Anda di halaman 1dari 13

Perbedaan RGB dan CMYK - Menghindari kesalahan pada proses cetak

06:45 21 comments

Permasalahan yang sering timbul dalam dunia desain grafis adalah ketika desain dihadapkan dengan dunia produksi. Banyak sekali desainer grafis yang handal ilmu desainnya, mahir penguasaan toolnya, namun lemah terhadap pengetahuan dalam bidang produksi. Hal ini menyebabkan hasil akhir produksi dari suatu desain biasanya kurang memuaskan. Masalahnya bisa beragam, namun seringkali ditemukan pada perbedaan hasil dari warna pada proses cetak. Permasalahan ini sederhana dan lazim terjadi di dunia percetakan. Diakibatkan dari kurangnya pengetahuan desainer terhadap konsep dasar dan teori warna. Warna dalam dunia percetakan berbeda dengan warna tampilan di monitor. Teori ini dibagi berdasarkan dua model warna : RGB dan CMYK. Perbedaan inilah yang kemudian menyebabkan seringnya terjadi kesalahan atau hasil yang tidak diinginkan dari warna akhir melalui proses cetak. Adapun perbedaan warna RGB dan CMYK, secara sederhana dapat dijelaskan seperti ini : Warna RGB adalah model warna additive yang bertujuan sebagai penginderaan dan presentasi gambar dalam tampilan visual pada peralatan elektronik seperti komputer, televisi dan fotografi. Warna RGB difungsikan untuk tampilan di monitor komputer karena warna latar belakang komputer adalah hitam. Jadi, R = Red (merah) G= Green (hijau) dan B = Blue (biru) sebagai warna dasar difungsikan untuk berbagi intensitas cahaya untuk mencerahkan warna latar belakang yang gelap (hitam). Sedangkan CMYK adalah warna yang dikenal dalam proses printing dan percetakan. Terdiri dari C = Cyan, M = Magenta, Y = Yellow, dan K = Black. Warna CMYK digunakan untuk tampil seimbang dengan latar belakang putih dari bahan cetak seperti kertas dan lain-lain.

Warna RGB biasanya lebih terang dan jelas, biasanya menghasilkan besar kapasitas file yang lebih kecil. Warna RGB sangat cocok untuk presentasi visual dalam tampilan monitor seperti desain halaman web/situs. Ketika suatu karya desain dalam format RGB akan diprint dan melalui suatu proses cetak, maka warna RGB harus dikonversi dahulu kedalam model warna CMYK. Hal ini karena printer dan mesin percetakan hanya mengenal warna CMYK sebagai model warna dari kalibrasi di mesin cetak. Sering kali beberapa karya desain yang akan naik cetak masih dalam format RGB, dan ketika dikonversi menjadi CMYK, warna biasanya akan berubah menjadi lebih redup dan tidak secerah warna yang tampil pada model RGB. Solusi dari masalah ini adalah, desainer harus memastikan dulu desainnya tampil dengan warna yang diinginkan dalam format warna CMYK, karena yang akan keluar dari mesin cetak adalah warna dengan model CMYK. Beberapa software/aplikasi untuk desain grafis biasanya mengizinkan kita untuk bekerja dengan memilih antara dua model warna (RGB atau CMYK) walaupun dalam beberapa hal, seperti beberapa fungsi dari photoshop tidak akan aktif jika kita bekerja dalam model warna CMYK. Pemilihan model warna biasanya akan tampil ketika kita membuka dokumen baru. Namun, apabila sudah terlanjur bekerja di salah satu model warna dan kita ingin menggantinya, kita bisa menkonversi kembali model warna tersebut. Berikut beberapa cara konversi model warna dari RGB ke CMYK di beberapa software desain grafis : Adobe Photoshop Pada menu bar pilih: Image > Mode > CMYK Adobe Illustrator Pada menu bar pilih: File > Document color mode > CMYK color CorelDRAW Pilih masing-masing objek yang akan dikonversi. Pilih Fill tool dan klik Fill Color Dialog. Pastikan model warna adalah CMYK. Untuk setiap objek dengan garis/outline : Pilih Outline tool dan klik Outline Color Dialog. Pastikan model warna adalah CMYK. Microsoft Publisher 2003-2007 Pilih Tools > Commercial Printing Tools > Color Printing, pilih Process Colors (CMYK) Adobe Indesign Pilih Window > Swatches dan Window > Color. klik ganda color di Swatches dan ganti color mode ke CMYK dan color type ke Process. inilah hambatan utama para pencetak grafis. terutama yang berminat pada studio photo.. hasil edit dikomputer sama hasil percetakan beda dalam kekentalan warnanya... saya kira, dengan mode warna diatas (mode CMYK)sama saja jika resolusi monitor yang tidak mendukung.. mas, saya buat file dengan corel, padahal mode color sudah CMYK tapi mengapa waktu cetak warnanya tetap berubah / lain dengan warna di monitor ??? di monitor biru muda terang, hasil cetak biru pucat redup, printer gw canon ix 4000.

