Anda di halaman 1dari 29

WRAP UP SKENARIO 2 BLOK PANCAINDERA PEGAWAI KAMAR MESIN KAPAL

Kelompok: B-4

Ketua Sekretaris Anggota

: Rifky Jembardiansyah : Mutiara Laras Debianti : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Komala Sari Hakim Pujiwara Rahmi Rahma Adini Rizki Dinar Endartini Wan Asmaul Atmam Windi Nugraha Pratama Wisuda Arafat S.B. Yeni Permata Sari

1102010241 1102010194

1102008324 1102010223 1102010229 1102010252 1102010285 1102010289 1102010292 1102008323

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI JAKARTA 2012/2013

Skenario 2

PEGAWAI KAMAR MESIN KAPAL Seorang laki-laki bernama A usia 43 tahun, adala seoang pegawai pengawas mesin pesawat udara. A bekerja sejak usia 20 tahun. A menjaga mesin pesawat di hanggar setiap hari dan terpapar bising mesin 90 sampai 110 desibel (90-11- dB) selama kurang lebih 8 jam. Setiap bekerja menggunakan ear plug. Saat ini A mengeluhkan telinganya. Sebelum bekerja kedua telinga A sehat. A memeriksakan ke dokter perusahaan dengan keluhan kurang pendengaran pada kedua telinga. A mengeluh kurang jelas menerima pembicaraan bila diajak berbicara dengan teman sekantor, apalagi saat menelepon. Hal ini dirasakan semakin memberat dalam kurun waktu setahun belakangan ini. Pada pemeriksaan garpu tala dan audiometri didapatkan tuli perseptif derajat beratpada kedua telinga. A menanyakan kepada dokter apakah dapat sembuh dan mendengar seperti semula. Dokter menyarankan pasien untuk lebih menjaga kesehatan indera pendengaranbaik secara medis maupun secara Islam.

Kata-kata Sulit: 1) Pemeriksaan garpu tala: Pemeriksaan yang menggunakan garpu tala, berguna untuk mengukur fungsi dari pendengaran 2) Audiometri: Pemeriksaan yang bertujuan untuk menentukan tingkat/ambang batas pendengeran 3) Tuli perseptif: Gangguan pendengaran yang disebabkan karena adanya kelainan pada neurosensorik Pertanyaan: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Berapakah ambang batas pendengaran yang normal pada manusia? Mengapa mendengar suara bising terlalu lama dapat menyebabkan tuli? Mengapa Tn. A tetap bisa menjadi tuli padahal dia telah memakai earplug? Bagaimana mekanisme pendengaran, dan mengapa bias menjadi tuli? Mengapa pada pemeriksaan garpu tala didapatkan hasil tuli perseptif? Apakah tuli yang dialami oleh Tn. A bersifat permanen? Mengapa tuli yang dirasakan Tn. A semakin memberat? Bisakan ganggua pendengaran yang dialami Tn. A hanya terjadi pada satu telinga saja? Pemeriksaan apa saja yang dapat dilakukan selain pemeriksaan garpu tala dan audiometri?

Jawaban: 1) 20-18.000 Hz 2) Karena terlalu lama terpapar suara yang melebihi ambang batas normal 3) Karena tidak memenuhi prosedur keamanan yang lengkap yaitu menggunakan helmet, earmuffs, dan earplugs 4) Suara -> Telinga -> Membrana tympani -> 3 Tulang telinga -> Gerakan cairan perilymph dan endolin di Ovale -> Skala media, menggerakan Organo Corti -> Impuls saraf. Tuli tejadi apabila adanya kerusakan pada organo corti 5) Karena terjadinya getaran lateralisasi 6) Ya, permanen 7) Karena Tn. A terus menerus terpajan oleh suara yang bising 8) Untuk khasus Tn. A tidak bisa, karena kedua telinga Tn. A sama-sama terpapar oleh bising 9) Tes bisik

HIPOTESA

Pajanan suara bising yang terlalu lama & kurangnya pengamanan

Helmet, Earplugs, dan Earmuffs Berkurangnya pendengaran

Anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang

Kerusakan pada organo corti

NIHL

Terapi

Prognosis baik Prognosis buruk

SASARAN BELAJAR

LO.1

Memahami dan Menjelaskan Anatomi Telinga

LI.1.1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Makroskopik Telinga LI.1.2 Memaha dan Menjelaskan Anatomi Mikroskopik Telinga LO.2 LO.3 LO.4 Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Pendengaran Memahami dan Menjelaskan Jenis- jenis Gangguan Pendengaran Memahami dan Menjelaskan Tuli karena Bising

LI.4.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Tuli karena Bising LI.4.2 Memahami dan Menjelaskan Etiologi Tuli karena Bising LI.4.3 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Tuli karena Bising LI.4.4 Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi Tuli karena Bising LI.4.5 Memahami dan Menjelaskan Patogenesis Tuli karena Bising LI.4.6 Memahami dan Menjelaskan Gejala Klinis Tuli karena Bising LI.4.7 Memahami dan Menjelaskan Diagnosis Tuli karena Bising LI.4.8 Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan Tuli karena Bising LI.4.9 Memahami dan Menjelaskan Prognosis Tuli karena Bising LI.4.10 Memahami dan Menjelaskan Pencegahan Tuli karena Bising LO.5 Memahami dan Menjelaskan Menjaga Kesehatan Telinga Menurut Islam

LO.1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Telinga LI.1.1 Makroskopis Telinga dapat dibagi menjadi telinga luar, tengah dan dalam.

Telinga Luar Telinga luar terdiri dari pinna atau aurikula yaitu daun kartilago yang menangkap gelombang bunyi dan menjalarkannya ke kanal auditori eksternal (meatus), suatu lintasan sempit yang panjangnya sekitar 2,5cm yang merentang dari aurikula sampai membran timpani. (Sloane, 2003) Liang telinga berbentuk huruf S dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (kelenjar keringat) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada dua pertiga bagian dalamnya hanya dijumpai sedikit kelenjar serumen. (Soepardi, 2007)

Telinga Tengah Terletak di rongga berisi udara dalam bagian dalam bagian petrosus tulang temporal. Batasbatas telinga tengah adalah sebagai berikut : - Batas luar - Batas depan - Batas bawah - Batas belakang - Batas atas - Batas dalam : membran timpani : tuba eustachius : vena jugularis (bulbus jugularis) : aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis : tegmen timpani (meningen/otak) : berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round window) dan promontorium

Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Membran timpani merupakan perbatasan telinga tengah, berbentuk kerucut dan dilapisi kulit pada permukaan eksternal dan membran mukosa permukaan internal. Membran ini memisahkan telinga luar dan telinga tengah dan memiliki tegangan, ukuran dan ketebalan yang sesuai untuk menggetarkan gelombang bunyi secara mekanis. Bagian atas disebut pars flaksida (membran Sharpnell) sedangkan bagian bawah pars tensa (membran propria).

Tulang pendengaran di telinga tengah terdiri dari maleus, inkus dan stapes yang saling berhubungan. Prosesus longus maleus melekat pada membran timpani, maleus melekat pada inkus dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang berhubungan dengan koklea. Tulang-tulang ini mengarahkan getaran dari membran timpani ke fenestra vestibulii yang memisahkan telinga tengah dari telinga dalam.

Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah. Tuba yang biasanya tertutup dapat terbuka saat menguap, menelan atau mengunyah. Saluran ini berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membran timpani. Telinga Dalam Berisi cairan dan terletak dalam tulang temporal, di sisi medial telinga tengah. Telinga tengah terdiri dari dua bagian : Labirin tulang (ossea) Merupakan ruang berliku berisi perilimfe, suatu cairan yang menyerupai cairan serebrospinalis. Bagian ini melubangi bagian petrosus tulang temporal dan terbagi menjadi tiga bagian :

1. Vestibula - Dinding lateral vestibula mengandung fenestra vestibuli dan venestra cochleae, yang berhubungan dengan telinga tengah. - Membran melapisi fenestra untuk mencegah keluarnya cairan perilimfe.

2. Saluran Semisirkularis - Menonjol dari bagian posterior vestibula. - Saluran semisirkular anterior dan posterior mengarah pada bidang vertikal di setiap sudut kanannya. - Saluran semisirkular lateral terletak horizontal dan pada sudut kanan kedua saluran di atas. - Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli sebelah atas, skala timpani di sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) di antaranya. - Skala vestibuli berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. - Dasar skala vestibuli disebut membran vestibuli ( Reissners membrane) sedangkan skala media adalah membran basalis. - Pada membran basalis terdapat organ corti. - Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran tektoria. - Pada membran basal melekat sel rambut dalam, sel rambut luar dan canalis corti yang membentuk organ corti.

3. Koklea - Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. - Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli. - Koklea mengandung reseptor pendengaran.

Labirin membranosa Merupakan serangkaian tuba berongga dan kantong yang terletak dalam labirin tulang dan mengikuti kontur labirin tersebut. Bagian ini mengandung endolimfe, cairan yang menyerupai cairan intraseluler. 1. Labirin membranosa dalam regia vestibula merupakan lokasi awal dua kantong, utrikulus dan sakulus yang dihubungkan dengan duktus endolimfe sempit dan pendek. 2. Duktus semisirkuler yang berisi endolimfe terletak dalam saluran semisirkular pada labirin tulang yang mengandung perilimfe.

3. Setiap duktus semisirkuler, utrikulus dan sakulus mengandung reseptor untuk ekuilibrium statis dan ekuilibrium dinamis. 4. Utrikulus terhubung dengan duktus semisirkuler sedangkan sakulus terhubung dengan duktus koklear dalam koklea.

LI.1.2 Mikroskopis

a. Daun Telinga - Kerangka terdiri dari tulang rawan elastis dan bentuk tak teratur. - Perikondrium mengandung banyak serat elastis. - Kulit yang menutupi tulang rawan tipis. - Jaringan subkutan tipis. - Didalam kulit terdapat rambut halus, kelenjar sebasea, kelenjar keringat sedikit dan jaringan lemak pada lobules auricular. b. Meatus Acusticus Externus - Berupa berupa saluran 25 cm, arah medioinferior. - Bagian luar kerangka dinding terdiri dari tulang rawan elastin. - Bagian dalam berkerangka os temporal. - Dilapisi kulit tipis, tanpa subkutis dan berhubungan erat dengan perichondrium/ periosteum yang ada dibawahnya. c. Membran Tympani - Bentuk oval, semi transparan. - Terdiri dari 2 lapisan jaringan penyambung: 1. Lapisan luar, mengandung serat-serat kolagen tersusun radial. 2. Lapisan dalam, mengandung serat-serat kolagen tersusun sirkular. - Serat elastin terutama dibagian sentral dan perifer. - Permukaan luat diliputi kulit, tanpa rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. - Permukaan dalam dilapisi mucosa yang terdiri dari epitel selapis cuboid dan lamina propia yang tipis. d. Cavum Tympani - Berisi udara - Posterior, berhubungan dengan ruang-ruang dalam processus mastoideus. - Anterior, berhubungan dengan tuba faringotympani. - Lateral, dibatasi oleh membrane tympani. - Medial, dipisahkan dari telinga dalam oleh tulang. - Cavum tympani, tulang-tulang pendengaran, nervus dan musculi dilapisi mucosa yang terdiri dari epitel selapis cuboid dan lamina propia tipis. - Epitel cavum tympani sekitar muara tuba faringotympani terdiri dari selapis cuboid/ silindris dengan silia. e. Tuba Faringotympani - Lumen sempit, gepeng dalam bidang vertical. - Mucosa membentuk rugae terdiri dari epitel selapis/ bertingkat silindris dengan silis dan lamina propia tipis. - Sepanjang mucosa terdapat limfosit. f. Telinga Dalam/ Labyrinth - Labyrinth ossea, didalam os petrosum. - Labyrinth membranosa, didalam labyrinth ossea.

Utriculus, sacculus dan ductus semisirkularis dilapisi epitel selapis gepeng. Macula dan crista: penebalan jaringan perilimfatik yang dilapisi epitel yang terdiri dari dua macam yaitu sel rambut (silindris) dan sel penyokong (silindris). - Jaringan penyambung terutama terdiri dari sel-sel berbentuk bintang dengan cabangcabang sitoplasma halus. g. Membrane basilaris - Sebagian besar terdiri dari jaringan penyambung padat kolagen. - Permukaan menghadap scala tympani dilapisi epitel selapis cuboid sampai silindris. - 2/3 lateral berupa pars pectinata. - 1/3 medial berupa pars arcuata (terdapat pembuluh darah).

LO. 2 Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Pendengaran / Hearing Pathway

Pendengaran adalah persepsi saraf mengenai energi suara. Gelombang suara adalah getaran udara yang merambat dan terdiri dari daerah-daerah bertekanan tinggi karena kompresi (pemampatan) molekul-molekul udara yang berselang seling dengan daerah-daerah bertekanan rendah akibat penjarangan molekul tersebut. Pendengaran seperti halnya indra somatik lain merupakan indra mekanoreseptor. Hal ini karena telinga memberikan respon terhadap getaran mekanik gelombang suara yang terdapat di udara. (Sherwood, L. 2007; Guyton A.C. 2003) Suara ditandai oleh nada, intensitas, kepekaan. Nada suatu suara ditentukan oleh frekuensi suatu getaran. Semakin tinggi frekuensi getaran, semakin tinggi nada. Telinga manusia dapat mendeteksi gelombang suara dari 20 sampai 20.000 siklus per detik, tetapi paling peka terhdap frekuensi 1000 dan 4000 siklus per detik. Intensitas atau Kepekaan. Suatu suara bergantung pada amplitudo gelombang suara, atau perbedaan tekanan antara daerah bertekanan tinggi dan daerah berpenjarangan yang bertekanan rendah. Semakin besar amplitudo semakin keras suara. Kepekaan dinyatakan dalam desible (dB). Peningkatan 10 kali lipat energi suara disebut 1 bel, dan 0,1 bel disebut desibel. Satu desibel mewakili peningkatan energi suara yang sebenarnya yakni 1,26 kali. Suara yang lebih kuat dari 100 dB dalam merusak perangkat sensorik di koklea. Kualitas suara atau warna nada (timbre) bergantung pada nada tambahan, yaitu frekuensi tambahan yang menimpa nada dasar. Nada-nada tambahan juga yang menyebabkan perbedaan khas suara manusia

