Anda di halaman 1dari 13

BAB V DINDING PENAHAN TANAH

Menurut Hary CH, (2002) dinding penahan tanah adalah suatu bangunan konstruksi yang digunakan untuk menahan tekanan tanah lateral yang ditimbulkan oleh tanah urug atau tanah asli yang labil. Kestabilan dinding penahan tanah diperoleh terutama dari berat sendiri struktur dan berat tanah yang berada di atas pelat pondasi. Besar dan distribusi tekanan tanah pada dinding penahan tanah, sangat bergantung pada gerakan kearah lateral tanah relative terhadap dinding. Terdapat beberapa tipe dari dinding penahan tanah antara lain adalah sebagai berikut: (1) dinding gravitasi, (2) dinding semi gravitasi , (3) dinding kantilever, (4) dinding counterfort, (5) dinding krib, dan (6) dinding tanah bertulang (reinforced earth wall) . (1) Dinding gravitasi Dinding gravitasi adalah dinding penahan yang dibuat dari beton tak bertulang atau pasangan batu jika diperlukan tulangan beton hanya pada permukaan dinding yang gunanya untuk mencegah retakan permukaan akibat perubahan temperatur, seperti pada Gambar 5.1, dimensi dinding harus dibuat sedemikian hingga tidak terdapat tegangan tarik pada badan dinding.

Gambar 5.1 Dinding gravitasi


Gusneli Yanti. S.T., M.T | Design Pondasi I BAB V - 1

(2). Dinding semi gravitasi Dinding semi gravitasi adalah dinding gravitasi yang berbentuk agak ramping. Karena ramping, pada strukturnya diperlukan penulangan beton hanya pada bagian dinding saja. Disini tulangan beton berfungsi sebagai pasak, dipasang untuk menghubungkan bagian dinding dan pondasi, seperti pada Gambar 5.2

Gambar 5.2 Dinding semi gravitasi (3). Dinding kantilever Dinding kantilever adalah dinding yang terdiri dari kombinasi dari dinding dan beton bertulang yang berbentuk huruf T. Ketebalan dari kedua bagian ini relatif tipis dan secara penuh diberi tulangan untuk menahan momen dan gaya lintang yang bekerja padanya., seperti pada Gambar 5.3. Bagian-bagian dinding kantilever terdiri dari : dinding, pelat pondasi belakang dan pelat pondasi depan, pada setiap bagian dirancang seperti merancang system kantilever.

Gambar 5.3 Dinding kantilever (4). Dinding counterfort Dinding counterfort adalah dinding yang terdiri dari dinding beton bertulang tipis, yang dibagian dalam dinding pada jarak tertentu didukung oleh pelat /dinding pada jarak
Gusneli Yanti. S.T., M.T | Design Pondasi I BAB V - 2

tertentu didukung oleh pelat/ dinding vertikal yang disebut counterfort diisi dengan tanah urug, seperti pada Gambar 5.4

Gambar 5.4 Dinding counterfort (5). Dinding krib Dinding krib adalah dinding yang terdiri dari balok-balok beton yang disusun menjadi dinding penahan, seperti pada Gambar 5.5

Diisi tanah

Gambar 5.5 Dinding krib (6). Dinding tanah bertulang (reinforced earth wall) Dinding tanah bertulang atau dinding tanah diperkuat (reinforced earth wall) adalah dinding yang terdiri dari dinding yang berupa timbunan tanah yang diperkuat dengan bahan-bahan tertentu yang terbuat dari geosintetik maupun dari metal, seperti pada Gambar 5.6
Gusneli Yanti. S.T., M.T | Design Pondasi I BAB V - 3

Tulangan

Gambar 5.6 Reinforced earth wall 5.1 Tekanan Tanah Lateral Besarnya tekanan tanah pada dinding penahan tanah bergantung dari regangan lateral tanah relatif terhadap dinding. Hitungan tekanan tanah lateral ini berdasarkan pada kondisi regangannya. Analisis yang benar akan mendapatkan hasil rancangan yang baik, oleh karena itu regangan lateral dan tekanan tanah pada dinding sangat erat hubungannya. 5.1.1 Tekanan tanah saat diam, aktif, dan pasif.

Dinding penahan tanah dengan permukaan tanah datar, dinding dan tanah urug di belakangnya pada kondisi diam, tanah pada kedudukan ini masih dalam kondisi elastis. Pada posisi ini tekanan tanah pada dinding akan berupa tekanan tanah saat diam (earth pressure at rest) dan tekanan tanah lateral (horizontal) pada dinding, pada kedalaman tertentu (z) dinyatakan oleh Persamaan 5.1 (5.1) Dengan : Ko = koefisien tekanan tanah saat diam. = berat volume tanah (kN/m3) Tekanan tanah saat diam, tekanan tanah aktif, dan tekanan tanah pasif dapat dilihat pada Gambar 5.7 berikut
Gusneli Yanti. S.T., M.T | Design Pondasi I BAB V - 4

Gambar 5.7 Tekanan Tanah Lateral (a) Tekanan tanah lateral saat diam (b) Tekanan tanah aktif (c) Tekanan Tanah pasif (d) Hubungan regangan dan K pada pasir (Terzaghi,1948) Tegangan dalam tanah yang dinyatakan oleh lingkaran Mhor seperti pada Gambar 5.8 saat tanah pada kondisi diam (disebut pada kondisi Ko) diwakili oleh lingkaran A, pada waktu ini lingkaran A tidak menyinggung garis kegagalan OP (Gambar 5.8a). Apabila dinding penahan tanah menjauhi tanah timbun dan gerakan tersebut diikuti oleh gerakan tanah di belakang dinding, maka tekanan tanah lateral pada dinding akan ber angsur-angsur berkurang yang diikuti dengan berkembang nya tahanan geser tanah secara penuh. Pada suatu saat gerakan dinding selanjut nya mengakibat kan terjadi nya keruntuhan geser tanah dan tekanan tanah pada dinding menjadi konstan pada tekanan minimumnya. Tekanan

Gusneli Yanti. S.T., M.T | Design Pondasi I

BAB V - 5

tanah lateral minimum, yang mengakibatkan keruntuhan geser tanah oleh akibat gerakan dinding menjauhi tanah di belakang nya disebut tekanan tanah aktif (aktif earth pressure).

Gambar 5.8 Tekanan tanah lateral dan lingkaran Mohr yang mewakili kedudukan tegangan didalam tanah. (a) Tegangantegangan dalam kedudukan Rankine (b) Orientasi garis-garis keruntuhan teori Rankine pada : (i).Kedudukan aktif, (ii).Kedudukan pasif. Tegangan utama minor 3 = h dan Tegangan utama mayor 1 = v Kedudukan tegangan saat tanah pada kedudukan keseimbangan limit aktif terjadi diwakili oleh lingkaran B yang menyinggung garis kegagalan OP. Jika tegangan vertikal (v) di titik tertentu di dalam tanah dinyatakan oleh Pers 5.2 (v) = .z .(5.2)

maka tekanan tanah lateral pada saat tanah runtuh seperti pada Persamaan 5.3 berikut h = Ka. v = Ka. .z.c .(5.3)

Dari lingkaran Mhor pada gambar dapat ditentukan pada Persamaan 5.4
Gusneli Yanti. S.T., M.T | Design Pondasi I BAB V - 6

