Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

A. Judul Praktikum Fungsi Pendengaran B. Waktu, Tanggal Praktikum Rabu, 3 April 2013 C. Tujuan Praktikum Mahasiswa mampu memahami pemeriksaan fungsi pendengaran, fungsi penghidu dan fungsi keseimbangan setelah praktikum ini. D. Dasar Teori 1. Struktur telinga Struktur telinga dibagi menjadi tiga bagian secara garis besar, yaitu telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. a. Telinga luar Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2 - 3 cm. Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi kelenjar keringat) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada duapertiga bagian dalam hanya sedikit ditemukan kelenjar serumen. Kulit pada bagian ini sangat erat melekat ke tulang dengan lapisan subkutan yang padat membentuk perios (Soepardi, 2007). b. Telinga tengah

Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas-batas (Soepardi, 2007): 1) Luar 2) Depan 3) Bawah 4) Belakang : membran timpani : tuba eustachius : vena jugularis (bulbus jugularis) : aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis 5) Atas 6) Dalam : tegmen timpani (meningen/otak) : berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round window) dan promontorium. Rongga telinga tengah berasal dari celah brankial pertama endoderm. Rongga berisi udara ini meluas ke dalam resesus tubotimpanikus yang selanjutnya meluas di sekitar tulang-tulang dan saraf dari telinga tengah dan meluas kurang lebih ke daerah mastoid. Osikula berasal dari rawan arkus brankialis. Otot-otot telinga tengah berasal dari otot-otot arkus brankialis. Otot tensor timpani yang melekat pada maleus, berasal dari arkus pertama dan dipersarafi oleh saraf trigeminus cabang mandibularis. Otot stapedius berasal dari arkus kedua dipersarafi oleh suatu cabang nervus fasialis (Boies, 1997). Membrana timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut pars flaksida (membran Shrapnell), sedangkan bagian bawah pars tensa (membran propria). Pars flaksida hanya berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti epitel mukosa saluran napas. Pars tensa mempunyai satu lapis lagi di tengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier di bagian luar dan sirkuler di bagian dalam. Membran

timpani dibagi dalam 4 kuadran, dengan menarik garis searah dengan prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga didapatkan bagian atas-depan, atasbelakang, bawah-depan serta bawah-belakang. Tulang

pendengaran di dalam telinga tengah saling berhubungan. Prosesus longus maleus melekat pada membran timpani, maleus melekat pada inkus, dan inkus melekat pada stapes. Stapes melekat pada tingkap lonjong yang berhubungan dengan koklea. Hubungan antar tulang merupakan persendian. Pada pars flaksida terdapat daerah yang disebut atik. Di tempat ini terdapat aditus ad antrum, yaitu lubang yang menghubungkan telinga tengah dan antrum mastoid. Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah (Soepardi, 2007). c. Telinga dalam Plakoda otika ektoderm terletak pada permukaan lateral dari kepala embrio. Plakoda ini kemudian tenggelam dan membentuk suatu lekukan otika dan akhirnya terkubur di bawah permukaan sebagai vesikel otika. Vesikel auditorius membentuk suatu divertikulum yang terletak dekat terhadap tabung saraf yang sedang berkembang dan kelak akan menjadi duktus

endolimfatikus. Vesikel otika kemudian berkerut membentuk suatu utrikulus superior dan sakulus inferior. Dari utrikulus kemudian timbul tiga benjolan mirip gelang yang akan menjadi kanalis semisirkularis. Sakulus kemudian membentuk duktus koklearis berbentuk spiral. Secara filogenetik, organ-organ akhir khusus berasal dari neuromast yang tidak terlapisi yang berkembang dalam kanalis semisirkularis untuk membentuk krista, dalam utrikulus dan sakulus membentuk makula, dan dalam koklea untuk membentuk organ korti. Organ-organ akhir ini kemudian berhubungan dengan neuron-neuron ganglion akustikofasialis (Boies, 1997).

Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semi sirkularis. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli sebelah atas, skala timpani di sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) di antaranya. Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. Ion dan garam yang terdapat di perilimfa berbeda dengan endolimfa. Dasar skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli (membran Reissner) sedangkan dasar skala media adalah membran basalis. Pada membran ini terletak membran corti. Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran tektoria, dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar dan kanalis corti, yang membentuk organ corti. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli (Soepardi, 2007). Bagian vestibulum telinga dalam dibentuk oleh sakulus, utrikulus, dan kanalis semisirkularis. Utrikulus berhubungan dengan sakulus melalui suatu duktus sempit yang juga merupakan saluran menuju sakus endolimfatikus. Utrikulus dan sakulus mengandung makula yang diliputi oleh sel-sel rambut. Menutupi sel rambut ini adalah suatu lapisan gelatinosa yang ditembus silia, yang disebut kupula, dan pada lapisan ini terdapat pula otolit yang berat jenisnya lebih berat daripada endolimfe. Kanalis

semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Masing-masing kanalis mempunyai suatu ujung yang melebar membentuk ampula dan mengandung sel-sel rambut krista (Soepardi, 2007). 2. Fisiologi pendengaran Energi bunyi pertama kali ditangkap oleh daun telinga dalam bentuk gelombang, gelombang suara itu nanti akan disalurkan ke liang telinga sampai ke membrana timpani. Membrana timpani yang terkena

gelombang suara tersebut akan menyebabkan membran tersebut bergetar, getaran dari membrana timpani ini akan diteruskan ketulangtulang pendengaran (malleus, incus, stapes). Gerakan tulang pendengaran ini akan menyebabkan foramen ovale dan menyebabkan terjadinya getaran atau riak di cairan perilimfe. Getaran yang terjadi di cairan perilimfe akan menyebabkan terjadinya gerakan membrana basalisdan akan menyebabkan terjadinya pembengkokan sel-sel rambut pada organon corti. Pembengkokan sel-sel rambut ini akan menyebabkan terjadinya perubahan potensial aksi di sel reseptor dan akhirnya akan menyebabkan terjadinya penghantaran impuls ke nervus vestibularis yang nantinya akan dipersepsikan di otak sebagai suatu persepsi suara (Sherwood, 2001) 3. Uji fungsi pendengaran Terdapat tiga cara untuk menguji tungsi pendengaran seseorang, ujia tersebut yaitu (Ganong, 2003): a. Tes tutur Merupakan uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih yang telah dibakukan, dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi, untuk mengukur beberapa aspek kemampuan pendengaran digunakan daftar kata terpilih yang dituturkan pada penderita. Kata-kata tersebut dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan dengan

audiometri tutur, kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang diperiksa pendengarannya, atau kata-kata ditekan lebih dahulu pada piringan hitam atau pita perekam, kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur. Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setiap kata yang didengar dan apabila kata yang didengar makin tidak jelas karena intensitasnya makin dilemahkan, penderita diminta untuk menebaknya. Pemeriksa mencatat presentase kata yang ditirukan dengan benar, hasil yang nantinya berupa diagram

menggambarkan (Ganong, 2003). b. Tes garputala

dimensi

kemampuan

pendengaran

pasien

Tes ini bersifat kualitatif artinya dapat mengetahui dan mengevaluasi tuli konduktif atau tuli saraf. Pada pemeriksaan ini penderita harus kooperatif. Berikut adalah jenis pemeriksaan yang menggunakan garputala (Ganong, 2003): 1) Tes rinne Tes rinne memiliki tujuan untuk membandingkan hantaran udara (air conduction/AC) dengan hantaran tulang (bone cunduction/BC). Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne : a) Normal : tes rinne positif b) Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama) c) Tuli persepsi, terdapat 3 kemungkinan : Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala. Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-) Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul. Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. Kesalah dari

pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak lurus, tangkai garputala mengenai rambut pasien dan kaki garputala mengenai aurikulum pasien. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal. Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien. Akibatnya getaran kedua kaki

garputala sudah berhenti saat kita memindahkan garputala kedepan meatus akustukus eksternus (Ganong, 2003). 2) Tes webber Tes webber memiliki tujuan untuk membandingkan hantaran tulang (Bone Conduction/BC) antara telinga kiri dan telinga kanan. Berikut merupakan interpretasi dari tes webber (Guyton, 1997): a) Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke kanan, disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya. b) Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya (Guyton, 1997): Tuli konduksi sebelah kanan, missal adanya ototis media disebelah kanan. Tuli konduksi pada kedua telinga, tetapi gangguannya pada telinga kanan lebih hebat. Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu, maka di dengar sebelah kanan. Tuli persepsi pada kedua teling, tetapi sebelah kiri lebih hebat dari pada sebelah kanan. Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kana jarang terdapat. 3) Tes schwabach Tes schwabach memiliki tujuan untuk membandingkan hantaran tulang (Bone Conduction/BC) atara penderita dan pemeriksa. c. Tes audiometri Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri. Alat ini menghasilkan nada-nada murni dengan frekuensi melalui aerphon. Pada sestiap frekuensi ditentukan intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai prsentasi dari pendengaran normal. Hal ini menghasilkan

pengukuran obyektif derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang paling terpengaruh. Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan mengukur (uji pendengaran). Audiometri mengukur ketajaman tidak saja dipergunakan untuk tetapi juga dapat

pendengaran,

dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran (Guyton, 1997). Audiometri adalah subuah alat yang digunakan untuk mengtahui level pendengaran seseorang. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri, maka derajat ketajaman pendengaran seseorang da[at dinilai. Tes audiometri diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan pendengeran atau seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendngaran (Ganong, 2003). Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara, audiologis dan pasien yang kooperatif. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500, 1000-2000, 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB). Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga orang yang diperiksa pendengarannya. Masing-masing untuk mengukur ketajaman pendengaran melalui hntaran udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang, sehingga akan didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara. Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang. Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada murni. Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran

frekuensi 20-20.000 Hz. Frekuensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari (Ganong, 2003). Berikut merupakan tabel interpretasi hasil pemeriksaan

audiometri:

