Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan salah satu Negara berkembang dengan potensi sumber daya alammelimpah. Oleh karena itu struktur ekspor Indonesia pada awalnya sebagian besar berasal dari sumber alam yang dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu migas dan non migas. Dalam upaya meningkatkan ekspor produk non migas, pemerintah Indonesia berkomitmen mendukung percepatan liberalisasi perdagangan dengan melakukan pengembangan 10 produk utama, 10 produk potensial, dan tiga jasa (Depperindag, 2008). Salah satu produk utama tersebut adalah produk furniture, yang termasuk di dalamnya adalah industri furniture rotan. Rotan merupakan salah satu komoditas hasil hutan non kayu yang cukup penting dan potensial. Rotan juga merupakan tanaman yang tumbuh di daerah tropis, sehingga tanaman ini banyak dijumpai di Indonesia. Rotan Indonesia mempunyai posisi yang dominan di pasar dunia, yaitu menguasai 80% bahan baku rotan dunia. Selain di Indonesia, tanaman produk rotan dapat pula dijumpai di Philipina, Thailand, Malaysia, India, Vietnam, Madagaskar, dan Maroko. Namum, potensi terbesar saat ini terdapat di Indonesia. Hal ini dapat terlihat bahwa di Indonesia, rotan tumbuh secara alami dan tersebar di Daerah Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya, dengan potensi sekitar 622.000 ton/tahun (Biro Humas Depperindag, 2008). Tetapi selain rotan, terdapat pula industri kertas, dimana cakupannya didasarkan pada pengelompokan atau kategorisasi yang ada di dunia internasional dan di dalam negeri. Di pasaran Internasional harga ekspor rotan mentah dan setengah jadi Indonesia masih jauh lebih rendah dibanding dengan harga ekspor hasil industry furnitute rotan. Apabila dibandingkan, ekspor hasil industry furniture rotan lebih menguntungkan (Asmindo, 2009). Selain itu, industry kerajinan rotan tidak memerlukan investasi yang besar serta mampu menyerap tenaga kerja yang banyak, sehingga Indonesia memiliki potensi besar dalam mengembangkan industri furniture rotan. Karena selain memiliki pasokan bahan baku murah, Indonesia juga memiliki potensi tenaga kerja yang cukup banyak.

1.2

VISI DAN MISI Gambar 2.1 Proses Manajemen Strategi Wheelen-Hunger

1.2.1 VISI Visi UKM ini adalah Menghasilkan produk rotan yang berkualitas dan terjangkau sebagai salah satu produk andalan kota malang. 1.2.2 MISI Meningkatkan skill pekerja agar dapat menghasilkan produk yang baik Menjadi UKM yang dapat menyokong perekonomian di kota malang Meningkatkan pelayanan yang ramah terhadap pelanggan. Meluaskan pangsa pasar tidak hanya domestik bahkan internasional.

1.3

TUJUAN Tujuan Jangka pendek

Menghasilkan produk rotan yang murah dapat Memenuhi semua pesanan yang datang Memperbanyak variasi produk hasil olahan rotan

Tujuan Jangka panjang Produk rotan menjadi produk hasil ukm andalan kota malang Memperluas pasar sampai ke luar negeri

BAB II PERMASALAHAN 2.1KELEMAHAN (WEAKNESS) Kelemahan merupakan kondisi kelemahan yang terdapat dalam organisasi, proyek atau konsep bisnis yang ada.Kelemahan yang dianalisis merupakan faktor yang terdapat dalam tubuh organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri. UKM rotan ini memiliki beberapa kelemahan diataranya: - Usaha ini tidak memiliki merk dagang Produk yang dihasilkan oleh Bapak Agus ini tidak memiliki merk resmi untuk daganya. Ini merupakan hal yang perlu diperhatikan karena untuk memasarkan produknya lebih luas diperlukan merk dagang yang pasti selain untuk mengenali produknya juga sebagai pencitraan pada konsumen - Alat yang digunakan masih tradisional Untuk alat-alat produksi usaha ini masih menggunakan alat yang tradisional karena kurangnya modal yang dimiliki untuk memperbaharui peralatan kerjanya. - Hanya menjual kepada para pemasok di sekitar malang Sampai saat ini Bpk Agus hanya memasarkan produknya kepada para penegepul atau toko mebel rotan dikota malang - Produk yang dihasilkan kurang variatif Seiring dengan berkembangnya waktu permintaan konsumen semakin berkembang seharusnya usaha ini bisa memperbanyak variasi produknya - Pencatatan keuangan yang kurang rapi System pencatatan keuangan yang masih sederhana karena hanya dikelola oleh keluarga sendiri - Modal usaha yang masih terbatas Ketika memulai usaha ini Bpk agus hanya menggunakan modal sendiri tanpa menggunakan pinjaman dari bank, sehingga modal yang dimiliki terbatas.

