Anda di halaman 1dari 52

KD IV TATAP MUKA KE I RADIOAKTIF: Becquerel, pada tahun 1896 menemukan senyawa Uranium yang memancarkan sinar tak tampak

yang dapat menembus bahan yang tidak tembus cahaya serta mempengaruhi emulsi fotografi. Pada tahun 1896 Marie curie menunjukan bahwa inti uranium dan banyak unsur lain bersifat memancarkan salah satu partikel alfa, beta atau gamma. Unsur inti atom yang mempunyai sifat memancarkan sinar sinar tersebut disebut Inti Radioaktif. 1. SINAR ALFA Merupakkan partikel yang dipancarkan oleh sebuah inti yang terdiri dari 4 buah nukleon yaitu 2 proton dan 2 neutron. Oleh karena Sinar alfa terdiri dari 2 proton dan 2 neutron maka sinar merupakan inti Helium. Sinar alfa mempunyai daya tembus sangat kecil sehingga pemakaiannya sangat kecil dalam radioterapi. sangat keciterbatas dalam radio terapi.

Daya tembus sinar alfa dalam udara sejauh 4 cm, terhadap materi yang lebih padat daya tembus semakin pendek, misalnya pada selebaran kertas, partikel alfa tidak dapat menembusnya. Energi sinar alfa sebesar 5,3 MeV , apabila terjadi tumbukan dengan elektron , partikel alfa akan kehilangan energi sebesar 100 MeV. Pada waktu energi tinggal 1 Mev, partikel alfa menangkap 2 buah elektron sehingga menjadi atom helium yang netral. Partikel alfa tidak mengalami pembelokan hal ini disebabkan massa partikel alfa sangat besar dibandingkan dengan massa elektron. Elektronelektron akan tepental pada waktu terjadi tumbukan , dengan partikel alfa.

Hubungan antara energi dan jarak tembus partikel alfa dapat dinyatakan dengan rumus: E = 2,12 R pangkat 2/3 E = energi dalam MeV. R = jarak tembus dalam cm. 2. Sinar beta atau partikel beta merupakan partikel yang dilepas atau terbentuk pada suatu nulkeon inti. Partikel beta ini dapat berupa elektron bermuatan negatif (negatron) ,elektron bermuatan positif (positron) .

Besar energi partikel beta berkisar antara 0,01 MeV sampai 3MeV. Daya tembus partikel beta ini kurang lebih seratus lebih jauh dari pada jarak tembus partikel alfa. Partikel beta 1 MeV dapat menembus air 0,4 cm. Sinar beta juga dapat menyebabkan atomatom yang dilalui mengalami tingkat energi (pengion). Partikel beta mudah dibedakan pada pertumbukan dengan elektron-elektron atom oleh karena massa partikel beta sangat kecil. Jarak tembus partikel beta positron (positif) hampir sama hampir jarak tembus partikel beta negatron (negatif). Positron dapat mendekati elektron atom sampai dekat sekali bahkan bersatu Dengan elektron itu akan berubah menjadi sinar gamma. Proses ini disebut Anihilasi. Hubungan antara energi maksimum partikel beta dan jarak tembusnya (secara emperis ) dapat dinyatakan dengan rumus:

Rumus : R = 0,543 E 0,160 E = Energi maksimum dalam MeV R == Jarak tembus dalam satuan gram/cm persegi. Sinar beta /partikel beta yang bermuatan negatif (negatron) berasal dari kulit atom; Apabila akselerasi di dalam pesawat seperti linier akselerator, maka partikel tersebut disebut Elektron. 3. Neutron Merupakan partikel tidak bermutan listrik yang dihasilkan dalam reaktor nuklir. Neutron tidak menimbulkan ionisasi, namun mempunyai energi. Pengurangan energi neutron melalui interaksi dengan inti atom.

Proses pengurangan energi melalui: a. Peristiwa hamburan (scattering). b. Reaksi inti (masuknya neutron ke dalam inti sehingga terbentuk sebuah inti yang berisotop). c. Reaksi fisi (neutron diserap inti , akibatnya terbentuk 2 inti menengah dan beberapa neutron serta tenaga). d. Peluruhan (inti yang telah terbentuk dengan masuknya neutron

akan melepaslkan salah satu partikel alfa , proton , deutron atau triton). Kebanyakan kehilangan energi neutron melalui hamburan. Neutron dipakai untuk pengobatan tumor otak. Caranya Jika cairan Boron disuntikkan pada penderita dengan tumor otak, akan terjadi konsentrasi boron yang tinggi da lam jaringan tumor.

