Anda di halaman 1dari 40

1

PEMBERDAYAAN USAHA KECIL MENENGAH DAN KOPERASI Disampaikan pada seminar pemberdayaan UKM, Dekopinda Tasikmalaya *

1. Pendahuluan. Dengan belajar dari pengalaman pada beberapa dasa warsa terakhir yang telah melahirkan perekonomian yang kurang sehat, maka kebijakan pembangunan di era reformasi ini dilakukan dengan keberpihakan pada ekonomi rakyat (sistim ekonomi kerakyatan) melalui salah satu programnya pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi ( Arwan G. dan Yeti A.2003). Keberadaan usaha kecil menengah dan koperasi merupakan wujud kehidupan ekonomi sebagian besar rakyat Indonesia . Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah dan Koperasi dalam dimensi pembangunan nasional yang berlandaskan system ekonomi kerakyatan, tidak hanya ditujukan untuk mengurangi masalah kesenjangan antargolongan pendapatan dan antar pelaku ataupun penyerapan tenaga kerja. Lebih dari itu pengembangan PKMK yang mampu memperluas basis ekonomi dan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam mempercepat perubahan structural, yaitu dengan meningkatnya perekonomian daerah dan ketahanan ekonomi nasional. Pengembangan PKMK merupakan1 prioritas dan menjadi sangat vital (Soedarna, 2001).

Peran UKM dalam perekonomian domestik semakin meningkat terutama setelah krsisis tahun 1977. Di saat perbankan menghadapi kesulitan untuk

mencari debitur yang tidak bermasalah, UKM menjadi alternatif penyaluran kredit perbankan. Berdasarkan data BPS tahun 2003 terdapat 42,39 jt UKM atau 99,9 % total unit usaha dan mampu menyerap tenaga kerja 79,4jt atau 99,4% angkatan kerja Data BPS juga memperkirakan 57 % PDB bersumber dari unit usaha ini dan menyumbang hampir 15 % dari ekspor barang Indonesia. Ditinjau dari reputasi kreditnya, UKM juga mempunyai prestasi yang cukup membanggakan dengan tingkat kemacetan kredit yang relatif kecil. Pada akhir tahun 2002 tingkat kredit bermasalah UKM hanya mencapai 3,9% dibandingkan dengan total kredit perbankan yang mencapai 10,2%. Hasil penelitian Pusat Data dan Informasi Departemen Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil (tahun 1998) terhadap 69.609 perusahaan industri menunjukkan bahwa sebanyak 19.268 perusahaan mengurangi kegiatan usahanya dan sisanya menghentikan kegiatan usahanya. Akan tetapi tidak semua lini usaha mengalami kebangkrutan di masa krisis . Berbagai penelitian menunjukkan

bahwa usaha kecil dan menengah relatif memiliki kekuatan untuk bertahan hidup dibandingkan usaha besar dalam menghadapi goncangan. Dalam hal ini usaha kecil dan menengah memberikan optimisme untuk bertahan dan berkembang (Surachman, 2003). Aapabila dikaitkan dengan upaya pemerintah untuk menanggulangi kemmiskinan, UKM dapat berperan sekurang-kurangnya melalui dua saluran.

Pertama melalui penciptaan lapangan kerja, karena lapangan kerja merupaka upaya penanggulangan kemiskinan yang efektif dan berkelanjutan (sustainable), dan kedua melalui pengembangan usaha kecil secara langsung dapat memberdayakan masyarakat miskin sehingga potensi usahanya dapat

dikembangkan untuk meningkatkan kemakmuran mereka. Meskipun Usaha Kecil Menengah di masa krisis cukup signifikan peranannya dalam menggerakan perekonomian, termasuk menampung tenaga kerja yang terhempas akibat krisis, namun kinerja Usaha Kecil dan Menengah masih perlu untuk mendapatkan perhatian tersendiri (Tatang, 2004).

2. Pengertian Usaha Kecil Menengah dan Koperasi. Usaha Kecil menurut Undang-Undang No,.9 tahun 1995 adalah usaha produktif yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih paling banyak Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) per tahun serta dapat menerima kredit dari bank maksimal di atas Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai

Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Yang dimaksud dengan Usaha Menengah menurut Inpres No. 5 Tahun 1998, adalah usaha yang bersifat produktif yang memenuhi kriteria kekayaan usaha bersih lebih besar dari Rp.200.000.000,00 ( dua ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak sebesar Rp.10.000.000.000.,00 ( sepuluh milyar rupiah)tidak termassuk tanah dan bangunan tempat usaha serta dapat menerima

kredit daari bank sebesar Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan Rp.5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah). Kriteria lain ,jenis usaha dilihat dari jumlah karyawan(tenaga kerja) yang dipekerjakankan menurut Biro Pusat Statistik (BPS) adalah sebagai berikut : suatu usaha y ang mempekerjakan tidak lebih dari 4 (empat) orang merupakan usaha rumah tangga atau usaha mikro, jika mempekerjakan antara 5 (lima) orang sampai dengan 19 (sembilan belas orang) adalah usaha kecil, jika mempekerjakan antara 20 (dua puluh) orang sampai 99 orang karyawan adalah usaha menengah, dan yang mempekerjakan karyawan 100 orang atau lebih merupakan perusahaan besar. Sedangkan Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasisekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang (Undang-Undang Nomor 25 tahun 1992

berdasar atas azas kekeluargaan tentang perkoperasian)

3. Keunggulan dan Peluang Pengembangan.

Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah memiliki beberapa keunggulan komparatif terhadap usaha besar. Keunggulan tersebut antara lain : Dilihat dari sisi permodalan, pengembangan usaha kecil memerlukan modal usaha yang relatif kecil dibanding usaha besar. Disamping itu juga teknologi yang digunakan tidak perlu teknologi tinggi, sehingga pendiriannya relatif

mudah dibanding usaha besar. Motivasi usaha kecil akan lebih besar, mengingat hidup matinya tergantung kepada usaha satu-satunya. Seseorang dengan survival motive tinggi tentu akan lebih berhasil dibandingkan seseorang yang motivasinya tidak setinggi itu. Selain itu adanya ikatan emosional yang kuat dengan usahanya akan menambah kekuataan para pengusaha kecil dalam persaingan (Departemen Koperasi, 1995) Memiliki kemampuan yang tinggi untuk menyesuaikan dengan pola permintaan pasar, bahkan sanggup melayani selera perorangan. Berbeda dengan usaha besar yang umumnya menghasilkan produk masa (produk standar), peerusahaan kecil produknya bervariasi sehingga akan mudah menyesuaikan terhadap keinginan konsumen. Disamping itu juga mempunyai kemampuan untuk melayani permintaaan yang sangat spesifik yang bila diproduksi oleh perusahaan skala besar tidak efisien (tidak menguntungkan). Merupakan tipe usaha yang cocok untuk proyek perintisan. Sebagian usaha besar yang ada saat ini merupakan usaha sekala kecil yang telah

