Anda di halaman 1dari 12

A.

DEFINISI Thyphoid adalah infeksi akut yang menyerang manusia khususnya pada saluran cerna yaitu pada usus halus yang disebabkan oleh kuman Salmonella thypi yang masuk melalui makanan dan minuman yang tercemar (Ngastiah, 2005). B. ETIOLOGI Mansjoer (2000) menjelaskan bahwa etiologi demam typhoid adalah salmonella typhi. Sifat-sifat salmonella typhi antara lain: Organisme yang berasal dari genus Salmonella adalah agen penyebab bermacam-macam infeksi mulai dari gastroenteritis yang ringan sampai dengan demam tifoid yang berat disertai bakteriemia. Kuman Salmonella ini berbentuk batang, tidak berspora, pada pewarnaan gram bersifat negatif, ukuran 1-3.5 um x 0.5-0.8 um, besar koloni rata-rata 2-4 mm. Kuman ini tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob, pada suhu 15-41C dan pH pertumbuhan 6-8. Bakteri ini mudah tumbuh pada pembenihan biasa, tetapi hampir tidak pernah meragikan laktosa dan sukrosa. Salmonella resisten terhadap zat-zat kimia tertentu yang menghambat bakteri enterik lainnya. Kuman mati pada suhu 56C juga pada keadaan kering. Dalam air bisa tahan selama 4 minggu.

C. PATOFISIOLOGI Salmonella typhi Masuk melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi Menuju saluran cerna Sebagian dimusnahkan oleh asam lambung peningkatan asam lambung sebagian masuk ke usus halus mencapai jaringan limfoid plak peyeri di ileum terminalis yang hipertrofi mual, muntah sebagian hidup dan menetap intake inadekuat ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh kembung, perut tegang nyeri tekan nyeri masuk aliran darah melalui duktus torasikus masuk ke dalam hati melalui sirkulasi portal dari usus perdarahan perforasi intestinal sebagian menembus lamina propia masuk aliran limfe mencapai kelenjar limfe mesenterial

S. typhi bersarang di plak peyeri, limpa, hati Dilepaskan endotoksin S. typhi Endotoksin merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen dan leukosit pada jaringan yang meradang Menyebabkan proses inflamasi lokal pada jaringan Demam Hipertermi

(Mansjoer, 2000) D. MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinis pada demam typhoid meliputi (Corwin, 2000): Pada minggu pertama: Demam Nyeri kepala Pusing

Nyeri otot Anoreksia Mual dan muntah Obstipasi atau diare Perasaan tidak enak di perut Epistaksis Pada minggu kedua: Demam Bradikardi Lidah tifoid (kotor di tengah, tepi, ujung merah) Hepatomegali Splenomegali E. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada typhoid menurut Wong (2003) antara lain: Pemeriksaan Leukosit Pada kebanyakan kasus typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tetapi berada dalam batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. Pemeriksaan SGOT dan SGPT Sering kali meningkat tetapi kembali normal setelah sembuhnya typhoid. Kenaikan Darah Gerakan darah (+) memastikan typhoid tetapi biakan (-) tidak menyingkirkan typhoid. Hal ini karena hasil biakan darah bergantung pada beberapa faktor, yaitu : a. b. c. d. Tekhnik pemeriksaan laboratorium. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit Laksinasi di masa lampau. Pengobatan dengan obat anti mikroba.

Uji Widal

Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu : a. b. c. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman). Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman). Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman) Kriteria diagnosis yang biasa digunakan adalah a. Biakan darah positif memastikan demam tifoid, tetapi biakan darah negatif tidak menyingkirkan demam tifoid. b. Biakan tinja positif menyokong diagnosis klinis demam tifoid. c. Peningkatan titer uji widal 4 kali lipat selama 23 minggu memastikan diagnosis demam tifoid. d. Reaksi widal tunggal dengan titer antibodi Antigen O 1: 320 atau titer antigen H 1: 640 menyokong diagnosis demam tifoid pada pasien dengan gambaran klinis yang khas. e. Pada beberapa pasien, uji widal tetap negatif pada pemeriksaan ulang walaupun biakan darah positif. F. KOMPLIKASI Komplikasi yang dapat terjadi pada typhoid terbagi menjadi (Mansjoer, 2000): a. Komplikasi intestinal Perdarahan usus Jika pedarahan banyak terjadi melena dapat disertai nyeri perut dengan tanda-tanda renjatan.

