Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pandangan bahwa perempuan yang menderita penyakit ginjal sebaiknya menghindari kehamilan, telah ada sejak abad lalu. Luaran bayi dipercaya akan kurang baik dan pasien yang menderita penyakit ginjal disarankan melakukan terminasi kehamilan. Sejak tahun 1975 rasa pesimis itu berubah menjadi rasa optimis sehubungan dengan banyaknya publikasi studi kasus mengenai kehamilan dengan penyakit ginjal yang dikonfirmasi dengan biopsi ginjal, sehingga kebanyakan perempuan dengan gangguan ginjal dapat melewati kehamilan tanpa kelainan yang berarti. Selain itu, data-data mengenai perempuan hamil dengan transplantasi ginjal sejak tahun 2000 telah memberikan hasil yang menggembirakan. Kesemuanya ini memberikan pandangan bahwa sebagian besar perempuan yang mempunyai gangguan fungsi ginjal minimal dapat hamil dengan kemungkinan kehamilannya berhasil mencapai 90%. (Prawirohardjo. 2009: 830) Di Amerika Serikat rasio kelahiran hidup dari perempuan dengan riwayat penyakit ginjal adalah 6,6 per 1.000 dari semua ras dan usia. Pada perempuan kulit putih rasio kelahiran adalah 3,0 per 1.000 kelahiran hidup dibandingkan 2,2 per 1.000 kelahiran hidup pasa kulit hitam. (Prawirohardjo. 2009: 830) Pada kehamilan normal terdapat perubahan bermakna baik pada struktur maupun fungsi dari saluran kemih, diantaranya dilatasi saluran kemih, yaitu pada kaliks, pelviks ginjal, dan ureter. Keadaan ini terjadi sebelum usia kehamilan 14 minggu karena pengaruh hormon yang melemaskan lapisan-lapisan otot saluran kemih. Pada fungsi ginjal juga terjadi peningkatan segera setelah konsepsi. Aliran plasma ginjal dan filtrasi glomerulus efektif masing-masing meningkat rata-rata 40% dan 65%. (Fadlun, 2012:14) Secara empiris, kehamilan dengan kelainan ginjal kronis merupakan kehamilan dengan resiko yang sangat tinggi. Karena kehamilan sendiri bisa menyababkan kelainan-kelainan pada ginjal seperti infeksi saluran kemih, hipertensi dan lain sebagainya. Sehingga kami tertarik untuk membahasnya secara lebih lengkap pada makalah ini dengan harapan dapat digunakan sebagai acuan oleh bidan sebagai tenaga kesehatan saat memberikan uasuhan pada ibu hamil dengan penyakit ginjal.

1.2

Tujuan 1.2.1.1 Mahasiswa mampu melakukan asuhan antenatal care maupun intranatal care pada ibu hamil yang disertai dengan penyakit ginjal.

1.2.1 Tujuan Umum

1.2.2 Tujuan Khusus 1.2.2.1 Mengetahui perubahan anatomik ginjal dan saluran kemih 1.2.2.2 Mengetahui perubahan fungsional ginjal dan saluran kemih 1.2.2.3 Mengetahui tes fungsi ginjal 1.2.2.4 Mengetahui macam-macam penyakit ginjal dan saluran kemih yang menyertai kehamilan

