P. 1
Statistika Dan Probabilitas

Statistika Dan Probabilitas

|Views: 167|Likes:
Dipublikasikan oleh arie_stoner13
mm
mm

More info:

Published by: arie_stoner13 on Apr 08, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/21/2013

pdf

text

original

STATISTIKA &

PROBABILITAS
Statistics & Probability
Dr.Eng. Agus Setyo Muntohar, S.T., M.Eng.Sc.

Program Studi Teknik Sipil
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

9 Februari 2009
Filosofi Pembelajaran
 Tell me, I’ll forget
 Show me, I’ll remember
 Involve me, I’ll understand
Syllabus
 Topik Bahasan:
 Pengantar Peran statistika dan probabilitas dalam Teknik Sipil:
Ketidakpastian dalam bidang Teknik, Contoh Kasus
 Dasar Model Probabilitas: Kejadian dan Probabilitas, Teori Pasangan,
Matematika Probabilitas
 Model Analitik Kejadian Acak: Variabel Acak dan Distribusi Probabilitas,
Fungsi Dsitribusi Probabilitas.
 Fungsi Variabel Acak: Variable Tunggal dan Variabel Banyak.
 Simulasi Metode Probabilitas berbasis Komputer: Simulasi Monte Carlo.
 Analisis Statistik dan Pengamatan Data: Estimasi Parameter, Uji
Hipotesis, Confidence Interval.
 Buku Acuan:
 Ang, A.H.S, and Tang, W.H., 2007, “Probability Concepts in
Engineering: Emphasis on Application in Civil & Environmental
Engineering”. 2
nd
Edition, John Wiley & Sons.
Syllabus
 Tujuan:
 Mahasiswa dapat melakukan analisis statistik dan probabilitas
sederhana dalam bidang Teknik Sipil.
 Mahasiswa dapat memahami dasar-dasar statistik dan probabilitas.
 Kredit : 2 SKS
 Dosen:
 Nama: Dr.Eng. Agus Setyo Muntohar, S.T., M.Eng.Sc.
 Ruang: Lab. Komputer Teknik Sipil.
 Email: muntohar@umy.ac.id
 No. Ekstensi Telp.: 229
 Kuliah:
 Pertemuan kelas : 14 kali
 Tutorial: 7 kali
 Mahasiswa wajib mengikuti seluruh pertemuan di kelas dan tutorial.
Syllabus
 Sistem Penilaian:
 Kehadiran = 10%
 Tugas mandiri = 20%
 Ujian tengah semester = 30%
 Ujian akhir semester = 40%
 Nilai Akhir:
 A > 80
 B = 70 – 80
 C = 55 – 70
 D = 40 – 55
 E < 40
 Segala perbuatan curang (menyontek, kerjasama dalam ujian, plagiat) selama
perkuliahan dapat mengurangi nilai atau diberikan nilai E.
 Sistem Pengajaran:
 Mahasiswa dikelompokkan dalam 4 -5 kelompok membahas materi yang
ditugaskan.
 Setiap kelompok menyiapkan makalah dan menyajikan sesuai topik bahasan.

1. PENGANTAR
Filosofi Probabilitas

17 Februari 2009
Apakah yang Anda pikirkan
tentang Probabilitas?
 Kondisi Tidak Pasti
(uncertainty) v.s.
Acak (randomness)

 Frekuensi Relatif
(relative frequency)
v.s. Derajat
Yakin/Pasti
(plausibility)
Ilustrasi-1
 Ketika Anda melemparkan uang logam (coin),
terdapat dua kemungkinan hasil: “gambar “dan
“angka”.
 Hasil tersebut tidak pasti atau acak?

 Kita mengganggap uang logam tersebut
seimbang. Sehingga probabilitas hasil berupa
“gambar” adalah 0,5.
 Untuk ilustrasi ini, apakah yang Anda pikirkan
ketika mengatakan probabilitas gambar yang
muncul adalah 0,5?
Ilustrasi-2
 Anda berdiri dibawah pohon, dan seseorang
bertanya: “Berapa banyak daun yang ada pada
pohon?”
 Jawabannya “Tidak Pasti” atau “Acak”.

