Anda di halaman 1dari 11

FAKTOR YANG BERPENGARUH PADA TERJADINYA DEPRESI

Tugas Terstruktur untuk Memenuhi Mata Kuliah Metode Ilmiah yang Dibina Oleh Ns.Kumboyono, M.Kep, Sp.Kom

Kelompok 3 Dwi Setyowati Aprilia Mayda Dini Rahmawati Panji Arik I. Rudi Heriyanto Shila Wisnasari Zakiah Hidayati Anggie Marta Rani Nurani Rizka Yunita (0810720027) (0810720048) (0810720050) (0810720062) (0810720065) (0810720077) (0810723005) (0810723012) (0810723014)

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2008

ARTIKEL Faktor Risiko Depresi pada Pasien Geriatri di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Hubungan antara Depresi Ibu dengan Gangguan Anak Proporsi Gangguan Depresi pada Penyalah G Zat di RS Marzoeki Mahdi TINJAUAN HAKEKAT ILMU 1. Ontologi Berdasarkan artikel yang telah didapatkan, ontologi atau informasi yang ingin diketahui tentang depresi yaitu faktor yang mempengaruhi terjadinya depresi, mengetahui hubungan antara lamanya pasien dirawat di rumah sakit dengan stressor psikososial, keparahan penyakit komorbid dan status fungsional dengan depresi pada pasien. Pada artikel yang kedua informasi yang ingin didapatkan yaitu ada tidaknya pengaruh depresi seseorang terhadap generasi berikutnya, dalam hal ini pengaruh dari seorang ibu kepada anaknya. Selain itu juga ingin diketahui hubungan antara lama sakit talasemia dan umur seorang anak dengan tingkat depresinya. Kemudian pada artikel yang ketiga informasi yang ingin didapat yaitu ada tidaknya hubungan penyalahguna zat terhadap gangguan depresi berdasarkan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status pernikahan, lama menjalani rehabilitasi saat ini, motivasi responden menjalani rehabilitasi, lama responden menyalahgunakan zat, frekuensi kekambuhan responden, frekuensi rehabilitasi responden, status HIV, dan status hepatitis C 2. Epistemologi Pada dasarnya ketiga artikel penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode yang sama yaitu cross sectional atau potong melintang. Hanya saja ada beberapa yang berbeda, yaitu dari segi sample dan setting. Selain itu, ketiga artikel ini menggunakan instrument yang sama yaitu Structured Clinical Interview for DSM IV (SCID) sebagai alat ukur diagnosis klinis depresi Dalam artikel Faktor Risiko Depresi pada Pasien Geriatri di RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo penelitian dilakukan dengan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di unit rawat inap yang merawat pasien geriatric (IRNA B) lantai IV, V, VI RS Cipto Mangunkusumo yang dapat membaca, menulis dan bersedia menjadi responden dari bulan September 2003 sampai Februari 2004. Pengambilan sample ditetapkan secara non probability sampling berupa consecutive sampling sebanyak minimal 90 orang. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan program komputer SPSS 11.5/Windows. Untuk keperluan analisis variabel lama rawat, stressor psikososial, keparahan penyakit komorbid,

