Anda di halaman 1dari 49

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1. Aspek Geografi dan Demografi

Aspek geografi dan demografi merupakan salah satu aspek kondisi kewilayahan yang mutlak diperhatikan sebagai ruang dan subyek pembangunan. Dari uraian ini diharapkan dapat terpetakan potensi dan permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan Kabupaten Sumbawa lima tahun kedepan.

  • 2.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah

    • 2.1.1.1. Luas dan Batas Wilayah Administrasi

Sebagai salah satu dari sepuluh kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Sumbawa terdiri dari 24 kecamatan, 8 kelurahan, 157 desa dan 576 dusun dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara

: Laut Flores

Sebelah Timur

: Kabupaten Dompu,

Sebelah Selatan

: Samudera Indonesia,

Sebelah Barat

: Kabupaten Sumbawa Barat dan Selat alas.

Luas wilayah keseluruhan mencapai 11.556,44 km² (45,52% NTB), yang terdiri dari daratan 6.643,98 km², dan lautan 4.912,46 km². Dengan luasan tersebut menjadikan Kabupaten Sumbawa memiliki potensi sumberdaya alam cukup besar dengan posisi geostrategis Kabupaten Sumbawa pada jalur lalu lintas perdagangan Surabaya-Waingapu dan berada pada koridor lima Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), yang berorientasi pada pembangunan pariwisata, perikanan dan peternakan.

  • 2.1.1.2. Letak dan Kondisi Geografis

kondisi geografis Kabupaten Sumbawa sebagian besar merupakan dataran tinggi dan berbukit-bukit tandus dengan curah hujan rendah, dan secara astronomis yang ditentukan berdasarkan garis lintang dan garis bujur, Kabupaten Sumbawa terletak diantara 116 0 42’–118 0 22’ BT, 8 0 8’–9 0 7’ LS, yang dikelilingi oleh pulau-pulau kecil berpenduduk; seperti Pulau Moyo, Pulau Medang, Pulau Tapan, Pulau Bungin, Pulau Kaung dan Pulau Panjang.

  • 2.1.1.3. Topografi

Menurut karakteristik topografinya, permukaan tanah Kabupaten Sumbawa cenderung berbukit-bukit dengan ketinggian antara 0-1.730 meter diatas permukaan laut (mdpal). Ketinggian 0-100 mdpalmencapai luas 26,51%; 100-500 m dpal 42,31%; 500-1.000 m dpal 27,69% dan > 1.000 m dpal 3,49%. Adapun berdasarkan klasifikasi kemiringan lahan, kemiringan 0-2% seluas 33,79%; kemiringan 2-15% seluas 27,96%; kemiringan 15-40% seluas 49,49% dan kemiringan >40% seluas 54,03% (Data Pokok NTB, 2008). Dalam konteks pembangunan daerah, kondisi topografi berpengaruh penyediaan infrastruktur dan fasilitas publik. Wilayah yang didominasi kemiringan lahan >40% seperti Kecamatan Batulanteh, Ropang, Lenangguar, dan Orong Telu anggaran untuk penyediaan infrastruktur dan fasilitas publik lebih mahal dibandingkan dengan wilayah kecamatan lain, sehingga pada umumnya aksesibilitas masyarakat di wilayah tersebut amat rendah. Disamping itu, topografi berkaitan erat pula dengan kerentanan erosi. Menurut Data Pokok NTB, sekitar 64%, lahan di Kabupaten Sumbawa tergolong peka hingga sangat peka terhadap erosi, sehingga upaya rehabilitasi lahan amat penting dan mendesak dilakukan.

2.1.1.4.

Geologi

Kabupaten Sumbawa sebagaimana sebagian wilayah Indonesia terletak dalam sabuk gunung api (ring of fire). Dalam Peta Tatanan Geologi dan Gunung Berapi Indonesia, Kabupaten Sumbawa tempat pertemuan 2 lempeng aktif dunia yaitu Lempeng Indo-Australia (bagian selatan) dan Lempeng Eurasia (bagian utara) (Katili, 1994). Kondisi geologis tersebut menyebabkan Kabupaten Sumbawa kaya akan deposit sumberdaya mineral sekaligus rawan terhadap bencana alam. Prakiraan potensi sumberdaya mineral potensial yang dimiliki, berupa emas (180 ribu m 3 ), tembaga (1,575 juta m 3 ), lempung/tanah liat (5,9 juta m 3 ), batu gamping (274,29 juta m 3 ) dan marmer (43,06 juta m 3 ), pasir besi (304,5 m 3 ), sirtu (793 ribu m 3 ) dan batu bangunan (269,22 juta m 3 ). Potensi lain seperti energi panas bumi juga terdapat di Kecamatan Maronge dengan potensi 6 Mwe untuk pemanfaatan langsung. Potensi angin juga cukup memadai untuk pembangkit listrik skala kecil terutama pada 6 kecamatan yakni Alas Barat (376,177 watt), Labuhan Badas (612,541 watt), Labangka (525,177 watt), Empang (376,177 watt), Plampang (313,621 watt) dan Lape (258,415 watt).Demikian pula potensi sumberdaya air, disamping digunakan sebagai air irigasi juga dapat digunakan untuk pembakit Listrik Mikro Hidro yang terdapat di 16 lokasi potensial dengan potensi energi 3.082 Kwatt.

2.1.1.5.

Hidrologi

Kabupaten Sumbawa memiliki 7 Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan 153 titik mata air. Tingginya sedimentasi, berkurangnya jumlah dan debit mata air, serta semakin meluasnya wilayah bukaan di bagian hulu DAS menunjukkan kondisi DAS sebagian besar mengalami degradasi sehingga upaya rehabilitasi mendesak dilakukan. Dalam mendukung pengembangan pertanian, terdapat 35 Daerah Irigasi (DI) teknis yang terdiri dari 2 DI kewenangan Pusat, 8 DI Kewenangan Provinsi dan 25 DI kewenangan kabupaten. Disamping itu terdapat pula 534 DI yang dikelola oleh desa.

Dalam mendukung supply air irigasi terdapat 12 unit bendung teknis, 28 unit embung dan 4 unit bendungan. Permasalahan sedimentasi, biaya operasional dan pemeliharaan DI menjadi aspek utama dalam pengelolaan DI di Kabupaten Sumbawa. DAS di Kabupaten Sumbawa disajikan pada tabel berikut.

 

Tabel 2.1. Potensi Sumber Daya Air Di Kabupaten Sumbawa

 

No

 

Kecamatan

Sub Satuan wilayah

Luas

 

Ketersediaan Air (Juta

 

Sungai (SSWS)

(km2)

m3)

1

 

2

3

4

 

5

1

Lape/Lopok

 

Bako

754

 

453

2

Lunyuk

 

Beh

2255

 

2189

3

Moyo Hulu

 

Moyo Hulu

956

 

290

4

Pelampang/Empang

 

Ampang

1059

 

399

5

Labuan badas

 

Pulau Moyo

454

 

214

6

Alas/Alas Barat

 

Rea

1049

 

415

7

Utan/Rhee

 

Rhee

1335

 

437

Sumber data : Balai Informasi Sumber Daya Air Dinas P U Prov. NTB Tahun 2010

 

2.1.1.6.