2.2ANCAMAN (THREAT) Ancaman merupakan kondisi yang mengancam dari luar. Ancaman ini dapat mengganggu organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri. - Harga bahan baku yang melonjak Kenaikan bahan baku ini tidak dapat dihindari oleh produsen karena kenaikan harga ini dating dari petani - Produk mudah ditiru oleh pesaing Produk yang dihasilkan mudah ditiru oleh pesaing karenaa tidak memiliki hak paten atau merk dagang. - Beralihnya konsumen ke mebel berbahan imitasi Produk imitasi rotan ini sudah mulai muncul dipasaran dan harga yang ditawarkan juga lebih murah dari produk rotan - Kelangkaan dari bahan baku dari petani rotan Kelangkaan ini terjadi Karen apetani mulai enggan untuk menjual rotan dikarenakan harganya yang murah - Masuknya barang-barang impor sejenis dari china dengan harga yang lebih murah Disini perlu adanya peran pemerintah untuk membatasi masuknya produk impor di pasaran indonesia - Kenaikan ongkos produksi listrik pada tahun 2013 Kenaikan tarif dasar listrik yang sudah digadang-gadang pemerintah sebesar 15% akan mempengaruhi ongkos produksi.

BAB III PEMBAHASAN 3.1 ANALISIS INTERNAL PERUSAHAAN

Dalam analisis kekuatan faktor strategis internal/IFAS (Internal Strategic Factor Summary) dapat diketahui beberapa kekuatan yang mendukung diantaranya faktor yang paling utama adalah harga produk yang dihasilkan memiliki harga yang murah dan terjangkau. Penjelasan dari point bobot penilaian yang digunakan : 0 0,03 = tidak penting > 0,03 0,06 = kurang penting > 0,06 0,09 = cukup penting > 0,09 0,12 = penting > 0,12 0,15 = sangat penting Dan penjelasan dari rating yang ditetapkan : 1 = tidak berpengaruh 2 = cukup berpengaruh 3= berpengaruh 4= sangat berpengaruh 3.1.1 Kekuatan Faktor Strategis Internal Bobot Pering Skor Faktor-faktor kat internal Bobot kekuatan 1. Produk yang dihasilkan memiliki harga yang murah 2. SDM yang ahli dibidangnya 3. Lokasi usaha yang strategis dekat dengan sentra penjualan rotan 4. Hasil mebel yang dihasilkan berkualitas baik 5. Pengerjaan pesanan dapat diselesaikan tepat 0.08 2 0.16 Program Jangka Panjang Memangkas ongkos produksi menjadi lebih efisien Meningkatkan skill dari para pegawai, dengan memberi pelatihan Membuka cabang usaha di lokasi strategis lain

0.07

0.21

0.06

0.06

0.09

0.36

0.08

0.24

Meningkatkatkan kualitas produk menjadi sepert yang didinginkan konsumen Melakukan manajemen waktu pada setiap pengerjaanya

waktu 6. Sudah memiliki pengepepul yang tetap Total kekuatan 0.07 2 0.14 Mencari jalur penjualan yang lain

0.45

1.17.

