Anda di halaman 1dari 13

Kewajiban apoteker

• Menjamin pelayanan pemberian obat


kepada pasien dengan penuh
tanggung jawab sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
• Memelihara dan melindungi sediaan
farmasi dari pengaruh cuaca,
temperatur, bencana alam,
serangga, dll yg menyebabkan
menurunnya kualitas obat.
• Menjaga kerahasiaan pasien.
1
• Menjaga kebersihan lingkungan apotek.
• Memberikan pelayanan konseling dan
residensial.
• Memberikan informasi mengenai efek
samping dan kontra indikasi obat.
• Menjamin bahwa obat-obatan berbahaya
termasuk narkotika hanya diberikan bila
perlu.
• Melakukan screening resep.
• Menjaga mutu pelayanan.

2
Hak-hak apoteker
• Mendapat penghargaan dan
imbalan yang layak.
• Mengembangkan diri.
• Membela diri mendapatkan
perlindungan hukum.
• Menolak melakukan konspirasi atau
persetujuan yang bertentangan
dengan kemanusiaan dan keadilan.
3
Akhir-akhir ini hubungan apoteker &
dokter menjadi kurang harmonis.

• Hal ini disebabkan dokter melakukan


dispensing obat atau memberikan obat
sendiri langsung kepada pasien. Tindakan
ini sebelumnya dilarang. Dokter hanya
boleh memberikan obat secara langsung
berupa injeksi/jika kondisi pasien gawat
darurat dan segera membutuhkan obat.

4
• Pada masa sebelumnya dokter hanya
melakukan diagnosa dan menentukan
terapi pasien, obat diberikan dalam bentuk
resep yang harus ditebus di apotek.
• Apabila melihat mekanisme semacam itu
memang tidak praktis.
• Pasien akan sangat dimudahkan dengan
dispensing resep.
• Kemudahan ini sangatlah efektif
mengingat pasien dengan sakit yang
parah mungkin cukup lelah jika harus
mengantri di apotek.
5
Kerugian yang timbul dari
dispensing resep ini:
• Bahwa pasien tidak memiliki resep
dalam bentuk tertulis, sehingga jika
terjadi medication error, pasien tidak
dapat menuntut dokternya.
• Sementara jika pasien mau bersusah
payah sedikit untuk pergi ke apotek
maka pasien memperoleh keuntungan
dengan adanya second opinion →
penting untuk mencegah terjadinya
medication error. 6
• Pembelian obat sendiri oleh dokter
membuat pertanggungjawaban dan
pengendalian obat menjadi sulit
dilakukan. Mengingat jenis obat mana
yang diberikan dokter pun menjadi sulit
dipertanggungjawabkan.
• Kenyataan-kenyataan inilah yang
semestinya menjadi fokus para apoteker
untuk menginformasikannya pada
pasien, mengingat pasien tidak
mengetahui dampak negatif dari zat-zat
kimia di dalam obat apalagi jika pasein
tersebut berpendidikan rendah.
7
• Di dalam pengertian mereka obat
adalah penyembuh atau
penghilang penyakit. Semakin
banyak minum obat maka makin
cepat pula sakitnya hilang.
Padahal, pengertian dosis di
dalam obat perlu untuk dijelaskan,
karena efek kerusakan hati dapat
terjadi jika seseorang melampaui
dosis yang ditetapkan.
8
Hal-hal yang melemahkan praktek
kefarmasian
• Formalitas ; titik berat pelayanan apoteker
dan instalasi farmasi hanya pada
penyiapan dan penyerahan obat saja.
Padahal semestinya memberikan edukasi
yang dibutuhkan, terutama pada mereka
yang pengetahuannya sangat kurang.
• Lebih bersifat okupasi ; apoteker masih
bersifat pasif di dalam terapi obat dan
kurang aktif dalam melayani pasien atau
mitra kerja profesi kesehatan lainnya.
9
• Pelaksanaan etika profesi yang rendah ;
akibat product oriented, maka ada
kecenderungan untuk mencari cara breaking
the law, hanya agar target penjualan
terpenuhi. Padahal tingkat keamanan dan
kepuasan pasien harus menjadi fokus utama
di dalam setiap pelayanan farmasis.
• Obat sebagai komodity dagang ; orientasi
pelayanan masih pada komodity obat dan
target penjualan, bukan pada pasien.
Padahal setiap yang mencapai pasien harus
dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan
tidak menyebabkan resiko medication error.
10
• Sanksi hukum yang lemah ; aspek
penegakan hukum yang lemah
karena faktor sumber daya
manusia yang kurang memahami
bentuk perangkat hukum yang
memayunginya dan cara
pengaplikasiannya. Perlu suatu
sistem yang terintegrasi antara
pembuat aturan hukum, penegak
hukum, dan pelaku usaha di
bidang farmasi.
11
Undang-undang nomor 23 tahun 1992
• Tujuan : meningkatkan derajat kesehatan
seluruh anggota masyarakat. Sehingga setiap
transaksi terapetik maupun kegiatan lain yang
termasuk di dalam penyelanggaraan
kesehatan harus mengikuti ketentuan yang
sudah ditetapkan.
• Fungsi undang-undang kesehatan :
• Alat untuk meningkatkan hasil guna dan daya
guna penyelenggaraan pembangunan
kesehatan yang meliputi upaya kesehatan dan
sumber daya.

12
• Menjangkau perkembangan yang
makin kompleks yang akan terjadi
pada masa yang akan datang.
• Memberikan kepastian dan
perlindungan hukum terhadap
pemberi dan penerima jasa pelayanan
kesehatan.

13