 Setelah Anda melihat pohon, lalu, menjawab:
“probabilitas jumlah daun lebih dari 1000 adalag
0,1”.

 Dengan demikian, Apakah yang dimaksud
dengan Probabilitas menurut Anda?
Ilustrasi-3
 Anda adalah seorang Insinyur Sipil yang
membangun suatu gedung, lalu seseorang
bertanya: “Berapa reaksi pada fondasi?”

 Anda tidak yakin dan secara jujur mengatakan:
“Saya tidak yakin berapa reaksinya, tapi saya
pikir probabilitas reaksinya lebih dari 100 kN
sangat kecil yaitu 0,01”.
 Untuk ilustrasi ini, Apakah yang dimaksud
dengan Probabilitas menurut Anda?
Kondisi Acak – Frekuensi
Relatif
 Kondisi acak adalah satu kondisi dimana hasil
atau keadaan tidak dapat diprediksi.

 Jika dilakukan percobaan maka akan
memberikan hasil yang berbeda dari waktu ke
waktu.

 Sehingga pada ilustrasi 1, probabilitas 0,5
merupakan frekuensi relatif bahwa hasil
lemparan berupa gambar.
Tidak Pasti – Derajat Yakin
(plausibility)
 Konsep frekuensi relatif dapat membingungkan dalam
bidang teknik sipil.

 Pada ilustrasi 3, apakah reaksi pada fondasi merupakan
kondisi acak?

 Tentu saja reaksi pada fondasi bukanlah kondisi acak.
Sehingga, frekuensi relatif tidak bisa menunjukkan
probabilitas.
 Probabilitas yang dimaksud adalah derajat yakin atau
pasti. Maka probabilitas ini ukuran dari derajat yakin atau
pasti (plausibility) seperti pada ilustrasi 2 dan 3.
2. DASAR-DASAR
MODEL PROBABILITAS

04 Maret 2009
2.1. Probabilitas dan
Kejadian
KONSEP PROBABILITAS
 Banyaknya kejadian yang sulit diketahui dengan
pasti.
 Akan tetapi kejadian tersebut dapat kita ketahui
akan terjadi dengan melihat fakta-fakta yang
ada.
 Dalam statistika fakta-fakta tersebut digunakan
untuk mengukur derajat kepastian atau
keyakinan yang disebut dengan Probabilitas
atau Peluang dan dilambangkan dengan P.
Karakteristik Probabilitas
 Probabilitas dapat diartikan sebagai
kemungkinan (likelihood) terjadinya suatu
kejadian (event) relatif terhadap kejadiannya
lainnya. Dalam arti, dapat terjadi lebih dari satu
kejadian.
 Secara kuantitative, probabilitas adalah
pengukuran numerik terhadap kemungkinan
terjadinya suatu kejadian dalam rangkaian
alternatif kejadian yang akan dapat terjadi.
Contoh Probabilitas dalam
Teknik Sipil (1)
 Contoh 1: Suatu kontraktor alat-alat
berat memerlukan bulldozer untuk
mengerjakan suatu proyek baru.
Berdasarkan pengalaman
sebelumnya, hanya 50% bulldozer
yang masih dapat dijalankan selama
6 bulan. Bila kontraktor tersebut
membeli 3 bulldozer baru, berapakah
probabilitas bahwa hanya 1 bulldozer
saja yang masih beroperasi setelah 6
bulan?


