P. 1
Wanita Lansia Dengan Hipertensi Stage II Pada Keluarga

Wanita Lansia Dengan Hipertensi Stage II Pada Keluarga

|Views: 23|Likes:
Dipublikasikan oleh Dini Desi Harmatiwi
contoh diagnosis holistik
contoh diagnosis holistik

More info:

Published by: Dini Desi Harmatiwi on Apr 09, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2014

pdf

text

original

WANITA LANSIA DENGAN HIPERTENSI STAGE II PADA KELUARGA DISFUNGSIONAL BERAT,EKONOMI KURANG DAN PSIKO-SPIRITUAL-LINGKUNGAN

CUKUP

DINI DESI HARMATIWI/ 20070310081

KASUS
     

  


IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. Rb Jeniskelamin : Wanita Usia : 70 tahun Status : Menikah Alamat : Pringgokusuman GT II/567 RT 30/RW 08 Pekerjaan : Buruh Cuci No.RM : GTL 000512 Tanggal periksa : 17-3-2013 Tempat : Poli Lansia Tanggal kunjungan I/II : 17-1-2013/ 18-1-2013

KASUS

ANAMNESIS
Keluhan utama: tengkuk terasa berat “cengeng” dan kontrol rutin darah tinggi Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang ke puskesmas Gedongtengen dengan keluhan utama tengkuk terasa kurang lebih sejak 3 hari yang lalu. Pasien rutin kontrol ke poli lansia puskesmas Gedongtengen setelah + 1 tahun lalu didiagnosis dengan hipertensi. Pada saat itu, pasien merasakan keluhan sakit kepala dan cengeng seperti yang dikeluhkan sekarang. Pasien kemudian dibawa ke Puskesmas dan dikatakan menderita hipertensi dan diberikan obat yang diminum secara teratur sampai sekarang. Pasien melakukan kontrol rutin di Puskesmas. Keluhan lain : -

 

KASUS
     

Riwayat penyakit dahulu : Keluhan yang sama sebelumnya : (+) Riwayat hipertensi : (+) Riwayat diabetes mellitus : disangkal Riwayat penyakit jantung atau ginjal : disangkal Riwayat alergi : disangkal Riwayat penyakit keluarga : Riwayat penyakit jantung atau ginjal : disangkal Riwayat hipertensi : suami Riwayat stroke : suami Riwayat alergi : disangkal Riwayat diabetes mellitus : disangkal

     

RIWAYAT PERSONASOSIAL

Pasien adalah seorang buruh cuci yang saat ini hanya tinggal berdua dengan suaminya karena ketiga anaknya telah berumah tangga dan sudah tidak tinggal satu rumah dengan pasien. Aktifitas sehari-hari pasien dirasakan cukup berat, meliputi aktivitas mengurus diri,suami, dan pekerjaan rumah seperti memasak dan membersihkan rumah. Selain itu, pasien masih harus bekerja sebagai buruh cuci serabutan di rumah tetangganya. Suami pasien berusia 71 tahun, tidak bekerja, aktivitas fisiknya terbatas setelah terkena serangan stroke 2 tahun silam. Pemenuhan gizi dan pola makan tidak terjaga berhubungan dengan penghasilan pasien yang tidak menentu setiap harinya. Hubungan pasien dengan suami baik, namun pasien sering tidak menceritakan permasalah yang dihadapinya karena tidak mau membebani pikiran suaminya. Hubungan pasien dengan ketiga anaknya kurang baik karena meskipun tempat tinggal berdekatan, mereka jarang mengunjungi pasien maupun suaminya. Jika pasien sesekali meminta uang kepada anak-anaknya, mereka enggan memberikan atau terkesan tidak peduli pada keadaan/kebutuhan orangtua.