Frekuensi suara yang dapat didengar oleh orang muda adalah antara 20 dna 20.000 silklus per detik. Namun, rentang suara bergantung pada perluasan kekerasan suara yang sangat besar. Jika kekerasannya 60 desibel dibawah 1 dyne/cm2 tingkat tekanan suara, rentang suara adalah samapai 500 hingga 5000 siklus per detik. Hanya dengan suara keras rentang 20 sampai 20.000 siklus dapat dicapai secara lengkap. Pada usia tua, rentang frekuensi biasanya menurun menjadi 50 sampai 8.000 siklus per detik atau kurang. Suara 3000 siklus per detik dapat didengar bahkan bila intensitasnya serendah 70 desibel dibawah 1 dyne/cm2 tingkat tekanan suara. Sebaliknya, suara 100 siklus per detik dapat dideteksi hanya jika intensitasnya 10.000 kali lebih besar dari ini. (Sherwood, L. 2007) a. Mekanisme Pendengaran Proses pendengaran terjadi mengikuti alur sebagai berikut: gelombang suara mencapai membran tympani. Gelombang suara yang bertekanan tinggi dan rendah berselang seling menyebabkan gendang telinga yang sangat peka tersebut menekuk keluar-masuk seirama dengan frekuensi gelombang suara. Ketika membran timpani bergetar sebagai respons terhadap gelombang suara, rantai tulang-tulang tersebut juga bergerak dengan frekuensi sama, memindahkan frekuensi gerakan tersebut dari membrana timpani ke jendela oval. Tulang stapes yang bergetar masuk-keluar dari tingkat oval menimbulkan getaran pada perilymph di scala vestibuli. Oleh karena luas permukaan membran tympani 22 kali lebih besar dari luas tingkap oval, maka terjadi penguatan tekanan gelombang suara15-22 kali pada tingkap oval. Selain karena luas permukaan membran timpani yang jauh lebih besar, efek dari pengungkit tulang-tulang pendengaran juga turut berkontribusi dalam peningkatan tekanan gelombang suara. Gerakan stapes yang menyerupai piston terhadap jendela oval menyebabkan timbulnya gelombang tekanan di kompartemen atas. Karena cairan tidak dapat ditekan, tekanan dihamburkan melalui dua cara sewaktu stapes menyebabkan jendela oval menonjol ke dalam yaitu, perubahan posisi jendela bundar dan defleksi membrana basilaris. Pada jalur pertama, gelombang tekanan mendorong perilimfe ke depan di kompartemen atas, kemudian mengelilingi helikoterma, dan ke kompartemen bawah, tempat gelombang tersebut menyebabkan jendela bundar menonjol ke luar untuk mengkompensasi peningkatan tekanan. Ketika stapes bergerak mundur dan menarik jendela oval ke luar, perilimfe mengalir ke arah yang berlawanan mengubah posisi jendela bundar ke arah dalam. Pada jalur kedua, gelombang tekanan frekuensi yang berkaitan dengan penerimaan suara mengambil jalan pintas. Gelombang tekanan di kompartemen atas dipindahkan melalui membrana vestibularis yang tipis, ke dalam duktus koklearis dan kemudian melalui mebrana basilaris ke kompartemen bawah, tempat gelombang tersebut menyebabkan jendela bundar menonjol ke luar-masuk bergantian. Membran basilaris yang terletak dekat telinga tengah lebih pendek dan kaku, akan bergetar bila ada getaran dengan nada rendah. Hal ini dapat diibaratkan dengan senar gitar yang pendek dan tegang, akan beresonansi dengan nada tinggi. Getaran yang bernada tinggi pada perilymp scala vestibuli akan melintasi membrana vestibularis yang terletak dekat ke telinga tengah. Sebaliknya nada rendah akan menggetarkan bagian membrana basilaris di daerah apex. Getaran ini kemudian akan turun ke perilymp scala tympani, kemudian keluar melalui tingkap bulat ke telinga tengah untuk diredam. Karena organ corti menumpang pada membrana basilaris, sewaktu membrana basilaris bergetar, sel-sel rambut juga bergerak naik turun dan rambut-rambut tersebut akan membengkok ke depan dan belakang sewaktu membrana basilaris menggeser posisinya terhadap membrana tektorial. Perubahan bentuk mekanis rambut yang maju mundur ini menyebabkan saluran-saluran ion gerbang mekanis di sel-sel rambut terbuka dan tertutup

secara bergantian. Hal ini menyebabkan perubahan potensial depolarisasi dan hiperpolarisasi yang bergantian. Sel-sel rambut berkomunikasi melalui sinaps kimiawi dengan ujung-ujung serat saraf aferen yang membentuk saraf auditorius (koklearis).

Depolarisasi sel-sel rambut menyebabkan peningkatan kecepatan pengeluaran zat perantara mereka yang menaikan potensial aksi di serat-serat aferen. Sebaliknya, kecepatan pembentukan potensial aksi berkurang ketika sel-sel rambut mengeluarkan sedikit zat perantara karena mengalami hiperpolarisasi (sewaktu membrana basilaris bergerak ke bawah). Perubahan potensial berjenjang di reseptor mengakibatkan perubahan kecepatan pembentukan potensial aksi yang merambat ke otak. Impuls kemudian dijalarkan melalui saraf otak statoacustikus (saraf pendengaran) ke medulla oblongata kemudian ke colliculus. Persepsi auditif terjadi setelah proses sensori atau sensasi auditif. (Sherwood, L. 2007; Guyton A.C. 2003. Prihardini D, dkk. 2010)

b. Jaras Persarafan Pendengaran Diperlihatkan bahwa serabut dari ganglion spiralis organ corti masuk ke nukleus koklearis yang terletak pada bagian atas medulla oblongata. Pada tempat ini semua serabut bersinaps dan neuron tingkat dua berjalan terutama ke sisi yang berlawanan dari batang otak dan berakhir di nukleus olivarius superior. Beberapa serabut tingkat kedua lainnya juga berjalan ke nukleus olivarius superior pada sisi yang sama. Dari nukleus tersebut, berjalan ke atas melalui lemniskus lateralis. Beberapa serabut berakhir di nukleus lemniskus lateralis, tetapi sebagian besar melewati nukleus ini dan berjalan ke kolikulus inferior, tempat semua atau hampir semua serabut pendengaran bersinaps. Dari sini jaras berjalan ke nukleus genikulatum medial, tempat semua serabut bersinaps. Akhirnya, jaras berlanjut melalui radiasio auditorius ke korteks auditorik, yang terutama terletak pada girus superior lobus temporalis. Beberapa tempat penting harus dicatat dalam hubunganya dengan lintasan pendengaran pertama implus dari masing-masing telinga dihantarkan melalui lintasan pendengaran kedua batang sisi otak hanya dengan sedikit lebih banyak penghantaran pada lintasan kontralateral.Kedua banyak serabut kolateral dari traktus audiorius berjalan langsung ke dalam system retikularis batang otak sehingga bunyi dapat mengaktifkan keseluruhan otak. (Guyton A.C. 2003) c. Fungsi korteks serebri pada pendengaran Setiap daerah di membrana basilaris berhubungan dengan daerah tertentu di korteks pendengaran dalam lobus temporalis. Dengan demikian, setiap neuron korteks hanya

