P. 1
Pulpa Dan Periapikal

Pulpa Dan Periapikal

|Views: 84|Likes:
Dipublikasikan oleh Desyana
Tugas
Tugas

More info:

Published by: Desyana on Apr 10, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2015

pdf

text

original

TUGAS KOMUNIKASI dan KONSELING

Untuk memenuhi nilai Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Komunikasi dan Konseling Dosen Pengampu Mata Kuliah Keri Lestari Dandan, S.Si, M.Si., Apt.,

“Penyakit pada Pulpa dan Periapikal”
Salah satu 10 Penyakit Teratas di Indonesia

Oleh

Desyana Nufus Sholeha (26112120015)

Universitas Padjajaran Fakultas FarmasiProgram Studi Profesi Apoteker 2013

A. Gambaran Umum Penyakit Pulpa gigi merupakan jaringan yang lunak. Garis luar pulpa mengikuti garis garis luar bentuk gigi. Bentuk garis ruang luar pulpa mengikuti bentuk mahkota gigi dan bentuk garis luar saluran pulpa mengikuti bentuk akar gigi. Didalam pulpa terdapat berbagai elemen jaringan seperti pembuluh darah, persyarafan, serabut jaringan ikat, cairan interstitial dan sel-sel seperti fibroblast, odontoblast dan sel imun. Pulpa berfungsi sebagai pembentuk, penahan, pengatur zatzat makanan agar gigi hidup, mengandung sel-sel syaraf/ sensori yang berfungsi dalam penerimaan rangsang. Pulpa adalah system mikrosirkuler, dimana komponen vaskuler terbesarnya adalah arteriol dan venula , yang memasuki pulpa melalui lubang di ujung saluran akar gigi ( foramen apical ). Bila infeksi bakteri karena karies sudah mencapai pulpa maka akan terjadi inflamasi pada pulpa dan lama kelamaan persyarafan dan vaskularisasi pulpa dapat mengalami kematian. Secara umum penyakit pulpa dapat disebutkan sebagai kelainan pada jaringan pulpa (saluran akar gigi yang berisi pembuluh-pembuluh darah dan syaraf) dan jaringan sekitar akar gigi (perapikal) akibat inflamasi oleh infeksi bakteri, mekanis, atau kimia.

Kelainan-kelainan pada pulpa dapat terjadi karena aktifitas bakteri penyebab karies atau lubang gigi yang secara kronis menginfeksi jaringan pulpa dan jaringan sekitar akar gigi. Penyebab lainnya dapat terjadi secara mekanis dan kimiawi, antara lain: trauma atau benturan, abrasi dan atrisi, yaitu pengikisan email gigi. Contoh : bruxim atau gigi gemerutuk saat tidur dan kesalahan saat tindakan oleh dokter gigi. Kerusakan pulpa juga dapat disebabkan oleh zat asam dari makanan ataupun bahan-bahan kedokteran gigi. Perluasan inflamasi pada pulpa dapat mengenai jaringan periapikal karena kontaminasi bakteri, trauma instrument, dan efek rangsang obat saluran akar pasca perawatan.

Penatalaksanaan (Degenerasi pulpa) - Bila tidak ada tenaga kesehatan gigi, gigi dibersihkan dengan semprit air, lalu dikeringkan dengan kapas. - Bila sudah ada radang periapikal berikan antibiotik Amoksisilin 500 mg 3 x sehari selama 5 hari, bila terjadi alergi amoksisilin gunakan antibiotika pilihan kedua, eritromisin atau kotrimoksazol. Pada kasus yang berat : penisilin prokain 600.000 IU/hari selama 3 hari. Kalau perlu diberi parasetamol 500 mg 3 x sehari. - Sesudah peradangan reda gigi dicabut atau pasien dirujuk ke rumah sakit untuk perawatan syaraf. (Depkes RI, 2007). B. Konseling Pengobatan 1. Konten (Materi ) Konseling Diasumsikan sesuai dengan pengobatan berdasarkan panduan pengobatan di puskesmas tahun 2007 yaitu pemberian amoksisilin 500 mg 3 x sehari selama 5 hari dan pemberian parasetamol 500 mg 3 x sehari.
R/ Amoksisilin 500 S 3 dd 1 R/ Paracetamol 500 S 3 dd 1 No. XV