 Kemungkinan hanya 1 bulldozer
yang beroperasi yaitu: ONN, NNO,
NON.
 Bila kemungkinan terjadinya adalah
sama, maka probabilitasnya adalah
3/8
 Kemungkinan beroperasinya bulldozer
baru setelah 6 bulan dapat dinyatakan:
 OOO : semua bulldozer masih
beroperasi
 OON : hanya bulldozer ke-1 dan
ke-2 yang beroperasi, sedangkan
bulldozer ke-3 tidak beroperasi
 ONN : hanya bulldozer ke-1 yang
beroperasi
 NNN : tidak ada bulldozer yang
beroperasi
 NOO
 NNO
 ONO
 NON
Contoh Probabilitas dalam
Teknik Sipil (2)
 Contoh 2: Di suatu ruas jalan
direncanakan untuk membuat jalur
khusus belok kanan. Probabilitas 5
mobil menunggu berbelok
diperlukan untuk menentukan
panjang garis pembagi jalan.
Untuk keperluan ini dilakukan
survey selama 2 bulan dan
diperoleh 60 hasil pengamatan.

 Probabilitas kejadian 5 mobil
menunggu untuk berbelok kanan
adalah 3/60 (2/60 + 1/60)

Banyaknya
Mobil
Jumlah
Pengamatan
Frekuensi
relative
0 4 4/60
1 16 16/60
2 20 20/60
3 14 14/60
4 3 3/60
5 2 2/60
6 1 1/60
7 0 0
8 0 0
. . .
PERUMUSAN PROBABILITAS
Bila kejadian E terjadi dalam m cara dari seluruh
n cara yang mungkin terjadi dimana masing-
masing n cara tersebut mempunyai kesempatan
atau kemungkinan yang sama untuk muncul,
maka probabilitas kejadian E adalah :
( )
n
m
E P =
PERUMUSAN PROBABILITAS
(lanjutan)
Contoh :
Hitung probabilitas memperoleh kartu hati bila
sebuah kartu diambil secara acak dari
seperangkat kartu bridge yang lengkap!
Jawab:
Jumlah seluruh kartu = 52
Jumlah kartu hati = 13
Misal E adalah kejadian munculnya kartu hati,
maka :
( )
52
13

n
m
E P = =
2.2. Kejadian dan
Rangkaian Kejadian
BILANGAN FAKTORIAL
Bilangan faktorial ditulis n!
Rumus :
n! = n(n-1)(n-2)…3.2.1
dimana : 0! = 1 dan 1! = 1

Contoh :
5! = 5.(5-1).(5-2).(5-3).(5-4)=5.4.3.2.1
=120
PERMUTASI (1)
Susunan-susunan yang dibentuk dari
anggota-anggota suatu himpunan dengan
mengambil seluruh atau sebagian anggota
himpunan dan memberi arti pada urutan
anggota dari masing-masing susunan
tersebut.

Permutasi ditulis dengan P.
PERMUTASI (2)
Bila himpunan terdiri dari n anggota dan diambil
sebanyak r, maka banyaknya susunan yang
dapat dibuat adalah :


Contoh :
Bila n=4 dan r=2, maka
( )
n,r
n!
P =P
n-r !
r
n
=
( )
4,2
4! 4! 4.3.2.1
P 12
4-2 ! 2! 2.1
= = = =
PERMUTASI (3)
Bila himpunan tersebut mempunyai anggota yang sama, maka
banyak permutasi yang dapat dibuat adalah :


dimana n
1
+n
2
+n
3
+…+n
k
= n
Contoh :
Berapa banyak susunan yang dapat dibuat dari kata TEKNIK SIPIL?

Banyak n = 11
Huruf E = 1 = n
1
Huruf I = 3 = n
2
Huruf K = 2 = n
3
Huruf L = 1 = n
4
Huruf N = 1 = n
5
Huruf P = 1 = n
6
Huruf S = 1 = n
8
Huruf T = 1 = n
9
Maka banyak permutasi adalah :

( )
! n ... ! n ! n ! n
n!

k 3 2 1
n
n ,..., n , n , n
k 3 2 1
=
( )
11
1,3,2,1,1,1,1,1
11! 39.916.800
=3.326.400
1!3!2!1!1!1!1!1! 12
= =
KOMBINASI (1)
Susunan-susunan yang dibentuk dari
anggota-anggota suatu himpunan dengan
mengambil seluruh atau sebagian dari
anggota himpunan itu tanpa memberi arti
pada urutan anggota dari masing-masing
susunan tersebut.

