P. 1
Peran Sosial Budaya dalam Upaya Meningkatkan Pemanfaatan Program Jampersal

Peran Sosial Budaya dalam Upaya Meningkatkan Pemanfaatan Program Jampersal

|Views: 4,103|Likes:
Masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau dengan kematian. Perilaku ibu dalam memelihara kesehatannya dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan budaya.Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih lebih tinggi.Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan bahwa AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 34 per 1000 kelahiran hidup. Berdasar kesepakatan global (Millenium Development Goals / MDG’s 2000) diharapkan ada tahun 2015 terjadi penurunan AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AK menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup (Kementerian Kesehatan, 2011). Telah dilakukan berbagai upaya menuju persalinan aman dari sisi medis (provider) namun masih belum menunjukkan hasil memuaskan.
Program Jaminan Persalinan (Jampersal) diluncurkan mulai tahun 2011 berdasarkan Permenkes No. 631/Menkes/PER/III/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan dan Surat Edaran Menkes RI Nomor TU/Menkes/391/II/2011 tentang Jaminan Persalinan (Kementerian Kesehatan, 2011) dan kemudian diperbaiki dengan keluarnya Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2562/Menkes/PER/XII/2011 tentang hal yang sama. Dengan dimulainya program Jampersal dan masih banyaknya kendala perilaku dan sosial budaya dalam pemilihan penolong persalinan yang tentunya berdampak pada pemanfaatan Jampersal maka penelitian ini dilakukan. Kendala datang baik dari pihak ibu sendiri, dari masyarakat maupun dari fasilitas atau tenaga kesehatan.Penelitian ini mempunyai tujuan umum untuk menyediakan kajian peran sosial budaya dalam upaya peningkatan pemanfaatan program jaminan persalinan.
Dalam rangka merubah perilaku masyarakat dengan harapan agar seorang ibu hamil mau bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan maka upaya yang harus dilakukan adalah dengan melakukan intervensi melalui 3 tingkatan ekologi yaitu tingkat individu, tingkat interpersonal dan tingkat komunitas atau masyarakat. Pada tingkat individu (ibu) perlu dipahami tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku individu yaitu faktor pemicu, pendukung dan penguat antara lain nilai, kepercayaan, pengetahuan, sikap dan praktek tentang hal-hal terkait masa kehamilan, persalinan dan paska persalinan termasuk KB.
Dalam pemilihan perawatan/penolong ibu pada masa maternity (hamil, bersalin dan paska persalinan), ibu akan dipengaruhi orang sekitarnya karena hubungan antara individu/ interpersonal dengan orang di sekitarnya (suami, orangtua, tetangga). Dalam , pemilihan penolong kehamilan (Ante Natal Care/ANC), persalinan, paska persalinan ada faktor yang berpengaruh terhadap hubungan interpersonal yaitu faktor sosial budaya, termasuk demografi, geografi dan akses terhadap fasilitas pelayanan. Pada tingkat komunitas, penetapan praktek perawatan atau pertolongan kehamilan (ANC), persalinan dan paska persalinan ditentukan oleh ketanggapan fasilitas kesehatan terhadap kebutuhan ibu terkait harapan, dukungan/kemudahan serta hambatan dalam mengakses tenaga kesehatan. Hal ini juga dipengaruhi kebijakan pemerintah yang diberlakukan antara lain pembiayaan kesehatan berupa jaminan persalinan (jampersal).
Penelitian dilaksanakan sejak bulan Maret sampai dengan selesai pada bulan Desember 2012. Penelitian dilakukan di 6 provinsi berdasarkan cakupan ANC dan PNC dengan pembiayaan Jampersal secara Nasional, sebagai tolok ukur berdasarkan data tingkat provinsi pada tahun 2011 yang diperoleh dari P2JK.Mengacu pada cakupan ANC dan PNC dalam Pembiayaan mempergunakan Jampersal, maka dilakukan klasifikasi provinsi yaitu provinsi dengan cakupan tinggi; provinsi dengan cakupan sedang dan provinsi dengan cakupan rendah dalam pembiayaannya. Pada tiap kategori dipilih 2 provinsi; sehingga dari ketiga kategori didapat 6 Provinsi Aceh, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Maluku Utara dan Banten. Selain dilihat dari cakupan ANC dan PNC diatas, pe
Masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau dengan kematian. Perilaku ibu dalam memelihara kesehatannya dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan budaya.Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih lebih tinggi.Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan bahwa AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 34 per 1000 kelahiran hidup. Berdasar kesepakatan global (Millenium Development Goals / MDG’s 2000) diharapkan ada tahun 2015 terjadi penurunan AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AK menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup (Kementerian Kesehatan, 2011). Telah dilakukan berbagai upaya menuju persalinan aman dari sisi medis (provider) namun masih belum menunjukkan hasil memuaskan.
Program Jaminan Persalinan (Jampersal) diluncurkan mulai tahun 2011 berdasarkan Permenkes No. 631/Menkes/PER/III/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan dan Surat Edaran Menkes RI Nomor TU/Menkes/391/II/2011 tentang Jaminan Persalinan (Kementerian Kesehatan, 2011) dan kemudian diperbaiki dengan keluarnya Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2562/Menkes/PER/XII/2011 tentang hal yang sama. Dengan dimulainya program Jampersal dan masih banyaknya kendala perilaku dan sosial budaya dalam pemilihan penolong persalinan yang tentunya berdampak pada pemanfaatan Jampersal maka penelitian ini dilakukan. Kendala datang baik dari pihak ibu sendiri, dari masyarakat maupun dari fasilitas atau tenaga kesehatan.Penelitian ini mempunyai tujuan umum untuk menyediakan kajian peran sosial budaya dalam upaya peningkatan pemanfaatan program jaminan persalinan.
Dalam rangka merubah perilaku masyarakat dengan harapan agar seorang ibu hamil mau bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan maka upaya yang harus dilakukan adalah dengan melakukan intervensi melalui 3 tingkatan ekologi yaitu tingkat individu, tingkat interpersonal dan tingkat komunitas atau masyarakat. Pada tingkat individu (ibu) perlu dipahami tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku individu yaitu faktor pemicu, pendukung dan penguat antara lain nilai, kepercayaan, pengetahuan, sikap dan praktek tentang hal-hal terkait masa kehamilan, persalinan dan paska persalinan termasuk KB.
Dalam pemilihan perawatan/penolong ibu pada masa maternity (hamil, bersalin dan paska persalinan), ibu akan dipengaruhi orang sekitarnya karena hubungan antara individu/ interpersonal dengan orang di sekitarnya (suami, orangtua, tetangga). Dalam , pemilihan penolong kehamilan (Ante Natal Care/ANC), persalinan, paska persalinan ada faktor yang berpengaruh terhadap hubungan interpersonal yaitu faktor sosial budaya, termasuk demografi, geografi dan akses terhadap fasilitas pelayanan. Pada tingkat komunitas, penetapan praktek perawatan atau pertolongan kehamilan (ANC), persalinan dan paska persalinan ditentukan oleh ketanggapan fasilitas kesehatan terhadap kebutuhan ibu terkait harapan, dukungan/kemudahan serta hambatan dalam mengakses tenaga kesehatan. Hal ini juga dipengaruhi kebijakan pemerintah yang diberlakukan antara lain pembiayaan kesehatan berupa jaminan persalinan (jampersal).
Penelitian dilaksanakan sejak bulan Maret sampai dengan selesai pada bulan Desember 2012. Penelitian dilakukan di 6 provinsi berdasarkan cakupan ANC dan PNC dengan pembiayaan Jampersal secara Nasional, sebagai tolok ukur berdasarkan data tingkat provinsi pada tahun 2011 yang diperoleh dari P2JK.Mengacu pada cakupan ANC dan PNC dalam Pembiayaan mempergunakan Jampersal, maka dilakukan klasifikasi provinsi yaitu provinsi dengan cakupan tinggi; provinsi dengan cakupan sedang dan provinsi dengan cakupan rendah dalam pembiayaannya. Pada tiap kategori dipilih 2 provinsi; sehingga dari ketiga kategori didapat 6 Provinsi Aceh, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Maluku Utara dan Banten. Selain dilihat dari cakupan ANC dan PNC diatas, pe

