Anda di halaman 1dari 27

L/O/G/O

Retno Kustanti 205.12.1.0014 Pembimbing : dr. Boedhy Setyanto, Sp. KK

Presentasi Kasus

Herpes Genitalis

KEPANITERAAN KLINIK RSUD KANJURUHAN KEPANJEN PPD UNISMA

Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Agama Alamat Status Tanggal periksa

: Ny. R : 25 tahun : Perempuan : Ibu rumah tangga : Islam : Selorejo : Menikah : 29 Maret 2012

Keluhan Utama : gatal dan nyeri pada kemaluan

Riwayat Penyakit Sekarang: Penderita datang dengan keluhan gatal, nyeri, panas seperti terbakar dan timbul bintil-bintil berisi cairan jernih dengan dasar kemerahan pada kemaluan, sejak 3 bulan yang lalu dan penderita juga mengeluhkan sering keputihan.
Awalnya penderita merasa panas seperti terbakar, gatal dan nyeri pada kemaluannya, lalu muncul bintil-bintil kecil seperti jerawat, lunak tidak padat dan berisi cairan jernih lalu pecah dan menimbulkan perlukaan dipermukaan kulit yang kemerahan dan dasarnya tidak kotor, luka tidak berdarah dan tepi luka tidak menggaung dan sampai sekarang masih terasa gatal dan nyeri.

Suami pasien adalah suami kedua dan pernah mengalami sakit yang serupa pada kemaluannya. Sebelumnya penderita merasa akhir-akhir ini mengalami stres yang berat dan kurang fit.

Riwayat penyakit dahulu : o Asma dan tidak pernah mengalami sakit yang sama. Riwayat penyakit keluarga :
o suami penderita juga pernah mengalami sakit serupa pada kemaluannya

Riwayat Kontak dengan penderita : (+)

Keadaan umum: Tampak sakit, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6)

Tanda vital : Tensi : (tidak dilakukan pengukuran) Nadi : (tidak dilakukan pengukuran) Pernafasan: (tidak dilakukan pengukuran) Suhu : (tidak dilakukan pengukuran)

Kepala Mata THT Mulut GIT Leher Thorax Abdomen Sistem genetalia Ekstremitas atas Ekstremitas bawah

: dbn : dbn : dbn : dbn : dbn : dbn : dbn : dbn : terdapat kelainan kulit : dbn : dbn

Regio
Genitalis

Effloresensi
Tampak gerombolan vesikula mudah pecah , erosi (+) dengan dasar eritematus, batas tidak jelas, kulit diantara lesi tampak normal

1. Tes Tzanck dengan pewarnaan Giemsa : ditemukan sel datia multinuklear.

2. ELISA untuk mendeteksi antibodi HSV-1 dan HSV-2

Penderita datang dengan keluhan gatal, nyeri, panas seperti terbakar dan timbul bintil-bintil berisi cairan jernih dengan dasar kemerahan lalu pecah dan menimbulkan perlukaan pada kemaluan sejak 3 bulan yang lalu dan penderita juga mengeluhkan sering keputihan. Suami saya adalah suami kedua dan pernah mengalami sakit yang serupa pada kemaluannya. Sebelumnya penderita merasa akhir-akhir ini mengalami stres yang berat dan kurang fit.

Riwayat penyakit keluarga : suami penderita juga pernah


mengalami hal serupa pada kemaluannya

Riwayat Kontak dengan penderita dg keluhan yg sama : (+) Status Dermatology : Tampak gerombolan vesikula mudah pecah ,
erosi (+) dengan dasar eritematus, batas tidak jelas, kulit diantara lesi tampak normal
Pemeriksaan Laboratorium : tes Tzanck dengan pewarnaan Giemsa : ditemukan sel datia multinuklear

Diagnosa Kerja

HERPES GENITALIS

Ulkus durum Ulkus mole

Non Medikamentosa Menghindari faktor pencetus Selalu menjaga higienis (kebersihan/ kesehatan) organ genetalia secara teratur. Setia dengan pasangannya dan tidak bergantiganti pasangan. Jangan lupa menggunakan kondom, bila pasangan kita sudah terinfeksi PMS Dan mengajak pasangan berobat

Medikamentosa Simptomatis:
Metampiron 500 mg 3 x 1

Causatif:
Acyclovir 200 mg 5 x 1 selama 5 hari

Pembahasan Kasus

HERPES GENITALIS

Herpes genitalis adalah infeksi akut pada genitalia dan sekitarnya (bokong, daerah anal dan paha), yang ditularkan melalui hubungan seksual dan dapat menyebabkan terjadinya flour albus patologis. Disebabkan oleh virus herpes simpleks (VHS) Tipe I (30%) dan Tipe II (70%) dengan gejala khas berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat rekuren.

Etiopatogenesis

HSV-1 HSV-2

Entry by skin or mucous membranes

Viral multiplication

sensory nerve root ganglia

Lysis of viral Vesicles Ulcers

Latency
HSV-1 Trigeminal ganglia HSV-2 Lumbosacralganglia

trigger factor

Reactivation

a. Herpes genital primer


Infeksi primer biasanya terjadi seminggu setelah hubungan seksual (termasuk hubungan oral atau anal). Erupsi dapat didahului dengan gejala prodormal (Demam, malaise dan anoreksia, pembengkakan kelenjar getah bening regional), yang menyebabkan salah diagnosis sebagai influenza. Lesi berupa papul kecil dengan dasar eritem dan berkembang menjadi vesikel dan cepat membentuk erosi superfisial atau ulkus yang nyeri

b. Herpes genital rekuren


Setelah terjadinya infeksi primer klinis atau subklinis, pada suatu waktu bila ada faktor pencetus, virus akan menjalani reaktivasi dan multiplikasi kembali sehingga terjadilah lagi, pada saat itu di dalam hospes sudah ada antibodi spesifik sehingga kelainan yang timbul dan gejala tidak seberat infeksi primer. Faktor pencetus antara lain: trauma, koitus yang berlebihan, menstruasi, stress berat, kelelahan, dan beberapa kasus sukar diketahui penyebabnya. Sering ditemukan gejala prodromal lokal sebelum timbul vesikel berupa rasa panas, gatal dan nyeri pada genital. Infeksi rekuren ini dapat timbul pada tempat yang sama.

Kriteria Minor

Berdasarkan : Anamnesis

Pemeriksaan fisik (gambaran klinis dan lokasi terjadinya lesi)


Pemeriksaan laboratorium (percobaan tzannck)

1. Ulkus durum

2. Ulkus mole

Metampiron
Analgesik

Mekanisme kerja Metampiron merupakan derivat metansulfonat dari Aminopirin. Pengaruhnya terhadap susunan saraf sentral dan perifer. Secara sentral, diduga bekerja pada hipotalamus secara perifer menghambat pembentukan prostaglandin di tempat inflamasi, mencegah sensitisasi reseptor rasa sakit terhadap rangsang mekanik atau kimiawi.

Acyclovir
AntiVirus

Mekanisme kerja analog nukleosida purin asiklik yang aktif terhadap virus Herpes simplex Di dalam sel, acyclovir mengalami fosforilasi menjadi bentuk aktif acyclovir trifosfat yang bekerja menghambat virus herpes simplex DNA polymerase dan replikasi DNA virus, sehingga mencegah sintesa DNA virus tanpa mempengaruhi proses sel yang normal.

Kematian oleh infeksi HSV jarang terjadi. Infeksi inisial dini yang segera diobati mempunyai prognosis lebih baik, sedangkan infeksi rekuren hanya dapat dibatasi frekuensi kambuhnya

L/O/G/O

Thank You!