@ Jaka : hehe..di blogroll aj y? :D @ Budiman : Tampilan warna di Coreldraw emg bermasalah, sering gak nyambung sama hasil cetak. coba, filenya di convert ke .tif dulu baru di print. Setting pada print sama bahan kertas yg dipake mgkin jg berpengaruh..

Jeprie says: 30 Juni 2010 16:34 Reply @Jaka: Resolusi berhubung dengan ukuran pixel bukan warna. Jadi, tidak berpengaruh. @Budiman: Monitor harus dikalibrasi dulu. Kalau cetak di studio foto tanya setting kalibrasinya, kalau bisa minta filenya. Kalau di printer sendiri, coba-coba saja sendiri. Sekedar tambahan, setahu saya cara kerja lebih baik ialah dengan mulai kerja di mode RGB dan setelah selesai baru convert ke CMYK. Kenapa di RGB, karena jangkauan warna lebih besar dan output yang kita gunakan, monitor, menggunakan mode RGB. Setelah convert ke CMYK nanti pasti ada warna-warna yang hilang karena jangkauannya lebih rendah. Saya sendiri kalau nulis buku tekniknya begitu. Semua Photoshop tetap di mode RGB, yang penting nanti hasil akhirnya (PDF) dalam format Press (CMYK).

Jaka Zulham says: 30 Juni 2010 23:55 Reply ia mas, ditunggu... periksa juga di jakazulham.blogspot.com

ikazNarsis says: 1 Juli 2010 01:24 Reply @ kalo saya baiknya kalo kerjain sebuah desain tergantung desainnya untuk apa dulu untuk di cetak atau hanya untuk tampilann web atau desain. kalo cetak ya awalnya langsung setting ke CMYK begitu juga kalo mau untuk web atau wallpaper monitor langsung ke RGB. karena ketika mendesain kita kan mau hasil waktu set sama dengan cetak, jangan sampai dah desain cape2, hasil warna cetaknya beda.. frustasi berat tu.. ( penyakit corel nih ) nice inpoh!!

Anonim says: 2 Juli 2010 23:42 Reply

Menurut sy, kerjakan dulu materi desain dng color mode RGB utk materi cetak cmyk(agar fungsi "effect" tetap aktif di Photoshop. Kan desainnya mau diberi bbg efek to). Setelah itu baru color mode ubah ke cmyk. Perubahan warna ditampilan monitor dan hasil cetak (prnter kita)biasanya berbeda, entah monitor perlu disetel atau dikalibrasi lagi. Solusi sy selama ini,materi desain/grafis yg dibuat diprint inkjet (sbg guideline kepada petugas jasa digital printing, seperti "Subur". Maaf ini bukan promosi).Terus file tsb diekspor ke ext Tiff. Simpan dlm flashdik file tiff tadi(+ file asli, link gambar, font yg digunakan). Lalu,di Subur minta dicetak digital(cetak "real" CMYK) biasanya di atas kertas art paper 230gr.Tujuannya, agar kita tahu apakah warna CMYK yg diinginkan sudah tercetak dng benar dan sesuai. Bila belum, komposisi warnanya bisa diedit lagi di tempat itu. Cetak digital(yg "real" CMYK) ibarat membuat proofprint, tapi tanpa membuat film separasi, dan murah lagi. Output ini sbg guideline, selanjutnya dibuatkan film separasi dan dibawa ke percetakan. Semoga info ini dapat membantu teman2.Catatan: jangan berpedoman hanya pada monitor kita, sebab file kita akan tampil berbeda di monitor tempat jasa pembuatan film separasi atau di monitor milik percetakan (toh pedoman mereka adalah proofprint sbg guideline warna cetak cmyk. Terus, monitor di percetakan/pembuat film sparasi, biasanya pakai Mac.Terus lagi, format/sistem cetak mereka umumnya berdasarkan Photoshop (cetak offset atau digital print bahan flexy)karena dianggap warnanya lebih stabil. Sori dehhh, kepanjangan

