Anda di halaman 1dari 4

MENGENAL TARGET MDGs

Millennium Development Goals (MDGs) adalah sebuah komitmen bersama masyarakat internasional untuk mempercepat pembangunan manusia dan pengentasan kemiskinan. Deklarasi MDGs merupakan komitmen negara-negara dan komunitas internasional untuk mencapai sasaran pembangunan. Para pemimpin dunia berkomitmen untuk mengurangi separuh lebih jumlah orang-orang yang menderita kemiskinan dan kelaparan, menjamin semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya, mengentaskan kesenjangan gender pada semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga 2/3 , dan mengurangi hingga separuh jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015. Berikut adalah 7 target MDGs:

Memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrem

Seandainya tidak ada orang miskin, hampir semua masalah kita praktis terselesaikan. Ketika anda punya uang, anda tentu bisa memeriksakan diri ke dokter yang baik. Anda juga bisa memperoleh sambungan jaringan air minum serta makanan berkualitas. Karena itu, tujuan pertama dalam MDGs adalah mengurangi jumlah penduduk miskin.

Mewujudkan pendidikan dasar untuk semua

Tampaknya, di bidang pendidikan, Indonesia lebih berhasil. Tujuan kedua MDGs ini adalah

memastikan bahwa semua anak menerima pendidikan dasar.

Mendorong kesetaran gender dan pemberdayaan perempuan

Tujuan ini memiliki tiga target. Pertama, menyangkut pendidikan. Untuk hal ini, nampaknya kita

cukup berhasil. Namun, terkait target kedua dan ketiga, yaitu lapangan pekerjaan dan keterwakilan dalam parlemen, kesempatan yang dimiliki perempuan Indonesia masih kurang.

Menurunkan angka kematian anak

Tujuan ini dilatarbelakangi oleh tingginya tingkat kematian bayi yang ada di Indonesia. Anak-

anak, terutama bayi, lebih rentan terhadap penyakit dan kondisi hidup yang tidak sehat.

Meningkatkan kesehatan ibu

Melahirkan seyogyanya menjadi peristiwa bahagia tetapi seringkali berubah menjadi tragedi. Sebenarnya, hampir semua kematian tersebut dapat dicegah. Karena itu tujuan kelima MDGs difokuskan pada kesehatan ibu, untuk mengurangi “kematian ibu”. Meski semua sepakat bahwa angka kematian ibu terlalu tinggi, seringkali muncul keraguan tentang angka yang tepat.

Memerangi HIV dan AIDS, malaria serta penyakit lainnya

Tujuan keenam dalam MDGs menangani berbagai penyakit menular paling berbahaya. Pada urutan teratas adalah Human Immunode_ ciency Virus (HIV),yaitu virus penyebab Acquired Immuno De_ ciency Syndrome (AIDS) terutama karena penyakit ini dapat membawa dampak yang menghancurkan, bukan hanya terhadap kesehatan masyarakat namun juga terhadap negara secara keseluruhan.

Memastikan kelestarian lingkungan

Tujuan MDGs ketujuh adalah untuk menghalangi kerusakan ini. Pertama, tujuan ini menelaah seberapa besar wilayah kita yang tertutup oleh pohon. Ini penting bagi Indonesia karena kita memiliki sejumlah hutan yang paling kaya dan paling beragam di dunia

Tiga Target MDG Indonesia Sulit Dicapai 2015

Tiga target Tujuan Pembangunan Milenium sulit dicapai oleh Indonesia, yaitu menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan penyebaran virus HIV/AIDS, serta akses air bersih dan sanitasi dasar.

 Cetak  Komentar  Teruskan:
Cetak
Komentar
Teruskan:

Gambar ultrasound saat pemeriksaan kehamilan di sebuah rumah sakit bersalin (Foto: dok). Angka kematian ibu saat melahirkan masih tinggi di Indonesia.

Memastikan kelestarian lingkungan Tujuan MDGs ketujuh adalah untuk menghalangi kerusakan ini. Pertama, tujuan ini menelaah seberapa

Berita Terkait

UKURAN HURUF

Fathiyah Wardah

15.02.2013

JAKARTA Asisten Utusan Khusus Presiden Indonesia untuk tujuan pembangunan milenium (MDG), Diah Saminarsih, kepada VOA, Jumat (15/2), mengatakan ada tiga target tujuan pembangunan millennium yang sangat sulit dicapai pada tahun 2015, yaitu menurunkan angka kematian ibu melahirkan, menurunkan penyebaran virus HIV/AIDS serta mengakses air bersih dan sanitasi dasar.

