Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang kita kenal sebagai penyakit kencing manis adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolute maupun relative. DM merupakan salah satu penyakit degenerative dengan sifat kronis yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1983, prevalensi DM di Jakarta baru sebesar ,7%; pada tahun 1993 prevalensinya meningkat menjadi 5,7% dan pada tahun 2001 melonjak menjadi 12,8%. Klasifikasi atau jenis diabetes ada bermacam-macam, tetapi di Indonesia yang paling banyak ditemukan adalah DM tipe 2. Jenis diabetes yang lain ialah DM tipe 1; diabetes kehamian/gestasional (DMG) dan diabetes tipe lain. Ada juga kelompok individu lain dengan toleransi glukosa abnormal tetapi kadar glukosanya belum memenuhi syarat masuk ke dalam kelompok diabetes mellitus, disebut toleransi glukosa terganggu (TGT). Sebenarnya penyakit diabetes tidaklah menakutkan bila diketahui lebih awal. Kesulitan diagnosis timbul karena kadang-kadang dia datang tenang dan bila dibiarkan akan menghanyutkan pasien ke dalam komplikasi fatal. Oleh karena itu, mengenal tanda-tanda awal penyakit diabetes ini menjadi sangat penting. B. BATASAN TOPIK Dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa batasan topik yaitu : 1. Defenisi Diabetes Melitus 2. Epidemiologi Diabetes Melitus

3. Etiologi Diabetes Melitus 4. Klasifikasi Diabetes Melitus 5. Tanda dan Gejala Diabetes Melitus 6. Patofisiologi Diabetes Melitus 7. Pemeriksaan Diagnostik Diabetes Melitus 8. Penatalaksanaan Diabetes Melitus 9. Pencegahan Diabetes Melitus 10. Komplikasi Diabetes Melitus

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Diabetes Mellitus Diabetes mellitus adalah penyakit kronis yang kompleks yang mengakibatkan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, lemak dan berkembang menjadi komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis. (Barbara C. Long). Diabetes mellitus adalah suatu penyakit kronis yang menimbulkan gangguan multi sistem dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak adekuat. (Brunner dan Suddarth) Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (WHO). Diabetes mellitus adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat peningkatan kadar glukosa darah yang disebabkan oleh kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Suyono, 2002). B. Epidemiologi Prevalensi penduduk dunia dengan DM diperhitungkan mencapai 125 juta per tahun, dengan prediksi berlipat ganda mencapai 250 juta dalam 10 tahun mendatang. Peningkatan prevalensi akan lebih menonjol perkembangannya di negara berkembang dibandingkan negara maju. Prevalensi DM di Indonesia besarnya 1,2%- 2,3% dari penduduk usia lebih dari 15 tahun. Kecenderungan peningkatan prevalensi akan membawa perubahan posisi DM yang semakin menonjol, yang ditandai dengan perubahan atau kenaikan peringkatnya di kalangan 10 besar penyakit (leading diseases).

Selain itu DM juga akan memberi kontribusi yang lebih besar terhadap kematian (ten diseases leading cause of diseasis). Menurut data WHO, dunia kini dialami oleh 171 juta penderita DM (2000) dan akan meningkat 2 kali, 336 juta pada tahun 2030. Prevalensi DM di Indonesia mencapai 8.426.000 (tahun 2000) dan diproyeksikan mencapai 21.257.000 pada tahun 2030. Artinya, terjadi kenaikan tiga kali lipat dalam waktu 30 tahun. Data selengkapnya mengenai prevalensi DM di regional Asia Pasifik dapat dilihat dalam table: Prevalensi Diabetes di Region Asia Tenggara Negara Bangladesh Bhutan Republik Korea India Indonesia Maldives Myanmar Nepal Sri Lanka Thailand Total 2000 3.196.000 35.000 367.000 31.705.000 8.426.000 6.000 543.000 436.000 653.000 1.536.000 46.903.000 2030 11.140.000 109.000 635.000 79.441.000 21.257.000 25.000 1.330.000 1.328.000 1.537.000 2.739.000 119.541.000

