Anda di halaman 1dari 10

Perubahan Lingkungan di Kepulauan Pasifik 21/02/2010kampus mayaTinggalkan komentarGo to comments

Penulis : Irfan Afriandu Mahasiswa Arkeologi Kampus Universitas Indonesia Dugaan stereotypic pulau pacific sebagai suatu ekologi yang tidak mengalami perubahan dengan kesamaan batu karang, danau di tepi laut (lagoon), dan perbukitan di hutan tidak akan jauh dari kenyataan sebenarnya. Ekosistem pulau polinesia menunjukkan variabilitas lingkungan pada range yang sangat luar biasa dengan konsekuensi yang signifikan untuk adaptasi secara teknologi dan perilaku social. Kolonisasi nelayan yang tiba di Marqueses, sebagai contohnya, terpaksa harus memodifikasi strategi menangkap ikan mereka dari strategi yang sebelumnya mereka gunakan pada lagoon tropikal di polinesia barat. Hal ini dan perubahan-perubahan lain pada lingkungan yang dihadapi oleh kolonisasi di polionesia merupakan proses permulaan yang signifikan yang akan mengarahkan pada perbedaaan masyarakat polinesia. Bagaimanapun juga peranan lingkungan dalam perubahan budaya jauh lebih komplex dibandingkan dengan variabilitas geografis antar pulau. Semakin banyak arkeologis di polinesia telah menyadari aspek dinamika dari ekosistem pulau yang terus berubah sepanjang waktu dan hal ini akan menjadi fokus dari bab ini. Dinamika lingkungan di polinesia dihasilkan sebanyak atau lebih, dari perbuatan yang dimiliki oleh manusia sebagai pross alamiah. Pada lingkungan akademis tertentu sebagai lingkungan yang populer telah muncul tesis yang mengungkapkan bahwa orang-orang oceania prasejarah sangat gemar mempraktekkan Percakapan etnik yang mengarah pada kebiasaan di pulau mereka.dan perubahan ekologikal yang utama tidak terjadi hingga setelah kedatangan orang eropa. Bukti terbaru menunjukkan bahwa pandangan tersebut tidak benar dan seseorang menduga bahwa skala kebenaran dari pengaruh manusia prasejarah pada pulau pasifik tidak sepenuhnya tercakup baik oleh ilmuan prasejarah atau ilmuan alamiah (Kirch 1982a; 1982b; 1983b; Springgs 1981). Seperti yang dikatakan oleh geografer Perancis Ravault mengenai Tahiti: le milieu Physique est plus ou moins fragile, mais dans une large mesure, ce sont les hommes qui en decident (1980:52). Pada bab ini, data arkeologi dan lingkunganpalaco disusun untuk mendemonstrasikan bahwa masyarakat polinesia secara aktif termanipulasi, termodifikasi, dan pada waktunya mendegradasi kebiasaan mereka di pulau tersebut menghasilkan

perubahan ekologi yang penuh dengan konsekuensi besar untuk arah evolusioner dari masyarakat polinesia. Perubahan Direksional pada Lingkungan Pulau Diberikan periode waktu yang singkat, dalam masa geologi, bahwa manusia telah menempati polinesia, seseorang cenderung mengasumsikan bahwa bentang daratan pulau mungkin dianggap sebagai konstanta relatif. Lebih lanjut, dengan mengesampingkan saat manusia melakukan modifikasi pada bentang daratan, kita sekarang memiliki bukti untuk transformasi lingkungan orde pertama yang diakibatkan oleh proses alamiah yang terjadi sepanjang abad. Pertimbangkan kasus Niuatoputapu, sebuah pulau volkanik kecil yang terletak sepanjang pinggiran cekungan Tonga yang dalam, sebuah zona tektonik yang aktif di mana plat pasific tersubduksi di bawah plat Fuji. Investigasi arkeologis di pulau Tonga pada Niuatoputapu (Kirch 1978a) mengungkapkan bahwa sisi Lapita dibatasi oleh zona sempit yang terletak serta merta pada pedalaman garis pantai yang dahulu kala. Garis pantai ini sekarang terletak sejauh 2 km dari batas pantai yang sekarang, rintangan daerah yang dihadapi terdiri dari low-lying, deretan batuan karang yang terangkat dan dataran yang berpasir (lantai langoon terdahulu). Jadi pada waktu permulaan kolonisasi manusia