KATA PENGANTAR

Penyusunan laporan merupakan bagian akhir dari suatu kegiatn penelitian dan menjadi bagian terpenting untuk menyampaikan seluruh rangkaian tahapan penelitian yang diakhiri dengn kesimpulan dan rekomendasi. Penyusunan laporan berjudul “Peran Sosial Budaya dalam Upaya Meningkatkan Pemanfaatan Program Jaminan Persalinan (Jampersal)” berlangsung alot karena penulisannya per kabupaten/kota diserahkan tanggung jawabnya secara merata kepada anggota tim peneliti. Setiap peneliti bertanggung jawab terhadap laporan hasil setiap kabupaten/kota, karena hasil penelitian ini ingin mengungkapkan secara detil keadaan sosial budaya di masingmasing lokasi. Pada bab “Hasil” diuraikan secara detil tujuan penelitian yang ingin dicapai di setiap daerah lokasi penelitian (12 lokasi). Dengan demikian dpat diketahui dan disampaikan secara spesifik dan detil ke khasan budaya di masing-masing lokasi yang mengungkapkan keadaan sosial masyarakat. Buku laporan ini dilengkapi dengan fotofoto yang diambil di daerah penelitian, dilengkapi peta sosial budaya yang merupakan rangkuman dari engamatan di lapangan oleh peneliti. Melalui gambar, diharapkan memudahkan pembaca memahami apa yang ingin diungkapkan mengingat cukup banyak wujud budaya yang sulit diungkapkan hanya dengan kata-kata. Penelitian ini mengutamakan data kualitatif sebagai kekuatan dari hasil penelitian, didukung data kuantitatif yang diperoleh dari hasil wawancara terstruktur kepada ibu yang melahirkan dalam kurun waktu satu tahun sebelum pelaksanaan pengumpulan data. Tidak mudah menggabungkan kedua jenis data, mengingat tim peneliti tidak seluruhnya berpengalaman melakukan hal tersebut serta memili “style” berbeda dalam penulisan suatu hasil kualitatif. Penggabungannya memnutuhkan usaha keras masing-masing peneliti. Dengan cara penyampaian tersebut diharapkan lebih mampu mengungkapkan fakta di lapangan dengan lebih detail. Uraian tentang ritual dan adat istiadat yang masih berlangsung di masyarakat menggambarkan bahwa masih banyak tradisi yang melekat dalam budaya masyarakat khususnya di perdesaan.

i

Harapan peneliti, hasil penelitian ini mampu memberikan sumbangsih dalam mendukung program penurunan angka kematian maternal dan bayi yang sulit untuk diturunkan meskipun berbagai upaya telah dilakukan pemerintah. Diharapkan dengan adanya data dari sisi masyarakat dapat membantu apa yang bisa dilakukan pemerintah tanpa meninggalkan kondisi di masyarakat. Semoga buku ini dapat menjadi acuan meskipun terbatas untuk daerah dan sosail budaya tertentu.

Surabaya, Januari 2013 Tim Peneliti

ii

ABSTRAK

Latar Belakang. Pemerintah telah meluncurkan Jampersal sebagai salah satu upaya menekan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi yang masih tinggi sebagai percepatan mencapai target MDGs 2015. Perilaku pencarian pertolongan persalinan dipengaruhi nernagai factor termasuk sosial budaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan kajian peran sosial budaya dalam upaya peningkatan pemanfaatan program jaminan persalinan. Metode Penelitian. Data kualitatif dikumpulkan dengan wawancara mendalam, FGD kepada tokoh masyarakat, dukun bersalin, bidan, kepala puskesmas, didukung data kuantitatif dengan responden ibu yang melahirkan satu tahun terakhir. Lokasi penelitian di 6 propinsi masingmasing ditetapkan satu wilayah puskesmas di desa dan satu di kota. Hasil Penelitian. Menunjukkan masih kuat nilai kepercayaan dan pelaksanaan ritual/adat istiadat masih banyak dilakukan sehingga peran dukun masih dibutuhkan. Sarana transportasi menjadi hambatan utama persalinan di fasilitas kesehatan. Interaksi sosial masyarakat desa menjadi kekuatan sedang di kota fasilitas memadai sehingga akses menjadi mudah. Bidan sudah diterima relative baik di desa maupun di kota oleh masyarakat yang ternyata memiliki pengetahuan kesehatan baik. Sumber pembiayaan persalinan sudah banyak dengan memanfaatkan jampersal namun belum maksimal bahkan cenderung rendah di perkotaan tertentu. Sosialisasi tentang Jampersal menjadi kendala utama disamping masih adanya conflict of interest pada Bidan Praktek Swasta. Kesimpulan. Disimpulkan bahwa Jampersal membantu persalinan aman, namun perlu sosialisasi yang lebih intensif secara menyeluruh. Persalinan dengan bidan sudah membudaya namun dukun masih dibutuhkan masyarakat untuk perawatan ibu dan bayi serta pelaksanaan tradisi Saran: Budaya dan praktek tradisi masih memberikan pengaruh dalam pemilihan penolong persalinan, budaya yang berdampak positip dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan persalinan di bidan dan dilaksanakan di fasilitas kesehatan seperti, sifat kegotong royongan, tradisi 7 bulanan. Perlu pembagian tupoksi bidan dan dukun dan pendanaan Jampersal untuk jasa dukun dan bantuan transportasi.

iii

ABSTRACT

Background. The National Delivery Assurance (NDA) was launched by the government as one of effort to push down Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) and a booster to reach the target of MDGs 2015. Birth attendance seeking behavior is influenced by various factors including socio-cultural aspect. This research aimed to provide a study on the role of socio-cultural aspect in an effort to raise the utilization of NDA. Method. This research employed a mixed between qualitative and quantitative method with qualitative data as main tool analysis. Qualitative data were collected through in-depth interviews and FGD, whereas quantitative data were collected through survey to mothers who had given birth in the past year. This research was conducted in 6 provinces which were represented by one each primary health center in urban area and rural area. Result. The result of this research showed that traditional value and practice of rituals were still performed, therefore the role of Traditional Birth Attendance (TBA) remain needed. Transportation was the main obstacle in getting delivery assistance in health facilities. Midwives were welcomed both in rural and urban areas. The people had a good knowledge on maternal and child health. The NDA were used as delivery financial source although not yet maximized or even low in certain cities. Socialization of NDA was one of main obstacle in its implementation as well as conflict of interest between government and private practice midwives. Conclusion. The NDA provided cost to support the acceptability of safe delivery assistance, but it’s broader and effective socialization need to be conducted. TBA was needed to care maternal and child health and to assist the tradition. Suggestion. Cultural aspect and practice of tradition play a role on people’s choice to get safe delivery assistance. Some positive aspect of it such as mutual aid, seventh month pregnancy’s ritual can be utilized to raise safe delivery by health worker, in health facilities. NDA support cost of TBA’s service and transportation to reach health facilities.

iv

RINGKASAN EKSEKUTIF Peran Sosial Budaya dalam Upaya Meningkatkan Pemanfaatan Program Jaminan Persalinan (Jampersal) Masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau dengan kematian. Perilaku ibu dalam memelihara kesehatannya dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan budaya.Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih lebih tinggi.Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan bahwa AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 34 per 1000 kelahiran hidup. Berdasar kesepakatan global (Millenium Development Goals / MDG’s 2000) diharapkan ada tahun 2015 terjadi penurunan AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AK menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup (Kementerian Kesehatan, 2011). Telah dilakukan berbagai upaya menuju persalinan aman dari sisi medis (provider) namun masih belum menunjukkan hasil memuaskan. Program Jaminan Persalinan (Jampersal) diluncurkan mulai tahun 2011

berdasarkan Permenkes No. 631/Menkes/PER/III/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan dan Surat Edaran Menkes RI Nomor TU/Menkes/391/II/2011 tentang Jaminan Persalinan (Kementerian Kesehatan, 2011) dan kemudian diperbaiki dengan keluarnya Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2562/Menkes/PER/XII/2011 tentang hal yang sama. Dengan dimulainya program Jampersal dan masih banyaknya kendala perilaku dan sosial budaya dalam pemilihan penolong persalinan yang tentunya berdampak pada pemanfaatan Jampersal maka penelitian ini dilakukan. Kendala datang baik dari pihak ibu sendiri, dari masyarakat maupun dari fasilitas atau tenaga kesehatan.Penelitian ini mempunyai tujuan umum untuk menyediakan kajian peran sosial budaya dalam upaya peningkatan pemanfaatan program jaminan persalinan. Dalam rangka merubah perilaku masyarakat dengan harapan agar seorang ibu hamil mau bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan maka upaya yang harus dilakukan adalah dengan melakukan intervensi melalui 3 tingkatan ekologi yaitu tingkat individu, tingkat interpersonal dan tingkat komunitas atau masyarakat. Pada tingkat individu (ibu) perlu dipahami tentang faktor-faktor yang berpengaruh

v

terhadap perilaku individu yaitu faktor pemicu, pendukung dan penguat antara lain nilai, kepercayaan, pengetahuan, sikap dan praktek tentang hal-hal terkait masa kehamilan, persalinan dan paska persalinan termasuk KB. Dalam pemilihan perawatan/penolong ibu pada masa maternity (hamil, bersalin dan paska persalinan), ibu akan dipengaruhi orang sekitarnya karena hubungan antara individu/ interpersonal dengan orang di sekitarnya (suami, orangtua, tetangga). Dalam , pemilihan penolong kehamilan (Ante Natal Care/ANC), persalinan, paska persalinan ada faktor yang berpengaruh terhadap hubungan interpersonal yaitu faktor sosial budaya, termasuk demografi, geografi dan akses terhadap fasilitas pelayanan. Pada tingkat komunitas, penetapan praktek perawatan atau pertolongan kehamilan (ANC), persalinan dan paska persalinan ditentukan oleh ketanggapan fasilitas kesehatan terhadap kebutuhan ibu terkait harapan, dukungan/kemudahan serta hambatan dalam mengakses tenaga kesehatan. Hal ini juga dipengaruhi kebijakan pemerintah yang diberlakukan antara lain pembiayaan kesehatan berupa jaminan persalinan (jampersal). Penelitian dilaksanakan sejak bulan Maret sampai dengan selesai pada bulan Desember 2012. Penelitian dilakukan di 6 provinsi berdasarkan cakupan ANC dan PNC dengan pembiayaan Jampersal secara Nasional, sebagai tolok ukur berdasarkan data tingkat provinsi pada tahun 2011 yang diperoleh dari P2JK.Mengacu pada cakupan ANC dan PNC dalam Pembiayaan mempergunakan Jampersal, maka dilakukan klasifikasi provinsi yaitu provinsi dengan cakupan tinggi; provinsi dengan cakupan sedang dan provinsi dengan cakupan rendah dalam pembiayaannya. Pada tiap kategori dipilih 2 provinsi; sehingga dari ketiga kategori didapat 6 Provinsi Aceh, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Maluku Utara dan Banten. Selain dilihat dari cakupan ANC dan PNCdiatas, pemilihan provinsi dalam penelitian ini juga didasari oleh persebaran provinsi, agar dalam penelitian ini setiap region dapat terwakili.

vi

Daftar Provinsi, Kabupaten/Kota dan Puskesmas Sebagai Lokasi Penelitian

PROPINSI 1. Aceh

KABUPATEN/KOTA 1. Kab. Gayo Lues 2. Kota Banda Aceh 1. Kab. Bima 2. Kota Mataram 1. Kab. Landak 2. Kota Pontianak 1. Kab. Jeneponto 2. Kota Makassar 1. Kab. Halmahera Selatan 2. Kota ternate 1. Kab. Lebak 2. Kota Cilegon

PUSKESMAS Pintu Rime Lampaseh Kota Parado Karang Pule Semata Karya Mulya Arungkeke Kasi Kasi Mateketen Kota ternate Cirinten Citangkil

3. Kalimantan Barat 4. Sulawesi Selatan 5. Maluku Utara 6. Banten

Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pengambilan data cross sectional. Cara pengumpulan data secara kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dikumpulkan dengan wawancara terstruktur pada ibu yang melahirkan pada tahun 2011 untuk memperoleh data tentang faktor karakteristik, nilai, kepercayaan, pengetahuan, sikap dan praktek terkait ANC, persalinan dan paska persalinan serta alasan dan pengambil keputusan memilih penolong persalinan. Semua hal tersebut terkait dengan pemanfaatan jampersal. Data Kualitatif dikumpulkan dengan cara Focus Group Discussion (FGD) dan indepth interview (wawancara mendalam) untuk memperoleh informasi tentang sosial budaya masyarakat dan (ibu, suami, tokoh masyarakat, bidan, dukun, pengelola program KIA/KB dan jampersal dan Kepala Puskesmas serta Kepala Dinas Kesehatan). Informasi yang ditanyakan terkait faktor pemicu, pendukung, penguat, hambatan dan harapan terkait pemanfaatan Jampersal serta peran tenaga kesehatan dalam pemanfaatan Jampersal. Populasi dan Sampel Penelitian. Ibu yang melakukan persalinan pada Juni 2011–Mei 2012 baik memanfaatkan Jampersal atau tidak, akan ditetapkan sebagai sampel dengan cara stratified random sample. Dilakukan listing persalinan di wilayah puskesmas terpilih (diambil dari kohort). Selanjutnya di setiap wilayah puskesmas terpilih akan diambil 68 ibu sebagai sampel minimum. Data diolah secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk narasi dan tabel serta gambar.

vii

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai dan norma menjadi pegangan masyarakat desa dalam mengatur tingkah lakunya. Norma menjadi ukuran, pedoman,aturan atau kebiasaan agar orang dapat melakukan penilaian apakah sesuatu termasuk benar atau salah. Dalam hal kesehatan ibu dan anak, perilaku yang terlihat masih cukup banyak diwarnai dengan religi ataupun kepercayaan yang masih dianut. Di lokasi penelitian dengan masyarakat yang masih memegang erat aturan agama (misal. Aceh, Bima dengan mayoritas pemeluk agama Islam) maka tindakan yang mereka lakukan seringkali dikaitkan dengan nili-nilai dalam ajaran agama Islam.Masyarakat kota lebih mengutamakan hukum formal sebagai pengatur perilakunya. Kepercayaan terhadap tradisi masih dipegang erat oleh masyarakat di perdesaan, dan kurang dilaksanakan di perkotaan. Kepercayaan terhadap mistik atau gaib atau roh, seringkali mendorong perilaku yang merugikan.Masyarakat desa di lokasi penelitian masih sangat kuat terlibat dalam suatu upacara.Kepercayaan sebagai unsur budaya tidaklah mudah untuk mengubahnya. Unsur ini sulit diterima masyarakat khususnya bila menyangkut ideologi dan falsafah hidup. Berbeda dengan kelompok masyarakat perkotaan yang lebih bersifat individualistik sehingga kedekatan satu sama lain sudah berkurang. Status sosialnya yang heterogen dengan mata pencaharian penduduk yang berbagai macam serta kompetitif, tidak bergantung kepada alam membuat masyarakat kota lebih dinamis. Pada umumnya keterikatan terhadap tradisi sangat kecil. Masyarakat kota Banda Aceh, Pontianak dan Makasar sudah jarang yang melakukan ritual dan upacara. Responden di 12 lokasi penelitian memiliki pengetahuan yang cukup bagus tentang “persalinan aman bila ditolong bidan”. Namun sikap tidak setuju terhadap kompetensi bidan yang lebih baik dari dukun yaitu di responden di Halmahera Selatan dan Gayo Lues tetapi dalam pemilihan penolong persalinan, mereka tetap memilih bidan.Masyarakat di desa banyak memilih tempat persalinan di rumah ke fasilitas kesehatan terutama karena lokasi yang sulit transportasi. Responden di kota lebih cenderung memilih melahirkan di faskes daripada responden yang tinggal di desa.Pengetahuan, sikap yang baik dan mendukung bukan satu-satunya faktor yang mampu mendorong seseorang untuk bertindak positip. Masih banyak faktor lain yang

viii

mendukung perilaku khususnya dalam upaya persalinan. Alam dan lingkungan yang sulit telah membatasi komunikasi secara langsung bidan dan masyarakat, sehingga sulit untuk mengakses bidan pada saat dibutuhkan. Persalinan ditolong oleh bidan merupakan salah satu upaya menurunkan AKI dan AKB. Pemanfaatan Jampersal mensyaratkan persalinan ditolong tenaga kesehatan dan dilakukan di fasilitas kesehatan. Pengetahuan tentang keamanan persalinan ternyata hampir semua responden di 12 lokasi penelitian memiliki pengetahuan yang cukup bagus tentang “persalinan aman bila ditolong bidan”. Pemilihan penolong persalinan dukun dengan alasan dukun adalah orang yang dipercaya dan dianggap tepat membantu ibu saat kehamilan dan persalinan. Dukun adalah orang yang sudah sangat mereka kenal, disamping dukun menolong dengan biaya yang terjangkau menjadi pendorong mereka memilih dukun. Ada pandangan bahwa dukun memiliki kompetensi yang sama dengan bidan dalam menolong persalinan sehingga mendorong memilih dukun sebagai penolong persalinan. Persalinan adalah proses alamiah, merupakan anggapan yang umum dan diakui. Jaminan persalinan diselenggarakan pemerintah dalam upaya memfasilitasi masyarakat agar mendapat pelayanan pertolongan persalinan aman oleh tenaga kesehatan yang dilakukan di fasilitas kesehatan. Dengan adanya Jampersal diharapkan dapat mengakselerasi tujuan MDG’s 4 (status kesehatan anak) dan MDG’s 5 (status kesehatan ibu). Peran sosial budaya dapat mempengaruhi pemanfaatan jampersal melalui beberapa hal yaitu sosialisasi, kepesertaan, pendanaan, pelayanan dan ketenagaan melalui 5 unsur budaya. Berikut kesimpulan dan saran penelitian dengan perincian unsur budaya yang berpengaruh terhadap pemanfaatan Jampersal. 1. Sosialisasi 1) Pendidikan dan pengetahuan, yang baik akan lebih memudahkan pemahaman terhadap suatu informasi. Keberadaan media informasi seperti televise, radio, surat kabar akan memberikan kemudahan penyampaian informasi KIA dan jampersal. 2) Kepercayaan: hambatan pada masyarakat (Gayo) yang masih percaya santet/gaib, masyarakat menolak paham baru (misal informasi ttg kesehatan/ jampersal) kehadiran orang belum dikenal

ix

3) Mata pencaharian: bekerja di perkebunan/ ladang yang lokasinya jauh menyebabkan banyak masyarakat menghabiskan waktu di ladang atau kebun sehingga kurang terpapar oleh informasi 4) Orsosmas: Interaksi masyarakat yang baik akan memudahkan diterimanya suatu informasi tentang KIA dan jampersal. Informasi yang diterima ibu bila dapat diterima dengan baik oleh suami akan mendorong kemungkinan persalinan kepada nakes mengingat di masyarakat perdeaan, suami adalah pengambil keputusan. 5) Teknologi komunikasi: teknologi informasi tidak banyak dimanfaatkan dalam proses penyampaian jampersal dan KIA. Informasi lebih banyak diterima secara langsung dengan cara tatap muka yang terjadi antara bidan dengan ibu pada saat pelayanan KIA. Saran 1) Bidan sebagai sumber informasi harus mampu menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat sasaran (ibu), tokoh masyarakat dan organisasi massa. 2) Perlu pembekalan pengetahuan budaya kepada bidan melalui orientasi sebelum melaksanakan tugas di masyarakat. 3) Menghindari konflik kepentingan bidan puskesmas yang berpraktek swasta dengan memberikan kompensasi kepada bidan. 2. Kepesertaan 1) Pengetahuan/Pendidikan yang baik akan meningkatkan pemahamanan tentang manfaat jampersal serta prosedur dan persyaratan yang harus dipenuhi. Banyak masyarakat belum pernah mendengar tentang jampersal, termasuk tokoh masyarakat dan perangkat desa (hasil FGD). 2) Mata Pencaharian. Petani, pekerja kebun, nelayan, buruh

perkebunan/pertanian (kelompok ekonomi kurang) tidak memanfaatkan akibat ketidak tahuan terhadap jampersal dan persyaratannya. 3) Kepercayaan tidak terkait dengan kepesertaan 4) Orsosmas: aparat tidak mempersiapkan masyarakat untuk memanfaatkan

jampersal. Hal ini kemungkinan karena tidak adanya sosialisasi yang terintegrasi antara bidang kesehatan/puskesmas dengan kelurahan.

x

Kepemilikan KTP di daerah pedesaan cukup banyak sehingga harus mengurus kartu domisili. 5) Teknologi: program pemerintah untuk menyelenggarakan e-KTP merupakan sarana untuk mempermudah masyarakat ikut serta dalam jampersal karena identitas diri terdaftar secara nasional. Saran: 1) Sosialisasi lebih luas dan detil termasuk prosedur dan persaratan menjadi peserta jampersal melalui tokoh masyarakat (contoh: Lurah, ketua RW/RT, dll) dan pemuka agama (kiai, pendeta). Pemanfaatan dukun sebagai penyampai pesan jampersal dengan membangun peran kemitraan yang harmonis dengan bidan. 2) Untuk meningkatkan pemanfaatan jampersal maka perlu adanya kerjasama puskesmas dengan pihak desa dan kecamatan, bahkan seharusnya dimulai dari strata yang paling tinggi (Kementerian). 3) Perlu peningkatan dan kecepatan penyelenggaraan e-KTP yang merata hingga di tingkat desa. 3. Pendanaan 1) Pengetahuan/Pendidikan: Pengetahuan yang baik membuat masyarakat mampu memprioritaskan pembelanjaan uang, sehingga ada upaya untuk menglokasikan sebagian penghasilan untuk kepentingn kesehatan. 2) Mata pencaharian: Pendanaan sangat erat kaitannya dengan geofrafis. Untuk melayani ibu di daerah perdesaan yang sulit, tidak memungkinkan untuk mendatangi fasilitas kesehatan sehingga bidan yang dijemput untuk melahirkan di rumah ibu. Masalah semakin kompleks apabila dukun yang dicari oleh masyarakat sehingga harapan ersalinan oleh nakes di faskes menjadi semakin tidak terpenuhi. Daerah perdesaan di daerah sulit membutuhkan biaya transportasi khusus. 3) Jasa dukun masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat khususnya dalam perawatan kehamilan dan pasca persalinan. Adanya kemitraan dukun – bidan, maka perlu dipikirkan jasa dukun.
xi

Saran: 1) Pendanaan Jampersal perlu memberikan biaya transportasi ibu bersalin menuju fasilitas kesehatan. 2) Ada alokasi dana jampersal jasa pelayanan dukun. Sumber dana dapat memanfaatkan BOK atau dana pemerintah daerah yang lain. 4. Pelayanan dan Ketenagaan 1) Pendidikan dan pengetahuan masih rendah tentang KIA dan jampersal. Masih banyak masyarakat menggunakan dukun untuk memeriksakan kehamilan. Keadaan ini cukup memprihatinkan mengingat pemerintah telah menyediakan jampersal yang memberikan pelayanan dengan tenaga professional (bidan). Masih ada persepsi bahwa dukun lebih kompeten dalam mendeteksi kehamilan dan mengatur letak janin dalam rahim. Pemeriksaan kehamilan oleh bidan mengikuti standar K4 masih belum mencapai target. Termasuk dalam hal ini adalah persalinan dan pasca persalinan. 2) Masih ada persepsi dari masyarakat bahwa kemampuan dukun lebih dari bidan dalam hal mengadopsi kepercayaan dan spiritual yang diyakini masyarakat misalkan: bersuci (mengambil air wudhu) sebelum menolong persalinan, membaca do’a atau mantra pada saat menolong persalinan. Masyarakat masih membutuhkan pelayanan dukun karena masih kuatnya tradisi pelayanan

komprehensif yang dilakukan oleh dukun. Kemitraan bidan-dukun telah berjalan tetapi masih belum jelas pembagian tugas antara bidan dan dukun.Masih banyak keluhan masyarakat desa terhadap bidan, antara lainbidan kurang memahami budaya setempat, kurang mampu berinteraksi dengan masyarakat. 3) Persalinan di rumah terjadi karena lokasi rumah penduduk yang terpencil jauh dari fasilitas kesehatan (poskesdes, polindes, pustu, puskesmas). Selain minimnya sarana transportasi, juga. 4) Persepsi yang salah tentang keamanan persalinan di rumah juga menyebabkan masyarakat memilih untuk melahirkan di rumah. Saran: 1) Pemahaman tentang risiko kehamilan melalui kegiatan yang ada di masyarakat seperti, konseling pra nikah, disisipkan pada ritual pernikahan.
xii

2) Peran serta masyarakat misalkan ojek siaga, ambulan desa, rumah singgah. 3) Kurikulum bidan perlu ditambah degan materi “pendekatan budaya masyarakat” dan melakukan kerja praktek di perdesaan. 4) Bidan mampu memenuhi keinginan masyarakat terkait dengan kepercayaan dan spiritual melalui pembagian peran dalam kemitraan dengan dukun. Dukun memimpin ritual persalinan sementara bidan menangani proses persalinan secara medis. 5) Penempatan bidan di desa harus diiringi dengan orientasi dan pembimbingan untuk pengenalan wilayah kerja yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan setempat.

xiii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ABSTRAK ABSTRACT RINGKASAN EKSEKUTIF DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan Penelitian BAB 2. METODE PENELITIAN 2.1. Kerangka Konsep 2.2. Waktu dan Tempat Penelitian 2.3. Jenis dan Desain Penelitian 2.4. Populasi dan Sampel Penelitian 2.5. Instrumen dan Cara Pengumpulan Data 2.6. Pengolahan dan Analisis Data BAB 3. HASIL PENELITIAN SOSIAL BUDAYA TERKAIT KESEHATAN IBU DAN ANAK 3.1. Puskesmas Pintu Rime, Kabupaten Gayo Lues 3.1.1. Gambaran Umum Kabupaten Gayo Lues 3.1.2. Gambaran Umum Puskesmas Pintu Rime Kecamatan Pining 3.1.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak 3.1.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal 3.1.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan Program Jampersal 3.1.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan Jampersal 3.2. Puskesmas Lampaseh Kota, Kota Banda Aceh 3.2.1. Gambaran Umum Kota Banda Aceh 3.2.2. Gambaran Umum Lampaseh Kota 3.2.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak 3.2.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal 3.2.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan Program Jampersal 3.2.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan Jampersal 3.3. Puskesmas Cirinten, Kabupaten Lebak 3.3.1. Gambaran Umum Kabupaten Lebak 3.3.2. Gambaran Umum Kecamatan Cirinten 3.3.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak 3.3.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal 3.3.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan Program Jampersal 3.3.6. Hambatandan Dukungan dalam Pelaksanaan Jampersal

i iii iv v xiv xviii xxii 1 1 5 6 6 7 9 10 11 13 15 15 15 25 36 46 52 54 59 59 62 66 75 83 85 88 88 90 103 119

131 135

xiv

3.4. Puskesmas Citangkil, Kota Cilegon 3.4.1. Gambaran Umum Kota Cilegon 3.4.2. Gambaran Umum Puskesmas Citangkil 3.4.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak 3.4.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal 3.4.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan Program Jampersal 3.4.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan Jampersal 3.5. Puskesmas Semata, Kabupaten Landak 3.5.1. Gambaran Umum Kabupaten Landak 3.5.2. Gambaran Umum Puskesmas Semata 3.5.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak 3.5.4. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan Jampersal 3.6. Puskesmas Karya Mulya, Kota Pontianak 3.6.1. Gambaran Umum Kota Pontianak 3.6.2. Gambaran Umum Puskesmas Karya Mulya 3.6.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak 3.6.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal 3.4.5. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan Jampersal 3.7. Puskesmas Arungkeke, Kabupaten Jeneponto 3.7.1. Gambaran Umum Kabupaten Jeneponto 3.7.2. Gambaran Umum Puskesmas Arungkeke 3.7.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak 3.7.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal 3.7.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan Program Jampersal 3.7.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan Jampersal 3.8. Puskesmas Kassi-kassi, Kota Makassar 3.8.1. Gambaran Umum Kota Makassar 3.8.2. Gambaran Umum Puskesmas Kassi-kassi 3.8.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak 3.8.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal 3.8.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan Program Jampersal 3.8.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan Jampersal 3.9. Puskesmas Parado, Kabupaten Bima 3.9.1. Gambaran Umum Kabupaten Bima 3.9.2. Gambaran Umum Kecamatan Parado 3.9.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak 3.9.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal 3.9.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan xv

138 138 143 149 160 167 171 176 176 182 188 205 210 210 214 216 221

234 237 237 242 246 260 267 270 275 275 279 288 302 311 314 321 321 328 337 355 374

Program Jampersal 3.9.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan Jampersal 3.10. Puskesmas Karang Pule, Kota Mataram 3.10.1. Gambaran Umum Kota Mataram 3.10.2. Gambaran Umum Kecamatan Parado 3.10.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak 3.10.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal 3.10.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan Program Jampersal 3.10.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan Jampersal 3.11. Puskesmas Mateketen, Kabupaten Halmahera Selatan 3.11.1. Gambaran Umum Kabupaten Halmahera Selatan 3.11.2. Gambaran Umum Kecamatan Makian Barat 3.11.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak 3.11.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal 3.11.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan Program Jampersal 3.11.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan Jampersal 3.12. Puskesmas Kota Ternate, Kota Ternate 3.12.1. Gambaran Umum Kota Ternate 3.12.2. Gambaran Umum Puskesmas Kota Ternate 3.12.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak 3.12.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal 3.12.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan Program Jampersal 3.12.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan Jampersal BAB 4. PEMBAHASAN 4.1. Nilai dan Kepercayaan 4.2. Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu 4.3. Pemilihan Penolong Persalinan (Terkait Sosial Budaya) dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal 4.4. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan Jampersal 4.5. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan Jampersal 4.5.1. Sosial Budaya di Wilayah Kabupaten 4.5.2. SosialBudaya di Wilayah Kota BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Sosialisasi 5.2. Kepesertaan 5.3. Pendanaan 5.4. Pelayanan dan Ketenagaan DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xvi

378 387 387 395 398 408

413 417 420 420 424 428 436

449 455 459 459 470 478 490

497 501 508 508 516 521 527 534 534 539 548 548 549 550 550 552

DAFTAR TABEL
2.1. 2.2. 2.3. 3.1.1. 3.1.2. 3.1.3. 3.1.4. 3.1.5. 3.1.6. 3.1.7. 3.1.8. 3.1.9. 3.1.10. 3.1.11. 3.1.12. 3.2.1. 3.2.2. 3.2.3. 3.2.4. 3.2.5. 3.2.6. 3.2.7. 3.2.8. 3.3.1. 3.3.2. 3.3.3. 3.3.4. 3.3.5. 3.3.6. 3.3.7. 3.3.8. 3.3.9. 3.3.10. 3.4.1. 3.4.2. Daftar Provinsi, Kabupaten/Kota dan Puskesmas Sebagai Lokasi Penelitian Variabel, Cara Pengumpulan Data dan Instrumen yang Digunakan Jumlah Responden sebagai Sampel Penelitian dan Tenaga Enumerator Jumlah penduduk, Luas Wilayah dan Kepadatan Kabupaten Gayo Lues Berdasarkan Kecamatan Sarana Kesehatan di Kabupaten Gayo Lues Data Pemeriksaan Kehamilan dan Persalinan Kabupaten GayoLues Tahun 2011 Wilayah Kerja Puskesmas Pintu Rime Data Jumlah Penduduk Puskesmas Pintu Rime, Kecamatan Pining Tahun 2011 Jumlah Bumil, Bulin,Bufas, Bayi dan Balita Per Desa di Wilayah Puskesmas Pintu Rime Kecamatan Pining Tahun 2011 Jumlah Sasaran dan Cakupan KIA Kecamatan Pining Tahun 2011 Jumlah Sasaran dan Cakupan KIA Kecamatan Pining Tahun 2011 Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Hamil di Kecamatan Pining Tahun 2012 Ritual, Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Bersalin di Kecamatan Pining Tahun 2012 Ritual, Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Pasca Persalinan di Kecamatan Pining Tahun 2012 Jenis Pelayanan Bidan Kampung yang Diterima Masyarakat Kecamatan Pining, Tahun 2012 Jumlah Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Lampaseh Tahun 2011 Data Jumlah Tenaga Puskesmas Lampaseh Tahun 2011 Responden yang melakukan Upacara Adat pada Saat Kehamilan, Persalinan dan Pasca PersalinandiKecamatan Kutaraja Tahun 2012 Status Persalinan dan Tempat Persalinan Responden di Wilayah Puskesmas LampasehKecamatan Kutaraja Tahun 2012 Pelayanan yang Diterima Responden dari Bidan dan Dukun, di Wilayah Puskesmas Lampaseh Kecamatan Kutaraja Tahun 2012 Penolong Pertama dan Terakhir Persalinan Di Wilayah Puskesmas LampasehKecamatan Kutaraja Tahun 2012 Sumber Biaya Pelayanan KIA di Wilayah Puskesmas Lampaseh Kecamatan Kutaraja Tahun 2012 Perolehan Informasi tentang Jampersal di Wilayah Puskesmas Lampaseh Kecamatan Kutaraja Tahun 2012 Data Penduduk Kecamatan Cirinten Tahun 2010 Data Ketenagaan Puskesmas DTP Cirinten Tahun 2010 Angka Kematian dan Penyebabnya Tahun 2010 Tradisi Masyarakat Cirinten Terkait Masa Kehamilan Tradisi Masyarakat Cirinten Terkait Masa Persalinan Tradisi Masyarakat Cirinten Pasca Persalinan Pernyataan Ibu terkait Pelayanan KIA Jarak Antar Desa di Kecamatan Cirinten, Tahun 2011 (Dalam Km) Jenis Pelayanan Dukun yang Diterima Masyarakat Persepsi Masyarakat terhadap Bidan dan Dukun Luas Wilayah, Kepadatan Penduduk Kota Cilegon Aktifitas Budaya pada Masa Kehamilan 8 12 14 18 20 22 28 29 32 33 33 41 45 46 49 63 64 71 74 78 79 82 84 94 100 103 110 111 115 117 120 126 128 140 152

xvii

3.4.3. 3.4.4. 3.4.5. 3.4.6. 3.4.7. 3.5.1. 3.5.2. 3.5.3. 3.5.4. 3.5.5. 3.5.6. 3.5.7. 3.5.8. 3.5.9. 3.5.10. 3.6.1. 3.6.2. 3.6.3. 3.6.4. 3.6.5. 3.7.1. 3.7.2. 3.7.3. 3.7.4. 3.7.5. 3.7.6. 3.8.1. 3.8.2. 3.8.3. 3.8.4. 3.8.5. 3.8.6. 3.8.7. 3.8.8. 3.8.9. 3.8.10. 3.9.1.

Aktifitas Budaya pada Masa Persalinan Aktifitas Budaya Pasca Persalinan Sikap Terhadap Kehamilan, Persalinan dan Pasca Persalinan Kecamatan Citangkil Tahun 2012 Pelayanan yang Diterima oleh Ibu, Kecamatan Citangkil Tahun 2012 Penolong Pertama dan Penolong Terakhir Persalinan Citangkil 2012 Wilayah Administratif Kecamatan di Kabupaten Landak Tahun 2010 Distribusi Penduduk, KK, Bayi, Balita dan Bumil Tahun 2010 Jumlah Penduduk dan Distribusi Sarana Bangunan Fisik Kesehatan Menurut Puskesmas di Kabupaten Landak Tahun 2010 Jumlah dan Jenis Tenaga Kesehatan Kabupaten Landak Tahun 2010 Data Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Semata di Kabupaten Landak Tahun 2010 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Tahun 2011 Berdasarkan Data Dinas Kesehatan dan Profil Puskesmas Semata Komposisi ketenagaan di Puskesmas Semata Pengetahuan Ibu yang Masih “Kurang” terhadap ANC dan Fasilitas Jampersal Sikap Ibu untuk Beberapa Kondisi Kehamilan dan Pemanfaatan Jampersal Pengalaman Ibu dalam Persalinan dan Pemanfaatan Jampersal Fasilitas Kesehatan Puskesmas Karya Mulya Pengetahuan Responden Sikap Responden Pelayanan Bidan/Dokter (Tenaga Kesehatan) yang Diterima Responden Pelayanan Dukun Bersalin yang Diterima Responden Jumlah Penduduk Jeneponto Berdasarkan Kecamatan Tahun 2011 Penolong Persalinan Per Kecamatan di Kabupaten Jeneponto Persebaran Tenaga Kesehatan di Desa dalam Kecamatan Arungkeke Tahun 2011 Pelaksaan Upacara/Tradisi/Ritual Berkaitan dengan KIA di Kecamatan Arungkeke Sikap Ibu terhadap Perilaku Kesehatan Ibu di Kec. Arungkeke Jenis Pelayanan Bidan dan Dukun di Kec. Arungkeke Jumlah Penduduk Kota Makassar Berdasarkan Kecamatan Tahun 2011 Sarana Kesehatan di Kota Makassar Tahun 2011 Jumlah dan Jenis Tenaga di Puskesmas Kassi-Kassi Tahun 2011 Luas Wilayah Kerja Puskemas Kassi-kassi berdasarkan Kecamatan Tahun 2011 Jumlah Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-kassi Berdasarkan Usia Per Kecamatan Tahun 2011 Tingkat Pendidikan Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2011 Pelaksanaan Upacara/Tradisi/Ritual Berkaitan dengan KIA di Lingkungan Puskesmas Kassi-Kassi Sikap Ibu di Lingkungan Puskesmas Kassi-kassi terhadap Perilaku Kesehatan Ibu Sumber Informasi Jampersal di Lingkungan Puskesmas Kassi-kassi Sumber Biaya Pelayanan KIA di Lingkungan Puskesmas Kassi-kassi Jumlah Penduduk per Desa dan Kepadatan Penduduk di Kecamatan Parado Tahun 2010

153 154 157 159 165 177 178 180 181 183 186 187 202 203 204 215 226 226 229 230 239 241 245 249 255 257 277 278 281 282 283 284 291 299 309 310 330

xviii

3.9.2. 3.9.3. 3.9.4. 3.9.5. 3.9.6. 3.9.7. 3.9.8. 3.9.9. 3.9.10. 3.9.11. 3.9.12. 3.10.1.

3.10.2. 3.10.3. 3.10.4. 3.10.5. 3.10.6. 3.10.7. 3.10.8. 3.10.9. 3.10.10. 3.10.11. 3.10.12. 3.10.13. 3.11.1. 3.11.2. 3.11.3. 3.11.4. 3.11.5. 3.11.6. 3.11.7. 4.1.1

Puskesmas Parado dan Jaringannya Tahun 2012 Responden yang melakukan Upacara Adat pada Saat Kehamilan, Persalinan dan Pasca Persalinan di Kecamatan Parado Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Hamil di Kecamatan Parado Ritual, Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Bersalin di Kecamatan Parado Ritual, Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Pasca Persalinan di Kecamatan Parado Sikap Terhadap Pemeriksaan Kehamilan, Persalinan Dan Pasca Persalinan, Kecamatan Parado Pelayanan yang Diterima Responden dari Bidan dan Dukun di Kec. Parado Sumber Biaya Pelayanan KIA di Kecamatan Parado Penolong Pertama dan Terakhir Persalinan di Kecamatan Parado Cakupan Persalinan oleh Linakes di Faskes Kabupaten Bima Perolehan Informasi tentang Jampersal di Kecamatan Parado Luas Wilayah, Jumlah Desa/Kelurahan, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Mataram Tahun 2011 Cakupan K1 dan K4 menurut Puskesmas Kota Mataram Tahun 2011 Cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan danTenaga Non Kesehatan Kota Mataram Tahun 2011 Cakupan Kunjungan Neonatal 3 (KN3), Neonatal Komplikasi dan Kunjungan Bayi Kota Mataram Tahun 2011 Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Puskesmas Karang Pule Tahun 2011 Aktifitas Budaya pada Masa Kehamilan di Wilayah Puskesmas Karang Pule Aktifitas Budaya pada Masa Persalinan di Wilayah Puskesmas Karang Pule Aktifitas Budaya pada Masa Pasca Persalinan di Wilayah Puskesmas Karang Pule Pelayanan KIA yang diterima Ibu Hamil dari Bidan & Dukun di Wilayah Puskesmas Karang Pule Pemeriksaan yang dilakukan Ibu ke Tenaga kesehatan di Wilayah Puskesmas Karang Pule Penolong Persalinan Pertama dan Terakhir di Wilayah Puskesmas Karang Pule Sumber Biaya Kesehatan KIA di Wilayah Puskesmas Karang Pule Besaran Pembagian Biaya Persalinan Bersumber dari Jampersal di Kota Mataram Tahun 2012 Sarana Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan Tahun 2009 Jumlah Penduduk, Bayi, Balita & Bumil sebagai Sasaran Program KIA Tahun 2011 Kepala Puskesmas (kaos putih) dengan Bidan, Perawat dan 3 peneliti Pemeriksaan Kehamilan ke Tenaga Kesehatan di Kecamatan Makian Tahun 2012 Penolong Persalinan Pertama dan Terakhir di Kecamatan Makian Tahun 2012 Indikator Outcome Puskesmas Mateketen Tahun 2011 Sumber Biaya Pemeriksaan Kehamilan dengan Tenaga Kesehatan di Wilayah Puskesmas Mateketen Distribusi Responden yang Melakukan Ritual/Upacara Saat Kehamilan, xix

336 342 344 345 347 350 352 371 371 374 374 389

392 393 397 396 400 402 405 408 408 412 413 416 423 426 427 434 435 444 449 510

4.2.1 4.2.2

4.2.3

4.3.1

4.4.1. 4.4.2 4.4.3

Persalinan, Pasca Persalinan di 12 Kabupaten/Kota Tahun 2012 Distribusi Tingkat Pendidikan Formal dan Pengetahuan tentang KIA Saat Kehamilan Responden di 12 Kabupaten/Kota Tahun 2012 Distribusi Tingkat Pendidikan Formal dan Pengetahuan, Sikap, Praktek tentang Persalinan Aman pada Responden di 12 Kabupaten/Kota Tahun 2012 Distribusi Responden yang Memiliki Pengetahuan “Benar” tentang Tidak Aman Melahirkan di Rumah dan Tempat Persalinan di 12 Kabupaten/Kota Tahun 2012 Persentase ”Ya” Pembiayaan Jampersal untuk Periksa Kehamilan, Persalinan, Periksa Ibu Nifas, Periksa Neonatus, Periksa KB di 12 Kabupaten/Kota Tahun 2012 Pernyataan ”Ya” untuk Pelayanan Upacara yang Diterima Responden dari Bidan/Nakes atau Dukun Persentase Responden yang Menyatakan ”Ya” Menerima Pelayanan dari Bidan di 12 kabupaten/Kota Tahun 2012 Persentase Responden yang Menjawab ”Ya” untuk Tempat Persalinan di Faskes, Nakes sebagai Penolong Terakhir Persalinan dan Sumber Biaya Persalinan (%)

518 519

520

527

528 532 533

xx

DAFTAR GAMBAR 2.1. 2.2. 3.1.1. 3.1.2. 3.1.3. 3.1.4. 3.1.5. 3.1.6. 3.2.1. 3.3.1. 3.3.2. 3.3.3. 3.3.4. 3.3.5. 3.3.6. 3.3.7. 3.3.8. 3.3.9. 3.3.10. 3.3.11. 3.3.12. 3.3.13. 3.3.14. 3.3.15. 3.3.16. 3.4.1. 3.4.2. 3.4.3. 3.4.4. 3.4.5. 3.4.6. 3.5.1. 3.6.1. 3.7.1. 3.7.2. 3.7.3. 3.7.4. 3.8.1. 3.8.2. 3.8.3. 3.8.4. 3.8.5. 3.8.6. 3.8.7. 3.9.1. 3.9.2. 3.9.3. Konsep Penelitian Peta Lokasi Penelitian Jampersal Peta Kabupaten Gayo Lues Jumlah Bidan dan Jumlah Dukun yang Terdapat di Kabupaten Gayo LuesMenurut Puskesmas Tahun 2011 Peta Lokasi Puskesmas Pintu Rime Lokasi Desa Uring yang Berlembah dan Berbukit Puskesmas Pintu Rime, Kecamatan Pining-Gayo Lues Sungai sebagai Sumber Air Desa Uring Peta Kota Banda Aceh Peta Wilayah Kabupaten Lebak Cakupan Program Kesehatan Ibu dan Anak Puskesmas Cirinten, Tahun 2011 Lokasi Kecamatan Cirinten Suasana Kecamatan Cirinten Peta Kondisi Wilayah Kecamatan Cirinten Menjemur Cengkeh Memanen cengkeh Puskesmas Cirinten Peta Sarana Kecamatan Cirinten Nyandak Gelang Kapas Pisau Perlindungan Peta Lokasi Poskesdes dan Dukun di Desa Pengobat Tradisional di Kecamatan Cirinten Sebaran Paraji di Kecamatan Cirinten Persalinan Gratis! Piramida Penduduk Kota Cilegon Tahun 2011 Presentase Kematian Bayi di Kota Cilegon Tahun 2010 Peta Wilayah Kecamatan Citangkil Puskesmas Citangkil dan Pondok Kesehatan Bubur lolos Peta Sarana Cintangkil Peta Lokasi Kabupaten Landak Lambang Kota Pontianak Peta Kabupaten Jeneponto Peta Kecamatan Arungkeke Mata Pencaharian Menangkap Ikan Sumbangan untuk Bidan Peta Makasar Peta Wilayah Kerja Puskesmas Kassi Kassi Pemetaan Ibu Bersalin di Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-kassi Pemetaan Gizi Bayi dan Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-kassi Ibu sedang Disuapi Makanan Pada Acara Passilli Acara Aqiqah untuk Anak Bayi Fasilitas Persalinan di Bidan Praktek Swasta Peta Kabupaten Bima Piramida Penduduk Kabupaten Bima Suasana Perumahan di Salah Satu Desa Kecamatan Parado 6 9 17 24 25 27 27 27 59 88 90 91 92 93 95 96 98 101 112 114 114 121 124 125 132 139 144 143 147 150 163 176 211 238 243 245 264 276 280 287 288 295 296 308 322 323 331

xxi

3.9.4. 3.9.5. 3.9.6. 3.9.7. 3.9.8. 3.9.9. 3.9.10. 3.9.11. 3.9.12. 3.10.1. 3.10.2. 3.10.3. 3.10.4 3.11.1. 3.11.2. 3.11.3. 3.11.4. 3.11.5. 3.11.6. 3.11.7. 3.11.8. 3.11.9. 3.11.10. 3.11.11. 3.11.12. 3.11.13. 3.12.1. 3.12.2. 3.12.3. 3.12.4. 3.12.5. 3.12.6. 3.12.7. 3.12.8. 3.12.9. 3.12.10.

Benhur Angkutan Umum dengan Tenaga Kuda Poskesdes Percontohan di desa Kuta, Kecamatan Parado dan Salah Satu Polindes di Kecamatan Parado Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama saat FGD Seorang Ibu dengan Bayinya Di Atas Tangga Rumah Rumah Panggung Peta Lokasi Dukun dan Sarana Kesehatan di Kecamatan Parado Peralatan Persalinan Dukun yang Diperoleh Saat Pelatihan Seorang Sando (Dukun Bersalin) dengan Alat Menginangnya Bidan Tampak Akrab dengan Dukun Saat Wawancara di Rumah Dukun Gambar Wilayah Kota Mataram Tahun 2011 Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis KelaminKota Mataram Distribusi Jumlah Kematian Bayi (AKB) di Kota Mataram Tahun 20102011 Peta Fasilitas Kesehatan di Wilayah Puskesmas Karang Pule Peta Wilayah Kabupaten Halmahera Selatan Peta Pulau Bacan Bandara Oesman Sadik Labuha Halsel Kantor Dinas Kesehatan Halsel Suasana dalam speedboat umum Ternate-Mateketen Speedboat Milik Puskesmas di Pantai Makian Kepala Puskesmas (kaos putih) dengan Bidan, Perawat dan 3 peneliti Wawancara Mendalam dengan Mama Biang FGD dengan bidan di Puskesmas Mateketen FGD Toma di Puskesmas Mateketen Cakupan K-1 Pada Puskesmas Mateketen Januari-November 2011 Cakupan K-4 Pada Puskesmas Mateketen Januari-November 2011 Cakupan Linakes Puskesmas Mateketen Januari-November 2011 Peta Kota Ternate dan Gambaran Kota Ternate Secara Umum Gunung Gamalama Suasana Kota Ternate Pelabuhan Ternate dilatari Pulau Halmahera Persentase Jumlah Penduduk berdasar Kelurahan di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Ternate Tahun 2011 Puskesmas Kota Ternate Loket Pendaftaran Puskesmas Kota Ternate FGD tokoh masyarakat di Puskesmas Kota Ternate Wawancara Mendalam dengan Mama Biang di kota Ternate FGD Suami Non Jampersal di Rumah Warga

333 336 338 353 350 356 359 360 367 388 390 391 394 420 421 422 422 425 428 424 439 440 442 445 446 447 460 461 463 464 471 471 472 479 480 484

xxii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau dengan kematian. Handrawan N. (2000:1) menyatakan bahwa dulu orang menganggap pertolongan persalinanlah yang terpenting untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Tetapi persalinan meminta faal yang optimal dari alat kandungan ibu, karena itu sangat diperlukan persiapan fisik dan mental sebelum persalinan. Ibu hamil bukan saja memerlukan kesehatan yang optimal menjelang persalinan tetapi selama hamil tubuh harus dalam keadaan sehat karena mempengaruhi pertumbuhan janin yang dikandungnya. Setiap perempuan baik kehamilannya sulit atau tidak, membutuhkan pelayanan kesehatan dengan kualitas baik selama hamil, persalinan dan masa nifas. Kondisi kehamilan, persalinan dan pasca melahirkan merupakan keadaan yang dialami dan menjadi faktor risiko biologis yang harus disandang seorang perempuan. Keadaan ini dipengaruhi faktor terkait sosial ekonomi dan budaya serta dukungan dari lingkungan sosial sekitar (Chyntia A, Shinta, 2003). Sejumlah faktor yang berperan antara lain mulai dari faktor resiko kesehatan ibu, pemilihan penolong persalinan, keterjangkauan dan ketersediaan pelayanan kesehatan, kemampuan penolong persalinan sampai sikap keluarga dalam menghadapi keadaan gawat. Keadaan sosial seperti pekerjaan yang berisiko, pendidikan, penghasilan rendah, perilaku hidup termasuk kesehatan, dan stres psikososial memberikan risiko yang berbeda-beda pada perempuan (Rasdiyanah, A., Jakir; Ridwan Amiruddin. 2007). Perilaku ibu yang dilatari budaya khususnya pada masa kehamilan, persalinan dan pasca persalinan sangat mempengaruhi terhadap keadaan kesehatannya. Pada masyarakat pedesaan di negara berkembang masalah pemeliharaan kesehatan selama hamil, persalinan dan pasca persalinan belum mendapat perhatian secara serius. Masih banyak terjadi perkawinan usia muda dan tradisi makanan pantang yang merugikan kesehatan ibu, juga pengaturan aktivitas ibu selama hamil dan pasca persalinan yang kurang mendukung pola kesehatanmodern (White Ribbon:
1

2003: 6). Selain itu dalam konteks sosial dan keluarga sistem paternalistik yang masih mendominasi cenderung bersifat diskriminasi gender, kekuasaan dan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi perempuan bukan pada perempuan antara lain tentang seberapa banyak dan seberapa sering anak yang diinginkan, pada siapa dan dimana melakukan persalinan. Masih dikenalnya budaya berunding dalam memutuskan penolong persalinan, upacara-upacara dalam kehamilan ataupun persalinan memberikan pengaruh terhadap pemeliharaan kesehatan dan hasil akhir suatu kehamilan. McCarthy and Maine menyatakan bahwa perilaku ibu dalam memelihara kesehatannya dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan budaya. Budaya atau kebudayaan adalah suatu sistem dan tata nilai yang dihayati seseorang atau masyarakat untuk

menentukan/membentuk sikap mentalnya yang terpantul dalam pola tingkah sehari hari dalam berbagai segi kehidupannya; sosial, ekonomi, politik, hukum, ilmu pengetahuan dan sebagainya (Bambang, 1997:84). Spradley (1980:3) menyimpulkan bahwa budaya adalah pengetahuan manusia yang digunakan dalam

menginterpretasikan pengalamannya untuk melahirkan tingkah laku sosial. Faktor perilaku menurut Lawrence Green dipengaruhi 3 faktor yaitu 1) Faktorfaktor predisposisi/pemicu (predisposing factor) yaitu pengetahuan, sikap,

kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya; 2) Faktor-faktor pendukung (enabling factor) yaitu lingkungan fisik tersedia atau tidaknya fasilitas atau saranasarana kesehatan misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban dan sebagainya dan 3) Faktor-faktor penguat/pendorong (reinforcing factor) yaitu sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas yang lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat (Green, Lawrence,1980). Masyarakat pedesaan di Indonesia umumnya masih sulit untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang dapat menyediakan persalinan aman dikarenakan jarak antara tempat pelayanan persalinan dengan kediaman ibu hamil sangat jauh, selain juga kendala keuangan dan ketersediaan alat transportasi. Di samping itu masih ada kelemahan dari pihak pelayanan kesehatan sendiri yaitu kurangnya fasilitas dan jumlah petugas yang terlatih serta kurang terampilnya tenaga yang terlatih (The White Ribbon, 2003: 5-6). Selain itu masih banyak ibu-ibu yang menganggap kehamilan
2

sebagai hal yang biasa, alamiah dan kodrati. Mereka merasa tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke fasilitas kesehatan baik ke bidan ataupun dokter. Masih banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan, hal ini menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. Resiko ini baru diketahui pada saat persalinan yang sering kali karena kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian. Berbagai faktor yang dikemukakan di atas menyebabkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan bahwa AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 34 per 1000 kelahiran hidup. Berdasar kesepakatan global (Millenium Development Goals / MDG’s 2000) diharapkan ada tahun 2015 terjadi penurunan AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AK menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup (Kementerian Kesehatan, 2011). Penyebab tingginya AKI dan AKB antara lain persalinan yang ditolong oleh tenaga non kesehatan. Hasil Riskesdas 2010 menggambarkan bahwa persalinan pada sasaran miskin oleh tenaga kesehatan baru mencapai 69,3%, sedangkan persalinan yang dilakukan tenaga kesehatan pada fasilitas kesehatan baru mencapai 55,4%. Salah satu kendala penting untuk mengakses persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan adalah keterbatasan dan ketidaktersediaan biaya. Untuk itu terobosan yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan adalah Jaminan Persalinan (Jampersal) untuk meningkatkan persalinan yang ditolong tenaga kesehatan (Kementerian Kesehatan, 2011). Dengan demikian diharapkan dapat mengatasi “3 terlambat” yaitu terlambat dalam pemeriksaan kehamilan, terlambat dalam memperoleh pelayanan persalinan dari tenaga kesehatan dan terlambat sampai di fasilitas kesehatan pada saat keadaan emergensi. Dengan adanya Jampersal diharapkan dapat mengakselerasi tujuan MDG’s 4 (status kesehatan anak) dan MDG’s 5 (status kesehatan ibu). Program Jaminan Persalinan (Jampersal) diluncurkan mulai tahun 2011

berdasarkan Permenkes No. 631/Menkes/PER/III/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan dan Surat Edaran Menkes RI Nomor TU/Menkes/391/II/2011 tentang Jaminan Persalinan (Kementerian Kesehatan, 2011) dan kemudian diperbaiki
3

dengan keluarnya Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2562/Menkes/PER/XII/2011 tentang hal yang sama. Dengan dimulainya program Jampersal dan masih banyaknya kendala perilaku dan sosial budaya dalam pemilihan penolong persalinan yang tentunya berdampak pada pemanfaatan Jampersalmaka penelitian ini dilakukan. Kendala datang baikdari pihak ibu sendiri, dari masyarakat maupun dari fasilitas atau tenaga kesehatan. Berdasarkan masalah yang telah dikemukakan di atas maka timbul pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1) Apakah ada hubungan nilai, kepercayaan, pengetahuan, sikap dan perilaku ibu sebagai faktor pemicu, pendukung dan penguat tentang perilaku ANC, persalinan dan paska persalinan dengan pemanfaatan Jampersal? 2) Bagaimana faktor sosial budaya masyarakat terkait pemilihan penolong persalinan dan pemanfaatan pelayanan Jampersal ? 3) Bagaimana peran tenaga Jampersal? 4) Apa saja hambatan, dukungan dan harapan dalam pelaksanaan program Jampersal? Berpijak kepada pertanyaan penelitian tersebut di atas, penelitian ini menggali latar belakang sosial budaya masyarakat melalui ibu, suami, tokoh masyarakat,serta bidan, dukun sebagai pelaku pelayanan KIA. Digali pengetahuan, sikap, perilaku dan pengalaman mereka terkait proses pemilihan penolong persalinan dan pemanfaatan Jampersal. Unsur sosial budaya sebagaifaktor pemicu, pendukung, dan penguat dalam penerimaan pelayanan Jampersal digali secara mendalam. Tak kalah pentingnya penelitian ini juga ingin mengetahui hambatan, dukungan dan harapan pelayanan kesehatan dalam pelaksanaan program

terhadappemanfaatan Jampersal dari sudut pandang ibu, dukun, masyarakat dan tenaga kesehatan sendiri. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan tentang pelayanan kesehatan ibu melalui Jampersal bagi para pelaku dan pengambil kebijakan Jampersal sehingga pelaksanaan Jampersal dapat mencapai sasaran yang tepat.

4

1.2.Tujuan Penelitian Penelitian ini mempunyai tujuan umum untuk menyediakan kajian peran sosial budaya dalam upaya peningkatan pemanfaatan program jaminan persalinan. Tujuan umum diperinci dalam tujuan khususyaitu 1) Menggali informasi tentang nilai, kepercayaan, pengetahuan, sikap dan perilaku ibu sebagai faktor pemicu, pendukung dan penguat tentang perilaku ANC, persalinan dan paska persalinan terkait dengan pemanfaatan Jampersal, 2) Mengidentifikasi faktor sosial budaya masyarakat terkait pemilihan penolong persalinan dan pemanfaatan pelayanan Jampersal, 3) Menganalisis peran tenaga pelayanan kesehatan dalam pelaksanaan program Jampersal, 4) Mengetahui hambatan, dukungan dan harapan dalam pelaksanaan program Jampersal.

5

BAB 2 METODE PENELITIAN 2.1.Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian dikembangkan dari teori Theory to Plan MultilevelIntervention (Croyle, Robert T, 2005), teori perilaku yang dalam melakukan intervensi dilakukan melalui 3 tingkatan yaitu individu, interpersonal dan komunitas.
Nilai, kepercayaan, pengetahuan, sikap tentang Kehamilan, persalinan, paska persalinan

Tingkat Individu

Sosial, budaya, demografi, geografi

Pengambilan keputusan memilih Penolong:kehamilan,Persalina n, Paska persalinan

Tingkat interperson al

Penetapan penolong Tingkat Komunitas
Non nakes Nakes

Ketanggapan yankes: Harapan & hambatan Peran nakes

Permenkes No. 631 tentangJampersal

Non Jampersal

Jampersal

Gambar 2.1. Konsep Penelitian Diadaptasi dari Theory to Plan MultilevelIntervention (Croyle, Robert T, 2005)

6

Dalam rangka merubah perilaku masyarakat dengan harapan agar seorang ibu hamil mau bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan maka upaya yang harus dilakukan adalah dengan melakukan intervensi melalui 3 tingkatan ekologi yaitu tingkat individu, tingkat interpersonal dan tingkat komunitas atau masyarakat. Pada tingkat individu (ibu) perlu dipahami tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku individu yaitu faktor pemicu, pendukung dan penguat antara lain nilai, kepercayaan, pengetahuan, sikap dan praktek tentang hal-hal terkait masa kehamilan, persalinan dan paska persalinan termasuk KB. Dalam pemilihan perawatan/penolong ibu pada masa maternity (hamil, bersalin dan paska persalinan), ibu akan dipengaruhi orang sekitarnya karena hubungan antara individu/interpersonal dengan orang di sekitarnya (suami, orangtua, tetangga). Dalam pemilihan penolong kehamilan (Ante Natal Care /ANC), persalinan, paska persalinan ada faktor yang berpengaruh terhadap hubungan interpersonal yaitu faktor sosial budaya, termasuk demografi, geografi dan akses terhadap fasilitas pelayanan. Pada tingkat komunitas, penetapan praktek perawatan atau pertolongan kehamilan (ANC), persalinan dan paska persalinan ditentukan oleh ketanggapan fasilitas kesehatan terhadap kebutuhan ibu terkait harapan, dukungan/kemudahan serta hambatan dalam mengakses tenaga kesehatan. Hal ini juga dipengaruhi kebijakan pemerintah yang diberlakukan antara lain pembiayaan kesehatan berupa jaminan persalinan (jampersal).

2.2.Waktu Penelitian dan Tempat Penelitian ini diawali sejak bulan Maret dengan penyusunan protocol. Kegiatan penelitian dilakukan sampai dengan selesai pada bulan Desember 2012 sehingga total pelaksanaan adalah 10 bulan.Penelitian dilakukan di 6 provinsi berdasarkan cakupan ANC dan PNC dengan pembiayaan Jampersal secara Nasional, sebagai tolok ukur berdasarkan data tingkat provinsi pada tahun 2011 yang diperoleh dari P2JK. Data menunjukkan cakupan ANC dengan Pembiayaan Jampersal Nasional adalah 9,5% sedangkan cakupan PNC dengan pembiayaan Jampersal Nasional adalah sebesar 8,5%.

7

Mengacu pada cakupan ANC dan PNC dalam Pembiayaan mempergunakan Jampersal, maka dilakukan klasifikasi provinsi yaitu provinsi dengan cakupan tinggi;provinsi dengan cakupan sedangdan provinsi dengan cakupan rendah dalam pembiayaannya. Pada tiap kategori dipilih 2 provinsi; sehingga dari ketiga kategori didapat 6 provinsi Aceh, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Maluku Utara dan Banten. Selain dilihat dari cakupan ANC dan PNCdiatas, pemilihan provinsi dalam penelitian ini juga didasari oleh persebaran provinsi, agar dalam penelitian ini setiap region dapat terwakili.

Tabel 2.1 Daftar Provinsi, Kabupaten/Kota dan Puskesmassebagai LokasiPenelitian PROPINSI KABUPATEN/KOTA PUSKESMAS 1. Aceh 2.Nusa Tenggara Barat 3. Kalimantan Barat 4. Sulawesi Selatan 5. Maluku Utara 6. Banten 1. Kab. Gayo Lues 2. Kota Banda Aceh 1. Kab. Bima 2. Kota Mataram 1. Kab. Landak 2. Kota Pontianak 1. Kab. Jeneponto 2. Kota Makassar 1. Kab. Halmahera Selatan 2. Kota ternate 1. Kab. Lebak 2. Kota Cilegon Pintu Rime Lampaseh Kota Parado Karang Pule Semata Karya Mulya Arungkeke Kasi Kasi Mateketen Kota ternate Cirinten Citangkil

Prosedur pemilihan kota dan kabupaten, persyaratan yang harus dipenuhi adalah untuk kota dengan kriteria tinggi, sedangkan kabupaten dengan kriteria rendah. Justifikasi penentuan tinggi dan rendah, didasarkan pada IPKM dan persalinan yang dibantu oleh nakes (Linakes) berdasarkan Riskesdas 2007. Hal ini dilakukan mengingat data P2JK tidak tersedia hingga tiap kabupaten dan kota. Berdasarkan data P2JK maka dipilih 6 provinsi, kemudian untuk menentukan kabupaten dan kota terpilih dengan mempergunakan data IPKM dan Linakes, sesuai persyaratan di atas kota memiliki kriteria tinggi dalam hal persalinan dibantu Linakes, sedangkan kabupaten memiliki kriteria rendah dalam persalinan yang dibantu oleh nakes (Linakes). Selanjutnya akan dipilih satu puskesmas dengan berkonsultasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota yang telah terpilih.

8

Kota Banda Aceh Kab. Gayo Lues

Kota Pontianak Kab. Landak Kota Ternate Kab. HalSel

Kota Cilegon

Kota Mataram

Kota Makasar Kab.Jeneponto

Kab. Lebak

Kab. Bima

Gambar 2.2. Peta Lokasi Penelitian Jampersal

2.3.Jenisdan Disain Penelitian Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pengambilan data cross sectional. Cara pengumpulan data secara kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dikumpulkan dengan wawancara terstruktur pada ibu yang melahirkan pada tahun 2011 untuk memperoleh data tentang faktor karakteristik, nilai, kepercayaan, pengetahuan, sikap dan praktek terkait ANC, persalinan dan paska persalinan serta alasan dan pengambil keputusan memilih penolong persalinan. Semua hal tersebut terkait dengan pemanfaatan jampersal. Data Kualitatif dikumpulkan dengan caraFocus Group Discussion (FGD) dan indepth interview (wawancara mendalam) untuk memperoleh informasi tentang social budaya masyarakat dan (ibu, suami, tokoh masyarakat, bidan, dukun, pengelola program KIA/KB dan jampersal dan Kepala Puskesmas serta Kepala Dinas Kesehatan). Informasi yang ditanyakan terkait faktor pemicu, pendukung, penguat, hambatan dan harapan terkait pemanfaatan Jampersal serta peran tenaga kesehatan dalam pemanfaatan Jampersal.
9

2.4.Populasi dan Sampel Penelitian Ibu yang melakukan persalinan pada Juni 2011–Mei 2012 baik memanfaatkan Jampersal atau tidak, akan ditetapkan sebagai sampel dengan cara stratified random sample. Dilakukan listing persalinan di wilayah puskesmas terpilih (diambil dari kohort). Selanjutnya di setiap wilayah puskesmas terpilih akan diambil 68 ibu sebagai sampel minimum (dihitung dengan rumus) dengan cara stratified random sample. Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus metode survey sebagai berikut: Z21-2/2P(1-P)N n= d2(N-1)+Z21-2/2P(1-P)N

Kriteria Inklusi dan Eksklusi Sampel Suami dari ibu bersalin Juni 2011 – Mei 2012 sebagai peserta FGD yang terbagi 2 kelompok yaitu kelompok pengguna jampersal dan kelompok non pengguna jampersal (FGD dengan peserta 10 orang/kelompok). Selain itu FGD dengan kelompok tokoh masyarakat yang bisa terdiri darikepala desa, tokoh agama, ketua organisasi masyarakat, ketua PKK danbidan desa. Untuk memperoleh data yang lebih terperinci dilakukan wawancara mendalam (in depth interview) sasaran dukun bersalin, Kepala Puskesmas, pengelola program KIA puskesmas, Bidan Praktek Swasta (BPS)untuk lokasi kota.Informan wawancara mendalam dengan ketentuan (inklusi) sampel berdinas di posisi yang disyaratkan di puskesmas/wilayah puskesmas terpilih minimal sejak tahun 2011, dukun yang bertempat tinggal di wilayah puskesmas penelitian. Akan dilakukan eksklusi bila sampel menolak diwawancara. Selain data kualitatif, penelitian ini juga mengumpulkan data kuantitatif melalui survey kepada ibu yang melahirkan dala 1 tahun terakhir. Instrumen berupa kuesioner terstruktur digunakan sebagai panduan dalam wawancara. Sebagai persyaratan

inklusi sampel ditentukan ibu yang melahirkan pada Juni 2011 – Mei 2013 baik diambil secara acak (stratified random sampling) memanfaatkan Jampersal atau tidak. Mereka juga disyaratkan tinggal di wilayah kerja puskesmas terpilih pada tahun 2011

10

dan saat pengumpulan data dilakukan. Akan dilakukan eksklusi sampel bila responden tidak bersedia diwawancara dan saat kunjungan wawancara tidak ada di tempat dan tidak bisa ditemui selama peneliti berada di wilayah puskesmas untuk pengumpulan data.

2.5.Instrumen dan Cara Pengumpulan Data Dalam rangka mengumpulkan data yang dibutuhkan, telah disusun instrumen penelitian sesuai dengan cara yang ditetapkan. Peneliti melakukan wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner terstruktur pada sampel ibu dalam kecamatan/wilyah puskesmas terpilih yang melakukan persalinan pada tahun 2011. Peneliti juga melakukan FGD (Focus Group Discussion) menggunakan pedoman FGD, kepada kelompoksuami, tokoh masyarakat, wawancara mendalam menggunakan panduan wawancara mendalam, kepada kepala puskesmas, pengelola program KIA/KB dan jampersal serta kepada dukun untuk melihat sosial budaya yang berpengaruh pada pemilihan penolong persalinan dan penerapan jampersal. Dalam pengumpulan data ini, sebelum melakukan pengumpulan data yang sesungguhnya, peneliti melakukan persiapan daerah untuk mengetahui kondisi lapangan dan memilih daerah penelitian yang sesuai dengan kriteria dengan cara mendiskusikan dengan kepala Dinas Kesehatan kabupaten/kota dan kepala bidang pelayanan KIA/Jampersal. Dengan cara tersebut, ditentukan puskesmas sebagai tempat studi dan ditentukan 4 orang tenaga/staff Dinkes ataupun tenaga lain sebagai pengumpul data kuesioner terstruktur. Dilakukan pembagian daerah penelitian sehingga setiap tim peneliti yang terdiri dari 3 orang melakukan penelitian di satu propinsi.Peneliti berperan untuk melakukan wawancara mendalam kepada informan yang menjadi sasaran penelitian. Disamping itu, peneliti memandu setiap kegiatan FGD yang diselenggarakan di setiap lokasi dengan sasaran kelompok diskusi sesuai ketetapan kriteria. Setiap kali dilakukan wawancara mendalam dan FGD, direkam dan dicatat serta dilakukan penulisan transkrip hasil kegiatan. Pengumpulan data kuantitatif, dilakukan oleh 4 (empat) orang enumerator yang direkrut dan merupakan tenaga kesehatan berasal dari Dinas Kesehatan setempat. Enumerator dipilih dengan beberapa persyaratan antara lain adalah tenaga kesehatan
11

(SKM, bidan, perawat atau lainnya) yang paling tidak pernah mengikuti kegiatan survei kesehatan.Namun karena keterbatasan tenaga, maka khusus untuk Kabupaten Halmahera Selatan, enumerator adalah guru. Enumerator dilatih oleh tim peneliti tentang tata cara survei dan pemahaman tentang kuesioner yang menjadi panduan pengumpulan data.Proses pengumpulan data dengan target 70 responden tidak seluruhnya mencapai angka tersebut. Sebagai contoh di Mateketen kabupaten Halmahera Selatan diperoleh 50 responden yang merupakan total persalinan pada kurun waktu yang dimaksud. Di kabupaten Gayo Lues dan Landak, mengalami cukup banyak kesulitan untuk mencapai rumah responden mengingat medan yang sulit. Berbeda dengan permasalahan di pekotaan, mobilitas penduduk yang tinggi menyebabkan beberpa responden terpilih sulit ditemui sehingga harus diganti dengan responden cadangan. Berikut adalah tabel tentang variabel yang dikumpulkan, cara pengumpulan data, instrumen yang digunakan untuk memperoleh data.
Tabel 2.2. Variabel, Cara Pengumpulan Data dan Instrumen yang Digunakan

Variabel Karakteristik Nilai, kepercayaan Perlaku: Pengetahuan, sikap, praktek Faktor sosial budaya

Cara Puldat Wawancara Wawancara Wawancara Wawancara mendalam FGD FGD

Instrumen Kuesioner terstruktur Kuesioner terstruktur Kuesioner terstruktur Panduan wawancara mendalam Panduan FGD Panduan FGD

Sasaran Ibu bersalin Juni 2011 – Mei 2012 Ibu bersalin Juni 2011 – Mei 2012 Ibu bersalin Juni 2011 – Mei 2012 Dukun

Hambatan dan harapan terkait penolong persalinan & jampersal Peran tenaga kesehatan dalam pemanfaatan Jampersal

Suami,Toma,Bidan Suami, toma, bidan

Wawancara mendalam

Panduan wawancara mendalam

Kepala Puskesmas Pengelola Program KIA/KB Pengelola Jampersal

12

2.6.Pengolahan dan Analisis Data Data yang dikumpulkan adalah data kuantitatif dan kualitatif. Pengolahan dan analisis data disesuaikan dengan jenis data. Data kualitatif yang diperoleh dari fokus grup diskusi dan wawancara mendalam dengan berbagai informan yang telah direkam akan ditranskripkan dan selanjutnya akan dilakukan analisis isi dan dinarasikan. Keabsahan atau kredibilitas data kualitatif akan diperiksa secara triangulasi yaitu triangulasi sumber, metode, dan investigator. Teknik triangulasi sumber dengan pengecekan anggota, perpanjangan kehadiran peneliti, diskusi teman sejawat, pengamatan secara terus menerus dan pengecekan referensi. Triangulasi sumber data dilakukan dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara dari pihak terkait, data hasil pengamatan dengan isi dokumen yang berkaitan, dan data hasil wawancara dengan isi dokumen yang berkaitan. Pengecekan anggota (member check) dilakukan dengan cara menunjukkan data atau informasi, termasuk hasil interpretasi peneliti yang sudah ditulis dengan rapi dalam bentuk catatan lapangan atau transkrip wawancara kepada informan, agar dapat dikomentari setuju atau tidak dan bisa ditambah informasi lain jika dianggap perlu. Perpanjangan kehadiran peneliti dapat menguji kebenaran informasi yang diperoleh secara distorsi baik berasal dari peneliti sendiri maupun dari subjek penelitian yang tidak disengaja atau khilaf. Diskusi teman sejawat, cara ini dilakukan dengan tujuan agar peneliti tetap mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran. Pengamatan terus menerus atau kontinyu, peneliti dapat memperhatikan sesuatu secara lebih cermat, terinci, dan mendalam. Bahan referensi digunakan sebagai alat untuk menampung dan menyesuaikan dengan kritik tertulis untuk keperluan evaluasi. Dalam hal ini, peneliti menggunakan hasil rekaman dan bahan dokumentasi berupa foto-foto atau video kegiatan di lokasi penelitian. Bahan referensi dapat digunakan peneliti sebagai patokan untuk menguji data saat analisis dan penafsiran data. Data kuantitatif yang diperoleh dari wawancara terstruktur dengan responden ibu-ibu akan diolah secara deskriptif dan secara analitik dengan metode statistik tentang faktor karakteristik, pengetahuan, sikap yang berpengaruh terhadap perilaku

13

dalam pemilihan penolong persalinan dan dalam pemanfaatan Jampersal. Informasi akan disajikan dalam bentuk tabel dan gambar. Berikut ini adalah lokasi penelitian dan enumerator yang melaksanakan pengeumpulan data serta jumlah data responden yang dapat diolah.
Tabel 2.3. Jumlah Responden sebagai Sampel Penelitian dan Tenaga Enumerator

KABUPATEN/KOTA Kab. Gayo Lues Kota Banda Aceh Kab. Bima Kota Mataram Kab. Landak Kota Pontianak Kab. Jeneponto Kota Makassar Kab. Halmahera Selatan Kota ternate Kab. Lebak Kota Cilegon

PUSKESMAS Pintu Rime Lampaseh Kota Parado Karang Pule Semata Karya Mulya Arungkeke Kasi Kasi Mateketen Kota ternate Cirinten Citangkil

Enumerator Nakes Dinkes Nakes Dinkes Nakes Dinkes Nakes Dinkes Nakes Dinkes Nakes Dinkes Nakes Dinkes Nakes Dinkes Guru Nakes Dinkes Nakes Dinkes Nakes Dinkes

Jumlah Sampel 55 70 70 70 69 70 70 70 50 70 68 68

14

BAB 3 HASIL PENELITIAN SOSIAL BUDAYA TERKAIT KESEHATAN IBU DAN ANAK

Hasil penelitian disajikan dala bentuk gambaran sosial budaya terkait KIA di masig-masing puskesmas 12 lokasi penelitian yang merupakan hasil pengumpulan data kualitatif didukung data kuantitatif. 3.1. Puskesmas Pintu Rime, Kabupaten Gayo Lues 3.1.1. Gambaran Umum Kabupaten Gayo Lues Kabupaten Gayo Lues adalah salah satu kabupatendi provinsiAceh, merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Tenggaradengan Dasar Hukum UU No.4 Tahun 2002 pada tanggal 10 April2002. Kabupaten ini berada di gugusan pegunungan Bukit Barisan, sebagian besar wilayahnya merupakan area Taman Nasional Gunung Leuseryang telah dicanangkan sebagai warisan dunia. Kabupaten Gayo Lues termasuk salah satu kabupaten dengan pemanfaatan dana Jaminan Persalinan (Jampersal) yang sangat rendah sesuai dengan laporan yang terkumpul di P2JK Kementerian Kesehatan. Data yang tersedia di dinas Kesehatan kabupaten Gayo Lues menunjukkan bahwa masih cukup banyak wilayah kecamatan dengan cakupan persalinan dengan bantuan tenaga kesehatan yag masih rendah. Dengan melakukan konsultasi kepada Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Gayo Lues didukung data dan pengalaman pelaksana program kesehatan Ibu dan Anak dan penanggung jawab Program Jampersal ditetapkan Kecamatan Pining sebagai lokasi penelitian. Kecamatan dengan penggolongan termasuk terpencil karena letak geografisnya dan tidak ada jaringan telepon pada lokasi wilayah tersebut yaitu Desa Uring dan menurut sumber terpercaya bahwa Desa tersebut merupakan basis pasukan GAM namun saat ini masyarakat sudah kembali ke NKRI. Gayo Lues yangterkenal akan Tari Saman-nya ini, dijuluki sebagai Negeri Seribu Bukit, dan merupakan Kabupaten yang paling terisolasi di Aceh. Daerah Kabupaten Gayo Lues merupakan salah satu daerah tempat suaka alam Taman Nasional Gunung Leuser. Suaka alam ini diandalkan sebagai paru-paru dunia.Dengan luas 5.719 km2 dan

15

jumlah penduduk sebanyak 74.151 jiwa, terdiri dari 12 kecamatan dengan jumlah kelurahan sebanyak 144. Kecamatan Blangkejeren adalah ibukota Kabupaten Gayo Lues dengan jumlah penduduk 24.996 merupakan kecamatan dengan penduduk terbanyak. Kecamatan yang paling luas adalah Putri Betung yaitu 1.390 km2 dan paling sempit adalah Kecamatan Blangjerango. Wilayah Kabupaten Gayo Lues secara topografi terletak pada ketinggian rata-rata 500-2000 m diatas permukaan laut yang merupakan daerah perbukitan dan pegunungan yang berhawa dingin bisa mencapai suhu 15 derajat celcius disaat musim penghujan. Luas Kemiringan Kabupaten Gayo Lues rata rata 35%. Topografi luas kemiringan lahan pada tahun 2007 terdiri atas datar (0-3%), Bergelombang (3-8%), Curam (8-15%), sangat curam (15-25%), serta di atas 25-40%, >40%. Kawasan hutan di Wilayah Kabupaten Gayo Lues antara lain, Taman Nasional Gunung Leuser seluas 195.677 ha, hutan lindung dengan luas 210.971 ha, hutan produksi terbatas dengan luas 96.865 ha, serta hutan tanaman industri untuk pemukiman hanya sebesar 2% dari total luas kawasan yakni 1.288 ha.Kawasan Produktif diantaranya persawahan sebesar 14.222, lahan kering 3.098, holtikultura 3.098, perkebunan 28.131 dan perternakan 2.335 ha. Wilayah Administratif Kabupaten Gayo Lues dibatasi: Utara : Kabupaten Aceh Tengah, Kab Nagan Raya, dan Kab Aceh Timur. Selatan: Kab. Aceh Tenggara, dan Kab Aceh Barat Daya Barat : Kab. Aceh Barat Daya Timur : Kab Aceh Tamiang dan Kab. Langkat (Prov. Sumatera Utara) Kabupaten Gayo Lues yang dimekarkan dari Kabupaten Aceh Tenggara. Secara geografis, kabupaten ini terletak pada 960 43' 24" - 960 55' 24" BT dan 030 40'26"-04016'56"LU. Daerah Gayo Lues terletak pada ketinggian 400 sampai 1200 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang sebagian besar wilayahnya merupakan daerah perbukitan dan pegunungan. Daerah yang terkenal dengan hawanya yang sejuk ini, juga dikenal dunia internasional sebagai paru-parunya bumi. Dengan bentangan alam yang sangat indah, Kabupaten Gayo Lues merupakan areal yang tepat untuk dijadikan daerah konservasi dan penelitian flora maupun fauna. Di daerah ini juga
16

terdapat taman nasional yang dikenal dengan Taman Nasional Gunung Leuser, dengan biodiversitas paling kaya di dunia.

Gambar 3.1.1. Peta Kabupaten Gayo Lues

Penduduk kabupaten Gayo Lues

sejumlah 81.382 dengan sex ratio99.03

artinya dari 100 perempuan ada 99.03 laki-laki, kondisi ini terlihat sesuai data profil kesehatan Gayo Lues tahun 2011 (Profil Kesehatan Kabupaten Gayo Lues). Jumlah penduduk terbanyak ada di kecamatan Blangkejeren dengan penduduk sejumlah 24.996 jiwa. Distribusi penduduk di kabupaten Gayo Lues tampak kurang merata dengan kecenderungan mengelompok dan beraktifitas di bagian kota kabupaten. Penduduk usia sekolah di Kabupaten Gayo Lues relatif masih terkendala dalam mengakses pendidikan dibanding dengan kabupaten lain. Hal ini terlihat dari Angka Partisipasi Sekolah yang lebih kecil jika dibandingkan dengan beberapa kabupaten lain di Provinsi Aceh. Pada tahun 2008, Angka Partisipasi Murni adalah 95,31 persen untuk usia 7-12 tahun, 68,35 persen untuk usia 13-15 tahun dan 57,70 persen untuk usia 1618 tahun. Kemampuan baca tulis, di Kabupaten Gayo Lues seperti juga di daerah lain, penduduk laki-laki usia 15 tahun keatas memiliki kemampuan baca tulis lebih tinggi dibanding perempuannya.

17

Kualitas pendidikan juga dapat dilihat dari tingkat pendidikan yang ditamatkan masyarakat. Pada tahun 2008, dari penduduk usia 10 tahun keatas, sebanyak 16,38 persen sudah menamatkan sekolah pada jenjang SLTA sampai tingkat Diploma IV/S1/S2/S3; Sejumlah 18,70 persen tamat SLTP, 26,63 persen tamat SD dan 38,29 persen yang merupakan persentase terbesar adalah penduduk yang tidak/belum tamat SD. Rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Gayo Lues pada tahun 2008 adalah sebesar 8,70 tahun yang dapat diartikan secara rata-rata penduduk Kabupaten Gayo Lues baru menyelesaikan pendidikan sampai dengan taraf SLTP.Ketersediaan bangunan sekolah juga sangat menentukan kelas 2

keberhasilan

pendidikan. Hingga pada tahun ajaran 2007/2008 telah dibangun sebanyak 102 unit bangunan SD/sederajat, 27 unit bangunan SLTP/sederajat dan 15 unit bangunan SLTA/sederajat. Kesemuanya telah menyebar di setiap kecamatan kecuali bangunan SLTA dimana 3 kecamatan yaitu Dabun Gelang, Pantan Cuaca dan Tripe Jaya belum memiliki bangunan SLTA satu unit pun. Penduduk Gayo Lues sebanyak 81.382 jiwa dan ini mengalami peningkatan dari tahun 2009 sebanyak 75.165 jiwa, Sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk, kepadatan jumlah penduduk makin meningkat. Hal ini terjadi karena luas tetap sedangkan jumlah penduduk makin bertambah, tahun 2009 kepadatan penduduk 13,9 orang/km2 namun saat ini ada peningkatan dalam kepadatan sebesar 14 orang/km 2. Seperti nampak pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.1.1. Jumlah penduduk, Luas Wilayah dan KepadatanKabupaten Gayo Lues Berdasarkan Kecamatan No Kecamatan Luas Wilayah (km2) 633,25 174,48 213,74 1.390,00 274,40 460,03 1.016,60 273,41 176,23 690,84 416,60 5.719,58 Jumlah Kepadatan Penduduk Penduduk per km2 7.493 11,83 6.524 37,39 24.996 116,95 6.760 4,86 5.397 20 5.214 11,33 4.419 4,35 3.855 14,10 3.561 20,21 8.140 11,78 5.023 12,06 81.382 14

1 Kuta Panjang 2 Blang Jerango 3 Blangkejeren 4 Putri Betung 5 Dabun Gelang 6 Blang Pegayon 7 Pining 8 Rikit Gaib 9 Pantan Cuaca 10 Terangun 11 Tripe Jaya Jumlah

18

Jika dilihat persebaran penduduk menurut kecamatan, terlibat penyebaran yang tidak merata. Kecamatan Blangkejeren memiliki jumlah penduduk paling banyak, dengan jumlah penduduk sebesar 24.996 jiwa dan luas 213,74 km 2sekitar 30,71% dari total jumlah penduduk Kabupaten Gayo Lues, disusul Kecamatan Terangun dan Kuta panjang yaitu sebesar10% dan 9,20%. Sementara itu, kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit (kurang dari 1 persen) adalah Kecamatan Pantan Cuaca dan Rikit Gaib.Tenaga kerja terbesar berada di sektor Pertanian, Jasa Kemasyarakatan dan perdagangan. Selama 5 tahun terakhir komposisi lapangan kerja utama penduduk Gayo Lues tidak banyak mengalami perubahan. Dari sisi kesempatan kerja, besarnya angka pengangguran dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya adanya

ketidakstabilan tingkat pertumbuhan ekonomi dan tidak memadainya tingkat pendidikan dan ketrampilan penduduk usia kerja dibandingkan lapangan kerja yang tersedia, penduduk setempat ada yang bekerja sebagai TKI pada tahun 2006 sebesar 10% dari total jumlah penduduk (data profil Kesehatan Dinas Kesehatan tahun 2010).

Pelayanan Kesehatan KIA di Kabupaten Gayo Lues

Derajat kesehatan masyarakat merupakan suatu indikator keberhasilan pembangunan manusia. Salah satu modal dasarpembangunan adalah sumber daya manusia yang sehat jasmani dan rohani,karena dengan keberhasilan pembangunan SDM yang sehat akanmenghasilkan masyarakat yang sehat sehingga akan menjadi pelaku dansasaran pembangunan.Pemerintah Gayo Lues memiliki dalam hal ini sangat pemerintah signifikan

daerahkabupaten

peran

yang

dalammeningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui berbagai program dibidang kesehatan. Tujuan dari program-program tersebut adalah untukmenghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan intelektual, fisik,ekonomi dan moral sesuai dengan definisi Kesehatan dalam Undang-undangKesehatan tahun 2004 bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera daribadan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktifsecara sosial dan ekonomis.Data yang diperoleh dari Gayo Lues dalam

19

Angka tahun 2011 memperlihatkan bahwa jumlah sarana kesehatan di Kabupaten Gayo Lues seperti terlihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3.1. 2. Sarana Kesehatan di Kabupaten Gayo Lues Jenis Sarana Kesehatan Puskesmas Puskesmas Perawatan Puskesmas Non Perawatan Puskesmas Pembantu Puskesmas Keliling Rumah Sakit Poskesdes Rumah Bersalin Swasta Posyandu Jumlah 12 6 6 41 12 1 63 25 144

Pelayanan kesehatan dilaksanakan oleh tenaga medis yang tersebar di Kabupaten Gayo Lues yang terdiri dari dokter spesialis sebanyak 6, dokter umum 23 orang, dokter gigi 4 orag dengan total 29 orang. Tenaga medis lainya yaitu bidan sebanyak 101 yang ada pada Puskesmas sebanyak 72 dan sisanya ada pada Rumah Sakit. Tenaga kesehatan lainya yaitu sarjana Farmasi 1 orang, DIII Farmasi 16, DII Gizi 12 orang, sarjana Kesmas 16 orang, tenaga sanitasi 9 orang. Tenaga teknisi medis: Analis Laboratorium 6 orang, tenaga rontgen 7 orang, anestesi 2 orang, fisioterapis 6 orang. Pelaksanaan Jaminan Persalinan sudah disosialisasikan sejak tahun 2010 sejak dikeluarkan dari Kementrian Kesehatan dengan melibatkan bidan Desa dan bidan dilingkungan Kabupaten Gayo lues, sesuai indepth dengan Kepala Dinas Kesehatan bahwa program jampersal sudah dilaksanakan sesuai dengan juknis yang diberikan dari Kemenkes, dengan didukung oleh SK yang dikeluarkan oleh Bupati serta menunjuk

20

tenaga sebagai pelaksana program jampersal. Penunjukan disertai dengan SK (Surat Keputusan). Namun dalam pelaksanaanya masih terjadinya tumpang tindih antara Jampersal dan JKA (Jaminan Kesehatan Aceh). Ada peraturan lokal yang dilaksanakan oleh Kadis dimana selain ada jamkesmas di Galus (Gayo Lues) juga memperoleh fasilitas JKA (Jamkesda), sejauh ini masyarakat terkadang meminta pelayanan lebih seperti masyarakat meminta bidan untuk datang ke rumah ketika bersalin, sedangkan standar pelayanannya harus dilakukan di fasilkes, rujukan juga dilakukan oleh bidan ke fasilkes di kabupaten apabila terjadi komplikasi. Kodisi ini di perbolehkan oleh Kepala Dinas Kesehatan walaupun tidak sesuai dengan juknis jampersal. Berdasarkan data profil Kabupaten Gayo Lues diperoleh data BPS tentang penduduk miskin pada tahun 2007 yaitu berjumlah 52.943 jiwa. Terjadi penurunan jumlah orang miskin yaitutahun 2009 berjumlah 48.622 jiwa, sedangkan data tahun 2011 berjumlah 34.582.

Kesehatan Bayi dan anak Angka Harapan Hidup merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan suatu daerah khususnya pembangunan di bidang kesehatan Semakin tinggi angka harapan hidup penduduk suatu daerah maka pelayanan kesehatan di daerah tersebut semakin baik. Demikian halnya dengan pelayanan kesehatan di Kabupaten Gayo Lues selama 5 tahun terakhir Pemerintah Kabupaten Gayo Lues mampu mepertahankan besaran angka harapan hidup penduduknya hingga berkisar usia 65 tahun untuk lelaki dan 60 tahun untuk perempuan, fenomena tersebut berbeda dengan kondisi pada umumnya dimana laki laki biasanya mempunyai angka harapan hidup yang lebih rendah dibanding perempuan (Profil Kabupaten Gayo Lues tahun 2010).Salah satu indikator IPKM tersebut adalah cakupan pemeriksaan kehamilan atau Ante Natal Care (ANC). Menurut data Riskesdas 2007, cakupan pemeriksaan kehamilan Kabupaten Gayo Lues adalah 25%. Cakupan ini adalah cakupan terendah di Provinsi Aceh yang secara umum mempunyai cakupan pemeriksaan kehamilan sebesar 72% (Depkes, 2008:64). Dengan kata lain, cakupan pemeriksaan kehamilan Kabupaten Gayo Lues paling rendah di antara 21 kabupaten yang terdapat di Propinsi Aceh.

21

Menurut data profil kesehatan Aceh tahun 2010 Angka Kematian Ibu di Aceh adalah 193/100.000 kelahiranhidup/LH, bila ditelusuri per kabupaten maka ditemukan beberapa kabupaten yang memberikan kontribusi kematian ibu paling banyak, salah satunya adalah Kabupaten Gayo Lues (Profil Kesehatan Aceh, 2011). Menurut informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gayo Lues, pada tahun 2011 Angka Kematian Balita berjumlah 30 orang, dengan rincian kematian neonatal 21 orang dan bayi 9 orang.
Tabel 3.1.3 Data Pemeriksaan Kehamilan dan Persalinan Kabupaten GayoLues Tahun 2011 No Kecamatan K1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kuta Panjang Blang Jerango Blangkejeren Putri Betung Dabun Gelang Blang Pegayon Pining Rikit Gaib Pantan Cuaca Terangun Tripe Jaya Jumlah 190 161 641 186 125 115 70 108 100 207 137 2080 Ibu Hamil K4 180 141 579 161 123 113 67 92 92 187 135 1905 Jumlah 211 172 674 187 133 140 77 108 106 214 137 2199 IbuBersalin Jumlah 201 165 641 177 127 134 74 103 102 204 132 2099 Nakes 180 146 552 172 116 106 60 88 89 170 106 1818 Ibu Nifas Jumlah 201 165 641 177 127 134 74 103 102 204 132 2099 Yankes 180 146 552 172 116 106 60 88 89 170 106 1818

Dari tabel di bawah bisa terlihat bahwa usia 0-4 tahun menduduki peringkat teratas bahwa jumlah bayi dan balitanya pada Kabupaten Gayo lues sangat tinggi yaitu 9.759 bayi dan balita, sementara jumlah bayi sebanyak sebanyak 2.069 dengan status kesehatan yang baik berdasarkan laporan profil kesehatan Kabupaten Gayo Lues bahwa pemberian ASI Eksklusif sebanyak 2.069 bayi, sedangkan cakupan imunisasi untuk imunisasi BCG sebesar 80% dan cakupan imunisasi Polio 3 sebesar 83,3%, Imunisasi DPT 1 sebesar 91%, DPT 3 83 %, Campak 82%. Jumlah balita dengan gizi buruk sebanyak 7 balita di Blang Pegayon 1 anak, 3 di Pantan Cuaca, 2 di Terangun, 1

22

di Tripe Jaya. Untuk jumlah bayi yang meninggal pada Kabupaten Gayo Lues untuk tahun 2011 berdasarkan Profil Kesehatan tahun 2011 sebanyak 35 Balita. Menurut data profil kesehatan Aceh tahun 2010 Angka Kematian Ibu di Aceh adalah 193/100.000 kelahiranhidup/LH, bila ditelusuri per kabupaten maka ditemukan beberapa kabupaten yang memberikan kontribusi kematian ibu paling banyak, salah satunya adalah Kabupaten Gayo Lues (Profil Kesehatan Aceh, 2011). Menurut informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gayo Lues, pada tahun 2011 angka kematian balita berjumlah 30 orang, dengan rincian kematian neonatal 21 orang dan bayi 9 orang. Data-data inilah yang menjadi dasar pemikiran mengapa kajian Kesehatan Ibu dan Anak dilakukan di Kabupaten Gayo Lues. Kematian Ibu pada Kabupaten Gayo Lues sebanyak 4 orang dalam kurun waktu tahun 2011 terjadi pada kelompok usia >35 tahun pada saat hamil, kematian ibu bersalin sebanyak 3 orang pada kelompok usia 20–34 tahun, kematian pada saat nifas tidak ada. Ini karena usia rentan untuk hamil yaitu 35 tahun kemudian karena kebiasaan warga setempat apabila hamil masih melakukan aktifitas di kebun, kematian pada saat persalinan terjadi karena banyak ibu hamil pada saat kehamilannya sudah besar masih melakukan aktifitas di kebun dan melahirkan dengan jasa bidan kampung, saat akan melahirkan biasanya mereka ada di kebun sehingga mempersulit proses persalinan, kemudian akses geografisnya yang berbukit bukit, kepercayaan masyarakat terhadap budaya juga masih tinggi kemudian dengan adanya Jampersal diharapkan angka tersebut bisa turun. Saat ini ibu hamil dan bersalin sudah banyak yang tahu tentang jampersal namun masih banyak juga yang kurang paham tentang Jampersal, ini kemungkinan karena terjadinya informasi yang kurang jelas dari pemerintah setempat. Masyarakat hanya tahu bahwa ada persalinan gratis tanpa tahu biaya tersebut dari mana. Ada anggapan bahwa biaya persalinan di biayai oleh JKA (Jaminan Kesehatan Aceh) atau Jamkesda padahal menurut dinas terkait bahwa persalinan tidak di biayai oleh JKA. Fasilitas kesehatan sudah banyak tersedia namun karena akses geografi dan tenaga yang kurang mengakibatkan banyak masyarakat yang tidak bisa menikmati pelayanan kesehatan. Beberapa Puskesmas tidak memiliki dokter bahkan tenaga kesehatan sangat kurang karena ada pegawai puskesmas yang membawahi beberapa
23

program. Ada pula pegawai puskesma yang tidak pernah ada di tempat karena alasan lokasi puskesmas yang jauh dari kota kabupaten dan akses ke puskesmas tersebut sangat sulit, tidak ada transportasi umum dan kondisi jalan yang belum diaspal. KB paska persalinan tidak menjadi hambatan terbukti peserta KB dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Data dari profil kesehatan tahun 2011 menunjukkan bahwa pemakaian KB dengan MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) yaitu IUD sebanyak 73, implant 184, sedangkan peserta baru dengan metode non MKJP yaitu suntik 2.269, pil 995 dan kondom 289. Ini menunjukkan bahwa masyarakat setempat sudah sadar akan manfaat dari KB tersebut. Sampai saat ini penyuluhan KB paska persalinan terus dilakukan. Perilaku kesehatan dapat dilihat dari tenaga bidan kampong (dukun bersalin) yang masih banyak di Kabupaten Gayo Lues seperti terlihat pada gambarsbb.

Rerebe Terangun Kenyaran Rikit Gaib Cinta Maju Pintu Rime Pining Dabun Gelang Gumpang Blang Kejeren Blang Jerango Kuta Panjang 0 10 20 30 40 Jumlah Dukun Jumlah Bidan

Gambar. 3.1.2. Jumlah Bidan dan Jumlah Dukun yang Terdapat di Kabupaten Gayo Lues Menurut Puskesmas Tahun 2011 Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Gayo Lues

24

Masalah KIA baik kematian maupun kesakitan sesungguhnya tidak lepas dari sosial budaya serta lingkungan dimana ibu dan anak tersebut berada.Faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsep tentang berbagai pantangan, anjuran, ritual, hubungan makanan dengan sehat-sakit, kebiasaan, memberikan dampak positip atau negatip. Masyarakat tradisional memiliki konsep kesehatan yang berbeda dengan konsep modern yang berkembang. 3.1.2 Gambaran Umum Puskesmas Pintu Rime Kecamatan Pining

Gambar 3.1.3. Peta Lokasi Puskesmas Pintu Rime Sumber: Dokumentasi Peneliti

Wilayah Kecamatan Pining berjarak22km dari Ibukota Kabupaten Blangkejeren untuk sampai di Puskesmas Pintu Rime Desa Uring bisa menggunakan motor atau mobil angkutan Desa yang di berangkatnya hanya 1 kali pulang pergi. Rute angkutan ini dari Blangkejeren menuju Kecamatan Pining pda siang hari. Rute sebaliknya dari pining mobil tesebut akan kembali ke Blangkejeren pada sore hari. Angkutan Desa mobil berjenis L300 bisa memuat apa saja, karena hanya satu satunya angkutan yang ada makanya mobil tersebut selalu dipenuhi oleh penumpang. Sepanjang perjalanan Blangkejeren hingga Desa Uring topografi daerah berbukit-bukit dan sebagian besar ditanami pohon pinus. Kondisi jalan yang berkelok kelok membuat perut terasa mual
25

bagi yang belum terbiasa. Pada sisi sebelah kanan terdapat bukit dan jalan raya ada pada lereng bukit tersebut. Sesekali mobil bersimpangan dengan kendaraan roda dua yang mereka sebut dengan “kereta”. Pada sebelah kiri terdapat hutan yang ditanami pohon pinus. Dalam perjalanan ke Desa Uring ada satu wilayah yang dinamakan Puncak Genting bagi warga Gayo Lues tempat ini adalah tempat rekreasi karena pemandangan yang sangat elok dilengkapi dengan kedai khusus yang menjual kopi tugu luwak asli, di kedai tersebut biji kopi diolah secara langsung dari luwak yang dipelihara oleh penjualnya. Kondisi jalan yang berada pada lereng bukit terancam longsor kapan saja, terutama saat musim hujan sehingga tiba jarang ada orang untuk datang ke Desa Uring. sebenarnya Desa Uring hanyalah salah satu sdsa yang ada pada kecamatan Pining. Desa lainya yaitu Desa Pepelah, Desa Gajah dan Desa Pintu Rime. Untuk mencapaiDesaUring memerlukan waktu kurang lebih satu jam, belum lagi kalau ada simpangan di jalan karena kondisi jalan yang sempit. Iklim pada DesaUring tidak begitu jauh dengan Blangkejeren namun lebih dingin karena puskesmas tersebut di lereng bukit, posisi Desa ada dibawah puskesmas apabila kita keluar pintu belakang langsung terlihat hamparan DesaUring yang dikelilingi oleh bukit bukit. Terlihat sungai yang menjadi sumber air satu satunya bagi masyarakat setempat untuk kebutuhan seharihari. Desa Uring Kecamatan Pining baru satu tahun ini menikmati Listrik itupun hanya malam. Masyarakat yang mampu menggunakan diesel. Kegiatan warga pada siang hari selain ke ladang mereka hanya duduk duduk depan rumah sambil berkalung sarung sedangkan ibu ibu akan banyak di dapur untuk memasak atau ke sungai. Di Desa Uring terdapat hari pasar yang jatuh pada hari kamis minggu ke dua pada tiap bulanya, para pedagang dari Blangkejeren akan datang ke Desa uring untuk berjualan seperti baju, keperluan rumah tangga, peralatan dapur atau bahan kelontong,

peralatan untuk sholat, mainan anak anak juga dijual. Tempat jualan ada di tengah tengah jalan yang ada di Desa tersebut, ibu ibu sambil menggendong anaknya akan mendatangi pedagang tersebut untuk membeli atau hanya sekedar melihat lihat. Keramaian tersebut bisa satu hari penuh. Para pedagang dengan telaten akan

26

menawarkan barang daganganya ke warga, anak anak kecil juga nampak sangat senang dengan pasar tersebut.

Gambar. 3.1.4. Lokasi DesaUing yang Berlembah dan Berbukit Sumber: Dokumentasi Peneliti

Gambar 3.1.5. Puskesmas Pintu Rime, Kecamatan Pining-Gayo Lues Sumber: Dokumentasi Peneliti

Gambar 3.1.6. Sungai sebagai Sumber Air Desa Uring Sumber: Dokumentasi Peneliti

27

Puskesmas Pintu Rime Uring mulai berjalan pada tahun 2007, yang terletak diatas tanah seluas 2275 m, dipinggir jalan Ladia Galaskar dengan batas batas wilayah:     Sebelah utara berbatasan dengan Kebun Arsyat Sebelah timur berbatasan dengan Sungai Aih Gajah Sebelah barat berbatasan dengan jalan raya Sebelah Selatan berbatasan dengan Kebun Empus Tue Jarak antara puskesmas Pintu Rime dengan Desa Uring hanya sekitar 500 meter ini karena lokasi Puskesmas yang ada di pintu masuk Desa uring, hanya dengan berjalan kaki tidak terlalu jauh akan sampai ke Puskesmas Pintu Rime. Di belakang Puskesmas Pintu Rime akan terlihat hamparan Desa uring yang dikelilingi oleh bukit bukit, ada sungai yang menjadi sumber air satu satunya pada masyarakat setempat untuk segala kegiatan yang membutuhkan air. Iklim pada Desa Uring tidak begitu berbeda dengan Blangkejeren namun agak lebih dingin karena posisi ada di sekitar bukit
Tabel 3.1.4 Wilayah Kerja Puskesmas Pintu Rime Desa Luas Wilayah 40 H 85 H 50 H 80 H Jarak ke Puskesmas Waktu Tempuh ke Puskesmas 3 Km ½ Km 11 Km 22 Km 15 menit 5 Menit 30 Menit 60 Menit

Gajah Uring Pepelah Pintu Rime

Sumber: Puskesmas Pintu Rime, Kecamatan Pining Tahun 2011

Tabel di atas menunjukkan jarak untuk sampai ke Puskesmas dari 4 Desa Gajah memerlukan waktu 15 menit, dari Desa Uring yang paling terdekat hanya 5 menit karena memang posisi Puskesmas ada di Desa Uring, sedangkan untuk Desa Pepelah dengan jarak 11 Km dan ditempuh 30 Menit, untuk Desa terjauh yaitu Pintu Rime

28

dengan jarak 22 Km akan memakan waktu tempuh kurang lebih 1 Jam karena memang kondisi jalan yang belum beraspal dan berbatuan. Sungai yang membelah Desa Uring menjadi sumber air satu satunya yang ada pada Desa Uring. Penduduk memanfaatkan sungai tersebut sebagai tempat MCK (Mandi, Cuci, Kakus), jadi untuk kegiatan mandi, mencuci dan buang air besar semua dilakukan di sungai tersebut. Tidak hanya ketiga hal tersebut, air sungai ini juga merupakan sumber air minum dan masak. Penyaringan air dilakukan dengan membuat lubang lubang di pinggiran sungai sedalam 10 jengkal dan mengambil air yang terdapat di lubang tersebut.

Kependudukan Jumlah keseluruhan penduduk menurut data tahun 2011 sebanyak 1.669 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 339 KK. Jumlah penduduk terbanyak berada di DesaUring dengan jumlah penduduk sebanyak 549 jiwa disusul Desa Pintu Rime sebanyak 499 jiwa dan DesaPepelah sebanyak 325 Jiwa. Besaran jumlah penduduk di tiap desa sangat berbeda terkait dengan hubungan keluarga dan letak pemukiman yang layak untuk ditempati karena geografis Kecamatan Pining berbukit bukit dan Desa Uring ada di dataran yang rendah.

Tabel 3.1.5. Data Jumlah Penduduk Puskesmas Pintu Rime, Kecamatan Pining Tahun 2011 No Desa Jumlah KK Jumlah Penduduk 296 549 325 499 1669 Laki -laki 114 287 170 244 815 Perempuan 182 262 155 255 854

1 2 3 4

Gajah Uring Pepelah Pintu Rime Jumlah

50 140 74 115 339

Sumber: Puskesmas Pintu Rime, Kecamatan Pining Tahun 2011

29

Besarnya angka penduduk di Desa Uring karena DesaUring merupakan Desa yang sudah berusia sangat lama jadi penduduknya secata turun temurun tinggal didaerah tersebut serta dekat dengan sumber mata air yaitu sungai dan lahanya subur untuk ditanami sereh wangi dan kemiri, . Jumlah tersebut tentunya berimbas pada pelayanan kesehatan yang diberikan dibandingkan dengan rasio jumlah tenaga kesehatan. Jumlah tenaga kesehatan yang tersedia di Puskesmas Pintu Rime tidak cukup untuk dapat melaksanakan program program Puskesmas

Mata Pencaharian dan Aktifitas Masyarakat Perkebunan adalah salah satu sumber mata pencaharian yang paling menonjol di Kecamatan Pining. Menurut data Kecamatan, kurang lebih 90% penduduk Pining adalah petani. Jenis-jenis komoditas tanaman yang dibudidayakan di wilayah ini adalah buah kemiri, sereh wangi dan yang paling banyak ditanam saat ini adalah sereh wangi. Sereh wangi ini diolah atau diproses melalui suling menjadi minyak yang harganya sangat lumayan tinggi perkilo bisa mencapai kurang lebih Rp. 75.000,- makanya warga lebih senang menanam sereh wangi ini karena hasilnya sangat menguntungkan, terlebih pola penanamanya yang tidak terlalu sulit. Biasanya penduduk akan menanami pada lereng lereng bukit, apabila musim menanam banyak suami istri akan berada di ladang untuk beberapa lama. Suami menanam sereh wangi dan istrinya akan mencari buah kemiri untuk dijual di pasar Blangkejeren. Namun bagi Ibu ibu yang tidak turut serta ke ladang mereka akan membuat anyaman dari daun pandan hutan yang dianyam untuk dijadikan tikar dengan berbagai ukuran, yang kecil bisa buat sholat kalau yang besar bisa untuk alas tempat tidur bahkan bisa untuk di taruh diruang tamu, pada umumnya masyarakat setempat dalam ruang tamu tidak ada kursi sehingga tikarlah satu satunya alat untuk alas. Memelihara ternak kerbau dan kambing merupakan salah satu mata pencaharian penduduk. Binatang ternak ini menjadi investasi masyarakat. Ternak umumnya hanya dijual bila membutuhkan dana besar seperti untuk pergi haji, atau untuk membeli kereta (sebutan untuk kendaraan bermotor). Mereka sangat membanggakan binatang ternaknya, ukuran orang kaya menurut penduduk setempat adalah banyak sedikitnya hewan ternak yang dimiliki, bahkan ada salah satu penduduk

30

yang jumlah kerbaunya sampai 100 dan binatang-binatang ini tidak mempunyai kandang mereka dibiarkan berkeliaran secara liar. Binatang tersebut mencari makanan sendiri di bukit bukit yang ada disekitar Desa Uring, namun pemiliknya akan tahu seandaianya ada salah satu binatang piaraanya hilang. Pemiliknya cukup memberi tanda binatang peliharaannya, dan mereka bisa mengambil ternaknya setiap saat dibutuhkan. Penduduk Uring berkomunikasi dengan bahasa Gayo, bahasa daerah setempat yang digunakan dalam kegiatan formal dan informal. Penduduk setempat tidak menguasai bahasa Indonesia, bahkan bahasa Aceh saja mereka tidak bisa. Bahasa Gayo sangat susah dipelajari karena bahasa Gayo sangat lain dengan bahasa Aceh. Bahkan untuk menjadi Guru SD pada Kecamatan Pining harus menguasai bahasa Gayo karena bahasa Gayo juga sebagai pengantar untuk proses belajar mengajar. Sebagian ada juga yang bisa bahasa Indonesia biasanya pegawai atau pendatang yang jumlahnya juga cukup rendah.Namun untuk penduduk yang berusia tua dan tidak/jarang keluar dari desa cukup banyak yang tidak bisa dan tidak mengerti bahasa Indonesia. Pendidikan pada Kecamatan Pining sangat terbatas, hanya ada 4 SD yang ada di setiap Desa yaitu Desa Uring, Desa Gajah, Desa Pepelah, Desa Pintu Rime. Ada satu SMP yang sudah berdiri sekitar 3 tahun yang lalu dan baru tahun 2013 nanti akan ada lulusanya. Masyarakat setempat kurang perduli dengan pendidikan, masalah pendidikan di kecamatan Pining merupakan masalah yang paling utama karena faktor ketidak tahuan mereka serta kurangnya keinginan masyarakat setempat untuk maju, bagi mereka sepertinya pendidikan bukanlah merupakan prioritas, namun ada juga warga yang memang mengenyam pendidikan agak tinggi tapi mereka akan keluar dari Desa tersebut untuk menempuh pendidikan, setelah mereka selesai pendidikan mereka akan kembali ke masyarakat namun mereka tidak melakukan perubahan apapun untuk Desa tersebut.Masih cukup banyak penduduk yang mempunyai tingkat pendidikan rendah bahkan tidak tamat SD. Pendidikan masyarakat sangat rendah sebanyak 56,4 % hanya lulus SD, tidak tamat SD sebanyak 18,2%. SMP sudah 2 tahun namun belum pernah ada lulusan.Pendidikan yang rendah menyebabkan banyak perempuan menikah muda.

31

Masyarakat Kecamatan Pining Mayoritas Muslim, apalagi Desa Uring karena Desa tersebut sudah secara turun temurun beragama Islam disamping itu tidak ada juga pendatang, seandainya ada karena terjadinya perkawinan selama orang tersebut tinggal diluar daerah untuk sekolah itupun juga tidak banyak, mereka sangat susah untuk berinteraksi dengan orang luar. Kekerabatan/orsosmas, pola tempat tinggal panggung yang dihuni oleh beberapa keluarga, seorang suami akan membawa istrinya jadi bila perempuan sudah menikah akan keluar dari rumah tersebut dan ikut seorang suami. Ini bisa terlihat dari anggota keluarga dalam 1 rumah biasanya ada beberapa Kepala Keluarga. Mereka sangat memegang teguh kekerabatan namun secara pertalian saudara saja mereka dekat untuk keperluan lainya mereka akan menanggung sendiri-sendiri.

Table 3.1.6. Jumlah Bumil, Bulin,Bufas, Bayi dan Balita Per Desa di Wilayah Puskesmas Pintu Rime Kecamatan Pining Tahun 2011 No 1 2 3 4 Desa Gajah Uring Pepelah Pintu Rime Bumil 5 17 7 9 38 Bulin 4 16 7 8 35 Bufas 4 16 6 8 34 Bayi 4 16 6 8 34 Balita 29 79 43 43 194

Jumlah

Sumber: Puskesmas Pintu Rime, Kecamatan Pining Tahun 2011

Dari tabel di atas terlihat jumlah ibu hamil di Desa Uring sebanyak 38 ibu dan 35 ibu bersalin dan terbanyak ada di Desa uring.Masalah kesehatan KIA pada Puskesmas Pintu Rime sangat rendah sekali ini terlihat dari pencapaian cakupan yang tidak pernah maksimal. Tabel di bawah ini bisa terlihat bahwa memang cakupan untuk kegiatan KIA tidak pernah maksimal.

32

Tabel 3.1.7. Jumlah Sasaran dan Cakupan KIAKecamatan Pining Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 Kegiatan K1 K4 Neonatus Partus oleh Nakes Pelayanan Resti Satuan Bumil Bumil Bayi Bulin Bumil Target 41 41 41 41 41 Pencapaian Cakupan 35 29 25 25 5 85% 70.7% 60.9% 60.9% 12.1%

Sumber: Puskesmas Pintu Rime, Kecamatan Pining Tahun 2011

Dari hasil tabel di atas ternyata hampir sama dengan kuesioner ibu sebanyak 94,5% menjawab ya untuk melakukan anc pada ibu hamil. Melalui indept interview diperoleh informasi dari Kepala Puskesmas bahwa program yang ada beberapa tidak jalan karena keterbatasan tenaga. Sebagai contoh, 1 orang tenaga bisa bertanggung jawab terhadap 9 program sekaligus, untuk permasalahan pelayanan KIA ada di K1 karena banyak ibu hamil yang tidak ingin kehamilanya diketahui orang lain selain suami dan keluarga dari jumlah. Program imunisasi juga tidak berjalan baik, walaupun tenaga kesehatan sudah mendatangi rumah keluarga memiliki balita, seringkali mereka ditolak dengan tidak dibukakan pintu.
Tabel 3.1.8. Jumlah Sasaran dan Cakupan KB, Kecamatan Pining, Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 Metode Pil Suntik Kondom Implant IUD Satuan PUS PUS PUS PUS PUS Target 292 292 292 292 292 Pencapaian Cakupan 187 208 15 53.1% 70.5% 5.2% -

Sumber: Puskesmas Pintu Rime, Kecamatan Pining Tahun 2011

33

Pelayanan KB selama ini berjalan dengan baik dilihat table diatas dari target 292 untuk pencapaianya Pil 53%, Suntik 70,5%, implant 5,2%. Kondom dan IUD tidak ada ibu-ibu yang memanfaatkanya, dengan kesadaran yang tinggi mendatangi puskesmas untuk melakukan KB dan KB yang menjadi primadona pada penduduk setempat adalah PIL.

Fasilitas Pelayanan di Puskesmas dan Ketenagaan Sumber Daya Manusia atau tenaga yang tersedia pada Puskesmas Pintu Rime terdiri 13 orang. Dari keseluruhan petugas tersebut, yang berdinas di puskesmas induk yaitu 3 orangAkper, 3 orang Akademi Kebidanan, 1 orang Kesehatan Lingkungan, 1 orang Perawat Gigi, 1 orang Operator Komputer dan 1 orang Cleaning Service. Puskesmas pembantu memiliki tenaga terdiri dari Perawat 1 orang, Akbid 1 orang, Bidan 1 orang. Jadi Total jumlah pegawai Puskesmas Pintu Rime sejumlah 16 pegawai. Kegiatan administrasi didukung oleh 2 buahKomputer, 1 buah laptop dan kamera digital 1 buah. Selain gedung puskesmas induk, sarana kesehatan yang dimiliki lain adalah:       Puskesmas Pembantu 2 buah Poskesdes Pepelah Rumah Dinas Dokter Rumah dinas 1 buah, Pusling 1 buah Sepeda motor 7 buah Akses ke Yankes. Untuk mencapai Puskesmas Pintu Rime Aksesnya sangat sulit kalau dari Desa Uring hanya perlu waktu 15 menit karena memang lokasinya terletak pada Desa tersebut, namun kalau dari Desa Pepelah dan Desa Pintu Rime harus melalui jalan yang berliku dan berada di sisi bukit dan rawan longsor serta kondisi jalan yang belum diaspal bisa sampai 1 jam untuk sampai di Puskesmas tersebut, transportasi dari Blangkejeren ada namun dalam satu hari hanya lewat 1x dalam sehari dengan rentang waktu yang sangat lama, dibutuhkan sekitar 1 jam dari Blangkejeren untuk sampai ke Puskesmas Pintu Rime. Jaringan telepon di Kecamatan Pintu Rime
34

tidak ada sama sekali sehingga para petugas kesehatan yang ada dilokasi setiap hari libur mereka akan pergi ke Blangkejeren dalam beberapa hari untuk sekedar berhubungan dengan saudara ataupun teman dekat. Kepersertaan Jampersal di Puskesmas Pintu Rime Desa Uring untuk tahun 2011 tidak terserap karena masalah tehnis. Ini karena mengarah pada budaya masyarakat yang tidak mau memeriksakan kehamilan mereka pada bidan, K1 sangat terkendala karena ada budaya takut itu. Kondisi daerah yang sangat sulit juga menjadi kendala karena beberapa bumil masih ada yang bersalin ketika mereka sedang tinggal di kebun. Pada tahun 2012 hanya 11 ibu hamil yang memanfaatkan jampersal. Pemanfaataan yang sedikit ini karena prosedur administrasi dan kondisi geografis wilayah setempat yang sulit. Berikut pernyataan bidan koordinator puskesmas tentang habatan pemanfaatan jampersal.
“Hambatan administratif, karena ada beberapa dokumen yang harus dikumpulkan seperti KTP dan KK , dan masyarakat di Desa ini umumnya tidak mempunyai KTP, jadi tetap harus minta surat dari kecik, tapi sejauh ini kendala bukan merupakan kendala yang berarti”.

Hasil indepthinterviewdengan bidan koordinator jampersal Puskesmas Pintu Rime bahwa selama ini jampersal pemanfaatanya masih kurang karena terkendala masalah administrasi yaitu harus ada KTP atau KK padahal masyarakat setempat jarang yang punya. Sebagai gantinya, mereka harus menghubungi Kecik dulu untuk minta surat keterangan tidak mampu. Persyaratan ini menyebabkan masyarakat malas untuk mengurus itu semua. Alasan lain adalah karena ada Jaminan Kesehatan Aceh atau Jamkesda. Hasil FGD dengan tokoh masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat tidak tahu mana yang akan dipakai untuk persalinan dari beberapa jenis jaminan kesehatan yang ada. Masyarakat juga kurang mendapat informasi mengenai jampersal seperti pernyataan salah seorang tokoh masyarakat dalam FGD.
“Selama ini kami belum pernah mendengar tentang jampersal, kami hanya tahu kalau melahirkan pakai bidan mantra gratis tidak bayar sama sekali”.

35

3.1.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak Pandangan tentang Ibu Hamil, Bersalin, Bayi/Anak Hasil Penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil akan diperlakukan sama dengan ibu ibu yang tidak hamil, tidak ada perlakuan khusus bagi ibu hamil. Ibu-ibu tersebut tetap menjalankan kewajibanya selaku ibu rumah tangga, melakukan kegiatan seperti mencuci, memasak bahkan bekerja di ladang membantu suami, walaupun dari hasil FGD suami menyatakan bahwa ada previllege yang diberikan untuk ibu hamil dengan tidak melakukan pekerjaan rumah tangga. Masyarakat setempat masih percaya dengan hal hal yang berhubungan mitos. Terdapat bermacam pantangan yang harus dilakukan oleh ibu hamil walaupun kadang kadang hal tersebut tidak bisa diterima oleh akal sehat dan logika. Pantangan yang berlaku pada ibu hamil, bersalin di Desa Uring merupakan suatu tindakan preventif agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, sehingga baik dianggap masuk akal ataupun tidak harus tetap dilaksanakan. Kehamilan merupakan suatu kebahagiaan bagi seorang perempuan, apalagi itu adalah anak pertama baginya. Kebahagiaan tersebut seringkali ditunjukan kepada orang lain dengan berbagai cara. Salah satu cara tersebut misalnya dengan mengadakan sebuah pesta atau upacara yang mengundang banyak orang pada masa kehamilannya, seperti upacara mitoni1 dalam masyarakat Jawa. Namun, dalam masyarakat Gayo, khususnya di Desa Uring, tidak ada upacara pada masa kehamilan seperti dalam masyarakat Jawa. Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Melalatoa (1982:89) dalam bukunya yang berjudul “Kebudayaan Gayo” bahwa tidak ada upacara dalam rangka kehamilan seseorang seperti pada masyarakat tertentu yang lain. Tidak adanya upacara atau pesta kehamilan dalam masyarakat Gayo tentu disebabkan oleh suatu faktor. Faktor tersebut berkaitan dengan pengetahuan masyarakat setempat bahwa kehamilan seseorang harus ditutupi atau dirahasiakan

1

Mitoni adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa yang dilaksanakan saat usia kehamilan seseorang berusia 7 bulan dan pada kehamilan pertama kali. Maknanya adalah bahwa pendidikan bukan saja setelah dewasa, akan tetapi semenjak benih tertanam di dalam Rahim sang ibu (Bratawidjaja, 1988:21). 36

agar tidak diketahui oleh orang lain. ‘Penutupan kehamilan’ inilah yang menyebabkan tidak adanya upacara atau pesta kehamilan dalam masyarakat Gayo. ‘Penutupan kehamilan’ dalam masyarakat Gayo dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu caranya adalah melalui pakaian. Pada saat hamil, si ibu akan menggunakan sarung sebagai rok. Selain itu, ada juga sehelai kain panjang yang dilingkarkan pada lehernya dan menjulur sampai ke perutnya. Hal ini senada dengan pendapat Melalatoa (1982:89), bahwa dalam masyarakat Gayo ada kebiasaan menyelimuti bagian tubuhnya sedemikian rupa sehingga bagian perutnya itu tidak mudah dilihat orang. Dari pengamatan peneliti, kebiasaan menyelimuti bagian tubuh sedemikian rupa tersebut saat ini sudah terjadi perubahan, khususnya dalam masyarakat Desa Uring. Dalam masyarakat Desa Uring, sebagian besar ibu hamil tidak lagi menyelimuti tubuhnya sedemikian rupa untuk menutupi kehamilannya. Mereka juga mengenakan pakaian layaknya yang dikenakan oleh kaum perempuan pada umumnya, seperti menggunakan baju daster, celana panjang, dan rok, sehingga kehamilan mereka pun tampak terlihat. Kesehatan secara keseluruhan terutama yang berkaitan dengan Kesehatan Ibu dan Anak, terlihat dari rendahnya kunjungan masyarakat setempat ke Fasilitas Kesehatan yang tersedia. Masyarakat setempat belum mempunyai kesadaran yang tinggi untuk memeriksakan kesehatanya kepada tenaga kesehatan yang tersedia. Mereka tidak mau tahu tentang kesehatan yang baik, bahkan merek tidak ingin tahu tentang kesehatan. Dari beberapa cerita dari pegawai Puskesmas Pintu Rime bahwa masyarakat setempat kurang berminat untuk mendatangi fasilitas kesehatan. Berkaitan dengan KIA, mereka belum sadar akan pentingnya kesehatan bagi Ibu yang sedang hamil, balita dan batita. Itu bisa terlihat dari profil Kabupaten Gayo Lues angka pemeriksaan yang berkaitan dengan ibu dan anak cukup rendah. Masyarakat Desa Uring memandang seorang ibu yang hamil seperti pada umumnya wanita ini berkaitan dengan budaya setempat bahwa wanita yang sudah diperistri oleh lelaki maka hak sepenuhnya ada pada lelaki tersebut. Perempuan yang sudah diberikan mahar untuk memenuhi persyaratan sebuah pernikahan maka perempuan tersebut bisa diperlakukan dengan semena mena oleh suaminya. Maksudnya, hasil pengamatan ada ibu yang dalam keadaan hamil tetap bekerja seperti
37

biasanya, bekerja disini maksudnya mengerjakan semua urusan rumah tangga dari mengurusi keluarga sampai membantu suami bekerja di ladang. Namun dari hasil FGD yang tim lakukan ternyata didapat informasi berbeda, para suami menyatakan memberikan perlakuan yang lebih kepada istrinya manakala istrinya tersebut sedang dalam masa hamil. Perawatan Kehamilan. Masyarakat setempat masih memegang teguh budaya local terkait perwatan kehamilan sebagian besar masyarakat tidak mau untuk datang memeriksakan kehamilanya karena beberapa hal. Salas satu penyebab adalah budaya takut akan kehamilanya yang diketahui oleh orang atau warga sekitar. Apabila mereka memberitahu kehamilan kepada bidan bahwa mereka hamil, apabila ada kejadian misal, keguguran dll maka bidan yang akan disalahkan. Ada pula budaya masyarakat setempat yang masih melekat yaitu percaya bahwa ibu hamil adalah orang yang sangat rentan terutama terhadap gangguan yang datang dari pengaruh supranatural. Selain itu ada kepercayaan setempat tentang ‘manusia beracun’ atau ‘orang beracun’ yatu penganut ilmu hitam. Orang tersebut sebagai penganut ilmu hitam, agar kekuatannya bertambah salah satu cara dengan mengambil bayi dalam kandungan lewat ilmu hitam. Hal ini bia dilihat dari ibu hamil yang dengan tiba tiba kehamilannya hilang atau bagi bayi yang sudah keluar akan meninggal dengan tanda tanda penyebab yang tidak jelas.
“Disini ada manusia beracun, ciri ciri manusia beracun adalah dia bisa melihat dari jauh, ketika dia melewati rumah yang terdapat ibu yang hamil dia bisa meracuni ibu hamil lewat pandanganya atau bisa juga kalau ada minuman racun itu bisa dikirim lewat minuman yang diminum ibu hamil tersebut, bisa juga terjadi ibu hamil yang akan kehilangan bayinya secara tiba tiba dengan alasan yang tidak jelas, saya tahu orangnya kalau bapak mau bisa saya tunjukkan rumahnya”

Keengganan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan pertama kehamilan menyebabkan rendahnya cakupan K1 Puskesmas uring, ibu hamil lebih memilih mencari informasi kehamilan pertama dari bidan kampung. Informasi ini dieroleh dari wawancara dengan bidan koordinator Puskesmas Pintu Rime Desa Uring. Dari Hasil analisa kuantitatif dalam penelitian ini, diperoleh data sebanyak 94,5% melakukan ANC ke Bidan, data tentang pengetahuan ibu untuk memeriksakan kehamilanya sebanyak 4 x ternyata dari keseluruhan responden menjawab setuju yaitu sebesar 90,9%, kemudian untuk mengukur darah pada saat kehamilannya sebanyak

38

89,1% ibu ibu setempat menjawab setuju, sebanyak 52,7% menjawab setuju untuk konsumsi tablet tambah darah pada saat kehamilan. Halini menunjukkan bahwa masyarakat setempat sebenarnya sudah mengetahui tentang pemeriksaan ibu hamil minimal 4x dalam kehamilanya, dan pada ibu hamil harus mengkonsumsi tablet tambah darah, mengukur test darah, serta melakukan suntik TT sebanyak 2x, tapi pada kenyataanya setelah hampir arena kuatnya budaya pada daerah setempat mereka hanya tahu tapi tidak melakukan sebagai contoh ada salah satu pegawai puskesmas yang seorang perawat yang bersekolah di kota Medan dan kembali ke DesaUring pada saat dia mau melahirkan tetap pada bidan kampung. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan seseorang tidak mempengaruhi pola pencarian kesehatan. Berikut adalah hasil wawancara dengan bidan coordinator.
“K1 sangat terkendala karena ada budaya takut itu. Kondisi daerah yang sangat sulit juga menjadi kendala karena beberapa bumil masih ada yang bersalin ketika mereka sedang tinggal di kebun”

Kehamilan bagi masyarakat Desa uring tidak ada upacara pada masa kehamilan seperti dalam masyarakat di tempat lain tidak adanya upacara atau pesta kehamilan dalam masyarakat Desa uring tentu disebabkan oleh suatu factor dan faktor tersebut berkaitan dengan pengetahuan masyarakat setempat bahwa kehamilan seseorang harus ditutupi atau dirahasiakan agar tidak diketahui oleh orang lain. Hal ini dikarenakan kepercayaan setempat yang masih percaya atau meyakini apabila hamil dan di ketahui oleh orang lain selain keluarganya akan mengakibatkan hilangnya kehamilan tersebut atau mengancam nyawa sang ibu . Namun, meskipun kehamilan mereka tampak terlihat oleh orang lain, tetapi merahasiakan usia kehamilan dari orang lain, khususnya dari orang yang tidak dikenal baik olehnya atau ‘orang asing’, masih dilakukan oleh ibu hamil di Desa uring disebabkan karena adanya kepercayaan masyarakat setempat bahwa masa hamil merupakan masa yang sangat rentan untuk jin atau setan masuk ke dalam tubuh ibu hamil. Jin atau setan tersebut dapat berasal dari setan itu sendiri atau berasal dari kesengajaan yang dilakukan oleh manusia yang sering disebut Manusia Beracun oleh masyarakat setempat. Oleh sebab itu, seorang ibu hamil dan keluarganya berusaha untuk menutupi atau merahasiakan kehamilan seorang ibu dari orang lain untuk
39

melindungi ibu hamil dan janinnya dari gangguan setan dan Orang yang dalam belajar Ilmu Hitam.         Tidak boleh keluar rumah malam hari (setelah magrib) Tidak boleh makan kulit Tidak boleh makan telur Tidak boleh minum sambil berdiri Tidak boleh duduk di tengah pintu Tidak boleh bercanda Tidak boleh makan di dalam kamar/tempat tidur Tidak boleh minum jamu Adapun pantangan ibu hamil pada masyarakat uring yaitu dilarang keluar rumah malam hari; Tidak boleh melayat; Tidak boleh makan telur; Dilarang makan dalam kamar. Dalam pengetahuan masyarakat Desa Uring, apabila seorang ibu hamil ada darah keluar pada saat hamil, mengalami sakit pinggang dan sakit perut, dan penyakitpenyakit lainnya yang dialami oleh ibu hamil, dianggap bahwa hal tersebut merupakan gangguan kehamilan yang disebabkan oleh blis (setan). Blis tersebut masuk ke dalam tubuh ibu hamil dan mengganggu ibu hamil dan janinnya. Masuknya blis ke dalam tubuh ibu hamil tersebut dikenal dengan istilah rampatdalam masyarakat Gayo. Rampat tersebut terjadi karena dua faktor, yaitu (1) tube atau diguna-guna oleh manusia, dan (2) melanggar pantangan yang telah ditetapkan bagi ibu hamil, seperti tidak boleh keluar pada saat magrib dan jam 12 siang, tidak boleh terkena hujan, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, ibu hamil di Desa Uring cenderung menutupi usia kehamilannya untuk menghindari tube yang dapat menyebabkan rampat.

40

Tabel 3.1.9. Pantangan dan Anjuran bahi Ibu Hamil di Kecamatan Pining, Tahun 2012 Pantangan/Tabu  Tidak boleh keluar rumah malam hari (setelah magrib)  Tidak boleh makan kulit  Tidak boleh makan telur  Tidak boleh minum sambil berdiri  Tidak boleh duduk di tengah pintu  Tidak boleh bercanda  Tidak boleh makan di dalam kamar/tempat tidur  Tidak boleh minum jamu Sumber: Data Primer Anjuran  Minum air kelapa  Jangan bercanda berlebihan  Meletakkan gunting kuku disamping tempat tidur  Rajin sholad dan mengaji  Makan harus diruang makan dan ruang tv  Tidak berpergian selama masa kehamilan

Selain faktor tube, rampat juga dapat terjadi karena adanya pelanggaran yang dilakukan oleh ibu hamil terhadap pantangan-pantangan yang telah ditetapkan. Banyak pantangan yang tidak boleh dilakukan oleh ibu hamil, terutama pantangan dalam perbuatan. Pantangan tersebut dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu berdasarkan waktu, tempat, dan objek. Berdasarkan waktu, (1) ibu hamil tidak boleh terkena panas matahari tepat pada saat matahari berada di atas kepala yaitu sekitar jam 12 siang, (2)tidak bolehkeluar pada saat magrib menjelang, (3) tidak boleh terkena air hujan, dan (4) tidak boleh tidur siang dalam waktu yang lama.Berdasarkan tempat, (1) seorang ibu hamil tidak boleh duduk di tanah, (2) tidak boleh berdiri di depan pintu, (3) tidak boleh duduk di bawah pohon asam, dan (4) tidak boleh duduk di pintu atau di jendela rumah. Sementara itu berdasarkan objek seorang ibu hamil tidak boleh menyakiti orang lain selama hamil dan tidak boleh melihat burung sedang terbang. Persalinan di Desa uring pada umumnya masih menggunakan bidan kampung atau bidan Desa walaupun sudah ada bidan di puskesmas namun masyarakat tetap menggunakan jasa bidan kampung, masyarakat setempat masih meyakini bahwa bidan kampung lebih tahu kapan sang jabang bayi akan lahir dan alasan lainnya bahwa pemeriksaan kehamilan sudah dilakukan oleh bidan kampung maka melahirkanya juga

41

harus pakai bidan kampung, seperti pendapat dari seorang informan (Bapak SD) dari Desa Uring dalam FGD,
“Dari awal kehamilan istri sudah periksa dengan bidan kampung makanya melahirkan juga sekalian sama bidan kampung saja, bidan kampung bisa tahu kalau ada apa apa dengan bayi yang akan dilahirkan…”.

Penduduk Desa uring masih percaya dengan dukun dari total 55 responden sebanyak 50,9% masih menggunakan tenaga penolong persalinan pertama dukun dan 30,9 % karena percaya, 32,7 % karena jaraknya dekat.Selain hal tersebut para tenaga kesehatan yang jumlahnya sangat sedikit dan jarang ada di puskesmas itulah yang menjadikan alasan warga enggan memakai jasa bidan atau mantri kesehatan . dari hasil indepth dengan kepala puskesmas dan bidan setempat karena lokasi Puskesmas Pembantu ada di lereng bukit yang rawan akan terjadinya longsor dan dari aparat Desa setempat kurang menyenangkan, maka tenaga kesehatan kalau hari sabtu minggu akan keluar dari Desa tersebut, Disamping itu masyarakat Desa uring melihat Bidan kampung di Desa Uring mempunyai cara atau metode tersendiri untuk menolong persalinan. Cara atau metode tersebut dipelajari secara turun menurun dari ibunya, neneknya, dan nenek moyangnya, dan lebih anehnya lagi kadang orang mendapat ilmu atau keahlian menolong persalinan tersebut tidak disadari baru setelah sekian tahun ibu tersebut tahu bahwa telah mendapatkan ilmu tersebut dan ini tidak bisa ditolak oleh yang diberi kepercayaaan. Adapun ramuan yang digunakan oleh bidan kampung untuk menolong persalinan adalah seperti menggunakan kunyit dan minyak goreng untuk mengurut atau memijat perut ibu hamil, menggunakan semilu untuk memotong tali pusar bayi. Ritual penanaman plasenta atau ari ari atau Ni (masyarakat setempat menyebutnya) masih dikenal. Ni tersebut setelah dicuci bersih oleh bidan kampung dan dimasukkan dalam sumpit oleh suami dan dikubur di gunung bagi anak yang berkelamin laki laki. Cara ini menyangkut kepercayaan warga setempat dengan menanam ni tersebut di gunung akan membuat anak tersebut akan nyaring suaranya sewaktu membaca alquran namun dalam proses penanaman tersebut tidak boleh terlalu dalam karena bisa menyebabkan susah bicara. Untuk anak perempuan akan ditanam dekat tangga yang ada di rumah karena biar nanti kalau sudah besar tidak
42

pergi jauh dari orang tua. Informasi tersebut diperoleh dari suami dalam FGD , secara detil terungap dalam perkataan berikut.
“…., terus ni atau ari ari yang mencuci bu mantri atau bidan kampung setelah bersih dimasukkan dalam sumpit lalu ditanam di bukit biar suaranya nyaring kalau baca quran untuk anak lelaki, untuk anak perempuan cukup dibawah tangga rumah saja biar kalau pergi tidak jauh jauh”.

Selain pemotongan tali pusat dan penanaman nie ada ritual bayi setelah dilahirkan segera dibawa ke sungai untuk dimandikan agar bayi tersebut kuat dan pemberani, apabila ritual tersebut tidak dilakukan maka mereka akan menerima dampaknya yang bisa mengakibatkan anak anaknya akan nakal atau bandel bahkan sampai tidak mau membaca alquran, andai hal tersebut terjadi orang tua akan mendatangi bidan kampung untuk minta doa biar anak tersebut segera berubah, dengan membawa beras satu bambu serta kain putih 2 meter dan uang sebesar 20.000 sampai 50.000,-, nanti dukun kampung akan membacakan mantra terhadap anak tersebut sampai pada akhirnya anak tersebut mau membaca alqur’an. Dalam masyarakat Gayo, permasalahan kesehatan pada umumnya dipercaya karena adanya pengaruh setan atau magis.Hal ini bisa kita lihat pada pemeriksaan ibu hamil pada masyarakat setempat pada pemeriksaan ANC mereka tidak lakukan dan hal ini sangat bertentangan dengan ketentuan bahwa selama hamil harus 4 x melakukan pemeriksaan, karena pada 3 bulan pertama pemeriksaan kehamilan sangat dibutuhkan ini untuk mengetahui kondisi janin sehingga apabila janin tidak berkembang atau tidak bagus tenaga kesehatan akan tahu , karena budaya tersebut ANC pada Puskesmas Pintu Rime rendah. Pemahaman masyarakat mengenai kesehatan tersebut berpengaruh pada cara pengobatan yang dilakukan, yaitu dengan bersifat magis juga untuk mengusir setan tersebut. Oleh sebab itu, dukun kampung masih mempunyai peranan penting dalam pengobatan suatu penyakit, termasuk dalam kesehatan ibu dan anak seperti pengobatan pada masa kehamilan sampai pasca-persalinan. Masyarakat lebih percaya dengan dukun karena dianggap dukun mempunyai ilmu spiritual yang tinggi dan tahu pasti kapan bayi akan lahir. Serta bisa membacakan mantra untuk ibu yang akan melahirkan dan member air Suluh yaitu air yang sudah
43

diberi mantra dan diyakini bisa mempermudah proses kelahiran.Dukun Juga melakukan pemijitan pada ibu hamil, memberikan mantra-mantra, menolong persalinan, mencuci Nie/plasenta, tradisi Asapan, memakai tapel, bedak param selama 40 hari (masa nifas), pada saat akan melahirkan suami atau salah satu keluarga akan memanggil dukun terlebih dahulusebanyak 50,9% responden, namun pada saat persalinan sebanyak 52% responden tetap mempercayakan persalinan kepada Bidan puskesmas. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa masih ada ibu bersalin di DesaUring yang tidak tahu berapa usia kandunganya sehingga mereka tetap bekerja di kebun, makanya mereka tidak tahu tanda-tanda persalinan, sehingga masih banyak ibu bersalin yang melakukan persalinan sendiri tanpa pertolongan bidan Desa atau bidan kampung atau karena ibu tersebut berada di kebun sehingga sulit untuk memanggil bidan kampung atau mantri. Hal ini tentu mempunyai dampak yang kurang baik bagi ibu bersalin tersebut dalam persalinan, apalagi persalinan tersebut adalah persalinan berisiko tinggi dan bermasalah.Oleh sebab itu, peran tenaga kesehatan dan pemerintah setempat sangat diperlukan dalam menanam pengetahuan tanda-tanda persalinan kepada ibu sejak kehamilan. Masyarakat Desa Uring lebih percaya kepada bidan kampung untuk menolong persalinan daripada tenaga kesehatan. Oleh sebab itu, peluang bidan kampung untuk menolong persalinan lebih banyak daripada tenaga kesehatan. Oleh sebab itu, bidan kampung hendaknya mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah setempat. Perhatian tersebut mungkin dapat dilakukan dengan cara membina dan merangkul bidan kampung untuk bekerjasama dalam mengatasi permasalahan kehamilan seorang ibu sampai pasca-persalinan. Menurut pengakuan seorang bidan kampung, dia belum pernah mendapatkan pembinaan, khususnya tentang persalinan, dari pemerintah setempat.‘Ilmu’ pertolongan persalinan dia peroleh dari nenek moyangnya secara turun menurun.Oleh sebab itu, peran pemerintah sangat diperlukan untuk merangkul para bidan kampung dan dukun kampung selaku orang yang dipercaya oleh masyarakat setempat untuk menyembuhkan suatu penyakit dan menolong persalinan.

