Anda di halaman 1dari 42

FONOLOGI

FONEM BUNYI UJARAN YG DAPAT MEMBEDAKAN ARTII

FONETIK FONEMIK

ALAT UCAP

PITA SUARA

VOKAL

DIFTONG

KONSONAN

PERUBAHAN FONEM

INTONASI

EJAAN

FONOLOGI 1. Fonem : bunyi-ujaran dalam suatu bahasa mempunyai fungsi untuk membedakan arti. Apabila itu sudah bisa membedakan arti makna itu. 2. Fonetik : ilmu yang menyelidiki dan menghanalisis bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur, serta mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia; Fonemik: ilmu yang mempelajari bunyi-ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti. 3. Alat-ucap, ada tiga macam alat-ucap yang perlu untuk menghasilkan suatu bunyi-ujaran, yaitu:

a. Udara
b. Artikulator

: yang dialirkan keluar dari paru-paru.


: bagian dari alat ucap yang dapat digerakkan atau digeserkan untuk menimbulkan suatu bunyi

c. Titik artikulasi : ialah bagian dari alat ucap yang menjadi tujuan sentuh dari artikulasi 4. Pita Suara : dua buah pita yang elastis yang terdapat di ujung atas dari larink.

5. Vokal : suatu bunyi ujaran, udara yang keluar dari paru-paru yang tidak mendapat halangan sedikit juga,
6. Diftong : dua vokal berturutan yang diucapkan dalam satu kesatuan waktu. 7. Konsonan : suatu bunyi ujaran, udara yang keluar dari paru-paru mendapat halangan 8. Perubahan fonem 9. Intonasi: kerja sama antara nada, tekanan, durasi, dan perhentian-perhentian yang menyertai suatu tutur, dari awal hingga ke perhentian terakhir. 10.Ejaan : Keseluruhan peraturan bagaimana menggambarkan lambang-lambang bunyi-uajaran dan bagaimana inter-relasi antar lambang-lambang itu (pemisahannya, penggabungannya) dalam suatu bahasa.

Benda/Nomina Kerja/Verba Sifat/Adjectiva Ganti/Pronomina


MORFEM BEBAS Kata Dasar

Bikangan/Numeralia

Keterangan/Adverbia
Sambung/Coniunctio
Prefiks

Depan/Praepositio Sandang/Articula

MORFOLOGI
Infiks MORFEM TERIKAT Afiks Sufiks

Seru/Interjectio

Morfologi: ilmu pelajaran tatabahasa yang membicarakan bentuk kata. Morfem: kesatuan yang ikut serta dalam pembentukan kata dan yang dapat membedakan artinya.

Kombinasi Afiks

Konfiks

K. DASAR

K. BERIMBUHAN

BENTUK KATA
K. MAJEMUK

K. ULANG

FRASE

SEMANTIK dan ETIMOLOGI

Semantik: ilmu yang mempelajari dan menganalisis makna atau arti kata
Etimologi: cabang ilmu bahasa yang mempelajari dan menyelidiki asal usul kata serta proses perubahannya dalam bentuk dan makna. Kata dan istilah serapan bahasa asing: Adopsi (fundamental), adaptasi (mathematic / matematika), penerjemahan (tumpang-tindih / overlap), dan cara kreasi (berhasil guna / effektive).

Untuk mempelajari Semantik, coba Anda perhatikan dan bacalah kalimat berikut ini:
1. Mereka belajar bahasa Arab. 2. Jangan marah, anak itu memang tidak tahu bahasa. 3. Katakanlah dengan bahasa bunga! 4. Bahasa Sutan Takdir Alisjahbana tidak sama dengan bahasa Idrus. 5. Kiranya antara sesama pemimpin itu tidak ada kesatuan bahasa. 6. Sang Raja tidak tahu bahasa Sang Permaisuri lah tiada.

Kiranya dari keenam contoh itu Anda dapat melihat bahwa kata bahasa memiliki banyak arti dan makna bahasa yang ada pada nomor (3) bahasa bunga bukanlah bahasa seperti yang dimaksud pada nomor (1) bahasa Arab. Coba Anda simak apa arti kata bahasa pada nomor (2), (4), (5), dan (6).