dengan pembentukan perkampungan, tahun 800 sebelum masehi, Niuatoputapu lebih kecil dibandingkan sekarang dan dikelilingi oleh jauh lebih banyak ekosistem batu karang dan langoon yang luas dibandingkan masa sekarang. Pengangkatan tektonik yang terjadi sedikit demi sedikit (yang berlangsung hingga saat ini) meninggikan batuan karang dan lagoon ini lebih cepat dibandingkan dengan penggandaan/ perluasan wilayah terestrial. Karena adanya pengangkatan, daratan baru kekurangan pengembangan tanah yang sebenarnya tidak berarti untuk penghidupan agrikultural, konsekuensi penyesuaian dari perubahan lingkungan mayoritas negatif, sumber daya laut dari pulau berkurang dengan cepat tanpa adanya peningkatan potensial yang bersamaan untuk produksi terestrial. Tikopia menyediakan bukti dari transformasi lingkungan yang serupa (Kirch dan Yen 1982). Pada kasus ini, perubahan dari garis pantai mungkin diinisiasi oleh pengangkatan tektonik, tetapi terutama oleh aktivitas badai-ombak, atau oleh kombinasi kedua gaya tersebut. Apapun yang menyebabkannya, modifikasi bentang daratan ditemukan, dengan penambahan sedikit demi sedikit daratan rendah berkapur yang meningkat sebesar 41% dari total area daratan. Lebih jauh lagi, penambahan daerah berpasir atau Tombolo menghasilkan perubahan dari teluk berair asin menjadi danau air payau. Pengakhiran teluk ini, suatu peristiwa yang belum teralalu lama (1400 setelah

masehi) di Tikopia pada masa prasejarah, memiliki konsekuensi perubahan yang serius bagi penghuni di sekitar teluk yang dahulu memiliki banyak sumber daya kerang-kerangan dan ikan. Akan tetapi dengan perubahan salinitas sumber daya tersebut hilang. Seperti pendapat yang disampaikan oleh Kirch dan Yen (1982:365-8), transformasi lingkungan ini merupakan faktor utama pada persaingan dan peperangan interdaerah yang dihubungkan dengan tradisi lisan Tikopia (Firth 1961). Contoh pararel dari perubahan jangka panjang bentang daratan akan mengungkapkan tambahan rangkaian kerja arkeologi di Pasific. Di Hawai contohnya, rawa kawainui yang besar di Oanu merupakan lautan terbuka sekitar 1500 tahun yang lalu (Kraft, Komunikasi personal, 1980), yang akan menjelaskan keberadaan sisi polinesia yang mula-mula sepanjang batas pedalamannya (Kelly dan Clark, 1980). Tentunya merupakan keharusan di sepanjang prasejarah polinesia untuk mencari secara aktif bukti-bukti utama perubahan bentang alam dan pandangan statik tentang lingkungan dengan sederhana tidak dapat diterima karena manusia telah mendiami pulau tersebut hanya selama beberapa millenium. Perubahan iklim jangka panjang merupakan jenis lain dari transformasi lingkungan yang terjadi secara perlahan yang berpotensi memberikan arti penting bagi prasejarah polinesia, tetapi untuk daerah diluar New Zealand biasanya diabaikan. Pada pulau New Zealand yang luas dengan iklim sedang, bukti fisik untuk perubahan iklim lebih jelas dan hubungan dari bahkan perubahan iklim yang minor untuk penyesuaian polinesia dikenali oleh ahli prasejarah mulamula. Pada artikel seminar, Yen (1961) mengajukan hipotesis bahwa iklim yang sedikit hangat pada masa sebelum hingga 1200 setelah masehi, seperti yang disarankan oleh Raeside (1948) dan Holloway (1954), mungkin telah memperbolehkan produksi awal kentang manis dari polinesia timur tropis hingga New Zealand. Kemerosotan akibat iklim telah menyediakan dorongan dan waktu bagi Maovi untuk menemukan metode untuk melindungi tanamannya (Yen 1961:342), yaitu untuk menyesuaikan pengembangan kentang manis dari tanaman yang ditanam terus-menerus sepanjang tahun menjadi basis tahunan dengan penyimpanan akar umbinya sepanjang musim dingin. Model iklim Yen diadopsi oleh beberapa ahli prasejarah (seperti Green, 1963) dan sebuah debat telah terjadi mengakhiri tingkat dan peranan perubahan iklim di New Zealand pada masa prasejarah (Cumberland 1962a; Holloway 1964; Gorbey 1967). Belakangan ini, Leach dan Leach (1979b), mengacu pada pekerjaan Wardle (1973) dan ilmuwan natural lainnya berpendapat bahwa iklim optimum antara tahun 900 dan 1500 setelah masehi memperbolehkan

