Anda di halaman 1dari 33

BUSSINES PLAN PETERNAKAN SAPI POTONG DI KABUPATEN BANYUMAS DM GUMARANG FARM

Disusun oleh:
1. YOCHIE ANGGIH B. 2. ARIE NURDIANSYAH 3. RACHMAT H. 4. PUGUH ARIF W. 5. AJI BADRUZZAMAN 6. BENTAR M.W. 7. AHMAD RIO S. 8. YANS PANGERUNGAN 9. RIZWAN NURDIANA D1E008123 D1E008130 D1E008133 D1E008143 D1E008147 D1E010001 D1E010002 D1E010003 D1E010004

Kelompok Kelas

:2 :A

DEPRTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PETERNAKAN PURWOKERTO 2012 I. PENDAHULUAN

Kabupaten Banyumas yang beribukota di Purwokerto, merupakan salah satu dari 35 kabupaten di wilayah provinsi Jawa Tengah yang terletak diantara 1083917-1092715 Bujur Timur dan 71505 - 73710 Lintang Selatan. Wilayah Kabupaten Banyumas berbatasan dengan beberapa kabupaten. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang; sebelah timur dengan Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara, dan Kabupaten Kebumen; sebelah selatan dengan Kabupaten Cilacap; dan sebelah barat dengan Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Brebes. Wilayah Banyumas memiliki luas 132.759 Ha, sekitar 4,08% dari luas wilayah Provinsi Jawa Tengah. Lahan sawah di Kabupaten Banyumas luasnya sekitar 32.881 Ha atau sekitar 24,77% dari wilayah Kabupaten Banyumas dan sekitar 10.468 Ha merupakan sawah dengan pengairan teknis. Sisa tanah seluas 75,23% atau sekitar 99.878 Ha adalah lahan bukan sawah dengan 18.627 Ha atau 18,65% merupakan tanah untuk bangunan dan pekarangan/ halaman. Wilayah Kabupaten Banyumas merupakan daerah dataran yang terbesar (45%) di bagian tengah dan selatan serta membujur dari barat ke timur. Ketinggian wilayah Kabupaten Banyumas sebagian besar berada pada kisaran 25-100 m dpl, yaitu seluas 42.310,3 Ha dan 100-500 m dpl, yaitu seluas 40.385,3 Ha. Kabupaten Banyumas mempunyai kemiringan yang terbagi dalam 4 ( empat ) kategori yaitu: a. 02 meliputi areal seluas 43.876,9 Ha atau 33,05% (tengah dan selatan), b. 215 meliputi areal seluas 21.294,5 Ha atau 16,04% (sekitar Gunung Slamet),

c. 1540 meliputi areal seluas 35.141,3 Ha atau seluas 26,47% (lereng Gunung Slamet), dan d. Lebih dari 45 meliputi areal seluas 32.446,3 Ha atau seluas 24,44% (Gunung Slamet). Kabupaten Banyumas mempunyai iklim tropis basah dengan rata-rata suhu udara rata-rata 26,3C. Suhu minimum sekitar 24,4C dan suhu maksimum sekitar 30,9C selama tahun 2007 di Kabupaten Banyumas terjadi hujan rata-rata pertahun sebanyak 109 hari dengan curah rata-rata 2.897 mm per tahun. Kecamatan yang paling sering terjadi hujan di Kabupaten Banyumas adalah Kecamatan Jatilawang dengan 109 hari hujan dan curah hujan pertahun mencapai 3.210 mm selama tahun 2007. Sedangkan Kecamatan yang paling sedikit terjadi curah hujan Kecamatan Sokaraja dengan 40 hari hujan dan curah hujan mencapai 759 mm. Penduduk kabupaten Banyumas pada akhir tahun 2003 tercatat sebesar 1.524.901 jiwa atau naik sebesar 15.534 jiwa. Dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduknya pertahun (2006-2007) sebesar 1,03 persen, yang berarti mengalami percepatan pertumbuhan sebesar 0,28 persen dari kurun waktu sebelumnya (20042005). Laju pertumbuhan menurun terlihat cukup berfariasi, tertinggi ada pada Kecamatan Rawalo sebesar 8,78 persen dan yang terendah pada Kecamatan Banyumas yakni sebesar 0,18 persen. Rasio jenis kelaminnya pada akhir tahun 2007 sebesar 99,66; yang berarti dari setiap 100 penduduk perempuan terdapat sekitar 99 penduduk laki-laki. Jumlah rumah tangga pada akhir tahun 2007 sebesar 397.755 atau naik sebesar 8.810 rumah tangga (2,27 persen) dari tahun sebelumnya. Rata-rata jiwa perumah tangga sekitar 4 jiwa. Dengan yang terendah pada Kecamatan Lumbir sekitar 3 jiwa dan yang tertinggi pada Kecamatan Purwokerto Utara sekitar 5 jiwa. Kesadaran masyarakat akan terpenuhinya gizi yang terus meningkat dipengaruhi oleh meningkatnya pengetahuan, pendapatan dan penghasilan dari

