Anda di halaman 1dari 6

Sinta Mustika Andryani Hubungan internasional Reguler B 2010 1002045140

Mengatasi pengungsi Irak di Suriah, Efektifkah Kinerja UNHCR ?

Paper ini akan berupaya mencermati aktifitas United Nation High Commisioner For Refugees (UNHCR), yaitu rezim perlindungan pengungsi internasional, di Suriah. Perpindahan penduduk dalam jumlah besar dari satu negara ke negara lain tentu memberikan dampak yang mencakup berbagai aspek, termasuk aspek kemanusiaan yang dialami para pengungsi dan juga aspek kebijakan host country dalam menangani arus pengungsi serta aspek internasional isu pengungsi dinegara tersebut. Dengan demikian, peran UNHCR dalam menanggulangi dampak-dampak tersebut sangat penting untuk dianalisa.

Pendahuluan Perang irak yang juga dikenal dengan istilah pendudukan irak oleh Amerika dengan operasi Pembebasan Irak adalah invasi secara militer oleh Amerika Serikat beserta sekutunya pada tahun 2003. Banyak spekulasi tentang alasan invasi Amerika di Irak mulai dari Irak sedang membuat senjata pemusnah massal (Weapon Of Mass Destruction) serta spekulasi adanya dorongan tentang pengimplementasian regime change. Ambisi Amerika Serikat untuk memperluas kontrol atas minyak Iraq juga mendapat perhatian khusus dalam perdebatan akademis mengenai rationale invasi Irak. Motif kuasai minyak dengan militer oleh Bush ini mirip dengan Carter Doctrine yang diperkenalkan oleh Presiden Jimmy Carter pada tahun 1980. Spekulasi lainnya yaitu Amerika menuduh keterlibatan Saddam Hussein dengan jaringan teroris Al-Qaeda dalam percobaan pembunuhan terhadap Bush. Perang yang berlangsung selama sembilan tahun berakhir dengan penarikan pasukan militer Amerika Serikat di Irak pada masa pemerintahan Barrack Obama dan Amerika secara resmi mengumumkan berakhirnya perang Irak pada tanggal 5 Desember 2011. Rezim Saddam Hussein telah runtuh dan perang Irak pun berakhir tetapi dampaknya kini dirasakan oleh rakyat Irak.

Pasca berakhirnya perang Irak tidak secara otomatis menjadikan Irak sebagai negara yang aman dan damai. Kondisi ekonomi Irak memburuk pendapatan Irak di sektor minyak terhambat pasca perang dan menimbulkan gelombang pengungsi. Gelombang pengungsi Irak secara otomatis mengalir ke negara-negara yang secara geografis berdekatan dengan Irak seperti Suriah, Yordania, Libya dan Mesir. Suriah Sebagai Host Country Suriah yang secara geografis berdekatan dengan Irak menjadi salah satu negara tujuan pengungsi Irak dengan tingkat gelombang pengungsi yang tinggi. Menurut UNHCR (United Nation High Commisioner of Refugee) ada sekitar 450.000 pengungsi Irak di Suriah. Pemberian suaka oleh Suriah terhadap pengungsi Irak kemudian menimbulkan beberapa masalah internal Suriah. Sejak Irak dilanda perang, Suriah menampung jutaan pengungsi Irak walaupun sebagian sudah kembali ke negara Irak tetapi karena desakan ekonomi, masih ada pengungsi yang bertahan untuk meminta perlindungan. Pada awalnya Suriah telah menjalankan tugasnya dengan baik sebagai negara pemberi suaka tetapi memberikan dilema tersendiri bagi pemerintah Suriah dengan jumlah pengungsi yang terlalu banyak telah menimbulkan masalah baru seperti meningkatnya pengangguran, kenaikan harga bahan pokok, imigran gelap yang tersebar di Suriah dan juga beban ekonomi yang harus ditanggung negara tujuan. Negara-negara tujuan tersebut pada awalnya membuka perbatasan namun kemudian dalam perkembangannya negara tersebut mulai menutup pintu. Memberlakukan kebijakan diskriminasi dan pengetatan pemberian akses terhadap fasilitas-fasilitas maupun akses terhadap kebutuhan-kebutuhan mendasar bagi para pengungsi seperti fasilitas keamanan, saluran aspirasi, perlindungan hukum dan juga hak untuk melakukan usaha sendiri (Self Employment). Awalnya Suriah merupakan satu-satunya negara dikawasan itu yang tidak memberlakukan Rezim Perlindungan Sementara yang dulu pernah ditawarkan oleh UNHCR kepada negara-negara pemberi Suaka. Tetapi kemudian Suriah

memberlakukan tawaran UNHCR tersebut, kemungkinan ketakutan atas terjadinya instabilitas ekonomi dan keamanan internal Suriah karena gelombang pengungsi yang semakin membludak menjadi alasannya, yang juga mulai mendesak untuk mendapatkan kebutuhan dasarnya, seperti bekerja, fasilitas kesehatan, pelayanan sosial dll. Jika dicermati tindakan pemerintah Suriah ini merupakan sebuah tindakan untuk

