P. 1
Peran Sosial Budaya dalam Upaya Meningkatkan Pemanfaatan Program Jampersal

Peran Sosial Budaya dalam Upaya Meningkatkan Pemanfaatan Program Jampersal

|Views: 4,073|Likes:
Masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau dengan kematian. Perilaku ibu dalam memelihara kesehatannya dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan budaya.Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih lebih tinggi.Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan bahwa AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 34 per 1000 kelahiran hidup. Berdasar kesepakatan global (Millenium Development Goals / MDG’s 2000) diharapkan ada tahun 2015 terjadi penurunan AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AK menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup (Kementerian Kesehatan, 2011). Telah dilakukan berbagai upaya menuju persalinan aman dari sisi medis (provider) namun masih belum menunjukkan hasil memuaskan.
Program Jaminan Persalinan (Jampersal) diluncurkan mulai tahun 2011 berdasarkan Permenkes No. 631/Menkes/PER/III/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan dan Surat Edaran Menkes RI Nomor TU/Menkes/391/II/2011 tentang Jaminan Persalinan (Kementerian Kesehatan, 2011) dan kemudian diperbaiki dengan keluarnya Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2562/Menkes/PER/XII/2011 tentang hal yang sama. Dengan dimulainya program Jampersal dan masih banyaknya kendala perilaku dan sosial budaya dalam pemilihan penolong persalinan yang tentunya berdampak pada pemanfaatan Jampersal maka penelitian ini dilakukan. Kendala datang baik dari pihak ibu sendiri, dari masyarakat maupun dari fasilitas atau tenaga kesehatan.Penelitian ini mempunyai tujuan umum untuk menyediakan kajian peran sosial budaya dalam upaya peningkatan pemanfaatan program jaminan persalinan.
Dalam rangka merubah perilaku masyarakat dengan harapan agar seorang ibu hamil mau bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan maka upaya yang harus dilakukan adalah dengan melakukan intervensi melalui 3 tingkatan ekologi yaitu tingkat individu, tingkat interpersonal dan tingkat komunitas atau masyarakat. Pada tingkat individu (ibu) perlu dipahami tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku individu yaitu faktor pemicu, pendukung dan penguat antara lain nilai, kepercayaan, pengetahuan, sikap dan praktek tentang hal-hal terkait masa kehamilan, persalinan dan paska persalinan termasuk KB.
Dalam pemilihan perawatan/penolong ibu pada masa maternity (hamil, bersalin dan paska persalinan), ibu akan dipengaruhi orang sekitarnya karena hubungan antara individu/ interpersonal dengan orang di sekitarnya (suami, orangtua, tetangga). Dalam , pemilihan penolong kehamilan (Ante Natal Care/ANC), persalinan, paska persalinan ada faktor yang berpengaruh terhadap hubungan interpersonal yaitu faktor sosial budaya, termasuk demografi, geografi dan akses terhadap fasilitas pelayanan. Pada tingkat komunitas, penetapan praktek perawatan atau pertolongan kehamilan (ANC), persalinan dan paska persalinan ditentukan oleh ketanggapan fasilitas kesehatan terhadap kebutuhan ibu terkait harapan, dukungan/kemudahan serta hambatan dalam mengakses tenaga kesehatan. Hal ini juga dipengaruhi kebijakan pemerintah yang diberlakukan antara lain pembiayaan kesehatan berupa jaminan persalinan (jampersal).
Penelitian dilaksanakan sejak bulan Maret sampai dengan selesai pada bulan Desember 2012. Penelitian dilakukan di 6 provinsi berdasarkan cakupan ANC dan PNC dengan pembiayaan Jampersal secara Nasional, sebagai tolok ukur berdasarkan data tingkat provinsi pada tahun 2011 yang diperoleh dari P2JK.Mengacu pada cakupan ANC dan PNC dalam Pembiayaan mempergunakan Jampersal, maka dilakukan klasifikasi provinsi yaitu provinsi dengan cakupan tinggi; provinsi dengan cakupan sedang dan provinsi dengan cakupan rendah dalam pembiayaannya. Pada tiap kategori dipilih 2 provinsi; sehingga dari ketiga kategori didapat 6 Provinsi Aceh, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Maluku Utara dan Banten. Selain dilihat dari cakupan ANC dan PNC diatas, pe
Masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau dengan kematian. Perilaku ibu dalam memelihara kesehatannya dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dan budaya.Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih lebih tinggi.Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan bahwa AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 34 per 1000 kelahiran hidup. Berdasar kesepakatan global (Millenium Development Goals / MDG’s 2000) diharapkan ada tahun 2015 terjadi penurunan AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AK menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup (Kementerian Kesehatan, 2011). Telah dilakukan berbagai upaya menuju persalinan aman dari sisi medis (provider) namun masih belum menunjukkan hasil memuaskan.
Program Jaminan Persalinan (Jampersal) diluncurkan mulai tahun 2011 berdasarkan Permenkes No. 631/Menkes/PER/III/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan dan Surat Edaran Menkes RI Nomor TU/Menkes/391/II/2011 tentang Jaminan Persalinan (Kementerian Kesehatan, 2011) dan kemudian diperbaiki dengan keluarnya Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2562/Menkes/PER/XII/2011 tentang hal yang sama. Dengan dimulainya program Jampersal dan masih banyaknya kendala perilaku dan sosial budaya dalam pemilihan penolong persalinan yang tentunya berdampak pada pemanfaatan Jampersal maka penelitian ini dilakukan. Kendala datang baik dari pihak ibu sendiri, dari masyarakat maupun dari fasilitas atau tenaga kesehatan.Penelitian ini mempunyai tujuan umum untuk menyediakan kajian peran sosial budaya dalam upaya peningkatan pemanfaatan program jaminan persalinan.
Dalam rangka merubah perilaku masyarakat dengan harapan agar seorang ibu hamil mau bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan maka upaya yang harus dilakukan adalah dengan melakukan intervensi melalui 3 tingkatan ekologi yaitu tingkat individu, tingkat interpersonal dan tingkat komunitas atau masyarakat. Pada tingkat individu (ibu) perlu dipahami tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku individu yaitu faktor pemicu, pendukung dan penguat antara lain nilai, kepercayaan, pengetahuan, sikap dan praktek tentang hal-hal terkait masa kehamilan, persalinan dan paska persalinan termasuk KB.
Dalam pemilihan perawatan/penolong ibu pada masa maternity (hamil, bersalin dan paska persalinan), ibu akan dipengaruhi orang sekitarnya karena hubungan antara individu/ interpersonal dengan orang di sekitarnya (suami, orangtua, tetangga). Dalam , pemilihan penolong kehamilan (Ante Natal Care/ANC), persalinan, paska persalinan ada faktor yang berpengaruh terhadap hubungan interpersonal yaitu faktor sosial budaya, termasuk demografi, geografi dan akses terhadap fasilitas pelayanan. Pada tingkat komunitas, penetapan praktek perawatan atau pertolongan kehamilan (ANC), persalinan dan paska persalinan ditentukan oleh ketanggapan fasilitas kesehatan terhadap kebutuhan ibu terkait harapan, dukungan/kemudahan serta hambatan dalam mengakses tenaga kesehatan. Hal ini juga dipengaruhi kebijakan pemerintah yang diberlakukan antara lain pembiayaan kesehatan berupa jaminan persalinan (jampersal).
Penelitian dilaksanakan sejak bulan Maret sampai dengan selesai pada bulan Desember 2012. Penelitian dilakukan di 6 provinsi berdasarkan cakupan ANC dan PNC dengan pembiayaan Jampersal secara Nasional, sebagai tolok ukur berdasarkan data tingkat provinsi pada tahun 2011 yang diperoleh dari P2JK.Mengacu pada cakupan ANC dan PNC dalam Pembiayaan mempergunakan Jampersal, maka dilakukan klasifikasi provinsi yaitu provinsi dengan cakupan tinggi; provinsi dengan cakupan sedang dan provinsi dengan cakupan rendah dalam pembiayaannya. Pada tiap kategori dipilih 2 provinsi; sehingga dari ketiga kategori didapat 6 Provinsi Aceh, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Maluku Utara dan Banten. Selain dilihat dari cakupan ANC dan PNC diatas, pe

More info:

Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2015

pdf

text

original

Sections

i

KATA PENGANTAR

Penyusunan laporan merupakan bagian akhir dari suatu kegiatn penelitian dan
menjadi bagian terpenting untuk menyampaikan seluruh rangkaian tahapan penelitian
yang diakhiri dengn kesimpulan dan rekomendasi. Penyusunan laporan berjudul
“Peran Sosial Budaya dalam Upaya Meningkatkan Pemanfaatan Program Jaminan
Persalinan (Jampersal)” berlangsung alot karena penulisannya per kabupaten/kota
diserahkan tanggung jawabnya secara merata kepada anggota tim peneliti. Setiap
peneliti bertanggung jawab terhadap laporan hasil setiap kabupaten/kota, karena hasil
penelitian ini ingin mengungkapkan secara detil keadaan sosial budaya di masing-
masing lokasi.

Pada bab “Hasil” diuraikan secara detil tujuan penelitian yang ingin dicapai di

setiap daerah lokasi penelitian (12 lokasi). Dengan demikian dpat diketahui dan
disampaikan secara spesifik dan detil ke khasan budaya di masing-masing lokasi yang
mengungkapkan keadaan sosial masyarakat. Buku laporan ini dilengkapi dengan foto-
foto yang diambil di daerah penelitian, dilengkapi peta sosial budaya yang merupakan
rangkuman dari engamatan di lapangan oleh peneliti. Melalui gambar, diharapkan
memudahkan pembaca memahami apa yang ingin diungkapkan mengingat cukup
banyak wujud budaya yang sulit diungkapkan hanya dengan kata-kata.

Penelitian ini mengutamakan data kualitatif sebagai kekuatan dari hasil
penelitian, didukung data kuantitatif yang diperoleh dari hasil wawancara terstruktur
kepada ibu yang melahirkan dalam kurun waktu satu tahun sebelum pelaksanaan
pengumpulan data. Tidak mudah menggabungkan kedua jenis data, mengingat tim

peneliti tidak seluruhnya berpengalaman melakukan hal tersebut serta memili “style”

berbeda dalam penulisan suatu hasil kualitatif. Penggabungannya memnutuhkan
usaha keras masing-masing peneliti. Dengan cara penyampaian tersebut diharapkan
lebih mampu mengungkapkan fakta di lapangan dengan lebih detail. Uraian tentang
ritual dan adat istiadat yang masih berlangsung di masyarakat menggambarkan bahwa
masih banyak tradisi yang melekat dalam budaya masyarakat khususnya di perdesaan.

ii

Harapan peneliti, hasil penelitian ini mampu memberikan sumbangsih dalam
mendukung program penurunan angka kematian maternal dan bayi yang sulit untuk
diturunkan meskipun berbagai upaya telah dilakukan pemerintah. Diharapkan dengan
adanya data dari sisi masyarakat dapat membantu apa yang bisa dilakukan pemerintah
tanpa meninggalkan kondisi di masyarakat. Semoga buku ini dapat menjadi acuan
meskipun terbatas untuk daerah dan sosail budaya tertentu.

Surabaya, Januari 2013

Tim Peneliti

iii

ABSTRAK

Latar Belakang. Pemerintah telah meluncurkan Jampersal sebagai salah satu upaya
menekan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi yang masih tinggi sebagai percepatan
mencapai target MDGs 2015. Perilaku pencarian pertolongan persalinan dipengaruhi nernagai
factor termasuk sosial budaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan kajian peran
sosial budaya dalam upaya peningkatan pemanfaatan program jaminan persalinan. Metode
Penelitian.
Data kualitatif dikumpulkan dengan wawancara mendalam, FGD kepada tokoh
masyarakat, dukun bersalin, bidan, kepala puskesmas, didukung data kuantitatif dengan
responden ibu yang melahirkan satu tahun terakhir. Lokasi penelitian di 6 propinsi masing-
masing ditetapkan satu wilayah puskesmas di desa dan satu di kota. Hasil Penelitian.
Menunjukkan masih kuat nilai kepercayaan dan pelaksanaan ritual/adat istiadat masih banyak
dilakukan sehingga peran dukun masih dibutuhkan. Sarana transportasi menjadi hambatan
utama persalinan di fasilitas kesehatan. Interaksi sosial masyarakat desa menjadi kekuatan
sedang di kota fasilitas memadai sehingga akses menjadi mudah. Bidan sudah diterima relative
baik di desa maupun di kota oleh masyarakat yang ternyata memiliki pengetahuan kesehatan
baik. Sumber pembiayaan persalinan sudah banyak dengan memanfaatkan jampersal namun
belum maksimal bahkan cenderung rendah di perkotaan tertentu. Sosialisasi tentang
Jampersal menjadi kendala utama disamping masih adanya conflict of interest pada Bidan
Praktek Swasta. Kesimpulan. Disimpulkan bahwa Jampersal membantu persalinan aman,
namun perlu sosialisasi yang lebih intensif secara menyeluruh. Persalinan dengan bidan sudah
membudaya namun dukun masih dibutuhkan masyarakat untuk perawatan ibu dan bayi serta
pelaksanaan tradisi Saran: Budaya dan praktek tradisi masih memberikan pengaruh dalam
pemilihan penolong persalinan, budaya yang berdampak positip dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan persalinan di bidan dan dilaksanakan di fasilitas kesehatan seperti, sifat
kegotong royongan, tradisi 7 bulanan. Perlu pembagian tupoksi bidan dan dukun dan
pendanaan Jampersal untuk jasa dukun dan bantuan transportasi.

iv

ABSTRACT

Background. The National Delivery Assurance (NDA) was launched by the government as
one of effort to push down Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR)
and a booster to reach the target of MDGs 2015. Birth attendance seeking behavior is
influenced by various factors including socio-cultural aspect. This research aimed to provide a
study on the role of socio-cultural aspect in an effort to raise the utilization of NDA. Method.
This research employed a mixed between qualitative and quantitative method with qualitative
data as main tool analysis. Qualitative data were collected through in-depth interviews and
FGD, whereas quantitative data were collected through survey to mothers who had given birth
in the past year. This research was conducted in 6 provinces which were represented by one
each primary health center in urban area and rural area. Result. The result of this research
showed that traditional value and practice of rituals were still performed, therefore the role of
Traditional Birth Attendance (TBA) remain needed. Transportation was the main obstacle in
getting delivery assistance in health facilities. Midwives were welcomed both in rural and
urban areas. The people had a good knowledge on maternal and child health. The NDA were
used as delivery financial source although not yet maximized or even low in certain cities.
Socialization of NDA was one of main obstacle in its implementation as well as conflict of
interest between government and private practice midwives. Conclusion. The NDA provided
cost to support the acceptability of safe delivery assistance, but it’s broader and effective
socialization need to be conducted. TBA was needed to care maternal and child health and to
assist the tradition. Suggestion. Cultural aspect and practice of tradition play a role on

people’s choice to get safe delivery assistance. Some positive aspect of it such as mutual aid,
seventh month pregnancy’s ritual can be utilized to raise safe delivery by health worker, in
health facilities. NDA support cost of TBA’s service and transportation to reach health facilities.

v

RINGKASAN EKSEKUTIF
Peran Sosial Budaya dalam Upaya Meningkatkan Pemanfaatan Program
Jaminan Persalinan (Jampersal)

Masa persalinan merupakan suatu periode yang kritis bagi para ibu hamil
karena segala kemungkinan dapat terjadi sebelum berakhir dengan selamat atau
dengan kematian. Perilaku ibu dalam memelihara kesehatannya dipengaruhi oleh
faktor sosial ekonomi dan budaya.Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi
(AKB) di Indonesia masih lebih tinggi.Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia
(SDKI) tahun 2007 menunjukkan bahwa AKI 228 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB
34 per 1000 kelahiran hidup. Berdasar kesepakatan global (Millenium Development
Goals / MDG’s 2000) diharapkan ada tahun 2015 terjadi penurunan AKI menjadi 102

per 100.000 kelahiran hidup dan AK menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup
(Kementerian Kesehatan, 2011). Telah dilakukan berbagai upaya menuju persalinan
aman dari sisi medis (provider) namun masih belum menunjukkan hasil memuaskan.
Program Jaminan Persalinan (Jampersal) diluncurkan mulai tahun 2011
berdasarkan Permenkes No. 631/Menkes/PER/III/2011 tentang Petunjuk Teknis
Jaminan Persalinan dan Surat Edaran Menkes RI Nomor TU/Menkes/391/II/2011
tentang Jaminan Persalinan (Kementerian Kesehatan, 2011) dan kemudian diperbaiki
dengan keluarnya Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2562/Menkes/PER/XII/2011
tentang hal yang sama. Dengan dimulainya program Jampersal dan masih banyaknya
kendala perilaku dan sosial budaya dalam pemilihan penolong persalinan yang
tentunya berdampak pada pemanfaatan Jampersal maka penelitian ini dilakukan.
Kendala datang baik dari pihak ibu sendiri, dari masyarakat maupun dari fasilitas atau
tenaga kesehatan.Penelitian ini mempunyai tujuan umum untuk menyediakan kajian
peran sosial budaya dalam upaya peningkatan pemanfaatan program jaminan
persalinan.

Dalam rangka merubah perilaku masyarakat dengan harapan agar seorang ibu
hamil mau bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan maka upaya
yang harus dilakukan adalah dengan melakukan intervensi melalui 3 tingkatan ekologi
yaitu tingkat individu, tingkat interpersonal dan tingkat komunitas atau masyarakat.
Pada tingkat individu (ibu) perlu dipahami tentang faktor-faktor yang berpengaruh

vi

terhadap perilaku individu yaitu faktor pemicu, pendukung dan penguat antara lain
nilai, kepercayaan, pengetahuan, sikap dan praktek tentang hal-hal terkait masa
kehamilan, persalinan dan paska persalinan termasuk KB.
Dalam pemilihan perawatan/penolong ibu pada masa maternity (hamil,
bersalin dan paska persalinan), ibu akan dipengaruhi orang sekitarnya karena
hubungan antara individu/ interpersonal dengan orang di sekitarnya (suami, orangtua,
tetangga). Dalam , pemilihan penolong kehamilan (Ante Natal Care/ANC), persalinan,
paska persalinan ada faktor yang berpengaruh terhadap hubungan interpersonal yaitu
faktor sosial budaya, termasuk demografi, geografi dan akses terhadap fasilitas
pelayanan. Pada tingkat komunitas, penetapan praktek perawatan atau pertolongan
kehamilan (ANC), persalinan dan paska persalinan ditentukan oleh ketanggapan
fasilitas kesehatan terhadap kebutuhan ibu terkait harapan, dukungan/kemudahan
serta hambatan dalam mengakses tenaga kesehatan. Hal ini juga dipengaruhi
kebijakan pemerintah yang diberlakukan antara lain pembiayaan kesehatan berupa
jaminan persalinan (jampersal).
Penelitian dilaksanakan sejak bulan Maret sampai dengan selesai pada bulan
Desember 2012. Penelitian dilakukan di 6 provinsi berdasarkan cakupan ANC dan PNC
dengan pembiayaan Jampersal secara Nasional, sebagai tolok ukur berdasarkan data
tingkat provinsi pada tahun 2011 yang diperoleh dari P2JK.Mengacu pada cakupan
ANC dan PNC dalam Pembiayaan mempergunakan Jampersal, maka dilakukan
klasifikasi provinsi yaitu provinsi dengan cakupan tinggi; provinsi dengan cakupan
sedang dan provinsi dengan cakupan rendah dalam pembiayaannya. Pada tiap kategori
dipilih 2 provinsi; sehingga dari ketiga kategori didapat 6 Provinsi Aceh, Nusa Tenggara
Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Maluku Utara dan Banten. Selain dilihat dari
cakupan ANC dan PNCdiatas, pemilihan provinsi dalam penelitian ini juga didasari oleh
persebaran provinsi, agar dalam penelitian ini setiap region dapat terwakili.

vii

Daftar Provinsi, Kabupaten/Kota dan Puskesmas Sebagai Lokasi Penelitian

PROPINSI

KABUPATEN/KOTA

PUSKESMAS

1. Aceh

1. Kab. Gayo Lues

Pintu Rime

2. Kota Banda Aceh

Lampaseh Kota

1. Kab. Bima

Parado

2. Kota Mataram

Karang Pule

3. Kalimantan Barat 1. Kab. Landak

Semata

2. Kota Pontianak

Karya Mulya

4. Sulawesi Selatan

1. Kab. Jeneponto

Arungkeke

2. Kota Makassar

Kasi Kasi

5. Maluku Utara

1. Kab. Halmahera Selatan

Mateketen

2. Kota ternate

Kota ternate

6. Banten

1. Kab. Lebak

Cirinten

2. Kota Cilegon

Citangkil

Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pengambilan data cross
sectional. Cara pengumpulan data secara kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif
dikumpulkan dengan wawancara terstruktur pada ibu yang melahirkan pada tahun
2011 untuk memperoleh data tentang faktor karakteristik, nilai, kepercayaan,
pengetahuan, sikap dan praktek terkait ANC, persalinan dan paska persalinan serta
alasan dan pengambil keputusan memilih penolong persalinan. Semua hal tersebut
terkait dengan pemanfaatan jampersal.

Data Kualitatif dikumpulkan dengan cara Focus Group Discussion (FGD) dan in-
depth interview (wawancara mendalam) untuk memperoleh informasi tentang sosial
budaya masyarakat dan (ibu, suami, tokoh masyarakat, bidan, dukun, pengelola
program KIA/KB dan jampersal dan Kepala Puskesmas serta Kepala Dinas Kesehatan).
Informasi yang ditanyakan terkait faktor pemicu, pendukung, penguat, hambatan dan
harapan terkait pemanfaatan Jampersal serta peran tenaga kesehatan dalam
pemanfaatan Jampersal.

Populasi dan Sampel Penelitian. Ibu yang melakukan persalinan pada Juni
2011–Mei 2012 baik memanfaatkan Jampersal atau tidak, akan ditetapkan sebagai
sampel dengan cara stratified random sample. Dilakukan listing persalinan di wilayah
puskesmas terpilih (diambil dari kohort). Selanjutnya di setiap wilayah puskesmas
terpilih akan diambil 68 ibu sebagai sampel minimum. Data diolah secara deskriptif
dan disajikan dalam bentuk narasi dan tabel serta gambar.

viii

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai dan norma menjadi pegangan
masyarakat desa dalam mengatur tingkah lakunya. Norma menjadi ukuran,
pedoman,aturan atau kebiasaan agar orang dapat melakukan penilaian apakah
sesuatu termasuk benar atau salah. Dalam hal kesehatan ibu dan anak, perilaku yang
terlihat masih cukup banyak diwarnai dengan religi ataupun kepercayaan yang masih
dianut. Di lokasi penelitian dengan masyarakat yang masih memegang erat aturan
agama (misal. Aceh, Bima dengan mayoritas pemeluk agama Islam) maka tindakan
yang mereka lakukan seringkali dikaitkan dengan nili-nilai dalam ajaran agama
Islam.Masyarakat kota lebih mengutamakan hukum formal sebagai pengatur
perilakunya.

Kepercayaan terhadap tradisi masih dipegang erat oleh masyarakat di
perdesaan, dan kurang dilaksanakan di perkotaan. Kepercayaan terhadap mistik atau
gaib atau roh, seringkali mendorong perilaku yang merugikan.Masyarakat desa di
lokasi penelitian masih sangat kuat terlibat dalam suatu upacara.Kepercayaan sebagai
unsur budaya tidaklah mudah untuk mengubahnya. Unsur ini sulit diterima masyarakat
khususnya bila menyangkut ideologi dan falsafah hidup. Berbeda dengan kelompok
masyarakat perkotaan yang lebih bersifat individualistik sehingga kedekatan satu
sama lain sudah berkurang. Status sosialnya yang heterogen dengan mata pencaharian
penduduk yang berbagai macam serta kompetitif, tidak bergantung kepada alam
membuat masyarakat kota lebih dinamis. Pada umumnya keterikatan terhadap tradisi
sangat kecil. Masyarakat kota Banda Aceh, Pontianak dan Makasar sudah jarang yang
melakukan ritual dan upacara.

Responden di 12 lokasi penelitian memiliki pengetahuan yang cukup bagus

tentang “persalinan aman bila ditolong bidan”. Namun sikap tidak setuju terhadap

kompetensi bidan yang lebih baik dari dukun yaitu di responden di Halmahera Selatan
dan Gayo Lues tetapi dalam pemilihan penolong persalinan, mereka tetap memilih
bidan.Masyarakat di desa banyak memilih tempat persalinan di rumah ke fasilitas
kesehatan terutama karena lokasi yang sulit transportasi. Responden di kota lebih
cenderung memilih melahirkan di faskes daripada responden yang tinggal di
desa.Pengetahuan, sikap yang baik dan mendukung bukan satu-satunya faktor yang
mampu mendorong seseorang untuk bertindak positip. Masih banyak faktor lain yang

ix

mendukung perilaku khususnya dalam upaya persalinan. Alam dan lingkungan yang
sulit telah membatasi komunikasi secara langsung bidan dan masyarakat, sehingga
sulit untuk mengakses bidan pada saat dibutuhkan.
Persalinan ditolong oleh bidan merupakan salah satu upaya menurunkan AKI dan
AKB. Pemanfaatan Jampersal mensyaratkan persalinan ditolong tenaga kesehatan dan
dilakukan di fasilitas kesehatan. Pengetahuan tentang keamanan persalinan ternyata
hampir semua responden di 12 lokasi penelitian memiliki pengetahuan yang cukup

bagus tentang “persalinan aman bila ditolong bidan”. Pemilihan penolong persalinan

dukun dengan alasan dukun adalah orang yang dipercaya dan dianggap tepat
membantu ibu saat kehamilan dan persalinan. Dukun adalah orang yang sudah sangat
mereka kenal, disamping dukun menolong dengan biaya yang terjangkau menjadi
pendorong mereka memilih dukun. Ada pandangan bahwa dukun memiliki kompetensi
yang sama dengan bidan dalam menolong persalinan sehingga mendorong memilih
dukun sebagai penolong persalinan. Persalinan adalah proses alamiah, merupakan
anggapan yang umum dan diakui.

Jaminan persalinan diselenggarakan pemerintah dalam upaya memfasilitasi
masyarakat agar mendapat pelayanan pertolongan persalinan aman oleh tenaga
kesehatan yang dilakukan di fasilitas kesehatan. Dengan adanya Jampersal diharapkan

dapat mengakselerasi tujuan MDG’s 4 (status kesehatan anak) dan MDG’s 5 (status

kesehatan ibu). Peran sosial budaya dapat mempengaruhi pemanfaatan jampersal
melalui beberapa hal yaitu sosialisasi, kepesertaan, pendanaan, pelayanan dan
ketenagaan melalui 5 unsur budaya. Berikut kesimpulan dan saran penelitian dengan
perincian unsur budaya yang berpengaruh terhadap pemanfaatan Jampersal.

1. Sosialisasi

1) Pendidikan dan pengetahuan, yang baik akan lebih memudahkan pemahaman
terhadap suatu informasi. Keberadaan media informasi seperti televise, radio,
surat kabar akan memberikan kemudahan penyampaian informasi KIA dan
jampersal.
2) Kepercayaan: hambatan pada masyarakat (Gayo) yang masih percaya
santet/gaib, masyarakat menolak paham baru (misal informasi ttg kesehatan/
jampersal) kehadiran orang belum dikenal

x

3) Mata pencaharian: bekerja di perkebunan/ ladang yang lokasinya jauh
menyebabkan banyak masyarakat menghabiskan waktu di ladang atau kebun
sehingga kurang terpapar oleh informasi
4) Orsosmas: Interaksi masyarakat yang baik akan memudahkan diterimanya
suatu informasi tentang KIA dan jampersal. Informasi yang diterima ibu bila
dapat diterima dengan baik oleh suami akan mendorong kemungkinan
persalinan kepada nakes mengingat di masyarakat perdeaan, suami adalah
pengambil keputusan.
5) Teknologi komunikasi: teknologi informasi tidak banyak dimanfaatkan dalam
proses penyampaian jampersal dan KIA. Informasi lebih banyak diterima
secara langsung dengan cara tatap muka yang terjadi antara bidan dengan ibu
pada saat pelayanan KIA.

Saran

1) Bidan sebagai sumber informasi harus mampu menjalin hubungan yang baik
dengan masyarakat sasaran (ibu), tokoh masyarakat dan organisasi massa.
2) Perlu pembekalan pengetahuan budaya kepada bidan melalui orientasi
sebelum melaksanakan tugas di masyarakat.
3) Menghindari konflik kepentingan bidan puskesmas yang berpraktek swasta
dengan memberikan kompensasi kepada bidan.

2. Kepesertaan

1) Pengetahuan/Pendidikan yang baik akan meningkatkan pemahamanan tentang
manfaat jampersal serta prosedur dan persyaratan yang harus dipenuhi.
Banyak masyarakat belum pernah mendengar tentang jampersal, termasuk
tokoh masyarakat dan perangkat desa (hasil FGD).
2) Mata Pencaharian. Petani, pekerja kebun, nelayan, buruh
perkebunan/pertanian (kelompok ekonomi kurang) tidak memanfaatkan akibat
ketidak tahuan terhadap jampersal dan persyaratannya.
3) Kepercayaan tidak terkait dengan kepesertaan
4) Orsosmas: aparat tidak mempersiapkan masyarakat untuk memanfaatkan
jampersal. Hal ini kemungkinan karena tidak adanya sosialisasi yang
terintegrasi antara bidang kesehatan/puskesmas dengan kelurahan.

xi

Kepemilikan KTP di daerah pedesaan cukup banyak sehingga harus mengurus
kartu domisili.
5) Teknologi: program pemerintah untuk menyelenggarakan e-KTP merupakan
sarana untuk mempermudah masyarakat ikut serta dalam jampersal karena
identitas diri terdaftar secara nasional.

Saran:

1) Sosialisasi lebih luas dan detil termasuk prosedur dan persaratan menjadi
peserta jampersal melalui tokoh masyarakat (contoh: Lurah, ketua RW/RT, dll)
dan pemuka agama (kiai, pendeta). Pemanfaatan dukun sebagai penyampai
pesan jampersal dengan membangun peran kemitraan yang harmonis dengan
bidan.

2) Untuk meningkatkan pemanfaatan jampersal maka perlu adanya kerjasama
puskesmas dengan pihak desa dan kecamatan, bahkan seharusnya dimulai dari
strata yang paling tinggi (Kementerian).
3) Perlu peningkatan dan kecepatan penyelenggaraan e-KTP yang merata hingga
di tingkat desa.

3. Pendanaan

1) Pengetahuan/Pendidikan:
Pengetahuan yang baik membuat masyarakat mampu memprioritaskan
pembelanjaan uang, sehingga ada upaya untuk menglokasikan sebagian
penghasilan untuk kepentingn kesehatan.
2) Mata pencaharian:

Pendanaan sangat erat kaitannya dengan geofrafis. Untuk melayani ibu di
daerah perdesaan yang sulit, tidak memungkinkan untuk mendatangi fasilitas
kesehatan sehingga bidan yang dijemput untuk melahirkan di rumah ibu.
Masalah semakin kompleks apabila dukun yang dicari oleh masyarakat
sehingga harapan ersalinan oleh nakes di faskes menjadi semakin tidak
terpenuhi. Daerah perdesaan di daerah sulit membutuhkan biaya transportasi
khusus.

3) Jasa dukun masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat khususnya dalam
perawatan kehamilan dan pasca persalinan. Adanya kemitraan dukun – bidan,
maka perlu dipikirkan jasa dukun.

xii

Saran:

1) Pendanaan Jampersal perlu memberikan biaya transportasi ibu bersalin
menuju fasilitas kesehatan.
2) Ada alokasi dana jampersal jasa pelayanan dukun. Sumber dana dapat
memanfaatkan BOK atau dana pemerintah daerah yang lain.

4. Pelayanan dan Ketenagaan

1) Pendidikan dan pengetahuan masih rendah tentang KIA dan jampersal. Masih
banyak masyarakat menggunakan dukun untuk memeriksakan kehamilan.
Keadaan ini cukup memprihatinkan mengingat pemerintah telah menyediakan
jampersal yang memberikan pelayanan dengan tenaga professional (bidan).
Masih ada persepsi bahwa dukun lebih kompeten dalam mendeteksi kehamilan
dan mengatur letak janin dalam rahim. Pemeriksaan kehamilan oleh bidan
mengikuti standar K4 masih belum mencapai target. Termasuk dalam hal ini
adalah persalinan dan pasca persalinan.
2) Masih ada persepsi dari masyarakat bahwa kemampuan dukun lebih dari bidan
dalam hal mengadopsi kepercayaan dan spiritual yang diyakini masyarakat
misalkan: bersuci (mengambil air wudhu) sebelum menolong persalinan,
membaca do’a atau mantra pada saat menolong persalinan. Masyarakat masih
membutuhkan pelayanan dukun karena masih kuatnya tradisi pelayanan
komprehensif yang dilakukan oleh dukun. Kemitraan bidan-dukun telah
berjalan tetapi masih belum jelas pembagian tugas antara bidan dan
dukun.Masih banyak keluhan masyarakat desa terhadap bidan, antara
lainbidan kurang memahami budaya setempat, kurang mampu berinteraksi
dengan masyarakat.
3) Persalinan di rumah terjadi karena lokasi rumah penduduk yang terpencil jauh
dari fasilitas kesehatan (poskesdes, polindes, pustu, puskesmas). Selain
minimnya sarana transportasi, juga.
4) Persepsi yang salah tentang keamanan persalinan di rumah juga menyebabkan
masyarakat memilih untuk melahirkan di rumah.

Saran:

1) Pemahaman tentang risiko kehamilan melalui kegiatan yang ada di masyarakat
seperti, konseling pra nikah, disisipkan pada ritual pernikahan.

xiii

2) Peran serta masyarakat misalkan ojek siaga, ambulan desa, rumah singgah.
3) Kurikulum bidan perlu ditambah degan materi “pendekatan budaya
masyarakat” dan melakukan kerja praktek di perdesaan.
4) Bidan mampu memenuhi keinginan masyarakat terkait dengan kepercayaan
dan spiritual melalui pembagian peran dalam kemitraan dengan dukun. Dukun
memimpin ritual persalinan sementara bidan menangani proses persalinan
secara medis.
5) Penempatan bidan di desa harus diiringi dengan orientasi dan pembimbingan
untuk pengenalan wilayah kerja yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan
setempat.

xiv

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

ABSTRAK

iii

ABSTRACT

iv

RINGKASAN EKSEKUTIF

v

DAFTAR ISI

xiv

DAFTAR TABEL

xviii

DAFTAR GAMBAR

xxii

BAB 1. PENDAHULUAN

1

1.1. Latar Belakang

1

1.2. Tujuan Penelitian

5

BAB 2. METODE PENELITIAN

6

2.1. Kerangka Konsep

6

2.2. Waktu dan Tempat Penelitian

7

2.3. Jenis dan Desain Penelitian

9

2.4. Populasi dan Sampel Penelitian

10

2.5. Instrumen dan Cara Pengumpulan Data

11

2.6. Pengolahan dan Analisis Data

13

BAB 3. HASIL PENELITIAN SOSIAL BUDAYA TERKAIT KESEHATAN IBU DAN ANAK

15

3.1. Puskesmas Pintu Rime, Kabupaten Gayo Lues

15

3.1.1. Gambaran Umum Kabupaten Gayo Lues

15

3.1.2. Gambaran Umum Puskesmas Pintu Rime Kecamatan Pining

25

3.1.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak

36

3.1.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan
Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal

46

3.1.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan
Program Jampersal

52

3.1.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan
Jampersal

54

3.2. Puskesmas Lampaseh Kota, Kota Banda Aceh

59

3.2.1. Gambaran Umum Kota Banda Aceh

59

3.2.2. Gambaran Umum Lampaseh Kota

62

3.2.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak

66

3.2.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan
Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal 75
3.2.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan
Program Jampersal

83

3.2.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan
Jampersal

85

3.3. Puskesmas Cirinten, Kabupaten Lebak

88

3.3.1. Gambaran Umum Kabupaten Lebak

88

3.3.2. Gambaran Umum Kecamatan Cirinten

90

3.3.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak

103

3.3.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan
Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan
Jampersal

119

3.3.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan
Program Jampersal

131

3.3.6. Hambatandan Dukungan dalam Pelaksanaan Jampersal

135

xv

3.4. Puskesmas Citangkil, Kota Cilegon

138

3.4.1. Gambaran Umum Kota Cilegon

138

3.4.2. Gambaran Umum Puskesmas Citangkil

143

3.4.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak

149

3.4.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan
Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal

160

3.4.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan
Program Jampersal

167

3.4.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan
Jampersal

171

3.5. Puskesmas Semata, Kabupaten Landak

176

3.5.1. Gambaran Umum Kabupaten Landak

176

3.5.2. Gambaran Umum Puskesmas Semata

182

3.5.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak

188

3.5.4. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan
Jampersal

205

3.6. Puskesmas Karya Mulya, Kota Pontianak

210

3.6.1. Gambaran Umum Kota Pontianak

210

3.6.2. Gambaran Umum Puskesmas Karya Mulya

214

3.6.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak

216

3.6.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan
Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan
Jampersal

221

3.4.5. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan
Jampersal

234

3.7. Puskesmas Arungkeke, Kabupaten Jeneponto

237

3.7.1. Gambaran Umum Kabupaten Jeneponto

237

3.7.2. Gambaran Umum Puskesmas Arungkeke

242

3.7.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak

246

3.7.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan
Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal

260

3.7.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan
Program Jampersal

267

3.7.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan
Jampersal

270

3.8. Puskesmas Kassi-kassi, Kota Makassar

275

3.8.1. Gambaran Umum Kota Makassar

275

3.8.2. Gambaran Umum Puskesmas Kassi-kassi

279

3.8.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak

288

3.8.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan
Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal

302

3.8.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan
Program Jampersal

311

3.8.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan
Jampersal

314

3.9. Puskesmas Parado, Kabupaten Bima

321

3.9.1. Gambaran Umum Kabupaten Bima

321

3.9.2. Gambaran Umum Kecamatan Parado

328

3.9.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak

337

3.9.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan
Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan Jampersal

355

3.9.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan

374

xvi

Program Jampersal
3.9.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan
Jampersal

378

3.10. Puskesmas Karang Pule, Kota Mataram

387

3.10.1. Gambaran Umum Kota Mataram

387

3.10.2. Gambaran Umum Kecamatan Parado

395

3.10.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak

398

3.10.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan
Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan
Jampersal

408

3.10.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan
Program Jampersal

413

3.10.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan
Jampersal

417

3.11. Puskesmas Mateketen, Kabupaten Halmahera Selatan

420

3.11.1. Gambaran Umum Kabupaten Halmahera Selatan

420

3.11.2. Gambaran Umum Kecamatan Makian Barat

424

3.11.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak

428

3.11.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan
Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan
Jampersal

436

3.11.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan
Program Jampersal

449

3.11.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan
Jampersal

455

3.12. Puskesmas Kota Ternate, Kota Ternate

459

3.12.1. Gambaran Umum Kota Ternate

459

3.12.2. Gambaran Umum Puskesmas Kota Ternate

470

3.12.3. Perilaku Masyarakat terkait Kesehatan Ibu dan Anak

478

3.12.4. Faktor Sosial Budaya Masyarakat Terkait Pemilihan
Penolong Persalinan dan Pemanfaatan Pelayanan
Jampersal

490

3.12.5. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan
Program Jampersal

497

3.12.6. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan
Jampersal

501

BAB 4. PEMBAHASAN

508

4.1. Nilai dan Kepercayaan

508

4.2. Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu

516

4.3. Pemilihan Penolong Persalinan (Terkait Sosial Budaya) dan
Pemanfaatan Pelayanan Jampersal

521

4.4. Peran Tenaga Pelayanan Kesehatan dalam Pelaksanaan Jampersal

527

4.5. Hambatan, Dukungan dan Harapan dalam Pelaksanaan Jampersal

534

4.5.1. Sosial Budaya di Wilayah Kabupaten

534

4.5.2. SosialBudaya di Wilayah Kota

539

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

548

5.1. Sosialisasi

548

5.2. Kepesertaan

549

5.3. Pendanaan

550

5.4. Pelayanan dan Ketenagaan

550

DAFTAR PUSTAKA

552

LAMPIRAN

xvii

DAFTAR TABEL

2.1.

Daftar Provinsi, Kabupaten/Kota dan Puskesmas Sebagai Lokasi
Penelitian

8

2.2.

Variabel, Cara Pengumpulan Data dan Instrumen yang Digunakan

12

2.3.

Jumlah Responden sebagai Sampel Penelitian dan Tenaga Enumerator 14

3.1.1.

Jumlah penduduk, Luas Wilayah dan Kepadatan Kabupaten Gayo Lues
Berdasarkan Kecamatan

18

3.1.2.

Sarana Kesehatan di Kabupaten Gayo Lues

20

3.1.3.

Data Pemeriksaan Kehamilan dan Persalinan Kabupaten GayoLues
Tahun 2011

22

3.1.4.

Wilayah Kerja Puskesmas Pintu Rime

28

3.1.5.

Data Jumlah Penduduk Puskesmas Pintu Rime, Kecamatan Pining
Tahun 2011

29

3.1.6.

Jumlah Bumil, Bulin,Bufas, Bayi dan Balita Per Desa di Wilayah
Puskesmas Pintu Rime Kecamatan Pining Tahun 2011

32

3.1.7.

Jumlah Sasaran dan Cakupan KIA Kecamatan Pining Tahun 2011

33

3.1.8.

Jumlah Sasaran dan Cakupan KIA Kecamatan Pining Tahun 2011

33

3.1.9.

Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Hamil di Kecamatan Pining Tahun
2012

41

3.1.10.

Ritual, Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Bersalin di Kecamatan Pining
Tahun 2012

45

3.1.11.

Ritual, Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Pasca Persalinan di Kecamatan
Pining Tahun 2012

46

3.1.12.

Jenis Pelayanan Bidan Kampung yang Diterima Masyarakat
Kecamatan Pining, Tahun 2012

49

3.2.1.

Jumlah Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Lampaseh Tahun 2011

63

3.2.2.

Data Jumlah Tenaga Puskesmas Lampaseh Tahun 2011

64

3.2.3.

Responden yang melakukan Upacara Adat pada Saat Kehamilan,
Persalinan dan Pasca PersalinandiKecamatan Kutaraja Tahun 2012

71

3.2.4.

Status Persalinan dan Tempat Persalinan Responden di Wilayah
Puskesmas LampasehKecamatan Kutaraja Tahun 2012

74

3.2.5.

Pelayanan yang Diterima Responden dari Bidan dan Dukun, di Wilayah
Puskesmas Lampaseh Kecamatan Kutaraja Tahun 2012

78

3.2.6.

Penolong Pertama dan Terakhir Persalinan Di Wilayah Puskesmas
LampasehKecamatan Kutaraja Tahun 2012

79

3.2.7.

Sumber Biaya Pelayanan KIA di Wilayah Puskesmas Lampaseh
Kecamatan Kutaraja Tahun 2012

82

3.2.8.

Perolehan Informasi tentang Jampersal di Wilayah Puskesmas
Lampaseh Kecamatan Kutaraja Tahun 2012

84

3.3.1.

Data Penduduk Kecamatan Cirinten Tahun 2010

94

3.3.2.

Data Ketenagaan Puskesmas DTP Cirinten Tahun 2010

100

3.3.3.

Angka Kematian dan Penyebabnya Tahun 2010

103

3.3.4.

Tradisi Masyarakat Cirinten Terkait Masa Kehamilan

110

3.3.5.

Tradisi Masyarakat Cirinten Terkait Masa Persalinan

111

3.3.6.

Tradisi Masyarakat Cirinten Pasca Persalinan

115

3.3.7.

Pernyataan Ibu terkait Pelayanan KIA

117

3.3.8.

Jarak Antar Desa di Kecamatan Cirinten, Tahun 2011 (Dalam Km)

120

3.3.9.

Jenis Pelayanan Dukun yang Diterima Masyarakat

126

3.3.10.

Persepsi Masyarakat terhadap Bidan dan Dukun

128

3.4.1.

Luas Wilayah, Kepadatan Penduduk Kota Cilegon

140

3.4.2.

Aktifitas Budaya pada Masa Kehamilan

152

xviii

3.4.3.

Aktifitas Budaya pada Masa Persalinan

153

3.4.4.

Aktifitas Budaya Pasca Persalinan

154

3.4.5.

Sikap Terhadap Kehamilan, Persalinan dan Pasca Persalinan
Kecamatan Citangkil Tahun 2012

157

3.4.6.

Pelayanan yang Diterima oleh Ibu, Kecamatan Citangkil Tahun 2012

159

3.4.7.

Penolong Pertama dan Penolong Terakhir Persalinan Citangkil 2012

165

3.5.1.

Wilayah Administratif Kecamatan di Kabupaten Landak Tahun 2010

177

3.5.2.

Distribusi Penduduk, KK, Bayi, Balita dan Bumil Tahun 2010

178

3.5.3.

Jumlah Penduduk dan Distribusi Sarana Bangunan Fisik Kesehatan
Menurut Puskesmas di Kabupaten Landak Tahun 2010

180

3.5.4.

Jumlah dan Jenis Tenaga Kesehatan Kabupaten Landak Tahun 2010

181

3.5.5.

Data Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Semata di Kabupaten
Landak Tahun 2010

183

3.5.6.

Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Tahun 2011 Berdasarkan Data Dinas
Kesehatan dan Profil Puskesmas Semata

186

3.5.7.

Komposisi ketenagaan di Puskesmas Semata

187

3.5.8.

Pengetahuan Ibu yang Masih “Kurang” terhadap ANC dan Fasilitas
Jampersal

202

3.5.9.

Sikap Ibu untuk Beberapa Kondisi Kehamilan dan Pemanfaatan
Jampersal

203

3.5.10.

Pengalaman Ibu dalam Persalinan dan Pemanfaatan Jampersal

204

3.6.1.

Fasilitas Kesehatan Puskesmas Karya Mulya

215

3.6.2.

Pengetahuan Responden

226

3.6.3.

Sikap Responden

226

3.6.4.

Pelayanan Bidan/Dokter (Tenaga Kesehatan) yang Diterima
Responden

229

3.6.5.

Pelayanan Dukun Bersalin yang Diterima Responden

230

3.7.1.

Jumlah Penduduk Jeneponto Berdasarkan Kecamatan Tahun 2011

239

3.7.2.

Penolong Persalinan Per Kecamatan di Kabupaten Jeneponto

241

3.7.3.

Persebaran Tenaga Kesehatan di Desa dalam Kecamatan Arungkeke
Tahun 2011

245

3.7.4.

Pelaksaan Upacara/Tradisi/Ritual Berkaitan dengan KIA di Kecamatan
Arungkeke

249

3.7.5.

Sikap Ibu terhadap Perilaku Kesehatan Ibu di Kec. Arungkeke

255

3.7.6.

Jenis Pelayanan Bidan dan Dukun di Kec. Arungkeke

257

3.8.1.

Jumlah Penduduk Kota Makassar Berdasarkan Kecamatan Tahun 2011 277

3.8.2.

Sarana Kesehatan di Kota Makassar Tahun 2011

278

3.8.3.

Jumlah dan Jenis Tenaga di Puskesmas Kassi-Kassi Tahun 2011

281

3.8.4.

Luas Wilayah Kerja Puskemas Kassi-kassi berdasarkan Kecamatan
Tahun 2011

282

3.8.5.

Jumlah Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-kassi Berdasarkan
Usia Per Kecamatan Tahun 2011

283

3.8.6.

Tingkat Pendidikan Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2011

284

3.8.7.

Pelaksanaan Upacara/Tradisi/Ritual Berkaitan dengan KIA di
Lingkungan Puskesmas Kassi-Kassi

291

3.8.8.

Sikap Ibu di Lingkungan Puskesmas Kassi-kassi terhadap Perilaku
Kesehatan Ibu

299

3.8.9.

Sumber Informasi Jampersal di Lingkungan Puskesmas Kassi-kassi

309

3.8.10.

Sumber Biaya Pelayanan KIA di Lingkungan Puskesmas Kassi-kassi

310

3.9.1.

Jumlah Penduduk per Desa dan Kepadatan Penduduk di Kecamatan
Parado Tahun 2010

330

xix

3.9.2.

Puskesmas Parado dan Jaringannya Tahun 2012

336

3.9.3.

Responden yang melakukan Upacara Adat pada Saat Kehamilan,
Persalinan dan Pasca Persalinan di Kecamatan Parado

342

3.9.4.

Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Hamil di Kecamatan Parado

344

3.9.5.

Ritual, Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Bersalin di Kecamatan Parado

345

3.9.6.

Ritual, Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu Pasca Persalinan di Kecamatan
Parado

347

3.9.7.

Sikap Terhadap Pemeriksaan Kehamilan, Persalinan Dan Pasca
Persalinan, Kecamatan Parado

350

3.9.8.

Pelayanan yang Diterima Responden dari Bidan dan Dukun di Kec.
Parado

352

3.9.9.

Sumber Biaya Pelayanan KIA di Kecamatan Parado

371

3.9.10.

Penolong Pertama dan Terakhir Persalinan di Kecamatan Parado

371

3.9.11.

Cakupan Persalinan oleh Linakes di Faskes Kabupaten Bima

374

3.9.12.

Perolehan Informasi tentang Jampersal di Kecamatan Parado

374

3.10.1.

Luas Wilayah, Jumlah Desa/Kelurahan, Jumlah Penduduk dan
Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Mataram Tahun
2011

389

3.10.2.

Cakupan K1 dan K4 menurut Puskesmas Kota Mataram Tahun 2011

392

3.10.3.

Cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan danTenaga Non
Kesehatan Kota Mataram Tahun 2011

393

3.10.4.

Cakupan Kunjungan Neonatal 3 (KN3), Neonatal Komplikasi dan
Kunjungan Bayi Kota Mataram Tahun 2011

397

3.10.5.

Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Puskesmas Karang Pule Tahun
2011

396

3.10.6.

Aktifitas Budaya pada Masa Kehamilan di Wilayah Puskesmas Karang
Pule

400

3.10.7.

Aktifitas Budaya pada Masa Persalinan di Wilayah Puskesmas Karang
Pule

402

3.10.8.

Aktifitas Budaya pada Masa Pasca Persalinan di Wilayah Puskesmas
Karang Pule

405

3.10.9.

Pelayanan KIA yang diterima Ibu Hamil dari Bidan & Dukun di Wilayah
Puskesmas Karang Pule

408

3.10.10.

Pemeriksaan yang dilakukan Ibu ke Tenaga kesehatan di Wilayah
Puskesmas Karang Pule

408

3.10.11.

Penolong Persalinan Pertama dan Terakhir di Wilayah Puskesmas
Karang Pule

412

3.10.12.

Sumber Biaya Kesehatan KIA di Wilayah Puskesmas Karang Pule

413

3.10.13.

Besaran Pembagian Biaya Persalinan Bersumber dari Jampersal di
Kota Mataram Tahun 2012

416

3.11.1.

Sarana Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan Tahun 2009

423

3.11.2.

Jumlah Penduduk, Bayi, Balita & Bumil sebagai Sasaran Program KIA
Tahun 2011

426

3.11.3.

Kepala Puskesmas (kaos putih) dengan Bidan, Perawat dan 3 peneliti

427

3.11.4.

Pemeriksaan Kehamilan ke Tenaga Kesehatan di Kecamatan Makian
Tahun 2012

434

3.11.5.

Penolong Persalinan Pertama dan Terakhir di Kecamatan Makian
Tahun 2012

435

3.11.6.

Indikator Outcome Puskesmas Mateketen Tahun 2011

444

3.11.7.

Sumber Biaya Pemeriksaan Kehamilan dengan Tenaga Kesehatan di
Wilayah Puskesmas Mateketen

449

4.1.1

Distribusi Responden yang Melakukan Ritual/Upacara Saat Kehamilan, 510

xx

Persalinan, Pasca Persalinan di 12 Kabupaten/Kota Tahun 2012

4.2.1

Distribusi Tingkat Pendidikan Formal dan Pengetahuan tentang KIA
Saat Kehamilan Responden di 12 Kabupaten/Kota Tahun 2012

518

4.2.2

Distribusi Tingkat Pendidikan Formal dan Pengetahuan, Sikap, Praktek
tentang Persalinan Aman pada Responden di 12 Kabupaten/Kota
Tahun 2012

519

4.2.3

Distribusi Responden yang Memiliki Pengetahuan “Benar” tentang

Tidak Aman Melahirkan di Rumah dan Tempat Persalinan di 12
Kabupaten/Kota Tahun 2012

520

4.3.1

Persentase ”Ya” Pembiayaan Jampersal untuk Periksa Kehamilan,

Persalinan, Periksa Ibu Nifas, Periksa Neonatus, Periksa KB di 12
Kabupaten/Kota Tahun 2012

527

4.4.1.

