Anda di halaman 1dari 5

PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk - Departemen Industrial Plant Proyek Restorasi Tanki 31 PT.

Pertamina RU-IV Cilacap

Penggunaan Internal Floating Roof sebagai Upaya untuk Mengurangi Kerugian Akibat Penguapan Produk Hydrocarbon. Oleh : Tim Enjiniring Proyek Restorasi Tanki 31 Pertamina RU-IV Cilacap.

1.

Pendahuluan

Tanki adalah suatu tempat penampungan yang digunakan untuk menyimpan material baik berupa benda padat, cair maupun gas. Pemilihan jenis tanki sangat berkaitan erat dengan tipe material yang akan diletakkan didalamnya. Pada dunia oil and gas dikenal beberapa jenis tanki mulai dari Open Top Tank, Fixed Roof Tank, dan Floating Roof Tank. Pada kesempatan ini, saya akan membahas mengenai Tanki tipe Fixed Roof Tank dan Floating Roof Tank yang diaplikasikan pada Proyek Restorasi Tanki 31 Pertamina RU-IV Cilacap. 2. Pembahasan

Pemilihan jenis tanki didasarkan pada jenis fluida serta titik nyala suatu fluida. Pada Unit Pengolahan (Refiney Unit), ada 2 jenis tanki yang biasa digunakan yakni jenis fixed roof tank dan floating roof tank. Tanki jenis fixed roof tank biasanya digunakan untuk fluida yang mempunyai nilai titik nyala tinggi seperti fuel oil. Pada jenis tanki ini dikenal 2 macam tipe atap, yakni cone roof (atap kerucut) dan dome roof (atap cembung). Sedangkan jenis floating roof tank digunakan pada fluida yang mempunyai nilai titik nyala rendah seperti gasoline. Floating roof tank dibagi jadi 2, yakni external floating roof (FR) dan internal floating roof (IFR). Fluida tanki pada Proyek Restorasi Tanki 31 Pertamina RU-IV Cilacap merupakan jenis Fuel oil yang merupakan campuran HOMC, Gasoline, Naptha, dan Platformate yang memiliki nilai titik nyala api rendah dan penguapan yang tinggi (vapor point < 28 oC). Kondisi seperti ini menyebabkan fluida tanki mudah terbakar dan mudah mengalami penguapan. Berdasar pada kondisi ini, maka dipilihlah tipe tanki dome roof dengan floating roof. Penggunaan floating roof dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan terbakar dan penguapan fluida, sedangkan tipe dome roof dipilih karena paling ekonomis untuk ukuran diameter tanki < 65 m.

PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk - Departemen Industrial Plant Proyek Restorasi Tanki 31 PT. Pertamina RU-IV Cilacap

Pemilihan floating roof memperhatikan pada kondisi fluida, cuaca, dan kontruksi. Berikut adalah beberapa keuntungan dan kerugian pemakaian external floating roof dan internal floating roof. Tabel 1. Perbandingan FR dan IFR External Floating Roof (FR) - Tidak ada vapor space, sehingga mengurangi potensi kebakaran pada area internal tanki. - Jika musim hujan, air akan tergenang di bagian atap tanki yang horizontal. - Terdapat pipa fleksibel di atap tanki yang digunakan untuk membuang genangan air di atap tanki, pipa ini rawan terjadi kebocoran. - Biaya material dan kontruksi lebih mahal (bahan FR berupa baja) Internal Floating Roof (IFR) - Tidak ada vapor space sekaligus menghilangkan aroma fuel oil di atas tanki hingga 100%. - Kemungkinan air tergenang tidak ada karena tipe fixed roof berupa dome maupun cone. - Biaya material dan kontruksi relatif lebih murah (bahan IFR berupa alumunium)

Berdasar pada kondisi di Pertamina RU-IV Cilacap, maka dipilihkan fixed dome roof with internal floating roof . Berikut adalah gambar sistem internal floating roof.