keberhasilan penanaman kumara dan labu manis di daerah Wairarapa (Pulau Utara). Kemunduran iklim selanjutnya merupakan penyebab utama ketertinggalan perkampungan di Teluk Palliser (Leach dan Leach 1979b:238). Penempatan ini bagaimanapun juga tidak diterima oleh semua arkeologis New Zealand, dan kita boleh berharap perdebatan tersebut berlanjut. Sayangnya, kita tidak tahu apapun yang sebenarnya dari kemungkinan pergeseran iklim pada pulau polinesia yang lain selama dua hingga tiga ribu tahun yang lalu. Catatan glasial dari Mauna Kea, Hawaii (Porter 1975) mengindikasikan siklus iklim yang signifikan pada orde ribuan tahun yang lalu dan secara keseluruhan sangat memungkinkan bahwa juga terdapat frekuensi siklus pada orde yang lebih tinggi. Bahkan peningkatan yang kecil pada curah hujan musim dingin di tanah yang gersang, peluang leeward pada hawaii akan menghasilkan perbedaan antara satu atau tidak ada hasil panen dari kentang manis dan akan menjadi catatan keberadaan keistimewaan agrikultural yang dicatat oleh arkeologis pada pinggiran daratan saat ini (contohnya keistimewaan penggenangan air irigasi yang dicatat oleh Rosendahl [1972b] di Kohala Selatan atau keistimewaan agrikultural yang hanya berlangsung pada jangka waktu yang sangat singkat di Kaewla, Molokai [Weisler dan Kirch 1981]). Tentunya, masalah perubahan iklim jangka panjang di kepulauan pasific pantas mendapatkan lebih banyak perhatian dibandingkan dengan yang diterima saat ini. Pentingnya Bahaya Lingkungan Mereka yang tidak memiliki pengalaman di kepulauan Pasific pada awalnya, mungkin akan menemukan konsep bahwa bahaya lingkungan tidak layak pada suatu daerah yang tercatat pada stereotype sebagai surga tropis. Gangguan atau keterombangambingan lingkungan secara terus menerus merupakan kenyataan yang sungguh terjadi di hampir sepanjang polinesia dan menunjukkan tantangan-tantangan penyesuaian yang signifikan untuk populasi pulau pada masa prasejarah. Bahaya lingkungan yang paling mengancam di polinesia adalah kekeringan dan angin topan tropis. Akibat utama dari kedua bahaya tersebut yaitu pada produksi pertanian dengan kelaparan sebagai konsekuensinya, angin topan juga merusak properti dan termasuk juga nyawa manusia. Ditegaskan bahwa musim hujan dan panas mengkarakterisasi banyak pulau-pulau di Polinesia, dan ketika periode curah hujan rendah lebih kering atau lebih panjang dibandingkan dengan kondisi biasanya, konsekuensinya untuk sistem pertanian pribumi bisa menjadi malapetaka. Pada tahun 1976, saya menyaksikan efek dari kekeringan tiga bulan di Niuatoputapu dari

akhir bulan Juli hingga Oktober. Efek yang paling berat yaitu pada penanaman Aroid, terutama keladi (Colosia esculenta); dimana merupakan kebun yang subur pada bulan Juli berubah menjadi kebun yang coklat yang kemudian layu tangkainya (Gambar 35) tiga bulan kemudian. Kawanan babi juga mengalami efeknya, kubangan mengering dan anak kuda mati karena kehausan. Pada bulan Oktober, kekeringan telah menjadi topik diskusi yang serius dan menjadi perhatian. Untungnya, persediaan tepung terigu yang dikirim oleh pemerintah dari Tongatapu mencegah bencana tetapi secara tradisional, pulau tersebut harus mengandalkan sumber dayanya sendiri. The Marquases cenderung mudah mengalami kekeringan dan pada pandangan Handy, curah hujan yang tidak tentu dan kekeringan ini adakalanya berakibat secara