Anda di halaman 1dari 41

KEJANG PADA NEONATUS

Blok Kesehatan Anak, 11 Mei 2010 [12]

mtsdarmawan

Pendahuluan
Bentuk kejang berbeda dg dewasa & anak sering tak terdeteksi. Terjadi karena kortex bayi belum matur

Definisi
Ggn thd fungsi neurologis seperti tingkah laku, motorik, atau fungsi otonom Kebanyakan timbul selama beberapa hari pertama Sebagian kecil alami kejang lanjutan dalam kehidupannya kelak. Timbulnya, sering merupakan gejala awal dari gangguan neurologi & dapat terjadi ggn kognitif & tum-bang Sering dijumpai & manifestasi klinis bervariasi.
3

Insiden
Di AS belum diketahui jelas + 80-120 tiap 100.000 neonatus /tahun 1,5-14 per 1000 kelahiran Di NICU meningkat s/d 25%.

Variasi manifestasi klinis


Tremor, hiperaktif, kejang, nistagmus Tiba-tiba menangis melengking Tonus otot hilang disertai (atau pun tidak) dg hilangnya kesadaran Involuntary movement Mata berkedip paroksismal Gerakan seperti mengunyah & menelan (fenomena oral & bukal) Apnea.

Variasi manifestasi klinis


Prinsip : setiap gerakan tidak biasa pada BBL yang berulang dan periodik, harus dipikirkan kemungkinan kejang.

Manifestasi Klinis

A. Kejang pada BBL


Kejang klonus & tonus jarang ditemukan pada BBL Letak perbedaan : neuro~anatomik, peran fisiologis, susunan pd berbagai tahapan perkembangan otak. Komplemen kortex neonatus relatif lengkap Sinap aksodendrit masih kurang & mielinisasi sel otak belum sempurna, terutama antara ke dua hemisfer kejang kortikal pada neonatus jarang terjadi Lobus temporalis & struktur kortikal
8

B. Hiperiritabilitas
Gerakan fokal setempat ujung tangan ~ gerakan otot muka. Gerakan bola mata, hanya memandang ke satu arah saja ~ gerakan mengisap terus menerus ~ gerakan mengunyah & menelan.

Hipoksia otak
Kejang berkepanjangan hipoksia otak. berbahaya bagi keselamatan, atau akibatkan sekuele (gejala sisa). Termasuk dalam kelompok ini ~ spasme yg dapat diakibatkan :
asfiksia neonatorum, hipoglikemia & ggn metabolik lain atau merupakan tanda meningitis atau masalah SSP.
10

Bagaimana kejang terjadi ?


Neuron SSP alami depolarisasi akibat masuknya K & repolarisasi timbul akibat keluarnya K. Kejang timbul bila terjadi depolarisasi berlebihan akibat arus listrik yang terusmenerus & berlebihan. Misal akibat demam tinggi Batas : melampaui ambang kejang : individual.
11

Volpe : 4 kemungkinan depolarisasi berlebihan


Gagalnya pompa Na K karena ggn produksi energi Selisih relatif antara neurotransmitter eksitasi & inhibisi Defisiensi relative neurotransmitter inhibisi dibanding eksitasi Perubahan membran neuron menyebabkan hambatan gerakan Na.

Tetapi, dasar mekanisme kejang pada neonatus masih belum dapat diketahui dengan jelas.
12

Etiologi
Trauma pasca lahir : asfiksia neonatorum ~ penyebab tersering. Timbul dalam 24 jam I Perdarahan otak Ggn metabolik : Hipoglikemia, hipokalsemia Hiponatremia, hipernatremia Kelainan metabolik lain seperti : akibatkan kejang resistan terhadap antikonvulsan. Ggn asam amino. Infeksi : virus, bakteri & nonbakteri. Tetanus, meningitis. Kelainan bawaan : anensefali, hidrosefalus.

13

Perdarahan otak
Dapat sbg akibat dari hipoksia atau trauma kepala di jalan lahir perdarahan subdural

14

Hipoglikomia
Sering timbul
dengan ggn pertumbuhan dlm kandungan dan bayi dari ibu DM

Saat antara hipoglikemia & pemberian pengobatan merupakan waktu timbulnya kejang.

15

Hipokalsemia
Sering pada BBLR, bayi dg ibu DM, bayi asfiksia, bayi dg ibu penderita hiperparatiroidisme.

16

Hipernatremia
Biasanya timbul bersamaan dg dehidrasi atau pemakaian bikarbonat berlebihan

17

Gangguan asam amino


Kejang pada bayi dg ggn asam amino sering disertai manifestasi neurologi. Hiperamonemia & asidosis sering timbul pada ggn asam amino.

18

Infeksi bakteri
Meningitis akibat infeksi
group B Streptococcus, Escherechia coli, atau Listeria monocytogenes

sering menyertai kejang dlm minggu pertama kehidupan.

19

Infeksi non bakterial


Penyebab non bacterial seperti TORCH & virus coxackie B dapat menyebabkan infeksi intrakranial & kejang.