KASUS
 

Riwayat psikososial (pekerjaan, perkawinan, sosialisasi dan gaya hidup) : Kepribadian : pasien tidak suka menceritakan atau mengeluhkan keadaan dirinya kepada suaminya karena khawatir akan menambah pikiran suaminya. Ekonomi : Suami pasien tidak bekerja, sumber penghasilan dari penghasilan pasien sebagai buruh cuci serabutan di rumah tetangga yang tidak tentu jumlah dan waktunya. Perkawinan : Pasien menikah pada tahun 1964 dan memiliki 3 orang anak Sosialisasi : Pasien senang bersosialisasi dengan tetangga sekitar tempat tinggal. Mengikuti beberapa kegiatan lansia di daerah tempat tinggalnya.

KASUS


 

PEMERIKSAAN FISIK KeadaanUmum : cukup Kesadaran : Compos Mentis Vital Sign : TD = 180/90 mmHg Nadi = 74 x/menit RR = 20 x/menit Suhu = afebris


 

Status Gizi : Tinggi badan = 153 cm Beratbadan = 44 kg IMT = BB (kg) : (TB)2m = 44 : (1.53)2 = 18,7 kg/m2 (normal) PemeriksaanFisik = DBN

 

KASUS
  

PEMERIKSAAN PENUNJANG Usulan Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan kimia darah (kolesterol total, HDL, LDL, TG)


Diagnostik Klinis Hipertensi stage II Diagnosis Holistik Wanita lansia dengan hipertensi stase II pada keluarga disfungsional berat,ekonomi kurang,dan psiko-spiritual-lingkungan cukup.


KASUS

PENATALAKSANAAN HOLISTIK Farmakologis : Amlodipin 5mg 1x1, HCT 1-0-0, Parasetamol 500 mg 3x1 (kp pusing). Non farmakologis :promotif, preventif, rehabilitative . Edukasi mengenai hipertensi, penyebab, factor resiko, komplikasi, dan pengobatannya. Konseling mengenai terapi nutrisi medis dan aktivitas fisik. Rehabilitatif : Rutin minum obat dan menjalankan terapi nonfarmakologis berupa pembatasan asupan natrium,garam,lemak jenuh,kolesterol,meningkatkan asupan

KASUS

PreventifDengan terapi diet dan aktivitas fisik serta minum obat secara teratur dapat menjaga tekanan darah agar berada dalam batas yang diinginkan.

PromotifMeningkatkan pengetahuan pasien mengenai hipertensi, baik penyebab, factor resiko, komplikasi hingga pengobatannya. Mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam mencapai tujuan penyembuhan pasien

Definisi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah gangguan pada sistem peredaran darah dimana tekanan darah saat pengukuran menunjukkan hasil diatas normal, yakni diatas atau sama dengan 140/90 mmHg

Klasifikasi

Hipertensi esensial, adalah suatu bentuk tekanan darah tinggi yang tidak diketahui penyebabnya atau tanpa tanda adanya kelainan organ didalam tubuh. Hipertensi sekunder, adalah bentuk tekanan darah tinggi yang penyebabnya dapat diidentifikasi.

Etiologi Menurut Klasifikasi

Hipertensi Esensial 90 s/d 95% unknown, sisanya dihubungan dengan kelainan genetik,lingkungan,kelainan metabolisme intraselular. Hipertensi Sekunder renal,renovaskular,adrenal,aorta, kelainan endokrin, neoplasma, toksemia kehamilan

Faktor Predisposisi Hipertensi


     

Usia Jenis kelamin Ras Life style ( ex: pola makan) Merokok Riwayat keluarga Obesitas Aktifitas (sedentary life style)

Gejala Klinis Hipertensi


   

Pusing Sakit kepala Tengkung terasa kaku,kencang,sakit Telinga berdenging Sukar tidur Gejala yang berhubungan dengan komplikasi hipertensi

Dosis obat-obat diuretic (mg/hari) msialnya: bendrofluazid 1,25-2,5, klortiazid 500-100, klortalidon 2550,hidroklortiazid 12,5-25, dan indapamid SR 1,5. Dosis obat-oabat penyekat beta yang direkomendasikan adalah: asebutolol 400 mg sekali atau dua kali sehari, atenolol 50 mg sekali sehari, bisoprolol 10-20 mg sekali sehari, celiprolol 200-400 mg sekali sehari, metoprolol 100-2000 mg sekali sehari, oksprenolol 180-120 mg dua kali sehari, dan pindolol 15-45 mg sekali sehari.