langsung pada budaya orang pribumi (1928:8). Adamson (1936:17) memperhatikan bahwa kekeringan menghasilkan kegersangan yang ekstrim pada daratan yang lebih rendah dan hasil pertanian tidak diragukan lagi akan mengalami efek yang berat. Kekeringan yang menyebabkan kelaparan berperan mengurangi pertumbuhan populasi dan Suggs menghubungkan bahwa kelaparan antara tahun 1803 dan 1813 diketahui telah menyapu sekitar dua per tiga populasi dari Nukuhiva (1961:191). Seoarng lelaki kulit putih yang hidup sederhana, Robarts memiliki pengalaman secara langsung dengan kelaparan, ia memperhatikan efek yang sangat mengerikan terjadi di semua bagian pulau (Dening 1974:121). Robarts menghitung bahwa selama lebih kurang satu tahun mendiami bukit, 200-300 orang meninggal (Dening 1974:273-5). Tidak mengejutkan, oleh karena itu, di Marquasas sebagian besar metode orang polinesia untuk bertahan melawan kelaparan, ruang bawah tanah yang berisi makanan ternak dan buah sukun dikembangkan mencapai puncaknya. Angin topan tropis di polinesia memiliki lebih banyak batasan geographic untuk terjadi dibandingkan dengan kekeringan, dengan daerah yang memiliki frekuensi terbesar (rata-rata sekitar 2 per tahun) adalah kepulauan Tonga-Samoa (Visher1925:27). Lebih jauh lagi, kepulauan Society dan Tuamotu menerima angin topan dengan frekuensi lebih rendah (rata-rata sekitar 0.2 per tahun), dan badai ini tidak sering terjadi di sekeliling polinesia. Di Tonga dan Samoa, bagaimanapun juga, seperti pulau diluar seperti Tonga dan Samoa, angin topan yang diderita ditakutkan akan memiliki kekuatan yang menghancurkan. Misionaris Perancis, Pere Chanel menyaksikan kedahsyatan angin topan tropis yang menyerang Futuna pada 1840: Pada malam kedua atau ketiga February, angin ribut, yang ditandai selama beberapa hari dengan langit yang gelap dan angin timur yang

kuat, menghancurkan seketika dengan kemarahan yang mengerikan. Kilat, petir, aliran hujan yang deras, bunyi yang luas biasa dari lautan, tangisan para penghuni pulau yang memohon pada tuhannya, merupakan pemandangan yang harus kita hadapi untuk melewati malam . . . Pohon kelapa, tanaman pisang dan pohon sukun, semua hasil produksi pulau sangat teraniaya, setelah bencana besar, kami sekali lagi mengalami ancaman kelaparan (Chanel 1960:301-2). Apakah angin topan dan kekeringan menyebabkan kelaparan atau hanya menggangu produksi sangat bergantung pada hubungan waktu terjadinya bencana ini dengan siklus panen lokal (Currey 1980:451). Di sepanjang Polinesia barat, periode musiman dari curah hujan rendah juga bertepatan dengan fase produksi minimal pada kalender pertanian. Ubi rambat dan buah sukun diluar musim, dan penghidupan petaninya sangat bergantung pada kekeringan, hasil panen keduanya sangat mudah terkena kekeringan. Hubungan siklus panen ini dengan irama ekologi diilustrasikan pada gambar 36 untuk Pulau Uvea. Meskipun pada tahun yang baik, bulan-bulan antara Agustus dan Oktober relatif merupakan bulan paceklik. Jika kekeringan mempengaruhi pertumbuhan ubi rambat yang baru, maka kekeringan mungkin akan terjadi pada tahun yang baru. Jika angin topan juga menghampiri pulau ini, biasanya antara bulan November hingga April, maka potensi bencana akan berlipat ganda. Firth (1939:73-7, gambar 2) menyediakan analisis yang serupa dari variasi musiman pada produksi makanan Tikopia, memperhatikan angka kelangkaan dari hampir semua jenis makanan selama Mei-Juni. Saya mengumpulkan pendapat orang pribumi bahwa kelangkaan seperti itu yang terjadi pada masa panen tidaklah aneh, karena didukung dengan rendahnya curah hujan (1939:75). Sementara kekeringan dan angin topan merupakan bahaya lingkungan utama yang dihadapi oleh masyarakat prasejarah, beberapa gangguan