Anda di halaman 1dari 9

MELATIH JANGKRIK JLITHENG:

SUATU PENDEKATAN BIO-SPIRITUAL DALAM SEKSUALITAS BAGI KEBAHAGIAAN SUAMI-ISTERI 1 1. Pendahuluan Pembicaraan tentang seks secara terbuka seperti ini dalam tradisi Jawa sampai sekarang masih tabu, sehingga jarang sekali ada orang yang berani membuka tabir rahasia ilmu pengetahuan tentang seksualitas asli Jawa. Saudara Jalu Suwangsa (JS) adalah salah satu dari sedikit Jawa yang memberanikan diri membuka rahasia tentang seksualitas Jawa karena merasa sayang (eman-eman) terhadap warisan leluhur yang amat bermanfaat ini. Di samping itu ia merasa bahwa kita sudah ketinggalan jauh dari orang-orang luar negeri (China dan India) yang telah sejak lama mengekspos rahasia seks. Namun JS tidak ingin seperti orang-orang Barat yang mengobral seks secara liberal, vulgar, dan sama sekali tidak bersifat mendidik. Di sini, Jalu Suwangsa mencoba membuka rahasia tsb (sebagai suatu sharing) dengan segala kehati-hatian dan sikap selektif karena niatnya adalah untuk men- share-kan harta karun tentang seks dalam rangka pendidikan. Ini nampak pada: pertama, penulis menempatkan obrolan ini dalam konteks hidup berkeluarga yang positif-konstruktif; kedua, obrolan ini disertai rambu-rambu peringatan (wewarah dan prinsip) yang harus diperhatikan oleh para pembaca. Jadi, buku ini tidak berorientasi pada hedonisme seperti menjadi trend kebebasan seks di Barat, melainkan pada pemanfaatan potensi seks secara optimal dalam jalurnya yang benar. JS mengakui bahwa ia bukan ahli di bidang sexology. Ia adalah praktisi/penghayat seks yang berasal dari kalangan pidak pejarakan (orang kecil). Sebagai penghayat JS tidak mau tanggung-tanggung, melainkan mengusahakan penghayatan yang maksimal di dalam wadah yang tepat, yaitu perkawinan. Dan itu dibenarkan, bahkan suci, diberkati dan direstui Allah Sang Pemberi. Dalam membedah buku ini saya tidak seperti dokter yang membedah orang sakit jantung atau ginjal, melainkan seperti penyembelih kambing atau sapi. Yang dilakukan adalah membuka seluruh bagiannya, lalu mengambil yang bisa dimanfaatkan dan membuang yang tidak bermanfaat. Yang bisa dimanfaatkanpun dipilah-pilah antara bagian-bagian yang utama yang harganya tinggi dan yang harganya lebih rendah. Begitu pula dalam membedah buku ini saya akan membuka seluruh bagian dan kemudian memfokuskan diri pada bagian utama (inti) dan mengkritisi (memberikan catatan) terhadap bagian-bagian tertentu.

2. Format Buku
1

Disajikan oleh Drs. Y.B. Adimassana, M.A. dalam rangka Bedah Buku Jangkrik Jlitheng hasil karya Jalu Suwangsa yang diselenggarakan oleh Program Studi PBSID, FKIP, USD, pada tanggal 29 September 2007 di LPPM, Kampus II, USD.

Buku ini merupakan buku kecik (buku kecil) karena ukuran kertasnya memang kecil, yaitu: 11x18,5 cm2, tebal: 124 halaman, dengan soft cover. Judul selengkapnya adalah:

Bacaan Laki-laki Dewasa JANGKRIK JLITHENG (ora kaya-kayaa, jebul dudu apa-apa)

Jalu Suwangsa Penerbit: Kepel Press Kota Penerbitan: Yogyakarta Tahun terbit (cetakan pertama): 2005

Format seperti ini mencerminkan bahwa buku ini memang bukan bacaan yang berat. Ini dikuatkan dengan bahasa yang digunakan yang bersifat ilmiah populer. Namun hal ini bukan indikasi bahwa buku ini murahan. Para pembaca yang telah membaca buku ini dengan baik kiranya akan menyetujui bahwa buku ini berbobot. Bobot buku ini lebih-lebih didukung oleh sumber literatur yang berbobot, tradisi Jawa, dan pengalaman JS sendiri. Pemikiran-pemikiran dari berbagai sumber tersebut berhasil disusun secara sistematis oleh JS sehingga menghasilkan karya tulis yang runtut dan mudah dipahami, setidaknya bagi masyarakat Jawa. Banyaknya katakata dari bahasa Jawa barangkali menyulitkan pembaca yang tidak memahami bahasa Jawa untuk bisa merasakan nikmatnya membaca buku kecik ini. 3. Isi Buku Komentar atas Jangkrik Jlitheng (T. Priyo Widiyanto, Ign. Sandiwan Suharso, Hari Purnomo, Ign. Aris Dwiatmoko, YB. Adimassana). Pengantar: Rm. Al. Purwahadiwardoyo, MSF (pakar moral), Setya Tri Nugraha (Pembimbing Sastra) Daftar Isi Bab 1: Pendahuluan Bab 2: Memelihara dan Melatih Jangkrik 2

Dalam Bab 2 ini diberikan ceritera tentang jangkrik sebagai metafora untuk penis. Namun perbandingan jangkrik dan penis tidak seluruhnya bersifat paralel. Perbandingan tersebut lebih dimaksudkan untuk mencapai kesimpulan bahwa sebagaimana jangkrik perlu dipelihara dan dilatih agar perkasa dan menang dalam bertarung, begitupun penis perlu dipelihara dan dilatih agar bisa perkasa dan menang dalam bersanggama dengan pasangan. Jangkrik Perlu pemeliharaan: kandang dan makanan Perlu dilatih: - Dikileni (digelitik agar terangsang) - Diclekidhur (diberi mantra) - Dijantur (diputar-putas dan ditiupi) Bab 3: Wewarah Penis Perlu pemeliharaan: kesehatan dan gisi makanan Perlu dilatih

Wewarah Kapisan: Prinsip Kesatu Apa mau diadu atau tidak? Kalau mau diadu harus dilatih supaya menang. Wewarah Kapindho: Prinsip Kedua Laki-laki itu guru laki, harus yang memimpin dan membimbing dalam bersanggama. Perempuan boleh mengimbangi aktif tetapi kendali ada pada laki-laki. Sanggama itu diberkati dikehendaki Allah. Wewarah Katelu: Prinsip Ketiga 1. Sumber kekuatan penis dalam ereksi tidak semata-mata pada kekuatan fisiknya, pada besar dan panjangnya. Kekuatan penis terutama bersumber pada energi dari air mani, wiji suci, sperma yang tersedia. Mani yang sehat dan penuh daya itu yang seperti apa? Jawabnya adalah Harus tidak cepat keluar . Jadi, keperkasaan laki-laki terletak pada ketahanan penisnya. 2. Perempuan tidak untuk dikalahkan. Sanggama itu bertujuan untuk persatuan dalam cinta (unifikasi). Kalau tidak perkasa karena penyakit, usia, dll tak apa-apa. Hal itu bisa disempurnakan dengan cinta (yang non-seksual). Wewarah Kapat: Prinsip Keempat Mani itu suci, maka harus dikeluarkan dalam sanggama yang suci (untuk unifikasi atau prokreasi). Mani yang keluar sia-sia bisa menjadi thuyul. Ini disimpulkan dari ceritera pewayangan tentang Kama dadi dan Kama wurung . Penyalagunaan hasil latihan akan merendahkan martabat manusia. Wewarah Kalima: Prinsip Kelima Kesetiaan dengan pasangan akan membuahkan kesejatian (cinta/hidup).

