P. 1
BAB-III

BAB-III

5.0

|Views: 3,207|Likes:
Dipublikasikan oleh darmonosumarlan
sejarah kehutanan papua
sejarah kehutanan papua

More info:

Published by: darmonosumarlan on Mar 22, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2014

pdf

text

original

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

BAB-III PERIODISASI PENGELOLAAN HUTAN
3.1. PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN DI INDONESIA Pengusahaan hutan produksi Indonesia mulai dilaksanakan pada tahun 1967-an bersamaan dengan dimulainya pembangunan nasional setelah terciptanya kondisi sosial politik yang stabil. Sumber daya hutan merupakan salah satu modal pembangunan yang sangat diperlukan pada saat itu, melalui devisa yang dihasilkan dari penjualan logs kayu yang dihasilkan dari pengusahaan hutan produksi. Untuk mendorong berkembangnya pengusahaan hutan pemerintah mengeluarkan UU No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing yang kemudian dilengkapi dengan UU No. 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri. Sebelumnya pemerintah mengeluarkan UU No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan perencanaan hutan, perlindungan hutan. 3.1.1. SISTEM HAK PENGUSAHAAN HUTAN Prosedur Perijinan HPH Pemberian hak pengusahaan hutan pertama kali diatur melalui SK Menteri Pertanian No 57/8/1967 tentang Syarat-syarat dan Cara Penyelesaian Permohonan HPH, yang diikuti dengan SK No 25/4/1968 tentang Pelimpahan Wewenang Penandatanganan Surat Keputusan Pemberian HPH kepada Direktur Jenderal Kehutanan. Pengusahaan hutan yang pada awalnya berupa hutan belantara dilaksanakan melalui pemberian konsesi berdasarkan permintaan. Penetapan areal hak pengusahaan hutan dilakukan secara top down, deliniasi areal hutan dilakukan di atas peta dengan batas-batas yang ditentukan secara kompromi, imajiner serta trial and error. Untuk menjamin kemantapan kawasan seluruh areal hutan yang dibebani konsesi ditetapkan sebagai kawasan hutan produksi melalui SK Menteri Pertanian No. 291/Kpts/UM/5/1970 tentang Penetapan Areal Kerja Pengusahaan Hutan sebagai Kawasan Hutan Produksi.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 1

Pokok

Kehutanan hutan,

yang

mengatur

mengenai hutan dan

pengurusan

pengusahaan

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Pengaturan lebih lanjut mengenai hak pengusahaan hutan ditetapkan melalui PP No. 21 Tahun 1970 tentang Hak Pengusahaan Hutan dan Hak Pemungutan Hasil Hutan sebagai penjabaran UU No. 5 Tahun 1967. Sesuai dengan peraturan pemerintah ini, pemberian hak pengusahaan hutan menjadi wewenang Menteri Pertanian. Keluarnya peraturan pemerintah ini juga dimaksudkan untuk menghindari terjadinya dualisme dalam pelaksanaan pemberian hak pengusahaan hutan dan hak pemungutan hasil hutan, dengan menghapus wewenang Pemerintah. Daerah memberikan ijin eksploitasi hutan sebagaimana diatur dalam PP No. 64 Tahun 1957. Hak Pengusahaan Hutan (HPH) adalah hak untuk mengusahakan hutan di dalam suatu kawasan hutan yang meliputi kegiatan-kegiatan penebangan kayu, permudaan dan pemeliharaan hutan, pengolahan dan pemasaran hasil hutan sesuai dengan Rencana Karya Pengusahaan Hutan menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku serta berdasar asas kelestarian hutan dan asas perusahaan. HPH dapat diberikan kepada perusahaan milik negara dan perusahaan swasta nasional, dengan jangka waktu paling lama 20 tahun dan dapat diperpanjang apabila tidak bertentangan dengan kepentingan umum. Luas areal hutan yang diberikan kepada pemohon hak pengusahaan hutan sesuai dengan Rencana Karya Pengusahaan Hutan dan target produksi yang diajukan oleh pemohon yang bersangkutan dan telah disyahkan oleh Menteri Kehutanan. Hak Pengusahaan Hutan diberikan oleh Menteri Kehutanan setelah mendapat rekomendasi dari Gubernur. Pemegang konsesi HPH selain berkewajiban untuk membayar beberapa jenis iuran seperti iuran hak pengusahaan hutan dan iuran hasil hutan serta iuran-iuran lainnya, juga diwajibkan untuk menyusun Rencana Karya Pengusahaan Hutan yang terdiri atas : 1) RKT yang harus diserahkan untuk disahkan paling lambat dua bulan sebelum penebangan dimulai, 2) RKL yang harus diserahkan untuk disahkan dalam waktu satu tahun setelah dikeluarkan Surat Keputusan Hak Pengusahaan Hutan, 3) RKPH yang meliputi seluruh jangka waktu pengusahaan hutan yang harus diserahkan untuk disahkan dalam waktu tiga tahun setelah dikeluarkan Surat Keputusan Hak Pengusahaan Hutan.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 2

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

SK Menteri Kehutanan No. 269/Kpts-II/1989 tentang Ketentuan Tatacara Pelaksanaan Permohonan Hak Pengusahaan Hutan dan Perpanjangan Hak Pengusahaan Hutan mengatur kembali prosedur perijinan untuk memperoleh hak pengusahaan hutan dengan mencabut SK Menteri Pertanian No. Kep. 57/8/1978, SK Dirjen Kehutanan No. 141/Kpts/Dj/I/1981, dan SK Menteri Kehutanan No. 027/Kpts-II/1988. SK Menteri Kehutanan No. 269/Kpts-II/1989 kemudian disempur-nakan melalui SK No. 204/Kpts-II/1990 dan No. 649/Kpts-II/1990, dan kemudian diganti dengan SK No. 236/Kpts-II/1995 tentang Tata Cara dan Persyaratan Permohonan Hak Pengusahaan Hutan. Sementara itu tata cara pembaruan hak pengusa-haan hutan yang sudah hampir habis masa konsesinya diatur melalui Keputusan Menteri Kehu-tanan dan Perkebunan No. 732/Kpts-II/1998 tentang Persyaratan dan Pembaruan Hak Pengusahaan Hutan. Sistem Silvikultur dalam Sistem HPH Sesuai dengan SK Direktur Jenderal Kehutanan No. 35/Kpts/DD/I/1972, sistem silvikultur yang digunakan dalam pengusahaan hutan adalah sistem TPI, THP dan THPA. Sistem silvikultur kemudian disempurnakan melalui SK Menteri Kehutanan No. 485/Kpts/1989 tentang Sistem Silvikultur Pengelolaan Hutan Alam Produksi di Indonesia, yang menetapkan bahwa sistem silvikultur yang dapat digunakan dalam pengusahaan hutan adalah sistem Silvikultur TPTI, THPA dan THPB. Sistem TPTI diatur lebih lanjut melalui SK Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan No. 564/Kpts/IV-BPHH/1989 tentang Pedoman Tebang Pilih Tanam Indonesia. Sistem TPI atau TPTI mensyaratkan bahwa penebangan hanya boleh dilaksanakan pada pohon dengan 50 cm ke atas pada Hutan Produksi Bebas dan diameter 60 cm ke atas pada Hutan Produksi Terbatas dengan menggunakan daur tebang 35 tahun. Melalui Keputusan Menteri Kehutanan 435/Kpts-II/1997 tentang Sistem Silvikultur dalam Pengelolaan Hutan Tanaman Industri, diterapkan sistem silvikultur baru dalam pengelolaan hutan tanaman industri yang disebut TTJ. Satu tahun kemudian sistim silvikultur TTJ mengalami penyempurnaan, yaitu menjadi TPTJ yang dapat diterapkan pada hutan alam, melalui Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 625/Kpts-II/1998 tentang Sistem Silvikultur TPTJ dalam Pengelolaan Hutan Produksi Alam.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 3

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Rencana Karya Pengusahaan Hutan Dengan kondisi kawasan hutan yang belum banyak diketahui dan adanya desakan untuk segera mengeluarkan kayu dalam hutan sebagai sumber devisa, pengusahaan hutan pada masa-masa awal dilakukan berdasarkan bagan kerja yang dibuat di atas peta dengan tidak mempertimbangkan kondisi di lapangan. Kewajiban penyusunan rencana kerja pengusahaan hutan dalam bentuk RKPH, RKL dan RKT diatur dalam PP No. 21 Tahun 1970, yang kemudian diikuti dengan keluarnya SK Direktur Jenderal Kehutanan No. 3516/A-2/DD/1970 tentang Pedoman Penyusunan RKPH. Kewajiban penyusunan RKPH dipertegas melalui Instruksi Menteri Pertanian No. 6/Ins/Um/5/1972 tentang Kewajiban Menyerahkan RKPH. Dengan pertimbangan bahwa keadaan pengusahaan hutan telah

memungkinkan untuk disusunnya RKPH yang meliputi seluruh jangka waktu pengusahaan, dan pentingnya fungsi RKPH dalam pelaksanaan pengusa-haan hutan secara lestari, Pemerintah mewajibkan penyusunan RKPH yang meliputi seluruh jangka waktu pengusahaan hutan melalui SK Menteri Kehutanan No. 274/Kpts-II/1989 tentang Kewajiban Pemegang Hak Pengusahaan Hutan untuk Membuat RKPH yang Meliputi Seluruh Jangka Waktu Pengusahaan Hutan. Sebagai tindak lanjut dari keputusan tersebut kemudian dikeluarkan SK Menteri Kehutanan No. 114/KptsII/1992 tentang Rencana RKL dan RKT Pengusahaan Hutan, yang mewajibkan pemegang HPH untuk menyusun RKL dan RKT sebagai dasar pelaksanaan kegiatan pengusahaan hutan berdasarkan asas kelestarian dan asas perusahaan. Rencana Karya Lima Tahun Pengusahaan Hutan (RKLPH) disusun oleh pemegang HPH berdasarkan : RKPH yang meliputi jangka waktu seluruh pengusahaan hutan yang telah disahkan, atau usulan RKPH yang telah diserahkan kepada Departemen Kehutanan, hasil cacah pohon (cruising) atas blok RKLPH yang bersangkutan, dan potret udara (mosaik) skala 1 : 50.000 atau 1 : 100.000. Sementara RKTPH disusun oleh pemegang HPH berdasarkan RKLPH yang telah disahkan, atau usulan RKLPH yang telah diserahkan kepada Departemen Kehutanan dan hasil cacah pohon (cruising) atas blok RKLPH yang bersangkutan.

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 4

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Kriteria penetapan luas tebangan tahunan atau Etat Luas dilakukan berdasar sistem silvikultur yang diterapkan. Perhitungan Etat tebangan hutan produksi alam menurut SK Direktur Jenderal Inventarisasi dan Tataguna Hutan No.154/Kpts/VII-3/1994 dibedakan antara Etat tebangan tahunan untuk HPH baru, addendum SK HPH, dan Etat tebangan tahunan untuk perpanjangan SK HPH. Etat tebangan selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam pembagian petak-petak RKT. Luas masing-masing petak RKT diusahakan seragam mendekati nilai Etat tebangan, dengan batas petak RKT sedapat mungkin mengikuti batas alam seperti sungai, jalan dan kelerengan lahan. Pada periode ini persoalan ekologi dan sosial sudah mulai menjadi faktor yang harus diperhatikan dalam pengusahaan hutan. Dalam pelaksanaannya aspek ekonomi, ekologi dan sosial masih terpisah dan dilaksanakan sendiri-sendiri baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaan di lapangan. Perencanaan pada aspek ekonomi diwujudkan melalui penyusunan RKPH termasuk di dalamnya RKLPH dan RKTPH, aspek ekologi atau pengelolaan lingkungan diwujudkan dalam bentuk penyusunan dokumen AMDAL, dan aspek sosial budaya diwujudkan dengan penyusunan dokumen PMDH. 3.1.2 SISTEM HAK PENGUSAHAAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI Prosedur Perijinan HPHTI Pembangunan hutan tanaman industri pada awalnya diatur melalui SK Menteri Kehutanan No. 320/Kpts-II/1986 dengan tujuan untuk menunjang pertumbuhan industri hasil hutan melalui penyediaan bahan baku industri hasil hutan dalam jumlah dan kualitas yang memadai dan berkesinambungan. Tata cara pemberian hak pengusahaan hutan tanaman industri diatur dalam SK Menteri Kehutanan No. 417/Kpts-II/1989 tentang Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri. Sifat usaha HTI bersifat jangka panjang dengan resiko yang cukup tinggi sehingga diperlukan pengelolaan yang profesional dan modal yang cukup besar. Untuk memberikan landasan hukum bagi kepastian usaha HTI, pemerintah memandang perlu untuk mengatur pemberian hak pengusahaan HTI dalam bentuk peraturan pemerintah. Untuk keperluan tersebut dikeluarkan PP No. 7 Tahun 1990 tentang Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri. Sejalan dengan hal itu Menteri Kehutanan kemudian mengeluarkan SK No. 417/Kpts-II/1993 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Kehutanan No. 417/Kpts-II/1989.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 5

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Hutan tanaman industri adalah hutan tanaman yang dibangun dalam rangka meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur intensif untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri hasil hutan. Areal hutan yang dapat diusahakan sebagai areal HTI adalah kawasan hutan produksi tetap (HP) yang tidak produktif. Luas areal setiap unit HTI diatur sebagai berikut : untuk mendukung industri pulp ditetapkan seluas-luasnya 300.000 ha, dan untuk mendukung industri kayu pertukangan atau industri lainnya ditetapkan seluas-luasnya 60.000 ha. Pengusahaan HTI ditujukan untuk menunjang pengembangan industri hasil hutan dalam negeri guna meningkatkan nilai tambah, meningkatkan produktivitas lahan dan kualitas lingkungan, serta memperluas lapangan kerja dan lapangan usaha. HPHTI dapat diberikan kepada badan usaha negara, swasta dan koperasi selama 35 tahun ditambah daur tanaman pokok yang diusahakan. Prosedur pemberian HPHTI diatur melalui SK Menteri Kehutanan No. 228/Kpts-II/1989 tentang Tatacara dan Persyaratan Permohonan Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri, kemudian berturut-turut disempurnakan melalui SK No. 684/Kpts-II/1992 dan SK No. 358/KptsII/1993 tentang Tata Cara dan Persyaratan Permohonan HPHTI. Permohonan HPHTI diajukan oleh pemohon kepada Menteri Kehutanan dengan dilengkapi : 1) potret udara skala 1 : 20.000 atau citra landsat skala 1 : 100.000, 2) rekomendasi Gubernur, 3) usulan proyek, 4) akte pendirian perusahaan dan perubahannya, 5) neraca keuangan perusahaan, dan 6) nomor pokok wajib pajak atau NPWP. Areal yang dapat dimohon untuk areal HPHTI adalah kawasan hutan produksi tetap dan atau areal hutan yang akan ditetapkan sebagai kawasan hutan produksi tetap yang tidak produktif dan dan tidak dibebani hak-hak lain. Sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No. 435/Kpts-II/1997 tentang Silvikultur dalam Pengelolaan Hutan Tanaman Industri, sistem silvikultur yang diterapkan dalam pengelolaan HTI pada dasarnya adalah tebang habis dengan penanaman kembali. Untuk jenis tanaman pokok dimana sistem tebang habis tidak dapat diterapkan sepenuhnya maka dapat digunakan sistem lain yang sesuai, yaitu Sistem Tebang dan Tanam Jalur (line planting) dengan berbagai modifikasi.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 6

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Penataan Ruang Areal HPHTI Penataan areal hutan tanaman industri dimaksudkan untuk menjamin terlaksananya pembangunan HTI secara lestari, dilaksanakan dengan memperhatikan aspek-aspek kepastian lahan, sumber daya hutan, kontinuitas produksi hasil hutan, konservasi, sosial ekonomi, dan industri. Penataan areal HTI diatur melalui SK Menteri Kehutanan No. 70/KptsII/1995 tentang Tata Ruang HTI, yang membagi areal HTI menurut peruntukannya menjadi lima jenis areal yaitu : areal tanaman pokok, areal tanaman unggulan, areal tanaman kehidupan, areal konservasi, serta areal sarana dan prasarana. Areal tanaman pokok adalah areal dimana ditanam tanaman untuk tujuan produksi hasil hutan berupa kayu pertukangan, kayu serat, atau kayu energi. Areal tanaman pokok diletakkan pada areal dengan kelerengan 0 s/d 25 % dengan lokasi penanaman di luar areal konservasi, areal tanaman unggulan, areal tanaman kehidupan dan di luar areal sarana prasarana. Luas areal tanaman pokok ditetapkan ± 70 % dari suatu unit areal HTI, dalam peta tata ruang HTI areal tanaman pokok diberi warna kuning. Areal tanaman unggulan merupakan areal dimana ditanam tanaman jenis asli di daerah yang bersangkutan yang mempunyai nilai perdagangan (niagawi) tinggi. Areal tanaman unggulan diletakkan pada batas blok, batas petak dan batas luar areal HTI yang tidak berbatasan dengan permukiman penduduk. Luas areal tanaman unggulan ditetapkan ± 10 % dari suatu unit areal HTI, dalam peta tata ruang HTI areal tanaman unggulan diberi warna biru. Areal tanaman kehidupan adalah areal dimana ditanam tanaman tahunan atau pohon yang menghasilkan hasil hutan bukan kayu yang bermanfaat bagi masyarakat. Areal tanaman kehidupan diletakkan pada batas luar areal HTI yang berbatasan dengan permukiman penduduk (sebagai buffer zone) berfungai sebagai pengamanan melalui fungsi sosial ekonomi. Luas areal tanaman kehidupan ditetapkan ± 5 % dari suatu unit areal HTI, dalam peta tata ruang HTI areal tanaman kehidupan diberi warna hijau. Areal konservasi merupakan areal yang dilindungi dalam rangka perlindungan dan pemeliharaan sumber daya alam. Areal konservasi diletakkan pada kawasan bergambut, kawasan resapan air, sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar waduk atau danau, sekitar mata air, dan sekitar pantai berhutan bakau. Luas areal konservasi ditetapkan ± 10 % dari suatu unit areal HTI, dalam peta tata ruang HTI areal konservasi diberi warna merah.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 7

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Areal sarana prasarana diperuntukkan sebagai areal base camp, jalan utama, jalan cabang, jalan inspeksi/permukiman, dan sekat bakar. Luas areal sarana prasarana ditetapkan ± 5 % dari suatu unit areal HTI, dalam peta tata ruang HTI areal sarana prsarana diberi warna coklat. Penyusunan tata ruang HTI menjadi tanggung jawab pemohon hak pengusahaan HTI, dalam pelaksanaannya harus didasarkan pada hasil telaahan detail fisik lapangan, citra landsat/potret udara, peta topografi, dan peta tanah. Data penunjang yang diperlukan diantaranya adalah data iklim, flora dan fauna, sosial ekonomi penduduk di sekitar areal HTI, hidroorologis dan peruntukan kawasan hutan, topografi, jenis tanah dan kondisi areal. Penataan areal HTI lebih lanjut dalam bentuk kompartemen-kompartemen mulai dari blok kegiatan, petak, dan anak petak diatur melalui SK Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan No. 221/Kpts/IV-BPH/1997 tentang Pedoman Kompartemenisasi HTI. Kompartemenisasi atau pembuatan petak-petak akan sangat membantu dalam pengelolaan hutan secara intensif, dengan adanya tanda-tanda pal batas yang jelas akan memantapkan kawasan hutan, dan juga akan memudahkan pekerjaan administrasi dan penyusunan program-program kegiatan. Pembentukan kompartemen diawali dengan pembagian kawasan hutan tanaman industri ke dalam unit wilayah pengelolaan. Satu unit wilayah pengelolaan hutan tanaman industri dibagi ke dalam wilayah yang lebih kecil yaitu blok kegiatan. Blok kegiatan dibagi ke dalam wilayah yang lebih kecil disebut petak, dan petak dibagi ke dalam wilayah yang lebih kecil lagi disebut anak petak. Pembentukan kompartemen dilaksanakan sebelum kegiatan penanaman. Blok kegiatan yang satu dengan yang lain dipisahkan oleh alur induk atau jalan utama yang bersifat permanen dengan lebar kurang lebih 7 (tujuh) meter yang bertujuan untuk jalur utama kegiatan. Alur induk diberi nama dengan satu huruf, dimulai dari huruf A pada tiap-tiap blok kegiatan. Petak dengan petak yang lain dibatasi oleh alur cabang atau jalan cabang/jalan hutan dengan lebar kurang lebih 4 (empat) meter yang bersifat permanen. Alur cabang diberi nama dengan dua huruf mengikuti alur induknya, misalnya AA, AB dan seterusnya.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 8

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Bentuk kompartemen atau petak tidak harus bujur sangkar atau persegi, tetapi dapat mengikuti topografi lapangan atau batas-batas alam. Luas kompartemen atau petak ditetapkan seluas ± 25 ha untuk pelaksanaan HTI dengan sistem THPB dan seluas 25 –100 ha untuk HTI dengan sistem TPTJ. Bagian dari petak atau anak petak luasannya dapat mengikuti topografi lapangan, jenis dan keadaan tanah, dan jenis tanaman yang diusahakan. Rencana Karya Pengusahaan Hutan Tanaman Industri Pasal 12 PP No. 7 Tahun 1990 mewajibkan pemegang HPHTI membuat rencana karya pengusahaan HTI, sebagai penjabaran lebih lanjut Menteri Kehutanan mengeluarkan Keputusan No. 335/Kpts-II/1997 tentang Rencana Karya Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (RKPHTI). RKPHTI dibuat untuk jangka waktu pengusahaan sesuai dengan keputusan HPHTI yang telah ditetapkan, dan harus sudah disahkan selambat-lambatnya dalam jangka waktu 18 bulan terhitung sejak tanggal keputusan pemberian HPHTI diterbitkan oleh Menteri Kehutanan. RKPHTI setidak-tidaknya harus memuat aspek teknis, aspek finansial dan aspek sosial budaya masyarakat Pengusahaan sekitar areal Hutan No. HTI serta aspek lingkungan. tentang Pedoman Pedoman penyusunan RKPHTI lebih lanjut diatur dalam SK Direktur Jenderal 240/Kpts-IV-PPH/97 Penyusunan Penilaian dan Pengesahan RKPHTI. Secara umum isi dari RKPHTI adalah sebagai berikut : 1) Pendahuluan; berisi latar belakang pembangunan HTI, tujuan dan sasaran perusahaan dalam pembangunan HTI, sejarah pengelolaan dan realisasi kegiatan, 2) Data Pokok; berisi mengenai letak, luas dan keadaan areal termasuk di dalamnya data mengenai penutupan vegetasi, topografi, tanah dan geologi, iklim, hidrologi, aksesibilitas, serta data mengenai sosial ekonomi budaya masyarakat, 3) Sistem Silvikultur; berisi uraian secara lengkap sistematis sistem silvikultur yang akan digunakan yaitu THPB atau TPTJ atau sistem silvikultur lain sesuai dengan kondisi areal HTI, 4) Prospek Pengusahaan Hutan Tanaman Industri; berisi prospek permintaan dan penawaran industri hasil hutan yang bahan bakunya dipasok dari areal HTI tersebut, prospek pemilihan kelas perusahaan HTI, dan prospek pengusahaan HTI, 5) Rencana Pengusahaan Hutan Tanaman Industri; berisi rencana penataan dan pengukuhan batas, rencana penataan areal
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 9

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

(kompartemenisasi), rencana pembukaan wilayah hutan, rencana persemaian dan pembibitan, rencana penanaman, rencana pemeliharaan tanaman, rencana pengaturan produksi hasil hutan, rencana pemanfaatan hasil hutan, rencana perlindungan dan pengamanan hutan, rencana PMDH, rencana penelitian dan pengembangan, rencana organisasi, rencana pengembangan sumber daya manusia, dan rencana investasi, 6) Rencana Pembiayaan dan Pendapatan; berisi mengenai rencana pendanaan, rencana pengeluaran, dan rencana pendapatan, 7) Rencana Kontribusi Terhadap Pembangunan Daerah; berisi uraian tentang rencana kesempatan kerja dan kesempatan berusaha serta rencana kontribusi terhadap PDRB, dan 8) Penutup; menguraikan bahwa RKPHTI merupakan manajemen plan. 3.1.3. SISTEM HAK PENGUSAHAAN HUTAN ALAM DAN HUTAN TANAMAN Hak Pengusahaan Hutan Alam dan Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Sejalan dengan terjadinya reformasi di segala bidang, mulai muncul desakan untuk lebih mendorong pemberdayaan ekonomi rakyat pada umumnya dan masyarakat di sekitar dan di dalam hutan pada khususnya, antara lain melalui peningkatan peran koperasi, usaha kecil dan menengah pada usaha kehutanan. Sementara itu muncul kesadaran bahwa PP No. 21 Tahun 1970 tentang Hak Pengusahaan Hutan dan Hak Pemungutan Hasil Hutan jo. PP No. 18 Tahun 1975 dan PP No. 7 Tahun 1990 tentang Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri dipandang tidak sesuai lagi dengan perkembangan pembangunan kehutanan. Menyikapi hal tersebut Pemerintah mengeluarkan PP No. 6 Tahun 1999 tentang Pengusahaan Hutan dan Pemungutan Hasil Hutan Pada Hutan Produksi, yang sekaligus mencabut PP No. 21 Tahun 1970 jo No. 18 Tahun 1975 dan PP No. 7 Tahun 1970. PP No. 6 Tahun 1999 sudah mulai mengarah pada pengelolaan hutan produksi secara lestari, hal ini dapat dilihat pada penetapan tujuan pengusahaan hutan dan pemungutan hasil hutan (Pasal 3) yaitu mewujudkan keberadaan sumberdaya hutan yang berkualitas tinggi, memperoleh manfaat ekonomi, sosial dan ekologi yang maksimum dan lestari, serta menjamin distribusi manfaatnya secara adil dan merata, khususnya terhadap masyarakat yang tinggal di dalam dan atau di sekitar hutan.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 10

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Hak pengusahaan hutan pada hutan produksi dapat berbentuk Hak Pengusahaan Hutan Alam dan Hak Pengusahaan Hutan Tanaman yang diberikan melalui penawaran dalam pelelangan, untuk luas areal dibawah 50.000 (lima puluh ribu) hektar dapat diberikan hak pengusahaan hutan dengan cara permohonan. Ketentuan luas maksimal hak pengusahaan hutan diatur sebagai berikut : 1) untuk satu Propinsi setiap pemegang hak maksimal seluas 100.000 (seratus ribu) hektar, 2) untuk seluruh Indonesia setiap pemegang hak maksimal seluas 400.000 (empat ratus ribu) hektar, 3) khusus untuk Propinsi Irian Jaya setiap pemegang hak maksimal seluas 200.000 (dua ratus ribu) hektar. Ketentuan luas maksimal hak pengusahaan hutan tersebut berlaku untuk satu perusahaan dengan groupnya. Hak pengusahaan hutan alam dapat diberikan kepada BUMN, BUMD, Perusahaan Swasta Nasional dan Koperasi, sedangkan hak pengusahaan hutan tanaman dapat diberikan kepada BUMN, BUMD, Perusahaan Swasta Nasional dan Koperasi, serta Perusahaan Swasta Asing yang berbentuk perseroan terbatas yang berbadan hukum Indonesia. Hak pengusahaan hutan diberikan oleh Menteri dengan mempertimbangkan pendapat dari Gubernur, pemberian hak pengusahaan hutan untuk luas areal dibawah 10.000 (sepuluh ribu) hektar dapat dilimpahkan kewenangannya kepada Gubernur. Hak pengusahaan hutan yang telah diberikan bukan merupakan kepemilikan hak atas lahan hutan yang dibebani hak tersebut. Jangka waktu hak pengusahaan hutan alam paling lama 20 tahun ditambah daur tanaman pokok dan hak pengusahaan hutan tanaman diberikan untuk jangka waktu paling lama 35 (tiga puluh lima) tahun ditambah daur tanaman pokok. Prosedur Perijinan Hak Pengusahaan Hutan Alam dan Hutan Tanaman Sebagai penjabaran lebih lanjut dari PP No. 6 Tahun 1999 Menteri Kehutanan dan Perkebunan mengeluarkan SK No. 312/Kpts-II/1999 tentang Tata Cara Pemberian Hak Pengusahaan Hutan Melalui Permohonan dan No. 313/Kpts-II/1999 tentang Tata Cara Penawaran dalam Pelelangan Hak Pengusahaan Hutan. Hak pengusahaan hutan yang dapat diperoleh melalui permohonan adalah hak pengusahaan hutan dengan luas areal 10.000 s/d di bawah 50.000 ha. Pemohon yang dapat mengajukan meliputi koperasi yang beranggotakan masyarakat setempat atau bergerak di bidang pengusahaan hutan serta pengusaha kecil dan menengah atau perusahaan swasta nasional yang berbentuk perseroan terbatas.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 11

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Permohonan hak pengusahaan hutan disampaikan kepada Menteri Kehutanan dan Perkebunan dengan melampirkan : citra satelit tidak lebih dari dua tahun, rekomendasi Gubernur, usulan proyek, akte pendirian perusahaan, neraca keuangan perusahaan, nomor pokok wajib pajak, dan surat pernyataan tidak akan menjual hak pengusahaan hutannya kepada pihak lain tanpa persetujuan Menteri Kehutanan dan Perkebuanan. Permohonan hak pengusahaan hutan dengan luas di bawah 10.000 ha diajukan kepada Gubernur dengan dilengkapi : rekomendasi areal dari Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehutanan dan Perkebunan, usulan proyek, neraca keuangan perusahaan/koperasi, akte pendirian perusahaan dan persyaratan lain yang ditetapkan Gubernur. Pemberian hak pengusahaan hutan dengan luas areal 50.000 s/d 100.000 ha, dilakukan melalui penawaran dalam pelelangan. Pelelangan dilakukan secara terbuka, penyelenggaraannya diumumkan secara luas melalui media massa baik elektronik maupun media cetak, sehingga masyarakat luas atau pengusaha yang berminat dapat mengikutinya. Kriteria hutan produksi yang dapat dilelang untuk Hak Pengusahaan Hutan Alam adalah : 1) luas hutan 50.000 s/d 100.000 ha, 2) tidak dibebani hak, 3) tersedia potret udara skala 1 : 20.000 atau Citra Landsat TM 5 band 542 skala 1 : 100.000 berumur kurang dari dua tahun saat pelelangan, 4) dapat dikembangkan aksesibilitasnya, dan 5) berpotensi layak untuk diusahakan. Untuk pelelangan Hak Pengusahaan HTI kriterianya sama kecuali untuk nomor 5), yang dapat dilelang adalah kawasan hutan produksi tetap yang tidak produktif. Peserta pelelangan diberi kesempatan mengamati areal hutan produksi yang akan dilelang secara langsung di lapangan dan atau berdasarkan peta tematik, potret udara atau citra landsat dengan seluruh biaya ditanggung oleh peserta lelang. Tata cara pembaharuan HPH yang hampir habis disempurnakan melalui SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 307/Kpts-II/1999 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pembaharuan Hak Pengusahaan Hutan. Hak pengusahaan hutan yang dapat diperbaharui adalah HPH dengan luas maksimal 100.000 ha dalam satu propinsi kecuali Propinsi Irian Jaya maksimal seluas 200.000 ha dan untuk seluruh Indonesia maksimal 400.000 ha untuk satu perusahaan yang mandiri atau tergabung dalam group.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 12

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Permohonan pembaharuan HPH dilengkapi kelengkapan persyaratan administrasi dan teknis diajukan oleh pimpinan perusahaan pemegang HPH kepada Menteri Kehutanan dan Perkebunan, dalam jangka waktu secepat-cepatnya 5 (lima) tahun dan selambat-lambatnya 2 (dua) tahun sebelum berakhirnya SK HPH. Permohonan pembaharuan HPH yang diajukan melewati dua tahun sebelum HPH berakhir, dianggap tidak mengajukan permohonan dan tidak dilayani permohonannya oleh Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Sistem Silvikultur dalam Sistem HPH - Alam dan Hutan Tanaman Sesuai dengan Pasal 15 dan 16 PP No. 6 Tahun 1999, penetapan daur tanaman pokok dan sistem silvikultur yang diterapkan dalam pengusahaan hutan produksi ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang kehutanan. Untuk keperluan tersebut Menteri Kehutanan dan Perkebunan mengeluarkan SK No. 309/Kpts-II/1999 tentang Sistem Silvikultur dan Daur Tanaman Pokok dalam Pengelolaan Hutan Produksi. Sistem silvikultur yang dapat diterapkan dalam pengusahaan hutan alam dan hutan tanaman menurut keputusan ini adalah TPTI, THPB, THPA dan TPTJ. Penentuan sistem silvikultur didasarkan pada hasil risalah hutan serta lokasi dan jenis tanaman yang dikembangkan. Pelaksanaan sistem silvikultur tersebut disusun dalam Rencana Karya Pengusahaan Hutan. Dalam melaksanakan sistem silvikultur pada pembangunan hutan alam dan hutan tanaman, masyarakat di sekitar atau di dalam hutan dapat melaksanakan tumpangsari, dengan syarat tidak boleh mengganggu tanaman pokok kehutanan. Daur untuk hutan alam ditetapkan berdasarkan siklus tebangan, dan daur untuk hutan tanaman ditetapkan berdasarkan umur masak tebang tanaman pokok. Siklus tebangan dalam pengelolaan hutan alam darat/tanah kering dengan sistem silvikultur TPTI adalah 35 tahun, untuk pemanenan kayu diameter 50 cm ke atas pada kawasan hutan produksi tetap dan 60 cm ke atas pada kawasan hutan produksi terbatas. Untuk pengelolaan hutan alam rawa dengan sistem silvikultur TPTI siklus tebangannya adalah 40 tahun, untuk pemanenan kayu diameter 40 cm ke atas. Siklus tebangan dalam pengelolaan hutan alam payau/mangrove adalah 20 tahun untuk tujuan menghasilkan kayu arang, untuk pemanenan kayu diameter 10 cm ke atas.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 13

