P. 1
Peran Sosial Budaya dalam Upaya Meningkatkan Pemanfaatan Program Jampersal

Peran Sosial Budaya dalam Upaya Meningkatkan Pemanfaatan Program Jampersal

|Views: 4,093|Likes:
Masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau dengan kematian. Perilaku ibu dalam memelihara kesehatannya dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan budaya.Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih lebih tinggi.Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan bahwa AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 34 per 1000 kelahiran hidup. Berdasar kesepakatan global (Millenium Development Goals / MDG’s 2000) diharapkan ada tahun 2015 terjadi penurunan AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AK menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup (Kementerian Kesehatan, 2011). Telah dilakukan berbagai upaya menuju persalinan aman dari sisi medis (provider) namun masih belum menunjukkan hasil memuaskan.
Program Jaminan Persalinan (Jampersal) diluncurkan mulai tahun 2011 berdasarkan Permenkes No. 631/Menkes/PER/III/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan dan Surat Edaran Menkes RI Nomor TU/Menkes/391/II/2011 tentang Jaminan Persalinan (Kementerian Kesehatan, 2011) dan kemudian diperbaiki dengan keluarnya Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2562/Menkes/PER/XII/2011 tentang hal yang sama. Dengan dimulainya program Jampersal dan masih banyaknya kendala perilaku dan sosial budaya dalam pemilihan penolong persalinan yang tentunya berdampak pada pemanfaatan Jampersal maka penelitian ini dilakukan. Kendala datang baik dari pihak ibu sendiri, dari masyarakat maupun dari fasilitas atau tenaga kesehatan.Penelitian ini mempunyai tujuan umum untuk menyediakan kajian peran sosial budaya dalam upaya peningkatan pemanfaatan program jaminan persalinan.
Dalam rangka merubah perilaku masyarakat dengan harapan agar seorang ibu hamil mau bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan maka upaya yang harus dilakukan adalah dengan melakukan intervensi melalui 3 tingkatan ekologi yaitu tingkat individu, tingkat interpersonal dan tingkat komunitas atau masyarakat. Pada tingkat individu (ibu) perlu dipahami tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku individu yaitu faktor pemicu, pendukung dan penguat antara lain nilai, kepercayaan, pengetahuan, sikap dan praktek tentang hal-hal terkait masa kehamilan, persalinan dan paska persalinan termasuk KB.
Dalam pemilihan perawatan/penolong ibu pada masa maternity (hamil, bersalin dan paska persalinan), ibu akan dipengaruhi orang sekitarnya karena hubungan antara individu/ interpersonal dengan orang di sekitarnya (suami, orangtua, tetangga). Dalam , pemilihan penolong kehamilan (Ante Natal Care/ANC), persalinan, paska persalinan ada faktor yang berpengaruh terhadap hubungan interpersonal yaitu faktor sosial budaya, termasuk demografi, geografi dan akses terhadap fasilitas pelayanan. Pada tingkat komunitas, penetapan praktek perawatan atau pertolongan kehamilan (ANC), persalinan dan paska persalinan ditentukan oleh ketanggapan fasilitas kesehatan terhadap kebutuhan ibu terkait harapan, dukungan/kemudahan serta hambatan dalam mengakses tenaga kesehatan. Hal ini juga dipengaruhi kebijakan pemerintah yang diberlakukan antara lain pembiayaan kesehatan berupa jaminan persalinan (jampersal).
Penelitian dilaksanakan sejak bulan Maret sampai dengan selesai pada bulan Desember 2012. Penelitian dilakukan di 6 provinsi berdasarkan cakupan ANC dan PNC dengan pembiayaan Jampersal secara Nasional, sebagai tolok ukur berdasarkan data tingkat provinsi pada tahun 2011 yang diperoleh dari P2JK.Mengacu pada cakupan ANC dan PNC dalam Pembiayaan mempergunakan Jampersal, maka dilakukan klasifikasi provinsi yaitu provinsi dengan cakupan tinggi; provinsi dengan cakupan sedang dan provinsi dengan cakupan rendah dalam pembiayaannya. Pada tiap kategori dipilih 2 provinsi; sehingga dari ketiga kategori didapat 6 Provinsi Aceh, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Maluku Utara dan Banten. Selain dilihat dari cakupan ANC dan PNC diatas, pe
Masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau dengan kematian. Perilaku ibu dalam memelihara kesehatannya dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan budaya.Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih lebih tinggi.Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan bahwa AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 34 per 1000 kelahiran hidup. Berdasar kesepakatan global (Millenium Development Goals / MDG’s 2000) diharapkan ada tahun 2015 terjadi penurunan AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AK menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup (Kementerian Kesehatan, 2011). Telah dilakukan berbagai upaya menuju persalinan aman dari sisi medis (provider) namun masih belum menunjukkan hasil memuaskan.
Program Jaminan Persalinan (Jampersal) diluncurkan mulai tahun 2011 berdasarkan Permenkes No. 631/Menkes/PER/III/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan dan Surat Edaran Menkes RI Nomor TU/Menkes/391/II/2011 tentang Jaminan Persalinan (Kementerian Kesehatan, 2011) dan kemudian diperbaiki dengan keluarnya Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2562/Menkes/PER/XII/2011 tentang hal yang sama. Dengan dimulainya program Jampersal dan masih banyaknya kendala perilaku dan sosial budaya dalam pemilihan penolong persalinan yang tentunya berdampak pada pemanfaatan Jampersal maka penelitian ini dilakukan. Kendala datang baik dari pihak ibu sendiri, dari masyarakat maupun dari fasilitas atau tenaga kesehatan.Penelitian ini mempunyai tujuan umum untuk menyediakan kajian peran sosial budaya dalam upaya peningkatan pemanfaatan program jaminan persalinan.
Dalam rangka merubah perilaku masyarakat dengan harapan agar seorang ibu hamil mau bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan maka upaya yang harus dilakukan adalah dengan melakukan intervensi melalui 3 tingkatan ekologi yaitu tingkat individu, tingkat interpersonal dan tingkat komunitas atau masyarakat. Pada tingkat individu (ibu) perlu dipahami tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku individu yaitu faktor pemicu, pendukung dan penguat antara lain nilai, kepercayaan, pengetahuan, sikap dan praktek tentang hal-hal terkait masa kehamilan, persalinan dan paska persalinan termasuk KB.
Dalam pemilihan perawatan/penolong ibu pada masa maternity (hamil, bersalin dan paska persalinan), ibu akan dipengaruhi orang sekitarnya karena hubungan antara individu/ interpersonal dengan orang di sekitarnya (suami, orangtua, tetangga). Dalam , pemilihan penolong kehamilan (Ante Natal Care/ANC), persalinan, paska persalinan ada faktor yang berpengaruh terhadap hubungan interpersonal yaitu faktor sosial budaya, termasuk demografi, geografi dan akses terhadap fasilitas pelayanan. Pada tingkat komunitas, penetapan praktek perawatan atau pertolongan kehamilan (ANC), persalinan dan paska persalinan ditentukan oleh ketanggapan fasilitas kesehatan terhadap kebutuhan ibu terkait harapan, dukungan/kemudahan serta hambatan dalam mengakses tenaga kesehatan. Hal ini juga dipengaruhi kebijakan pemerintah yang diberlakukan antara lain pembiayaan kesehatan berupa jaminan persalinan (jampersal).
Penelitian dilaksanakan sejak bulan Maret sampai dengan selesai pada bulan Desember 2012. Penelitian dilakukan di 6 provinsi berdasarkan cakupan ANC dan PNC dengan pembiayaan Jampersal secara Nasional, sebagai tolok ukur berdasarkan data tingkat provinsi pada tahun 2011 yang diperoleh dari P2JK.Mengacu pada cakupan ANC dan PNC dalam Pembiayaan mempergunakan Jampersal, maka dilakukan klasifikasi provinsi yaitu provinsi dengan cakupan tinggi; provinsi dengan cakupan sedang dan provinsi dengan cakupan rendah dalam pembiayaannya. Pada tiap kategori dipilih 2 provinsi; sehingga dari ketiga kategori didapat 6 Provinsi Aceh, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Maluku Utara dan Banten. Selain dilihat dari cakupan ANC dan PNC diatas, pe