status fungsional, dan umur dipakai skala pengukuran numerik (jenis kelamin dikonversikan menjadi data numerik; 1 = laki-laki, 2 = perempuan). Untuk status perkawinan transformasi dalam bentuk dummy variabel. Kemudian dilakukan uji korelasi antar variabel tersebut dengan skor HRSD dengan uji korelasi Pearson. Setelah itu dilakukan analisis multivariat dengan menggunakan regresi linier ganda untuk melihat variabel yang paling bermakna. Nilai p yang dianggap bermakna adalah p <0,05. Dalam artikel Hubungan Gangguan Depresi Ibu dengan Gangguan Mental Anak Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dan bersifat deskriptif analitik. 6 Lokasi penelitian di Unit Talasemia, Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta, dilakukan pada bulan Oktober 2003 sampai dengan Maret 2004. Populasi terjangkau penelitian ini adalah ibu dari anak yang berusia 12-47 bulan dan menderita Talasemia yang terdaftar di Unit Talasemia Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta, beserta dengan anak tersebut. Sampel yang dikehendaki dipilih dari populasi terjangkau dengan cara consecutive sampling7. Besar sampel adalah 68 ibu dari anak yang berusia 12-47 bulan dan menderita Talasemia beserta dengan 68 anak tersebut. Sampel anak merupakan penderita Talasemia yang berusia antara 12-47 bulan, baik laki-laki maupun perempuan, dibesarkan oleh ayah dan ibu kandung yang masih hidup dan masih tinggal bersama dalam ikatan perkawinan, dan diperiksa sesudah menerima transfusi darah, serta tidak sedang menderita keadaan organik akut yang berat, misalnya demam tinggi atau kesadaran menurun. Sampel ibu merupakan ibu kandung dari sampel anak, pendidikan minimal tamat Sekolah Dasar, dan bersedia mengikuti penelitian dengan menandatangani Informed Consent, serta tidak menderita penyakit fisik berat dan skizofrenia atau gangguan psikotik lainnya. Peneliti melakukan seleksi terhadap ibu depresi dari anak yang berusia 12-47 bulan dan menderita Talasemia, yang datang untuk berobat maupun kontrol di Unit Talasemia Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, yaitu menilai apakah ibu dan anaknya tersebut memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Bila ibu dan anaknya tersebut memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, maka mereka menjadi sampel penelitian. Peneliti menjelaskan kepada sampel tentang maksud dan tujuan penelitian. Bila sampel menyetujui untuk ikut serta dalam penelitian, maka dilanjutkan dengan penandatanganan Informed Consent. Setelah itu dilanjutkan dengan pengisian kuesioner, wawancara terstruktur, dan pemeriksaan klinis psikiatrik.

Pengisian kuesioner biodata dan wawancara terstruktur pada ibu dilakukan setelah anak selesai menerima transfusi darah. Sebagian besar anak akan mendapatkan transfusi darah selama 2 hari. Selama 2 hari transfusi tersebut, peneliti berusaha mendekati ibu dan anak untuk membina rapport. Data demografi yang diambil adalah identitas anak (nama, usia, jenis kelamin, suku, agama, umur diagnosis, dan lama sakit) dan identitas ibu (nama, usia, pendidikan, pekerjaan, dan sosial ekonomi keluarga). Setelah itu dilanjutkan dengan wawancara terstruktur dengan instrumen SCID-f untuk menyingkirkan skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya. Kemudian dilakukan wawancara terstruktur dengan SCID-I untuk menegakkan diagnosis gangguan depresi. Kepada ibu juga ditanyakan riwayat psikiatrik dari anaknya (keluhan utama, riwayat gangguan psikiatrik, gangguan medik, kehamilan, persalinan, tumbuh kembang, keluarga, dan riwayat kehidupan sekarang). Dalam artikel Proporsi Gangguan Depresi pada Penyalah G Zat di RS Marzoeki MahdiPenelitian ini adalah suatu penelitian Cross Sectional untuk mengetahui proporsi gangguan depresi pada penyalahgunaan zat yang menjalani rehabilitasi. Penelitian dilakukan di pusat rehabilitasi penyalahgunaan zat RS Marzoeki Mahdi, dimulai pada bulan September 2003 hingga bulan Mei 2004 Kriteria Inklusi. Penyalahguna zat laki - laki dan perempuan yang sedang menjalani program rehabilitasi dan menetap di RS Marzoeki Mahdi, dan paling tidak telah 1 bulan menjalani program; dan bersedia menjadi responden Kriteria Eksklusi: Menderita gangguan jiwa berat seperti skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, gangguan manik dan hipomanik. 3. Aksiologi Dengan adanya penelitian ini informasi yang ingin diketahui (ontology) dapat terdefinisikan dengan sangat baik. Dengan adanya korelasi antara faktor-faktor penyebab dengan terjadinya depresi itu sendiri memungkinkan adanya identifikasi dini dan pencegahan sehingga tidak timbul depresi berat serta tidak mengakibatkan perpanjangan masa perawatan baik pada pasien geriatric,talasemia maupun penyalahguna zat. Selain itu, dengan adanya rentang angka dan adanya identifikasi faktor mana yang berpengaruh serta yang tidak terhadap depresi, memudahkan untuk lebih memprioritaskan pencegahan faktor penyebab depresi dan memberi perhatian yang lebih pada faktor tersebut. Salah satu contoh pada artikel faktor risiko yang berperan terhadap terjadinya depresi pada pasien geriatric yang dirawa di RS Dr. Cipto Mangunkusumo, berdasarkan penelitian, stressor psikososial memiliki standar koefisien terbesar sehingga sangat berpengaruh terhadap terjadinya depresi, sehingga perhatian lebih dapat diberikan.