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Umur masak tebang tanaman pokok dalam pengelolaan hutan tanaman ditetapkan berdasarkan kelas perusahaan atau jenis tanaman pokok dan tujuan akhir pengelolaan (kayu serat atau kayu perkakas). Penetapan umur masa tebang hutan tanaman didasarkan pada studi kelayakan yang diperhitungkan berdasarkan pertimbangan daur ekonomis dan atau daur hasil yang maksimal. Rencana Karya Pengusahaan Hutan Sesuai dengan Pasal 19 PP No. 6 Tahun 1999, pemegang Hak Pengusahaan Hutan diwajibkan untuk membuat Rencana Karya Pengusahaan Hutan, Rencana Karya Lima Tahun, dan Rencana Karya Tahunan atau Bagan Kerja Pengusahaan Hutan, sebagai dasar pelaksanaan kegiatan pengusahaan hutan berdasarkan asas kelestarian dan asas perusahaan. Sebagai penjabaran lebih lanjut Menteri Kehutanan mengeluarkan SK No. 314/Kpts-II/1999 tentang Rencana Karya Pengusahaan Hutan, Rencana Karya Lima Tahun dan Rencana Karya Tahunan atau Bagan Kerja Pengusahaan Hutan, keputusan ini juga mencabut Keputusan Menteri Kehutanan No. 274/Kpts-II/1989 dan No. 114/Kpts-II/1992. RKPH merupakan rencana kerja pengusahaan hutan yang memuat pedoman arahan serta berisi filosofi perusahaan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, disusun untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun oleh pemegang HPH berdasarkan tujuan dan sasaran perusahaan serta disesuaikan dengan potensi tegakan yang ada, dengan dilampiri peta hasil penafsiran potret udara (skala 1 : 50.000 atau 1 : 100.000) atau citra landsat berumur 2 (dua) tahun terakhir (skala 1 : 100.000). RKPH memuat garis besar rencana kegiatan pengusahaan hutan, untuk hutan alam meliputi kegiatan penebangan kayu, permudaan dan pemeliharaan hutan, pengolahan dan pemasaran hasil hutan, serta pengamanan dan perlindungan hutan. RKPH hutan tanaman memuat kegiatan penanaman, pemeliharaan, pemungutan hasil hutan, pengolahan dan pemasaran hasil hutan serta pengamanan dan perlindungan hutan. RKLPH merupakan rencana kerja dengan jangka waktu lima tahun dan merupakan penjabaran dari RKPH. RKLPH disusun oleh pemegang HPH berdasarkan RKPH yang telah disahkan atau usulan RKPH yang telah diserahkan kepada Menteri Kehutanan dan Perkebunan, hasil cacah pohon (cruising) atas blok RKPLPH yang bersangkutan dan potret udara (mosaik) atau citra landsat skala 1 : 50.000 atau 1 : 100.000 dan peta penafsirannya.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 14

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

RKTPH merupakan rencana kerja dengan jangka waktu satu tahun dan merupakan penjabaran dari RKLPH. RKTPH disusun oleh pemegang HPH berdasarkan RKLPH yang telah disahkan atau usulan RKLPH yang telah diserahkan kepada Menteri Kehutanan dan Perkebunan cq. Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan Produksi. Untuk pengusahaan hutan alam, RKTPH harus memuat hal-hal sebagai berikut : rencana penataan areal, pembukaan wilayah hutan, penebangan kayu, permudaan, pemeliharaan hutan, pemanfaatan, pengolahan dan pemasaran hasil hutan, pengamanan dan perlindungan hutan, sarana dan prasaran, organisasi dan ketenagakerjaan, pendidikan dan pelatihan, pembinaan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan, penelitian dan pengembangan, serta pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Untuk pengusahaan hutan tanaman, RKTPH harus memuat : rencana penataan areal, pembukaan wilayah hutan, penyiapan lahan (land clearing), penanaman, pemeliharaan, pemungutan hasil, pengamanan dan perlindungan hutan, pengolahan dan pemasaran hasil hutan, sarana dan prasarana, organisasi dan ketenagakerjaan, pendidikan dan pelatihan, pembinaan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan, penelitian dan pengembangan, serta pengelolaan dan pemantauan lingkungan. BKTPH merupakan rencana kerja satu tahun, disusun oleh pemegang HPH yang belum memiliki RKTPH atau belum menyampaikan usulan RKLPH, berdasarkan proposal project yang telah diserahkan kepada Menteri Kehutanan dan Perkebunan. BKTPH selambat-lambatnya sudah harus diserahkan 30 hari sejak ditetapkannya Surat Keputusan Hak Pengusahaan Hutan. Isi dari BKTPH hampir sama dengan isi dari RKTPH baik untuk pengusahaan hutan alam maupun untuk pengusahaan hutan tanaman, yaitu berisi mengenai tujuan dan sasaran serta rencana kegiatan-kegiatan pengusahaan hutan yang akan dilakukan seperti pada RKTPH. Dilihat dari muatan yang harus ada dalam RKPTH, terlihat bahwa sudah mulai muncul kesadaran perlunya pengusahaan hutan produksi secara lestari dengan memasukkan aspek ekonomi, ekologi dan sosial dalam pengusahaan hutan. Meskipun dalam pelaksanaannya masih berjalan sendiri-sendiri dan belum benar-benar terintegrasi, namun hal ini menunjukkan sudah mulai muncul upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan yang selama ini belum menikmati manfaat dari kegiatan pengusahaan hutan, dengan tetap menjaga kelestarian fungsi lingkungan kawasan hutan produksi.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 15

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

3.1.4. SISTEM IJIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU Prosedur Pemberian Ijin Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Lahirnya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah memberikan otonomi yang lebih besar kepada pemerintah daerah. Otonomi tersebut memberikan kewenangan daerah yang meliputi seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan bidang lain, termasuk di dalamnya adalah kewenangan dalam pendayagunaan sumberdaya alam (termasuk hutan). Keinginan daerah untuk lebih terlibat dalam pengelolaan sumber daya hutan ditanggapi pemerintah dengan keluarnya SK Menteri Kehutanan No. 05-1/Kpts-II/2000 Hutan tentang Kriteria dan Standar Perizinan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan dan Perizinan Pemungutan Hasil Hutan Pada Produksi Alam. Berdasarkan keputusan ini Gubernur dan Bupati/Walikota diberikan wewenang dalam proses pemberian perijinan pemanfaatan dan pemungutan hasil hutan dalam bentuk IUPHHK. Bupati/Walikota mempunyai kewenangan untuk memberikan perijinan IUPHHK sepanjang areal hutan produksi yang akan diusahakan masih dalam satu kabupaten atau kota yang menjadi wilayah kerjanya, jika areal yang dimohon mencakup dua atau lebih wilayah kabupaten/kota maka kewenangan ada pada Gubernur, dan apabila areal yang dimohon meliputi dua atau lebih wilayah propinsi maka kewenangan ada pada Menteri Kehutanan atau pemerintah pusat. UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagai penyempurnaan UU No. 5 Tahun 1967, memberikan perubahan paradigma baru dalam pemanfaatan sumber daya hutan. Perubahan tersebut ditandai dengan terjadinya perubahan nomenklatur dari pengusahaan hutan menjadi pengelolaan hutan. Perubahan nomenklatur ini mengandung konsekuensi bahwa pemanfaatan kawasan hutan produksi lebih menekankan pada pengelolaan yang lebih mengutamakan kelestarian fungsi kawasan hutan produksi, selain pemanfaatan hasil hutan kayu dan non kayu pada hutan produksi juga dilakukan pemanfaatan kawasan, jasa lingkungan, serta pemungutan hasil hutan kayu dan non kayu.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 16

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Sebagai penjabaran UU No. 41 Tahun 1999, dikeluarkan PP No. 34 tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan. Berdasarkan peraturan pemerintah ini kewenangan pemberian hak pengusahaan hutan dalam bentuk ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan alam dan hutan tanaman dipegang oleh Menteri Kehutanan berdasarkan rekomendasi Bupati/Walikota dan Gubernur. Sebagai konsekuensi adanya pengaturan ini, Menteri Kehutanan mengeluarkan SK No. 541/Kpts-II/2002 yang mencabut SK Menteri Kehutanan No. 05-1/Kpts-II/2000. Pemberian ijin usaha pemanfaatan kawasan, ijin usaha pemungutan hasil hutan kayu dan non kayu, ijin usaha jasa lingkungan, ijin usaha pemanfaatan hasil hutan bukan kayu pada hutan alam, dan ijin usaha pemanfaatan hasil hutan bukan kayu pada hutan tanaman, menjadi kewenangan Bupati/Walikota jika berada di dalam satu wilayah kabupaten/kota, menjadi kewenangan Gubernur jika berada di lintas wilayah kabupaten/kota dalam satu propinsi, dan menjadi wewenang Menteri jika berada pada lintas propinsi. Sistem Silvikultur dan RKPH dalam Sistem IUPHHK Dengan pertimbangan bahwa berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan sistem silvikultur Tebang Habis dengan Permudaan Alam dan Tebang Pilih Tanam Jalur dianggap tidak dapat diterapkan sebagaimana yang diharapkan, Menteri Kehutanan melalui SK No. 10172/Kpts-II/2002 tentang Perubahan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 309/Kpts-II/1999 tanggal 7 Mei 1999 tentang Sistem Silvikultur dan Daur Tanaman Pokok dalam Pengelolaan Hutan Produksi, menetapkan bahwa pengelolaan hutan produksi Indonesia dilakukan dengan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia dan Tebang Habis dengan Permudaan Buatan. Dengan telah majunya pengetahuan dan teknologi dalam pengelolaan hutan, kondisi fisik kawasan hutan yang beragam dan banyaknya kawasan hutan yang rusak atau bervegetasi kurang, seharusnya tidak dilakukan pembatasan sistem silvikultur yang digunakan dalam pengelolaan hutan produksi. Penentuan sistem silvikultur yang akan digunakan dalam pengelolaan hutan produksi seharusnya disesuaikan dengan kondisi kawasan hutan yang bersangkutan.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 17

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Penyusunan rencana kerja usaha pemanfaatan hasil hutan kayu diatur dalam Keputusan Menteri Kehutanan No. 16/kpts-II/2003 tentang Rencana Kerja, Rencana Kerja Lima Tahun, Rencana Kerja Tahunan dan Bagan Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Alam. Penyusunan rencana kerja, RKL, RKT, dan BKT usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan alam bertujuan dalam rangka pemanfaatan hutan alam produksi secara lestari. Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu disusun oleh pemegang IUPHHK, diajukan atau diusulkan jeoada Menteri Kehutanan selambat-lambatnya 1 (satu) tahun setelah Keputusan IUPHHK pada hutan alam diberikan. RKUPHHK disusun berdasarkan : 1) peta areal kerja sesuai keputusan IUPHHK, 2) peta kawasan hutan dan perairan propinsi atau peta tata ruang wilayah propinsi, 3) potensi tegakan berdasarkan cruising dengan intensitas 1 % pada seluruh areal kerja IUPHHK, 4) peta hasil penafsiran potret udara atau citra satelit (skala 1 : 50.000 atau 1 : 100.000) berumur maksimal 2 (dua) tahun terakhir, 5) kondisi sosial ekonomi masyarakat yang berdomisili dalam hutan areal kerja IUPHHK. Usulan RKUPHHK pada hutan alam yang disusun oleh pemegang IUPHHK harus memuat garis besar rencana kegiatan meliputi : penataan areal kerja, penebangan, pembinaan hutan, pengolahan dan pemasaran hasil hutan, pengorganisasian pemanfaatan hutan, pemberdayaan masyarakat desa hutan, perlindungan dan pengamanan hutan, penelitian dan pengembangan, serta pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Usulan Rencana Kerja Lima Tahun Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu disusun oleh pemegang IUPHHK selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sejak RKUPHHK disahkan, dan harus memuat garis besar rencana kegiatan yang meliputi : tata batas areal kerja, penataan areal, inventarisasi tegakan sebelum dan penebangan, pembukaan wilayah hutan, dan penebangan, prasarana, dan latihan, dan pembinaan hutan, pengolahan dan pemasaran hasil hutan, perlindungan pengamanan hutan, dan pengadaan sarana pengorganisasian pengelolaan pengeluaran. dan ketenagakerjaan, lingkungan, pendidikan serta

pemberdayaan masyarakat desa hutan, penelitian dan pengembangan, pemantauan pendapatan

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 18

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Usulan Rencana Kerja Tahunan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu disusun oleh pemegang IUPHHK selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sejak RKLUPHHK disahkan, dan harus memuat realisasi dan rencana kegiatan : penataan areal kerja termasuk tata batas blok/petak kerja, inventarisasi tegakan sebelum penebangan, pembukaan wilayah hutan, penebangan/pemanenan, pembebasan tanaman, inventarisasi tegakan tinggal, pengadaan bibit, penanaman/pengayaan, pemeliharaan tahap I, pemeliharaan lanjutan, pengamanan dan perlindungan hutan, tenaga teknis dan non teknis kehutanan, peralatan, penelitian dan pengembangan, pengelolaan dan pemantauan dampak lingkungan, pembinaan masyarakat desa hutan, serta pendapatan dan pengeluaran. Bagi pemegang IUPHHK yang RKUPHHK dan RKLUPHHK belum disahkan dapat menyusun dan mengajukan usulan Bagan Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu berdasarkan keputusan pemberian IUPHHK. BKUPHHK hanya dapat diberikan satu kali dan berlaku selamalamanya 12 bulan sejak diterbitkan keputusan pemberian IUPHHK dan tidak dapat diperpanjang. Usulan BKUPHHK yang disusun oleh pemegang IUPHHK harus memuat rencana kegiatan yang meliputi : penataan areal kerja termasuk tata batas blok/petak kerja, inventarisasi tegakan sebelum penebangan, pembukaan wilayah hutan, penebangan/pemanenan, pengadaan bibit, penanaman/ pengayaan, pengamanan dan perlindungan hutan, tenaga teknis kehutanan, peralatan, pemanfaatan kayu, pembinaan masyarakat desa hutan, pemeliharaan batas, dan pendapatan dan pengeluaran. Dalam hal IUPHHK pada hutan alam bersifat pembaharuan/perpanjangan, usulan BKUPHHK selain memuat rencana kegiatan sebagaimana tersebut di atas, juga harus memuat rencana kegiatan pemeliharaan tahap pertama dan pemeliharaan lanjutan. 3.1.5. SISTEM KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI Sistem KPHP Dalam Pengelolaan Hutan Produksi Konsep kesatuan pengelolaan hutan produksi pertama kali muncul dalam UU No. 5 Tahun 1967 pasal 10 yang mengatur bahwa untuk menjamin terselenggaranya pengurusan hutan negara yang sebaik-baiknya, maka dibentuk Kesatuan-kesatuan Pemangkuan Hutan dan Kesatuan-kesatuan Pengusahaan Hutan.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 19

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

KPHP merupakan penjabaran mikro dari penetapan fungsi hutan produksi dalam propinsi (peta Kawasan Hutan dan Perairan). Dengan demikian maka kawasan hutan produksi akan habis dibagi dalam KPHP-KPHP. Setiap KPHP memiliki kejelasan tata batas fisik di lapangan dan mempunyai kejelasan kelas perusahaan maupun jenis industri yang akan dipasoknya. KPHP merupakan suatu kesatuan terkecil dari kawasan hutan produksi yang dapat dikelola atas dasar asas kelestarian dan asas perusahaan. Tujuan pembentukan KPHP adalah tertatanya kawasan hutan produksi dalam kesatuan-kesatuan kelestarian usaha yang rasional dan menguntungkan, sehingga dapat menjamin tersedianya hasil hutan dan manfaat lainnya bagi pembangunan daerah dan masyarakat sekitar hutan secara berkelanjutan. Perbedaan antara HPH dengan KPHP adalah bahwa HPH hadir berdasarkan permohonan dan konsesi sementara KPHP hadir berdasarkan rancang bangun sebagai satu kesatuan pengelolaan hutan produksi lestari yang dirancang secara sadar dan berdimensi kemantapan jangka panjang. Dalam satu areal KPHP dapat terdiri dari beberapa HPH dan sebaliknya dalam satu HPH dapat terdiri dari beberapa KPHP. Dalam sistem HPH, Rencana Karya Lima Tahun dan Rencana Karya Tahunan dija-barkan dari RKPH-HPH dimana setiap HPH hanya mempunyai satu RKPH-HPH. Pada konsep KPHP di dalam satu HPH dimungkinkan terdapat lebih dari satu Rencana Kerja Pengelolaan Hutan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (RKPH-KPHP), sebaliknya untuk beberapa HPH kecil hanya akan terdapat satu RKPH-KPHP. Dengan demikian melalui sistem KPHP diharapkan peningkatan intensitas manajemen pengelolaan hutan produksi lestari dapat dipacu lebih cepat yang pada akhirnya konsep pengelolaan hutan produksi yang dapat menjamin kelestarian fungsi produksi, fungsi sosial dan kelestarian fungsi sosial dapat cepat diwujudkan. Secara fungsional KPHP merupakan bagian integral dari wadah ekonomi dalam pengembangan wilayah. Hal ini terkait dengan posisi KPHP yang merupakan unit kesatuan perencanaan dan pembangunan dalam peningkatan produksi, baik kayu maupun non kayu. Pengembangan wilayah dapat diartikan sebagai segala upaya agar diperoleh peningkatan aspek lingkungan (misalnya tata air dan tata guna lahan) yang akan dapat
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 20

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

mendukung peningkatan aspek produksi atau ekonomi. Atas dasar pertimbangan ini, maka konsepsi pengembangan wilayah tidak dapat terlepas dari konsepsi pengembangan DAS) Karena KPHP merupakan sub sistem dalam pengembangan wilayah, maka kehadiran KPHP tidak dapat dilepaskan dari konsepsi pengelolaan DAS. Pengusahaan HTI/IUPHHK Tanaman dan pelaksanaan sistem tebang pilih tanam Indonesia oleh HPH/IUPHHK dapat diartikan sebagai upaya dalam mengisi kegiatan operasional pembangunan KPHP dalam rangka meningkatkan potensi hutan produksi. Pemilihan salah satu atau kombinasi dari beberapa sistem silvikultur sangat tergantung kepada kondisi fisik lahan, keadaan vegetasi dan perumusan tujuan pengusahaan atau jenis kayu yang menjadi primadonanya. Pembentukan dan Tata Letak KPHP Tata cara pembentukan KPHP pertama kali diatur dengan SK Menteri Kehutanan No. 200/Kpts-II/1991 dan diikuti dengan pedoman teknis pelaksanaannya melalui SK Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan No. 383/Kpts/IV-RPH/1992, lalu disempurnakan dengan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 308/Kpts-II/1999 tentang Kesatuan Pengusahaan Hutan Produksi, dan terakhir diperbaharui dengan SK Menhut No 230/Kpts-II/2003 tentang Pembentukan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi. Dasar-dasar pertimbangan yang digunakan dalam menentukan wilayah kesatuan pengelolaan hutan produksi diantaranya adalah sebagai berikut : 1) terletak dalam kawasan HP dan HPT berdasarkan tata ruang kawasan hutan dan perairan, jika masih dimungkinkan dapat terletak pada HPK, setelah melalui analisa mikro yang rinci atau hutan produksi konversi yang tidak dipergunakan untuk pembangunan non kehutanan, 2) kawasan hutan produksi tersebut bersusunan serta berkomposisi kompak serta integral dengan memperhatikan luasan optimal tiap unit KPHP, jika lokasinya tersebar masih dimungkinkan sebagai unit KPHP sepanjang secara ekonomis memungkinkan, misalnya didukung oleh aspek transportasi yang cukup baik, 3) bentuk DAS dimana terdapat induk sungai dengan beberapa cabangnya yang kebanyakan dapat digunakan sebagai log pond angkutan kayu walaupun pada musim kemarau, 4) struktur tegakan hutan, sebaran HPH serta aliran suplai bahan baku kayu bulat, baik untuk propinsi yang bersangkutan maupun dalam lingkup regionalnya, 5)
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 21

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

penyelarasan terhadap Rencana Pengembangan Wilayah dan Sektor yang ada, misalnya terpadu terhadap satuan pembangunan wilayah yang telah direncanakan, dan 6) kemungkinan adanya penyempurnaan ataupun modifikasi yang mendesak dikemudian hari terhadap unit-unit KPHP yang masih mungkin berubah, baik karena peningkatan intensitas pengelolaan atau karena aspek pengembangan organisasinya. Pada penentuan unit-unit KPHP alokasi fungsi hutan produksi dalam tata ruang propinsi (peta kawasan hutan dan perairan) adalah sebagai kendala sekaligus arahan terutama dalam penentuan tata letak dan luas tiap unit KPHP di kawasan hutan produksi. Dalam penentuan tata letak, masing-masing unit KPHP mempunyai luas yang optimal sehingga mampu menjamin kelestarian fungsi produksi, ekologi dan sosial. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan diantaranya keadaan fisik areal hutan, jenis kayu yang akan ditebang dan atau sudah ditanam termasuk aspek ekologis dan aspek utilities serta aspek kesiapan pengembangan spesies kayu. Dalam pembentukan KPHP selain mempertimbangkan DAS yang ada, juga harus memperhitungkan keberadaan areal pemukiman penduduk setempat, pembukaan pertambangan pusat-pusat wilayah dan industri untuk rencana pengolahan kayu dan rencana rencana Dengan pengembangan sektor seperti rencana penempatan transmigrasi, rencana pembangunan perkebunan, lainnya. pengembangan

memperhatikan rencana pengembangan sektor tersebut, maka secara tidak langsung akan terlihat keterkaitan antar sektor secara vertikal yang bersifat simultan dalam rangka pembangunan regional. Pembentukan KPHP Propinsi Dasar pertimbangan propinsi sebagai unit analisis adalah posisi KPHP sebagai salah satu penjabaran operasional Rencana Tata Ruang Propinsi, dimana pada akhirnya semua kegiatan pembangunan akan berpola pada rencana tata ruang tersebut. Kawasan hutan produksi aman konflik panjang merupakan kawasan hasil paduserasi antara tata ruang (konsep budi daya dan non budidaya), peta kawasan hutan dan perairan, HPH/IUPHHK yang sudah ada dan penggunaan lahan lainnya (non HPH/IUPHHK).
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 22

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Analisis dan deliniasi KPHP Propinsi merupakan proses trial and errors terhadap : 1) batas fisik fungsional yaitu DAS dan tipe hutan, 2) batas administrasi struktural berupa instansi tingkat Kabupaten dan Kecamatan, 3) batas HPH/IUPHHK berdasarkan SK HPH/IUPHHK, 4) keadaan fisik dan potensi produksi berupa lereng, kemampuan tanah, iklim, dan kerapatan vegetasi, dan 5) luas satuan KPHP berdasarkan intensitas manajemen yang ditetapkan. Hutan produksi aman konflik jangka panjang dalam satu propinsi habis dibagi kedalam KPHP-KPHP. Banyaknya KPHP Propinsi sangat tergantung kepada luas hutan produksi aman konflik jangka panjang dan luas optimal satuan KPHP yang ditetapkan. Kedua faktor penentu tersebut bersifat dinamis menurut waktu, yaitu disebabkan karena sifat konflik yang tidak tetap dan sifat intensitas manajemen yang selalu meningkat. Oleh sebab itu banyaknya dan batas KPHP Propinsi harus mempunyai jangkauan dan rencana pengembangan yang bersifat dinamis, sistematis, dan terencana. Jika jangkauan jangka panjang adalah 25 tahun dan rencana Rata Ruang dapat dievaluasi kembali setiap 5 tahun, maka KPHP Propinsi dapat dievaluasi minimal dalam 1 daur pengusahaan hutan produksi. Hasil analisis dan deliniasi KPHP Propinsi dituangkan dalam peta dengan skala 1 : 50.000, di dalam peta deliniasi KPHP Propinsi terdapat kejelasan yang tegas mengenai batas fisik fungsional, batas administratif struktural, batas HPH/IUPHHK, dan batas-batas keadaan fisik (topografi, lereng, tanah, dan iklim) serta kondisi potensi produksinya. Hal ini penting agar setiap perubahan batas, terutama batas administratif struktural dan batas HPH/IUPHHK dapat diikuti dan dipaduserasikan terhadap kemungkinan perubahan dan pengembangan KPHP Propinsi. KPHP Unit Sebagai Satuan Manajemen Pengelolaan Hutan Produksi Pembentukan dan pembangunan KPHP Unit merupakan identifikasi dan deliniasi rancang bangun terhadap KPHP Propinsi. Oleh sebab itu di dalam pembentukan dan pembangunan KPHP Unit dimulai dengan identifikasi data pokok berupa peta dengan skala 1 : 20.000 yang meliputi peta garis bentuk, peta kelas lereng, peta kelas kemampuan tanah/ daya dukung perlakuan tanah, peta iklim, peta sarana prasarana terutama jaringan jalan dan peta vegetasi.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 23

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Peta vegetasi digunakan untuk menentukan sistem silvikultur yang tepat yang akan direkomendasikan terhadap pengelolaan KPHP Unit. Jika analisis yang terakhir ini dikaitkan dengan analisis peruntukan bahan baku industri, maka akan dapat menentukan kelas pengusahaan KPHP Unit (misalnya KPHP Kayu Serat atau KPHP Kayu Pertukangan dengan sistem silvikultur TPTI, TJTI, atau Bina Pilih/P2P2A). Proses lebih lanjut dari analisis-analisis makro tersebut kemudian dilanjutkan dengan proses penataan hutan (landscaping), yaitu membagi petak kerja sebagai unit manajemen operasional lapangan terkecil. Untuk sistem silvikultur TPTI dapat digunakan petak ukuran 100 ha sedang untuk sistem Tebang Habis Permudaan Buatan/HTI atau IUHT (Ijin Usaha Hutan Tanaman) dengan intensitas manajemen yang lebih tinggi digunakan petak ukuran 25 ha. Proses penataan hutan juga merupakan langkah awal penyusunan Rencana Karya Pengusahaan Hutan/Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-KPHP (RKPH-KPHP/RKUPHHK-KPHP). Berdasarkan kepada penataan hutan tersebut dilakukan suatu kajian empirik terhadap skenario pengelolaan yang bertujuan untuk optimasi produksi, lingkungan dan sosial ekonomi-budaya masyarakat setempat. Skenario produksi dan skenario pengelolaan dijabarkan menurut lokasi dan waktu selama daur untuk dapat memberikan gambaran terhadap arus finansial, sekaligus memberikan kelayakan finansial ekonomi KPHP Unit. Penentuan luas satu KPHP Unit dilakukan de-ngan memper-timbangkan layak kawasan untuk satu unit manajemen yang mampu menjamin kelestarian fungsi produksi, ekologi dan sosial. Penentuan luas kawasan tersebut tergantung pada teknik dan sistem silvikultur yang diterapkan. Luas minimal yang layak bagi suatu unit manajemen pengelolaan hutan produksi sangat dipengaruhi oleh volume tebangan. Pengalaman di Indonesia bagian Barat kelayakan volume tebangan untuk satu unit alat produksi adalah 30.000 –36.000 m3 per tahun. Untuk koperasi masyarakat (Kopermas) karena tidak dilakukan secara mekanik yaitu hanya menggunakan chainsaw dan letaknya tidak jauh, kelayakan satu unit alat produksi diperkirakan sekitar 10.000 m3 per tahun.

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 24

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Layak Usaha = JPT V minimum = U* 30.000 m 3/thn s/d 36.000 m 3/thn Layak Luas = JPT L minimum 30.000 36.000 m3/thn = 600 ha/thn s/d = 720 ha/thn 50 m3/ha = P* = R* 50 m3/ha = P* = R* m3/thn Luas Unit PHPL minimal = PHPL* U* x d* 30.000 x 35 36.000 x 35 = PHPL* = = s/d P* x L* 50 x 0,6 50 x 0,6 = 35.000 ha s/d 42.000 ha dimana d* = daur tebang L* = luas areal efektif

PHPLmin

Gambar 3-1 : Analisis Kelayakan Luas Minimal Unit Manajemen

Dengan mengetahui tiap atau potensi hutan produksi, dapat ditentukan luas jatah tebangan tahunan (JPT) yang besarnya adalah Etat volume dibagi dengan potensi. Dengan asumsi potensi hutan produksi sebesar 50 m3 per ha, daur 35 tahun dan luas areal efektif 60 % dari total areal pencadangan, luas minimal yang layak untuk suatu unit manajemen (luas KPHP Unit) dapat ditentukan dengan analisis seperti disajikan pada Gambar 3-1. Dari Gambar 3-1. terlihat bahwa luas minimal yang layak untuk satu unit manajemen pengelolaan hutan produksi tergantung pada riap dan daur tebang yang digunakan. Semakin besar riap dan semakin pendek daur tebang akan semakin kecil luas minimal kelayakan untuk satu unit manajemen. Dari gambar tersebut juga dapat dilihat bahwa semakin kecil potensi hutan akan semakin luas kawasan hutan yang diperlukan untuk memenuhi layak minimal satu unit manajemen. Dalam pelaksanaannya pemberian nama suatu KPHP Unit dapat mengikuti suatu nama kelompok atau nama DAS atau nama wilayah hutan yang sudah dikenal oleh masyarakat setempat/sekitar hutan atau nama suatu areal HPH.

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 25

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Penyusunan RKPH-KPHP dilakukan berdasarkan pada luas KPHP Unit bukan lagi pada luas HPH/IUPHHK, di dalam koridor pengelolaan hutan produksi yang lestari (PHPL)1. Adapun model PHL dalam KPHP di gambarkan dalam Gambar 3-2. Aspek ekologi dan sosial selain aspek ekonomi harus sudah terintegrasi mulai dari rancang bangun landscaping sampai pada proses penyusunan RKPH-KPHP. Dalam PHPL biaya pengelolaan lingkungan dan pengembangan masyarakat terutama yang
AREAL PENGGUNAAN LAIN (Pemukiman & Garapan Masyarakat, Kws. Trans, Perkebunan, Pertanian, Perkebunan, Industri dsb)

VF
VIRGIN FOREST

E(t-) TPTI Fungsi Lingkungan

E(to)

LOF
LOGGED OVER FOREST

E(to) E(t+)

(P2P2A)

KPHP
HUTAN PRODUKSI
Perladangan berpindah, pencurian kayu, kebakaran hutan dsb. Ekosistem HUTAN PRODUKSI LESTARI Buatan DAMBAAN Relatif Homogen & Potensi Tinggi Kelestarian Fungsi Produksi, Kelestarian Fungsi Lingkungan & Kelestarian Fungsi Sosial Perladangan berpindah, pencurian kayu, kebakaran hutan dsb.

Rehabilitasi / THPB NH
NON - HUTAN

P2P2A – TPTI & HTI – THPB dalam KPHP
AREAL PENGGUNAAN LAIN (Pemukiman & Garapan Masyarakat, Kws. Trans, Perkebunan, Pertanian, Perkebunan, Industri dsb.)

Gambar 3-2 : Model Pengelolaan Hutan Produksi Dalam Suatu KPHP

tinggal di sekitar hutan bukan lagi dipandang sebagai beban, tetapi merupakan bagian dari pelaksanaan pengelolaan hutan terkait dengan fungsi atau manfaat ekologi dan sosial dari kawasan hutan produksi tersebut. Dengan demikian kawasan hutan produksi selain dapat memberikan manfaat secara ekonomi bagi pemegang HPH, juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya dengan tetap menjaga kelestarian fungsi ekologinya.

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 26

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Komposisi tegakan di dalam satu KPHP Unit dapat berupa hutan alam, hutan tanaman, atau campuran antara hutan alam dengan hutan tanaman, serta dengan perlakuan satu atau beberapa sistem silvikultur. Hal ini dimungkinkan karena terjadinya berbagai kondisi lahan dan potensi kayu yang bervariasi, sehingga teknik dan sistem silvikultur yang diterapkan disesuaikan dengan kondisi KPHP Unit yang bersangkutan. Penentuan teknik dan sistem silvikultur yang diterapkan dalam suatu KPHP Unit dilakukan dengan mempertimbangkan tipologi dari hutan produksi yang bersangkutan. Untuk areal yang relatif datar dengan potensi kayu yang sangat rendah (bekas tebangan) dapat diterapkan teknik silvikultur hutan tanaman atau P2P2A. Untuk areal dengan medan agak berat atau kondisi areal yang relatif bergelombang dengan potensi kayu yang cukup tinggi diterapkan teknik silvikultur TPTI. Sebagai konsekuensi dari pembentukan KPHP Unit akan terjadi penggabungan atau integrasi dari HPH yang luas arealnya masih di bawah luasan layak unit manajemen seperti Kopermas dan HPH kecil, sebaliknya akan terjadi pemecahan areal HPH yang sangat luas. Dengan demikian akan terdapat beberapa KPHP yang terdiri dari beberapa Kopermas atau HPH kecil dan ada beberapa HPH yang mempunyai beberapa KPHP dalam areal yang menjadi konsesinya. Secara administratif beberapa Koper-mas atau HPH kecil yang tergabung dalam satu KPHP tetap berdiri sendiri, tetapi secara manajemen kawasan mereka menjadi satu kesatuan KPHP yang saling terkait. Demikian juga beberapa KPHP Unit yang berada pada satu areal HPH yang tetap menjadi hak pengelolaan dari HPH yang bersangkutan. Dalam pelaksanaan dan pembentukan KPHP provinsi/ kabupaten diintegrasikan dalam kegiatan redesain HPH dengan struktur proses seperti tertuang dalam Gambar 3-3. Intensifikasi Pengelolaan untuk Pemenuhan Bahan Baku Industri Kayu Untuk masa mendatang, pemanfaatan hasil hutan kayu lebih diintensifkan pada kawasan HP yang mempunyai kelerengan di bawah 25 % dalam bentuk hutan tanaman. Pada kawasan HPT dan hutan produksi bebas yang mempunyai kelerengan di atas 25 % pemanfaatan dilakukan secara terbatas dan sangat terbatas sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah konservasi tanah dan air.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 27

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Pengembangan hutan tanaman diharapkan dapat lebih mengefisienkan pengunaan kawasan hutan sebagai sumber bahan baku industri. Potensi kayu pada hutan alam di Indonesia rata-rata 40 m3/hektar, sementara potensi kayu dari hutan tanaman dapat ditingkatkan menjadi 100 m3/hektar. Perbadingan luas areal hutan alam dan hutan tanaman untuk menghasilkan potensi kayu yang sama adalah 2,5 hektar hutan alam berbanding 1 hektar hutan tanaman.

