Anda di halaman 1dari 7

Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT.

Karena atas izin-Nya tugas PKM yang berjudul Mengurai dan Mengatasi Kemacetan di Ibukota ini dapat terselesaikan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Organisasi Internasional ke-2 yang diberikan oleh Bapak Dudy (cari ya dut nama lengkap sama gelar dia apa) selaku dosen yang mengajar mata kuliah ini. Terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung penulis baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan PKM ini. Semoga PKM ini dapat berguna untuk kita semua terutama untuk masyarakat DKI Jakarta dalam mengentaskan masalah kemacetan yang demikian tak kunjung terselesaikan. Mohon maag bila ada kesalahan yang kami buat dalam penyusunan PKM ini. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk membant u kami dalam membuat PKM yang lebih baik lagi. Jatinangor, 23 Febuari 2013 Hormat Kami,

Tim Penulis

Lampiran data

Secara teoritik, kemacetan disebabkan oleh arus yang tidak stabil, kecepatan tempuh kendaraan yang lambat serta antrian kendaraan yang panjang. Hal ini biasanya terjadi pada konsentrasi kegiatan social ekonomi atau pada persimpangan lalu litnas di pusat-pusat perkotaan. Kemacetan yang sedemikian parahnya yang terjadi di Jakarta dapat ditinjau dari 2 sisi, yakni sisi supply dan sisi demand. anatomi kemacetan dapat dilihat secara sistematik pada gambar berikut: skemanya di copy ya dut dari http://www.pu.go.id/isustrategis/view/24 Sebagian dari faktor-faktor penyebab tersebut bisa di lihat bahwa laju pertambahan jalan di Jabodetabek adalah 1% per tahun, sedangkan laju pertambahan kendaraan mencapai 11% per tahun. Volume yang tidak sebanding antara jumlah kendaraan dan panjang jalan menyebabkan kemacetan yang parah pada jam-jam tertentu.

Latar Belakang Ibukota adalah kata yang terlintas jika kita berbicara tentang Jakarta. Kemacetan yang terjadi tidak dapat terelakkan lagi bahkan semakin mengkhawatirkan. Berbagai solusi telah ditawarkan, namun tidak ada satupun berjalan efektif untuk mengatasinya karena hal ini cenderung terpilah-pilah, tidak sistematis dan tidak kontinu. Kita bisa melihat tata ruang Ibukota-ibukota dari negara lain yang sudah terbebas dari permasalahan macet ini. hal ini bisa menjadi acuan Pemda Jakarta untuk mencari solusi terbaik dalam mengatasi kemacetan. Melihat kompleksitas permasalahannya, tidak ada kata yang lebih tepat selain koordinasi yang lebih baik dan intensif antara pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam penataan ruang kawasan Megapolitan ini. Upaya penyelesaian masalah ini seharusnya bersifat menyeluruh, berdimensi jangka panjang dan bersifat sutainable. oleh karena itu kami memberikan beberapa alternative solusi permasalahan