More info:

Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2015

pdf

text

original

No

Penyebab
Kematian

Jenis Kelamin

Kelompok Umur

Laki-
Laki

Perempuan

Neonatus bayi balit

a

Non
Matrn
l

Maternal

Bumil Buli

n Ibu
Nifas

1 Lahir Mati

1

0

0

0

0

1

0

0

2 BBLR/Prematur

4

5

0

0

0

9

0

0

3 Asfiksia

2

5

0

0

0

7

0

0

4 Sepsis

0

0

0

0

0

0

0

0

5 Neonatorum

1

0

0

0

0

1

0

0

6 Kelainan
bawaan

0

0

0

0

0

0

0

0

7 Pnemonia

1

1

0

0

0

0

2

0

8 Demam
Thypoid

0

0

0

0

0

0

0

0

9 Diare

0

0

0

0

0

0

0

0

10 TBC paru

0

0

0

0

0

0

0

0

11 Diftery

0

0

0

0

0

0

0

0

12 Pertusis

0

0

0

0

0

0

0

0

13 Campak

0

0

0

0

0

0

0

0

14 Malaria

0

0

0

0

0

0

0

0

15 DBD

0

0

0

0

0

0

0

0

16 Meningitis

0

0

0

0

0

0

0

0

17 Gizi Buruk

0

0

0

0

0

0

0

0

18 Kecelakaan

0

0

0

0

0

0

0

0

19 Lain-lain

4

6

0

0

0

1

7

2

20 Perdarahan

0

0

0

2

0

0

0

0

Jumlah

13

17

0

2

0

19

9

2

Sumber: Profil Puskesmas Cirinten

3.3.3. Perilaku Masyarakatterkait Kesehatan Ibu dan Anak
Pandangan tentang ibu hamil, bersalin, bayi/anak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka menganggap bahwa kehamilan
adalah berkah bagi keluarga mereka, sehingga mungkin ini juga salah satu faktor yang
menyebabkan beberapa ibu tidak menggunakan alat kontrasepsi untuk membatasi
jumlah anak dalam keluarganya, disamping faktor lainnya. Beberapa pantangan yang
berkaitan selama kehamilan masih tetap ada sesuai dengan nilai-nilai kepercayaan
yang masih diyakini oleh masyarakat setempat. Begitu pula anjuran terhadap ibu

104

hamil. Pada dasarnya pantangan-pantangan dan anjuran-anjuran tersebut bertujuan
agar ibu hamil dapat melewati masa kehamilannya secara baik dan dapat melahirkan
dengan lancar walaupun beberapa pantangan tersebut ada yang tidak dapat diterima
secara logika atau akal.

Berkaitan dengan pemakaian jimat oleh ibu hamil, masih ada juga yang
mempercayai dan memakai jimat selama kehamilan. Hal tersebut dilakukan karena
mereka percaya jimat tersebut mencegah gangguan dari roh-roh jahat yang dapat
mengganggu ibu hamil. Apalagi masih ada kepercayaan terhadap setan atau roh jahat
yang bisa mengganggu kepada ibu hamil terutama saat melahirkan. Kepercayaan-
kepercayaan tersebut juga sebagai salah satu faktor yang mengapa mereka masih
mempercayai dukun beranak dalam menjaga kehamilan mereka dan penolong
disamping faktor-faktor lainnya.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa masih banyak ibu hamil yang tidak
memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan secara rutin sesuai anjuran
kesehatan dengan berbagai alasan. Ketidak terjangkauan pelayanan kesehatan
menjadi alasan utama. Kondisi alam berupa perbukitan, tempat tinggal yang tidak
dilalui sarana transportasi umum, tempat tinggal yang terpencil, ketiadaan biaya
membayar tenaga kesehatan, dan lain sebagainya menyebabkan keterbatasan dalam
menjangkau pelayanan kesehatan. Keadaan tersebut semakin mendukung perilaku
memeriksakan kehamilannya ke tukang kusuk/dukun beranak sebagai tenaga yang
lebih mudah mereka jangkau.

Dari berbagai hal tersebut, maka perlu dilakukan beberapa hal dalam
menangani hal tersebut. Perlunya peningkatan pengetahuan dan pemahaman ibu
tentang pentingnya menjaga kesehatan selama kehamilan. Perlu peningkatan
pengetahuan tentang kehamilan, risiko saat kehamilan, makanan sehat, dan
perawatan kehamilan. Promosi kesehatan tersebut dapat diberikan petugas kesehatan
melalui kegiatan posyandu, penyuluhan di puskesmas, dan acara-acara
kemasyarakatan lainnya. Diharapkan dengan bertambahnya pengetahuan mereka
dapat meningkatkan keyakinan mereka untuk melakukan pemeriksaan kehamilan pada
fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau polindes.