4. Proton Ialah inti zat cair yang bermuatan positip. Dalam radio terapi proton dipakai untuk menghancurkan kelenjar hipofisis. 5. SINAR GAMMA DAN SINAR X Terbentuknya sinar gamma merupakan hasil disintergrasiinti atom. Inti atom yang mengalami disintergrasi dengan memancarkan sinar alfa akan terbentuk inti-inti baru dengan memiliki tingkat energi yang agak tinggi. Kemudian terjadi proses transisi ke tingkat energi yang lebih rendah atau tingkat dasar sambil memancarkan sinar gamma .

Sinar gamma sama halnya dengan sinar X, termasuk gelombang elektromagnetis ; jika sinar gamma menembus lapisan materi setebal y maka intensitas akan berkurang Sinar X. Merupakan sinar katoda dan termasuk gelombang elektromagnetis. Timbulnya sinar X oleh karena ada perbedaan potensial arus searah yang besar di antara kedua elektroda (katoda dan anoda ) dalam sebuah tabung hampa. Berkas elektron akan dipancarkan dari katoda menuju anoda; pancaran elektron-elektron ini disebut sinar katoda atau sinar X. Tabung sinar X

Arus listrik yang dipakai itu untuk memanaskan filamen sehingga filamen dapat memberi elektron ; elektron-elektron ini akan dipercepat dari katoda ke anoda. Perbedaan tegangan antara katoda ke anoda dalam orde 20 KeV sampai 100 KeV . Di klinik biasanya menggunakan 80-90 KeV . Sinar X dan sinar gamma mempunyai sifat yang sama oleh karena keduanya adalah gelomba ng ektromagnetis. Sejak ditemukannya X oleh WC. Roentgen (sarjana Fisika dari Universitas Wurzburg Jerman ) banyak sarjana melakukan penelitian akan sinar X. Sinar-sinar X dapat dinyatakan: a. Menghitamkan plat potret (film). b. Mengionisasi gas c. Menembus berbagai zat. d. Menimbulkan fluorosensi e. Merusak jaringan.

ENERGI ABSORPSI. Pada penyinaran akan terjadi pemindahan atau penyerapan energi radiasi ke dalam materi/jaringan tubuh yang disinari. Berdasarkan energi radiasi yang diserap maka dibagi dalam 3 proses absorpsi radiasi yakni: 1. Efek fotolistrik 2. Efek kompton 3. Pembentukan sepasang elektron (pair production). Efek Fotolistrk Pada penyinaran , energi radiasi akan diserap seluruhnya. Energi yang diserap itu dipergunakan untuk mengeluarkan elektron dari ikatan inti

Peristwa ini dialami elektron elektron pada kulit bagian dalam misalnya kulit K. Elektron yang dikeluarkan / terpancar keluar dimamakan foto elektron dengan membawa energi kenetik sebesar: E = h fo-Ei Ei = energi ikatan elektron h=konstanta Planck. Proses pengeluaran elektron ini terjadi pada penyinaran dengan energi foton yang mudah kira-kira 50 KeV. EFEK KOMPTON Energi radiasi hanya sebagian saja diserap untuk mengeluarkan elektron dari atom (foto elektron) sedangkan sisa energi akan terpancar sebagai scattered radiation /hamburan radiasi dengan Energi yang lebih rendah dari pada energi semula. Efek Kompton terjadi pada elektron-elektron bebas atau terikat secara lemah pada lapisan kulit yang terluar pada penyinaran dengan energi radiasi yang lebih tinggi yaitu berkisar antara 2001000KeV.

Pembentukan sepasang elektron (pair production). Yaitu suatu proses pembentukan positron dan elektron melalui energi radiasi sinar gamma yang melebihi 1,02 MeV yaitu energi massa positron + elektron. Proses ini terjadi apabila radiasi dengan Energiyang sangat tinggi mendekati atau memasuki medan listrik atom/inti. Energi radiasi ini akan berubah menjadi elektron dan positron . Ini sesua dengan teori Einstein yang menyatakan bahwa energi ekivalen dengan massa dan dapat dilukiskan dengan rumus: E = mCkwadrat E = energi dalam erg m = massa dalam gram C = kecepatan gelombang elektromagnetis = 3 X 10 pangkat 10 cm/detik.

Proses terjadinya positron dan elektron (menjadi 2 sinar gamma) masing-masing dengan 0,51 MeV dinamakan proses Annihilasi. Setelah kehilangan energi karena ionisasi sepanjang perjalanannya , positron bisa bergabung dengan sebuah elektrondan lenyap bersama-sama dalam bentuk energi yang lain. Pembentukan sepasang elektron-positron dan proses Annihilasi dengan absorpsiradiasi yang sangat tinggi, mencapai 1, 02 MeV ke atas. 0,51 MeV + positron sinar gamma + Enersi Radiasi elektron 0,51 Mev 1,02 Mev keatas sinar gamma

KD IV TATAP MUKA KE II Pengaruh radiasi gelombang mikro terhadap kesehatan: Gelombang mikro mempunyai pengaruh buruk terhadap kesehatan yaitu disebabkan oleh pengaruh thermal dan non thermal (medan elektromagnetik,efek molekuler dan modulasi) dari radiasi gelombang tersebut. Penelitian akibat paparan radiasi gelombang mikro sebagian besar dilakukan dengan percobaan binatang, sedang penelitian terhadap manusia masih sangat terbatas, dan ternyata hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaparan terhadap gelombang mikro diduga dapat menyebabkan terjadinya gangguan syaraf pusat (yang dapat menimbulkan keluhan sakit kepala, gangguan emosi, kelelahan, sakit dada dsb), kardiovaskuler, reproduksi dan leukemia.

Apabila tubuh tenaga kerja atau seseorang terpajan oleh gelombang mikro, umumnya akan terjadi proses absorpsi, pantulan, penetrasi (menembus) dan penyebaran. Proses semacam itu akan tergantung dari panjang gelombang dan sifat-sifat gelombang udara. Gelombang mikro dengan panjang gelombang : 3 cm : umumnya diabsorpsi pada permukaan kulit paling luar (stratum korneum kulit) dan karena pengaruh thermal maka kulit terasa panas. 3-10 cm : terjadi penetrasi lebih dalam (1 mm- 1 cm) 10-20 cm : terjadi penetrasi dan absorbsi cukup besar yang mempunyai potensi merusak organ tubuh bagian dalam.

Pada frekuensi 300 MHz dengan panjang gelombang =1cm, maka kedalaman penetrasi berubah cepat dengan frekuensi 3000 MHz. Pemajanan terhadap gelombang mikrodengan frekuensi 3000MHz penetrasi dapat sedalam kurang lebih 16 mm, sedang pemajanan terhadap gelombang mikro dengan frekuensi 10000 MHz penetrasi sedalam kurang lebih 4mm. Untuk sinar dengan intensitas dan frekuensi tertentu, maka gelombang makro tidak dapat diabsorpsi seluruhnya.

Jumlah energi gelombang mikro yang diabsorpsi berbedabeda untuk setiap jenis jaringan. Absorpsi gelombang mikro bertambah bila kandungan air di dalam jaringan tubuh naik. Oleh karena kulit, organ mata dan isi rongga perut mempunyai kandungan air yang sangat tinggi, maka absorpsi gelombang mikro menjadi lebih efektif daripada jaringan lemak dan tulang yang kandungan airnya lebih sedikit (hanya sedikit) Akibat radiasi gelombang mikro yang cukup adalah terjadinya katarak pada mata dan pada dosis yang lebih tinggi dapat merusak kornea. Frekuensi gelombang mikro yang terutama dapat perubahan ini terlrtak pada frekuensi dengan kisaran antara 1000-3000 MHz

c. Pengenalan terhadap bahaya radiasi gelombang mikro Upaya untuk mengenai adanya beberapa radiasi gelombang mikro dapat dilakukan dengan cara mengetahui adanya keluhan-keluhan dari tenaga kerja yang merupakan suatu ungkapan dari gejala gangguan kesehatan sebagai akibat pemajanan terhadap radiasi gelombang mikro yang dipancarkan dari mesin atau peralatan elektronik yang menggunakan gelombang mikro sebagai sumber energi. Alatalat dimaksud antara lain: peralatan di stasiun pemancar, radar komunikasi, radar pelacak, radar pengendali lalu lintas udara, diathermy, alat pemanas yang digunakan di industri lain-lain. Keluhan-keluhan yang dijumpai di lingkungan tempat kerja yang terpajan radiasi gelombang mikro antara lain:

Keluhan terhadap kulit Sebagai akibat radiasi gelombang mikro, maka kulit yang ada di permukaan (kulit paling luar) yang menderita dan pada umumnya keluhan yang ditemui adalah rasa panas. - Keluhan terhadap perut Keluhan terhadap perut sebagai akibat radiasi gelombang mikro adalah perasaan tidak nyaman, yang kadang-kadang diikuti sakit perut (diarrhea). Sebagaimana diketahui rasa tidak nyaman ini juga dapat disebabkan oleh penyebab lain atau kondisi-kondisi kesehatan yang lainpun ikut berperan (Jadi tidak berperan)