yang lain juga menimbulkan tantangan penyesuaian pada waktu dan tempat yang berbeda-beda. Tsunami tentunya menghantam berbagai pulau di masa lampau seperti yang dialami pada masa sejarah dengan akibat penghancuran habitat di pesisir pantai, tambak ikan, Hawaii, banjir periodik sehubungan dengan hujan lebat yang sangat luar biasa menghancurkan saluran irigasi yang telah dibangun pada daerah alluvial. Letusan gunung berapi merupakan hal yang penting di beberapa daerah, seperti Kilauea, Hawaii di mana seluruh permukaan pelindung dari gunung berapi telah digenangi oleh aliran lava paling sedikit satu kali sejak kolonisasi orang polinesia. Handy dan Handy (1972:274) melaporkan bahwa pergolakan vulkanik di Kau, Hawaii pada 1868 mengakibatkan kelaparan. Pada New Zealand yang

memiliki iklim sedang, suatu bencana yang unik bagi pertanian tropis polinesia diakibatkan oleh pembekuan tahunan sehingga membutuhkan adaptasi besar dalam praktek agronomi (Yen 1961, 1974a). Jadi, bertentangan dengan pandangan populer tentang kepulauan Pasific sebagai surga yang melimpah, kombinasi kondisi musim tahunan pada produksi hasil panen dengan potensi bahaya yang berulang, menyumbangkan kelaparan, suatu tantangan sigfinicant untuk kehidupan pulau. Currey (1980:447-8) mencatat bahwa interval perulangan untuk kelaparan di Hawaii sekitar dua puluh satu tahun, suatu interval yang tidak lebih sering dibandingkan dengan rekor sejarah kelaparan di Bangladest. Tentunya karangan tentang kelaparan yang disadur dari mitodologi Polinesia, seperti pada Mangareva (Buck 1938a:24, 39, 40, 44). Di Hawaii, karangan tentang tanah mistis yang kaya akan makanan mencerminkan kegelisahan yang sama pada pemikiran orang pribumi pada masa dahulu yang timbul dari akibat adanya momok kelaparan yang pernah mereka alami (Handy dan Handy 1972:273). Istilah untuk kelaparan di banyak pulau Polinesia Onge (Mangareva, Samoa, Futuna, Tikopia), honge(Tonga, Uvea) mencerminkan konsep pada masa lampau dengan asal usul bahasa yang sama dengan banyak bahasa Malenesian dan Mikronesia (contohnya songe, Rotuma; songe, Roviana;rongo, Gilbert;kwole, Marshalls). Pentingnya kelaparan dalam pengembangan kehidupan masyarakat Polinesia sangat jelas. Kelaparan berperan sebagai pengawas atau pengontrol alami pada peningkatan produksi (lihat bab 5). Ketika populasi pada pulau apa saja telah mencapai tingkat kerapatan yang relatif tinggi, selain itu, kelaparan mungkin akan memicu kompetisi dan konflik antara grupgrup sosial. Pada tradisi politik Futuna, sebagai contoh, konsep protosejarah dari pulau tetangga Alofi dengan kepala suku tertinggi Veliteki dihubungkan pada masa kekurangan makanan yang diakibatkan oleh angin ribut (Burrows 1936:36; Kirch 1975:346). Perang umumnya merupakan jalan keluar terakhir, umumnya digunakan hanya setelah sejumlah mekanisme pertahanan budaya lain gagal untuk mengembalikan pulau yang mengalami kelaparan kembali memiliki produksi yang normal. Selama periode waktu terjadinya bencana lingkungan, ketika upaya intensif dicurahkan untuk membangun kembali sistem pertanian, konsumsi makanan seringkali bervariasi antara wild atau famine food (lihat Currey 1980:tabel 3 untuk daftar famine plant yang lebih banyak diminati). Kebanyakan dari famine plant ini bukan merupakan tanaman pribumi, tetapi merupakan spesies pendatang yang diperkenalkan oleh orang polinesia dan dipertahankan dengan vegetasi sekunder. Spesies pendatang yang dicatat yaitu ubi rambat yang pahit ( Dioscorea

