Anda di halaman 1dari 74

KARTU PLASTIK DAN BANK SYARIAH

Disusun Oleh:
Kadek Elda Primadistya (022125003)

Dosen Pengajar:
Siska Damayanti, SE.MSi

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS TRISAKTI 2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN yang berjudul KARTU PLASTIK DAN BANK SYARIAH ini dengan baik. Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Siska Damayanti, SE.MSi selaku dosen mata kuliah BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN yang telah memberikan bimbingannya, dan kepada teman-teman yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Saran dan kritik yang membangun, sangat diharapkan agar kelak dapat memberikan karya yang lebih baik lagi. Akhir kata, semoga makalah ini berguna bagi penulis pada umumnya, dan bagi para pembaca pada khususnya. Semoga setiap tingkah laku kita dilindungi oleh Tuhan yang Maha Esa.

Jakarta, April 2013 Penulis

DAFTAR ISI

Hal Kata Pengantar . i Daftar Isi ... ii-iii

BAB I

PENDAHULUAN A. B. C. D. E. Latar Belakang . 1 Sejarah Munculnya Kartu Plastik ... 2 Rumusan Masalah ... 1-2 Manfaat dan Tujuan Makalah .. 2 Metode Penelitian ... 2

BAB II LANDASAN TEORI A. Kartu Kredit ..... 3 B. Bank Syariah . 3-5 BAB III PEMBAHASAN A. Pengertian Kartu Plastik .. 6 B. Jenis Kartu Plastik . 6 1. Berdasarkan Fungsinya .. 6-8 - Perbedaan Credit Card, Debit Card, Change Card .. 7 - Berdasarkan Wilayah Berlakunya 8 Fungsi Kartu Plastik 8 Manfaat Kartu Plastik .. 8-9 Kelebihan dan Kelemahan Kartu Kredit Untuk Nasabah .... 9-11 Keuntungan Dalam Menggunakan Kartu Kredit .... 11-12 Mekanisme Transaksi Kartu Kredit .. 12 Akutansi Untuk Credit Card ... 13-14 - Penerbitan Credit Card ... 13-14 - Pembebanan Annual Fee .. 14 - Penggunaan Credit Card . 14 - Informasi Nasabah .... 14 Pembayaran Tagihan Credit Card .. 15-18

2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.

9. Cara-Cara Antisipasi Kartu Plastik Palsu 18-20 10. Risiko Kredit .. 21-25 C. Pengertian Perbankan Syariah .. 25-26 D. Asosiasi Kartu Kredit Indonesia ... 32-33 E. Undang-Undang Tentang Perbankan Syariah ... 33-56 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan . 63 B. Saran .. 63 DAFTAR PUSTAKA 64 LAMPIRAN . 65-70

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berkembangnya kartu kredit selain ditunjang oleh kondisi ekonomi yang semakin membaik, juga karena kartu ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat kota. Namun di sisi lain, persaingan di bisnis kartu kredit terlihat semakin ketat.Sekarang ini, hampir di seluruh supermarket sudah disediakan fasilitas untuk bertransaksi menggunakan kartu kredit. Apabiladahulu, kartu kredit dipakai untuk berjaga-jaga jika ada kebutuhan yang penting dan mendadak. Maka saat ini, penggunaan kartu kredit telah bergeser menjadi alat pembayaran sehari-hari, melebihi uang biasa. Pertumbuhan yang signifikan ini menunjukkan bahwa kartu kredit kini makin populer sebagai alat pengganti uang cash ,bahkan telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern di Indonesia, seperti halnya di mancanegara. Dipicu oleh perkembangan lifestyle masyarakat di kota-kota besar, pertumbuhan bisnis kartu kredit ini juga ditunjang oleh beragamnya program menarik yang ditaarkan perusahaan penerbit, mengikuti selera dan kebutuhan nasabah yang makin bervariasi. Selain itu, kartu kredit juga memudahkan bagi para pemegang kartu kredit, seperti : a. Sebagai pengganti pembayaran tunai b. Untuk keperluan mendadak, seperti keperluan mendadak rumah sakit c. Memudahkan pembayaran rutin tiap bulannya Oleh sebab itu berbagai tawaran kartu kredit yang menarik saat ini banyak bertebaran di sejumlah media cetak, elektronik, media online, dan juga melalui layanan sms. Dengan segala fasiltitas dan kemudahan yang dimiliki kartu kredit, pada saat ini orang tua memberikan fasilitas kartu kredit kepada anak dengan mengabaikan batasan usia. Melihat penerbitan kartu kredit antara pihak bank dan nasabah tidak dapat dilepaskan dari perikatan yang dibuat di antara kedua belah pihak, yaitu bersumber dari perjanjian. Dalam hal ini suatu perjanjian harus memenuhi syarat-syarat perjanjian yang diatur dalam pasal 1320 KUH Perdata, dimana salah satu syarat perjanjian tersebut harus cakap hukum. Seseorang yang cakap hukum itu harus tidak boros, sehat akal pikir dan tidak dibawah umur. Pada batas umur ini diatur dalam KUH Perdata minimal 21 tahun menurut KUH Perdata yang terdapat dalam pasal 330 KUH Perdata yang berbunyi : Belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur genap dua puluh satu tahun, dan tidak lebih dahulu telah kawin. Tetapi pasal 330 ini sudah tidak digunakan karena asas lex posteriori derogat lex priori dimana peraturan yang baru menggantikan peraturan yang lama.

B. Sejarah Munculnya Kartu Plastik PELAN tetapi pasti, demikian pertumbuhan penggunaan kartu (plastic money atau uang plastik) dalam sistem pembayaran. Tahun 1994, misalnya, pangsa transaksi global personal dengan uang tunai (kas/cek) sebesar 84 persen, sisanya menggunakan uang plastik. Tahun 1998 pangsa kas/cek turun menjadi 79,3 persen dan kartu 18,7 persen. Transaksi yang dimaksudkan adalah nilai pasar barang dan jasa yang dibeli. Transaksi dengan kartu, melibatkan jutaan jumlah kartu baik merek lokal maupun internasional. Meski ada jutaan nama kartu, yang sangat mendominasi adalah merek Visa di urutan pertama, MasterCard (MC) di urutan kedua, American Express (Amex) di urutan ketiga. Pesaing lain, meski jauh di belakang adalah JCB Card (singkatan dari Japan Card Bureau yang merajai pasaran Jepang), Diners Club, dan Eurocard (banyak beredar di Eropa). Selebihnya adalah jutaan merek kartu lainnya.AS adalah pasar utama dan pionir dalam bisnis kartu. Dari merek kartu utama itu, hanya JCB dan Eurocard yang lahir di luar AS.Kartu merek visa, praktis merajai industri kartu dengan pangsa 60 persen dari seluruh kartu yang beredar di seantero jagad. Selebihnya yang 40 persen adalah transaksi yang menggunakan kartu merek MC, Amex, Diners, JCB, Eurocard dan lainnya. C. Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. Apa yang dimaksud dengan kartu kredit? Apa kegunaan kartu kredit? Apa mekanisme kartu kredit? Apa risiko dalam menggunakan kartu kredit? Apakah ada peluang, ancaman, dan antisipasi dalam penggunaan kartu kredit? Apa prospek kartu kredit?

D. Manfaat dan Tujuan Makalah 1. 2. 3. 4. Sebagai sarana pembelajaran Bank dan Lembaga Keuangan Mengetahui apa sebenarnya kartu kredit Mengetahui mekanisme dan risiko dalam menggunakan kartu kredit Mengetahui perbedaan kartu kredit bank syariah dengan bank konvensional

E. Metode Penulisan Dalam penyusunan dari makalah ini, penulis menggunakan metode yaitu metode kepustakaan: Dalam metode ini penulis menggunakan beberapa buku, internet, serta sumber-sumber lain yang berkaitan dengan judul karya tulis ini agar dapat membantu penulis dalam penyusunan karya tulis ini.

BAB II LANDASAN TEORI A. Kartu Kredit Kartu kredit adalah suatu alat pembayaran pengganti uang tunai dalam melakukan transaksi pembelian barang atau jasa dengan jaminan dana/kredit oleh bank penerbit kartu kredit tesebut (dalam buku pedoman Divisi Pengelolaan Bisnis Kartu PT Bank BNI (Persero), Tbk.) Dilihat dari jenisnya, maka kartu kredit dapat digolongkan kedalam kredit ritel. Menurut Djatisasongko Tjahjowidjojo (2005 : 10) Suatu kredit digolongkan sebagai kredit ritel jika kredit tersebut mempunyai jumlah debitur yang banyak, dengan nilai pinjaman masing-masing debitur yang relatif kecil sehingga tambahan resiko dari masing-masing eksposur kredit relatif kecil. B. Bank Syariah Pengertian bank syariah dikutip dari Rahman El Junusi (2009: 2), lembaga keuangan yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam, artinya Bank yang dalam beroperasinya mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam khususnya menyangkut tata cara bermuamalat secara Islam. Prinsip utama lembaga keuangan syariah adalah bebas bunga yang tercermin dalam produkproduk yang dihasilkannya. Produk-produk tersebut antara lain: 1. Al-wadiah (Simpanan) Al-Wadiah atau dikenal dengan nama titipan atau simpanan, merupakan titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik perorangan maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikain kapan saja bila si penitip menghendaki. 2. Pembiayaan dengan bagi hasil a. Al-musyarakah Al-musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk melakukan usaha tertentu. Masing-masing pihak memberikan dana atau amal dengan kesepakatan bahwa keuntungan atau resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. b. AI-mudharabah

Al-mudharabah adalah akad kerja sama antara dua pihak, di mana pihak pertama menyediakan seluruh modal dan pihak lain menjadi pengelola. Keuntungan dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Apabila rugi maka akan ditanggung pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat dari kelalaian si pengelola. Apabila kerugian diakibatkan kelalaian pengelola, maka si pengelolalah yang bertanggung jawab. c. Al-muzara'ah Al-muzara'ah adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dengan penggarap. Pemilik lahan menyediakan lahan kepada penggarap untuk ditanami produk pertanian dengan imbalan bagian tertentu dari hasil panen. Dalam dunia perbankan kasus ini diaplikasikan untuk pembiayaan bidang plantation atas dasar bagi hasil panen. d. Al-musaqah Al-musaqah merupakan bagian dari al-muza'arah yaitu penggarap hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan pemeliharaan dengan menggunakan dana dan peralatan mereka sendiri. Imbalan tetap diperoleh dari persentase hasil panen pertanian. Jadi tetap dalam konteks adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dengan penggarap. 3. Bai'al Murabahah Bai'al-Murabahah merupakan kegiatan jual beli pada harga pokok dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam hal ini penjual harus terlebih dulu memberitahukan harga pokok yang ia beli ditambah keuntungan yang diinginkannya. 4. Bai'as-salam Bai'as-salam artinya pembelian barang yang diserahkan kemudian hari, sedangkan pembayaran dilakukan di muka. Prinsip yang harus dianut adalah harus diketahui terlebih dulu jenis, kualitas dan jumlah barang dan hukum awal pembayaran harus dalam bentuk uang. 5. Bai'Al istishna' Bai' Al istishna' merupakan bentuk khusus dari akad Bai'assalam, oleh karena itu ketentuan dalam Bai` Al istishna' mengikuti ketentuan dan aturan Bai'as-salam. Pengertian Bai' Al istishna' adalah kontrak penjualan antara pembeli dengan produsen (pembuat barang). Kedua belah pihak harus saling menyetujui atau sepakat lebih dulu tentang harga dan system pembayaran. Kesepakatan harga dapat dilakukan tawar-menawar dan sistem pembayaran dapat dilakukan di muka atau secara angsuran per bulan atau di belakang.

6. Al-Ijarah (Leasing) Al-Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahankepemilikan atas barang itu sendiri. Dalam praktiknya kegiatan ini dilakukan oleh perusahaan leasing, baik untuk kegiatan operating lease maupun financial lease. 7. Al-Wakalah (Amanat) Wakalah atau wakilah artinya penyerahan atau pendelegasian atau pemberian mandat dari satu pihak kepada pihak lain. Mandat ini harus dilakukan sesuai dengan yang telah disepakati oleh si pemberi mandat. 8. Al-Kafalah (Garansi) Al-Kafalah merupakan jaminan yang diberikan penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. Dapat pula diartikan sebagai pengalihan tanggung jawab dari satu pihak kepada pihak lain. Dalam dunia perbankan dapat dilakukan dalam hal pembiayaan dengan jaminan seseorang. 9. Al-Hawalah Al-Hawalah merupakan pengalihan utang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Atau dengan kata lain pemindahan beban utang dari satu pihak kepada lain pihak. Dalam dunia keuangan atau perbankan dikenal dengan kegiatan piutang atau factoring. 10. Ar-Rahn Ar-Rahn merupakan kegiatan menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Kegiatan seperti ini dilakukan seperti jaminan utang atau gadai. Dikutip dari Rahman El Junusi (2009: 2), atribut-atribut produk Islam dari Bank Syariah dalam penelitian yang dijadikan ukuran adalah: Menghindari unsur riba Hasil investasi dibagi menurut bagi hasil (al mudharabah) Menghindari unsur ketidak pastian (gharar) Menghindari unsur gambling/judi (maisir) Melakukan investasi yang halal Melakukan aktivitas sesuai dengan syariah.

BAB III PEMBAHASAN A. Pengertian Kartu Plastik Kartu yang diterbitkan oleh Bank atau Perusahaan tertentu yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran transaksi atas barang / jasa, atau menjamin keabsahan cek yang dikeluarkan dan dapat pula digunakan untuk penarikan uang tunai. Kartu Plastik dapat diartikan juga sebagai Instrumen pembayaran atau kartu yang diterbitkan oleh bank atau lembaga pembiayaan yang lain yangh dapat digunakan untuk alat pembayaran atas transaksi barang atau jasa, dan dapat digunakan untuk penarikan tunai. Sebagai alat pembayaran, kartu ini sangat fleksibel dan praktis. B. Jenis Kartu Plastik 1. BERDASARKAN FUNGSINYA a. Kartu Kredit (Credit Card) yaitu kartu yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran transaksi jual-beli barang dan jasa, kemudian pelunasan atas penggunaannya dapat dilakukan sekaligus atau secara angsuran sejumlah minimum tertentu atau dengan cara mencicil sejumlah nilai minimum yang ditetapkan oleh pihak penerbit kartu (Issuer) dan terhadap saldo tersisa dikenakan bunga. Pembayaran tersebut dilakukan paling lambat pada tanggal jatuh tempo setiap bulan sesuai tanggal yang telah ditetapkan Issuer untuk setiap pemegang kartu (card holder) dan untuk setiap keterlambatan dikenakan denda (late charge) Kartu kredit dapat pula digunakan untuk menarik uang tunai melalui Automatid Teller Machine (ATM) atau melalui Teller pada bank tersebut. Contoh kartu kredit : kartu Visa CitiBank, Master Card Niaga

b. Charge Card yaitu kartu yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran suatu transaksi
barang dan jasa, kemudian pemegang kartu diwajibkan membayar kembali secara penuh tagihannya pada akhir bulan atau bulan berikutnya dengan atau tanpa beban tambahan. Kartu ini pada prinsipnya merupakan alat untuk melakukan penarikan tunai baik melalui counter bank maupun melalui ATM Pembayaran transaksi dengan menggunakan Debit Card sama dengan pembayaran tunai karena pada saat yang sama langsung akan mengurangi / men-debit saldo simpanan pemegang kartu yang bersangkutan dan meng-kredit rekening penjual (Merchant) Contoh charge card: Dinners Card, American Express Card, BCA Card

c. Kartu Debet (debet card) yaitu kartu yang dapat digunakan sebagai perintah bayar atau
pendebetan terhadap rekening pemegang.

Kartu yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran transaksi jual beli barang /jasa, dimana nasabah harus membayar kembali seluruh tagihannya secara penuh pada akhir bulan atau bulan berikutnya dengan atau tanpa biaya tambahan Contoh debet card: Kartu debit BCA, kartu Visa Electron

d. Cash Card (kartu ATM) yaitu kartu yang dapat digunakan untuk penarikan tunai baik di
counter-counter bank maupun pada anjungan ATM atau kartu kredit yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk menerima uang tunai. Tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran transaksi jual beli barang / jasa. Biasanya bank menentukan limit uang tunai yang dapat ditarik atau ditransfer melalui ATM (Electronic Fund Transfer) atau sebagai fasilitas yang diberikan bank kepada nasabahnya (giro dan tabungan) dalam bentuk kartu yang dapat digunakan sebagai alat transaksi pembayaran pembelanjaan di merchant dan melakukan penarikan uang tunai di ATM dengan mendebet langsung rekening nasabah. Contoh cash card: Contoh kartu cash yang yang ada di Indonesia adalah PASPOR BCA.

e. Check Guarantee Card yaitu kartu yang dapat digunakan sebagai jaminan dalam
penarikan cek oleh pemegang kartu tersebut. Disamping itu dapat pula digunakan untuk menarik uang tunai melalui ATM Kartu ini hanya populer di Eropa terutama di Inggris. Perbedaan Credit Card, Debit Card, Change Card

Credit card a. Ketentuan limit kredit diberikan kepada setiap anggota yang tergantung dari jenis karti (gold, regular atau classi); b. Pembayaran minimum 10%-20% dari total saldo tagihan dan dibayarkan paling lambat pada tanggal jatuh tempo penagihan yang ditentukan setiap bulan; c. Tingkat bunga dikenakan atas saldo kredit, bedsarnya sesuai tingkat bunga pasar; d. Keterlambatan pembayaran(setelah tanggal jatuh tempo) akan dikenakan denda keterlambatan (late charge) sebesar persentase tertentu dari pembayaran minimum atau sejumlah tertentu tanpa dikaitkan dengan jumlah pembayaran minimum.

