Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Proses kimia sangatlah penting dalam dunia industri, terutama industri kimia.dalam proses kimia diperlukan berbagai macam kondisi operasi proses. Kondisi operasi yang tepatlah yang dapat dapat menghasilkan produk yang sesuai yang diinginkan dari suatu proses kimia. Kondisi operasi antara lain berkaitan dengan tempertur dan tekanan proses. Kondisi operasi yang sering menjadi perhatian adalah masalah temperatur. Untuk memperoleh temperatur yang diinginkan untuk proses, maka bahan kimia yang akan direaksikan harus dipanaskan atau diinginkan. Untuk itu diperlukan suatu alat penukar panas yang biasa dipakai dalam industri adalah heat exchanger. Pada heat exchanger akan terjadi peristiwa perpindahan panas. Dimana fluida yang akan didinginkan dikontakkan dengan fluida pendingin (biasanya air). Kontak antar fluida tersebut akan menyebabkan terjadinya peristiwa perpindahan panas. Perpindahan panas akan terjadi apabila ada perbedaan temperatur antara dua bagian benda. Panas akan berpindah dari temperatur tinggi ke temperatur yang lebih rendah. Panas dapat berpindah dengan tiga cara, yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi. Di dalam industri kimia masalah perpindahan energi atau panas adalah hal yang banyak dilakukan. Heat Exchanger bertujuan untuk memanfaatkan panas suatu aliran fluida untuk pemanasan fluida lain. Maka disini terjadi dua fungsi sekaligus, yaitu memanaskan fluida yang dingin dan mendinginkan fluida yang panas. Perpindahan panas dapat berlangsung secara: 1. Molekuler, yang disebut dengan konduksi. 2. Aliran yang disebut dengan perpindahan konveksi. 3. Gelombang elektromagnetik yang disebut dengan radiasi.

Proses perpindahan panas yang terjadi di dalam heat exchanger dapat dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung. Heat exchanger yang langsung, adalah dimana fluida yang panas akan bercampur secara langsung dengan fluida dingin (tanpa adanya pemisah) dalam suatu ruang tertentu. Misalnya jet condersor, water injection desuperheater, dan lain-lain. Heat exchanger yang tidak langsung adalah dimana fluida panas tidak berhubungan langsung (indirect contact) dengan fluida dingin, jadi melalui perantara seperti pipa, tube, plate atau peralatan jenis lain. Misalnya condesor pada turbin uap, pemanas uap lanjut dan pemanas air pendahuluan pada ketel. Ada beberapa heat exchanger yang umum digunakan pada industri. Alat-alat penukar panas tersebut antara lain: double pipe, shell and tube, plate-frame, spiral, dan lamella. Alat penukar panas yang sering digunakan adalah jenis shell and tubeheat exchanger. Lalu bagaimana dengan alat penukar panas jenis terutama jenis plate heat exchanger. Bagaimana prinsip dan cara kerja, jenis-jenisnya, dan dasar hukum yang sering dipakai dalam pemecahan masalah perpindahan panas dalam proses kimia. 1.2 Permasalahan 1. 2. 3. Bagaimanakah prinsip dan cara kerja dari plate heat exchanger ? Apa sajakah jenis-jenis plate heat exchanger yang sering dipakai dalam industri kimia ? Apa dasar hukum yang diterapkan dalam proses pertukaran panas dengan menggunakan plate heat exchanger ? 1.3 Tujuan 1. 2. Mengetahui prinsip dan cara kerja plate heat exchanger. Mengetahui jenis-jenis plate heat exchanger yang sering dipakai dalam industri kimia

3.