Kombinasi ditulis dengan C.
KOMBINASI (2)
Bila himpunan terdiri dari n anggota dan diambil
sebanyak r, maka banyaknya susunan yang
dapat dibuat adalah :


Contoh :
Bila n=4 dan r=2, maka
( )
( )! r - n r!
n!
C
n
r r n
= =
( )
( )
6
1.2.2!
4.3.2!

2!2!
4!

! 2 - 4 2!
4!
C
4
2 2 4
= = = = =
KOMBINASI (3)
Contoh :
Dalam suatu kelompok terdiri dari 4 orang ahli geoteknik
dan 3 orang ahli struktur. Buatlah juri yang terdiri dari 2
orang ahli geoteknik dan 1 orang ahli struktur!
Jawab :




Banyaknya jenis juri yang dapat dibentuk adalah
6 x 3 = 18 pasangan juri.
( )
( )
( )
( )
4
4 2 2
3
3 1 1
4! 4! 4.3.2.1
C 6
2! 4-2 ! 2!2! 2.1.2.1
3! 3! 3.2!
C 3
1! 3-1 ! 1!2! 1!2!
= = = = =
= = = = =
LATIHAN

1. Dalam berapa cara 6 kelereng yang warnanya berbeda
dapat disusun dalam satu baris?
2. Dari kelompok ahli ada 5 orang sarjana teknik sipil dan
7 sarjana ekonomi. Akan dibuat tim kerja yang terdiri
atas 2 sarjana teknik sipil dan 3 sarjana ekonomi.
Berapa banyak cara untuk membuat tim itu jika :
a. tiap orang dapat dipilih dengan bebas
b. seorang sarjana ekonomi harus ikut dalam tim itu
c. dua sarjana ekonomi tidak boleh ikut dalam tim itu

2.3. Ruang Sampel dan
Kejadian
Definisi Penting
 Ruang sampel (sample space) adalah himpunan yang
unik dari semua hasil yang mungkin muncul atau terjadi
pada suatu percobaan kondisi acak. Ruang sampel
dilambangkan dengan S dan anggota-anggotanya
disebut titik sampel.

 Kejadian sederhana (simple event): satu hasil dari
ruang sampel atau hasil yang dimungkinkan dari suatu
kondisi acak.

 Kejadian (event) adalah himpunan dari hasil yang
muncul atau terjadi pada suatu percobaan acak.
Kejadian dilambangkan dengan A dan anggota-
anggotanya disebut juga titik sampel.
Ruang Sampel dan Digram Venn
Ruang sampel S Himpunan semesta S
Kejadian A Himpunan bagian A
Titik sampel Anggota himpunan
A
S
Ruang Sampel dan Kejadian (1)
 Bila kejadian A terjadi dalam m cara pada
ruang sampel S yang terjadi dalam n cara
maka probabilitas kejadian A adalah :


 dimana :
 n(A) = banyak anggota A
 n(S) = banyak anggota S
( )
( )
( ) n
m

S n
A n
A P = =
Ruang Sampel dan Kejadian (3)
Contoh :
Pada pelemparan 2 buah uang logam :
a. Tentukan ruang sampel!
b. Bila A menyatakan kejadian munculnya sisi-sisi yang sama
dari 2 uang logam tersebut, tentukan probabilitas kejadian A!
Jawab :
a. Ruang sampelnya :




b. A = {(,g,g),(a,a)} , maka n(A) = 2 dan n(S) = 4, sehingga
probabilitas kejadian A adalah :