REDESAIN HPH/IUPHHK PROVINSI/KABUPATEN
Profil HPH
Manajemen Kawasan 1. Kemantapan Kawasan 2. Penataan Kawasan 3. Pengamanan Hutan Manajemen Hutan 1. Kelola Produksi 2. Kelola Lingkungan 3. Kelola Sosial Manajemen Kelembagaan 1. Organisasi 2. Sumberdaya Manusia 3. Pendanaan Industri 1. Lokasi 2. Kapasitas riil/terpasang 3. RBI

Arah Redesain
t
0

Hasil Rancangan HPH* (KPHP-PHPL)
Manajemen Kawasan * 1. Kemantapan Kawasan 2. Penataan Hutan 3. Pengamanan Hutan Manajemen Hutan * 1. Kelola Produksi 2. Kelola Lingkungan 3. Kelola Sosial Manajemen Kelembagaan* 1. Organisasi 2. Sumberdaya Manusia 3. Pendanaan Redesain Industri * 1. Lokasi 2. Kapasitas riil/terpasang 3. RBI

- -- - - - > t

n

R E D E S A I N

REKALKULASI KAWASAN Dan REDESAIN PENATAAN HUTAN

REKALKULASI POTENSI & REDESAIN MANAJEMEN HUTAN

RESTRUKTURISASI KELEMBAGAAN

REDESAIN INDUSTRI

Gambar 3-3. Struktur Proses Redesain HPH

Dengan potensi kayu sebesar 100 m3/hektar, maka kebutuhan bahan baku industri pengolahan kayu seluruh Indonesia yang mencapai sekitar 60 juta m3/tahun akan dapat dicukupi dengan areal hutan produksi seluas 5 juta hektar untuk daur 5 (lima) tahun atau 10 juta hektar untuk daur 10 tahun. Jika diambil potensi kayu yang konservatif sebesar 50 m3/hektar dengan daur 10 tahun hanya dibutuhkan areal seluas 20 juta hektar hutan produksi yang diusahakan untuk memenuhi bahan baku seluruh industri pengolahan kayu di Indonesia. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan luas hutan produksi seluruh Indonesia berdasarkan penunjukan kawasan hutan dan konservasi perairan yang mencapai hampir 45,6 juta hektar dengan 28,6 juta hektar diantaranya berupa HP.

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 28

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Peningkatan potensi kayu dan pengurangan daur penebangan dapat dilakukan melalui pemilihan sistem silvikultur yang dapat memberikan riap tinggi dengan daur tebang yang pendek. Salah satu sistem silvikultur yang mendekati persyaratan tersebut adalah P2P2A atau Bina Pilih. Sistem P2P2A merupakan salah satu jawaban alternatif dalam

memaksimalkan intensitas manajemen yang mendekati sistem manajemen intensif Hutan Tanaman Industri tanpa melakukan land clearing pada areal bekas tebangan. Beberapa ketentuan yang harus diperhatikan dalam sistem P2P2A diantaranya adalah : 1) penebangan dilakukan dengan limit diameter ≥ 30 cm pada lereng 0 –25% dan ≥ 40 cm pada lereng 25 – 40%, 2) rotasi tebang tergantung pada tingkat pertumbuhan dari vegetasi yang dibina untuk rotasi berikutnya dan riap tegakan, serta 3) diterapkan pada hutan bekas tebangan. Sebagai salah satu alternatif sistem silvukultur, P2P2A bukan merupakan sistem silvikultur yang baru melainkan merupakan modifikasi dari teknik silvikultur yang telah ada. Sistem silvikultur P2P2A menekankan pada jenis target yaitu jenis-jenis pohon yang potensial untuk ditebang, terutama jenis-jenis yang memiliki kesesuaian dengan tujuan pengusahaan atau penggunaannya sebagai bahan baku industri dengan nilai ekonomis relatif tinggi dan memiliki dominasi dengan dicirikan oleh indek nilai penting yang relatif tinggi dibandingkan dengan jenis-jenis lain, serta dilakukan kegiatan pembebasan atau penghilangan tanaman-tanaman penganggu yang dapat menghambat pertumbuhan jenis-jenis komersial. 3.2. PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN DI PAPUA Kegiatan pengusahaan hutan produksi oleh HPH/IUPHHK di Provinsi Papua yang sudah dimulai sejak akhir tahun 1980an, pada kenyataannya, kurang memberikan kontribusi berarti bagi perolehan devisa pemerintah Provinsi Papua pada sektor kehutanan. Target produksi log yang tidak pernah mencapai lebih dari 10% dan industri pengolahan kayu yang hanya bisa berproduksi pada kapasitas 2%-8% dari kapasitas riil, sungguh sangat tidak efektif, tidak efisien dan mubazir.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 29

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Rendahnya kinerja HPH ini, tidak terlepas dengan adanya berbagai perkembangan kebijakan pemerintah (pusat), yang diterjemahkan daerah dalam berbagai versi penafsiran sesuai dengan kepentingannya. Pada akhirnya, aturan main pengusahaan hutan memiliki ketidakjelasan hirearki hukum dan perijinan, hirearki teknis dan operasional, serta hirearki karier. Dalam kondisi seperti ini, amat sangat tidak mungkin bagi unit manajemen HPH di Papua dapat melaksanakan pengelolaan hutan sesuai dengan konsep dan persyaratan pengelolaan hutan produksi lestari (PHPL) yang dituntut pemerintah dan masyarakat dunia internasional. Beberapa permasalahan umum yang ditemuia HPH/IUPHHK di Provinsi Papua saat ini dan menjadi acuan dalam pelaksanaan redesain HPH/IUPHHK menuju sistem PHPL antara lain sebagai berikut :  Kebijakan pemerintah daerah ditafsirkan masyarakat sekitar hutan (adat) sebagai kebebasan untuk mengelola hutan sesuai dengan keinginannya.  Sebagian areal HPH/IUPHHK berada pada Hutan Lindung menurut Peta Penunjukan Kawasan Hutuan dan Perairan Provinsi Papua  Sebagian areal HPH/IUPHHK mempunyai lereng di atas 25 %  Klaim kawasan hutan oleh hak ulayat/adat cukup tinggi  Pengusahaan hutan dalam luasan kecil oleh Kopermas  Beberapa HPH/IUPHHK mempunyai areal kerja yang sangat luas  Hak HPH/IUPHHK selama 20 tahun, sementara daur tebang 35 tahun  Kelola Produksi (KP) HPH/IUPHHK dengan silvikultur TPTI, dan diameter kayu yang ditebang 50 cm up. Sementara pertumbuhan marjinal hutan di provinsi Papua diperkirakan terjadi pada limit diameter 40 cm up.  Kelola Produksi HPH/IUPHHK diterjemahkan sebagai pengelolaan yang dikotomis, yang tidak mengintegrasikan Kelola Lingkungan/KL dan Kelola Sosial/KS dalam suatu Rencana Karya Pengusahaan Hutan/RKPH)  Kelola lingkungan HPH/IUPHHK baru sebatas issue dan dokumen AMDAL (bersifat dikotomis, dan tidak mengintgrasikan KP dan KS dalam dokumen RKPH)  Kelola Sosial baru sebatas pada dokumen PMDH (bersifat dikotomis, dan tidak mengintgrasikan KP dan KS dalam dokumen RKPH) Industri tidak bekerja pada kapasitas penuh; karena pasokan bahan baku berfluktuatif, dan tidak kontinyu.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 30

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

3.2.1 POTENSI SUMBERDAYA HUTAN PAPUA
Fungsi Hutan Kajian terhadap fungsi kawasan hutan dimaksudkan untuk mengetahui kemantapan dalam penetapan status peruntukannya dikaitkan dengan kesesuaian terhadap kemampuan daya dukung perlakuan lahannya. Daya dukung lahan merupakan kemampuan suatu wilayah mendapatkan perlakuan pengolahan tanah dalam kaitannya dengan intensitas erosi. Makin tinggi daya dukung perlakuan lahan, makin kecil erosi yang timbul pada intensitas perlakuan lahan yang intensif. Demikian sebaliknya makin rendah daya dukung perlakuan lahan berarti lahan yang bersangkutan tidak mampu menopang perlakuan lahan yang intensif. Evaluasi terhadap seluruh fungsi kawasan hutan terhadap kemampuan daya dukung perlakuan lahannya dapat memberikan informasi awal terhadap daerah-daerah rawan konflik tersebut. Diharapkan dari kajian ini dapat menghasilkan formula terbaik dalam pengembangan pengelolaan kawasan hutan yang lestari. Kawasan hutan Provinsi Papua yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 891/Kpts-II/1999 seperti disajikan pada Tabel 3-1.
Tabel 3-1. Luas Hutan Berdasarkan Peta Kawasan Hutan dan Perairan Papua
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Total Sumber : Lampiran SK Menhutbun No. 891/Kpts-II/1999 Fungsi Hutan Hutan Suaka Alam dan Pelestarian Alam Hutan Lindung Hutan Produksi Terbatas Hutan Produksi Tetap Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi Kawasan Perairan Luas ( ha ) 8.025.820 10.619.090 2.054.110 10.585.210 9.262.130 40.546.360 1.678.480 42.224.840 19 % 25 % 5% 25 % 22 % 96 % 4%

Jumlah

Penetapan fungsi kawasan tersebut merupakan perbaikan dari penetapan fungsi kawasan hutan berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 820/Kpts/Um/II/1982. Perubahan ini terjadi pada penambahan luas kawasan hutan lindung, pengurangan luas pada hutan produksi terbatas dan hutan produksi yang dapat dikonversi, serta terjadi penambahan luas hutan produksi tetap dari 7.123.480 ha menjadi 10.585.210 ha. Sebagai gambaran rinci, pembagian luas kawasan hutan Provinsi Papua menurut Peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dapat dilihat pada Tabel 3-2.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 31

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-2.
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Total

Luas Kawasan Hutan berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan Provinsi Papua (TGHK, 1982)
Fungsi Hutan Luas ( ha ) 8.311.820 8.648.610 4.732.360 7.123.480 28.816.270 11.775.420 474.300 41.006.000 22 % 4% 19 % 25 % 5% 25 %

Hutan Suaka Alam dan Hutan Wisata Hutan Lindung Hutan Produksi Terbatas Hutan Produksi Tetap Jumlah Kawasan Hutan Tetap Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi Areal Penggunaan Lain

Sumber : SK Mentan No. 820/Kpts/Um/II/1982

Pembagian fungsi hutan sebagaimana ditetapkan dalam SK Menhutbun No. 891/Kpts-II/1999, dan yang berlaku saat ini menurut wilayah kabupaten pemekaran berdasarkan UU No. 26 Tahun 2002, dengan batas-batas wilayah yang disesuaikan dengan peta Indeks Desa/Keluarahan Irian Jaya (Biro Pusat Statistik, 2000), serta Desain Peta Batas Antar Kabupaten/Kota Provinsi Papua, skala 1 : 2.500.000, diperoleh pembagian fungsi hutan berdasarkan wilayah kabupaten sebagaimana disajikan pada Tabel 3-3. Tabel 3-3.
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Kabupaten/ Kota Merauke Mappi Boven Digoel Asmat Jayawijaya Peg. Bintang Yahukimo Tolikara Jayapura

Kawasan Hutan Provinsi Papua Per Kabupaten (Pemekaran)
HL (Ha) 247.144 32.694 50.031 235.888 296.486 1.650.779 852.826 463.754 682.334 1.408.057 389.126 936.458 215.480 603.650 11.948 497.071 80.118 491.888 76.536 75.323 32.005 KSA & PA (Ha) 1.428.346 2.859 529.179 311.099 271.594 144.625 107.087 525.592 12.582 75.184 36.917 527.198 88.736 68.006 121.147 678.219 147.040 137.852 33.277 Kw. Perairan HPT 3.160 4.367 23.181 71.046 80.681 404.881 442.258 172.413 150.140 71.936 150.121 76.790 245.706 274.772 104.251 189.675 Hutan Produksi HP 912.831 2.597.416 1.580.049 1.299.295 175.575 182.992 195.372 307.729 130.660 374.296 93.372 691 728.301 21.344 330.614 459.824 41.473 331.543 126.207 398.057 68.089 260.734 HPK 1.604.216 147.197 847.633 132.359 201.297 67.243 190.012 119.576 548.149 356.861 264.088 157.170 510.991 322.352 17.357 216.655 180.376 2.992 36.968 8.835 97.482 105.181 77.272 3.126 57.632 15.221 129.256 13.192 17.800 3.028 20.751 13.602 89.388 43.940 921 46.174 4.372.912 2.784.665 2.540.721 2.276.602 906.364 2.079.459 1.574.697 731.081 1.995.456 3.055.718 1.098.125 1.556.300 1.024.700 1.453.200 193.696 1.680.904 313.000 1.962.022 1.400.169 427.909 896.569 APL Jumlah

10 Sarmi 11 Keerom 12 Paniai 13 Nabire 14 Puncak Jaya 15 Yapen Waropen 16 Waropen 17 Biak Numfor 18 Manokwari 19 Teluk Bintuni 20 Teluk Wondama 21 Fak Fak

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 32

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

No

Kabupaten/ Kota

HL (Ha) 421.333 525.301 246.256 389.552 137.011 11.440 11.060.489

KSA & PA (Ha) 133.388 565.393 309.317 19.576 278.150 10.242 6.562.605

Kw. Perairan HPT 127.224 141.026 271.410 552.234 112.885 243.022 89.318 6.363 2.832 3.468.872

Hutan Produksi HP 453.011 199.473 229.854 457.229 33.643 3.997 11.140.584 HPK 392.265 384.410 478.713 545.420 121.275 21.785 81.148 8.581.259

APL

Jumlah

22 Kaimana 23 Mimika 24 Sorong 25 Sorong Selatan 26 Raja Ampat 27 Kota Jayapura 28 Kota Sorong
Jumlah Provinsi

44.513 55.729 10.088 14.057 25.354 1.112.878

1.952.231 1.959.200 1.562.892 1.511.183 683.825 94.000 110.500 42.198.100

Sebagian besar wilayah Provinsi Papua merupakan kawasan hutan tetap (± 77%), yang terbagi atas kawasan konservasi ± 42% (KSA/PA dan HL) dan kawasan hutan produksi ± 35% (HPT dan HP), sisanya seluas 20% berupa areal hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) dan seluas ± 3% berupa areal penggunaan lain (APL). Potensi Kawasan Hutan dan Peran Sektor Kehutanan Kawasan hutan Provinsi Papua dengan luasan meliputi 95% dari total luas daratan merupakan potensi yang sangat besar dan dapat diandalkan sebagai modal dalam pembangunan nasional dan daerah Papua khususnya. Kawasan Konservasi dengan total seluas ± 17.125.859 ha, berpeluang besar untuk didayagunakan secara optimal sebagai asset bagi pendapatan daerah, baik dari fungsinya sebagai kawasan lindung maupun kombinasi konservasi untuk kepentingan produksi dan sosial. Begitupun kawasan hutan produksi, yang sebagian besar peruntukan/konsesinya diberikan kepada HPH. Meskipun potensinya sudah mulai diusahakan sejak tahun 1983, namun kontribusinya bagi perolehan devisa negara maupun daerah Papua masih terlalu kecil. Ini menunjukan bahwa potensi hutan yang besar tersebut belum benar- benar dimanfaatkan. Kontribusi terbesar PDRB Provinsi Papua, justru diperoleh dari sektor pertambangan, yang pada tahun 2000 memberikan sumbangan pada PDRB sebesar 60% (meningkat 13% dari PDRB pada tahun 1994). Sementara sektor kehutanan memberikan kontribusi sebesar 4% pada tahun 2000, dan justru menurun dibandingkan dengan tahun 1994 yang mencapai 7,4% (Tabel 3-4).
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 33

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-4.

Konstribusi dan Laju Sektor dan Sub Sektor pada PDRB Provinsi Papua Tahun 1995 dan 2001
1994 1995 Share (%) 1,67 0,77 0,03 0,06 0,58 0,24 15,46 (1,06) 16,45 0,07 17,13 1,97 0,01 0,01 1,98 0,04 0,03 0,01 1,06 3,06 0,36 0,33 0,01 0,03 0,32 0,26 0,11 0,06 0,06 0,02 0,06 0,17 0,10 0,01 0,05 0,01 2000 Kontribusi (%) 16,78 6,8 0,74 0,82 3,97 4,45 60,33 2,21 57,73 0,39 77,12 3,09 0,18 0,18 0 2,91 0,3 0,22 0 0,08 3,86 7,25 4,31 3,86 0,3 0,15 3,71 2,73 0 1,32 0,81 0,4 0,2 0,98 2,2 1,18 0,89 0,13 0 Laju (%) 8,5 6,02 4,16 0,55 9,28 13,79 -6,41 -5,19 -6,56 8,89 -3,17 2,52 -10,54 -10,54 0 3,31 9,07 10,03 0 6,32 4,4 3,8 6,76 6,68 7,09 8,03 11,95 12,25 0 7,51 14,03 28,81 3,29 11,11 -35,29 -70,49 -72,11 422,77 0 2001 Share (%) 1,43 0,41 0,03 0 0,37 0,61 -3,87 -0,11 -3,79 0,03 -2,44 0,08 -0,02 -0,02 0 0,1 0,03 0,02 0 0,01 0,017 0,28 0,29 0,26 0,02 0,01 0,44 0,33 0 0,1 0,11 0,12 0,01 0,11 -0,78 -0,83 -0,64 0,55 0 Sektor Kontribusi Laju (%) (%) 20,6 7,94 0,4 1,52 7,41 3,33 46,93 6 40,18 0,75 Jumlah Sektor Primer 67,53 4,4 0,02 0,02 0 4,38 0,3 0,21 0 0,09 8,47 Jumlah Sektor Sekunder 13,17 5,22 4,67 0,19 0,36 4 3,23 0 1,4 0,67 0,9 0,26 0,77 2,19 0,9 0,27 0,86 0,15 8,12 9,73 6,52 3,69 7,78 7,23 32,94 (17,70) 40,94 8,99 25,37 44,85 30,77 30,77 0,00 45,12 11,95 13,89 0,00 7,30 12,46 23,27 6,98 7,04 5,14 7,15 7,99 7,90 0,00 7,95 9,13 7,17 6,99 8,35 7,96 11,18 2,44 5,93 9,87

No

1

PERTANIAN a b c d e Tanaman Bahan Makanan Tanaman Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan

2

PERTAMBANGAN a b c Migas & Gas Bumi Non Migas Penggalian

3

INDUSTRI PENGOLAHAN a Industri Migas

a.1 Pengilangan a.2 LNG b 4 Industri Non Migas

LISTRIK, GAS & AIR BERSIH a b c Listrik Gas Air Bersih

5 6

BANGUNAN

PERDAGANGAN, RESTORAN & HOTEL a b c Perdagangan Besar & Eceran Restoran Hotel

7

PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI a Angkutan Transportasi 1. Kereta Api 2. Jalan Raya 3. Laut, Sungai, Danau & Penyeberangan 4. Udara 5. Jasa Penunjang b Komunikasi

8 KEUANGAN, PERSEWAAN BANGUNAN & JASA PERUSAHAAN a b c d Bank Lembaga Keuangan Non Bank Sewa Bangunan Jasa Perusahaan

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 34

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

1994 No Sektor

1995 Share (%) 0,45 0,39 0,06 0,04 0,01 0,01 1,35 21,50 6.200.499 7.121.863

2000 Kontribusi (%) 5,42 5,02 0,4 0,21 0,1 0,09 15,63 100 8.338.145 20.902.655 Laju (%) 10,53 10,92 5,49 5,89 4,15 5,98 3,39 -1,64

2001 Share (%) 0,57 0,55 0,02 0,01 0 0,01 0,53 -1,64 8.201.636 24.555.462

Kontribusi Laju (%) (%) 7,9 7,25 0,66 0,41 0,14 0,11 19,3 100 5.103.319 5.369.432 5,64 5,34 8,94 9,33 8,95 7,46 6,97 21,50

9

JASA-JASA a b Pemerintahan Umum & Pertahanan Swasta 1. Jasa Sosial & Masyarakat 2. Jasa Hiburan & Budaya 3. Jasa Perorangan & Rumah Tangga Jumlah Sektor Tersier

TOTAL Konstan 1993 (Rp. 000.000) Berlaku (Rp. 000.000)

Sumber : PDRB Provinsi Papua Tahun 2001, BPS.

3.2.2. Potensi Tegakan Hutan Dari total luas kawasan hutan produksi di Provinsi Papua yang mencapai ± 32.051.587 ha, baru setengah bagiannya saja telah dialokasikan kepada 69 pemegang HPH dengan luas menurut SK HPH ± 12.481.929 ha. Total produksi berdasarkan target RKT tahun 2003 adalah ± 729.890,13 m3/tahun. Jumlah tersebut berasal dari 23 HPH yang telah mendapatkan persetujuan pengesahan target RKT 2003 oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua, sedang sisanya sebanyak 35 HPH belum/tidak aktif serta 11 HPH dinyatakan tidak dapat beroperasi lagi. Total areal HPH tidak aktif tersebut meliputi luasan ± 4.413.726 ha atau ± 42,3% dari total areal HPH yang terdaftar. Berdasarkan target pengesahan RKT tahun 2003 besarnya potensi tegakan jika dirata-ratakan dari total produksi dan besarnya AAC per tahun diperoleh potensi tegakan sebesar ± 35,45 m3/ha (target produksi dengan limit diameter 50 cm ke atas). Target tersebut masih terlalu besar dan susah dicapai jika dikaitkan dengan kondisi potensi tegakan sebenarnya. Hasil penelitian tegakan yang dilakukan oleh Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam di lokasi areal HPH PT. Mamberamo Alas Mandiri (Kabupaten Jayapura) seperti disajikan pada Tabel 3-5, menunjukkan bahwa rata-rata pada areal HP dengan kerapatan rapat memiliki potensi 40 cm up ± 42,7 m3/ha untuk seluruh jenis, pada kerapatan sedang memiliki potensi 39,2 m3/ha, dan pada kerapatan jarang ± 22,4 m3/ha. Pada areal HPT dengan kerapatan rapat, potensi 40 cm keatas untuk seluruh jenis adalah 57,8 m3/ha, pada kerapatan sedang terdapat potensi 53,9 m3/ha, dan pada kerapatan jarang terdapat potensi ± 49,9 m3/ha.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 35

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-5.

Potensi Tegakan per Hektar Pada Hutan Produksi Bebas (HP) Kerapatan Jarang di Areal HPH PT Mamberamo Alasmandiri, Kabupaten Jayapura
KELAS DIAMETER ( CM )

No

Nama Jenis

10 –20 N/ha V/ha 9,128 0,913 0,689 0,381 0,528 0,868 0,700 0,284 0,123 0,523 0,838 0,113 0,780 0,404 0,178 0,544 1,26 2,799 0,304 0,106 0,000 0,118 0,105 0,491 0,173 0,000 0,000 0,000 0,062 1,385 0,000 0,000 0,055 11,927

20 - 30 N/ha 33,94 0,70 2,90 0,90 1,00 2,97 1,60 1,63 0,47 1,33 7,07 1,80 2,83 1,83 0,17 2,20 4,54 11,02 3,30 1,00 0,03 0,13 0,07 2,03 0,03 0,03 0,00 0,23 0,13 3,17 0,17 0,67 0,03 44,96 V/ha 8,386 0,254 0,593 0,164 0,355 0,591 0,399 0,292 0,175 0,325 1,700 0,528 0,570 0,373 0,044 0,509 1,51 2,348 0,700 0,244 0,007 0,050 0,024 0,431 0,011 0,016 0,000 0,077 0,059 0,611 0,060 0,045 0,013 10,734

30 - 40 N/ha 17,12 0,23 1,37 0,47 0,90 0,80 1,10 0,83 0,70 0,77 2,20 1,27 0,73 0,47 0,37 1,37 3,54 3,03 0,23 0,23 0,00 0,07 0,10 0,00 0,00 0,07 0,03 0,60 0,17 1,30 0,20 0,03 0 20,15 V/ha 13,059 0,218 1,002 0,359 0,756 0,598 0,763 0,631 0,541 0,588 1,721 0,994 0,566 0,339 0,270 1,042 2,67 2,359 0,174 0,180 0,000 0,052 0,087 0,000 0,000 0,055 0,019 0,490 0,143 0,991 0,143 0,025 0

40 –50 N/ha 9,62 0,63 0,83 0,10 0,40 0,57 0,03 0,37 0,40 0,20 1,20 1,23 0,67 0,23 0,37 0,40 1,99 1,32 0,33 0,10 0,00 0,00 0,00 0,23 0,00 0,03 0,00 0,00 0,23 0,37 0,03 0,00 0 V/ha 12,344 0,871 1,056 0,112 0,518 0,730 0,046 0,437 0,496 0,272 1,487 1,462 0,881 0,333 0,487 0,528 2,63 1,789 0,459 0,149 0,000 0,000 0,000 0,323 0,000 0,043 0,000 0,000 0,340 0,440 0,035 0,000 0 14,133

50 - 60 N/ha 4,35 0,40 0,07 0,07 0,33 0,10 0,03 0,13 0,07 0,13 0,63 0,60 0,33 0,20 0,20 0,03 1,03 0,80 0,23 0,07 0,00 0,00 0,00 0,07 0,00 0,00 0,00 0,00 0,03 0,40 0,00 0,00 0 5,15 V/ha 9,734 0,882 1,126 0,132 0,678 0,191 0,073 0,238 0,112 0,277 1,206 1,083 0,674 0,424 0,397 0,059 2,18 1,721 0,560 0,183 0,000 0,000 0,000 0,117 0,000 0,000 0,000 0,000 0,064 0,797 0,000 0,000 0 11,455 N/ha

> 60 V/ha 14,874 0,318 0,933 0,131 1,321 0,409 0,000 0,191 0,197 0,400 1,209 4,753 1,005 0,316 0,074 0,000 3,62 2,216 0,738 0,625 0,000 0,000 0,000 0,103 0,146 0,000 0,000 0,000 0,261 0,343 0,000 0,000 0 17,090

Jumlah komersial 1 Bintangur 2 Bipa 3 Dahu 4 Gia 5 Hopea 6 Kelat 7 Kenari 8 Ketapang 9 Lancat 10 Matoa 11 Merbau 12 Mersawa 13 Nyatoh 14 Piak 15 Resak 16 Lain-lain Jumlah belum komersial 1 Amora 2 Bengali 3 Embren 4 Epodia 5 Genetri 6 Huape 7 Jakesti 8 Kapok 9 Merendom 10 Medang 11 Nona, ky 12 Pala hutan 13 Riparosa 14 Trikkadenia 15 Lain-lain Jumlah semua Jenis

141,32 14,67 11,33 5,33 7,33 12,00 10,67 3,33 3,33 8,67 16,00 1,33 10,67 5,33 3,33 8,67 19,3 41,33 4,67 1,33 0,00 1,33 2,67 6,00 2,00 0,00 0,00 0,00 1,33 20,67 0,00 0,00 1,33 182,65

4,22 0,10 0,27 0,03 0,30 0,10 0,00 0,03 0,07 0,13 0,37 1,13 0,30 0,10 0,03 0,00 1,26 0,60 0,17 0,17 0,00 0,00 0,00 0,03 0,03 0,00 0,00 0,00 0,07 0,13 0,00 0,00 0 42,06

15,418 10,94

Sumber : Hasil penelitian Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan Thn 2001 PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 36

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

3.2.3. Hak Pengusahaan Hutan
Berdasarkan catatan/data Dinas Kehutanan Provinsi Papua, sampai dengan tahun 2003 telah terdaftar sebanyak 69 unit HPH/IUPHHK, dengan luas seluruhnya berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan sebesar 12.481.929 hektar, seperti disajikan pada Tabel 3-6. Dari ke 69 unit HPH/IUPHHK tersebut, yang sementara ini dinyatakan aktif hanya 26 unit, sedangkan sisanya tidak aktif atau mengalami stagnasi Tabel 3-6. Penyebaran HPH/IUPHHK di Provinsi Papua
No. I. PEMEGANG HPH Nomor Kabupaten Jayapura 1 PT. Risana Indah Forest 2 PT. Bina Balantak Utama 3 PT. Tunggal Yudhi Unit I (Jpr) PT. Wapoga Mutiara Timber 4 Unit II PT. Hanurata Coy. Ltd 5 Jayapura 6 PT. Kebun Sari Putra 7 PT. Batasan PT. Mondialindo Setya 8 Pratama 9 PT. Sumber Mitra Jaya 10 PT. Salaki Mandiri Sejahtera 11 PT. Papua Rimba Lestari Kabupaten Yapen Waropen 12 PT. Mamberamo Alas Mandiri PT. Wapoga Mutiara Timber 13 Unit III 14 PT. Nuansa Pamindo 15 PT. Imasulindo 16 PT. Persada Papua Hijau Kabupaten Nabire 17 PT. Kaltim Hutama 18 PT. Centrico Unit II 19 PT. Jati Dharma Indah Pl PT. Sauri Mowari Rimba Unit 20 I PT. Sauri Mowari Rimba Unit 21 II Kabupaten Manokwari 22 PT. Dharma Mukti Persada 23 PT. Wukirasari 24 PT. Yotefa Sarana Timber 25 PT. Agoda Rimba Irian 26 PT. Teluk Bintuni MAK 27 PT. Wana Irian Perkasa 28 PT. Rimba Kayu Arthamas 18/Kpts-II/90 40/Kpts-II/91 489/Kpts-II/95 774/Kpts-II/90 228/Kpts-II/91 14/Kpts-IV/84 342/Kpts-II/97 13 Tahun 2002 14 Tahun 2002 15 Tahun 2002 164 Tahun 2002 1071/Kpts-II/92 169/Kpts-II/97 639/MenhutbunIV/99 05/Kpts-II/2001 46 Tahun 2002 179/Kpts-IV/88 154/Kpts-II/93 96/Kpts-II/97 51 Tahun 2002 52 Tahun 2002 448/Kpts-II/88 396/Kpts-II/90 811/Kpts-II/91 759/Kpts-II/89 293/Kpts-II/92 396/Kpts-II/92 651/Kpts-II/92 SK HPH/IUPHHK Tgl 10-01-90 16-01-91 14-09-95 13-12-90 29-04-91 25-07-84 01-06-97 21-02-02 21-02-02 21-02-02 05-11-02 09-11-92 25-03-97 16-06-99 11-01-01 17-05-02 21-03-88 27-02-93 31-01-97 24-05-02 24-05-02 13-05-88 06-01-91 30-10-91 16-12-89 22-04-92 25-09-92 26-06-92 Luas (Ha) 197.000 325.300 69.400 196.900 188.500 367.000 106.643 94.500 49.126 80.500 91.050 677.310 407.350 41.600 174.540 100.000 155.000 28.100 207.410 100.000 63.000 133.000 150.000 182.000 155.000 139.000 76.900 373.000 AAC Maks. (M3) 146.230 146.230 50.384 75.148 135.000 165.200 52.155 69.029 56.115 61.197 66.922 303.574 225.416 125.330 47.260 112.000 46.700 69.848 46.494 42.266 170.000 120.000 175.000 61.200 120.000 53.800 205.000

II.

III.

IV.

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 37

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

No.

PEMEGANG HPH Nomor PT. Wapoga Mutiara Timber 29 Unit I 30 PT. Bintuni Utama Murni WI PT. Megapura Mambramo 31 Bangun PT. Manokwari Mandiri 32 Lestari Kabupaten Sorong 33 PT. Intimpura Timber Co. 34 PT. Bangun Kayu Irian 35 PT. Hanurata Coy. Ltd Unit I 36 PT. Multi Wahana Wijaya 37 PT. Wanagalang Utama 38 PT. Hasrat Wiramandiri PT. Mancaraya Agro 39 Sejahtera PT. Mitra Pembangunan 40 Global Kabupaten Fak Fak 41 PT. Budhi Nyata 42 PT. Prabu Alaska Unit I 43 PT. Wana Kayu Haslindo 44 PT. Hanurata Coy. Ltd Unit II 45 PT. Hanurata Coy. Ltd Unit III 46 PT. Centrico Unit I 47 PT. Arfak Indra 48 PT. Imasulindo Unit II Kabupaten Mimika 49 PT. Sedia Mulia Utama/AOI II 50 PT. Diadyani Timber 51 PT. Kamundan Raya 52 PT. Alas Tirta Kencana 53 PT. Prasarana Marga Unit I 54 PT. Prasarana Marga Unit II Kabupaten Merauke 55 PT. Artika Optima Inti Unit I PT. Green Timber Jaya/AOI 56 IV 57 PT. Dhamali Mahkota Timber PT. Tunggal Agathis IWI Unit 58 V PT. Tunggal Yudhi Unit II 59 (Mrk) 60 PT. Prabu Alaska Unit II PT. Kayu Pusaka Bumi 61 Makmur 62 PT. Bade Makmur Orissa 63 PT. Tunas Sawaema 64 PT. Damai Setiatama Timber 65 PT. Digul Daya Sakti Unit I 66 PT. Digul Daya Sakti Unit II

SK HPH/IUPHHK Tgl 13-12-90 21-03-88 21-05-02 21-05-02 18-03-89 04-01-93 25-02-94 14-08-91 22-05-92 08-11-93 31-10-01 24-05-02 01-12-87 02-04-91 27-08-97 258-02-94 258-02-95 27-02-93 25-10-89 11-01-01 09-11-89 21-03-88 22-04-92 30-11-95 13-01-92 13-01-92 18-03-89 30-11-95 07-06-94 14-09-95 14-09-95 02-04-91 26-02-96 09-02-93 06-02-89 30-12-91 15-11-95 15-11-95 Luas (Ha) 178.800 137.000 85.000 83.240 333.000 299.000 51.600 139.000 212.000 119.700 99.750 98.500 300.000 330.900 84.000 156.300 209.670 66.900 153.000 174.540 170.000 190.000 187.000 87.500 134.250 65.750 435.000 110.700 156.800 228.000 203.600 123.800 171.100 462.600 200.000 305.000 102.200 244.800

AAC Maks. (M3) 70.230 106.000 56.274 54.530 211.000 125.000 30.000 99.300 253.840 52.000 78.530 54.806 80.000 319.680 49.902 37.600 141.500 46.700 85.000 125.330 103.000 108.000 74.700 22.599 41.000 24.300 76.000 58.694 77.000 228.000 102.881 115.000 76.000 198.000 83.000 96.400 152.670 52.930

774/Kpts-II/90 174/Kpts-II/88 47 Tahun 2002 48 Tahun 2002 69/Kpts-II/89 1/Kpts-II/93 81/Kpts-II/94 534/Kpts-II/91 461/Kpts-II/92 735/Kpts-II/93 105 Tahun 2001 53 Tahun 2002 379/Kpts-IV/87 180/Kpts-II/91 547/Kpts-II/97 81/Kpts-II/94 81/Kpts-II/95 154/Kpts-II/93 533/Kpts-II/89 05/Kpts-II/2001 678/Kpts-II/89 191/Kpts-IV/88 392/Kpts-II/92 649/Kpts-II/95 32/Kpts-II/92 32/Kpts-II/92 132/Kpts-II/89 650/Kpts-II/95 248/Kpts-II/94 490/Kpts-II/95 489/Kpts-II/95 180/Kpts-II/91 70/Kpts-II/96 57/Kpts-II/93 76/Kpts-II/89 948/Kpts-II/91 614/Kpts-II/95 614/Kpts-II/95

V.