Di Amerika Serikat, negara dengan prevalensi dan beban DM yang cukup berat, beberapa data epidemiologisnya digambarkan sebagai berikut (CDC, Chronic Diseases Prevention): 1 DM pada setiap 3 kelompok Amerika (asli) 1 DM pada setiap 2 orang kelompok wanita Amerika-Hispanik 2 DM pada setiap 5 orang kelompok Amerika-Afrika dan Hispanik Lebih lanjut keadaan DM di Amerika Serikat digambarkan sebagai berikut: 1. Lebih dari 18,2 juta Amerika punya DM, dan sekitar sepertiganya tidak mengetahui bahwa mereka menderita DM. 2. Pada tahun 2050 diperkirakan 39 juta penduduk AS akan didiagnosis DM 3. Kelompok Amerika-Indian, Afrikan-Amerika, Hispanic lebih berisiko 2 kali DM dibandingkan dengan orang kulit putih AS 4. Tipe DM 2 yang pada umumnya menyerang kelompok dewasa, akan meningkat diagnosisnya pada kelompok muda 5. Sepertiga anak- anak AS yang lahir di tahun 2000 dapat menderita DM selama masa hidupnya 6. DM telah menduduki posisi peringkat ke-6 penyebab kematian. Lebih 200.000 penduduk meninggal tiap tahun karena komplikasi terkait DM. 7. DM menjadi penyebab utama kegagalan ginjal, kebutaan dewasa, dan amputasi tangan/ kaki yang bukan karena trauma 8. DM adalah penyebab utama penyakit jantung dan stroke, yang bertanggung jawab terhadap 65% penyebab kematian mereka yang DM

9. Sekitar 18.000 ibu yang mempunyai DM melahirkan bayi tiap tahun, dan 135.000 ibu diperkirakan mempunyai diabetes gestational. DM akan meningkatkan resiko komplikasi kehamilan, dan risiko anak untuk menjadi gemuk dan dapat DM dalam hidupnya 10. DM menjadi penyakit yang paling popular pada usia 65-74 tahun, dan kurang pada usia di bawah 45 tahun, tanpa memandang kelompok ras, etnik, dan kelamin. C. Etiologi 1. Diabetes Mellitus tergantung insulin (DMTI) a. Faktor genetic : Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang

bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya. b. Faktor imunologi : Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. c. Faktor lingkungan

Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel pancreas, sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang dapat menimbulkan destuksi sel pancreas.

2. Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI) Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, factor genetic diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II, diantaranya adalah: a. Usia ( resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun) b. Obesitas c. Riwayat keluarga d. Kelompok etni D. Klasifikasi Diabetes Klasifikasi Sekarang Klasifikasi Sebelumnya Tipe I: Diabetes Mellitus tergantung insulin (IDDM), 5 10% dari seluruh penderita diabetes Diabetes Juvennilis 1. Awitan terjadi pada segala usia, tetapi biasanya usia muda (< 30 tahun) 2. Biasanya bertubuh kurus pada saat didiagnosis, dengan penurunan berat badan yang baru saja terjadi 3. Etiologi mencakup faktor genetik, imunologi, dan lingkungan Ciri-ciri klinik

4. Sering memiliki Ab sel pulau Langerhans 5. Sedikit atau tidak memilki insulin endogen 6. Memerlukan insulin untuk mempertahankan kelangsungan hidup 7. Cenderung mengalami ketosis bila tidak memiliki insulin 8. Komplikasi akut hiperglikemia Tipe II: Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM) Diabetes awitan dewasa (maturity onset diabetes/ diabetes resisten ketosis) 1. Awitan terjadi di segala usia , biasanya di atas 30 tahun 2. Biasanya bertubuh gemuk saat di diagnosis 3. Etiologi mencakup faktor obesitas, genetika, dan lingkungan 4. Tidak ada Ab sel pulau langerhans 5. Penurunan produksi insulin endogen atau peningkatan resistensi insulin

6. Mayoritas penderita obesitas dapat mengendalikan kadar glukosa darahnya melalui penurunan berat badan 7. Agens hipoglikemia oral dapat memperbaiki kadar glukosa darah bila modifikasi diet dan latihan tidak berhasil 8. Mungkin memerlikan insulin dalam waktu yang pendek atau panjang untuk mencegah hiperglikemia

Diabetes mellitus yang berkaitan dengan keadaan atau sindrom lain

Diabetes sekunder

1. Disertai dengan keadaan yang diketahui atau dicurigai dapat menyebabkan penyakit: pankreatitis, kelainan hormon 2. Bergantung pada kemampuan pankreas untuk menghasilkan insulin, pasien

mungkin memerlukan terapi dengan obat oral atau insulin

Diabetes gestasional

Diabetes gestasional

1. Awitan selama kehamilan , biasanya terjadi pada trimester kedua atau ketiga 2. Disebabkan oleh hormon yang disekresikan plasenta dan menghambat kerja insulin 3. Diatasi dengan diet, dan insulin (jika diperlukan ) untuk mempertahankan kadar glukosa darah yang normal 4. Terjadi pada 2-5% dari seluruh kehamilan 5. Faktor risiko mencakup: obesitas, usia di atas 30 tahun, riwayat diabetes dalam keluarga,