Uang logam 2
g a
Uang
Logam 1
g (g,g) (g,a)
a (a,g) (a,a)
( )
( )
( ) 2
1

4
2

S n
A n
A P = = =
Ruang Sampel dan Kejadian (4)
Latihan :
Pada pelemparan dua buah dadu :
a. Tentukan ruang sampelnya!
b. Bila A menyatakan kejadian munculnya dua
dadu dengan muka sama, tentukan P(A)!
c. Bila B menyatakan kejadian munculnya jumlah
muka dua dadu kurang dari 5, tentukan P(B)!
d. Bila C menyatakan kejadian munculnya jumlah
muka dua dadu lebih dari sama dengan 7,
tentukan P(C)!
2.4. Matematika
Probabilitas
Sifat Probabilitas Kejadian A
 Bila 0<P(A)<1, maka n(A) akan selalu
lebih sedikit dari n(S)
 Bila A = 0, himpunan kosong maka A tidak
terjadi pada S dan n(A)=0 sehingga P(A) =
0
 Bila A = S, maka n(A)=n(S)=n sehingga
P(A) = 1
Perumusan Probabilitas Kejadian
Majemuk
Maka banyak anggota himpunan gabungan A dan B adalah :
n(AB) = n(A) + n(B) – n(A·B)

Kejadian majemuk adalah gabungan atau irisan kejadian A dan
B, maka probabilitas kejadian gabungan A dan B adalah:
P(AB) = P(A) + P(B) – P(A·B)
B A
S S
A
B
Perumusan Probabilitas Kejadian
Majemuk (2)
Untuk 3 kejadian maka :





Maka Probabilitas majemuknya adalah :
P(AB C) = P(A) + P(B) + P(C) – P(A·B)
– P(A·C) – P(B·C) + P(A·B ·C)
B A
S
C
Contoh Kejadian Gabungan
 Ketika menjelaskan kondisi pengadaan
bahan konstruksi, bila E
1
adalah kejadian
yang menunjukkan kekurangan beton, dan
E
2
adalah kejadian yang menunjukkan
kekurangan baja. Maka gabungan
kejadian E
1
E
2
adalah kekurangan beton
atau baja.
PERUMUSAN PROBABILITAS
KEJADIAN MAJEMUK (lanjutan)
A
B
E
1
E
2
PERUMUSAN PROBABILITAS
KEJADIAN MAJEMUK (lanjutan)
Contoh 1 :
Diambil satu kartu acak dari satu set kartu bridge
yang lengkap. Bila A adalah kejadian terpilihnya
kartu As dan B adalah kejadian terpilihnya kartu
wajik, maka hitunglah P(AB)
Jawab :

( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( )
13
4
52
16

52
1
52
13
52
4

B A P B P A P B A P Maka
wajik) As (kartu
52
1
B A P ,
52
13
B P ,
52
4
A P
= = ÷ + =
· ÷ + =
= · = =
PERUMUSAN PROBABILITAS
KEJADIAN MAJEMUK (lanjutan)
Contoh 2 :
Peluang seorang mahasiswa lulus Kalkulus adalah 2/3 dan peluang ia lulus
Statistika adalah 4/9. Bila peluang lulus sekurang-kurangnya satu mata kuliah di
atas adalah 4/5, berapa peluang ia lulus kedua mata kuliah tersebut?
Jawab :
Misal A = kejadian lulus Kalkulus
B = kejadian lulus Statistika

( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( )
2 4 4
P A , P B , P A B
3 9 5
P A B P A P B P A B
P A B P A P B P A B
2 4 4 14
0, 311
3 9 5 45
= = · =
= + ÷ ·
· = + ÷
= + ÷ = =
DUA KEJADIAN
SALING LEPAS
Bila A dan B adalah dua kejadian sembarang pada S
dan berlaku A·B = 0, maka A dan B dikatakan dua
kejadian yang saling lepas.
Dua kejadian tersebut tidak mungkin terjadi secara
bersamaan.