More info:

Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2015

pdf

text

original

Kesehatan ibu dan anak di wilayah Puskesmas Parado tercermin dari hasil
cakupan pelayanan KIA. Data tahun 2010 dari profil Puskesmas Parado, menunjukkan
bahwa 55,56% atau 130 orang ibu yang persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan.
Angka ini bahkan menurun dari tahun 2009 yang memberikan gambaran persalinan
oleh nakes sebesar 60,94%. Sampai dengan September 2010 tercatat pasangan usia
subur 1.163 pasangan, dan 732 diantaranya sebagai peserta KB aktif (62,94%). Namun
angka ini belum termasuk data pasangan yang mengikuti KB kepada dokter praktek
swasta dan bidan swasta. Gambaran ini adalah data terkini (tahun 2010) yang bisa

338

diperoleh dalam profil puskesmas. Tidak diperoleh data puskesmas Parado untuk
tahun 2011.

Nilai-nilai yang berkembang dalam Masyarakat tentang Ibu Hamil, Ibu Bersalin dan
Bayi/Anak

Menurut tokoh masyarakat (toma) atau tokoh agama (Toga), masyarakat sangat
mengutamakan pendidikan. Mereka (tokoh masyarakat) akan merasa malu jika dalam
keluarganya tidak ada yang berpendidikan sarjana. Dari tokoh masyarakat yang hadir
pada FGD, sebagian besar memang mempunyai anak sarjana atau diri sendiri paling
tidak berpendidikan D3. Pengadakan dana pendidikan menjadi prioritas utama,
mereka menginvestasikan hartanya dalam bentuk hewan ternak, sawah atau ladang.
Ternak akan dijual bila membutuhkan biaya untuk pergi haji atau menyekolahkan anak.

Gambar.3.9.6. Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama saat FGD
Sumber: Dokumentasi Peneliti

Siklus kehidupan seseorang bermula dari lahirnya bayi, yang kemudian terus
tumbuh menjadi anak bawah lima tahun (balita), remaja, dewasa, tua, dan meninggal
dunia. Dalam kehidupan yang dijalani, individu tidak bisa lepas dari lingkungan
sekitarnya mulai dari keluarga dan lebih luas lagi masyarakat. Dalam suatu keluarga
yang umumnya terdiri dari ayah, ibu dan anak, terjadi interaksi antar anggota keluarga
khususnya yang berdiam dalam satu rumah. Keluarga di kecamatan Parado pada
umumnya terdiri dari keluarga inti. Tapi pada pasangan yang baru menikah, seringkali

339

mereka masih tinggal bersama dengan orangtua pihak suami atau pihak isteri, sesuai
dengan kesepakatan keluarga.

Kehamilan merupakan kondisi yang sangat diidam-idamkan pasangan yang
menikah. Anak adalah harapan orangtua di masa datang sehingga harus dijaga secara
hati-hati dengan memberikan perlakuan yang baik kepada ibu hamil baik secara psikis
melalui lingkungan islami yang santun dan secara fisik melalui pemberian gizi yang baik
dan lingkungan yang sehat. Berikut pernyataan seorang tokoh agama tentang tindakan
yang seharusnya dilakukan oleh orangtua agar tidak berdampak terhadap anak dalam
kandungan.