diaktifkan oleh nada-nada tertentu. Neuron-neuron aferen yang menangkap sinyal auditorius dari sel-sel rambut keluar dari koklea melalui saraf auditorius. Jalur saraf antara organ corti dan korteks pendengaran melibatkan beberapa sinap dalam perjalanannya, terutama adalah sinaps di batang otak dan nukleus genikulatus medialis talamus. Batang otak menggunakan masukan pendengaran untuk kewaspadaan. Sinyal pendengaran dari kedua telinga disalurkan ke kedua lobus temporalis karena seratseratnya bersilangan secara parsial di otak. Karena itu, gangguan di jalur pendengaran pada salah satu sisi melewati batang otak tidak akan mengganggu pendengaran kedua telinga. Korteks pendengaran tersusun atas kolom-kolom. Korteks pendengaran primer mepersepsikan suara diskret sementara korteks pendengaran yang lebih tinggi di sekitarnya mengintegrasi suara-suara yang berbeda menjadi pola yang koheren dan berarti. Proyeksi lintasan pendengaran korteks serebri menunjukan bahwa korteks pendengaran terletak terutama tidak hanya pada daerah supratemporal girus tempralis superior tetapi juga meluas melewati batas lateral lobus temporalis jauh melewati korteks insula dan sampai ke bagian paling lateral lobus parietalis. (Sherwood, L. 2007; Guyton A.C. 2003) d. Penentuan Frekuensi Suara Suara dengan tinggi nada yang rendah menyebabkan pengaktifan maksimum membrane basilis di dekat apeks koklea dan suara dengan frekuensi yang tinggi mengaktifkan membrane basilaris dekat basis koklea, sedangkan suara dengan frekuensi menengah mengaktifkan membrana di antara kedua nilai yang ekstrim tersebut. Selanjutnya, ada pengaturan spasial pada serabut saraf di jaras koklearis, yang berasal dari koklea sampai korteks serebri. Perekaman sinyal di traktus auditorius pada batang otak dan di area penerima pendengaran pada korteks serebri memperlihatkan neuron-neuron otak yang spesifik diaktivasi oleh frekuensi suara tertentu. Oleh karena itu cara yang digunakan oleh sistem saraf untuk mendeteksi perbedaan frekuensi suara adalah dengan menentukan posisi di sepanjang membrane basilaris yang paling terangsang. Ini dinamakan prinsip letak untuk menentukan frekuensi suara. (Guyton A.C. 2003) e. Penentuan keras suara Kekerasan suara ditentuka oleh sistem pendengaran sekurnag-kurangnya melalui tiga cara. Pertama, ketika suara menjadi lebih keras terjadi peningkatan amplitudo getaran yang merangsang ujung-ujung saraf bereksitasi lebih cepat. Kedua, ketika amplitudo meningkat akan menyebabkan semakin banyak sel-sel rambut di pinggir bagian mebran basilar yang beresonasi, sehingga terjadi pemjumlahan spasial impuls, dimana transmisi melalui banyak serabut saraf. Ketiga, sel-sel rambut luar tidak terangsang secara bermakna sampai getaran membran basilar mencapai intensitas yang tinggi. Suara yang sangat keras yang tidak dapat diperlembut secara adekuat oleh refleks-refkes protektif telinga dapat menyebabkan getaran membrana basilaris yang hebat sehingga selsel rambut yang tidak dapat digantikan itu terlepas atau rusak secara permanen dan menimbulkan gangguan pendengaran parsial. (Sherwood, L. 2007; Guyton A.C. 2003) f. Diskriminasi arah asal suara Destruksi korteks pendengaran pada kedua sisi otak baik pada manusia atau pada mamalia yang lebih rendah menyebabkan kehilangan sebagian besar kemampuannya mendeteksi arah asal suara. Namun, mekanisme untuk deteksi ini dimulai pada nuklei olivarius superior di dalam batang otak. Nukleus olivarius superior dibagi menjadi dua yakni nukleus olivarius superior medial dan lateral. Nukleus lateral bertanggung jawab unuk mendeteksi arah sumber suara,

agaknya melalui perbandingan sederhana diantara perbedaan intensitas suara yang mencapai kedua telinga, dan mengirimkan sinyal yang tepat ke korteks auditorik untuk memperkirakan arahnya. Nukleus olivarius superior medial mempunyai mekanisme spesifik untuk mendeteksi perbedaan waktu antara sinyal akustik yang memasuki kedua telinga. Nukleus ini terdiri atas sejumlah besar neuron yang mempunyai dua dendrit utama yang menonjol ke arah kanan dan kiri. Intensitas eksitasi di setiap neuron sangat sensitif terhadap perbedaan waktu yang spesifik antara dua sinyal akustik yang berasal dari kedua telinga. Pada nukleus tersebut terjadi pola spasial perangsangan neuron. Suara yang datang langsung dari depan kepala merangsang satu perangkat neuron olivarius secara maksimal dan suara dari sudut sisi yang berbeda menstimulasi pernagkat neuron lainnya dari sisi yang berlawanan. (Guyton A.C. 2003)
LO. 3 Memahami dan Menjelaskan Jenis- Jenis Gangguan Pendengaran

Penyakit-penyakit yang Menyebabkan Gangguan Pendengaran 1. Tinnitus Definisi Tinnitus (telinga mendenging) adalah suara gaduh berasal di dalam telinga melebihi lingkungan sekitar. Tinnitus adalah sebuah gejala dan bukan suatu penyakit tertentu. Sangat sering terjadi-10 sampai 15% orang mengalami beberapa tingkat tinnitus. Etiologi Lebih dari 75% masalah yang berhubungan dengan telinga termasuk tinnitus sebagai sebuah gejala, termasuk luka dari suara gaduh atau ledakan, infeksi telinga, saluran telinga yang tersumbat atau pipa Eustachian, otosclerosis (salah satu jenis kehilangan pendengaran), tumor telinga bagian dalam, dan penyakit meniere. Obat-obatan tertentu (seperti antibiotik aminoglikosid dan aspirin dosis tinggi) juga bisa menyebabkan tinnitus. Tinnitus juga bisa terjadi dengan gangguan dari luar telinga, termasuk anemia, jantung dan gangguan pembuluh darah seperti hipertensi dan arterisclerosis, kelenjar tiroid jinak (hypothyroidism), dan luka kepala. Tinnitus yang hanya pada salah satu telinga atau berdenyut adalah tanda yang lebih serius. Suara bergetar bisa dihasilkan dari tumor tertentu, arteri tersumbat, sebuah pembengkakan pembuluh darah, atau gangguan pembuluh darah lainnya. Gejala Suara gaduh yang terdengar oleh orang yang menderita tinnitus bisa jadi berdengung, berdering, meraung, bersiul, atau suara berdesis. Beberapa orang mendengar suara yang rumit yang naik turun setiap waktu. Suara ini lebih jelas di lingkungan yang sunyi dan ketika seseorang tidak konsentrasi pada hal tertentu. Maka, tinnitus cenderung lebih mengganggu orang ketika mereka berusaha untuk tidur. Bagaimanapun, pengalaman tinnitus adalah sangat individual ; beberapa orang sangat terganggu dengan gejala-gejalanya, dan orang yang lainnya sungguh dapat bertahan.

Diagnosa Karena seseorang yang menderita tinnitus biasanya kehilangan pendengaran, melalui test pendengaran dilakukan sebaik mungkin sebagaimana magnetic resonance imaging (MRI) pada kepala dan computed tomography (CT) pada tulang rawan (tulang tengkorak yang mengandung bagian pada saluran telinga, telinga bagian tengah, dan telinga bagian dalam). Pengobatan Upaya untuk mendeteksi dan mengobati penyebab gangguan tinnitus seringkali tidak berhasil. Berbagai teknik bisa membantu meredam tinnitus, meskipun kemampuan untuk meredam hal itu berbeda dari orang ke orang. Seringkali alat Bantu dengar membantu menahan tinnitus. Banyak orang menemukan keringanan dengan memainkan musik merdu untuk menyembunyikan tinnitus. Beberapa orang menggunakan topeng tinnitus, sebuah alat yang dikenakan seperti Alat Bantu Dengar yang menghasilkan tingkat tetap pada suara netral. Untuk orang yang sangat tuli, sebuah cochlear yang ditanam dalam telinga bisa mengurangi tinnitus. 2. Otosklerosis Definisi Otosklerosis adalah suatu penyakit dimana tulang-tulang di sekitar telinga tengah dan telinga dalam tumbuh secara berlebihan sehingga menghalangi pergerakan tulang stapes (tulang telinga tengah yang menempel pada telinga dalam), akibatnya tulang stapes tidak dapat menghantarkan suara sebagaimana mestinya. Penyakit ini biasanya mulai timbul pada akhir masa remaja atau dewasa awal.