Dengan demikian probabilitas AB adalah :
B A
S
( ) ( ) ( ) B P A P B A P + =
DUA KEJADIAN
SALING LEPAS (lanjutan)
Contoh :
Pada pelemparan dua buah dadu, tentukan probabilitas
munculnya muka dua dadu dengan jumlah 7 atau 11!
Jawab :
Misal A = kejadian munculnya jumlah 7
B = kejadian munculnya jumlah 11
Tentukan ruang sampelnya dulu! Dari ruang sampel akan
diperoleh :
A = {(6,1),(5,2),(4,3),(2,5), (1,6), (3,4)}
B = {(6,5),(5,6)}
Maka P(A·B) = 0 yang berarti A dan B saling lepas.
P(A) = 6/36 , P(B)=2/36 sehingga
( ) ( ) ( )
6 2 8 2
P A B P A P B
36 36 36 9
= + = + = =
Dua Kejadian Saling
Komplementer
Bila A_B, maka A
c
atau A’ adalah himpunan S
yang bukan anggota A.



Dengan demikian
dan
Rumus probabilitasnya :
S
A
A’
0 A' A = · S A' A =
( ) ( ) A P 1 A' P ÷ =
Dua Kejadian Saling
Komplementer
Latihan
Sebuah kotak berisi 8 bola merah, 7 bola putih,
dan 5 bola biru. Jika diambil 1 bola secara acak,
tentukan probabilitas terpilihnya:
a. Bola merah
b. Bola putih
c. Bola biru
d. Tidak merah
e. Merah atau putih
Dua Kejadian Saling Bebas

Dua kejadian A dan B dalam ruang sampel S
dikatakan saling bebas jika kejadian A tidak
mempengaruhi kejadian B dan sebaliknya kejadian
B juga tidak mempengaruhi kejadian A.
Rumus :
( ) ( ) ( ) B P . A P B A P = ·
Dua Kejadian Saling Bebas
(Lanjutan)
Contoh :
Pada pelemparan dua buah dadu, apakah kejadian munculnya muka X s 3 dadu I dan kejadian munculnya
muka Y > 5 dadu II saling bebas?
Jawab :
A= kejadian munculnya muka X s 3 dadu I
B= kejadian munculnya muka Y > 5 dadu II
Dari ruang sampel diperoleh :
A={(1,1),(1,2),(1,3),(1,4),(1,5),(1,6), (2,1),(2,2),(2,3),(2,4),(2,5),
(2,6), (3,1),(3,2),(3,3),(3,4),(3,5),(3,6)}
B={(1,5),(2,5),(3,5),(4,5),(5,5),(6,5),(1,6),(2,6),(3,6),
(4,6),(5,6),(6,6)}


Maka diperoleh


P(A) = 18/36 = ½ dan P(B) = 12/36 = 1/3
Tetapi juga berlaku

maka A dan B saling bebas.

(3,6)} (2,6), , (3,5)(1,6) (2,5), {(1,5), B A = ·
( ) ( ) ( ) B .P A P
3
1
.
2
1
6
1
B A P = = = ·
( )
6
1
36
6
B A P = = ·
Probabilitas Bersyarat
Kejadian A terjadi dengan syarat kejadian B
lebih dulu terjadi, dikatakan kejadian A bersyarat
B dan ditulis A/B.
Probabilitas terjadinya A bila kejadian B telah
terjadi disebut probabilitas bersyarat P(A/B).
Rumusnya :
( )
( )
( )
( ) 0 B P ,
B P
B A P
A/B P >
·
=
Probabilitas Bersyarat
(Lanjutan)
Contoh :
Diberikan populasi sarjana disuatu kota yang dibagi
menurut jenis kelamin dan status pekerjaan sebagai
berikut :




Akan diambil seorang dari mereka untuk ditugaskan
melakukan promosi barang. Ternyata yang terpilih
adalah dalam status bekerja, berapakah probabilitasnya
bahwa dia :
a. Laki-laki b. wanita
Bekerja Menganggur Jumlah
Laki-laki
Wanita
460
140
40
260
500
400
Jumlah 600 300 900
Probabilitas Bersyarat
(Lanjutan)
Jawab :
A=kejadian terpilihnya sarjana telah bekerja
B=kejadian bahwa dia laki-laki
a.




b. Cari sendiri!
( ) ( )
( ) ( )
( )
( )
( ) 30
23
600
460
A P
B A P
A/B P
900
600
A P maka 600 A n
900
460
B A P maka 460 B A n
= =
·
=
= =
= · = ·
PROBABILITAS BERSYARAT
Untuk Kejadian Saling Bebas
Bila A dan B dua kejadian dalam ruang sampel S
yang saling bebas dengan P(A)=0 dan P(B)=0
maka berlaku :

Bila


Untuk kejadian A,B, dan C maka :

( ) ( ) ( ) ( ) B P B/A P dan A P A/B P = =
( )
( )
( )
( ) ( ) ( ) B P . A/B P B A P
maka ,
B P
B A P
A/B P
= ·
·
=
( ) ( ) ( ) ( ) C P . B/C P . C A/B P C B A P · = · ·
Probabilitas Bersyarat
Untuk Kejadian Saling Bebas
Contoh :
Misal kita mengambil 3 kartu (diambil 3 kali)
pada kartu bridge yang lengkap. Setiap
mengambil kartu, kartu yang terpilih tidak
dikembalikan pada kelompok kartu tersebut.
Hal ini dikatakan pengambilan kartu tanpa
pengembalian. Tentukanlah probabilitas
untuk memperoleh 3 kartu As!
Probabilitas Bersyarat
Untuk Kejadian Saling Bebas
Jawab :
S = kumpulan kartu dimana n(S) = 52
A = terpilih kartu As pada pengambilan pertama
B/A = terpilih kartu As pada pengambilan kedua
dengan syarat pada pengambilan pertama
terpilih kartu As
= terpilih kartu As pada pengambilan
ketiga dengan syarat pada pengambilan
pertama dan kedua terpilih kartu As
C A B ·
PROBABILITAS BERSYARAT
Untuk Kejadian Saling Bebas
Pengambilan 1 : n(A)=4 dan n(S)=52
Pengambilan 2 : n(B/A)=3 dan n(S)=51
Pengambilan 3 : n( )=2 dan n(S)=50
Maka :
C/A B ·
( ) ( ) ( ) ( )
525 . 5
1
52
4
.
51
3
.
50
2

A P . B/A P . B C/A P C B A P
= =
· = · ·
RUMUS BAYES



A1, A2, A3 adalah tiga kejadian yang saling lepas.
Maka kejadian B dapat ditentukan :

B
S
A1
A2
A3
( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( )
¿
=
=
+ + =
· · · =
· · · =
3
1 i
Ai P . B/Ai P
A3 P . B/A3 P A2 P . B/A2 P A1 P . B/A1 P
A3 B P A2 B P A1 B P B P
adalah B as probabilit maka
A3 B A2 B A1 B B
RUMUS BAYES (lanjutan)
Probabilitas kejadian bersyarat :

( )
( )
( )
( ) ( )
( ) ( )
( )
( )
( )
( ) ( )
( ) ( )
( )
( )
( )
( ) ( )
( ) ( ) Ai P . B/Ai P
A3 P . B/A3 P

B P
A3 B P
A3/B P
Ai P . B/Ai P
A2 P . B/A2 P

B P
A2 B P
A2/B P
Ai P . B/Ai P
A1 P . B/A1 P

B P
A1 B P
A1/B P
¿
=
·
=
¿
=
·
=
¿
=
·
=
RUMUS BAYES (lanjutan)
Secara umum bila A1,A2,…,An kejadian saling
lepas dalam ruang sampel S dan B adalah
kejadian lain yang sembarang dalam S, maka
probabilitas kejadian bersyarat Ai/B adalah :
( )
( )
( )
( ) ( )
( ) ( )
¿
=
=
·
=
n
1 i
Ai P . B/Ai P
Ai P . B/Ai P