Mengetahui dasar hukum yang diterapkan dalam proses pertukaran panas dengan menggunakan plate heat exchanger

1.4 Manfaat 1. Penerapan plate heat exchanger dalam proses pertukaran panas dalam proses yang berlangsung pada suatu industri kimia 2. Penggunaan secara luas plate heat exchanger dalam dunia industri 1.5 Pembatasan Masalah Dalam penulisan ini titik fokus pembahasan adalah mengenai prinsip, cara kerja, jenis, dan dasar hukum yang dipakai pada proses yang terjadi pada plate heat exchanger.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Heat Exchanger Penukar panas adalah alat yang digunakan untuk mempertukarkan panas secara kontinue dari suatu medium ke medium lainnya dengan membawa energi panas. Secara umum ada 2 tipe penukar panas, yaitu: a. Direct heat exchanger, dimana kedua medium penukar panas saling kontak satu sama lain. Yang tergolong Direct heat exchanger adalah cooling tower dimana operasi perpindahan panasnya terjadi akibat adanaya pengontakan langsung antara air dan udara. b. Indirect heat exchanger, dimana kedua media penukar panas dipisahkan oleh sekat/ dinding dan panas yang berpindah juga melewatinya. Yang tergolong Indirect heat exchanger adalah penukar panas jenis shell and tube, pelat, dan spiral. 2.2 Prinsip Kerja Heat exchanger bekerja berdasarkan prinsip perpindahan panas (heat transfer), dimana terjadi perpindahan panas dari fluida yang temperaturnya lebih tinggi ke fluida yang temperaturnya lebih rendah. Biasanya, ada suatu dinding metal yang menyekat antara kedua cairan yang berlaku sebagai konduktor . Suatu solusi panas yang mengalir pada satu sisi yang mana memindahkan panasnya melalui fluida lebih dingin yang mengalir di sisi lainnya. Energi panas hanya mengalir dari yang lebih panas kepada yang lebih dingin dalam percobaan untuk menjangkau keseimbangan. Permukaan area heat exchanger mempengaruhi efisiensi dan kecepatan perpindahan panas yang lebih besar area permukaan panas exchanger, lebih efisien dan yang lebih cepat pemindahan panasnya.

2.3 Kegunaan Heat Exchanger Contoh penggunaan komersial yang lain untuk heat exchanger panas pada radiator, lemari es dan alat pendingin. Heat exchanger penting dalam pengaturan seperti memproses makanan, proses industri, berkenaan dengan farmasi, pulp dan kertas dan industri baja. Semua industri yang membangkitkan tenaga memerlukan alat heat exchanger tersebut. Industri lain yang menggunakan heat exchanger meliputi industri bahan kimia, angkatan laut, semi penghantar, petrokimia, elektronik, permobilan, tekstil dan fasilitas perawatan air. 2.4 Jenis-jenis Heat Exchanger Ketiga jenis utama heat exchanger ini yaitu : a. Plate heat exchanger Plate heat exchanger adalah salah satu tipe heat exchanger yang menggunakan plat logam untuk memindahkan panas antara dua liquid. Penggunaan heat exchanger ini menguntungkan dari heat exchanger konvensional karena permukaan kontak fluida lebih luas. Plate heat exchanger merupakan suatu kemajuan desain dasar yang membuat perpindahan panas yang cepat. Plate heat exchanger terbagi dua ruangan, yang tipis berada di dalam, membagi dua fluida dengan luas permukaan yang paling luas oleh plat logam. Plat tersebut memungkinkan perpindahan panas yang paling cepat. Membuat setiap ruangan tipis memastikan sebagian besar volume dari liquid akan mengalami kontak dengan plat. meliputi pemanasan sumber air mineral dan pemanasan kolam renang , radiator rumah, air

Gambar 2.1 Plate Heat Exchanger b. Shell and Tube Heat Exchanger Shell merupakan bagian bagian heat exchanger yang berbentuk tube yang besar. Tube berada di dalam shell. Dua fluida yang berbeda temperatur mengalir melalui exchanger dan terjadi pertukaran panas di dalamnya. Satu fluida mengalir melalui tube dan yang lainnya mengalir melalui shell. Dengan menggunakan exchanger ini maka panas tidak akan terbuang dengan sia sia sehingga dapat menghemat energi.