BAB II KAJIAN TEORI 2.1 Perubahan Anatomik Ginjal dan Saluran Kemih Ginjal adalah sepasang organ retroperitoneal yang integral dengan homeostasis tubuh dalam mempertahankan keseimbangan fisika dan kimia. Ginjal menyekresi hormon dan enzim yang membantu pengaturan produksi eritrosit, tekanan darah serta metabolisme kalsium dan fosfor. Ginjal membuang sisa metabolism dan menyesuaikan ekskresi air daan pelarut. Ginjal mengatur cairan tubuh, asiditas, dan elektrolit sehingga mempertahankan komposisi cairan yang normal. (Mary Baradero, 2008 : 1) Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan fungsional dan anatomik ginjal dan saluran kemih yang sering menimbulkan gejala-gejala dan kelainan fisik dan hasil pemeriksaan laboratorium.. Ginjal akan memanjang kurang lebih 1 cm dan kembali normal setelah melahirkan. Ureter juga mengalami pemanjangan, melekuk dan kadang berpindah letak ke lateral dan akan kembali normal 8-12 minggu setelah melahirkan. (Prawirohardjo. 2009: 830) Selain itu juga terjadi hiperlpasia dan hipertrofi otot dinding ureter dan kaliks, dan berkurangnya tonus otot-otot saluran kemih karena pengaruh kehamilan. Akibat pembesaran uterus hiperemi organ-organ pelvis dan pengaruh hormonal terjadi perubahan pada kendung kemih yang dimulai pada kehamilan 4 bulan. Kandung kemih akan berpindah lebih anterior dan superior. Pembuluh-pembuluh di daerah mukosa akan membengkak dan melebar. Otot kandung kemih mengalami hipertrofi akibat pengaruh hormon estrogen. Kapasitas kandung kemih meningkat sampai 1 liter karena efek relaksasi dari hormon progesterone. (Prawirohardjo. 2009: 830) 2.2 Perubahan Fungsional Ginjal dan Saluran Kemih Kehamilan merupakan suatu kondisi hiperdinamik, hipervolemik, dengan adaptasi yang tampak pada semua sistem organ utama. Perubahan fisiologik penting yang timbul pada ginjal selama kehamilan antara lain : 2.2.1 Peningkatan aliran plasma renal (Renal Plasma Flow/RPF) 2.2.2 Peningkatan tingkat filtrasi glomerulus. (glomerular Filtration Rate/GFR) 2.2.3 Perubahan reabsorbsi glukosa, sodium, asam amino, dan asam urat tubular.

Peningkatan GFR terjadi sejak kehamilan trimester kedua, GFR akan meningkat sampai 3050% di atas nilai normal perempuan tidak hamil. Peningkatan ini menetap sampai usia kehamilan 36 minggu, lalu terjadi penurunan 15-20%. (Prawirohardjo. 2009: 831) Peningkatan RPF dimulai sejak trimester kedua yang kemungkinan disebabkan oleh efek kombinasi curah jantung yang meningkat dan resistensi vascular ginjal sebagai peningkatan produksi prostaglandin ginjal. RPF akan meningkat 50-80% di atas kadar perempuan tidak hamil, dengan rata-rata 137ml/menit. Setelah itu, nilainya akan turun mendekati 25%, tetapi relative masih tinggi di atas kadar perempuan tidak hamil. Semakin tua kehamilan, efek komprehensif dari pembesaran aorta vena cava dapat menurunkan aliran darah ginjal yang efektif menjadi 20%. Akibatnya, akan terjadi penurunan kadar kreatinin serum dan urea nitrogen. (Prawirohardjo. 2009: 831) 2.3 Tes Fungsi Ginjal Klirens kreatinin endogen merupakan cara utama untuk menilai GFR pada perempuan yang tidak hamil, juga bermanfaat dalam mengevaluasi ginjal pada perempuan hamil. Batas normal terendah selama kehamilan mencapai 30% di atas kadar normal pada perempuan tidak hamil. (Prawirohardjo. 2009: 832) Table 2.3 Nilai laboratorium ginjal normal pada perempuan hamil Nilai laboratorium BUN, mg/dl Klirens kreatinin, Perempuan tidak hamil 6-27 100-180 0,5-0,8 2,2-7,5 <150 Perempuan hamil 7,2-10,2 150-200 0,3-0,6 3,2-3,5 <300