Secara spesifikasi manfaat yang dapat diambil dari artikel penelitian tentang Faktor Risiko Depresi pada Pasien Geriatri di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo manfaat penelitian yang dilakukan adalah mengetahui prevalensi gangguan depresi pada pasien geriatri yang dirawat di Perjan RSCM, mengetahui hubungan antara lamanya pasien dirawat di rumah sakit, stressor psikososial, keparahan penyakit komorbid dan status fungsional dengan depresi pada pasien geriatri. Manfaat yang lain mengetahui faktor risiko yang berperan dalam terjadinya depresi pada pasien geriatri yang dirawat di bangsal Perjan RSCM adalah lama rawat, stressor psikososial, dan status perkawinan janda. Dalam artikel Hubungan Gangguan Depresi Ibu dengan Gangguan Mental Anak manfaat penelitian yang dilakukan adalah mengetahui hubungan lingkungan, dalam hal ini orang tua khususnya ibu dalam menentukan resiko depresi pada anak yang menderita talasemia. Selain itu, dengan adanya identifikasi umur dan lama sakit, perawatan dapat dilakukan dengan lebih hati-hati terkait dengan rentan timbulnya depresi. Dalam artikel Gangguan Depresi pada Penyalah G Zat di RS Marzoeki Mahdi manfaat penelitian yang dilakukan adalah proporsi gangguan depresi dapat teridentifikasi sehingga pemikiran kritis terhadap perawatan pada pasien tersebut dapat terlaksana dengan baik. LATAR BELAKANG Depresi merupkan istilah yang makin akrab yang barangkali juga makin sering dijumpai di masyarakat yang merupakan gangguan emosional yang mengganggu produktivitas penderitanya. Depresi banyak berdampak pada kehidupan social dalam kehidupan penderita depresi. Deprisi banyak berkolerasi dengan berbagai ancaman penyakit kesehatan yang dapat menyerang si penderita ataupun keturunannya selanjutnya karena factor yang menggangu pada saat masa kehamilan dapat menggangu kondisi janin. Penyakit atau gangguan depresi sering menyertai berbagai peyakit fisik maupun mental lain (komorbiditas), seperti penyakit infeksi, penyakit kardiovaskuler, penyakit metabolik, nutrisi, neoplasma, penyakit degenerasi Penyakit Talasemia Mayor (selanjutnya disebut Talasemia saja) merupakan salah satu penyakit herediter yang diturunkan menurut Hukum Mendel. Penyakit ini merupakan penyakit genetik yang paling sering ditemukan di dunia. Tidak kurang dari 250 juta penduduk dunia merupakan pembawa sifat Talasemia, dan setiap tahun dilahirkan 300.000 bayi dengan Talasemia. Lebih dari 90 % kasus Talasemia, diagnosisnya ditegakkan sebelum anak berusia 2 tahun.