44

Tabel 3.1.10. Ritual, Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Bersalin di Kecamatan Pining, Tahun 2012

Ritual, tradisi, atau adat tertentu
 Dilangkahi 3x oleh suami agar persalinan lebih mudah  Memasukan garam dalam vagina setelah bayi lahir  Minum minyak yang telah didoakan  Menanan ari ari bagi anak lelaki dilaksanakan jauh diatas gunung agar suaranya merdu saat melantunkan ayat quran  Pakai asapan, tampal, bedak param

Pantangan/Tabu
    Berdiri depan pintu Tidak boleh makan telur Tidak boleh makan pisang Tidak boleh makan ikan

Anjuran
 Minum jamu  Minum air do’a/suluh supaya melahirkan dengan selamat  Makan daun sirih  Banyak berzikir dan istigfar

 Dilarang menyimpan cabe merah di dalam saku  Jangan kena hujan

 Dilarang makan terlalu pedas

Sumber: Data Primer

Pasca-Persalinan.Setelah persalinan, ibu nifas di Desa Uring menggunakan api yang diletakan di belakang punggung ibu hamil yang dikenal dengan istilah bedapuratau nite dalam masyarakat setempat. Penggunaan api tersebut dipercaya oleh masyarakat setempat untuk melancarkan darah kotor yang terdapat di punggung ibu hamil. Tradisi memanaskan ibu nifas dalam rumah adat dengan asap selama 40 hari.Selain menggunakan api,pada saat niteibu nifas di Desa Uring juga menggunakan ramuan tradisional yang digunakan di seluruh tubuh berupa param, garam yang dimasukan ke dalam vagina, dimakan, dan diminum. Ramuan-ramuan tersebut dipercaya oleh masyarakat setempat untuk menyehatkan badan, menyembuhkan luka dalam, dan memberi ‘kekuatan’ pada saat bekerja nantinya. Penggunaan ramuan tersebut menunjukan bagaimana kepedulianmasyarakat setempat terhadap kesehatan seorang ibu nifas. Ramuan yang digunakan pada umumnya adalah rempah-rempah dapur seperti kunyit dan sirih. Ramuan tradisional yang digunakan oleh ibu nifas merupakan ramuan yang dipelajari secara turun menurun dalam masyarakat Gayo di Desa Uring. Berbagai pantangan ibu hamil, bersalin dan pasca persalinan bisa kita lihat sebagai berikut:

45

Tabel 3.1.11. Ritual, Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Pasca Persalinandi Kecamatan Pining Tahun 2012 Ritual, tradisi, atau adat tertentu  Turun Mandi pada bayi  Doa selamatan pada bayi.  Menyediakan dapur kecil  Memakai bedak dan tampal  Ari ari anak perempuan dibawa dideket tangga rumah  Menanam ari ari tidak boleh terlalu dalam  Pemberian nama bayi Pantangan/Tabu  Tidak bisa makan telur  Tidak bisa makan pisang  Memotong kambing betina  Tidak boleh masak selama 40 hari Anjuran  Ibu banyak makan sayuran segar seperti sayur bening agar air susu banyak keluar  Makan ramuan penghangat badan  Potong kambing jantan  Makan dan minum jamu

Sumber: Data Primer

3.1.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal Pengambilan Keputusan Pemilihan Penolong KIA Pada masyarakat Desa Uring dalam pengambilan keputusan pencarian pertolongan masih mengandalkan orang tua atau mertua. Hal ini terungkap dari wawancara dengan bidan koordinator puskesmas sebagai berikut.
“Pengaruh orang tua dalam penentuan penolong persalinan sangat besar, umumnya ketika orang tua menyarankan menggunakan bantuan dukun mereka selalu mengikuti saran tersebut terutama dukunitulah yang menolong bumil ketika dilahirkan, faktor percaya sangat berkembang dalam pemilihan pembantu persalinan. Suami tidak mempunyai kapasitas untuk memberikan keputusan dalam hal penentuan pembantu persalinan”

Peran orang tua atau mertua dalam budaya setempat masih sangat tinggi ini berkaitan dengan pola tinggal mereka karena apabila seorang anak perempuan sudah menikah dia akan ikut dengan suami untuk tinggal di keluarga suami.Seorang suami bapak YT menyatakan hal tersebut dalam FGD sebagai berikut.
“Anak saya nomer 1 sampe dengan 3 lahir pada bidan kampung karena mertua yang menyarankan sedangkan anak yang ke 4 pakai bu mantri (bidan puskesmas) saya sendiri yang mau karena biar dikasih vitamin “

Namun dari data primer survey terhadap responden ibu sebanyak 50,9% memilih bidan kampung karena merasa aman dan nyaman, sedangkan 30,9% percaya,
46

serta jarak yang dekat sebanyak 32,7 %. Hal ini memperlihatkan bahwa pola pencarian pertolongan persalinan pada masyarakat setempat masih mengidolakan bidan kampung karena kepercayaan yang tinggi serta faktor jarak yang dekat. Pada saat persalinan, sang suami tidak boleh masuk ke dalam ruang bersalin, meskipun hanya untuk sekedar menemani istrinya. Hanya bidan kampung atau bidan serta pihak keluarga saudara perempuan yang ada. Keputusan dalam pencarian pertolongan ditentukan oleh orang tua atau mertua, seorang suami hanya mengikuti saja apa mau orang tua atau mertua. Mereka akan patuh dengan apa yang di ucapkan oleh mertua atau orang tua, bahkan untuk menunggu istri pada saat melahirkan saja suami tidak boleh mendekat karena urusan melahirkan adalah urusan wanita. Para suami ini menurut saja, karena takut apabila mereka melanggar apa yang disarankan orang tua nanti akan membuat susah proses kelahiran.

Dukun di Mata Masyarakat Masyarakat Desa Uring lebih percaya kepada bidan kampung untuk menolong persalinan daripada tenaga kesehatan. Bidan kampung dianggap lebih tahu tentang kapan bayi akan lahir seperti yang terungkap dari hasil FGD dengan kelompok suami yang isterinya tidak memanfaatkan jampersal.
“Istri saya melahirkan dengan bidan kampung karena selain dekat saya lebih percaya dengan bidan kampung, karena bidan kampung tahu kapan bayi akan lahir”

Oleh sebab itu, peluang bidan kampung untuk menolong persalinan lebih banyak daripada tenaga kesehatan. Maka dari itu, bidan kampung hendaknya mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah setempat dengan melakukan pembinaan dan merangkul bidan kampung untuk bekerjasama dalam mengatasi permasalahan kehamilan seorang ibu sampai pasca-persalinan. Menurut pengakuan serangbidan kampung, dia belum pernah mendapatkan pembinaan, khususnya tentang persalinan, dari pemerintah setempat.‘Ilmu’ pertolongan persalinan dia peroleh dari nenek moyangnya secara turun menurun.Oleh sebab itu, peran pemerintah sangat diperlukan untuk merangkul para bidan kampung dan dukun kampung selaku orang yang dipercaya oleh masyarakat setempat untuk menyembuhkan suatu penyakit dan menolong persalinan.
47

Kebiasaan pada masyarakat Desa Uring adalah melahirkan di rumah ini terlihat dari 55 renponden sebanyak 72,7 % menjawab setuju bahwa proses persalinan di rumah atau di fasilitas kesehatan sama amannya. Pernyataan ‘melakukan ritual membuat persalinan selamat’ yang ditanyakan kepada responden menunjukan bahwa sebanyak 58, 2% menjawab setuju. Serta menganggap ‘kemampuan bidan dan dukun sama’ sebanyak 80 % menjawab setuju. Masyarakat setempat masih sangat percaya dengan bidan kampung mereka dengan alasan dekat serta merasa nyaman apabila menggunakan bidan kampung. Infomasi dari bidan kampung, selama ini sebenarnya senang menolong persalinan namun kadang ada warga yang kurang berterima kasih terhadap bidan kampung.
“…Saya senang bisa membantu orang melahirkan namun kadang warga yang saya tolong tidak tahu terima kasih, bahkan sering saya disuruh pulang sendiri tanpa diantar padahal jaraknya sangat jauh….”

Menurut data dari Puskesmas Pintu Rime, saat ini terdapat 5 orang bidan kampung di 4 Desa di Kecamatan Pining. Satu hal menarik di sini adalah bidan kampung tersebut keahlianya secara turun temurun dan pada awalnya bidan kampung ini tidak menyadari kalau mereka ini punya keahlian dalam membantu proses persalinan. Bidan kampung atau dukun bersalin ini memiliki posisi dalam masyarakat setempat sebenarnya kurang begitu dihargai malah sebaliknya itu bisa dilihat dari wawancara dengan 2 bidan kampung yang ada di Desa Uring dan Desa Gajah mereka mengeluhkan sifat warga yang kurang berterima kasih. Cara-cara yang digunakan bidan kampung untuk memberikan pertolongan lebih memanfaatkan alam dan

kemampuan spiritual yang mereka miliki. Dalam prakteknya, bidan kampung memberikan pertolongan kepada ibu dalam bentuk pijat, air suluh, jamu, bedak, tampel dan ramuan yang tediri dari jeruk purut, kunyit dan beras. Dari hasil survei yang dilakukan di Desa Uring, berikut bentuk-bentuk pelayanan bidan kampung yang dimanfaatkan oleh masyarakat:

48

Tabel 3.1.12. Jenis Pelayanan Bidan Kampung yang Diterima Masyarakat di Wilayah Kecamatan Pining Tahun 2012 No 1 2 3 4 5 Pijat Ibu Jamu Upacara adat tertentu Perawatan Bayi Pijat Bayi Jenis Pelayanan Ya 52,70% 61.80% 65.50% 81.80% 18.20% Sumber: Data Primer Tidak 47,30% 38.207% 34,50% 18.20% 81.80%

Untuk biaya jasa bidan kampung, masyarakat hanya mengeluarkan atau menyediakan beras sebanyak 1 ruas bambu, gula, kopi, dan kain sepanjang 2 meter. Kain ini bisa berupa kain kafan atau kain yang lain kemudian uang seadanya diberikan secara sukarela. Bidan kampung tidak akan meminta bayaran secara langsung kepada

masyarakat yang memanfaatkan jasanya. Akan tetapi masyarakat yang mengerti akan dengan sukarela memberi uang dan perlengkapan yang sudah disebutkan diatas. Mereka merasa tidak enak kalau tidak member, apalagi masyarakat setempat masih percaya apabila bidan kampung ini sakit hati maka leluhurnya akan marah dan bisa membahayakan anaknya kelak di kemudian hari.

Bidan Dimata Masyarakat Bidan adalah ujung tombak pertolongan KIA di kecamatan Pining. Peran bidan sangatlah penting dalam keselamatan ibu dan anak karena mereka mengetahui bagaimana cara-cara yang tepat untuk melakukan pertolongan KIA secara medis kepada masyarakat. Pertolongan persalinan oleh bidan terkait dengan ketersediaan tenaga, saat ini Puskesmas Cirinten telah memiliki tenaga bidan sebanyak 4 orang. Dari 4 orang bidan tersebut, 2 orang bidan ditempatkan di puskesmas Pintu Rime, 1 orang bidan ditempatkan di pustu dan 1 lainnya ditempatkan di Desa Pining. Secara status kepegawaian, 2 orang bidan di sudah berstatus sebagai PNS, sedangkan 2 orang bidan lainnya adalah bidan PTT dan praktek.

49

Dari segi jumlah, ketersediaan bidan di Pining tidak cukup untuk dapat melayani masyarakat Desa Desa yang ada di wilayah Pining, apalagi ada 2 bidan yang jarang datang ke Puskesmas Pintu Rime karena memang domisilinya di Blangkejeren. Sampai saat ini hanya 2 Desa yang sudah memiliki bidan, sedangkan 2 Desa lainnya tidak. Warga di 4 Desa yang tidak memiliki bidan harus rela untuk menempuh perjalanan yang jauh untuk mendapatkan pertolongan dari bidan, baik dari bidan di Desa terdekat atau bidan dari Pustu atau Puskesmas. Sedangkan seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, kondisi geografis Pining tidaklah mudah untuk ditempuh oleh warga. Seorang bidan yang ditempatkan di Desa Uring tidak tinggal di daerah tersebut karena alasan keamanan mereka dengan perawat gigi dan tenaga perawat lainya tinggal di Desa Pepelah. Mereka tinggal di Pustu namun agak jauh dengan pemukiman penduduk. Dalam kesehariannya mereka berbaur dan berinteraksi dengan warga setempat, bahkan mereka belajar bahasa setempat. Mereka juga ikut belajar membuat tikar anyaman dari daun pandan berduri yang banyak tumbuh di sekitar Desa uring. Singkatnya, mereka menyatu dengan masyarakat. Hal ini adalah modal yang penting di mana kepercayaan masyarakat akan terbangun lebih baik apabila mereka mengenal siapa pelaku penolongnya. Bidan di Desa Uring masih muda, berusia sekitar 23 tahun. Selain itu, mereka juga masih berstatu lajang atau belum menikah. Ini merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk bidan. Pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah: apakah mereka sudah cukup berpengalaman dalam menolong menolong ibu yang bersalin? Kalau mereka sendiri belum pernah melahirkan, bagaimana mereka bisa menolong orang melahirkan? Itulah tantangan berat yang harus dihadapi bidan-bidan belia ini dalam mengupayakan pertolongan kepada masyarakat. Mereka harus memperoleh kepercayaan masyarakat dengan usia dan keyakinan yang berbeda namun semangat bidan tersebut patut mendapat apresiasi yang tinggi, maka dari Dinas bidan tersebut menjadi Bidan Teladan satu Kabupaten Gayo Lues. Bidan ini walaupun berkeyakinan berbeda mereka mau merubah penampilan demi bisa diterima oleh masyarakt setempat.

50

“Bidannya cantik dan baik mau kalau dipanggil ke rumah , gesit dan yang penting dia ngerti bahasa gayo hehehehe”

Warga setempat mengganggap bahwa Bidan yang ada Puskesmas Pintu Rime harus dipertahankan karena disamping cantik bidan tersebut lincah selalu cepat kalau dipanggil ke rumah. Hubungan Antara Dukun dan Bidan Kemitraan antara dukun dan bidan terjalin belum lama. Menurut pembicaraan dengan bidan puskesmas dan bidan kampung, maka kemitraan terbentuk. Sudah hampir 2 tahun ini bidan kampung kalau ada ibu yang mau melahirkan akan memanggil bidan puskesmas untuk bersama-sama menolong persalinan.
“orang sini kalau melahirkan harus ada bidan kampung karena kepercayaannya kebetulan neneknya orang pintar jadi kira-kira tujuannya apa. Kubilangkan pa. Sebetulnya ngga da kaitan dengan seperti itu Dia panggil neneknya panggil bidan kampung konon kabarnya ada kakeknya masuk ke tubuh ibu yang sudah melahirkan”

Seperti diterangkan di atas, dukun mempunyai posisi yang strategis dalam kehidupan masyarakat. Mereka telah mendapatkan kepercayaan masyarakat sebelum bidan-bidan datang di Pintu Rime. Bentuk kerja sama antara dukun dengan bidan ini sampai saat ini masih bersifat kekeluargaan saja. Belum ada sebuah kesepakatan bersama, atau MoU yang diberlakukan untuk mendukung kerja sama antara dukun dengan bidan. Dalam prakteknya bidan dapat merangkul dukun untuk dapat bekerja sama dengan melakukan pendekatan secara personal. Mereka membuat pendekatan secara intens dan berusaha membuat hubungan baik dengan para dukun. Dari hubungan baik yang terjalin inilah kerja sama antara bidan dan dukun dapat berjalan. Namun, meskipun kerja sama yang dilakukan oleh bidan dan dukun di sini bersifat kekeluargaan, hal ini tidak serta merta berarti tidak ada hubungan transaksional diantara keduanya. Dalam hal pemberian pertolongan KIA—terutama pada saat persalinan—yang diselenggarakan secara bersama antara dukun dengan bidan terdapat pembagian peran yang jelas. Bidan berperan dalam memberikan pertolongan secara medis kepada Ibu, sedangkan bidan kampung berperan dalam fungsi pengawasan, penjagaan, dan perawatan ibu pasca persalinan. Dalam fungsi pengawasannya, bidan kampung

51

berperan dalam mengawasi ibu semenjak masa kehamilan sampai saat-saat menjelang persalinan. Dalam hal ini, biasanya bidan kampung adalah orang yang menghubungi bidan ketika ada seorang ibu dalam lingkungannya hendak melahirkan. Mereka biasanya hadir di lokasi di mana ibu akan melahirkan lebih dulu daripada bidan. Setelah bidan hadir dan pertolongan persalinan telah selesai dilakukan, biasanya dukun akan tinggal untuk merawat ibu. Pada fase ini dukun biasanya meberi pelayanan untuk ibu dan bayi baru lahir. Seperti yang dikatakan oleh seorang bidan berikut:
“kalau bidan kampung sekedar baca doanya. Dan makein kunyit dan beras serta memandikan bayinya apabila sudah keluar”

Pada fase ini, dukun juga menjalankan fungsinya sebagai aktor yang menjalankan adat dan tradisi yang masih dipercaya oleh masyarakat setempat dalam bidang KIA. Di sini pelaksanaan prosesi-prosesi adat seperti yang teah dijelaskan di atas dijalankan oleh ibu dengan bantuan seorang bidan kampung. Jika dilihat memang pola kerja sama antara dukun dan bidan dalam hal ini—lepas dari hubungan transaksional—merupakan sebuah sinergi antara praktek pertolongan modern (baca: medis) dengan praktek pertolongan tradisional dengan memanfaatkan adat dan tradisi yang telah dikenal oleh masyarakat. Pembagian peran dan fungsi diantara keduanya dapat dilihat secara jelas.

3.1.5.Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan Program Jampersal Sosialisasi Jampersal Sosialisasi jampersal sudah dilaksanakan sesuai dengan juknis yang diberikan dari kemenkes, namun karena Kecamatan Pining merupakan daerah yang sulit dari sisi geografi untuk itu Bupatimengeluarkan SK yang menerangkan bahwa pelaksanaan jampersal bisa dilakukan dirumah dengan tetap menggunakan Bidan sebagai penolong persalinan.
“Sosialisasi dilakukan dengan melibatkan bidan Desa – dan bidan dilingkungan Kabupaten Gayo lues”

Sedangkan pada tingkat Kepala Puskesmas melakukan sosialisasi lewat bidan bidan yang berada dibawah wilayah kerja Puskesmas Pintu Rime.
“Sudah dilakukan pertemuan lintas sektor, antara lain sudah diadakan pertemuan sengan kecamatan dan lurah sehingga dianggap informasi tersebut sudah disampaikan kepada masyarakat di bawah,sedangkan dari bidan Desamelakukan
52

sosialisasi kepada masyarakat melalui posyandu, dan posyandu ini juga dilaksanakan sedikit banyak melalui peran kepala Desa”

Pada tingkat puskesmas sudah dilaksanakan sosialisasi dengan melibatkan para kader di posyandu dan kader ini diharapkan akan menyampaikan informasi tersebut melalui kecik di masing masing Desa.

Pelaksanaan Program jampersal Sejak tahun 2011 jampersal pada Puskesmas Pintu Rime sudah dijalankan namun untuk pesertanya sangat minim karena akses ke pelayanan kesehatan yang sulit serta masyarakatnya kurang perduli dengan kesehatan. Pada masyarakat setempat masih banyak yang melakukan persalinan lewat Bidan kampung, pelaksanaan jampersal di lakukan di rumah penduduk namun apabila ada tindakan akan segera dirujuk ke Blangkejeren , di puskesmas selama ini tidak pernah digunakan untuk persalinan . Pada lokasi penelitian di Puskesmas Pintu Rime Desa Uring persalinan tidak dilakukan di puskesmas dan di beberapa pustu karena keterbatasan fasilitas alat bantu persalinan, sehingga yang mengalami komplikasi atau masalah akan segera dirujuk ke Blangkejeren. Namun ada kebiasaan yang terjadi di daerah setempat adalah masyarakat yang akan melahirkan sebelum ada tanda tanda mau melahirkan sudah langsung memanggil tenaga kesehatan untuk diantar ke RS padahal baru sakit

perutnya saja, ini yang dikeluhkan oleh tenaga kesehatan.

Pengelolaan Dana Jampersal di Tingkat Puskesmas Masyarakat Desa uring yang melakukan pemeriksaan kehamilan, persalinan dan pemeriksaan nifas di tenaga kesehatan, sebagian besar mempergunakan uang pribadi untuk membayar pelayanan tersebut. Dapat kita lihat sebagai berikut:  Kehamilan Pada mayarakat Desa Uring, untuk memperoleh pelayanan kehamilan. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan uang pribadi dalam membayar pelayanan persalinan (63,6%), mempergunaan dana jampersal (20%), jamkesmas/ jamkeda (16,4%). Dari hasil tersebut bisa dilihat masyarakat Kecamatan Pining bahwa penggunaan dana pribadi masih tinggi untuk biaya pemeriksaa kehamilan .

53

 Persalinan Masyarakat Pining belum menganggap tenaga kesehatan sebagai penolong

persalinan terakhir bagi persalinan, hal ini dapat dilihat kesadaran masyarakat membayar pelayanan persalinan dengan uang pribadi (80%), menggunakan jampersal (12,7%), jamkesmas dan jamkesda (7,3%). Mereka belum sadar untuk

mempergunakan bantuan nakes mereka lebih nyaman.  Nifas Sebagian besar masyarakat yang memanfaatkan pelayanan pemeriksaan nifas melakukan pembayaran dengan uang pribadi sebesar (54,5%), dengan

mempergunakan jampersal ( 7,3%), dengan jamkesmas/jamkesda (7,3%) Mereka tetap mengeluarkan dana atau biaya sendiri untuk pelayanan nifas masih tertinggi.

3.1.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan Program Jampersal Kesehatan suatu masyarakat dapat dipengaruhi oleh kebudayaan yang

dimilikinya.Dengan kata lain, pemahaman kesehatan dalam suatu masyarakat dipengaruhi oleh kebudayaan yang telah mereka pelajari secara turun menurun dari generasi ke generasi. Sementara itu, setiap masyarakat mempunyai kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat yang lain. Perbedaan pemahaman kesehatan ini yang harus kita lihat, budaya setempat bisa mendorong kearah kesehatan yang lebih bagus, apabila ada budaya yang mengancam kesehatan ada baiknya kita lakukan pendekatan kepada masyarakat terlebih dahulu. Untuk melihat hambatan dan dukungan serta harapan masyarakat Desa Uring Kecamatan Pining bisa dilihat dari paparan dibawah ini

Hambatan Akses jalan. Jalan yang tidak bagus dan kondisi geografisnya yang berbukit bukit sehingga sulit untuk dilalui, akses jaringan telekomunikasi yang tidak tersedia, seringnya para ibu berada dilokasi perkebunan pada saat hamil tua sehingga mempersulit bidan untuk membantu persalinan. Pendidikan masyarakat sangat rendah. Sebanyak 56,4 % hanya lulus SD, tidak tamat SD sebanyak 18, 2% , SMA baru 1 tahun berdiri, SMP sudah 2 tahun namun belum

54

pernah ada lulusan. Pendidikan rendah menyulitkan masyarakat memahami informasi yang diterima khususnya terkait kesehatan. Fasilitas listrik dan komunikasi. Jaringan listrik baru 1 tahun ini bisa dinikmati warga. Tidak tersedianya jaringan telekomunikasi sehingga menyulitkan warga dan tenaga kesehatan untuk berhubungan, seandainya ada ibu yang akan melahirkan akhirnya pihak keluarga mencari pertolongan ke bidan kampung karena jarak yang dekat. Tempat tinggal berpindah. Mata Pencaharian/pekerjaan masyarakat setempat sebanyak 65 % menjadi petani, dan menanam sereh wangi, coklat, kemiri. Suami istri sering tinggal di kebun dengan mendirikan gubug untuk menjaga kebun kebun tersebut dari gangguan binatang yang akan merusak tanamanya sehingga mereka menginap pada gubug tersebut, sampai pernah terjadi melahirkan di kebun dengan dukun. Kepercayaan kepda bidan kampung (dukun). Kepercayaan masyarakat masih percaya dengan dukun dari total 55 responden sebanyak 50,9% masih menggunakan tenaga penolong persalinan pertama dukun dan 30,9 % karena percaya, 32,7 % karena jaraknya dekat. Masyarakat lebih percaya dengan dukun karena dianggap dukun mempunyai ilmu spiritual yang tinggi dan tahu pasti kapan bayi akan lahir. Serta bisa membacakan mantra untuk ibu yang akan melahirkan dan member air Suluh yaitu air yang sudah diberi mantra dan diyakini bisa mempermudah proses kelahiran. Dukun Juga melakukan pemijitan pada ibu hamil, memberikan mantra, menolong persalinan, mencuci Ni/plasenta, tradisi Asapan, memakai tapel, bedak param selama 40 hari (masa nifas), pada saat akan melahirkan suami atau salah satu keluarga akan memanggil dukun terlebih dahulu sebanyak 50,9% responden, namun pada saat persalinan sebanyak 52% responden tetap mempercayakan persalinan kepada Bidan puskesmas. Tradisi dan kepercayaan. Masyarakat masih percaya dan melaksanakan tradisi antara lain: Berdiri depan pintu; Tidak boleh makan telur; Tidak boleh makan pisang; Tidak boleh makan ikan; Dilarang menyimpan cabe merah di dalam saku; Jangan kena hujan; Dilarang makan terlalu pedas;Memasukkan garam pada vagina setelah bayi dan placenta keluar dan ini diyakini warga setempat bisa menyembuhkan luka di dalam, Memotong kambing betina; Tidak boleh masak selama 40 hari; Turun Mandi pada bayi maksudnya setelah bayi berusia 3 hari akan dibuatkan ritual mandi di sungai dengan
55

upacara yang dipimpin oleh dukun bayi; Doa selamatan pada bayi; Keperluan ibu, dilakukan tradisi Nite: Menyediakan dapur kecil di kamar untuk memberi kehangatan pada ibu; Memakai bedak dan tampal; menanam Ari ari anak perempuan dibawa dideket tangga rumah, anak lelaki jauh di atas gunung karena diyakini akan membuat anak tersebut fasih dalam membaca quran,Menanam ari ari tidak boleh terlalu dalam; Pemberian nama bayi. Kepercayaan terhadap gaib. Menyembunyikan kehamilan karena takut terhadap hal hal diluar akal sehat mereka masih percaya dengannjema / istilah pendududuk setempat menyebut manusia beracun Bidan tidak tersedia. Tenaga kesehatan atau bidan menurut warga jarang ada ditempat pernah selama 1 minggu tidak berada di Puskesmas tapi Blangkejeren dan bidan Desa tidak tersedia di setiap Desa, dari 4 Desa yang ada di wilayah kecamatan Pining hanya di Desa Gajah yang tersedia Bidanya.Warga atau penduduk setempat kurang menjaga keamanan tenaga kesehatan yang ada dari Kecik yang memang mau berbuat asusila.

Dukungan Interaksi sosial. Hubungan yang cukup baik terjalin antara bidan dengan masyarakat, karena Bidan tersebut juga kebetulan sangat perhatian dengan warga. Bidan mendekatkan diri, dengan berbaur melakukan kegiatan yang dilakukan masyarakat seperti belajar membuat anyaman dari daun pandan berduri serta mempelajari bahasa Gayo. Alhasil masyarakat setempat sudah mulai bisa percaya dengan adanya bidan di daerah tersebut. Kemitraan bidan dan dukun cukup baik. Hubungan kerja dan hubungan sosial dukunbidan berjalan dengan saling menghormati. Tidak ada persaingan terutama dukun yang selalu menganjurkan agar juga memanggil bidan dalam setiap persalinan begitu juga sebaliknya apabila bidan yang dipanggil terdahulu untuk menangani persalinan maka bidan juga akan memanggil dukun untuk menemaninya. Bidan yang ada di wilayah tersebut sebenarnya berlainan keyakinan dengan warga setempat namun seiring berjalanya waktu warga sudah bisa menerima kehadiran bidan tersebut walaupun keyakinan yang berbeda
56

Penyediaan sarana transportasi puskesmas. Kepedulian kepala puskesmas terhadap kebutuhan masyarakat sangat mendukung akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Ada mobil Puskesmas yang bisa dipakai 24 jam dan kepala puskesmas siap mengantar walau jaraknya cukup jauh. Bidan kampung merasa kurag dihargai. Bidan kampung merasa tidak dihargai karena sudah menolong persalinan namun tidak diberikan upah yang layak, bukan hanya upah saja yg tidak diberikan namun seringkali ucapan terima kasih juga tidak. Keadaan ini di satu sisi membawa keuntungan karena dapat menjadi pendorong tidak ada lagi masyarakat yang ingin menjadi bidan kampong sehingga suatu saat tidak lagi terjadi regenerasi bidan kampong.

Harapan Masyarakat sebenarnya sudah menyadari kemampuan bidan dalam menolong persalinan. Oleh karena persalinan adalah proses yang tidak dapat dipastikan secara tepat waktunya, maka harapan masyarakat adalah tenaga kesehatan selalu ada ditempat atau di Puskesmas. Selama ini yang menjadikan keluhan warga bahwa tenaga bidan yang ada di Puskesmas setiap sabtu dan minggu mereka jarang ada dilokasi padahal ibu hamil yang mau melakukan pemeriksaan dan persalinan tidak mengenal waktu.Keadaan tersebut perlu ada reward dan sanksi terhadap tenaga kesehatan yang ada di lokasi karena pada Puskesmas Pintu Rime tenaga kesehatan yang tidak ada di tempat karena memang tenaga tersebut tidak tinggal di daerah tersebut . Penyediaan fasilitas umum untuk memudahkan akses dan komunikasi antar warga dan dengan petugas kesehatan. Jalanan yang belum teraspal harusnya segera di perbaiki karena akses yang sulit sehingga masyarakat mengalami kemudahan untuk mencapai fasilitas kesehatan. Jaringan telephon seharusnya ada untuk mempurmudah komunikasi warga dan bidan kesehatan, bidan kesehatan dengan bidan kampung. Disamping harapan masyarakat, juga diperoleh pernyataan yang merupakan harapan tenaga kesehatan. Peralatan pada Puskesmas ada baiknya dilengkapi misalnya peralatan untuk pelayanan persalinan, karena peralatan yang tersedia di Puskesmas kurang memadai. Keamanan yang kurang memadai di masyarakat menyebabkan

57

petugas kurang merasa nyaman tinggal di lingungan masyarakat. Keamanan untuk pegawai Puskesmas seharusnya dijamin oleh pihak kelurahan dan warga pada khususnya. Jampersal menjamin pelayanan KIA bagi masyarakat membutuhkan proses tersendiri khususnya dalam pembiayaan. Proses klaim jangan terlalu lama dan formulir yang harus diisi tidak usah berlembar lembar hal ini yang membuat bidan kerepotan dan makan waktu. Harapan bidan bahwa ada prosedur yang lebih sederhana. Pemahaman masyarakat yang hanya mengetahui tentang pelayanan gratis, membuat pemanfaatan jampersal kurang optimal. Sosialisasi Jampersal seharusnya langsung ke masyarakat melalui lintas sektor antar aparat Desa dan warga . Pelibata lintas sector dengan koordinasi pihak puskesmas penting dalam perluasan sosialisasi jampersal.

58

3.2. Puskesmas Lampaseh Kota, Kota Banda Aceh 3.2.1. Gambaran Umum Kota Banda Aceh Kota Banda Aceh yang merupakan ibu kota Propinsi Aceh, terletak antara 05,30 – 05,35 Lintang Utara dan 95,30 – 99,16 Bujur Timur dengan ketinggian wilayah kota antara 0,80 m – 5,0 m di atas permukaan laut. Kota Banda Aceh berbatasan dengan :    Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka Sebelah Selatan dan Timur berbatasan dengan Kab.Aceh Besar. Sebelah Barat berbatasan dengan Samudra Indonesia. Kota Banda Aceh memiliki 9 kecamatan dengan 90 Gampong, dengan luas wilayah 61,36 km2. Wilayah terluas adalah Kecamatan Syiah Kuala dengan luas mencapai 14,24 km2 dan wilayah dengan luas terkecil adalah Kecamatan Jaya Baru dengan luas 3,78 km2. Jumlah penduduk Kota Banda Aceh tahun 2011 adalah 228.562 jiwa, yang terdiri dari 117.732 jiwa laki-laki dan 110.830 jiwa perempuan. Tingkat kepadatan penduduk mencapai 3.724 jiwa/km2, dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Kecamatan Baiturrahman sebesar 6.844 jiwa/km2, sedangkan yang terendah adalah di Kecamatan Kuta Raja sebesar 2.084 jiwa/km2.

Gambar 3.2.1. Peta Kota Banda Aceh

59

Derajat Kesehatan Masyarakat Banda Aceh Gambaran perkembangan derajat keehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat. Kejadian kematian masyarakat juga dapat dijadikan indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Angka Kematian Bayi (AKB) di Kota Banda Aceh pada tahun 2011 sebesar 2 per 1000 kelahiran hidup, sedangkan tahun 2010 sebesar 6 per 1000 kelahiran hidup berarti telah terjadi penurunan yang cukup tinggi. Ada banyak faktor yang mempengaruhi AKB, namun tidak mudah untuk menemukan faktor yang paling dominan. Tersedianya berbagai fasilitas, aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dengan tenaga medis yang trampil serta kesediaan masyarakat untuk merubah prilaku kehidupan dari tradisional menuju ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor yang amat berpengaruh terhadap tingkat AKB. Kematian Bayi Tertinggi sebesar 2 per 1000 kelahiran hidup terdapat di puskesmas Meuraxa, sedangkan 6 puskesmas lainnya melaporkan tidak ada kematian Bayi pada tahun 2011. Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2011 di Kota Banda Aceh adalah 104 per 100.000 kelahiran hidup. Satu kejadian penurunan Angka Kematian Ibu pada tahun 2010 sebesar 23 per 100.000 kelahiran hidup, namun pada tahun 2011 kembali terjadi peningkatan Angka Kematian Ibu menjadi sebesar 104 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab meningkatnya AKI pada tahun 2011 disebabkan karena beberapa penyebab yaitu eklamsia, pendarahan dan infeksi. Status gizi masyarakat dapat diukur melalui beberapa indikator, antara lain BBLR, status Gizi dan Tinggi Badan Anak Baru Lahir (TB-ABS). Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang mengambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat, cara penilaian status gizi balita adalah dengan pengukuran antropometri yang mempergunakan indeks Berat Badan menurut umur. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR, kurang dari 2.500 gram) juga merupakan salah satu indikator utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan noenatal. Pada tahun 2011 dilaporkan ada 2 bayi yang lahir dengan kasus BBLR di kota Banda Aceh.

60

Upaya Kesehatan Ibu dan Anak Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat penting dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Pemberian kesehatan dasar secara cepat dan tepat diharpkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat diatasi. Jenis pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan, sebagai berikut: Pelayanan Ibu Hamil K-1 dan K-4.Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilan. Cakupan K-1 merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan pelayanan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Dari 5.407 bumil, diketahui sebesar 5.378 bumil mendapat pelayanan K-1. (99,5). Dari 5.407 bumil yang mendapatkan pelayanan K-4 sebesar 4.935 ( 91,3 %). Target SPM (Standar Pelayanan Maksimal untuk K-4 di kota Banda Aceh adalah 87 %. (sumber: Kesmas Dinkes Kota Banda Aceh 2011). Jumlah ibu hamil di kota Banda Aceh (2011) sebesar 5.407, dan yang dapat tablet Fe sebesar 4.897 bumil. Pemberian tablet ini mencakup tablet Fe 1 dan tablet Fe.3 ibu hamil. Pertolongan Persalinan. Komplikasi dan kematian ibu melahirkan dan bayi yang baru lahir sebagian besar terjadi pada masa sekitar persalinan. Kondisi ini disebabkan pertolongan yang tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional (bidan). Cakupan persalinan dengan pertolongan tenaga kesehatan memperlihatkan adanya peningkatan yang cukup berarti dari 68,76 % tahun 2007 menjadi 89,7 % tahun 2011. Dari 5.117 ibu bersalin, 4.590 ibu ditolong oleh tenaga kesehatan (Bidang P2PL, Dinas Kesehatan 2011). Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh bidan di desa, beberapa ibu hamil di antaranya tergolong resiko tinggi atau mengalami komplikasi sebesar 103 bumil. Jumlah tersebut berhasil di tangani dengan baik keseluruhannya, dengan keberhasilan ini diharapkan ibu dapat melahirkan dengan selamat.

61

KunjunganNifas dan Neonatus. Cakupan ibu melahirkan dan yang mendapat kunjungan petugas/pelayanan dari petugas kesehatan pada masa nifas. Dari 5.117 ibu nifas, yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan sebesar 4.548 ibu ( 88,9 %). Dari data ketahui bahwa jumlah bayi baru lahir hidup sebesar4.828 jiwa, untuk KN-1 sebesa 4.530 jiwa (98,3%). Sedangkan pada kunjungan Neonatus lengkap (KN-4) sebesar 4.213 jiwa. Sehingga cakupan kunjungan neonatus lengkap adalah sebesar 87,3 %. Diketahui bahwa jumlah bayi lahir hidup pada tahun 2011 sebesar 4.828 jiwa. Yang telah mendapatkan DPT1 +HB.1 sebesar 4.574 (94,7%); yang mendapatkan DPT.3+ HB.3 sebesar 4.377 jiwa (90,7 %) dan yang mendapatkan campak sebesar 4.258 jiwa (88,2%). Cakupan untuk imunisasi BCG sebesar 4.757 (98,5%), dan Polio-3 sebesar 4.467 (92,5%).

3.1.2. Gambaran UmumPuskesmas Lampaseh Kota Secara geografis Kecamatan Kutaraja berada 0,5 meter diatas permukaan laut dengan ibukota Kecamatan adalah Kelurahan Keudah. Luas Kecamatan mencapai 5,377 km² yang terbagi kedalam empat kelurahan dan dua gampong, dengan batasbatas wilayah:     Utara berbatasan dengan Selat Malaka. Selatan berbatasan dengan Kecamatan Baiturrahman Barat berbatasan dengan Kecamatan Kuta Alam Timur berbatasan dengan Kecamatan Meuraxa

Wilayah kerja Puskesmas Lampaseh seluas 5,377 km² yang meliputi 6 (enam) desa yang terdiri dari 29 (dua puluh sembilan) dusun, dengan jumlah penduduk 10.424 jiwa yang terdiri dari laki-laki 5.526 jiwa dan perempuan 4.898 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Merduati: 2.901 jiwa dan jumlah penduduk paling sedikit terdapat di Gampong Pande: 631 jiwa.

62

Tabel 3.2.1 Jumlah Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Lampaseh Tahun 2011 NO 1 2 3 4 5 6 Nama Desa Keudah Lampaseh Kota Merduati Peulanggahan Gampong Jawa Gampong Pande Jumlah Luas ( km2 ) 0,32 0,25 0,278 0,5225 1,506 2,5005 Laki-laki 722 886 1531 1083 978 326 5.526 Perempuan 625 822 1370 936 840 305 4.898 Jumlah 1347 1708 2901 2019 1818 631 10.424

Sumber : Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Tahun 2011

Pendidikan merupakan cara untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam berbagai bidang keilmuan sehingga diharapkan akan mendukung perilaku positip di berbagai bidang. Ketersediaan sarana penddikan di wilayah puskesmas Lampaseh pada tahun 2011 cukup menjanjikan. Seluruh jenjang pendidikan mulai Taman Kanak-kanak (TK) sampai dengan Perguruan Tinggi tersedia. Terdapat 4 TK, 5 Sekolah Dasar (SD), 1 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), 2 Sekolah Menengah

Pertama (SMP), 1 Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN ), 2 Sekolah Menengah Atas (SMA), 1 Madrasah Aliyah Negeri dan 3 Perguruan Tinggi. Puskesmas Lampaseh memiliki luas bangunan 200 m² dengan luas tanah 450 m², yang terdiri dari: a. Bangunan induk sebanyak 1 (satu) unit b. Perumahan dokter sebanyak 1 (satu) unit c. Perumahan paramedis sebanyak 1 (satu) unit Agar jangkauan pelayanan Puskesmas lebih luas dan merata hingga keseluruh wilayah kerjanya. Puskesmas Lampaseh memiliki fasilitas penunjang berupa : 1. Puskesmas Pembantu, sebanyak 2 (dua) unit Puskesmas Lampaseh memiliki 2 Puskesmas Pembantu, yaitu Puskesmas Pembantu Peulanggahan dan Puskesmas Pembantu Gampong Pande. 2. Kendaraan sebanyak 10(sepuluh) Unit

63

 

2 (dua) unit kendaraan roda empat (Ambulance) 8(delapan) unit kendaraan roda dua, 7 (enam) unit di Puskesmas dan 1 unit di Pustu Jumlah tenaga kesehatan yang ada di puskesmas Lampaseh berjumlah 40 orang

tersebar di puskesmas induk, dan 2 (dua)puskesmas pembantu. Secara terperinci, ketenagaan puskesmas Lampaseh seperti yang terlihat dalam tabel 3.2.2 berikut ini:
Tabel 3.2.2 Data Jumlah Tenaga Puskesmas Lampaseh Tahun 2011 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Tenaga Kesehatan Dokter Umum Dokter Gigi AKPER AKL AKZI Bidan Bidan Desa SPRG SPPH SMF AAK SMAK SPK AKBID AKG SKM SMU SD JUMLAH Pusk. Induk PNS 3 1 2 0 1 6 0 1 0 2 1 1 3 3 1 4 0 1 30 PTT 0 0 0 0 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 BAKTI 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 2 PNS 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 3 Pustu PTT 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 BAKTI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 TOTAL 4 1 2 0 1 6 5 1 0 2 1 1 4 5 1 4 1 1 40

Sumber : Data Dasar Puskesmas Lampaseh 2011

Kegiatan Kesehatan Ibu dan Anak di Puskesmas Lampaseh Kota Upaya kesehatan ibu dan anak merupakan upaya bidang kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui, bayi, anak balita dan anak prasekolah. Termasuk pula pendidikan kesehatan kepada masyarakat serta pembinaan kesehatan anak ditaman kanak-kanak.Tujuan program

64

KIA adalah tercapainya kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal bagi ibu dan keluarga untuk menuju Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) serta meningkatnya derajat kesehatan anak untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal yang merupakan landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya. Adapun kegiatan KIA pada tahun 2011 yang telah dilaksanakan di puskemas Lampaseh untuk mencapai tujuan tersebut diatas adalah sebagai berikut: a. KIA didalam gedung Pemeriksaan ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita. Pemberian imunisasi terhadap ibu dan balita. (63,9%) Penyuluhan gizi setiap kunjungan ibu hamil dan balita. Pemberian Vitamin A (76,46%) dan dan Tablet besi dengan bekerja sama

dengan Usaha Peningkatan Gizi. (88,63%) Pendektesian dan pemeliharaan ibu hamil dan balita beresiko tinggi Pencatatan dan pelaporan

b. KIA diluar gedung (Posyandu) kegiatan yang dilaksanakan : Penyuluhan bagi ibu hamil, ibu bersalin dan ibu menyusui Pemeriksaan bagi ibu hamil, ibu bersalin dan ibu menyusui Pemberian imunisasi TT Pemberian tablet besi (Fe) bekerja sama dengan usaha peningkatan gizi. Pembinaan kader posyandu.

3.2.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak Nilai dan Kepercayaan terkait dengan Kesehatan Ibu dan Anak Kehamilan. Kehamilan merupakan suatu masa yang dilalui seseorang dalam perjalanan hidupnya. Pada saat hamil biasanya seorang wanita akan menjaga dengan baik kehamilan yang dialaminya. Banyak budaya yang mengharuskan seorang wanita
65

hamil untuk menjaga bayi yang dikandungnya agar bayi tetap sehat. Ada beberapa kepercayaan masyarakat bahwa seorang wanita yang sedang hamil tidak diperboleh untuk keluar malam. Seorang yang sedang hamil juga diharapkan dapat menjaga makanan dengan pengertian apa yang boleh dimakan dan mana yang dilarang untuk dikonsumsi pada saat hamil seperti makanan tape, durian , nenas. Selain pantangan terhadap beberapa jenis makanan, ada juga tradisi yang dijalankan masyarakat terutama wanita yang sedang hamil bila mempergunakan kerudung harus menutupi perutnya. Tujuannya adalah menutupi rasa malu karena kehamilannya diketahui banyak orang. Tradisi ini masih ada dilakukan oleh masyarakat di pinggiran kota Banda Aceh. Walaupun mereka sudah hidup dan menetap di kota besar, ternyata masih ada beberapa wanita hamil dan keluarganya tetap memiliki sebuah keyakinan akan adanya tradisi yang harus dijalankan, sebagaimana masyarakat lainnya, yaitu upacara 7 bulanan. Ritual seperti ini tetap dijalankan karena mereka yakin bila tidak dilakukan akan menimbulkan dampak bagi anak yang dikandungnya. Pada umumnya mereka tidak mengetahui pasti dan mereka hanya mengatakan bahwa tradisi ini sudah dilakukan sejak dulu. Sebuah tradisi yang masih dimiliki dan dilakukan oleh masyarakat di kota Banda Aceh adalah bila seorang wanita hamil anak pertama, maka sudah menjadi adat bagi mertua/maktuan dari pihak suami mempersiapkan untuk membawa/mengantarkan nasi hamil kepada menantunya. Acarabawa nasi inidisebut ba bu atau mee bu. Tujuan tradisi ini dilaksanakan dalam rangka menyambut sang cucu dengan melampiaskan rasa suka cita.Nasi yang diantar biasanya dibungkus dengan daun pisang muda berbentuk piramid, namun ada juga sebagian masyarakat yang mempergunakan daun pisang tua. Ada sebuah mitos dalam masyarakar Aceh kelak apabila anak telah lahir maka akan terdapat tompel pada bagian badannya. Bawaan makanan selain nasi, juga terdapat lauk pauk daging dan buah-buahan sebagai kawan nasi. Barang ini dimasukkan dalam sebuah wadah/itang atau kateng. Idang ini diantar kepada pihak menantu perempuan oleh pihak kawom atau kerabat dan orang yang berdekatan tempat tinggal.
66

Upacara ba bu atau meunieum berlangsung 2 kali. Pada ba bu pertama disertai buah-buahan pada saat usia kehamilan bulan ke empat sampai bulan ke lima. Acara kedua berlangsung dari bulan ketujuh sampai bulan kedelapan, namun ada juga masyarakat yang melakukan hanya satu kali.
“Begini pa, tradisi mengantar nasi biasanya dilakukan dua kali pada masa hamil, tapi ini tidak menjadi keharusan karena ada juga yang hanya melakukan satu kali. Hal ini juga tergantung pada keadaan keuangan dari keluarga ibu yang sedang hamil”.

Nasi yang diantar oleh mertua ini dimakan bersama-sama dalam suasana kekeluargaan. Ini dimaksudkan bahwa perempuan yang sedang hamil adalah orang sakit, sehingga harus dibuatkan jamuan makan yang istimewa, dan menurut adat orang Aceh, perempuan yang lagi hamil harus diberikan makanan yang enak-enak dan bermanfaat. Tradisi lain yang dimiliki oleh salah satu masyarakat di Aceh yaitu suku Aneuk Jamee adalah adat bi bu bidan (adat memberi nasi untuk ibu bidan), tujuan adat ini adalah seorang anak yang baru menikah dan usia kehamilan sudah 6 – 7 bulan, maka untuk anak tersebut sudah dicarikanibu bidan untuk membantu proses kelahiran. Pada upacara kenduri dimaksud kebiasaan masyarakat, ibu bidan akan dijemput oleh utusan keluarga ke rumah bidan lalu dibawa ke rumah yang melakukan hajatan. Acara serah terima melewati beberapa persyaratan, antara lain : 1. Pihak keluarga mendatangi ibu bidan dengan membawa tempat sirih (bate ranub) sebagai penghormatan kepada ibu bidan. 2. Setelah ibu bidan hadir ditempat hajatan, maka keluarga melakukan permoonan dan menyerahkan anak yang hamil agar diterima oleh bidan sebagai pasiennya. Persalinan. Persalinan merupakan sebuah masa yang sangat dinantikan oleh seorang wanita yang sedang hamil, karena anak yang dilahirkan akan dianggap sebagai penerus keluarga. Pada masyarakat di kota Banda Aceh, kelahiran akan disambut dengan sebuah kebersamaan, dan kebersamaan ini tidak hanya dirasakan oleh keluarga tersebut, akan tetapiakan disambut oleh sebagian besar warga masyarakat yang ada disekitar lingkungan tempat tinggal, tetapi juga oleh anggota keluarga lain dari tempat berbeda yang masih memiliki hubungan kerabat.

67

Tidak banyak tradisi yang dilakukan pada saat kelahiran, kalupun ada pada acara seperti tahlilan membaca do’a untuk keselamatan anak dan orang tuanya. Salah satu tradisi atau kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat berkenaan dengan kelahiran dan sesuai dengan keyakinan yang dimiliki adalah bayi yang baru dilahirkan akan digendong oleh bapaknya dan kemudian dibacakan doa di telinga bayi tersebut. Untuk anak laki-laki disambut dengan azan, sedangkan untuk anak perempuan adalah qamat. Tujuannya adalah agar anak dikemudian hari menjadi anak yang baik sesuai harapan orang tuanya. Teman bayi yang disebut Adoi (ari-ari), dimasukkan ke dalam sebuah periuk yang bersih dengan disertai aneka bunga dan harum-haruman untuk ditanam disekitar rumah baik dihalaman, di samping maupun di belakang. Selama satu minggu tempat yang ditanam ari-ari tersebut dibuatkan api unggun, tujuannya adalah agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti adanya orang ilmu hitam yang memanfaatkan benda tersebut, tangisan bayi di waktu malam dan dari serangan binatang pemangsa seperti anjing. Pada saat bayi baru lahir, diadakan pemotongan tali pusar dengan sebilah sembilu, kemudian diobati dengan obat tradisional seperti arang, kunyit dan air ludah ranub. Upacara yang berkaitan dengan daur hidup lainnya yang di dalamnya

menggunakan ranub sebagai salah satu medianya adalah upacara antar mengaji. Pada hari ke tujuh setelah bayi lahir diadakan upacara cukur rambut dan peucicap, yang terkadang disertai dengan pemberian nama. Acara peucicap dilakukan dengan cara mengoles manisan pada bibir bayi disertai dengan ucapan “ Bismillahhirahmanirrahim, manislah lidahmu, panjanglah umurmu, muda rejekimu, taat dan beriman serta terpandang dalam kawom/keluarga”. Namun demikian ada juga sebagian warga masyarakat yang masih memliki sebuah tradisi/keyakinan bahwa seorang ibu yang baru melahirkan untuk tidak makan buah-buahan seperti semangka, ketimun. Mereka beranggapan bahwa makanan tersebut akan menimbulkan dampak pada rahim/alat kelamin ibu, yaitu basah/ becek. Pada saat inilah bayi telah diperkenalkan bermacam rasa di antaranya asam, manis, asin, dan ini merupakan latihan bagi bayi untuk mengenal rasa. Sebelumnya bayi hanya mengenal ASI eksklusif yang diperoleh dari ibunya.
68

Bentuk tradisi lain yang dilakukanmasyarakat Aceh pada masa lalu adalah upacara turun tanah dan dilakukan setelah bayi berumur satu sampai duatahun. Bagi anak pertama biasanya dilakukan upacara yang lebih besar, namun untuk dewasa ini masyarakat tidak mengikuti lagi, apalagi bagi ibu-ibu yang beraktivitas di luar rumah seperti pegawai negeri, pegawai swasta atau karyawati di instansi tertentu. Bila dilakukan hal ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak efisien dan tidak praktis lagi. Menurut informasi yang diperoleh, upacara turun tanah disimbolkan pada kesucian ibu bayi yang baru saja melewati masa persalinan. Dalam proses ini juga melibatkan bayi yang baru lahir, pada saat upacara berlangsung bayi dibawa keluar rumah. Ibu yang baru melahirkan dianggap tidak suci lalu tidak dibolehkan untuk ke luar rumah, kecuali dalam keadaan terpaksa, misalnya sakit dan sebab lain yang mendesak. Ibu tidak diboleh keluar rumah karena disebabkan ibu dalam keadaan masa nifas, haids dan wiladah. Pada saat turun tanah ini merupakan puncak bahwa ibu pasca melahirkan telah suci terbebas dari darah kotor sehingga dia diperbolehkan ke luar rumah. Begitu juga dengan bayinya, sebetulnya bayi yang belum berumur satu bulan masih dianggap rentan dengan penyakit sehingga bayi tidak dibolehkan untuk ke luar rumah. Upacara turun tanah pertama sekali bayi mengenal dunia luar dan disini bayi diajarkan dengan dunia luar, dan dikenalkn bahwa manusia harus giat bekerja dan jangan bermalasmalasan, karena sifat malas akan berakibat buruk bagi kehidupannya kelak. Serangkaian upacara tersebut seperti ba bu, cukur rambut, peucicap, Aqiqoh,turun tanah dinilai penting dan bermakna dalam kehidupan, sehingga perlu untuk dijalankan sesuai dengan ketentuan adat yang telah ditetapkan. Di jaman serba modern, kegiatan ritual akan menjadi aset wisata budaya, dan bagaimana adat dan budaya tetap tampil disesuaikan dengan perkembangan jaman. Salah satu tradisi lain yang masih dilakukan oleh masyarakat di kota Banda Aceh berkenaan dengan proses kelahiran adalah‘Aqiqoh’, berupa pemotongan hewan kambing. Tradisi ini sebenarnya mengacu pada keyakinan keagamaan dari masyarakat yaitu agama Islam. Disamping ada tradisi masyarakat yaitu baca doa surat‘ Yasin’.

69

Tradisi lain yang dilakukan oleh masyarakat di kota Banda Aceh berkenaan dengan kelahiran adalah ‘ tradisi potong tali pusar’,kalau pada masa lalu masih mempergunakan bilah bambu yang dibuat dan diasah tajam seperti pisau, namun pada saat ini sejalan dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan, maka alat yang digunakan untuk memotong tali pusar adalah menggunakan gunting ataupun pisau yang biasa digunakan oleh tenaga medis profesional. Pasca Melahirkan. Tindak lanjut dari proses kelahiran adalah bagaimana perawatan bayi yang baru lahir hingga besar. Kondisi ini merupakan sebuah proses yang tidak mudah untuk dilalui oleh ibu yang baru pertama kali melahirkan, karena seorang ibu yang baru pertama kali melahirkan masih sangat minim pengetahuannya tentang perawatan bayi. Umumnya mereka masih dibantu oleh orang tuanya dalam perawatan anak. Dalam perawatan bayi, seorang ibu yang baru melahirkan selain dibantu oleh orang tuanya yang didatangkan dari desanya, seringkali meminta bantuan pada seorang “bidan kampung”. Peran yang dijalankan oleh seorang bidan kampung terutama memijat ibu, tujuannya adalah mengembalikan posisi rahim ibu yang baru melahirkan. Peran lain yang dijalankan oleh bidan kampung adalah memandikan bayi dan memijat bayi. Pelaksanaan ini biasanya dilakukan sampai hari ke 40. Ada sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Aceh yaitu Madeueng, yang merupakan suatu prosesi di mana ibu atau wanita yang baru selesai melahirkan harus melakukan pantangan selama 44 hari. Hal ini dilakukan demi kesejahteraan ibu dan bayi. Selama rentang waktu tersebut sang ibu harus tetap berada di kamar tidurnya dan tidak dibenarkan berjalan-jalan apalgi keluar rumah, sedangkan bayi terus dipingit berdampingan dengan ibunya. Selama rentang waktu tersebut sang ibu terus diberikan terapi berupa api diang yang ditempatkan di bawah atau di sisi pembaringannya, sehingga tubuh ibu selalu mendapat udara panas untuk memulihkan kembali bagian-bagiantubuhnya sehingga segar bugar, bahkan ada ibu-ibu yang melakukan prosesi ini di dapur yang lazim disebutUreung di Dapu.(orang yang membaringkan dirinya di ruangan dapur dengan bara api di bawah pembaringan).

70

Tradisi yang dilakukan oleh keluarga dari bayi yang baru dilahirkan adalah upacara “Gunting rambut“. Upacara ini dilakukan setelah bayi berusia 35 hari dan biasanya dilaksanakan bersamaan dengan upacara ‘Aqiqoh’. Yang melakukan pemotongan rambut bayi adalah orang tua laki-laki yang kemudian diikuti oleh orang tua perempuan. Bila saat upacara dilakukan ada pihak orang tua dari ibu/ayah bayi tersebut, biasanya pertama diberikan pada kakek/orang yang dituakan. Dalam acara tersebut dimulai dengan pembacaan doa yang dipimpim oleh seorang tokoh/pemuka agama/ustadz.
Tabel. 3.2.3 Upacara Adat pada Saat KehamilanPersalinan dan Pasca Persalinan diKecamatan Kutaraja Tahun 2012 Siklus Reproduksi Kehamilan Persalinan Paca Persalinan “Ya” Melakukan Upacara 21,4% 7,1% 12,9%

Sumber: Data Primer

Pengetahuan, Sikap, Praktek Pengetahuan, sikap dan perilaku/praktek terhadap kesehatan tidak dapat dipisahkan. Ada penelitian ini, diketahui bahwa responden (70 orang) yang diwawancara dengan didatangi ke rumah-rumah memiliki pendidikan formal cukup baik. 61,4% resonden lulusan SMA, 11,4% pendidikan D1- sarjana, sedangkan yang tidak lulus SD dan lulusan SD 7,1% dan lulus SMP 20,0%. Kondisi pendidikan suami juga tidak banyak berbeda. 61,4% suami lulus SMA dan 10,0 lulus D1-sarjana. Pengetahuan Masa Kehamilan. Pada umumnya pengetahuan ibu berkaitan dengan masa kehamilan dapat dikatakan cukup baik, mereka menyadari arti penting pemeriksaan kehamilan ke tenaga kesehatan dan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Semua ini berjalan karena adanya dorongan dan masukan dari berbagai kalangan seperti tetangga, orang tua, suami dan kesadaran dirinya sendiri. Dorongan dari petugas

71

kesehatan seperti bidan maupun dari kader posyandu yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka. Pengetahuan mempengaruhi sikap dan praktek. Kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya sesuai dengan pengetahuan yang ada yaitu tentang perlunya 4 kali pemeriksaan dilakukan oleh ibu hamil yang ada (74,3%). Tingginya pengetahuan ibu hamil akan kepeduliannya untuk memeriksakan kehamilan diperlihatkan dengan pengetahuan pemeriksaan tekanan darah secara rutin (92,9 %), memperoleh suntikan TT sebanyak 2 kali ( 45,7 %). Masa Persalinan. Persalinan merupakan proses penting yang dapat menjadi penentu keselamatan ibu dan bayi. Pengetahuan tentang perlinan dapat dilihat dari pernyataan yang benarbahwa “ditolong bidan lebih aman”dijawab oleh 92,9% responden. Pernyataan “melahirkan di rumah tidak aman” dijawab oleh 65,7% artinya masih cukup banyak pengetahuan yang salah tentang tempat persalinan aman.Data ini selaras dengan pengetahuan para suami dalam FGD yang cukup memahami pentingnya melahirkan ditolong bidan atau dokter dan dilakukan di polindes atau RS. Pasca Salin. Pengetahuan tentang pasca salin cukup baik terbukti 81,4% menjawab benar tentang “inisiasi dini”, 74,3% menjawab benar pentingnya imunisasi bagi bayi. Pengetahuan tentang kehamilan sampai dengan persalinan terkait upacara tampaknya sudah benar yaitu hanya 7,1% menyatakan benar bahwa ” upacara berpengaruh terhadap keselamatan”. Mereka juga sudah tahu bahwa “makan ikan lautbsetelah persalinan” tidak memberikan dampak buruk seperti pernyataan 75,7% responden. Sikap Pengetahuan dan sikap yang dimiliki oleh ibu yang sedang hamil di kota Banda Aceh, diperlihatkan dengan ketekunan dan kerajinan mereka untuk secara rutin memeriksakan kehamilannya, mulai dari K.1 sampai dengan K.4, sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan oleh petugas kesehatan (bidan). Hasil data dengan responden menunjukkan bahwa 71,4% setuju tentang pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali selamam kehamilan, 97,1% setuju melakukan pemeriksaan tekanan darah untuk mengetahui riiko tinggi kehamilan.

72

Hal lain yang diperlihatkan oleh ibu hamil selain secara rutin memeriksakan kehamilan, mereka juga masih ada yang menjalankan tradisi-tradisi budaya masyarakat setempat, seperti adanya pantangan yang harus dijalankan oleh seorang ibu yang sedang hamil, melahirkan, atau pasca melahirkan. Mereka memiliki

keyakinan bila ada pantangan yang dilanggar akan membawa dampak yang kurang baik terhadap bayi yang sedang di kandungnya maupun bayi yang baru dilahirkan. Praktek Dalam tindakan nyata dari seorang wanita yang sedang hamil maupun ibu yang baru melahirkan, ini dapat dilihat dari buku pegangan yang mereka milikik (buku KIA). Buka ini memperlihatkan rutinitas yang dijalankan seorang wanita yang sedang hamil dan sebagai salah satu persyaratan yang harus dipenuhi bila akan memanfaatkan “Jampersal (Jaminan Persalinan)”. Pemeriksaan kehamilan bisa dilakukan di fasiltas kesehatan atau di rumah (bidan melakukan kunjungan rumah). Pada umumnya, wanita hamil yang ada di kota Banda Aceh memeriksakan kehamilannya di bidan, namun ada juga yang memilih ke dokter spesialis (baik praktek swasta atau di rumah sakit, maupun di Puskesmas atau Bidan Praktek Swasta). Sangat jarang wanita hamil di kota Banda Aceh yang saat melahirkan ditolong oleh bidan kampung/dukun melahirkan. Kondisi ini ditunjang oleh sedikitnya atau bahkan tidak tersedianya dukun melahirkan akan keberadaannya di kota Banda Aceh. Kalaupun ada untuk saat ini, yang ada adalah dukun bayi, yang fungsi dan perannya berbeda. Seperti yang dituturkan oleh seorang bidan puskesmas :
“bapa, di kota ibu hamil yang akan melahirkan biasanya kalau tidak ke puskesmas, mereka pergi ke klinik bersalin ataupun pergi ke rumah sakit, karena di sini banyak pilihan fasilitas kesehatan yang bisa digunakan saat melahirkan.”

Sedang untuk seorang ibu yang baru melahirkan, perawatan bayi biasanya ditangani oleh 2 tenaga yang berbeda yaitu bidan maupun dukun bayi. Bidan berperan memandikan bayi, sedangkan untuk perawatan ibu lebih banyak dilakukan/ditangani oleh dukun bayi/dukun pijet. Selain itu perawatan ibu maupun bayi yang baru dilahirkan pada sebagian masyarakat masih melibatkan peran orang tua yang tidak jarang dihadirkan dari kampung halamannya. Lebih lengkap diperoleh informasi di

73

lapangan tentang pelayanan KIA yang diterima ibu dari bidan (nakes) atau dukun yang berlangsung selama 1 tahun terakhir . Persalinan yang terjadi di wilayah puskesmas menunjukkan data bahwa ada 8,6% yang melahirkan dengan cara operasi dan sebagian besar persalinan dilakukan di RS. Berikut data tetang status persalinan dan Tempat persalinan.
Tabel. 3.2.4 Status Persalinan dan Tempat Persalinan di Wilayah Puskesmas LampasehKecamatan Kutaraja Tahun 2012 Status Persalinan Normal Dengan penyulit + tak dirujuk Dengan penyulit + dirujuk Ya 97,1% 97,1% 82,9% Tempat Persalinan Rumah Rumah dukun Rumah bidan/polindes Dengan penyulit + SC 72,9% Puskesmas Rumah sakit Sumber: Data Primer 0,0% 54,3% Ya 5,7% 0,0% 40,0%

74

3.2.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal Pengambilan Keputusan dalam Mencari Pertolongan Kesehatan Pada umumnya, dalam proses pengambilan keputusan di keluarga pada masyarakat di kota Banda Aceh untuk mencari dan memilih tempat pertolongan kesehatan saat seorang wanita sedang hamil atau saat akan melahirkan, lebih banyak ditentukan oleh pihak suami. Namun demikian tidak tertutup ada pihak lain yang ikut terlibat seperti orang tua atau anggota keluarga lain yang pada saat bersamaan ada dan tinggal bersama. Ada pula yang mengatakan bahwa keputusan terakhir sering juga diberikan kepada wanita/isteri yang sedang hamil dan akan melahirkan. Segala keputusan terkait dengan pemilihan fasilitas pelayanan kesehatan dilakukan secara musyawarah dalam keluarga, dengan mempertimbangkan berbagai masukan dan saran dari berbagai pihak terkait dalam budaya masyarakat Aceh.
“biasanya pa, ibu yang hamil untuk periksa dan melahirkan biasanya dirundingkan di antara keluarga namun kemudian keputusan terakhir diserahkan kepada ibu yang akan melahirkan kemana dan siapa yang dipilih untuk membantu”.

Pemilihan dan proses pengambilan keputusan tidak hanya terkait dengan fasilitas kesehatan yang akan digunakan, tetapi juga terkait dengan siapa yang akan dipilih atau digunakan dalam pemeriksaan kehamilan, menolong persalinan dan pemeriksaan serta perawatan setelah melahirkan. Khusus untuk hal ini biasanya yang memutuskan adalah wanita/ibu yang sedang hamil kemana atau akan memilih siapa yang akan menanganinya. Persepsi Masyarakat tentang Dukun Dalam kehidupan masyarakat di Indonesia pada umumnya terutama pada masyarakat di pedesaan masa kehamilan, melahirkan maupun masa perawatan anak dan ibu pasca melahirkan yang merupakan bagian dari lingkaran hidup seorang wanita. Kondisi ini sering dihadapkan pada sebuah kenyataan siapa yang akan dipilih dalam proses pertolongan mulai sejak kehamilan untuk periksa, siapa yang menolong saat melahirkan, dan siapa yang melakukan perawatan ibu dan bayi setelah melahirkan.

75

Pada masyarakat di perkotaan penolong persalinan dewasa ini sudah banyak ditangani oleh tenaga kesehatan, walaupun masih ada yang juga memakai tenaga nontenaga kesehatan (bidan kampung/dukun bayi). Kondisi ini berbeda dengan masyarakat yang ada di pedesaan, terlebih mereka yang tinggal di wilayah terpencil. Masyarakat di pedesaan dalam persalinan masih banyak dibantu oleh tenaga non kesehatan. Di kota Banda Aceh, penolong persalinan pada umumnya sudah dilakukan oleh tenaga kesehatan mulai sejak periksa kehamilan, persalinan maupun pasca melahirkan. Bahkan dari diskusi kelompok maupun wawancara mendalam, dikemukakan bahwa praktek dukun beranak/bidan kampung sudah tidak ada. Kalaupun ada bukan menolong persalinan tapi hanya terbatas pada pijet ibu dan bayi.
“ begini pa, di sini (red.kota Banda Aceh), sekarang sih udah nggak ada lagi dukun beranak yang menolong persalinan, yah kalau ada sudah cukup umur (sudah tua) dan sudah nggak praktek lagi nolong beranak, kalo dulu memang masih banyak dukun yang menolong ibu melahirkan”.

Berkenaan dengan penolong persalinan ada pandangan masyarakat terhadap dukun/bidan kampung. Ada sebagian dari masyarakat yang memberikan pandangan bahwa tingkat kemampuan antara bidan dengan “bidang kampung”, bahwa kemampuan yang dimiliki tidak sama (45 %). Kondisi ini tidak terlepas dari peran seorang dukun dalam persalinan, untuk saat ini peran dukun bayi hanya dimanfaatkan pada saat perawatan bayi dan ibu pasca melahirkan. Kekurangan yang dimiliki oleh seorang dukun bayi dibandingkan dengan bidan adalah dukun tidak bisa melakukan proses pemeriksaan kehamilan. Tidak banyak peran yang dapat dijalankan oleh dukun dalam konteks upacara yang dilakukan berkenaan dengan persalinan (mulai dari kehamilan sampai pasca melahirkan). Terutama pada masa kehamilan, sebagian besar responden menyatakan bahwa tidak ada pelayanan yang dapat diberikan oleh dukun ( 97,1 % ). Di kota Banda Aceh upacara adat yang berkenaan dengan persalinan, peran banyak dilakukan oleh tokoh agama atau Ustadz. Hal ini ternyata terkait dengan budaya Islam, sehingga upacara adat yang berkaitan dengan kesuku-bangsaan tidak banyak terlihat dan bahkan sebagian besar masyarakat tidak setuju dengan diadakannya upacara adat.

76

Hal yang sama juga terjadi pada masa kelahiran, karena sebagian besar masyarakat tidak memanfaatkan pelayanan dukun (95, 7 %), kalaupun masih ada yang memanfaatkan dukun (4,3 %), maka dukun yang membantu bukan yang berada di kota Banda Aceh, akan tetapi dibawa oleh orang tua ibu yang melahirkan dan berasal dari kampung halamannya. Kondisi ini juga terjadi setelah ibu melahirkan, karena di kota Banda Aceh sebagian besar ibu melahirkan sudah ditolong oleh tenaga kesehatan dan mempergunakan fasilitas kesehatan yang ada dan banyak tersebar di kota. Persepsi Masyarakat tentang Bidan Bila kita bicara bagaimana tanggapan masyarakat atas peran yang diberikan dan dilakukan oleh bidan bahwa pada dewasa ini peran bidang sebagai seorang tenaga kesehatan profesional sangat penting. Kondisi ini tidak hanya terbatas pada masyarakat pedesaan ataupun masyarakat perkotaan. Persepsi masyarakat desa terhadap peran yang dijalankan oleh bidan seperti yang dituturkan oleh masyarakat kota yang memanfaatkan tenaga bidan:
“ kalau sekarang ini untuk penolong melahirkan atau periksa hamil, di tempat saya sudah tidak ada lagi yang pakai dukun, karena disini semua ibu yang hamil, melahirkan, atau pasca melahirkan sudah menggunakan bidan dan disini (red.Banda Aceh) sudah tidak ditemukan dukun, apalagi dukunnnya udah pada tua”.

Salah satu peran yang dijalankan oleh bidan adalah periksa kehamilan, bidan dapat melakukan pemeriksaan kehamilan dan pemeriksaan kehamilan yang dilakukan oleh ibu yang sedang hamil di kota Banda Aceh hampir menyeluruh. Jenis pelayanan yang diberikan oleh bidan seperti imunisasi, pengukuran tensi darah, pemberian tablet tambah darah, TT saat melahirkan. Pemberian tablet tambah darah untuk ibu hamil bertujuan agar tidak terjadi BBLR pada bayi dan anemia pada ibu hamil. Bagi masyarakat kota Banda Aceh, pandangan masyarakat aceh terhadap bidan sangat berharga, karena melalui bantuan bidan masalah kelahiran dapat berjalan lancar. Kondisi ini didorong oleh karena proses persalinan, mulai dari periksa hamil, persalinan, sampai dengan pasca persalinan terutama di kota banda aceh semua ditangani oleh bidan dan tenaga kesehatan profesional lainnya.

77

Hubungan Bidan dan Dukun Hubungan antara bidan dengan dukun pada saat ini dapat dikatakan bahwa dalam kaitan dengan lingkup pekerjaan bahwa mereka merupakan sebuah tim yangdiharapkan dapat bekerjasama tanpa saling merugikan. Program pemerintah yang mencanangkan sebuah kegiatan yang mengharapkan bahwa segala proses persalinan nantinya diharapkan akan ditangani oleh tenaga kesehatan profesional. “saat ini, bisa dikatakan bahwa dukun yang menolong persalinan di sini (red.kota
Banda Aceh) sudah tidak ada lagi pula usia mereka sudah di atas 70 tahun, sehingga masyarakat di sini kalo mau melahirkan lebih memilih ibu bidan yang ada di fasilitas kesehatan. Seorang dukun bayi biasanya akan berperan pada masa setelah melahirkan terutama perawatan bayi dan ibu melahirkan.”

Khusus di kota Banda Aceh, dari beberapa informasi yang diperoleh baik melalui wawancara mendalam maupun diskusi kelompok, diketahui bahwa di Kota Banda Aceh sudah tidak ada lagi dukun praktek yang membantu menolong persalinan. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap kemitraan antara dukun dengan bidan. namun demikian hubungan yang terjadi antara bidan dengan dukun tetap berjalan dengan baik. Karena dalam praktek, bila ada masyarakat yang meminta bantuan seorang dukun untuk menolong persalinan, biasanya dukun akan meminta dan bahkanbila terjadi sesuatu pada ibu yang akan atau sedang melahirkan dan perlu sebuah tindakan, akan memudahkan untuk meminta pertolongan pada bidan.Kondisi ini didukung data kuantitatif penelitian ini seperti tertuang dalam table berikut tentang penolong persalinan yang pertama dipilih dan pertolongan terakhir.
Tabel. 3.2.5 Pelayanan yang Diterima Responden dari Bidan dan Dukun di Wilayah Puskesmas LampasehKecamatan KutarajaTahun 2012 Jenis Pelayanan oleh Bidan Periksa Kehamilan Persalinan Rawat Pasca Persalinan KB Pijat Bayi Buat Jamu Ibu Upacara ‘Ya’ Terima Yan Bidan 97,1% 97,1% 82,9% 72,9% 18,6% 4,3% 0,0% Jenis Pelayanan oleh Dukun Periksa Kehamilan Persalinan Rawat Pasca Salin Jamu Ibu Rawat bayi Buat jamu Bayi Upacara ‘Ya’ Terima Yan Dukun 78,6% 20,0% 8,6% 17,1% 42,9% 10,0% 20,0%

Sumber: Data Primer

78

Pelaksanaan Program Jampersal Pelayanan KIA yang telah dilakukan oleh dinas Kesehatan kota Banda Aceh dapat dikategorikan bahwa pelayanan yang dilakukan sudah mencapai kondisi yang memuaskan. Dari data yang diperoleh untuk tahun 2011, capaian cakupan untuk K-1 hampir mencapai 91,3%, sementara cakupan untuk K4 hampir mencapai angka 91,3%. Capaian lain dalam kaitan dengan pelayanan KIA di kota Banda Aceh terutama berkenaan dengan persalinan yang mempergunakan tenaga kesehatan sebesar 89,7 %. Keberhasilan atas pelayanan KIA yang dicapai oleh kota Banda Aceh, terlihat dari angka cakupan yang diperoleh, seperti cakupan pelayanan nifas mencapai : 88,9 %, cakupan neonatus dengan complikasi yang ditangani bahkan mencapai hasil 100 %, cakupan kunjungan bayi: 88,19%(Sumber : Profil kesehatan Kota Banda Aceh, 2011). Hasil yang dicapai berkenaan dengan pelayanan KIA di kota Banda Aceh berpengaruh pada AKB yang dicapai. Ada banyak faktor yang mempengaruhi AKB, akan tetapi bukan hal yang mudah untuk mencari/menemukan faktor yang paling dominan. Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan oleh tenaga medis yang trampil serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern di bidang kesehatan, dapat dijadikan faktor yang berpengaruh terhadap tingkat AKB.
Tabel. 3.2.6 Penolong Pertama dan Terakhir Persalinan di Wilayah Puskesmas LampasehKecamatan Kutaraja Tahun 2012 Jenis Tenaga Dokter Bidan Dukun Suami/Keluarga Lainnya Penolong Pertama 21,4% 78,6% 0,0% 0,0% 0,0% Sumber: Data Primer Penolong Terakhir 25,7% 74,3% 0,0% 0,0% 0,0%

Banyak alasan suatu masyarakat di mana anggota keluarganya saat akan melahirkan dan bahkan saat masa kehamilan memilih dan menentukan kemana dan
79

siapa yang akan menolong saat persalinan. Perbedaan penolong pemeriksa kehamilan antara satu kelompok masyarakat dengan masyarakat lain berbeda, semua ini tidak terlepas dari kondisi sosial-budaya dari masyarakat yang bersangkutan. Di kota Banda Aceh, diketahui bahwa sebagian besar ibu hamil memeriksakan kehamilannya pada petugas kesehatan/bidan, mereka pergi ke fasilitas kesehatan. Dari data dan informasi yang berhasil dihimpun diketahui bahwa pada umumnya para ibu hamil memeriksakan kehamilannya ke bidan (100%), dengan alasan utama yang dikemukakan adalah karena di kota yang tersedia adalah tenaga kesehatan profesional sementara dukun sudah tidak ada dan kalaupun ada usianya sudah lanjut. Alasan lain yang dikemukakan untuk memilih bidan dalam proses pemeriksaan kehamilan adalah bidan memiliki kemampuan lebih daalam penanganan dan pemeriksaan kehamilan.
“ Masyarakat di sini saat ini untuk periksa hamil memilih ke bidan atau pergi ke klinik maupun rumah sakit bersalin, apalagi sekarang sudah tersebar di beberapa tempat dan bidan lebih ahli dalam memeriksa ibu hamil.”

Alasan pemilihan penolong persalinan Banyak cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat/individu di dalam upaya mencari pertolongan kesehatan, seperti memilih mempergunakan tenaga kesehatan profesional, dan ada juga yang memilih mempergunakan tenaga kesehatan tradisional, dan bahkan ada juga masyarakat yang mencoba untuk mengobati sendiri. Berkaitan dengan pemilihan siapa yang menolong dalam proses persalinan, pada umumnya masyarakat di kota Banda Aceh memilih dan mempergunakan tenaga kesehatan profesional (bidan, bidan praktek swasta, dokter spesialis). Pemilihan ini dilandasi oleh kenyataan yang ada yaitu cukup tersedianya sumber daya manusia yang ditunjang oleh ketersediaan akan sarana dan prasarana kesehatan (puskesmas= 11; klinik bersalin=7; rumah sakit umum= 12; posyandu= 113). Dengan segala ketersediaan sarana, prasarana, maupun sumber daya tenaga kesehatan, maka dapat dikatakan bahwa hampir sebagian besar masyarakat di kota Banda Aceh dalam memilih penolong persalinan adalah tenaga kesehatan profesional. Adapun yang menjadi alasan utama memilih persalinan ke tenaga kesehatan adalah:

80

persalinan dengan ditolong oleh tenaga kesehatan jauh lebih aman dan kemampuan tenaga kesehatan lebih baik dibanding bila persalinan ditolong oleh dukun ( 82,9 %). Pembiayaan Kesehatan Ibu dan Anak Kesehatan merupakan salah faktor penting yang harus mendapat perhatian dari individu atau masyarakat. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam rangka memelihara kesehatan. Semua ini tidak terlepas dari kemampuan, pengetahuan, dan kesadaran untuk dapat mempersiapkan dan menyediakan biaya yang nantinya dibutuhkan. Berbagai macam program yang ditawarkan dan dipilih oleh masyarakat dalam rangka menghimpun dana untuk pemeliharaan kesehatan. Ada yang berasal dari jaminan tempat bekerja (asuransi), tabungan individu, arisan, dan tidak jarang yang diperoleh melalui pinjaman pada pihak lain. Namun demikian, disisi lain pembiayaan kesehatan ternyata juga dapat diberikan, disediakan, dan bahkan ditanggung oleh pemerintah baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, seperti yang ada dewasa ini, jamkesmas, jamkesda, dan terakhir adalah jampersal. Tentunya semua memiliki batasan-batasan dalam pemanfaatan atas sumber biaya ini. Berkenaan dengan sumber pembiayaan KIA masyarakat di kota Banda Aceh, pada umumnya mereka menyisihkan sebagian dari penghasilannya, ada di antara mereka yang bekerja sebagai pegawai negeri, pegawai swasta, ada yang berdagang, namun ada juga yang berprofesi sebagai pengayuh becak. Sumber pembiayaan lain yang digunakan oleh masyarakat berkenaan dengan dana yang harus dikeluarkan diperoleh dari berbagai sumber, seperti : mendampingi anaknya saat melahirkan, ada juga yang dibantu oleh ibu mertua, dana pribadi dan bahkan tidak jarang ada yang terpaksa berhutang kepada tetangga atau orang lain di luar keluarga. Selain itu sumber pembiayaan keluarga untuk KIA dapat berasal dari simpan pinjam, dana dari PKK atau dana PNPM mandiri/PKPD.

81

Tabel. 3.2.7. Sumber Biaya Pelayanan KIA di Wilayah Puskesmas LampasehKecamatan Kutaraja Tahun 2012 Jenis Pelayanan Tidak periksa ANC Persalinan Periksa Pasca Salin Periksa Neonatus KB 0,0 0,0 30,9 40,0 25,7 Sendiri/ Keluarga 47,8 35,7 54,5 37,1 42,9 61,4 60,0 50,0 50,0 17,1 Sumber Biaya (%) Jampersal Jakesmas/ jamkesda 30,0 31,4 27,1 24,3 7,1 Lainnya 1,4 4,3

Sumber: Data Primer

Di kota Banda Aceh pembiayaan kesehatan yang tersedia dan diperoleh masyarakat adalah melalui berbagai sumber, seperti : APBD kota/kab; APBD Provinsi (JKA= Jaminan Kesehatan Aceh); dan ada yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAK=Dana Alokasi Khusus; Jamkesmas; Jampersal; BOK).Jaminan Kesehatan Aceh inilah yang menjadi tumpuan masyarakat Aceh secara umum dalam memperoleh pelayanan berkenaan dengan kesehatan. Proses pemberiannya adalah secara otomatis kepada masyarakat/warga Aceh.

Pengetahuan tentang Jampersal Pengetahuan seseorang akan sangat terpengaruh oleh pendidikan yang dialami semasa hidupnya. Bukan menjadi sebuah jaminan bahwa mereka yang tinggal di perkotaan memiliki pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tinggal di pedesaan. Sebagian besar masyarakat di kota Banda Aceh yang sedang hamil mengetahui adanya sebuah program yang diluncurkan oleh pemerintah berkaitan dengan pemeriksaan kehamilan, melahirkan maupun pasca melahirkan, yaitu program Jampersal (Jaminan Persalinan). Sebagian kecil (18,6%) masyarakat mengetahui bahwa Jampersal ini merupakan suatu program yang bertujuan untuk membantu dalam pembiayaan tidak hanya
82

persalinan. Tetapi mereka setuju bahwa pembiayaan melalui jampersal untuk pemeriksaan kehamilan, kelahiran, pasca melahirkan dan bahkan sampai pemasangan KB (87,1 %). Bahkan sebagian besar ibu hamil di kota Banda Aceh mengatakan bahwa Jampersal ini ditujukan bagi masyarakat miskin/kurang mampu (90,9 %). Bentuk pengetahuan lain yang dimiliki oleh masyarakat berkenaan dengan Jampersal adalah hampir sebagian besar masyarakat yang tidak setuju atas sebuah pernyataan bahwa Jampersal merupakan sebuah peluang untuk dapat memiliki banyak anak (68,5 %). Kondisi lain yang memperlihatkan pengetahuan masyarakat tentang Jampersal adalah hampir sebagian besar masyarakat setuju bahwa Jampersal dapat digunakan untuk membantu persalinan, periksa kehamilan, pelayanan setelah kelahiran dan termasuk pelayanan program KB (87, 1 %). Masyarakat Aceh pada umumnya lebih memahami adanya Jamkesda dan JKA (Jaminan Kesehatan Aceh), dan ini yang mereka gunakan bila ada masalah kesehatan. Kartu Jaminan Kesehatan Aceh diberikan kepada setiap warga Aceh dan pemegang kartu ini mendapat pelayanan kesehatan gratis termasuk pelayanan KIA. Karena masyarakat sudah terbiasa mempergunakan program ini, sehingga ketika program Jampersal digulirkan di masyarakat, mereka tidak memahami dan yang penting bagi mereka adalah mereka mendapat pelayanan kesehatan secara gratis. Hasil wawancara dengan responden ibu, diperoleh fakta bahwa hany 27,1% yang setuju bila jampersal hanya ditujukan bagi kelompok ekonomi miskin.

3.2.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan Program Jampersal Pelaksanaan program Jampersal di masyarakat adalah untuk mendorong ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan, melahirkan, pasca melahirkan dan bahkan sampai pada pemasangan KB dilakukan oleh tenaga kesehatan serta memanfaatkan/menggunakan fasilitas kesehatan. Tujuan pemanfaatan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan tidak terlepas dari keinginan untuk menurunkan angka Kematian Ibu dan kematian Anak. Dalam konteks ini, maka dibutuhkan sumber daya manusia yang memiliki keahlian tertentu berkenaan dengan upaya menurunkan AKI dan AKB. Mereka adalah

83

orang yang memiliki keahlian di bidang kesehatan. Program Jampersal ini membutuhkan sebuah pengetahuan atau kemampuan untuk dapat menjelaskan kepada masyarakat apa saja yang dapat dicakup, jenis pelayanan apa saja yang dieroleh, bagaimana proses kepesertaannya. Disinilah peran seorang tenaga pelayanan kesehatan untuk memberikan penjelasan tentang jampersal kepada masyarakat pengguna, disamping juga memberikan penjelasan kepada anggota keluarga lain dari pengguna Jampersal. Peran penting lain yang juga diemban oleh seorang petugas pelayanan kesehatan terkait dengan program Jampersal adalah memberi pengertian dan menuntun masyarakat untuk memanfaatkan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan dalam proses kehamilan sampai pasca melahirkan.

Tabel. 3.2.8. Perolehan Informasi tentang Jampersal di Wilayah Puskesmas LampasehKecamatan Kutaraja Tahun 2012 Sumber informasi Media massa Tenaga Kesehatan Petugas desa Poster Sumber lainnya Menyatakan ‘ya’ (%) 77,1 60,0 5,7 17.1 8,6

Sumber: Data Primer

Sebetulnya, dalam pelaksanaan program Jampersal ini, maka pihak yang dianggap berperan tidak semata-mata hanya petugas kesehatan, akan tetapi dibutuhkan perlu adanya kerja sama lintas sektor karena program ini menyangkut kehidupan masyarakat. Peran yang dapat dijalankan oleh lintas sektor seperti tanaga kader, tokoh masyarakat, kepala desa, tetua adat, tokoh agama, karang taruna/tokoh pemuda. Semua ini harus dilibatkan dalam satu kesatuan tim yaitu menuju keberhasilan kesehatan masyarakat khususnya berkaitan dengan program KIA. Dan yang diharapkan bertindak sebagai pimpinan adalah mereka yang berasal dari tenaga kesehatan.

84

3.2.6. Hambatan, Dukungandan Harapan terhadap Pelaksanaan Jampersal Perjalanan sebuah program yang digulirkan pemerintah untuk kepentingan masyarakat luas tidak selalu berjalan dengan lancar dan mulus, berbagai kendala yang ditemui, namun dukungan juga dijumpai serta adanya harapan selama pelaksanaan program tersebut. Hambatan Seperti diketahui bahwa program Jampersal ini sejak awal digulirkan yaitu Januari 2011 hingga saat ini (september 2012), banyak ditemui kendala, seperti misalnya proses Sosialisasi yang dianggap sebagai tulang punggung berhasil tidaknya sebuah program. Dari informasi yang berhasil diperoleh, ternyata masih banyak warga masyarakat yang belum mengetahui adanya program Jampersal ini dan bahkan ada yang belum pernah mendengar Jampersal, Kendala lain yang juga terjadi di kalangan warga masyarakat adalah mereka tidak banyak mengetahui bagaimana proses dan persyaratan bila ibu/wanita hamil ingin memanfaatkan Jampersal, dan secara khusus masyarakat di banda aceh tidak dapat membedakan dengan program kesehatan lain yang sudah mereka miliki. Bila diperhatikan dengan seksama, ternyata hambatan/kendala tidak hanya ada dan terjadi di masyarakat pengguna jampersal, tapi ternyata dapat terjadi pada petugas kesehatan/provider sebagai pelaksana. Mereka seringkali mengeluhkan bahwa apabila mereka mengajukan klaim atas penggunaaan Jampersal seringkali di kembalikan oleh pihak terkait. Beragam alasan yang dikemukakan seperti laporan yang kurang lengkap serta persyaratan yang masih kurang. Kondisi ini mengakibatkan proses klaim menjadi panjang dan lama. Hal inilah yang diupayakan untuk dihindarkan oleh petugas/provider. Kondisi inilah yang juga mengakibatkan daya serap Jampersal khusus untuk kota Banda Aceh menjadi kecil/rendah. Dukungan Perjalanan sebuah program/kegiatan untuk masyarakat tidaklah selalu mengalami sebuah kebuntuan, namun terjadi keberhasilan bisa diperoleh karena adanya dukungan baik itu yang berasal dari masyarakat sendiri maupun petugas/provider.
85

Berkenaan dengan Jampersal ini, ternyata ditemui berbagai faktor yang mendukung keberhasilan suati program, seperti yang terjadi di kota Banda Aceh. Masalah aksesibilitas maupun akseptabilitas baik itu berupa sarana transportasi maupun prasarana jalan tidak menjadi masalah bagi masyarakat, begitu pula dengan fasilitas keshatan bagi ibu hamil, melahirkan. Semua ini dapat terlayani selama 24 jam. Sumber daya manusia, dalam konteks ini adalah tersedianya tenaga kesehatan profesional (bidan, dokter spesialis), di kota Banda Aceh cukup tersedia dan memadai. Tersedianya Sumber daya manusia tidak terlepas oleh tersedianya fasilitas pendidikan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan. Kondisi lain yang tidak kalah penting dalam konteks keberhasilan program Jampersal adalah Faktor Perilaku masyarakat. Mereka sadar akan arti penting untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia di sekitar tempat tinggal mereka, mulai dari Posyandu, Polindes, Poskesdes, Klinik, Rumah sakit baik pemerintah maupun milik swasta. Perilaku dalam memanfaatkan dan memilih mencari pertolongan pelayanan kesehatan, diikuti dengan adanya sebuah keinginan yaitu merubah pola berpikir dari tradisional ke modern dalam konteksi kesehatan. Perubahan perilaku ini tidak terlepas dari semakin bertambahnya dan berubahnya tingkat pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat di kota Banda Aceh. Harapan Bergulirnya sebuah program yang diluncurkan oleh pemerintah untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakatnya, tentunya memiliki sebuah harapan dan harapan ini tidak semat-mata dari masyarakat pengguna, tetapi juga dari pemerintah sebagai penyelenggara kegiatan atau program ini. Dari sudut pandang masyarakat, ternyata masyarakat berharap banyak agar program Jampersal ini dapat berlangsung seterusnya dan tidak berhneti dalam satu periode tertentu saja dan berkesinambungan. Kondisi lain yang diharapkan oleh masyarakat adalah bila ada sebuah program baru yang bermanfaat bagi masyarakat, hendaknya dapat diperkenalkan secara utuh berkenaan dengan proses maupun keuntungan bila masyarakat memanfaatkannya.

86

Masih berkenaan dengan adanya sebuah harapan dari masyarakat terkait dengan program Jampersal ini ada perlu adanya kerjasama lintas sektor, perlu adanya penambahan bidan desa ataupun bidan di desa untuk membantu masyarakat untuk membiasakan diri untuk tidak melahirkan ditempat non fasilitas kesehatan. Harapan lain yang dimiliki oleh masyarakat adalah mereka berharap bahwa Jampersal ini hendaknya tidak dibatasi pemberiannya hanya sampai pada masyarakat level tidak mampu atau pada masyarakat golongan tertentu, tetapi sekiranya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas tanpa melihat status sosial ekonomi masyarakat. Dari sudut pandang pemerintah sebagai pengelola dan pelaksana Jampersal, ada secercah harapan yang diinginkan yaitu masyarakat agar mau dan bisa merubah perilaku berkenaan dengan kesehatan yang dialami dan dirasakan. Karena Jampersal ini ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan dari warga masyarakat.

87

3.3 Puskesmas Cirinten, Kabupaten lebak 3. 3.1 Gambaran Umum Kabupaten Lebak Kabupaten Lebak adalah salah satu kabupaten di provinsi Banten yang terletak di ujung Barat pulau Jawa. Kabupaten ini memiliki luas 304.472 Ha dan terbagi menjadi 28 kecamatan dengan 340 desa dan 5 kelurahan. Kecamatan Rangkasbitung adalah ibu kota kabupaten dengan jumlah penduduk 116.695 jiwa merupakan kecamatan dengan penduduk terbanyak. Kecamatan paling luas adalah kecamatan Cibeber dan paling sempit adalah kecamatan Kalanganyar. Wilayah Kab. Lebak 30-40% berbukit-bukit. Secara topografi ada 3 karakteristik ketinggian kabupaten Lebak. yaitu sepanjang pantai selatan mempunyai ketinggian antara 0 – 200 m, sedangkan Lebak tengah memunyai ketinggian 201 – 500 meter, wilayah Lebak Timur merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian antara 501 -1000 meter dengan puncaknya yaitu gunung Sanggabuana dan gunung Halimun.

Gambar 3.3.1. Peta Wilayah Kabupaten Lebak

Batas administratif Kab. Lebak: Utara : Kabupaten Serang dan Tangerang Selatan: Samudera Indonesia Barat : Kabupaten Pandeglang Timur : kabupaten Bogor dan Sukabumi

Kabupaten Lebak mempunyai alam yang cukup potensial, sebagai usaha masyarakat di bidang pertanian, pertambangan dan wisata meskipun pemanfaatannya belum maksimal. Sebagian lahannya sebagai wilayah konservasi/resapan air yang perannyastrategis mendukung ketersediaan sumber daya air bagi wilyah-wilayah lainnya di propinsi Banten dan DKI Jakarta. Duran, mangga, pisang dan manggis adalah buah-buahan yang banyak ditanam oleh masyarakat dan menjadi sumber penghasilan bagi sebagian masyarakat.

88

Penduduk kabupaten Lebak sejumlah 1.204.095 dengan sex ratio 106 artinya dari 100 perempuanada 106 laki-laki, kondisi ini terlihat sesuai data tahun 2010 (BPS, 2010). Jumlah penduduk terbanyak ada di kecamatan Rangkasbitung dengan penduduk sejumlah 116.659 jiwa. Distribusi penduduk di kabupaten Lebak tampak kurang merata dengan kecenderungan mengelompok dan beraktifitas di bagian wilayah utara kabupaten.Jumlah melek huruf dari tahun ke tahun terus meningkat. Ada tahun 2008 persentase melek huruf sebesar 94,10% kemudian semakin meningkat dan pada thun 2010 mencapai 100% kecuali untuk penduduk Baduy. Penduduk miskin masih cukup banyak, tercatat ada 590.910 jiwa yang memiliki kartu miskin (askeskin). Berdasar catatn di puskesmas terdapat 229.727 dari seluruh penduduk miskin 67% nya dicakup oleh JPKM dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dan 64% dari seluruh penduduk miskin telah mendapat pelayanan yankes termasuk bayi dengan status Gizi Dibawah Garis merah (BGM). Program jamkesmas termauk didalamnya adalah Jmapersal telh banyak membantu membiayai kesehatan masyarakat. Disamping itu telah bergulir pula pembiayaan dari Dinas social bagi keluarga miskin Program Keluarga Harapan (PKH) sebesar Rp. 2.100.000,- perkeluarga per tahun yng diberikan kepada keluarga yang memiliki Balita, ibu hmil dan anak sekolah usia SD – SMP. Bantuan bersyarat ini yang dapat dimanfaatkan untuk kesehatan (Rp. 800.000,-), pendidikan (Rp. 800.000,-)dan kebutuhan pokok (Rp. 500.000,-) sebagai ganti dari Bantuan Langsung Tunai. Sifat kegotongroyongan masyarakat secara umum masih cukup kental. Nampak di lingkungan tertentu terlihat sifat kepedulian masyarakat terhadap sekitarnya seperti masih adanya tabulin (tabungan ibu bersalin), penyediaan kendaraan bagi ibu bersalin yang akan digunakan membawa ibu menjelang persalinan ke fasilitas kesehatan. Berdasarkan hasil kajian data dan konsultasi dengan kepala Dinas Kesehatan dan stafnya untuk menentukan lokasi penelitian dengan criteria puskesmas dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang masih rendah, maka terpilih kecamatan Cirinten sebagai lokasi penelitian. Persalinan oleh tenaga kesehatan tahun 2011 sejumlah 50,4% merupakan jumlah yang kecil sekali terutama bila dibandingkan dengan angka nasional yang sebesar 86%.

89

81% 70.10% 64.50% 50.40% 44.80% 62.30%

K1

K4

Deteksi Resiko Tinggi Ibu Hamil

Neonatus

Linakes

Kunjungan Ibu Nifas

Gambar 3.3.2. Cakupan Program Kesehatan Ibu dan Anak Puskesmas Cirinten Tahun 2011

3.3.2. Gambaran Umum Kecamatan Cirinten Kecamatan Cirinten merupakan sebuah kecamatan baru yangdimekarkan dari kecamatan Bojongmanik. Sejak tahun 2007 wilayah ini terpisah dari Wilayah Kec. Bojongmanik dan dicanangkan sebagai sebuah wilayah Kecamatan tersendiri. Kecamatan Cirinten juga terkenal sebagai pintu belakang menuju komunitas Baduy. Lokasi kecamatan ini hanya berjarak kurang lebih 4 kilometer dari Desa Cikeusik, salah satu desa dalam Komunitas Baduy. Sehingga, cukup banyak wisatawan yang datang melewati Kecamatan ini apabila mereka ingin bertandang ke wilayah Komunitas Baduy. Banyak orang yang mengataka bahwa sebenarnya jalur dari Cirinten lebih dekat ke Komunitas Baduy daripada jalur lain. Akan tetapi sepertinya tidak banyak orang yang mengetahuinya.

90

Gambar. 3.3.3.Lokasi Kecamatan Cirinten

Kecamatan ini terletak di bagian tengah wilayah kabupaten Lebak, berjarak kurang lebih 45 km dari Kota Rangkasbitung. Perjalanan menuju Cirinten dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 1.5 – 2.5jam dengan menggunakan kendaraan darat berupa sepeda motor atau mobil pribadi. Jalanan menuju dari Ibu kota Kabupaten menuju Cirinten bisa dikatakan baik. Jalan-jalan sudah beraspal dengan kondisi yang cukup terawat. Selain dengan mobil, perjalanan menuju Cirinten juga dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum. Saat ini terdapat beberapa kendaraan umum jenis mini-bus secara rutin melewati Kecamatan ini pada jam-jam tertentu. Sehingga tidak terlalu sulit untuk dapat mencapai Kecamatan ini. Cirinten memiliki luas wilayah 1031,9 Km2. Secara administratif Cirinten terdiri dari 10 Desa, yaitu: Badur, Cempaka, Cibarani, Cirinten, Datarcae, Kadudamas, Karangnunggal, Karoya, Nanggerang, dan Parakanlima. Pada bagian utara kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Cileles, sebelah selatan dengan Kec. Cijaku, sebelah Timur dengan Kec. Bojongmanik, dan di sebelah barat dengan Kec. Gunung Kencana. Kondisi topografi Kecamatan Cirinten adalah pegunungan dengan ketinggian antara 130-390 mdpl. Dengan ketinggian itu suhu udara di wilayah ini bisa dikatakan
91

sejuk. Suhu udara rata-rata di Cirinten adalah 25° celcius. Curah hujan di wilayah Cirinten adalah 150mm/tahun. Kondisi ini memungkinkan bermacam jenis tanaman tumbuh subur. Sehingga ketika menyambangi daerah ini, kita bisa melihat pemandangan hamparan sawah dan pepohonan hijau luas menghampar sejauh mata memandang. Namun dari semua pemandangan hijau tersebut, pohon cengkeh adalah jenis tanaman yang dapat kita saksikan banyak di Kecamatan ini. Memang, kecamatan ini sangat terkenal dengan hasil cengkehnya yang melimpah setiap tahunnya. Cengkeh dianggap sebagai economicbooster dari Kecamatan ini.

Gambar. 3.3.4.Suasana Kecamatan Cirinten Sumber: Dokumentasi Peneliti

Dengan kondisi topografis yang bergunung-gunung akses transportasi merupakan sebuah kendala yang cukup berarti di Kecamatan ini. Kondisi jalan utama di Kecamatan ini memang sudah bisa dikatakan baik, teraspal dengan halus dan terawat dengan baik. Tetapi lepas dari jalanan utama tersebut kondisi jalan berbatu kasar dan tanah-tanah dengan kubangan-kubangan air adalah pemandangan lain dari kondisi jalan di Kecamatan ini. Kondisi inilah yang seringkali menjadi sebuah hambatan bagi warga setempat untuk dapat mengakses pelayanan kesehatan. Dari peta wilayah puskesmas dapat dilihat beberapa kendala yang ada di Kecamatan Cirinten. Kondisi jalan buruk, akses ke jaringan komunikasi, dan sarana listrik merupakan kendala-kendala yang jamak muncul pada beberapa daerah di

92

wilayah ini. Sarana listrik sudah bisa dinikmati di seluruh Kecamatan ini. Namun hanya 3 desa yang sudah memiliki fasilitas penerangan jalan yang layak. Sedangkan 7 desa lainnya belum memperoleh sarana penerangan jalan. Sehinga pada malam hari

kegelapan di jalan-jalan desa sangat terasa. Jaringan telepon seluler dengan sinyal yang kuat hanya bisa dinikmati di sekitaran Ibu Kota Kecamatan Cirinten, yaitu di Desa Cirinten. Sedangkan sebagian besar wilayah Cirinten tidak tercakup dalam jaringan telekomunikasi. Kondisi wilayah di Cirinten dapat dilihat dari peta berikut:

Gambar 3.3.5.Peta Kondisi Wilayah Kecamatan Cirinten

93

Kependudukan Jumlah keseluruhan penduduk menurut data tahun 2010 sebanyak 26.642 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 7.726 KK. Jumlah penduduk terbanyak berada di Desa Cirinten dengan jumlah penduduk sebanyak 4.743 jiwa disusul Desa Parakanlima sebanyak 3.747 jiwa dan Desa Kadudamas sebanyak 3.091 Jiwa. Besaran jumlah penduduk di tiap desa sangat berbeda terkait dengan hubungan keluarga dan letak pemukiman yang layak untuk ditempati karena geografis kecamatan Cirinten terdapat di dataran tinggi.
Tabel 3.3.1. Data Penduduk Kecamatan Cirinten Tahun 2010 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Badur Cempaka Cibarani Cirinten Datarcae Kadudamas Karangnunggal Karoya Nangerang Parakanlima JUMLAH DESA LAKI-LAKI 1504 994 939 2418 1087 1593 913 887 1461 1952 13748 PEREMPUAN 1296 951 955 2325 972 1498 929 804 1369 1795 12894 JUMLAH 2800 1945 1894 4743 2059 3091 1842 1691 2830 3747 26642 KK 733 579 562 1383 615 905 507 557 822 1063 7726

Sumber: Data Kependudukan Kecamatan Cirinten 2010

Besarnya angka penduduk di Desa Cirinten karena Desa Cirinten merupakan ibu kota kecamatan sedangkan untuk Desa Karoya dengan jumlah penduduk 1691 jiwa merupakan desa marjinal dengan luas wilayah yang relatif kecil. Jumlah tersebut tentunya berimbas pada pelayanan kesehatan yang diberikan dibandingkan dengan rasio jumlah tenaga kesehatan. Jumlah tenaga kesehatan yang tersedia di Puskesmas Cirinten tidak cukup untuk dapat melayani seluruh penduduk di Kecamatan ini.

94

Mata Pencaharian dan Ekonomi masyarakat Pertanian adalah salah satu sumber mata pencaharian yang paling menonjol di Kecamatan Cirinten. Menurut data Kecamatan Cirinten, kurang lebih 20% penduduk Cirinten adalah petani. Jenis-jenis komditas tanaman yang dibudidayakan di wilayah ini adalah buah-buahan, ketela rambat, sayur-sayuran, padi, dan yang paling banyak dikembangkan saat ini adalah cengkeh. Kecamatan Cirinten adalah salah satu daerah pemasok cengkeh terbesar di Indonesia (berdasarkan beritadaerah.com). Pentingnya komoditas ini dalam masyarakat dapat kita lihat secara jelas ketika kita menginjakkan kaki di Kecamatan Cirinten. Hamparan perkebunan cengkeh yang menghijau terlihat di menghiasi pemandangan sepanjang perjalanan menyusuri jalan utama Kecamatan ini. Pada bahu-bahu jalan kita bisa melihat masyarakat menggelar tikar-tikar mengalasi cengkeh-cengkeh yang telah dipanen untuk mendapatkan sinar matahari. Pada beberapa ruas jalan, gelaran-gelaran cengkeh inilah yang kadang memacetkan lalu lintas lengang di jalan utama Kecamatan ini karena penempatannya yang memakan hampir separuh lebar jalan.

Gambar 3.3.6.Menjemur Cengkeh Sumber: Data Primer

Dalam hal pengelolaan cengkeh masyarakat Cirinten dkategorikan menjadi 3, yaitu: Pemilik lahan, Petani Penggarap, Pemborong atau pemodal, dan Tukang Pulung. Dalam hal ini, setiap golongan tersebut memiliki peran dan fungsinya masing-masing dalam bentuk hubungan kerja. Para pemilik lahan adalah mereka yang memiliki sejumlah areal pertanahan yang difungsikan sebagai perkebunan. Biasanya dalam
95

kebun-kebun yang mereka miliki, mereka tidak hanya menanam cengkeh saja, tetapi juga menanam beberapa macam tumbuhan lain seperti pohon sengon, kayu jati, dan karet. Cengkeh umumnya bisa dipanen setelah berumur kurang lebih 7-12 tahun. Ketika siap dipanen, si pemilik lahan akan mempekerjakan para petani penggarap, atau yang lebih tepat disebut sebagai pemetik untuk mengambili cengkeh-cengkeh di kebunnya. Para pemetik ini mendapatkan upah sebesar Rp. 1.500,-/ liter cengkeh untuk pohon cengkeh yang rimbun, dan Rp. 2.000,-/liter untuk pohon cengkeh yang kecil.

Gambar 3.3.7.Memanen Cengkeh Sumber: Dokumentasi Peneliti

Saat ini, harga cengkeh di pasaran mencapai Rp. 90.000/liter. Menurut para petani di Cirinten harga ini sudah mengalami kemerosotan yang cukup tajam. Mereka menceritakan bahwa 2 tahun yang lalu harga cengkeh pernah mencapai Rp. 240.000,/liter. Dengan fluktuasi harga seperti itu, cengkeh memiliki peran penting dalam mendorong perekonomian masyarakat Cirinten. Menurut pengakuan warga setempat, hasil dari cengkeh ini mampu mendongkrak kesejahteraan masyarakat. Salah satu dari manfaat yang dapat dirasakan adalah pada pembiayaan kesehatan. Apabila dibandingkan dengan dulu, saat ini masyarakat mampu membayar lebih untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di tempat praktek perawat. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang perawat yang membuka praktek di Cirinten:

96

“Cengkeh ini memang yang bagus mas. Gara-gara cengkeh ini, kalau dulu orang datang suntik bayar 10 ribu, sekarang ya.. 15 ribu.. “

Salah satu sistem perekonomian yang cukup populer di Cirinten untuk mengelola cengkeh adalah sistem gadai. Cara ini biasanya dipakai oleh masyarakat Cirinten untuk mendapatkan sejumlah uang atau barang yang bisa diuangkan —yang paling sering adalah emas—untuk menutup kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya urgent. Meskipun dalam beberapa kasus, masyarakat menggunakan cara ini hanya untuk meraih sedikit social prestige atau memenuhi tuntutan-tuntutan sosial. Cara ini mungkin lebih tepat disebut sebagai sistem simpan pinjam, mirip dengan sistem simpan-pinjam secara umum hanya dilakukan dengan jaminan lahan cengkeh. Alat tukar yang digunakan dalam sistem gadai lahan ini seringkali adalah emas. Cara ini bisa digambarkan sebagai berikut:
“Pak Ujang memiliki 50 batang pohon cengkeh di sebuah lahan perkebunan miliknya. Pada suatu hari Pak Ujang membutuhkan dana cepat karena salah satu anggota keluarganya meninggal. Pak Ujang mengetahui bahwa di lingkungannya ada seseorang yang terlihat memiliki aset kekayaan yang cukup besar, sebut saja Haji Tatang. Mengetahui hal tersebut, Pak Ujang mendatangi Haji Tatang untuk mendapatkan pinjaman dengan menawarkan 50 batang pohon cengkeh yang dimilikinya. Haji Tatang pun menerima tawaran Pak Ujang tersebut dan memberikannya pinjaman dalam bentuk emas seberat 100 gram. Transaksi akhirnya terjadi dan beberapa kesepakatan dibuat. Pinjaman yang diterima oleh Pak Ujang dalam bentuk emas tidak berbunga sama sekali dan hampir tidak memiliki jatuh tempo. Pak Ujang boleh menggunakannya untuk apapun dan bisa mengembalikannya kapanpun dia mampu. Akan tetapi sebagai timbal balik dari pinjaman tersebut adalah seluruh pengelolaan, hasil, berikut seluruh keuntungan dari 50 batang pohon cengkeh yang digadaikan oleh Pak Ujang menjadi milik Haji Tatang selama masa gadai masih berlangsung. Pak Ujang bisa mendapatkan hak atas pohon cengkehnya kembali ketika dia bisa mengembalikan 100 gram emas yang dipinjamnya, tentu saja dalam bentuk emas”.

Sistem gadai ini sering dipakai oleh masyarakat setempat ketika mereka memerlukan dana cepat untuk sesuatu hal, misalnya menyelenggarakan hajatan, aqiqah, atau menyiapkan biaya persalinan. Masyarakat yang sedang membutuhkan dana biasanya akan pergi kepada anggota masyarakat lain yang memiliki kelebihan dana yang bisa dipinjamkan. Selanjutnya mereka akan terikat hubungan simpan pinjam. Sistem gadai inilah yang menyebabkan munculnya pemodal-pemodal besar sebagai penguasa perkebunan cengkeh di wilayah Cirinten. Sistem ini juga yang seringkali merugikan para penggadai lahan karena mereka tidak bisa mendapatkan

97

keuntungan dari pohon-pohon cengkeh yang ditanam di kebunnya selama lahan mereka masih dalam masa gadai. Sebagai akibat dari itu kesenjangan sosial semakin terasa. Hal ini bisa dilihat langsung ketika kita menginjakkan kaki di Cirinten. Terlihat perbedaan yang sangat mencolok antara rumah orang yang mampu menguasai ekonomi dan para petani yang menggantungkan kehidupan ekonominya sebagai penggarap lahan. Puskesmas Cirinten Untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga Cirinten, Kecamatan Cirinten telah memiliki sebuah Puskesmas. Puskesmas Cirinten terdiri dari 1 ( satu ) Puskesmas Induk sebagai pelaksana teknis Dinas kesehatan dan Kessos Kabupaten dibantu oleh 2 (dua) Puskesmas Pembantu dan 2 (Dua ) Pos Kesehatan Desa Yaitu : 1. Puskesmas Pembantu Cilayang Desa Kadudamas 2. Puskesmas Pembantu Parigi Desa Karangnunggal 3. Pos Kesehatan Desa, Desa Badur dan 4. Pos Kesehatan Dasar Desa Nangerang

Gambar 3.3.8.Puskesmas Cirinten Sumber: Dokumentasi Peneliti

98

Pada tahun 2009, Puskesmas melengkapi fasilitas pelayanannya dari yang tadinya hanya pelayanan rawat jalan ditambah dengan pelayanan rawat inap dengan banyaknya tempat tidur 10 buah. Dari Penambahan fasilitas ini, Puskesmas Cirinten mendapat tambahan baru dalam namanya, yaitu dengan sebutan DTP (Dengan Tempat Perawatan). Salah satu penunjang dalam melaksanakan tugasnya, puskesmas Cirinten didukung sejumlah tenaga kesehatan. Bila melihat standar yang berlaku untuk suatu puskesmas perawatan, tenaga kesehatan yang seharusnya ada minimal sebanyak 35 orang, sedangkan kondisi saat ini di Puskesmas DTP Cirinten masih jauh dari standar jumlah pegawai utamanya untuk tenaga medis perawat yang masih berjumlah 5 orang terdiri atas 4 orang lulusan D3 keperawatan dan 1 orang lulusan SPK sehingga dengan didasarkan kepada standar rasio pegawai di puskesmas perawatan dibandingkan dengan tenaga yang ada, diharapkan pemerintah khususnya pemerintah daerah dapat mengisi kekurangan yang ada dan pemerataan petugas kesehatan sesuai dengan tingkat kebutuhan, tidak terganggu pada kepentingan pribadi ataupun politik semata. Akan tetapi menurut Kepala Puskesmas Cirinten, jumlah pegawai Puskesmas Cirinten masih sangat jauh dari rasio yang dibutuhkan.
“Kita itu di sini masih ada yang namanya tugas rangkap bu. Jadi satu petugas pekerjaannya macam-macam.”

99

Tabel 3.3.2. Data Ketenagaan Puskesmas DTP Cirinten Tahun 2010
I. S2 Dokter Dokter gigi Sarjana/D3 a. SKM b. Akper c. Akbid d. Akademi Gizi e. Akademi Kesling f. Perawat Gigi Perawat (SPK) Tenaga Lab Pengelola Obat Tenaga Kebersihan II. Puskesmas Pembantu Bidan III. Poskesdes Bidan IV. Bidan Bidan Desa 6 PTT dan PNS Jenis Ketenagaan Puskesmas Induk Jumlah 1 2 2 4 0 1 1 1 1 2 2 Sukwan PNS PTT PNS dan Magang PNS dan Magang PNS PNS Sukwan Status Kepegawaian PNS PNS

Sumber : Data Kepegawaian Puskesmas DTP Cirinten 2010

Rasio penduduk yang besar dibandingkan dengan medan yang sulit, keluhan mengenai kurangnya jumlah tenaga kesehatan memang merupakan sebuah keluhan yang muncul dari pihak Puskesmas. Hal itu juga mengakibatkan munculnya double job pada tenaga kesehatan di Puskesmas ini. Seorang petugas kesehatan harus dibebani dengan bermacam tugas yang berbeda pada satu waktu. Sebagai akibatnya pelayanan kesehatan untuk masyarakat menjadi kurang maksimal. Contohnya seorang perawat di Puskesmas ini, selain dia harus melaksanakan tugasnya dengan shift siang dan malam, dia juga harus bisa melayani tugas panggilan dari warga yang membutuhkan pelayanannya.

100

Gambar 3.3.9.Peta Sarana Kecamatan Cirinten

Masalah Kesehatan KIA dan cakupan puskesmas pelayanan KIA Angka kematian bagi merupakan indikator bagi tingkat pelayanan yang diberikan. Semakin besar angka kematian maka semakin rendah tingkat pelayanan kesehatan yang diberikan, begitupun sebaliknya. Jumlah angka kematian bayi dan balita di Kecamatan Cirinten untuk tahun 2010 sebanyak 30 orang. Bila berdasarkan jenis kelamin, sebagian besar kematian terjadi pada perempuan 17 orang (56.6%) dengan penyebab kematian terbesar disebabkan oleh penyebab lainnya seperti ispa, febris, asma, aspirasi yaitu sebesar 6 orang (35.3%) dari 17 kematian bayi balita berjenis kelamin perempuan sebadangkan untuk kelompok umur, terdapat 19 orang (63.3% ) usia 0-28 hari, sebanyak 9 (30%) orang usia 1-11 bulan dan sebanyak 2 (6.6%) orang balita (tabel 8).

101

Bila dibandingkan dengan jumlah kematian bayi dan balita tahun 2009, terjadi penurunan jumlah kematian. Tahun 2009 terjadi 33 kematian bayi dan balita, sehingga terjadi penurunan 3 (9.1%) kematian bayi dan balita. Ini disebabkan adanya penambahan jumlah tenaga kesehatan khususnya bidan desa yang semula 7 orang bidan untuk 10 desa menjadi 10 bidan untuk 10 desa binaan, sehingga angka kasus kematiaan dapat ditekan dan adanya kemitraan bidan dengan dukun paraji yang telah terbina dengan baik dalam pertolongan persalinan yang diharapkan terus terjalin sehingga kasus kematian bayi, balita dan ibu dapat terus berkurang. Untuk kematian ibu bersalin, terdapat 2 kasus kematian dengan penyebab utama perdarahan post partum. angka ini meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2009, di mana untuk kasus kematian ibu bersalin di wilayah binaan Puskesmas DTP Cirinten adalah 0 (nol) kasus. Lonjakan angka kematian ibu lebih banyak disebabkan oleh intrernal keluarga khususnya ibu hamil yang merasa persalinan oleh tenaga kesehatan bukan sesuatu yang penting dan memanggil tenaga kesehatan (bidan) bila sudah terjadi kesulitan dalam persalinan. Hal ini juga menjadi suatu dilema dan tantangan bagi tenaga kesehatan untuk terus bermitra dengan dukun paraji serta lebih memotivasi masyarakat untuk mempercayakan persalinannya kepada tenaga kesehatan yang bermitra dengan dukun paraji karena tidak menutup kemungkinan kepercayaan masyarakat terhadap dukun paraji masih sangat tinggi dengan bermodalkan kekeluargaan dan tradisi ataupun kepercayaan paraji terhadap tenaga kesehatan yang mengendor walaupun telah terjadi kemitraan, apalagi program kesehatan berupa P4K (Program Perencanaan dan Pencegahan Komplikasi) guna menunjang desa siaga terus digalakan.

102

Tabel. 3.3.3. Angka Kematian dan Penyebabnya Tahun 2010 Jenis Kelamin Perempuan Maternal Non Matrn Buli Ibu Bumil l n Nifas 0 0 0 0 5 0 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 0 17 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Kelompok Umur balit a 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2

No

Penyebab Kematian

LakiLaki 1 4 2 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0 13

Neonatus

bayi

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Lahir Mati BBLR/Prematur Asfiksia Sepsis Neonatorum Kelainan bawaan Pnemonia Demam Thypoid Diare TBC paru Diftery Pertusis Campak Malaria DBD Meningitis Gizi Buruk Kecelakaan Lain-lain Perdarahan Jumlah

1 9 7 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 19

0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0 9

Sumber: Profil Puskesmas Cirinten

3.3.3. Perilaku Masyarakatterkait Kesehatan Ibu dan Anak Pandangan tentang ibu hamil, bersalin, bayi/anak Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka menganggap bahwa kehamilan adalah berkah bagi keluarga mereka, sehingga mungkin ini juga salah satu faktor yang menyebabkan beberapa ibu tidak menggunakan alat kontrasepsi untuk membatasi jumlah anak dalam keluarganya, disamping faktor lainnya. Beberapa pantangan yang berkaitan selama kehamilan masih tetap ada sesuai dengan nilai-nilai kepercayaan yang masih diyakini oleh masyarakat setempat. Begitu pula anjuran terhadap ibu
103

hamil. Pada dasarnya pantangan-pantangan dan anjuran-anjuran tersebut bertujuan agar ibu hamil dapat melewati masa kehamilannya secara baik dan dapat melahirkan dengan lancar walaupun beberapa pantangan tersebut ada yang tidak dapat diterima secara logika atau akal. Berkaitan dengan pemakaian jimat oleh ibu hamil, masih ada juga yang mempercayai dan memakai jimat selama kehamilan. Hal tersebut dilakukan karena mereka percaya jimat tersebut mencegah gangguan dari roh-roh jahat yang dapat mengganggu ibu hamil. Apalagi masih ada kepercayaan terhadap setan atau roh jahat yang bisa mengganggu kepada ibu hamil terutama saat melahirkan. Kepercayaankepercayaan tersebut juga sebagai salah satu faktor yang mengapa mereka masih mempercayai dukun beranak dalam menjaga kehamilan mereka dan penolong disamping faktor-faktor lainnya. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa masih banyak ibu hamil yang tidak memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan secara rutin sesuai anjuran kesehatan dengan berbagai alasan. Ketidak terjangkauan pelayanan kesehatan menjadi alasan utama. Kondisi alam berupa perbukitan, tempat tinggal yang tidak dilalui sarana transportasi umum, tempat tinggal yang terpencil, ketiadaan biaya membayar tenaga kesehatan, dan lain sebagainya menyebabkan keterbatasan dalam menjangkau pelayanan kesehatan. Keadaan tersebut semakin mendukung perilaku memeriksakan kehamilannya ke tukang kusuk/dukun beranak sebagai tenaga yang lebih mudah mereka jangkau. Dari berbagai hal tersebut, maka perlu dilakukan beberapa hal dalam menangani hal tersebut. Perlunya peningkatan pengetahuan dan pemahaman ibu tentang pentingnya menjaga kesehatan selama kehamilan. Perlu peningkatan pengetahuan tentang kehamilan, risiko saat kehamilan, makanan sehat, dan perawatan kehamilan. Promosi kesehatan tersebut dapat diberikan petugas kesehatan melalui kegiatan posyandu, penyuluhan di puskesmas, dan acara-acara

kemasyarakatan lainnya. Diharapkan dengan bertambahnya pengetahuan mereka dapat meningkatkan keyakinan mereka untuk melakukan pemeriksaan kehamilan pada fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau polindes.

104

Kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan cara-cara tradisional cukup membantu menghilangkan keluhan yang dialami. Perawatan tradisional yang masih dipercaya dan dilakukan, sejauh tidak memberikan dampak membahayakn kesehatan, masih dapat terus dilakukan.

Kepercayaan yang masih berkembang Kondisi kesehatan, khususnya dalam hal ini kesehatan ibu dan anak tidak bisa hanya dilihat dari sisi medis saja. Kondisi kesehatan ibu dan anak tidak dapat dilepaskan dari ruang lingkup sosio-kultural yang melingkupinya. Dalam hal ini budaya masyarakat yang menjadi pelaku dalam kehidupan sosial pada suatu masyarakat tertentu. Kebudayaan,menurut Koentjaraningrat merupakan“keseluruhan sistem

gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar”.Dalam definisi lain, Clifford Geertz (1992) mengatakan bahwa kebudayaan merupakan sistem mengenai konsepsi-konsepsi yang diwariskan dalam bentuk simbolik, yang dengan cara ini manusia dapat berkomunikasi, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan sikapnya terhadap

kehidupan.Kebudayaan merupakan sebuah sistem, dimana sistem itu terbentuk dari perilaku, baik itu perilaku badan maupun pikiran. Dan hal ini berkaitan erat dengan adanya gerak dari masyarakat, dimana pergerakan yang dinamis dan dalam kurun waktu tertentu akan menghasilkan sebuah tatanan ataupun sistem tersendiri dalam kumpulan masyarakat. Lebih lanjut, J. J Honigmann (dalam Koenjtaraningrat, 2000) membedakan adanya tiga ‘gejala kebudayaan’: yaitu : (1) ideas, (2) activities, dan (3) artifact, dan ini diperjelas oleh Koenjtaraningrat yang mengistilahkannya dengan tiga wujud kebudayaan, yaitu pertama, wujud kebudayaan sebagai suatu yang kompleks dari ideide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. Kedua, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

105

Mengenai wujud kebudayaan ini, Elly M.Setiadi dkk (2007:29-30) memberikan penjelasannya sebagai berikut: 1). Wujud Ide Wujud tersebut menunjukann wujud ide dari kebudayaan, sifatnya abstrak, tak dapat diraba, dipegang ataupun difoto, dan tempatnya ada di alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. Budaya ideal mempunyai fungsi mengatur, mengendalikan, dan memberi arah kepada tindakan, kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat sebagai sopan santun. Kebudayaan ideal ini bisa juga disebut adat istiadat. 2). Wujud perilaku Wujud tersebut dinamakan sistem sosial, karena menyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Wujud ini bisa diobservasi, difoto dan didokumentasikan karena dalam sistem sosial ini terdapat aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi dan berhubungan serta bergaul satu dengan lainnya dalam masyarakat. Bersifat konkret dalam wujud perilaku dan bahasa. 3). Wujud Artefak Wujud ini disebut juga kebudayaan fisik, dimana seluruhnya merupakan hasil fisik. Sifatnya paling konkret dan bisa diraba, dilihat dan didokumentasikan. Contohnya : candi, bangunan, baju, kain komputer dll. Mengenai unsur kebudayaan, dalam bukunya pengantar Ilmu Antropologi, Koenjtaraningrat, mengambil sari dari berbagai kerangka yang disusun para sarjana Antropologi, mengemukakan bahwa ada tujuh unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia yang kemudian disebut unsur-unsur kebudayaan universal, antara lain: Bahasa, Sistem Pengetahuan, Organisasi Sosial, Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi, Sistem Mata Pencaharian, Sistem Religi, dan Kesenian.Dalam konteks Kesehatan Ibu dan Anak di Cirinten, wujud-wujud budaya ini muncul dalam tradisi-tradisi yang secara turun temurun telah dikenal oleh masyarakat dan masih berkembang sampai saat ini.

106

Kehamilan. Kehamilan merupakan sebuah anugerah dan berkah yang harus disyukuri. Jika mereka hamil, mereka akan senang dan bahagia. Selama masa kehamilan terdapat pantangan, anjuran dan praktek-praktek tradisi yang secara adat masih dipercaya oleh masyarakat Cirinten. Ketika hamil ada sebuah kepercayaan yang masih dijalankan oleh masyarakat. Salah satunya adalah selalu membawa gunting ke mana-mana. Dalam kepercayaan masyarakat Cirinten hal ini dilakukan untuk melindungi ibu dan calon bayi dari gangguan makhluk-makhluk halus yang jahat. Gunting yang dibawa tidak harus gunting yang khusus. Melainkan gunting biasa saja yang bisa didapatkan di mana saja. Selain membawa gunting, beberapa masyarakat juga mendapatkan semacam jimat yang diberikan oleh dukun setempat atau yang dikenal sebagai Paraji atau orang tuanya. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang suami berikut:
“ada juga dikasih tali hitam dikasih doa, dikasih di perutnya istri, yang ngasih oran tua, ada juga yg dari paraji”

Masyarakat setempat juga mengenal upacara-upacara khusus untuk ibu hamil dan calon bayi. Salah satunya adalah adalah Upacara Tujuh Bulanan atau yang disebut dalam bahasa setempat Nujuh Bulanan/ Tingkeban. Nujuh dalam bahasa Sunda berarti tujuh, jadi Nujuh Bulanan adalah upacara yang diadakan pada bulan ketujuh masa kehamilan. Nama lain dari Nujuh Bulanan ialah Tingkeban berasal dari kata tingkeb artinya tutup, maksudnya ibu yang sedang mengandung tujuh bulan tidak boleh bercampur dengan suaminya sampai empat puluh hari setelah persalinan. Nujuh Bulanan adalah Upacara yang dilaksanakan wanita hamil pertama kali ketika usia kandunganya genap tujuh bulan. Untuk menentukan waktu untuk mengadakan Upacara Adat Nujuh Bulanan biasanya diambil dari tanggal yang ada angka tujuhnya dan merupakan tanggal terakhir yaitu tanggal duapuluh tujuh. 
 Pengertian lebih dalam dari Upacara Nujuh Bulanan/ Tingkeban adalah upacara adat yang berupa selamatan yang dilaksanakan oleh ibu hamil yang baru pertama kali mengandung yang usia kendungannya genap tujuh bulan. Upacara Nujuh Bulanan ini dilaksanakan sebagai puji syukur kepada Tuhan atas karunia yang diberikan berupa anak dalam kandungan dan meminta keselamatan dan harapan - harapan baik untuk anaknya kelak.

107

Pada pelaksanaan upacara ini terdapat tujuh prosesi yang harus dijalankan, antara lain: 1. Pengajian Prosesi pertama yang dilakukan adalah pengajian. Tahapan ini biasanya dimulai dengan ceramah siraman rohani yang kemudian diteruskan dengan pembacaan AlQur’an. 2. Siraman Pada tahapan ini disediakan air dengan 7 macam bunga kemudian satu persatu orang tua dari ibu hamil menyirami dengan air tesebut. Jumlah orang yang menyiram ada tujuh orang mulai dari yang tertua hingga saudara/kerabat. Siraman ditujukan untuk mensucikan calon ibu lahir batin agar anaknya kelak tidak ada beban moral. Bunga tujuh rupa sebagai lambang kelak memilik budi pekerti yang baik sehingga menyenangakan bagi orang lain. 3. Ganti kain (7 macam motif kain yang berbeda)

Disediakan air dengan 7 macam bunga kemudian satu persatu orang tua dari ibu hamil menyirami dengan air tesebut. Jumlah orang yang menyiram ada tujuh orang mulai dari yang tertua hingga saudara/kerabat. Siraman ditujukan untuk mensucikan calon ibu lahir batin agar anaknya kelak tidak ada beban moral. Bunga tujuh rupa sebagai lambang kelak memilik budi pekerti yang baik sehingga menyenangakan bagi orang lain. Motif-motif kain tersebut adalah: Sidomukti, Sidoluhur, Truntum, Parang, Semen Rama, Udan Riris, dan Cakar 4. Pemberian bingkisan

Setelah mendapat giliran siraman dan ganti kain, orang yang menyiram diberi bingkisan berupa hahampangan dan bebeutian yang ditaruh dipiring yang terbuat dari tanah liat. Hahampangan bermakna kelak anaknya akan mudah mendapat rezeki dan semua urusanya dimudahkan. Beubeutian mempunyai makna agar anaknya kelak memiliki budi pekerti yang baik dan rendah hati. 5. Belah kelapa

Kelapa gading yang telah digambar Kamajaya dan Kamaratih/Arjuna dan Sumbadra dimasukan ke dalam kain yang dipakai oleh ibu hamil. Karakter wayang yang dipilih

108

melambangkan kelak anak yang akan lahir memiliki karakter baik seperti karakter wayang yang dipilih. Bila anaknya perempuan kelak akan secantik

Sumbadra/Kamaratih dan memiliki sifat yang murah hati dan setia, dan bila anaknya kelak laki-laki maka akan setampan Arjuna/Kamajaya, gagah berani, membela yang benar. 6. Memecahkan jajambaran

Air sisa siraman ditambahkan uang koin dibawa oleh suami ibu hamil ke pertigaan jalan/simpang tiga lalu dipecahkan ditengah-tengah pertigaan. Makna yang terkandung didalamnya adalah agar anaknya kelak akan diberi kebebasan untuk menetukan hidupnya. Uang koin pada Jajambaran bermakna agar anaknya kelak diberi rezeki yang berkecukupan dan memiliki sifat dermawan. 7. Sambel pepeh.

Sebenarnya tahapan ini dilakukan dengan membuat rujak. Tetapi dalam adat di wilayah kecamatan Cirinten, prosesi ini diganti dengan membuat sambel pepeh. Sambel pepeh sendiri sebenarnya mirip dengan rujak, tetapi dibuat dengan bahan lain. Bahan-bahannya adalah jahe, kunir, cabe puyeng, dan mangga. Semua tamu yang menghadiri upacara nujuh bulanan akan memakan, makanan ini. Biaya yang dikeluarkan oleh keluarga untuk menyelenggarakan upacara ini tidak sedikit. Paling tidak sekitar Rp. 500.000,- sampai dengan Rp. 2.000.000,- bisa mereka keluarkan untuk satu kali upacara ini. Tergantung besar/ kecilnya acara yang diselenggarakan. Biaya ini dianggap salah satu biaya yang besar yang dikeluarkan oleh keluarga untuk menyambut kelahiran sang bayi. Seperti yang dikatakan oleh seorang suami berikut:
“kalau untuk 7 bulanan mengeluarkan biaya juga,biasanya habis 500 ribu untuk persiapan setelah melahirkan”

Selain menyelenggarakan upacara-upacara tertentu dan menjalankan tradisi sesuai adat, terdapat juga beberapa pantangan yang harus dihindari oleh Ibu ketika dalam masa kehamilan. Ketika hamil seorang ibu tidak boleh pergi ke hutan, hal ini dimaksudkan untuk menghindari gangguan yang mungkin akan menimpa ibu apabila pergi ke hutan. Gangguan itu bisa berasal dari binatang-binatang buas, atau dari makhluk-makhluk gaib yang jahat. Ibu juga tidak diperbolehkan melilitkan handuk ke leher ketika hendak mandi atau melakukan aktivitas lain. Dipercaya apabila Ibu
109

melakukan ini, maka nantinya bayi akan terlilit tali pusatnya ketika dilahirkan. Kepercayaan-kepercayaan lain yang berkaitan dengan harapan akan lancarnya kelahiran atau perlindungan terhadap gangguan hal-hal jahat juga masih berkembang. Contohnya makan dengan piring besar dapat mengakibatkan bayi yang dilahirkan bertubuh besar, atau duduk di dekat pintu yang bisa menyebabkan ibu kesulitan dalam melahirkan dan lain sebagainya. Menjelang persalinan, peran suami sangat penting. Mereka cukup perhatian terhadap isteri yang hendak melahirkan. Suami biasanya yang mengantar ke bidan, memanggil tukang kusuk atau dukun beranak, dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak dan mencuci pakaian. Seorang ibu yang memiliki bayi (informan) menceritakan kecemasan suami menjelang persalinan anak terakhir mereka. Singkatnya tradisi masyarakat Cirinten terkait dengan masa kehamilan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel. 3.3.4. Tradisi Masyarakat Cirinten Terkait Masa Kehamilan Tradisi Masyarakat Cirinten Pada Saat Kehamilan Ritual/tradisi/adat - Harus bawa gunting ke manamana: Dimaksudkan untuk memberi perlindungan kepada Ibu Hamil, supaya tidak dingganggu oleh roh jahat. - Tujuh bulanan: Upacara menyambut 7 bulan kehamilan. Biasanya dilakukan dengan menyelenggarakan pengajian atau shalawatan. Pantangan - Tidak boleh pergi ke hutan : menghindari gangguan binatang buas dan roh-roh jahat. - Tidak boleh Melilitkan handuk ke leher: Ada kepercayaan bahwa nanti bayinya akan terlilit tali pusat. - Memakai sarung tinggi - Makan di piring besar: Nantinya bayinya akan bertubuh besar, sehingga akan sulit untuk dilahirkan. - Duduk di pintu: Apabila dilakukan akan ada penyulit ketika melahirkan. - Tidak boleh Makan buah yang jelek - Tidak boleh Makan yang panas - Tidak boleh Buang limbah sembarangan - Tidak boleh Makan pepaya dan cabai

Sumber: Data Primer

Persalinan. Proses persalinan merupakan suatu kondisi yang perlu mendapat perhatian khusus mengingat pada saat tersebut resiko terjadinya kondisi kritis yang membahayakan jiwa seorang ibu sangat besar. Masyarakat sudah menyadari adanya

110

resiko tersebut, terbukti banyak upaya pencegahan yang dilakukan baik berupa upaya medis maupun non medis. Persiapan menyambut kehadiran bayi dilakukan dengan penyiapkan segala keperluan bayi. Selain persiapan fisik, juga dilakukan persiapan psikis yang dilakukan baik ibu maupun keluarga bahkan dukungan dari lingkungannya. Menurut bidan setempat, secara tradisional cara melahirkan di wilayah ini adalah dalam posisi jongkok, lutut harus menyentuh lantai, dan semua pakaian harus dibuka. Dalam kepercayaan setempat cara ini adalah cara terbaik untuk membantu ibu dalam melahirkan. Bayi akan lahir dengan selamat, dan ibu akan mudah sewaktu melahirkan. Akan tetapi sayangnya, karena keterbatasan waktu pada waktu pengumpulan data dalam penelitian ini, informasi mengenai hal ini tidak dapat kami telusuri lebih lanjut. Beberapa macam pantangan juga diberlakukan untuk ibu menjelang persalinan. Pantangan-pantangan tersebut dimaksudkan untuk keselamatan bayi pada waktu proses persalinan. Supaya bayi yang nantinya dapat lahir dengan selamat, dan dalam kondisi yang sehat tanpa kekurangan suatu apapun. Secara ringkas berikut tradisi masyarakat terkait masa persalinan di Cirinten:

Tabel. 3.3.5. Tradisi Masyarakat Cirinten Terkait Masa Persalinan Tradisi Masyarakat Cirinten Pada Saat Persalinan Ritual/tradisi/adat Anjuran Pantangan Tidak boleh mengikat rambut : Dapat mengakibatkan bayi yang dilahirkan terlilit tali pusat. Tidak boleh pakai emas Tidak boleh tertidur

Melahirkan dalam posisi Harus banyak bergerak jongkok, lutut menyentuh lantai. Semua pakaian harus dibuka

Sumber: Data Primer

Pasca-Persalinan. Secara adat, masyarakat Cirinten juga mengenal berbagai tradisi yang diberlakukan kepada anggotanya yang baru saja mendapat berkah dari kelahiran anak dalam keluarga tersebut. Tradisi tersebut khususnya diberlakukan untuk ibu dan anak. Kepercayaan masyarakat pada pelaksanaan tradisi ini masih
111

sangat kuat, sehingga seakan-akan apabila tradisi ini tidak dijalankan maka ada sesuatu yang hilang dari peristiwa kelahiran ini. Salah satu tradisi yang masih kuat dan banyak dijalankan oleh masyarakat adalah Tradisi Nyandak. Tradisi ini dimaksudkan sebagai salah satu bentuk perawatan ibu yang baru saja melahirkan. Nyandak dalam bahasa sunda berarti duduk bersandar. Dalam tradisi ini, seorang ibu diharuskan untuk berada dalam posisi duduk bersandar selama 40 hari/malam setelah melahirkan. Dengan posisi seperti ini, masyarakat percaya bahwa seorang ibu akan lebih cepat pulih dan kembali dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Posisi ibu ketika menjalankan tradisi Nyandak dapat dilihat pada gambar berikut:

Keterangan: Gambar posisi ibu yang sedang melaksanakan tradisi Nyandak. Di belakang ibu ditaruh bantal-bantal untuk memberi kenyamanan ibu bersandar. Tempat duduk ibu adalah sebuah tempat tidur tipis, sedangkan bantal di sampingIbu digunakan untuk menidurkan bayi.

Gambar. 3.3.10. Nyandak Sumber: Data Primer

Ibu yang menjalankan tradisi Nyandak akan berada dalam posisi seperti terlihat pada gambar di atas selama 40 hari/malam. Biasanya di depan telapak kaki ibu diletakkan sebongkah batu atau karung pasir yang cukup berat untuk menopang posisi Nyandak ini. Tradisi ini langsung dilakukan oleh Ibu segera setelah dia selesai bersalin, begitu ibu tersebut merasa sedikit pulih dari kelelahannya setelah melahirkan. Ibu akan berada dalam posisi bersandar selama mungkin dia bisa melakukannya dalam kurun waktu 40 hari. Dalam arti, seluruh kegiatan mulai dari makan, menyusui anak,

112

menidurkan anak, atau aktivitas lainnya akan dilakukan sembari Ibu tersebut Nyandak. Biasanya ibu hanya akan beranjak dari Nyandak ketika dia harus pergi ke kamar kecil atau mandi. Untuk menjalankannya, biasanya di sekitar ibu tersebut ada seorang paraji atau orang tua yang mengerti mengenai tradisi ini yang akan mengarahkan si ibu untuk Nyandak. Menurut petugas kesehatan setempat, Tradisi Nyandak ini kadang kala dapat membahayakan kesehatan ibu. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang petugas kesehatan berikut:
“Dulu itu sampai pernah ada satu ibu tu sampai apa itu… vaginanya itu lengket. Iya.. Karena dalam posisi gitu terus kan? Empat puluh hari”

Selain itu, menurut petugas kesehatan setempat, permasalahan seperti cidera tulang belakang ringan juga kadang diderita oleh Ibu yang menjalanakan tradisi Nyandak ini. Akibat tidak langsung dari tradisi ini juga adalah adanya pembatasan bagi seorang Ibu untuk mengakses pelayanan kesehatan pada masa nifas. Hal ini dikarenakan ibu yang sedang Nyandak harus berada dalam posisi tersebut selama masa nifasnya dan tidak boleh keluar rumah. Sehingga mereka tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan pada masa nifas yang seharusnya dapat mereka peroleh dari fasilitas kesehatan di wilayah di mana mereka tinggal. Sementara Ibu sedang menjalankan Nyandak, bayi biasanya akan ditidurkan di samping Ibu. Dalam adat di Cirinten, masyarakat juga masih percaya pada jimat-jimat yang dipercaya dapat memberikan perlindungan kepada bayi dari gangguan roh-roh jahat. Seperti terlihat dari gambar di bawah ini:

113

Gambar3.3.11. Gelang Kapas Keterangan: Gelang ini dibuatkan oleh dukun atau orang yang dituakan oleh masyarakat setempat dan dimaksudkan untuk memberi perlindungan kepada bayi dari gangguan hal-hal yang tidak baik

Gambar 3.3.12. Pisau Pelindung Keterangan: Salah satu kebiasaan masyarakat Cirinten adalah meletakkan pisau di samping bayi yang sedang tertidur. Fungsinya sama dengan gelang di atas, yaitu memberikan perlindungan kepada bayi dari gangguan hal-hal yang tidak baik.

Seperti terlihat pada gambar di atas, masyarakat masih mengenakan beberapa jenis jimat yang dilekatkan pada bayi untuk memberi perlindungan dari gangguan rohroh jahat. Jimat-jimat tersebut biasanya diberikan oleh orang-orang tua atau paraji setempat. Selain tradisi-tradisi yang telah dipaparkan di atas, masyarakat Cirinten juga masih mengenal beberapa macam tradisi yang masih mereka jalankan sampai sekarang. Seperti terlihat pada tabel berikut:

114

Tabel. 3.3.6. Tradisi Masyarakat Cirinten Pasca Persalinan Tradisi Masyarakat Cirinten Pasca Persalinan Ritual/tradisi/adat Anjuran Pantangan Tidak boleh makan ikan laut

- Perehan: Menetesi mata ibu yang baru saja melahirkan Makan dengan air merica. Hal ini dimaksudkan untuk membuat sambel ibu tetap terjaga. Dalam pandangan masyarakat pepeh setempat seorang ibu harus tetap terjaga setelah melahirkan, apabila dia tertidur, itu akan berbahaya bagi dirinya. - 3 harian: Upacara 3 harian diselenggarakan untuk bayi baru lahir. Biasanya upacara ini dilakukan dengan mengadakan pengajian atau sholawatan. - Digebrak : Tradisi menggebrak sesuatu di dekat ibu yang baru saja melahirkan. Barang yang digebrak atau dipukul bisa apa saja asal bisa membangunkan ibu. Sama seperti perehan, tradisi ini dimaksudkan untuk menjaga ibu tetap terjaga setelah melahirkan. - Cukuran : Tradisi mencukur bayi. Biasanya dilakukan bersamaan dengan Akikah. - Doa sawan untuk bayi : Doa-doa yang dibacakan oleh Paraji pada waktu bayi lahir untuk menjauhkan bayi dari hal-hal buruk. - Nyandak selama 40 hari : Seorang Ibu yang baru saja melahirkan harus berada dalam kondisi duduk selama 40 hari. Sumber: Data Primer

Pengetahuan masyarakat tentang Kesehatan Ibu pada Masa Kehamilan, Persalinan dan Pasca Persalinan Masa kehamilan. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan pada 67 Ibu di Cirinten, pengetahuan Ibu mengenai KIA sebenarnya sudah cukup baik. Hasil survey menunjukkan bahwa 85.1% ibu menyatakan penting untuk memeriksakan diri selama 4 kali pada masa kehamilan mereka. Ini menunjukkan kesadaran mereka akan pentingnya pemeriksaan medis pada masa kehamilan mereka. Pernyataan lain yang juga menunjukkan kesadaran ibu yang tinggi pada pemeriksaan medis selama masa kehamilan adalah mengenai antisipasi akan faktor-faktor resiko pada kelahiran. Sebanyak 100% ibu menyatakan bahwa sangat penting mengukur tensi pada waktu memeriksakan kehamilan mereka. Namun, sebanyak 31.4% ibu menyatakan bahwa konsumsi tablet tambah darah (Fe) tidak penting pada masa kehamilan. Tentu saja dukungan dari orang-orang yang berada di sekitar ibu juga sangat penting untuk dapat

115

menjalankan hal ini. Peran suami, orang tua dan keluarga sangat berpengaruh dalam mendukung kesadaran Ibu pada pentingnya pemeriksaan selama masa kehamilan. Persalinan. Pengetahuan Ibu pada masa persalinan cukup menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Kebanyakan ibu menyatakan bahwa persalinan persalinan lebih baik dilakukan di rumah daripada di rumah sakit. Sebanyak 59.7% ibu menyatakan demikian. Hal ini terkait dengan kondisi geografis dan ekonomi masyarakat yang menyebabkan sulitnya ibu untuk mengakses fasilitas pelayanan kesehatan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kondisi geografis di Cirinten yang berbukit-bukit semua permasalahan yang melingkupinya termasuk akses komunikasi dan transportasi membuat masyarakat sulit untuk dapat mengakses fasilitas pelayanan kesehatan. Sehingga, hal ini bisa menjelaskan mengapa ibu menyatakan bahwa bersalin di rumah sama amannya dengan di fasilitas kesehatan. Selain karena kondisi geografis yang sulit, faktor kekerabatan juga berpengaruh dalam hal ini. Ikatan yang erat dalam ruang lingkup keluarga memberi rasa nyaman tersendiri bagi seorang ibu yang akan bersalin. Sehingga rasa aman tersebut juga muncul apabila ketika mereka bersalin, anggota keluarga yang lain berkumpul di dekat mereka. Kepercayaan terhadap adat dan tradisi yang secara turun temurun telah dikenal masyarakat juga mempengaruhi pengetahuan ibu dalam hal KIA. Hasil survey menunjukkan bahwa sebanyak 56.2% ibu menyatakan bahwa upacara-upacara tertentu perlu dilakukan supaya persalinan dalam berjalan dengan lancar dan selamat. Tradisi perawatan kehamilan, persalinan, dan pasca persalinan memang masih sangat kuat di sini. Seperti yang telah dijelaskan di atas, ada cukup banyak bentuk-bentuk tradisi masyarakat yang dijalankan terkait masa kehamilan, persalinan, dan pasca persalinan. Meskipun tidak semua ibu dari sampel yang disurvey melakukannya, akan tetapi kebanyakan menyatakan bahwa tradisi-tradisi tersebut masih sangat penting untuk dilakukan. Hal ini juga ditambah dengan keberadaan Paraji (dukun) yang masih dipercaya oleh masyarakat. Hasil survey di Cirinten menunjukkan bahwa sebanyak 58.2% ibu menyatakan bahwa kemampuan dukun sama dengan kemampuan bidan. Hal ini mengindikasikan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap dukun masih tinggi. Pasca-persalinan. Tradisi-tradisi dalam bentuk upacara, ritual, atau pemakaian jimat tertentu juga masih kuat dijalankan di Cirinten pada masa nifas. Seperti yang telah dijelaskan di atas, ada beberapa tradisi yang masih dijalankan oleh ibu selepas
116

persalinannya. Salah satunya adalah Nyandak, di mana seorang ibu memulihkan dirinya setelah persalinan dengan cara tetap berada dalam posisi duduk bersandar selama 40 hari. Masyarakat sampai sekarang masih percaya bahwa dengan cara itu ibu akan lebih cepat pulih dan dapat beraktivitas seperti sedia kala. Lepas dari semua analisa medis mengenai bahayanya praktek ini, hasil survey ini menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat mengenai salah satu cara perawatan pasca persalinan dengan menggunakan tradisi masih cukup kuat. Hal lain yang ditemukan dari hasil survey di Cirinten adalah kesadaran masyarakat yang cukup tinggi mengenai pembatasan jumlah anak dan pengaturan jarak kelahiran. Hasil survey di Cirinten menunjukkan sebanyak 71.7% ibu menyatakan perlu untuk ikut KB pada masa nifas. Sikap masyarakat tentang Kesehatan Ibu pada masa Kehamilan, Persalinan dan Pasca Persalinan Pengetahuan mengenai KIA seperti yang telah dijabarkan di atas

mempengaruhi sikap masyarakat tentang kesehatan Ibu pada masa kehamilan, persalinan, dan pasca persalinan. Tabel di bawah ini menunjukkan sikap ibu terkait KIA dari hasil survey pada 67 orang ibu di Kecamatan Cirinten:
Tabel.3.3.7. Pernyataan Ibu terkait Pelayanan KIA PERNYATAAN Penting pemeriksaan kehamilan sebanyak 4 kali Penting ukur tensi Perlu tablet tambah darah Perlu upacara agar selamat Melahirkan di rumah dan sakit/puskesmas sama amannya Perlu KB pasca nifas Sumber: Data Primer rumah 79.1 97% 98.5% 68.7% 70.1% 92.5% 92.5% SIKAP Positif Negatif 20.9% 3% 1.5%% 31.3% 29.9% 7.5% 7.5%

Kemampuan dukun sama baiknya dengan bidan

Kehamilan. Sikap ibu akan perlunya pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali semasa hamil menunjukkan kecenderungan yang positif. Meskipun apabila dibandingkan dengan pengetahuan, terlihat sebuah penurunan menjadi 79.1%. Hal ini

117

mungkin disebabkan oleh ketidaktahuan ibu mengenai apa saja yang harus dilakukan pada waktu pemeriksaan kehamilan secara medis. Di sinilah perlunya petugas kesehatan untuk menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh seorang ibu ketika masa kehamilan mereka. Sikap yang positif juga ditunjukkan pada pernyataan ibu mengenai pentingnya mengukur tekanan darah dan perlunya mengkonsumsi tablet penambah darah (Fe). Sebanyak 97% ibu menyatakan bahwa tekanan darah penting untuk diukur pada waktu hamil dan sebanyak 98.5% ibu menyatakan bahwa konsumsi tablet Fe penting untuk menjaga kehamilan mereka. Persalinan.Dalam hal ini kembali kendala geografis, ekonomi, dan akses pada komunikasi, transportasi dan pelayanan kesehatan dapat menjelaskan sikap ibu pada dalam hal pemilihan tempat bersalin. Sebanyak 70.1% ibu menyatakan bahwa bersalin di rumah sama amannya dengan bersalin di fasilitas kesehatan. Hal ini menegaskan bahwa dalam pandangan masyarakat pertolongan persalinan tidak semata-mata dipandang dari ketersediaan alat-alat kesehatan yang lengkap dala sebuah fasilitas kesehatan. Akan tetapi faktor psikologis dan rasionalitas gerakan tanggap darurat — dalam hal ini persalinan—adalah kedua faktor yang sangat diperlukan oleh masyarakat untuk mendapat pertolongan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Penegasan mengenai pentingnya mengikutsertakan tradisi yang telah dikenal masyarakat secara turun-temurun dalam hal persalinan juga kembali muncul dari hasil survey di sini. Dalam hal tradisi dalam bentuk upacara-upacara tertentu pernyattan ibu menunjukkan sikap yang positif, dalam arti menegaskan bahwa upacara diperlukan untuk keselamatan proses persalinan. Sebanyak 68.7% ibu menyatakan demikian. Ibu juga menyatakan bahwa dukun memiliki kemampuan yang sama dengan bidan. Sebanyak 92.5% ibu menyatakan demikian. Hal ini menunjukkan kepercayaan ibu kepada dukun yang masih tinggi.

118

3.3.4. Faktor

Sosial

BudayaMasyarakat

Terkait

Pemilihan

Penolong Persalinan dan Pemanfaatan PelayananJampersal Faktor sosial budaya masyarakat mempengaruhi sistem pengambilan keputusan pertolongan KIA, pandangan tentang dukun dan bidan sebagai penolong persalinan yang biasa dimanfaatkan masyarakat. Sistem Pengambilan Keputusan Pertolongan KIA Berdasarkan hasil wawancara dan survey yang dilakukan di Cirinten, ditemukan bahwa banyak pilihan masyarakat untuk bersalin bermacam-macam. Ada yang memilih untuk bersalin di Fasilitas Kesehatan yang telah tersedia di Cirinten, namun kebanyakan lebih memiih untuk bersalin di rumah. Hasil survey di Kecamatan Cirinten menunjukkan bahwa dari 67 orang responden 67.2% memilih untuk melahirkan di rumah, 14.9 % di rumah bidan/polindes, 13.4% di Puskesmas, dan 4.5 % di Rumah Sakit yang dapat dijangkau dari Cirinten. Alasan masyarakat untuk lebih memilih melahirkan di rumah adalah karena lebih dekat dengan keluarga. Hal ini memang penting sekali mengingat ikatan kekerabatan yang sangat kuat dalam pola hidup masyarakat di Cirinten. Selain itu kondisi geografis Cirinten yang bergunung-gunung ditambah dengan kondisi jalan yang rusak juga menyulitkan masyarakat untuk mencapai fasilitas kesehatan. Perlu sebuah kendaraan khusus atau mungkin keahlian khusus untuk bisa menempuh perjalanan antar desa dengan kondisi jalan yang buruk di Kecamatan ini. Jarak antar desa di Kecamatan dengan luas 10.391km2 ini juga tidak bisa dibilang dekat. Tabel di bawah ini menunjukkan jarak yang harus ditempuh oleh masyarakat untuk pergi ke desa lain:

119

Tabel.3.3.8. Jarak Antar Desa di Kecamatan Cirinten Tahun 2011 (Dalam Km) Karangnunggal

Parakanlima

Kadudamas

Nangerang

Cempaka

Datarcae

Parakanlima Kadudamas Datarcae Karoya Nangerag Cirinten Karangnunggal Cempaka Badur Cibarani 7 17 20 32 14 29 3 2 36

7

17 10

0 13 2

2 25 15 12

4 7 3 5 18

9 22 12 9 3 15

3 5 15 8 30 4 27

2 9 19 2 34 6 31 4

Badur 9 2 7 8 39

Desa

26

10 13 25 7 22 5 9 29 2 15 3 12 15 19 20

20

12 185 9 18 22 22 3 30 34 7

18

15 12 16 18 27 31 8

34 39

4 34

Sumber: Profil Kecamatan Cirinten

Kondisi itu yang menyebabkan banyaknya masyarakat yang mengambil keputusan untuk mendapatkan pertolongan persalinan ke dukun daripada bidan. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang anggota masyarakat berikut:
“Ya ke dukun karena dulu tidak ada pustu, dan jaraknya jauh dengan bidan, kalau paraji biasanya satu kampong, manggil paraji dulu karena dekat dengan rumah” “kalau disini medannya susah karena jalannya susah, jadi bidan saja yg dipanggil ke rumah, kalau ada mobil biasanya di jemput, biasanya mobil puskesmasnya tidak ada ya melahirkan dirumah saja”

Alasan seperti yang diungkapkan masyarakat tersebut memang wajar. Karena, terutama apabila dalam kondisi genting, di mana pertolongan cepat dibutuhkan maka pertolongan terdekat lah yang akan dipilih. Dengan kondisi geografis yang sulit untuk ditempuh dengan kendaraan bermotor, pertolongan cepat yang bisa didapatkan dengan apapun yang ada. Salah satu contoh dari hal ini dapat dilihat dari peta di bawah ini.

120

Cibarani

Cirinten

Karoya

Gambar.3.3.13.Peta Lokasi Poskesdes dan Dukun di Desa Sumber: Data Primer

Dari gambar tersebut terlihat sebaran jumlah dukun berbanding dengan fasilitas pelayanan kesehatan secara medis yang tidak seimbang. Jumlah dukun lebih banyak daripada bidan. Apabila dibayangkan juga, apabila ada seorang ibu yang sedang dalam masa mendekati masa persalinannya dan tinggal di daerah cibarani, maka untuk ibu itu akan lebih baik untuk meminta pertolongan dari dukun terlebih dahulu karena lokasinya yang lebih dekat daripada jika dia harus berjalan ke poskesdes. Peran suami dalam hal pengambilan keputusan mencari pertolongan KIA juga sangat penting. Beberapa informan mengatakan suami cukup perhatian jika istrinya hamil, dan ada juga yang biasa-biasa saja. Bentuk perhatian suami mereka

diantaranya adalah mengantar ke bidan atau puskesmas, mengantar ke dukun dan membantu pekerjaan sehari-hari. Keluarga yang lain juga memberi perhatian seperti orang tua bahkan para keluarga dekat turut menjaga agar jangan sampai terjadi

121

keguguran kandungan. Berikut ini penjelasan beberapa orang suami dari hasil FGD dalam penelitian ini tentang pencarian pertolongan KIA yang masih dilakukan selama istrinya hamil.
“sebagian besar keputusan ada di orang tuanya dr istri, kdng dr suami tdk bs mengambil keputusan, diserahkan ke orang tua dr istri” “kalau pengalamannya sy sama, kadang msh bertanya sm orang tua, jd yg mengambil keputusan orang tuannya”

Selain dari suami dan orang tua, kadang Paraji (dukun) dan tokoh masyarakat juga mempengaruhi pengambilan keputusan dalam mencari pertolongan persalinan. Seperti dikatakan oleh salah seorang petugas kesehatan berikut:
“pengaruh dari parajinya juga, dari toma, yang di anggap tertua untuk konsultasi persalinan,…”

Memang dalam kehidupan sehari-hari di Cirinten, ikatan kekerabatan antar anggota masyarakat masih sangat kuat. Pola-pola budaya kolektif masyarakat pedesaan masih terlihat sangat kental di sini. Dalam pola seperti ini, tokoh sentral atau orang yang dituakan biasanya dapat mempengaruhi keputusan-keputusan yang dibuat oleh anggota masyarakatnya, dalam hal ini keputusan mencari pertolongan persalinan. Seorang Paraji atau tokoh masyarakat yang ada dalam lingkup warga setempat biasanya adalah orang-orang yang mempunyai modal sosial baik dari status ekonomi yang tinggi, usia, ataupun kemampuan-kemampuan khusus. Karena itulah pengaruh dari Paraji, tokoh masyarakat atau orang yang (di)tua(kan) sering dapat mempengaruhi keputusan masyarakat untuk memilih pertolongan persalinan, apakah itu dengan pertolongan secara medis atau non medis. Namun satu hal yang juga menarik untuk dilihat di sini, terkait dengan pilihan masyarakat dalam mencari pertolongan KIA adalah adanya faktor kebanggaan tertentu jika dapat memanfaatkan cara-cara tradisional. Ada sebuah anggapan dalam masyarakat bahwa ketika pertolongan KIA diberikan oleh seorang yang mengetahui adat dengan baik maka itu merupakan sebuah kebanggan tersendiri. Seorang petugas kesehatan mengungkapkan:
“kalau menurut saya, kalo misalnya ada bersalin di bidan itu susah, jadi kalau bersalin tidak tahu siapa siapaCuma dengan paraji aja itu seperti bangga itu ibu yang melahirkan, merasa hebat tidak ketahuan dengan siapa siapa”.

122

Satu hal lain yang juga muncul dan menjadi pertimbangan masyarakat untuk menentukan siapa pihak yang pantas yang bisa memberikan pertolongan KIA untuk mereka adalah pemahaman mengenai praktek kesehatan modern. Hal ini menarik untuk dilihat karena ternyata di masyarakat Cirinten, ada ketakutan yang muncul dari masyarakat akan praktek kesehatan modern. Mungkin karena mereka tidak tahu apa saja yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam prakteknya. Hal ini bisa dilihat dari pernyataan seorang warga berikut:
“selain itu pemikiran masyarakat masih polos-polos, katanya takut di jahit, kalau di paraji itu tidak”

Tentang Dukun di Mata Masyarakat Dalam masyarakat, kesehatan seringkali tidak dapat didefinisikan sebagai sebuah kondisi fisik yang sehat menurut definisi pengobatan modern (baca: kedokteran). Upaya pencarian kesehatan, termasuk dalam hal Kesehatan Ibu dan Anak seringkali sangat terpengaruh dengan kepercayaan, tradisi, norma-norma adat, dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Merujuk pada konsep sehat yang diajukan oleh Durch, dkk., dapat dipahami bahwa seseorang yang tidak mempunyai kemampuan untuk berpartipasi dalam segala kegiatan yang ada dalam masyarakat, dapat dikategorikan tidak sehat alias sakit. Menurut Calhoun (1994 dalam Notosoedirjo, 2002:4), sakit dikategorikan menjadi 3, yaitu disease berdimensi biologis, illness berdimensi psikologis, dan sickness berdimensi sosiologis. Lebih lanjut, Colhoun (ibid) menjelaskan bahwa disease dapat diketahui melalui diagnosis, illness merupakan konsep psikologis yang menunjuk pada perasaan, persepsi, dan pengalaman subyektif seseorang tentang keadaan tubuh, sedangkan sickness merupakan penerimaan sosial terhadap seseorang sebagai orang yang sedang mengalami kesakitan. Berdasarkan tiga dimensi sakit yang disebutkan oleh Colhoun, dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa ada tiga faktor yang dapat menentukan apakah seseorang sedang mengalami kesakitan atau tidak. Tiga faktor tersebut adalah healer (penyembuh), psikologis, dan sosiologis. Ketiga hal tersebut dalam kehidupan sosial masyarakat Cirinten berikut dengan upaya pencarian kesehatan yang mereka lakukan saling terkait satu sama lain. Healer

123

(penyembuh) dalam hal ini dapat diartikan sebagai pihak pelayan kesehatan baik yang bersifat primer (dokter, perawat, bidan, dsb) juga yang bersifat alternatif atau tradisional. Sedangkan faktor psikologis dan sosiologis adalah kedua faktor yang mempengaruhi pilihan masyarakat pada pelayanan kesehatan yang digunakan. Di Kecamatan Cirinten terdapat beberapa jenis pengobat tradisional yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk mendapatkan kesembuhan mulai dari kesakitan yang sifatnya ringan seperti pegal-pegal, sampai dengan yang sifatnya berat seperti patah tulang, bahkan pertolongan melahirkan. Jenis pengobat tradisional di Cirinten dapat digolongkan seperti terlihat pada diagram berikut:

Gurah Paranormal Dukun Sunat Dukun Bayi/ Paraji Patah tulang Pijat Urut 0

1 12 8 46 13 15 10 20 30 40 50

Gambar.3.3.14.Pengobat Tradisional di Kecamatan Cirinten Sumber: Profil Pengobatan Tradisional, Puskesmas Cirinten 2010

Selain itu, dalam hal Kesehatan Ibu dan Anak, masyarakat Cirinten masih percaya pada pertolongan dukun yang dalam bahasa setempat dikenal dengan sebutan Paraji. Kepercayaan ini dilandasi oleh tradisi yang kuat yang telah diwariskan secara turun temurun. Secara tradisi, masyarakat telah memanfaatkan Paraji sejak lama. Menurut data dari Puskesmas Cirinten, saat ini terdapat 61 orang Paraji yang tersebar di 10 desa di Kecamatan Cirinten. Satu hal menarik yang dapat dilihat di sini adalah dari ke-61 orang Paraji tersebut jumlah terbanyak justru di daerah Ibu Kota Kecamatan Cirinten. Di mana akses pada fasilitas umum termasuk fasilitas kesehatan dapat dinikmati secara mudah oleh masyarakat Cirinten. Peta di bawah ini menunjukkan persebaran Paraji berikut jumlahnya di setiap desa di Cirinten:

124

Gambar3.3.15.Sebaran Paraji di Kecamatan Cirinten Sumber: Data Primer

Paraji atau dukun bersalin ini memiliki posisi yang sangat penting dalam masyarakat Cirinten. Mereka adalah orang-orang yang dihormati dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Biasanya paraji adalah seorang yang sudah cukup berumur. Mereka biasanya berumur antara 35 tahun ke atas. Bahkan menurut cerita warga Cirinten, ada seorang Paraji yang saat ini sudah berumur lebih dari 100 tahun. Dalam kepercayaan setempat seseorang dapat menjadi Paraji karena keturunan atau mendapat suatu pengalaman spiritual tertentu. Akan tetapi jika dilihat di Cirinten, saat ini hampir seluruh Paraji yang terdapat di Cirinten adalah keturunan dari Paraji-paraji terdahulu. Biasanya mereka adalah keturunan langsung dari Paraji terdahulu. Berbeda dengan bidan, paraji memanfaatkan cara-cara tradisional untuk memberikan pertolongannya kepada ibu. Cara-cara yang digunakan Paraji untuk memberikan pertolongan lebih memanfaatkan alam dan kemampuan spiritual yang

125

mereka miliki. Dalam prakteknya, Paraji memberikan pertolongan kepada ibu dalam bentuk pijat, jampe-jampe, jamu, dan pemberian jimat-jimat tertentu.
“makan kunir, sambel pupuh (kunyit jahe nasi ditumbuk), ikan asin, nasi tumpeng lauknya ayam, pete bakar, pantangannya pisang ambon, jeruk, buah-buahan gak boleh, jamunya daun kembung, di rebus trus diminumkan itu hari pertama harus ada semuanya, hari ke tiga juga harus ada semuanya”

Dari hasil survey yang dilakukan di Cirinten, berikut bentuk-bentuk pelayanan dukun yang dimanfaatkan oleh masyarakat:
Tabel.3.3.9. Jenis Pelayanan Dukun yang Diterima Masyarakat No 1 2 3 Pijat Ibu Jamu Upacara adat tertentu (jampejampe) Perawatan Bayi Pijat Bayi Sumber: Data Primer Jenis Pelayanan Ya 97% 49.3% 58.2% Tidak 3% 50.7% 41.2%

4 5

91% 22.4%

9% 77.6%

Untuk memanfaatkan jasa dukun, masyarakat harus mengeluarkan sedikit biaya. Berdasarkan pengakuan masyarakat, biaya yang mereka keluarkan berkisar antara Rp. 150.000,- sampai Rp. 250.000,- untuk pertolongan persalinan. Namun biaya tersebut tidak menjadi patokan. Sifat hubungan transaksional antara masyarkat dalam memanfaatkan jasa dukun di sini lebih pada hubungan kekeluargaan dan sukarela. Dukun tidak akan meminta bayaran secara langsung kepada masyarakat yang memanfaatkan jasanya. Akan tetapi masyarakat juga tidak serta merta menggunakan jasa mereka secara gratis. Pasti ada imbalan yang diberikan kepada dukun untuk jasa yang mereka berikan. Seringkali, imbalan itu tidak dibayarkan dalam bentuk uang, akan tetapi dalam bentuk barang, hewan ternak, bahan makanan, atau pakaian dengan nilai yang kira-kira sama dengan nominal tersebut.

126

Tentang Bidan di Mata Masyarakat Bidan adalah ujung tombak pertolongan KIA di Cirinten. Peran bidan sangatlah penting dalam keselamatan ibu dan anak karena mereka lah yang mengetahui bagaimana cara-cara yang tepat untuk menyampaikan pertolongan KIA secara medis kepada masyarakat. Dari segi ketenagaan, saat ini Puskesmas Cirinten telah memiliki tenaga bidan sebanyak 10 orang. Dari 10 orang bidan tersebut, 2 orang bidan ditempatkan di puskesmas, 2 orang bidan ditempatkan di pustu, dan 6 lainnya ditempatkan di desa-desa yang tersebar di seluruh Kecamatan Cirinten. Secara status kepegawaian, 4 orang bidan di Cirinten telah menyandang status sebagai PNS, sedangkan 6 orang bidan lainnya adalah bidan PTT dan praktek. Dari segi jumlah, ketersediaan bidan di Cirinten tidak cukup untuk dapat melayani 10 desa di Cirinten. Sampai saat ini hanya 6 desa yang sudah memiliki bidan, sedangkan 4 desa lainnya tidak. Warga di 4 desa yang tidak memiliki bidan harus rela untuk menempuh perjalanan yang jauh untuk mendapatkan pertolongan dari bidan, baik dari bidan di desa terdekat atau bidan dari Pustu atau Puskesmas. Sedangkan seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, kondisi geografis Cirinten tidaklah mudah untuk ditempuh oleh warga. Keenam bidan yang ditempatkan di desa-desa tinggal dalamrumah-rumah yang menyatu dengan pemukiman penduduk. Dalam kesehariannya mereka berbaur dan berinteraksi dengan warga setempat. Mereka berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari masyarakat dan kelompok-kelompok sosial masyarakat. Singkatnya, mereka menyatu dengan masyarakat. Hal ini adalah modal yang penting di mana kepercayaan masyarakat akan terbangun lebih baik apabila mereka mengenal siapa pelaku penolongnya. Kebanyakan bidan di Cirinten masih berusia sangat muda, sekitar 20 tahunan. Selain itu, beberapa dari mereka juga masih berstatu single atau belum menikah. Ini merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk bidan. Pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah: apakah mereka sudah cukup berpengalaman dalam menolong menolong ibu yang bersalin? Kalau mereka sendiri belum pernah melahirkan, bagaimana mereka bisa menolong orang melahirkan? Itulah tantangan berat yang harus dihadapi bidan-bidan belia ini dalam mengupayakan pertolongan kepada

127

masyarakat. Mereka harus menggaet kepercayaan masyarakat dengan usia mereka yang sangat muda dan status mereka yang masih single. Di sisi lain mereka juga harus berkompetisi dengan dukun-dukun yang ada di wilayah kerja mereka, yang notabene berusia lebih tua dan berpengalaman lebih banyak daripada mereka. Pandangan tersebut muncul berdasarkan pada pengalaman sehari-hari masyarakat. Namun, tidak semua masyarakat menganggap bahwa muda pasti tidak berpengalaman. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang suami berikut:
“tidak ada (kekhawatiran), Cuma percaya saja yang penting istri dan anak selamat, tidak berfikiran yg aneh-aneh”

Secara garis besar, pandangan masyarakat terhadap bidan dibandingkan dengan dukun) dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel. 3.3.10. Persepsi Masyarakat terhadap Bidan dan Dukun Bidan Muda/ kurang berpengalaman Pelayanan medis Pelayanan sesuai jam kerja, menerima panggilan Mahal Lokasi jauh rumah penduduk Ada jaminan keselamatan Paraji Tua/ lebih berpengalaman Full Service

(apabila

Pelayanan 24 Jam, menerima panggilan

Tidak terlalu mahal Lokasi dekat dengan rumah penduduk Tidak ada jaminan keselamatan Sumber: Data Primer

Hubungan Antara Dukun dan Bidan Kemitraan antara dukun dan bidan telah terjalin sejak lama. Menurut data Puskesmas Cirinten, Seluruh dukun yang berjumlah 61 tersebut saat ini telah mendapat pelatihan, dan mereka telah dilengkapi dengan dukun kit. Dan memang program puskesmas mengarahkan bidan untuk membina dukun-dukun tersebut. Pelatihan tersebut dimaksudkan untuk memberi pengetahuan kepada dukun mengenai pertolongan persalinan yang aman.

128

Selain mendapatkan pelatihan secara khusus mengenai KIA, para dukun di Cirinten juga secara khusus dirangkul oleh Puskesmas untuk dapat bekerja sama dengan bidan. Hal ini dimaksudkan untuk dapat melaksanakan program KIA secara lebih responsif kepada masyarakat. Rasio jumlah dukun di Cirinten adalah 6:1, ditambah dengan kondisi geografis yang sulit, sehingga memanfaatkan dukun untuk dapat meningkatkan cakupan pelayanan KIA. Selain itu seperti yang telah diterangkan di atas, dukun mempunyai posisi yang strategis dalam kehidupan masyarakat. Mereka lah yang secara bertahun-tahun telah mendapatkan kepercayaan masyarakat sebelum bidan-bidan datang di cirinten. Akan tetapi tidak semua dukun dapat dirangkul oleh bidan. Pertama karena jumlahnya yang terlalu banyak, dan kedua karena tidak semua dukun mau untuk bekerja sama dengan bidan. Alasan kedua ini ditengarai lebih karena motif ekonomi. Terdapat sebuah anggapan bahwa apabila dukun bekerja sama dengan bidan, maka pendapatan mereka lebih sedikit daripada apabila mereka menolong sendiri. Bentuk kerja sama antara dukun dengan bidan ini sampai saat ini masih bersifat kekeluargaan saja. Belum ada sebuah kesepakatan bersama, atau MoU yang diberlakukan untuk mendukung kerja sama antara dukun dengan bidan. Dalam prakteknya bidan dapat merangkul dukun untuk dapat bekerja sama dengan melakukan pendekatan secara personal. Mereka membuat pendekatan secara intens dan berusaha membuat hubungan baik dengan para dukun. Dari hubungan baik yang terjalin inilah kerja sama antara bidan dan dukun dapat berjalan. Namun, meskipun kerja sama yang dilakukan oleh bidan dan dukun di sini bersifat kekelargaan, hal ini tidak serta merta berarti tidak ada hubungan transaksional diantara keduanya. Pada setiap pertolongan yang dijembatani oleh dukun, bidan memberikan semacam balas jasa kepada dukun. Balas jasa ini diberikan dalam bentuk imbalan berupa uang. Menurut bidan, uang yang diberikan kepada dukun untuk setiap bantuan yang mereka berikan tidak memiliki standar jumlah, dalam arti sukarela. Berapapun yang diberikan oleh bidan, dukun akan menerimanya. Akan tetapi jika dihitung secara rata-rata, nilai yang secara umum diberikan oleh bidan kepada dukun kurang lebih Rp. 50.000,-. Dalam hal pemberian pertolongan KIA—terutama pada saat persalinan—yang diselenggarakan secara bersama antara dukun dengan bidan terdapat pembagian
129

peran yang jelas. Bidan berperan dalam memberikan pertolongan secara medis kepada Ibu, sedangkan dukun berperan dalam fungsi pengawasan, penjagaan, dan perawatan ibu pasca persalinan. Dalam fungsi pengawasannya, dukun berperan dalam mengawasi ibu semenjak masa kehamilan sampai saat-saat menjelang persalinan. Dalam hal ini, biasanya dukun adalah orang yang menghubungi bidan ketika ada seorang ibu dalam lingkungannya yang hendak melahirkan. Mereka biasanya hadir di lokasi di mana ibu akan melahirkan lebih dulu daripada bidan. Selain mengawasi dan menghubungi bidan, mereka juga akan menjaga ibu dalam masa persalinan tersebut. Seperti yang dikatakan oleh suami ibu yang melahirkan berikut:
“…. kalau untuk paraji hanya membantu bidan, sementara saja, tapi yang pasti memanggil bidan, parajinya yang nyuruh manggil bidan, karena sekarang paraji dan bidan kerjasama, untuk masalah obatnya juga bidan yg mengerti…”

Setelah bidan hadir dan pertolongan persalinan telah selesai dilakukan, biasanya dukun akan tinggal untuk merawat ibu. Pada fase ini dukun biasanya meberi pelayanan untuk ibu dan bayi baru lahir. Seperti yang dikatakan oleh seorang bidan berikut:
“…ikut membersihkan bayi, membersihkan ibunya, setelah melahirkan, biasanya ikut bantu masak, bikin jamu,biasanya ikut mendampingi saja”

Pada fase ini, dukun juga menjalankan fungsinya sebagai aktor yang menjalankan adat dan tradisi yang masih dipercaya oleh masyarakat setempat dalam bidang KIA. Di sini pelaksanaan prosesi-prosesi adat seperti yang teah dijelaskan di atas dijalankan oleh ibu dengan bantuan seorang dukun. Jika dilihat memang pola kerja sama antara dukun dan bidan dalam hal ini—lepas dari hubungan transaksional—merupakan sebuah sinergi antara praktek pertolongan modern (baca: medis) dengan praktek pertolongan tradisional dengan memanfaatkan adat dan tradisi yang telah dikenal oleh masyarakat. Pembagian peran dan fungsi diantara keduanya dapat dilihat secara jelas. Namun, bentuk kerja sama seperti yang telah dijelaskan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Secara ideal memang praktek pertolongan bersama ini dijalankan seperti yang telah dijelaskan di atas. Akan tetapi kadang kala miskomunikasi dan miskoordinasi diantara keduanya juga terjadi. Seperti yang diterangkan oleh bidan dalam FGD berikut ini:

130

“ biasanya kepercayaan, ada yg suruh ngasih minyak ke ibunya. kita kasih tahu sudah gak usah pakai minyak sayur. kadang ada jg yg pakai menyan dibakar, asapnya, itu sebelum bersalin” “ biasanya walaupun yg bermitra, kadang ada yg sembunyi2, susah di bilangin”

3.3.5. Peran Tenaga Kesehatan Dalam Pelaksanaan Program Jampersal Sosialiasi Jampersal Jaminan Persalinan (Jampersal) adalah jaminan pembiayaan yang digunakan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan kesehatan nifas termasuk KB pascapersalinan dan pelayanan bayi baru lahir. Sejak diluncurkan pada tahun 2011, Jampersal telah dilaksanakan di seluruh kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Manfaatnya pun sudah dapat dirasakan oleh masyarakat. Begitu pula di Kecamatan Cirinten—atau pada umumnya di Kabupaten Lebak. Jampersal telah dirasakan manfaatnya sejak program ini dilaunching pada tahun 2011. Setiap Ibu hamil yang hendak melahirkan atau memeriksakan kehamilannya dapat memperoleh pelayanan secara gratis di Puskesmas-puskesmas terdekat mereka. Keberadaan Program Jampersal ini diakui meningkatkan cakupan pelayanan KIA. Kecamatan Cirinten sendiri merupakan wilayah dengan cakupan Linakes yang paling rendah dari seluruh Kecamatan di Kabupaten Lebak. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak menunjukkan bahwa pada tahun 2010 cakupan Linakes di wilayah Cirinten adalah 50.4%. Ini berarti bahwa hampir separuh jumlah ibu yang melahirkan di wilayah ini ditangani oleh tenaga lain selain tenaga kesehatan. Data dari Puskesmas Cirinten sendiri menunjukkan bahwa jumlah dukun di wilayah ini cukup banyak. Keberadaan mereka lah yang menjadi kompetitor pelayanan KIA dari tenaga kesehatan. Hal lain diungkapkan oleh Kepala Puskesmas Cirinten. Dia mengatakan bahwa semenjak adanya Jampersal, cakupan Linakes di wilayah kerjanya meningkat tajam.
“Kalau sebelum jampersal itu kita masih di bawah 50%, tepatnya sekitar 35%. Setelah ada jampersal, yang tahun kemarin aja sekitar 60. Banyak peningkatannya. Tapi nggak signifikan, tapi ada lah perubahan. Sedangkan

131

sekarang target kabupaten aja linakes aja sekitar 75…. Tapi secara garis besarnya sebelum ada jampersal dan sesudah adanya ada perubahan bu”.

Meskipun masih belum dapat mencapai standar yang ditetapkan oleh Kabupaten, Kepala Puskesmas Cirinten menyatakan bahwa Jampersal telah membawa perubahan yang cukup baik.

Gambar. 3.3.16.Persalinan Gratis! Sumber: Dokumentasi Peneliti

Berbicara mengenai pengetahuan masyarakat mengenai Jampersal. Meskipun program ini telah diperkenalkan secara meluas oleh pemerintah sejak tahun 2011, Masyarakat Cirinten tidak mengetahui mengenai program Jampersal, yang mereka ketahui hanyalah program persalinan gratis di puskesmas Cirinten. Hal ini disebabkan juga karena masyarakat telah mengenai pelayanan gratis sebelum diluncurkannya program Jampersal. Program jaminan-jaminan lain seperti Jamkesmas, atau kebijakan daerah dalam Jamkesda telah memberikan pelayanan secara gratis untuk KIA kepada masyarakat Cirinten. Sehingga dalam pikiran masyarakat, entah apapun programnya yang penting gratis. Hal ini juga dapat dilihat dari pernyataan pihak Dinkes Kab. Lebak:
“Jamkesmas sdh pasti jampersal, tetapi kalau bukan jamkesmas jampersalnya juga naik. Kmd masy yang punya jamkesmas memanfaatkan jampersal yaitu orang yang nggak punya jaminan. Karena mutlak sesuai dengan pengumuman menkes pada waktu itu, semua akan dijamin persalinannya. Tidak harus orang/ penduduk kita. Bukan penduduk kab kita pun, masukk kab kita , diterima. Sebelah misalnya ada yang pindah ke bekasi, ttp pada saat melahirkan pindh ke orang tuanya disini, ya nggak apa-apa”.

132

Program Jampersal sendiri sepertinya kurang disosialisasikan berdasarkan namanya. Seperti terlihat pada gambar di atas, salah satu bentuk sosialisasi Jampersal di wilayah Cirinten adalah dengan memasang spanduk besar bertuliskan pelayanan persalinan gratis. Akan tetapi dalam spanduk tersebut tidak dituliskan pendanaan apa yang digunakan untuk menggratiskan pelayanan tersebut. Sosialiasi mengenai Jampersal sebenarnya telah dilakukan sejak program ini diluncurkan. Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak telah mensosialiasikan program ini kepada seluruh Puskesmas di wilayah Lebak. Kepala Dinas Kesehatan menyatakan bahwa Mereka juga telah membuat beberapa buah instruksi seperti pemasangan spanduk persalinan gratis, sosialisasi melalui posyandu, dan pemasangan spanduk di beberapa BPS yang dapat melayani persalinan dengan menggunakan Jampersal.

Pelaksanaan Pelayanan KIA dengan ProgramJampersal Dari sisi pelaksanaan program pendanaan Jampersal, pihak Puskesmas Cirinten mengaku sangat senang dengan keberadaan program ini. Program ini dapat membantu masyarakat dengan segala kesulitannya. Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Puskesmas Cirinten berikut:
“Kalau jampersal sebenarnya bagus untuk masyarakat. Cuma untuk puskesmas yang menjadi kendala adalah jarak tempuh. Jarak tempuh ke fasilitas kesehatan. Jadi masyarakat, udah lah daripada jauh-jauh mending ke dukun”.

Namun keluhan mengenai pelaksanaan program ini muncul lebih pada penyampaian pelayanan KIA. Seperti yang telah dijelaskan di atas, berbagai kendala seperti kondisi geografis, kepercayaan masyarakat terhadap adat termasuk dukun, kondisi ekonomi masyarakat, dan ketersediaan tenaga kesehatan masih melingkupi pelaksanaan pelayanan KIA di wilayah ini. Sebagai puskesmas yang masih cukup baru, sebenarnya Puskesmas Cirinten memiliki pengelolaan dan fasilitas yang cukup baik. Namun keberadaan puskesmas ini dalam melaksanakan pelayanannya tidak terlepas dari permasalahan yang melingkupinya.

133

Pengelolaan Pelayanan KIA Menggunakan Jampersal Dalam hal pengelolaan Jampersal, pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak menunjuk bagian KIA dan KB sebagai verivikator laporan Jampersal dari Puskesmas. Sedangkan pengelolaan dana berada di bawah tanggung jawab bendahara Dinas Kesehatan. Secara prosedural pengelolaan Jampersal di Kabupaten Lebak telah mengikuti arahan sesuai yang tercantum dalam Juknis Jampersal. Pada tingkat Puskesmas, dana Jampersal yang mengalir di Cirinten dikelola oleh Puskesmas secara langsung dengan pemegang tanggung jawab adalah Bidan Koordinator. Pihak Puskesmas tidak memiliki keluhan apapun dalam hal pengelolaan dana. Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Puskesmas berikut:
“Kalau prosedurnya saya kira bagus sih bu. Prosedur untuk klaim-klaiman tidak ada masalah”

Permasalahan dalam hal pengelolaan ini kembali muncul karena kurangnya tenaga di Puskesmas ini. Kurangnya tenaga kesehatan di Puskesmas ini memang menjadi sebuah hambatan baik dalam pelayanan secara langsung kepada masyarakat ataupun dalam hal manajerial puskesmas. Dalam hal ini bidan koordinator sebagai bendahara Jampersal tingkat Puskesmas harus menanggung 3 macam beban tanggung jawab yang berbeda.
“Tentu ada bu, seharusnya ada pengelola khusus. Kalau di kita ini masih ada tugas rangkap. Jadi ada satu orang petugas yang mengelola 3 program. Seperti bidanbidan kan seharusnya khusus. Sedangkan di kita satu bidan itu sebagai bendahara, koordinator bidan, dan pengelola jampersal. Seharusnya kan ada tugas khusus.. Ibu Ida, ya bendahara Jampersal, ya penanggung jawab pustu, ya koordinator bidan”

Di tingkat Puskesmas Cirinten, hampir tidak ada kebijakan secara khusus yang diberlakukan terkait penggunaan dana Jampersal. Dari setiap tindakan persalinan yang dilakukan, seorang bidan hanya perlu menyisihkan dana sebesar Rp. 100.000,- untuk manajemen Puskesmas. Selebihnya dana tersebut menjadi hak bidan sebagai imbalan dari jasa pertolongannya. Pengeluaran lain dari dana tersebut lebih bersifat sukarela (bidan biasanya memberikan Rp. 50.000,- kepada dukun).

134

3.3.6. Hambatan Dan Dukungan Dalam Pelaksanaan Jampersal Hambatan Kondisi Geografis yang sulit. Kondisi geografis merupakan kendala utama bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan KIA dengan menggunakan Jampersal. Pada beberapa bagian dari Kecamatan Cirinten akses jalan dan transportasi memang sudah lancar. Jalan protokol Kecamatan memang sudah teraspal dan terawat dengan baik. Akan tetapi kemudahan itu tidak merata. Sebagian besar wilayah Cirinten masih sedikit sekali tersentuh pembangunan. Jalan-jalan di desa-desa yang tidak dilewati jalan protokol masih berbatu-batu yang sebenarnya hanya layak dijadikan jalan setapak. Sehingga penduduk yang tinggal di sana mengalami kesulitan untuk mengakses transportasi yang lancar. Hal ini mengakibatkan akses ke pelayanan kesehatan juga menjadi sulit. Masyarakat mengalami kesulitan untuk mendatangi pusat-pusat pelayanan kesehatan ataupun lokasi di mana bidan tinggal, sebaliknya petugas kesehatan juga mengalami kesulitan untuk mendatangi masyarakat di tempat tinggal mereka. Oleh karena itu, pelayanan KIA dengan menggunakan Jampersal sulit untuk dilaksanakan di fasilitas kesehatan. Sarana Penerangan dan Komunikasi yang kurang lancar. Kondisi geografis yang sulit tersebut diperparah dengan adanya kendala pada sarana listrik dan jaringan komunikasi yang kurang lancar. Di Cirinten, hanya daerah yang dekat dengan Ibu Kota Kecamatan yang dapat menikmati sarana listrik dan komunikasi secara lancar. Masih terdapat beberapa daerah yang belum bisa menikmati kedua sarana ini dengan lancar. Seperti wilayah desa Parakanlima atau Badur. Pada kedua desa tersebut sarana listrik belum secara merata dapat dinikmati masyarakat. Masyarakat di sana juga tidak dapat menggunakan telepon mereka—baik seluler maupun jaringan kabel—karena belum ada jaringan yang masuk ke wilayah tersebut. Registrasi Kependudukan. Salah satu penghambat lain yang muncul untuk Pelayanan KIA dengan menggunakan jampersal adalah registrasi kependudukan. Dalam hal ini kepemilikan atau pembaruan Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP.) Banyak penduduk Cirinten yang masih belum memiliki KK atau KTP. Padahak kepemilikan KK atau KTP sangat diperlukan sebagai syarat untuk mendapatkan Pelayanan KIA dengan memanfaatkan Jampersal.
135

Kepercayaan pada adat yang masih kuat. Dalam pandangan masyarakat, pemberlakuan adat pada saat kehamilan, persalinan, dan pasca persalinan sangat penting untuk dilakukan. Masyarakat masih memiliki kepercayaan yang sangat kuat pada bentuk-bentuk tradisi yang telah diajarkan secara turun-temurun oleh orangorang tua mereka. Beberapa tradisi itu memang tidak memiliki pengaruh yang besar pada sampainya pelayananan KIA secara medis, khususnya dengan menggunakan Jampersal. Akan tetapi terdapat beberapa tradisi juga yang dapat menghambat pelayanan KIA secara medis. Salah satunya adalah tradisi Nyandak. Seperti yang telah dijelaskan di atas, pada tradisi Nyandak ini, seorang ibu harus tinggal di dalam rumah dalam posisi bersandar selama 40 hari. Hal ini dapat menyebabkan terhambatnya pelayanan KIA pada waktu masa nifas untuk ibu. Selain itu, tradisi Nyandak ini dalam pandangan medis juga dianggap berbahaya bagi kesehatan ibu. Kepercayaan terhadap dukun (Paraji). Masyarakat Cirinten memiliki pandangan bahwa pada masa kehamilan atau persalinan, dukun adalah penolong yang diharapkan selalu ada untuk mereka. Meskipun sebagian besar masyarakat sudah memiliki pemahaman bahwa persalinan yang aman adalah persalinan yang ditolong oleh bidan, tetapi kehadiran dukun pada waktu persalinan tetap diharapkan. Dukun adalah orang pertama yang akan dihubungi oleh keluarga ketika seorang ibu akan melahirkan. Sebelum bidan. Sehingga sering sekali terjadi kasus ketika bidan datang untuk menolong ibu, anak sudah lahir dengan bantuan dukun. Selain karena jumlahnya lebih banyak daripada bidan, dari segi usia dan pengalaman memang dukun di Cirinten dianggap lebih mumpuni daripada bidan-bidan yang masih sangat muda. Selain itu, mereka memiliki posisi sosial yang penting juga dalam masyarakat. Sehingga keyakinan masyarakat pada pertolongan dukun masih sangat kuat. Selain itu, kondisi geografis dengan segala kesulitan yang muncul bersamanya juga menjadi sebuah faktor yang menyebabkan banyaknya masyarakat yang masih memilih menggunakan jasa dukun daripada bidan. Untuk mereka dukun lebih bisa diharapkan untuk datang setiap waktu karena dekat dengan tempat tinggal mereka dan bisa dipanggil kapanpun mereka mau, entah siang atau malam.

136

Dukungan Kepercayaan yang tinggi pada tokoh masyarakat. Tokoh masyarakat memiliki peran yang sentral dalam kehidupan sehari-hari di Cirinten. Mereka adalah pemimpinpemimpin yang terpilih melalui proses demokratis atau mendapat status sosial tersendiri karena modal sosial yang mereka miliki. Dalam hal ini, perkataan dari tokoh masyarakat menjadi penting untuk diperhatikan. Termasuk dalam pelaksanaan pelayanan KIA dengan menggunakan Jampersal. Dengan posisi mereka yang bagus dalam masyarakat, mereka bisa lebih mengarahkan masyarakat untuk lebih memanfaatkan pelayanan KIA dari tenaga-tenaga kesehatan di Cirinten. Hubungan kekerabatan yang erat antar masyarakat.Dalam ruang lingkup kehidupan pedesaan seperti di wilayah Cirinten, hubungan kekerabatan antar sesama anggota masyarakatnya sangat kuat. Bentuk resiprositas sosial dan dasar hubunganhubungan yang membentuk harmoni dalam masyarakat sangatlah penting. Bentukbentuk ini muncul dalam gotong royong dan sikap saling membantu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Cirinten. Hal ini bisa menjadi suatu hal yang positif dalam pelaksanaan pelayanan KIA dengan menggunakan Jampersal. Ketika kendala geografis, komunikasi, dan akses transportasi yang terbatas muncul sebagai sebuah hambatan, asas hubungan kekerabatan dalam kehidupan masyarakat Cirinten dapat menjadi sebuah jawaban akan hal tersebut. Hubungan baik antara Paraji-Bidan. Meskipun Paraji (dukun) kadang dianggap sebagai penghambat sampainya pelayanan medis KIA kepada masyarakat, namun hal lain terjadi di Cirinten. Terdapat sebuah sisi lain dari hubungan yang terjalin antara dukun dan bidan. Di Cirinten, beberapa Paraji sudah bekerja sama dengan bidan. Kerja sama mereka bisa dikatakan terjalin dengan baik. Dalam hal ini, Paraji sering menjadi ujung tombak pertolongan kepada ibu terutama pada saat persalinan. Mereka adalah orang-orang yang sering menghubungi bidan ketika hendak menolong persalinan. Bentuk kerja sama antara bidan dan paraji ini sampai saat ini masih bersifat kekeluargaan dan didasarkan atas hubungan dekat antara keduanya. Kerja sama ini akan menjadi lebih baik apabila bisa lebih dilanggengkan dalam bentuk nota kesepakatan bersama (MoU).

137

3.4 Puskesmas Citangkil, Kota Cilegon Kota Cilegon merupakan salah satu kota di Propinsi Banten yang berada di ujung barat laut pulau jawa, dan terletak di tepi Selat Sunda. Kota ini dulunya merupakan bagian dari wilayah kabupaten Serang dan sejak tanggal 27 april 1999 ditetapkan sebagai kotamadya dan selanjutnya menjadi kota sejak tahun 2001. Kota Cilegon termasuk salah satu kota dengan cakupan penggunaan jaminan persalinan rendah. Data yang tersedia di Dinas Kesehatan kota Cilegon , sebagian besar cakupan persalinan dilakukan oleh tenaga kesehatan. Dengan melakukan konsultasi dengan kepala Dinas Kesehatan kota Cilegon didukung data dan pengalaman pelaksana program Kesehatan Ibu dan Anak serta penanggungjawab maka ditetapkan kecamatan Citangkil sebagai lokasi penelitian. 3.4.1 Gambaran Umum Kota Cilegon Kota Cilegon dikenal sebagai kota industrI di kawasan Banten bagian barat dan merupakan pintu gerbang utama yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Sumatera. Dengan Luas Wilayah 175,50 Km², Kota Cilegon terbagi dalam 8 Kecamatan dan 43 Kelurahan. Secara geografis, Kota Cilegon terletak pada koordinat 5º52’24” - 6º04’07” Lintang Selatan dan 105º54’05” - 106º05’11” Bujur Timur yang dibatasi oleh :     Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Pulo Ampel dan Kecamatan Bojonegara Kabupaten Serang. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Mancak dan Kecamatan Anyar Kabupaten Serang Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Sunda Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kramatwatu dan Kecamatan Waringin Kabupaten Serang Secara umum keadaan morfologi Kota Cilegon terbagi atas tiga kelompok besar yaitu morfologi mendatar, morfologi perbukitan dan morfologi perbukitan terjal. Morfologi dataran pada umumnya terdapat diwilayah timur kota dan wilayah pantai barat kota. Morfologi perbukitan landai sedang terdapat di wilayah tengah kota. Sedangkan morfologi perbukitan terjal terdapat di sebagian wilayah utara dan

138

sebagian kecil wilayah selatan kota.Wilayah dataran merupakan wilayah yang mempunyai ketinggian kurang dari 500 meter di atas permukaan laut sampai wilayah pantai dengan ketinggian 0-1,0 meter diatas permukaan laut. Wilayah perbukitan terletak pada wilayah yang mempunyai ketinggian minimum 50 meter di atas permukaan laut. Dibagian utara kecamatan Pulomerak, wilayah puncak Gunung Gede memiliki ketinggian maksimum 551 meter. Berdasarkan 2011, hasil estimasi penduduk Dinas Kesehatan Kota Cilegon tahun

jumlah penduduk Kota Cilegon sebesar 378.886 orang dengan jumlah

penduduk miskin sebanyak 91.867 orang (24,3%) tidak terjadi perubahan dari tahun sebelumnya. Terdiri dari 194.096 laki-laki dan 184.790 perempuan dengan rasio jenis kelamin 95 artinya jumlahpenduduk laki – laki lima persen lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan atau setiap 90 perempuan terdapat 95 laki – laki (BPS kota Cilegon, 2011). Jumlah Penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini :
Perempuan Laki-laki

Gambar 3.4.1.Piramida Penduduk Kota Cilegon tahun 2011 Sumber: Profil Dinkes Kota Cilegon, 2011

Dari gambar 1 di atas terlihat bahwa ciri penduduk Kota Cilegon bersifat ekspansive karena sebagian besar penduduk berada dalam kelompok umur muda. Jumlah penduduk laki-laki dan wanita di tiap golongan umur hampir sama. Penduduk laki-laki Kota Cilegon paling banyak berada di kelompok umur 0-4 tahun sedangkan wanita paling banyak berada pada golongan umur 25-29 tahun sedangkan jumlahpenduduk paling sedikit beradapada golongan umur 75 + tahun baik penduduk laki-laki maupun wanita.
139

Berdasarkan data dari BPS Kota Cilegon memiliki luas wilayah 175,51 km2 dan kepadatan penduduk sebesar 2159Jiwa per km2. Dari 8 kecamatan yang ada, kecamatan Citangkil menempati urutan pertama dalam jumlah penduduk terbesar namun berada di posisi ketiga untuk luas wilayah, sedangkan Ciwandan menempati urutan pertama yang memiliki luas wilayah terbesar namun berada di urutan kelima untuk jumlah penduduk terbesar. Kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk yang paling besar berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cilegon adalah kecamatan Jombang yakni sebesar 5291 Jiwa per km2 sedangkan yang paling rendah berada di kecamatan Ciwandan yang hanya sebesar 838Jiwa per km2(Tabel ..).
Tabel. 3.4.1. Luas Wilayah, Kepadatan Penduduk Kota Cilegon Menurut Kecamatan Tahun 2011 No Kecamatan Luas Wilayah ( Km² ) 1 2 3 4 5 6 7 8 Pulomerak Grogol Purwakarta Jombang Cibeber Cilegon Citangkil Ciwandan TOTAL 19,86 23,38 15,29 11,55 21,49 9,15 22,98 51,81 175,51 22,261 19,992 20,165 31,328 23,860 20,360 33,706 22,424 194,096 21,296 18,991 18,758 29,785 23,287 19,561 32,119 20,993 184,790 43,557 38,893 38,923 61,113 47,147 39,921 65,825 43,417 378,886 Jumlah Penduduk Laki-laki Perempuan Total Kepadatan Penduduk Per Km2 2193 1667 2546 5291 2194 4363 2864 838 2159

Sumber : BPS, 2011, Profil Dinkes Cilegon, 2011

Fasilitas Kesehatan dan Tenaga Kesehatan Jumlah tenaga kesehatan yang ada di Dinas Kesehatan Kota Cilegon sebanyak 406 orang yang terdiri dari dokter umum 30 orang, dokter gigi 21 orang, Sarjana Kesehatan Masyarakat 33 orang, Apoteker 6 orang, Bidan 120 orang, Perawat 13 orang, perawat gigi 8 orang, sanitarian 14 orang, nutrisionist 18 orang, asisten

140

apoteker 9 orang, analis 10 orang dan rekam medis sebanyak 7 orang. Penempatan bidan ke puskesmas terutama di daerah yang jauh perlu dipertimbangkan dengan kompetensi disamping mempunyai keberanian karena beberapa bidan yang menempuh pendidikan bidan karena disuruh orang tua, sehingga tidak bisa melaksanakan tugas dengan baik (wawancara dengan Dinas Kesehatan Kota Cilegon). Pada tahun 2011 jumlah rumah sakit di Kota Cilegon sebanyak 5 unit, yang terdiri atas rumah sakit umum berjumlah 1 unit dan rumah sakit khusus (RSK) sebanyak 3 unit, dan rumah sakit yang dikelola oleh swasta sebanyak 1 unit. Jumlah puskesmas sebanyak 8 unit yang terdiri dari 3 unit puskesmas perawatan dan 5 unit puskesmas non perawatan. Untuk meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat di wilayah puskesmas, didukung oleh 8 unit puskesmas pembantu (pustu). Di samping itu juga tersedia 358 posyandu dengan rasio posyandu terhadap jumlah balita adalah 0.92 per 100 balita serta 30 unit poskesdes. Kesehatan Bayi dan Balita Bayi. Dari laporan jumlah kematian bayi yang disampaikan dari masing-masing Puskesmas, dapat diperkirakan bersumber dari fasilitas pelayanan kesehatan ( facility based) dan dari laporan masyarakat atau kader (community based).Pada tahun 2011 AKB Kota Cilegon menempati 0.01 % dari jumlah penduduk dengan jumlah kematian sebanyak 38 Bayi atau 4.84 / 1000 KLH terjadi penurunan jumlah kasus dari 43 bayi atau 6.16 / 1000 KLH.pada tahun 2010. Dari jumlah kematian seluruh bayi tersebut dengan penyebab kematian paling banyak di Kecamatan Pulomerak dengan jumlah 10 Bayi terdiri dari 5 bayi laki – laki dan 5 bayi perempuan dan penyakit yang menyebabkan kematian bayi adalah BBLR, asfiksia, dll. Dari hasil pelaporan dari 8 puskesmas se kota Cilegon dan hasil pelacakan di 4 rumah sakit ternyata semua kematian neonatus, bayi dan balita di kota Cilegon meninggal di rumah sakit. Pada tahun 2010 AKB kota Cilegon menempati 0.012 % dari jumlah penduduk dengan jumlah kematian sebanyak 43 bayi atau 6.16 per 1000KLH terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya sebanyak 2.31 per 1000 KLH atau 17 kasus kematian bayi.

141

Pulomerak Grogol

1 12

7 5

11 1 3

Purwakarta Jombang Cibeber Cilegon Citangkil Ciwandan

3

Gambar. 3.4.2.Presentase Kematian Bayi di Kota Cilegon Tahun 2010

Angka Kematian Balita (AKABA). Angka Kematian Anak Balita (0-4 th) adalah jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai umur 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1000 kelahiran hidup. Angka kematian anak balita merepresentasikan peluang terjadinya kematian pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun Millenium Development Goals (MDGs) menetapkan nilai normative AKABA yaitu sangat tinggi dengan nilai > 140, tinggi dengan nilai 71-140, sedang dengan nilai 20-70 dan rendah dengan nilai < 20. AKABA di Kota Cilegon tahun 2011 sebesar 46 atau 5.86 per 1000 KLH terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar 5.58 per 1000 KLH atau 39 kasus

kematian. Angka ini didapat berdasarkan data kematian balita yang dilaporkan. Kematian Ibu Bersalin (AKI). Angka Kematian Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indicator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu sebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan ataukasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa

memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup.

142

AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan. Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara umum, pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan. Sensitifitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikan indicator keberhasilan pembangunan sector kesehatan. Pertolongan persalinan salah satu indikator dari pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah pertolongan persalinan jadi indikator ini sangat penting dalam menilai persalinan yang aman di daerah pedesaan pada umumnya pertolongan persalinan ditolong oleh dukun terlatih. Kematian ibu hamil biasanya disebabkan oleh kekurangan gizi, melahirkan, keguguran biasanya juga disebabkan oleh Suspect Ruptura Uteri, perdarahan, partus lama, resiko tinggi akibat umur, eklamasi, serta Post Sectio. Rasio kematian ibu melahirkan di kota Cilegon tidak dapat dilakukan perhitungan karena angka kelahiran di Kota Cilegon kurang dari 100.000 kelahiran hidup, namun demikian bila diasumsikan maka angka AKI Kota Cilegon tahun 2011 adalah 76.50 atau 6 kasus kematian dari 7843 KLH, terjadi penurunan dart tahun 2010 adalah 121 atau 9 kasus kematian dari 6982 KLH.

3.4.2. Gambaran Umum Puskesmas Citangkil Hasil kajian data dan konsultasi dengan kepala Dinas Kesehatan kota Cilegon dan stafnya untuk menentukan lokasi penelitian dengan kriteria puskesmas dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang masih rendah, maka terpilih puskesmas Citangkil yang berada di wilayah kecamatan Citangkil sebagai lokasi penelitian.

143

Gambar 3.4.3.Peta Wilayah Kecamatan Citangkil

Kecamatan Citangkil merupakan wilayah kerja Puskesmas Citangkil, termasuk daerah pemukiman yang padat penduduk. Pada tahun 2011 jumlah penduduk 64.930 jiwa dengan jumlah KK kurang lebih16.008 KK dan laju pertambahan penduduknya 3,24 %. Sebagian besar penduduk memeluk agama Islam, dengan mata pencaharian sebagian besar sebagai petani dan buruh pabrik.Pendidikan rata-rata penduduk adalah Lulus SMP.Saat ini upaya-upaya pengembangan kesehatan masih cenderungsulit

144

diterima oleh masyarakat, karena tingkat kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan bidang kesehatan masih kurang. Puskesmas Citangkil terletak di daerah industri di Kecamatan Citangkil, mempunyai luas wilayah 2,177,36 Ha dan dengan batas wilayah sebagai berikut :     Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Selatan Sebelah Barat : Kecamatan Purwakarta : Kecamatan Cilegon : Kecamatan Mancak KabupatenSerang : Kecamatan Ciwandan

Wilayah kerja UPTD Puskesmas Citangkil adalah Kecamatan Citangkil yang terdiri dari 7 Kelurahan yaitu :        Kelurahan Deringo Kelurahan Samangraya Kelurahan Lebak Denok Kelurahan Tamanbaru Kelurahan Kebonsari Kelurahan Warnasari Kelurahan Citangkil : Luas 263,25 Ha : Luas 293,9 Ha : Luas 309,11 Ha : Luas 273,9 Ha : Luas 225,16 Ha : Luas 652,20 Ha : Luas 159,84 Ha

Kecamatan Citangkil lebih dari separuh wilayahnya merupakan daerah perkotaan, seperti daerah lain memiliki permasalahan social ekonomi. Sebagian besar wilayah Kecamatan Citangkil adalah daerah pemukiman dan perkantoran dinas-dinas maupun instansi pemerintah lainnya. Ada beberapa industri besar di Kecamatan citangkil yng berdampak merugikan di bidang kesehatan yaitu polusi udara yang dapat menyebabkan tingginya jumlah kejadian penyakit saluran pernafasan di masyarakat. Sarana air bersih, jamban keluarga, sarana pembuangan air limbah masih merupakan masalah di Kecamatan Citangkil. Wilayah kecamatan Citangkil dapat dilalui dengan kendaraan roda dua dan empat, hal ini merupakan suatu keuntungan karena baik petugas kesehatan, sarana kesehatan maupun masyarakat umum dapat menjangkau semua wilayah Kecamatan Citangkil, yang tentu saja berdampak positif bagi pencapaian dan keberhasilan program kesehatan.

145

Angka Kematian Dan Angka Kesakitan Berdasarkan data yang didapatkan dari program Kesehatan Ibu dan Anak, terdapat kelahiran hidup sebanyak 1306 bayi, tanpa ada angka kelahiran mati, dan pada tahun 2011 didapatkan kematian sebanyak 4 bayi (angka kematian sebesar 3,1 per 1.000 kelahiran hidup) dan 4 balita (angka kematian sebesar 3,1 per 1.000 kelahiran hidup). Sedangkan angka kematian ibu sebesar 76,6 per 100.000 kelahiran hidup karena didapatkan 1 orang ibu yang meninggal karena perdarahan. Angka kesakitan menurut pola penyakit semua golongan umur di Puskesmas Citangkil pada tahun 2011 adalah penyakit ISPA, Faringitis akut, myalgia, gastritis dan duodenitis, sakit kepala, dermatistis lainnya, hipertensi esensial primer, tonsillitis akut, konjungtivitis dan suspek TB paru. Kesehatan ibu dan anak perlu menjadi perhatian untuk menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi sehingga target MDGs tercapai, program KIA berusaha untuk meningkatkan cakupan kunjungan K1, K4, N1, persalinan oleh tenaga kesehatan, penanganan komplikasi obstetri, penanganan neonatus resti, penanganan balita sakit dengan manajemen terpadu balita sakit (MTBS), kunjungan anak prasekolah (APRAS) dengan melihat pertumbuhan dan perkembangannya (SDIDTK) dan kunjungan ke SMP/SMA untuk memberikan penyuluhan kesehatan reproduksi. Dengan laju pertumbuhan penduduk Kecamatan Citangkil sebesar 3,24 %, tugas Puskesmas dan lintas sektor terkait menjadi lebih berat untuk mensukseskan KB, tetapi dengan dukungan pemerintah Pusat dengan program Jamperrsal diharapkan dapat lebih meningkatkan kesadaran masyarakat untuk ber-KB. Promosi Kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan

masyarakat, merubah cara pandang masyarakat, dan prilaku masyarakat untuk menjaga dan melindungi diri sendiri maupun keluarganya agar selalu tetap sehat. Dalam pelaksanaannya dilakukan melalui upaya petugas Puskesmas seperti penyuluhan kelompok dan massa, talkshow di radio, promosi kesehatan pada website Puskesmas (www.puskesmas-citangkil.blogspot.com), penjaringan kesehatan anak SD dan setingkat pada usaha kesehatan sekolah (UKS) dan usaha kesehatan gigi sekolah (UKGS) yang sudah mencapai 100 %. Kegiatan yang bersumber daya masyarakat

146

seperti Kelurahan Siaga Aktif termasuk dalam program ini, Kecamatan Citangkil mempunyai 5 Kelurahan Siaga Aktif dari 7 kelurahan yang ada (71,43 %), kelurahan SamangRaya dan kelurahan Lebak Denok hanya merupakan Kelurahan Siaga karena belum mempunyai sarana pelayanan kesehatan yang buka tiap hari kerja. Program pengobatan di Puskesmas Citangkil dilakukan di dalam gedung yaitu BP Umum, BP Gigi, KIA/KB, MTBS, Laboratorium, Obat, dan di luar gedung yaitu Posyandu, Pusling, Posbindu, Pos UKK, Poskesdes, Polindes, Pustu, Poskestren. Jumlah kunjungan rawat jalan Puskesmas Citangkil tahun 2011 adalah sebanyak 77890 kunjungan, meningkat dibandingkan tahun 2010 yaitu 74819 kunjungan.

Gambar 3.4.4.Puskesmas Citangkil (kiri) dan Pondok Kesehatan (kanan) Di samping puskesmas induk, puskesmas Citangkil mempunyai 1 unit puskesmas pembantu, pos persalinan kelurahan 2 unit, pos kesehatan kelurahan (poskesdes) 2 unit, pos kesehatan pesantren 2 unit, posbindu 10 unit, puskesmas keliling 10 unit, pos upaya kesehatan kerja 3 unit, posyandu 59 unit, dokter swasta 4 unit, bidan praktek swasta 35 buah, Balai pengobatan 5 unit dan RS bedah 1 unit. Pada tahun 2011, rasio jumlah tenaga kesehatan terhadap penduduk di puskesmas Citangkil berturut sebagai berikut dokter umum (1:32465), Dokter gigi (1:32465), Bidan (1 : 4329), perawat (1 : 4329), Tenaga Gizi (1 : 32465), Tenaga Sanitarian (1 : 64930), Tenaga Kesehatan Masyarakat (1 : 32465), Asisten Apoteker (1:64930), Tenaga non kesehatan (1 : 8116). Pembiayaan kesehatan Puskesmas bersumber dari anggaran Daerah dan Pusat, yang bersumber dari anggaran Daerah adalah APBD Kota Cilegon dan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda), sedangkan yang bersumber dari Pusat yaitu Bantuan

147

Operasional Kesehatan (BOK), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), dan Jaminan Persalinan (Jampersal). Anggaran kesehatan Puskesmas Citangkil tahun 2011 sebagai berikut: APBD Kota Cilegon (Rp. 185.797.000,-), Jamkesmas (Rp. 102.041.000,), BOK (Rp. 88.000.000,-). Pembiayaan kesehatan Puskesmas baik dari Daerah

maupun Pusat sangat mendukung pelaksanaan kegiatan Puskesmas yang bersifat promotif dan preventif, yang dilengkapi juga oleh kegiatan kuratif dan rehabilitatifnya. Dari tingkat social ekonomi, masyarakat di wilayah puskesmas Citangkil banyak yg tidak mampu, bekerja sebagai ojek atau bekerja sebagai buruh bangunan. Jika bekerja di perusahaan semua biaya kesehatan ditanggung oleh perusahaan termasuk biaya persalinan tetapi dibatasi sampai anak kedua. Sehingga jika melahirkan anak ketiga, dengan adanya jampersal menggunakan biaya jampersal. Kebanyakan

masyarakat di wilayah puskesmas Citangkil adalah muslim. Biasanya untuk mempercepat proses melahirkan menggunakan rumput Fatimah, diminum agar cepat lahir. Tidak jauh berbeda degan kota Cilegon, masalah kekerabatan di wilayah puskesmas Citangkil, jika ada masyarakat yang sakit diantarkan kadernya. Keberadaan kader di wilyah puskesmas Citangkil disamping mengantarkan ibu yang akan melahirkan juga melakukan sosialisasi dengan lurah, camat dan kadang-kadang

keluarganya konsultasi dengan pihak Dinas kesehatan tentang keadaan bayinya. Pendidikan di kecamatan Citangkil cukup tinggi, Dari 16.791 penduduk yang berusia 10 tahun ke atas, 638 orang berpendidikan S1, 570 orang tamat Diploma, 6008 orang tamat SMA, namun demikian juga terdapat 2.732 orng tidak/belum pernah sekolah. Sebagian besar penduduk kecamatan Citangkil beragama Islam, tidak berbeda dengan kecamatan lain yang ada di kota Cilegon yang dikenal dengan kota yang mempunyai banyak masjid . Masalah Kesehatan KIA dan Cakupan Pelayanan KIA/KB Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di puskesmas Citangkil tahun 2011, terdapat 92,40%. Kunjungan ibu hamil (K1) sebesar 101%, K4 94,98%, pelayanan ibu nifas 93,11%.

148

Sarana dan prasarana yang ada di puskesmas Citangkil yang merupakan puskesmas non perawatan memiliki 2 unit pos kesehatan desa (poskesdes), 59 buah posyandu aktif, terdapat 7 buah desa siaga dan yang termasuk desa siaga aktif sejumlah 5 buah. Dengan jumlah tenaga kesehatan dokter umum 23 orang, dokter gigi 2 orang, bidan 15 orang, perawat 15 orang, tenaga kefarmasian 1 orang, tenaga gizi 2 orang, tenaga kesmas 2 orang dan tenaga sanitasi 1 orang. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Cilegon, puskesmas Citangkil paling rendah cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan. Pada tahun 2012 mulai bulan Januari sampai dengan Juni 2012 terdapat 130 persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan, di samping itu terdapat 5 orang ibu bersalin yang ditolong oleh dukun. Akses ke pelayanan kesehatan tidak menjadi masalah karena bisa dijangkau oleh roda dua dan roda empat.

3.4.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak Pandangan tentang Ibu Hamil, Bersalin, Bayi/Anak Menurut suami, perhatian terhadap isteri yang hamil berbeda jika dibandingkan dengan bila isteri tidak hamil. Suami menjadi lebih perhatian kepada isteri mulai dari pembagian tugas pekerjaan di rumah (pekerjaan yang berat dikerjakan oleh suami), makanan lebih diperhatikan gizinya serta mengantar isteri bila pergi ke puskesmas untuk memeriksakan kehamilannya serta mengantar untuk bersalin. pengakuan salah seorang tokoh masyarakat:
Bapak-bapak disini (wilayah Citangkil) sangat peduli sekali, kebetulan yang punya transportasinya pak RT jadinya sangat peduli untuk mngantarkan ke puskesmas yang jaraknya jauh, ada juga yang bilang kalau lagi hamil suaminya tambah sayang

Menurut

Kepercayaan yang Masih Berkembang Kehamilan. Pada usia kehamilan 3 bulan atau 7 bulan biasanya dibuatkan bubur atau rujak buah. Kepercayaan turun temurun yang masih ada, ibu hamil membawa gunting dan silet yang diperoleh dari orang tua dengan maksud agar tidak ada yang mengganggu. Ada juga kepercayaan tali hitam yang sebelumnya diberi doa dan diletakkan di perut istri. Tali tersebut pemberian orang tua atau paraji/dukun.

149

Kepercayaan tersebut masih ada tetapi tidak semuanya tergantung daerahnya karena sekarang sudah modern. Pada usia kehamilan ibu 7 bulan biasanya juga dilakukan acara selamatan, besar kecilnya acara tersebut biasanya tergantung dari kemampuan masing-masing pihak keluarga. Pada acara tujuh bulanan tersebut menurut tradisi dibuatkan bubur lolos. Berbeda dengan bentuk bubur pada umumnya, tekstur dan warna bubur lolos mirip dengan dodol Betawi baik tekstur maupun warnanya. Dengan rasa legit gurih, menjadikan bubur lolos menjadi menu wajib bagi mereka yang melakukan upacara tujuh bulanan. Cara penyajiannya tidak diletakkan di wadah seperti mangkok tetapi dibungkus daun. Bubur lolos dianggap sebagai simbol agar proses melahirkan ibu nantinya dimudahkan atau lancar dan biasa disebut lolos. Bubur lolos dibuat dari bahan-bahan tepung beras, tepung ketan serta tepung kanji yang dicampur dengan gula merah dan santan kental, sehingga membentuk adonan yang kenyal. Bubur lolos berbahan dasar tepung beras, tepung ketan, serta tepung kanji, gula merah dan santan kental, diimasak dengan cara diaduk di atas api sehingga membentuk adonan yang kenyal. Sebelum dibungkus daun pisasng adonan bubur lolos diberi topping blondo yaitu santan kental yang dimasak hingga hampir membentuk minyak. Selanjutnya adonan tersebut dibungkus daun pisang yang salah satu sisinya tidak ditutup.

Gambar 3.4.5. Bubur lolos Sumber: Dokumentasi Peneliti

Di kota Cilegon, pantangan ada tetapi juga tergantung dari masing-masing kepercayaan ibu hamil.Beberapa pantangan yang masih dilakukan oleh ibu hamil di wilayah kecamatan Citangkil antara lain makan rujak, duduk di depan pintu,
150

melangkahi bangkai, keluar rumah dan lain-lain.Rujak mempunyai rasa pedas dan asam, kedua rasa ini disukai oleh ibu yang sedang hamil. Meskipun demikian, rujak merupakan pantangan bagi sebagian masyarakat wilayah kecamatan Citangkil. Pantangan yang lain ibu hamil berpantang duduk di depan pintu karena diyakini menyebabkan proses kelahiran susah. Ibu hamil juga pantang melangkahi bangkai karena menurut kepercayaan takut bayinya tidak bisa tumbuh besar, isamping itu ibu hamil tidak boleh keluar rumah pada sore hari karena takut sawan. Ada pula pantangan dari sebagian masyarakat untuk ibu hamil tidak boleh mengantongi makanan karena menurut keyakinan jika bayinya laki-laki takut buah zakarnya besar. Demikian juga jika ibu hamil duduk tidak boleh dialasi karena menurut kepercayaan akan membuat ari-ari menempel. Pantangan bagi ibu hamil yang lain tidak boleh makan cumi karena bisa menyebabkan bayi tidak punya anus serta ibu hamil tidak boleh memakai selendang yang dilipat kebelakang karena diyakini membuat jalan lahir tertutup. Namun demikian bila pantangan-pantangan tersebut diatas dipercaya oleh ibu hamil dapat membuat masalah pada saat persalinan, maka boleh-boleh saja dilaksanakan asal dapat diterima oleh akal sehat. Anjuran bagi ibu hamil di kota Cilegon, membawa pisau lipat atau gunting serta bangle setiap pergi, hal ini dimaksudkan agar tidak ada yang mengganggu.Menurut kader dalam Focus Group Discussion (FGD) diperoleh informasi bahwa kadang kalau menemani ibu hamil disuruh membawa gunting, silet, katanya biar tidak ada yang mengganggu. Barang tersebut diberi oleh orang tua sendiri suatu kepercayaan yang turun temurun. Namun demikian, ibu hamil dianjurkan boleh mengikuti ritual/tradisi akan tetapi tidak usah memaksakan keadaan bila tidak mampu Berikut beberapa ritual, tradisi atau adat terkait masa kehamilan yang masih berlaku di masyarakat wilayah puskesmas Citangkil.

151

Tabel 3.4.2. Aktifitas Budaya pada Masa Kehamilan Ritual, tradisi atau adat tertentu  Tiga bulanan (Slametan agar bayi selamat)  Tujuh bulanan  Bikin bubur lolos (pada usia hamil 7 bulan) Pantangan  Makan rujak  Duduk di depan pintu karena bisa menyebabkan proses kelahiran susah  Kerja berat  Melangkahi bangkai (takut bayinya tidak bisa tumbuh besar)  Keluar rumah sore hari (takut sawan)  Tidak boleh duduk di teras  Tidak boleh mengantongi makanan (jika bayinya laki-laki takut buah zakarnya besar)  Kalau duduk tidak boleh dialasi karena akan membuat ari-ari nempel  Tidak boleh makan nanas  Tidak boleh makan cumi (Bisa menyebabkan bayi tidak punya anus)  Tidak boleh pakai selendang dilipat ke belakang. Takut membuat jalan lahir tertutup Sumber: Data Primer Anjuran  membawa pisau lipat/gunting kecil dan bengle setiap bergi  Boleh mengikuti ritual/tradisi akan tetapi tidak usah memaksakan keadaan bila tidak mampu  Bila pantanganpantangan tersebut dipercaya oleh ibu dapat membuat masalah pada saat persalinan, maka bolehboleh saja dilaksanakan asal dapat diterima oleh akal sehat

Persalinan. Di kota Cilegon, tradisi/adat yang masih dilakukan oleh sebagian masyarakat pada proses persalinan yaitu membuka jendela dan pintu agar supaya ibu cepat melahirkan. Seperti penuturan seorang kader pada waktu FGD sebagai berikut:
“Saat melahirkan ada yang bilang, pintu dibuka, toples dibuka, tempat air seperti gentong dibuka, biar lahirnya lancar, itu kepercayaan mereka, itu sebelum tahun 2010. Kepercayaan itu masih ada tetapi tidak semuanya, tergantung daerahnya juga, kan sekarang sudah modern”.

Anjuran yang masih dianut oleh sebagian masyarakat wilayah Citangkil yaitu minum rumput Fatimah sebelum proses persalinan agar supaya proses kelahiran lebih cepat. Namun demikian dianjurkan boleh mengikuti tradisi akan tetapi tidak usah memaksakan keadaan bila tidak mampu.

152

Berikut ritual, tradisi atau adat terkait proses persalinan yang masih berlaku di sebagian masyarakat wilayah puskesmas Citangkil.
Tabel. 3.4.3. Aktifitas Budaya pada masa Persalinan Ritual, Tradisi, atau adat tertentu Membuka jendela dan pintu, toples, tempat air supaya cepat lahir Anjuran Minum rumput fatimah supaya proses kelahiran lebih cepat Boleh mengikuti tradisi akan tetapi tidak usah memaksakan keadaan bila tidak mampu

Sumber: Data Primer

Pasca persalinan. Di kota Cilegon masih terdapat ritual/tradisi yang berhubungan ibu sesudah melahirkan )pasca persalinan) seperti suguh tamu, saweran, buka tamu serta aqiqah, demikian juga pantangan terhadap ibu pasca melahirkan. Pada waktu ibu baru melahirkan dan pulang ke rumah biasanya diadakan acara suguh tamu yaitu menyiapkan makanan/minuman atau yang lebih dikenal dengan suguhan untuk tamu yang datang menjenguk. Pada hari ketujuh setelah melahirkan dilakukan aqiqoh atau sering disebut kekahan bagi keluarga yang mampu, tetapi ada juga yang baru dilakukan setelah 40 hari. Aqiqah merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wassalam yang berkenaan dengan kelahiran anak muslim. Melaksanakan ‘aqiqah adalah salah satu bentuk menghidupkan sunnah Beliau. Orang yang menghidupkan sunnah Beliau tatkala manusia menjauhi dan membencinya, adalah bukti rasa cinta kepadanya, yang jaminannya adalah surga. Pada aqiqoh tersebut ada yang dilakukan pengajian ada yang tidak, di samping itu pada acara tersebut biasanya juga dilakukan upacara potong rambut untuk bayi serta pemberian nama si bayi. Pemberian nama disesuaikan

dengan harapan dari orang tua agar kelakmenjadi anak yang baik karena di dalam nama tersebut terkandung doa dan harapan. Pada acara aqiqah tersebut tidak ada ketentuan apakah harus digundul atau tidak. Pencukuran tersebut harus dilakukan dengan rata, tidak boleh hanya mencukur sebagian kepala dan sebagian yang lain di biarkan. Semakin banyak rambut yang dicukur dan di timbang semakin besar pula sedekahnya.

153

Di wilayah puskesmas Citangkil, masih ada beberapa bayi yang dibedong. Membedong merupakan istilah untuk ‘membungkus’ bayi dengan kain. Di beberapa pustaka disebutkan bahwa beberapa manfaat membedong bayi, antara lain: - membantu bayi agar tidak terganggu dengan gerakan kejut yang biasa dikenal dengan refleks Moro - Membantu bayi agar tetap hangat, terutama pada hari-hari pertama dalam kehidupannya. Nantinya secara berangsur, tubuhnya akan menyesuaikan dengan lingkungan sekitar, sehingga kain bedong tidak diperlukan lagi - Membantu menenangkan bayi Pada waktu bayi berusia 3 bulan dilakukan acara tiga bulanan agar bayi selamat. Selain itu sebagai rasa syukur, masih ada beberapa kelompok masyarakat yang membuat apem yang biasa disebut apeman. Di samping itu masih ada kepercayaan dari

sebagian masyarakat, jika terjadi gerhana bulan maka bayi harus bersembunyi di kolong tempat tidur karena takut kulit bayi menjadi kehitaman.
Tabel 3.4.4. Aktifitas Budaya Pasca Persalinan Ritual, Tradisi, atau adat tertentu - Suguh tamu (Rasa syukur terhadap kelahiran bayi yang baru lahir dengan selamat) - Saweran (menyambut bayi baru lahir sebelum masuk ke dalam rumah) - Buka tamu (selamatan sambut bayi baru lahir) - Aqiqahan, yaitu syukuran atas kelahiran bayi yang lahir selamat dan memotong rambut si bayi untuk dibuang sawannya (rambut bawaan dari lahir) - Potong rambut - Digedog (posisi diluruskan sesuai dengan jalan lahir) Pantangan - Tidak boleh makan yang pedas atau es (dikawatirkan dapat mempengaruhi produksi ASI yang keluar)

Sumber: Data Primer

Pengetahuan Masyarakat tentang Kesehatan Ibu dan Anak Tingkat pengetahuan kesehatan dilihat dari jenis pertanyaan dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu pengetahuan tentang perawatan kehamilan (Ante Natal Care = ANC), pengetahuan tentang persalinan dan pengetahuan tentang paska persalinan.

154

Hasil survey menunjukkan tingkat pendidikan responden cukup tinggi yaitu 57,4% berpendidikan SMA sampai dengan sarjana, 35,3% tamat SMP, dan 3,4% tamat SD ke bawah. Pengetahuan tentang kesehatan diperoleh pada saat di posyandu baik oleh tenaga kesehatan maupun oleh kader. Kehamilan. Pengetahuan ibu tentang pemeriksaan kehamilan cukup baik, dari hasil survei menunjukkan dari 68 orang ibu yang disurvei 64,7% memiliki pengetahuan yang benar yaitu memeriksakan kehamilan paling tidak 4 kali selama kehamilan. Data ini mendukung hasil FGD dengan suami yang sangat mendukung isteri untuk memeriksakan kehamilan di posyandu. Cakupan pemeriksaan kehamilan sudah baik yaitu 100% (n=68) ibu hamil menerima pelayanan tenaga kesehatan untuk pemeriksaan/perawatan kehamilan oleh tenaga kesehatan. Pemahaman tentang pentingnya pemeriksaan tekanan darah sudah baik terungkap dari data survey ibu, terbukti 95,6% mempunyai pengetahuan yang benar bahwa pengukuran tekanan darah penting dilakukan saat pemeriksaan kehamilan untuk mendeteksi adanya resiko kehamilan. Demikian juga pengetahuan tentang imunisasi toxoid yang diberikan sebelum kehamilan dijawab benar oleh 57,4% responden (n=68). Persalinan. Pengetahuan masyarakat melalui tokoh masyarakat termasuk kader dan suami pada FGD menunjukkan hasil cukup baik karena mereka mendukung bahwa kemampuan bidan lebih baik daripada dukun. Pengetahuan ini didukung data survey ibu yang menunjukkan bahwa 98,5% (n=68) merasa aman dan nyaman ditolong oleh bidan. Namun demikian masyarakat nampaknya masih menyukai melahirkan di rumah. Pernyataan ini didukung dengan data pengetahuan yang menunjukkan bahwa 57,4% ibu melahirkan di rumah lebih baik. Pasca Persalinan. Aktifitas pasca persalinan baru boleh dilakukan setelah 3 hari, ternyata pernyataan yang “salah” ini dijawab oleh 48,5% responden (n=68), demikian pula tentang larangan makan ikan laut dijawab benar oleh 76,5% responden. Artinya hanya 23,5% saja dari responden yang mengetahui bahwa setelah bersalin ibu

155

boleh mengkonsumsi ikan laut. Masih ada anggapan bahwa mengkonsumsi ikan laut akan berdampak buruk bagi ASI.

Sikap Masyarakat tentang Kesehatan Ibu dan Anak Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku.Dalam penelitian ini, survey mengenai sikap ibu dilihat dari 4 level. Dua (2) sikap mendukung/positif ditunjukkan dengan penyataan setuju dan sangat setuju sedangkan dua sikap tidak

mendukung/negatif ditunjukkan dengan pernyataan sangat tidak setuju dan tidak setuju. Hasil survey ibu menunjukkan bahwa sikap ibu yang mendukung dan tidak mendukung upaya pemeriksaan kehamilan, persalinan dan pasca persalinan seperti terlihat dalam tabel berikut:

156

Tabel. 3.4.5. Sikap Terhadap Kehamilan, Persalinan dan Pasca Persalinan Kecamatan CitangkilTahun 2012 Sikap Pernyataan 1. Pemeriksaan kehamilan Penting periksa hamil 4 kali Penting ukur tensi Perlu tablet tambah darah Perlu upacara agar selamat 2. Persalinan Setuju, lahir di rumah tidak sama aman dengan lahir di RS Setuju kemampuan dukun tidak sama baiknya dengan bidan 3. Pasca Persalinan ASI beda dengan madu Penting kolostrum untuk bayi Perlu KB pasca nifas 61,8 79,4 72,1 Sumber: Data Primer 38,2 20,6 27,9 52,9 47,1 57,4 100,0 70,6 79,4 42,6 0,0 29,4 20,6 Mendukung (%) Tidak mendukung (%)

76,5

23,5

Kehamilan. Dalam pemeriksaan kehamilan sebanyak 4 kali sebanyak 57,4% menyatakan sikap mendukung, namun ternyata persentasenya berkurang dari banyaknya ibu yang memiliki pengetahuan yang benar mengenai pemeriksaan kehamilan ini. Kesadaran pentingnya pemeriksaan kehamilan sudah diketahui oleh sebagian besar suami. Oleh karena itu, mereka mendukung upaya isteri untuk memeriksakan kehamilan dengan cara selalu mengingatkan isteri agar mentaati jadwal pemeriksaan kehamilan yang dilakukan di posyandu, poskeskel atau bidan yang dekat dengan tempat tinggal mereka. Sikap mendukung juga ditunjukkan terhadap pentingnya mengukur tekanan darah yaitu sebanyak 100,0%, dan persentasenya lebih besar dari pengetahuan benar

157

mengenai pentingnya dilakukan pengukuran tekanan darah saat pemeriksaan kehamilan untuk mendeteksi adanya resiko kehamilan. Persentase sikap mendukung juga ditunjukkan pada sikap ibu terhadap pemberian tablet tambah darah bagi ibu hamil sebesar 70,6%, namun ada pengurangan persentase yang cukup besar dari persentase ibu mengenai pentingnya tablet tambah darah untuk ibu hamil sebesar 98,5%. Hal ini menunjukkan meskipun mereka tahu bahwa tablet tambah darah itu penting tetapi ada beberapa yang merasa tidak memerlukn tablet tambah darah tersebut. Sikap mendukung juga ditunjukkan ibu terhadap dilakukannya ritual atau kepercayaan tertentu pada saat hamil, yang bisa dianggap bisa menyelamatkan bayi yaitu sebesar 79,4%, meskipun terjadi pengurangan dari persentase pengetahuan ibu tentang hal tersebut. Seperti penuturan dari suami pada waktu FGD sebagai berikut
”Namun demikian bila pantangan-pantangan tersebut diatas dipercaya oleh ibu hamil dapat membuat masalah pada saat persalinan, maka boleh-boleh saja dilaksanakan asal dapat diterima oleh akal sehat”.

Persalinan. Sikap ibu yang mendukung terhadap persalinan ditunjukkan oleh 52,9% menyatakan setuju lahir di rumah tidak sama aman dengan lahir di RS. Selain itu 76,5% menyatakan setuju kemampuan dukun tidak sama baiknya dengan bidan. Namun demikian masih ada yang menyatakan sebaliknya, hal ini disebabkan karena pengaruh dari orang tua dimana masih ada pasangan suami isteri yang tinggal bersama orang tua atau pada waktu melahirkan pulang ke rumah orang tuanya di desa. Pasca Persalinan. Sikap ibu yang mendukung pasca persainan ditunjukkan oleh sikap yang mendukung bahwa ASI berbeda dengan madu dan air kelapa, kolostrum penting untuk bayi serta perlunya mengikuti KB setelah masa nifas. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah menyadari pentingnya pengaturan anak melalui keikutsertaan KB, disamping memang merupakan salah satu persyaratan program jampersal. Praktek/Tindakan Kesehatan Ibu dan Anak Praktek/tindakan pelaksanaan pemeriksaan kehamilan, persalinan dan pasca persalinan tidak lepas dari pelayanan oleh bidan dan dukun.

158

Kehamilan. Dari hasil wawancara dengan responden pada survey, terlihat bahwa pemeriksaan kehamilan ke bidan dilakukan seluruh ibu yang disurvey (100,0%), namun tidak meninggalkan kebutuhan untuk memeriksakan kehamilan ke dukun yang dilakukan oleh 54,4% responden. Hasil pelayanan yang diterima oleh ibu dari bidan dan dukun sebagai berikut:
Tabel 3.4.6. Pelayanan yang Diterima oleh Ibu di Kecamatan Citangkil Tahun 2012

Jenis pelayanan oleh Bidan Periksa kehamilan Persalinan Rawat Pasca Salin KB Pijat Bayi Buat Jamu Ibu Upacara

‘Ya’ Menerima pelayanan Bidan 100,0 100,0 91,2 95,6 7,4 4,4 0,0

Jenis pelayanan oleh Dukun Periksa Kehamilan Persalinan Rawat pasca Salin Pijat Ibu Jamu Ibu Rawat Bayi Buat Jamu Bayi Upacara

‘Ya’ Menerima pelayanan Dukun 54,4 8,8 23,5 61,8 22,1 33,8 4,4 2,9

Sumber: Data Primer

Pelayanan dukun pada saat hamil yang masih tinggi, didukung pernyataan seperti yang disampaikan oleh dukun sebagai berikut:
“Ibu hamil tidak suka diurut, cuma urut badan kalau capek capek, biasanya cuma lihat posisi bayinya sudah dibawah atau belum”

Kebiasaan atau tradisi memeriksakan kehamilan ke dukun kemungkinan menjadi penyebab masyarakat menggunakan jasanya. Informasi ini didukung survey ibu yang menunjukkan alasan memeriksakan kehamilan ke dukun karena percaya (1,5%), dianjurkan orang tua (4,4%), tradisi (39,7%) dan nyaman (8,8%). Persalinan. Persalinan ke bidan dilakukan seluruh ibu yang disurvey (100,0%), namun masih ada (8,8%) persalinan ditolong oleh dukun. Kebiasaan masyarakat memanggil dahulu dukun sebelum memanggil bidan merupakan salah satu penyebab

159

persalinan pertama ditolong oleh dukun. Hal ini didukung oleh hasil survey yang menunjukkan penolong pertama persalinan adalah dokter (4,4%), bidan (86,8%) dan dukun (8,8%). Juga penuturan seorang dukun sebagai berikut:
“Saya dimintai tolong persalinan sendiri karena misalnya tidak keburu, biasanya ada, tapi tidak sering, tapi pernah ada, biasanya saya dipanggil ke rumah”’

Pasca persalinan. Pemeriksaan pasca melahirkan ke tenaga kesehatan dilakukan oleh 91,2% responden (n=68). Hal ini didukung oleh hasil survey ibu yang menunjukkan alasan pemeriksaan pasca melahirkan adalah 51,5% lebih percaya tenaga kesehatan, lebih kompeten (20,62%) dan jarak dekat (10,32%). Sebanyak 95,6% responden mengikuti KB pasca melahirkan, hal ini menunjukkan bahwa mereka sudah memikirkan dampak ekonomi keluarga dengan kehadiran bayi tersebut mengingat kebutuhan hidup di kota membutuhkan biaya yang tinggi jika memiliki anak lebih dari 2. Alat kontrasepsi yang disukai oleh masyarakat kota Cilegon adalah suntik dan implant sedangkan untuk IUD dan pil masyarakat menolak. Menurut informasi dari hasil wawancara di Dinkes, diperoleh informasi bahwa di kota Cilegon jumlah akseptor KB tidak ada perubahan baik sebelum atau sesudah adanya jampersal.

3.4.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat terkait Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal Masalah kesehatan ibu dan anak baik kematian maupun kesakitan sesungguhnya tidak lepas dari faktor sisial budaya serta lingkungan dimana ibu dan anak tersebut berada. Pengambilan Keputusan Pemilihan Penolong KIA Seperti di kota/kabupaten lain, tidak semua pasangan suami istri menempati rumah sendiri tetapi ada sebagian yang masih tinggal bersama orang tua atau mertua mereka. Bagi pasangan yang tinggal di rumah sendiri pemilihan penolong persalinan biasanya atas kesepakatan isteri dan suami. Sedangkan yang masih tinggal bersama
160

orang tua atau mertua mereka biasanya orang tua/mertuamasih ikut berperan tetapi untuk mengurus bayi. Seperti pernyataan seorang suami berikut ini:
“Pengambilan keputusan pada saat ibu melahirkan pilihan suami dan istri, orang tua ada perannya tapi untuk mengurus bayi”

Namun demikian menurut salah seorang suami peserta FGD mengatakan jika pemilihan tempat persalinan yang dekat rumah dan murah.

Tentang Dukun Dimata Masyarakat Saat ini masyarakat di wilayah kecamatan Citangkil sudah jarang

memanfaatkan dukun tetapi langsung ke bidan karena sudah ada kerjasama antara dukun dengan bidan. Kebanyakan dukun sudah tua, ada yang berusia 80 tahun. Dukun biasanya mengurut, menggendong bayi, tetapi bukan menolong persalinan. Pengetahuan menjadi dukun diperoleh dari keturunan nenek, mulai mengurut, memijat. Pada tahun 1992, dukun di wilayah Citangkil pernah mendapat pelatihan sebagaimana pengakuan seorang dukun S:
“Dulu saya dengan bidan Nur Hadijah, dulu saya ikut sekolah dukun, seperti pelatihan selama 1 tahun, tahun 1992”

Di wilayah puskesmas Citangkil, dukun tidak menolong persalinan tetapi hanya menemani bidan saja tetapi pada saat ibu akan melahirkan dukun yang membawa ke bidan. Peran dukun hanya untuk membantu memandikan bayi setelah lahir. Seperti penuturan salah satu kader di wilayah puskesmas Citangkil:
“….kalau dukun tidak membantu persalinan hanya menemani bidan saja, tapi saat bersalin dukun yang membawa ke bidan”

Menurut dukun, Ibu hamil tidak suka diurut, hanya mengurut badan jika terasa pegal-pegal. Disamping itu dukun melihat posisi bayi sudah di bawah atau belum.Tradisi atau kebiasaan ibu hamil pada usia kehamilan 7 bulan biasanya membuat rujak, itu cuma syarat saja. Tidak ada tradisi minum kelapa muda pada usia kehamilan 3 atau 4 bulan, demikian juga sambel campok. Tidak ada tradisi minum jamu atau sambel campok setelah melahirkan karena biasanya sudah diberi obat dari bidan. Ari-ari biasanya dicuci oleh dukun, kemudian menanam ari-ari tersebut di halaman rumah. Kadang-kadang pada waktu menanam ari-ari tersebut diberi bunga, tetapi sesuai dengan kemauan ibu yang melahirkan atau pihak keluarga sendiri, dukun
161

hanya mengikuti. Dukun pernah diminta untuk menolong persalinan tetapi jika bayi sudah keburu keluar, seperti penuturan salah seorang dukun berikut:
”Iya, saya pernah dimintai tolong untuk melakukan pertolongan persalinan sendiri misalnya tidak keburu biasanya ada, tetapi tidak sering, tapi pernah ada, biasanya saya dipanggil ke rumah”

Bidan Dimata Masyarakat Kecamatan Citangkil terdiri dari 7 kelurahan, di masing-masing wilayah terdapat bidan. Keberadaan bidan di wilayah tersebut lebih memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan medis. Kebiasaan masyarakat untuk

melahirkan di rumah dengan memanggil bidan karena merasa nyaman serta rumahnya jauh dari bidan meskipun sebelumnya juga memanggil dukun. Hal ini sesuai dengn hasil survey bahwa masyarakat beranggapan melahirkan di rumah lebih baik (57,4%). Masyarakat merasa aman ditolong oleh bidan karena mempunyai peralatan yang banyak. Namun demikian setelah melhirkan baru ke dukun untuk memijat ibunya karena merasa masih sakit. Seperti penuturan seorang bapak pada waktu FGD sebagai berikut:
“Ya, kalau saya langsung ke dukun takut kalau terjadi yang tidak diinginkan, kalau bidan kan peralatannya banyak, jadi melahirkan di bidan, bidan saya panggil ke rumah, karena jauh dari rumah”.

“Melahirkan di bidan saja, tapi setelah melahirkan baru ke dukun untuk pijet ibunya, katanya masih sakit…..”

Namun demikian menurut survey masyarakat masih ada anggapan bahwa bidan dan dukun sama kemampuannya (76,5%).

Kemitraan Dukun dan Bidan Kemitraan dukun bidan sebenarnya sudah berlangsung lama.Dengan adanya program jampersal, persalinan oleh dukun sudah jarang karena sudah ada kerjasama antara bidan dan dukun. Dukun merasa bidan kasihan dengan dukun sehingga sering diajak oleh bidan untuk menolong persalinan. Kerjasama bidan dengan dukun sudah berlangsug kurang lebih 10 tahun. Bentuk kemitraan dukun dengan bidan, dukun hanya menemani bidan, dukun memberikan informasi kepada bidan jika ada ibu yang
162

akan melahirkan. Dalam pertolongan persalinan, bidan yang menolong persalinan, setelah bayi lahir dukun merawat bayinya, sedangkan ibu diurus oleh bidannya. Setelah membantu persalinan, dukun masih sering dating untuk memandikan bayi serta sudah diberi tahu obatnya oleh bidan. Dengan adanya kerjasama antara dukun dan bidan, maka menurut dukun tugasnya mnjadi lebih ringan, ada yang membantu dan memberitahu caranya yang sebelumnya belum dimengerti. Antara bidan dan dukun saling berbagi pengalaman, biasanya bidan member tahu tentang cara menolong persalinan. Cara-cara membantu persalinan yang dipraktekkan oleh dukun sesuai dengan yang diperoleh di pelatihan.

Gambar 3.4.6. Peta Sarana Cintangkil

Tidak ada perbedaan persepsi masyarakat tentang bayi yang meninggal/gagal ditolong oleh bidan dan ditolong oleh dukun. Masyarakat bisa menilai dari segi

163

kemampuan bidan dibandingkan dengan dukun dengan melihat kinerja bidan atau dukun. Masih ada anggapan bahwa bayi berwarna biru saat lahir adalah wajar sehingga bila kemudian terjadi kematian pada kondisi tersebut mereka tidak banyak menuntut khususnya masyarakat yang kurang mampu. Berbeda dengan masyarakat yang mampu, biasanya lebih berani dan banyak menuntut apabila terjadi kodisi ibu atau bayi yng kurang baik.

Pemanfaatan Pelayanan Jampersal Pelayanan jampersal tidak lepas dari pelayanan oleh bidan dan pelayanan di fasilitas kesehatan sebagaimana disyaratkan dalam peraturan yang berlaku. Di wilayah Citangkil masyarakat sudah memanfaatkan pelayanan oleh bidan namun tidak dilaksanakan di fasilitas kesehatan tetapi dilakukan di rumah terutama bagi masyarakat yang bertempat tinggal jauh dari fasilitas kesehatan. Cukup banyak

masyarakat yang bekerja di perusahaan di wilayah Citangkil baik sebagai karyawan atau buruh perusahaan dimana kebutuhan akan kesehatan dijamin termasuk untuk melahirkan meskipun hanya sampai anak kedua atau penduduk yang sudah mempunyai asuransi lain. Hal ini merupakan salah satu hambatan dalam pemanfaatan pelayanan jampersal. Sesuai dengan hasil survey terhadap ibu yang melahirkan antara bulan Juni 2011 sampai dengan bulan Mei 2012 (n=70) menunjukkan bahwa pemanfaatan untuk jampersal cukup sedikit (22,1%). Di samping adanya perusahaan di wilayah Citangkil, ada sebagian masyarakat yang masih belum mengetahui adanya program jampersal. Seperti penururan seorang bapak peserta FGD sebagai berikut:
“Saya tidak tahu kalau ada program jampersal, kalau saya tahu pasti ikut, dulu karena saya tidak tahu, itu membantu sekali apalagi untuk mengurangi biaya ekonomi”

Sementara bagi peserta jampersal sangat mendukung karena banyak kemudahan dan keringanan dengan mengikuti program jampersal meskipun menurut salah seorang peserta jampersal dalam pelaksanaannya masih membayar Rp. 25.000,untuk menebus obat.

164

Pelayanan pemeriksaan kehamilan pada bidan pada umumnya dilakukan di posyandu. Meskipun sudah memeriksakan diri ke bidan, masyarakat masih membutuhkan dukun pada saat kehamilan untuk mengurut jika pegal-pegal atau untuk memperbaiki posisi bayi dalam kandungan. Pemanfaatan jampersal membutuhkan persyaratan yaitu dilakukan oleh tenaga kesehatan dan dilaksanakan di fasilitas kesehatan, namun di lapangan ternyata ada toleransi. Hal ini mengingat pemerintah belum mampu menyediakan fasilitas kesehatan persalinan di masing-masing wilayah (kelurahan) secara merata dan di samping alat kesehatan yang belum memadai. Data survey di wilayah Citangkil menunjukkan bahwa dari 68 responden menyatakan melahirka di rumah sebanyak 30,9%, 54,4% di rumah bidan atau pos kesehatan kelurahan (poskeskel), 1,5% di puskesmas dan 13,2% di RS. Bila dilihat dari penolong pertama dan terakhir persalinan, sebagian besar (86,8%) penolong persalinan adalah bidan, demikian juga pada pertolongan terakhir persalinan sebagian besar (88,2%) adalah bidan (Tabel 3.4.7). Tidak ada seorangpun penolong terakhir adalah dukun. Hal ini sesuai dengan keberadaan bidan di setiap wilayah Citangkil baik di pos kesehatan kelurahan maupun di rumah bidan. Dari hasil survey menunjukkan alasan memilih penolong persalinan terakhir karena sebagian besar (72,1%) merasa aman dan nyaman, 8,8% jarak dekat dan 7,4% mengatakan percaya dengan penolong persalinan.
Tabel 3.4.7. Penolong Pertama dan Penolong Terakhir Persalinan Citangkil 2012

Jenis Tenaga Dokter Bidan Dukun

Penolong Pertama Persalinan (%) 4,4 86,8 8,8
Sumber: Data Primer

Penolong Terakhir Persalinan (%) 11,8 88,2 0

165

Pengetahuan tentang Jampersal Pengetahuan tentang jampersal cukup tinggi. Pengetahuan tentang jampersal banyak diperoleh dari media massa. Hasil survey masyarakat menunjukkan bahwa sebagian besar (73,5%) ibu yang melahirkan periode Juni 2011 sampai dengan bulan Mei 2012 memperoleh informasi dari media massa, 48,5% diperoleh dari tenaga kesehatan, 29,4% dari petugas kelurahan serta 7,4% memperoleh dari baliho. Di samping itu masyarakat sudah megetahui jika jampersal digunakan untuk ANC, persalinan, masa nifas dan KB (89,7%). Pembiayaan Kesehatan Ibu dan Anak Pelayanan kesehatan ibu dan anak banyak dilaksanakan di puskesmas, bidan wilayah atau posyandu. Dari sisi masyarakat (suami), dengan adanya program

jampersal sebagian besar pendapat masyarakat baik yang ikut jampersal maupun yang tidak ikut jampersal sangat mendukung program tersebut. Seperti pendapat salah seorang peserta Diskusi Kelompok Terarah berikut:
”Jampersal sangat mendukung masyarakat, karena banyak kemudahan dan keringanan....”

Namun demikian masih ada masyarakat yang tidak mengggunakan jampersal karena merasa pelayanan yang diberikan tidak menyenangkan terutama jika dirujuk ke rumah sakit. Di samping itu masih ada yang masih harus membayar meskipun sebesar Rp. 25.000,- untuk biaya menebus obat. Sebaliknya bagi suami dari isteri yang tidak menggunakan jampersal mengatakan bahwa mereka tidak tahu kalau ada program jampersal. Untuk memeriksakan kehamilan, salah seorang pengguna non jampersal

mengatakan persalinan di Klinik dengan biaya Rp. 1.300.000,- termasuk pengurusan akte kelahiran. Jika mulai awal kehamilan sudah mengetahui kalau ada program jampersal maka menurut salah seorang peserta non jampersal maka akan mengikuti program tersebut karena program jampersal menurut peserta sangat membantu sekali untuk mengurangi beban ekonomi. Pada saat ibu mulai hamil sebenarnya keluarga sudah mempersiapkan biaya persalinan antara Rp. 600.000,- sampai dengan Rp. 700.000,-.
166

Menurut petugas puskesmas, tidak semua suami tahu tentang program jampersal, dan tidak semua masyarakat mempunyai KTP sehingga jika menggunakan jampersal maka mereka menggunakan surat keterangan domisili. Masyarakat yang tidak mempunyai jaminan kesehatan menggunakan dana jampersal. Jika ibu yang melahirkan tidak dibiayai jamsostek tetap ikut jampersal tapi jika ikut jamsostek atau asuransi lain dibiayai oleh jamsostek atau asuransi lain tersebut dan nanti diklaim ke asuransi tersebut dengan syarat ada kwitansi yang selanjutnya diklaimkan.Tidak ada gengsi dari masyarakat, yang penting gratis. Penduduk yang tidak menggunakan jampersal adalah penduduk yang mampu, atau penduduk yang yang sudah ditanggung biaya kesehatannya di perusahaan di tempat penduduk bekerja seperti Krakatau Steel atau penduduk yang sudah mempunyai asuransi lain.

3.4.5. Peran Tenaga Kesehatan dalam Pelaksanaan Program Jampersal Sosialisasi Jampersal dari Dinas Kesehatan ke Puskesmas Jampersal mulai disosialisasikan di kota Cilegon sejak tahun 2010. Sosialisasi dilakukan di kecamatan, selain dihadiri aparat pemerintahan diwilayah kecamatan juga dihadirii tokoh agama, tokoh masyarakat maupun suami. Sosialisasi jampersal dilaksanakan oleh petugas jampersal pada saat pertemuan dengan masyarakat, pertemuan dengan dukun, perteman dengan pak lurah yang dilaksanakan di puskesmas. Pertemuan juga dihadiri oleh suami, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Sesuai dengan pembicaraan tim peneliti dengan Kepala Dinas Kesehatan dengan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan yang menyampaikan :
”Kami sosialisasi jampersal dan dilaksanakan oleh petugas jampersal, pertemuan dihadiri oleh masyarakat, serta pak lurah dan di lakukan di puskesmas”

Pada awalnya tanggapan masyarakat ada yang miss (salah pengertian) karena jika ada surat dari pusat langsung ke lurah, bahwa jampersal gratis sampai rumah sakit. Beritanya simpang siur, di awal pertama diumumkan anak ke 3 gratis untuk pegawai negeri sipil, seharusnya didasari dari sosialisasinya.

167

Di kota Cilegon Program Jaminan Persalinan (Jampersal) ditindaklanjuti dengan Peraturan Walikota nomor 29 tahun 2011 tanggal 17 Nopember 2012 tentang Pemanfaatan Dana Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Persalinan (jampersal) tahun anggaran 2011. Peraturan Walikota tersbut terdiri dari 11 Bab meliputi Bab I Ketentuan Umum, Bab II maksud dan tujuan, Bab III Ruang Lingkup, Bab IV Penyelenggaraan Peayanan Kesehatan Da, Bab V Peserta Program Jamkesmas dan Jampersal, Bab VI Prosedur Pengajuan Klaim, Bab VII Besaran tariff Pelayanan, Bab VIII Pemanfaatan dana, Bab IX Pelaporan dan Pertanggungjawaban Dana, bab X berisi Pelaksanaan Pelayanan Jamkesmas dan Jampersal dan terakhir Bab XI Penutup. Selanjutnya Peraturan Walikota Cilegon ditindaklanjuti dengan Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon Nomor 800/018/Sekret tanggal 1 Juni 202 tentang Tim pengelola Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Jaminan Persalinan dan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) tahun anggaran 2012. Keputusan Kepala Dinas kesehatan tersebut berisi tentang Tim Pengelola Penyelenggaraan Jamkesmas, Jampersal dan BOK, Pelaksanaan Tugas Tim Pengelola mengacu pada Pedoman Pelaksanaan jamkesmas, dan Petunjuk Teknis Persalinan dan petunjuk Teknis BOK. Dalam Keputusan Kepala Dinas tersebut juga diputuskan tentang Honor Pennggungjawab dan sekretarist Jamkesmas dan jampersal dibebankan pada Dana Dekonsentrasi Pusat pembiayann dan jaminan Kesehatan Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan Tahun Anggaran 2012, sedangkan Honor Sekretarian BOK dibebankan pada Dana Tugas Pembantuan Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak tahun Anggaran 2012. Honor tersebut dibayarkan mulai 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2012. Dengan dilaksanakannya Program jampersal, maka pada tanggal 2 Juli 2012, Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon menyampaikan daftar nama –nama Bidan

Praktek Swasta (BPS) dan Rumah Bersalin (RB) yang melayani program Jampersal. Jumlah yang tercantum pada Surat pemberitahuan tersebut dengan perincian sebanyak 53 orang

11 orang dari kecamatan Cibeber, 10 orang dari kecamatan

Jombang, 6 orang dari kecamatan Cilegon, 4 orang dari kecamatan Purwakarta, 5 orang dari kecamatan Grogol, 7 orang dari kecamatan Merak, 4 orang dari kecamatan Citangkil serta 6 orang dari kecamatan Ciwandan.

168

Sosialisasi dari Dinas Kesehatan ke Bidan Praktik Swasta pernah dilakukan tetapi untuk sosialisasi ke masyarakat tidak pernah dilakukan secara khusus, tetapi ditumpangkan dengan sosialisasi ke kader dan dukun. Klaim Jampersal oleh Bidan di Kota Cilegon Sesuai dengan peraturan yang ada, klaim untuk jampersal sebesar 500 ribu dan langsung diberikan ke kepala seksinya. Di puskesmas melalui edaran, peraturan tersebut dihentikan terutama untuk bidan pemerintah karena walaupun sore hari juga menjadi tanggungjawab bidan desa. Untuk penanganan jampersal di daerah

sulit, bidan mendatangi ibu yang akan melahirkan. Dari tingkat social ekonomi, di kota Cilegon banyak yg tidak mampu, kalau yg mampu banyak pengusaha. Walaupun kerjanya hanya sopir perusahaan itu di tanggung, semuanya program itu bagus untuk usaha. Kerjasama dengan klinik untuk bidan yang mempunyai MoU dan bidan yang praktek sore diluar jam kerja. Jumlah bidan yng bukan PNS di kota Cilegon sebanyak kurang lebih 170 orang dan dukun sejumlah 104 orang. Pelatihan dukun dilakukan sebelum tahun 2000 (1992 ??). Diharapkan dengan dilatih, dukun bisa bermitra dengan bidan. Dulu ada program bidan desa menekan dukun, tetapi sekarang dukun baru bermunculan. Jadi seharusnya anaknya dukun disekolahkan sebagai

bidan.Pekerjaan dukun biasanya mencuci ari-ari, dukun biasanya sabar, sementara bidan kurang sabar. Di Jakarta ada akademi Kebidanan, dimana lulusannya harus magang di RS, jadi setelah magang ijasah baru dikeluarkan. Surat ini penting dimiliki karena bila

mendaftar PNS, seorang bidan harus menunjukkan surat magang. Sosialisasi dari Puskesmas ke Masyarakat Puskesmas Citangkil terletak bersebelahan dengan kantor kecamatan. Sosialisasi tidak khusus tentang jampersal tetapi bersama dengan kegiatan lain yang dilakukan di kecamatan. Salah satu tokoh masyarakat juga menyatakan ketidaktahuan masyarakat mengenai program jampersal ini, mereka sebatas hanya mengetahui ada pelayanan gratis. Namun demikian meskipun tidak mengetahui nama program, masyarakat sebagian besar sudah memanfaatkannya.

169

Pelaksanaan Program Jampersal Masyarakat kota Cilegon mendapatkan pelayanan dasar gratis bila mempunyai KTP kota Cilegon, sedangkan yang tidak mempunyai KTP kota Cilegon harus bayar, berbeda dengan program jampersal jika mempunyai KTP diluar kota Cilegon masih bisa dilayani kecuali untuk program KB. Kebijakan Dinas Kesehatan di kota Cilegon, syarat jampersal tidak harus

melahirkan di bidan dan di fasilitas kesehatan, tetapi kalau melahirkan di bidan tetapi tidak di fasilitasi kesehatan tetap di tanggung. Terutama jika ibu yang mau melahirkan tinggal di gunung dan tidak mungkin turun, jadi bidan yang naik ke atas. Biaya persalinan untuk jampersal Rp. 500.000,-, ANC 2 kali dan PNC 2 kali. Pelaksanaan ANC biasanya memanggil bidan ke rumah dan bisa diklaim jampersal. untuk Biasanya anak ke 3

masyarakat yang mempunyai jaminan ASTEK juga pegawai negeri bisa

menggunakan dana jampersal. Jika pasien harus dirujuk maka bidan desa harus membuat partograf, artinya disitu bidan harus datang jam 9 malam, jadi harus sesuai. Bidan sendiri mau menolong, tetapi pada saat mau dirujuk, pasien ketakutan akhirnya bayi langsung lahir. Karena dianggap lahir normal oleh rumah sakit maka tidak dilayani dan pasien harus membayar. Akhirnya dengan berat hati uang bidan disumbangkan untuk membiayai mereka. Namun kasus demikian tidak banyak, hanya untuk masukan. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon:
”Jampersal sendiri bagus untuk masyarakat Indonesia, siapapun boleh, tetapi dalam perjalanannya banyak yg harus di perbaiki. Permasalahan pelaksanaan jampersal biasanya pada waktu pasien dirujuk oleh bidan karena bidan sudah mampu untuk menolong. Dalam hal ini biasanya masyarakat disuruh untuk membayar”.

Pengelolaan Dana Jampersal di Tingkat Puskesmas Pengelolaan jampersal terutama verifikasi keuangan ada di Dinas Kesehatan. Pada tahun 2011 bidan mandiri masih digabung dengan puskesmas, namun sejak tahun 2012 dengan adanya Permenkes yang baru, pengelolaannya dipisah. Di luar jam kerja setelah jam 14.00 bidan PNS sudah bisa praktek sebagai bidan mandiri. Bidan mandiri bisa langsung mengklaim tetapi untuk menjadi bidan mandiri ada persyaratan

170

yaitu mempunyai STR (Surat Tanda Registrasi). Untuk memperoleh STR maka persyaratannya mempunyai Surat Ijin Praktek dan APN. Selanjutnya untuk mendapatkan MoU harus mmpunyai STR dan dan Surat Ijin Lokasi Praktik. BPS (Bidan Praktek Swasta) ada 2, yaitu BPS murni dan Bidan puskesmas yang menolong persalinan di luar jam kerja puskesmas. Jumlah bidan yang tercatat

sebanyak 53 orang. Untuk BPS murni persyaratannya harus membuat MoU. Uang klaim yang diterima bidan praktek di luar jam kerja tidak dipotong sama sekali, kecuali untuk pasien yang melahirkan di puskesmas langsung diserahkan ke puskesmas melalui sekretaris.

3.4.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan Pelaksanaan Jampersal Lebih dari separuh wilayah kecamatan Citangkil merupakan daerah perkotaan, merupakan daerah pemukiman dan perkantoran dinas-dinas maupun instansi pemerintah lainnya. Fasilitas jalan yang ada cukup memadai, bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat, hal ini merupakan suatu keuntungan karena baik petugas kesehatan, sarana kesehatan maupun masyarakat umum dapat menjangkau semua wilayah Kecamatan Citangkil, yang tentu saja berdampak positif bagi pencapaian dan keberhasilan program kesehatan. Di setiap wilayah kelurahan terdapat bidan wilayah yang bertugas di pos kesehatan kelurahan (poskeskel), sehingga masyarakat sangat terbantu dengan keberadaan bidan tersebut jika sewaktu-waktu membutuhkan. Adanya tempat pelayanan berupa posyandu, poskeskel, posbindu di pemukiman penduduk telah mendekatkan jarak bidan dengan masyarakat. Cara ini memudahkan akses penduduk dari sisi jarak dan waktu serta mengurangi biaya transportasi yang harus ditanggung. Kedekatan ini akan lebih memungkinkan masyarakat mau datang ke fasilitas kesehatan karena pelayanan di fasilitas kesehatan dianggap lebih aman dan tepat.Di samping itu biasanya tariff yang diberikan kepada bidan tergantung dari kebijakan masing-masing bidan wilayah, jika dilihat masyarakat tidak mampu maka uang yang diberikan seadanya saja. Jumlah BPS (Bidan Praktek swasta) di kecamatan Citangkil ada 15 orang. 1 orang ikut MoU dan 3 orang dari puskesmas ikut MoU.

171

Kemitraan antara bidan dan dukun berjalan dengan baik, dengan peran dan tugas masing-msing. Jika ibu akan melahirkan memanggil dukun, maka dukun tersebut akan mengantar ke bidan untuk mendapatkan pertolongan persalinan, sementara dukun akan memandikan dan merawat bayi bila sudah lahir. Dengan adanya kemitraan ini sudah jarang ibu yang melahirkan di dukun karena mereka langsung menghubungi bidan. Keberadaan kader di wilayah Citangkil sangat membantu dalam hal pertolongan persalinan oleh bidan. Kader mempunyai peran mencari dan mencatat ibu hamil pada setiap wilayah, per posyandu serta melakukan penyuluhan terhadap ibuibu hamil, sosialisasi dengan lurah atau camat. Kadang-kadang dengan keluarganya konsultasi dengan pihak Dinas kesehatan tentang keadaan bayinya, disamping

mengantar ke bidan bersama-sama dengan dukun / paraji. Biasanya untuk mengantar ibu yang akan melahirkan tersebut dipilih kader yang tempat tinggalnya tidak jauh dari ibu yang akan melahirkan. Bahkan warga sering memintatolong ke kader yang ada untuk mengurus surat guna mengurus jampersal. menjembatani kegiatan donor darah. Meskipun wilayah Citangkil termasuk daerah perkotaan, namun system kekerabatan yang ada di wilayahnya cukup baik. Peran kader maupun tokoh Setiap 3 bulan sekali kader

masyarakat yang ada di wilayah ini sangat peduli dengan masyarakat sekitar khususnya terhadap ibu yang mau melahirkan. Dilakukan kerjasama dengan masyarakat yang mempunyai kendaraan untuk mengantarkan ke RS atau puskesmas yang jauh. Sebagai contoh bapak RT yang kebetulan mempunyai kendaraan bersedia mengantar ibu yang mau melahirkan ke puskesmas yang jaraknya jauh. Pendidikan merupakan hal yang utama dalam hal meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan bidang kesehatan. Tingkat pendidikan di wilayah Citangkil cukup tinggi, dari 16.791 penduduk yang berusia 10 tahun ke atas, 638 orang berpendidikan S1, 570 orang tamat Diploma, 6008 orang tamat SMA, namun demikian juga terdapat 2.732 orang yang tidak/belum pernah sekolah.

Pendidikan tinggi telah mendukung penerimaan masyarakat khususnya ibu terhadap pelayanan medis modern.

172

Bidan yang pada pagi harinya adalah PNS di puskesmas, pada malam hari bisa praktek sebagai BPS. Dengan adanya program jampersal maka masyarakat bisa

melahirkan di BPS dengan biaya jampersal. Sehingga dengan demikian dengan adanya jampersal ada perubahan perilaku masyarakat untuk melahirkan di bidan termasuk penggunaan KB setelah masa nifas. Sebagian masyarakat tidak ikut KB karena menurut mereka dilarang agama untuk ber KB, ada yang dilarang suami sehingga pada waktu control tidak mau disuntik KB. Dilihat dari tingkat sosial ekonomi, masyarakat di wilayah puskesmas Citangkil banyak yg tidak mampu, bekerja sebagai ojek atau bekerja sebagai buruh bangunan. Demikian juga masyarakat yang tidak mempunyai jaminan kesehatan menggunakan dana jampersal. Dengan adanya program jampersal akan sangat mendukung karena program tersebut sangat bermanfaat bagi masyarakat kecamatan Citangkil khususnya yang kurang mampu untuk mengurangi beban ekonomi keluarga. Di sisi lain dengan adanya program jampersal yang gratis tersebut membuat masyarakat menjadi manja, uang yang seharusnya untuk persiapan persalinan digunakan untuk selamatan yang jumlahnya cukup besar. Hambatan Pada umumnya masyarakat senang dengan segala sesuatu yang bersifat gratis seperti halnya program jampersal. Sehingga dalam pelaksanaan pelayanan KIA dengan dana jampersal tidak ada hambatan yang berarti. Kesadaran untuk mendapat pelayanan medis semakin meningkat ditunjang dengan adanya kemudahan pelayanan gratis, sarana komunikasi melalui HP serta bidan berlokasi di setiap wilayah kelurahan. Cukup banyak perusahaan-perusahaan yang tergolong besar di wilayah Citangkil, dimana masyarakat bekerja baik sebagai karyawan maupun sebagai buruh. Kebutuhan akan pelayanan kesehatan termasuk melahirkan ditanggung oleh perusahaan sampai anak kedua. Sehingga masyarakat yang bekerja di perusahaan baru menggunakan dana jampersal bila melahirkan anak ketiga dan seterusnya, demikian juga bagi PNS bila melahirkan anak ketiga baru menggunakan dana jampersal.

173

Masyarakat yang tergolong mampu dalam ekonomi biasanya melahirkan di rumah sakit elit di kota Cilegon, sehingga program jampersal bisa dikatakan untuk menolong masyarakat yang kurang mampu saja. Sebagian masyarakat kota Cilegon dan wilayah Citangkil pada khususnya masih membawa tradisi atau kepercayaan asal daerahnya terkait dengan kehamilan dan persalinan. Biasanya untuk mempercepat proses melahirkan menggunakan rumput Fatimah, diminum agar cepat lahir. Hal ini dapat menjadi penghambat penerimaan terhadap pelayanan medis oleh bidan dan tenaga kesehatan lainnya. Kurang Pengetahuan tentang Jampersal. Ketidak tahuan sebagian masyarakat terhadap program jampersal merupakan salah satu hambatan terhadap pelayanan medis oleh tenaga kesehatan dan tenaga kesehatan lainnya karena sebenarnya masyarakat sangat menginginkan segala sesuatu yang bersifat gratis. Kurang Puas terhadap Pelayanan RS. Dari hasil FGD dengan suami yang menggunakan jasa jampersal, merasa kurang puas dengan pelayanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Ada perbedaan antara yang menggunakan program jampersal dan yang tidak menggunakan program jampersal. Seperti pernyataan salah seorang bapak peserta jampersal:
Untuk rujukan ke RS tidak ada keluhan, untuk pelayanannya kalau bisa jangan dibedakan, kelas 3, satu ruangan ada 16 orang, padahal itu sudah penuh.

Harapan Diperjelas petunjuk teknisnya (terutama masalah transport untuk rujukan ke

RS terutama untuk daerah terpencil, serta masaalah obat-obatan) Bentuk SPJ dibuat sesederhana mungkin karena di puskesmas banyak perawat,

bukan accounting, kadang2 program memang bagus tetapi belum tahu di lapangannya seperti apa, tidak bisa di prediksi, terutama yg berkaitan dengan keuangan dan administrasi, Jika berubah di tengah jalan bisa mengulang lagi, demikian juga staf yang ada di Dinas kesehatan yang baru mendapat pelatihan tentang administrasi. Seperti yang disampaikan pejabat dinas kesehatan kota Cilegon sebagai berikut:

174

“tetapi belum tahu dilapangannya seperti apa, tidak bisa di prediksi, terutama yg berkaitan dengan Kita sebenarnya senang dengan bantuan Jampersal, tetapi untuk bentuk SPJ nya dikasih yang simple saja, krn kita di puskesmas banyak perawat, bukan accounting, kadang2 program memang bagus keuangan, administrasi, kalau berubah di tengah jalan bisa mengulang lagi, staf saya juga baru dilatih untuk administrasinya”

-

Dari sisi masyarakat pengguna jampersal diharapkan agar tidak ada perbedaan

antara pelayanan jampersal dan non jampersal dan penanganan tenaga kesehata diingkatkan.

175

3.5 Puskesmas Semata, Kabupaten Landak 3.5.1. Gambaran Umum Kabupaten Landak Kabupaten Landak merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Pontianak di Propinsi Kalimantan Barat. Diresmikan pada tanggal 4 Oktober, 1999. Ngabang

merupakan ibukota dari Kabupaten Landak, yang terletak diantara 1°00’ LU hingga 0°52’ LS serta 109°10’42” BT hingga 109°10’ BB. Secara administrasi Kabupaten Landak berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang di sebelah utara; sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pontianak; sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sanggau, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pontianak.

Gambar 3.5.1. Kabupaten Landak

Peta

Lokasi

Keterangan:  Jumlah Kecamatan: 13  Luas wilayah : 9.909,1 Km2  Posisi : 1°00’ LU hingga 0°52’ LS serta 109°10’42” BT hingga 109°10’ BB.  Sarana Kesehatan: 12 puskesmas, 71 Puskesmas Pembantu (pustu), 141 poskesdes/polindes, 16 unit mobil pusling

Sumber: http://www.indonesianhistory.info/map/kalbar2007.html?zoomview=1

Ketersebaran desa di Kabupaten Landak tidak merata karena faktor geografis dan luasnya wilayah. Kabupaten Landak terdiri dari 13 Kecamatan, dengan luas wilayah 9.909,1 km2 atau 6,75% dari luas wilayah Propinsi Kalimantan Barat, dan merupakan kabupaten dengan luas wilayah terkecil ketiga setelah Kabupaten Pontianak dan Kota Pontianak. NamaLandak berasaldari BahasaBelanda yang terbagi menjadi dua suku

kata, Landan Dak. LAN diambil dari bahasa inggris/belanda “land” yang berarti tanah dan DAK yang mengacu pada arti Dayak, sebagai mayoritas penduduk asli di daeah tersebut. Berdasarkan catatan sejarah bahwa kata "Dayak" ditulis oleh para penulis
176

Belanda zaman itu dalam bentuk "Dyak" atau "Dyaker". Sementara kata "Land" berarti "tanah". "Land-Dyak" sebenarnya bermakna "Tanah Dayak" yang kemudian diubah menjadi "Landak". jadi Landak bisa berarti adalah pulau atau tempat bermukim dan menetapnya suku Dayak. Kabupaten Landak dapat dikategorikan sebagai kabupaten daerah hujan dengan intensitas tinggi. Secara umum curah hujan rata-rata di Kabupaten Landak sebesar 160 mm per bulan. Intensitas curah hujan yang cukup tinggi ini kemungkinan dipengaruhi oleh daerah di Kabupaten Landak yang memang masih banyak berhutan tropis yang diselingi oleh banyaknya perkebunan sawit. Dengan banyaknya lahan perkebunan sawit menjadikan masyarakat di Kabupaten landak banyak yang bekerja di sektor pertanian (82,88%), yang kemudian diikuti oleh sektor perdagangan (5,36%) dan sektor-sektor lainnya seperti industri, konstruksi, angkutan, pertambangan, listrik, telekomunikasi dan lain-lain.
Tabel 3.5.1 Wilayah Administratif Kecamatan di Kabupaten Landak Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kecamatan Menjalin Mempawah Hulu Menyuke Air Besar Ngabang Sengah Temila Mandor Meranti Kuala Behe Sebangki Jelimpo Sompak Banyuke Hulu Kabupaten Landak Jumlah Puskesmas 1 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 1 1 16 Jumlah Desa 8 17 16 16 19 14 17 6 11 5 13 7 7 156 Jumlah Dusun 26 52 83 34 71 69 56 25 28 27 46 21 17 555

Sumber: Kabupaten Landak dalam Angka Tahun 2011

177

Dalam hal sarana dan prasarana kesehatan, Kabupaten Landak didukung oleh 16 Puskesmas dimana 12 puskesmas diantaranya merupakan puskesmas perawatan. Selain itu Kabupaten landak juga mempunyai 71 Puskesmas Pembantu (pustu)dan 141 poskesdes/polindes serta ditunjang oleh sarana 16 unit mobil pusling yang masih difungsikan. Ketersebaran desa di Kabupaten Landak tidak merata karena faktor geografis dan luasnya wilayah. Beberapa kecamatan yang memiliki jumlah desa relatif banyak, yakni: Kecamatan Ngabang (19 desa), Kecamatan Mempawah Hulu (17 desa), Kecamatan Mandor (17 desa). Sedangkankecamatan yang memiliki jumlah desa yang relatif kecil, yakni: Kecamatan Sebangki ( 5 desa ), Kecamatan Meranti (6 desa), Kecamatan Sompak ( 7 desa ), dan Banyuke Hulu ( 7 Desa ). Kabupaten Landak masih tergolong jarang penduduknya. Pada tahun 2010, kepadatan penduduk di Kab. Landak adalah 33 jiwa/ km2. Jumlah penduduk Kabupaten Landak adalah 329.649 jiwa, terdiri dari 172.373 (52,28% ) orang laki-laki. dan 157.276 jiwa (47,71%) perempuan.
Tabel 3.5.2 Distribusi Penduduk, KK, Bayi, Balita dan BumilTahun 2010 Penduduk No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kecamatan Menjalin Mempawah Hulu Menyuke Air Besar Ngabang Sengah Temila Mandor Meranti Kuala Behe Sebangki Jelimpo Sompak Banyuke Hulu JUMLAH L 9.712 17.291 13.466 11.764 31.380 27.842 14.638 4.810 7.249 8.577 12.242 7.096 6.306 172.373 P 8.886 15.491 12.250 10.160 29.203 25.651 13.749 4.270 6.401 8.076 11.096 6.485 5.558 157.276
178

Jumlah Kk 3.872 6259 5403 5.082 14.346 11.640 6.576 2.008 3.082 3.513 5.411 2.807 2.265 72.264

Usia Reproduktif Bayi 408 331 93 175 580 789 34 116 68 85 423 126 235 3.463 Balita 2.764 4.899 4.053 3142 8.344 7.735 3.944 1.383 1.989 2.448 3.469 2.029 2.051 48.250 Bumil 514 911 754 584 1.287 1.437 734 257 370 455 645 377 381 8.706

Masalah Kesehatan Ibu Dan Anak Kesehatan merupakan salah satu indikator dalam mengukur tingkat kesejahteraan suatu negara. Rakyat yang sehat merupakan salah satu modal untuk menjadi negara yang kuat; kuat secara fisik, ekonomi, maupun social. Kesehatan ibu dan anak merupakan cerminan keberhasilan suatu Negara dalam membangun masyarakatnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah telah berusaha secara terus-menerus untuk menjaga dan memantau kesehatan masyarakatnya, terutama mereka yang tergolong rawan dan memiliki risiko tinggi yaitu ibu bayi dan anak balita. Di Kabupaten Landak, program peningkatan kesehatan ibu dan anak dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan ibu hamil, pelayanan persalinan, pelayanan paska persalinan hingga pelayanan keluarga berencana yang sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat. Program tersebut dilaksanakan melalui Program Jaminan Persalinan Gratis yang disebut JAMPERSAL. Meskipun pelayanan program Jampersal diberikan gratis oleh pemerintah, tidak mudah untuk dapat mencapai keberhasilannya tanpa adanya upaya yang konsisten dan terus-menerus dilakukan oleh pemerintah untuk memastikan masyarakat dapat menikmatinya sesuai dengan kebijakan yang telah dikeluarkan. Untuk mengetahui hal tersebut, ada baiknya diketahui kondisi kesehatan masyarakat sebelum pelaksanaan Jampersal dimulai. Informasi berikut merupakan dasar yang dapat digunakan seberapa jauh program Jampersal dapat berkontribusi berdasarkan hasil penelitian yang akan diuraikan dalam bab selanjutnya. Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Tenaga Kesehatan Pelayanan kesehatan di Kabupaten Landak dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang tersebar di berbagai pelayanan kesehatan, tersedia 1 (satu) rumah sakit pemerintah (RSUD Ngabang), 16 Puskesmas, 72 Pustu, 146 Polindes, 30 Poskesdes, 354 Posyandu dan 20 buah Pusling roda 4 untuk melayani seluruh penduduk.

179

Tabel 3.5.3. Jumlah Penduduk dan Distribusi Sarana Bangunan Fisik Kesehatan Menurut Puskesmas di Kabupaten Landak Tahun 2010 Jumlah No Kecamatan Penduduk Jumlah PKM Jumla Jumlah Jumlah Jumlah h Pos’kdes Poldes P’yand Pust u 4 7 6 7 12 7 7 1 4 4 6 4 3 72 8 17 16 13 16 12 17 6 11 5 9 5 7 146 2 3 3 2 3 4 2 1 2 2 3 2 1 30 38 56 17 18 42 93 93 32 6 13 0 11 7 354

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Menjalin Mempawah Hulu Menyuke Air Besar Ngabang Sengah Temila Mandor Meranti Kuala Behe Sebangki Jelimpo Sompak Banyuke Hulu Jumlah

18.598 32.782 25.716 21.924 60.583 53.493 28.387 9.080 13.650 16.653 23.338 13.581 11.864 329.649

1 1 1 1 2 3 1 1 1 1 1 1 1 16

Pada tahun 2010 jumlah tenaga kesehatan di seluruh Kabupaten Landak adalah 553 orang dengan ratio tenaga kesehatan untuk masyarakat per 100.000 penduduk dalah 168. Hal ini berarti bahwa dari setiap 100.000 penduduk dilayani oleh 168 tenaga kesehatan, atau 1 orang tenaga kesehatan melayani 596 penduduk.

180

Tabel 3.5.4 Jumlah dan Jenis Tenaga Kesehatan Kabupaten Landak Tahun 2010 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Tenaga Kesehatan Dokter Spesialis Dokter Umum Dokter Gigi Bidan Perawat Perawat Gigi Tenaga Kefarmasian Analis Kesehatan Tenaga Gizi Tenaga Kesmas Tenaga Sanitasi Tenaga Teknisi Medis Fisioterapis Jumlah Jumlah 1 21 6 143 276 17 17 9 18 12 22 10 1 553

Kesehatan Bayi dan Anak Jumlah kelahiran hidup di Kabupaten Landak pada Tahun 2011 sebesar 5.193 bayi. Terdapat 16 bayi yang lahir mati. Angka lahir mati tersebut berdasarkan

laporkan program oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Landak. Jumlah balita di Kabupaten Landak pada Tahun 2011 berdasarkan estimasi jumlah penduduk yang tertulis dalam lampiran profil Kesehatan Kabupaten Landak (laporan Ibu 2011) adalah 42.649 orang, yang terdiri dari 21.922 (51,4% ) anak laki-laki dan 20.727 ( 48,6% ) anak perempuan.

Kesehatan Ibu, ANC dan Pertolongan Persalinan dan KB Pada Tahun 2011, jumlah pasangan usia subur (PUS) di Kabupaten Landak

sebanyak 57.134, dengan jumlah PUS yang tegolong miskin sebanyak 32,8%.

181

-

Jumlah kehamilan di Tahun 2011 sebanyak 7.874 kehamilan, dengan jumlah

kematian ibu sebanyak 7 orang kematian. Penyebab kematian terbanyak karena 3 terlambat dengan kasus perdarahan sebanyak 6 kasus kematian. Jumlah K1 di Tahun 2011 sebesar 5.882 bumil (74,7%), sedangkan K4 sebesar

5.691 (72,28%). Sedangkan untuk jumlah linakes di Tahun 2011 sebesar 5.409 kelahiran (71,96%). Jumlah persalinan yang dilakukan di fasilitas kesehatan sebanyak 1.907 (35,3%) sedangkan sisanya 3.502 persalinan (64,7%) tidak dilakukan difasilitas kesehatan. Untuk kepesertaan KB, di Tahun 2011 jumlah akseptor KB di Kabupaten Landak

sebesar 11.152 akseptor, dimana sebagian besar akseptor memakai metode suntik dan pil.

3.5.2. Gambaran Umum Puskesmas Semata Hasil kajian data dan konsultasi dengan kepala Dinas Kesehatan dan stafnya untuk menentukan lokasi penelitian dengan kriteria puskesmas dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang masih rendah, maka terpilih kecamatan Semata, yang merupakan pemekaran dari Puskesmas Ngabang. Geografi Puskesmas Semata berjarak sekitar 10 km dari pusat kota. Meskipun lokasinya dipinggir jalan akses ke Pontianak, wilayah kerja Puskesmas Semata cukup luas dengan persebaran penduduk yang sangat lebar antara kelompok-kelompok perkebunan / hutan kelapa sawit.Luas wilayah kerja Puskesmas Semata Kecamatan Ngabang adalah 636,7
km², meliputi 9 desa dan terdiri dari 40 dusun. Puskesmas Semata Kecamatan Ngabang terletak di 14 km dari ibu kota kabupaten atau di jalur sutra /jalan antar Negara .

Secara administratif wilayah kerja Puskesmas Semata berbatasan dengan: a. b. c. d. Sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Menyuke Sebelah Barat berbatasan dengan kecamatan Sengah Temila Sebelah Timur berbatasan dengan kecamatan Ngabang Sebelah Selatan berbatasan dengan kecamatan Sui Ambawang

182

Sebagian daerahnya adalah tanah sawah, tanah kering, hutan dan lain-lain, sebagian besar daerahnya mudah dijangkau melalui darat dengan jalan beraspal dan jalan dengan pengerasan, sedangkan daerah yang agak terpencil, jangkauannya melalui sungai dan daerah pegunungan. Demografi Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Semata Kecamatan Ngabang adalah 26.772 jiwa dengan 6.615 KK, sebagian besar terdiri dari suku Dayak, Melayu, Jawa, Batak, Cina dan sebagian kecil adalah suku lainnya. Sekitar 25 % penduduknya bermukim di daerah pusat pemerintahan dan perekonomian serta sisanya tersebar merata di wilayah desa. Sebagian besar penduduknya berdekatan dengan tempat tempat pelayanan kesehatan ( Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Polindes ).
Tabel 3.5.5 Data Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Semata di Kabupaten Landak Tahun 2010

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Desa Amboyo Inti A. Selatan A. Utara Antan Rayan Amang Penyahu Dangku Temiang Sawi Sebirang Pak Mayam JUMLAH

Dusu n 4 12 7 4 4 2 3 2 2 40

RT 14 36 19 11 7 4 10 6 6 113

KK 1963 1678 985 658 340 192 225 199 375 6615

Rumah 1963 1678 985 658 340 192 225 199 375 6615

Pendd k 6628 6903 4660 2926 1410 830 1174 742 1499 26772

Bayi 166 170 102 79 38 40 79 39 43 756

Balita 861 878 522 410 193 207 408 201 221 3901

Bumi l 158 161 96 75 36 38 74 37 41 716

Bulin 150 153 91 71 39 35 71 36 38 684

Sosial Ekonomi Masyarakat Tingkat pendidikan masyarakat rata-rata masih berpendidikan Sekolah Dasar, penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan sebagian kecil adalah pedagang dan pegawai negeri. Jumlah masyarakat yang tergolong miskin 13.593 jiwa (50.8%) dari 26.772 jumlah penduduk).
183

Sebenarnya di Kecamatan Ngabang terbagi dalam 2 wilayah kerja Puskesmas yaitu Puskesmas Ngabang dan Puskesmas Semata dan di wilayah kerja Puskesmas Semata terdapat 6 buah perusahaan bergerak dalam Perkebunan Kelapa Sawit,

sekarang ini banyak petani berusaha untuk memelihara perkebunannya yang hasilnya dapat meningkatkan pendapatan dan secara tidak tidak langsung akan meningkatkan ekonomi masyarakat. Usaha lainnya adalah peningkatan ekonomi bagi masyarakat miskin melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat seperti : P2KP dan PPK yaitu dalam usaha kelompok melalui Simpan Pinjam (SPP) sampai sekarang kegiatan tersebut masih berjalan. Penduduk yang berada di wilayah kerja Puskesmas Semata sebagian besar masih percaya pada dukun sehingga pasien yang berobat di sarana kesehatan yang ada rata – rata sebelumnya telah berobat ke dukun. Untuk bidang keamanan dalam wilayah Puskesmas Semata dalam keadaan kondusif sehingga roda pemerintahan, pembangunan dan ekonomi masyarakat berjalan dengan lancar. Kepercayaan masyarakat terhadap dukun yang disertai pendidikan yang rendah secara otomatis akan mempengaruhi pengetahuan masyarakat dibidang kesehatan dan akan menghambat pembangunan dibidang kesehatan, sedangkan kalau dilihat dari jumlah penduduk yang miskin maka kemampuan untuk berobat masih dianggap menjadi masalah. Derajat Kesehatan Masyarakat Untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat yang ada di Kecamatan Ngabang, Puskesmas Semata Kecamatan Ngabang menyajikan berdasarkan dari data Mortalitas (kematian) dan data Morbiditas hasil kegiatan Puskesmas Semata Kecamatan Ngabang pada tahun 2011. Data mortalitas meliputi data : Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Ibu dan Umur Harapan Hidup. Sedangkan morbiditas berdasarkan angka kesakitan yang terjadi pada masyarakat dalam kurun waktu 1 tahun yaitu pada tahun 2011. Angka kematian bayi. Angka Kematian Bayi yang biasa dipergunakan yaitu angka kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2011 di Puskesmas Semata Kecamatan Ngabang jumlah angka kelahiran hidup 638 bayi. Sedangkan angka

184

kematian bayi berjumlah 6 kasus. Berarti angka kematian bayi pada tahun 2010 di Puskesmas Semata Kecamatan Ngabang 2 per 1.000 kelahiran hidup (jadi setiap 1.000 kelahiran ada 3 bayi yang mati). Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan angka kematian bayi nasional mencapai 35 per 1.000 bayi lahir hidup. Angka Kematian Bayi di Puskesmas Semata Kecamatan Ngabang di sebabkan oleh Asfiksia dan Premature. Angka kematian ibu Di Indonesia angka kematian ibu pada tahun 2007 adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup (ini berdasarkan data SDKI, MDGs dan Bappenas tahun 2007) . Sedangkan di Kabupaten Landak belum ada data angka kematian ibu yang dilaporkan baik itu dari BPS atau dari organisasi lainnya. Di Puskesmas Semata Kecamatan Ngabang angka kematian ibu diambil dari laporan yang dilaporkan oleh bidan desa di polindes, petugas kesehatan di puskesmas pembantu, dan bidan di puskesmas induk. Pada tahun 2011 ada 1 kasus kematian ibu nifas yang dilaporkan disebabkan karena anemia. Usia harapan hidup di Kalimantan Barat berdasarkan hasil Indonesia Human Development Report (HDR) tahun 2005 rata-rata umur harapan hidup masyarakat Kalimantan Barat adalah 68,08 tahun untuk perempuan dan 65,66 tahun untuk lakilaki, angka ini di bawah angka nasional 69,7 tahun. Kabupaten Landak Usia Harapan Hidup 64,5 tahun pada laki-laki, dan 67,7 tahun pada perempuan (berdasarkan data UNFPA, BPS tahun 2005).

Masalah kesehatan ibu dan anak dan cakupan pelayanan Pemeriksaan kehamilan. Terdapat perbedaan informasi mengenai

pemeriksaan ibu hamil berdasarkan data rekapitulasi Dinas Kesehatan 2011 untuk Puskesmas Semata dengan Profil Puskesmas Semata 2011. Namun demikian, untuk menjaga netralitas hasil penelitian, maka data sekunder ini disajikan berdasarkan sumber datanya. Adapun kajian dan analisis dilakukan pada sub hasil penelitian dan pembahasannya pada uraian selanjutnya.

185

Tabel 3.5.6 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Tahun 2011 Berdasarkan Data Dinas Kesehatan dan Profil Puskesmas Semata

No Indikator 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jumlah bumil K1 K4 TT1 TT2 Fe1 Fe3 Deteksi Risti oleh Nakes Rujukan Risti

Rekap Dinkes n 682 526 501 526 501 526 501 19 2 % 76.68 73.03 76.68 73.03 76.68 73.03 13.85 1.4 n

Data Profil % 77.65 85 41.3 52.4 95.5 84.9 -

716 556 612 296 375 684 608 0 0

Pertolongan persalinan. Berdasarkan rekapitulasi data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Landak, jumlah ibu bersalin di Puskesmas Semata selama Tahun 2011 adalah 654 orang, dan sebanyak 57,9% ditolong oleh tenaga kesehatan. Dari total yang bersalin dengan tenaga kesehatan (379 orang), hanya 36,4% yang melahirkan di fasilitas kesehatan (Puskesmas/Polindes). Sebagian besar 63,6% ibu bersalin dirumah dengan pertolongan bidan. Data ini juga menunjukkan bahwa pertolongan persalinan oleh dukun masih tinggi, yaitu 42,1%. Bila dilihat dari upaya pemerintah untuk

mencapai MDGs, maka kondisi persalinan di Puskesmas Semata tampaknya masih jauh dari target pencapaian MDGs, yaitu persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Data dari rekapitulasi Dinas Kesehatan menunjukkan angka yang berbeda dengan data Profil Puskesmas 2011 seperti paparan berikut ini. Pelayanan persalinan yang dilakukan oleh petugas kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Semata Kecamatan Ngabang mencakup 558 (86 %) sedangkan target adalah 684 (100 %). Kalau dilihat dari pelayanan persalinan oleh petugas kesehatan belum mencapai target yang diinginkan.

186

Bila dilihat pada tahun-tahun sebelumnya pertolongan persalinan oleh petugas kesehatan pada tahun 2011 mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan jumlah pencapaian tahun 2010 yaitu sebanyak (76,30 %) atau 528 Bulin. Berdasarkan data-data tersebut, tampak adanya perbedaan cakupan yang sangat lebar antara laporan Dinas Kesehatan 2011 dan Profil Puskesmas 2011, sehingga sulit melakukan analisis mengenai kondisi yang sebenarnya. Namun hasil pengumpulan data kuantitaif dan kualitatif dari studi ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih mendekati secara community based. Fasilitas Pelayanan dan Ketenagaan di Puskesmas Semata Puskesmas Semata merupakan puskesmas induk dengan pelayanan rawat jalan. Dengan cakupan wilayah yang cukup luas dan menyebar, Puskesmas Semata dibantu oleh 7 puskesmas pembantu (pustu) yang tersebar di 6 (enam) buah desa, dan dilengkapi dengan 7 buah polindes, masing-masing terletak di setiap desa yang ada, dan 2 buah Poskesdes yang terletak di Desa Antan Rayan dan Amboyo Inti. Jumlah seluruh tenaga penunjang kegiatan di Puskesmas Semata terdiri dari 43 orang. Semua karyawan sudah memiliki status sebagai PNS (38 orang) CPNS (3 orang) dan PTT (1 orang).
Tabel 3.5.7 Komposisi ketenagaan di Puskesmas Semata

No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Jenis Tenaga
Dokter umum Dokter gigi Bidan Perawat Perawat gigi Sanitarian Gizi Analis kesehatan Pekarya kesehatan Petugas kebersihan Jumlah

Jumlah
1 1 11 21 1 1 2 1 3 1 43

187

3.5.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak Dalam menyikapi persoalan kehamilan, persalinan, pasca persalinan dan pemanfaatan program jampersal di Kabupaten Landak, masyarakat masih

mengkaitkannya dengan budaya atau kebiasaan yang berlaku dan melekat erat hingga tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan yang Ada di Masyarakat tentang Ibu Hamil Kehamilan merupakan suatu saat yang penuh arti dan banyak ditunggu oleh setiap pasangan yang menikah. Demikian juga pendapat dari para informan yang terkumpul dalam kegiatan diskusi kelompok terarah di Kab Landak. Salah satu peserta FGD toma yg berinisial B mengatakan bahwa kehamilan itu adalah anugrah yang musti dijaga dan dirawat sehingga menghasilakan anak yang sehat. Tetapi peserta diskusi dari kelompok toma ada juga yang mengatakan,
“kehamilan itu adalah suatu keharusan...... Karena dengan kehamilan itu kita bisa meneruskan keturunan dan keluarga...makanya setiap orang yang menikah itu harus hamil. itu kan kebangaan keluarga juga...”

Tetapi ada juga suami yang mengikuti program jampersal mengatakan;
“ kehamilan itu kan sesuatu yang lumrah kalo kita sdh berkeluarga. Jadi menurut saya kehamilan itu sih ndak usah terlalu dibesar-besarkan. Wajar kok. Kita Cuma harus ngejaga nya aja biar tetap sehat. Ibunya sehat anakna juga sehat...kita juga harus rajin periksa ke bidan biar tetap sehat...”

Ada juga yang informan dari kelompok suami yang tidak mengikuti program jampersal berpendapat;
”kalo istri hamil itu kan sebenarnya dia lagi keadaan lemah gitu... ndak kuat kerja..ndak bisa tahan lama-lama berdiri..jadi kita sebagai suami ya harus bantu istri..kalo kita sudah menikahi dia berarti kita juga harus bantu dia..masa istri ndak bisa apa-apa ndak kita bantu....”

Pandangan yang Ada di Masyarakat tentang Ibu Bersalin Beragamnya pandangan masyarakat akan persalinan seorang ibu terungkap dalam diskusi kelompok terarah yang dilakukan terhadap para bidan, para tokoh

188

masyarakat, para suami pengguna program Jampersal dan para suami yang tidak mengikuti program jampersal. Salah seorang informan dari kelompok tokoh masyarakat mengatakan;
“persalinan itu sesuatu yang penting,pak. kita tidak boleh lengah karena itu menyangkut nyawa. Baik nyawa si ibu maupun si anak itu. Jadi menurut saya persalinan itu harus berada dalam suasana yang enak buat si ibu yang mau melahirkan..enak juga buat yang nolongnya....”

Sedangkan informan lain dari kelompok yang sama mengatakan:
“ melahirkan itu adalah peristiwa keluarnya si jabang bayi dari rahim ibu. Nah, sewaktu keluarnya itu yang harus di tolong oleh bidan atau dukun karena si ibu yang tidak kuat atau tidak tau caranya buat yang pertama. Jadi melahirkan itu harus di tolong,pak...kita juga bisa jadi penolongnya....”

Sedangkan dari kelompok bidan, salah seorang informan mengatakan bahwa persalinan itu adalah hal yang lumrah karena dari setiap kehamilan yang terjadi pasti akan ada proses persalinan, tapi yang membedakannya adalah bagaimana proses bersalin itu dan siapa yang menolong persalinan tersebut agar tidak ada yang meninggal baik si ibu maupun bayi yang baru dilahirkannya. Pendapat dari kelompok suami yang tidak mengikuti program jampersal, salah seorang informannya mengatakan;
“ melahirkan itu kan keluarnya si bayi dari rahin ibu, jadi ya keluar saja, kita tidak bisa apa-apa karena memang sudah seperti itu. Cumamemang sewaktu kelurnya itu sepertinya kita tidak bisa menolong si ibu, jdi kita minta tolong sama orang yang bisa nolong, orang yang...ngertilah buat begitu-begitu...biasanya sih bidan atau dukun ya pak,,,”

Pandangan tentang Keputusan Menentukan Tempat Bersalin dan Pembiayaannya Ketika pembicaraan bergulir dan menanyakan pendapat para informan mengenai keputusan siapa dan dimana seorang ibu bisa bersalin termasuk dengan pembiayaannya, informan dari kelompok suami non jampersal berkata;
“yang musti memilih dan memutuskan itu ya suaminya pak. karena kan suami yang bertanggung jawab buat istrinya...lagipula siapalagi yang nentuin, masa istri yang menentukan sedangkan dia sendiri lagi sakit, ya kita inilah,pak yang menentukan tempatnya...”

189

Para suami dari ibu yang tidak menggunakan Jampersal tampaknya tidak pernah terpapar dengan Jampersal. Mereka secara bersamaan menyatakan bahwa suamilah yang bertanggung jawab terhadap istri yang sedang sakit, sehingga merekalah yang harus membuat keputusan kemana istri harus dibawa untuk bersalin. Sosialisasi Jampersal kepada masyarakat sangat penting, dan tidak hanya melalui ibu yang sedang hamil. Kalaupun ibu ketika hamil memperoleh informasi dari bidan bahwa ada fasilitas Jampersal yang sifatnya gratis, tetapi dia tidak mengkomunikasikannya dengan suami, tentu suami tidak akan memiliki alternative dan pengetahuan tentang persalinan yang aman. Akhirnya mereka hanya pasrah dengan mengikuti tradisi dan kebiasaan setempat (bersalin dengan dukun), yang dalam hal ini akan sangat mengkhawatirkan provider kesehatan terhadap risiko yang mungkin terjadi dan terkait dengan upaya pemerintah dalam penyelenggaraan Jampersal. Berbeda halnya dengan pendapat para suami pengguna Jampersal kutipan dibawah ini:
“ sepertinya kalo urusan yang menentukan tempat melahirkan itu ya kita samasama pak. sama-sama istri, kan sebelum melahirkan itu kita tanya dia maunya dimana, kalo dia maunya di bidan atau dirumah saja ya itu kan terserah dari istri maunya dimana, soalnya kanpak, kalo melahirkan itu kan istri sendiri harus enak, harus nyaman gitu. Soalnya kalo nggak enak takut ada apa-apanya sama istri,pak...”

seperti

Dari hasil penggalian informasi tampak sekali bahwa suami dari para ibu pengguna Jampersal tampak lebih komunikatif dengan istri. Para istri mungkin menyampaikan apa yang mereka dengar dari bidan sekembalinya dari periksa hamil. Suaminyapun cukup mengerti dengan informasi yang diperoleh dari istri. Ternyata komunikasi tersebut membuahkan hasil yang positif terhadap kesehatan, artinya ada transfer informasi berdasarkan sosialisasi yang diperoleh oleh ibu dari bidan ke suami. Ini merupakan aspek positif; meskipun sosialisasi tidak dilakukan, komunikasi personal dari bidan ke ibu juga membawa efektif. Informasi tentang keputusan dalam menentukan tempat bersalin juga digali dari tokoh masyarakat. Hal ini dimaksudkan untuk menggiring peserta pada penggalian selanjutnya mengenai sosialisasi Jampeprsal.

190

“melahirkan itukan diibaratkan sakit ya, pak. jadi memang harus di tolong. Yang berhak untuk menolongnya adalah orang yang punya kemampuan untuk menolong, yaitu bidan atau dukun, kalo di desa-desa mungkin lebih banyak dukun kali ya pak...nah yang menentukan dimananya ya kepala keluarga,pak. Karena kepala keluarga yang bertanggungjawab atas keluarga tersebut, termasuk bertanggungjawab sama istrinya...jadi menurut saya ya harus kepala kaluarga yang menentukan. Dan biasanya kepala keluarga itu kan laki-laki ....”

Tampak adanya sedikit distorsi informasi yang disebabkan oleh pengetahuan tokoh masyarkat yang sudah lebih memahami arti persalinan. Mereka secara diplomatis menyebut kemampuan menolong persalinan dapat dilakukan oleh bidan ataupun dukun. Mereka secara eksplisit menyatakan bahwa kepala keluarga yang biasanya membuat keputusan kemana istri sebaiknya dibawa ketika bersalin. Yang dimaksud dengan kepala keluarga disini adalah suami dari ibu yang bersalin. Di wilayah Puskesmas Ngabang pada umumnya, menurut tokoh masyarakat, ibu-ibu bersalin dengan pertolongan dukun. Untuk memperkuat informasi tentang keputusan dalam pencarian pertolongan persalinan, maka triangulasi informasi dilakukan dengan para bidan. Bidan sebagai informan kunci yang diharapkan dapat memberikan informasi lebih netral dan to the poin karena menyangkut bidangnya. Hasil diskusi kelompok dengan bidan menyatakan;
“Kalo disini sih pak biasanya ya kepala keluarga yang menentukan mau bersalin dimana. Kita nggak bisa memaksa mereka untuk bersalin di bidan, karena mereka punya keluarga dan ada yang bertanggungjawab. Biasanya sih kalo mereka tinggal sendiri, ya suaminya,pak. tapi kalo mereka tinggal sama orang tua ya biasanya orangtua yang mengatur meski ada suaminya. Biasanya juga suami Cuma menuruti orangtua,pak. ya menghormati orangtua lah....”

Informasi mengenai pembiayaan persalinan digali dari kelompok diskusi yang sama yaitu suami ibu bersalin, tokoh masyarakat maupun bidan. Pendapat para tokoh masyarakat adalah bahwa biaya persalinan merupakan biaya yang memang harus dikeluarkan oleh setiap kepala keluarga karena berhubungan dengan risiko yang ditanggung oleh istri yang besalin. Informasi yang diperoleh dari tokoh masyarakat seperti dikutip dibawah ini:

191

“ mengenai biaya,pak. itu sih mang harus dikeluarin oleh setiap suami. Karena selain sebagai kepala rumah tangga, suami juga harus bertanggungjawab atas kesehatan istrinya termasuk waktu melahirkan. Jadi dia harus membayar berapapun biaya yang diperlukan untuk istrinya melahirkan... jadi itu sih risiko jadi suami pak. kalo suaminya tidak mau membayar...ya kebangetan,pak....orang istri, istri dia kok malah orang lain yang suruh bayar....”

Pendapat yang senada dikeluarkan oleh kelompok suami yang mengikuti program jampersal, salah seorang informannya mengatakan;
“ kalo musti bayar sih mang sudh harus kita bayar,pak...masak orang lain yang bayar...pake uang pak bayarnya...lebih praktis...”

Dalam diskusi kelompok terarah, bidan sebagai provider dan pemberi pelayanan mengungkapkan bahwa biaya persalinan yang diterima dari masyarakat tidak ditentukan, seperti kutipan yang disampaikan oleh salah seorang peserta diskusi:
“ kita sih ikhlas aja pak...mau di bayar syukur ndak di bayar juga ndak apa-apa. Orang kita ini kan sudah tau sama tau lah keadaan disini. Kita juga ndak pernah memaksa. Tapi sering juga sih kita dibayar..ya pake uang, ya pake beras, ya pake kain...tergantung dari yang ngasihnya juga,pak. seikhlasnya mereka aja...”.

Pengakuan para bidan sedikit berbeda dengan informan kunci yang diwawancara selama di lapangan. Fakta dan solusi terhadap kondisi lapangan adalah lokasi Polindes yang jauh, sehingga persalinan tidak dilakukan di fasilitas kesehatan. Hal ini merupakan ‘pelanggaran’ terhadap implementasi Jampersal; oleh karena itu, ada toleransi kebijakan Jampersal terhadap kondisi ini, sepanjang persalinan dapat ditangani oleh bidan (bukan dukun). Untuk itu, bidan masih tetap diijikan untuk melakukan claim Jampersal. Dalam kondisi bidan dipanggil kerumah dan masih untuk menolong

persalinan ibu, maka biasanya keluarga dibebankan tambahan biaya sekitar Rp. 400 s/d 500 ribu sebagai kompensiasi dan transportasi bidan. Tarif persalinan umum (non Jampersal) untuk bidan panggilan di wilayah Kabupaten Landak berkisar antara 1.1 – 1.5 juta rupiah. Sehingga dengan demikian, pendapatan bidan dalam menolonga persalinan akan sepadan dengan penghasilan dari praktek swasta dan masyarakat tetap membayar lebih murah dari biaya sebenarnya (tetapi bukan gratis). Berkaitan dengan pertanyaan mengenai pembiayaan, ketika ditanyakan akan upaya pemerintah dalam memberikan pelayanan gratis untuk ANC, persalinan, nifas

192

termasuk neonatus dan KB pasca persalinan serta pelaksanaan program jampersal, salah satu informan dari kelompok bidan berpendapat;
“pemerintah sebenarnya sudah bagus pak, kita sih sini kan sebagai pelaksana aja ya,pak. pelayanan gratis untuk persalinan, nifas dan KB temasuk jampersal itu sebenarnya bagus. Tapi kita disini ini sering juga kesulitan. Contohnya begini, program jampersal ini kan gratis biaya persalinan, tapi kalo kita bilang gratis ke masyarakat, masyarakat itu pikirannya gratis semuanya, ya persalinannya, ya obatnya, ya pembalutnya ya semuanya,pak. terus kalo untuk pelayanan nifas,pak. seringkali justru kita yang malah keluar uang. Bukannya kita yang dapat uang.......disini ini kan daerahnya begini ya pak (perkebunan sawit, jarak yang jauh, dan kondisi jalan yang tidak memadai), nah untuk mencapai ibu bersalin itu kadang kami harus berjalan jauh malah kadang harus menginap pula di desa terdekat. karena jauh dan susah itu lho,pak.....terus kalo mau naik ojek, ya uang dari mana...memang sih ada dana misalnya dari BOK atau dari yang lainnya, tapi itu semua kan ndak cukup pak untuk daerah seperti ini....pusling saja sudah rusak dan tidak bisa jalan,pak...”

Pengakuan bidan tersebut ada benarnya. Triangulasi dengan informan kunci menyatakan bahwa hampir seluruh bidan juga melakukan pengurusan administrasi hingga ke kepala desa untuk dapat melakukan claim Jampersal, karena masyarakat (ibu) jarang sekali memiliki kartu identitas penduduk (KTP). Dalam pengurusan administrasi ini bidan juga sekaligus akan membuatkan akte untuk si bayi. Informasi ini tidak hanya diperoleh dari informan kunci, tetapi dari beberapa suami pengguna Jampersal maupun non Jampersal yang mengikuti diskusi. Beberaoa bidan juga memberikan suplemen Ketika informasi digali lebih lanjut

seperti vitamin dan susu untuk ibu bersalin.

mengenai pemberian susu bubuk pada bayi, Bidan menyatakan, tidak memberikan susu apapun untuk bayi yang baru lahir, dengan harapan Ibu tetap berusaha untuk memberikan ASI sebagai susu terbaik untuk bayi. Ketika pertanyaan tentang program Jampersal disampaikan kepada kelompok tokoh masyarakat, mereka berpendapat bahwa program yang dikembangkan oleh pemerintah sudah baik dan bermanfaat; namun diskusi mereka sedikit berkembang dengan adanya keluhan dan rasa tidak puas terhadap pelaksana

programnya/puskesmas. Mereka mengeluhkan jam buka puskesmas yang terlalu siang (diatas jam Sembilan) serta tidak adanya tenaga dokter dan petugas bidan yang tidak ditempat serta pelayanan puskesmas yang kurang baik, seperti kutipan dibawah ini:

193

“ untuk program pemerintah yang dijalankan di daerah ini, menurut saya sih sudah baik pak. hanya saja sepertinya pelaksaanaan disini nya saja yang kurang maksimal. Sebagai contohnya pak. pemerintah sudah menetapkan setiap puskesmas itu harus ada dokternya, harus ada bidannya, tapi coba bapak liat disini. Dokter aja nggak ada, bidan sih ada, tapi seringnya justru nggak ada. Jadi kalo kita butuh itu seringkali tidak bisa dilayani karena nggak ada tenaganya......”

Ketika pertanyaan yang sama disampaikan kepada kelompok kelompok suami pengguna jampersal, pendapat mereka :
“sudah bagus pak, saya sih mendukung program pemerintah ini. ....buat jadi mudah aja pak. jadi kita juga nggak kebingungan lagi baut cari uangnya....ya kita kan pengen sehat, tapi kadang nggak ada uangnya...tapi dengan adanya jampersal ini sih saya setuju aja...”

Sebaliknya pendapat dari kelompok suami bukan pengguna Jampersal menyatakan;
“ kita ndak tau pak ada program pemerintah yang kaya gitu..kalo tau sih ya kita pengen juga ikut...kita ndak pernah dikasih tau...mungkin ibunya tau, karena sering ikut posyandu, tapi kami ini ndak tau pak.maklumlah,pak. kami ini kan bekerja, mencari nafkah, sedang istri kan di rumah. Jadi kami ndak tau apaapa.....”

Salah seorang informal dari kelommpok ini juga mengatakan;
“… istri saya pengennya melahirkan di dukun, soalnya takut kalo pake bidan itu bayarnya mahal. tapi kalo ada program dari pemerintah begitu sih ya emang enaknya pake bidan aja....tapi ya tergantung istrinya juga lah,pak..”

Ketika ditanyakan mengenai alasan menggunakan dan tidak menggunakan program jampersal, para informan dari kelompok-kelompok yang berbeda saling mengutarakan pendapatnya. Untuk kelompok tokoh masyarakat ada informan yang mengatakan:
“kalo menurut saya,pak. kebanyakan orang pake jampersal atau jamkesmas atau apalah itu yang penting program pemerintah lah..itu karena mereka memang sudah tau apa yang mereka dapat dari program itu. Misalnya kalo kita sakit, nah kalo ada yang menanggung kaya pemerintah ini ya pastinya dia itu pake itu..tapi kalo dia ndak menggunakan fasilitas yang sudah disediakan ini ya itu sih pilihan mereka saja,pak......tapi mungkin juga mereka yang tidak menggunakan itu memang ndak mau menggunakan program itu...entah mereka ndak tau atau entah mereka memang ndak mau peduli.yang penting buat mereka sih istrinya melahirkan dengan selamat.itu saja...”

Pendapat tokoh masyarakat tersebut mencerminkan tidak adanya informasi yang diketahui tentang Jampersal baik oleh tokoh masyarakat maupun masyarakatnya. Namun jawaban tersebut juga mencerminkan ketidak-pedulian masyarakat tentang fasilitas yang telah disediakan oleh pemerintah, disamping juga ketidak-tahuan mereka. Untuk tipe masyarakat seperti ini, sosialisasi sepertinya perlu dilakukan; tidak cukup hanya memberitahu ibu ketika mencari pelayanan pemeriksaan ibu hamil, tetapi
194

juga ke para suami atau kepala rumah tangga. Ketidak-tahuan masyarakat tentang fasilitas yang ada menyebabkan mereka mencari alternative yang lebih murah dan lebih nyaman, sekalipun secara medis kita ketahui tidak aman. Sedangkan dari kelompok suami yang menggunakan jampersal, ada yang mengatakan;
“ kami pake jampersal, terutama waktu istri saya melahirkan itu sebetulnya kami juga ndak tau pak. Cuma memang kemarin-kemarin istri saya waktu di posyandu dikasih tau sama bidannya kalo mau melahirkan itu dipuskesmas atau sama bidan.jangan pake dukun...katanya siih kalo melahirkan di bidan itu gratis,pak....kemarin-kemarin juga istri saya mau diperiksa sama bidang. Jadi ya sudah saja melahirkan di bidan.dan ternyata kata bu bidannya itu ada program jampersal dari pemerintah, jadi ya syukurlah, kami jadi lebih ringan soal biayaan...jadi bisa dipake ke yang lain gitu,pak......”

Pilihan penolong persalinan sangat tergantung kepada kondisi masyarakat. Pemerintah memberikan fasilitas Jampersal dengan harapan bahwa masyarakat bersalin dengan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. Kenyataannya, meskipun dinyatakan gratis, masih banyak masyarakat yang memilih bersalin di dukun dibandingkan dengan bidan. Adapun alasan yang disampaikan, menurut salah satu informan dari suami bukan pengguna jampersal adalah sbb:
“ kita sih sebenarnya sama siapa aja nggak masalah,pak. Cuma istri kan maunya di dukun, jadi kita yang pilih dukun. Soalnya kata istri, dia lebih percaya sama dukun..lebih enak katanya..lagipula kalo didukun kita kan bisa lebih percaya karena dukun itu kan orang yang tinggal disini. Jadi kalo ada apa-apa kita bisa cepet gitu,pak...jadi nggak masalah kalo ada dukun.....”

Jawaban ini mencerminkan bahwa mereka tidak mengerti risiko dan bahaya yang mungkin terjadi akibat persalinan. Persepsi mereka bahwa bidan ataupun dukun memiliki kemampuan yang sama; tetapi dukun memiliki kelebihan karena merasa lebih percaya, sudah kenal, dan tinggalnya dekat, sehingga bila terjadi sesuatu pertolongan keluarga dan tetangga bisa lebih cepat. Informasi dan hasil diskusi dengan kelompok bidan menyebutkan masih adanya rasa percaya yang kuat terhadap dukun oleh masyarakat. Kepercayaan ini dilandasi dari sudah saling mengenal antar dukun dengan ibu, kedekatan rasa dan tempat tinggal serta dukun dapat melakukan pijatan kepada ibu
“susah,pak kalo disini. Di landak sini. Masyarakat masih banyak yang pergi ke dukun. Mau periksa atau mau melahirkan mereka banyak yang ke dukun. Mereka disini masih percaya dukun. Mereka bilang kalo mereka lebih percaya sama dukun karena biasanya dukun itu kan rumahnya dekat dengan rumah warga...lagipula

195

kalo sama dukun kan masyarakat bisa suka minta dipijit. Apalagi kalo sehabis melahirkan, banyak yang minta pijit. Kita kan nggak bisa mijit. Itu lho pak...kadang masyarakat minta dipijit sekalgus buat di keatasin..itu lho pak..peranakannya yang minta di keatasin. Kata mereka biar nggak cepet hamil lagi...”

Pendapat yang agak berbeda disampaikan oleh salah seorang bidan bahwa
“ kadang dukunnya juga sih pak yang sepertinya nggak rela kalo pekerjaannya kita ambil. Mereka itu seperti takut sama kita. jadi kadang dukunnya juga yang suka nakut-nakutin warga kalo mau melahirkan di bidan....itu lho,pak. Dukun itu takut nggak ada lagi yang bisa ngasih uang kalo dia nggak tolong yang melahirkan...kan melahirkan di dukun itu kan menurut mereka lebih murah karena dukun kan biasanya pake obat-obatan dari daun-daunan. Jadi warga itu percaya kalo melahirkan ditolong dukun itu lebih aman....”

Dari pendapat tersebut secara implisit tampak adanya persaingan dukun dengan bidan. Masyarakat sendiri tidak ada yang mengungkapkan pendapat seperti ini, sehingga perlu adanya upaya yang inovatif untuk mendekatkan hubungan dukun-bidan untuk bermitra. Pemerintah punya upaya, sebaliknya, masyarakat punya kehendak. Belum tentu upaya baik masyarakat dapat ditanggapi secara baik, terutama bila masyarakatnya masih terbelakang, dan banyak kepercayaan yang sifatnya negative (missal: dukun punya kekuatan melalui pemberian air suci atau jampi-jampi). Untuk menjembatani kondisi ini, ada baiknya dibuat suatu ‘pembinaan’ dukun untuk memberikan peran yang cocok, misalnya menjadi penjaring ibu hamil, dijadikan ‘konsultan adat’ dalam kehamilan dengan memberikan materi-materi makanan sehat untuk ibu hamil, perawatan kehamilan, perawatan bayi, dll, sehingga dukun merasa diberi peran dan masyarakat juga merasa nyaman.

Hubungan antara Bidan-Dukun Para bidan ini juga berpendapat bahwa hubungan mereka dengan dukun yang ada di masyarakat itu sebenarnya cukup baik. banyak juga dukun yang menjadi mitra para bidan dalam membantu persalinan warga. Banyak dukun yang menyerahkan pertolongan ke bidan karena para dukun tersebut sebenarnya merasa bahwa mereka sudah tidak bisa menolong lagi. tetapi banyak warga yang masih percaya dengan mereka. Jadi jika ada yang membutuhkan pertolongan dukun bersalin, maka sebelum

196

datang ke rumah warga yang memanggil tersebut, biasanya para dukun tersebut menghubungi bidan dan mengajak bidan tersebut untuk pergi bersama ke rumah warga. Namun para bidan ini juga mengakui bahwa masih ada dukun yang memang tidak mau meminta bantuan kepada bidan karena merasa tersaingi dalam hal pekerjaannya. Pandangan ini senada dengan keterangan yang dikemukakan oleh salah informan dari kelompok suami non jampersal yang mengatakan:
“kita lebih percaya dukun,pak dari pada bidan ....”

Atau pendapat yang dikemukakan oleh salah satu informan dari kelompok tokoh masyarakat:
“disini, di landak ini budaya masih kuat,pak. masih banyak yang pake mejik. Disini orang-orang masih percaya sama yang begituan pak. jadi memang masih banyak yang pergi ke dukun. Karena selain mau minta di tolong juga sekalian minta di kasih perlindungan dari yang mau mengganggu...”

Kepercayaan yang bersifat negative seperti tersebut diatas sangat umum pada masyarakat tradisional dan memiliki pendidikan rendah. Diperlukan pendekatan social budaya untuk dapat merubah konsep masyarakat dalam peningkatan kesehatan dan kesehatan yang lebih baik. Hubungan antara bidan dengan aparat desa dan tokoh masyarakat ditanyakan kepada bidan untuk dapat mengetahui seberapa jauh keterlibatan perangkat desa dalam mensukseskan tujuan Jampersal. Hasilnya ternyata cukup mengherankan, seperti yang diucapkan oleh seorang bidan dalam diskusi kelompok terarah:
“Tidak ada,pak. kita tidak pernah berhubungan dengan para tokoh masyarakat. ini kan masalah kesehatan. jadi mereka itu ndak ngerti..lagipula mereka juga percuma pak dikasih tau...mereka ndak ngerti tapi merasa mereka yang paling benar saja...jadi kita-kita ini kadang sulit,pak karena tokoh masyarakatnya sendiri kadang suka menghalangi kita kalo mau periksa ibu-ibu apalagi kalo ada yang mau melahirkan. Tokoh masyarakatnya sendiri kadang ndak percaya sama bidan.......”

Terdapat kesenjangan yang cukup lebar antara bidan sebagai pelaksana kegiatan dan aparat desa/tokoh masyarakat sebagai pemimpin lokal. Mereka masingmasing memiliki arogansi sebagai ‘orang yang paling tahu’. Tentu ini membawa
197

pengaruh yang tidak baik terhadap masyarakat. Seharusnya mereka bekerja saling membahu, terlepas dari status dan kepangkatan, tetapi mereka bekerja untuk rakyat. Bila kondisi ini tidak dicairkan, maka cita-cita untuk menjadikan masyarakat yang sehat dan sejahtera melalui persalinan yang aman akan sulit tercapai dan dapat melampaui target pencapaian MDGs.Untuk itu pemerintah harus mengkaji ulang implementasi Jampersal yang tidak saja mengandalkan bidan sebagai ujung tombak, tetapi juga melibatkan kepala desa dan tokoh masyarakat sebagai tim sukses, dan bahkan memanfaatkan dukun sebagai pendamping ibu hamil/bersalin yang bermitra dengan bidan. Kepercayaan yang Masih Berkembang Daerah Kabupaten Landak adalah salah satu daerah dimana masyarakatnya masih menganut adanya kepercayaan-kepercayaan atau adat terutama yang berkaitan dengan kehamilan, kelahiran dan pasca kelahiran seperti terungkap dalam keterangan dibawah ini. Masa Kehamilan. Seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya bahwa bagi para informan yang terdiri dari para tokoh masyarakat, para suami baik yang mengikuti program jampersal maupun yang tidak mengikuti, dan para bidan, kehamilan merupakan suatu hal yang istimewa. Karena merupakan suatu hal istimewa itu maka menurut para informan, kehamilan itu harus dibarengi dengan cara-cara tertentu agar tetap sehat baik untuk ibu yang mengandung, untuk bayi yang dikandung maupun bagi suami dari ibu yang mengandung. Banyak cara-cara yang dilakukan orang-orang di kabupaten landak untuk menjaga kehamilan diantaranya adalah pengajian. Diadakannya pengajian (untuk yang muslim) bagi ibu yang hamil terutama dalam trisemester pertama. Yang dimaksudkan untuk ungkapan rasa syukur atas kehamilan yang ada sekaligus untuk mendoakan agar janin dan ibu yang mengandungnya sehat. Ternyata pengajian ini juga dimaksudkan untuk menjaga ibu dan janin dari gangguan “makhluk halus” yang mungkin dapat mengganggu selama kehamilan. Sedangkan untuk selain muslim biasanya diadakan

pemberkatan di gereja dengan maksud yang sama.

198

Di beberapa tempat di seperti di daerah Amboyo Utara, Amboyo Selatan, masih banyak Ibu hamil yang biasanya akan dibekali beberapa benda seperti gunting/pisau kecil/peniti/tusuk konde yang ujungnya diruncingkan yang

melambangkan senjata, bawang merah/putih/ carikan dari beberapa jenis dedaunan, dan sedikit kemenyan/wewangian. Kesemuanya ini dimasukkan ke dalam

wadah/kantong kain kecil/balutan kain yang dianjurkan untuk dipakai/dipasangkan di badan si ibu. Kesemua ini dimaksudkan untuk menjaga ibu dan janin dari berbagai gangguan yang mungkin terjadi. Selain itu bagi ibu hamil banyak sekali pantangan yang harus dihindari dengan maksud agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan selama kehamilannya. Pantangan itu diantaranya adalah; jangan melilitkan/melingkarkan handuk/kain di leher agar nantinya di bayi tidak terlilit tali pusar, jangan keluar rumah selepas maghrib kecuali sangat penting dan harus didampingi oleh suami untuk menghindari fitnah dan gangguan mahkluk halus, jangan memakan makanan yang bisa merusak kandungan seperti tape, ketan hitam, nanas, makanan terlalu keras/terlalu pedas/terlalu masam, durian,. Jangan meminum air es karena takut bayinya nanti membesar, harus menjaga sikap dan perilaku terhadap orang lain, dll. Untuk para suami/keluarga pun ada pantangan/tabu yang sebaiknya dihindari, seperti; tidak boleh berburu/memotong/membunuh hewan sembarangan, harus menjaga sikap dan perilaku karena akan berpengaruh terhadap kandungan istrinya, sebaiknya sampai di rumah sebelum maghrib untuk menjaga istrinya dll. Masa Persalinan. Saat persalinan merupakan saat yang dinilai oleh masyarakat di Kabupaten Landak sebagai saat yang penting sekaligus masa genting bagi seorang ibu yang bersalin. Masa bersalin ini dinilai sebagai masa puncak atau ujung dari suatu kehamilan yang bisa membahayakan kondisi dari ibu maupun bayi yang baru dilahirkan. Karena itu pada saat bersalin ini terdapat beberapa adat/ritual pada masyarakat yang mengiringi proses persalinan. Ketika si ibu mau bersalin, biasanya suami dan atau keluarga nya menunggu diluar ruangan tempat ibu bersalin atau bisa juga menunggu di lura rumah sembari membaca doa-doa. Bagi yang muslim biasanya sembari membaca ayat-ayat Al Quran, bagi yang non muslim biasanya membaca/melafalkan puji-pujian. Sedangkan bagi yang
199

masih menganut kepercayaan kepada nenek moyang biasanya mereka berkumpul di suatu ruangan sembari membaca puji-pujian sembari membakar

kemenyan/wewangian yang dimaksudkan untuk meminta pertolongan para leluhur sekaligus untuk mengusir para makhluk halus yang sekiranya akan mengganggu proses persalinan agar persalinan menjadi lancar dan tanpa adanya masalah baik bagi si ibu maupun bagi bayi yang baru dilahirkan. Bagi beberapa anggota masyarakat yang masih menganut kepercayaan kepada para leluhur, ibu yang akan bersalin di minta untuk memakan beberapa jenis dedaunan yang sudah disiapkan oleh dukun beranak yang dipercaya bisa memudahkan dan melancarkan proses persalinan. Ada kepercayaan dari masyarakat bahwa ketika ada yang mau bersalin, maka dukun yang dibantu oleh suami dan keluarga membuka semua pintu, jendela, lubang angin, dll. Hal ini dilakukan dengan maksud agar nantinya persalinan berlangsung lancar tanpa ada “yang tertutup”/hambatan. Pasca Persalinan. Bagi masyarakat di kabupaten Landak, pasca persalinan dinilai sebagai saat dimana akhir dari sebuah proses kehamilan. Pasca persalinan juga merupakan puncak kegembiraan karena bertambahnya jumlah anggota keluarga. Namun pasca persalinan sampai usia bayi kira-kira 40 hari merupakan saat yang dinilai genting. Hal ini karena bagi masyarakat di kabupaten Landak ada beberapa tradisi Yang dilakukan sesudah proses kelahiran berlangsung. Bila proses kelahiran ditangani dengan kemitraan anatara bidan-dukun, maka Bayi yang baru dilahirkan biasanya ditangani oleh bidan sesuai dengan prodesur/kaidah yang berlaku di dunia kesehatan. sedangkan ibu bersalin biasanya ditangani oleh dukun. Dimana dukun biasanya membantu untuk membersihkan bekasbekas persalinan dan mambantu membersihkan tubuh si ibu bersalin tersebut. Bagi warga masyarakat yang muslim yang mampu secara finansial biasanya akan membuat selamatan yang dibarengi oleh tradisi Aqiqah sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran yang ada. Tapi bagi yang tidak mampu, biasanya akan diadakan ritual sederhana dengan cara membaca ayat-ayat AlQuran secara sederhana yang dilakukan oleh anggota keluarga saja (baik suami, bapak/ibu/mertua).Untuk yang

200

beragama selain muslin biasanya akan diadakan pemberkatan di gereja. Namun bagi nyang tidak mampu tidak ada ritual khusus yang diadakan di rumahnya, hanya terkadang ada pendeta yang menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah keluarga yang baru bersalin tersebut. Sedangkan bagi masyarakat yang menganut kepercayaan terhadap nenek moyang biasanya mengadakan ritual/upacara yang dibarengi tari-tarian dan puji-pujian terhadap nenek moyang yang dibarengi suguhan makanan yang terbuat dari daging babi/aning sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran ini. Dari ketiga kelompok yang ada di masyarakat Landak, semuanya mempunyai persepsi yang sama bahwa bayi yang baru dilahirkan termasuk ibunya sampai berusia kurang lebih 40 hari mempunyai “wangi yang lebih harum dan tajam” sekaligus berada dalam keadaan yang “sangat rentan” bila dibandingkan dengan ibu yang hamil. wangi tersebut dianggap bisa menarik “makhluk halus” yang berada di sektar tempat tinggal keluarga tersebut. Bagi bayi yang baru dilahirkan perlakuan pertama yang didapati adalah dilumurinya badan bayi oleh lumatan beberapa daun yang di dipersiapkan dan buat oleh dukun. Setelah dilumuri baru bayi tersebut dibungkus kain agar hangat. Dalam kebiasaan masyarakat di landak, bayi yang baru dilahirkan juga langsung di beri susu ibunya, hanya saja air susu pertama yang keluar (kolostrum) biasanya dibuang dahulu karena dianggap tidak bersih dan masih kotor karena warna nya yang tidak putih melainkan agak kekuningan dan dinilai masih terlalu kental. Bayi biasanya akan diberi susu sampai dengan usia sekitar tiga bulan. Setelah itu banyak dari ibu si bayi memberikan makanan padat berupa bubur encer ataupun air tajin (air yang berasal dari hasil memasak nasi). Tidak jarang pula ada ibu yang memberikan madu kepada bayinya dengan alasan untuk memberikan kekuatan dan tenaga bagi bayi tersebut.

201

Evidence Based Kesehatan Ibu dan Anak di Kabupaten Hasil pengumpulan data secara kuantitatif di Kabepatan Landak mengungkap adanya perbedaan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat dalam upaya pencarian pelayanan kesehatan ibu dan anak, khususnya dalam pemanfaatan Jampersal. Pengetahuan. Pengetahuan ibu terkait pemeriksaan kehamilan di kabupaten Landak menunjukkan keadaan seerti yang terlihat pada table di bawah ini.
Tabel. 3.5.8 Pengetahuan Ibu yang Masih “Kurang” terhadap ANC dan Fasilitas Jampersal Pengetahuan yang Masih Kurang(n=69) Manfaat suntikan Tetanus Toxoid Risiko tinggi badan ibu terhadap persalinan Tidak baik makan ikan laut setelah melahirkan Bayi baru boleh diimunisasi setelah usia 1 bulan Minum jamu dapat mengatur jarak anak Jampersal gratis hanya untuk persalinan Sumber: Data Primer N 38 52 29 17 68 9 % 65,1 75.4 42.2 24.6 98.6 13.0

Pengetahuan tentang makanan sehat dan bergizi belum sepenuhnya diketahui oleh ibu. Kondisi ini diperparah dengan adanya pantangan makan ikan laut, yang merupakan sumber protein, setelah melahirkan. Pantangan ini tentu saja akan berpengaruh terhadap kualitas ASI yang dikonsumsi bayi. Pengetahuan tentang imunisasi juga masih kurang; sebanyak satu dari lima ibu menyebutkan bahwa bayi baru boleh diimunisasi setelah usia 1 bulan. Masalah keluarga berencana tampaknya sudah familiar di masyarakat. Ibu dapat menjawab dengan mudah singkatan dari KB atau keluarga berencana, namun seringkali ibu tidak mengerti makna dan hakekatnya. Hampir semua responden berpendapat bahwa minum jamu dapat mengatur jarak anak. Dengan demikian, kewaspadaan terhadap tingginya angka kelahiran harus diwaspadai, terlebih sebagian besar responden merasa senang dengan adanya persalinan gratis yang disediakan oleh pemerintah. Pengetahuan responden tentang Jampersal juga masih sangat terbatas, yakni fasilitas atau biaya persalinan gratis yang disediakan oleh pemerintah. Sikap.Selain pengetahuan ibu, sikap dan pendapat ibu dalam terhadap beberapa kondisi dan pemanfaatan Jampersal juga dapat diketahui dari jawaban

202

responden.Manfaat tablet tambah darah tampaknya tidak sepenuhnya dimengerti oleh ibu-ibu di Kecamatan Ngabang, kabupaten Landak. Tablet tambah darah tidak harus diberikan kepada ibu hamil dinyatakan oleh lebih dari separuh responden.
Tabel 3.5.9. Sikap Ibu untuk Beberapa Kondisi Kehamilan dan Pemanfaatan Jampersal Sikap Ibu Dan Pemanfaatan Jampersal N Tablet tambah darah harus diberikan pd bumil Lahir dirumah sama amannya dengan di faskes Kemampuan dukun sama dengan bidan dlm menolong persalinan Kolostrum baik diberikan kepada bayi Ibu perlu segera ber KB setelah masa nifas Jampersal memberi kesempatan punya banyak anak Sumber: Data Primer 28 44 61 Setuju % 40.6 63.8 88.4 Tdk Setuju N 41 25 8 % 59.4 27.2 21.6

19 13 59

27.5 18.8 85.5

50 56 10

72.5 81.2 14.5

Selanjutnya, sikap ibu dalam penolong persalinan dan tempat bersalin juga masih lemah. Sebagian besar ibu setuju bahwa kemampuan dukun tidak berbeda dengan bidan dalam menolong persalinan; bahkan mereka juga berpendapat bahwa melahirkan dirumah sama amannya dengan melahirkan di fasilitas kesehatan. Dari sikap ini dapat diasumsikan bahwa keberhasilan Jampersal masih jauh dari yang dapat diharapkan dalam mencapai MDGs tanpa melakukan upaya-upaya percepatan yang sifatnya radikal, berkesinambungan dan terintegrasi. Sikap ibu dalam pemberian kolostrum yang merupakan sumber kekebalan tubuh untuk bayi juga masih lemah. Lebih dari 70% ibu menyatakan tidak setuju untuk memberikan kolostrum kepada bayinya. Bila dilihat dari jawaban-jawaban ibu,

tampaknya memang sebagian besar ibu bayi tidak tahu dan memiliki sikap yang kurang baik tentang Jampersal, termasuk menganggap bahwa dengan adanya Jampersal, ibu memiliki kesempatan untuk punya banyak anak.

203

Tabel. 3.5.10 Pengalaman Ibu Dalam Persalinan dan Pemanfaatan Jampersal Pengalaman Bersalin Terakhir Biaya sendiri untuk periksa kehamilan ke Nakes Persalinan dilakukan di rumah ibu Bidan sebagai penolong persalinan Biaya sendiri untuk persalinan ibu Perawatan nifas tidak di fasilitas kesehatan Frekwensi kunjungan neonates 1-2 kali Biaya untuk periksa KB dengan uang sendiri Tidak memanfaatkan jampersal karena tidak tahu Sumber: Data Primer Jumlah 60 54 36 56 40 39 61 55 % 87.0 78.3 52.2 81.2 58.0 56.5 88.4 79.7

Pengalaman ibu pada saat persalinan terakhir menunjukkan bahwa seluruh ibu melakukan pemeriksaan kehamilan dengan membayar sendiri atau tidak

menggunakan fasilitas Jampersal. Sebagian besar persalinan dilakukan di rumah ibu, meskipun juga ditolong oleh bidan. Alasan ibu melahirkan dirumah antara lain karena ada rasa nyaman dan dekat dengan keluarga. Lokasi yang jauh membuat bidan harus turun langsung menolong ke masyarakat. Hal ini juga didukung oleh keterbatasan alat transportasi untuk mengangkut ibu ke polindes/puskesmas. Sebagian besar ibu (81%) melahirkan tanpa menggunakan fasilitas Jampersal alias membayar sendiri. Kunjungan neonatus dilakukan oleh lebih dari separuh responden, tetapi frekwensinya belum maksimal. Masih terdapat 17.4% ibu yang tidak memeriksakan bayinya sama sekali dengan alasan merasa tidak perlu atau bayi tidak sakit, dan sebagian melakukan pemeriksaan bayi dengan dukun. Hasil wawancara terstruktur untuk ibu yang baru melahirkan ini juga menunjukkan bahwa responden memasang alat kontrasepsi dengan membayar sendiri (88.4%), dan hanya 10.1% yang mendapat bantuan dari Jampersal. Petunjuk teknis Jampersal menyatakan bahwa biaya pasang alat kontrasepsi sudah termasuk dalam paket jampersal; namun bila dilihat dari dari jumlah ibu yang memanfaatkan Jampersal dalam persalinan, hanya tujuh dari duabelas ibu yang

mendapat pelayanan KB gratis pada persalinan terdahulu. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa sebagian besar ibu tidak mengetahui adanya jaminan persalinan gratis dari pemerintah. Hal ini juga diketahui dari informasi pada saat dilakukan

204

wawancara mendalam dengan masyarakat dan tokoh masyarakat ketika kunjungan lapangan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat masih belum mengerti dengan adanya fasilitas persalinan gratis oleh pemerintah; dan kalaupun mereka tahu, seringkali pengetahuan ibu tidak lengkap, sehingga masih banyak ibu yang membuat keputusan/meminta kepada suaminya untuk melahirkan dengan dukun saja. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa keberhasilan Jampersal dalam menurunkan angka kematian ibu/bayi dapat terkendala, khususnya untuk wilayah kabupaten Landak, yang disebabkan oleh sosialisasi yang tidak jelas, adanya faktor budaya yang sangat kuat dalam persalinan oleh dukun, serta faktor akses yang

disebabkan oleh faktor geografi dan ketersediaan transportasi.

3.5.4. Hambatan, Dukungan dan Harapan Pelaksanaan Jampersal Dukungan Dukungan terhadap upaya kegiatan Jampersal masih sebatas upaya yang dilakukan oleh Puskesmas dan jajarannya saja. Niat baik pemerintah seharusnya dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh masyarakat untuk dapat mengurangi kesenjangan yang terjadi khususnya dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi, khususnya pada masyarakat miskin dan marginal. Peningkatan pemanfaatan Jampersal melalui pendekatan social budaya memiliki peluang yang cukup strategis. Kebiasaan masyarakat bersalin dengan dukun merupakan tradisi. Untuk merubah tradisi diperlukan setidaknya dua generasi (misalnya: dari generasi nenek hingga cucu). Namun demikian, dengan terbukanya akses media social seperti televisi, radio, internet, seharusnya perubahan dan peralihan ke generasi berikutnya dapat diperpendek. Diperlukan berbagai

upaya/efforts yang kuat dari pelaksana kebijakan; tidak cukup hanya lintas program, melainkan juga komitmen sektoral. Persalinan dengan dukun, merupakan salah satu preference dari masyarakat yang terlepas dari Jampersal. Meski demikian, melalui Jampersal preference ini seharusnya masih dapat diakomodir yaitu melalui penguatan peran kemitraan bidan205

dukun. Peran kemitraan ini tentunya perlu diatur dengan baik dan dimasukkan dalam ‘local system’ untuk menyelaraskan hubungan dukun-bidan. Fairness juga harus jelas, untuk menjamin win-win solution, melalui kesepakatan pembagian peran bidan-dukun. MIsalnya: dukun dijadikan saluran/kader yang dapat menjaring ibu hamil di wilayahwilayah kantong (local). Dukun membuat kelompok binaan yang dapat memotivasi ibu untuk periksa ANC. Dukun boleh menjalankan profesinya dalam batas-batas tertentu, misalnya pijat kahamilan yang aman, ritual, dan motivator gizi. Untuk itu, dukun juga perlu dibekali secara substansi dan teknis (missal: pijat yang boleh dilakukan dan tehnik memijatnya). Dukun juga dapat menjadi pendamping ibu hamil dalam bersalin, dan dukungan moral/ritual. Salah satu pendapat dukun dalam wawancara mendalam dengan salah seorang dukun
“… mengape ye, masyarakat masih mau bersalin dengan saye, padahal di bidan kan orang melahirkan tidak bayar….Saye heran… Saye senang dengan adanya bidan… bahkan saye senang mendampingi ibu bersalin ke bidan di Puskesmas. Saye juga sering ikut membantu bidan memegang paha ibu ketika melahirkan…” (Dukun M, 67 tahun).

Peran suami juga perlu ditingkatkan. Berdasarkan hasil wawancara mendalam, peranan suami di kabupaten Landak masih sebatas mempersiapkan material/uang dan mengikuti keinginan istri dalam memilih tempat bersalin. Secara umum, budaya di masyarakat Indonesia masih gender-inequalities. Sejauh konsep bersalin aman tidak dimengerti oleh masyarakat (ibu, suami, orang tua, kerabat), maka keterbatasan pola pikir menjadi basic-circumstance. Untuk itu perlu adanya pencerahan bagi suami, bahkan mungkin sudah harus dimulai ketika mereka mempersiapkan pernikahan (missal: melalui KUA). Bila ini dapat dilaksanakan, maka tidak hanya masalah persalinan gratis dengan memanfaatkan Jampersal yang bisa diinformasikan, melainkan juga bagaimana membentuk keluarga sehat, sejahtera dengan

menyusupkan konsep keluarga berencana.Dengan demikian, peran sosial budaya secara tidak langsung akan dapat merubah konsep masyarakat dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak yang dilahirkan.

206

Hambatan Persalinan dengan dukun merupakan kondisi sosial yang sudah diwariskan secara turun temurun. Adanya paket Jampersal yang merupakan fasilitas pelayanan gratis mulai dari pemeriksaan kehamilan, persalinan, perawatan nifas hingga pemasangan KB seharusnya merupakan angin segar, khususnya bagi masyarakat yang kurang mampu.Persaingan dukun-bidan dapat menjadi hambatan apabila tidak dicarikan solusinya. Tidak adanya kerjasama dukun-bidan, menyebabkan dukun tidak willing memotivasi ibu hamil untuk bersalin dengan Jampersal, meskipun dukun sendiri merasa lebih nyaman bila ada bidan dalam proses persalinan. Sebelum adanya

Jampersal, persalinan oleh dukun harus dilaporkan kepada bidan, tetapi sejak diberlakukannya jampersal, bidan maupun dukun berjalan masing-masing. Meskipun dukun tahu ada fasilitas persalinan gratis, dukun tidak akan memberitahu ibu hamil dengan asumsi (menurut pengakuan dukun WB-63 tahun ketika digali lebih mendalam) bahwa ibu hamil tersebut sudah mendengarnya secara langsung dari bidan. Ketika waktu bersalin sudah dekat, dukun baru bertanya ke ibu apakah mau ditolong bidan atau dukun. Menurut dukun, seringkali ibu hamil yang menolak bersalin ke Puskesmas/bidan, sehingga dukun tetap harus membantu melakukan persalinan tersebut. Belum tampak adanya upaya sector lain secara nyata, bahkan masalah administrasi kependudukan masih belum siap; sebagai contoh ibu tidak memiliki KTP atau keterangan domisili yang merupakan salah satu persyaratan bagi bidan untuk bisa melakukan claim. Berdasarkan hal tersebut, maka bidan dengan terpaksa harus

melakukan pengurusan KTP atau keterangan domisili ke kantor desa. Dalam hal ini ada mobilitas dari bidan, yang tentunya akan menambah beban tugas termasuk biaya. Kondisi ini mengakibatkan adanya ongkos yang dibebankan kepada keluarga pasien (karena diluar cakupan gratis Jampersal). Dalam kondisi seperti itu, bidan masih memberikan pengurusan akte persalinan, yang meskipun tidak wajib dalam claim Jampersal, tetapi merupakan dukungan moral dan reciprocal dalam membantu masyarakat. Hambatan juga dipandang dari sisi preference masyarakat. Preference atau pilihan karena masyarakat lebih suka dan merasa lebih nyaman, dapat dijembatani

207

melalui penyuluhan dan pembelajaran secara menyeluruh, tidak hanya kepada ibu hamil, tetapi juga suami; bahkan, bila memungkinkan, dapat disisipkan melalui anak sekolah agar ibunya atau anggota keluarganya yang hamil bersalin dengan bidan karena bidan tahu secara teknis cara menolong persalinan dengan benar dan mengurangi risiko kematian ibu maupun bayinya.

Harapan Berdasarkan hasil wawancara mendalam, baik terhadap ibu, suami, tokoh masyarakat, dukun, serta pelaksana program, masih banyak harapan yang dikemukakan, terutama bagi masyarakat.Masyarakat tetap menginginkan adanya peluang persalinan gratis, tidak perduli, apapun nama dan istilahnya, yang penting masyarakat tetap merasakan bantuan yang diberikan oleh pemerintah.  Tokoh masyarakat merasakan perlu untuk diberikan informasi mengenai Jampersal supaya bisa meneruskan informasinya kepada anggota masyarakat yang membutuhkannya. Beberapa tokoh masyarakat dan juga suami ibu yang melahirkan belum pernah mendengar Jampersal. Suami ibu pengguna Jampersal menyatakan bahwa mendapatkan informasi persalinan gratis Jampersal dari isterinya yang diberitahu oleh bidan; meskipun ada isteri yang tetap ingin bersalin dengan dukun karena merasa lebih nyaman (sudah mengalami persalinan ditolong dukun untuk dua anak sebelumnya) dan merasa takut dengan puskesmas/rumah sakit.  Dukun tidak merasa tersaingi dengan kehadiran Jampersal, bahkan dukun merasa nyaman bila dalam menolong persalinan didampingi oleh bidan. Untuk itu mungkin perlu ada pembinaan antara dukun dengan bidan melalui pembagian peran yang jelas, karena pemanfaatan Jampersal kepada masyarakat tidak bisa dipaksakan, sementara pemerintah sendiri tetap berupaya untuk dapat menurunkan angka/risiko kematian ibu dan bayi yang masih tinggi.  Pendapat bidan sebagai provider sangat positif. Bidan senang dapat melaksanakan tugas dan membantu masyarakat untuk bersalin dengan aman, tetapi masih membutuhkan dukungan yang lebih besar, terutama dalam hal administrasi

208

(mempersiapkan kelengkapan administrasi kependudukan: KTP dan surat nikah), masalah claim yang membutuhkan proses yang cukup lama, masalah lapangan yang cukup sulit tanpa adanya sarana transportasi yang mendukung, dan budaya masyarakat yang sudah terbiasa memanggil daripada mengantar ibu ke rumah bidan.  Rasa aman ibu bersalin dan keluarga bila melahirkan dirumah merupakan budaya yang tidak bisa dilepaskan begitu saja agar masyarakat bersalin dengan tenaga medis di fasilitas pelayanan kesehatan. Bila dilihat dari perspektif masyarakat, gratis saja tidak cukup, apalagi dukun juga dianggap memiliki kemampuan yang sama dengan bidan.

209

3.6. Puskesmas Karya Mulya, Kota Pontianak 3.6.1. Gambaran Umum Kota Pontianak Kalimantan Barat yang ber-ibukota di Pontianak merupakan salah satu dari empat propinsi yang mempunyai daerah terluas di Indonesia setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, dengan luas sekitar 146.807 km² atau sekitar 7,53% dari luas Indonesia. Daerah Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dijuluki provinsi "Seribu Sungai". Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang di antaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman di Kalimantan Barat, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar wilayah kecamatan yang ada. Kalimantan Barat yang berada di 3º20' LS -2º30' LU dan 107º40'-114º 30' BT ini berbatasan langsung dengan wilayah darat negara bagian Sarawak, Malaysia di bagian utara. Di bagian selatan, berbatasan dengan Laut Jawa; sedangkan untuk bagian Barat, Kalimantan Barat ini berbatasan dengan Laut Natuna, Selat Karimata serta Semenanjung Malaysia dan untuk sebelah Timur, Kalimantan Barat ini berbatasan dengan propinsi Kalimantan Timur dan Propinsi Kalimantan Tengah.Walaupun sebagian kecil wilayah Kalimantan Barat merupakan perairan laut, akan tetapi Kalimantan Barat juga memiliki puluhan pulau besar dan kecil yang sebagian tidak berpenghuni, yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang

berbatasan dengan wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Kalimantan Barat yang berdiri sendiri dan menjadi provinsi pada tanggal 1 Januari 1957 berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 1956 tanggal 7 Desember 1956 ini mempunyai Iklim tropik basah, dengan curah hujan merata sepanjang tahun dengan puncak hujan terjadi sekitar bulan Januari dan Oktober serta bersuhu udara rata-rata antara 26,0 s/d 27,0 dan kelembaban rata-tara antara 80% s/d 90%. Masyarakat yang berjumlah sebesar 4.477.348 yang mendiami wilayah Kalimantan Barat ini terdiri atas beberapa suku, seperti; suku Dayak (33,75%), suku Melayu (33,75%), suku Banjar (0,66%), suku Jawa (9,41%), suku Bugis (3,20%), rumpun

210

Tionghoa (10,41%) dan suku lainnya (3,62%). Masyarakat di Kalimantan Barat mayoritas memeluk agama Islam (57,6%), sedangkan pemeluk agama lainnya tersebar dengan rincian; Katolik (24,1%), Protestan (10%), Buddha (6,4%), Hindu (0,2%) dan lain-lain (1,7%). Masyarakat Kalimantan Barat juga tersebar di 14 kabupaten/kota, di antaranya adalah kabupaten Landak dan kota Pontianak yang merupakan tempat

dilaksanakannya penelitian mengenai peran sosial budaya dalam upaya meningkatkan pemanfaatan program Jampersal.

Gambar. 3.6.1.Lambang Kota Pontianak

Kota Pontianak merupakan ibukota dari provinsi Kalimantan Barat. Kota Pontianak ini juga dikenal sebagai kota Khatulistiwa karena kota ini dinilai dilalui oleh garis lintang nol derajat bumi. Di sebelah utara kota Pontianak, tepatnya di daerah Siantan, dibangun sebuah tugu yaitu tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang dilalui garis nol derajat bumi. Sehingga ada beberapa waktu dimana matahari terletak pas tegak lurus di atas sehingga sama sekali tidak terlihat bayangan benda yang terkena sinar matahari. Kota yang terletak di titik koordinat 0° 02' 24" LU – 0° 01' 37" LS dan 109° 16' 25" – 109° 23' 04" BT serta dilalui oleh sungai Kapuas serta sungai Landak ini dipimpin oleh seorang Walikota dan memiliki luas wilayah sebesar 107,82 km2, berpenduduk sebesar 554.764 jiwa dengan tingkat kepadatan 5.145/km2 dan terbagi dalam 6 kecamatan yaitu Pontianak Selatan, Pontianak Timur, Pontianak Barat, Pontianak Utara, Pontianak Kota dan Pontianak Tenggara serta 29 kelurahan/desa.

211

Suku bangsa penduduk Kota Pontianak terdiri dari Cina (31.2%), Melayu (26.1%), Bugis (13.1%), Jawa (11.7%), Madura (6.4%), Dayak dan lainnya. Sebagian besar penduduk memeluk agama Islam (75.4%), sisanya memeluk agama Buddha (12%), Katolik (6.1%), Protestan (5%), Konghucu (1.3%), Hindu (0.1%) dan lainnya (0.1%). Hampir seluruh penduduk Kota Pontianak memahami dan menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Namun bahasa ibu masing-masing juga umum digunakan, antara lain Bahasa Melayu Pontianak, Bahasa Tiociu, Bahasa Khek, dan bahasa daerah lainnya. Sejarah pendirian Kota Pontianak yang dituliskan oleh seorang

sejarawan Belanda, VJ.Verth. VJ. Verth dalam bukunya Borneos Wester Afdeling mengatakan bahwa pada tahun 1778, kolonialis Belanda dariBatavia memasuki

Pontianak dengan dipimpin oleh Willem Ardinpola. Belanda saat itu menempati daerah di seberang istana kesultanan yang kini dikenal dengan daerah Tanah Seribu atau Verkendepaal. VJ Verth menulis bahwa Syarif Abdurrahman, adalah putra ulama Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie (atau dalam versi lain disebut sebagai Al Habib Husin), yang meninggalkan Kerajaan Mempawah untuk mulai merantau. Di perantauan, Syarif Abdurrahman menikah dengan adik sultan Banjarmasin dan berhasil dalam perniagaan serta mengumpulkan cukup modal untuk mempersenjatai kapal pencalang dan perahu lancangnya, dimana kemudian Syarif Abdurrahman mulai melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Dengan bantuan Sultan Passir, Syarif Abdurrahman kemudian berhasil membajak kapal-kapal Belanda, kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Passir dan di dekat Bangka. Abdurrahman menemukan percabangan Sungai Landak dan kemudian mengembangkan daerah itu menjadi pusat perdagangan yang makmur dan kemudian mencoba membuka hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal di sebuah pulau di Sungai Kapuas. Wilayah inilah yang kini bernama Pontianak yang didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H) dimana Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Masjid Jami' (kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan Istana Kadariah yang sekarang

212

terletak di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Pada tahun 1778 (1192 H), Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan Pontianak. Menurut hikayat yang dipercaya oleh sebagian besar masyarakat, pemberian nama Pontianak ini berkaitan dengan kisah Syarif Abdurrahman, yang sering diganggu oleh hantu Kuntilanak ketika beliau menyusuri Sungai Kapuas. Menurut cerita, Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu tersebut. Efek dari tembakan meriam yang berat tersebut menyebabkan meriam itu jatuh ke sungai. Tempat dimana jatuhnya meriam tersebut ke sungai ditandai dan didirikan wilayah kesultanan Syarif Abdurrahman. Peluru meriam yang ditembakkan untuk mengusir hantu kuntilanak itu jatuh di dekat persimpang Sungai Kapuas dan Sungai Landak, yang kini dikenal dengan nama Kampung Beting. Berdasarkan besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 14 Agustus 1946 No. 24/1/1940 PK yang disahkan menetapkan status Pontianak sebagai

stadsgemeente. Pembentukan stadsgerneente bersifat sementara, maka Besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak diubah dan digantikan dengan Undang-undang Pemerintah Kerajaan Pontianak diubah dan digantikan dengan Undang-undang Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 16 September 1949 No. 40/1949/KP.Dalam undang-undang ini disebut Peraturan Pemerintah Pontianak dan membentuk Pemerintah Kota Pontianak, sedangkan perwakilan rakyat disebut Dewan Perwakilan Penduduk Kota Pontianak. Sesuai dengan perkembangan tata pemerintahan, maka dengan Undang-undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953, bentuk Pemerintahan Landschap Gemeente, ditingkatkan menjadi kota praja Pontianak. Pada masa ini urusan pemerintahan terdiri dari Urusan Pemerintahan Umum dan Urusan Pemeritahan Daerah. Pemerintah Kota Praja Pontianak diubah dengan berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 1957, Penetapan Presiden No.6 Tahun 1959 dan Penetapan Presiden No.5 Tahun 1960, Instruksi Menteri Dalam Negeri No.9 Tahun 1964 dan Undang-undang No. 18 Tahun 1965, maka berdasarkan Surat Keputusan DPRD-GR Kota Praja Pontianak No. 021/KPTS/DPRD-GR/65 tanggal 31 Desember 1965, nama Kota Praja Pontianak diganti menjadi Kotamadya Pontianak, kemudian dengan Undang-undang No.5 Tahun 1974, nama Kotamadya Pontianak berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak.
213

Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah di Daerah mengubah sebutan untuk Pemerintah Tingkat II Pontianak menjadi sebutan Pemerintah Kota Pontianak, sebutan Kotamadya Potianak diubah kemudian menjadi Kota Pontianak. Kota Pontianak karena terletak persis di lintasan garis khatulistiwa, beriklim tropis dengan suhu tinggi sekitar 28-32°C di malam hari dan di siang hari. Dengan wilayah yang beriklim tropis yang disertai suhu yang tinggi menyebabkan rata – rata kelembaban nisbi dalam daerah Kota Pontianak maksimum 99,58% dan minimum 53% dengan rata–rata penyinaran matahari minimum 53% dan maksimum 73%. Dengan keadaan demikian besarnya curah hujan di Kota Pontianak berkisar antara 3.000–4.000 mm per tahun. Curah hujan terbesar (bulan basah) jatuh pada bulan Meidan Oktober, sedangkan curah hujan terkecil (bulan kering) jatuh pada bulan Juli. Jumlah hari hujan rata-rata per bulan berkisar 15 hari. Struktur tanah kota Pontianak merupakan lapisan tanah gambut bekas endapan lumpur Sungai Kapuas dimana Lapisan tanah liat baru dicapai pada kedalaman 2,4 meter dari permukaan laut.

3.6.2. Gambaran Umum Puskesmas Karya Mulya Dari hasil kajian data dan setelah berkonsultasi dengan pengelola

jamkesmas/jamkesda dan Jampersal Dinas Kesehatan Kota Pontianak, untuk menentukan lokasi penelitian dengan kriteria puskesmas dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang masih rendah, maka terpilih Puskesmas Karya Mulya sebagai lokasi penelitian.

Geografi Puskesmas Karya Mulya adalah salah satu puskesmas yang terletak di daerah perkotaan kota Pontianak. Puskesmas Karya Mulya di daerah sebelah Barat dari Kota Pontianak, di daerah yang merupakan pengembangan Kota Baru Pontianak.

Puskesmas Karya Mulya berdiri berdasarkan UPTD Puskesmas Kecamatan Kota No.

214

010/276/2010. Puskesmas Karya Mulya mempunyai wilayah kerja di sekitar kelurahan Sei Bangkong yang terdiri dari 19 RW dan 87 RT. Puskesmas Karya Mulya menaungi masyarakat sebanyak 15.343 jiwa yang terbagi dalam 4.162 KK dengan tingkat kepadatan penduduk 3,67 setiap km2. Seperti ciri daerah perkotaan lainnya, jalan menuju daerah Puskesmas Karya Mulya cukup mulus, lebar dan lancar hanya saja akses sarana angkutan umum masih belum ada. Menurut Kepala Puskesmas Karya Mulya, tidak adanya angkutan umum yang melewati puskesmas dikarenakan daerah bagian barat kota Pontianak ini adalah daerah pengembangan yang baru sehingga untuk trayek angkutan umum yang melintasnya masih dalam kajian Pemda untuk merealisasikannya. Puskesmas Karya Mulya berbatasan dengan:  sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Parit Tokaya Kecamatan Pontianak Selatan;  sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Pal IX Kecamatan Kakap Kabupaten Pontianak  sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Sei Bangkong Kecamatan Pontianak Kota;  sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Punggur Kecamatan Kecamatan Kakap Kabupaten Pontianak. Puskesmas Karya Mulya membina 4 posyandu balita Madya, 5 posyandu balita Purnama dan 2 posyandu Lansia ini juga mengkoordinir 4 klinik bersalin 6 praktek dokter swasta dan 3 bidan praktek swasta seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.6.1 Fasilitas Kesehatan Puskesmas Karya Mulya

Binaan Puskesmas Posyandu Balita Madya Posyandu Balita Purnama Posyandu Lansia Klinik bersalin Praktek dokter swasta Bidan praktek swasta

Jumlah 4 5 2 4 6 3

215

Kependudukan Penduduk di wilayah kerja puskesmas Karya Mulya sebagian besar adalah para pekerja, baik pekerja di sektor formal seperti halnya Pegawai Negeri Sipil maupun Pegawai Swasta dan pekerja di sektor informal seperti halnya buruh dan pedagang. Para pekerja ini di dominasi oleh kaum lelaki sedangkan bagi kaum perempuan di wilayah cakupan kerja Puskesmas Karya Mulya umumnya berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga. Daerah cakupan kerja puskesmas Karya Mulya karena merupakan daerah perkotaan, maka terdiri dari campuran berbagai macam etnis yang ada di Pontianak. Dari kesemua etnis yang ada ada beberapa etnis yang dominan diantaranya adalah etnis Melayu, etnis Madura dan etnis Bugis-Makasar.

3.6.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak Pandangan tentang Ibu Hamil, Bersalin dan Bayi/Anak Pandangan masyarakat Kota Pontianak akan ibu hamil, bersalin serta bayi/anak berbeda dengan pandangan masyarakat yang berada di Kabupaten Landak. Pandangan masyarakat kota Pontianak dirasa lebih realistis dan lebih permisif. Hal ini mungkin di sebabkan karena mudahnya akses untuk mencapai pelayanan kesehatan yang didukung banyak dan tersebarnya pusat-pusat pelayanan kesehatan berikut tenaga kesehatannya. Berikut merupakan rinciannya: Pandangan yang ada di masyarakat tentang ibu hamil Kehamilan merupakan suatu hal yang wajar bagi setiap pasangan usia subur yang sudah menikah. Namun pandangan yang diutarakan oleh para informan dari kelompok suami yang mengikuti program Jampersal, suami yang tidak mengikuti program Jampersal, para tokoh masyarakat dan bidan yang ada di kota Pontianak berkenaan dengan ibu hamil tidaklah sama, seperti yang terangkum dibawah ini. Pandangan tentang ibu hamil dari kelompok informan tokoh masyarakat seperti yang diutarakan oleh salah seorang informannya adalah sebagai berikut:

216

“kehamilan itu kan adalah suatu keadaan dimana ibu mengandung anak. Si ibu itu mengandung selama 9 bulan dan selama itu si ibu itu harus menjaga kesehatannya,kerena berhubungan dengan kesehatan anak atau bayi yang dikandungnya. Tapi bukan cuma si ibu yang menjaga kesehatan. Suami dari itu itu juga harus bisa membuat si ibu tersebut sehat.....”

Pendapat yang senada diungkapkan oleh salah seorang informan dari kelompok yang sama:
“hamil itu kan tandanya sehat.nah kita ini khususnya si ibu itu harus bisa bagaimana caranya supaya sehat. Kita ini kan bisa dibilang sebagai pembimbing masyarakat ya,pak. jadi kita juga berkewajiban memberitahu apa yang sudah seharusnya dilakukan. Termasuk untuk urusan kehamilan ini....termasuk si suaminya itu pak..itu harus kita beritahu..kita bimbinglah bagaimana sebaiknya.....”

Pendapat senada juga diutarakan oleh para informan yang tergabung ke dalam kelompok suami yang mengikuti program Jampersal ketika istrinya bersalin:
“kalo istri hamil itu kan berarti anugrah,pak. kita semua kan pengen punya anak,pak. jadi kalo istri kita ternyata hamil ya itu namanya anugrah. Berarti doa kita dikabulkan oleh Tuhan. Jadi kalo istri hamil itu ya harus di jaga baik-baik,pak. kta juga sebagai suami juga harus menjaga,pak. jangan sampe istri kita yang lagi hamil itu sakit atau kenapa-kenapa.itu juga tanggungjawab kita juga,pak sebagai suami....”

Sedangkan pendapat dari kelompok informan suami yang tidak mengikuti program Jampersal juga berpendapat demikian:
“...... orang hamil itu kan berarti dia mengandung bayi dalam perutnya. jadi orang hamil itu berarti satu orang yang mempunyai dua nyawa. Berarti juga kita harus menjaga supaya dua nyawa yang ada di satu badan itu tidak ada masalah. Jadi kehamilan itu adalah keadaan dimana istri kita itu mengandung anak kita...Jadi sudah kewajiban dari kita juga untuk membantu dan mengawasinya...kan yang mengandung itu kan istri kita sendiri....hehehehehe......”

Pendapat dari informan yang tergabung dalam kelompok para bidan juga hampir senada. Salah seorang informan mengatakan:
”....kehamilan itu adalah suatu proses pembentukan manusia yang baru hasil atau buah dari pernikahan antara laki-laki dengan perempuan. Kehamilan itu sebenarnya adalah keadaan dimana perempuan yang hamil berada dalam kondisi yang lemah karena adanya perubahan dalam tubuhnya. Kerena keadaan lemah itulah,maka kita harus menjaganya agar tetap bisa tumbuh dan berkembang serta sehat....kita ndak boleh sembarangan sewaktu hamil. ........semuanya ndak boleh sembarangan. Suami juga berperan,pak. ndak boleh sembarangan juga...jadi kehamilan itu bisa dibilang kerjasama ya,pak. antara suami dengan istri......ndak boleh sendiri-sendiri”.

Berdasarkan informasi yang didapati dari para informan dari empat kelompok yang dimintai pendapatnya, didapati bahwa kehamilan merupakan suatu hal yang
217

sebenarnya sangat diharapkan dan sangat diinginkan oleh para informan dan dianggap sebagai suatu hal yang sangat rentan sekaligus berharga dan membanggakan. Untuk itu kehamilan dilihat sebagai hal yang harus dilindungi baik dari segi fisik yang mencakupi kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya maupun dari segi psikologi yang tersirat dari pendapat-pendapat yang mencantumkan peranan suami untuk mendukung kehamilan istrinya.

Pandangan yang ada di masyarakat (para suami dan para tokoh masyarakat) tentang ibu bersalin. Setelah kehamilan yang memakan waktu sekitar 9 bulan, proses selanjutnya adalah bersalin. Dimana bersalin ini juga mendapatkan perhatian lebih, baik dari pihak ibu yang mengandung maupun, pihak suami atau keluarga dari ibu yang bersalin maupun dari pihak tenaga kesehatan baik bidan ataupun dukun sebagai tenaga penolong proses bersalin tersebut. Ketika dimintai pendapatnya mengenai pandangan masyarakat akan ibu yang bersalin, salah seorang informan dari kelompok suami yang tidak mengikuti program Jampersal mengatakan:
“ melahirkan itu kan memang sudah begitu,pak seharusnya. Kalo istri hamil ya harus melahirkan,pak. tidak ada lagi. meskipun bayinya misalnya sudah meninggal waktu di perut, tetap harus melahirkan,pak. soalnya kan kalo memang sudah waktunya...ya...memang harus dilahirkan...”

Informan yang lain dari kelompok yang sama juga mengatakan:
“melahirkan itu kan memang sudah aturannya begitu. Kita tidak bisa menahan apalagi membuat tidak lahir. Itu sudah aturan Tuhan,pak. sudah takdir. Tapi memang kalo ada yang melahirkan itu memang harus kita tolong,pak...”

Dari kelompok bidan mengatakan bahwa bersalin itu merupakan suatu proses persalinan yang harus dilalui oleh seorang ibu yang yang sudah cukup dalam usia kehamilannya. Para bidan ini bependapat bahwa setiap persalinan itu harus ditolong untuk mencegah agar si ibu tidak ada komplikasi dan masalah dalam proses bersalinnya sehingga Ibu dan bayi yang dilahirkan bisa selamat dan sehat; sedangkan
218

bagi kelompok para tokoh masyarakat di kota Pontianak, menganggap bahwa persalinan itu adalah sebagai berikut:
“ persalinan itu adalah lumrah bagi wanita.apalagi bagi wanita yang hamil dan bersuami.......kehamilan dan persalinan itu harus dijaga agar tidak tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan...biasana sih kalo persalinan itu ditolong sama bidan,pak...bisa juga sama dukun. Tapi itu dulu atau kalo di pinggiran-pinggiran kota mungkin. Kan disana masih banyak dukun pak. soalnya kalo di kota sini kayaknya banyakan yang nolong persalinan itu bidan,pak...”

Pendapat informan lain dari kelompok para tokoh masyarakat juga adalah sebagai berikut:
“ yang nolong persalinan itu, kita mungkin biasanya bilang melahirkan, ya pak..itu bidan sama dukun. Kalo melahirkan itu sendiri adalah keluarnya bayi yang selama sembilan bulan di kandung, keluar dari rahim ibu....itu susah pak...ya itu sih tergantung dari kondisi si ibu sendiri ya pak. tapi setau saya melahirkan itu susah sehingga proses melahirkan itu karena susahnya itu jadi bahaya.bahaya nuat si ibu maupun bahaya buat di bayi nya...untuk itu setiap melahirkan harus di tolong. Baik sama bidan maupun sama dukun..”

Ada juga informan tokoh masyarakat yang berpandangan bahwa ibu yang bersalin itu harus dijaga. Berikut pendapatnya:
“ ...ibu yang melahirkan itu harus dijaga pak. kita nih para suaminya harus menjaganya. Ngejaganya mulai dari bulan ke tujuh sampe 40 hari setelah kelahiran. Karena kan biasanya kalo orang yang hamil itu kan apalagi kalo udah mau ngelahirin, “hawa”nya beda pak..jadi kita memang harus ngejagain..takut kenapa2.......”

Informan dari kelompok suami yang mengikuti program Jampersal mengatakan:
“...ibu yangbersalin adalah anugrah pak. anugrah buat kita.kita ini kan keluarga,pak. jadi kita juga kan pengen punya anak. Jadi kalo mnurut saya itu kalo ibu bersalin itu anugrah pak. sama kaya kehamilan. Kehamilan itu juga anugrah pak. Cuma bedanya kalo kehamilan itu buat ngebuktiin kalo kita berdua, baik suami atau istri itu sama-sama subur dan bisa menghasilkan...hahahaha...sedang kalo melahirkan itu bisa dibuat sebagai tanda kalo kita ini sudah mulai jadi ayah. Jadi bapak....bapak dari anak kita...jadi kita ini jadi bener-bener jadi bapak karena sudah ada anakna yang lahir...”

219

Informan lain dari kelompok yang sama mengatakan:
“kalo melahirkan itu jihad,pak. dari agama juga kan dibilang kalo istri yang melahirkan itu sama dengan jihad. Apalagi kalo dia meninggal maka dia langsung masuk surga karena jihadnya itu...jadi kalo menurut saya, sudah sewajarnya kalo kita ini membantu istri kita yang melahirkan...bantuan itu kan bisa aja dengan kita menyediakan tempat yang terbaik, siap yang bisa nolong yang terbaik, penuhin kebutuhannya....termasuk kita ini ngejaga keselamatan istri kita,pak. ..makanya saya milih buat ngelahirin di bidan karena setau saya bidan itu bisa ngelakuin yang terbaik. Saya sih bukannya nggak percaya sama dukun, tapi menurut saya pribadi saya sih lebih sreg sama bidan...kan bidan peralatannya juga lebih bagus,pak dari dukun... “

Pandangan tentang anak/bayi. Pandangan masyarakat kota Pontianak terhadap bayi dan balita terangkum dalam narasi berikut. Bagi kelompok para tokoh masyarakat, bayi atau anak balita itu adalah:
“ bayi yang baru lahir itu kan sama aja dengan anak,pak. anak kita sendiri jadi ya harus dirawat baik-baik. jangan sampe dia nantinya jadi jelek, jadi ndak bagus. Jadi ndak yang seperti kita harapkan. Jangan sampe seperti itu. Jadi harus kita perihara dan kita rawat baik-baik”

Atau ada juga informan dari kelompok yang sama yang mengatakan:
“ bayi yang baru lahir itu kan anamah pak. sama kaya bapak tadi, kalo bayi anak itu adalah titipan. Titipan Allah. Jadi kita tidak boleh menyia-nyiakan keberadaannya. Nggak boleh. Dosa itu kalo kita menyia-nyiakan anak...itukan darah daging kita sendiri pak.”

Atau:
“anak adalah calon penerus kita,pak.calon penerus dari keluarga. Kalo ndak ada anak berarti ndak ada yang menurin keluarga kita pak....”

Adapun dari kelompok bidan mengatakan bahwa:
“ bayi itu adalah hasil dari pernikahan antara laki-laki dengan perempuan. jadi bayi atau anak itu adalah buah dari adanya pernikahan. Sudah selayaknya kalo kita juga menjada dan merawat bayi tersebut agar bisa tumbuh dan menjadi besar. selain itu juga bisa menjadi pelengkap dari sebuah keluarga...”

Atau ada juga informan bidan yang berbicara seperti demikan:
“ anak atau bayi adalah sesuatu yang berharga bagi sebuah keluarga. Saking berharganya maka setiap kelahiran seorang bayi maka setiap keluarga pasti seneng. Bergembira pak. hehehehe.. itu pasti. Pasti seneng. Karena untuk mendapatkan bayi itu sendiri kan sudah susah,pak. bayangin aja,pak. untuk

220

mendapatkan bayi ini kan butuh pengorbanan. Baik pengorbanan si ibu maupun si suami. Ndak boleh sembarangan......”

Bagi para suami baik yang mengikuti jampesal maupun yang tidak mengikuti program Jampersal mempunyai pendapat yang hampir merata bahwa bayi atau anak adalah pelengkap dari sebuah keluarga. Tanpa adanya bayi atau anak maka mereka menilai bahwa keluarga tersebut tidaklah lengkap, seperti yang diungkapkan oleh salah seorang informannya:
“ anak itu buat ngelengkapi keluarga,pak. kalo nggak ada anak gimana gitu,pak..kaya ada yang kurang gitu,pak....”

Atau:
“ anak itu sumber kebahagiaan,pak. kalo kita sama istri doang kayaknya masih ada kebahagiaan yang belum bisa di dapat. Nah anak itu kan bisa buat bahagia juga,pak...”

3.6.4. Faktor Sosial Budaya dalam Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaat Program Jampersal Pandangan tentang keputusan menentukan tempat bersalin dan

pembiayaannya (termasuk mengikuti program Jampersal). Ketika ditanyakan perihal siapa saja yang menentukan tempat bersalin bagi istri yang akan bersalin, para suami dari kelompok yang mengikuti program Jampersal mengatakan:
“ kalo untuk masalah yang menentukan dimana mau lahiran sih yang kita-kita ini,pak para suami. Biasanya disini memenag begitu. Suami yang menentukan. Kan kita juga sebagai kepala keluarga tapi kita juga waktu menentukan tempatnya ya kita tanya ma istri dulu. Dimana maunya istri. Dimana enaknya istri buat ngelahirin. Kalo udah tau tempatnya dimana, nah baru kita tentuin kalo memang harus disitu..”

Ada juga yang berpendapat seperti ini:
“ iya pak benar seperti itu. Biasanya kan kita tanya dulu ke istri mau ngelahirin dimana, ini sebelum neglahirin ya,pak. Kita nanyanya dia maunya dimana. Kalo dia enekan di bidan ya di bidan ngelahirinnya. Kalo enakan di dukun ya di dukun,pak. tapi karena disini udah jarang bidan, lagipula kan bidan banyak ma rumah sakit deket, ya kita tentuin aja mau di bidan mana atau mau di rumah sakit mana..kita sih Cuma ngikutin kemauan istri aja. Yang penting istri selamat dan anak selamat. Kalo sebenernya sih kita disini juga kayaknya kita lebih seneng kalo istri, bidan yang nanganin. Bukan dukun. Lagipula kan dukun udah jarang di kota sini sih...Kan bidan lebih deket. Jadi lebih gampang kalo kenapa-kenapa ma istri...”

221

Pendapat senada juga dikeluarkan oleh kelompok para tokoh masyarakat yang mengatakan:
“ disini banyak bidan. Puskesmas juga deket. Klinik ma rumah sakit juga deket. Terus kita kan hidup di kota besar. dimana-mana deket dan gampang. Jadi sepertinya kalo untuk urusan melahirkan ya sebaiknya kita serahkan saja sama bidan dan dokter pak. maksud nya seperti ini pak. di kota ini kan segalanya ada. Rumah sakit dan puskesmas juga ada. Nah kenapa kita nggak memanfaatkan fasilitas yang ada? Kenapa juga musti jauh-jauh ke dukun kalo di deket kita ada bidan yang bisa nolong ngelahirin? Jadi kita-kta pasti menyarankan kalo melahirin itu pake bidan aja. Nah perkara yang nentuin mau di bidan mana atau mau di rumah sakit mana ya pihak keluarga yang mau ngelahirin itu. Yang biasanya ditentuin sama suaminya sebagai yang paling bertanggung jawab atas istri tersebut.kalo nggak ada suami atau suaminya lagi nggak ada misalnya, ya pihak keluarga terdekatnya yang ngegantiin nentuin dimananya. Yang pentingkan semua selamet. Selamet si ibu maupun selamet si anak..”

Pendapat dari bidan mengenai pengambilan keputusan dalam menentukan tempat bersalin menyatakan:
“ yang mengambil keputusan itu biasanya si suami. Tapi suami juga siasanya menanyakan dulu kepada istrinya mau bersalin dimana. Kalo sudah disetujui biasanya sang suami itu langsung membawa istri yang mau bersalin itu ke tempat yang sudah disepakati mereka. Tapi kalo misalnya istri tiba-tiba mau ngelahirin sedangkan dia lagi ndak ada di rumahnya, misalnya, ya biasanya mereka datang ke kita-kita ini (bidan)... kan sering tuh pak, lagi jalan-jalan ke kota ternyata dah kerasa dan mau melahirkan saat itu juga. Ya kalo begitu masak ndak kita tolong....”

Tapi lain lagi pertanyataan dari informan kelompok para suami yang tidak mengikuti program Jampersal. Salah seorang diantaranya mengatakan:
“kita sih dimana saja pak. mau di dukun boleh mau di bidan juga boleh. Kita nggak memaksa,pak. tergantung istrinya mau dimana. tapi kalo misalnya bidan lebih deket ya kita bawa ke bidan, pak....”

Ada juga yang berpendapat seperti ini:
“ kita liat situasi dulu,pak. kalo si istri dah mau melahirkan ternyata yang ada bidan, ya kita bawa ke bidan pak, meski tadinya istri pengennya di dukun. Tapi kalo udah mau melahirkan itu kan yang bisa nolong Cuma bidan. Ya jadi ke bidan..yang penting ada yang nolong. Kaya istri saya, tadinya kan dia nggak mau ke bidan maunya ke dukun yang dideket rumah. Tapi kan waktu kita jalan ke kota sini ternyata dia sudah kerasa mau melahirkan. Jadi ya ke bidan terpaksa...”

222

Sewaktu pertanyaan yang ditanyakan bergulir pada sistem pembiayaan persalinan. Kelompok suami yang mengikuti Jampersal mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak mengetahui akan adanya program Jampersal ini. mereka hanya mengikuti keingingan dari istri-istri mereka yang sudah terbiasa dengan bidan karena selalu memeriksakan kehamilannya di bidan. Jadi pada saat istri mereka bersalin, para suami tidak mengetahui secara pasti bahwa ada program dari pemerintah yang berkaitan dengan pembiayaan persalinan. Para suami tersebut pada umumnya mengetahui bahwa mereka ikut program Jampersal setelah mereka ingin membayar jasa persalinan yang sudah dilakukan oleh bidan atau puskesmas. Mereka diberitahu bahwa mereka tidak perlu membayar persalinan karena sudah ditanggung oleh pemerintah. Ketidaktahuan akan program Jampersal ini juga diungkapkan oleh para tokoh masyarakat yang mengatakan bahwa mereka tidak tahu sama sekali menganai program tersebut, sehingga mereka tidak memberitahukan hal tersebut kepada warganya. Para tokoh masyarakat ini merasa bahwa puskesmas tidak pernah mensosialisasikan perihal Jampersal kepada mereka baik di tingkat kecamatan, kelurahan, maupun pada saat adanya pertemuan-pertemuan warga. Ketika ditanyakan perihal program Jampersal kepada kelompok informan bidan, didapati keterangan bahwa menurut kelompok informan bidan, masyarakat jarang yang mau menggunakan Jampersal karena masyarakat menganggap bahwa persalinan itu merupakan suatu hal yang cukup berisiko dan tidak mau direpotkan dengan berbagai birokrasi administrasi seperti keharusan menyediakan berkas-berkas yang diperlukan dan masyarakat ingin mendapatkan yang terbaik serta bersedia menyediakan biaya dan membayar biaya persalinan meskipun terbilang cukup mahal. Lebih lanjut kelompok informan bidan ini juga mengatakan bahwa masyarakat di kota Pontianak ini banyak juga masyarakat yang langsung datang dan memanfaatkan fasilitas rumah sakit untuk bersalin meskipun memeriksakan kehamilannya di Puskesmas atau di Posyandu. Para bidan berpendapat bahwa masyarakat mengganggap bahwa peralatan yang ada dan lebih lengkap di rumah sakit dapat membantu mengurangi risiko yang mungkin terjadi selama persalinan. Ada hal yang menarik yang didapati dari keterangan para informan bidan ini perihal bersalin di
223

rumah sakit. Para informan bidan mengatakan bahwa banyak anggota masyarakat menganggap bahwa bersalin di Rumah Sakit dapat meningkatkan gengsi mereka di lingkungan tempat masyarakat tersebut tinggal. Hubungan bidan-dukun. Ketika ditanyakan perihal hubungan antara bidan dengan dukun, para informan baik dari kelompok suami yang mengikuti Jampersal, suami yang tidak mengukuti program jampersak, para tokoh masyarakat maupun para bidan semua berpendapat bahwa hubungan bidan-dukun cukup harmonis. Para budan mengatakan bahwa hubungan mereka dengan dukun cukup bagus karena sudah diterapkannya program mitra antara dukun dengan bidan. Dukun sering meminta bantuan bidan bila ada anggota masyarakat yang akan bersalin demikian juga bidan yang meminta dukungan dukun bila memang dibutuhkan tenaga dukun tersebut. Selain itu menurut informan para bidan, dukun di kota Pontianak ini umumnya sudah berusia tua dan tidak ada regenerasi sehingga para dukun sering kesulitan dalam menangani persalinan sehingga sering meminta pertolongan bidan. Sedangkan informan para tokoh masyarakat mengatakan sering melihat bidan dan dukun bersama-sama menolong warganya yang akan bersalin. Kepercayaan yang masih berkembang. Kepercayaan masyarakat kota Pontianak akan kehamilan, masa persalinan maupun pada masa sesudah persalinan hampir sama dengan yang ada di kabupaten Landak. Hanya saja sesuai dengan keadaan lingkungan, kondisi dan modernitas yang ada di kota Pontianak, maka kepercayaan yang ada pada masyarakat kota Pontianak akan masa kehamilan, persalinan dan pasca persalinan sudah mulai berkurang. Seperti halnya pada masa kehamilan, masyarakat masih menerapkan hal-hal yang dianggap pamali seperti halnya tidak boleh keluar rumah bagi ibu hamil bila sudah malam atau maghrib, tidak boleh melilitkan handuk atau kain di leher. Begitu juga bagi para suaminya, karena lahan berburu dan binatang buruan sudah tidak ada lagi di daerah perkotaan, maka para suami dilarang membunuh binatang-binatang yang sekiranya ada di perkotaan seperti halnya kucing, tikus, cecak dll. Sedangkan untuk makanan, bagi ibu hamil tidak boleh mengkonsumsi makanan-makanan yang sekiranya bisa merangsang keadaan janin seperti halnya durian, tape, nanas dll. Tapi di kota Pontianak Ibu Hamil tidak

224

banyak yang dilarang mengkonsumsi ikan karena sudah banyak yang mengetahui bahwa konsumsi ikan tidak mempengaruhi kehamilan. Pada masa persalinan pun masyarakat di Kota Pontianak sudah mulai berkurang kepercayaannya. Mereka masih membuka semua jendela, pintu dan membuka semua yang terkunci yang ada di dalam rumah dengan harapan tidak ada yang akan “menutupi” jalan lahir sehingga persalinan berjalan lancar. Mereka melakukan hal tersebut lebih cenderung karena mengikuti anjuran orangtua saja karena menghormati orangtua atau mengikuti adat saja tanpa adanya keinginan untuk mengikuti cara tersebut. setelah ditanya lebih mendalam mereka juga menjawab bahwa sebenarnya tanpa melakukan hal tersebut juga tidak membawa efek apa-apa terhadap persalinannya karena sudah ditolong oleh bidan atau dokter dengan peralatan yang lengkap. Seperti pernyataan dari kelompok suami yang mengikuti Jampersal berikut ini:
“...kita memang ikut cara orangtua tapi sebenarnya sih itu nggak ada pengaruhnya...kan kkita di tolong sama bidan dan dokter..alat-alatnya juga dah canggih. Jadi kita tidak takut ada apa-apa.....”

Untuk masa pasca persalinan masyarakat kota Pontianak juga mulai berkurang kepercayaannya. Jika dahulu ibu yang bersalin dilarang untuk untuk memakan pisang, ikan, telur, dsb, maka sekarang ini mereka justru mengkonsumsi makanan-makanan tersebut. jika dahulu para ibu yang bersalin dilarang memberikan air susunya yang pertama kali keluar (kolostrum) karena ada anggapan susu kotor, sekarang malah mereka memberikan air susu yang baru kelur tersebut kepada bayi mereka karena mereka sudah tahu akan manfaat dari air susu tersebut. bagi ibu yang bersalin di kota Pontianak sekarang sudah tidak terlalu sering mengkonsumsi dedaunan atau ramuanramuan yang dahulu dipercaya untuk mempercepat pengembalian kondisi fisik dari si ibu. Sekarang para ibu bersalin lebih memilih mengkonsumsi obat-obatan modern ketimbang dedaunan atau ramuan. Seperti pendapat dari salah satu tokoh masyarakat berikut ini;
“...sekarang ini,pak. disini ini para ibu yang melahirkan sudah jarang yang pake jejamuan. Selain sudah jarang daun bahan jamunya juga susah buatnya,pak...disini ini mana ada yang bisa buat?.... kao di kampung kan masih banyak pak. daunnya banya juga yang buatnya banyak....”
225

Masalah Kesehatan Ibu dan Anak. Pengetahuan ibu di kota Pontianak tentang kesehatan pada masa hamil, persalinan, dan pasca persalinan dapat terlihat dari pada dua tabel berikut ini:
Tabel 3.6.2 Pengetahuan Responden Pengetahuan Pentingnya memeriksakan kehamilan sebanyak 4 kali Penting mengukur tek darah& risiko kehamilan Perlu tablet tambah darah bagi Bumil Perlu upacara agar selamat Melahirkan di rumah lebih baik Ditolong bidan lebih aman Sumber: Data Primer Positif 50.0 100.0 100.0 5.7 11.4 71.0 (%) Negatif 50.0 0.0 00.0 94.3 88.6 29.0

Tabel 3.6.3 Sikap Responden SIKAP Penting pemeriksaan kehamilan sebanyak 4x Perilaku Kesehatan Ibu penyataan setuju dan sangat setuju sedangkan 2 sikap negatif masyarakat. Penting mengkur tekanan darah Perlu tablet tambah darah Perlu upacara agar selamat Melahirkan di rumah dan rumah sakit/ puskesmas sama amannya Kemampuan dukun sama baiknya dgn bidan Kolostrum tidak untuk bayi Sumber: Data Primer (%) Tidak setuju 34.3

setuju 65.7

100.0 75.7 10.0 17.1 21.4 14.3

0.0 24.2 90.0 82.8 38.5 85.7

226

Dari tabel 1 dan tabel 2 di atas didapati bahwa ibu yang mengetahui akan pentingnya pemeriksaan minimal 4 kali selama kehamilan memiliki jumlah yang sama dengan jumlah ibu yang mengangap bahwa pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali itu kurang atau tidak penting. Pemahaman tidak pentingnya pemeriksaan kehamilan ini berkaitan dengan budaya orang Kalimantan yang sepertinya sengaja menutupi kehamilannya bila masih berusia muda. Ada anggapan dari masyarakat bahwa kehamilan yang masih muda itu sebaiknya tidak disebarkan berita dan kondisinya kepada orang lain. Mereka biasanya menyebarkan informasi kehamilan tersebut bila usia kandungan sudah sekitar 6 bulan keatas atau sudah terlihat perubahan bentuk tubuh dari si ibu yang mengandung. Menurut mereka hal ini dilakukan untuk mencegah hamilan yang tidak jadi bila pada pada usia kehamilan muda sudah disebarkan beritanya kepada orang lain. Hal ini sesuai dengan hasil yang didapat dalam diskusi kelompok terarah terhadap kelompok informan para suami baik kelompok suami yang mengikuti program Jampersal maupun kelompok suami yang tidak mengikuti program Jampersal. Berikut pendapat dari salah seorang informan kelompok suami yang tidak mengikuti program Jampersal:
“... kita ini takut,pak. takut kalo ndak jadi hamil. kan repot lagi kalo begitu,pak. kita bisa malu kalo ndak jadi hamil padahal kita sudah sebar berita ke masyarakat kalo istri hamil....”

Sedangkan pendapat dari kelompok suami yang mengikuti program Jampersal adalah sebagai berikut:
“...kita ini punya kebiasaan kalo hamil tidak diberitahu dulu pak..tidak beritahu. Tetangga tidak, keluarga pun tidak, apalagi teman2...semua tidak. Takutnya ada apa2 sehingga kehamilan itu hilang. Tiidak jadi hamil....kan kasian pak sama istri kalo begitu....”

Dari tabel di atas didapati bahwa pengetahuan masyarakat akan pentingnya mengukur tekanan darah serta perlunya tablet untuk menambah darah bagi ibu yang hamil sudah baik, dimana seluruh responden menjawab dengan benar semua pertanyaan yang diberikan.

227

Dari tabel di atas juga diketahui bahwa masih ada masyarakat di kota Pontianak yang mengganggap bahwa melahirkan atau melakukan persalinan di rumah itu sama amannya dengan melakukan persalinan di tempat pelayanan kesehatan seperti halnya rumah sakit atau di puskesmas. Mereka beranggapan bahwa melahirkan di rumah itu aman karena bidan bisa datang kerumah dan juga karena bila bersalin di rumah, para suami dan atau keluarga dari si ibu yang bersalin tersebut bisa cepat melakukan tindakan yang diperlukan bila terjadi masalah akan persalinan yang dilakukan seperti halnya cepat menghubungi keluarga, atau cepat menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan sewaktu bersalin, contohnya seperti menyiapkan air panas, membeli pembalut, menyiapkan kain dll. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang informan yang tergabung dalam kelompok suami yang tidak mengikuti Jampersal berikut ini:
“ kalo di rumah kan kita bisa cepat pak. cepat masak air kalo diperluin, cepat kasih tau orang-orang kalo yang melahirkan ini butuh bantuan...kita kan biasanya kalo ada yang melahirkanb dirumah kan pada kumpul pak...semua kumpul...keluarga kumpul tetangga juga kumpul...takut ada apa-apa yang kita semua bisa saling bantu gitu pak...itu kalo lahir di rumah....ya bidan dipanggil,pak. ke rumah..yang nolong bidan.pak...”

Perihal pengaruh budaya khususnya pelaksanaan upacara atau ritual berkenaan dengan kehamilan dan persalinan tidak begitu berpengaruh terhadap masyarakat kota Pontianak. Ini terlihat dari banyaknya pendapat dan sikap masyarakat yang mengatakan keselamatan atau keamanan dari suatu kehamilan dan persalinan tidak tergantung dari suatu upacara atau ritual tapi lebih tergantung pada keadaan kesehatan dari si ibu dan jenis perawatan yang didapati oleh ibu terserbut. Pengetahuan masyarakat di kota pontianak ini juga didukung oleh sikap mereka akan pentingnya menjaga kesehatan pada masa kehamilan, persalinan dan pasca persalinan. Untuk tindakan pelayanan dari para tenaga kesehatan dan para dukun yang diterima oleh para responden di Kota Pontianak dapat dilihat pada tabel berikut ini.

228

Tabel 3.6.4 Pelayanan bidan/dokter (tenaga kesehatan) yang diterima responden Pelayanan Pelayanan Nakes Pelayanan Nakes ANC Pelayanan Nakes Persalinan Pelayanan Nakes Pasca Pesalinan Sumber: Data Primer (%) Ya 95.7 100.0 100.0 78.6 tidak 4.3 0.0 0.0 21.4

Jenis pelayanan yang diberikan oleh para tenaga kesehatan khususnya bidan dan dokter yang diterima oleh para responden mencakup pelayanan oleh tenaga kesehatan, pelayanan selama kehamilan, pelayanan selama persalinan dan pelayanan sesudah persalinan. Selin itu tenaga kesehatan menurut para responden juga memebrikan pelayanan Keluarga Berencana (KB) yang diikuti segera setelah masa nifas bagi ibu yang bersalin berakhir. Setelah dilakukan wawancara secara mendalam terhadap para bdan ternyata pelayanan pada fase pasca persalinan itu juga dibarengi dengan kegiatan inisiasi dini menyusui yang diikuti oleh para ibu-ibu yang baru saja bersalin. Kegiatan inisiasi menyusui dini ini dilakukan oleh para bidan sebagai upaya untuk menyadarkan para ibu pentingnya menyusui bayinya dengan air susunya sendiri dan untuk memberikan pengertian akan pentingnya memberikan air susu ibu (ASI) secara eksklusif atau selama enam bulan bagi bayi mereka. Pelayanan oleh para tenaga kesehatan (nakes) ini mendapat tanggapan yang positif dari para responden. Hal ini bisa dilihat dari tingginya persentase sikap responden akan pelayanan yang sudah diberikan oleh para tenaga kesehatan. Untuk pelayanan ANC dan persalinan, semua responden yang ditemui dan mengisi kuesioner mempunyai sikap yang positif akan pelayanan tenaga kesehatan seperti yang terlihat pada tabel di atas. Seperti informasi yang diberikan salah seorang informan dari kelompok suami yang mengikuti program Jampersal:

229

“ ..kalo saya malah saya sendiri yang suruh istri untuk periksa ke bidan. Saya rasa bidan lebih baik dari dukun. Jadi saya yakin, istri saya pastri periksa di bidan. Dan nayti juga saya mau melahirkan di bidan saja. Terserah mau di tempat bidan atau mau di tempat puskesmas. yang penting sama bidan yang sudah biasa periksa...”

Namun meski mempunyai kecenderungan untuk bersikap positif terhadap pelayanan dari tenaga kesehatan, ada sebagian dari responden yang tidak berpendapat demikian akan pelayanan yang telah diberikan oleh tenaga kesehatan. khususnya akan pelayanan yang didapat oleh responden setelah melakukan persalinan. Responden lebih memilih untuk merawat diri sendiri atau dengan bantuan keluarga. Namun ada juga responden yang berpendapat bahwa setelah bersalin yang ditanganin oleh tenaga kesehatan , maka setelah bersalin maka perawatannya akan dilakukan oleh dukun yang memang sudah dipercaya oleh keluarga mereka. Sikap responden untuk pelayanan yang diberikan oleh para dukun dapat dilihat dari tabel berikut ini:
Tabel 3.6.5 Pelayanan Dukun Bersalin yang Diterima Responden Pelayanan Pelayanan dukun ANC Pelayanan dukun Persalinan Pelayanan dukun Paca Persalinan Pelayanan dukun rawat bayi (%) Ya 8.6 0,0 11.4 50.0 Tidak 91.4 100.0 88.6 50.0

Sumber: Data Primer Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa responden yang ditemui di kota Pontianak masih ada yang menaruh harapan untuk diberikan pelayanan kesehatan oleh para dukun meski jumlahnya hanya sedikit. Pelayanan yang diharapkan itu terutama pelayanan pada ibu sesudah melewati fase bersalin atau sesudah pasca persalinan. Penggunaan tenaga dukun pada masa sesudah persalinan ini sangat dipengaruhi oleh faktor kebiasaan dan budaya yang dianut responden dan keluarganya meski para responden tersebut hidup di tengah daerah perkotaan.

230

Penggunaan tenaga dukun pasca persalinan itu mencakup merawat si ibu termasuk memberihkan tubuh, memberikan ramuan-ramuan yang sekiranya diperlukan baik yang penggunaannya dioleskan maupun yang diminum, yang biasanya dibantu dari pihak keluarga si ibu yang baru bersalin, terutama oleh ibu kandung, atau ibu mertua, ataupun adik perempuan/kakak perempuan/ipar perempuan dari ibu bersalin tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh salsal seorang informan dari kelompok tokoh masyarakat:
“Kami masih pake dukun karena dukun yang tau bagaimana cara rawat ibu. Iya..rawat ibu terutama setelah melahirkan....dukun itu tau cararawat, tau cara apa yang bagus buat kesehatan ibu. Biasanya dukun menyiapkan daun-daun atau ramuan-ramuan buat si ibu...itu bisa dibalur atau di minum pak. terserah si dukunnya..dukun yang tau... ya biar cepet sehat saja,pak....kalo cepet seneng juga kita ikut seneng,pak...”

Dari hasil kuesioner yang didapat dari responden yang berada di kota Pontianak, didapati bahwa terdapat kesamaan jumlah responden yang menjawab antara mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan maupun yang mendapat pelayanan oleh dukun akan bayi yang dilahirkan. Dalam hal perawatan bayi yang baru lahir masyarakat menilai bahwa pelayanan yang diberikan dukun sama baiknya dengan pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Adanya anggota masyarakat di kota Pontianak yang masih menggunakan dukun dalam hal perawatan bayinya juga berkaitan dengan adanya budaya yang masih melekat di masyarakat. budaya tersebut diantaranya adalah masih dipercayanya dukun untuk melindungi bayi dan balita dari makhluk-makhluk yang dipercaya dapat mengganggu bayi dan balita sehingga menjadi rewel atau sakit, masih dipercayanya dukun dalam melindungi keluarga yang mempunyai bayi atau balita dari gangguan makhluk supranatural mengingat masih adanya kepercayaan di masyarakat bahwa ibu yang baru bersalin dan bayi yang masih berusia di bawah 40 hari mempunyai “wangi” yang khas yang kerap mengundang datangnya makhluk halus.

Faktor Sosial Budaya Masyarakat. Masyarakat kota Pontianak seperti yang tergambar dalam masyarakat di wilayah kerja puskesmas Karya Mulya pada umumnya

231

sudah mengerti akan arti penting dari kesehatan, termasuk kesehatan ibu dan anak meski data yang ada di puskesmas menunjukkan bahwa pemeriksaan kehamilan pada trisemester pertama dan kedua kurang dari 40%. Kecilnya angka serapan tersebut dikarenakan banyaknya anggota masyarakat yang memeriksakan kehamilan pada bidan praktek swasta atau pada dokter spesialis kandungan yang memang banyak dan tersebar di seluruh wilayah kota Pontianak. Selain itu, letak puskesmas karya mulya yang berdekatan dengan daerah kecamatan lain, maka banyak anggota masyarakat yang tidak memeriksakan kehamilan mereka di puskesmas Karya Mulya karena masyarakat lebih memilih memeriksakan kehamilannya di puskesmas yang sesuai dengan wilayah administratif mereka. Dari data yang ada di puskesmas juga didapati bahwa yang memeriksakan kehamilan mereka di puskesmas adalah mereka yang berasal dari golongan masyarakat bawah. Sedangkan bagi masyarakat dari golongan menengah ke atas tidak pernah memeriksakan kehamilan di puskesmas. Anggota masyarakat dari golongan masyarakat tersebut lebih menyukai memeriksakan kehamilannya di bidan praktek swasta dan dokter spesialis kandungan karena faktor pelayanan yang didapat dan faktor kenyamanannya. Faktor pelayanan dan fasilitas yang diperoleh menjadi pembeda bagi anggota masyarakat untuk memeriksakan kehamilan ke bidan praktek swasta jika dibandingkan dengan pemeriksaan di puskesmas. Selain itu kenyamanan karena tidak banyaknya orang yang mengantri untuk diperiksa kehamilannya serta bedanya tempat pemeriksaan kehamilan, menjadi faktor yang juga berpengaruh terhadap banyaknya pemeriksaan kehamilan di luar Puskesmas Karya Mulya, seperti pernyataan informan bidan berikut ini:
“...banyaknya sih yang periksa ke bidan praktek langsung. Disana kan ada alat USG nya. Jadi ya itu andalannya..masyarakat kan pengenna yang canggih juga. Mereka juga pengen tau ,pengen liat gambarnya...jadi mereka banyak yang ke bidan daripada ke puskesmas”.

Mengenai penolong persalinan, masyarakat yang ada di wilayah kerja Puskesmas Karya Mulya, umumnya melakukan persalinan dengan dibantu oleh tenaga kesehatan, baik itu bidan maupun dokter, baik di puskesmas, rumah sakit ataupun di
232

tempat bidan praktek swasta. Ini mereka lakukan karena tenaga dukun sudah jarang ada. Masyarakat memang masih ada yang menggunakan tenaga dukun tapi hanya terbatas pada etnis tertentu saja seperti etnis madura dan bugis. Tapi tenaga dukun tersebut sering kali dimanfaatkan setelah persalinan berlangsung seperti

membersihkan bayi dan ibu setelah bersalin, merawat si ibu selama beberapa waktu. Ada tradisi yang dijalankan oleh etnis Madura di kota Pontianak pada masa setelah bersalin. Bagi anggota masyarakat dari etnis Madura, bersalin itu meski di tangani oleh tenaga kesehatan cukup satu hari. Jadi hanya berselang beberapa jam saja setelah bersalin, si ibu ataupun keluarganya akan memaksa untuk pulang ke rumah dan melakukan perawatan ibu dan anak di rumah dengan bantuan dukun yang terkadang memang sengaja didatangkan dari daerah asal mereka. Hal ini dilakukan karena ada anggapan bahwa persalinan itu harus ditolong oleh dukun yang sudah menolong keluarga tersebut secara turun temurun. Ini dimaksudkan agar tetap terjalin tali silaturahmi antara anggota keluarga tersebut karena ditolong oleh orang dari daerah yang sama (sekampung) dan menganggap bila ditolong atau dirawat oleh bukan orang dari daerah yang sama akan memutuskan tali silaturahmi nantinya dengan keluarganya.

Pemanfaatan Pelayanan Jampersal Di daerah kota Pontianak dan daerah Kabupaten Landak, pemanfaatan program jamkesmas masih jauh dari yang diharapkan. Selain karena topografi alam serta wilayah di daerah kabupaten yang menyulitkan terlaksananya program ini, namun faktor yang bisa mempengaruhi masyarakat di wilayah perkotaan dan wilayah kabupaten adalah juga karena faktor ketidaktahuan masyarakat akan adanya program Jampersal ini. Ketidaktahuan ini sebagian besar dikarenakan rendahnya kegiatan sosialisasi mengenai program Jampersal ini baik oleh bidan, dokter, para kader kesehatan dan kader posyandu, serta dari tenaga kesehatan lainnya. Selain itu juga dikarenakan makin banyaknya serta makin lengkapnya fasilitas untuk membantu memelihara kehamilan dan membantu persalinan sehingga masyarakat lebih memilih untuk memeriksakan kehamilan mereka ke bidan praktek swasta ataupun ke dokter spesialis meski dengan begitu mereka mengeluarkan dana yang tidak sedikit.
233

Masyarakat rela untuk mengeluarkan uang untuk menjaga kehamilan, ketika pada saat persalinan dan ketika pada saat setelah persalinan demi mendapatkan pelayanan yang lebih nyaman dan dinilai lebih kecil dalam menanggung risiko yang akan dihadapi.

3.6.5. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan Jampersal Dukungan Dukungan yang ada dalam pelaksanaan program Jampersal di Kabupaten Landak dan di Kota Pontianak adalah peran serta langsung dari pemerintah daerahnya, terutama yang berada di wailayah kota Pontianak, dimana walikota dan bupati sendiri yang mengawasi pelaksanaan program Jampersal ini. Selain itu juga dukungan diwujudkan dalam penambahan jumlah rupiah hasil klaim yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang menangani semua perihal persalinan serta mengeluarkan Perda khusus mengenai program Jampersal ini seperti yang dilakukan oleh walikota Pontianak. Dukungan juga didapati dari semua tokoh masyarakat yang memang menginginkan adanya fasilitas bagi kesejahteraan warganya. Selain dari para tokoh masyarakat, dukungan juga didapati dari sikap dan perilaku serta kondisi dari masyarakat perkotaan yang nota bene sudah terpapar akan informasi dan telekomunikasi yang sangat bagus sehingga mudah untuk mengaplikasi segala bentuk program kesehatan dimasyarakat. Perihal akses termasuk tersedianya sarana dan prasarana di kota Pontianak juga merupakan dukungan yang bisa menjalankan program Jampersal ini.

Hambatan Masyarakat sebenarnya menginginkan mengikuti program Jampersal ini. Namun masih banyak hambatan untuk pelaksanaan program tersebut. hambatanhambatan tersebut diantaranya adalah; akses yang sulit di jangkau yang dibarengi tidak adanya sarana tranportasi dan prasarana jalan yang belum ada di wilayah kabupaten Landak merupakan hambatan utama dalm menjalankan program Jampersal

234

ini. Sulitnya akses yang disebabkan kontur dan topografi wilayah perkebunan sawit sangat menyulitkan warga untuk mencapai tempat pelayanan kesehatan sehingga pelaksanaan kegiatan Jampersal sangat terhambat. Sulitnya akses ini juga mempengaruhi informasi yang didapat warga dan pemahaman warga akan program Jampersal karena penyebaran informasi mengenai program Jampersal oleh tenaga kesehatan juga mengalami hambatan. Tenaga kesehatan tradisional (dukun) yang sering dimanfaatkan warga untuk menolong persalinan bisa di golongkan kedalam hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan Jampersal terutama di daerah kabupaten Landak. Hal ini dikarenakan adanya persaingan yang tidak kentara antara bidan dengan dukun. Adanya persaingan ini dikarenakan masih belum relanya dukun untuk melepas sepenuhnya tanggung jawab dalam membantu persalinan kepada bidan. Hal ini juga berkaitan erat dengan pendapatan dukun yang diperoleh dari menolong persalinan. Untuk daerah perkotaan, hambatan yang dirasakan justru berasal dari banyak dan tersebarnya sarana pelayanan kesehatan seperti halnya rumah sakit, praktek dokter spesialis dan bidan praktek swasta. Persalinan yang di anggap oleh masyarakat merupakan sesuatu yang mengandung risiko tinggi serta pengalaman yang di dapat jika berurusan dengan birokrasi juga menjadi penghambat masyarakat tidak mau menggunakan program Jampersal ini dan memilih membayar lebih untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang dinilai lebih bisa mengurangi risiko yang mungkin dihadapi dalam setiap kehamilan, persalinan, serta pada keadaan sesudah persalinan. Penyebaran informasi akan program Jampersal ke masyarakat yang dilakukan oleh para tenaga kesehatan khususnya para bidan baik yang berada di daerah kabupaten maupun yang berada di wilayah perkotaan turut menjadi andil dalam hambatan pelaksaanaan program Jampersal ini. Para bidan di wilayah kabupaten umumnya enggan untuk menyebarluaskan informasi karena karena akses yang ditempuh sulit dan mereka mengganggap masyarakat belum terlalu perlu untuk mengetahui program ini. Masyarakat diberikan informasi mengani Jampersal ini pada saat mereka datang saja di puskesmas. sedang untuk di posyandu dan di pertemuan warga sama sekali tidak diberikan informasi mengenai Jampersal.
235

“ Kami disini¸Pak sebenarnya lamas buat kasih info me kasyarakat. Kami sudah cape duluan sebelum kasih info. Jalannyanjauh,pak..sulit lagi...harus lewat kebun sawit...”

Selain itu, hambatan akan pelaksanaan Jampersal ini ada di dalam diri masyarakat itu sendiri. Masyarakat masih menilai bahwa untuk memeriksakan kehamilan, untuk bersalin dan untuk memeriksakan kondisi sesudah persalinan di puskesmas tidak mendapatkan pelayanan yang maksimal dan tidak nyaman karena banyaknya orang. Sehingga masyarakat lebih memilih untuk memeriksakan kehamilan, melakukan persalinan dan memeriksakan kondisi setelah bersalin pada bidan praktek swasta, dokter spesialis maupun langsung di rumah sakit.

Harapan Pada dasarnya masyarakat baik yang beradadi kabupaten Landak maupun yang berada di wilayah kota Pontianak sudah cukup puas dengan program Jampersal ini. masyarakat menilai bahwa program ini sangat membantu terutama dalam kaitannya dengan kemampuan finansial yang mereka miliki. Untuk itu masyarakat pada umumnya berharap bahwa program Jampersal ini terus ada dan terus ditingkatkan pelaksanaannya hingga bisa mencapai seluruh masyarakat. Masyarakat juga berharap perlaksanaan Jampersal ini lebih diinformasikan sehingga masyarakat bisa mengetahui, bisa memahami, dan bisa memanfaatkan program tersebut, serta lebih disederhanakan lagi dalam mengurus administrasi yang diperlukan dalam porgram Jampersal ini. Masyarakat terutama para tokoh masyarakat, meminta agar mereka juga dilibatkan dalam setiap penyampaian program kesehatan khususnya program Jampersal karena banyak manfaatnya bagi warga mereka, sepereti yang tercakup dalam kutipan berikut ini:
“ ada baiknya juga kita-kita yang ada disini ini, para tokoh masyarakat disini ini juga diberitahu tentang program ini,pak. karena program ini kan banyak manfaatnya..masyarakat perlu itu. Dan saya sih percaya bahwa setiap program pemerintah itu pasti baik, cuma yang kurang itu kan sosialisasinya...kita juga kan jarang banget dilibatin...ya akibatnya begini ini....kita sendiri ndak tau ada program Jampersal ini...”

236

3.7. Puskesmas Arungkeke, Kabupaten Jeneponto 3.7.1. Gambaran Kabupaten Jeneponto Kabupaten Jeneponto atau yang biasa di sebut Butta Turatea merupakan salah satu dari 24 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Jeneponto dengan ibukota Binamu memiliki luas sebesar 749,8 km 2 dan terbagi menjadi 11 kecamatan dengan 86 desa dan 27 kelurahan. Topografi daerah Kabupaten Jeneponto terdiri dari: Bagian utara merupakan dataran tinggi dan ber bukit-bukit dengan ketinggian 500-1.400 m dpl. Bagian tengah merupakan dataran dengan ketinggian 100-150 m dpl. Sedangkan bagian selatan merupakan datran rendah dengan ketinggian 0-150 m dpl. Adapun batas daerah kabupaten adalah sebagai berikut: o o o o Sebelah utara Sebelah timur Sebelah selatan Sebelah barat : Kabupaten Goa dan Kabupaten Takalar : Kabupaten Bantaeng : Laut Flores :Kabupaten Takalar

Secara umum, kabupaten ini memang kurang subur dan cenderung kering. Dari sepuluh kecamatan, hanya Kecamatan Kelara yang berada pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Kecamatan ini pun memiliki lima hingga enam bulan basah dan dua hingga empat bulan lembab. Sembilan kecamatan lainnya, selain berada pada ketinggian 0-500 meter dari permukaan laut, juga hanya memiliki satu bulan basah dalam satu tahun. Selebihnya bulan kering. Hasil pencatatan hari hujan dan curah hujan di Kecamatan Arungkeke menunjukkan jumlah rata-rata hari hujan selama setahun sebanyak 9 hari sedangkan curah hujan sebanyak 602 mm.

237

Gambar 3.7.1. Gambar Peta Kabupaten Jeneponto

Ratio jenis kelamin memperihatkan perkembangan penduduk laki-laki dan perempuan. Tahun 2011 adalah 95,57%. Laju pertumbuhan penduduk tahun 2011 rata-rata 1,01% (untuk Sulawesi Selatan periode 1998-2002 rata-rata 1,09% dan untuk Indonesia pada periode 1990-2000 rata-rata 1,23%). Komposisi penduduk menurut kelompok umur dapat menggambarkan tinggi rendahnya tingkat kelahiran, dan dapat pula menggambarkan angka beban tanggungan, yaitu perbandingan jumlah penduduk produktif (15-64tahun) dengan kelompok tidak produktif (0-14tahun dan 65tahun keatas). Berdasarkan data BPS Kabupaten Jeneponto tahun 2011, penduduk 0-14tahun sebesar 9,58%. Berikut merupakan tabel penduduk Jeneponto berdasarkan kecamatan yang ada:

238

Tabel 3.7.1 Jumlah Penduduk Jeneponto Berdasarkan Kecamatan Tahun 2011

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Kecamatan Bangkala Bangkala Barat Tamalatea Bontoramba Binamu Turatea Batang Arungkeke Tarowang Kelara Rumbia Jumlah

Jumlah Penduduk 50.361 26.605 40.757 35.237 52.948 30.220 19.385 18.416 22.562 26.706 22.862 346.149

Sumber: http://jenepontokab.bps.go.id

Dari tabel di atas, kecamatan dengan penduduk terbanyak adalah kecamatan Bangkala sedangkan kecamatan dengan penduduk paling sedikit adalah di Kecamatan Arungkeke. Penduduk Jeneponto sendiri mayoritas dihuni oleh Suku Jeneponto sebagai suku asli dan ada lagi suku pendatang lain yang berasal dari kabupaten lain yang berada di sekitar Jeneponto, seperti suku Bugis, suku Makassar, suku Toraja dan lainlainnya. Sedangkan agama mayoritas adalah agama Islam, sedangkan penduduk lain yang beragama selain agama Islam biasanya yang berasal dari suku selain Jeneponto. Penduduk yang beragama Kristen biasanya adalah penduduk yang berasal dari suku Toraja. Sedikitnya penduduk yang memeluk agama selain Islam ditandai dengan tidak adanya rumah ibadah agama lain selain masjid di kabupaten Jeneponto ini.

239

Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Tenaga Kesehatandi Kabupaten Jeneponto Pada tahun 2011 jumlah Puskesmas di Kabupaten Jeneponto sebanyak 18 unit, polindes 2 unit dan poskesdes 51 unit. Beberapa puskesmas telah ditingkatkan menjadi Puskesmas Perawatan. Dari 18 puskesmas, 9 di antaranya merupaka puskesmas perawatan. Sedangkan puskesmas pembantu (pustu) adalah sarana pelayanan kesehatan di desa dan kini jumlah pustu di Jeneponto adalah 56 unit. Sedangkan untuk tenaga kesehatan di Kabupaten Jeneponto berikut rinciannya:                 Dokter Umum Dokter Spesialis Dokter Gigi Apoteker Ahli gizi Sarjana Kesehatan Masyarakat Anestesi Fisioterapi Kebidanan Analis Kesehatan Perawat Asisten Apoteker Sanitarian Penata Rontgen Perekam Medik Perawat Gigi : 33 orang : 2 orang : 10 orang : 9 orang : 19 orang : 102 orang : 1 orang : 2 orang : 97 orang : 17 orang : 235 orang : 30 orang : 15 orang : 7 orang : 6 orang : 26 orang

Kesehatan Bayi dan Anakdi Kabupaten Jeneponto Angka kematian bayi di Kabupaten Jeneponto pada tahun 2011 sebesar 7,0 per 1000 kelahiran hidup dengan jumlah kematian bayi sebanyak 25 dari 3.256 jumlah kelahiran hidup (AKB = 7.0 / 1000 KH). Sedangkan angka kematian balita (AKABA) pada tahun 2011 sebanyak 2 balita dari 3.256 kelahiran hidup sehingga diperoleh angka kematian balita. Jumlah kunjungan neonatus (KN-1) di Kabupaten Jeneponto pada tahun 2011 sebanyak 5.864 (89.7%) sedangkan kunjungan neonatus 3 kali (KN lengkap) sebanyak 5.113 orang (78.2%). Persentase cakupan kunjungan bayi minimal 4 kali di Kabupaten Jeneponto pada tahun 2011 sebanyak 5.127 bayi (78 %) dari 6.574 bayi.

240

Kesehatan Ibu, ANC dan Pertolongan Persalinan dan KBdi Kabupaten Jeneponto Upaya peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak terutama dititikberatkan pada pertolongan persalinan dan pemeriksaan kehamilan. Hal tersebut sangat berperan penting dalam menurunkan angka kematian bayi yang secara langsung berdampak pada meningkatnya derajat kesehatan masyarakat. a. Pertolongan Persalinan Jumlah ibu hamil di Kabupaten Jeneponto pada tahun 2011 sebanyak 6.572 orang. Yang melahirkan dengan bantuan tenaga kesehatan sebanyak 6.378 orang dan yang melahirkan dengan bantuan dukun sebesar 194%. Berikut tabel penolong persalinan di Kabupaten Jeneponto yang dibagi berdasarkan wilayah Kecamatan yang ada di Jeneponto:
Tabel 3.7.2 Penolong Persalinan Per Kecamatan di Kabupaten JenepontoTahun 2011

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Kecamatan Bangkala Bangkala Barat Tamalatea Bontoramba Binamu Turatea Batang Arungkeke Tarowang Kelara Rumbia Jumlah

Penolong Persalinan Nakes 969 607 806 611 1.022 533 358 199 472 464 357 6.378 Bidan 8 9 1 55 6 21 3 22 19 14 36 194

Sumber: Profil Kesehatan Kabupaten Jeneponto 2012

Data terakhir yang diperolah dari jumlah ibu hamil pada tahun 2011 yaitu cakupan K4 di Kabupaten Jeneponto adalah sebesar 98.1%.

241

b. Pemberian Fe bagi Ibu Hamil Cakupan ibu hamil yang mendapat 90 tablet Fe-1 di Kabupaten Jeneponto pada tahun 2011 sebanyak 7.575 (100%), Fe-3 sebanyak 6.692 ibu hamil (93.56%). c. Pelayanan Keluarga Berencana Pada tahun 2011 dari 67.709 PUS terdapat 3.695 orang (5.5%) adalah peserta KB baru. Dari 6.289 peserta KB baru, yang menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) dan Non MKJP yang terdiri dari suntik (73.4%) dan kemudian dilanjutkan pil (16.1%).

3.7.2. Gambaran Puskesmas Arungkeke Kecamatan Arungkeke merupakan salah satu kecamatan dari 11 kecamatan yang ada di Kabupaten Jeneponto, terletak di sebelah Timur. Kecamatan Arungkeke memiliki luas wilayah sebesar 29.91 km2. Desa yang terluas adalah Desa Boronglamu yaitu 7.23 km2 sedangkan yang paling kecil luas wilayahnya adalah Desa Arungkeke Pallantikang yaitu 2.73 km2. Secara administrative pemerintahan terbagi atas 7 desa. Puskesmas Arungkeke sendiri berada pada Kecamatan Arungkeke dengan jarak 11 km dari pusat kota. Dari 7 desa yang ada di Kecamatan Arungkeke, 6 desa berada di daerah pantai. Menurut jaraknya, maka letak masing-masing desa ke ibukota Kecamatan dan ibukota Kabupaten sangat bervariasi. Jarak desa ke ibukota Kecamatan maupun Kabupaten berkisar anatara 4–14 km. Jarak terjauh adalah Arungkeke Pallantikang yaitu sekitar 17 km dari ibukota Kabupaten, sedangkan untuk jarak terdekat adalah Desa Kalumpang Loe. Selurah desa/kelurahan di Arungkeke tergolong desa berkembang. Namun demikian masih ada 3 desa/kelurahan yang termasuk desa tertinggal. Batas-batas wilayah Kecamatan Arungkeke adalah sebagai berikut:    Sebelah timur berbatasan dengan laut Flores Sebelah selatan berbatasan dengan laut Flores Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Binamu

242

Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Batang Berdasarkan data BPS Kabupaten Jeneponto (2010), jumlah penduduk

Kecamatan Arungkeke saat ini adalah 18.233 jiwa yang terdiri dari 8.743 jiwa laki-laki dan 9.490 jiwa perempuan. Tingkat kepadatan penduduk= 609/km2.

Gambar 3.7.2. Gambar Peta Kecamatan Arungkeke Sumber: http://4.bp.blogspot.com

Untuk pendidikan sendiri, sampai saat ini tidak ada data yang menunjukkan tingkat pendidikan akhir dari keeseluruhan warja Jeneponto, termasuk warga yang bertempat tinggal di kecamatan Arungkeke. Jika melihat data responden kuantitatif dalam penelitian ini, maka akan didapatkan hasil yang sama mengenai latar belakang pendidikan. Dari 70 orang responden ibu, kecenderungan pendidikan terakhir ibu adalah tamat SD/sederajat yaitu sebanyak 37.1% dan diikuti tamat SMP/sederajat (21.4%) dan tidak sekolah (20%). Begitupun juga dengan pendidikan terakhir suami responden menunjukkan bahwa paling banyak memiliki pendidikan terakhir yaitu tamatan SD/sederajat yaitu sebanyak 30% dan diikuti pendidikan tamat SMP/sederajat (21.4%) dan tidak sekolah (20%).

243

Rata-rata pendapatan per kapita penduduk Arungkeke belum ditemukan datanya, baik di kantor Kecamatan maupun kantor Kelurahan serta di Kantor BPS. Sesuai dengan Indikator Kesejahteraan Masyarakat Kota Makassar tahun 2010 pendapatan per kapita penduduk di Kabupaten Jeneponto pada tahun 2009, PDRB menurut lapangan usaha atas dasar harga yang berlaku sebesar 1.559.951,69 juta rupiah (meningkat sebesar 7,9% dari tahun2008). Berbicara mengenai pendapatan per kapita penduduk maka indikator nya adalah pendapatan rumah tangga/bulan. Jika melihat data responden penelitian, dari 70 orang maka diketahui bahwa pendapatan rumah tangga cenderung paling banyak di kategori Rp.500.001,- s/d Rp. 1.000.000,yaitu sebanyak 44.3% diikuti kategori pendapatan <Rp 500.000,- (35.7%) dan kategori pendapatan Rp. 1.000.001,- s/d Rp.2.000.000,- (11.4%). Pendapatan ini berkaitan juga dengan pekerjaan yang dijalani oleh masyarakatnya. Sama halnya dengan pendapatan rata-rata, tim peneliti juga tidak mendapatkan data mengenai pasti mengenai jenis pekerjaan pada masyarakat Kecamatan ini, namun jika melihat dari data responden penelitian maka pekerjaan yang paling banyak yang dilakukan oleh suami adalah: pekerjaan di bidang jasa, seperti menjadi guru ataupun menjadi supir angkutan ataupun menjadi supir becak motor (bentor), lalu setelah itu bekerja di sektor swasta dan terakhir menjadi nelayan. Berbicara mengenai pendapatan rumah tangga maka tidak akan lepas dari mata pencaharian mereka sebagai sumber pendapatan keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dilihat dari sumber mata pencaharian, dari data BPS tahun 2011, menunjukkan bahwa dari jumlah penduduk yang bekerja, yaitu sebanyak 4.670 orang adalah petani pangan, sedangkan peternak sebanyak sebanyak 287 orang. Tambak dan nelayan sebanyak 835 orang. Penduduk yang bekerja di luar sektor pertanian antara lain perdagangan sebanyak 618 orang, industri 506 orang, angkutan 680 orang dan jasa 263 orang. Adapun penduduk yang bekerja sebagai PNS dan ABRI sebanyak 266 orang. Sedangkan dari data responden ibu, kami mendapatkan hasil bahwa 91.4% nya tidak bekerja dan hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga saja, dan sisanya ada yang bekerja sebagai petani dan PNS.

244

Gambar 3.7.3. Mata Pencaharian Menangkap Ikan Sumber: Dokumentasi Peneliti

Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Tenaga Kesehatandi Kecamatan Arungkeke Jumlah tenaga kesehatan di Kecamatan Arungkeke pada tahun 2012 sebanyak 25 orang. Berikut merupakan tabel gambaran tenaga kesehatan di masing-masing desa yang ada di Kecamatan Arungkeke:
Tabel 3.7.3. Persebaran Tenaga Kesehatan di Desa dalam Kecamatan ArungkekeTahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 Dokter Dokter Bidan Gigi Umum Kampala 1 Bulo-bulo 1 Palajau 2 1 Kalumpang Loe 1 Arungkeke 1 2 Boronglamu 1 Arungkeke Pallantikang 1 Jumlah 3 8 Sumber: Profil Kesehatan Kabupaten Jeneponto 2012 Desa Perawat 1 1 12 14

Melihat tabel di atas maka dapat dikatakan setiap desa di Kecamatan Arungkeke sudah memiliki tenaga kesehatan terkait dengan kesehatan ibu dan anak yaitu bidan. Selain tenaga kesehatan medis professional terdapat juga dukun bayi yang

245

dianggap bisa menolong persalinan atau yang biasa disebut sandro yang berjumlah 11 orang yang tersebar di 7 desa tersebut.

Kesehatan Bayi dan anak Jumlah kematian bayi sebanyak 37 dari 215 jumlah kelahiran hidup Sedangkan angka kematian balita (AKABA) pada tahun 2011 sebanyak 7 balita dari 215 kelahiran hidup sehingga diperoleh angka kematian balita. Dari jumlah kelahiran pada tahun 2011 yang berjumalah 215 tersebut.Jumlah kunjungan neonatus (KN-1) di Kecamatan Arungkeke pada tahun 2011 sebanyak 184 (85.6%) sedangkan kunjungan neonatus 3 kali (KN lengkap) sebanyak 172 orang (80%). Persentase cakupan kunjungan bayi minimal 4 kali di Kecamatan Arungkeke pada tahun 2011 sebanyak 118 bayi (33.9 %) dari 348 bayi.

Kesehatan Ibu, ANC, Pertolongan Persalinan dan KB a. Pertolongan Persalinan Jumlah ibu bersalin di Kecamatan Arungkeke pada tahun 2011 sebanyak 362 orang sebanyak 178 atau 55%-nya ditolong oleh tenaga kesehatan. b. Pemeriksaan Ibu Hamil Dari jumlah 379 orang ibu hamil, jumlah K1 adalah sebanyak 349 orang (92.1%) dan yang melakukan K4 adalah sebesar 258 orang (68.1%). Untuk suntikan tetanus toksoid maka yang mendapatkan TT1 sebesar 349 orang (92.1%) dan yang mendapatkan TT2 sebesar 258 orang (68.1%). Untuk ibu hamil yang mendapatkan fe 1 sebanyak 331 orang (87.34%) dan fe 3 sebanyak 245 orang (64.64%) c. Pelayanan Keluarga Berencana Pada tahun 2011 dari 3549 Pasangan Usia Subur terdapat 140 orang (3.9%) adalah peserta KB baru. Peserta KB aktif sebesar 2.584 orang (72.8%). 3.7.3 Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak Pandangan tentang ibu hamil, bersalin, bayi/anak Masyarakat Jeneponto, kurang lebih memiliki pandangan yang sama dengan masyarakat pada umumnya dalam situasi menunggu kehadiran seorang anak dalam keluarga. Dalam masa kehamilan, ibu tentunya melakukan pencarian kesehatan, baik
246

dengan pengobatan tradisional maupun pengobatan konvensional. Hal ini mereka lakukan agar selama masa kehamilan mereka terus dapat sehat hingga sampai saatnya nanti mereka akan melahirkan. Hal ini sejalan dengan pendapat Bapak Kepala Puskesmas Arungkeke yang menyatakan bahwa kesadaran masyarakat di Kecamatan Arungkeke ini terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahunnya:
“kesehatan, masyarakat itu semakin tahun semakin meningkat. Justru kenapa semakin tahun juga, kenapa semakin banyak juga orang yang berobat. Jadi apa semacam kesenjangan, disisi lain dikatakan bahwa kesadaran masyarakat itu menyangkut persoalan kesehatan itu semakin bagus, itu dilihat karena setiap bulannya itu selalu meningkat orang yang datang berobat sehingga, ada yang mengatakan berarti semakin hari semakin tahun ini orang semakin banyak yang sakit.”

Kesadaran mengenai pentingnya menjaga kesehatan pada sat kehamilan tersebut bukan hanya dimiliki oleh ibu itu sendiri namun juga keluarga terdekatnya, khususnya para suami. Dari hasil fgd yang dilakukan kepada para suami, maka dapat dilihat bahwa para suami dari ibu hamil ini turut andil dalam proses menjaga kesehatan istrinya. Para suami peserta Jampersal menyatakan bahwa ketika istri mereka hamil mereka membantu meringankan pekerjaan dari para istri. Pekerjaan yang dirasa membutuhkan tenaga banyak akan mereka gantikan, seperti mengangkut air atau mengangkat benda lain yang berat. Selain itu mereka juga turut membantu pekerjaan rumah tangga, seperti membantu mencuci baju, mengurus anak dan bahkan memasak. Menurut pengakuan beberapa para suami juga menyatakan mereka membantu istri mereka pada saat hamil saja, namun berlanjut hingga pada saatnya nanti pada masa nifas, setelah ibu dilahirkan. Hal ini seperti yang diungkapan oleh bapak N:
“Adapun peranan saya di saat istri hamil, saya membantu sebagai, kadang memasak kalay kadang sakit-sakitan. Anak saya ada 3. Tapi setelah melahirkan saya sebagai suami mengambil peranan untuk membantu semuanya, termasuk memasak, mencuci, membelikan susu untuk pertama karena belum keluar air susu istri.”

Para suami juga berperan pada saat proses pemeriksaan kesehatan itu sendiri pada masa kesehatan, mereka berperan dalam menentukan pemeriksaan kehamilan, bahkan beberapa di antaranya juga turut mengantarkan istrinya pada waktu pemeriksaan, baik itu pergi ke dukun/sandro ataupun pergi ke puskesmas ataupun

247

pustu yang ada di desa tempat mereka tinggal.

Begitupun pada saat ibu akan

melahirkan, biasanya suami pada saat menjelang persalinan akan menemani istrinya dan berjaga-jaga hingga pada saatnya waktu persalinan. Dan pada waktu persalinan tersebut biasanya suami yang akan mengantarkan istrinya ke puskesmas jika akan melahirkan dengan bidan ataupun pergi memanggil dukun untuk datang ke rumah untuk menolong persalinan. Hal ini seperti apa yang dikatakan oleh informan suami Bapak AM:
“Waktu istri saya mengandung saya selalu membantu apa yang dia kerjakan, kalau dia mau apa saya belikan. Kalau dia mau mencuci saya larang dia. Saya selalu membaca surat yaasin untuk kelancaran kelahiran anak saya. Ketika melahirkan saya panggil dukun.”

Selain itu sebagai kepala keluarga, seorang suami biasanya pada saat istri hamil juga menyediakan dana, meskipun terbilang minim, untuk berjaga-jaga manakala istrinya membutuhkan obat ataupun berjaga-jaga apabila nanti pada proses persalinan membutuhkan biaya lebih. Keluarga besar juga memberikan perhatian kepada ibu yang sedang hamil, khususnya para orang tua. Orang tua cukup memberikan perhatian kepada anaknya jika sedang hamil, khususnya para ibu. Kedekatan antara ibu hamil dengan orang tua ataupun keluarga ditunjukkan dengan pilihan mereka untuk bersalin di tempat yang dekat dengan keluarga besarnya, yang memang menjadi kebiasaan bagi para warga Jeneponto. Tidak sedikit ibu hamil yang menemani suaminya merantau untuk bekerja, ke Makassar ataupun kota/kabupaten lainnya,memilih untuk kembali ke kampungnya berasal (Jeneponto) karena ingin ditemani keluarga besarnya pada saat melahirkan. Hal ini seperti yang disebutkan oleh Kepala Bidang Binkes Dinkes Kab. Jeneponto:
“Itu sakit dia cenderung kembali ke kampungnya, orang sini cenderung sakit kembali ke keluarganya. Jadi dia pasti kembali ke kampungnya. Dia mau didampingi sama keluarganya termasuk melahirkan.”

Bentuk perhatian dari masyarakat tempat tinggal juga kini telah sedikit banyak berperan, baik itu yang sifatnya bantuan pribadi atau bantuan dari organisasi masyarakat yang ada di lingkungan sekitarnya. Bantuan pribadi antara lain adalah meminjamkan kendaraan secara gratis manakala ada ibu yang mau memeriksakan diri

248

ke puskesmas atau pada saat akan melahirkan. Sedangkan bentuk perhatian dari organisasi masyarakat diberikan melalui penyuluhan-penyuluhan kesehatan yang dilakukan untuk para warga, namun disayangkan berdasarkan fgd yang dilakukan oleh tokoh masyarakat acara penyuluhan ini masih jarang dilakukan, namun ada juga desa yang sudah menjalankanya secara rutin, seperti yang disebutkan oleh salah satu wakil kepala Desa berikut ini:
“kalau di desa itu, letaknya kantor desa dekat jadi gampang mantaunya. Bersama kader bekerja sama memantau banyak nya ibu hamil sampai ibu nifas. Kader melaoprkan berapa ibu hamil yang hamil. Kebetulan saya juga pernah menjadi kader posyandu. Jadi masalah posyandu dan kesehatan saya perduli.”

Kepercayaan yang Masih Berkembang (Tradisi/Ritual/Kebiasaan) Terkait dengan tradisi, ritual ataupun kepercayaan tertentu yang menyangkut kesehatan ibu dan anak, mulai dari proses kehamilan hingga sampai setelah melahirkan, sebagian masyarakat Jeneponto masih melakukannya, sedangkan sebagian lainnya sudah tidak melaksanakannya lagi. Hal ini juga ditunjukkan data kuantitatif dari hasil survey dengan responden mengenai masih atau tidak dilakukannya tradisi/upacara/ritual oleh para responden berikut ini:
Tabel 3.7.4. Pelaksaan Upacara/Tradisi/Ritual Berkaitan dengan KIA di Kec. Arungkeke

No 1 2 3 4

Upacara/Tradisi/Ritual Masa Kehamilan Masa Persalinan Masa Nifas Bayi Lahir

Tidak 48.6 94,3 95.7 54.3

Ya 51.4 5,7 4.3 45.7

Sumber: Data Primer

Untuk yang masih melaksanakannya kebanyakan menjalani karena percaya bahwa jika nanti tidak melaksanakannya maka akan mendatangkan akibat yang tidak baik bagi seorang ibu ataupun calon anak ataupun anaknya, namun ada pula yang tetap melaksanakannya bukan karena alasan tersebut namun karena dianggap sudah tradisi turun temurun, yang akan terasa ada yang “kurang” jika tidak

melaksanakannya.

249

Seperti dapat kita lihat pada tabel di atas maka secara garis besar, masyarakat Jeneponto sudah tidak lagi melaksanakan tradisi/ritual/kebiasaan yang menyangkut kesehatan ibu dan anak. Hanya pada masa persalinan saja yang masyarakatnya masih banyak yang mengadakan ritual, sedangkan pada masa persalinan dan masa nifas mayoritas tidak melakukan. Untuk upacara pada masa bayi lahir meskipun lebih banyak persentase orang yang sudah tidak melaksanakan, namun persentase orang yang masih melaksanakannya juga dapat dikatakan tidak sedikit. Kepercayaan pada Masa Kehamilan. Pada masa kehamilan ada kepercayaan berupa pantangan yang dipercayai masyarakat yang jika dilakukan akan

mengakibatkan hal yang tidak baik bagi kesehatan ibu hamil dan calon anaknya. Pantangan-pantangan tersebut ada yang berupa pantangan berupa makanan dan ada juga pantangan berupa perilaku. Pantangan makanan antara lain:  Dilarang minum es karena dipercayai akan menyebabkan besarnya ukuran kepala bayi di dalam perut yang bisa menyebabkan pada saatnya akan bersalin nanti akan sulit untuk dikeluarkan.  Dilarang makan sayur daun kelor karena dipercaya akan memperlancar lendiri pada kemaluan ibu yang akan mempersulit pada masa persalinan.  Dilarang makan udang karena dipercaya akan mengakibatkan posisi bayi semakin mundur dari jalan lahir dan mengakibatkan persalinan tidak lancar  Dilarang makan yang pedes-pedes dan ikan laut terutama ikan toka-toka (ikan pari) karena dipercayai nanti mengakibatkan lemahnya atau tidak kuatnya tulang anaknya, sehingga anak sulit untuk mulai berjalan. Berikut ini pantangan berupa perilaku, perilaku ini selain tidak boleh dilakukan oleh ibu hamil juga ada yang tidak boleh dilakukan oleh suaminya:  ibu hamil dilarang tidur dipagi hari karena dipercayai akan menyebabkan banyak darah keluar bila nanti melahirkan

250

 Ibu dilarang mengerjakan pemotongan, misalnya memotong, memotong ikan, memotong rambut,memotong kuku dan sebagainya karena hal ini akan menyebabkan anak yang dilahirkan cacat.  Para suami yang istrinya hamil dilarang mengerjakan pekerjaan membuat lubang, misalnya menatah/melubangi kayu dan sebagainya karena dipercayai menyebabkan anak yang dilahirkan sumbing  Ibu hamil harus makan di piring yang ukurannya kecil karena dipercayai nanti mulut bayinya akan lebar Sedangkan untuk ritual yang biasa dilakukan pada masa kehamilan, sama dengan masyarakat di provinsi Sulawesi Selatan pada umumnya, yaitu upacara Pasili atau Napasili. Pada sub bab hasil laporan di kota Makassar upacara ini juga dilakukan. Perbedaannya adalah upacara Napasilli di kabupaten Jeneponto ini hanya dilakukan untuk anak pertama dan ketiga saja. Upacara ini dilakukan pada saat ibu menginjak usia kandungan 7 bulan. Upacara ini biasanya dipimpin oleh sandro setempat ataupun tokoh agama. Sandro ataupun tokoh agama ini menjadi pemimpin dalam ritual ini karena dianggap bisa mendoakan ibu agar selamat hingga pada masanya persalinan. Meskipun dana yang disediakan cukup besar untuk acara Pasili ini, namun karena sudah menjadi kebiasaan yang turun emurun dilakukan maka masyarakat masih mengadakannya. Jika mereka tidak mampu maka biasanya keluarga juga memiliki kewajiban untuk membantu padan saat acara. Ada yang menyumbangkan uang da nada juga yang menyumbangkan bahan mentah untuk diolah sebagai makanan yang akan disajikan pada saat upacara dan ada juga yang menyumbangkan makanan yang sudah jadi. Kepercayaan pada Masa Persalinan. Pada masa persalinan ini kebiasaan yang ada di masyarakat adalah memanggil dukun untuk diminumkan air yang dianggap bisa mengusir setan. Air yang sudah diberikan doa ataupun jampi oleh dukun ini dianggap bisa mengusir setan yang bisa mengganggu persalinan yang biasa disebut dengan Parakang. Kepercayaan pada Masa Nifas. Pada masa nifas, hanya ada kepercayaan berupa pantangan. Tidak ada ritual ataupun upacara yang harus dilakukan oleh ibu

251

nifas Sama seperti pantangan pada masa hamil, kebanyakan masyarakat juga sudah tidak menjalani pantangan-pantangan pada masa nifas ini. Ibu hanya dilarang untuk bekerja berat hingga waktu nifas berakhir. Dan di masyarakat ada kepercayaan bahwa ibu nifas harus banyaka makan sayur daun kelor dan kacang tanah yang dipercaya dapat memperbanyak air susu ibu. Kepercayaan pada Bayi yang Baru Lahir. Terdapat suatu kepercayaan baju bayi yang khas pada masyarakat Jeneponto yaitu mngenai pakaian untuk bayi. Bayi dianjurkan memakai turunan atau bekas dari kakaknya (pakaian bekas dari kakaknya), sedangkan anak pertama mengambil/meminta dari saudara/famili lain atau tetangga yang sebelumnya sudah memiliki anak dan dilarang untuk memakai baju yang baru dibeli.Hal ini dipercayai karena memakai baju bekas bayi lain maka bayi itu akan sehat sama dengan bayi sebelumnya. Sedangkan untuk upacara untuk bayi baru lahir, karena masyarakat Jeneponto hampir seluruhnya adalah masyarakat yang memeluk agama Islam, maka untuk upacara bayi ini mengikuti kebiasaan umat Islam pada umumnya. Upacara ini adalah upacara aqiqah yang diadakan setelah bayi kurang lebih menginjak usia 7 hari. Secara simbolik, acara aqiqah ini dilakukan acara pemotongan kambing yang jumlahnya disesuaikan dengan jenis kelamin dari sang bayi. Jika bayi perempuan kambing yang dipotong sebanyak 1 ekor, sedangkan untuk bayi laki-laki makakambing yang dipotong sebanyak 2 ekor. Biasanya dalam acara ini bayi juga akan dipotong rambutnya. Untuk masyarakat pedesaan, maka acara aqiqah ini terbilang memakan biaya yang cukup besar. Untuk kambing masing-masing kini harga berkisar di angka satu juta rupiah. Belum lagi akan ada biaya tambahan untuk makanan yang harus mereka sediakan untuk tamu-tamu yang diundang, apalagi biasanya di desa jika ada acara maka yang empunya acara wajib mengundang masyarakat 1 desa atau bahkan mengundang kerabat yang ada di luar desa dan berada di desa sekitar. Dalam masyarakat, jika tidak mampu mengadakan aqiqah, karena terkait dengan besaran biaya yang tadi sudah dijelaskan di atas maka ada ritual lain yang dianggap bisa menggantikan acara tersebut yaitu acara yang disebut dengan Gamakki. Perbedaannya dengan aqiqah, upacara Gamakki ini tidak harus memotong kambing

252

dan keluarga hanya perlu menyediakan pisang ataupun onde-onde yang ditaruh di dalam satu nampan. Pengetahuan Masyarakat tentang Kesehatan Ibu pada masa Kehamilan, Persalinan dan Pasca Persalinan Untuk mengukur pengetahuan masyarakat ini maka penelitian ini

membantunya dengan melihatnya dari kuesioner yang telah dibagikan kepada 70 responden ibu yang dipilih secara random atau acak dan hal ini juga didukung oleh hasil fgd yang telah dilakukan oleh bidan, suami dan juga tokoh masyarakat.Menurut Bloom (1908, dalam Notoatmodjo: 2003), pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya sikap dan juga tindakan/perilaku nyata seseorang. Pengetahuan ibu yang coba dilihat disini adalah pengetahuan ibu pada saat hamil, pada saat persalinan dan juga masa setelah melahirkan atau masa nifas. Masa Kehamilan. Jika melihat data hasil kuesioner, maka dapat dikatakan bahwa pada dasarnya pengetahuan ibu pada saat masa kehamilan sudah cukup baik, yaitu di antaranya mereka sudah memiliki pengetahuan untuk memeriksakan kesehatan kehamilan sebanyak 4 kali, memeriksakan tekanan darah dan meminum tablet penambah darah. Hal ini terlihat pada hasil survey ibu dimana sebesar 97.1% menyatakan bahwa mereka tahu bahwa selama masa kehamilan mereka harus memeriksakan kehamilan sebanyak 4 kali; 100% tahu bahwa ibu hamil harus mengukur tekanan darah dan 100% tahu bahwa ibu hamil harus meminum tablet penambah darah. Tingginya pengetahuan di masa kehamilan ini ternyata juga cukup diketahui para suami, dimana dari hasil fgd mereka mengatakan tahu bahwa istrinya harus memeriksakan kesehatannya, khususnya dengan melakukan pemeriksaan di puskesmas. Sehingga dari pengetahuan tersebut mereka juga turut mendorong para istrinya untuk rutin dalam melakukan pemeriksaan selama masa kehamilan. Pengetahuan yang menarik yang dapat ditemukan adalah pengetahuan mengenai kehamilan dikaiktkan dengan tradisi setempat, dimana ternyata dari seluruh responden masih ada 78.6% ibu yang memiliki pengetahuan bahwa dalam kehamilan

253

harus dilakukan upacara agar bayi yang dikandungnya selamat. Upacara yang biasa dilakukan di daerah ini pada saat kehamilan adalah upacara Passili seperti yang sudah dijelaskan pada sub bab sebelumnya. Masa Persalinan. Untuk pengetahuan pada masa persalinan, dalam hal lokasi pemilihan pertolongan persalinan, hanya 34.3% yang memiliki pengetahuan bahwa melahirkan di dalam rumah lebih aman, sehingga 65.7% berarti menyatakan bahwa melahirkan di rumah tidak lebih aman dan lebih aman jika bersalin di fasilitas kesehatan. Hal ini sejalan dengan pengetahuan ibu mengenai penolong persalinan. Sebesar 92.9% ibu memiliki pengetahuan bahwa melahirkan dengan bidan lebih aman. Dari kedua angka tersebut kurang lebih menunjukkan bahwa dalam persalinan ibu lebih percaya untuk ditolong oleh bidan, namun untuk penolongan persalinan ternyata masih banyak yang lebih memilih untuk melakukannya di rumah sendiri. Untuk pertolongan persalinan, pengetahuan ibu terbentuk karena beberapa faktor. Faktor pengalaman dalam melahirkan, baik itu pengalamannya sendiri maupun pengalaman keluarga atau kerabatnya dalam memilih penolong. Selain itu faktor kenyamanan yang didapatkan ketika bersalin di rumah masih menjadi alasan kenapa mereka lebih memilih di rumah. Hal ini tentunya tidak sejalan dengan program pemerintah yang harus melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Masa Setelah Persalinan. Pengetahuan ini melihat bagaimana pengetahuan dalam melakukan aktivitas a kembali setelah melakukan persalinan. Dari hasil survei menunjukkan bahwa 81.4% menyatakan bahwa adalah benar jika seorang ibu baru bisa beraktivitas lagi setelah 3 hari sedangkan sisanya sebesar 18.6% menyatakan bahwa adalah salah jika ibu dapat beraktivitas lagi setelah 3 hari melahirkan. Jika melihat hal ini maka diperlukan agar petugas kesehatan harus memberikan pengetahuan kepada ibu mengenai aktivitas setelah melahirkan. Meskipun melahirkan normal dan cepat pulih, namun ibu harus diberikan pengetahuan mengenai batasbatas aktivitas apa yang boleh dan tidak dibolehkan pada masa nifas tersebut. Hal ini juga terkait dengan kepercayaan setempat dimana ibu belum boleh keluar sebelum bayi berumur 40 hari. Ibu pun memiliki jawaban yang benar mengenai makanan setelah persalinan, meskipun di beberapa daerah banyak yang melarang ibu paska bersalin untuk tidak
254

mengkonsumsi ikan laut namun dari pernyataan responden menyatakan bahwa salah jika ibu dilarang memakan ikan laut setelah melahirkan. Pengetahuan ibu dalam mengatur jarak anak setelah melahirkan adalah 84.3% nya menyatakan bahwa salah jika mereka mengatur dengan menggunakan jamu. Melihat angka ini maka dapat dikatakan bahwa dalam urusan pengaturan anak ibu kini lebih percaya dengan alat KB yang telah disediakan pemerintah. Hal ini juga sesuai dengan apa yang telah diungkapkan oleh Kepala Puskesmas Arungkeke tentang lancarnya program KB di Kecamatan Arungkeke ini:
“Kalo KB disini tidak ada yang menolak malah dicari-cari... itu di gratiskan malah tidak ada yang mau datang sekali kalau beli malah kekurangan sekali disini.. Semuanya pokonya kalo KB tidak ada hambatan disini.”

Sikap Masyarakat tentang Kesehatan Ibu pada masa Kehamilan, Persalinan dan Pasca Persalinan Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. Atkinson, dkk (1993, dalam Harahap & Andayani, 2004: 5) menyatakan sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara tertentu, bentuk reaksinya dengan positif dan negatif. Dalam penelitian ini, survey mengenai sikap ibu dilihat dari 4 level. 2 sikap positif ditunjukkan dengan penyataan setuju dan sangat setuju sedangkan 2 sikap negatif ditunjukkan dengan pernyataan sangat tidak setuju dan tidak setuju (Tabel 3.7.5).
Tabel 3.7.5. Sikap Ibu terhadap Perilaku Kesehatan Ibu di Kec. Arungkeke PERNYATAAN Penting pemeriksaan kehamilan sebanyak 4 kali Penting ukur tensi Perlu tablet tambah darah Perlu upacara agar selamat Melahirkan di rumah dan RS/pusk sama amannya Kemampuan dukun sama baiknya dg bidan Perlu KB pasca nifas Sumber: Data Primer SIKAP Positif 97.1 100 1.4 77.1 32.9 20 78.6 Negatif 2.9 0 98.6 22.9 67.1 80 21.4

255

Masa Kehamilan. Pengetahuan yang positif cenderung membuat sikap yang juga positif. Hal ini dapat terlihat dari sikap ibu yang positif terhadap perilaku pada masa kehamilan dimana pengetahuannya juga positif, yaitu antara sikap terhadap pemeriksaan kehamilan sebanyak 4 kali (sebanyak 97.1%), sikap terhadap pentingnya mengukur tensi (sebanyak 100%) dan juga sikap yang berkaitan dengan tradisi setempat yaitu mengenai sikap terhadap pentingnya mengadakan upacara agar ibu dan anak selamat (sebanyak 77.1%). Namun berbeda dengan pengetahuan ibu yang tinggi akan perlunya tablet penambah darah, ternyata sikap ibu malah menunjukkan sikap negative, dimana kebanyakan ibu tidak setuju jika harus meminum tablet penambah darah, yaitu sampai mencapai angka 98.6%. Masa Persalinan. Sikap ibu pada masa persalinan sebenarnya sudah cenderung positif dalam melihat pelayanan kesehatan secara medis konvensional. Menurut keterangan para tenaga kesehatan kini sudah lebih banyak warga yang memilih persalingan dengan bantuan tenaga kesehatan dalam hal ini bidan. Namun memang masih ada sebagian kecil di masyarakat yang masih memilih untuk dibantu dengan bantuan dukun beranak atau yang biasa disebut dengan sanro. Sebanyak 80% orang responden memiliki sikap dimana mereka menyatakan bahwa pada dasarnya kemampuan dukun tidak sama dengan bidan nakes. Begitu juga dengan tempat melahirkan, para ibu sebanyak 67.1% menyatakan sikap dimana melahirkan di rumah tidak sama amannya dengan melahirkan di puskesmas. Hal ini juga didukung oleh pernyataan suami yang mendukung istrinya untuk melahirkan di puskesmas dibandingkan melahirkan di rumah dengan bantuan dukun, seperti pernyataan bapak Su berikut ini:
“istri saya pas mau melahirkan, pas saat sakit itu saya tanya mau melahirkan dimana. Misalnya dia jawab ke dukun tapi saya dorong ke puskesmas karena dilayani dengan baik.”

Masa Setelah Persalinan. Sikap ibu setelah persalinan dilihat dari sikap ibu terhadap perlunya KB setelah masa nifas. Tabel menunjukkan bahwa 78.6% memiliki sikap positif terhadap KB. Sama seperti yang sudah disebutkan bahwa masyarakat

256

Jeneponto secara umum sudah banyak yang mengikuti program Keluarga Berencana ini. Meskipun ternyata untuk program KB ini, penduduk masih harus membayar sebesar Rp. 15.000,- – Rp. 20.000,-. Hal ini menandakan bahwa masyarakat sudah mulai mengerti tentang pentingnya jarak kehamilan sebagai bagian dari kesehatan keluarga.

Tindakan/Praktek Kesehatan Ibu dan Anak Di bawah ini merupakan tabel yang menggambarkan tindakan atau praktek terkait dengan kesehatan ibu dan anak yang dilihat dari hasil kuesioner yang disebarkan ke 70 orang ibu.
Tabel 3.7.6. Jenis Pelayanan Bidan dan Dukun di Kec. Arungkeke Jenis Pelayanan oleh Bidan Periksa Kehamilan Persalinan Rawat Pasca Persalinan KB Pijat Bayi Banyak Pemakai Pelayanan 100 80 95.7 94.3 11.4 Jenis Pelayanan oleh Dukun Periksa Kehamilan Persalinan Rawat Pasca Salin Pijat Ibu Rawat bayi Banyak Pemakai Pelayanan 57.1 28.6 38.6 74.3 62.9

Sumber: Data Primer

Masa Kehamilan. Seperti dapat dilihat pada tabel di atas, bahwa mayoritas responden sudah melakukan pemeriksaan kesehatan pada masa kehamilannya. Sebanyak 97.1% memeriksakan kehamilannya ke bidan dan 78.6% memeriksakan kehamilannya. Melihat angka persentase ini maka ada sebagian responden yang memeriksakan kehamilan ke keduanya, dimana hal ini menandakan bahwa meskipun sudah pergi ke bidan ada juga yang masih merasa kurang hingga harus memeriksakan kehamilannya ke dukun juga. Pemeriksaan kehamilan pun sudah cukup baik dan sesuai standar yang diajukan pemerintah, yaitu sebanyak 88.6% responden memeriksakan kehamilan 4 atau lebih dari 4 kali. Untuk pemilihan pelayan pemeriksaan masa kehamilan dengan nakes pun menurut 65.7% responden dikarenakan alasan keamanan dan kenyaman yang didapatkan. Keamanan dalam hal ini adalah keadaan kesehatan dari sang ibu dan calon
257

anaknya. Hal ini juga ditegaskan oleh salah satu informan suami mengenai pemeriksaan kehamilan istrinya dengan bidan:
“Kita sebagai suami membantu menjaga kesehatan. Umpamanya dia pusingpusing ketika hamil harus memanggil bidan atau diperiksakan ke bidan.”

Sedangkan untuk alasan pemeriksaan ke dukun, tidak ada alasan yang menjadi mayoritas dan jawabannya lebih variatif, namun secara garis besar ada 3 alasan dari hasil kuesioner yang dapat dapat diambil. Alasan pertama adalah kenyamanan. Alasan kenyamanan ini dikarenakan ada ibu yang lebih memilih untuk diperiksa di rumah, dimana dukun bisa didatangkan ke rumah dan ibu tidak harus keluar rumah, lain dengan pemeriksaan bidan yang cenderung dilakukan di puskesmas atau poskesdes. Alasan kedua adalah tradisi, dimana dalam keluarga ada kebiasaan untuk memeriksakan diri ke dukun karena dianggap memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh bidan. Biasanya pemeriksaan kehamilan yang dilakukan oleh dukun ini adalah mengurut-urut perut bayi yang dianggap dapat membetulkan posisi bayi di dalam perut agar nantinya mudah untuk melahirkan. Dan alasan ketiga adalah alasan disuruh orang tua atau suami untuk memeriksakan ke dukun. Alasan ketiga ini bisa dikatakan ada kaitannya dengan alasan kedua mengenai tradisini, dimana biasanya orang tua yang masih memegang kuat akan tradisi sehingga akhirnya mendorong anaknya untuk terus melaksanakannya. Masa Persalinan. Melihat tabel maka dalam persalinan, mayoritas sudah melahirkan dengan bidan yaitu sebanyak 80%. Namun masih ada juga melakukan persalinan dengan bantuan dukun yaitu sebanyak 28.6%. Pada dasarnya di Jeneponto sendiri pada umumnya, dan di Kecamatan Arungkeke pada khususnya masyarakat sudah melahirkan dengan bantuan bidan. Sandro yang ada kini biasanya hanya menjadi pendamping bidan saja dan untuk menjalani kebiasaan yang dipercayai bisa memperlancar persalinan.Memang tidak sedikit juga masyarakat ketika akan bersalin pergi memanggil sandro dulu. Jika sandro-nya sudah bekerjasama dengan bidan maka biasanya sandro akan mengantarkan ibu ke bidan, namun ada juga yang tetap melanjutkan pertolongan tanpa memanggil bidan atau memanggil bidan jika keadaan ibu sudah gawat dan sandro merasa tidak mampu untuk menolongnya lagi. Para suami dalam fgd juga kebanyakan sudah mengetahui kerjasama antara bidan dan dukun ini

258

dalam menolong persalinan, dimana hal ini tentunya mereka anggap baik dalam membantu kesehatan istri dan anak mereka:
“disini dukun sudah bekerja sama dengan bidan. Jadi kalaupun panggil dukun, biasanya bidan juga ada. Bidan nya sampai bayi sudah lahir didatangkan dicek. “

Untuk tempat melahirkan sendiri ternyata persentase menunjukkan bahwa paling banyak ibu melahirkan di rumah yaitu sebesar 48.6%. Hal ini karena masyarakat Jeneponto senang jika pada saat bersalinan ditemani oleh keluarga besarnya, lain halnya jika harus melahirkan di puskesmas dimana anggota keluarga yang hadir terbatas. Hal ini juga diungkapan oleh koordinator bidan Ibu R mengenai melahirkan di rumah:
“masih ada melahirkan dirumah, karenajadi tambah rame,semua saudaranya, tetangganya datang, yang nunggu kelaurga besar, kalo di rumah sakit paling hanya suami istri tidak banyak orang. Juga ada yang berpendapat dari pada lahir di tangan dukun mending di bidan.”

Paska Persalinan. Untuk paska persalinan ini, pada kuesioner dicoba dilihat berapa banyak yang melakukan pemeriksaan pada masa nifas dan juga keikutsertaan dalam program Keluarga Berencana. Untuk pemeriksaan paska melahirkan di puskesmas itu sendiri mayoritas sebanyak 61.4% memeriksakan sebanyak 1-3 kali; 21.4% memeriksakan sebanyak 4 kali atau lebih dan hanya 17.1% yang tidak memeriksakan sama sekali. Hal ini menandakan bahwa sebenarnya ibu sudah memiliki cukup kesadaran untuk memeriksakan kehamilannya pada saat setelah melahirkan. Sedangkan ada juga yang pergi ke dukun setelah persalinan untuk dilakukan urut atau pijit yang diperuntukkan baik untuk ibu maupun bayinya. Dari hasil survey 74.3% melakukan pijat untuk ibu dan sebesar 62.9% nya melakukan perawatan dengan bayi. Sedang untuk KB, dari hasil ada 94.3% mengikuti KB melalui pelayanan yang diberikan oleh bidan atau puskesmas. Hal ini menandakan bahwa mereka sudah mengetahui konsep jarak anak. Untuk KB itu sendiri kebanyakan warga masih menggunakan biaya sendiri yaitu sebanyak 78.6%.

259

3.7.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Dalam Pemilihan Penolong Persalinan Pengambilan Keputusan Pertolongan KIA Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan konteks sosial yang melingkupi kehidupan di Kecamatan Arungkeke. Kondisi ekonomi, jenis pekerjaan penduduk, kondisi alam, pengaruh-pengaruh modernisasi berikut cara hidup yang telah turun temurun dikenal oleh masyarakat Arungkeke tentu saja mempengaruhi banyak hal yang terkait dengan kehidupan sosial-budaya di wilayah ini. Hal itu juga berpengaruh dalam hal pola pencarian kesehatan (health seaking behaviour)—dalam hal ini KIA—di wilayah ini. Pilihan-pilihan masyarakat mengenai siapa orang yang mereka percaya untuk dapat memberikan pertolongan KIA sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di wilayah Arungkeke masih tergolong rendah. Hal ini juga bisa dilihat dari data cakupan Jampersal yang kami peroleh dari Dinas Kesehatan Jeneponto. Dalam data tersebut terlihat bahwa cakupan Jampersal di wilayah Kecamatan Arungkeke adalah yang terendah dari seluruh Kecamatan di Kabupaten Jeneponto. Keberadaan dukun dan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan menjadi alasan umum yang bisa dijadikan penjelasan mengenai hal ini. Akan tetapi alasan tersebut tidak serta merta dapat dijadikan sebuah fakta mutlak sebagai penyebab dari rendahnya cakupan linakes dan Jampersal di Arungkeke. Dalam hal pengambilan keputusan pertolongan KIA salah satunya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat beragam alasan yang diungkapkan oleh masyarakat dalam memutuskan siapa pihak yang pantas mereka pilih untuk dapat memberikan pertolongan KIA. Salah satu dari alasan tersebut adalah faktor biaya. Ada sebuah temuan dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa salah satu alasan mengapa masyarakat lebih memilih dukun sebagai penolong KIA adalah karena adanya sebuah ketakutan akan biaya yang besar. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang suami berikut ini:
“Kebanyakan orang kampung melahirkan pake dukun semua. Di kampung ini, arungkeke. Ini semua kan takut ke biaya, kebetulan saya dengar di tetangga saya, dia melahirkan di makasar, dia siapkan uang 5 juta tapi belum cukup. Kami petani-petani ini tidak bisa. Akhirnya ya ke dukun aja.”

260

Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang suami dalam FGD tersebut. Salah satu alasan mengapa mereka lebih memilih membawa istri mereka ke dukun adalah ketakutan akan biaya yang mahal apabila mereka memilih puskesmas atau fasilitas kesehatan lain. Anggapan tersebut muncul dari ketidakhuan mereka mengenai pelayanan kesehatan di faskes. Selain itu faktor ekonomi menjadi pengaruh yang besar dalam hal ini. Pekerjaan utama masyarakat Arungkeke sebagai seorang petani kurang menjamin penghasilan yang besar atau dirasa cukup untuk menggunakan fasilitas kesehatan (dalam pandangan masyarakat). Namun selain karena faktor ekomoni, hubungan kekerabatan juga menjadi sebuah pengaruh dalam menentukan pilihan pertolongan KIA. Masyarakat Arungkeke adalah masyarakat pedesaan. Dalam pola budaya masyarakat pedesaan, pada umumnya hubungan kekerabatan dan pola hidup kolektif masih sangat kuat melingkupi pola kehiduan sehari-hari di dalamnya. Rendahnya sentuhan arus modernitas, teknologi dan informasi, dan juga mobilitas sosial-politik dalam masyarakat menjadi sebuah ciri yang sering ditemukan mewarnai kehidupan di wilayah pedesaan. Sehingga jamak ditemukan pola bergantung antar masyarakat dalam hubungan kekerabatan yang kuat menjadi sebuah ciri dalam struktur sosial di pedesaan. Dalam kehidupan sosial di Arungkeke hal tersebut dapat dilihat sampai pada tingkat struktur terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga. Dalam hal pengambilan keputusan pertolongan KIA, hubungan kekerabatan dalam keluarga menjadi pengaruh yang cukup kuat dalam menentukan pilihan-pilihan mereka. Dalam hal ini, pembagian peran secara gender dalam keluarga berikut hirarki dalam struktur keluarga kemudian menjadi hal menarik untuk dilihat dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Suami sebagai tonggak pemenuhan kebutuhan keluarga kemudian menjadi aktor penentu yang cukup kuat dalam proses pengambilan keputusan ini. Seperti halnya dengan keputusan-keputusan lain dalam sebuah keluarga, posisi sentral mereka sebagai pencari nafkah dan tonggak perekonomian keluarga menjadi sebuah pertimbangan yang kuat dalam membuat keputusan, termasuk memilih penolong KIA. Seperti dalam pemilihan antara melahirkan di dukun atau di fasilitas kesehatan.
“istri saya pas mau melahirkan, pas saat sakit itu saya Tanya mau melahirkan dimana. Misalnya dia jawab ke dukun tapi saya dorong ke puskesmas karena dilayani dengan baik.”

261

Seperti terlihat dalam kutipan wawancara di atas, pemilihan fasilitas kesehatan sebagai tempat pertolongan KIA sangat dipengaruhi oleh posisi suami dalam keluarga. Ketika pada awalnya sang istri menginginkan untuk memilih dukun sebagai penolongnya, dorongan suami untuk lebih memilih faskes kemudian mempengaruhi istri untuk mengubah keputusannya. Namun hal itu tidak serta merta menyatakan bahwa sang suami selalu menjadi aktor penentu utama dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Tak jarang, keputusan tersebut juga diserahkan kepada sang istri. Seperti terlihat dalam wawancara berikut:
“tergantung kondisi, pada saat larut malam merasakan sakit, di antar ke puskesmas ga bisa, keburu lahir. Jadi saya lemparkan ke ibu, dia maunya gimana. Jadi biar istri saya yang putuskan.”

Satu hal menarik lainnya yang ditemukan dalam penelitian ini adalah adanya faktor malu dalam masyarakat Arungkeke yang kemudian menjadi penentu dalam pengambilan keputusan pertolongan KIA. Faktor malu tersebut muncul sebagai manifestasi dari tabu yang ada dalam norma-norma masyarakat. Salah satunya adalah adanya kasus hamil pra-nikah. Seperti terlihat dalam wawancara berikut:
“Banyak kasus seks bebas dan hamil duluan. Sehingga banyak yang ga mau ke puskesmas karena takut ketauan”

Dukun v.s Bidan di Mata Masyarakat Arungkeke Dukun dalam masayarakat Jeneponto—atau secara umum bugis-makassar— dikenal dengan sebutan Sandro. Keberadaan mereka dalam kehidupan masyarakat telah dikenal sejak lama. Mereka adalah pelaku praktek budaya yang sejak lama telah memainkan perannya dalam memberikan pertolongan kesehatan bagi Ibu dan Anak, juga masyarakat Jeneponto secara umum. Menurut data Puskesmas Arungkeke, saat ini di Kecamatan Arungkeke terdapat 9 orang dukun yang tersebar secara merata di 9 desa di Kecamatan Arungkeke. Seluruh dukun tersebut telah mendapat pelatihan dan bermitra dengan bidan setempat. Akan tetapi sebuah fakta lain disebutkan oleh masyrakat. Beberapa masyarakat dalam wawancara kami menyatakan bahwa sebenarnya jumlah dukun yang berada di Arungkeke lebih dari 9 orang. Mereka belum terdata oleh pihak puskesmas maupun Dinas Kesehatan.
262

Dalam pandangan masyarakat, keberadaan dukun atau sandro di wilayah mereka masih sangat dibutuhkan. Terutama untuk memberikan pertolongan. Salah satu alasan dari hal ini adalah terkait dengan kesiap-siagaan dukun dalam pandangan masyarakat. Seorang dukun dapat dipanggil kapanpun, baik siang atau malam. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang masyarakat berikut ini:
“Dukun masih diperlukan ada, karena dia standby per jam dan tengah malam bisa diganggu, sedangkan kalau pustu malam tidak. Jadi kalau malam susah juga, itu dukun juga bisa raba perut biar tau ini melahirkan susah atau tidak. Kalo siang si langsung ke pustu.”

Kesiap-siagaan pihak pemberi pertolongan KIA memang dirasa sangat penting oleh masyarakat. Mereka membutuhkan pihak yang mampu memberikan pertolongan kapanpun mereka membutuhkannya. Alasan lain yang muncul dalam masayrakat dalam memanfaatkan dukun terkait dengan hal yang tidak bisa mereka dapatkan dari tenaga kesehatan. Salah satunya adalah pertolongan yang lebih sesuai dengan praktek-praktek budaya dan tradisi yang telah mereka kenal turun temurun. Dalam hal ini, kemudian peran seorang dukun menjadi penting. Mereka adalah orang yang lebih mengerti mengenai praktek budaya dalam masyarakat. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang anggota masyarakat berikut:
“servisnya dukun bhub dengan budaya yang ada di masyarkat. Sehingga cocok dengan masyarat. Dukun itu kalo perlu lahir, masyarkat sering merasa akan diganggu oleh mahluk asil. Dia punya bacaan buat ngusuir setan”

Pelayanan dalam bentuk pelaksanaan tradisi berikut ritual-ritual tertentu yang dapat dilakukan oleh dukun tersebut memberi efek ketenangan secara psikologis oleh masyarakat. Sebenarnya banyak masyarakat di Arungkeke yang telah memiliki pandangan bahwa pertolongan KIA yang aman adalah yang dilakukan di faskes, oleh nakes. Mereka percaya bahwa kemampuan tenaga kesehatan dan kelengkapan alat di fasilitas kesehatan lebih menjamin keselamatan dari ibu. Mereka juga telah mengetahui bahwa pihak penolong yang seharusnya mereka manfaatkan adalah seorang bidan. Sedangkan pelayanan yang diberikan oleh dukun dianggap sebagai tambahan saja.

263

“Dukun tuh bisa urut-urut setelah melahirkan. Saya panggil dukun. Tidak menolong persalinan tapi untuk menjaga kesehatan kami panggil dukun untuk pijat-pijat”

Dalam upaya Kesehatan Ibu dan Anak bian memang dipasang sebagai ujung tombak pertolongan. Di Kecamatan Arungkeke sendiri, terdapat 8 orang bidan yang bertugas. Satu orang bidan koordinator, dan 7 orang bidan yang masing-masing ditempatkan di setiap desa di Kecamatan Arungkeke. Dalam keseharian tugasnya, mereka lah yang bertugas memberi pelayanan terhadap Ibu dan Anak di setiap wilayahnya. Namun dalam tugasnya, kondisi bidan tidak selalu bisa dikatakan mulus tanpa hambatan. Salah satu hambatan yang muncul untuk bidan di Arungkeke adalah minimnya fasilitas pendukung kerja mereka. Seperti fasilitas poskesdes yang juga menjadi tempat tinggal mereka.
“Ada masalah di kampung sincini itu di poskesdes tidak ada air dan listrik sehingga bidan tidak tinggal disitu. Jadi kalau melahirkan malam jadi disarankan ke rumah sakit”

Permasalahan tersebut muncul sebagai akibat dari tidak meratanya kesejahteraan di Kecamatan Arungkeke. Tidak semua desa di Arungkeke memiliki tingkat kesejahteraan yang sama. Beberapa desa bisa dibilang kaya karena memiliki potensi alam dan kondisi yang baik, akan tetapi beberapa desa yang lain justru sebaliknya, kondisi kemiskinan, kekeringan, dan segenap permasalahan sosial masih bisa ditemukan di mana-mana. Imbas dari hal tersebut juga mengenai poskesdes sebagai fasilitas kesehatan yang dibangun oleh desa.

Gambar. 3.7.4. Sumbangan untuk Bidan Sumber: Dokumentasi Peneliti

264

Selain mengalami kendala berupa dukungan fasilitas yang kurang memadai, bidan di Arungkeke juga harus berhadapan dengan tantangan menjaring kepercayaan masyarakat. Kebanyakan bidan di sini masih sangat muda, dan baru saja ditempatkan di Kecamatan Arungkeke. Sehingga pandangan seperti pengalaman yang kurang, kedewasaan yang kurang, dan lain sebagainya masih muncul melingkupi situasi kerja mereka.
“dia meragukan bidan atas keselamatan. Bisa dijamin ga? Mending ke puskesmas atau ke rumah sakit. Ini dari segi alat medis yang pertama dan pengalaman bidan yang masih muda. Sehingga menjadi alasan dia tetapi setelah dia ke rumah sakit toh yang menangani disaiana anak-anak”

Terkait dengan hal itu kompetisi dengan pihak penolong lainnya kemudian muncul. Bidan desa kembali harus berhadapan dengan dukun yang sudah lama memainkan perannya menolong persalinan dalam masyarakat. Selain itu—dengan adanya sarana transportasi yang lancar—bidan juga harus berhadapan dengan pilihan masyarakat untuk mencari pertolongan di luar daerah mereka, seperti Makassar. Dukungan tokoh masyarakat untuk pemanfaatan layanan bidan dan fasilitas kesehatan sebenarnya cukup kuat. Mereka sering mengarahkan masyarakat baik dalam situasi formal maupun informal. Melalui penyuluhan atau dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Bahkan beberapa kebijaksanaan juga dibuat oleh tokoh masyarakat untuk mendorong masyarakat memanfaatkan pelayanan dari bidan.
“kita sudah wanti-wanti kalao tidak mau melahirkan di poskesdes, nanti urusan administrasi kita ancam persulit. Kita sudah bilang sama bidan juga kalo dia ga mampu segera dibawa ke rumah sakit saja. Pemerintah desa sudah mahal beli tanah untuk poskesdes dan berjuang 3 tahun supaya poskesdes ada di situ. Sehingga masyarakat tidak mau ya kita ancama secara administrasi.”

Hubungan antara Dukun dan Bidan Salah satu upaya untuk menengahi persoalan kompetisi antara dukun dan bidan adalah dengan dicanangkannya Program Kemitraan Dukun dan Bidan. Program ini merupakan salah satu program sebagai upaya untuk meningkatkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. Definisi Kemitraan Bidan – Dukun sendiri adalah suatu bentuk kerjasama bidan dan dukun yang saling menguntungkan

265

dengan prinsip keterbukaan, kesetaraan dan kepercayaan dalam upaya untuk menyelamatkan ibu dan bayi, dengan menempatkan bidan sebagai penolong persalinan dan mengalihfungsikan dukun dari penolong persalinan menjadi mitra dalam merawat ibu dan bayi pada masa nifas, dengan berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat antara bidan dan dukun serta melibatkan seluruh unsur/elemen masyarakat yang ada. Keberhasilan dari kegiatan kemitraan bidan – dukun adalah ditandai dengan adanya kesepakatan antara Bidan dan dukun dimana dukun akan selalu merujuk setiap ibu hamil dan bersalin yang datang. serta akan membantu bidan dalam merawat ibu setelah bersalin dan bayinya. Sementara Bidan sepakat untuk memberikan sebagian penghasilan dari menolong persalinan yang dirujuk oleh dukun kepada dukun yang merujuk dengan besar yang bervariasi. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam peraturan tertulis disaksikan oleh pempinan daerah setempat (Kepala Desa, Camat) Program Kemitraan Dukun dan Bidan di Kabupaten Jeneponto sendiri telah dicanangkan sejak tahun 2007. Menurut Informasi Pihak Dinas Kesehatan Kab. Jeneponto program yang dijalankan di sini banyak merujuk pada Kabupaten tetangganya, yaitu Takalar yang notabene pada tahun ini dicanangkan sebagai Kabupaten dengan Kemitraan Dukun-Bidan terbaik di Indonesia1. Data dari Puskesmas Arungkeke menunjukkan bahwa seluruh dukun yang berjumlah 9 orang di Kecamatan ini telah bermitra dengan Bidan Desa. Meskipun menurut Dinkes Kab Jeneponto dan pihak Pihak Puskesmas Arungkeke program ini cukup berhasil, namun wacana mengenai persaingan antara Dukun dan Bidan masih muncul.
“dukun merasa kalau ada bidannya, peran dia ga utuh. Biasanya orang yang dikasih melahirkan dia mau memberi banyak tapi sedikit. Karena ada dukun merasa kalo ada bidan yang dikasih sama dia jadi berkurang.”

1

Kemitraan dukun dan bidan di Kabupaten Takalar telah diatur dalam peraturan daerah kabupaten tersebut. Bahkan pendanaannya telah diatur sedemikian rupa untuk dapat dianggarkan dari Anggaran Pembangunan Daerah tersebut

266

3.7.5. Peran Tenaga Kesehatan dalam Pelaksanaan Jampersal Sosialisasi Jampersal Sosialisasi Jampersal dilakukan oleh pihak Dinas Kesehatan kepada pihak Puskesmas. Setelah itu sosialisasi Jampersal bertumpu pada pihak puskesmas yang memang menjadi fasilitas kesehatan untuk pelayan dasar bagi yang berhadapan langsung dengan masyarakat di wilayah kerjanya. Sosialisasi mengenai Jampersal ini juga terus menerus dilakukan oleh pihak puskemas, khususnya oleh para bidan yang memang berhadapan langsung dalam melayani para ibu. Sampai saat ini sosialisasi memang menjadi tanggung jawab dari para bidan yang bertugas di masing-masing desa. Sosialisasi yang dilakukan juga sebatas pemberitahuan kepada ibu pada acara-acara posyandu yang diadakan setiap bulannya, dan dari situ diharapkan agar sosialisasi berjalan dari mulut ke mulut. Namun berdasarkan hasil fgd dari tokoh masyarakat dan para suami bahwa selama ini belum mengetahui apa itu Jampersal. Kebanyakan dari mereka hanya mengetahui bahwa ketika pergi ke puskesmas mereka tidak harus mengeluarkan biaya, namun tidak mengetahui apa nama program yang mengratiskan pemeriksaan kesehatan tersebut. Para bidan juga mengakui bahwa bantuan aparat desa ataupun tokoh agama dalam pensosialisasian program Jampersal ini ke masyarakat masih cukup kurang. Hal ini dikarenakan musyawarah desa yang selama ini berjalan kurang mengikutsertakan pihak puskesmas dan tenaga kesehatan, sehingga selama ini belum ada koordinasi dan masih kurangnya kerjasama yang terjalin antara tenaga kesehatan dengan pihak aparat desa. Bantuan sosialisasi biasanya dibantu oleh ibu-ibu yang menjadi kader posyandu di desanya. Selain itu pesan yang berkaitan dengan kesehatan maupun program kesehatan juga tak jarang dilakukan pada saat acara rutin yang dilakukan oleh pokja yang diadakan oleh ibu-ibu PKK setempat.

Pelaksanaan Pelayanan KIA dengan Program Jampersal Pelaksanaan pelayanan KIA dengan program Jampersal untuk kecamatan Arungkeke ini terpusat di Puskesmas, yang dibantu juga dengan puskesmas pembantu dan poskesdes yang ada di masing-masing desa. Semenjak kehadiran

267

Jampersalmenurut Kepala Binkesmas yang membawahi program Jampersal Kabupaten Jenponto menyatakan bahwa pelayanan kesehatan KIA setelah adanya program Jampersal ini mengalami peningkatan, mulai dari pemeriksaan K1 hingga K4, persalinan dan setelah persalinan. Dalam pelaksanaan Jampersal ini mengalami kesulitan pada persalinan dimana diwajibkan untuk dilakukannya hal tersebut di fasilitas kesehatan, sementara sampai saat ini masyarakat masih lebih memilih dan lebih merasa nyaman jika bersalin di rumahnya masing-masing. Hal ini seperti yang juga diutarakan oleh bidan koordinator berikut ini: “masih ada melahirkan dirumah, karenajadi tambah rame, semua saudaranya,
tetangganya datang, yg nunggu kelaurga besar, klo di rumah sakit paling hanya suami istri tidak banyak orang.”

Faktor lainnya yang menjadi masalah adalah masalah geografis dimana masih ada masyarakat yang cukup kesulitan dalam mencapai tempat fasilitas kesehatan. Namun ada juga yang lebih memilih langsung untuk melahirkan di rumah sakit karena justru rumahnya lebih dekat dan mudah aksesnya untuk langsung ke rumah sakit dibandingkan ke puskesmas yang ada di desanya. Masalah pelaksanaan program KIA juga terjadi karena fasilitas kesehatan yang masih kurang memadai. Ada yang letaknya tidak strategis di desa yang membuat masyarakat kesulitan mencapainya, dan ada juga yang kekurangan fasilitas penunjang seperti air dan juga listrik. Sedangkan perhatian aparat desa terhadap fasilitas kesehatan ini masih kurang diperhatikan. Registrasi penduduk juga menjadi masalah dalam pelaksanaan program ini. Masih banyak masyarakat yang tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Kartu Keluarga (KK) yang menjadi syarat dari program Jampersal ini. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh salah satu bidan berikut ini: “yang dijadi masalah adalah jaminan kartu keluarga, ada ibu yang berkali-kali datang
tapi ga diperlihatkan kartu keluarga. Ibunya yang ga mau, malas untuk urus KTP dan urus kartu keluarga.”

268

Pengelolaan Pelayanan Jampersal Dalam mengelola pelayanan Jampersal ini, di pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto sendiri berada di bawah tanggung jawab dari Bidang Bina Kesehatan Masyarakat. Pada bidang ini lah yang bertanggung jawab atas jalannya Jampersal yang ada di Kabupaten Jeneponto, dari mulai melakukan sosialisasi hingga melakukan verifikasi dari setiap berkas yang berasal dari desa-desa dari masiang-masing kecamatan. Sedangkan untuk tingkat Puskemas Arungkeke berada pada Bagian Kesehatan Ibu dan Anak dan Keluarga Berencana dan koordinator bidanlah yang mengatur dan memeriksa segala bentuk administrasi yang terkait dengan Jampersal yang berasal dari bidan-bidan yang ada di masing-masing desa. Di tingkat Kabupaten Jeneponto, yang juga diterapkan di Puskesmas Arungkeke tidak ada kebijakan secara khusus yang diberlakukan terkait penggunaan dana Jampersal. Dana yang diklaimkan terhadap setiap jasa pelayanan, dari mulai pemeriksaan hingga paska melahirkan, semuanya menjadi hak dari bidan yang memberikan jasa, tanpa dipotong biaya apapun. Namun jika pada saat menolon persalinan bidan dibantu oleh dukun maka ada kebijakan puskesmas dimana bidan harus memberikan dukun tersebut intensif sebesar Rp. 50.000,-. Untuk proses pengklaiman sendiri berjalan setiap bulannya, dengan bidan di masing-masing desa melaporkan ke bidan koordinator yang nanti selanjutnya akan diverifikasi ke pihak Dinas Kesehatan. Namun untuk cairnya uang ternyata keluar setiap 3 bulan sekali sehingga menjadi hambatan tersendiri bagi para bidan seperti diungkapkan Kepala Puskesmas:
“Itulah karena biasa kita masukkan di pelayanan bulan depan, jadi pelayanan bulan ini misalkan sekarang bulan berapa bulan sembilan ini kan sementara berjalan nanti bulan sepuluh baru masuk. Gitu, bulan sepuluh baru dilaporkan, nanti bulan sepuluh bau dimasukkan laporan, jadi tidak begitu misalnya bulan ini begitu menurun tidak keluar uangnya. Itulah susahnya kenapa semua dana-dana ini tidak langsung ke puskesmas. Ini kan melalui verifikasi lagi ke dinas. Jadi kadang-kadang saya ini juga kasihan aneh juga kalo sampe 2,3 bulan baru keluar uangnya karena harus di klaim dulu baru diverifikasi. Semua dana-dana begitu semua melalui dinas kesehatan tapi baik itu jemkesmas, Jampersal tidak begitu misalnya.....”.

269

3.7.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan Hambatan 1. Masih adanya tradisi/kepercayaan berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak Dengan adanya tradisi/kepercayaan yang dipercaya masyarakat berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak ini membuat peran sandro atau dukun bayi masih cukup berperan dan membuat masih adanya masyarakat yang lebih

mempercayakan untuk melakukan persalinan dengan bantuan sandro tersebut dibandingkan bersalin dengan bantuan bidan. Sandro dianggap memiliki pengalaman yang lebih tinggi dan memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh bidan yaitu kepercayaan untuk mengusir setan yang dianggap bisa membahayakan kesehatan ibu dan anaknya. 2. Masih adanya pergaulan bebas di masyarakat Adanya pergaulan bebas di masyarakat yang berdampak pada kehamilan di luar nikah. Kehamilan di luar nikah ini membuat terkadang membuat ibu merasa malu untuk memeriksakan kesehatan ke puskesmas, hingga pada saatnya bersalin juga lebih memilih untuk bersalin dengan bantuan sandro. 3. Masih kurang baiknya infrastruktur jalan untuk ke fasilitas kesehatan Di beberapa bagian wilayah di desa yang ada di wilayah Kecamatan Arungkeke masih ditemui jalanan-jalanan yang keadaannya cukup buruk, yang sulit dilalui oleh kendaraan. Ditambah lagi tidak ada kendaraan umum yang menunjang agar masyarakat dapat pergi ke fasilitas kesehatan. Masyarakat harus mempunyain kendaraan sendiri jika ingin mudah untuk pergi ke fasilitas kesehatan, sedangkan belum semua masyarakat memiliki kendaraan pribadi. Hal ini juga yang membuat masih ada masyarakat yang memilih ke dukun karena biasanya dukun mau datang ke rumah untuk melakukan pmeriksaan atau membantu persalinan tanpa ibu harus pergi keluar rumah. 4. Kurangnya kerjasama antara tenaga kesehatan dengan organisasi sosial kemasyarakatan di masing-masing desa

270

Berdasarkan fgd dengan bidan maupun para bidan, ternyata masih banyak desa yang aparat desa atau tokoh masyarakatnya tidak berhubungan/tidak memiliki komunikasi yang rutin dengan tenaga kesehatan sehingga banyak informasi yang tidak sampai ke masyarakatnya, termasuk informasi mengenai program Jampersal ini, bahkan banyak tokoh desa tidak mengetahui ada program tersebut. Bisa dikatakan hanya beberapa orang saja dalam organisasi kemasyarakatan tersebut yang mengetahui program Jampersal tersebut. Musyawarah yang biasa dilakukan, untuk mempertemukan berbagai lintas sektor diakui kini sudah tidak rutin dilaksanakan, sehingga fungsi organisasi sosial yang ada di masyarakat sebagai agen sosialisasi program-program yang disediakan pemetrintah tidak begitu berjalan dengan baik karena ketidaktahuan mengenai program tersebut. 5. Masih banyaknya masyarakat yang belum KTP (registrasi kependudukan) Masih banyak masyarakat yang belum mempunyai Kartu Tanda Penduduk yang membuat adanya kesulitan dalam administrasi program Jampersal. KTP sebagai syarat yang diwajibkan bagi masyarakat agar dapat menikmati program Jampersal ini menjadi penghalang manakala warga tersebut tidak memiliki KTP. Kesadaran masyarakat untuk mendaftarkan diri dalam registrasi kependudukan bisa dikatakan masih kurang, sehingga pemerintah setempat juga masih perlu menekankan kembali kepada pentingnya pembuatan KTP bagi keuntungan masyarakat itu sendiri. 6. Ketidaktahuan Masyarakat tentang Jampersal Selama ini masyarakat hanya sekedar mengetahui bahwa ada program gratis jika mereka berobat atau datang ke puskesmas, namun tidak mengetahui apa itu program Jampersal dan apa saja yang diberikan untuk ibu dalam program tersebut, sehingga beberapa di antara mereka masih ada yang ragu untuk pergi ke puskesmas, karena masih takut akan dikenakan biaya lagi. Selain itu masih ada stigma bahwa menggunakan fasilitas yang diberikan oleh pemerintah justru akan merepotkan karena proses administrasi yang sulit. 7. Fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan kurang memadai

271

Dari 7 desa yang ada di Kecamatan Arungkeke, masih ada beberapa desa yang poskesdesnyamasih dianggap kurang layak dan letaknya berjauhan dengan rumah penduduk. Ada poskesdes yang tidak dialiri listrik dan tidak ada aliran air ke dalamnya. Hal ini juga mengakibatkan bidan yang tidak betah untuk terus tinggal di pustu atau poskesdes tersebut hingga ketika suatu saat dibutuhkan, bidan tidak selalu ada. Hal ini membuat masyarakat yang pada awalnya berniat pergi bersalin dengan bidan terpaksa mengambil pilihan bersalin dengan Dukungan 1. Pengetahuan Kesehatan dan Sikap yang Positif terhadap Kesehatan Jika melihat dari hasil penelitian maka dapat dikatakan bahwa pada dasarnya kini banyak ibu yang sudah mulai sadar dalam menjaga kesehatannya manakala sedang hamil hingga pada saatnya persalinan. Begitupun juga dengan para suaminya yang juga turut menjaga kesehatan istrinya yaitu salah satunya dengan cara membantu meringankan pekerjaan istrinya ketika hamil serta menganterkan istrinya ke fasilitas kesehatan. 2. Adanya hubungan yang terjalin antara bidan dan dukun bayi (sandro) Dapat dikatakan bahwa kebanyakan sandro yang ada di kecamatan Arungkeke sudah menjalin hubungan yang cukup dengan baik dengan para bidan, yang akhirnya membentuk kerjasama antara kedua pihak tersebut. Kerjasama ini membuat kini sudah banyak sandro yang turut mengantarkan ibu pada saat pemeriksaan kehamilan. Selain itu dalam hal persalinan, meskipun masih ada mayarakat yang memanggil sandro terlebih dahulu, namun kini banyak sandro yang menyuruh keluarga memanggil bidan atau malah langsung mengantarkannya untuk bersalin ke puskesmas. 3. Adanya hubungan antar masyarakat yang terjalin cukup baik Masyarakat di Kecamatan Arungkeke sama dengan ciri masyarakat desa lainnya yang memiliki hubungan di dalam masyarakat yang cukup baik. Hal ini tentunya menjadi sesuatu yang positif dalam proses pencarian pengobatan khususnya untuk ibu dan anak. Menurut fgd yang telah dilakukan, masyarakat ketika membutuhkan pertolongan, yang terkait kesehatan, misalnya alat

272

transportasi untuk melakukan pemeriksaan kehamilan atau melahirkan atau membutuhkan uang untuk berobat, maka warga sekitar juga tak jarang turut membantu. Apalagi di dalam masyarakat itu sendiri tak jarang ada hubungan kekeluargaan yang mungkin terjadi karena ada hubungan pernikahan, sehingga hubungannya lebih erat. 4. Majlis Taklim yang rutin diadakan Salah satu acara yang diadakan rutin di hampir setiap desa adalah acara pengajian atau majlis taklim. Dalam majelis taklim ini biasanya masyarakat banyak yang berkumpul untuk mendengarkan ceramah dari tokoh agama setempat. Peran tokoh agama dan acara pengajian ataupun majlis taklim ini sebenarnya bisa menjadi ajang sosialisasi Jampersal ini, namun disayangkan fungsinya sampai saat ini belum maksimal. Harapan Masyarakat terus mengharapkan bahwa program gratis untuk ibu hamil dan bersalin ini akan tetap diadakan untuk ke depannya. Selain itu karena selama ini mereka tidak mengetahui apa saja yang mereka dapatkan dari program Jampersal ini, mereka berharap bahwa dari petugas kesehatan sendiri mau melakukan sosialisasi yang sifatnya lebih jelas dan rutin sehingga masyarakat paham akan program tersebut. Selain itu masyarakat mengharapkan akan adanya peningkatan fasilitas kesehatan. Begitupun juga dengan bidan mereka harapkan dapat bekerja lebih baik dan selalu ada di poskesdes atau pustu masing-masing desa. Sedangkan dari para bidan sendiri tentunya juga berharap bahwa program ini akan berlanjut karena tentunya dengan adanya Jampersal ini merupakan program yang juga menguntungkan untuk mereka. Namun selain itu, meskipun sudah cukup puas dengan tarif yang diberikan atas jasa pelayanan yang mereka lakukan, para bidan masih berharap agar ke depannya tarif bisa ditingkatkan lagi. Selain itu para bidan mengharapkan agar syarat administrasi berupa pengisian buku pemeriksaan kehamilan yang harus mereka isi diperingkas isinya dan tidak terjadi pengulangan form-form dalam buku tersebut.

273

Selain itu, para bidan juga berharap bahwa ada dana khusus untuk intensif para dukun beranak, yang mendampingi mereka pada saat menolong ibu dalam melakukan persalinan. Hal ini karena sampai saat ini untuk intensif biasanya diberikan secara sukarela kepada para dukun tersebut dengan besaran Rp. 50.000,-. Oleh karena itu bidan berharap bahwa dana tersebut disediakan langsung dari anggaran pemerintah melalui program Jampersal itu. Bidan juga berharap ada aturan khusus yang diterapkan ke dukun, seperti apabila mereka tidak melibatkan bidan dalam persalinan akan diberikan sanksi atau peringatan, supaya ke depannya mereka mau bekerjasama dengan bidan.

274

3.8. Puskesmas Kassi Kassi, Kota Makasar 3.8.1.GambaranUmum Kota Makassar Kota Makassar biasa juga disebut Kota Daeng atau Kota Anging Mamiri. Daeng adalah salah satu gelar dalam strata atau tingkat masyarakat di Makassar atau di Sulawesi Selatan pada umumnya, Daeng dapat pula diartikan "kakak". Sedang Anging Mamiri artinya “angin bertiup” adalah salah satu lagu asli daerah Makassar yang sangat populer pada tahun 1960-an. Secara geografis Kota Makassar berada pada koordinat antara 119º 18' 27,79" 119º 32' 31,03" Bujur Timur dan antara 5º 3' 30,81" - 5º 14' 6.49" Lintang Selatan, atau berada pada bagian barat daya Pulau Sulawesi dengan ketinggian dari permukaan laut berkisar antara 0 - 25 m. Karena berada pada daerah khatulistiwa dan terletak di pesisir pantai Selat Makassar, maka suhu udara berkisar antara 20º C - 36º C, curah hujan antara 2.000 - 3.000 mm, dan jumlah hari hujan rata-rata 108 hari pertahun. Iklim di kota Makassar hanya mengenal dua musim sebagaimana wilayah Indonesia lainnya, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan berlangsung dari bulan Oktober sampai April yang dipengaruhi muson barat - dalam bahasa Makassar disebut bara’ -, dan musim kemarau berlangsung dari bulan Mei sampai dengan September yang dipengaruhi angin muson timur – dalam bahasa Makassar disebut timoro -. Pada musim kemarau, daerah Sulawesi Selatan pada umumnya sering muncul angin kencang yang kering dan dingin bertiup dari timur, yang disebut angin barubu (fohn). Kota Makassar sebagai ibukota Sulawesi Selatan secara geografis terletak di Pesisir Pantai Barat bagian Selatan Sulawesi Selatan. Secara administratif Kota Makassar mempunyai batas wilayah sebagai berikut:     Selatan Utara Timur Barat : berbatasan dengan Kabupaten Gowa : berbatasan dengan Kabupaten Maros : berbatasan dengan Kabupaten Maros : berbatasan dengan Selat Makassar

Kota Makassar memiliki luas wilayah 175.77 km2 yang terbagi ke dalam 14 Kecamatan dan 143 Kelurahan. Selain memiliki wilayah daratan, Kota Makassar juga memiliki wilayah kepulauan yang dapat dilihat sepanjang garis pantai kota Makassar. Adapun pulau-pulau di wilayahnya merupakan bagian dari 2 kecamatan, yaitu Ujung
275

Pandang dan Ujung Tanah. Pulaiu-pulau ini merupakan gugusan pulau-pulau karang sebanyak 12 pulau, bagian dari gugusan pulau-pulau Sangkarang atau disebut juga Pulau-pulau Pabbiring atau lebih dikenal dengan nama Kepulauan Spermonde. Pulaupulau tersebut adalah Pulau Lanjukang, Pulau Langkai, Pulau Lumu-lumu, Pulau Bone Tambung, Pulau Kodirangeng, Pulau Barrang Lompo, Pulau Barrang Caddi, Pulau Kodingareng Keke, Pulau Samalona, Pulau Lae-lae, Pulau Gusung dan Pulau Kayangan. Jumlah penduduk Kota Makassar sampai dengan tahun 2011 tercatat 1.352.136 jiwa. TIngginya tingkat pertumbuhan penduduk Kota Makassar dimungkinkan akibat terjadinya arus urbanisasi karena faktor ekonomi, melanjutkan pendidikan, di samping karena daerah ini merupakan pusat pemerintahan dan pusat perdagangan di Kawasan Timur Indonesia. Suku yang dominan jumlahnya di kota Makassar adalah suku Makassar, Bugis, Toraja, Mandar, Buton, Jawa, dan Tionghoa. Kebanyakan suku yang mendiami kota Makassar memeluk agama Islam, sehingga bisa dikatakan agama Islam menjadi agama mayoritas yang ada di Kota Makassar. Karena faktor ekonomi dan faktor pendidikan maka banyak orang-orang yang merantau untuk bekerja atau pun melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

Gambar 3.8.1. Peta Makasar Sumber: http://bahasa.makassarkota.go.id/

276

Kota Makassar terdiri dari 14 Kecamatan, namun persebaran penduduknya tidak merata. Angka kepadatan penduduk Kota Makassar adalah sebesar 7.693 jiwa/km2. Persebaran yang tidak merata tersebut dikarenakan konsentrasi penduduk berbeda pada tiap kecamatan, serta kebijakan pemerintah tentang penetapan lokasi untuk pengembangan kawasan industri. Berikut merupakan tabel kecamatan yang ada di Makassar dengan jumlah penduduknya:
Tabel 3.8.1. Jumlah Penduduk Kota Makassar Berdasarkan KecamatanTahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kecamatan Ujung Tanah Tallo Bontoala Wajo Ujung Pandang Makassar Mamajang Mariso Tamalate Rappocini Panakkukang Manggala Biringkanaya Tamalanrea Jumlah Penduduk 47.133 35.574 54.714 29.639 27.160 82.478 59.560 56.408 172.504 152.531 142.729 118.191 169.340 104.175 1.352.136
Sumber: Profil Kesehatan Makassar Tahun 2011

Jumlah

Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan berdasarakan data ketenagaan di kota Makassar pada tahun 2011 maka jumlah pegawai adalah 1233 orang yang terdiri dari tenaga medis sebanyak 212 orang dan para medis sebanyak 1043 orang. Fasiitas kesehatan yang tersedia di kota Makassar cukup banyak dan bervariasi jenisnya. Terdapat 38 puskesmas dan 44 pustu dengan 18 RS sebagai pusat rujukan. Untuk elayanan KIA selain di puskesmas

277

dan RS umum, secara spesifik dilayanai oleh Rumah Sakit Bersalin (14 buah) dan Rumah Bersalin(14 buah). Pelayanan KIA banyak dilayani oleh bidan yang tersebar di berbagai fasilitas pelayanan. Sebagian bidan melakukan praktek swasta dan terdapat 14 orang Bidan Praktek Swasta (BPS). Keadaan sarana kesehatan di Kota Makassar seara lengkap jumlahnya adalah sebagai berikut:
Tabel 3.8.2. Sarana Kesehatan di Kota MakassarTahun 2011 Jenis Sarana Kesehatan Puskesmas Puskesmas Pembantu Puskesmas Keliling Rumah Sakit Rumah Sakit Bersalin Rumah Bersalin Bidan Praktek Swasta Balai Pengobatan Gigi Praktek Dokter Perorangan Praktek Dokter Bersama Jumlah 38 44 38 18 14 14 14 9 143 2

Sumber: Profil Kesehatan Makassar Tahun 2011

Masalah Kesehatan Bayi dan anak Angka kematian bayi di kota Makassar pada tahun 2011 sebesar 6.9 per 1000 kelahiran hidup dengan jumlah kematian bayi sebanyak 179 dari 26.129 jumlah kelahiran hidup (AKB = 6.9/1000 KH). Angka ini mengalami penurun setelah tahun sebelumnya (2010) AKB sebesar 10.6 dari 1000 kelahiran hidup. Angka kematian balita (AKABA) pada tahun 2011 sebanyak 71 balita dari 26.129 kelahiran hidup sehingga diperoleh angka kematian balita yaitu sebesar 2.7 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini mengalami peningkatan setelah tahun sebelumnya angka kematian bali sebesar 1.86 per 1000 kelahiran hidup.

278

Upaya peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak terutama dititikberatkan pada pertolongan persalinan dan pemeriksaan kehamilan. Hal tersebut sangat berperan penting dalam menurunkan angka kematian bayi yang secara langsung berdampak pada meningkatnya derajat kesehatan masyarakat. Pertolongan Persalinan.Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah persalinan sepanjang tahun 2011 sebanyak 27.142 ibu bersalin dengan jumlah persalinan dengan dibantu oleh tenaga kesehatan yaitu sebesr 96.3% yaitu sebanyak 26.129 ibu. Di kota Makassar, AKI maternal pada tahun 2011 sebesar 11. 4 per 100.000 kelahiran hidup. Tercatat 3 kasus kematian Ibu Maternal dari 26.129 kelahiran hidup yang disebabkan karena pendarahan 2 kasus dan infeksi 1 kasus. Pemeriksaan Kehamilan. Data terakhir yang diperolah dari jumlah ibu hamil pada tahun 2011 yaitu sebesar 28.435 orang yang melakukan pemeriksaan kehamilan sebanyak 4 kali sebanyak 26.879 orang atau sebesar 94.53%.Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan pada tahun 2011, dari 28.345 orang ibu hamil, yang mendapatkan table fe1 sebanyak 27.298 dengan persentase 96%, sedangkan yang mendapatkan tablet fe3 sebesar 27.617 dengan persentase 97.12%.

3.8.2. Gambaran Puskesmas Kassi-kassi Kecamatan Rappocini merupakan salah satu dari 14 Kecamatan di Kota Makassar yang berbatasan dengan Kecamatan Panakkukang di sebelah utara, Kecamatan Panakkukang dan Kabupaten Gowa di sebelah timur, Kecamatan Tamalanrea di sebelah selatan dan Kecamatan Mamajang dan Kecamatan Makassar di sebelah barat. Kecamatan Rappocini merupakan daerah bukan pantai dengan topografi ketinggian antara permukaan laut.Menurut jaraknya, letak masing-masing kelurahan ke kecamatan berkisar 1 km sampai dengan jarak 5-10 km. Kecamatan Rappocini ini terdiri dari 10 kelurahan dengan luas wilayah 9,23 km².Berdasarkan data BPS Kota Makassar, Kecamatan Rappocini memiliki penduduk sebanyak 152.531 orang. Sehingga kepadatan penduduk di Kecamatan ini adalah 16525.57 orang/km2. Terkait dengan fasilitas kesehatan yang disediakan oleh pemerintah daerah, maka di dalam kecamatan Rappocini terdapat 3 puskesmas, yaitu puskesmas Kassi-

279

kassi, puskesmas Mangasa dan puskesmas Minasa Upa. Meskipun dalam kecamatan ini terdapat 3 puskesmas, namun penduduk di Kecamatan Rapocini ini berada di bawah tanggung jawab 1 puskesmas yaitu puskesmas Kassi-Kassi. Namun karena luas wilayah yang terlalu luas, ada 1 wilayah di kecamatan Rappocini, yaitu Kelurahan Gunung sari yang menjadi tanggung jawab puskesmas di Puskesmas Manasa dan bukan menjadi tanggung jawab puskesmas Kassi-kassi. Hal ini dikarenakan letak kelurahan tersebut lebih dekat dan lebih mudah untuk mengakses Puskesmas Manasa. Untuk mempermudah penelitian, maka di kota Makassar ini peneliti membatasi dengan mengambil Puskesmas Kassi-kassi sebagai lokasi penelitian ini dan masyarakat yang menjadi subjek penelitian adalah masyarakat yang berada di bawah wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi, bukan keseluruhan warga Kecamatan Rappocini.

Gambar 3.8.2. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Kassi Kassi Sumber: Dokumentasi Peneliti

Puskesmas Kassi-kassi dipilih sebagai lokasi penelitian untuk Kota Makassar oleh DInas Kesehatan karena dirasa dapat mewakili atau cukup dapat menggambarkan dinamika keadaan kesehatan pada wilayah perkotaan, khususnya berkaitan dengan
280

pemakaian Jampersal.Puskesmas Kassi-kassi merupakan salah satu puskesmas pemerintah Kota Makassar dan merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kota Makassar. Dalam wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi terdapat 78 posyandu, 3 pustu, 4 Rumah Bersalin dan 2 Rumah Sakit Swasta. Adapun batas wilayah kerja Puskesmas ini adalah sebagai berikut:  Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Bara Baraya Karuwisi  Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Panaikang Tamangapa  Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Mangasa Jongaya  Sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Maricaya Parangtambung Tenaga kesehatan yang ada di puskesmas Kasi-Kassi cukup lengkap dan jumlah banyak.Adapun tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Kassi-Kassi adalah sebagai berikut:
Tabel 3.8.3 Jumlah dan Jenis Tenaga di Puskesmas Kassi-KassiTahun 2011 Jenis Tenaga Jumlah Dokter Umum 7 Dokter Spsialis 3 Dokter Gigi 2 Apoteker 1 Epidemiologi Kesehatan 1 Sarjana Kesmas 2 Sarjana keperawatan 4 Sarjanan Kes Lingkungan 2 D4 Keperawatan 2 Sarjana non Keperawatan 1 Akper 9 Kebidanan 11 AKG 2 Analis Kesehatan 1 Perawat 4 Perawat Gigi 1 Nutrsionis 2 Asisten Apoteker 3 Pranata Laboratorium 1 Petugas kebersihan 1 Sumber: Profil Kesehatan Puskesmas Kassi-kassi

Sarana kesehatan dasar yang ada di Puskesmas Kassi-Kassi adalah praktek dokter, praktek dokter gigi, puskesmas, pustu, apotik dan toko obat. Selain itu ada beberapa sarana kesehatan rujukan biasanya merujuk ke Rumah Sakit Umum atau balai pengobatan tertentu. RS Umum yang sering menjadi Pusat Rujukan adalah RS
281

Haji, RS Labuang Baji, RS Dr. Wahidin Sudiro Husodo, RS Bersalin Fatima, BP4, BKMM, dan RS Kusta. Selain tenaga kesehatan, ada juga tenaga kader sosial sebagai penyuluh kesehatan untuk warga yang ada di wilayah Puskesmas Kassi-Kassi.Terdapat 325 kader sosial di wilayah kerja Puskesmas dengan 78 posyandu.Jadi 1 posyandu kira-kira dibantu oleh 4 sampai 5 orang kader. Berdasarkan keterangan dari para bidan yang ada di puskesmas ini, hampir seluruh kader posyandu tersebut aktif dalam melakukan penyuluhan kesehatan. Puskesmas Kassi-kassi terletak di Kelurahan Kassi Kassi Kecamatan Rappocini dengan luas wilayah kerja 7.32 Kha. Dari 9 kelurahan terdapat 76 RW dan 409 RT. Pemanfaatan potensi lahan dan alih fungsi lahan terjadi sedemikian rupa, yang akan membawa pengaruh terhadap kondisi dan perkembangan sosial ekonomi dan keamanan masyarakat. Lahan yang berbentuk rawa-rawa di beberapa bagian Kecamatan Rapoocini beralih fungsi menjadi pemukiman sementara atau darurat. Alih fungsi lahan juga banyak terjadi pada sektor pemukiman dan perumahan yang menjamur beberapa tahun terakhir sebagai akibat peningkatan jumlah penduduk yang sangat pesat. Luas wilayah kerja Puskesmas Kassi-kassi seluruhnya dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 3.8.4. Luas Wilayah Kerja Puskemas Kassi-kassi berdasarkan KecamatanTahun 2011 No Kelurahan Luas RW RT 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Ballaparang Rappocini Buakana TIdung Bontomakkio Kassi kassi Mapala Banta Bantaeng Karunrung Jumlah 0.59 0.36 0.77 0.89 0.24 0.82 0.50 1.27 1.52 7.32 9 5 7 8 6 14 13 8 9 79 49 22 40 33 26 73 56 72 38 409

Sumber: Profil Kesehatan Puskesmas Kassi-kassi

282

Berdasarkan data, jumlah Kepala Keluarga (KK) tahun 2011 di wilayah kerja Puskesmas Kassi-kassi adalah sebanyak 22.181 KK dengan jumlah total penduduk sebanyak 111.841 orang. Sehingga kepadatan penduduk 145.090 jiwa/km2.
Tabel 3.8.5 Jumlah Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-kassi Berdasarkan Usia Per KecamatanTahun 2011 Jumlah Penduduk Menurut Umur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kelurahan Ballaparang Rappocini Buakana TIdung Bontomakkio Kassi kassi Mappala Banta Bantaeng Karunrung 0–4 tahun 1.149 861 1.264 1.420 547 1.458 1.029 1.779 968 10.475 5–14 tahun 2.109 1.5777 2.324 3.137 1.000 2.677 1.890 3.271 1.670 19.655 15-44 tahun 7.182 5.339 7.868 8.862 3.381 9.087 6.415 11.068 6.031 65.233 >45 tahun 1.808 1.347 2.016 2.233 854 2.289 1.620 2.794 1.517 16.478 Jumlah 12.248 9.124 13.472 15.652 5.782 15.511 10.954 18.912 10.186 111.841

Jumlah

Sumber: Profil Kesehatan Puskesmas Kassi-kassi

Dari tabel di atas tersebut maka dapat dikatakan bahwa jumlah penduduk di bawah wilayah kerja Puskesmas Kassi-kassi cukup banyak yaitu 111.841 orang. Penduduk terbanyak ada pada Kelurahan Banta Bantaeng, sedangkan penduduk paling sedikit ada di wilayah Kelurahan Bontomakkio. Berdasarkan data statistik dari BPS Kota Makassar, Kecamatan Rappocini memliki penduduk perempuan yang lebih banyak daripada jumlah penduduk laki-laki. Berikut merupakan persentase penduduk, baik laki-laki dan perempuan, yang ada di Kecamatan Rappocini dengan melihat tingkat pendidikan terakhirnya.

283

Tabel 3.8.6 Tingkat Pendidikan Penduduk Kota Makassar Berdasarkan Jenis KelaminTahun 2011 Jenis Kelamin No Tingkat Pendidikan Jumlah Laki-laki Perempuan 1 2 3 4 5 6 7 Tidak/belum pernah sekolah Tidak/belum tamat SD SD/MI SLTP/MTs SLTA/MA AK/Diploma Universitas Jumlah 1.200 6.412 9.814 9.322 19.521 1.281 7.023 55.064 3.117 8.743 12.448 10.879 19.318 2.253 6.336 63.094 4.317 15.155 22.262 20.201 38.839 3.534 13.359 118.158

Sumber: Profil Kesehatan Makassar Tahun 2011

Melihat data tabel di atas, maka dapat dilihat bahwa mayoritas pendidikan terakhir dari penduduk Rappocini adalah tamat SLTA/MA. Pada jenis kelamin laki-laki terbanyak ada di kelompok tamat SLTA/MA, begitupun juga pada kelompok perempuan. Pendidikan disini dilihat karena latar belakang pendidikan dapat mempengaruhi perilaku seseorang, termasuk perilaku dalam pemilihan usia perkawinan. Meskipun rata-rata kawin pertama dari tahun ke tahun datanya belum ditentukan pada wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi, namun berdasarkan data kota Makassar dalam angka untuk tahun 2005 dimana pada umur 18 tahun terjadi penurunan usia menikah. Sebaliknya pada umur perkawinan 19 tahun ke atas meningkat. Hal ini menandakan sedang terjadinya pendewasaan usia kawin pada perempuan di kota Makassar, termasuk di Kecamatan Rappocini. Hal ini sesuai dengan latar belakang pendidikan perempuan tersebut. Kebanyakan dari mereka menikah setelah menamatkan SMA dahulu yaitu pada kisaran umur 18 atau 19 tahun. Mengenai latar belakang pendidikan ini, jika melihat data responden kuantitatif dalam penelitian ini, maka akan didapatkan hasil yang sama mengenai latar belakang pendidikan. Dari 70 orang responden ibu, kecenderungan pendidikan terakhir ibu adalah tamat SMA/sederajat yaitu sebanyak 40% dan diikuti tamat SMP/sederajat (27.1%) dan tamat SD/sederajat (20%). Begitupun juga dengan pendidikan terakhir suami responden menunjukkan bahwa paling banyak memiliki pendidikan terakhir
284

yaitu tamatan SMA/sederajat yaitu sebanyak 45.7% dan diikuti pendidikan tamat SMP/sederajat (25.7%) dan tamat SD/sederajat (17.1%). Rata-rata pendapatan per kapita penduduk wilayah kerja Puskesmas Kassi Kassi belum ditemukan datanya, baik di kantor Kecamatan maupun kantor Kelurahan serta di Kantor BPS. Sesuai dengan Indikator Kesejahteraan Masyarakat Kota Makassar tahun 2010 pendapatan per kapita penduduk di Kota Makassar adalah Rp. 8.900.000,.Berbicara mengenai pendapatan per kapita penduduk maka indikator nya adalah pendapatan rumah tangga/bulan. Jika melihat data responden penelitian, dari 70 orang maka diketahui bahwa pendapatan rumah tangga cenderung paling banyak di kategori Rp.500.001,- s/d Rp. 1.000.000,- yaitu sebanyak 35.7% diikuti kategori pendapatan <Rp 500.000,- (28.6%) dan kategori pendapatan Rp. 1.000.001,- s/d Rp.2.000.000,- (17.1%). Pendapatan ini berkaitan juga dengan pekerjaan yang dijalani oleh masyarakatnya. Sama halnya dengan pendapatan rata-rata, tim peneliti juga tidak mendapatkan data mengenai pasti mengenai jenis pekerjaan pada masyarakat Kecamatan ini, namun jika melihat dari data responden penelitian maka pekerjaan yang paling banyak yang dilakukan oleh suami adalah: pekerjaan di bidang jasa, seperti menjadi guru ataupun menjadi supir angkutan ataupun menjadi supir becak motor (bentor), lalu setelah itu bekerja di sector swasta dan terakhir menjadi nelayan. Sedangkan untuk seorang istri kebanyakan di masyarakat kebanyakan tidak bekerja dan hanya menjadi ibu rumah tangga saja. Mengenai keadaan ekonomi ini diperkuat juga dengan pernyataan salah satu tokoh masyarakat yang ada di wilayah puskesmas ini mengenai penduduk dan jenis pekerjaan yang banyak dilakukan oleh warganya:
“Masyarakat Rappocini ini kebanyakan berasal dari ekonomi rendah, kebanyakan menengah ke bawah. Masyarakat kebanyakan masyarakat asli, sehingga tradisi masih kuat. Dan yang datang di Rappocini keluarganya miskin juga. Seperti banyak dari jeneponto. Kadang mereka itu pendatang, dia datang mencari nafkah saja disini.Disini pendatang kebanyakan disini pada saat bukan musim tanam atau musim panen, disinijadi tukang batu.”

Gambaran Kesehatan Ibu dan Anak di Puskesmas Kassi-Kassi Puskesmas Kassi-Kassi dalam 18 kegiatan pokoknya memasukkan kegiatan kesehatan ibu dan anak sebagai kegiatan pokok utama. Berbeda dengan 37 puskemas

285

lainnya yang ada di kota Makassar, Puskesmas Kassi—Kassi ini menjadi satu-satunya puskesmas, yang selain memiliki posyandu yang ditujukan untuk melayani bayi atau balita, mereka memiliki apa yang disebut dengan posyandu bunda. Posyandu bunda ini difokuskan adalah pada pelayanan untuk ibu hamil hingga pada saatnya ibu pada saat setelah melahirkan atau hingga saat masa nifas dan juga pelayanan anak di bawah umur dua tahun (baduta). Lain halnya dengan kegiatan posyandu anak atau balita yang diadakan serentak di masing-masing kelurahan yang sama, posyandu bunda ini memiliki jadwal di kelurahannya masing-masing yang sudah ditentukan sebelumnya dan tentunya diadakan di posyandu pada masing-masing kelurahan tersebut. Posyandu bunda ini setiap kelurahan memiliki penanggung jawab bidannya masingmasing. Hal ini tentunya mempermudah target dari Puskesmas ini sendiri dalam melaksanakan program KIA mereka, khususnya program untuk ibu. Upaya peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak terutama dititikberatkan pada pertolongan persalinan dan pemeriksaan kehamilan. Hal tersebut sangat berperan penting karena dianggap dapat menurunkan angka kematian bayi yang secara langsung berdampak pada meningkatnya derajat kesehatan masyarakat. Perhatian Puskesmas yang tinggi terhadap kesehatan Ibu dan Anak ini terlihat juga pada ruang bidan yang menempati salah satu ruangan di Puskesmas tersebut. Di ruangan tersebut terlihat beberapa gambar dua peta wilayah kerja Kassi-kassi yang gunanyan untuk memperlihatkan keadaan kesehatan ibu dan anak. Satu peta (ditunjukkan gambar 3) adalah peta yang digunakan untuk melihat keadaan ibu pada masa persalinan. Dalam peta ini diberi simbol yang berbeda untuk ibu yang melahirkan normal, beresiko sedang dan juga beresiko tinggi. Sedangkan satu peta lagi (ditunjukkan gambar 4) adalah peta untuk melihat status gizi pada bayi dan balita. Dari gambar tersebut kita dapat melihat persebaran balita dengan gizi baik, buruk ataupun kurang.

286

Gambar 3.8.3. Pemetaan Ibu Bersalin di Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-kassi Sumber: Dokumentasi Peneliti

Dalam pertolongan persalinan, berdasarkan data yang diperoleh, jumlah persalinan sepanjang tahun 2011 adalah sebanyak 623 orang dan dari total jumlah tersebut banyak ibu bersalin dengan jumlah persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan yaitu sebesr 80.73% yaitu sebanyak 503 ibu. Untuk pemeriksaan Kehamilan dari data terakhir yang diperolah dari jumlah ibu hamil pada tahun 2011 yaitu sebesar 2.499 orang yang melakukan pemeriksaan kehamilan periode 1 (K1) sebanyak 3.182 orang atau sebesar 127.3%. Sedangkan yang melakukan k4 adalag sebanyak 2971 orang atau sebesar 118.80%. Untuk pemberian Tablet Fe, berdasarkan laporan Dinas Kesehatan pada tahun 2011, dari 28.345 orang ibu hamil, yang mendapatkan table fe1 sebanyak 27.298 dengan persentase 96%, sedangkan yang mendapatkan tablet fe3 sebesar 27.617 dengan persentase 97.12%.

287

Gambar 3.8.4. Pemetaan Gizi Bayi dan Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-kassi Sumber: Dokumentasi Peneliti

Sedangkan untuk kesehatan bayi dan balita angka, kematian bayi di Puskesmas Kassi Kassi pada tahun 2011 sebesar 9.3 per 1000 kelahiran hidup dengan jumlah kematian bayi sebanyak 21 dari 2.256 jumlah kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian balita (AKABA) pada tahun 2011 sebanyak 19 per 1000 kelahiran hidup.

3.8.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak Pandangan tentang ibu hamil, bersalin, bayi/anak Masyarakat kota Makassar seperti masyarakat perkotaan lainnya pada dasarnya dapat dikatakan sudah memiliki kesadaran akan kesehatan yang cukup tinggi. Mereka memiliki keinginan untuk memeriksakan kesehatan mereka ke tenaga kesehatan modern atau professional. Begitupun juga halnya terkait dengan kesehatan ibu dan anak. Pada bagian keadaan kesehatan ibu dan anak pada bagian sebelumnya sudah dijelaskan bahwa angka pemeriksaan yang berkaitan dengan ibu dan anak cukup tinggi. Masyarakat di Kota Makassar memandang seorang ibu yang hamil sebagai suatu keadaan dimana seorang perempuan harus menjaga kesehatannya agar ibu itu

288

sendiri sehat hingga sampai anaknya nanti dilahirkan dengan selamat dan dalam keadaan sehat wa’alfiat. Oleh karena itu ketika ibu sedang hamil keluarga sangat mendukung agar ibu menjalani pemeriksaan pada tenaga kesehatan yang dianggap paling baik yang bisa mereka jangkau sesuai dengan kebutuhan ekonomi mereka. Para suami dalam fgd yang tim peneliti lakukan juga menyatakan memberikan perlakuan yang lebih kepada istrinya manakala istrinya tersebut sedang dalam masa hamil. Hal ini ditunjukkan oleh mereka dengan memberikan keringanan kepada istri dalam melakukan pekerjaannya sehari-hari. Mengenai pekerjaan istri, seperti yang ditemukan dalam survey penelitian ini, kebanyakan dari mereka karena berupa pendatang yang merantau dari kabupaten lain sehingga banyak yang hanya menjadi ibu rumah tangga saja dan kalaupun ada yang bekerja biasanya mereka menjadi buruh harian lepas yang membantu pekerjaan rumah tangga orang lain, seperti menjadi pengasuh anak ataupun menjadi buruh cuci. Selain itu ada juga ibu rumah tangga yang memiliki usaha dengan membuka warung sembako di rumahnya. Oleh karena pekerjaan sehari-harinya dapat dikatakan tidak begitu berat maka suami pun juga tidak terlalu membatasi kegiatan yang dilakukan oleh istrinya manakala istrinya tersebut sedang hamil. Namun perlakuan istimewa juga mereka berikan kepada istri mereka yaitu dengan membantu mereka dalam pekerjaan rumah tangga yang dilakukan sehari-hari di dalam rumah seperti yang diungkapankan oleh seorang suami berikut ini:
“ya itu istri pada saat hamil tidak boleh terlalu lelah, tidak boleh itu mengangkat barang yang terlalu berat. Sehingga ya kita bantulah sehari-hari membantu beberes rumah, jangan dia disuruh angkat barang yang terlalu berat. Kita bantulah itu.”

Selain membantu dalam hal pekerjaan sehari-hari, suami juga turut sudah mengerti bahwa istri pada saat hamil membutuhkan makanan yang bergizi guna menyehatkan diri dan calon anaknya. Namun untuk pemeriksaan pada saat hamil, karena kebanyakan dari suami tersebut bekerja, maka untuk hal ini biasanya mereka hanya sekedar tahu bahwa istrinya sudah melakukan pemeriksaan kesehatan, sedangkan untuk menemani pada saat melakukan pemeriksaan tersebut biasanya istri melakukannya sendiri atau pergi dengan ditemani ibu ataupun mertuanya yang juga tinggal di rumah atau pergi dengan tetangga atau ibu hamil lain yang tinggal di sekitar rumahnya.

289

Berdasarkan keterangan salah satu bidan, masyarakat disini menaruh perhatian yang cukup besar ketika dalam keluarga tersebut baru pertama kalinya memiliki anak, sehingga mereka pasti melakukan pemeriksaan dengan rutin, baik itu di puskesmas, maupun pergi ke dokter di rumah sakit atau swasta jika memang keadaan ekonominya baik. Dengan melakukan pemeriksaan di dokter menurut mereka merupakan keunggulan tersendiri karena memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan jika mereka memeriksakan kesehatan tersebut hanya dengan pergi ke puskesmas. Perhatian kepada ibu ini juga diungkapkan oleh salah satu tokoh agama yaitu dengan memberikan sosialisasi atau himbauan-himbauan kepada ibu agar rutin dalam melakukan pemeriksaan kepada ibunya. Hal ini seperti yang diungkapkan pada saat fgd berikut ini: “setiap ada pertemuan apalagi perempuan itu kami dorong untuk slalu
berhubungan dengan posyandu. Kami tokoh masyarakat mendorong saja agar ibu tidak terputus hubungan dengan posyandu, agar bayinya nanti juga sehat. kami menekankan juga daripada anak itu apalagi mengenai kb. Ini masyarakat kadang karena faktor kemalasan jadi kadang kami harus selalu mendorong agar ikut posyandu.”

Bentuk perhatian juga diberikan oleh keluarga khususnya orang tua dari pasangan suami istri manakala cucu mereka akan dilahirkan dan juga setelah dilahirkan dan akan diadakan acara aqiqah. Pada saat persalinan biasanya mereka datang dari kabupaten mereka berasal untuk menemani hingga ibu itu melahirkan, atau malah ada juga ibu yang akan bersalin itu kembali ke kampungnya karena meminta ditemani oleh orang tuanya ataupun keluarga besarnya. Tak jarang juga orang tua yang memiliki pekerjaan turut membantu anaknya dalam hal keuangan. Jika persalinan

membutuhkan biaya yang lebih, maka sebagai orang tua mereka turut memberikan sumbangan kepada anaknya, begitupun pada saat acara aqiqah.Acara aqiqah ini sendiri masih dijalankan oleh masyarakat sebagai tanda syukur karena anak sudah dilahirkan dengan selamat. Karena biayanya yang cukup besar maka orang tua biasa membantu menyumbang untuk diadakannya upacara tersebut, terlebih lagi kadang acara ini juga menjadi ajang untuk menunjukkan kemampuan ekonomi seorang keluarga, sehingga agar acara tersebut bisa diadakan semeriah mungkin, dengan mengundang banyak orang maka orang tua turut menyumbang dana apalagi jika yang dilahirkan merupakan cucu pertama.

290

Kepercayaan yang Masih Berkembang (Tradisi/Ritual/Kebiasaan) Pada dasarnya masyarakat yang ada di Kota Makassar sudah tidak mengikuti lagi tradisi yang sifatnya tradisional atau kebiasaan yang dilakukan yang sifatnya turun temurun/biasa dilakukan oleh keluarga atau suku darimana mereka berasal. Kini dapat dikatakan hanya sebagiankecil di masyarakat yang tinggal di Kota Makassar yang masih menjalani tradisi/upacara/ritual yang berkaitan dengan kesehatan, khususnya jika dikaitkan dengan penelitian ini adalah kesehatan ibu dan anak. Berdasarkan informasi dari hasil diskusi yang telah dilakukan oleh bidan, tokoh masyarakat serta para suami menyatakan bahwa tradisi yang sifatnya tradisional ini biasanya hanya dilakukan di wilayah pedesaan, sedangkan di kota besar seperti Makassar ini sudah jarang yang melakukan. Hal ini juga ditunjukkan data kuantitatif dari hasil survey dengan responden mengenai masih atau tidak dilakukannya tradisi/upacara/ritual oleh para responden berikut ini:
Tabel 3.8.7 Pelaksanaan Upacara/Tradisi/Ritual Berkaitan dengan KIA di Kota Makassar No 1 2 3 4 Upacara/Tradisi/Ritual Masa Kehamilan Masa Persalinan Masa Nifas Bayi Lahir Tidak 71.4% 90.0% 95.7% 67.1% Sumber: Data Primer Ya 28.6% 10.0% 4.3% 32.9%

Melihat data di atas, terlihat bahwa mayoritas sudah tidak melakukan upacara/ritual pada keempat masa tersebut, terlebih lagi pada masa persalinan dan masa nifas yang mencapai angka 90%, sedangkan untuk masa persalinan dan bayi lahir persentasenya meskipun lebih besar di tidak, namun angkanya tidak setinggi masa persalinan dan nifas. Berdasarkan hasil fgd pula, didapatkan pula mengapa tradisi itu sudah tidak terlalu berjalan lagi karena sudah adanya pengetahuan-pengetahuan nilai kesehatan modern yang sudah dimiliki oleh masyarakat, sehingga dalam menjalani masa kehamilan hingga sampai masa bayi sudah dilahirkan, mereka tidak percaya lagi akan pantangan-pantangan tersebut dan lebih memilih pergi ke tenaga kesehatan dalam mencari kesehatan. Selain itu faktor ekonomi juga dapat mendukung atau malah tidak mendukung pelaksanaan upacara tersebut. Dalam melaksanakan
291

upacara/ritual tersebut biaya yang dikeluarkan oleh satu keluarga dapat dikatakan cukup besar dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu maka hal ini menjadi pertimbangan sendiri pada masyarakat perkotaan Makassar, yang dapat dikatakan memiliki biaya hidup yang cukup tinggi. Masyarakat di bawah wilayah Puskesmas Kassi-Kassi sendiri terdiri dari golongan menengah ke atas hingga menengah ke bawah. Untuk golongan menengah ke bawah, dengan penghasilan yang tidak tentu membuat mereka mempertimbangkan lagi untuk menjalani upacara tersebut, karena uangnya lebih baik dialokasikan untuk keperluan sehari-hari. Namun masih ada juga masyarakat menengah ke bawah yang menjalani upacara atau ritual tertentu karena faktor kebiasaan keluarga yang tidak mungkin ditinggalkan, sehingga meskipun uang yang mereka miliki tidak banyak namun tetap melaksanakan acara tersebut. Berdasarkan tabel persentase masih diadakan tradisi/ritual di atas, dapat dilihat bahwa pada masa persalinan dan bayi lahir persentasenya meskipun lebih besar di tidak, namun angkanya tidak setinggi masa persalinan dan nifas. Hal ini dikarenakan masih adanya tradisi pada saat kehamilan dan bayi lahir yang masih berjalan di beberapa daerah di sekotar kota Makassar. Tradisi yang masih berjalan untuk ibu pada saat masa kehamilan adalah upacara passili sedangkan upacara pada saat bayi lahir adalah upacara aqiqah.

Pantangan pada Masa Kehamilan Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, meskipun kebanyakan ibu tidak menjalani pantangan-pantangan tertentu pada saat kehamilan namun masih ada sebagian kecil yang masih menjalani pantangan-pantangan tertentu. Pantangan itu antara lain:  Tidak boleh mandi sore dari jam 4 sore. Hal ini dipantang karena jika dilakukan bisa terjadi dengan apa yang disebut masyarakat kembar darah yaitu akan mengalami pendarahan atau darahnya nanti akan banyak.  Tidak boleh duduk dan makan di depan pintu. Hal ini tidak boleh dilakukan karena dianggap bisa menghalangi jalan lahir.

292

 Tidak boleh makan nenas karena beresiko akan mengalami keguguran jika mngkonsumsinya  Tidak boleh makan daun kelor karena dianggap jika mengkonsumsinya akan menyebabkan sakit kepada ibu pada saat proses persalinan  Tidak boleh tidur siang karena akan memperbanyak darah yang akan menyulitkan pada saat persalinan  Tidak boleh melilitkan handuk di leher karena nanti bayi di dalam kandungan akan terlilit tali pusat di dalam perut  Tidak boleh makan terong karena dianggap kehamilannya akan keguuguran jika mengkonsumsinya

Pantangan pada Masa Nifas Sama halnya dengan pantangan pada masa hamil, kebanyakan masyarakat juga sudah tidak menjalani pantangan-pantangan pada masa nifas. Hanya ada sebagian kecil yang tetap menjalankan beberapa pantangan tertentu. Pantangan-pantangan yang dilakukan juga adalah pantangan yang umum ditemukan pada saat ibu nifas di daerah lain, yaitu antara lain adalah:  Ibu tidak boleh bekerja terlalu berat  Ibu tidak boleh berhubungan dengan suami sampai masa nifas berakhir Kedua pantangan ini demi mencegah terjadinya pendarahan pada ibu yang sedang menjalani nifas. Berikut ini akan dijelaskan mengenai dua acara ataupun upacara yang masih dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kassi-kassi, yaitu upacara passilli dan juga acara aqiqah.

Upacara Passili Upacara passili adalah upacara yang dilaksanakan pada saat usia kandungan ibu memasuki bulan ketujuh. Dilakukan pada umur tujuh bulan karena pada umumnya masyarakat menganggap bahawa angka bilangan 7 (tujuh) adalah angka keselamtan. Angka bilangan 7 (tujuh) dalam bahasa Bugis disebut pitu (7) yang bermakna sentiasa

293

sukses, selamat, berjaya. Upacara passili ini bisa disebut juga dengan maccera wettang atau maccera babu. Upacara ini dilakukan oleh orang yang berasal dari suku Bugis dan juga Makassar ataupun suku-suku di Sulawesi Selatan lainnya.Pada upacara ini, wanita hamil dimandikan dengan air kembang ataupun memercikkan air dengan beberapa helai daun ke bagian tubuh tertentu, mulai dari atas kepala, bahu, lalu turun ke perut. Bahu menyimbolkan agar anak punya tanggung jawab yang besar dalam kehidupannya. Demikian pula tata cara percikan air dari atas kepala turun ke perut, tak lain agar anaknya nanti bisa meluncur seperti air, mudah dilahirkan dan kehidupannya lancar bagai air. Usai dimandikan, dilanjutkan dengan upacara makarawa babua yang berarti memegang atau mengelus perut. Pernik-pernik pelengkap upacara ini lebih meriah lagi ditambah lagi dengan beraneka macam panganan yang masing-masing memiliki symbol tertentu. Panganan tersebut antara lain adalah berupa kue-kue tradisional yang manis seperti onde-onde, cucuru, cangkuning, baje, yang terbuat dari ketan dilengkapi dengan pisang raja dan buah-buahan yang kecut atau asinan yang dianggap yang disukai oleh ibu hamil. Semua hidangan tersebut disajikan di atas pa’tapi (nampan) dengan harapan akan terusir segala roh-roh jahat yang bisa berakibat buruk pada kehamilan. Upacara tersebut biasanya dipimpin oleh seorang sanro (dukun) yang membacakan doa keselamatan. Tahap akhir upacara ini adalah suap-suapan yang dilakukan oleh dukun ataupun pemuka agama kepada kedua pasangan tersebut (sebagai calon bapak dan ibu. Dalam gambar sang dukun sedang menyuapin calon ibu, bergantian setelah dukun atau pemuka agama lalu dilanjutkan pada orang tua ataupun mertua yang akan menyuapi makanan kepada pasangan calon orang tua tersebut. Hal ini seperti ditunjukkan oleh gambar berikut ini:

294

Gambar 3.8.5. Ibu sedang Disuapi Makanan Pada Acara Passilli Sumber: http://zipoer7.wordpress.com/2011/06/11/upacara-adat-mappassili/

Upacara ini dilakukan atau menjadi kebiasaan dari beberapa suku yang ada di Sulawesi Selatan. Berdasarkan studi literatur, bukan hanya suku Makassar yang melaksanakan upacara ini, namun juga suku Bugis, suku Bone dan juga suku Jeneponto. Upacara ini sulit ditemui di kota Makassar karena juga faktor biasanya upacara ini dilakukan keluarga di kampung mereka berasal, karena mereka biasanya memilih untuk melakukannya dengan keluarga besar mereka, sekaligus kembali karena sudah mendekati waktu akan melahirkan. Selain itu upacara yang biasanya dipimpin oleh dukun ini membuat keluarga tidak mengadakannya di kota besar karena sudah tidak adanya dukun yang ada di lingkungan sekitar mereka, kecuali mereka kembali ke kampung masing-masing dimana dukun beranak atau sanro masih mudah ditemui. Faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan tersendiri dalam melakukan acara ini. Karena memerlukan biaya yang cukup besar, bisa sampai mencapai angka 3 juta, maka dengan penghasilan yang tidak begitu baik maka mereka lebih dari 3 juta, maka mereka tidak lagi mengadakannya dan lebih memilih menabung untuk keutuhan yang nantinya dibutuhkan manakala anak itu akan lahir. Sedangkan acara ini masih tetap dilakukan di wilayah pedesaan karena meskipun dana yang dikeluarkan besar, tapi faktor kebersamaan dan gotong royong yang masih kuat membuat keluarga yang akan mengadakan acara ini terbantu secara keuangannya, karena keluarga dan kerabat sekitarnya turut membantu dalam hal menyumbangkan panganan untuk disantap oleh para tamu atau keluarga yang hadir pada acara tersebut.

295

Tradisi Aqiqah Tradisi aqiqah ini masih dilakukan oleh sebagian kecil orang yang tinggal di Kota Makassar, yaitu kebanyakan yang berasal dari suku Bugis ataupun Suku Makassar. Sebenarnya tradisi ini dipengaruhi oleh ajaran Islam yang memang dipeluk oleh mayoritas suku Bugis ataupun Suku Makassar. Aqiqah ini dilaksanakan manakala bayi baru dilahirkan yaitu dengan menyembelih kambing yang nantinya dagingnya akan disajikan kepada keluarga atau tamu yang datang ataupun disedekahkan kepada kerabat atau orang yang membutuhkan. Banyaknya kambing yang disembelih tergantung jenis kelamin bayi yang dilahirkan. Jika bayinya berjenis kelamin laki-laki maka kambing yang disembelih sebanyak 2, sedangkan jika bayi berjenis kelamin perempuan maka kambing yang disembelih hanya 1. Untuk pelaksanaannya sendiri, aqiqah dianjurkan dilakukan 7 hari setelah anak itu dilahirkan, namun jika keluarga tidak mampu maka bisa ditangguhkan sampai sebelum anak itu menginjak usia baligh. Dalam acara ini nanti bayi akan dipotong rambutnya dan akan secara resmi diberikan nama oleh keluarganya.

Gambar 3.8.6. Acara Aqiqah untuk Anak Bayi Sumber: http://makassarces.blogspot.com/2007/07/nur-naylah-nabighah-hadz-anshari.html

Besaran biaya yang dikeluarkan juga tergantung dari anak yang dilahirkan yaitu karena adanya perbedaan jumlah kambing yang disesuaikan dengan jenis kelamin anak yang dilahirkan. Untuk anak perempuan berarti minimal akan mengeluarkan uang

296

sebesar 1 juta untuk 1 kambing dan minimal 2 juta untuk 2 kambing bagi anak laki-laki. Belum lagi pengeluaran untuk panganan lain yang akan menjadi suguhan bagi para tamu undangan serta membayar tokoh agama yang diundang untuk memimpinnya jalannya acara ini. Pengetahuan Masyarakat tentang Kesehatan Ibu dan Anak Untuk mengukur pengetahuan masyarakat ini maka penelitian ini

membantunya dengan melihatnya dari kuesioner yang telah dibagikan kepada 70 responden ibu yang dipilih secara random atau acak dan hal ini juga didukung oleh hasil fgd yang telah dilakukan oleh bidan, suami dan juga tokoh masyarakat.Menurut Bloom (1908, dalam Notoatmodjo: 2003), pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya sikap dan juga tindakan/perilaku nyata seseorang. Pengetahuan ibu yang coba dilihat disini adalah pengetahuan ibu pada saat hamil, pada saat persalinan dan juga masa setelah melahirkan atau masa nifas. Masa Kehamilan. Pengetahuan ibu cukup baik dalam masa kehamilan ini. Pemeriksaan hamil sebanyak 4 kali, sesuai standar pemeriksaan kehamilan sudah mereka ketahui. Hal ini terlihat pada hasil survey ibu dimana sebesar 85.7% menyatakan bahwa selama masa kehamilan mereka harus memeriksakan kehamilan sebanyak 4 kali. Pemeriksaan kehamilan ini juga didukung oleh pendapat para suami, dimana mereka biasanya juga mendukung pemeriksaan kehamilan. Dukungan dari suami pun berbeda tergantung kemampuan mereka, ada yang hanya memberikan dukungan moral namun ada juga yang memberikan dukungan dengan cara mengantarkan langsung istrinya ke tempat pemeriksaan. Namun jika melihat karakteristik dari penduduk Rappocini, kebanyakan suami jarang mengantarkan pada saat pemeriksaan karena sibuk bekerja, sehingga biasanya istri pergi sendiri atau diantarkan oleh ibu atau mertuanya. Salah satu hal yang dilakukan pada saat pemeriksaan ibu hamil adalah mengukur tekanan darah ibu hamil. Hal ini diperlukan agar bidan atau dokter dapat mengetahui apakah kehamilan ibu ini beresiko atau tidak. Sehingga dari situ dicoba dilihat bagaimana pengetahuan ibu tersebut mengenai fungsi dari mengukur tekanan

297

darah tersebut. Hasil survei menunjukkan bahwa 100% ibu menunjukkan jawaban yang benar. Hal ini menandakan bahwa ibu mengetahui gunanya pemeriksaan pada saat kehamilan itu dilakukan. Begitupun pula pengetahuan ibu mengenai fungsi dari diberikannya tablet penambah darah (fe) bagi ibu yang sedang hamil. Hal ini terlihat dari besaran persentase ibu yang menjawab benar yaitu sebanyak 95.7%. Masa Persalinan. Pengetahuan ibu pada masa persalinan juga cukup baik. Mereka sudah mengetahui bahwa dalam melakukan persalinan harus di fasilitas kesehatan dan bukan melahirkan di rumah. Hal ini sesuai dengan pernyataan pengetahuan mengenai persalinan tidak lebih baik jika dilakukan di rumah yaitu sebanyak 94.3% dan 5.7% saja yang menyatakan bahwa persalinan itu lebih baik dilakukan di rumah. Selain itu ibu sebanyak 90.1% menyatakan bahwa melahirkan di bidan lebih aman dibandingkan dengan menggunakan jasa dukun. Hal ini diperkuat dengan dengan fakta bahwa memang sudah tidak ada lagi keberadaan dukun beranak yang membantu ibu dalam melakukan persalinan. Hampir semua ibu yang melakukan yang tinggal di kota Makassar bersalin dengan bantuan tenaga kesehatan, baik itu yang ada di fasilitas kesehatan yang sudah disediakan oleh pemerintah maupun milik swasta. Masa Setelah Persalinan. Pengetahuan ini mencoba melihat bagaimana ibu melihat apakah mereka mengetahui kapan mereka sudah dapat melakukan aktivitas seperti biasanya kembali setelah melakukan persalinan. Dari hasil survei menunjukkan bahwa 51.4% menyatakan bahwa adalah benar jika seorang ibu baru bisa beraktivitas lagi setelah 3 hari sedangkan sisanya sebesar 48.6% menyatakan bahwa adalah salah jika ibu dapat beraktivitas lagi setelah 3 hari melahirkan. Jika melihat hal ini maka diperlukan agar petugas kesehatan harus memberikan pengetahuan kepada ibu mengenai aktivitas setelah melahirkan. Meskipun melahirkan normal dan cepat pulih, namun ibu harus diberikan pengetahuan mengenai batas-batas aktivitas apa yang boleh dan tidak dibolehkan pada masa nifas tersebut. Ibu pun memiliki jawaban yang benar mengenai makanan setelah persalinan, meskipun di beberapa daerah banyak yang melarang ibu paska bersalin untuk tidak

298

mengkonsumsi ikan laut namun dari pernyataan responden menyatakan abahwa salah jika ibu dilarang memakan ikan laut setelah melahirkan.

Sikap tentang Kesehatan Ibu dan Anak Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. Atkinson, dkk (1993, dalam Harahap & Andayani, 2004: 5) menyatakan sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara tertentu, bentuk reaksinya dengan positif dan negatif. Dalam penelitian ini, survey mengenai sikap ibu dilihat dari 4 level. 2 sikap positif ditunjukkan dengan penyataan setuju dan sangat setuju sedangkan 2 sikap negatif ditunjukkan dengan pernyataan sangat tidak setuju dan tidak setuju. Hasil survey ibu ditunjukkan dari tabel di bawah ini:
Tabel 3.8.8. Sikap Ibu terhadap Perilaku Kesehatan Ibu

PERNYATAAN Penting kehamilan sebanyak 4 kali Penting ukur tensi Perlu tablet tambah darah Perlu upacara agar selamat Melahirkan di rumah dan rumah sakit/puskesmas sama amannya Kemampuan dukun sama baiknya dengan bidan Penting kolostrom untuk bayi Perlu KB pasca nifas
Sumber: Data Primer

SIKAP Positif 80% 100% 57.1% 14.2% 10% 27.1% 77.1% 75,7%

Negatif 20,0% 0,0% 42.9% 85.8% 90,0% 72.9% 22.9% 24,3%

Masa Kehamilan. Pengetahuan seseorang membentuk perilaku seseorang dalam bertindak. Namun pengetahuan yang baik belum tentu selalu dapat menghasilkan sikap yang positif, begitupun juga sebaliknya. Hal ini terjadi pula pada sikap ibu pada saat kehamilan. Dalam pemeriksaan kehamilan sebanyak 4 kali ini sebanyak 80% menyatakan sikap yang positif, namun ternyata persentasenya berkurang dari banyaknya ibu yang memiliki pengetahuan benar mengenai
299

pemeriksaan kehamilan ini. Sikap positif ini juga mendapat dukungan positif dari suami dimana mereka juga mengingatkan kepada istrinya untuk melakukan pemeriksan pada saat kehamilan, meskipun tidak tahu secara persis apa saja yang dilakukan dan diberikan pada ibu pada saat pemeriksaan kehamilan tersebut, karena banyak para suami yang tidak bisa mengantarkan istrinya untuk memeriksakan. Sedangkan sikap positif juga ditunjukkan terhadap pentingnya mengukur tensi. Sikap positif ini sama besarnya dengan pengetahuan ibu yaitu sebanyak 100%. Persentase sikap positif ibu juga ditunjukkan pada sikap terhadap pemberian tablet darah bagi ibu hamil yaitu sebanyak 57.1%. Namun ada pengurangan persentase yang cukup besar dari persentase ibu mengenai pengetahuan pentingnya fe yang menunjukkan angka 95.7%. Hal ini menandakan bahwa meskipun mereka sudah tahu bahwa fe itu penting namun ternyata ada beberapa yang merasa tidak memerlukan tablet tambah darah tersebut. Hal ini juga diutarakan oleh salah satu bidan berikut ini:
“ya itu sudah kami berikan tablet penambah darah kepada ibu. Tapi untuk diminum atau nggak nya kan kadang kita juga ga tahu. Karena kita kan ga terlalu perhatikan juga. Paling ya kita cuma mengingatkan saja kalau periksa.”

Selain itu mereka memiliki sikap yang cenderung negatif terhadap dijalankannya upacara atau ritual tertentu yang dilakukan pada saat hamil, yang dianggap bisa menyelamatkan bayi dan bayinya pada saat persalinan. Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, kebanyakan dari mereka sudah tidak melakukan upacara atau ritual tertentu pada saat kehamilan. Selain memang lingkungan mereka memang sudah tidak mengadakan, beberapa menyatakan bahwa uangnya lebih baik digunakan untuk kebutuhan sehari-hari ataupun untuk persiapan kelahiran anak Masa Persalinan. Sikap ibu yang positif mengenai persalinan ditunjukkan oleh besaran persentase yaitu sebanyak 90% yang menyatakan tidak setuju jika melahirkan di rumah sama amannya dengan melahirkan di dokter atau puskesmas. Selain itu 72.9% menyatakan ketidaksetujuan nya jika menyamakan kemampuan dukun dengan bidan. Meskipun mayoritas mengatakan bahwa bidan lebih mampu dibandingkan dengan dukun, namun masih ada sebagian kecil yang menyatakan dukun memiliki kemampuan yang sama meskipun sudah tidak ada lagi dukun di Kota Makassar. Hal ini dikarenakan masih ada pengaruhnya orang tua mereka yang ada di desa yang masih

300

percaya akan kemampuan dukun dalam menolong persalinan, sehingga ibu, khususnya yang orang tuanya masih tinggal di pedesaan (di luar Kota Makassar) membuat mereka percaya bahwa dukun memiliki kemampuan yang sama dengan bidan, bahkan mungkin lebih unggul dari bidan itu sendiri karena memiliki kemampuan doa-doa yang dianggap mujarab. Masa Setelah Persalinan. Sikap ibu yang dicoba dilihat disini terkait perilaku setelah persalinan adalah mengenai pemakaian KB. Dari tabel 7 tersebut maka dapat dikatakan 77.1% responden menyatakan bahwa setuju untuk melakukan KB. Hal ini menandakan bahwa sebenernya masyarakat. sudah memiliki konsep keluarga berencana.

Tindakan/Praktek Kesehatan Ibu dan Anak Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam bentuk tindakan (overt behavior). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas dan juga faktor dukungan dari orang lain. Sikap tidaklah sama dengan perilaku (tindakan), dan tindakan tidaklah selalu mencerminkan sikap seseorang, sebab seringkali terjadi bahwa seseorang memperlihatkan tindakan yang bertentangan dengan sikapnya. Masa Kehamilan. Melihat hasil survey yang dilakukan pada para responden maka mayoritas sudah melakukan pemeriksaan sebanyak 4 kali, sesuai dengan standar pemeriksaan kesehatan ibu hamil. Dari total 70 responden, hanya ada 1 yang tidak memeriksakan kesehatannya ke tenaga kesehatan. Sedangkan 69 lainnya pergi melakukan pemeriksaan dengan tenaga kesehatan. Alasan paling banyak sebagai alasan mereka melakukan pemeriksaan kesehatan kepada nakes karena merasa aman dan nyaman. Tingginya pemeriksaan dengan tenaga kesehatan ini dikarenakan akses yang cukup mudah dan fasilitas yang cukup memadai. Ditambah pula dengan dukungan suami, keluarga dan masyarakat untuk rutin melakukan pemeriksaan dengan tenaga kesehatan. Masa Persalinan. Melihat pengetahuan dan sikap sebelumnya, para ibu sudah mengetahui bahwa persalinan akan lebih baik dilakukan dengan bantuan tenaga kesehatan dan tidak dilakukan di rumah. Hasil survey menunjukkan bahwa penolong

301

persalinan paling banyak dibantu oleh bidan yaitu 74.3% dan setelah itu adalah dengan bantuan dokter sebanyak 22.9%. Alasan dipilihnya penolong persalinan tersebut

adalah kebanyakan karena faktor aman dan nyaman. Dan dari total responden tidak ada yang melakukan persalinan dengan bantuan dukun. Seperti yang dikatakan oleh salah satu bidan berikut ini:
tukang urut saja, dan dia juga bukan dukun. Jadi semua sudah melahirkan dengan bidan atau dengan dokter. Tinggal pilih saja disini mau melahirkan dimana.”

Masa Setelah Persalinan. Sebanyak 91.4% melakukan pemeriksaan paska persalinan ke tenaga kesehatan. Hasil survey, menunjukkan bahwa 70% dari responden sudah melakukan Kb paska persalinan. Mereka sudah mulai memikirkan jumlah ideal anak dalam keluarga. Hal ini dikarenakan mereka sudah memikirkan dampak ekonomi keluarga dengan adanya kehadiran anak tersebut. Sebagian besar masyarakat kini hanya memiliki anak antara 2 dan 3, namun masih ada juga namun dengan jumlah yang tidak banyak keluarga dengan jumlah anak yang lebih dari 4 orang. 3.8.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat terkait Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal Pemilihan Penolong Kesehatan Ibu dan Anak Masyarakat kota Makassar pada umumnya, dan masyarakat yang ada di dalam wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi pada khususnya bisa dikatakan hampir seluruhnya sudah memaksimalkan fungsi fasilitas kesehatan dan juga tenaga kesehatan yang ada di lingkungan tempat mereka tinggal. Pada masa kehamilan, data dari puskemas menunjukkan bahwa pemeriksaan pada trimester pertama dan trimester melebihi target ibu hamil yang ada di wilayah kerja puskesmas. Angka persentase menunjukkan lebih dari 100%. Hal ini menandakan bahwa masyakat yang hamil memeriksakan kesehatannya sebagian besar ke puskesmas. Sedangkan sebagian kecil ada yang memilih untuk melakukan pemeriksaan di bidan praktek swasta ataupun dokter atau rumah sakit swasta. Mengapa angka menunjukkan lebih dari 100% karena ada juga pendatang dari tempat lain, baik itu dari wilayah lain di Makassar ataupun yang berasal dari kabupaten lain di sekitar Makassar,
302

yang tidak terdaftar sebagai warga masyarakat kecamatan Rappocini namun turut memeriksakan kehamilannya di puskesmas ini. Cukup maksimalnya kegiatan pemeriksaan kehamilan pada puskesmas di kecamatan ini karena memang warga yang ada di sekitarnya kebanyakan adalah warga yang membutuhkan pelayanan gratis karena kebanyakan dari mereka berasal dari golongan menengah ke bawah ataupun pendatang dari kabupaten lain dan memiliki pekerjaan kebanyakan seperti buruh, supir, ataupun karyawan swasta yang memiliki penghasilan tidak terlalu tinggi. Sehingga pemilihan pemeriksaan kehamilan yang gratis yang ada di puskesmas adalah pilihan utama mereka. Namun berdasarkan keterangan bidan ada juga masyarakat dari golongan menengah ke bawah yang datang ke bidan praktek swasta yang sebenarnya mengeluarkan biaya. Hal ini terjadi karena adanya beberapa faktor, yaitu: Pertama, faktor geografis. Letak bidan praktek swasta tersebar di beberapa wilayah di kecamatan ini. Sehingga ada ibu yang memutuskan untuk pergi ke bidan praktek swasta saja karena dirasa jarak tempuhnya lebih dekat dari tempat tinggal mereka jika dibandingkan mereka harus ke puskesmas atau ke pustu. Kedua, faktor kenyamanan. Pemeriksaan dilakukan ibu di bps karena dirasa lebih nyaman jika dibandingkan melakukan pemeriksaan ke puskesmas atau pada saat posyandu bunda dilakukan. Mereka merasa lebih nyaman untuk periksa di bps karena pemeriksaan hanya sendiri dan tidak dilakukan secara beramai-ramai yang mereka alami jika memeriksakan kehamilan di puskesmas. Ketiga, faktor pelayanan. Faktor pelayanan ini juga ada kaitannya dengan alasan faktor kedua yaitu dikarenakan faktor terlalu ramainya pengunjung di puskesmas. Mereka memilih ke bps karena tidak harus mengantri untuk diperiksa. Fasilitas yang diberikan oleh bps, yaitu berupa obat-obatan juga dirasa lebih lengkap dibandingkan dengan yang diberikan oleh puskesmas. Faktor-faktor ini seperti yang diungkapkan oleh salah satu bidan berikut ini:
“itu ada ibu yang maunya ke bps karena di bps itu kan ada 1 bidan saja, dia juga diperiksa sendiri. Lain kalau di puskesmas itu kan memang banyak orang. Apalagi kalau memang bidannya sudah dekat, lebih senang dia disitu

303

Lain halnya dengan keluarga yang berada pada kalangan menengah ke atas, biasanya mereka tidak mau memeriksakan diri ke puskesmas dan lebih memilih ke dokter atau rumah sakit swasta. Faktor dipilihnya dokter atau rumah sakit swasta karena juga dikarenakan beberapa faktor. Faktor kenyamanan dan pelayanan sebagai alasan dipilihnya bps juga menjadi alasan mengapa ada yang melakukan pemeriksaan di dokter atau rumah sakit swasta. Meskipun harga pemeriksaannya lebih besar namun jika mereka lebih mudah dalam mendapatkan pelayanan maka mereka tidak keberatan. Seperti yang diungkapkan salah satu bidan yang pada saat kehamilan memeriksakan diri ke dokter praktek:
“itu dulu saya periksa saya males pake askes, karena birokrasinya ribet. Akhirnya saya ya ke dokter saja bayar sendiri. Ke dokter praktek tinggal masuk aja.”

Fasilitas yang diberikan juga lebih baik. Salah satunya adalah bisa dilakukan usg. Hal ini seperti juga yang dikatakan oleh salah seorang suami:
“dulu istri saya bawa ke rumah sakit karena itu bisa di usg itu. Supaya keliatan anaknya seperti apa. Itu anak pertama saya.”

Faktor lainnya adalah faktor gengsi. Pada masyarakat menengah ke atas ini pemeriksaan di tempat yang baik dan mahal akan menjadi kebanggan tersendiri, bukan haya dikarenakan fasilitas yang baik namun menjadi prestige sendiri bagi suatu keluarga. Hal ini terjadi pada masyarakat Kota Makassar secara umum seperti yang diungkapan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar berikut ini: “anak pertama apalagi itu merupakan penghargaan yang harus dijaga.
kehormatan keluarga, harus di rumah sakit yang bagus. kebanggaan keluarga. ga mungkin cucunya bupati melahirkan di puskesmas. Disini masyarakat kebanyakan makin mahal rumah sakitnya ya makin bangga lah. kalo aqiqah juga harus dilakukan semeriah mungkin. kadang meski keluarganya a mampu juga maunya yang di rumah sakit.”

Berdasarkan kedua kutipan kalimat di atas juga tersirat bahwa ada perlakuan istimewa yang diberikan kepada anak pertama dalam suatu keluarga. Biasanya pada kehamilan untuk anak pertama tersebut keluarga mendapatkan pelayanan yang terbaik untuk anaknya, sehingga tak jarang mereka lebih memilih untuk ke dokter kandungan atau rumah sakit yang fasilitasnya lebih lengkap. Lain halnya pada kehamilan ketiga, biasanya orang tua cenderung lebih cuek sehingga lebih malas untuk memeriksakan kesehatannya, khususnya di masa kehamilan awal, biasanya mereka baru memeriksakan pada saat memasui trisemester ketiga.

304

Pemeriksaan ke dukun pun hampir sudah tidak dilakukan oleh para masyarakat, hal ini dikarenakan memang sudah tidak adanya keberadaan dukun. Pemeriksaan dukun biasanyan hanya dilakukan manakala ibu hamil pulang ke kampungnya, dimana biasanya masih ada dukun di kampung asalnya. Dalam penolong persalinan, seperti sudah disebutkan sebelumnya, bahwa hampir 96.3% masyarakat di Makasar dan 80.73% penduduk yang berada di bawah wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi, melakukan persalinan dengan menggunakan bantuan tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan ini baik dengan bidan maupun dokter, yang ada di puskesmas, bidan praktek swasta, rumah sakit bersalin ataupun rumah sakit baik milik pemerintah maupun milik swasta. Pemilihan persalinan dengan menggunakan tenaga kesehatan ini dikarenakan adanya kesadaran yang tinggi, yang sudah dimiliki oleh masyarakat, baik itu ibu itu sendiri maupun suami beserta keluarganya, tentang persalinan dengan tenaga kesehatan professional tersebut. Tenaga kesehatan professional juga dipilih karena memang di wilayah perkotaan Makassar ini sudah dikatakan tidak ada lagi dukun beranak atau yang oleh masyarakat biasa disebut dengan sanro. Sanro kini hanya bisa ditemui wilayah-wilayah pedesaan yang ada di kabupaten yang ada di luar wilayah Kota Makassar. Meskipun sanro sudah tidak ada, namun masih ada orang tua yang dianggap memiliki kemampuan untuk bisa merawat ibu pada saat hamil atau merawat anak setelah dilahirkan yaitu dengan perawatan berupa pijit tradisional. Orang tua yang bisa melakukan perawatan tersebut pun sudah sangat sedikit jumlah nya dan sulit ditemui di Kota Makassar ini. Jika melihat persentase di atas tersebut, maka dapat dikatakan masih ada sebagian kecil masyarakat yang ada di Puskesmas Kassi-Kassi yang melahirkan dengan penolong persalinan yang bukan tenaga kesehatan dan memilih melahirkan dengan bantuan dukun beranak atau sanro. Seperti telah disebutkan pada paragraph sebelumnya, pada dasarnya memang sudah tidak ada sanro di Kota Makassar ini, namun warga yang melahirkan dengan sanro itu melahirkan bukan di Kota Makassar melainkan kembali ke tempat asalnya dia berada, yaitu kabupaten sekitar Makassar tempat dia berada. Meskipun semakin banyak orang yang “lari” ke kota Makassar pada saat akan bersalin, karena kota ini dianggap memiliki fasilitas kesehatan yang jauh

305

lebih baik dari tempat dia berasal, namun ada warga yang memilih untuk bersalin dengan ditemani oleh orang tua ataupun keluarganya yang ada di desa. Adanya tradisi melahirkan atau bersalin dengan ditemani oleh orang tua atau keluarga itulah yang membuat mereka akhirnya kembali ke kampungnya pada saat waktu sudah mendekati waktunya mereka akan bersalin. Kembali berbicara mengenai persalinan dengan menggunakan bantuan tenaga kesehatan, berdasarkan data dari laporan Puskesmas Kassi-Kassi sebanyak 80.73% melahirkan dengan tenaga kesehatan. Dari 80.73% ini tenaga kesehatan bukan hanya tenaga kesehatan yang ada di fasilitas kesehatan seperti bidan puskesmas, namun ada juga yang memilih dengan tenaga kesehatan seperti dokter yang ada di rumah sakit ataupun bidan lain yang membuka praktek swasta. Kurang lebih alasan pemilihan persalinan ini tidak jauh beda dengan alasan yang telah diungkapkan mengenai pemilihan pemeriksaan kehamilan. Cukup banyak orang yang melakukan persalinan di puskesmas. Bagi masyarakat, meskipun pada saat pemeriksaan mereka rela mengeluarkan uang lebih, namun pada saat persalinan masyarakat lebih banyak yang pergi ke puskesmas, karena jika bersalin di bps atau rumah sakit akan mengeluarkan biaya yang lebih tinggi. Namun untuk masyarakat menengah ke atas bersalin lebih baik dilakukan di rumah sakit swasta, karena selain lebih percaya juga karena mendatangkan gengsi tersendiri. Berdasarkan keterangan dari bidan juga ada kasus dimana ada masyarakat yang meskipun dari kalangan menengah ke bawah memiliki gengsi tinggi yang membuat mereka ingin juga melahirkan di rumah sakit, sehingga terkadang muncul beberapa kasus dimana ada pasien yang meminta dirujuk ke rumah sakit meskipun persalinannya normal dan seharusnya cukup dengan melakukan persalinan di puskesmas. Lain halnya dengan wilayah pedesaan, dimana pilihan pelayanan kesehatan khusus ibu biasanya kompetitor dari bidan adalah dukun, pada masyarakat perkotaan hal itu tidak terjadi. Bidan yang ada di puskesmas bersaing dengan bidan praktek swasta ataupun dokter praktek. Bidan praktek swasta itu sendiri ada yang dimiliki oleh bidan PNS yang juga bekerja di puskesmas. Dalam kecamatan Rappocini ini kurang lebih ada 10 praktek bidan swasta.

306

Pada praktek bidan swasta ini tarifnya tidak sama antar praktek yang satu dengan yang lainnya. Namun kisaran tarif yang dipasang untuk pemeriksaan adalah kurang lebih sebesar Rp. 20.000,- sampai Rp. 30.000,-. Hal ini juga tergantung pada jenis pemeriksaan dan obat yang diberikan kepada sang ibu. Sedangkan untuk tarif persalinan juga berbeda, ada yang mengenakan tarif Rp. 600.000,- dan ada juga yang memberikan tarif sebesar Rp. 1.500,000,-. Menurut bidan swasta ini terkadang dalam menentukan tarif kepada pasien juga dilihat faktor ekonomi keluarganya. Terkadang banyak juga orang dari menengah ke bawah yang datang ke bps, sehingga kadang bidan merasa tidak tega dan memberikan potongan harga kepada pasien ini. Untuk bidan puskesmas yang memiliki bps maka dibuatkanlah perjanjian dimana bidan secara resmi menyatakan bahwa pekerjaannya tidak akan mengganggu jam bekerja di puskesmas. Bahkan dalam beberapa kasus jika memang ada pasien yang datang ke bps dan akan bersalin pada saat bidan bekerja di puskesmas, biasanya malah bidan menyarankan untuk segera di bawa ke puskesmas saja, karena merupakan bentuk komitmennya sebagai bidan di puskesmas. Namun jika tanda-tanda persalinan masih harus menunggu beberapa jam lagi dan waktunya ada di luar jam kerja bidan puskesmas, baru bidan menahan pasien di tempat prakteknya. Bidan juga tidak bisa memaksakan kehendak dari pasiennya, meskipun terkadang sudah disarankan untuk pergi ke puskesmas namun jika pasien tetap ingin melahirkan di bps-nya maka ia akan mengiyakan. Sejak tahun 2010, dimana walikota memiliki program persalinan gratis untuk warga kota Makassar, bidan praktek swasta ini cukup mengalami penurunan oleh jumlah pasien, khususnya pasien dari kalangan menengah ke bawah. Dengan adanya penggratisan pada persalinan maka warga dari kalangan menengah ke bawah pergi ke puskesmas, sedangkan keluarga yang keadaan ekonominya cukup baik tidak begitu berpengaruh. Ada atau tidaknya program gratis dalam melakukan pemeriksaan kehamilan dan persalinan nampaknya tidak memiliki pengaruh yang signifikan pada kelompok menengah ke atas. Bagi mereka berobat ke praktek dokter atau rumah sakit swasta tidak ada masalah dalam hal biayanya jika bisa mendapatkan fasilitas yang baik.

307

Gambar 3.8.7. Fasilitas Persalinan di Bidan Praktek Swasta Sumber: Dokumentasi Peneliti

Secara umum pemegang keputusan terakhir dalam menentukan penolong persalinan bagi ibu berbeda-beda setiap keluarganya. Berdasarkan fgd dengan suami menyatakan bahwa keputusan ada di tangan istrinya sendiri, hal ini dikarenakan suami menganggap istri-nya yang lebih mengetahui baiknya melahirkan dimana. Sedangkan ada pula suami yang menyatakan bahwa keputusan ada di tangannya karena dianggap sebagai kepala keluarga. Lalu ada pula yang menyatakan bahwa penentu penolong persalinan juga banyak dipengaruhi oleh orang tua ataupun mertua, jika memang pada saat menjelang proses persalinan hingga masa persalinan datang, orang tua mereka berada 1 rumah. Karena kebanyakan pasangan suami istri pendatang ini tidak tinggal bersama orang tuanya yang masih menetap di desa.

Pengetahuan tentang Jampersal Meskipun pada dasarnya sudah mengetahui ada program persalinan gratis, nampaknya masyarakat sendiri masih bingung dengan nama program apa yang memberikan pelayanan gratis tersebut. Pada hasil survey dalam penilitian ini tim penelitimelihat bagaimana pengetahuan ibu mengenai Jampersal itu sendiri. Ternyata hasil menunjukkan bahwa lebih banyak responden yang menyatakan bahwa Jampersal itu merupakan program untuk membantu persalinan saja, yaitu sebanyak 64.3%. Kebanyakan para ibu tersebut tidak mengetahui bahwa Jampersal ini bukan hanya melayani proses persalinan namun juga pada saat sebelum dan sesudah melahirkan.

308

Hasil kuesioner sikap ibu juga menunjukkan bahwa ibu tidak mengetahui bahwa program Jampersal ini diperuntukkan untuk segala kalangan. 80% responden mengatakan bahwa mereka setuju jika Jampersal ini hanya diperuntukkan untuk orang miskin atau menengah ke bawah saja. Berikut ini merupakan tabel sumber informasi mengenai Jampersal yang didapatkan oleh ibu yang menjadi responden (n=70)
Tabel 3.8.9 Sumber Informasi Jampersal Sumber informasi Media massa Tenaga Kesehatan Petugas desa/kelurahan Poster Sumber: Data Primer Menyatakan ‘ya’ (%) 50 57.1 45.7 12.9

Dengan melihat tabel sumber informasi tersebut, maka dapat dikatakan mereka masih kurang dalam mendapatkan sosialiasi mengenai program Jampersal tersebut. Untuk sosialisasi dari petugas kesehatan hanya 57.1% yang mendapatkannya. Hal ini menandakan bahwa sebagian besar memang mendapatkan informasi dari nakes, sesuai dengan pernyataan bidan berikut ini:
“sosialisasi semua sih ke kalangan. Itu biasanya kita kasih tau selalu di posyandu bunda, posyandu anak, Sosialisasi juga Sudah lintas sektoraldisini, kita sih bilang nya Jampersal sekalian sosialisasi mengenai Jamkesda mengenai perawatan kesehatan. Dulu kan memang persalinan gratis itu Jamkesda tapi sekarang Jamkesmas.”

Ketidaktahuan mengenai Jampersal ini juga ternyata masih banyak belum diketahui oleh para suami dan juga para tokoh masyarakat. Ketika dilakukan fgd di kedua kelompok, kebanyakan dari mereka mengetahui bahwa ada program yang disebut dengan Jampersal. Program yang lebih popular yang beredar di masyarakat adalah program Jamkesmas atau Jamkesda. Mereka hanya tahu bahwa jika pergi ke puskesmas mereka tidak melakukan pemeriksaan tidak akan dikenakan biaya apapun.

309

Salah satu tokoh masyarakat juga menyatakan ketidaktahuan masyarakat mengenai program Jampersal ini, mereka sebatas hanya mengetahui ada pelayanan gratis. Namun meskipun tidak mengetahui nama program, masyarakat sebagian besar sudah memanfaatkannya seperti yang dikatakannya berikut ini:
“pelayanan gratis ini memang sudah dilaksanakan, barangkali hanya istilah saja yang kita belum tahu. Kalau saya liat warga saya, itu warga 90% pake yang gratis. 10%-nya itu karena memang memilih untuk ke pelayanan lain yang mengeluarkan biaya.”

Pembiayaan Pelayanan KIA Berikut merupakan tabel yang menggambarkan sumber pembiayaan yang dipakai keluarga dalam mendapatkan jenis pelayanan kia.
Tabel 3.8.10. Sumber Biaya Pelayanan KIA Jenis Pelayanan Sendiri/ Keluarga ANC (n=70) Persalinan (n=70) Periksa Pasca Salin (n=25) Periksa Neonatus (n=35) KB (n=49) 38.6 18.6 46.1 37.1 68.7 Sumber Biaya (%) Jampersal Jakesmas/ Jamkesda 40 47.1 38.5 37.1 22.9 20 30 15.4 25.8 6.2 Asuransi Lainnya 1.4 2.9 2.2 Sumber Lain 1.4 -

Ket: untuk periksa pasca salin, neonatus dan kb n tidak sama dengan 70 karena jumlah n berdasarkan jumlah ibu yang melakukan tindakan, ibu yang tidak melakukan tidak dihitung Sumber: Data Primer

Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa dana Jampersal sudah cukup dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya jenis pelayanan ANC, persalinan serta pemeriksaan neonatus. Sedangkan untuk periksa paska salin dan KB, kebanyakan responden menggunakan dana sendiri. Jika melihat pembiayan pada saat pemeriksaan dapat dilihat persentase yang menggunakan Jampersal dan dengan biaya sendiri tidak tidak terlalu jauh. Hal ini sesuai dengan pembahasan sebelumnya dimana masyarakat memiliki keinginan pada

310

saat memeriksakan kehamilan di tempat lain seperti di bps atau dokter praktek, terlebih lagi jika anak yang sedang dikandung adalah anak pertama. Sedangkan untuk persalinan biaya terbanyak menggunakan Jampersal dan setelah itu diikuti dengan Jamkesmas. Hal ini menandakan bahwa masyarakat sudah memanfaatkan pelayanan yang diberikan oleh pemerintah dalam hal persalinan, baik yang bersumber dari Jampersal maupun Jamkesmas. Tentunya hal ini didukung oleh suami, karena dengan adanya persalinan gratis membuat beban ekonomi keluarga yang menjadi tanggung jawab utama seorang suami sedikit berkurang.

3.8.5. Peran Tenaga Kesehatan dalam Pelaksanaan Jampersal Sosialisasi Jampersal Sosialisasi Jampersal pertama kali dilakukan oleh pihak Dinas Kesehatan kepada pihak Puskesmas setelah juknis dari Pemerintah Pusat turun yaitu menurut keterangan dari pengelola Jampersal yang ada di tingkatan kabupaten turun pada bulan Juni 2011. Sosialisasi dari Dinas Kesehatan langsung ditujukan kepada puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dasar di masyarakat. Sosialiasi formal dengan cara pertemuan antar para kepala puskesmas dan menjelaskan mengenai program ini. Terlebih lagi sosialisasi ini harus dilakukan karena sebelumnya salah satu program pemerintah daerah dengan menggunakan APBD sudah ada terkait dengan pelayanan persalinan gratis. Dengan adanya Jampersal ini maka dana APBD tersebut dialihkan untuk pelayanan kesehatan lainnya, sedangkan untuk persalinan semua akan berpindah dengan menggunakan dana Jampersal. Sosialisasi terus diupayakan pemerintah daerah kota dalam hal ini Dinas Kesehatan supaya masyarakat yang menjadi sasaran program Jampersal ini mengetahui dan dapat memaksimalkan fasilitas yang telah diberikan. Namun Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar menyatakan bahwa sosialisasi program Jampersal ini selalu berbarengan dengan sosialisasi Jamkesmas yang ditekankan untuk golongan menengah ke bawah di Kota Makassar yang memang membutuhkan. Hal ini seperti diungkapkan oleh beliau berikut ini:
“masyarakat itu kan tau ada Jamkesmas, dari daerah juga ada Jamkesda. sosialisasi itu untuk Jamkesmas kami terus lakukan dan ga pernah berhenti.

311

karena pemahamannya harus terus kita lakukan, karena kan apalagi sasarannya memang orang menengah ke bawah. nah disitu ketika sosialisasi Jamkesmas, selalu juga kita masuk mengenai Jampersal.”

Sosialiasi pun dilakukan tentunya oleh pihak puskesmas sebagai pelayan dasar yang berhadapan langsung dengan masyarakat di wilayah kerjanya. Sosialisasi mengenai Jampersal ini juga terus menerus dilakukan oleh pihak puskemas, khususnya oleh para bidan yang memang berhadapan langsung dalam melayani para ibu. Pertama kali bidan mengenalkan program itu langsung dengan para ibu ketika dilakukan pemeriksaan. Selain itu puskesmas memiliki agenda rutin untuk mengadakan pertemuan di aula puskesmas yang dipimpin oleh kepala puskesmas dengan mengundang pihak dari Dinas Kesehatan, tokoh masyarakat dan bahkan lintas program untuk rapat koordinasi termasuk di dalamnya mensosialisasikan program-program kesehatan. Sosialiasi Jampersal juga tetap dilaksanakan oleh bidan puskesmas yang memiliki bidan praktek swasta. Meskipun pada dasarnya bps sifatnya lebih komersil namun bidan puskesmas pada saat praktek di tempatnya sendiri melihat jika ada pasiennya yang berasal dari golongan menengah ke bawah malah akan mengajak mereka untuk ke puskesmas dibandingkan mereka datang ke tempat mereka yang membutuhkan biaya. Seperti yang dikatakan bidan berikut ini:
“itu saya kadang kalau liat orangnya dari kalangan bawah saya selalu suruh dia ke puskesmas saja. Biar gratis daripada dia kesini, kan kalau disini pasti bayar meskipun saya juga tidak menentukan tarif, saya sesuaikan juga sama yang datang kesini.”

Selain itu dalam melakukan sosialiasi, puskesmas dibantu sekali dengan kehadiran para kader posyandu. Para kader yang juga biasanya terlibat juga dalam kegiatan PKK ini banyak memberikan sosialiasi secara informal pada saat pertemuanpertemuan PKK ataupun pada saat pengajian yang rutin diadakan. Pihak puskesmas khususnya para bidan sudah memiliki hubungan yang baik dengan para kader tersebut. Pelaksanaan Pelayanan KIA dengan Program Jampersal Pelaksanaan program KIA di Puskesmas Kassi-Kassi ini memang terpusat di Puskesmas Kassi – Kassi, meskipun untuk pelayanan kesehatan secara umum terdapat 3 pustu yang terletak di Keluruhan Karunrung, Buakana dan juga Balla Parang. Hal ini dilakukan karena para ibu tidak terlalu sulit untuk pergi ke puskesmas karena jaraknya

312

yang tidak terlalu jauh ditunjang dengan banyak nya kendaraan umum dan baiknya jalanan yang ada di lingkungan wilayah kerja puskemas ini. Pelaksanaan Program KIA sendiri sebelum ada program Jampersal itu sendiri diakui oleh para bidan sudah cukup tinggi dan baik pelaksanaannya, hal ini terjadi karena sebelumnya sudah ada program Jampersal dan Jamkesda yang sangat menolong sekali para warga, khususnya yang menengah ke bawah dalam mendapatkan pelayanan kesehatan KIA. Karena sudah tingginya angka program KIA tersebut maka kehadiran Jampersal memiliki pengaruh yang relatif kecil di masyarakat itu sendiri, peningkatan kunjungan ke puskesmas memang mengalami peningkatan namun tidak signifikan. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu bidan berikut ini:
“Gak ngaruh ada Jampersal gak ada Jampersal sama aja, sama-sama masyarakat ndak bayar.”

Namun tentunya hal ini berpengaruh kepada pihak puskesmas, khususnya bidan karena dengan adanya dana Jampersal ini membuat mereka merasa dihargai dengan dibayarnya mereka pada saat melakukan pemeriksaan atau melakukan persalinan, dimana sebelumnya mereka tidak mendapatkan apa-apa. Semakin banyaknya orang yang lari ke puskesmas karena ada pelayanan untuk ibu bersalin yang gratis juga diutarakan oleh salah satu bidan praktek swasta berikut ini:
“sekarang sejak ada program gratis, tempat praktek saya lebih sepi. Satu bulan paling hanya sekali persalinam, bahkan kadang tidak ada. Semua sekarang ke puskesmas saja karena memang tidak bayar.”

Selain itu untuk pelaksanaan program khusus ibu hamil dan bersalin ini juga terbantu karena adanya program posyandu bunda. Program ini semakin meningkatkan kesadaran ibu dan memudahkan ibu untuk melakukan pemeriksaan pada saat hamil hingga pemeriksaan bayi mereka hingga usia 2 tahun. Pengelolaan Pelayanan Jampersal Dalam mengelola pelayanan Jampersal ini, di pihak Dinas Kesehatan Kota Makassar ini sendiri berada di bawah tanggung jawab dari Bidang BIna Pengembangan Sumber Daya Kesehatan. Namun untuk verifikasinya ditunjuklah langsung Kepala Seksi Kesehatan Keluarga yang berada pada Bidang Bina Kesehatan Masyarakat. Sedangkan untuk tingkat Puskemas Kassi-Kassi berada pada Bagian KIA

313

dan KB dan ditunjuk lah salah satu bidan sebagai penanggung jawab program Jampersal ini. Bidan ini yang akan mengkoordinator seluruh bidan dalam proses pengklaiman Jampersal ke tingkat dinas. Kebijakan pengelolaan Jampersal di tingkat kota Makassar ini telah ditetapkan Berdasarkan Peraturan Walikota Makassar tentang ‘Petunjuk Teknis Pemanfaatan Dana Persalinan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat dan Jaminan Persalinan di Kota Makassar tahun 2012. Di dalam peraturan ini tertuang Komponen Tarif Pelayanan yang mengatur Besaran Tarif sekaligus Pengaturan Penggunaan. Dalam juknis ini disampaikan rincian pemanfaatan biaya persalinan yaitu sebagai berikut: 1. Rawat Inap Persalinan (3 hari) Akomodasi 2. Jasa Visit (3 hari) Visit Doktor Visit Kebidanan Jasa Medik Dokter Jasa Medik Bidan Rp. 10.000,-/hari Rp. 60.000,-/hari Rp. 140.000,-/orang Rp. 120.000,-/orang Rp. 60.000,-/hari

3. Tindakan Persalinan (Partus)

Sedangkan untuk rincian pemanfaatan ANC dan PNC, Puskesmas memiliki aturan yaitu dari total biaya ANC dan PNC tersebut adalah 35% untuk jasa bidan sedangkan 65%nya untuk jasa sarana dan ATK. Untuk proses pengklamian sendiri dilakukan setiap bulannya dan selambat-lambatnya dalam waktu 2 bulan sekali oleh bidan koordinator Jampersal.

3.8.6 Hambatan, Dukungan dan Harapan terhadap Program Jampersal Dukungan Dukungan dalam pelaksanaan Jampersal ini terdiri dari 2 macam, yaitu dukungan yang berasal dari penerima program dan dukungan yang berasal dari penyedia layanan, dalam hal ini puskesmas dan juga bidan. Berikut merupakan dukungan dari masyarakat itu sendiri dalam pelaksanaan Jampersal:

314

1) Pengetahuan yang cukup baik Seperti yang sudah dijelaskan di bagian sebelumnya, kebanyakan dari penduduk, baik laki-laki ataupun perempuan, memiliki pendidikan terakhir pada tingkat menengah atas. Hal ini menandakan bahwa pendidikan masyarakat sudah cukup baik, sehingga berdampak pada tingkat pengetahuan mereka mengenai kesehatan, termasuk kesehatan ibu dan anak. Pendidikan seorang ibu hamil yang cukup baik pada masa kehamilannya juga ditunjang oleh pendidikan suaminya yang juga cukup baik. Sehingga jika kedua orang tua atau calon orang tua tersebut samasama bekal pengetahuan yang cukup manakala seorang istri sedang hamil hingga pada masanya anak itu dilahirkan. Pengetahuan kesehatan yang baik ini membuat mereka memiliki kesadaran yang amat tinggi untuk melakukan pemeriksaan kesehatan baik itu ke puskesmas, pergi ke dokter ataupun langsung pergi ke Rumah Sakit yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Selain itu pengetahuan mereka akan kesehatan modern ini juga berdampak pada perilaku mereka dalam menjaga kesehatan, yaitu salah satunya adalah mengenai pantangan atau mitos-mitos tertentu dalam menjaga kesehatan ibu dan anak. Hanya tinggal sedikitnya masyarakat yang menjalani pantangan atau percaya pada mitos-mitos tersebut. Hal ini dikarenakan, selain memang budaya memang yang sudah hilang, juga dikarenakan masyarakat sudah dapat memilih apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Perilaku pantangan atau mitos yang pada dasarnya tidak ada hubungannya dengan kesehatan sudah banyak mereka tinggalkan, begitu juga dengan pantangan makanan tertentu tidak mereka jalankan apalagi makanan tersebut memang berguna dan memiliki gizi yang baik bagi ibu hamil. 2) Arus informasi yang kuat Kota Makassar yang merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia tentunya otomatis sarat akan masuknya sumber informasi dari mana saja, termasuk wilayah Kecamatan Rappocini. Saratnya sumbernya informasi tersebut menambah

pengetahuan ibu mengenai kesehatan itu dan juga informasi mengenai program pelayanan kesehatan ibu dan anak itu sendiri. Sebagian dari mereka mendapatkan informasi adanya keberadaan program Jampersal ini dari media massa, baik itu televisi maupun media cetak.
315

3) Adanya pertemuan-pertemuan ataupun Majlis Taklim yang Rutin diadakan Berdasarkan fgd yang dilakukan oleh para tokoh masyarakat, kegiatan PKK bagi ibu-ibu cukup berjalan aktif dilakukan di Kecamatan Rappocini ini. Salah satu kegiatan yang diadakan oleh ibu PKK ini adalah arisan dan juga pengajian atau majlis taklim yang diadakan seminggu sekali. Sehingga dari hal tersebut maka sosialisasi mengenai program-program untuk masyarakat cepat dapat disosialisasikan melalui pertemuanpertemuan informal tersebut. Selain itu setiap kegiatan posyandu akan diadakan, biasanya pengumuman bukan hanya dilakukan oleh kader kepada ibu yang bersangkutan, namun juga seringkali diumumkan sehari sebelumnya di masjid. 4) Aktifnya para kader posyandu Kader posyandu dalam wilayah kerja puskesmas Kassi-Kassi ini berjumlah kurang lebih 325 orang dan mayoritas terlibat aktif dalam melaksanakan tugasnya sebagai kader. Kader ini menjadi agen sosialisasi yang cukup baik dalam memberikan pengetahuan kepada sang ibu dalam penyuluhan-penyuluhan kesehatan. Selain itu kader juga selalu memberitahukan mengenai program-program yang ada di Puskesmas yang berguna bagi para ibu, sehingga informasi sampai ke masyarakat yang menjadi sasaran program puskesmas. Selain itu kader juga selalu siap menemani ibu untuk memeriksakan kesehatan jika tidak ada keluarga yang menemani. 5) Sarana Jalanan yang Baik dan Mudahnya Alat Transportasi Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh tim peneliti, maka dapat dikatakan bahwa jalanan yang ada di lingkungan puskesmas Kassi-Kassi dan juga wilayah yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi memiliki jalanan aspal yang sudah sangat baik. Jalanan yang baik ini membuat masyarakat mudah dalam melakukan pencarian kesehatan, khususnya untuk ibu dan anak. Sarana jalanan yang baik ini juga ditunjang dengan mudah atau banyaknya alat transportasi yang ada di wilayah ini. Banyak warga yang memiliki kendaraan pribadi, minimal sepeda motor. Untuk kendaraan umum, becak motor dapat ditemui hampir di setiap sudut jalan di wilayah ini, dengan harga yang relatif tidak mahal dan juga bentuknya yang cukup aman dan nyaman, kendaraan ini memang menjadi kendaraan

316

pilihan utama warga. Selain itu juga adanya angkot ataupun taksi juga sangat mudah untuk ditemui di wilayah ini Sedangkan faktor dukungan yang berasal dari penyedia layanan adalah sebagai berikut: 1) Fasilitas dan program puskesmas yang baik Puskesmas Kassi-Kassi merupakan puskesmas percontohan di Kota Makassar ini. Fasilitasnya cukup besar dan juga ada layanan rawat inapnya. Selain itu didukung dengan tenaga kesehatan yang jumlahnya sudah cukup untuk melayani masyarakat di wilayah puskesmas yang dapat dikatakan cukup banyak. Puskesmas ini juga memiliki program posyandu bunda selain program posyandu regular. Program posyandu bunda ini khusus untuk melayani ibu hamil hingga balita di bawah 2 tahun. Posyandu ini dilaksanakan rutin per bulannya di masing-masing posyandu di kelurahan. Program ini mempermudah para tenaga kesehatan untuk mengontrol dan melakukan pemeriksaan rutin kepada ibu dan anak. Dengan program ini juga ibu dipermudah dalam melakukan pemeriksaan karena tidak harus pergi ke puskesmas, cukup dengan pergi ke posyandu bunda tersebut. Selain itu karena ada fasilitas rawat inap, maka di puskesmas ini ada bidan ataupun perawat yang standby 24 jam. Ada nya shift kerja yang diterapkan agar membantu fasilitas rawat inap ini, sehingga mempermudah ibu yang akan bersalin. 2) Sudah Ada Program Persalinan Gratis Dari Pemerintah Sebelumnya Program Walikota Makassar terpilih mengenai persalinan bebas sudah berjalan dari tahun 2010. Jadi pada dasarnya masyarakat yang ada di Kota Makassar sudah cukup mengetahui bahwa ada persalinan gratis yang telah disediakan oleh pemerintah. Syarat persalinan gratis yang dahulu diterapkan pemerintah daerah juga mensyaratkan agar ANC ibu lengkap baru diberikan fasilitas persalinan gratis tersebut. Maka dari hal tersebut kesadaran masyarakat mengenai pemeriksaan rutin pada saat kehamilan sudah sangat baik. Ibu yang akan melahirkan pun sudah tidak segan untuk datang ke puskesmas.

317

Hambatan Dalam pelaksanaan Jampersal ada beberapa hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaannya yaitu antara lain: 1) Masih kurang pahamnya masyarakat mengenai program Jampersal Masyarakat kebanyakan hanya tahu bahwa ada program dimana persalinan digratiskan. Namun mereka pada dasarnya masih belum tahu dana bantuan tersebut dari pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat. Selain itu banyak masyarakat yang mengira bahwa Jampersal merupakan program yang hanya dikhususkan untuk persalinan saja tanpa tahu bahwa sebenarnya program tersebut untuk mulai dari ibu hamil hingga pada saat masa paska persalinan. Ketidaktahuan ini membuat masyarakat terkadang ragu untuk memanfaatkan fasilitas dari pemerintah tersebut dan malah memilih pihak swasta. 2) Banyaknya pendatang dan adanya arus migrasi Penduduk Rappocini adalah pendatang yang berasal biasanya dari kabupaten di sekitar kota Makassar. Terkadang pun kota Makassar ini dijadikan tempat persinggahan atau tempat sementara mereka. Hal ini pada akhirnya berimbas pada perilaku kia mereka, khususnya perilaku ANC. Dimana mereka tidak melakukan keempat kunjungan pemeriksaan kehamilan di tempat yang sama. Hal ini membuat bidan tidak bisa mengklaim hal tersebut karena tidak lengkap pemeriksaannya 3) Adanya gengsi di masyarakat Masih adanya rasa gengsi di masyarakat membuat program Jampersal tidak maksimal. Hal ini dikarenakan adanya golongan di masyarakat, khususnya golongan menengah ke atas yang lebih memilih ke faktor swasta karena adanya gengsi, dimana semakin bagus atau semakin mahal rumah sakit yang dijadikan tempat bersalin menunjukkan status ekonomi seseorang. Sehingga dari hal tersebut biasanya masyarakat tidak menggunakan fasilitas dari pemerintah yang ada di puskesmas sebagai pelayanan dasar, namun langsung pergi ke swasta.

318

Harapan Pada dasarnya masyarakat sudah cukup puas akan adanya program Jampersal ini. Pelaksanaannya pun dapat dikatakan cukup lancar dan yang terpenting menurut masyarakat dapat membantu mereka dalam proses kehamilan hingga proses persalinan. Meskipun para suami dan para tokoh masyarakat bisa dikatakan masih belum mengerti benar program mengenai Jampersal ini namun mereka merasa terbantu karena dapat membantu istri atau keluarga mereka dalam melakukan pemeriksaan kehamilan dan persalinan dimana mereka tidak perlu lagi sekarang mengeluarkan biaya sepeserpun. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu informan suami berikut ini:
“istri saya periksa kesini.Melahirkan disini. tidak bayar apa-apa. Ya saya senangsenang aja. Jadi saya sebagai kepala keluarga, yang cari uang tidak perlu pikirkan lagi itu uangnya bagaimana karena tidak bayar itu.”

Oleh karena itu maka masyarakat berharap bahwa program itu terus berjalan dalam waktu yang panjang dan terus diadakan dan bahkan mengalami peningkatan fasilitasnya. Meskipun sudah dirasa cukup akan pertolongan pada pemeriksaan ANC dan PNC serta persalinan namun ada informan yang mengatakan berharap bahwa ada fasilitas lain yang diberikan yaitu berupa makanan tambahan yang bergizi bagi ibu yang sedang hamil seperti yang diutarakan salah satu informan suami ini:
“itu kalau bisa, istri saya pada saat pemeriksaan dikasih makanan tambahan.”

Peningkatan tenaga kesehatan juga mereka harapkan lebih dapat ditingkatkan lagi, sehingga pada saat pemeriksaan, istri mereka lebih cepat dan tidak harus mengantri atau menunggu terlalu lama. Begitupun juga untuk rumah sakit yang menjadi rujukan semoga lebih baik dalam pelayanannya dan tidak menomorduakan pasien dengan menggunakan fasilitas Jampersal ini. Selain itu masyarakat masih merasa syarat untuk mendapatkan pelayanan Jampersal ini harus lebih dipermudah lagi. Selain syarat KTP ataupun KK, para suami berharap bisa menggunakan fasilitas ini dengan juga memakai KTP mereka.

319

Sedangkan untuk para bidan sebagai pemberi pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak, dan yang juga menjalankan program Jampersal ini mempunyai harapanharapan sendiri terkait dengan berjalannya program ini, harapan ini antara lain: 1. Untuk pemeriksaan ANC dan PNC tidak harus 1 paket selama 4 kali untuk bisa diklaimkan. Hal ini terkait dengan banyak tidak lengkapnya ANC dan PNC dari para warga. Dari total pemeriksaan ANC dan PNC biasanya hanya 10 hingga 20% saja yang bisa diklaimkan. Sedangkan sisanya berarti tidak bisa diklaimkan. 2. Besarnya tarif dalam setiap jenis pelayanan bisa lebih ditingkatkan. Hal ini dikarenakan dari tarif yang ada sekarang para bidan menganggap hanya mendapatkan porsi yang tidak begitu besar, sehingga mengharapkan adanya penigkatan tarif. 3. Syarat klaim agar dipermudah dan tidak terlalu rumit. Hal ini dikarenakan banyaknya pasien dan program yang berjalan di puskesmas ini, sehingga proses administrasi sebagai syarat klaim membutuhkan waktu sendiri dalam mengurusnya sedangkan bidan penanggung jawab Jampersal ini juga masih harus melakukan pemeriksaan rutin bagi ibu dan anak, sehingga kewalahan dalam melakukan proses administrasinya. Selain itu bidan ini juga berharap ada pelatihan dalam mengurus syarat-syarat klaim Jampersal ini seperti yang diungkapkannya berikut ini:
“Mungkin pengelola Jampersalnya mungkin apa gitu dibuatkan pelatihan apalagi biar tahu secara mendalam, meraba-raba saya soalnya selama ini. Ya itu jadi hambatan juga karena sebelumnya saya ga pernah kerja yang begini.”

4) Verifikator pada tingkat Dinas Kesehatan dapat bekerja lebih baik lagi. Selama ini verifikator meski sudah bekerja dengan baik namun mengalami kesulitan karena banyaknya proses klaim yang masuk dari berbagai puskesmas yang ada di Kota Makassar. Proses verifikasi klaim Jampersal membutuhkan waktu, sedangkan verifikator juga menjadi salah satu ketua subdit salah bidang di Dinas Kesehatan. Sehingga dari hal tersebut diharapkan agar dibentuk tim verifikasi yang lebih baik lagi, sehingga proses tidak terlalu lama dan hak bisa segera diterima oleh para bidan yang ada di puskesmas.

320

3.9. Puskesmas Parado, Kabupaten Bima Kabupaten Bima merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terletak di pulau Sumbawa, salah satu pulau di provinsi NTB. Kabupaten Bima termasuk salah satu Kabupaten dengan pemanfaatan dana Jaminan Persalinan (Jampersal) yang cukup baik sesuai dengan laporan yang terkumpul diDirektoratP2JK (Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan). Data yang tersedia di dinas Kesehatan Kabupaten Bima menunjukkan bahwa masih cukup banyak wilayah kecamatan dengan cakupan persalinan dengan bantuan tenaga kesehatan yag masih rendah. Dengan melakukan konsultasi kepada kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bima didukung data dan pengalaman pelaksana program kesehatan Ibu dan Anak dan penanggung jawab Program Jampersal ditetapkan kecamatan Parado sebagai lokasi penelitian. Salah satu wilayah tersebut adalah kecamatan Parado. Kecamatan dengan penggolongan termasuk terpencil dan ada salah satu desa yang masuk dalam wilayah sangat terpencil, menjadi sasaran penelitian.

3.9.1. Gambaran Umum Kabupaten Bima KabupatenBima adalah salah satu Kabupaten di provinsi Nusa tenggara Barat (NTB).Kabupaten Bima merupakan salah satu Daerah Otonom di Provinsi Nusa Tenggara Barat, terletak di ujung timur dari Pulau Sumbawa bersebelahan dengan Kota Bima (pecahan dari Kota Bima). Kabupaten Bima secara geografis berada pada posisi 117°40”-119°10” Bujur Timur dan 70°30” Lintang Selatan..Secara topografis wilayah Kabupaten Bima sebagian besar (70%) merupakan dataran tinggi bertekstur pegunungan, terdapat lima gunung di Kabupaten Bima, sementara sisanya (30%) adalah dataran rendah. Lahan kering mencapai lebih dari separo dataran rendah dan sekitar 14% terdiri dari areal persawahan. Dilihat dari ketinggian dari permukaàn laut, Kecamatan Donggo merupakan daerah tertinggi dengan ketinggian 500 m dari permukaan laut, sedangkan daerah yang terendah adalah Kecamatan Sape dan Sanggar yang mencapai ketinggian hanya 5 m dari permukaan laut.

321

Kota Woha adalah ibukota Kabupaten Bima yang memiliki luas wilayah 4.374,65, terdiri dari 7,22 persen lahan sawah dan 92,78 persen bukan lahan sawah. Kabupaten Bima wilayahnya terus berkembang. Berlakunya otonomi daerah memberikan dampak signifikan bagi Kabupaten Bima. Sejak tahun 2003, wilayah Kabupaten Bima terbagi menjadi 2, yaitu Kabupaten Bima dan Kota Bima. Jumlah kecamatan dan desa semakin berkembang, termasuk 9 Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT).Pada tahun 2005 Kabupaten Bima terdiri dari 14 kecamatan dan 153 desa, jumlah ini meningkat pada tahun 2009 menjadi 18 kecamatan dan 177 desa dan menjadi20 kecamatan dan 191 desa pada tahun 2012. Cuaca di wilayah Bima cukup panas dengan suhu rata-rata 27,6 derajat Celsius dengan curah hujan (data tahun 2009) secara rata-rata mencapai 85,5 mm per bulan. Wilayah Kabupaten Bima sebagian besar merupakan lahan Hutan Negara, yang mencapai 2 274,79 km2 ( 52 % dari total luas Kabupaten).

Gambar. 3.9.1. Peta Kabupaten Bima Koordinat: 118°44'–119°22' BT dan 8°8'–8°57' LS

Pendidikan adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pada tahun 2009, tercatat ada 666 sekolah di Kabupaten Bima. Menurut jenjang pendidikan, sekolah di Kabupaten Bima terdiri dari 459 Sekolah Dasar (SD), 138 Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan 69 Sekolah Menengah Atas (SMA), dengan rasio murid terhadap guru 10,55 artinya secara umum tiap guru mengajar 10 – 11 murid.

322

Jumlah penduduk Kabupaten Bima pada tahun 2009 sebanyak 420.207 jiwa. Jumlah ini meningkat 0,90 persen dari jumlah penduduk tahun 2008. Pertumbuhan penduduk tahun 2005-2009 menunjukkan trend meningkat dengan laju pertumbuhan di bawah satu persen. Piramida penduduk Kabupaten Bima tahun 2009 cenderung berbentuk kerucut dengan struktur umur penduduk tergolong penduduk muda. Hal ini menunjukkan telah terjadinya tingkat kelahiran yang tinggi di masa yang lalu tetapi kemudian diiringi oleh tingkat kematian bayi yang tinggi pula sehingga menyebabkan proporsi penduduk yang dapat hidup terus keusia dewasa dan menjadi tua lebih kecil. Dari piramida tersebut juga dapat dilihat bahwa proporsi penduduk wanita lebih tinggi dibandingkan laki-laki terutama pada kelompok umur 25-54 tahun.

Gambar. 3.9.2. Piramida Penduduk Kabupaten Bima Sumber: BPS Kabupaten Bima

Jika dilihat persebaran penduduk menurut kecamatan, terlibat penyebaran yang tidak merata. Kecamatan Sape memiliki jumlah penduduk paling banyak, sekitar 11,98 persen dari total jumlah penduduk Kabupaten Bima disusul Kecamatan Bolo dan Woha, masing-masing 9,97 persen dan 9,64 persen. Sementara itu, kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit (kurang dari 1 persen) adalah Kecamatan Lambitu yang diikuti oleh Kecamatan Tambora. Proporsi tenaga kerja terbesar berada di sektor Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan yaitu sebesar 69,10 persen dari total seluruh penduduk yang bekerja.

323

Pembangunan yang dilakukan di segala bidang pada dasarnya adalah untuk membentuk landasan dan struktur ekonomi yang kuat. Struktur perekonomian suatu daerah mencerminkan kekuatan dan sekaligus ketergantungan suatu daerah terhadap suatu sektor. Struktur perekonomian Kabupaten Bima masih didominasi oleh sektor pertanian yang memiliki peranan 50,14 persen. Pendapatan Per Kapita Penduduk Kabupaten Bima dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada Tahun 2009, pendapatan perkapita penduduk mencapai Rp. 3.373.653,- meningkat 5,38 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang besarnya Rp. 3.201.262,-.

Pelayanan Kesehatan KIA di Kabupaten Bima Terjadi trend peningkatan angka harapan hidup (AHH), dalam tahun 2007– 2009, penambahan usia harapan hidup menunjukkan telah terjadinya peningkatan kemampuan penduduk dalam memperbaiki kualitas hidup dan kualitas lingkungan. Peningkatan ini sebanding dengan peningkatan status sosio-ekonomi keluarga. Pada tahun 2009 AHH penduduk Kabupaten Bima mencapai 62,62. Ini berarti bahwa secara rata-rata seorang bayi yang baru lahir diperkirakan akan menjalani hidup selama 62,62 tahun. Akan tetapi, angka ini berada jauh dibawah rata-rata AHH Propinsi NTB. Puskesmas dan puskesmas pembantu tersebar merata di seluruh kecamatan, ditambah dengan dibangunnya sebuah RSU di Kecamatan Bolo. Pelayanan kesehatan di KabupatenBimadilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang tersebar di berbagai pelayanan kehatan, tersedia1 RSU Pemerintah, 40 puskesmas terdiri dari 14 puskesmas perawatan yang keseluruhannya disiapkan sebagai puskesmas PONED. Tersedia 73 pustu, 5 poskesdes dan 40 pusling serta 1780 posyandu untuk melayani seluruh penduduknya. Pelaksanaan pelayanan persalinan gratis sudah disosialisasikan oleh Bupati Kab.Bima sejak akhir 2010, tetapi saat itu masih dengan dana Jaminan Kesehatan Masarakat (Jamkesmas) yang bersumber dari dana Pusat dan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) dengan sumber dana dari pemerintah daerah. Jadi masyarakat yang tergolong miskin bisa bersalin dengan biaya gratis dengan menggunakan kartu Jamkesmas (dibiayai dari Pusat). Bagi masyarakat miskin yang tidak memiliki kartu

324

Jamkesmas ataupun Jamkesda, dapat memperoleh pelayanan gratis setelah meminta surat keterangan miskin agar bisa dibiayai oleh Jamkesda. Saat itu dilakuan sosialisasi terpadu dalam rangka bulan bakti gotong royong ke seluruh kecamatan dilanjutkan ke desa bahkan beberapa dusun. Selanjutnya sosialisasi dilanjutkan oleh puskesmas dan jaringannya termasuk melalui Kepala Desa/Dusun,Petugas Posyandu, termasuk pada saat kegiatan supervisi dan pembinaan dari Dinkes di masing-masing program yang dilaksanakan teradu 4 kali/tahun. Sosialisasi lintas sektor seperti rapat koordinasi tingkat kecamatan, rapat koordinasi tingkat desa yang dilakukan 4-5 kali/tahun. Kematian ibu maternal tidak terlihat perubahan rata-rata 9-10 kasus/tahun dengan adanya Jampersal. Diduga karena kualitas rujukan kurang, mekanisme rujukan masih rumit, faktor di luar kehamilan, sedangkan kematian bayi juga tetap dengan kasus lahir mati, BBLR dan ISPA. Masalah KIA menjadi perhatian di Kabupaten Bima karena masih kuatnya tradisi yang dipegang masyarakat. Masih ada masyarakat yang tabu melahirkan di bidan dan masih ada 1400 dukun dan jumlah ini masih lebih banyak dari jumlah bidan yang sekitar 500 orang melayani ibu hamil dan bersalin. Hal ini yang menyebabkan angka persalinan dukun masih cukup tinggi. Tercatat tahun 2011 linakes 68%, angka yang meningkat dari tahun-tahun sebelumnya bahkan menurut Riskesdas 2007 angka persalinan di Kab. Bima masih sangat rendah. Ketersediaan faskes masih kurang sedang kemampuan pendanaan pemerintah juga kurang untuk pembangunan. Ketersediaan lahan untuk pembangunan gedung cukup tersedia, oleh karena itu upaya yang dilakukan adalah dengan berusaha mendapat dana dari DAK (Dana Alokasi Khusus), PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat), dana bantuan dari luar negeri misal Jepang, dan dari perusahaan yang beroperasi di Bima. Saat ini PNPM mandiri sudah membantu sebagian pembangunan poskesdes sedang PNPM GSC (Generasi sehat Cerdas) belum padahal PNPM GSC lebih luas dalam pemanfaatannya tidak hanya untuk infrastruktur seperti pembngunan gedung. Saat ini sudah 117 desa dengan bangunan Poskesdes (Pos Kesehatan Desa) dari 191 desa yang ada di Bima, jadi masih tersisa 74 desa tanpa poskesdes. Menurut hasil wawancara dengan kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bima diperoleh informasi bahwa kemampuan DAK untuk membangun Poskesdes hanya 5-7

325

per tahun. Tahun 2012 ini PNPM membangun 4 poskesdes dan 1 pustu. Dinkes mencoba minta dana untuk daerah terpencil berupa peralatan medis untuk pokesdes. Saat ini semua puskesmas sudah diarahkan menjadi puskesmas perawatan karena banyak pemukiman penduduk yang jauh dari RS. Semua puskesmas sudah memiliki tenaga dokter bahkan direncanakan untuk menempatkan 2-3 orang dokter di setiap puskesmas perawatan. Puskesmas PONEK di Kabupaten Bima ada 4 yaitu di Kecamatan Sape, Moka, Bolo dan Bera. Tapi baru 2 (Sape dan Bolo) yang memiliki alat dan SDM yang cukup. Di KabupatenBima sudah ada 2 dokter spesialis obstetrikgenekologi dan 1 orang dokter spesialis anak, yang menjalankan tugasnya antara lain melakukan kunjungan untuk memberikan pelayanan dan konsultasi ke puskesmas PONEK 3 kali selama setahun. KB paska salin tidak menjadi hambatan meski ada yang mau tapi juga ada yang menolak tapi masyarakat sudah sadar. Justru ketersediaan alokon menjadi masalah karena pihak BKKBN tidak menyerahkan ke petugas kesehatan sehingga seringkali terjadi kekurangan alokon. Masyarakat juga masih harus membayar biaya suntik 10 ribu/kali suntik 3 bulanan dan implant sebesar 150 ribu. Padahal dari propinsi dan kabupaten, alokon dinyatakan gratis. Penyediaan secara gratis baru 100% terjadi saat pelayanan MOMEN (semacam safari KB). Penyuluhan KB paska persalinan terus digalakkan. Masalah sosial budaya seperti masih percaya dukun sudah tidak terlalu menjadi hambatan. Saat ini selain bidan sudah ada di desa, dukun sudah bermitra dengan bidan. Bahkan sudah didukung Peraturan Bupati yang mengharuskan bidan memberikan 30 ribu dari biaya yang diterima. Dukun meski masih ada tetapi tidak menjadi tujuan masyarakat. Persalinan ke dukun umumnya karena terpaksa misalkan bayi sudah keluar dan lokasi jauh dari faskes dan bidan. Masalah sosial budaya justru terkait dengan kecukupan gizi ibu maupun bayi/anak balita. Kasus balita KEK 23%, bumil KEK 12% yang terjadi karena masih ada perilaku masyarakat mengutamakan memberikan makanan kepada suami, ibu baru anak. Ibu hamil juga mengkonsumsi makanan yang jumlah kalori dan gisinya tidak ditambah selama hamil karena takut terlalu besar bayinya sehingga khawatir sulit keluar saat melahirkan. Hal ini juga dipicu kemampuan membeli makanan karena pendapatan per kapita masyarakat Bima masih

326

rendah dan harapan hidup masih di no.6 untuk NTB. Masyarakat juga konsumtif, lebih mengutamakan membeli barang daripada makanan untuk mencukupi gizi. Bahkan kesadaran anak adalah investasi. Status kepegawaian di Kabupaten Bima, adalah PNS, Honor daerah, PTT, sukarela. PNS daerah sangat sedikit karena kemampuan daerah rendah dalam menggaji PNS. Namun karena adanya upaya menempatkan dokter di puskesmas di daerah terpencil, dilakukan pengangkatan dokter secara otomatis untuk menjadi PNS. Sedangkan untuk bidan tidak ada status pegawai Honda (Honda digaji

Rp.400.000/bulan) karena bidan ada kesempatan untuk mendapat dana melalui Jampersal dan Jamkesmas/Jamkesda melalui peayanan KIA dan persalinan. Status pegawai sukarela: honor diperoleh dengan cara memberikan pelayanan, mereka mengejar status sebagai pegawai pemerintah dengan harapan bisa diangkat menjadi PNS Dinkes tetapi tidak ada janji untuk mengangkat maupun memberi gaji. Di tingkat puskesmas, mutasi pegawai sering terjadi dalam wilayah kecamatan. Mutasi antar kecamatan tidak banyak karena harus melalui ijin bupati. Seringnya mutasi menyebabkan hambatan ketersediaan tenaga. DiKabupaten Bima terdapat 357 bidan yang berdinas di puskesmas dan jaringannya. Mereka bekerja 24 jam sebagai bidan pemerintah sehingga tidak dikenal pelayanan Bidan Praktek Swasta (BPS) bagi bidan yang sudah bekerja di pemerintah Kabupaten Bima. Status bidan tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 golongan yaitu sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), Pegawai Tidak Tetap (PTT) dan pegawai sukarela (bekerja tidak digaji, bersifat sukarela mengabdi). Dari sejumlah 357 orang bidan terbagi menjadi 156 orang berstatus PNS; 81 orang PTT (74 PTT Pusat & 7 PTT Daerah) dan 143 orang sukarelawan (tidak digaji). Semua bidan yang ada di Kabupaten Bima di tampung sebagai pegawai oleh Dinkes, dan selama bertugas 24 jam sehingga mereka tidak diijinkan berpraktek swasta. Mereka bertugas 24 jam sebagai pegawai Dinkes. Pada awal Jampersal, LSM melakukan pantauan pelayanan, bahkan melakukan laporan ke Bupati bila ada bidan yang meminta biaya persalinan keada ibu yang ditolong. Ada beberapa orang dari etnis Cina atau Arab tidak mau memanfaatkan Jampersal, mereka bersedia membayar biaya persalinan kepada bidan sampai dengan 1 juta rupiah. Untuk kasus tersebut, agar

327

bidan tidak kena sangsi akibat dianggap meminta biaya persalinan, ibu bersalin tersebut membuat pernyataan bahwa mereka menolak menggunakan dana Jamkesmas. Hal ini terkait ancaman Bupati yang akan memecat mereka bila meminta biaya persalinan.

3.9.2. Gambaran Umum Kecamatan Parado Wilayah Kecamatan Parado berjarak 56 km dari Kota Bima. Parado termasuk daerah yang tergolong terpencil di Kabupaten Bima (Pemerintah Kabupaten Bima, 2011). Lokasinya di perbukitan dan untuk menuju ke wilayah tersebut dapat dilakukan menggunakan angkutan umum berupa bis ukuran kecil. Bis antar kecamatan tersebut dimanfaatkan untuk transportasi ke desa-desa yang dilewati. Dari kota Bima menuju kecamatan Parado melewati jalan pedesaan yang diaspal dengan baik. Sepanjang jalan yang dilalui cukup banyak masyarakat bersepeda motor yang lalu lalang. Bahkan saat melewati pasar Tente, semakin banyak orang lalu lalang dengan bersepeda motor. Benhur (kendaraan semacam pedati yang ditarik seekor kuda) tampak hilir mudik mengangkut penumpang maupun barang yang diperjualbelikan di pasar. Murid sekolah juga banyak memanfaatkan benhur untuk pulang dan pergi ke sekolah. Saat pulang sekolah, bis penumpang tampak penuh sesak. Di atas atap bis yang terbuka dengan sekitarnya dibatasi pipa segi empat mengelilingi atap bis, tampak penuh sesak dengan murid sekolah berseragam. Mereka tampak ceria duduk berdesakan sambil berbincang dengan teman tanpa mempedulikan bahaya yang bisa mengancam apabila jatuh dari atap bis. Di kiri kanan jalan tampak sawah terbentang dan di kelilingi perbukitan. Di sisi kanan jalan, sawah tampak menghijau sedang di sisi kiri jalan tampak sawah mengering karena tidak ditanami. Terlihat banyak bekas potongan batang padi di sawah yang dibiarkan mengering. Pengairan yang sebagian besar mengandalkan pengairan dari air hujan menyebabkan petani hanya bisa menanam padi satu kali dalam satu tahun. Namun pada sisi kanan jalan tampak hijau karena petani masih bisa menanam padi tiga kali setahun karena mereka memperoleh pengairan sawah yang diperoleh dari bendungan Pelaparado.

328

Melewati kecamatan Monta, jalanan mulai menanjak dan aspal jalan semakin banyak berkurang. Jalan yang berkelok-kelok dengan aspal jalan yang berlubang disana sini semakin menyulitkan mobil atau sepeda motor yang melewatinya. Batu kerikil yang lepas akibat ausnya aspal menyulitkan pejalan dengan sepeda motor. Ban mobilpun berputar dan selip akibat jalan yang sudah habis aspalnya tinggal kerikil yang semburat kesana kemari. Semakin mendekati kecamatan Parado, di kanan jalan terbentang hamparan cekungan dilingkupi bukit dan dam menjadi semacam danau yang luas dengan air di dalamnya. Terlihat tulisan pintu masuk bendungan Pelaparado. Bendungan dengan dinding tinggi menutup wilayah cukup luas yang menampung air hujan tersebut berada di wilayah Monta, meskipun sebagian ada di wilayah kecamatan Parado. Bendungan yang dibangun selama 5 tahun dimulai tahun 2005 dengan meledakkan sebagian sisi bukit, telah menelan korban saat pembangunannya. Air bendungan dimanfaatkan untuk mengairi sawah oleh petani di kecamatan Monta. Sedang petani di kecamatan Parado yang lokasinya lebih tinggi dari bendungan tidak dapat menikmati air pengairan dari bendungan. Perjalanan mendekati Kecamatan Parado jalan semakin menanjak. Di jalan terlihat kera-kera kecil berlarian dipinggir jalan atau melintas jalan. Mereka menunggu belas kasihan mobil yang lewat untuk melempar makanan. Di musim kering semacam ini (bulan September 2012) pohon-pohon buah tempat kera mencari makanan tidak berbuah sehingga kera-kera tersebut harus mencari makanan dari pemberian masyarakat yang melewati jalanan desa. Mendekati masuk wilayah kecamatan Parado, mulai tampak beberapa rumah di tepi jalan. Rumah penduduk berupa rumah panggung menjadi ciri khas rumah-rumah di Parado. Kecamatan Parado adalah pemekaran dari Kecamatan Monta Selatan pada tahun 2005.Para berarti kampung sedangkan do artinya Selatan, jadi artinya kampong di sebelah selatan. Kecamatan ini terdiri dari 5 desa yaitu Desa Parado Rato, Parado Wane, Kanca, Kuta dan terjauh Desa Lere. Lokasinya yang dataran tinggi dan daerah perbukitan menyebabkan daerah ini berhawa sejuk, bahkan pada tahun-tahun yang lalu sangat dingin dan bila pagi hari udara berkabut menyelimuti seluruh kecamatan. Namun sejak beberapa tahun terakhir, akibat illegal logging, udara semakin panas dan hawa dingin serta kabut sudah sangat berkurang. Kecamatan berpenduduk sekitar

329

9.000 orang menempati kecamatan dengan luas wilayah 25.31 km2. Wilayahnya mempunyai batas sebelah Utara: Desa Pela kecamatan Monta; sebelah Selatan: lautan Indonesia; sebelah Timur: desa Tolo Tangga kecamatan Monta; dan sebelah Barat: Kecamatan Hu’u Kabupaten Dompu.Secara terperinci jumlah penduduk disetiap desa dan kepadatan penduduknya adalah sebagai berikut ini:
Tabel.3.9.1 Jumlah Penduduk per Desa dan Kepadatan Penduduk di Kecamatan Parado Tahun 2010

NO 1 2 3 4 5

Desa Parado Wane Parado Rato Kanca Kuta Lere Jumlah Tahun 2009

Jumlah Penduduk 2.896 3.418 1.032 1.285 875 9.506 9.060

Jumlah KK 856 967 265 326 210 2.624 2.418

Kepadatan Penduduk 49,75 33,31 47,55 22,51 26,34 179,46 175,24

Sumber: Profil Puskesmas Parado Tahun 2010

Dari sejumlah penduduk tersebut, terdaftar sejumlah 4.232 yang memiliki kartu Jamkesmas dan 1.217 memilik kartu Jamkesda Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Melihat kenyataan tersebut dapat dikatakan bahwa jumlah penduduk Parado yang tergolong miskin cukup besar yaitu lebih dari 50%. Profil Puskesmas Parado tahun 2010, tercatat kunjungan puskesmas sebanyak 1.694 yang memanfaatkan kartu Jamkesmas atau Jamkesda.

330

Gambar3.9.3. Suasana Perumahan di Salah Satu Desa Kecamatan Parado Sumber: Dokumentasi Peneliti

Mata pencaharian penduduk sebagian besar adalah petani, pegawai negeri, pedagang dan wiraswasta. Parado yang terletak di daerah perbukitan, wilayahnya sebagian adalah perkebunan dan ditumbuhi pohon kemiri milik kehutanan. Sebagian lagi adalah kebun dan sawah pertanian milik penduduk. Daerah pertanian dengan wilayah perbukitan menyebabkan jarak rumah dan sawah menjadi cukup jauh dan sulit jangkauannya. Penduduk memilih menginap di dekat sawah bila saat menanam atau panen tiba. Mereka akan menginap beberapa hari di rumah sederhana di tepi sawah yang mereka bangun dan beberapa hari kemudian kembali ke rumah, demikian dilakukan berulang kali sampai pekerjaan mereka selesai. Sebagian penduduk yang ada di tepi pantai (Desa Lere dan Dusun Woro Desa Parado Wane) mencari nafkah dengan mencari rumput laut. Ada beberapa lokasi di desa Lere yang masyarakatnya mempunyai mata pencaharian mencari rumput laut di laut. Meskipun mata pencaharian ini lebih sulit karena mereka harus menetap di sekitar pantai agar lebih mudah mendapat hasil, sehingga terpaksa hidup terpisah dari perumahan penduduk. Cara ini kurang banyak hasilnya dibandingkan cara lain, tetapi diminati karena hasil bekerja mereka dapat segera dijual sehingga mereka segera mendapat uang kontan. Uang kontan tersebut dapat dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari. Pohon kemiri yang tumbuh di perbukitan, dapat mereka ambil bijinya dengan bebas. Biji kemiri merupakan tambahan penghasilan sebagian besar penduduk Parado. Saat biji kemiri mulai tua dan rontok, mereka pergi ke bukit dan menginap beberapa hari disana untuk memungut biji kemiri. Beberapa hari kemudian mereka pulang ke

331

rumah, dan kembali lagi ke atas bukit untuk memunguti biji kemiri. Demikian bolak balik mereka lakukan pulang pergi dari desa ke bukit bahkan sampai beberapa bulan untuk memungut biji kemiri. Biji kemiri berharga Rp. 5.000,- perkilo atau ada yang menjual per 100 biji. Pengambilan biji kemiri dilakukan dengan mengambil biji yang rontok dengan sendirinya. Atau memanjat ke atas pohon dan penggoyang cabangcabang pohon agar biji kemiri yang telah tua berjatuhan/rontok dan kemudian mereka memungutinya. Memelihara ternak sapi dan kambing merupakan salah satu matapencaharian penduduk. Binatang ternak ini menjadi investasi masyarakat. Ternak umumnya hanya dijual bila membutuhkan dana besar seperti untuk pergi haji, atau pendidikan anakanaknya ke perguruan tinggi. Mereka sangat membanggakan keamanan di Parado. Keadaan ini dibuktikan dengan binatang ternak baik sapi atau kambing yang mereka pelihara dengan cara dibiarkan berkeliaran secara liar. Binatang tersebut mencari makanan sendiri, tanpa dimasukkan kandang. Pemiliknya cukup memberi tanda binatang peliharaannya, dan mereka bisa mengambil ternaknya setiap saat dibutuhkan. Penduduk Parado berkomunikasi dengan bahasa Mbojo, bahasa daerah setempat yang digunakan dalam kegiatan informal.Bahasa Mbojo memiliki keunikan tersendiri. Dalam bahasa ini setiap kata tidak mengenal akhiran huruf mati, jadi setiap kata selalu berakhir dengan huruf hidup. Komunikasi antar karyawan di perkantoran, untuk hal–hal umum mereka bicarakan dalam bahasa mbojo, bahasa Indonesia baru digunakan bila berbicara formal dalam pertemuan atau bicara dengan orang luar. Sebagian besar masyarakat khususnya kaum muda yang pendidikannya lebih baik, umumnya bisa berbahasa Indonesia, namun untuk penduduk yang berusia tua dan tidak/jarang keluar dari desa cukup banyak yang tidak bisa dan tidak mengerti bahasa Indonesia. Penduduk Parado sebagian besar sudah melek huruf. Pendidikan menjadi perhatian masyarakat. Sarana pendidikan di kecamatan Parado adalah 6 buah Sekolah Dasar, 1 buah sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negeri, 1 buah SLTP, 2 buah Madrasah Tsanawiah, 2 Madrasah Aliyah, dan 1 buah Sekolah Menengah Atas. Menurut tokoh masyarakat, mereka malu bila mempunyai anak yang tidak lulus sarjana. Mereka

332

sangat bangga dengan pendidikan tinggi dan sangat membanggakan penduduk Parado yang sukses di ibu kota dan kota besar sebagai orang yang berpengaruh dalam pendidikan seperti professor, rektor dan orang berpangkat lainnya. Mereka menganggap pendidikan adalah kebutuhan utama yang harus diraih, sedang untuk kebutuhan lain mereka bisa menahan diri. Sebagian masyarakat masih menginginkan untuk bisa menjadi pegawai negeri, dengan anggapan status PNS lebih baik daripada pekerjaan lainnya. Untuk mencapai keinginan tersebut, mereka rela menjadi tenaga sukarela di instnsi pemerintah tanpa mendapat gaji sama sekali. Menurut pandangan tokoh masyarakat, penduduk Parado menunjung tinggi kejujuran. Terbukti, mereka tanpa kaekawatiran membiarkan hewan ternak (sapi atau kambing) untuk bebas berkeliaran mencari makan tanpa dikandang atau diletakan di area tertentu. Mereka cukup member tanda pada telinga ternaknya masing-masing dan tidak pernah dijumpai penduduk yang kehilangan ternaknya. Prinsip yang mereka pegang ‘Bila kita menghianati keluarga sendiri, maka milik kita akan hilang dengan sendirinya”. Masyarakat cukup baik sosial ekonominya. Kemampuan masyarakat terlihat dari kemampuan membiayai pendidikan anak-anaknya ke kota bahkan ke luar pulau. Menurut cerita para tokoh yang sudah tua, dahulu cukup banyak pendatang ke Parado (saat itu adalah kecamatan Monta Selatan). Atas kebaikan masyarakat setempat, pendatang diberi tanah (dipinjami) untuk digunakan bertani, bahkan ada tanah yang diberikan. Mereka diterima dengan senang hati oleh penduduk setempat dan diajak membngun Parado.

Gambar. 3.9.4. Benhur Angkutan Umum dengan Tenaga Kuda Sumber: Dokumentasi Peneliti

333

Sarana umum penunjang yang ada adalah pasar dan terminal angkutan yang terdapat di Desa Parado Rato. Terdapat 1 terminal kendaraan yang ada di Parado dan 1 buah pasar. Masyarakat menggunakan ojek sebagai angkutan umum dari desa ke desa dan RT. Cukup banyak masyarakat yang sudah memiliki sendiri sepeda motor untuk menjangkau tempat kerja, sekolah ataupun ke tempat umum lainnya. Untuk menuju kecamatan lain, ada bis antar kecamatan meskipun tidak banyak. Untuk mencapai tempat yang tidak terlalu jauh dalam desa, berjalan kaki sudah biasa dilakukan masyarakat. Perumahan penduduk pada umumnya mengelompok di sepanjang jalan desa yang sudah diaspal. Rumah penduduk rata-rata berupa rumah panggung terbuat dari kayu. Rumah jenis ini dirasa lebih sesuai dengan hawa dingin Parado. Rumah berjajar sepanjang jalan. Rumah yang cukup luas pada umumnya hanya terdiri dari dua kamar tidur, ruang tamu. Kamar mandi dan kakus pada umumnya adalah bangunan tersendiri yang terpisah dari rumah panggung. Bahkan sebagian masyarakat tidak memiliki kakus, dan membuang kotoran di kebun belakang rumah. Rumah pada umumnya dihuni oleh satu keluarga satelit. Pada awal pernikahan umumnya pasangan muda masih bergabung dengan orangtua, tapi lambat laun mereka berusaha untuk membuat rumah dan hidup terpisah dengan orangtua. Sarana perumahan sudah tersedia. Listrik yang sudah disediakan PLN, menerangi rumah-rumah secara penuh. Sejak januari 2012, listrik sudah terpasang 24 jam. Berbeda dengan sebelumnya, listrik hanya tersedia setelah magrib sampai dengan jam tujuh pagi. Bila sebelumnya penduduk mengandalkan listrik tenaga surya, seperti masih tampak pada sebagian rumah, kini mereka bisa menikmati aliran listrik tanpa ada giliran dan tidak terbatas waktu lagi. Air perpipaan sudah dapat dinikmati sebagian masyarakat. Air sumur juga mudah diperoleh meskipun ada sebagian harus menggali sumur agak dalam. Masyarakat Kecamatan Parado, sebagian besar adalah suku Mbojo, hanya sedikit pendatang dari luar Parado yang hidup, menetap di wilayah Parado. Hampir 100% masyarakat Parado beragama Islam. Masyarakat Parado seperti juga masyarakat Bima pada umumnya sangat agamis terlihat dari banyaknya masjid. Bahkan pada saat hari Jum’at saat shalat Jum’at jalan-jalan menuju masjid ditutup masyarakat dengan

334

memberikan barikade. Sikap agamis ini bisa kita dari kegiatan yang dilakukan masyarakat. Pertemuan-pertemuan ataupun kegiatan kesehatan memanfaatkan masjid. Pengumuman posyandu, dan undangan kegiatan lain dilewatkan siaran di masjid. Masjid juga banyak dijumpai diantara rumah-rumah penduduk. Masjid selain cukup banyak juga cukup besar. Bahkan dalam kegiatan formal di Dinas Kesehatan dan puskesmas, ada pertemuan rutin setiap jumat pagi berupa ceramah agama. Sedangkan kegiatan senam pagi dilakukan pada hari Sabtu pagi. Riwayat perkembangan Islam di Bima bisa dilihat melalui Museum Salahudin yang menempati bekas keraton. Di dinding museum, terpampang pakaian kaum wanita saat itu yang mengenakan semacam sarung untuk rok bagian bawah sedangkan bagian atas menggunakan semacam ninja yang menutup wajah. Perilaku agamis sudah mendarah daging, bahkan untuk menegur para gadis yang tidak berhijab daam suatu pertemuan, cukup dengan memberikan pandangan tajam saja kepada mereka. Cara berpakaian seperti yang diceritakan tersebut, masih dilakukan masyarakat di beberapa daerah tertentu khususnya di pedesaan. Pernikahan penduduk sudah mengikuti aturan pemerintah yaitu pernikahan minimal perempuan usia 19 tahun dan laki-laki 25 tahun. Sudah jarang remaja yang menikah muda. Mereka cukup sadar dengan tanggung jawab dalam rumah tangga. Kalau saat dulu menurut cerita tokoh masyarakat (dalam FGD)umumnya suatu keluarga memiliki anak sampai 6 orang, saat ini cukup 2-3 orang saja. Kesadaran berKB sudah cukup tinggi diantara para pasangan muda.

Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Kecamatan Parado Untuk memberi pelayanan kepada masyarakat Parado, pemerintah telah membangun Puskesmas Parado yang semula adalah puskesmas pembantu pada waktu daerah tersebut masih masuk sebagai bagian dari kecamatan Monta Selatan. Puskesmas ini terletak di tepi jalan besar. Gedung terlihat cukup besar dan luas, tetapi temboknya terlihat kurang terawat. Penduduk kecamatan Pardo yang terdiri dari 5 desa dilayani oleh puskesmas Parado yang berlokasi di desa Parado Rato. Puskesmas ini memiliki jaringan terdiri dari 2 puskesmas pembantu (Pustu) dan 3

335

polindes/poskesdes dan 14 Posyandu. Pelayanan kesehatan tersebut melayani penduduk di 15 dusun dan ada 1 praktek pribadi dokter (Kepala Puskesmas).

Gambar 3.9.5.Poskesdes Percontohan di desa Kuta, Kecamatan Parado (kiri) dan Salah Satu Polindes di Kecamatan Parado (kanan) Sumber: Dokumentasi Peneliti

Gedung puskesmas berdampingan dengan Kantor Kecamatan dan Kantor Dikpora (Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga). Puskesmas terdiri dari banyak ruang yang menjorok kedalam. Gedung puskesmas di bagian belakang memanfaatkan bekas ruang kelas gedung sekolah dijadikan ruang rawat inap dengan 5 (lima) tempat tidur. Ruang bagian depan adalah ruang-ruang untuk pelayanan rawat jalan dan pelayanan lain yang langsung berhubungan dengan masyarakat. Termasuk didalam kompleks puskesmas banyak gedung-gedung terpisah yang dimanfaatkan untuk rumah dokter (2 rumah), rumah untuk petugas puskesmas yang belum menikah, rumah kepala bagian Tata Usaha dan petugas kesehatan lain.
Tabel 3.9.2. Puskesmas Parado dan Jaringannya Tahun 2012 Desa Sarana Pelayanan Kesehatan Polindes/ Poskesdes 1 Pustu 1 1 1 3 1 2 Posyandu 4 5 2 2 1 14

No

Kepemilikan kartu Jamkesmas 60% 80% 100% 70% 100%

1 2 3 4 5

Paradowane Parado Rato Kanca Kuta Lere JUMLAH

Sumber: Profil UKBM Puskesmas Parado

336

Tenaga kesehatan yang melayani di puskesmas ada 32 orang terdiri dari 16 PNS, 3 PTT, 1 pegawai honorer dan 12 orang sukarela serta 1 orang tenaga kontrak. Polindes/Poskesdes dilayani oleh 1 bidan PTT dan 2 PNS dan 2 tenaga sukarela. Desa Lere termasuk desa terpencil.Kader kesehatan membantu kegiatan posyandu di desa dan tercatat ada 70 orang kader dengan jumlah kader aktif sebanyak 54 orang. Jumlah dukun ada 15 orang dengan 11 orang dukun terlatih (pernah mengikuti pelatihan). Ruang KIA yang ada di bagian tengah kompleks puskesmas diisi dengan tempat tidur persalinan. Kesan kurangnya kebersihan ruang terlihat dari barang-barang yang kurang rapi penempatannya, kayu tempat tidur yang berwarna putih kusam, dengan bercak-bercak darah mengering yang tidak dibersihkan dengan sempurna. Kurangnya kebersihan juga terlihat di ruang-ruang pelayanan serta rumah tinggal para petugas. Barang-barang tergeletak di lantai dan di sudut ruang, masih terlihat sampah yang dibuang sembarangan. Dalam hal ketenagaan,terlihat ada kekurang harmonisan secara internal, sehingga dalam hal ini menjadi hambatandalam penyelenggaraan pelayanan. Menurut pandangan Kepala Puskesmas yang sudah berdinas selama 4 tahun, ada beberapa tenaga puskesmas yang kurang mengikuti aturan puskesmas yang telah ditentukan dan disepakati.Pengangkatan tenaga bidan sukarela yang dilakukan akhir-akhir ini membantu penyelenggaraan pelayanan KIA di polindes dan mendekatkan jarak petugas kesehatan kepada masyarakat.

3.9.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak Kesehatan ibu dan anak di wilayah Puskesmas Parado tercermin dari hasil cakupan pelayanan KIA. Data tahun 2010 dari profil Puskesmas Parado, menunjukkan bahwa 55,56% atau 130 orang ibu yang persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan. Angka ini bahkan menurun dari tahun 2009 yang memberikan gambaran persalinan oleh nakes sebesar 60,94%. Sampai dengan September 2010 tercatat pasangan usia subur 1.163 pasangan, dan 732 diantaranya sebagai peserta KB aktif (62,94%). Namun angka ini belum termasuk data pasangan yang mengikuti KB kepada dokter praktek swasta dan bidan swasta. Gambaran ini adalah data terkini (tahun 2010) yang bisa

337

diperoleh dalam profil puskesmas. Tidak diperoleh data puskesmas Parado untuk tahun 2011. Nilai-nilai yang berkembang dalam Masyarakat tentang Ibu Hamil, Ibu Bersalin dan Bayi/Anak Menurut tokoh masyarakat (toma) atau tokoh agama (Toga), masyarakat sangat mengutamakan pendidikan. Mereka (tokoh masyarakat) akan merasa malu jika dalam keluarganya tidak ada yang berpendidikan sarjana. Dari tokoh masyarakat yang hadir pada FGD, sebagian besar memang mempunyai anak sarjana atau diri sendiri paling tidak berpendidikan D3. Pengadakan dana pendidikan menjadi prioritas utama, mereka menginvestasikan hartanya dalam bentuk hewan ternak, sawah atau ladang. Ternak akan dijual bila membutuhkan biaya untuk pergi haji atau menyekolahkan anak.

Gambar.3.9.6. Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama saat FGD Sumber: Dokumentasi Peneliti

Siklus kehidupan seseorang bermula dari lahirnya bayi, yang kemudian terus tumbuh menjadi anak bawah lima tahun (balita), remaja, dewasa, tua, dan meninggal dunia. Dalam kehidupan yang dijalani, individu tidak bisa lepas dari lingkungan sekitarnya mulai dari keluarga dan lebih luas lagi masyarakat. Dalam suatu keluarga yang umumnya terdiri dari ayah, ibu dan anak, terjadi interaksi antar anggota keluarga khususnya yang berdiam dalam satu rumah. Keluarga di kecamatan Parado pada umumnya terdiri dari keluarga inti. Tapi pada pasangan yang baru menikah, seringkali

338

mereka masih tinggal bersama dengan orangtua pihak suami atau pihak isteri, sesuai dengan kesepakatan keluarga. Kehamilan merupakan kondisi yang sangat diidam-idamkan pasangan yang menikah. Anak adalah harapan orangtua di masa datang sehingga harus dijaga secara hati-hati dengan memberikan perlakuan yang baik kepada ibu hamil baik secara psikis melalui lingkungan islami yang santun dan secara fisik melalui pemberian gizi yang baik dan lingkungan yang sehat. Berikut pernyataan seorang tokoh agama tentang tindakan yang seharusnya dilakukan oleh orangtua agar tidak berdampak terhadap anak dalam kandungan.
“……, orang tuh yang gimana, dia yang sedang hamil, dia melihat singa, akhirnya timbul bulu singa, anaknya..sudah fakta itu, tapi tak tahu mana yang benar ..makanya dalam kehamilan ini, dijaga makanan, minuman, dan semuanya diatur, supaya bayi yang dilahirkan nanti, sehat dengan sempurna. Kalau tentang makanan itu, makanan yang halal. Yaitu yang kita isi dalam perut, kalau kita ada..suami… kita cari, apakah dimana ini, kita harus tahu betul usulnya, makanya oleh semua itu, itu kehamilan yang berkaitan dengan agama. Karena ini adalah janin yang pertama, karena semua yang kita lahirkan yang pertama itu adalah sebagai harapan”.

Masyarakat memberikan perhatian cukup baik kepada perempuan hamil. Pembinaan kepada perempuan dan masyarakat pada umumnya tentang perawatan kehamilan selalu disiarkan melalui ceramah-ceramah agama, seperti pernyataan Bapak S yang menjabat sebagai kepala desa.
“melakukan sistem pembinaan,…....mulai dari ibu hamil, kami sebagai tokoh masyarakat itu di setiap hari Jum’at..di setiap ceramah-ceramah itu ada kata-kata yang menuju pada pembinaan …,..jadi ibu hamil itu dapat memahami dan mengerti arti kehamilan itu, ketika sedang hamil..tentunya dia akan memeriksakan kehamilan itu..dan itu hubungan kerja dengan kedokterankedokteran yang ada di Parado dengan masyarakat di lingkungan ini memang rutin dilakukan seperti itu..kemudian diluar kegiatan posyandu, juga dilakukan..ada pembinaan kesehatan yang disampaikan…”.

Dalam perkembangannya, ibu akan mengalami kehamilan selama 9 (Sembilan) bulan sampai pada akhirnya bayi dilahirkan. Isteri di kecamatan Parado, pada umumnya ikut bekerja membantu suami baik di sawah atau ladang dan mencari kemiri di hutan. Kehamilan meskipun ada perhatian berbeda tetapi dianggap bukan sebagai suatu peristiwa yang perlu perhatian terlalu berbeda. Pada saat kehamilan, pada

339

umumnya suami memberi perhatian yang lebih pada isteri. Perhatian ini lebih dari biasanya terutama pada kehamilan pertama dan setelah kehamilan tua (menjelang persalinan). Menurut suami dalam FGD diperoleh informasi bahwa suami memperingatkan agar isteri berhati-hati menjaga kehamilan, menganjurkan untuk makan makanan bergizi. Pekerjaan berat dilarang dilakukan bila usia kehamilan sudah besar (trimester 3). Tetapi pada umumnya ibu-ibu hamil tetap melakukan kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan seperti memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah dan membantu kegiatan di ladang. Bahkan sebagian ibu tetap ikut suami bermalam di kebun untuk mencari kemiri yang menjadi salah satu mata pencaharian mereka. Bapak SS memberikan pernyataan apa yang dilakukannya kepada isteri yang sedang hamil.
“Istri tidak oleh kerja terlalu keras. Pada waktu hamil nggak pergi ke sawah, Selama ini kasih sayang ibuk oleh suaminya, dia tidak suruh mengerjakan istrinya, dia di Posyandu katanya diperiksa kandungannya, mau mandi disinikan air kekurangan, biasanya ibu ini yang ambil air dan dia tidak kekurangan sambil memposisikan kondisi istrinya.”

Perlakuan istimewa tidak banyak diperoleh kaum ibu, kebiasaan bekerja keras tidak membuat mereka manja. Kegiatan rutin tetap dijalani. Mereka baru berhenti melakukan kegiatan sampai dengan menjelang persalinan. Ibu yang masih kuat beraktifitas akan tetap melakukannya, bahkan dipercaya aktifitas akan membuat persalinan berjalan lancar. Kehamilan meskipun sesuatu yang diharapkan tapi sebagian mesyarakat tidak ingin memperlihatkan kehamilannya. Masyarakat malu jika dibawa ke puskesmas pada siang hari karena malu dilihat orang. Kehamilan disembunyikan dengan tidak menceritakan bahwa kelahiran sudah menjelang. Hal ini dilakukan untuk menghindar dari orang jahat yg akan membuat kelahiran menjadi ‘sulit’. Kepercayaan terhadap halhal ghaib masih berkembang meskipun ritual-ritual agama juga dilakukan baik di rumah maupun masjid yang banyak dijumpai di desa. Dengan sifat kekeluargaan yang masih tinggi, masyarakat selalu ingin berpartisipasi dalam setiap peristiwa penting yang terjadi pada suatu keluarga seperti persalinan. Perhatian masyarakat kepada ibu bersalin terlihat dari perhatian mereka dengan berbondong-bondong mengantar ibu bersalin ke puskesmas.

340

“ Ya biasanya itu buk, yang melahirkan satu tapi yang mengantarkan itu sampai lima puluh orang. kebetulan juga kita dari rumah, airkan..kita disini kan kesulitan air buk. Tetangga-tetangga itu sudah mengambil air, sudah ada yang ini, mempersiapkan yang itu. Bukan hanya satu orang tapi semua seperti itu, jadi kayak arisan modelnya. Nanti kalau sudah disana, ada yang nyiapin air, pokoknya seperti itu sudah biasa.”

Kepercayaan yang masih berkembang Penduduk Kecamatan Parado yang merupakan daerah pedesaan memiliki ciri sebagai masyarakat desa seperti di kebanyakan lokasi lain. Ikatan kuat antar warganya dengan interaksi sosial yang intim serta menjunjung kebersamaan, masih terlihat dalam kehidupan masyarakat. Tradisi-tradisi leluhurnya masih dipegang kuat dan dilaksanakan meskipun sudah berkurang seiring dengan meningkatnya teknologi yang masuk dan tingkat pendidikan masyarakat yang meningkat. Terkait dengan kepercayaan yang berhubungan dengan KIA, masih cukup kuat berkembang dimasyarakat.Macam-macam pantangan, tabu, kebiasaan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak dikenal dan dipraktekan oleh keluarga-keluarga di sana. Meskipun dikatakan oleh tokoh masyarakat bahwa penddikan masyarakat sudah baik dan sudah banyak sarjana serta lulusan SMA (38,6% pendidikan SMA – sarjana), tetapi masyarakat masih banyak yang percaya kepada hal-hal yang tradisional dan ghaib.Kemungkinan hal ini terkait dengan masih tingginya pemahaman ‘benar’ tentang upacara. Ada 55.7% responden ibu yang menjawab bahwa upacara berpengaruh terhadap persalinan yang selamat. Dalam kehidupan masyarakat masih banyak proses kehidupan yang dikaitkan dengan mitos, pantangan, dan tabu. Dalam masa kehidupan seorang perempuan di Parado, berbagai ritual, tradisi, pantangan/tabu masih banyak dilakukan, secara terperinci di bedakan dari 3 yaitu masa kehamilan, persalinan dan pasca persalinan. Kenyataan ini didukung hasil survey terhadap 70 orang ibu yang melahirkan 1 tahun terakhir.

341

Tabel. 3.9.3 Responden yang melakukan Upacara Adat pada Saat Kehamilan, Persalinan dan Pasca Persalinan di Kecamatan Parado Siklus Reproduksi Kehamilan Persalinan Paca Persalinan “Ya” Melakukan Upacara 32,9% 27,1% 21,4%

Sumber: Data Primer

Masa Kehamilan. Masa kehamilan khususnya bagi perempuan yang baru pertama hamil, merupakan peristiwa yang dinanti-nantikan. Kehamilan sangat dijaga dan keluarga biasanya juga mendukung melalui berbagai pantangan yang harus dilakoni ibu hamil. Ada kepercayan yang berkembang bahwa ibu hamil tidak boleh keluar malam hari, kecuali ada kepentingan seperti periksa ke bidan.Keadaan ini terungkap dalam FGD dengan suami yang menceritakan hal-hal yang harus ditaati ibu hamil agar terhindar dari kesulitan.
“Setelah magrib, ibu hamil harus tinggal di rumah. Ibu hamil tidak boleh melewati kuburan. Umpama kita dari sawah ya, lewat gerbang pertanian sana ya”.

Kepercayaan terhadap makhluk gaib yang dapat mengganggu kehamilan dikenal masyarakat Parado. Untuk melindungi ibu hamil, mereka juga mengenal caracara tertentu. Daun tula merupakan daun yang dipercaya dapat menolak bahaya. Daun tersebut dibawa ibu hamil atau suami dan diletakkan di persimpangan jalan untuk menolak bala bagi ibu hamil, seperti dinyatakan seorang suami Bapak .
“Jadi kalau ada jalan yang apa namanya bercabang itu kata orang tua-tua dulu, itu menghindari setan dan lain sebagainya itu harus disimpan daundaunan itu, daun ‘Tula’, namanya. Jadi istilah daun Tula, jadi pagi itu disimpan”.

Daun tula harus diletakkan oleh perempuan hamil atau suaminya di cabang jalan.
“Di cabang, untuk tola balak supaya nggak diganggu-gangu lagi atau biar nggak diikuti.”

Masyarakat Parado masih percaya mistik dan takut dijampe-jampe orang yang tidak suka.Pertolongan dukun untuk menghindarkan dari makhluk gaib, dilakukan karena menganggap dukun mampu melakukan hal tersebut dengan cara disembur.

342

Upaya meminta tolong dukun dilakukan oleh isteri yang sedang hamil seperti diutarakan bapak JK.
“Kalau pas dukunnya itu tahu , suruh pakai...,biar dia sembur gitu sama di pinggangnya saja katanya. Kalau air nggak dikasih katanya, pas dibaca jampijampinya itu pas dia sembur itu disininya”.

Berbagai pantangan dan anjuran kepada ibu hamil pada umumnya dilakukan dengan harapan kehamilan dapat berlangsung dengan baik dan bayi serta ibu selamat sampai dengan persalinan. Meskipun tidak memahami makna dari pantangan, tetapi bagi ibu hamil yang mendapat ‘perintah’ dari orangtua atau keluarga, mereka akan mematuhinya. Tradisi Kiri Loko (nujuh bulanan) masih dikenal dan dilakukan sebagian masyarakat Parado. Tradisi tujuh bulanan ini juga bisa dijumpai pada berbagai etnik lain di Indonesia. Upacara ini dilakukan saat usia kandungan memasuki usia tujuh bulan. Pada usia kehamilan tersebut, janin dalam kandungan telah membentuk menjadi manusia yang utuh dan siap untuk dilahirkan dalam beberapa bulan ke depan. Tradisi ini dipercayamemberikan kekuatan dan semangat kepada calon ibu menghadapi peristiwa besar dalam hidupnya.Dalam prosesinya banyak menggunakan simbol-simboldan makna kehidupan dari setiap prosesnya. (Taufa, NI.2011) Berikut beberapa pantangan dan anjuran yang masih berlaku di masyarakat Parado:

343

Tabel. 3.9.4. Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Hamil di Kecamatan Parado Pantangan/Tabu
     Tidak boleh keluar rumah malam hari (setelah magrib) Tidak boleh mandi sore hari Tidak boleh mengikat rambut Tidak boleh potong rambut saat hamil Tidak boleh memakai kain/pakaian/handuk yang melilit badan/leher Tidak boleh duduk di tengah pintu Jika minum tidak boleh menyisakan air di gelas Tidak boleh minum menggunakan gayung Tidak boleh minum sprite Tidak boleh minum es Tidak boleh makan yang berminyak dan santan         

Anjuran
Sering jalan kaki di pagi hari Banyak jalan saat mendekati kelahiran Makan sayur segar lebih banyak Makan banyak buah Minum air tuak/air kelapa Makan lebih banyak Istirahat yang cukup Mandi 1 x sehari dengan waktu yang sama Jangan bekerja berat

     

Persalinan. Adanya kepercayaan terhadap mistik menimbulkan ketakutan ibu hamil menjelang bersalin dibawa ke puskesmas. Mereka menyatakan malu jika dilihat orang, padahal sesungguhnya mereka tidak ingin kehamilannya diketahui orang lain karena takut dijampe-jampe orang jahat. Pada saat menunggu persalinan, dukun juga melakukan tradisi seperti sapuru yaitu menyembur bagian tubuh tertentu dari perempuan hamil dengan ramuan yang dikunyah. Berbagai tradisi masih hidup di masyarakat. Tradisi minta maaf isteri terhadap suami dilakukan sebagai bakti seorang isteri dengan maksud agar nantinya persalinan berjalan aman dan lancar. Tradisi sempuru yang dilakukan oleh dukun bertujuan menghilangkan penat dan lelah (disemburkan ke punggung, pinggang dan kaki) serta di dahi agar mata tidak menjadi terganggu pandangannya. Ramuan yang dikunyah dan kemudian disembur, bervariasi tetapi pada umumnya adalah bahan ramuan yang bersifat panas seperti daun sirih, buah pinang, kapur, dan kadang masih ditambah jahe, bunga cengkih atau merica.

344

Tabel. 3.9.5 Ritual, Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Bersalin di Kecamatan Parado Ritual, tradisi, atau adat tertentu Pantangan/Tabu Anjuran
 Minum minyak kelapa pada saat proses persalinan  Minum kecap pada saat proses persalinan untuk merangsang sakit perut /kontraksi rahim  Minum madu dan kuning telor  Minum air do’a supaya melahirkan dengan selamat  Makan daun sirih  Banyak berzikir dan istigfar  Ibu bersalin minta maaf kepada suami  Tidak boleh mengikat dan kedua orangtua agar persalinan rambut agar anak tidak aman dan selamat ada lilitan tali pusat  Ujung rambut dimasukkan ke mulut ibu  Semua yang terkunci, sehingga ibu muntah, merangsang dibuka keluarnya placenta  Tidak boleh melilit kan handuk /sarung di leher  Sampuru: dukun menyembur ibu yang sedang dalam proses persalinan daun saat persalinan sirih, buah pinang dan kapur yang dikunyah. Disemburkan ke kening dengan maksud agar pandangan tidak miring (pusing). Menghilangkan sakit kepala saat bersalin.Disemburkan juga pada bahu, punggung, pinggang dan tumit  Memakai ramu-ramuan di kening untuk memberi rasa hangat pada tubuh ibu sehingga ibu tidak loyo dan mempercepat. proses persalinan (dapat juga dengan cara disembur dukun ramuan yang dikunyah disemburkan ke kening, bahu, pinggang, punggung dan tumit). Ramuan yang dipakai berupa: cengkih, jahe, merica.  Pintu rumah dibuka: dengan tujuan agar jalan lahir terbuka dan persalinan berjalan lancar  Suami menginjak kepala isteri 3 kali  Hangga lawa: minum air yang diberi do’a oleh dukun agar pintu lahir terbuka

Keterangan ( Bhs. Indo = Bhs Bima) Cengkeh = cengke; Merica = sahe jawa; Cabe jawa = sabia; Jahe = rea; Temulawak= temulawa; Kunyit = huni; Daun sirih = nahi; Kapur = afu; Pinang = U’a Sumber: Data Primer

Pasca Persalinan. Berbagai kepercayaan juga dilakukan masyarakat setelah terjadnya kelahiran.Di Masyarakat Parado yang sebagian besar (hampir seluruhnya) dari etnik Mbojo, bayi sebelum usia tujuh hari tidak boleh turun dari rumah. Bagi ibu melahirkan tidak masalah keluar rumah segera setelah melahirkan. Tradisi yang sudah sejak lama ada tersebut masih berlangsung sampai sekarang seperti penuturan seorang suami.
“Tradisi mungkin, sudah tradisi sejak dulu. Katanya sih nggak diperbolehkan, nggak tahu alasan apa juga, wong sudah ada di adat semua jadi, harus tujuuh hari tidak boleh di gendhong atau diluar, maksudnya diluar rumah. Hanya

345

didalam rumah aja.Iya ada, apa namanya doa takaran, doa pas dikasih nama ‘Sapisan’ itu tujuh kali baru bisa diturunkan dari rumah”.

Sebagai umat Islam, tradisi aqiqoh, yaitu menyembelih hewan kambing (1 ekor bagi anak perempuan, 2 ekor bagi anak laki-laki) dilakukan namun

waktupelaksanaannya tergantung kesiapan keluarga. Pada saat aqiqoh juga dilakukan pemberian nama. Ritual ini biasanya dilakukan bersamaan dengan dengan acara Cafisari, Bokasari dan Boru honggo. Menurut agama Islam sendiri kewajiban ini tidak harus dilakukan segera setelah lahir, tapi bisa menunggu kemampuan orangtua menyediakan kambing yang akan disembelih. Kerukunan warga terlihat pada saat berlangsungnya upacara adat, tetangga dan keluarga datang untuk membantu kegiatan selamatan tersebut. Keluarga ibu bersalin, memasak kambing yang disembelih dibantu tetangga dan keluarga. Disamping itu, kebiasaannya adalah memasak ketan sebanyak 20-30 kilo yang dimasak dengan santan. Masyarakat bergotong royong memasak, dan juga datang sambil membawa beras 1-2 kg untuk diberikan kepada keluarga yang baru mempunyai bayi.
“ …. disini juga ada istilah ‘Tikamii’, itu orang kayak arisan-arisan tadi itu. Jadi tiap rumah itu ada yang bawa beras ada yang satu kilo dua kilo, jadi dibawa. Nanti kalau ada acara rumah selanjutnya lagi, ya begitu lagi”.

Cafisariadalah salah satu upacara/kegiatan yang dilakukan di rumah ibu yang baru melahirkan. Upacara dipimpin oleh dukun bersalin, dilakukan pada hari ke 7 paska persalinan dengan tujuan membersihkan tempat bersalin/rumah ibu menggunakan beras kuning, air kelapa. Sejak saat itu, bayi sudah boleh dibawa keluar dari rumah panggung. Hidangan makanan untuk tamu yang selalu disajikan adalah nasi ketan. Saat itu, dukun diberi imbalan berupa ayam, beras atau uang, sesuai kemampuan keluarga.

346

Tabel. 3.9.6. Ritual, Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Pasca Persalinan di Kecamatan Parado Ritual, tradisi, atau adat tertentu
 Sempuru: dilakukan juga setelah persalinan. Pemberian bahan ramuan yang disemburkan dukun agar ibu tidak pegal-pegal, menghilangkan sakit kepala, atau agar pandangan tidak kabur.  Keramas ibu paska pesalinan : kelapa diparut diambil santannya, jeruk purut, temu giring, cabe jawa.  Bayi diadzani segera setelah lahir  Cafisari: upacara hari ke 7 kelahiran bayi  Bokasari: acara potong rambut, dilakukan pada hari 7 bersamaan dengan catisari.  Boru honggo: cukur rambut bayi pada hari ke tujuh  Bayi ditidur kan di atas alas kain tenun Bima sebanyak 7 lembar dan di bawah bantal biasanya disimpan benda tajam seperti pisau/keris  Aqiqah  Penggunaan bawang putih pada bayi dengan cara disematkan di baju menggunakan peniti, dengan maksud agar tidak diganggu makhluk gaib.

Pantangan/Tabu
 Bayi belum boleh keluar rumah sampai dengan tujuh hari  Tidak boleh keluar rumah sebelum 44 hari

Anjuran
 Ibu banyak makan sayuran segar seperti sayur bening agar air susu banyak keluar  Makan ramuan penghangat badan

Pengetahuan Masyarakat tentang Kesehatan Ibudan Anak Tingkat pengetahuan kesehatan dilihat berdasar jenis pertanyaan dapat dibagi 3 jenis yaitu pengetahuan tentang perawatan Kehamilan (Ante Natal Care = ANC), pengetahuan tentang persalinan dan pengetahuan tentang paska persalinan. Meskipun Parado termasuk kecamatan yang agak terpencil lokasinya, namun kepedulian masyarakat terhadap pendidikan cukup baik. Kecamatan Parado yang merupakan kecamatanpemekaran. Hasil survey menunjukkan tingkat pendidikan responden yang cukup baik yaitu38,6% berpendidikan SMA sampai dengan sarjana, 27,1% SLTP, dan 34,3% tamat SD ke bawah. Memiliki tokoh masyarakat yang aktif dalam bidang sosial termasuk kesehatan, melakukan penyuluhan melalui ceramah agama dan pertemuan lain.

347

“…… kita baru..2003 bu..mekar..baru beberapa tahun..tapi, puskesmas ini dibangun sebelum pemekaran kita..dengan kemitraan kita tokoh masyarakat itulah..ada istilah dulu..karena memang kita sadari, sebelum puskesmas ini datang, karena memang tingkat kehamilan ini..ibu hamil ini meninggal baik dia maupun bayi memang,…....tapi karena banyak faktornya, terutama dulu..pengetahuan,dan mereka belum sadar. Kalau awal-awal sulit bagi kami bu, karena teknologi saat ini belum dipahami..nah dengan kita dalam membuat ceramah agama.. hajatan...di khutbah dan pertemuan di beberapa kelompok masyarakat, kita sadarkan mereka..sehingga mereka sadar sendiri sekarang..mereka ke puskesmas..”

Pengetahuan masyarakat tentang kesehatan diperoleh dari berbagai cara, ada ibu hamil yang mengikuti pelatihan tentang kehamilan dan persiapan persalinan, atau melalui penyuluhan oleh kader yang dilakukan saat posyandu. Pengetahuan kesehatan diperoleh melalui penyuluhan yang ada di desa, seperti diungkapkan oleh tokoh masyarakat:
“Karena kan, apalagi sekarang dengan banyaknya penyuluhan kesehatan, dengan pertemuan tingkat desa serta aktifnya kader-kader ketika Posyandu dikasih penyuluhan. Bahkan ditiap-tiap Posyandu ada diadakan bubur PMT, jadi itu kan tidak hanya untuk anak-anak ibu-ibu sekalian ibu bidan memberikan juga misalnya penyuluhan-penyuluhan seputar dunia kehamilan, makanan apa yang harus dikasih dan sebagainya.”

Selain itu, perolehan informasi juga didapat dalam pertemuan-pertemun yang diselenggarakan oleh lintas sektor seperti disampaikan seorang tokoh agama.
“saya itu juga selalu aktif didalam mengikuti rapat lintas sektoral. Untuk penyuluhan yang berkaitan dengan bayi yang meninggal, kemudian nikah dibawah umur dan lain sebagainya yang diadakan oleh Puskesmas itu buk”.

Kehamilan.Pengetahuan ibu tentang pemeriksaan kehamilan terbukti cukup baik. Pengetahuan tentang pemeriksaan hamil diketahui dari 63 orang ibu yang disurvei atau 76,7 persen memiliki pengetahuan yang benar yaitu memeriksakan kehamilan paling tidak 4 kali selama kehamilan. Data ini mendukung hasil FGD dengan suami yang sangat mendukung isteri untuk memeriksakan kehamilan di posyandu, bahkan sebagian suami mendukung dengan mengantarkannya. Pada saat periksa di posyandu mereka mendapat tablet tambah darah yang menurut pengakuan diminum 2 kali sehari meskipun sering lupa mengonsumsinya. Namun adanya rumor yang tersebar di masyarakat tentang dampak minum tablet tambah darah dapat menganggu perilaku minum tablet tambah darah pada ibu hamil.

348

Rumor yang berkembang adalah ‘kalau minum tablet besi kepala bayi besar’. Rumor tersebut bila tidak diimbangi dengan informasi yang benar dapat menganggu cakupan pemeriksaan kehamilan yang sudah baik yaitu 98,6 % (n=70) ibu menerima pelayanan tenaga kesehatan untuk perawatan kehamilan. Pemahaman tentang pentingnya pemeriksaan tekanan darah sudah terungkap dari data survey ibu, terbukti 96,7% mempunyai pengetahuan yang benar bahwa pengukuran tekanan darah penting dilakukan saat pemeriksaan kehamilan untuk mendeteksi adanya resiko kehamilan. Namun sayang tidak cukup banyak ibu yang mempunyai pengetahuan ‘benar’ bahwa imunisasi Tetanus Toxoid seharusnya diberikan sebelum kehamilan dan bukannya setelah persalinan karena hanya 40% responden yang memberikan jawaban dengan benar. Persalinan. Pengetahuan masyarakat melalui tokoh masyarakat/tokoh agama dan suami pada FGD menunjukkan hasil cukup baik karena mereka mendukung bahwa kemampuan bidan lebih baik daripada dukun. Pengetahuan ini didukung data survey ibu yang menunjukan bahwa 90% responden memiliki pengetahuan ‘benar’ bahwa bidan mampu menolong dengan lebih aman dibandingkan dukun. Namun masyarakat tampaknya masih menyukai untuk melahirkan di rumah. Pernyataan ini didukung dengan data pengetahuan yang menunjukkan bahwa 52,9% reponden (ibu) memiliki pengetahuan yang benar bahwa melahirkan di rumah tidak sama amannya dengan melahirkan di fasilitas kesehatan. Pasca Persalinan. Aktifitas pasca persalinan baru boleh dilakukan setelah 3 hari, ternyata pernyataan yang ‘salah’ ini dijawab oleh 75,7% responden (70 orang), demikian pula tentang larangan makan ikan laut, dijawab dengan salah oleh47,1 %. Artinya, hanya 52,9% saja dari responden yang mengetahui bahwa setelah bersalin, ibu boleh saja mengonsumsi ikan laut. Masih ada anggapan bahwa mengonsumsi ikan laut akan berdampak buruk bagi ASI.

349

Sikap Masyarakat tentang Kesehatan Ibu dan Anak Hasil survey ibu menunjukkan bahwa sikap ibu yang mendukung upaya pemeriksaan kehamilan, pesalinan dan pasca persalinan adalah sebagai terlihat pada tabel di bawah ini:
Tabel. 3.9.7 Sikap Terhadap Pemeriksaan Kehamilan, Persalinan Dan Pasca Persalinan, Kecamatan Parado Pernyataan Sikap Mendukung (%) 1. PEMERIKSAAN KEHAMILAN Penting periksa hamil 4 kali Penting ukur tensi Perlu tablet tambah darah Perlu upacara agar selamat 2. PERSALINAN Setuju lahir di rumah tidak sama aman dengan lahir di RS Setuju kemampuan dukun tidak sama baiknya dengan bidan 3. PASCASALIN ASI beda dengan madu Penting kolostrom untuk bayi Perlu KB pasca nifas 47,1 74,3 75,7 52,9 25,7 24,3 47,1 50,0 53,9 50,0 77,1 97,1 42,9 35,7 22,9 2,9 57,1 64,3 Tidak Mendukung (%)

Kehamilan.Masyarakatrata-rata tidak memberikan perlakuan istimewa kepada ibu hamil, tetapi sikap mereka khususnya suami dan anggota keluarga sedikit berbeda pada ibu hamil khususnya di awal dan akhir kehamilan. Bila bisanya isteri selalu membantu di suami memungut buah kemiri, ataupun bekerja di kebun, namun saat isteri hamil biasanya isteri tidak diajak tinggal di hutan. Kebiasaan untuk mengajak isteri tinggal di hutan beberapa waktu untuk memungut buah kemiri juga sedikit dikurangi atau ditinggalkan, dengan maksud agar isteri yang hamil dapat beristirahat di rumah. Seorang suami Bapak LK menyampaikan perlakuannya terhadap isteri yang sedang hamil.

350

”Ndak kita bawa istri, ….. tapi kalau jaman dulu itu kita bawa istri berkebun, sekarang juga nggak. Disana sudah ada kemajuan jaman lah, sudah tidak bawa istri berkebun. ….. Ndak, iya 4 bulan itu sampai 4 bulan itu aja, tapi kalau sudah sampai 4 bulan ndak. Artinya 2-3 hari sampai 4 hari itu pulang lagi. Nanti balik lagi jadi bisa tidur dirumah”.

Kesadaran pentingnya pemeriksaan kehamilan sudah diketahui oleh sebagian besar suami. Oleh karena itu, mereka mendukung upaya isteri memeriksakan kehamilan dengan cara selalu mengingatkan istri agar mentaati jadwal pemeriksaan. Mereka memprioritas waktu pemeriksaan ibu hamil dengan memberi kesempatan istri untuk memeriksakan diri di posyandu atau poskesdes yang dekat dengan tempat tinggal mereka. Bagi mereka yang kebetulan sedang tinggal di hutan atau kebun beberapa hari untuk bekerja, pada hari jadwal posyandu isteri diminta segera pulang untuk pemeriksaan kehamilan. Berikut pernyataan tokoh masyarakat yang menyampaikan kebiasaan masyarakat di desanya.
“Yang di pikirkan oleh Petugas Kesehatan itu apabila mereka ada jadwal Posyandu kan, mereka nggak tahu jadwalnya Posyandu. Ya kadang-kadang sudah mau jadwal Posyandu hari ini mereka baru kembali ke kampung besuk”.

Kebiasaan di Parado, ibu hamil tetap pergi ke sawah juga mengambil kemiri di hutan sampai dengan umur kehamilan tertentu atau sampai ibu merasa sudah tidak kuat lagi, seperti disampaikan seorang tokoh agama.
“….Sampai umur enam bulanan. Kalau biasanya disini itu, dari pagi sampai sore itu suaminya ke sawah. Kalau istrinya itu pekerja rumah, ambil air semua itu istrinya”.

Persalinan.

Perhatian

masyarakat

kepada

persalinan

sangat

baik.

Kegotongroyongan dan kepedualian tinggi untuk mengantar ibu ke tempat bidan seperti disampaikan seorang bidan. “Kalau disana masyarakatnya antusias sekali, misalnya kalau ada kelahiran itu
bisa ribut banyak-banyak orang lalu mereka antar panggil bidan gitu”.

Khususnya bila ada komplikasi sehingga harus dirujuk, biasanya mereka akan berbondong-bondong mengantar ke Rumah Sakit (RS). Demikian juga saat pulang, mereka juga akan datang menjemput.
“Ya biasanya itu buk, yang melahirkan satu tapi yang mengantarkan itu sampai lima puluh orang. kebetulan juga kita dari rumah, airkan..kita disini kan kesulitan air buk. Tetangga-tetangga itu sudah mengambil air, sudah ada yang ini, mempersiapkan yang itu. Bukan hanya satu orang tapi semua seperti itu, jadi

351

kayak arisan modelnya. Nanti kalau sudah disana, ada yang nyiapin air, pokoknya seperti itu sudah”.

Bila persalinan normal, biasanya mereka hanya tinggal satu hari di puskesmas, langsung pulang. Mereka akan mengunjungi rumah ibu bersalin sambil membawa air yang diperoleh dari orang tertentu yaitu air yang sudah diberi do’a sebagai upaya menjaga kehamilan dan persalinan agar berlangsung aman dan selamat.
“….dirumah mereka bawa air”

Masyarakat menyadari pentingnya pengaturan jumlah anak melalui kepesetaan KB. Masyarakat melalui suami setuju dengan KB, kalau itu merupakan persyaratan Jampersal. Sebagai masyarakat agamis Islam, mereka menganggap tidak ada masalah dengan KB, lagipula adanya tokoh masyarakat seharusnya mendukung upaya pemerintah.Rata-rata penduduk sudah menggunakan KB, walaupun ada yang memiliki anak lebih dari 4 orang. Pelayanan KB diperoleh dari bidan, namun seorang suami menyatakan bahwa isterinya menggunakan KB IUD tetapi tidak cocok dan terjadi perdarahan per vaginam.
“Saya kira nggak ada ibuk, justru tokoh-tokoh agama harus ngasih contoh, maksudnya karena anaknya sudah selang tiga tahun empat tahun. Saya, jarak anak saya dari yang kedua dan yang ketiga itu sebelas tahun.”

a) Praktek/Tindakan Kesehatan Ibu dan Anak Praktek pelaksanaan pemeriksaan kehamilan, persalinan dan pasca persalinan tidak lepas dari pelayanan oleh bidan dan dukun. Berikut ini hasil pelayanan yang diterima oleh ibu dari bidan dan dukun.
Tabel. 3.9.8. Pelayanan yang Diterima Responden dari Bidan dan Dukun di Kec. Parado Jenis Pelayanan oleh Bidan ‘Ya’ Terima Jenis Pelayanan oleh Dukun ‘Ya’ Terima Yan Bidan Yan Dukun Periksa Kehamilan Persalinan Rawat Pasca Salin KB Pijat Bayi Buat Jamu Ibu Upacara 97,1% 97,1% 82,9% 72,9% 18,6% 4,3% 0,0% Periksa Kehamilan Persalinan Rawat Pasca Salin Jamu Ibu Rawat bayi Buat jamu Bayi Upacara 78,6% 20,0% 8,6% 17,1% 42,9% 10,0% 20,0%

Sumber: Data Primer

352

Keberadaan puskesmas, barulah dikenal semenjak pemekaran pada tahun 2003. Puskesmas yang semula adalah puskesmas pembantu telah dikembangkan menjadi puskesmas perawatan dengan memanfaatkan bekas gedung sekolah yang berada satu kompleks dengan gedung pustu. Puskesmas dilengkapi dengan polindes/poskesdas dan posyandu sebagai temat pelayanan KIA.
Gambar 3.9.7 (samping) Seorang ibu dengan bayinya di atas tangga rumah. Gambar 3.9.8 (bawah) Rumah Panggung Sumber: Dokumentasi Peneliti

Kehamilan. Pemeriksaan kehamilan ke bidan dilakukan hampir seluruh ibu yang disurvei (97,1%) namun tidak menghapuskan kebutuhan untuk memeriksakan diri ke dukun yang ternyata dilakukan oleh78,6% responden. Pemeriksaan dilakukan kepada keduanya, baik bidan dan dukun karena kebutuhan yang berbeda. Kepada bidan, mereka memerikakan secara medis yaitu periksa tekanan darah dan mendapat obat. Kombinasi pemeriksaan ini dikemukakan seorang suami saat diskusi dpada FGD.
“Setiap bulan periksa ke bidan saat posyandu atau poskesdes, selain itu juga dibawa ke sando”

Keberadaan dukun yang dekat dengan rumah ibu kemungkinan menjadi penyebab masyarakat memanfaatkan jasanya. Informasi ini didukung data survey ibu yang menunjukkan alasan memeriksakan kehamilan ke dukun karena tradisi (30%), percaya (21,4%), anjuran orangtua atau suami (10%) dan arena rumah dekat (8,6%) dianggap hanya mampu ditangani oleh dukun.Pemeriksaan kehamilan ke dukun masih banyak dilakukan perempuan hamil di Parado bahkan dilakukan secara rutin seperti pengakuan seorang suami.

353

“Periksa ke dukun sejak usia kandungan dua bulan, satu kali sebulan periksa”.

Persalinan. Para suami dan tokoh masyarakat menyatakan bahwa masyarakat sudah sangat percaya terhadap bidan sebagai penolong persalinan. Persalinan dengan penolong akhir bidan sebanyak 97,1%, namun bila ditelusur kepada penolong pertama, ternyata dari jumlah tersebut 20% dengan penolong pertama dukun. Hal ini mungkin terkait dengan kebiasaan masyarakat untuk mengundang dukun terlebih dahulu bila ibu merasakan persalinan sudah menjelang. Ada kemungkinan bahwa 20% ibu tersebut lahir ditolong dukun, sedang pemotongan tali pusat dilakukan oleh bidan. Hal ini terkait pengakuan bidan yg menyatakan banyak dukun terlambat memanggil saat ada persalinan.
“ di sini juga ada, mau melahirkan panggil dukun..baru panggil bu bidan.. ”,

Demikian pernyataan bapak R seorang tokoh masyarakat, dan diperkuat pernyataan bapak TY seorang suami dengan anak 3 orang. “ya...dukun terlatih juga..dulu memang..sebelum..kita jauh dengan puskesmas
induk, jadi disini kan ada dua penilaiannya..pada bidan..dan juga dukun..tapi ada juga..ada beberapa orang yang masih percaya tentang keberadaan dukun terlatih itu..ya kita panggilkan, supaya sama-sama…”.

Meskipun masyarakat sudah condong memilih bidan sebagai penolong persalinan, namun rumah masih menjadi tempat persalinan yang dipilih.Persalinan di rumah seperti di Desa Lere yang terpencil masih banyak diminati masyarakat khususnya yang lokasi rumahnya jauh dari Poskesdes. Ada beberapa alasan lain mengapa melahirkan di rumah, seperti rasa malu dsb. Seperti dinyatakan suami bernama BT.
“ jadi lihat lihat sikon Bu, biasanya kalau memang kondisinya ibu baru satu-dua kan malu..sehingga kadang-kadang melahirkan di rumah saja..sehingga bidanbidan ini yang datang…”.

Kenyataan ini bisa dilihat dari hasil survey dengan ibu (n=70) di Parado, ternyata 68 orang bersalin ditolong bidan, dan sebanyak 42,9% melahirkan di rumah, 35,7% di rumah bidan/polindes/poskesdes, 17,1% melahirkan di puskesmas dan 4,3% di RS. Bidan juga mendukung kenyataan tersebut tahun 2010 akhir masih jarang ibu yang melahirkan di sarana kesehatan, lebih banyak persalinan dilakukan di rumah, dan kondisi ini mulai bergeser sejak tahun 2012, seperti dituturkan Bidan H.

354

“Ya kalau disini memang persalinan itu, terbanyak itu di rumah. kalau akhir..,eh
kalau awal 2012 baru banyak yang disarankan di Kesehatan. Kalau dulu mungkin pemahaman itu masih kurang apalagi disini jadi dari pendidikan itu masih sangat awam. Jadi pengetahuan mereka itu masih belum terlalu tahu untuk melahirkan dirumah. Dulu aja kita harus bertengkar,karena pernah ada kejadian kita baku saling apa sih saling tarik sarung itu kan saya minta sama bu Mil nya inpartu itu ayo melahirkan di sarana kesehatan kita melahirkan di Puskesmas”.

Perubahan ini terjadi setelah para bidan bahu membahu melakukan upaya kemitraan Dukun dan bidan dikoordinir oleh bidan koordinator puskesmas serta meningkatkan kesadaran ibu hamil melalui kelas penyuluhan yang dilakukan di poskesdes/polindes seperti dituturkan seorang bidan dalam FGD. “Ada juga bantuan, karena ada persalinan gratis juga dan ada dana bantuan dari
dana BOK juga kita adakan kelas ibu seperti itu. ……, Itu ada kita kumpulkan ibuibu hamil, nah itu kayak kita kasih apa ya penyuluhan untuk mau melahirkan dengan bidan, melahirkan di sarana kesehatan. Jadi sedikit-sedikit pemahaman akhirnya alhamdulillah banyak kalau awal 2012 ini rata-rata melahirkan di sarana kesehatan ”.

Pasca persalinan.Setelah persalinan berlangsung, banyak hal yang harus dilakukan keluarga antara lain merawat bayi yang baru lahir dan mungkin ibu belum mampu melakukan aktifitas sehari-hari. Sebagaimana anjuran dalam kesehatan, ibu pasca persalinan harus memeriksakan diri ke tenaga kesehatan paling tidak 4 kali. Hasil data survey ibu di Parado menunjukkan bahwa 82,9% ibu memeriksakan diri sebanyak 1-4 kali pasca bersalin, sedang yang memeriksakan >=4 kali sebanyak 18,6%. Neonatus yang diperiksakan 1-3 kali sebanyak 88,6%. Bukti tersebut menunjukkan bahwa kesadaran ibu-ibu terhadap kesehatan dirinya sendiri dan bayinya sudah cukup baik. Pengaturan jumlah anak melalui kepesertaan sebagai akseptor KB cukup disadari oleh sebagian suami. Data survey menunjukkan 70% ibu mengikuti KB pasca persalinan (kurang dari 42 hari setelah persalinan).

3.9.4. Faktor Sosial Budaya terkait Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal Masalah kesehatan ibu dan anak baik kematian maupun kesakitan sesungguhnya tidak lepas dari sosial budaya serta lingkungan dimana ibu dan anak tersebut berada.Faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsep tentang berbagai pantangan, anjuran, ritual, hubungan sebab akibat makanan dengan sehat-

355

sakit, kebiasaan, memberikan dampak positip atau negatip. Masyarakat tradisional, konsep budaya dapat dilihat dari perilaku berkaitan dengan kesehatan yang berbeda dengan konsep modern yang berkembang. Sebagai contoh konsep modern yang menekankan menyusui konsep ASI eksklusif selama 6 bulan tanpa pemberian makanan lain selain ASI. Berbeda konsep tradisional suku tertentu yang bisa menggantikan ASI dengan air kelapa muda atau air madu dan memberikan makanan padat pada usia bayi yang masih dua bulan dengan tujuan agar bayi kenyang dan tidak rewel. Perilaku budaya ini tidak lepas dari unsur-unsur budaya yang ada seperti pengetahuan, geografi dan kependudukan. Dari gambaran sosial budaya yang ada di kecamatan Parado, dapat digambarkan situasi wilayah yang diperkirakan

mempengaruhi perilaku terkait kesehatan ibu dan anak dalam peta berikut.

Gambar. 3.9.9. Peta Lokasi Dukun dan Sarana Kesehatan di Kecamatan Parado

356

Pengambilan Keputusan Sebagai masyarakat yang masih kental dengan budaya lokal, penduduk Parado merupakan masyarakat dengan sikap terhadap agama yang masih sangat kuat.Penghormatan terhadap orangtua masih sangat baik. Tokoh masyarakat menjadi tempat mencari nasehat terkait dengan keputusan yang ingin diambil di tingkat keluarga atau di tingkat masyarakat. Masih banyak yang mengacu aturan orangtua dalam bertindak. Mereka,khususnya pasangan muda dan yang masih tinggal bersama orangtua selalu mengikuti saran orangtua dalam pengambilan keputusan baik tentang kesehatan maupun non kesehatan.
“….. dalam keluarga otomatis ya, kalau ada orang tuanya, ya orangtua..kalau ada ibu, ya ibu…..”

Sedikit berbeda dalam rumah tangga yang mandiri, pada umumnya keputusan dalam rumah tangga adalah berdasar mufakat suami isteri dalam berbagai hal termasuk dalam perawatan kehamilan, menentukan penolong persalinan dan perawatan paska persalinan. Dalam melakukan upaya perawatan kehamilan, biasanya istri melakukan sendiri dengan melakukan pemeriksaan ke bidan di posyandu atau polindes. Bentuk perhatian suami pada saat isteri hamil hamil antara lain mengingatkan isteri untuk memeriksakan diri ke posyandu, tidak mengerjakan pekerjaan berat seperti mengangkat air untuk keperluan rumah tangga, melakukan pekerjaan kebun yang ringan saja, istirahat yang cukup dengan memperhatikan jam tidur. Suami juga menganjurkan istri yang sedang hamil agar mengkonsumsi sayur dan buah. Beberapa suami menyatakan mengetahui isterinya mengikuti pelatihan ibu hamil yang diselenggarakan oleh bidan di polindes. Penentuan bersalin di fasilitas kesehatan seringkali sulit dilakukan oleh karena adanya anggapan bahwa bersalin ke faskes bisa menyebabkan persalinan dalam keadaan gawat. Hal ini terkait dengan pengalaman sebelumnya yang diketahui masyarakat, padahal menurut bidan hal tersebut terjadi akibat pertolongan dukun yang akhirnya terlambat merujuk.
“Iya itu juga mungkin dari biayanya juga mikirnya tapi kita juga kasih penjelasan seperti ini. Jadi kalau mereka itu kalau ke Puskesmas itu memang pengalaman dari dulu-dulu. Kalau sudah dalam keadaan yang sangat gawat sekali baru mau ke

357

sarana kesehatan. Jadi itu kebawa terus, jadi kalau dia ke sarana kesehatan, berarti dia sudah gawat. Itu pikirannya”.

Pengambilan keputusan bahkan bisa terjadi karena keadaan. Sebagai contoh ibu G semula sudah berencana melahirkan dengan bantuan bidan tapi kemudian tetap ke dukun karena rumah dukun lebih dekat dibanding rumah bidan. Meskipun persalinan ditolong dukun, tetapi ibu G tetap memeriksakan kehamilan ke bidan, hal ini karena pemeriksaan kehamilan waktunya bisa diatur sedang persalinan bisa terjadi sewaktu-waktu.
“Gampang kalau melahirkan semuanya ketiga anaknya ini, mudah katanya makanya dia langsung ke dukun itu, karena dekat juga, …..sebetulnya sudah ada keinginan ke bidan”.

Pengambilan keputusan dalam pemilihan penolong persalinan maupun perawatan kehamilan dan pasca persalinan tidak bisa lepas dari keberadaan dukun dan bidan yang merupakan tokoh kunci pelayanan KIA. Oleh karena itu keberadaan dukun dan bidan perlu dikupas lebih dalam lagi. Dukun dalam Pandangan Masyarakat Dukun masih cukup banyak dijumpai di kecamatan Parado. Di 5 desa yang ada, jumlah dukun masih cukup banyak yaitu 17 orang dukun aktif. Jumlah yang cukup besar dibandingkan dengan jumlah bidan yang ditugaskan di desa yang hanya berjumlah 5 orang. Dukun masih diharapkan dan dibutuhkan masyarakat karena masyarakat sudah biasa pergi ke dukun, seperti terungkap dalam FGD dengan Tokoh Masyarakat.
“Karena sudah ada kebiasaan dari dulu untuk pergi ke dukun, tapi untuk periksa ke Puskesmas juga masih. Kadang-kadang kalau mereka ada dirumah, baru ibunya itu ada gerak-geraknya bayi itu pasti ke dukun, karena bidan itu jauh. Yang lebih dekat karena dukun itu kan juga terlatih, tidak sembarang ke dukun kan itu.”

Dukun pada masa lalu memperoleh pelatihan dari puskesmas sebagimana pengakuan dukun S yang mendapat pelatihan pada tahun 1997. Dukun yang ada pada umumnya adalah dukun yang sudah lama berpraktek, tidak ada dukun baru yang muncul. Berdasar wawancara dengan dukun S, diperoleh informasi bahwa dukun yang pernah mendapat pelatihan dari puskesmas, diberi peralatan untuk persalinan seperti gunting, sarung tangan dan lainnya yang masih tersimpan dengan baik. Dukun terlatih

358

ini merupakan orang-orang yang dipercaya masyarakat mempunyai kemampuan yang cukup seperti disampaikan bapak G:
“Pada dasarnya semua nggak ada yang keberatan, karena dukun itu ada yang terlatih, ya dilatih oleh Puskesmas itu. “

Menurut pengakuan dukun, sejak tahun 2011 (sejak ada Jampersal), mereka sudah tidak menolong persalinan lagi kecuali terpaksa. Dukun membantu bidan dalam pertolongan persalinan. Dukun biasanya dihubungi terlebih dahulu oleh keluarga ibu yang akan melahirkan, barulah bila saatnya telah tiba, atas petunjuk dari dukun keluarga atau dukun atau kader akan menghubungi bidan.Saat awal tersebut, dukun akan menunggu ibu menjelang persalinan sambil mengamati perkembangan proses persalinan. Bila dirasa sudah waktunya maka bidan baru dihubungi. Hal ini karena menurut anggapan masyarakat dukun mempunyai kemampuan mendeteksi kapan persalinan akan terjadi. Berikut penjelasan dukun tentang tanda-tanda

inpartu(menjelang persalinan).
“ Mau lahir kalau telah keluar lendir campur darah yang kental, pinggang terasa pegal dan sakit, ….. “

Bila tanda-tanda tersebut sudah dirasakan ibu, maka saatnyalah untuk memanggil bidan. Sarana hp menjadi penghubung utama antara dukun, bidan dan ibu bersalin untuk saling berkomunikasi.

Gambar 3.9.10. Peralatan Persalinan Dukun yang Diperoleh Saat Pelatihan Sumber: Dokumentasi Peneliti

359

Gambar 3.9.11. Seorang Sando (Dukun Bersalin) dengan Alat Menginangnya Sumber: Dokumentasi Peneliti

Pemanfaatan dukun atau Sando pada saat persalinan diduga terus berlangsung karena kebiasaan setempat disamping peran dukun terkait ritual menjelang persalinan dan kesediaan untuk menunggu ibu, seperti diutarakan seorang tokoh masyarakat.
“….dan sedikit untuk membantu..ya namanya di Parado ini ada sistim manunggu..ketika orang sedang..akan melahirkan..bersama dia melihat pada saat proses melahirkan, tidak malu mereka, ya dibantulah oleh bidan-bidan itu….”

Terkait dengan pemanfaatan dukun, kenyataan tersebut sesuai dengan alasan yang berhasil dikumpulkan dari hasil survey kepada ibu yang melahirkan dalam kurun waktu 1 tahun terakhir. Para ibu (55 orang) melakukan pemeriksaan kehamilan ke dukun dengan alasan terbanyak karena percaya kepada dukun (38,2%) dankarena tradisi (27,3%). Dari gambaran tersebut menunjukkan bahwa keberadaan dukun masih melekat erat dalam kehidupan masyarakat melalui tradisi yang dianut masyarakat. Kemampuan dukun dalam melakukan kegiatan tradisi sudah mulai berkurang seiring kepercayaan masyarakat yang semakin meningkat kepada bidan. Masalah persalinan biasa diselesaikan dukun dengan jampe-jampe dan memberikan ramuan tradisional seperti diungkapkan seorang dukun saat diwawancara.
“Sekarang sudah tidak memberi jampe-jampe lagi, karena sudah diberi obat puskesmas”.

Ramuan yang dipergunakan untuk mempercepat lahirnya bayiterdiri dari air, madu (2 sendok makan), kuning telur (1 buah) dan merica (7 butir). Ibu dalam proses persalinan akan disembur dengan sirih, pinang, kapur sirih, cengkeh, merica dan jahe yang dikunyah dukun. Bahan-bahan tersebut, setelah dikunyah,disemburkan ke kening, perut dan pinggang. Kebiasaan ini walaupun mulai berkurang tetapi masih

360

dilakukan. Dukun S yang menyatakan bahwa giginya sudah tidak kuat lagi menyatakan tidak lagi mampu mengunyah bahan-bahan ramuan untuk disemburkan. Ketrampilan dukun dalam mengatur posisi bayi dalam kandungan menjadi salah satu alasan memanfaatkan dukun. Seorang suami menyatakan pernah memanggil dukun untuk membetulkan posisi bayi dalam kandungan isterinya.
“Pernah, memang pernah tapi saat itu, sekitar tujuh bulan atau delapan bulan kadang kan anak-anak itu kan juga sudah gerak-gerak. Takutnya anaknya apa atau bagaimana akhirnya ke dukun itu. Untuk memposisikan posisi bayi”.

Dukun dirasakan masyarakat sangat ringan tangan karena mau datang setiap hari membantu keluarga yang melahirkan. Dukun memandikan dan membersihkan bayi selama 20 hari atau tergantung kebutuhan ibu bersalin. Biaya yang harus dibayarkan kepada dukun juga tidak mahal, bahkan bisa dibayar bila sudah ada uang atau saat pelaksanaan selamatan. Penuturan seorang ibu yang persalinannya ditolong menggambarkan betapa sangat fleksibel pembayaran untuk dukun yang diduga merupakan mengapa masih banyak orang memilihnya.
“Iya, tidak bayar….. pas tujuh hari pas waktu selamatan itu di kasih nasi ketan sama pisang gitu. Dibersiin sama dukunnya itu sama dua puluh hari, ibu sama bayinya.

Mereka dengan ikhlas membantu tanpa mengharap imbalan berlebihan. Mereka mau datang setiap hari walaupun nantinya hanya diberi ketan dan pisang pada saat selamatan 7 hari dan uang ala kadarnya.Alasan lain memilih jasa dukun antara lain karena kedekatan rumah serta kesediaan dukun untuk menunggu ibumenanti saat saat persalinan sampai dengan setelah persalinan.
“Iya katanya kalau sama dukun itu di tungguin, sama dukun itu sampai lahir.”

Berikut ini beberapa dukun dengan pengalamannya dalam menolong ibu hamil dan bersalin: (1) Ina SI(Ina = ibu), berusia sekitar 70 tahun sangat bangga menceritakan perannya sebagai dukun merangkap kader kesehatan. Salah seorang puterinya sekarang juga menjadi kader kesehatan. Selama ini pilihannya menjadi dukun adalah karena ingin membantu orang dan menyenangkan orang lain agar mendapat pahala sebanyak-banyaknya. Masalah rejeki yang diperoleh dari menolong ibu melahirkan, bukanlah tujuan utamanya. Oleh karena itu, Ina SI tidak pernah menentukan besaran biaya dari ibu atau keluarga yang ditolongnya.Masyarakat
361

pada umumnya memberikan makanan atau beras atau gula dan bahan kebutuhan sehari-hari sebagai imbalan jasanya merawat ibu dan bayi sebelum dan setelah persalinan. (2) Ina O. Diawal menjadi dukun atau sando, pernah mendapat pelatihan dukun di rumah sakit sekitar tahun 1992. Bahkan, beliau juga memiliki peralatan (dukun kit) yang masih disimpan dengan rapi. Peralatan berupa gunting, alat timbangan bayi, benang, 2 sarung tangan digulung dalam kain blacu yang disimpan di tas plastik. Alat-alat tersebut masih tampak terawat dengan baik. Bila “terpaksa” harus menolong ibu yang melahirkan, untuk memotong tali pusat digunakan gunting yang disiram air panas kemudian diikat dengan tali yang sudah disediakan. (3) Dukun S, adalah seorang dukun yang sudah berusia cukup tua yaitu sekitar 75 tahun. Mekipun tua, badan kecilnya masih terlihat sehat dan kuat menaiki tangga rumah panggungnya. Saat ini sudah tidak terlalu aktif menjalani aktifitas sebagai dukun. Adanya bidan di desa telah mengurangi tanggung jawabnya menolong ibu yang melahirkan. Tugasnya saat ini lebih pada menunggu ibu yang sudah inpartu yaitu yang sudah merasakan perut yang ‘kencang’ karena akan melahirkan, dan merawatnya setelah persalinan selama 7 hari. Selain menyucikan placenta bayi, dan membersihkan ibu dan bayi dari darah persalinan, tugas lain adalah melakukan sempuru saat persalinan dan setelah persalinan. Beberapa pengalaman diungkapkan dukun dalam menolong membetulkan posisi bayi dalam kandungan yang tidak normal. Posisi akan diatur sehingga diharapkan nantinya ibu bisa melahirkan dengan mudah dan posisi kepala di bawah. Seorang dukun menyatakan bahwa Ina dukun pernah didatangi ibu hamil 7 bulan yang posisi bayinya dengan bokong di bawah. Dilakukan pengaturan letak/posisi bayi dalam perut beberapa kali. Upaya tersebut berhasil, terbukti ibu tersebut melahirkan dengan posisi kepala bayi keluar terlebih dahulu. Menurut pengakuan dukun, upaya memutar atau letak/posisi bayi dalam kandungan bisa dilakukan karena masih 7 bulan. Bila sudah menjelang persalinan (9 bulan) upaya memutar letak bayi sudah tidak mungkin dilakukan lagi. Dukun lain bahkan menceritakan pengalaman menolong bayi dengan letak bokong, dan bisa dilahirkan dengan selamat. Bahkan ada yang lahir dengan tangan

362

keluar, lalu dilakukan tindakan ‘reposisi’memasukkan tangan dan memutarnya sehingga bayi dapat lahir dengan selamat. Keberanian dukun meolong persalinan dibuktikan dari pengalaman seorang dukun (Ina O) yang menyatakan pernah memasukkan tangan (merogoh) kedalam rahim ibu setelah melahirkan. Tangan yang telah dibungkus sarung tangan masuk sampai setengah dari lengan bawah, dan mengambil placenta yang tidak bisa lahir karena tali pusat tiba-tiba putus dan masuk kedalam rahim. Dengan upaya merogoh tersebut, plasenta berhasil dikeluarkan. Dukun menyatakan bahwa keadaan ibu baik-baik saja dan selamat. Meskipun ada beberapa kesulitan, namun dari dukun-dukun yang diwawancara menyatakan belum pernah mengalami persalinan yang berakhir dengan bayi dan ibu meninggal dunia. Pada umumnya mereka menyatakan, dengan do’a -do’a maka keselamatan ibu dan bayi menjadi terjaga. Minuman berupa air yang telah didoakanoleh dukun juga banyak dimanfaatkan untuk melancarkan persalinan. Di desa Lere yang letaknya terpencil dan dikelilingi bukit, dikenal seorang dukun laki-laki. Dukun ini satu-satu dukun yang ada, sehingga bila tidak ada bidan maka masyarakat terpaksa meminta bantuannya. Dalam pertolongan persalinan, dukun AB tidak berhadapan langsung dengan ibu yang sedang dalam proses melahirkan. Bapak AB akan memberi petunjuk kepada ibu dan keluarga yang menunggu, tentang apa yang harus dilakukan dalam proses persalinan. Selanjutnya bila bayi dan placenta atau ari-ari telah lahir maka bapak AB akan memotong tali pusat bayi. Di kalangan masyarakat, bapak AB dikenal sebagai orang yang bisa memberikan do’a secara langsung atau melalui air bagi ibu yang akan melahirkan. Beliau juga melakukan ritual sembur atau biasa disebut ‘Sempuru’ kepada ibu melahirkan dengan cara mengunyah daun sirih, kapur, buah pinang, jahe, cengkih merica. Semua bahan tersebut bersifat panas, dikunyah kemudian disemburkan ke dahi, pinggang, punggung dan ujung kaki dengan tujuan agar ibu yang menjelang melahirkan tidak ‘layu’ (lesu, lemas). Kadang menjelang persalinan, ibu diberi minuman jamu terdiri dari telor dan madu yang dipercaya akan menguatkan kontraksi rahim. Berikut pengalaman ibu KH saat saat melahirkan anak pertama dibantu bapak AB.
“… saya diberi petunjuk untuk mendorong bagian atas perut saat perut kencang (kontraksi). Setelah bayi lahir dan ari-ari keluar, pak AB yang potong tali pusat bayi”

363

Jadi dalam pertolongan persalinan ini, dukun tersebut tidak mengikuti proses persalinan secara langsung, dia hanya melakukan ritual ‘sempuru’ dan memberikan air yang telah diberi do’a. Kebiasaan ini berlangsung selama bidan desa kosong pada perode tahun 2010-2011. Setelah ada penempatan bidan, masyarakat memilih mengundang bidan saat melahirkan. Saat ini di desa Lere sudah dibangunkan Polindes, sehingga masyarakat sudah dapat memanfaatkan untuk persalinan. Sebagian lagi memilih mengundang bidan dan melakukan persalinan di rumah mengingat kondisi geografi yang agak menyulitkan bila persalinan sudah menjelang.

Bidan dalam Pandangan Masyarakat. Sejak sekitar tahun 2010 sudah ada perekrutan bidan baru secara bertahap di wilayah puskesmas Parado. Bidan yang bertugas silih berganti, mungkin karena wilayahnya terpencil sehingga tidak banyak bidan yang betah tinggal lama di Parado.Mengatasi hal tersebut, selanjutnya bidan yang direkrut diutamakan berasal dari putri daerah setempat, mereka merupakan lulusan baru D3 kebidanan sehingga berusia masih muda (sekitar 20 tahun lebih). Keberadaan bidan di desa sebagian tidak asing lagi bagi masyarakat karena merupakan penduduk setempat meskipun bukan dari desa yang sama. Dukun sebagai pelaku lama di bidang pertolongan persalinan tidak melakukan penolakan karena sebagian sudah saling mengenal mengingat ada sebagian bidan masih ada hubungan keluarga degan dukun. Menurut tokoh masyarakat, bidan baru melakukan pendekatan dengan tokoh masyarakat sehingga mereka lebih mudah diterima masyarakat setempat. Dukun bahkan mendukung keberadaan bidan karena telah meringankan bebannya di desa mengingat usia yang sudah semakin tua.
“ …dengan adanya bidan merasa nyaman ….”

Adanya perekrutan bidan juga dirasakan sangat menguntungkan bagi masyarakat setempat. Apalagi pembiayaan setelah ada program Jampersal menjadi gratis untuk semua golongan masyarakat.
“Kami berterima kasih kepada Pemerintah untuk menempatkan bidan-bidan ini. Sehingga masyarakat itu akan terbantu semua, baik itu yang guru maupun yang lain-lain, sampai yang paling miskin pun sudah terbantu semua. Persoalan melahirkan itu kan tidak ada biaya sama sekali buk”.

364

Seorang bidan dalam FGD menyatakan, bahwa ada dukun yang kadang-kadang sengaja memanggilnya terlambat. Sebagai akibatnya, saat dia tiba di rumah ibu yang bersalin, bayi sudah lahir ditangan oleh dukun, bidan hanya memotong tali pusat saja. Biasanya, dukun akan beralasan karena lahirnya cepat. Berikut pernyataan seorang bidan DF saat diskusi:
“Sering dukun menyampaikan ke suami untuk nanti saja menghubungi bidan, sehingga akhirnya saya datang terlambat, bayi sudah lahir….”

Hal mirip juga dinyatakan oleh seorang ibu yang melahirkan ditolong dukun, meskipun keinginan semula adalah ditolong bidan tetapi gagal karena keburu terlahir.
“ Katanya itu dibilangin sama dukunnya iya, tapi nanti aja pas mau itu aja baru panggil bidan. Dibilangin nanti-nanti dulu iya gitu. Jadi pas mau panggil bidan langsung sudah lahir. Jadi pas datang bidan itu sudah keluar, sudah sampai ari-ari itu juga sudah keluar”.

Ritual dukun menyemburkan sirih, kapur sirih dan pinang yang dikunyah ke kening dan perut ibu yang akan melahirkan, dinyatakan seorang ibu yang diwawancara sebagai penyebabrangsangan perut sehingga ibu melahirkan cepat(sebelum bidan datang). Meskipun melahirkan dengan dukun, ibu hamil tetap memeriksakan diri ke bidan di posyandu. Keberadaan bidan sudah dapat diterima masyarakat, tetapi masih saja ada yang melahirkan ditolong dukun. Seorang ibu yang melahirkan di dukun menyatakan bahwa sebenarnya melahrkan di dukun karena terpaksa. Tujuan semula adalah bersalin di bidan tetapi kemudian beralih ke dukun tanpa sengaja karena persalinan berjalan sangat cepat, dan rumah dukun lebih dekat dibanding rumah bidan. Lagipula bidan datang terlambat pada saat persalinan, bidan datang ke rumah untuk memotong tali pusat. Keberadaan bidan dirasakan semakin baik karena jumlahnya semakin banyak dan mau bertempat di desa sehingga memudahkan masyarakat untuk mengakses pelayanan bidan. Seorang suami menyataan senang bahwa bidan sudah mudah untuk dipanggil bila dibutuhkan.
“Tahun-tahun kemarin mungkin bidan masih kurang, alhamdulillah sekarang bahkan satu desa sudah terdapat dua bidan. Makanya mempermudah, mereka karena punya kendaraan sistem sekarang kalau dulu masih belum punya HP,

365

tapi sekarang sudah punya HP bisa tiggal di SMS atau di telepon biasanya datang”.

Kemitraan Dukun dan Bidan Kemitraan dukun bidan sebenarnya telah berlangsung lama. Penggantian bidan yang sering terjadi menyebabkan kemitraan ini tidak bisa langgeng. Bahkan sejak vakumnya keberadaan bidan untuk beberapa saat menyebabkan masyarakat lebih cenderung memanfaatkan tenaga dukun dalam perawatan kehamilan dan pertolongan persalinan. Penempatan bidan baru dimulai sekitar tahun 2010 secara merata di setiap desa dan pembangunan polindes/poskesdes telah mengembalikan kemitraan yang pernah terjalin. Bidan sebagai tenaga kesehatan yang ditempatkan di desa di kecamatan Parado pada umumnya adalah bidan yang baru lulus, dengan usia yang masih sangat muda. Tampilan mereka yang masih sangat belia, menyebabkan adanya keragu-raguan dari masyarakat tentang kemampuan khususnya dalam memahami budaya setempat. Kerja sama yang dilakukan bidan-dukun. Dukun juga menjembatani antara ibu dan bidan karena sebagian ibu belum mengenal dengan baik bidan yang menolongnya. Pembagian kerja dan pemahaman tentang tradisi dikemukakan oleh seorag tokoh agama dalam FGD.
“…..disamping bidan-bidan kita ini…. mereka bidan-bidan muda.. dikaitkan dengan pengalaman, mereka masih jauh..tapi kalau dengan..bersama-sama dengan dukun terlatih ini...... apa yang harus dilakukan dan sebagainya..nggak terlalu jauh..seperti..memakai daun sirih…... karena terus terang aja nih, bidan-bidan yang masih muda nih…. kalau secara akademik mampu mereka.”

Meskipun bidan dianggap masih muda, namun mereka mengakui bahwa kemampuan bidan lebih baik dibanding dukun dalam menolong persalinan. Oleh karena itu, dalam pembagian tugas antara dukun dan bidan, bidan berperan sebagai penolong persalinan sedangkan dukun membantu seperti menunggu ibu menjelang persalinan, membersihkan ibu setelah persalinan, mencuci baju, memandikan bayi. Berikut pernyataan seorang suami tentang tugas bidan dan dukun.
“kalau budaya di sini ini, kalau melahirkan memang seratus persen oleh bidan..kalau selama ini. dukun dipanggil sekali-kali hanya sifatnya membantu.”

366

Dukun sudah sangat dikenal masyarakat sehingga masyarakat menganggapnya sebagai orangtua sendiri, tempat berkeluh kesah dan meminta pertolongan. Keberadaan dukun diantara masyarakat dan bidan menjadi jembatan sehingga ibu bersalin tidak merasa malu dan asing dengan bidan.
“Bidan..maksudnya, periksa pertama itu… katakanlah dengan bidan…. pertama bertemu di sini (puskesmas).. agak malu dia, walaupun ibu memang sebagai dokter, nah di situlah masuk dukun terlatih, karena dianggap orang tuanya…..”

Sesuai dengan peraturan Kepala Dinas, ditetapkan bahwa untuk kerjasama antara bidan dan dukun, dari dana yang diterimakan dari Jampersal, penggunaannya antara lain adalah untuk biaya kemitraan dengan dukun yaitu sebesar Rp. 30.000,-. Mengantisipasi hal ini, terkadang bidan harus mengeluarkan uang sendiri terlebih dahulu.Meskipun sudah ada ketentuan, kenyataan di lapangan ada variasi pemberian uang atau jasa dukun. Hal ini menyangkut penerimaan bidan yang tidak rutin setiap bulan karena menunggu klaim biaya Jampersal turun yang biasa diajukan 2 kali setiap tahun.
“Jika klaim dari Jampersal sudah keluar, uang yang diberikan ke dukun sebesar Rp. 20.000,- atau diberi gula 1 kg”.

Bidan diterima keberadaannya oleh dukun. Selain karena mereka adalah penduduk setempat, bidan melakukan pendekatan kepada dukun dengan sering berkunjung ke rumah dukun untuk sekedar bersilaturahmi.
Gambar.3.9.12. Bidan Tampak Akrab dengan Dukun Saat Wawancara di Rumah Dukun Sumber: Dokumentasi Peneliti

Kemitraan bidan-dukun disambut dengan baik oleh dukun. Usia yang sudah menua merupakan salah satu alasan. Ina SI yang berusia sekitar 70 tahun mengaku

367

sudah tidak menolong persalinan lagi karena perannya sudah digantikan bidan B yang bermitra dengannya. Menurutnya, bermitra lebih menyenangkan karena tanggung jawabnya menjadi semakin ringan.Setelah ada kemitraan, tugasnya adalah merawat ibu dan bayi termasuk memandikan bayi sampai dengan lepasnya tali pusat yang terjadi sekitar 7 hari setelah lahir. Mengingat banyak dukun yang sudah tua rata-rata di atas 50 tahun), dan tidak ada pengganti dukun yang lebih muda, maka kerjasama dengan bidan dilakukan dengan senang hati oleh dukun maupun bidan. Kemitraan ini semakin lancar dengan adanya kader kesehatan yang turut berperan, khususnya membantu keluarga memanggil bidan. Keberadaan dan kepemilikan telepon genggam (handphone/hp) sangat membantu masyarakat untuk saling berkomunikasi. Dari pantauan dan pengakuan warga, hampir setiap rumah paling tidak memiliki satu buah hp sebagai alat komunikasi. Mengingat jarak rumah kadang cukup jauh, maka adanya telekomunikasi yang murah dan terjangkau sangat menolong masyarakat. Bidan, dukun, kader biasanya sudah memiliki nomor hp masing-masing sehingga bila membutuhkan bila saling berkomunikasi dengan cepat. Hal ini terutama sangat dibutuhkan untuk daerah yang terpencil seperti Desa Lere dan beberapa dusun yang lokasinya jauh dari keramaian dan transportasinya cukup sulit. Pembentukan kemitraan ini tidak bisa berlangsung dengan mudah. Hambatan pada awal kegiatan dirasakan oleh bidan. Setelah melakukan pendekatan, hubungan bidan-dukun saat ini sudah mencair.
“Kalau dulu jujur sih ada ya, sampai sekarang masih terasa sedikit kalau di Parado Wane sedikit, Parado Rato juga”.

Dukun adalah pihak yang disegani oleh masyarakat dan perkataannya tidak berani dibantah.Keputusan kapan memanggil bidan ada ditangan dukun dan keluarga tidak berani melakukan tanpa perintah dukun. Hal ini yang menyebabkn kadangkala bidan datang terlambat pada proses persalinan dan sulit mengajak ibu untuk bersalin di polindes atau poskesdes.
“Ibu bersalin itu lebih takut ke dukun.Pas mau masuk kala dua baru memanggil bidan. ….. Sampai sekarang, jadi itu kita yang paling berat. Jadi kita itu kebanyakan nolong dirumah, jadi sebagian yang di poskesdes. Tapi yang paling

368

banyak itu ibu dukun panggil bidan itu. sudah kita tidak bisa bawa dia ke sarana kesehatan. Pas mepet-mepetnya itu yang masih kerasa ya sampai sekarang”.

Pemanfaatan Pelayanan Jampersal Pelayanan Jampersal tak lepas dari pelayanan oleh bidan dan pelayanan di fasilitas kesehatan sebagaimana disyaratkan dalam peraturan yang berlaku.Fakta di Parado berkata lain, karena masih terbatasnya ketersediaan fasilitas kesehatan, masih banyak ibu yang melahirkan di rumah. Kemudaham komunikasi dengan hp bisa dilakukan kecuali di desa Lere yang terletak di perbukitan. Sinyal hp kadang sulit diperoleh, sehingga terkadang ada kesulitan bila akan menggunakan hp untuk menghubungi bidan. Keberadaan sarana telekomunikasi sebagai alat komunikasi telah membantu peningkatan pemanfaatan Jampersal karena masyarakat menajdi sangat mudah menghubungi bidan seperti dikemukakan seorang suami.
“…..karena waktu ketemu dengan ibu itu dikasih nomer HP nya bidan, jadi nanti ada apa-apa nanti tinggal di SMS atau di telepon …”.

Pelayanan KIA yang tidak bisa diakses, biasanya karena faktor biaya transportasi yang harus ditanggung masyarakat bila rumahnya cukup jauh dari rumah bidan atau puskesmas. Sehingga akhirnya ibu dan kelurganya mengundang dukun untuk membantu persalinan. Menurut penuturan bidan dalam FGD, kebanyakan ibu dengan pendidikan yang lebih rendah yang banyak pergi ke dukun. Pendidikan lebih tinggi lebih mudah untuk diajak bersalin di fasilitas kesehatan. Pelayanan pemeriksaan hamil pada bidan umumnya dilakukan ke posyandu. Meskipun sudaah memeriksakan diri ke bidan, masyarakat masih membutuhkan dukun pada saat kehamilan. Ibu hamilmasih banyak pergi ke dukun khususnya bila ada keluhan di badan dan perut terkait dengan kehamilannya. Mereka datang ke dukun untuk membetulkan letak bayi dalam kandungan, mereka menganggap kemampuan ini dimiliki oleh dukun dan bukan bidan. Masyarakat mengetahui bahwa pelayanan KIA termasuk pemeriksaan kehamilan dan persalinan bisa diperoleh gratis, namun rasa masih percaya kepada dukun menyebabkan mereka memeriksakan kehamilan ke bidan tetapi tetap memilih dukun pada saat persalinan seperti pengalaman ibu H berikut ini. Meskipun senang dengan program Jampersal tetapi ternyata pemanfaatan Jampersal belum maksimal.
369

“ Iya tahu. Dia tahunya di bu Kader dan di Posyandu …..iya senang….., saya periksa ke bidan, makanya seperti tadi saya bilang lahirnya aja sama dukun”.

Disamping pelayanan gratis yang lebih meringankan secara ekonomi, para suami juga senang dengan adanya Jampersal karena pelayanan yang diberikan dari hari ke hari semakin baik bahkan terkadang mendapat tambahan susu dan vitamin dari bidan.
“Alhamdulillah beban berkurang ya, karena kita percaya ini mungkin karena kita di kunjungi, … adakalanya ibu dikasih susu, vitamin dan sebagainya, …..”

Pelayanan KIA di desa Lere yang terpencil sudah semakin mudah diakses oleh masyarakat karena bidan sudah ditempatkan di desa sejak awal tahun 2012. Dahulu ada bidan yang di tempatkan tetapi kemudian di tarik ke puskesmas sebagai koordinator bidan puskesmas. Menurut tokoh masyarakat, mereka senang adanya bidan saat ini dengan adanya Jampersal. Perbedaannya, dulu ke bidan harus membayar sekarang semua pelayanan bidan gratis. Bapak T, seorang suami yang berasal dari desa Lere mengemukanan pengalamannya.
“…. enggak ada….cuman perbedaannya itu, kalau dulu itu….harus dengan biaya dulu..sekarang sudah gratis , masyarakat tuh takutnya dengan biaya ..sekarang mana ada lagi dengan biaya.”

Pemanfaan Jampersal membutuhkan persyaratan yaitu dilakukan oleh tenaga kesehatan dan dilaksanakan difasilitas kesehatan, namun di lapangan ternyata ada toleransi. Hal ini, mengingat pemerintah belum mampu menyediakan faskes persalinan di desa (poskesdes) secara merata disamping sarana juga alat kesehatan dan tenaga kesehatan belum lengkap. Peningkatan cakupan dengan adanya dana Jampersal terasa sekali karena selama ini hambatan linakes adalah kemampuan ekonomi membayar biaya nakes. Berikut data pemanfaatan yang ada di Kabupaten Bima pada tahun 2010 dan 2011. Hasil pantauan bidan yang menyatakan hampir semua pelayanan persalinan sudah memanfaatkan Jampersal, sesuai bila dicocokan dengan hasil survey yang hampir semua jenis pelayanan KIA diperoleh masyarakat secara gratis baik melalui Jampersal atau Jamkesmas/Jamkesda. Hasil diskusi juga memberikan gambaran, bahwa pembiayaan Jampersal dan Jamkesmas masih sulit dibedakan oleh masyarakat. Mereka umumnya hanya memahami bahwa pemerintah memberikan pelayanan gratis. Berikut ini secara terperinci data pembiayaan pelayanan KIA.

370

Tabel. 3.9.9. Sumber Biaya Pelayanan KIA di Kecamatan Parado Jenis Pelayanan Sendiri/ Keluarga 5,7 7,1 5,7 14,3 41,4 Sumber Biaya (%) Jampersal Jakesmas/ Jamkesda 61,4 30,0 60,0 50,0 50,0 17,1 Sumber: Data Primer 31,4 27,1 24,3 7,1 Lainnya 1,4 4,3

ANC Persalinan Periksa Pasca Salin Periksa Neonatus KB

Data survey di Parado menunjukkan bahwa dari 70 responden menyatakan melahirkan di rumah sebanyak 42,9%, sedangkan 35,7% di polindes/poskesdes, 17,1% di puskesmas dan 4,3 di RS. Meskipun dikatakan bahwa 97,1 % persalinan ditolong bidan tetapi perlu dicermati apakah persalinan tersebut murni ditolong bidan atau ditolong dukun, setelah itu barulah bidan datang melakukan sisa pekerjaan dukun yaitu memotong tali pusat. Hal ini terkait pengakuan responden yang mengatakan penolong pertama adalah dukun sebanyak 20%.
Tabel. 3.9.10. Penolong Pertama dan Terakhir Persalinan di KecamatanParado Jenis Tenaga Dokter Bidan Dukun Suami/Keluarga Lainnya Penolong Pertama 2,9 % 71,4% 20,0% 5,7% Sumber: Data Primer Penolong Terakhir 97,1% 2,9% -

Bila dilihat dari hasil survey terlihat bahwa persalinan yang ditolong bidan/nakes yang dilaksanakan di faskes hanya 57,1%. Artinya, angka di Parado masih lebih rendah dari hasil laporan di tingkat Kabupaten Bima tahun 2011 yang mencapai 70,41% (Lihat tabel di bawah).Tampaknya sudah baik persalinan oleh tenaga

371

kesehatan di Parado, namun persalinan di fasilitas kesehatan masih perlu diperjuangkan.
Tabel. 3.9.11. Cakupan Persalinan oleh Linakes di Faskes Kabupaten Bima Penolong dan Tempat Persalinan Linakes Linakes di Faskes Cakupan 2010 74,00% 55,06% 2011 88,00% 70,41% 2012 (target) 90,00% 80,00%

Sumber: Profil Kabupaten Bima Tahun 2011

Pengetahuan tentang Jampersal Banyak masyarakat tidak memahami tentang Jampersal, bahkan belum pernah mendengar tentang Jampersal seperti pengakuan seorang ibu yang diwawancara pada persalinan terakhir melahirkan tanpa dana Jampersal. Dengan adanya sosialisasi persalinan gratis dalam arti dibiayai melalui dana Jampersal, baik kelompok kaya atau miskin banyak yang memanfaatkannya. Bahkan masyarakat sudah mengetahui bahwa bila bersalin ke bidan tidak perlu membayar sesuai dengan peraturan pemerintah. Namun tampaknya pengetahuan bahwa Jampersal adalah pelayanan gratis tidak hanya persalinan tetapi juga untuk pemeriksaan kehamilan dan pasca persalinan hanya diketahu oleh 37,1% responden ibu yang diwawancara di Parado. Pengetahuan tentang Jampersal ternyata banyak diperoleh melalui tenaga kesehatan khususnya bidan. Hasil survey terhadap ibu di Parado dapat mencerminkan hal tersebut seperi tertuang dalam tabel berikut.
Tabel. 3.9.12. Perolehan Informasi tentang Jampersaldi Kecamatan Parado Sumber informasi Media massa Tenaga Kesehatan Petugas desa Poster Sumber lainnya Menyatakan ‘ya’ (%) 11,4 78,6 14,3 0,0 8,6

Sumber: Data Primer

372

Pembiayaan Kesehatan Ibu dan Anak. Pelayanan KIAbanyak dilaksanakan di puskesmas dan bidan desa atau posyandu. Pelayanan gratis melalui Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) sudah dikenal masyarakat sejak lama. Menurut tokoh masyarakat, sebagian besar penduduk setepat sudah memiliki kartu Jamkesmas, bagi yang belum memiliki bisa meminta surat miskin kepada kepala desa untuk dipergunakan bila dibutuhkan. Terkait dengan pembiayaan KIA, para ibu biasa memeriksakan diri dan anak balitanya di posyandu atau polindes dengan pembiayaan gratis. Jadi pada umumnya masyarakat sudah memahami bahwa pelayanan KIA di posyandu diberikan secara cuma-cuma sedangkan pelayanan pengobatan juga gratis dengan menunjukkan kartu Jamkesmas. Istilah Jampersal tidak semua suami memahaminya, mereka hanya menganggap seperti pelayanan Jamkesmas yang dari semula sudah dipahami sebagai pelayanan gratis. Pelayanan gratis adalah alasan terbanyak yang dikemukakan responden ibu yang di survey di Parado yaitu 77,5% disusul dengan ‘anjuran nakes’ sebanyak 12,2% dari 49 responden yang mengaku persalinannya menggunakan dana Jampersal. Suami sangat mendukung adanya dana Jampersal karena meringankan beban biaya dalam persalinan.Bahkan mereka merasa malu karena dibantu tanpa memberikan sesuatu apapun sebagai imbalan jasanya.
“Kadang juga kita sungkan ibu, dengan datangnya bidan dari jam sekian ke jam sekian, baru pulang hanya terima kasih”.

Menurut kepala puskesmas, di Bima tidak oleh bidan menerima uang dari pasien walaupun hanya sedikit. Bila memaksa maka pasien harus membuat pernyataan di atas meterai. Hal ini dikuatkan pernyataan seorang suami yang mendengar bidan menolak menerima uang dari pasien, seperti yang disampaikan bidan saat menolong persalinan di puskemas. “kalaupun bapak kasih biaya ke kita, kita akan tidak bisa menerima, tidak berani menerima. mungkin biaya ada, biaya makan. Kalau istri kita melahirkan di Puskesmas, transport dll. Kalau biaya untuk persalinan kalau melahirkan tidak ada, untuk bidan tidak ada. Meskipun menurut tokoh masyarakat rata-rata penduduk ekonominya baik, tetapi berdasar fakta di lapangan masih banyak penduduk yang tergolong miskin terbukti dari kepemilikan kartu Jamkesmas yang rata-rata lebih dari 50%. Disamping itu

373

kemampuan masyarakat dalam pembiayaan kesehatan juga terungkap dari penuturan bidan yang menyatakan ketidakmampuan pembiayaan kesehatan tatkala dilakukan rujukan ke rumah sakit.
“Dari sisi ekonomi standar kayaknya buk, kalau pengalaman saya sendiri ya. Disini biasanya kalau ada pasien yang gawat kita kan lakukan rujukan ya. Kalau untuk biaya ibuk jelas itu gratis karena kan ada Jamkesmas semuanya ya. Tapi kalau biaya keluargannya kan nggak mungkin harus ada yang dampingin kan. Pasti kendala kita rujukan itu pasti nggak ada biaya. Setiap rujukan, selama-lama proses rujukan itu nggak ada biaya, itu selalu ya. ….. Ya kita juga mau apa, katanya ya sudah mending disini aja, kalau meninggal...,meninggal disini aja karena nggak punya biaya dia.”

Beban pembiayaan persalinan yang dirujuk cukup besaruntuk pembelian makanan dan transport pengantar dari keluarga dan tetangga. Bidan menganjurkan agar penunggu tidak perlu banyak (lima orang atau lebih) tapi cukup satu orang, namun hal tersebut tidak bisa mereka laksanakan karena merasa tidak bisa menolak. Upaya lain di masyarakat berupa iuran untuk tabulin juga sulit berlangsung. Keterbatasan tingkat ekonomi terlihat karena untuk membayar tabulin (tabungan ibu bersalin) yang hanya bernilai 2000 sampai dengan 5000 rupiah sebagian tidak mampu. Menurut bidan, masyarakat pada umumnya tidak memiliki banyak uang cash, karena kebutuhan sehari-hari sudah terpenuhi dari sekitarnya seperti beras dari sawahnya masing-masing, sayur bisa dipetik dari kebun, ikan bisa mencari di sungai. Harta kekayaan biasanya berupa misal ternak, yang untuk menguangkannya perlu waktu.
“ Ya lima, empat orang gitu kalau misal kita bawah itu bisa penuh itu keluarganya.jadi mandek jadi agak lama itu karena dari proses ekonominya katanya kurang katanya. Terus kan kita adakan ini juga buk apa Tabulin (Tabungan untuk ibu Bersalin) biasanya kan kita aktifkan itu, 5000 ya sebulan itu ya. Ada yang 2000, 3000 itu masih sangat susah juga karena kan pendapatan mereka tidak sampai begitu.”

3.9.5 Peran Tenaga Kesehatan dalam Pelaksanaan Jampersal Sosialisasi Jampersal Pada awal tahun 2011, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan meluncurkan dana Jaminan Persalinan (Jampersal). Setelah tahun 2011 Jampersal sudah benar-benar direalisir/diluncurkan, barulah dana persalinan dialihkan dari dana Jamkesmas (khusus masyarakat miskin) ke dana Jampersal (April 2011). Program

374

Jampersal seperti juga program Jamkesmas dan Jamkesda didukung dengan adanya peraturan Bupati yang mendukung pengelolaan Jampersal. Dikeluarkan DPA (Dokumen Penggunaan Anggaran) sebagai pedoman dalam penggunaan anggaran. Di tingkat Dinas ditentukan bahwa pengelola program adalah Bidang Kesehatan Keluarga dengan didukung tim verifikator. Pengaturan Jampersal cukup terperinci bahkan ada aturan pemberian termasuk honor untuk dukun yang diserahkan oleh bidan (sebesar Rp. 30.000,-) setiap kali mengantar ibu bersalin ke bidan. Dana lain yang diperhitungkan adalah dana ATK dan jasa medis. Pada tahun 2011 di tingkat Kabupaten Bima tersedia dana

JamkesmasdanJampersal sebanyak 4 Milyar rupiah. Dana tersebut ternyata tidak cukup karena untuk Jampersal telah menghabiskan 2,1 M digunakan membiayai sekitar 10.500 bumil. Pada tahun 2012 terjadi peningkatan sasaran bumil yaitu menjadi 11.690 orang dan peningkatan biaya Jampersal menjadi Rp. 640.000,-/sasaran dari semula Rp. 350.000,- untuk biaya pelayanan KIA lengkap (ANC, Persalinan, PNC, KB). Hasil penghitungan, maka dibutuhkan sekitar 7,5 M. Berarti terjadi peningkatan 3 kali lipat dari kebutuhaan tahun 2011.
“Disamping itu juga disosialisasi, lewat Rakordes, lewat rapat lintas sektoral.”

Sosialisasi di tingkat puskesmas tentang Jampersal sudah dilakukan tetapi bukan melalui pertemuan khusus. Informasi yang disampaikan pada dasarnya hanya lebih terfokus kepada adanya pelayanan gratis yang diberikan pemerintah melalui puskesmas dan jaringannya. Bidan yang bertugas di desa baik di polindes/poskesdes atau posyandu merupakan ujung tombak yang terdekat kepada masyarakat dalam menyampaikan informasi adanya pelayanan persalinan gratis. Dalam melaksanakan pelayanan, bidan banyak dibantu oleh kader posyandu, bahkan di beberapa desa, upaya ini juga dibantu oleh dukun yang bermitra. Pernyataan dukun S menunjukan perannya dalam mensosialisasikan persalinan gratis. Selain itu sosialisasi dilakukan juga melalui media agama seperti ceramah agama, saat khotbah Jum’at. Pesan-pesan tentang pelayanan persalinan gratis disisipkan dalam ceramah. Meskipun dinyatakan bahwa sosialisasi sudah cukup luas, namun pada kenyataannya dari 21 responden yang melahirkan tanpa biaya Jampersal menyatakan tidak memanfaatkan Jampersal karena tidak tahu yaitu sebesar 76,1%, hanya 1 orang

375

(4,8%) yang menyatakan tidak berhak, 1 orang (4,8%) merasa tidak puas dan 3 orang (14,3%) karena alasan lainnya.

Pelaksanaan Pelayanan KIA dengan ProgramJampersal Di wilayah Parado dengan 5 desa telah tersedia poskesdes 4 buah dari 5 desa yang ada (Desa Parado Rato, Parado Wane, Kuta, Lere dan Kanca) karena puskesmas terletak Parado Wane. Poskesdes di Desa Lere masih baru (tahun 2012) namun belum ada sarana bagi bidan untuk tinggal di Poskesdes. Bidan di Desa Lere kebetulan berasal dari setempat sehingga meskipun tidak tinggal di poskesdes tetapi mudah dihubungi karena tinggal di Desa Lere. Desa ini baru dibangunkan poskesdes, namun sebelumnya sudah tersedia puskesmas pembantu yang dilayani oleh seorag perawat. Sebelumnya sudah ada bidan desa, tapi kemudian bidan ditarik ke puskesmas. Di 5 desa kecamatan Parado, pelaksanaan pelayanan KIA sudah lebih mudah diakses masyarakat karena sudah ada posyandu di seluruh wilyah desa. Kabupaten Bima telah melaksanakan program Akino (Angka Kematian Nol), yang memberikan pelayanan oleh pemerintah secara gratis. Di Kabupaten Bima tidak ada bidan praktek swasta, berarti semua pelayanan KIA dilaksanakan oleh bidan pemerintah denganJamkesmas Akino (Angka Kematian Ibu Nol), yang diselenggarakan secara gratis. Meskipun demikian, masih ada saja bidan yang menyalahgunakan, dengan meminta biaya pelayanan kepada pasien. Pada saat kepala puskesmas baru datang (sekitar 4 tahun yang lalu), kesadaran masyarakat untuk berobat ke tenaga medis sangat rendah, hal ini karena adanya ‘suntik keliling’. Masyarakat cenderung berobat ke dukun untuk diberi do’a atau ritual lainnya. Keadaan sekarang sudah sangat berubah, dengan pemberian pengertian kepada pasien dan melalui penyuluhan ke masyarakat, sekarang kesadaran berobat ke tenaga medis sudah tinggi. Sekarang ada keluhan kesehatan sedikit misalnyakena tusuk pisau sedikit saja datang ke UGD. Pengelolaan Pelayanan Jampersal Pelaksanaan Jampersal baru terealisir sejak tahun 2011 pertengahan, dan secara keseluruhan setelah memasuki tahun 2012. Namun pelayanan gratis sudah dinikmati masyarakat Parado sejak tahun 2010 ke belakang. Menurut bidan

376

koordinator puskesmas, persalinan sebelum adanya Jampersal sudah gratis melalui dana Jamkesmas. Pembiayaan persalinan di masing-masing desa yang menggunakan Jamkesmas sebelum adanya Jampersal: Desa Lere Desa Parado Rato Desa Kanca Desa Parado Wane Desa Kuta : Jamkesmas 100% : Jamkesmas 60% : Jamkesmas 100% : Jamkesmas 60% : Jamkesmas 70%

Kebijakan pengelolaan Jampersal di tingkat Kabupaten telah ditetapkan. Berdasar peraturan Bupati tentang ‘Penetapan Tarif Pelayanan Kesehatan Dasar bagi Peserta Program Jamkesmas dan Jampersal pada Puskesmas dan Jaringannya serta Fasilitas Kesehatan Lainnya’ (Swasta yang Bekerjasama) serta ‘Pengaturan

Penggunaannya’ di Kabupaten Bima Tahun Anggaran 2012. Di dalam peraturan ini tertuang Komponen Tarif Pelayanan yang mengatur Besaran Tarif sekaligus Pengaturan Penggunaan. Sebagai contoh, disebutkan bahwa paket persalin normal 1 kali sebesar 500.000 rupiah dengan atura penggunaan untuk honorarium petugas sebesar 375.000 rupiah, konsumsi sebesar 16.000 rupih, transport dukun 30.000 rupiah dan pembelian bahan habis pakai 79.000 rupiah. Masih ditemukan pada orang tertentu yang tetap ingin membayar dengan alasan tidak mau menggunakan dana Jampersal. Keadaan ini menurut kepala puskesmas Parado, karena karakter orang Bima yang suka gengsi. Pernyataan kepala puskesmas yang bersasal dari Jakarta mendukung keadaan ini.
“Sudahlah,karakter Bima ini kan gengsi, kalau nggak bayar malu, punya duit saya,… nah gitu. Ya dihantam enam ratus, tujuh ratus ya itu dimasyarakat”.

Aturan pengelolaan keuangan yang diterima dalam pelayanan persalinan sudah ada ketentuan termasuk bagi mitra bidan yaitu dukun bahkan secara tidak tertulis adalah kader. Kader juga mendapat porsi biaya seperti yang diungkapkan kepala puskesmas.
“… sekarang klaim, dari 550 pun sudah ada kriteria saya bilang. Wajib memberikan mitra kerja, apa itu dukun..,tiga puluh, maksimal dua puluh. Sudah ada juknisnya nggak boleh kalau nggak kamu sampaikan. Ada juga uang kader, yang membantu kalian, ya mungkin 5000-10.000,-ada”.

377

Kecamatan Parado termasuk daerah terpencil sehingga tenaga bidan PTT memperoleh gaji dengan insentif daerah terpencil dengan bedan yang cuku besar dibanding bidan PTT non terpencil. Kondisi ini cukup membantu kinerja bidankoordinator yang merupakan tenaga bidan PTT. Sebagai koordinator bidan termasuk mengelolaJampersal, disediakan honor yang diambilkan dari dana BOK

sebesar Rp. 80.000,-/triwulan.Bidan yang lain adalah tenaga sukarela yang tidak bergaji tetap, akan menerima honor berdasar hasil memberikan pelayanan KIA. Beberapa tenaga dalam pengelolaan dana Jampersal di puskesmas.Menurut bidan, lebih enak dengan adanya Jampersal meskipun masih menunggu klaim karena Jampersal adalah dana yang sudah kepastian. Ditambah lagi untuk pelayanan kehamilan dan pasca persalinan juga mendapat biaya sebesar Rp.20.000,-/kunjungan, mengingat sebelum Jampersal biaya ANC dan PNC tidak ada (di gratiskan di posyandu dan faskes lainnya). Pelayanan pasca persalinan termasuk KB, dan pemeriksaan neonates. Berdasar informasi yang diperoleh di puskesmas, pelayanan KB masih ada beban biaya yang harus dibayar oleh pasien yaitu KB suntik Rp. 10.000,- , Implant Rp. 20.000,-. Akseptor IUD di wilayah Paradosangat jarang karena menurut tokoh masyarakat, ada keluhan suami bila isteri menggunakan IUD yaitu suami merasa tidak nyaman saat berhubungan seksual karena terganggu oleh ujung benang IUD.

3.9.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan Pelaksanaan Jampersal Ketaatan masyarakat kepada tokoh agama. Penduduk Parado mayoritas Islam memiliki tokoh agama yang menjadi panutan penduduk. Tokoh agama adalah tokoh masyarakat, orang yang terpilih oleh karena kearifannya, keilmuan agama, serta kemampuannya memimpin umat melalui jalur agama. Tokoh agama sekaligus tokoh masyarakat di Parado sangat menjunjung tinggi pendidikan dan pengetahuan, serta menghargai orang yang berilmu seperti bidan sebagai orang yang berpengetahuan dan ketrampilan kesehatan. Sikap yang positip ini mendukung penerimaan bidan dimata masyarakat khususnya kaum ibu. Pendekatan tokoh agama yang mayoritas adalah laki-laki, melalui suami, telah memberikan dampak diterimanya metode kesehatan modern dalam perilaku

378

masyarakat. Suami sebagai kepala rumah tangga, seringkali menjadi penentu keputusan termasuk di bidang kesehatan. Keberpihakan suami kepada upaya kesehatan melalui Jampersal, ada kemungkinan karena mereka diuntungkan secara ekonomi. Melalui Jampersal, suami sebagai penanggung jawab ekonomi keluarga merasa lebih ringan karena mendapat pelayanan KIA gratis. Suami adalah orang yang lebih sering bersentuhan dengan tokoh agama melalui pertemuan agama, pertemuan desa, dan kegiatan desa yang lain, sehingga pengaruh toma/toga yang membentuk pengetahuan dan sikap suami yang kemudian diteruskan kepada isteri. Pengaruh toga/toma terbukti, bidan yang memberi pelayanan dengan cara medis modern dapat diterima masyarakat dengan mudah. Hanya butuh dua-tiga

tahun, masyarakat sudah menerima keberadaan pelayanan bidan khususnya dalam pertolongan persalinan. Tingkat pendidikan ibu. Hasilsurvey yang menggambarkan tingkat pendidikan ibu cukup baik. Pendidikan tinggi, telah mendukung penerimaan masyarakat khususnya ibu terhadap pelayanan medis modern. Pergeseran yang cukup cepat dari kecenderungan memilih dukun beralih ke bidan merupakan prestasi yang luar biasa dan tentunya ditunjang oleh pengetahuan dan sikap yang baik dari masyarakat secara keseluruhan. Ibu sebagai pelaksana langsung dari kegiatan reproduksi (kehamilan sampai dengan persalinan ) serta perawatan anak merupakan orang penentu pemilihan penolong persalinan maupun kegiatan KIA lainnya, didukung dengan peran suami. Pengetahuan diketahui merupakan factor penting yang mendorong

dilakukannya suatu tindakan. Menurut teori perilaku, pengetahuan yang dapat dicerminkan dari tingkat pendidikan, akan membuka peluang seseorang untuk menentukan sikap dan praktek yang lebih positip berdasar tingkat pengetahuannya. Namun demikian, masih banyak factor di luar pengetahuan yang juga berpengaruh sebagai misal ketersediaan sarana prasarana yang dibutuhkan. Kemampuan memanfaatkan teknologi komunikasi HP. Kecamatan Parado adalah daerah yang tergolong terpencil. Untuk mencapai tempat tersebut tidak terlalu mudah karena sarana transportasi terbatas dan membutuhkan biaya yang cukup besar. Kesulitan semakin tinggi pada daerah tertentu seperti desa Lere yang berlokasi

379

diperbukitan dengan sarana jalan yang jelek dan tidak ada transportasi umum. Hambatan geografi ini menjadi penentu dalam kemudahan mengakses pelayanan KIA oleh bidan. Perkembangan teknologi komunikasi saat ini semakin baik dan telah dikenal alat komunikasi yang disebut telepon seluler atau telepon genggam atau hand phone atau HP. Masyarakat Parado sudah sangat akrab dengan penggunaan HP. Alat komunikasi yang ringan dan bisa dibawa kemana-mana, serta harga HP dan biaya pulsa yang relative murah, menjadikan alat ini primadona di masarakat. Kepemilikan HP sudah hamper merata dalam keluarga, bahkan ada keluarga yang setiap individunya memiliki HP secara pribadi. Kemudahan ini telah dimanfaatkan masyarakat Parado untuk saling berkomunikasi di anatara mereka. Pemanfaatan HP dalam bidang kesehatan sangat terasa di Parado. Bidan, ibu sebagai konsumen pelayanan, dukun, kader, bisa saling berkomunikasi untuk selanjutnya menentukan tindakan dan pertemuan. Komunikasi untuk memanggil bidan atau dukun disaat-saat yang dibutuhkan telah memperpendek jarak dan menyingkat waktu. Melalui hp, bidan di posisi manapun asal terjangkau oleh sinyal telepon seluler, bisa dihubungi dan diminta datang di waktu-waktu yang dibutuhkan misalkan malam hari saat proses persalinan terjadi. Bahkan ibu dukun yang sudah tua, sebagian juga mau belajar dan mampu menggunakan hp. Jaringan komunikasi. Ketersediaan jaringan komunikasi merupakan syarat utama bahwa hp dapat difungsikan. Semakin luas dan bervariasinya provider, menimbulkan persaingan bisnis tersendiri dan setiap provider berusaha memberikan pelayanan sebaik mungkin dan se efisien mungkin. Kondisi ini membantu masyarakat menentukan pilihan provider telekomunikasi yang paling menguntungkan dengan biaya yang terjangkau. Bidan dan polindes di setiap desa. Upaya pemerintah menyediakan pelayanan KIA yang mudah diakses masyarakat adalah dengan cara menempatkan bidan di desa dan menyediakan gedung serta peralatannya. Penempatan bidan di wilayah Parado sudah terealisir sejak tahun 2011 sampai dengan 2012. Ketersediaan ini dengan mengangkat bidan yang merupakan orang asli setempat merupakan tindakan yang efektif dan efisien. Bidan yang merupakan penduduk setempat diharapkan lebih
380

mudah beradaptasi bahkan sudah merupakan bagian dari masyarakat setempat sehingga tidak mengalami hambatan budaya dalam pelaksanaan pelayanan KIA. Tempat tinggal yang sudah dikenal, memudahkan bidan untuk merasa betah dan mau mengabdi dengan sepenuh hati. Perpindahan bidan yang sering terjadi dapat menjadi hambatan dalam kemitraan dan pengenalan masyarakat terhadap bidan. Dengan mengenal sosok bidan secara utuh, memberikan kenyamanan masyarakat untuk menerima dan mematuhi sebagai nasehat, tindakan yang diberikan bidan dalam pelayanan. Adanya tempat pelayanan berupa posyandu, polindes, poskesdes di pemukiman penduduk telah mendekatkan jarak bidan dengan masyarakat. Cara ini, memudahkan akses penduduk dari sisi jarak dan waktu serta mengurangi biaya transportasi yang harus ditanggung.Kedekatan ini akan lebih memungkinkan masyarakat mau datang ke fasilitas kesehatan karena tindakan/pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan dianggap lebih aman dan tepat. Pelayanan KIA gratis. Biaya pelayanan menjadi salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap teraksesnya suatu pelayanan kesehatan. Status ekonomi masyarakat Parado yang terkesan kurang digambarkan dari tingginya kepemilikan kartu Jamkesmas. Adanya pelayanan gratis melalui Jampersal telah menjembatani kesenjangan disisi ekonomi. Penerimaan masyarakat yang terkesan antusias (suami) merupakan titik cerah dapat dicapainya pelayanan persalinan oleh nakes di faskes sesuai dengan persyaratan Jampersal. Pemahamanan tentang pelayanan gratis melalui Jampersal belum sepenuhnya dipahami, karena masyarakat masih terfokus pada pelayanan Jamkesmas yang sudah lama diterima. Menjadi tantangan pemerintah adalah agar pelayanan KIA dengan dana Jampersal ini dapat berkesinambungan sehingga masyarakat bisa terus

menjangkaunya. Hambatan Tidak ada hambatan yang berarti dalam pelaksanaan pelayanan KIA dengan dana Jampersal karena pada umumnya masyarakat senang memperoleh pelayanan KIA secara gratis. Kesadaran untuk mendapat pelayanan medis semakin meningkat

381

ditunjang adanya kemudahan berupa pelayanan gratis, sarana komunikasi melalui hp, dan bidan yang berlokasi di desa. Percaya pada adat dan tradisi. Masih kuatnyakepercayaan dan tradisi di masyarakat terkait kehamilan, persalinan dapat menjadi factor penghambat penerimaan terhadap pelayanan medis oleh bidan dan tenaga kesehatan lainnya. Dukun masih dianggap sebagai orang yang tepat membantu pelaksanaan adat dan tradisi. Pengalaman dan usia tua dukun menimbulkan keyakinan yang lebih tinggi dan rasa nyaman terhadap dukun. Kepercayaan yang bertentangan dengan ilmu kesehatan modern dapat menjadi penghambat kerja bidan apabila bidan kurang mampu menyesuaikan diri. Kepercayaan yang masih kuat terhadap hal gaib atau mistis perlu dicarikan penjelasan yang dapat diterima masyarakat apabila akan dihilangkan. Keterlibatan tokoh masyarakat/ tokoh agama, dukun sebagai orang yang dipercaya, perlu dilakukan melalui pendekatan mengikuti budaya yang ada di masyarakat. Tradisi seperti sempuru, telah memanfaatkan bahan alam berkhasiat obat sehingga bisa member manfaat kepada ibu sebagai konsumennya. Namun, cara-cara yang kurang higienis (bahan ramuan disembur langsung dari mulut) dapat menjadi media penularan penyakit. Penyuluhan untuk peningkatan perilaku sehat perlu ditingkatkan agar secara sadar ibu sebagai sasaran tradisi mampu menolak perilaku yang dapat merugikan kesehatannya. Tradisi pemberian air yang diberi do’a oleh toga atau dukun, meskipun belum bisa diterima secara nalar, namun tradisi ini dinilai tidak membahayakan. Bahkan bisa dikaji secara spiritual dan mental telah kemungkinan memberikan ketenangan psikologis sehingga pelaku lebih mantap dan punya keyakina terhadap suatu tindakan. Daerah perbukitan/Terpencil. Belum semua persalinan dapat dilakukan di fasilitas pelayanan seperti di polindes atau puskesmas. Hal ini terjadi karena masih ada masyarakat yang tinggal di wilayah yang sulit terjangkau alat transportasi. Kesulitan tersebut menyebabkan masyarakat enggan melahirkan di fasilitas kesehatan. Ditilik dari peraturan yang ditetapkan, pelayanan dengan dana Jampersal seharusnya hanya diberikan bila dilakukan oleh tenaga kesehatan dan dilakukan di fasilitas kesehatan. Pada akhirnya petugas kesehatan mengikuti kehendak masyarakat mengingat kondisi memang tidak memungkinkan.

382

Kedekatan psikologis dengan dukun. Dukun pada umumnya adalah warga setempat yang telah dikenal oleh warga sekitarnya karena telah menetap lama. Dukun dipercaya masyarakat mampu dan bersedia untuk membantunya dalam hal ini adalah terkait dengan KIA. Karena berasal dari satu suku yang mempunyai kebiasaan, adat istiadat yang sama, membuat kedekatan psikologis antara dukun dengan warganya. Oleh karena itu pada umumnya dukun melayani warga yang tinggal di desa atau dusun yang sama. Masih percayanya masyarakat kepada dukun menyebabkan masyarakat selalu mengundang dukun saat menjelang persalinan untuk memberikan dukungan psikis, spiritual karena umumnya dari agama yang sama maupun fisik karena dianggap trampil dan berpengalaman di bidangnya. Hal inilah yang menyebabkan akhirnya mendorong masyarakat selalu mendahulukan memanggil dukun disbanding bidan dalam mengatasi keluhan selama kehamilan ataupun menghadapi persalinan. Berbagai kepercayaan yang masih dianut masyarakat dan untuk pelaksanaan ritualnya membutuhkan kehadiran dukun, menyebabkan masyarakat masih bergantung kepada dukun. Persalinan adalah suatu proses yang sangat individual. Ada persalinan yang membutuhkan waktu lama dengan keluhan yang berbeda-beda. Ada pula persalinan yang berlangsung sangat cepat, dengan tanda-tanda yang tidak terlalu dirasakan oleh ibu. Menghadapi suatu proses yang baru dengan kondisi yang sulit diprediksi, seorang ibu menjelang persalinan membutuhkan seseorang untuk mendampingi menghadapi masa sulit tersebut. Untuk itu dibutuhkan orang yang telah dikenal secara baik sehingga ibu hamil tersebut dapat mengungkapkan segala isi hati dan keluhan yang dirasakan tanpa merasa malu atau enggan. Dukun bersalin menjadi orang yang dituakan, dihormati dan dipercaya nasehatnya karena merupakan orang yang telah berpengalaman bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun di bidangnya. Kedekatan ini akan berdampak baik apabila dukun mau mendukung upaya pelayanan KIA yang secara formal diselenggarakan oleh puskesmas melalui tenaga bidan. Dukun yang berpihak pada program pemerintah seperti yang ditemui di Parado, tampaknya terjadi setelah adanya pelatihan yang diselenggarakan puskesmas. Kegiatan ini telah meningkatkan harga diri dukun sehingga dukun bersedia mendukung

383

dan menyetujui kemitraan dengan bidan-bidan muda yang relative belum berpengalaman. Pembagian kerja dalam kemitraan bidan-dukun, dikatakan dukun lebih menenteramkan hati karena mengurangi resiko yang harus ditanggung. Boleh jadi pembagian kerja diterima dengan setengah hati atau terpaksa mengingat usia dukun banyak yang sudah uzur sehingga ditinjau dari kemampuan fisik sudah menurun.Terbukti, menurut keluhan bidan, beberapa dukun masih seringkali terlambat memberitahu bidan dengan sengaja tentang persalinan yang sedang berlangsung sehingga akhirnya ditolong oleh dukun. Biaya jasa dukun. Dukun pada umumnya tidak menetapkan besaran biaya sebagai imbalan jasa. Pemberian dari penerima jasa adalah atas dasar sukarela dengan besaran yang bervariasi bahkan gratis. Pemberian masyarakat baik uang ataupun barang, biasanya diterima dengan senang hati tanpa ada tawar menawar. Cara pembiayaan ini sangat disukai masyarakat, karena bisa menyesuaikan dengan kemampuan saat itu. Pembayaran bahkan dapat menunggu sampai mereka memiliki uang. Pemberian uang atau barang (makanan dll) kadang disertakan saat adanya upacara. Hal ini memberikan penghormatan tersendiri bagi dukun, karena menunjukkan bahwa dukun bersalin digolongkan kepada orang yang disegani di masyarakat. Pola pembiayaan seperti ini dapat mendorong masyarakat untuk terus menggunakan jasa dukun, bahkan dalam kondisi terdesak, dukun menjadi tempat tujuan pertama Karen tidak perlu menyediakan dana terlebih dahulu. Sarana transportasi. Daerah yang jauh dari pemukiman akan menyulitkan untuk menuju rumah bidan yang biasanya berlokasi di tempat yang memiliki fasilitas umum lebih baik dan lengkap (air, listrik, sarana komunikasi, transportasi). Bagi penduduk yang tinggal di daerah terisolir seperti yang dijumpai di desa Lere dan dusun Wane, maka dibutuhkan transportasi khusus baik milik sendiri atau dengan cara sewa. Pada kondisi mendesak, misal menjelang persalinan, maka keluarga kan cenderung menuju peolong yang paling mudah dijangkau. Dukun pada umumnya juga dijumpai bertempat tinggal di dusun terpencil, yang menjadi tujuan untuk perolehan pertolongan persalinan maupun keluhan kesehatan lainnya. Bidan tidak di tempat. Persalinan dapat terjadi setiap saat, berbeda dengan pemeriksaan kehamilan yang bisa diatur waktunya. Oleh karea itu, bila saat persalinan

384

tiba dan bidan tidak ada di tempat (rumah, polindes/poskesdes), maka dicarilah orang terdekat yang bisa menolong yaitu dukun bersalin. Kegiatan bidan yang tidak hany di tempat tetapi juga melakukan kunjungan rumah, melayani posyandu, melakukan kegiatan di pukesmas dll., menyebabkan bidan tidak bisa stand by 24 jam di tempat. Ketiadaan penolong persalinan (bidan) ini akan memicu masyarakat mencari rang yang mudah dihubungi. Dukun yang kegiatannya lebih banyak di rumah, tentu akan lebih mudah diakses disbanding bidan. Harapan Pelaksanaan Jampersal di kecamatan parado dapat berjalan lancar dalam arti bisa diterima seluruh masyarakat. Jampersal yang dapat dimanfaatkan oleh semua penduduk dari yang miskin sampai kaya, tetapi dari responden yang ditanya, ada 50% saja yang mendukung bila Jampersal hanya untuk orang miskin.Manfaat Jampersal sudah dirasakan oleh penduduk Parado karena memberi jalan untuk dapat dilayani oleh bidan, sebagaimana yang disampaikan seorang suami dalam FGD tentang Jampersal yang telah memudahkan akses kepada pelayanan KIA oleh bidan.
“Terima kasih ke pemerintah dengan adanya Jampersal karena mendekatkan bidan ke masyarakat. Kalau bisa seumur hidup”.

Masyarakat merasa tidak ada masalah dengan pelaksanaan Jampersal.Meskipun tidak paham penerapan Jampersal seperti apa, namun mereka pada intinya puas dengan pelayanan gratis dan tidak ada keluhan apapun.
“ Kalau persoalan tidak ada kami buk, kami berterima kasih kepada Pemerintah untuk menempatkan bidan-bidan ini. Sehingga masyarakat itu akan terbantu semua, baik itu yang guru maupun yang lain-lain, sampai yang paling miskin pun sudah terbantu semua. Persoalan melahirkan itu kan tidak ada biaya sama sekali buk”

Mereka bahkan mengharapkan ketersediaan Jampersal oleh pemerintah dapat berlangsung selamanya.
“Bagus karena ada biaya yang gratis itu buk. Suka tidak suka kita jadi mudah. Enaknya biaya konsultasi bidan gratis, persalinan gratis, jadi semua enaklah”.

Pembiayaan yang gratis meringankan secara ekonomi khususnya bagi suami, sehingga dana untuk kesehatan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga yang lain.

385

“Pada saat kita membawa istri kita periksa, bahwa tidak ada lagi biaya.Sangat mudah, karena kita sebagai suami untuk biaya persalinan itu tidak ada. Jadi misalkan ada kebutuhan lain, maksudnya kalaupun ada dana bisa kita alihkan untuk kebutuhan-kebutuhan lainnya”

Bidan sebagai tenaga yang langsung berhadapan dengan masyarakat dalam memberikan pelayanan KIA juga memiliki harapan terhadap Jampersal yaitu, Tersedia dana penyuluhan untuk masyarakat, dana bisa digunakan untuk: Rapat koordinasi desa yang diselenggarakan 2 kali dalam setahun dengan melibatkan berbagai sector tidak hanya kesehatan. Klaim bisa dilaksanakan lebih sering bahkan kalau bisa setiap bulan. Saat ini klaim dilakukan 2 kali setahun sehingga seakan-akan mereka menerima uang banyak sekali, sehingga hal ini menyebabkan kecemburuan petugas kesehatan yang lain. Jampersal diharapkan bisa meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan setelah mampu meningkatkan persalinan ke tenaga kesehatan yaitu dari kurang 50% menjadi lebih dari 50 persen. Jampersal diharapkan akan meningkatkan pelayanan KIA lain seperti ANC, PNC (berupa knjungan rumah) dan cakupan akseptor KB.

386

3.10. Puskesmas Karang Pule, Kota Mataram 3.10.1. Gambaran Umum Kota Mataram Kota Mataram merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terletak di pulau Sumbawa, salah satu pulau di provinsi NTB. Kota Mataram termasuk salah satu kota dengan pemanfaatan dana Jaminan Persalinan (Jampersal) yang cukup baik sesuai dengan laporan yang terkumpul di Bidang Bina Kesga sebagai pengelola Dana Jampersal. Data dinas Kesehatan kota Mataram menunjukkan bahwa total cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2011 sudah mencapai target yaitu 90 % dari seluruh persalinan, namun masih ada wilayah kecamatan dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang masih rendah. Dengan melakukan konsultasi kepada kepala Dinas Kesehatan kota Mataram didukung data dan hasil pelaksana program kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan penanggung jawab Program Jampersal, ditetapkan Kecamatan Karang Pule sebagai lokasi penelitian. Puskesmas Karang Pule memiliki cakupan persalinan dukun yang masih cukup tinggi yaitu 3,9%. Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa di kota yang relatif mudah jangkauan ke fasilitas kesehatan dan tersedianya pelayanan gratis, masih ada masyarakat yang memilih bersalin ditolong dukun. Kota Mataram adalah ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan merupakan kota terbesar di propinsi ini. Kota ini terletak di Kabupaten Lombok Barat dan terletak di sisi barat Pulau Lombok. Populasi terakhir berdasar data Sensus 2010 adalah 402.296. Selain melayani sebagai ibukota propinsi, Mataram juga telah menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan, industri dan jasa. Kondisi Geografi dan Topografi Mataram sebagai Ibu Kota Propinsi Nusa Tenggara Barat, letaknya diapit antara kabupaten Lombok Barat dan Selat Lombok. Secara geografis berada pada posisi 08°33' dan 08°38' Lintang Selatan dan antara 116°04' – 116°10' Bujur Timur. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Mataram Nomor 3 Tahun 2007, wilayah Kota Mataram dengan luas 61,30 Km2 mengalami pemekaran menjadi 6 kecamatan di Kota

387

Mataram, yaitu Ampenan, Cakranegara, Mataram, Pejanggik, Selaparang, Sekarbela dan50 kelurahan serta 298 lingkungan. Bandara baru yang melayani penerbangan internasional telah diresmikan dan berada di Kabupaten Lombok Tengah. Karena keterlambatan dalam membuka baru Bandara Internasional Lombok di Lombok Tengah, penutupan Bandara Selaparang di Ampenan tertunda. Bandara tua di pinggiran kota ini terus digunakan untuk penerbangan domestik dan internasional sampai penutupannya pada tanggal 30 September 2011.

Gambar 3.10.1. Peta Wilayah Kota Mataram Sumber: Bappeda Kota Mataram

Batas-batas administrasi kota Mataram adalah sebagai berikut :  Sebelah Utara: Kecamatan Gunung Sari dan Kecamatan Lingsar KabupatenLombok Barat.  Sebelah Selatan: Kecamatan Labuapi Kabupaten Lombok Barat  Sebelah Timur: Kecamatan Narmada dan Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat.  Sebelah Barat: Selat Lombok

388

Jumlah, Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Penduduk per Kecamatan Berdasarkan data yang ada di Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011, jumlah penduduk Kota Mataram tercatat 406.910 jiwa, dengan kepadatan penduduk sebesar 6.638 jiwa/km², sedangkan jumlah penduduk dan kepadatan penduduk menurut kecamatan di wilayah Kota Mataram tahun 2011 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.10.1 Luas Wilayah, Jumlah Desa/Kelurahan, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Mataram Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Ampenan Sekarbela Selaparang Mataram Sandubaya Cakranegara Luas Wilayah (Km2) 9,46 10,32 10,77 10,76 10,32 9,67 61,30 Jumlah Desa Kelurah an 10 5 9 9 7 10 50 Desa+ Kel 10 5 9 9 7 10 50 Jumlah Penduduk 79.574 53.648 73.399 73.845 61.710 64.734 406.910 Kepadatan Penduduk/ Km2 8.412 5.198 6.815 6.863 5.980 6.694 6.638

Jumlah(Kab/Kota)

Sumber : BPS Kota Mataram Tahun 2011

Rata-rata kepadatan penduduk Kota Mataram adalah 6.638 jiwa/km². Jika dirinci menurut kecamatan, maka kecamatan dengan kepadatan penduduk tertinggi adalah Kecamatan Ampenan dengan kepadatan penduduk sebesar 8.412 jiwa/km² sedangkan kecamatan yang kepadatan penduduknya paling rendah adalah Kecamatan Sekarbela sebesar 5.198 Jiwa/km². Distribusi penduduk di Kota Mataram berdasarkan Kelompok Umur tahun 2011 dapat dilihat pada grafik piramida di bawah ini:

389

Gambar3.10.2 Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis KelaminKota Mataram Tahun 2011 Sumber : BPS Kota Mataram Tahun 2011

Piramida di atas menunjukan bahwa ciri penduduk Kota Mataram tahun 2011 bersifat ekspansif karena komposisi penduduk terbesar terdapat pada penduduk dengan golongan muda, yaitu umur 20-24 tahun, umur 15-19 tahun dan umur 25-29 tahun. Selain itu terdapat kecenderungan perbedaan komposisi penduduk laki-laki dan perempuan pada penduduk golongan umur 0-14 tahun dengan umur 15 tahun ke atas. Pada penduduk dengan golongan umur 0-14 tahun komposisi penduduk laki-laki lebih besar dari perempuan, sebaliknya pada penduduk dengan golongan umur 15 tahun ke atas komposisi penduduk perempuan lebih besar daripada laki-laki. Masalah Kesehatan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator yang

menggambarkan derajat kesehatan masyarakat. Faktor yang mempengaruhi Angka Kematian Bayi antara lain tingkat pengetahuan/pendidikan kedua orang tuanya, umur perkawinan pertama, pola konsumsi, perilaku hidup sehat, keadaan sosial ekonomi, adat istiadat, kebersihan lingkungan dan pelayanan kesehatan. Dalam Buku Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Mataram Tahun 2010 dijelaskan bahwa angka kematian bayi pada tahun 1999 adalah sebesar 53 bayi per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2010 angka kematian bayi sudah berhasil ditekan hingga mencapai 38 bayi per

390

1.000 kelahiran hidup. Sedangkan jumlah kasus kematian bayi pada tahun 2011 tercatat sebesar 38 kasus, jumlah ini menurun 1 kasus dibanding pada tahun 2010 yaitu sebanyak 39 kasus. Berikut ini adalah distribusi kematian bayi tahun 2010 dan 2011 berdasarkan puskesmas yang ada di Kota Mataram:

J u m l a h

10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Amp Tj Krg Kr Pl Mtr 2010 2011 Slpr Pgs Ckr Kr Tlw Ds Cm

Gambar3.10.3 Distribusi Jumlah Kematian Bayi (AKB) di Kota Mataram Tahun 2010-2011

Sumber: Bidang Pembinaan Kesehatan Keluarga Dikes Kota Mataram Tahun 2011

Puskesmas

Jumlah kasus kematian bayi tertinggi di Puskesmas Karang Pule yaitu sebanyak 10 kasus, sedangkan Puskesmas Karang Taliwang tidak ada kasus. Proporsi kasus kematian bayi menurut umur adalah 65,79% terjadi pada neonates (0-28 hari) dan 34,21% pada bayi 29 hari – 1 tahun. Penyebab kematian bayi tersebut sebagian besar disebabkan karena BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) sebesar 25,00 %; Asfiksia sebesar 25,00% dan ISPA sebesar 17,86%. Angka Kematian Ibu (AKI).Angka Kematian Ibu Kota Mataram tahun 2011 dilaporkan 106 per 100.000 kelahiran hidup. Di Kota Mataram pada tahun 2009 terdapat 14 kasus kematian ibu dan tahun 2010 kasus kematian ibu telah menurun menjadi 7 kasus yang terdiri dari 4 kasus (57,14%) kematian ibu bersalin dan 3 kasus (42,86%) kematian ibu nifas. Tahun 2011 terjadi peningkatan kematian ibu sebanyak 10 kasus terjadi karena perdarahan (2 kasus), infeksi (1 kasus), eklamsia (1 kasus), dan 6 kasus karena penyebab lainnya (PWS KIA, Dinkes Kota Mataram, 2011). Cakupan K1 dan K4 serta Pertolongan Persalinan. Cakupan kunjungan Ibu hamil K4 adalah cakupan ibu hamil yang mendapatkan pelayanan selama masa kehamilan sesuai standar paling sedikit empat kali selama masa kehamilan. Tahun

391

2011 cakupan kunjungan ibu hamil K1 sebesar 100,40% dan K4 sebesar 97,33% melebihi dari target sebesar 95%.
Tabel 3.10.2 Cakupan K1 dan K4 menurut Puskesmas Kota Mataram Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Puskesmas Ampenan Tanjung Karang Karang Pule Mataram Selaparang Pagesangan Cakranegara Karang Taliwang Dasan Cermen Target Bumil 1.531 1.390 1.102 1.113 638 1.953 1.408 741 611 10.487 K1 Jumlah 1.543 1.441 1.117 1.075 687 1.887 1.336 777 666 10.529 % 100,78 103,67 101,36 96,59 107,68 96,62 94,89 104,86 109,00 100,40 Jumlah 1.525 1.403 1066 1027 640 1.869 1.302 717 658 10.207 K4 % 99,61 100,94 96,73 92,27 100,31 95,70 92,47 96,76 107,69 97,33

Kota Mataram

Sumber: Laporan PWS KIA tahun 2011

Selain cakupan K1 dan K4 indikator lain yang digunakan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak adalah cakupan tenaga yang memberikan pertolongan pada saat persalinan. Tenaga yang memberikan pertolongan persalinan dapat dibedakan menjadi dua yaitu tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan (dukun). Tahun 2011 cakupan pertolongan persalinan oleh bidan/tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi menurut puskesmas adalah sebagai berikut:

392

Tabel 3.10.3 CakupanPersalinan oleh Tenaga Kesehatan danTenaga Non Kesehatan Kota Mataram Tahun 2011 Target Bulin 1.531 1.390 1.102 1.113 638 1.953 1.408 741 611 10.487 8.875 8.925 Persalinan Nakes Cakupan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ampenan Tj. Karang Karang Pule Mataram Selaparang Pagesangan Cakranegara Kr.Taliwang Dasan Cermen Dasan Agung Kota Mataram Tahun 2010 Tahun 2009 1.462 1.327 1.052 1.063 609 1.864 1.344 708 518 9.468 8.380 7.752 % 91,1 100,4 94,7 89,8 91,6 94,6 90,7 98,9 118,6 95,19 94,42 86,86 Persalinan Non Nakes Cakupan 7 1 41 0 3 4 12 0 2 70 111 169 % 0,48 0,08 3,9 0 0,49 0,21 0,89 0 0,39 0,70 1,25 1,89

No

Puskesmas

Sumber : Laporan PWS KIA tahun 2011

Dari tabel diatas diperoleh gambaran bahwa terjadinya peningkatan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dari 94,42% pada tahun 2010 menjadi 95,19% pada tahun 2011. Disamping itu cakupan persalinan oleh Tenaga Non Kesehatan telah dapat diturunkan dari 1,25% pada tahun 2010 menjadi 0,70% pada tahun 2011. Puskesmas dengan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi tertinggi adalah Puskesmas Dasan Cermen sebesar 118,6% dan Puskesmas dengan cakupan persalinan oleh tenaga non kesehatan terbanyak adalah Puskesmas Karang Pule sebesar 3,9%.

393

Kunjungan Neonatal 3 (KN3), Neonatal Komplikasi dan Kunjungan Bayi Kunjungan Neonatal (KN) adalah neonatus (bayi berumur 0 – 28 hari) yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar oleh tenaga kesehatan yang memilki kompetensi klinis minimal 3 kali selama bayi berumur 0 – 28 hari. Tahun 2011 tercatat cakupan Kunjungan Neonatal (KN) minimal 3 kali cukup tinggi yaitu 97,21%. Neonatus komplikasi tertangani adalah neonatus komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih, dokter dan bidan di sarana pelayanan kesehatan. Cakupan neonatus komplikasi yang ditangani masih cukup rendah meskipun telah mengalami peningkatan dari Tahun 2010 sebesar 26,82% menjadi 39,65% pada tahun 2011. Sedangkan cakupan kunjungan bayi adalah cakupan bayi (29 hari – 11 bulan) yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh dokter, bidan dan perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan paling sedikit 4 kali disatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Tahun 2011 cakupan kunjungan bayi minimal 4 kali di wilayah Kota Mataram cukup besar yaitu 99,42% dari target sasaran bayi.
Tabel 3.10.4 Cakupan Kunjungan Neonatal 3 (KN3), Neonatal Komplikasi dan Kunjungan Bayi Kota Mataram Tahun 2011 Target No Puskesmas Bayi Lahir Hidup 1. Ampenan 2. Tj Karang 3. Karang Pule 4. Mataram 5. Selaparang 6. Pagesangan 7. Cakranegara 8. Kr Taliwang 9. Ds. Cermen 10 Dasan Agung . Kota Mataram Tahun 2010 1371 1315 1029 948 550 1777 1235 629 608 9462 Bayi 1392 1264 1002 1012 580 1775 1280 674 556 9535 Kunjungan Neonatus 3 (KN3) Jml % Neonatal Komplikasi tertangani Jml 168 97 66 46 36 21 61 57 15 % 80,4 51,1 44,0 30,3 41,4 7,9 31,8 56,4 18,1 Kunjungan Bayi 4 Jml 1332 1447 979 861 550 1707 1405 644 555 % 95,69 114,4 8 97,70 85,08 94,83 96,17 109,7 7 95,55 99,82 99,42 99,49

134 96,26 0 98,73 124 8 96,91 971 932 92,09 555 95,69 172 97,24 6 92,81 118 8 103,4 697 111 612 110,0 7 -

926 97,21 567 39,65 9480 9 97,68 339 26,75 8.407 8.449 8.45 8.2 0 KIA 53 (Anak) Tahun 2011 Sumber : Laporan PWS

394

Dari tabel 3.10.4 menunjukkan cakupan KN3 di wilayah Kota Mataram pada tahun 2011 sebesar 97,21% dengancapaian cakupan KN3 tertinggi pada Puskesmas Dasan Cermen sebesar 110,07% dan terendah yaitu Puskesmas Mataram sebesar 92,09%. Sedangkan cakupan Kunjungan Bayi minimal 4 kali sedikit mengalami penurunan dari tahun 2010 sebesar 99,49% menjadi 99,42% pada tahun 2011. Cakupan kunjungan bayi minimal 4 kali tertinggi pada Puskesmas Tanjung Karang sebesar 114,48% dan terendah pada Puskesmas Mataram sebesar 85,08%.

3.10.2. Gambaran Umum Puskesmas Karang Pule Puskesmas Karang Pule awalnya adalah sebagai Puskesmas Pembantu dari Puskesmas Tanjung Karang. Sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat maka Pustu Karang Pule tersebut dikembangkan menjadi Puskesmas Karang Pule dan diresmikan pada bulan Januari Tahun 2002. Pembangunan poskesdes didanai dari APBD (dana bagi hasil sukai tembakau di tingkat propinsi) akan dibangun 2 poskesdes; ada 7 poskesdes akan dibangun dg dana DHS-2, sedang tanah akan disediakan Pemda. Kematian ibu yang masih tinggi di wilyah puskesmas Pule diduga karena kurangnya kesadaran masyarakat dan perlunya peningkatan kualitas tenaga kesehatan dokter dan bidan dalam menangani penyulit persalinan. Kepala Dinas kota Mataram mengusulkan ada biaya selain Jampersal untuk digunakan meningkatkan kualitas bidan dan dokter menangani masalah persalinan (KIA). Karena dibutuhkan refreshing ketrampilan dan pengetahuan.

395

Tabel 3.10.5 Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Puskesmas Karang Pule Tahun 2011 Jml Penduduk No 1 2 3 4 5 Kelurahan Karang Pule Jempong Baru Pagutan Pagutan Timur Pagutan Barat Jumlah Luas Wilayah (Jiwa) 106,7 Ha 510,50 Ha 186,393 Ha 112,112 Ha 91,32 Ha 1007,025 Ha. 11.856 12.212 8.348 6.780 10.211 49.407

Sumber: Kantor Lurah Sewilayah Puskesmas Karang Pule Tahun 2011

Puskesmas Karang Pule sebagai penyambung tangan Pemerintah yang secara langsung menangani masalah kesehatan di masyarakat wilayah puskesmas terdiri dari 5 kelurahan yaitu 3 kelurahan dari Wilayah Kecamatan Mataram, dan 2 kelurahan berasal darai wilayah Kecamatan Sekarbela. Wilayah Puskesmas Karang Pule terdiri dari 5 kelurahan yaitu, Kelurahan Karang Pule, Kelurahan Pagutan, Kelurahan Pagutan Timur, Kelurahan Pagutan Barat, Kelurahan Jempong Baru. Luas Wilayah Puskesmas Karang Pule sekitar 1007,025 Hadengan jumlah

penduduk 49.407 jiwa.Batas-batas wilayah Puskesmas Karang Pule adalah sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Pagesangan, wilayah kerja Puskesmas

Pagesangan; Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Cakra Selatan, Wilayah kerja Puskesmas Mataram; Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Lombok Barat; Sebelah barat berbatasan dengan Pantai Mapak dan Kelurahan Tanjung Karang wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang. Kondisi di wilayah puskesmas Karang Pule tidak jauh berbeda dengan kondisi secara umum di kota Mataram. Suhu udara di Kota Mataram berkisar antara 20.4 °C sampai dengan 32.10 °C. Kelembapan maksimum 92% terjadi pada bulan Januari, April, Oktober dan November, sedangkan kelembaban minimum 67% terjadi pada bulan Oktober. Rata-rata penyinaran matahari maksimum pada bulan Februari. Sementara jumlah hari hujan tertinggi terjadi pada bulan November sebanyak 27 hari, dengan

396

curah hujan rata-rata mencapai 1.256,66 mm per tahun, dan jumlah hari relatif 110 hari per tahun. Mata pencaharian dan tingkat ekonomi masyarakat di Karang Pule tidak berbeda dengan kelurahan lain di kota Mataram yang bervariasi, mulai dari buruh tani, petani, pedagang, pegawai negeri sipil, Polisi bahkan TNI. Pendidikan, masih cukup banyak penduduk yang mempunyai tingkat pendidikan rendah bahkan perempuan tidak tamat SD. Pendidikan yang rendah menyebabkan banyak perempuan menikah muda. Islam adalah agama mayoritas penduduk Mataram disusul agama yang lain yaitu Kristen, Katolik, Hindu, Buddha danKonghucu. Walaupun Islam merupakan

agama mayoritas di Mataram, namun kerukunan umat beragama dengan saling menghormati, menghargai dan saling menolong untuk sesamanya cukup besar. Hal ini sesuai dengan visi kota Mataram untuk mewujudkan Kota Mataram maju, religius dan berbudaya. Fasilitas kesehatan yang ada di wilayah puskesmas Karang Pule termasuk lokasi dukun dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 3.10.4. Peta Fasilitas Kesehatan di Wilayah Puskesmas Karang Pule

397

3.10.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak Pandangan tentang ibu hamil, bersalin, bayi/anak Tuan Guru merupakan tokoh agama yang dihormati dan dijadikan panutan setiap nasehat dan petuahnya. Dalam hal kepercayaan, masyarakat masih sangat percaya terhadap kekuatan doa yang diberikan oleh Tuan Guru. Dalam setiap kejadian baik kesehatan maupun non kesehatan, masyarakat sering memanfaatkan air minum yang telah mendapat do’a dari Tuan Guru atau tokoh agama lain sebagai sarana untuk memperoleh keselamatan. Peristiwa yang biasanya diberi air adalah bila ada masalah kehamilan, persalinan, lama belum punya anak, masalah kesehatan pada bayi dll. Peran Tuan Guru dalam ritual yang biasa dilakukan masyarakat adalah pemberi do’a dan menyampaikan ceramah tujuh untuk acara Aqiqoh, pembacaan cukuran, surat pemberian Yusuf dan

nama,“Slamatan

Perut”;

bulanan,

Mariam,pemberian nama, diusulkan nama dengan urutan terkait Allah, Nabi/Rasul, orang saleh.

Kepercayaan yang Masih Berkembang Penduduk kota Mataram mayoritas beragama Islam, oleh karena itu setiapperistiwa yang dikegiatan dimasyarakat banyak diwarnai dengan kegiatan keislaman seperti pengajian, ceramah agama. Kepercayaan dalam tahap reproduksi perempuan masih banyak diwarnai dengan kepercayaan, adat istiadat dan ritual. Sebagaimana di berbagai daerah lain, kepercayaan, adat, ritual pada perempuan dibedakan menjadi saat kehamilan, persalinan dan pasca persalinan. Hasil dari wawancara responden di lapangan, menunjukkan hasil bahwa 68,6% melakukan ritual saat hamil, 32,9% melakukan ritual saat persalinan, 71,4% saat nifas dan 90% ritual untuk neonates. Masa Kehamilan. Pengetahuan masyarakat dan ibu terhadap ibu hamil yang berkembang di masyarakat Mataram, hamil merupakan yang alami bagi wanita yang sudah bersuami, namun kepercayaan masyarakat terhadap ibu hamil cukup bervariasi namun sikap dan perilaku masyarakat terhadap kepercayaan berkembang dimaksud tetap berjalan secara alami, misalnya ibu hamil enam bulan dilakukan doa dengan

398

sesajen dengan tujuan jabang bayinya selamat dalam persalinan, ada juga tadisi tujuh bulanan. Masyarakat Mataram yang mayoritas beragama Islam tidak dapat lepas dari pengaruh ajaran agama. Tuan Guru sebagai tokoh agama yang sangat dihormati dan dipercaya masyarakat adalah tokoh yang menjadi sumber pengetahuan berbagai keadaan yang terjadi. Menurut Tuan Guru, kehamilan adalah kondisi yang perlu dijaga karena ibu mengandung janin yang akan terus tumbuh menjadi manusia seutuhnya. Menurut penjelasan tuan Guru, tahapan janin dalam kandungan dapat dibagi tiga yaitu, pertama pada usia 0-40 hari masih berupa mani yang bertemu dengan sel telur, tahap 40-120 hari, masih berupa gumpalan darah yang belum bernyawa atau masih mati. Disusul tahap >120 hr – 9 bulan 10 hari, janin telah ditiupkan ruh berarti janin sudah bernyawa atau hidup. Pada usia kandungan <120 hari, ibu terutama harus menjaga makanan untuk pertumbuhan janin dalam kandungan. Pada usia kandungan > 120 hari, seorang ibu yang mengandung selain memperhatikan konsumsi makanan untuk kebutuhan perkembangan bayi juga harus menjaga perilaku yang baik karena janin sudah bernyawa dalam arti sudah dapat terpengaruh oleh perilaku ibu. Anjuran pada kehamilan dan persalinan antara lain hindari pedas, kecut, dingin; Makanan saat hamil diperhatikan, banyak membaca salawat dan menghindari yang haram dalam segala hal. Pantangan yang diterapkan dipercaya untuk menghindari keadaan yang tidak diinginkan atau yang membahayakan kehamilan dan persalinan. Banyak tindakan yang dilarang dilakukan merupakan pertanda yang harus dijjauhi agar tidak benar-benar terjadi. Sudah tidak ada pantangan dan penggunaan bawang putih/merah untuk menolak bala seperti diungkapkan Ina Su (dukun bersalin). Pantangan hamil muda: buah nanas, durian, mangga, nangka karena takut keguguran. Hamil tua dan setelah bersalin tidak ada pantangan makanan, semua boleh begitu ajaran dari bidan.Pantangan saat kehamilan tidak saja berlaku bagi ibu hamil, dikenal pula pantangan bagi suami. Suami tidak boleh menyembelih hewan saat istri melahirkan sampai dengan tali pusat lepas, dikenal pula pantangan bagi suami untuk keluar rumah seperti pengakuan dukun Su, namun hal ini tidak dilakukan mengingat suami harus bekerja mencari nafkah.

399

Aktifitas budaya yang dilakukan masyarakat mempunyai maksud tertentu. Sebagai contoh beberapa pantangan/ tabu mempunyai maksud sebagai berikut, Ibu hamil tidak boleh merajut/menjahit dengan tangan karena bisa berakibat persalinan tidak lancar/tertutup seperti kain yang dijahit; tidak boleh duduk ditengah pintu masuk rumah karena berakibat persalinan tersendat/terhalang; tidak boleh mengalungkan kain dileher karena akan mengakibatkan lilitan tali pusat; tidak boleh membersihkan bulu ayam yang disembelih karena bisa menyebabkan bayi kejang-kejang; tidak boleh mandi mengenakan kain basah-basahan agar pada saat bersalin air ketuban tidak pecah duluan.
Tabel 3.10.6 Aktifitas Budaya pada Masa Kehamilandi Wilayah Puskesmas Karang Pule Aktifitas Budaya pada Masa Kehamilan Ritual, tradisi, atau adat Pantangan/Tabu Anjuran tertentu Tradisi enam bulanan  Ibu hamil tidak boleh  Bila ada gerhana bulan, merajut/menjahit dengan ibu hamil harus mandi kehamilan. Acara ini tangan besar/keramas dilakukan untuk  Tidak boleh duduk ditengah  Kalau mendengar mendoakan ibu dan pintu masuk rumah seorang ibu hamil atau jabang bayinya agar keluarga meninggal, ibu  Dilarang makan cumi –cumi selamat dalam proses hamil harus mandi besar  Dilarang makan persalinan. Tradisi  Pada Masyarakat Hindu menggunakan wadah dilakukan dengan Bali, cara bicara suami penggorengan isteri harus lemah membuat sesajen dan  Dilarang makan buah nanas, lembut tidak boleh durian, mangga, nangka dilakukan dengan marah-marah agar  Dilarang minum air es keluarga dekat saja. memberikan contoh  Makanan yang dipantang kepada calon bayi nangka, salak, durian, nanas,  Suami tidak mencukur mangga kueni, Sprite , rambut atau tidak Atau Tujuh bulanan kepiting , udang bercukur sampai isteri  Dilarang: mengalungkan kain (tradisi sama dengan melahirkan. dileher enam bulanan)  Bila memasak nasi,  membersihkan bulu ayam panci/dandang agar yang disembelih segera disiram air  mandi mengenakan kain  Bila terjadi gempa bumi, basah-basahan ibu hamil disarankan  membunuh binatang mandi di sungai besar  duduk bertopang dagu,  Duduk harus beralaskan  gigit buah tanpa pakai pisau. kain (di pantat)  terlalu sering tidur Sumber: Data Primer

400

Masih dikenal pantangan bagi ibu hamil. Sedangkan pantangan terkait dengan makanan antara lain dilarang makan cumi–cumi karena akan berakibat persalinan tidak lancar (ada yang mengatakan plasenta lengket, ada yang mengatakan bayi seperti cumi-cumi); makan buah nanas, durian, mangga, nangka dapat menyebabkan keguguran. Pada Masyarakat Hindu Bali, cara bicara suami isteri harus lemah lembut tidak boleh marah-marah agar memberikan contoh kepada calon bayi. Selain ada anjuran agar suami tidak mencukur rambut atau tidak bercukur sampai isteri melahirkan. Ini sebagai pertanda bahwa suami yang rambutnya panjang artinya isterinya sedang hamil sebagai isyarat agar suami tidak macam-macam sehingga akan memberikan rasa tenang kepada isterinya. Anjuran lain, bila memasak nasi, panci/dandang agar segera disiram air agar ibu tidak melahirkan kering atau air ketuban habis; duduk harus beralaskan kain (di pantat) agar tidak terkena “kancing bumi”. Bila terjadi gempa bumi, ibu hamil disarankan mandi di sungai besar agar persalinannya tidak mengalami bahaya (bayi meninggal dalam perut). Persalinan. Banyak aktifitas budaya yang berkembang pada masa persalinan di masyarakat Mataram baik berupa mitos-mitos ataupun kebiasaan pijat seluruh tubuh atau minum jamu dan anjuran-anjuran, yang bertujuan agar supaya ibu bersalin dengan lancar tanpa halangan. Pantangan saat melahirkan yang masih dilakukan misalnya, pintu-pintu di rumah tidak boleh tertutup, panci harus terbuka, gelang, cincin harus dilepas.

401

Tabel 3.10.7 Aktifitas Budaya pada Masa Persalinan di Wilayah Puskesmas Karang Pule Aktifitas Budaya pada Masa Persalinan Ritual, tradisi, atau adat tertentu Pantangan/Tabu Anjuran Jalan pelanpelan

 Nujuh Bulanan: mandi kembang oleh dukun,  Tidak boleh bisa disertai mengundang makan bisa juga banyak bergerak/ hanya ritual. berjalan  Air disiram pada perut ibu hamil dan jalan  Tidak boleh lahir dilakukan oleh suami makan yang amis seperti ikan lauut  Minyak kelapa diminum, air dibasuh pada wajah perut dan diminum.  Minum jamu  Dilangkahi suami  Berorah/pijat seluruh badan Sumber: Data Primer

Sebagai masyarakat Islam yang menghormati tokoh agama (Tuan Guru), banyak hal yang mereka lakukan dengan meminta tolong kepada Tuan Guru. Terkait dalam persalinan, berikut beberapa peran Tuan Guru yang biasa terjadi di masyarakat kota Mataram. 1. Pengajian, memimpin pengajian dan memberika ceramah serta do’a. 2. “Slamatan Perut”; tujuh bulanan, memimpin pembacaan surat Yusuf dan Mariam. 3. Aqiqoh, cukuran, pemberian nama: mendo’akan sang bayi. 4. Pemberian nama; mengusulkan nama seorang bayi, biasanya menggunakan nama yang mempunyai arti memuliakan dengan urutan terkait Allah, Nabi/Rasul, orang saleh 5. Pemberian air yang diberi do’a bila ada masalah kehamilan, persalinan, lama belum punya anak Menurut informasi dari dukun Ina Sa, masyarakat sudah tidak banyak lagi yang minta jamu kepada dukun. Boreh (jamu luar dibalurkan ke badan) dan jamu sudah tidak pernah dilakukan lagi. Bagi Ina Sa, hal tersebut menguntungkan baginya, selain malas juga karena membuatnya sulit dan bahan dari kulit kayu sudah sulit diperoleh. Menurutnya, ibu muda sekarang juga tidak mau minum jamu, mereka memilih minum

402

obat yang lebih praktis serta ada anggapan bahwa orang yang minum jamu dianggap “gawah” atau kampungan= bodoh. Upacara yang masih dilakukan masyarakat pada masa setelah melahirkan adalah 1. Pedak Api (Padam api) upacara tujuh hari saat tali pusat lepas. Tidak ada acara makan, hanya ritual. Ibu mandi keramas dengan memerikan santan pada rambut, termasuk bayinya. Setelah itu dipakaikan benang melingkar perut ibu, benang tersebut sebelumnya diberi doa-doa oleh dukun. Bila dukun tidak ada bisa dilakukan oleh orang yang dituakan misalnya nenek. Setelah upacara ini, bayi baru boleh diajak jalan keluar rumah. Pemberian nama juga bisa diberikan saat Pedak Api, dan dapat dimintakan nama kepada Tuan Guru atau tokoh agama lain 2. Ruwahan: pesta Aqiqoh. Setelah pesta, dukun diberi dulang yang berisi makanan dan sayur serta ikan dikirim ke rumah dukun. 3. Andang: pemberian kepada dukun setelah menolong ibu bersalin berupa wadah berisi bers+ sirih + dibawahnya diselipi uang. Kebiasaan masyarakat setelah hadir dalam suatu upacara ritual atau adat terkait dengan persalinan adalah membawa berkat saat pulang. Berkat adalah makanan saat pesta (sisa makanan dimakan bersama) yang dibawa pulang. Pasca Persalinan. Banyak aktifitas budaya setempat (Mataram) yang berkembang di masyarakat pada masa pasca persalinan yang bertujuan agar ibu cepat pulih kesehatan dan dapat beraktifitas seperti sedia kala misalnya banyak makan sayuran adalah banyak mengandung vitamin, ada hal-hal mitos yang berbau tahayul misalnya Ibu Nifas tidak boleh menyahut bila dipanggil dari luar karena akan “ketemuk”. Artinya, seseorang yang ditegur/disapa oleh makhluk gaib/jin yang mengakibatkan sakit perut/gangguan kesehatan lainnya (pusing, muntah2). Masih dikenal pantangan yang kurang baik terhadap ibu ibu bersalin misalnya makan yang amis seperti ikan laut sebetulnya ikan laut merupakan sumber protein hewani yang sangat diperlukan oleh ibu pada masa persalinan karena sumber protein sangat diperlukan untuk mengembalikan kondisi ibu yang masih lemah pasca persalinan dan zat protein yang sangat diperlukan untuk komponen imum untuk mencegah penyakit.

403

Dalam hal perilaku/tindakan pasca persalinan, ibu saat cebok (membersihkan bagian intim wanita) tidak boleh tersentuh tangan karena dipercaya akan bengka kemaluannya. Pandangan ini menyebabkan kebersihan bagian intim wanita menjadi kurang baik mengingat daerah tersebut perlu pembersihan yang cukup baik akibat adanya darah ataupun luka yang mungkin terjadi akibat persalinan. Pedak api merupakan suatu upacara/ritual yang dilakukan pada ibu dan bayi pasca persalinan setelah tali pusat putus.Bayi dan ibu akan diberikan gelang di tangan, pinggang dan jempol kaki ibu dan bayi. Gelang dibuat dari benang warna warni dan digulung kemudian diberikan sematan umbi (bawang putih/mera) yang dipercaya bisa menolak gangguan jin, sedangkan gelang di pinggang ibu berguna agar perut tidak sakit dan darah nifas lancar keluar. Bagi bayi, gelang perut berguna agar tidak sering buang air besar.Upacara ini dipimpin belian/dukun/ibu yang dituakan. Ibu-ibu/para tetangga akan dibagikan kelapa yang telah diiris dan telah didoakan oleh dukun/ belian agar ibu yang hadir tidak sakit mata. Irisan kelapa ini akan digunakan untuk keramas, pembagian kelapa ini tetap dilakukan meskipun ibu melahrkan di nakes. Pada upacara ini sekaligus diberikan nama kepada bayi dan membuat bubur merah putih yang dibagikan kepada tetangga. Plasenta atau ari-ari merupakan bagian dari bayi yang mendapat perlakuan khusus. Adik kakak (ari-ari) setelah ditanam (dicuci, dibungkus kain putih, diletakkan di wadah tanah liat), harus diberikan lampu/lentera. Untuk anak laki-laki di atasnya diberikan rokok dan sirih sedangkan bayi perempuan diberi lipstik dan bedak. Dikenal pula ritual terkait dengan adat Hindu. Kepus Pusar=Molang malik (hindu) sama dengan pedak api pada masyarakat suku Sasak. Pada adat Hindu, upacara tidak dipimpin dukun tapi oleh keluarga sendiri dengn berdoa bersama dan diberi air suci pada si bayi serta diberikan nama. Upacara ini berlangsung setelah tali pusat putus antara hari 7–15.Roras Dine (12 hari), upacara ini dilakukan pada saat bayi usia 12 hari, dengan ritual berdo’a bersama oleh keluarga dengan membuat sesajen yang bertujuan untuk keselamatan bayi.Sebulan pitung dine (1 buan 7 hari): upacara dilakukan saat bayi usia 1 bulan tujuh hari yang bertujuan untuk keselamatan bayi dan sebagai rasa syukur bahwa bayi sudah melewati 1 bulan kehidupannya dan akan tetap dirayakan setiap 35 hari (1 bulan bali=35 hr) sampai anak berusia 1,5 tahun. Upacara dipimpin oleh pemangku keluarga, sedangkan upacara besar yang melibatkan pendeta
404

dilakukan pada 3 bulanan dan 6 bulanan. Dilanjutkan dengan upacara 3 bulanan dan 6 bulanan.

Tabel 3.10.8 Aktifitas Budaya pada Masa Pasca Persalinan di Wilayah Puskesmas Karang Pule Aktifitas Budaya pada Masa Pasca Persalinan Ritual, tradisi, atau adat tertentu  Belanger: upacara setelah putus tali pusat  = Pedak api = Beregek= Molang Malik (Hindu) ,  Ada yang menyebut sebagai upacara memerak (di lingkungan Patemon, Karang Buaya).  Adik kakak (Ari-ari) dilenterai  Ngurisan: memotong rambut bayi (kalau Hindu 6 bulan)  Semayut: buat banten yang isinya buah-buahan, jajan, do’a, saat bayi baru pulang dari tempat persalinan (RS/pusk/Polindes) Laki-laki 2 nare (nampan), perempuan 1 nare ( nampan) Pantangan/Tabu Anjuran

 Ibu tidak boleh ke dapur  Banyak (tidak boleh aktifitas makan rumah) sampai 1 bulan 7 sayuran hari segar seperti  Tidak boleh makan sayur makanan yang amis dan bening agar gatal seperti ikan laut, air susu telor banyak  Tidak makan makanan keluar pedas  Tidak makanan yang licin  Makan ramuan seperti belut penghangat  Ibu Nifas tidak boleh badan menyahut bila dipanggil  Banyak dari luar karena akan makan daun “ketemuk”. Artinya, turi dan seseorang yang sagar , ditegur/disapa oleh dianjurkan makhluk gaib/jin yang ortu mengakibatkan sakit UPACARA ADAT HINDU perut/gangguan kesehatan lainnya  Kepus Pusar=Molang malik (pusing, muntah2) sama dengan pedak api pada  Ibu nifas tidak boleh masyarakat suku Sasak. mengambil barang yang letaknya tinggi yang  Roras Dine (12 hari) mengharuskan  Sebulan pitung dine (1 buan 7 mengangkat tangan hari) melebihi kepala karena akan meyebabkan  3 bulanan: bayi diupaarakan bawah ketiaknya akan dan dipakaikan perhiasan emas kembung  6 bulanan: satu oton (ngurisan) Sumber: Data Primer

405

Pengetahuan, Sikap, Praktek/Tindakan tentang perilaku ANC, persalinan dan paska persalinan terkait dengan pemanfaatan Jampersal Pengetahuan, sikap, praktek/tindakan masyarakat terhadap perilaku

memeriksakan kehamilan (ANC) cukup baik dengan cukup tinggi angka ANC baik di Puskesmas maupun di bidan praktek swasta walaupun masih ada ibu-ibu melahirkan dengan pertolongan dukun dengan alasan anaknya sudah mbrojol di rumah dan ada yang beralasan persalinan dengan dukun, akan merawat bayi dan ibu serta melakukan upacara-upacara/ritual yang dilakukan sang dukun. 1. Acara budaya/keagamaan masih kuat 2. PHBS kurang terlihat dari perilaku saat pesta makan bersama dengan tangan di nampan 3. Pantang makan berkuah saat hamil 4. Tidak boleh keluar rumah s/d 40 hari paska persalinan Cukup banyak pengembangan pos kesehatan pesantren di Mataram. Melalui poskestren, dimanfaatkan untuk menyadarkan masyarakat tentang pemahaman salah tentang kematian anak yang akan menjemput ortu di sorga yang harus diiringi dengan usaha maksimal dalam bidang kesehatan (Jamiul umah). Tindakan /Praktek KIA Masyarakat Karang Pule pada umumnya bila hamil maka memeriksakan kandungannya baik di Puskesmas maupun di bidan praktek swasta. Telah terjalin kerjasama bidan-dukun. Dukun juga menganjurkan ibu untuk melahirkan di fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan Rumah Sakit. Mengingat transportasi di kota Mataram yang cukup mudah maka hampir seratus persen persalinan ditolong tenaga kesehatan, namun belum seluruhnya melahirkan di fasilitas kesehatan seperti pernyataan seorang dukun bahwa alasan tidak mau ke puskesmas biasanya karena takut dijahit atau takut biaya. Sedangkan bagi keluarga kurang mampu, mereka dengan senang hati mau diajak oleh dukun ke puskesmas terutama setelah ada pelayanan gratis. Dukun umumnya dikatakan dibutuhkan oleh orang dari golongan miskin saja mengingat jasanya yang tidak mahal serta bisa dibayar kapan saja. Ada kalanya

406

sebagian kecil ibu-ibu yang masih menggunakan jasa dukun mereka melakukan pemeriksaan kandungannya pada dukun tentang letak janin atau memijat seluruh tubuh. Namun demikian, namun bagi beberapa keluarga dengan sosial ekonomi cukup/kaya, tetap membutuhkan pertolongan dukun untuk mengantarkan ibu menjelang persalinan ke fasilitas kesehatan. Ina Su seorang dukun bersalin, akan mengantar kemana mereka mau baik ke RS pemerintah, swasta atau ke puskesmas sesuai keinginan mereka. Persalinan di fasilitas kesehatan seperti puskesmas, polindes, sudah cukup berhasil di puskesmas Karang Pule. Berdasar wawancara dengan seorang bidan, ibu bersalin rata-rata hanya mau tinggal sebentar saat melahirkan yaitu 6 jam sampai 1 hari, dan setelah itu mereka segera pulang ke rumah. Makanan untuk ibu yang melahirkan di fasilitas kesehatan pada umumnya membawa sendiri baik dari rumah atau membeli. Bila ada permasalahan dalam kehamilan maupun persalinan maka biasanya keluarga akan mencari air yang telah diberi doa oleh kian/Tuan Guru. Pelayanan KIA berupa pemeriksaan kehamilan, persalinan, dan paska persalinan dilakukan masyarakat Mataram dengan memanfaatkan tenaga bidan dan atau dukun. Pelayanan persalinan ada yng ditolong oleh dukun meski sangat jarang, karena sudah ada kemitraan dukun bidan. Dukun akan mendapat uang Rp. 50.000,diambilkan dana BOK bila membawa ibu bersalin ke bidan. Ada binaan oleh bidang Kesehatan keluarga – Dinkes agar dukun agar tidak lagi menolong persalinan. Dukun diharapkan hanya membantu menunggu dan merawat ibu menjelang persalinan dan membantu paska persalinan. Beberapa dukun masih dimintai jampe-jampe oleh ibu dan keluarga menjelang persalinan. Pelayanan yang diterima masyarakat dari bidan dan dukun dapat dilihat pada tabel berikut.

407

Tabel 3.10.9 Pelayanan KIA yang diterima Ibu Hamil dari Bidan & Dukun di Wilayah Puskesmas Karang Pule Jenis Pelayanan oleh Bidan Periksa Kehamilan Persalinan Rawat Pasca Persalinan KB Pijat Bayi Buat Jamu Ibu Upacara Lain-lain ‘Ya’ Terima Yan Bidan 98,6 92,9 88,6 84,3 5,7 2,9 1,4 12,9 Jenis Pelayanan oleh Dukun Periksa Kehamilan Persalinan Rawat Pasca Salin Jamu Ibu Rawat bayi Buat jamu Bayi Upacara Pijat ibu ‘Ya’ Terima Yan Dukun 31,4 5,7 2,9 1,3 24,3 2,9 31,4 47,1

Sumber: Data Primer

Pemeriksaan yang dilakukan ke nakes (bidan) selama kehamilan dan paska persalinan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.10.10 Pemeriksaan yang dilakukan Ibu ke Tenaga kesehatan di Wilayah Puskesmas Karang Pule Pemerikaan Nakes ANC Pasca Hamil 0 kali 1,4 % 11,4% 0 kali Neonatus KB Pasca Nifas 15,7% 80,0% Sumber: Data Primer 1-2 kali 8,6% 75,7% 1-2 kali 62,9% >= 4 kali 90,0% 18,6% >= 3 kali 21,4%

3.10.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat dalam Pemilihan Penolong Persalinan Pengambilan keputusan Masih banyak perkawinan usia muda sekitar 15-16 tahun (perempuan) maupun laki-laki.Ada istilah “dicolong” bagi calon istri. Pasangan yang sudah saling suka, maka calon suami akan mencuri calon istri dan disembunyikan. Besoknya dengan perantara kepala lingkungan atau RT, datang mengutarakan maksud. Keluarga perempuan bisa minta tebusan uang, biasanya sekitar 3-4 juta, tapi bagi calon laki-laki bukan orang

408

setempat bisa mahal sampai puluhan juta. Setelah sepakat dengan uang yang harus dibayarkan, maka beberapa hari kemudian keluarga perempuan memberikan wali, dan pasangan tersebut dinikahkan. Keluarga istri akan melakukan selamatan. Sedangkan keluarga suami bisa mengadakan pesta besar-besaran. Pengambilan keputusan bahwa istri melahirkan di bidan praktek

swasta/puskesmas/rumah sakit adalah suami sendiri tetapi biasanya tetap meminta pertimbangan orang tua. Mertua lebih berpengaruh terhadap menantu yang melahirkan, misalkan memberikan pantangan makanan. Ada yang hanya boleh makan daun turi yang disayur bening dan ditambah krupuk.

Dukun dalam Pandangan Masyarakat Dukun ada 16 dan masih ada dukun yang menurunkan ilmunya kepada 2 anak perempuannya.Kader 1700 orang. Dukun di mata masyarakat Mataram masih mempunyai arti. Dukun menjadi tempat meminta pertolongan saat menjelang persalinan dan setelah persalinan dan penyelenggarakan ritual. Jadi meskipun sudah ke bidan ataupun ke dokter persalinannya, masih membutuhkan dukun untuk mendampingi menjelang dan saat persalinan dan membantu merawat plasenta, serta ibu paska persalinan. Kebutuhan masyarakat terhadap dukun dalam pemeriksaan kehamilan cukup tinggi. Karena dari hampi seluruh responden yang melakukan pemeriksaan kehamilan ke bidan (98,6%) ternyata yang memeriksakan diri ke dukun juga cukup tinggi yaitu 31,4%. Alasan memeriksakan kehamilan ke dukun, tertinggi 36,4% karena alasan tradisi dan 31,8% karena anjuran orangtua atau suami. Dukun atau biasa disapa dengan Ina (=ibu) juga diminta menolong mengobati “Sakit Bongkor” atau sakit panas pada anak. Anak atau bayi, biasanya dibawa ke dukun untuk dipijat. Anak yang dipijat sampai dengan anak tingkat Sekolah dasar, tapi sebagian dukun juga memijat orang dewasa. Ibu bersalin biasanya mencari penolong yang terdekat dukun atau kader setelah itu baru dicari bidan. Dukun pada umumnya sudah bekerjasama dengan bidan, seorang dukun mengaku sekitar 10 tahun yang lalu sudah bermitra dengan bidan.Ina Su adalah seorang dukun.Biasanya pasien dibawa ke puskesmas karena jaraknya dekat

409

denganrumah.Bila ada yang tidak mau, maka akan dibujuk bahkan setengah dipaksa untuk datang ke puskesmas. Ina Sumengantar dan menunggu ibu bersalin di puskesmas. Dia berperan sebagai penunggu sampai lahir dan merawat ibu serta bayi sampai 7 hari. Ini dilakukan biasanya untuk anak pertama. Meski mengaku sudah tidak menolong sejak kerjasama dengan bidan, tapi tahun kemarin mengaku masih menolong 4 ibu melahirkan yang menurut dukun sudah tidak keburu dibawa ke puskesmas. Tahun 2011 menolong melahirkan di rumah 1 orang, karena tidak mau melahirkan di puskesmas maunya di rumah meski sudah dipaksa. Ditinggal, ternyata lahir, sehingga dukun datang sudah lahir. Ina Su mampu mendeteksi saat persalinan melalui keluarnya darah dan lendir dari jalan lahir disertai perut kencang terus menerus.

Bidan di Mata Masyarakat Bidan di mata masyarakat cukup berarti apalagi bidan yang sudah senior banyak membantu pertolongan persalinan di tempat rumah bidan, dan bila ada program Jampersal yang bersifat gratis maka makin banyak masyarakat yang menggunakan jasa Jampersal dengan bidan praktek swasta yang sudah MOU dengan Jampersal. Demikian pula persalinan di Puskesmas makin banyak diminati oleh masyarakat karena mereka sudah percaya terhadap bidan. Untuk mempermudah jangkauan antara bidan dengan masyarakat, bidan banyak dibantu oleh kader kesehatan yang banyak di kota Mataram. Kader kesehatan juga dilatih tentang kesehatan termasuk pengetahuan pelayanan KIA. Saat ini sudah ada 300 kader sudah dilatih di seluruh kota Mataram. Upaya memperlancar komunikasi dilakukan dengan menjalin hubungan antara bidan dengan kader. Bidan memiliki nomor handphone (hp) kader atau langsung ibu hamil untuk mengontak ibu yang hamil, sebaliknya ibu hamil/keluarga juga mempunyai no hp bidan. Kepercayaan masyarakat terhadap kompetensi bidan dalam melakukan pemeriksaan kehamilan seperti ditemukan hasil penelitian ini menunjukkan 56.5% karena merasa mana dan nyaman serta 18,8% karena percaya terhadap kemampuan

410

bidan. Sedangkan yang mengemukakan karena jarak dekat hanya 14,5% dari 70 responden yang diwawancara.

Hubungan Dukun dan Bidan Hubungan dukun dan bidan sudah cukup baik fungsi dukun membantu bidan dalam mengantarkan pasien ke tempat bidan atau puskesmas apabila mau melahirkan. Biasanya para dukun diberi jasa transportasi walaupun masih ada masyarakat menggunakan jasa dukun untuk menolong persalinan dengan alasan sudah tidak tahan dan sudah keluar di rumah, tetapi sudah berangsur-angsur berkurang masyarakat menggunakan jasa dukun untuk menolong persalinan. Sistem Pembiayaan persalinan oleh masyarakat dan pemanfaatan pelayanan Jampersal untuk kalangan yang cukup mampu maka pembiayaan persalinan oleh masyarakat ditanggung oleh keluarga itu sendiri, namun untuk keluarga tidak mampu atau yang sudah mengenal program Jampersal maka pembiayaan persalinan ditanggung oleh pemerintah melalui program Jampersal.

Pelaksanaan Pelayanan KIA Alasan utama memilih tenaga pemeriksa kehamilan sangat bervariasi. Mereka bisa ikut program Jampersaldengan mememeriksakan kehamilan kepada bidan dipuskesmas atau polindes terdekat. Bagi keluarga dengan ekonomi cukup bisa memilih pemeriksaan pada bidan praktek swasta atau ke RS.

Pemilihan penolong persalinan Pemilihan penolong persalinan juga bervariasi. Bagi ibu yang ikut program Jampersal maka akan bersalin di puskesmas, bagi yang belum tahu program Jampersal, pada umumnya mereka bersalin di bidan praktek swasta atau RS bagi yang mampu atau mengalami kesulitan persalinan. Penolong persalinan menurut hasil wawancara kepada responden ibu ditampilkan dalam tabel 3.10.11 berikut ini. Sedangkan dari alasan penolong terakhir

411

adalah 22,9% karena dirujuk, 38,6% dengan alas an aman dan nyaman, 14,3% karena percaya dengan tenaga keehatan dan alasan lain sebesar 21,4%.

Tabel 3.10.11 Penolong Persalinan pertama dan Terakhir di Wilayah Puskesmas Karang Pule Jenis Tenaga Dokter Bidan Dukun Suami/Kelg Lainnya Penolong Pertama 15,7 74,3 7,1 0,0 2,9 Sumber: Data Primer Penolong Terakhir 24,3 68,6 5,7 0,0 1,4

Pembiayaan Kesehatan (termasuk Pemanfaatan Jampersal) oleh masyarakat Pembiayaan kesehatan bagi yang masyarakat ekonomi bawah pembiayaan bisa melalui Jamkesmas, Jamkesda, tetapi sejak ada program Jampersal maka pembiayaan persalinan di Puskesmas dibiayai Jampersal. Masyarakat sangat antusias dalam pemanfaatan Jampersal karena gratis khususnya dari kelompok ekonomi bawah, tetapi karena adanya ketidakpuasan terhadap pelayanan puskesmas, maka cukup banyak ibu-ibu yang melahirkan di Bidan Praktek Swasta (BPS) seperti yang terungkap dalam FGD. Status persalinan yang diketahui dari hasil wawancara dengan 70 responden, menunjukkan bahwa 77,1% melahirkan normal, 11,4% melahirkan dengan penyulit dan dirujuk, 10% melahirkan dengan penyulit dan dilakukan operasi SC sedangkan 1,4% melahirkan dengn penyulit tapi tidak dirujuk. Dari data tersebut juga menggambarkan bahwa sebagian besar melahirkan di puskesmas (45,7%), 35,7% di Rumah Sakit, 11,4 % di rumah bidan/polindes. Meskipun di perkotaan yang cukup mudah transportasinya, masih ditemui 5,7% melahirkan di rumah dan 1,4 % melahirkan di rumah dukun. Pembiayaan persalinan menurut pengakuan 70 responden menunjukkan bahwa 60% dibiayai oleh Jampersal. Namun secara terperinci sumber biaya KIA

412

menurut pengakuan responden yang terjadi pada 70 responden dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3.10.12 Sumber Biaya Kesehatan KIA di Wilayah Puskesmas Karang Pule Sumber Dana ANC (%) Sendiri/klg Jampersal Jamkesmas/ Jamkesda Asuransi lain Sumber lain Tidak periksa 36,2 49,3 14,5 0,0 0,0 0,0 Pelayanan/Perawatan Persalinan (%) 20,0 61,4 15,7 1,4 1,4 0,0 Pasca Salin (%) 28,6 52,9 7,1 0,0 1,4 10,0 Neonatus (%) 11,4 58,6 14,3 0,0 1,4 14,3

Sumber: Data Primer

Biaya persalinan sebesar antara 700 ribu s/d 1 juta rupiah termasuk berat bagi keluarga ekonomi rendah. Menurut seorang BPS yang melakukan MoU untuk pelayanan dengan Jampersal menjelaskan bahwa bagi masyarakat tidak mampu langsung diarahkan untuk melahirkan dengan dana Jampersal, tetapi bagi yang mampu secara ekonomi mampu akan diarahkan dengan biaya mandiri. Menurut bidan, pembiayaan dukun tidak selalu murah karena ada dukun yang mematok biaya pelayanan yang cukup besar. Pengetahuan tentang Jampersal Walaupun sosialisai sudah cukup lama dilakukan oleh dinas kesehatan baik melalui pamong dan lintas sektor, tetap saja banyak masyarakat yang belum tahu apa itu Jampersal hal ini dapat diketahui melaui FGD suami yang istrinya melahirkan dengan non Jampersal.

3.10.5. Peran Tenaga Kesehatan dalam Pelaksanaan Program Jampersal Peran tenaga kesehatan dalam pelaksanaan Jampersal

413

Tenaga kesehatan yang paling berperan adalah bidan di puskesmas di Puskesmas Karang Pule koordinatornya adalah bidan Sil, semua bidan yang PNS melakukan pertolongan persalinan di puskesmas dengan biaya Jampersal target persalinan di puskesmas sudah tercapai yaitu 80%, sedangkan bidan praktek swasta juga bisa menerima persalinan Jampersal untuk administrasinya diserahkan kepada bidan koordinator untuk menyelesaikan klaim biaya Jampersal ke Dinas kesehatan. Sosialisasi Jampersal dari Dinkes ke Puskesmas Persalinan gratis di kota Mataram sudah dimulai sejak 2010 dijamin dengan danaJamkesmas khusus kelompok masyarakat miskin. Sejak diluncurkan Jampersal pada tahun 2011, maka semua persalinan ditanggung Jampersal sedangkan rujukan ditanggung oleh Jamkesmas atau asuransi lain misal Askes. Sosialisasi Jampersalsudah dilakukan sejak akhir 2010. Perwali sebagai pendukung sedang dalam proses. Baru di proses setelah ada teguran dari Irjen karena belum ada perwali yang mendukung secara hukum. Penanganan Jampersal dilkukan di bidang Promkes Dinkes karena terdapat seksi Pengembangan Jaminan Kesehatan Masyarakat yang menangani Jamkesmas, Jampersal, BOK. Pelaksanaan Jampersal tahun 2011, di kota Mataram diperoleh dana Jamkesmas dan Jampersal 2,9 M tapi dikembalikan tidak terserap semua sehingga 0,8 M dikembalikan sehingga realisasi 90,6%. Pada tahun 2012 permintaan besar anggaran untuk Jamkesmas dan Jampersalsama dengan tahun 2011. Prosesnya penyerapan Jampersal melalui klaim dari bidan puskesmas yang disampaikan ke Dinkes. Selanjutnya dilakukan verifikasi oleh tim Dinkes dan bila sudah sesuai persyaratan akan diajukan ke Pemda. Dana selanjutnya masuk ke kas Pemerintah Daerahdipotong 2% sebagai pendapatan Pemda dan sisanya dikembalikan ke Dinkes. Dana tersebut akan diserahkan ke Puskesmas dan dibagikan sesuai dengan kesepakatan yang telah disusun. Sosialisasi dari Puskesmas ke Masyarakat Sosialisasi Jampersal dari puskesmas ke tokoh-tokoh masyarakat ke parakader telah dilakukan. Ada Da’i Kesehatan sebagai kepanjangan tangan antara lain untuk sosialisasi kesehatan termasuk Jampersal. Saat ini ada 10 orang, terdiri dari tokoh agama yang mendapat tambahan pengetahuan tentangnkesehatan. Tempat

414

pertemuan biasanya di kelurahan, di pertemuanpertemuan lintas sektor, di kecamatan juga pernah. Walaupun tidak khusus sosialisasi tapi ikut membicarakan, ikut mensosialisasikan Jampersal.
“Waktu di kelurahan banyak respon sih, sosialisasi ini kan hanya untuk mengingatkan mereka, agar mereka mengerti. Jadi mereka sudah punya pengalaman juga, hubungannya sama dengan penerimaan mereka, kita yang memberikan pelayanan, masalah identitas dia dulu ya, ya waktu Jamkesmas. Waktu Jamkesmas juga kan menyerahkan KTP juga seperti sekarang ya, menyebutkan identitas gitu ya”. “…intinya nggak ada perbedaan sebenarnya untuk tingkat Puskesmas ya, tapi kalau lihat cacat saya nggak tahu lagi ya kalau ada perbedaan. Kalau tingkat Puskesmas kan sama itu semua. Fisiologis sama non fisiologis, jadi pertama mungkin mereka mencari identitas diri dulu ya, mungkin Jamkesmas atau Jamkesda. Nah seandainya nggak ada itu baru Jampersal ya, nah Jampersal itu pakai identitas KTP. Intinyauntuk . Jampersal untuk semua penduduk baik yang miskin maupun non miskin semua bisa menggunakan fasilitas Jampersal”

Pandangan dari Kabid Kesehatan Keluarga merasa bahwa kebijakan Jampersal “kebablasan” karena disamaratakandisemua daerah Indonesia yang kondisi dan situasinya berbeda-beda, dengan standar Jampersal melahirkan di faskes. Di beberapa tempat, ada kendala transportasi sehingga dalam pengaturan pembiayaan olehJampersal seharusnya mempertimbangkan lokasi. Pada masyarakat pedesaan yang memiliki kebiasaan mengantar ibu bersalin secara rombongan dan menunggu di puskesmas/RS, maka perlu dipertimbangkan biaya bagi keluarga yang menunggu ibu bersalin. Perlu penyadaran ke masyarakat tentang makna gratis yang bukan berarti tidak ada biaya tetapi “biaya yang ditanggung/disubsidi pemerintah”. Perlu ada skala prioritas. Kebutuhan dana tersebut perlu dialokasikan melalui APBD. Pengelolaaan Dana Jampersal di tingkat Puskesmas Jampersal di tingkat Dinas kesehatan Kota Mataram telah dikelola, semula dengan hanyaberdasar peraturan Menteri Kesehatan RI No

2562/MENKES/PER/XII/2011 tentang petunjuk tehnis Jaminan persalinan, telah ditetapkan pemanfaatan dana di faskes tingkat pertama. Besaran Jasa Pelayanan persalinan sebagaimana dibayarkan kepada pemberi pelayanan dengan

memperhatikan maksud pemberian insentif agar terjadi akselerasi tujuan program dan

415

tujuan MDGs, terutama penurunan AKI bersalin. Dengan adanya keputusan tersebut maka pada tanggal 10 Mei 2012, bidan koordinator se-kota Mataram dan difasilitasi kepala Dinkes kota Mataram dan staf terkait, membuat kesepakatan.
Tabel 3.10.13 Besaran Pembagian Biaya Persalinan Bersumber dari Jampersal di Kota Mataram Tahun 2012 No Item Persalinan Normal (Rp.500.000,-) Poned (Rp. 650.000,-) % Jumlah % Jumlah 2 10.000 2 13.000 5 65 4 2 2 7 3 4 4,6 0,8 0,6 20.000 10.000 10.000 35.000 15.000 20.000 23.000 4.000 3.000 25.000 325.000 4,61 63,07 2,61 30.000 410.000 17.000 Ditentukan di keterangan 40.000 20.000 10.000 10.000 35.000 15.000 20.000 23.000 4.000 3.000

1 2

Pajak profesi Jasa Medis  Visite dokter  Bidan penolong  Perawat  Tindakan dokter  Konsul dokter Jasa Non Medis  Kepala puskesmas  Bendahara  Bidan Koordinator  Puskesmas Akomodasi  Makan pasien  Bhan habis pakai  Paket persalinan  ATK  Cleaning service

6,15 3,07 1,53 1,53 5,38 10

Keterangan: Jika ada tindakan dokter berupa vakum ekstraksi, curettage maka jasa diatur sbb. Jasa dokter 60% dar Rp.410.000,-= Rp 264.000,Jasa bidan 44% dari Rp.410.000,- = Rp. 146.000

Pengelola dan Jampersal di tingkat puskesmas dilaksanakan dengan mengikuti kesepakatan yang telah diambil oleh koordinator bidan puskesmas disaksikan oleh kepala Dinas dan kepala puskesmas. Pengelolaan Jampersal dibawah koodiner bidan puskesmas yang menangani klaim ke Dinas Kesehatan Kota, dan uangnya akan diserahkan ke bidan yang menangani persalinan Jampersal baik yang di puskesmas, puskesmas pembantu, poskesdes, atau bidan praktek swasta. Pelaksanaan Jampersal: Verifikator Jampersal ada SK Ka Dinkes, ada di Dinkes sedang untuk yang dirujuk ada verifikator independen di RS. Ada kesepakatan pihak puskesmas tentang pembaian

416

dana persalinan (Rp. 500.000,-) yaitu pajak 2%; jasa pelayanan dokter, bidan, perawat (85%); Akomodasi 13% (Cleaning servis, ATK, Promosi). Di kota Mataram, sudah diberlakukan INA CBGs, rujukan persalinan sudah ditanggung oleh Jamkesmas bagi yang tidak mampu. Adanya Jampersal, rujukan persalinan meningkat sehingga beban pelayanan RS meningkat. Telah disusun formularium obat, sehingga tidak ada pembebanan biaya bagi peserta Jamkesmas atau Jampersal yang dirujuk ke RS. Rujukan, pertama di bawa ke puskesmas Ponek (ada 4) bila puskesmas tidak mampu menangani akan dirujuk RS. Kebijakan Internal Puskesmas Dana untuk bidan itu tidak dikurangi dengan kesepakatan yang ada di Dinas. RP 500.000, ada kemitraan dengan dukun yang harus menyisakan untuk dukunnya, diambilkan dari dana sendiri atau dari Jampersal, untuk kemitraandengan dukun, misalkan melahirkan disana BPS (bidan praktek swasta), atau di puskesmas itu dipakai untuk transport dukun Rp. 100.000,-. Honor untuk kader pengantar pasien yang semula Rp.50.000 turun jadi Rp. 30.000. Uang Rp 100.000,- diberikan ke puskesmas karena tindakan partusnya di Puskesmas masuk ke kas Puskesmas, bukan ke individu tidak langsung di bagi.kebijakan dari Puskesmas tersebut masuk ke bagian Kesra dan akan dibagi bersama biasanya satu tahun sekali, biasanya sebelum hari raya, itupun hanya separuh. Kendala Jampersal yaitu kelambatan bidan mengajukan klaim dan masih banyak yang tidak lengkap lampirannya.

3.10.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan Program Jampersal Hambatan Masyarakat yang akses rumahnya jauh dari Puskesmas maka persalinannya biasanya di puskesmas lain atau RS yang dekat dengan rumahnya, masyarakat yang pendidikan rendah dan pengetahuan mengenai pelayanan KIA biasanya persalinannya masih minta tolong dukun apalagi ditambah dengan kepercayaan yang salah tentang kehamilan, persalinan dan masa nifas, walaupun sudah jarang. Dukungan Kota Mataram khususnya Puskesmas Karang Pule relatif dekat kota mataram transportasi cukup mudah dan daerah terjauh 7 km maka Pelaksanaan Jampersal di
417

tingkat Puskesmas cukup berhasil didukung dengan adanya kepercayaan selama hamil harus banyak makan sayur hal ini cukupbaik untuk kesehatan ibu yanghamil.

Harapan Harapan dari masyarakat sosialisasi Jampersal lebih digiatkan karena masih banyak masyarakat yang belum tahu. Harapan dari Kesehatan administrasi jangan terlalu rumit karena harus mengisi formulir yang cukup banyak. Kesimpulan Pengetahuan masyarakat terhadap ibu hamil yang berkembang di masyarakat Mataram, hamil merupakan yang alami bagi wanita yang sudah bersuami, namun kepercayaan masyarakat terhadap ibu hamil cukup bervariasi namun sikap dan prilaku masyarakat terhadap kepercayaan berkembang dimaksud tetap berjalan secara alami, misalnya ibu hamil enam bulan dilakukan doa dengan sesajen dengan tujuan jabang bayinya selamat dalam persalinan , ada juga tradisi tujuh bulanan. Banyak aktifitas budaya yang berkembang pada masa persalinan di masyarakat Mataram baik berupa mitos-mitos ataupun kebiasaan pijat seluruh tubuh atau minum jamu dan anjuran-anjuran, yang bertujuan agar supaya ibu bersalin dengan lancer tanpa halangan, akan tetapi ada pantangan yang kurang baik terhadap ibu ibu bersalin misalnya makan yang amis seperti ikan laut sebetulnya ikan laut merupakan sumber protein hewani yang sangat. Banyak aktifitas budaya setempat (Mataram) yang berkembang di masyarakat pada masa pasca persalinan yang bertujuan agar ibu cepat pulih kesehatan dan dapat beraktifitas sedia kala misalnya banyak makan sayuran adalah banyak mengandung vitamin, ada hal-hal mitos yang berbau tahayul misalnya Ibu Nifas tidak boleh menyahut bila dipanggil dari luar karena akan “ketemuk”. Artinya, seseorang yang ditegur/disapa oleh makhluk gaib/jin yang mengakibatkan sakit perut/gangguan kesehatan lainnya (pusing, muntah muntah). Pengambilan keputusan bahwa istri melahirkan di bidan praktek

swasta/puskesmas/rumah sakit adalah suami sendiri tetapi biasanya tetap meminta pertimbangan orang tua. Dukun di mata masyarakat mataram masih mempunyai arti. Dukun menjadi tempat meminta pertolongan saat menjelang persalinan dan setelah

418

persalinan dan penyelenggarakan ritual. Hubungan dukun dan bidan sudah cukup baik fungsi dukun membantu bidan dalam mengantarkan pasien ke tempat bidan atau puskesmas apabila mau melahirkan. Persalinan di Puskesmas makin banyak diminati oleh masyarakat dengan program Jampersal, dan bila ada program Jampersal yang bersifat gratis maka makin banyak masyarakat yang menggunakan jasa Jampersal dengan bidan praktek swasta yang sudah MOU dengan Jampersal. Sistem Pembiayaan persalinan oleh masyarakat dan pemanfaatan pelayanan Jampersal. Untuk kalangan yang cukup mampu maka pembiayaan persalinan oleh masyarakat ditanggung oleh keluarga itu sendiri , namun untuk keluarga tidak mampu atau mampu yang sudah mengenal program Jampersal maka pembiayaan persalinan ditanggung oleh pemerintah melalui program Jampersal. Walaupun sosialisai sudah cukup lama dilakukan oleh dinas kesehatan baik melalui pamong dan lintas sector, tetap saja banyak masyarakat yang belum tahu apa itu Jampersal hal ini dapat diketahui melaui FGD suami yang istrinya melahirkan dengan non Jampersal.Sosialisasi sudah dilakukan sejak akhir 2010.Perwali sebagai pendukung sedang dalam proses. Baru di proses setelah ada teguran dari Irjen karena belum ada perwali yang mendukung secara hukum. Penanganan Jampersal dilakukan oleh bidang Promkes Dinkes karena terdapat seksi Pengembangan Jaminan Kesehatan Masyarakat yang menangani Jamkesmas, Jampersal, BOK. Sosialisasi Jampersal dari puskesmas kepada tokoh-tokoh masyarakat ke kaderkader juga tidak secra spesifik tetapi menumpang pada pertemuan yang ada.Tempat pertemuan biasanya di kelurahan, di pertemuanpertemuan lintas sektor tingkat kecamatan. Walaupun tidak khusus, sosialisasiJampersal disisipkan pada materi pertemuan yang ada. Saran Perlunya sosialisasi Jampersal lebih luas kepada masyarakat baik melalui tokoh masyarakat, lintas sector, media masa elektronik, media cetak. Perlu melibatkan Rumah Sakit swasta, Rumah Bersalin Swasta dalam kegiatan Jampersal sebagai tempat rujukan persalinan sulit yang tidak dapat ditangani Puskesmas Poned, dalam rangka menurunkan Angka kematian ibu (AKI) dan Angka Kematian Anak (AKA).

419

3.11. Puskesmas Mateketen, Kabupaten Halmahera Selatan 3.11.1. Gambaran Umum Kabupaten Halmahera Selatan Kabupaten Halmahera Selatan adalah kabupaten baru yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Maluku Utara. Ibukota Kabupaten Halmahera Selatan berada di Desa Labuha, Kecamatan Bacan yang terletak dipulau Bacan. Halmahera Selatan terletak pada posisi 126° 45¹ sampai 129° 30¹ Bujur Timur dan 0° 30¹ sampai 2° 00¹ Lintang Utara. Kabupaten Halmahera Selatan memiliki luas wilayah 40.236,72 km², yang terdiri dari daratan seluas 8.779,32 km² dan lautan seluas 31.484,40 km², terletak di Indonesia bagian Timur, tepatnya berbatasan dengan: Sebelah Utara dibatasi oleh Kota Tidore Kepulauan dan Kota Ternate Sebelah Selatan dibatasi oleh Laut Seram Sebelah Barat dibatasi Laut Maluku Sebelah Timur dibatasi oleh Laut Halmahera Secara administratif Kabupaten Halmahera selatan terdiri dari 30 kecamatan dan 249 (dua ratus empat puluh sembilan) desa.Iklim yang terdapat diwilayah Kabupaten Halmahera Selatan adalah iklim tropis dan iklim musim. Peta klimatologi hasil pencatatan Badan Meteorologi dan Geofisika Kabupaten Halmahera Selatan pada tahun 2007 menunjukan suhu rata-rata berkisar antara 24,85°C – 27,70°C.

Gambar 3.11.1. Peta Wilayah Kabupaten Halmahera Selatan(Pulau Makian ada di bagian atas, kecil bundar berwarna putih)

420

Jumlah penduduk Kabupaten Halmahera Selatan Tahun 2008 sebanyak 190.429 jiwa. Sebanyak 50.719 jiwa (26,63 %) termasuk penduduk miskin yang mendapat pelayanan kesehatan disarana pelayanan kesehatan seperti Puskesmas dan Rumah Sakit Pemerintah melalui pelayanan asuransi Kesehatan Keluarga Miskin (Jamkesmas). Masyarakat diluar masyarakat miskin, diwadahi dalam bentuk Jamkesda.Dengan demikian seluruh masyarakat di Kabupaten Halmahera Selatan memiliki perlindungan kesehatan. Pada tahun 2008 jumlah penduduk usia sekolah (7-12tahun) sebanyak 28.696 jiwa dan usia (13-15 tahun) sebanyak14.214 jiwa. Sedangkan pada tahun 2009 mengalami kenaikan jumlah usia sekolah (7-12tahun) sebanyak 35,865 jiwa dan usia (13-15tahun) sebanyak 16.346 jiwa.Pertumbuhan ekonomi dilihat dari pertumbuhan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 rata–rata pada sektor pertanian sebagai penyumbang terbesar dengan kisaran 42%. Perekonomian Kabupaten Halmahera Selatan didominasi lima sektor utama, yakni sektor pertanian, perdagangan, hotel, restoran, serta sektor industri pengolahan. Akses transportasi ke Labuha ibukota Kabupaten Halmahera Selatan dapat ditempuh dengan pesawat udara dari bandara Sultan Babullah Ternate ke bandara Oesman Sadik Labuha selama 20 – 25 menit. Dapat juga ditempuh dengan kapal laut atau speedboat dari pelabuhan laut Ternate ke pelabuhan laut Labuha di Pulau Bacan selama sekitar 8-10 jam tergantung cuaca.

Gambar 3.11.2. Peta Pulau Bacan Sumber: Dokumentasi Peneliti

421

Gambar 3.11.3. Bandara OesmanSadik Labuha Halsel Sumber: Dokumentasi Peneliti

Gambar 3.11.4 Kantor Dinas Kesehatan Halsel Sumber: Dokumentasi Peneliti

Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Tenaga Kesehatan Peneliti hanya berhasil memperoleh data atau profil kabupaten Halmahera Selatan tahun 2009 sedangkan profil kesehatan tahun 2010 dan 2011 belum dibuat. Di dalam profil 2009 tersebut data yang tercantumpun tidak seluruhnya sampai dengan tahun 2009 tapi ada yang masih terbatas sampai tahun 2007 dan 2008 saja. Menurut profil 2009 tersebut pada tahun 2007 jumlah puskesmas 18 buah, puskesmas pembantu 25 buah dan Polindes 88 buah. Tahun 2008 jumlah puskesmasmencapai 27 puskesmas dan97 polindes, puskesmas pembantu masih tetap 25 buah. Pada tahun 2008 tidak banyak penambahan jumlah pustu dan lebih ditekankan untuk pembangunan polindes.Untuk tahun 2009 Sarana Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatansebagai berikut:

422

Tabel 3.11.1 Sarana Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan Tahun 2009 No 1 2 3 4 5 6 Sarana Kesehatan tahun 2009 Rumah Sakit Pemerintah Rumah Sakit swasta Puskesmas Pustu Polindes Balai pengobatan Jumlah 1 1 30 27 110 1

Tenaga kesehatankabupaten Halmahera Selatan tahun 2009 menunjukkan jumlah tenaga medis sejumlah 13 orang, tenaga sanitasi 11 orang, kefarmasian 10 orang dan gizi 15 orang. Tenaga bidan sebagai tenaga inti dalam pelayanan KIA yang disebar ke desa-desa ada sebanyak 79 orang sedangkan tenaga paramedis sebanyak 132 dan didukung 5 orang sarjana kesehatan masyarakat.

Kesehatan Ibu, ANC, Pertolongan Persalinan dan KB Jumlah ibu hamil pada tahun 2007 sebesar 3.772 dan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan 3.157 (84%). Tahun 2008 ibu hamil sebesar 5.383 dan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan menurun sebanyak 2.333 (43,34%).Tahun 2009 jumlah ibu hamil 3.031 dan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan meningkat menjadi 2.274 (51%). Tahun 2009, cakupan K4 bervariasi, puskesmas yang masih rendah cakupan K4-nya adalah puskesmas Laluin (26%), karena Puskesmas Laluin baru dimekarkan pada tahun pertengahan tahun 2008 dan cakupan tertinggi adalah Puskesmas Labuha (90%). Kejadian kematian ibu maternal kabupaten Halmahera Selatan terjadi penurunan.Pada tahun 2007 sebesar 10 kasus, tahun 2008 masih sebesar 10 kasus, dan tahun 2009 turun menjadi 5 kasus. Tahun 2007 jumlah neonatal Kabupaten Halmahera Selatan sebesar 3.330 dan neonatal risti yang dirujuk sebesar 72 (2,16%) dan ditangani oleh tenaga kesahatan sebesar 44 (1,83%). Tahun 2008 jumlah neonatal 2.918 dan neonatal risti yang dirujuk sebesar 10 (0,34%) dan ditangani oleh tenaga

423

kesehatan sebesar 85 (2,91%). Tahun 2009 jumlah neonatalsebesar 2.702, tidak neonatal yang dirujuk. Kepesertaan KB kabupaten Halmahera Selatan naik turun. Tahun 2006 peserta KB Baru berjumlah 8.045 peserta (8.35% dari jumlah PUS) dan jumlah peserta KB aktif9.604. Tahun 2007 jumlah peserta KB Baru naik 3.980 (50,61%) dan peserta KB aktif 12.255 (17,58%). Tahun 2008 jumlah peserta KB Baru naik 2.716 (62,53%) dan peserta KB aktif 14.733 peserta. Tahun 2009 jumlah peserta KB Baru3.107(turun 49,82%) dan peserta KB aktif 38.913 peserta.

3.11.2. Gambaran Umum Kecamatan Makian Barat Pulau Makian terletak di Kabupaten Halmahera Selatan ke arah selatan kota Ternate. Pulau Makian terbagi atas 2 kecamatan yaitu Kecamatan Makian (Makian Dalam) dan kecamatan Makian Barat (Makian Luar) yang merupakan pecahan dari kecamatan Makian. Perjalanan dari Ternate ke kec. Makian (nama ibukota Ngofatioaha) dengan speedboat umum selama sekitar 1,5 jam. Dari

Ngofatioaha/Barumadehe ke Mateketen perjalanan dengan speedboat sekitar setengah jam. Bisa juga dari Ternate langsung ke desa Mateketen Makian Barat dengan speedboat umum sekitar 1,5 jam, namun speedboat umum Ternate –Mateketen jarang hanya ada dua buah, dalam satu hari satu kali perjalanan (satu datang dan satu pergi) tidak sesering Ternate–Barumadehe. Puskesmas mempunyai speedboat kecil (isi maks 5 orang) bantuan dari pemda Halsel, speed ini kalau diperlukan untuk mengantar pasien rujukan atau persalinan tidak normal ke Ternate dengan solar ditanggung oleh keluarga pasien. Kondisi geografi di Kecamatan Makian: kesulitan transportasi, tidak ada satupun kendaraan roda empat di kecamatan ini karena jalan darat antar desa belum tembus dan susah naik turun gunung, sedangkan dengan perahu sering terkendala cuaca. Kecamatan Makian Barat tergolong daerah sangat terpencil: tidak ada jalan darat/jalan kaki, ada motor roda dua untuk kendaraan internal desa dan desa terdekat, tidak ada kendaraan roda 4, tidak ada signal Hp, tidak ada jaringan listrik/PAM, tidak ada jaringan internet, tidak ada hotel/losmen/wisma/mes, tidak ada warung makan,

424

tidak ada pasar. Kendaraan lewat laut adalah dengan speedboat atau dengan perahu antar desa atau ke Ternate tetapi jalannya tergantung cuaca dan pasang surut laut yang sering berubah-ubah mendadak.

Gambar 3.11. 5 Suasana dalam speedboat umum Ternate-Mateketen Sumber: Dokumentasi Peneliti

Gambar 3.11.6 Speedboat Milik Puskesmas di Pantai Makian Sumber: Dokumentasi Peneliti

Puskesmas Mateketen terletak di Desa Mateketen Kecamatan Makian Barat Kabupaten Halmahera Selatan yang terdiri dari 7 desa yang beberapa diantara desanya dapat dijangkau dengan jalan kaki dan kendaraan bermotor, namun ada yang dengan kendaraan laut. Nama 7 desa di wilayah kerja PKM Mateketen yaitu: Mateketen, Malapat, Bobawae,Ombawa, Tegono, Talapaon dan Sebelei. Mata pencaharian penduduk kecamatan Makian Barat adalah petani dan nelayan. Penghasilan khas pulau Makian adalah buah Kenari yang ditanam dalam jangka waktu lama baru berbuah. Kebiasaan penduduk dalam satu atau beberapa

425

keluarga bernomaden apabila mereka mau membuka lahan baru untuk kebun, biasanya ditanam singkong, ubi, pisang, pepaya. Semangat gotong royong masih tetap mewarnai kehidupan penduduk Makian, terutama apabila ada kemalangan dan kesukacitaan. Di pulau Makian 100% penduduk beragama Islam, dan masih mempercayai hal-hal bersifat supranatural seperti roh halus dan sebagainya.

Masalah Kesehatan di Puskesmas Mateketen Profil Kesehatan Puskesmas Mateketen Kecamatan Makian belum pernah disusun. Data sekunder tentang kesehatan Kecamatan Makian tahun 2011-2012 diperoleh dari data Power Point Kepala Puskesmas yang pernah dipresentasikan di Dinas Kesehatan Halsel dapat pertemuan pada awal dalam tahun 2012, antara lain sebagai berikut. Tabel 3.11.2 Jumlah Penduduk, Bayi, Balita & Bumil sebagai Sasaran Program KIA Tahun 2011
No Desa Jumlah Penduduk 788 650 276 248 515 591 1032 4100 Sasaran Bayi 18 15 6 6 12 14 24 95 Sasaran Balita 79 65 25 28 52 59 103 411 Sasaran Bumil 20 16 6 7 13 15 26 103

1 2 3 4 5 6 7

Malapat Bobawae Tegono Ombawa Mateketen Talapaon Sebelei Total

Dari tabel di atas terlihat pada tahun 2011 Jumlah penduduk dalam wilayah puskesmas Mateketen (kecamatan Makian Barat) sebesar 4100 jiwa, sasaran Bumil sebesar 103 dan sasaran bayi 95, serta sasaran balita 411. Pembiayaan kesehatan bersumber dari beberapa jaminan kesehatan yang disediakan pemerintah antara lain Askes bagi PNS, Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) dan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Distribusi kepesertaan

426

Jaminan

Kesehatan,

jumlah

penduduk

dan

sasaran

progam

Puskesmas

Mateketendapat dilihat pada tabel 3.11.3 berikut ini:
Tabel 3.11.3 Sumber Pembiayaan Kesehatan di Setiap Desa Kecamatan Makian No 1 2 3 4 5 6 7 Desa Malapat Bobawae Ombawa Tegono Mateketen Talapaon Sebelei Jumlah PNS 13 12 7 7 32 9 16 96 Jamkesda 538 591 195 296 468 505 965 3558 Jamkesmas 112 205 208 133 162 181 192 1292 Jumlah 663 808 410 436 662 695 1173 4946

Pada tahun 2011 belum ada ibu yang menggunakan Jampersal. Dari tabel di atas nampak kepesertaan Jaminan kesehatan paling banyak di Desa Sebelei dan paling sedikit Desa Ombawa, karena jumlah penduduk di kedua desa tersebut paling banyak dan paling sedikit di kecamatan Makian Barat, sedangkan Desa Mateketen sebagai pusat kecamatan Makian Barat bukanlah termasuk desa yang besar/ramai. Kondisi ketenagaan di puskesmas Mateketen tampak cukup minimal. Pada tahun 2011 jumlah tenaga yang bekerja di wilayah kerja Puskesmas Mateketen sebanyak 19 orang. Untuk tahun 2012 menurut Kapuskesmas jumlah seluruh tenaga di wilayah kerja puskesmas ada 21 orang yaitu seorang Kepala Puskesmas, seorang dokter, bidan sejumlah 9 orang, perawat 4 orang, seorang D-3 Gizi dan 5 orang tenaga administrasi lainnya.Tidak dijumpai seorangpun bidan praktek swasta di wilayah kerja puskesmas.

427

Gambar 3.11.6. Kepala Puskesmas (kaos putih)dengan Bidan, Perawatdan 3 peneliti Sumber: Dokumentasi Peneliti

3.11.3. Perilaku Masyarakat Terkait Kesehatan Ibu dan Anak Pandangan Tentang Ibu Hamil, Bersalin, Bayi/anak Masyarakat memandang kehamilan bagi wanita adalah suatu yang wajar bahkan merupakan kewajiban wanita untuk menyambung keturunan. Selama hamil ibu harus mengurus dirinya sendiri dan kesehatannya, suami tidak terlalu ikut campur, namun pada saat akan melahirkan maka suami dan seluruh keluarga akan berkumpul di rumah ibu. Menurut bidan, persalinan bagi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Mateketen bukan hanya merupakan urusan keluarga kecil, namun juga merupakan urusan suatu keluarga besar, untuk itu biasanya masayarakat desa ini memilih bersalin di rumah dibandingkan di fasilitas kesehatan dimana seluruh keluarga dapat hadir selama proses persalinan dan membantu setelah persalinan sebagai bentuk dukungan kepada ibu bersalin. Kepercayaan yang masih Berkembang Masih banyak kepercayaan masyarakat yang berkembang di wilayah puskesmas Mateketen berupa ritual, pantangan dan anjuran, dan disertai kepercayaan akibat apabila melanggar pantangan atau tidak mengikuti anjuran.Menurut berbagai sumber yang dikumpulkan dengan berbagai metode maka disimpulkan beberapa kepercayaan atau tradisi terkait kehamilan dan persalinan di pulau Makian sebagai berikut.

428

a) Kepercayaan pada Masa kehamilan. Kepercayaan yang masih berkembang di masyarakat cukup banyak. Kepercayaan berupa ritual, tradisi, adat istiadat dan pantangan atau tabu serta anjuran dilakukan sebagian masyarakat. Data ini dikumpulkan dari hasil FGD, maupun hasil wawancara saat melakukan pengumpulan data di lapangan kepada ibu yang bersalin pada kurun waktu satu tahun terakhir.Beberapa maksud dari pantangan ini dilakukan tanpa alasan yang tidak diketahui, atau merupakan kebiasaan sudah turun menurun. Ada pula keercayaan bahwa bila melanggar pantangan tersebut bisa membuat bayinya tidak sempurna/cacat dan ada pula yang dimaksudan untuk memperlancar persalinan. Ritual, tradisi, atau adat tertentu. Penggunaan air “Amal”yaitu air yang sudah dibacakan doa yang diguyurkan dibadan dan diminum oleh ibu bersalin dengan tujuan agar segera lahir bayinya. Ritual ini dilakukan biasa dilakukan bilaproses persalinan sulit dimana bayinya tidak keluar-keluar dan terjepit pada pintu vagina. Pantangan dan tabu. Banyak pantangan dan tabu yang dikenal masyarakat dan masih banyak dikerjakan. Melanggar pantangan atau tabu diperkirakan akan menyebabkan teradinya resiko yang harus ditanggung oleh ibu atau bayinya. Beberapa hal yang menjadi pantangan antara lain:             Bumil tidak boleh melewati tali jemuran Bumil tidak boleh melilitkan handuk di leher, bila melanggar bayi akan terlilit tali pusat. Bumil tidak boleh minum es, karena membuat tubuh janin menjadi besar Bumil tidak boleh keluar mulai sore dan malam hari Bumil tidak boleh keluar kalau hari mendung Bumil tidak boleh makan sayur terong, sayur lilin (sebangsa tebu), rica/cabe, sayur bulu, ikan suntung, cumi-cumi, dan penyu Kalau jalan kepala harus ditutup kain Bumil dilarang kena air hujan Bumil tidak boleh melempar-lempar binatang Bumil tidak boleh berdiri di pintu Bumil tidak boleh melewati kaki suami Suami bumil tidak boleh memotong hewan

429

      

Suami bumil tidak boleh melaut dan memotong ikan ketika mendekati persalinan Dilarang melakukan pekerjaan berat Jangan pergi ke laut sore dan menjelang magrib ini disebut Bobosal/Larangan Tidak boleh melangkahi apabila ada suami tidur alasannya Menjelang melahirkan dilarang bersetubuh, karena bisa menyebabkan kepala bayi benjol-benjol. Pantangan makanan bumil tidak ada kecuali dabu-dabu, boleh makan apa saja terutama kacang ijo Tidak boleh bertengkar dengan suami, dan suami juga dinasehatkan agar berbaik2 sama istri. Sedangkan anjuran yang dilakanakan di masyarakat antara lain:

 ibu selama hamil diberi obat kampung (ramuan) misalnya: daun balacai dan daun kipas  Aktivitas dianjurkan agar dibawah usia kehamilan 5 bln berjalan dan aktivitas pelan2, setelah itu boleh banyak gerak. b) Kepercayaan pada saat persalinan Pada saat proses persalinan mulai berlangsung, keluarga didukung oleh lingungannya termasuk dukun melakukan kegiatan ritual, tradisi atau adat istiadat. Berikut ini beberapa perilaku yang dilakukan masyarakat:    Perasan minyak kembang sepatu diberikan kepada ibu yang akan bersalin Ramuan yang diberikan oleh dukun (mama biang) berupa ramuan dari daundaunan yang dicampur dengan minyak kelapa Saat menolong persalinan, dukun memotong pada tali pusat/plasenta menggunakan bambu kemudian luka bekas potongan tersebut diberi abu yang sudah dipanaskan atau kunyit. Cara lain yaitu dengan memanaskan tangan dukun di atas api kemudian ditempelkan pada tali pusat bayi sambil diurut dengan perlahan, hal ini dilakukan Untuk menipiskan tali pusat agar mudah putus. Dukun mengatur penanaman ari-ari/plasenta di luar rumah oleh imam, apabila bayi laki-laki sebelum dikuburkan akan diazankan sedangkan kalo perempuan diqomatkan. Penguburan plasenta kalau anak pertama ditanam di sebelah kanan rumah sedangkan anak ke dua dan seterusnya bebas dikuburkan di lingkungan rumah.

430

Potongan tali pusat bayi yang sudah lepas yaitu disimpan dan dibungkus dengan kain putih. Apabila anak sakit panas maka tali pusat di celupkan ke dalam air dan diminumkan sebagai obatnya Tidak ditemui pantangan atau anjuran yang dilakukan ibu saat persalinan. Ritual

dan tradisi yang dilakukan menurut masyarakat adalah upaya agar persalinan lancar dan dapat segera lahir c) Kepercayaan untuk pasca persalinan Beberapa tradisi dilakukan setelah persalinan yaitu tradisi bapanas dan tradisi bakirah.Ritual bapanas dan bakirah ini dilakukan selang seling setiap satu hari selama 10 hari. Dukun yang membantu melakukan bakirah dan bapanas biasanya tidak dibayar lagi karena sudah merupakan satu paket dengan membantu persalinan. Setelah melakukan dua ritual ini diharapkan kondisi badan dapat kembali seperti semula seperti ketika belum melahirkan. Tradisi Bapanas. Ibu nifas memanaskan badan dengan tungku yang dibuat dipinggir tempat tidur. Ritual bapanas dilakukan agar kandungan cepat kering, muka tidak pucat dan kembali kuat. Ritual ini dilakukan oleh bufas didalam kamar, dan hanya menggunakan sarung saja tanpa baju lain dengan duduk di antara bara yang dibuat disamping tempat tidur sampai keringatan (seperti steam). Setelah bapanas dilanjutkan dengan mandi atau yang biasa disebut dengan bakirah. Tradisi Bakirah. Bufas mandi dengan mempergunakan air yang dicampur dengan daun-daunan yang didapat dari hutan. Ritual mandi ini dibarengi dengan pengurutan pada badan bufas dilakukan oleh mama biang (dukun). Dukun yang melakukan pengobatan ibu hamil/persalinan/nifas dengan membaca ayat-ayat suci pada segelas air lalu diminumkan pada ibu. Tidak diwajibkan untuk adakan upacara ritual tertentu (selamatan), tapi bagi keluarga yang mau mengadakan, akan disambut baik Ada tiga tahap yaitu masa kehamilan, persalinan dan pasca persalinan yang dipenuhi dengan perilaku atas dasar kepercayaan yang berkembang.Dari ketiga tahap nilai kepercayaan, terlihat untuk ibu hamil paling banyak pantangannya. Sedangkan

431

untuk ibu bersalin tidak ada pantangan tetapi banyak tradisi dan ritual. Untuk ibu pasca persalinan hampir sama banyak baik pantangan maupun ritual/tradisi.

Pengetahuan, Sikap dan Praktek terkait Kesehatan Ibu dan Anak Pengetahuan. Data tentang karakteristik, pengetahuan, sikap dan perilaku yang diperoleh dari hasil wawancara terstruktur saat survey dengan responden ibu yang bersalin mulai Juni 2011 sampai Mei 2012 di wilayah puskesmas Mateketen (sebanyak 50 orang). Data diperoleh dari kuesioner terstruktur yang dikumpulkan oleh para enumerator lokal (4 orang). Selain ini didukung informasi yang diperoleh dari wawancara mendalam dengan kepala Puskesmas dan bidan koordinator serta FGD bidan. Adapun karakteristik 50 ibu responden dalam penelitian ini antara lain pendidikan ibu 78% SMP ke bawah. pekerjaan ibu 90% ibu rumah tangga, pekerjaan suami (58%) petani dan 12% pegawai swasta. Menurut kepala Puskesmas mata pencaharian/pekerjaan masyarakat tidak ada pengaruhnya langsung terhadap pemanfaatan Jampersal, ada pengaruh pekerjaan ibu rumah tangga yang juga petani ladang terhadap pelayanan posyandu untuk penimbangan bayi dan ANC. Sebagian besar ibu responden mempunyai anak 2 (22%) dan 4 orang (20%), juga cukup banyak ibu yang mempunyai anak 5 orang (16%). Pengeluaran keluarga rata-rata terbanyak masuk kelompok 1 (paling rendah) 48% dan kelompok 2 (rendah) 36%. Semua ibu 100% menyatakan kondisi akses ke pelayanan kesehatan di kecamatan Makian Barat tidak ada angkot, beca, delman, ojek, bis, bentor dan kedaraan umum lainnya untuk ke petugas kesehatan bidan. Perjalanan ke RS Ternate dilakukan dengan jalan laut sekitar 2-2,5 jam perjalanan dengan kondisi laut yang berubah-ubah tergantung cuaca (kondisi bisa buruk dan bisa baik). Menurut Kepala puskesmas tingkat pendidikan ibu masih rendah, banyak yang tidak sekolah, SD, dan paling tinggi SMP, SMA di Mateketen hanya ada 1 buah dan masih baru belum meluluskan. Karakteristik 50 orang ibu yang menjadi responden dalam penelitian ini yaitu: pendidikan sebagian besar tamat SD (36.0%) dan tamat SMP (32.0%), tidak sekolah 8%. Sama halnya dengan pendidikan suami yaitu tamat SD (36%) dan tamat SMP (29%). Menurut kepala puskesmas dan bidan pengetahuan ibu tentang
432

Jampersal masih rendah karena program ini masih baru, namun sudah disosialisasikan oleh tim puskesmas (7 orang) ketika turun kunjungan ke rumah-rumah. Kalau ternyata masyarakat masih banyak yang tidak tahu akan adanya Jampersal, menurut kapuskesmas dan bidan koordinator Puskesmas karena ibu sering kali lupa atau tidak mengerti akan makna maupun manfaat Jampersal. Dari hasil wawancara dengan ibu ternyata pengetahuan ibu tentang KIA cukup baik terhadap beberapa pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan tentang apakah persalinan di rumah lebih baik, sebanyak 64% menjawab salah (berarti pengetahuannya baik). Begitu juga pertanyaan tentang frekuensi periksa hamil minimal 4x selama kehamilan dan tekanan darah tinggi merupakan risiko kehamilan ternyata sebanyak 90% menjawab benar (pengetahuan baik).Pertanyaan tentang pertolongan persalinan bidan lebih aman sebanyak 66% menjawab benar (pengetahuan baik). Pengetahuan tentang perkawinan dini di bawah 17 tahun jawaban responden cukup baik 70% menjawab benar bahwa itu tidak baik. Namun untuk pelayanan ANC (pemeriksaan hamil) oleh dukun sebanyak 88% ibu menjawab benar (pengetahuan kurang). Begitu pula tentang aktivitas ibu pasca persalinan minimal dilakukan setelah 3 hari sebanyak 72% ibu menjawab benar (pengetahuan kurang). Sikap. Mengenai sikap terkait kesehatan ibu dan anakjawabannya bervariasi positif (mendukunga kesehatan) dan negatif (tidak mendukung kesehatan) tergantung pernyataannya. Sebagai contoh antara lain: pernyataan tentang Jampersal membantu kehamilan, persalinan, nifas dan KB sebanyak 78% menjawab setuju dan sangat setuju (sikap baik/positif). Namun untuk pernyataan bahwa Jampersal memberi kesempatan banyak anak lebih dari separuh (54%) menjawab setuju dan sangat setuju (sikap negatif). Mengenai pernyataan bahwa ASI dapat diganti dengan madu dan air kelapa sebanyak 78% menjawab setuju dan tidak setuju (sikap negatif). Yang menarik pernyataan tentang kemampuan bidan dan dukun sama sebanyak 94% menjawab setuju dan sangat setuju (sikap tidak mendukung). Pernyataan tentang melahirkan di rumah sama amannya dengan di RS sebanyak 72% menjawab setuju dan sangat setuju (sikap negatif), meskipun dari pertanyaan terkait pengetahuan mereka menjawab persalinan di rumah itu tidak lebih baik. Pernyataan tentang upacara ritual pasti akan menyelamatkan ibu sebanyak 56% menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju

433

(sikap positif). Pernyataan tentang Jampersal hanya untuk keluarga miskin sebanyak 76% menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju (positif). Tindakan/Praktek.Pernyataan ibu tentang kehamilan, persalinan, pasca

persalinan dan KB sebagian besar ibu (86%) menyatakan ada/tersedia di pelayanan kesehatan. Sebaliknya untuk pelayanan kesehatan pijat bayi, jamu, upacara ritual sebagian besar menyatakan tidak ada di fasilitas pelayanan kesehatan. Untuk pelayanan pemeriksaan kehamilan oleh bidan semua ibu menyatakan ada tersedia begitu juga pelayanan oleh dukun juga sebagian besar (88%) menyatakan adatersedia.

Tabel 3.11.4 Pemeriksaan Kehamilan ke Tenaga Kesehatan di Kecamatan Makian Tahun 2012 Memeriksakan kehamilan ke Nakes 0 kali 10 20.0% 1-3 kali 25 50.0% >= 4 kali 15 30.0% Total 50 100.0%

Sumber: Data Primer

Sebagian ibu (50%) menyatakan memeriksakan kehamilannya ke nakes 1-3 kali dengan alasan sebagian besar (60%) menyatakan alasan aman dan nyaman. Bagi ibu yang tidak memeriksakan kehamilannya ke nakes alasannya karena merasa tidak perlu dan jarak yang cukup jauh. Adapun alasan ibu memeriksakan kehamilannya ke dukun, sebagian besar menyatakan karena jarak dekat (56%) dan karena tradisi (32%). Mengenai biaya ke dukun 86% responden menyatakan tidak ada biaya. Ibu 70% menyatakan ada acara ritual pada saat hamil. Untuk status persalinan dari 50 orang ibu, terdapat 47 persalinan normal dan 3 orang ibu penyulit dirujuk ke RS di Ternate. Sebanyak 90% ibu menyatakan persalinan dilakukan di rumah dan 5 orang di RS Ternate. Sedangkan untuk budaya gotong royong, 50% ibu menyatakan ada kebersamaan dalam pembiayaan bahan bakar speedboat dan bantuan dana bagi ibu yang dirujuk.

434

Tabel 3.11.5 Penolong Persalinan Pertama dan Terakhir di Kecamatan Makian Tahun 2012 Penolong pertama persalinan Dokter 5 10.0% Bidan 26 52.0% Dukun 19 38.0% Suami/klg 0 .0% Lainnya 0 .0% Total 50 100.0%

Penolong terakhir persalinan Dokter 3 6.0% Bidan 28 56.0% Dukun 19 38.0% suami/klg 0 .0% Lainnya 0 .0% Total 50 100.0%

Sumber: Data Primer

Dari tabel di atas terlihat lebih dari separuh ibu-ibu (56%) menyatakan penolong pertama dan terakhir persalinan dengan bidan, kemudian baru dengan dukun. Pernyataan dari hasil wawancara ibu-ibu ini bertentangan dengan hasil FGD bidan, toma, suami yang menyatakan bahwa pertama bila ada tanda melahirkan ibu pertama akan memanggil dukun dulu untuk memeriksa membacakan doa dan sebagainya baru kemudian memanggil bidan. Hal ini kemungkinan karena jawaban ibu yang dibuat benar tidak sesuai kenyataan atau ibu menganggap pemanggilan terhadap dukun bukanlah pertolongan pertama dalam persalinan (kriteria penolong pertama persalinan belum jelas). Alasan memilih penolong persalinan terakhir yaitu merasa aman dan nyaman (68%), dengan 70% menyatakan sumber biaya persalinan dari sendiri, 30% dari Jamkesda, dan tidak ada yang menyatakan dari Jampersal. Untuk pemeriksaan pasca persalinan 36% ibu-ibu di faskes dan 36% dengan dukun. Alasan utama periksa nifas ke faskes 40% menyatakan lebih dipercaya, dan alasan utama tidak periksa ke faskes dengan alasan tidak perlu 34%. Alasan periksa ke dukun karena jarak dekat dan sudah tradisi (26%). Hampir 100% menyatakan tidak ada acara ritual dalam masa atau setelah masa nifas. Untuk peserta KB, Ibu-ibu 48% menyatakan menggunakan KB pasca persalinan dengan sumber biaya dari diri sendiri dan Jamkesda. Bagi yang tidak KB alasannya karena ingin punya anak lagi.

435

3.11.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat dalam Pemilihan Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal Pengambilan Keputusan Pemilihan Penolong KIA Menurut Kapuskesmas dan bidan koordinator, masih kuatnya pengaruh orang tua untuk memilih mama biang dari pada bidan untuk menolong persalinan karena mama biang lebih berpengalaman dan bidan masih muda. Umumnya masyarakat di Pulau Makian setelah pengantin perempuan menikah, mereka memilih tinggal dipihak laki-laki (patrilokal). Penentuan pencarian pertolongan persalinan berbeda untuk urutan anak sebagai berikut. Ketika mengandung anak pertama, kelahirannya ditentukan oleh ibu mertua. Ibu mertua akan memutuskan siapa yang akan membantu persalinan bagi menantu mereka (Bidan atau Mama Biang), menentukan siapa yang membantu masa nifas bagi menantu dan perawatan cucunya yang baru lahir. Menantu umumnya mengikuti semua saran yang diberikan oleh ibu mertua mengingat mereka (suami istri) belum mempunyai pengalaman tentang proses persalinan. Ketika mengandung anak kedua dan seterusnya, penentuan pencarian pertolongan persalinan diputuskan oleh suami, hal ini terjadi mengingat mereka (suami dan istri) sudah memiliki pengalaman dalam persalinan anak pertama. Pengambilan keputusan persalinan berasal dari pengalaman persalinan sebelumnya, dimana dalam proses persalinan dan nifas terdahulu ibu sudah mengetahui apakah pertolongan sebelumnya nyaman untuknya atau tidak. Menurut Toma, yang memutuskan pencarian pertolongan persalinan

adalahsuami dan keluarga terdekat sedangkan mertua hanya memberi motivasi. Menurut para suami, pengambil keputusan terkait persalinan adalah suami. Menurut bidan berbagai alasan masyarakat untuk tidak mengikuti KB antara lain karena suaminya tidak setuju, meskipun sebenarnya masyarakat sudah diberitahu bahwa pasang KB dengan cuma-cuma, tetapi tampaknya masyarakat tidak yakin dan tidak peduli. Umumnya mereka baru ikut KB karena merasa sudah tua untuk memiliki anak lagi, dan jumlah anak sudah mencapai 6 orang. Kesimpulan keluarga yang paling dominan dalam mengambil keputusan memilih pertolongan persalinan di Kecamatan

436

Makin adalah suami, kedua ibu/mertua, istri menurut saja tidak ikut dalam prose mengambil keputusan. Dukun di Mata Masyarakat Dukun Nahra sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia karena itu dipakai penterjemah Perawat yang bekerja di Puskesmas, bicara dengan suara sudah kurang jelas. Profil mama biang Nahra dan sebagian aktivitasnya adalah sebagai berikut:
“Saya Nahra sudah menjadi dukun beranak sejak usia muda sekitar 20an tahun sampai sekarang, jadi profesi sebagai dukun sudah 70 tahunan. Sudah banyak menolong ibu melahirkan, tidak terhidung, juga tidak dapat menghitung berapa ibu yang ditolong dalam periode Juni 2011 s.d Mei 2012” “Daerah operasi saya sebagai dukun di desa Talapau, Mateketen, dan Busuwa. Kalau ibu yang mau melahirkan biasanya ada utusan yang memanggil saya, lalu saya datang dengan berjalan kaki, tidak mau naik motor. Biasanya ibu yang mau melahirkan panggil dukun dulu baru bidan. Selain menolong persalinan saya juga dipanggil untuk memeriksa kehamilan, memijit dan menaikkan perut, rata-rata selama hamil 3 kali, dan melakukan tradisi bakirah bapanas dimasa nifas”

Dukun yang kedua adalah mama biang Darma menuturkan tentang dirinya sebagai berikut:
“Saya sudah menjadi dukun beranak sejak 4 tahun yang lalu. Ketika itu ikut ibu saya yang juga dukun bayi, namun setelah ikut ibu 1 tahun ibu saya meninggal. Saya meneruskan kegiatan tersebut sampai sekarang. Pada waktu ikut ibu dia belum berani potong tali pusat” “Saya selalu menolong persalinan bersama2 bidan Masni atau bidan Ita. Bisa bidan dulu yang datang atau dukun. Kalau saya yang datang duluan maka saya yang menyambut persalinan, kemudian bidan datang untuk potong tali pusat. Disini persalinan selalu di rumah ibu, tidak di puskesmas. Saya kemudian urus ariari dan dikubur di pinggir rumah, lalu saya memijat ibu nifas dan memandikannya”

Menurut Kepala Puskesmas dan bidan, masyarakat lebih percaya dengan kemampuan mama biang daripada kemampuan bidan. Pada saat partus, mama biang akan meminta keluarga bulin untuk mencari bidan, tetapi keluarga sering kurang menanggapi dengan berbagai alasan seperti sudah malam, tidak ada orang untuk disuruh pergi panggil bidan, dan kemungkinan juga keluarga takut tidak mampu membayar atau tidak enak tidak punya uang untuk membayar.Menurut salah seorang Toma tentang lama perawatan oleh mama biang terungkap sebagai berikut.

437

“Minimal selama 3 hari dibutuhkan untuk membantu merawat ibu dan bayinya dengan cara memijit, mandikan bayi dan membuatkan ramuan ramuan.......”

Pendapat tersebut didukung pendapat sebagian besar suami yang mengatakan sebagai berikut.
“......yaaa..kami merasa pelayanan dukun/biang masih dibutuhkan terutama untuk meluruskan janin dalam kandungan 3 bulan dan 5 bulan” “Menurut saya pelayanan biang tidak perlu lagi, cukup bidan saja, untuk perawatan ibu, bayi dan ari-aridapat diurus oleh keluarga terdekat dan ditanam oleh tokoh agama”

Menurut dukun sendiri, mereka dipanggil untuk memeriksa kehamilan, memijit dan menaikkan perut, rata-rata selama hamil 3 kali. Kalau ibu yang mau melahirkan biasanya ada utusan yang memanggil, lalu dukun datang dengan berjalan kaki atau motor. Dukun sendiri tidak tahu mengapa ibu-ibu masih sering memanggilnya, mungkin karena dukun sekalian mengurut dan memperbaiki rahimnya. Tentang siapa yang duluan dipanggil bervariasi ada yang memanggil dukun dulu baru bidan dan sebaliknya, terutama kalau bidan sedang tidak di tempat maka dipanggil dukun yang selalu siap di tempatnya. Menurut pengakuan dukun mereka selalu berusaha menolong persalinan bersama salah satu bidan. Kalau dukun yang datang terlebih dahulu maka dukun yang menyambut persalinan, kemudian bidan datang untuk memotong tali pusat. Di Kecamatan Makian Barat hampir semua persalinan dilakukan di rumah ibu (tidak di puskesmas). Dukun yang menangani plasenta, dikubur di pinggir rumah, dan memijat ibu setelah persalinan. Dalam hal ini dukun mengemukakan alasan mengapa ibu-ibu senang dengan pelayanannya:
“..... Begini bu, ibu-ibu senang memanggil sayamungkin karena saya siap setiap saat dipanggil meski tanpa dibayar. Selain itu saya juga mengobati dengan membaca-baca air dan ditiupkan ke kepala ibu. Begitu juga kalau ada ibu yang miskram yaa mereka juga memanggil saya. Selama ini sayamendapat uang dari ibu bersalin antara Rp 50.000,- sampai Rp 100.000,- termasuk pijat periksa perut, bersihkan kain-kain kotor, dan urus plasenta. Tapi saya tidak pernah dapat uang (tip) apapun dari bidan meski sama mengurus persalinan”.

438

Gambar 3.11.8 Wawancara Mendalam dengan Mama Biang (jilbab putih) Sumber: Dokumentasi Peneliti

Ketika ditanyakan kepada ibu-ibu melalui kuesioner untuk menanyakan pengetahuan dan sikap ibu, sebagian besar ibu-ibu responden kecamatan Makian Barat menyatakan bahwa kemampuan bidan dan dukun dalam menolong persalinan bagi mereka sama saja. Hal ini menunjukkan bahwa dukun masih tetap dibutuhkan oleh ibu-ibu bahkan dianggap sama dengan bidan kemampuannya dalam menolong persalinan

Bidan di Mata Masyarakat Hampir semua peserta FGD Toma mengatakan pelayanan bidan dinilai sangat baik. Menurut dukun meski hubungan dengan bidan cukup baik, tapi bidan tidak memberi uang padanya karena pekerjaannya membantu bidan. Namun salah satu bidan pernah mengatakan nanti akan diatur untuk kasih lagi perbulan 25 ribu. Para suami juga menyatakan pelayanan bidan sudah bagus, hanya kadang kurang tersedia obat di desa sehingga harus mengambil di puskesmas yang jauh dari desa, hal ini cukup merepotkan.

439

Gambar 3.11.9 FGD dengan bidan di Puskesmas Mateketen Sumber: Dokumentasi Peneliti

Menurut Kepala Puskesmas karena kondisi geografis, banyak persalinan yang tidak bisa dibantu oleh bidan; misalnya lahir pada malam hari atau subuh. Bila bayi lahir siang hari, alasan antara lain tidak ada orang yang bisa pergi untuk memanggil bidan sehingga proses kelahiran diserahkan kepada dukun bersalin dan keluarga. Bidan baru dipanggil pada saat harus potong tali pusat karena keluarga dan mama biang tidak berani memotongnya. Bidan yang masih baru/muda, ibu malu diperiksa oleh bidan muda, lebih suka ke dukun. Pandangan dukun terhadap bidandalam menolong persalinan sebagai berikut.
“......bidan tidak ambil wudhu dulu sebelum menolong persalinan. Selain itu dalam menolong persalinan kalau saya potong tali pusat setelah bayi dan tembuninya keluar. Cara ini saya dapat dari turun temurun, tapi kalau bidan bayi keluar langsung dipotong baru dikeluarkan tembuninya......”.

Hubungan Dukun dan Bidan Hubungan dan komunikasi bidan dan dukun di Makian Barat cukup baik dan bermitra. Dukun berusaha melapor ke bidan meskipun hanya untuk potong tali pusat.Sejauh ini menurut bidan tidak ada hubungan dukun terkait penyelenggaraan KIA selain tentang Kunjungan kehamilan (K1). Umumnya ketika diketahui hamil (terlambat buan), ibu hamil (bumil) umumnya tidak mau memeriksakan dirinya dengan tenaga kesehatan (bidan) karena mereka malu, sehingga mereka memeriksakan diri kepada dukun. Dukun biasanya memberitahukan kepada bidan tentang ibu-ibu yang telah dinyatakan hamil (penemuan K1) juga membantu ibu hamil untuk datang ke posyandu

440

Beberapa tokoh masyarakat menyatakan:
“Tidak pernah terjadi persaingan antara bidan dan mereka malah bekerja sama bila ada ibu yang akan bersalin. Saat ibu merasakan sakit dan akan melahirkan pihak keluarga akan memanggil terlebih dahulu untuk memberikan dukungan dan Air Amal. Air amal diminta dari tokoh agama setempat dan sudah dibacabacakan lalu diminumkan kepada ibu yang akan melahirkan. Setelah bidan datang maka akan menyerahkan kepada bidan, dan cara ini sudah berlangsung cukup lama dan sudah menjadi kebiasaan”

Ketika ditanya kenapa selalu mama biang terlebih dahulu yang dipanggil. Menurut salah satu kepala desa setempat, hal tersebutdisebabkan karena pernah 2 kali kasus kejadian yang diakibatkan oleh kesalahan dokter/bidan yang menyebabkan masyarakat masih menggunakan mama biang, kasusnya sebagai berikut: 1. Pernah ada ibu hamil dikatakan oleh dokter puskesmas sebagai hamil kembar namun ternyata setelah dirujuk/periksa ke Ternate hamilnya tidak kembar dan disuruh kembali ke Mateketen melahirkan dirumah dan dibantu mama biangdan tidak kembar 2. Bidan Mateketen merujuk ke Ternate seorang ibu katanya sudah akan melahirkan dan letaknya sungsang, ternyata di Ternate dinyatakan masih lama proses kelahirannya dan ibu hamil kembali ke Mateketen. Kemudian diperbaiki letak janin oleh dukun dan ditolong melahirkan olehdukun dengan selamat. Keluarga agak kesal karena pihak keluarga sudah mengeluarkan biaya untuk beli bahan bakar speedboat puskesmas pulang pergi ke Ternate. Di desa Malapat, mama biang juga selalu bekerja sama dengan bidan desa, mama biang selalu hadir setiap ada proses persalinan namun persalinan tetap dipegang oleh bidan, mama biang hanya berfungsi untuk mengurus ibu, merawat bayi dan menanam plasentanya. Peran Toma dan Suami Menurut Toma, pada saat ada ibu mau melahirkan di mateketen adalah semua keluarga berkumpul dari keluarga terdekat sampai tokoh masyarakat ini fungsinya sebagai pemberi support untuk ibu hamil dan budaya ini dinamakan

Karo/Datang/Menunggu di rumah Ibu yang akan melahirkan dan seandainya terjadi

441

suatu hal yang berkaitan dengan ibu yang menyangkut keselamatanya bisa langsung panggil bidan atau biang. Menurut Kepala desa Mateketen tujuan dari Karo adalah:  Mengantisipasi/berdoa agar ibu yang akan melahirkan selamat,  Mengumpulkan uang/biaya untuk sekedar membantu biaya transport apabila dirujuk ke Ternate, untuk beli bahan bakarnya karena speedboat disediakan oleh puskesmas dan iuran tersebut secara spontan, bahan bakar dari puskesmas Mateketen sebesar Rp. 500.000,Menurut para suami, peran tokoh masyarakat adalah:  Mengarahkan masyarakat untuk kegiatan Posyandu dan ibu ibu hamil agar memeriksakan kehamilanya pada petugas kesehatan.  Apabila ada ibu yang akan melahirkan, maka bidan dan mama biang disiapkan oleh tokoh masyarakat untuk mengantisipasi apabila terjadi hal hal yang berhubungan dengan keselamatannya.  Masyarakat sekitar akan dengan sukarela mengumpulkan uang untuk membantu keluarga tersebut.  Selalu mengingatkan ibu hamil agar sering jalan kaki kemudian dan menjelang 3 bulan kelahiran diberikan air kelapa dan air amal untuk diminum.  Tokoh masyarakat memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan KIA baru terbatas pada bantuan pengumpulan dana untuk ibu-ibu bersalin yang mengalami komplikasi kelahiran dan membutuhkan bantuan transportasi menuju tempat rujukan.

Gambar. 3.11.10 FGD Toma di Puskesmas Mateketen

Sumber: Dokumentasi Peneliti

o

442

Peran suami ditanyakan dalam FGD yang dihadiri oleh 6 orang suami dari ibu yang melahirkan selama bulan Mei 2011 sampai dengan Juni 2012. Suami yang diundang sebanyak 12 orang dari 7 desa tetapi yang hadir hanya 6 orang dari 4 desa karena terkendala cuaca sehingga transportasi laut kurang lancar. Pendapat mereka satu persatu diuraikan sebagai berikut. Suami 1:
“Kelahiran anak ke 1 sampai ke 3 ditolong bidan. Kehamilan 4 yang terakhir ini terjadi kekeliruan oleh dokter puskesmas Mateketen pada waktu itu karena dinyatakan kembar, dikirim ke Ternate ternyata tidak kembar dan dikembalikan ke Mateketen dan melahirkan dengan bidan. Peran saya menenangkan istri agar tidak trauma dengan kejadian tersebut. Saya sendiri kurang yakin dengan sehingga tidak memanggil biang.....”

Suami kedua:
“Kehamilan pertama istri melahirkan di Ternate. Kelahiran kedua ditolong saya sendiri, bidan dan . Bidan dan biang terlambat datang sehingga saya yang menyambut kelahiran baru bidan datang memotong tali pusat dan biang membersihkan bayi/ibu, membersihkan ari-ari, memandikan bayi, memandikan ibu dengan adat Bakirah dan Bapanas. Bakirah adalah mandi dengan ramuan selama 3 hari, Bapanas adalah duduk dengan hanya memakai kain sarung di hadapan api kayu bakar. Untuk itu biang saya kasih uang 50-100 ribu”

Suami ketiga:
“....... anak saya ditolong lahir oleh bidan dan biang. Bidan menolong persalinan dan biang membersihkan, menyelesaikan ari-ari dan seterusnya”

Suami keempat:
“Anak pertama, kedua dan ketiga ditolong lahir oleh dan biang dikasih uang 50 ribu perkali persalinan karena pada waktu itu tidak ada bidan. Anak ke 4 ditolong bidan bersama dengan biang. Bidan tidak dibayar ikut Jamkesda, biang diberi uang 150 ribu. Cerita awalnya dokter puskesmas Mateketen mengatakan bahwa letak bayi sunsang lalu dirujuk ke Ternate, ternyata tidak sunsang dan dikembalikan ke Mateketen, dan lahir normal. Saya merasa dirugikan dengan keputusan dokter tsb karena biaya, waktu dan tenaga yang sudah dikeluarkan karena kesalahan dokter”. “Anak ke 5 lahir dengan bidan dan kata bidan ikut Jampersal. Sayapada waktu itu tidak tahu kalau persalinan gratis karena ikut Jampersal,saya kira ikut Jamkesda karena pada waktu itu bidan dan juga istri tidak menjelaskan kepada saya”.

Suami ke 5:
“Anak 1 ditolong bidan bersama dengan biang, untuk bidan gratis dan biang diberi uang 150 ribu’

443

Suami ke 6:
“Untuk anak ke 1 sampai dengan ke 5, istri di Oba Halmahera melahirkan dengan bidan. Anak ke 6 – 7 ditolong oleh saya sendiri meskipun bidan ada dan rumahnya tidak jauh. Setelah bayi keluar baru saya suruh keluarga panggil bidan untuk potong tali pusat. Saya tidak panggil dukununtuk menolong persalinan karena kurang yakin dengan kemampuan dukun. Tidak panggil bidan karena saya kira tanpa bidan bayi akan lahir sendiri”

Gambaran Pencapaian KIA dan Peta Budaya Berikut ini adalah lanjutan beberapa tabel yang dicopy dari power point kepala puskesmas Mateketen yang telah dipresentasikannya dalam rapat tingkat kabupaten Halmahera Selatan beserta analisis untuk setiap tabel.
Tabel. 3.11.6 Indikator Outcome Puskesmas Mateketen Tahun 2011 No 1 2 3 4 5 6 7 Indikator Cakupan K4 Kom Kebidanan Yg Di Tangani Persalinan Nakes Pelayanan Nifas Cakupan Neonatus dgn Kompl yg Ditangani Kunjungan Bayi Desa Uci Hbo Bcg Dpt-Hb3 Polio 4 Campak Pelayanan Anak Balita Cakupan Yankesdes Miskin Cakupan Kb Aktif Jumlah Sasaran 101 20 96 96 14 96 7 93 93 93 93 93 403 1292 730 Pencapaian 70 (69 %) 2 (10 %) 38 (40 %) 38 (40 %) 5 (36 %) 48 (50 %) 0 42 (45 %) 74 (80 %) 71 (76 %) 75 (81 %) 40 (43 %) 96 (24 %) 679 (53 %) 103 (14 %)

8 9 10

Dari tabel 3.11.2 terdahulu sasaran Bumil puskesmas Mateketen tercantum sebesar 103, sasaran bayi 95 dan sasaran balita 411, namun pada tabel 3.11.6 di atas sasaran bumil 101, bayi 96, dan balita 403. Berdasarkan tabel di atas untuk Kecamatan Makian Barat Tahun 2011 cakupan K4 69%, persalinan Nakes dan pelayanan nifas 40%. Menurut penjelasan kepala puskesmas Mateketen hampir semua persalinan tersebut dilakukan di rumah, tidak ada yang di Puskesmas atau di polindes. Ada 2 orang ibu

444

yang komplikasi kebidanan, dengan persentase yang tercantum sebesar 10% dari sasaran komplikasi kebidanan (bukan dari jumlah bumil). Sedangkan tercantum pelayanan bayi sebesar 50% dan pelayanan balita 24%. Untuk rincian perdesa berdasarkan data dan penjelasan Kepala Puskesmas Mateketen adalah sebagai berikut.
CAKUPAN K-1 PADA PKM MATEKETEN BULAN JANUARI s/d NOPEMBER TAHUN 2011
100 80 60 40 20 0 MATEKETEN BOBAWA TALAPAON MALAPAT TEGONO SEBELEI OMBAWA PKM 85 80 71

67

62

55 31

59

Gambar. 3.11.11. Cakupan K-1 Pada Puskesmas Mateketen Januari-November 2011

Dalam grafik di atas terlihat Desa Mateketan dan Desa Talapaon paling tinggi capaian K1, sedangkan yang paling rendah Desa Sebelei dan Desa Malapat. Hampir semua desa wilayah kerja Puskesmas Mateketen pencapaian K1 rendah karena petugas belum memahami tentang kriteria dari K1, logistik dan sarana tidak ada, serta peran serta masyarakat masih kurang. Hal ini disebabkan pemahaman tentang pemeriksaan kehamilan rendah, kurangnya kerjasama lintas sektor terutama Kepala Desa dan PKK Desa, dan kemitraan dengan dukun beranak belum berjalan dengan baik. Pada desa yang pencapaiannya lebih tinggi (Desa Mateketen) disebabkan karena petugas pro aktif, logistik dan sarana tersedia, ada peran serta masyarakat danakses ke PKM dekat serta ada kerjasama lintas sektor, kader dan dengan dukun. Cakupan K4 Puskesmas Mateketen berdasarkan kriteria desa dapat dilihat pada gambar berikut.

445

83

CAKUPAN K-4 PADA PKM MATEKEKETEN BULAN JANUARI S/D NOPEMBER TAHUN 2011
77 75 69 65 57 53 69

OMBAWA SEBELAI

MATEKETEN TEGONO

MALAPAT TALAPAON

BOBAWA PKM

Gambar. 3.11.12 Cakupan K-4 Pada Puskesmas Mateketen Januari-November 2011

Dari gambar di atas, desa Talapaon adalah capaian K4 terendah, ini disebabkan petugas yang ada tapi belum memahami tentang kriteria K4, logistik dan sarana tidak ada, dan peran serta masyarakat masih kurang karena tingkat pendidikan yang rendah. Selain itu masalah ekonomi sehingga masyarakat lebih mementingkan bekerja dari pada urusan kesehatan dan mobilisasi penduduk yang tinggi. Untuk desaOmbawayang capaian K4 lebih tinggi karena petugas Pro Aktif, meskipun logistik dan sarana tidak tersedia, peran serta masyarakat cukup karena adanya kerjasama lintas sector, kader dan dukun beranak. Berikut adalah cakupan persalinan Nakes berdasarkan kriteria desa adalah sebagai berikut.

446

Gambar. 3.11.13 Cakupan Linakes Puskesmas Mateketen Januari-November 2011

Pada gambar di atas nampak persalinan dengan tenaga kesehatan yang paling tinggi adalah Desa Tegono dan Desa Mateketen, sedangkan yang paling rendah desa Sebelei dan Desa Bobawa. Untuk Desa Sebelei capaian persalinan Nakes terendah disebabkan karena meski petugasnyaada tapi hampir semua ibu melahirkan dengan dukun, logistik dan sarana bidan Kit tidak ada. Peran serta masyarakat masih kurang karena tingkat pendidikan yang rendah, masalah ekonomi sehingga masyarakat lebih mementingkan pekerjaan dan mobilisasi tinggi. Capaian Linakes tertinggi adalah desa Tegono disebabkanpetugas pro aktif meski logistik dan sarana: tidak tersedia, adanya peran serta masyarakat dengan kerjasama kader, dukun beranak dan bidan desa.

Pengetahuan tentang Jampersal Dari hasil wawancara terhadap 50 ibu responden hampir semua ibu (98%) menyatakan tidak tahu tentang Jampersal baik dari sumber media, dari petugas kesehatan, maupun dari petugas desa, baliho dan lainnya. Dengan demikian maka persalinan terakhir ibu responden 98% menyatakan tidak menggunakan Jampersal dengan alasan tidak tahu.

447

Dalam FGD bidan pada saat puldat bulan September, diperoleh hasil pengetahuan mereka tentang Jampersal cukup baik, mereka menyatakan program ini dilaksanakan semenjak tahun 2011 pada awal tahun. Tentang program persalinan gratis dukun sudah pernah mendengar dari bidan, tetapi bidan tidak pernah menjelaskan secara terinci kalau periksa hamil dan nifas juga gratis, serta tidak pernah meminta dukun untuk memberitahukan adanya program ini untuk disampaikan pada ibu-ibu yang lain. Tentang persalinan gratis ini sikap dukun setuju saja asalkan memang membantu seluruh masyarakat di kampungnya.

Pembiayaan Pelayanan KIA yang diterima Nakes Menurut bidan desa, sebelum pelaksanaan Jampersal umumnya mereka memperoleh pembayaran sebesar Rp. 50.000,-/persalinan sedangkan persalinan dengan bantuan dukun sebesar Rp. 50.000,- Rp. 100.000,- mulai dari membantu proses persalinan hingga perawatan ibu nifas dan perawatan bayi yang baru lahir. Setelah itu ada kebijakan Jamkesmas dan Jamkesda. Kebijakan Jampersal tumpang tindih dengan Jamkesda (turunan dari Jamkesmas). Keberadaan Jampersal tidak mengagetkan penduduk lagi karena sebelumnya mulai 2006 memang berobat apapun sudah gratis termasuk pemeriksaan kehamilan, persalinan dan masa nifas. Pandangan masyarakat terhadap Jampersal biasa saja karena sebelumnya memang persalinan sudah gratis melalui Jamkesda dan Jamkesmas. Menurut Kepala Puskesmas setelah adanya Jampersal, ibu bersalin linakes meningkat meskipun belum meningkat tajam. Klaim tahun 2011 tidak dilakukan karena tidak ada lembar kohort, lembar kohort baru diterima dari Dinas Kesehatan pada bulan Januari 2012. Untuk pemanfaatan Jampersal, mulai Januari – Juni 2012 ada 15 persalinan yang tercatat (komplit mulai ANC, bersalin, PNC, juga KB) dan diajukan untuk Jampersal. Klaim untuk 6 orang baru keluar pada bulan September 2012 sedangkan 9 usulan tidak bisa diajukan karena tidak dilengkapi dengan berbagai persyaratan klaim seperti KTP dan lembar kohort sehingga mereka dicatat untuk diikutkan Jamkesda. Untuk ibu yang dirujuk ke RS di Ternate transportasi (speedboat) pakai uang ibu dulu, lalu di klaim ke Dinkes, setelah dapat pengembalian dari dana Jamkesmas maka dikembalikan ke ibu. Dari bulan Juli sampai Oktober ada 7 persalinan

448

yang diajukan ikut Jampersal tetapi klaimnya belum keluar. Klaim yang diterima dipotong 20% (sekitar Rp 140.000,-) untuk disetor ke kas daerah sehingga setiap persalinan lengkap dengan ANC dan PNC, bidan menerima sekitar Rp 500.000,-

Pemanfaatan Jampersal dari Sisi Masyarakat
Tabel 3.11.7 Sumber Biaya Pemeriksaan Kehamilan dengan Tenaga Kesehatan di Wilayah Puskesmas Mateketen

Sumber biaya periksa hamil ke nakes Sendiri/klg 45 90.0% Jampersal 0 .0% Jamkesmas/ Asuransi Jamkesda lain 5 10.0% 0 .0% Sumber lain 0 .0% Total 50 100.0%

Sumber: Data Penelitian

Tabel di atas menunjukkan pernyataan 50 ibu responden terkait sumber biaya pemeriksaan kehamilan. Tidak ada ibu yang menyatakan bahwa biaya dari Jampersal dan 90% menyatakan biaya sendiri. Ada kemungkinan beberapa ibu lupa atau tidak mengerti bahwa mereka ikut program Jampersal. Dari 6 suami yang hadir dalam FGD hanya 1 orang suami yang menyatakan persalinan istrinya ikut Jampersal, itupun baru diketahui belakangan karena pada waktu itu bidan dan juga istri tidak menjelaskan ke suami. Menurut informasi dari kepala puskesmas ada 13 orang ibu yang sudah diajukan dalam program Jampersal, 5 di antaranya sudah keluar klaimnya.

3.11.5. Peran Tenaga Kesehatan dalam Pelaksanaan Jampersal Sosialisasi Jampersal dari Dinas Kesehatan ke Puskesmas Menurut staff Kadinkes Kabupaten Halmahera Selatan, sosialisasi Jampersal ke Puskesmas dilakukan secara terintegrasi dengan program BOK dan Jamkesmas. Sosialisasi Juknis dilakukan oleh pengelola Jampersal KB KIA; dan sosialisasi teknis

449

dilakukan oleh bagian program antara lain melalui program kemitraan bidan-dukun, refreshing bidan, dan review PWS/KIA. Sosialisasi untuk Puskesmas dilaksanakan pada bulan Februari 2011 dengan mengundang kepala Puskesmas, bidan koordinator dan bendahara Puskesmas. Sosialisasi sekaligus dilengkapi dengan distribusi instrument berupa buku kohort, buku status ibu dan bayi, buku KIA, berkas klaim. Sosialisasi lintas sektor dilakukan melalui pertemuan dengan Team KHPPIA (Kelangsungan Hidup Pertumbuhan dan Perkembangan Ibu dan Anak) yang merupakan program Bappeda. Dinas Kesehatan sebagai anggota Team sering melakukan presentasi dan sosialisasi masalah Jampersal. Pertemuan DTPS-KIBBLA (Distrik Team Problem Solving-Kesehatan Ibu Bayi Baru Lahir dan Anak) dibawah koordinasi Sekda. Sosialisasi ke masyarakat melalui team DTPS yang sebelumnya sudah di Training of Trainer oleh Dinas Kesehatan. Ada MOU di tingkat kabupaten untuk melaksanakan program-program kesehatan secara lintas sektoral dan melalui LSM. Selanjutnya sosialisasi langsung ke masyarakat harus dilakukan oleh Puskesmas dengan memasukkan materi dan substansi dalam kegiatan BOK dan Jamkesmas.

Sosialisasi dari Puskesmas ke Masyarakat Keberadaan Kepala Puskesmas ini mulai September 2011, sehingga menurutnya keterpaparan terkait Jampersal baru mulai Januari 2012. Pada waktu itu Kadinkes Halsel mengumpulkan seluruh Kapuskesmas ke Kabupaten Halsel penjelasan tentang Jampersal. Sebelum keberadaan beliau dalam tahun 2011 memang sudah ada sosialisasi Jampersal kepada seluruh kapuskesmas namun untuk Puskesmas Mateketen belum berjalan. Sebagai follow up dari kebijakan baru ini maka Kapus langsung mensosialisasikannya kepada seluruh bidan yang ada di wilayah Puskesmas Mateketen dalam lokmin bulanan puskesmas. Seluruh bidan puskesmas saat ini sudah ada 9 orang (2 PNS dan 7 PTT). 7 orang bidan ditempatkan di 7 desa yang ada di kecamatan Makian Barat, 2 bidan di puskesmas. Rapat lintas sektoral dengan kades,PKK terkait sosialisasi Jampersal sudah dilakukan bulan Februari 2012. Menurut koordinator KIA KB Puskesmas yang diwawancarai:
“Belum pernah ada sosialisasi khusus Jampersal. Yang ada kegiatan rutin ANC, diinformasikan kepada ibu bahwa ada Jampersal untuk persalinan gratis,

450

pemberian obat untuk ibu hamil serta pelayanan KB gratis. Juga tidak dilakukan sosialisasi untuk kunjungan paska persalinan (KN) kepada ibu”.

Selanjutnya menurut bidan koordinator:
“Sosialisasi dilakukan oleh Dinas kesehatan kepada para bidan dan bidan desa diseluruh Puskesmas di wilayah Dinas Kesehatan Halmahera Selatan. Bidan dan bidan desa kemudian melanjutkan informasi yang mereka dapatkan tersebut kepada masyarakat dilingkungan kerja kami masing- masing”

Pengelolaan PelayananKIA dengan ProgramJampersal Untuk Kabupaten Halmahera Selatan pada awalnya klaim baru bisa diajukan bila sudah ada anggaran, namun akhirnya tim verifikator kesulitan karena banyaknya klaim yang harus diverifikasi. Karena itu sekarang klaim yang sudah dirapikan bidan bisa diserahkan ke Dinas kesehatan dan langsung diverifikasi oleh tim sehingga pekerjaan dapat dicicil. Selanjutnya berkas disimpan oleh tim verifikator sambil menunggu dana cair sehingga tidak ada hambatan administratif lagi di Dinas Kesehatan. Jampersal di kabupaten Halsel mulai pada tahun 2011 dengan pembentukan Tim Pengelola Jampersal di Dinas Kesehatan. Setelah sosialisasi maka Puskesmas mulai melaksanakan/implementasi Jampersal Juni 2011. Karena tidak tersedianya alokasi anggaran secara khusus, sosialisasi sering dilakukan secara terintegrasi dengan program BOK dan Jamkesmas. Seperti disebutkan dalam Juknis Jampersal kegiatan ini melibatkan lintas sektoral antara lain Bappeda, Inspektorat, Keuangan dan Sekretaris Daerah. Integrasi Lintas Sektor ini memutuskan bahwa klaim Jampersal dan Jamkesmas harus disetorkan ke Kas Daerah sebesar 20%. Pelaksanaan program KIA di wilayah Puskesmas Mateketen dilaksanakan seperti biasa (rutinitas sebelum adanya Jampersal). Pelayanan gratis dalam Jampersal meliputi pelayanan ANC, persalinan dan pemasangan KB. Pemeriksaan PNC dilakukan selama masa nifas untuk ibu dan bayi. Pemeriksaan nifas dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu pemeriksaan ibu pada 6-24 jam setelah persalinan, 8-14 hari dan 14-42 hari. Pelayanan nifas diberikan kepada ibu dan bayi, bila ibu tidak pernah datang hingga masa nifas melampau 42 hari, maka ibu akan dikunjungi oleh bidan.

451

Rujukan dilakukan bila ada kasus dengan partus lama (>6 jam). Sejak tahun 2012, terdapat 3 kasus kematian bayi yang disebabkan lahir premature, ketuban pecah dini dan perdarahan. Bila bidan mengalami kesulitan atau kelahiran dengan penyulit, maka ibu akan dirujuk ke RSUD provinsi di Kota Ternate karena lebih dekat daripada ke Pulau Bacan. Pasien didampingi bidan, suami dan seorang keluarga lainnya. Dalam hal rujukan, keluarga pasien dimintakan penggantian solar kurang lebih 50 liter atau senilai Rp. 350.000,- Bidan mendapatkan upah dari claim Jampersal bila melakukan rujukan. Bidan tidak melengkapi kohort sehingga sulit untuk bisa claim Jampersal (catatan: bidan tidak mengerti secara substansial makna daripada pengisian kohort, dan juga memang tidak bisa mengisi). Buku KIA tidak sepernuhnya diisi. Dari salah satu buku KIA yang diambil dalam penelitian ini, bagian/informasi yang terisi hanyalah nama ibu, tnggal persalinan, umur kehamilan, catatan kunjungan ibu dalam ANC. Untuk identitas keluarga, hanya sebagian kecil informasi yang terisi. Ada kesulitan dalam pembuatan laporan karena untuk form ANC harus diulang kembali pada form yang lain.Ketika pelaporan dibuat harus konsultasi berkali-kali hal ini menyulitkan bidan dalam pembuatan dan penyerahan laporan serta klaim Jampersal. Selain itu kemampuan bidan dalam berkomunikasi masih rendah; bidan tidak pernah mengemukakan masalahnya dalam mini lokakarya yang dilakukan rutin setiap bulan. Bayi tidak dilengkapi dengan timbangan bayi di desa sehingga bayi lahir tidak ditimbang. Persyaratan rumit terutama terkait KTP ibu. Ibu-ibu disini tidak punya KTP, maka solusinya dibuat KTP sementara oleh Kades. Selain itu dari Dinkes menekankan untuk klaim Jampersal harus komplit mulai dari K1 – 4, bersalin dan KN 1-3, sedangkan ibu jarang mau K1 dengan bidan, mereka pada awal kehamilan (3 bulan) biasa minta diperiksa/diurut ke dukun. Reagen Sahli untuk pemeriksaan hemoglobin belum pernah diberikan oleh Dinas Kesehatan, meskipun alat untuk pemeriksaan Hb sudah lengkap. Alat (bidan kit) sangat kurang sehingga bidan banyak mengeluh. Untuk itu bidan masing-masing menggunakan alat/kit yang dimiliki secara pribadi. Tenaga bidan KIA di desa/lapangan sudah mencukupi, tetapi bidan di puskesmas masih kurang, sehingga beban kerja bidan koordinator sangat banyak

452

bertanggung jawab untuk beberapa kegiatan antara lain sebagai pengelola program KIA, KB, Jampersal dan pemeriksaan kuman TB. Menurut kepala puskesmas masalah lain yang dihadapi dalam merujuk pasien yaitu: “...... Begitulah, apabila speed puskesmas sedang digunakan untuk melaksanakan
kegiatan sementara ada pasien yang harus dirujuk. Dalam hal ini maka keluarga pasienlah yang harus berusaha mencari speed boat secara mandiri”

Kebijakan Dinas Kesehatan danPuskesmas terkait Pembiayaan Jampersal Peraturan Bupati Halmahera Selatan hingga saat ini (disusun bulan Oktober 2011) masih berupa rancangan. Terdapat kendala teknis dan birokrasi dalam menetapkan rancangan menjadi peraturan bupati (Perbup) sehingga hingga saat ini rancangan tersebutlah yang dijadikan acuan. Kendala teknis antara lain: 1) waktu dari team koordinasi; 2) hambatan dalam kesepahaman antara hukum dan keuangan.Perda mencantumkan“Seluruh pendapatan pelayanan masuk ke kas daerah”. Isi rancangan yaitu adanya bagi hasil/setoran dari pendapatan Jampersal ke kas daerah sebesar 20%. Semua bidan puskesmas harus dapat menolong persalinan Jampersal. Tidak ada keterlibatan bidan swasta maupun klinik dan RS swasta dalam pelaksanaan Jampersal. Adapun keterlibatan bidan puskesmas dan RS berjalan seperti apa yang tertulis dalam Juknis, terutama untuk persalinan bermasalah yang membutuhkan rujukan. Untuk itu antisipasi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan dalam hal ini yaitu instruksi kepada Puskesmas untuk menyimpan dulu 20% klaim yang diterima, namun ada beberapa Puskesmas sudah menyetor ke Kas Daerah. Kebijakan Jampersal tumpang tindih dengan Jamkesda (turunan dari Jamkesmas). Keberadaan Jampersal tidak mengagetkan penduduk lagi karena sebelumnya mulai 2006 memang berobat apapun sudah gratis termasuk pemeriksaan kehamilan, persalinan dan masa nifas. Pandangan masyarakat terhadap Jampersal biasa saja karena sebelumnya memang persalinan sudah gratis melalui Jamkesda dan Jamkesmas. Sejak tahun 2010 klaim Jamkesmas sulit (sampai sekarang tidak keluar lagi) dan masyarakat miskin yang mendapatkan kartu Jamkesmas berdasarkan data tahun 2008
453

sudah tidak valid lagi. Menurut Dinkes keputusan pusat terkait rekap ulang Jamkesmas belum keluar. Kapus merasa bersyukur dengan adanya Jampersal, mudah2an klaimnya bisa lancar. Jamkesda juga lancar mulai 2006 – 2009 seluruh masyarakat pengobatan gratis, namun klaim mulai 2010 sampai sekarang tidak keluar (apakah karena sudah adanya Jampersal?). Untuk itu maka klaim ditutupi dari dana rutin APBD (3 bulanan, 10 juta/bln) dan dana BOK (15 – 16 juta/bln dan bln februari sebesar 30 juta tergantung banyaknya kegiatan). Banyaknya kegiatan tergantung cuaca dan SDM puskesmas yang ada. LS baru dilakukan 1 x dalam periode kapus ini hampir satu tahun, selanjutnya akan dilakukan minimal persemester( per 3 bln masih sulit karena kendala transport/cuaca). Menurut para bidan kecamatan Makian Barat sumber biaya persalinan sebelum ada Jamkesda dan Jampersal sebagian besar dari pribadi/keluarga ibu. Dalam budaya masyarakat Makian apabila ada saudara yang mengalami kesulitan dalam pembayaran persalinan, mereka akan mengumpulkan uang semampu mereka untuk membayar biaya persalinan tersebut. Namun sudah 6 tahun ini menurut Toma dan suami biaya persalinan gratis dan tidak dipungut biaya apapun, hanya memberi sedekah kepada mama biang. Biaya untuk bidan gratis tapi kalau mau boleh memberi 50 ribu sebagai tanda terima kasih. Prinsip dukun tentang adanya program persalinan gratis dukun setuju saja karena yang penting tujuannya menolong masyarakat dan ibu serta bayi sehat-sehat saja. Berkaitan dengan pengelolaan Dana Jampersal di tingkat Puskesmas, menurut kepala puskesmas diatur dengan kebijakan internal puskesmas yaitu: 5% untuk administrasi, 10% untuk bendahara Jampersal dan kapuskesmas yang mengurus klaim, 85% untuk bidan. Untuk bidan terserah bidan berapa kalau mau kasih dukun yang juga membantu persalinan. Menurut kapuskesmas akan diupayakan kemitraan bidan dukun, dukun akan diberi uang Rp 25.000, bila melaporkan ke bidan tentang adanya ibu hamil 3 bulan pertama. Selain itu pada waktu bersalin (HB0) dukun juga diberikan Rp 25.000 apabila segera melaporkan ke bidan dan bidan datang menolong. Dana untuk dukun ini diambilkan dari dana BOK. Namun sampai sekarang menurut seorang dukun, dia menolong persalinan tanpa dibayar oleh ibu maupun bidan. Kalau ibu minta dipijat setelah persalinan barulah diberi uang 20 ribu. Tapi pada waktu hamil dukun

454

dipanggil selama hamil rata-rata 2-3 kali untuk memijat menaikkan perut, kadang tidak dibayar.

3.11.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan terhadap Program Jampersal Hambatan dan Dukungan Pengaruh geografi/demografi. Kondisi demografi terkait persalinan: ibu-ibu di Makian banyak berasal dari kampung Malifut (Halut)) sehingga kalau melahirkan pulang ke kampungnya di Halut, tidak di desa ini sehingga jumlah persalinan di Kecamatan Makian Barat tidak banyak. Meskipun sekarang semua desa sudah ada bidan yang tinggal di desa, tetapi tidak dilengkapi dengan bangunan polindes yang lengkap logistiknya sehingga bidan yang masih muda tidak begitu kuat motivasinya untuk persalinan di tempatnya. Tidak semua bidan siap menolong persalinan secara mandiri sehingga mereka melakukannya secara partneran dengan rekan bidan lainnya. Kendalanya adalah dalam sistem pendistribusian logistik yang masih sulit melalui laut sehingga menambah bidan tidak confiden untuk menolong persalinan di polindes, sementara itu dukun sudah dengan cepat dapat dipanggil dan percaya diri serta memberikan pelayanan komprehensif fisik psikologis. Kepercayaan/religi. Ada keyakinan masyarakat bahwa plasenta bisa keluar sendiri, sehingga tidak perlu bantuan bidan. Umur bidan (muda) sangat menentukan akses masyarakat untuk bersalin dengannya. Kalaupun diperlukan bidan hanya untuk memotong tali pusat, sedangkan fungsi dukun banyak seperti menenangkan, memijat, memberikan ramuan, mendoakan, mengurus/membersihkan ibu dan memandikan ibu dan bayi. Menjalankan tradisi Bapanas Bakirah setelah persalinan sehingga tubuh ibu dapat pulih kembali seperti semula. Menurut kepala puskesmas seluruh bidan di puskesmas Mateketen adalah bidan baru tamat dan baru diangkat PNS yang masih muda-muda. Kualitas SDM masih rendah sehingga sebagian ibu masih ada yang lebih suka ke dukun (mama biang). Dukun kalau menolong persalinan ditunggui mulai dari mules sampai bersalin dengan diurut untuk mengurangi rasa sakit, sedangkan bidan setelah memeriksa tahap pembukaan, ditinggalkan dulu tidak ditunggui.

455

Pendidikan/pengetahuan.

Pendidikan

masyarakat

rendah,

78%

ibu

berpendidikan SMP ke bawah sehingga kesadaran untuk akses ke fasilitas kesehatan masih rendah. Pengetahuan tentang Jampersal yang tidak disosialisasikan dengan baik membuat ibu, tokoh masyarakat, tokoh agama, suami tidak tahu apa Jampersal, mereka hanya tahu kalau berobat selama hamil, bersalin, dan pasca persalinan diberikan secara gratis, tidak tahu apakah dengan Jamkesda atau Jampersal. Ada suami bahkan tidak tahu kalau istrinya gratis persalinan karena ikut Jampersal. Pandangan ibu, toma dan suami setelah tahu Jampersal, mereka bersedia ikut asal tidak dipersulit dengan segala macam persyaratan. Dari aspek bidan, masih banyak bidan tidak mengerti secara substansi formulir dan buku KIA yang dipersyaratkan dalam klaim, sehingga merasa persyaratan klaim repot dan menjelimet. Pencaharian/pekerjaan. Masyarakat type berpindah pada waktu membuka lahan dan berkebun, sehingga seringkali bila sudah saatnya melahirkan, mereka melahirkan di kebun yang jauh dari desa/komunitasnya, jauh dari bidan lalu dibantu oleh “mama biang” atau dukun yang tidak terlatih. Kekerabatan atau Orsosmas. Tidak ada LSM di Halmahera Selatan yang ‘concern’ terhadap kesehatan. Keterlibatan LS baru sebatas kehadiran dalam pertemuan-pertemuan. Tidak ada tindak lanjut secara teknis dalam sosialisasi Jampersal kemasyarakat. Pengaruh LS tidak signifikan dalam pelaksanaan Jampersal. Di kecamatan Makian Barat belum ada kelompok dan masyarakat yang sudah terorganisir untuk masalah kesehatan ibu dan anak sehingga program Jampersal tidak dikenal dan pemanfaatan belum maksimal. Dukungan masyarakat masih sebatas berkumpul dan bersiap membantu pada saat persalinan kalau perlu dirujuk. Persyaratan Jampersal yang dianggap lebih rumit dibandingkan dengan Jamkesda membuat ibu dan keluarga kurang begitu tertarik mempelajari Jampersal, yang penting bagi mereka tetap gratis. Dari penentuan kekuatan dan kelemahan internal serta peluang dan ancaman eksternal maka dirumuskan beberapa alternatif rekomendasi sebagai berikut.  Memanfaatkan kemitraan bidan dan dukun untuk dapat

memaksimalkanpeningkatan kinerja bidan

456

Memanfaatkan penilaian positif masyarakat terhadap bidan untuk meningkatkan proaktif bidanke tengah masyarakat

 

Memanfaatkan speedboat puskesmas seoptimal mungkin untuk meminimalkan ketidaktahuan masyarakat (penyuluhan) Manfaatkan bidan-bidan yg proaktif untuk dapat meminimalkan persalinan di rumahdengan menyiapkan peralatan persalinan di fasilitas kesehatan dan hubungan baik dengan dukun untuk mengirim ibu ke fasilitas kesehatan

Manfaatkan dukungan masyarakat untuk mengatasi kurang percaya dirinya bidan yang muda-muda dan belum banyak pengalaman untuk menolong persalinan

 

Manfaatkan hubungan baik dengan Tokoh masyarakat untuk mengatasi mismanajemen puskesmas dalam bidang pemberdayaan masyarakat Minimalkan tradisi/pantangan yang tidak mendukung kesehatan dengan bidan lebih mendekatkan diri dengan dukun dan memberitahu dukun pelan-pelan. Menghindari kurang mampunya bidan mengisi persyaratan untuk klaim Jampersaldengan mengikuti pelatihan dan bertanya sharing antar bidan.

Harapan petugas dan masyarakat 1) Harapan Kadinkes dan staf Dinkes Halsel  Sebaiknya ada alokasi anggaran untuk Dinas Kesehatan langsung ke

masyarakat untuk dapat menilai kualitas pelayanan oleh bidan/puskesmas serta kepuasan masyarakat terhadap pelayanan Jampersal yang telah diberikan.  Biaya persalinan disesuaikan dengan kondisi geografis karena Halsel merupakan wilayah kepulauan sehingga perlu alokasi yang lebih besar dalam menangani geografis. Contoh: dalam BOK Dinkes tidak memiliki wewenang dalam

menyesuaikan anggaran  Sebaiknya persyaratan claim lebih disederhanakan, cukup dengan buku KIA dan partograph. Alasannya, banyak masyarakat ibu yang tidak punya KTP karena dianggap tidak penting (karena ibu hanya memiliki peran domestic), sehingga persyaratan claim menjadi tidak lengkap. 2) Harapan Kapuskesmas Mateketen

457

 Perlu kejelasan dan keseragaman tentang klaim Jampersal apakah harus komplit mulai K1, ataukah bisa dipecah-pecah tergantung pelayanan apa yang diterima ibu. Perlu pelatihan bidan (bidan yang ada belum siap pakai (lulusan akbid Ternate). Gaji mereka langsung dari pusat ke rekeningnya, dan dapat insentif dari Pemda sebesar Rp 350.000,-/bln, sudah cukup. 3) Harapan Koordinator KIA KB Jampersal Puskesmas Mateketen  Perlu keterlibatan aparat desa dalam memberikan motivasi kepada masyarakat untuk memanfaatkan Jampersal. 4) Harapan bidan  Agar Jampersal hanya dapat diberikan kepada orang miskin saja, tidak menyeluruh kepada seluruh golongan masyarakat agar tarif dapat dinaikan menjadi 1 juta untuk setiap persalinan 5) Harapan ibu, Toma, suami  Saran khusus untuk Jampersal belum ada karena belum tahu. tahunya sejak tahun 2006 pengobatan dan persalinan gratis. Masyarakat bersyukur dan berterima kasih dgn Jampersal, agar tetap dilanjutkan  Agar jangan dibedakan kaya miskin, karena di Makian hampir sama kaya miskinnya. Agar dipermudah persyaratannyaAgar Jampersal diberikan pada seluruh masyarakat, kaya miskin di kecamatan Makian sama saja tidak jauh beda, dan persyaratan untuk ikut Jampersal agar dipermudah.

458

3.12. Puskesmas Kota Ternate, Kota Ternate 3.12.1. Gambaran Umum Kota Ternate Kota Ternate adalah ibu kota dari bekas kerajaan Islam yang tertua di Indonesia yang berdiri pada tahun 1257terletak dekat dengan kepulauan Halmahera, dan berada di kaki Gunung Gamalama. Ternate menjadi kota otonom sejak tahun 2010 dan kini menjadi ibukota sementara Provinsi Maluku Utara. Kota Ternate terdiri dari tiga suku kata yaitu tara ano ate, yang berarti turun kebawah dan pikatlah dia. Maksud dari kalimat itu adalah turun (dari dataran tinggi ke dataran rendah) atau dari formadiayahi ke limau jore-jore, untuk memikat pendatang agar mau menetap dipantai (diwilayah ini). Kata tara juga bisa berarti bawah (arah selatan) yang berarti letak/posisi Kota Ternate pertama adalah dibagian selatan Kota Ternate. Letak Geografis, Kota Ternate Kota Ternate terletak pada posisi 0° - 2° Lintang Utara dan 126° - 128° Bujur Timur. Luas daratan Kota Ternate. Batas astronomis wilayah Kota Ternate berada sebesar 250,85 km²,sementara lautannya 5.547,55 km². Kota Ternate berbatasan dengan: a. Sebelah Utara dengan Laut Maluku b. Sebelah Selatan dengan Laut Maluku c. Sebelah Timur dengan Selat Halmahera d. Sebelah Barat dengan Laut Maluku Selain itu, letak pulau Ternate adalah dekat dengan kota Manado ibukota Propinsi Sulawesi Utara. Posisi strategis yang berhadapan dengan kawasan Dodinga, sebuah persimpangan jalan di pulau Halmahera yang menyebabkan kota ini berkembang dalam lajur perdagangan di daerah Maluku Utara. Wilayah Kota Ternate merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari 8 buah pulau , 5 pulau berukuran sedang dan 3 pulau berukuran kecil yang hingga saat ini belum dihuni penduduk. Adapun pulau-pulau tersebut adalah:

459

a. Pulau Ternate : 111,80 km2 b. Pulau Hiri : 12.40 km c. Pulau Moti : 24,60 km2 d. Pulau Mayau : 78,40 km2 e. Pulau Tifure : 22,10 km2 f. Pulau Makka : 0,50 km2, tidak berpenghuni g. Pulau Mano : 0,50 km2, tidak berpenghuni h. Pulau Gurida : 0,55 km2, tidak berpenghuni

Rumah Sakit Puskesmas Pustu Posyandu

: 6 Buah : 8 buah : 15 buah : 170 buah

Jumlah kecamatan Jumlah Kelurahan Jumlah Penduduk: Sex ratio

: 7 buah : 77 buah : 190.178 jiwa : 103,6

Jamkesda Askes Rumah Sakit Puskesmas Pustu

:8.000 jiwa : 47.204 jiwa : 6 Buah : 8 buah : 15 buah

mkesmas

: 18.786 Jiwa Jamkesda :8.000 jiwa

Gambar 3.12.1. Peta Kota Ternate Askes(atas) dan Gambaran : Kota Ternate Secara Umum (bawah)
47.204 jiwa Rumah Sakit Buah buah buah : 6

Pulau-pulau dalam wilayah Kota Ternate terletak Puskesmas : 8 dalam lingkup kawasan pantai barat pulau Halmahera, melalui kepulauan Filipina, :Sangihe Talaud dan Minahasa yang Pustu 15 dilingkupi lengkung. Sulawesi bagian utara. Seperti umumnya daerah kepulauan yang
Posyandu : 170 buah mempunyai ciri banyak memiliki Desa/Kelurahan pantai, Kota Ternate pun demikian.

Dari seluruh Kelurahan yang ada di daerah ini bagian terbesarnya, 45 Kelurahan atau 71% berklasifikasi pantai dan 18 Kelurahan atau 29% nya bukan pantai.

460

Pulau Ternate berbentuk bulat kerucut/strato volcano. Ciri Topografi sebahagian besar dataran bergunung dan daerah berbukit, terdiri dari pulau vulkanis dan pulau karang dengan kondisi jenis tanah :  Rogusal : Pulau Ternate, pulau Hiri dan pulau Moti  Rensikal : Pulau Mayau, pulau Tifure, pulau Makka, pulau Mano dan pulau Gurida Kondisi topografi Kota Ternate ditandai dengan tingkat ketinggian dari permukaan laut yang beragam, namun secara sederhana dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu : Rendah (0 -499 M), Sedang (500 - 699 M) dan Tinggi (lebih dari 700 M). Berdasarkan klasifikasi tersebut, daerah ini memiliki kelurahan dengan tingkat ketinggian dari permukaan laut dengan kriteria rendah sebanyak 53 atau 84%, sedang sejumlah 6 atau 10% dan tinggi sebanyak 4 atau 6%.

Gambar 3.12.2. Gunung Gamalama Sumber: Dokumentasi Peneliti

Ibu kota Ternate berada di Ternate, memiliki 7 (tujuh) kecamatan, 77 kelurahan, yakni: a. Kecamatan Kota Ternate Utara, 14 Kelurahan b. Kecamatan Kota Ternate Selatan, 17 Kelurahan.

461

c. Kecamatan Ternate Tengah, 15 Kelurahan d. Kecamatan Pulau Ternate, 13 Kelurahan. e. Kecamatan Moti, 6 Kelurahan f. Kecamatan Pulau Batang Dua, 6 Kelurahan g. Kecamatan Pulau Hiri, 6 Kelurahan Keadaan Penduduk Perkembangan penduduk Kota Ternate selama lima tahun terakhir mengalami kecenderungan peningkatan khususnya di wilayah kecamatan Kota Ternate Selatan dan kecamatan Kota Ternate Utara. Peningkatan ini disebabkan faktor urbanisasi, migrasi maupun dari kawasan pulau Halmahera akibat konflik etnis beberapa waktu yang lalu, dan migrasi dari regional lain dari Sulawesi, Ambon, Papua bahkan dari Kalimantan, Jawa dan Sumatera.Meningkatnya arus urbanisasi dan migrasi juga disebabkan oleh semakin terbukanya arus transportasi laut yang menghubungkan kota Ternate dengan kawasan sekitarnya dan beberapa kota lainnya. Salah satu permasalahan yang perlu diperhatikan dalam proses pembangunan kesehatan adalah kependudukan yang mencakup antara lain jumlah, komposisi, dan distribusi penduduk. Kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup penduduk menjadi fokus utama dari berbagai program pembangunan yang dilaksanakan. Jumlah Penduduk Sumber data kependudukan dapat diperoleh dari hasil Sensus, Survei dan Registrasi Penduduk. Sampai dengan akhir tahun 2011, jumlah penduduk Kota Ternate berdasarkan data sebanyak 190.178 jiwa dengan tingkat penyebaran penduduk menurut kecamatan dapat diuraikan sebagai berikut : a. Kecamatan Ternate Utara : 46.673 jiwa b. Kecamatan Ternate Tengah : 53.323 jiwa c. Kecamatan Ternate Selatan : 65.283 jiwa d. Kecamatan Pulau Ternate : 15.046 jiwa e. Kecamatan Pulau Hiri : 2.801 jiwa f. Kecamatan Pulau Moti : 4.505 jiwa g. Kecamatan Batang Dua : 2.547 jiwa

462

Kepadatan Penduduk Komposisi penduduk menurut penyebarannya secara geografis yang lazim disebut distribusi penduduk tidak lain untuk mengetahui merata atau tidaknya penyebaran penduduk dalam suatu wilayah. Informasi distribusi penduduk akan lebih berarti jika menggunakan ukuran demografi lainnya yaitu kepadatan penduduk. Hal ini penting mengingat diferensiasi jumlah penduduk antar wilayah dalam suatu daerah tidak mutlak menggambarkankepadatan penduduknya. Suatu daerah yang memiliki jumlah penduduk yang besar, belum tentu dirasakan padat bila wilayahnya juga luas. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dalam kurun waktu setahun, maka kondisi Kota Ternate dirasakan semakin padat. Dengan luas wilayah daratan 250,85 km² dan jumlah penduduk sebanyak 190.178 jiwa maka kepadatan penduduk Kota Ternate pada tahun 2011 sebesar 758 jiwa per km², hal ini berarti mengalami peningkatan bila dibandingkan tahun 2010 yang berjumlah 740 jiwa per km2 Rasio Jenis Kelamin, Rumah tangga dan Anggota Rumah tangga Untuk mengetahui komposisi penduduk menurut jenis kelamin digunakan suatu indikator yang disebut Rasio Jenis Kelamin yang menggambarkan banyaknya laki-laki diantara 100 perempuan. Sesuai data tahun 2011 jumlah penduduk laki-laki 96.752 sedangkan jumlah penduduk perempuan 93.426 sehinggga rasio jenis kelamin Kota Ternate adalah 103,6 yang berarti penduduk laki-laki lebih banyak daripada perempuan.

Gambar 3.12.3. Suasana Kota Ternate

Sumber: Dokumentasi Peneliti

463

Gambar 3.12.4. Pelabuhan Ternate dilatari Pulau Halmahera Sumber: Dokumentasi Peneliti

Pendidikan Sarana pendidikan di Kota Ternate sangat memadai dengan tersedianya sekolah mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai ke perguruan tinggi. Sampai dengan tahun 2010 jumlah SD baik Negeri/ Inpres maupun swasta sebanyak 113 buah dengan jumlah guru 1.374 orang, sementara peserta didiknya 19.076 orang. Selain itu pada tahun 2010 juga terdapat 24 buah SLTP negeri dan swasta dengan jumlah guru 615 orang, serta murid sebanyak 6.918 orang. Untuk jenjangpendidikan SLTA jumlah SMU negeri dan swasta sebanyak 15 buah dengan jumlah guru 526 orang serta murid sejumlah 4.849 orang, Sedangkan jumlah SMK Negeri ditambah swasta sebanyak 8 buah, jumlah gurunya sebanyak 329 orang dan jumlah muridnya sebanyak 2.861 orang.Halaman 13 Sedangkan jumlah SMK Negeri ditambah swasta sebanyak 8 buah, jumlah gurunya sebanyak 329 orang dan jumlah muridnya sebanyak 2.861orang. Seperti telah disebutkan sebelumnya, di Kota Ternate juga tersedia sarana pendidikan untuk jenjang pendidikan tinggi. Sampai dengan tahun 2010, terdapat 6 buah Perguruan Tinggi yaitu : Universitas Khairun, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, AIKOM Ternate, STIKIP dan Politeknik Depkes Ternate dengan berbagai disiplin ilmu atau fakultas yang tersedia. Kualitas Sumber Daya Manusia perlu selalu ditingkatkan, salah satunya melalui jalur pendidikan agar tercapai kemajuan bagi suatu bangsa yang sedang membangun.

464

Hal ini disebabkan dengan pendidikan kecerdasan dan keterampilan masyarakat akan terwujud. Dengan kualitas sistem pendidikan yang baik maka Sumber Daya Manusia akan meningkat sehingga partisipasi mereka dalam proses pembangunan di berbagai sektor dapat diimplementasikan secara lebih optimal. Dibidang kesehatan dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka diharapkan meningkatkan pengetahuan masyarakat kesehatan, khususnya meningkatnya kesadaran akan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Fasilitas Kesehatan dan Tenaga Kesehatan Pemanfaatan sarana kesehatan dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain jumlah penduduk yang menggunakan sarana pelayanan kesehatan yaitu Rumah Sakit, Rumah Bersalin, Puskesmas, BP/Balai Kesehatan, Praktek Dokter Perorangan, Praktek Dokter Gigi, Praktek Dokter Kelompok Untuk Kota Ternate, jumlah penduduk yang menggunakan sarana pelayan kesehatan kesehatan (pemerintah dan swasta). Berdasarkan data kunjungan rawat

jalan dan rawat inap diperoleh jumlah kunjungan sebanyak 96724 kunjungan atau tingkat penggunaan sebesar 50,86% dari total penduduk mengalami penurunan dibandingkan tahun 2010 sebanyak 111.813 kunjunganatau tingkat penggunaan sebesar 60,2 % dari total penduduk.Fasilitas yang ada di kota Ternate yaitu Rumah Sakit (6 RSU, 1 RS Bersalin, 1 RS Khusus lainnya), 8 unit Puskesmas, 15 Puskesmas Pembantu (Pustu), 11 Puskesmas Keliling (Pusling), 170 Posyandu, 13 Poskeskel dengan gedung sendiri, 1 Balai Pengobatan/Klinik, 34 Apotik, 4 Toko Obat, 1 Instalasi Farmasi Kota (IFK), 7 Praktek Dokter Bersama, 67 Dokter Praktek Perorangan. Dari total penduduk sebanyak 190.178 jiwa, maka rasio tenaga medis per 100.000 penduduk sebesar 57,3 hal ini menunjukkan bahwa untuk setiap 100.000 penduduk dilayani oleh 57 dokter. Jumlah tenaga farmasi (Apoteker dan Asisten Apoteker) 49,6 per 100.000 penduduk. Rasio tenaga perawat 216,6 per 100.000 penduduk, tenaga bidan sebesar 129,9 per 100.000 penduduk. Sedangkan Rasio tenaga Kesmas 35,2 per 100.000 penduduk dan Sanitasi sebesar 8,9 per 100.000

465

penduduk, sedangkan dan rasio tenaga teknisi medis sebesar 18,9 per 100.000 penduduk

Masalah Kesehatan Ibu dan Anak Bayi. Jumlah bayi di kota ternate pada tahun 2011 adalah 2.542 jiwa, sedangkan jumlah kelahiran hidup di ternate adalah 3.839 jiwa. Selisih dari jumlah bayi yang sebesar 1.297 jiwa merupakan under reporting data, kondisi ini disebabkan mobilitas penduduk di kota ternate sangat tinggi, banyak ibu yang berasal dari pulaupulau di Halmahera melahirkan di Kota Ternate untuk mencari fasilitas bersalin yang lengkap. Sesudah bersalin para ibu biasanya membawa bayi mereka kembali ke daerah asal. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. BBLR disebabkan antara lain karena ibu hamil yang kekurangan gizi, kenaikan berat badan ibu kurang atau tidak sesuai dengan umur kehamilan, ibu hamil yang masih remaja, ibu hamil merokok, ibu memiliki tekanan darah tinggi, kurang darah (anemia) atau malaria kronik, pernah melahirkan bayi prematur sebelumnya dan perdarahan pada saat kehamilan. Pada tahun 2011 jumlah Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Kota Ternate sebanyak 27 (1%) dari jumlah bayi yang lahir sebanyak 3.839 bayi. Dari jumlah tersebut semuanya ditangani oleh tenaga kesehatan. Penanganan BBLR ini sangat penting untuk mencegah terjadinya gizi buruk yang akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun kecerdasan anak. Kunjungan neonatus di Kota Ternate sudah cukup tinggi, sekitar 98,3% untuk KN1 dan 98,1% untuk KN2, sedangkan cakupan Imunisasi DPT, HO dan campak di Kota ternate yaitu sebesar 97 % untuk DPT1+HB1 , 94,9 % untuk DPT 3+HB 3 sedangkan untuk campak sebesar 94,3 %. Cakupan BCG dan polio III sebesar 98,93% dan 95,50%. Dari jumlah bayi 2.542 jiwa, hanya 62,5 % yang memperoleh ASI ekslusif sebesar 1.590 jiwa. Angka Kematian Bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (IMR) sangat erat kaitannya dengan kualitas lingkungan hidup, sanitasi lingkungan dan keadaan gizi

466

masyarakat. Angka kematian bayi di kota Ternate berjumlah 25 orang bayi dari 3.839 kelahiran hidup, atau 6,51 per 1000 kelahiran hidup. Kematian bayi ini disebabkan oleh BBLR, Asfiksia, Sepsis, Ikterus dll angka kematian bayi meningkat dibandingkan pada tahun 2010 yaitu sebesar 6,25 per 1000 kelahiran hidup. Balita. Pada tahun 2011, dari 18.576 balita dengan golongan umur (0-59 bln) yang ada di Kota Ternate yang dapat ditimbang sebanyak 6.964 balita dan dari jumlah tersebut yang naik berat badannya sebanyak 4.222 balita (60,63%). Balita yang naik berat badannya (N) adalah balita yang ditimbang (D) diposyandu maupun luar posyandu dan berat badannya 2(dua) bulan berturut- turut naik mengikuti garis pertumbuhan pada KMS. Dimana pemantauan berat badan balita dapat balita dapat diketahui melalui kegiatan diposyandu maupun diluar posyandu. yang dilaksanakan setiap bulan. Setiap anak harus memiliki Kartu Menuju Sehat (KMS) agar dapat dipantau pertumbuhannya, selain itu juga kita dapat menentukan kenaikan berat badannya setiap bulan. Dengan KMS terlihat apakah anak tersebut tumbuh dengan baik sesuasi usianya. Salah satu cara untuk memantau pertumbuhan adalah melalui penimbangan berat badan di puskesmas atau posyandu, karena berat badan merupakan petunjuk yang baik untuk mengetahui keadaan gizi dan kesehatan. Perubahan berat badan dapat menunjukan gangguan kesehatan terutama pada usia balita. Pemantauan pertumbuhan ini adalah suatu strategi operasional yang memberi kesempatan kepada ibu-ibu untuk mengetahui secara visual keadaan pertumbuhan anaknya. Keadaan gangguan pertumbuhan yang dialami anak dapat dipantau dengan melihat hasil pencatatan pada Kartu menuju Sehat (KMS). Salah satu keadaan gangguan pertumbuhan yang dialami anak adalah berat badan anak yang berada di bawah garis merah atau dengan istilah Balita Bawah Garis Merah (BGM) yaitu keadaan dimana berat badan anak kurang dari berat badan semestinya berdasarkan umur. Jika berat badan anak berada pada BGM maka orang tua khususnya ibuharus melakukan tindakan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan anak baik melalui pemberian makanan bergizi terutama makanan tinggi kalori dan protein serta dengan pola asuh yang benar. Pada tahun 2011 di lingkungan kerja dinas kesehatan kota Ternate

467

persentase tertinggi BGM terdapat di Puskesmas Kalumpang (15%) dan terendah di Puskesmas Siko (2%). Balita merupakan kelompok sasaran yang rentan terhadap berbagai masalah Kesehatan khususnya masalah gizi. Salah satu masalah gizi pada anak Balita adalah Kekurangan Vitamin A (KVA). KVA pada anak biasanya terjadi pada anak yang menderita Kurang Energi Protein (KEP) atau gizi buruk sebagai akibat asupan gizi yang sangat kurang.termasuk zat gizi mikro dalam hal ini vitamin A. dalam wilayahkota ternate di tahun 2011 sebesar 84%. semua balita mendapat Vitamin A secara berkala selama 6 bulan. karena beberapa hal antara lain masih tingginya mobilisasi penduduk yang terjadi sehingga ada balita yang dalam satu tahun hanya mendapat satu kali vitamin A, kondisi ini mempengaruhi cakupan program. Gizi buruk masih merupakan masalah gizi utama pada balita. walaupun upaya penanggulangannya terus dilakukan. Gizi buruk yang mendapat perawatan adalah Gizi buruk dengan status gizi berdasarkan indeks berat badan menurut panjang badan atau tinggi badan (dengan nilai Z-score < SD) dengan atau tanpa gejala klinis. Tindakan yang diberikan kepada balita gizi buruk yang ditemukan mulai dari rujukan, klarifikasi dan konfirmasi, pengobatan dan pemberian makanan tambahan disertai dengan penyuluhan, baik rawat jalan mendapatkan perawatan khusus karena tidak hanya meningkatkan angka kesakitan tetapi juga dapat berakibat fatal yang dapat mengakibatkan kematian. terdapat di 17 kelurahan yang ada di delapan wilayah puskesmas dalam Kota Ternate. Seluruh balita gizi buruk tersebut mendapat perawatan (100%). Angka Kematian Maternal. Menurut profil kesehatan indonesia tahun 2011, wanita usia subur adalah wanita dalam antara usia 15-49 tahun. Angka Kematian Ibu Maternal dapat menggambarkan status gizi dan kesehatan serta tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, ibu melahirkan dan ibu nifas. Angka Kematian Ibu yang ada diperoleh dari pencatatan dan pelaporan Puskesmas dan rumah sakit yang ada di Kota Ternate, adapun jumlah Kematian Ibu di Kota Ternate pada tahun 2011 sebanyak 5 dari 3.839 kelahiran hidup atau 130 per 100.000 kelahiran hidup. Adapun penyebab kematian ibu tersebut yaitu, Perdarahan, infeksi post partum dan hipertensi pada kehamilan. Oleh karena itu, setiap ibu hamil dan ibu bersalin sebaiknya

468

memeriksakan diri sejak dini secara rutin ke petugas kesehatan untuk mengetahui kondisi kesehatan ibu dan bayi,sehingga diharapkan pada tahun 2015 kematian ibu bisa diturunkan (tidak melebihi 102/100.000) kelahiran hidup) maka pencapaian MDGS bisa tercapai. Kunjungan Ibu Hamil. Kehamilan merupakan proses reproduksi yang normal, tetapi tetap perlu perawatan diri yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat, karena itu kehamilan yang normal pun mempunyai risiko kehamilan, namun tidak secara langsung meningkatkan risiko kematian ibu. Risiko tinggi pada kehamilan merupakan keadaanpenyimpangan dari normal yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Oleh karena itu Diperlukan pelayanan antenatal yang merupakan pelayanankesehatan oleh tenaga kesehatan. Untuk ibu selama masa kehamilannya, yang dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan (7 T) Untuk melihat kemajuan maupun permasalahan permasalahan kesehatan pada ibu hamil digunakan 2 indikator yang mudah dipahami yaitu pelayanan antenatal (cakupan K1) yang menggambarkan pemerataan pelayanan kesehatan ibu dan anak, dan cakupan ibu hamil (cakupan K4) yang menggambarkan efektifitas pelayanan KIA. Presentase hasil cakupan kunjungan ibu hamil (cakupan K4) di Kota Ternate pada tahun 2011, diketahui bahwa untuk pelayanan cakupan kunjungan ibu hamil (cakupan K4) nampak bahwa Puskesmas Kota, Puskesmas Siko dan Puskesmas Kalumpang mempunyai prosentasi tertinggi (97%) serta Puskesmas mayau memiliki prosentase terendah yaitu 60 %. Persalinan.Dalam program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dikenal beberapa jenis tenaga yang memberikan pertolongan persalinan kepada masyarakat yaitu ; dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat. Pada prinsipnya penolong, persalinan harus memperhatikan hal-hal antara lain sterilisasi / pencegahan infeksi, metode pertolongan persalinan yang sesuai standar pelayanan, merujuk kasus yang memerlukan tingkat pelayanan yang lebih tinggi. Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Kota Ternate pada tahun 2011 rata-rata 90 % dengan kisaran terendah 58% di Puskesmas Mayau dan tertinggi di Puskemas Kota yaitu 95%, menurut hasil FGD masyarakat dan indepth mama biang,
469

peran mama biang juga menmama biang meningkatnya linakes . dimana kini persalinan dengan bantuan mama biang sudah jauh berkurang sedangkan mama biang saat ini hanya bertugas merawat ibu dan bayi paska bersalin. Keluarga Berencana. Untuk meningkatkan peserta KB Baru, maka berbagai upaya telah dilakukan antara lain penyuluhan kepada masyarakat khususnya Pasangan Usia Subur ( PUS ) yang menjelaskan manfaat dari program KB serta alat-alat kontrasepsi yang dapat digunakan

3.12.2. Gambaran Umum Puskesmas Kota Ternate Puskesmas Kota Ternate terletak di Kecamatan Kota Ternate Tengah dalam wilayah Kota Ternate Propinsi Maluku Utara dengan luas wilayah 10,7 km². Wilayah kerja Puskesmas Kota Ternate terdiri atas 8 kelurahan yaitu: Kelurahan Marikurubu 4,15 km², Kelurahan Maliaro 5,13 km², Kelurahan Kampung Pisang 0,20 km², Kelurahan Stadion 0,16 km², Kelurahan Takoma 0,20 km², Kelurahan Tanah Raja 0,26 km², Kelurahan Muhajirin 0,13 km², Kelurahan Kota Baru 0,47 km². Kelurahan dengan wilayah terluas adalah kelurahan Maliaro. Kontur wilayah kerja Puskesmas Kota Ternate bervariasi mulai dari pantai hingga pegunungan, wilayah yang terdekat dari pantai adalah Kelurahan Muhajirin sedangkan yang tertinggi terdapat di lereng Gunung Gamalama yaitu kelurahan Marekurubu. Wilayah kerja Puskesmas Kota Ternate sebagian bersar terletak di wilayah perdagangan dan pemerintahan, terutama di wilayah kelurahan Muhajirin hampir sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan Perdagangan, sedangkan kawasan pemerintahan terletak di Kelurahan Maliaro. Di Wilayah ini dapat ditemukan kawasan pemerintahan Kota Ternate. Jumlah penduduk dalam wilayah kerja Puskesmas Kota dalam Tahun2011 adalah 25.399 jiwa terdiri dari laki-laki 12.987 jiwa (51%) dan perempuan sebanyak 12.412 (48,8%)yang tersebar dalam 8 kelurahan dengan jumlah penduduk terbanyak di kelurahan Maliaro sebanyak 6.557 jiwa (26%) dan yang terkecil di kelurahan Tanah Raja sebanyak 1.258 jiwa (5%).

470

Berdasarkan kelompok umur, sebagian besar penduduk dalam usia produktif (15-64 tahun) sebanyak 18.628 jiwa (73,3%) dan selebihnya sebanyak 6.771 jiwa (26,7%) berusia dibawah 15 tahun dan berusia 65 tahun keatas. Kelompok umur 25-29 tahun merupakan kelompok umur terbanyak yaitu 3.256 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 1.595 jiwa dan perempuan sebanyak 1.661 jiwa.
Gambar 3.12.5. Persentase Jumlah Penduduk berdasar Kelurahan di Wilayah Kerja uskesmas Kota Ternate Tahun 2011

7% 5%

17%

20% 26% 9%

9% 7%

MARIKURUBU MALIARO KP.PISANG STADION TAKOMA TANAH RAJA MUHAJIRIN KOTA BARU

Sumber: Profil Dinas Kesehatan Kota Ternate

Gambar 3.12.6. Puskesmas Kota Ternate Sumber: Dokumentasi Peneliti

471

Gambar 3.12.7. Loket Pendaftaran Puskesmas Kota Ternate Sumber: Dokumentasi Peneliti

Kepadatan penduduk dalam wilayah kerja Puskesmas Kota Ternate adalah 2.374 /km² yang secara berurutan dari yang paling padat adalah kelurahan Muhajirin yaitu 14.507/km², kelurahan Stadion 11.512 km², kelurahan Kampung pisang 11.165 km/², kelurahan Takoma 10.800 km², kelurahan Kota Baru 9.142 km², kelurahan Tanah Raja 4.838 km², kelurahan Maliaro 1278 km², kelurahan Marikurubu 1.244 km². Penduduk dalam wilayah kerja Puskesmas Kota ternate sebagian besar telah melek huruf.Pada tahun 2011 persentase penduduk berumur 10 tahun keatas yang melek huruf dalam wilayah kerja Puskesmas Kota Ternate yaitu 84,58% yang terdiri dari laki-laki sebanyak 9.266 orang (84,08%) dan penduduk perempuan sebanyak 9.072 orang (85,10%). Sedangkan jumlah penduduk berumur 10 tahun keatas berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkan yaitu SD/MI sebanyak 2.456 orang, SMP/MTs sebanyak 2.884 orang, SMA/SMK/MA sebanyak 9.984 orang, Diploma sebanyak 556 orang dan Univesitas sebanyak 1.556 orang. Mayoritas penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kota Ternate beragama Islam, hal ini terlihat dari spanduk-spanduk yang tersebar di seluruh penjuru Kota Ternate yang berisi, Ternate the true Islam. Pelaksanaan syariat Islam dilaksanakan dengan tidak mengesampingkan minoritas agama di daerah tersebut.

472

Derajat Kesehatan Salah satu indikator yang paling menonjol dalam menilai derajat kesehatan adalah Angka Kematian Bayi (AKB). Angka kematian bayi dihitung dari banyaknya kematian bayi berusia kurang dari 1 tahun per kelahiran hidup pada waktu yang sama. Jumlah kelahiran hidup selama tahun 2011 adalah sebanyak 562 orang yang terdiri dari laki-laki 278 orang dan perempuan 284 orang. Tidak terdapat bayi lahir mati yang dilaporkan selama tahun 2011. Selama tahun 2011 terdapat 3 orang bayi (usia kurang dari 1 tahun) yang meninggal yaitu di kelurahan Maliaro 1 orang, kelurahan Kampung Pisang 1 orang dan kelurahan Tanah Raja 1 orang. Dengan demikian angka kematian bayi selama tahun 2011 dalam wilayah kerja Puskesmas Kota adalah 5,3 per 1000 kelahiran hidup Angka kematian ibu merupakan indikator kesehatan yang cukup penting. Angka kematian ibu diketahui dari jumlah kematian karena kehamilan, persalinan dan ibu nifas per 100.000 kelahiran hidup dalam waktu tertentu.Kematian ibu dikelompokkan menjadi 3, yaitu kematian ibu hamil, kematian ibu bersalin dan kematian ibu nifas.Selama tahun 2011 terdapat 1 kematian ibu hamil dalam wilayah kerja Puskesmas Kota Ternate yaitu di kelurahan Tanah Raja. Angka kematian ibu selama tahun 2011 adalah 177,9 per 100.000 kelahiran hidup. Jumlah bayi yang lahir hidup selama tahun 2011 adalah 562 orang yang terdiri dari laki-laki 278 orang dan perempuan 284 orang. Dari 562 bayi baru lahir terdapat 70,6% yang ditimbang, yang terdiri dari laki-laki sebanyak 193 orang (69%) dan perempuan sebanyak 204 orang (72%). Status gizi masyarakat selama tahun 2011 meliputi persentase kunjungan neonatus, persentase BBLR yang ditangani, status gizi balita dan kecamatan bebas rawan gizi. Selama tahun 2011 terdapat 8 orang bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) yang terdiri dari laki-laki 4 orang dan perempuan 4 orang. Semua bayi BBLR telah mendapat penanganan. Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi pada Balita adalah dengan anthropometri yang diukur melalui indeks Berat Badan menurut umur (BB/U) atau berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB). Jumlah balita dengan gizi lebih
473

sebanyak 5 orang (0,54%) di kelurahan Maliaro 2 orang, kelurahan Stadion 2 orang, kelurahan Muhajirin 1 orang.Balita gizi baik sebanyak 856 orang (92,7%) yang terbanyak di kelurahan Maliaro 212 (94%) dan yang paling sedikit di kelurahan Tanah Raja yaitu 54 orang (87%). Balita Gizi kurang sebanyak 60 orang (6,5%) yang terbanyak di kelurahan Marikurubu 15 orang (7%) dan paling sedikit di kelurahan Kampung pisang 4 orang.Balita Gizi buruk sebanyak 2 orang (0,22%) di kelurahan Marikurubu dan di kelurahan Tanah Raja.

Masalah Kesehatan Ibu dan Anak Pelayanan Kesehatan pada Ibu Hamil Masa kehamilan merupakan masa rawan kesehataan, baik kesehatan ibu yang mengandung maupun janin yang dikandungnya sehingga dalam masa kehamilan perlu dilakukan pemeriksaan secara teratur. Hal ini dilakukan guna menghindari gangguan sedini mungkin dari segala sesuatu yang membahayakan terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya. Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama kehamilannya, yang mengikuti pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Selama tahun 2011 cakupan kunjungan ibu hamil K1 secara keseluruhan adalah 615 orang (100%), cakupan paling rendah di kelurahan Muhajirin yaitu 93,5%. Sedangkan cakupan kunjungan ibu hamil K4 secara keseluruhan adalah 596 orang (97%), cakupan paling rendah di kelurahan Muhajirin (91%). Pemberian imunisasi pada ibu hamil adalah hal yang sangat penting. Selama tahun 2011 persentase cakupan imunisasi TT pada ibu hamil adalah TT1 29%, TT2 30%, TT3 11%, TT4 2,7%, TT5 3%. TT.Persentase pemberian tablet Fe pada ibu hamil baik Fe1 ( 30 tablet ) maupun Fe3 ( 90 tablet ) adalah Tablet Fe 1 99% dan Tablet Fe 3 100%.

474

Pelayanan Persalinan Proporsi persalinan yang ditangani oleh tenaga kesehatan (nakes) merupakan salah satu upaya untuk penurunan angka kematian ibu dan bayi. Tenaga yang dapat memberikan pertolongan persalinan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tenaga profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, dan bidan) dan dukun bayi (dukun bayi terlatih dan tidak terlatih). Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah 559 (95%) dari 587 ibu bersalin dalam wilayah Puskesmas Kota Ternate. Cakupan tertinggi di kelurahan Maliaro dan Kota Baru (100%) dan paling rendah di kelurahan Muhajirin (72%), hal ini disebabkan karena jumlah ibu hamil di kelurahan Muhajirin memang sedikit atau tidak sesuai dengan target sasaran. Persentase bumil risiko tinggi (risti) atau dengan komplikasi yang ditangani adalah 80% dari 124 perkiraan bumil risti. Pelayanan Nifas Cakupan ibu nifas yang mendapat pelayanan kesehatan adalah 553 (94%), cakupan tertinggi di kelurahan Maliaro (99%) dan paling rendah di kelurahan Muhajirin (73%). Pemberian vitamin A sangat penting terutama untuk bayi, balita dan ibu nifas. Persentase vitamin A untuk bayi umur 6-11 bulan selama tahun 2011 adalah 79% yang terdiri dari laki-laki 73% dan perempuan 85,7%. Persentase anak balita umur 1-4 tahun yang mendapat vitamin A dua kali adalah 78,7% yang terdiri dari laki-laki 77,6% dan perempuan adalah 80%. Sedangkan persentase ibu nifas yang mendapat viatamin A adalah 96%.

Pelayanan Keluarga Berencana (KB) Keluarga Berencana (KB) adalah suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilah dengan memakai kontrasepsi. Kontrasepsi atau anti kontrasepsi (conception control) adalah cara untuk mencegah terjadinya konsepsi dengan menggunakan alat atau obat-obatan. Masa subur seorang wanita memiliki peranan bagi terjadinya kehamilan sehingga peluang wanita melahirkan menjadi cukup tinggi. Menurut hasil penelitian usia subur seorang wanita rata-rata 15 – 49 tahun walaupun sebagaian wanita mengalami menarche (haid pertama) pada usia

475

9–10 tahun. Oleh karena itu untuk mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran, pasangan usia subur ini lebih diperioritaskan untuk menggunakan alat/cara KB. Peserta KB Baru adalah Pasangan usia subur yang baru pertama kali menggunakan salah satu cara/alat dan/atau pasangan usia subur yang menggunakan kembali salah cara/alat kontrasepsi setelah mereka berakhir masa kehamilan Cakupan Peserta Aktif KB adalah Cakupan peserta aktif KB dibandingkan dengan jumlah Pasangan Usia Subur suatu wilayah kerja pada kurun yang sama. Peserta Keluarga Berencana baru selama tahun 2011 sebanyak 74 orang ( 1,5%) dari 5.033 pasangan usia subur yang tercatat, sedangkan jumlah peserta KB aktif sebanyak 4.143 orang (82%). Jika dibandingkan dengan target SPM maka persentase peserta KB aktif telah melebihi target.Proporsi peserta KB baru menurut jenis kontrasepsi yang dipergunakan untuk kategori MKJP adalah IUD (0%), MOP (0%), MOW (0,1%), implan (0,3%) sedangkan untuk non MKJP adalah suntik (80%), PIL (16%), kondom (3,4%), obat vagina (0%). Persentase peserta KB menurut jenis kontrasepsi MKJP dan non MKJP adalah 100%. Proporsi peserta KB aktif menurut jenis kontrasepsi yang dipergunakan untuk kategori MKJP adalah IUD 1,3%, MOP (0), MOW (1,6%), implan ( 4,4%). Sedangkan non MKJP adalah suntik ( 79,7%), pil (10,3%), kondom ( 2,6%), obat vagina (0%).Jika dilihat dari data peserta KB yang menggunakan alat kontrasepsi maka yang terbanyak menggunakan jenis kontrasepsi suntik.

Kunjungan Neonatus Cakupan kunjungan neonatus 1 kali (KN 1) selama tahun 2011 adalah 100% dari 562 bayi lahir hidup. Jika dibandingkan dengan target SPM KN1 sudah mencapai target.Cakupan kunjungan neonatus 3 kali (KN Lengkap) adalah 98%? Jika dibandingkan dengan target SPM persentase cakupan KN Lengkap sudah mencapai target. Persentase neonatal risti/komplikasi yang ditangani adalah 83% yang terdiri dari laki-laki 90% dan perempuan 75%. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada bumil

476

dan neonatal risti yang tidak ditangani di puskesmas melainkan dirujuk ke RS untuk mendapatkan penanganan yang lebih lanjut. Kunjungan Bayi Persentase cakupan kunjungan bayi (minimal 4 kali) selama tahun 2011 adalah 100% dari 559 bayi. Pelayanan imunisasi rutin pada bayi meliputi pemberian imunisasi untuk bayi umur 0-1 tahun yaitu imunisasi BCG, DPT, Polio, Campak, HB.Imunisasi adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja memberikan kekebalan (imunitas) pada bayi atau anak sehingga terhindar dari penyakit. (Depkes, 2000). Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proyeksi terhadap cakupan sasaran bayi yang telah mendapatkan imunisasi secara lengkap. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan suatu wilayah tertentu, berarti dalam wilayah tersebut juga digambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat (herd immunity) terhadap penularan PD3I. Suatu desa/kelurahan telah mencapai target UCI apabila > 80% bayi di desa/kelurahan tersebut mendapat imunisasi lengkap. Persentase cakupan pemberian imunisasi selama tahun 2011 dalam wilayah Puskesmas Kota adalah cakupan imunisasi BCG adalah 100%, semua kelurahan sudah melebihi target SPM. Cakupan imunisasi DPT1+HB1 adalah 96%, cakupan tertinggi di kelurahan Tanah Raja dan yang terendah di kelurahan Muhajirin. Cakupan imunisasi DPT3+HB3 adalah 92%, cakupan tertinggi di kelurahan Tanah Raja dan yang terendah di kelurahan Muhajirin. Cakupan imunisasi Polio3 adalah 92%, cakupan tertinggi di kelurahan Tanah Raja dan yang tertinggi di kelurahan Muhajirin. Sedangkan cakupan imunisasi campak adalah 100% kecuali di kelurahan Muhajirin belum mencapai target. Cakupan imunisasi bayi khusus untuk kelurahan Muhajirin jika berdasarkan data sasaran estimasi maka terlihat bahwa pencapaian belum sesuai dengan target SPM, tetapi jika berdasarkan dengan sasaran riil maka imunisasi bayi di kelurahan Muhajirin sudah mencapai target. Hal ini dikarenakan penetapan sasaran bayi di kelurahan Muhajirin terlalu tinggi padahal jumlah bayi di kelurahan tersebut jauh dari sasaran yang ditetapkan.

477

3.12.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak Pandangan masyarakat tentang kehamilan, Persalinan dan bayi Kehamilan. Pada masyarakat kota Ternate, dibeberapa tempat (kelurahan Marekurubu dan kelurahan Tanah Raja) di wilayah kerja Puskesmas kota ternate masih beranggapan kehamilan merupakan proses yang tidak hanya berhubungan dengan nalar manusia tapi juga berhubungan dengan hal gaib, seperti yang dikemukakan oleh Fikry Hamzah Taslim, pemahaman budaya masyarakat ternate menganggap proses kehamilan merupakan suatu proses kegaiban, dimana menurut pemahaman mereka terjadinya kehamilan janin dalam kandungan tidak saja faktor hubungan seksual antara suami istri, namun lebih merupakan intervensi “kegaiban” untuk

menjadikannya seorang manusia. Oleh Karena itu kehamilan harus dirawat dan dijaga secara gaib pula1. Masyarakat di Kota Ternate selain menganggap kehamilan merupakan hal alami pada wanita yang berhubungan dengan hal gaib, tapi mereka sudah sadar akan pentingnya pemeriksaan kehamilan pada tenaga kesehatan. Biasanya mereka melakukan pemeriksaan kehamilan pertama kali melalui tenaga kesehatan baik di puskesmas, Rumah sakit maupun bidan setempat. Hal tersebut sesuai dengan data profil kesehatan Kota Ternate tahun 2011 bahwa kunjungan persalinan di wilayah kerja Puskesmas Kota mempunyai cakupan K1 100 % sejalan dengan hasil penelitian ini, ANC yang dilakukan oleh tenaga kesehatan sebesar 98,6 % Dari hasil FGD dengan bapak non Jampersal dan bapak Jampersal, tugas bapak ketika istri melahirkan adalah mengantarkan istri untuk melakukan pemeriksaan kehamilan baik ke puskesmas maupun rumah sakit. Ketika bapak berhalangan mengantarkan istri melakukan pemeriksaan kehamilan, maka peran itu akan digantikan oleh saudara/ kerabat yang ada dekat dengan rumah mereka. Pekerjaan rumah tangga yang menjadi tugas ibu hamil kini sudah beralih tugas menjadi kewajiban suami, apabila pada saat itu suami berhalangan melaksanakan kewajibannya maka suami akan membayar orang untuk menggantikan pekerjaan suami, atau digantikan oleh kerabat lain yang tinggal dirumah tersebut (anak piara). Tetapi ada beberapa informan yang masih beranggapan, pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan oleh ibu hamil harus tetap dikerjakan, hal ini disebabkan menurut
478

konsepsi mereka ibu hamil yang tetap melakukan pekerjaan rumah tangga hingga bersalin akan dimudahkan persalinannya. Kegaiban dalam proses kehamilan ditandai dengan adanya upacara atau ritualyang dibantu oleh dukun (mama biang). Ritual ini dapat di temukan mulai dari ketika kehamilan, persalinan hingga masa nifas.Peran dukun (mama biang) dalam perawatan kehamilan masih banyak ditemukan pada masyarakat Kota Ternate sepeti yang dikemukakan oleh salah seorang informan mama biang, bahwa setiap ibu hamil yang datang kepada mama biang ataupun sebaliknya. Ibu hamil yang biasanya minta bantuan mama biang pada usia kehamilan 3 bulan, 5 bulan, 7 bulan, dan 9 bulan (bulan ganjil). Bantuan masa hamil ini ditujukan untuk membuat badan ibu hamil selalu bersih serta memberi semangat pada ibu hamil dalam menghadapi persalinan. Mama biang melakukan perabaan dan perbaikan pada letak janin apabila melintang. Namun sebelum memperbaikinya biasanya mama biang menganjurkan supaya ibu hamil diperiksa dahulu ke dokter/bidan. Setelah benar bahwa letaknya melintang dan dokter/bidan tidak mampu memperbaikinya (tidak bisa putar janin di dalam perut) maka ibu hamil datang kembali ke mama biang untuk memperbaikinya serta

menjaganya terus setiap bulan diperiksa dan diperbaiki kalau masih melintang.

Gambar 3.12.8 FGD tokoh masyarakat di Puskesmas Kota Ternate Sumber: Dokumentasi Peneliti

479

Gambar 3.12.9. Wawancara Mendalam dengan Mama Biang di kota Ternate Sumber: Dokumentasi Peneliti

Apabila ibu hamil baru menginjak usia kandungan 3 bulan, mama biang tidak meraba perut ibu hamil tapi memberi kekuatan dengan memberikan air minum jernih tanpa ramuan yang sudah dibaca2kan ayat suci alquran. Dan apabila kandungan sudah menginjak usia 6 hingga 9 bulan, ibu diberikan air putih dengan ‘ Rorona’ (campuran ramuan dedaunan) serta diperiksa letak bayi dan dibetulkan apabila tidak dalam posisi yang benar. Rorona adalah campuran dedauan yang diambil dari sekitar rumah dan sekitar kampung misalnya daun degi2, kembang sepatu yang bertujuan untuk mempersiapkan serta melancarkan persalinan. Pemeriksaan kehamilan menjelang persalinan (K4) merupakan kunjungan

terakhir sebelum masa bersalin tiba. Ibu hamil di kota Ternate masih patuh untuk memeriksakan kehamilannya hingga kunjungan terakhir (K4), hal ini seperti data yang dikemukakan dalam profil kesehatan dinas kesehatan Kota Ternate. Kunjungan K4 di Kota Ternate di lingkungan puskesmas kota sebesar 96,6% . Dari hasil kunjungan K4 ini suami dapat mengambil keputusan penentu

persalinan bagi istri. Sebagai contoh pengalaman pribadi salah seorang informan bapak non Jampersal. Seorang ibu hamil segera akan bersalin dan telah melakukan pemeriksaan kehamilan (K4), dengan hasil harus dilakukan operasi sectio karena posisi bayi sungsang. Berdasarkan hasil K4 tersebut suami melakukan diskusi dengan

480

keluarga dan memperoleh hasil agar persalinan ibu tersebut dilakukan dengan bantuan mama biang. Persalinan. Persalinan merupakan kondisi antara hidup dan mati yang

merupakan kodrat bagi perempuan. Dalam menghadapi proses persalinan biasanya terdapat ritual yang menyertakan do’a dan pengharapan agar baik ibu dan bayi yang dilahirkan tetap sehat dan selamat. Ritual tiup-tiup menjadi perantara antara ibu bersalin dibantu mama biang kepada Allah SWT. Di Kota Ternate persalinan sudah banyak yang dibantu oleh tenaga kesehatan baik bidan, maupun dokter spesialis hal ini sesuai dengan hasil penelitian ini dimana, persalinan dibantu oleh dokter 15,7 %, dibantu oleh bidan 68,6 % serta dibantu oleh mama biang 15,7%.Mama biang masih membantu persalinan di beberapa lokasi yaitu Kelurahan Marekurubu dan Kelurahan Kotaraja. Fenomena ini terjadi karena di kelurahan Marekurubu budaya dan ritual persalinan masih terasa kental membutuhkan pertolongan mama biang. Mama biang juga diharapkan selain membantu persalinan, juga melakukan perawatan nifas ibu dan bayi hingga 44 hari. Kondisi yang hampir sama ditemukan juga di Kelurahan Kuta Raja, dimana sebagian besar penduduk yang bermukim di tempat ini adalah pengontrak yang berasal dari Pulau Halmahera dengan kepercayaan budaya persalinan yang dibantu dukun masih kental. Masyarakat kota Ternate sudah memanfaatkan persalinan di fasilitas

kesehatan seperti Rumah sakit (61,4 %), Puskesmas (4,3 %) sedangkan polindes (4,3%) tapi persalinan yang dilakukan di rumah juga masih tinggi (28,6 %), faktor kenyamanan dan kebutuhan akan dukungan dari keluarga menjadi salah satu alasan persalinan dilakukan di rumah ibu bersalin (bulin). Salah satu alasan persalinan dilakukan di rumah karena faktor kenyamanan persalinan berkembang di masyarakat Kota Ternate terutama pada masyarakat yang bertempat tinggal di Kelurahan Marekurubu dan Kota Raja. Mama biang merupakan sosok yang akrab dengan keseharian masyarakat di kedua kelurahan itu. Persalinan yang dibantu mama biang masih banyak ditemui di Kota Ternate hingga kini, selain karena sudah tradisi (10 %) yang sudah diturunkan dari nenek moyang mereka, bahkan ibu hamil adalah salah satu bayi yang dibantu kelahirannya oleh mama biang tersebut.
481

Alasan yang lain adalah percaya (2,9%), jarak rumah dukun dan bumil dekat (2,9 %), dianjurkan suami atau orang tua (2,9 %) serta memberikan rasa nyaman (1 %). Pelaksana ritual tersebut masih menjadi bagian yang melekat dalam budaya persalinan. Masyarakat Kota ternate setuju diadakan ritual momohon keselamatan menjelang persalinan (25,7%) walaupun lebih banyak yang tidak setuju akan hal itu (52,9%).Ritual juga banyak ditemukan pada persalinan yang dilakukan di rumah, ritual tiup-tiup menjadi ritual pengantar persalinan. ritual tiup-tiup adalah ritual dilakukan oleh mama biang dengan cara meniupkan do’a-do’a pada air putih yang diberikan kepada ibu yang akan bersalin, ritual ini dilakukan untuk memperlancar persalinan. Selain ritual diatas ada satu ritual yang dilakukan ketikakehamilan ibu masih berusia 69 bulan yang bertujuan untuk memperlancar persalinan seperti ritual diberikan air putih dengan ‘Rorona’. Ketika saat bersalin tiba mama biang dan bidan dipanggil oleh anggota keluarga bumil, mereka datang dan sudah mengerti akan tugas dan peran masing-masing dalam membantu persalinan ibu. Bidan membantu persalinan ibu dan memotong tali pusat, sedangkan dukun melakukan perawatan bayi dan ibu setelah bersalin. Seperti yang dikemukakan seorang mama biang:
“sejak tahun 2010 tidak lagi menolong persalinan karena sudah dikatakan oleh bidan bahwa biang tidak boleh lagi menolong bersalinan, kecuali dengan bidan dan gratis”

Bayi. Masyarakat Kota Ternate merupakan masyarakat yang agamis, sesuai dengan slogan Kota Ternate “The true Islam”, kehidupan sosial kemasyarak atan juga terbalut dengan nilai-nilai islami yang kental. Seperti pandangan masyarakat tentang anak masih berakar pada nilai-nilai Islam seperti anak merupakan titipan yang Allah SWT berikan, sehingga harus dijaga dan dirawat dengan baik. Hal ini seperti yang dapat dilihat pada hadist Rasulullah SAW yang diriwatkan oleh HR Tirmidzi dan Thabrani yaitu “ tidaklah orang tua memberikan kepada anaknya pemberian yang lebih utama selain dari pendidikan yang lebih baik’’1. Mengingat betapa besarnya makna anak bagi orang tua maka ketika seorang anak lahir pada masyarakat Ternate harus dijaga dan dirawat dengan ritual khusus yang dilakukan 3 kali yaitu ketika usia kandungan 3 bulan, ritual kedua ketika kandungan berusia antara 6-9 bulan dan yang terakhir ketika hendak bersalin. Ritual
482

menginjak usia kandungan 3 bulan ritual dilaksanakan bertujuan untuk memohon keselamatan bagi ibu hamil dan bayi dimana mama biang meniupkan air do’a pada perut ibu. Dan apabila kandungan sudah menginjak usia 6 hingga 9 bulan, ritual dilakukan bertujuan untuk mempersiapkan serta melancarkan persalinan bayi. Ritual terakhir yaitu ketika masa persalinan tiba yaitu ritual tiup-tiup yang bertujuan untuk memperlancar persalinan. Keselamatan dan kesehatan anak merupakan salah satu tujuan terpenting ketika persalinan dilakukan baik persalinan dibantu tenaga kesehatan ataupun oleh mama biang. Ketika persalinan dibantu oleh tenaga kesehatan (bidan) perawatan bagi bayi tetap dilakukan oleh mama biang, proses bakirah dan mapanas tetap dibantu mereka. Hingga 40 hari proses perawatan dilakukan dengan tujuan agar bayi sehat dan kuat. Ritual terakhir yang dilakukan oleh mama biang sebagai penutup ketika bayi berusia 40 hari. Yaitu membuang abu hasil pembakaran mapanas ke kebun pisang yang diikuti dengan upacara selamatan dengan memberikan nasi kuning kepada 44 orang anak-anak. Ritual ini bertujuan memohon keselamatan bagi bayi kepada Allah SWT.

Kepercayaan yang masih berkembang Pantangan/tabu. Kehamilan merupakan berkah yang diberikan oleh Allah SWT kepada ibu hamil, sehingga harus dijaga dan dirawat sedemikian rupa, ada beberapa larangan yang harus dipatuhi oleh ibu hamil dan suami dalam bertindak/ beraktivitas serta memilih makanan selama kehamilan. Larangan/tabu banyak disarankan oleh orang tua/ Mertua dari ibu hamil juga oleh mama biang selaku perawat kehamilan dan persalinan yang biasanya ada dalam masyarakat Kota Ternate. Saran yang diberikan oleh mama biang dan orang tua merupakan sebuah jaminan kesehatan dan keselamat janin bayi atas dijauhkan dari malapetaka selama hamil dan ketika dilahirkan seperti kesulitan bersalin dan bayi cacat ketika lahir. Penetapan pantangan/tabu sangat bervariasi dalam masyarakat Kota Ternate tapi pada umumnya pantangan atau tabu ini dibagi menjadi pantangan terhadap aktivitas yang dilakukan oleh ibu hamil dan suami, serta pantangan/tabu terhadap

483

makanan tertentu yang dikonsumsi oleh sang ibu hamil dan bersalin yang masih dalam masa nifas.

Gambar 3.12.10. FGD Suami Non Jampersaldi Rumah Warga Sumber: Dokumentasi Peneliti

Pantangan/tabu terhadap aktivitas atau tindakan yang dilakukan oleh ibu hamil dan suami misalnya tidak boleh keluar setelah maghrib ketika ibu sedang hamil bersalin, pantangan ini dilakukan mengingat kondisi ibu yang sedang hamil/bersalin (masih dalam masa nifas) merupakan kondisi yang disukai oleh makhluk gaib yang umumnya keluar pada saat waktu maghrib, sehingga untuk menghindarkan keadaan yang tidak diinginkan mereka dilarang pada saat-saat itu. Tidak boleh melompati kaki suami ketika sedang tidur, karena ditakutkan ketika melahirkan kotorannya (darah nifas) banyak. Untuk menghindarkan kondisi itu ketika istri bangun dari tidur dan hendak turun dari tempat tidur hendaknya membangunkan suami dahulu baru kemudian turun dari tempat tidur. Pantangan aktivitas yang lain yaitu tidak boleh melilitkan handuk dileher baik ibu hamil dan suaminya karena ditakutkan nanti tali pusat bayi yang hendak dilahirkan ibu akan terlilit di lehernya dan mempersulit proses persalinan yang dapat mengancam jiwa ibu dan jiwa bayi. Suami tidak boleh menyembelih ayam serta membunuh binatang lainya karena nanti bayi yang dilahirkan istrinya ditakutkan akan cacat.Tidak boleh keluar dari rumah selama 44 hari setelah bersalin (ibu dan bayi), keadaan ini menjadi suatu pantangan karena ibu bersalin masih dalam masa nifas, kondisi yang

484

digemari mahluk gaib. Begitu juga bayi yang belum berusia 44 hari amat sangat rentan denngan udara malam dan mahluk gaib. Ibu bersalin tidak boleh melakukan aktifitas apapun selama 44 hari termasuk tidak boleh memasak karena mereka masih kotor dan apabila memasak rasa masakannya menjadi tidak enak. Sedangkan pantangan terhadap makanan biasanya hanya diberikan kepada ibu hamil dan bersalin saja tidak kepada suami-suami mereka misalnya pantangan tidak boleh makan durian karena akan mengakibatkan panas pada perut ibu yang dapat mengakibatkan keguguran. Tidak boleh makan dan minum mempergunakan piring dan gelas yang pecah ketika makan karena nanti anak yang dilahirkannya memiliki cacat pada bibirnya (bibir sumbing). Tidak boleh makan tebu karena jadi akan cepat mengantuk, sering tidur pada masyarakat Ternate ditakutkan akan membuat persalinannya susah. Tidak boleh makan ikan dasar, karena ketika bersalin bau darah nifasnya akan anyir.Tidak boleh makan cumi karena nanti ketika bersalin prosesnya akan sulit (masuk-keluar tapi tidak lahir-lahir).

Ritual-ritual yang berhubungan dengan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Pada masyarakat Kota ternate ritual dalam persalinan baik sebelum maupun sesudah masih mereka anggap penting, mengingat masih 47,1% masyarakat di wilayah puskesmas kota Ternate yang melaksanakan ritual sebelum persalinan dan 61,4% ketika persalinan dan 51,4% pasca persalinan dilakukan. Pada masyarakat Kota Ternate ritual persalinan yang berhubungan dengan persalinan terbagi menjadi 2 prosesi, prosesi sebelum bersalin dan prosesi sesudah bersalin. Pada prosesi sebelum bersalin dilaksanakan pada masa kehamilan serta menjelang persalinan. Sedangkan prosesi sesudah bersalin dilaksanakan setelah ibu bersalin hingga usia bayi 44 hari. Prosesi ritual sebelum bersalin biasanya dilaksanakan sebanyak 3 kali oleh ibu hamil yaitu :  Ritual ketika kehamilan berusia 3 bulan Ketika ibu hamil menginjak usia kandungan 3 bulan, mama biang tidak meraba perut ibu hamil tapi memberi kekuatan dengan memberikan air minum jernih tanpa ramuan yang sudah dibaca-bacakan ayat suci Al Qur’an.  Ritual Ketika kehamilan berusia 6-9 bulan

485

Ketika kandungan sudah menginjak usia 6 hingga 9 bulan, ibu diberikan air putih dengan ‘Rorona’ (campuran ramuan dedaunan) serta diperiksa letak bayi dan dibetulkan apabila tidak dalam posisi yang benar. Rorona adalah campuran dedaunan yang diambil dari sekitar rumah dan sekitar kampung misalnya daun degi-degi, kembang sepatu yang bertujuan untuk mempersiapkan serta melancarkan persalinan.  Ritual Ketika menjelang Persalinan (ketika akan menunggu persalinan tiba) Ketika ibu hamil sudah merasakan perut mulas dan hendak bersalin maka keluarga memanggil mama biang (ketika persalinan dilakukan di rumah walaupun keluarga sudah memanggil nakes, mama biang tetap dipanggil dan menyertai nakes) untuk memberikan do’a kepada ibu bersalin. Do’a diberikan oleh mama biang dengan cara meniupkan do’a-do’a pada air putih yang diberikan kepada ibu yang akan bersalin, air ini diminum dan dibalurkan si sekujur badan ibu bersalin. Ritual ini dilakukan untuk dengan tujuan untuk memperlancar serta memudahkan persalinan. Sedangkan prosesi ritual setelah persalinan dilakukan secara bertahap hingga bayi yang dilahirkan berusia 44 hari, prosesi ini berkesinambungan terdiri dari 2 rangkaian upacara yaitu Ritual Bakirah dan Bapanas.  Ritual Bakirah dan Bapanas setelah persalinan sampai 44 hari, dimana biang datang ke rumah ibu sebanyak 2 x seminggu. Pada awal masa nifas yang dilakukan adalah pertama mengurus ari-ari (membersihkan dan menanam), memandikan bayi setiap hari atau 2 x sehari) sampai lepas pusat, dan ibu juga dimandikan dengan cara bakirah. Bakirah yaitu air direbus mendidih dengan daun ramuan setelah mendidih ibu (tanpa pakaian) ditutup dengan kain bersama air rebusan tadi, setelah selai melakukan bakirah ibu nifas diberi minuman campuran serei, jahe kunyit untuk membersihkan perut ibu dari darah kotor. Tujuan dilakukan bakirah adalah supaya badan ibu kuat dan ringan, memulihkan urat2 dan membersihkan darah setelah persalinan. Bakirah dilakukan secara rutin segera setelah melahirkan sampai 44 hari, dilakukan pada hari ganjil yaitu mulai hari ke 3, 5, 9, 11, setelah itu lompatan 5 hari yaitu hari ke 15, 20, 25, 30, 35, 40, dan terakhir 44.
486

 Bapanas hanya dilakukan 1 x saja yaitu hari ke 5 setelah persalinan. Setengah batu bata dibakar, dibungkus kain, daun tagaloto dan lapis kain lagi lalu ditaruh di seputar perut ibu.pada Bayi mapanas dilakukan dengan cara mendekatkan tangan ibu pada bara kemudian setelah tangan ibu panas di letakan pada badan bayi sambil di elus-eluskan  Ritual yang dilakukan ketika bayi berusia 40 hari Setelah 40 hari ritual bakirah dan mapanas, kegiatan harian untuk memanaskan badan ibu dan bayi. Abu dari prosesi mapanas itu akan dikumpulkan hingga hari ke 40, abu itu kemudian akan dibuang dikebun pisang. Prosesi membuang abu ke kebun pisang dilakukan dengan cara menempatkan abu tersebut pada tempurung kelapa, yang kemudian akan dibawa oleh anak kecil (keluarga atau tetangga). Dengan persyaratan sebagai berikut apabila yg dilahirkan anak perempuan maka yang membawa abu tersebut adalah anak laki-laki sedangkan apabila yg dilahirkan anak laki-laki maka yang membawa abu tersebut adalah anak perempuan.  Ritual yang dilakukan ketika bayi berusia 44 hari Upacara tersebut merupakan kelanjutan dari upacara 40 hari diatas. Upacara ini diawali dengan membagikan nasi kuning yang ditaruh di daun mangkokan, yang dibuat sebanyak 44 buah. Nasi kuning ini akan dibagikan kepada 44 anak (keluarga maupun tetangga). Upacara dilanjutkandengan pembacaan do’a yang dilakukan oleh tokoh agama (ustad) yang mengiringi prosesi bayi yang untuk pertama kali digendong keluar rumah selanjutnya setelah itu bayi kembali dibawa masuk kedalam rumah.

Pengetahuan, Sikap dan Praktek terkait Kesehatan Ibu dan Anak a. Pengetahuan Untuk mengukur pengetahuan masyarakat ini maka penelitian ini

membantunya dengan melihatnya dari kuesioner yang telah dibagikan kepada 70 responden ibu yang dipilih secara random atau acak dan hal ini juga didukung oleh hasil fgd yang telah dilakukan oleh bidan, suami dan juga tokoh masyarakat. Menurut Bloom (1908, dalam Notoatmodjo: 2003), pengetahuan adalah hasil tahu dan ini

487

terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya sikap dan juga tindakan/perilaku nyata seseorang. Pengetahuan ibu yang coba dilihat disini adalah pengetahuan ibu pada saat hamil, pada saat persalinan dan juga masa setelah melahirkan atau masa nifas.

b. Sikap Informasi sikap masyarakat terhadap kesehatan ibu dapat dibagi menjadi tiga hal yaitu: sikap masyarakat terhadap kesehatan ibu pada masa kehamilan, masa persalinan serta pada masa pasca persalinan. Masa Kehamilan. Pengetahuan ibu relatif sedang mengenai informasi kehamilan, seperti pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali dari hasil penelitian ini 77% melakukan dalam memahami memahami hal ini, 78% ibu mengetahui pentingnya pengukuran tensi darah. Informasi mengenai imunisasi TT pada ibu yang dilakukan 2 kali selama masa kehamilan direspon postif oleh ibu sebesar 88%. Sedangka informasi tentang tidak perlunya pemberian tablet penambah darah bagi ibu hamil memiliki respon negatif sebesar 51,5%, sebagian masyarakat sudah memahami bahwa ketika hamil dibutuhkan tablet penambah darah agar ibu tidak mengalami anemia dan HB darah ibu dibawah 10, Kondisi ini menyebabkan meningkatkan resiko BBLR bayi yang dilahirkan. Ritual ketika masa kehamilan yang bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Allah SWT merupakan keharusan pada masyarakat Kota Ternate 45,7%

menyetujui hal tersebut, sedangkan yang menolak sebesar 54,3%. Sebagian masyarakat Kota ternate masih menganggap ritual pra persalinan merupakan

rangkaian dari persalinan itu sendiri, sedangkan apabila meninggalkan ritual tersebut ditakutkan terjadi bala ketika proses persalinan dilakukan. Persalinan. Informasi mengenai aktifitas yang dilakukan pasca persalinan memberikan penjelasan budaya persalinan yang melarang ibu bersalin keluar rumah dan beraktivitas sebelum 40 hari. Sebagian ibu menganggap budaya ini harus

dilakukan setiap persalinan (48,6%) sedangkan yang menggap budaya itu sudah tidak dapat diterapkan lagi (51,4%).

488

Pengetahuan berupa informasi lain yang didapat dari penelitian ini adalah tempat bersalin sebaiknya dilakuka di fasilitas kesehatan (77,1%) dibantu tenaga kesehatan (92,9%), mereka tidak menyetujui mitos setelah bersalin dilarang mengkonsumsi ikat laut (82,9%), serta menganggap penting Inisiasi menyusui dini (87,1%) Nifas (Pasca persalinan).Sikap ibu yang dicoba dilihat disini terkait perilaku setelah persalinan adalah mengenai pemakaian KB. Sebagian ibu di kota ternate sudah sadar kebutuhan menggunakan KB pasca nifas (50%), tapi sebagian masih mengganggap menyusui adalah KB alami,ehingga mereka lebih memeilih tidak mempergunakan KB(45,7%)

c.Tindakan/praktek KIA Masa Kehamilan. Dilihat dari hasil penelitian mayoritas sudah melakukan pemeriksaan sebanyak 4 kali, sesuai standar pemeriksaan kesehatan ibu hamil. Dari 70 responden, hanya 1 yang tidak memeriksakan kehamilannya ketenaga kesehatan. Sedangkan 63memeriksakan pemeriksaan ketenaga kesehatan. Alasan paling banyak sebagai alasan mereka melakukan pemeriksaan kesehatan kepada nakes karena merasa aman dan nyaman (54,3%). Tingginya pemeriksaan dengan tenaga kesehatan ini dikarenakan, percaya kepada pelayanan bidan (21,4%), jarak yang dekat dan mudah dijangkau (8,6%), dianjurkan oleh suami/ orang tua (1,4%), kebiasaan setempat (1,4%) dan lainnya (10%), Masa Persalinan. Melihat pengetahuan dan sikap sebelumnya, para ibu sudah mengetahui bahwa persalinan akan lebih baik dilakukan dengan bantuan tenaga kesehatan dan tidak dilakukan di rumah. Hasil survey menunjukkan bahwa penolong persalinan paling banyak dibantu oleh bidan yaitu 88% dan setelah itu adalah dengan bantuan dokter sebanyak 11,5%, suami/keluarga 1,4% dan mama biang 5,7%. Alasan dipilihnya penolong persalinan tersebut adalah kebanyakan karena faktor aman dan nyaman. Pasca Persalinan. Sebanyak 42,9% melakukan pemeriksaan paska persalinan ke tenaga kesehatan. Hasil survey, menunjukkan bahwa 57,1% dari responden belum melakukan Kb paska persalinan. Kesadaran akan menggunakan alat kontrasepsi masih

489

rendah. Hal ini dikarenakan mereka masih mempergunakan mama biang

yang

memberikan perawatan pasca persalinan pada ibu dan bayi. Ritual ini dilaksanakan dengan tujuan agar ibu cepat pulih dari persalinan dan bayi sehat dan cepat besar. 3.12.4. Faktor sosial budaya masyarakat Pengambil keputusan pemilihan penolong Persalinan Sebagai masyarakat agamisyang memegang Al Qur’an arah dan hadist sebagai arah kehidupan mereka. Dalam Al pada surah Al Israa ayat 23 “ Allah SWT telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada NYA dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua”. Ayat ini merupakan peganganer menghormati serta berbakti kepada orang tua. Sikap ini diterapkan di setiap aspek kehidupan, termasuk dalam pengambilan keputusan penting ketika persalinan tiba. Pada masyarakat Kota Ternate pola pemukiman setelah menikah umumnya adalah patrilokal, yaitu pengantin perempuan bermukim dirumah atau daerah

pengantin laki-laki. Kentalnya budaya patriarki dan menyebabkan orang tua dari pihak laki-laki memegang peranan penting dalam pengambil keputusan penting dalam rumah tangga anaknya begitu pula dengan penolong persalinan. Pengambilan keputusan dalam pertolongan persalinan menjadi penting terutama persalinan ini adalah persalinan pertama bagi. menantu mereka. Beberapa hal yang menjadi alasan mertua dalam mengambil keputusan penolong persalinan pada persalinan pertama seorang ibu adalah, rumah tangga anaknya belum berpengalaman dalam hal persalinan, Mereka masih merupakan keluarga muda yang bermukim dirumah atau di sekitar rumah keluarga pihak laki-laki, biaya persalinan biasanya merupakan tanggungan pihak mertua Pada anak kedua hingga anak terakhir pengambil keputusan penolong persalinan adalah suami karena pasangan ini sudah dianggap mempunyai

pengalaman dalam menghadapi proses persalinan. Dalam beberapa hal tertentu misalnya ketika kandungan istri mereka mengalami komplikasi (persalinan yang sulit) dan harus dirujuk atau membutuhkan tindakan medis lebih lanjut seperti bedah sectio, suami tetap meminta pertimbangan dari orang tua mengenai penolong persalinan bagi istrinya, apakah tetap dengan bantuan tenaga kesehatan ataukah dibantu mama biang.

490

Sesuai hasil penelitian ini cakupan persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan di wilayah Puskesmas Kota Ternate sebesar 87,1 % . Sesuai dengan hasil FGD masyarakat kota Ternate sudah menjadikan tenaga kesehatan (bidan) sebagai rujukan terpercaya dalam persalinan. Walau masih ada 12.9% masyarakat yang memilih mama biang sebagai pembantu persalinan mereka. Mama Biang di Mata Masyarakat Mama biang bagi masyarakat Kota Ternate tidak dapat dilepaskan dari prosesi ritual pra persalinan dan pasca persalinan, karena pelaksana ritual tersebut adalah mama biang. Dari hasil penenelitian ini sebesar 34,3 % dari jumlah responden masih menganggap jasa pelayanan mama biang sangat diperlukan dalam pelaksanaan ritual pra dan pasca melahirkan. Selain melaksanakan ritual masih ada 27,1% masyarakat yang memanfaatkan jasa mama biang dalam pemeriksaan nifas pasca melahirkan. Tugas mama biang yang lain adalah melakukan perawatan pada bayi baru lahir, hal ini terjadi mengingat masih 52,9 % responden yang menganggap peran mama biang dalam perawatan bayi baru lahir masih diperlukan, dan masih 21,7% ibu bersalin yang melakukan kunjungan neonatus kepada mama biang, serta 54,3% mama biang memberikan pelayanan pijat ibu setelah bersalin. Alasan terbesar memilih mama biang sebagai penolong persalinan adalah mereka mengenal mama biang dengan baik karena, karena mama biang tinggal dan bergaul disekitar pemukiman mereka (7,1%), bahkan ketika ibu hamil bersalin dulu juga dibantu oleh mama biang ini. Faktor pengalaman atas kinerja mama biang menimbulkan rasa percaya pada ibu bersalin (2,9%). Alasan lain adalah anjuran orang tua atau suami (4,3%) dan sudah menjadi tradisi dalam keluarga (7,1%). Dalam membantu dan merawat persalinan baik untuk ibu dan bayi, mama biang mendapat upah antara 2 – 4 juta rupiah. Biaya itu merupakan biaya persalinan serta perawatan ibu dan bayi sampai dengan 40 hari. Besarnya biaya persalinan dan perawatan ibu dan bayi bukan merupakan permintaan mama biang tapi merupakan bentuk keikhlasan dan terima kasih dari keluarga ibu bersalin tersebut. besarnya jumlah uang yang di terima mama biang, dibayarkan secara dicicil oleh ibu bersalin terkadang mereka menerima uang per kunjungan ke rumah ibu. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh mama biang N sebagai berikut:

491

“........pengganti sewa ojek dari 20 ribu sampai dengan 100 ribu perkali datang....”

Mama biang tidak pernah menentukan besar dari upah yang diterimanya kepada keluarga ibu bersalin yang dibantunya. Yang terpenting ibu dan bayi yang dia bantu sehat dan selamat. Mama biang juga menjadi rujukan alternatif bagi masyarakat Kota Ternate, ketika tenaga kesehatan (dokter spesialis kandungan, bidan) memberikan saran tindakan yang kurang mereka setujui misalnya melakukan bedah sectio karena alasan posisi bayi yang sungsang, sedangkan menurut mereka mama biang dapat membantu persalinan tersebut tanpa tindakan bedah dengan hanya memutar posisi bayi yang akan dilahirkan.

Bidan di Mata Masyarakat Persalinan bagi masyarakat Kota Ternate identik dengan tenaga kesehatan bidan, dalam setiap proses mulai dari kehamilan, persalinan hingga nifas tidak terlepas dari peran bidan baik bidan puskesmas maupun bidan praktek swasta. Peran bidan dalam persalinan merupakan kondisi umum pada masyarakat Kota Ternate 98,5% mereka mempergunakan bidan sebagai rujukan pemeriksaan kehamilan, 87,1% pembantu persalinan serta 74,3% rujukan untuk pemeriksaan nifas. Kehamilan. Pemeriksaan kehamilan dibantu bidan sudah umum dilakukan oleh ibu hamil di Kota Ternate, 2,9% Pemeriksaan kehamilan yang dibantu bidan dilakukan 1 kali oleh ibu hamil, pemeriksaan sebanyak 2 kali sebesar 20 % dan sebanyak 3-4 kali sebesar 77,1%. Tingginya kesadaran pemeriksaan kehamilan pada masyarakat Kota ternate turut menurunkan angka kematian pada ibu dan bayi. Alasan pemanfaatan pelayanan bidan dalam pemeriksaan persalinan dengan alasan aman dan nyaman (54,3%), percaya kepada pelayanan bidan (21,4%), jarak yang dekat dan mudah dijangkau (8,6%), dianjurkan oleh suami/ orang tua (1,4%), kebiasaan setempat (1,4%) dan lainnya (10%), walaupun begitu masih ada beberapa masyarakat yang tidak memeriksakan kehamilannya baik pada bidan maupun mama biang dengan alasan tidak perlu (2,9%) dan tidak terlalu mempercayai kemampuan bidan maupun mama biang (1,4%).

492

Sumber biaya dalam pemeriksaan kehamilan pada tenaga kesehatan adalah biaya sendiri (45,7%), Jampersal (44,3%), Jamkesmas/Jamkesda (4,3%), asuransi (1,4%) dan biaya lainnya (4,3%). Persalinan. Persalinan sebagai proses hidup dan mati membutuhkan penolong persalinan yang mampu memberikan kenyaman dan keamanan bagi ibu bersalin. Tenaga kesehatan merupakan penolong persalinan yang memberikan dua hal diatas. Persalinan yang dibantu tenaga kesehatan seperti bidan pada umumnya dilakukan di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas ataupun rumah bidan/polindes. Pada masyarakat Kota Ternate tempat melahirkan di fasilitas kesehatan terdiri dari Rumah sakit ( 61,4%), rumah bidan atau polindes (4,3%) serta puskesmas (4,3%), sisanya masih melakukan persalinan di rumah (28,6%). Sebagai penolong persalinan bidan merupakan penolong pertama persalinan (68,6%) dan penolong terakhir persalinan (68,6%), dengan alasn aman dan nyaman ditolong persalinannya oleh bidan (45,7%), percaya (27,1%), jarak jangkaunya dekat dan mudah diakses (18,6%) serta merupakan merupakan rujukan bagi ibu bersalin (7,1%) Sumber biaya untuk bersalinan, pada umumnya ibu bersalin mengeluarkan dari uang pribadi (70%), Jampersal (15,7%), Jamkesmas / Jamkesda (4,3%), asuransi (1,4%) dan lainnya (8,6%). Nifas. Periksaan pasca persalinan merupakan adalah rangkaian terakhir dalam persalinan. Masyarakat Kota Ternate sebagian besar sudah melakukan pemeriksaan nifas pada bidan atau tenaga kesehatan lainnya (dokter). Tapi beberapa masih ada yang belum melepaskan peran mama biang dalam pemeriksaan nifas, mengigat mama biang merupakan pelaksana ritual ketika nifas seperti bakirah dan mapanas, mereka tidak mau mempergunakan jasa tenaga kesehatan dengan alasan tidak perlu (40%), biaya tidak terjangkau (2,9%), sedangkan sisanya kurang mempercayai tenaga kesehatan (1,4%). Jasa yang diberikan oleh mama biang tidak dapat digantikan oleh tenaga kesehatan seperti bidan ataupun dokter. Beberapa lagi menggabungkan pemeriksaan nifas antara tenaga kesehatan bidan atau dokter dengan mama biang, dengan alasan selain agar memperoleh pelayanan dari tenaga kesehatan juga mereka dapat melakukan ritual nifas bakirah dan mapanas. Walaupun dalam kondisi nyata

493

bidan atau dokter melarang ibu bersalin melakukan mapanas karena akan beresiko pada jahitan ibu bersalin. Masyarakat Kota Ternate melakukan pemeriksaan nifas baik di fasilitas non kesehatan maupun di fasilitas kesehatan, ataupun melakukannya beberapa dari mereka

didua tempat baik difasilitas kesehatan, maupun non kesehatan

dengan alasan ritual. Prosentase pemeriksaan yang dilakukan pada fasilitas kesehatan (24,3%), di fasilitas non kesehatan (17,1%) sedangkan yang melakukan di kedua tempat (2,9%). Alasan menggunakan tenaga kesehatan ketika melakukan pemeriksaan pasca persalinan adalah sebagai berikut, lebih percaya dengan pelayanan tenaga kesehatan (22,9%), lebih kompeten dalam melakukkannya (15,7%) sedangkan atas anjuran suamiatau orang tua dan sedangkan kemudahan akses dan jarak yang relatif lebih dekat (1,4%). Mengenai sumber biaya, sebagian besar ibu bersalin mengeluarkan uang pribadi dalam melakukan pemeriksaan pasca persalinan (24,3%), dengan biaya Jampersal (14,3%), dengan biaya Jamkesmas atau Jamkesda (2,9%) sedangkan dari biaya lainnya (2,9%). Hubungan Mama Biang dan Bidan Hubungan antara mama biang dan bidan sudah terjalin dengan baik dan sudah terbentuk kemitraan. Menurut mama biang hubungan dengan bidan selalu mendukung dalam proses persalinan, bahkan terkadang mama biang menyarankan ibu bersalin untuk melakukan pemeriksaan di bidan karena biayanya tidak mahal. Kemitraan antara mama biang dan bidan yang sudah terjalin dengan baik, terkadang bidan memberikan sedikit uang kepada mama biang ketika mama biang memberitahukan apabila terjadi persalinan serta bersama-sama membantu persalinan tersebut. hubungan yang terjalin baik juga membuat mama biang tidak ragu lagi untuk meminta pertolongan pengobatan kepada bidan apabila sedang sakit .

Pelaksanaan Pelayanan KIA dengan Sumber BiayaJampersal Pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA) di wilayah puskesmas Kota Ternate sudah berjalan dengan baik walaupun pelayanan persalinan tidak dapat didapatkan di puskesmas itu sendiri, dengan alasan sudah banyak rumah sakit yang
494

dapat melayani pesalinan di sekitar wilayah kerja puskesmas, serta tidak memadainya fasilitas persalinan yang terdapat di puskesmas maupun polindes. Terkendalanya pelayanan persalinan di wilayah kerja puskesmas selain karena fasilitas yang kurang memadai juga karena figur bidan desa yang kurang membaur dengan masyarakat, selain karena luasnya wilayah kerja juga karena cepatnya perpindahan penduduk di wilayah tersebut. Alasan yang lain adalah di beberapa tempat di wilayah kerja Puskesmas Kota Ternate, bidan desa tidak menetap di wilayah kerjanya tapi tinggal diwilayah kerja puskesmas lain. Kondisi ini menimbulkan sulitnya penanganan persalinan pada ketika bidan sedang tidak stand by on duty, masyarakat umumnya mencari pertolongan persalinan di Rumah sakit terdekat atau mereka malah mencari pertolongan ke tempat mama biang. Sulitnya akses dan jauhnya jarak memperparah kondisi ini terutama di Kelurahan Marekurubu, wilayah tertinggi di wilayah kerja Puskesmas Kota Ternate. Pelayanan persalinan gratis sudah beberapa tahun terakhir dapat di jumpai di wilayah kerja Puskesmas Kota Ternate, dimulai dari pelayanan persalinan gratis dengan biaya Jamkesmas dan Jamkesda. Masyarakat dan beberapa bidan mengetahui pengguna Jamkesmas dan Jamkesda memperoleh pelayanan persalinan gratis hanya di rumah sakit umum daerah Ternate saja, sedangkan fasilitas kesehatan lain seperti puskesmas dan polindes mereka kurang paham. Diwilayah kerja Puskesmas Kota Ternate, ibu bersalin yang menggunakan Jampersal untuk proses persalinan hanya sebesar 17,1 % dan sisanya sebesar 82,9% masih menggunakan biaya sendiri, Jamkesmas, asuransi maupun sumber biaya yang lain. Kondisi ini disebabkan mengenai Jampersal, sebagian masyarakat tidak mengetahui pelaksanaan program yang disosialisasikan oleh tenaga kesehatan (41,4%), mereka mendapatkan informasi tersebut dari media masa (17,1%) dari sumber yang lain (8,6%) sedangkan dari aparat desa (2,9%). Kurangnya informasi ini mengakibatkan program ini kurang dimanfaatkan oleh ibu bersalin. Pembiayaan KIA Pembiayaan persalinan dari mulai pemeriksaan pra persalinan, persalinan dengan mempergunanakan Jampersal masih relatif rendah, sebagian besar masyarakat Kota Ternate masih menggunakan uang pribadi. Ketidaktauan adanya

495

program Jampersal menjadi alasan yang utama rendahnya pemanfaatan Jampersal. Dapat dilihat pada pemeriksaan pra persalinan pemanfaatan dengan biaya Jampersal hanya 44,5%, dibandingkan mempergunakan biaya pribadi 45,7%. Sedangkan pada persalinan pemanfaatan dengan mempergunakan biaya Jampersal hanya sebesar Jampersal 15,7%, sedangkan pembiayaan dengan uang pribadi (70%). Pemanfaatan Jampersal dalam pemeriksaan dengan menggunakan pembiayaan dengan biaya

Jampersal (14,3%) sedangkan yang mempergunakan uang pribadi (24,3%). Selain alasan ketidaktahuan akan adanyan pemanfaatan Jampersal alasan yang lain adalah ketidakpuasan akan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah. Masyarakat menganggap semua program kesehatan yang gratis dari pemerintah mempunyai kualitas pelayanan dan obat-obatan yang lebih rendah dibandingkan pelayanan yang mereka dapatkan dengan mengeluarkan dana pribadi. Menurut Bidan desa ataupun bidan praktek swasta menganggap pembiayaan persalinan mempergunakan Jampersal terlalu merepotkan karena ada beberapa persyaratan yang harus dikumpulkan dan memakan waktu. Keluhan para bidan tentang administrasi Jampersal adalah sulitnya memperoleh surat domisili, hal ini mengingat banyak ibu bersalin merupakan warga di luar Kota Ternate yang terkadang tidak memiliki kartu tanda penduduk (KTP). Selain alasan tentang administrasi Jampersal, masalah tarif juga tidak bisa dikesampingkan. Banyak bidan praktek swasta (BPS) yang mengeluh tentang kecilnya tarif Jampersal yang diberikan kepada BPS. Beberapa BPS masih menerima persalinan dengan Klaim Jampersal tapi lebih banyak dari mereka yang menolak melakukan kerja sama dengan Dinas kesehatan mengenai persalinan dengan Jampersal. Puskesmas sebagai rujukan tingkat kecamatan dalam pelaksanaan program persalinan seperti Jampersal sudah menetapkan standar operasional presedur (SOP) pelaksanaan pertolongan persalinan terutama yang persalinan dengan Jampersal, hal ini diperkuat dengan juknis Jampersal yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan.

Tapi dengan keterbatasan fasilitas, kondisi bidan desa yang tinggal di wilayah kerja serta kurang dikenalnya bidan dilingkungan kerja mereka mengakibatkan Jampersal kurang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Kota Ternate.

496

Pengetahuan tentang Jampersal Program Jampersal sudah disosialisasikan oleh kementrian kesehatan sejak awal tahun 2010 dan berlaku secara umum mulai Mey 2010, tapi hingga kini di wilayah kerja Puskesmas Kota Ternate belum tersosialisasikan dengan baik. Hal ini disebabkan masyarakat tidak tahu adanya program Jampersal (55,7%), mereka menganggap tidak berhak memperoleh program ini. Menurut mereka program Jampersal hanya diperuntukan bagi masyarakat dengan ekonomi menengah kebahwah saja (15,7%), menganggap prosedural untuk mengikuti program ini rumit (8,6%), faktor gengsi juga memberi kontribusi tidak mengikuti program Jampersal (1,4%0 dan alasan lainnya (2,9%). Informai Jampersal hanya diperoleh sebagian masyarakat saja, informasi yang mereka dari tenaga kesehatan (41,4%), informasi tersebut dari media masa (17,1%) dari sumber yang lain (8,6%) sedangkan dari aparat desa (2,9%). Tenaga kesehatan belum memahami program Jampersal secara menyeluruh. Dari hasil observasi sambil lalu sebagian masih menganggap Jampersal sama dengan Jamkesmas, hal ini terjadi mengingat selain Jamkesmas provinsi maluku utara menyediakan Jamkesda untuk masyarakat. Sehingga persalinan untuk sebagian masyarakat sudah gratis, sehingga ketika Jampersal diluncurka mereka anggap masih merupakan program yang lama (Jamkesda). Dari hasil wawancara sambil lalu ibu bersalin dan suami sangat ingin melakukan persalinan dengan biaya dari Jampersal, tapi mereka kurang mengerti prosedurnya, sedangkan bidan tidak menginformasikan hal ini. Informasi yang sama didapat dari tokoh masyarakat, sebagian mereka kurang mengerti ptogram Jampersal ini, kecuali tokoh masyarakat yang berkecimpung sebagai kader posyandu. 3.12.5. Peran Tenaga Kesehatan dalam Pelaksanaan Jampersal Tenag