berkembang, dan untuk membuka usaha skala besar juga kadangkala diawali

dengan usaha sekala kecil. Hal ini ditujukan untuk menghindari risiko kerugian yang terlalu besar akibat kegagalan jika usaha yang dijalankan langsung besar, sebab untuk memulai usaha dengan skala besar sudah barang tentu diperlukan modal awal yang besar juga. Gestation periode pendek sehingga quick yielding walaupun belum tentu high yielding. Periode waktu sejak memulai sampai dengan produksi relatif lebih cepat dibanding perusahaan besar sehingga otomatis lebih cepat menghasilkan. Akan tetapi karena modal yang ditanamkannya juga kecil, maka hasil yang diperoleh juga mungkin tidak besar. Perdagangan bebas telah memberikan peluang kepada para pengusaha di dalam negeri untuk dapat menjual produknya ke luar negeri.Dengan dibukanya perdagangan bebas maka barier/penghambat untuk masuk ke suatu negara menjadi tidak ada lagi. Dengan perkataan lain pergerakan barang dari suatu negara ke negara lain menjadi mudah tanpa adma penghabat. Disamping itu dengan adanya depresiasi rupiah, maka perdagangan luar negeri (ekspor) menjadi lebih terbuka dengan memanfaatkan persaingan harga. Dibukanya jalur penerbangan Bandung - Kuala Lumpur memberikan kesempatan bagi para pengusaha di Jawa Barat untuk lebih mengakses pasar di Malaysia. Berdasarkan data yang ada pada bulan april 2004 semua kursi habis terjual, dan ternyata 60% dari penumpang adalah pengusaha.

Terdapat berbagai fasilitas dan kemudahan dari pemerintah. Hal ini merupakan bukti dari komitmen pemerintah dalam menumbuhkembangkan usaha kecil dan menengah.

4. Kelemahan dan Hambatan Sebagai pelaku ekonomi UKM masih menghadapi kendala structuralkondisional secara internal, separti struktur permodalan yang relatif lemah dan juga dalam mengakses ke sumber-sumber permodalan yang seringkali terbentur masalah kendala agunan (collateral) sebagai salah satu syarat perolehan kredit (Alimarwan Hanan, 2003). Keterampilan teknis rendah, dan teknologi produksi sederhana. Rendahnya keterampilan teknis dari para pekerja berakibat pada sulitnya standarisasi produk. Begitu juga penggunaan teknologi produksi yang sederhana mengakibatkan mutu produk yang dihasilkan bervariasi. Kalau hal ini terjadi, maka produk yang dikirim kemungkinan akan di klim oleh konsumen. Hal ini akan sangat merugikan, apalagi jika produk ditolak oleh konsumen di luar negeri. Para pekerja umumnya keluarga, artinya dalam perekrutan pekerja lebih ditekankan kepada aspek kekeluargaan , yaitu lebih mementingkan kedekatan hubungan dibandingkan dengan keahlian yang dimiliki. Dalam manajemen tidak ada spesialisasi bahkan seringkali pemilik menangani sendiri, artinya dalam menjalankan perusahaan tidak terdapat job

description yang jelas. Disamping itu tingkat perputaran tenaga kerja tinggi, hal ini akan mengakibatkan sulitnya menjadikan tenaga menjadi betul-betul akhli. Lemah dalam administrasi keuangan. Kondisi ini seringkali menjadi penyebab sulitnya perusahaan mengajukan kredit ke pihak ketiga, sebab para investor baru mau menanamkan uangnya kalau terjamin keamanannya, artinya uang yang ditanamkannya dijamin akan kembali dan sekaligus memperoleh keuntungan. Lemahnya administrasi keuangan melakukan penilaian kelayakan. Banyak biaya di luar pengendalian. Terkait dengan lemahnya administrasi keuangan seringkali dijumpai tidak terdapat pemisahan yang jelas antara kekayaan perusahaan dan kekayaan pribadi sehingga membengkaknya prive direksi. tidak memperhitungkan penyusutan atas aktiva tetap, tidak memperhitungkan tenaga keluarga. Kesulitan memperoleh ijin usaha. Biroksrasi yang harus ditempuh UKM dalam mengurus perijinan seringkali cukup panjang sehingga menyebabkan lamanya waktu yang diperlukan untuk sampai memperoleh perijinan. Dalam usaha kesempatan yang diperoleh tidak setiap saat, bahkan datangnya mungkin dalam waktu yang terbatas, sementara itu pengurusan untuk memperoleh perijinan kadang-kadang memakan waktu yang cukup lama. Kalau ini terjadi, maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Belum adanya/kurangnya perlindungan terhadap usaha kecil. Sesuatu yang lemah mestinya dilindungi dari ancaman yang kuat. Karena tidak adanya mengakibatkan sulitnya

perlindungan hukum, seringkali ruang gerak usaha kecil terpojok oleh usaha besar. Banyak perusahaan kecil gulung tikar karena terjunnya usaha besar ke bidang usaha yang digeluti usaha kecil. Atau karena tidak memiliki hak cipta maka produknya dihasilkan pihak lain sehingga usahanya tersingkirkan. Dalam kemitraan dengan perusahaan besar seringkali terjadi pola yang bertentangan dengan yang seharusnya, dimana pengusaha kecil malah mensubsidi pengusaha besar. Kesulitan memperoleh kredit. Walaupun usaha kecil dan menengah yang sesungguhnya andal terhadap krisis, sulit untuk mendapat fasilitas karena terbentur pada aturan-aturan perkreditan yang komplek dan dilematis bagi mereka dan bank pemberi kredit (Kamio, 2003)

Berkaitan dengan lembaga pembina. Sebuah usaha kecil kadangkala dibina oleh lebih dari satu lembaga, yang masing-masing pembina memiliki tujuan yang berbeda karena berbeda kepentingan, sehingga usaha kecil harus menyelesaikan berbagai persoalan ( sekali tepuk harus mampu merenggut beberapa nyawa). Atau bahkan pengusaha yang mulai berhasil waktunya habis hanya untuk melayani pembina dan menerima tamu ataupun studi banding. Disetujuinya GATT dan perdagangan bebas akan membuka peluang bagi pengusaha luar negeri untuk masuk ke Indonesia, karena pemerintah tidak bisa lagi meamberikan proteksi. Artinya produk-produk luar negeri akan dengan baik untuk kepentingan pembinaan, pendataan

10

mudah dan bebas masuk ke Indonesia, yang pada akhirnya akan menyebabkan semakin kuatnya persaingan komoditi industri kecil dari negara lain High cost Economic. Hal ini terjadi karena terjadinya pengeluaran-

pengeluaran yang tidak dijumpai dalam pos pembiayaan alias munculnya biaya siluman . Menurunnya investasi dan perdagangan ke Indonesia. Dengan terjadina berbagai kerusuhan di dalam negeri maka investor merasa keamanan investasinya terancam, sehingga mereka mengalihkannya ke negara lain yang dianggap lebih aman, misalnya Vietnam. Sebagai contoh di akhir tahun 2003 karena menghadapi pemilu 2004 yang dihawatirkan tidak aman, di Bandung tidak kurang dari 10 investor tekstil memindahkannya ke negara lain. Kondisi semacam ini wajar terjadi karena aktivitas ekonomi banyak dipengaruhi aspek-aspek non ekonomi, seperti social, politik, keamanan, dan sebagainya (Kartawan, 2004).