Pada masa bayi dan kanak awal terjadi hubungan ibu-anak yang khas, yang pertama kali dikenalkan oleh Bowlby dengan teori kelekatan (attachment) Menurut Erikson, perkembangan seorang anak adalah hasil interaksi antara anak dan lingkungannya (nature dan nurture )Pada usia 12-47 bulan, anak sangat membutuhkan bantuan dari lingkungannya untuk berkembang. Tokoh utama dari lingkungan adalah orangtua, khususnya ibu. Apabila ibu menderita gangguan depresi, proses perkembangan anak mungkin akan mengalami gangguan. Setelah dilakukan penelitian ternyata terdapat adanya hubungan antara gangguan depresi pada ibu dengan gangguan mental pada anaknya yang berusia 12-47 bulan dan menderita Talasemia. Dari hasil analisis chi-square ditemukan bahwa anak dari ibu yang menderita gangguan depresi 3,6 kali lebih besar kemungkinannya untuk menderita gangguan mental dibandingkan dengan anak dari ibu yang tidak menderita gangguan depresi . Salah satu penyakit degenerasi yang sering disertai depresi adalah penyakit Parkinson. Frekuensi depresi pada penyakit Parkinson berkisar antara 20% sampai 90%(3,5,6), rata-rata 40% - 50%. Para ahli memandang depresi merupakan suatu reaksi terhadap disabilitas fisik yang berhubungan dengan penyakitnya yang diderita pada kasusu ini adalah penyakit Parkinson . yang terakhir adalah masalah Penyalahgunaan zat telah menjadi masalah global yang perlu mendapat perhatian serius; sebagian besar penyalahguna zat memulai kebiasaannya pada kisaran usia remaja atau usia 20-an yang kemudian terus berlanjut. Sekitar 5,5 juta individu atau 2,7% dari seluruh penduduk Amerika Serikat yang berusia di atas 12 tahun memerlukan penatalaksanaan untuk masalah gangguan penggunaan zat dan ada tambahan sekitar 13 juta lagi yang memerlukan penatalaksanaan untuk masalah penggunaan alkohol2. Setiap tahunnya ketergantungan zat non nikotin bertanggung jawab secara langsung ataupun tidak langsung terhadap 40% kasus di rumah sakit dan sekitar 25% kematian (500.000 kasus per tahun). Akibatnya seseorang yang kecanduan terhadap obat-obat ini secara tidak langsung akan mengalami kemunduran dari aspek medis maupun psikososial hal inilah yang memicu timbulnya depresi seseorang terhadap keadaan dirinya yang telah berbeda dari keadaan terdahulu. PERTANYAAN KLINIS 1. Bagaimana prevalensi depresi pada pasien geriatric yang dirawat di IRNA B lantai 4, 5, dan 6? Pravelensi sebesar 76,3%, sedangkan data pada tahun 2000 mencakup 6,8% dan tahun 2001 mencapai 8,9%. Adanya perbedaan angka ini mungkn disebabkan karena deteksi

terhadap depresi tidak dilakukan secara khusus dan hanya berdasarkan temuan klinis depresi selama perawatan. 76,3% ini mengalami depresi dengan 44,1% mengalami depresi ringan. Oleh karena itu, untuk mencegah 44,1% diperlukan skrining dini 2. Bagaimanakah hubungan lama perawatan, stressor psikososial, keparahan penyakit komorbid, Activities of Daily Living (ADL) Indeks Barthel, Instrument Activities of Daily Living (IADL), dan karaktristik subjek terkait dengan tingkat depresi pada pasien geriatric? a. Lama Perawatan Semakin lama rawat inap di rumah sakit makin tinggi skor HRSD-nya dan berpengaruh terhadap terjadinya depresi b. Stressor psikososial Menurut analisis multivariate, stressos psikososial mempunyai standar koefisien terbesar yaitu 0,304. sehingga stressor ini merupakan faktor yang paling berperan terhadap terjadinya depresi pada pasien geriatri c. Keparahan penyakit komorbid Makin berat penyakit komorbid maka makin tinggi skor HRSD-nya d. Activities of Daily Living (ADL) Indeks Barthel Antara skor ADL dan depresi tidak ada hubungan secara bermakna, mungkin disebabkan karena penelitian ADL sebelumnya dilakukan dikomunitas, sedangkan penelitian ini dilakukan pada pasien geriatric yang di rawat di rumah sakit, sehingga ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas itu sendiri. e. Instrument Activities of Daily Living (IADL) IADL tidak berhubungan dengan depresi, mungkin disebabkan karena penilaian IADL pada umumnya dilakukan pada pasien geriatric di komunitas untuk menilai kemampuan pasien untuk melakukan keterampilan untuk memelihara kelangsungan hidup f. karaktristik subjek terkait dengan tingkat depresi pada pasien geriatric Usia dan jenis kelamin tidak berhubungan secara bermakna dengan depresi, sedangkan status perkawinan janda ada hubungan dengan depresi 3. Bagaimanakah hubungan antara lingkungan dalam hal ini orang tua khususnya depresi ibu dengan tingkat depresi pada anak penderita talasemia pada usia 12-47 bulan? Apabila seorang ibu menderita gangguan depresi, maka proses perkembangan anak akan terganggu. Tidak semua anak dari ibu dengan gangguan depresi menderita

