I . Konsep penyakit A.

Definisi DM adalah gangguan kronis yang ditandai dengan metabolisme karbohidrat, dan lemak yang diakibatkan oleh kekurangan insulin atau secara relatif kekurangan insulin. (Standar Perawatan Pasien hal 401). DM adalah penyakit karena kekurangan hormon insulin sehinga glukosa tidak dapat diolah oleh badan dan kadar glukosa dalam darah meningkat, lalu dikeluarkan dalam kemih yang menjadi terasa manis. (Kamus Kedokteran Ramali, Ahmad hal 92). DM adalah keadaan, hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan matabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron. (Kapita Selekta Kedokteran jilid 1, edisi 3 hal 580). B. Etiologi a. b. c. d. e. f. D.    Fungsi saluran pangkreas dan seresi insulin yang kurang. Perubahan-perubahan karena usila sendiri yang berkaitan dengan resistensi, insulin, akibat kurangya massa otot dan perubahan vaskuler. Aktivitas fisis yang berkurang, banyak makan, badan kegemukan. Keberadaan penyakit lain,sering menderita stress, operasi dan istirahat lain. Sering menggunakan bermacam-macam obat-obatan. Adanya faktor keturunan (Ilmu Penyakit Dalam, hal 693). Gambaran klinis Kesemutan Katarak Kelelahan    Kelemahan Mengantuk Penyembuhan luka lambat

(Ilmu Penyakit Dalam, 693) E. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penyaring perlu dilakukan pada kelompok dengan resti untuk DM. Dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah seaktu, kadar glukosa darah, lalu diikuti dengan TTGO (tes toleransi glukosa oral). F. Prognosis Prognosis DM usia tergantung pada beberapa hal dan tidak selamanya buruk. Pasien tua dengan tipe II (DMTTI) yang terawat dengan baik prognosisnya baik. Pada pasien DM yang jatuh dalam koma hipoglikemia prognosisnya kurang baik.

2. c. c. a.G. Akut a.Bila ada komplikasi berat. Diet Sesuai dengan kebutuhan menurut berat badan atau gizi penderita : o Kurus : BB x 40 – 60 kalori sehari o Normal : BB x 30 kalori sehari o Gemuk : BB x 20 kalori sehari o Obes : BB x 10 – 15 kalori sehari 3. pembuluh darah tepi. e. seperti : Tb. pembuluh darah otak. Penata laksanaan Istirahat . Paru. nefropati diabetik. Komplikasi DM. Medikamentosa Insulin dan obat anti diabetik Komplikasi Kronik  DM usia lanjut dapat dikendalikan dengan baik. b. Mikroangiopati. . Rentan infeksi. misalnya dengan Tx :  DM usia lanjut untuk tipe II sehingga diperhatikan kasus perkasus. retmopati diabetik. mengenai pembuluh darah kecil . 1. cara hidup pasien.  Pedoman penatalaksanaan 1. Diagnosis Diagnosis pasti DM usia lanjut ditegakkan kalau didapatkan kadar glukosa darah puasa < 140 mg/dl. b. adanya penyakit lain yang menyertai serta ada / tidaknya. gingivitis dan isk. d. Apabila kadar glukosa darah puasa< 140 mg/dl dan terdapat gejala atau keluhan DM perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan (TTGO). Koma hipoglikemia Ketoasidosis Koma hiperosmolar nonketotik Makroangiopati. {Ilmu Penyakit Dalam hal 694} H. Kaki diabetik. keadaan gizi dan kesehatannya. Neuropati diabetik. pembuluh darah jantung. ( Kapita selekta kedokteran edisi 3 jilid I halaman 582 ) I. mengenai pembuluh darah besar . Menilai penyakitnya secara menyeluruh dan memberikan pendidikan kepada pasien dan keluarga.