Dosis obat-obat penghambat ACE yang direkomendasikan adalah: kaptopril 6,25-50 mg tiga kali sehari, lisinopril 2,5-40 mg sekali sehari, perindropil 2-8 mg sekali sehari, quinapril 2,5-40 mg sekali sehari, ramipril 1,25-10 mg sekali sehari.

Dosis obat-obat penyakat kanal kalsium yang dianjurkan adalah: amlodipin 5-10 mg sekali sehari, diltiazem 200 mg sekai sehari, felodipin 5-20 mg sekali sehari, nikardipin 30 mg dua kali sehari, nifedipin 30-60 mg sekali sehari, verapamil 120-240 mg dua kali sehari. Dosis obat-obat penyakat alfa yang dianjurkan adalah doksazosin 1-16 mg sekali sehari, dan prazosin 0,5 mg sehari sampai 10 mg dua kali sehari

Penatalaksanaan hipertensi pada lanjut usia, pada prinsipnya tidak berbeda dengan hipertensi pada umumnya; yaitu terdiri dari modifikasi pola hidup dan bila diperlukan dilanjutkan dengan pemberian obat-obat antihipertensi. Obat yang umum digunakan adalah diuretic dan antagonis kalsium, dengan prinsip dosis awal yang kecil dan ditingkatkan secara perlahan. Sasaran tekanan darah yang ingin dicapai adalah tekanan darah sistolik 140 dan diastolic 90 mmHg

Analisis Kunjungan Rumah  Kondisi Pasien Pasien masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari walaupun tengkuk terasa pegal dan kaku. Pasien sering kelelahan karena semua pekerjaan rumah dilakukan sendiri, tanpa bantuan suami. Pasien bekerja sebagai buruh cuci serabutan dengan penghasilan tidak menentu, baik dalam jumlah atau waktunya.  Pekerjaan Pasien bekerja sebagai buruh cuci serabutan dengan penghasilan tidak menentu baik waktu atau jumlahnya. Selain itu pasien masih harus mengurus rumah tangga. Kebutuhan ekonomi dhanya ipenuhi dari uang hasil pendapatan pasien sebagai buruh cuci serabutan. Pasien mengatakan hidup merasa serba kekurangan.  Keadaan Rumah Lokasi :Rumah pasien terletak di pemukiman padat penduduk, di Pringgokusuman GT II/567 RT 30 RW08. Kondisi rumah :Rumah pasien berdinding bata, cukup kokoh dan tidak bertingkat. Luas rumah 5x10 meter dengan jumlah orang dalam satu rumah 2 orang. Rumah tidak mempunyai halaman, depan rumah langsung berhadapan dengan jalan.

Jalan di depan rumah pasien berupa gang sempit berukuran 1 meter. Lantai rumah terbuat dari semen, dinding rumah seluruhnya terbuat dari tembok permanen. Sedangkan atap rumah terbuat dari genting. Kebersihan dalam rumah terkesan kotor dan kurang rapi, sehingga terdapat banyak kotoran dan debu.  Pembagian ruangan :Pembagian ruangan pada rumah yaitu 2 buah ruangan yang dijadikan tempat didur dan 1 ruang tamu dan dapur serta kamar mandi.  Ventilasi : Terdapat 2 buah jendela pada rumah pasien, sirkulasi didapat dari pintu depan, jendela dan lubang ventilasi, udara dan cahaya di dalam rumah cukup baik. Hanya saja kamar tidur tidak memiliki jendela sehingga sedikit gelap dan harus menghidupkan lampu  Kebersihan dan tata letak barang dalam ruangan : kebersihan dalam rumah kurang baik dan tata letak barang-barang dalam rumah berantakan dan kotor. Dasar Sanitasi/sumber air bersih : Sumber air yang digunakan untuk minum, mandi dan mencuci berasal dari sumur. Sumur timba berada di dalam rumah (sebelah dapur) sumur tidak berpenutup. Jarak sumur dengan resapan kurang dari 10 meter.

