yang sudah teruji berkembang dalam masyarakat. alokasi kebijakan fiskal yang lebih seimbang sesuai dengan porsi pelaku ekonomi. . pembentukan tingkat bunga melalui berbagai instrumen moneter lebih didasarkan pada kepentingan ‗balance of payment‘ dan penyehatan perbankan. dari berbagai instansi yang berbeda dan dengan metode dan ketentuan yang berbeda. dapatlah dikatakan bahwa ekonomi rakyat merupakan korban dari krisis moneter yang terjadi belum lama ini. terutama dalam mengatasi berbagai kelemahan dan keterbatasan yang dihadapi. Dengan cepat terjadi perubahan-perubahan yang mendasar. Banyaknya kebijakan yang dilakukan oleh banyak pihak sering kali bersifat kontra produktif. sangat tinggi. pengulangan sering terjadi tetapi pada saat yang bersamaan banyak aspek yang dibutuhkan justru tidak dilayani. pengurangan subsidi BBM. Pertimbangan dalam penetapan kebijakan tersebut seringkali memang tidak atas dasar kepentingan kegiatan ekonomi rakyat. Misalnya. Dalam hal ini. 2001): a. karena selama ini kebijakan ekonomi sering kali membawa ciriciri sebagai berikut (Krisnamurthi. Otonomi seharusnya juga berarti perubahan Kebijakan pengembangan yang dilakukan lebih banyak bersifat regulatif dan merupakan bentuk intervensi terhadap kegiatan yang telah dilakukan oleh ekonomi rakyat. terutama akibat timbulnya berbagai masalah setelah krisis terjadi (bukan oleh krisis moneter itu sendiri) dan akibat pilihan kebijakan yang diterapkan sebagai usaha mengatasi krisis. Inovasi dan kreativitas ekonomi rakyat. atau penetapan kebijakan perbankan sendiri yang penuh persyarakatan yang tidak sesuai dengan kondisi objektif ekonomi rakyat. dll) patut pula diduga bahwa perancangan pola kebijakan tersebut juga membawa kepentingan internasional tersebut. Dengan demikian. kegiatan ekonomi rakyat juga menjadi kegiatan yang paling rentan dan menderita. Seorang Camat atau kepala desa atau kelompok masyarakat misalnya. padahal bank tidak (dapat) melayani kegiatan ekonomi rakyat. berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah dalam rangka otonomi daerah juga telah mengindikasikan pertimbangan yang tidak berorientasi ekonomi rakyat. tingkat bunga yang kompetitif. dan kebijakan nilai tukar. Tekanan menjadi semakin berat lagi setelah krisis ekonomi juga memicu krisis sosial politik dan keamanan. atau dilihat dari pemanfaatan cadangan pemerintah yang sangat besar bagi rekapitalisasi bank. merasa lebih tahu. e. Sebaliknya sistem ekonomi rakyat yang nyata-nyata telah mampu bertahan bahkan telah lebih berkembang selama krisis justru tidak diabaikan. c. Atau setidaknya yang perlu dikembangkan kebijakan yang ‗not-against‘ atau netral terhadap ekonomi rakyat.

The Missing Ingredient. Bayu. Makalah pada Lokakarya Pengelolaan Sumberdaya Pantai dan Laut. Jika tidak.ca/library/forum/desoto. 3. Magis-Suseno. 2000. www. 2000. pada awalnya bertahan dengan memperluas ― band” pengendalian/intervensi. Open Society Endangered. peluang untuk keluar dari krisis akan semakin kecil. Jakarta 21 Februari 2001.9% di tahun sebelumnya (1997). Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme.- Dr. 1999. Bayu Krisnamurthi: Direktur Pusat Studi Pembangunan. George. atau juga masih kesulitan untuk membuat kebijakan yang netral terhadap ekonomi rakyat. atau jangan buat kebijakan apapun dan biarkan ekonomi rakyat berkembang dengan kemampuannya sendiri. Basic Books. 2. Giddens. Nopember 2000. Frans Seda KRISIS MONETER INDONESIA KRISIS moneter Indonesia disebabkan oleh dan berawal dari kebijakan Pemerintah Thailand di bulan Juli 1997 untuk mengambangkan mata uang Thailand ―Bath‖ terhadap Dollar US. minimal jangan buat kebijakan yang merugikan ekonomi rakyat. (www. New York. Franz. Rupiah langsung terdevaluasi. Krisnamurthi. 2001. yang mengikuti sistim mengambang terkendali. Pemikiran Karl Marx. Ir. Jika memang belum dapat dilakukan kebijakan yang mendukung ekonomi rakyat. London. Paul. Hernando. Dalam perkembangan selanjutnya dan selama ini. 1998. The Death of Economics. Blackwell Publisher. 8. Yakinlah. De Soto.idrc. Little Brown Company. Anthony. The Renewal of Society Democracy. The Third Way. bahkan akan terbuka kembali peluang terjadinya krisis berikutnya yang sangat mungkin akan lebih luas dampaknya bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. diikuti oleh kemerosotan IHSG di pasar modal Jakarta dengan besaran sekitar 90% pula dalam periode yang sama. Mencari Format Kebijakan Optimal. Atau jatuh dengan 18. Hernando. rakyat Indonesia mampu melakukan hal itu. Ekonomi Rakyat dan Pengelolaan Sumberdaya Pantai dan Laut. Rupiah telah terdevaluasi dengan 30% sejak bulan Juli 1997. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Dan di bulan Juli 1998 dalam setahun. 1998. Dalam bulan September/Oktober 1997. Cambridge University Press. The Mystery of Capital. Jakarta. Jakarta. Makalah pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat : Strategi Revitalisasi Perekonomian Indonesia. Institut Pertanian Bogor (IPB) Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat. 4. 2001. CIDA Forum on Knowledge and Information.html) De Soto. 5. London. 6. namun di medio bulan Agustus 1997 itu terpaksa melepaskan pengendalian/intervensi melalui sistim ―band” tersebut.6% dalam . Ormerod. MA. telah pula dipublikasikan dalam Jurnal Ekonomi Rakyat (online. Why Capitalism Triumphs in the West and Fails Everywhere Else. Krisis Moneter Indonesia. Soros. PT Gramedia Pustaka Utama. Indonesia. The Crisis of Global Capitalism. Rupiah sudah terdevaluasi dengan 90%. 7.Bina Swadaya. Devaluasi mendadak dari ―Bath‖ ini menimbulkan tekanan terhadap mata-mata uang Negara ASEAN dan menjalarlah tekanan devaluasi di wilayah ini.ekonomi-rakyat. Selama itu mata uang Bath dan Dollar US dikaitkan satu sama lain dengan suatu kurs yang tetap.Perbaikan atas pola kebijakan tersebut diatas harus segera dilakukan. 1994.7% dari pertumbuhan sebesar +4. ternyata Indonesia paling dalam dan paling lama mengalami depresi ekonomi. CSIS. Jakarta. pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot menjadi –13. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat.org) Krisnamurthi. Bayu. 9 April 2002 PUSTAKA 1. Di tahun 1998.