pernah melahirkan bayi yang berat badannya lebih dari 4,5 kg 6. Pemeriksaan skrining harus dilakuakn pada semua wanita hamil dengan usia kehamilan antara 24 hingga 28 minggu Toleransi glukosa terganggu 1. Diabetes border line 2. Diabetes Laten 3. Diabetes Kimia 4. Diabetes Subkimia 5. Diabetes asimtomatis 1. Kadar glokosa berada di antara kadar normal dan kadar diabetes 2. Pada akhirnya 25% individu akan menderita diabetes 3. Kerentanan terhadap penyakit ateoslerosis di atas normal 4. Komplikasi renal dan retinal biasanya tidak signifikan 5. Dapat obesitas dan non obesitas: penderita harus menurunkanberat badannya

6. Harus menjalani skrining untuk diabetes secara berkala Kelainan toleransiglukosa yang terjadi sebelumnya (PreAGT; previous abnormality sof glucose tolerance) Diabetes laten pradiabetes 1. Metabolisme glukosa yang terakhir normal 2. Ada riwayat hiperglikemia, misalnya selama hamil atau sakit 3. Pemeriksaan glukosa darah secara periodik sesudah usia 40 tahun jika terdapat riwayat diabetes adalam keluarga atau jika asimptomatik 4. Menganjurkan berat badan yang ideal karena penurunan 5-7,5 kg dapat memperbaiki pengendalian glikemik Kelainan toleransi glukosa yang potensial (PoAGT; potencial abnormality of glocose tolerance) Pradiabetes 1. Tidak ada riwayat intoleransi glokosa 2. Risiko terkena diabetes meningkat jika:

Riwayat dalam keluarga positif Obesitas Ibu dengan berat bayi di atas 4,5 kg saat dilahirkan

Anggota suku asli indian amerika, misalnya siku pima

3. Nasihat untuk pemeriksaan skrining dan berat badan seperti PreAGT

E. Tanda dan Gejala Gejala yang lazim terjadi, pada diabetes mellitus sebagai berikut : Pada tahap awal sering ditemukan : a. Poliuri (banyak kencing) Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.

b.Polidipsi (banyak minum) Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum. c. Polifagi (banyak makan) Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar). Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun klien banyak makan, tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah. d. Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang. Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh berusama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein, karena tubuh terus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan akan tetap kurus e. Mata kabur Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa sarbitol fruktasi) yang disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa, sehingga menyebabkan

pembentukan katarak. F. Patofisiology Sebagian besar gambaran patologik dari DM dapat dihubungkan dengan salah satu efek utama akibat kurangnya insulin berikut: 1. Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel sel tubuh yang mengakibatkan 1200 mg/dl. naiknya konsentrasi glukosa darah setinggi 300

2. Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang menyebabkan terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan kolestrol pada dinding pembuluh darah. 3. Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh. Pasien pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi sesudah makan. Pada hiperglikemia yang parah yang

melebihi ambang ginjal normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160 180 mg/100 ml ), akan timbul glikosuria karena tubulus tubulus renalis tidak dapat menyerap kembali semua glukosa. Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang menyebabkan poliuri pospat. Adanya

disertai kehilangan sodium, klorida, potasium, dan

poliuri menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi. Akibat glukosa yang keluar bersama urine maka pasien akan mengalami

keseimbangan protein negatif dan berat badan menurun serta cenderung terjadi polifagi. Akibat yang lain adalah astenia atau kekurangan energi sehingga pasien menjadi cepat telah dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energi. Hiperglikemia yang lama akan menyebabkan arterosklerosis,

penebalan membran basalis dan perubahan pada saraf perifer. Ini akan memudahkan terjadinya gangren.

Bagan Patofisiologi

G. Pemeriksaan Diagnostik 1. Tes Toleransi Glukosa Tes toleransi glukosa oral merupakan pemeriksaan yang lebih sensitif daripada tes toleransi glukosa intravena yang hanya digunakan dalam situasi tertentu. Tes toleransi glukosa oral

dilakukan dengan pemberian larutan karbohidrat sederhana. Beberapa yang mempengaruhi tes toleransi glukosa oral,

mencakup metode analisis, sumber spesimen (darah utuh, plasma atau serum, darah kapiler atau vena).

2. Pertimbangan Gerontologis Kenaikan kadar glukosa darah tampak berhubungan dengan usia dan terjadi pada laki- laki atau perempuan di seluruh dunia. Kenaikan glukosa darah timbul pada dekade usia kelima dan frekuensi meningkat bersamaan dengan pertambahan usia.

