Anda di halaman 1dari 50

AGROKLIMATOLOGI

MUSLIM ABADI YOGATAMA 071510291015 SOSIAL EKNONOMI/AGRIBISNIS

KLIMATOLOGI
Klimatologi merupakan ilmu tentang atmosfer. Mirip dengan meteorologi, tapi berbeda dalam kajiannya, meteorologi lebih mengkaji proses di atmosfer sedangkan klimatologi pada hasil akhir dari proses2 atmosfer.

Klimatologi berasal dari bahasa Yunani Klima dan Logos yang masing2 berarti kemiringan (slope) yg di arahkan ke Lintang tempat sedangkan Logos sendiri berarti Ilmu. Jadi definisi Klimatologi adalah ilmu yang mencari gambaran dan penjelasan sifat iklim, mengapa iklim di berbagai tempat di bumi berbeda , dan bagaimana kaitan antara iklim dan dengan aktivitas manusia. Karena klimatologi memerlukan interpretasi dari data2 yang banyak sehingga memerlukan statistik dalam pengerjaannya, orang2 sering juga mengatakan klimatologi sebagai meteorologi statistik (Tjasyono, 2004)

Perbedaan antara cuaca dan iklim


- CUACA ADALAH KEADAAN ATMOSFER PADA WAKTU TERTENTU YANG SIFATNYA BERUBAH-UBAH DARI WAKTU KEWAKTU - IKLIM ADALAH RATA-RATA KEADAAN CUACA DALAM JANGKA WAKTU YANG CUKUP LAMA, MINIMAL 30 TH, YANG SIFATNYA TETAP

YANG MENDASARI KLASIFIKASI IKLIM


Curah Hujan (Presipitasi) Temperatur Penguapan (Evaporasi) Formasi Tumbuhan (Vegetasi)

Beberapa metode penentuan Klasifikasi Iklim di Indonesia antara lain :

Mohr (1933)
Mohr mencoba presipitasi dan evaporasi sebagai indikasi khusus daerah tropika.
Berdasarkan penelitian tanah, Mohr membedakan 3 tingkat kebasahan untuk berbagai bulan dalam satu tahun. Bulan Basah Bulan Lembab Bulan Kering CH 100 mm CH 60 CH 100 mm CH < 60 mm CH > Ev CH = Ev CH < Ev

Untuk mencari bulan basah dan kering Mohr menggunakan rerata curah hujan masing-masing bulan selama beberapa tahun.

Jan Bb, Feb Bb, Maret Bb, Agust BK.


Mohr membagi 5 golongan iklim yaitu

Golongan
I II III IV V

Daerah
Basah Agak Basah Agak Kering Kering Sangat Kering

Jumlah BKering
0 1-2 34 56

Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson Klasifikasi Iklim menurut Schmidt-Ferguson (1951) didasarkan kepada perbandingan antara Bulan Kering (BK) dan Bulan Basah (BB). Kriteria BK dan BB yang digunakan dalam klasifikasi Schmidt-Ferguson sama dengan criteria BK dan BB oleh Mohr, namun perbedaannya dalam cara perhitungan BK dan BB akhir selama jangka waktu data curah hujan itu dihitung. Ketentuan penetapan bulan basah dan bulan kering mengikuti aturan sebagai berikut : Bulan Kering : bulan dengan curah hujan lebih kecil dari 60 mm Bulan Basah : bulan dengan curah hujan lebih besar dari 100 mm Bulan Lembab : bulan dengan curah hujan antara 60 100 mm Bulan Lembab (BL) tidak dimasukkan dalam rumus penentuan tipe curah hujan yang dinyatakan dalam nilai Q, yang dihitung dengan persamaan berikut :