Klimatologi

Kabupaten Sumbawa beriklim tropis yang dipengaruhi oleh dua musim yakni musim hujan dan kemarau. Dalam kurun waktu 2005-2009, jumlah hari hujan setahun rata-rata 106 hari dengan hari hujan tertinggi 117 hari (2006) dan terendah 94 hari (2009). Curah hujan tahunan rerata 1.238 mm per tahun dengan tertinggi 1.601,66 mm (2006) dan terendah 970 mm (2009). Curah hujan tertinggi sebulan berkisar 387,6 mm (antara Januari-Maret), tertinggi 630,4 mm (Februari 2006) dan terendah 271,1 mm (Februari 2005). Adapun bulan kering setahun rata-rata 2,6 bulan dengan bulan kering tertinggi 5 bulan (2006) dan terendah 1 bulan (2008).

Suhu udara dalam kurun waktu 2005-2009, suhu rata-rata tahunan sekitar 27,2 0 C, sedangkan suhu maksimum rata-rata 34,8 0 C (tertinggi 34,4 0 C tahun 2009) dan suhu minimum 20,9 0 C (terendah 18,3 tahun 2009). Adapun tekanan udara rata-rata 1.008 mb dengan kelembaban udara 76,2% dan penyinaran 79,2%. Kondisi klimatologis demikian amat cocok dalam pengembangan berbagai komoditi pertanian, peternakan, perikanan dan beberapa jenis komoditi perkebunan.

Dalam 5 tahun terakhir ini di Kabupaten Sumbawa belum menunjukkan terjadinya kondisi ekstrim pada musim hujan dan musim kemarau. Namun fenomena terjadi La Nina dan El Nino dalam 3 tahun terakhir yang disertai dengan curah hujan yang lebih tinggi dan musim kemarau yang lebih pajang perlu diwaspadai.

  • 2.1.1.7. Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan di Kabupaten Sumbawa sampai tahun 2009 terbagi dalam beberapa kategori penggunaan meliputi: 1) lahan sawah (terdiri dari: irigasi teknis, irigasi ½ teknis, irigasi PU dan tadah hujan); 2) lahan kering (terdiri dari: kolam/tebat/empang, tegal/kebun, ladang/huma, pengembalaan/padang rumput, sementara tidak diusahakan, hutan rakyat, tambak, perkebunan dll); 3) lahan lainnya (terdiri dari: rawa-rawa/tidak ditanami, rumah/ bangunan/halaman sekitarnya, hutan negara dan lainnya).

Tabel 2.2. Penggunaan Lahan Di Kabupaten Sumbawa

No.

Penggunaan

 

Luas Lahan (Ha)

2007

2008

2009

1

2

3

4

5

1.

Luas Lahan Sawah

43.179

46.873

48.254

2.

Luas Lahan Kering

338.100

241.160

240.245

3.

Luas Lahan Lainnya

283.119

296.945

375.959

Sumber data : Sumbawa Dalam Angka (BPS)

Rendahnya luasan lahan sawah dan masih tingginya luasan lahan kering sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2.2, menunjukkan bahwa peluang pengembangan pembangunan ekonomi daerah dari sector pertanian dalam arti luas masih sangat terbuka, diantaranya melalui peningkatan kemampuan teknologi dan industri ramah lingkungan yang mampu untuk menghasilkan nilai tambah bagi usaha ekonomi masyarakat di masa depan.

  • 2.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah

Berdasarkan kondisi karakteristik wilayah dapat diidentifikasi wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya sebagai seperti terlihat pada tabel 2.3.

Tabel 2.3. Arahan Pengembangan Kawasan Budidaya Dalam RTRW Kabupaten Sumbawa

No.

Jenis Kawasan

Lokasi

1

2

3

1

Kawasan Hutan Produksi Tetap

  • Kawasan Hutan Produksi Tetap yaitu Ngali RTK 12 (1.135,10 Ha), Serading RTK 36 (826 Ha), Pusuk Pao RTK 38 (2.072,30 Ha), Buin Soway RTK 57 (3.813,90 Ha), Selalu Legini RTK 59 (5.415 Ha), Klongkang P. Ngengas RTK 60 (976,06 Ha), Batu Lanteh RTK 61 (1.891,40 Ha), Dodo Jaran Pusang RTK 64 (12.571,10 Ha), Ampang Kampaja RTK 70 (11.113 Ha), Olat Lake/Olat Cabe RTK 78 (3.451,78 Ha), Gili Ngara/Olat Puna RTK 79 (2.617,80 Ha), P. Rai Rakit Kwangko RTK 80 (4.745,31 Ha), Samoko Lito RTK 89 (251,50 Ha).

2

Kawasan Peruntukan Perikanan, Kelautan, Pesisir dan Pulau Kecil

  • Kawasan Alas dan Pantai Utara Kabupaten Sumbawa dan sekitarnya sebagai kawasan penangkapan ikan, budidaya laut, budidaya tambak, pertambangan, cagar wisata, konservasi terumbu karang dan lamun, perlindungan cagar alam dan pelabuhan;

No.

Jenis Kawasan

Lokasi

   
  • Kawasan Teluk Saleh dan sekitarnya sebagai kawasan penangkapan ikan, budidaya laut, budidaya tambak, pertambangan, wisata bahari, pelestarian ekosistem dan pelabuhan;

3

Kawasan Peruntukan Pertanian

  • Kawasan pertanian lahan sawah beririgasi terdiri dari beririgasi teknis seluas 17.714 Ha;

  • Kawasan pertanian lahan sawah beririgasi setengah teknis seluas 8.839 Ha;

  • Kawasan pertanian lahan sawah beririgasi sederhana seluas4.602 Ha;

  • Kawasan pertanian lahan sawah beririgasi non PU seluas 4.397Ha;

  • Kawasan pertanian lahan sawah tadah hujan seluas 7.627 Ha;

  • Kawasan pertanian tanaman pangan lahan kering tersebar di seluruh kecamatan seluas 23.795 Ha.

  • Kawasan pertanian tanaman hortikultura semusim tersebar di seluruh wilayah kecamatan seluas 91.905 Ha.

4

Kawasan Peruntukan Perkebunan

  • Perkebunan dikembangkan di Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan (KIM-Bun): Rhee dengan tanaman unggulan kelapa, jambu mete; Batulanteh dengan tanaman unggulan kopi,

  • Komoditi unggulan jambu mete di KIM-Bun : Utan Rhee,

  • Komoditi kelapa di KIM-Bun : Sumbawa;

  • Komoditi kopi di KIM-Bun : Batulanteh,

  • Komoditi kemiri di KIM-Bun : Batulanteh,

  • Kawasan perkebunan dikembangkan kegiatan agroindustri Hasil tanaman perkebunan dan tanaman komoditi unggulan;

5

Kawasan Peruntukan Pertambangan

  • WUP operasi produksi di Pulau Sumbawa seluas 100.536,29 Ha

  • Zona-zona tertentu yang telah dinyatakan layak berdasarkan Hasil kajian teknis, ekonomi dan lingkungan.