GENOGRAM

Skor APGAR Keluarga (menilai tingkat kepuasaan anggota keluarga)
RESPON KRITERIA PERNYATAAN Hampir selalu (2) Kadan g (1) Hampir tidak pernah (0)

Adaptasi

Apakah dalam keluarga pasien merasa cukup dalam hal bantuan materiil maupun dukungan moril dari keluarga mendorong untuk mendapatkan pengobatan?

Kemitraan

Apakah pasien puas dengan keluarga karena dapat membantu memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi?

Pertumbuhan

Apakah pasien puas dengan kebebasan serta tidak mendapatkan kekangan dari keluarga untuk mengembangkan kemampuan yang pasien miliki?

Kasih Sayang

Apakah pasien merasa puas dengan perhatian/kasih sayang yang diberikan keluarga?

Kebersamaan

Apakah pasien puas dengan waktu yang disediakan keluarga untuk

menjalin kebersamaa?
Total Kesimpulan Disfungsional keluarga Berat 2

screem
Aspek Sosial Sumber Daya
Interaksi social antara pasien dengan keluarga cukup baik, serta hubungan dengan masyarakat sekitar juga cukup baik.

Patologi

Kultur

Pasien tidak percaya mitos atau klenik yang berkaitan dengan kesehatan

Religius

Keluarga pasien menganut agama islam. pasien rajin melakukan shalat 5 waktu

Ekonomi

pasien bekerja sebagai buruh cuci serabutan, penghasilan digunakan untuk

kebutuhan makan dan sehari- hari dan
dirasakan kurang mencukupi

Pendidikan Kesehatan

Tamat SD Pasien menggunakan puskesmas sebagai tempat pelayanan kesehatan, bila sakit pasien langsung berobat ke puskesmas., karena memiliki asuransi jamkesmas

Identifikasi fungsi keluarga
Fungsi biologis dan reproduksi  Pasien melewati masa produktif usia produksinya. Fungsi afektif  Pasien hidup berdua dengan suaminya, sedangkan anakanakpasien telah menikah dan tinggal dengan keluarganya masing-masing. Fungsi ekonomi  Pasien bekerja sebagai buruh cuci serabutan, penghasilan tidak tentu jumlah dan waktunya, dirasa kurang mencukupi kebutuhan sehari-hari Fungsi religius  Pasien dan keluarga termasuk keluarga yang religius Fungsi sosialisasi dan pendidikan  Pendidikan terakhir pasian adalah SD Fungsi sosaial dan budaya  Pasien termasuk orang yang supel dan bergaul secara normal dilingkungan tempat tinggalnya.

Diagnosis Kedokteran Keluarga
Diagnosis medik Hipertensi Grade II Bentuk keluarga nuclear family Fungsi keluarga : disfungsi berat Fungsi ekonomi kurang, fungsi psikologi,spirpitual,dan lingkungan cukup Diagnosis Kedokteran Keluarga wanita lansia dengan hipertensi stage II pada keluarga disfungsional berat, ekonomi kurang, dan psiko-spiritual-lingkungan cukup.

KESIMPULAN

Diagnostik holistic pada pasien ini adalah Wanita lansia dengan dislipidemia pada keluarga disfungsional sedang dan psikoekonomi-spiritual-lingkungan yang cukup. Penatalaksanaan meliputi modifikasi gaya hidup berupa terapi diet,aktivitas fisik dan medikasi. Keberhasilan penatalaksanaan penyakit pasien bergantung pada motivasi dan dukungan keluarga terhadap penyakit pasien.

Daftar Pustaka

a. Braunwald E, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL. Harrison’s manual of medicine 16th ed. McGraw-hill international edition. Boston. 2002: 679 b. JNC-VII, The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure, JAMA 2003, 289(19), 2560-72. c. American Heart Association. “Statistics You Need To Know.” Available at: http://www.americanheart.org/presenter.jhtml?identifier=107. d. American Heart Association. “High Blood Pressure.” Available at: http://www.americanheart.org/presenter.jhtml?identifier=4623. e. Review of Clinical Hypertension. The American Society of Hypertension. 2005

SEKIAN, TERIMAKASIH

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->