Etiologi dari Otosklerosis merupakan suatu penyakit keturunan dan merupakan penyebab tersering tuli konduktif progresif pada dewasa yang gendang telinganya normal.

Jika pertumbuhan berlebih ini menjepit dan menyebabkan kerusakan pada saraf-saraf yang menghubungkan telinga dalam dengan otak, maka bisa terjadi tuli sensorineural. Gejala Tuli dan telinga berdenging (tinnitus).

Diagnosa Untuk mengetahui beratnya ketulian bisa dilakukan pemeriksaan audiometri/audiologi. CT scan atau rontgen kepala dilakukan untuk membedakan otosklerosis dengan penyebab ketulian lainnya.

Pengobatan

Pengangkatan tulang stapes dan menggantinya dengan tulang buatan mengembalikan pendengaran penderita. Ada 2 pilihan prosedur, yaitu: - Stapedektomi (pengangkatan tulang stapes dan penggantian dengan protese) - Stapedotomi (pembuatan lubang pada tulang stapes untuk memasukkan protese). Jika penderita enggan menjalani pembedahan, bisa digunakan alat bantu dengar. 3. Ketulian Mendadak Definisi

bisa

Ketulian Mendadak adalah kehilangan pendengaran yang berat, biasanya hanya menyerang 1 telinga, yang terjadi selama beberapa jam atau kurang. Etiologi Ketulian mendadak biasanya disebabkan oleh penyakit virus, seperti: - Gondongan - Campak - Influenza - Cacar air - Mononukleosis infeksiosa. Kadang aktivitas yang berat (misalnya angkat besi) bisa menekan dan menyebabkan kerusakan pada telinga dalam sehingga terjadi ketulian mendadak dan vertigo (perasaan berputar). Ketulian mendadak juga bisa terjadi akibat suara ledakan yang hebat.

Gejala Biasanya ketulian bersifat berat tetapi sebagian besar penderita mengalami penyembuhan total dalam waktu 10-14 hari dan hanya sebagian kecil yang mengalami penyembuhan parsial. Ketulian mendadak bisa disertai oleh tinnitus (telinga berdenging) dan vertigo. Vertigo biasanya menghilang dalam waktu beberapa hari tetapi tinnitus seringkali menetap. Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya.

Pengobatan Belum ada pengobatan yang memuaskan. Biasanya diberikan corticosteroid per-oral (melalui mulut) dan penderita dianjurkan untuk menjalani tirah baring. 4. Berkurangnya Pendengaran Akibat Kegaduhan Definisi Berkurangnya Pendengaran Akibat Kegaduhan adalah penurunan fungsi pendengaran yang terjadi setelah telinga menerima suara-suara yang berisik/gaduh.

Etiologi Suara bising, misalnya yang berasal dari alat-alat tukang kayu, gergaji, mesin besar, tembakan atau pesawat terbang bisa menyebabkan ketulian dengan cara merusak sel-sel rambut penerima pendengaran di telinga dalam. Penyebab lainnya adalah pemakaian headphone dan berdiri di dekat speakers (pengeras suara). Kepekaan terhadap suara bising pada setiap orang berbeda-beda, tetapi hampir setiap orang akan mengalami ketulian jika telinganya terpapar oleh bising dalam waktu cukup lama. Setiap bunyi dengan kekuatan diatas 85 dB bisa menyebabkan kerusakan. Ledakan juga bisa menyebabkan ketulian yang sama (trauma akustik).

Gejala Penurunan fungsi pendengaran yang terjadi biasanya bersifat menetap dan disertai dengan telinga berdenging (tinnitus).

Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya.

Pengobatan Penderita yang mengalami penurunan fungsi pendengaran yang berat biasanya akan memerlukan alat bantu dengar.

Pencegahan Hindari suara-suara yang bising/gaduh. Gunakan pelindung telinga (misalnya menggunakan plastik yang dimasukkan ke saluran telinga atau penutup telinga yang mengandung gliserin).

5. Berkurangnya Pendengaran Akibat Pertambahan Usia Definisi Berkurangnya Pendengaran Akibat Pertambahan Usia ( Presbikusis) adalah penurunan fungsi pendengaran sensorineural yang terjadi sebagai bagian dari proses penuaan yang normal. Etiologi Penurunan fungsi pendengaran ini merupakan bagian dari proses penuaan. Lebih sering terjadi pada pria dan penurunan fungsi pendengarannya lebih berat. Gejala

Fungsi pendengaran mulai menurun setelah usia 20 tahun, yang pertama kali terkena adalah nada-nada tinggi dan kemudian disusul dengan nada-nada rendah. Beratnya penurunan fungsi pendengaran bervariasi; beberapa orang hampir tuli total pada usia 60 tahun, sedangkan yang lainnya pada usia 90 tahun memiliki pendengaran yang masih berfungsi dengan baik.

Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya.

Pengobatan Tidak ada pengobatan yang dapat mencegah atau memperbaiki penurunan fungsi pendengaran akibat penuaan. Untuk mengatasinya, penderita bisa belajar membaca isyarat bibir, isyarat tubuh atau menggunakan alat bantu dengar.

6. Kerusakan Telinga Akibat Obat-obatan Beberapa obat, seperti: - antibiotik tertentu - diuretik (terutama asam etakrinat dan furosemid) - Aspirin dan zat-zat yang menyerupai Aspirin (salisilat) - kuinin Obat-obat tertentu menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan, tetapi sebagian besar obat lebih banyak menyebabkan gangguan pendengaran. Hampir seluruh obat tersebut dibuang dari tubuh melalui ginjal. Karena itu setiap kelainan fungsi ginjal akan meningkatkan kemungkinan penimbunan obat di dalam darah dan mencapai kadar yang dapat menyebabkan kerusakan. Dari semua jenis antibiotik, neomisin memiliki efek yang paling berbahaya terhadap pendengaran, dikuti oleh kanamisin dan antimisin. Viomisin, gentamisin dan tobramisin bisa mempengaruhi pendengaran dan keseimbangan. Antibiotik streptomisin lebih banyak mempengaruhi keseimbangan. Vertigo (perasaan berputar) dan gangguan keseimbangan akibat streptomisin cenderung bersifat sementara. Tetapi kadang bisa terjadi sindroma Dandy, dimana gangguan keseimbangan bersifat menetap dan berat sehingga penderita mengalami kesulitan jika berjalan dalam ruangan yang gelap. Jika diberikan suntikan asam etakrinat dan furosemid kepada penderita gagal ginjal yang juga menjalani pengobatan dengan antibiotik, akan terjadi tuli permanen atau tuli sementara. Aspirin dalam dosis yang sangat tinggi yang digunakan dalam jangka panjang bisa menyebabkan tuli dan tinnitus (telinga berdenging), yang biasanya bersifat sementara. Kuinin bisa menyebabkan tuli permanen.

