Anda di halaman 1dari 9

1

PERBAIKAN TANAMAN MELALUI KULTUR IN VITRO

Oleh
ENDANG GATI LESTARI, MSi
BALITBIOGEN
BOGOR
Bioteknologi merupakan sarana untuk mendukung program perbaikan genetic
tanaman terutama dalam pemecahan masalah yang tidak bisa atau sulit dilakukan secara
konvensional. Untuk mendukung keberhasilan pertanian saat ini penggunaan varietas
unggul merupakan kebutuhan utama, Mengingat saat ini lahan potensial sangat terbatas
sehingga ekstensifikasi diarahkan untuk lahan-lahan marginal contohnya: lahan masam,
lahan dengan kadar Al dan Mn tinggi, tanah dengan kadar garam tinggi, lahan kering
dan lahan dengan naungan
Keterbatasan varietas unggul yang mempunyai sifat seperti produksi tinggi, serta
tahan terhadap lingkungan abiotik (lahan masam, lahan kering) dan cekaman abiotic
( penyakit tertentu) merupakan masalah utama saat ini yang harus diperhatikan.
Pemuliaan tanaman secara konvensional pada tanaman buah atau tanaman
perkebunan berkayu pada umumnya mengalami kendala, terutama untuk meningkatkan
keragaman genetic karena system reproduksinya (apomiksis, partenokarpie,
polyembrioni) dan ketiadaan sifat yang diinginkan, disamping itu adanya kesulitan
dalam seleksi karena panjangnya masa juvenil tanaman (Witjaksono, 2003).
Perbaikan tanaman melalui kultur in vitro telah dilakukan sejak lama dan telah
menghasilakan varietas baru dengan sifat uggul seperti warna, aroma dan bentuk yang
lebih baik atau sifat ketahanannya terhadap penyakit atau terhadap cekaman abiotik
lebih maningkat.
Keuntungan perbaikan tanaman melalui kultur in vitro antara lain:
1. Kemungkinan melakukan seleksi pada tingkat sel (kultur sel, kultur protoplasma)
2. Mempercepat didapatnya tanaman homosigot (kultur anter)
2

3. Kemungkinan melakukan hibridissi jarak jauh dan tanaman yang secara seksual
inkompatibel (fusi protoplasma)
4. Kemungkinan menambahkan atau memodifikasikan gen khusus ( transforasi
gen)
5. Kemungkinan memperbaiki sifat dari tanaman yang steril atau sukar
menghasilkan bunga (kultur sel, kultur protoplasma) (Wattimena, l992)
Kendala dalam pelaksanaannya antara lain memerlukan ketelitian serta memerlukan
seleksi/uji coba berulang.

Beberapa metoda yang dapat digunakan adalah: Embrio rescue, kultur anter, fusi
protoplas, keragaman somaklonal, seleksi in vitro dan transformasi gen.

PENYELAMATAN EMBRIO (EMBRIO RESCUE)


Persilangan F1 yang gugur embrionya dan tidak terbentuk biji yang disebabkan
oleh sifat inkompatibilitas seksual yang terjadi pada silangan yang berkerabat jauh
contohnya persilangan antara
Vanilla planifolia x Vanilla alba ( sp budidaya & dan liar)
Oryza sativa x kerabat liar
Arachys hipogea x A. glabrata
Embrio dapat diselamatkan dengan mengkulturkan embrio tersebut pada media aseptic,
media ini yang menggantikan fungsi endosperm, yang perlu diperhatikan untuk
keberhasilan embrio rescue adalah: mendapatkan embrio yang utuh dan komposisi
media yang tepat.
Tujuan dari persilangan jarak jauh adalah untuk:
Mendapatkan tanaman yang resisten terhadap penyakti, hama dan kekeringan,
suhu tinggi, suhu rendah, toleransi terhadap garam atau Al tinggi dan tertua donor yang
berasal dari tetua liar.
3