Debit Card a. Pemegang kartu harus memiliki rekening pada bank; b. Transaksi hanya dapat dilakukan apabila pemegang kartu memiliki saldo yang mencukupi pada rekening untuk menutupi biaya transaksinya; c. Pembayaran dilakukan dengan menerbit dengan mendebit langsung saldo rekening pemegang kartu dan mengkredit rekening pihak merchant.

Charge Card a. Umumnya tidak ada ketentuan limit penggunaan dalam melakukan transaksi. b. Pembayaran penuh atas semua tagihan sebelum tagihan berikutnnya. c. Apabiala tidak dilakukan pembayaran penuh dari tagihan, akan dikenakan denda keterlambatan (late charge) sebesar persentase tertentu. d. Tidak dikenakan bunga atas setiap pembayaran tagihan.

Berdasarkan Wilayah Berlakunya a. Kartu Plastik Lokal Yaitu kartu plastik yang berlaku pada wilayah tertentu misalnya seluruh Indonesia. Contoh: Kartu ATM Bank Muamalat Indonesia. b. Kartu Plastik Internasional Yaitu kartu plastik yang berlaku dan dapat digunakan di seluruh dunia. Contoh: Visa, American Express, carte balanc, Master Card, Dinner Club. 2. FUNGSI KARTU PLASTIK Sumber Kredit Kartu dapat digunakan sebagai instrumen untuk memperoleh kredit dengan mekanisme pembayaran setiap transaksi atau secara bulanan. Instrumen untuk memperoleh kredit yang dilakukan dengan cara: 1. Pembayaran dilakukan secara bulanan atas tiap transaksi (change card). 2. Membayar bulanan sejumlah minimum tertentu dari total transaksi yang dilakukan, dan 3. Jumlah pembayaran yang harus dilakukan setiap bulan lebih pasti. Penarikan Uang Tunai Kartu dapat digunakan untuk penarikan uang tunai baik di counter bank atau di ATM Penjaminan Cek Kartu dapat digunakan untuk menjamin penarikan cek yang ditarik si pemegang kartu guna meyakinkan si penerima cek dalam bertransaksi. 3. MANFAAT KARTU PLASTIK 1. Kemudahan Kartu kredit dan debit menawarkan kemudahan belanja tanpa perlu membawa uang tunai dan cek, dan juga tidak perlu identifikasi tambahan. 2. Keamanan Uang tunai yang hilang dapat digunakan oleh siapa saja. Jika Anda kehilangan kartu kredit atau debet, segera laporkan kepada bank penerbit kartu agar kartu Anda terhindar dari segala bentuk penyalahgunaan kartu Bank yang berbeda mungkin mempunyai kebijakan liabilitas yang berbeda. Konsultasikan kepada petugas bank Anda apakah bank menawarkan pengecualian/pembebasan lialibilitas.

3. Perlindungan Darurat Kartu kredit dapat membantu Anda melalui berbagai macam keadaan darurat yang mungkin dihadapi & Dan dapat berfungsi sebagai alat pelindung yang membantu Anda pada kondisi apapun. 4. Berlaku di Seluruh Dunia Beberapa kartu kredit diterima di lebih dari 20 juta lokasi usaha di seluruh dunia. & nbsp Bandingkan dengan Cek Pribadi! &nbspJika anda butuh dana tunai, Anda bisa ambil di ATM atau bank di seluruh dunia yang menerima kartu debet atau kredit Anda. 5. Memudahkan Penyimpanan Catatan Kartu kredit dan debit menyediakan catatan semua transaksi pada bulan tersebut sehingga Anda lebih mudah mengetahui ke mana uang Anda terpakai. 6. Perlindungan Konsumen Apabila Anda membeli barang atau jasa dengan kartu kredit, Anda mempunyai lebih banyak senjata karena penerbit kartu Anda dapat membantu Anda menangani masalah yang dihadapi & Begitu Anda membeli barang dengan uang tunai atau cek, pihak penjual mungkin enggan menanggapi keluhan/komplain Anda. Cek kebijakan bank penerbit kartu sehubungan dengan persengketaan dengan pihak penjual. 7. Manfaat Lainnya Banyak kartu kredit menawarkan rabat, pengembalian dana tunai, sumbangan ke badan amal kepercayaan Anda, atau manfaat istimewa lainnya yang tidak bisa anda peroleh dengan membayar sekalipun. 8. Keleluasaan/Flexibilitas Anda berada di pusat perbelanjaan dan melihat penawaran khusus yang menarik. & nbsp Anda tidak punya uang tunai untuk membayarnya saat itu, tetapi tidak mau kehilangan barang tersebut. &nbspDengan selembar kartu kredit, Anda dapat membeli barang tersebut dan membayarnya kemudian sesuai dengan rencana pengeluaran pribadi Anda. 9. Membuat Anggaran Lebih Mudah Dengan kartu kredit, Anda dapat membiayai suatu pembelian yang cukup mahal dan melunasinya mengikuti jadwal yang sesuai dengan anggaran Anda. 10. Pentingnya untuk belanja melalui surat, telepon, internet 4. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN KARTU KREDIT UNTUK NASABAH Kartu Kredit memiliki bebarapa kelebihan yaitu: 1. Kartu kredit dapat digunakan untuk mempermudah alat pembayaran sehingga kita tidak perlu susah-susah membawa uang tunai. 2. Kartu kredit dapat digunakan untuk mengumpulkan semua bentuk pengeluaran belanja dalam satu tagihan sehingga waktu yang kita keluarkan dapat lebih efisien. Bahkan ada juga kartu kredit yang memiliki fasilitas untuk membayar pengeluaran rutin, seperti tagihan telepon, tagihan listrik, dan tagihan air.

3. Kartu kredit juga dapat digunakan untuk mencatat pengeluaran kita secara rutin sehingga mempermudah kita dalam mengelola keuangan dalam keluarga. 4. kartu kredit juga dapat digunakan untuk menghemat pengeluaran kita, misalnya untuk diskon kamar hotel, diskon makan di restoran, atau diskon belanja. 5. Tidak perlu membawa uang kontan kemana-mana yang bisa membahayakan keselamatan kita. 6. Pengeluaran akan tertera jelas di rekening giro, bisa untuk melakukan cross checking di rumah pada akhir bulan. 7. Kartu kredit tertentu memberi servis asuransi kesehatan, perjalanan, pencurian, ataupun kerusakan barang yang dibeli dengan kartu tersebut (perlu dibicarakan pada bank pada saat transaksi). 8. Pemilikan kartu kredit international mempermudah perjalanan anda ke luar negeri. 9. Pada bank tertentu, konsumen bisa memiliki kartu tambahan untuk pasangan atau anak (untuk satu account), baik berupa kartu identik dengan nomor identiti dan pin yang sama ataupun kartu tambahan yang berbeda nomor identiti dan nomor pinnya. 10. Bisa melakukan transaksi lewat internet (hati-hati dalam memilih website). 11. Bisa belanja sekarang dan bayar bulan depan dengan bunga sekitar 2,5% - 3 % tergantung bank yang bersangkutan. 12. Bisa melakukan transaksi bisnis di internet (e-commerce) dengan menuliskan nama dan nomor kartu kredit (16 digit). 13. Bisa dianggap lebih bergengsi, karena orang yang mempunyai kartu kredit adalah orang yang berpenghasilan cukup besar. 14. Kemudahan dalam melakukan pembayaran yang bisa dilakukan dengan mencicil atau membayar minimun dari tagihan yang dikirim tiap bulannya. 15. Tingkat keamanan yang cukup tinggi jadi bila kartu kredit kita dicopet, maka bisa segera melapor ke card center untuk melakukan pemblokiran kartu kredit. 16. Kemudahan dalam menggunakan dana pihak lain tanpa bunga bila dilakukan pembayaran lunas tiap tagihan datang (grace period). 17. Kemungkinan mendapatkan berbagai hadiah atau tawaran dengan harga diskon khusus bagi pemegang kartu kredit tertentu. Kelemahan Kartu Kredit yaitu: 1. Kartu bisa dibobol orang lain yang tidak jujur, misalnya bila penjual tidak jujur maka ia akan menggosok slip kredit lebih dari 1 kali sebelum kita tanda tangani. Ia akan menagih ke bank yang bersangkutan untuk transaksi lain dengan menggunakan slip yang kedua dengan mencantumkan tanda tangan kita yang dipalsukan seperti pada slip yang pertama. 2. Bila transaksi bisnis dilakukan di internet, maka bila di penjual tidak jujur, ia akan menerima pembayaran dari bank yang bersangkutan, tetapi ia tidak mengirimkan barang yang kita pesan.

3. Apabila kita butuh uang atau ingin belanja lebih banyak dari kemampuan, kita tetap bisa memakai kartu tersebut, namun yang sering dilupakan oleh konsumen adalah persentase bunga kredit konsumsi yang sangat tinggi. 4. Jenis kartu kredit yang menggunakan band magnetik tidak terlalu baik keamanannya. Sayangnya di Indonesia kartu jenis ini masih banyak di produksi, jadi akan lebih baik kalau dibuat pengamanan tambahan dengan micro chip seperti yang dipakai di Eropa. 5. Pembayaran pertahun yang cukup mahal, termasuk pembayaran tambahan untuk pengambilan uang di luar negeri, termasuk transaksi internet pada website yang berada di luar negeri. 6. Nilai pertukaran uang ditentukan oleh bank penerbit, sehingga terkadang pihak bank agak seenaknya memberi rata rata harian nilai pertukaran uang. 7. Jangan sampai berurusan dengan debt collector yang sering dipakai oleh pihak Bank di Indonesia untuk menagih hutang. Bisa jadi perabotan rumah tangga pun akan dibawa pada saat penagihan. 8. Pada saat mengambil uang tunai melalui ATM, maka secara langsung dikenakan fee pengambilan yang besarannya sekitar 30 sampai 40 ribu (tergantung institusi penerbit). 9. Beban administratif dan beban bunga yang terlalu tinggi jika melakukan pengambilan uang di ATM. 10. Pemegang kartu sering tergoda menjadi boros dalam berbelanja karena merasa tidak mengeluarkan uang tunai sehingga kadang kadang membeli hal hal yang kurang perlu. Untuk mengatasinya perlu diingat kartu kredit merupakan fasilitas untuk memudahkan pembayaran dalam berbelanja dan bukan tambahan pendapatan 5. KEUNTUNGAN DALAM MENGGUNAKAN KARTU KREDIT Pemegang Kartu 1. Lebih aman dan praktis 2. Leluasa 3. Sistem pembayarab yang fleksibel 4. Program merchandising (mengangsur tanpa bunga) 5. Asuransi kesehatan 6. Bantuan bantuan perjalanan di luar negeri Issuer 1. Uang pangkal 2. Iuran tahunan anggota 3. Discount dari merchant 4. Pendapatan bunga 5. Pendapatan denda atas keterlambatan /penunggakan pembayaran(late charge) 6. Interchange fee

Merchant 1. Keamanan terjamin 2. Pembayaran atas penjualan dijamin penerbit 3. Meningkatkan turnover/omset penjualan 4. Mengurangi beban dan menyederhanakan pembukuan 5. Mencegah larinya nasabah ke pesaing lainnya yang memberi fasilitas kemudahan berbelanja dengan menerima kartu. Acquirer Mendapatkan komisi yang diterima dari merchant

Tips Mendapatkan Kartu Kredit Bagi para mahasiswa yang belum bekerja, mendapatkan kartu kredit itu sulit. Padahal manfaatnya cukup banyak, untuk booking tiket pesawat, hotel, atraksi, untuk pembelian aplikasi mobile, untuk mendapatkan diskon , dan lain sebaginya. Masalah utamanya adalah ada mahasiswa atau kita yang belum (mungkin) bekerja dikantor ataupun belum memiliki SIUP untuk arsanesia. Kerjanya Analisis untuk Penyetujuan Kartu Kredit 1. Menunjukan kalau anda memang sudah berpenghasilan dengan memasukan uang 15 juta di rekening bank atau minimal 10 juta, 2. Menunjukan saya sudah benar benar memiliki pekerjaan dengan mencantumkan slip gaji berkop surat yang ada alamat kantornya, 3. Memilih kartu yang paling kecil (kalau ada silver, jangan pilih yang gold atau platinum) 6. MEKANISME TRANSAKSI KARTU KREDIT Untuk memiliki kartu kredit, calon card holder harus mengajukan permohonan terlebih dahulu kepada bank penerbit (issuer). Pihak issuer akan mempelajari kelayakan pemohon, dengan mengkaitkan persyaratan penghasilan minimum kemudian ditentukan kelompok regular atau gold. Saat pembukaan, pemegang kartu kredit diwajibkan membayar uang pangkal dan annual fee yang besarnya bervariasi setiap bank. Besarnya uang pangkal dan annual fee untuk kelompok gold lebih tinggi daripada kelompok regular. Pemegang kartu kredit selanjutnya akan dikenakan bunga. Beban bunga ini dibedakan dalam hal penggunaan yaitu beban bunga untuk penggunaan belanja dan beban bunga untuk penarikan tunai. Khusus untuk penarikan tunai dengan kartu kredit disamping dikenakan bunga juga fee tertentu. Kartu kredit yang telah disetujui dapat digunakan unuk transaksi dengan pihak merchant. Card holder cukup menunjukkan kartu kredit dan kemudian akan digesekkan

pada mesin tertentu untuk mengetahui kebenaran kartu kredit dan pihak card holder langsung menandatanganinya. Penggunaan kartu kredit bisa dilakukan dimana saja pada tempat merchant yang telah menjalin kerjasama dengan bank penerbit kartu kredit. Merchant adalah pihak yang menyediakan barang dan jasa, contoh : hotel, supermarket, toko sepatu, mini market, dan sebagainya. Rekap transaksi yang menggunakan kartu kredit selanjutnya menjadi dasar pihak merchant untuk melakukan penagihan pada tanggal tertentu kepada bank penerbit. Penagihan kartu kredit dilakukan melalui bank penerbit terdekat dengan merchant. Kemudian pihak bank akan langsung membayarkan sejumlah tagihan dengan cara mengkreditkan ke rekening pihak merchant dan mendebet pihak card holder. Jumlah yang dibayarkan ke pihak merchant adalah jumlah bersih setelah dikurangi dengan komisi kartu kredit yang besarnya berkisar 3% sampai dengan 5% dari nilai transaksi/tagihan. Komisi kartu kredit menjadi hak atau pendapatan bank karena jasa bank telah memberikan dukungan penjualan pihak merchant. Dengan terbitnya kartu kredit akan potensial meningkatkan penjualan pihak merchant yang melakukan kerja sama dengan bank penerbit. Contoh Kasus 1.1 Lihat di Lampiran. Contoh Kasus 1.2 Lihat di Lampiran

7. AKUTANSI UNTUK CREDIT CARD Mekanisme pengoperasian credit card memiliki aspek control yang ketat, yang lazimnya dilakukan validator. Melalui validator ini, penerima pembayaran credit card dapat melakukan konfirmasi kepada pusat pengolahan data untuk mendapatkan otorisasi pembayaran. Otorisasi pembayaran sangat diperlukan untuk menjamin keabsahan dari credit card yang bersangkutan karena ia akan berfungsi sebagai pengecekan keabsahan nomor kartu dan saldo. Penggunaan credit card akan berstatus decline apabila pagu kredit sudah habis atau penggunaan kartu melebihi pagu kredit yang diberikan. Akuntansi credit card dibedakan untuk persetujuan pemberian kredit, penarikan, pelunasan dan pembayaran kepada beneficiery. Pemberian kredit untuk setiap nasabah credit card bersifat bersyarat (contingent). Untuk penerbit credit card diadministrasikan dalam rekening administratif yang berguna untuk tujuan control terhadap penggunaan pagu kredit yang diadministrasikan dengan komputer. Rekening administratif harus disesuaikan bila ada penggunaan dan penyetoran credit card.