bulbifera), tanaman ti(Cordyline fruticosa) dan aka (Pueraria lobata). Di Uvea, spesies ini didistribusikan melalui lahan yang terdegradasi secara epadis pada tengah pulau ( Toafa, Kirch 1978b:150), tanah yang tidak dapat mendukung pengolahan secara biasa. Selama periode honge, toafa ini dibakar untuk menginduksikan tunas ararut dan ubi rambat, memudahkan pengumpulan akar umbi di bawah tanah (Kirch 1978b:179). Tidak perlu dikatakan lagi, adaptasi terhadap kondisi kelaparan seperti itu memiliki efek negatif dan positif positif dalam menyediakan akar umbi yang dibutuhkan, tetapi negatif karena hal ini mempertahankan antropogenik toafa pada kondisi terdegradasi melalui pembakaran berulang. Metode orang Polinesia yang terpenting dan berpengalaman untuk bertahan melawan kelaparan adalah beberapa teknik dari penyediaan dan penyimpanan tepung makanan pokok (Barrau dan Peeter 1972; Yen 1975). Satu metode meliputi memarut umbi rambat ararut ( Tacca leontopetaloides), dan di beberapa pulau di barat daya, inti sari sagu (Metroxylon spp), menyaring butiran bahan pokok dalam air tawar atau air laut, yang hasilnya setelah didekantasi dan dikeringkan menjadi tepung yang dapat disimpan (Gambar 37). Yang lebih tersebar luas dan signifikan di Polinesia tropis yaitu teknik membuat lubang bawah tanah untuk makanan ternak dan fermentasi semianaerobik dari pasta makanan pokok (tabel 18), khususnya sukun (Cox 1980: Kirch 1979c:303). Pada lingkungan tropis, di mana produk yang dapat dimakan dari tanaman dominan umumnya yaitu ubi rambat, jagung, atau buah-buahan (daripada biji-bijian yang dapat disimpan), penyimpanan dari tepung makanan menghasilkan masalah real pada penyesuaian teknologi. Jalan keluar dari orang polinesia yang cerdik yaitu dengan mengambil manfaat dari fermentasi alamiah menggunakan penyortiran pengontrolan yang busuk. Sukun (dan tepung yang lain, termasuk keladi, pisang, dan buah-buahan tertentu seperti Burckella) ditempatkan, tanpa dimasak pada barisan lembaran daun di gudang bawah tanah (gambar 38). Fermentasi bakterial pada gudang ini menghasilkan produk samping yang beralkohol, yang secara gradual menghasilkam sistem yang steady state. Pemanjangan barisan lembaran daun setiap tahun atau setiap dua tahun menyebabkan kandungan farinases yang difermentasi dapat disimpan selama periode 10 tahun atau lebih. Produk hasil fermentasi disebut ma, masi, atau mala dan istilah ini dapat direkontruksi dalam bahasa polinesia. Seperti yang dicatat pada bab 3, bukti arkeologis dari fermentasi di bawah tanah telah dilaporkan pada konteks Lapita. Penyimpanan ma mencapai puncak pengembangan di Pulau Marquesas, pencerminan dari kerasnya kekeringan dan konsekuensi yang diperlukan untuk mekanisme pertahanan dari kelaparan yang dapat diandalkan. Robarts, yang berpartisipasi dalam persiapan ma,

memberikan penjelasan yang jelas mengenai prosesnya dan mengatakan bahwa Ruang bawah tanah yang besar disimpan untuk menghadapi waktu yang langka seperti yang sering terjadi di pulau kecil ini (Dening 1974:272-3). Dia diberi tau bahwa dengan perlakukan dan penggantian barisan daun pada ruang bawah tanah yang tepat, ma bisa tetap di simpan hingga selama empat puluh tahun. Dilaporkan terdapat ruang bawah tanah untuk penyimpanan dengan volume sebesar 216 m3 (di Taipivai, Nukuhiva; Limon 1925:103). Terowongan bawah tanah untuk ma sering ditemukan di atas bukit pertahanan orang Marquasas (Suggs 1961) dan hubungan antara kelaparan, penyimpanan kelebihan makanan dan peperangan sangat jelas. Praktek penyimpanan ma dan perannya dalam ekonomi Polynesia menawarkan beberapa petunjuk yang lebih lanjut, berkenaan dengan hubungan antara produksi rumah tangga dengan kepala suku. Sebagaimana ditunjukkan oleh Yen (1975:162), persiapan ma dan penyimpanan adalah salah satu bentuk dari intensifikasi produksi (lihat juga Bab 7). Sentralisasi, atau setidaknya konsentrasi dari sumber daya ini, dan kemampuan pembagian merupakan faktor yang