Rata-rata jumlah BK Q = ------------------------ x 100 % Rata-rata jumlah BB


Rata-rata jumlah bulan basah adalah banyaknya bulan basah dari seluruh data pengamatan dibagi jumlah tahun data pengamatan, demikian pula rata-rata jumlah bulan kering adalah banyaknya bulan kering dari seluruh data pengamatan dibagi jumlah tahun data pengamatan. Dari besarnya nilai Q ini selanjutnya ditentukan tipe curah hujan suatu tempat atau daerah dengan menggunakan Tabel Q atau diagram segitiga kriteria kalsifikasi tipe hujan menurut Schmidt-Ferguson,

12 11 10 9 8 7 6 H

Lbk sk k G F E ak s ab D C b a = berisi antara 0 - 8

5
4 3

2
1 01 2 3 4 5 6 7 8

B
9 A 11 12 10

sb

Garis batas tipe iklim pada Q =

1.5 a 12 1.5 a

a : Nilai dari 1 - 7 Schmidt & Ferguson, membagi iklim di Indonesia : 8 tipe (A H) A B C D E F G H 0 Q < 0.143 Sangat basah Basah Agak basah Sedang Agak kering Kering Sangat kering Luar biasa kering

0.143 Q < 0.333 0.333 Q < 0.60 0.60 1.0 1.67 3.00 7.00 Q < 1.00 Q < 1.67 Q < 3.00 Q < 7.00 Q

Makin kecil Q makin basah

Klasifikasi Iklim menurut Oldeman Klasifikasi iklim menurut Oldeman (1975) disebut juga dengan klasifikasi agroklimat. Peta cuaca pertanian ditampilkan sebagai peta agroklimat. Klasifikasi iklim ini terutama ditujukan kepada komodii pertanian tanaman pangan utama seperti padi, jagung, kedelai dan tanaman palawija lainnya. Karena penggunaan air bagi tanaman-tanaman utama merupakan hal yang penting di lahan-lahan tadah hujan, maka dengan data curah hujan dalam jangka lama, peta agroklimat didasarkan pada periode kering. Curah hujan melebihi 200 mm sebulan dianggap cukup untuk padi sawah, sedangkan curah hujan paling sedikit 100 mm per bulan diperlukan untuk bertanaman di lahan kering. Dasar klasifikasi agroklimat ini ialah kriteria Bulan Basah dan Bulan Kering. Bulan Basah (BB) adalah bulan dengan curah hujan sama atau lebih besar dari 200 mm. Bulan Kering (BK) adalah bulan dengan curah hujan lebih kecil dari 100 mm. Kriteria penentuan BB dan BK ini didasarkan pada besarnya evapotranspirasi, yaitu penguapan air melalui tanah dan tajuk tanaman. Evapotranspirasi dianggap sebagai banyaknya air yang yang dibutuhkan oleh tanaman.

Skema Oldeman sbb : 1


2 3 4 5 6 7 8 9
E3 E4

0 12

11 10 9
8
D4 D3

7
C4 B3 C3

6 5 4
B3

10 11
12 0 1
E1

E2 D1

D2 C1

C2

3
A2 2 A1

B2 B1

1 0 11 12

10

Bulan Bulan Basah

CH (mm/bln) 200

Bulan Lembab
Bulan kering

100 - 200
100

Contoh : C2 (Lihat skema Iklim Oldeman) Berarti : Masa pertumbuhan 9 10 bulan Periode Basah 5 6 bulan

Periode kering 2 3 bln

Sistem Klasifikasi Koppen

Wladimir Koppen (1846-1940) seorang biologis Jerman 1900 klasifikasi I berdasarkan vegetasi 1918 revisi dengan memasukkan temperatur, hujan dan tanda khusus musiman. Koppen membagi 5 golongan besar yang diberi simbol huruf: A E
A B C D E Iklim hujan tropika Iklim kering Sedang Dingin Kutub

Sehingga secara garis besar dasar klas Koppen - Rata - rata curah hujan (bulanan/ tahunan) -Temperatur (bulanan/ tahunan) - Vegetasi asli dilihat sebagai kenampakan terbaik dari keadaan iklim yang sesungguhnya. Koppen menilai bahwa daya guna hujan terhadap perkembangan dan pertumbuhan tanaman tidak hanya tergantung pada jumlah curah hujan tetapi juga intensitas penguapan, baik dari tanah maupun tanaman. Oleh karena ini Koppen berusaha menunjukkan intensitas penguapan dan daya guna hujan adalah dengan menggabungkan temperatur dan hujan. Musim hujan sama, jatuh pada musim panas adalah kurang berguna dibanding jatuh pada musim dingin.

