Anda di halaman 1dari 27

Agama Jepang biasanya disebut dengan agama Shinto.

Sebagai agama asli bangsa Jepang, agama tersebut memiliki sifat yang cukup unik. Proses terbentuknya, bentukbentuk upacara keagamaannya maupun ajaran-ajarannya memperlihatkan perkembangan yang sangat ruwet. Banyak istilah-istilah dalam agama Shinto yang sukar dialih bahasakan dengan tepat ke dalam bahasa lainnya. Kata-kata Shinto sendiri sebenarnya berasal dari bahasa China yang berarti jalan para dewa, pemujaan para dewa, pengajaran para dewa, atau agama para dewa. Dan nama Shinto itu sendiri baru dipergunakan untuk pertama kalinya untuk menyebut agama asli bangsa Jepang itu ketika agama Buddha dan agama konfusius (Tiongkok) sudah memasuki Jepang pada abad keenam masehi. Pertumbuhan dan perkembagan agama serta kebudayaan Jepang memang memperlihatkan kecenderungan yang asimilatif. Sejarah Jepang memperlihatkan bahwa negeri itu telah menerima berbagai macam pengaruh, baik kultural maupun spiritual dari luar. Semua pengaruh itu tidak menghilangkan tradisi asli, dengan pengaruh-pengaruh dari luar tersebut justru memperkaya kehidupan spiritual bangsa Jepang. Antara tradisitradisi asli dengan pengaruh-pengaruh dari luar senantiasa dipadukan menjadi suatu bentuk tradisi baru yang jenisnya hampir sama. Dan dalam proses perpaduan itu yang terjadi bukanlah pertentangan atau kekacauan nilai, melainkan suatu kelangsungan dan kelanjutan. Dalam bidang spiritual, pertemuan antara tradisi asli Jepang dengan pengaruh-pengaruh dari luar itu telah membawa kelahiran suatu agama baru yaitu agama Shinto, agama asli Jepang. SHINTOISME (AGAMA SHINTO) I. Pengertian Shinto adalah kata majemuk daripada Shin dan To. Arti kata Shin adalah roh dan To adalah jalan. Jadi Shinto mempunyai arti lafdziah jalannya roh, baik roh-roh orang yang telah meninggal maupun roh-roh langit dan bumi. Kata To berdekatan dengan kata Tao dalam taoisme yang berarti jalannya Dewa atau jalannya bumi dan langit. Sedang kata Shin atau Shen identik dengan kata Yin dalam taoisme yang berarti gelap, basah, negatif dan sebagainya ; lawan dari kata Yang. Dengan melihat hubungan nama Shinto ini, maka kemungkinan besar Shintoisme dipengaruhi faham keagamaan dari Tiongkok. Sedangkan Shintoisme adalah faham yang berbau keagamaan yang khusus dianut oleh bangsa Jepang sampai sekarang. Shintoisme merupakan filsafat religius yang bersifat tradisional sebagai warisan nenek moyang bangsa Jepang yang dijadikan pegangan hidup. Tidak hanya rakyat Jepang yang harus menaati ajaran Shintoisme melainkan juga pemerintahnya juga harus menjadi pewaris serta pelaksana agama dari ajaran ini. II. Sejarah Shintoisme (agama Shinto) pada mulanya adalah merupakan perpaduan antara faham serba jiwa (animisme) dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam. Shintoisme dipandang oleh bangsa Jepang sebagai suatu agama tradisional warisan nenek moyang yang telah berabad-abad hidup di Jepang, bahkan faham ini timbul daripada mitos-mitos yang berhubungan dengan terjadinya negara Jepang. Latar belakang historis timbulnya Shintoisme adalah sama-sama dengan latar belakang historis tentang asal-usul timbulnya

negara dan bangsa Jepang. Karena yang menyebabkan timbulnya faham ini adalah budidaya manusia dalam bentuk cerita-cerita pahlawan (mitologi) yang dilandasi kepercayaan animisme, maka faham ini dapat digolongkan dalam klasifikasi agama alamiah. Nama Shinto muncul setelah masuknya agama Buddha ke Jepang pada abad keenam masehi yang dimaksudkan untuk menyebut kepercayaan asli bangsa Jepang. Selama berabad-abad antara agama Shinto dan agama Buddha telah terjadi percampuran yang sedemikian rupa (bahkan boleh dikatakan agama Shinto berada di bawah pengaruh kekuasaan agama Buddha) sehingga agama Shinto senantiasa disibukkan oleh usahausaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sendiri. Pada perkembangan selanjutnya, dihadapkan pertemuan antara agama Budha dengan kepercayaan asli bangsa Jepang (Shinto) yang akhienya mengakibatkan munculnya persaingan yang cukup hebat antara pendeta bangsa Jepang (Shinto) dengan para pendeta agama Buddha, maka untuk mempertahankan kelangsungan hidup agama Shinto para pendetanya menerima dan memasukkan unsur-unsur Buddha ke dalam sistem keagamaan mereka. Akibatnya agama Shinto justru hampir kehilangan sebagian besar sifat aslinya. Misalnya, aneka ragam upacara agama bahkan bentuk-bentuk bangunan tempat suci agama Shinto banyak dipengaruhi oleh agama Buddha. Patung-patang dewa yang semula tidak dikenal dalam agama Shinto mulai diadakan dan ciri kesederhanaan tempat-tempat suci agama Shinto lambat laun menjadi lenyap digantikan dengan gaya yang penuh hiasan warna-warni yang mencolok. Tentang pengaruh agama Buddha yang lain nampak pada hal-hal seperti anggapan bahwa dewa-dewa Shintoisme merupakan Awatara Buddha (penjelmaan dari Buddha dan Bodhisatwa), Dainichi Nyorai (cahaya besar) merupakan figur yang disamakan dengan Waicana (salah satu dari dewa-dewa penjuru angin dalam Budhisme Mahayana), hal im berlangsung sampai abad ketujuh belas masehi. Setelah abad ketujuh belas timbul lagi gerakan untuk menghidupkan kembali ajaran Shinto murni di bawah pelopor Kamamobuchi, Motoori, Hirata, Narinaga dan lain-lain dengan tujuan bangsa Jepang ingin membedakan Badsudo (jalannya Buddha) dengan Kami (roh-roh yang dianggap dewa oleh bangsa Jepang) untuk mempertahankan kelangsungan kepercayaannya. Pada abad kesembilan belas tepatnya tahun 1868 agama Shinto diproklamirkan menjadi agama negara yang pada saat itu agama Shinto mempunyai 10 sekte dan 21 juta pemeluknya. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa paham Shintoisme merupakan ajaran yang mengandung politik religius bagi Jepang, sebab saat itu taat kepada ajaran Shinto berarti taat kepada kaisar dan berarti pula berbakti kepada negara dan politik negara. III. Kepercayaan dan Peribadatan Agama Shinto A. Kepercawaan agama Shinto Dalam agama Shinto yang merupakan perpaduan antara faham serba jiwa (animisme) dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam mempercayai bahwasanya semua benda baik yang hidup maupun yang mati dianggap memiliki ruh atau spirit, bahkan kadangkadang dianggap pula berkemampuan untuk bicara, semua ruh atau spirit itu dianggap memiliki daya kekuasaan yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka (penganut Shinto), daya-daya kekuasaan tersebut mereka puja dan disebut dengan Kami. Istilah Kami dalam agama Shinto dapat diartikan dengan di atas atau unggul,

sehingga apabila dimaksudkan untuk menunjukkan suatu kekuatan spiritual, maka kata Kami dapat dialih bahasakan (diartikan) dengan Dewa (Tuhan, God dan sebagainya). Jadi bagi bangsa Jepang kata Kami tersebut berarti suatu objek pemujaan yang berbeda pengertiannya dengan pengertian objek-objek pemujaan yang ada dalam agama lain. Dewa-dewa dalam agama Shinto jumlahnya tidak terbatas, bahkan senantiasa bertambah, hal ini diungkapkan dalam istilah Yao-Yarozuno Kami yang berarti delapan miliun dewa. Menurut agama Shinto kepercayaan terhadap berbilangnya tersebut justru dianggap mempunyai pengertian yang positif. Sebuah angka yang besar berarti menunjukkan bahwa para dewa itu memiliki sifat yang agung, maha sempurna, maha suci dan maha murah. Oleh sebab itu angka-angka seperti 8, 80, 180, 5, 100, 10, 50, 100, 500 dan seterusnya dianggap sebagai angka-angka suci karena menunjukkan bahwa jumlah para dewa itu tidak terbatas jumlahnya. Dan seperti halnya jumlah angka dengan bilangannya yang besar maka bilangan itu juga menunjukkan sifat kebesaran dan keagungan Kami. Pengikut-pengikut agama Shinto mempunyai semboyan yang berbunyi Kami negara no mishi yang artinya : tetap mencari jalan dewa. Kepercayaan kepada Kami daripada benda-benda dan seseorang, keluarga, suku, raja-raja sampai kepada Kami alam raya menimbulkan kepercayaan kepada dewa-dewa. Orang Jepang (Shinto) mengakui adanya dewa bumi dan dewa langit (dewa surgawi) dan dewa yang tertinggi adalah Dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan pemberi kamakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian. Disamping mempercayai adanya dewa-dewa yang memberi kesejahteraan hidup, mereka juga mempercayai adanya kekuatan gaib yang mencelakakan, yakni hantu roh-roh jahat yang disebut dengan Aragami yang berarti roh yang ganas dan jahat. Jadi dalam Shintoisme ada pengertian kekuatan gaib yang dualistis yang satu sama lain saling berlawanan yakni Kami versus Aragami (Dewi melawan roh jahat) sebagaimana kepercayaan dualisme dalam agama Zarathustra. Dari kutipan di atas dapat dilihat adanya tiga hal yang terdapat dalam konsepsi kedewaan agama Shinto, yaitu : 1. Dewa-dewa yang pada umumnya merupakan personifikasi dari gejala-gejala alam itu dianggap dapat mendengar, melihat dan sebagainya sehingga harus dipuja secara langsung. 2. Dewa-dewa tersebut dapat terjadi (penjelmaan) dari roh manusia yang sudah meninggal. 3. Dewa-dewa tersebut dianggap mempunyai spirit (mitama) yang beremanasi dan berdiam di tempat-tempat suci di bumi dan mempengaruhi kehidupan manusia. B. Peribadatan agama Shinto Agama Shinto sangat mementingkan ritus-ritus dan memberikan nilai sangat tinggi terhadap ritus yang sangat mistis. Menurut agama Shinto watak manusia pada dasarnya adalah baik dan bersih. Adapun jelek dan kotor adalah pertumbuhan kedua, dan merupakan keadaan negatif yang harus dihilangkan melalui upacara pensucian (Harae). Karena itu agama Shinto sering dikatakan sebagai agama yang dimulai dengan dengan pensucian dan diakhiri dengan pensucian. Upacara pensucian (Harae) senantiasa dilakukan mendahului pelaksanaan upacara-upacara yang lain dalam agama Shinto. Ritus-ritus yang dilakukan dalam agama Shinto terutama adalah untuk memuja dewi

Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan kemakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian (beras), yang dilakukan rakyat Jepang pada Bulan Juli dan Agustus di atas gunung Fujiyama. TAOISME A. Latar belakang munculnya Taoisme Menurut tradisi, taoisme berasal dari seorang ahli pikir tiongkok yang terkenal dengan nama Lao tzu (guru tua) yang diperkirakan lahir pada tahun 600 SM dan ada yang mengatakan ia lahir pada tahun 640 SM. Beberapa sarjana menyatakan bahwa beliau hidup tiga abad kemudian dari tahun tersebut, sedangkan dari sarjana lainnya lagi bersikap ragu-ragu apakah beliau ini pernah benar-benar ada. Menurut dugaan, Lao tzu hidup 50 tahun lebih dahulu dari pada Kun Fu Tse. Karena tahun kelahiran Kun Fu Tse diperkirakan pada 551 SM. Mengenai orang tuanya, masa kanak-kanak serta pendidikannya tidak banyak diketahui orang sebab tidak pernah ditulis dalam buku sejarah. Akan tetapi setelah ajaran-ajarannya yang berhubungan dengan mistik mulai dikenal oleh para ahli pengetahuan dan ahli filsafat di seluruh Tiongkok dalam masamasa kemudian, maka baru timbul legenda tentang kehidupannya meskipun legenda tersebut tetap masih berupa teka-teki. Lao tze dengan tekunnya mempelajari buku-buku kuno dan kemudian membentuk pendapatnya sendiri tentang agama dan filsafat yang pada masa kemudian sangat menarik perhatian orang-orang yang mempelajarinya. Ketika berumur 90 tahun dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai arsip kerajaan untuk kemudian melakukan pengembaraan ke seluruh negara guna menghindari tindakan raja yang ia anggap kejam atau dholim. Dia membeli sebuah kereta kecil yang ditarik oleh seekor sapi htam dan dengan keretanya itu ia menuju ke daerah Chu, akan tetapi ketika melintasi perbatasan, seorang penjaga perbatasan mengenalnya, penjaga perbatasan tersebut barnama Yin Hse menegurnya : Tuan selalu menyukai hidup sebagai seorang pertapa, akan tetapi tuan tidak pernah menulis ajaran-ajaran tuan sekarang tuan ingin meninggalkan daerah ini, pelajaran tuan akan dilupakan orang maka dan itu saya tak akan mengijinkan tuan untuk menyeberang sehingga tuan menulis pokok-pokok ajaran tuan. Untuk memenuhi permintaan itu Lao Tse tertahan diperbatasan tersebut untuk menulis ajarannya dalam 5000 kata-kata yang terbagi 81 syair pendek, yang kemudian syair-syair tesebut disebut : Tao Te King. Lao Tse kemudian menyerahkan tulisannya kepada Yin Hse dengan menyatakan bahwa inilah yang harus saya ajarkan, sekarang izinkanlah saya meninggalkan tempat ini. Buku Tao Te King merupakan suatu kesaksian dari keserasian manusia dengan alam semesta ini, dapat dibaca hingga selesai dalam waktu setengah jam ataupun sepanjang hidup dan sampai hari ini merupakan teks dasar bagi keseluruhan pemikiran Tao. Setelah kejadian tersebut baik La Tse maupun Yin Hse tidak muncul-muncul lagi seolaholah mereka tak pernah hidup, akan tetapi bukunya Tao Te King tetap dipelajari orang. Menurut dugaan beberapa ahli sejarah, Lao Tse pernah ditemui oleh Kun Fu Tse dan mengadakan perdebatan tentang ajaran-ajarannya yang sanga antusias baginya. Menurut pendapat Prof James Legge dalam muqoddimah terjemahan buku Tao Te King, kedua orang tersebut (Kun Fu Tse dan Lao Tse) nampaknya bertemu lebih dari satu kali dan cenderung untuk menduga bahwa nama Lao Tse adalah timbul dari style bahasa Kun fu

Tse supaya dikenal oleh pengikut-pengikutnya sebagai guru tua. Mereka adalah ahli pikir timur yang bertemu muka dengan pandangan pikiran yang berbeda, akan tetapi mereka tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang perbedaan pandangan itu. Kettka Kun Fu Tse masih muda setelah mendapat kabar bahwa ada seorang ahli pikir tua yang bekerja sebagai pegawai administrasi diperpustakaan kerajaan, terkenal dengan nama Lao Tse maka ia memutuskan untuk menemuinya. Menurut pernyataan Kun Fu Tse sendiri yang disampaikan kepada murid-muridnya tentang pertemuan dengan Lao Tse itu adalah menunjukkan bahwa pertemuan antara keduanya menimbulkan kemarahan atau pertentangan, oleh karena Kun fu Tse telah mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan berat untuk memancing jawaban-jawaban dari Lao Tse sehubungan dengan ajaran-ajarannya. Dialog antara keduanya antara lain adalah sebagai berikut : Lao Tse terlebih dahulu bertanya kepadanya tentang hal-hal yang menarik perhatiannya, maka Kun Fu Tse menjawab bahwa yang menarik perhatian dirinya ialah sejarah nenek moyang, terutama yang tertulis dalarn kitab Shu King (riwayat). Tetapi Lao Tse menyela : bahwa orang-orang yang kamu percakapkan itu telah lama meninggal dan tulang-tulangnya telah menjadi abu didalam kuburan. Kun Fu Tse mengatakan bahwa : Manusia itu menurut watak aslinya adalah baik dan pengetahuannya dapat menjaganya untuk selalu baik. Kemudian setelah mendengar uraian. Kun Fu Tse, demikian bertanyalah Lao Tse : tetapi mengapa kamu mempelajari orang-orang kuno (nenek moyang). Dijawab oleh Kun : pengetahuan yang baru harus berdasarkan pengetahuan kuno (lama). Belum selesai menerangkan, Lao Tse menganggunya dengan pertanyaan sebagai berikut : Buanglah sikap ramah tamahmu dan lemparkanlah jubahmu yang indah itu. Orang yang bijaksana tidaklah memamerkan kekayaannya kepada mereka yang tidak tau dan ia tidak akan dapat mempelajari keadilan dan orang-orang kuno. Mengapa tidak? Tanya Kun Fu Tse selanjutnya bukannya dengan memandikan maka seekor burung dara itu menjadi putih jawab Lao Tse. Setelah Kun Fu Tse berfikir sejenak maka berkatalah ia : Saya tau bagaimana burung terbang, bagaimana ikan berenang, bagaimana. binatang lari, dan bagaimana yang lari itu bisa, juga tertangkap ikan yang berenang itu bisa juga terkail, burung terbang bisa juga tertembak. Tetapi ada ular naga yang besar dan saya tidak dapat menceritakan bagaimana, ia menaiki angin dan dapat mengendarai awan. Saya telah bertemu dan berbicara dengan Lao Tse dan hanya dapat membandingkan dia dengan ular naga itu. Lalu ia tidak berkata apapun lagi kepadanya dan berlalulah ia. Demikianlah salah satu contoh dialog antara dua orang filsuf tersebut, yang ajaranajarannya dikemudian hari besar pengaruhnya terhadap kebudayaan bangsa Tiongkok, bahkan terhadap way of life bangsa tersebut sampai sekarang, meskipun bangsa tersebut berada dibawah bayang-bayang hitam dan pemerintahan komunis yang menginginkan hancurnya segala bentuk keagamaan serta tradisi nenek moyangnya. B. Pokok-pokok ajaran Taoisme. Ajaran-ajaran Taoisme tercantum dalam kitabnya yang terkenal dengan nama Tao Te King yang terdiri dari 25 halaman yang kemudian diberi komentar oleh pelbagai ahli filsafat sehingga menjadi kitab yang sangat tebal. Kitab tersebut menyimpan suatu pengertian yang ajaib (misterius) yaitu yang tersirat dalam kata TAO. Kata ini menyulitkan banyak sarjana untuk mengartikannya. Ada yang mengartikan TAO dengan. Jalan atau Cara atau Akal dan Keutamaan bahkan ada juga yang

memberi arti sebagai Kata-kata suci dan sebagainya. Ajaran Taoisme cenderung membawa tradisi Tiongkok kuno ke dalam bentuk keagamaan dan filsafat. Dengan demikian berarti Lao Tse menjadikan Taoisme suatu faham yang dapat mengimbangi faham Konfusianisme yang terkenal dengan faham kuno dan yang berusaha mempertahankan tradisi Tiongkok dalam bentuk baru tetapi berada pada jalan yang sama dengan yang dilalui Taoisme. Taoisme merupakan ajaran falsafah yang bercorak ketimuran terlihat dalam ajaran tersebut pandangan hidup yang lebih menitik beratkan kepada moral individual dan sosial, sebab ternyata didalam ajaran tersebut terdapat pandangan prinsipil bahwa manusia harus berbuat sesuai dengan sifat atau watak-watak yang dimiliki berikut : Tao adalah sesuatu yang maha halus dan bilamana sesuatu itu dapat ditangkap pengertiannya maka ia bukanlah Tao yang sebenar-benarnya. Sesuai dengan sifat atau watak-watak yang dimiliki oleh Tao yang digambarkan didalam muqoddimah Tao Te King sebagai berikut Tao adalah sesuatu yang maha halus dan bilamana sesuatu itu dapat ditangkap pengertiannya, maka ia adalah bukan Tao yang sebenar-benarnya. Karena sifatnya transendental, maka Tao merupakan dasar segala yang ada. Nyanyian suci yang tertulis dalam kitab Tao Te King antara lain memuja Tao sebagai hal yang paling gaib; kegaiban dari segala yang gaib, yang merupakan tempat masuk kedalam kegaiban dari semua kehidupan. Dengan gambaran sifat-sifat Tao yang demikian rumitnya itu maka manusia hanya akan dapat menagkapnya melalui semedi (tafakur) atau pandangan dalam, sehingga ia tak dapat diuraikan dalam untaian dan lukisan kata-kata. Untuk lebih memudahkan memahami pengertian sifat-sifat Tao maka Tao diberi sifat sebagai berikut : a) Tao bersifat Transendent juga ia bersifat Immanent artinya benda dalam alam kita. b) Tao diartikan sebagai Jalannya Universum (jagad raya) yakni merupakan normanorma, irama dan kekuatan pengatur alam ini. Oleh karena itu Tao, dengan pengertian ini dapat disamakan dengan elan vitale (kekutan dasar) dunia. Alam raya (universum) harus mengikuti jalannya yang telah ditetapkan supaya mendapatkan keseimbangan dan kestabilan. c) Tao berarti sebagai suatu cara dengan mana orang harus mengatur hidupnya agar sejalan dengan yang diperbuatnya oleh alam (universum). Konsep Taoisme tentang hidup manusia yang paling baik adalah sikap hidup yang tinggi nilainya yaitu sikap diam yang kreatif atau disebut Wuwei. Sikap demikian dapat menarik kedalam pribadi orang suatu kekuatan kejiwaan tertinggi berupa aktivitas tertinggi dan kebebasan tertinggi. Dengan sikap inilah manusia akan dapat menciptakan suatu kreasi (ciptaan) murni, sebab kreasi yang murni hanyalah timbul dari pribadi yang bebas dari segala bentuk tekanan. Sedangkan gerak dan tingkah laku yang goyah hanya akan menghasilkan suatu kreasi yang tidak murni dan kreasi demikian tidak dapat dipergunakan untuk mencapai kesadaran hati nurani manusia. Hanya dengan Wuwei manusia dapat mencapainya. Untuk tujuan itu Taoiesme menganjurkan agar supaya jiwa kita dibebaskan dari segala tekanan sehingga dengan demikian manusia akan dapat memperoleh ketengan dalam hati nuraninya sendiri. Oleh karena itulah WUWEI dapat dipandang sebagai unsur kehidupan yang berada diatas segala tekanan. Ajaran Taoisme lainnya adalah konsepsinya mengenai kenisbian semua nilai dan sebagai imbalan dari asas ini adalah adanya persamaan dari hal yang bertentangan. Dalam hal ini Taoisme berkaitan dengan simbolisme Cina tradisional tentang yang dan yin yang