Model Warna RGB

Model warna RGB adalah model warna berdasarkan konsep penambahan kuat cahaya primer yaitu Red, Green dan Blue. Dalam suatu ruang yang sama sekali tidak ada cahaya, maka ruangan tersebut adalah gelap total. Tidak ada signal gelombang cahaya yang diserap oleh mata kita atau RGB (0,0,0). Apabila kita menambahkan cahaya merah pada ruangan tersebut, maka ruangan akan berubah warna menjadi merah misalnya RGB (255,0,0), semua benda dalam ruangan tersebut hanya dapat terlihat berwarna merah. Demikian apabila cahaya kita ganti dengan hijau atau biru. Apabila kita melanjutkan percobaan memberikan 2 macam cahaya primer dalam ruangan tersebut seperti (merah dan hijau), atau (merah dan biru) atau (hijau dan biru),

maka ruangan akan berubah warna masingmasing menjadi kuning, atau magenta atau cyan. Warna-warna yang dibentuk oleh kombinasi dua macam cahaya tersebut disebut warna sekunder. Lihatlah kombinasi warna RGB di bawah ini:

Warna Tersier adalah warna yang hanya dapat terlihat apabila ada tiga cahaya primer, jadi apabila kita non-aktifkan salah satu cahaya, maka benda tersebut berubah warna. Contoh warna tersier seperti abu-abu, putih. Pada perhitungan dalam program-program komputer model warna direpresentasi dengan nilai komponennya, seperti dalam RGB (r, g, b) masing-masing nilai antara 0 hingga 255 sesuai dengan urusan masing-masing yaitu pertama Red, kedua Green dan ketigha adalah nilai Blue dengan demikian masing-masing komponen ada 256 tingkat. Apabila dikombinasikan maka ada 256 x 256 x 256 atau 16.777.216 kombinasi warna RGB yang dapat dibentuk.

Dalam mendesign web warna RGB kerapkali direpresentasikan dengan Hex Triplet atau kombinasi 2 pasang bilangan hexadecimal, seperti #FF5D25 artinya Red = FF atau 15*16 + 15 = 255, Green = 5D atau 5*16 + 13 = 93 dan Blue = 25 atau 2*16 + 5 = 37. Jadi RGB (255,93,37) Color Hexadecimal Color Hexadecimal Color Hexadecimal Color Hexadecimal aqua #00FFFF green #008000 navy #000080 silver #C0C0C0 #808080 #008080 black #000000 gray olive #808000 teal #00FF00 blue #0000FF lime purple #800080 white #FFFFFF #FF0000 fuchsia #FF00FF maroon #800000 red yellow #FFFF00

Konsep Model Warna RGB kita jumpai di peralatan seperti: - Televisi - Camera Foto - Pemindai Warna

mendesign web warna RGB kerapkali direpresentasikan dengan Hex Triplet atau kombinasi 2 pasang bilangan hexadecimal, seperti #FF5D25 artinya Red = FF atau 15*16 + 15 = 255, Green = 5D atau 5*16 + 13 = 93 dan Blue = 25 atau 2*16 + 5 = 37. Jadi RGB (255,93,37) maksud FF dari #FF5D25 artinya Red = FF itu apa sih pak? 28 Februari 2009 10:16 Herman Pratomo mengatakan... Hexcode FF dalam bilangan biner adalah: 1111 1111 = 255 (desimal); karena kode bilangan biner adalah:

Hexcode____Dec____Biner _0__________0______0000 _1__________1______0001 _2__________2______0010 _3__________3______0011 _4__________4______0100 _5__________5______0101 _6__________6______0110 _7__________7______0111 _8__________8______1000 _9__________9______1001 _A_________10______1010 _B_________11______1011 _C_________12______1100 _D_________13______1101 _E_________14______1110 _F_________15______1111 sedangkan Hex Triplet adalah 3 bilangan Hexadesimal, contohnya #FF5D25, yang terdiri dari 3 bilangan yaitu FF, 5D dan 25. Untuk pengkodean digital untuk warna RGB masing-masing mempunyai arti: bilangan pertama adalah besarnya komponen cahaya merah, lalu bilangan kedua untuk komponen cahaya hijau dan bilangan ketiga adalah besaran komponen cahaya biru. saya menggunakan rumus 0.5*red + 0.3*green + 0.2*blue sebaiknya saya menggunakan perhitungan yg bagaimana pak? 27 Agustus 2011 09:31 Herman Pratomo mengatakan... Untuk membuat warna yang netral, rumusnya adalah red = green = blue. contohnya: r255 + g255 + b255 adalah warna putih yang bisa ditampilkan oleh layar monitor. Apabila ternyata 0.5*red + 0.3*green + 0.2*blue menghasilkan warna netral, berarti ada kesalahan profile yang dipergunakan 29 Oktober 2011 09:25

Perbedaan dan persamaan CMYK dan RGB


Post Date: 7 Juli 2011 By Johan Dalam dunia desain ada 2 macam unsur warna yaitu CMYK dan RGB. Apa persamaan dan perbedaan antara kedua type warna tersebut dan apa hubungannya dalam desain grafis. Mari kita telusuri lebih

jauh detil dan keunggulan serta kekurangan keduanya agar kita lebih paham mana yang harus kita gunakan waktu mendesain :) Warna CMYK = Warna Proses / Empat Warna

CMYK adalah singkatan dari Cyan-Magenta-Yellow-blacK dan biasanya juga sering disebut sebagai warna proses atau empat warna. CMYK adalah sebuah model warna berbasis pengurangan sebagian gelombang cahaya (substractive color model) dan yang umum dipergunakan dalam pencetakan berwarna. Jadi untuk mereproduksi gambar sehingga dapat dicapai hasil yang (relative) sempurna dibutuhkan sedikitnya 4 Tinta yaitu: Cyan, Magenta, Yellow dan Black. Keempat tinta tersebut disebut Tinta / Warna Proses. Tinta Proses adalah tinta yang dipergunakan untuk mereproduksi warna dengan proses teknik cetak tertentu, seperti offset lithography, rotogravure, letterpress atau sablon. Berbeda dengan Tinta yang hanya digunakan satu lapisan (single layer), karena tinta yang digunakan dapat ditumpuk-tumpuk, maka sifat tinta proses harus memenuhi standard tertentu, seperti spesifikasi warna (dalam model warna CIELab) dan nilai Opacity/Transparency. Kesalahan warna dalam penumpukan 2 macam tinta tersebut disebut: Ink Trapping Error (berbeda dengan Layout Trapping Error). (ISO 2846-1 hingga ISO 2846-5 adalah standar yang ditetapkan oleh badan standarisasi international terhadap warna dan nilai transparency dari tinta proses 4 warna CMYK masing-masing untuk proses pencetakan: Sheet-fed and heat-set web offset lithographic printing, Coldset offset lithographic printing, Publication gravure printing, Screen printing dan Flexographic printing.) Teknik separasi saat ini sudah berkembang; Penggunaan 4 tinta proses masih dominan, tapi metode menambah warna tinta cetak berkembang pesat. Teknologi HiFi Color dikembangkan beberapa pihak antara lain Pantone mengembangkan Proses Hexachrome dan Opaltone. Pada teknik Digital Inkjet Printing, perkembangan Warna Proses sedemikian pesatnya, hal ini didorong lantaran karena masalah teknis (kecilnya nozzle dalam printing head), maupun persaingan untuk menghadirkan reproduksi warna yang sempurna (sesuai dengan target pasar yang dituju), ada tinta-tinta seperti:

Light Magenta, Light Cyan, Grey, Matt Black, Orange dan Green dll. Jadi Empat Warna adalah spesifik untuk penyebutan proses pewarnaan dengan menggunakan CMYK. Warna RGB