Dalam waktu sangat singkat bertebaran bankbank Swasta di seluruh tanah air dan bertaburan Korporasi-Korporasi Swasta yang memperoleh fasilitas-fasilitas tak terbatas. 15 milyar. Kesuksesan Pembangunan Ekonomi Indonesia demikian memukau para kreditor luar negeri yang menyediakan kredit tanpa batas dan juga tanpa meneliti proyek-proyek yang diberi kredit itu. Proses Swastanisasi/Privatisasi dari pelaku utama Pembangunan berlangsung melalui proses liberalisasi dengan mekanisme Deregulasi diliputi visi dan semangat liberal. Maka para pakar/pengamat yang selama ini meragukan berfungsinya asas kekeluargaan seperti yang tercantum dalam Pasal 33 UUD-45. malahan dianggap sebagai penghambat dari pertumbuhan Ekonomi. 75 milyar. restrukturisasi Perbankan dan Korporasi-Korporasi sepertinya tidak mempan selama dan sesudah 5 tahun ini. Namun akibat-akibat negatif ini dihadapi rakyat banyak dengan suatu Resistensi dan Kreativitas Ekonomi yang militan. Dan yang mengesankan adalah peran dari asas kekeluargaan. 50 milyar di akhir tahun 1996.7% dengan tercapainya tingkat +0% di tahun 1999. Dan hal-hal ini langsung mengena pada nasib ekonomi Rakyat kita. Resistensi. itu perlu ―pulang kampung‖ untuk melihat dan mengalami bahwa asas kekeluargaan itu betul-betul hidup di kalangan masyarakat dan sungguh-sungguh merupakan asas solidaritas yang berfungsi dalam kehidupan ekonomi rakyat. Perkembangan ini didukung oleh suatu kebijakan moneter yang stabil. produktivitas sektor tradisional dan berfungsinya asas kekeluargaan. Didorong oleh optimisme dan keteledoran ini ekonomi didorong bertumbuh diatas kemampuannya sendiri (― bubble economics”). 80 milyar menjadi USD. Rapuhnya sektor-sektor modern ini adalah dalam hal organisasi. dengan tingkat perkembangan nilai tukar mata uang yang terkendali rendah. kreativitas ekonomi rakyat. Dimana kegiatan-kegiatan ekonomi dan para pelakunya berlangsung tanpa pengawasan dan tidak dilihat ― cost benefit” secara cermat. sudah lima tahun. dan malahan telah mampu pula mengangkat pertumbuhan ekonomi kembali pada permukaan pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan +13. Mereka yang di-PHK-kan ditampung dalam sektor tradisional dan sektor informal dan merupakan bagian dari Resistensi Ekonomi Rakyat dalam krisis ini. Pembangunan Ekonomi yang selama ini adalah ―State” dan ―Government-led” beralih menjadi ―led by private initiatives and market”. Kesuksesan ini menimbulkan di satu pihak suatu optimisme yang luar biasa dan di lain pihak keteledoran yang tidak tanggung-tanggung. Pendapatan per kapita meningkat menjadi 2x lipat antara 1990 dan 1997. bukan saja menampung reruntuhan-reruntuhan dari ambruknya sektor modern. Keteledoran ini juga terjadi dalam negeri. Sektor tradisional yang selama ini dianggap sebagai sektor yang tidak penting/prioritas.8% di tahun 2000. sepertinya lepas kendali. Proses Swastanisasi ini berlangsung tanpa kendali dan penuh KKN. yang hampir sama dengan pertumbuhan ekonomi pra krisis (1997. kebijakan Ekspor yang terdiversifikasi (tidak saja tergantung pada Migas). Jika di tahun 1996 Hutang Swasta masih berada pada tingkat USD. Dan kerapuhan ini ternyata adalah sangat mendalam dan meluas. maka di akhir tahun 1996 sudah meningkat menjadi antara USD. Suatu optimisme yang mendorong kebijakan-kebijakan ekonomi dan tingkat laku para pelaku ekonomi dalam dan luar negeri. dan mental orang-orang/para pelakunya. namun juga memainkan peran sebagai pengganti dari peranan sektor modern yang ambruk itu. dilanjutkan dengan pertumbuhan +4. manajemen. terlebih dunia Perbankan dan Korporasi. 65 milyar – USD. Maka ketika diserang krisis mata uang. dengan tingkat inflasi dan bunga yang rendah. Mengapa? Selama dekade sebelum krisis. . Sampai sekarang. Pertumbuhan itu ambruk! Sementara itu terjadi pula suatu perombakan yang drastis dalam strategi Pembangunan Ekonomi. sementara Hutang Swasta membumbung dengan cepatnya.setahun. merupakan kekuatan ekonomi yang riil yang telah mampu menahan kemerosotan ekonomi yang disebabkan oleh krisis itu. dengan kebijakan Neraca Modal yang liberal. sikonnya belum siap dan masih penuh kerapuhan-kerapuhan. sehingga tindakan-tindakan penyehatan-penyehatan seperti injeksi modal oleh Pemerintah. dalam hal bisnis serta akhlak dan moral. Maka runtuhlah bangunan modern dalam tubuh Ekonomi Bangsa. upaya-upaya rekapitalisasi. Peningkatan Kemiskinan dan Hutang Nasional. Ekonomi Indonesia bertumbuh sangat pesat. dengan APBN yang Berimbang. Hutang Pemerintah/Resmi/Negara turun dari USD. Suatu kerapuhan total dan secara institusional pula! Apa implikasi dari runtuhnya sektor modern dari bangunan ekonomi kita ini? Peningkatan Pengangguran. Kredit jangka pendek diinvestasikan ke dalam proyek-proyek jangka panjang. sehingga waktu datang tekanan-tekanan moneter. baik bagi modal yang masuk maupun yang keluar. pemulihan pertumbuhan ekonomi belum mencapai tingkat pra-krisis (tahun 1996/97). Sektor Finansial dan Korporasi masih tetap terpuruk.