K SIFAT K.KERJA K.KETERANGAN K.BENDA K.SANDANG K.DEPAN K.PENGHUBUNG K.BILANGAN K.SERU

JENIS KATA
K.GANTI

ANTAR KATA

KORELATIF:
ANTARKATA/FRASE/KLAUSA

KATA PENGHUBUNG

INTRA/ANTARKALIMAT

ANTAR KALIMAT

ANTARPARAGRAF

ANTARPARAGRAF

KATA PENGHUBUNG
No
1 2

Jenis
Penjumlahan Perlawanan

Fungsi
Menyatakan a. Akibat, b. Urutan waktu, c. Pertentangan, d. Perluasan a. Penguatan, b. implikasi, c. perluasan Menyatakan pilihan a. Waktu permulaan b. Bersamaan c. Waktuberurutan d. Batas akhir Persyaratan Suatu tujuan Sesuatu yang Menyatan perbandingan/pemikiran Sebab/alasan terjadinya sesuatu Akibat terjadinya sesuatu Cara pelaksanaan Menyatakan hal Keadaan yang sebenarnya Hasil dari suatu perbuatan/keadaan Suatu penjelasan pada klausa pertama a. Sebagai pewatas b. Hubungan pemilikan Dan, serta, kemudian

Contoh

Tidak,bukan saja, tetpi, melainkan, tidak hanya Atau Sejak, sedari, takkala, ketika, sambil, selagi, sehabis, setelah, sebelum, sesuai, sampai hingga Jika, jiakalau, kalau Agar, supaya, biar Walaupun, biarpun, kendatipun Ibarat, seperti Sebab, karena, oleh karena Maka, sehingga, sampai-sampai Dengan Seakan-akan, seolah-olah, padahal Melainkan Makanya Bahwa Yang, yang...-nya

3
4 5 6 7 8 9 10 11

Pemilihan
Waktu Syarat Tujuan Konsesif Perbandingan Penyebaban Akibat Cara

12
13 14 15 16

Sangkalan
Kenyataan Hasil Penjelasan Atributif

GABUNGAN KATA

K. DASAR

K. GANTI

PENULISAN KATA

K.TURUNAN

K. DEPAN

K. Si dan Sang

BENTUK K.ULANG PARTIKEL

KATA DASAR

BERIMBUHAN

KATA ULANG

BERUBAH BUNYI/SALIN SUARA

SEBAGIAN

SEMU

KATA MEJEMUK

CIRI-CIRI

MACAM-MACAM SAMA JENIS KATA PEMBENTUKNYA BERBEDA JENIS KATA PEMBENTUKNYA D-M BERTINGKAT M-D SETARA

MENGANDUNG SATU MAKNA


MENDAPAT KETERANGAN MENJELASKAN KESELURUHAN

MENDAPAT IMBUHAN ATAUPUN PENGULANGAN TIDAK DAPAT DIPISAHKAN DENGAN KATA LAIN

JADIAN

KATA BAKU & TIDAK BAKU

FUNGSI

CIRI-CIRI
MENGHINDARI B. DAERAH
PEMBERI KEKHASAN MENGHINDARI B. ASING BUKAN B.PERCAKAPAN EKSPLESIT

PEMERSATU

KONTEKS KALIMAT
TIDAK RANCU

PEMBAWA KEWIBAWAAN

KERANGKA ACUAN

PLEONASME
HIPERKOREK

KATA KAJIAN / POPULER


argumen karakter pendapat perangai

KATA BAKU / TIDAK BAKU


abjad biodata abjat bio data

BERDASARKAN MAKSUD DAN KARAKTERNYA YANG MENJADIKAN PERUBAHAN MAKNA KATA


MENDAPAT PENGIMBUHAN, PENGULANGAN/PEMAJEMUKAN PENEMPATANNYA DALAM KALIMAT KONDISI (WAKTU DAN TEMPAT) PEMAKAIANNYA

Betul-betul rajin kamu ini, sampai nilai merahnya saja ada tiga. (kontektual) JENIS-JENIS MAKNA KATA