Ka =

h(aktif ) 3 1 sin = = = tg 2 45 2 . (5.4) v 1 1 + sin

Pada regangan lateral yang terjadi pada kondisi tekan, yaitu bila tanah tertekan sebagai akibat dinding penahan mendorong tanah, maka gaya yang dibutuh kan untuk menyebabkan kontraksi tanah secara lateral sangat lebih besar dari pada besar nya tekanan tanah menekan kedinding. Bertambahnya regangan karena bertambahnya beban dari gerakan dinding, sampai suatu regangan tertentu maka tanah akan mengalami keruntuhan geser akibat desakan dinding penahan, saat gaya lateral tanah mencapai nilai konstant yaitu pada nilai maksimum nya.Tekanan tanah lateral maksimum mengakibat kan keruntuhan geser tanah akibat gerakan dinding menekan tanah urug,disebut tekanan tanah pasif (passive earth pressure). 5.1.2 Pengaruh regangan lateral Tekanan tanah lateral pada dinding tergantung pada regangan yang terjadi pada tanah atau gerakan dinding relatif terhadap tanah urug di belakangnya. Gambar 5.7 terlihat hubungan antara regangan lateral/gerakan dinding dan koefisien tekanan tanah lateral (K) pada tanah pasir hasil penelitian Terzaghi (1948), dan dapat diketahui Persamaan 5.5 K = 1/z Dimana : = berat volume tanah , z = kedalaman Terlihat bahwa regangan lateral (gerakan dinding penahan) yang dibutuh kan untuk mencapai kedudukan tekanan tanah aktif lebih kecil dibandingkan dengan gerakan dinding penahan yang dibutuhkan, untuk mencapai kedudukan tekanan tanah pasif (Ka) lebih besar untuk tanah pasir longgar dari pada tanah pasir padat, sedangkan untuk koefisien tekanan tanah pasif (Kp) kebalikan nya. Lambe dan Whitman (1969) menurut Hary CH, telah mengadakan penelitian jenis tanah pasir dengan alat triaxial menunjukan bahwa tanah akan mencapai kedudukan aktif pada regangan kira-kira 0.5 %,dan kedudukan pasif pada regangan kira-kira 2 %. Bila gerakan dinding penahan berupa translasi, nilai-nilai tipikal mulai bekerjanya tekanan tanah aktif ditunjukkan dalam Tabel 5.1 .(5.5)

Gusneli Yanti. S.T., M.T | Design Pondasi I

BAB V - 7

Tabel 5.1 Macam tanah dan translasi saat tanah dalam kondisi aktif Macam tanah Tanah tak kohesif, padat Tanah tak kohesif, tak padat Tanah kohesif, kaku Tanah kohesif, lunak Sumber : Bowles Translasi yang dibutuh kan (H= tinggi dinding penahan) 0,001 sampai 0,002 H 0,002 sampai 0,004 H 0,01 sampai 0,02 H 0,02 sampai 0,05 H

Keruntuhan tanah akibat guling (rotasi terhadap kaki),regangan dalam tanah lebih besar atau sama dengan regangan minimum nya diagram tekanan tanah aktif nya berbentuk segitiga.

5.2 HITUNGAN STABILITAS DINDING PENAHAN TANAH Gaya yang bekerja pada dinding penahan 1. Berat sendiri DPT (w) 2. Gaya tekanan tanah aktif total tanah urug (Pa) 3. Gaya tekanan tanah pasif total tanah urug (Pp) 4. Tekanan air pori 5. Reaksi tanah dasar Dalam analisis stabilitas DPT perlu ditinjau hal sbb: 1. Faktor aman terhadap geser dan guling yang mencukupi 2. Tekanan yang tejadi pada dasar pondasi tidak boleh melebihi tekanan yang di ijinkan 3. Stabilitas lereng secara keseluruhan harus memenuhi syarat 5.2.1 Stabilitas terhadap penggeseran Gaya-gaya yang menggeser dinding penahan tanah akan ditahan oleh : 1. gesekan antara tanah dengan dasar pondasi 2. tekanan tanah pasif bila di depan dinding penahan terdapat tanah timbunan Faktor aman terhadap penggeseran didefinisikan sebagai (persamaan 5.6)
Fgs =

R P

> 1,5

..(5.6)

Gusneli Yanti. S.T., M.T | Design Pondasi I

BAB V - 8

Faktor aman terhadap pergeseran dasar pondasi Fgs minimum daimbil 1,5. Bowles (1997) menyarankan Fgs 1,5 untuk tanah dasar granuler Fgs 2 untuk tanah dasar kohesif - Untuk tanah granuler (c = 0)

= W . f = W .tgb

dengan b

- Untuk tanah kohesif ( = 0)

= c a .B

- Untuk tanah kohesif c- ( >0 dan c > 0)

R
Rh W b ca c ad B Ph f

= ca .B +W .tgb

Dimana : = tahanan dinding penahan tanah terhadap penggeseran = berat total dinding penahan dan tanah diatas pelat = sudut gesek antara tanah dan dasar pondasi biasanya, diambil 1/3 (2/3) = ad x c = adhesi antara tanah dan dasar dinding = kohesi tanah dasar = faktor adhesi = lebar pondasi = jumlah gaya-gaya horizontal = tg b = koefisien gesek antara tanah dasar dan dasar pondasi