ml/menit Kreatini serum, mg/dl Asam urat, mg/dl Protein total, mg/24jam

2.4 Macam-macam Penyakit Ginjal dan Saluran Kemih yang Menyertai Kehamilan 2.4.1 Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan komplikasi medis utama pada wanita hamil. Sekitar 15 % wanita mengalami paling sedikit 1 kali serangan akut infeksi saluran kemih selama hidupnya. Organisme yang menyebabkan ISK berasal dari flora normal perineum. Infeksi ini dapat mengakibatkan masalah pada ibu dan janin. (Fadlun, 2012:14) Dikatakan ISK bila pada pemeriksaan urin di temukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 10.000 /ml, atau terdapatnya pertumbuhan 100.000 koloni bakteri atau lebih per millimeter jumlah urin midstream dengan teknik catch. Beberapa peneliti berpendapat bahwa jumlah bakteri 20.000-50.000 telah menunjukkan infeksi aktif. Walaupun infeksi dapat terjadi karena penyebaran kuman melalui pembuluh darah atau saluran limfe, tetapi yang terbanyak dan atau tersering adalah kuman-kuman naik keatas melalui uretra, ke dalam kandung kemih dan saluran kemih yang lebih atas. Kuman yang tersering dan terbanyak sebagai penyebab adalah E.coli, disamping kemungkinan kuman-kuman lain seperti E.aerogenes, Klebsiella, dan pseudomonas. (Prawirihardjo.2009:835) 2.4.2 Bakteriuria dalam Kehamilan Air kencing normal mengandung kurang dari 10.000 bakteri per cc. Bakteriuria dibagi menjadi 2 jenis: 1. Bakteriuria tanpa gejala Jumlah bakteri kurang dari 100.000 per cc. a. Gejala dan tanda Tanpa gejala dan tanda klinis yang dapat di jadikan petunjuk adanya gangguan pada sistem urinaria. b. Dampak atau pengaruh BA akan meningkatkan morbiditas ibu hamil dan bayi yang dikandung oleh ibu. Selain itu, hal ini berkaitan dengan kejadian anemia, hipertensi, kelahiran prematur, dan bayi berat lahir rendah (BBLR). Ibu yang terinfeksi ini tidak perlu pembatasan aktifitas. (Fadlun, 2012:14) 2. Bakteriuria dengan gejala Disertai demam, sakit dan nyeri kencing. Bakteriuria dalam kehamilan: a. 25-40 % menyebabkan pielonefritis akut b. Dapat menyebabkan abortus, partus prematurus, IUFD.

b. Penanganan: c. Hati-hati dalam melakukan kateterisasi d. Pengobatan: kemasan sulfonamide, negram, baktrim, furadantin, septrin dll. ( bekerjasama dengan ahli kandungan ) e. (Nugraheny Esti. 2010) 2.4.3 Sistitis Sistitis adalah peradangan kandung kemih disebabkan oleh bakteri atau kuman lain. Paling sering E. Coli atau kuman lain pada saat pemasangan kateter. (Nugraheny Esti. 2010) Sistitis adalah termasuk infeksi saluran kemih bagian bawah, yang memiliki kemungkinan 0,32% kejadian dari seluruh kasus ISK. Tanda dan gejala sistitis adalah sebagai berikut. a. b. c. d. e. Sebesar 95% infeksi terbatas pada kandung kemih. Nyeri pada daerah supra simpisis / nyeri / panas pada saat berkemih (disuria). Frekuensi berkemih meningkat dengan jumlah sedikit, kadang-kadang 1 sampai dengan 2 tetes dikeluarkan sehingga timbul perasaan tidak puas. Air kemih berwarna gelap sampai kemerahan. Pada mikroskopik, ada peningkatan jumlah leukosit, sejumlah eritrosit, dan bakteri pada urin. (Fadlun, 2012:15) Bila luka pada kandung kemih disertai hamaturia. Pengaruh terhadap kehamilan serupa dengan bakteriuria. Pengobatan sama seperti bakteriuria ditambah bikarbonas natrikus untuk menetralisir kencing menjadi basa. ( bekerjasama dengan ahli kandungan ). (Nugraheny Esti. 2010) 2.4.4 Pielonefritis ISK yang menyerang kaliks, pelviks, dan parenkim ginjal. Hasil temuan menyatakan infeksi ini merupakan penyebab utama syok septic selama kehamilan. Kondisi ini merupakan masalah utama saluran kemih pada kehamilan. Sekitar 1-2% wanita hamil mengalami ini. Infeksi ini sangat berkaitan dengan statis aliran air kemih akibat perubahan sistem saluran kemih selama kehamilan, 9% terjadi pada trimester 1, 46% pada trimester 2, dan 45% pada trimester 3. (Fadlun, 2012:15) 2.4.4.1 Pielonefritis akut