MAKNA LEKSIKAL
Belum mengalami perubahan

MAKNA DENOTASI
Konseptual, lugas, objektif

MAKNA GRAMATIKAL
Imbuhan, pengulangan, majemuk

MAKNA KONTEKSTUAL

Terkandung situasi dan kondisi


MAKNA KONOTASI BAIK istri, hamil BURUK bini, bunting

MAKNA STRUKTURAL
Sesuai kalimat

MAKNA KONOTASI (makna kias) besi, hitam, binatang

PERTALIAN MAKNA KATA YANG BERDASARKAN PENGUCAPAN DAN PENULISANNYA

PENENTUAN KATA Sinonim

Pengucapan berbeda

Penulisan berbeda sama

Makna

Antonim
Homonin Homograf Pomofon Polisemi Hiponim Superordinat Kohiponemik Generalisasi

berbeda
sama berbeda sama sama

berbeda
sama sama berbeda sama

pertentangan
berbeda berbeda berbeda beragam

Kata yang maknanya terangkum dalam makna yang lebih luas bunga mawar, melati, dll. Bapak bahasa fonologi, morfologi, dll. Ayah Atas / luas / umum Bawah / sempit / khusus Setiap laki-laki dewasa/ Tuan

BENTUK-BENTUK PERUBAHAN MAKNA

Perluasan Bapak, saudara, putra, putri

Penyempitan Sarjana, pendeta Peyorasi Perempuan, bini Asosiasi Amplop, catut Apelativa

Ameliorasi

Wanita, istri
Sinestesia Pedas, sedap

Onomatope, tiruan bunyi (tokek,cecak) Perbuatan: kuli tinta (wartawan)

Tempat: dodol garut Bahan: kain sutera, karung goni

Penemu: ikan mujair, lompu philips)

Sifat menonjol: si hitam

PENGATURAN KATA
KATA MEJEMUK

MORFOLOGI

BENTUK KATA
JENIS KATA

KATA BAKU & TIDAK BAKU

PERUBAHAN MAKNA KATA

KATA PENGHUBUNG
PENENTUAN KATA PENULISAN KATA KATA ULANG

BENTUK-BENTUK PERUBAHAN MAKNA

SINTAKSIS

Pengertian sintaksis adalah bagian dari tatabahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa Selain itu, sintaksis adalah ilmu bahasa yang mempelajari frase, klausa, dan kalimat (subjek, predikat, objek, pelengkap, keterangan)

KALIMAT
- Satuan kumpulan kata yang terkecil yang mengandung pikiran yg lengkap;

- Satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri dan disertai dengan intonasi final.

CIRI-CIRI KALIMAT

Terdiri satu kata atau lebih

Mengandung klausa atau tidak

Pemakaian intonasi final dengan tanda: !, ?, atau .

Berdasarkan pembatasannya kalimat adalah bagian ajuran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap.

Unsur-unsur kalimat

a. Bentuk ekspresi (unsur-unsur segmental): kata, frasa, klausa, atau gabungannya.

b. Intonasi: meliputi bidang suprasegmentalnya bahasa atau disebut juga ciri-ciri prosodi (syair/mantra)

c. Situasi yang dimasukinya, yaitu suasana yang menimbulkan tutur itu timbul, atau merangsang (stimulus) terjadinya proses ujaran itu. Situasi akan menentukan pilihan kata, dan intonasi mana yang dapat dipakai. d. Makna atau arti yang didukungnya

Klausa seperti adik makan nasi dapat diubah menjadi macam-macam kalimat bergantung dari intonasinya:

Adik makan nasi. Adik makan nasi? Adik, makan nasi!

Kalimat berita biasa Kalimat tanya Kalimat perintah

Adik makan nasi.

Kalimat pementing (empasis) dengan menempatkan tekanan keras entah pada adik, makan, atau nasi.

Jadi, unsur subjek, predikat dan fungsi-fungsi lain seperti objek, pelengkap, dan keterangan-keterangan bukan menji ukuran sebuak kalimat, tetapi ukuran sebuah klausa, sebaliknya, ukuran atau ciri utama sebuah kalimat adalah intonasi.