3. Pemeriksaan glukosa darah/hiperglikemia (puasa, 2 jam setelah makan/post prandial/PP) dan setelah pemberian glukosa per-oral (TTGO). 4. Untuk membedakan tipe 1 dengan tipe 2 digunakan pemeriksaan C-peptide. Konsentrasi C-peptide merupakan indikator yang baik untuk fungsi sel beta, juga bisa digunakan untuk memonitor respons individual setelah operasi pankreas. Konsentrasi C-peptida akan meningkat pada transplantasi pankreas atau transplantasi selsel pulau pankreas.2 5. Pemeriksaan HbA1C HbA1C adalah komponen Hb yang terbentuk dari reaksi nonenzimatik antara glukosa dengan N terminal valin rantai b Hb A dengan ikatan Almidin. Produk yang dihasilkan ini diubah melalui proses Amadori menjadi ketoamin yang stabil dan HbA1C:

ireversibel.Metode

pemeriksaan

ion-exchange

chromatography, HPLC (high performance liquid chromatography), Electroforesis, Immunoassay, Affinity chromatography, dan analisis kimiawi dengan kolorimetri. Metode Ion Exchange Chromatography: harus dikontrol perubahan suhu reagen dan kolom, kekuatan ion, dan pH dari bufer. Interferens yang mengganggu adalah adanya HbS dan HbC yang bisa memberikan hasil negatif palsu. Metode HPLC: prinsip sama dengan ion exchange

chromatography, bisa diotomatisasi, serta memiliki akurasi dan presisi yang baik sekali. Metode ini juga direkomendasikan menjadi metode referensi. Metode Immunoassay (EIA): hanya mengukur HbA1C, tidak mengukur HbA1C yang labil maupun HbA1A dan HbA1B, mempunyai presisi yang baik. Metode Affinity Chromatography: non-glycated hemoglobin serta bentuk labil dari HbA1C tidak mengganggu penentuan glycated hemoglobin, tak dipengaruhi suhu. Presisi baik. HbF, HbS, ataupun HbC hanya sedikit mempengaruhi metode ini, tetapi metode ini mengukur keseluruhan glycated hemoglobin, sehingga hasil pengukuran dengan metode ini lebih tinggi dari metode HPLC. Metode Kolorimetri: waktu inkubasi lama (2 jam), lebih spesifik karena tidak dipengaruhi non-glycosylated ataupun glycosylated labil. Kerugiannya waktu lama, sampel besar, dan satuan pengukuran yang kurang dikenal oleh klinisi, yaitu m mol/L. Pemberian Insulin Indikasi pemberian insulin pada DM a. DM dengan berat badan menurun cepat/kurus b. Ketoasidosis, asidosis laktat,dan koma hiperosmolar

c. DM yang mengalami s tress berat (infeksi sistemis, operasi berat, dll) d. DM dengan kehamilan(gestasional) yang tidak terkendali dengan perencanaan makan e. DM yang tidak berhasil dikoelola dengan obat hipoglikemik oral dosis maksimal atau ada kontraindikasi dengan obat tersebut

Implikasi keperawatan 1. Sebelum pemberian insulin, kadar glukosa darah pasien harus diperiksa 2. Dosis insulin yang diberikan dimulai dengan dosis rendah, lalu dinaikkan perlahan sesuai dengan hasil glukosa darah pasien 3. Peran serta pasien dan keluarga dilibatkan (terutama untuk pembelajaran penyuntikan insulin mandiri)

Insulin Tipe Masa kerja singkat - Lispro Regular (crystalline zinc) Masa kerja sedang - NFH Masda kerja panjang - Ultralente (UL) - Glargine Awitan Segera 30 menit Puncak 30-90 menit 2-4 jam Akhir 3-5 jam 6-8 jam