digambarkan sebagai berikut : Kutub-kutub ini menunjukkan segala pertentangan yang mendasar dalam hidup ini : baikjahat, aktif-pasif, positif-negatif, terang-gelap, musim panas-musim dingin, pria-wanita, dan sebagainya. Tetapi walaupun asas-asasnya berada dalam ketegangan asas-asas itu tidak bertentangan secara mutlak. Asas-asas itu saling melengkapi dan saling mengimbangi satu dengan lainnya. Tiap-tiapnya memasuki ayah yang lain dan menempatkan dirinya dititik pusat dari wilayah lawannya itu. Pada akhirnya keduanya itu menyatu dalam sebuah lingkaran yang saling melingkupi sebagai suatu perlambang dari kesatuan terakhir dari Tao. Karena selalu berputar dan bertukar tempat hal-hal yang berlawanan hanya merupakan suatu tahap dari suatu roda yang sedang berputar. Hidup ini tidak bergerak ke depan dan ke atas menuju suatu puncak atau kutub yang telah mapan. la berputar dan melengkung kembali kepada dirinya sendiri sampai dirinya membentuk lingkaran yang utuh dan sadar bahwa dititik pusat semua hal itu adalah satu. Susunan inilah yang terkenal disebut dengan Tao Ji yaitu jalan yang diikuti oleh universum yang ditandai oleh musim setiap tahun. Kunfusianisme berpendapat demikian juga. C. Perkembangan selanjutnya ajaran Taoisme. Perkembangan selanjutnya ajaran Taoisme terletak ditangan para murid-murid Lao Tse yang terkenal diantaranya bernama Chung Tse. Filosof Lao Tse meninggalkan sebuah kitab kecil Tao Te King yang berisi 5000 perkataan Tionghoa yang kemudian dikomentari oleh Chuang Tse menjadi 52 buah buku tebal (yang masih ada tinggal 33 buku saja). Buku Chuang Tse tersebut menjadi terkenal dan populer dinegeri Tiongkok dan banyak dikagumi orang disana. Akan tetapi sayang tulisan-tulisan Chuang Tse tersebut tidak mengambarkan ajaran Lao Tse yang murni, oleh karena disana sini penuh dengan pandangannya sendiri yang menyimpang dari ajaran gurunya. Setelah Chuang Tse meninggal, maka banyak penulis yang melanjutkan ajaran Taoisme dalam bentuk keagamaan. Kemudian setelah Taoisme dipandang sebagai agama maka faham ini mengalami kemerosotan karena di masukkannya magic takhayul, pendewaan terhadap kekuatan alam. Bahkan Lao Tse sendiri diperdewakan orang. Ketka Budhisme masuk Tiongkok, Taoisme meminjam dan padanya faham reinkarnasi (penitisan roh kembali) sehingga Lao Tse dianggap sebagai titisan dewa Budha. Setelah itu didirikanlah banyak kuil diseluruh Tiongkok diciptakan juga upacara-upacara dan kurban-kurban dan sebagainya untuk memuja Lao Tse dan roh-roh halus. Maka akhirnya terjadilah percampuradukkan antara Taoisme dan Budhisme yang selanjutnya sulit dibedakan antara keduanya terutama dalam upacara-upacara pemujaan serta upacara-upacara keagamaan lainnya. Bertambah sulit lagi setelah Kunfusianisme bercampur baur dengan kedua faham tersebut. Pendapat Prof. James Legge ahli purbakala Cina (ahli sinologi) mengatakan babwa lebih dari 1000 tahun, 3 agama telah terbentuk di Tiongkok yaitu Kunfusianisme,Taoisme dan Budhisme; bahkan menurut Prof. H. C Bleeker Taoisme menjadi agama berhala yaitu menjadi persekutuan keagamaan sebagaimana agama Hindu atau agama nasrari. Persekutuan tersebut timbul pada masa dinasti Han (221 Masehi) dimana didalamnya terdapat pemujaan terhadap orang-orang suci Taoisme dan dewa-dewa disertai dengan kurban-kurban dan upacara suci.

PENUTUP Dari uraian-uraian yang sudah dikemukakan diatas tampak bahwa agama rakyat merupakan sistem kepercayaan dan peribadatan yang benar-benar hidup di kalangan rakyat Jepang dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka seperti yang terlihat dalam kegiatan-kegiatan keluarga, rukun tetangga dan hari-hari libur nasional Jepang. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap kepercayaan tradisional Jepang dan tempat agama rakyat, dalam kehidupan masyarakat Jepang modern yang termuat dalam laporan hasil penelitian yang diberi judul Nihonjin-no-kokuminsei (sifat nasional Jepang), maka pemujaan terhadap arwah nenek moyang menempati kedudukan utama dalam kehidupan masyarakat Jepang (77% diantaranya 2.254 orang yang tersebar di seluruh negeri Jepang). Di samping itu rangkaian upacara dan perayaan tahunan masih tetap memainkan peranan penting dalam agama rakyat, terutama dalam lingkungan masyarakat pertanian yang umumnya terdapat dalam agama rakyat fungsinya sudah jauh berkurang, namun berbagai rangkaian kegiatan yang sepanjang tahun menjadi salah satu diantara ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama yang sudah melembaga seperti agama Shinto.

Pengaruh Shinto terhadap Pemikiran Jepang


Akhir-akhir ini saya lagi sibuk mengajar dan kegiatan organisasi. Jadi rada males membuat postingan tulis. Makanya saya ada ide mengkopi makalah kuliah saya. Mata kuliah ini cuma dapet nilai B. Jujur, saya tertarik sekali dengan agama Jepang yang satu ini, dan ini berhubungan dengan postingan saya sebelumnya tentang COSPLAY. Karena itulah topik ini saya angkat. BAB I Pendahuluan 1.1 Pendahuluan Di zaman yang sangat modern ini, masyarakat Jepang masih tetap memelihara dan memegang teguh kepercayaan Shinto, padahal Shinto adalah agama kuno yang lahir dari kepercayaan animisme. Hal yang menarik bagi kita perhatikan adalah apakah Shinto masih memiliki pengaruh yang penting bagi masyarakat Jepang saat ini di tengah besarnya pengaruh budaya Barat yang masuk ke Jepang dan kemajuan teknologi yang pesat. Dan apakah Shinto dapat mempertahankan keaslian tradisi Jepang dari pengaruhpengaruh tersebut ? 1.2 Latar Belakang Pada perang dunia kedua Shinto adalah agama resmi Jepang. Namun, sulit bagi kita untuk mengklasifikan Shinto sebagai agama atau sekedar kepercayaan nenek moyang .Di satu sisi, dapat dilihat sebagai sekadar bentuk animisme dan dapat dianggap sebagai agama primitif. Di sisi lain, kepercayaan Shinto dan cara berpikir yang sangat tertanam dalam struktur bawah sadar masyarakat Jepang modern. Akhirat bukan merupakan perhatian utama dalam Shinto, dan banyak lagi penekanan pada sepatutnya ke dalam dunia ini, bukannya mempersiapkan untuk berikutnya. Shinto tidak mengikat seperangkat dogma, tidak ada tempat tersuci pemuja, tidak ada orang atau kami dianggap paling suci, dan tidak didefinisikan serangkaian doa-doa. Sebaliknya, Shinto adalah kumpulan ritual dan metode yang dimaksudkan untuk memediasi hubungan manusia untuk hidup kami. Praktik ini berasal organik di Jepang selama rentang waktu berabad-abad dan telah dipengaruhi oleh Jepang kontak dengan agama-agama bangsa-bangsa lain, terutama China. Perhatikan, misalnya, bahwa kata Shinto itu sendiri adalah keturunan China dan bahwa banyak dari mitologi Shinto kodifikasi dilakukan dengan tujuan eksplisit menjawab pengaruh budaya China. Sebaliknya, Shinto telah dan terus memiliki dampak terhadap praktik agama-agama lain di Jepang. Secara khusus, salah satu bahkan bisa membuat sebuah kasus untuk membahas hal itu di bawah judul Buddhisme Jepang, karena kedua agama telah melakukan pengaruh yang mendalam satu sama lain sepanjang sejarah Jepang. Jepang "agama baru" yang muncul sejak akhir Perang Dunia Kedua juga menunjukkan pengaruh Shinto yang jelas. Konsep dalam agama Shinto yang paling mencolok adalah cinta dan penghormatan terhadap alam. Dengan demikian, air terjun, bulan, atau hanya sebuah batu berbentuk aneh mungkin akan datang harus dianggap sebagai kami; begitu mungkin karismatik orang atau entitas yang lebih abstrak seperti pertumbuhan dan kesuburan. BAB II ISI

TENTANG SHINTO 2.1 Pengertian Shinto adalah kata majemuk daripada Shin dan To. Arti kata Shin adalah roh dan To adalah jalan. Jadi Shinto mempunyai arti lafdziah jalannya roh, baik roh-roh orang yang telah meninggal maupun roh-roh langit dan bumi. Kata To berdekatan dengan kata Tao dalam taoisme yang berarti jalannya Dewa atau jalannya bumi dan langit. Sedang kata Shin atau Shen identik dengan kata Yin dalam taoisme yang berarti gelap, basah, negatif dan sebagainya ; lawan dari kata Yang. Dengan melihat hubungan nama Shinto ini, maka kemungkinan besar Shintoisme dipengaruhi faham keagamaan dari Tiongkok. Sedangkan Shintoisme adalah faham yang berbau keagamaan yang khusus dianut oleh bangsa Jepang sampai sekarang. Shintoisme merupakan filsafat religius yang bersifat tradisional sebagai warisan nenek moyang bangsa Jepang yang dijadikan pegangan hidup. Tidak hanya rakyat Jepang yang harus menaati ajaran Shintoisme melainkan juga pemerintahnya juga harus menjadi pewaris serta pelaksana agama dari ajaran ini. 2.2 Sejarah Shinto Shinto mempunyai sejarah yang cukup panjang dan cukup tua yaitu dimulai dari masa jaman period (11.500-300 BC) ada indikasi masyarakat pada jaman tersebut sudah menjalani ritual Samanisme yang mirip dengan ritual Shinto sekarang. Kemudian pada masa Kofun period (250-552 CE) mulai ditemukan catatan yang lebih lengkap tentang kepercayaan ini. Kuil kuno Ise dan kuil Izumo Taisha yang terletak di barat daya dan timur laut kepulauan Jepang adalah beberapa di antara kuil yang dibangun pada masa ini dan masih berdiri hingga kini. Menurut catatan sejarah, tempat suci agama Shinto pada awalnya kebanyakan tidak memiliki bangunan apapun dan pendirian bangunan ini dimulai kaerena pengaruh dari agama budha yang masuk pada saat itu. Nama Shinto muncul setelah masuknya agama Buddha ke Jepang pada abad keenam masehi yang dimaksudkan untuk menyebut kepercayaan asli bangsa Jepang. Selama berabad-abad antara agama Shinto dan agama Buddha telah terjadi percampuran yang sedemikian rupa (bahkan boleh dikatakan agama Shinto berada di bawah pengaruh kekuasaan agama Buddha) sehingga agama Shinto senantiasa disibukkan oleh usahausaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sendiri. Pada perkembangan selanjutnya, dihadapkan pertemuan antara agama Budha dengan kepercayaan asli bangsa Jepang (Shinto) yang akhirnya mengakibatkan munculnya persaingan yang cukup hebat antara pendeta bangsa Jepang (Shinto) dengan para pendeta agama Buddha, maka untuk mempertahankan kelangsungan hidup agama Shinto para pendetanya menerima dan memasukkan unsur-unsur Buddha ke dalam sistem keagamaan mereka. Akibatnya agama Shinto justru hampir kehilangan sebagian besar sifat aslinya. Misalnya, aneka ragam upacara agama bahkan bentuk-bentuk bangunan tempat suci agama Shinto banyak dipengaruhi oleh agama Buddha. Patung-patang dewa yang semula tidak dikenal dalam agama Shinto mulai diadakan dan ciri kesederhanaan tempat-tempat suci agama Shinto lambat laun menjadi lenyap digantikan dengan gaya yang penuh hiasan warna-warni yang mencolok. Tentang pengaruh agama Buddha yang lain nampak pada hal-hal seperti anggapan bahwa dewa-dewa Shintoisme merupakan Awatara Buddha (penjelmaan dari Buddha dan Bodhisatwa), Dainichi Nyorai (cahaya besar) merupakan figur yang disamakan dengan