efisiensi. apakah dalam kondisi krisis dewasa ini. Ekonomi Rakyat adalah pula ekonomi ―from hand to mouth”. dan pemberdayaan itu dilakukan melalui ― link and match” dengan sektor Swasta. peranan ekonomi Rakyat adalah menonjol. ―Dual economy” nya Prof. yang telah menumbangkan ORDE LAMA (Demokrasi Terpimpin) dan dibentuknya ORDE BARU. Jatuhnya demikian dalam di tahun 1998. peran ekonomi Rakyat seperti yang telah digambarkan itu memang besar! Tetapi antara ekonomi Rakyat/Ekonomi Tradisional dan Ekonomi Modern tidak perlu diadakan dikhotomi.+4. maka di tahun 1965-66 terjadi suatu krisis ekonomi Nasional yang merisaukan. Jika era Demokrasi Terpimpin sebelumnya adalah era dimana Politik menjadi Panglima (upaya pembentukan dari suatu Sistim Politik Nasional) maka era ORBA dapat dinamakan sebagai era dimana Ekonomi menjadi Panglima (dan upaya-upaya untuk membentuk suatu Sistim Ekonomi Nasional). pemulihan ekonomi selama 2 tahun itu disebabkan oleh peningkatan ekspor (non Migas). itulah yang telah menjerumuskan Ekonomi bangsa ke dalam keterpurukan yang berkelanjutan ini. hasil kegiatan rakyat. no!”. jika bisa begitu. ―Up” dan ―down” diperdayakan oleh si ―middle”. Di tahun 1980-an. Jika Pembangunan selama ini adalah ― top down” maka proses ini tidak langsung beralih ke sistim ―bottom up”. maka terjadi proses Swastanisasi dari Pembangunan. Namun sesuatu yang ideal. fasilitas dan perluasan kegiatan. Pemerintah/Negara mengambil peran untuk keluar dari krisis tersebut. didesak oleh kebutuhan akan modal. dimana pada waktu itu tidak ada perusahaan Swasta. Sehingga Pembangunan selama itu disebut ― Government/State led development”. Melalui pemberdayaan sektor Swasta maka diharapkan/dianggap Ekonomi Rakyat akan pula dapat diberdayakan.9%). Krisis Ekonomi yang kita alami dewasa ini menunjukkan bahwa keserakahan sektor modern akan kredit. Juga dalam hal konsumsi yang kecuali dipenuhi oleh import. Masalahnya adalah mengapa ekonomi Nasional jatuhnya begitu dalam. Hal ini terjadi bukan karena ideology (Sosialisme) melainkan karena kondisi pragmatis. Maka terjadilah krisis ekonomi yang berkelanjutan ini. Namun secara riil. Bukan proses ―memberdayakan‖. di Jakarta resesi. dihabiskan! Tidak ada kelebihan untuk melanjutkan dan mendinamisasikan kegiatan. Dalam hal ekspor. energi dan konsentrasi sampai sekarang sektor ini belum dapat berfungsi kembali normal. dan teknologi yang lebih meningkat untuk menjaga agar Pembangunan Ekonomi berkelanjutan mantap meningkat. melainkan proses ―mem perdayakan‖. adalah suatu kenyataan dan merupakan dua kekuatan ekonomi yang perlu diintegrasikan menjadi sokoguru dari bangunan ekonomi Nasional yang modern. Apakah hanya karena itu saja? Tentu tidak hanya itu saja. Proses tersebut ditandai oleh suatu proses Liberalisasi dan mekanismenya adalah Deregulasi/Ekonomi. Disebabkan oleh Politik Isolasi Nasional dan menumpuknya Defisit APBN dari tahun ke tahun sedari tahun 50an dan selama penggalan pertama tahun 1960-an. Ekonomi Rakyat masih perlu diberdayakan. Faktor kepercayaan pada programa ekonomi Pemerintah dalam kerjasama dengan IMF dan hilangnya panik ekonomi turut bermain peran. Dan cepat kembalinya pemulihan ekonomi selama dua tahun berikutnya dikatakan adalah berkat ekonomi Rakyat. begitu rapuhnya sehingga dengan segala ― inset” dari modal. malahan melanjutkan perannya sebagai Pelaku Utama Pembangunan sesudah krisis itu. Dalam bahasa resmi Ekonomi. Dan seperti telah dikatakan. Makna dari suatu ideal adalah bukan sekedar pada idealismenya. Kita tahu apa yang telah terjadi. Ada keraguan di kalangan Pemerintah pada waktu itu terhadap kemampuan Ekonomi Rakyat sebagai penggerak utama dari roda Pembangunan. alias sektor modern dari bangunan ekonomi kita. di Manado resepsi. melihat peran ekonomi rakyat selama krisis ini seperti yang telah diuraikan itu. namun melalui sistim (peng)antara ―middle down” dan ―middle up”. Boeke. Apa yang dihasilkan. Telah dikemukakan bahwa kemampuan Resistensi Ekonomi Rakyat adalah pada tingkat ― subsistence economy”. Masalahnya adalah mengapa pada waktu itu proses Deregulasi tidak diarahkan langsung kepada Ekonomi Rakyat. tetapi juga dapat cepat pulih dalam 2 tahun berikutnya. oleh investasi dan konsumsi. adanya KKN. menunjukkan betapa rapuhnya dan paniknya sektor Finansial dan Korporasi. juga oleh produksi dalam negeri. dan di bawah pengaruh globalisasi. sudah tiba waktunya kita beralih ke Ekonomi Rakyat. Dalam hal ekspor dan konsumsi. dalam setahun. sehingga di Manado yang unggul dalam hal cengkeh itu – ―dia orang bilang. namun pada kemampuan untuk merealisasikan apa yang dianggap ideal itu. dan kurang adanya Pengawasan. Masalahnya sekarang adalah. Tentu tidak semuanya oleh Ekonomi Rakyat. Dibawah Pimpinan Negara/Pemerintah. dan kalau ada berada dalam kondisi sangat lemah. maka Pembangunan dan peningkatan pendapatan Nasional dan per kapita maju pesat. Memang ideal. cukup berperan ekspor hasil Perkebunan rakyat. tidak lalu harus diidealisasikan. Jika hal itu diperlukan maka dilaksanakan .