Gambar 2.2 Shell and Tube Heat Exchanger c. Plate heat exchanger

2.5 Desain dan Konstruksi Heat Exchanger Konstruksi dari heat exchanger biasanya yaitu baja, titanium, tembaga, perunggu, baja tahan-karat, aluminum atau besi cor. Salah satu permasalahan dalam alat penukar panas ini yaitu yang paling besar harus mencegah terjadinya karatan, yang mana umum dalam kaitannya dengan yang cairan yang mengalir tetap. Hal ini biasanya sulit untuk dihindari. Untuk membantu mencegah ini, tabung harus bersifat mencegah karat secara umum, pemipaan, stress-corrosion cracking (SCC), sel oksigen dan pelepasan selektif biasanya menyerang dalam hal saat perbaikan. Beberapa disain alat penukar panas menggunakan sirip untuk menyediakan konduktifitas termal yang lebih besar, yang biasanya membantu. Sebagai contoh,

suatu radiator mobil adalah suatu alat yang bermanfaat untuk pemindahan panas dari mesin kepada udar luar. Heat exchanger mempunyai peran rumit dalam disain, pemeliharaan dan operasi proses pengaturan sistem suhu dan pemanasan, disain vehicle, pembangkit tenaga listrik, pendinginan, bahan kimia dan rekayasa industri sistem. Tabel 2.1 Macam Desain pada Heat Exchanger

HEAD
A E

BODY
L

REAR

9 W

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Plate Heat Exchanger Alat penukar panas jenis pelat adalah alat yang memiliki efisiensi tinggi. Alat penukar panas jenis ini dibuat oleh pelat logam stainless steel tahan karat . Aliran fluida panas dan dingin mengalir masuk ( dan keluar) melalui suatu lubang angin pada 4 sudut lembar yang menghasilkan efek perpindahan panas. Dalam rangka mencegah kebocoran dan pencampuran dari cairan panas dan dingin, karet pengatur jarak digunakan untuk menyegel antara pelat logam. Pengatur jarak dan plat dirakit dalam bingkai (frame). Area dari pertukaran panas ditetapkan menurut volume pertukaran panas tersebut.

10

Gambar 3.1 Plate Heat Exchanger

3.2 Sejarah Plate Heat Exchanger Plate heat exchanger (PHE) ditemukan oleh Dr Richard Seligman pada 1923 yang digunakan untuk pemanasan yang tidak langsung dan mendinginkan cairan yang dipakai pada APV (Aluminium Plant & Vessel) Company Limited. Struktur umum penukar panas jenis pelat (Plate Heat Exchanger) pertama kali dipublikasikan oleh Marriot, 1971. Penukar panas jenis pelat ini terdiri atas pelatpelat tegak lurus yang dipisahkan sekat-sekat berukuran antara 2 sampai 5 mm. Pelatpelat ini berbentuk empat persegi panjang dengan tiap sudutnya terdapat lubang. Melalui dua di antara lubang-lubang ini fluida yang satu dialirkan masuk dan keluar pada satu sisi, sedangkan fluida yang lain karena adanya sekat mengalir melalui ruang antara di sebelahnya.

11

Gambar 3.2 Penukar panas jenis pelat [Marriot, 1971] 3.3 Prinsip Aliran pada Plate Heat Exchangers Plate heat exchanger terdiri dari banyak plat metal yang tipis dengan pembukaan untuk jalan yang dilewati oleh fluida. Plat yang bengkok yang mana maksudnya bahwa tiap-tiap bagian plat bersebelahan di dalam heat exchanger membentuk suatu saluran. Tiap detik saluran terbuka bagi fluida yang sama . Antara masing-masing penghembus plat ada suatu gasket karet, yang mana mencegah cairan dari pencampuran dan dari kebocoran ke lingkungan sekitarnya.

12

Gambar 3.3 Pelat pada Plate Heat Exchanger

13

Gambar 3.4 aliran fluida melalui Plate Heat Exchanger Ketika media masuk plate and frame heat exchanger melalui koneksi dalam frame, diarahkan melalui saluran pengubah oleh pengaturan gasket. aliran fluida yang panas melalui setiap saluran yang lain dan cairan yang dingin melalui saluran yang berada diantaranya. Panas ditransfer dari cairan yang hangat kepada cairan yang lebih dingin melalui pembagian dinding, yaitu material plat. Bentuk bengkok mendukung plat dari tekanan diferensial dan menciptakan suatu aliran turbulen di saluran . Pada gilirannya, aliran turbulen menyediakan pemindahan kalor efisiensi tinggi, membuat plate and frame heat exchanger sangat efisien dibandingkan dengan heat exchanger tipe shell and tube tradisional.