transportasi di DKI Jakarta dengan mengembangkan MRT System, pengembangan jalan-jalan Ibukota, perubahan struktur pajak kendaraan bermotor, Menetapkan tariff untuk masuk jalan protocol, Perbaikan manajemen transportasi bahkan hingga pelebaran jalan dan penambahan ruas alur jalanan Ibukota. Tujuan dan Manfaat yang Ingin Dicapai Mengatasi kemacetan jalan di Ibukota Jakarta bukan merupakan perkara yang mudah. oleh karena itu kami ingin menguraikan perkara permasalahan kemacetan dan mencari akar permasalahan tersebut sehingga mendapatkan solusi-solusi yang diharapkan bisa mengurangi bahkan mengentaskan masalah kemacetan. Berkaca dari tata ruang Ibukota-ibukota negara di dunia ini sudah seharusnya tata ruang Jakarta di ubah. Kemacetan pada dasarnya disebabkan oleh adanya penumpukkan jumlah kendaraan bermotor yang tidak sesuai dengan ruas jalanan yang ada. Dengan perubahan tata ruang di Jakarta setidaknya bisa melakukan perlebaran hingga penambahan ruas jalanan Ibukota. Tambahan buat point anak-anak ya dut Perbaikan Manajemen Transportasi Dengan adanya pengangkatan supir angktuan umum baik bis, angkot ataupun transportasi umum lainnya menjadi milik pemda adalah sebuah ide yang baik. Bisa dibilang mereka di angkat menjadi pegawai pemda Jakarta. Mereka mendapatkan uang gaji bulanan setiap bulannya dan mereka hanya melakukan tugasnya tanpa harus di kejar dengna uang setoran. Hal ini bisa mengatasi masalah angkutuan umum yang ugal-ugalan dan angkutan umum yang ngetem. Dengan penganangan pemda angktuan umum bisa mendapatkan perlakuan yang sesuai sehingga bisa dibuat senyaman dan sebaik mungkin sebagai transportasi umum. Bis-bis yang dikeluarkan hanya bis-bis besar yang bisa menampung banyak orang sehingga mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Perlebar titik-titik macet di Jakarta dan beri jalan layang/terowongan Pembuatan jalan baru atau melakukan pelebaran jalan tentu dapat menambah kapasitas jumlah kendaraan yang dapat ditampung namun tidaklah mudah mengangi pembebasan lahan yang padat dengan penduduk yang sudah membuat bangunanbangunan. Tetapi hal ini bisa di lakukan jika pelaksanaan peraturan daerah lebih ditegaskan. dengan adanya pembebasan lahan seharusnya dilakukan dengan adanya pembangunan perumahan-perumahan murah bersubsidi untuk menampung warga yang mengalami pembebasan tanah. Pada titik-titik macet di ibukota harus diadakan pelebaran jalan dan melakukan beberapa pembebasan lahan, ataupun dibuat jalan layang yang tidak terhambat oleh kemacetan lampu merah. Jalan layang ini diharapkan dengan penambahan ruas jalan tol yang diperpanjang hingga melewati pintu masuk tol tersebut. Pembuatan jalan layang seperti yang telah di bangun pada jalur ancol-cawang terbukti dapat mengatasi masalah kemacetan, dimana pada jalan layang diperuntukkan sebagai jalan tol khusus kendaraan beroda empat atau lebih sedangkan pada jalan raya di bawahnya untuk jalur umum. Adanya Transportasi air Ini adalah masalah yang kompleks karena harus di benahi perumahan kumuh di pinggir sungai, sungai yang bebas dari sampah dan limbah, serta adanya jembatanjembatan yang harus dipertinggi hingga perahu atau kapal bisa lewar. Namun ini adalah ide yang bisa digunakan untuk mengatasi kemacetan di jalan raya. Banjir kanal barat dan banjir kanal timur harusnya bisa didayagunakan untuk angkutan air. Jerman berhasil membuat angkutan umum dnegan kanal-kanalnya yaitu Elbe-Havel Canal sepanjang 56 km dan Mitteland sepanjang 325 km dengan panjang total 381 km dan lebar 60 m yang menghubungkan Jerman, Perancis, Swis, Benelux dan Laut Baltik. sehingga sekedar 30 km untuk Jakarta seharusnya bisa terealisasikan.

pelebaran dan pendalaman Kali Ciliwung juga bisa membuat sungai ini sebagai jalan baru untuk transportasi air. Gunakan Mass rapid Transportation (MRT) Mengurangi kendaraan yang aada memang dapat mengurangi kemacetan yang salah satunya dengan menganjurkan masyarakat untuk tidak mengunakan kendaraan pribadi sehingga beralih menggunakan MRT sebagai sarana transportasi umum. Mass rapid Transportation memang ide yang seharusnya sudah terealisasikan sejak dulu. tetapi melihat Ibukota yang sering dilanda banjir itu hal ini membuat perencanaan yang tertunda. MRT sebenarnya bisa di buat seperti rel KA ataupun ada di tengah jalan tol, tidak harus selalu di bawah tanah. seperti Trem yang ada di atas kota Rotterdam. Yang penting jalurnya harus bebas dan steril dan melewati titik-titik kemacetan di Ibukota. Dengan adanya proyek Busway memang sudah bisa mengalihkan masyarakat untuk tidak menggunakan kendaran pribadi tetapi hal ini tidak sebanding dengan pelebaran jalan sehingga jalan raya makin dipersempit untuka danya jalur busway ini. Dan pada akhirnya hanya menambah kemacetan yang lebih panjang, Memindahkan pusat bisnis dan Ibukota Hal ini merupakan ide yang berhasil mendistribusikan penduduk sehingga tidak menumpuk di ibukota. Amerika contohnya Washington DC yang merupakan ibukota hanya menempati urutan ke 27 kota terpadat dengan jumlah penduduk sekitar 550 ribu jiwa. Sementara New York yang merupakan pusat bisnis di urutan pertama dengan 8,1 jiwa dan Los Angeles yang merupakan pusat hiburan di urutan kedua dengan jumlah penduduk 3,8 juta jiwa. Sulit dipungkiri bahwa semua orang berdatangan ke ibukota untuk mengadu nasib bahkan mencari kehidupan yang lebih baik lagi. Hal ini membuat semakin bertambahnya jumlah penduduk di Jakarta,