Frekwensi: 2% terutama pad trimester III kehamilan. Penyebab: a. E. coli b. Stafilokokus aureus c. Basilus proteus danpsodomonas auroginosa d. Cara penjalaran bias melalui: dari kandung kemih naik ke atas (asenden), pembuluh darah dan pembuluh limpha. Gejala :demam tinggi, menggigil, sakit pinggang hebat, mual, muntah, nafsu makan kurang,oliguuria dan anuria, periksa urin dijumpai leukosit yamg banyak bergumpal. 1. Pengaruh penyakit terhadap kehamilan: a. Bisa berpengaruh terhadap hasil konsepsi, seperti abortus, partus prematurus, dan kematian janin. b. Bila cepat diobati kehamilan sampai dengan cukup bulan dan persalinan normal. 2. Pengaruh kehamilan terhadap penyakit; Pielitis dan sistitis lebih mudah terjadi dalam kehamilan. Penyakit yang telah ada menjadi lebih berat karena kehamilan. Penanganan: a. Sebaiknya hati-hati dalam hal pemakaian kateter, kalau bisa dihindari b. Kalau harus pakai gunakan obat anti bacterial. c. Wanita harus istirahat baring miring ke posisi yang tidak sakit d. Sebelum memberikan obat lakukan uji kepekaan obat barulah diberikan obat antibacterial yang tepat, biasanya selama 10-12 hari. e. Awasi penderita untuk kemungkinan adanya residif. (Nugraheny Esti. 2010) 2.4.4.2 Pielonefritis kronika Penyakit ini menahun. Gejala utama adanya protein urin yang tidak menetap dan hipertensi. Pengobatan agak sukar karena sudah kronis. Wanita dengan pielonefritis akut disertai insufisiensi ginjsl dianjurkan tidak hamil. (Nugraheny Esti. 2010) 2.4.5 Glomerulonefritis akut

a. Penyebabnya: streptokokus beta hemolitikus A. b. Factor predisposisi: tonsillitis, karies dan infeksi gigi dan infeksi streptokokus ditempat lain.

c. Gejala klinik;trias hematuria, edema, hpertensi d. Sindroma:oliguria, anuria, sakit kepal, kelainan fisus, kejang-kejang dan koma. Dalam kehamilan sulit membedakan dengan eklampsi murni. Dapat pula disertai edema paru dan uremia. Pengaruh terhada kehamilan adalah terjadinya abortus, partus prematurus dan kematian janin e. Pengobatan: istirahat baring, diit rendah garam, antihipertensif, keseimbangan cairan dan elektrolit dan antibioik (Nugraheny Esti. 2010) 2.4.6 Glomerulonefritis kronika Penyakit menahun. Dijumpai proteinuria, leukosit, hipertensi. Bila disertai edema keadaan ini disebut preeklampsi tidak murni (super imposed preeklampsi). Penampilan penyakit ini ada 4 macam: a. c. Proteinuria menetap: tanpa kelainan sedimen. Glomerulonefritis akut b. Sindroma nefrotik d. Insufisiensi ginjal atau gagal ginjal Pengaruh terhadap kehamilan dan persalinan: a. Terhadap kehamilan: dapat terjadi abortus, partus prematurus dan IUFD. forsep dan embriotomi bila anak mati. (Nugraheny Esti. 2010) 2.4.7 Sindroma nefrotik ( nefrosis ) Adalah kumpulan gejala proteinuria ( diatas 5gr/hr ), edema, hipoalbuminurinemia, hiperkholeste-rolemia. Penyebab: a. Penyakit; glomerulonefritis kronika, DM, lupus eritematosus, amiloidosis, sifilis, dan thrombosis vena renal. b. Keracunan: logam, obat dan racun lainnya. Pengobatan: a. Cari penyebab dan obati sesuai penyebab b. Berikan diit tinggi protein b. Dalam persalinan seperti menghadapi preeklampsi:kala ll diperpendek dengan vakum atau

c. e.

Antibiotic untuk mencegah infeksi Kortikosteroid dosis tinggi

d. Berikan heparin untuk mencegah tromboembolisme, terutama dalam nifas. (Nugraheny Esti. 2010) 2.4.8 Gagal ginjal akut ( accut renal failure ) Ada 2 jenis yaitu: nekrosis tubuler akut dan nekrosis kortikal. Keadaan dan penyakit yang dapat menyebabkannya adalah: a. b. c. a. c. Abortus septic terutama disebabkan clostridium welchii, toxemi hamil, solusio plasenta, sepsis puerperalis. Hemolisis karena kesalahan transfuse darah. Setiap syok yang hebat dan irreversible. Oliguria Azootemia