Masing-masing pemegang credit card memiliki satu rekening khusus yang diadministrasikan berdasarkan nomor credit card. Nomor ini akan dijadikan dasar untuk tujuan evaluasi kredit, seperti control terhadap pagu dan saldo outstanding yang dilakukan dengan mekanisme komputer. a. Penerbitan Credit Card Setiap kali bank menerbitkan credit card, kepada nasabah yang bersangkutan dipelihara satu rekening dan ditentukan pagu kredit nasabah tersebut. Pagu ini merupakan kewajiban bank terhadap nasabah bersangkutan untuk diberikan kredit. Dengan demikian, pagu kredit akan diadministrasikan dalam rekening administratif. Karena dalam akuntansi bank, menurut SKAPI, harus jelas terlihat kewajiban ini yang dibukukan secara single entry, maka kewajiban yang bersyarat ini akan dibukukan dalam rekening administratif sisi kredit. Sebagi contoh, apabila bank omega cabang jakarta telah mengotorisasi untuk menerbitkan credir card VISA atas nama Tn.Santoso depagu kredit sebesar Rp. 5.000.000. suku bunga diasumsikan sebesar 22% setahun. Pada saat penerbitan credir card akan dibukukan sebagai berikut : K : Rekening Administratif Rupiah Credit Card yang diterbitkan . Rp 5.000.000,Rekening administratif ini akan tetap tidak berubah sepanjang saldo nasabah credit card tidak berubah atau tidak dipergunakan. Rekening ini akan dibukukan untuk setiap nasabah dan dibukukan kedalam buku besar secara berumpun. b. Pembebanan Annual Fee Pada saat pembebanan annual fee sebesar Rp. 100.000 atas beban rekening Tn.santoso, oleh bank omega akan dibukukan sebagai berikut. D K : Debitur credit card Tuan Santoso.................Rp 100.000 : Pendapatan annual fee credit card...................Rp 100.000

Pembebanan biaya annual fee ini akan mengurangi pagu kredit yang diberikan dan akan mengakibatkan tagihan bank omega kepada nasabah yang bersangkutan. D : Rekening administratif rupiah credit card yang diterbitkan.......Rp 100.000

c. Penggunaan Credit Card

Apabila Tn.santoso mempergunakan credit card yang dimilikinya untuk membeli barang di toko SJR sebesar Rp. 240.000 dan kemudian toko JR menyetor slip pembelian barang beserta dengan bukti lainnya kepada bank omega jakrta untuk disetorkan bagi keuntungan rekening gironya dengan dipotong komisi sebesar Rp 5.000 .oleh bank omega jakarta akan dibukukan sebagai berikut: D D K K : Rekening administratif rupiah- credit yang diterbitkan .................. Rp 240.000 : debitur credit card-Tn.santoso .................................................... Rp 240.000 : Giro-rekening toko SJR .................................... Rp 235.000 : Pendapatan komisi credit card .......................... Rp 5.000

d. Informasi Nasabah Karena dengan media bantu komputer, saldo atau pagu setiap nasabah credit card dapt diketahui dengan cepat dan pasti setiap saat diperlukan. Untuk mengetahui berapa besar pagu kredit dapat langsung diambil dari saldo rekening administratifnya, seperti tampak sebagai berikut. Sisa pagu kredit (rekening administratif) ................. Rp 4.660.000 Tagihan Kepada Tn.santoso ................................... Rp 340.000 Total pagu kredit .................................................. Rp 5.000.000 8. PEMBAYARAN TAGIHAN CREDIT CARD Apabila sebulan kemudian, Tn santoso dating hendak melunasi hutangnya sebesar Rp 340.s000 ditambah dengan bunga terhutang secara tunai, maka bank omega-jakarta akan membukukan sebagai berikut : Pokok debitur .............................................. Rp 340.000 Bunga : 30/360*22%*Rp 340.000 .................. Rp 6.233 Jumlah debitur D K K ............................................. Rp 346.233

: KAS .......................................................... Rp 346.000 : Debitur credit card ...................................... Rp 235.000 : Pendapatan bunga credit card ....................... Rp 5.000

1. Bila Pembayaran Nasabah Credit Tidak Penuh

Dalam hal tagihan bank kepada nasabah credit card tidak dibayar penuh, maka terhadap saldo yang outstanding akan diperhitungkan bunga dengan perhitungan bunga majemuk. Cara perhitungan bunga majemuk (bunga berbunga), dilakukan dengan rumus sebagai berikut : (1+ i) * sisa debitur Saldo rekening nasabah akan bertambah terus dengan sejumlah bunga yang diperhitungkan atas dasar saldo terakhir dari rekening nasabah yang bersangkutan. 2. Statement Tagihan Kartu Kredit

Nomor Kartu adalah nomor identitas yang selalu harus dicantumkan pada setiap pembayaran tagihan. Tanggal tagihan adalah tanggal dimana perincian dicetak/tanggal jatuh tempo yang berkisar 7-15 hari setelah tanggal penagihan. Tanggal jatuh tempo adalah tanggalk paling lambat untuk melakukan pembayaran atas tagihan. Pembayaran minimum adalah pembayaran terendah dan kewajiban bagi pemegang kartu yang harus dibayarkan sebelum tanggal jatuh tempo pembayaran. Pembayaran ini minimum 10%-20% dari total tagihan atau misalnya, minimum Rp. 50.000. ketentuan ini berlaku untuk kartu kredit. Jumlah tagihan adalah jumlah seluruh transaksi dengan menggunakan kartu kredit yang belum dilunasi. Limit kredit adalah jumlah maksimal yang diberikan kepada setiap kartu. Batas penarikan uang tunai adalah batas penarikan uang tunai yang dapat diambil pada posisi rekening seperti yang tertera pada perincian tagihan. Tunggakan adalah jumlah pembayaran minimum pada tagihan bulan sebelumnya yang belum dibayar (bagi kartu kredit). Tanggal posting adalah tanggal ditagihkannya penarikan kartu. Tanggal transaksi adalah tanggal terjadinya transaksi pengambilan uang tunai dan pembayaran dengan menggunakan kartu. Nomor referenst adalah nomor identitas setiap transaksi.

3. Pihak-pihak yang Terkait dengan Kartu Plastik Penerbit merupakan pihak atau lembaga yang mengeluarkan dan mengelolan satu kartu.

Acquirer merupakan lembaga yang mengelola penggunaan kartu plastik terutama dalam hal penagihan dan pembayaran antara pihak issuer dengan pihak merchant. Pemegang kartu adalah pihak yang memiliki kartu kredit untuk kemudahan bertransaksi. Merchant adalah pihak yang menerima pembayaran atas transaksi jual beli barang dan jasa.

4. Perjanjian Pemegang Kartu


-

Pemilikan kartu Masa berlaku kartu palastik Transaksi Pembayaran tagihan Bunga dan biaya Limit kredit Penarikan uang tunai Transaksi dalam valuta asing Kehilangan kartu Jasa pihak ketiga Tanggung jawab pemegang kartu Pengakhiran perjanjian

5. Perjanjian Merchant
-

Merchant akan menerima semua kartu merek tertentu sampai jumlah floor limit yang ditetapkan. Merchant akan senantiasa memeriksa keabsahan kartu, Merchant harus menggunakan slip penjualan yang disediakan perusahaan kartu Mercahant akan mengklaim pembayaran kembali setelah dikurangi discount ke perusahaan kartu (issuer) pada waktunya. Rek bank merchant akan dikredit sebesar jumlah penjualan dikurangi discount. Merchant harus menjual barang/jasa tidak melebihi harga penjualan uang tunai.merchant memberikan hak kepada issuer untuk mendebit rekening banknya sejumlah yang harus dibayarakan. Kontrak perjanjian dapat diakhiri beberapa minggu setelah pemberitahuan oleh pihak manapun.

6. Pembiayaan Konsumen

Menurut Kepres no,61/1988 Perusahaan Pembiayaan Konsumen adalah badan usaha yang melakukan sistem pembayaran angsuran berkala

Menurut Keputusan Menteri Keuangan no. 251/KMK.013/1988 Pembiayaan Konsumen adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan sistem pembayaran angsuran

7. Mekanisme Pembiayaan Konsumen Pihak terkait : Perusahaan pembiayaan Konsumen / debitur Supplier / penjual barang

Perjanjian jual beli antara konsumen dengan supplier Perjanjian pembiayaan antara perusahaan pembiayaan konsumen dengan konsumen Alur transaksi - Konsumen mengajukan pemesanan pada perusahaan - Perusahaan konsumen memesan barang pada supplier - Supplier menerahkan barang pada konsumen - Konsumen mengangsur kepada perusahaan pembiayaan konsumen

8. Dokumentasi Pembiayaan Konsumen Dokumen pokok : Credit application form Surveyor report Credit approval / memorandum persetujuan

Dokumen jaminan Jaminan utama Jaminan pokok Jaminan tambahan

Dokumen pemesanan & penyerahan barang

Dokumen kepemilikan barang Supporting document

9. CARA-CARA ANTISIPASI KARTU PLASTIK PALSU Setelah menerima Kartu Kredit harus diperhatikan kondisi pisik kartu. Perhatikan angka kecil yg ada di Kartu jharus sama dg nomor kartu Sambil memegang Kartu mainkan jemari anda untuk memastikan LOGO tidak copot. Perhatikan td tangan tamu di kartu dg di RC harus sama. Perhatikan Nomor kartu Kredit bagian belakang adakah tanda-tanda sudah dirubah. Perhatikan logo Hologram.

a. Kreteria Kartu Kredit yang Baik Persyaratan memperoleh kartu relatif ringan Proses cepat dan mudah Mempunyai jaringan yang luas Biaya penggunan relatif rendah (iuran tahunan, bunga yang dibebankan) Kartu dapat digunakan multi fungsi Memberi rasa bangga pada pemakainya

b. Tujuan Perusahaan Kartu Kredit menerima sebanyak-banyaknya nasabah yang memiliki kelayakan kredit; menerima merchant yang dapat dipercaya; merangsang penggunaan maksimum fasilitas credit line; membatasi dan mengurangi piutang bermasalah dan penyelewengan; memaksimalkan nilai rata-rata setiap transaksi kartu (sehingga mengurangi jumlah voucher yang nilainya kecil).

c. Contoh Syarat dan Ketentuan Pemegang Kartu Kredit untuk Bank Mandiri Syarat dan ketentuan pemegang mandiri kartu kredit yang terinci secara lengkap terdapat dalam Buku Petunjuk Layanan. Jika Anda belum memilikinya silahkan menghubungi mandiri call 14000 atau (021) 5299 7777.

Hal-hal yang harus diketahui pemegang kartu MANDIRI adalah :

1. Kartu Kredit Mandiri mandiri kartu kredit diterbitkan oleh PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. di bawah lisensi Visa & MasterCard yang berfungsi sebagai alat pembayaran transaksi pembelanjaan atau penarikan tunai di seluruh merchant berlogo Visa atau ATM berlogo Plus untuk mandiri kartu kredit visa dan yang berlogo MasterCard (maestro/Cirrus) untuk mandiri kartu kredit mastercard. 2. Saldo Terhutang dan Pilihan Cara Pembayaran Saldo terhutang adalah saldo terhutang pada saat tanggal penagihan yang mencakup saldo terhutang bulan lalu ditambah transaksi-transaksi sampai dengan Tanggal Penagihan, biaya - biaya, bunga dan koreksi dikurangi pembayaran dan kredit. Cara pembayaran dapat dilakukan dengan: Pembayaran Minimum, pembayaran sebagian atau pembayaran penuh. Ketentuan mengenai pembayaran tersebut terinci dalam Buku Petunjuk Layanan.

3. Sarana Pembayaran Pembayaran ditujukan ke PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. dapat dilakukan dengan cara: Tunai, Pemindah-bukuan, LLG/ Kliring, Direct Debit, Internet Banking, IVR (Interactive Voice Response), SMS Banking, Mandiri ATM. 4. Bunga a. Pembelanjaan (retail) Bunga akan ditambahkan pada penagihan berikutnya bila Anda tidak membayar seluruh Saldo Terhutang pada Tanggal Jatuh Tempo. Bunga ditagih per bulan berdasarkan saldo harian sejak tanggal transaksi dengan suku bunga seperti yang tercantum pada Lembar Penagihan. b. Penarikan Uang Tunai Bunga untuk penarikan uang tunai akan dikenakan sejak tanggal transaksi penarikan uang tunai dengan suku bunga seperti tercantum pada lembar penagihan. c. Alasan nasabah terkena bunga: Pembayaran melampaui tanggal jatuh tempo Pembayaran minimum atau tidak penuh Pembayaran kurang dari minimum Tidak melakukan pembayaran Adanya transaksi penarikan uang tunai

Gambar 1.4 Lihat di Lampiran. 5. Kartu Hilang atau Dicuri Segera laporkan kehilangan atau kecurian kartu Anda ke Mandiri call 14000 atau (021) 5299 7777 (24 jam) dan susulkan dengan laporan tertulis. Anda bertanggung jawab sepenuhnya atas semua transaksi yang terjadi sebelum laporan kehilangan atau kecurian Anda diterima oleh PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. 6. Pemindahan Saldo Terhutang Kepada Pihak Ketiga PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. berhak untuk memindahkan Saldo Terhutang atas Kartu Kredit Anda kepada pihak ketiga. 7. Pertanyaan Mengenai Kesalahan pada Lembar Penagihan Bila ada sanggahan atas transaksi pada Lembar Penagihan, ajukan selambatlambatnya 30 hari sejak tanggal cetak Lembar Penagihan. Harap sertakan informasi mengenai data-data sebagai berikut: Nama dan Nomor Kartu Anda Rincian Transaksi dan jumlah yang disanggah Tanggal transaksi Alasan sanggahan Tanda tangan Anda

Surat sanggahan harap dikirim ke: Bank Mandiri Consumer Cards Group Plaza Bapindo Menara Mandiri Lantai 10 Jl. Jendral Sudirman Kav. 54 55 Jakarta 12190 Atau fax ke: (021) 526 7370 8. Hak untuk Mengubah atau Membatalkan Syarat dan Ketentuan Atas dasar kebijakan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. syarat dan ketentuan ini dapat berubah. PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. dapat membatalkan mandiri kartu kredit Anda sewaktu-waktu tanpa syarat apabila kondisi pembayaran/account Pemegang Kartu menurun menjadi kurang lancar, diragukan atau macet. Tabel 1.1 di Lampiran 10. Risiko kredit

Risiko kredit (bahasa Inggris: Credit risk) adalah merupakan suatu risiko kerugian yang disebabkan oleh ketidak mampuan (gagal bayar) dari debitur atas kewajiban pembayaran utangnya baik utang pokok maupun bunganya ataupun keduanya. a. Risiko pemberi pinjaman atas konsumen Kebanyakan pemberi pinjaman menggunakan cara penilaian kelayakan kredit mereka masing-masing guna membuat peringkat risiko konsumen lalu kemudian mengaplikasikannya terhadap strategi bisnis mereka. Dengan produk-produk seperti pinjaman pribadi tanpa jaminan atau kredit pemilikan rumah, kreditur akan mengenakan suku bunga yang tinggi terhadap konsumen yang berisiko tinggi dan sebaliknya. Pada pinjaman berulang seperti pada kartu kredit dan overdraft, risiko ini dikontrol dengan cara penetapan batasan kredit yang seksama. Beberapa produk mensyaratkan adanya jaminan yang biasanya dalam bentuk properti. b. Risiko pemberi pinjaman atas bisnis Debitur akan menawarkan biaya / keuntungan dari suatu pinjaman berdasarkan dari risiko dan suku bunga yang dikenakan, namun suku bunga ini bukan hanya satu-satunya metode kompensasi untuk risiko yang dihadapi. Perlindungan tambahan dalam bentuk pembatasan sebagaimana diatur dalam perjanjian kredit memungkinkan dilakukannya pengawasan oleh pemberi pinjaman (kreditur) atas peminjam (debitur) yaitu misalnya dalam bentuk :

Pembatasan terhadap debitur atas tindakan-tindakan yang dapat memengaruhi keuangan debitur misalnya melakukan pembelian kembali saham, melakukan pembayaran deviden, atau melakukan peminjaman baru. Kewenangan untuk melakukan pengawasan atas utang dengan cara mensyaratkan adanya audit dan laporan keuangan bulanan. Hak kepada kreditur untuk meminta pelunasan seketika atas utang yang diberikannya apabila terjadi suatu peristiwa khusus ataupun apabila rasio keuangan seperti utang / ekuiti menurun.