VI.

VII.

VIII.

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 38

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

No.

PEMEGANG HPH Nomor 67 68 69 PT. Wana Tirta Edhie Wibowo PT. Rimba Megah Lestari PT. Merauke Rayon Jaya Total

SK HPH/IUPHHK Tgl 19-10-95 18-06-96 05-01-98 Luas (Ha) 206.000 250.000 206.800 12.481.929

AAC Maks. (M3) 206.000 95.198 7.016.092

558/Kpts-II/95 303/Kpts-II/96 05/Kpts-II/98

Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Papua (2003)

Kab. Sorong
33 35

36

PENYEBARAN HPH (sampai dengan Tahun 2004)
Kab. Biak Numfor Kab. Manokwari

Kab. Raja Ampat

38

34

Kab. 27 Teminabuan

37

28 24

31 32

HPH Yapen Utama

Kab. Yapen Kab. Waropen 12
HPH Ekaria Mutiara Tbr 16

2

Kab. Kab. Teluk Bintuni Wandama
30 47 45

Kab. Sarmi

10

4 5

Kab. Fak Fak
42

26 45

23

29

Kab. 6 Jayapura
1

9

Kab. Kaimana

22 17 46 41 SK HPH
81/ Kpts-II/ 94 81/ Kpts- II/ 94 43 534/Kpts-II/91 534/Kpts- II/91 461/Kpts-II/92 461/Kpts- II/92 735/Kpts-II/93 735/Kpts- II/93 105 Tahun 2001 105 Tahun 2001 53 Tahun 2002 53 Tahun 2002 379/Kpts-IV/ 87 379/Kpts- IV/ 87 180/Kpts-II/91 180/Kpts- II/91 547/Kpts-II/97 547/Kpts- II/97 81/ Kpts-II/ 94 81/ Kpts- II/ 94 81/ Kpts-II/ 95 81/ Kpts- II/ 95 154/Kpts-II/93 154/Kpts- II/93 533/Kpts-II/89 533/Kpts- II/89 05/ Kpts-II/ 2001 05/ Kpts- II/ 2001 678/Kpts-II/89 678/Kpts- II/89 191/Kpts-IV/ 88 191/Kpts- IV/ 88 392/Kpts-II/92 392/Kpts- II/92 649/Kpts-II/95 649/Kpts- II/95 32/ Kpts-II/ 92 32/ Kpts- II/ 92 32/ Kpts-II/ 92 32/ Kpts- II/ 92 132/Kpts-II/89 132/Kpts- II/89 650/Kpts-II/95 650/Kpts- II/95 248/Kpts-II/94 248/Kpts- II/94 490/Kpts-II/95 490/Kpts- II/95 489/Kpts-II/95 489/Kpts- II/95 180/Kpts-II/91 180/Kpts- II/91 70/ Kpts-II/ 96 70/ Kpts- II/ 96 57/ Kpts-II/ 93 57/ Kpts- II/ 93 76/ Kpts-II/ 89 76/ Kpts- II/ 89 948/Kpts-II/91 948/Kpts- II/91 614/Kpts-II/95 614/Kpts- II/95 614/Kpts-II/95 614/Kpts- II/95 558/Kpts-II/95 558/Kpts- II/95 303/Kpts-II/96 303/Kpts- II/96 05/ Kpts-II/ 98 05/ Kpts- II/ 98

19

No.
I. I. 1 1 2 2 3 3 4 4 5 5 6 6 7 7 8 8 9 9 10 10 11 11 II. II. 12 12 13 13 14 14 15 15 16 16 III. III. 17 17 18 18 19 19 20 20 21 21 IV. IV. 22 22 23 23 24 24 25 25 26 26 27 27 28 28 29 29 30 30 31 31 32 32 V. V. 33 33 34 34

Pemegang HPH
Kabupate n J ayapura Kabupate n J ayapura PT. Risana Indah Forest PT. Risana Indah Forest PT. Bina Balantak Utama PT. Bina Balantak Utama PT. Tunggal Yudhi Unit I (Jpr) PT. Tunggal Yudhi Unit I (Jpr) PT. Wapoga Mutiara Timber Unit II PT. Wapoga Mutiara Timber Unit II PT. Hanurata Coy . Ltd Jay apura PT. Hanurata Coy . Ltd Jay apura PT. Kebun Sari Putra PT. Kebun Sari Putra PT. Batasan PT. Batasan PT. Mondialindo Sety a Pratama PT. Mondialindo Sety a Pratama PT. Sumber Mitra Jay a PT. Sumber Mitra Jay a PT. Salak ii M andiri Sejah tera PT. Salak M andiri Sejah tera PT. Papua Rimb a L estari PT. Papua Rimb a L estari Kabupate n Ya pe n Waropen Kabupate n Ya pe n Waropen PT. Mamberamo A las M andiri PT. Mamberamo A las M andiri PT. Wapoga Mutiara Timber Unit III PT. Wapoga Mutiara Timber Unit III PT. Nuansa Pamindo PT. Nuansa Pamindo PT. Imasulindo PT. Imasulindo PT. Persada Papua H ijau PT. Persada Papua H ijau Kabupate n Na bire Kabupate n Na bire PT. Kaltim Hutama PT. Kaltim Hutama PT. Centrico Unit II PT. Centrico Unit II PT. Jati Dhar ma Indah Pl PT. Jati Dhar ma Indah Pl PT. Sauri Mowari Rimba Unit I PT. Sauri Mowari Rimba Unit I PT. Sauri Mowari Rimba Unit II PT. Sauri Mowari Rimba Unit II Kabupate n Ma nokwari Kabupate n Ma nokwari PT. Dharma Muk ti Persada PT. Dharma Muk ti Persada PT. Wuk irasari PT. Wuk irasari PT. Yotefa Saran a Timber PT. Yotefa Saran a Timber PT. A goda Rimba Irian PT. A goda Rimba Irian PT. Teluk Bintuni MA K PT. Teluk Bintuni MA K PT. Wana Irian Perk asa PT. Wana Irian Perk asa PT. Rimba Kay u A rthamas PT. Rimba Kay u A rthamas PT. Wapoga Mutiara Timber Unit I PT. Wapoga Mutiara Timber Unit I PT. Bintuni Utama Murni WI PT. Bintuni Utama Murni WI PT. Megapura Mambramo B angun PT. Megapura Mambramo B angun PT. Manok wari Mandiri Lestari PT. Manok wari Mandiri Lestari Kabupate n Sorong Kabupate n Sorong PT. Intimpura T imber Co. PT. Intimpura T imber Co. PT. Bangun Kay u Irian PT. Bangun Kay u Irian

SK HPH
18/ Kpts-II/ 90 18/ Kpts- II/ 90 40/ Kpts-II/ 91 40/ Kpts- II/ 91 489/Kpts-II/95 489/Kpts- II/95 774/Kpts-II/90 774/Kpts- II/90 228/Kpts-II/91 228/Kpts- II/91 14/ Kpts-IV/ 84 14/ Kpts- IV/ 84 342/Kpts-II/97 342/Kpts- II/97 13 Tahun 2002 13 Tahun 2002 14 Tahun 2002 14 Tahun 2002 15 Tahun 2002 15 Tahun 2002 164 Tahun 2002 164 Tahun 2002 1071/Kpts-II/92 1071/Kpts- II/92 169/Kpts-II/97 169/Kpts- II/97 639/M enhutbun - IV/99 639/M enhutbun - IV/99 05/ Kpts-II/ 2001 05/ Kpts- II/ 2001 46 Tahun 2002 46 Tahun 2002 179/Kpts-IV/ 88 179/Kpts- IV/ 88 154/Kpts-II/93 154/Kpts- II/93 96/ Kpts-II/ 97 96/ Kpts- II/ 97 51 Tahun 2002 51 Tahun 2002 52 Tahun 2002 52 Tahun 2002 448/Kpts-II/88 448/Kpts- II/88 396/Kpts-II/90 396/Kpts- II/90 811/Kpts-II/91 811/Kpts- II/91 759/Kpts-II/89 759/Kpts- II/89 293/Kpts-II/92 293/Kpts- II/92 396/Kpts-II/92 396/Kpts- II/92 651/Kpts-II/92 651/Kpts- II/92 774/Kpts-II/90 774/Kpts- II/90 174/Kpts-II/88 174/Kpts- II/88 47 Tahun 2002 47 Tahun 2002 48 Tahun 2002 48 Tahun 2002 69/ Kpts-II/ 89 69/ Kpts- II/ 89 1/Kpts-II/93 1/Kpts- II/93

45 Luas Ha No.
197,000 197,000 325,300 325,300 69,400 69,400 196,900 196,900 188,500 188,500 35 35 36 36 37 37 38 38 39 39 40 40

Pemegang HPH

Kab. 18 Luas Nabire
Ha
51,600 51,600 56 139,000 139,000 212,000 212,000 119,700 119,700 99,750 99,750 98,500 98,500 300,000 300,000 330,900 330,900 84,000 84,000 156,300 156,300 209,670 209,670 66,900 66,900 153,000 153,000 174,540 174,540 170,000 170,000 190,000 190,000 187,000 187,000 87,500 87,500 134,250 134,250 65,750 65,750 435,000 435,000 110,700 110,700 156,800 156,800 228,000 228,000 203,600 203,600 123,800 123,800 171,100 171,100 462,600 462,600 200,000 200,000 305,000 305,000 102,200 102,200 244,800 244,800 206,000 206,000 250,000 250,000 206,800 206,800

41

Kab. Paniai

Kab. Puncak Jaya Kab. Jaya Wijaya Kab. Yahukimo

Kab. 7 Keerom

1

5

PT. Hanurata Coy . Ltd Unit I PT. Hanurata Coy . Ltd Unit I PT. Multi Wah ana Wijay a PT. Multi Wah ana Wijay a PT. Wanagalang Utama PT. Wanagalang Utama PT. Hasr at Wiramandiri PT. Hasr at Wiramandiri PT. Mancaray a A gro Sejahtera PT. Mancaray a A gro Sejahtera PT. Mitra Pembangunan Global PT. Mitra Pembangunan Global Kabupate n Fak Fak Kabupate n Fak Fak PT. Budhi Ny ata PT. Budhi Ny ata PT. Prabu A lask a Unit I PT. Prabu A lask a Unit I PT. Wana Kay u Haslindo PT. Wana Kay u Haslindo PT. Hanurata Coy . Ltd Unit II PT. Hanurata Coy . Ltd Unit II PT. Hanurata Coy . Ltd Unit III PT. Hanurata Coy . Ltd Unit III PT. Centrico Unit I PT. Centrico Unit I PT. A rfak Indra PT. A rfak Indra PT. Imasulindo Unit II PT. Imasulindo Unit II Kabupate n Mimika Kabupate n Mimika PT. Sedia Mulia Utama/A OI II PT. Sedia Mulia Utama/A OI II PT. Diady ani Timber PT. Diady ani Timber PT. Kamundan Ray a PT. Kamundan Ray a PT. A las T irta Kencana PT. A las T irta Kencana PT. Prasaran a Marga Unit I PT. Prasaran a Marga Unit I PT. Prasaran a Marga Unit II PT. Prasaran a Marga Unit II Kabupate n Merauke Kabupate n Merauke PT. A rtik a Optima Inti Unit I PT. A rtik a Optima Inti Unit I PT. Green Timber Jay a/A OI IV PT. Green Timber Jay a/A OI IV PT. Dhamali Mahk ota T imb er PT. Dhamali Mahk ota T imb er PT. Tunggal A gathis IWI Unit V PT. Tunggal A gathis IWI Unit V PT. Tunggal Yudhi Unit II (Mrk ) PT. Tunggal Yudhi Unit II (Mrk ) PT. Prabu A lask a Unit II PT. Prabu A lask a Unit II PT. Kay u Pusak a Bu mi Mak mur PT. Kay u Pusak a Bu mi Mak mur PT. Bade Mak mur Orissa PT. Bade Mak mur Orissa PT. Tunas Saw aema PT. Tunas Saw aema PT. Damai Setiatama Timber PT. Damai Setiatama Timber PT. Digul Day a S ak ti Unit I PT. Digul Day a S ak ti Unit I PT. Digul Day a S ak ti Unit II PT. Digul Day a S ak ti Unit II PT. Wana Tirta Edhie Wibowo PT. Wana Tirta Edhie Wibowo PT. Rimba Megah Lestari PT. Rimba Megah Lestari PT. Merauk e Ray on Jay a PT. Merauk e Ray on Jay a Total Total

50

367,000 VI. 367,000 VI. 106,643 106,643 41 41 94,500 94,500 49,126 49,126 80,500 80,500 91,050 91,050 677,310 677,310 407,350 407,350 42 42 43 43 44 44 45 45 46 46 47 47 48 48

52 53 51 Mimika 53

Kab.

Kab. Asmat

55

Kab. Pegunungan Bintang
58

61

68

54 TOTAL HPH : 69 JPT (L) : 280.018 ha/thn JPT (V) = 7.016.092 m3/thn

HPH Mangole Tbr

65 64

57

59

41,600VII. 41,600VII. 174,540 49 174,540 49 100,000 50 100,000 50 155,000 155,000 28,100 28,100 51 51 52 52

Kab. Digul Bawah
HPH Sagindo Lestari

Kab. Digul Atas
66 67 56 60 56 62

63

53 53 207,410 54 207,410 54 100,000VIII. 100,000VIII. 63,000 63,000 133,000 133,000 150,000 150,000 182,000 182,000 155,000 155,000 139,000 139,000 76,900 76,900 373,000 373,000 178,800 178,800 137,000 137,000 85,000 85,000 83,240 83,240 333,000 333,000 299,000 299,000 55 55 56 56 57 57 58 58 59 59 60 60 61 61 62 62 63 63 64 64 65 65 66 66 67 67 68 68 69 69

Masih Aktif : 26 (38%) JPT (L) = 134.723 ha/thn JPT (V) = 3.301.192 m3/thn Tidak Aktif : 31 (45%) JPT (L) = 116.710 ha/thn JPT (V) = 2.775.507 m3/thn Belum Opr. : 12 (13%) JPT (V) = 28.581 ha/thn JPT (L) = 939.393 m3/thn

Kab. Merauke

Gambar 3-4. Penyebaran HPH di Papua
P E R A N A N IU P H H K / H P H D A L A M P E M B A N G U N A N P R O V IN S I P A P U A
P o te n s i S e k t o r K e h u ta n a n s a n g a t B e s a r 7 0 % , S um b a n g a n P D R B s a n g a t k e c il 7 % ; a lo k a s i la h a n m e n u r u t T a ta R u a n g b e r p a n d a n g a n K o n s e r v a s io n is , b a n y a k H u ta n L in d u n g te r le ta k p a d a K e la s L e r e n g < 2 5 % . In i b e r a r ti d a la m ja n g k a w a k t u 2 0 ta h u n m e n d a ta n g S u m b e r d a y a H u ta n P a p u a m a s ih m em p u n y a i p e r a n a n y a n g D o m in a n d a la m kom po nen pem bentuka n PDR B Pap ua

P e n g g u n a a n L a h a n P r o v in s i P a p u a
No 1 2 3 4 F u n g si Hu ta n HA S & PA HL HP T HP H utan Tetap 5 6 HP K APL J u m la h 7 KP J u m la h T G HK , 1 9 8 2 Ha 8 .3 1 1 .8 2 0 8 .6 4 8 .6 1 0 4 .7 3 2 .3 6 0 7 .1 2 3 .4 8 0 2 8 .8 1 6 .2 7 0 1 1 .7 7 5 .4 2 0 4 7 4 .3 0 0 1 2 .2 4 9 .7 2 0 0 4 1 .0 6 5 .9 9 0 % 20 21 12 17 70 29 1 30 0 100 4 0 .54 6 .3 6 0 1 .6 78 .4 8 0 4 2 .22 4 .8 4 0 96 4 100 K HP , 1 9 9 9 Ha 8 .0 25 .8 2 0 1 0 .61 9 .0 9 0 2 .0 54 .1 1 0 1 0 .58 5 .2 1 0 3 1 .28 4 .3 2 0 9 .2 62 .1 3 0 % 19 25 5 25 74 22 L E ST AR I F UNG SI S O S IA L BUDA YA

L E ST ARI FUNGS I EK O NO M I

P D R B Provinsi Pap ua
N o 1 S e kto r S e kto r P rim e r K e h u ta n a n P e rta m ba n g a n ba L a in - la in
L ES T ARI FU N G S I E K O LO G I

K o n trib u s i (% ) 1 99 4 6 7 ,5 3 7 ,4 1 4 6 ,9 3 1 3 ,1 9 1 3 ,1 7 1 9 ,3 1 00 5 ,1 0 T 5 ,3 4 T 2 00 0 7 7 ,1 2 3 ,9 7 6 0 ,3 3 1 2 ,8 2 7 ,2 5 1 5 ,6 3 1 00 8 ,3 4 T 2 0 ,9 0 T

P E N G E L O LA A N HUTAN L ES T ARI

2 3

S e kto r S e ku n d e r S e kto r Te rs ie r Te

J u m la h

K e s e s u a ia n A lo k a s i H P H t e r h a d a p K e la s L e r e n g
HL
7 1 .3 6 7 1 9 .5 4 3 2 3 .7 9 1 9 .4 4 7 5 .6 7 4 1 2 9 .8 2 2 (1 ,0 6 % )

H a rg a K o n s ta n 1 9 9 3 H a rg a B e rla ku 1 9 9 3

K E L AS L E R E NG
A (0 % - 8 % ) B (8 % –1 5 % ) C (1 5 % - 2 5 % ) D (2 5 % - 4 0 % ) L e b ih 4 0 % J u m la h (h a )

TW A
1 .2 7 6 1 .2 7 6 (0 ,0 1 1 % )

KSA
5 .4 4 6 2 48 1 .4 0 3 7 .0 9 7 (0 ,0 6 % )

HP T
6 2 7 .2 6 5 6 5 7 .3 9 1 9 3 3 .6 9 1 6 1 5 .1 0 5 8 6 .6 6 8 2 .9 2 0 .1 2 0 (2 3 ,8 4 % )

HP
3 .2 7 7 .7 0 0 1 .8 1 5 .4 7 9 6 3 6 .8 6 3 2 5 2 .8 9 2 5 5 .4 8 5 6 .0 3 7 .4 1 9 (4 9 ,2 8 % )

HP K
1 .9 2 4 .1 1 0 5 7 4 .0 3 1 2 6 1 .8 7 6 1 1 8 .2 3 8 8 6 .4 4 2 2 .9 6 4 .6 9 6 (2 4 ,2 0 % )

AP L
1 0 9 .7 5 9 4 7 .1 0 0 1 0 .5 9 3 9 .11 0 1 3 .5 9 6 1 9 0 .1 5 8 (1 ,5 5 % )

J UM L A H ( ha )
6 .0 1 6 .9 2 2 3 .1 1 3 .7 9 2 1 .8 6 6 .8 1 4 1 .0 0 6 .1 9 5 2 4 6 .8 6 5 1 2 .2 5 0 .5 8 9

(% )
4 9 ,1 2 2 5 ,4 2 1 5 ,2 4 8 ,2 1 2 ,0 2 1 0 0 ,0 0

Gambar 3-5. Peranan HPH dalam Pembangunan Papua PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 39

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-7 Produksi Kayu Oleh HPH di Provinsi Irian Jaya Selama Pelita V
TAHUN PRODUKSI (M3) No 1 NAMA PERUSAHAAN 1988/1989 DJAJANTI GROUP 1 2 3 4 5 6 7 2 PT. Artika Optima Inti PT. Perdana Waropen Jaya PT. Sedia Mulia Utama PT. Agoda Rimba Irian PT. Budhi Nyata PT. Kamundan Raya PT. Teluk Bintuni MAK 36,867.69 57,863.90 1,087.91 34,090.74 59,912.20 7,107.12 0.00 0.00 16,665.68 39,441.57 0.00 0.00 0.00 109,042.65 34,467.16 57,082.89 67,314.44 8,982.73 0.00 0.00 71,046.70 45,532.92 82,702.48 79,892.51 61,593.52 0.00 0.00 48,963.37 39,306.61 83,034.70 60,209.07 32,370.50 30,173.80 12,671.37 Januari 1993 Desember 1992 Desember 1992 Desember 1992 Desember 1992 Desember 1992 Januari 1993 1989/1990 1990/1991 1991/1992 1992/1993 KETERANGAN

KLI GROUP 1 2 3 4 5 6 7 8 9 PT. Henrison Iriana PT. Risana Indah Forest PT. Yotefa Sarana Timber PT. Wukira Sari PT. Yapen Utama Timber PT. Dharma Mukti Persada PT. Bina Balantak Utama PT. Intimpura Timber PT. Diadyani Timber 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 65,759.25 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4,053.17 98,419.59 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 17,468.16 101,355.72 0.00 0.00 63,684.45 35,339.84 14,895.58 0.00 54,035.59 28,070.03 80,035.38 0.00 0.00 51,056.18 22,151.95 39,062.45 0.00 138,703.05 0.00 Januari 1993 Januari 1993 Januari 1993 Januari 1993 Januari 1993

3

PORODISA GROUP 1 2 3 PT. Furama Utama Timber PT. Teluk Ethna Trading PT. Pakarti Nusa Belantara 0.00 0.00 2,815.59 0.00 0.00 0.00 11,000.00 0.00 0.00 44,694.76 7,856.50 14,875.93 0.00 0.00 0.00 Dicabut Thn 1992 Dicabut Thn 1992 Dicabut Thn 1992

4

BARITO PASIVIC GROUP PT. Phoenix 1 Harapan Timber PT. Semey Matoa 2 Timber PT. Sukardi 3 Parakanca PT. Multi Wahana 4 Wijaya

0.00 0.00 0.00 0.00

19,951.72 21,984.32 0.00 0.00

25,472.08 4,845.34 30,386.10 0.00

18,295.44 15,012.96 11,320.20 0.00

42,618.45 6,608.34 0.00 59,864.49

Desember 1992 Desember 1992 Desember 1992 Januari 1993

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 40

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-7. Lanjutan
TAHUN PRODUKSI (M3) No NAMA PERUSAHAAN 1988/1989 5 WAPOGA MUTIARA TIMBER GROUP 1 2 3 4 6 PT. Wapoga Mutiara Timber I PT. Wapoga Mutiara Timber II PT. Kayu Ekaria PT. Kaltim Hutama 0.00 0.00 18,908.88 0.00 0.00 0.00 13,722.81 0.00 0.00 0.00 20,718.35 2,471.77 20,496.53 0.00 12,982.98 35,383.74 27,964.06 0.00 19,441.90 31,897.67 Januari 1993 Januari 1993 Januari 1993 1989/1990 1990/1991 1991/1992 1992/1993 KETERANGAN

ALAS KUSUMA GROUP 1 2 PT. Prabu Alaska PT. Rimba Kayu Arthamas 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 153,901.05 0.00 133,888.54 5,466.00 Januari 1993 Januari 1993

7

GROUP LAIN-LAIN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 PT. You Lim Sari PT. Hanurata Coy. Ltd. PT. Pakarti Yoga PT. Tunas Sawaerma PT. Bintuni Hutama HTI PT. Arfak Indra PT. Sumalindo Sari Lestari PT. Dama Setiatama Timber PT. Prasarana Marga PT. Wanagalang Utama JUMLAH 970.74 4,784.14 2,889.94 0.00 1,523.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 169,870.04 9,590.60 0.00 25,405.47 20,223.60 117,461.27 0.00 90.00 0.00 0.00 0.00 413,301.27 55,521.27 0.00 88,770.99 83,770.95 28,122.88 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 743,857.35 108,099.79 19,595.23 111,303.48 61,907.89 52,359.87 11,261.95 7,780.64 0.00 0.00 0.00 1,345,278.28 83,784.71 6,894.56 56,660.08 45,406.19 113,353.91 20,075.60 42,105.41 21,523.67 659.91 13,417.30 1,369,369.22 Januari 1993 Januari 1993 Januari 1993 Januari 1993 Januari 1993 Januari 1993 Januari 1993 Januari 1993 Januari 1993 Januari 1993

3.2.4. Koperasi Peranserta Masyarakat (Kopermas)/Ijin Pemanfaatan Kayu Masyarakat Adat (IPKMA) Mencetusnya Era Reformasi pada tahun 1998 mengakibatkan terjadinya pergeseran norma, dari era ekonomi konglomerasi ke era ekonomi kerakyatan, dari system pemerintahan sentralistik ke desentraslisasi, dari kekuasaan otoriter ke suasana demokratis. Dalam kondisi tersebut terbit kebijakan-kebijakan pemerintah yang berpihak kepada masyarakat dan bernuansa Otonomi Daerah, yaitu UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan; UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah; UU No. 25 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan terakhir UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 41

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Dalam bidang Kehutanan dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1999, tentang Pengusahaan Hutan dan Pemungutan Hasil Hutan pada Hutan Produksi yang pada intinya adalah keberpihakan kepada masyarakat. Yaitu memberikan akses terutama kepada masyarakat adat untuk turut terlibat dan menikmati kesempatan berusaha dalam bidang kehutanan. Melalui Peraturan Pemerintah ini diatur pembatasan luas konsesi HPH bagi para konglomerat, yaitu maksimal 200.000 hektar per unit HPH khusus di Provinsi Papua, sementara di tempat lain dibatasi maksimal 100.000 hektar per unit HPH atau 400.000 ha untuk seluruh Indonesia per Grup HPH (Pasal 8). Dalam pasal 11 ayat 2, Gubernur diberi kewenangan untuk menerbitkan ijin konsesi HPH seluas kurang dari 10.000 hektar. Untuk menindaklanjuti Peraturan Pemerintah di atas, Menteri Kehutanan dan Perkebunan menerbitkan Surat Keputusan No. 317/Kpts-II/1999 tentang Hak Pemungutan Hasil Hutan Masyarakat Hukum Adat pada Areal Hutan Produksi dan No. 318/Kpts-II/1999, tentang Peran serta Masyarakat dalam Pengusahaan Hutan. Dalam keputusan pertama Bupati diberi kewenangan menerbitkan Ijin Hak Pemanfaatan Hasil Hutan (HPHH) kepada Masyarakat Hukum Adat, sementara Kanwil Kehutanan dan Perkebunan melakukan pembinaan dan pengawasan di daerah. Sedangkan penerbitan Ijin HPHH pada Areal HPH dilakukan oleh Gubernur. Pada keputusan kedua Pemegang HPH diwajibkan membina dan memberdayakan masyarakat sekitar hutan untuk terwujudnya kesejahteraan masyarakat serta terciptanya pengaman hutan secara swakarsa melalui perluasan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha dalam segmen-segmen hutan. Untuk menindaklanjuti kedua Keputusan di atas, maka dikeluarkan Petunjuk Pelaksanaan oleh Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan Produksi melalui keputusan No. 199/Kpts/VI-Set/1999, tentang Petunjuk Pelaksanaan Hak Pemungutan Hasil Hutan Masyarakat Hukum Adat pada Areal Hutan Produksi. Selanjutnya Gubernur, khususnya di Provinsi Papua menindaklanjuti Peraturan Perundangan-undangan di atas melalui Surat nomor 522.2/3386/SET perihal Pengaturan Pemungutan Hasil Hutan Kayu oleh Masyarakat Hukum Adat yang ditujukan kepada Bupati/Walikota seprovinsi Papua. Ijin pemungutan diberikan kepada masyarakat hukum adat dalam bentuk Ijin Pemungutan Kayu Masyarakat Adat (IPKMA). Dalam surat tersebut diatur luas penebangan dibatasi tidak lebih dari 1.000
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 42

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

hektar per tahun per unit IPKMA yang penerbitannya dilakukan oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua dengan memperhatikan rekomendasi dari Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota. Ijin diberikan satu tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan penilaian Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota. Pemegang Ijin juga dibebani PSDH dan DR serta wajib melakukan penanaman dan pemeliharaan selama jangka waktu IPKMA dengan ketentuan 2 (dua) pohon untuk setiap penebangan satu pohon sebagai jaminan kelestarian lingkungan hidup. Pada tahun yang sama Kepala Dinas Kehutanan menindaklanjuti Surat Gubernur Provinsi Papua di atas dengan menerbitkan Surat Keputusan No. Kep. 622.1/1648, tanggal 22 Agustus 2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Ijin Pemungutan Hasil Hutan Kayu Masyarakat Hukum Adat/Ijin Pemungutan Kayu Masyarakat Adat (IPKMA). Dalam keputusan ini pemegang IPKMA diwajibkan (1) Menyusun bagan kerja, (2) Melaksanakan penataan batas areal kerja, (3) Melaksanakan perlindungan dan pengamanan areal, (4) Membayar provisi sumberdaya hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR) sesuai ketentuan yang berlaku, (5) Membuat laporan Tata Usaha Kayu (TUK) dan Tata Usaha PSDH/DR sesuai ketentuan yang berlaku, (6) Melakukan penanaman dan pemeliharaan selama jangka waktu IPK-MA dengan ketentuan menanam 2 (dua) pohon untuk setiap penebangan 1 (satu) pohon sebagai pengganti kelestarian lingkungan hidup dan (7) Melakukan pencacahan/penandaan terhadap pohon yang akan ditebang. Selain itu dilakukan pula pembinaan oleh Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota serta bimbingan dan pengendalian pelaksanaan berada pada pihak Dinas Kehutanan Provinsi Papua. Setelah berjalan hingga tahun, hingga tahun 2003, timbul dampak akibat kegiatan IPKMA terhadap kelestarian hutan. Hal demikian terjadi, akibat Ijin IPKMA dikontrakan kepada mitra pemilik modal, karena para pemegang IPKMA, dalam hal ini Kopermas (Koperasi Pemberdayaan Masyarakat) tidak mampu mengelola sendiri hutan yang menjadi haknya. Kopermas tidak memiliki alat berat, alat-alat penebangan dan jaringan pasar. Para pemegang ijin IPKMA ini perlu mitra (investor). Celah ini kemudian mendukung hadirnya para pengusaha besar untuk mendapatkan ijin pengelolaan hutan di Papua melalui Kopermas. Luas konsesi 1.000 ha atau ± 30.000 m3 per tahun sangat layak untuk dikelola oleh para pemilik modal sebagai satu unit produksi. Melalui kemitraan dengan beberapa IPKMA, lahan ribuan hektar yang lebih feasible dapat
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 43

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

diperoleh. Seiring dengan menanjaknya peran Kopermas dalam pengelolaan hutan, posisi HPH di Papua pun melemah. Kopermas hanya me j ik p n n a tn a ” aap mi mo a u tkme g kp i s n d “e a j g n a g n p r e l a a i k d l nu n e s lt i oa hutan secara besar-besaran. Kelestarian hutan mulai terganggu, karena dampak kopermas yang diikuti dengan kegiatan illegal logging marak bermunculan di hutan Papua. Pada akhirnya tujuan awal yang hendak dicapai berupa kelestarian hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dinilai tidak dapat tercapai. Berdasarkan monitoring terhadap pelaksanaan IPKMA, banyak diperoleh pelanggaran dan kelemahan baik di tingkat manajemen IPKMA maupun teknis kehutanan serta kelalaian atas kewajiban pelunasan PSDH/DR. Selanjutnya Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua pada tanggal 22 Desember 2003 menghentikan sementara pelayanan IPKMA terhitung mulai 1 Januari 2004 melaui Surat Kepada Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota seluruh Papua No. 522.1/2441. Pada saat itu sudah diterbitkan 114 ijin IPKMA dengan luas konsesi sebesar 111.250 ha. Tahap berikutnya dilakukan penghentian total pelayanan IPKMA melalui Surat Kepala Dinas Kehutanan No. 522.1/204, tanggal 28 Mei 2004 perihal Penghentian Pelayanan IPKMA. Desember 2004, Menteri Kehutanan mengimbau agar ijin penebangan kayu berupa IPKMA tidak lagi dikeluarkan. Karena pada kenyataannya, penikmat utama IPKMA bukanlah masyarakat adat, tetapi para cukong bermodal besar. Selanjutnya dilakukan Operasi Hutan Lestari II. Pada tanggal 12 Januari 2005 melalui Surat No. 522.2/57/SET, Gubernur Provinsi Papua mencabut Kegiatan IPKMA yang ditindaklanjuti oleh Kepala Dinas Kehutanan dalam Surat No. 522.1/072, tanggal 12 Januari 2005 perihal Penghentian IPK-MA di Papua. Pada akhirnya dalam Rapat Koordinasi di Biak mengenai Kopermas/IPKMA dan Mitra Kerja sepapua menghasilkan keputusan yang salah satu butirnya menyatakan perlu adanya penataan kembali dan kajian terhadap Model IPKMA/Kopermas di Provinsi Papua. PROSES PERIJINAN IPKMA Ijin Pemungutan Kayu Masyarakat Adat muncul untuk pertama kali di Papua setelah diterbitkannya Surat Edaran dari Gubernur Provinsi Papua pada tanggal 22 Agustus 2002. Surat tersebut ditujukan kepada para Bupati/Walikota se Provinsi Papua (sekarang Provinsi Papua dan Provinsi Irian Jaya Barat). Surat bernomor 522.2/3386/SET tersebut menjabarkan Pengaturan Pemungutan Hasil Hutan Kayu oleh Masyarakat Hukum Adat.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 44

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Surat Edaran tersebut diterbitkan dalam rangka pelaksanaan Otonomi Khusus di Bidang Kehutanan dan penertiban pemberian Ijin Pemungutan hasil Hutan Kayu oleh Masyarakatat Hukum Adat. Otonomi di bidang kehutanan didasarkan atas Pasal 67 UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, yang menyatakan, bahwa masyarakat hukum adat sepanjang kenyataan masih ada dan diakui keberadaannya berhak melakukan pemungutan hasil hutan, kegiatan pengolahan hutan dan mendapatkan pemberdayaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan. Sementara untuk Otonomi Khusus, disebutkan dalam Pasal 30 Ayat 2 UU No. 21 Tahun 2001, bahwa usaha-usaha perekonomian di Provinsi Papua yang menanfaatkan sumberdaya alam dilakukan dengan tetap menghormati hak-hak masyarakat adat, memberikan jaminan kepastian hukum bagi

pengusaha, serta prinsip-prinsip pelestarian lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan. Disebutkan pula pada Pasal 43 ayat 1 undang-undang ini, bahwa Pemerintah Provinsi Papua wajib mengakui, menghormati, melindungi, memberdayakan dan mengembangkan hak-hak masyarakat adat. Pertimbangan lain dikeluarkannya Surat Edaran tersebut, mengacu kepada Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 317/Kpts-II/1999 yang mengatur Hak Pemungutan Hasil Hutan Masyarakat Hukum Adat pada Areal Hutan Produksi. Keputusan ini dikeluarkan dalam rangka lebih meningkatkan dan mempercepat proses pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar hutan, khususnya masyarakat hukum adat atau anggotanya, maka pengaturan hak memungut hasil hutan oleh masyarakat hukum adat dalam pemungutan hasil hutan. Tujuan utama dikeluarkannya Surat Edaran ini adalah dalam kerangka menciptakan sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat hukum adat di Provinsi Papua. Areal yang diperkenankan untuk IPKMA ini harus berada pada Hutan Produksi atau Areal penggunaan Lain, dengan luas maksimal 1.000 ha selama satu tahun kegiatan. IPKMA diperkenankan berada pada areal HPH/IUPHHK sepanjang ada ijin dari pemegang HPH/IUPHHK.