Gambaran klinik: b. Anuria d. Uremia Penanganan: a. Perdarahan dan syok segera ditanggulangi b. Pemberian transfuse darah (Nugraheny Esti. 2010) 2.4.9 Batu Ginjal ( Nefrolitiasis) dan Saluran Kemih ( Urotiliasis ) Batu ginjal atau saluran kemih pada kehamilan jarang terjadi. Frekwensinya sangat sedikit, yakni 1 dari 1.500 persalinan, dan ada yang mengatakan 0,03-0,07 %, biasanya terjadi selama trimester kedua dan ketiga. Walaupun demikian, perlu juga diperhatikan karena urolitiasis ini dapat mendorong timbulnya infeksi saluran kemih atau menimbulkan keluhan pada penderitaberupa nyeri pinggang dan nyeri kuadran bawah yang mendadak, kadang berupa kolik dan hematuria. Perlu anamnesis tentang riwayat penderita sebelumnya, terutama mengenai penyakit saluran kencing, untuk membantu membuat diagnosis urotiliasis. Diagnosis lebih tepat dengan melakukan pemeriksaan IVP dan MRI. (Prawirohardjo. 2009: 841) Bila diketahui adanya urolitiasis dalam kandungan, terapi pertama adalah analgetika untuk menghilangkan rasa sakitnya, diberi cairan agar banyak batu dapat kebwah karena hamper 80%

batu akan dapat turun kebawah, dan antibiotika. Pada penderita yang membutuhkan tindakan operasi sebaiknya operasi dilakukan setelah trimester pertama atau setelah pasca persalinan. (Prawiroharjo.2009:841) 2.4.10 Ginjal Polikistik Ginjal polikistik adalah penyakit sistemik yang umumnya bersifat autosomal dominan yang progresif sampai stadium akhir penyakit ginjal, yang membutuhkan dialisis atau transplantasi. (Prawiroharjo.2009:841) Hasil kehamilan bergantung pada derajat hipertensi, insufisiensi ginjal, dan infeksi saluran kemih atas. Derajat komplikasi hamper sama (33% dibandingkan 26%). Komplikasi seperti hipertensi dan preeklamsi lebih sering pada perempuan dengan penyekit ginjal polikistik. Kehamilan tampaknya tidak menyebabkan perburukan atau akselerasi / percepatan perjalanan penyakit. (Prawiroharjo.2009:841) 2.4.11 Tuberkolisis Ginjal Diagnosis tuberkolosis ginjal ditentukan bila ditemukan tuberkel kuman mikobakterium tuberkolosis pada ginjal, tetapi hal ini sulit dilakukan karena diperlukan tindakan infasif. Tes tuberculin tidak dapat dijadikan patokan karena kehamilan mengurangi sensifitas tuberculin. Diagnosis dapat ditegakkan bila ditemukan leukosit, eritrosit, dan tuberkolosis dalam urin. Penanganan TBC ginjal dalam kehamilan : a. b. c. Konservatif, dengan mengobati gejala yang timbul sampai akhir kehamilan. Paliatif, dengan melakukan terminasi kehamilan bertujuan untuk mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh proses tuberkolosis. Radikal, yang terdiri atas nefrektomi atau kombinasi aborsi dan nefrektomi. Nefrektomi merupakan pilihan apabila tuberkolosis hanya terjadi pada satu ginjal. Tindakan ini diperlukan pada 69% kasus tuberkolosis ginjal dengan eksaserbasi akut pada kehamilan. Aborsi tidak menghentikan proses tuberkolosis. Komplikasi yang dapat terjadi adalah abortus dan janin yang terinfeksi. Mortalitas ibu dan bayi apabila tidak diobati berkisar 30-40%. Terapi TBC ginjal sama dengan terapi TBC organorgan lain. Untuk membuat diagnosis TBC ginjal diperlukan pemeriksaan laboratorium khusus. (Prawiroharjo.2009:841) 2.4.12 Kehamilan pascanefrektomi