Saat ini terdapat inovasi untuk melindungi kreditur dan pemegang obligasi terhadap risiko gagal bayar yaitu dalam bentuk kredit derivatif yang dikenal dengan istilah credit default swap. Dengan kontrak keuangan ini maka perusahaan dimungkinkan untuk membeli suatu perlindungan (proteksi) terhadap risiko gagal bayar dari pihak ketiga selaku penjual perlindungan. Penjual perlindungan ini memperoleh imbal jasa secara periodik sebagai bentuk kompensasi atas risiko yang diambil alih olehnya yaitu dalam bentuk kesepakatan untuk membeli tagihan tersebut apabila terjadi gagal bayar. c. Risiko yang dihadapi oleh bisnis

Perusahaan menghadapi "risiko kredit" dalam hal misalnya perusahaan tidak menerima "pembayaran dimuka" secara tunai untuk produk atau jasa yang dijualnya. Dengan melakukan penyerahan barang atau jasa di depan dan menagih pembayaran kelak maka perusahaan menanggung suatu risiko selama tenggang waktu penyerahan barang atau jasa dengan waktu pembayaran. Beberapa perusahaan memiliki departemen risiko kredit yang bertugas untuk menilai kesehatan finansial dari konsumennya guna memutuskan pemberian kredit lebih lanjut atau tidak. Dalam hal ini dapat juga digunakan jasa pihak ketiga yaitu peruisahaan yang menyediakan jasa dibidang penilaian kredit dengan memberikan peringkat kredit seperti misalnya Moody's, Standard & Poor's, Fitch Ratings dan lainnya yang menyediakan informasi berbayar. Risiko kredit ini tidak dengan sungguh-sungguh dikelola oleh perusahaan kecil yang hanya memiliki 1 atau 2 konsumen saja, sehingga perusahaan ini sangat rentan terhadap masalah gagal bayar atau keterlambatan pembayaran oleh konsumennya. d. Risiko yang dihadapi individu Konsumen dapat menemui risiko kredit dalam bentuk langsung misalnya sebagai deposan di bank atau sebagai debitur. Mereka dapat juga menghadapi risiko kredit sewaktu melakukan transaksi dagang dengan cara penyerahan uang muka kepada mitra pengimbang misalnya untuk melakukan pembelian rumah atau penyewaan rumah. Karyawan dari suatu perusahaan juga amat tergantung pada kemampuan perusahaan dalam melakukan pembayaran gaji juga termasuk yang menghadapi risiko kredit dalam stausnya sebagai karyawan. Pada beberapa kasus, pemerintah menyadari bahwa kemampuan para individu ini untuk melakukan evaluasi atas risiko kredit sangat terbatas dan risiko ini dapat mengurangi efisiensi ekonomi sehingga pemerintah melakukan berbagai mekanisme dan langkah hukum guna melindungi konsumen terhadap risiko ini. Deposito bank pada beberapa negara dijamin dengan asuransi (hinga batasan nilai tertentu) untuk deposito individu/perorangan, yang secara efektif akan mengurangi risiko kredit mereka terhadap bank dan meningkatkan kepercayaan mereka menggunakan jasa perbankan. e. Penyalahgunaan Kartu Kredit Bankbank sekarang nampaknya masih terus di hantui oleh munculnya kejahatan perbankan,ada kejahatan yang di kategorikan kejahatan kerah putih (White collar) dengan berbagai modus operandi yang dilakukan mulai dari pemalsuan dokumen, penerbitan L/C fiktif, Bank Garansi Bodong dan lain sebagainya. Dan bank sekarang sedang disibukan oleh kejahatan pembobolan bank melalui Kartu ATM dan Kartu Kredit. Yang akhirnya semua kerugian harus ditanggung oleh bank atau nasabahnya. Saya akan

berbagi pengetahuan tentang modus-modus kejahatan perbankan ini, yang mudahmudahan bisa mengingatkan kita semua untuk berjaga-jaga dan selalu bisa waspada. f. Kejahatan Kartu ATM Kejahatan kartu ATM yang sering terjadi adalah pemalsuan kartu ATM, dimana si pelaku kejahatan membuat kartu ATM palsu lengkap dengan magnetic stripe yang sudah berisi rekaman data dari kartu yang dipalsukan. Selain memalsukan kartu si pelaku juga mengetahui nomor PIN dari kartu yang digandakannya. Cara kebiasaan yang digunakan oleh si pelaku kejahatan untuk mengetahui nomor kartu dan nomor PIN si korban (nasabah) adalah sebagai berikut : Untuk mencuri PIN biasanya si pelaku mengintip calon korban dari belakang antrian lewat bahu korban yang sedang melakukan transaksi pada mesin ATM, ini bisa terjadi pada tempat-tempat seperti di Mall atau di lobby bank yang letak ATM-nya terbuka. Dan si pelaku pasti orang yang punya daya ingat tinggi karena dapat merekam nomor PIN dikepala hanya dengan sekilas. Si pelaku kejahatan memasang kamera kecil (Spycamera) dan Card reader pada mesin ATM. Mesin card reader berfungsi untuk merekam data dari magnetic stripe kartu ATM, sementara kamera kecil yang tersembunyi digunakan untuk mengintip atau merekam nomor PIN korban saat menggunakan keypad ATM. Membaca Record Terakhir : Modus yang satu ini tergolong berbahaya, anda tidak akan menemukan keanehan atau sesuatu yang tidak wajar di dalam anjungan atau ruangan ATM, modus kejahatan ATM yang satu ini telah banyak terjadi di luar negeri, cara kerja kejahatan ini membaca record terakhir dari transaksi mesin ATM dengan menggunakan kartu ATM kosong (akan tetapi kartu ATM tersebut telah di program untuk berkerja membaca transksi terakhir dari mesin ATM), dan seandainya si korban atau nasabah melaporkan kejadian seperti ini pada bank yang bersangkutan, tentu si korban akan di tuduh melakukan penipuan, karena transaksi yang dilakukan valid. Kenapa dianggap Valid ? karena biasanya si pelaku kejahatan ikut mengantri transaksi ATM di belakang anda, dengan demikian selisih waktu penarikan uang pun hanya beda beberapa menit, sehingga anda akan dianggap menarik uang secara berturut-turut oleh pihak bank. Bagaimana menghindari kejahatan seperti ini? caranya sangat sederhana, setelah anda melakukan transaksi pengambilan uang atau transaksi apapun yang anda lakukan di mesin ATM, dan setelah kartu anda keluar dari mesin ATM, anda tinggal memasukan kartu anda kembali dan memasukan PIN yang salah atau melakukan cancel, jadi record terakhir yang dibaca atau terekam oleh pelaku adalah PIN yang salah, jadi kita juga perlu nakal untuk menghindari kejahatan. Modus lainnya dari kejahatan kartu ATM adalah bisa dilakukan oleh oknum pegawai bank, (tapi ini hanya kemungkinan kecil), yaitu dengan cara membuat kartu ATM

fiktif melalui nomor rekening nasabah yang tidak menginginkan kartu ATM. Oknum pelaku biasanya memakai rekening yang saldonya besar akan tetapi pasif dalam aktivitas transaksi. Dengan kartu ATM yang fiktif tadi si oknum menguras isi rekening nasabahnya yang tidak aktif tadi dengan nyaman. Modus lainya adalah dengan cara agar kartu ATM menyangkut pada ATM slot, dengan menyisipkan sesuatu benda (bisa plastik, permen karet, korek api, atau benang nilon dll) yang akan membuat kartu ATM tertahan didalam. Dan si pelaku kejahatan akan pura-pura membantu atau menolong si korban dengan menyuruh kembali mencoba memasukan PIN, setelah berkali-kali dicoba gagal dan kartu ATMpun seolah telah ditelan mesin, maka si korban pergi untuk melakukan pengaduan pada bank yang bersangkutan, pada saat si korban pergi, si pelaku kejahatan mengambil kartu dari slot ATM dengan menarik benda yang dipasangnya, selanjutnya menarik tunai uang si korban. Dalam modus ini ada juga si penjahat yang memasang striker palsu serta memalsukan nomor telepon bank, sehingga pada saat si nasabah atau korban menghubungi nomor telepon yang tercantum di stiker palsu, si penjahat akan mengarahkan anda dengan berbagai cara agar anda menyebutkan nomor PIN anda. Modus telepon pengaduan palsu ini, kadang si penjahat bisa menggunakan cara hipnotis melalui telepon, yang akan membuat anda mengkuti semua instruksi si penjahat.

g. Alternatif tindakan pencegahan untuk menghindari terjadinya kejahatan kartu ATM adalah sebagai berikut : Pihak Perbankan dalam sistem kartu ATM agar segera memanfaatkan Card Verification Value (CVV) supaya bisa mempersulit upaya-upaya pemalsuan kartu ATM. Pihak Perbankan sebaiknya menambah security camera disetiap sudut di lokasi mesin ATM atau di ATM center baik di Mall maupun di bank dan tempat-tempat di sekitar mesin ATM ada, agar dapat merekam semua segala aktifitas orang-orang yang melakukan transaksi di ATM atau aktifitas lainnya. Anda sebaiknya selalu menyimpan nomor pengaduan yang dberikan oleh bank untuk di simpan di handphone anda, anda bisa menanyakan langsung pada customer service bank anda. Pengawasan dilingkungan perbankan harus semakin di perketat. Hindari alat-alat yang seharusnya tidak ada di ATM biasa seperti : Magnetic Card Rider berfungsi untuk membaca data kartu magnetik ATM yang dipakai untuk menggandakan (kloning) kartu ATM. terbuat dari gipsum, warnanya mirip dengan warna ATM. Skimmer umumnya ditempel dengan

double tape sehingga mudah lepas saat digoyang, dipoasang ditempat untuk memasukkan kartu. Kamera kecil (Spycamera/mini camera) biasanya dipasang dibadan ATM atau disekitarnya, ukurannya tipis dan memanjang sehingga bisa ditempel diatas atau samping tombol untuk mengetik PIN. Intinya semua yang mengarah ke tombol untuk mrngrtik PIN harus diwaspadai.

h. Kejahatan Kartu Kredit Para pelaku kejahatan dengan dengan modus kartu ATM maupun kartu kredit sudah semakin modern dan mempunyai jaringan luas, bahkan dari media informasi yang pernah saya tahu bahwa jaringan ini telah sampai ke luar negeri. Serta teknik maupun peralatan dan bahan baku pembuat kartu palsu dijaringan ini telah saling bertukar informasi dan saling jual beli bahan baku guna pemalsuan. Para pelaku kejahatan kartu ATM maupun Kartu Kredit mempunyai mesin pembuat kartu. Mesin encodingenconding data pada magnetic stripe kartu sesuai dengan data yang terekam pada kartu asli. kartu ini sering dipakai untuk membuat tanda pengenal ID card, kartu anggota, dan lain-lain. Bahan bakunya bisa dibeli dari luar negeri maupun dari bank di dalam negeri yang kemudian dicetak sesuai aslinya atau menyerupai dan ada beberapa dugaan alternative dalam pencurian data korban : 1. Data dan nomor awalnya didapat dengan cara Skimming artinya merekam secara elektronik data pada magnetic stripe skimming ini biasanya di kerjakan dengan suatu alat sebesar bungkus rokok dan tergantung ada berbagai model yang dijual di pasaran, biasanya si pelaku kejahatan dalam mencuri data dan nomor dari kartu kredit asli akan menitipkan Skimming tersebut di Restoran, hotel, Toko, atau tempat-tempat pembayaran dengan istilah gesek, yang artinya harus ada keterlibatan orang dalam dari tempat-tempat tersebut, biasanya si kasir menyembunyikan SKIMMER di bawah meja dan melakukan dua kali penggesekan tanpa sepengetahuan pemilik kartu. 2. Cara lain pencurian data pemilik kartu kredit asli adalah bisa dengan cara memasang semacam CHIP pada terminal POS (point of sale) yaitu sebuah alat gesek kartu kredit yang digunakan unbtuk pembayaran, pada restoran, toko, hotel, super market, dan si pelaku kejahatan disini bisa petugas service terminal POS, karyawan pada terminal POS, atau orang lain yang menitipkan. Intinya bahwa CHIP harus dipasang oleh petugas yang menangani terminal POS, misalkan pada saat service. 3. Maka dengan cara SKIMMING dan CHIP Information Card Verification Value (CVV) yang mempunyai tiga digit angka yang berfungsi sebagai pengaman kartu kredit akan ikut terekam.

4. Dalam tindak kejahatan Kartu Kredit umumnya terdapat beberapa modus antara lain : Modus IDT (Identity Theft) yaitu pencurian Identitas orang lain yang dipake untuk tujuan melakukan kejahatan penipuan dan pemalsuan. Modus ATO (Account take over) yaitu pencurian data orang lain yang bertujuan untuk mengendalikan rekening tanpa sepengetahuan pemilik rekening atau secara tidak sah. Modus MTO (Merchant Take Over) yaitu pencurian data pemilik merchant yang bertujuan mengendalikan atau mengambil alih Merchant-nya secara tidak sah.

C. Pengertian Perbankan Syariah Berasal dari bahasa Arab: al-Mashrafiyah al-Islamiyah) adalah suatu sistem perbankan yang pelaksanaannya berdasarkan hukum Islam (syariah). Pembentukan sistem ini berdasarkan adanya larangan dalam agama Islam untuk meminjamkan atau memungut pinjaman dengan mengenakan bunga pinjaman (riba), serta larangan untuk berinvestasi pada usaha-usaha berkategori terlarang (haram). Sistem perbankan konvensional tidak dapat menjamin absennya hal-hal tersebut dalam investasinya, misalnya dalam usaha yang berkaitan dengan produksi makanan atau minuman haram, usaha media atau hiburan yang tidak Islami, dan lain-lain. Meskipun prinsip-prinsip tersebut mungkin saja telah diterapkan dalam sejarah perekonomian Islam, namun baru pada akhir abad ke-20 mulai berdiri bank-bank Islam yang menerapkannya bagi lembaga-lembaga komersial swasta atau semi-swasta dalam komunitas muslim di dunia.Gaya hidup modern yang identik dengan kepraktisan menciptakan berbagai fasilitas yang menunjang kemudahan hidup. Salah satu kemudahan tersebut difasilitasi oleh bidang perbankan yang menyediakan sarana kemudahan dalam bertransaksi dengan pengadaan kartu ATM, kartu debit, kartu kredit dan sebagainya. Dewasa ini beberapa bank syariah mulai membuat trobosan dengan menerbitkan kartu kredit syariah, yang diawali pada juli 2007 dimana Bank Danamon bekerjasama dengan Mastercard menerbitkan Dirham card, yaitu kartu kredit dengan prinsip syariah. Salah satu bank syariah yang menerbitkan kartu kredit menetapkan syarat agar nasabah membuka rekening tabungan yang dananya minimal 10% dari limit kartu kredit yang diterima oleh nasabah. Dana dari tabungan yang dibuka tersebut akan diblokir dan digunakan sebagai jaminan pelunasan tagihan dari kartu kredit yang diterima nasabah. hal tersebut bertujuan untuk mengurangi risiko yang akan dihadapi bank. Dana yang diblokir oleh bank tersebut bukan merupakan dana yang idle karena bank akan membuat akad perjanjian dengan sistem mudharabah sebagaimana halnya tabungan biasa. Bank akan mengelola dana tersebut, dan memberikan bagihasil kepada nasabah dengan nisbah tertentu yang dihitung dari saldo harian nasabah setelah dikurangi pajak. Jika suatu saat nasabah berkeinginan untuk menutup kartu kreditnya dan tidak ada

tunggakan kewajiban yang harus ditanggung oleh nasabah yang bersangkutan, nasabah bisa menutup rekening tabungan tersebut dan mengambil seluruh sisa dana yang tersimpan. Secara umum bentuk dan kegunaan dari kartu kredit syariah sama dengan kartu kredit biasa (konvensional), selain hal yang telah di sebutkan diatas, beberapa hal yang membedakanya adalah: 1) Terdapat akad yang mengikat, diantaranya: a. Akad Khafalah: Dalam akad tersebut, bank syariah sebagai penerbit kartu kredit akan bertindak selaku penjamin bagi nasabahnya terhadap merchant yang melakukan transaksi dengan nasabah. Bank syariah akan menjamin semua kewajiban pembayaran dari nasabahnya membeli barang atau menerima jasa dari merchant bersangkutan. Karena bank syariah telah bertindak selaku penjamin maka bank syariah berhak menagih iuran bulanan (membership fee). b. Akad Qardh: Bank syariah berperan selaku pemberi pinjaman kepada nasabahnya atas seluruh transaksi penarikan tunai dengan menggunakan kartu kredit yang diterbitkan oleh bank syariah tersebut. Jadi dalam suatu transaksi kartu kredit, terkadang nasabah diberi fasilitas untuk menarik dana secara tunai dengan menggunakan kartu kreditnya, walaupun nasabah tidak memiliki simpanan dalam bentuk uang tunai dalam rekening kartu kredit tersebut. Namun, bank syariah memberikan dana talangan kepada nasabah yang nantinya harus dikembalikan lagi oleh nasabah yang bersangkutan. Atas pelayanan Qardh, bank berhak mengenakan biaya administrasi yang besarnya tidak boleh didasarkan atas jumlah pinjaman, tetapi biaya riil yang dikeluarkan bank. c. Akad Ijarah: Bank syariah berperan selaku penyedia jasa sistem pembayaran dan pelayanan terhadap pemegang kartu kredit. Atas ijarah tersebut, nasabah dari bank syariah yang bersangkutan dikenai iuran tahunan. d. Akad Wakalah: Yaitu akad pemberi kuasa. Jadi, pada saat terjadi akad antara pemegang kartu dan penerbit kartu (bank), nasabah pemegang kartu sudah memberikan kuasa (mewakilkan) kepada bank untuk melunasi utang yang timbul sebagai akibat dari pengeluaran nasabah dengan menggunakan kartu kredit tersebut.

e. Akad Hiwalah (pengalihan pembayaran utang): Seperti halnya pada konsep hiwalah, nasabah pada dasarnya memiliki utang kepda pedagang (dengan membeli suatu barang atau jasa tertentu), dan kemudian pedagang itu menagih kepda bank. Dalam hal ini, antara pedagang dan bank tidak ada hubungan khusus. Namun, karena adanya wakalah yang ditindaklanjuti dengan hiwalah, bank berkewajiban untuk membayarkan tagihan hutang dari pedagang tersebut atas nama nasabah. f. Baibil Ajal: Biasanya terjadi antara dua pihak, yakni hubungannya langsung atara nasabah selaku pemegang kartu kredit dan pedagang. Nasabah membeli produk kepada pedagang dan pembayarannya dilakukan secara mencicil. 2) Tidak adanya bunga yang dibebankan Untuk pengganti bunga, nasabah akan dikenakan fee yang nilainya tergantung pada sisa kewajiban bukan dari nilai pembelanjaan, sehingga fee ini lebih murah dibanding kartu biasa. 3) Denda jatuh tempo Kartu kredit syariah tidak mengenakan denda jatuh tempo. Bank hanya akan mengenai biaya penagihan yang nilainya sesuai dengan kerugian riil atas penagihan yang dilakukan oleh bank. 4) Teknik penagihan Teknik penagihan menggunakan prinsip-prinsip syariah, baik secara perilaku maupun bertindak. Jadi penagihan akan dilakukan melalui pendekatan kepada nasabah, bukan dengan cara penagihan secara paksa. 5) Batasan pemakaian khusus Pemegang kartu kredit tidak diperbolehkan untuk menggunakanya ditempat terlarang seperti night Club, perjudian, dan sebagainya. jika hal ini dilarang maka otomatis akan di tolak di mesin EDC. 6) Prinsip Pebankan Syariah Perbankan syariah memiliki tujuan yang sama seperti perbankan konvensional, yaitu agar lembaga perbankan dapat menghasilkan keuntungan dengan cara meminjamkan modal, menyimpan dana, membiayai kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai. Prinsip hukum Islam melarang unsur-unsur di bawah ini dalam transaksi-transaksi perbankan tersebut:

1. 2. 3. 4.