14

Gambar 3.5 Prinsip Aliran dan Perpindahan Panas pada Plate Heat Exchanger 3.4 Pengaturan Aliran Saat aliran fluida dingin dan panas dalam arah kebalikan ke plat tunggal melintang, pole alir antara plat dapat bertukar-tukar. Alat penukar panas dapat mengalir secara single atau multi-pass. Pengaturan single-pass berarti masing-masing aliran fluida dalam arah yang sama melintang ke semua plat di dalam unit tersebut. Pengaturan multi-pass dirancang sehingga cairan dapat berubah arah arus dari masing-masing fluida. Unit Single-Pass lebih cocok untuk kebanyakan aplikasi, tetapi laju alir sangat rendah dibanding alat penukar panas dengan tipe multi-pass.

15

Gambar 3.6 Single-pass arrangement Suitable for most application.

Gambar 3.7 Multi-pass arrangement for application with low flow rates or close approach temperatures. 3.5 Keuntungan Plate Heat Exchanger Keuntungan dari heat exchanger jenis pelat mulai dengan disainnya. Heat exchanger jenis pelat, mengirim, efisiensi lebih besar, biaya yang lebih rendah,

16

pemeliharaan dan pembersihan lebih mudah, dan semakin dekat pendekatan temperatur dibanding penukar panas teknologi lain. Yang dibandingkan heat exchanger jenis spiral dan shell and tube, plate heat exchanger mempunyai kapasitas serupa juga memuat luas,lebar lantai sedikit dan mudah untuk diperluas. swing-out plate vertikal mengijinkan kamu untuk mempacking beribu-ribu ft2 area pemindahan kalor ke dalam suatu ruang kecil, selagi masih membiarkan ruang untuk pertumbuhan masa depan. Berikut ini keuntungan dari Plate Heat Exchangers, antara lain : 1. Dalam kaitan dengan turbulensi yang tinggi di pola alir dari fluida melalui channel alternatif yang dapat memperoleh transfer panas dengan sangat tinggi. Lebih mempertimbangkan disain yang lebih ringkas dengan biaya-biaya modal yang lebih rendah, sebagai contoh peralatan penukar panas permukaan yang mana lebih rendah dari suatu penukar panas konvensional. 2. Disain modular mengijinkan pemakai untuk menambahkan kapasitas yang mana mengubahnya dengan hanya menambahkan plat kepada heat exchanger. 3. Lebih sedikit pemasangan pipa pada plate and frame heat exchanger menjadi terbuka tanpa mengganggu pemasangan pipa. Semakin dekat pendekatan temperatur sampai kepada 2F menyediakan recovery panas maksimum dan lebih ekonomis. 4. Alat penukar panas jenis pelat aliran berlawanan arah memiliki efisiensi yang terbaik dibanding alat penukar panas jenis pelat aliran menyilang banyak laluan dan alat penukar panas jenis pelat aliran menyilang tanpa sekat-sekat. 5. Menggunakan material tipis untuk permukaan penukar panas sehingga menurunkan tahanan panas selama konduksi. 6. Memberikan derajat turbulensi yang tinggi yang memberikan nilai konveksi yang besar sehingga meningkatkan nilai U dan juga menimbulkan self cleaning effect 7. Faktor-faktor fouling kecil karena: a. Aliran turbulen yang tinggi menyebabkan padatan tersuspensi 17

b. Profil kecepatan pada pelat menjadi seragam c. Permukaan pelat secara umum smooth d. Laju korosi rendah e. Mempunyai nilai ekonomis dalam instalasi karena hanya membutuhkan tempat 1/4 sampai 1/10 tempat yang dibutuhkan tube dan spiral f. Mudah dalam modifikasi dan pemeliharaan Mudah dalam pemeliharaan dengan ruang minimal yang diperlukan untuk membuka / menutup heat exchanger dan adalah harga yang stabil serta ekonomis. g. Penukar panas jenis pelat dapat memindahkan panas secara efisien bahkan pada beda temperatur sebesar 10C sekalipun h. Penukar panas jenis pelat juga fleksibel dalam pemeliharaan aliran. 3.6 Jenis-jenis Plate Heat Exchanger Menurut Bell (1959) ada beberapa tipe aliran fluida dalam pelat heat exchanger, yaitu: 1. Seri Pola ini digunakan untuk fluida yang laju alirnya rendah dan beda temperaturnya tinggi. 2. Paralel Pola ini digunakan untuk fluida yang laju alirnya lebih besar dan beda temperaturnya rendah. 3. Seri paralel Pola ini digunakan untuk fluida yang laju alir dan beda temperaurnya tidak terlalu tinggi (menengah). Berdasarkan konstruksinya, penukar panas pelat dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu 1. Gasketted Plate Heat Exchanger 18