Derajat tuli Pendengaran normal Tuli ringan Tuli sedang Tuli berat Tuli total

Intensitas suara (dB) 0-25 26-40 41-60 61-90 >90

E. Alat dan Bahan 1. Tes tutur a. Ruangan panjang 6 m. b. Keadaan ruangan yang sepi atau dengan tingkat kebisingan 30dB. 2. Tes garputala a. Ruangan dengan keadaan sunyi atau dengan tingkat kebisingan 30dB. b. Garputala/penala dengan frekuensi 512 Hz. F. Cara Kerja 1. Tes tutur a. Penderita tidak berhadapan dengan pemeriksa, tetapi

menyamping dengan telinga yang di test ke arah pemeriksa. Hal ini supaya tidak membaca bibir pemeriksa. b. Telinga yang tidak diperiksa sebaiknya ditutup atau ditekan pada tragusnya. c. Kata yang dibisikan adalah bisikan yang dikeluarkan setelah pemeriksa melakukan ekspirasi maksimal. d. Dibacakan kata yang sesuai dengan Gadjah Mada Phonetic Balance.

e. Setiap kata yang tidak terdengar, pasien diminta untuk maju 1 meter. f. Kesimpulan pemeriksaan 6 meter 5-4 meter 3-2 meter 2-1 meter 2. Tes garputala a. Tes Rinne 1) Penala digetarkan pada punggung tangan atau siku, dengan tujuan supaya tidak terlalu berisik (ke meja). 2) Tekankan ujung tangkai penala pada prosessus mastoideus salah satu telinga pasien dan tangan pemeriksa tidak boleh menyentuh jari-jari penala. 3) Tanyakan kepada pasien apakah ia mendengar bunyi penala mendengung di telinga yang diperiksa. Bila mendengar, pasien disuruh mengacungkan jari telunjuk. Begitu tidak mendengar lagi jari telunjuk diturunkan. 4) Pada saat pemeriksa mengangkat penala dari prosessus mastoideus pasien, kemudian penala didekatkan ke depan liang telinga pasien. Tanyakan apakah pasien mendengar bunyi dengungan. 5) Catat hasil pemeriksaan rinne sebagai berikut: Tes rine positif AC lebih lama/sama dengan BC tes normal atau SNHL(Sensoneural hearing loss). Tes rine negatif AC lebih kecil dari BC conductive hearing loss (CHL) b. Tes Webber 1) Getarkan penala yang berfrekuensi 512 seperti pada butir sebelumnya 2) Tekanlah ujung penala pada dahi pasien di garis median normal tuli ringan tuli sedang tuli berat

3) Tanyakan pada pasien, apakah iya mendengar bunyi penala sama kuat di kedua telinga atau hanya terdengar kuat di salah satu sisi 4) Catat hasil pemeriksaan tes webber seperti berikut: Normal Lateralisasi kanan Lateralisasi kiri c. Tes Schwabach 1) Getarkan penala berfrekuensi 512 seperti butir sebelumnya 2) Tekankan ujung tangkai penala pada prosessus mastoideus salah satu telinga pasien 3) Minta pasien mengacungkan jati saat dengungan menghilang 4) Dengan segera tempelkan ujung tangkai penala ke prosessus mastoideus pemeriksa. Bila dengungan penala masih dapat didengar oleh pemeriksa maka hasil pemeriksaannya adalah SCHWABACH MEMENDEK (curiga SNHL) 5) Apabila dengungan penala yang dinyatakan berhenti oleh pasien juga tidak tedengar oleh pemeriksa maka hasil pemeriksaannya mungkin SCHWABACH NORMAL atau SCHWABACH MEMANJANG. Untuk memastikan, AD=AS AD lebih keras dari AS AS lebih keras dari AD

dilakukan pemeriksaan ulang namun diawali dengan BC dari pemeriksa kemudian ke pasien. 6) Bila memang hasilnya tetap sama maka hasilnya adalah SCHWABACH NORMAL. Namun apabila dengungan di penderita masih terdengar, maka hasilnya adalah

SCHWABACH MEMANJANG.