Kalimat dapat dibedakan berdasarkan bermacam-macam hal berikut:


a. Berdasarkan jumlah inti yang membentuk suatu kalimat, dapat dibedakan: 1. Kalimat minor, 2. Kalimat mayor c. Berdasarkan pola-pola dasar yang dimiliki sebuah kalimat, dibedakan: 1. Kalimat inti, 2. Kalimat luas 3. Kalimat transpormasi e. Berdasarkan urutan katanya. Kalimat dapat dibedakan: 1. Kalimat normal, 2. Kalimat inversi g. Berdasarkan tujuan atau sasaran yang akan dicapai, kita dapat membedakan kalimat atas: a) K. Berita, b) K. Tanya, c) K. Perintah, d) K. Harapan, e) K. Pengandaian h. Berdasarkan cara penyampaiannya, diibedakan: 1. K. Langsung, 2. K. Tak Langsung b. Berdasarkan kontur yang ada pada sebuah kalimat, dapat dibedakan: 1. Kalimat minim, 2. Kalimat panjang e. Berdasarkan ragam (diatesis) kalimat, dapat dibeedakan: 1. Kalimat aktif, 2. Kalimat pasif f. Berdasarkan jumlah pola dan hubungan antarpola dalam sebuah kalimat, berbeda: 1. Kalimat tunggal, 2. Kalimat majemuk: a) M. setara b) M. bertingkat c) M. campuran (Kompleks) i. Berdasarkan jenis predikatnya, dapat dibedakan: 1. K. Verbal, 2. K. Atributif, 3. K. Nominal, 4. K. Ekuasional, 5. K. Adverbial. j. Kalimat Verbal berdasarkan pungsinya, dapat dibedakan: 1. K. Transitif, 2. K. Intransitif

PENEGASAN DALAM KALIMAT Penegasan dengan Intonasi Penegasan dengan Partikel

Penegasan Kata Keterangan

Penegasan Kontras Makna

Penegasan dengan Pemindahan Unsur

Penegasan dengan Bentuk Pasif

Pemindahan Predikat

Pemindahan Objek

Pemindahan Keterangan

PENGHUBUNGAN KALIMAT DENGAN KALIMAT Dengan Kata Penghubung Dengan Penunjukan

Dengan Elipsis

Dengan Padanan Kata

Dengan Kesejajaran (Paralelisme)

Dengan Lawan Kata

Dengan Hponimi

Dengan Kesamaan Tema

LOGIKA DALAM KALIMAT

Kesimpulan Umum

Persamaan (Aalogi)

Kesimpulan Khusus

Alasan (Argumentasi)

FRASE atau Kelompok Kata


- Adalah gabungan dua buah kata atau lebih yang tidak membentuk arti baru. - Satuan gramatikal yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi.

Ciri-ciri Frase: 1. Tidak membentuk makna baru JENIS-JENIS FRASE F. Setara/Koordinatif


a. Dapat dihubungkan dengan tabung: dan, atau b. Masing-masing unsurnya berupa pokok kata: contoh: ayah ibu, siang malam

2. Dapat disisipi kata lain

F. Bertingkat/Subordinatif
a. dihubungkan dengan tabung: dan, atau b. Salah satu unsurnya merupakan komponen pokok atau seluruh unsurnya satu kesatuan pokok kata

F. Apositif
Alam, putri kami yang lucu itu sedang bermain kuda-kudaan.

F. Endosentris
sedang mencuci

F. Eksosentris
dari rumah

F. Idiomatik/majemuk
cuci tangan rumah sakit

F. Ambigu
Perancang busana wanita

Contoh kalimat ambigu: Kucing / makan tikus mati. Kucing makan / tikus mati. Kucing makan tikus / mati. Contoh kelompok kata (frase) ambigu:

Perancang / busana wanita


Perancang busana / wanita

KLASIFIKASI FRASE
Penyusunan frase berdasarkan jenis kata yang menjadi pembagi inti pembentuknya: 1. Frase Verbal: frase yang intinya berupa kata kerja. (berjalan cepat) 2. Frase Adjektival: frase yang intinya berupa kata sifat. (merdu sekali) 3. Frase Nominal: frase yang intinya berupa kata benda. (banyak rumah) 4. Frase Pronominal: frase yang intinya berupa kata ganti. (kamu sekalian)