gangguan mental. Walaupun demikian, anak dari ibu depresi lebih rentan terhadap gangguan pada perkembangannya. 4. Adakah pengaruh lama sakit talasemia pada tingkat depresi anak usia 12-47 bulan? Anak yang lama sakit talasemianya lebih dari 12 bulan 0,14 kali lebih kecil kemungkinannya untuk menderita gangguan mental dibandingkan dengan anak yang lama sakitnya kurang dari atau sama dengan 12 bulan. Jadi lama sakit lebih dari 12 bulan merupakan faktor protektif untuk terjadinya gangguan mental pada anak. 5. Adakah pengaruh umur penderita pada tingkat depresi anak usia 12-47 bulan? Anak yang berusia lebih dari 18-47 bulan 0,06 kali lebih kecil kemungkinannya untuk menderita gangguan mental dibandingkan dengan anak yang berusia 12-18 bulan. Usia yang makin besar merupakan faktor proktetif untuk terjadinya gangguan mental pada anak. 6. bagaimanakah hubungan dari umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status pernikahan, lama menjalani rehabilitasi saat ini, motivasi responden menjalani rehabilitasi, lama responden menyalahgunakan zat, frekuensi kekambuhan responden, frekuensi rehabilitasi responden, status HIV, dan status hepatitis C terkaiat dengan depresi yang mungkin timbul pada responden penyalahguna zat yang sedang menjalani rehabilitasi di RS Marzoeki Mahdi. a. Umur Kebanyakan kasus penyalahgunaan zat dimulai pada akhir usia belasan atau awal usia 20, sedangkan sisanya dimulai pada pertengahan atau akhir masa dewasa. b. Jenis kelamin Jumlah perempuan penyalahguna zat yang menderita depresi 2,5 kali lebih banyak dibanding dengan pria pengguna zat. Hal ini dikarenakan secara biologi faktor ketidakseimbangan hormonal perempuan, misalnya depresi prahaid, tentu saja menambah tingginya prevalensi depresi pada perempuan. Selain itu, menurut teori psikososial, berbagai peran yang disandang seorang perempuan yaitu sebagai pengelola rumah tangga, pekerja, istri dan ibu merupakan stressor yang berperan terhadap meningkatnya stress. c. Tingkat pendidikan Berdasarkan statistic dari data yang didapat, tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan kemungkinan untuk menderita gangguan depresi d. status pekerjaan

Responden yang belum bekerja memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menderita depresi dibandingkan dengan yang sudah pernah bekerja ataupun yang sudah bekerja. e. Status pernikahan Angka gangguan depresi paling tinggi terdapat pada yang berstatus menikah, selanjutnya menurun pada yang berstatus lajang atau tidak menikah dan paling rendah pada responden yang berstatus cerai. f. Lama menjalani rehabilitasi saat ini Berdasarkan data statistk yang didapat, tidak ada perbedaan proporsi penderita depresi yang bermakna antara responden yang direhabilitasi selama 6 bulan dengan yang direhabilitasi lebih dari 6 bulan g. Motivasi responden menjalani rehabilitasi Responden yang menjalani rehabilitasi atas keinginannya sendiri memiliki proporsi depresi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan responden yang menjalani rehabilitasi atas dorongan orang lain h. Lama responden menyalahgunakan zat Berdasarkan data statistic yang diperoleh, tidak ada perbedaan yang bermakna antara penyalahguna zat yang kurang dari 5 tahun dengan yang lebih dari 5 tahun dalam kaitannya dengan kemungkinan untuk menderita ganggguan depresi. i. Frekuensi kekambuhan responden. Berdasarkan data yang diperoleh, tidak ada perbedaan proporsi yang bermakna antara responden yang mengalami kekambuhan kurang dari 5 kali dengan yang mengalami kekambuhan lebih dari 5 kali dalam hal kemungkinan menderita gangguan depresi j. Frekuensi rehabilitasi responden Tidak ada perbedaan proporsi depresi pada responden yang telah menjalani rehabilitasi yang telah menjalan rehabilitasi lebih dari 2 kali dengan yang menjalani rehabilitasi 2 kali atau kurang k. Status HIV Sekitar 33 % responden yang terinfeksi HIV mengalami depresi l. Status hepatitis C Analisis statistic tidak menemukan perbedaan proporsi yang bermakna antara depresi dengan status hepatitis C