Hal tersebut, kata Diah, disebabkan oleh banyak faktor diantaranya pembangunan yang belum merata sehingga infrastruktur maupun layanan kesehatan antara satu provinsi dengan provinsi lainnya berbeda.

Terkadang, lanjut Diah, satu daerah hanya memiliki satu puskesmas dan itu jaraknya sangat jauh serta dengan kondisi jalan yang tidak baik. Selain itu pendidikan masyarakat untuk bisa hidup sehat juga masih sangat kurang, ujarnya.

Ia juga menjelaskan angka kematian ibu melahirkan selalu tinggi setiap tahunnya. Masih kurangnya tenaga kesehatan di daerah terutama daerah terpencil di Indonesia, lanjut Diah, juga merupakan salah satu penyebab masih tingginya angka kematian ibu melahirkan. Kebanyakan dari mereka yang hidup di daerah terpencil masih percaya dukun beranak, ujarnya.

Diah juga menyayangkan tidak lagi berjalannya program Keluarga Berencana (KB) saat ini.

“Pengendalian penduduk itu menjadi salah satu penyebab utama kenapa angka kematian

ibu terus bertambah karena dengan tidak adanya KB ini sekarang, itu menyebabkan akses terhadap kontrasepsi juga menurun. Itu membuat faktor resiko ibu kematian ibu saat melahirkan meningkat. Makin sering dia hamil dan melahirkan, faktor resiko dia bertambah

terus,” ujarnya.

Untuk mencapai tujuan MDG mengenai kesehatan ibu, Indonesia harus menurunkan angka kematian ibu saat melahirkan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada 2015, dari

angka saat ini yaitu 228 per 100.000 kelahiran.

Pencapaian target MDGs terkait HIV AIDS kata Diah juga sulit dicapai oleh Indonesia pada tahun 2015 karena dalam lima tahun terakhir jumlah penderita HIV AIDS di Indonesia terus bertambah.

Saat ini ada sedikitnya 6.300 kasus AIDS dan 20.000 kasus HIV sejak 1987, menurut data Kementerian Kesehatan. Angka-angka ini menurut para ahli merupakan puncak gunung es karena jumlah sebenarnya diyakini lebih besar dari itu.

Meskipun pemerintah, kata Diah, menyakini ketiga taget MDGS itu tidak akan tecapai pada 2015, tetapi pihaknya terus berupaya dan bekerjasama dengan sejumlah kementerian agar penurunan bisa dicapai meski melebihi tahun 2015.

“Kalau dari kantor kita saja, kita memilih intervensi kesehatan primer jadi kita memperkuat

level puskesmas baik dari sisi sumber daya maupun alat kesehatan dasar yang harus ada

di Puskesmas, kita berusaha untuk itu,” ujarnya.

“Kita merekrut dan mengirim tim profesional kesehatan dari dokter, bidan, perawat dengan

pemerhati kesehatan untuk memperkuat sistem kesehatan primer. Jadi dari level masyarakat edukasi mengenai kesehatan masyarakat dikuatkan dulu. Sedangkan Kementerian Kesehatan juga banyak, dia ada perbaikan nutrisi, Jamkesmas, Jampersal. Sedangkan Cipta Karya kementerian Pekerjaan Umum, dia juga buat untuk air.”

Sehubungan dengan tingginya angka kematian ibu melahirkan, Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia Dian Kartika Sari mengusulkan agar pemerintah memberikan beasiswa sekolah bidan untuk perempuan di desa.

“Biasanya bidan yang ditempatkan di daerah itu ada banyak masalah, mereka harus

menyesuaikan diri, mereka tidak kerasan lalu pulang. Tetapi kalau anak-anak di daerah itu setelah tamat SMA kemudian mereka mendapatkan beasiswa untuk menjadi bidan,

sehingga setiap desa ada bidan, saya kira juga itu akan menolong mengurangi angka

kematian ibu melahirkan,” ujarnya.