Walaupun metode untuk mengukur daya guna hujan kurang memuaskan.

Kriteria Klasifikasi Iklim Koppen A. IKLIM HUJAN TROPIKA Temperatur bulan terdingin > 18 C (64.4F)
f m m Bulan terkering > 60 mm Bulan terkering < 60 mm, tetapi > 98,5 - r/ 25 Jumlah hujan pada bulan basah dapat mengimbangi kekurangan hujan pada bulan kering, masih terdapat hutan cukup lebat. Bulan terkering < 98.5 r/25 Jumlah bulan basah tidak dapat mengimbangi kekurangan hujan pada bulan kering. Vegetasi yang ada padang rumput dengan pohon jarang.

w w

mm 60
C H

Af * *

40

20

B U L A N A N

Aw

* w

Am

500

1000

1500

2000

2500
CH TAHUNAN

mm

DIAGRAM KOPPEN UNTUK TIPE A

B. IKLIM KERING r < 0.44 (t 19.5) CH Merata sepanjang tahun r < 0.44 (t 7) CH Mengumpul pada ms. Panas 70%

r < 0.44 (t 32)

CH Mengumpul pada ms. Dingin 70%

Dibagi 2 Bs & Bw BS Batas Atas Batas Atas Bw < Batas Atas Ket. Sama

- Bs

0.44 (t -..) 0.22 (t -..)

Stepa

- Bw

Padang Pasir

C. IKLIM SEDANG Temperatur bulan terdingin > - 30C dan < 180C Temperatur bulan terpanas > 100C S W f Pada musim panas kering (jumlah CH bulan terkering pada musim panas < 1/3 jumlah hujan terbasah pada musim dingin Pada musim dingin kering dan musim panas lembab (jumlah hujan terkering pada musim dingin <1/10 jumlah hujan terbasah pada musim panas) Selalu lembab sepanjang tahun , tidak dijumpai keadaan s dan w. CH > 30 a.T rerata bulan terpanas 220C b.T rerata untuk 4 bulan 100C & T bulan terpanas < 220C c.T rerata 1 3 bulan 100C & T bulan terpanas < 220C : daerah pedalaman

Csa

Csb
Cwa Cwb Cfa Cfb Cfc

: daerah pantai (marine)


: subtropika musiman : tropika lahan tinggi : subtropika lembab : Iklim marine : Iklim marine

D. IKLIM DINGIN Rata-rata temperatur bulan terpanas > 100C dan terdingin kurang dari 30C w f Sama C Sama C

a
b c d dfa

Sama C
Sama C Sama C Rata-rata temperatur bulan terdingin < 2.8 dan dipakai diluar a,b,& c Kontinental lembab (iklim dingin dengan periode kering)

dfb
dfc dfd dwa dwb dwc dwd

Kontinental lembab
Sub artika Sub artika Iklim kontinental lembab (iklim dingin dengan musim dingin kering) Iklim kontinental lembab Sub artika Sub artika

E. IKLIM KUTUB Rata-rata temperatur bulan terpanas < 100C

T F ET EF H

Rata-rata temperatur bulan terpanas 0 100C Rata-rata temperatur bulan terpanas 00C Iklim tundra (lumut) Iklim es salju abadi Temperatur seperti E, tetapi disebabkan tinggi tempat > 5000 feet

KLASIFIKASI IKLIM THORNTHWAITE


1899 1963 (Thornthwaite) 1931 memperkenalkan klasifikasi yang pertama khusus dipakai di Amerika Utara 1933 memakai sistem tersebut untuk seluruh dunia
Dasar: Vegetasi, Evaporasi, Hujan & Temperatur Thornthwaite: Menganggap bahwa kebutuhan air tanaman tidak hanya tergantung pada besarnya Curah Hujan tetapi juga tergantung evaporasi.

Menggunakan istilah dayaguna presipitasi = P E rasio Perbandingan antara P dan E, yang menunjukkan daya guna hujan bagi kehidupan tanaman. Presipitasi bulanan rerata (inci) Penguapan dari permukaan air bebas rerata bulanan (inci)

P E

P E ratio selama 12 bulan disebut P E indek Perhitungan : P E ratio = 10 P/E 12 P E indek = (10 P/E) n n=1 Tetapi karena kesulitan data evaporasi maka untuk mengatasi diadakan Hubungan antara temperatur (T), Penguapan (E) dan Presipitasi (P) sehingga akhirnya diperoleh P E rasio tanpa data evaporasi.

P E rasio

P E indek

: 115 ( P ) 10/9 T-10 12 : 115 ( P ) 10/9 n n=1 T-10

P : Presipitasi rerata bulanan dalam inci T : Temperatur rerata bulanan dalam 0F Simbol Gol Lembab Ciri Vegetasi A B C D E Basah Lembab Agak Lembab Agak Kering Kering Hutan Hujan Hutan Padang Rumput Steppa Gurun Pasir

PE Indek 128 64 127 32 63 16 31 < 16

T E indek = Jumlah 12 bulan dari T E rasio T E rasio = ( T 32 ) efisiensi temperatus rasio 4 12 T indek = ( T 32 ) n n=1 4

Atas dasar T E indek dibedakan : 6 Golongan temperatur


TIPE IKLIM A1 Tropika T E INDEK 128

B1 Mesotermal
C1 Mikrotermal D1 Taiga E1 - Tundra F1 - Frost

64 -127
32 - 63 16 - 31 1 - 15 0

Pembagian selanjutnya adalah berdasar agihan presipitasi bulanan sbb: r s w d Hujan merata seluruh musim Hujan kurang di musim panas Hujan kurang di musim dingin Hujan kurang di seluruh musim

Berdasarkan kombinasi simbol P E indek T E indek dan agihan hujan musiman yang dijumpai tercatat ada 32 tipe iklim:
AA1r AB1r AC1r BA1r BA1w BB1r BB1w BB1s BC1r CA1r CA1w CA1d CB1r CB1w CB1s DA1w DA1d DB1w DB1s DB1d DC1d EA1d EB1d EC1d D1 E1 F1

BC1s

CB1d
CC1r CC1s CC1d

10

32

Agihan Tanaman atas Iklim


Contoh tanaman berdasarkan adaptasi, sejarah dan arti ekonomi dibedakan :
Tanaman Tropika Tanaman Sub Tropika Tanaman Iklim Sedang : Coklat/Kakao, Pisang, Tebu, Kopi : Padi, Kapas : Jagung, Gandum, Apel

PENGGOLONGAN IKLIM MNRT DOUGLAS H.K LEE


a)

Indeks Kelembaban Perbandingan antara kelebihan / kekurangan air dan kebutuhan air bagi vegetasi, yg berkaitan dgn evapo transpirasi. Berdasarkan hal ini maka iklim igolongkan dlm ;
GOL A B4 B3 B2 B1 C1 D E Tipe Kelembaban Super humid Humid Humid Humid Humid Moist sub humid Semi arid Arid Keterangan Basah sekali Basah Basah Basah Basah Lembab agak basak Setengah kering kering

b)

Variase kelembaban efektif sesuai musim


Iklim Lembab A, B, C Iklim Kering C, D, E d tdk ada kelebihan air s sekedar kelebihan air di musim dingin w sekedar kelebihan air di musim panas s2 banyak kelebihan air di musim dingin w2 banyak kelebihan air di musim panas

r tdk ada kekurangan air s sekedar kekurangan air di musim panas w sekedar kekurangan air di musim dingin s2 banyak kekurangan air di musim panas w2 banyak kekurangan air di musim dingin

c)

Indeks Efisiensi Panas (Thermal) / Potensial Evapo-transpirasi


Golongan
A B4 B3 B2 B1 C2 C1 D E

Type Thermal
Megathermal Mesothermal Mesothermal Mesothermal Mesothermal Mikrothermal Mikrothermal Tundra Frost

d)

Konsentrasi Effisiensi Panas (Thermal) di musim panas (Konsentrasi Evapo-transpirasi

Golongan a b4 b3 b2 b1 c2 c1 d

Type Thermal < 48% 48,1% - 51,9% 52,0% - 56,3% 56,4% - 61,6% 61,7% - 68,0% 68,1% - 76,3% 76,4% - 88,0% > 88%

IKLIM MIKRO DAN MAKRO


Iklim mikro adalah kondisi iklim pada suatu ruang yang sangat terbatas, komponen iklim ini penting artinya bagi kehidupan tanaman, hewan dan manusia terutama dalam kaitannya dengan kegiatan pertanian

IKLIM MIKRO DIPENGARUHI OLEH FAKTOR-FAKTOR:


- Orientasi bangunan -Ventilasi (lubang-lubang pembukaan di dalam ruang untuk masuknya penghawaan) - Sun shading (penghalang cahaya matahari) - Pengendalian kelembaban udara - Penggunaan bahan-bahan bangunan - Bentuk dan ukuran ruang - Pengaturan vegetasi

IKLIM MAKRO
Sedangkan iklim makro adalah kondisi iklim pada suatu daerah tertentu

yang meliputi area yang lebih besar dan mempengaruhi iklim mikro. Iklim
makro dipengaruhi oleh lintasan matahari, posisi dan model geografis, yang mengakibatkan pengaruh pada cahaya matahari dan pembayangan serta hal-hal lain pada kawasan tersebut, misalnya radiasi panas, pergerakan udara, curah hujan, kelembaban udara, dan temperatur udara.

MANFAAT KLIMATOLOGI BAGI AGRIBISNIS


Klimatologi adalah ilmu yang mempelajari iklim, dan merupakan sebuah cabang dari ilmu atmosfer. Dikontraskan dengan meteorologi yang mempelajari cuaca jangka pendek yang berakhir sampai beberapa minggu, klimatologi mempelajari frekuensi di mana sistem cuaca ini terjadi. dalam kehidupan sehari-hari, iklim akan mempengaruhi jenis tanaman yang sesuai untuk dibudidayakan pada suatu kawasan, dan teknik budidaya yang dilakukan petani. Dengan demikian pengetahuan iklim sangat penting artinya dalam sektor pertanian. Hal ini tercermin dengan berkembangnya cabang klimatologi dan meteorology yang khusus dikaitkan dengan kegiatan pertanian yang disebut klimatologi pertanian

IKLIM AKAN MEMPENGARUHI BERBAGAI ASPEK KEHIDUPAN MANUSIA DAN ORGANISME LAIN YANG HIDUP DI MUKA BUMI. JENIS DAN SIFAT IKLIM JUGA AKAN MEMPENGARUHI JENIS TANAMAN YANG SESUAI UNTUK DIBUDIDAYAKAN PADA SUATU KAWASAN SERTA PRODUKSINYA, PENJADWALAN BUDIDAYA PERTANIAN, DAN TEKNIK BUDIDAYA YANG

DILAKUKAN PETANI.
PENGETAHUAN TENTANG IKLIM SANGAT PENTING ARTINYA DALAM SEKTOR PERTANIAN.

GLOBAL WARMING
Global warming adalah peningkatan suhu di dalam atmosfir bumi disebabkan oleh emisi Gas Rumah Kaca (terutama CO2) yang tertahan di stratosfer yang kemudian menghalangi pemantulan kembali radiasi sinar matahari dari bumi ke luar angkasa. Secara alami, bumi hanya menyerap sebagian kecil radiasi sinar matahari yang masuk ke atmosfir, kemudian sebagian besar akan dipantulkan lagi keluar angkasa. Namun, karena adanya Gas Rumah Kaca di lapisan stratosfer, radiasi tersebut tidak dapat keluar dari atmosfer bumi, bahkan dipantulkan kembali ke permukaan bumi. Sehingga suhu di dalam atmosfer bumi menjadi lebih panas.

PENYEBAB GLOBAL WARMING

Emisi karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar fosil pembangkit listrik. Penggunaan listrik yang semakin meningkat yang dipasok dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Batubara yang melepaskan sejumlah besar karbon dioksida ke atmosfer. 40% emisi CO2 dihasilkan oleh produksi listrik AS, dan 93 persen diantaranya berasal dari emisi pembakaran batubara pada industri utilitas. Setiap hari, pasar semakin banyak dibanjiri gadget penggunaannya membutuhkan daya listrik, padahal tidak didukung oleh energi alternatif. Dengan demikian kita akan semakintergantung pada pembakaran batu bara untuk memasok kebutuhan listrik di seluruh dunia.

Emisi karbon dioksida dari pembakaran bensin pada kendaraan. Kendaraan yang kita pakai adalah sumber penghasil emisi sekitar 33% yang berdampak terhadap pemanasan global. Dengan pertambahan jumlah penduduk yang tumbuh pada tingkat yang mengkhawatirkan, tentu saja akan meningkatkan permintaan akan kendaraan yang lebih banyak lagi, yang berarti penggunaan bahan bakar fosil untuk transportasi dan pabrik yang semakin besar. Konsumsi terhadap bahan bakar fosil jauh melampaui penemuan terhadap cara untuk mengurangi dampak emisi. Sudah saatnya kita meninggalkan budaya konsumtif.

Emisi metana dari peternakan dan dasar laut Kutub Utara. Metana merupakan gas rumah kaca yang sangat kuat setelah CO2. Bila bahan organik diurai oleh bakteri pada kondisi kekurangan oksigen (dekomposisi anaerobik) maka metana akan dihasilkan. Proses ini juga terjadi pada usus hewan herbivora, dan dengan meningkatnya jumlah produksi ternak terkonsentrasi, tingkat metana yang dilepaskan ke atmosfer akan meningkat. Sumber metana lainnya adalah metana klatrat, suatu senyawa yang mengandung sejumlah besar metana yang terperangkap dalam struktur bongkahan es. Apabila metana keluar dari dasar laut Kutub Utara, maka tingkat pemanasan global akan meningkat secara signifikan.

Deforestasi, terutama hutan tropis untuk kayu, pulp, dan lahan pertanian. Penggunaan hutan untuk bahan bakar (baik kayu dan arang) merupakan salah satu penyebab deforestasi. Di seluruh dunia pemakaian produk kayu dan kertas semakin meningkat, kebutuhan akan lahan ternak semakin meningkat untuk pemasok daging dan susu, dan penggunaan lahan hutan tropis untuk komoditas seperti perkebunan kelapa sawit menjadi penyebab utama terhadap deforestasi dunia. Penebangan hutan akan mengakibatkan pelepasan karbon dalam jumlah besar ke atmosfir.