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 45

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

IPKMA ini dapat diberikan kepada masyarakat hukum adat dalam bentuk lembaga masyarakat adat yang disahkan oleh kepala distrik atau camat setempat, atau kepada mitra kerjanya dalam bentuk badan usaha milik swasta atau koperasi. Kerja sama antara masyarakat adat dan mitra kerjanya harus mendapat persetujuan dari Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Papua. Dalam hal ini, kepala dinas memiliki kewenangan mutlak untuk menilai kelayakan investor yang ingin bermitra dengan masyarakat adat. Kewajiban yang dibebankan kepada pemegang IPKMA berupa

pembayaran provisi sumbedaya hutan dan dana reboisasi sesuai ketentuan yang berlaku. Pemegang IPKMA wajib menanam dua batang pohon untuk setiap penebangan satu pohon sebagai pengunduh kelestarian lingkungan hidup. Pada hari yang sama, Surat Edaran Gubernur Papua tersebut

ditindaklanjuti oleh Surat Keputusan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua yang kemudian mengurai petunjuk pelaksanaan IPKMA. Petunjuk pelaksanaan teknis tersebut termuat dalam Surat Keputusan (SK) Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Nomor: Kep. 522.1/1648 pada tanggal yang sama. Sejak saat itu diterbitkanlah Surat-surat Keputusan IPKMA oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua sesuai permohonan masing-masing masyarakat adat berikut mitra kerjanya sebagai sponsor. Hingga Desember tahun 2004 telah diterbitkan 247 Surat Keputusan IPKMA dengan luas areal mencapai 232.780 hektar. KINERJA DAN PROFIL IPKMA Dalam kurun waktu lebih kurang dua tahun sejak Gubernur Provinsi Papua mencetuskan ide Ijin Pemungutan Kayu Masyarakat Adat (IPKMA), tepatnya sejak Bulan Juli 2002 hingga Desember 2004 telah diterbitkan tidak kurang 247 Keputusan IPKMA. Lokasi IPKMA pada tahun 2002 tersebar di 8 kabupaten, yaitu di Kabupaten (1) Jayapura, (2) Sarmi, (3) Yapen Waropen, (4) Manokwari, (5) Teluk Bintuni, (6) Sorong, (7) Fakfak dan (8) Kaimana. Pada tahun 2003 terjadi peningkatan/penambahan Areal IPKMA menjadi 14 Kabupaten, yaitu (1) Jayapura, (2) Keerom, (3) Sarmi, (4) Yapen Waropen, (5) Nabire, (6) Manokwari, (7) Teluk
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 46

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Wondama, (8) Teluk Bintuni, (9) Sorong, (10) Sorong Selatan, (11) Fakfak, (12) Kaimana, (13) Merauke dan (14) Kabupaten Mimika. Selanjutnya pada Tahun 2004 hanyat diterbitkan 7 Surat Keputusan IPKMA oleh Dinas Kehutanan Provinsi Papua, yaitu di Kabupaten : (1) Jayapura, (2) Sarmi, (3) Waropen, (4) Nabire, (5) Boven Digul, (6) Kaimana dan (7) Sorong. Jumlah IPKMA yang hanya terdapat di 8 (delapan) kabupaten pada tahun 2002, dikarenakan penerbitannya dimulai pada Bulan Juli, jadi efektif hanya setengah tahun saja. Selanjutnya pada tahun 2003, penerbitan SK IPKMA bertambah menjadi 14 kabupaten. Dan terakhir pada tahun 2004 terjadi penurunan menjadi hanya terdapat di 7 (tujuh) Kabupaten penerbitan SK IPKMA, hal ini terkait dengan santernya tuduhan IPKMA sebagai penyebab terjadinya Illegal logging yang ditandai dengan Operasi Hutan Lestari II dari Jakarta. Dari jumah 247 (dua ratus empat puluh tujuh) IPKMA yang tersebar di berbagai Kabupaten di Provinsi Papua, diterbitkan 27 (dua puluh tujuh) Surat Keputusan IPKMA pada tahun 2002, 187 (seratus delapan puluh tujuh) diterbitkan pada tahun 2003 dan 33 (tiga puluh tiga) Surat Keputusan IPKMA diterbitkan pada tahun 2004. Tabel 3-8. Perkembangan IPKMA Sampai Dengan Tahun 2004
NO. A. I. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. NAMA PEMEGANG IJIN/ MITRA KERJA TAHUN 2002 KAB. JAYAPURA Kopermas Sawe Bebo Rimba Abadi PT. Wapoga M. Timber LMHA Desa Sawu Suma PT. Wapoga M. Timber PT. Wapoga Mutiara Timber Unit II PT. Wapoga M. Timber Kop. Guryad Dawemna PT. Ataka Prima Botawa Kopernas Dore PT. KSP Kop. Yanggu Kumel CV. Korina Jaya Koperkam Bolya Kopernas Sentosa PT. KSP Jumlah I DISTRIK/ KAMPUNG DALAM/ LUAR HPH ALAMAT MITRA KERJA NO. & TGL. SK KDK PROV. PAPUA

Unurum Guay Kp. Garusa Unurum Guay Kp. Sawe Suma Unurum Guay Kp. Garusa Sawe Unurum Guay Kp. Guyad Unurum Guay Kp. Dore Kemtukgrasi Kp. Yanggu Unurum Guay Kp. Sentosa II 8 Ijin

Dalam HPH PT. WMT II dan PT. KSP Dalam HPH PT. WMT II dan PT. KSP Dalam HPH PT. WMT II Dalam HPH PT. WMT II Dalam HPH PT. KSP Dalam HPH PT. RIFI Dalam HPH PT. KSP

Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln Jayapura Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln Jayapura Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln Jayapura Jl. Moh Hatta Serui Jl. Semeru No. 8C Dok V Jl. Pasifik Indah III Tj. Ria Jl. Semeru No. 8C Dok V

KEP-522.1/2016 25-Oct-2002 KEP-522.1/2017 25-Oct-2002 KEP-522.1/2018 25-Oct-2002 KEP-522.1/2019 06-Nov-2002 KEP-522.1/2432 30-Dec-2002 KEP-522.1/2186 09-Jul-2002 KEP-522.1/2419 30-Dec-2002 KEP-522.1/2433 30-Dec-2002

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 47

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-8. Lanjutan
NO. 1. 2. NAMA PEMEGANG IJIN/ MITRA KERJA LMHA Desa Tamar PT. Wapoga M. Timber Kopernas Tetom Jaya PT. Wapoga M. Timber Jumlah II III. 1. KAB. Y. WAROPEN Kop. Mina Kawabori PT. Arefindo Karya Prananusa 2. Kop. Gunung Madi Yapen Timur Kp. Alsamba dan Woda Waroprn Atas Kp. Anasi Jumlah III IV. 1. KAB. MANOKWARI KUD Fajar Karunia CV. Arawitha 2. KUD Serba Guna CV. Arawitha 3. Kopermas Irihima CV. Arawitha 4. KSU Seraworiri PT. T A I W I 5. KSU Agathis PT. Prima Multindo Jaya 6. Kopernas Arison PT. Setia Lestari Makmur Jumlah IV V. 1. KAB. TEL. BINTUNI Kopermas Waseray CV. Arawitha Jumlah V VI. 1. KAB. SORONG PT. Sinas Wijaya Pratama (Dikerjakan sendiri) Jumlah VI VII. 1. KAB. FAK-FAK Kopermas Nggirang-girang PT. Maju Wahana Papua 2. Koperasi Adat Wombi PT. Citragraha Multindo Sentosa Jumlah VI VIII. 1. KAB. KAIMANA Kopermas Sermuku CV. Prima Indah Sari Kaimana Kp. Usia Luar Jl. Gajah Mada No. 193/195 Jambi KEP-522.1/2319 11-Dec-2002 2 Ijin Kokas Kp. Goras Dalam HPH PT. Arfak In Ffk Barat Kp. Siboru Dalam HPH PT. MWP Papua Jl. Basuki Rahmat Km. 8 No. 84-Srg Jak-Pus Jl. Iman Bonjol Fak-fak KEP-522.1/2395 19-Dec-2002 KEP-522.1/2337 13-Dec-2002 1 Ijin Seget Kp. Waliam Luar Jl. Misool No. 84B Kp. Baru - Srg KEP-522.1/1875 27-Sept-2002 Babo Kp. Kuri II & Naramasa 1 Ijin Luar G.G. Flamboyan RT.003/RW.005 Jak-Pus KEP-522.1/2425 30-Dec-2002 Merdey Kp. Merdey Merdey Kp. Rawara Merdey Kp. Rawara Windesi Kp. Karuan & Mamisi Amberbaken Kp. Aru Ransiki Kp. Dembek 6 Ijin Luar Luar G.G. Flamboyan RT.003/RW.005 Jak-Pus Jl. Belibis No. 9 Wosi - Mkw. KEP-522.1/2405 23-Dec-2002 KEP-522.1/2317 11-Dec-2002 Dalam HPH PT. WIP & PT. WGU Dalam HPH PT. WIP & PT. WGU Dalam HPH PT. WGU Luar Jl. Jos Soedarso No. 74 Kp. Baru Sorong Jl. Jos Soedarso No. 74 Kp. Baru Sorong Jl. Jos Soedarso No. 74 Kp. Baru Sorong Desa Wamisa Tenggara KEP-522.1/2718 15-Nov-2002 KEP-522.1/2022 25-Oct-2002 KEP-522.1/2021 25-Oct-2002 KEP-522.1/2019 25-Oct-2002 2 Ijin Dalam HPH PT. Nuansa Pamindo Luar Kab. Yawa KEP-522.1/2008 24-Oct-2002 Jl. Diponegoro Serui-Yapen KEP-522.1/2007 24-Oct-2002 DISTRIK/ KAMPUNG Bonggo Kp. Tamar Bonggo Kp. Mawesday 2 Ijin DALAM/ LUAR HPH Dalam HPH PT. WMT II Dalam HPH PT. WMT II ALAMAT MITRA KERJA Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln NO. & TGL. SK KDK PROV. PAPUA KEP-522.1/2162 15-Nov-2002 KEP-522.1/2163 15-Nov-2002

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 48

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-8. Lanjutan
NO. 2. 3. 4. NAMA PEMEGANG IJIN/ MITRA KERJA Kopermas Iriboma Kopernas Orkikida Yayasan Koramo Jumlah VIII IX. 1. KAB. MERAUKE CV. Yoba Debak CV. Arawitha Jumlah V Jumlah A B. I. 1. 2. 3. 4. 5. TAHUN 2003 KAB. JAYAPURA Kopermas Arhasso (Dikerjakan sendiri) Kop. Sokuata Dawemna PT. Wapoga M. Timber LMHA Kp. Garusa PT. Wapoga M. Timber Kopermas Keyai PT. Jaya Tasbi Pratama Kopermas Yanggu Kumel CV. Korina Jaya 6. 7. Kopermas Yatik PT. Kebun Sari Putra PT. Bukit Abe Permai (Dikerjakan sendiri) 8. 9 Kop. Dorsa Jaya PT. Kebun Sari Putra Kop. Witisari PT. Kebun Sari Putra Jumlah I II. 1. KAB. KEEROM Kopermas Yasaim Jaya CV. Victori Cemerlang 2. 3. Koperasi Wepasyau Swadaya Sendiri Kopermas Frisshi PT. Hanuata Unit JPR 4. 5. Kop. Yasra Bayan PT. Batasan Kopermas Tunas Usuna Inmas Jumlah VIII III. 1. 2. KAB. SARMI LMHA Mawesday PT. Wapoga M. Timber KSU Enemre PT. Bina Balantak Utama 3. KSU PT. BBU Bonggo Kp. Mawesday Sami Kp. Wapo Sami Kp. Holmafen Dalam HPH PT. WMT II Dalam HPH PT. BBU Dalam HPH PT. BBU Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln Jl. Baliem No. 9 Dok. V-Jpr Jl. S. Parman Kav. 67 - Jpr KEP-522.1/90 17-Jan-2003 KEP-522.1/327 18-Peb-2003 KEP-522.1/328 18-Feb-2003 5 Ijin Muara Tami Kp. Mosso Muara Tami Kp. Mosso Arso Kp. Bagea Dalam HPH PT. HNT-Jpr Dalam HPH PT. Batasan Luar Kp. Mosso Muara Tami Jl. Hamadi Gunug II/1 Jayapura Jl. Bufer Blok A No. 9 - Wamena KEP-522.1/1253 03-Jun-2003 KEP-522.1/2473 KEP-522.1/1495 19-Aug-2003 KEP-522.1/2388 16-Dec-2003 Arso Kp. Wembi Luar KEP-522.1/275 08-Jul-2003 Kaureh Kp. Taja Kaureh Kp. Taja 9 Ijin Dalam HPH PT. KSP Dalam HPH PT. KSP Jl. Semeru No. 8C Dok V Jl. Semeru No. 8C Dok V KEP-522.1/2343 11-Dec-2003 KEP-522.1/2442 22-Dec-2003 Abepura Kp. Koya Koso Unurum Guay Kp. Garusa Unurum Guay Kp. Garusa Kaureh Kp. Kwarja Kemtuk Gresik Kp. Bangai Unurun Guay Kp. Wamho Senggi Kp. Senggi Dalam HPH PT. KSP Luar Jl. Semeru No. BC Dok KEP-522.1/1521 25-Aug-2003 KEP-522.1/1522 22-Aug-2003 Dalam HPH PT. Han-Jpr Dalam HPH PT. WMT II Dalam HPH PT. WMT II Dalam HPH PT. RIFI Dalam HPH PT. RIFI Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln Jl. Batang Arau No. 88 Berok KEP-522.1/633 26-Mar-2003 KEP-522.1/951 13-May-2003 KEP-522.1/952 13-May-2003 KEP-522.1/1282 08-Jul-2003 KEP-522.1/1286 09-Jul-2003 1 Ijin 27 Ijin Edera Luar KEP-522.1/2165 15-Nov-2002 DISTRIK/ KAMPUNG Kaimana Kp. Bohomia Buruway Kp. Esanal Tel. Arguni Kp. Nagura 4 Ijin DALAM/ LUAR HPH ALAMAT MITRA KERJA Jl. PTT No. 6 Kaimana Jl. PTT No. 6 Kaimana Jl. PTT No. 6 Kaimana NO. & TGL. SK KDK PROV. PAPUA KEP-522.1/2386 18-Dec-2002 KEP-522.1/2386 18-Dec-2002 KEP-522.1/2386 18-Dec-2002

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 49

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-8. Lanjutan
NO. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. NAMA PEMEGANG IJIN/ MITRA KERJA Kopermas Fuan PT. BBU Kopermas Watora PT. BBU Kopermas Andran PT. Wapoga M. Timber Kop. Fyamfon Raya PT. Wapoga M. Timber Kop. Witri Wai Baden PT. Wapoga M. Timber Kopermas Snirif PT. Wapoga M. Timber Kopermas Babauan PT. BBU LMHA Desa Tarontha PT. Wapoga M. Timber Kopermas Tamar Badem PT. Wapoga M. Timber 13. Kopermas Baunan Makmur PT. Wapoga M. Timber 14. Kopermas Tetom Jaya PT. Wapoga M. Timber 15. Kopermas Mawaif PT. Jhuta Daya Perkasa 16. Kopermas Karya Bersama (PT. Kerip Wanausaha Agung) 17. Kopermas Chwatora PT. BBU Jumlah III IV. 1. 2. KAB. YAPEN WAROPEN Kopermas Rimba Powi PT. Wapoga M. Timber Kopermas Gunung Biadi PT. Inti Misawa Foresta 3. 4. Kop. Gunung Madi PT. Inti Misawa Foresta Kop. Nurial PT. Inti Misawa Foresta 5. Kop. Wartes PT. Inti Misawa Foresta 6. Kop. Atonohia PT. Sumber Usaha Timur Raya Jumlah IV Warop. Bawah Kp. Somiangga Warop. Atas/ Kp. Dadat Kemal Warop. Atas Kp. Anasi Yapen Atas/ Kp. Bariworo Warop. Atas Kp. Rapamarei Waropen Atas/ Kp. Keremai 6 Ijin Dalam HPH PT. Persada Papua Hijau Dalam HPH PT. Persada Papua Hijau Luar HPH KEP-522.1/2458 23-Dec-2003 Kab. Yawa KEP-522.1/2459 23-Dec-2003 Kab. Yawa Luar Kab. Yawa KEP-522.1/1518 25-Aug-2003 KEP-522.1/2386 16-Dec-2003 Dalam HPH PT. WMT II Luar Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln KEP-522.1/1090 06-Jun-2003 KEP-522.1/1300 11-Jul-2003 Sarmi Kp. Amsira 17 Ijin Dalam HPh PT. BBU Jl. Baliem No, 9 Dok. V-Jpr KEP-522.1/2472 23-Dec-2003 Bonggo Kp. Amorpa Pantai Timur Kp. Nengke Pantai Timur Kp. Beneraf Dalam HPH PT. SMS Dalam HPH Kp. WMT II Luar Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln. Jl. Karya No. 3 Tanah Hitam-Abe Jayapura Jl. Hambadi Raya No. 6 Hamadi KEP-522.1/2447 22-Dec-2003 KEP-522.1/2000 19-Dec-2003 KEP-522.1/2174 13-Nov-2003 Bonggo Kp. Amorpa Dalam HPH Kp. WMT II Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln. KEP-522.1/1999 20-Oct-2003 DISTRIK/ KAMPUNG Tor Atas Kp. Omte Sarmi Kp. Siaretera Bonggo Kp. Tarontha Bonggo Kp. Tarontha Bonggo Kp. Tarontha Pantai Timur Kp. Ansudu Tor Atas Kp. Omte Bonggo Kp. Tarontha Bonggo Kp. Tamar DALAM/ LUAR HPH Dalam HPH PT. BBU Dalam HPH PT. Bbu Dalam HPH Kp. WMT II Dalam HPH Kp. WMT II Dalam HPH Kp. WMT II Dalam HPH Kp. WMT II Dalam HPH PT. BBU Dalam HPH Kp. WMT II Dalam HPH Kp. WMT II ALAMAT MITRA KERJA Jl. Baliem No. 9 Dok. V-Jpr Jl. Baliem No. 9 Dok. V-Jpr Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln. Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln. Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln. Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln. Jl. Baliem No. 9 Dok. V-Jpr Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln. Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln. NO. & TGL. SK KDK PROV. PAPUA KEP-522.1/425 25-Feb-2003 KEP-522.1/428 25-Feb-2003 KEP-522.1/836 29-Apr-2003 KEP-522.1/837 29-Apr-2003 KEP-522.1/930 12-Mey-2003 KEP-522.1/931 12-Mey-2003 KEP-522.1/963 14-Mey-2003 KEP-522.1/1159 17-Jun-2003 KEP-522.1/1998 20-Oct-2003

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 50

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-8. Lanjutan
NO. V. 1. NAMA PEMEGANG IJIN/ MITRA KERJA KAB. NABIRE Kopermas Marahre PT. Nabire Permai Indah 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kop. Nenggo Nojaobo PT. Nabire Permai Indah KSM Bihewa II PT. Nabire Jaya Abadi KSM Akaba II PT. Nabire Jaya Abadi Kopermas Bihema PT. Nabire Jaya Abadi Kopermas Akaba PT. Nabire Jaya Abadi Kop. Borobosari PT. Nabire Jaya Abadi Kop. Maporasi PT. Wahid Technika Indonusa 9. Kopermas Beduwo PT. Wahid Technika Indonusa 10. Kop. Deuwode PT. Wahid Technika Indonusa 11. Kopermas Nadimo PT. Wahid Technika Indonusa 12. KSU Kuriani Bina Persada / PT. Wahid Technika Indonusa 13. Kopermas Maporasi Unit I / Wahid Technika Indonusa 14.. Kopermas Koroba PT. Trisahabat Sejati Sukses 15. Kopermas Tojana PT. Centrico Unit I 16. 17. 18. Kopermas Winggar PT. Nabire Jaya Abadi Kopermas Andarisi PT. Wana Weria Lestari Kopermas Koroba Unit II CV. Sinar Kaibus 19. Kopermas Waoha PT. Papua Product Export 20. 21. Kop. Rene Baru Jaya PT. Dyospyros Perkas Kopernas Kikep PT. Nabire Permai Indah Uwapa Kp. Ororodo Yaur Kp. Yaue Dalam HPH PT. JDIP Luar Jl. Pipit Kali Nabire Jl. Wolter Mangunsidi - Nbr KEP-522.1/1285 9-Jul-2003 KEP-522.1/1412 30-Jul-2003 Yaur Kp. Sima Luar Yaur Kp. Akudiomi Napan Kp. Makimi Napan Kp. Makimi Yaur Kp. Sima Dalam HPH PT. JDI Luar Luar Luar Yaur Kp. Sima Luar Yaur Kp. Sima Luar Napan Kp. Winapi Luar Napan Kp. Unipo Luar Napan Kp. Unipo Luar Napan Kp. Albore Luar Yaur Kp. Yaur Yaur Kp. Akudiomi Napan Kp. Makimi Yaur Kp. Sima Napan Kp. Makimi Yaur Kp. Sima Napan Kp. Makimi Napan Kp. Makimi Dalam HPH PT. JDI Dalam HPH PT. JDI Dalam HPH PT. JDI Dalam HPH PT. JDI Dalam HPH PT. JDI Luar Luar Luar Jl. Wolter Mangun Sidi No. 32 - Nbr Jl. Wolter Mangun Sidi No. 32 - Nbr Jl. Pemuda No. 11B - Nbr Jl. Pemuda No. 11B - Nbr Jl. Pemuda No. 11B - Nbr Jl. Pemuda No. 11B - Nbr Jl. Pemuda No. 11B - Nbr Jakarta Plaza Lt. IV / DB I Jkt III . 80 Jakarta Plaza Lt. IV / DB I Jkt III . 80 Jakarta Plaza Lt. IV / DB I Jkt III . 80 Jakarta Plaza Lt. IV / DB I Jkt III . 80 Jakarta Plaza Lt. IV / DB I Jkt III . 80 Jakarta Plaza Lt. IV / DB I Jkt III . 80 Jl. Perikanan Hmd RT. 02/ R#.03-Hamadi Jl. RE. Marthadinata No. 59 Malopo - Nbr Jl. Pemuda No. 11B - Nbr Jl. Trikora No. 6 Kel. Samofa-Biak Jl. Kusuma Bangsa No. 18 Nabire KEP-522.1/1275 8-Jul-2003 KEP-522.1/876 5-May-2003 KEP-522.1/911 8-May-2003 KEP-522.1/1168 17-Jun-2003 KEP-522.1/568 17-Mar-2003 KEP-522.1/562 11-Mar-2003 KEP-522.1/356 19-Peb-2003 KEP-522.1/355 19-Peb-2003 KEP-522.1/354 19-Peb-2003 KEP-522.1/353 19-Peb-2003 KEP-522.1/352 19-Peb-2003 KEP-522.1/239 7-Feb-2003 KEP-522.1/240 7-Feb-2003 KEP-522.1/264 11-Peb-2003 KEP-522.1/265 11-Peb-2003 KEP-522.1/266 11-Peb-2003 KEP-522.1/267 11-Peb-2003 KEP-522.1/268 11-Peb-2003 KEP-522.1/351 19-Peb-2003 DISTRIK/ KAMPUNG DALAM/ LUAR HPH ALAMAT MITRA KERJA NO. & TGL. SK KDK PROV. PAPUA

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 51

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-8. Lanjutan
NO. 22. 23. NAMA PEMEGANG IJIN/ MITRA KERJA Kop. Tel. Bramon Raya PT. Nabire Permai Indah Kopermas Irantuar PT. Rimba Papua Lestari 24. Kop. Malkiwado II PT. Jati Dharma Wood Industries 25. 26. Kopermas Werujani PT. Papua Hutan Lestari Kopermas Waisai CV. Sinar Kaibus 27. Kopermas Berdikari PT. Unindo Dharma Nusantara 28. KSM Bihewa II CV. Sinar Kaibus Jumlah V VI. 1. 2. KAB. MANOKWARI Kopermas Warbiyadi Edi Rahmat Kopermas Maskeri PT. Sumber Alam Papua Gemilang 3. KSU Nerokon PT. TAIWI 4. 5. KUD Kaironi KSU Samaray PT. Biru Hijau Jaya 6. 7. 8. 9. 10. Kop. Semiei PT. Makmur Abadi Kop. Sorodauni CV. Arga Perkasa Kop. Agoy Jaya PT. Nabire Permai Indah KSU Agathis CV. Juan Putratama Kop. Makeri Dua PT. Rimba Kayu Anugerah 11. Kopermas Maskeri PT. Sumber Alam Papua Gemilang 12. VII. 1. 2. Kop. Meyou Susra Jumlah VI KAB. TEL. WONDAMA KSU Keroweni KSU Imanuel CV. Mitra Samudera Wasior Kp. Sindrawoi Wasior Kp. Tandia Luar Jl. Palapa Manokwari Luar KEP-522.1/25 8-Jan-2003 KEP-522.1/26 8-Jan-2003 12 Ijin Windesi Kp. Weringgai Luar Jl. Bosnik No. 1 Biak Numfor KEP-522.1/2477 23-Dec-2003 Oransbari Kp. Watariri Windesi Kp. Wamesa Tengah Amberbaken Kp. War Snembri Masni Windesi Kp. Werabar Ransiki Kp. Kapang Aranday Kp. Taroy Ransiki Kp. Susmoref Amberbakn Kp. Arfu Windesi Kp. Werianggi Dalam HPH PT. WMT-I Luar Luar Dalam HPH PT. MML Luar Luar Luar Luar Jl. Monomutu SK. II / 20 Ternate - Maluku Jl. Trikora No.1090 Komp. Makasar-Wosi Jl. Trikora No. 13 Wosi - Mnw Jl. Pahlawan No. 9 - Sorong Jl. Kabupaten Manokwari Jl, Fanindi Dalam Manokwari KEP-522.1/1301 11-Jul-2003 KEP-522.1/1302 11-Jul-2003 KEP-522.1/2002 20-Oct-2003 KEP-522.1/2235 11-Decl-2003 KEP-522.1/2452 23-Dec-2003 KEP-522.1/308 13-Feb-2003 KEP-522.1/1137 16-Jun-2003 KEP-522.1/307 13-Feb-2003 Luar Jl. Bosnik No. 1 Biak Numfor Luar Oransbari KEP-522.1/258 11-Feb-2003 KEP-522.1/259 11-Feb-2003 Napan Kp. Makimi 28 Ijin Dalam HPH PT. JDI Wanggar Kp. Wanggar Yaur Kp. Sima Uwapa Dalam HPH PT. JDI Dalam HPH PT. JDI Jl. Kusuma Bangsa No. 18 Nabire Jl. Kusuma Bangsa No. 18 Nabire Jl. Kusuma Bangsa No. 18 Nabire KEP-522.1/2488 24-Dec-2003 KEP-522.1/2226 21-Nov-2003 Luar DISTRIK/ KAMPUNG Yaur Kp. Yaur Yaur Kp. Yeretuar Uwapa Kp. Topo Dalam HPH PT. JDI Luar DALAM/ LUAR HPH Luar ALAMAT MITRA KERJA Jl. Wolter Mangunsidi - Nbr Jl. RE. marthadinata No. 158 Nabire Jl. Kendari Nomor 159 Nabire KEP-522.1/1911 26-Oct-2003 KEP-522.1/2058 29-Oct-2003 KEP-522.1/1851 25-Sep-2003 NO. & TGL. SK KDK PROV. PAPUA KEP-522.1/1413 30-Jul-2003 KEP-522.1/1546 26-Aug-2003

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 52

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-8. Lanjutan
NO. 3. 4. NAMA PEMEGANG IJIN/ MITRA KERJA Kop. Ngkoiveta CV. Mitra Samudera Kopermas Almendo PT. Prima Multindo Jaya 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Kop. Dusner Mandiri PT. Kutai Wahana Indah Kopermas Mawoi PT. Nabire Permai Indah Koperman Waropa CV. Mitra Samudera Kop. Port Mananggal PT. Papua Wahana Karya Kopermas Simiei PT. Makmur Abadi Kop. Simiei III CV. Ladang Kop. Mitra Perdana PT. Megapura Mamberamo Bangun 12. 13. 14. Kop. Dusner Mandiri PT. Wapoga M.T - III KSU Immanuel CV. Mitra Samudera Kopermas Mayosi CV. Alam Lestari Jaya 15. KSU Kaunamba CV. Mitra Samudera Jumlah VII VIII. 1. 2. 3. 4. 5. KAB. TEL. BINTUNI Kop. Sinar Mogoi II PT. Sanjaya Makmur Kop. Binmatahom PT. Marindo Utama Jaya Kop. Sinar Mayado Kop. Putra Masowi Kop. Putra Mandiri PT. Kayu Tropikal Jaya 6. 7. 8. 9. 10. Kop. Mayado Utama PT. Kayu Tropikal Jaya KSU Immanuel Kop. Jl. Manyen Heph PT. Marindo Utama Jaya Kop. Cahaya Maskona PT. Sanja Makmur KUD Irira CV. Cenderawasih Adhi Lestari Bintuni Kp. Mayado Bintuni Kp. Timbuni Merdey Kp. Mayado Bintuni Kp. Kucir Merdey Kp. Barma & Kp. Jagiro Merdey Kp. Mayado Babo Kp. Mamuranu Bintunui Kp. Pasamai Bintuni Kp. Mogoi Baru Bintuni Kp. Siberia Dalam HPH PT. RKA Dalam HPH PT. MML Dalam HPH PT. MML Dalam HPH PT. RKA Dalam HPH PT. YST Distrik Bintuni Jl. Surya Panoto No, 2 - JKT. Jl. Ciliwung Belakang Gereja Sion-Manokwari KEP-522.1/206 31-Jan-2003 KEP-522.1/218 6-Feb-2003 KEP-522.1/219 6-Feb-2003 KEP-522.1/329 18-Feb-2003 KEP-522.1/563 14-Mar-2003 Dalam HPH PT. RKA Dalam HPH PT. YST Dalam HPH PT. RKA Dalam HPH PT. RKA Dalam HPH PT. RKA Istana Harmoni No. 296-JKT. Hotel Siola Bintuni KEP-522.1/52 13-Jan-2003 KEP-522.1/72 17-Jan-2003 KEP-522.1/58 27-Jan-2003 KEP-522.1/203 31-Jan-2003 KEP-522.1/205 31-Jan-2003 Wasior Kp. Siwasawo Wasior Kp. Tandia Rumberpon Kp. Senebuai & Kp. Yasiari Wasior Kp. Webi 15 Ijin Luar Jl. Palapa Manokwari KEP-522.1/2479 23-Dec-2003 Luar Dalam HPH PT. WMT-I Luar Jl. MH. Thamrin No. 51 - Jakarta Jl. Palapa Manokwari KEP-522.1/2474 23-Dec-2003 KEP-522.1/2475 23-Dec-2003 KEP-522.1/2478 23-Dec-2003 Wasior Kp. Simiei Rumberpon Kp. Yarmatum DISTRIK/ KAMPUNG Wasior Kp. Sindrawoi Wasior Kp. Maninoi Wasior Kp. Siwasawo Wasior Kp. Sobel Wasior Kp. Ambumi Windesi Sombokoro Wasior Dalam HPH PT. WMT-I Dalam HPH PT. WMT-I Dalam HPH PT. MMB Luar Luar Dalam HPH PT. WMT-I Luar Luar G.G. Flamboyan RT. 003/RW. 005 Jak-Pus Jl. MH. Thamrin No. 51 Jakarta Jl. Trikora Manokwari Kampung Ambumi Jl. Pahlawan 56 Manokwari Jl. Trikora No. 13 Wosi - Mkw Jl. Trikora No. 13 Wosi - Mkw Jl. Trikora No. 13 Wosi - Mkw KEP-522.1/204 31-Jan-2003 KEP-522.1/238 7-Feb-2003 KEP-522.1/26008 11-Feb-2003 KEP-522.1/498 11-Mar-2003 KEP-522.1/671 3-Apr-2003 KEP-522.1/1298 11-Jun-2003 KEP-522.1/2437 22-Dec-2003 DALAM/ LUAR HPH Luar ALAMAT MITRA KERJA NO. & TGL. SK KDK PROV. PAPUA KEP-522.1/27 8-Jan-2003 KEP-522.1/40 10-Jan-2003