5.

Sasaran Pembinaan dan Pemberdayaan Pemberdayaan merupakan upaya/proses untuk membuat sesuatu yang

tadinya tidak berdaya menjadi berdaya. Pembinaan adalah suatu perlakuan agar UKM memiliki kemampuan. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan melalui pembinaan. Adapun sasaran pembinaan yang dilakukan terhadap pengusaha kecil adalah mengurangi atau kalau mungkin menghilangkan kelemahan-kelemahan dan hambatan-hambatan yang dimiliki/dihadapi

11

perusahaan serta meningkatkan dan memanfaatkan keunggulan dan peluangnya, seperti : Berkembangnya skala usaha , peluang usaha, dan pangsa pasar . Dengan adanya intervensi dari pihak eksternal, diharapkan skala usaha mereka dapat ditingkatkan dari kecil menjadi menengah, dan dari menengah menjadi besar. Begitu juga dengan adanya bantuan untuk akses ke pihak luar, maka peluang usaha dan pangsa pasar dapat dikembangkan. Akses terhadap sumber permodalan. Membantu akses ke penyandang dana/investor atau pemberi/penyedia kredit akan memecahkan masalah kebutuhan permodalan perusahaan, karena bukan mereka tidak mau memberikan pendaan kepada para pengusaha, akan tetapi karena masing-masing tidak tahu dan tidak saling kenal. Oleh karena itu diperlukan adanya fasilitator yang bisa

menghubungan antara kedua pihak tersebut. Peningkatan kemampuan kewirausahaan. Kemampuan kewirausahaan merupakan suatu hal yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha, dimana seorang pengusaha harus mampu mengambil keputusan, mendelegasikan wewenang secara jelas, mengambil risiko yang moderat, memotivasi karyawan, menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, dan sifat kewirausahaan lainnya. Peningkatan kemampuan manajerial dan kemampuan teknis. Seorang pengusaha adalah seorang manajer, oleh karena itu diperlukan kemampuan untuk mengkoordinasikan semua bawahannya serta memanage seluruh potensi yang dimiliki. Keterampilan teknis karyawan pada Usaha Kecil Menengah umumnya

12

rendah, hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas produk yang dihasilkan yang seringkali tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Peningkatan dan pemantapan keterkaitan dan kemitraan yang saling membutuhkan, saling menghidupi, dan saling menguntungkan. Saat ini seringkali terjadi kemitraan yang tidak sesuai dengan pola yang diinginkan. Dalam kemitraan Usaha kecil dengan Usaha Besar, seharusnya usaha besar bisa memberikan subsidi kepada usaha kecil, tapi seringkali dijumpai kondisi sebaliknya dimana usaha kecillah yang mensubsidi usaha besar. 6. Program Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah dan Koperasi. Pemberdayaan UKMK merupakan perlakuan yang diberikan terhadap UKMK yang tidak berdaya supaya menjadi berdaya dalam arti menghilangkan atau paling tidak mengurangi kelemahannya serta mengaktualkan potensi dan memanfaatkan peluangnya. UKMK yang berdaya adalah UKMK yang

memiliki kemampuan permodalan yang cukup, memiliki akses yang luas baik terhadap investor, sumber bahan baku, calon konsumen dan para stakeholder lain, serta memiliki daya saing yang kuat. Dalam rangka meningkatkan kemampuannya UKMK membutuhkan : pelatihan, pendampingan, konsultasi, dan temu usaha (Kartawan, 2004). Berkaitan dengan fungsi pendampingan dan konsultasi, selama ini berbagai

lembaga/instansi telah melakukannya seperti : Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Departemen Pertanian, Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB)

13

di BKKBN, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), Perguruan Tinggi , konsultan swasta dan sebagainya. UKM yang berdaya adalah UKM yang memiliki kemampuan permodalan yang cukup, memiliki akses yang luas baik terhadap investor, sumber bahan baku, calon konsumen serta para stakeholder, memiliki daya saing yang kuat. Untuk mencapai hal tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain : meningkatkan akses ke perbankan/lembaga keuangan, pemberdayaan KKMB, melalui kemitraan, dan meningkatkan kemampuan kewirausahaan. 6.1. Meningkatkan akses ke perbankan/sumber permodalan Salah satu kelemahan Usaha Kecil Menengah dan koperasi adalah kemampuan permodalan. Oleh karena itu, membantu akses ke sumber permodalan atau pemberi/penyedia kredit akan memecahkan sebagian masalah kebutuhan permodalan perusahaan. Dalam kenyataannya banyak UKM memerlukan dana dari sumber permodalan, di lain pihak sumber permodalan memiliki cukup dana untuk disalurkan kepada UKMK, akan tetapi terjadi suatu gap sehingga kedua kutub tersebut tidak pernah ketemu sehingga tidak terjadi transaksi. Kendala-

kendala yang menjadi penyebab sulitnya UKMK mengakses sumber permodalan antara lain : tidak saling mengenal antara sumber permodalan dengan UKMK, adanya perbedaan kebiasaan dimana para pengusaha UKMK tidak terlalu akrab dengan pembukuan sementara di lain pihak perbankan sangat akrab dengan pembukuan, ketidakmampuan menyusun kelayakan usaha termasuk sulitnya memenuhi persyaratan administratif yang diminta pihak pemilik dana.

14

Suatu hal yang wajar apabila pemilik dana dalam memberikan pendanaan kepada pihak lain dengan sangat hati-hati, sebab siapapun dalam melepaskan dananya berharap bahwa dana itu aman, dalam arti dana tersebut dijamin akan

kembali dan sekaligus memperoleh keuntungan daripadanya. Tanpa adanya saling mengenal tidak mungkin pemilik dana memberikannya kepada pihak lain, hal ini sepadan dalam kehidupan sehari-hari orang tidak akan menikah kalau masingmasing belum saling kenal. Usaha kecil seringkali tidak melakukan pembukuan atau membuat pembukuan yang sangat sederhana, dimana berbagai biaya tidak diperhitungkan dengan jelas seperti : tidak dilakukan penyusutan terhadap aktiva tetap, tidak memperhitungkan biaya tenaga kerja pribadi atau keluarga, dan tidak memisahkan asset perusahaan dengan kekayaan pribadi. Kondisi ini akan menimbulkan kesulitan kepada pihak pemilik dana untuk melakukan kelayakan usaha. Kelayakan dari usaha yang akan dibiayai merupakan suatu pegangan bagi sumber permodalan ( pemilik modal ) untuk menentukan apakah akan mendanai usaha tersebut atau tidak. Oleh karena itu kemampuan menyusun studi kelayakan menjadi sangat penting, sebab mungkin saja sebenarnya usaha yang akan dibiayai itu sangat potensil dan akan mampu memberikan keuntungan yang besar, akan tetapi karena penyajian dalam studi kelayakannya tidak menggambarkan potensi ril kalau usaha itu dibiayai, maka sumber permodalan tidak mau memberikan pendanaan. Dengan perkataan lain walaupun usaha itu akan memberikan

15

keuntungan yang besar, tapi kalau kelayakan usahanya tidak mampu meyakinkan sumber permodalan, maka usaha itu tidak akan didanai. Upaya-upaya yang dilakukan antara lain : mempertemukan UKMK

dengan para pemilik dana, memberikan pelatihan pembukuan dan penyusunan studi kelayakan usaha atau proposal pengajuan dana.

