Anda di halaman 1dari 3

NAMA

: RIAN DAMAYANTI

NPM : 1081700015 Dosen : dr. Nurbaiti, Sp.PA

1. Hyperplasia : pelipatgandaan abnormal atau peningkatan jumlah sel-sel normal dalam susunan nrmal pada jaringan. 2. Displasia : merujuk pada pembentukan dan perkembangan sel secara tidak beraturan. Sel menyimpang dari normal. Displasia (dari bahasa
Yunani, kira-kira: "buruk pembentukan") adalah istilah yang digunakan dalam patologi untuk merujuk pada suatu kelainan dalam pematangan sel-sel dalam jaringan.. Displasia sering indikasi awal neoplastik proses. Istilah displasia biasanya digunakan ketika kelainan selular terbatas pada jaringan yang berasal, seperti dalam kasus awal, in-situ neoplasma. Sebagai contoh, displasia epitel serviks (cervical intraepithelial neoplasia - kelainan umumnya terdeteksi oleh abnormal pap smear) terdiri dari peningkatan populasi dewasa (basal-seperti) selsel yang terbatas pada permukaan mukosa, dan belum menyerang melalui membran basal ke jaringan lunak yang lebih dalam. myelodysplastic sindrom, atau displasia dari pembentukan sel darah, menunjukkan peningkatan jumlah selsel yang belum matang dalam sumsum tulang, dan penurunan matang, sel-sel fungsional dalam darah. Dysplasia Displasia dicirikan oleh empat besar perubahan mikroskopis patologis: 1. Anisocytosis (ukuran sel-sel yang tidak seimbang) 2. Poikilocytosis (sel berbentuk tidak normal) 3. Hyperchromatism 4. Kehadiran mitosis angka (jumlah yang tidak biasa sel-sel yang saat ini membagi). Displasia, di mana sel dan diferensiasi pematangan ditunda, dapat dibandingkan dengan metaplasia, di mana sel-sel dari satu dewasa, membedakan jenis, yang digantikan oleh sel-sel dewasa lain, tipe dibedakan.

3. metaplasia : konversi tipe sel. Metaplasia (Yunani: "perubahan dalam bentuk") adalah penggantian reversibel satu yang membedakan tipe sel dewasa lain yang membedakan tipe sel. Perubahan dari satu jenis sel yang lain umumnya disebabkan oleh semacam rangsangan abnormal. Secara sederhana, seolah-olah sel-sel asli tidak cukup kuat untuk menahan lingkungan baru, dan sehingga mereka berubah menjadi jenis lain yang lebih cocok dengan lingkungan baru. Jika stimulus yang menyebabkan metaplasia dihilangkan atau berhenti, jaringan kembali ke pola normal diferensiasi. Metaplasia tidak sama dengan displasia dan tidak secara langsung dianggap karsinogenik.

4. Atrophy : pengecilan ukuran suatu sel, jaringan atau organ atau bagian tubuh. 5. Hypertrophy : pembesaran atau pertumbuhan suatu organ atau bagian tubuh yang berlebihan disebabkan oleh peningkatan ukuran sel pembentuknya.

APOPTOSIS & NEKROSIS Apoptosis adalah kematian sel per sel, sedangkan nekrosis melibatkan sekelompok sel. Membran sel yang mengalami apoptosis akan mengalami penonjolan-penonjolan ke luar tanpa disertai hilangnya integritas membran. Sedangkan sel yang mengalami nekrosis mengalami kehilangan integritas membran. Sel yang mengalami apoptosis terlihat menciut, dan akan membentuk badan apoptosis. Sedangkan sel yang mengalami nekrosis akan terlihat membengkak untuk kemudian mengalami lisis. Sel yang mengalami apoptosis lisosomnya utuh, sedangkan sel yang mengalami nekrosis terjadi kebocoran lisosom. Dengan mikroskop akan terlihat kromatin sel yang mengalami apoptosis terlihat bertambah kompak dan membentuk massa padat yang uniform. Sedangkan sel yang mengalami nekrosis kromatinnya bergerombol dan terjadi agregasi. Pada pemeriksaan histologi tidak terlihat adanya sel-sel radang di sekitar sel yang mengalami apoptosis. Sedangkan pada nekrosis, terlihat respon peradangan yang nyata di sekitar sel-sel yang mengalami nekrosis. Sel yang mengalami apoptosis biasanya akan dimakan oleh sel yang berdekatan atau berbatasan langsung denganya dan beberapa makrofag. Sedangkan sel yang mengalami nekrosis akan dimakan oleh makrofag. Secara biokimia, apoptosis terjadi sebagai respon dari dalam sel, yang mungkin merupakan proses yang fisiologis. Sedangkan nekrosis terjadi karena trauma nonfisiologis. Pada proses apoptosis terjadi aktivasi enzym spesifik untuk transduksi signal dan eksekusi. Sedangkan pada proses nekrosis, enzym-enzym yang terlibat dalam proses apoptosis mengalami perubahan atau inaktivasi. Secara metabolis proses terjadinya apoptosis dapat diamati sedangkan nekrosis tidak. Pada proses apoptosis dapat pula terjadi sintesis makromolekul baru, sedangkan pada nekrosis tidak disertai proses sintesis makromolekul baru. Pada apoptosis terjadi DNA fragmentasi non random sehingga jika DNA yang diekstrak dari sel yang mengalami apoptosis di elektroporesis dengan agarose akan terlihat gambaran seperti tangga (DNA ladder). Sedangkan pada nekrosis, fragmentasi terjadi secara random sehingga pada agarose setelah elektrophoresis akan terlihat menyebar tidak jelas sepanjang alurnya (DNA smear). Salah satu cara untuk mengamati keberadaan fragmen DNA di dalam sel yang mengalami apoptosis adalah dengan menggunakan Uji Tunel. Meskipun begitu, uji Tunel tidak dapat membedakan apoptosis dengan nekrosis.