masyarakat serta kesadaran untuk hidup sehat dengan tujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sub sektor peternakan merupakan salah satu sumber yang mampu mememenuhi kebutuhan gizi masyarakat dengan berbagai macam produk ternak yang salah satunya adalah daging, khususnya daging sapi. Dari data statistik yang ada, ternyata kebutuhan gizi masyarakat di daerah Banyumas dan sekitarnya belum terpenuhi. Hal tersebut disebabkan karena ketidaksesuaian antara jumlah penduduk di kab. Banyumas dan sekitarnya dengan produksi daging yang dihasilkan. Kekurangan kebutuhan gizi tersebut diatasi dengan mendatangkan atau membeli daging dari daerah lain. Tetapi, upaya tersebut tidak efisien karena akan memperbesar anggaran atau pengeluaran daerah. Efisiensi dalam pemenuhan kebutuhan gizi tersebut dapat ditingkatkan apabila ada peran aktif dari masyarakat dalam hal ini melalui kegiatan usaha peternakan sapi potong. Peningkatan usaha sapi potong dapat dilakukan dengan melakukan kuantitasnya. Adanya produksi daging yang baik akan sangat bermanfaat bagi pemerintah daerah dan masyarakat secara umum karena dengan produksi daging yang baik akan mengurangi ketergantungan dengan daerah lain apalagi di era otonomi daerah sekarang yang sangat mengandalkan potensi dari daerah masing-masing, kemudian kebutuhan masyarakat akan gizi dalam hal ini daging dapat terpenuhi, selain itu akan meningkatkan efisiensi biaya daerah dan dapat meningkatkan pendapatan daerah. Peningkatan usaha peternakan sapi potong tersebut tidak hanya manajemen pemeliharaan sapi potong yang baik sehingga menghasilkan produk daging yang baik pula dari segi kualitas maupun

membutuhkan peran aktif masyarakat, tetapi diperlukan juga peran aktif dari pemerintah daerah dan lembaga-lembaga yang terkait untuk memberikan fasilitas dan ruang gerak bagi kegiatan usaha peternakan sapi potong. Selain itu, kegiatan usaha peternakan sapi potong memerlukan manajemen yang baik dalam pemeliharaan, ataupun pengelolaan. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan adanya

perencanaan usaha dengan memperhatikan beberapa aspek yang mungkin dihadapi sehingga diharapkan semua masalah yang timbul dapat diatasi dan diselesaikan dengan baik. II. PERMASALAHAN Kabupaten Banyumas merupakan kabupaten yang cukup luas dengan luas wilayah 132.759 Ha sekitar 4,08% dari luas wilayah Propinsi Jawa Tengah. Luas wilayah ini tentunya jumlah penduduknya pun cukup banyak. Penduduk yang banyak akan membutuhkan bahan pangan yang banyak pula, begitu pula kebutuhan akan protein hewani asal ternak. Usaha peternakan yang diusulkan merupakan usaha yang memiliki perkembangan cukup lambat di daerah Banyumas. Persaingan dalam usaha peternakan khususnya yang menghasilkan daging sapi belum terlalu ketat, sehingga prospeknya cukup baik Masalah usaha yang ingin di selesaikan dalam usaha Peternakan sapi potong di Kabupaten Banyumas adalah Menghasilkan produk daging kepada masyarakat, mempertahankan kontinuitas produk daging dan pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan sapi potong.

III. TUJUAN, SASARAN DAN MANFAAT A. Tujuan 1. Memperoleh keuntungan usaha guna memaksimalkan return of investment 2. Menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat disekitar lokasi 3. Ikut membantu dalam meningkatkan hasil produksi peternakan 4. Menyediakan protein hewani asal ternak guna peningkatan gizi masyarakat B. Sasaran 1. Laba Perusahaan semakin meningkat setiap tahun 2. Pemenuhan kebutuhan daging sapi regional, nasional, dan ekspor nantinya 3. Peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar lokasi C. Manfaat 1. Tercapainya laba perusahaan 2. Kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat 3. Mengurangi penggunaan devisa negara 4. Tercukupinya kebutuhan protein hewani masyarakat 5. Kelestarian sumber daya alam