Peningkatan penggunaan pupuk kimia pada lahan pertanian. Pada pertengahan abad ke-20, penggunaan pupuk kimia (yang sebelumnya penggunaan pupuk kandang) telah meningkat secara dramatis. Tingginya tingkat penggunaan pupuk yang kaya nitrogen memiliki efek pada penyimpanan panas dari lahan pertanian (oksida nitrogen memiliki kapasitas 300 kali lebih panas- per unit volume dari karbon dioksida) dan kelebihan limpasan pupuk menciptakan 'zona-mati 'di laut. Selain efek ini, tingkat nitrat yang tinggi dalam air tanah karena pemupukan yang berlebihan berdampak terhadap kesehatan manusia yang cukup memprihatinkan.

DAMPAK GLOBAL WARMING

Kenaikan permukaan air laut di seluruh dunia. ilmuwan memprediksi kenaikan permukaan air laut di seluruh dunia karena mencairnya dua lapisan es raksasa di Antartika dan Greenland, terutama di pantai timur AS. Namun, banyak negara di seluruh dunia akan mengalami dampak naiknya permukaan air laut, yang bisa memaksa jutaan orang untuk mencari pemukiman baru. Maladewa adalah salah satu negara yang perlu mencari rumah baru akibat naiknya permukaan laut

Korban akibat topan badai yang semakin meningkat. Tingkat keparahan badai seperti angin topan dan badai semakin meningkat, dan penelitian yang dipublikasikan dalam Nature mengatakan: "Para ilmuwan menunjukkan bukti yang kuat bahwa pemanasan global secara signifikan akan meningkatkan intensitas badai yang paling ekstrim di seluruh dunia. Kecepatan angin maksimum dari siklon tropis terkuat meningkat secara signifikan sejak tahun 1981.Hal tersebut diperkirakan didorong oleh suhu air laut yang semakin meningkat, tidak mungkin mengalami penurunan dalam waktu dekat. "

Gagal panen besar-besaran. Menurut penelitian terbaru, sekitar 3 miliar orang di seluruh dunia harus memilih untuk pindah ke wilayah beriklim sedang karena kemungkinan adanya ancaman kelaparan akibat perubahan iklim dalam 100 tahun. "Perubahan iklim ini diramalkan memiliki dampak yang paling parah pada pasokan air. "Kekurangan air di masa depan kemungkinan akan mengancam produksi pangan, mengurangi sanitasi, menghambat pembangunan ekonomi dan kerusakan ekosistem. Hal ini menyebabkan perubahan suasana lebih ekstrim antara banjir dan kekeringan." Menurut Guardian,pemanasan global menyebabkan 300.000 kematian per tahun.

Kepunahan sejumlah besar spesies. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Nature, peningkatan suhu dapat menyebabkan kepunahan lebih dari satu juta spesies. Dan karena kita tidak bisa hidup sendirian tanpa ragam populasi spesies di Bumi, ini akan membawa dampak buruk bagi manusia. "Perubahan iklim sekarang ini setidaknya sama besarnya dengan ancaman terhadap jumlah spesies yang masih hidup di Bumi akibat penghancuran dan perubahan habitat." Demikian pendapat Chris Thomas, konservasi biologi dari University of Leeds.

Hilangnya terumbu karang. Sebuah laporan tentang terumbu karang dari WWF mengatakan bahwa dalam skenario terburuk, populasi karang akan runtuh pada tahun 2100 karena suhu dan keasaman laut meningkat. 'Pemutihan' karang akibat kenaikan suhu laut yang terusmenerus sangat berbahaya bagi ekosistem laut, dan banyak spesies lainnya di lautan bergantung pada terumbu karang untuk kelangsungan hidup mereka. "Meskipun luasnya lautan 71 persen dari permukaan bumi dengan kedalaman rata-rata hampir 4 km - ada indikasi bahwa hal ini mendekati titik kritis. Bagi terumbu karang, pemanasan dan pengasaman air mengancam hilangnya ekosistem global. Jadi diperlukan upaya yang besar untuk menyelamatkan terumbu karang dari kepunahan

TERIMA KASIH