Gambar 1. Sistem Internal Floating Roof

PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk - Departemen Industrial Plant Proyek Restorasi Tanki 31 PT. Pertamina RU-IV Cilacap

Pada gambar 1, dapat dilihat beberapa komponen yang ada pada sistem internal floating roof. Komponen-komponen ini mempunyai peran yang berbeda, yakni : a. Sample well Merupakan lubang pada lapisan dek internal floating roof, difungsikan untuk mengambil contoh (sample) fluida yang ada di dalam tanki. Lubang pada sample well ditutup dengan gasket yang dilapisi karet agar tidak terjadi penguapan. b. Anti-Rotation Cables Merupakan material baja (stainless steel) yang difungsikan untuk menjaga kondisi IFR tetap stabil dan tidak terjadi gerakan memutar ( rotation). c. Seal Seal (segel) yang dipakai pada instalasi internal floating roof menggunakan mechanical seal, yakni menggunakan semacam material stainless sebagai penjepit segel yang menempel pada shell (dinding) tanki. Berikut adalah gambar mechanical seal pada internal floating roof.

Gambar 2. Penampang Mechanical Seal Pada gambar 2, dapat dilihat bahwa mechanical seal ini menempel pada floating tube dan dinding tanki. Pada area shoe (kaki segel) harus dilapisi dengan bahan karet agar tidak terjadi gesekan antara material segel dan dinding tanki.

PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk - Departemen Industrial Plant Proyek Restorasi Tanki 31 PT. Pertamina RU-IV Cilacap

d. Rim Plate Komponen ini difungsikan sebagai dek, ditopang oleh kolom (tube) yang terapung. e. Ground Cables Ground Cables berfungsi untuk menetralkan beda potensial antara internal floating roof dan dinding tanki yang kemudian akan disalurkan ke tanah. Proses kerja dari internal floating roof berjalan secara otomatis, yakni ketika fluida tanki terisi maka dengan sendirinya elevasi deck pada IFR ini akan mengikuti posisi fluida dan begitu juga sebaliknya ketika terjadi penurunan permukaan fluida. Daya apung kolom (tube) didesain sekurang-kurangnya untuk 2 kali berat deck IFR, sehingga IFR akan tetap bekerja dengan baik walaupun terjadi kerusakan pada kolom (tube). Berikut adalah gambar penampang kolom (tube) terhadap posisi fluida.

Gambar 3. Penampang floating tube terhadap elevasi fluida Ketika posisi IFR naik maupun turun, maka diperlukan anti-rotation cables untuk menghindari terjadinya gerak memutar maupun ketidakstabilan pada IFR. Anti-rotation cables dipasang pada deck IFR yang dikaitkan pada lantai IFR. Cables ini harus bersifat fleksibel dan panjangnya harus lebih besar dari jangkauan maksimum perpindahan deck IFR dari bottom tanki ke roof tanki. Proses naik dan turunnya IFR selalu terpantau level indicator, ketika level fluida sudah melebihi batas yang diijinkan, maka level switch secara otomatis akan memberi

PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk - Departemen Industrial Plant Proyek Restorasi Tanki 31 PT. Pertamina RU-IV Cilacap

perintah ke sistem MOV pada inlet tanki untuk menutup valve. Untuk perlengkapan safety, IFR ini harus dilindungi oleh perangkat fire fighting foam yang dimasukkan ke bagian dome tanki. Jika terjadi kebakaran pada tanki, maka foam ini akan mengisi daerah kosong antara roof tanki dan deck IFR. Sistem dome roof dengan internal floating roof yang diterapkan pada proyek Restorasi Tanki 31 Pertamina RU-IV Cilacap merupakan hal baru yang dilakukan PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Jenis tanki seperti ini memiliki tingkat keamanan yang lebih baik dibandingkan dengan jenis tanki dome roof biasa karena lebih baik untuk mencegah terjadinya kebakaran serta mampu menghilangkan aroma fuel oil di atas tanki sekaligus mempunyai nilai efisiensi produksi yang tinggi karena dapat mengurangi proses penguapan fluida.

3.

Penutup

Tanki pemrosesan hidrokarbon merupakan jenis tanki yang membutuhkan perlakuan khusus, karena fluida yang tertampung didalamnya mempunyai nilai titik nyala dan titik penguapan yang rendah. Inovasi tim proyek Restorasi Tanki 31 Pertamina RU-IV Cilacap adalah dengan memadukan tanki dome roof dengan sistem internal floating roof. Dengan sistem ini, diyakini akan memberikan nilai keamanan dan efisiensi yang lebih tinggi, baik pada masa kontruksi maupun pada masa tanki telah berproduksi.