20

LANGKAH DIAGNOSTIK

21

LANGKAH PROMOTIF/PREVENTIF
Mencegah semua keadaan yang dapat menyebabkan kejang atau spasme :
cegah asfiksia, infeksi atau sepsis, hipoglikemia dan ggn metabolik lain

22

Diagnosis Banding
1. Kejang metabolik : hipoglikemia, hiponatremia, hipokalsemia, hipernatremia 2. Kejang karena infeksi meningitis 3. Spasme : tetanus neonatorum. 4. Kejang pasca asfiksia : Ensefalopati Hipoksik Iskemik (EHI)

23

Anamnesis
Kapan terjadinya kejang Berapa lama kejang berlangsung Keadaan umum bayi pada saat kejang : menangis ? Sadar ? Hal hal khusus yang berhubungan dg penyebab atau DD kejang seperti :

24

Hal-hal khusus :
Riw persalinan: prematur, lahir dg tindakan, penolong persalinan. afiksia neonatorum. Riw imunisasi tetanus ibu, penolong persalinan bukan tenaga kesehatan. Riw perawatan tali pusat dg obat tradisional. Riw kejang, kesadaran, ada gerakan abnormal pada wajah, mata, mulut, lidah & ekstrimitas. Riw spasme atau kekakuan ekstremitas otot mulut & perut.
25

Hal-hal khusus :
Kejang dipicu oleh kebisingan atau prosedur atau tindakan pengobatan. Riw bayi malas minum setelah sebelumnya bisa minum normal. Ada faktor risiko infeksi. Riw ibu mendapat obat mis heroin, metadon, propoxyper fenobarbital, alkohol. Riw perubahan warna kulit (kuning)

26

Pemeriksaan fisik
Kejang : Ekstensi atau fleksi tonik ekstremitas, gerakan seperti mengayuh sepeda, mata berkedip,berputar juling. Tangisan melengking dg nada tinggi, sukar berhenti. Perubahan status kesadaran, apnea, ikterus, uub membonjol, suhu tubuh tidak normal.

27

Spasme
Bayi tetap sadar, menangis kesakitan Trismus, kekakuan otot mulut, rahang kaku (rhisus sardonicus), mulut tidak dapat dibuka (lock jaw), mulut mencucu. Opistotonus, kekakuan pada ekstremitas, perut, kontraksi otot tidak terkendali. Dipicu oleh kebisingan, cahaya, atau prosedur diagnostik. Infeksi tali pusat.

28

Pemeriksaan penunjang
Untuk mencari penyebab : Darah rutin & darah apus LP & pemeriksaan CSS (cairan serebrospinal)
Glukose darah, elektrolit, bilirubin total, direk & indirek

Bila diduga/ada riw trauma kepala: Px berkala Hb & Hmt untuk pantau perdarahan intraventrikuler serta didapat perdarahan pada cairan serebrospinal.
29

Pemeriksaan penunjang
USG utk ketahui perdarahan peri & intra ventri kuler. CT-scan : utk ketahui perdarahan subarahnoid atau subdural, cacat bawaan, infark serebral. Elektroensefalografi (EEG): kadang terdapat aktivitas epileptik yang menyebar.

30

TERAPI

31

Manajemen
1. 2. 3. 4. Medikamentosa untuk hentikan kejang Bebaskan airway & oksigenasi Memasang jalur infus intravena Pengobatan sesuai penyebab

32

Medikamentosa
Fenobarbital (Luminal) 20 mg/kgBB iv dlm 5 menit (bolus), Bila kejang tidak berhenti : ulang dg dosis 10 mg/kgBB sebanyak 2x dg selang 15-30 menit. Jika tidak terpasang iv, berikan i.m dosis 10-15%.

33

Medikamentosa
Bila kejang berlanjut : Dosis inisial fenitoin 20 mg/kgBB iv dlm larutan NaCl atau D5S dg kecepatan l mg/kgBB/ menit Rumatan:
Fenobarbital 3-5 mg/ hari dosis tunggal atau terbagi tiap 12 jam i.v atau p.o. Sampai bebas kejang 7 hari. Fenitoin 4-8 mg/kg/ hari i.v atau p.o. Dosis terbagi 2 atau 3. Ca glukonas 1-2 ml/kgBB/hr dalam infus Dextrosa drip Pyridoksin (B6) 50 mg/kgBB/kali iv atau im SATU kali, pd

pyridoxin dependency.

34

Bebaskan airway & Oksigenasi


Setiap pasien kejang harus selalu dilakukan pembebasan airway & oksigenasi cukup untuk cegah hipoksia berkepanjangan. Pasang jalur infus intravena Beri cairan IV dg dosis rumat serta tunjangan nutrisi adekuat.

35

Pengobatan sesuai penyebab


Bedah : bila penyakit penyebabnya perlu, mis perdarahan intra ventrikuler otak.
rangsang suara, cahaya maupun tindakan invasif untuk hindari bangkitan kejang pd penderita tetanus.

36

Pengobatan sesuai penyebab


Pasang NGT & beri ASI peras bila bayi tidak dapat menyusu Mulai dg jumlah kebutuhan per hari & pelan2x jumlah ASI sehingga tercapai jumlah ideal. Dirujuk bila memerlukan VM, atau pemeriksaan penunjang misalnya USG, CT scan, EEG atau konsultasi.

37

MONITORING

38

Terapi
Utama : atasi hipoksia & ggn metabolik sbg penyebab tersering. Anti kejang. Evaluasi efektifitas antikonvulsan, k/p ulang & segera lakukan Px penunjang untuk Tumbuh Kembang Di-7-kan pada tumbang sensorik & motorik. Setiap ggn perkembangan, perubahan tingkah laku atau pun gejala neurologik, eksplorasi harus dilakukan dg pemeriksaan neurologis lengkap.
39

RINGKASAN
Manifestasi klinik kejang pada neonatus berbeda dengan kejang pada anak yang lebih besar dan kadang sulit dikenali.

40

Terima Kasih

41