Perniagaan atas barang-barang yang haram, Bunga ( riba), Perjudian dan spekulasi yang disengaja ( maisir), serta Ketidakjelasan dan manipulatif ( gharar).

7) Produk Perbankan Syariah Beberapa produk jasa yang disediakan oleh bank berbasis syariah antara lain: Titipan atau simpanan - Al-Wadi'ah (jasa penitipan), adalah jasa penitipan dana dimana penitip dapat mengambil dana tersebut sewaktu-waktu. Dengan sistem wadiah Bank tidak berkewajiban, namun diperbolehkan, untuk memberikan bonus kepada nasabah. Bank Muamalat Indonesia-Shahibul Maal. - Deposito Mudharabah, nasabah menyimpan dana di Bank dalam kurun waktu yang tertentu. Keuntungan dari investasi terhadap dana nasabah yang dilakukan bank akan dibagikan antara bank dan nasabah dengan nisbah bagi hasil tertentu. Bagi hasil - Al-Musyarakah (Joint Venture), konsep ini diterapkan pada model partnership atau joint venture. Keuntungan yang diraih akan dibagi dalam rasio yang disepakati sementara kerugian akan dibagi berdasarkan rasio ekuitas yang dimiliki masingmasing pihak. Perbedaan mendasar dengan mudharabah ialah dalam konsep ini ada campur tangan pengelolaan manajemennya sedangkan mudharabah tidak ada campur tangan. - Al-Mudharabah, adalah perjanjian antara penyedia modal dengan pengusaha. Setiap keuntungan yang diraih akan dibagi menurut rasio tertentu yang disepakati. Resiko kerugian ditanggung penuh oleh pihak Bank kecuali kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan pengelolaan, kelalaian dan penyimpangan pihak nasabah seperti penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan. - Al-Muzara'ah, adalah bank memberikan pembiayaan bagi nasabah yang bergerak dalam bidang pertanian/perkebunan atas dasar bagi hasil dari hasil panen. - Al-Musaqah, adalah bentuk lebih yang sederhana dari muzara'ah, di mana nasabah hanya bertanggung-jawab atas penyiramaan dan pemeliharaan, dan sebagai imbalannya nasabah berhak atas nisbah tertentu dari hasil panen. Jual beli - Bai' Al-Murabahah, adalah penyaluran dana dalam bentuk jual beli. Bank akan membelikan barang yang dibutuhkan pengguna jasa kemudian menjualnya kembali ke pengguna jasa dengan harga yang dinaikkan sesuai margin keuntungan yang ditetapkan bank, dan pengguna jasa dapat mengangsur barang tersebut. Besarnya

angsuran flat sesuai akad diawal dan besarnya angsuran=harga pokok ditambah margin yang disepakati. Contoh: harga rumah 500 juta, margin bank/keuntungan bank 100 jt, maka yang dibayar nasabah peminjam ialah 600 juta dan diangsur selama waktu yang disepakati diawal antara Bank dan Nasabah. - Bai' As-Salam, Bank akan membelikan barang yang dibutuhkan di kemudian hari, sedangkan pembayaran dilakukan di muka. Barang yang dibeli harus diukur dan ditimbang secara jelas dan spesifik, dan penetapan harga beli berdasarkan keridhaan yang utuh antara kedua belah pihak. Contoh: Pembiayaan bagi petani dalam jangka waktu yang pendek (2-6 bulan). Karena barang yang dibeli (misalnya padi, jagung, cabai) tidak dimaksudkan sebagai inventori, maka bank melakukan akad bai' as-salam kepada pembeli kedua (misalnya Bulog, pedagang pasar induk, grosir). Contoh lain misalnya pada produk garmen, yaitu antara penjual, bank, dan rekanan yang direkomendasikan penjual. - Bai' Al-Istishna', merupakan bentuk As-Salam khusus di mana harga barang bisa dibayar saat kontrak, dibayar secara angsuran, atau dibayar di kemudian hari. Bank mengikat masing-masing kepada pembeli dan penjual secara terpisah, tidak seperti As-Salam di mana semua pihak diikat secara bersama sejak semula. Dengan demikian, bank sebagai pihak yang mengadakan barang bertanggung-jawab kepada nasabah atas kesalahan pelaksanaan pekerjaan dan jaminan yang timbul dari transaksi tersebut. Sewa - Al-Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang dan jasa melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri. - Al-Ijarah Al-Muntahia Bit-Tamlik sama dengan ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang dan jasa melalui pembayaran upah sewa, namun dimasa akhir sewa terjadi pemindahan kepemilikan atas barang sewa. Jasa - Al-Wakalah adalah suatu akad pada transaksi perbankan syariah, yang merupakan akad (perwakilan) yang sesuai dengan prinsip prinsip yang di terapkan dalam syariat islam. - Al-Kafalah adalah memberikan jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung, dengan kata lain mengalihkan tanggung jawab seorang yang dijamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai jaminan. - Al-Hawalah adalah akad perpindahan dimana dalam prakteknya memindahkan hutang dari tanggungan orang yang berhutang menjadi tanggungan orang yang berkewajiban membayar hutang (contoh: lembaga pengambilalihan hutang).

Ar-Rahn, adalah suatu akad pada transaksi perbankan syariah, yang merupakan akad gadai yang sesuai dengan syariah. - Al-Qardh adalah salah satu akad yang terdapat pada sistem perbankan syariah yang tidak lain adalah memberikan pinjaman baik berupa uang ataupun lainnya tanpa mengharapkan imbalan atau bunga ( riba . secara tidak langsung berniat untuk tolong menolong bukan komersial. 8) Tantangan Pengelolaan Dana Perbankan Syariah Laju pertumbuhan perbankan syariah di tingkat global tak diragukan lagi. Aset lembaga keuangan syariah di dunia diperkirakan mencapai 250 miliar dollar AS, tumbuh rata-rata lebih dari 15 persen per tahun. Di Indonesia, volume usaha perbankan syariah selama lima tahun terakhir rata-rata tumbuh 60 persen per tahun. Tahun 2005, perbankan syariah Indonesia membukukan laba Rp 238,6 miliar, meningkat 47 persen dari tahun sebelumnya. Meski begitu, Indonesia yang memiliki potensi pasar sangat luas untuk perbankan syariah, masih tertinggal jauh di belakang Malaysia. Tahun lalu, perbankan syariah Malaysia mencetak profit lebih dari satu miliar ringgit (272 juta dollar AS). Akhir Maret 2006, aset perbankan syariah di negeri jiran ini hampir mencapai 12 persen dari total aset perbankan nasional. Sedangkan di Indonesia, aset perbankan syariah periode Maret 2006 baru tercatat 1,40 persen dari total aset perbankan. Bank Indonesia memprediksi, akselerasi pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia baru akan dimulai tahun ini. Implementasi kebijakan office channeling, dukungan akseleratif pemerintah berupa pengelolaan rekening haji yang akan dipercayakan pada perbankan syariah, serta hadirnya investor-investor baru akan mendorong pertumbuhan bisnis syariah. Konsultan perbankan syariah, Adiwarman Azwar Karim, berpendapat, perkembangan perbankan syariah antara lain akan ditandai penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk yang dipersiapkan pemerintah. Sejumlah bank asing di Indonesia, seperti Citibank dan HSBC, bahkan bersiap menyambut penerbitan sukuk dengan membuka unit usaha syariah. Sementara itu sejumlah investor dari negara Teluk juga tengah bersiap membeli bank-bank di Indonesia untuk dikonversi menjadi bank syariah. Kriteria bank yang dipilih umumnya beraset relatif kecil, antara Rp 500 miliar dan Rp 2 triliun. Setelah dikonversi, bank-bank tersebut diupayakan melakukan sindikasi pembiayaan proyek besar, melibatkan lembaga keuangan global. Adanya perbankan syariah di Indonesia dipelopori oleh berdirinya Bank Muamalat Indonesia yang diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI)dengan tujuan mengakomodir berbagai aspirasi dan pendapat di masyarakat terutama masyarakat Islam yang banyak berpendapat bahwa bunga bank itu haram karena termasuk riba dan juga untuk mengambil prinsip kehati-hatian. Apabila dilihat dari segi ekonomi dan nilai bisnis, ini merupakan terobosan besar karena penduduk Indonesia 80% beragama islam, tentunya ini bisnis yang sangat potensial. Meskipun sebagian orang islam berpendapat bahwa bunga

bank itu bukan riba tetapi faedah, karena bunga yang diberikan atau diambil oleh bank berjumlah kecil jadi tidak akan saling dirugikan atau didzolimi, tetapi tetap saja bagi umat islam berdirinya bank-bank syariah adalah sebuah kemajuan besar. Tetapi sistem perbankan syariah di Indonesia masih belum sempurna atau masih ada kekurangannya yaitu masih berinduk pada Bank Indonesia, idealnya pemerintah Indonesia mendirikan lembaga keuangan khusus syariah yang setingkat Bank Indonesia yaitu Bank Indonesia Syariah. 9) Cara Perbankan Syariah Memperoleh Dana Bank syariah sebagai lembaga keuangan yang bergerak atas dasar prinsip-prinsip ajaran Islam, tidak seharusnya melakukan aktivitas rekayasa dalam bentuk apapun, termasuk dalam hal pelaporan keuangan, yang merupakan media informasi bagi para penggunanya dan alat penilaian oleh Pemerintah dan Bank Indonesia. Adanya aktivitas rekayasa dengan manajemen laba yang sering dilakukan sektor perbankan konvensional di Indonesia diharapkan tidak ikut mempengaruhi sektor perbankan syariah yang baru berkembang di Indonesia. Meskipun demikian, pesatnya perkembangan bank syariah yang melebihi bank konvensional menimbulkan pertanyaan, apakah juga terdapat manajemen laba dalam banksyariah.Salah satu tindakan manajemen atas laba yang dapat dilakukan adalah tindakan income smothing(perataan laba). Dalam hal ini perataan laba menunjukkan suatu usaha manajemen perusahaan untuk mengurangi variasi abnormal laba dalam batas-batas yang diizinkan dalam praktek akuntansi dan prinsip manajemen yang wajar.Jika laba yang dihasilkan tidak stabil atau terus berfluktuasi, maka kinerja manajer akan dipertanyakan dan akan berakibat buruk bagi nama baik perusahaan. Oleh karena itu, manajer dapat melakukan perataan laba. perataan laba dilakukan dengan rekayasa keuangan yang secara hukum dan akuntansi dapat dibenarkan dengan cara memanfaatkan kelemahan standar akuntansi ataupun aturan yang berlaku. Perbandingan antara bank syariah dan bank konvensional adalah sebagai berikut: Bank Islam Bank Konvensional

Melakukan hanya investasi yang halal menurut hukum Islam Memakai prinsip bagi hasil, jual-beli, dan sewa Berorientasi keuntungan dan falah (kebahagiaan dunia dan akhirat sesuai ajaran Islam)

Melakukan investasi baik yang halal atau haram menurut hukum Islam Memakai perangkat suku bunga Berorientasi keuntungan Hubungan dengan nasabah dalam bentuk kreditur-debitur Penghimpunan dan penyaluran dana tidak

Hubungan dengan nasabah dalam bentuk kemitraan Penghimpunan dan penyaluran dana sesuai fatwa Dewan Pengawas Syariah

diatur oleh dewan sejenis

Afzalur Rahman dalam bukunya Islamic Doctrine on Banking and Insurance (1980) berpendapat bahwa prinsip perbankan syariah bertujuan membawa kemaslahatan bagi nasabah, karena menjanjikan keadilan yang sesuai dengan syariah dalam sistem ekonominya. 10) Lima Cara Cerdas Gunakan Kartu Kredit VIVAnews- Survei Visa terbaru, Global Payments Tracker 2012, menunjukkan transaksi menggunakan kartu kredit di Indonesia mencapai 83 persen. Kartu kredit mulai menjadi pilihan masyarakat. Untuk itu, pemegang kartu harus cerdas menggunakannya.Kartu kredit memungkinkan seseorang untuk menunda pembayaran beberapa pekan setiap bulan. Kartu kredit merupakan instrumen rumit dalam keuangan. Berbagai skema pembayaran dan fitur serta promosi seperti diskon ditawarkan bank penerbit kartu kredit. Namun, jika tidak pintar menggunakan kartu kredit, bukan untung yang didapat, tapi buntung. Berikut cara pintar menggunakan kartu kredit agar tetap bisa menikmati manfaat kartu kredit,seperti dilansir CBSnews: 1. Bayar penuh tagihan Anda setiap bulan. Jika melihat tawaran suku bunga yang ditawarkan kartu kredit sepertinya terlihat kecil. Namun, sebenarnya itu adalah sesuatu yang mengerikan. Kartu kredit merupakan alat yang hebat untuk menunda pembayaran, tagihan, setiap bulannya. Jika Anda terus menunda, tagihan beserta bunga akan membengkak. 2. Periksa fasilitas kartu kredit sebelum Anda berbelanja. Hitung cara terbaik untuk melunasi utang kartu kredit. Periksa apakah ada cicilan 0 persen setiap barang yang Anda beli ataupun berbagai promosi seperti tawaran diskon. Jika Anda mempunyai lebih dari satu kartu kredit, gunakan yang sesuai dengan promosi tempat Anda belanja. 3. Mendaftar pembayaran otomatis. Mendaftarkan pada layanan pembayaran otomatis berbagai tagihan seperti telepon, cicilan, dan lain-lain memastikan Anda tidak kehilangan waktu keterlambatan pembayaran serta membayar lebih untuk denda keterlambatan. Debet secara langsung dapat menghindarkan Anda dari kesalahan fatal. 4. Atur waktu pembayaran kartu kredit.

Setiap bank penerbit kartu kredit biasanya memungkinkan Anda untuk mengatur waktu pembayaran tagihan kartu kredit. Atur jatuh tempo kartu kredit Anda dengan tepat setelah gajian, agar memastikan seluruh tagihan terbayar. 5. Gunakan point rewards secara bijaksana. Dibandingkan cashback, beberapa program seperti liburan gratis mungkin lebih masuk akal. Bandingkan nilai berbagai program yang ditawarkan dengan tawaran cashback dari bank.

D. Asosiasi Kartu Kredit Indonesia


AKKI (Asosiasi Kartu Kredit Indonesia) merupakan organisasi yang bertujuan untuk membangun industri kartu kredit yang sehat bagi Bank, Pemegang Kartu, Merchant dan semua pihak yang terkait. Bersama sama dengan Bank Indonesia, AKKI berusaha menciptakan infrastruktur industri kartu kredit yang baik dan benar. Beranggotakan lebih dari 20 institusi penerbit kartu kredit dengan total jumlah pemegang kartu lebih dari 14 juta yang bekerja sama dengan lebih dari 350 ribu merchant, AKKI merupakan wadah untuk menunjang kelengkapan dalam melakukan bisnis kartu kredit di Indonesia. Sebagai rekan kerja dari principle seperti American Express, JCB International, MasterCard International dan Visa, bersama dengan Bank pengelola kartu kredit AKKI berusaha untuk meningkatkan kenyamanan bagi pengguna transkasi kartu kredit dalam melakukan transaksi. Bekerja sama dengan segenap unsur Criminal Justice Syste, (CJS) seperti Kepolisian RI, Kejaksaan Agung RI dan Mahkamah Agung RI, AKKI berusaha meningkatkan keamanan dalam melakukan transaksi kartu kredit bagi pemegang kartu dan merchant. Peran AKKI dalam mendukung proses pembuatan RUU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik diharapkan dapat membuat proses penegakan hukum menjadi lebih baik dalam penanganan kasus-kasus penyalah gunaan kartu pembayaran, termasuk kartu kredit. Kenyamanan dan Keamanan dalam melakukan transaksi kartu kredit merupakan tujuan dasar AKKI dalam membangun industri kartu kredit di Indonesia. Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) merupakan wadah dari 21 bank / lembaga keuangan penerbit kartu kredit di Indonesia, yang berdiri sejak tahun 1988. Anggota AKKI sampai saat ini (November 2007) adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. ANZ Panin Bank Bank Central Asia (BCA) Bank International Indonesia (BII) Citibank Bank Lippo Bank Danamon Bank Niaga Bank Permata

9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21.

Bank Mandiri Bank Negara Indonesia (BNI) Bank Rakyat Indonesia (BRI) Bank Bukopin Bank Buana Indonesia Bank Mega HSBC GE Finance Indonesia Diners Club Standard Chartered Bank Bank Bumiputera Indonesia ABN AMRO Bank PANIN Bank

E. Undang-Undang Tentang Perbankan Syariah Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PERBANKAN SYARIAH.

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. 2. Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk Simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat. 3. Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 4. Bank Konvensional adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya secara konvensional dan berdasarkan jenisnya terdiri atas Bank Umum Konvensional dan Bank Perkreditan Rakyat.