105

Kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan cara-cara tradisional cukup
membantu menghilangkan keluhan yang dialami. Perawatan tradisional yang masih
dipercaya dan dilakukan, sejauh tidak memberikan dampak membahayakn kesehatan,
masih dapat terus dilakukan.

Kepercayaan yang masih berkembang

Kondisi kesehatan, khususnya dalam hal ini kesehatan ibu dan anak tidak bisa
hanya dilihat dari sisi medis saja. Kondisi kesehatan ibu dan anak tidak dapat
dilepaskan dari ruang lingkup sosio-kultural yang melingkupinya. Dalam hal ini budaya
masyarakat yang menjadi pelaku dalam kehidupan sosial pada suatu masyarakat
tertentu.

Kebudayaan,menurut Koentjaraningrat merupakan“keseluruhan sistem
gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang

dijadikan milik diri manusia dengan belajar”.Dalam definisi lain, Clifford Geertz (1992)

mengatakan bahwa kebudayaan merupakan sistem mengenai konsepsi-konsepsi yang
diwariskan dalam bentuk simbolik, yang dengan cara ini manusia dapat berkomunikasi,
melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan sikapnya terhadap
kehidupan.Kebudayaan merupakan sebuah sistem, dimana sistem itu terbentuk dari
perilaku, baik itu perilaku badan maupun pikiran. Dan hal ini berkaitan erat dengan
adanya gerak dari masyarakat, dimana pergerakan yang dinamis dan dalam kurun
waktu tertentu akan menghasilkan sebuah tatanan ataupun sistem tersendiri dalam
kumpulan masyarakat.

Lebih lanjut, J. J Honigmann (dalam Koenjtaraningrat, 2000) membedakan
adanya tiga ‘gejala kebudayaan’: yaitu : (1) ideas, (2) activities, dan (3) artifact, dan ini
diperjelas oleh Koenjtaraningrat yang mengistilahkannya dengan tiga wujud
kebudayaan, yaitu pertama, wujud kebudayaan sebagai suatu yang kompleks dari ide-
ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. Kedua,
wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari
manusia dalam masyarakat. Ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil
karya manusia.

106

Mengenai wujud kebudayaan ini, Elly M.Setiadi dkk (2007:29-30) memberikan
penjelasannya sebagai berikut:

1). Wujud Ide

Wujud tersebut menunjukann wujud ide dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tak dapat
diraba, dipegang ataupun difoto, dan tempatnya ada di alam pikiran warga masyarakat
dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup.

Budaya ideal mempunyai fungsi mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada
tindakan, kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat sebagai sopan santun.
Kebudayaan ideal ini bisa juga disebut adat istiadat.

2). Wujud perilaku

Wujud tersebut dinamakan sistem sosial, karena menyangkut tindakan dan kelakuan
berpola dari manusia itu sendiri. Wujud ini bisa diobservasi, difoto dan
didokumentasikan karena dalam sistem sosial ini terdapat aktivitas-aktivitas manusia
yang berinteraksi dan berhubungan serta bergaul satu dengan lainnya dalam
masyarakat. Bersifat konkret dalam wujud perilaku dan bahasa.

3). Wujud Artefak

Wujud ini disebut juga kebudayaan fisik, dimana seluruhnya merupakan hasil fisik.
Sifatnya paling konkret dan bisa diraba, dilihat dan didokumentasikan. Contohnya :
candi, bangunan, baju, kain komputer dll.

Mengenai unsur kebudayaan, dalam bukunya pengantar Ilmu Antropologi,
Koenjtaraningrat, mengambil sari dari berbagai kerangka yang disusun para sarjana
Antropologi, mengemukakan bahwa ada tujuh unsur kebudayaan yang dapat
ditemukan pada semua bangsa di dunia yang kemudian disebut unsur-unsur
kebudayaan universal, antara lain: Bahasa, Sistem Pengetahuan, Organisasi Sosial,
Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi, Sistem Mata Pencaharian, Sistem Religi, dan
Kesenian.Dalam konteks Kesehatan Ibu dan Anak di Cirinten, wujud-wujud budaya ini
muncul dalam tradisi-tradisi yang secara turun temurun telah dikenal oleh masyarakat
dan masih berkembang sampai saat ini.