“……, orang tuh yang gimana, dia yang sedang hamil, dia melihat singa, akhirnya
timbul bulu singa, anaknya..sudah fakta itu, tapi tak tahu mana yang benar
..makanya dalam kehamilan ini, dijaga makanan, minuman, dan semuanya diatur,
supaya bayi yang dilahirkan nanti, sehat dengan sempurna. Kalau tentang
makanan itu, makanan yang halal. Yaitu yang kita isi dalam perut, kalau kita

ada..suami… kita cari, apakah dimana ini, kita harus tahu betul usulnya, makanya

oleh semua itu, itu kehamilan yang berkaitan dengan agama. Karena ini adalah
janin yang pertama, karena semua yang kita lahirkan yang pertama itu adalah
sebagai harapan”.

Masyarakat memberikan perhatian cukup baik kepada perempuan hamil.
Pembinaan kepada perempuan dan masyarakat pada umumnya tentang perawatan
kehamilan selalu disiarkan melalui ceramah-ceramah agama, seperti pernyataan Bapak
S yang menjabat sebagai kepala desa.

“melakukan sistem pembinaan,…....mulai dari ibu hamil, kami sebagai tokoh
masyarakat itu di setiap hari Jum’at..di setiap ceramah-ceramah itu ada kata-kata
yang menuju pada pembinaan …,..jadi ibu hamil itu dapat memahami dan

mengerti arti kehamilan itu, ketika sedang hamil..tentunya dia akan
memeriksakan kehamilan itu..dan itu hubungan kerja dengan kedokteran-
kedokteran yang ada di Parado dengan masyarakat di lingkungan ini memang
rutin dilakukan seperti itu..kemudian diluar kegiatan posyandu, juga
dilakukan..ada pembinaan kesehatan yang disampaikan…”.

Dalam perkembangannya, ibu akan mengalami kehamilan selama 9 (Sembilan)
bulan sampai pada akhirnya bayi dilahirkan. Isteri di kecamatan Parado, pada
umumnya ikut bekerja membantu suami baik di sawah atau ladang dan mencari kemiri
di hutan. Kehamilan meskipun ada perhatian berbeda tetapi dianggap bukan sebagai
suatu peristiwa yang perlu perhatian terlalu berbeda. Pada saat kehamilan, pada

340

umumnya suami memberi perhatian yang lebih pada isteri. Perhatian ini lebih dari
biasanya terutama pada kehamilan pertama dan setelah kehamilan tua (menjelang
persalinan).

Menurut suami dalam FGD diperoleh informasi bahwa suami memperingatkan
agar isteri berhati-hati menjaga kehamilan, menganjurkan untuk makan makanan
bergizi. Pekerjaan berat dilarang dilakukan bila usia kehamilan sudah besar (trimester
3). Tetapi pada umumnya ibu-ibu hamil tetap melakukan kegiatan sehari-hari yang
biasa dilakukan seperti memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah dan
membantu kegiatan di ladang. Bahkan sebagian ibu tetap ikut suami bermalam di
kebun untuk mencari kemiri yang menjadi salah satu mata pencaharian mereka. Bapak
SS memberikan pernyataan apa yang dilakukannya kepada isteri yang sedang hamil.

“Istri tidak oleh kerja terlalu keras. Pada waktu hamil nggak pergi ke sawah,

Selama ini kasih sayang ibuk oleh suaminya, dia tidak suruh mengerjakan
istrinya, dia di Posyandu katanya diperiksa kandungannya, mau mandi disinikan
air kekurangan, biasanya ibu ini yang ambil air dan dia tidak kekurangan sambil

memposisikan kondisi istrinya.”

Perlakuan istimewa tidak banyak diperoleh kaum ibu, kebiasaan bekerja keras
tidak membuat mereka manja. Kegiatan rutin tetap dijalani. Mereka baru berhenti
melakukan kegiatan sampai dengan menjelang persalinan. Ibu yang masih kuat
beraktifitas akan tetap melakukannya, bahkan dipercaya aktifitas akan membuat
persalinan berjalan lancar.

Kehamilan meskipun sesuatu yang diharapkan tapi sebagian mesyarakat tidak
ingin memperlihatkan kehamilannya. Masyarakat malu jika dibawa ke puskesmas pada
siang hari karena malu dilihat orang. Kehamilan disembunyikan dengan tidak
menceritakan bahwa kelahiran sudah menjelang. Hal ini dilakukan untuk menghindar
dari orang jahat yg akan membuat kelahiran menjadi ‘sulit’. Kepercayaan terhadap hal-
hal ghaib masih berkembang meskipun ritual-ritual agama juga dilakukan baik di
rumah maupun masjid yang banyak dijumpai di desa. Dengan sifat kekeluargaan yang
masih tinggi, masyarakat selalu ingin berpartisipasi dalam setiap peristiwa penting
yang terjadi pada suatu keluarga seperti persalinan. Perhatian masyarakat kepada ibu
bersalin terlihat dari perhatian mereka dengan berbondong-bondong mengantar ibu
bersalin ke puskesmas.

341

“ Ya biasanya itu buk, yang melahirkan satu tapi yang mengantarkan itu sampai

lima puluh orang. kebetulan juga kita dari rumah, airkan..kita disini kan kesulitan
air buk. Tetangga-tetangga itu sudah mengambil air, sudah ada yang ini,
mempersiapkan yang itu. Bukan hanya satu orang tapi semua seperti itu, jadi
kayak arisan modelnya. Nanti kalau sudah disana, ada yang nyiapin air, pokoknya
seperti itu sudah biasa.”

Kepercayaan yang masih berkembang

Penduduk Kecamatan Parado yang merupakan daerah pedesaan memiliki ciri
sebagai masyarakat desa seperti di kebanyakan lokasi lain. Ikatan kuat antar warganya
dengan interaksi sosial yang intim serta menjunjung kebersamaan, masih terlihat
dalam kehidupan masyarakat. Tradisi-tradisi leluhurnya masih dipegang kuat dan
dilaksanakan meskipun sudah berkurang seiring dengan meningkatnya teknologi yang
masuk dan tingkat pendidikan masyarakat yang meningkat. Terkait dengan
kepercayaan yang berhubungan dengan KIA, masih cukup kuat berkembang
dimasyarakat.Macam-macam pantangan, tabu, kebiasaan yang berhubungan dengan
kesehatan ibu dan anak dikenal dan dipraktekan oleh keluarga-keluarga di sana.

Meskipun dikatakan oleh tokoh masyarakat bahwa penddikan masyarakat sudah
baik dan sudah banyak sarjana serta lulusan SMA (38,6% pendidikan SMA – sarjana),
tetapi masyarakat masih banyak yang percaya kepada hal-hal yang tradisional dan
ghaib.Kemungkinan hal ini terkait dengan masih tingginya pemahaman ‘benar’ tentang
upacara. Ada 55.7% responden ibu yang menjawab bahwa upacara berpengaruh
terhadap persalinan yang selamat.

Dalam kehidupan masyarakat masih banyak proses kehidupan yang dikaitkan
dengan mitos, pantangan, dan tabu. Dalam masa kehidupan seorang perempuan di
Parado, berbagai ritual, tradisi, pantangan/tabu masih banyak dilakukan, secara
terperinci di bedakan dari 3 yaitu masa kehamilan, persalinan dan pasca persalinan.
Kenyataan ini didukung hasil survey terhadap 70 orang ibu yang melahirkan 1 tahun
terakhir.