6

Kawasan Peruntukan Peternakan

Kec. Rhee (240 Ha), Lape Lopok (1.426 Ha), Moyo Hilir (13.097 Ha), Moyo Hulu (1.175 Ha), Utan (1.025 Ha), Empang (920 Ha), Tarano (685 Ha), Plampang (1.455 Ha), Labangka (458 Ha), Maronge (1.700 Ha), Ropang (0.539 Ha), Batu Lanteh (269 Ha).

Sumber : Draf Akhir Raperda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sumbawa 2011-2025.

  • 2.1.3. Wilayah Rawan Bencana

Kabupaten Sumbawa memiliki ancaman bencana kegempaan yang cukup tinggi dan tsunami terutama di wilayah pesisir bagian Selatan, dikarenakan posisi Pulau Sumbawa diapit oleh dua lempeng tektonik (utara dan selatan) yang pergerakannya dapat menimbulkan gempa, yang pada skala dan kedalaman tertentu dapat menyebabkan tsunami.

Gambar 2.1 Peta Lempeng Tektonik Berdasarkan Gambar 2.1, kawasan rawan tsunami terletak pada kawasan pesisir bagian

Gambar 2.1 Peta Lempeng Tektonik

Berdasarkan Gambar 2.1, kawasan rawan tsunami terletak pada kawasan pesisir bagian utara dan selatan yaitu Alas, Utan, Badas, Sumbawa Besar, Prajak, Labuhan Moyo Hilir, Empang dan Plampang bagian Selatan, Lunyuk dan Teluk Panas, Plampang.

Pada musim hujan, ancaman banjir terjadi wilayah dengan catchment area besar dengan kondisi DAS yang mulai terganggu seperti sepanjang Brang Moyo, Brang Beh di Lunyuk, Brang Labuhan Mapin di Alas, Brang Utan, Brang Buer, dan Brang Muir. Ancaman terhadap permukiman penduduk disepanjang tebing sungai juga menjadi permasalahan tersendiri pada saat musim hujan.

Kawasan yang diidentifikasi sebagai kawasan rawan banjir di Kabupaten Sumbawa terletak pada sepanjang Brang Moyo di daerah Poto Tengke Moyo Hilir, Brang Beh di Lunyuk, Brang Labuhan Mapin di Alas, Brang Utan di Utan Rhee, Brang Muir di Plampang, Empang, Moyo Hulu, Ropang dan Lape Lopok. Demikian pula dengan ancaman tanah longsor. Di Kabupaten Sumbawa, kawasan rawan longsor dikelompokkan ke dalam 2 (dua) type, yaitu (1) lokasi rawan tanah longsor type A (Kawasan sekitar Alas, Semongkat, Lenangguar, dan Empang), dan (2) lokasi rawan tanah longsor type B (Jalur jalan Orong Telu-Ropang-Lunyuk-Jalur ke Sumbawa Barat dan pada desa- desa di Kecamatan Batu Lanteh).

Acaman kekeringan juga berpeluang terjadi pada banyak titik di Kabupaten Sumbawa terutama pada wilayah lumbung pangan di Kecamatan Labangka, Lunyuk, Moyo Hilir, Moyo Utara, Utan, Alas dan Alas Barat. Bencana alam lainnya yang perlu diwaspadai adalah tanah longsor terutama di wilayah Kecamatan Batulanteh, Lunyuk, Ropang, Lantung dan Orong Telu termasuk di beberapa bagian permukiman padat penduduk di wilayah perbukitan Kecamatan Sumbawa. Bencana abrasi pantai terutama dirasakan di wilayah permukiman padat penduduk di pesisir pantai labuhan Kecamatan Labuhan Sumbawa. Sedangkan ancaman angin topan terkadang menerjang beberapa wilayah permukiman terbuka seperti wilayah Pulau Kaung, Pulau Bungin, dan wilayah pesisir sepanjang pantai sebelah utara Kabupaten Sumbawa.

Kondisi geologis seperti itu memberikan peluang sekaligus tantangan bagi Kabupaten Sumbawa dalam pembangunan daerah.Pengelolaan potensi sumberdaya geologis yang berwawasan lingkungan sekaligus mitigasi bencana alam dalam konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) menjadi jawaban untuk dapat mengoptimalkan potensi sumberdaya geologis yang dimiliki Kabupaten Sumbawa.

2.1.4.

Demografi

  • 2.1.4.1. Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Sumbawa dalam kurun waktu tahun 2005-2010 sebagaimana tergambar pada tabel berikut, menunjukkan perubahan menurut trend linear y = 5473.x + 38888. Selanjutnya dinamika populasi penduduk menurut kecamatan disajikan sebagai berikut.

Tabel 2.4. Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Sumbawa (2005-2010)

   

Luas

 

Jumlah Penduduk (Jiwa)

 

No

Kecamatan

Wilayah

2005

2006

2007

2008

2009

2010*)

(km2)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

1

Lunyuk

513.74

21507

16482

16620

16905

17183

18123

2

Orong Telu

465.97

-

5760

5808

5908

6009

4530

3

Alas

123.04

 
  • 27291 28460

28223

   
  • 28948 27993

29417

 

4

Alas Barat

168.88

 

19517

  • 18872 19681

   
  • 20019 18425

20366

 

5

Buer

137.01

 
  • 14859 15495

15366

   
  • 15761 13408

16018

 

6

Utan

155.42

 
  • 27027 28185

27950

   
  • 28669 28828

29187

 

7

Rhee

230.82

6779

7010

7069

7190

7305

6908

8

Batulanteh

391.40

10008

10350

10437

10616

10788

10127

9

Sumbawa

44.83

50053

50053

52198

53094

53956

56649

 
  • 10 Labuhan Badas

435.89

25224

26086

26305

26756

27207

28870

 
  • 11 Unter Iwes

82.38

16999

16999

17728

18032

18341

18108

 
  • 12 Moyo Hilir

186.79

20433

21131

21308

21674

22027

22238

 
  • 13 Moyo Utara

90.80

8736

9034

9110

9266

9417

9023

 
  • 14 Moyu Hulu

311.96

19323

19983

20151

20497

20846

19871

 
  • 15 Ropang

444.48

13922

14398

5621

 
  • 5717 5808

5017

 
  • 16 Lenangguar

504.32

-

-

6270

 
  • 6378 6484

6286

 
  • 17 Lantung

167.45

-

-

2628

 
  • 2673 2717

2767

 
  • 18 Lape

204.43

31286

15419

 
  • 15548 16077

15815

 

16131

 
  • 19 Lopok

155.59

-

16936

 
  • 17078 17652

17371

 

17550

 
  • 20 Plampang

418.69

24492

25329

 
  • 25542 26408

25980

 

27813

 
  • 21 Labangka

243.08

8849

9152

9229

9387

9540

10148

 
  • 22 Maronge

274.75

9467

9790

9872

10041

10205

9767

 
  • 23 Empang

558.55

20958

21674

 
  • 21856 21580

22231

22593

 
 
  • 24 Tarano

333.71

14086

14567

 
  • 14689 15203

14941

15199

 
 

Kab. Sumbawa

6643.98

390171

401209

406888

413869

420750

415363

Sumber : Sumbawa Dalam Angka, BPS (Beberapa tahun terbitan) *) Hasil Sensus Penduduk Tahun 2010

 

Pada sensus penduduk (SP) tahun 2010, penduduk Kabupaten Sumbawa berjumlah 415.363 jiwa terdiri dari 211.451 laki-laki (50,91%) dan perempuan 203.912 jiwa (49,09%).