6.2. Pemberdayaan KKMB Memperhatikan hal tersebut di atas, maka diperlukan adanya fasilitator yang bisa menghubungkan antara kedua pihak (UKMK sebagai pihak yang memerlukan dana lembaga permodalan) tersebut sehingga tercapai understanding antara UKM dengan sumber permodalan (bank). Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemberdayaan Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB). Konsultan merupakan anggota atau unsur Lembaga Penyedia Jasa Pengembangan Usaha (Business Development Services Provider/BDS-P) yang memenuhi standar kualifikasi tertentu. Yang dimaksud dengan BDS-P menurut Kementrian Koperasi dan UKM adalah lembaga yang memberikan layanan pengembangan bisnis dalam rangka meningkatkan kinerja UKM. Lembaga tersebut berbadan hukum, bukan lembaga keuangan, serta dapat memperoleh fee dari jasa layanannya. Dalam hubungannya dengan pemberdayaan KKMB jasa yang diberikan oleh BDS-P adalah konsultasi/pendampingan dalam hal manajemen/analisis

keuangan agar mempercepat peningkatan UKM yang dapat bermitra dengan bank

16

sehingga dana yang tersedia di perbankan dapat terserap/dimanfaatkan oleh UKM secara baik, disertai pembinaanya. 6.3. Perluasan pangsa pasar Kemampuan untuk menguasai pasar merupakan syarat mutlak agar usaha bisa tetap eksis atau berkembang. Suatu usaha harus mampu mengaktualkan potensi pasar yang ada seoptimal mungkin, baik pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Untuk memperluas pangsa pasar ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti : pameran, temu usaha, melalui internet. Disamping itu berkaitan dengan pemasaran ini perlu mengupayakan untuk memotong rantai distribusi sehingga kesempatan memperoleh keuntungan bisa ditingkatkan. Jika produknya merupakan komoditi ekspor, maka perlu diupayakan agar pengusaha produsen sekaligus menjadi eksportir.

6.4. Kemitraan Usaha Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 tahun

1997 tentang Kemitraan, yang dimaksud dengan Kemitraan adaalah kerjasama usaha antara Usaha Kecil dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar disertai

pembinaan dan pengembangan oleh usaha menengah atau usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling menguntungkan. Dalam Kemitraan ini salah satu kewajiban Usaha Menengah dan Besar adalah melakukan pembinaan terhadap usaha Kecil dalam suatu aspek atau lebih : memperkuat dan saling

17

a. Pemasaran ,dengan : 1.) membantu akses pasar. 2.) Memberikan bantuan informasi pasar, 3.) Memberikan bantuan promosi 4.) Membantu melakukan identifikasi pasar 5.) Mengembangkan jaringan usaha 6.) Membantu peningkatan mutu produk dan nilai tambah kemasan b. Pembinaan dan Pengembangan SDM dengan : 1). Pendidikan dan latihan 2). Magang 3). Studi banding 4). Konsultasi c. Permodalan : 1). Pemberian informasi sumber-sumber kredit 2). Mediator terhadap sumber-sumber pembiayaan 3). Membantu akses permodalan d. Manajemen : 1). Bantuan penyusunan studi kelayakan 2). Menyediakan tenaga konsultan 3). Prosedur organisasi dan manajemen e. Teknologi : 1). Membantu perbaikan, inovasi dan alih teknologi

18

2). Membantu perbaikan sistem produksi dan kontrol kualitas 3). Membantu pengembangan desain dan reklayasa produk 4). Membantu meningkatkan efisiensi pengadaan bahan baku. Pola kemitraan yang berkembang di Indonesia antara lain : pola sub kontrak,pola dagang, pola perkebunan inti rakyat, pola waralaba (Dinas Koperasi dan UKM Tasikmalaya, 2003). Yang dimaksud dengan sub kontrak yaitu hubungan kerjasama antara satu perusahaan industri dengan perusahaan industri lainnya yang saling berkaitan secara teknis. Misalnya : industri kecil

menghasilkan komponen, dan industri besar melakukan perakitan. Pola dagang adalah suatu pola kemitraan dimana pengusaha besar memasarkan produk-produk usaha kecil. Perkebunan Inti Rakyat adalah perusahaan yang melakukan fungsi

perencanaan, bimbingan dan pelayanan sarana produksi, kredit usaha, pengolahan hasil dan pemasaran bagi usaha tani yang dimiliki dan dikelola sendiri., Perusahaan inti melaksanakan pembinaan terhadap plasma mulai dari penyediaan input sampai pemasaran hasil, sementara petani (plasma) memenuhi kewajiban yang sifatnya manajerial, menjual seluruh produksi kepada perusahaaninti dan membayar kredit yang diberikan. Waralaba (Franchise) adalah suatu pola kemitraan dimana franchisor (perusahaan besar) memberikan hak penggunaan merk dagang/perusahaan (trade mark, logo, service mark) miliknya dan bantuan-bantuan manajemen, teknis, promosi, dan program-program pelatihan, konsultasi, penelitian dan

19

pengembangan kepada franchise (perusahaan kecil) secara berkesinambungan. Konsekuensi dari pemanfaatan fasilitas-fasilitas tersebut, franchise diwajibkan membayar royalti/fee secara berkesinambungan pula.

7. Keberpihakan Pemerintah. Dalam proses pemberdayaan UKMK peran pemerintah sangat diperlukan, dimana pengembangan UKMK tidak sepenuhnya dapat diserahkan kepada mekanisme pasar. Sampai saat ini pemerintah sudah cukup banyak melakukan upaya-upaya dalam mendorong pemberdayaan UKMK. Sebagai wujud

keseriusan pemerintah, dalam rangka memberdayakan UKM, pada hari kebangkitan Nasional 20 Mei yang lalu pemerintah telah mencanangkan sebagai momentum Kebangkitan UKM. Sebagian upaya yang telah dilakukan antara lain : 1. Membentuk Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah 2. Memberikan berbagai fasilitas kredit.

3.Mengeluarkan kebijakan Pembinaan UKMK melalui pemanfaatan dana bagian dari laba BUMN 4. Menentukan plafon kredit bagi UKMK di bank komersil. 5. Mendirikan Lembaga Pembiayaan 6. Memberi berbagai Bantuan seperti : dana bergulir usaha penggemukan sapi potong, bantuan teknis pengembangan usaha agroindustri sutera, dana bergulir bagi koperasi mina dalam rangka pengembangan penangkapan ikan.dsb.