Perforasi usus Timbul biasanya pada minggu ketiga dan terjadi pada bagian distal ileum. Perforasi tidak disertai peritonitis hanya ditemukan bila terdapat udara dirongga peritoneum yaitu pekak hati menghilang dan terdapat udara diantara hati dan diafragma pada fotorontgen abdomen Ilius paralitik b. Komplikasi extra intestinal Komplikasi kardiovaskuler: kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis, tromboplebitis. Miokarditis sering terjadi pada anak umur 7 tahun keatas serta sering pada minggu kedua dan ketiga. Gambaran EKG antara lain: sinus takikardi, depresi segmen ST, perubahan gelombang I, AV blok tingkat I, aritmia, supra ventikular takikardi. Komplikasi darah: anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia hemolitik. Komplikasi paru: pneumonia, empiema, dan pleuritis. Pada sebagian besar terdapat batuk, bersifat ringan dan disebabkan oleh bronchitis, pneumonic bisa merupakan infeksi sekunder dan timbul pada awal sakit atau fase lanjut. Komplikasi lain adalah abses paru dan empiema Komplikasi kolesistitis. Bisa terjadi pada minggu kedua dengan gejala dan tanda klinis yang tidak khas, bila terjadi kolesistitis maka cenderung carier. Komplikasi perinepritis. Komplikasi pada tulang: osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis. Komplikasi neuropsikiatrik: delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis perifer, sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia. ginjal: glomerulus nefritis, pyelonepritis dan pada hepar dan kandung empedu: hepatitis,

G. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan pada tyroid menurut Soedarto (2007) antara lain: Pemberian antibiotik untuk menghentikan dan memusnahkan penyebaran Salmonella typhi. Antibiotic yang digunakan: a. Kloramfenikol: dosis pertama 4x250 mg, hari kedua 4x500 mg, diberikan selama demam b. Ampisilin/amoxicillin: dosis 50-150 mg/kg BB c. Kotrimoksazol: 2x2 tablet (1 tablet mengandung 400 mg sulfametoksazol-80 mg trimetoprim) d. Sefalospori Istirahat bertujuan untuk menghindari komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Pasien harus tirah baring minimal 7 hari bebas demam. Dalam perawatan perlu dijaga personal hygiene, kebersihan tempat tidur, pakaian dan peralatan yang digunakan oleh pasien. Pasien dengan kesadaran menurun, posisi perlu diubah untuk mencegah dekubitus dan pneumonia hipostatik. Diet dan terapi penunjang a. Makanan yang dikonsumsi adalah makanan lunak dan tidak banyak berserat. b. Pasien diberi diet bubur saring, kemudian bubur kasar, dan akhirnya nasi sesuai tingkat kesembuhan pasien. c. Memberikan vitamin dan mineral yang cukup untuk mendukung keadaan umum pasien H. MASALAH KEPERAWATAN I. Hipertermi Nyeri Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh

DIAGNOSA KEPERAWATAN Hipertermi b.d penyakit Nyeri b.d agen cedera

Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan mencerna makanan

J. INTERVENSI Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 4x24 jam, demam teratasi Kriteria hasil: Suhu, nadi dan pernafasan dalam batas normal Tidak demam

INTERVENSI INTERVENSI Mandiri Identifikasi penyebab demam nilai respon neurologis, tingkat kesadaran, orientasi, reaksi terhadap rangsangan, reaksi pupil pantau TD, nadi, irama jantung (takikardi, disritmia) catat ada tudaknya keringat RASIONAL untuk menentukan tindakan selanjutnya demam tinggi dapat menunjukkan keadaan septic efek langsung dari hipertermia yaitu pada darah dan jantung tubuh berusaha untuk meningkatkan kehilangan panas oleh penguapan, konduksi, dan berikan penggantian cairan IV pertahankan untuk bedrest sediakan nutrisi tinggi kalori, nutrisi parenteral tinjau tanda hipertermia seperti kulit memerah, peningkatan suhu tubuh, peningkatan pernapasan, penuruna kesadaran, dan denyut jantung kolaborasi berikan obat antipiretik sesuai indikasi berikan obat antibiotik difusi untuk menggantikan cairan yang hilang melalui keringat untuk mengurangi kebutuhan metabolisme dan konsumsi oksigen untuk memenuhi metabolisme yang meningkat untuk mengevaluasi tindakan selanjutnya

untuk menghilangkan demam untuk mengatasi infeksi

Diagnosa keperawatan: Nyeri b.d agen cedera Kriteria hasil: Tidak nyeri Pasien tenang TD, nadi, suhu, RR dalam batas normal

