Anda di halaman 1dari 6

METODOLOGI

Lokasi dan Waktu


Penelitian dilakukan di Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau, pada 3
tipe penggunaan lahan gambut yaitu; Hutan Alam, Kebun Rakyat dan Areal HTI
Sagu, yang secara geografis terletak pada 0
0
32 - 1
0
08 LU dan 101
0
43 - 103
0
08
BT dengan ketinggian 0 5 m diatas permukaan laut. Data lapangan dan
laboratorium diperoleh dari bulan September sampai November 2008.

Bahan dan Peralatan
Bahan penelitian adalah hutan gambut yg terdiri dari hutan alam, kebun
rakyat dan areal HTI Sagu.
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Peta Kerja, Peta
Vegetasi, GPS, kompas, meteran pica diameter, alat ukur tinggi (Haga
Hypsometer), tambang plastik, tali plastik, bor tanah, ring sample tanah, pH tester,
golok, pisau kecil, patok, tally sheet, kantong plastik, kamera, peralatan
pembuatan herbarium (alkohol, gunting, label, kertas koran dan sasak) serta alat
tulis.
J enis dan Sumber Data
Pengumpulan data primer diperoleh berdasarkan hasil penelitian lapangan
yang meliputi :
1. Komposisi dan struktur tegakan hutan rawa gambut berdasarkan perubahan
tipe penggunaan lahan gambut.
2. Penyebaran dan kelimpahan jenis berdasarkan perubahan tipe hutan gambut.
3. Potensi biomassa tegakan atas permukaan pada setiap jenis maupun tipe
penggunaan lahan, diduga berdasarkan data diameter.
4. Sifat-sifat tanah yang meliputi sifat fisik dan sifat kimia.
Selain data primer dikumpulkan pula data sekunder seperti data iklim,
Keadaan Umum lokasi, Peta dan informasi lain yang menunjang penelitian ini.


20

Metode Penelitian
Analisis Vegetasi
Analisis vegetasi dilakukan untuk mengetahui komposisi dan struktur
tegakan hutan. Pengambilan data analisis dilakukan dengan cara jalur atau
transek dengan penentuan jalur dan pembuatan petak contoh dilakukan secara
purposive systematic sampling berdasarkan kerapatan tegakan hutan.
Jumlah petak contoh dibuat 5 petak pada setiap komunitas hutan yaitu :
Hutan alam, Kebun rakyat dan HTI Sagu. Petak ukur dalam jalur pengamatan
terdiri dari sub-petak-sub-petak berdasarkan tingkat pertumbuhan vegetasi.
Pembuatan sub-petak tersebut dilakukan secara nested sampling, dimana sub
petak yang berukuran lebih besar mengandung sub petak yang berukuran lebih
kecil (Soerianegara dan Indarawan, 2005). Ukuran petak contoh pengamatan
sebagai berikut :
1. Petak ukur 20 m x 20 m, dibuat sejajar arah jalur untuk pengamatan vegetasi
tingkat pohon (diameter > 20 cm), dan dalam setiap petak contoh ini terdapat
dua macam petak ukur kecil untuk tingkat tiang dan pancang.
2. Petak ukur 10 m x 10 m, dibuat secara berselang-seling (kanan-kiri sumbu
jalur), dengan jarak antar petak 10 m, untuk pengamatan vegetasi tingkat tiang
(diameter 10 cm sampai dengan 20 cm)
3. Petak ukur 5 m x 5 m dibuat berselang-seling (kanan kiri sumbu jalur), jarak
antar petak ukur 15 m, untuk pengamatan pancang (tinggi permudaan 1,5 m
sampai pohon-pohon muda berdiameter < 10 cm).
Parameter yang diamati dalam analisis vegetasi untuk tingkat Pohon
dan Tiang meliputi jumlah dan jenis pohon, tinggi pohon bebas cabang dan
tinggi total serta diameter pohon, jumlah jenis dan jumlah individunya. Desain
jalur dan petak ukur dapat dilihat pada Gambar 2.
20m

Gambar 2. Desain jalur dan petak ukur Analisis vegatasi.


10m
10m
Ket : A = 20 m x 20 m
(tingkat pohon)
B = 10 m x 10 m
(tingkat tiang)
C = 5 m x 5 m
(tingkat pancang)
B
A
C
ArahJalur
21

Biomassa Atas Permukaan


Estimasi nilai kandungan biomassa pada hutan alam, kebun rakyat dan areal
HTI dihitung hanya pada biomassa atas permukaan untuk pertumbuhan tingkat
tiang dan pohon dengan diameter 10 cm setinggi dada. Pendugaan biomassa
kemudian dikelaskan kedalam biomassa jenis dan komunitas hutan.
Sifat Tanah
Untuk mengetahui sifat fisik dan kimia tanah, kegiatan yang dilakukan
adalah sebagai berikut :
1. Pengukuran kedalaman gambut pada setiap sub plot atau petak ukur analisis
vegetasi dengan menggunakan bor gambut / galah ukur.
2. Pengambilan contoh tanah didasarkan pada beberapa zonasi perbedaan
komunitas hutan.
3. Contoh tanah dikelompokkan berdasarkan tipe penggunaan lahan kemudian
dicampur untuk mendapatkan sampel tanah yang selanjutnya akan dianalisis di
Laboratorium.
4. Pengukuran pH air (water pH meter) dan pH tanah (soil pH meter)
Penentuan tingkat kematangan gambut dilapangan, dapat dilakukan dengan
kombinasi meremas segenggam tanah gambut dan memperhatikan warna gambut
sebagai berikut:
1. Bila kandungan serat yang tertinggal dalam telapak tangan setelah pemerasan
adalah tiga perempat bagian atau lebih (), maka digolongkan kedalam jenis
fibrik, jika antara tiga perempat sampai seperempat bagian ( - ), maka
digolongkan kedalam jenis hemik dan bila setelah pemerasan yang tertingga
adalah sama dengan atau kurang dari seperempat bagian ( ) maka
digolongkan kedalam jenis saprik.
2. Memperhatikan warnanya. Jenis tanah gambut fibrik akan memperlihatkan
warna hitam muda (agak terang), kemudian disusul hemik dengan warna hitam
agak gelap dan seterusnya saprik berwarna hitam gelap.
Peubah-peubah tersebut yang diukur dan diamati terutama adalah tingkat
kematangan gambut, kedalaman gambut, tipe gambut dan tinggi air tanah serta
sifat-sifat kimia gambut. Analisis tanah selanjutnya terhadap pH tanah, pH air,
22