20

Walaupun berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, akan tetapi masih belum cukup untuk dapat mendorong pertumbuhan UKMK, yakni terdapat

berbagai kebijakan yang tidak kondusip, baik yang masih belum mampu mendorong pertumbuhan, atau bahkan ada yang menghambat pengembangan UKMK seperti : 1. Kebijakan dalam perpajakan, 2. Berbagai perda yang berujung retribusi 3. Perlindungan bagi UKMK

4. Penyederhanaan perijinan 5. Insentif

21

DAFTAR PUSTAKA

Alimarwan Hanan, 2003,Seri Kebijakan Usaha Penjaminan Kredit dan Perkuatan Usaha KUKM, Kementrian Koperasi dan UKM, Jakarta. Arwan Gunawan dan Yeti Apriliawati, 2003, Perancangan Model Sistem Anggaran untuk Usaha Kecil, Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. III. No. 1 April 2003. Politeknik Negeri Bandung. Antara, 2004, Pemerintah Akan Canangkan 2004 Sebagai Tahun Kebangkitan UKM, Kompas tanggal 19 April, Jakarta. Bank Indonesia, 2003, Pemberdayaan Konsultan Keuangan/Pendamping UMKM Mitra Bank, Jakarta. Departemen Koperasi, 1995, Beberapa Model Pengembangan Usaha Kecil, Jakarta. Kartawan, 2004, Peluang Pengembangan Ekonomi Tasikmalaya Pasca Pemilu , makalah, disampaikan pada musyawarah Kadin, tanggal 20 April 2004. Kartawan, 2004, Peran Perguruian Tinggi dalam Pemberdayaan Usaha Kecil, disampaikan pada Bursa Kredit bagi UKM, Kerjasama UNSIL Bank Indonesia Kantor Tasikmalaya. Kamio,2003, Prospek Perekonomian Indonesia Tahun 2004, makalah disajikan pada Seminar Evaluasi Ekonomi tahun 2003 dan Prospeknya tahun 2004 di Universitas Siliwangi Tasikmalaya. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1997 Tentang Kemitraan, Jakarta. Soedarna, 2001, Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Rangka Pengembangan Sumber daya Manusia Wiraswasta di Jawa Barat,

22

Surachman Sumawihardja, 2003, Mengembangkan Keunggulan Bersaing Usaha Kecil dan Menengah untuk Mencapai Posisi Pasar yang Kuat dan Berkelanjutan dalam Era Global, Orasi Ilmiah, disampaikan dalam rangka Dies Natalis Universitas Siliwangi ke 25, tanggal 6 Juni 2003 di Tasikmalaya. Tatang FH., 2004, Kebijakan Umum Pembinaan dan Pengembangan KUKM di Kabupaten Tasikmalaya.

PUSAT PENGEMBANGAN UKM PT

Pengembangan

Bidang

Pemerintah Daerah

Pelatihan Pendampingan Konsultasi Temu Usaha

.-Manajemen -Keuangan -Pemasaran -Produksi


-Informasi

Lembaga Keuangan

dan Perbankan

UKM

Skema Pemberdayaan UKM melalui Pusat Pengembangan UKM PT

23

Sedangkan proses pemberdayaan dilaksanakan melalui tahap-tahap seperti pada skema berikut ini.

pppe
Masalah: Identifikasi Analisis Bidang - Manajemen - Produksi - Keuangan - Pemasaran - Informasi Alternatif Pemecahan Masalah Kebutuhan: Pelatihan Pendampingan Konsultasi Temu Usaha Informasi Pendanaan: Lembaga Keuangan dan Perbankan BUMN/BUMS Pemerintah Masyarakat .* Lembaga lain

24

Skema Proses Pemberdayaan UKM melalui Pusat Pengembangan UKM PT

ANALISIS COMPETITIVE BENCHMARKING BERDASARKAN PERSEPSI PENDENGAR PADA STASIUN RADIO SWASTA DI KOTA TASIKMALAYA Competitive Benchmarking Analysis based on listener perception on private radio station in Tasikmalaya. This research serves to add to the knowledge in service marketing literature by improving understanding of the benchmarking competitive analysis based on costumer perception. Using data collected from four station radio, the finding indicated product attribute as the most important of its existence on radio station, Style FM as the referenced ideal radio station which being the research object, The Benchmarking Gap is exist among private radio station in Tasikmalaya with Style FM have excellence at the seven factors determinant of excellence at radio station (Product, Place, Price, Promotion, People, Process and Physical Evidence) Persaingan bisnis broadasting di kota Tasikmalaya menunjukkan kemajuan yang pesat. hal ini ditandai dengan semakin banyaknya stasiun radio yang beroperasi di kota Tasikmalaya di antaranya adalah Martha FM, style FM, eMDiKei Fm dan Q FM. Masing-masing stasiun radio berlomba untuk menjadi stasiun radio yang terbaik serta berlomba untuk mendapatkan tempat di hati para pendengarnya. Pihak stasiun radio juga melakukan strategi promotional mix melalui kerja sama dengan berbagai pihak dalam menyelenggarakan acara-acara musik ataupun acara hiburan lainnya di Kota Tasikmalaya. Dalam menghadapi situasi persaingan ini, stasiun radio mulai mengembangkan konsep segmentating, targeting dan positioning (STP). Stasiun radio tersebut lebih fokus pada segmen tertentu, dan berupaya meningkatkan loyalitas pendengarnya melalui berbagai program acara unggulan serta meningkatkan kinerjanya. Peningkatan daya saing dari sebuah stasiun radio tidak cukup hanya sekedar menerapkan strategi yang tepat. Pihak pengelola stasiun radio perlu melakukan benchmarking atau perbandingan posisi relatif dengan kesuksesan stasiun radio lain, sehingga tindakan untuk menghasilkan kinerja yang serupa atau bahkan kinerja yang lebih baik dapat ditentukan ( Zulian Yamit, 2001;132 ) Selain itu pihak stasiun radio juga perlu mengetahui faktor-faktor yang

25

menjadi keunggulan sekaligus kelemahannya dengan mengambil acuan kepada pesaingnya. Faktor yang sudah unggul tetap dipertahankan sebaliknya faktor yang masih rendah perlu mempelajari keberhasilan stasiun radio lain agar kinerjanya bisa lebih baik lagi. Salah satu usaha yang bisa dilakukan stasiun radio untuk melaksanakan hal tersebut di atas adalah dengan melakukan analisis persaingan yang bersumber pada pesaing (competitor-centered analysis ) seperti yang dikemukakan oleh David W. Cravens dalam bukunya Pemasaran Strategis (1996;57). Dalam buku itu disebutkan bahwa strategi yang bisa diterapkan adalah dengan melakukan benchmarking. Benchmarking adalah proses berkesinambungan yang membandingkan kinerja perusahaan, berdasarkan permintaan konsumen dengan yang terbaik, dalam industri (pesaing langsung) atau kelas (perusahaan dikenali karena kehebatannya pada saat menampilkan fungsi-fungsi tertentu). Hal ini dilakukan dalam rangka penentuan bidang mana saja yang sebaiknya dijadikan sasaran untuk perbaikan. (David W. Cravens, 1996;59) Benchmarking mengikuti pendekatan dasar empat langkah (Gregory H. Watson, 1997). Empat langkah tersebut mengikuti metode mutu fundamental sebagaimana yang dipaparkan Shewhart atau siklus Deming yaitu menyusun rencana, menjalankan rencana, memeriksa temuan, dan beraksi. Pada langkah pertama, dapat direduksi untuk menjawab dua pertanyaan mendasar yaitu: 1. Apa yang harus kita bandingkan? 2. Perusahaan mana yang harus kita pakai sebagai tolak ukur perbandingan? Dari kedua pertanyaan di atas maka dapat dijawab bahwa dalam penelitian ini yang akan dibandingkan adalah kinerja stasiun radio swasta yang