sehingga dengan memisahkan pusat bisnis dan Ibukota seharusnya bisa mengurangi jumlah penduduk dan jumlah kemacetan. Perubahan struktur pajak kendaraan bermotor Tariff pajak kendaraan bermotor seharusnya lebih diperketat lagi dengan adanya pajak yang lebih tinggi pada pembelian kendaraan bermotor kedua, ketiga dan seterusnya. Memang membatasi produsen kendaraan bermotor sangatlak sulit tetapi hal ini bisa di atasi dengan membatasi penggunaan kendaraan itu di jalan, seperti dengan adanya peraturan three in one. Hal ini seharusnya bisa diberlakukan di semua titik-titik kemacetan ibukota sehingga mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. pada awal 2011, DKI sudah melakukan pajak progresif untuk kendaraan bermotor yakni 1,5% dari nilai jual untuk nedaraan pertama, lalu 2% dari nilai jual kendaraan kedua, selanjutnya 2,5% untuk kendaraan keempat dan 4% untuk kendaraan berikutnya. Namun hal ini belum ada langkah nyata, karena melihat financial masyarakat yang tidak memungkinkan akibat pengaruh ekonomi dalam negeri maupun global, bisa saja kenaikan pajak ini tertunda. Menetapkan tariff untuk masuk jalan protocol System ini dekanl sebagai system road pricing atau pembenahan biaya bagi pengemudi kendaraan yang akan memasuki kawasan tertentu yang dikenal padat atau kawasan bisnis. Di Singaprua saja ada yang disebut dengan elektronic road pricing sebesar 1,5 hingga 3 Dollar Singapura. namun semua solusi ini baru efektif manakala pemerintah daerah Jakarta membangun infrastruktur dan angkutan umum yang jauh lebih baik dan efisien dibandingkan dengan Yang ada sekarang ini. lalu adanya antrian kendaraan untuk membayar jalan tol sering membuat kemacetan. Contohnya pintu masuk tol Tebet Barat 2 yang membuat macet hingga ke jalan layang arah Mampang. Sementara pintu tol semanggi juga menimbulkan kemacetan yang sama parahnya. Seharusnya pembayaran bukan di pintu masuk tetapi di pintu keluar tol.

sehingga pantrian pembayaran tidak memacetkan pengguna jalan lainnya karena masih berada di jalan tol. tambahan kesimpulan buat iki Apa yang kami kemukakan di atas sangatlah mungkin sudah dipikirkan oleh pejabat yang berkepentingan, Para ahli ataupun pemerhati transportasi. namun pada kenyataannya sampai saat ini belum ada perubahan yang signifikan dalam menghadpi masalah kemacetan ibukota. Di negara ini terlalu banyak orang pintar, namun sangatlah sedikit orang yang bisa atau mau mengimplementasikan ilmu yang dimilikinya. Mungkin jugasangat berhubungan dengan kesejahteraan. memang diperlukan dana yang tidak sedikit dalam merealisasikan ide-ide tersebut. Namun jika tidak dilakukan sesegera mungkin, dua atau lima tahun lagi Jakarta akan menjadi kota paling macet bahkan akan mempengaruhi pertumbuhan kota ini pada akhirnya.