Bab 3: Memelihara dan Melatih Penis 3

- Memelihara Penis - Melatih Penis Bagian I

Latihan ke-1: Nginjen Wong Adus (sekarang yang paling gampang adalah nonton gambar atau film porno) Latihan ke-2: Buka Caping (dengan disunat atau dengan dicelekke dibuka kulupnya) Latihan ke-3: Dielus-elus dan dipijeti (agar bisa berfungsi dan peka/reaktif) Latihan ke-4: Dikocok Dhewe dan atau Dikocok Wong Liya (idem tapi bukan untuk masturbasi, melainkan justru harus tidak sampai ejakulasi) Bagian II

Latihan ke-5: Serot, Serot, Serot Bagian ini adalah bagian paling inti dalam buku ini. Mani itu mempunyai daya (oleh adanya sperma dan hormon) yang membuat penis bisa ereksi dan ejakulasi. Daya mani bisa dikendalikan dan harus dikendalikan. Saat ereksi sperma masih berada di buah pelir. Lalu berjalan/mengalir menuju ke saluran di antara buah pelir dan anus (wilayah kundalini) ini tentu saja setelah bercampur dengan mani di prostata. Penulis tidak menunjukkan proses ini. Keberadaan mani di wilayah kundalini ini menghangatkan dan memperkeras batang penis. Makin panas daya mani akan makin menekan ke atas (depan ke arah ujung penis), lalu akan terjadi ejakulasi jika tekanan tidak lagi terbendung. Untuk mengurangi tekanan tersebut daya mani perlu disedot/diserot dan disalurkan ke atas, sehingga tidak cepat terpancar ke luar. Teknik atau caranya adalah dengan memberdayakan Tiga Satria secara sinergis, yaitu daya cipta (yang di depan memimpin); daya mani (yang di tengah); daya napas (yang di belakang sebagai pendorong). Menjelang titih didih (puncak), proses sanggama distop atau diperlambat dulu, kemudian tarik nafas kuat-kuat lewat hidung, tenggorokan, paru-paru, lalu ke perut bagian bawah. Mani harus (dan dapat) ditahan dengan konsentrasi penuh (nenging cipta), dan ditarik ke posisi awal dengan disedot ke belakang (ke wilayah kundalini). Penyedotan diteruskan dengan menarik daya mani tersebut ke atas melewati tulang belakang hingga sampai ke kepala (ubun-ubun). Otot-otot sekitar alat kelamin ditarik ke atas dengan menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian energi dan kendali diletakkan di kepala. Konsentrasi tidak pada penis melainkan pada pusat kesadaran di kepala kita, sehingga mau lama atau cepat tergantung pada kehendak-sadar kita. Dalam hal ini energi (daya mani) mengikuti titik konsentrasi cipta kita. Hormon atau daya mani akan berjalan selaras dengan arah konsentrasi cipta kita.

CIPTA NAFAS

DAYA MANI

Latihan ke-6: Adus Banyu Sewindu Daya mani bisa diturunkan lagi dengan cara memadal lidah ke langitlangit mulut. Daya mani akan memancar bagai air shower ke bawah, ke seluruh tubuh. Seluruh organ bagai dibasuh dengan banyu sewindu, air segar dan jernih yang luar biasa sensasinya. Rasanya manis sekali. Jadi, latihan ini merupakan bagian dari olah penyedotan. Penyedotan sulit dilakukan jika mani sudah mendidih. Latihan penyedotan justru bisa dilakukan pada saat daya mani masih dingin (penis belum ereksi). Terbukanya saluran ke atas dan naiknya daya mani dapat dirasakan dengan adanya vibrasi (getaran) yang merambat ke atas dari silit kodok (wilayah kundalini) ke ubun-ubun.

Latihan ke-7: Aja Wedi Gluprut Jangan takut kotor. Maksudnya jangan takut gagal dalam berlatih. Jangan mundur jika gagal. Kegagalan biasanya terjadi jika saluran tulang punggung belum terbuka, sehingga penyaluran energi lewat saluran pada ruas-ruas tulang belakang tidak lancar. Latihan ini bisa mempunyai efek lecet pada silit kodok, pening, dan cengeng pada leher atau pundak. Jika demikian, maka perlu istirahat dan memeriksa kesehatan tubuh.