Jika terjadi perforasi gendang telinga, obat-obat yang bisa menyebabkan kerusakan telinga tidak dioleskan/diteteskan langsung ke dalam telinga karena bisa diserap ke dalam cairan di telinga bagian dalam. Kepekaan setiap orang terhadap obat-obat tersebut bervarisi, tetapi biasanya ketulian bisa dihindari jika kadar obat dalam darah berada dalam kisaran yang dianjurkan. Karena itu biasanya dilakukan pemantauan terhadap kadar obat dalam darah. Jika memungkinkan, sebelum dan selama menjalani pengobatan dilakukan tes pendengaran.

LO.4 Memahami dan Menjelaskan Gangguan Pendengaran Akibat Bising / Noise Induced Hearing Loss

LI.4.1 Definisi Gangguan pendengaran akibat bising (noise inducied hearing loss) merupakan gangguan pendengaran yang disebabkan akibat terpajan oleh bisisng yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bisisng lingkungan kerja. LI.4.2 Etiologi Banyak hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpajan bising antara lain: - Intensitas bising yang lebih tinggi - Berfrekuensi tinggi - Lebih lama terpajan bising - Mendapat pengobatan yang bersifat racun terhadap telinga (obat ototoksik) seperti streptomisin, kanamisin, garamisin (golongan aminoglikosida), kina, asetosal dll. Pengaruh bising pada pekerja: Secara umum dibedakan 2 macam yaitu: - Pengaruh auditorial berupa tuli akibat bising dan umumnya terjadi dalam lingkungan kerja dengan tingkat kebisingan yang tinggi. - Pengaruh non Auditorial dapat bermacam-macam misalnya gangguan komunikasi, gelisah, rasa tidak nyaman, gangguan tidur, peningkatan tekanan darah dan lain sebagainya. LI.4.3 Klasifikasi Secara umum efek kebisingan terhadap pendengaran dapat dibagi atas 2 kategori yaitu : Noise Induced Temporary Threshold Shift (TTS) Seseorang yang pertama sekali terpapar suara bising akan mengalami berbagai perubahan, yang mula-mula tampak adalah ambang pendengaran bertambah tinggi pada frekuensi tinggi. Pada gambaran audiometri tampak sebagai notch yang curam pada frekuensi 4000 Hz, yang disebut juga acoustic notch. Pada tingkat awal terjadi pergeseran ambang pendengaran yang bersifat sementara, yang disebut juga NITTS. Apabila beristirahat diluar lingkungan bising biasanya pendengaran dapat kembali normal. Noise Induced Permanent Threshold Shift (NIPTS) Didalam praktek sehari-hari sering ditemukan kasus kehilangan pendengaran akibat suara bising, dan hal ini disebut dengan occupational hearing loss atau kehilangan pendengaran karena pekerjaan atau nama lainnya ketulian akibat bising industri. Dikatakan bahwa untuk merubah NITTS menjadi NIPTS diperlukan waktu bekerja dilingkungan bising selama 10-15 tahun, tetapi hal ini bergantung juga kepada : o tingkat suara bising

o kepekaan seseorang terhadap suara bising NIPTS biasanya terjadi disekitar frekuensi 4000 Hz dan perlahan-lahan meningkat dan menyebar ke frekuensi sekitarnya. NIPTS mula-mula tanpa keluhan, tetapi apabila sudah menyebar sampai ke frekuensi yang lebih rendah (2000 dan 3000 Hz) keluhan akan timbul. Pada mulanya seseorang akan mengalami kesulitan untuk mengadakan pembicaraan di tempat yang ramai, tetapi bila sudah menyebar ke frekuensi yang lebih rendah maka akan timbul kesulitan untuk mendengar suara yang sangat lemah. Notch bermula pada frekuensi 3000-6000 Hz, dan setelah beberapa waktu gambaran audiogram menjadi datar pada frekuensi yang lebih tinggi. Kehilangan pendengaran pada frekuensi 4000 Hz akan terus bertambah dan menetap setelah 10 tahun dan kemudian perkembangannya menjadi lebih lambat. LI.4.4 Patofisiologi a. Pengaruh kebisingan pada pendengaran Perubahan ambang dengar akibat paparan bising tergantung pada frekuensi bunyi, intensitas dan lama waktu paparan, dapat berupa: Adaptasi Bila telinga terpapar oleh kebisingan mula-mula telinga akan merasa terganggu oleh kebisingan tersebut, tetapi lama-kelamaan telinga tidak merasa terganggu lagi karena suara terasa tidak begitu keras seperti pada awal pemaparan. Peningkatan ambang dengar sementara Terjadi kenaikan ambang pendengaran sementara yang secara perlahanlahan akan kembali seperti semula. Keadaan ini berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam bahkan sampai beberapa minggu setelah pemaparan. Kenaikan ambang pendengaran sementara ini mula-mula terjadi pada frekuensi 4000 Hz, tetapi bila pemeparan berlangsung lama maka kenaikan nilai ambang pendengaran sementara akan menyebar pada frekuensi sekitarnya. Makin tinggi intensitas dan lama waktu pemaparan makin besar perubahan nilai ambang pendengarannya. Respon tiap individu terhadap kebisingan tidak sama tergantung dari sensitivitas masingmasing individu. Peningkatan ambang dengar menetap Kenaikan terjadi setelah seseorang cukup lama terpapar kebisingan, terutama terjadi pada frekuensi 4000 Hz. Gangguan ini paling banyak ditemukan dan bersifat permanen, tidak dapat disembuhkan. Kenaikan ambang pendengaran yang menetap dapat terjadi setelah 3,5 sampai 20 tahun terjadi pemaparan, ada yang mengatakan baru setelah 10-15 tahun setelah terjadi pemaparan. Penderita mungkin tidak menyadari bahwa pendengarannya telah berkurang dan baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan audiogram. Hilangnya pendengaran sementara akibat pemaparan bising biasanya sembuh setelahistirahat beberapa jam (1-2 jam). Bising dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama (10-15 tahun) akan menyebabkan robeknya sel-sel rambut organ Corti sampai terjadi destruksi total organ Corti. Proses ini belum jelas terjadinya, tetapi mungkin karena rangsangan bunyi yang berlebihan dalam waktu lama dapat mengakibatkan perubahan metabolisme dan vaskuler sehingga terjadi kerusakan degeneratif pada struktur sel-sel rambut organ Corti. Akibatnya terjadi kehilangan pendengaran yang permanen. Umumnya frekuensi pendengaran yang mengalami penurunan intensitas adalah antara 3000-6000 Hz dankerusakan alat Corti untuk reseptor bunyi yang terberat terjadi pada frekuensi 4000 Hz (4 K notch). Ini merupakan proses yang lambat dan tersembunyi, sehingga pada tahap awal tidak disadari oleh para pekerja. Hal ini hanya dapat dibuktikan dengan pemeriksaan