B P
Ai B P
Ai/B P
RUMUS BAYES (lanjutan)
Contoh :
Ada 3 kotak yang masing-masing berisi 2 bola.
Kotak I berisi 2 bola merah, kotak II berisi 1 bola
merah dan 1 bola putih, dan kotak III berisi 2 bola
putih.
Dengan mata tertutup anda diminta mengambil
satu kotak secara acak dan kemudian mengambil
bola 1 bola secara acak dari kotak yang terambil
tersebut. Anda diberitahu bahwa bola yang
terambil ternyata berwarna merah. Berapakah
peluangnya bola tersebut terambil dari kotak I, II,
dan III?
RUMUS BAYES (lanjutan)
Jawab :
A1 = kejadian terambilnya kotak I
A2 = kejadian terambilnya kotak II
A3 = kejadian terambilnya kotak III
B = kejadian terambilnya bola merah
Ditanya : P(A1/B), P(A2/B), dan P(A3/B)
Karena diambil secara acak maka :
P(A1)=P(A2)=P(A3)=1/3
Probabilitas terambilnya bola merah dari kotak I adalah P(B/A1)=1.
Probabilitas terambilnya bola merah dari kotak II adalah P(B/A2)=1/2.
Probabilitas terambilnya bola merah dari kotak III adalah P(B/A3)=0.
P(B)= P(B/A1).P(A1)+P(B/A2).P(A2)+P(B/A3).P(A3)
= 1.1/3 + 1/2.1/3 + 0.1/3
= 1/2
RUMUS BAYES (lanjutan)
Jadi :

( )
( )
( )
( ) ( )
( )
( )
( )
( )
( )
( ) ( )
( )
( )
( )
( )
( ) ( )
( )
( )
0
2
1
3
1
0
B P
A3 P . B/A3 P

B P
A3 B P
A3/B P
3
1
2
1
3
1
2
1
B P
A2 P . B/A2 P

B P
A2 B P
A2/B P
3
2
2
1
3
1
1
B P
A1 P . B/A1 P

B P
A1 B P
A1/B P
=
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
= =
·
=
=
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
= =
·
=
=
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
= =
·
=
LATIHAN
1. Diketahui banyak mahasiswa dari 500 mahasiswa yang mengikuti mata
kuliah :
- Matematika = 329
- Statistika = 186
- Fisika = 295
- Matematika dan Statistika = 83
- Matematika dan Fisika = 217
- Statistika dan Fisika = 63
Berapa mahasiswa yang mengikuti :
a. 3 mata kuliah tersebut?
b. Matematika tetapi tidak Fisika?
c. Statistika tetapi tidak Matematika?
d. Fisika tetapi tidak Statistika?
e. Matematika atau Fisika tetapi tidak Statistika?
f. Matematika tetapi tidak Statistika atau Fisika?
LATIHAN (lanjutan)
2. Dua kartu diambil secara acak (satu-satu) dari kumpulan
kartu Bridge lengkap yang telah dikocok. Tentukan
probabilitas untuk memperoleh 2 kartu As jika :
a. Pengambilan kartu pertama dikembalikan
b. Pengambilan kartu pertama tidak dikembalikan
3. Tiga kartu diambil secara acak (satu-satu) dari kumpulan
kartu Bridge lengkap yang telah dikocok. Tentukan
probabilitas kejadian terambilnya :
a. 2 kartu Jack dan 1 kartu King
b. 3 kartu dari satu jenis
c. Paling sedikit 2 kartu As
LATIHAN (lanjutan)
4. Diberikan 2 kejadian X dan Y.
P(X)=0,32 ; P(Y)=0,44 ;
a. Apakah X dan Y saling lepas?
b. Apakah X dan Y saling bebas?
5. Suatu perusahaan besar menyediakan 3 hotel bagi
akomodasi rekanannya. Dari catatan sebelumnya diketahui
bahwa 20% rekanannya diinapkan dihotel A, 50% dihotel B,
dan 30% dihotel C.
Bila 5% diantara kamar-kamar dihotel A, 4% di hotel B, dan
8% dihotel C terdapat kerusakan pipa air di kamar mandinya,
hitung peluang bahwa :
a. seorang rekanan mendapat kamar dengan pipa air yang
rusak!
b. seorang rekanan yang diketahui mendapat kamar dengan
pipa air yang rusak ternyata menginap di hotel A!
( ) 0,88 Y X P = ·

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->