Waicana (salah satu dari dewa-dewa penjuru angin dalam Budhisme Mahayana), hal ini berlangsung sampai abad ketujuh belas masehi. Setelah abad ketujuh belas timbul lagi gerakan untuk menghidupkan kembali ajaran Shinto murni di bawah pelopor Kamamobuchi, Motoori, Hirata, Narinaga dan lain-lain dengan tujuan bangsa Jepang ingin membedakan Badsudo (jalannya Buddha) dengan Kami (roh-roh yang dianggap dewa oleh bangsa Jepang) untuk mempertahankan kelangsungan kepercayaannya. Kemudian pada masa restorasi Meiji, Shinto ditetapkan menjadi agam resmi Negara namun setelah perang dunia kedua jepang, status Shinto sebagai agama Negara berakhir karena jepang beralih menjadi negara sekular dan agama dianggap tidak lebih sebagai kegiatan budaya. A. Kepercayaan Shinto Dalam agama Shinto yang merupakan perpaduan antara faham serba jiwa (animisme) dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam mempercayai bahwasanya semua benda baik yang hidup maupun yang mati dianggap memiliki ruh atau spirit, bahkan kadangkadang dianggap pula berkemampuan untuk bicara, semua ruh atau spirit itu dianggap memiliki daya kekuasaan yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka (penganut Shinto), daya-daya kekuasaan tersebut mereka puja dan disebut dengan Kami . Istilah Kami dalam agama Shinto dapat diartikan dengan di atas atau unggul, sehingga apabila dimaksudkan untuk menunjukkan suatu kekuatan spiritual, maka kata Kami dapat dialih bahasakan (diartikan) dengan Dewa (Tuhan, God dan sebagainya). Jadi bagi bangsa Jepang kata Kami tersebut berarti suatu objek pemujaan yang berbeda pengertiannya dengan pengertian objek-objek pemujaan yang ada dalam agama lain. Dewa-dewa dalam agama Shinto jumlahnya tidak terbatas, bahkan senantiasa bertambah, hal ini diungkapkan dalam istilah Yao-Yarozuno Kami yang berarti delapan miliun dewa. Menurut agama Shinto kepercayaan terhadap berbilangnya tersebut justru dianggap mempunyai pengertian yang positif. Sebuah angka yang besar berarti menunjukkan bahwa para dewa itu memiliki sifat yang agung, maha sempurna, maha suci dan maha murah. Oleh sebab itu angka-angka seperti 8, 80, 180, 5, 100, 10, 50, 100, 500 dan seterusnya dianggap sebagai angka-angka suci karena menunjukkan bahwa jumlah para dewa itu tidak terbatas jumlahnya. Dan seperti halnya jumlah angka dengan bilangannya yang besar maka bilangan itu juga menunjukkan sifat kebesaran dan keagungan Kami. Pengikut-pengikut agama Shinto mempunyai semboyan yang berbunyi Kami nagara-nomishi yang artinya : tetap mencari jalan dewa. Kepercayaan kepada Kami daripada benda-benda dan seseorang, keluarga, suku, raja-raja sampai kepada Kami alam raya menimbulkan kepercayaan kepada dewa-dewa. Orang Jepang (Shinto) mengakui adanya dewa bumi dan dewa langit (dewa surgawi) dan dewa yang tertinggi adalah Dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan pemberi kamakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian. Disamping mempercayai adanya dewa-dewa yang memberi kesejahteraan hidup, mereka juga mempercayai adanya kekuatan gaib yang mencelakakan, yakni hantu roh-roh jahat yang disebut dengan Aragami yang berarti roh yang ganas dan jahat. Jadi dalam Shintoisme ada pengertian kekuatan gaib yang dualistis yang satu sama lain saling berlawanan yakni Kami versus Aragami (Dewi melawan roh jahat) sebagaimana

kepercayaan dualisme dalam agama Zarathustra. Dari kutipan di atas dapat dilihat adanya tiga hal yang terdapat dalam konsepsi kedewaan agama Shinto, yaitu : 1. Dewa-dewa yang pada umumnya merupakan personifikasi dari gejala-gejala alam itu dianggap dapat mendengar, melihat dan sebagainya sehingga harus dipuja secara langsung. 2. Dewa-dewa tersebut dapat terjadi (penjelmaan) dari roh manusia yang sudah meninggal. 3. Dewa-dewa tersebut dianggap mempunyai spirit (mitama) yang beremanasi dan berdiam di tempat-tempat suci di bumi dan mempengaruhi kehidupan manusia. B. Shinto dan Ajarannya Tidak mengenal ajaran apapun Shinto adalah agama kuno yang merupakan campuran dari animisme dan dinamisme yaitu suatu kepercayaan primitif yang percaya pada kekuatan benda, alam atau spirit. Kepercayaan tua semacam ini biasanya penuh berbagai ritual dan perayaan yang biasanya berhubungan dengan musim, seperti musim panen, roh, spirit dan lain-lain. Sejak awal sebenarnya secara natural manusia menyadari bahwa mereka bukanlah makhluk kuat dan diluar mereka ada kekuatan lain yang lebih superior yang langsung ataupun tidak lansung berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Pengakuan, kekaguman, ketakutan, dan juga kerinduan pada Spirit atau Kekuatan Besar yang disebut dengan nama Kami atau Kamisama itu diwujudkan dalam bentuk tarian, upacara, dan festival. Layaknya suatu kepercayaan yang berakar dari Animisme, umumnya tidak memiliki ajaran khusus yang harus dipelajari, demikian juga halnya dengan agama Shinto. Jadi, agama ini sama sekali tidak memiliki buku khusus ataupun kitab suci yang harus dipelajari sehingga pelajaran ataupun ceramah agama dan sejenisnya tentu saja tidak ada. Disamping itu Shinto juga tidak mengenal istilah nabi yang berfungsi sebagai Founding Father karena dari awal agama ini muncul secara alami di masyarakat. Tidak mengenal ritual mengorbankan binatang Upacara ritual dengan mengorbankan binatang sepertinya adalah umum ditemukan pada kepercayaan masyarakat lama. Sebagian kecil wilayah di Indonesia mungkin mengenal tradisi menanam kepala kerbau sebagai ritual untk pembangunan atau peresmian bangunan baru. Namun, pada kepercayaan semacam ini sama sekali tidak dikenal dalam tradisi Shinto. Hal ini tentu saja menarik karena bisa dikatakn sangat bertolak belakang dengan tradisi animisme pada umumnya. Shinto adalah Pemuja Alam Hal ini bisa dilihat dari tradisi Shinto yang memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada alam. Pohon besar misalnya tidak boleh sembarangan ditebang karena percaya ada Kami yang berdiam di dalamnya. Kebanyakan penduduk jaman dulu akan taat dan tidak merusak tempat alam atau bahkan terkadang jalan tanpa melewati hutan, gunung bahkan pulau tertentu karena dipercaya adanya Kami yang bersemayam di tempat tersebut.

Salah satu contoh kecil dari penghormatan yang tinggi kepada tumbuhan adalah pada saat makan, yaitu hormat terhadap makanan khususnya beras. Sehingga hal inilah yang menyebabkan kebanyakan orang Jepang yang anti untuk menyisakan nasi bahkan dimakan sampai butir terakhir karena dianggap tidak menghormati roh yang hidup di dalamnya. Dengan konsep kepercayaan yang sangat sederhana seperti ini bisa dibilang mereka cukup termasuk sukses menjaga kelestarian alamnya. Sekedar catatan tambahan, saat ini, tempat yang bisa dihuni di Jepang hanyalah 30% dari luas dataran yang ada, selebihnya 70% masih berupa gunung dan bukit. Walaupun angka ini tidak menjelaskan secara langsung hubungan antara kedua variabel ini secara ilmiah, namun sepertinya hal ini tidak terlepas dari konsep Shinto sebagai pemuja alam. Kuil shinto juga umumnya selalu dipenuhi dengan sejumlah pohon besar yang sudah berumur ratusan tahun. Bukan pemandangan yang aneh di negara Jepang jika seandainya suatu kali Anda melihat sebuah pohon besar yang tumbuh gagah tepat di tengah jalan serta sebuah kuil kecil didekatnya yang berdiri entah sejak kapan, tanpa ada yang berani atau berniat menggusurnya. Konsep Tuhan menurut Shinto Tradisi Shinto mengenal beberapa nama Dewa yang bagi Shinto bisa juga berarti Tuhan yang dalam bahasa Jepang disebut dengan istilah Kami atau Kamisama. Kamisama ini bersemayam atau hidup di berbagai ruang dan tempat, baik benda mati maupun benda hidup. Pohon, hutan, alam, sungai, batu besar, bunga sehingga wajib untuk dihormati. Penamaan Tuhan dalam kepercayaan Shinto bisa dibilang sangat sederhana yaitu kata Kami ditambah kata benda. Tuhan yang berdiam di gunung akan menjadi Kami no Yama, kemudian Kami no Kawa (Tuhan Sungai), Kami no Hana (Tuhan Bunga) dan Dewa/Tuhan tertingginya adalah Dewa Matahari (Ameterasu Omikami) yang semuanya harus dihormati dan dirayakan dengan perayaan tertentu. Jadi inti dari konsep Tuhan dalam kepercayaan Shinto adalah sangat sederhana yaitu semua benda di dunia, baik yang bernyawa ataupun tidak, pada hakikatnya memiliki roh, spirit atu kekuatan jadi wajib dihormati . konsep ini memiliki pengaruh langsung didalam kehidupan masyarakat Jepang.Misalnya seperti, seni Ikebana atau merangkai bunga yang berkembang pesat di Jepang karena salahsatunya dilandasi konsep Shinto tentang Spirit atau Tuhan yang bersemayam pada bunga serta tumbuhan yang harus dihormati. Hubungan antara Manusia dengan Tuhan(Dewa) Hubungan antara Kami dengan manusia menurut konsep Shinto juga cukup unik kaerna polanya cenderung tidak bersifat Vertikal, namun lebih banyak bersifat horizontal. Kami hidup dan berada dibawah gunung, hutan, laut, atau di tengah perkampungan penduduk yang ditandai dengan berdirinya kuil penjaga desa. Jadi konsep Tuhan di atas atau langit dan manusia di bumi sepertinya kurang tepat untuk kepercayaan Shinto. Mikoshi atau Dashi sebagai perwujudan dari kereta bagi Kami, yang digotong beramai-ramai selam festival di kuil mungkin salah satu contoh menarik. Kereta Tuhan ini tidaklah diarak dengan hormat dan khidmad namun diguncang guncangkan, dibentur-benturkan. Dinaiki beramai-ramai bahkan tidak jarang diduduki pada bagian atapnya oleh beberarapa orang selama proses prosesi.