Dari hasil analisis internal yang dilakukan didapatkan bahwa skor tertinggi yaitu kualitas mebel yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, yaitu dengan nilai 0,09 karena memang kualitas dalam sebuah produk adalah hal yang sangat penting selain itu kualitas yang baik juga menempati peringkat tertinggi yaitu peringkat4 karena saya menganggap bahwa kualitas dari barang yang dihasilkan adalah sangat penting terutama bagi konsumen. Oleh karena itu saya memberikan peringkat 4. Hal ini bermakna bahwa kualitas hasil mebel rotan yang dihasilkan merupakan faktor yang penting dan sangat berpengaruh bagi perkembangan usaha mebel rotan ini. Lokasi usaha yang strategis menempati peringkat pertama karena para konsumen dari usaha ini bukan merupakan konsumen langsung akan tetapi para pemilik toko yang sudah mengenal pengrajin ini sejak lama.poin kekuatan lokasi yang strategis ini memiliki Bobot yang diberikan sebesar 0.06 sehingga skor bobotnya menjadi 0,06. Skor sebesar 0,06 memiliki makna bahwa faktor lokasi usaha mebel rotan ini tidak memiliki pengaruh yang begitu besar bagi usaha mebel rota.

3.1.2 Kelemahan Faktor Strategis Internal Faktor-faktor internal Bobot Peringkat Skor Bobot kelemahan 1.Usaha ini tidak 0.11 4 0.44 memiliki merk dagang 2.Alat yang digunakan 0.08 2 0.16 masih tradisional 3.Hanya menjual kepada 0.12 1 0.12 para pemasok di sekitar malang 4.Produk yang dihasilkan 0.08 3 0.24 kurang variatif 5.Pencatatan keuangan 0.09 1 0.09 yang kurang rapi 6.Modal usaha yang masih terbatas 0.07 2 0.14

Program Jangka Panjang Membuat merk dagang dan mendaftarkannya. Memperbaharui alat yang digunakan Memperluas aringan pemasok Menambah varitas produk yang dibuat Membuat pencatatan keuangan yang lebih tertata Mengajukan pinjamna ke lembaga keuangan untuk memperoleh modal tambahan

0.55 Total kelemahan total keseluruhan faktor 1.00 internal

1.19 2.36

Tidak memiliki merk dagang menempati peringkat ke-4 karena merk sangatlah berpengaruh bagi sebuah produk agar mudah dikenali oleh pelanggan merk dagang juga sangat penting agar tidak mudah ditiru oleh pesaing sehingga memiliki bobot 0,11. Untik poin kelemahan yang paling tidak penting adalah pencatatan keuangan yang tidak rapi karena kebutuhan keuangan dari usaha mebel ini sebenarnya cukup sederhana hanya memerlukan sedikit ketelitian jadi memiliki bobot skor 0,09

3.2 ANALISIS EKSTERNAL PERUSAHAAN 3.2.1 Kekuatan Faktor Strategis Eksternal Faktor-faktor eksternal Bobot Peringkat Skor Bobot peluang 1. Memperluas pangsa 0.05 3 0.15 pasar ke pasar international 2. Menambah varitas 0.10 4 0.40 produk yang dihasilkan Program Jangka Panjang Mencari jaringan untuk ekspor Membuat produk tidak hamya mebel bisa juga tas atau sejenisnya dari rotan Menggunakan jaringan teknologi untuk meeperluas pasar

3. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi untuk menunjang kegiatan pemasaran. 4. Kebijakan pemerintah yang membatasi ekspor bahan mentah rotan 5.Peralihan konsumen mebel kayu menjadi mebel rotan 6. Dukungan pemerintah dalam meningkatkan kuantitas ekspor produk jadi Indonesia 7. Minat konsumen pasar global terhadap produk yang ramah lingkungan seperti rotan Total

0.07

0.07

0.12

0.24

0.07

0.14

Mencari sasaran dari pasar rotan di luar negeri Memperbanyak variasi hasil rotan Memanfaatkan dukungan pemerintah

0.09

0.18

0.04

0.12

Lebih gencar memperkenalkan kepada mayarakat tentang produk dari bahan rotan

0,54

1,30

Nilai dari faktor strategis eksternal yang memiliki nilai tertinggi adalah menambah varitas produk dengan nilai dengan nilai 0,10 yang artinya sangat penting dan peringkat 4 yang artinya sangat berpengaruh. Karena apabila tidak ada pembaharuan dalam jenis produk yang dihasilkan maka konsumen akan merasabosan dan tidak menutup kemungkinan akan berpindah ke produk lain

