P. 1
Peran Sosial Budaya dalam Upaya Meningkatkan Pemanfaatan Program Jampersal

Peran Sosial Budaya dalam Upaya Meningkatkan Pemanfaatan Program Jampersal

|Views: 4,100|Likes:
Masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau dengan kematian. Perilaku ibu dalam memelihara kesehatannya dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan budaya.Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih lebih tinggi.Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan bahwa AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 34 per 1000 kelahiran hidup. Berdasar kesepakatan global (Millenium Development Goals / MDG’s 2000) diharapkan ada tahun 2015 terjadi penurunan AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AK menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup (Kementerian Kesehatan, 2011). Telah dilakukan berbagai upaya menuju persalinan aman dari sisi medis (provider) namun masih belum menunjukkan hasil memuaskan.
Program Jaminan Persalinan (Jampersal) diluncurkan mulai tahun 2011 berdasarkan Permenkes No. 631/Menkes/PER/III/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan dan Surat Edaran Menkes RI Nomor TU/Menkes/391/II/2011 tentang Jaminan Persalinan (Kementerian Kesehatan, 2011) dan kemudian diperbaiki dengan keluarnya Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2562/Menkes/PER/XII/2011 tentang hal yang sama. Dengan dimulainya program Jampersal dan masih banyaknya kendala perilaku dan sosial budaya dalam pemilihan penolong persalinan yang tentunya berdampak pada pemanfaatan Jampersal maka penelitian ini dilakukan. Kendala datang baik dari pihak ibu sendiri, dari masyarakat maupun dari fasilitas atau tenaga kesehatan.Penelitian ini mempunyai tujuan umum untuk menyediakan kajian peran sosial budaya dalam upaya peningkatan pemanfaatan program jaminan persalinan.
Dalam rangka merubah perilaku masyarakat dengan harapan agar seorang ibu hamil mau bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan maka upaya yang harus dilakukan adalah dengan melakukan intervensi melalui 3 tingkatan ekologi yaitu tingkat individu, tingkat interpersonal dan tingkat komunitas atau masyarakat. Pada tingkat individu (ibu) perlu dipahami tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku individu yaitu faktor pemicu, pendukung dan penguat antara lain nilai, kepercayaan, pengetahuan, sikap dan praktek tentang hal-hal terkait masa kehamilan, persalinan dan paska persalinan termasuk KB.
Dalam pemilihan perawatan/penolong ibu pada masa maternity (hamil, bersalin dan paska persalinan), ibu akan dipengaruhi orang sekitarnya karena hubungan antara individu/ interpersonal dengan orang di sekitarnya (suami, orangtua, tetangga). Dalam , pemilihan penolong kehamilan (Ante Natal Care/ANC), persalinan, paska persalinan ada faktor yang berpengaruh terhadap hubungan interpersonal yaitu faktor sosial budaya, termasuk demografi, geografi dan akses terhadap fasilitas pelayanan. Pada tingkat komunitas, penetapan praktek perawatan atau pertolongan kehamilan (ANC), persalinan dan paska persalinan ditentukan oleh ketanggapan fasilitas kesehatan terhadap kebutuhan ibu terkait harapan, dukungan/kemudahan serta hambatan dalam mengakses tenaga kesehatan. Hal ini juga dipengaruhi kebijakan pemerintah yang diberlakukan antara lain pembiayaan kesehatan berupa jaminan persalinan (jampersal).
Penelitian dilaksanakan sejak bulan Maret sampai dengan selesai pada bulan Desember 2012. Penelitian dilakukan di 6 provinsi berdasarkan cakupan ANC dan PNC dengan pembiayaan Jampersal secara Nasional, sebagai tolok ukur berdasarkan data tingkat provinsi pada tahun 2011 yang diperoleh dari P2JK.Mengacu pada cakupan ANC dan PNC dalam Pembiayaan mempergunakan Jampersal, maka dilakukan klasifikasi provinsi yaitu provinsi dengan cakupan tinggi; provinsi dengan cakupan sedang dan provinsi dengan cakupan rendah dalam pembiayaannya. Pada tiap kategori dipilih 2 provinsi; sehingga dari ketiga kategori didapat 6 Provinsi Aceh, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Maluku Utara dan Banten. Selain dilihat dari cakupan ANC dan PNC diatas, pe
Masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau dengan kematian. Perilaku ibu dalam memelihara kesehatannya dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan budaya.Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih lebih tinggi.Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan bahwa AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 34 per 1000 kelahiran hidup. Berdasar kesepakatan global (Millenium Development Goals / MDG’s 2000) diharapkan ada tahun 2015 terjadi penurunan AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AK menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup (Kementerian Kesehatan, 2011). Telah dilakukan berbagai upaya menuju persalinan aman dari sisi medis (provider) namun masih belum menunjukkan hasil memuaskan.
Program Jaminan Persalinan (Jampersal) diluncurkan mulai tahun 2011 berdasarkan Permenkes No. 631/Menkes/PER/III/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan dan Surat Edaran Menkes RI Nomor TU/Menkes/391/II/2011 tentang Jaminan Persalinan (Kementerian Kesehatan, 2011) dan kemudian diperbaiki dengan keluarnya Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2562/Menkes/PER/XII/2011 tentang hal yang sama. Dengan dimulainya program Jampersal dan masih banyaknya kendala perilaku dan sosial budaya dalam pemilihan penolong persalinan yang tentunya berdampak pada pemanfaatan Jampersal maka penelitian ini dilakukan. Kendala datang baik dari pihak ibu sendiri, dari masyarakat maupun dari fasilitas atau tenaga kesehatan.Penelitian ini mempunyai tujuan umum untuk menyediakan kajian peran sosial budaya dalam upaya peningkatan pemanfaatan program jaminan persalinan.
Dalam rangka merubah perilaku masyarakat dengan harapan agar seorang ibu hamil mau bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan maka upaya yang harus dilakukan adalah dengan melakukan intervensi melalui 3 tingkatan ekologi yaitu tingkat individu, tingkat interpersonal dan tingkat komunitas atau masyarakat. Pada tingkat individu (ibu) perlu dipahami tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku individu yaitu faktor pemicu, pendukung dan penguat antara lain nilai, kepercayaan, pengetahuan, sikap dan praktek tentang hal-hal terkait masa kehamilan, persalinan dan paska persalinan termasuk KB.
Dalam pemilihan perawatan/penolong ibu pada masa maternity (hamil, bersalin dan paska persalinan), ibu akan dipengaruhi orang sekitarnya karena hubungan antara individu/ interpersonal dengan orang di sekitarnya (suami, orangtua, tetangga). Dalam , pemilihan penolong kehamilan (Ante Natal Care/ANC), persalinan, paska persalinan ada faktor yang berpengaruh terhadap hubungan interpersonal yaitu faktor sosial budaya, termasuk demografi, geografi dan akses terhadap fasilitas pelayanan. Pada tingkat komunitas, penetapan praktek perawatan atau pertolongan kehamilan (ANC), persalinan dan paska persalinan ditentukan oleh ketanggapan fasilitas kesehatan terhadap kebutuhan ibu terkait harapan, dukungan/kemudahan serta hambatan dalam mengakses tenaga kesehatan. Hal ini juga dipengaruhi kebijakan pemerintah yang diberlakukan antara lain pembiayaan kesehatan berupa jaminan persalinan (jampersal).
Penelitian dilaksanakan sejak bulan Maret sampai dengan selesai pada bulan Desember 2012. Penelitian dilakukan di 6 provinsi berdasarkan cakupan ANC dan PNC dengan pembiayaan Jampersal secara Nasional, sebagai tolok ukur berdasarkan data tingkat provinsi pada tahun 2011 yang diperoleh dari P2JK.Mengacu pada cakupan ANC dan PNC dalam Pembiayaan mempergunakan Jampersal, maka dilakukan klasifikasi provinsi yaitu provinsi dengan cakupan tinggi; provinsi dengan cakupan sedang dan provinsi dengan cakupan rendah dalam pembiayaannya. Pada tiap kategori dipilih 2 provinsi; sehingga dari ketiga kategori didapat 6 Provinsi Aceh, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Maluku Utara dan Banten. Selain dilihat dari cakupan ANC dan PNC diatas, pe