Latihan ke-8: Mbukak Lurung Ini adalah teknik atau cara membuka saluran tulang belakang menuju ubun-ubun. - Cara Alamiah: gerak fisik yang secara ritmik menggerakkan tulang punggung (seperti pada tukang pandhe, petani, penambang, penebang pohon, buruh gendhong, pengayuh becak, mungkin juga olahragawan, dll). Tetapi hal ini merupakan potensi yang masih perlu diolah. - Kebatinan (olah kanoragan): dengan berpuasa membulatkan niat atau tekad batin. Tiga unsur berpadu: api (energi) niat yang terkonsentrasi secara bulat mantram (doa permohonan kepada Tuhan). - Bersujud: saluran dibuka dengan latihan pernafasan dan meditasi, misalnya meditasi 8 langkah sujud. - Gulingan: berguling-guling disertai pengucapan mantram. - Ditotok atau Dipijat: ditotok atau dipijat pada titik tertentu pada bagian tubuh.

Latihan Kesembilan: Dibundheli, yakni mengikat buah pelir pada tubuh (bdk dengan menjantur jangkrik dengan tali). Latihan Kesepuluh: Ngalong, yakni menggantung di palang besi (rengen) dengan posisi tubuh terjungkir seperti kalong atau kelelawar. Ini bisa juga dilakukan dengan tubuh berdiri terjungkir dengan kepala di lantai atau pundak di lantai dan kaki di atas. Bagian III Latihan Kesebelas: Aja Digege, maksudnya jangan ingin cepat berhasil. Keberhasilan dalam hal ini butuh proses latihan yang harus dijalani secara tekun. Latihan Keduabelas: Simbok ora bakal tega, maksudnya jangan khawatir jika gagal terus. Siswa yang bodoh lebih dikasihi Sang Buddha. Anak cacat lebih dikasihi sang bunda.

Bab 5: Petunjuk Penting Petunjuk Kesatu: Aja Diadu Terus Nek Kalah Terus (Apakah kalau menangan lalu boleh diadu terus? Dengan siapapun?) Dari kegiatan Marriage Encounter yang diselenggarakan oleh almarhum Rm. Gieles, SJ dikatakan bahwa salah satu persoalan suami-isteri dalam berkeluarga adalah suami terlalu cepat ejakulasi alias editansil (ejakulasi dini tanpa hasil). Ukuran ejakulasi dini adalah ejakulasi kurang dari 3 menit setelah penetrasi (Ensiklopedia of Love and Sex). Petunjuk Kedua: Aja Terus Digodog! Maksudnya jangan langsung di-gas, melainkan perlu foreplay yang lama. Petunjuk Ketiga: Mak Jethut. Ini adalah bunyi ketika laki-laki mencapai orgasme. Benarkah pasti begitu? Petunjuk Keempat: Wis Isa Njoged, Njogeda! Jika sudah bisa menari, menarilah! Maksudnya jika sudah bisa tahan lama, bermainlah sesukahatimu. Petunjuk Kelima: Nggunakna Mantram Pengasihan! Penggunaan mantram beriut ini, yang diucapkan ketika menarik nafas dalam-dalam sebelum permainan dimulai dapat membantu konsentrasi (pemusatan perhatian) yang berefek pada tercapainya konsentrasi energi. Ingsun wahananing Lanang Jaya Apengawak satriya Dananjaya Panusmaning Sang Hyang Asmara Animpuna saliring Asmaragama Warata kalawan kodratingsun Aku ini perwujudan Lelaki Perkasa Seperti satria Dananjaya (Arjuna) Titisan Sang Hyang Asmara Ahli (mumpuni) dalam bermain asmara Meresapi seluruh kodratku

Petunjuk Keenam: Aja Nganti Edan! Awas jangan menjadi gila. Ilmu tentang seks ini bukan untuk main-main. Agama kita mengatakan Itu dosa. Dan konsekuensi dosa adalah maut (neraka) atau kebinasaan/kesia-siaan. Kok bisa begitu? Ada ajaran Jangan membuktikan buruknya perbuatan jahat dengan melakukan kejahata. Jangan membuktikan buruknya dosa dengan mencoba melakukan dosa (Menninger, 1993).