342

Tabel. 3.9.3
Responden yang melakukan Upacara Adat pada Saat Kehamilan, Persalinan dan Pasca
Persalinan di Kecamatan Parado

Siklus Reproduksi

“Ya” Melakukan Upacara

Kehamilan

32,9%

Persalinan

27,1%

Paca Persalinan

21,4%

Sumber: Data Primer

Masa Kehamilan. Masa kehamilan khususnya bagi perempuan yang baru
pertama hamil, merupakan peristiwa yang dinanti-nantikan. Kehamilan sangat dijaga
dan keluarga biasanya juga mendukung melalui berbagai pantangan yang harus
dilakoni ibu hamil. Ada kepercayan yang berkembang bahwa ibu hamil tidak boleh
keluar malam hari, kecuali ada kepentingan seperti periksa ke bidan.Keadaan ini
terungkap dalam FGD dengan suami yang menceritakan hal-hal yang harus ditaati ibu
hamil agar terhindar dari kesulitan.

“Setelah magrib, ibu hamil harus tinggal di rumah. Ibu hamil tidak boleh
melewati kuburan. Umpama kita dari sawah ya, lewat gerbang pertanian sana
ya”.

Kepercayaan terhadap makhluk gaib yang dapat mengganggu kehamilan
dikenal masyarakat Parado. Untuk melindungi ibu hamil, mereka juga mengenal cara-
cara tertentu. Daun tula merupakan daun yang dipercaya dapat menolak bahaya. Daun
tersebut dibawa ibu hamil atau suami dan diletakkan di persimpangan jalan untuk
menolak bala bagi ibu hamil, seperti dinyatakan seorang suami Bapak .

“Jadi kalau ada jalan yang apa namanya bercabang itu kata orang tua-tua
dulu, itu menghindari setan dan lain sebagainya itu harus disimpan daun-
daunan itu, daun ‘Tula’, namanya. Jadi istilah daun Tula, jadi pagi itu
disimpan”.

Daun tula harus diletakkan oleh perempuan hamil atau suaminya di cabang jalan.

“Di cabang, untuk tola balak supaya nggak diganggu-gangu lagi atau biar
nggak diikuti.”

Masyarakat Parado masih percaya mistik dan takut dijampe-jampe orang yang
tidak suka.Pertolongan dukun untuk menghindarkan dari makhluk gaib, dilakukan
karena menganggap dukun mampu melakukan hal tersebut dengan cara disembur.

343

Upaya meminta tolong dukun dilakukan oleh isteri yang sedang hamil seperti
diutarakan bapak JK.

“Kalau pas dukunnya itu tahu , suruh pakai...,biar dia sembur gitu sama di
pinggangnya saja katanya. Kalau air nggak dikasih katanya, pas dibaca jampi-

jampinya itu pas dia sembur itu disininya”.

Berbagai pantangan dan anjuran kepada ibu hamil pada umumnya dilakukan
dengan harapan kehamilan dapat berlangsung dengan baik dan bayi serta ibu selamat
sampai dengan persalinan. Meskipun tidak memahami makna dari pantangan, tetapi

bagi ibu hamil yang mendapat ‘perintah’ dari orangtua atau keluarga, mereka akan

mematuhinya.

Tradisi Kiri Loko (nujuh bulanan) masih dikenal dan dilakukan sebagian
masyarakat Parado. Tradisi tujuh bulanan ini juga bisa dijumpai pada berbagai etnik
lain di Indonesia. Upacara ini dilakukan saat usia kandungan memasuki usia tujuh
bulan. Pada usia kehamilan tersebut, janin dalam kandungan telah membentuk
menjadi manusia yang utuh dan siap untuk dilahirkan dalam beberapa bulan ke depan.
Tradisi ini dipercayamemberikan kekuatan dan semangat kepada calon ibu
menghadapi peristiwa besar dalam hidupnya.Dalam prosesinya banyak menggunakan
simbol-simboldan makna kehidupan dari setiap prosesnya. (Taufa, NI.2011)

Berikut beberapa pantangan dan anjuran yang masih berlaku di masyarakat

Parado:

344

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->