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 53

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-8. Lanjutan
NO. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. NAMA PEMEGANG IJIN/ MITRA KERJA KSU Peremi Indah PT. Tataola Hutan Prima KSU Sigerau PT. Marindo Utama KSU Naore PT. Sanjaya Makmur Kop. Barma Makmur Kop. Cahaya Wudoka PT. Sanjaya Makmur KSU Mendes PT. Sanjaya Makmur Kop. Kamundan Raya PT. Sri Mewah Maju Jaya Kopermas Teheniai PT. Kebun Sari Putra Kop. Firdaus Trimarol PT. Sanjaya Makmur KSU Serba Guna CV. Arawitha Kop. Kaminassay PT. Sanjaya Makmur KSU Serba Guna CV. Arawitha Kopermas Irahima CV. Arawitha KUD Fajar Kurnia CV. Arawitha Jumlah VIII IX. 1. 2. 3. 4. KAB. SORONG KSU Karya Nasen CV. Karimba Sorong Kopermas Bina Usaha Kopermas Adat Ilbahok PT. Hasrat Wiramandiri Kopermas Sumber Kasih PT. Kalindo Internasional 5. 6. 7. 8. 9. CV. Tambrauw (Dikerjakan sendiri) CV. Tambrauw (Dikerjakan sendiri) CV. Tambrauw (Dikerjakan sendiri) CV. Tambrauw (Dikerjakan sendiri) CV. Mitra Wana Abadi (Dikerjakan sendiri) 10. 11. CV. Mitra Wana Abadi (Dikerjakan sendiri) CV. Mitra Wana Abadi (Dikerjakan sendiri) Salawati Kp. Waimon Salawati Kp. Waimon Dalam HPH PT. HWM Luar Sda. Beraur Kp. Buck Weigeo Selatan/Kp. Selpek Berarur Kp. Buck Waigeo Selatan/Kp. Urbinasopen Salawati Kp. Ninjemor Beraur Kp. Klawana Beraur Kp. Klawana Beraur Kp. Klawana Salawati Kp. Klasop Luar Luar Luar Luar Luar Jl. Cilosari No. 1 Kp. Baru - Srg Jl. Cilosari No. 1 Kp. Baru - Srg Jl. Cilosari No. 1 Kp. Baru - Srg Jl. Cilosari No. 1 Kp. Baru - Srg Jl. Kembang (h/h. Basuki Rahmat Km. 12 Sda. KEP-522.1/232 7-Feb-2003 KEP-522.1/233 7-Feb-2003 KEP-522.1/227 7-Feb-2003 KEP-522.1/228 7-Feb-2003 KEP-522.1/229 7-Feb-2003 KEP-522.1/230 7-Feb-2003 KEP-522.1/231 7-Peb-2003 Dalam HPH PT. Hasrat WM Luar Jl. Danau Sentni No. 4 Rufei-Srg Luar Luar Kp. Baru Sorong KEP-522.1/159 27-Jan-2003 KEP-522.1/192 29-Jan-2003 KEP-522.1/201 31-Jan-2003 KEP-522.1/220 7-Feb-2003 Babo Kp. Naramasa Merdey Kp. Barma Merdey Kp. Mayado Merdey Kp. Mayado Arandai Kp. Kalitami Bintuni Kp. Manimeri Bintuni Kp. Wesiri Idoor Kp.. Idoor Idoor Kp.. Idoor Merdey Kp. Rawara Merdey Kp. Rawara Merdey Kp. Rawara 24 Ijin Dalam HPH PT. KSP Dalam HPH PT. YST Dalam HPH PT. WMT-I Dalam HPH PT. WMT-I Dalam HPH PT. WGU Dalam HPH PT. WGU Dalam HPH PT. WGU Luar Luar Dalam HPH PT. RKA Luar Belakang SPMA No. 73 Reremi Belakang SPMA No. 73 Reremi Kampus STIE Puncak Kab. Ffk Jl. Semeru No. 8C Dok. V Belakang SPMA No. 73 Reremi Hotel Siosa Bintuni Belakang SPMA No. 73 Reremi Jl. Yos Sudarso Kp. Baru Sorong Jl. Yos Sudarso Kp. Baru Sorong Jl. Yos Sudarso Kp. Baru Sorong Luar DISTRIK/ KAMPUNG Bintuni Kp. Pasamai Luar Hotel Siosa Bintuni Jakarta DALAM/ LUAR HPH Dalam HPH ALAMAT MITRA KERJA NO. & TGL. SK KDK PROV. PAPUA KEP-522.1/661 31-Mar-2003 KEP-522.1/873 5-May-2003 KEP-522.1/874 5-May-2003 KEP-522.1/1081 4-Jun-2003 KEP-522.1/1125 11-Jun-2003 KEP-522.1/1137 12-Jun-2003 KEP-522.1/1138 16-Jun-2003 KEP-522.1/1145 16-Jun-2003 KEP-522.1/1299 11-Jul-2003 KEP-522.1/1573 29-Aug-2003 KEP-522.1/1584 29-Aug-2003 KEP-522.1/2465 23-Dec-2003 KEP-522.1/2466 23-Dec-2003 KEP-522.1/2467 23-Dec-2003

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 54

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-8. Lanjutan
NO. 12. NAMA PEMEGANG IJIN/ MITRA KERJA PT. Sorong Sumber Air Hidup (Dikerjakan sendiri) 13. 14. PT. Hasil Alam Utama (Dikerjakan sendiri) PT. Anugrah Berkat Lestari (Dikerjakan sendiri) 15. PT. Anugrah Berkat Lestari (Dikerjakan sendiri) 16. 17. PT. Uni Raya Timber (Dikerjakan sendiri) Kopermas Nani Bili CV. Tambrauw 18. 19. 20. 21. Kopermas Nani Bili CV. Tambrauw Kopermas Yetosun (Dikerjakan sendiri) Kopermas Witi (Dikerjakan sendiri) Kopermas Klawana Bili CV. Tambrauw 22. CV. Mitra Wana Abadi (Dikerjakan sendiri) 23. CV. Tambrauw (Dikerjakan sendiri) 24. CV. Tambrauw (Dikerjakan sendiri) 25. 26. CV. Tambrauw (Dikerjakan sendiri) KUD Tumlefo (Dikerjakan sendiri) 27. 28. 29. 30. CV. Sinar Manem (Dikerjakan sendiri) CV. Sinar Manem (Dikerjakan sendiri) Kop. Timayapkeka PT. Tintimpura Timber Co. PT. Anugerah Berkat Lestari (Dikerjakan sendiri) 31. Kopermas Kafdarun PT. Sorong Sumber Air Hidup 32. PT. Sorong Sumber Air Hidup (Dikerjakan sendiri) Seget Kp. Wiliam Luar Samate Kp. Arefi Luar Salawati Kp. Ninjemur SegumMalamas Kp. Waimon Segum-Malamas Kp. Waimon Sausapor Kp. Sausapor Beraur Kp. Witi Klamono Kp. Klawana Malamas Kp. Segun Seget Kp. Waliam Seget Kp. Kasimie Seget Kp. Seilolof Seget Kp. Kp. Sailolof & Kp. Kotioi Salawati Kp. Feflio Salawati Kp. Feflio Sayoka Kp. Maladofok Salawati Kp. Katimin Luar Luar Jl. G. Semeru No. 1 - Sorong Jl. Sam Ratulangi No. 38 Kp. Baru Sorong Jl. Macan Tutul No. 30 Sorong Doom Jl. Macan Tutul No. 30 Sorong Doom KEP-522.1/2177 13-Nov-2003 KEP-522.1/2176 13-Nov-2003 Luar Luar KEP-522.1/2140 7-Nov-2003 KEP-522.1/2141 7-Nov-2003 KEP-522.1/2149 7-Nov-2003 KEP-522.1/2175 13-Nov-2003 Luar Luar Luar Luar Luar Luar Jl. Cilosari No. 1 Kp. Baru - Srg Jl. Basuki Rahmat No.200 Km9,5 Srg Jl. Cilosari No. 1 Kp. Baru - Srg Jl. Basuki Rahmat No. 200 Km. 9.5 Sorong Jl. Cilosari No. 1 Kp. Baru - Srg Jl. Kembang KEP-522.1/2138 6-Nov-2003 KEP-522.1/2139 6-Nov-2003 Luar Sda. Luar Sda. Luar Sda. KEP-522.1/1383 17-Sep-2003 KEP-522.1/1916 6-Oct-2003 KEP-522.1/1922 7-Oct-2003 KEP-522.1/2127 6-Nov-2003 KEP-522.1/2128 6-Nov-2003 KEP-522.1/2129 6-Nov-2003 KEP-522.1/2138 6-Nov-2003 Luar Jl. Cilosari No. 1 Kp. Baru - Srg Luar Sda. KEP-522.1/1805 16-Sep-2003 KEP-522.1/1806 16-Sep-2003 Misooi Kp. Folie Salawati Kp. Ninjemur & Klasari Salawati Kp. Ninjemur Luar Luar Luar Jl. RA. Kartini No. 5 Rufei-Srg Jl. Sam Ratulangi No. 38 Kp. Baru Sorong Sda. KEP-522.1/1804 16-Sep-2003 KEP-522.1/1198 18-Jun-2003 KEP-522.1/1795 15-Sep-2003 DISTRIK/ KAMPUNG Seget. Kp. Waliem DALAM/ LUAR HPH Luar ALAMAT MITRA KERJA Jl. Macan Tutul No. 30 Srg Doom NO. & TGL. SK KDK PROV. PAPUA KEP-522.1/1237 7-Feb-2003

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 55

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-8. Lanjutan
NO. 33. NAMA PEMEGANG IJIN/ MITRA KERJA Kop. Sebafinsa CV. Tambrauw 34. Kop. Sebafinsa CV. Tambrauw 35. CV. Tambrauw (Dikerjakan sendiri) 36. CV. Mitra Wana Abadi (Dikerjakan sendiri) 37. 38. Kopermas Tin Leffo (Dikerjakan sendiri) CV. Asber Jaya badi (Dikerjakan sendiri) 39. CV. Mitra Wana Abadi (Dikerjakan sendiri) 40. CV. Tambrauw (Dikerjakan sendiri) Jumlah IX X. 1. KAB. SORONG SELATAN Koperkam Adat Woon PT. Sri Mewah Maju Jaya 2. KUD Sinar Kamundan PT. Sri Mewah Maju Jaya Jumlah X XI. 1. KAB. FAK-FAK Kopermas Suandeni Konsultan Perusahaan An. Yohanis 2. 3. 4. Kop. Tonggarai Waer PT. PA Unit I Koperkam Tena Tuni PT. Unggul Citra Mulia Koperkam Natotoin PT. Nusa Bangun Niaga Hijau 5. 6. PT. Mitra Irja Sari (Dikerjakan sendiri) Koperkan Tena Tuni PT. Citragraha Multindo Sentosa 7. PT. Mitra Irja Sari Unit II (Dikerjakan sendiri) 8. PT. Mitra Irja Sari Unit III (Dikerjakan sendiri) Kokas Kp. Flor Kokas Kp. Furir Dalam HPH PT. Arfak Indra Dalam HPH PT. Arfak Indra Fakfak KEP-522.1/2470 23-Dec-2003 Fakfak KEP-522.1/2464 23-Dec-2003 Kokas Kp. Darembang Ffk - Timur Kp. Saharey Dalam HPH PT. Ar. Indra Luar Jl. Iman Bonjol Fakfak Fakfak KEP-522.1/1905 23-Oct-2003 KEP-522.1/2460 23-Dec-2003 Ffk - Timur Kp. Faukia Ffk - Timur Kp. Tunas Gain Kokas Kp. Ubadari Luar Dalam HPH PT. PA Luar Jl. MT. Haryono Fakfak KEP-522.1/508 12-Mar-2003 KEP-522.1/618 25-Mar-2003 KEP-522.1/1256 4-Jul-2003 Ffk - Timur Kp. Tunasgain Dalam HPH PT. HNT - II Kab. Sorong KEP-522.1/261 11-Peb-2003 Kokoda Kp. Atori 2 Ijin Luar Beraur Kp. Buck Luar Jl. Iman Bonjol (depan STIE OG) Fak-fak KEP-522.1/2429 19-Dec-2003 KEP-522.1/2428 19-Dec-2003 Seget Kp. Durian Kari 40 Ijin Luar Samate Kp. Kalobo Baraur Kp. Buck Seget Kp. Kasimle Luar Jl. Basuki Rahmat No. 200 Km. 9.5 Sorong Jl. Cilosari No. 1 Kp. Baru - Srg KEP-522.1/2342 11-Dec-2003 Dalam HPH PT. Hnt I - Srg Luar DISTRIK/ KAMPUNG Seget Kp. Kasimle Marga Maifun Seget Kp. Kasimle Marga Kalifat Seget Kp. Seilolof Seget Kp. Seilolof Luar Luar Luar DALAM/ LUAR HPH Luar ALAMAT MITRA KERJA Jl. Cilosari No. 1 Kp. Baru Sorong Jl. Cilosari No. 1 Kp. Baru Sorong Jl. Cilosari No. 1 Kp. Baru - Srg Jl. Basuki Rahmat No. 200 Km. 9.5 Sorong Jl. G. Semeru Kp. Baru - Srg KEP-522.1/2242 21-Nov-2003 KEP-522.1/2333 10-Dec-2003 KEP-522.1/2341 11-Dec-2003 KEP-522.1/2196 17-Nov-2003 KEP-522.1/2216 17-Nov-2003 KEP-522.1/2187 14-Nov-2003 NO. & TGL. SK KDK PROV. PAPUA KEP-522.1/2186 14-Nov-2003

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 56

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-8. Lanjutan
DISTRIK/ KAMPUNG Kokas Kp. Goras Kokas Kp. Mandopma Mambuni 10 Ijin Buruway Kp. Hia Buiruway Kp. Tairi Kaimana Kp. Namatota Kaimana Kamp. Waho Buruwai Kp. Nusa Ulam & Kambala Buruway Kp. Gaka Buruway Kp. Guriasa Kaimana Kp. Warika Kaimana Kp. Maimai Telk. Arguni Kp. Afuafu Telk. Arguni Kp. Afuafu Telk. Arguni Kp. Ukiara Kaimana Kp. Bahumia 13 Ijin Jair/ Kp. Getentiri Jair/ Kp. Subur Kouh/ Kp. J a i r Dalam HPH PT. BMO Luar Luar Jl. Garuda Spadem No. 2B Merauke Jl. Garuda Spadem No. 2B Merauke 3. Kop. Anggrap Abadi PT. Bade Makmur Orissa Jl. Garuda Spadem No. 2B Merauke KEP-522.1/1515 13-Mar-2003 KEP-522.1/262 11-Feb-2003 KEP-522.1/514 13-Mar-2003 Luar Luar Luar Luar Jl. Cilosari No. 9-Sorong Jl. Cilosari No. 9-Sorong Jl. Bunga Putri Malu No. 29 Kaimana-Srg KEP-522.1/2461 23-Dec-2003 Luar Dalam HPH PT. PA I Luar Luar Jl. Pedesaan No. 8 - Kaimana Jl. Bandengan Utara No. 81 Jambi 8. Koperkam Amao CV. Prima Indah Sari 9. Koperkam Matua PT. Agrindo Rimba Sempurna 10. Koperkam Afuafu PT. Anugerah Berkat Lestari 11. CV. Buruga Utama PT. Anugerah Berkat Lestari 12. Koperkam Efata Raya CV. Papua Mandiri 13. Koperkam Iriboma Cv. Buruway Mas Jumlah XII XIII. 1. KAB. MERAUKE Kopermas Awuyu PT. Bade Makmur Orissa An. Yohanis 2. Kop. Sinar Digul PT. Tunas Sawaerma KEP-522.1/2451 23-Dec-2003 KEP-522.1/1792 15-Sep-2003 KEP-522.1/1791 15-Sep-2003 Jl. Gajah Mada No. 193/195 Jambi Kaimana KEP-522.1/1528 26-Aug-2003 KEP-522.1/1526 26-Aug-2003 KEP-522.1/1276 8-Jul-2003 KEP-522.1/1281 9-Jul-2003 Luar Sda. Luar Dalam HPH Han III Kaim Luar Jl. RA. Kartini No.46 Kp. Seram Kaimana 4. 5. Koperkam Sunua CV. Prima Indah Sari Koperkam Nusa Punan CV. Prima Indah Sari 6. 7. Koperkam Madewana CV. Kambarau Koperkam Bura PT. Prabu Alaska Sda. KEP-522.1/941 13-My-2003 KEP-522.1/1140 16-Jun-2003 Luar Jl. Pedesaan No. 33-Kaimana Kampung Tairi KEP-522.1/154 24-Jan-2003 KEP-522.1/251 10-Peb-2003 KEP-522.1/828 28-Apr-2003

NO. 9.

NAMA PEMEGANG IJIN/ MITRA KERJA Kopermas Adat Wombi PT. Citragraha Multindo Sentosa

DALAM/ LUAR HPH Dalam HPH PT. Arfak Indra Dalam HPH PT. Arfak Indra

ALAMAT MITRA KERJA Jl. Iman Bonjol Fakfak Jl. Iman Bonjol Fakfak

NO. & TGL. SK KDK PROV. PAPUA KEP-522.1/2491 24-Dec-2003 KEP-522.1/2491 24-Dec-2003

10.

Kop. Mbima Tber PT. Citragraha Multindo Sentosa Jumlah XI

XII. 1. 2.

KAB. KAIMANA Kopermas Tana PT. Asia Bangkit Perkasa PT. Mansinem Global Mandiri (Dikerjakan sendiri)

3.

Koperkam Narora CV. Prima Indah Sari

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 57

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-8. Lanjutan
NO. 4. NAMA PEMEGANG IJIN/ MITRA KERJA PT. Okbirim Jaya Sakti (Dikerjakan sendiri) 5. Kopermas Yaggh Jumlah XIII XIV. 1. KAB. MIMIKA Kopermas Tapormoi PT. Citra Andika Makmur Jumlah XIV Jumlah B C. I. 1. TAHUN 2004 KAB. JAYAPURA Kopermas Sentosa PT. Kebun Sari Putra 2. Kopermas Dore PT. Kebun Sari Putra 3. 4. KSU Indera Buana Kopermas Sokuata Dawemna PT. Wapoga M. Timber 5. Kopermas Yanggu Kumei CV. Korina Jaya 6. Kopermas Keyai PT. Jaya Tasbi Jumlah I II. 1. 2. KAB. SARMI Kopermas Snirif PT. Wapoga M. Timber Kopermas Flyampon Raya PT. Wapoga M. Timber 3. 4. 5. Kopermas Fuan PT. Bina Balantak Utama Kopermas Adran PT. WMT Unit II Kop. Witri Wai Badem PT. WMT Unit II Jumlah II III. 1. KAB. WAROPEN Kopermas Gunung Biadi PT. Inti Misawa Foresta 2. Kopermas Rimba Powi PT. Wapoga M. Timber Jumlah II IV. 1. 2. KAB. NABIRE Kopermas Bihema PT. Nabire Jaya Abadi Kop. Borobosari PT. Nabire Jaya Abadi Napan Kp. Kp. Makimi Napan Kp. Makimi Dalam HPH PT. JDI Dalam HPH PT. JDI Jl. Pemuda No. 11B - Nbr Jl. Pemuda No. 11B - Nbr KEP-522.1/580 11-Mar-2004 KEP-522.1/581 11-Mar-2004 Warop. Atas Kp. Dadat & Kp. Kamai Warop Bawah Kp. Somi angga 2 Ijin Dalam HPH PT. WMT II Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln KEP-522.1/1611 1-Jul-2004 Luar Jl. Iman Bonjol No. 61 Jakarta KEP-522.1/1599 30-Jun-2004 Tor. Atas Kp. Omte Bonggo Kp. Taronta Bonggo Kp. Taronta 5 Ijin Dalam HPH PT. BBU Dalam HPH PT. WMT - II Dalam HPH PT. WMT - II Jl. Baliem No. 9 Dok. V - Jpr Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln KEP-522.1/2465 4-Oct-2004 KEP-522.1/1182 27-Mey-2004 KEP-522.1/1185 27-Mey-2004 Pantai Timur Kp. Ansudu Bonggo Kp. Tarontha Dalam HPH PT. WMT II Dalam HPH PT. WMT II Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln KEP-522.1/1186 27-Mey-2004 KEP-522.1/1187 27-Mey-2004 Kaureh Kp. Kwarja 6 Ijin Dalam HPH PT. RIFI Kemtuk Grsik Kp. Bangai Dalam HPH PT. RIFI Unurumguay Kp. Sentosa Unurumguay Kp. Sentosa Unurum Guay Kp. Beneik Unurum Guay Kp. Garusa Dalam HPH PT. WMT II Jl. Raya Sentani No. 17 Pdg. Bln Jayapura Jl. Pasifik Indah III No. 62 A Tj. Ria - Jpr Jl. Batang Arau No. 88 Sumut KEP-522.1/2503 8-Oct-2004 KEP-522.1/1846 26-Jul-2004 Dalam HPH PT. KSP Dalam HPH PT. KSP Luar Jl. Semeru 11 B Dok V Atas Jayapura Jl. Semeru 11 B Dok V Atas Jayapura KEP-522.1/793 14-Apr-2004 KEP-522.1/1613 1-Jul-2004 KEP-522.1/665 19-Mar-2004 KEP-522.1/662 19-Mar-2004 Mimika Barat Kp. Tapormai 1 Ijin 187 Ijin Luar Jl. Ki Hajar Dewantoro KEP-522.1/2468 23-Dec-2003 Okaba Kp. Alatepi 5 Ijin Dalam HPH PT. WMT - II Jl. Moh Hatta Serui KEP-522.1/2481 23-Dec-2003 DISTRIK/ KAMPUNG Jair/ Kp. Getentiri DALAM/ LUAR HPH Luar ALAMAT MITRA KERJA NO. & TGL. SK KDK PROV. PAPUA KEP-522.1/2462 23-Dec-2003

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 58

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-8. Lanjutan
NO. 3. NAMA PEMEGANG IJIN/ MITRA KERJA Kopermas Matoa Sejahtera Abadi CV. Sinar Kaibus 4. Kopermas Bugiasa CV. Sinar Kaibus 5. Kopermas Komaba PT. Rimba Papua Lestari 6. Kopermas Homora PT. Gabor Sakti Rimba 7. Kopermas Winggar PT. Nabire Jaya Abadi 8. Kopermas Irantuar PT. Rimba Papua Lestari 9. Kop. Ina Bade Raya PT. Nabire Maju Jumlah IV V. 1 KAB. BOVEN DIGUL Kopermas Butiptik PT. Bade Makmur Orissa 2 Kopermas Sinar Digul PT. Tunas Sawaerma 3 Kopermas Ubi Onam (Dikerjakan sendiri) Jumlah V VI. 1. KAB. KAIMANA Kopermas Siririwa PT. Sorong Sumber Air Hidup 2 3 4 5 Kopermas Besiri PT. Papua Sylva Lestari Kopermas Tana PT. Asia Bangkit Perkasa Koperkam Madewana CV. Kambarau Koperkam Matua PT. Agrindo Rimba Sempurna 6 7 Kopermas Iriboma PT. Mansinam Global Mandiri Jumlah VI VII. 1. KAB. SORONG KSU Mberur Mosau PT. Dika Cab. Sorong Jumlah VII Jumlah C JUMLAH A+b+C Beraur Kp. Buck 1 Ijin 33 Ijin 247 Ijin Luar KEP-522.1/789 14-Apr-2004 Kaimana Buruway Kp. Tari 7 Ijin Dalam HPH PT. Hanurata Kaimana KEP-522.1/2461 23-Dec-2004 KEP-522.1/1035 7-May-2004 Buruway Kp. Tangiri/ Kambala Buruway Kp. Kambala Buruway Kp. Hia Buruway Kp. Gaka Kaimana Kp. Maimai Dalam HPH Han Unit II Luar Luar Luar Luar Jl. Macan Tutul No.30 Srg Doom Sorong Jl. G. Rinjani No. 01 A - Srg Jl. Pedesaan No.27 Kaimana Jl. Pedesaan No.27 Kaimana Kaimana KEP-522.1/128699 9-Jun-2004 KEP-522.1/1671 8-Jul-2004 KEP-522.1/1680 8-Jul-2004 KEP-522.1/1797 2-Jul-2004 KEP-522.1/914 22-Apr-2004 Jair Kp. Butiptri Jair Kp. Subur Jair Kp. Getentri 3 Ijin Luar Dalam HPH PT. Tunas Sawaerma Luar Jl. Garuda Spadem No. 2B Merauke Jl. Garuda Spadem No. 2B Merauke Merauke KEP-522.1/2343 17-Sep-2004 KEP-522.1/2297 10-Sep-2004 KEP-522.1/2296 10-Sep-2004 Wanggar Kp. Wanggar Yaur Kp. Yaur Uwapa Kp. Bomopai Napan Kp. Makimi Yaur Kp. Yerentuar Napan Kp. Wainami 9 Ijin Luar Luar Dalam HPH PT. JDI Luar Dalam HPH PT. JDI Luar DISTRIK/ KAMPUNG Wanggar Kp. Wanggar DALAM/ LUAR HPH Dalam HPH PT. JDI ALAMAT MITRA KERJA Jl. Kusuma Bangsa No. 18 Nabire Jl. Kusuma Bangsa No. 18 Nabire Jl. RE. Marta dinata No. 158 Nabire Jl. Sisingamangraja No. 21 Nabire Jl. Pemuda No. 11B - Nbr Jl. RE. Marta dinata No. 158 Nabire Jl. Merdeka Nabire KEP-522.1/2320 15-Sep-2004 KEP-522.1/1612 1-Jul-2004 KEP-522.1/2396 23-Sep-2004 KEP-522.1/1472 22-Jun-2004 KEP-522.1/1059 14-May-2004 KEP-522.1/885 20-Apr-2004 NO. & TGL. SK KDK PROV. PAPUA KEP-522.1/884 20-Apr-2004

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 59

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Rambu-rambu dan Kewajiban yang harus dilaksanakan oleh para Pemegang Ijin IPKMA seperti tertuang dalam setiap Surat Keputusan Kepala Dinas Kehutanan tentang IPKMA diuraikan sebagai berikut: (1) Pohon yang dapat ditebang adalah pohon yang berdiameter 60 cm up untuk Hutan Produksi Terbatas, diameter 50 cm up untuk Hutan Produksi Tetap (HP), Hutan Produksi yang dapat Dikonversi (HPK) dan diameter 30 cm up untuk Areal Penggunaan Lain (APL); (2) Terhadap semua produksi kayu tetap diperkenankan pungutan Provisi Sumberdaya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR); (3) Dalam kegiatan pemungutan kayunya agar ditebang pada jenis dan volume kayu yang diijinkan, dihindari pada jarak 50 meter kiri-kanan anak sungai, 100 meter kiri-kanan tepi sungai dan 200 meter dari sumber mata air serta menjaga kelestarian hutan; (4) Pemegang IPKMA dan Mitra Kerja diwajibkan melakukan penanaman dan pemeliharaan selama masih terlaksananya kegiatan pemungutan hasil hutan kayu dengan ketentuan menanam 2 (dua) buah pohon untuk setiap penebangan 1 (satu) pohon sebagai pengendali kelestarian lingkungan hidup; (5) Pemegang IPKMA dan Mitra Kerja wajib melaksanakan Tata Usaha Hasil Hutan, yaitu setiap bulan menyampaikan laporan bulanan pelaksanaan kegaitan IPKMA yang meliputi luas tebangan dan produksi kayu, informasi perkembangan pembayaran iuran kehutanan serta realisasi penanaman/pemeliharaan tanama kepada Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua dengan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas Kehutanan setempat (dalam Surat Keputusan IPKMA disebutkan nama kabupatennya); (6) Peta Area Kerja skala 1:100.000 sebagaimana terlampir menjadi dasar pelaksanaan di lapangan; (7) Pemegang Ijin dan Mitra Kerja harus mematuhi segala peraturan yang berlaku di bidang kehutanan. Apabila ternyata tidak memenuhi dan mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka Ijin dapat dicabut atau dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 60

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Kewajiban berupa pembayaran Dana Reboisasi (DR) dan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) yang merupakan kewajiban pemegang IPKMA tetap dilaksanakan. Dalam kaitan ini, untuk memudahkan mekanisme

penyetoran, Menteri Kehutanan menyediakan tiga rekening di Bank Indonesia, Jakarta. Untuk setoran dana provisi sumber daya hutan (PSDH) ke nomor rekening: 519.000.100 di Bank Indonesia Thamrin, Jakarta. Sedangkan untuk setoran dana reboisasi masuk ke rekening nomor: 122.0089006442 (untuk rekening setoran rupiah) dan nomor rekening: 122.0089006756 (khusus untuk setoran uang dalam bentuk dollar Amerika Serikat). Setoran dana DR dan PSDH terus mengalir ke rekening di atas, sebagai contoh, salah satu Kopermas pemegang IPKMA di Kabupaten Nabire pada 10 November 2003 menyetor dana provisi sumber daya hutan ke rekening Menteri Kehutanan RI. Dana yang disetorkan pada hari yang sama berjumlah Rp 93.440.296 dan Rp 41.477.928. Dana sebesar itu dikirimkan ke dua nomor rekening atas nama Menteri Kehutanan melalui transfer antarbank di Bank Mandiri Cabang Imam Bonjol. Pembayaran dana reboisasi (DR) itu mengacu ketentuan yang ada dalam Keputusan Presiden No 40 Tahun 1993 dan Keppres No 41 Tahun 1993. Berdasarkan ketentuan, tarif setoran PSDH untuk setiap meter kubik kayu tergantung pada kelompok jenis kayu yang diambil. Misalnya untuk kayu jenis meranti tiap satu meter kubiknya ditetapkan Rp 41.400. Untuk kayu jenis lain berbeda lagi. Semakin baik kualitas kayu semakin mahal PSDHnya. Mengacu pada ketentuan tersebut, untuk setoran PSDH terhadap 1.001,52 m³ kayu meranti, salah satu Kopermas pemegang IPKMA di Nabire wajib menyetor dana Rp 41.462.928 atau pada bulan November 2003 setara dengan 13.019,76 dollar AS. Dalam hal setoran ini, Kopermas tersebut hanyalah satu dari 207 perusahaan kayu yang melakukan penebangan kayu di wilayah Irian Jaya Barat dan Papua.

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 61

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Meskipun penyaluran DR dan PSDH berjalan terus, namun pada kenyataannya Menteri Kehutanan melalui Direktur Jenderal Bina Produksi pada Tanggal 19 Februari 2003 melarang pengeluaran IPKMA, dengan alasan kegiatan IPKMA bisa memicu kerusakan hutan akibat eksploitasi besar-besaran oleh para pengusaha kayu. Larangan ini dilanjutkan, pada 12 Mei 2003 Menteri Kehutanan mengirim surat kepada Menteri Dalam Negeri agar mencabut Keputusan Gubernur Papua mengenai IPKMA. Salah satu permasalahan IPKMA ada pada klausul luas tebangan yang ditetapkan seluas 1.000 hektar untuk satu tahun. Luas tebangan tersebut adalah identik dengan satu unit RKT (Rencana Kerja Tahunan) pada Unit HPH/IUPHHK. Jika terdapat 20 (dua puluh) unit IPKMA dalam satu hamparan sama dengan satu unit HPH/IUPHHK, yang berbeda adalah HPH/IUPHHK diwajibkan melakukan penebangan menurut siklus

kelestarian hutan, yaitu menurut daur tanam, sedangkan IPKMA tidak. Hal demikian yang memicu pembabatan hutan di Papua tidak terkendali. Para mitra kerja HPH/IUPHHK tentu dengan senang hati berkejasama dengan pemegang IPKMA untuk melakukan penebangan tanpa perlu melakukan kewajiban pembinaan dan pemeliharaan hutan. Di samping itu, pada kenyataannya telah terjadi pelanggaran yang lebih parah, dimana para mitra kerja melakukan penebangan di luar areal kerja yang telah dietapkan, untuk mengejar target perolehan pendapatan yang ditetapkan. Bahkan hutan konservasi pun ikut dirambah. Setiap tahunnya, menurut Gubernur Provinsi Papua, kasus penebangan liar di Papua telah merugikan negara sekitar Rp 7,2 triliun. Menyadari pengelolaan IPKMA kurang tepat bagi kepentingan masyarakat adat, maka pada Desember 2004, Gubernur Papua dan Irian Jaya Barat (hasil pemekaran) mengeluarkan Keputusan mencabut kembali IPKMA. Namun demikian, faktanya penebangan tidak bisa dihentikan mengingat masa berlakunya yang belum habis.