2-3 jam

4-8 jam

13,8 jam 24 jam 22,8 jam

6 jam -

16-18 jam Tidak ada

H. Penatalaksanaan Menejemen Monitoring Mandiri Pasien Diabetes Mellitus 1. Perencanaan pola makan dan diet yang tepat Diet yang baik untuk para diabetisi adalah diet yang seimbang, jadwal makan yang teratur serta jenis makanan yang dimakan bervariasi yang kaya nutrisi dan rendah karbohidrat. Diet perlu dilakukan dengan mengurangi asupan karbohidrat (berbagai jenis gula dan tepung termasuk nasi, kentang, ubi, singkong dan lain sebagainya), mengurangi makanan berlemak (daging berlemak, kuning telur, keju, dan susu tinggi lemak) serta memperbanyak makan sayur dan buah sebagai sumber serat, vitamin dan mineral. Sebagai sumber protein Anda dapat memanfaatkan ikan, ayam (terutama daging dada), tahu dan tempe. 2. Monitoring kadar gula darah Kadar gula darah harus dites secara berkala yaitu pada saat sebelum sarapan pagi dan sebelum makan malam. Nilai yang diharapkan dari pengukuran tersebut adalah berada pada rentang antara 70 s.d 120 mg/dl. 3. Olahraga dan latihan Penderita diabetes disarankan untuk melakukan olahraga secara teratur dengan cara bertahap sesuai dengan kemampuan. Olahraga yang ideal adalah yang bersifat aerobik seperti jalan atau lari pagi, bersepeda, berenang, dan lain sebagainya. Olahraga aerobik ini paling tidak dilakukan selama 30-40 menit didahului dengan pemanasan 5-10 menit dan diakhiri pendinginan antara 510 menit. Latihan ini bisa dilakukan sebanyak 3 kali seminggu. Seiring dengan tingkat kebugaran tubuh Anda yang meningkat, maka durasi latihan Anda bisa dinaikkan maksimal sampai dengan 3 jam. Olah raga akan memperbanyak jumlah dan meningkatkan

aktivitas reseptor insulin dalam tubuh Anda. Selain itu juga para diabetisi bisa melakukan olahraga dengan cara berjalan kaki selama 30 menit. Kegiatan ini membantu untuk mengontrol kadar gula dan meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) dalam darah 4. Pengobatan yang teratur Diabetisi harus minum obat yang diberikan oleh dokter secara teratur, dan jangan sampai terlewatkan. Selain itu, tidak

diperkenankan untuk menambah atau mengurangi dosis obat tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Untuk para diabetisi yang mendapatkan terapi insulin secara berlanjut, mereka

diharapkan bisa melakukan penyuntikan secara mandiri. Bila tidak bisa melakukannya, dapat minta pertolongan kepada tenaga kesehatan atau kader kesehatan yang ada disekitar tempat tinggalnya. 5. Pengukuran tekanan darah dan kadar kolesterol secara teratur Diabetisi harus melakukan pengukuran tekanan darah secara teratur guna untuk mengantisipasi terjadinya komplikasi stroke akibat hipertensi. Begitu pula dengan kadar kolesterol yang tinggi merupakan resiko tinggi terjadinya atherosklerosis. 6. Menghindari stress yang berlebihan Stress dapat meningkatkan kadar gula darah dan tekanan darah. Stress ini bisa berasal dari kondisi fisik, misalnya nyeri, kurang tidur, pekerjaan, pengaruh obat-obatan steroids dan lainnya. 7. Mengurangi resiko Penderita Diabetes rentan untuk mengalami komplikasi berupa luka atau borok yang sukar sembuh. Seringnya mereka mendapati luka yang sukar sembuh pada daerah kaki, untuk itu perawatan kaki yang teratur sangat diperlukan. Jaga kelembaban kulit dengan

menggunakan lotion yang tidak menimbulkan alergi. Potong kuku secara teratur dan ratakan ujung kuku dengan menggunakan kikir, jangan pernah memotong ujung kuku terlalu dalam. Pilih alas kaki yang nyaman dan sesuai dengan bentuk serta ukuran kaki. Pilih bahan sepatu yang lembut dan sol yang tidak keras. Pakai sepatu tertutup jika hendak bepergian keluar rumah. Waspada jika terdapat luka sekecil apapun, segera obati dengan antiseptik. Pengobatan DM menurut Perkeni (1998) dikenal dengan empat pilar utama pengelolaan DM, yang meliputi : 1. Penyuluhan Penyuluhan untuk rencana pengelolaan sangat penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Edukasi diabetes adalah pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan dan ketrampilan bagi pasien diabetes, yang bertujuan menunjang perubahan perilaku untuk meningkatkan pemahaman pasien tentang penyakit DM, yang diperlukan untuk mencapai keadaan sehat yang optimal (Perkeni,1998). Sukardji (2002) mengatakan bahwa penyuluhan sangat diperlukan agar pasien mematuhi diet. 2. Perencanaan makan a. Tujuan diet DM menurut Pranadji (2000) adalah membantu diabetesi atau penderita diabetes memperbaiki kebiasaan gizi dan olah raga untuk mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik, serta beberapa tujuan khusus yaitu: 1) Memperbaiki kesehatan umum penderita, 2) Memberikan jumlah energi yang cukup untuk memelihara berat badan ideal atau normal. 3) Memberikan sejumlah zat gizi yang cukup untuk memelihara tingkat kesehatan yang optimal dan aktivitas normal.