Untuk factor yang terendah adalah perkembangan teknologi dan komunikasi dengan bobot 0,07 atau kurang penting dan peringkat 1 atau tidak berpengaruh karena perkembangan dari bisnos rotan ini tidak terlalu dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi sehingga walaupun terjadi perkembangan tidak terlalu berpengaruh 3.2.2 Kelemahan Faktor Strategis Eksternal Faktor-faktor eksternal Bobot Peringkat Skor Bobot 1 4 1 0.08 0.16 0,06 Program Jangka Panjang Membentuk koperasi pemasok petani rotan Membuat produk yang selalu inovatif Menciptakan keunggulan kompetitif di produk rotan Memberdayakan para petani rotan di daerah penghasil Memangkas ongkos produksi sehingga mengahsilkan produk dengan haga bersaing Memanfaatkan teknologi mesin yang hemat listrik

Ancaman 1. Harga bahan baku yang 0.08 melonjak 2. Produk mudah ditiru 0.04 oleh pesaing 3. Beralihnya konsumen 0.06 ke mebel berbahan imitasi. 4. Kelangkaan dari bahan baku dari petani rotan 5. Masuknya barangbarang impor sejenis dari china dengan harga yang lebih murah 6. Kenaikan tarif dasar listrik pada tahun 2013 Total ancaman Total keseluruhan faktor eksternal 0.11

0,44

0.07

0.21

0.10

0.20

0.46 1.00

1.15 2.45

Factor yang paling penting dan memengaruhi adalah kelangkaan bahan baku dari petani rotan dengan bobot 0,11 dan peringkat 4. Karena bahan baku adalah hal yang paling penting dalam pembuatan mebel ini apabila tidak ada bahan baku maka pengrajin tidak bisa bekerja menghasilkan mebel. Kelangkaan ini biasanya terjadi karena para petani rotan enggan untuk membudidayakan rotan karea harganya yang murah disini perlu peran pemerintah dalam menstabilkan harga.

Factor yang paling rendah adalah beralihnya konsumen mebel rotan ke mebel imitasi dengan bobot 0,06 dan rating 1 karena mebel rotan ini sudah memiliki pasar yang tersendiri selain itu juga konsumen masih lebih memilih untuk memakai produk rotan yang asli karena memiliki kelebihan-kelebihan. Tapi para produsen tidak boleh merasa aman dengan ancaman ini karena suatu saat bisa mengancam keberadaan mebel rotan itu sendiri.

Hasil Analisis IFAS & EFAS INTERNAL EKSTERNAL STRATEGI

S < W (-)

O >T (+)

BERBENAH DIRI

0,45 < 0,55

0,54 > 0,46

Berdasarkan hasil perhitungan IFAS dan EFAS, maka strategi yang digunakan yaitu strategi berbenah diri karena usaha rotan Bpk agus ini berada pada sel 3

TABEL ANALISIS MATRIK SWOT USAHA MEBEL ROTAN

Analisis Strategi Berbenah Diri yang digunakan : - Strategi Penetrasi Pasar, yaitu strategi yang mengusahakan peningkatan pangsa pasar untuk produk yang ada melalui upaya-upaya pemasaran yang lebih besar.Penetrasi pasar meliputi penambahan jumlah tenaga penjualan dan peningkatan upaya-upaya pemasaran. Dasar Penggunaan Strategi: Karena keterbatasan dedikasi SDM yang profesional dan belum adanya manajemen pemasaran, sehingga jaringan pemasaran masih sangat terbatas. Strategi ini digunakan untuk mengantisipasi adanya kemunduran SDM yang berkualitas. Dan upaya pemasaranb diperluas lagi, tidak hanya dari mulut ke mulut saja. - Strategi Pengembangan Pasar, meliputi pengenalan produk yang ada saat ini ke wilayah-wilayah geografis yang baru.

Dasar Penggunaan Strategi :

Dikarenakan usaha mebel rotan bapak Agus ini hanya melayani toko toko disekitar malang saja maka dengan dukungan dari jaringan pasar yang luas maka usaha mebel ini dapat berkembang dengan baik seperti memperluas pasar ke daerah daerah lain bahkan sampai ke luar negeri.
4.1 SFAS (Strategi Factor Analysis Summary) Bobo t 2 Sko r 4 Durasi Mg Pdk Pjg h 5 6 7

Faktor Strategis Kunci 1 1. . Produk yang dihasilkan memiliki harga yang murah

Prkt 3

Komentar 8 Memangkas ongkos produksi menjadi lebih efisien Meningkatk atkan kualitas produk menjadi sepert yang didinginkan konsumen Membuat merk dagang dan mendaftarka nnya Menambah varitas produk yang dibuat Membuat produk tidak hamya mebel bisa juga tas atau sejenisnya dari rotan Mencari jaringan untuk

0,20

0,60

2. Hasil mebel yang dihasilkan berkualitas baik

0,15

0,60

3.Usaha ini tidak memiliki merk dagang

0,15

0,30

4. . Produk yang dihasilkan kurang variatif 5. Menambah varitas produk yang dihasilkan

0,10

0,40

0,15

0,60

6. . Memperluas pangsa pasar ke pasar international

0,10

0,30

ekspor 7. Kelangkaan dari bahan baku dari petani rotan 0,10 4 0,40 X Memberday akan para petani rotan di daerah penghasil Membentuk koperasi pemasok petani rotan

8. . Harga bahan baku yang melonjak

0,05

0,15

Total

1,00

3,35

BAB IV PENUTUP 1. Kesimpulan Berdasarkan dari hasil analisa SFAS maka didapatkan bahwa usaha mebel rotan ini merupakan usaha yang potensial dan layak usaha. Dari hasil analisa tersebut juga didapati bahwa kualitas produk yang baik merupakan keunggulan kompetitif dari usaha ini yang bisa diandalkan dan telah menraih minat konsumen untuk membeli barang hasil produksinya. Usaha ini meliki peluang pasar yang sangat besar dan potensial untuk bisa diraih. Posisi dari usaha ini berada pada posisi yang cukup lemah ini terlihat dari bobot kekuatan faktor internal lebih kecil dari faktor eksternal Strategi berbenah diri yang diterapkan adalah pengembangan pasar Usaha ini dalam kedepannya juga harus memiliki merk dagang untuk dapat menunjang kegiatan pemasaran dari produk itu sendiri . Pak agus juga perlu untuk menambah hasil produknya untuk memenuhi minat konsumen yang terus berkembang. Dalam hal peluang usaha rotan ini memiliki pasar yang besar sekali apalagi pemerintah telah mengeluarkan peraturan dalm pelarangan ekspor bahan mentah rotan dengan tujuan untuk meningkatkan nilai jual dari rotan itu sendiri ketika dieksport. 2. Saran Sebaiknya perusahaan lebih memperluas lagi area pemasaran keluar kota bahkan luar negeri karena kesempatan pasar yang ada masih sangat besar. Usaha ini seharusnya juga lebih memperbanyak varitas produk yang dihasilkan. UKM rotan ini juga bisa meningkatkan skill dari pegawai yang diperkerjakan

LAMPIRAN Analisa Biaya dan Pendapatan Biaya Investasi Sewa tempat/tahun Mesin permis Peralatan standar Total Biaya Investasi Biaya Operasional Rotan 20 kg Cat Paku Spons dan kain PLN Total Biaya Operasional / bulan Biaya pegawai Gaji per bulan Biaya tak terduga Pendapatan bulanan Total Biaya = Rp18.400.000,Rp 6.440.000,Rp 24.840.000,= Rp 4.200.000,= Rp 350.000,Rp 400.000 Rp 320.000 Rp 25.000 Rp 130.000 Rp 225.000 Rp 1.100.000 Rp 10.000.000 Rp 2.300.000 Rp 5.000.000 Rp 17.300.000

Laba yang diinginkan 35% = Harga Jual / Bulan =

MANAJEMEN STRATEGI ANALISA SWOT UKM MEUBEL ROTAN

ABDULLAH 105020200111069 FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2013