26

memiliki segmentasi pendengar terbesar yang sama yaitu para remaja yang ada di kota Tasikmalaya. Dalam penelitian ini, informasi tidak hanya diperoleh dari pihak perusahaan saja tetapi dapat pula diperoleh dari pihak ketiga yaitu pelanggan atau dalam hal ini adalah para pendengar stasiun radio. Oleh karena itu dalam penelitian ini didasarkan pada persepsi pendengar dalam menilai kinerja suatu stasiun radi, karena persepsi merupakan salah satu faktor dalam penentuan bagi pendengar dalam memilih stasiun radio mana yang akan didengarnya. Menurut Kotler dan Amstrong (1997 : 203), persepsi merupakan suatu proses yang dilalui orang dalam memilih, mengorganisasikan dan menginterprestasikan informasi guna membentuk gambaran yang berarti mengenai dunia. Dari pengertian di atas, diharapkan pendengar bisa memberikan penilaian terhadap kinerja dari stasiun radio yang pada akhirnya dapat mempengaruhi pendengar dalam memilih stasiun radio yang akan didengarnya. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini mengambil dari variabel bauran pemasaran jasa yang terdiri dari tujuh variabel yang kemudian ditetapkan sebagai atribut determinan yang dijadikan tolak ukur sebagai dasar penilaian pendengar terhadap kinerja stasiun radio. Variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut : 1. Product 2. Place 3. Price 4. Promotion

27

5. People 6. Process 7. Physical evidence (Yazid, 2001 ; 19)

Langkah kedua dalam benchmarking, adalah mengadakan riset primer dan sekunder. Ini meliputi penyelidikan, penyingkapan rahasia atau proses tertentu dalam perusahaan atau dalam penelitian ini stasiun radio sasaran. Langkah ketiga dalam benchmarking adalah menganalisis data yang terkumpul guna menyusun temuan dan rekomendasi. Analisis ini meliputi dua aspek yaitu, penentuan besaran kesenjangan kinerja antar stasiun radio dengan menggunakan metrik-metrik yang diidentifikasi pada tahap perencanaan, dan pengidentifikasian faktor penentu proses yang memberikan nilai tambah pada stasiun radio yang dijadikan tolok ukur. Langkah keempat adalah adaptasi, pengembangan dan implementasi faktor penentu proses benchmarking yang cocok. Tujuannya adalah mengubah organisasi sedemikian rupa sehingga meningkatkan kinerjanya.

Mengadapt Mengadapt asikan, asikan, mengemba mengemba ngkan dan ngkan dan mengimple mengimple mentasikan mentasikan temuan temuan

AKSI

RENCANA

Merencanakan Merencanakan studi studi

PERIKSA

LAKUKAN

Meng Meng analis analis isis data data

28

Melakukan Melakukan riset riset

Gambar 1. Proses benchmarking ( Gregory H. Watson, 1997 ) Berdasarkan langkah-langkah benchmarking di atas, maka untuk memberikan
Persaingan bisnis stasiun radio di Kota Persaingan bisnis stasiun radio di Kota Tasikmalaya semakin meningkat gambaran yang jelas mengenai penelitian Tasikmalaya semakin meningkat

ini dibuat kerangka

pemikiran pada gambar 2 di bawah ini :


Analisis competitive benchmarking Analisis competitive benchmarking

STASIUN RADIO STASIUN RADIO Martha FM Martha FM Style FM Style FM eMDiKei FM eMDiKei FM Q FM Q FM Atribut-atribut determinan stasiun radio Atribut-atribut determinan stasiun radio

Product Product

Place Place

Price Price

Promotion Promotion

People People

Process Process

Physical Physical Evidence Evidence

Atribut yang paling penting keberadaannya pada stasiun radio Atribut yang paling penting keberadaannya pada stasiun radio Stasiun radio yang dijadikan acuan dalam melakukan benchmarking Stasiun radio yang dijadikan acuan dalam melakukan benchmarking Kesenjangan kinerja ( benchmarking gap) antar stasiun radio Kesenjangan kinerja ( benchmarking gap) antar stasiun radio Faktor-faktor penentu keunggulan pada stasiun radio yang dibandingkan Faktor-faktor penentu keunggulan pada stasiun radio yang dibandingkan Mengadaptasikan, mengembangkan dan Mengadaptasikan, mengembangkan dan mengimplementasikan temuan mengimplementasikan temuan Peningkatan kinerja Peningkatan kinerja

29

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Mengacu pada kerangka pemikiran (Gambar 2), maka di bangun hipotesis yang akan diuji pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Produk merupakan atribut yang dianggap paling penting keberadaannya pada stasiun radio. 2. Style FM merupakan stasiun radio di Kota Tasikmalaya yang dijadikan acuan dalam melakukan benchmarking. 3. Terdapat kesenjangan kinerja (benchmarking gap) antar stasiun radio di Kota Tasikmalaya berdasarkan persepsi pendengar. METODOLOGI

30

Untuk menguji hipotesis, sampel diambil dari pendengar empat stasiun radio yang ada di kota Tasikmalaya yang memiliki segmentasi pendengar yang sama yaitu usia remaja-dewasa (Martha FM, Style FM, eMDiKei Fm dan Q FM) selama bulan Juli-Agustus. Dengan menggunakan aksidental sampling, setelah kuesioner di uji coba, 56 kuesioner didistribusikan kepada pendengar keempat stasiun radio tersebut. Dari 56 kuesioner yang dibagikan, seluruhnya kembali dan dapat digunakan untuk pengolahan data. Berdasarkan literatur yang ada maka penelitian ini menggunakan variabel bauran pemasaran jasa (tabel 1) sebagai operasional variabel untuk mengukur atribut yang paling penting keberadaannya di stasun radio sekaligus sebagai alat untuk mengukur kinerja dan Gap antar stasiun radio.

