Anda di halaman 1dari 7

PROSES PEMBUDAYAAN DI INDONESIA

Ilmu Sosial dan Budaya

Disusun Oleh: I Wayan Adi Putra Yasa 09101231

PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA STMIK STIKOM INDONESIA DENPASAR 2013

Definisi kebudayaan Kebudayaan Berasal Dari Kata Sansekerta BUDDHAYAH , yang merupakan bentuk jamak dari kata BUDDHI yang berarti budi atau akal.

Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budhi atau akal. Ada juga yang mendefinisikan kebudayaan seperti dibawah ini: E.B. Taylor Kebudayaan adalah keseluruhan yg mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, dan pembawaan lainnya yg diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Koentjaraningrat Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi pekertinya Ki Hadjar Dewantara Kebudayaan berarti buah budi manusia, adalah hasil perjuangan manusia thd dua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman (kodrat dan masyarakat. Rafael Ragamaran Kebudayaan adalah cara khas manusia beradaptasi dengan lingkungannya, yakni cara manusia membangun alam guna memenuhi keinginan-keinginan serta tujuan hidupnya, yang dilihat sbg proses humanisasi

Proses Pembudayaan Jika kebudayaan diartikan sebagai a design for living menurut versi Kluckholn, maka proses pembudayaan adalah tindakan-tindakan yang menimbulkan dan menjadikan sesuatu lebih bermakna untuk kemanusiaan. Ini satu proses nilai tambah dalam arti riel yang berkelanjutan. Dari zaman batu sampai zaman super-sonic ini terlihat proses pembudayaan lewat ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh melalui proses belajar baik dalam bentuk formal maupun informal. Dalam kerangka ini proses pembudayaan dapat

dilihat sebagai hubungan antara satu budaya dengan budaya lainnya. Adapaun prosesnya adalah sebagai berikut: a. Internalisasi Proses panjang sejak seorang individu dilahirkan sampai ia hampir meninggal. Di mana dia belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala perasaan, hasrat nafsu serta emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya. Dari hari ke hari dalam kehidupannya, bertambahlah pengalaman seorang manusia mengenai bermacam-macam perasaan baru. b. Sosialisasi Proses sosialisasi dalam kesehariaannya adalah proses menjelaskan sesuatu kepada masyarakat agar anggota masyarakat mengetahui adanya suatu konsep, suatu kebijakan, suatu peraturan yang mennyangkut hak dan kewajiban mereka. Dalam proses perbudayaan, cerita-cerita, permainan anak, novel, ritusritus keagamaan, bahan bacaan, lelucon, film, drama adalah semacam sosialisasi budaya dan nilai-nilai kehidupan dari generasi kegenerasi berikutnya. Melaluai sosialisasi manusia memperoleh kebudayaan masyarakat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Sosialisasi adalah proses interaksi terus-menerus yang memungkinkan manusia memperoleh identitas diri serta keterampilan-keterampilan sosial. c. Enkulturasi Enkulturasi adalah pencemplungan seseorang kedalam suatu lingkungan kebudayaan, dimana desain-desain khusus untuk kehidupan kelihatan sebagai sesuatu yang alamiah belaka (Maran). Dengan demikian, sedikit atau banyak (relatif) seseorang akan terpengaruhi oleh kebudayaan yang dicemplunginya itu. d. Difusi

Awalnya

proses

difusi di

terjadi apabila muka bumi

penyebaran/migrasi dan unsure-unsur

kelompok-kelompok manusia

kebudayaan. Difusi adalah meleburnya satukebudayaan denga kebudayaan lain. Bentuk-bentuknya adalah sebagai berikut: 1. Terjadi karena penyebaran unsure-unsur kebudayaan dari satu tempat ke tempatlain yang dibawa oleh kelompok-kelompok yang bermigrasi. 2. Terjadi karena antara individu-individu tertentu yang membawa unsure-unsurkebudayaaan hingga jauh sekali. 3. Terjadi karena pertemuan antara individu dala satu kelompok masyarakatdengan individu kelompok tetangga yang berlangsung dengan berbagai cara. 4. Terjadi karena kontak ntar individu secara tidak langsung. Terutama terjadipada masyarakat modern.Dapat disimpulkan, proses difusi sebagi suatu proses dima unsure-unsurkebudayaan dibawa oleh individu dari satu kebudayaan dan diterima oleh individu ,dari kebudayaan lain.