Tabel 2.5. Distribusi, Sex Rasio dan Rata-Rata Anggota Keluarga Penduduk Kab. Sumbawa (2010)

No

Kecamatan

Kepadatan (Jiwa/Km2)

Sex Ratio

Rata-rata Anggota

Keluarga

 

2

3

4

5

         

1

       

1

Lunyuk

35,28

 
  • 106 3,84

2

Orong Telu

9,72

 
  • 108 4,04

3

Alas

227,51

 
  • 102 3,97

4

Alas Barat

109,10

 
  • 105 3,74

5

Buer

97,86

 
  • 100 3,82

6

Utan

185,48

 
  • 102 3,83

7

Rhee

29,93

 
  • 108 3,95

8

Batulanteh

25,87

 
  • 108 3,63

9

Sumbawa

1.263,64

 
  • 100 3,69

 
  • 10 Labuhan Badas

66,23

 
  • 101 3,81

 
  • 11 Unter Iwes

219,81

 
  • 105 3,79

 
  • 12 Moyo Hilir

119,05

 
  • 103 3,85

 
  • 13 Moyo Utara

99,37

 
  • 102 3,80

No

Kecamatan

Kepadatan (Jiwa/Km2)

Sex Ratio

Rata-rata Anggota

Keluarga

1

2

3

4

5

14

Moyu Hulu

63,70

 
  • 106 3,62

15

Ropang

11,29

 
  • 112 3,69

16

Lenangguar

12,47

 
  • 110 3,75

17

Lantung

16,52

 
  • 104 3,24

18

Lape

78,91

 
  • 105 3,93

19

Lopok

112,80

 
  • 102 3,75

20

Plampang

66,43

 
  • 105 4,07

21

Labangka

41,75

 
  • 107 3,52

22

Maronge

35,55

 
  • 108 3,92

23

Empang

38,64

 
  • 105 3,90

24

Tarano

45,56

 
  • 103 3,97

 

Rata-Rata Kab. Sumbawa

125,52

104,96

3,80

Sumber : Diolah dari DDA dan Sensus Penduduk 2010, BPS 2011

  • 2.1.4.2. Pertumbuhan Penduduk

Tingkat pertumbuhan penduduk dihitung dengan menggunakan data sensus penduduk. Data sensus penduduk (SP) yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali (sejak tahun 1980). Berdasarkan SP 2010, jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhan penduduk Kabupaten serta perbandingannya dengan Provinsi NTB dan Nasional berdasarkan hasil sensus disajikan pada tabel 2.6.

Tabel 2.6. Jumlah Penduduk Kabupaten Sumbawa Berdasarkan Sensus Penduduk

No

Jenis Kelamin

 

Sensus Penduduk

1971

1980

1990

2000

2010

1

2

3

4

5

6

7

 
  • 1 Laki-Laki

98.014

123.325

 
  • 152.871 211.451

183.511

 
 
  • 2 Perempuan

95.107

121.058

 
  • 152.660 203.912

177.068

 

Jumlah

193.121

244.383

 
  • 305.531 415.363

360.579

 

Pertumbuhan Penduduk (%)

 
  • - 2,38

2,26

1,67

1,42

Pertumbuhan Penduduk NTB

 
  • - 2,36

2,14

1,82

1,17

Pertumbuhan Penduduk Nasional

 
  • - 2,3

1,97

1,49

1,48

Sumber : Data Sensus Penduduk, Diolah dari BPS Sbw, BPS NTB dan BPS Pusat.

Laju perkembangan penduduk baik Kabupaten Sumbawa (KS), Provinsi NTB (NTB) dan Nasional (Nas) memperlihatkan kecenderungan penurunan. Penurunan yang paling tajam terjadi di tingkat Provinsi NTB antara periode 2000-2010 yakni 1,17% per tahun dibandingkan KS (1,42%) dan Nasional (1,48%). Yang menarik disini adalah terjadinya karakteristik penurunan pertumbuhan penduduk antara periode 1990-2000 dengan periode 2000-2010 seperti terlihat melalui Gambar 2.2.

Sumber : Data Sensus Penduduk, Diolah dari BPS Sbw, BPS NTB dan BPS Pusat . Gambar

Sumber : Data Sensus Penduduk, Diolah dari BPS Sbw, BPS NTB dan BPS Pusat.

Gambar 2. 2 Pertumbuhan Penduduk Tahunan Kabupaten Sumbawa, Provinsi NTB dan Nasional

2.1.4.3. Struktur dan Komposisi Penduduk

Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010, struktur penduduk Kabupaten Sumbawa berbentuk piramida dari kelompok umur 25-29 tahun ke atas, namun menyempit pada kelompok umur 15-24 tahun, lalu kembali melebar pada kelompok usia 10-14 tahun kebawah. Penyempitan pada kelompok umur 15-24 tahun merupakan hasil dari penurunan jumlah kelahiran karena keberhasilan Program KB di era tahun 1980-1990. Gambaran struktur penduduk Kabupaten Sumbawa Tahun 2010 seperti terlihat pada gambar 2.3.

Sumber : Data Sensus Penduduk, Diolah dari BPS Sbw, BPS NTB dan BPS Pusat . Gambar

Sumber :Diolah dari Sensus penduduk 2010, BPS Kab. Sumbawa 2011

Gambar 2. 3 Piramida Penduduk Kabupaten Sumbawa Tahun 2010

Pada gambar 2,3 ditunjukkan bahwa proporsi penduduk usia muda (14 tahun kebawah) berkisar antara 30,13% sampai dengan 33,43% dengan rata-rata 31,79%, proporsi penduduk muda/produktif (15-65 tahun) : berkisar antara 62,69% sampai dengan 64,68% dengan rata-rata 64,34%, dan proporsi penduduk usia lanjut (65 tahun keatas) : berkisar antara 3,10 sampai dengan 3,87% dengan rata-rata 3,86%.

2.2.

Aspek Kesejahteraan Masyarakat

  • 2.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

    • 2.2.1.1. Pertumbuhan PDRB

Pertumbuhan ekonomi diukur berdasarkan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang merupakan nilai tambah bruto (gross value added) yang timbul dari seluruh sektor ekonomi suatu daerah. Nilai tambah bruto disini mencakup komponen-komponen faktor pendapatan (upah dan gaji, bunga, sewa tanah dan keuntungan), penyusutan dan pajak tak langsung netto. Dengan menghitung nilai tambah bruto dari masing-masing sektor danmenjumlahkan nilai tambah bruto dari seluruh sektor akan diperoleh Produk Domestik Regional Bruto.

Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dari tahun ke tahun menggambarkan perkembangan PDRB yang disebabkan oleh adanya perubahan dalam volume produksi barang dan jasa yang dihasilkan dan perubahan dalam tingkat harganya. Untuk mengukur perubahan volume produksi atau perkembangan produksi secara nyata, faktor pengaruh harga perlu dihilangkan dengan cara menghitung PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK).

Dalam 10 tahun terakhir, perekonomian Kabupaten Sumbawa ditunjukkan oleh Angka PDRB ADHB telah tumbuh hampir empat kali lipat yakni Rp.1,17 Trilyun pada tahun 2000 menjadi Rp.3,43 Trilyun pada tahun 2009. Pertumbuhan nilai tambah tersebut belum banyak disebabkan oleh peningkatan volume barang/jasa, namun lebih disebabkan oleh pengaruh kenaikan harga, sehingga bila faktor kenaikan harga (factor inflasi) dikeluarkan dari perhitungan maka perkembangan nilai perekonomian Kabupaten Sumbawa dalam sepuluh tahun terakhir jauh lebih rendah.

Kondisi sebagaimana ditunjukkan oleh nilai PDRB ADHK yang tumbuh dari Rp. 1,16 Trilyun pada tahun 2000 menjadi Rp. 1,72 Trilyun pada tahun 2009. Data ini menunjukkan bahwa nilai perekonomian Kabupaten Sumbawa dalam satu dasawarsa terakhir masih dominan disebabkan oleh faktor kenaikan harga dibandingkan peningkatan jumlah atau volume produk barang atau jasa yang dihasilkan. Nilai PDRB ADHB dan PDRB ADHK Kabupaten Sumbawa tahun 2000-2009 ditunjukkan pada gambar 2.4.

2.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat 2.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 2.2.1.1. Pertumbuhan PDRB Pertumbuhan ekonomi diukur

Sumber : Diolah dari PDRB Sumbawa, BPS 2005-2010

Gambar 2. 4 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Dan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Kabupaten Sumbawa (2000 2009)

Gambar 2.4. memperlihatkan perbedaan laju pertumbuhan PDRB ADHB dan PDRB ADHK yang cukup senjang. Oleh karena itu, upaya peningkatan perekonomian daerah kedepan harus diarahkan pada peningkatan nilai dan volume produk barang atau jasa yang dihasilkan di Kabupaten Sumbawa.

Sumber : Diolah dari BPS Sumbawa 2005-2010 Gambar 2. 5 Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga

Sumber : Diolah dari BPS Sumbawa 2005-2010

Gambar 2. 5 Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB)

Dan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Kabupaten Sumbawa (2000 2009)

Adapun perbandingan laju pertumbuhan ekonomi (PDRB ADHK) Kabupaten Sumbawa (KS), Provinsi NTB dan Nasional ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 2.7. Laju Pertumbuhan Ekonomi Kab. Sumbawa, Provinsi NTB Dan Nasional

(2005-2009)

 

Tahun

Kab. Sumbawa

   

Prov. NTB

   

Nasional

 
 

1

 

2

 

3

 

4

 
  • 2005 4,0%

   

4,1%

 

5,7%

 
  • 2006 4,7%

   

5,0%

 

5,5%

 
  • 2007 4,8%

   

5,7%

 

6,3%

 
  • 2008 4,5%

   

6,7%

 

6,1%

 
  • 2009 5,2%

   

8,1%

 

6,4%

 

RERATA

 

4,7%

 

5,9%

 

6,0%

Sumber : Diolah dari BPS Kab.Sbw dan BPS NTB 2010, RPJMN.

 

Adapun laju pertumbuhan ekonomi sektoral Kabupaten Sumbawa disajikan pada Tabel 2.8. Laju pertumbuhan sektoral memperlihatkan bahwa 7 (tujuh) perekonomian tumbuh diatas rata-rata, yakni: (1) Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih (7,74%); (2) Perdagangan, Hotel dan Restoran (6,38%); (3) Pengangkutan dan Komunikasi (5,68%); (4) Bangunan (5,82%); (5) Industri Pengolahan (5,26%); (6) Pertambangan dan Penggalian (5,02%) dan (7) Keuangan, Persewaan dan Jasa Usaha (4,98%). Sedangkan 2 (dua) sektor lainnya masih berada dibawah rata-rata, yakni sektor pertanian (3,33%) dan sektor jasa-jasa lainnya (2,98%).

 

Tabel 2.8. Laju Pertumbuhan Sektoral PDRB ADHK Kab. Sumbawa (2001-2009)

 

NO

Sektoral

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

Rerata

1

2

3

4

 

5

6

7

8

9

10

11

12

1

Pertanian

2,4

2,72

 

4,64

3,53

1,85

 

3,6

4,07

3,62

3,53

3,33

2

Pertambangan dan Penggalian

4,91

4,35

 

4,53

5,02

5,25

 

5,01

4,65

3,82

7,6

5,02

3

Industri Pengolahan

5,35

4,96

 

5,04

5,76

5,25

 

5,27

5,27

4,27

6,14

5,26

4

Listrik, Gas dan Air Bersih

9,76

8,6

 

2,6

7,89

7,86

 

7,38

7,65

8,8

9,08

7,74

5

Bangunan

6,34

4,9

 

4,76

5,6

6,78

 

5,68

4,54

6,51

7,31

5,82

6

Perdag, Hotel dan Restoran

5,83

5,81

 

6,19

6,63

6,07

 

6,19

6,31

6,47

7,92

6,38

7

Pengangkutan dan Komunikasi

2,12

6,85

 

4,47

4,22

7,8

 

8,42

8,34

4,8

4,14

5,68

8

Keuangan, Persewaan dan Jasa Usaha

3,2

5,16

 

5,24

4,99

4,99

 

5,02

5,33

4,13

6,76

4,98

9

Jasa-Jasa Lainnya

0,74

3,03

 

1,96

3,45

3,98

 

3,24

3,14

3,08

4,22

2,98

 

Kab. Sumbawa

3,36

3,94

 

4,6

4,49

4,03

 

4,68

4,79

4,55

5,21

4,41

Sumber : Diolah dari BPS Sumbawa, 2005-2009

Data ini menunjukkan bahwa laju pertumbuhan perekonomian Kabupaten Sumbawa didorong oleh laju pertumbuhan sektor non primer yakni terutama sektor tersier dan sekunder, sedangkan sektor pertanian sebagai sektor primer dan merupakan sektor yang menjadi lapangan usaha sebagian besar masyarakat Kabupaten Sumbawa justru tumbuh dengan laju dibawah rata-rata kabupaten. Meskipun demikian pangsa (share) sektor pertanian masih menjadi yang terbesar diantara 9 sektor perekonomian daerah, sebagaimana ditunjukkan melalui tabel 2.9.

Tabel 2.9.