mereka tidak boleh mengganggu ketertiban umum dan harus tunduk pada peraturan (hukum) umum! Pengertian yang diperlukan. bukan penggusuran! Pemberdayaan ekonomi Rakyat dewasa ini diperlukan pula untuk membina kader-kader Pelaku Ekonomi Generasi baru menggantikan Generasi Pelaku Ekonomi yang sudah tumbang ini.melalui hutang. Nah. (Sementara menurut suatu penelitian. Aspek orientasi kepada kepentingan rakyat banyak dan aspek rakyat sebagai Subyek dalam Ekonomi Negara. Dalam hal Ekonomi Kerakyatan maka jelas orientasinya pada kepentingan ekonomi Rakyat banyak. dalam kontekst ini peran ekonomi Rakyat dapat difokuskan. Disamping tugas besar Nasional yang berjangka itu. proteksi dan fasilitas. Mereka perlu diberi pengertian bahwa untuk berusaha secara berkelanjutan diperlukan tertib usaha. Diperlukan suatu Institusi dan pendekatan secara Institusional. Dilupakan bahwa mereka memenuhi kebutuhan masyarakat. Potensi untuk itu ada di dalam Negeri karena masih cukup pendapatan dalam negeri dan simpanan dalam negeri yang tersembunyi dan terpendam. di‖ upgrade” dan ditingkatkan. mengatasi Kemiskinan. Mereka dianggap sebagai ―underground economics”.000. apalagi dengan KKN. pengganggu ketertiban umum. Disitulah letak fungsi ekonomi mereka. Jangan disangka jika setiap anggota masyarakat itu bermoral tinggi dan sungguh-sungguh menghayati agamanya. penjelasan-penjelasan dan insentip-insentip. melebihi pendapatan orang yang sama di sektor formal). maka tidak dengan sendirinya kesejahteraan Nasional tercapai. Maka dari itu programa hukum dan kesesuaian harus menunjukkan prioritas bagi Pemerintah. Seperti halnya dalam bidang moral dan agama. Namun suatu Generasi Pelaku Ekonomi Nasional yang bersih. Diperlukan suatu Institusi yang mengarahkan kepada kepentingan rakyat dan kesejahteraan Nasional. Telah dikemukakan betapa . namun untuk mengungkapkan kenyataan yang dihadapi yang perlu diperbaiki agar tugas Nasional yang diserahkan kepada Ekonomi Rakyat dapat terlaksana dengan baik dan penuh prospek dan perspektif. Dalam hal Ekonomi Rakyat. (Hukum dan keamanan ini juga dituntut oleh para investor asing!). sebagai usaha yang ―inferior”. Mereka perlu dibimbing. usaha/pedagang kecil dan menengah. 20. Untuk menjamin tertib usaha. Ini berarti pula perlu dikembangkan suatu sistim mobilitas vertikal secara sehat dan mandiri dalam masyarakat dunia usaha! Dewasa ini hal ini diblokir oleh tidak selesai-selesainya proses penyehatan Perbankan dan Korporasi. Hal-hal ini perlu diciptakan oleh Institusi itu. Ketiga target ini memang mengena pada kepentingan ekonomi Rakyat! Suatu tantangan bagi ekonomi Rakyat! Menghadapi tugas besar/tugas nasional ini.Rp. Selama ini kita telah bicara banyak mengenai Ekonomi Rakyat dan Ekonomi Kerakyatan. 10. Memang ada pendapatan dan simpanan dalam negeri yang lari keluar. karena pasar dalam negeri yang besar dan luas. Hanya seperti telah diuraikan itu. perlu diingat. bahwa kalaupun Rakyat sudah menjadi Subyek Ekonomi. maupun Subyek dalam ekonomi adalah rakyat. memerlukan perlindungan/kepastian Hukum dan iklim usaha. Sebab kesejahteraan Nasional bukanlah somasi/jumlah dari kepentingan masing-masing rakyat. namun tidak selamanya rakyat harus menjadi Subyek Ekonomi. tidak dimanjakan dengan subsidi. Mereka sendiri tadinya juga berasal dari usaha ekonomi rakyat. Kondisi ini perlu diimbangi dengan menciptakan/mengaktifkan ― domestic demand” yakni ―demand” akan investasi dan konsumsi. teknologi dan Pasar. Kembali kepada masalah Krisis Moneter dan Pemulihan kembali Ekonomi Nasional. Penciptaan dari ―domestic demand” ini mungkin. Apa itu? Ekonomi Rakyat mempunyai dua aspek integral. Rakyat sebagai Subyek Ekonomi seperti halnya dengan Korporasi-Korporasi besar/maju. kita mengalami kemerosotan investasi dan eksport termasuk Pariwisata. maka masyarakat dengan sendirinya bermoral dan beragama. Ini semua dikemukakan tidak dengan maksud untuk memojokkan ekonomi Rakyat. Hanya jangan dikira jika semua rakyat sudah menjadi Subyek Ekonomi. Apa tugas Nasional itu? Mengatasi Pengangguran. tangguh mental dan professional dalam berusaha. Sebab itu peran ―lintah darat‖ besar dalam ekonomi Rakyat. para pelaku ekonomi Rakyat perlu di‖upgrade”. Diharapkan bahwa Institusi yang demikian itu adalah antara lain Pemerintah dan Parlemen. mengatasi Hutang. maka baik orientasi pada kepentingan dalam ekonomi. tetapi sebagian besar masih ―berkeliaran‖ di dalam negeri. Mereka tidak menjadi efektif (―effective demand”) antara lain karena ketidakpastian hukum dan keamanan. Dalam bahasa ekonominya adalah bahwa kita mengalami kemerosotan dari ―external demand”. Masalah ini perlu ditekankan melihat pengalaman-pengalaman dari usaha-usaha rakyat kecil di kota-kota yang lazim dinamakan Kaki Lima yang dikejar-kejar itu. maka dengan sendirinya Kesejahteraan Rakyat tercapai. diberi pendidikan. ada pula tugas Nasional yang mendesak! Dewasa ini.000 . mereka sehari dapat memperoleh antara Rp. terlebih sesudah kejadian 11 September 2001 di Amerika Serikat. memerlukan akses ke modal.