KULTUR ANTER
Tujuan kultur anter adalah untuk mendapatkan tanaman haploid (tanaman yang
mempunyai jumlah kromosom yang sama (N), yang unggul yang dapat dipergunakan
untuk menghasilkan kultivar baru atau hibrida F1.
Keuntungan dan kegunaan dari tanaman haploid adalah sebagai berikut;
1. Semua sifat dapat ditampilkan pada keadaan monohaploid baik sifat dominan
maupun resesif.
2. Seleksi pada tingkat haploid (mono dan dihaploid) jauh lebih mudah
dibandingkan pada tingkat ploidi yang lebih tinggi
3. Penggandaan dari tanaman monohaploid akan menghasilkan tanaman dihaploid
yang homozygot. Penggandaan berikutnya akan menghasilkan tanaman
tetraploid yang homozygot.
4. Hibridisasi seksual antara tetraploid dan diploid akan menghasilkan tanaman
triploid, demikian pula dengan hibridisasi somatic antara monohapolid dan
diploid.
FUSI PROTOPLAST
Fusi protoplasma merupakan suatu proses alamiah yang terdapat dari mulai
tanaman tingkat rendah sampai pada tanaman tingkat tinggi. Hibridisasi somatik melalui
fusi protoplas digunakan untuk menggabungkan sifat lain dua spesies atau genus yang
tidak dapat digabungkan secara seksual ataupun aseksual. Pada tanaman jeruk, potensi
hibridisasi ini dapat dikembangkan karena sistem regenerasinya telah mantap (Groser
dan Gmitter, l990).
Pada tanaman jeruk, hibridisasi somatic telah dilakukan secara rutin untuk
menggabungkan varietas, spesies dan genus jeruk dengan tujuan untuk pemuliaan batang
bawah, batang atas maupun perakitan varietas tanpa biji (triploid) (Groser dan Gmitter,
l990).
Pada tanaman terong hibridisasi somatic telah berhasil didapatkan tanaman yang
resisten terhadap penyakit layu bakteri , pada penelitian tersebut berhasil difusikan S
melongena dengan S aethiopicum (tanaman budidaya dan liar) dan didapatkan tanaman
hybrid yang membawa sifat ketahanan dari S aethiopicum (Mariska et al, 2001).
4

Tujuan fusi protoplas adalah untuk mendapatkan suatu hibrida somatic atau
sibrida atau mengatasi kelemahan dari hibrida seksual. Terdapat dua kelemahan dari
hibrida seksual yaitu;
1. Sukar untuk mendapatkan suatu hibrida antar spesies dan antar genera.
Hibridisasi somatic dapat mengatasi hal tersebut.
2. Sitoplasma pada perkawinan seksual hanya berasal dari tetua betina saja.
Dalam proses pembuahan, gamet jantan hanya membawa inti saja dengan sedikit
sitoplasma sebaliknya pada tetua betina selain inti juga sitoplasma. Untuk mendapat
sitoplasma dari kedua tetua diadakan fusi antara sitoplasma dengan protoplasma.

KERAGAMAN SOMAKLONAL
Perbaikan tanaman melalui keragaman somaklonal terdiri dari kultur protoplas,
kultur sel, kultur kalus dan regenerasi langsung. Salah satu factor yang penting untuk
mencapai keberhasilan dalam pemuliaan tanaman secara bioteknologi adalah
dikuasainya system regenerasi.
Peningkatan keragaman somaklonal diperlukan untuk mendapatkan varietas
unggul pada tanaman yang tidak mempunyai cukup banyak gen untuk sifat-sifat
penting seperti ketahanan terhadap hama dan penyakit, toleransi kekeringan dan salinitas
(Brar, l991). Keragaman genetik yang tinggi merupakan salah satu faktor yang
menentukan dalam keberhasilan pada program pemuliaan.
Pemuliaan tanaman dengan induksi mutasi yang bertujuan untuk perbaikan
tanaman telah lama dilakukan dan banyak digunakan untuk menciptakan varietas
unggul dengan penampakan yang baru baik bentuk atau warna yang lebih menarik.
Keragaman somaklonal adalah keragaman genetik dari tanaman yang dihasilkan
melalui kultur jaringan atau sel (Ahlowalia, l986). Keragaman somaklonal disebabkan
oleh beberapa hal antara lain: (1) penggandaan jumlah kromosom, (2) perubahan
struktur kromosom, (3) pindah silang somatik atau perubahan sister kromatid, (4)
amplifikasi dan delesi gen, (5) partikel loncat, dan (6) perubahan kariotip
5