- Keluhan terhadap mata Mata merupakan salah satu organ tubuh yang sangat sesitif terhadap radiasi gelombang mikro. Keluhan yang timbul sebagai akibat pemajanan radiasi gelombang mikro adalah perasaan penglihatan yang semakin lama semakin kabur (secara berangsur-angsur penglihatan menjadi semakin kabur). Jadi apabila di kalangan tenaga kerja yang menggunakan gelobang mikro sebagai sumber energi ditemukan keluhan-keluhan seperti tersebut dia atas (terutama keluha pada kulit dan mata), maka pimpinan atau tenaga ahli Keselamatan Kerja atau Ahli Higene Industri harus segera melakukan evaluasi terhadap faktor lingkungan kerja tersebut, dan selanjutnya melakukan upaya pengendalian.

d. Evaluasi terhadap bahaya radiasi gelombang mikro Langkah-langkah yang harus dilalui dalam kegiatan evaluasi terhadap bahaya radiasi gelombang elektromagnetik khususnya evaluasi terhadap gelombang mikro (frekuensi radio) adalah sebagai berikut: - Pertama: mengadakan pengenalan (survei pendahuuan) terhadap bahaya gelombang mikro (frekuensi radio) dengan cara mengetahui apakah ada keluhan-keluhhan dari tenaga kerja yang merupakan tanda-tanda sebagai akibat terpajan gelombang mikro (frekuensi radio) Disamping itu juga perlu mengetahui letak sumber radiasi, arah dan jaraknya dari tenaga kerja yang terpajan, juga frekuensi dari sumber, serta kemungkinan adanya sumber-sumber lain yang dapat mempengaruhi radiasi dan lain-lain.

- Kedua: menentukan alat pengukur intensitas gelombang mikro yang akan digunakan di lapangan dan mengkalibrasikan sebelum dipakai. - Ketiga: melakukan pengukuran dan hasilnya dibandingkan dengan standar atau Nilai Ambang Batas (NAB) yang berlaku. 1. Standar Standar pajanan di lingkungan tempat kerja untuk frekuensi radio/gelombang mikro sangat diperlukan untuk melindungi kesehatan tenaga kerja dari pengaruh buruk pemajanan radiasi frekuensi radio/radiasi gelombang mikro.

Untuk Amerika satandar radiasi frekuensi radio/radiasi gelombang mikro disusun oleh ACGIH Dan diapdosi oleh OSHA (Occupational Safety and Health Administration) yang selanjutnya ditetapkan oleh pemerintah federal sebagai peraturan pemerintah (regulation). Standar tersebut disebut Threshold Limit Value (Nilai Ambang Batas) adalah sebagai berikut:

NAB frekuensi radio/gelombang mikro elektromagnetik f = frekuensi dalam MHz

medan

Frekuensi

30 100 kHz 100 kHz 3 MHz 3 30 MHz

Power Kekuatan Kekuatan Density Medan Medan (mW/cm2) Listrik (vlm) Magnet (Alm) 614 614 16,3 16,3/f 16,3/f

Waktu ratarata E2. H2 atau S (menit) 6 6 6 6

30 100 614 MHz 100 300 MHz 1 1842/f 300 MHz 3 GHz f/300 61,4 3 15 GHz 15 300 GHz 10 10 61,4

16,3/f 16,3/f 16,3/f 16,3/f

6 6 6 616000/f1.2

Di Indonesia juga telah memiliki standar frekuensi radio/gelombang mikro yang ditetapkan oleh Komisi Tetap Nilai Ambang Batas (NAB) yang selanjutnya disahkan sebagai keputusan Menteri Tenaga Kerja no. 51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisik di tempat kerja (digabung dengan Nilai Ambang Batas untuk Faktor Fisik lainnya). NAB untuk frekuensi radio/gelombang mikro ditetapkan oleh Komisi Tetap NAB bukan merupakan hasil dari penelitian, naun diadopsi dari TLV yang disusun oleh ACGIH tahun 1996 yang isinya adalah sebagai berikut : NAB untuk gelombang mikro./frekuensi radio dengan frekuensi terletak pada kisaran 3-300 GHz dibatasi maksimum 10mW/cm2 . Standar atau NAB ini berlaku untuk pemajanan seluruh tubuh dari satu sumber pemajanan atau lebih, dengan rata-rata waktu pajanan tidak boleh melebihi 6 menit

Selama waktu kerja (8 jam sehari)

KD IV TATAP MUKA KE III SUMBER RADIASI Bebwrapa sumber radiasi yang sering dipakai adalah: 1. Radiasi sinar X berasal dari pembangkit generator listrik yang merupakan sumber radiasi yang paling banyak digunakan dalam level kilovolt (KV) dan megavolt. Untuk diasnotik pada umumnya dipakai kekuatan dalam level KV dan sedikit untuk terapi superfisial. Sedangkan level MV pada umumnya digunakan untuk tujuan terapi.

2. Radiasi elektron dihasilkan oleh linier akselerator atau betaron yang pada umumnya digunakan untuk tujuan terapi. 3. Bahan radioaktif dapat berupa bahan radioaktif terbungkus yang terdapat dalam selubung permanen (misalnya jarum radium dan jarum cobalt) dan bahan radioaktif tak terbungkus (misalnya dalam bentuk cair, radiogold coloid, radiophosphorus solution). Radiasi yang dipancarkan dapat beruoa radiasi alfa yang mana penggunaannya dalam diagnosis dan terapi sangat terbatas karena daya tembusnya yang sangat kurang tidak mampu menembus selembar kertas atau lapisan kulit tanduk, meskipun mempunyai pancaran energi yang tinggi.

Radiasi beta berupa radiasi elektron , yang mana pacaran radiasi beta murni digunakan dalam pengobatan lesi di permukaan , dan radiasi gamma merupakan radiasi elektromagnetik yang banyak digunakan untuk tujuan diagnostik dan terapi. INTERAKSI RADIASI DENGAN MATERI Radiasi sinar X dan sinar gama , merupakan radiasi elektromagnetis yang apabila melewati suatu bahan atau materi akan mengalami interaksi. Proses interaksi yang terjadi dapat berupa: 1. Absorpsi fotoelektris dimana energi foton diserap semuanya. 2. Absorpsi Campton scatering , dimana sebagian dari energi diserap.

3. Produksi pasangan , dimana pada interaksi terjadi pembentukan pasangan energi . Dalam proteksi radiasi jumlah energi yang diberikan kepada materi dengan cara penyerapan radiasi adalah hal yang utama. Dosimetri dasar menyangkut masalah memperkirakan secara baik penyerapan energi ini. BESARAN DAN SATUAN RADIASI Rontgen (R) adalah satuan nilai penyinaran sinar X atau sinar gamma . Nilai sinaran ini adalah muatan listrik dari ion bertanda sama yang dihasilkan dalam suatu volume dan massa udara dengan kondisi tertentu dimana IR =2,58 x 1o pangkat -1 Coulomb/kg. Untuk sinar-X dan sinar gamma dengan energi sampai 3MeV yang melalui air,

atau jaringan lunak, suatu penyinaran sebesar IR ekivalen dengan dosis serap sebesar 0,93 0,98 rad. Radiation absorb dose (rad) adalah satuan serap dan satu rad sama denan enerji sebesar 0.01 joule yang diserap oleh satu kilogram bahan dari suatu radiasi pengion. Dosis serap dari suatu radiasi partikel juga dinyatakan dalam rad. Radiation equivalent man (Rem) adalah setiap radiasi ionisasi yang menyebabkan pengaruh biologis yang sama dengan 1 rad sinar-x atau sinar gamma. Satuan ini diciptakan karena dosis serap yang sama dalam satuan rad tetapi yang berasal dari radiasi yang berbeda-neda tidak selalu menghasilkan tingkat efek radiasi biologis yang sama, beberapa jenis radiasi secara biologis adalah lebih sefektif dari yang lainnya.

Untuk tujuan proteksi radiasi, dimanan radiasi campuran mungkin harus diperhatikan pengaruh perbedaan ini diperhitungkan dengan faktor kualitas yang menghubungkan pengaruh radiasi lainnya dengan sinar cobalt-60. Dosis radiasi yang diijinkan ditentukan dalam rem. Penentuan dosis ekivalen menjadi amat penting bila mempertimbangkan dosis terhadap organ-organ kritis tubuh. Curie (Ci) adalah satuan yang menyatakan aktivitas suatu radionuklida yaitu laju peluruhan atom. Satu Ci = 3.70 x 1010 disintegrasi (peluruhan) perdetik. Dalam mengevaluasi radionukliada dari segi bahaya, aktisumber adalah merupakan faktor yang cukup penting akan tetapi jenis radiasi dan enerjinya harus juga diperhatikan.

EFEK BIOLOGIS RADIASI PENGION Dalam dunia kedokteran efek biologis radiasi dapat dipakai untuk mengobati pasien, misalnya dalam pengobatan radioterapi pada pasien dengan keganasan. Efek biologis utama dari radiasi engion adalah merusak sel dan jaringan yang dipakai sebagai dasar dalam pengobatan pada radioterapi tetapi sebaliknya tidak diinginkan dalam cabang kedokteran radiasi lainnya. Tanpa dapat dihindari banyak radiasi yang tidak diinginkan yang digunakan dalam radiologi nuklir diserap di dalam tubuh dan jika cukup besar mungkin bisa menyebabkan akibat sampingan yang tidak dikehendaki. Kemungkinan terjadinya efek sampingan mungkin bukan merupakan kontraindikasi untuk suatu prosedur medik asal saja tidak terdapat prosedur lainan yang kurang merugikan.

Dalam hal ini telah banyak pemikiran dan riset eksperimental yang dilakukan pada radisasi pengion dengan tujuan agar dapat dimengerti dan dievaluasi efeknya terhadap kehidupan. Efek biologis radiasi pengion menurut terjadinya akibat dapat berupa efek cepat (early effect) yang terjadi dalam beberapa jam sampai satu tahun dan efek lambat (late effect) yang terjadinya setelah waktu satu tahun. Jenis efek biologis yang terjadi dapat digolongkan dalam: 1. Efek somatis yang pasti (non stokastik), misalnya eritema kulit, teleangiektasis dan fibrosis sumsum tulang. 2. Efek somatis yang tidak pasti (stokastik), misalnya lekemia. Pada umumnya merupakan efek lambat dari akibat radiasi yang tidak pasti atau belum tentu terjadinya. 3. Efek genetik merupakan efek lambat yaitu jika terjadi kerusakan DNA dan terjadi mutasi gen. Pada umumnya merupakan efek somatis yang stokastik.

EVALUASI RESIKO PADA PEKERJA RADIASI DAN PASIEN Evaluasi resiko untuk tiap penggunaan radiasi dan radionuklida di satu pihak didasarkan pada kemungkinan dan keparahan dari efek somatik yang pasti tampak, efek somastik stokastik, dan efek genetik dan di lain pihak didasarkan pada keuntungan kesehatan dari penggunaan radiasi yang sesuai. Evaluasi resiko atau manfaat dari penyinaran radiasi terhadap perorangan telah banyak dilakukan terutama yang terjadi di dalam rumah sakit baik pada pekerja radiasi, maupun pasien yang berupa penelitian perongan, institusi ataupun badan internasional seperti Komite Ilmiah dari PBB tentang Efek Radiasi Atom (UNSCEAR) , IRCP, IAEA, dan WHO.

EVALUASI RESIKO UNTUK PEKERJA RADIASI Pekerja radiasi adalah setiap orang yang karena tugas dan jabatannya selalu berhubungan dengan medan radiasi dan oleh instansi yang berwenang selalu memperoleh pengamatan dosisi radiasi yang diterimanya. Di dalam Rumah Sakit, terutama di Instalasi Radiologi baik radiologi diagnostik, radiologi terapi maupun radiologi nuklir termasuk disini adalah personilnya yaitu dokter, radiografer dan karyawan lainnya. Penyinaran radiasi terhadap pekerja radiasi dibatasi oleh Nilai Batas Yang Diijinkan yang dianjurkan oleh ICRP yang nilai besarannya ditentukan di dalam Keputusan Kepala BAPETEN No.01/Ka-BAPETEN/V-99. Nilai batas dosis ini adalah suatu nilai yang apabila diterima tidak mempunyai efek baik somatik maupun genetik, akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa di bawah nilai batas dosis, harus diterima dan aman.

EVALUASI RESIKO UNTUK PASIEN PADA DIAGNOSIS DENGAN SINAR-X Pasien yang mendapat pemeriksaan radiologi diagnostik, resiko yang memungkinkan dapat mengakibatkan efek somatik yang pasti harus dihindari bahkan eritema kulit dan menurunnya sementara jumlah sel darah putih tidak boleh terjadi. Penyinaran terhadap janin sedapat mungkin harus dihindari. Secara khusus harus diperhatikan genetically significant dose terhadap pasien yang mendapatkan pemeriksaan radiologi.

EVALUASI RESIKO PADA PASIEN DALAM RADIOLOGI TERAPI Pada pasien yang mendapatkan pengobatan penyinaran (radioterapi) oleh karena penyakit tumor ganas yang diidapnya, pada kenyataannya adanya efek somatik sampingan harus diterima agar dapat memperoleh efek teraputik yang diinginkan, sedangkan konsekuensi somatik stokastik dapat diabaikan jika dibandingkan dengan keuntungan yang dapat diperoleh, juga efek genetik diabaikan karena jumlah kasus yang terjadi sangat kecil. Dala pengobatan radiasi terhadap tumor jinak, jika terjadi efek somatik kurang dapat diterima dan resiko somatik stokastik serta efek genetik harus dipertimbangkan oleh dokter yang bertanggung jawab.

KD IV KULIAH KEIV.

Yang dimaksud dengan radiasi pengion adalah radiasi sinar X atau sinar gamma. Untuk mengetahui efek radiasi pengion ini perlu mengetahui beberapa pengertian satuan yang digunakan dalam radiasi. Satuan dosis dalam radiasi pengion Mula-mula dosis yang digunakan dalam radiasi pengion adalah dosis erithema yaitu banyaknya radiasi sinar X yang menyebabkan kulit kemerahan. Starting (1930), melakukan penyinaran radiasi terhadap penderita.

Radiasi terhadap penderita kemudian diukur dalam satuan Rontgen disingkat r, dan tahun 1960 r diganti dengan Roentgen . Roentgen adalah satuan dari pada banyaknya radiasi (unit of exposure ). Definisi atau arti satu roentgen ialah: Banyaknya radiasi sinar X atau sinar gamma yang menimbulkan ionisasi di udara pada 0, 001293 gram udara sebanyak satu satuan muatan elektrostatis. Radiasi sinar X atau sinar gamma yang mengenai suatu areal tertentu dikenal dengan nama satuan rap (Roentgen area product) di mana satu rap sama dengan radiasi 100 R pada setiap 1 cm pangkat2 maka: 1 rap = 100 R cm pangkat 2.

Satuan Roentgen ini hanya berdasarkan ionisasi yang terjadi di udara dan hanya berlaku bagi sinar X dan sinar gamma saja serta tidak menunjukkan jumlah banyaknya absorpsi bagi sembarang radiasi. Satu rad didefinisikan sebagai dosis penyerapan energi radiasi sebanyak 100 erg bagi setiap gram benda/jaringan 1 rad is an energy absorption of 100 erg per gram of meter. 1 rad = 100 erg/g = 0,01 Joule/Kg jaringan Untuk sinar X dan sinar gamma dosis sebesar 1 rad hampir sama dengan dosis 1 R per gram air. Tetapi untuk jaringan absorpsi radiasi akan lebih banyak daripada air, dan akan memberikan dosis rad yang lebih besar misalnya 1 R sinar X pada tulang = 4 rad.

Untuk energi radiasi yang tinggi pada penggunaan radioterapi perbandingan antara rad dan Roentgen mendekati 1 baik untuk tulang maupun untuk jaringan. Pada tahun 1975 International Comission on Radiological Unit (ICRU) memakai Gray (Gy) sebagai dosis satuan internasional (SI). Pemakaian satuan Gy ini untuk menghormati tuan Harold Gray, seorang ahli fisika kedokteran berkebangsaan Inggris yang menemui efek oksigen pada sel-sel yang diradiasikan. Satu Gy adalah dosis radiasi apa saja yang menyebabkan penyerapan energi 1 Joule pada 1 Kg zat penyerap maka : 1 Gy = 1 J/Kg = 107 erg/Kg = 100 rad.

Hubungan antara rad dan Roentgen Bertolak belakang dari pengertian Roentgen, jika energi untuk membentuk sepasang ion diketahui dapat dicari hubungan antara rad dan Roentgen. Misalnya energi untuk membentuk sepasang ion adalah 34 eV; sedangkan satu ion = 4,8 x 10-10 sme, maka : 1 . ion = 2,08 x 109 ion. 1 sme = 4,8 x 10-10 Energi untuk membentuk sepasang ion : 34 eV. = 34 x 1,6 x 10-12 erg = 5,4 x 10-11 erg Catatan : 1 s m e = 1,6 x 10-12 erg

Energi untuk membentuk 2,08 x 109 ion. = 2,08 x 109 x 5,4 x 10-11 erg = 0.112 erg. Jadi, 1 R = 0,112 erg/0,0001293 gram udara. Dari uraian di atas diperoleh hubungan antara rad dan Roentgen yaitu : Rad = R x 0,87 x F F = faktor yang nilainya tergantung pada energi radiasi. Pada tabel di bawah ini menunjukkan beberapa nilai rad/R untuk jaringan lunak dan tulang energi radiasi yang berlainan. Catatan : 1 R = 2,58 x 10-4 Coulomb/Kg udara.

Tabel : Voltage Saringan (filter) KV 50 2 mm Al 70 100 150 200 200 250 2 mm Al 2 mm Al 0,5 mm Cu 0,5 mm Cu Thoracus I Thoracus II rad/ R Jaringan lunak 0,92 0,92 0,93 0,94 0,95 0,95 0,95 Tulang

4,2
4,1 4,0 2,3 1,5 1,5 1,1

300 Thoracus III Cs 137 (0,66 MeV)


Cs 60 (1,25 MeV) Rata-rata

0,96 0,96
0,96

1,05 0,93
0,92

Pada tabel di atas ini terlihat bahwa dengan energi radiasi yang berlainan variasi rad/R untuk jaringan lunak sangat kecil, sedangkan untuk tulang sangat besar, nilai rad/R sampai 4 kali lebih tinggi untuk energi rendah dari pada energi tinggi. Pada penyinaran dengan 100 kV sinar X, jaringan lunak dan tulang diberi 500 R maka dosis yang diserap tidak sama.

Untuk jaringan lunak, dosis 500 x 0,93 = 463 rad. Untuk tulang, dosis 500 x 4,0 = 2.000 rad. Dari contoh di atas menunjukkan bahwa banyaknya radiasi yang diberikan sama akan tetapi dosis yang diserap berlainan. Efek penyinaran tergantung kepada dosis yang diserap maka dipakai rad sebagai kesatuan dosis dalam radioterapi. Selain satuan rad, Roentgen )R), rap, dan Gy ada pula satuan lain yang menekankan efek biologis daripada radiasi pengion yaitu RBE (Relative Biologic Effectiveness) dan Rem (rad Equivalent Man), Reb (Rad Equivalent Biological).

RBE Pelbagai radiasi memberikan efek biologis yang tidak sama. Dengan perkataan lain pelbagai radiasi mempuyai RBE yang berlainan. Definisi RBE ialah perbandingan dosis sinar X, 250 KV dengan dosis radiasi lain yang memberikan efek biologis yang sama, atau :
dosis sinar X, 250 KV yg memberikan efek biologis tertentu R B E =dosis suatu radiasi lain yang memberikan efek biologis sama

Misalnya efek biologik dari 100 rad suatu radiasi sama dengan 300 rad 250 KV sinar X, maka suatu RBE suatu radiasi ialah 3.

REM (Rad Equivalent Man) Merupakan suatu unit untuk menyatakan banyaknya ekivalen dosis. Ekivalen dosis didefinisikan sebagai rad x faktor kwalitas dari radiasi. Sedangkan faktor kwalitas berkaitan dengan RBE maka : dosis dalam rem = dosis dalam rad x RBE Satuan rem dipakai pada proteksi radiasi sedangkan RBE dipakai dalam radioterapi. Efek Biologis yang Timbul oleh Radiasi Pengion Radioterapi dengan sinar X, sinar gamma atau partikel isotop radioaktif pada hakekatnya tergantung daripada energi yang diabsorpsi baik secara efek fotoelektris maupun efek Kompton yange menimbulkan ionisasi pada jaringan.

Dan sebagai akibat ionisasi ini terjadi kelainan atau kerusakan pada jaringan, akibat dari radiasi pengion ini dinamakan efek biologis. Efek biologis dibagi atas 2 bagian, yaitu : 1. Efek somatis 2. Efek genetis Pembagian efek somatis maupun efek genetis berdasarkan kerusakan sel jaringan yang ditimbulkan radiasi pengion tersebut. Di dalam sel akan terjadi 2 efek yang merusak yaitu efek ionisasi dan efek biokimia. Pada efek ionisasi : Pada sel-sel yang terionisasi, akan memancarkan elektron pada struktur ikatan kimia dengan akibat terpecahnya molekul-molekul dari sel sehingga terjadi kerusakan sel.

Pada efek biokimia : Jaringan sebagian besar terdiri dari air. Radiasi pengion akan menyebabkan molekul air terpecah menjadi ion H+ dan OH- serta atom-atom netral H dan OH (faceradical), yang sangat bereaksi kimia. Tentu saja molekul-molekul jaringan yang terpecah ini akan mengakibatkan terjadinya kerusakan jaringan. Tentu saja dalam efek somatis ini berkaitan sekali akan besarnya radiasi yang diabsorpsi dan respon jaringan terhadap radiasi. Respon yang berlainan ini dinamakan sensitivitas jaringan terhadap radiasi. Di bawah ini disusun radiasi sensitif relatif dari pelbagai jaringan terhadap radiasi menurut urutan menurun :

a. b. c. d. e. f. g. h. i.

Sumsum tulang dan sistem hemopoetik Jaringan alat kelamin Jaringan alat pencernaan Kulit Jaringan ikat Jaringan kelenjar Tulang Otot Syaraf

Anda mungkin juga menyukai