Konsep Dosa Salah satu tokoh Shinto Shimogamo Shrine mengatakan bahwa, Shinto tidak mengajarkan adanya perbuatan dosa. Jika melakukan perbuatan tertentu yang menciptakan dosa seseorang harus mau dibersihkan semata-mata untuk ketenangan pikiran sendiri dan nasib baik, dan bukan karena dosa yang salah dalam dan dari dirinya sendiri. Perbuatan jahat dan salah disebut "Kegare",. "cerah" atau hanya "baik". Membunuh apa pun untuk dapat bertahan hidup harus dilakukan dengan rasa syukur dan melanjutkan ibadah. Jepang Modern terus menempatkan penekanan pada pentingnya "aisatsu" atau ritual frasa dan salam. Sebelum makan, orang harus mengucapkan "itadakimasu",. "Saya akan dengan rendah hati menerima", dalam rangka untuk menunjukkan rasa syukur dari makanan pada khususnya dan umumnya kepada semua makhluk hidup yang kehilangan nyawa mereka untuk membuat makanan. Kegagalan untuk menunjukkan rasa hormat yang tepat adalah tanda kebanggaan dan kurangnya kepedulian terhadap orang lain. Konsep surga dan neraka ataupun ajaran tentang kehidupan alam akhirat Sepertinya adalah hal yang umum ditemukan pada ajaran agama ataupun kepercayaan primitif sekalipun. Shinto sepertinya memiliki tradisi yang sedikit menyimpang. Konsep surga dan neraka hampir tidak disentuh sama sekali dalam kepercayaan Shinto. Hal ini bisa dilihat dari hampir tidak ditemukannya ritual upacara kematian pada tradisi Shinto. Ritual dan tata cara pemakaman di Jepang sepenuhnya dilakukan dengan tata cara agama Budha dan sisanya menggunakan ritual agama Kristen. Kuburan dan tempat makam juga umumnya berada di bawah organisasi kedua agama tersebut. Sepertinya ritual Shinto lebih difokuskan pada kehidupan pada kehidupan duniawi atau kehidupan sekarang terutama yang berhubungan dengan alam khususnya keselarasan antara manusia dengan alam sekitarnya. C. Peribadatan agama Shinto Agama Shinto sangat mementingkan ritus-ritus dan memberikan nilai sangat tinggi terhadap ritus yang sangat mistis. Menurut agama Shinto watak manusia pada dasarnya adalah baik dan bersih. Adapun jelek dan kotor adalah pertumbuhan kedua, dan merupakan keadaan negatif yang harus dihilangkan melalui upacara pensucian (Harae). Karena itu agama Shinto sering dikatakan sebagai agama yang dimulai dengan dengan pensucian dan diakhiri dengan pensucian. Upacara pensucian (Harae) senantiasa dilakukan mendahului pelaksanaan upacara-upacara yang lain dalam agama Shinto. Ritus-ritus yang dilakukan dalam agama Shinto terutama adalah untuk memuja dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan kemakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian (beras), yang dilakukan rakyat Jepang pada Bulan Juli dan Agustus di atas gunung Fujiyama. D. Konsep Doa dan Sembahyang Tidak mengenal konsep Ibadah Kepercayaan Shinto di Jepang sepertinya kurang popular dengan konsep ibadah yaitu menyebah dengan tujuan memuji dan menganggungkan kebesaran Kami atau Tuhan. Mereka cenderung lebih dekat dengan konsep doa yaitu menyembah dengan tujuan meminta sesuatu kepada Dewa seperti agar panen musim ini melimpah, diberikan

kesehatan, umur panjang, dan berbagai permintaan yang besifat duniawi. Kebanyakan tempat ibadah di negara Jepang, baik Jinja ataupun Tera (budhha) adalah berfungsi juga sebagai tempat wisata yang menjadikan pengunjung selain berwisata juga bisa berdoa. Berdoa cukup setahun sekali Secara umum biasanya kebanyakan dari masyarakat Jepang meluangkan waktunya untuk berdoa di akhir atau awal tahun baru. Jadi berdoa atau sembahyang dilakukan cukup setahun sekali. Sehingga bukanlah pemandangan yang aneh kalau perayaan tahun baru di negara ini cenderung sepi dari keramaian pesta karena kebanyakan pendududk khususnya golongan muda melewatkan pergantian tahun di kuil untuk berdoa. Biasanya mereka yang tidak sempat berdoa pada malam pergantian tahun akan melakukan sehari setelah itu, yaitu tanggal 1 Januari. Tata cara berdoa menurut Shinto Mengenai tata cara sembahyang atau doa dalam kuil Shinto sangatlah sederhana yaitu melemparkan sekeping uang logam sebagai sumbangan di depan altar, mencakupkan kedua tangan di dada dan selesai. Jadi semua proses berdoa yang dilakukan dengan berdiri ini tidak lebih dari sepuluh detik. Doa dilakukan tidak mengenal hari atau jam khisu jadi bebas dilakukan kapan saja. Tata cara berdoa di kuil Shinto dengan kuil Budha sangatlah mirip, yang membedakan jika di kuil Budha tangan dicakupkan ke depan dada dengan pelan, hening dan tanpa suara, sedangkan kuil Shinto adalah sebaliknya yaitu mencakupkan tangan dengan keras sehingga menghasilkan suara sebanyak dua kali (mirip tepuk tangan). Walaupun aturan tata cara berdoa ini bisa disebut baku namun sama sekali tidaklah bersifat mengikat. Berdoa tepat di depan altar utama, dari halaman kuil, dari luar pintu gerbang, dilakukan tidak dengan mencakupkan tangan namun memnbungkukan badan atau bahkan tidak berdoa sama sekali. E. Kuil Shinto Kuil Shinto atau Jinja dalam bahas Jepangnya adalah tempat ibadah orang Jepang , kuil tersebar di seluruh pelosok Jepang. Ciri-ciri dari Kuil Shinto : Terbuka untuk semua orang Kuil Shinto menganut konsep kebebasan yaitu bebas dari symbol dan doktrin agama. Semua orang bisa bebas untuk dating baik untuk tujuan doa maupun tidak. Dalam hal etika dan tata cara berkunjung ke tempat ibadah, sepertinya tidak ada yang lebih bebas dan sederhana dibandingkan dengan mengunjungi kuil Shinto. Hamper semua bagian dalam areal kuil bisa dimasuki ataupun difoto tanpa ada larangan ataupun pertnayaan apapun apalagi pertanyaan yang menjurus pada hal agama. Sederhana dan Menyatu dengan alam Berbeda dengan kuil Budha. Atu tera yang cenderung megah besar dengan ornament dan moleksi barang berharga barang seni melimpah, kuil Shinto cenderung kebalikannya. Bangunannya cenderung sangat sederhana dan menyatu dengan alam. Dalam altar utama hampir kosong, tidak ada arca, patung atau benda apapun yang harus disembah sebagi perwujudan dari Dewa. Dalam literature sering disebutkan bahwa di dalam altar terdapt tiga benda utama yaitu, cermin, pedang, dan permata sebagai symbol dari refleksi diri,

kekuatan dan cahaya. Namun ketiga benda tersebut hampir tidak akan terlihat karena dipajang dengan posisi yang tidak biasa. Kebanyakan masyarakat umum tidak terlalu peduli dengan hal itu. Pintu gerbang yang unik Salah satu cirri khas dari jinja adalah bangunan pintu gerbangnya yang terdiri dari dua tonggak kayu atau batu yang biasanya berwarna jingga. Bangunan ini disebut Torii ini bisa ditemukan hampir disetiap sudut dan pelosok Jepang bahkan tempat terpencil sekalipun. Berfungsi sebagai Kuil penjaga desa Biasanya di tengah pemukiman penduduk berfungsi sebagai kuil penjaga daerah yang sebagai tempat ibadah umum oleh penduduk daerah tersebut. F. Shinto Saat Ini Alasan Shinto tetap bertahan hingga saat ini : Menerima ajaran baru tanpa meninggalkan ajaran lama Seperti kita ketahui, Shinto menganut konsep kebebasan dan mungkin ini berpengaruh pada cara berpikir orang Jepang yang bebas dari segala doktrin agama dan terkadang agak sekuler. Hal ini bisa dilihat dari ketidak konsistennya orang Jepang dalam beragama. Misalnya, ketika lahir sebagai Shinto, menikah dengan cara Kristen ketika meninggal menggunakan tata cara agama Budha. Menjunjung tinggi toleransi Karena ketidak konsistennya masyarakat Jepang dalam beragama, maka tidak akan timbul kefanatikan terhadap agama tertentu. Agama apapun dapat berkembang di Jepang. Sehingga pluralisme agama diterima nyaris tanpa adanya hambatan. Bentuk contoh agama yaitu, bangunan kuil Budhha dan Shinto yang bedekatan lokasi satu sama lain. Shinto dianggap lebih memahami Kehidupan masyarakat Jepang Hal ini dikarenakan ajaran Shinto lebih dekat dan memahami permasalahan sehari-hari masyarakat Jepang. Contohnya, berbagai festival dan upacara budaya seperti festval tanam padi, festival musim dan yang lebih modern adalah ritual peluncuran produk baru dari suatu perusahaan. BAB III Kesimpulan Pengaruh Ajaran Shinto Setelah kita memperhatikan uraian tentang Shinto kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya Shinto memiliki banyak pengaruh dalam pemikiran Jepang dan memiliki peranan penting dalam menjaga keaslian tradisi Jepang dari pengaruh asing. Shinto sudah seperti tradisi bagi masyarakat Jepang yang berkembang menjadi sebuah agama. Walaupun perkembangan teknologi sangat maju dan percepatan modernisasi yang amat pesat di Jepang, namun nilai-nilai Shinto tak akan pernah pudar. Dikatakan bahwa tidak ada negara lain di dunia ini yang memiliki sistem kepercayaan primitif sekuat Jepang.. Fungsi Shinto dalam mempertahankan Keaslian Tradisi Jepang : Walaupun bangsa Barat menyebarkan agama Kristen di Jepang, namun masyarakat Jepang tidak meninggalkan semua ajaran Shinto. Contohnya seperti, ketika lahir menggunakan ritual Shinto dan ketika menikah mengunakan ajaran Kristen. Ketika teknologi dari barat semakin berkembang, namun banyak budaya pop Jepang

seperti manga, anime, dan video game yang merujuk pada ajaran Shinto. Contohmya seperti, Dalam Naruto, Amaterasu dipersonifikasikan sebagai api yang kuat jutsu (teknik) yang terdiri dari hitam terpadamkan kobaran api yang membakar segala sesuatu di bidang pengguna visi selama tujuh hari tujuh malam. Teknik menggunakan mata kiri, yang merupakan referensi untuk Amaterasu lahir dari Izanagi ketika ia dibersihkan sendiri. It Hal ini dilakukan oleh Uchiha Itachi dan Uchiha Sasuke. Beberapa pengaruh ajaran Shinto terhadap pemikiran Jepang : Pengaruh budaya Shinto di Jepang hampir tidak dapat dibesar-besarkan. Walaupun sekarang hampir mustahil untuk menguraikan pengaruh dari Buddhisme, jelas bahwa semangat menjadi satu dengan alam yang memunculkan agama ini biasanya mendasari seperti seni Jepang sebagai bunga-mengatur (ikebana) dan arsitektur tradisional Jepang dan desain taman. Yang lebih eksplisit link ke Shinto dilihat di sumo gulat: pemurnian dari arena gulat oleh percikan garam dan banyak upacara-upacara lainnya yang harus dilakukan sebelum pertarungan dapat dimulai secara pasti Shinto berasal. Hal ini masih sangat umum untuk Jepang mengatakan, "Itadakimasu" (saya dengan rendah hati turut) sebelum makan, dan Jepang penekanan pada salam yang tepat dapat dilihat sebagai kelanjutan dari kepercayaan Shinto kuno kotodama (kata-kata dengan efek magis dunia ). Banyak kebiasaan budaya Jepang, seperti menggunakan kayu sumpit dan melepas sepatu sebelum memasuki bangunan, memiliki asal-usul mereka dalam kepercayaan Shinto dan praktek. Juga, beberapa agama-agama lain di Jepang, termasuk Tenrikyo, berasal dari atau dipengaruhi oleh Shinto. Pengaruh Shinto yang paling terburuk adalah mengambil nyawa orang lain untuk kemajuan dan kesenangan pribadi hal ini pengaruh dari ajaran Shinto yang tidak mengenal dosa. Mereka yang terbunuh tanpa menunjukkan rasa terima kasih atas pengorbanan mereka akan mengadakan "urami", dendam dan menjadi "aragami", yang kuat dan kejahatan yang berusaha membalas dendam. Shinto sangatlah mempengaruhi kepercayaan masyarakat Jepang tentang adanya hantu. Meraka meyakini bahwa orang yang telah meninggal dengan tidak wajar, arwahnya akan kembali ke dunia menjadi hantu yang menuntut balas. Di zaman modern ini Shinto berpengaruh pada perlunya kerjasama dan kolaborasi dapat dilihat di seluruh kebudayaan Jepang bahkan hari ini. Dengan demikian, di perusahaan-perusahaan Jepang yang modern tidak ada tindakan yang diambil sebelum konsensus tersebut tercapai (bahkan jika hanya secara dangkal) di antara semua pihak untuk mengambil keputusan. Menyatu dengan alam dan mencintai kebersihan - Cinta alam: Alam sakral; untuk berhubungan dengan alam adalah menjadi dekat dengan kami. Benda alam mengandung disembah sebagai roh suci. Hal ini seperti kepercayaan Indonesia lama, khususnya di Jawa dan Bali juga mengenal ritual penghormatan untuk padi atau beras sebagi tempat bersemayam Dewi Sri atau Dewi Uma - Fisik kebersihan: Pengikut Shinto mandi, mencuci tangan, dan berkumur mulut mereka sering. Tradisi orang Jepang terkait dengan Shinto Matsuri atau festival, yang sering menjadi daya tarik wisata Jepang. Pembagian Matsuri berdasarkan macamnya adalah sebagai berikut : 1. Tsukagirei yaitu upacara ritual terkait daur ulang hidup ; ex : upacara kelahiran, hamil,

tujuh bulanan, shichi go san, kematian, dll 2. Nin I girei yaitu upacara ritual yang sifatnya insidental (sewaktu-waktu, kapan saja dan di mana saja) 3. Nenchugyoji yaitu upacara ritual yang dilakukan sepanjang tahun. Setiap doa yang dilakukan termasuk Matsuri, karena matsuri pada dasarnya adalah bentuk pendekatan diri pada dewa (berdoa). Matsuri merupakan upacara ritual Shinto (memuja dewa), yang berfungsi sebagai bentuk pendekatan diri kepada dewa-dewa. Maka, dari pengertian dan pembagian tersebut, maka tak heran apabila ada sekitar 50.000 macam matsuri setiap tahunnya Shinto tidak dijalankan sebagai doktrinal filosofis, namun sebatas nilai-nilai umum saja. Maka, tak heran apabila kita sering melihat kasus bunuh diri (harakiri) dalam masyarakat Jepang, karena mereka memang tidak takut mati karena mereka tidak percaya adanya neraka. Origami dianggap sebagai "kertas dari roh-roh", dan sering ditinggal di kuil Shinto. Demi menghormati semangat pohon yang memberi hidupnya untuk menciptakan kertas, oragami sejati harus selalu dilipat ke dalam bentuk pemotongan tanpa tambahan untuk membantu itu. Setelah kita mengetahui pengaruh apa saja yang dipengaruhi Shinto terhadap pemikiran Jepang, namun sebenarnya orang Jepang sendiri masih bingung tentang arti Shinto itu sendiri Meskipun sebagian besar orang Jepang mengikuti banyak tradisi Shinto sepanjang hidup, dan benar-benar menganggap diri mereka sebagai orang yang dikhususkan untuk komunitas kuil lokal dan Kami. Namun, banyak orang Jepang tidak berpikir bahwa mereka sedang mempraktikkan Shinto dan merupakan pengikut agama Shinto, walaupun apa yang mereka lakukan merupakan bagian dari ajaran Shinto BAB IV Daftar Pustaka Bunce, William K. 1995. Religion in Japan (Buddhism, Shinto, Christianity). Charles E. Tuttle Company: Rutland. http://www.jref.com/glossary/shinto_traditions.shtml diakses tanggal 14 Mei 2010 http://en.wikipedia.org/wiki/Shinto_(pop_culture) diakses tanggal 14 Mei 2010

Makalah Agama shinto


Oleh : Mohammad Thoriqul Huda Abstract religion is a source of peace of mind for the wider community, Japan is one country that shelters many religions, Christianity, Islam Buddhist, and Shinto, the Shinto religion is a religion that most believers in Japan, religion is embodied in the soul of Japanese society since the year 660 before BC, who believed that in some glorified god, Amaterasu Omi god of the sun we are the most in the great glorified by the Shinto religion and became ruler of the other gods. In addition adherents of Shinto religion also perform religious rituals such as rites of other religions in general, one is a ritual cleansing of negative qualities and characteristics to each new year celebration of the drives "us" around in the community with the intent that "we" have been dating and bring protection to the public. Kata Kunci :sejarah, perkembangan, kitab suci PENDAHULUAN Wilayah jepang terdiri atas empat pulau besar yaitu hondo, hokaido, shikoku dan kyusu beserta pulau kecil lainnya penduduk kepulauan itu sepanjang arkeologi dan antropologi demikian William L. langer di dalam encyclopedia of word history edisi 1956, erat berkaitan dengan suku tunggus dan suku korea berdasarkan pembuktian linguistic, sepanjang pembuktian etnografis dan mithologis terpadu kedalam unsure belahan selatan tiongkok beserta unsur melayu dari asia tenggara dan unsur polinesia, pada masa sebelumnya unsur ainu banyak mendominasi. Suatu suku dari pulau kyusu yang terletak pada belahan selatan dan suku itu belakngan membentuk imperium menyebrang keutara menuju lembah yamato dipulau honsyu ia memperoleh kemenangan dalam persaingan kekuasaan dengan suku izumo yang masih pertalian darah dengan suku korea, sehingga membentuk imperium baru dan naik kaisar jepang pertama pada tahun 660 SM yaitu kaisar jmmu tenno. untuk membuat iman secara resmi dalam waktu sekitar tiga abad itu menjadi sangat berakar dalam kehidupan nasional Jepang. Jadi kita bisa membagi sejarah keagamaan Jepang menjadi dua tahap - pertama, periode awal, di mana kepala sekolah agama Shinto, kedua agama Buddha awal periode. Dari kesembilan ke abad kedua belas kami tanggal era klasik Japans administrasi budaya tetapi akhirnya menjadi lelah dan digantikan pada abad ketiga belas oleh rezim militer dan feodal. Ini periode Abad Pertengahan digantikan pada abad ketujuh belas oleh rezim Tokugawa yang berlangsung sampai 1887 periode modern dimulai Japans: sengaja sampai sekarang terisolasi dari kata pada umumnya sekarang ia berpaling untuk memperoleh keterampilan teknologi mereka yang akan menjamin kemandiriannya . Bentuk susunan social di jepang dewasa ini terdiri atas himpunan beberapa suku (uji) yang satu persatu suku itu di bawah pimpinan seorang kepala suku (uji-no-kami), anggota suku itu menyatakan turunan satu moyang yang biasnya dewa suku (ujigami), kepala suku bertindak sebagai datu, jepang sepanjang sejarah ini sering berbenturan dengan tiongkok dan korea dan hal ini memberikan pengaruh jejak jejak di jepang, Pertumbuhan dan perkembagan agama serta kebudayaan Jepang memang

memperlihatkan kecenderungan yang asimilatif. Sejarah Jepang memperlihatkan bahwa negeri itu telah menerima berbagai macam pengaruh, baik kultural maupun spiritual dari luar. Semua pengaruh itu tidak menghilangkan tradisi asli, dengan pengaruh-pengaruh dari luar tersebut justru memperkaya kehidupan spiritual bangsa Jepang. Antara tradisitradisi asli dengan pengaruh-pengaruh dari luar senantiasa dipadukan menjadi suatu bentuk tradisi baru yang jenisnya hampir sama. Dan dalam proses perpaduan itu yang terjadi bukanlah pertentangan atau kekacauan nilai, melainkan suatu kelangsungan dan kelanjutan. Dalam bidang spiritual, pertemuan antara tradisi asli Jepang dengan pengaruh-pengaruh dari luar itu telah membawa kelahiran suatu agama baru yaitu agama Shinto, agama asli Jepang. Bahkan nama Shinto sendirir merupakan bentuk akulturasi budaya antara jepang dengan tiongkok adalah perubahan nama agama mereka yakni dari kami no michi yang artinya jalan dewa kemudian setelah terjadi benturan budaya antara tiongkok dan jepang berubah nama menjadi agama Shinto yang artinya jalan langit Perubahan bunyi itu serupa halnya dengan aliran chan , sebuah sekte agama budha madhab Mahayana di tiongkok menjadi aliran zen sewaktu berkembang di jepang. Agama Shinto yang berkembang dijepang Merupakan salah satu agama Yang mempunyai mitos bahwa bumi di jepang merupakan ciptaan dewata yang pertama, dan bahwa jimmu temmo (660 SM) adalah turunan langsung dari amterasu omi kami yakni dewi matahari dalam perkawinannya dengan touki lomi yakni dewa bulan. . Agama Shinto berkembang dan tumbuh di jepang, agama ini merupakan agama asli orang jepang, mulai dari sejarahnya sampai sekrang, terus bagaimanakah awal mula kemunculan ,perkembangan agama ini, hal ini akan kita bahas pada bab pembahasan. PEMBAHASAN Pandangan orang jepang terhadap agama Masyarakat Jepang mempunyai pandangan yang sangat sekuler dan tidak begitu peduli pada agama. menurut Statistik mengenai agama (tahun 1992) yang disusun oleh Departmen Pendidikan Jepang, pengikut agama Shinto; 106.643.616 orang, agama Budha 95.765.996 orang, Kristen (termasuk Katolik) 1.486.588 orang, yang lainnya 10.833.994 orang. Statistik ini sering dipakai sebagai referensi oleh ilmuwan asing, angka tersebut sama sekali tidak bisa dipercayai. Sejumlahnya angka ini, menjadi kira-kira 2 kali dari penduduk Jepang, sekitar 120.000.000 jiwa. Angka ini berdasarkan laporan kepada Departmen Pendidikan dari sekte-sekte tersebut sendiri. Shinto menghitung semua penduduk sekitar JINJA; (tempat ibadah Shinto) sebagai pengikutnya, agama Budha menghitung semua anggota keluarga yang diatur upacara oleh pendetanya sebagai pengikutnya. Jadi, satu orang terhitung sebagai pengikut agama Budha dan Shinto keduaduanya. Biasanya, orang Jepang melakukan upacara perkawinan dengan cara Shinto atau Kristen, sedankan upacara kematian dengan cara Budha. Bagi kebanyakan orang Jepang, hal itu tidak dianggap aneh., Di Indonesia ada KTP. Dalam KTP tertulis agamanya apa. Di Jepang tidak ada KTP. Jarang sekali kesempatan yang menjelaskan dirinya mempercayai agama apa. Mereka menganggap agama sebagai hanya adat atau kebiasaan. Menurut beberapa pendapat, sekitar 70% orang menjawab tidak memeluk agama. Alasannya karena orang Jepang merasa repot jika masuk salah satu organisasi agama

yang dikendalikan oleh ajaran tertentu. Pengunjung tempat ibadah pada saat merayakan datangnya tahun baru dilakukan oleh kebanyakan orang Jepang. Pada upacara menjemput roh nenek moyang yang kembali ke rumahnya (seperti upacara Galungan di Bali), kebanyakan orang Jepang mudik untuk ikut upacara itu. Tetapi praktik-praktik ini dianggap sebagai adat, bukan agama. Dalam undang-undang dasar Jepang, pemerintah tidak boleh ikut campur dalam urusan agama. Ketika berakhir perang dunia kedua, orang Jepang memetuskan bahwa negaranya harus berdasarkan atas pemisahan agama dari negara. Memang tidak ada sekolah agama negara ( seperti IAIN di Indonesia). Dilarang keras memakai anggaran negara untuk halhal agama. Kalau ada kasus pengeluaran anggaran negara untuk upacara keagamaan, kasus ini diadukan ke pengadilan sebagai pelanggaran undang-undang dasar. (Tetapi kebanyakannya kasus seperti itu, keputusannya bahwa upacara itu adat, bukan agama, jadi bukan pelanggaran undang-undang dasar.) Di Jepang pernah orang Kristen menjadi Perdana Menteri, namanya OHIRA Masayoshi, selama dari tahun 1978 sampai 1980. Memang jumlahnya orang Kristen cuma 1% dari penduduk Jepang, tapi hal OHIRA adalah orang Kristen tidak sama sekali menjadi masalah dan tidak sama sekali mempengaruhi kebijaksanaannya. Kebanyakan orang Jepang tidak begitu peduli, asal tidak fanatik, agama apa penguasanya. Seperti hal-hal tersebut di atas, masyarakat Jepang sekarang menjadi sangat sekuler. Agama yang dominan, seperti Islam di Indonesia, tidak ada. Pada masa dulu, agama yang dominan itu agama Buddha. Tetapi, di bawah kontrol selama 250 tahun oleh pemerintah TOKUGAWA BAKUFU (TOKUGAWA adalah nama warga SHOGUN, BAKUFU artinya pemerintah), agama Buddha menghilangkan daya dinamis sebagai agama dalam rakyat. Sebulumnya berdiri TOKUGAWA BAKUFU, sering meletus pembrontakan rakyat yang berdasar atas keyakinan agama Buddha, terutama sekte Jodo Shin Syu. Jadi Pemerintah TOKUGAWA BAKUFU perlu waspadai dan mengkontrol agama Buddha. Untuk memenuhi Kebutuhan rakyat dalam bidang spiritual, pada abad 19 (akhir zaman EDO. EDO itu ibu kota TOKUGAWA BAKUFU, nama kuno Tokyo), beberapa agamaagama baru mulai muncul. Sejak saat itu sampai sekarang, kedudukan dominan agama Buddha tradisi diganti berangsur-angsur oleh agama-agama baru. Sekarang, pengikut agama Budha tradisi, kebanyakannya "Budhis KTP" (seperti Islam KTP di Indonesia). Tetapi pengikut agama-agama baru jauh lebih aktif. Pengikut agama-agama baru menjadi lebih 10% dari penduduk Jepang . Hasil penelitian tentang agama baru di Jepang banyak sekali. Menurut karya Prof. SHIMAZONO Susumu (jurusan ilmu agama Universitas Tokyo), agama baru Jepang itu didefinisikan seperti berikut ini. 1. Agama itu muncul dan berkembang pada masa modern atau pada masa peralihan ke modern. 2.Agama itu didirikan dari, oleh dan untuk rakyat. 3. Agama itu dipisah dari agama tradisi dalam bidang baik organisasi maupun ajarannya. AWAL MULA AGAMA SHINTO Shintoisme (agama Shinto) pada mulanya adalah merupakan perpaduan antara faham serba jiwa (animisme) dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam. Shintoisme dipandang oleh bangsa Jepang sebagai suatu agama tradisional warisan nenek moyang yang telah berabad-abad hidup di Jepang, bahkan faham ini timbul daripada mitos-mitos yang berhubungan dengan terjadinya negara Jepang. Latar belakang historis timbulnya

Shintoisme adalah sama-sama dengan latar belakang historis tentang asal-usul timbulnya negara dan bangsa Jepang. Karena yang menyebabkan timbulnya faham ini adalah budidaya manusia dalam bentuk cerita-cerita pahlawan (mitologi) yang dilandasi kepercayaan animisme, maka faham ini dapat digolongkan dalam klasifikasi agama alamiah. Agama ini muncul pada zaman prasejarah, dan siapa pembangunnya tidak dapat dikenal dengan pasti, Nama Shinto muncul setelah masuknya agama Buddha ke Jepang yang dimaksudkan untuk menyebut kepercayaan asli bangsa Jepang, penyebarannya adalah di asia dan terbanyak di jepang, kira kira pada abad 6 masehi agama budha masuk ke jepang dari tiongkok dengan melalui korea. Satu abad kemudian agama itu telah berkembangan dengan pesat bahkan lama kelamaan agama itu dapat mendesak agama shinto akan tetapi karena agama shinto mengajarkan penganutnya untuk memuja dan berbakti kepada raja maka raja pun berusaha untuk melindunginya , sehingga apada tahun 1396 agama Shinto di tetapkan sebagai agama Negara yang pada saat itu agama Shinto mempunyai 10 sekte dan 21 juta pemeluknya. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa paham Shintoisme merupakan ajaran yang mengandung politik religius bagi Jepang, sebab saat itu taat kepada ajaran Shinto berarti taat kepada kaisar dan berarti pula berbakti kepada negara dan politik Negara, kemudian agama Shinto bercampur dengan agama budha demikian pula dengan agama konghucu yang masuk ke jepang langsung dari tanah asalnya kira kira pada abad pertengahan ke 7, Tentang pengaruh agama Buddha yang lain nampak pada hal-hal seperti anggapan bahwa dewa-dewa Shintoisme merupakan Awatara Buddha (penjelmaan dari Buddha dan Bodhisatwa), Dainichi Nyorai (cahaya besar) merupakan figur yang disamakan dengan Waicana (salah satu dari dewa-dewa penjuru angin dalam Budhisme Mahayana), hal im berlangsung sampai abad ketujuh belas masehi. Ahirnya ketiga agama itu bergandengan bersama sampai sekarang, hal itu tidaklah aneh karena orang jepang tidak menolak kepercayaan apapun yang masuk negrinya, asalkan tidak menggangu keselamayan Negara, tujuan utama bagi pemeluk agama Shinto adalah kebahagiaan dalam kehidupan dunia, mereka menganggap bahwa orang yang sudah mati dapat membantu mereka dalam menjalankan hidup ini dari abad keabad kultus (kebaktian) terhadap roh nenek moyang selalu berubah bentuknya tetapi sifat kultus yang khas masih tetap sama. Orang jeang tidak mengenal aliran aliran yang dating kemereka karena itu agama budha dan lainnya yang datang di jepang dapat berkembang dengan baik kalau kita perhatikan mula mula agama Shinto itu memuja dewa, kamudian memilih satu diantaranya yang terpenting yaitu amaterasu omi kami maka dapat dikatakan bahwa agama Shinto adalah politeisme yang monotheisme . PERKEMBANGAN AGAMA SHINTO Sejarah Perkembangan agma Shinto di jepang dapat dibedakan menjadi bebrapa tahap masa sebagai berikut : a. masa perkembangan dan pengaruh yang mutlak sepenuhnya di jepang yaitu dari tahun 660 sebelum masehi sampai tahun 552 masehi dalam masa 12 abad lamanya. b. Masa agama budha dan konghucu dan ajaran tao masuk ke jepang yaitu tahun 552 masehi sampai tahun 800 masehi yang dalam masa dua setengah abad itu agama Shinto memperolah saingan yang sangat berat, pada than 645 masehi kaisar kotoku merestui agma budha dan mengenyampingkan kami no michi, pada tahun 671 masehi sang kaisar

membelakangi dunia dan mengenakan pakaian rahib. c. Masa singkronisasi agama Shinto dengan tiga ajaran lainnya yaitu dari tahun 800 masehi sampai 1700 masehi yang dalam sembilan abad itu lahir ryobu Shinto (Shinto paduan) . Kemunduran pengaruh agama Shinto pada masa belakangan itu dapat disaksikan pada kenyataan bahwa upacara keagmaan yang terpandang sangat amat penting dalam agama Shinto yaitu upacara oho-line (penabalan mahkota) antara tahun 1465 masehi sampai tahun 1687 masehi, sudah dikesampingkan oleh upacara keagamaan budha. AJARAN AGAMA SHINTO Shinto adalah kata majemuk daripada Shin dan To. Arti kata Shin adalah roh dan To adalah jalan. Jadi Shinto mempunyai arti lafdziah jalannya roh, baik roh-roh orang yang telah meninggal maupun roh-roh langit dan bumi. Kata To berdekatan dengan kata Tao dalam taoisme yang berarti jalannya Dewa atau jalannya bumi dan langit. Sedang kata Shin atau Shen identik dengan kata Yin dalam taoisme yang berarti gelap, basah, negatif dan sebagainya ; lawan dari kata Yang. Dengan melihat hubungan nama Shinto ini, maka kemungkinan besar Shintoisme dipengaruhi faham keagamaan dari Tiongkok. Sedangkan Shintoisme adalah faham yang berbau keagamaan yang khusus dianut oleh bangsa Jepang sampai sekarang. Shintoisme merupakan filsafat religius yang bersifat tradisional sebagai warisan nenek moyang bangsa Jepang yang dijadikan pegangan hidup. Tidak hanya rakyat Jepang yang harus menaati ajaran Shintoisme melainkan juga pemerintahnya juga harus menjadi pewaris serta pelaksana agama dari ajaran ini. Agama pribumi orang jepang ini berdasar kepercayaan bahwa keluarga raja adalah keturunana dewi matahari amaterasu omi kami kemudian diserap didalamnya banyak ajaran dan praktek keagmaan budha, hakekat ajaran Shinto adalah gagasan bahwa kami maujud pada setiap saat dan dalam segala hal, oleh karenanya memberikan perhatian setiap saat betapapun kecil dan remehnya akan membuka kesadaran kearah kebenaran , Dalam penjelasan lain juga di jelaskan bahwa shintoisme berasal dari jepang dan berarti jalan para dewa nama ini di tetapkan pada abad keenam untuk membedakan dari budhisme dan konfusianisme yang saat itu merupakan agama agama pendatang . Perkataan Shinto sendiri berasal dari bahasa tionghoa shen yang artinya roh , tao artinya jalannya dunia, bumi dan langit, jadi Shinto berarti perjalanan roh yang baik. Agama ini mengandung 2 unsur kepercayaan yaitu : a. menyembah alam (nature worship) b. menyembah roh nenek moyang menurut agama ini orang diwajibkan menyembah pada roh yang mereka sebut kami , Istilah Kami dalam agama Shinto dapat diartikan dengan di atas atau unggul, sehingga apabila dimaksudkan untuk menunjukkan suatu kekuatan spiritual, maka kata Kami dapat dialih bahasakan (diartikan) dengan Dewa (Tuhan, God dan sebagainya). Jadi bagi bangsa Jepang kata Kami tersebut berarti suatu objek pemujaan yang berbeda pengertiannya dengan pengertian objek-objek pemujaan yang ada dalam agama lain. Dewa-dewa dalam agama Shinto jumlahnya tidak terbatas, bahkan senantiasa bertambah, hal ini diungkapkan dalam istilah Yao-Yarozuno Kami yang berarti delapan miliun dewa. Menurut agama Shinto kepercayaan terhadap berbilangnya tersebut justru dianggap mempunyai pengertian yang positif. Sebuah angka yang besar berarti menunjukkan bahwa para dewa itu memiliki sifat yang agung, maha sempurna, maha suci

dan maha murah. Oleh sebab itu angka-angka seperti 8, 80, 180, 5, 100, 10, 50, 100, 500 dan seterusnya dianggap sebagai angka-angka suci karena menunjukkan bahwa jumlah para dewa itu tidak terbatas jumlahnya. Dan seperti halnya jumlah angka dengan bilangannya yang besar maka bilangan itu juga menunjukkan sifat kebesaran dan keagungan Kami. Pengikut-pengikut agama Shinto mempunyai semboyan yang berbunyi Kami negara no mishi yang artinya : tetap mencari jalan dewa. Kepercayaan kepada Kami daripada benda-benda dan seseorang, keluarga, suku, raja-raja sampai kepada Kami alam raya menimbulkan kepercayaan kepada dewa-dewa. Orang Jepang (Shinto) mengakui adanya dewa bumi dan dewa langit (dewa surgawi) dan dewa yang tertinggi adalah Dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan pemberi kamakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian. Disamping mempercayai adanya dewa-dewa yang memberi kesejahteraan hidup, mereka juga mempercayai adanya kekuatan gaib yang mencelakakan, yakni hantu roh-roh jahat yang disebut dengan Aragami yang berarti roh yang ganas dan jahat. Jadi dalam Shintoisme ada pengertian kekuatan gaib yang dualistis yang satu sama lain saling berlawanan yakni Kami versus Aragami (Dewi melawan roh jahat) sebagaimana kepercayaan dualisme dalam agama Zarathustra Dari kutipan di atas dapat dilihat adanya tiga hal yang terdapat dalam konsepsi kedewaan agama Shinto, yaitu : 1. Dewa-dewa yang pada umumnya merupakan personifikasi dari gejala-gejala alam itu dianggap dapat mendengar, melihat dan sebagainya sehingga harus dipuja secara langsung. 2. Dewa-dewa tersebut dapat terjadi (penjelmaan) dari roh manusia yang sudah meninggal. 3. Dewa-dewa tersebut dianggap mempunyai spirit (mitama) yang beremanasi dan berdiam di tempat-tempat suci di bumi dan mempengaruhi kehidupan manusia. . kami terebut ada yang berasal dari orang yang telah meninggal dunia tetapi ada juga yang berasal dari benda alam yang berasal dari orang yang telah meninggal, misalnya: a. kami dari para leluhur tiap tiap suku (biasanya kami ini dipunyai oleh anggota dari tiap tiap suku tersebut). b. kami dari para pahlawan c. kami dari nenek moyang tiap keluarganya sendiri (biasanya dianggap sebagai pelindung rumah tangga ). Sedangkan kami kami yang lain yang berasal dari benda benda alam dan kekuatan alam misalnya : a. kami dari matahari b. kami dari petir c. kami dari bulan, d. kami kilat, e. kami sungai, f. kami gunung, g. kami pohon, dan sebagainya Demikian pula jumlah dewa dewa yang mereka hormati banyak sekali, kira kira lebih dari 800 dewa, yang terpenting adalah amterasu omi kami (dewi matahari) yang merupakan pelindung dewa dan juga pertanian.