audiometri. Apabila bising dengan intensitas tinggi tersebut terus berlangsung dalam waktu yang cukup lama, akhirnya pengaruh penurunan pendengaran akan menyebar ke frekuensi percakapan (500-2000 Hz). Pada saat itu pekerja mulai merasakan ketulian karena tidak dapat mendengar pembicaraan sekitarnya. LI.4.5 Patogenesis Tuli akibat bising mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-sel rambut. Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya degenerasi yang meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan. Stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kurang kaku sehingga mengurangi respon terhadap stimulasi. Dengan bertambahnya intensitas dan durasi paparan akan dijumpai lebih banyak kerusakan seperti hilangnya stereosilia. Daerah yang pertama kali terkena adalah daerah basal. Dengan hilangnya stereosilia, sel-sel rambut mati dan digantikan oleh jaringan parut. Semakin tinggi intensitas paparan bunyi, sel-sel rambut dalam dan sel-sel penunjang juga rusak. Dengan semakin luasnya kerusakan pada sel-sel rambut, dapat timbul degenerasi pada saraf yang juga dapat dijumpai di nukleus pendengaran pada batang otak. Perubahan anatomi yang berhubungan dengan paparan bising Dari sudut makromekanikal ketika gelombang suara lewat, membrana basilaris meregang sepanjang sisi ligamentum spiralis, dimana bagian tengahnya tidak disokong. Pada daerah ini terjadi penyimpangan yang maksimal. Sel-sel penunjang disekitar sel rambut dalam juga sering mengalami kerusakan akibat paparan bising yang sangat kuat dan hal ini kemungkinan merupakan penyebab mengapa baris pertama sel rambut luar yang bagian atasnya bersinggungan dengan phalangeal process dari sel pilar luar dan dalam merupakan daerah yang paling sering rusak. Saluran transduksi berada pada membran plasma pada masing-masing silia, baik didaerah tip atau sepanjang tangkai (shaft), yang dikontrol oleh tip links, yaitu jembatan kecil diantara silia bagian atas yang berhubungan satu sama lain. Gerakan mekanis pada barisan yang paling atas membuka ke saluran menyebabkan influks K+ dan Ca++dan menghasilkan depolarisasi membran plasma. Pergerakan daerah yang berlawanan akan menutup saluran serta menurunkan jumlah depolarisasi membran. Apabila depolarisasi mencapai titik kritis dapat memacu peristiwa intraseluler. Telah diketahui bahwa sel rambut luar memiliki sedikit afferen dan banyak efferen. Gerakan mekanis membrana basilaris merangsang sel rambut luar berkontraksi sehingga meningkatkan gerakan pada daerah stimulasi dan meningkatkan gerakan mekanis yang akan diteruskan ke sel rambut dalam dimana neurotransmisi terjadi. Kerusakan sel rambut luar mengurangi sensitifitas dari bagian koklea yang rusak. Kekakuan silia berhubungan dengan tip links yang dapat meluas ke daerah basal melalui lapisan kutikuler sel rambut. Liberman dan Dodds (1987) memperlihatkan keadaan akut dan kronis pada awal kejadian dan kemudian pada stimulasi yang lebih tinggi, fraktur daerah basal dan hubungan dengan hilangnya sensitifitas saraf akibat bising.Fraktur daerah basal menyebabkan kematian sel. Paparan bising dengan intensitas rendah menyebabkan kerusakan minimal silia, tanpa fraktur daerah basal atau kerusakan tip links yang luas. Tetapi suara dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan kerusakan tip links sehingga menyebabkan kerusakan yang berat, fraktur daerah basal dan perubahan-perubahan sel yang irreversibel. Perubahan Histopatologi Telinga Akibat Kebisingan Lokasi dan perubahan histopatologi yang terjadi pada telinga akibat kebisingan adalah sebagai berikut : Kerusakan pada sel sensoris

o degenerasi pada daerah basal dari duktus koklearis o pembengkakan dan robekan dari sel-sel sensoris o anoksia Kerusakan pada stria vaskularis Suara dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan kerusakan stria vaskularis oleh karena penurunan bahkan penghentian aliran darah pada stria vaskularis dan ligamen spiralis sesudah terjadi rangsangan suara dengan intensitas tinggi. Kerusakan pada serabut saraf dan nerve ending Keadaan ini masih banyak dipertentangkan, tetapi pada umumnya kerusakan ini merupakan akibat sekunder dari kerusakan-kerusakan sel-sel sensoris. Hidrops endolimf

LI.4.6 Gejala Klinis - Terjadi kurang pendengaran disertai tinnitus - Bila berat disertai keluhan sukar menangkap percakapan dengan kekerasan biasa dan bila sudah lebih berat percakapan yang keras pun sukar dimengerti. - Secara klinis pajanan bising pada ogan dapat menimbulkan reaksi adaptasi, peningkatan ambang dnegar sementara dan peningkatan ambang dengar menetap. a. Reaksi Adaptasi Adalah respons kelelahan akibat rangsangan oleh bunyi dengan intensitas 70 dB SPL atau lebih kecil. b. Peningkatan ambang dengar sementara Adalah keadaan terdapatnya peningkatan ambang dengar akibat pajanan bising dengan intensitas yang cukup tinggi. c. Peningkatan ambang dengar menetap d. Adalah keadaan dimana terjadi peniongkatan ambang dengar menetap akibat pajanan bising dengan intensitas sangat tinggi berlangsung singkat/ berlangsung lama yang menyebabkan kerusakan pada pelbagai stuktur cochlea antara lain kerusakan organ Corti, sel-sel rambut, stria vaskularis dll. LI.4.7 Diagnosis a. Anamnesis Pernah bekerja atau sedang bekerja dilingkungan bising dalam jangka waktu yang cukup lama biasanya 5 tahun atau lebih. b. Pemeriksaan Otoskopik Tidak ada Kelainan. c. Pemeriksaan Audiologi - Test Rinne (+) - Test Weber lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik - Test Schwabach memendek d. Pemeriksaan Audiometri Nada Murni Didapatkan tuli sensorineural pada frekuensi antara 3000-6000 Hz dan pada frekuensi 4000 Hz sering terdapat takik yang patognomonik untuk jenis ketulian ini. e. Pemeriksaan Audiologi Khusus (SISI, ABLB, MLB, Audiometri Bekessy, Audiometri Tutur) Menunjukkan adanya rekrutmen yang patognomonik untuk tuli sensorineural cochlea. LI.4.8 Penatalaksanaan Dipindahkan kerjanya dari lingkungan bising.

Bila tidak, dapat dipergunakan alat pelindung telinga (ear plug, ear muff dan helmet). Karena menetap dan sulit berkomunikasi maka dapat dicoba pemasangan alat bantu dengar/ ABD (hearing aid). Bila pendengarannya sedemikian buruk sehingga ABD pun tidak maka perlu psikoterapi untuk menerima keadaannya. Latihan pendengaran, membaca ucapan bibir, mimik dan gerakan anggota badan. Rehabilitasi suara karena pasien mendengar suaranya sendiri sangat lemah sehingga pasien dapat mengendalikan volume tinggi rendah dan irama percakapan.