4) Menormalkan pertumbuhan anak yang menderita DM. 5) Mempertahankan kadar gula darah sekitar normal. 6) Menekan atau menunda timbulnya penyakit angiopati diabetik. 7) Memberikan modifikasi diet sesuai dengan keadaan

penderita, misalnya sedang hamil, mempunyai penyakit hati, atau tuber kolosis paru. 8) Menarik dan mudah diterima penderita. b. Prinsip Diet Prinsip pemberian makanan bagi penderita DM adalah mengurangi dan mengatur konsumsi karbohidrat sehingga tidak menjadi beban bagi mekanisme pengaturan gula darah. (Pranadji, 2000) c. Syarat Diet Menurut Pranadji (2000), syarat diet DM antara lain: 1) Jumlah energi ditentukan menurut umur, jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan, aktivitas, suhu tubuh dan kelainan metabolic Untuk kepentingan klinik praktis, kebutuhan energi dihitung berdasarkan status gizi penderita, dengan rumus Broca, yaitu BB idaman = (TB 100) 10% Status gizi : Berat badan kurang = 120% BB idaman Jumlah energi yang dibutuhkan = - Laki-laki: BBI x (30 kkal/kg BB) + Aktivitas (10-30%) + koreksi status gizi :

- Perempuan: BBI x (25 kkal/kg BB) + Aktivitas (10-30%) + koreksi status gizi

Koreksi status : gemuk dikurangi, kurus ditambah (Perkeni, 1998) 2) Hidrat arang diberikan 60-70% dari total energi, disesuaikan dengan kesanggupan tubuh untuk menggunakannya. 3) Makanan cukup protein dianjurkan 12% dari total energi. 4) Cukup vitamin dan mineral. 5) Pemberian makanan disesuaikan dengan macam obat yang diberikan (Persagi, 1999) 6) Lemak dianjurkan 2025% dari total energi. 7) Asupan kolesterol hendaknya dibatasi, tidak lebih dari 300/mg perhari. 8) Mengkonsumsi makanan yang berserat,anjuranya adalah kira-kira 25g/hari dengan mengutamakan serat larut. d. Makanan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan Semua bahan makanan boleh diberikan dalam jumlah yang telah ditentukan kecuali gula murni seperti terdapat pada: gula pasir, gula jawa, gula batu, sirop, jam, jelly, buah-buahan yang diawet dengan gula, susu kental manis, minuman botol ringan, es krim, kue-kue manis, dodol, cake, tarcis, abon, dendeng, sarden dan semua produk makanan yang diolah dengan gula murni. e. Macam diet Menurut Persagi (1999), pedoman diet bagi penderita DM dapat dilihat seperti :

MACAM DIET UNTUK PENDERITA DM Macam Diet Energi (kal) 1100 1300 1500 1700 1900 2100 2300 2500 Protein (gr) 50 Lemak (gr) 30 Hidrataran (gr) 160 195 225 260 300 325 350 390 35 40 45 50 55 65 65 55 60 65 70 80 85 90 I II III IV V VI VII VIII

Sumber : Persagi, 1999 Diet I s/d III : diberikan kepada penderita yang terlalu gemuk Diet IV s/d V : diberikan kepada penderita yang mempunyai berat badan normal Diet VI s/d VIII : diberikan kepada penderita yang kurus, diabetes remaja atau juvenille diabetes serta diabetes dengan komplikasi. f. Standar diet Untuk perencanaan pola makan sehari, pasien diberi petunjuk berupa kebutuhan bahan makanan setiap kali makan dalam sehari dalam bentuk penukar. Makanan sehari-hari pasien dapat disusun berdasarkan pola makan pasien dan daftar bahan makanan penukar (Sukardji, 2002).

g. Daftar Bahan Makanan Penukar DBMP adalah suatu daftar yang memuat nama bahan makanan dengan ukuran tertentu dan dikelompokan

berdasarkan kandungan energi, protein, lemak dan hidrat arang. Setiap kelompok bahan makanan dianggap mempunyai nilai gizi yang kurang lebih sama (Sukardji, 2002). h. Pedoman diet Dalam melaksanakan diet diabetes sehari-hari, hendaknya pasien mengikuti pedoman 3J yaitu tepat jumlah, jadwal dan jenis, artinya J1: energi yang diberikan harus habis, J2: Jadwal diet harus diikuti sesuai dengan interval yaitu 3jam, J3: Jenis makanan yang manis harus dihindari, termasuk pantang buah golongan A. (Tjokroprawiro, 1998). 3. Latihan Jasmani Latihan jasmani dianjurkan secara teratur yaitu 3-4 kali dalam seminggu selama kurang lebih 30 menit yang sifatnya CRIPE (Continuous, rhytmical, interval, progresife, endurance training) (Perkeni, 1998). Menurut Haznam (1991) olahraga dianjurkan karena bertambahnya kegiatan fisik menambah reseptor insulin dalam sel target. Dengan demikian insulin dalam tubuh bekerja lebih efektif, sehingga lebih sedikit obat anti diabetik (OAD) diperlukan, baik yang berupa insulin maupun OHO (Obat Hipoglikemik Oral). 4. Obat berkhasiat hipoglikemik Pada prinsipnya, pengendalian DM melalui obat ada 2 yaitu:

a. Obat Anti Diabetes (OAD) atau Obat Hipoglikemik Oral (OHO) yang berfungsi untuk merangsang kerja pankreas untuk mensekresi insulin. b. Suntikan insulin. Pasien yang mendapat pengobatan insulin waktu makanannya harus teratur dan disesuaikan dengan waktu pemberian insulinnya. Makan selingan diberikan untuk

mencegah hipoglikemia (Perkeni, 1998). I. Pencegahan Pencegahan Primer Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan kepada orang-orang yang termasuk ke dalam kategori beresiko tinggi, yaitu orang-orang yang belum terkena penyakit ini tapi berpotensi untuk mendapatkannya. Untuk pencegahan secara primer, sangat perlu diketahui terlebih dahulu faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap terjadinya diabetes melitus, serta upaya yang dilakukan untuk menghilangkan faktor-faktor tersebut. Edukasi berperan penting dalam pencegahan secara primer. Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder merupakan suatu upaya pencegahan dan menghambat timbulnya penyakit dengan deteksi dini dan memberikan pengobatan sejak awal. Pencegahan sekunder perlu diberikan pada mereka yang baru terdiagnosa diabetes, Kelompok pasien diabetes ini masih sangat perlu diberi pengertian mengenai penyakit diabetes supaya, mereka dapat mengendalikan

penyakitnya mengontrol gula darah, mengantur makanan dan melakukan aktifitas olah raga sesuai dengan keadaan dirinya sehingga pada akhirnya pasien akan merasa nyaman, karena bisa mengendalikan gula darahnya. Pencegahan Tersier Pencegahan tersier subyek yang menjadi sasaran adalah mereka yang sudah mengalami komplikasi.

Kunci utama pencegahan Diabetes Mellitus terletak pada tiga titik yang saling berkaitan, yaitu pengendalian berat badan, olahraga, dan makan sehat. Bentuk pengendalian ini dilakukan debgan menurunkan berat badan sedikit (5-7% dari total berat) disertai dengan 30 menit kegiatan isik/ olahraga 5 hari per minggu, sambil makan secukupya yang sehat. Selain itu, untuk identifikasi diri terhadap risiko diabetes, maka setiap orang mulai berusia 45 tahun, terutama yang berat badan lebih, seharusnya uji diabetes. Pencegahan diabetes sepenuhnya meliputi: 1. Pencegahan primordial kepada masyarakat yang sehat, untuk berperilaku positif mendukung kesehatan umum dan upaya menghindarkan diri dari risiko DM. Misalnya, berperilaku hidup sehat, tidak merokok, makanan bergizi dan seimbang,

membatasi diri terhadap makanan tertentu atau kegiatan jasmani yang memadai. 2. Promosi kesehatan, ditujukan kepada kelompok berisiko, untuk mengurangi atau menghilangkan risiko yang ada. Dapat dilakukan masyarakat. 3. Pencegahan khusus, ditujukan kepada mereka yang peyuluhan dan penambahan ilmu terhadap

mempunyai risiko tinggi untuk melakukan pemeriksaan atau upaya sehingga tidak jatuh DM. Upaya ini dapat berbentuk konsultasi gizi. 4. Diagnosis awal, dapat dilakukan dengan penyaringan

(screening), yakni pemeriksaan kadar gula darah kelompok berisiko. 5. Pengobatan yang tepat 6. Disability limitation, pembatasan kecacatan yang ditujukan kepada upaya maksimal mengatasi dampak komplikasi DM sehingga tidak menjadi lebih berat.

7. Rehabilitasi, social maupun medis, memperbaiki keadaan yang terjadi akibat komplikasi atau kecacatan yang terjadi karena DM. Upaya rehabilitasi fisik berkaitan dengan akibat lanjut DM yang telah menyebabkan adanya amputasi.