107

Kehamilan. Kehamilan merupakan sebuah anugerah dan berkah yang harus
disyukuri. Jika mereka hamil, mereka akan senang dan bahagia. Selama masa
kehamilan terdapat pantangan, anjuran dan praktek-praktek tradisi yang secara adat
masih dipercaya oleh masyarakat Cirinten. Ketika hamil ada sebuah kepercayaan yang
masih dijalankan oleh masyarakat. Salah satunya adalah selalu membawa gunting ke
mana-mana. Dalam kepercayaan masyarakat Cirinten hal ini dilakukan untuk
melindungi ibu dan calon bayi dari gangguan makhluk-makhluk halus yang jahat.
Gunting yang dibawa tidak harus gunting yang khusus. Melainkan gunting biasa saja
yang bisa didapatkan di mana saja. Selain membawa gunting, beberapa masyarakat
juga mendapatkan semacam jimat yang diberikan oleh dukun setempat atau yang
dikenal sebagai Paraji atau orang tuanya. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang
suami berikut:

“ada juga dikasih tali hitam dikasih doa, dikasih di perutnya istri, yang ngasih oran
tua, ada juga yg dari paraji”

Masyarakat setempat juga mengenal upacara-upacara khusus untuk ibu hamil
dan calon bayi. Salah satunya adalah adalah Upacara Tujuh Bulanan atau yang disebut
dalam bahasa setempat Nujuh Bulanan/ Tingkeban. Nujuh dalam bahasa Sunda berarti
tujuh, jadi Nujuh Bulanan adalah upacara yang diadakan pada bulan ketujuh masa
kehamilan. Nama lain dari Nujuh Bulanan ialah Tingkeban berasal dari kata tingkeb
artinya tutup, maksudnya ibu yang sedang mengandung tujuh bulan tidak boleh
bercampur dengan suaminya sampai empat puluh hari setelah persalinan.

Nujuh Bulanan adalah Upacara yang dilaksanakan wanita hamil pertama kali
ketika usia kandunganya genap tujuh bulan. Untuk menentukan waktu untuk
mengadakan Upacara Adat Nujuh Bulanan biasanya diambil dari tanggal yang ada
angka tujuhnya dan merupakan tanggal terakhir yaitu tanggal duapuluh tujuh.

Pengertian lebih dalam dari Upacara Nujuh Bulanan/ Tingkeban adalah upacara adat

yang berupa selamatan yang dilaksanakan oleh ibu hamil yang baru pertama kali
mengandung yang usia kendungannya genap tujuh bulan. Upacara Nujuh Bulanan ini
dilaksanakan sebagai puji syukur kepada Tuhan atas karunia yang diberikan berupa
anak dalam kandungan dan meminta keselamatan dan harapan - harapan baik untuk
anaknya kelak.

108

Pada pelaksanaan upacara ini terdapat tujuh prosesi yang harus dijalankan,

antara lain:

1. Pengajian
Prosesi pertama yang dilakukan adalah pengajian. Tahapan ini biasanya dimulai
dengan ceramah siraman rohani yang kemudian diteruskan dengan pembacaan Al-

Qur’an.

2. Siraman
Pada tahapan ini disediakan air dengan 7 macam bunga kemudian satu persatu orang
tua dari ibu hamil menyirami dengan air tesebut. Jumlah orang yang menyiram ada
tujuh orang mulai dari yang tertua hingga saudara/kerabat. Siraman ditujukan untuk
mensucikan calon ibu lahir batin agar anaknya kelak tidak ada beban moral. Bunga
tujuh rupa sebagai lambang kelak memilik budi pekerti yang baik sehingga
menyenangakan bagi orang lain.
3. Ganti kain (7 macam motif kain yang berbeda)
Disediakan air dengan 7 macam bunga kemudian satu persatu orang tua dari ibu hamil
menyirami dengan air tesebut. Jumlah orang yang menyiram ada tujuh orang mulai
dari yang tertua hingga saudara/kerabat. Siraman ditujukan untuk mensucikan calon
ibu lahir batin agar anaknya kelak tidak ada beban moral. Bunga tujuh rupa sebagai
lambang kelak memilik budi pekerti yang baik sehingga menyenangakan bagi orang
lain. Motif-motif kain tersebut adalah: Sidomukti, Sidoluhur, Truntum, Parang, Semen
Rama, Udan Riris, dan Cakar
4. Pemberian bingkisan
Setelah mendapat giliran siraman dan ganti kain, orang yang menyiram diberi
bingkisan berupa hahampangan dan bebeutian yang ditaruh dipiring yang terbuat dari
tanah liat.
Hahampangan bermakna kelak anaknya akan mudah mendapat rezeki dan semua
urusanya dimudahkan. Beubeutian mempunyai makna agar anaknya kelak memiliki
budi pekerti yang baik dan rendah hati.
5. Belah kelapa
Kelapa gading yang telah digambar Kamajaya dan Kamaratih/Arjuna dan Sumbadra
dimasukan ke dalam kain yang dipakai oleh ibu hamil. Karakter wayang yang dipilih