Pangsa (Share) Sektoral PDRB ADHK Kabupaten Sumbawa (2001-2009)

                         

Rata-

 

No

Sektoral

 

2000

2001

 

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

Rata

 

1

 

2

3

4

 

5

6

7

8

9

10

11

12

 

13

 

1

Pertanian

46,28

45,85

 

45,31

45,33

44,91

43,97

43,51

43,21

42,84

42,14

 

44,34

 

2

Pertambangan dan

                     

2,16

Penggalian

2,10

2,13

 

2,14

 

2,14

2,15

2,18

2,18

2,18

2,17

 

2,21

 

3

Industri Pengolahan

4,07

4,14

 

4,18

 

4,20

4,25

4,30

4,33

4,35

4,34

 

4,37

 

4,25

 

4

Listrik, Gas dan Air Bersih

0,42

0,44

 

0,46

 

0,45

0,47

0,49

0,50

0,51

0,52

 

0,55

 

0,48

 

5

Bangunan

10,44

10,74

 

10,84

10,86

10,97

11,26

11,37

11,34

11,56

11,79

 

11,12

 

6

Perdagangan, Hotel

15,97

16,35

 

16,64

16,90

17,24

17,58

17,83

18,08

 

18,42

18,90

 

17,39

dan Restoran

 
 

7

Pengangkutan dan

                     

5,77

Komunikasi

 

5,48

5,42

 

5,57

 

5,56

5,55

5,75

5,96

6,16

6,17

 

6,11

 

8

Keuangan, Persewaan dan Jasa Usaha

2,73

2,72

 

2,76

 

2,77

2,79

2,81

2,82

2,84

2,82

 

2,87

 

2,79

 

9

Jasa-Jasa Lainnya

12,52

12,20

 

12,09

11,79

11,67

11,67

11,50

11,32

11,14

11,06

 

11,70

 

Kabupaten Sumbawa

100

100

 

100

 

100

100

100

100

100

100

 

100

 

100

 

Sumber : Diolah dari BPS Sumbawa, 2005-2009

 

Kontribusi atau pangsa sektor pertanian adalah yang terbesar (rata-rata 44,34%) namun dari tahun ke tahun menunjukkan penurunan rata-rata 0,46% per tahun. Sedangkan 5 (lima) sektor lainnya yakni Perdagangan, Hotel dan Restoran, Sektor Jasa-jasa dan Sektor Bangunan, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dan Sektor Industri Pengolahan memberikan kontribusi mencapai 50,23% dengan rata-rata kenaikan 0,42% per tahun. Kondisi ini menunjukkan terjadinya kecenderungan perubahan struktur ekonomi Kabupaten Sumbawa dari sektor pertanian (sektor primer) ke sektor sekunder dan tersier, yang wajar terjadi sebagai dampak dari keberhasilan pembangunan di sector-sektor lainnya yang lebih cepat berkembang. Meskipun demikian, kinerja sektorpertanian masih perlu ditingkatkan dengan mengoptimalkan potensi dan nilai tambahnya bagi perekonomian daerah.

Untuk memperoleh gambaran kinerja perekonomian secara regional di luar subsektor pertambangan non migas, maka disajikan nilai PDRB ADHB dan laju pertumbuhan PDRB ADHK 10 kabupaten/kota dalam Provinsi NTB sebagaimana terlihat pada tabel berikut.

 

Tabel 2.10. PDRB ADHB dan Laju Pertumbuhan PDRB ADHK Kabupaten/Kota se-Provinsi NTB (2004-2009) (diluar Subsektor Pertambangan Non Migas)

 
     

PDRB ADH Berlaku (Milyar Rp)

   

Pertumbuhan Ekonomi (%)

 

Kabupaten / Kota

 

2004

2005

2006

2007

 

2008

 

2009

2004

2005

 

2006

2007

2008

2009

 

1

 

2

3

4

5

 

6

 

7

8

9

 

10

 

11

12

13

  • 1. Lombok Barat

 

1.791,96

2.095,72

2.392,12

2.720,19

3.113,21

3.550,55

5,8

4,61

 

5,82

5,26

4,58

5,91

  • 2. Lombok Tengah

2.131,04

2.415,63

2.703,06

3.038,47

3.528,36

4.102,55

4,55

4,3

5,09

4,71

6,96

7,26

  • 3. Lombok Timur

3.007,91

3.418,93

3.825,77

4.285,70

4.863,86

5.511,51

4,85

4,57

4,69

5,09

5,47

5,71

  • 4. Sumbawa

1.795,53

2.078,96

2.339,42

2.637,99

3.015,47

3.432,02

4,49

4,03

4,68

4,79

4,52

5,21

  • 5. Dompu

0,98

1.111,86

1.235,21

1.931,72

1.552,67

1.762,22

1,88

2,38

4,11

4,97

4,05

5,1

  • 6. Bima

1.525,62

1.670,15

1.856,38

2.064,07

2.385,75

2.721,15

4,92

1,37

4,26

4,56

5,96

6,43

  • 7. Sumbawa Barat

0,41

0,47

0,54

0,61

0,70

0,82

4,08

4,32

6,99

6,74

6,84

8,04

  • 8. Lombok Utara

0,69

0,79

0,89

1.010,96

1.143,21

1.259,12

5,04

2,74

4,91

4,94

3,52

4,97

     

PDRB ADH Berlaku (Milyar Rp)

   

Pertumbuhan Ekonomi (%)

 

Kabupaten / Kota

2004

2005

2006

 

2007

 

2008

 

2009

2004

2005

2006

 

2007

2008

2009

 

1

2

3

4

 

5

 

6

 

7

 

8

9

10

 

11

12

13

9. Mataram

1.894,37

2.312,22

2.651,94

3.078,20

3.624,34

4.140,35

9,53

7,77

7,86

 

7,92

7,76

8,47

10. Kota Bima

0,46

0,53

0,59

0,68

0,77

0,88

4,21

3,41

4,74

5,97

4,46

6,38

NTB

14.563,96

16.828,63

18.980,59

21.405,07

25.042,50

29.641,83

4,97

4,05

4,95

 

5,70

6,69

8,07

Sumber :PDRB NTB, BPS NTB, 2010

 

Berdasarkan tabel 2.10, bahwa nilai PDRB ADHB Kabupaten Sumbawa pada tahun 2004, berada pada posisi terbesar ke-4 dengan nilai Rp.1,79 Trilyun setelah Lombok Timur (Rp.3 Trilyun), Lombok Tengah (Rp.2,13 Trilyun), dan Kota Mataram (Rp.1,8 Trilyun). Sedangkan pada tahun 2009, mengalami penurunan menjadi posisi ke-5 dengan nilai Rp.3,42 Trilyun setelah Lombok Timur (5,51 trilyun), Lombok Tengah (4,10 Trilyun), Kota Mataram (4,14 Trilyun) dan Lombok Barat (Rp.2,55 Trilyun).