Mutasi atau perubahan karakter yang diwariskan dapat terbentuk pada fase sel
maupun kalus pada tahap kultur in vitro atau pada eksplan karena adanya sel-sel
bermutan pada jaringan tertentu.
Kultur in vitro merupakan salah satu teknik yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan keragaman gentik tanaman, antara lain dengan keragaman somaklonal
(Pedrieri, 2001). Menurut Ahlowalia (1986), perubahan genetik dapat terjadi selama
periode kultur in vitro atau karena adanya sel-sel yang mengalami mutasi.
Pada tanaman nilam, dengan radiasi kalus dapat meningkatkan variabilitas
genetik karakter morfologi dan kandungan minyak Mariska et al., (1997). Di China
dan Korea kombinasi kultur in vitro dengan mutagen fisik merupakan salah satu
program yang diprioritaskan untuk dikembangkan (Yunchang and Liang, l997 dan Yi
and Li, l997), perlakuan kombinasi antara kultur in vitro dan mutagen fisik lebih efektif
dan lebih efisien dibandingkan perlakuan tunggal.
Demikian pula pada panili, radiasi kecambah struktur globular dan torpil serta
dapat menghasilkan somaklon dan beberapa nomor menunjukkan lebih tahan terhadap
penyakit (Mariska dan Hobir, l998), somaklon hasil radiasi menampakkan keragaman
yang tinggi (Mariska et al, l998). Pada kedelai varietas Wilis, radiasi 400 rad dapat
meningkatkan jumlah benih somatik pada setiap tingkat konsentrasi Al. disamping itu
kapasitas regenerasinya lebih tinggi dibandingkan Sindoro dan Slamet (Mariska et al,
2000). Nagatomi (l996) mendapatkan tanaman yang tahan terhadap penyakit Puccinia
melano pada tanaman tebu dari hasil mutasi dengan kultur in vitro kombinasi dengan
radiasi.
Seleksi in vitro

Mutasi secara alami terjadinya sangat lambat, mutasi spontan pada sel somatik
hanya berkisar 0,2 - 3%, sehingga induksi mutasi buatan merupakan cara yang cepat
untuk meningkatkan variabilitas pada spesies (Malusynski et al, l995). Keragaman
tersebut dapat ditingkatkan dengan pemberian mutagen baik fisik maupun kimiawi.
Induksi mutasi di dalam kultur in vitro merupakan metode yang paling efektif terutama
pada tanaman yang diperbanyak secara vegetatif, untuk tujuan perbaikan tanaman
(Novak, l991 dalam Malusynski et al, l995).
6

Seleksi in vitro merupakan salah satu metoda dari variasi somaklonal, cara
tersebut lebih efektif dan efisien karena perubahan lebih terarah kepada penyaringan
sifat yang diinginkan. Pada berbagai tanaman, seleksi in vitro telah terbukti dapat
menghasilkan varietas baru yang tahan penyakit dan sifat tersebut diwariskan pada
keturunannya (Van den Bulk, l991).
Seleksi in vitro terhadap sel-sel yang memperlihatkan toleransi yang meningkat
terhadap cekaman air telah dilaporkan pada tanaman Vigna radiata L. Capsicum annum
dan Brassica juncea. Seleksi in vitro untuk ketahanan kekeringan telah dilakukan pada
tembakau (Nicotiana tabacum), tomat (Lycopersicon esculentum. Mull), Citrus spp dan
Chery (Tschaplinski et al, l995).
Manfaat menggunakan kultur in vitro antara lain: (1) dapat diperoleh populasi
yang seragam, (2) pengaruh lingkungan dapat dibatasi, begitu pula musim. (3)
memungkinkan adanya respon dari sel yang terpisah dari tanaman utuh. Sedangkan
kekurangannya antara lain: (1) respon tertentu hanya akan didapatkan pada kalus yang
dapat diregenerasikan (2) respon ketahanan dapat diperoleh apabila laju
diferensiasinya tinggi.
Selain berperan dalam meningkatkan ketahanan terhadap faktor abiotik, seleksi
in vitro juga dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan terhadap faktor biotik,
antara lain pada tanaman padi untuk ketahanan terhadap Xanthomonas oryzae dan
Helminthosporium oryzae serta pada tanaman terong untuk ketahanan terhadap
Verticillium dahliae
Beberapa variasi sifat yang dihasilkan antara lain: tanaman memendek, masak
lebih awal, tahan terhadap penyakit. Beberapa varietas baru hasil mutasi antara lain pada
pisang (Mak et al, l996) apokat (Berg and Lahav, l996).
Untuk mendapatkan sifat ketahanan terhadap penyakti layu Fusarium umumnya
seleksi dilakukan terhadap massa sel, jaringan atau tunas yang telah diberi perlakuan
keragaman somaklonal dan dikulturkan pada media yang mengandung komponen
seleksi seperti toksin murni asam fusarat atau filtrat dari Fusarium. Melalui metode
tersebut telah dihasilkan tanaman yang tahan terhadap penyakit layu Fusarium antara
lain pada Carnation (Arai dan Takeuchi, l993), gandum (Fadel dan Wenzel, l993, Ahmed
7