Di dalam penyembahan terhadap kami biasnya di pimpin oleh pendeta pendeta, para pendeta tersebut di rancang khusus untuk memuja kami tertentu dan mendapatkan bantuann dari kami yang sedang di puja dan pada saat memimpin upacara mereka berpakaian khusus, dua kali sehari pendeta tersebut menyajikan sajian di dalam kuil dengan membaca mantera mantera dan pujian pujian Kuil Shinto di jepang banyak sekali terhitung lebih dari 200.000 buah kuil, bahkan ada juga yang menyebutkan terdapat lebih dari 80 juta kami di jepang dan para pendeta tersebut yang mengurusi kuil adalah turun menurun, setelah agama budha masuk ke jepang pada abad ke VI maka mendesaklah unsure unsure agama budha tersebut ke dalam agama Shinto lama kelamaan terjadilah percampuran antara kedua unsure agama tersebut yang kemudian aliran ini disebut Ryobu Shinto . KITAB SUCI AGAMA SHINTO Dalam agama Shinto ada dua kitab suci yang tertua, tetapi di susun sepuluh abad sepeninggal jimmi temmo (660 SM), kaisar jepang yang pertama. Dan dua buah lagi di susun pada masa yang lebih belakangan, keempat empat kitab tiu adalah sebagi berikut : a. kojiki, yang bermakna : catatan peristiwa purbakala. Disusun pada tahun 712 masehi, sesudah kekaisaran jepang berkedudukan di nara, yang ibukota nara itu di bangun pada tahun 710 masehi menuruti model ibukota changan di tiongkok. b. Nihonji, yang bermakna : riwayat jepang. Di susun pada tahun 720 masehi oleh penulis yang sama degan di Bantu oelh seorang pangeran di istana. c. Yeghisiki yang bermakan : berbagai lembaga pada masa yengi, kitab ini disusun pada abad kesepuluh masehi terdiri atas 50 bab. Sepuluh bab yang pertama berisikan ulasan kisah kisah yang bersifat kultus, disusuli dengan peristiwa selanjutnya sampai abad kesepuluh masehi, tetapi inti isinya adalah 25 norito yakni doa doa pujaan yang sangat panjang pada berbagai upacara keagamaan. d. Manyosiu yang bermakan : himpunan sepuluh ribu daun, berisikan bunga rampai, yang terdiri atas 4496 buah sajak, disusun antara abad kelima dengan abad kedelapan masehi. Kitab pertama itu menguraikan tentang alam kayangan tempat kehidupan para dewa dan dewi sampai kepada amaterasu omi kami (dewi matahari ) dan tsukiyomi (dwa bulan ) diangkat menguasai langit dan puteranya jimmu tenno diangkat menguasai tanah yang subur (jepang ) di bumi, lalu di susuli silsilah keturunan akisar jepang itu beserta riwayat hidup satu persatunya selanjutnya upacara upacara keagamaan yang dilakukan dalam masa yang panjang itu berkenaan dengan pemujaan terhadap kaisar beserta para dewa dan dewi. Menurut cerita dari kitab kojiki dan nihongi, mula mula bumi dan langit serta seisinya dijadikan oleh para dewa (kami), dua diantara dewa dewa itu turun dari langit akan menjadikan bumi jepang, dua dewa tersebut adalah isanaga no kami (laki laki) dan isonami no kami (perempuan), dua dewa ini kemudian menurunkan beberapa dewa termasuk uga dewa matahari ynag bernama amaterasu omi kami. Dewa langit ini kemudian mengirim seorang dewa kebumi bernama: ninigi no mikoto yang kemudian bercucu: jimmi tenno, raja jepang yang pertama kali, itulah sebabnya maka nama resmi raja jepang adalah tenno yang artinya raja langit , jimmi tenno naik tahta kerjaan pada tahun 660 sebelum masehi, dan dia itulah yang menurunkan raja raja jepang sampai sekarang ini. Hal ini dikarenakan penganut agama Shinto pada umunya percaya bahwa temmo raja jepang itu adalah keturunan dewa surya, amaterasu omi kami, maka para penganut agama

Shinto percaya dan patuh pada temmo, memuja alam dan roh, begitu pula bendera kebangsaan jepang berbentuk tanda matahari untuk menunjukan bahwa negaranya tercipta dari matahari tempat kediaman amaterasu omi kami (dewi matahari). Sekalian kitab suci itu berisikan kisah kisah legendaris, nyanyian nyanyian kepahlawanan besrta sajak sajak tentang asal usul kedewaan, asal usul kepulauan jepang dan kerajaan jepang. Ragam kisah tentang hal hal yang berkaitan dengan kehidupan para dewa dan dewi dalam kayangana dilangit, catatan pada masa masa terahir barulah didasarkan pada kenyataan sejarah. Buat pertama kalinya didalam sejarah jepang yang puluhan abad lamanya bahwa seorang sarjana jepang pada tahun 1893 masehi, yakni Prof.kume dari imperial university di tokio, berani mengemukakan kritiknya dan menolak banyak peristiwa dalam kedua kitab itu untuk dinyatakan sebagai peristiwa atau sejarah, karena tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. atas pendiriannya itu, yang dipandang merendahkan kepercayaan yang hidup dalam agama Shinto dia pun di pecat dari jabatannya . Selain itu di dalam agama Shinto ada beberapa proses ritual atau ibadah ynag bertujuan untuk mensucikan diri mereka, Agama Shinto sangat mementingkan ritus-ritus dan memberikan nilai sangat tinggi terhadap ritus yang sangat mistis. Menurut agama Shinto watak manusia pada dasarnya adalah baik dan bersih. Adapun jelek dan kotor adalah pertumbuhan kedua, dan merupakan keadaan negatif yang harus dihilangkan melalui upacara pensucian (Harae). Karena itu agama Shinto sering dikatakan sebagai agama yang dimulai dengan dengan pensucian dan diakhiri dengan pensucian. Upacara pensucian (Harae) senantiasa dilakukan mendahului pelaksanaan upacara-upacara yang lain dalam agama Shinto. Ritus-ritus yang dilakukan dalam agama Shinto terutama adalah untuk memuja dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan kemakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian (beras), yang dilakukan rakyat Jepang pada Bulan Juli dan Agustus di atas gunung Fujiyama. Selain itu juga ada beberpa peryaan yang biasnya di peringati oleh pemeluk agam Shinto dan perayaan itu diadakan untuk tujuan tujuan yang berkenaan dengan pusaka leluhur, pengudusan, pengusiran roh jahat atau pertanian, puncak puncak perayaan diadakan pada tahun baru, saat menanam padi pada musim semi dan pada saat panen pada musim gugur, musim semi dan musim gugur adalah saat untuk menghormati leluhur dan mengunjungi makamnya, selama perayaan kami sering diarak melewati jalan jalan dalam tempat pemujaan yang bisa dibawa bawa untuk membuat setiap orang yakin bahwa kami sedang mengunjungi masyarakat untuk memberikan perlindungan . Selain itu pada zaman purbakala dulu masyarakat jepang juga mengenal korban manusia bahkan sering terjadi tradisi bunuh diri secara suka rela akan tetapi tradisi ini sekarang dilarang dan diganti dengan tanah liat atau kayu. KESIMPULAN Dari uraian-uraian yang sudah dikemukakan diatas tampak bahwa agama rakyat merupakan sistem kepercayaan dan peribadatan yang benar-benar hidup di kalangan rakyat Jepang dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka seperti yang terlihat dalam kegiatan-kegiatan keluarga, rukun tetangga dan hari-hari libur nasional Jepang. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap kepercayaan tradisional Jepang dan tempat agama rakyat, dalam kehidupan masyarakat Jepang modern yang termuat dalam laporan hasil penelitian yang diberi judul Nihonjin-no-kokuminsei (sifat

nasional Jepang), maka pemujaan terhadap arwah nenek moyang menempati kedudukan utama dalam kehidupan masyarakat Jepang. Di samping itu rangkaian upacara dan perayaan tahunan masih tetap memainkan peranan penting dalam agama rakyat, terutama dalam lingkungan masyarakat pertanian yang umumnya terdapat dalam agama rakyat fungsinya sudah jauh berkurang, namun berbagai rangkaian kegiatan yang sepanjang tahun menjadi salah satu diantara ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama yang sudah melembaga seperti agama Shinto. Dalam agama Shinto terdapat banayak keprcayaan terhadap dewa dewa ada banyak sekali dewa yang di percayai oleh penganut agama Shinto namun yang paling popular adalah dewi matahari (amaterasu omi kami) yang menjadi dewanya para dewa dan juga dewa bulan, penganut Shinto juga sangat patuh terhadap raja mereka yakni tenno, hal ini dikarenakan mereka percaya bahwa tenno adalah keturunan dewa jadi wajib bagi mereka untuk patuh pada tenno. Selain itu terdapat pula beberapa upacara yang diselengagarakan oleh penganut agama Shinto, sslah satunya adalah upacara pembersihan diri yakni dengan memuja muja dewa matahari dan juga mengaraknya mengelilingi masyarakat sebagai tanda bahwa amaterasu omi kami telah dating dan memberikan perkindungan pada mereka. Ada beberapa kitab suci yang dipercaya oleh penganut Shinto : a. kojiki, yang bermakna : catatan peristiwa purbakala. b. Nihonji, yang bermakna : riwayat jepang. c. Yeghisiki yang bermakan : berbagai lembaga pada masa yengi d. Manyosiu yang bermakan : himpunan sepuluh ribu daun. DAFTAR PUSTAKA - Ahmadi abu, Perbandingan Agama, Jakarta :PT.Rineka Cipta,1991 - Http://bukucatatan-part.blogspot.com/2009/01/agama-shintoajaran-dan-sejarahnyadi.html - Kene Michael, Agama agama Dunia, Yogyakarta : Kanisus, 2006. - Syadili Hasan, Ensiklopedia Indonesia, Jakarta : Van hoeve, 1984. - Sou yb Josep, Agama agama besar Dunia, Jakarta : PT.al-Husna Zdikro, 1983. - Smart Niniant, the religious experience of mankind, USA :Chaules Ecribners sons, 1984. - Takhesi Isizawa, Makalah Seminar dikantor Alocita, Yogyakarta pada tgl 15 februari 1997.http://www.02.246 ne.jp/-semar/agamabaru.html.