Anda di halaman 1dari 2

KISAH MENCETAK KEMBALI PRASASTI PURNAWARMAN Cara mencetak Cara membuat cetakan cukup menarik untuk diketahui oleh

umum. Dari orientasi pendahuluan, segeralah diketahui berapa besar ukuran prasasti yang berada di tengahtengah sungai Nenekmoyang itu. Untuk ukuran 2m x 1 1/2m dibututuhkan bubuk gips seberat 300 Kg semen sebagai pencampur 1/10-nya gips, berati 1 sak. Juga kawat ukuran 5 mm sepanjang 25 m ditambah kawat kandang ayam seukuran batu prasasti. Kawat-kawan ini dipakai nantinya seperti fungsi beton bangunan. Tidak boleh dilupakan pula vaselin satu kaleng (= 1 Kg). Tahap selanjutnya adalah membersihkan batu prasasti dengan cermat. Disikat. Seluruh bagian prasasti, huruf-huruf dan gambar-gambar atau lekak-lekuk bahkan sampai ke pori-pori batu, dipoles dengan vaselin. Jangan ada yang sampai tidak kena poles. Maksudnya, kalau semua sudah kena polesan, maka tidak akan ada yang lengket dengan gips kalau sudah kering. Jadi mudah dicopot kembali. Keadaan gips dan semen yang sudah jadi bubur diusahakan tidak begitu cepat mengering. Kalau sudah menempel pada batu prasasti, segera ditutup dengan kertas atau plastik. Agar kalau hujan turun, tidak kebasahan. Yang menjadi problim ketika sungai Cidangiang, adalah makin meningkatnya permukaan air setelah turun hujan. Terpaksa penyemenan ditunda. Menunggu cuaca normal kembali. Proses pengeringan gips berlangsung sekitar delapan Jam. Penyemenan tidak bisa secara total menyeluruh, tetapi sebagian demi sebagian. Misalnya: bagian kiri-atas merupakan satu bagian. Kiri-bawah-tengah satu bagian lagi, demikian pula kiri paling bawah, Menyusul tengah-atas, sentral, dan tengah-bawah. Begitu seterusnya, sampai seluruhnya tertutup gips.Jangan pula dilupakan mengikatnya dengan tali. Setelah dicopot, sebagian demi sebagian dibungkus dengan kertas sampai tebal hingga tidak pecah atau retak kalau terbentur. Dengan demikian kita sudah memiliki pencetak batu prasasti lengkap dengan huru-hurufnya. Kita tinggal menyerahkan kepada pemborong posisi di sebelah mana batu prasasti tiruan nantinya diletakkan di dalam ruangan museum. Dan kalau dilihat sepintas, tampak lebih bagus dari prasasti aslinya, 100% persis. Mungkin yang asli di tengah-tengah sungai, demikian juga masih berada di pedalaman Bogor, bisa rusak, bahakan dikuwatirkan dihanyutkan banjir besar, atau dirusak tangan-tangan jahil.Jelaslah sudah bahwa pembuatan duplikat mempunyai nilainilai positif, baik untuk menolong mereka yang tidak sempat pergi melihat ke tempat aslinya yang jauh dan sukar, maupun untuk meringankan beban para peneliti.

Prasasti adalah piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama. Bahan ini biasanya berupa batu atau lempengan logam, biasanya dari tembaga. Kata ini dipilih karena memiliki arti yang sama dalam Bahasa Sansekerta dan Bahasa Jawa (Kuna), yang merupakan dua bahasa yang sering digunakan untuk menulis prasasti di Indonesia pada masa lampau. Ada beberapa istilah lain untuk prasasti. Dalam Bahasa Latin, prasasti disebut inskripsi. Di Malaysia, istilah yang sering dipakai adalah "batu bersurat" atau "batu bertulis". Meskipun maknanya lebih mudah ditangkap, tetapi pengertiannya lebih sempit