No. XV

a. Amoksisilin  Nama Obat dan Isi Obat Golongan Struktur kimia : Anti Infeksi : Asam (2S,5R,6R)-6[ (R)-(-)-2-amino-2-(p-hidroksifenil)asetamido]-33-dimetil-7-okso-4-tia-1-azabisiklo[3,2,0]-heptana-2-karboksilat trihidrat . C16N19N3NaO5S. Sifat Fisika kimia : Amoksisilin berwarna putih, praktis tidak berbau. Sukar larut dalam air dan methanol; tidak larut dalam benzena, dalam karbontetraklorida dan dalam kloroform. Secara komersial, sediaan amoksisilin tersedia dalam bentuk trihidrat. serbuk hablur, dan larut dalam air. Ketika dilarutkan dalam air secara langsung, akan berbentuk amoksisislin suspensi oral dengan pH antara 5 - 7.5. Keterangan : Amoksisilin adalah aminopenisilin yang perbedaan strukturnya dengan ampisilin hanya terletak pada penambahan gugus hidroksil pada cincin fenil. pH larutan 1% dalam air = 4.5-6.0.1 Nama Dagang : - Abdimox - Aclam - Amobiotic - Amocomb - Amosine - Amoxan - Amoxil - Amoxillin - Ancla - Arcamox - Athimox - Auspilin - Ballacid - Bannoxillin - Bellamox - Biditin - Bimoxyl - Bintamox - Broadamox - Bufamoxy - Clacomb - Claneksi - Claxy - Comsikla - Corsamox - Danoxillin - Dexymox - Erphamox - Etamox - Farmoxyl - Goxallin - Hiramox - Hufanoxil - Ikamoxyl - Improvox - Inamox - Intemoxyl - Kalmoxillin - Kamox - Kemosillin - Kenoko - Kimoxil - Lactamox - Leomoxyl - Liskoma - Medimox - Mestamox - Mexylin - Mokbios - Moxaxil - Moxigra - Moxtid - Novax - Nufamox - Omemox - Opimox - Ospamox - Palentin - Penmox - Primoxil - Pritamox - Protamox - Ramoxlan - Ramoxyl - Robamox - Sammoxil F - Scannoxyl - Sirimox - Solpenox - Ssilamox - Supramox - Surpas - Topcillin - Varmoxillin - Vibramox - Vulamox - Widecillin - Yefamox - Yusimox - Zemoxil Konseling Pasien : Nama generiknya Amoksisilin dengan nama brand Amoxillin mengandung amoksisilin 500 mg

 Dosis Dosis oral anak : Umum: Anak < 3 bulan: 20-30 mg/kg/hari terpisah setiap 12 jam.Anak >3 bulan dan <40kg; dosis antara 20-50 mg/kg/hari dosis terpisah setiap 8-12 jam. Khusus: Infeksi hidung,tenggorokan,telinga,saluran kemih dan kulit: ringan sampai sedang: 25 mg/kg/hari terbagi setiap 12 jam atau 20 mg/kg/hari setiap 8 jam.Gawat: 45 mg/kg/hari setiap 12 jam atau 40 mg/kg/hari setiap 8 jam. Otitis media akut: 80-90 mg/kg/hari setiap 12 jam.Infeksi saluran nafas bawah: 45 mg/kg/hari terbagi setiap 12 jam atau 40 mg/kg/hari setiap 8 jam. Dosis dewasa : Umum: Rentang dosis antara 250 – 500 mg setiap 8 jam atau 500 – 875 mg dua kali sehari.Khusus: Infeksi telinga, hidung, tenggorokan, saluran kemih, kulit: Ringan sampai sedang: 500 mg setiap 12 jam atau 250 mg setiap 8 jam.Berat: 875 mg setiap 12 jam atau 500 mg setiap 8 jam.Infeksi saluran nafas bawah: 875 mg setiap 12 jam atau 500 mg setiap 8 jam.Endocarditis profilaxis: 2 g sebelum prosedur operasi. Eradikasi Helicobacter pylori: 1000 mg dua kali sehari, dikombinasikan dengan satu antibiotik lain dan dengan proton pump inhibitor atau H2 bloker. : Dosis 875 mg tidak diberikan pada pasien dengan : Clcr <30 mL/menit; Clcr 10-30 mL/menit; 250-500mg setiap 12 jam; Clcr <10 mL/menit: 250 – 500 mg setiap 24 jam.

Fungsi Ginjal

Konseling Pasien : Dosis tablet 500 mg amoksisilin diberikan setiap 8 jam.  Cara Pemakaian Pemberian : Antibiotik amoksisilin termasuk antibiotik time deppendent sehingga untuk menjaga konsentrasi obat dalam plasma tetap berada pada kadar puncak, maka obat diberikan sesuai dengan jadwal waktu yang telah dibuat. Obat dapat diberikan bersamaan dengan makanan.

LamaPemberian : Tergantung pada jenis dan tingkat kegawatan dari infeksinya, juga tergantung pada respon klinis dan respon bakteri penginfeksi. Sebagai contoh untuk infeksi yang persisten, obat ini digunakan selama beberapa minggu. Jika amoksisilin digunakan untuk penanganan infeksi yang disebabkan oleh grup A ß-hemolitic streptococci, terapi digunakan tidak kurang dari 10 hari guna menurunkan potensi terjadinya demam reumatik dan glomerulonephritis. Jika amoksisilin digunakan untuk

pengobatan ISK (infeksi saluran kemih) maka kemungkinan bisa lebih lama, bahkan beberapa bulan setelah menjalani terapi pun, tetap direkomendasikan untuk diberikan. Konseling Pasien : Amoksisilin dapat diberikan bersamaan makanan, diminum setiap 8 jam selama 5 hari (harus dihabiskan) agar efeknya optimal. Jika masih belum memahami tentang penggunaan obat, harap menghubungi apoteker. Jika keadaan klinis belum ada perubahan setelah menggunakan obat, maka harap menghubungi dokter.  Cara Penyimpanan Stabilitas obat : amoksilin 125 dan 250 mg kapsul, chewable tablet, dan serbuk suspensi oral harus disimpan dalam suhu 20°C atau lebih rendah. Amosisilin 200 dan 400 mg chewable tablet dan salut tipis disimpan pada suhu 25°C atau lebih rendah.

 Efek Samping Susunan Saraf Pusat : Hiperaktif, agitasi, ansietas, insomnia, konfusi, kejang, perubahan perilaku, pening. Kulit : Acute exanthematous pustulosis, rash, erytema multiform, sindrom stevens-johnson, dermatitis, tixic ephidermal necrolisis, hypersensitif vasculitis, urticaria. GI : Mual, muntah, diare, hemorrhagic colitis, pseudomembranous colitis, hilangnya warna gigi. Hematologi : Anemia, anemia hemolitik, trombisitopenia, trombositopenia purpura, eosinophilia, leukopenia, agranulositosi. Hepatic : AST (SGOT) dan ALT (SGPT) meningkat, cholestatic joundice, hepatic cholestatis, acute cytolitic hepatitis. Renal : Cristalluria  Indikasi Amoksisilin digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram negatif (Haemophilus Influenza, Escherichia coli, Proteus mirabilis, Salmonella). Amoksisilin juga dapat digunakan untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri positif (seperti; Streptococcus pneumoniae, enterococci, nonpenicilinase-producing staphylococci, Listeria) tetapi walaupun demikian, aminophenisilin, amoksisilin secara umum tidak dapat digunakan secara sendirian untuk pengobatan yang disebabkan oleh infeksi streprococcus dan staphilococcal.

 Kontraindikasi Kontraindikasi

: Pasien yang hipersensitif terhadap amoksisilin, penisilin, atau komponen lain dalam obat. Terhadap Kehamilan : Faktor risiko : B, Data keamanan penggunaan pada ibu hamil belum diketahui. Terhadap Ibu Menyusui : Karena amoksisilin terdistribusi kedalam ASI (air susu ibu) maka dikhawatirkan amoksisilin dapat menyebabkan respon hipersensitif untuk bayi, sehingga monitoring perlu dilakukan selama menggunakan obat ini pada ibu menyusui.  Interaksi Obat vs Obat Meningkatkan efek toksik : Disulfiram dan probenezid kemungkinan meningkatkan kadar amoksisilin. Warfarin kemungkinan dapat meningkatkan kadar amoksisilin. Secara teori, jika diberikan dengan allopurinol dapat meningkatkan efek ruam kulit. Menurunkan efek : kloramfenikol dan tetrasiklin secara efektif dapat menurunkan kadar amoksisilin, dicurigai amoksisilin juga dapat menurunkan efek obat kontrasepsi oral. Obat vs Makanan (-) b. Parasetamol  Nama Obat dan Isi Obat Golongan Nama generik Nama dagang : Analgesik Non Narkotik : parasetamol, n-asetyl-p-aminofenol, APAP, p-asetamidofenol, asetamol : Tylenol, Panadol, Panamax, Perdolan, Calpol, Doliprane, Tachipirina, Ben-u-ron, Atasol, Adol

Dosis Dewasa & anak Anak : >12 thn; oral 650 mg atau 1 g tiap 4-6 jam bila perlu, maksimum 4 g per hari. : utk tiap 4-6 jam (maksimum 5 dosis per 24 jam) : < 4 bln (2.7 - 5 kg) 40 mg, 4-11 bln (5-8 kg) 80 mg, 12-23 bln (8-11 kg)120 mg, 2-3 thn (11-16 kg)160

Cara Pemakaian Jangan melebihi dosis harian maksimum yang dianjurkan 4 g (2 g pada pecandu alkohol). Melaporkan demam tidak responsif atau nyeri terus yang bertahan untuk lebih dari 3-5 hari kepada dokter Anda. Jangan gunakan dengan lainnya anti-inflamasi kecuali diarahkan

oleh dokter Anda. Jika terlupa, Jika Anda mengambil obat ini pada jadwal teratur,ambil dosis terlupa sebagai segera setelah Anda ingat. Jika itu adalah tentang waktu untuk dosis berikutnya, mengambil hanyadosis tersebut; jangan mengambil dosis ganda atau mengambil ekstra (Handbook of CDD, hal 16). Cara Penyimpanan Sediaan harus disimpan pada suhu 15-30° C. Sediaan bentuk larutan atau suspensi tidak boleh dibekukan. Efek Samping Efek samping yang jarang terjadi, tapi ruam, kelainan darah (termasuk trombositopenia, leukopenia,neutropenia) dilaporkan, hipotensi, flushing, dantakikardia juga dilaporkan untuk infus; penting:kerusakan hati (dan kerusakan ginjal lebih jarang) diikuti overdosis. (BNF 61, hal 259) Indikasi Nyeri ringan sampai sedang dan demam Kontraindikasi : Pasien yang hipersensitif terhadap parasetamol atau komponen lain dalam obat, pasien dengan gangguan hati. Aman jika digunakan dalam dosis terapi selama kehamilan. Interaksi Obat vs Obat Alkohol, antikonvulsan, isoniazid Antikoagulan oral Fenotiazin Obat vs Makanan (-)

: meningkatkan resiko hepatotoksis, : Dapat meningkatkan efek warfarin, : Kemungkinan terjadi hipotermia parah.

2. Tahapan Konseling a. Apoteker memperkenalkan diri (memberi batasan ttg konseling yg akan diberikan) b. Identifikasi : apakah yang datang pasien sendiri atau bukan c. Menanyaakan kepasien apakah dia mempunyai waktu untuk diberi penjelasan dan menjelaskan kegunaan konseling. d. Menanyakan kepada pasien apakah dokter telah menjelaskan tentang obat yang diberikan. e. Dengarkan semua keterangan pasien dengan baik dan empati. f. Menanyakan ada atau tidaknya riwayat alergi g. Jelaskan kepada pasien nama obat, indikasi, cara pemakaian. h. Jelaskan kepada pasien tentang dosis, frekuensi dan lama penggunaan obat. i. Buat jadwal minum obat yang disesuaikan dengan kegiatan harian pasien, dan tanyakan apakah pasien kesulitan mengikuti jadwal tersebut.

j. Menjelaskan tindakan yang perlu jika lupa minum obat k. Menjelaskan hal-hal yang perlu dihindari selama minum obat l. Menjelaskan kemungkinan interaksi obat-obat, atau obat-makanan dan cara mengatasinya m. menjelaskan efek samping dan cara menanggulangi efek samping n. Menjelaskan cara penyimpanan yang benar o. Memastikan pasien memahami semua informasi yang diberikan dengan meminta pasien mengulang kembali. p. Mendokumentasikan semua informasi penting

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas. Depkes RI. Jakarta. Anonim. 2007. Pedoman Konseling Pelayanan Kefarmasian Di Sarana Kesehatan. Depkes RI. Jakarta. Anonim, 2006, MIMS Annual, Indonesia, PT. InfoMaster lisensi dari CMP Medica, Jakarta. Knoben, J. E., et all, (2002), Handbook of Clinical Drug Data, Tenth Fourth Edition, London Pharmaceutical Press. Lacy, C.F., Amstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L., 2006, Drug Information Handbook, 14th Edition, AphA, Lexi-Comp Inc, Hudson, Ohio. Sweetman, S.C. (2007). Martindale 35 The Complete Drug Reference. London: The Pharmaceutical Press. Tatro D.S. (2003). A to Z Drug Facts. San Francisco: Facts and Comparisons.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->