Dari laju pertumbuhan PDRB ADHK, pada tahun 2004 laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sumbawa 4,49% berada pada urutan ke-7 tertinggi setelah Mataram (9,53%), Lombok Barat (5,80%), Bima (4,92%), KLU (5,04%), Lombok Timur (4,85%) dan Bima (4,92%), namun pada tahun 2009, posisi tersebut mengalami penurunan menjadi urutan ke-8 dengan tingkat pertumbuhan 5,21% dibawahKota Mataram (8,47%), Sumbawa Barat (8,04%), Lombok Tengah (7,26%), Bima (6,43%), Kota Bima (6,38%), Lombok Barat (5,91%) dan Lombok Timur (5,71%). Berdasarkan data tersebut berarti terjadi penurunan kinerja perekonomian Kabupaten Sumbawa dibandingkan dengan 9 kabupaten/kota se Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Melihat perkembangan tersebut, maka perlu dilakukan identifikasi sektor ekonomi mana yang akan menjadi daya ungkit perekonomian daerah. Sebagai gambaran digunakan hasil analisis studi komparatif ekonomi antar kabupaten/kota se-Provinsi NTB Tahun 2007 yang dilakukan oleh BPS NTB kerjasama dengan Bappeda Provinsi NTB (BPS NTB, 2008).Studi komparatif ekonomi tersebut menggunakan metode analisis Location Quotient (LQ) dan Shift-Share (SS).

Berdasarkan hasil perhitungan nilai LQ, terdapat 5 (lima) sektor ekonomi Kabupaten Sumbawa dengan LQ>1, yaitu : (1) sektor pertanian (1,72); (2) sektor listrik, gas dan air bersih (1,61); sekor bangunan (1,62); sektor perdagangan (1,24) dan sektor jasa-jasa (1,14), sedangkan keempat sektor lainnya memiliki nilai LQ<1. Khusus untuk nilai LQ sektor pertanian merupakan nilai tertinggi kedua dibandingkan kabupaten/kota lainnya se-NTB.Secara lengkap nilai LQ sektoral kabupaten/kota se-NTB dapat dilihat melalui tabel berikut.

 

Tabel 2.11. Nilai Location Quotient (LQ) Sektoral Kabupaten/Kota Se-NTB (2007)

 
 

No

Sektor

LOBAR

 

LOTENG

LOTIM

SBW

DMP

BIMA

 

KSB

MTR

 

KBM

 

1

2

 

3

 

4

5

6

7

 

8

 

9

10

 

11

 

1

Pertanian

 

1,24

 

1,29

 

1,49

 

1,72

 

1,68

 

2,05

 

0,11

 

0,19

 

0,86

 

2

Pertambangan dan

 

0,14

 

0,12

     

0,09

 

0,09

 

0,12

 

3,59

   

0,00

 

0,01

Penggalian

 

0,18

 

Industri

                 
 

3

Pengolahan

 

0,89

 

1,62

 

1,61

 

0,92

 

0,88

 

0,59

 

0,06

 

2,51

 

0,72

 

4

Listrik, Gas dan Air Bersih

 

1,41

 

0,77

 

0,78

 

1,61

 

1,14

 

0,63

 

0,07

 

2,42

 

2,73

 

5

Bangunan

 

1,60

 

1,47

 

1,22

 

1,62

 

0,94

 

0,89

 

0,18

 

1,16

 

1,00

 

6

Perdagangan, Hotel dan Restoran

 

1,54

 

1,35

 

1,28

 

1,24

 

1,25

 

1,06

 

0,12

 

1,26

 

1,27

 

7

Pengangkutan dan

 

1,25

 

0,78

   

0,80

 

0,79

 

0,82

 

0,93

 

0,12

   

3,59

 

2,25

Komunikasi

 

Keuangan,

                 
 

8

Persewaan dan

 

0,96

 

1,08

 

0,97

 

0,57

 

1,38

 

0,54

 

0,05

 

3,23

 

1,07

 

Jasa Usaha

                 
 

9

Jasa-Jasa Lainnya

 

1,27

 

1,53

 

1,22

 

1,14

 

1,32

 

1,09

 

0,07

 

1,21

 

2,59

Sumber :Analisis Komparatif Ekonomi, BPS NTB 2008

Adapun hasil analisis Shift-Share dengan melakukan ploting nilai Different Shift (DS) dan Proportionality Shift (PS) pada empat kuadran kategori pertumbuhan, diperoleh hasil seperti ditunjukkan tabel berikut.

Tabel 2.12. Kategori Pertumbuhan Sektoral Kabupaten/Kota se-Provinsi NTB Berdasarkan Plot Nilai DS dan PS Metode Shift-Share (2000-2007)

   

Pertumbuhan

 
 

Sektor

Pesat (I)

Tertekan Yang

Tertekan Yang

Terbelakang (IV)

 

Berkembang (II)

Potensi (III)

 

1

2

3

4

5

Lombok Barat

 

3,4,5

1,2,9

6,7,8

-

Lombok Tengah

 

3,6,7

2

4,5,8

1,9

Lombok Timur

 

7

2,9

3,4,5,6,8

1

Sumbawa

 

4

1,2,3,9

5,6,7,8

-

Dompu

5,7,8

2,9

3,4,6

1

Bima

-

1,2,9

3,4,5,6,7,8

-

Sumbawa Barat

 

4,5

9

3,6,7,8

1,2

Kota Mataram

 

3,5,6,7,8

1,9

4

2

Kota Bima

 

5,6,7

1,2

3,4,5,8

9

Sumber : Analisis Komparatif Ekonomi, BPS NTB 2008

Berdasarkan analisis LQ dan Shift-Share tersebut dapat disimpulkan sektor yang dapat menjadi daya ungkit pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sumbawa terhadap sektor perekonomian Kabupaten/Kota lainnya se-NTB sebagai berikut.

  • a. Sektor Pertanian, merupakan sektor yang memiliki keunggulan komparatif dengan peranan paling besar terhadap sektor sejenis namun dalam kondisi tertekan yang berkembang.

  • b. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih, merupakan sektor dalam kondisi berkembang pesat namun baru memiliki peranan terbesar ketiga dari sektor sejenis.

  • c. Sektor Jasa-Jasa, merupakan sektor tertekan yang berkembang namun memiliki peranan positif secara regional.

  • d. Sektor-sektor lainnya, merupakan sektor potensial namun dalam kondisi tertekan dan belum memperlihatkan peranan signifikan.

2.2.1.2. PDRB per kapita

Pendapatan per kapita dihitung dengan pendekatan nilai PDRB dibagi jumlah penduduk, meskipun pendekatan tersebut memiliki kelemahan namun telah dianggap dapat memberikan gambaran tingkat kesejahteraan penduduk suatu daerah dari waktu kewaktu atau perbandingannya dengan daerah lain. Angka PDRB yang digunakan disini adalah PDRB ADHB. Gambaran pendapatan per kapita Kabupaten Sumbawa dengan memasukkan Subsektor Pertambangan Non Migas dan tanpa Subsektor Pertambangan Non Migas dalam kurun waktu 2004-2009 dan perbandingannya dengan pendapatan per kapitan NTB terlihat pasa gambar berikut.