LI.4.9 Prognosis Karena jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli sensorineural cochlea yang sifatnya menetap dan tidak dapat diobati dengan obat atau pun pembedahan maka prognosisnya kurang baik. Oleh sebab itu yang terpenting adalah pencegahan terjadinya ketulian. LI.4.10 Pencegahan Bising lingkungan kerja, dengan meredam sumber bunyi. Jika bising akibat alat-alat (mesin tenun, kilang minyak) maka pekerja tersebut harus dilindungi oleh alat pelindung bising (sumbat telinga, tutup telinga dan pelindung kepala). Adanya ketentuan pekerja di lingkungan bising yang berintensitas lebih dari 85 dB tanpa menimbulkan ketulian. Penyelenggaran Program Konservasi Pendengaran untuk mencegah atau mengurangi tenaga kerja dari kerusakan atau kehilangan pendengaran akibat kebisingan ditempat kerja. Tujuan utama perlindungan terhadap pendengaran adalah untuk mencegah terjadinya NIHL yang disebabkan oleh kebisingan di lingkungan kerja. Program ini terdiri dari 3 bagian yaitu : Pengukuran pendengaran Test pendengaran yang harus dilakukan ada 2 macam, yaitu : o Pengukuran pendengaran sebelum diterima bekerja. o Pengukuran pendengaran secara periodik. Pengendalian suara bising Dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu : o Melindungi telinga para pekerja secara langsung dengan memakai ear muff (tutup telinga), ear plugs (sumbat telinga) dan helmet (pelindung kepala). o Mengendalikan suara bising dari sumbernya, dapat dilakukan dengan cara : memasang peredam suara menempatkan suara bising (mesin) di dalam suatu ruangan yang terpisah dari pekerja Analisa bising Analisa bising ini dikerjakan dengan jalan menilai intensitas bising, frekuensi bising, lama dan distribusi pemaparan serta waktu total pemaparan bising. Alat utama dalam pengukuran kebisingan adalah sound level meter. Batas pajanan bising yang diperkenankan sesuai Keputusan Menteri Tenaga Kerja 1999 Lama pajan/hari Intensitas dalam dB Jam 24 80

Menit

Detik

16 8 4 2 1 30 15 7,50 3,75 1,88 0,94 28,12 14.06 7,03 3,52 1,76 0,88 0,44 0,22 0,11

82 85 88 91 94 97 100 103 106 109 112 115 118 121 124 127 130 133 136 139

LO.5 Memahami dan Menjelaskan Menjaga Kesehatan Telinga Menurut Islam Tak kalah pentingnya adalah menjaga telinga dari mendengar segala sesuatu yang menjurus kepada maksiat. Mereka yang termasuk kelompok ini tidak akan asyik duduk bersama orang-orang yang terlibat dalam perbincangan yang sia-sia. Termasuk perbuatan siasia adalah mendengar lagu-lagu yang syairnya tidak mengantarkannya pada mengenal kebesaran Allah. Mereka juga meninggalkan percakapan penyiar dan penyair yang menghambur-hamburkan kata tanpa makna. Mereka segera meninggalkan orang yang sedang ghibah, apalagi memfitnah, karena mereka sadar bahwa orang yang mengghibah dengan orang yang mendengar ghibah itu sama nilai dosanya. Maka alternatifnya hanya dua, yaitu mengingatkan atau meninggalkan majelis tersebut. Dalam hal ini Allah berfirman; Maka janganlah kamu duduk bersama mereka sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa dengan mereka. [QS. An-Nisaa: 140] Di bulan Ramadhan, kelompok ini juga menutup telinganya rapat-rapat dari segala suara yang dapat mengganggu konsentrasinya dalam mengingat Allah. Sebaliknya, mereka membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengar ayat-ayat suci al-Quran, mendengar majelis talim, mendengar kalimat-kalimat thayibah, dan mendengar nasehat-nasehat agama. Ketekunan dan kesibukan menyimak kebaikan dengan sendirinya akan mengurangi kecendrungan mendengar sesuatu yang sia-sia, apalagi yang merusak nilai ibadahnya. Allah taalaa ketika menyebutkan kata pendengaran dalam Al-Quran selalu didahulukan daripada penglihatan. Sungguh, ini merupakan satu mujizat Al-Quran yang mulia. Allah telah mengutamakan dan mendahulukan pendengaran daripada penglihatan. Sebab, pendengaran adalah organ manusia yang pertama kali bekerja ketika di dunia, juga merupakan organ yang pertama kali siap bekerja pada saat akhirat terjadi. Maka pendengaran tidak pernah tidur sama sekali.

Sesunguhnya pendengaran adalah organ tubuh manusia yang pertama kali bekerja ketika seorang manusia lahir di dunia. Maka, seorang bayi ketika saat pertama kali lahir, ia bisa mendengar, berbeda dengan kedua mata. Maka, seolah Allah taalaa ingin mengatakan kepada kita, Sesungguhnya pendengaran adalah organ yang pertama kali mempengaruhi organ lain bekerja, maka apabila engkau datang disamping bayi tersebut beberapa saat lalu terdengar bunyi kemudian, maka ia kaget dan menangis. Akan tetapi jika engkau dekatkan kedua tanganmu ke depan mata bayi yang baru lahir, maka bayi itu tidak bergerak sama sekali (tidak merespon), tidak merasa ada bahaya yang mengancam. Ini yang pertama. Kemudian, apabila manusia tidur, maka semua organ tubuhnya istirahat, kecuali pendengarannya. Jika engkau ingin bangun dari tidurmu, dan engkau letakkan tanganmu di dekat matamu, maka mata tersebut tidak akan merasakannya. Akan tetapi jika ada suara berisik di dekat telingamu, maka anda akan terbangun seketika. Ini yang kedua. Adapun yang ketiga, telinga adalah penghubung antara manusia dengan dunia luar. Allah taalaa ketika ingin menjadikan ashhabul kahfi tidur selama 309 tahun, Allah berfirman: Maka Kami tutup telinga-telinga mereka selama bertahun-tahun (selama 309 tahun). (Q.S. Al-Kahfi: 11) Dari sini, ketika telinga tutup sehingga tidak bisa mendengar, maka orang akan tertidur selama beratus-ratus tahun tanpa ada gangguan. Hal ini karena gerakan-gerakan manusia pada siang hari menghalangi manusia dari tidur pulas, dan tenangnya manusia (tanpa ada aktivitas) pada malam hari menyebabkan bisa tidur pulas, dan telinga tetap tidak tidur dan tidak lalai sedikitpun. Dan di sini ada satu hal yang perlu kami garis bawahi, yaitu sesungguhnya Allah berfirman dalam surat Fushshilat: Dan kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian yang dilakukan oleh pendengaranmu, mata-mata kalian, dan kulit-kulit kalian terhadap kalian sendiri, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian kerjakan. (Q.S. Fushshilat: 22) Jadi, setiap kita memiliki mata, ia melihat apa saja yang ia mau lihat; akan tetapi kita tidak mampu memilih hal yang mau kita dengarkan, kita mendengarkan apa saja yang berbunyi, suka atau tidak suka, sehingga pantas Allah taalaa menyebutkan kalimat pandangan dalam bentuk jamak, dan kalimat pendengaran dalam bentuk tunggal, meskipun kalimat pendengaran didahulukan daripada kalimat penglihatan. Maka pendengaran tidak pernah tidur atau pun istirahat. Dan organ tubuh yang tidak pernah tidur maka lebih tinggi (didahulukan) daripada makhluk atau organ yang bisa tidur atau istirahat. Maka telinga tidak tidur selama-lamanya sejak awal kelahirannya, ia bisa berfungsi sejak detik pertama lahirnya kehidupan yang pada saat organ-organ lainnya baru bisa berfungsi setelah beberapa saat atau beberapa hari, bahkan sebagian setelah beberapa tahun kemudian, atau pun 10 tahun lebih.

DAFTAR PUSTAKA

Guyton A.C. Physiology of The Human Body. 11th ed. Philadelphia: W.B. Saunders Company. 2003. http://library.usu.ac.id/download/fk/tht-andrina1.pdf Indrana ilma. Pendengaran menurut Islam. www.wordpress.com

Soetirto I. Tuli akibat bising (Noise induced hearing loss). Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu penyakit THT. Edisi ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 1990. H.37-9