IV. IDENTIFIKASI A. Faktor Produksi Weakness/ Opportuniti Threats/an Kelemahan es/ Peluang caman Daerah Baturaden Pemanfaatan Banyak Sarana dan mempunyai lahan yang lahan investor prasarana Input cukup luas dan kaya hijauan yang transportaakan hijauan kurang tertarik. si kurang optimal. memadai. Bibit sapi yang Banyak sapi dipelihara termasuk Bibit tersedia jenis bibit unggul. impor yang pakan. perlu adanya adaptasi Tenaga kerja relatif Lahan lingkungan murah. untuk usaha peternakan cukup luas. Pengelolaan Penanganan Letak Penyakit reproduksi yang pasca panen geografis pada Proses intensif kurang cukup ternak. diperhatikan mendukung Pemenfaatan Perusaha Proses tenaga kerja efisien an sejenis Besar produksi berjalan peluang Adanya dalam penggunaa jangka n teknologi laboratorium waktu lama tepat guna memproduksi straw sapi jenis simental. Adanya penanganan pasca panen Produk berupa daging O yang berkualitas Elemen Strengthens/ Kekuatan

ut-put

Adanya hasil ikutan yang mendukung hasil Diversifikasi utama produk rendah Menyediakan potein hewani asal ternak Produk mampu bersaing dipasaran

Daging merupakan bahan yang mudah rusak

Kebutuhan masyarakat akan produk asal ternak belum tercukupi.

Maraknya sapi impor yang lebih murah.

Outcom

Rencana Membuat subtitusi harga output produk yang bagi daging masih da lebih sapi atas daging bervariasi impor

B. Faktor Manajemen Elemen Input Strengthens/ Kekuatan .Adanya spesifikasi perbidang. Weakness/ Kelemahan Opportunities/ Peluang Threats/ Ancaman Penyakit pada ternak khususnya yang zoonosis. Cepatnya perkembanga n teknologi Keinginan tenaga terlatih untuk mendirikan usaha sendiri Penyakit pada ternak khususnya yang zoonosis. Persaingan yang tidak sehat dalam dunia usaha

Pembangu Mudahnya nan proyek akses jangka informasi panjang mengenai Organisasi perlu teknik pembangunan pengorgani pemeliharaan proyek yang sasian yang terbaru. kompleks lebih mendetail Pola Sulitnya Proses pemeliharaan koordinasi Skala intensif dengan antar pemeliharaan teknologi tepat bidang besar mebuka guna. peluang penerapan setiap Implementa teknologi si organisasi terbaru lebih bisnis dan efisien pembangunan yang spesifik Organisasi O memunculkan Besarnya Banyaknya orang orang yang utput usaha sumberdaya berdedikasi tinggi menyulitpengelola kan organisasi di pengawassekitar Pola manajemen an teknis di perusahaan terarah dan lapangan yang terencana notabene dekat dengan Program yang institusi berkesipendidikan nambungan dalam setiap bidang. Outcome Membuka lapangan pekerjaan sehingga menarik simpati konsumen

Alih informasi Perdagangan semakin mudah global

C. Faktor Sumberdaya Manusia Elemen Input Strengthens/ Weakness/ Kekuatan Kelemahan Sumber Daya manaj Manusia yang er cukup besar. merupakan fresh Setiap manajer graduate bidang merupakan tenaga Rendahnya yang terlatih tingkat sesuai dengan pendidikan bidangnya. pegawai kandang. Adanya Minimnya peningkatan SDM pengalammelalui an pelatihan pelatihan Karyawan kandang umumnya dari masyarakat sekitar yang sudah memiliki pengalaman beternak Opportunities/ Peluang Threats/ Ancaman

Mudahnya Banyaknya akses SDM yang informasi tersedia mengenai memungkin teknik kan pemeliharaan pemilihan terbaru. pegawai secara selektif

Proses

Dekat Kesenjangdengan an sosial perguruan memungkin tinggi yang kan sering kecuranganmengadakan kecurangan. seminar dan . pelatihan dalam bidang peternakan

utput

Setelah melalui proses pelatihan diharapkan dapat menghasilkan sumberdaya yang mumpuni

Rendahnya Upah Minimum Regional (UMR) kabupaten/ kota

Provokasi pihak luar terhadap loyalitas karyawan

utcome

Meningkatk an pengetahuan beternak

D. Faktor Finansial Elemen Input Strengthens/ Weakness/ Kekuatan Kelemahan Modal yang cukup, yang Besarnya berasal dari investasi modal yang bersama dibutuhkan dalam bentuk saham Ketersediaan lahan yang cukup luas dan murah. Proses Adanya tim auditor yang mengawasi kemungkinan penyeleweng an secara finansial Opportunities/ Threats/ Peluang Ancaman Banyak Pengalihan investor yang dana ke tertarik usaha bidang lain .