sering kencing. A. terjadi infeksi minor. kuku pada jari tengah dan kaki menjadi tebal dan rapuh. BB menurun. rambut menipis / botak dan warna rambut kelabu. c. lemas. kelelahan. Riwayat Penyakit Keluarga Dalam anggota keluarga tersebut salah satu anggota keluarga ada yang menderita DM. Lebih bersifat konservatif. berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intrasel.2. 3.  Sistem integumen Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak. Mengendalikan glukosa darah dan berat badan. d. Riwayat Penyakit Dahulu Terjadi pada penderita dengan DM yang lama. kebingungan akut. Pemeriksaan fisik pada Lansia  Sel ( perubahan sel ) Sel menjadi lebih sedikit. atau depresi ). kelemahan. rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot ( neuropati perifer ) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim. usahakan agar glukosa darah tidak terlalu tinggi ( 200 220 mg / dl ). Keluhan utama DM pada usila mungkin cukup sukar karena sering tidak khas dan asimtomatik ( contohnya . b. e. gatal – gatal. f. . jumlah dan ukurannya menjadi lebih besar. kulit kering dan pucat dan terdapat bintik – bintik hitam akibat menurunnya aliran darah kekulit dan menurunnya sel – sel yang memproduksi pigmen. kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya. II. 4. Riwayat Penyakit Sekarang Pada umumnya pasien datang ke RS dengan keluhan gangguan penglihatan karena katarak. Pada orang berusia 60 tahun rambut wajah meningkat. Identitas DM pada pasien usia lanjut umumnya terjadi pada usia > 60 tahun dan umumnya adalah DM tipe II ( non insulin dependen ) atau tipe DMTTI. Menghilangkan gejala – gejala akibat hiperglikemia seperti rasa haus. Konsep Askep Pengkajian a.

lensa menjadi keruh. Pada otot polos tidak begitu berpengaruh. Hilangnya daya akomodasi. nefron menjadi atrofi. Oksigen pada arteri menurun menjadi 75 mmHg. paru kurang elastis. menurunnya lapang pandang karena berkurangnya luas pandangan.  Sistem Penglihatan Karena berbentuk speris. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun. aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %. alveoli kurang melebar biasanya dan jumlah berkurang. esofagus melebar. fungsi tubulus berkurang sehingga kurang mampu memekatkan urine. Sistem Muskuler Kecepatan dan kekuatan kontraksi otot skeletal berkurang pengecilan otot karena menurunnya serabut otot.  Sistem Pernafasan Otot – otot penafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku. tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer. ambang ginjal terhadap glukosa meningkat. hati makin mengecil. Karbon oksida pada arteri tidak berganti – kemampuan batuk berkurang. sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.  Sistem Perkemihan Ginjal mengecil.  Sistem Gastointestinal Kehilangan gigi. penumpukan serumen sehingga mengeras karena meningkatnya keratin. proteinuria bertambah. asam lambung menurun waktu pengosongan lambung. meningkatnya ambang penglihatan ( daya adaptasi terhadap kegegelapan lebih lambat. peristaltik lemah sehingga sering terjadi konstipasi. Kehilangan obstisitas pembuluh darah. laju filtrasi glumesulus menurun sampai 50 %.  Sistem pendengaran Presbiakusis ( menurunnya pendengaran pada lansia ) membran timpani menjadi altrofi menyebabkan austosklerosis. Dj urin menurun. indra pengecap menurun. Menurunnya daya membedakan warna hijau atau biru pada skala. kapasitas kandung kemih menurun ( zoome ) . rasa lapar menurun. susah melihat gelap ).  Sistem Kardiovaskuler Katub jantung menebal dan menjadi kaku. menurunnya aktivitas sillia.

