Anda di halaman 1dari 4

PATIENT SAFETY

Standar Kompetensi Dokter: A. Area Kompetensi 1. Kompetensi efektif 2. Ketrampilan klinis 3. Landasan ilmiah ilmu kedokteran 4. Pengelolaan masalah kesehatan 5. Pengelolaan informasi 6. Mawas diri dan pengembangan diri 7. Etik, moral, medikolegal dan profesionalisme serta keselamatan pasien B. Komponen Kompetensi Area komunikasi efektif Area ketrampilan klinis Area etik, moral, medikolegal dan profesionalisme serta keselamaan pasien 22. Memiliki sikap profesional 23. Berperilaku profesional dalam bekerja sama 24. Sebagai anggota tim pelayanan kesehatan yang profesional 25. Melakukan praktik kedokteran dalam masyarakat multikultural di Indonesia 26. Memenuhi aspek medikolegal dalam praktik kedokteran 27. Menerapkan keselamatan pasien dalam praktik kedokteran Latar Belakang: Berkembangnya ilmu, teknologi dan transportasi potensi terjadinya kejadian yang tidak diharapkan / adverse event. Ratusan macam obat, ratusan tes dan prosedur, macam alat, jenis tenaga dengan pelayanan 24 jam terus menerus kejadian tidak diharapkan. Di Amerika 1 diantara 200 orang menghadapi resiko kesalahan pelayanan di rumah sakit dibandingkan naik pesawat terbang hanya 1 banding 2.000.000 resiko mendapatkan kesalahan pelayanan di rumah sakit lebih tinggi. Di Indonesia kesalahan obat tuntutan hukum. Dari banyak penelitian pada pasien yang opname di beberapa negara, didapatkan: o Tindakan yang merugikan o Pengobatan yang kurang tepat o Reaksi yang merugikan Selama ini kurikulum pendidikan kedokteran terfokus pada clinical skill : o Diagnosa o Terapi o After care o Follow up Sementara:

o Team working Fundamental of patient safety o Quality improvement sering terlewati o Risk management Mahasiswa kedokteran harus mengetahui bagaimana: o Dampak sistem apapun pada kualitas dan keamanan pelayanan kesehatan o Komunikasi yang buruk masalah Patient safety bukan disiplin ilmu yang berdiri sendiri, tapi merupakan integrasi dari semua area kedokteran dan pelayanan kesehatan How to manage the these challenges. Skill dan perilaku Patient Safety harus segera dimulai saat aktifitas klinik dimulai agar fokus, bahwa: o Setiap pasien adalah individu yang unik o Aplikasi ilmu dan skill sebagai sumber perubah dan role model pada sistem pelayanan kesehatan WHO berkepentingan untuk menyebarkan implementasi patient safety ke seluruh dunia. Patient safety adalah kebutuhan semua individu, mulai pasien sampai politisi. Mahasiswa kedokteran harus mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang memadai untuk mengaplikasikan patient safety. WHO menyusun patient safety kurikulum guide bagi mahasiswa kedokteran untuk digunakan pada semua aktifitas klinisnya di rumah sakit.

Tujuan: Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit. Meningkatkan akuntabilitas

Kesalahan medis (medical error) adalah kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan atau berpotensi ... Kejadian yang tidak diharapkan (adverse event) adalah suatu kejadian yang mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada pasien karena suatu tindakan (commission) atau karena tidak bertindak (ommission), dan bukan karena underlying disease atau kondisi pasien (KKPRS). Nyaris cedera (NC) adalah suatu kejadian akibat melaksanakan suatu tindakan ( commission) atau tidak mengambil tindakan (ommission), yang dapat mencedrai pasien, tetapi cedera serius tidak terjadi, karena: keberuntungan, pencegahan, peringanan. Patient safety adalah: Suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (KKP-RS)

Primum, non nocere = First, do no harm Patient safety bukan kegiatan yang baru. Patient safety sudah menyatu dengan proses pengobatan kepada pasien itu sendiri. Patient safety programs were born of existing pactises that were expanded, formalized and centralized.