J. Komplikasi a. Komplikasi akut 1) Hipoglikemia Hipoglikemia (kadar gula darah yang abnormal rendah) terjadi apabila kadar glukosa darah turun dibawah 50 mg/ dl. Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit atau karena aktivitas fisik yang berat. Hipoglikemia dapat terjadi setiap saat pada siang atau malam hari. Kejadian ini dapat terjadi sebeum makan, khususnya jika makan yang tertunda atau bila pasien lupa makan camilan. 2) Diabetes Ketoasidosis Diabetes ketoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukup jumlah insulin yang nyata. Keadaan ini mengakibatkan gangguan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Ada tiga gambaran klinik yang penting pada diabetes ketoasidosis : (1) Dehidrasi (2) Kehilangan elektrolit (3) Asidosis 3) Syndrom Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik (SHHNK) Merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolaritas dan hipergklikemia yang disertai perubahan tingkat kesadaran (Sense of Awareness). b. Komplikasi Kronik 1) Komplikasi Makrovaskuler Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah besar sering terjadi pada diabetes. Perubahan aterosklerotik ini serupa

degan pasien-pasien non diabetik, kecuali dalam hal bahwa perubahan tersebut cenderung terjadi pada usia yang lebih muda dengan frekuensi yang lebih besar pada pasien-pasien diabetes. Berbagai tipe penyakit makrovaskuler dapat terjadi tergantung pada lokasi lesi ateerosklerotik. Aterosklerotik yang terjadi pada pembuluh darah arteri koroner, maka akan menyebabkan penyakit jantung koroner. Sedangkan aterosklerotik yang terjadi pada pembuluh darah serebral, akan menyebabkan stroke infark dengan jenis TIA (Transiennt Ischemic Attack). Selain itu ateerosklerotik yang terjadi pada pembuluh darah besar ekstremitas bawah, akan

menyebabkan penyakit okluisif arteri perifer atau penyakit vaskuler perifer. 2) Komplikasi Mikrovaskeler a) Retinopati Diabetik Disebabkan oleh perubahan dalam pembuluh-pembuluh darah kecil pada retina mata, bagian ini mengandung banyak sekali pembuluh darah dari berbagai jenis pembuluh darah arteri serta vena yang kecil, arteriol, venula dan kapiler. b) Nefropati Diabetik Bila kadar gluoksa darah meninggi maka mekanisme filtrasi ginjal ajkan mengalami stress yang mengakibatkan kebocoran protein darah ke dalam urin. Sebagai akibatnya tekanan dalam pembuluh darah ginjal meningkat. Kenaikan tekanan tersebut diperkirakan nefropati c) Neuropati Diabetikum Dua tipe neuropati diabetik yang paling sering dijumpai adalah : (1) Polineuropati Sensorik Polineuropati sensorik disebut juga neuropati perifer. berperan sebagai stimulus untuk terjadinya

Neuropati perifer sering mengenai bagian distal serabut saraf, khususnya saraf extremitas bagian bawah. Kelainan

ini mengenai kedua sisi tubuh dengan distribusi yang simetris dan secara progresif dapat meluas ke arah proksimal. Gejala permulaanya adalah parastesia (rasa tertusuk-tusuk, kesemutan dan peningkatan kepekaan) dan rasa terbakar (khususnya pada malam hari). Dengan bertambah lanjutnya neuropati ini kaki akan terasa baal. (2) Neuropati Otonom (Mononeuropati) Neuropati pada system saraf otonom mengakibatkan

berbagai fungsi yang mengenai hampir seluruh system organ tubuh.

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersamasama, mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Indonesia menduduki peringkat 4 dunia untuk DM. DM dibagi menjadi 2, yaitu DM Tipe 1 dan DM Tipe 2. Tanda dan gejala yang lazim terjadi, pada diabetes mellitus sebagai berikut. Poliuri (banyak kencing), Polidipsi (banyak minum), Polifagi (banyak makan), Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang, Mata kabur. DM dapat diketahui dengan menggunakan cara sebagai berikut, Tes Toleransi Glukosa, Pertimbangan

Gerontologis, Pemeriksaan glukosa darah/hiperglikemia (puasa, 2 jam setelah makan/post prandial/PP) dan setelah pemberian glukosa peroral (TTGO), Untuk membedakan tipe 1 dengan tipe 2 digunakan
pemeriksaan C-peptide, Pemeriksaan HbA1C .

B. SARAN Dengan adanya materi diabetes mellitus ini, kita sebagai perawat dapat berpern aktif dalam menurunkan angka kejadian DM di Indonesia. Setelah kita mengetahui bagaimana penyebab dan cara pencegahannya, semoga kita bisa melakukan pencegahan dini di lingkungan tempat tinggal kita masing-masing.

REFERENSI Bustan. 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka Cipta Price.Sylvia A.2005.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Jakarta: EGC Smeltzer.Suzanne C.2002.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Edisi 8.Vol 2.Jakarta:EGC