5. Frase Adverbial: frase yang intinya berupa kata keterangan. (lebih kurang)
6. Frase Numeralia: frase yang intinya berupa kata bilangan. (tiga belas) 7. Frase Introgativa: frase yang intinya berupa kata tanya. (apa dan siapa) 8. Frase Preposisional: frase yang intinya berupa kata depan. (bagi dia)

KLAUSA Klausa adalah kelompok kata yang sudah memiliki subjek dan predikat, tetapi belum berintonasi akhir karena kedudukannya bagian dari suatu kalimat

1. Klausa Atasan: klausa yang bisa berdiri sendiri sebagai kalimat dan isinya sudah dapat kita pahami. (Klausa Utama/pokok, atau induk kalimat) 2. Klausa Bawahan: klausa yang belum lengkap isinya sehingga klausa itu tidak dapat berdiri sendiri. Dalam kalimat majemuk bertingkat dan K.M. Campuran, klausa ini berkedudukan sebagai perluasan dari salah satu fungsi kalimat itu, mungkin berupa subjek, objek, pelengkap, atau keterangan. (anak kalimat, keterangan)

INTONASI KALIMAT

Pola perubahan yang dihasilkan pembicara pada waktu mengucapkan ujaran atau bagian-bagiannya

FUNGSI INTONASI

a. Menandai batas-batas satuan kalimat b. Menandai makna kalimat

c. Membedakan bagian-bagian kalimat d. Membedakan kalimat dengan yang bukan kalimat

Pengertian kalimat: arus ujaran yang berisikan kata atau kumpulan kata yang memiliki pesan atau tujuan dan diakhiri dengan intonasi final.

Pengaturan kalimat:
1. 2. Pola Kalimat atau fungsi kalimat S, P, O, Pel. dan K. Inti kalimat: bagian pokok kalimat. Inti dari frasa sebagai pola kalimat.

Jenis kalimat : 1. 2. Berdasarkan jenis prediketnya Berdasarkan susunan atau letak predikatnya

3.

Berdasarkan kelengkapan unsur atau jumlah usurnya.

JENIS-JENIS KALIMAT

3. K. TANYA 1. K. BERITA
1. KB. Kepastian 2. KB.Pengingkaran 3. KB. Kesangsian 4. KB. Bentuk lainnya

4. K. SAPAAN 2. K. PERINTAH

5. K. SERU

K. PERINTAH

Jenis pola

Jenis tujuan

K, Taktransitif

K. Ajakan
Permintaan/ ajakan

K. Transitif

K, Nada Halus Tolong, Mohon, Persilahkan

K. Bentu Pasif

K. Larangan Jangan, janganlah

MACAM-MACAM KALIMAT K. SEDERHANA K. MINOR K. MAYOR K. LUAS

K. LANGSUNG
K. TIDAK LANGSUNG

K. TUNGGAL K. SAPAAN

K. MAJEMUK
K. AMBIGU K. SETARA K. RAPATAN K. BERTINGKAT K. CAMPURAN Di dalamnya ada istilah: Eksplisit: jelas, tegas, ada kata penghubung: Ketika hujan deras, saya tiba di kantor. . Implisit : terkandung halus, tidak jelas, ancaman yang terselubung, tidak ada kata penghubung: Hujan deras, saya tiba di kantor.

Penyampaian Kalimat

Kalimat Langsung: - Kalimat Tanya - Kalimat Brerita - Kalimat Perintah

Kalimat tak langsung:


Kalimat Berita

1. Kata ganti orang pada bagian kalimat yang dikutip tidak mengalami perubahan
2. tetap, tidak berkata tugas

1.

Kata ganti orang pada bagian kalimat yang dikutip mengalami perubahan
Berkata tugas, seperti bahwa, sebab, untuk, supaya, dsb. Hanya berbentuk berita

2.

3. Kalimat yang diberi tanda petik bisa berbentuk kalimat berita, tanya, atau perintah

3.

Teknik Kalimat

Kalimat Aktif

Kalimat Pasif

Transitif

Intransitif

KALIMAT EFEKTIF

Kesatuan Gagasan

Kesejajaran

Penekanan

Kelogisan

Kahematan

Kalimat Efektif Kalimat yang dapat memenuhi syarat berikut: 1. secara tepat mewakili gagasan pembicara/penulisnya; 2. menimbulkan gagasan yang sama tepatnya antara pikiran pendengar/pembaca dengan pikiran pembicara/penulis.