kandungan C organik, N-total, P, Ca, Mg, K, Na, KTK, kejejuhan basa dan kadar
abu, dilakukan di Laboratorium Tanah, Jurusan Tanah Fakultas Pertanian IPB.

Analisis Data
Komposisi jenis
Analisis Indeks Nilai Penting (INP) dikaji berdasarkan hasil hitungan
besaran: Kerapatan (K), Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi (F), Frekuensi Relatif
(FR), Dominansi (D) dan Dominansi Relatif (DR) menurut rumus yang
dikembangkan Mueller-Dombois dan Elenberg (1974) sebagai berikut :
Kerapatan (K) =
Banyaknya Individu suatu jenis

Luas plot contoh

Kerapatan Relatif (KR) =
Kerapatan dari suatu jenis
x 100 %
Kerapatan seluruh jenis

Frekuensi (F) =
Jumlah plot contoh ditemukan suatu jenis
Jumlah seluruh plot contoh

Frekuensi Relatif (FR) =
Frekuensi dari suatu jenis
x 100 %
Frekuansi seluruh jenis

Dominansi (D) =
Jumlah luas bidang dasar suatu jenis
Frekuansi seluruh jenis

Dominansi Relatif (DR) =
Dominasi dari suatu jenis
x 100 %
Dominansi seluruh jenis

INP untuk tingkat pancang dan semai = KR + FR
INP untuk tingkat tiang dan pohon = KR + FR + DR

Kesamaan Komunitas
Kesamaan komunitas diketahui dengan membandingkan setiap dua tegakan
pada tempat tumbuh yang bersamaan digunakan rumus koefisien Indeks of
Similarity (IS) atau Kesamaan Komunitas (C) dalam Soerianegara dan Indrawan
(2005) sebagi berikut :
23

C =
2 w
x 100 %
a + b

Dimana :

C (=IS) = Koefisien masyarakat atau Koefisien Kesamaan Komunitas
w = Jumlah nilai yang sama dan terendah dari jenis-jenis yang
terdapat dalam dua tegakan yang dibandingkan
a = Jumlah nilai kuantitatif dari semua jenis yang terdapat pada
tegakan pertama.
b = Jumlah nilai kuantitatif dari semua jenis yang terdapat pada
tegakan kedua.

Sedangkan untuk menghitung nilai koefisien ketidaksamaan atau Indeks of
Dissimilarity (ID) adalah; ID = 100 - IS

Keanekaragaman, Keseragaman dan Dominansi J enis
Untuk mengkaji keanekaragaman, keseragaman dan dominansi jenis pada
hutan rawa gambut dihitung menurut Shannon-Weiner Diversity Index
(Kusmana dan Istomo, 1995), yaitu :
B

= -__
ni
N
] log 2 _
ni
N
]_
S
=1


Dimana :
H

= Indeks keanekaragaman jenis Shannon-Weiner
ni = Nilai penting untuk tiap jenis atau jumlah individu jenis ke-i
N = Nilai penting total atau jumlah individu semua jenis
S = Banyaknya jenis

Indeks keseragaman Shannon digunakan untuk mengukur tingkat
keseragaman dari spesies yang diamati dalam plot pengamatan. Rumus
perhitungan indeks keseragaman adalah :
Max H
H
J
'
'
'
=
Dimana :
J = Indeks Keseragaman Shannon-Wiener
H = Indeks Keragaman Shannon-Wiener
HMax = Nilai maksimum H= Ln S (S = jumlah spesies di dalam
komunitas)
24

Indeks dominansi merupakan nilai kuantitatif pada tingkat dominansi relatif


di dalam komunitas yang umumnya ditunjukkan oleh satu jenis pohon di dalam
komunitas tersebut. Rumus perhitungannya sebagai berikut :

2
i
N
n
Di

=
Dimana :
Di = Indeks Dominansi Simpson
n
i
= Kerapatan spesies
N = Total Kerapatan Spesies

Biomasa Tegakan
Data analisis vegetasi yang diperoleh kemudian diolah untuk mengkaji
potensi biomassa atas permukaan pada setiap komunitas hutan. Pendugaan yang
dilakukan adalah dengan menggunakan data diameter setinggi dada setiap pohon
10 cm dan kerapatan pohon.
Perhitungan biomassa rata-rata pohon didekati dengan menggunakan
rumus Allometrik yang dikembangkan Istomo (2002) sebagai berikut:
W = 0.0145D
3
- 0.4659D
2
+ 30.64D 263.32
Dimana :
W = Biomasa (kg)
D = Diameter pohon setinggi dada (cm)

Biomassa rata-rata tiap pohon yang dominan pada setiap komunitas hutan
digunakan untuk menghitung biomassa pohon total dalam tegakan per hektar
menggunakan rumus (Brown et al. 1989) :
Y = yNa
Dimana :
y = W = Biomassa pohon dalam tegakan
Na = Kerapatan Pohon (Phn/ha)