5. Bank Umum Konvensional adalah Bank Konvensional yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. 6. Bank Perkreditan Rakyat adalah Bank Konvensional yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. 7. Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. 8. Bank Umum Syariah adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. 9. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah adalah Bank Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. 10. Unit Usaha Syariah, yang selanjutnya disebut UUS, adalah unit kerja dari kantor pusat Bank Umum Konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah, atau unit kerja di kantor cabang dari suatu Bank yang berkedudukan di luar negeri yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang pembantu syariah dan/atau unit syariah. 11. Kantor Cabang adalah kantor cabang Bank Syariah yang bertanggung jawab kepada kantor pusat Bank yang bersangkutan dengan alamat tempat usaha yang jelas sesuai dengan lokasi kantor cabang tersebut melakukan usahanya. 12. Prinsip Syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah. 13. Akad adalah kesepakatan tertulis antara Bank Syariah atau UUS dan pihak lain yang memuat adanya hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak sesuai dengan Prinsip Syariah. 14. Rahasia Bank adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan keterangan mengenai Nasabah Penyimpan dan Simpananannya serta Nasabah Investor dan Investasinya. 15. Pihak Terafiliasi adalah: a. komisaris, direksi atau kuasanya, pejabat, dan karyawan Bank Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS; b. pihak yang memberikan jasanya kepada Bank Syariah atau UUS, antara lain Dewan Pengawas Syariah, akuntan publik, penilai, dan konsultan hukum; dan/atau c. pihak yang menurut penilaian Bank Indonesia turut serta memengaruhi pengelolaan Bank Syariah atau UUS, baik langsung maupun tidak langsung, antara lain pengendali bank, pemegang saham dan keluarganya, keluarga komisaris, dan keluarga direksi. 16. Nasabah adalah pihak yang menggunakan jasa Bank Syariah dan/atau UUS. 17. Nasabah Penyimpan adalah Nasabah yang menempatkan dananya di Bank Syariah dan/atau UUS dalam bentuk Simpanan berdasarkan Akad antara Bank Syariah atau UUS dan Nasabah yang bersangkutan.

18. Nasabah Investor adalah Nasabah yang menempatkan dananya di Bank Syariah dan/atau UUS dalam bentuk Investasi berdasarkan Akad antara Bank Syariah atau UUS dan Nasabah yang bersangkutan. 19. Nasabah Penerima Fasilitas adalah Nasabah yang memperoleh fasilitas dana atau yang dipersamakan dengan itu, berdasarkan Prinsip Syariah. 20. Simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh Nasabah kepada Bank Syariah dan/atau UUS berdasarkan Akad wadi'ah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah dalam bentuk Giro, Tabungan, atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. 21. Tabungan adalah Simpanan berdasarkan Akad wadi'ah atau Investasi dana berdasarkan Akad mudharabah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat dan ketentuan tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. 22. Deposito adalah Investasi dana berdasarkan Akad mudharabah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan Akad antara Nasabah Penyimpan dan Bank Syariah dan/atau UUS. 23. Giro adalah Simpanan berdasarkan Akad wadi'ah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya, atau dengan perintah pemindahbukuan. 24. Investasi adalah dana yang dipercayakan oleh Nasabah kepada Bank Syariah dan/atau UUS berdasarkan Akad mudharabah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah dalam bentuk Deposito, Tabungan, atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. 25. Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa: a. Transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah; b. transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik; c. transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan istishna'; d. transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qardh; dan e. transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Syariah dan/atau UUS dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau bagi hasil. 26. Agunan adalah jaminan tambahan, baik berupa benda bergerak maupun benda tidak bergerak yang diserahkan oleh pemilik Agunan kepada Bank Syariah dan/atau UUS, guna menjamin pelunasan kewajiban Nasabah Penerima Fasilitas.

27. Penitipan adalah penyimpanan harta berdasarkan Akad antara Bank Umum Syariah atau UUS dan penitip, dengan ketentuan Bank Umum Syariah atau UUS yang bersangkutan tidak mempunyai hak kepemilikan atas harta tersebut. 28. Wali Amanat adalah Bank Umum Syariah yang mewakili kepentingan pemegang surat berharga berdasarkan Akad wakalah antara Bank Umum Syariah yang bersangkutan dan pemegang surat berharga tersebut. 29. Penggabungan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu Bank atau lebih untuk menggabungkan diri dengan Bank lain yang telah ada yang mengakibatkan aktiva dan pasiva dari Bank yang menggabungkan diri beralih karena hukum kepada Bank yang menerima penggabungan dan selanjutnya status badan hukum Bank yang menggabungkan diri berakhir karena hukum. 30. Peleburan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua Bank atau lebih untuk meleburkan diri dengan cara mendirikan satu Bank baru yang karena hukum memperoleh aktiva dan pasiva dari Bank yang meleburkan diri dan status badan hukum Bank yang meleburkan diri berakhir karena hukum. 31. Pengambilalihan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan untuk mengambil alih saham Bank yang mengakibatkan beralihnya pengendalian atas Bank tersebut. 32. Pemisahan adalah pemisahan usaha dari satu Bank menjadi dua badan usaha atau lebih, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. BAB II ASAS, TUJUAN, DAN FUNGSI Pasal 2 Perbankan Syariah dalam melakukan kegiatan usahanya berasaskan Prinsip Syariah, demokrasi ekonomi, dan prinsip kehati-hatian. Pasal 3 Perbankan Syariah bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan keadilan, kebersamaan, dan pemerataan kesejahteraan rakyat.

Pasal 4 1. Bank Syariah dan UUS wajib menjalankan fungsi menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat. 2. Bank Syariah dan UUS dapat menjalankan fungsi sosial dalam bentuk lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada organisasi pengelola zakat.

3. Bank Syariah dan UUS dapat menghimpun dana sosial yang berasal dari wakaf uang dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai dengan kehendak pemberi wakaf (wakif). 4. Pelaksanaan fungsi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. BAB III PERIZINAN, BENTUK BADAN HUKUM, ANGGARAN DASAR, DAN KEPEMILIKAN Bagian Kesatu Perizinan Pasal 5 Setiap pihak yang akan melakukan kegiatan usaha Bank Syariah atau UUS wajib terlebih dahulu memperoleh izin usaha sebagai Bank Syariah atau UUS dari Bank Indonesia. Untuk memperoleh izin usaha Bank Syariah harus memenuhi persyaratan sekurangkurangnya tentang: a. susunan organisasi dan kepengurusan; b. permodalan; c. kepemilikan; d. keahlian di bidang Perbankan Syariah; dan e. kelayakan usaha. Persyaratan untuk memperoleh izin usaha UUS diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bank Indonesia. Bank Syariah yang telah mendapat izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mencantumkan dengan jelas kata "syariah" pada penulisan nama banknya. Bank Umum Konvensional yang telah mendapat izin usaha UUS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mencantumkan dengan jelas frase "Unit Usaha Syariah" setelah nama Bank pada kantor UUS yang bersangkutan. Bank Konvensional hanya dapat mengubah kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dengan izin Bank Indonesia. Bank Umum Syariah tidak dapat dikonversi menjadi Bank Umum Konvensional. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah tidak dapat dikonversi menjadi Bank Perkreditan Rakyat. Bank Umum Konvensional yang akan melakukan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah wajib membuka UUS di kantor pusat Bank dengan izin Bank Indonesia.

1. 2.

3. 4. 5.

6. 7. 8. 9.

Pasal 6 1. Pembukaan Kantor Cabang Bank Syariah dan UUS hanya dapat dilakukan dengan izin Bank Indonesia.

2. Pembukaan Kantor Cabang, kantor perwakilan, dan jenis-jenis kantor lainnya di luar negeri oleh Bank Umum Syariah dan Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS hanya dapat dilakukan dengan izin Bank Indonesia. 3. Pembukaan kantor di bawah Kantor Cabang, wajib dilaporkan dan hanya dapat dilakukan setelah mendapat surat penegasan dari Bank Indonesia. 4. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah tidak diizinkan untuk membuka Kantor Cabang, kantor perwakilan, dan jenis kantor lainnya di luar negeri.

Bagian Kedua Bentuk Badan Hukum Pasal 7 Bentuk badan hukum Bank Syariah adalah perseroan terbatas. Bagian Ketiga Anggaran Dasar Pasal 8 Di dalam anggaran dasar Bank Syariah selain memenuhi persyaratan anggaran dasar sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan memuat pula ketentuan: a. pengangkatan anggota direksi dan komisaris harus mendapatkan persetujuan Bank Indonesia; b. Rapat Umum Pemegang Saham Bank Syariah harus menetapkan tugas manajemen, remunerasi komisaris dan direksi, laporan pertanggungjawaban tahunan, penunjukkan dan biaya jasa akuntan publik, penggunaan laba, dan hal-hal lainnya yang ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia. Bagian Keempat Pendirian dan Kepemilikan Bank Syariah Pasal 9 1. Bank Umum Syariah hanya dapat didirikan dan/atau dimiliki oleh: a. warga negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia; b. warga negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia dengan warga negara asing dan/atau badan hukum asing secara kemitraan; atau c. pemerintah daerah. 2. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah hanya dapat didirikan dan/atau dimiliki oleh: a. warga negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia yang seluruh pemiliknya warga negara Indonesia; b. pemerintah daerah; atau

c. dua pihak atau lebih sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b. 3. Maksimum kepemilikan Bank Umum Syariah oleh warga negara asing dan/atau badan hukum asing diatur dalam Peraturan Bank Indonesia. Pasal 10 Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan, bentuk badan hukum, anggaran dasar, serta pendirian dan kepemilikan Bank Syariah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 9 diatur dengan Peraturan Bank Indonesia. Pasal 11 Besarnya modal disetor minimum untuk mendirikan Bank Syariah ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia.

Pasal 12 Saham Bank Syariah hanya dapat diterbitkan dalam bentuk saham atas nama. Pasal 13 Bank Umum Syariah dapat melakukan penawaran umum efek melalui pasar modal sepanjang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah dan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal. Pasal 14 1. Warga negara Indonesia, warga negara asing, badan hukum Indonesia, atau badan hukum asing dapat memiliki atau membeli saham Bank Umum Syariah secara langsung atau melalui bursa efek. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 15 Perubahan kepemilikan Bank Syariah wajib memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 sampai dengan Pasal 14. Pasal 16 1. UUS dapat menjadi Bank Umum Syariah tersendiri setelah mendapat izin dari Bank Indonesia. 2. Izin perubahan UUS menjadi Bank Umum Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.

Pasal 17 1. Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan Bank Syariah wajib terlebih dahulu mendapat izin dari Bank Indonesia. 2. Dalam hal terjadi Penggabungan atau Peleburan Bank Syariah dengan Bank lainnya, Bank hasil Penggabungan atau Peleburan tersebut wajib menjadi Bank Syariah. 3. Ketentuan mengenai Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan Bank Syariah dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB IV JENIS DAN KEGIATAN USAHA, KELAYAKAN PENYALURAN DANA, DAN LARANGAN BAGI BANK SYARIAH DAN UUS Bagian Kesatu Jenis dan Kegiatan Usaha Pasal 18 Bank Syariah terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

Pasal 19 1. Kegiatan usaha Bank Umum Syariah meliputi: a. menghimpun dana dalam bentuk Simpanan berupa Giro, Tabungan, atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan Akad wadi'ah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; b. menghimpun dana dalam bentuk Investasi berupa Deposito, Tabungan, atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan Akad mudharabah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; c. menyalurkan Pembiayaan bagi hasil berdasarkan Akad mudharabah, Akad musyarakah, atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; d. menyalurkan Pembiayaan berdasarkan Akad murabahah, Akad salam, Akad istishna', atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; e. menyalurkan Pembiayaan berdasarkan Akad qardh atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; f. menyalurkan Pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada Nasabah berdasarkan Akad ijarah dan/atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;

g. melakukan pengambilalihan utang berdasarkan Akad hawalah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; h. melakukan usaha kartu debit dan/atau kartu pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah; i. membeli, menjual, atau menjamin atas risiko sendiri surat berharga pihak ketiga yang diterbitkan atas dasar transaksi nyata berdasarkan Prinsip Syariah, antara lain, seperti Akad ijarah, musyarakah, mudharabah, murabahah, kafalah, atau hawalah; j. membeli surat berharga berdasarkan Prinsip Syariah yang diterbitkan oleh pemerintah dan/atau Bank Indonesia; k. menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan pihak ketiga atau antarpihak ketiga berdasarkan Prinsip Syariah; l. melakukan Penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu Akad yang berdasarkan Prinsip Syariah; m. menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga berdasarkan Prinsip Syariah; n. memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan Nasabah berdasarkan Prinsip Syariah; o. melakukan fungsi sebagai Wali Amanat berdasarkan Akad wakalah; p. memberikan fasilitas letter of credit atau bank garansi berdasarkan Prinsip Syariah; dan q. melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan di bidang perbankan dan di bidang sosial sepanjang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 2. Kegiatan usaha UUS meliputi: a. menghimpun dana dalam bentuk Simpanan berupa Giro, Tabungan, atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan Akad wadi'ah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; b. menghimpun dana dalam bentuk Investasi berupa Deposito, Tabungan, atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan Akad mudharabah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; c. menyalurkan Pembiayaan bagi hasil berdasarkan Akad mudharabah, Akad musyarakah, atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; d. menyalurkan Pembiayaan berdasarkan Akad murabahah, Akad salam, Akad istishna', atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; e. menyalurkan Pembiayaan berdasarkan Akad qardh atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; f. menyalurkan Pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada Nasabah berdasarkan Akad ijarah dan/atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; g. melakukan pengambilalihan utang berdasarkan Akad hawalah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; h. melakukan usaha kartu debit dan/atau kartu pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah;

i.

j. k. l. m. n. o.

membeli dan menjual surat berharga pihak ketiga yang diterbitkan atas dasar transaksi nyata berdasarkan Prinsip Syariah, antara lain, seperti Akad ijarah, musyarakah, mudharabah, murabahah, kafalah, atau hawalah; membeli surat berharga berdasarkan Prinsip Syariah yang diterbitkan oleh pemerintah dan/atau Bank Indonesia; menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan pihak ketiga atau antarpihak ketiga berdasarkan Prinsip Syariah; menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga berdasarkan Prinsip Syariah; memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan Nasabah berdasarkan Prinsip Syariah; memberikan fasilitas letter of credit atau bank garansi berdasarkan Prinsip Syariah; dan melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan di bidang perbankan dan di bidang sosial sepanjang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 20 1. Selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1), Bank Umum Syariah dapat pula: a. melakukan kegiatan valuta asing berdasarkan Prinsip Syariah; b. melakukan kegiatan penyertaan modal pada Bank Umum Syariah atau lembaga keuangan yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah; c. melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan Pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya; d. bertindak sebagai pendiri dan pengurus dana pensiun berdasarkan Prinsip Syariah; e. melakukan kegiatan dalam pasar modal sepanjang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah dan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal; f. menyelenggarakan kegiatan atau produk bank yang berdasarkan Prinsip Syariah dengan menggunakan sarana elektronik; g. menerbitkan, menawarkan, dan memperdagangkan surat berharga jangka pendek berdasarkan Prinsip Syariah, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pasar uang; h. menerbitkan, menawarkan, dan memperdagangkan surat berharga jangka panjang berdasarkan Prinsip Syariah, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pasar modal; dan i. menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha Bank Umum Syariah lainnya yang berdasarkan Prinsip Syariah. j. Selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2), UUS dapat pula:

k. melakukan kegiatan valuta asing berdasarkan Prinsip Syariah; l. melakukan kegiatan dalam pasar modal sepanjang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah dan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal; m. melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan Pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya; n. menyelenggarakan kegiatan atau produk bank yang berdasarkan Prinsip Syariah dengan menggunakan sarana elektronik; o. menerbitkan, menawarkan, dan memperdagangkan surat berharga jangka pendek berdasarkan Prinsip Syariah baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pasar uang; dan p. menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha Bank Umum Syariah lainnya yang berdasarkan Prinsip Syariah. 2. Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) wajib memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 21 Kegiatan usaha Bank Pembiayaan Rakyat Syariah meliputi: a. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk: 1. Simpanan berupa Tabungan atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan Akad wadi'ah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; dan 2. Investasi berupa Deposito atau Tabungan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan Akad mudharabah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; b. menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk: 1. Pembiayaan bagi hasil berdasarkan Akad mudharabah atau musyarakah; 2. Pembiayaan berdasarkan Akad murabahah, salam, atau istishna'; 3. Pembiayaan berdasarkan Akad qardh; 4. Pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada Nasabah berdasarkan Akad ijarah atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik; dan 5. pengambilalihan utang berdasarkan Akad hawalah; c. menempatkan dana pada Bank Syariah lain dalam bentuk titipan berdasarkan Akad wadi'ah atau Investasi berdasarkan Akad mudharabah dan/atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah; d. memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan Nasabah melalui rekening Bank Pembiayaan Rakyat Syariah yang ada di Bank Umum Syariah, Bank Umum Konvensional, dan UUS; dan e. menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha Bank Syariah lainnya yang sesuai dengan Prinsip Syariah berdasarkan persetujuan Bank Indonesia.

Pasal 22 Setiap pihak dilarang melakukan kegiatan penghimpunan dana dalam bentuk Simpanan atau Investasi berdasarkan Prinsip Syariah tanpa izin terlebih dahulu dari Bank Indonesia, kecuali diatur dalam undang-undang lain.