Pada Tabel 5.2 ditunjukkan nilai-nilai f dari berbagai macam jenis tanah dasar Tabel 5.2 Koef gesek (f) antara dasar pondasi dan tanah dasar (AREA, 1958) Jenis tanah dasar pondasi Tanah granuler kasar tak mengandung lanau atau lempung Tanah granuler kasar mengandung lanau Tanah lanau tak berkohesi Batu keras permukaan kasar f = tg 0,55 0,45 0,35 0,60

Jika dasar pondasi sangat kasar, seperti beton yang dicor langsung ketanah maka koefisien gesek f = tg b = tg , dengan adalah sudut gesek dalam tanah dasar. Jika dinding panahan tanah harus didukung oleh pondasi tiang maka semua beban harus dianggap didukung oleh tiang, karena itu tahanan gesek dan adhesi pada dasar pondasi harus diperhitungkan.
Gusneli Yanti. S.T., M.T | Design Pondasi I BAB V - 9

5.2.2 Stabilitas terhadap Penggulingan Tekanan tanah latertal yang diakibatkan oleh tanah urug di belakang dinding penahan, cenderung menggulingkan dinding dengan pusat rotasi pada ujung kaki depan pelat pondasi. Momen penggulingan ini dilawan oleh momen akibat berat sendiri dinding penahan dan momen akibat berat tanah di atas pelat pondasi. Faktor aman akibat terhadap penggulingan (Fgl) didefinisikan sebagai (pers 5.7)
Fgl =

M M

w gl

..(5.7)

Dimana :

Mw = Wb1 Mgl = Pah. h1 + Pav. B Mw = Momen yang melawan penggulingan (kN.m) Mgl = Momen yang mengakibatkan penggulingan (kN.m)
W B = Berat tanah diatas pelat pondasi + berat sendiri dinding penahan (kN) = lebar kaki dinding penahan (m)

Pah = Jumlah gaya-gaya horizontal (kN) Pav = Jumlah gaya-gaya vertikal (kN)
Faktor aman terhadap penggulingan Fgl tergantung pada jenis tanahnya , yaitu : Fgl 1,5 untuk tanah dasar granuler Fgl 2 untuk tanah dasar kohesif Tahanan tanah pasif, oleh tanah yang berada di depan kaki dinding depan sering diabaikan dalam hitungan stabilitas. Jika tahanan tanah pasif yang ditimbulkan oleh pengunci pada dasar pondasi diperhitungkan maka nilainya harus direduksi untuk mengantisipasi pengaruh-pengaruh erosi, iklim dan retakan akibat tegangan-tegangan tarik tanah dasar yang kohesif.

5.2.3 Stabilias terhadap Keruntuhan Kapasitas Dukung Tanah

Gusneli Yanti. S.T., M.T | Design Pondasi I

BAB V - 10

Beberapa persamaan kapasitas daya dukung tanah telah digunakan untuk menghitung stabilitas DPT seperti persamaan kapasitas dukung Terzaghi (1943) , Meyerhoft (1951, 1963) dan Hansen (1961) Faktor aman terhadap keruntuhan kapasitas dukung didefinisikan sebagai (persamaan 7.8)
F = qu 3 q

(7.8)

Tekanan struktur pada tanah dasar pondasi dapat dihitung denga persamaan berikut : 1. bila dipakai cara lebar efektif pondasi (asumsi Meyerhof)
q= V B'

(5.9)

Dengan V = beban vertikal total dan B = B - 2e 2. bila distribusi tekanan kontak antara tanah dasar fondasi dianggap linier (cara ini dulu dipakai bila dalam hitungan kapasitas dukung digunakan persamaan Terzaghi ) :
q= V 6e 1 B B
2V B ( B 2e )

bila e B/6

(5.10)

qmak =

bila e > B/6

(5.11)