utput

Lamanya Kemungkinpengembalian Institusi an investor modal mencabut keuangan membutuhsahamnya yang terdapat kan apabila di wilayah kesabaran manajemen Kabupaten pemegang jelek Banyumas saham sangat banyak dari Bank Pemerintah, Bank Swasta, ataupun lembaga keuangan lain Formula ekonomi Keuntungan Besarnya Penanaman yang salah yang cukup usaha modal bagi menjanjikan menyulitkan pengembanga setelah semua pengawasan n unit usaha unit usaha keuangan yang berjalan mendukung Bunga modal bagi pemilik saham

utcome

E. Faktor Yuridis Elemen Input Strengthens/ Weakness/ Kekuatan Kelemahan Perusahaan Perlu mempunyai penyediaan badan hukum tanah dan air Opportunities/ Peluang Mendapat dukungan Threats/ Ancaman Mentalitas penegak hukum yang

yang kuat Perlu lahan Pelaku bisnis yang sesuai adalah warga negara Indonesia

Proses

Pemimpin Perlu adanya perusahaan pengelolaan adalah seorang lingkungan yang hidup berpendidikan Pembagian Perlu kerja jelas pembuatan prinsip yang Izin usaha sesuai dengan berlakuk pemerintah seterusnya selama melakukan usaha. Adanya surat Kurangnya rekomendasi pengalaman dari dari seorang lingkungan pemimpin sekitar, yaitu dalam hal RT, RW, perundangan kelurahan, usaha kecamatan, kabupaten dan propinsi. izin didukung pemerintah

utput

rendah pemerintah kaerna untuk Pendirian pemberdayaperusahaan an memerlukan masyarakat banyak sekitar persyaratan. (meningkatkan taraf hidup petani peternak) Tidak ada Usaha UU yang peternakan mengatur yang penyembelihmengganggu an ternak masyarakat kecil bisa dicabut izinnya. Pendirian perusahaan peternakan perlu izin masyarakat sekitar. Mahalnya Biaya untuk biaya AMDAL memperoleh izin usaha relatif murah Dinamika perundangan Indonesia yang terus berubah-ubah

utcome

Alih informasi berlaku hukum semakin mudah usaha global

F. Faktor Pasar dan pemasaran

Strengthens/ Weakness/ Opportunities/ Threats/ Kekuatan Kelemahan Peluang Ancaman .Rencana Segmentasi Pasar Input pemasaran yang pasar kurang kekurangan Sempitnya meliputi hasil menjurus daging pasar utama dan hasil cukup besar dengan ikutannya globalisasi Distribusi harus cepat Adanya Penggunaan agar kualitas media massa sarana promosi daging tetap di wilayah pada media lokal terjaga Kabupaten Banyumas Rencana lokasi Sulitnya usaha tidak jauh promosi dari lokasi terhadap pemasaran kalangan masyarakat Pasar yang telah menengah dikuasai kebawah terencana 28.000 kg per minggu. Pola Sebagai Proses Peningkatan pasar bebas pemasaran pendatang langsung baru mungkin pendapatan memotong rantai target pasar serta distribusi. yang akan di kesadaran capai sulit masyarakat Sudah dilakukan analisa Apabila data pasar permintaan pasar melebihi target maka Memiliki pemenuhan pelanggan tetap permintaan berupa pedagang dalam waktu bakso lama O Pendistribusian ut-put mudah pedagang besar banyak produk luar daerah yang masuk

Elemen

G. Faktor Ekonomi, sosial, dan Politik Elemen Input Strengthens/ Weakness/ Kekuatan Kelemahan Tidak ada Belum larangan menguasai sosial tentang politik bisnis konsumsi daging sapi Sosialisasi yang lamban Foramula ekonomi yang terencana dan terarah Sejalan Belum dengan dinamika memiliki sosial status sosial utput O Permint aan tinggi Opportunities/ Threats/ Peluang Ancaman Kondisi Gejolak perekonomipolitik an negara yang makin Tingkat membaik inflasi

Proses

Iklim usaha yang menukung

Kurs rupiah dengan valuta asing

Menurunkan rasio kesenjangan social peningk atan status sosial

utcome

H. Faktor Persaingan usaha Elemen Input Strengthens/ Kekuatan Weakness/ Kelemahan Opportunities/ Peluang Threats/ Ancaman

Perusahaan Perusahaan Minimnya Tekanan dari peternakan baru belum pesaing lokal pihak luar terbesar di dikenal karena wilayah pendatang purwokerto baru Promosi Proses secara intensif Banyak pesaing dari luar Mentalita s terhadap tekanan yang tinggi ut-put Outcome O Kualitas produk tinggi transfer teknologi mendapa t respon lingkungan sekitar Kegiatan import daging sapi

I. Faktor Lingkungan hidup Strengthens/ Weakness/ Opportunities/ Threats/ Kekuatan Kelemahan Peluang Ancaman .Lahan Masih Dekat dengan Input Kondisi Lahan luas sumber air lahan yang bersaing tidak rata dengan adanya studi Biaya pembanguna AMDAL AMDAL n cukup murah Jauh dari pemukiman Pencemaran Proses Curah Faktor iklim lingkungan hujan tinggi belum memudah terpikirkan Pengaruh kontinuitas sempurna iklim yang hijauan tidak stabil dewasa ini Pencemaran O Tidak banyak lingkungan utput menghasilkan limbah utcome O Adanya instalasi penanganan limbah sehingga 80-90% limbah di olah Memberi dampak positif bagi lingkungan Elemen

V.

V. STRATEGI UNTUK MENCAPAI TUJUAN

A. Strategi Utama Strategi utama ini meliputi Rencana Teknis Produksi Usaha (RTPU) yang akan dijalankan. Strategi SO Meningkatkan kualitas dan kuantitas produk asal ternak. Memperluas area pemasaran produk. Bekerja sama dengan investor asing untuk mengembangkan usaha peternakan. Memperbesar skala usaha. Memanfaatkan tenaga kerja yang ada agar lebih efektif dan efisien Strategi ST Mengadakan pelatihan penanggulangan penyakit atau melalui program vaksinasi. Mengadakan pelatihan penguasaan alat-alat atau metode pemeliharaan dengan teknologi tepat guna. Memanfaatkan lahan yang subur untuk menanam hijauan yang berkualitas untuk pakan ternak. Mengusahakan sarana transportasi sendiri dan pendirian lokasi dekat dengan jalan utama Straregi WO Mengembangkan produk asal ternak yang variatif. Meyakinkan investor untuk menanam modal di sektor peternakan. Memperbaiki manajemen penanganan pasca panen. Memanfaatkan jerami sebagai pakan ternak.. Mengoptimalkan pemanfaatan lahan hijauan yang masih luas. Strategi WT Memperbaiki manajemen pemeliharaan. Menggunakan sarana produksi seefektif dan seefisien mungkin. Meningkatkan pemanfaatan lahan hijauan. Memperbaiki tingkat pengetahuan dan pemahaman peternak melalui program pelatihan dan penyuluhan Diversifikasi produk

5.1.

Jenis dan Jumlah Produksi Usaha Pemeliharaan Sapi potong secara intensif dengan jumlah produksi

minimal daging 4.000 kg/hari. 5.2. Strategi pemeliharaan : pemeliharaan secara intensif Sistem kandang Order perminggu Bobot jual rata-rata perekor Mortalitas Persentase karkas Rata rata bobot karkas Jumlah sapi yang dipelihara Lama pemeliharaan Jumlah kandang Luas kandang = terbuka = 28.000 kg = 450 kg =0% = 50 % = 225 kg = 125 ekor = 3 bulan = 13 kandang = 682,5 m2

5.2.

Teknis pemeliharaan a. Bangsa/Jenis Ternak Jenis ternak yang dipelihara adalah sapi potong bangsa simental. b. Manajemen Pemeliharaan i. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari yaitu pemberian konsentrat dilakukan pukul 06.00, pemberian hijauan dilakukan pukul 08.00 dan 16.00. Sedang air minum diberikan secara ad libitum.

ii. Kekurangan hujauan pakan dipenuhi dengan pembuatan hijauan awetan iii. Sapi dibersihkan setiap semingggu sekali. iv. Pembersihan kandang dilakukan setiap hari. v. Feses ditampung dan dibuat kompos

c. Manajemen Produksi i. Produksi diutamakan untuk memenuhi kebutuhan daging di Kabupaten Banyumas sebanyak 28.000 kg/minggu. ii. Pemotongan dilakukan untuk ternak jantan di RPH sendiri, dan daging di pasarkan dalam bentuk karkas B. Strategi Pendukung 1. Faktor Manajemen Strategi SO Penerapan teknik manajemen yang terbaru pada setiap bidang manajerial Meningkatkan kemampuan manajerial pegawai Strategi ST vaksinasi dan pencegahan penyakit secara rutin dalam manajemen pemeliharaan pembinaan loyalitas karyawan Straregi WO Koordinasi seefektif mungkin per bidang agar mudah terjadi alih informasi Pengawasan secara insidental dan menyeluruh Strategi WT pengawasan rutin guna pencegahan penyakit dan menghindari kesalahan manajemen meningkatkan koordinasi pembinaan loyalitas pegawai guna

2. Faktor Sumber Daya Manusia Dengan Metode SWOT analisis yang telah dilakukan maka strategi pendukung dari faktor sumber daya manusia yaitu : Strategi SO Strategi WO

Memanfaatkan tenaga kerja yang ada agar Lebih selektif dalam menerima lebih efektif dan efisien pegawai Mengirim karyawan mengikuti pelatihan Mengadakan pelatihan untuk dan seminar peternakan setiap bidang kerja Merekrut pegawai kandang yang sudah berpengalaman Pembinaan rutin kepada seluruh pegawai kandang.

Strategi ST Kesejahteraan karyawan dijamin dengan pemberian tunjangan tambahan. Meningkatkan kepercayaan kepada karyawan dan pemberian imbalan tertentu kepada karyawan yang berdedikasi. 3. Faktor Finansial Strategi SO Analisis finansial yang lebih ditail sebagai dasar pengajuan dana terhadap investor Memperbanyak investor Strategi ST Menanamkan kepercayaan terhadap investor, dengan adanya tim audit yang relevan Menembah investor dengan manajemen yang efisien. 4.Faktor yuridis Strategi SO

Strategi WT Mempertahankan sumber daya yang telah ada Pengawasan karyawan secara intensif

Strategi WO Memaksimalkan modal yang sudah ada Mengoptimalkan hasil sampingan berupa feses guna mempercepat pengembalian modal Strategi WT Menekan biaya produksi seefisien mungkin agar investor tetap menanamkan modalnya kepada perusahaan walaupun investasi cukup besar

Strategi WO

Pemerintah memberikan dukungan Pengkajian tentang prinsip-prinsip penuh dalam pendirian usaha yang pemerintah perlu dilakukan dilakukan, dan dalam skala usaha besar sebelum pendirian usaha. Demikian tenaga kerja mutlak diperlukan dan juga survey dan pendekatan kepada pemberdayaan masyarakat sekitar masyarakat sekitar lokasi dilakukan (masyarakat sekitar mendapat untuk mendapatkan dukungan dan keuntungan). izin dari pemerintah dan masyarakat. Strategi ST Strategi WT

Pengkajian tentang tata cara Masyarakat sekitar diberdayakan penggemukan perlu dilakukan dengan untuk menyediakan hijauan pemeliharaan ternak lainnya. sehingga tidak merugikan usaha

5. Faktor Pasar Dan Pemasaran Strategi SO

yang didirikan terlebih dahulu melihat zoning yang telah direncanakan pemerintah Strategi WO

Proses produksi yang terus menerus Memperjelas segmentasi pasar meningkat guna pemenuhan pasar Produksi sejalan dengan promosi Mengoptimalkan pasar yang dikuasai Pendekatan ke kalangan Promosi secara gencar pada media masyarakat bawah lokal Memperluas pasar Menjalin kerjasama dengan pedagang bakso dan pedagang daging Strategi ST Menjaga kestabilan produk Mempertahankan kualitas Memanfatkan media yang ada untuk mendukung antisipasi pengaruh globalisasi 6. Faktor Ekonomi, Sosial dan Politik Strategi SO Menambah volume usaha Sosialisasi produk Strategi ST Menjaga kestabilan harga Meningkatkan kekuatan ekonomi perusahaan Strategi WO Mempelajari politik bisnis Menumbuhkan keyakinan publik Strategi WT Mempertahankan kelangsungan usaha Prinsip sustainability

Strategi WT Menanggulangi pengaruh globalisasi Saluran distribusi langsung

7. Faktor Persaingan Usaha Strategi SO Memperbesar perusahaan di wilayah yang sama Mengusai parsaingan usaha lokal Strategi ST Menjalin kerjasama dengan perusahaan yang berhubungan Strategi WO Antisipasi munculnya pesaing baru Menjaga masuknya produk luar Strategi WT Menanamkan keprcayaan publik

8. Faktor Lingkungan Hidup Strategi SO Studi AMDAL secara menyeluruh Strategi ST Menciptakan kondisi yang nyaman bagi ternak Penanganan limbah menjadi by product Strategi WO Mencegah erosi lahan Strategi WT Mencegah cekaman lingkungan Mencegah pencemaran

VI. USULAN : AKTIVITAS, INVESTASI, TARGET SPESIFIK DAN INDIKATOR TARGET A. Bidang Produksi Aktifitas : a. Menyediakan 125 ekor Bakalan BB : 325 350 kg untuk awal pemeliharaan. b. Pencapaian PBBH 1,2 Kg, persentase karkas 50 % c. Lama pemeliharaan 3 bulan Investasi : Proyeksi kebutuhan (komoditas) ternak a. Kandang b. Lahan hijauan c. Pakan hijauan d. Pakan konsentrat e. Kantor = 100 m2 f. Gudang = 250 m2 g. Silo h. Mixer = 50 m2 = 100 m2 = 25 m2 = 682,5 m2 = 1,0378 Ha = 1,013 ton/hari = 1,181 ton/hari

i. Rumah penjaga k. RPH = 150 m2

j. Penampungan limbah = 1.500 m2 l. Tempat Pengepakan m. Garasi mobil = 100 m2 = 100 m2

Lay out lokasi G H A I

E D

Keterangan : A : Mess B : Kandang C : Gudang D : Kantor E : RPH F : Tempat pengepakan G : Silo H : Mixing konsentrat I J : Pos satpam : Tempat Limbah

Target spesifik : Memenuhi kebutuhan daging sapi 28.000 kg per minggu. Indikator target : Terpenuhinya kebutuhan daging sapi 28.000 kg per minggu. B. Bidang Manajemen Aktifitas : Aktifitas manajemen pemeliharaan secara intensif dengan teknologi tepat guna dan susunan organisasi yang mendukung RTPU. a. Struktur Organisasi Usaha
Direktur

