Anda di halaman 1dari 7

REFARAT PSIKIATRI

DEVELOPMENTAL COORDINATION DISORDER

OLEH

VERONICA KEZIA OLSUIN 080 111 233

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO 2012

Daftar isi

BAB I PENDAHULUAN

Anak yang sehat, cerdas, berpenampilan menarik, dan berakhlak mulia merupakan dambaan setiap orang tua. Agar dapat mencapai hal tersebut terdapat berbagai kriteria yang harus terpenuhi dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, salah satunya adalah faktor keturunan atau genetika. Namun, selain faktor keturunan masih terdapat faktor lain yang mempengaruhi kualitas seorang anak. Perkembangan (development) adalah pertambahan kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks. Perkembangan menyangkut adanya proses diferensiasi sel-sel, jaringan, organ, dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. (Soetjiningsih, 1998; Tanuwijaya, 2003). Menurut ASA (American Psichiatryc assosiation) tahun 2000, Developmental coordination disorder (gangguan koordinasi perkembangan) merupakan suatu kelainan kronis dan biasanya permanen yang sering ditemukan pada anak-anak, ditandai dengan koordinasi motorik yang lambat, sehingga mengganggu aktifitas anak sehari-hari. Ciri-ciri anak dengan gangguan ini seperti canggung dalam belajar, lama dalam melakukan kegiatan seperti : duduk, membaca, merangkak, berjalan, dll., biasanya disertai juga dengan gangguan belajar, gangguan komunikasi, gangguan perilaku mengganggu, dan hiperaktif. Amak-anak dengan DCD sering dianggap bodoh atau aneh oleh orang tua ataupun guru disekolah , dikarenakan oleh kelainan motorik yang lambat. Dan biasanya anak-anak dengan DCD mempunyai intelektual dibawah normal. Penelitian mengatakan kebanyakan kelainan ini

terdapat pada anak-anak usia 5-11 tahun, demana prevalensi laki-laki lebih banyak dari pada perempuan.

BAB II PEMBAHASAN

a. Definisi Menurut ASA (American Psichiatryc assosiation) tahun 2000, Developmental coordination disorder (gangguan koordinasi perkembangan) merupakan suatu

kelainan kronis dan biasanya permanen yang sering ditemukan pada anak-anak, ditandai dengan koordinasi motorik yang lambat, sehingga mengganggu aktifitas anak sehari-hari.

b. Etiologi Ada beberapa faktor yang menyebabkan gangguan, hipotesisnya adalah karena adanya prematuritas, hipoksia, malnutrisi prenatal, berat badan lahir rendah, kelainan neurokimiawi. c. Manifestasi
Manifestasi DCD tergantung usia dan perkembangan Misalnya : Anak : clumsiness dan keterlambatan perkembangan motorik (merangkak, duduk,

memasang tali sepatu dan kancing baju dll) Anak yang lebih besar : mencocokkan puzzle, bermain bola, menggambar atau menulis Dewasa : motorik halus tidak terampil

Selain hal tersebut diatas, Gangguan juga ditandai dengan kinerja dalam aktivitas yang memerlukan koordinasi motorik yang lambat, anak dengan gangguan ini

canggung dalam belajar, lama dalam melakukan kegiatan seperti : duduk, membaca, merangkak, berjalan, dll., biasanya disertai juga dengan gangguan belajar, gangguan komunikasi, gangguan perilaku mengganggu, dan hiperaktif. d. Diagnosa
CIRI-CIRI DIAGNOSTIK

Gangguan yang jelas pada perkembangan koordinasi motorik Diagnosis ditegakkan bila gangguan ini secara signifikan mempengaruhi

pencapaian akademis Gangguan koordinasi tidak disebabkan oleh kondisi medis (cerebral palsy,

muscular dystrophy) atau termasuk dalam criteria PDD Jika disertai Retardasi Mental, maka kesulitan motorik merupakan akibat dari

kondisi ini CIRI-CIRI KHUSUS DIAGNOSTIK PADA ANAK a. Keterlambatan perkembangan (misal : duduk, merangkak, jalan,bicara) b. Karakteristik fisik : - Hipotonus, misal : sulit duduk tegak, perhatian mudah beralih karena konsentrasi menjaga keseimbangan Ligamentous Laxity (sendi yang sangat lentur), misal : W sitting

- Gangguan Keseimbangan Dan Koordinasi, misal : lari, lompat, menendang bola, berdiri satu kaki - Gangguan Koordinasi Bilateral (kesulitan koordinasi kedua sisi tubuh), misal : kesulitan menggunting, menulis atau memakai baju, naik sepeda Immature Group And Poor Dexterity (kesulitan memanipulasi obyek yang

kecil), misal : memasang kancing, memegang pensil

- Kesulitan Mengontrol Pensil Dalam Menggambar Dan Menulis, misalnya anak menghindari dan mengalihkan perhatian dari kegiatan menulis, tulisan bervariasi besarannya dan dapat ke atas/bawah garis - Kesulitan Persepsi. Misal : tidak mampu menyimak instruksi dan mengulangi pertanyaan yang diajukan, kesulitan menyalin tulisan dari papan tulis c. Kesulitan mengorganisir pekerjaan d. Kesulitan manajeman waktu, misal : tidak menyelesaikan pekerjaan tepat waktu e. Kesulitan membaca dan matematik f. Kesulitan komunikasi dan sosial : - Dapat tumpang tindih dengan sindrom Asperger - Kesulitan mengartikan pesan non verbal dari orang lain, kontak mata, memahami aturan permainan, menggunakan bahasa secara fleksibel dan adaptif g. Kesulitan berbahasa (reseptif dan ekspresif) : - Menyimak tapi tidak memahami - Tampak jelas bila anak banyak bicara - Kemungkinan berhubungan dengan kesulitan Auditory Sequential Memory