Dalam perancangan lebar pondasi dinding penahan (B) sebaiknya dibuat sedemikian hingga e < (B/6), bila hal ini dimaksudkan agar efisiensi pondasi maksimum dan perbedaan tekanan pondasi pada ujung-ujung kaki dinding tidak besar (untuk mengurangi resiko keruntuhan dinding akibat penggulingan). Contoh Soal 5.1 Potongan melintang pangkal jembatan (abutmen) seperti Gambar C7.1 dengan lebar dasar pondasi B = 4 m, gaya vertikal pada tumpuan Qv = 50 kN/m dan gaya horizontal Qh = 10 kN/m. Tanah urug pasir mempunyai =30, c = 0 kPa dan berat volume b = 19 kN/m3, sedangkan tanah dasar pondasi berupa pasir dengan = 40o, c = 0 kPa, kapasitas dukung ijin qa = 200 kN/m2. diketahui dasar pondasi dengan dinding sangat kasar dan diatas tanah urug terdapat beban terbagi rata permanen q = 10 kN/m 2, maka selidikilah stabilitas pangkal jembatan tersebut.

Gusneli Yanti. S.T., M.T | Design Pondasi I

BAB V - 11

0,5 m Qv Qh

0.4 m

q = 10 kN/m2

1 2 5

1,0 m 0,3m 7 0,3 m 4,2 m Pa2 tanah urug

1,0 m

2,5 m

Pa1 4 tanah dasar 0,8 1,67

2,5 m

Penyelasaian Tekanan tanah lateral pada dinding Ka = tg2 (45 - /2) = tg2 (45 - 30/2) = 0,33
Pa1 =0,5 H 2 b.Ka =0,5 x5 2 x19 x 0,33 =78,38kN Pa 2 =qHKa =10 x5 x 0,33 =16,67 kN

Momen Pa1 dan Pa2 terhadap titik O = 5/3x 78,38 +5/2x16,67 = 172,308 kNm No 1 2 3 4 5 6 7 Qv q Gaya vertikal (kN/m) 0,4 x 1,3 x 25 = 13 0,5x0,4x0,3x25 = 1,5 0,5 x 3,2 x25 = 40 0,8 x 4,0 x 25 = 80 0,5 x 0,4 x 0,3 x 19 = 1,14 2,6 x 0,4 x 19 = 19,76 2,1 x 4,2 x 19 = 167,58 50 10 x 2,1 = 21 W = 398,98 Jarak dari O (m) 1,7 1,63 1,25 2,0 1,77 1,70 2,95 1,25 2,95 Momen ke O (kNm) 22,1 2,45 50,00 160,00 2,02 33,59 494,36 62,50 61,95 Mw = 888,97

Momen akibat Qh = 4 x 10 = 40 kNm Momen guling = 172,308 + 40 = 212,308 kN.m

(1) Stabilitas terhadap geser


Gusneli Yanti. S.T., M.T | Design Pondasi I BAB V - 12

Fgs =
Fgs =

Pa1 + Pa 2 + Q

R > 1.5 P W .tg =


h h
b

398,98tg 40 0 = 3,20 > 1,5 78,38 + 16,67 + 10

3,20 > 1.5 OK Maka struktur aman terhadap geser b. Stabilitas terhadap guling
Fgl =
Fgl =

M M

w gl

> 1.5

888,97 = 4,20 40 +172,308

4,20 > 1.5 Maka struktur aman terhadap guling c. Stabilitas terhadap daya dukung tanah M = 888,97 40 172,308 = 676,66 kN.m V = 398,98 kN/m
x= 676,66 = 1,70 m 398,98

e=

4 1,70 = 0,30 m < 4/6 = 0,67 2

a. Dengan cara distribusi trapesium, tekanan pondasi ke tanah dasar


q mak = q mak = 398,98 6 x 0,30 1 + = 144,63 kN/m2 < qa = 200 kN/m2 4 4 398,98 6 x 0,30 1 = 54,86 kN/m2 > 0 (OK!) 4 4

(OK!)

b. Dengan cara distribusi Meyerhof


q mak = V 398,98 = = 117,3 kN/m2 < qa = 200 kN/m2 B 2e 4 ( 2 x 0,3)

(OK!)

Dari hasil perhitungan, pangkal jembatan memenuhi syarat stabilitas

Gusneli Yanti. S.T., M.T | Design Pondasi I

BAB V - 13