Pernyataan ”Ya” untuk Pelayanan Upacara yang Diterima

Responden dari Bidan/Nakes atau Dukun

528

4.4.2

Persentase Responden yang Menyatakan ”Ya” Menerima Pelayanan

dari Bidan di 12 kabupaten/Kota Tahun 2012

532

4.4.3

Persentase Responden yang Menjawab ”Ya” untuk Tempat Persalinan

di Faskes, Nakes sebagai Penolong Terakhir Persalinan dan Sumber
Biaya Persalinan (%)

533

xxi

DAFTAR GAMBAR

2.1.

Konsep Penelitian

6

2.2.

Peta Lokasi Penelitian Jampersal

9

3.1.1.

Peta Kabupaten Gayo Lues

17

3.1.2.

Jumlah Bidan dan Jumlah Dukun yang Terdapat di Kabupaten Gayo
LuesMenurut Puskesmas Tahun 2011

24

3.1.3.

Peta Lokasi Puskesmas Pintu Rime

25

3.1.4.

Lokasi Desa Uring yang Berlembah dan Berbukit

27

3.1.5.

Puskesmas Pintu Rime, Kecamatan Pining-Gayo Lues

27

3.1.6.

Sungai sebagai Sumber Air Desa Uring

27

3.2.1.

Peta Kota Banda Aceh

59

3.3.1.

Peta Wilayah Kabupaten Lebak

88

3.3.2.

Cakupan Program Kesehatan Ibu dan Anak Puskesmas Cirinten, Tahun
2011

90

3.3.3.

Lokasi Kecamatan Cirinten

91

3.3.4.

Suasana Kecamatan Cirinten

92

3.3.5.

Peta Kondisi Wilayah Kecamatan Cirinten

93

3.3.6.

Menjemur Cengkeh

95

3.3.7.

Memanen cengkeh

96

3.3.8.

Puskesmas Cirinten

98

3.3.9.

Peta Sarana Kecamatan Cirinten

101

3.3.10.

Nyandak

112

3.3.11.

Gelang Kapas

114

3.3.12.

Pisau Perlindungan

114

3.3.13.

Peta Lokasi Poskesdes dan Dukun di Desa

121

3.3.14.

Pengobat Tradisional di Kecamatan Cirinten

124

3.3.15.

Sebaran Paraji di Kecamatan Cirinten

125

3.3.16.

Persalinan Gratis!

132

3.4.1.

Piramida Penduduk Kota Cilegon Tahun 2011

139

3.4.2.

Presentase Kematian Bayi di Kota Cilegon Tahun 2010

144

3.4.3.

Peta Wilayah Kecamatan Citangkil

143

3.4.4.

Puskesmas Citangkil dan Pondok Kesehatan

147

3.4.5.

Bubur lolos

150

3.4.6.

Peta Sarana Cintangkil

163

3.5.1.

Peta Lokasi Kabupaten Landak

176

3.6.1.

Lambang Kota Pontianak

211

3.7.1.

Peta Kabupaten Jeneponto

238

3.7.2.

Peta Kecamatan Arungkeke

243

3.7.3.

Mata Pencaharian Menangkap Ikan

245

3.7.4.

Sumbangan untuk Bidan

264

3.8.1.

Peta Makasar

276

3.8.2.

Peta Wilayah Kerja Puskesmas Kassi Kassi

280

3.8.3.

Pemetaan Ibu Bersalin di Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-kassi

287

3.8.4.

Pemetaan Gizi Bayi dan Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-kassi

288

3.8.5.

Ibu sedang Disuapi Makanan Pada Acara Passilli

295

3.8.6.

Acara Aqiqah untuk Anak Bayi

296

3.8.7.

Fasilitas Persalinan di Bidan Praktek Swasta

308

3.9.1.

Peta Kabupaten Bima

322

3.9.2.

Piramida Penduduk Kabupaten Bima

323

3.9.3.

Suasana Perumahan di Salah Satu Desa Kecamatan Parado

331

xxii

3.9.4.

Benhur Angkutan Umum dengan Tenaga Kuda

333

3.9.5.

Poskesdes Percontohan di desa Kuta, Kecamatan Parado dan Salah
Satu Polindes di Kecamatan Parado

336

3.9.6.

Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama saat FGD

338

3.9.7.

Seorang Ibu dengan Bayinya Di Atas Tangga Rumah

353

3.9.8.

Rumah Panggung

350

3.9.9.

Peta Lokasi Dukun dan Sarana Kesehatan di Kecamatan Parado

356

3.9.10.

Peralatan Persalinan Dukun yang Diperoleh Saat Pelatihan

359

3.9.11.

Seorang Sando (Dukun Bersalin) dengan Alat Menginangnya

360

3.9.12.

Bidan Tampak Akrab dengan Dukun Saat Wawancara di Rumah Dukun 367

3.10.1.

Gambar Wilayah Kota Mataram Tahun 2011

388

3.10.2.

Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis KelaminKota Mataram

390

3.10.3.

Distribusi Jumlah Kematian Bayi (AKB) di Kota Mataram Tahun 2010-
2011

391

3.10.4

Peta Fasilitas Kesehatan di Wilayah Puskesmas Karang Pule

394

3.11.1.

Peta Wilayah Kabupaten Halmahera Selatan

420

3.11.2.

Peta Pulau Bacan

421

3.11.3.

Bandara Oesman Sadik Labuha Halsel

422

3.11.4.

Kantor Dinas Kesehatan Halsel

422

3.11.5.

Suasana dalam speedboat umum Ternate-Mateketen

425

3.11.6.

Speedboat Milik Puskesmas di Pantai Makian

428

3.11.7.

Kepala Puskesmas (kaos putih) dengan Bidan, Perawat dan 3 peneliti

424

3.11.8.

Wawancara Mendalam dengan Mama Biang

439

3.11.9.

FGD dengan bidan di Puskesmas Mateketen

440

3.11.10.

FGD Toma di Puskesmas Mateketen

442

3.11.11.

Cakupan K-1 Pada Puskesmas Mateketen Januari-November 2011

445

3.11.12.

Cakupan K-4 Pada Puskesmas Mateketen Januari-November 2011

446

3.11.13.

Cakupan Linakes Puskesmas Mateketen Januari-November 2011

447

3.12.1.

Peta Kota Ternate dan Gambaran Kota Ternate Secara Umum

460

3.12.2.

Gunung Gamalama

461

3.12.3.

Suasana Kota Ternate

463

3.12.4.

Pelabuhan Ternate dilatari Pulau Halmahera

464

3.12.5.

Persentase Jumlah Penduduk berdasar Kelurahan di Wilayah Kerja
Puskesmas Kota Ternate Tahun 2011

471

3.12.6.

Puskesmas Kota Ternate

471

3.12.7.

Loket Pendaftaran Puskesmas Kota Ternate

472

3.12.8.

FGD tokoh masyarakat di Puskesmas Kota Ternate

479

3.12.9.

Wawancara Mendalam dengan Mama Biang di kota Ternate

480

3.12.10.

FGD Suami Non Jampersal di Rumah Warga

484

1

BAB 1
PENDAHULUAN

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->