Anda di halaman 1dari 8

/.;;;;;;Kata Kunci : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Wanita usia 60 tahun Gusi radang berdarah Edentolous gigi 16, 25, 26 Gigi ngilu apabila disikat. Dapat dicegah Kondisi ini banyakditemukan pada lansia Keluhan gigi depan RA memanjang dan renggang

Pertanyaan Penting : 1. Jelaskan kondisi rongga mulut yang sering ditemukan pada lansia! Beberapa kondisi yang sering terjadi pada lansia, antara lain; Edentulism atau kehilangan gigi. Kehilangan gigi dapat mempengaruhi fungsi suara (fonasi), estetik, dan ekspresi wajah. Penyebab kehilangan gigi sering karena karies dan penyakit periodontal, diabetes, dan pemakaian jangka panjang tembakau. Kehilangan gigi juga membuat konsumsi buah, sayur dan makanan kaya serat berkurang, dan konsumsi lemak , kolesterol dan protein yang tinggi. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas intake, yang nantinya dapat menyebabkan timbulnya penyakit sistemik. Kehilangan gigi dapat diatasi dengan pemakaian gigi palsu, namun harus memperhatikan kebersihan dari gigi palsu dan rongga mulut, agar tidak timbul kelainan rongga mulut lainnya. Radang gusi/gingivitis. Penyebabnya bisa lokal (kalkulus) dan penyakit sistemik. Kondisi ini menyebabkan konsumsi diet lunak bertambah, sehingga menurunkan aktifitas motorik jaringan mulut, berakibat pada hipofungsi/menurunnya fungsi kelenjar ludah. Radang gusi diperparah dengan bertambahnya kedalaman poket periodontal, kebiasaan merokok, tekanan psikososial, mengabaikan perawatan dental rutin, dan rendahnya status sosioekonomi. Xerostomia atau mulut kering adalah menurunnya curah saliva/ludah. Hal ini dapat disebabkan oleh karena penyakit sistemik, disfungsi kelenjar ludah, terapi radiasi, kemoterapi, kebiasaan merokok, dan efek samping medikasi. Kelainan ini mempengaruhi pola makan, status nutrisi, bicara, pengecapan, toleransi terhadap protesa gigi, meningkatnya kandidiasis dan rentan karies. o Akibat dari proses menua, akan menimbulkan berbagai masalah fisik biologic, psikologik dan social. Proses menua dipengaruhi oleh penyakit-penyakit degenerating, kondisi lingkungan serta gaya hidup seseorang yang akan mengakibatkan perubahan-perubahan yang berlangsung secara bertahap pada berbagai organ tubuh dan perubahan ini dapat menmbulkan masalah kesehatan (Setiati,2000). Sekitar 40% para lanjut usia mengeluh tentang mulut kering, massa otot-otot mastikasi mengecil yang akan berpengaruh pada kekuatan mengunyah, gigi banyak yang hilang mengakibatkan gangguan proses komunikasi dan gangguan estetik. Sebenarnya respon stimuli saliva tidak berubah pada lanjut usia, tetapi aliran saliva menurun. Bila ada gangguan neurologic, atau gangguan gigi-geligi, maka akan berpengaruh terhadap status kesehatan secara umum, kualitas hidup dan kemandirian lanjut usia.

2. Bagaimana pengaruh sistem imun terhadap terjadinya penyakit periodontal pada lansia? Sesuai pada skenario?

Sistem imun merupakan mekanisme yang digunakan untuk mempertahankan keutuhan tubuh, sebagai perlindungan terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh berbagai bahan dalam lingkungan hidup. Sebanyak 30% kematian lansia disebabkan oleh penyakit infeksi. Bagian tubuh yang bertanggung jawab dalam hal penanganan penyakit infeksi dalam tubuh adalah sistem barier tubuh. Contoh sistem barier pada tubuh adalah batuk, bersin, permukaan mukosa, kulit, sel silia air mata dan pH lambung. Pada lansia mekanisme wpertahanan ini mengalami penurunan kemampuan, hal ini menyebabkan penurunan kemampuan tubuh dalam menghilangkan bakteri dan virus yang masuk ke dalam tubuh. Penurunan sensitivitas imun pada lansia berhubungan dengan penurunan kelenjar-kelenjar imun, seperti kelenjar timus, kelenjar limfe dan limpa. 3. Apa yang dimaksud dengan gigi memanjang? Yang biasanya terjadi dengan gigi terasa memanjang ialah resesi gingiva yang mengakibatkan bagian akar leher yang tadinya agak tertutup menjadi terbuka. Hal ini akan mengakibatkan gigi menjadi terlihat lebih memanjang. Artrofi gingiva akan menyebabkan pergeseran ke apical tepi gingiva, menimbulkan resesi gingiva dan terbukanya akar gigi. Resesi seringkali diiuti dengan kerusakan jaringan periodontal dan periodontitis kronis, namun resesi tidak selalu merupakan tanda dari penyakit tersebut. Seperti atrisi, gigi, resesi gingiva juga mencerminkan uatu perubahan dari anatomi normal, yang tidak selalu merupakan tanda dari penyakit. Resesi sangat sering ditemukan dan seringkali menimbulkan kecemasan bagi pasien. 4. Apa etiologi dari gigi memanjang? Yang biasa disebut gigi memanjang ialah gigi terasa memanjang sebagai akibat resesi gingiva. Resesi gingiva bertambah seiring bertambahnya umur, insidensinya bervariasi dari 8% pada anak-anak hingga 100% pada umur setelah 50 tahun. Hal ini menunjukkan adanya asumsi bahwa resesi merupakan pergeseran fisiologis dari perlekatan gingiva.8 Pergeseran yang berangsur-angsur lebih sering akibat dari efek kumulatif minor pathologic involvement dan minor direct trauma pada gingiva. Pada sebagian masyarakat resesi terjadi tanpa ada hubungan dengan pemeliharaan gigi, tetapi resesi dapat merupakan akibat dari penyakit periodontal. Faktor-faktor berikut ini ada kaitannya sebagai penyebab resesi gingiva seperti kesalahan teknik penyikatan gigi yang mengakibatkan aberasi pada gingiva, peradangan gingiva, perlekatan frenum abnormal, dan iatrogenic dentistry. Trauma oklusi dahulu dianggap berpengaruh, tetapi mekanisme terjadinya belum pernah diperlihatkan. Seperti gigitan dalam yang dikaitkan dengan radang gingiva dan resesi. Incisal overlap yang berlebihan dapat menimbulkan kerusakan pada gingiva. Pergerakan ortodontik ke arah labial yang diteliti pada kera mengakibatkan kehilangan perlekatan jaringan ikat dan tulang marjinal, disertai resesi gingiva. Prosedur pembersihan mulut sehari-hari, baik penyikatan gigi maupun pemakaian benang gigi dapat mengawali kerusakan gingiva yang sedikit dan berulang-ulang. Walaupun penyikatan gigi penting untuk kesehatan gingiva, tetapi teknik penyikatan gigi yang salah atau menggunakan sikat gigi dengan bulu yang keras dapat menimbulkan kerusakan yang berarti. Jenis kerusakan ini dapat berupa laserasi, aberasi, keratosis, dan resesi, yang paling sering terkena adalah marginal gingiva bagian fasial. Pada kasus-kasus tersebut resesi cenderung lebih sering dan parah pada penderita dengan gingiva yang secara klinis sehat, plak sedikit, dan kebersihan mulut baik. Kepekaan terhadap resesi juga dipengaruhi oleh posisi gigi dalam lengkung rahang15, sudut akar gigi terhadap tulang, dan kontur permukaan

gigi mesio-distal. Pada gigi yang rotasi, miring, dan terletak fasial, lempeng tulang tipis dan tingginya berkurang. Tekanan pengunyahan atau penyikatan gigi biasa dapat merusak gingiva yang tidak mendapat dukungan, dan mengakibatkan resesi. Efek sudut akar terhadap tulang yang mengalami resesi sering tampak pada daerah molar rahang atas. Jika inklinasi lingual akar palatal menonjol atau akar bukal melebar keluar, tulang di daerah servikal menipis dan memendek, resesi dapat terjadi pada marginal gingiva yang tipis. Kesehatan jaringan gingiva juga tergantung pada disain dan penempatan bahan-bahan restorasi yang memadai. Tekanan dari gigi tiruan sebagian dengan disain buruk, seperti cengkeram gigi tiruan yang tidak tepat, dapat mengakibatkan trauma dan resesi gigiva.16 Restorasi gigi yang mengemper (overhanging) adalah faktor pendukung timbulnya gingivitis karena sebagai tempat retensi plak. Disamping itu merupakan kesepakatan umum bahwa penempatan tepi restorasi sedalam lebar biologis sulkus gingiva seringmendorong terjadinya radang gingiva, kehilangan perlekatan, dan bahkan kerusakan tulang. Secara klinis, penyimpangan terhadap lebar biologis dapat bermanifestasi sebagai radang gingiva, pendalaman poket periodontal, dan resesi gingiva. Merokok kemungkinan ada kaitannya dengan resesi gingiva. Mekanismenya bersifat multifaktor, seperti aliran darah ke gingiva yang berkurang dan perubahan respon imun. Pada masa lalu, perawatan bedah periodontal terutama prosedur pemotongan seperti gingivektomi, ostektomi, dan penempatan gingival margin ke apikal, diharapkan menghasilkan pengurangan poket dan resesi gingiva. Pada kenyataannya, sering mengakibatkan penambahan resesi dan radang gingiva, ngilu pada akar, karies akar, dan komplikasi estetika (gigi memanjang). 5. Apa penyebab dari gusi sering berdarah pada skenario? Biasanya disebabkan oleh buruknya kebersihan mulut sehingga terbentuk plak atau karang gigi di bagian berbatasan dengan tepi gusi. Plak dan kalkulus bias any mengandung banyak bakteri yang akan menyebabkan peradangan pada gusi. Poket periodontal juga bisa menjadi salah satu factor penyebab dari kejadian ini, dimana ketika menyikat gigi terlalu keras sehingga menimbulkan gusi berdarah. 6. Jelaskan pengaruh usia terhadap jaringan periodontal? Karena penyakit periodontal yang destruktif cenderung termanifestasi padaa usia setengah baya dan makin berlanjut pada individu lanjut usia, penyakit ini dapat dianggap sebagai bagian dari proses ketuaan. Namun hal ini tidaklah selalu dapat diterapkan. Usia memang menyebabkan perubahan pada jaringan periodontal yang sehat; namun penyakit periodontal bukan salah satu di antaranya. Vaskulatur, gingiva,ligamen periodontal, sementum, dan tulang alveolar, semuanya menunjukkan efek perubahan usia dan mungkin saja perubahan vaskular misalnya penebalan dinding pembuluh, penyempitan lumen, bahkan atriosklerosis adalah salah satudari perubahan jaringan secara umum. Ringkasnya, perubahan ini terdiri dari hilangnya selularisasi dan meningkatnya fibrosis. Selain itu juga terlihat hilangnya substansi dasar dan penebalan membran dasar. Pada ligamen periodontal, bundel serabut umumnya menjadi lebih tebal dan kurang jelas. Sementum, terutama pada daerah apikal umumnya menjadi lebih tebal sebagai kompensasi dari atrisi permukaan oklusal gigi. Tulang alveeolar akan menjadi kurang vaskular dan kehilangan beberapa sistem Haversian. Beberapa osteoporosis dapat ditemukan, tetapi keadaan ini biasanya tidak separah seperti yang terjadi pada tulang panjang. Proses pemulihan tulang berlangsung lebih lambat.

7. Jelaskan pengaruh faktor usia terhadap resesi gingiva! Resesi gingiva bertambah seiring bertambahnya umur, insidensinya bervariasi dari 8% pada anak-anak hingga 100% pada umur setelah 50 tahun. Hal ini menunjukkan adanya asumsi bahwa resesi merupakan pergeseran fisiologis dari perlekatan gingiva.8 Pergeseran yang berangsur-angsur lebih sering akibat dari efek kumulatif minor pathologic involvement dan minor direct trauma pada gingiva. Pada sebagian masyarakat resesi terjadi tanpa ada hubungan dengan pemeliharaan gigi, tetapi resesi dapat merupakan akibat dari penyakit periodontal. 8. Bagaimana cara mencegah penyakit periodontal pada lansia? Pencegahan penyakit periodontal merupakan kerja sama yang dilakukan oleh dokter gigi, pasien dan personal pendukung. Pencegahan dilakukan dengan memelihara gigi-gigi dan mencegah serangan serta kambuhnya penyakit. Pencegahan dimulai pada jaringan periodontal yang sehat yang bertujuan untuk memelihara dan mempertahankan kesehatan jaringan periodontal dengan mempergunakan teknik sederhana dan dapat dipakai di seluruh dunia. Umumnya penyakit periodontal dan kehilangan gigi dapat dicegah karena penyakit ini disebabkan faktor-faktor lokal yang dapat ditemukan, dikoreksi dan dikontrol. Sasaran yang ingin dicapai adalah mengontrol penyakit gigi untuk mencegah perawatan yang lebih parah. Pencegahan penyakit periodontal meliputi beberapa prosedur yang saling berhubungan satu sama lain yaitu : 1. Kontrol Plak 2. Profilaksis mulut 3. Pencegahan trauma dari oklusi 4. Pencegahan dengan tindakan sistemik 6. Pencegahan dengan pendidikan kesehatan gigi masyarakat 7. Pencegahan kambuhnya penyakit Harris (2004) juga mengklasifikasikan kedokteran gigi pencegahan dalam tiga tahapan, yaitu primer, sekunder dan tersier. a. Pencegahan primer menggunakan strategi-strategi dan bahan-bahan untuk mencegah permulaan terjadinya penyakit, untuk membalikkan proses perkembangan penyakit atau untuk menghentikan proses penyakit, sebelum pencegahan sekunder perlu dilakukan. Misalnya menghindari makanan lengketlengket terutama diantara waktu makan dan nutrisi dengan standar yang baik. b. Pencegahan sekunder penggunaan metode-metode perawatan secara rutin untuk menghentikan proses penyakit dan atau memperbaiki kembali jaringan supaya sedapat mungkin menjadi atau mendekati normal. Sebagai contoh perawatan pulpa, dan pencabutan gigi bila tindakan perbaikan gagal. c. Pencegahan tersier penggunaan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mengganti jaringan yang hilang dan untuk merehabilitasi pasien kesuatu keadaan sehingga kemampuan fisik dan atau sikap mentalnya sedapat mungkin mendekati normal setelah gagalnya pencegahan sekunder. Sebagai contoh adalah pembuatan gigi palsu bagi pasien.

9. Jelaskan patomekanisme terjadinya penyakit seperti pada kasus di skenario?

a. Secara fisiologis; gigi dapat memanjang oleh karena terjadinya resesi gingival secara fisiologis akibat bertambahnya umur penderita. Hal ini dapat diakibatkan dari proses penuaan yang mengakibatkan penurunan fungsi organ tubuh, tak terkecuali jaringan lunak dan keras dalam rongga mulut. b. Secara patologis; adanya akumulasi plak dan kontrol plak yang sulit dapat menyebabkan karies, penyakit periodontal, hingga kehilangan gigi pada pasien. Apabila adanya kehilangan gigi (edentulous), khususnya gigi posterior dapat menyebabkan ketidakseimbangan tekanan kunyah yang berdampak pada adanya tekanan yang berlebihan pada gigi anterior sebagai konsekuensi hilangnya gigi posterior. Hal ini akan menyebabkan kerusakan secara perlahan-lahan jaringan periodontal disekitar gigi anterior oleh karena tekanan kunyah yang berlebihan. Akibatnya, perlahan-lahan gingival akan mengalami resesi dan pada gigi khususnya rahang atas akan semakin migrasi dan bergerak ke arah labioversi dan akan tampak memanjang dan merenggang. 10. Bagaimana gambaran radiologi pada kasus di skenario? (Resesi gingiva dan edentulous) Resorbsi tulang alveolar dan kerusakan ligamentum periodontal adalah tanda paling penting dari periodontitis kronis dan merupakan salah satu penyebab lepasnya gigi. Tanda radiografi yang pertama ialah hilangnya densitas tepi alveolar. Keadaan ini sangat jelas terlihat antara gigi-gigi posterior di mana septum interdental yang lebar dan sehat memberikan gambaran tepi alveolar yang padat dan berbatas jelas. Gambaran lusens di bawah jaringan pendukung gigi bisa mendukung hal ini. 11. Jelaskan apa diagnosis pada kasus? Diagnosis pada kasus ialah periodontitis kronis. Hal ini disebabkan karena ada beberapa ciriciri dari periodontitis kronis yang mencakup kasus ini. Ciri-ciri periodontitis kronis : a. Inflamasi gingiva dan perdarahan. b. Poket. c. Resesi gingiva. d. Mobilitas gigi. e. Migrasi gigi. f. Nyeri. g. Kerusakan tulang alveolar. h. Halitosis dan rasa tidak enak. 12. Bagaimana penalataksanaan kasus-kasus pada skenario? a. Pemeriksaan OHIS. b. Scalling, root planning, dental health education. c. Pemberian antibiotik (tetracyclin / metrodinazole). d. Perawatan hipersensitif dentin; menyumbat dan memperkecil tubulus dentin, mengurangi eksibilitas saraf dentin. e. Perawatan resesi gingiva; bedah (flap periodontal), Non bedah (pembuatan gingiva tiruan / gingiva artifisial).

f. Terapi pemeliharaan per tiga bulan. g. Pembuatan gigi tiruan untuk edentulous. 13. Jelaskan dampak yang terjadi apabila tidak dilakukan perawatan pada skenario? a. Pemeriksaan OHIS. b. Scalling, root planning, dental health education. c. Pemberian antibiotik (tetracyclin / metrodinazole). d. Perawatan hipersensitif dentin; menyumbat dan memperkecil tubulus dentin, mengurangi eksibilitas saraf dentin. e. Perawatan resesi gingiva; bedah (flap periodontal), Non bedah (pembuatan gingiva tiruan / gingiva artifisial). f. Terapi pemeliharaan per tiga bulan. g. Pembuatan gigi tiruan untuk edentulous.

BLOK TUGAS MODUL TUTOR

: GERIODONTOLOGI : TUGAS MANDIRI : 2 (Dua) : drg. Hj. Vero Hansinen Sanusi

GIGI MEMANJANG

Nama NIM Kelompok

: Baiq Miftahul Fatia : J111 10 137 : VI (ENAM)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

DAFTAR PUSTAKA ; FEDI, P. F., VERNINO, A. R. & GRAY, J. L. (2004) Silabus Periodonti, Jakarta, EGC. INDONESIA, F. K. (2009) Buku Ajar Boedhi-Darmojo GERIATRI (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). MANSON, J. D. & ELEY, B. M. (1993) BUKU AJAR PERIODONTI, Jakarta, HIPOKRATES. SRIYONO, N. W. (2009) Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut Guna Meningkatkan Kualitas Hidup. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. http://ocw.usu.ac.id/course/download/611-PEDODONSIA-DASAR/kgm427_slide_penyakit_periodontal.pdf

http://adulgopar.files.wordpress.com/2009/12/gingivitis.pdf