RGB adalah singkatan dari Red - Blue - Green adalah model warna pencahayaan (additive color mode) dipakai untuk "input devices" seperti scanner maupun "output devices" seperti display monitor, warna-warna primernya (Red, Blue, Green) tergantung pada teknologi alat yang dipakai seperti CCD atau PMT pada scanner atau digital camera, CRT atau LCD pada display monitor. Apabila (Red - Blue - Green) ketiga warna tersebut dikombinasikan maka terciptalah warna putih inilah mengapa RGB disebut additive color atau bahasa kerennya warna pencahayaan. Warna RGB merupakan prinsip warna yang digunakan oleh media elektronik seperti televisi, monitor komputer, dan juga scanner. Oleh karena itu, warna yang ditampilkan RGB selalu terang dan menyenangkan, karena memang di setting untuk display monitor, bukan untuk cetak, sehingga lebih leluasa dalam bermain warna. Tapi bukan berarti RGB bebas masalah karena tampilan warna RGB akan selalu terikat dengan kapasitas/kemampuan grafis computer yang menyandangnya. Jadi apabila komputer yang kita pakai mempunyai graphic card yang bagus serta monitor LCD, maka tampilan warna RGBnya akan jauh lebih bagus dibanding monitor tabung dengan graphic card yang biasa-biasa saja. Berikut Persamaan dan Perbedaan RGB dan CMYK + Persamaan RGB dan CMYK itu sama-sama warna primer. + Perbedaan RGB CMYK Cyan Magenta Yellow Black (orang awam bilang biru, merah, kuning dan hitam ) CMYK merupakan warna-warna primer yang paling banyak digunakan pada printer CMYK lebih digunakan untuk desain yang nantinya ditampilkan ke media cetak Jika warna CMY di campur semua, akan menghasilkan warna hitam

Red Green Blue (merah, hijau, biru) RGB merupakan warna-warna primer yang digunakan pada monitor Jadi RGB lebih digunakan untuk desain yang nantinya ditampilkan ke media layar monitor Jika warna RGB di campur semua, akan menghasilkan warna putih

Kesimpulan : + Untuk hasil terbaik pencetakan : - Gunakan warna CMYK - Kenali semua karakteristik perangkat anda (scanner, printer, monitor dll) dengan baik.

+ Untuk desain web dan desain grafis (output monitor) - Gunakan warna RGB - Biasakan mengerjakan dalam ruang cahaya yang terkontrol. mengerjakan disain pada siang dan malam hari juga menghasilkan perbedaan warna yang berbeda (terutama untuk RGB)

Dengan warna RGB maka tampilan warna akan lebih kaya dan menarik. Namun apabila berhubungan dengan dunia percetakan / menggunakan mesin cetak maka gunakanlah warna CMYK karena mesin cetak menggunakan medium film yang sangat terbatas dalam mencerna warna. Namun juga memiliki keunggulan karena mesin cetak berhubungan dengan mass production (produksi dalam jumlah yang besar) jadi lebih efisien dan hemat uang & waktu. Oleh karena itu pasti ada penurunan kualitas / grade apabila warna RGB dipaksakan masuk film / Percetakan (perubahan warnanya bisa besar). Tapi kalau seandainya sudah buat FA (Final Artwork) untuk cetak tapi dalam color mode RGB maka bisa konversi saja dulu ke CMYK, tapi jangan kaget dengan perubahan warnanya. Jadi berhati-hatilah dengan color mode yang digunakan dalam sebuah desain. Tentukan dulu apakah untuk cetak atau untuk display dan Check dengan hati-hati final artworknya agar tidak terjadi kesalahan. Terima kasih, semoga bermanfaat sampai ketemu di artikel desain grafis selanjutnya hanya di ilmu Grafis

Digital Grafis; warna yang menipu


Filed under: perception fazrinrahman @ 16:30 Pada zaman teknologi seperti ini, kebanyakan visualisasi seni dan grafis kita kebanyakan mengkonsumsinya dari media-media digital, seperti TV, komputer jinjing, handphone, kamera, dan banyak media digital lainnya. Selain memberikan kemudahan dan akses tak terbatas pada kita sebagai penikmat media, kita dapat menyimpan, memutar kembali, bahkan mengolah imej-imej digital tersebut. Akan tetapi, dibalik semua kemudahan yang ditawarkan oleh dunia digital ini, ada kekurangan yang seringkali tidak kita perhatikan dalam urusan media digital ini. Di dunia grafis, warna merupakan komponen penting yang tidak terpisahkan dari karya-karya grafis ini. Tidak hanya terbatas pada grafis-grafis yang menggunakan banyak tone warna, tapi juga berkaitan langsung dengan grafis-grafis hitamputih.