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 62

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Berdasarkan analisa yang dilakukan Tim Operasi Hutan Lestari II, kasus penebangan liar di Papua dan Irian Jaya Barat memakai beberapa cara. Pertama, dengan modus IPKMA lalu bekerja sama dengan koperasi masyarakat (kopermas) adat setempat. Masyarakat mendapatkan dana kompensasi yang kecil, tetapi penebangan besar-besaran terus dilakukan. Kondisi masyarakat yang tidak berpendidikan dan tidak mengetahui cara berhitung juga tak jarang dimanfaatkan para pengusaha dalam menentukan banyaknya volume kayu sesuka hati mereka. Tidak adanya pengawasan ketat dan pemantauan yang jelas, mengingat luas dan sulitnya medan di hutan, membuat para penebang kayu senaknya menebang kayu di luar areal yang mereka miliki. Kedua, dengan modus izin pemanfaatan jalan. Para pengusaha mendapat kewenangan untuk menebang kayu di kanan-kiri jalan sejauh satu kilometer, tetapi dalam pelaksanaannya bisa melebihi itu. Ketiga, dengan memalsukan dokumen atau tidak melakukan penghitungan kayu secara benar sehingga dokumen pengangkutan tak jarang lebih kecil volumenya dari pada jumlah kayu sesungguhnya yang diangkut. Apalagi jika petugas yang berwenang tidak mengecek jumlah kayu secara benar. MASALAH UTAMA IPKMA Permasalahan pokok kegagalan IPKMA terutama terletak pada dua hal, pertama luas areal yang terlalu besar per tahun 1.000 ha; dan kedua, tidak diterapkan siklus tebangan. Dua hal tersebut merupkan hal mendasar yang perlu dipertimbangkan untuk perbaikan secara menyeluruh, karena merupakan akar permasalahannya di samping faktor - faktor lainnya. Luas areal per tahun 1.000 ha per tahun untuk ukuran mayarakat, dalam hal ini Kopermas sangatlah besar. Masyarakat tidak akan mampu mengelola luasan demikian, mengingat kemampuan modal dan peralatan yang digunakan tidak dapat dipenuhi, di samping itu jaringan pemasaran hasil belum mereka kuasai. Di sudut pandang lain, luas 1.000 ha per tahun bagi pemilik HPH/IUPHHK sama dengan satu unit RKT, berarti sangat layak untuk dilakukan pengusahaan bagi HPH/IUPHHK. ikutan

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 63

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Dengan demikian pola kemitraan yang terjadi antara Kopermas dan pemilik HPH/IUPHHK tentu bagaikan gayung bersambut. Kopermas memerlukan modal, alat berat dan jaringan pemasaran yang diperlukan dan pemilik HPH/IUPHHK sebagai mitra kerja mendapatkan jatah tebangan pada areal 1.000 ha per tahun tanpa harus melakukan kewajiban pembinaan yang intensif layaknya sistem silvikultur TPTI, serta kewajibankewajiban lainnya lingkup HPH/IUPHHK. Kejadian ini akan mengkibatkan potensi kayu di Tanah Papua akan cepat habis dan tidak ada kelestarian hasil seperti yang menjadi pedoman pengelolaan hutan selama ini. Siklus tebangan tidak diterapkan dalam IPKMA. Hal ini sangat

bertentangan dengan prinsip kelestarian hasil sebagai dasar dalam pengelolaan hutan lestari. Tanpa siklus penebangan, berarti tidak ada pola perencanaan yang memperhatikan daur tebangan yang bergulir mulai tahun pertama hingga akhir daur. Kegiatan ini jika dilakukan dalam jangka panjang, akan merusak dan menghabiskan potensi tegakan hutan di Provinsi Papua. Dampak lainnya dari kegiatan ini adalah kurangnya pengawasan yang ketat dan pemantauan yang tidak jelas terhadap kegiatan IPKMA, hal ini mengakibatkan terjadinya pelanggaran, misalnya para mitra kerja

melakukan penebangan di luar arael kerja yang telah ditetapkan. Hal tersebut dilakukan untuk mengejar target perolehan pendapatan yang telah dipatok. Perambahan yang lebih parah terjadi jika para mitra kerja ini sudah melakukan penebangan di areal hutan konservasi. Euphoria yang terjadi oleh para pemilik HPH/IUPHHK dalam melakukan penebangan melalui penerbitan IPKMA sangat merugikan, baik

masyarakat adat sendiri maupun pemerintah pada umumnya. Sangatlah tepat jika kegiatan ini dihentikan dan dicarikan model pengganti IPKMA, agar tercapai tujuan mulia masyarakat sejahtera dan hutan lestari.

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 64

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

3.2.5. Kasus Illegal Logging SALAH satu daerah yang paling serius mengalami penebangan liar atau illegal logging pasca reformasi adalah Papua dan Irian Jaya Barat, selain semua provinsi di Kalimantan. Dengan memanfaatkan izin pemungutan kayu masyarakat adat (IPKMA), para cukong dari Malaysia dan juga para pemilik hak pengusahaan hutan (HPH) seolah berpacu membabat hutan. Kayu hasil tebangannya tidak hanya dimanfaatkan untuk industri kayu di dalam negeri, tetapi yang jauh lebih banyak adalah diselundupkan ke berbagai negara: Malaysia, Singapura, dan China. Berdasarkan laporan wartawan Kompas Hermas Efendi Prabowo yang mengikuti Tim Operasi Hutan Lestari II 2005 di Irian Jaya Barat, dapat diceritakan hal hal berikut. Pada 5 Maret lalu, Tim Operasi Hutan Lestari II 2005 yang didukung 1.045 personel dari berbagai instansi mulai bergerak untuk memberantas pencurian dan penebangan liar di Provinsi Papua dan Irian Jaya Barat dengan luas wilayah operasi 165.289,37 kilometer persegi. Sasaran operasinya adalah para aktor intelektual atau para cukong kayu, meliputi penyedia dana, penyedia alat berat, dan pengurus dokumen. DANA yang dipersiapkan untuk mendukung operasi tersebut sekitar Rp 12 miliar, Rp Rp 6 miliar di antaranya berasal dari Departemen Kehutanan dan Rp 6 miliar lagi dari Kepolisian Negara RI. Dana tersebut akan digunakan untuk operasi selama dua bulan. Upaya pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono untuk memberantas praktik penebangan liar di wilayah Papua dan Irian Jaya Barat patut mendapatkan apresiasi apabila nantinya hal itu akan membawa hasil bagi kepentingan masyarakat adat dan masyarakat lokal. Mungkinkah operasi ini akan benar-benar memberikan efek deteren kepada para cukong dan orang-orang "kuat" yang berdiri di belakang mereka? Tidakkah operasi ini nantinya hanya akan memindahkan penguasaan hutan dari pengusaha satu ke pengusaha lain, alias dari mulut singa ke mulut buaya, sementara masyarakat adat yang selama ini hidupnya bergantung kepada hasil hutan tetap saja menderita? DARI "persepsi" pemerintah pusat, persoalan illegal logging di Irian Jaya Barat dan Papua sesungguhnya dipicu oleh munculnya surat edaran Gubernur Papua JP Solossa Nomor 522.2/3386/SET tertanggal 22 Agustus 2002. Surat edaran itu ditujukan kepada bupati dan wali kota di seluruh Papua (kini terbagi menjadi Irian Jaya Barat dan Papua).
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 65

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Surat edaran itu mengenai Pengaturan Pemungutan Hasil Hutan Kayu oleh Masyarakat Hutan Adat. Keputusan Gubernur Papua itu tidak lain sebagai bentuk euforia atau bisa juga dikatakan "kecintaan" Gubernur Papua kala itu kepada masyarakatnya. Dalam surat edaran tersebut dinyatakan bahwa izin hak pemungutan hasil hutan masyarakat hukum adat (IHPHHMHA) yang selanjutnya disebut izin pemungutan kayu masyarakat adat (IPKMA) dikeluarkan demi menciptakan kesejahteraan masyarakat. Dalam poin kelima butir (a) dinyatakan bahwa IPKMA dapat diberikan untuk kawasan hutan produksi dan areal penggunaan lain (APL) dengan luas maksimal 1.000 hektar dengan jangka waktu satu tahun. IPKMA ini dapat diberikan kepada masyarakat hukum adat dalam bentuk lembaga masyarakat hukum yang disahkan oleh kepala distrik atau camat setempat, atau kepada mitra kerjanya dalam bentuk badan usaha milik swasta atau koperasi. Kerja sama antara masyarakat adat dan mitra kerjanya harus mendapat persetujuan dari Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Papua. Dalam hal ini, kepala dinas memiliki kewenangan mutlak untuk menilai kelayakan investor yang ingin bermitra dengan masyarakat adat. Dalam poin kelima butir (g) dinyatakan bahwa terhadap seluruh produksi kayunya para pengusaha wajib membayar provisi sumber daya hutan dan dana reboisasi sesuai ketentuan yang berlaku. Mereka juga wajib menanam dua pohon untuk satu pohon yang ditebang. Pada hari yang sama, surat edaran Gubernur Papua itu kemudian ditindaklanjuti Kepala Dishut Provinsi Papua Hugo J Rajaar yang kemudian mengurai petunjuk pelaksanaan IPKMA. Petunjuk pelaksanaan teknis tersebut termuat dalam Surat Keputusan (SK) Dishut Provinsi Papua Nomor: Kep. 522.1/1648 pada tanggal yang sama. Dalam surat keputusan tersebut tercantum segala macam argumentasi, meliputi tujuan, areal IPKMA, syarat pemberian IPKMA, cara pemungutan hasil kayu serta hak, kewajiban, larangan, dan sanksi. Dari SK tersebut terungkap bahwa Kepala Dishut sama sekali tidak mencantumkan klausul mengenai bagaimana mekanisme pengawasan batas penebangan kayu. Padahal, pengalaman di Kalimantan dan sejumlah tempat lain, rendahnya sistem pengawasan membuat munculnya banyak peluang untuk mencuri kayu di luar areal IPKMA miliknya.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 66

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Lima bulan setelah keluarnya SK Kepala Dishut, pada 21 Januari 2003, Kepala Dishut Papua mengirimkan surat pemberitahuan surat edaran Gubernur dan SK petunjuk pelaksanaan pemungutan hasil hutan melalui IPKMA ke Dephut. Sebelum pemberitahuan tersebut mendapatkan lampu hijau, sepanjang tahun 2002 Kepala Dishut Pemprov Papua telah mengeluarkan 22 IPKMA. Konflik antara pemerintah pusat (Departemen Kehutanan) dengan pemerintah daerah mulai terjadi. Pada 19 Februari 2003, Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Suhariyanto mengirim surat keberataan atas IPKMA. Departemen Kehutanan keberatan bila IPKMA dikeluarkan karena beberapa alasan. Seharusnya pemungutan hasil hutan tidak lain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat adat yang bersangkutan dan pengelolaan hutan harus berdasarkan hukum adat yang berlaku, dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang (UU) No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Frasa kata tersebut penting untuk dilaksanakan karena kunci dan pembatas untuk menjamin keseimbangan ekosistem. Selain itu, pengelolaan hutan berdasar hukum adat diyakini lebih konservatif karena hidup mereka sangat tergantung pada hutan. "Perang dingin" semakin memuncak. Pada 14 Maret 2003, Kepala Dishut Papua kembali mengirim surat ke Dirjen Bina Produksi Dephut. Isinya, penegasan bahwa pengeluaran IPKMA tidak akan ditangguhkan. Kepala Dishut Papua juga berjanji akan memperbaiki petunjuk teknis pelaksanaan IPKMA. Namun, lagi-lagi teknis pengawasan terhadap penebangan kayu di hutan tidak pernah diungkapkan. Para pengusaha pengelola IPKMA justru diberi kewenangan untuk mengawasi dirinya sendiri, suatu hal yang kecil kemungkinan dilakukan. Dalam butir ke empat, Kepala Dinas Kehutanan bahkan terkesan mengeluarkan "ancaman". Intinya bahwa apabila pelaksanaan IPKMA ditangguhkan lapangan. Perlu dicermati dan diingat bahwa konflik horizontal di Papua saat itu mudah sekali diletupkan. Di tengah "konflik" tersebut, IPKMA terus dikeluarkan sepanjang tahun 2003 hingga totalnya mencapai 166 IPKMA.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 67

dikhawatirkan

dapat

menimbulkan

gejolak

sosial

di

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Pada 12 Mei 2003 Menteri Kehutanan Muhammad Prakosa mengirimkan surat kepada Menteri Dalam Negeri agar mencabut Keputusan Gubernur Papua mengenai IPKMA. Tidak jelas apakah permintaan itu ditanggapi atau tidak. Yang pasti sekarang IPKMA yang aktif masih 131 untuk 73 perusahaan di bidang perkayuan. Kenyataan inilah yang menurut Lebang dikatakan bahwa hutan di Papua dan Irian Jaya Barat sudah terkapling habis. DESEMBER 2004, Gubernur Papua dan Irian Jaya Barat (hasil pemekaran) mengeluarkan keputusan yang cukup mengejutkan. Menyadari pengelolaan IPKMA kurang tepat bagi kepentingan masyarakat adat, maka diputuskan untuk mencabut kembali keputusan IPKMA. Meski demikian, faktanya penebangan tidak bisa dihentikan mengingat masa berlakunya yang belum habis. Di sisi lain, untuk mengejar perolehan pendapatan, para cukong penebangan kayu mulai membabat hutan dengan membabi buta. Tidak jarang mereka bahkan menebang hutan di areal IPKMA milik orang lain. Bahkan, hutan konservasi pun ikut dirambah. Setiap tahunnya, menurut Gubernur Papua, kasus penebangan liar di Papua telah merugikan negara sekitar Rp 7,2 triliun. Berdasarkan analisa yang dilakukan Tim Operasi Hutan Lestari II, kasus penebangan liar di Papua dan Irian Jaya Barat memakai beberapa cara. Pertama, dengan modus IPKMA lalu bekerja sama dengan koperasi masyarakat (kopermas) adat setempat. Masyarakat mendapatkan dana kompensasi yang kecil, tetapi penebangan besar-besaran terus dilakukan. Kondisi masyarakat yang tidak berpendidikan dan tidak mengetahui cara berhitung juga tak jarang dimanfaatkan para pengusaha dalam menentukan banyaknya volume kayu sesuka hati mereka. Tidak adanya pengawasan ketat dan pemantauan yang jelas, mengingat luas dan sulitnya medan di hutan, membuat para penebang kayu senaknya menebang kayu di luar areal yang mereka miliki. Kedua, dengan modus izin pemanfaatan jalan. Para pengusaha mendapat kewenangan untuk menebang kayu di kanan-kiri jalan sejauh satu kilometer, tetapi dalam pelaksanaannya bisa melebihi itu. Ketiga, dengan memalsukan dokumen atau tidak melakukan penghitungan kayu secara benar sehingga dokumen pengangkutan tak jarang lebih kecil volumenya dari pada jumlah kayu sesungguhnya yang diangkut. Siapa yang tahu kalau mereka (Dinas Kehutanan) tidak mengecek jumlah kayu secara benar.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 68

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

3.2.6. Kilas Balik Pengelolaan Daerah Aliran Sungai a. Periode Sebelum BPDAS Memberamo Pengelolan DAS di tanah Papua (Irian Jaya) diawali dengan penanganan lahan kritis dalam bentuk Inpres Penghijauan dan Reboisasi melalui proyek P3RPDAS, telah berlangsung sejak dekade 1980-an. Setelah terbentuknya Kanwil Kehutanan Provinsi Irian Jaya, maka status proyek P3RPDAS ditingkatkan menjadi Sub Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (Sub Balai RLKT) Irian Jaya berkedudukan di Jayapura, sementara Balai RLKT berkedudukan di Ambon (Maluku). Dengan terbentuknya Sub BRLKT, maka kegiatan RLKT semakin intensit digalakan. Kegiatan fisik RLKT pada waktu itu berupa unit percontohan/p/7of project, seperti (Unit Percontohan Usaha Pertanian Menetap (UP-UPM), Unit Percontohan Upaya Pelestarian Sumber Daya Alam (UP-UPSA), Kebun Bibit Desa (KBD), serta Hutan Cadangan Pangan (HCP) dengan skala yang agak besar. Agar supaya kegiatan RLKT dapat memberikan manfaat yang lebih besar, maka pemerintah daerah melalui Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Kabupaten Jayapura, CDK Kabupaten Sorong, serta CDK Kabupaten Jayawijaya dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Setelah terbentunya Dinas Perhutanan dan Konservasi Tanah (Dinas PKT) tahun 1995, maka kegiatan fisik RLKT/RHL praktis menjadi domain instansi tersebut, sementara peran Sub Balai RLKT lebih diarahkan pada fungsi perencana. Pada masa itu juga Sub BRLKT telah menyusun beberapa produk perencanaan kegiatan RLKT berbasis DAS sebagai unit perencanaan dan unit pengelolaan, seperti Pola RLKT yang berlaku 10-15 tahun, serta Rencana Teknik Lapangan RLKT (RTL-RLKT) yang berlaku 5 tahun. Beberapa kabupaten yang telah disusun Pola dan RTL-RLKT nya antara lain Kabupaten Jayapura (DAS Sentani), Kabupaten Sorong (DAS Remu) serta Kabupaten Jayawijaya (DAS Baliem). Tugas pokok penyusunan Pola dan RTL-RLKT masih berlangsung hingga terbentuknya BPDAS Memberamo. Pada tahun 1996 disusun pula Urutan Prioritas DAS di Irian Jaya dengan menggunakan peta dasar yang digambar secara . manual. Berdasarkan kombinasi analisa biofisik dan sosek, maka DAS Sentani, DAS Remu dan DAS Baliem ditetapkan sebagai DAS Prioritas I, yang kemudian dipertegas dalam Sk. Menhutbun no. 284 tahun 1999.

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 69

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tahun 1999 terjadi restrukturisasi organisasi dari Sub Balai RLKT menjadi Balai RLKT Irian Jaya yang berdiri sendiri terlepas dari Balai RLKT Wilayah V di Ambon. Pada jaman itu kegiatan RLKT telah juga diarahkan pada pengembangan Aneka Usaha Kehutanan (AUK) dan rehabilitasi mangrove di kabupaten Sorong dan Manokwari. b. Periode Setelah terbentuk BPDAS Memberamo Hingga Kini Pada tahun 2003 terjadi perubahan nomenklatur, dari Balai RLKT Irian Jaya menjadi Balai Pengelolaan DAS (BPDAS) Memberamo berdasarkan SK. Menhut no. 665. Implikasi dari perubahan nomenklatur adalah pergeseran tugas pokok dan fungsi. Sabagai UPT Departemen Kehutanan di daerah, BPDAS Memberamo hanya menjalankan fungsi-tungsi regulasi, fasilitasi dan supervisi. Hal ini kemudian dipertegas dalam visi BPDAS Memberamo sebagaimana yang tertuang dalam Renstra BPDAS Memberamo tahun 2003-2007 yakni : Menjadi pusat data dan informasi pengelolaan DAS di tanah Papua. Bertolak dari visi tersebut, maka telah disusun beberapa produk perencanaan berbasis DAS yang diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pemerintah kabupaten/ kota, antara lain : RTL-RLKT Sub DAS AnafreeJayapura (DAS Sentani), RTL-RLKT Sub DAS Kiam-Biak (DAS Biak), RTL-RLKT Sub DAS Tami-Keerom (DAS Sentani), dan Data Spasial Lahan Kritis. BPDAS Memberamo juga ikut memfasilitasi penyusunan Master Plan RHL Provinsi Papua/ Irian Jaya, Masterplan RHL Kabupaten Jayapura, Masterplan RHL Kab. Yapen Waropen, serta Detail Plan Kota Jayapura. Untuk mencari model pengelolaan DAS yang ideal di tanah Papua, telah di bangun 2 Model DAS Mikro (MDM) yang dilengkapi stasiun pemantau curah hujan (ARR) dan arus sungai (SPAS) secara digital. Selain BPDAS Memberamo, kegiatan RHL juga dilaksanakan oleh pemerinah kabupaten/ kota yang dananya bersumber dari dana DAK-DR. Keberadaan kegiatan DAK ini sulit terpantau oleh karena perkembangan kegiatan tidak diinformasikan kepada BPDAS Memberamo, sehingga sulit dikaji dampak kegiatan tersebut terhadap perbaikan biofisik DAS dan peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. Gerhan pertama kali diluncurkan di tanah Papua tahun 2004 dan akan berakhir tahun 2007. Pada awalnya sasaran Gerhan adalah pada kabupaten/ kota yang wilayahya termasuk dalam DAS prioritas I. Dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan Gerhan merambah ke hampir seluruh kabupaten/ kota di Provinsi Papua dan Papua Barat.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 70

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Guna mendukung keberhasilan kegiatan Gerhan dan RHL agar tepat sasaran pada DAS/ Sub DAS Prioritas, maka telah direvisi batas DAS/ Sub DAS oleh karena peta yang ada dirasakan tidak lagi memenuhi tuntutan dan kebutuhan jaman. Berdasarkan data sebelumnya, jumlah DAS dan Sub DAS yang ada di propinsi Papua dan Papua Barat adalah 19 DAS dan 110 Sub DAS. Seluruh proses pengerjaan revisi batas DAS dikerjakan secara computerize dengan memanfatKan teknologi GIS dan penginderaan jauh. Peta DAS hasil revisi menggunakan peta dascr tematik kehutanan hasil kerjasamo Departemen Kehutanan dan Bakosurtanal tahun 2006. Sedangkan batas DAS/ Sub DAS sampai pada ordo sungai ke 3 menurut klasifikasi Horton-Stahler, diproses dari citra Shuttle Radar Topographic Mission (SR7MJ yang merupakan citra 3 Dimensi. Potensi dan Permasalahan a. Potensi Kerusakan DAS Secara umum potensi kerusakan DAS dapat terjadi pada semua wilayah Papua dengan eskalasi yang berbeda, tergantung kondisi biofisik, sosiokultural dan sosio-politik wilayah. Untuk memberi gambaran, akan di fokuskan pada kondisi DAS Tami yang telah disusun karakteristik DAS. Karena keterbatasan ruang dan waktu maka informasi tersebut telah diringkas sebagai berikut : Besarnya hari hujan dengan intensitas tinggi, yang memungkinkan proses banjir dan erosi terjadi. Morfologi DAS yang curam dengan kemiringan lebih dari 40% pada wilayah hulu (Sentani, Cycloop), di bagian barat, selatan dan timur, berpotensi terhadap terjadinya longsor dan erosi akibat aliran permukaan yang tinggi. Kondisi fisik tanah yang rapuh yang dibentuk dari bahan induk batuan sedimen tersier dan pratersier pada sebagian besar wilayah DAS Tami menyebabkan erosi batuan induk mudah terjadi. Ini terlihat dari warna air sungai Tami yang tetap keruh meskipun tidak turun hujan. Perubahan penggunaan lahan hutan menjadi penggunaan lahan pertanian/ perkebunan yang terjadi sejak tahun 1980 mulai dari dataran rendah Tami (Arso) sampai wilayah Koya menyebabkan daerah resapan air (rawa belakang) tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik, sehingga limpahan air permukaan tidak dapat dihindari.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 71

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Wilayah dataran rendah yang luas di bagian tengah DAS Tami (central lowland) secara morfologis merupakan dataran banjir (floodplain) dari dua sungai besar, sungai Tami dan sungai Skamto. Ciri khas dari wilayah ini secara morfologis ditandai dengan kenampakan tanggul sungai), rawa belakang (backswamp) dan sungai-sungai mati (oxbow lake). Dengan perbedaan tinggi antara outlet dengan tengah sungai yang kurang dari 25 meter, aliran sungai menjadi lebih lambat sampai Ke muara. Bahkan pada beberapa bagian wilayah Koya, dari analisa SRTM dan peta topografi skala 1 : 50.000, diketahui tinggi permukaan daratan -1 m dpi. Pada daerah tengah lembah, terdapat cekungan dan meander sungai yang banyak, di awali dari sungai Skamto, Arso hingga Tami. Kondisi fisiografi seperti ini menyebabkan daerah Arso dan Koya yang rawan banjir. Atas dasar pola kerapatan jaringaan sungai yang terbentuk dari morfologi wilayah, maka secara hidrologis pada wilayah hulu berlaku proses pembentukan aliran pada kemiringan, sementara pada wilayah dataran rendah Tami berlaku proses hidrologi pada dataran banjir. Sangat keruhnya air sungai Tami pada kondisi tidak hujan, menunjukkan tingginya konsentrrasi sediment melayang (dissolved sediment) dalam air. Ini sebagai petunjuk besarnya proses pengikisan pada lapisan batuan yang cenderung telah mengalami proses pelapukan yang kuat (strongly weathering) dengan dominasi energi aliran bawah permukaan (troughflow) yang kuat. Dari aspek sosio-ekonomi, ketergantungan terhadap lahan sangat dominan, terlihat dari nilai TP yang melampaui 1 dan tingginya jumlah penduduk yang berprofesi sebagai petani. Pada daerah hulu, masih dijumpai praktek perladangan berpindah dan pengelolaan tanah yang tidak mengikuti kaidah konservasi. Penggalian pasir dan batu kali (galian C) ada daerah sekitar Sentani, Buper-Waena semakin memperparah keadaan. Walaupun telah dibuat bronjong batu sebagai upaya normalisasi sungai, tetapi jika tidak diikuti dengan penertiban galian C, maka upaya tersebut menjadi sia-sia. b. Potensi Pemanfatan DAS DAS merupakan suatu wilayah ekosistem yang kaya akan berbagai sumberdaya, yang bila dapat dimanfaatkan secara maksimal akan mendatangkan manfaat yang besar bagi pembangunan wilayah dan kemakmuran rakyat.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 72

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Selama ini pemanfaatan bentang lahan dalam satu kesatuan wilayah DAS dilakukan secara terpisah tanpa memperhatikan interaksi unsur-unsur penyusun DAS sebagai satu kesatuan yang utuh. Akibatnya, sering terjadi bencana banjir yang longsor. Sudah saatnya pemanfaatan bentang alam dan sumber daya alam di atasnya perlu di implementasikan dalam Pengelolaan DAS secara terpadu. DAS terpadu merupakan rencana umum jangka panjang pengelolaan DAS yang mengakomodasikan berbagai peraturan perundangan yang berlaku dan dijabarkan secara menyeluruh dan terpadu, yang memuat perumusan masalah spesifik di dalam DAS, sasaran, dan tujuan pengelolaan, arahan, kebijakan, program dan kegiatan dalam pemanfatan, perlindungan dan pelestarian sumberdaya alam, pengembangan sumberdaya manusia, arahan model kelembagaan pengelolaan DAS, serta sistem monitoring dan evaluasi kegiatan pengelolaan DAS (Permenhut no. 26 tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan DAS Terpadu). Implementasi dari pengelolaan DAS terpadu telah diadopsi di dalam pembentukan Kesatuan Pemangkuan Hutan sebagaimana yang amanatkan dalam PP No. 6 Tahun 2004. KPH adalah wilayah pengelolaan hutan sesuai fungsi pokok dan peruntukannya, yang dapat dikelola secara efisien dan lestari yang berbeda dalam satu wilayah administrasi kehutanan atau berada dalam satu wilayah DAS yang merupakan satu kesatuan ekosistem (p 1,6,7 PP no. 6 tahun 2007 tentang Tata hutan, dan penyusunan KPH serta pemanfaatan hutan. Pemanfaatan sumberdaya baik hayati dan non hayati yang menitikberatkan pada sumber daya yang tangible benefit berupa kayu, dalam skala besar terbukti menciptakan degradasi lingkungan yang masif. Karena itu perlu perubahan paradigma dan pola pengelolaan yang lebih berorientasi pada pemanfaatan seluruh potensi sumber daya, baik berupa kayu, non kayu/ hasil hutan ikutan, maupun jasa lingkungan, dengan kepastian dan luasan lokasi yang terjangkau, dengan memaksimalkan peran serta dan partisipasi masyarakat secara luas. Dengan mensinergikan prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari, prinsipprinsip pengelolaan DAS Terpadu, Prinsip ekologi, dan Prinsip Ekonomi serta adminstrasi pemerintahan wilayah dan kearifan lokal, maka, pembentukan KPH di tanah Papua sedapat mungkin memiliki kriteria sebagai berikut :
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 73

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Pengembangan dan pemanfaatan semua potensi sumber daya yang terkandung dalam DAS, baik biotik maupun abiotik, tercakup didalamnya hasil hutan kayu dan non kayu serta jasa lingkungan. Mempunyai status fungsi kawasan hutan yang jelas, dan telah di tata batas.
Gambar 3-6
PETA WILAYAH KERJA BPDAS MEMBERAMO

Pembagian fungsi kawasan hendaknya memperhatikan kearifan lokal yang telah berlaku turun temurun, ketergantungan masyarakat lokal terhadap hutan, serta hak-hak masyarakat adat terhadap akses sumber daya yang ada. Berada dalam satu wilayah DAS atau Sub DAS dengan batas topografi atau batas alam yang mudah terlihat dilapangan dan peta. Ini menjadi penting agar memudahkan dalam pengelolaan, evaluasi dan pengawasan. Memiliki kesamaan-kesamaan biofisik dan kultural yang bersifat permanen, seperti kesamaan geologi dan geomorfologi, serta kesamaan hak ulayat. Sebaiknya berada pada satu wilayah adminsistarasi provinsi atau satu kabupaten untuk menghindari dualisme pengelolaan akibat perbedaan kebijakan pembangunan yang mungkin terjadi dimasa depan. Hendaknya tidak berada pada wilayah dengan jenis tanah yang sangat peka terhadap erosi, dengan struktur geologi yang mudah tererosi pula, dan topografi yang sangat curam lebih dari 40%. Pada wilayah dengan karakter bentang lahan seperti ini, tidak dimungkinkan untuk di ekploitasi. Pemanfaatannya lebih diarahkan pada fungsi perlindungan dan wisata alam.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 74

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Sedapat mungkin dekat dengan laut, sungai atau jalan atau telah memiliki aksesisbilitas yang cukup sehingga dapat menekan biaya operasional dan biaya produksi. Memiliki potensi-potensi yang terukur atau dapat bernilai ekonomi, seperti kayu, rotan, minyak atsiri dsb, atau keunikan flora-fauna serta keindahan alam untuk kepentingan wana wisata. Luasan KPH sebaiknya tidak terlalu besar sehingga memungkinkan semua sumber daya (dana, teknologi, SDM) dapat lebih dimaksimalkan. Dalam satu KPH sebaiknya terdapat lebih dari dari satu fungsi hutan, akan tetapi harus memiliki satu titik berat/ dominansi yang dijadikan sebagai inti kegiatan KPH. c. Permasalahan Pengelolaan DAS Dukungan data dan Informasi, terutama peta dirasakan sangat minim. Pengelolaan DAS membutuhkan suplai data dan informasi yang kontinyu/ time series dan detail untuk melakukan analisa tanah, geologi, iklim (curah hujan, suhu, kelembaban), bentang lahan / topografi, hidrogeologi, hidrologi, sosial ekonomi dan kelembagaan; evaluasi tataguna lahan, perilaku DAS dan 3.2.7. Pengelolaan Kawasan Konservasi Kepulauan Papua mencakup bagian barat pulau New Guinea dan merupakan satu dari tiga wilayah Rimba Belantara Tropis Utama yang diidentifikasi Conservation Intoernational (CI). Lebih dari 80% wilayah Papua masih berupa habitat alam. Karena proses biogeografi dan keadaan topografi kawasan hutan Papua diduga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Penelitian di bagian hulu Mamberamo (Dabra, Kecamatan Mamberamo Hulu) saja, setidaknya 24 spesies baru ditemukan, termasuk 6 spesies hewan bertulang belakang. Penelitian lain di Sungai Wapoga menemukan 93 spesies baru. Meskipun demikian, informasi pasti mengenai keanekaragaman hayati Papua belum banyak diketahui. Lautan di Papua menyimpan kekayaan yang belum banyak diketahui oleh dunia pengetahuan. Seperti halnya keanekaragaman hayati daratannya. Penelitian CI di Kepulauan Raja Ampat menemukan 456 spesies terumbu karang. Jumlah ini adalah separuh dari jumlah total spesies terumbu karang yang telah diketahui dunia. Tujuh diantaranya adalah spesies baru. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi 699 spesies moluska, dan 828 spesies ikan karang, empat diantaranya jenis baru dari genus Eviota, Apogon dan Hemiscyllium.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 75

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Penelitian-penelitian ini mendukung perkiraan para ahli tentang tingginya keanekaragaman hayati di Papua. Sementara itu, pengetahuan kita tentang kekayaan flora dan fauna Papua sangat terbatas. Sejalan dengan bertambahnya kegiatan penelitian biologi di daerah ini tingkat keanekaragaman jenis Papua akan terus meningkat. Selain keanekaragaman jenis yang tinggi, Papua juga memiliki ekosistem yang beragam. Mulai dari terumbu karang, hutan bakau, savanna, hutan tropis dataran rendah, pegunungan, hingga ekosistem alpin. Ancaman terhadap keanekaragaman hayati dan habitat alam Papua sudah mulai terlihat dampaknya. Papua yang juga kaya akan deposit mineral dan minyak bumi menarik para investor untuk melakukan eksploitasi tambang dan gas secara besar-besaran. Ancaman lainnya antara lain rencana pembangunan wilayah seperti pembangunan area industri berskala besar di Mamberamo, perluasan perkebunan kelapa sawit, pembangunan jalan Trans-Papua, dan konsesi hutan. Suaka Margasatwa Kepulauan Raja Ampat Dua organisasi tersebut ialah Conservation International (CI) Indonesia dan The Nature Conservancy (TNC). Regional Vice President CI Indonesia Jatna Supriatna mengatakan, keenam kawasan tersebut yaitu Kofiau, Misool Timur Selatan, Waigeo Selatan, Teluk Mayalibit, Wayag, SayangPiai, dan Ayau, dengan luas lebih dari 550.000 ha atau 30%dari total luas wilayah Kabupaten.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 76

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Keenam wilayah ini ditetapkan oleh Bupati Raja Ampat, Marcus Wanma, setelah masyarakat adat Raja Ampat memberikan mandatnya kepada pemerintah daerah untuk mengelola kawasan-kawasan tersebut bagi kesejahteraan masyarakat. Menurut dua organisasi internasional itu menilai, penetapan keenam KKL ini sangat strategis bagi pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Raja Ampat yang luas perairan lautnya tujuh kali lipat luas daratan. KKL itu juga memiliki pulau dengan keanekaragaman hayati dan ekosistem bagus. CI dan TNC menyambut baik inisiatif Pemerintah dan masyarakat Raja Ampat yang menetapkan beberapa wilayahnya sebagai kawasan konservasi. "Kami akan melanjutkan kerjasama yang sudah baik selama ini dengan masyarakat setempat termasuk Dewan Adat, pemerintah daerah dan pusat dalam menfasilitasi proses penetapan kawasan dimaksud untuk menuju tahapan pengelolaan KKL yang efektif sehingga memberi manfaat ekonomi pada masyarakat Raja Ampat dalam jangka panjang. Hasil survey keanekaragaman hayati yang dilakukan baik oleh CI maupun TNC pada tahun 2001 dan 2002 menunjukkan perlunya jejaring kawasan konservasi laut multi-guna di Raja Ampat untuk melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem laut yang dapat menjamin keberlanjutan sektor perikanan subsisten dan komersial jangka panjang. Taman Nasional Teluk Cenderawasih Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) di Kabupaten Biak Numfor, Papua, kini terancam rusak dan kondisinya semakin memprihatinkan. Pimpinan proyek TNTC, Robert Mandosir, kepada wartawan di Manokwari, Kamis (10/3), mengatakan ancaman muncul karena dalam 10 tahun terakhir sering terjadi kegiatan penangkapan ikan ilegal yang dilakukan nelayan setempat maupun pendatang. Para nelayan itu kebanyakan menangkap ikan dengan cara yang tidak ramah lingkungan, seperti menggunakan bahan peledak yang daya ledaknya cukup tinggi dan racun. Akibatnya ekosistem laut dan ikan besar kecil ikut musnah, sedangkan populasi terumbu karang yang merupakan andalan panorama laut kawasan Teluk Cenderawasih terancam punah. Kekhawatiran itu makin besar karena masyarakat nelayan di sekitar kawasan TNTC kebanyakan masih hidup dengan tingkat ekonomi dan pengetahuan rendah, sehingga cukup sulit meyakinkan pentingnya pelestarian alam pada mereka.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 77