et al, l996), pisang (Morpurgo et al, l994 dan Matsumoto et al, l995), panili (Mariska
et al, 2000) dan Abaka (Damayanti, 2002), Disamping itu dari beberapa hasil penelitian
tersebut diatas menunjukkan bahwa sifat ketahanan dapat diwariskan pada turunannya
Sebagai komponen seleksi untuk cekaman terhadap kekerigan dapat digunanakan
Polyethilene Glycol atau manitol. Dan untuk cekaman terhadap kemasaman dapat
digunakan Al dan pH rendah. Seleksi tanaman terhadap kekeringan telah dilakukan
pada tanaman tembakau, tomat dan Chery (Tchaplinski et al, l995) serta pada kedelai
(Widoretno, 2002).
TRANSFORMASI GENETIK

Transformasi genetik dilakukan untuk mengintegrasikan gene dalam bentuk


molekul DNA ke dalam sel tanaman untuk menghasilkan tanaman baru yang mampu
mengekspresikan gen tersebut.
Transformasi dilakukan apabila gen yang diperlukan tidak terdapat pada suatu
spesies tanaman tertentu dan memungkinkan untuk dapat diperoleh dari organisme lain
seperti bakteri, virus, binatang dan tanaman lain dan dipindahkan ke tanaman. Contoh
gen yang dapat dimanfaatkan untuk perbaikan tanaman melalui rekayasa genetic adalah
gen ketahanan terhadap cekaman lingkungan biotic maupun abiotik dan gen untuk
memodifikasi kualitas dari suatu produk tanaman. Namun saat ini penelitian
transformasi adalah untuk memproduksi tanaman yang tahan terhadap serangga.
Keberhasilan transformasi genetik tergantung dari kemampuan meregenerasikan
tanaman, dan optimasi sistem transformasinya (melalui Agrobacterium tumofaciens atau
penembakan partikel) dan pengemasan sediaan gene.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmed, K.Z., A. Mesterhazy, A . Bartok and F. Sagi . l996. In vitro techniques for
selecting wheat (Triticum aestivum L.) for Fusarium- resistance. II. Culture filtrat
technique and inheritance of Fusarium- resistance in somaclones. Euphytica 91:
341-349.

Ahlowalia, B.S. 1986. Limitations to the use of Somaclonal Variation in Crop


Improvement. P. 14-27. In. J. Serial (Ed.). Somaclonal variation and crop
improvement. Martinus Nijhoff Publisher. USA.
8

Arai, M., M. Takeuchi. l993. Influence of Fusarium wilt toxin (s) on carnation cells.
Plant Cell Tiss.and Org. Cult. 34: 287-293.

Brar, D. S. 1991. Wide Hybridization for Rice Improvement In IRRI. Male


Hybridization: wide Hybridization and related Breeding. Second Rice
Biotechnology Training Course 15 Oct- 27 Nov. Philippines.

Berg B.O and E. Lahav. Avocados. In: Janick J and MooreJ.N ( Eds.)Fruit breeding. Vol
Tree and Tropical Fruits. John Wiley and Sons, Inc. New York. Pp. 113 –166.

Damayanti, F. 2002. Seleksi in vitro untuk ketahanan terhadap penyakit layu fusarium
pada tanaman abaka (Musa textilis Nee.). Tesis Program Pasca Sarjana Institut
Pertanian Bogor. 47 hal.

Daud, M.E. 1986. Tissue culture and the selection of resistant to pathogens. Annual
review of phytopathology. 24:159-186.

