Anda di halaman 1dari 20

BELAJAR ILMU ARU DAN QAWAFY DENGAN PRAKTIS Oleh : Merry Choironi : . - . . .

- . . . Kata kunci : Ilmu Aru, Ilmu Qawafy ILMU ARU A. Ilmu Aru; Pengertian, objek kajian, dan penemunya Aru ( )ditinjau dari sisi etimologis (Chotibul Umam, 1992:4) memiliki arti diantaranya adalah jalan yang sulit, arah, kayu yang merintangi di tengah-tengah rumah atau kemah, awan yang tipis, Mekah alMukarramah, Madinah al-munawwarah. Ditinjau dari terminologi Ilmu Aru ( ) berarti Ilmu untuk mengetahu\benar atau rusaknya pola ( )puisi Arab tradisional dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya. Objek kajian Ilmu ini adalah puisi arab tradisional, yaitu puisi arab yang masih terikat dengan pola puisi () . Sedangkan tujuan umum mempelajari ilmu ini adalah agar mampu membedakan antara puisi dengan selain puisi dan untuk memelihara dari perbuatan mencampur-adukkan antara satu pola puisi dengan pola lainnya serta menghindari terjadinya perubahan-perubahan yang dilarang. Masan Hamid (1995:83) menambahkan ilmu Aru berguna untuk mempermudah seseorang dalam membaca teks-teks sastra kuno atau puisi-puisi arab lama. Ilmu Aru pertama kali diperkenalkan oleh Al-Khalil ibn Ahmad ibn Amr bin Tamim. Dilatarbelakangi oleh pengamatannya kepada para penyair pada masa itu yang menciptakan puisi tanpa aturan-aturan (), Hal ini disebabkan oleh terkikisnya bakat mereka dalam hal itu serta adanya asimilasi dengan bakat orang luar (), maka ia mulai menghimpun puisi-puisi mereka lalu mengklasifikasinya berdasarkan jenis-jenis pola puisi. Pola-pola itu kemudian diberinya nama buhur () . Lalu ia lanjutkan dengan mencari bagian-bagian puisi yang mengalami perubahan. Kesemuanya ini ia namakan ilmu Aru. Ia namakan Ilmu Aru karena ia bermukim di tempat yang bernama Aru yaitu Mekah al-Mukarromah. (Chotibul Umam, 1992:6). Audy al-Wakil (1964:47) berpendapat ilmu ini diberi nama Aru diidentikkan antara istilah ( tengah-tengah bait puisi) dengan keberadaan dan tempat penemuannya di tengah-tengah Saudi Arabia.

B. Puisi Arab Menurut orang Indonesia puisi (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988:706) adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima serta penyusunan larik dan bait. Sedangkan menurut orang Arab puisi disebut Syir ( )berarti kata-kata yang disusun dengan pola tertentu sehingga dapat menjadi ungkapan yang indah, hasil dari imajinasi seseorang (penyair). (Ahmad Hasan Ziyat, tth:28). Syauqi Daif (tth:13) memaknai puisi sebagai karya yang terikat dan tunduk kepada kaidahkaidah tertentu sesuai dengan perkembangannya. Kaidah yang dimaksud adalah unsur-unsur utama puisi arab yaitu lafal, pola tertentu (), tema (), irama ( ), dan niat (sengaja disusun sebagai puisi, ). Adapun menurut ahli Aru, puisi memiliki arti nazam yaitu kalimat yang berpola, berirama dan sengaja diciptakan sebagai puisi. (Masan Hamid, 1995:74 dan Chatibul Umam, 1992:8). Nayif Maruf (1993:147) meringkas bahwa yang dinamakan puisi adalah kalimat yang bernada/bernazam yang mengandung kesatuan antara pola ( )dan irama (). Bait puisi Arab terbagi 2 yaitu : adr ( )atau atau dan Ajz ( )atau atau . adr ( )adalah bagian pertama bait , sedangkan Ajz ( )adalah bagian kedua. Bagian akhir (tafilah akhir) dari adr ( )disebut Arudh ( ) dan bagian akhir (tafilah akhir) dari Ajz ( )dinamakan arb () , sedangkan selainnya disebut Hasywu () . Perhatikan gambaran berikut : # / / / / - Macam-macam bait puisi Arab Macam-macam bait puisi arab dilihat dari bentuknya adalah : ( lihat Nayif Maruf, 1993: 155-157 dan Masan Hamid, 1995: 178-183). 1. Bait tam ( ( , jika sempurna bentuknya. Kalau memang ada kekurangannya, itu hanya perubahan-perubahan pada tafilah saja (seperti ada ilal atau zihaf). Contoh : # 2. Bait Majzu () , jika dibuang aru dan arabnya, seperti : # 3. Bait Masytur () , jika dibuang salah satu belahan baris puisi, baik sadr mapun ajz. Terkadang pula pada akhir puisi, aru dan arbnya tampil secara bersamaan. Contoh :

4. Bait Manhuk () , jika dibuang duapertiga dari sadrnya dan duapertiga dari ajznya. Terkadang yang tinggal hanya aru dan arabnya, seperti : # Al-Akhfasy al-Ausat menganggap bait Masytur dan Manhuk bukan termasuk puisi, akan tetapi Sajak. 5. Bait Mudawwar () , yaitu bait yang arunya terpotong dan potongannya ada pada awal belahan keduany ) ) , seperti : # 6. Bait Muqaffa () , yaitu pola arunya dan huruf akhirnya (rawi) sama persis dengan pola arabnya, seperti puisi berikut # Aru dan arabnya memiliki pola yang sama yaitu dan qafiyahnya sama-sama berhuruf . 7. Bait Muarra () , adalah jika arunya mengalami perubahan baik polanya maupun huruf akhirnya agar memperoleh bentuk yang sama. Perubahan itu dapat berupa ditambah atau dikurangi. Seperti puisi Umrul Qais berikut yang mengalami pengurangan : # , Untuk menyamakan dengan arabnya, maka pola arunya dikurangi dari menjadi atau . Adapun contoh puisi yang mengalami penambahan karena menyesuaikan dengan arabnya adalah: # Penambahan terjadi pada pola arunya dari menjadi . Bait ini hampir sama dengan bait Muqaffa, akan tetapi bait ini mengalami perubahan sedangkan bait muqaffa tidak. 8. Bait Mumat () , jika aru dan arabnya berbeda rawinya (huruf akhir), contoh : # 9. Bait Maufur (( , yaitu bait yang tidak mengalami perubahan berupa kharm (), seperti : # 10. Bait Itimad () , yaitu bait yang hasywunya mengalami perubahan berupa zihaf , akan tetapi tidak sesuai dengan aturan zihaf, seperti puisi berikut yang diubah oleh zihaf khaban : # 11. Bait Maksur (( , adalah bait adrnya berpola, akan tetapi ajznya tidak bahkan menyerupai prosa karena banyaknya mengalami

perubahan, seperti : # Nama-nama bilangan bait Berdasarkan jumlah barisnya, maka bait puisi memiliki nama-nama antara lain : 1. Syir Mufrad ( )atau Yatim () , jika terdiri atas 1 baris saja. 2. Syir Natfah () , jika terdiri atas 2 baris 3. Qiah () , jika terdiri atas 3 sampai 6 baris. 4. Qaidah () , jika terdiri dari 7 baris atau lebih. C. Kaidah Ilmu Arudh 1. Potongan-potongan irama puisi dan cara memotongnya ( ) Yang dimaksud adalah membuat potongan-potongan pada puisi (mentaqti) satu persatu huruf, seperti : # //0/0 /0 / /0/0/0/ /0/0 / /0/0/0 //0 /0/ 0//0/0 Hal-hal yang harus diperhatikan di dalam mentaqti puisi adalah : 1. Garis miring (/) sebagai symbol huruf hidup, tanda bulat (o) untuk huruf mati 2. Hanya menuliskan apa yang terucapkan, misalnya , ditaqti dengan /o/o// (hidup bagi huruf hidup bagi huruf mati bagi huruf ,, hidup bagi huruf mati bagi huruf hidup bagi huruf ). 3. Huruf yang menggunakan tasydid (misal ) dituliskan dengan dua symbol; symbol o (mati) untuk yang pertama dan / (hidup) untuk yang kedua. 4. Huruf yang menggunakan tanwin (misal ) dituliskan dengan dua symbol; symbol / (hidup) untuk yang pertama dan o (mati) untuk yang kedua. 5. Huruf yang bermad (berbunyi panjang seperti ~atau ) dituliskan dengan dua symbol; symbol / (hi dup) untuk yang pertama dan o (mati) untuk yang kedua. 6. Huruf mim ( )yang merupakan tanda jamak, terkadang dipanjangkan, seperti : menjadi dengan taqti o///o/. 7. Huruf yang berharakat di akhir Aru ( )dituliskan berbunyi panjang 8. Huruf ha ( )yang menunjukkan amir dituliskan berbunyi panjang. 2. Nama-nama satuan suara Terbagi atas Sabab (), Watad (), dan Fashilah (). Pertama, Sabab ( )berarti tali (), yaitu satuan suara yang terdiri atas dua huruf. Jika huruf pertama hidup dan kedua mati maka dinamakan Sabab Khafif ( ), seperti dan jika huruf pertama dan kedua hidup , seperti maka disebut Sabab aqil () .

Kedua, Watad ( ) atau kayu yang ditancapkan di atas tanah digunakan sebagai tonggak pengikat tali, yaitu satuan suara yang terdiri atas tiga huruf. Jika huruf pertama dan kedua hidup sedangkan ketiga mati seperti , maka dinamakan watad majmu (), dan dinamakan watad mafruq ( )apabila satu huruf mati diapit oleh dua huruf hidup seperti . Ketiga, Failah (), yaitu seutas tali panjang yang melambai-lambai di depan atau dibelakang rumah karena menahan terpaan angin. Di dalam Ilmu Arudh ia bermakna satuan suara yang terdiri 3 huruf hidup berturut-turut dan keempat mati yang disebut Failah surah ()seperti atau 4 huruf hidup dan kelimanya mati seperti maka dinamakan Failah Kubra ) ). Untuk Failah Sura dapat kita pecah menjadi 2 jenis satuan suara yaitu sabab aqil dan sabab khafif, sedangkan Failah Kubra dipecah menjadi sabab aqil dan watad majmu. Untuk mempermudah memahami dan menghafal nama-nama satuan suara ini, lihat bagan berikut : (Chatibul Umam, 1992:11) , , , , , , , , , , , , , , , , , , 3. Tafilah () Tafilah ( )secara etimologis berarti memotong-motong bait puisi sesuai dengan polanya menjadi beberapa bagian. (Masan Hamid, 1995:107). Sedangkan menurut terminology adalah bagian-bagian bait puisi yang tersusun dari beberapa satuan suara yang digunakan untuk menyanyikan sesuai dengan pola puisi. Adapun tafilah yang terdiri atas 5 huruf ada 2 macam, yaitu dan , sedangkan yang terdiri atas 7 huruf yaitu , memiliki 5 macam tafilah : , , , , , . 4. Nama-nama pola puisi () a. Jika dimulai dengan sabab khafif: 1. , ada 6 macam pola (bahar) yaitu bahar basi (), Rajaz ( ), dan Sari (), Mujta (), dan Munsarih (). 2. , ada 3 macam bahar yaitu bahar ramal ( ), khafif (), dan madid ()

3. , ada 1 macam bahar yaitu bahar mutadarik () 4. , ada 1 macam bahar yaitu bahar Muqtadab (). b. Jika dimulai dengan watad majmu : 1. , ada 2 macam bahar yaitu bahar awil ( )dan bahar mutaqarib ( ) 2. , ada 1 macam bahar yaitu bahar wafir (). 3. , ada 2 macam bahar yaitu bahar hajaz ( )dan Muara (). c. Jika dimulai dengan failah ura : 1. , ada 1 macam bahar yaitu bahar kamil (). Berikut uraian satu persatu dari pola / Bahar : 1. Bahar basi (), dinamakan demikian karena dimulai dengan 2 buah sabab pada tafilah pertama yang terdiri atas 7 huruf. Bahar ini terdengar lebih lembut dari bahar awil ( )sehingga banyak dipakai oleh para penyair Muwallidin dan penyair masa jahiliyah. Adapun polanya adalah : # 2. Bahar Rajaz (), dinamakan demikian karena semua tafilahnya sama dan sedikit hurufnya serta karena getarannya. Ia bergetar disebabkan oleh pembolehan membuang 2 huruf pada tiap tafilah. Bangsa Arab menyebut unta yang sedang meringkih dengan rajza (). Bahar ini enak didengar dan masuk ke dalam batin. Biasanya bangsa Arab bernyanyi sambil menghalau unta mereka dengan menggunakan bahar ini. Bahar ini pula yang mirip dengan prosa, karena banyak mengalami perubahan. Di samping itu bahar ini banyak dipakai pada akhir pemerintahan Umayyah dan awal Abbasiyah yang dikenal dengan Arjuzah (). Mereka menggunakannya untuk memberi semangat kepada para pejuang di medan perang. Akan tetapi al-Maarry menganggap bahar ini bukan puisi, seperti dikatakannya pada bait puisi berikut : # # Artinya: Engkau memendekkan untuk memperoleh kemulyaan # Maka puisi yang menggunakan rajaz tidak termasuk puisi Siapa yang puisinya tidak mencapai derajat penyair# Itu mereka yang hanya puas dengan rajaznya. Adapun polanya adalah : # 3. Bahar Sari (), dinamakan demikian karena memiliki irama yang cepat, itu

disebabkan karena terdiri dari 3 tafilah dan 7 sabab. Sebagaimana diketahui bahwa sabab itu lebih cepat dari watad. Bahar ini biasanya digunakan untuk puisi deskriptif dan melukiskan perasaan. Para penyair jahiliyah jarang menggunakan bahar ini. Adapun polanya adalah : # 4. Bahar Ramal (), ramal artinya cepat dalam berjalan kaki, oleh sebab itu bahar ini dinamakan ramal karena memiliki irama yang cepat disebabkan terdiri dari 3 tafilah yang sama. Bahar ini banyak digunakan untuk puisi gembira ( ), sedih ( ), dan zuhud (). Adapun polanya adalah : # 5. Bahar Khafif (), dinamakan demikian karena ringan ( )harakatnya, walaupun kelembutannya mirip dengan bahar wafir, tapi lebih mudah dari wafir. Adapun polanya adalah : # 6. Bahar madid (), dinamakan demikian karena terpaparnya 2 buah sabab di setiap tafilah yang berhuruf 7. Adapula yang menyebutkan karena terpaparnya watad majmu di tengah-tengah. Bahar ini jarang digunakan dan termasuk bahar pendek yang sebaiknya dipakai untuk puisi rayuan ) ) , puisi-puisi nyanyian dan nasyid. Adapun polanya adalah : # 7. Bahar Mutadarik (), dinamakan demikian karena al-Akhfasy telah menemukan lebih dahulu dari gurunya. Bahar ini disebut juga Muhda ( ) atau khabab ( )dan Mukhtara (). Bahar ini banyak digunakan dimaksudkan untuk mencela atau menyerbu musuh, akan tetapi ini jarang sekali, baik dahulu kala atau sekarang. Adapun polanya adalah : # 8. Bahar awil (), dinamakan demikian karena merupakan bahar yang paling sempurna untuk digunakan, karena bahar ini hampir tidak pernah rusak. Biasanya bahar ini dipakai untuk puisi semangat (), puisi yang bertujuan untuk berbangga-bangga atau sombong ( ), atau puisi cerita (). Adapun polanya adalah : # 9. Bahar Mutaqarib () , dinamakan demikian karena mengandung tafilahtafilah yang sama, yaitu yang terdiri dari 5 huruf, jadi 1 tafilah diulang sebanyak 8 kali. Bahar ini lebih cocok untuk tema yang bertujuan untuk menumbuhkan

kekuatan daripada kelembutan. Adapun polanya adalah : # 10. Bahar wafir (), dinamakan demikian banyak harakatnya di dalam tafilahnya, juga merupakan bahar yang paling sering digunakan dan paling banyak dipakai untuk puisi sombong ( )dan ratapan (). Adapun polanya adalah : # 11. Bahar Hazaj (), dinamakan demikian karena konon bangsa Arab bernyanyi ))dengan menggunakan bahar ini. Adapun polanya adalah : # 12. Bahar Kamil (), dinamakan demikian karena tafilah dan harakatnya sempurna. Bahar ini mengandung paling banyak huruf dan terdapat 30 harakat. Bahar ini pun cocok untuk semua jenis puisi, sehingga sering dipakai baik oleh penyair kuno maupun modern. Adapun polanya adalah : # 13. Bahar Munsarih (), dinamakan demikian karena mudah dan ringan untuk diucapkan. Adapun polanya adalah : # 14. Bahar Mujta (), dinamakan demikian karena mengambil dari bahar khafif dengan memotong ( )atau membuang tafilah pertamanya, yaitu . Adapun polanya adalah : # 15. Bahar Muara (),dinamakan demikian karena kemiripannya ( )dengan bahar khafif ketika salah satu tafilahnya terdiri atas watad majmu dan watad mafruq. Bahar ini jarang digunakan. Adapun polanya adalah : # 16. Bahar Muqtadab (), dinamakan demikian karena mengambil dari bahar munsarih dengan memotong ( )tafilah pertamanya, yaitu . Bahar ini jarang digunaan. Adapun polanya adalah : # Adapun bagan berikut sangat diperlukan untuk memberi kemudahan dalam memahami bahkan menghafal pola-pola puisi di atas : Satuan Suara Tafilah Bahar Pola Sabab Khafif

Basi Rajaz Sari Munsarih Mujta Muqtaab Ramal Khafif Madid Mutadarik Watad Majmu awil Mutaqarib Wafir

Hazaj Muara Failah ura Kamil 4. Perubahan-perubahan pola puisi Pola-pola puisi arab dapat berubah dengan adanya zihaf dan illah. Zihaf secara etimologis berarti cepat, sedangkan terminologisnya bermakna perubahan yang terjadi pada huruf ke-2 dari sabab khafif dan sabab aqil yang ada pada tafilah di hasywu bait. Perubahan ini dilakukan dengan membuang atau mematikan vocal (huruf hidup) atau membuang konsonan (huruf mati). Jika ada zihaf yang masuk ke dalam satu bait puisi, maka tidak harus masuk ke bait yang lain. Zihaf terbagi 2 macam, yaitu zihaf Mufrad ( ) dan zihaf Muzdawaj ( ). Zihaf Mufrad adalah zihaf yang terjadi hanya pada satu sabab yang ada di tafilah. Sedangkan Zihaf Muzdawaj adalah zihaf yang terjadi pada 2 sab ab yang ada di tafilah. Zihaf Mufrad terbagi atas 8 macam, yaitu : Imar (), Khaban (), Waq (), ai (), Aab (), Qab (), Aql (), dan Kaff ( ). Yang terjadi pada huruf kedua adalah Imar (), Khaban (), Waq ()dan yang terjadi pada huruf keempat adalah ai ()dan yang terjadi pada huruf kelima adalah Aab (), Qab (), Aql ( )dan yang terjadi pada huruf ketujuh adalah Kaff ( ). Perhatikan bagan berikut : Zihaf Mufrad Definisi Tafilah menjadi a.Imar Mematikan huruf kedua yang hidup b. Khaban Membuang huruf kedua yang mati

c.Waq Membuang huruf kedua yang hidup d.ai Membuang huruf keempat yang mati e.Aab Mematikan huruf kelima yang hidup f. Qabd Membuang huruf kelima yang mati g. Aql Membuang huruf kelima yang hidup h. Kaff Membuang huruf ketujuh yang mati Zihaf Muzdawaj ( ) terbagi atas 4 macam, yaitu Khabl ( )yang dimasuki oleh khaban dan ai. Khazl ( )yang dimasuki oleh Imar dan ai. Syakl ( )yang dimasuki oleh Khaban dan Kaff. Naq ( )yang dimasuki oleh Aab dan Kaff. Perhatikan bagan berikut : Zihaf Muzdawaj Definisi Tafilah menjadi a.Khabl Kumpulan Khaban dan ai (Membuang huruf kedua dan keempat yang mati) b. Khazl Kumpulan Imar dan ai (mematikan huruf kedua dan membuang huruf keempat yang mati) c.Syakl Kumpulan khaban dan kaff (Membuang huruf kedua dan ketujuh yang mati)

d.Naq Kumpulan Aab dan Kaff (mematikan huruf kelima dan membuang huruf ketujuh yang mati) Perubahan pola puisi arab dapat terjadi juga karena adanya illah. Secara etimologis berarti penyakit. Secara terminology ia bermakna perubahan yang menimpa aru dan arab saja. Jika aru dan arabnya berubah karena illah, maka perubahan itu akan berlaku bagi keseluruhan bait atau satu qasidah. Illah terbagi 2 macam, yaitu illah berupa tambahan dan illah berupa pengurangan. Illah tambahan ( ) terbagi atas 3 macam; Tarfil ( )yaitu penambahan sabab khafif di akhir watad majmu. Tayil (), yaitu dengan menambahkan huruf mati pada akhir watad majmu. Tasbi (), yaitu menambahkan satu huruf mati pada akhir sabab khafif. Lihat bagan berikut : Illah ziyadah Definisi Tafilah menjadi 1.Tarfil Menambah sabab khafif di akhir watad majmu 2.Tayil Menambah huruf mati di akhir watad majmu 3.Tasbi Menambah huruf mati di akhir sabab khafif Illah dengan pengurangan ( ) terbagi atas 9 macam : Haf () , yaitu membuang sabab khafif di akhir tafilah. Qaf (), yaitu Kumpulan Haf dan aab (membuang sabab khafif di akhir tafilah dan mematikan huruf kelima. Qa (), yaitu membuang watad majmu yang mati lalu mematikan huruf sebelumnya. Batr ( ), yaitu kumpulan Qa dan Haf. Qar (), yaitu membuang sabab khafif yang mati dan mematikan yang hidup. Haa (), yaitu membuang watad majmu. alam (), yaitu membuang watad mafruq. Waqf ( ), yaitu mematikan huruf ketujuh yang hidup. Kasf (), yaitu membuang huruf ketujuh yang hidup. Untuk lebih mudah memahaminya, mari perhatikan bagan berikut : Illah bi naq Definisi Tafilah menjadi 1.Haf Membuang sabab khafif di akhir tafilah

2.Qaf Kumpulan haf dan aab (membuang sabab khafif di akhir dan mematikan huruf kelima yang hidup) 3.Qa Membuang huruf mati pada watad majmu dan mematikan huruf sebelumnya 4.Batr Kumpulan Qa dan haf 5.Qar Membuang sabab khafif yang mati dan mematikan yang hidup 6.Haa Membuang watad majmu 7.alam Membuang watad mafruq 8.Waqf Mematikan huruf ketujuh yang mati 9.Kasf Membuang huruf ketujuh yang mati Di samping itu para pakar ilmu Aru juga telah menemukan bentuk perubahan yang lain yang mereka beri nama : (illah yang menduduki kedudukan zihaf, yaitu perubahan yang tidak terjadi pada 2 sabab, akan tetapi pada watad di bagian aru dan arab. Apabila ia terjadi pada aru atau arb di satu bait, maka tidak mengharuskan perubahan pada keseluruhan bait atau qasidah. Adapun macam nya adalah : 1. Tasyi (), yaitu membuang huruf awal watad majmu. Terjadi pada tafilah yang menjadi dan tafilah menjadi 2. Haaf ( ) , yaitu membuang sabab khafif di akhir arunya bahar mutaqarib. Terjadi pada tafilah yang menjadi . 3. Kharm () , yaitu membuang watad majmu yang terdapat pada adr. Terjadi pada tafilah yang menjadi dan tafilah yang menjadi dan tafilah yang menjadi 4. Khazm (), menambahkan satu huruf atau lebih pada adr.

ILMU QAWAFY A. Pengertian, faedah, dan penemunya Qawafy (( )baca: Masan Hamid, 1995:191) menurut etimologi adalah belakang leher atau tengkuk. Sedangkan menurut para pakar ilmu Aru adalah kata terakhir pada bait puisi arab yang dihitung mulai dari huruf yang terakhir pada bait sampai dengan huruf hidup sebelum huruf mati yang ada di antara kedua huruf hidup tersebut. Seperti pada puisi : # Maka kata dinamakan qafiyah, yang dimulai dari huruf terakhir yaitu huruf sampai dengan . Adapun Ilmu yang mempelajari tentang aturan kata akhir dari suatu bait puisi arab tradisional disebut Ilmu Qawafy. Dalam memahami puisi arab tradisional, selain harus menguasai ilmu Aru juga harus mendalami ilmu Qawafy. Ini sangat penting bagi para penyair atau sastrawan guna mempermudah mereka dalam menyusun aturan huruf dan harakat yang terdapat pada kata-kata di akhir bait. Di samping itu berguna untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam menentukan macam-macam qafiyah yang akan dipergunakan pada suatu qasidah. Selain itu bagi kita, yang bukan orang Arab dan tertarik dengan puisi arab bahkan ingin menciptakan bait puisi berbahasa Arab, ilmu qawafy (selain ilmu Aru) ini sangat membantu. Sama halnya dengan ilmu aru, ilmu qawafy ini pertama kali dibukukan oleh al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi dengan nama ilmu Qawafy walaupun aturan-aturan qafiyah sudah ada sejak Adi bin Rabiah al-Muhalhil. B. Kaidah-kaidah ilmu Qawafy. 1. Kata-kata pada qafiyah () . Ada 4 macam pendapat tentang kata-kata yang disebut qafiyah, yaitu : a. Sebagian kata, seperti pada bait berikut : # pada bait atas dinamakan qafiyah. b. Satu kata, seperti : pada bait di atas c. Satu setengah kata, seperti # dinamakan qafiyah. d. Dua kata, seperti di atas disebut qafiyah. 2. Huruf-huruf qafiyah ( ) Ada 6 macam huruf di dalam qafiyah, yaitu : a. Rawi (), artinya pikiran. Menurut istilah adalah huruf yang dijadikan dasar dan pedoman di dalam qasidah. Para pakar menyebutkan bahwa 1 huruf ahih yang terakhir di dalam satu bait disebut huruf rawi. Kemudian

huruf itu disamakan dengan bait-bait sesudahnya, sehingga ada qasidah mimiyah (jika huruf rawinya mim), lamiyah (jika huruf rawinya lam), raiyah (jika huruf rawinya ra) dan seterusnya. b. Waal (), artinya bersambung. Menurut istilah adalah huruf-huruf layyinah yaitu , , yang timbul karena isyba (perpanjangan) nya harakat rawi sebelumnya , alif ( )untuk rawi yang berharakat fathah, waw ( )untuk yang ammah, dan ya ( )untuk yang kasrah. Atau harakat huruf ha ( )yang ada di sekitarnya. Contoh huruf waal alif ( ): # Contoh huruf waal ha ( )yang berharakat kasrah : # c. Khuruj (), artinya keluar. Menurut istilah adalah huruf yang timbul dari harakat ha ( )waal. Di sini ia keluar dari waal yang bersambung dengan huruf rawi. Huruf-huruf khuruj ini sama dengan huruf layyinah yaitu , , . Contoh khuruj alif ( ): # d. Ridif (), artinya mengikuti di belakangnya. Menurut istilah adalah huruf mad ( , , ) yang ada sebelum huruf rawi. Seperti ridif alif ( )berikut : # Huruf rawi dari bait di atas adalah nun ( ) dan huruf ridifnya adalah alif ( ). e. Tasis (), artinya membuat landasan atau mendirikan. Menurut istilah adalah huruf alif ( )yang menjadi huruf kedua sebelum rawi, misal : # f. Dakhil (), artinya yang masuk atau berada di sela-sela. Menurut istilah ia bermakna huruf hidup yang ada di tengah-tengah antara rawi dan tasis. Maka jika kita lihat pada contoh yang e, huruf pada kata dinamakan dakhil. 3. Harakat-harakat qafiyah ( ) . 1. Mujra (), yaitu harakatnya rawi 2. Nafa (), yaitu harakatnya ha ( )waal 3. Hawu (), yaitu harakat huruf sebelum ridif 4. Isyba (), yaitu harakatnya dakhil 5. Rass () , yaitu harakatnya huruf sebelum tasis 6. Taujih (), yaitu harakatnya huruf sebelum rawi muqayyad (rawi yang bertanda sukun). 4. Macam-macam Qafiyah Secara garis besarnya qafiyah terbagi 2 , yaitu mulaqah ( ) dan muqayyadah () . Masing-masing terbagi lagi atas beberapa macam sebagai berikut :

1. Qafiyah Mulaqah () , adalah jika rawinya berharakat, baik fathah, ammah, atau kasrah. Qafiyah jenis ini terbagi atas : 1.1. Terhindar dari tasis dan ridif (Muassasah dan Mardufah), akan tetapi rawinya bersambung dengan huruf layyinah atau ha waal atau disebut . Contoh : )# ) 1.2. yaitu qafiyah Mulaqah yang ada ridifnya dan yang bersambung dengan huruf layyinah atau dengan ha waal. 1.3. yaitu qafiyah Mulaqah yang ada tasisnya dan yang bersambung dengan huruf layyinah atau dengan ha waal. 2. Qafiyah Muqayyadah () , adalah jika rawinya sukun. Qafiyah jenis ini terbagi 3 : 2.1. Terhindar dari tasis dan ridif ( ) 2.2. yaitu qafiyah muqayyad yang ada ridifnya 2.3. yaitu qafiyah muqayyad yang ada tasisnya 5. Cacatnya qafiyah () Qafiyah akan cacat bila tekena 7 hal, yaitu : a. Ia (), yaitu mengulang-ngulang kata rawi pada bait berikutnya, baik secara lafal maupun makna. b. Tamin (), yaitu adanya kalimat yang tidak sempurna pada satu bait, lalu disempurnakan oleh bait kedua dan seterusnya. c. Iqwa () , yaitu adanya perbedaan harakat rawi antara satu bait yang berharakat kasrah dengan bait lainnya yang berharakat ammah di dalam satu qasidah d. Iraf (), jika harakat rawi yang satu adalah fathah, sedangkan yang lain ammah. e. Ikhfa (), yaitu jika huruf rawi yang satu dengan yang lain berbeda, akan tetapi berdekatan makhrajnya, seperti rawi yang pertama adalah lam ( ) , sedangkan yang lain nun (). f. Ijazah (), yaitu jika perbedaannya berjauhan makhrajnya, seperti lam ( ) dengan mim (). g. Sinad (), yaitu perbedaan antara bait satu dengan yang lainnya terletak pada huruf dan harakat sebelum rawi. Sinad ini terbagi 5 macam : g.1. Sinad ridif, adalah perbedaan ridif g.2. Sinad tasis, adalah perbedaan tasis g.3. Sinad Isyba, adalah perbedaan harakat dakhil g.4. Sinad Hawi, adalah perbedaan harakat sebelum ridif

g.5. Sinad Taujih, adalah perbedaan harakat huruf sebelum rawi muqayyad 6. Nama-nama qafiyah Ada 5 nama untuk Qafiyah : 1. Mutakawis () , yang artinya condong. Maknanya adalah Qafiyahnya mengandung 4 huruf hidup secara berurutan yang terletak diantara 2 huruf mati. 2. Mutarakib (), secara harfiah berarti datangnya suatu benda pada benda yang lain. Di sini bermakna tiap-tiap qafiyahnya terdiri atas 3 huruf hidup secara berurutan yang terletak di antara 2 huruf mati. 3. Mutadarak (), berarti saling bertemu. Maknanya di sini adalah tiap qafiyah mengandung 2 huruf hidup di antara 2 huruf mati. 4. Mutawatir (), berarti datangnya sesuatu sesudah sesuatu yang lain , dalam keadaan terpisah. Maknanya di sini adalah tiap qafiyah mengandung satu huruf hidup di antara 2 huruf mati. 5. Mutaradif (), artinya saling beriringan. Maknanya adalah tiap qafiyah mengandung dua huruf mati berurutan. PRAKTEK Itulah pembahasan sekitar ilmu Aru dan Ilmu Qawafy. Agar para pembaca tidakpusing, mari saya ajak untuk membaca puisi di bawah ini : A. Perhatikan Puisi al-Nabiah al-ubyani berikut ini : # 1. Menentukan nama puisi. Maka puisi di atas kita namakan Syir Mufrad atau Syir Yatim karena terdiri atas 1 baris saja. 2. Kita bagi belahan-belahannya. Maka Belahan pertama bait di atas kita sebut adr ( )atau atau . Belahan keduanya kita sebut Ajz ( )atau atau . 3. Mentaqti dan menentukan bahar serta mengetahui tafilah. Apabila kita taqti, maka akan menjadi : # //0// /0/0 /0//0/ //0//0 //0 ///0 /0/0/ /0/0/ /0//0 Kemudian untuk mengetahui baharnya, maka kita perhatikan taqti awal pada adr, ternyata bait ini diawali oleh watad (bukan sabab dan juga bukan failah). Artinya ada 3 pilihan tafilah awal, apakah , ataukah , ataukah . Bait di atas menunjukkan bahwa tafilah yang digunakan

adalah atau . Untuk memastikan bahar apa yang dipakai, mari kita tengok tafilah selanjutnya. Dibelakang ada yang untuk bahar awil, ada juga yang juga jika ia mutaqarib. Namun jika ia awalnya, berarti tafilah sesudahnya adalah juga dan itu adalah bahar mutaqarib.(coba sambil membaca bagan bahar). JIka agak sulit menemukan pada belahan pertama, cobalah pada belahan kedua. Pada bait ini tenyata baharnya adalah awil, mari kita buktikan : # //0/ / /0/0 /0//0/ //0//0 //0 / //0 /0 /0 / /0/0 / /0//0 4. Menentukan macam illah dan zihaf. Jika kita perhatikan pada hasywunya, maka akan kita lihat ada tafilah yang tidak sempurna, yaitu yang semestinya seperti pada tafilah ke-1, 3, dan 5. Ini adalah zihaf yang berjenis qabd, maka disebut . Demikian pula pada aru dan arabnya juga disebut . Sedangkan illah tidak ada. 5. Menentukan jenis bait. Maka bait di atas termasuk bait tam, karena tidak ada tafilah yang dibuang. 6. Menentukan qafiyah. 1. Kata : kata, yaitu 1 kata, yaitu 1 1/2 kata, yaitu 2 kata, yaitu 2. Huruf Qafiyah: Huruf ba ( ) pada ( )adalah Rawi ahih. 3. Harakat Qafiyah, yaitu mujra (harakat rawi mutlak). 4. Macam Qafiyah, bait di atas termasuk Qafiyah Mulaqah yang terlepas dari tasis dan ridif. 5. Cacat Qafiyah. Untuk melihat kecacatan suatu qafiyah, sebenarnya kita harus melihat bait perbait dalam satu qasidah, namun karena bait di atas hanya ada 1 bait saja, maka Bait tadi dapat kita katakan di sini tidak terdapat cacat. 6. Nama Qafiyah. Bait di atas Qafiyahnya bernama mutadarak, karena 2 huruf hidup yang terakhir diapit oleh huruf mati. B. Mari saya ajak menciptakan satu saja bait puisi Arab dengan bekal ilmu Aru dan Qawafy di atas : 1. Menentukan tema.

Saya akan membuat puisi sedih, yaitu tentang perasaan hati yang sedang merindu karena harus berpisah lama 2. Menentukan bahar. Karena tema yang saya pakai adalah tema kesedihan, maka bahar yang cocok adalah bahar ramal (), polanya : # 3. Mencari kata demi kata yang sesuai dengan pola : # # Artinya : Sesak terasa dada dan nafasku dan akupun terasa pingsan, walau kau lihat aku tidak menghentikan langkahku. 4. Mari kita taqti dan tentukan tafilah sesuai pola : # /0//0 /0 /0 /0/0 / //0 / # /0 //0/ /0/ /0 / ///0 /0 # 5. Apakah ada zihaf dan ilal di situ ? Tafilah pertama dan kedua sempurna Tafilah ketiga ada Syakl ( )dari jenis zihaf Mujdawaj maka disebut Masykul ( )yaitu gabungan antara Khaban ( )dan Kaff (). Tafilah keempat dan kelima ada Kaff (). Tafilah keenam ada Khaban () 6. Puisi di atas kita namakan Syir Mufrad atau Syir Yatim karena terdiri atas 1 baris saja. 7. Menentukan jenis bait. Maka bait di atas termasuk bait tam, karena tidak ada tafilah yang dibuang 8. Menentukan qafiyah. 8.1. Kata : kata, yaitu 1 kata, yaitu 1 1/2 kata, yaitu 2 kata, yaitu 8.2. Huruf Qafiyah: a. Huruf Rawi adalah Huruf ta ( )pada () b. Huruf Waal adalah huruf pada akhir kata c. Huruf Ridif adalah Alif ( )sebelum ta ( )rawi 7. Harakat Qafiyah, yaitu a. mujra (harakat rawi). b. Hawu, yaitu harakat sebelum ridif yaitu fathahnya huruf waw ()

8. Macam Qafiyah, bait di atas termasuk Qafiyah Mardufah 9. Cacat Qafiyah. Untuk melihat kecacatan suatu qafiyah, sebenarnya kita harus melihat bait perbait dalam satu qasidah, namun karena bait di atas hanya ada 1 bait saja, maka Bait tadi dapat kita katakan di sini tidak terdapat cacat. 10. Nama Qafiyah. Bait di atas Qafiyahnya bernama mutawatir, karena 1 huruf hidup yang terakhir diapit oleh 2 huruf mati. Penutup Demikianlah, dengan metode praktis saya coba persembahkan tulisan ini. Melalui bagan-bagan yang ada kita dapat dengan mudah praktek membaca puisi Arab tradisional. Praktek membaca ini dapat dibantu dengan buku-buku yang banyak memuat bermacam-macam puisi Arab, seperti al-Balaah alwaihah karya Ali al-Jarimy dan Mutafa Amin. Akhirnya, Mudah-mudahan tulisan ini dapat dipahami dan bermanfaat bagi siapa saja yang tertarik dengan puisi Arab. REFERENSI Abu al-Abbas Syamsuddin Ahmad ibn Muhammad ibn Abi Bakr Khallikan, Wafayat al-Ayan juz.2, Beirut: Dar Sadir, 1900 Ahmad Hasan al-Ziyyat, Tarikh adab al-Arab, Kairo: dar al-Nahah Mir li al-abI wa al-Nasyr, Tth., Cet. Ke-24 Chotibul Umam, Fi ilm al-Aru, Jakarta:Hikmah Syahid Indah, 1992, Cet. Ke-2 Masan Hamid, Ilmu Arudl dan Qawafi, Surabaya: Al-Ikhlas, 1995, Nayif Maruf, al-Mujazu al-Kafi fi Ulum al-Balaah wa al-Aru, Beirut:Dar Beirut al-Mahrusah, 1993 Peter Salim dan Yenni Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Jakarta: Modern English, 1991 Syauqi aif, al-Fann wa maahibu fi S

Anda mungkin juga menyukai