meminimalisir dampak kehadiran pengungsi Irak seperti pelayanan sosial dan ekonomi Suriah. Ini memberikan kesulitan baru bagi UNHCR, karena dengan kebijakan baru yang diterapkan oleh pemerintah Suriah seperti pengetatan terhadap kebutuhan para pengungsi menyebabkan sebagian besar pengungsi Irak mulai untuk mencari suaka di negara lain (Eropa khususnya). Pembahasan United nation High Commisioner for Refugees (UNHCR) merupakan sebuah organisasi bergerak dibawah sistem PBB. Besarnya jumlah pengungsi di dunia menimbulkan adanya kebutuhan atas sebuah bentuk perlindungan, demi menghindarkannya dari krisis yang berkepanjangan, yang terinstitusionalisasi yakni melalui UNHCR. UNHCR memiliki tanggung jawab untuk mencari solusi jangka panjang akan nasib pengungsi dengan membantu pengungsi memulangkan kenegara asal mereka, jika kondisi kondusif untuk kembali dan mengintegrasikan dinegara-negara suaka atau memukimkan kembali ke negara ketiga. UNHCR juga turut membantu tugas Suriah sebagai host country. UNHCR memberi makanan, bahan bantuan dan uang tunai adalah bagian dari paket bantuan yang tersedia bagi pengungsi Irak. Bekerja sama dengan World Food Programme (WFP) dan dengan dukungan Syrian Arab Red Crescent Society (SARC), UNHCR mendistribusikan makanan dan non makanan untuk memenuhi syarat populasi pengungsi yang terdaftar. Bantuan tunai ditujukan terutama pada female-headed households, sehingga dapat mencegah putus sekolah, child labour dan tunawisma. Sebagai bagian dari operasi bantuan pengungsi irak di Suriah, UNHCR mulai menarik lebih banyak dana dan memperluas skala dan cakupan, kantor, lapangan organisasi mulai memaninkan peran dalam bidang hubungan eksternal dan informas publik. Hal ini terutama pada kasus Suriah, dimana UNHCR membentuk sebuah unit yang kuat dan dinamis, bertanggung jawab dan dikelola oleh personil dengan ketrampilan yang relevan, pengetahuan lokal dan linguistik kompetensi mengingat susahnya mengelola ratusan ribu pengungsi yang tersebar diseluruh penjuru Suriah. Pada kasus pengungsi Irak pun UNHCR banyak melakukan perannya di Suriah untuk membantu pemerintah Suriah menangani, mewadahi, memproteksi dan memberikan solusi bagi para pengungsi Irak yang telah terdaftar di UNHCR.

Pemerintah Suriah meminta UNHCR untuk menghentikan masuknya para pengungsi dan mendeportasi sebagian pengungsi Irak tersebut ke Suriah dan ini memberikan persoalan baru bagi UNHCR untuk dapat mengatasinya. Dengan ditambahnya situasi yang tidak kondusif dengan gelombang pengungsi yang semakin membludak. UNHCR mengambil tempatnya sebagai mediator bagi kasus pengungsi Irak di Suriah. UNHCR telah melakukan berbagai tindakan untuk dapat memenuhi kebutuhan pengungsi akibat implementasi Rezim Perlindungan Sementara tersebut dengan ditingkatkannya dialog antara UNHCR dan pemerintah tentang perlindungan pengungsi serta pembentukan program pemukiman kembali yang telah lama menjadi solusi satusatunya untuk sejumlah besar pengungsi. Salah satu tindakan UNHCR yaitu juga mendukung program pemerintah Irak untuk memulangkan warga negara mereka yang berada di Suriah. Melalui Resettlement Learning Programme oleh UNHCR, yang menjamin warga negara yang berada diluar negaranya untuk kembali secara sukarela kenegaranya termasuk membantu Irak untuk membangun sarana infrastruktur yang vital di negara tersebut. UNHCR juga menghabiskan $100 juta di Irak guna membantu terlaksananya program pemerintah Irak dan lebih dari 2.353 warga Irak secara sukarela kembali ke irak.

Kesimpulan UNHCR telah efektif dalam tugas yang cukup sulit untuk menjangkau dan berkomunikasi dengan para pengungsi. Serta mengambil tempat menjadi mediator antara pemerintah Suriah dan pemerintah Irak. UNHCR telah meningkatkan upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif akan repatriasi sukarela dan reintegrasi yang berkelanjutan dari para pengungsi dan kegiatan operasional di Suriah. Namun, seharusnya ada rasa yang jelas bahwa negara yang harus berbuat lebih banyak untuk mengatasi dan menyelesaikan nasib warganya yang diasingkan. Karena UNHCR memang tidak memiliki hak untuk campur tangan dalam pembuatan kebijakan negara. hal tersebutlah satu-satunya hambatan bagi para pengungsi untuk mendapatkan solusi terbaik, baik melalui repatriasi sukarela, relokasi kenegara ketiga, ataupun integrasi ke dalam host country.

Refrensi
http://www.unhcr.org/4a69ad639.pdf http://documents.wfp.org/stellent/groups/public/documents/ena/wfp119686.pdf http://www.unhcr.org/pages/49e486a76.html http://www.refugeesinternational.org/where-we-work/middle-east/iraq http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/pengungsi-irak-di-damaskus-ditekan http://muzainiyeh---fisip09.web.unair.ac.id/artikel_detail-59286MBP%20Timur%20TengahStabilitas%20Irak%20Pasca%20Invasi%20Amerika%20Serikat.html http://www.unhcr.org/cgibin/texis/vtx/search?page=search&docid=4caf376c6&query=iraqi%20refugees%20in% 20syria http://www.unhcr.org/cgibin/texis/vtx/home/opendocPDFViewer.html?docid=45f80f9d2&query=refugees%20ira qi%20in%20syria http://www.unhcr.org/cgibin/texis/vtx/home/opendocPDFViewer.html?docid=4a69ad639&query=iraqi%20refug ees%20in%20syria http://www.unhcr.org/cgibin/texis/vtx/search?page=search&docid=479616762&query=refugees%20iraqi%20in %20syria