Fadel, F., G. Wenzel . l993. In vitro selection for tolerance to Fusarium in F1


microspore population of wheat. Plant Breeding 110: 89-95

Karp.A. 1995. Somaklonal variation as a tool for crop improvement. Eupytica 85: 295-
302.

Mariska, I., M. Tombe dan D. Sukmadjaja. l998. Peningkatan keragaman genetic


tanaman panili hubungannya dengan ketahanan penyakit busuk batang panili.
Proc Seminar on Integrated Control on Main Disease of Industrial Crop. Balai
Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.

Mariska, I dan Hobir. l998. Peningkatan keragaman genetik tanaman melalui metode “in
vitro”. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian XVII(4) 115-121.

Mariska, I. M. Tombe, M. Kosmiatin, Hobir dan A.Husni. 2000. Seleksi silang Tunas
Panili secara in vitro dan Pengujiannya terhadap F. oxysporum. Laporan Hasil
Penelitian BALITBIO

Mariska, I. Hobir, K. Mulya, A. Husni, S. Rahayu. R. Purnamaningsih, M Kosmiatin dan


D. Sihachakr. 2001. Improvement of bacterial wilt resistance of eggplant through
protoplast fusion. Jurnal Litbang pertanian 20(1)

Maluszynski, M., B.S. Ahloowalia and B. Sigurbjornsson. 1995. Application of in vivo


and in vitro mutation techniques for crop improvement. Euphytica 85: 303-315.

Mak, C., Hi, YW, Tan, Y. Py Risli, l996. Navaria: A new banana mutant induced by
gamma irradiation. InfoMusa 5(1): 35-36.
9

Matsumoto K, M.L. Barbosa and L.A.C. Souza. l995. Race 1 fusarium wilt tolerance on
banana plants selected by fusaric acid. Euphytica 84: 67-71

Morpurgo R, Lopato S.V., R. Afza, F.J. Novak. l994. Selection parameters for resistance
to Fusarium oxysporum f. sp. cubense race 1 and race 4 on diploid banana (Musa
acuminata Colla). Euphytica 75:121-120.

Nagatomi.S. l996. A new approach of radiation breeding toward improvement of desease


resistance in crops. Makalah utama dalam Seminar Pengendalian penyakit
Utama Tanaman Industri Secara Terpadu. JICA-BALITRO. 13-14 Maret. Bogor.

Pedrieri. S. 2001. Mutation induction and tissue culture in improving fruits. Plant
Cell, Tissue and Organ Culture. 64: 185-210.

Tschaplinski, T.J., G M, Gebre, J.E. Dahl, G. T. Roberts and G.A. Tuskan. 1995. Growth
and Solute adjustment of calli of Poppulus clones cultures on nutrient medium
containing polyethylene glycol. Can. J. Res. Environmental 25: 1425 –1433.

Van den Bulk, R.W. 1991. Application of cell and tissue culture and in vitro selection for
disease resistance breeding-a review. Euphytica 56:269-285.

Wattimena. G.A. l992. Bioteknologi I Tanaman. PAU IPB. 309 hal.

Widoretno, W. 2002. Seleksi in vitro untuk toleransi terhadap cekaman kekeringan pada
kedelai (Glycine max (L) Merr) dan karakterisasi varian somaklonal yang
toleran. Disertasi Program Pascasarjana. IPB. 118 hal.

Witjaksono, 2003. Peran bioteknologi dalam pemuliaan tanaman buah tropika. Makalah
dalam Seminar Nasional Peran Bioteknologi dalam Pengembangan Buah
Tropika. Kementerian Riset dan Teknologi RI dan Pusat kajian Buah buahan
Tropika LP IPB. 9 Mei Bogor.

Yi and Le. 1997. Development of genetic resources by in vitro application of radiation.


Proc. Seminar on Mutation Breeding in Oil and Industrial Crops for Regional
Nuclear cooperation in Asia. RDA, STA, Most and JAIF. 12 – 18 Oct. Suwon,
Korea.

Yunchang, Li and Q. Liang. 1997. A review and prospect on mutation breeding of oil
crops in China. Proc. Seminar on Mutation Breeding in Oil and Industrial Crops
for Regional Nuclear Cooperation in Asia. RDA, STA, Most and JAIF. 12 – 18
Oct. Suwon, Korea.