INTERVENSI INTERVENSI Mandiri identifikasi nyeri: lokasi. Karakteistik, onset, duasi, frekuensi, kualitas, dan kuantitas gunakan skala nyeri (0-10) RASIONAL untuk mengidentifikasi faktor yang mempercepat atau meringankan gejala penilaian skala nyeri dapat menilai kemampuan klien dalam amati isyarat non verbal seperti klien berjalan. Memegang tubuh, menjaga perilaku, sulit tidur, menangis, ekspresi wajah meringis pantau TD, nadi. RR, suhu berkomunikasi mengindikasikan rasa sakit pada orang yang tidak dapat berkomunikasi secara verbal tanda-tanda vital berubah jika ada

nyeri gunakan boneka untuk memberikan untuk meningkatkan pemahaman penjelasan dan pengajaran pada anak mengenai prosedur tindakan berikan manajemen terapi nyeri nonfarmakologis seperti memberikan kompres dingin, latihan relaksasi kolaborasi berikan obat analgesic sesuai indikasi Diagnosa keperawatan: Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan mencerna makanan dan mengurangi tingkat kecemasan dan ketakutan untuk mengurangi rasa nyeri, ketegangan otot, dan stress akibat penyakit

untuk mengurangi rasa nyeri

Kriteria hasil: Tidak terdapat tanda malnutrisi Berat badan naik Terdapat tanda nafsu makan meningkat

INTERVENSI INTERVENSI Mandiri kaji pola makan klien RASIONAL mengidentifikasi pola makan yang harus diperbaiki dan memberikan kaji pengobatan, catat efek samping obat, alergi intervensi diet pada klien identifikasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi nafsu makan, asupan makanan, dan proses observasi karakter usus seperti bising usus, hipermotalitas, muntah absorpsi untuk mengetahui kesiapan usus seperti hipermotalitas menyertai muntah, diare, sementara tidak adanya bising usus ukur berat badan saat ini sesuai dengan usia tahap perkembangannya meningkatkan nutrisi dengan makanan yang disukai klien sesuai dengan kebutuhan klien ajurkan untuk memberikan cairan yang cukup dan tepat waktu berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan hindari makanan yang dapat menyebabkan alergi atau meningkatkan motilitas lambung hindari makanan yang dapat merangsang mual kolaborasi cairan sangat penting untuk proses pencernaan mengurangi ketidaknyamanan yang berhubungan dengan mual, muntah, kekeringan mukosa untuk mengurangi ketidaknyaman klien saat makan mencegah efek menurunnya nafsu makan mengindikasikan obstruksi usus untuk mengetahui adanya anoreksia, penurunan berat badan sehingga dapat menentukan intervensi selanjutnya untuk meningkatkan intake

pantau hasil laboratorium seperti serum albumin, BUN, glukosa, fungsi hati, elektrolit pantau hasil pemeriksaan doagnostik seperti pemeriksaan tinja, GI, pemindaian refluks lambung kolaborasi dengan ahli gizi

untuk menentukan tingkat defisit gizi dan efek kebutuhan diet untuk mengidentifikasi penyebab timbulnya gejala

untuk memenuhi asupan nutrisi yang dibutuhkan klien

K. REFERENSI Doenges, Marilynn. E. 2010. Nursing Diagnosis Manual: Planning, Individualizing, and Documenting Client Care. Philadelphia: F.A Davis Company. Herdman, Heather. 2010. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. Jakarta: EGC Corwin, Elizabeth J. 2000. Patofisiologi: Buku Saku. Jakarta: EGC. Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius. Ngastiah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC. Soedarto. 2007. Sinopsis Kedokteran Tropis. Surabaya: Airlangga Universitas Press.

Wong, D. L. 2003. Pedoman Klinis Perawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.