e. Akulturasi Akulturasi adalah percampuran dua atau lebih kebudayaan, yang dalam percampuran itu masing-masing unsurnya masih kelihatan. Menurut Redfield, Linton, Herskovits akulturasi meliputi fenomena yang timbul sebagai hasil, jika kelompok kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu dan mengadakan kontak secara langsung dan terus-menerus, yang kemudian menimbulkan perubahan dalam pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau pada kedua-duanya. Sedangkan menurut Gillin dalam bukunya Cultural Sociologi, Mengemukakan bahwa akulturasi adalah proses dimana masyarakat yang

berbeda-beda kebudayaannya mengalami perubahan oleh kontak yang lama dan langsung, tetapi dengan tidak sampai kepada percampuran yang komplit dan bulat dari dua kebudayaan itu. Dr. Koentjaraningrat, mengemukakan bahwa akulturasi adalah proses yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing yang berbeda sedemikian rupa, sehingga unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaa sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri. Hal penting yang harus diperhatikan dalam proses akulturasi adalah: 1. Keadaan masyarakat penerima sebelum proses akulturasi mulai berjalan. 2. Individu-individu dari kebudayaan asing yang membawa unsur-unsur kebudayaan asing. 3. Saluran-saluran yang dilalui oleh unsur-unsur kebudayaan asing untuk masuk ke dalam kebudayaan penerima. 4. Bagian-bagian dari masyarkat penerima yang terkena pengaruh unsurunsur kebudayaan asing tadi. 5. Reaksi para individu yang terkena unsur-unsur kebudayaan asing.

f. Asimilasi Asimilasi adalah pembudayaan lewat proses peleburan dari satu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Faktor-faktor yang memudahkan
asimilasi:

1. Faktor toleransi. 2. Faktor adanya kemungkinan yang sama dalam bidang ekonomi. 3. Faktor adanya simpati terhadap kebudayaan yang lain.

4. Faktor perkawinan campuran.

Proses pembudayaan di Indonesia


Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terdiri dari berbagi macam suku. Sehingga, didalamnya terkandung budaya suku/budaya daerah, budaya lokal, dan budaya nasional. Kebudayaan suku/kebudayaan daerah wilayah kebudayaannya luas didalamnya masih ditemukan budaya lokal. Kekhasan tersebut meliputi kebahasaan, adat-istiadat, norma-norma, dan nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat. Kebudayaan nasional Indonesia mengacu pada kebudayaan Timur yang harus mementingkan kerohanian, perasaan, gotong royong,yang berbeda dengan budaya Barat yang mengutamakan materi, intelektualisme, dan individualism. Rumusan budaya nasional mengandung 2 hal penting, yaitu budaya yang berakar pada puncak budaya daerah dan budaya yang didasari semangat kreatif dan dinamis. Dari kecil anak telah diperkenalkan tentang budaya lokal, setelah itu diperkenalkan tentang kebudayaan nasional. Pemahaman tentang budaya nasional dengan baik, akan dapat sebagai filter untuk menghadapi budaya global. Budaya global sudah mempengaruhi semua aspek kehidupan. Budaya global merupakan budaya kompetisi yang menggunakan standar kualitas internasional. Mencuatnya globalisasi berdampak terhadap manifestasi kebudayaan bangsa-bangsa sebagai kelanjutan meningkatnya pertemuan antar budaya sedunia. Namun, saling pengaruh mempengaruhi cenderung berlangsung satu arah. Dalam pertemuan antar budaya global, pihak yang didukung teknologi tinggi lebih berfungsi sebagai pengalih (transmitter)nilai-nilai, norma-norma dsb. Sedangkan, Negara yang penguasaan teknologinya belum maju cenderung sebagai penerima (receiver). Budaya global sulit diimbangi oleh budaya daerah, sehingga cenderung mengorbankan budaya daerah karena budaya global didukung oleh modal yang kuat serta teknologi yang tinggi.

Budaya lokal yang seharusnya menjadi acuan sulit untuk diinternalisasi sejak dini, karena kuatnya produk-produk budaya global. Akibatnya fungsi budaya local sebagai tempat mengalami internalisasi nilai-nilai budaya bangsa menjadi terhambat bahkan ada yang sulit dilakukan. Globalisasi merupakan gejala yang sulit dihindari. Kebudayaan global telah menekan budaya lokal, sehingga terjadi perubahan struktur dari lokal-nasional-global menjadi lokal-global. Antara local-global akan seimbang, apabila budaya local terusdiinternalisasi melalui keluarga dan pemerintah turun tangan dengan modal dan teknologi sebagai sarana internalisasi budaya lokal Indonesia.