Gasketted plate heat exchanger mudah dimodifikasi karena desainnya fleksibel. Fungsi utama gasket adalah menjaga tekanan fluida, menjaga laju alir fluida dan mencegah pencampuran fluida. Selain iu, gasket juga mudah dibuka untuk kontrol dan pembersihan.

Gambar 3.8 Aliran Fluida pada Gasketted Plate Heat Exchanger 2. Brazed Plate Heat Exchanger Brazed plate heat exchanger adalah pengembangan jenis gasket. Kelebihannya adalah lebih kompak, dan digunakan untuk tekanan dan temperatur tinggi. Berdasarkan dibedakan menjadi : 19 ragam aliran fluida operasi plate heat exchanger dapat

1. Penukar panas pelat beraliran jamak (multipass plate heat exchanger) 2. Penukar panas pelat berlawanan arah (countercurrent plate heat exchanger) 3. Penukar panas pelat bersilangan arah (crosscurrent plate heat exchanger) 3.6.1 Multipass Plate Heat Exchanger Proses pertukaran panas pada penukar panas jenis ini secara sederhana mirip dengan proses pertukaran panas pada penukar panas pipa ganda ( double pipe heat exchanger). Perbedaannya terletak pada bentuk alur laluan fluida. Pada pipa ganda alur laluan fluida pendinginnya sejajar dengan alur laluan fluida panasnya. Baik fluida dingin maupun panas memiliki alur aliran yang lurus (smooth ). Sedangkan pada penukar panas pelat beraliran jamak alur laluan fluida dingin membentuk huruf U dan sejajar dengan alur laluan fluida panas.

Gambar 3.9 Penukar panas jenis pelat berlairan jamak (multi-pass) Alat penukar panas saluran jamak memiliki spesifikasi aliran berupa saluran jamak banyak laluan (multipass) untuk aliran udara pendingin dan saluran tunggal untuk aliran flue gas. Dengan adanya saluran jamak ini, perpindahan panas berlangsung secara bertahap sehingga laju penurunan temperatur flue gas lebih teratur. Fluida panas (flue gas) yang digunakan dalam penelitian ini adalah udara yang berasal dari kerangan (valve) yang dipanaskan oleh alat pemanas udara (heater) 20

dan udara ambient sebagai fluida dingin. Rancangan alat penukar panas saluran jamak ditampilkan pada gambar 5 dan gambar 6 berikut:

Gambar 3.10 Alat penukar panas jenis pelat saluran jamak untuk sisi udara

Gambar 3.11 Alat penukar panas jenis pelat saluran jamak untuk sisi flue gas 3.6.2 Counter Current Plate Heat Exchanger Pada alat penukar panas berlawanan arah, kedua fluida, flue gas, dan udara pendingin mengalir masuk ke penukar panas dalam arah yang berlawanan dan keluar sistem dalam arah yang berlawanan juga. Gambar 3.12 menunjukkan skema arah aliran pada penukar pelat berlawanan arah.

21

Gambar 3.12 Penukar panas pelat berlawanan arah (counter current) Pada alat penukar panas berlawanan arah, kedua fluida, flue gas dan udara pendingin mengalir masuk ke penukar panas dalam arah berlawanan dan keluar system dalam arah yang berlawanan juga. Hal ini dapat dilihat pada gambar 3.13 dan gambar 3.14. Dengan skema peralatan tersebut diharapkan hasil yang diperoleh dapat memenuhi rentang bilangan Reynolds antara 10-400 seperti yang ditekankan Marriot (1971).