kita belum saja melihat titik terang. untuk menginjeksi sektor perbankan. hendak dilihat. seperti dikatakan Alan Grenspan. Frans Seda : Penasehat Ekonomi Pemerintah. barulah kita dapat menyusun suatu Programa Nasional untuk cepat keluar dari krisis dan mulai memulihkan kembali Pertumbuhan Ekonomi Nasional yang mampu memberantas Pengangguran.3 persen pada dekade 1980an. yang hingga kini tak kunjung menemukan jalan keluar pemecahannya. Sebab disitulah letak kepentingan mendesak dari ekonomi rakyat kita. makin tak terkendali. politik. kini menyebar luas. tetap saja berujung pada ketidakmungkinan krisis ini pulih dalam waktu yang singkat. Dengan bersandar pada data Biro Analisa Ekonomi AS (lihat tabel). Berbagai skenario pemulihan yang ada. dan Hutang Nasional. dan bencana alam. Maka dari itu krisis ini perlu segera diatasi! Dalam hal ini kita berhadapan dengan suatu Dilema Fundamental yang ―persistent” sekali. Setelah diterpa resesi pada 2001. bernegara dan bermasyarakat. ketika Bank Sentral menggelontorkan dana segar sebesar S75B pada Januari 2008. hendak memotret dampak dari krisis ekonomi Amerika Serikat (AS). Resep lama. yang dipicu oleh krisis di sektor properti. mantan gubernur Bank Sentral AS. Kebodohan. terlebih sektor Finansial dan Korporasi. Untuk mengatasi Dilema Fundamental ini diperlukan suatu Konsensus Politik secara Nasional. pangan.‖ Ketakutan bahwa krisis ini menjadi krisis permanen. bahwa krisis ini bisa diatasi dengan campur tangan bank Sentral. ekonom Minqi Li menggambarkan beragam skenario yang tidak menggembirakan. Dengan segala upaya dan energi serta bantuan luar negeri. upah buruh riil dan . Rata-rata tingkat pertumbuhan per tahun hanya 2. baru melangkah maju. di lain pihak ada urgensi. Krisis Permanen Krisis ekonomi AS. bagaimana dampak krisis ini terhadap Indonesia. yang berfokus pada pilihan politik untuk me-Rekonsiliasikan keperluan penyelesaian secara tuntas masalah-masalah dari masa lalu dengan kepentingan bangsa dan Negara untuk maju ke depan dan yang didukung oleh semua pihak. Dengan dunia yang kian terintegrasi satu sama lain. dan alternatif apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi krisis dan dampaknya tersebut. Negara dan Masyarakat kita kepada kehancuran total. Sementara itu. Krisis ini datang silih berganti secara bergelombang. Dari sini. krisis di satu tempat dengan cepat menyebar dan memberi efek tular ke tempat lain. lingkungan. Akibatnya. Hic et nunc! Drs. mantan Menteri Keuangan Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat. Jika hal ini dikaitkan dengan bahaya-bahaya proses desintegrasi sosial. energi. Dengan adanya Konsensus Politik secara Nasional itu. Lima (5) tahun krisis ekonomi adalah sudah terlalu panjang dan karena sifatnya multidimensional maka ia dapat menggerogoti secara meluas dan mendalam sendi-sendi kita hidup berbangsa. terbukti tidak mencukupi. pemulihan ekonomi AS berjalan lambat.terpuruknya Ekonomi kita dan betapa rapuhnya sektor modern kita. dan sambil berjalan ke depan kita secara selektif menyelesaikan kebobrokan-kebobrokan dari masa lalu. Tulisan kali ini. Krisis Moneter Indonesia Krisis Permanen dan Tantangan Dari Bawah* DUNIA sedang diterpa badai krisis: ekonomi. Kemiskinan. ―pertumbuhan ekonomi AS saat ini adalah nol. Bahkan.4 persen dibandingkan dengan 4 persen pada dekade 1960an dan 3. tetap saja krisis ekonomi AS tak bisa ditangani. Dilemanya adalah di satu pihak ada tuntutan untuk penyelesaian dulu semua kebobrokan-kebobrokan dari masa lalu. kita maju ke depan (termasuk upaya penyelesaian krisis). belum selesai yang satu telah datang yang lain. regional dan nasional maka krisis ekonomi yang berkepanjangan ini dapat membawa Bangsa.