7. 3. fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah. menciutnya ovarium dan uterus. Resiko dehidrasi berhubungan dengan output cairan meningkat. 5.  Sistem Reproduksi Selaput lendir vagina menurun / kering. 9. Kram / kekakuan otot berhubungan dengan hilangnya kalium melalui urin berhubungan dengan pasien kadang tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. FSH. Diagnosa Keperawatan 1. testosteron. 2. kandung kemih sulit dikosongkan. atrofi payu darah testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur – angsur. Resiko infark jantung berhubungan dengan kontraksi atrium menurun. berkurangnya ACTH. 8. estrogen. Resiko terjadi injury berhubungan dengan penurunan kesadaran. pada orang terjadi peningkatan retensi urin dan pembesaran prostat ( 75 % usia diatas 60 tahun ). menurunnya produk aldusteran. 10. progesteron. dorongan sek menetap sampai usia diatas 70 tahun asal kondisi kesehatan baik. Gangguan konsep diri berhubungan dengan penurunan keadaan mental. 6. frekwensi berkemih meningkat. 11.karena otot – otot yang lemah. Depresi berhubungan dengan gangguan konsep diri yang lama. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan proses penyembuhan luka. Gangguan rasa nyaman ( pusing ) berhubungan dengan berkurangnya suplai O2 Gangguan pola pemenuhan nutrisi ( kurang ) berhubungan dengan peningkatan katabolisme. 4. menurunnya aktivitas tiroid sehingga laju metabolisme tubuh ( BMR ) menurun.  Sistem Sensori Reaksi menjadi lambat kurang sensitif terhadap sentuhan (berat otak menurun sekitar 10 – 20 % ) B. dan LH. TSH. menurunnya sekresi. . hormon godad.  Sistem Endokrin Produksi semua hormon menurun. Pandangan kabur berhubungan dengan penurunan 5 optikus . Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan otot.

2. Dengarkan dengan aktif masalah dan kelakuan pasien . Tujuan : ketidaknyamanan hilang / terkontrol Kriteria hasi : o Pasien tampak rilex o Ekpresi wajah tidak menyeringai o Mengungkapkan metode yang mengurangi nyeri Intervensi 1. 3. : Pempertahankan tirah baring selama fase akut R/ meminimalkan stimulasi / meningkatkan relaxsasi Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala R/ tindakan yang menurunkan tekana vaskuler Minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala R/ aktivitas yang meningkat vasokontriksi menyebabkan sakit kepala 4. Kolaborasi pemberian O2 R/ memenuhi kebutuhan O2 pada otak sehingga dapat menurunkan nyeri kepala 6. Bantu pasien dalam ambulasi sosial R/ pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan sakit kepala . Menunjukkan adanya adaptasi terhadap perubahan. 3. Intervensi 1. 2. Kolaborasi untuk pemberian analgetik R/ menurunkan / mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang  Gangguan konsep diri berhubungan dengan penurunan keadaan mental Tujuan : menunjukkan pandangan yang realistis dan pemahaman diri dalam situasi Kriteria hasil : 1. : Tanyakan dengan nama apa pasien ingin dipanggil R/ menunjukkan penghargaan dan pengakuan personal. Mengenali dan memasukkan perubahan kedalam konsep diri yang akurat dan tanpa mengabaikan pemahaman diri. pasien juga mengalami episode hipotensi postural 5. Rencana Askep  Gangguan rasa nyaman ( pusing ) berhubungan dengan berkurangnya suplai O2. 2. Identifikasi orang terdekat dari siapa pasien merasakan kenyamanan R/ memungkinkan privasi untuk hubungan personal khusus.III.

R/ menyampaikan perhatian dan lebih dan dapat lebih efektif mengidentifikasikan masalah dan keluhan klien. Kolaborasi. berikan perhatian utama pada jalur hiperalimentasi Gunakan teknik steril pada penggantian balutan Gunakan hanscone untuk merawat luka Kolaborasi pemberian antibiotik . 5. Berikan lingkungan yang tidak berbahaya R/ meningkatkan perasaan aman. 4. rujuk pada dukungan psikiatri R/ mungkin dibutuhkan untuk membantu pasien mencapai kesehatan optimal. 2. 7. : Infeksi dapat dicegah : Kriteria hasil : Terjadi penurunan resiko infeksi Berikan isolasi / pantau pengunjung sesuai indikasi R/ menurunkan resiko infeksi Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas walaupun menggunakan handscone steril R/ tindakan yang stertil membantu mengurangi resiko infeksi bagi petugas 3. 6. Amati komunikasi non verbal R/ komunikasi non verbal adalah bagian besar dari komunikasi.  Resiko Infeksi berhubungan dengan penurunan proses penyembuhan luka Tujuan Intervensi 1. 5. Dorong pengungkapan perasaan menerima apa yang dilakukannya R/ membantu pasien menerima perubahan dan mengurangi ansietas mengenai fungsi gaya hidup. mendorong verbalisasi. Lakukan inpeksi pada daerah luka ganren. 4. 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful