Anda di halaman 1dari 35

JENIS-JENIS SANKSI (PIDANA) DALAM KONSEP RUU KUHP NASIONAL ( Ditinjau dari Filsafat Pemidanaan)* Dwidja Priyatno**

I. Pendahuluan

Masalah pidana merupakan masalah yang kurang mendapat perhatian dalam pelajaran hukum, bahkan ada yang menyatakan sebagai anak tiri (Maurach). 1 Sedangkan di dalam Sistem Peradilan Pidana (Crimminal Justice System) , pidana menempati posisi sentral. Hal ini disebabkan karena keputusan di dalam pemidanaan akan mempunyai konsekuensi yang luas, baik yang menyangkut langsung pelaku tindak pidana maupun masyarakat secara luas. Lebih-lebih kalau keputusan pidana tersebut dianggap tidak tepat, maka akan menimbulkan reaksi yang kontroversial, sebab kebenaran di dalam hal ini sifatnya adalah relatif tergantung dari mana kita memandangnya.2 Masalah pidana dan pemidanaan di dalam sejarah umat manusia selalu mengalami perubahan, yang dilakukan sesuai dengan perkembangan peradaban manusia itu sendiri. Perkembangan perumusan sanksi (pidana) di beberapa negara terutama di Eropa Barat sudah lebih maju bila dibandingkan jenis sanksi pidana yang diatur dalam KUHP. Dalam rangka mengejar ketinggalan hukum pidana dari perkembangan teknologi canggih, maka terjadi perubahan hukum pidana terutama sistem stelsel sanksinya dengan pesatnya. Ada negara yang melakukan revisi total KUHP-nya seperti Jerman, Austria 1975), RRC (1980). Ada pula yang terus-menerus menyisipkan dan mencabut pasal-pasal tertentu, seperti Belanda, yang hampir setiap tahun melakukan perubahan KUHP. Indonesia termasuk negara yang sangat lamban melakukan perubahan KUHP. Sebagai bahan pembanding Jerman melakukan perubahan sangat luas yang mereka sebut revisi
1

* Disampaikan Dalam Rangka Seminar Sehari Meninjau Kembali Jenis-Jenis Pemidanaan Dalam RUU KUHP yang Diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa STHB, Selasa,14 Maret 2006. ** Guru Besar Hukum Pidana di STHB. R. Soedarto , Pemidanaan, Pidana dan Tindakan, ( Semarang, FH UNDIP,1987), hlm 21 2 Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-teori dan Kebijakan Pidana, ( ( Bandung, Alumni, 1992, hlm 52.

yang pada hakikatnya merupakan penyusunan KUHP Baru pada tahun 1975 dengan Undangundang Reform KUHP yang ke 13 (13 Juni 1975) KUHP Baru ini pun berkali-kali direvisi dalam kurun waktu sangat pendek.3 Reform ke 14 ( 22 April 1976), Reform ke 15 (18 Mei 1976), Undang-undang 2 Juli 1976, Undang-undang Kejahatan Ekonomi 29 Juli 1976, Reform ke 16 (16 Juli 1979), Reform ke 17 (21 Desember 1979), Reform ke 18 ( 28 Maret 1980), Reform ke 19 ( 7 Agustus 1981), Reform ke 20 (8 Desember 1981). Sesudah itu beberapa lagi undang-undang dikeluarkan sebelum reform ke 21 ( 13 Juni 1985), Reform ke 22 (18 Juli 1985), lalu ada lagi Amandemen KUHP 18 Juli 1985, disusul Reform ke 23 ( 4 April 1986), Undang-undang Kejahatan Ekonomi Kedua 15 Mei 1986 dan Undangundang Anti Terorisme 19 Desember 1986. Kalau kita melihat perkembangan pembaharuan ( Reform ) dan Undang-undang Jerman yang dikeluarkan dalam kurun waktu 11 tahun ( 1975-1986 ), adalah upaya untuk mengejar ketinggalan Hukum Pidananya. 4 II. Generasi Pembaharuan Sistem Sanksi Pidana Secara lebih khusus lagi, maka dapat digambarkan secara bertahap generasi pembaharuan sistem sanksi pidana yang dikemukakan oleh P.J.P. Tak seorang Guru Besar di Universitas Katholik Nijmengen Belanda yang dimuat di dalam makalahnya yang berjudul The Advancement of The Fourth Generation of Sanctions of Western Europe ( UNAFEI Resource Material No. 38 ) mengemukakan, bahwa ada 4 generasi sistem sanksi pidana (modern) yaitu : 5 1. Generasi pertama sistem sanksi atau pidana dimana pidana perampasan kemerdekaan (penjara) merupakan pidana utama untuk mengganti pidana mati, pidana siksa badan, pidana kerja paksa dan pidana mendayung kapal. Ini terutama tercantum dalam KUHP negara-negara Eropa Barat. Pidana perampasan kemerdekaan (penjara) ini dipandang bukan saja lebih berprikemanusiaan dan rational, tetapi juga untuk rehabilitasi dan perbaikan kepada pelanggar. Sisa pidana mati di samping pidana penjara masih ada beberapa negara, seperti Belgia, Irlandia, Yunani dan Turki tetapi telah lama dihapus di Portugal 1867, Nederland 1870, Norwegia Raya 1965, Spanyol 1978 dan Prancis 1981, yang masih belum dihapuskan tidak lagi menerapkan dalam praktek. (Abolitio de facto).

3 4

Andi Hamzah, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia, ( Jakarta, Pradnya Paramita,1993),hlm 17 Andi Hamzah, ibid, hlm 17,18. 5 Ibid, hlm 18-21, lihat juga Dwidja Priyatno, Kapita Selekta Hukum Pidana, (Bandung,STHB Press,2005), hlm 3-9.

2.

Generasi kedua sistem sanksi pidana ditandai dengan tambah populernya pidana penjara di Eropa Barat. Mengambil acuan negara-negara di Eropa Barat, karena negara-negara tersebut telah memberi warna kepada hukum (pidana) negara-negara berkembang bekas jajahan mereka, termasuk Indonesia yang KUHPnya (juga WvK dan BW) bersumber pada Belanda. Bahkan Jepang dan Thailand yang tidak pernah dijajah tidak luput dari pengaruh hukum pidana negara-negara Eropa Barat (Jepang dipengaruhi oleh Jerman, sedangkan Thailand dipengaruhi oleh Inggris). Pelaksanaan dan jenis sanksi pidana perampasan kemerdekaan (penjara) berbedabeda di berbagai negara. Belanda mengenal dua jenis pidana perampasan kemerdekaan, yaitu pidana penjara dan pidana kurungan (keduanya dilaksanakan di penjara) yang tentu saja sama dengan yang dikenal dalam KUHP Indonesia. Tetapi dalam Rancangan KUHP baru, tidak ada pidana kurungan, yang ada di samping pidana penjara, ialah pidana tutupan yang disediakan bagi penjahat politik. Di samping Belanda, Belgia juga mengenal pidana kurungan, tutupan (opsluiting) dan pidana penjara. Sesudah Perang Dunia II ada kecenderungan untuk menjadikan pidana perampasan kemerdekaan menjadi satu jenis saja. Demikianlah sehingga hanya satu jenis pidana perampasan kemerdekaan di Norwegia (1962), di Jerman (1969), di Austria (1974) dan di Portugal (1983). Pidana penjara ditentukan maksimum secara khusus pada setiap delik, sedangkan minimumnya ditentukan secara umum. Berat ringannya pidana penjara ditentukan berdasarkan seriusnya kejahatan itu secara relatif. Kemudian, dirasakan adanya kelemahan terhadap pidana penjara ini terutama yang singkat (yang bulanan sampai dengan satu tahun). Dipandang pidana penjara yang singkat itu tidak relatif, bahkan dapat lebih menambah kadar jahatnya seseorang dengan berguru pada penjahat kakap di dalam penjara juga stigma pada pidana penjara. Juga menambah pembiayaan yang dikeluarkan oleh negara. Pada generasi kedua inilah muncul pidana bersyarat untuk delik yang tidak terlalu berat (di Indonesia maksimum pidana penjara satu tahun dapat dikenakan pidana bersyarat ). (diatur di dalam Pasal 14 a s/d f KUHP). Dalam usaha menemukan alternatif lain dari pidana penjara (terutama yang singkat) inilah muncul generasi ketiga sistem sanksi pidana, terutama berupa denda.

3.

Generasi ketiga, yaitu usaha mengefektifkan pidana denda sebagai sanksi. Pidana denda di dalam KUHP Belanda yang semula sama dengan KUHP, yaitu ditentukan maksimumnya secara khusus pada setiap delik sesuai dengan kadar seriusnya, sedangkan minimumnya ditentukan secara umum (sama untuk semua delik). Tidak dikenal penerapan sanksi denda bersama dengan pidana penjara. Tetapi kemudian, Belanda mengubahnya ada delik tertentu umumnya yang menimbulkan kerugian materiil yang dimungkinkan pengenaan denda bersama pidana penjara. Juga Belanda memperkenalkan sistem denda berdasarkan kategori. Kategori I sampai dengan kategori VI. Semua ini tentulah

untuk meng-efektifkan pidana denda. Semua delik dalam KUHP Belanda juga terdapat alternatif dendanya jika ada pidana penjara. Sistem pidana denda yang baru diperkenalkan oleh negara-negara Skandinavia (Finlandia dan Swedia), kemudian diikuti oleh jerman, Austria, Perancis dan Portugal, yang disebut denda harian (day fine), maksudnya denda didasarkan kepada kemampuan keuangan orang per hari. Tentulah pendapatannya perhari dikurangi dengan utang-utangnya. Jadi, untuk delik yang sama dipidana denda tidak sama karena ditentukan berdasarkan kemampuan keuangan pelanggar. Satuan hari berbeda antara negara yang satu dengan yang lain. Bagitu pula maksimum dan minimum per hari ditentukan dalam KUHP. Di Swedia satu hari maksimum dendanya 1.000 Crown sedangkan minimumnya 10 Crown. Satuan hari di swedia minimum 1 dan maksimum 180 yang tentu ini sama dengan 6 bulan (6 kali 30 hari = 180 hari). Di Jerman hanya yang dipidana 3 bulan atau kurang diganti dengan denda harian. Di Perancis hanya delik-delik ringan yang dikenakan denda harian dan dalam praktek sangat sedikit kasus yang dikenakan denda harian itu. Ada negara-negara yang menerapkan denda harian secara konsekuen misalnya Yunani dalam Pasal 82 KUHP-nya ditentukan, bahwa semua pidana penjara tidak lebih dari 6 bulan dikonversi menjadi denda harian. Bahkan pengadilan dapat mengenakan denda harian sampai pada pidana penjara 18 bulan jika dipandang cukup memadai menerapkan pidana denda harian untuk membuat jera pelanggar melakukan delik berikutnya. Demikian, sehingga dari semua pidana perampasan kemerdekaan Yunani, hanya 4 % dilaksanakan di penjara. 4. Generasi keempat sistem sanksi pidana muncul ketika pidana yang ditunda dan pidana denda mulai dirasakan juga kurang jika diterapkan secara luas, karena akan mengurangi kredibilitasnya. Alternatif lain dari pidana perampasan kemerdekaan mulai ditemukan yaitu sanksi-sanksi alternatif. Yang dimaksud dengan sanksi alternatif itu, ialah pidana kerja sosial, pidana pengawasan (control) dan perhatian kepada korban kejahatan mulai meningkat, sehingga diperkenalkan ganti kerugian kepada korban kejahatan oleh pelanggar sebagai sanksi alternatif. Dalam konferensi Internasional mengenai Prevention of Crime and Treatment of Offende r ke VII dikeluarkan resolusi untuk mengurangi populasi pidana penjara, alternatif pidana penjara dan integrasi sosial narapidana. Menurut P.J.P Tak, hanya tiga alternatif yang sesuai dengan resolusi itu, yaitu :6 1. 2. 3. Kontrak untuk pembinaan (contract treatment). Pencabutan dan larangan mengenai hak-hak dan izin ( deprivation and interdicts concerning rights or licences). Kerja sosial (community service)

Ibid, hlm 22

Kontrak untuk pembinaan diperkenalkan di Swedia dengan Undang-undang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1988 yang telah dimulai dengan eksperimen sejak tahun 1978. Ini merupakan sanksi yang disetujui oleh pelanggar, berupa pembinaan atau treatment terutama pada pemabuk atau pecandu obat bius atau pelanggar yang memerlukan pembinaan atau penyembuhan. Pengadilan akan memutuskan contract treatment sebagai bagian dari syarat pidana percobaan. Jika pelanggar melanggar kontrak ini, ia akan menjalani pidana penjara. Lamanya pembinaan (treatment) dan supervisi sesudahnya dibatasi sampai 2 tahun. Mengenai pencabutan atau larangan hak dan izin, contohnya Perancis, yang dengan Undang-undang 11 Juli 1975, menentukan satu atau lebih sanksi ini sebagai pidana utama : 7 a. tahun, b. c. d. e. dengan 5 tahun, dan f. terdakwa. Mengenai Pidana Kerja Sosial (community service order) yang juga telah dicantumkan di dalam RUU KUHP Indonesia, di beberapa negara masih dalam tahap percobaan, seperti Norwegia, Denmark dan Belanda. Di samping itu ada negara seperti Swedia menolak pidana kerja sosial itu dengan alasan : 8 a. b. c. d. Masih kurang angka-angka mengenai efektivitas kerja sosial. Kerja Sosial itu memerlukan keahlian sedangkan mayoritas penghuni penjara Swedia adalah pemabuk dan pecandu Narkotika yang tidak tahu bekerja. Pekerjaan di Swedia bersifat profesional, sehingga sulit pelaksanaan kerja sosial itu. Bekerja itu adalah jalan hidup. Sulit kerja sosial itu dipandang sebagai pidana. Perampasan satu atau lebih senjata yang dimiliki atau dibuang oleh Larangan mengemudi kendaraan tertentu sampai 5 tahun, Perampasan satu atau lebih kendaraan kepunyaan terpidana, Larangan memiliki senjata sampai 5 tahun, Pencabutan izin berburu dan larangan pemberian izin baru sampai Penarikan menyeluruh atau sebagian izin mengemudi sampai dengan 5

7 8

Ibid. Ibid, hlm 23

Di Denmark pidana kerja sosial dikaitkan dengan pidana percobaan (pidana bersyarat) yang 6 sampai 8 bulan penjara yang dapat dipidana kerja sosial ialah pengemudi, pemabuk; masa kerja minimum 40 jam, maksimum 200 jam. Di Norwegia, maksimum kerja sosial ialah 240 jam. Pidana penjara yang dapat diganti dengan kerja sosial ialah 12 bulan. Pidana kerja sosial terutama pada delik harta benda. Belanda dengan undang-undang tahun 1987 ingin pidana kerja sosial diatur berdasarkan undang-undang, berdasarkan ketentuan undang-undang itu maka jumlah jam kerja 240 jam dan harus diselesaikan dalam 6 bulan. Hakim hanya dapat menjatuhkan pidana kerja sosial bagi pidana tanpa syarat , yaitu 6 bulan atau kurang. Sebagai suatu praktek penanganan perkara, di New Zealand pun telah diterapkan kerja sosial bagi perkara-perkara kecil. Terdakwa cukup minta maaf kepada korban, ganti kerugian dan kerja sosial. Program tersebut bersifat pengalihan ( tidak diajukan ke pengadilan ). Pelanggaran itu harus tidak serius. Pelanggar, korban dan petugas polisi harus semuanya sepakat untuk pengalihan. Program pengalihan pada umumnya meliputi peringatan dari koordinator pengalihan polisi dan permintaan maaf kepada korban. Pelanggar harus juga menulis surat minta maaf kepada petugas polisi yang bertanggung jawab atas kasus tersebut, memberikan sumbangan derma dan ganti kerugian sepenuhnya kepada korban dan melakukan pekerjaan sosial. Dalam kasus pencurian toko, pelanggar pada umumnya disyaratkan memberi sumbangan 50 dolar New Zealand (27 dolar US) untuk biaya keamanan toko itu. Kerja sosial dapat berupa membantu dewan lokal, organisasi olah raga, Departemen Konservasi atau polisi itu sendiri. Ada pun negara-negara yang telah mencantumkan dalam undang-undang sistem sanksinya, seperti Britania Raya, Perancis, Portugal, Italia, Jerman, Luxemburg, Nowegia dan Swiss. Norwegia secara khusus tidak saja untuk mengganti pidana penjara, tetapi juga sanksi-sanksi lain dan akibat sanksi itu .9 Atas dasar perkembangan sanksi pidana tersebut di atas, pertanyaan yang sekarang ini timbul berkaitan dengan masalah pidana dan pemidanaan, khususnya di kalangan ahli hukum
9

Andi Hamzah ,ibid, hlm 24

pidana, hukum pelaksanaan pidana dan kriminolog, adalah bukan suatu pertanyaan yang dimulai dengan apa ?, mengapa?, dan bagaimana seharusnya ?, tetapi juga pertanyaan yang menyangkut persoalan filsafat yaitu apa membicarakan hukum pidana. III. Filsafat Pemidanaan. Apabila dikaji lebih dalam filsafat pemidanaan bersemayam ide-ide dasar pemidanaan yang menjernihkan pemahaman tentang hakikat pemidanaan sebagai tanggungjawab subjek hukum terhadap perbuatan pidana dan otoritas publik kepada Negara berdasarkan atas hukum untuk melakukan pemidanaan. Sedangkan teori pemidanaan berada dalam proses keilmuan subjek hukum terpidana. 10 fungsi, yaitu : Pertama, fungsi fundamental yaitu sebagai landasan dan asas normatif atau kaidah yang memberikan pedoman , kriteria atau paradigma terhadap masalah pidana dan pemidanaan. Fungsi ini secara formal dan intrinsik bersifat primer dan terkandung di dalam setiap ajaran sistem filsafat. Maksudnya, setiap asas yang ditetapkan sebagai prinsip maupun kaidah itulah yang diakui sebagai kebenaran atau norma yang wajib ditegakkan, dikembangkan dan diaplikasikan. Kedua, fungsi teori , dalam hal ini sebagai meta teori. Maksudnya, filsafat pemidanaan berfungsi sebagai teori yang mendasari dan melatar belakangi setiap teori pemidanaan. Bedasarkan ke dua fungsi di atas dalam proses implementasinya , penetapan sanksi pidana dan tindakan merupakan aktivitas program legislasi dan/atau yudikasi untuk menormatifkan jenis dan bentuk sanksi ( pemidanaan) sebagai landasan keabsahan penegakan hukum melalui penerapan sanksi. 11 yang mengorganisasi, menjelaskan dan memprediksi tujuan pemidanaan bagi Negara, masyarakat dan Menurut M. Sholehuddin, filsafat pemidanaan mempunyai dua yang menjadi hakikat dari pidana dan pemidanaan.

Termasuk di dalamnya tentang stelsel sanksi , yang merupakan salah satu tiang pokok dalam

10

M .Sholehuddin, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana, Ide Dasar Implementasinya, (Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2003), hlm 80 11 Ibid, hlm 80, 81

Double Track System dan

Persoalan sanksi dalam hukum pidana

berkaiatan erat dengan pemikiran filsafat

pemidanaan . Akan tetapi bagaimana sesungguhnya keterkaitan antara filsafat dan pemidanaan ? Secara katagorial muncul dua pendekatan yang tampak bertentangan dari pikiran filsafat di satu pihak, dan pikiran hukum di pihak lain. Pada satu sisi, para filosuf memusatkan diri pada persoalan mengapa kita memidana. Sedangkan pada sisi lain, para ahli hukum dan ahli penology mengkonsentrasikan diri pada persoalan apakah pemidanaan iru berhasil, efisien, mencegah atau merehabilitasi. Persoalan efisiensi yang menjadi perhatian ahli hukum dan penology, hanya dapat dijawab dari sudut tujuan yang menjadi perhatian ahli filsafat. Tujuan pada gilirannya menunjukkan suatu pendirian sikap terhadap bidang moral berkenaan dengan keadilan dan ketidakadilan dalam pemidanaan individu tertentu atas perbuatan tertentu dan dengan cara tertentu. Dengan demikian , argumentasi-argumentasi yang dirumuskan dalam berbagai aliran filsafat, niscaya dapat digunakan oleh para ahli hukum dan penology sebagai hipotetis riset empiris tentang pemidanaan, serta bermanfaat dalam penetapan suatu sanksi ( hukum Pidana).
12

Penjatuhan sanksi pidana terhadap

pelaku tindak pidana memiliki tujuan. Tujuan penjatuhan sanksi pidana sangat dipengaruhi oleh filsafat yang dijadikan dasar pengancaman dan penjatuhan pidana. Filsafat pemidanaan berkaitan erat dengan alasan pembenar (pembalasan, manfaat/utilitas dan pembalasan yang bertujuan) adanya sanksi pidana. Filsafat pemidanaan merupakan landasan filosofis untuk merumuskan ukuran/dasar keadilan apabila terjadi pelanggaran hukum pidana. Filsafat keadilan dalam hukum pidana yang kuat pengaruhnya ada dua yaitu keadilan yang berbasis pada filsafat pembalasan ( retributive justice ) dan keadilan yang berbasis pada filsafat restorasi atau pemulihan ( restorative Justice ), dan KUHP menganut filsafat keadilan lebih condong kepada retributive justice. Restorative justice menempatkan nilai yang lebih tinggi dalam keterlibatan yang langsung dari para pihak. Korban mampu untuk untuk mengembalikan unsur control, sementara pelaku didorong untuk memikul tanggung jawab sebagai sebuah langkah dalam memperbaiki kesalahan yang disebabkan oleh tindak kejahatan dan dalam membangun sistem nilai sosialnya. Keterlibatan komuniyas secara aktif memperkuat komunitas itu sendiri dan mengikat komunitas akan nilai-nilai untuk menghormati dan rasa saling mengasihi antar sesama . komunitas secara aktif memperkuat komunitas itu sendiri dan mengikat komunitas akan nilai-nilai untuk menghormati dan rasa saling
12

M.Sholehuddin, ibid, hlm 82,83

mengasihi antar sesama . Peranan pemerintah secara substansial berkurang dalam memonopoli proses peradilan sekarang ini . Restorative justice membutuhkan usaha-usaha yang kooperatif dari komunitas dan pemerintah untuk menciptakan sebuah kondisi dimana korban dan pelaku dapat merekonsiliasikan konflik mereka dan memperbaiki luka-luka lama mereka. 13 Di samping itu juga mengupayakan untuk merestore keamanan korban, penghormatan pribadi, martabat, dan yang lebih penting adalah sense of control.14 Karakteristik Restorative Justice Theory menurut Van Nes :15 a. Crime is primarily conflict between individuals resulting in injuries to victims, communities and the offenders themselves;only secondary is it lawbreaking; b. The overarching aim of the criminal justice process should be to reconcile parties while repairing the injuries caused by crimes. c. The Criminal justice process should facilitate active participation by victims, offenders and their communities. It should not be dominated by goverment to the exclusion of others. Karakteristik Restorative Justice menurut Muladi, 16dapat dikemukakan cirinya : 1. Kejahatan dirumuskan sebagai pelanggaran seseorang terhadap orang lain. 2. Titik perhatian pada pemecahan masalah pertanggungjawaban dan kewajiban pada masa depan. 3. Sifat normatif dibangun atas dasar dialog dan negosiasi. 4. Restitusi sebagai sarana perbaikan para pihak, rekonsiliasi dan restorasi sebagai tujuan utama. 5. Keadilan dirumuskan sebagai hubunganb-hubungan hak,dinilai atas dasar hasil. 6. Kejahatan diakui sebagai konflik. 7. Sasaran perhatian pada perbaikan kerugian sosial. 8. Masyarakat merupakan fasilitator di dalam proses retoratif. 9. Menggalakkan bantuan timbal balik.

13

Daniel W. Van Ness, Restorative Justice and International Human Rights, Restorative Justice : International Perspektive, Edited by Burt Galaway and Joe Hudson, ( Kugler Publications, Amsterdam, The Netherland), hlm 24 dalam Pemidanaan, Pidana dan Tindakan Dalam Rancangan KUHP,ELSAM 2005, Position Paper Advokasi RUU KUHP Seri 3, hlm 11, 12. 14 Allison Morris dan Warren Young, Reforming Criminal Justice : The Potential of Restorative Justice, dalam Restorative Justice Philosophy to Practice , edited by Heather Strang and John Braithwaite, ( The Australian National University, Asghate Publising Ltd, 2000), hlm 14 dalam Pemidanaan, Pidana dan Tindakan Dalam Rancangan KUHP,ELSAM 2005, Position Paper Advokasi RUU KUHP Seri 3, hlm 12.
15 16

Daniel Van Ness, op cit, hlm 23. Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, (Badan Penerbit UNDIP, Semarang,1995), hlm127- 129.

10

10. Peran korban dan pelaku tindak pidana diakui baik dalam permasalahan maupun penyelesaian hak-hak dan kebutuhan si korban diakui; pelaku tindak pidana didorong untuk bertanggungjawab. 11. Pertanggungjawaban si pelaku dirumuskan sebagai dampak pemahaman terhadap perbuatan dan untuk membantu memutuskan mana yang paling baik. 12. Tindak pidana difahami dalam konteks menyeluruh moral, sosial dan ekonomis. 13. Dosa atau hutang dan pertanggungjawaban terhadap korban diakui. 14. Reaksi dan tanggapan difokuskan pada konsekuensi yang dari perbuatan si pelaku tindak pidana. 15. Stigma dapat dihapus melalui tindakan restorative. 16. Ada kemungkinan (dorongan untuk bertobat dan mengampuni) yang bersifat membantu. 17. Perhatian ditujukan pertanggungjawaban terhadap akibat perbuatan ( bandingkan dengan retiributive justice, perhatian diarahkan pada debat antara kebebasan kehendak (free will) dan determinisme sosial psikologis di dalam kausa kejahatan). Di samping keadilan tersebut di atas dikenal juga model keadilan , sebagai justuifikasi modern untuk pemidanaan yang dikemukakan oleh Sue Titus Reid. Model keadilan yang dikenal juga dengan pendekatan keadilan atau model ganjaran setimpal ( just desert model) yang didasarkan pada dua teori tentang tujuan pemidanaan, yaitu pencegahan (prevention) dan retribusi (retribution). Dasar retribusi dalam just desert model menganggap bahwa pelanggar akan dinilai dengan sanksi yang patut diterima oleh mereka mengingat kejahatan-kejahatan yang telah dilakukannya , sanksi yang tepat akan mencegah para criminal melakukan tindakantindakan kejahatan lagi dan mencegah orang-orang lain melakukan kejahatan. 17 Dengan skema just desert ini, pelaku dengan kejahatan yang sama akan menerima pemidanaan yang sama, dan pelaku kejahatan yang lebih serius akan mendapatkan pidana yang lebih keras daripada pelaku kejahatan yang lebih ringan. Atas dasar ini terdapat kritik untuk teori just desert, yaitu : Pertama, , karena desert teori menempatkan secara utama, menekankan pada keterkaitan antara pidana yang layak dengan tingkat kejahatan, dengan kepentingan memperlakukan kasus seperti itu, teori ini mengabaikan perbedaan perbedaan yang relevan lainnya antara para pelaku.Seperti latar belakang pribadi pelaku dan dampak pemidanaan lepada pelaku dan keluarganya, dan dengan demikian seringkali memperlakukan kasus yang tidak sama dengan cara yang sama.

17

Sue Titus Reid, Criminal Justice, Procedur and Issues, West Publishing Company, New York 1987, hlm 352, M. Sholehuddin, op cit, hlm 62, Elsam 2005, Pemidanaan , Pidana, op cit, hlm 10

11

Kedua, secara keseluruhan, tapi eksklusif, menekankan pada pedoman-pedoman pembeda dari kejahatan dan catatan kejahatan mempengaruhi psikhologi dari pemidanaan dan pihak yang dipidana.18 Selanjutnya bagaimanakah pemidanaan ditinjau dari Pancasila sebagai sistem filsafat sosial, memiliki komponen dasar yang terdiri dari sistem nilai, pandangan filsafat Pancasila terhadap manusia serta bagaimana pandangan manusia terhadap eksistensi alam, kepribadian manusia dan Tuhan, termasuk Negara. Dari sudut sistem nilai , secara umum manusia berada dalam dunia nilai positif ( seperti; kebaikan, keindahan , kebenaran dan keadilan) serta nilai negatif ( misalnya: keburukan, kepalsuan, dosa dan kejahatan). Tiap pribadi di dalam hidupnya selalu terlibat aktif atau pasif dengan dunia nilai. 19 Memakai Pancasila sebagai perspektif Indonesia dalam mendiskusikan pemidanaan, bertolak dari asumsi bahwa secara analitis sila-sila Pancasila sebenarnya memberi peluang yang amat besar untuk merumuskan tentang apa yang benar dan yang baik bagi manusia dan masyarakat Indonesia, yang bukan saja secara kontekstual, tetapi juga secara universal dapat dipertangungjawabkan kesahihannya secara konseptual maupun operasional.20 Pemidanaan dalam perspektif Pancasila , dengan demikian haruslah berorientasi pada prinsip-prinsip sebagai berikut: Pertama, pengakuan manusia (Indonesia) sebagai Makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Wujud pemidanaan tidak boleh bertentangan dengan keyakinan agama manapun yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Pemidanaan terhadap seseorang harus diarahkan pada penyadaran iman dari terpidana, melalui mana ia dapat bertobat dan menjadi manusia yang beriman dan taat. Dengan kata lain , pemidanaan harus berfungsi membinaan mental orang yang dipidana dan menstranformasikan orang tersebut menjadi seorang manusia religius . 21 Kedua, pengakuan tentang keluhuran harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan. Pemidanaan tidak boleh menciderai hak-hak asasnya yang paling dasar serta tidak boleh
18

Michael Tonry, Sentencing Matters, Oxford University Press, New York, 1996, hlm 14, dalam Elsam 2005, ibid. 19 Mohammad Noor Syam, et al , Pancasila Ditinjau dari Segi Historis, Segi Yuridis Konstitusional dan Segi Filosofis ( Lembaga Penerbitan UNBRAW, Malang,1981) Hlm, 173 dan 175 dalam M. Sholehuddin, op cit hlm 105 20 Eka Darmaputra, Pancasila Identitas dan Modernitas;Tinjauan Etis dan Budaya ( PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1997), hlm 159, dalam M.Sholehuddin, Ibid, hlm 106 21 J.E.Sahetapy , Suatu Studi Khusus Mengenai Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana , (Rajawali Pers, Jakarta, 1982), hlm 284 dalam M.Sholehuddin, ibid, hlm 109

12

merendahkan martabatnya dengan alasan apa pun. Implikasinya adalah , bahwa meskipun terpidana berada dalam lembaga pemasyarakatan, unsur-unsur dan sifat perikemanusiaannya tidak boleh dikesampingkan demi membebaskan yang bersangkutan dari pikiran, sifat, kebiasaan, dan tingkah laku jahatnya.22 Ketiga, menumbuhkan solidaritas kebangsaan dengan orang lain, sebagai sesame warga bangsa.Pelaku harus diarahkan pada upaya untuk meningkatkan toleransi dengan orang lain, menumbuhkan kepekaan terhadap kepentingan bangsa, dan mengarahkan untuk tidak mengulangi melakukan kejahatan.Dengan kata lain, bahwa pemidanaan perlu diarahkan untuk menanamkan rasa kecintaan terhadap bangsa.23 Keempat, menumbuhkan kedewasaan sebagai warga Negara yang berkhidmad, mampu mengendalikan diri, berdisiplin, dan menghormati serta menaati hukum sebagai wujud keputusan Rakyat.24 Kelima, menumbuhkan kesadaran akan kewajiban setiap individu sebagai makhluk sosial , yang menjunjung keadilan bersama dengan orang lain sebagai sesama warga masyarakat. Dalam kaitan ini, perlu diingat bahwa pemerintah dan rakyat harus ikut bertanggungjawab untuk membebaskan orang yang dipidana dari kemelut dan kekejaman kenyataan sosial yang melilitnya menjadi penjahat.25 Berkaitan dengan masalah tersebut di atas secara lebih umum , khususnya dalam melakukan pembaharuan hukum pidana (termasuk di dalamnya tentang masalah pidana dan pemidanaan termasuk jenis pidana) dan lebih khusus lagi tentang penyusunan konsep KUHP Baru, tidak dapat dilepaskan dari ide/kebijakan pembangunan sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila sebagai nilai-nilai kehidupan kebangsaan yang dicita-citakan. Ini berarti, pembaharuan Hukum Pidana Nasional seyogyanya juga dilatarbelakangi dan berorientasi pada ide-ide dasar (basic ideas ) Pancasila yang mengandung di dalamnya keseimbangan nilai/ide/paradigma : a. moral religius (ketuhanan), b. kemanusiaan (humanistik),c. kebangsaan. d. demokrasi, dan e. keadilan sosial.26 Di samping itu perlu ada harmonisasi/sinkronisasi/konsistensi antara pembangunan/pembaharuan hukum nasional dengan nilai-nilai atau aspirasi sosio-filosofik dan sosio
22 23

Ibid. Ibid. 24 M.Sholehuddin, ibid, hlm 110. 25 Ibid. 26 Barda Nawawi Arief, Kebijakan Kriminalisasi Kumpul Kebo Dan Santet Dalam Konsep RUU KUHP, Seminar Nasional Menyongsong Berlakuknya KUHP Nasional ( FH UNUD, Denpasar, 30 April 2005), hlm 5

13

kultural yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, dalam melakukan upaya pembaharuan hukum pidana ( KUHP) nasional, perlu dilakukann pengkajian dan penggalian nilai-nilai nasional yang bersumber pada Pancasila dan yang bersumber pada nilai-nilai yang ada di masyarakat (nilai-nilai religius maupun nilai-nilai budaya/adat). 27 Pemikiran tersebut di atas dituangkan dalam suatu Ide-dasar (pokok pemikiran) perubahan yang menyangkut masalah tujuan dan pedoman pemidanaan :28 Berbeda dengan KUHP yang sekarang berlaku, di dalam Konsep dirumuskan tentang Tujuan dan Pedoman Pemidanaan. Catatan beberapa negara yang di dalam KUHP-nya juga merumuskan tujuan pidana/pemidanaan, antara lain : Armenia (Psl. 48 jo. Psl. 2 dan 11), Bellarus (Psl. 20 jo. Psl. 1), Bulgaria (Psl. 36), Latvia (Psl. 35), Macedonia (Psl. 32), Romania (Psl. 52), dan Yugoslavia (Psl. 33). Dirumuskannya hal ini, bertolak dari pokok pemikiran bahwa : 1. 2. Sistem hukum pidana merupakan satu kesatuan sistem yang bertujuan (purposive system) dan pidana hanya merupakan alat/ sarana untuk mencapai tujuan; Tujuan pidana merupakan bagian integral (sub-sistem) dari keseluruhan sistem pemidanaan (sistem hukum pidana) di 3. Perumusan tujuan dan pedoman samping sub-sistem lainnya, yaitu sub-sistem pemidanaan dimaksudkan sebagai fungsi tindak pidana, pertanggungjawaban pidana (kesalahan), dan pidana; pengendali/ kontrol/pengarah dan sekaligus memberikan dasar/landasan filosofis, rasionalitas, motivasi, dan justifikasi pemidanaan; 4. Dilihat secara fungsional/operasional, sistem pemidanaan merupakan suatu rangkaian proses melalui tahap formulasi, tahap aplikasi, dan tahap eksekusi; oleh karena itu agar ada keterjalinan dan keterpaduan atara ketiga tahap itu sebagai satu kesatuan sistem pemidanaan, diperlukan perumusan tujuan dan pedoman pemidanaan. Tujuan pemidanaan diformulasikan sebagai bagian integral dari sistem pemidanaan, sebagai pedoman (guidance of sentencing),. landasan filosofis & justifikasi pemidanaan, agar tidak hilang / tidak dilupakan dalam praktek.
27 28

Ibid, hlm 8 Barda Nawawi Arief, Ide-Ide Dasar (Pokok Pemikiran) Perubahan/Pembaharuan KUHP, Disampaikan Dalam Rangka Silaturahmi Akademik Di STHB, Bandung 12 Juli 2005, hlm 9-13

14

Sistem pemidanaan yang dituangkan di dalam dasar atau prinsip-prinsip sebagai berikut : a b. c. d. e. f. g. h. i. j.

Konsep, dilatarbelakangi oleh berbagai ide

ide keseimbangan monodualistik antara kepentingan masyarakat (umum) dan kepentingan individu. ide keseimbangan antara social welfare dengan social defence; ide keseimbangan antara pidana yang berorientasi pada pelaku/ offender (individualisasi pidana) dan victim (korban); ide penggunaan double track system (antara pidana/punishment dengan tindakan/treatment/measures); ide mengefektifkan non custodial measures (alternatives to imprisonment). Ide elastisitas/fleksibilitas pemidanaan ( elasticity/flexibility of sentencing); Ide modifikasi / perubahan/ penyesuaian pidana (modification of sanction;the alteration/annulment/revocation of sanction; re-determining of punishment); Ide subsidiaritas di dalam memilih jenis pidana; Ide permaafan hakim (rechterlijk pardon/judicial pardon ); Ide mendahulukan/ mengutamakan keadilan dari kepastian hukum; Bertolak dari ide-ide dasar itu, maka di dalam Konsep ada ketentuan-ketentuan yang tidak

ada dalam KUHP (WvS) yang berlaku saat ini, yaitu antara lain : 1. Adanya pasal yang menegaskan asas tiada pidana tanpa kesalahan (asas culpabilitas) yang diimbangi dengan adanya ketentuan tentang strict liability dan vicarious (Pasal 35); 2. 3. 4. 5. 6. 7. Adanya batas usia pertanggungajawaban pidana anak (the age of criminal responsibility); Pasal 110. Adanya bab khusus tentang pemidanaan terhadap anak (Bab III Bagian Keempat); Adanya kewenangan hakim untuk setiap saat menghentikan atau tidak melanjutkan proses pemeriksaan perkara pidana terhadap anak (asas diversi), Pasal 111; Adanya pidana mati bersyarat (Pasal 86); Dimungkinkannya terpidana seumur hidup memperoleh pelepasan bersyarat (Pasal 67 jo. 69); Adanya pidana kerja sosial; pidana pembayaran ganti rugi, dan pemenuhan kewajiban adat dan/atau kewajiban menurut hukum yang hidup (Pasal 83,96,97); liability

15

8. 9. 10. 11. 12. 13.

Adanya pidana minimal khusus yang disertai juga dengan aturan/pedoman pemidanaannya atau penerapannya; Dimungkinkannya penggabungan jenis sanksi (pidana dan tindakan); Dimungkinkannya pidana tambahan dijatuhkan sebagai sanksi yang berdiri sendiri Dimungkinkannya hakim menjatuhkan jenis pidana lain yang tidak tercantum dalam perumusan delik yang hanya diancam Dimungkinkannya pidana dirumuskan secara alternatif; Dimungkinkannya hakim memberi maaf/pengampunan (rechterlijk menjatuhkan pidana/tindakan apapun kepada terdakwa, adanya tindak pidana dan kesalahan (Pasal 52 ayat 2). pardon) tanpa sekalipun telah terbukti dengan pidana tunggal;; hakim menjatuhkan pidana secara kumulatif walaupun ancaman

14.

Adanya kewenangan hakim untuk tetap mempertanggungjawabkan/memidana si pelaku walaupun ada alasan penghapus pidana, jika si pelaku patut dipersalahkan (dicela) atas terjadinya keadaan yang menjadi alasan penghapus pidana tersebut (dikenal dengan asas culpa in causa atau asas actio libera in causa); Pasal 54

15.

Dimungkinkannya perubahan/modifikasi putusan pemidanaan, walaupun sudah berkekuatan tetap (Pasal 55 dan Pasal 2 ayat 3);

IV. Implementasi dan pengaturan Jenis sanksi (Pidana) di dalam Konsep R.KUHP Nasional Selanjutnya bagaimanakah sistem pemidanaan , yang di dalamnya mengandung unsur filosofik diaplikasikan dalam Konsep R KUHP Nasional. Sebagaimana dalam perkembangan Hukum Pidana, khususnya yang menyangkut sanksi pidana, perumusannya sudah lebih maju bila dibandingkan dengan KUHP warisan Belanda (Pasal 10 KUHP). Jenis-jenis Pidana dalam Konsep RKUHP Nasional diatur di dalam Pasal 62 ayat (1) yang terdiri dari : a. pidana penjara; b. pidana tutupan; c. pidana pengawasan; d. pidana denda;dan

16

e. pidana kerja sosial. Sedangkan Pidana Tambahan dimuat di dalam Pasal 64 ayat (1). Pidana tambahan adalah : a. pencabutan hak-hak tertentu; b. perampasan barang-barang tertentu dan/ atau tagihan; c. pengumuman putusan hakim; d. pembayaran ganti kerugian; dan e. pemenuhan kewajiban adat setempat dan/atau kewajiban menurut hukum yang hidup Sedangkan Pidana Mati menurut Konsep RKUHP Nasional dilepaskan dari paket pidana pokok dan dianggap mempunyai sifat khusus. Serta diancamkan dan dijatuhkan semata-mata untuk mencegah dilakukannya tindak pidana tertentu dengan menegakkan norma hukum demi mengayomi masyarakat. (Pasal 63 jo. Pasal 84). Beberapa hal yang perlu dicatat dan tidak terdapat di dalam KUHP (W.v.S) sekarang ini, yaitu diaturnya secara khusus tujuan pemidanaan yaitu : a. mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat; b. c. d. memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna; menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan keseimbangan, dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat;dan membebaskan rasa bersalah pada terpidana (Pasal 51ayat (1)) Di samping itu juga dimuat Pedoman Pemidanaan yang berlaku bagi Hakim sebagai bahan pertimbangan di dalam memutuskan suatu kasus di dalam perkara pidana yaitu : a. kesalahan pembuat tindak pidana; b. motif dan tujuan dilakukannya tindak pidana; c. sikap batin pembuat tindak pidana; d. Apakah tindak pidana dilakukan dengan berencana; e. cara melakukan tindak pidana; f. sikap dan tindakan pembuat sesudah melakukan tindak pidana; g. riwayat hidup dan keadaan sosial ekonomi pembuat tindak pidana;

17

h. pengaruh pidana terhadap masa depan pembuat tindak pidana; i. j. k. pengaruh tindak pidana terhadap korban atau keluarga korban Pemaafan dari korban dan/atau keluarganya; dan/ atau pandangan masyarakat terhadap tindak pidana yang dilakukan; (Pasal 52 ayat (1)) Hal baru yang perlu diinformasikan adalah pidana penjara sejauh mungkin tidak dijatuhkan dalam hal dijumpai keadaan-keadaan sebagai berikut: a. b. c. d. e. f. g. h. lagi; i. j. k. l. m. n. kepribadian dan perilaku terdakwa meyakinkan bahwa ia tidak akan melakukan tindak pidana yang lain; pidana penjara akan menimbulkan penderitaan yang besar bagi terdakwa maupun keluarganya; pembinaan yang bersifat non-institusional diperkirakan akan cukup berhasil untuk diri terdakwa; penjatuhan pidana yang lebih ringan tidak akan mengurangi sifat beratnya tindak pidana yang dilakukan terdakwa; tindak pidana terjadi di kalangan keluarga; atau terjadi karena kealpaan. (Pasal 68). Ketentuan yang diatur di dalam UU No. 10 tahun 1946 tentang Pidana Tutupan diatur pula di dalam Konsep RKUHP Nasional, yang diatur di dalam Pasal 73, yang berbunyi : terdakwa berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun atau di atas 70 (tujuh puluh) tahun; terdakwa baru pertama kali melakukan tindak pidana; kerugian dan penderitaan korban tindak pidana tidak terlalu besar; terdakwa telah membayar ganti kerugian kepada korban; terdakwa tidak mengetahui bahwa tindak pidana yang dilakukan akan menimbulkan kerugian yang besar; tindak pidana terjadi karena hasutan yang sangat kuat dari orang lain; korban tindak pidana mendorong terjadinya tindak pidana tersebut; tindak pidana tersebut merupakan akibat dari suatu keadaan yang tidak mungkin terulang

18

(1). (2). yang patut dihormati; (3).

Orang yang melakukan tindak pidana yang diancam dengan pdana penjara, mengingat keadaan pribadi dan perbuatannya dapat dijatuhi pidana tutupan. Pidana tutupan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dijatuhkan kepada terdakwa yang melakukan tindak pidana karena terdorong oleh maksud Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku, jika cara melakukan atau akibat dari perbuatan tersebut sedemikian rupa sehingga terdakwa lebih tepat untuk dijatuhi pidana penjara. Namum sebenarnya ia lebih merupakan cara pelaksanaan pidana penjara yang bersifat

istimewa (Bijzonder strafmodaliteit). Jenis pidana baru yang tidak terdapat di dalam KUHP yaitu Pidana Pengawasan diatur di dalam Pasal 74, 75 dan 76. Terdakwa yang melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun, dapat dijatuhi pidana pengawasan. (Pasal 74) Sedangkan Pasal 75 mengatur : (1). (2). (3). a. b. Pidana pengawasan dapat dijatuhkan kepada terdakwa mengingat keadaan pribadi dan perbuatannya. Pidana pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dijatuhkan untuk waktu paling lama 3 (tiga) tahun. Dalam penjatuhan pidana pengawasan dapat ditetapkan syarat-syarat : terpidana tidak akan melakukan tindak pidana; dan terpidana dalam waktu tertentu yang lebih pendek dari masa pidana pengawasan, harus mengganti seluruh atau sebagian kerugian yang timbul oleh tindak pidana yang dilakukan; atau c. terpidana harus melakukan perbuatan atau tidak melakukan perbuatan tertentu, tanpa mengurangi kemerdekaan beragama dan kemerdekaan berpolitik.

19

(4). (5).

Pengawasan dilakukan oleh Balai Pemasyarakatan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Jika selama dalam pengawasan terpidana melanggar hukum, maka Balai Pemasyarakatan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Departemen Hukum dan HAM dapat mengusulkan kepada hakim pengawas untuk memperpanjang masa pengawasan yang lamanya tidak melampaui maksimum 2 (dua) kali masa pengawasan yang belum dijalani.

(6).

Jika selama dalam pengawasan terpidana menunjukkan keakukan yang baik, maka Balai Pemasyarakatan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Departemen Hukum dan HAM dapat mengusulkan kepada hakim pengawas untuk memperpendek masa pengawasannya.

(7).

Hakim pengawas dapat mengubah penetapan jangka waktu pengawasan setelah mendengar para pihak.

Sedangkan Pasal 76 mengatur : (1). Jika terpidana selama menjalani pidana pengawasan melakukan tindak pidana dan dijatuhi pidana yang bukan pidana mati atau bukan pidana penjara, maka pidana pengawasan tetap dilaksanakan. (2). Jika terpidana dijatuhi pidana penjara, maka pidana pengawasan ditunda dan dilaksanakan kembali setelah terpidana selesai menjalani pidana penjara. Untuk mengantisipasi nilai uang yang makin menurun maka Konsep RKUHP Nasional di dalam mengatur masalah pidana denda menggunakan kategorisasi, dengan ditentukan minimum yaitu Rp.15.000,- (lima belas ribu rupiah). Maksimum denda ditetapkan berdasarkan kategori, Ada 6 Kategori, yaitu : Kategori I Kategori II Kategori III Kategori IV Kategori V Rp.1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah); Rp.7.500.000,- (tujuh juta lima ratus ribu rupiah); Rp.30.000.000,- (tigapuluh juta rupiah); Rp.75.000.000,- (tujuh puluh lima juta rupiah); Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah);

20

Kategori VI

Rp.3000.000.000,- (tiga miliar rupiah).

Kategori tersebut mendapat pengaruh dari WvS Belanda, yang sudah memakai sistem kategori di dalam perumusannya. Tujuan utama penggunaan kategori denda adalah : a. b. agar diperoleh pola yang jelas tentang maksimum denda yang dicantumkan untuk berbagai tindak pidana (ada enam kategori). agar mudah melakukan perubahan, apabila terjadi perobahan dalam keadaan ekonomi dan moneter di negara kita Pengaruh sistem Pidana dan Jenis pidana dari Eropa Barat terlihat pula Konsep, khususnya tentang diperkenalkannya Pidana Kerja Sosial. Dalam hal hakim mempertimbangkan untuk menjatuhkan pidana penjara tidak lebih dari 6 bulan atau pidana denda tidak lebih dari denda Kategori I, maka ia dapat mengganti pidana penjara atau pidana denda tersebut dengan pidana kerja sosial yang sifatnya tidak dibayar (tidak diberi upah). Dalam hal pidana kerja sosial dijatuhkan, hakim harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut : a. pengakuan terdakwa terhadap tindak pidana yang dilakukan; b. usia layak kerja terdakwa menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku; c. persetujuan terdakwa sesudah dijelaskan mengenai tujuan dan segala hal yang berhubungan dengan pidana kerja sosial; d. riwayat sosial terdakwa; e. perlindungan keselamatan kerja terdakwa; f. keyakinan agama dan politik terdakwa; dan Pidana kerja sosial dijatuhkan paling lama dua ratus empat puluh jam bagi terdakwa yang telah berusia 18 (delapan belas) tahun ke atas, dan seratus dua puluh jam bagi terdakwa yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan paling singkat 7 (tujuh) jam. g. kemampuan terdakwa membayar denda.

21

Pelaksanaan pidana kerja sosial dapat diangsur dalam waktu paling lama 12 (dua belas) bulan dengan memperhatikan kegiatan terpidana dalam menjalankan mata pencahariannya dan atau kegiatan lain yang bermanfaat. Apabila terpidana tidak memenuhi seluruh atau sebagian kewajiban menjalankan pidana kerja sosial tanpa alasan yang sah, maka terpidana diperintahkan untuk : (a). (b). (c). Mengulangi seluruh atau sebagian pidana kerja sosial tersebut; Menjalani seluruh atau sebagian pidana penjara yang diganti dengan pidana kerja sosial tersebut, atau Membayar seluruh atau sebagian pidana denda yang diganti dengan pidana kerja Sedangkan masalah pidana mati, Konsep RKUHP Nasional masih tetap menganutnya akan tetapi penempatannya dikeluarkan dari paket urut-urutan pidana, dan mempunyai sifat khusus, hal ini untuk menampung Pro Pidana Mati dan yang kontra pidana mati. Hal cukup menarik untuk menjembatani antara pandangan yang menolak pidana mati (Abolisionis) dan yang mempertahankan pidana mati (Retensionis) diatur pula di dalam Pasal 86 yaitu : Dalam hal pidana mati harus dijatuhkan tetapi hakim memandang bahwa pidana mati tidak perlu dilaksanakan dengan segera mengingat reaksi masyarakat terhadap terpidana tidak terlalu besar, terpidana menunjukan rasa menyesali dan ada harapan untuk diperbaiki kedudukan terpidana dalam penyertaan tindak pidana tidak terlalu penting dan ada alasan-alasan meringankan maka hakim dapat memerintahkan agar pidana mati tersebut ditunda pelaksanaannya dengan masa percobaan selama sepuluh tahun. Dalam hal hakim memerintahkan penundaan pidana mati sebagaimana tersebut di atas, maka bila mana dalam masa percobaan terpidana menunjukan sikap dan tindakan yang terpuji, maka dengan Keputusan Menteri Kehakiman pidana mati dapat diubah menjadi pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama dua puluh tahun. Apabila dalam masa percobaan tapi tidak menunjukan rasa menyesal dan tidak ada harapan untuk diperbaiki, maka pidana mati dapat dilaksanakan atas perintah Jaksa Agung. sosial atau menjalani pidana penjara sebagai pengganti denda yang tidak dibayar. (Pasal 83)

22

(Bandingkan dengan Pasal 34 KUHP Republik Rakyat Cina ). 29 Sedangkan pidana tambahan diatur dalam Pasal 88, yaitu : 1) a. b. c. d. e. f. g. 2) Hak-hak terpidana yang dapat dicabut adalah : hak memegang jabatan pada umumnya atau jabatan tertentu; hak menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia; hak memilih dan dipilih dalam pemilihan yang diadakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku; hak menjadi penasihat hukum atau pengurus atas penetapan pengadilan; hak menjadi wali, wali pengawas, pengampu, atau pengampu pengawas, atau orang yang bukan anaknya sendiri; hak menjalankan kekuasaan bapak, menjalankan perwalian atau pengampu atas anaknya sendiri; dan/ atau hak menjalankan profesi tertentu. Jika terpidana adalah korporasi, maka hak yang dicabut adalah segala hak yang diperoleh korporasi. Kecuali ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan, pencabutan hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 ayat (1) butir a dan butir b, hanya dapat dilakukan jika pembuat pidana karena : a. b. melakukan tindak pidana jabatan atau tindak pidana yang melanggar kewajiban khusus sesuatu jabatan; atau menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarna yang diberikan pada terpidana karena jabatannya. (Pasal 89). Kekuasaan bapak, wali, wali pengawas, pengampu, dan pengampu pengawas, baik atas anaknya sendiri maupun atas anak orang lain dapat dicabut jika yang bersangkutan dipidana karena: a. dengan sengaja melakukan tindak pidana bersama-sama dengan anak yang belum cukup umur yang berada dalam kekuasaannya; atau

29

Muladi, Proyeksi Hukum Materiil Indonesia Di Masa Datang, Pidato Pengukuhan Guru Besar UNDIP, Semarang,1990, hlm 14

23

b.

melakukan tindak pidana terhadap anak yang belum cukup umur yang berada dalam kekuasaannya sebagaimana dimaksud dalam Buku Kedua. (Pasal 90). Sedangkan tentang pencabutan hak diatur dalam Pasal 91, yaitu :

(1) a. b.

Jika pidana pencabutan hak dijatuhkan, maka wajib ditentukan lamanya pencabutan sebagai berikut : dalam hal dijatuhkan pidana mati atau pidana seumur hidup, untuk selamanya; dalam hal dijatuhkan pidana penjara, pidana tutupan, atau pidana pengawasan untuk waktu tertentu, paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun lebih lama dari pidana pokok yang dijatuhkan; c. dalam hal pidana denda, paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun. Jika pidana pencabutan hak dijatuhkan pada korporasi, maka hakim bebas dalam menentukan lama pencabutan hak tersebut. Pidana pencabutan hak mulai berlaku pada tanggal putusan hakim dapat dilaksanakan. Pasal 92 mengatur : Pidana perampasan barang dan atau tagihan tertentu dapat dijatuhkan tanpa pidana pokok jika ancaman pidana penjara terhadap tindak pidana yang bersangkutan tidak lebih dari 7 (tujuh) tahun. Pidana perampasan barang tertentu dan atau tahihan dapat juga dijatuhkan jika terpidana hanya dikenakan tindakan. Pidana perampasan barang yang bukan milik terpidana tidak dapat dijatuhkan jika hak pihak ketiga dengan itikad baik akan terganggu.

(2) (3) (1) (2) (3)

Barang yang dapat dirampas (Pasal 93) adalah : a. dari tindak pidana; b. c. tindak pidana; d. pidana; atau e. barang yang khusus dibuat atau diperuntukkan untuk mewujudkan tindak pidana. Pasal 94 mengatur : Pidana perampasan dapat dijatuhkan atas barang yang tidak disita, dengan menentukan apakah barang tersebut harus diserahkan atau diganti dengan sejumlah uang menurut penafsiran hakim. barang yang dipergunakan untuk menghalang-halangi penyidikan tindak barang yang ada hubungan dengan terwujudnya tindak pidana; barang yang dipergunakan untuk mewujudkan atau mempersiapkan barang dan/ atau tagihan milik terpidana atau orang lain yang diperoleh

(1)

24

(2)

Jika barang yang disita tidak dapat diserahkan, maka dapat diganti dengan sejumlah uang menurut taksiran hakim sebagai menetapkan harga lawannya. (3) Jika terpidana tidak dapat membayar seluruh atau sebagian harga lawan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), maka berlaku ketentuan pidana pengganti untuk pidana denda. Apabila dalam putusan hakim diperintahkan supaya putusan diumumkan, maka harus ditetapkan cara melaksanakan pengumuman tersebut dengan biaya yang ditanggung oleh terpidana. Apabila tidak dibayar oleh terpidana, maka berlaku ketentuan pidana penjara pengganti untuk pidana denda (Pasal 95). Pembayaran ganti kerugian diatur dalam Pasal 96, yaitu : Dalam putusan hakim dapat ditetapkan kewajiban terpidana untuk melaksanakan pembayaran ganti kerugian kepada korban atau ahli warisnya. (2) Jika kewajiban pembayaran ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dilaksanakan, maka berlaku ketentuan pidana penjara pengganti untuk pidana denda. Pasal 97 mengatur tentang kewajiban adat, yaitu : (1) Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 1 ayat (4) hakim dapat menetapkan kewajiban adat setempat dan /atau kewajiban menurut hukum yang hidup (2) Pemenuhan kewajiban adat setempat dan/ atau kewajiban menurut hukum yang hidup sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan pidana pokok atau yang diutamakan, jika tindak pidana yang dilakukan memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (3). (3) Kewajiban adat setempat dan/ atau kewajiban menurut hukum yang hidup sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dianggap sebanding dengan pidana denda Kategori I dan dapat dikenakan pidana pengganti untuk pidana denda, jika kewajiban adat itu tidak dipenuhi atau tidak dijalani oleh terpidana. (4) Pidana pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dapat juga berupa pidana ganti kerugian. Di samping jenis-jenis Pidana ,Konsep RKUHP Nasional juga mengatur tentang jenis-jenis Tindakan yaitu Hakim dalam putusannya dapat menjatuhkan tindakan kepada mereka apabila tidak atau kurang dapat dipertanggungjawabkan yaitu : 1. 2. 3. perawatan di Rumah Sakit Jiwa; penyerahan kepada pemerintah; atau penyerahan kepada seseorang. (1)

25

Hakim dalam putusannya dapar menjatuhkan tindakan bersama-sama dengan pidana pokok berupa : 1. 2. 3. 4. 5. 6. (Pasal 98) Ternyata di dalam sistem penjatuhan pidanaKonsep RKUHP Nasional menganut Double Track System yaitu sistem dua jalur artinya pidana pokok dan tindakan dapat dijatuhkan bersamasama. Di dalam Konsep RKUHP Nasional juga menegaskan bahwa seorang anak yang melakukan tindak pidana dan belum mencapai umur dua belas tahun tidak dapat dipertanggungjawabkan. (Pasal 110). Sedangkan apabila seorang anak yang melakukan tindakan pidana antara umur 12 (dua belas) tahun dan 18 (delapan belas) tahun berlaku jenis-jenis pidana dan tindakan yang berbeda dengan orang dewasa (Pasal 113), yaitu : (1) a. 1. 2. b. 1. 2. 3. c. d. 1. 2. 3. (2) a. Pidana pokok bagi anak yang terdiri atas : Pidana verbal : pidana peringatan; atau pidana teguran keras; Pidana dengan syarat : pidana pembinaan di luar lembaga; pidana kerja sosial; atau pidana pengawasan; Pidana denda, atau Pidana pembatasan kebebasan : pidana pembinaan di dalam lembaga; pidana penjara; atau pidana tutupan. Pidana tambahan terdiri atas : Perampasan barang-barang tertentu dan/ atau tagihan; pencabutan surat izin mengemudi; perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana; perbaikan akibat tindak pidana; latihan kerja; rehabilitasi; dan/ atau perawatan di lembaga.

26

b. Pembayaran ganti kerugian; atau c. Pemenuhan kewajiban adat. Pidana verbal merupakan pidana ringan yang tidak mengakibatkan pembatasan kebebasan anak (Pasal 114). Pidana dengan syarat merupakan pidana yang penerapannya dikaitkan dengan syaratsyarat khusus yang ditentukan dalam putusan, tanpa mengurangi kemerdekaan beragama dan berpolitik (Pasal 115). Pasal 116 mengatur juga tentang pidana pembinaan di luar lembaga, yaitu : (1) a. b. c. (2) Pidana pembinaan di luar lembaga dapat berupa keharusan : mengikuti program bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan oleh pejabat pembina; mengikuti terapi di Rumah Sakit Jiwa; atau mengikuti terapi akibat penyalahgunaan alkohol, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya. Jika selama pembinaan, anak melanggar syarat-syarat khusus sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 115, maka pejabat pembina dapat mengusulkan kepada hakim pengawas untuk memperpanjang masa pembinaan yang lainnya tidak melampaui maksimum 2 (dua) kali masa pembinaan yang belum dilaksanakan. Sedangkan Pasal 117 mengatur : (1) (2) Pelaksanaan pidana kerja sosial untuk anak berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83ayat (3) dan ayat (4) dengan memperhatikan usia layak kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jika anak tidak memenuhi seluruh atau sebagian kewajiban dalam menjalankan pidana kerja sosial tanpa alasan yang sah, maka pejabat pembina dapat mengusulkan kepada hakim pengawas untuk memerintahkan anak tersebut mengulangi seluruh atau sebagian pidana kerja sosial yang dikenakan terhadapnya. Pidana kerja sosial untuk anak dijatuhkan paling singkat 7 (tujuh) jam dan paling lama 120 (seratur dua puluh) jam. Pidana denda bagi anak hanya dapat dijatuhkan terhadap anak yang telah berumur 16

(3)

(enam belas) tahun dan paling banyak (satu per dua) dari maksimum pidana denda yang diancamkan terhadap orang dewasa. (Pasal 120). Pidana pembatasan kebebasan diatur dalam Pasal 121, yaitu : (1) Pidana pembatasan kebebasan diberlakukan dalam hal anak melakukan tindak pidana berat atau tindak pidana yang disertai dengan kekerasan.

27

(2) (3) (4)

Pidana pembatasan kebebasan yang dijatuhkan terhadap anak paling lama (satu per dua) dari maksimum pidana penjara yang diancamkan terhadap orang dewasa. Minimum khusus pidana penjara sebagaimana dimaksud dengan Pasal 66 ayat (2) tidak berlaku terhadap anak. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (1), ayat (3), ayat (4), Pasal 68, Pasal 69, Pasal 70, Pasal 71, dan Pasal 72 berlaku juga sepanjang dapat diberlakukan terhadap pidana pembatasan kebebasan terhadap anak. Sedangkan Pasal 122 mengatur : Pidana pembinaan di dalam lembaga dilakukan di tempat latihan kerja atau lembaga pembinaan yang diselenggarakan baik oleh pemerintah maupun swasta. Jika keadaan dan perbuatan anak akan membahayakan masyarakat, maka dikenakan pidana pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Anak. Pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Anak dilaksanakan sampai anak berusia 18 (delapan belas) tahun. Setelah anak menjalani (satu per dua) dari lamanya pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Anak dan berkelakuan baik, berhak mendapatkan pembebasan bersyarat. Pidana penjara bagi anak dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan Anak. Jika tindak

(1) (2) (3) (4)

pidana yang dilakukan anak merupakan tindak pidana yagn diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, maka pidana yang dijatuhkan adalah pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun. (Pasal 123). Setiap anak yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 dan Pasal 39 dapat dikenakan tindakan : a. b. c. perawatan di rumah sakit jiwa; penyerahan kepada pemerintah; atau penyerahan kepada seseorang. Tindakan yang dapat dikenakan terhadap anak tanpa menjatuhkan pidana pokok adalah :

a. pengembalian kepada orang tua, wali, atau pengasuhnya; b. penyerahan kepada Pemerintah; c. penyerahan kepada seseorang d. keharusan mengikuti suatu latihan yang diadakan oleh pemerintah atau badan swasta; e. pencabutan surat izin mengemudi; f. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana; g. perbaikan akibat tindak pidana; h. rehabilitasi; dan/ atau i. perawatan di lembaga. (Pasal 126).

28

Maka secara dogmatik pidana itu dikenakan kepada orang yang normal jiwanya, orang yang mampu bertanggung jawab. Orang yang tidak mampu bertanggung jawab tidak mempunyai kesalahan dan orang yang tidak mempunyai kesalahan tidak boleh dipidana terhadap orang ini, yang telah melakukan tindak pidana, tersedia tindakan yang dapat dikenakan kepadanya. Sebenarnya dalam perkembangan hukum pidana antara kedua sanksi tersebut ada kekaburan. Misalnya pidana penjara yang dijatuhkan kepada orang yang mampu bertanggungjawab dan dilaksanakan dalam suatu lembaga yang disebut lembaga pemassyarakatan. Pelaksanaan pidana tersebut jelas bukan merupakan pembalasan, bahkan sebaliknya yaitu untuk mengusahakan agar si terpidana bisa kembali ke masyarakat sebagai orang yang baik. Jadi pidana penjara dalam hal ini mempunyai sifat sebagai tindakan. Sebaliknya tindakan dapat dikenakan kepada orang yang mampu bertanggung jawab, orang yang mempunyai kesalahan sehingga pidana dan tindakan dapat dijatuhkan bersama-sama kepada seorang terpidana. Sehubungan dengan kekaburan batas antara pidana dan tindakan, maka beberapa negara, a.I. Denmark, tidak menggunakan istilah pidana atau tindakan KUHP-nya , melainkan sanksi saja. 30 Catatan khusus sanksi pidana untuk korporasi adalah sebagai berikut: 31 Pidana tambahan yang berupa pencabutan hak tertentu, apabila terpidananya adalah Karena itu korporasi dalam keadaan tertentu mempunyai efek penangkalan yang lebih efektif.

hakim dapat mengenakan pidana pencabutan hak yang dimiliki suatu korporasi meskipun dalam rumusan pidana ancaman tersebut tidak dicantumkan. (Lihat penjelasan Pasal 64 ayat (1) Konsep Rancangan KUHP Nasional) . Untuk jenis pidana pokok, menurut Konsep Rancangan KUHP Nasional , yang dapat Pidana denda yang paling banyak untuk dijatuhkan terhadap korporasi adalah pidana denda. penjelasan Konsep Rancangan KUHP Nasional

korporasi adalah katagori lebih tinggi berikutnya (Pasal 77 ayat (4) ) . Selanjutnya berdasarkan dijelaskan latar belakang timbulnya ketentuan tersebut yaitu : mengingat pidana pokok yang dapat dijatuhkan pada korporasi hanya pidana denda,
30 31

R. Soedarto, Pemidanaan dan Tindakan, op cit, hlm25,26. Dwidja Priyatno, Alternatif Model Pengaturan Sanksi Pidana Pada Korporasi ( Sebagai Salah Satu Upaya Dalam Memberantas Kejahatan Korporasi), Pidato Pengukuhan Guru Besar di STHB, Bandung 26 September 2006 , hlm 15- 21

29

maka wajar apabila ancaman maksimum pidana denda yang dijatuhkan pada korporasi lebih berat daripada ancaman pidana denda terhadap orang perseorangan. Untuk itu telah dipilih cara menentukan maksimum pidana denda bagi korporasi yang melakukan tindak pidana yaitu katagori lebih tinggi berikutnya. Selanjutnya pengaturan pidana denda untuk korporasi dalam Pasal 77 ayat (5) dikatakan : Pidana denda paling banyak untuk korporasi yang melakukan tindak pidana yang diancam dengan : a. pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun sampai dengan 15 (lima belas) tahun adalah denda katagori V; b. pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun adalah denda Katagori VI. Selanjutnya dalam penjelasannya dikatakan bahwa : Dalam hal rumusan tindak pidana dalam suatu peraturan perundang-undangan tidak mencantumkan ancaman pidana denda terhadap korporasi, maka berlaku ketentuan dalam ayat ini, dengan minimum pidana denda sebagaimana ditentukan dalam ayat (6) . Pasal 77 ayat (6) Konsep Rancangan KUHP Nasional) , menyatakan : Pidana denda paling sedikit untuk koporasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) adalah denda Katagori IV ( Tujuh Puluh lima juta Rupiah) Pidana tambahan, KUHP Nasional ) . tentang pencabutan hak, khusus untuk korporasi, maka yang

dicabut adalah segala hak yang diperoleh korporasi.

(Lihat Pasal 88 ayat (2) Konsep Rancangan maka hakim

Misalnya hak untuk melakukan kegiatan dalam bidang usaha tertentu (Lihat Pasal 91 ayat (2) Konsep

(Penjelasan Pasal 84 ayat (2) ) . Jika pencabutan hak dijatuhkan pada korporasi, bebas dalam menentukan lama pencabutan hak tersebut. Rancangan KUHP Nasional) .

Jenis-jenis sanksi pidana yang dikemukakan dalam Konsep Rancangan KUHP Nasional , pada dasarnya lebih berorientasi pada offender, walaupun terdapat beberapa jenis pidana yang berorientasi pada korban seperti pidana pengawasan , pidana kerja sosial. pidana pembayaran ganti kerugian, pada korban (victim oriented) , Walaupun terdapat yang sebenarnya salah satu jenis pidana yang berorientasi tetapi sangat disayangkan tidak disebutkan secara tegas dapat

30

dikenakan terhadap korporasi. Walaupun sebenarnya pidana berupa pembayaran ganti kerugian , dapat dikenakan terhadap korporasi (lihat Pasal 96 ayat (1) Konsep Rancangan KUHP), akan tetapi apabila kita periksa ayat selanjutnya dari Pasal 96 yaitu ayat (2), yang berbunyi : Jika kewajiban pembayaran ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dilaksanakan, maka berlaku ketentuan pidana penjara pengganti untuk pidana denda . Berdasarkan bunyi pasal tersebut di atas, maka ketentuan Pasal 96 Konsep Rancangan KUHP Nasional , ditujukan terhadap orang dan bukan untuk korporasi. Hal ini disebabkan, apabila kewajiban pembayaran ganti kerugian tidak dilaksanakan , maka berlaku ketentuan pidana penjara pengganti untuk pidana denda. Ketentuan ini hanya dapat dikenakan terhadap subjek tindak pidana berupa orang. Begitu pula jenis pidana pokok berupa pidana pengawasan , dikenakan terhadap korporasi. dengan istilah corporate probation, identik dengan pidana bersyarat/ ternyata juga tidak dapat

Seharusnya pidana tersebut dapat dikenakan terhadap korporasi yang berlaku untuk korporasi dengan disertai syarat antara Ide corporate probation ini sebenarnya pengawasan ( suspended sentence probation ) untuk Markus Wagner yang menyatakan the

lain membayar ganti kerugian terhadap korban.

orang biasa. Hal tersebut sesuai dengan pendapat

probation order for a corporate entity is similar to the probation order for individuals. 32 Jadi ide corporate probation tersebut merupakan konsekuensi logis dari perluasan subjek tindak pidana, dari orang ke korporasi . Alasan pidana pengawasan tidak dapat dikenakan pada korporasi, sebagaimana diatur dalamKonsep Rancangan KUHP Nasional, dalam Pasal 74 sampai dengan Pasal 76, apabila ditelaah lebih lanjut , merupakan jenis pidana yang ditujukan kepada orang dan bukan terhadap korporasi. Alasan secara yuridis dapat dilihat pada Pasal 74 Konsep Rancangan KUHP Nasional, yang berbunyi :
32

Markus Wagner, Corporate Criminal Liability National and International Responses, Background Paper for the International Society for Reform of Criminal Law 13 th International Coference Commercial and Financial Fraud : A Comparative Perspective, Malta, 8-12 July 1999, ( Canada, The International Centre for Criminal Law Reform and Criminal Justice Policy), hlm 9, lihat pula Prefontaine, Daniel C.,Effective Criminal Sanctions Against Corporate Entities Commentary :Canada, p.4, Paper presented at the International Colloquium on Criminal Responsibility of Legal and Collective Entities , 4-6 May 1998.Berlin, Germany.

31

Terdakwa yang melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun, dapat dijatuhi pidana pengawasan. Ketentuan yang berbunyi : . diancam dengan pidana penjara , menunjukkan bahwa pidana pengawasan ditujukan terhadap subjek tindak pidana berupa orang dan bukan korporasi, sebab pidana penjara hanya dapat dikenakan terhadap orang/ manusia. Untuk mendukung atau memperkuat bahwa pidana pengawasan ditujukan terhadap orang, dapat dilihat pada Pasal 75 ayat (1) cONSEP Rancangan KUHP Nasional , yang berbunyi : Pidana pengawasan dapat dijatuhkan kepada terdakwa mengingat keadaan pribadi dan perbuatannya. Ketentuan yang berbunyi: .mengingat keadaan pribadi.., hal ini menunjukkan bahwa yang mempunyai keadaan pribadi adalah orang perorangan. Hal ini dipertegas pula dalam Pasal 75 ayat (3) khususnya sub c ,yang mengatur tentang salah satu syarat penjatuhan pidana pengawasan yaitu terpidana harus melakukan perbuatan atau tidak melakukan perbuatan tertentu, tanpa mengurangi kemerdekaan beragama dan kemerdekaan berpolitik. Dengan adanya ketentuan yang berbunyi .tanpa mengurangi kemerdekan beragama dan kemerdekaan berpolitik , hal ini menunjukkan secara tegas bahwa ketentuan tersebut hanya ditujukan terhadap orang dan bukan korporasi, karena korporasi tidak memiliki hak berupa kemerdekaan beragama dan berpolitik, dan yang memiliki hak tersebut adalah orang perorangan, atau subjek hukum manusia. Jenis sanksi lainnya dalam Konsep Rancangan KUHP Nasional yang sebetulnya dapat dikenakan terhadap korporasi, akan tetapi tidak ditujukan kepada korporasi, adalah jenis pidana pokok berupa pidana kerja sosial . Jenis pidana berupa Pidana Kerja Sosial , persyaratannya adalah : 1. 2. Jika pidana penjara yang dijatuhkan tidak lebih dari 6 (enam) bulan atau pidana denda tidak lebih dari denda katagori I (Pasal 83 ayat (1) Konsep Rancangan KUHP Nasional); (kursif oleh penulis) Dalam penjatuhan pidana kerja sosial sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), wajib dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut: a. pengakuan terdakwa terhadap tindak pidana yang dilakukan; (kursif oleh penulis)

32

b. usia layak kerja terdakwa menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku; (kursif oleh penulis) c. persetujuan terdakwa sesudah dijelaskan mengenai tujuan dan segala hal yang berhubungan dengan pidana kerja sosial; d. riwayat sosial terdakwa; (kursif oleh penulis) e.perlindungan keselamatan kerja terdakwa; f. keyakinan agama dan politik terdakwa ; (kursif oleh penulis) ; dan g.kemampuan terdakwa membayar denda. (Pasal 83 ayat (2) Konsep Rancangan KUHP Nasional ) Apabila diperhatikan ketentuan tersebut di atas, antara lain yaitu jika pidana penjara yang dijatuhkan tidak lebih dari (6) enam bulan, merupakan salah satu persyaratan dari penjatuhan pidana kerja sosial , dan pidana penjara sendiri hanya dapat dikenakan terhadap orang/ manusia, usia layak kerja (secara tegas menunjukkan bahwa ditujukan terhadap manusia) dan sebagainya , maka jenis pidana berupa pidana kerja sosial yang diatur dalam Konsep Rancangan KUHP Nasional, ditujukan terhadap orang dan tidak ditujukan kepada korporasi, walaupun secara teoritis dapat dikenakan terhadap korporasi. Walaupun demikian rumusan dalam Rancangan KUHP 2004, sudah mengalami kemajuan dalam perumusan sanksi pidana khususnya yang ditujukan terhadap korporasi bila dibandingkan dengan KUHP yang sekarang masih berlaku. Bahkan perluasan subjek tindak pidana untuk korporasi dapat diberlakukan secara umum. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 165 Konsep Rancangan KUHP Nasional , yang menyatakan : Setiap orang adalah oaring perseorangan, termasuk Korporasi. Konsep Rancangan KUHP 2004 , ternyata tidak membedakan pengaturan jenis sanksi pidana antara jenis sanksi yang ditujukan terhadap orang dan korporasi. Artinya model jenis sanksi pidana yang ditujukan terhadap orang dan korporasi disatukan pengaturan dalam satu paket jenisjenis pidana. Menurut penulis kondisi semacam ini dapat disebut sebagai salah satu model pengaturan jenis sanksi pidana untuk korporasi. Model semacam ini dianut di sebagian besar negara yang mengkodifikasikan ketentuan hukum pidananya.( termasuk di Belanda). Model yang lainnya, adalah perlunya pembedaan jenis sanksi pidana untuk orang dan korporasi. V. Penutup

33

Ternyata kalau kita lihat dan amati bahwa perkembangan sanksi pidana termasuk di dalamnya jenis-jenis sanksi (Pidana), terutama rumusan di dalam Konsep RKUHP Nasional mendapat pengaruh yang demikian besar dari negara Eropa Barat, terutama jenis Pidana Pokok berupa Pidana Pengawasan, Pidana denda dan pidana kerja sosial, di samping pidana tutupan. Di samping itu ciri khas Indonesia tidak ketinggalan dimasukan pula di dalam RKUHP Baru yaitu Sanksi Pidana Tambahan berupa Pemenuhan Kewajiban Adat. Kalau kita amati lebih lanjut pembabakan tentang sistem sanksi pidana menurut P.J.P. TAK, ternyata KUHP kita masuk pada Generasi kedua, sedangkan Konsep RKUHP Nasional kita dapat dikatakan merupakan perwujudan dari KUHP yang modern sebab, sudah mewakili generasi ketiga dan bahkan sudah pada tahap perkembangan generasi keempat (Hukum Pidana Yang Modern). Perlu kita catat bahwa fungsionalisasi Hukum Pidana khususnya tentang jenis-jenis Pidana dan Tindakan untuk anak Konsep RKUHP, sudah melangkah jauh ke depan pengaturannya. Akan tetapi semua sanksi (Pidana) tersebut bagaimanapun sebaiknya perumusan tetap di dalam penjatuhan sanksi (Pidana) harus mengacu kepada Tujuan Pemidanaan dan Pedoman Pemidanaan. Tujuan Pemidanaan sebagaimana dimuat di dalam RKUHP Baru, perumusannya cukup memadai bilamana ditinjau dari pandangan Integratif Pancasila sebagai faktor-faktor individual dan sosial diperhatikan secara integralistik, pandangan tersebut dapat menjiwai secara filosofis dalam filsafat pemidanaan. Pemilihan keadilan dalam merumuskan jenis pidana merupakan penal policy .Keseluruhan teori Pemidanaan, baik yang bersifat pencegahan umum dan pencegahan khusus (general and special prevention), pandangan perlindungan masyarakat ( social defence theory), teori kemanfaatan ( utilitarian theory), teori keseimbangan yang bersumber pada pandangan adat bangsa Indonesia maupun teori rasionalisasi sudah tercakup di dalamnya
33

. Kelemahan

perumusan selalu ada khususnya dalam merumuskan jenis sanksi pidana untuk korporasi, maka hendaknya perlu dilakukan reformulasi ulang agar dapat dirumuskan dengan lebih baik, sehingga dalam pelaksanaan penegakan hukumnya tidak akan mendapatkan hambatan. Kita berharap mudah-mudahan Konsep RKUHP menjadi Undang-undang dan ini merupakan dambaan kita semua dalam rangka menyongsong hukum pidana yang lebih mempunyai sifat kemanusiaan dan keadilan .
33

Muladi , op cit, hlm 11

34

DAFTAR PUSTAKA Allison Morris dan Warren Young, Reforming Criminal Justice : The Potential of Restorative Justice, dalam Restorative Justice Philosophy to Practice , edited by Heather Strang and John Braithwaite, ( The Australian National University, Asghate Publising Ltd, 2000), Andi Hamzah, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia , ( Jakarta, Pradnya Paramita,1993) Barda Nawawi Arief, Kebijakan Kriminalisasi Kumpul Kebo Dan Santet Dalam Konsep RUU KUHP, Seminar Nasional Menyongsong Berlakuknya KUHP Nasional ( FH UNUD, Denpasar, 30 April 2005) ----------------------, Ide-Ide Dasar (Pokok Pemikiran) Perubahan/Pembaharuan KUHP , Disampaikan Dalam Rangka Silaturahmi Akademik Di STHB, Bandung 12 Juli 2005 Daniel W. Van Ness, Restorative Justice and International Human Rights, Restorative Justice : International Perspektive, Edited by Burt Galaway and Joe Hudson, ( Kugler Publications, Amsterdam, The Netherland), Pemidanaan, Pidana dan Tindakan Dalam Rancangan KUHP,ELSAM 2005, Position Paper Advokasi RUU KUHP Seri 3 Dwidja Priyatno, Kapita Selekta Hukum Pidana, (Bandung,STHB Press,2005) -------------------, Alternatif Model Pengaturan Sanksi Pidana Pada Korporasi ( Sebagai Salah Satu Upaya Dalam Memberantas Kejahatan Korporasi), Pidato Pengukuhan Guru Besar di STHB, Bandung 26 September 2006

35

Eka Darmaputra, Pancasila Identitas dan Modernitas;Tinjauan Etis dan Budaya ( PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1997) ELSAM , Pemidanaan, Pidana dan Tindakan Dalam Rancangan KUHP , Position Paper Advokasi RUU KUHP Seri 3 J.E.Sahetapy , Suatu Studi Khusus Mengenai Ancaman Pidana Mati Terhadap Berencana, (Rajawali Pers, Jakarta, 1982) Pembunuhan

Markus Wagner, Corporate Criminal Liability National and International Responses, Background Paper for the International Society for Reform of Criminal Law 13 th International Coference Commercial and Financial Fraud : A Comparative Perspective, Malta, 8-12 July 1999, ( Canada, The International Centre for Criminal Law Reform and Criminal Justice Policy) Michael Tonry, Sentencing Matters, Oxford University Press, New York, 1996 Mohammad Noor Syam, et al, Pancasila Ditinjau dari Segi Historis, Segi Yuridis Konstitusional dan Segi Filosofis ( Lembaga Penerbitan UNBRAW, Malang,1981) Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-teori dan Kebijakan Pidana, ( Bandung, Alumni, 1992) Muladi, Proyeksi Hukum Materiil Indonesia Di Masa Datang , Pidato Pengukuhan Guru Besar UNDIP, Semarang,1990 --------------------, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana , (Badan Penerbit UNDIP, Semarang,1995). Prefontaine, Daniel C.,Effective Criminal Sanctions Against Corporate Entities Commentary :Canada, Paper presented at the International Colloquium on Criminal Responsibility of Legal and Collective Entities , 4-6 May 1998.Berlin, Germany. Sholehuddin. M, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana , Ide Dasar Double Track System dan Implementasinya, (Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2003) Soedarto.R, Pemidanaan, Pidana dan Tindakan, ( Semarang, FH UNDIP,1987) Sue Titus Reid, Criminal Justice, Procedur and Issues, West Publishing Company, New York 1987