Manajer Produksi

Manajer Pemasaran

Manajer Keuangan

Manajer Personalia

Manajer Promosi

4 staf

3 staf

2 staf

2 staf

1 staf

Investasi : Kebutuhan Tenaga Kerja a. b. c. d. e. f. g. Direktur Manager Staf Pegawai kandang Pegawai RPH Pegawai mixing : : : : : : 1 orang 5 orang 12 orang 9 orang 3 orang 2 orang 2 orang

Pegawai pengepakan :

C. Bidang Sumber Daya Manusia 1. Sumber Tenaga Kerja: a. Tenaga ahli dari sarjana, dan b. masyarakat sekitar. 2. Balas jasa tenaga kerja : gaji, THR dan pesangon. 3. Suplai tenaga kerja terlatih maupun tidak terlatih. Tenaga kerja terlatih dari dinas peternakan atau mendatangkan orang dari perusahaan lain dan juga memberi pelatihan tenaga kerja. Penggunaan tenaga kerja tidak terlatih untuk bagian palangan dapat berasal dari masyarkat sekitar perusahaan. D. Bidang Finansial Biaya Investasi a. Kandang b. Bangunan: Gudang Kantor RPH Pengepakan Pos satpam Garasi Sumur Penampungan feses Mess c. Peralatan: Mesin Pemotong Rumput : 3 unit Silo dan mixer Biaya investasi kantor Truck (2 unit) Colt Bak (1Unit) Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. 36.000.000,00 25.000.000,00 50.000.000,00 200.000.000,00 50.000.000,00 : : 250 m2 100 m2 Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. 25.000.000,00 25.000.000,00 10.000.000,00 20.000.000,00 3.000.000.00 5.000.000,00 30.000.000,00 20.000.000,00 25.000.000,00 : 682,5 m2 Rp. 68.250.000,00

d. Tanah: Sewa Lahan : 300 Ha Rp 161.250.000,00 e. Ternak : 125 x 325 x Rp.20.000Rp. 812.500.000,00

Jumlah Rp. 1. 566.000.000,00 E. Bidang Yuridis Bidang yuridis yang akan dilakukan dan dibutuhkan yaitu: a. Ijin Lokasi dan sertifikasi, b. Studi AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), c. SUIP (Surat Izin Usaha Perdagangan), dan d. HO F. Bidang Pasar Dan Pemasaran Aktifitas pasar yang akan dilakukan yaitu: a. Kegiatan pemasaran, b. Segmentasi pasar, dan c. Promosi. Investasi yang di butuhkan yaitu: a. Sarana distribusi, dan b. Sarana promosi. G. Bidang Ekonomi, Sosial dan Politik Aktifitas yang akan dilakukan yaitu: a. Memaksimalkan keuntungan secara ekonomis, b. Menanggulangi gejolak inflasi, c. Menjalankan fungsi sosial, dan d. Merencanakan politik usaha. Investasi yang dibutuhkan yaitu Sumber Daya Manusia yang memadai. H. Bidang Persaingan Usaha Aktivitas yang akan dilakukan yaitu: a. Memperbesar usaha, b. Menanamkan kepercayaan publik, dan c. Meningkatkan kualitas dan kuantitas produk.

Target yang ingin dicapai adalah memenangkan persaingan sedangkan indikatornya pasar regional telah dikuasai sepenuhnya. I. Bidang Lingkungan Hidup Aktivitas yang akan dilakukan adalah: a. Mengadakan studi AMDAL, b. Mengadakan pengolahan limbah, dan c. Mengurangi dampak lingkungan negatif. Hal yang diperlukan yaitu input faktor produksi dan perizinan

VII. FORMULA EKONOMI YANG DIGUNAKAN Perhitungan selama 1 tahun 1. Biaya Investasi a. Kandang b. Bangunan: Gudang Kantor RPH Pengepakan Pos satpam Garasi Sumur Penampungan feses Mess c. Peralatan: Mesin Pemotong Rumput : 3 unit Silo dan mixer Biaya investasi kantor Truck (2 unit) Colt Bak (1Unit) d. Ternak Jumlah : 125 x 325 x Rp.20.000 e. Investasi untuk perizinan usaha Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp 36.000.000,00 25.000.000,00 50.000.000,00 200.000.000,00 50.000.000,00 812.500.000,00 30.000.000,00 : : 250 m2 100 m2 Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. 25.000.000,00 25.000.000,00 10.000.000,00 20.000.000,00 3.000.000.00 5.000.000,00 30.000.000,00 20.000.000,00 25.000.000,00 : 682,5 m2 Rp. 68.250.000,00