Bagian Kedua Kelayakan Penyaluran Dana Pasal 23 1. Bank Syariah dan/atau UUS harus mempunyai keyakinan atas kemauan dan kemampuan calon Nasabah Penerima Fasilitas untuk melunasi seluruh kewajiban pada waktunya, sebelum Bank Syariah dan/atau UUS menyalurkan dana kepada Nasabah Penerima Fasilitas. 2. Untuk memperoleh keyakinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bank Syariah dan/atau UUS wajib melakukan penilaian yang saksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari calon Nasabah Penerima Fasilitas. Bagian Ketiga Larangan Bagi Bank Syariah dan UUS Pasal 24 1. Bank Umum Syariah dilarang: a. melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan Prinsip Syariah; b. melakukan kegiatan jual beli saham secara langsung di pasar modal; c. melakukan penyertaan modal, kecuali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf b dan huruf c; dan d. melakukan kegiatan usaha perasuransian, kecuali sebagai agen pemasaran produk asuransi syariah. 3. UUS dilarang: a. melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan Prinsip Syariah; b. melakukan kegiatan jual beli saham secara langsung di pasar modal; c. melakukan penyertaan modal, kecuali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (2) huruf c; dan d. melakukan kegiatan usaha perasuransian, kecuali sebagai agen pemasaran produk asuransi syariah. Pasal 25 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dilarang: a. melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan Prinsip Syariah;

b. menerima Simpanan berupa Giro dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran; c. melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing, kecuali penukaran uang asing dengan izin Bank Indonesia; d. melakukan kegiatan usaha perasuransian, kecuali sebagai agen pemasaran produk asuransi syariah; e. melakukan penyertaan modal, kecuali pada lembaga yang dibentuk untuk menanggulangi kesulitan likuiditas Bank Pembiayaan Rakyat Syariah; dan f. melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. Pasal 26 Kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, Pasal 20, dan Pasal 21 dan/atau produk dan jasa syariah, wajib tunduk kepada Prinsip Syariah. Prinsip Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia. Fatwa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan dalam Peraturan Bank Indonesia. Dalam rangka penyusunan Peraturan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Bank Indonesia membentuk komite perbankan syariah. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembentukan, keanggotaan, dan tugas komite perbankan syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia. BAB V PEMEGANG SAHAM PENGENDALI, DEWAN KOMISARIS, DEWAN PENGAWAS SYARIAH, DIREKSI, DAN TENAGA KERJA ASING Bagian Kesatu Pemegang Saham Pengendali Pasal 27 1. Calon pemegang saham pengendali Bank Syariah wajib lulus uji kemampuan dan kepatutan yang dilakukan oleh Bank Indonesia. 2. Pemegang saham pengendali yang tidak lulus uji kemampuan dan kepatutan wajib menurunkan kepemilikan sahamnya menjadi paling banyak 10% (sepuluh persen). 3. Dalam hal pemegang saham pengendali tidak menurunkan kepemilikan sahamnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) maka: a. hak suara pemegang saham pengendali tidak diperhitungkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham; b. hak suara pemegang saham pengendali tidak diperhitungkan sebagai penghitungan kuorum atau tidaknya Rapat Umum Pemegang Saham;

1. 2. 3. 4. 5.

c. deviden yang dapat dibayarkan kepada pemegang saham pengendali paling banyak 10% (sepuluh persen) dan sisanya dibayarkan setelah pemegang saham pengendali tersebut mengalihkan kepemilikannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1); dan d. nama pemegang saham pengendali yang bersangkutan diumumkan kepada publik melalui 2 (dua) media massa yang mempunyai peredaran luas. 4. Ketentuan lebih lanjut mengenai uji kemampuan dan kepatutan diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.

Bagian Kedua Dewan Komisaris dan Direksi Pasal 28 Ketentuan mengenai syarat, jumlah, tugas, kewenangan, tanggung jawab, serta hal lain yang menyangkut dewan komisaris dan direksi Bank Syariah diatur dalam anggaran dasar Bank Syariah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 29 1. Dalam jajaran direksi Bank Syariah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 wajib terdapat 1 (satu) orang direktur yang bertugas untuk memastikan kepatuhan Bank Syariah terhadap pelaksanaan ketentuan Bank Indonesia dan peraturan perundang-undangan lainnya. 2. Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas untuk memastikan kepatuhan Bank Syariah terhadap pelaksanaan ketentuan Bank Indonesia dan peraturan perundang-undangan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia. Pasal 30 Calon dewan komisaris dan calon direksi wajib lulus uji kemampuan dan kepatutan yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Uji kemampuan dan kepatutan terhadap komisaris dan direksi yang melanggar integritas dan tidak memenuhi kompetensi dilakukan oleh Bank Indonesia. Komisaris dan direksi yang tidak lulus uji kemampuan dan kepatutan wajib melepaskan jabatannya. Ketentuan lebih lanjut mengenai uji kemampuan dan kepatutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.

1. 2. 3. 4.

Pasal 31 1. Dalam menjalankan kegiatan Bank Syariah, direksi dapat mengangkat pejabat eksekutif. 2. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengangkatan pejabat eksekutif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.

Bagian Ketiga Dewan Pengawas Syariah Pasal 32 Dewan Pengawas Syariah wajib dibentuk di Bank Syariah dan Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS. Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia. Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas memberikan nasihat dan saran kepada direksi serta mengawasi kegiatan Bank agar sesuai dengan Prinsip Syariah. Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.

1. 2. 3.

4.

Bagian Keempat Penggunaan Tenaga Kerja Asing Pasal 33 1. Dalam menjalankan kegiatannya, Bank Syariah dapat menggunakan tenaga kerja asing. 2. Tata cara penggunaan tenaga kerja asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB VI TATA KELOLA, PRINSIP KEHATI-HATIAN, DAN PENGELOLAAN RISIKO PERBANKAN SYARIAH Bagian Kesatu Tata Kelola Perbankan Syariah Pasal 34 1. Bank Syariah dan UUS wajib menerapkan tata kelola yang baik yang mencakup prinsip transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, profesional, dan kewajaran dalam menjalankan kegiatan usahanya. 2. Bank Syariah dan UUS wajib menyusun prosedur internal mengenai pelaksanaan prinsipprinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 3. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata kelola yang baik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.

Bagian Kedua Prinsip Kehati-hatian Pasal 35 Bank Syariah dan UUS dalam melakukan kegiatan usahanya wajib menerapkan prinsip kehati-hatian. Bank Syariah dan UUS wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia laporan keuangan berupa neraca tahunan dan perhitungan laba rugi tahunan serta penjelasannya yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi syariah yang berlaku umum, serta laporan berkala lainnya, dalam waktu dan bentuk yang diatur dengan Peraturan Bank Indonesia. Neraca dan perhitungan laba rugi tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib terlebih dahulu diaudit oleh kantor akuntan publik. Bank Indonesia dapat menetapkan pengecualian terhadap kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bagi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Bank Syariah wajib mengumumkan neraca dan laporan laba rugi kepada publik dalam waktu dan bentuk yang ditentukan oleh Bank Indonesia.

1. 2.

3. 4. 5.

Pasal 36 Dalam menyalurkan Pembiayaan dan melakukan kegiatan usaha lainnya, Bank Syariah dan UUS wajib menempuh cara-cara yang tidak merugikan Bank Syariah dan/atau UUS dan kepentingan Nasabah yang mempercayakan dananya. Pasal 37 1. Bank Indonesia menetapkan ketentuan mengenai batas maksimum penyaluran dana berdasarkan Prinsip Syariah, pemberian jaminan, penempatan investasi surat berharga yang berbasis syariah, atau hal lain yang serupa, yang dapat dilakukan oleh Bank Syariah dan UUS kepada Nasabah Penerima Fasilitas atau sekelompok Nasabah Penerima Fasilitas yang terkait, termasuk kepada perusahaan dalam kelompok yang sama dengan Bank Syariah dan UUS yang bersangkutan. 2. Batas maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh melebihi 30% (tiga puluh persen) dari modal Bank Syariah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. 3. Bank Indonesia menetapkan ketentuan mengenai batas maksimum penyaluran dana berdasarkan Prinsip Syariah, pemberian jaminan, penempatan investasi surat berharga, atau hal lain yang serupa yang dapat dilakukan oleh Bank Syariah kepada: a. pemegang saham yang memiliki 10% (sepuluh persen) atau lebih dari modal disetor Bank Syariah; b. anggota dewan komisaris; c. anggota direksi;

d. keluarga dari pihak sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c; e. pejabat bank lainnya; dan f. perusahaan yang di dalamnya terdapat kepentingan dari pihak sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan huruf e. 4. Batas maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak boleh melebihi 20% (dua puluh persen) dari modal Bank Syariah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. 5. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) wajib dilaporkan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Bagian Ketiga Kewajiban Pengelolaan Risiko Pasal 38 1. Bank Syariah dan UUS wajib menerapkan manajemen risiko, prinsip mengenal nasabah, dan perlindungan nasabah. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia. Pasal 39 Bank Syariah dan UUS wajib menjelaskan kepada Nasabah mengenai kemungkinan timbulnya risiko kerugian sehubungan dengan transaksi Nasabah yang dilakukan melalui Bank Syariah dan/atau UUS. Pasal 40 Dalam hal Nasabah Penerima Fasilitas tidak memenuhi kewajibannya, Bank Syariah dan UUS dapat membeli sebagian atau seluruh Agunan, baik melalui maupun di luar pelelangan, berdasarkan penyerahan secara sukarela oleh pemilik Agunan atau berdasarkan pemberian kuasa untuk menjual dari pemilik Agunan, dengan ketentuan Agunan yang dibeli tersebut wajib dicairkan selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) tahun. Bank Syariah dan UUS harus memperhitungkan harga pembelian Agunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan kewajiban Nasabah kepada Bank Syariah dan UUS yang bersangkutan. Dalam hal harga pembelian Agunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melebihi jumlah kewajiban Nasabah kepada Bank Syariah dan UUS, selisih kelebihan jumlah tersebut harus dikembalikan kepada Nasabah setelah dikurangi dengan biaya lelang dan biaya lain yang langsung terkait dengan proses pembelian Agunan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pembelian Agunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.

1.

2.

3.

4.

BAB VII RAHASIA BANK Bagian Kesatu Cakupan Rahasia Bank Pasal 41 Bank dan Pihak Terafiliasi wajib merahasiakan keterangan mengenai Nasabah Penyimpan dan Simpanannya serta Nasabah Investor dan Investasinya. Bagian Kedua Pengecualian Rahasia Bank Pasal 42 1. Untuk kepentingan penyidikan pidana perpajakan, pimpinan Bank Indonesia atas permintaan Menteri Keuangan berwenang mengeluarkan perintah tertulis kepada Bank agar memberikan keterangan dan memperlihatkan bukti tertulis serta surat mengenai keadaan keuangan Nasabah Penyimpan atau Nasabah Investor tertentu kepada pejabat pajak. 2. Perintah tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menyebutkan nama pejabat pajak, nama nasabah wajib pajak, dan kasus yang dikehendaki keterangannya. Pasal 43 1. Untuk kepentingan peradilan dalam perkara pidana, pimpinan Bank Indonesia dapat memberikan izin kepada polisi, jaksa, hakim, atau penyidik lain yang diberi wewenang berdasarkan undang-undang untuk memperoleh keterangan dari Bank mengenai Simpanan atau Investasi tersangka atau terdakwa pada Bank. 2. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan secara tertulis atas permintaan tertulis dari Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jaksa Agung, Ketua Mahkamah Agung, atau pimpinan instansi yang diberi wewenang untuk melakukan penyidikan. 3. Permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus menyebutkan nama dan jabatan penyidik, jaksa, atau hakim, nama tersangka atau terdakwa, alasan diperlukannya keterangan, dan hubungan perkara pidana yang bersangkutan dengan keterangan yang diperlukan.

Pasal 44 Bank wajib memberikan keterangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 dan Pasal 43. Pasal 45

Dalam perkara perdata antara Bank dan Nasabahnya, direksi Bank yang bersangkutan dapat menginformasikan kepada pengadilan tentang keadaan keuangan Nasabah yang bersangkutan dan memberikan keterangan lain yang relevan dengan perkara tersebut. Pasal 46 1. Dalam rangka tukar-menukar informasi antarbank, direksi Bank dapat memberitahukan keadaan keuangan Nasabahnya kepada Bank lain. 2. Ketentuan mengenai tukar-menukar informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Bank Indonesia. Pasal 47 Atas permintaan, persetujuan, atau kuasa dari Nasabah Penyimpan atau Nasabah Investor yang dibuat secara tertulis, Bank wajib memberikan keterangan mengenai Simpanan Nasabah Penyimpan atau Nasabah Investor pada Bank yang bersangkutan kepada pihak yang ditunjuk oleh Nasabah Penyimpan atau Nasabah Investor tersebut. Pasal 48 Dalam hal Nasabah Penyimpan atau Nasabah Investor telah meninggal dunia, ahli waris yang sah dari Nasabah Penyimpan atau Nasabah Investor yang bersangkutan berhak memperoleh keterangan mengenai Simpanan Nasabah Penyimpan atau Nasabah Investor tersebut. Pasal 49 Pihak yang merasa dirugikan oleh keterangan yang diberikan oleh Bank sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42, Pasal 43, Pasal 45, dan Pasal 46, berhak untuk mengetahui isi keterangan tersebut dan meminta pembetulan jika terdapat kesalahan dalam keterangan yang diberikan. BAB VIII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 50 Pembinaan dan pengawasan Bank Syariah dan UUS dilakukan oleh Bank Indonesia. Pasal 51 1. Bank Syariah dan UUS wajib memelihara tingkat kesehatan yang meliputi sekurangkurangnya mengenai kecukupan modal, kualitas aset, likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, kualitas manajemen yang menggambarkan kapabilitas dalam aspek keuangan, kepatuhan terhadap Prinsip Syariah dan prinsip manajemen Islami, serta aspek lainnya yang berhubungan dengan usaha Bank Syariah dan UUS. 2. Kriteria tingkat kesehatan dan ketentuan yang wajib dipenuhi oleh Bank Syariah dan UUS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia.

Pasal 52 1. Bank Syariah dan UUS wajib menyampaikan segala keterangan dan penjelasan mengenai usahanya kepada Bank Indonesia menurut tata cara yang ditetapkan dengan Peraturan Bank Indonesia. 2. Bank Syariah dan UUS, atas permintaan Bank Indonesia, wajib memberikan kesempatan bagi pemeriksaan buku-buku dan berkas-berkas yang ada padanya, serta wajib memberikan bantuan yang diperlukan dalam rangka memperoleh kebenaran dari segala keterangan, dokumen, dan penjelasan yang dilaporkan oleh Bank Syariah dan UUS yang bersangkutan. 3. Dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Bank Indonesia berwenang: a. memeriksa dan mengambil data/dokumen dari setiap tempat yang terkait dengan Bank; b. memeriksa dan mengambil data/dokumen dan keterangan dari setiap pihak yang menurut penilaian Bank Indonesia memiliki pengaruh terhadap Bank; dan c. memerintahkan Bank melakukan pemblokiran rekening tertentu, baik rekening Simpanan maupun rekening Pembiayaan. d. Keterangan dan laporan pemeriksaan tentang Bank Syariah dan UUS yang diperoleh berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) tidak diumumkan dan bersifat rahasia. Pasal 53 1. Bank Indonesia dapat menugasi kantor akuntan publik atau pihak lainnya untuk dan atas nama Bank Indonesia, melaksanakan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2). 2. Persyaratan dan tata cara pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia. Pasal 54 1. Dalam hal Bank Syariah mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya, Bank Indonesia berwenang melakukan tindakan dalam rangka tindak lanjut pengawasan antara lain: a. membatasi kewenangan Rapat Umum Pemegang Saham, komisaris, direksi, dan pemegang saham; b. meminta pemegang saham menambah modal; c. meminta pemegang saham mengganti anggota dewan komisaris dan/atau direksi Bank Syariah; d. meminta Bank Syariah menghapusbukukan penyaluran dana yang macet dan memperhitungkan kerugian Bank Syariah dengan modalnya; e. meminta Bank Syariah melakukan penggabungan atau peleburan dengan Bank Syariah lain;

f.

2.

3.

4. 5.

meminta Bank Syariah dijual kepada pembeli yang bersedia mengambil alih seluruh kewajibannya; g. meminta Bank Syariah menyerahkan pengelolaan seluruh atau sebagian kegiatan Bank Syariah kepada pihak lain; dan/atau h. meminta Bank Syariah menjual sebagian atau seluruh harta dan/atau kewajiban Bank Syariah kepada pihak lain. Apabila tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum cukup untuk mengatasi kesulitan yang dialami Bank Syariah, Bank Indonesia menyatakan Bank Syariah tidak dapat disehatkan dan menyerahkan penanganannya ke Lembaga Penjamin Simpanan untuk diselamatkan atau tidak diselamatkan. Dalam hal Lembaga Penjamin Simpanan menyatakan Bank Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak diselamatkan, Bank Indonesia atas permintaan Lembaga Penjamin Simpanan mencabut izin usaha Bank Syariah dan penanganan lebih lanjut dilakukan oleh Lembaga Penjamin Simpanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Atas permintaan Bank Syariah, Bank Indonesia dapat mencabut izin usaha Bank Syariah setelah Bank Syariah dimaksud menyelesaikan seluruh kewajibannya. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara pencabutan izin usaha Bank Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia. BAB IX PENYELESAIAN SENGKETA

Pasal 55 1. Penyelesaian sengketa Perbankan Syariah dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama. 2. Dalam hal para pihak telah memperjanjikan penyelesaian sengketa selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penyelesaian sengketa dilakukan sesuai dengan isi Akad. 3. Penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak boleh bertentangan dengan Prinsip Syariah. BAB X SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 56 Bank Indonesia menetapkan sanksi administratif kepada Bank Syariah atau UUS, anggota dewan komisaris, anggota Dewan Pengawas Syariah, direksi, dan/atau pegawai Bank Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS, yang menghalangi dan/atau tidak melaksanakan Prinsip Syariah dalam menjalankan usaha atau tugasnya atau tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang ini.