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Lima tahun lalu terumbu karang di TNTC dianggap sebagai yang terbaik kedua di dunia setelah Great Barrier Reef di Australia. Namun, belakangan ini peringkat itu turun menjadi kelima. "Ini karena tingkat perusakan lingkungan di TNTC makin tinggi. Kalau perusakan tidak dihentikan, sepuluh tahun ke depan wilayah ini akan rusak total. Adapun para nelayan makin sering menggunakan bom karena bahan tersebut mudah didapat. Menurut warga setempat, mereka bahkan menggunakan bom peninggalan perang dunia kedua yang banyak ditemukan di Biak, karena daerah itu dulu merupakan basis tentara Amerika dan Jepang. Alasan penggunaan bom adalah karena gampang dan hasilnya melimpah., Selain itu tidak ada aparat yang bertugas di wilayah tersebut sehingga pengeboman ikan itu berlangsung dengan bebas. Padahal, kawasan TNTC sejak dulu ditetapkan pemerintah pusat sebagai obyek wisata Bahari Nasional yang seharusnya tertutup dari kegiatan yang tidak sesuai dengan UndangUndang Konservasi No.5 Tahun 1990. Taman Nasional Teluk Cenderawasih seluas 2.500 hektar yang terbentang antara Kabupaten Manokwari, Nabire, Biak Numfor, dan Yapen Waropen, kaya akan berbagai jenis biota laut. Taman ini memiliki berbagai jenis ikan. Tercatat kurang lebih 209 jenis ikan penghuni kawasan ini diantaranya butterflyfish, angelfish, damselfish, parrotfish, rabbitfish, dan anemonefish. Jenis moluska antara lain keong cowries (Cypraea spp.), keong strombidae (Lambis spp.), keong kerucut (Conus spp.), triton terompet (Charonia tritonis), dan kima raksasa (Tridacna gigas). Selain itu ada empat jenis penyu yang sering mendarat di taman nasional ini yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Duyung (Dugong dugon), paus biru (Balaenoptera musculus), ketam kelapa (Birgus latro), serta berbagai jenis lumba-lumba, dan hiu sering pula terlihat di perairan Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Taman Nasional Wasur Para peneliti Badan Suaka Alam Sedunia (WWF) menemukan sekitar 390 jenis burung di Taman Nasional Wasur, Kabupaten Merauke, Papua. Di taman nasional tersebut hidup juga sekitar 80 jenis mamalia yang 20 di antaranya endemik (berdiam di satu tempat tertentu), menurut data inventarisasi WWF dari perwakilan Manokwari. Dengan memiliki sekitar 390 jenis burung, maka taman nasional itu merupakan wilayah paling kaya akan jenis burung di Tanah Papua bahkan di Indonesia.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 78

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Sesuai hasil inventarisasi habitat basah Wasur juga berkembangbiak puluhan jenis burung bangau, bebek rawa dan burung pantai. Sementara di habitat kering (sabana) berkembangbiak juga puluhan jenis burung maleo, nuri, kakatua dan cenderawasih. Dengan penetapan Wasur sebagai taman nasional, seharusnya saat ini di tanah Papua terdapat delapan taman nasional di antaranya Taman Nasional Lorentz di kabupaten Timika dan Wasur sendiri yang memiliki aneka jenis satwa langka di dunia. Salah satu mamalia yang populasinya cukup tinggi di Wasur adalah rusa dan kanguru. Tapi akhir-akhir ini populasi kedua jenis satwa yang dilindungi itu terancam punah, karena meningkatnya perburuan dan pembantaian oleh masyarakat serta oknum tidak bertanggungjawab secara tak terkendali. Selain rusa, pembantaian cenderawasih dan kasuari serta penangkapan jenis kakatua, nuri untuk diperdagangkan terus meningkat. Dalam laporan para peneliti WWF menyatakan, jika praktik perburuan liar tidak dihentikan, maka dikhawatirkan aneka jenis satwa langka yang dilindungi itu akan punah. Karena itu, dengan menetapkan Wasur sebagai Taman Nasional maka seharusnya kawasan itu tertutup bagi segala penangkapan fauna serta perusakan yang tidak bertujuan untuk penelitian sesuai Undang-Undang No.5/1990. Namun taman nasional ini cocok dijadikan obyek wisata berburu rusa terbesar di Indonesia di masa datang dan di era otonomi khusus Papua. Para ahli pariwisata menyebutkan taman nasional Wasur seluas 413.800 hektar memiliki hutan sabana basah paling luas di Indonesia, bahkan Asia, yang kaya dengan aneka jenis flora dan fauna langka serta merupakan tempat persinggahan burung junai, yang bermigrasi dari Australia utara. Selain itu, sejumlah sungai yang melingkari kawasan taman nasional tersebut merupakan tempat berkembang biak jenis ikan kakap dan arwana, yang memiliki nilai ekspor dan ekonomis tinggi. Di taman ini tumbuh subur berbagai jenis pohon bakau (mangrove), bambu dan sagu yang belum dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 79

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Taman Nasional Lorentz Flora; Sampai saat ini belum dilakukan penelitian secara menyeluruh terhadap potensi flora di Taman Nasional Lorentz. Namun dilihat dari tipe lingkungan kawasan ini sudah tentu kawasan ini memiliki beragam jenis flora yang sangat menarik. Telah diinvetarisasi dan diindentifikasi 36 jenis flora yang tersebar di daerah pantai antara lain : Myristica sp, Pmetia sp, Rhizophora sp, Terminalia catapa, Celthis latifolia dan 43 jenis untuk daerah pegunungan, antara lain : Paraserianthes falcataria, Hopea papuana, Podocarpus sp, Pinus sp dan lain-lain. Disamping itu terdapat beberapa jenis anggrek alam antara lain : Dendrobium spp, Bulbophylum spp, Calanthe tripica dan Gramathopylum spp. Fauna; Kawasan ini merupakan daerah terkaya akan jenis-jenis fauna di Irian Jaya. Terdapat kurang lebih 350 jenis burung, 20 jenis diantaranya endemik dan 101 jenis mamalia hidup dan berkembangbiak di kawasan ini serta terdapat beberapa jenis reptil, amphibi dan insecta. Satwa endemik yang hidup dan berkembang biak di kawasan ini antara lain : Casuarius benneti, Anurophasis papuensis, Serienlus aureus, Phalanger vertitus, Pseudocheinus caroli, Iguana iguana, Omithoptena spp, Throides spp, Papillio spp. Dellias spp, Zoglossum bruijnii, Audiophabius viridus, Amurophasis monorthonyx dan lain-lain. Sebagian besar kawasan ini merupakan hutan perawan yang memiliki keindahan alam yang dimulai dari pantai (hutan bakau dan nipah) hingga daerah sub alpin dan alpin. Bagian selatan hingga sebagian bagian barat adalah daerah pantai yang memiliki hutan bakau dan nipah dengan akarakar bakau tersusun rapi di atas permukaan air laut yang menghiasi tepitepi kali sepanjang mata memandang. Bila air laut sedang surut, di tengahtengah kali terdapat banyak ikan kecil yang sedang bermain menghiasi permukaan laut. Sebagian wilayah barat hingga utara sampai timur memiliki pepohonan yang rimbun, topografi yang bervariasi dan diselingi dengan sungai-sungai yang besar dan kecil, yang mengalir menghiasi tepian-tepian gunung, membentuk air terjun yang asri. Daerah Cartensz adalah daerah yang sangat unik, karena memiliki salju. Daerah ini sesuai untuk kegiatan pendakian dan panjat tebing karena memiliki puncak gunung dengan tebing-tebing yang terjal.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 80

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Sebagian kawasan ini hanya bisa dicapai dengan jalan kaki, pesawat udara atau dengan perahu motor. Untuk menuju daerah Puncak Jaya dari Kecamatan Ilaga, dapat ditempuh dengan jalan kaki selama 6 hari dengan melewati obyek-obyek wisata antara lain :  Hari I, melalui Desa Pinapa, Bubunana, Liminggame dan bermalam di Kama 1  Hari II, menuju desa Kama 2 dengan berjalan kaki ±1 jam, daerah Bogowigaluk yang merupakan hutan sub alpin, selanjutnya daerah Nggoklome dimana terdapat danau yang tidak terlalu besar, mengikuti bukit Blabla, menurun mengikuti padang rumput dan bermalam di gua Kunundo.  Hari III, di daerah gua Kunundo kita dapat melihat monumen batu alamnya yang indah yang merupakan ciri khas daerah ini, dan sebuah gua besar dan air terjun (inambebururakulik) dan bermalam di Mapa Pirom (Bukit Mapa).  Hari IV, dari daerah Wenggenawi, dimana daerah yang dilalui adalah padang rumput yang berlumpur, melewati Danau Hugayugu dan bermalam di Kumbanikime.  Hari V, menuju Danau Larson dengan melewati padang rumput dan Danau Discovery.  Hari VI, dari Danau Larson, kita menuju ke Danau Dugundugu dan Danau Rohciman kemudian mendaki cukup terjal menuju daerah New Zaeland Pass dan menurun sampai lembah danau dan bermalam disini. Biasanya bila akan melakukan pendakian ke Cartentz Pyramid, Puncak Jaya, harus bermalam di lembah danau. i. Ke kampung Mapnduma bisa dicapai dengan pesawat udara dari Wamena atau jalan kaki selama 5 hari dari Wamena. ii. Ke Kecamatan Agimuga dapat dicapai dengan pesawat udara dari Timika atau naik perahu motor dari Mapurajaya (Timika) selama 14 jam. iii. Ke Desa Jila dapat dicapai dengan pesawat udara dari Wamena atau Ilaga dan bisa juga menggunakan perahu motor dari Mapurujaya atau dari Sawaerma.
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 81

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Transportasi 1. Jalur Penerbangan
o

Nabire –Ilaga 50 menit, Nabire –Beoga 50 Menit, Nabire Sugapa 55 menit, Nabire – Homeyo 65 menit, Timika – Beoga 65 menit dan Nabire –Jila 55 menit.

o

Wamena –Jila 105 menit, Wamena –Agimuga 110 menit.

2. Jalur Motor Tempel; Timika –Agimuga 18 jam, Agats –Sawaerma 3 jam 30 menit, Jila –Agimuga 8 jam. 3. Jalur Perahu Dayung; Waktu yang ditempuh dari satu desa ke desa/kampung lain tidak sama, rata-rata lebih dari satu hari dan tergantung pada air pasang-surut. 4. Jalur Berjalan Kaki; Waktu yang ditempuh dari satu tempat ke tempat lain tidak sama dan biasanya lebih dari satu hari, karena topografi yang berat dan cuaca. Suaka Margasatwa Pegunungan Foja Pegunungan Foja, atau Mamberamo-Pegunungan Foja, adalah

rangkaian gunung yang terletak di sebelah utara Sungai Mamberamo di kawasan Papua, Indonesia. Titik tertingginya ialah 2.193 m. Pegunungan ini merupakan bagian dari daerah aliran sungai Mamberamo yang memasok air bersih di seluruh kawasan Papua bagian utara. Sebuah suaka margasatwa seluas 1.442.500 hektar berada di pegunungan ini. Sebuah ekspedisi pada Desember 2005 menemukan puluhan spesies baru, di antaranya Parotia berlepschi dan jenis burung penghisap madu, di hutan tropis terpencil di sekitar pegunungan. Hasil penemuan ini diumumkan pada 7 Februari 2006. Luas hutan itu sekitar 300.000 ha dan terletak di bagian atas lereng yang belum terjamah. Sedangkan warga setempat bermukim di daerah yang dekat dengan permukaan air laut.

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 82

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

3.2.8. Industri Kehutanan Pemahaman kondisi industri perkayuan nasional akan dapat memberikan frame bagi pemahaman mengenai kondisi industri perkayuan di Papua. Secara nasional pengembangan industri perkayuan tidak merata di seluruh wilayah Indonesia, dan lebih banyak berada di Indonesia bagian Barat. Terjadinya kelangkaan bahan baku industri perkayuan di Indonesia bagian Barat, menyebabkan pemenuhan bahan baku dialihkan ke Indonesia bagian Timur termasuk Papua. Papua telah menjadi pemasok kayu bulat ke beberapa industri perkayuan di Indonesia bagian Barat sehingga muncul istilah Papua sebagai daerah bahan baku. Di Papua sendiri sejumlah industri juga mengalami kelesuan, meskipun dari segi potensi hutan Papua masih tergolong lebat dibandingkan hutan di Indonesia bagian Barat. Produksi kayu di Papua mengalami fluktuasi dan cenderung menurun, realiasasi produksi kayu terendah tercatat sebesar 1,77 juta m3/tahun pada tahun 1994/1995. Realiasasi produksi tertinggi terjadi pada tahun 1996/1997 sebesar 2,83 juta m3. Pada tahun 1997/1998 produksi kayu merosot menjadi 2,72 juta m3/tahun, dan pada tahun-tahun selanjutnya terus terjadi kemerosotan sampai tingkat yang sangat rendah pada tahun 2002, yaitu hanya sebesar 613 ribu m3. Fluktuasi dan kemerosotan produksi log pada IUPHHK/HPH tersebut, sangat terasa dampaknya pada 31 industri kehutanan baik yang terkait langsung dengan kepemilikan HPH maupun yang hanya terkait dengan pasokan bahan baku IUPHHK/HPH Provinsi Papua. Dengan total kapasitas ijin/terpasang sebesar ± 9,13 juta m3/tahun, industri pengolahan kayu (kayu gergajian dan kayu lapis) hanya dapat berproduksi pada kapasitas ± 200 ribu –725 ribu m3 kayu olahan/tahun sesuai dengan kemampuan pasokan bahan baku dari HPH sebesar 400 ribu –1,5 juta m3/tahun. Ini berarti industri hanya bekerja 2% - 8% dari total kapasitas ijin yang diberikan. Kondisi ini terjadi karena hanya 26 unit HPH saja yang masih aktif beroperasional atau 39% dari seluruh HPH yang terdaftar. Kelesuan industri perkayuan di Papua antara lain disebabkan oleh meningkatnya biaya produksi setelah krisis ekonomi tahun 1998, rendahnya potensi kayu komersial, kecepatan illegal logging, dan medan berat yang telah mengakibatkan rendahnya aksesibilitas ke bahan baku. Jika keadaan ini terus berlanjut industri perkayuan di Papua akan dapat mengalami kematian. Beberapa industri perkayuan terpaksa menghentikan operasionalnya karena ongkos angkut kayu dari lokasi tebangan ke pabrik telah melampaui harga jual (keuntungan).
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN III - 83

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Kelangsungan hidup industri perkayuan di Papua harus dipertahankan karena akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan Pemerintah Daerah Papua. Karena fungsinya tersebut maka pengembangan industri perkayuan di Papua menjadi salah satu kebijakan otonomi khusus Papua. Diharapkan bahwa tidak ada kayu yang keluar dari Papua berupa log, tetapi harus merupakan kayu hasil olahan industri perkayuan di Papua. Dalam rangka pengembangan industri perkayuan di Papua telah disusun Master Plan Pengembangan Industri Perimer Hasil Hutan di Papua, yang membagi zonasi industri primer hasil hutan kayu di Papua menjadi 7 (tujuh) zona industri, yaitu : 1) Zona 1 meliputi Kabupaten Sorong dan Teminabuan 2) Zona 2 meliputi Kabupaten Wandama, Teluk Bintuni, dan Manokwari 3) Zona 3 meliputi Kabupaten Nabire dan Yapen 4) Zona 4 meliputi Kabupaten Jayapura, Keerom, dan Sarmi 5) Zona 5 meliputi Kabupaten Fak Fak dan Kaimana 6) Zona 6 meliputi Kabupaten Mimika dan Asmat 7) Zona 7 meliputi Kabupaten Mappi, Merauke dan Boven Digul.
Data industri kehutanan (Ijin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu/IUIPHHK dan Pengolahan Kayu Hulu/PKH) di Provinsi Papua, sampai dengan tahun 2004, tercatat sebanyak 52 buah, terdiri atas 42 buah jenis IUIPHHK dan 10 industri PKH (Tabel 3-9). Tabel 3-9. Perkembangan Industri Pengolahan Kayu Hulu di Provinsi Papua
NO. 1 NAMA PERUSAHAAN PT. Bade Makmur Orissa LOKASI Asike Merauke 2 PT. Bintuni Utama Murni W. Babo Tel. Bintuni Senindara Teluk Bintuni Arar Sorong 5 PT. Wapoga Mutiara Industri Biak 407/F/PMDN/1987 6 Oktober 1987 IJIN INDUSTRI NOMOR & TANGGAL 763/I/PMDN/1991 12 Desember 1991 JENIS PRODUKSI Sawmill Plywood 214/Kehutanan/1989/Industri Chipwwod 8 Nopember 1989 KAPASITAS KET. PRODUKSI 18.000 Aktif m3/thn 110.000 m3/thn 184.000 Aktif m3/thn

3

PT. Agoda Rimba Irian

168/PMDN/1988 28 Maret 1988

Sawmill

36.000 Aktif m3/thn

4

PT. Henrison Iriana

103/II/PMDN/1987 3 Agustus 1987

Sawmill, plywwod, blockboard Sawmiil, plywwod, blockboard & woodworking

1.071.000 Aktif m3/thn 200.000 Aktif m3/tthn

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 84

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-9. Lanjutan
NO. 6 NAMA PERUSAHAAN PT. Hanurata Coy Ltd PT. Kodeco Mamberamo LOKASI IJIN INDUSTRI NOMOR & TANGGAL 771/PMDN/1993 12 Maret 1993 JENIS PRODUKSI Sawmiil, plywwod & woodworking Sawmill & plywood Sawmiil, plywwod & woodworking Sawmiil, plywwod, blockboard & woodworking Sawmill KAPASITAS PRODUKSI KET.

68.500 m3/thn Tidak aktif 152.400 m3/thn Tidak Aktif 68.500 m3/thn Tidak Aktif 208.000 m3/thn Tidak Aktif - Tidak Aktif

Jayapura Dawai

7

8

9

Serui PT. Hanurata Mukti Holtekamp 771/pmdn/1993 Plywood 12 Maret 1993 Jayapura PT. Prabu Alaska Fakfak 985/I/PMDN/1990 25 Spetember 1995 Demta Jayapura -

10 PT. You Lim Sari

SUMBER : DINAS KEHUTANAN PROVINSI PAPUA (2004)

IPKH (Tabel 3-9) adalah industri-industri pengolahan kayu besar dan umumnya terintegrasi dengan HPH, baik yang tergabung dalam group maupun tidak. Namun dari 10 industri PHK yang telah mendapat ijin operasional, hanya 5 industri saja yang dinyatakan masih aktif oleh pemerintah. Sementara 5 industri lainnya dinyatakan tidak aktif, dengan beberapa alasan, antara lain : perijinan, teknis operasional dan keuangan. Jenis-jenis produk yang diproduksi berupa plywood, chipmill, blockboard dan sawmill, dengan kapasitas total (campuran) kurang dari 1,6 juta m3/tahun. Industri IUIPHHK pada umumnya adalah industri kayu gergajian yang dikelola masyarakat, baik oleh perorangan dalam bentuk CV, maupun kelompok dalam bentuk PT (perseroan terbatas), UD dan Koperasi. Ke-42 industri IUIPHHK tersebar di beberapa wilayah kabupaten, dengan

kapasitas produksi yang sangat bervariasi, mulai dari 2.000 m3/tahun hingga 6.000 m3/tahun. Data-data tentang asal usul bahan baku kayu yang memasok industri IUIPHHK, masih belum jelas sumbernya. Bisa dari HPH, Kopermas maupun dari illegal logging. Yang pasti, industri-industri tersebut secara resmi tengah beroperasional dan membutuhkan pasokan bahan baku kayu secara kontinyu sesuai dengan kapasitas produksi riil.

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 85

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Kapasitas Terpasang Industri Primer Hasil Hutan di Papua Data profil industri primer hasil hutan di Papua pada tahun 2004 dan 2006 per kabupaten/kota untuk seluruh Papua dapat dilihat dalam Tabel 3-10 sampai dengan Tabel 3-12. Tabel 3-10.
No.

Data Kapasitas Industri Sawn Timber di Papua menurut Kabupaten Tahun 2004 dan 2006
Kapasitas Industri 2004 2006 Trpasang Produksi Trpasang Produksi (m3/Thn) (m3/Thn) (m3/Thn) (m3/Thn)

Nama Perusahaan IPHHK Per Kabupaten/Kota

A. Kapasitas s/d 6 000 m3 I. Kota Jayapura 1 PT. Datonan Jaya Perkasa 2 Koperasi Wepasyau 3 PT. Bama Pratama Adijaya 4 CV. JMS Motor 5 PT. Mansinam Global Mandiri Unit I 6 CV. Pabus 7 CV. Mustika Dharma 8 Penggergajian Kayu Landasan Baru 9 Penggergajian Kayu Bina Jaya 10 CV. Irma Jaya 11 CV. Indra Buana 12 PT. Victory Cemerlang Wood Industri Unit I 13 Puskopad DAM Unit I 14 PT. Sumber Kayu Utama Unit Kota Sub Total II. Kabupaten Jayapura 15 UD. Papua Mandiri Perkasa 16 PT. Mansinam Global Mandiri Unit II 17 PT. Gizand Putra Abadi 18 Usaha Kayu Harapan Indah 19 PT. Sijas Express Unit I 20 PT. Sijas Express Unit II 21 CV. Anugrah Bumi Cenderawasih 22 PT. Irian Hutama 23 PT. Victory Cemerlang Wood Industri Unit III 24 Puskopad DAM Unit II 25 Puskoppolda Papua Unit Taja 26 CV. Sejahtera Abadi Perkasa Sub Total III. Kabupaten Keerom 27 CV. Memberamo Hutama Cabang Keerom 28 PT. Victory Cemerlang Wood Industri Unit II 29 PT. Sumber Kayu Utama Unit Skanto 30 PT. Sumber Kayu Utama Unit Arso 31 CV. Askar Rivaldi 32 Puskoppolda Papua Unit Skanto 33 Koperasi Pikere Sub Total

5.000,00 6.000,00 3.600,00 5.000,00 6.000,00 1.500,00 1.500,00 1.500,00 1.500,00 2.500,00 5.000,00 6.000,00 6.000,00 5.000,00 56.100,00 1.000,00 6.000,00 6.000,00 3.000,00 6.000,00 6.000,00 6.000,00 4.000,00 6.000,00 6.000,00 5.000,00 5.000,00 60.000,00 5.800,00 6.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 4.000,00 5.000,00 35.800,00

5.000,00 6.000,00 3.600,00 5.000,00 6.000,00 1.500,00 1.500,00 1.500,00 1.500,00 2.500,00 5.000,00 6.000,00 6.000,00 5.000,00 56.100,00 1.000,00 6.000,00 6.000,00 3.000,00 6.000,00 6.000,00 6.000,00 4.000,00 6.000,00 6.000,00 5.000,00 5.000,00 60.000,00 5.800,00 6.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 4.000,00 5.000,00 35.800,00

5.000,00 6.000,00 3.600,00 5.000,00 6.000,00 1.500,00 1.500,00 1.500,00 1.500,00 2.500,00 5.000,00 6.000,00 6.000,00 5.000,00 56.100,00 1.000,00 6.000,00 6.000,00 3.000,00 6.000,00 6.000,00 6.000,00 4.000,00 6.000,00 6.000,00 5.000,00 5.000,00 60.000,00 5.800,00 6.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 4.000,00 5.000,00 35.800,00

5.000,00 6.000,00 3.600,00 5.000,00 6.000,00 1.500,00 1.500,00 1.500,00 1.500,00 2.500,00 5.000,00 6.000,00 6.000,00 5.000,00 56.100,00 1.000,00 6.000,00 6.000,00 3.000,00 6.000,00 6.000,00 6.000,00 4.000,00 6.000,00 6.000,00 5.000,00 5.000,00 60.000,00 5.800,00 6.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 4.000,00 5.000,00 35.800,00

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 86

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

No.

Nama Perusahaan IPHHK Per Kabupaten/Kota

Kapasitas Industri 2004 2006 Trpasang Produksi Trpasang Produksi (m3/Thn) (m3/Thn) (m3/Thn) (m3/Thn)
5.800,00 5.800,00 5.800,00 5.800,00 5.800,00 5.800,00 5.800,00 5.800,00

VI. Kabupaten Sarmi 34 CV. Membramo Hutama Cabang Sarmi Sub Total V. Kabupaten Mimika 35 CV. Amole Jaya 36 CV. Zulham Sakti Sub Total VI. Kabupaten Merauke 37 CV. Agora Indah Sub Total VII. Kabupaten Nabire 38 CV. Memberamo Hutama Cabang Nabire 39 CV. Nabire Baru 40 CV. Mandiri Perkasa 41 IPKH. Moulding Mawar 42 PT. Eka Dwika Perkasa 43 CV. Nabire Jaya Abadi 44 CV. Swastika Jaya 45 CV. Fideka 46 PT. Pratama Manju P. Sub Total VIII. Kabupaten Yapen 47 CV. Agfor Maxima Sub Total Total B. Kapasitas > 6 000 m3 I. Kabupaten Biak Numfor 1 PT. Wapoga Mutiara Industries Sub Total II. Kabupaten Boven Digoel 2 PT. Bade Makmur Orissa Sub Total Total 9.800,00 9.800,00 109.800,00 8.000,00 9.800,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 100.000,00 100.000,00 100.000,00 100.000,00 5.500,00 5.500,00 5.500,00 5.500,00 5.500,00 5.500,00 5.500,00 5.500,00 5.800,00 2.000,00 6.000,00 6.000,00 6.000,00 6.000,00 3.000,00 5.000,00 3.000,00 42.800,00 5.800,00 2.000,00 6.000,00 6.000,00 6.000,00 6.000,00 3.000,00 5.000,00 3.000,00 5.800,00 2.000,00 6.000,00 5.000,00 6.000,00 6.000,00 3.000,00 5.000,00 3.000,00 5.800,00 2.000,00 6.000,00 5.000,00 6.000,00 6.000,00 3.000,00 5.000,00 3.000,00 41.800,00 6.000,00 6.000,00 6.000,00 6.000,00 6.000,00 6.000,00 6.000,00 6.000,00 2.000,00 2.000,00 4.000,00 2.000,00 2.000,00 4.000,00 2.000,00 2.000,00 4.000,00 2.000,00 2.000,00 4.000,00

42.800,00 41.800,00

216.000,00 216.000,00 215.000,00 215.000,00

8.000,00 9.800,00 8.000,00 109.800,00

Sumber : Dinas Kehutanan Papua, 2004 dan 2006 (Diolah)

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 87

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-11. Data Kapasitas Industri Moulding Flooring di Papua menurut Kabupaten Tahun 2004 dan 2006
No. Nama Perusahaan IPHHK Per Kabupaten/Kota I. Kota Jayapura 1 PT. Mansinam Global Mandiri Unit III Sub Total II. Kabupaten Biak Numfor 2 PT. Wapoga Mutiara Industries Sub Total Total Kapasitas Industri 2004 2006

6.000,00 6.000,00 30.000,00 30.000,00 36.000,00

6.000,00 6.000,00

6.000,00 6.000,00 30.000,00 30.000,00

6.000,00 6.000,00

6.000,00

36.000,00

6.000,00

Sumber : Dinas Kehutanan Papua, 2004 dan 2006 (Diolah)

Tabel 3-12. Data Kapasitas Industri Block Board di Papua menurut Kabupaten Tahun 2004 dan 2006
Nama Perusahaan IPHHK Per Kabupaten/Kota I. Kabupaten Biak Numfor 1PT. Wapoga Mutiara Industries Sub Total Total No. Kapasitas Industri 2004 30.000,00 30.000,00 30.000,00 2006 30.000,00 30.000,00 30.000,00

Sumber : Dinas Kehutanan Papua, 2004 dan 2006 (Diolah)

Tabel 3-12. Data Kapasitas Industri Plywood di Papua menurut Kabupaten Tahun 2004 dan 2006
Nama Perusahaan IPHHK Per Kabupaten/Kota I. Kabupaten Biak Numfor 1 PT. Wapoga Mutiara Industries Sub Total II. Kabupaten Boven Digoel 2 PT. Korindo Abadi 3 PT. Bade Makmur Orissa Sub Total III. Kabupaten Sorong 4 PT. Henrison Iriana 5 PT. Codeco Industri 6 PT. Prabu Alaska Sub Total Total No. Kapasitas Industri 2004 90.000,00 90.000,00 2006 90.000,00 90.000,00

70.000,00 60.000,00 70.000,00 60.000,00 120.000,00 112.000,00 120.000,00 120.000,00 190.000,00 172.000,00 190.000,00 180.000,00 172.900,00 172.900,00 172.900,00 100.000,00 100.000,00 100.000,00 31.773,38 272.900,00 304.673,38 272.900,00 552.900,00 476.673,38 552.900,00 172.900,00 100.000,00 31.773,38 304.673,38 484.673,38

Sumber : Dinas Kehutanan Papua, 2004 dan 2006 (Diolah)

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 88

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

3.2.9. Pemasaran Hasil Hutan Terkait dengan pemasaran hasil hutan, Dinas kehutanan telah mengelola Penerimaan Iuran Kehutanan dari Pihak HPH , besarnya dana per tahun selama Pelita V seperti diuraikan dalam Tabel 3-13. Selanjutnya data eksport hasil hutan, peredaran kayu bulat antar pulau; peredaran kayu olahan antar pulau dan peredaran hasil hutan lokal di Propinsi Irian Jaya diuraikan dalam Tabel 3-14 s.d. 3-17. Tabel 3-13. Data Penerimaan Iuran Kehtuanan yang dikelolah oleh Pusat dan Daerah
NO
A.

URAIAN
PENERIMAAN DAERAH

1988/1989

1989/1990

1990/1991

1991/1992

1992/1993

1

Sewa Rumah Dinas

2,598,090.00

2,836,130.00

2,944,440.00

2,647,530.00

2 3 4

Pajak Atas Ijin Uang Leges Retribusi Satwa

1,325,000.00 1,108,200.00 1,971,338.00

495,000.00 529,000.00 4,915,900.00

330,000.00 279,000.00 1,164,550.00

620,000.00 649,700.00 0.00

JUMLAH A

7,002,628.00

8,776,030.00

4,717,990.00

3,917,230.00

0.00

B.

PENERIMAAN PUSAT

IHH

877,987,830.09

724,433,900.00

1,059,450,194.79

3,860,382,629.29

IHPH

731,134,400.00

206,844,800.00

893,544,800.00

1,542,660,000.00

Dana Reboisasi

3,034,507,052.54

4,027,975,822.52

3,240,881,246.06

7,318,734,792.09

BPPHH

29,759,155.92

24,179,876.74

89,748,766.81

459,429,213.94

JUMLAH B

4,673,388,438.55

4,983,434,399.26

5,283,625,007.66

13,181,206,635.32

0.00

JUMLAH A + B

4,680,391,066.55

4,992,210,429.26

5,288,342,997.66

13,185,123,865.32

0.00

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 89

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-15. Peredaran Kayu Bulat Antar Pulau Periode 1988/1989 S/D 1992/1993
NO. 1 TAHUN 1988 / 1989 TUJUAN (PROPINSI) Jawa Timur, Maluku, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Jakarta, Maluku Jawa Timur, Maluku, Jawa Tengah Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Maluku, Jawa Tengah, Kalimantan Barat Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, Maluku, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur VOLUME (M3) 190,924.100 KETERANGAN

2 3

1989 / 1990 1990 / 1991

270,264.035 543,721.040

4

1991 / 1992

572,941.180

5

1992 / 1993 JUMLAH

702,148.470 2,279,998.825

April 1992 s/d Januari 1993

Tabel 3-16. Peredaran Kayu Olahan Antar Pulau Periode 1988/1989 S/D 1992/1993
JENIS HASIL HUTAN NO. TAHUN TUJUAN (PROPINSI) KAYU GERGAJIAN VOLUME (M3) BLOCK PLYWOOD BOARD MOULDING VOLUME VOLUME (M3) VOLUME (M3) (M3)

NON KAYU VOLUME (M3)

1

Jawa Timur, 1988 / Sulawesi Selatan, 1989 Jakarta, Sulawesi Utara. Jawa Timur, 1989 / Jakarta, Sulawesi 1990 Selatan Jakarta, Sulawesi 1990 / Selatan, Jawa 1991 Timur Jakarta, Jawa 1991 / Timur, Sulawesi 1992 Selatan 1992 / Jakarta, Jawa 1993 Timur JUMLAH

1,911.6620

0.0000

0.0000

0.0000

53.2500 *)

2

4,874.3010

1,385.7350

0.0000

0.0000

22.2500 **)

3

4,860.2425

10,385.7350

148.2220

0.0000

34.7780 ***)

4

12,901.9534

17,523.6575

104.2718

20.6739

0.0000

5

14,560.2020

8,590.3361

55.2150

0.0000

0.0000

39,108.3609

37,885.4636

307.7088

20.6739

110.2780

Keterangan *) Bakau **) Rotan ***) Bakau :

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 90

SEJARAH KEHUTANAN PAPUA

Tabel 3-17. Peredaran Hasil Hutan Lokal Propinsi Irian Jaya Periode 1988/1989 S/D 1992/1993
JENIS HASIL HUTAN KAYU NO. TAHUN KAYU BULAT (M3) 1 1988 / 1989 1989 /1990 1990 / 1991 1991 / 1992 1992 / 1993 3,498.4200 KAYU PLYWOOD GERGAJIAN (M3) 13,286.2720 (M3) 0.0000 1,646.6500 BAKAU NON KAYU / HASIL HUTAN IKUTAN KULIT KY. MINYAK ROTAN MASOI BAKAR LAWANG (TON) 0.00 1.50 294.50 0.00

2

22,610.3200

8,759.5514

0.0000

0.0000

0.00

0.00

0.00

0.00

3

104,405.0000

18,622.7514

0.0000

66,534.1600

3.16

135.00

59.98

270.00

4

370,588.2900

11,531.0789

0.0000

46,668.1700

3.16

0.00

0.00

0.00

5

575,293.1700

6,030.1040

0.0000

30,882.7300

0.00

0.00

0.00

(S/D BLN OKTOBER 92) JUMLAH 1,076,395.2000 58,229.7577 0.0000 145,731.7100 6.32 136.50 354.48 270.00

PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN

III - 91

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->