Pada penderita yang mempunyai satu ginjal karena kelainan kongenital atau pascanefrektomi, dapat atau boleh hamil sampai aterm asal fungsi ginjalnya normal. Perlu pemeriksaan fungsi ginjal sebelum hamil dan selama kehamilan serta diawasi dengan baik karena kemungkinan timbulnya infeksi saluran kemih. Persalinan dapat berlangsung pervaginam kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu. (Prawiroharjo.2009:842) 2.4.13 Kehamilan Pasca Transplantasi Ginjal Akhir-akhir ini terdapat laporan tentang kehamilan sampai cukup bulan setelah perempuan mengalami transplantasi ginjal. Prognosisnya cukup baik bila ginjal yang diimplementasikan tersebutberasal dari dinor yang hidup. Selama kehamilan mungkin timbul komplikasi pada ibu dan janinnya. (Prawiroharjo.2009:842) Bila ginjal yang diimplementasikan tersebut berasal dari ginjal donor yang telah meninggal, maka kemungkinan akan terjadi kerusakan atau fungsi ginjal akan memburuk setelah 1 tahun, sehingga pada perempuan tersebut harus dilakukan dialisis terus menerus untuk mempertahankan hidupnya. (Prawiroharjo.2009:842)

BAB III TINJAUAN KASUS

Tanggal / jam Tempat I. Data Subjektif 1.1 Identitas klien Nama klien Umur Suku /kebangsaan Pendidikan Pekerjaan Penghasilan Agama Alamat 1.2 Keluhan utama

: 3 Januari 2013 / 09.00 WITA : Poliklinik Kebidanan RSUP Sanglah

: Ny NA : 22 thn : Jawa / WNI : SMU : IRT :: Islam :

Nama Suami Umur Pendidikan Pekerjaan Penghasilan Agama Alamat

: Tn MW : 24 thn : SMU : IRT :: Islam :

Suku /kebangsaa : Jawa /WNI

Ibu mengatakan sering merasa lelah, kadang mual muntah, nafsu makan berkurang, susah BAK,dan bengkak pada kaki. 1.3 Riwayat menstruasi Ibu mengatakan menarche umur 12 tahun, siklus menstruasi 30 hari teratur, lama menstruasi 7 hari tiap bulan, banyaknya darah 3x ganti pembalut, konsistensi cair, tidak ada keluhan saat menstruasi. HPHT: 13 September 2012 (TP:20 Juni 2013) 1.4 Riwayat kehamilan sekarang Ibu mengatakan hamil yang ke 1 dengan umur kehamilan 4 bulan, hasil test kehamilan (+) tanggal test - , gerakan anak dirasakan pertama kali sejak umur kehamilan , gerak anak sekarang - , selama hamil memeriksakan kehamilannya di BPS. Imunisasi TT dimana BPS berapa kali 2x tanggal Tidak ada keluhan selama kehamilan ini. Obat obatan yang dikonsumsi selama hamil B6, Vit C, Fe. Penyuluhan yang dapat menganjurkan untuk tetap makan makanan bergizi. 1.6 Riwayat kehamilan, persalinan, dan Nifas yang lalu No Kehamilan Persalinan Nifas Anak Ket

Umur Penyul-

penol

jenis

Temp-

Penyul-

Penyul-

seks

BB/PB

menyusui

H/M

1. Hamil ini

1.7

Riwayat KB Kontrasepsi yang pernah digunakan ibu mengatakan belum pernah KB Rencana kontrasepsi yang akan datang ibu belum merencanakan KB

1.8

Riwayat Psikososial Ibu mengatakan hamil ini direncanakan dan diharapkan. Status perkawinan Jumlah perkawinan Lama menikah : menikah dengan status sah : 1 kali : 7 bulan

Jumlah keluarga yang tinggal serumah : 4 orang 1.9 Riwayat Kesehatan keluarga a) Keturunan kembar : ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada keturunan kembar dari pihak manapun b) Penyakit keturunan: ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada penyakit keturunan (DM,HT,Asma) dari pihak manapun c) Penyakit lain : ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada penyakit yang berpengaruh pada kehamilan (jantung) dari pihak manapun 1.10 Riwayat kesehatan yang lalu a. b. c. Penyakit menahun : ibu mengatakan memiliki penyakit menahun (GGK) Penyakit menurun : ibu mengatakan tidak memiliki penyakit menurun (HT,DM,Asma) Penyakit menular : ibu mengatakan tidak ada dalam keluarga terdapat keluarga yang menderita penyakit menular. 1.11 Latar belakang sosial budaya dan dukungan keluarga Kebiasaan / upacara adat istiadat saat hamil ibu mengatakan ada , contoh : 3 bulanan