berperan dalam kemungkinan penyebaran sepanjang garis komunal, tetapi agensi kepemimpinan diimplikasikan dalam organisasi seperti itu (1975:156). Dalam kasus Anutan yang dideskripsikan oleh Yen (1975:159-61; lihat juga Yen 1978b), madisiapkan dalam kebutuhan rumah tangga setiap individu, sebagai bagian dari cara produksi domestik (Sahlins, 1972). Bagaimanapun juga, di dalam distribusi dari produk yang difermentasi untuk mengurangi kelaparan, pengendalian secara langsung dari . . . melalui penyebaran ke tangan-tangan dari kepala suku-kepala suku (Yen 1975:161). Dalam kebanyakan masyarakat Polynesia, terutama sekali yang tinggal di daerah yang tinggi di pulau yang lebih besar, persiapan dan penyebaran dari ma dibentuk oleh bagian dari intensifikasi ekonomi disebarkan ke organisasi politik (Sahlins, 1972:147). Penyebaran seperti itu mengambil bentuk penyebaran dari ma untuk pengurangan kelaparan telah dicatat, atau pada suatu waktu, untuk pesta pada upacara besar. Di Mangareva, Buck mengomentari bahwa: lubang yang besar dimiliki oleh kepala suku-kepala suku distrik memiliki sejumlah besar buah-buahan. Pada musim panen ( ou), masyarakat berkontribusi dalam pengisian lubang di distrik untuk membangun suatu cadangan untuk peristiwa sosial yang penting. Ruang-lubang distrik ini memiliki nama tertentu, dan pemanfaatan secara penuh tergantung kepada musim di mana hasil panen sedang berlimpah. (1938a:207)

Handy (1923:188) melaporkan bahwa lubang ma Marquesan yang besar dibangun dan diisi sebagai adat kesukuan. Linton menambahkan bahwa: banyak dari lubang komunal yang dibangun di desa karena peraturan, dan ditempatkan dekat dengan tempat upacara kesukuan. Lubang tambahan dibangun jauh di atas bukit, di tempat yang terpencil, di mana aman dari musuh dan dapat menyediakan makanan untuk suku tersebut jika mereka diusir dari lembah. (1925:103) Satu dari hubungan yang paling terlihat antara produksi ma dengan kekuasaan kepala suku adalah hubungan dari James Morrison, kepala kelasi dari Bounty yang popularitasnya buruk, di Tahiti pada 1788: jika seorang kepala suku menginginkan cadangan makanan [buah sukun] untuk membuat Mahee [mahi], dia akan mengirimkan sedikit coklat untuk semuanya, atau sebanyak penghuni distrik, dan di tempat yang ditunjukkan, mereka akan membawa setiap muatan, yang umumnya juga ditemani dengan seekor babi dan beberapa ekor ikan oleh yang lainnya berdasarkan kepada beberapa kemampuan mereka . . . ketika persediaan ditingkatkan dengan cara ini, masyarakat akan memperlihatkan dalam sikap mereka bahwa mereka menghormati kepala suku mereka dan takut membuatnya tidak senang . . . (dikutip dari Oliver 1974:238). Jika dihitung, bencana lingkungan, suatu bagian dari kehidupan pulau, memainkan peranan penting dalam evolusi kepala suku Polynesia. Kelaparan yang dihasilkan dari bencana alam seperti angin topan, musim kemarau, atau aktivitas vulkanik adalah pengendali yang kuat pada populasi yang besar. Di sisi lain, masyarakat Polynesia mengembangkan suatu varietas mekanisme penyangga budaya untuk mengurangi beberapa efek yang lebih parah seperti bencana. Yang sangat berbakat secara teknologi dan berkembang dari mekanisme ini adalah fermentasi dan penyimpanan pasta kanji, khususnya yang dibuat dari buah sukun. Pada aplikasi untuk mekanisme penyangga, dapat kita lihat pengaruh kritis antara lingkungan, ekonomi, dan organisasi politik. Kepala suku Polynesia tidak hanya mengorganisir pembuatan dan penyebaran ma untuk kesejahteraan masyarakat, tetapi juga untuk meningkatkan kekuasaan dan status mereka sendiri. Dalam bab 7 kita akan menjelajah lebih jauh tentang mobilisasi dari kekuatan produktif dari masyarakat dalam pelayanan politik ekonomi yang lebih besar.