Pasal 57 1. Bank Indonesia mengenakan sanksi administratif kepada Bank Syariah atau UUS, anggota dewan komisaris, anggota Dewan Pengawas Syariah, direksi, dan/atau pegawai Bank Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS yang melanggar Pasal 41 dan Pasal 44. 2. Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak mengurangi ketentuan pidana sebagai akibat dari pelanggaran kerahasiaan bank. Pasal 58 1. Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini adalah: a. denda uang; b. teguran tertulis; c. penurunan tingkat kesehatan Bank Syariah dan UUS; d. pelarangan untuk turut serta dalam kegiatan kliring; e. pembekuan kegiatan usaha tertentu, baik untuk kantor cabang tertentu maupun untuk Bank Syariah dan UUS secara keseluruhan; f. pemberhentian pengurus Bank Syariah dan Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS, dan selanjutnya menunjuk dan mengangkat pengganti sementara sampai Rapat Umum Pemegang Saham mengangkat pengganti yang tetap dengan persetujuan Bank Indonesia; g. pencantuman anggota pengurus, pegawai, dan pemegang saham Bank Syariah dan Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS dalam daftar orang tercela di bidang perbankan; dan/atau h. pencabutan izin usaha. 2. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Bank Indonesia. BAB XI KETENTUAN PIDANA Pasal 59 1. Setiap orang yang melakukan kegiatan usaha Bank Syariah, UUS, atau kegiatan penghimpunan dana dalam bentuk Simpanan atau Investasi berdasarkan Prinsip Syariah tanpa izin usaha dari Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 22 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah). 2. Dalam hal kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh badan hukum, penuntutan terhadap badan hukum dimaksud dilakukan terhadap mereka yang memberi perintah untuk melakukan perbuatan itu dan/atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu.

Pasal 60 1. Setiap orang yang dengan sengaja tanpa membawa perintah tertulis atau izin dari Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 dan Pasal 43 memaksa Bank Syariah, UUS, atau pihak terafiliasi untuk memberikan keterangan, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah). 2. Anggota direksi, komisaris, pegawai Bank Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS, atau Pihak Terafiliasi lainnya yang dengan sengaja memberikan keterangan yang wajib dirahasiakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah) dan paling banyak Rp8.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah).

Pasal 61 Anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai Bank Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS yang dengan sengaja tidak memberikan keterangan yang wajib dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44, Pasal 47, dan Pasal 48 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah) dan paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah). Pasal 62 1. Anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai Bank Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS yang dengan sengaja: a. tidak menyampaikan laporan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2); dan/atau b. tidak memberikan keterangan atau tidak melaksanakan perintah yang wajib dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah). 2. Anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai Bank Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS yang lalai: a. tidak menyampaikan laporan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2); dan/atau

b. tidak memberikan keterangan atau tidak melaksanakan perintah yang wajib dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 dipidana dengan pidana kurungan paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 2 (dua) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah). Pasal 63 1. Anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai Bank Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS yang dengan sengaja: a. membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam pembukuan atau dalam laporan, dokumen atau laporan kegiatan usaha, dan/atau laporan transaksi atau rekening suatu Bank Syariah atau UUS; b. menghilangkan atau tidak memasukkan atau menyebabkan tidak dilakukannya pencatatan dalam pembukuan atau dalam laporan, dokumen atau laporan kegiatan usaha, dan/atau laporan transaksi atau rekening suatu Bank Syariah atau UUS; dan/atau c. mengubah, mengaburkan, menyembunyikan, menghapus, atau menghilangkan adanya suatu pencatatan dalam pembukuan atau dalam laporan, dokumen atau laporan kegiatan usaha, dan/atau laporan transaksi atau rekening suatu Bank Syariah atau UUS, atau dengan sengaja mengubah, mengaburkan, menghilangkan, menyembunyikan, atau merusak catatan pembukuan tersebut dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah). 2. Anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai Bank Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS yang dengan sengaja: a. meminta atau menerima, mengizinkan atau menyetujui untuk menerima suatu imbalan, komisi, uang tambahan, pelayanan, uang, atau barang berharga untuk keuntungan pribadinya atau untuk keuntungan keluarganya, dalam rangka: - mendapatkan atau berusaha mendapatkan bagi orang lain dalam memperoleh uang muka, bank garansi, atau fasilitas penyaluran dana dari Bank Syariah atau UUS; - melakukan pembelian oleh Bank Syariah atau UUS atas surat wesel, surat promes, cek dan kertas dagang, atau bukti kewajiban lainnya; - memberikan persetujuan bagi orang lain untuk melaksanakan penarikan dana yang melebihi batas penyaluran dananya pada Bank Syariah atau UUS; dan/atau b. tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan Bank Syariah atau UUS terhadap ketentuan dalam Undang-undang ini dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 8 (delapan) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).

Pasal 64 Pihak Terafiliasi yang dengan sengaja tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan Bank Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS terhadap ketentuan dalam Undang-Undang ini dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 8 (delapan) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah). Pasal 65 Pemegang saham yang dengan sengaja menyuruh anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai Bank Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan yang mengakibatkan Bank Syariah atau UUS tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan Bank Syariah atau UUS terhadap ketentuan dalam Undang-Undang ini dipidana dengan pidana penjara paling singkat 7 (tujuh) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah). Pasal 66 1. Anggota direksi atau pegawai Bank Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS yang dengan sengaja: a. melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Undang-Undang ini dan perbuatan tersebut telah mengakibatkan kerugian bagi Bank Syariah atau UUS atau menyebabkan keadaan keuangan Bank Syariah atau UUS tidak sehat; b. menghalangi pemeriksaan atau tidak membantu pemeriksaan yang dilakukan oleh dewan komisaris atau kantor akuntan publik yang ditugasi oleh dewan komisaris; c. memberikan penyaluran dana atau fasilitas penjaminan dengan melanggar ketentuan yang berlaku yang diwajibkan pada Bank Syariah atau UUS, yang mengakibatkan kerugian sehingga membahayakan kelangsungan usaha Bank Syariah atau UUS; dan/atau d. tidak melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan Bank Syariah atau UUS terhadap ketentuan Batas Maksimum Pemberian Penyaluran Dana sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang ini dan/atau ketentuan yang berlaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah). 2. Anggota direksi dan pegawai Bank Syariah atau Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS yang dengan sengaja melakukan penyalahgunaan dana Nasabah, Bank Syariah atau UUS dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 8

(delapan) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

BAB XII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 67 1. Bank Syariah atau UUS yang telah memiliki izin usaha pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku dinyatakan telah memperoleh izin usaha berdasarkan Undang-Undang ini. 2. Bank Syariah atau UUS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyesuaikan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini paling lama 1 (satu) tahun sejak mulai berlakunya Undang-Undang ini. Pasal 68 1. Dalam hal Bank Umum Konvensional memiliki UUS yang nilai asetnya telah mencapai paling sedikit 50% (lima puluh persen) dari total nilai aset bank induknya atau 15 (lima belas) tahun sejak berlakunya Undang-Undang ini, maka Bank Umum Konvensional dimaksud wajib melakukan Pemisahan UUS tersebut menjadi Bank Umum Syariah. 2. Ketentuan lebih lanjut mengenai Pemisahan dan sanksi bagi Bank Umum Konvensional yang tidak melakukan Pemisahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Bank Indonesia. BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 69 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, segala ketentuan mengenai Perbankan Syariah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3472) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790) beserta peraturan pelaksanaannya dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini. Pasal 70 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta pada tanggal 16 Juli 2008 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Dari uraian yang telah kami jelaskan bisa ditarik sebuah kesimpulan yaitu bahwa Kartu plastik merupakan alat berbentuk kartu yang diterbitkan oleh suatu lembaga keuangan untuk mempermudah para konsumen atau masyarakat dalam kegiatan transaksi keuangan ekonominya, serta dalam keadaan situasi gentingpun masyarakat bisa menggunakannya untuk alat pembayaran serta juga untuk tujuan lain seperti penarikan uang tunai dimanapun dia berada, selain itu berdasarkan pertimbangannya juga dapat dibawa berpergian dengan praktis tanpa harus membawa kantongan uang dengan jumlah yang besar ditangan kita sehingga keamananpun bisa terjaga dan juga dapat digunakan sewaktu waktu dan kemudahan penggunaan yang lain kartu plastik ini semakin luas digunakan untuk berbagai macam transaksi. Bank syariah adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Perbankan syariah dalam melakukan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah, demokrasi ekokomi, dan prinsip kehati-hatian. Di dalam bank syariah terdapat suatu badan yang tidak ada di dalam bankbank konvesional yaitu Dewan Pengawas Syariah. Dewan ini memiliki tugas untuk meneliti produk-produk baru bank syariah dan memberikan rekomendasi terhadap produk-produk baru tersebut serta membuat surat pernyataan bahwa bank yang diawasinya masih tetap menjalankan usaha berdasarkan prinsip-prinsip syariah.Produk-produk bank Syariah sesuai dengan ajaran Islam jadi Bank Syariah juga terbukti tidak termasuk riba dengan itu, bank Syariah sangat penting karena tidak ada riba dan kita tidak termasuk orang yang dimurkai Allah dan Bank Islam juga boleh memungut dan menerima pembayaran untuk keperluan nasabah dan gaji karyawan yang bekerja di Bank Syariah. B. SARAN Demikian pembahasan tentang kartu plastik dan Bank Syariah dalam bentuk , manfaat maupun dalam kegunaannya dalam melakukan kegiatan transaksi sehari hari dengan mudah dan cepat. Jika ad kekurangan dalam penulisan makala ini kami mohon maaf, kritik dan saran pembaca saat bermanfaat bagi kami intuk membantu menyempurnakan makala yang kami tulis. Kami sampaikan terimakasih atas perhatian dan partisipasinya.

DAFTAR PUSTAKA

Irmanto, Juli dkk, BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN, Penerbit Universitas Trisakti, Jakarta,2002. http://junaidipiscesguru.blogspot.com/2010/06/kartu-plastik.html http://mahjiajie.wordpress.com/tag/perbankan-syariah/ http://www.scribd.com/doc/32058351/Kredit-Syariah-Kredit-Konvensional

LAMPIRAN Contoh kasus 1.1 jika transaksi dengan kartu kredit terjadi sebelum tanggal 31 mei dan sebelum 1 juni maka kepadanya tidak dikenakan bunga. Pendek kata sebelum mencapai 1 bulan masa pembungaan, card holder tidak dikenakan bunga. Sistem pembungaan yang digunakan umumnya flat dan progressive (slidding) yang diperhitungkan secara harian berdasarkan saldo. Mekanisme transaksi kartu kredit tanpa melibatkan acquirer seperti tampak pada gambar berikut ini. Gambar 1.1

Keterangan: 1. Perjanjian antara bank penerbit dengan pihak merchant mengenai penggunaan kartu kredit yang diterbitkan oleh bank yang bersangkutan 2. Kartu kredit yang disetujui dan card holder setuju dengan segala ketentuan kartu kredit yang berlaku di bank yang bersangkutan. Card holder diberikan kartu kredit 3. Card holder melakukan transaksi dengan merchant, misalnya membeli barang, membeli jasa hotel, dan sebagainya. Card holder membayar kepada merchant atas pembelian barang dan jasa dengan menunjukkan kartu kredit dan menandatangani slip atau langsung di layar 4. Merchant menyerahkan barang atau memberikan jasa kepada card holder 5. Merchant melakukan tagihan kepada bank 6. Bank mengirimkan tagihan yang dibuat bank untuk card holder 7. Card holder melakukan pembayaran, dapat menggunakan fasilitas ATM atau pendebetan giro, tabungan secara langsung atau secara tunai 8. Diskon diberikan kepada merchant Contoh kasus 1.2 Pada kasus lain, mekanisme transaksi dengan kartu kredit terjadi dengan melibatkan acquirer. Pihak acquirer adalah pihak yang melakukan penagihan dan pembayaran antara bank penerbit dan merchant

dalam hal kartu kredit dilakukan secara francise. Dalam transaksi seperti ini antara pihak bank dan pihak acquirer berbagi komis atau diskon. Pihak merchant akan melakukan penagihan kepada acquirer sebesar nilai bersih yaitu nilai penggunaan kartu kredit dipotong diskon yang telah disepakati merchant dengan issuer (seperti contoh :3%). Selanjutnya pihak acquirer akan membayarnya kepada merchant sebesar 9.700.000 tetapi pihak acquirer akan menerima pembayaran dari isssuer bank sebesar 9.700.000 ditambah interchange fee misalnya 2% dari 10.000.000 yaitu Rp 200.000 sehingga total 9.900.000. dengan demikian komisi bersih atau diskon yang dinikmati acquirer dari aktivitas penjualan kartu kredit sebesar 1 % dari 10.000.000 atau 100.000. sedangkan statement tagihan kepada card holder sebesar 10.000.000 . seperti tampak pada gambar berikut ini : Gambar 1.2

Keterangan: Keterangan 1. 2. 3. 4. 5. Nominal transaksi kartu kredit Diskon untuk acquirer Nilai bersih dibayar acquirer Interchange fee untuk acquirer 2% x 10.000.000 Nilai klaim acquirer terhadap issuer bank (reimbursment) Jumlah (Rp) 10.000.000 (+) 300.000 (-) 9.700.000 (+) 200.000 (+) 9.900.000 (+)

Bila anda perhatikan, dalam mekanisme transaksi kartu kredit ini tidak ada perjanjian antara pihak acquirer dengan pihak merchant karena fungsi acquirer hanyalah sebagi jasa yang mempercepat dan mempermudah proses pembayaran kepada merchant. Sedangkan hubungan pihak bank penerbit (issuer bank) dengan pihak acquirer dan card holder harus difasilitasi oleh perjanjian sebab menyangkut kepastian pembayara dan penerimaan. Gambar 1.4

Tabel 1.1 Contoh Informasi Bunga dan Biaya-Biaya Kartu Kredit Citibank

Deskripsi

Kartu Kredit Citibank Gold dan Rewards

Kartu Kredit Citibank Silver, Cash Back, Clear, Choice, Telkomsel dan Giant

Kartu Kredit Citibank Platinum dan Kartu Kredit Citibank Garuda Indonesia

Suku Bunga Pembelanjaan Suku Bunga Pengambilan Tunai Biaya Pemakaian di Luar Batas (Over Limit) Dikenakan bila penggunaan Kartu Kredit Citibank Anda melebihi Batas Kredit. Biaya Keterlambatan Pembayaran Dikenakan bila

2.95% per bulan / 35.4% per tahun 2.95% per bulan / 35.4% per tahun Rp 125.000

Rp 125.000

Rp 125.000

6% dari jumlah Pembayaran Minimum yang tertunggak sampai

pembayaran Anda diterima setelah lewat Tanggal Jatuh Tempo, atau bila jumlah pembayaran kurang dari Pembayaran Minimum.

dengan 1 bulan sejak tanggal penagihan sebelumnya.

Biaya Pengambilan Tunai Dikenakan atas setiap transaksi Penarikan Tunai dengan menggunakan Kartu Kredit Citibank.

Min max 100.000 150.000 6% dari jumlah yang diambil atau minimum

Min 75.000

max 100.000

Min 100.000

Max 200.000

Rp 50.000,Biaya Penggantian Kartu Dikenakan atas setiap penerbitan Kartu Kredit Citibank baru sebagai pengganti Kartu Kredit Citibank sebelumnya yang hilang atau rusak dan telah dilaporkan kepada Citibank sesuai prosedur pelaporan kehilangan atau kerusakan Kartu Kredit Citibank. Biaya Pengembalian Cek/Giro Dikenakan bila Anda membayar tagihan Kartu Kredit Citibank dengan cek/giro yang harus diproses melalui Rp. 50.000 per kartu

Rp 100.000,-

Rp. 25.000,-

kliring dan ternyata kemudian cek/giro tersebut dikembalikan oleh Bank tertarik dengan alasan apapun. Bea Materai Atas Lembar Penagihan Besarnya akan tergantung pada nilai pembayaran yang Anda lakukan. Sampai dengan Rp 250.000 Lebih dari Rp 250.000 s/d Rp 1 juta Diatas Rp 1 juta Biaya Sales Draft Dikenakan untuk setiap pemberian salinan atau fotokopi dari sales draft sebagai bukti penggunaan Kartu Kredit Citibank atas permintaanAnda. Biaya Cetak Ulang Lembar Penagihan Dikenakan untuk setiap permintaan pencetakan ulang Lembar Penagihan yang sebelumnya telah dikirimkan oleh Citibank kepada Anda. Biaya Transfer Dikenakan untuk setiap permintaan transfer kelebihan pembayaran Kartu Kredit Citibank Anda ke rekening Anda.

Rp 0,Rp. 3.000 Rp. 6.000,Rp 25.000,-

Rp 30.000,-

Rp 25.000,-

Biaya Pick Up Money Dikenakan bila Anda mengajukan permohonan pengambilan pembayaran tunggakan Kartu Kredit oleh Citibank. Biaya Pembatalan Citibank EazyPay Dikenakan bila Anda melakukan pelunasan awal transaksi Citibank EazyPay sebelum jangka waktu cicilan berakhir.

Rp 20.000