Gambar 3.13 Alat penukar panas jenis pelat berlawanan arah untuk sisi udara

22

Gambar 3.14 Alat penukar panas jenis pelat berlawanan arah untuk sisi flue gas 3.6.3 Cross Current Plate Heat Exchanger Pada penukar panas pelat bersilangan arah, udara bergerak menyilang melalui matriks perpindahan panas yang dilalui oleh flue gas. Arah matriks perpindahan panas pada penukar panas jenis ini dapat dilihat pada Gambar 3.15.

Gambar 3.15 Penukar panas bersilangan arah (cross-current)

23

Bila kedua fluida mengalir sepanjang permukaan perpindahan panas dalam gerakan yang tegak lurus satu dengan lainnya, maka penukar panasnya dikatakan berjenis aliran silang (cross flow). Pada sistem ini, udara bergerak menyilang melalui matriks perpindahan panas yang dilalui flue gas. Aliran fluida panas dan dingin pada penukar panas pelat beraliran silang yang akan digunakan pada percobaan ini tidak saling bercampur (unmixed). Hal ini disebabkan oleh adanya sekat yang memisahkan aliran
kedua fluida tersebut. Skema peralatan penukar panas pelat beraliran silang ini

ditampilkan pada gambar 3.16.

Gambar 3.16 Alat penukar panas jenis pelat bersilangan arah

3.7 Perpindahan Panas pada Plate Heat Exchanger Perpindahan panas antara dua fluida yang dipisahkan oleh pelat terjadi secara konduksi dan konveksi. Jika konduksi dan konveksi secara berurutan, maka tahanan panas yang terlibat (konduksi dan konveksi) dapat dijumlahkan untuk memperoleh koefisien perpindahan panas keseluruhan (U). Besaran 1/Uh dan 1/Uc disebut tahanan keseluruhan terhadap perpindahan panas dan merupakan jumlah seri dari tahanan di fasa fluida panas, pelat, dan fluida dingin.

24

Gambar 3.17 Distribusi Temperatur pada Pelat Secara matematis dapat dirumuskan:

1 1 dAc = + dAw + Uh hh h k c dA dA h h

xw

..(1)

dan
1 1 = + dAw Uc hc k dA c

xw

1 dAh + hh dA c

..(2)

dimana :
1 = tahanan panas keseluruhan atas dasar fluida panas Uh 1 = tahanan panas keseluruhan atas dasar fluida dingin Uc

hh

= koefisien perpindahan panas di fluida panas

hc = koefisien perpindahan panas di fluida dingin xw = tebal pelat k = konduktivitas pelat

25

Perpindahan panas menjadi:


dQ = U ( Th Tc ) dA

(3)

hh

dQ dA = Th Tw, h

(4)

hc

dQ dA = Tw,c Tc

(5)

dQ/dA : fluks panas per unit perpindahan panas di mana perbedaan temperatur (Th

-Tc). U Tw : koefisien perpindahan panas keseluruhan : temperatur dinding pelat. Bilangan Reynolds merupakan bilangan tak berdimensi yang didefinisikan sebagai perbandingan antara gaya inersia terhadap gaya viscous dalam system aliran fluida. Secara matematis dapat dirumuskan: NRE =

.D.v

...(6)

dimana = densitas fluida (kg/m3) v = laju alir fluida (m/s2) = viskositas fluida (ms2/kg) D = diameter (m)

26

Penukar panas yang baik adalah yang memiliki laju perpindahan panas seoptimal mungkin. Ketidakoptimalan laju perpindahan panas ditentukan nilai koefisien perpindahan panas keseluruhan (U). Hasil-hasil penelitian yang telah dipublikasikan menunjukkan bahwa perubahan fluks massa udara dapat meningkatkan nilai U untuk setiap laju alir massa flue gas konstan pada alat penukar panas jenis plat. Marriot (1971) membatasi rentang bilangan Reynolds yang efektif untuk fluida operasi gas-gas adalah 10-400. Pada bilangan Reynolds yang terlalu tinggi, laju alir fluida juga akan tinggi, yang akan menyebabkan perpindahan panas tidak efektif. 3.8 Neraca Massa dan Energi pada Sistem Alat Perpindahan Panas Karakteristik alat perpindahan panas ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain: 1. Jenis fluida yang akan dipertukarkan panasnya 2. Laju alir fluida 3. Tipe aliran yang dipakai (co-current atau counter-current) 4. Letak fluida panas dan dingin, di dalam atau di luar alat penukar panas tersebut. Dalam neraca entalpi pendingin dan pemanas didasarkan pada asumsi bahwa dalam penukar kalor tidak terjadi kerja poros, sedang energi mekanik, energi potensial, dan nergi kinetik semuanya kecil dibandingkan dengan suku-suku lain dalam persamaan neraca energi. Maka, untuk satu arus dalam penukar kalor Q= m ( Hb - Ha ) Dimana, m = laju aliran massa dalam arus tersebut q=
Q = laju perpindahan kalor ke dalam arus t