Ketidaknyamanan yang seringkali menjadi kelemahan dari grafis di dunia digital adalah tingkat keakuratan warna ini. Seringkita temui misalnya, hasil foto atau grafis, yang kita olah menggunakan satu komputer memiliki, kejernihan warna, kecerahan, kontras, ketajaman, dan lainnya. Misalnya, pada saat mengolah foto menggunakan MacOS, output warna yang dihasilkan terlihat berbeda daripada ketika kita mencoba mengolah foto tersebut dengan komputer ber OS windows. Hal ini dikarenakan setingan dan standarisasi warna diantara kedua perangkat yang memang berbeda. Selain itu, ada aspek lain yang mempengaruhi, kecanggihan perangkat salah satunya. Pada monitor/layar berbasis CRT ( Cathode Ray Tube) memiliki kejernihan dan kekayaan warna yang berbeda dengan monitor-monitor high-end yang sering dipakai seperti saat ini. Standarisasi warna digital yang berbeda-beda pula juga mempengaruhi. Seperti yang kita ketahui warna-warna (baik digital dan fisik) di lingkungan kita terbentuk dari pengkomposisian warna RGB (red-green-blue), akan tetapi standarisasi untuk pewarnaan digital mulai berubah karena kebutuhan gelap-terang yang pekat pada alat-alat elektronik, oleh karena itu standar baru mulai diperkenalkan yaitu CMYK (cyan-magenta-yellow-black).

Selain hal-hal di atas, aspek fisik lingkungan juga mempengaruhi, penggunaan layar monitor di ruangan terang dengan di ruangan gelap berbeda akan memberikan pengaruh dan citra warna yang berbeda pula bagi penggunanya. Banyak faktor lainnya yang tidak kalah berpengaruhnya pada kualitas dan persepsi warna digital yang kita lihat, misalnya penggunaan screen-protector pada perangkat kita, settingan standar monitor (brightness, contrast, colour, dst.) Masalah warna dan setingannya di atas, menjadi masalah ketika kita membutuhkan memindahkan imej-imej digital tadi ke bentuk fisik seperti poster, foto dan media cetak lainnya. Terkadang warna yang dihasilkan berbeda dengan yang kita lihat pada layar monitor. Sehingga terkadang kita yang merasa dirugikan oleh keadaan ini. Hal ini mengacaukan penilaian seseorang terhadap kualitas grafis yang dilihatnya. Baik secara estetik maupun secara komposisi. Banyak usaha yang dilakukan untuk menyiasati hal ini, salah satunya dengan metode kalibrasi. Hal ini untuk menyelaraskan antara warna yang tampil di layar monitor semirip mungkin dengan warna pada hasil cetakan. Akan tetapi hal ini tidak dapat benar-benar diandalkan karena perbedaan tetpa saja dapat terjadi karena masalah-masalah lainnya, seperti kualitas perangkat cetak, kemurnian warna tinta, kualitas kertas, dan lainnya. Hal ini membuat saya berargumen, apabila dibandingkan dengan kualitas estetis yang dapat kita temui pada seni-seni klasik seperti lukisan, sculpture, dan sketsa-sketsa, karya-karya seni digital kontemporer, memiliki hal ini sebagai kekurangan yang sulit untuk ditutupi. Lukisanlukisan klasik dinilai berdasarkan kualitas goresan, kedalaman warna, tekstur dan elemenelemen lainnya yang menjadikan karya seni tersebut berkelas dan seringkali menggambarkan kejeniusan dan keahlian dari pembuatnya. Berbeda dengan karya-karya grafis digital yang mudah diduplikasi, pergeseran kualitas, dan seterusnya yang membuat karya tersebut cenderung murahan.

Akan tetapi penilaian tersebut kembali pada diri penikmat seni masing-masing, kualitas goresan dan kedalaman makna sebuah karya seni pada zaman seni kontemporer seperti sekarang ini telah bergeser dan mengalami perubahan, sehingga nilai sebuah karya seni tidak lagi bergantung pada standar-standar baku dan klasik yang seringkali dijadikan patokan.