109

melambangkan kelak anak yang akan lahir memiliki karakter baik seperti karakter
wayang yang dipilih. Bila anaknya perempuan kelak akan secantik
Sumbadra/Kamaratih dan memiliki sifat yang murah hati dan setia, dan bila anaknya
kelak laki-laki maka akan setampan Arjuna/Kamajaya, gagah berani, membela yang
benar.
6. Memecahkan jajambaran
Air sisa siraman ditambahkan uang koin dibawa oleh suami ibu hamil ke pertigaan
jalan/simpang tiga lalu dipecahkan ditengah-tengah pertigaan. Makna yang
terkandung didalamnya adalah agar anaknya kelak akan diberi kebebasan untuk
menetukan hidupnya. Uang koin pada Jajambaran bermakna agar anaknya kelak diberi
rezeki yang berkecukupan dan memiliki sifat dermawan.
7. Sambel pepeh.
Sebenarnya tahapan ini dilakukan dengan membuat rujak. Tetapi dalam adat di
wilayah kecamatan Cirinten, prosesi ini diganti dengan membuat sambel pepeh.
Sambel pepeh sendiri sebenarnya mirip dengan rujak, tetapi dibuat dengan bahan lain.
Bahan-bahannya adalah jahe, kunir, cabe puyeng, dan mangga. Semua tamu yang
menghadiri upacara nujuh bulanan akan memakan, makanan ini.

Biaya yang dikeluarkan oleh keluarga untuk menyelenggarakan upacara ini
tidak sedikit. Paling tidak sekitar Rp. 500.000,- sampai dengan Rp. 2.000.000,- bisa
mereka keluarkan untuk satu kali upacara ini. Tergantung besar/ kecilnya acara yang
diselenggarakan. Biaya ini dianggap salah satu biaya yang besar yang dikeluarkan oleh
keluarga untuk menyambut kelahiran sang bayi. Seperti yang dikatakan oleh seorang
suami berikut:

“kalau untuk 7 bulanan mengeluarkan biaya juga,biasanya habis 500 ribu untuk

persiapan setelah melahirkan”

Selain menyelenggarakan upacara-upacara tertentu dan menjalankan tradisi
sesuai adat, terdapat juga beberapa pantangan yang harus dihindari oleh Ibu ketika
dalam masa kehamilan. Ketika hamil seorang ibu tidak boleh pergi ke hutan, hal ini
dimaksudkan untuk menghindari gangguan yang mungkin akan menimpa ibu apabila
pergi ke hutan. Gangguan itu bisa berasal dari binatang-binatang buas, atau dari
makhluk-makhluk gaib yang jahat. Ibu juga tidak diperbolehkan melilitkan handuk ke
leher ketika hendak mandi atau melakukan aktivitas lain. Dipercaya apabila Ibu

110

melakukan ini, maka nantinya bayi akan terlilit tali pusatnya ketika dilahirkan.
Kepercayaan-kepercayaan lain yang berkaitan dengan harapan akan lancarnya
kelahiran atau perlindungan terhadap gangguan hal-hal jahat juga masih berkembang.
Contohnya makan dengan piring besar dapat mengakibatkan bayi yang dilahirkan
bertubuh besar, atau duduk di dekat pintu yang bisa menyebabkan ibu kesulitan dalam
melahirkan dan lain sebagainya.

Menjelang persalinan, peran suami sangat penting. Mereka cukup perhatian
terhadap isteri yang hendak melahirkan. Suami biasanya yang mengantar ke bidan,
memanggil tukang kusuk atau dukun beranak, dan mengerjakan pekerjaan rumah
seperti memasak dan mencuci pakaian. Seorang ibu yang memiliki bayi (informan)
menceritakan kecemasan suami menjelang persalinan anak terakhir mereka.

Singkatnya tradisi masyarakat Cirinten terkait dengan masa kehamilan dapat

dilihat pada tabel berikut:

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->