maka suku bunga rendah hanya akan kecil sumbangannya dalam merangsang konsumsi rumah tangga. hingga mencapai 6 persen atau lebih GDP. Di lain pihak. karena baik pasar saham maupun pasar properti telah overvalued. Di samping itu. sangat sulit untuk mengidentifikasi gelembung besar aset lain yang bisa diciptakan. Tujuan dari penetrasi ini. Krisis ekonomi yang dipicu oleh krisis di sektor finansial. pilihan yang bisa diambil oleh Bank Sentral adalah melakukan pemotongan secara drastis tingkat suku bunga. Dihadapkan pada kondisi guncangan besar pasar saham dunia. kedua. maka ekonomi AS akan menuju resesi yang lebih dalam yang diikuti dengan apa yang disebut stagnasi berkelanjutan. seiring meningkatnya finansialisasi ekonomi dunia adalah kian mendalamnya penetrasi kekuasaan imperial terhadap negara-negara dengan kondisi ekonomi sedang berkembang (underdeveloped). Tetapi. pemerintah AS melakukan jalan pintas dengan cara melakukan belanja publik dan meningkatkan defisit fiskal. sangat jelas membuat pertumbuhan ekonomi dunia melambat yang itu berarti. Yang paling realistis. Yang menarik. maka secara teoritik utang luar negeri bersih AS akan menembus angka 120 persen GDP. pertumbuhan . atau delapan sen lebih rendah dari upah pada 1972. maka rata-rata upah buruh sektor swasta pada tahun 2006. Soalnya. dengan cara menciptakan gelembung aset lain secara besar-besaran. sejak medium 2000. maka yang terjadi ekspansi konsumsi rumah tangga itu dibiayai oleh utang rumah tangga. sejak tahun 2001.8 persen pada tahun 2006. terjadi penghancuran industri (deindustrialization). Penetrasi yang digerakkan melalui kebijakan globalisasi-neoliberal tersebut. suatu jumlah yang tertinggi. Sebaliknya. jelas mustahil untuk melihat bahwa konsumsi akan bertumbuh cepat di tahun-tahun mendatang.8 persen pada tahun 2001 menjadi 9. yang kini mencapai lebih dari 70 persen GDP. sebagaimana dikemukakan John Bellamy Foster. Selain itu. Dengan gambaran seperti ini. Pertama.2. pertumbuhan ekonomi AS dihela oleh ekspansi konsumsi rumah tangga. Ini bisa dilihat dari peningkatan sebesar 14 persen layanan utang rumah tangga (interest and principal payment on debt) pada 2007. Itu sebabnya. pendapatan riil keluarga menengah terus jatuh. Robinson adalah untuk menghancurkan otonomi para aktor nasional dan selanjutnya menstrukturkan serta mengintegrasikan mereka ke dalam jaringan transnasional yang lebih luas. Dan jika ini terjadi. Jika diukur dalam dollar pada 1982. ketika mayoritas pendapatan rumah tangga mengalami stagnasi atau bahkan jatuh. pengaruhnya sungguh akan sangat besar bagi stabilitas ekonomi-politik dunia. bersamaan dengannya tingkat suku bunga meningkat. tingkat tabungan rumah tangga jatuh dari rata-rata 10 persen menjadi mendekat nol persen saat ini. jika krisis ekonomi yang melanda AS ini berlangsung dalam waktu yang lama. menurut William I. dengan defisit saat ini yang mencapai 6 persen GDP. menyebabkan negaranegara yang sebelumnya telah tergantung pada investasi asing kian tergantung padanya (khususnya investasi portofolio) dan keharusan untuk membayar utang kepada kapital internasional. karena level utang rumah tangga telah begitu tinggi dan tingkat tabungan rumah tangga juga rendah. maka Washington bisa terus melakukan defisit fiskal lebih besar. AS mengekspor krisis internalnya ke seluruh dunia. Hasilnya adalah sebuah lingkaran setan. Keadaan ini sebenarnya bisa ditangani oleh Bank Sentral. Jika tingkat tabungan rumah tangga meningkat menuju rata-rata selama ini. konsumsi AS adalah yang terbesar di dunia dan menjadi sumber utama permintaan ekonomi dunia. Jelas ini sesuatu yang menakutkan.jumlah angkatan kerja stagnan. pembagian keuntungan korporasi terhadap GDP meningkat dari 5. negara-negara berkembang yang mengikuti resep globalisasi-neoliberal. ―fundamental ekonominya‖ membaik menurut kriteria sektor finansial tapi. sebesar $8. Jatuhnya tingkat konsumsi di AS. dengan sendirinya menghela ekonomi negara lain ke jalur krisis. sektor keuangan saat ini merupakan sektor yang paling tersebar dan paling terkait secara global. dan ketiga. Masalahnya.

produksi dunia untuk seluruh bahan-bahan cairan (termasuk minyak mentah. pembangunan yang dijalankannya tidaklah membuahkan kemajuan dan kebebasan tapi. sedang berjuang untuk mempertahankan produksinya agar tidak jatuh. mencapai titik jenuhnya pada 2010. gas alam. Tinggal sembilan negara atau wilayah yang memiliki potensi untuk bertumbuh. belum lagi krisis ekonomi tertangani. 775. Setelah itu. Colin Campbel. dan mencapai 2/3 pada 2050. karena minyak merupakan energi yang tak terbarui. menjadi penanda penting bagi kita bahwa orientasi pembangunan kapitalisneoliberal yang berlangsung secara global saat ini. Berdasarkan data Januari 2008. 9. Selain itu.236. yang hingga kini tak kunjung keluar dari krisis. Bahkan. dari the Association for the Study of Peak Oil and Gas. Tingginya harga minyak ini tentu saja memberikan daya pukul luar biasa pada perekonomian di seluruh dunia. obat-obatan modern. dan biofuel). Sebab ekonomi kapitalis ini sangat tergantung pada bahan-bahan material (minyak.000 per hari atau sebesar Rp. ancaman lain telah menghadang yakni. gas alam cair.000 dengan kurs $1 sama dengan Rp. eksplorasi minyak telah mencapai puncaknya pada dekade 1960an dan produksi minyak mentah mungkin telah di batas maksimum dan mulai memperlihatkan trend menurun dalam beberapa waktu mendatang. bisa dipastikan yang akan terjadi adalah penyesuaian-penyesuaian rencana anggaran. produksi gas alam dunia akan mencapai puncaknya pada 2045. Laporan terakhir (30/4) menyebutkan. tentu saja kesuraman itu kian menjadi-jadi. dengan menggilanya harga minyak dunia di pasaran. dan batubara). merupakan bahan masukan penting dalam produksi pupuk. Minyak sendiri. meramalkan. Campbel juga meramalkan. gambaran-gambaran ini sungguh suram. ditambah dengan dampak kenaikan harga minyak dunia yang gila-gilaan. aspal hitam. tentu saja tidak masuk akal bagi pemerintah untuk membiayai belanja-belanja sosial yang bermanfaat bagi kepentingan rakyat. Dalam studi awal dari German Energy Watch Group.5. Berdasarkan harga saat ini sebesar $120 per barel.ekonomi rendah. bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia. minyak hasil distilasi. harga minyak dunia telah menembus angka $120 per barel. telah mencapai titik jenuh. coal-to-liquids. Studi terbaru dari German Energy Watch Group menyebutkan. plastik. kini bayang-bayang resesi bahkan depresi ekonomi ada di depan mata. produksi minyak di 25 negara-negara atau wilayah-wilayah penghasil minyak utama. Seluruh perusahaan-perusahaan minyak besar dunia kini. Orientasi Ke dalam? Krisis ekonomi saat ini. dimana salah satu cara paling gampang adalah kembali menaikkan harga minyak dan mencabut subsidi. dan kian mudahnya ekonomi negara tersebut diserang krisis akibat pergerakan cepat keuangan global. Lebih-lebih dalam konteks seperti Indonesia. maka skenario yang tampak begitu buruk. produksi minyak akan menurun sebanyak 25 persen pada 2020. Dengan pengeluaran sebesar itu. Mari kita ambil contoh berikut. yang menyumbang 80 persen suplai energi dunia. Melambungnya Harga Minyak Dunia Sialnya. Dalam konteks Indonesia. saat ini Pertamina mengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak sebanyak 700 ribu per barel. gas-to-liquids. Resep-resep yang digunakan . diperkirakan produksi batubara dunia akan mencapai puncaknya pada 2025. dan benda-benda kimiawi lainnya.866. pembangunan yang menghasilkan keterbelakangan dan ketertindasan. Setelah dihajar oleh krisis ekonomi pada 1997. Dengan pola seperti ini. diperkirakan menyumbang sepertiga dari total suplai energi dan 90 persennya digunakan di sektor transportasi. tidak bisa lagi dipertahankan. maka dana yang mesti dikeluarkan Pertamina adalah sebesar $84. Minyak juga. Kita lihat. diperparah dengan dampak menular dari krisis keuangan di AS. Di luar OPEC.