..(7)

Ha & Hb = entalpi per satuan massa arus pada waktu masuk dan pada waktu keluar. 27

Penggunaan laju perpindahan kalor dapat lebih disederhanakan dengan asumsi salah satu dari fluida dapat mengambil kalor dan melepaskan kalor ke udara sekitar jika fluida itu lebih dingin dari udara. Perpindahan kalor dari atau ke udara sekitar dibuat sekecil mungkin dengan isolasi yang baik sehingga kehilangan kalor tersebut diabaikan terhadap perpindahan kalor yang melalui dinding tabung yang memisahkan udara panas dan udara dingin. 3.9 Hukum Fourier Hubungan dasar yang menguasai aliran kalor melalui konduksi ialah berupa kesebandingan yang ada antara laju aliran kalor melintas permukaan isotermal dan gradien suhu yang terdapat pada permukaan itu. Hubungan umum ini, yang berlaku pada setiap lokasi di dalam suatu benda, pada setiap waktu disebut hukum fourier. Hukum Fourier menyatakan bahwa k tak bergantung pada gradient suhu tetapi tidak selalu demikian halnya dengan suhu itu sendiri.

Hukum itu dapat dituliskan sebagai :


dq T = -k dA n

dimana : A = luas permukaan isotermal n = jarak, diukur normal ( tegak lurus ) terhadap permukaan itu q = laju aliran kalor melintas permukaan pada arah normal terhadapnya T = suhu k = konstanta proporsionalitas ( tetapan kesebandingan ) Termal konduktivitas adalah proses untuk memindahkan energi dari bagian yang panas kebagian yang dingin dari substansi oleh interaksi molekuler. Dalam fluida, pertukaran energi utamanya dengan tabrakan langsung. Pada solid, mekanisme

28

utama adalah vibrasi molekuler. Konduktor listrik yang baik juga merupakan konduktor panas yang baik pula. Konduktivitas termal k ialah suatu konstanta (tetapan) yang ditentukan dari eksperimen dengan medium itu. Satuan k adalah Btu/hr.ft.oFatau W/m.K.

29

BAB IV KESIMPULAN

1. Plate heat exchanger adalah salah satu tipe heat exchanger yang menggunakan plat logam untuk memindahkan panas antara dua liquid dengan menerapkan prinsip hukum Fourier. 2. Heat exchanger bekerja berdasarkan prinsip perpindahan panas (heat transfer), dimana terjadi perpindahan panas dari fluida yang temperaturnya lebih tinggi ke fluida yang temperaturnya lebih rendah. 3. Berdasarkan ragam aliran fluida operasi plate heat exchanger dapat dibedakan menjadi : 1. Penukar panas pelat beraliran jamak (multipass plate heat exchanger) 2. Penukar panas pelat berlawanan arah (countercurrent plate heat exchanger) 3. Penukar panas pelat bersilangan arah (crosscurrent plate heat exchanger)

30

DAFTAR PUSTAKA Fachry, H.A.R. 2007. Penuntun Praktikum Laboratorium Unit Operasi. Indralaya : Laboratorium Proses dan Operasi Teknik Kimia Universitas Sriwijaya http://images.google.co.id http://www.egr.msu.edu/~steffe/handbook http://www.kaori-taiwan.com/ http://www.valutechinc.com/alfalaval1.htm Mc Cabe, Warren, Julian C Smith & Peter H..1985. Operasi Teknik Kimia. Erlangga : Jakarta. Utomo, Tjipto.1983. Teori Dasar Fenomena Transpor. Binacipta : Bandung

31