Bab 6: Penutup Pustaka Biodata 4. Mendobrak tabu Menurut etika (kepantasan) Jawa, obrolan seperti ini paling cocok dilakukan pada tengah malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon dan yang hadir adalah para laki-laki dewasa saja.

Wanita tidak boleh ikut mendengarkan obrolan seperti ini. Hukumnya tabu karena kaum wanita bukanlah yang harus menjadi guru laki, melainkan tinggal menerima hasil yang sudah jadi. Yang merupakan guru laki adalah laki-laki. Penulis mencoba mendobrak tabu tentang seks, namun berusaha tetap berada di jalur yang benar/baik: disertai wewarah dan petunjuk, tidak vulgar, liberal, dan hedonis. Sikap blakblakan JS masih dalam batas-batas etika. Memang penggunaan bahasa lebih blak-blakan. 5. Tiga Satria Tiga satria yang dimaksud adalah budi (cipta) daya mani nafas. Budi adalah pusat eksistensi dalam diri manusia yang memimpin dan melaksanakan komando terhadap seluruh aktivitas yang dilakukan. Di situ terdapat cahaya roh. Jadi, budi itu manifestasi roh/spirit. Dari sinilah spiritualitas Jawa dikembangkan. Melalui cahaya budi yang terkonsentrasi dan dibantu dengan kekuatan nafas (pasokan oksigen) manusia bisa membangun/mengaktifkan sentra-sentra energi dalam dirinya dan memberdayakannya untuk tujuan yang hendak ia capai. Ilmu tentang seks seperti dipaparkan oleh JS ini ditabukan karena mudah disalahgunakan untuk tujuan yang tidak suci. 6. Hubungan seks itu bukan sekedar aktivitas biologis Sanggama itu bukan sekedar aktivitas yang hanya melibatkan aspek biologis, melainkan melibatkan juga aspek psikologis (tekad, niat) dan spiritual (kekuatan rohani yang mengarah ke yang benar/suci). Latihan-latihan yang diberikan di sini dimaksudkan untuk mengintegrasikan 3 aspek tsb. Kompetensi/keperkasaan/kecerdasan di bidang seksual memerlukan proses belajar dengan berlatih (perlukah ada pelatihan?), bukan sesuatu yang given atau bisa langsung dimiliki. Laki-laki secara kodrati memang dibekali kemampuan untuk ereksi dan ejakulasi. Ketika sedang ereksi seolah-olah dirinya gagah perkasa (kaya-kayaa), namun setelah diuji dalam hubungan seks, baru bisa diketahui daya kemampuannya (kompetensi/keperkasaannya). Dan setelah ejakulasi ternyata habis sudah tenaganya. Laki-laki yang tidak terlatih pastilah akan KO dalam beberapa menit, bahkan ada yang hanya dalam hitungan detik sehingga sering dijuluki berpangkat peltu. Namun, berlatih tidak sama dengan bermain-main. Banyak orang sedari remaja telah bermain-main dengan seks, hasilnya justru kebalikannya. Seksualitas perlu dilandasi spiritualitas. Spiritualitas dalam bahasa yang sederhana berarti kesadaran. Hubungan seks perlu dilandasi kesadaran: pertama, kesadaran untuk memberdayakan dan mengendalikannya; kedua kesadaran tentang arah-tujuannya. Di sinilah kodrat bisa diwiradat. Wiradat dilakukan dengan menggunakan daya rohani (spirit) yaitu dengan kekuatan kesadaran. Artinya, mekanisme kodrat (biologis-psikologis) dalam diri kita dapat diarahkan/dikendalikan dengan kekuatan kesadaran. Semakin terkonsentrasi semakin kuat dayanya untuk mempengaruhi dan mengarahkan gerak kodrati dalam diri kita. Contoh konkret adalah kinerja pancaindera kita. Binatang mengenal musim kawin, yaitu waktu terbaik dalam tahun untuk survive bagi anak-anaknya. Manusia tidak mengenal musim kawin (sex is not a seasonal affairs p. 185). Binatang memilih pasangan tetapi perasaan mereka lain dengan kita. Make love (human activities= bercinta) berbeda dengan intercourse (hubungan seks), dan tidak sama dengan copulate (kawin biologis) (Ensiklopedia: 185). Dalam Ensiklopedia itu dikatakan juga bahwa sbb:

For man, making love involves imagination, sympathy, and sensitivity. It is both a giving and receiving of pleasure, a losing and finding of ones own identity. In exploring anothers physical body, a person may hope to find something of the soul (p. 185). The uniting of their bodies has , for a man and woman, a special emotional significance and is capable of satisfying not only their physical needs, but many other complex and interrelated human needs (p. 166).

7. Kesimpulan Dalam menjalani hidup ini kita mesti mengembangkan suatu spiritualitas, yaitu hidup yang dipimpin oleh spirit (roh) atau kesadaran diri yang mendalam. Nafsu adalah bagian dari hidup atau diri kita yang mesti tidak dibiarkan bergerak sendiri secara naluriah tanpa kendali kesadaran. Untuk bisa mengendalikannya kita harus mampu merasakan dan memusatkan kesadaran (perhatian) kita pada titik-titik energi dalam tubuh kita. Ada 8 titik cakra (cakram) yang merupakan sentra-sentra energi dalam tubuh kita, yang jika diolah, dilatih, dan dikontrol dapat menghasilkan kemampuan yang luar biasa seperti dikembangkan dalam behavioral kinesiology dan life energy (Teplitz, 1994). Namun manusia itu makhluk yang berkehendak bebas. Ia bisa membuat pilihan secara bebas. Ia dimungkinkan untuk memilih hal yang baik (positif) dan dimungkinkan pula memilih yang buruk (negative). Ia bisa mengarah ke Garden of Eden (Surga) dan bisa mengarah ke Purgatory (neraka) (Simmons, 1965, 91). Kemampuan yang ia miliki dapat digunakan untuk kebaikan dan dapat digunakan untuk kejahatan. Oleh sebab itu, setiap orang perlu mengembangkan satu dimensi yang lebih tinggi lagi yaitu dimensi iman (dan moral) yang memberi arah-pedoman bagi hidupnya. 8. Penutup Dalam faham Jawa ngelmu itu bukan sekedar teori yang jika orang sudah memahaminya dengan sendirinya telah menguasainya (telah mampu melaksanakannya). Ngelmu itu butuh laku (Ngelmu iku kelakone kanthi laku), artinya butuh latihan atau penerapan dalam pengalaman. Sebelum ada laku, tahu banyak tentang ngelmu sama saja belum punya apa-apa. Ini berlku pula untuk ilmu-ilmu yang lain. Ilmu yang ditunjukkan oleh JS dalam buku kecik ini adalah alami, murah, tanpa beaya, namun butuh laku (latihan), tanpa itu belum berarti telah menguasainya. Daftar Pustaka: Encyclopedia of Love and Sex, (1972), a comprehensive guide to the physiology of sex, the art of loving, and the psychology of love, New York: Crescent Books. Gilarso, T, SJ, (1993), Moral Keluarga (bahan Week-End Moral), Yogyakarta: USD. -----------------, (1996), Membangun Keluarga Kristiani, Yogyakarta: Kanisius. Go, Piet, O.Carm., (1985), Seksualitas dan Perkawinan, Malang: STFT Widya Sasana. Hadiwardoyo, Al. Purwo, MSF, (1990), Moral dan Masalahnya, Yogyakarta: Kanisius. Menninger, Karl, (1973), Whatever Became of Sin?, New York: Hawthorn Books,Inc. Simmons, Charles M., (1965), Yotu Subconscious Power: How to Make It Work for You, Hollywood: Melvin Powers. Teplitz JD, Jerry V, Ph.D, (1994), Switched-On Living: Easy Ways to use the Mind/Body Connection to Energize Your Life, Norfolk: Hamton Roads.