KISAH DONGENG TRAGEDI CINTA JOKO TINGKIR Alih-alih memandikan bayinya yang baru lahir ke sebuah sungai

(sesuai tradisi yang berlaku dikeluarga mereka) Nyi Ageng Pengging didampingi mertuanya Nyi Ageng Tingkir justru mengalami peristiwa tragis dan mengejutkan. Yakni melihat Kebo Kenanga suaminya tercinta mati terbunuh. Dalam marah dan panik, Nyi Ageng Pengging coba mengejar para pembunuh namun gagal, Nyi Ageng Pengging malah terpeleset jatuh ke sungai yang mengakibatkan Nyi Ageng Pengging mati seketika. Sementara bayinya yang terlempar nyaris disantap oleh seekor buaya pemangsa, tetapi keburu diselamatkan sepasang buaya putih setelah lebih dahulu bertarung menaklukkan buaya pemangsa. Pasangan buaya putih tersebut kemudian membawa sang bayi ke goa tempat mereka bersarang untuk dirawat dan dihidupi. Dan terjadilah keajaiban itu. Memasuki usia lima tahun, secara mengejutkan salah satu telur pasangan buaya yang belum juga menetes, sementara telur-telur lainnya sudah lama menetas, tiba-tiba menetas sendiri dalam pelukan bocah Nyi Ageng Pengging. Sempat tercengang melihat kelahiran bayi buaya, sang bocah yang saat itu tengah kelaparan langsung menyantap air ketuban serta pecahan-pecahan kulit telur bayi buaya tersebut. Yang diluar dugaan justru memberikan kekuatan fisik maha dasyat pada dirinya, diluar kekuatan manusia normal pada umumnya. Oleh pasangan buaya putih, anak manusia yang mereka anggap anak sendiri itu kemudian mereka berinama Jaka Tingkir. Sementara bayi mereka sendiri yang baru lahir diberi nama Joko Tangkur. Dan dianggap saudara oleh Jaka Tingkir. Khasiat dari apa yang dimakan oleh Jaka Tingkir terbukti lima tahun kemudian. Jaka Tingkir mampu menaklukan seekor banteng liar yang nyaris menyeruduk dan menghabisi nyawa Ayu Pembayun, bocah perempuan seorang konglomerat bernama Trenggono. Dan sekaligus juga mempertemukan Jaka Tingkir dengan nenek kandungnya, yakni Nyi Ageng Tingkir. Yang setelah melihat tanda lahir ditubuh Jaka Tingkir langsung mengenali sang bocah sebagai cucunya yang hilang sepuluh tahun silam. Jaka Tingkir pun kemudian tinggal bersama neneknya, sambil sesekali diperbolehkan berkumpul dengan keluarga angkatnya, para buaya putih. Lalu malapetaka itu pun terjadi. Untuk menghormati kepahlawanan Jaka Tingkir yang menyelamatkan puteri tercintanya dari amukan banteng, Trenggono mengundang Jaka Tingkir dan neneknya menghadiri jamuan makan di puri kediaman Trenggono. Yang justru berbuntut mengejutkan. Nyi Ageng Tingkir yang mengenali Trenggono sebagai salah seorang pembunuh ayah Jaka Tingkir, langsung menyeret pulang cucunya lalu menceritakan siapa dan peristiwa apa yang telah menimpa kedua orangtua kandungnya. Yang menimbulkan kemarahan serta dendam dalam diri Jaka Tingkir untuk membalas kematian kedua orang tuanya suatu hari kelak. Niat serta kemarahan yang mau tidak mau menyebabkan Jaka Tingkir dan Ayu Pembayun berpisah dan tidak mungkin lagi berhubungan satu sama lain, meskipun mereka berdua diam - diam sudah saling jatuh hati pada pandang pertama. Namun takfir berkehendak lain. Memasuki usia dewasa, saudara buaya Jaka Tingkir yaitu Joko Tangkur ditangkap oleh seorang pawang untuk dipersembahkan kepada Trenggono. Yang saat itu sangat membutuhkan tangkur buaya putih untuk mempertahankan stamina tubuh serta kharisma dirinya sebagai pengusaha sohor dan terhormat. Hal mana membuat Jaka Tingkir marah besar dan dalam usahanya menyelamatkan Joko Tangkur mau tak mau mempertemukan kembali dengan Ayu Pembayun. Dan cinta lama yang sempat terbunuh, hidup dan bersemi kembali. Bahkan Ayu Pembayun sampai nekat memutuskan pertunangannya dengan Kebo Pamungkas, seorang pengusaha muda yang perusahaannya ikut menopang bahkan kemudian melakukan merger dengan perusahaan Trenggono. Pemutusan pertunangan tersebut tentu saja membuat Kebo Pamungkas marah besar. Dan dalam kemarahannya, Kebo Pamungkas langsung menampilkan wujud dirinya yang sesungguhnya, yakni sosok jin mengerikan. Yang bangsanya pada masa dahulu telah digempur dan dimusnahkan leluhur Trenggono. Dan setelah menunggu ratusan tahun, Kebo Pamungkas melakukan pendekatan usaha sekaligus kekeluargaan dengan menikahi Ayu Pembayun demi mencapai sebuah tujuan mengerikan yang sudah lama ia rancang. Membalas

tapi kemudian ia tewas dibunuh Arya Penangsang (sepupunya di Jipang) tahun 1549. Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Ageng Pemanahan) berhasil menyusun siasat cerdik sehingga sehingga Sutawijaya (Anak Ki Ageng Pemanahan) dapat menewaskan Arya Penangsang setelah menusukkan Tombak Kyai Plered ketika Aryo Penangsang menyeberang Bengawan Sore dengan mengendarai Kuda Jantan Gagak Rimang. Dalam perang itu. .dendam atas kematian para pendahulunya. Selain itu Aryo Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri suami dari Ratu Kalinyamat yang menjadi bupati Jepara. Mas Manca dijadikan patih bergelar Patih Mancanegara. Pusat kerajaan tersebut kemudian dipindah ke Pajang dengan Adiwijaya sebagai sultan pertama. putri Sultan Trenggana. sedangkan Mas Wila dan Ki Wuragil dijadikan menteri berpangkat ngabehi. Barangsiapa dapat membunuh Aryo Penangsang akan mendapatkan tanah Pati dan mentaok/Mataram sebagai hadiah. Hal itu dapat dilihat dengan diangkatnya Jaka Tingkir sebagai Adipati Pajang bergelar Adipati Adiwijaya. Justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik. yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Adiwijaya pun mengadakan sayembara. sekaligus menyelamatkan kekasihnya Ayu Pembayun dari angkara murka sang jin. Sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546. Sepeninggal suaminya. Adiwijaya segan memerangi Aryo Penangsang secara langsung karena sama-sama anggota keluarga Demak dan merupakan saudara seperguruan sama-sama murid Sunan Kudus. Kemudian Aryo Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang. serta memberi mereka hadiah untuk mempermalukan Arya Penangsang. Maka. Pembunuhan-pembunuhan ini dilakukan dengan menggunakan Keris Kiai Setan Kober. Setelah peristiwa tahun 1549 tersebut. Demak kemudian dijadikan Kadipaten dengan anak Suan Prawoto yang menjadi Adipatinya Sultan Adiwijaya juga mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam pemerintahan. Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto) mendesak Adiwijaya agar menumpas Aryo Penangsang karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan adipati Jipang tersebut. sambil sekaligus melahirkan dan membangkitkan kembali bangsa jin yang telah punah. Petaka itulah yang harus dihadapi dan harus dituntaskan oleh Jaka Tingkir. Balas dendam atas kematian orangtuanya. Melalui rahim Ayu Pembayun. Menjadi Sultan Pajang Prestasi Jaka Tingkir sangat cemerlang meskipun tidak diceritakan secara jelas dalam Babad Tanah Jawi. Arya Penangsang membunuh karena Sunan Prawoto sebelumnya membunuh karena Sunan Prawoto sebelumnya juga membunuh ayah Aryo Penangsang yang bernama Pangeran Sekar Seda Lepen sewaktu ia menyelesaikan sholat ashar di tepi Bengawan Sore. Sayembara diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela. tapi gagal. Pangeran Sekar merupakan adik Kandung Sultan Trenggono sekaligus juga merupakan murid pertama Sunan Kudus. putranya yang bergelar Sunan Prawoto seharusnya naik takhta. Ia juga menikahi Ratu Mas Cempa.

Meskipun hanya sebuah desa namun bersifat perdikan atau sima swatantra. bernama Kerajaan Mataram yang saat itu sudah tertutup hutan bernama Alas Mentaok. Pada tahun 1568 Sunan Prapen penguasa Giri Kedaton menjadi mediator pertemuan antara Sultan Adiwijaya dengan para adipati Bang Wetan. Tanah Mataram adalah bekas kerajaan kuno. hanya diwajibkan menghadap ke Pajang secara rutin sebagai bukti kesetiaan tanpa harus membayar pajak dan upeti. Ternyata. Adiwijaya juga berhasil menundukkan Madura setelah penguasa pulau itu yang bernama Raden Pratanu bergelar Panembahan Lemah Duwur Arosbaya menjadi menantunya. membuka hutan tersebut menjadi desa Mataram. Madura. Persekutuan adipati tersebut sedang menghadapi ancaman invansi dari berbagai penjuru. karena sepeninggal Sultan Trenggana. Ramalan itu didengarnya saat ia dilantik menjadi sultan usai kematian Arya Penangsang. Ki Panjawi mendapatkan tanah Pati dan bergelar Ki Ageng Pati. Sunan Prapen berhasil meyakinkan para adipati sehingga mereka bersedia mengakui kedaulatan Kesultanan Pajang di atas negeri yang mereka pimpin. Sebaliknya. Adiwijaya pun rela menyerahkan tanah Mataram pada kakak angkatnya itu. termasuk Ki Juru Martani. Panji Wiryakrama diambil sebagai menantu Adiwijaya. Sementara itu. Sunan Kalijaga selaku guru tampil sebagai penengah kedua muridnya itu. Ki Ageng bersedia. banyak daerah bawahan Demak yang melepaskan diri. Sebagai tanda ikatan politik. Menundukkan Jawa Timur Saat naik takhta. dan Blambangan. Ki Ageng Pemanahan yang kemudian bergelar Ki Ageng Mataram.Sumpah setia Ki Ageng Mataram Sesuai perjanjian sayembara. Ki Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Mendengar ramalan tersebut. Sampai tahun 1556. tanah Mataram masih ditahan Adiwijaya. Adiwijaya tidak lagi merasa cemas karena ia menyerahkan semuanya pada kehendak takdir. Sunan Prapen untuk pertama kalinya berjumpa dengan Ki Ageng Pemanahan dan untuk kedua kalinya meramalkan bahwa Pajang akan ditaklukkan Mataram melalui keturunan Ki Ageng tersebut. Negeri-negeri di Jawa Timur yang tergabung dalam Persekutuan Adipati Bang Wetan saat itu dipimpin oleh Panji Wiryakrama bupati Surabaya. . Selain itu. Dalam pertemuan tahun 1568 itu. Sunan Kalijaga meminta Adiwijaya agar menepati janji karena sebagai raja ia adalah panutan rakyat. alasan penundaan hadiah adalah dikarenakan rasa cemas Adiwijaya ketika mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir sebuah kerajaan yang mampu mengalahkan kebesaran Pajang. Ki Ageng Pemanahan juga diwajibkan bersumpah setia kepada Pajang. Maka. kekuasaan Adiwijaya hanya mencakup wilayah Jawa Tengah saja. yaitu Pajang. Ki Ageng Pemanahan sekeluarga. Ki Ageng Pemanahan masih menunggu karena seolah-olah Sultan Adiwijaya menunda penyerahan tanah Mataram.

putra sulung Sutawijaya yang bernama Raden Rangga membunuh seorang prajurit Tuban yang didesak Arya Pamalad. Ayah Pabelan yang bernama Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang karena diduga ikut membantu anaknya. Waktu setahun berlalu dan Sutawijaya tidak datang menghadap. . dan diberi hak untuk tidak menghadap selama setahun penuh. Ketiganya dijamu dengan pesta oleh Sutawijaya. Arya Pamalad sendiri sejak awal kurang suka dengan Sutawijaya sekeluarga. serta Patih Mancanegara. Sutawijaya pun mengirim utusan untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya ke Semarang. Di tengah keramaian pesta.Pemberontakan Sutawijaya Sutawijaya adalah putra Ki Ageng Pemanahan yang juga menjadi anak angkat Sultan Adiwijaya. Sutawijaya menjadi penguasa baru di Mataram. Kali ini yang berangkat adalah Pangeran Benawa (putra mahkota). sedangkan Pangeran Benawa menjelaskan kalau peristiwa pembunuhan tersebut hanya kecelakaan saja. Ibu Raden Pabelan yang merupakan adik perempuan Sutawijaya meminta bantuan ke Mataram. Maka sesampainya di Pajang. Arya Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya. Ia pun kembali mengirim utusan untuk menyelidiki kesetiaan Sutawijaya. Mereka menemukan Sutawijaya bersikap kurang sopan dan terkesan ingin memberontak. Adiwijaya mendengar kemajuan Mataram semakin pesat. Sepeninggal ayahnya tahun 1575. Adiwijaya mengirim Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil untuk menanyakan kesetiaan Mataram. Pada tahun 1582 seorang keponakan Sutawijaya yang tinggal di Pajang. Sultan Adiwijaya menerima kedua laporan itu dan berusaha menahan diri. Arya Pamalad (menantu yang menjadi adipati Tuban). Namun kedua pejabat senior itu pandai menenangkan hati Adiwijaya melalui laporan mereka yang disampaikan secara halus. Tahun demi tahun berlalu. bernama Raden Pabelan dihukum mati karena berani menyusup ke dalam keputrian menemui Ratu Sekar Kedaton (putri bungsu Adiwijaya).

Hal itu dianggapnya sebagai firasat kalau ajalnya segera tiba. Arya Pangiri sebenarnya adalah anak Sunan Prawoto. Adapun putri yang paling tua dinikahkan dengan Arya Pangiri bupati Demak. Sesampai di Pajang. Pada cerita rakyat dinyatakan bahwa sebenarnya Sutawijaya adalah anak kandung Adiwijaya dengan anak Ki Ageng Sela. Adiwijaya berwasiat supaya anak-anak dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya. Di tengah jalan ia jatuh dari punggung gajah tunggangannya. Adiwijaya menarik pasukannya mundur. membuat sakitnya bertambah parah. sehingga harus diusung dengan tandu. yang seharusnya memang menggantikan Sultan Trenggono menjadi Raja Demak. Adiwijaya semakin tergoncang mendengar Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan laharnya ikut menerjang pasukan Pajang yang berperang dekat gunung tersebut. Pasukan Pajang bermarkas di Prambanan dengan jumlah lebih banyak. Dalam perjalanan pulang. . Raden Pratanu Madura. Sutawijaya sendiri adalah anak angkat Adiwijaya yang dianggapnya sebagai putra tertua. Arya Pangiri pun menjadi raja baru di Pajang.Kematian Perbuatan Sutawijaya itu menjadi alasan Sultan Adiwijaya untuk menyerang Mataram. dan Arya Pamalad Tuban. Pengganti Sultan Adiwijaya memiliki beberapa orang anak. karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya sebagai takdir. Ia dimakamkan di desa Butuh. Selain itu. Perang antara kedua pihak pun meletus. namun menderita kekalahan. Putri-putrinya antara lain dinikahkan dengan Panji Wiryakrama Surabaya. Adiwijaya melanjutkan perjalanan pulang. Pangeran Benawa sang putra mahkota disingkirkan menjadi bupati Jipang. datang makhluk halus anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman memukul dada Adiwijaya. bergelar Sultan Ngawantipura. Adiwijaya alias Jaka Tingkir akhirnya meninggal dunia tahun 1582 tersebut. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus (pengganti Sunan Kudus) untuk menjadi raja. ia singgah ke makam Sunan Tembayat namun tidak mampu membuka pintu gerbangnya. yaitu kampung halaman ibu kandungnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful