Anda di halaman 1dari 17

Deskripsi Kasus Tambahan dengan kultur CSS (+)

Pada 4 pasien tambahan, bakteri pathogen diisolasi dari sampel CSS, memenuhi definisi kasus untuk meningitis yang sudah ada. Pada 2 kasus, sepertinya tidak menderita meningitis.

Pada anak usia 8 hari, sebelumnya sehat, Enterococcus faecalis diisolasi dari urine secara aspirasi suprapubik. Sampel CSS tidak menunjukkan pleositosis, tidak ada aktivitas antimikroba yang terdeteksi.

Pada bayi usia 40 hari dengan kelainan congenital katup uretra posterior, sampel urin didapatkan dari aspirasi suprapubik dan didapatkan pertumbuhan E. coli; sedikit percampuran E. coli dan E. faecalis Pada kedua kasus, temuan CSS tidak menunjukkan adanya meningitis karena faktor kontaminasi CSS.

Pada dua kasus lainnya, anak-anak dengan meningitis bacterial, tetapi sampel urinnya mungkin kontaminasi.

Pada bayi usia 2 bulan dengan sindrom Down dan malformasi jantung kompleks, didapatkan pada sampel urin kateter yaitu pertumbuhan E. coli, sedangkan Streptococcus grup B diisiolasi dari kultur darah dan CSS.

Pada anak usia 16 bulan dengan ventriculoperitoneal shunt (VP shunt), E. coli diisolasi dari sampel urin, sedangkan pada kultur CSF didapatkan pertumbuhan S. aureus.

Hasil Uji Aktivitas Antimikroba

Diskusi
Studi oleh Bergstrom et al sering dikutip sebagai bukti bahwa anak usia muda dengan ISK merupakan risiko terjadinya meningitis. Kelemahan studi ini terlalu berlebihan tentang risiko meningitis yang telah ada.

Pertama, semua sampel urin pada studi ini didapat dari kantung urin, yang rawan kontaminasi. Hal ini mungkin memunculkan hasil positif palsu pada tes kultur urin. Konsekuensinya, sejumlah pasien dengan meningitis dapat secara salah didiagnosis juga menderita ISK.

Kedua, hanya 31 neonatus (38.8%) dari 80 neonatus dengan ISK pada studi ini menjalani pungsi lumbal. Karena pungsi lumbal hanya dilakukan pada neonatus dengan gejala yang jelas, Pemeriksaan ini sebenarnya dapat kabur dan mengacaukan meningitis selanjutnya.

Ginsburg dan McCracken, melaporkan studi pada 100 bayi dengan ISK, menemukan bahwa proporsi kultur darah positif berbanding terbalik dengan umur. Kenyataannya bahwa meningitis bacterial pada pasien dengan ISK merupakan hasil penyebaran bakteri melalui aliran darah. Pengamatan ini selanjutnya mendukung pendapat bahwa risiko terjadinya meningitis menurun seiring peningkatan umur.

Pada studi kami, kedua pasien dengan meningitis adalah neonatus yang memperlihatkan tanda meningitis, termasuk demam, nafsu makan yang menurun, iritabilitas, dan letargi. Tetapi, manifestasi klinis tidak cukup sensitif untuk menentukan meningitis pada neonates dan tanda meningeal yang khas sering tidak ditemukan pada grup umur ini

Studi kami hanya melibatkan data dari pasien yang mempunyai hasil pemeriksaan urin dan CSS. Pasien dengan ISK yang tidak menjalani pungsi lumbal,karena ada dan tiadanya meningitis tidak dapat ditetapkan. Konsekuensinya data kami sepertinya berlebihan mengenai meningitis, karena para dokter lebih suka melakukan pungsi lumbal pada anak yang benar-benar terlihat sakit.

Kelebihan
Kelebihan dari studi kami meliputi ukuran sampel yang besar, data pengelompokan umur, dan kualitas sampel urin. Lebih dari setengah sampel urin diambil dari aspirasi suprapubik atau kateterisasi, yang tidak rawan kontaminasi dibanding metode sampling yang lain

Kelemahan
Kelemahan studi kami adalah sifat retrospektif dari studi ini. Kami tidak menyingkirkan kemungkinan beberapa pasien yang sebelumnya mendapat antibiotic sebelum sampel CSS diambil. Oleh karena itu kultur CSS cenderung negative palsu, karena kami tidak mempunyai data mengenai kapan pungsi lumbal dilakukan dan kapan obat antibiotic pertama diberikan.

Kesimpulan
Identifikasi meningitis pada anak dengan ISK adalah penting, kegagalan pendeteksian infeksi SSP menyebabkan kegagalan pengobatan meningitis dengan konsekuensi jangka panjang yang berat.

Temuan kami menjelaskan risiko terjadinya meningitis pada bayi di bawah 1 bulan dengan ISK adalah tidak signifikan. Sebaliknya, anak di atas usia neonatal lebih sedikit berisiko, yang mengindikasikan pendekatan selektif terhadap pungsi lumbal lebih terjamin dibanding pendekatan universal.