Ibu mengatakan tidak ada kebiasaan keluarga yang menghambat. Kebiasaan keluarga yang menunjang ibu mengatakan ada , contoh : selamatan Dukungan dari suami, suami mendukung dan senang atas kehamilan ini Dukungan dari keluarga yang lain , ibu mengatakan keluarga sangat mendukung. 1.12 Pola kebiasan sehari hari a) Pola nutrisi Selama hamil : 3x sehari porsi sedang (nasi, lauk, sayur) minum 6 gls/hari (air putih) Sebelum hamil : 3x sehari porsi sedang (nasi, lauk, sayur) minum 6 gls /hari (air putih) Masalah yang dirasakan : mual muntah. b) Pola Eliminasi Selama hamil : BAB 1x sehari (padat, kuning) BAK 3x/ hari (kuning, bau khas) Sebelum hamil : BAB 1x sehari (lunak, kuning ) BAK 2x/ hari (kuning, bau khas) Masalah yang dirasakan : susah BAK c) Pola istirahat Selama hamil Sebelum hamil d) Pola aktivitas Selama hamil Sebelum hamil : IRT Masalah yang dirasakan : tidak ada e) Pola seksualitas Selama hamil Sebelum hamil f) Perilaku kesehatan Penggunaan obat obatan/ alkohol / jamu / rokok / sirih dll sebelum hamil tidak Penggunaan obat / alkohol / jamu / rokok / sirih dll selama hamil tidak. Lain lain mandi 2x1, gosok gigi 2x1, ganti baju 2x1, keramas 2x dalam seminggu. : 1x seminggu : 2x seminggu : IRT + pekerjaan rumah dibantu kelarga dari suami : Malam 9 jam, siang 2 jam : Malam 7 jam, siang 1 jam

Masalah yang dirasakan : tidak ada.

Masalah yang dirasakan : tidak ada

II. Data objektif Pemeriksaan umum Keadaan umum Kesadaran Keadaan emosional Tekanan darah Suhu Nadi Respirasi Tinggi badan Berat badan LILA Pemeriksaan khusus a. Inspeksi Kepala Muka Mata Hidung : Warna rambut hitam, tidak rontok, tidak ada benjolan, tidak ada ketombe : Tidak ada cloasma gravidarum : Konjungtiva merah muda, sklera kuning : Bentuk simetris, tidak ada secret, tidak ada polip, bersih. mulut lembab, lidah bersih. Telinga Payudara : Bentuk simetris, tidak ada serumen, bersih. : Bentuk simetris, pembesaran normal, terdapat hiperpigmentasi pada areola, papila mamae menonjol, yidak ada benjolan/tumor, bersih, tidak terdapat pengeluaran colostrums. Perut Anogenital Ekstremitas b. Palpasi Leher : Tidak ada bendungan vena jugularis, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada pembengkakan kelenjar lymfe. : Terdapat striae livide, linea nigra, tidak ada luka bekas operasi. : Tidak dikaji. : Tidak terdapat oedema pada ekstremitas atas dan bawah, tidak terdapat varices pada ekstremitas bawah. : cukup : composmentis : stabil : 110/80 mmHg : 36,80 C : 84x/ menit : 22x/ menit : 162 cm : (sebelum) 46 kg : 23,5 cm (sesudah) 49 kg

Mulut dan gigi : Tidak hipersalivasi, tidak ada caries gigi, gusi merah muda, mukosa

Ekstremitas
c.