Kesatuan gagasan

Kehematan

Kesejajaran

Kelogisan

Penekanan

FUNGSI KETERANGAN

BERSIFAT MANA SUKA

LETAKNYA BEBAS

UMUMNYA DIDAHULUI KATA DEPAN

MORFOLOGI
Benda
Prefiks

Kerja Sifat
Bebas Kata Dasar Infiks Afiks Sufiks Kombinasi Afiks Konfiks

Ganti Bikangan Keterangan

Morfem

Sambung Depan Sandang Seru


Partikel: -lah, -tah, -pun, -kah, per Klitika Enklitika: ku, mu, nya

Proklitika: kau, ku

Morfologi Terikat M.Camberry(M.Unik): siur, masai, legam

Monovalen: di, ke, dari Sintaksis Kata Tugas Ambivalen: dalam, lalu, untuk, mengenai

PARAGRAF

A. UNSUR-UNSUR GAGASAN

1. GAGASAN UTAMA IMPLISIT

EKSPLISIT

2. GAGASAN PENJELAS

B. JENIS-JENIS PARAGRAF

1. 2. 3.

DEDUKTIF, INDUKTIF, CAMPURAN.

4. DESKRIPTIF/NARATIF

C. SYARAT-SYARAT PENYUSUNAN PARAGRAF YANG BAIK

1. Kepaduan Makna (Koheren)

2. Kepaduan Bentuk (Kohesip)

D. POLA-POLA PENGEMBANGAN PARAGRAF

1) kemapuan memerinci gagasan utama paragraf ke dalam gagasan penjelas.

2) kemampuan mengurutkan gagasan penjelas ke dalam urutan yang teratur.

1. Paragraf Narasi 2. Paragraf Deskripsi

3. Paragraf Eksposisi 4. Paragraf Argumentasi

Sistematika KTI Bagian Pembuka: - Halaman Judul - Kata Pengantar - Daftar Isi Bab I Pendahuluan: A. Latar Belakang . - Identitas Masalah . - Pembatasan Masalah B. Rumusan Masalah C. Tujuan,Manfaat Penelitian D. Metode Penelitian E. Sumber Data F. Sistematika Pembahasan Bab II Kajian Pustaka: A. Pembahasan Teori B. Pengkajian Hasill Penelitian C. Kerangka Pemikiran Argumentasi Keilmuan D. Pengajuan Hipitesis Bagian Penutup - Daftar Pustaka - Lampiran

Bagian Isi

Bab III Prosedur Penelitian: TTB A. Tujuan Khusus B. Metode dan Rancangan Penelitian C. Populasi dan Sampel D. Instrumen E. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
Bab IV Penelitibandingan: A. Jabaran Variabel Penelitian B. Hasil Penelitian C. Pengujian Hipotesis D. Diskusi Hasil Penelitan Bab V Simpulan dan Saran A. Simpulan B. Saran

Daftar isi

Pemakaian Huruf A. Huruf Abjad B. Huruf Vokal C. Huruf Konsonan D. Huruf Diftong E. Gabungan Huruf Konsonan F. Pemenggalan Kata

Penulisan Kata A. Kata Dasar B. Kata Turunan C. Kata Ulang D. Gabungan Kata E. Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya F. Kata Depan di, ke, dan dari G. Kata si dan sang H. Partikel I. Singkatan dan Akronim J. Angka dan Lambang Bilangan

Penulisan Huruf Serapan Pemakaian Tanda Baca A. Tanda Titik B. Tanda Koma C. Tanda Titik Koma D. Tanda Titik Dua E. Tanda Hubung F. Tanda Pisah G. Tanda Elipsis H. Tanda Tanya I. Tanda Seru J. Tanda Kurung K. Tanda Kurung Siku L. Tanda Petik M. Tanda Petik Tunggal N. Tanda Garis Miring O. Tanda Penyingkat (Apostrof)

Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring

A. Huruf Kapital atau Huruf Besar B. Huruf Miring