Dengan tingkat pertumbuhan ekonominya tinggi dan relatif stabil. kontribusi Cina meningkat sekitar 15 persen dan kelompok BRIC (Brazil. pembangunan kekuatan militer itu dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi AS. bahkan ekonominya belum mampu menandingi kekuatan ekonomi Uni Eropa. Rusia. Dari segi ekonomi. lebih merupakan hasil dari stagnasi ekonomi berkepanjangan. Pemerintahan siapapun. untuk memotong laju krisis sekarang. Dari sini. Dengan 180 basis militer (dari yang direncanakan 1. Studi-studi yang ada menunjukkan. Chalmers Johnson. Cina yang dianggap sebagai pesaing baru. India dan Cina) meningkat sebesar 20 persen pada pertumbuhan ekonomi dunia. Tetapi. Pertanyaannya kemudian. pemotongan subsidi. Seperti dicatat Minqi Li. mensyaratkan keberadaan rejim yang mendukung penuh perubahan radikal itu. bukan krisis bagian per bagian. tak ada kekuatan lain yang bisa menandingi kedigdayaan AS. Karena itu. mempromosikan kebijakan nasionalisasi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. harus ada strategi yang radikal. terbukti gagal dalam menangani krisis. adalah mengandalkan kemampuan domestik dalam menopang bangunan struktur ekonomi nasional. Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. privatisasi. sumbangan AS dalam pertumbuhan ekonomi dunia jatuh dari 40 persen pada 1990 menjadi kira-kira 30 persen pada saat ini. kini Cina merupakan satu-satunya kandidat . apakah pertanyaan tersebut mengada-ada atau tidak. Dan sebaliknya. dari segi geopolitik. walaupun kini tengah dilanda krisis parah. Salah satunya. Dari segi anggaran militer. menurut Michael Klare. Lebih-lebih di bidang militer. deregulasi. saya ingin mengajak anda untuk melihat konstelasi kekuasaan global saat ini. dana yang dianggarkan sebesar lebih dari $1T. di tempat lain. dan liberalisasi sektor moneter. Angka ini merupakan yang terbesar sejak Perang Dunia II dan besarannya melampaui total belanja militer gabungan seluruh negara lain di dunia. praktis tidak ada kekuatan lain yang sanggup menandingi imperialisme Amerika. akibat stagnasi berkepanjangan. ekonomi AS masihlah yang terkuat di dunia. Ia bukanlah krisis keuangan jangka pendek tapi. sebuah perubahan arah strategi pembangunan dari yang pro kapitalisme-neoliberal menjadi yang anti kapitalisme-neoliberal. dimana anggaran ini bukan bagian dari anggaran resmi pertahanan. demi kepentingan apa AS terus membangun dan memperkuat kekuatan militernya? Ada dua jawaban di sini: pertama. pembangunan kekuatan militer raksasa itu dimaksudkan untuk ―menghadang munculnya kekuatan besar lain sebagai pengimbang kekaisaran AS. Di sini muncul pertanyaan baru. krisis ini adalah krisis kapitalisme keseluruhan. Sejak berakhirnya Perang Dingin (yang sesungguhnya hanya dingin di Eropa). tidak ada bukti yang kuat bahwa kebangkrutan ekonomi suatu negara disebabkan oleh kebijakan nasionalisasi ekonomi. lagi-lagi dalam konteks Indonesia.000) di seluruh dunia. departemen pertahanan AS menganggarkan sebesar $750B per tahun. harus berani menolak resep-resep kebijakan neoliberal seperti.‖ Argumentasi Klare ini bukan tanpa bukti empiris. jumlahnya jauh lebih besar dibanding gabungan anggaran militer Rusia dan Cina. bersedia melakukan restrukturisasi ekonomi dan sosial yang radikal? Intervensi Permanen Sebelum kita masuk pada pertanyaan-pertanyaan tersebut. kita bisa meraba-raba. kedua. Keadaan ini tentu saja mengkhawatirkan para pengambil keputusan strategis di Washington. adakah rejim dengan watak seperti itu? Pertanyaan lainnya. yang selama ini telah begitu erat terkait dengan kelas kapitalis asing. Tetapi. pasar kerja fleksibel. Khusus untuk supplementary budget buat membayar biaya perang di Irak dan Afghanistan.selama ini. apakah kelas kapitalis di Indonesia. Untuk rencana belanja fiskal tahun 2008. seperti dikemukakan kritikus empire (kekaisaran) terkemuka. demikian juga kontribusi kawasan Eurozone ikut jatuh dari 20 persen menjadi tinggal 10 persen.