: Terdapat oedema pada kaki. : +/+

Perkusi Reflek patela

d. Pemeriksaan penunjang lain


1. USG

: tidak dikaji : tidak dikaji : tidak dikaji

2. NST 3. Rotgent foto III. Assesment

1. Ny NA G1Poooo UK 16 minggu T/H Intra Uteri dengan gagal ginjal kronik. IV. Penatalaksanaan 1. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada klien dan keluarga tentang hasil pemeriksaan, Ibu dan keluarga mengatakan mengerti dengan penjelasan yang diberikan. 2. Melakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi, tindakan dan pemeriksaan laboratorium ulang, advise dokter yaitu : a. b. Memberikan suplemen Kalk 1x500mg (XXX), SF 1x200mg (XXX), Vit.C 1x50mg (XXX). Melakukan pemeriksaan laboratorium ulang. 3. Memberikan KIE pada ibu untuk istirahat cukup, Ibu bersedia untuk istirahat siang sebanyak kurang lebih 1 2 jam dan istirahat siang selama kurang lebih 8-9 jam. 4. Memberikan KIE pada ibu untuk makan makanan bergizi, ibu bersedia untuk makan makanan bergizi. 5. Memberikan KIE pada ibu cara minum suplemen yg baik dan benar, Ibu mengatakan memahami dan bersedia minum suplemen. 6. Memberikan KIE pada ibu untuk menjaga personal hygiene, ibu memahami. 7. Menyepakati kunjungan ulang 1 bulan lagi pada tanggal 3 Februari 2013 atau sewaktu waktu apabila ibu ada keluhan, ibu menyepakati.

BAB IV PENUTUP 4.1 KESIMPULAN

Ginjal adalah sepasang organ retroperitoneal yang integral dengan homeostasis tubuh dalam mempertahankan keseimbangan fisika dan kimia. (Mary Baradero, 2008 : 1) Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan fungsional dan anatomik ginjal dan saluran kemih yang sering menimbulkan gejala-gejala dan kelainan fisik dan hasil pemeriksaan laboratorium.. Ginjal akan memanjang kurang lebih 1 cm dan kembali normal setelah melahirkan. Ureter juga mengalami pemanjangan, melekuk dan kadang berpindah letak ke lateral dan akan kembali normal 8-12 minggu setelah melahirkan. (Prawirohardjo. 2009: 830) Perubahan fisiologik penting yang timbul pada ginjal selama kehamilan antara lain : a.Peningkatan aliran plasma renal (Renal Plasma Flow/RPF) b. Peningkatan tingkat filtrasi glomerulus. (glomerular Filtration Rate/GFR) Klirens kreatinin endogen merupakan cara utama untuk menilai GFR pada perempuan yang tidak hamil, juga bermanfaat dalam mengevaluasi ginjal pada perempuan hamil. Batas normal terendah selama kehamilan mencapai 30% di atas kadar normal pada perempuan tidak hamil. Macam-macam Penyakit Ginjal dan Saluran Kemih yang Menyertai Kehamilan antara lain ; Infeksi Saluran Kemih (ISK), Bakteriuria dalam Kehamilan, Sistitis, Pielonefritis, Glomerulonefritis akut, Glomerulonefritis kronika, Sindroma nefrotik ( nefrosis ), Gagal ginjal akut ( accut renal failure ), Batu Ginjal ( Nefrolitiasis) dan Saluran Kemih ( Urotiliasis ), Ginjal Polikistik, Tuberkolisis Ginjal, Kehamilan pascanefrektomi, dan Kehamilan Pasca Transplantasi Ginjal. Ibu dengan penyakit-penyakit tersebut menyertai kehamilan memerlukan penanganan khusus. 4.2 4.2.1 SARAN Tenaga Kesehatan Sebagai tenaga kesehatan sebaiknya lebih komprehensif dalam melaksanakan asuhan kebidanan dan mampu memberikan pelayanan kebidanan dengan menggunakan asuhan sesuai prosedur. 4.2.2 Pasien Pasien khususnya ibu sebaiknya mengetahui bagaimana penatalaksanaan dari masalah yang dihadapi pada dirinya serta mendukung dan berperan aktif dalam asuhan kebidanan yang diberikan c.Perubahan reabsorbsi glukosa, sodium, asam amino, dan asam urat tubular.

4.2.3

Institusi Karena pentingnya materi asuhan pada ibu hamil maka institusi sebaiknya memberikan

waktu lebih untuk membahas materi ini karena hal ini terkait untuk perkuliahan mahasiswi kebidanan dalam mengatasi permasalahan yang timbul nantinya pada saat dilahan. 4.2.4 Mahasiswa Para mahasiswa, khususnya mahasiswa kebidanan harus lebih memahami materi ini karena sebagai bekal untuk memberi asuhan kepada klien yang nantinya akan ditangani sehingga tidak terjadi kesalahan dalam memberikan asuhan.

DAFTAR PUSTAKA Baradero, M. 2008. Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Ginjal. Jakarta : EGC Fadlun. 2012. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta : Salemba Medika

Nugraheny, Esti. 2010. Asuhan Kebidanan Pathologi. Yogyakarta : Pustaka Rihama Prawirohardjo Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Beri Nilai