JENIS PARADIGMA YANG DIGUNAKAN Jenis paradima yang cocok untuk digunakan adalah paradigma naturalis / alamiah / kualitatif. Hal ini dengan pertimbangan: Informasi yang didapat dalam pandangan paradigma naturalis didapat dari penelitian yang dilakukan secara langsung oleh peneliti. Hal ini dibuktikan pada makalah yang berjudul Faktor Resiko yang Berperab Terhadap Terjadinya Depresi pada Pasien Geriatri yang Dirawat di RS Dr, Cipto Mangunkusumo peneliti mendapat data untuk dianalisis langsung pada responden pasein gerriatri di Unit Rawat Inap (IRNA) B lantai IV, V, dan VI RS Cipto Mangunkusumo dari bulan September 2003 hingga Februari 2004. Pada artikel Hubungan antara Gangguan Depresi Ibu dengan Gangguan Mental Anaknya yang Berusia 12-47 Bulan dan Menderita Talasemia peneliti mendapat data dari responden pasien talasemia di unit talasemiaDeppartemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedoteran Universitas Indonesia atau RUmah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta. Sedangkan pada artikel yang berjudul Proporsi Gangguan Depresi pada Penyalahguna Zat yang Menjalani Rehabilitasi di RS Marzoeki Mahdi peneliti mendapat data dari responden di pusat rehabilitasi penualahgunaan zat RS Marzoeki Mahdi pada bulan September 2003 hingga Mei 2004. Paradigma naturalistic memandang kenyataan sebagai satu keutuhan, tidak terpisah-pisah. Sama halnya dengan perawatan penyakit yang rentan depresi, diperlukan pertimbangan dari berbagai aspek atau faktor yang saling berhubungan, misalnya tingkat pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin,dll Paradigma naturalistic terikat oleh nilai. Pada penelitian ini digunakan penilaian terhadap responden tentang variable yang diteliti. Data yang diperoleh dianalisis secara matematis untuk mendapatkan persentasi dari tiap variable untuk kemudian dianalisis. Paradigma naturalistic terikat oleh waktu dan konteks. Penelitian dalam ketiga artkel ini dilaksanakan di unit spesifik yaitu di Unit Rawat Inap (IRNA) B lantai IV, V, dan VI RS Cipto Mangunkusumo dari bulan September 2003 hingga Februari 2004. Unit talasemia Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedoteran Universitas Indonesia atau Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta dan pusat rehabilitasi penyalahgunaan zat RS Marzoeki Mahdi pada bulan September 2003 hingga Mei 2004. Dalam paradigma naturalistic subjek dan objek tidak dapat dipisahkan, terdapat saling keterkaitan antara depresi dengan klien yang saling berhubungan..

Paradigma naturalistis menyimpulkan hasil secara naratif/kata-kata. Kesimpulan dari berbagai sumber atau data dilakukan dengan mengidentifikasi apa saja yang terkait dengan depresi. KAJIAN PUSTAKA Kondouw, Aswin. 2003. Proporsi Gangguan Depresi pada Penyalahguna Zat yang Menjalani Rehabilitasi di RS Marzoeki Mahdi. http://www.kalbe.co.id/cdk . Diakses 19 Desember 2003 jam 13.40 Suprianto, Peony. 2003. Hubungan antara Gangguan Depresi Ibu dengan Gangguan Mental Anaknya yang Berusia 12-47 Bulan dan Menderita Talasemia.
http://www.kalbe.co.id/cdk . Diakses 19 Desember 2003 jam 13.03

Yusna, Suzy, dkk. 2003. Faktor Resiko yang Berperab Terhadap Terjadinya Depresi pada Pasien Geriatri yang Dirawat di RS Dr, Cipto Mangunkusumo.
http://www.kalbe.co.id/cdk . Diakses 19 Desember 2003 jam 13.30