DISKUSI PATIENT SAFETY KASUS 1 Dr. I sedang bertugas di UGD sebuah RSUD. Datang seorang pasien Tn.G 17 tahun dengan keluhan nyeri pada tungkai kanan atas. Dengan riwayat, 2 hari yang lalu pasien mengalami kecelakaan lalu lintas. Keluarga pasien membawa ke sangkal putung. Dukun ini melakukan pemijatan dan membebat kaki kiri pasien dengan kencang. Karena nyeri semakin hebat, keluarga membawa pasien ke rumah sakit. Dokter jaga melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik: Pasien compos mentis, TD 120/80 nadi 100 x/menit pada inferior kanan Look: kaki sebatas lutut membiru. Terpasang bidai dengan bebat yang kencang, swelling (+) luka (-) Feel: tidak dilakukan Move: terbatas karena nyeri X-ray: fraktur femur dextra 1/3 tengah Dokter jaga memberi analgesik iv

Konsul ke dokter ortopedi dengan isi konsul Tn.G 17 tahun dengan close fraktur femur 1/3 medial sejak 2 hari yang lalu. Pasca perawatan dukun patah tulang. Jawaban konsul dokter ortopedi memberikan advis untuk dilakukan operasi keesokan harinya bila pasien dan keluarga setuju. Setelah dilakukan KIE pasien menolak dan minta pulang paksa. 5 hari kemudian pasien datang lagi dengan nyeri semakin hebat. Look: kaki sebatas lutut semakin membiru. Terpasang bidai dengan bebat yang kencang. Swelling (+) luka (-) Feel: tidak dilakuakn Move: terbatas karena nyeri Konsul ke dokter ortopedi dengan isi konsul Tn.G 17 tahun dengan close fraktur femur 1/3 medial sejak 2 hari yang lalu. Pasca perawatan dukun patah tulang. Jawaban konsul dokter ortopedi memberikan advis untuk dilakukan operasi keesokan harinya bila pasien dan keluarga setuju.

Keesokan pagi dokter ortopedi melakukan pemeriksaan dengan hasil: Look: kaki sebatas lutut membiru. Swelling (+) luka (-) bula (+) Feel: femur lebih hangat. Cruris lebih dingin, sensasi menurun, nyeri tekan (-), pulsasi A.Dorsalis pedis (-), a.tibialis posterior (-)

Move: tidak dilakukan karena ada fraktur Diagnosa: dead limb, diputuskan untuk dilakukan amputasi.

KASUS 2 Seorang wanita 38 tahun datang ke rumah sakit karena gatal dan kemerahan di sekujur tubuh disertai facial edema. Dia memppunyai riwayat reaksi alergi sebeumnya. Setelah melakukan anamnesa dan pemeriksaan, dokter meminta untuk menyiapkan 10 cc adrenalin 1 : 10.000 dalam spuit 10 cc (total 1 mg adrenalin). Perawat segera menyiapkan permintaan dokter tersebut dan meletakkannya di samping tempat tidur pasien. Dokter datang memasang infus. Dokter melihat tersedia spuit yang berisi 10 cc cairan yang disangka adalah NS. Dokter tidak bertanya apa-apa pada perawat. Dokter kemudian memberi 10 cc tersebut melalui iv. Pasien tiba-tiba cemas, gelisah, takikardi, kemudian tidak sadarkan diri. Nadi tidak teraba. Apa yang terjadi? Siapa yang terlibat? Kapan kejadiannya? Dimana tempat terjadinya? Apakah merupakan pelanggaran kasus berat atau membahayakan jiwa? Kemungkinan terulang? Konsekuensi kasus?

KASUS 3 Seorang laki-laki 74 tahun datang ke seorang dokter keluarga (dr.X) untuk mengobati keluhan stable angina-nya. Dokter segera melakukan anamnesa, termasuk riwayat penggunaan obat dan pemeriksaan fisik. Dari pemeriksaan, dokter mengatakan pasien sehat dan hanya memerlukan obat sefalgia. Pasien tidak dapat menyebutkan nama obat yang biasa diminumnya saat terjadinya sefalgia. Dokter mengasumsikan bahwa obat tersebut adalah analgesik yang diperoleh dari sefalgia sebelumnya. Tetapi sesungguhnya obat tersebut adalah -bloker yang diminum setiap hari karena migrain. Dokter kemudian memberikan resep yang berisi aspirin dan bloker lain untuk angina nya. Setelah meminum obat dari dokter X, pasien mendadak bradikardi, hipotensi postural. Sangat disayangkan 3 hari kemudian pasien terjatuh saat berdiri karena dizziness dan mengalami fraktur hip.