More info:

Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2015

pdf

text

original

Dalam rangka mengumpulkan data yang dibutuhkan, telah disusun instrumen
penelitian sesuai dengan cara yang ditetapkan. Peneliti melakukan wawancara
terstruktur dengan menggunakan kuesioner terstruktur pada sampel ibu dalam
kecamatan/wilyah puskesmas terpilih yang melakukan persalinan pada tahun 2011.
Peneliti juga melakukan FGD (Focus Group Discussion) menggunakan pedoman FGD,
kepada kelompoksuami, tokoh masyarakat, wawancara mendalam menggunakan
panduan wawancara mendalam, kepada kepala puskesmas, pengelola program KIA/KB
dan jampersal serta kepada dukun untuk melihat sosial budaya yang berpengaruh
pada pemilihan penolong persalinan dan penerapan jampersal.
Dalam pengumpulan data ini, sebelum melakukan pengumpulan data yang
sesungguhnya, peneliti melakukan persiapan daerah untuk mengetahui kondisi
lapangan dan memilih daerah penelitian yang sesuai dengan kriteria dengan cara
mendiskusikan dengan kepala Dinas Kesehatan kabupaten/kota dan kepala bidang
pelayanan KIA/Jampersal. Dengan cara tersebut, ditentukan puskesmas sebagai
tempat studi dan ditentukan 4 orang tenaga/staff Dinkes ataupun tenaga lain sebagai
pengumpul data kuesioner terstruktur.
Dilakukan pembagian daerah penelitian sehingga setiap tim peneliti yang terdiri
dari 3 orang melakukan penelitian di satu propinsi.Peneliti berperan untuk melakukan
wawancara mendalam kepada informan yang menjadi sasaran penelitian. Disamping
itu, peneliti memandu setiap kegiatan FGD yang diselenggarakan di setiap lokasi
dengan sasaran kelompok diskusi sesuai ketetapan kriteria. Setiap kali dilakukan
wawancara mendalam dan FGD, direkam dan dicatat serta dilakukan penulisan
transkrip hasil kegiatan.

Pengumpulan data kuantitatif, dilakukan oleh 4 (empat) orang enumerator yang
direkrut dan merupakan tenaga kesehatan berasal dari Dinas Kesehatan setempat.
Enumerator dipilih dengan beberapa persyaratan antara lain adalah tenaga kesehatan

12

(SKM, bidan, perawat atau lainnya) yang paling tidak pernah mengikuti kegiatan survei
kesehatan.Namun karena keterbatasan tenaga, maka khusus untuk Kabupaten
Halmahera Selatan, enumerator adalah guru. Enumerator dilatih oleh tim peneliti
tentang tata cara survei dan pemahaman tentang kuesioner yang menjadi panduan
pengumpulan data.Proses pengumpulan data dengan target 70 responden tidak
seluruhnya mencapai angka tersebut. Sebagai contoh di Mateketen kabupaten
Halmahera Selatan diperoleh 50 responden yang merupakan total persalinan pada
kurun waktu yang dimaksud. Di kabupaten Gayo Lues dan Landak, mengalami cukup
banyak kesulitan untuk mencapai rumah responden mengingat medan yang sulit.
Berbeda dengan permasalahan di pekotaan, mobilitas penduduk yang tinggi
menyebabkan beberpa responden terpilih sulit ditemui sehingga harus diganti dengan
responden cadangan.

Berikut adalah tabel tentang variabel yang dikumpulkan, cara pengumpulan
data, instrumen yang digunakan untuk memperoleh data.

Tabel 2.2.
Variabel, Cara Pengumpulan Data dan Instrumen yang Digunakan

Variabel

Cara Puldat

Instrumen

Sasaran

Karakteristik

Wawancara

Kuesioner
terstruktur

Ibu bersalin Juni
2011 – Mei 2012

Nilai, kepercayaan

Wawancara

Kuesioner
terstruktur

Ibu bersalin Juni
2011 – Mei 2012

Perlaku: Pengetahuan,
sikap, praktek

Wawancara

Kuesioner
terstruktur

Ibu bersalin Juni
2011 – Mei 2012

Faktor sosial budaya

Wawancara
mendalam

Panduan
wawancara
mendalam

Dukun

FGD

Panduan FGD Suami,Toma,Bidan

Hambatan dan harapan
terkait penolong
persalinan & jampersal

FGD

Panduan FGD Suami, toma, bidan

Peran tenaga kesehatan
dalam pemanfaatan
Jampersal

Wawancara
mendalam

Panduan
wawancara
mendalam

Kepala Puskesmas
Pengelola Program
KIA/KB
Pengelola Jampersal

13

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->