Rp. 1. 437.750.000,00

2. Biaya Operasional a. Biaya Tetap 1. Penyusutan perkandangan Penyusutan bangunan Penyusutan peralatan Silo dan mixer Mesin pemotong rumput Truck Colt Bak 4. Tanah Sewa Lahan 5. Tenaga Kerja 6. Perbaikan Rutin 7. PBB Jumlah b. Biaya Variabel 1. Pakan konsentrat 2. Biaya investasi kantor 3. Obat-obatan 4. Bahan bakar 5. Listrik 6. Telepon 7. Pajak usaha 8. Lain-lain Jumlah Rp. Rp. Rp Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. 425.160.000,00 60.000.000,00 12.000.000,00 50.000.000,00 30.000.000,00 40.000.000,00 50.000.000,00 10.000.000,00 677.160.000,00 Rp. : 300 Ha Rp Rp Rp. Rp. 686.500.000,00 70.000.000,00 350.000.000,00 8.000.000,00 5.000.000,00 : 2unit : 1 unit Rp Rp. Rp. Rp. 9.000.000,00 15.000.000,00 80.500.000,00 25.000.000,00 Rp Rp. 15.000.000,00 10.000.000.,00

Jumlah Biaya Operasional Rp. 1.363.660.000,00

3. Penerimaan a. Penjualan produk utama Karkas b. Penjualan produk sampingan Non Karkas Penjualan Kulit Jumlah Pendapatan Pendapatan = Penerimaan - Biaya Operasional = Rp. 1.781.250.000,00 - Rp 1.363.660.000,00 = Rp. 417.590.000,00 Kelayakan Usaha Break even Point (BEP) BEP harga Produksi = 48.485/kg R/C (return cost ratio) R/C =
TotalPenerimaan TotalBiaya Rp.1.363.660.000,00 TotalBiaya = = Rp. 28.125 Kg Total Pr oduksi

Rp. Rp Rp. Rp.

1.406.250.000,00 125.000.000,00 250.000.000,00 1.781.250.000,00

= 1.363.660.000,00 = 1,31

1.781.250.000,00

Dengan R/C 1,31 berarti usaha ini layak untuk dilakukan Karena setiap penambahan biaya Rp. 1,00 akan memperoleh penerimaan Rp. 1,31 Rentabilitas =
Pendapa tan bersih / periode x100% Modal
Rp.417.590.000,00 / 3

= Rp.1.437.750.000,00 x100% = 9,68% Usaha ini efisien karena tingkat suku bunga bank dibawahnya

VIII. SUMBER YANG DIPERLUKAN Sumbersumber yang diperlukan untuk mendirikan perusahaan adalah berupa sumber fisik dan non fisik yang nominalnya sudah terangkum dalam bab terdahulu. Sumber fisik berupa : 1. Bakalan 2. Lahan 3. Modal 4. Kandang dan Gudang. 5. Fasilitas perkantoran dan karyawan 6. Peralatan dan perlengkapan produksi 7. Tenaga kerja. Sumber non fisik : 1. Kemampuan wirausaha 2. Mentalitas 3. Komitmen 4. Akhlak

IX. RENCANA PELAKSANAAN USAHA 1. Tahap implementasi a. Tahap negoisasi Negoisasi dilakukan selama 6 bulan untuk menegoisasi para investor dan perbankan untuk memberikan bantuan dana. Selain itu juga dilakukan negoisasi terhadap pemilik tanah untuk membebaskan tanahnya. b. Realisasi kontrak Setelah negoisasi berhasil, maka segera dilakukan realisasi kontrak dengan para investor dan pihak perbankkan serta para pemilik tanah selama dua minggu. c. Desain kerja Pasca kontrak terealisasi, maka dilakukan perancangan kerja yang bersifat teknis (ternak, pakan, pemeliharaan) serta non teknisnya (lay out usaha). d. Pelaksanaan pembangunan usaha Meliputi pembangunan fisik (kantor dan kandang), lahan hijauan, jaringa pasar, tenaga kerja, pakan yaitu selama dua bulan. 2. Tahap operasional Kegiatan operasional pertama yaitu mendatangkan bakalan Kegiatan operasioal meliputi pemberian pakan, kesehatan, pengolahan limbah. Tahap operasional dilakukan setiap saat secara berkelanjutan. 3. Monitoring dan pengawasan Monitoring dan pengawasan dilakukan terus menerus terhadap kinerja perusahaan. 4. Tahap evaluasi Evaluasi usaha untuk pertama kali dilakukan ketika perusahaan sudah berjalan selama tiga tahun. Hal tersebut dimaksudkan agar perusahaan sudah memiliki penghasilan baik. Selanjutnya evaluasi dilakukan setahun sekali. 5. Penyusunan laporan evaluasi usaha Setelah melakukan evaluasi, dilakukan penyusunan laporan evaluasi, sebagai dasar bagi investor, perbankkan dan investor yang akan menanamkan modalnya.