Tabel 1. Operasionalisasi Variabel Variabel Analisis Competitive Benchmarking Sub Variabel 1. Product Definisi Operasional Indikator Kedalaman dan keluasan 1. Musik acara yang ditawarkan 2. Berita dan oleh stasiun radio untuk Informasi menarik perhatian pendengar Skala Ordinal

2. Place

Tempat dimana stasiun 1. Dekat Ordinal radio beroperasi dan dengan kota melakukan kegiatannya 2. Mudah dijangkau Besarnya nilai sejumlah 1. Tarif iklan rupiah yang dibebankan pada setiap pemasangan Ordinal

3. Price

31

iklan dan harus dibayarkan oleh pemasang iklan di stasiun radio 4. Promotion Informasi yang dipubli- 1. Promosi kasikan kepada masya- 2. Kegiatan rakat tentang keberadaan off air stasiun radio yang merangsang konsumen untuk mendengarkan stasiun radio yang bersangkutan Kualitas sumber daya 1. Kualitas manusia yang dimiliki penyiar oleh suatu stasiun radio 2. Kualitas khususnya penyiar dan operator operator. 3. Keramahan Definisi Operasional Indikator Upaya stasiun radio untuk 1. Kejernihan memberikan pelayanan suara terbaiknya kepada para 2. Jangkauan pendengarnya Siaran 3. partisipasi pendengar 4. Media komunikasi Keadaan suatu stasiun 1. Kondisi yang diwujudkan dalam bangunan bentuk fisik 2. Peralatan off air Ordinal

5. People

Ordinal

Variabel

Sub Variabel 6. Process

Skala Ordinal

7. Physical Environment

Ordinal

32

Kuesioner yang digunakan untuk penelitian ini dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian pertama mengukur atribut determinan yang paling penting keberadaannya pada stasiun radio dan bagian kedua mengukur kinerja sekaligus Gap di antara keempat stasiun radio yang dijadikan objek penelitian. Mengingat variabel-variabel tersebut merupakan hal yang subjektif berdasar atas persepsi pendengar, maka variabel-variabel tersebut diukur dengan menggunakan 5 poin skala likert : sangat tidak setuju (1) sampai sangat setuju (5) ALAT ANALISIS Untuk menguji hipotesis pertama, digunakan benchmarking analysis

atribute, yaitu dilakukan dengan cara melakukan pembobotan terhadap masingmasing atribut berdasarkan tingkat kepentingannya (M. Fakhrudin dan Arifin Johar, 1997). Dimana atribut determinan stasiun radio yang mempunyai skor pembobotan paling tinggi merupakan atribut yang paling dominan bagi pendengar dalam mendengarkan siaran radio. Hipotesis diterima jika atribut produk memperoleh bobot paling tinggi berdasarkan persepsi pendengar. Hipotesis kedua diuji dengan metrik competitive benchmarking analysis, yang dilakukan dengan cara membandingkan tingkat kinerja stasiun radio yang diteliti berdasarkan persepsi pendengar dengan melihat nilai atribut dari masingmasing stasiun radio. Nilai atribut diperoleh dengan mengalikan skor dengan bobot tingkat kepentingannya. Hipotesis diterima jika Style FM memperoleh nilai paling tinggi berdasarkan persepsi pendengar. Hipotesis ketiga dilakukan dengan membandingkan kinerja antar stasiun radio dengan mengambil acuan kepada stasiun radio yang mempunyai nilai

33

tertinggi untuk masing-masing atribut. Hipotesis diterima jika terdapat kesenjangan kinerja (benchmarking gap) pada stasiun radio di Kota Tasikmalaya.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN Uji Validitas Untuk menguji apakah setiap butir pernyataan benar-benar dapat mengungkapkan variabel yang diteliti dilakukan analisis validitas atau kesahihan pernyataan. Korelasi ini dihitung dengan rumus product moment pearson, (Azwar, 2000). Hasil uji menunjukkan bahwa setiap butir pernyataan dinyatakan valid sesuai kriteria validitas menurut Suharsimi arikunto yang secara lengkap dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2 Kriteria Validitas dan Reliabilitas tingkat Kepentingan Atribut No. Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Validitas 0,40 0,27 0,60 0,45 0,33 0,35 0,46 0,36 0,23 0,62 0,66 0,61 0,35 0,52 0,78 0,45 0,36 Kriteria Validitas Rendah Rendah Cukup Cukup Rendah Rendah Cukup Rendah Rendah Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Cukup Tinggi Cukup Rendah Reliabilitas

0,76

34

18 Uji Reliabilitas

0,41

Cukup

Untuk mengetahui kuesioner yang disebarkan kepada responden andal atau tidak, dilakukan analisis reliabilitas dengan teknik cronbachs alpha () yang hasil pengujian reliabilitas adalah sebagai berikut : Dari uji reliabilitas (tabel 2) menunjukkan bahwa kuesioner yang disebar memiliki nilai reliabilitas sebesar 0,76 adalah reliabel. Benchmarking Analysis Attribute Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan Benchmarking Analysis Attribute diperoleh hasil bahwa atribut produk merupakan atribut yang paling penting keberadaannya pada stasiun radio dengan memperoleh bobot nilai sebesar 0,0594. Hasil keseluruhan analysis ini terlihat pada tabel 3 Tabel 3 Interpretasi tingkat kepentingan atribut stasiun radio swasta di Kota Tasikmalaya pada tahun 2005
No 1 2 3 4 5 6 7 Atribut PRODUCT PLACE PRICE PROMOTION PEOPLE PROCESS PHYSICAL EVIDENCE Skor Rata-rata
263,67 243,50 230,50 244,50 247,33 246,75 241,00

Bobot
0,0594 0,0549 0,0519 0,0551 0,0557 0,0556 0,0543

Interpretasi Sangat penting Sangat penting Penting Sangat penting Sangat penting Sangat penting Sangat penting

Dengan hasil ini maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis pertama bahwa produk merupakan atribut paling penting keberadaannya pada stasiun radio diterima.

35

Competitive Benchmarking Analysis Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan metrik competitive benchmarking analysis, diperoleh hasl bahwa style FM memperoleh skor nilai terbesar dibandingkan dengan stasiun radio yang lainnya . Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis kedua yang menyatakan bahwa Style FM merupakan stasiun radio yang ideal untuk dijadikan acuan dalam melakukan Benchmarking diterima. Hasil keseluruhan analisis ini terlihat pada tabel 4.

36 Tabel 4 Perbandingan tingkat kinerja stasiun radio swasta di Kota Tasikmalaya tahun 2005
No. Faktor yang Dinilai Style FM Skor Nilai Martha FM Skor Nilai eMDiKei FM Skor Nilai Skor Q FM Nilai

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

PRODUCT Kelengkapan jenis musik yang diputar Variasi acara musik Kualitas berita dan informasi yang disampaikan PLACE Kedekatan dengan pusat kota Kemudahan jangkauan PRICE Penetapan tarif iklan Penjelasan mengenai penetapan tarif iklan PROMOTION Promosi atau iklan Kegiatan off air PEOPLE Kualitas penyiar Kualitas operator Keramahan PROCESS Kejernihan suara Jangkauan siaran Partisipasi pendengar Media komunikasi bagi pendengar PHYSICAL EVIDENCE Kondisi bangunan Peralatan off air Total

266 253 244 246 237 230 216 226 217 249 243 233 255 245 234 235 254 236 4319

16,2992 14,9896 14,0716 13,3557 13,134 12,228 10,9484 12,3208 12,0746 14,0234 13,4118 12,9649 14,3039 13,9637 12,7569 12,8644 13,5612 13,0255 240,2976

250 239 246 229 209 222 204 214 214 244 226 231 252 241 232 227 237 220 4148

15,3188 14,1602 14,187 12,4328 11,5823 11,8027 10,3402 11,6666 11,9076 13,7418 12,4735 12,8536 14,1356 13,7358 12,6479 12,4264 12,6535 12,1424 230,2086

244 232 222 213 184 218 195 208 195 226 218 214 238 230 215 208 210 216 3886

14,9511 13,7454 12,8029 11,5641 10,1969 11,59 9,88398 11,3395 10,8504 12,7281 12,032 11,9076 13,3503 13,1088 11,7211 11,3863 11,212 11,9216 216,2922

234 221 234 210 178 218 206 196 191 225 213 207 224 223 209 206 204 198 3797

14,3384 13,0937 13,4949 11,4012 9,8644 11,59 10,4415 10,6853 10,6278 12,6718 11,756 11,5181 12,565 12,7098 11,394 11,2769 10,8916 10,9281 211,2487

Berdasarkan hasil competitive benchmarking yang dapat dilihat pada tabel 4 diketahui adanya kesenjangan kinerja (benchmarking gap) pada stasiun radio swasta di Kota Tasikmalaya. Kesenjangan kinerja (benchmarking gap) antar stasiun radio swasta di Kota Tasikmalaya dapat dilihat lebih jelas pada tabel 5 Tabel 5 Benchmarking gap stasiun radio swasta di Kota Tasikmalaya tahun 2005 Kinerja stasiun radio Style FM
No 1 2 3 Keunggulan bersaing terhadap stasiun radio Martha FM eMDiKei FM Q FM Kinerja
230,2086 240,2976

Spread

% Spread

10,089
216,2922

4,2 10 12,1

24,0054
211,2487

29,0489

Berdasarkan hasil ini maka hipotesis ketiga yang menyatakan terdapat kesenjangan kinerja ( benchmarking gap ) pada stasiun radio swasta di Kota Tasikmalaya berdasarkan persepsi pendengar diterima. Pembahasan Analysis Competitive Benchmarking dalam suatu persaingan bisnis adalah hal yang penting untuk mengetahui perbandingan posisi relatif suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya, lebih jauh lagi, persepsi konsumen mengenai kinerja suatu peruasahaan merupakan hal yang harus diperhatikan oleh setiap perusahaan dalam rangka pengembangan strategi persaingan. Dari pengujian ketiga hipotesis tentang analisis competitive benchmarking pada stasiun radio yang telah dilakukan, didapat tiga temuan yang penting. Pertama, penelitian ini menunjukkan bahwa atribut produk merupakan atribut yang menjadi pertimbangan utama bagi pendengar dalam memilih stasiun

2 mana yang akan didengarkannya dibandingkan dengan keenam atribut lainnya (tempat, promosi harga, partisipan, proses jasa dan bukti fisik). Kedua, sebagaimana terlihat pada hasil perhitungan Competitive

Benchmarking Analysis diketahui bahwa menurut persepsi pendengar style FM memiliki kinerja yang paling baik dibandingkan dengan kinerja ketiga stasiun radio lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa Style FM merupakan stasiun radio yang ideal untuk dijadikan acuan dalam melakukan benchmarking bagi stasiun rado lainnya. Ketiga, masih berdasarkan pada perhitungan Competitive Benchmarking Analysis diketahui adanya kesenjangan kinerja (Benchmarking Gap) di antara stasiun radio yang cukup besar dimana Style FM selalu memiliki skor nilai paling besar pada setiap atribut determinan stasiun radio yang dteliti. IMPLIKASI Implikasi Teoritis Penelitian mengenai kondisi persaingan bisnis di kota Tasikmalaya masih jarang dilakukan terutama yang didasarkan kepada persepsi konsumen. Studi ini memberi kontribusi secara teoritis akan arti persepsi konsumen untuk mengetahui kinerja suatu perusahaan. Secara khusus penelitian ini menunjukkan arti penting competitive benchmarking bagi suatu perusahaan untuk mengetahui posisi relatifnya pada suatu persaingan serta untuk mengetahui apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan perusahaannya maupun perusahaan pesaingnya. Implikasi manajerial Penelitian ini menunjukkan arti penting persepsi pendengar terhadap kinerja stasiun radionya selama ini. Dengan demikian penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan bagi para manajer stasiun radio untuk meningkatkan kualitas siaran radionya sehingga dapat menjadi yang terbaik. Dengan demikian, adalah suatu

3 tantangan bagi manajer untuk selalu memperhatikan kualitas siaran radionya serta persepsi pendengar akan kinerja stasiun radionya sehingga tercipta persepsi yang baik di benak pendengarnya. KETERBATASAN PENELITIAN Meskipun penelitian ini memberikan gambaran terhadap persaingan stasiun radio di kota Tasikmalaya, penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan yang harus diperhatikan dengan seksama dalam memahami penelitian ini. Penelitian ini difokuskan pada persepsi pendengar akan kinerja empat stasiun radio yang memiliki segmen pendengar yang sama. Pada kenyataannya, stasiun radio yang ada sangat banyak dan memiliki segmen pendengar yang beraneka ragam. Sehingga, penelitian ini mempunyai keterbatasan dalam hal generalisasi temuannya. Dengan kata lain, hasil penelitian ini sulit digeneralisasi ke stasiun radio lainnya terutama yang memiliki segmen pendengar yang berbeda. Keterbatasan lainnya, mengingat keterbatasan dana dan waktu, adalah sampling yang digunakan. Penelitian ini menggunakan aksidental sampling dengan jumlah sampel yang minimal. Sehingga data yang dikumpulkan tidak betul-betul mewakili persepsi dari pendengar keempat stasiun radio yang diteliti. Sehingga sebagaimana keterbatasan yang pertama, maka hasil temuan ini harus diartikan secara hati-hati.

KESIMPULAN Penelitian ini telah menunjukkan arti penting competitive Benchmarking serta persepsi konsumen dalam menilai posisi relatif suatu perusahaan dalam persaingan bisnis serta serta menilai kinerja perusahaan yang dicapai. Industri stasiun radio

4 merupakan industri yang cukup tinggi persaingannya, keberhasilan stasiun radio dalam menyediakan siaran radio yang sesuai dengan selera pendengar serta kemampuan stasiun radio dalam peningkatan kualitas sumber daya manusianya merupakan suatu hal yang penting dalam upaya meningkatkan kinerja serta dalam menarik minat para pendengarnya. Sehingga dengan peningkatan factor-faktor tersebut, stasiun radio dapat menghadapi persaingan dengan lebih efektif dan efisien.

Anda mungkin juga menyukai