Sumber : Diolah dari PDRB NTB, BPS NTB 2010 Gambar 2. 6 Perkembangan PDRB Per Kapita

Sumber : Diolah dari PDRB NTB, BPS NTB 2010

Gambar 2. 6 Perkembangan PDRB Per Kapita Kabupaten Sumbawa

Gambar 2.6. memberikan informasi yang menarik sebagai berikut : 1) pendapatan per kapita Kabupaten Sumbawa dengan dan tanpa Subsektor Pertambangan Non Migas sama besar, hal ini karena kontribusi subsektor tersebut amat kecil dalam struktur PDRB Kabupaten Sumbawa. 2) adapun pendapatan per kapita NTB dengan dan tanpa memasukan Subsektor Pertambangan Non Migas amat berbeda, terlihat bila subsektor tersebut dimasukkan maka pendapatan per kapita NTB diatas Kabupaten Sumbawa, bila subsektor tersebut dikeluarkan dari perhitungan maka pendapatan per kapita NTB dibawah Kab. Sumbawa. 3) Pendapatan per kapita Kabupaten Sumbawa bergerak dari Rp. 4,75 juta per orang per tahun (2004) menjadi Rp.8,16 juta per orang per tahun (2009) atau meningkat rata-rata 11,45% per tahun. 4) Pendapatan per kapita NTB dengan tambang meningkat dari Rp.5,43 juta per orang per tahun (2004) menjadi Rp.9,42 juta per orang per tahun (2009) dengan rata-rata peningkatan 11,76% per tahun.

Sedangkan pendapatan per kapita NTB tanpa tambang tumbuh mulai Rp.3,57 per orang per tahun (2004) menjadi Rp.6,69 juta per orang per tahun (2009) dengan rata-rata pertumbuhan 13,37% per tahun.Tabel berikut memberikan gambaran laju perubahan pendapatan per kapita khususnya berdasarkan PDRB ADHB tanpa tambang untuk Kabupaten Sumbawa dan Provinsi NTB.

Tabel 2.13. Laju Peningkatan PDRB ADHB, Laju Pertumbuhan Penduduk dan Laju Pertumbuhan PDRB ADHB Per Kapita Kabupaten Sumbawa dan Provinsi NTB (2005-2009) (Tanpa Subsektor Pertambangan Non Migas)

Tahun

PDRB ADHB

Penduduk

PDRB Per Kapita

KS

NTB

KS

NTB

KS

NTB

1

2

3

4

5

6

7

2005

15,79%

15,55%

3,12%

1,65%

12,28%

13,67%

2006

12,53%

12,79%

3,42%

2,75%

8,81%

9,77%

2007

12,76%

12,77%

0,84%

0,83%

11,82%

11,85%

2008

14,31%

16,99%

1,72%

1,66%

12,38%

15,08%

2009

13,81%

18,37%

1,66%

1,61%

11,95%

16,49%

Rerata

13,84%

15,29%

2,15%

1,70%

11,45%

13,37%

Sumber : Diolah dari PDRB NTB, BPS NTB 2010

Tabel tersebut memperlihatkan fakta meskipun pendapatan per kapita Kabupaten Sumbawa berada diatas NTB, namun laju pertumbuhannya di bawah NTB. Hal ini disebabkan oleh 2 hal : 1) Laju peningkatan PDRB Kabupaten Sumbawa dibawah NTB (13,84% terhadap 15,29%); 2) Laju peningkatan jumlah penduduk Kabupaten Sumbawa lebih tinggi dari NTB (2,15% terhadap 1,70%). Bila kondisi ini terus berlanjut, maka sangat mungkin pendapatan per kapita tanpa tambang NTB diatas Kabupaten Sumbawa.

2.2.1.3.

Laju Inflasi

Laju inflasi sebagai gambaran kenaikan harga umum barang-barang di Kabupaten Sumbawa menurut lapangan usaha disajikan sebagai berikut.

Tabel 2.14. Laju Inflasi Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Sumbawa (2005-2009)

NO.

 

LAPANGAN USAHA

2005

2006

2007

2008

2009

1

 

2

3

4

5

6

7

1.

PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN DAN PERIKANAN

10,34

9,00

9,21

8,96

7,60

 

a.

Tanaman Bahan Makanan

12,45

12,02

10,42

8,58

9,47

 

b.

Tanaman Perkebunan Rakyat

8,99

5,32

7,40

6,54

5,11

 

c.

Peternakan dan Hasil-hasilnya

13,57

6,08

11,16

12,88

6,33

 

d.

Kehutanan

9,93

6,10

1,96

3,61

5,38

 

e.

Perikanan

1,98

2,86

5,40

8,44

3,33

2.

PERTAMBANGAN & PENGGALIAN

8,34

6,51

7,85

8,84

7,54

 

a.

Minyak dan Gas Bumi

         
 

b.

Pertambangan Tanpa Migas

         
 

c.

Penggalian

8,34

6,51

7,85

8,84

7,54

3.

INDUSTRI PENGOLAHAN

6,33

3,28

5,32

5,05

4,25

 

a.

Industri Dengan Migas

         
 

b.

Industri Tanpa Migas

6,33

3,28

5,32

5,05

4,25

4.

LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH

9,94

3,98

7,44

3,63

3,70

 

a.

Listrik

11,44

3,92

8,83

4,00

4,49

 

b.

Gas Kota

         
 

c.

Air Bersih

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

5.

 

BANGUNAN

5,87

4,21

5,92

14,04

8,99

6.

PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN

13,45

8,00

8,11

7,96

6,94

 

a.

Perdagangan Besar dan Eceran

13,81

8,14

8,11

7,95

6,89

 

b.

Hotel

5,23

2,26

2,42

6,40

7,56

 

c.

Restoran

6,14

5,22

9,48

8,37

7,97

7.

PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI

29,42

2,96

3,06

6,42

2,95

 

a.

Pengangkutan

39,75

3,44

3,54

7,94

3,46

   

1.

Angkutan Rel Kereta Api

         
   

2.

Angkutan Jalan Raya

42,13

3,10

3,38

7,91

3,31

   

3.

Angkutan Laut

15,87

5,54

2,18

10,53

6,80

   

4.

Angk. Sungai, Danau & Penyeberangan

         
   

5.

Angkutan Udara

   

4,55

8,67

3,20

   

6.

Jasa Penunjang Angkutan

15,12

8,67

8,64

6,57

5,19

 

b.

Komunikasi

0,12

1,26

1,12

0,84

1,22

   

1.

Pos dan Telekomunikasi

0,12

1,26

1,12

0,84

1,22

   

2.

Jasa Penunjang Komunikasi

         

8.

KEUANGAN, PERSEWAAN & JASA PERUS.

7,38

5,25

3,99

7,88

6,87

 

a.

Bank

5,21

3,12

3,38

11,90

5,20

 

b.

Lembaga Keuangan Bukan Bank

2,98

3,72

2,19

5,50

5,12

 

c.

Jasa Penunjang Keuangan

         
 

d.

Sewa Bangunan

9,12

-92,64

7,22

6,33

7,47

 

e.

Jasa Perusahaan

5,81