Anda di halaman 1dari 8

3. Berdasarkan Kerangka berpikir sistem. a.

Masalah partisipasi Masalah partisipasi atau kesempatan memperoleh pendidikan adalah rasio atau perbandingan antara masukan pendidikan (raw input) atau jumlah penduduk yang tertampung dalam satuan-satuan pendidikan. Keberadaan masalah ini dapat diketahui dari individu-individu yang mestinya menjadi peserta didik pada satuan pendidikan tertentu tetapi kenyataannya tidak demikian. Misalnya saja di berbagai daerah masih banyak anak-anak yang mestinya menjadi peserta didik pada satuan pendidikan TK tetapi belum menjadi bagian dari satuan pendidikan tersebut. Hal demikian tentunya akan menimbulkan masalah pada saat mereka masuk sekolah dasar. Demikian juga banyaknya individu lulusan SMA yang tidak melanjutkan pendidikannya pada perguruan tinggi. Untuk bekerja mereka belum memiliki bekal yang mamadai. Tingkat partisipasi bellum sesuai dengan yang diharapkan Saat ini tingkat partisipasi masyarakat indonesia masih rendah.Hal ini dikarenakan oleh berbagai faktor.Misanya saja ekonomi, mereka rela tidak sekolah untuk membantu ibu atau bapak bekerja agar mereka dapat hidup.Masalah biaya merupakan faktor penyebab yang paling penting.Tingginya biaya pendidikan menyebabkan mereka tidak mampu bersekolah sampai jenjang perguruan tinggi. Tingkat penyerapan sistem pendidikan terhadap perkembangan Penyerapan sistem pendidikan di Indonesia masih kurang.Hal ini dikarenakan terbatasnya teknologi yang kita miliki dan tenaga ahli. Tingkat penyesuaian SPN terhadap perubahan-perubahan lambat Penyesuai SPN terhadap perubahannya berlangsung lamban, karena ketidak mampuan pendidik dan peserta didik untuk menyesuaikan diri akan system yang berlaku dan atau terlalu sulitnya system yang dijalankan. b. Masalah Efisisensi Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan.Jika penggunaannya hemat dan tepat dikatakan sasaran dikatakan efisiensinya tinggi, jika terjadi sebaliknya bersrti efisiensinya rendah. Kurang tepatnya memfungsikan tenaga-tenaga pendidikan Kurang tepatnya memfungsikan tenaga pendidikan membuat masukan pendidikan yang berupa informasi, tenaga, sarana dan prasarana tidak sesuai dengan hasil pendidiakn yang diharapkan.Msalah ini meliputi pengangkatan,penempatan. Dan pengembangan tenaga. Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas.Persedian tenaga yang siap diangkat (untuk sebagian besar jenis bidang studi, sebab ada bidang studi tertentu yang beluam tersedia tenaganya) lebih besar daripada kebutuhan di lapangan.Dengan demikian terjadi pemubaziran terselubung, sebab biaya inventaris pengadaan tenaga tidak segera terbayar kembali melalui pengabdian. Masalah penempatan guru, khususnya guru bidang penempatan studi sering mengalami kepincangan, tidak disesuaikan dengan kebutuhan dilapangan.suatu sekolah menerima guru baru dalam bidang studi yang sudah cukup atau bahkan sudah

kelebihan, sedang guru bidang studi yang dibutuhkan tidak diberikan karena terbatasnya jatah pengangkatan. Masalah pengembangan tenaga pendidikan di lapangan biasanya terlambat, khususnya pada saat menyongsong hadirnya kurikulum baru.Setiap pembahuruan kurikulum menuntut adanya penyesuain dari para pelaksana dilapangan.Umumnya penanganan pelaksanaan dilapangan sangat lambat.Akibatnya terjadi kesenjangan antara saat dicanangkan berlakunya kurikulum dengan saat mulai dilaksanakan. Penggunaan sarana dan prasarana yang kurang tepat Penggunaan parasarana dan sarana pendidikan yang tidak efisien bisa terjadi antara Lain sebagai akibat kurang matangnya perencanaan dan sering juga karena perubahan kurikulum.Gejala lain tentang tidak adanya efisiensi dalam penggunaan sarana pendidikan yang diadakannyadan didistribusikannya sarana pembelajaran tanpa dibarengi dengan pembekalan kemampuan, sikap dan keterampilan calon pemakai ataupun tanpa dilandasi oleh konsep yang jelas. Pennggunaan dana pendidikan yang kurang terncana Perubahan kurikulum membawa akibat tidak dipakainya lagi buku paket siswa dan buku pegangan guru beserta perangkat lainnya karena harus diganti dengan bukubuku baru.Belum lagi terhitung biaya penataran para pelaksana pendidikan di lapangan agar siap melaksanakan kurikulum baru.Ini menggambarkan bahwa dibalik pembaharuan terjadi pemborosan, tetapi bagaimanpun juga pembaharuan kurikulum merupakan tindakan antisipasi terhadap pemberian bekal bagi calon iuran agar sesuai dengan tuntutan jaman. c. Masalah Efektifitas Masalah efektivitas pendidikan berkenaan dengan rasio antara tujuan pendidian dengan dengan hasil pendidikan (output), artinya sejauh mana tingkat kesesuaian antara apa yang diharapkan dengan apa yang dihasilkan, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Pendidikan merupakan proses yang bersifat teleologis, yaitu diarahkan pada tujuan tertentu, yaitu berupa kualifikasi ideal. Jika peserta didik telah menyelesaikan pendidikannya namun belum menunjukkan kemampuan dan karakteristik sesuai dengan kualifiksi yang diharapkan berarti adalah masalah efektivitas pendidikan. Kuantitas hasil Jumlah peserta didik tiap tahunnya selalu bertambah seiring denga pertambahan penduduk Indonesia.Luaran pendidikan diharapkan mampu mencapai tujuan pendidikan, yang sesuai dengan pembangunan.Tingkat drop out yang tinggi menandakan bahwa efektivitas pendidikan di Indonesia rendah. Kualitas hasil pendidikan Kualitas hasil pendidikan di Indonesia masih sangat rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, tenaga pendidik, yang terdidik, dan sarana parasarana yang menunjanng kegiatan belajar mengajar disekolah.Hasil pendidikan yang dapat mengaplikasikannya sesuai dengan sektor yang diperlukan menunjukkan kualaitas yang lebih maksimal, dibadingkan yang tidak sesuai dengan sektornya. d. Maslah relevansi Masalah relevansi pendidikan mempersoalkan bagaimana sistem pendidikan itu sesuai denan kebutuhan masyarakat dan pembangunan.

Tidak imbang out-put pendidikan dengan kebutuhan pembangunan Tugas pendidikan adalah menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan.Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua faktor pembangunan yang beraneka ragam seperti sektor produksi, sektor jasa dan lainlain.Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas.Jika sistem pendidikan menghasilkan iuran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan baik yang aktual maupun yang potensial dengan memenuhi kriteria yang dipersyaratkan oleh lapangan kerja, maka relevansi pendidikan dianggap tinggi. Sebenarnya kriteria relevansi seperti yang dinyatakan tersebut ideal jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumnya dan gambaran tentang kerjaan yang antara lain sebagai berikut : 1. Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya. 2. Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan luaran siap pakai. Yang ada adalah siap kembang. 3. Peta keburuhan tenaga kerja dengan persyaratan yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedia. Tidak sesuai keahlian out-put dengan keahlian yang dibutuhkan berbagai sektor dalam masyarkat Luaran yang dihasilkan oleh sistem pendidikan terkadang tidak sesuai dengan sektor yang ada di masyarakat.Luaran tidak dapat mengisi sektor yang sesuai dikarenakan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan sektornya sangat terbatas, ditambah lagi luaran tersebut tidak dipersiapkan untuk berwirausaha. Akibatnya luaran tersebut tidak dapat memaksimalkan dan megaplikasikan ilmu dan praktek yang telah ia peroleh.Pemerintah diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih besar, sehingga para luaran dapat mengaplikasikan ilmu yang diprolehnnya selama ini. C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERKEMBANGNNYA PERMASALAHAN PENDIDIKAN 1. Perkembangan iptek dan seni yang begitu pesat a. Perkembangan iptek Terdapat hubungan yang erat antara pendidikan dengan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi).Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi secara sistem dan terorganisasi mengenai alam semesta, dan teknologi adalah penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.Sering suatu teknologi baru yang digunakan dalam proses produksi menimbulkan perubahan sistem pendidikan,misalnya isi pendidikan dan metodenya, sarana dan parsarana penunjangannya. Selain itu banyak pengarauh yang secara langsung terhadapa sistem pendidikandalam berbagai bentuk inovasi atau pembaharuan dengan aksentuasi tujuan yang bermacam-macam. b. Perkembangan seni Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah.bBerkesenian merupakan kebutahan hidup manusia.Dilihat dari segi tujuan pendidikan yaitu terbentuknya manusia seutuhnya, aktivitas kesenian mempunyai andil yang besar karena dapat mengisi pengembangan dominan efektif khususnya emosi yang positif dan konstruktif serta keterampilan

disamping domain kognitif yang sudah digarap melalui bidang studi yang lain.Dilihat dari segi lapangan kerja, dewasa ini dunia seni dengan segenap cabangnya telah mengalami perkembangan pesat dan semakin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat.Dengan demikian sudah sepantasnya seni dikembangakan melaluin sistem pendidikan secara terstruktur dan terprogram. 2. Laju pertumbuhan penduduk Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal, yaitu : a. Pertambahan penduduk. Menurut Emil Salim gamabaran penduduk indonesia darisekarang hingga abad XXI, terus menerus akan bertambah.Sebabnya karena tingkat kematian menurun lebih cepat dari turunnya tingkay kelahiran. Dengan bertambahnya penduduk maka penyedian sarana dan prasarana pendidikan beserta komponenya harus ditambah. b. Penyebaran penduduk. penyebaran penduduk di seluruh pelosok yanah air tidak merata., terutama di kotakota besar dan daerah terpencil yang berlokasi di wilayah pegunungan.Sebaran peduduk yang seperti menimbulkan kesulitan dalam penyedian sarana pendidikan.Selain itu juga kesulitan dalam penyedian dan penempatan tenaga guru. 3. Aspirasi masyarakat Dalam dua dasa warsa terakhir aspirasi masyaraka meningkat dalam banyak hal, termasuk pendidikan.Orang mulai melihat bahwa untuk dapat hidup yang lebih layak dan sehat harus ada pekerjaan, dan pendidikan memberikan jaminan bagi peningkatan taraf hidup tersebut.menyadari hal ini orang tua mendorong anaknya untuk bersekolah.Dampak yang ditimbulkan dari hal ini adalah membanjirnya pelamar pada sekolah-sekolah. Beberapa masalah yang tidak dikehendaki antara lain penerimaan siswa baru yang kurang objektif, jumlah murid setiap kelas membengkak, jumlah kelas setiap sekolah membengkak, terjadi pengurangan jam belajar, kekeurangan guru, kekurangan sarana belajar, dan lain sebagainya.Akibatnya terjadi penurunan kadar efektifitas pendidikan. 4. Keterbelakangan budaya dan sarana kehhidupan Keterbelakangan budaya dalah suatu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyrakat(yang megaggap dirinya sudah maju) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya.Pada dasarnya stiap kebudayaan mengalami perubahan, sekurang-kurangnya pada unsurusurnya.Perubahan budaya terjadi karena adanya penemuan baru dari luar maupun dari dalam lingkungan masyarakat itu sendiri.keterbelakngan budaya terjadi karena : a. Letak geografis tempat tinggal suatu masyarakat(misalnya terpencil). b. Penolakan masyarakat terhadap datangnya unsur budaya baru karena tidak dipahami atau karena dikhawatirkan akan merusak sendi masyarakat. c. Ketidakmampuat masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut. Sehubungan dengan faktor penyebab terjadinya keterbelakangan budaya umumnya dialami oleh : a. Masyarakat daerah terpencil. b. Masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi. c. Masyarakat yang kurang terdidik.

Yang menjadi permasalahan ialah bahwa kelompok masyarakat yang terbelakang kebudayaannya tidak ikut berperan serta dalam pembangunan sebab mereka kurang memiliki dorongan untuk maju.Dengan demikian sistem pendidikan dapat menggapai masyarakat terbelakang kebudayaannya untuk berperan serta dalam pembangunan. Menurut Philip.H Combs, krisis dalam dunia pendidikan merupakn pertautan historis dari 5 faktor dominan sbb : a. Banjir anak didik. b. Kekuranngan sumber-sumber secara akut dana, materi dan insani. c. Kenaikan cost per anak didik-pendidikan masih merupakan usaha yang labour-intensif. d. Tidak sesuainya hasil pendidikan dengan kebutuhan masyarakat-kebutuhan pembangunan nasional dan kebutuhan individu yang cepat berubah. e. Inertia dan infisiensi dari sistem dan administrasi pendidikan.

D. MASALAH PENDIDIKAN DALAM KELAS


Masalah-masalah pendidikan juga ada pada kelas suatu instalansi formal yaitu sekolah. Hal ini tak dapat di pungkiri karena proses belajar mengajar dipengaruhi berbagai faktor-fator yang menimbulkan permasalan pendidikan. Adapun masalah-masalah pendidikan di dalam kelas disebabkan oleh: 1. tugas utama guru dalam kelas Guru merupakan seorang pendidik yang memliki tugas utama dalam kelas yaitu memberikan pengajaran dan mengelola kelas. Tetapi apabila seorang pendidik atau guru tersebut tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar maka akan menimbulkan masalah baru yaitu tidak efisiennya pemberian materi belajar kepada subjek didik sehingga ilmu yang didapat pun tidak akan sempurna dan menyebabkan subjek didik ditak dapat berprestasi secara maksimal. Selain itu professional seorang gugru sebagi pendidik juga dituntut di sini, karena dengan profesinalannya maka ia dapat mengelola kelas dengan baik dan benar.

2. Masalah pengajaran
maslah pengajaran dalam kelas ini maksudnya adalah masalah-masalah yang timbul pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Masalah tersebut menyangkut masalah materi belajar maupun masalah metode pengajaran. Masalah materi belajar datang dari kurikulum yang sedang dijalankan. Masalah ini timbul karena antara pendidik dan subjek didik belum memahami konsep kurikulum yang sedang berlangsung sehingga materi yang disampaikan pun tidak maksimal. Sedangkan masalah metode pembelajaran yang digunakan merupakan masalah yang datang dari pendidik itu sendiri. Karena metode belajar merupakan suatu pilihan seorang epndidik untuk dapat menarik perhatian subjek didik agar dapat memahapi materi yang sedang di jelaskan. Adapun cara memilih metode belajar yaitu tahu dan menentukan tujuan yang dicapai, sesuai dengan kerakteristik murid, dan sesuai dengan kemampuan guru. Selain itu, dalam melaksanakan tugasnya, guru dapat melaksanakan kaedah dan teknik yaitu:

kaedah sumbang saran, kaedah tunjuk cara (demonstrasi), simulasi atau

kaedah pengajaran kumpulan, kaedah perbincangan atau kaedah penyelesaian masalah, kaedah oudioligual, kaedah kodkognetif, dan kaedah projek.
3. Masalah pengelolaan masalah pengelolaan disini dimaksud masalah yang timbul karena guru atau pendidik dan subjek didik tidak mampu mengelola kelas secara baik, sehingga timbul kegaduhan dan keributan dalam kelas. Hal ini menuntut kemampuan guru atau keprofesionalan seorang guru untuk mengatasi kegaduhan dan keributan subjek didik. Selain menuntut kemampuan guru, disini juga dituntut kepekaan subjek didik untuk tetap memperhatikan materi yang di sampaikan oleh pendidik.

4. Sumber masalah maksud dari sumber masalah ini adalah masalah masalah yang ada di dalam kelas sebenarnya bersumber pada: a. masalah yang berasal dari pendidik atau guru masalah yang berasal dari guru dapat berupa: kemampuan akademik guru yang terbatas, keadaan fisik guru, ketidak tepatan metode yang digunakan,dan keadaan keluarga guru. b. masalah yang berasal dari siswa atau subjek didik masalah yang berasal dari siswa atau subjek didik dapat berupa: ketertarikan akan materi yang disampaikan, keadaan keluarga siswa, keadaan fisik siswa, dan keadaan emosi atau psikologis siswa. c. masalah yang berasal dari lingkungan adapun masalah yang datang dari lingkungan yaitu: lingkungan kelas yang tidak mendukung proses belajar mengajar, seperti ruang kelas yang kotor, ruang kelas yang telah tua hingga membahayakan pendidik dan peserta didik,tidak adanya sarana prasarana yang mendukung, suasana kelas yang tidak baik yaitu adanya keributan atau tidak dari luar lingkungan kelas dan masih banyak lagi.

5. Hal-hal yang harus di hindarai bila terjadi masalah dalam kelas Berikut ini dikemukakan perincian beberapa tindakan yang tidak tepat untuk menangani masalah-masalah yang timbul didalam kelas: 1. Tindakan penghukuman atau pengancaman: Menghukum dengan kekerasan, larangan atau pengusiran Menerapkan ancaman atau memaksakan berlakunya larangan-larangan Menghardik, mengasari dengan kata, mencemooh atau menertawakan Menghukum seorang diantara siswa sebagai contoh bagi siswa-siswa lainnya Memaksa siswa untuk meminta maaf atau memaksakan tuntutan-tuntutan lainnya. 2. Tindakan pengalihan dan pencelaan (teacher interruption): Meremehkan sesuatu kejadian atau tidak melakukan apa-apa sama sekali. Melakukan pencelaan atau memotong pembicaran siswa yang sedang bertannya.

Menukar susunan kelompok dengan mengganti atau mengeluarkan anggota tertentu. Mengalihkan tanggungjawab kelompok kepada tanggungjawab seseorang anggota. Menukar kegiatan (yang seharusnya dilakukan oleh siswa) untuk menghindari tingkah laku tertentu dari siswa. Mengalihkan tingkah laku siswa dengan cara-cara lain. 3. Tindakan penguasaan atau penekanan: Memerintah, memarahi, mengomel Memakai pengaruh orang-orang yang berkuasa (misalnya orang tua, pimpinan sekolah) Menyatakan ketidaksetujuan dengan mempergunakan kata-kata, tindakan atau pandangan. Melakukan tindakan kekerasan sebagai pelaksanaan dari ancaman-ancaman yang pernah dijanjikan. Mempergunakan hadiah sebagai perbandingan terhadap hukuman bagi para pelanggar. Mendelegasikan wewenang kepada siswa untuk memaksakan penguasaan kelas. 4. Pemberian materi yang monoton(fade away): Memberikan materi dengan metode ceramah Tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertannya Secara singkat, teori ini pada dasarnya mengatakan bahwa semua tingkah laku, baik tingkah laku yang disukai ataupun yang tidak disukai, adalah hasil belajar.