AS menguasai 70 persen cadangan minyak dunia. Bagi Samir Amin. Benar pula bahwa minyak bukan hanya sumber energi yang utama tapi. menyebabkan para kapitalis domestik ini tidak berani mengambil jalan berbeda. tidak mungkin terwujud jika tidak dipimpin dan dikontrol oleh rakyat. Ini hanya merupakan awal. penyerbuan seperti di Irak ini bukanlah sebuah akhir. mereka malah kian agresif dalam merealisasikan paket-paket kebijakan neoliberal. sebagai ―ideologi intervensi permanen. adalah dari rakyat tertindas keseluruhan. Benar bahwa dengan menduduki kawasan Teluk. Bukannya melindungi kepentingan rakyat. bagi para analis imperialisme. Ia mencontohkan perlawanan rakyat di Venezuela dan Irak saat ini. Di sisi lain ancaman intervensi permanen melalui doktrin pre-emptive war dari AS.‖ Itu sebabnya. intervensi militer (misalnya. misalnya. Maka satu-satunya penantang paling potesial terhadap kekaisaran. misalnya melalui perang ekonomi (seperti Kuba) atau juga dalam bentuk keras seperti. Di sini. Intervensi permanen dari kekaisaran bisa mengambil bentuk yang lunak. para kapitalis domestik memainkan perannya sebagai yunior partner dan secara bersama-sama membentuk apa yang disebut oligarchy-finance-capital. kita lihat. jika ingin menghancurkan kekaisaran yang mesti dilakukan adalah mendorong terjadinya perubahan fundamental dalam keseimbangan kekuasaan domestik dalam kekaisaran. muncul perbedaan pendapat di kalangan pengamat kekaisaran. rakyat AS telah cukup lama menikmati permen ekonomi dan juga kooptasi dan represi dari kekaisaran. AS disamping terus menjalankan perannya sebagai protektorat bagi negara-negara kapitalis inti. mengatakan perlawanan rakyat tertindas itu tidak bisa diharapkan muncul dari dalam negeri AS. jika terjadi mobilisasi dari bawah yang merupakan kombinasi kepentingan-kepentingan domestik kelas terpinggirkan. Dalam konteks geopolitik yang unipolar seperti inilah. kekuatan sosial lainnya yang tertindas. serbuan itu terutama dimaksudkan sebagai sinyal agar ―jangan coba-coba menantang kami. dari apa yang disebut Aijaz Ahmad. Tetapi. untuk bisa menantang kekaisaran AS ini. Dan itu hanya mungkin. penyerbuan ke Irak dan Afghanistan. Itu sebabnya. maka sangat sulit kita mengharapkan munculnya sikap progresif dari kelas kapitalis domestik. sebagai residivis-residivis privatefinanced-centered yang coba-coba menantang kekaisaran. Irak). seperti peran yang disandangnya di masa Perang Dingin. tidak pertama-tama didorong oleh kepentingan menguasai dan mengontrol kandungan minyak di wilayah tersebut. Di satu sisi karena mereka telah terintegrasi dalam kelas kapitalis internasional. misalnya.yang bisa menggeser posisi AS. James Petras. juga bertujuan untuk mengonsolidasikan kembali apa yang disebut Peter Gowan. serta gerakan anti-globalisasi dan anti-perang. bagi Leo Panitch dan Sam Gindin. Satu-satunya penantang serius bagi kekaisaran AS ini. Di matanya. kemunculan para pesaing dipandang sebagai ancaman yang harus dinetralisir. Sementara itu. tak berani mengambil sikap yang berpihak kepada kepentingan rakyat. misalnya. juga sumber kekuasaan. Hasil dari keadaan ini.‖ Dan itu berarti. satu-satunya jalan adalah dilakukannya . Realisasi kebijakan itu menemukan momentumnya dengan terjadinya serangan 11 September 2001. datang dari rakyat tertindas di negara-negara pinggiran. Dengan adanya peristiwa itu. kelas kapitalis domestik Indonesia. AS tidak membutuhkan tawar-menawar dengan kekuatan di luarnya. krisis permanen ini membuat mereka tidak memiliki pilihan lain kecuali kian tergantung pada belas-kasih sang senior. di tengah-tengah krisis permanen dan ancaman intervensi permanen saat ini. sebagai motor penggerak ekonomi kapitalis global. Sebaliknya. ―bersama kami atau menjadi musuh kami.‖ Tantangan Dari bawah Dengan bersandar pada analisa di atas. Di sini. dimana rakyatlah yang pertama-tama menanggung akibatnya. Pembangunan yang berorientasi ke dalam. kekuatan lain itu hanya diberikan pilihan.

and Globalization. McChesney.” Monthly Review.aliansi seluruh rakyat pekerja baik. “Transnational Conflicts Central America. John Bellamy Foster. 21 Januari 2008 | 20:49 WIB. http://www. “China Peak Oil. London. Vol. 2004. di Selatan maupun di Utara.20080121-115889.” ―Impor Minyak Pertamina Harus Dievaluasi‖
 Senin. ————. 2004. Solidaritas universal.tempointeraktif.” in John Bellamy Foster and Robert W.com/hg/ekbis/2008/01/21/brk. 58.‖ Monthly Review Press. ―Pox Americana exposing the American Empire.” Monthly Review. Michale Klare.id. Minqi Li. 2004. Vol. Vol.“The Financialization of Capital and the Crisis.” Monthly Review. 11 April 2007. McChesney. *Artikel ini sebelumnya dimuat dalam buku untuk memperingati 80 tahun Joesoef Isa . o. Robin Blackburn. No. 2003.” Socialist Register. & Neoliberalism’s Demise. “The Financialization of Capitalism.html William I. 59. Robinson. Hegemony Today. itulah kunci kemenangan rakyat pekerja terhadap kekaisaran. Social Change. No. “U. “The Subprime Crisis.‖ Monthly Review Press. “Imperialism of Our Time” Socialist Register. Peter Gowan.*** Kepustakaan: Aijaz Ahmad.” in John Bellamy Foster and Robert W. “Global Capitalism and American Empire. ―Pox Americana exposing the American Empire.” Verso.S. 59. 2004. 11 April 2008. 11 April 2008. “The New Geopolitics. Leo Panitch and Sam Gindin.